Anda di halaman 1dari 27

Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta

Kesetimbangan Fasa dan Kimia

BAB I
PENDAHULUAN

Termodinamika adalah fisika energi, panas, kerja, entropi, dan kespontanan


proses. Besaran- besaran termodinamika adalah energi dalam,kerja, entropi, dan energi
bebas.

Fasa adalah bagian yang serbasama dari suatu sistem yang dapat dipisahkan
secara mekanik, serbasama dalam hal komposisi kimia dan sifat – sifat fisika. Fasa
adalah bagian sistem dengan komposisi kimia dan sifat – sifat fisik seragam, yang
terpisah dari bagian sistem lain oleh suatu bidang batas. Pemahaman perilaku fasa mulai
berkembang dengan adanya aturan fasa Gibbs. Untuk sistem satu komponen, persamaan
Clausius dan Clausisus-Clapeyron menghubungkan perubahan tekanan kesetimbangan
dengan perubahan suhu.

Kesetimbangan kimia adalah suatu kesetimbangan dinamik. Spesi-spesi dalam


reaksi terus terbentuk secara konstan namun tanpa terjadi perubahan total dalam
konsentrasi sistem.

Bioenergetika atau termodinamika biokimia memberikan prinsip dasar untuk


menjelaskan mengapa sebagian reaksi dapat terjadi sedangkan sebagian yang lain tidak.
Sejumlah sistem non biologis dapat menggunakan energi panas untuk melaksanakan
kerjanya, namun sistem biologi pada hakikatnya bersifat isotermik dan memakai energi
dari hasil reaksi biokimia untuk keberlangsungan proses hidupnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak proses biologi yang melibatkan reaksi


oksidasi reduksi karena reaksi ini berlangsung secara simultan. Sel adalah salah satu
tempat berlangsungnya reaksi-reaksi biokimia tersebut karena di dalam sel dapat
melangsungkan semua fungsi hidup.

1 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

BAB II
JAWABAN PERTANYAAN

Topik 1. Aspek Termnodinamika dalam Oksidasi Biologi


Oksidasi adalah pengeluaran elektron dan reduksi adalah pemerolehan elektron.
Dengan demikian oksidasi akan selalu disertai reduksi aseptor elektron. Prinsip
oksidasi reduksi ini berlaku sama dalam seluruh sistem biokimia. Dalam sistem
biokimia juga terdapat enzim-enzim yang terlibat dalam reaksi reduksi dan oksidasi
yang dinamakan enzim oksido-reduktase. Reaksi oksidasi reduksi inilah yang juga
mendasari beberapa mekanisme dari metabolisme sel dalam sistem biokimia.
Metabolisme menggambarkan bagaimana sel memperoleh, mengubah, menyimpan dan
menggunakan energi. Untuk metabolisme ini tentunya melibatkan ribuan reaksi di
dalam sel termasuk eksplorasi kondisi, regulasi dan kebutuhan energinya.

1. Apa yang Anda jelaskan lebih lanjut mengenai konsep oksidasi reduksi dalam
sistem biokimia?
Jawab :
Prinsip reaksi oksidasi reduksi yang sering dikenal ialah reaksi
pengeluaran dan perolehan elektron. Prinsip ini juga berlaku pada berbagai
sistem biokimia dan merupakan konsep penting yang melandasi pemahaman
tentang sifat oksidasi biologi. Reaksi oksidasi reduksi dalam sistem biokimia
memang identik dengan peran oksigen, tetapi pada kenyataannya banyak reaksi-
reaksi oksidasi-reduksi dalam sel hidup yang dapat berlangsung tanpa peran
molekul oksigen. Sebagai contoh adalah oksidasi ion fero menjadi feri yang
dilukiskan pada gambar di bawah ini. Dengan demikian oksidasi akan selalu
disertai reduksi akseptor elektron.

2 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

e- (elektron)

Fe2+ Fe3+
Gambar 1 Oksidasi ion fero menjadi feri
(sumber : http://www.scribd.com/doc/49517195/3-bioenergetika)

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak proses biologi yang melibatkan


reaksi oksidasi reduksi karena reaksi ini berlangsung secara simultan. Sel adalah
salah satu tempat berlangsungnya reaksi-reaksi biokimia tersebut karena di
dalam sel dapat melangsungkan semua fungsi hidup. Mitokondria sebagai salah
satu organel untuk pernapasan sel. Di dalam mitokondria berlangsung sebagian
besar peristiwa penangkapan energi yang berasal dari oksidasi dalam rantai
pernapasan sel. Pernafasan sel adalah oksidasi glukosa (C6H12O6) menjadi CO2
dan reduksi oksigen menjadi air. Persamaan reaksi dari pernapasan sel adalah:
C6H12O6 + 6 O2 → 6 CO2 + 6 H2O...........................(1)
Proses pernapasan sel juga sangat bergantung pada reduksi NAD+
menjadi NADH dan reaksi baliknya (oksidasi NADH menjadu NAD+). Contoh
lain dari proses pernafasan yang mengaplikasikan reaksi oksidasi reduksi dalam
sistem biologik adalah proses fotosintesis. Proses ini secara esensial merupakan
kebalikan dari reaksi oksidasi dan eduksi pada pernapasan sel:
6 CO2 + 6 H2O +Energi Matahari → C6H12O6 + 6 O2.............(2)
Energi biologi sering disimpan dan dilepaskan dengan menggunakan
reaksi oksidasi dan reduksi. Fotosintesis melibatkan reduksi karbon dioksida
menjadi gula dan oksidasi air menjadi oksigen. Reaksi sebaliknya yaitu
pernapasan, mengoksidasi gula dan menghasilkan karbon dioksida dan air. Jadi,
dalam biokimia banyak dijumpai reaksi reduksi dan oksidasi. Kedua proses itu
sebenarnya tidak dapat dipisakan satu sama lain. Kalau dalam satu sistem atau
suatu proses ada senyawa yang dioksidasi maka sebaliknya tentu ada senyawa
yang tereduksi . Oleh karena itu, proses itu diberi nama reduksi- oksidasi atau
sering disebut redoks. Istilah keadaan redoks juga sering digunakan untuk
menjelaskan keseimbangan antara NAD+/NADH dengan NADP+/NADPH dalam
sistem biologi seperti pada sel dan organ. Keadaan redoks direfleksikan pada

3 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

keseimbangan beberapa set metabolit (misalnya laktat dan piruvat, beta-


hidroksibutirat dan asetoasetat) yang perubahannya sangat bergantung pada rasio
ini. Keadaan redoks yang tidak normal akan berakibat buruk, seperti hipoksia,
guncangan (shock), dan sepsis.

2. Enzim-enzim apa saja yang terlibat dalam reaksi ini?


Jawab :
Enzim-enzim yang terlibat dalam reaksi reduksi dan oksidasi dinamakan
enzim oksidoreduktase. Terdapat 4 kelompok enzim oksidoreduktase yaitu:
oksidase, dehidrogenase, hidroperoksidase dan oksigenase.
a. Oksidase
Enzim oksidase mengkatalisis pengeluaran hidrogen dari substrat dengan
menggunakan oksigen sebagai akseptor hidrogen. Enzim-enzim tersebut
membentuk air atau hidrogen peroksida. Contoh peran enzim tersebut
dilukiskan pada gambar 2 di bawah ini. Enzim yang termasuk sebagai
oksidase antara lain sitokrom oksidase, oksidase asam L-amino, xantin
oksidase, glukosa oksidase.
Gambar 2. Oksidasi metabolit yang dikatalisis oleh enzim oksidase

(sumber : http://www.scribd.com/doc/49517195/3-bioenergetika)

b. Dehidrogenase
Dehidrogenase tidak dapat menggunakan oksigen sebagai akseptor
hidrogen. Enzim-enzim ini memiliki 2 fungsi utama yaitu:
• Pertama, berperan dalam pemindahan hidrogen dari substrat yang satu
ke substrat yang lain dalam reaksi reduksi-oksidasi berpasangan.
• Kedua, sebagai komponen dalam rantai respirasi pengangkutan
elektron dari substrat ke oksigen.

4 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

Gambar 3.Oksidasi suatu metabolit yang dikatalisis oleh enzim-enzim dehydrogenase


(sumber : http://www.scribd.com/doc/49517195/3-bioenergetika)
Contoh dari enzim dehidrogenase adalah suksinat dehidrogenase, asil-
KoA dehidrogenase, gliserol-3-fosfat dehidrogenase, semua sitokrom kecuali
sitokrom oksidase.
a. Hidroperoksidase
Enzim hidroperoksidase menggunakan hidrogen peroksida atau peroksida
organik sebagai substrat. Ada 2 tipe enzim yang masuk ke dalam kategori ini
yaitu peroksidase dan katalase. Enzim hidroperoksidase melindungi tubuh
terhadap senyawa-senyawa peroksida yang berbahaya. Penumpukan peroksida
menghasilkan radikal bebas yang dapat merusak membran sel dan menimbulkan
kanker serta aterosklerosis.
b. Oksigenase
Oksigenase mengkatalisis pemindahan langsung dan inkorporasi oksigen
ke dalam molekul substrat. Enzim ini dikelompokkan menjadi 2 yaitu
monooksigenase dan dioksigenase.

1. Dalam sistem termokimia, terjadinya suatu reaksi dapa dilihat dari besarnya
perubahan energi bebasnya. Bagaimana dengan reaksi oksidasi biologi ini bila
dikaitkan dengan besarnya perubahan energi bebasnya yg terjadi?
Jawab :
Bioenergetika atau termodinamika biokimia menerangkan berbagai macam
perubahan energi yang menyertai reaksi-reaksi biokimia. Energi bebas adalah
bagian energi total yang dapat digunakan untuk kerja-kerja bermanfaat,
difungsikan berdasar hukum termodinamika pertama dan kedua. Hukum
termodinamika pertama menyatakan jumlah energi dalam suatu sistem dan

5 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

lingkungannya adalah tetap. Hukum kedua menyatakan bahwa suatu proses


dapat berlangsung spontan hanya bila jumlah entropi (tingkat kekacauan) suatu
sistem dan lingkungannya bertambah. Suatu masalah dalam menggunakan
entropi sebagai kriteria apakah suatu reaksi kimia dapat berjalan spontan, ialah
ketika perubahan entropi reaksi kimia tidak dapat diukur secara langsung.
Kesukaran ini diatasi dengan menggunakan fungsi thermodinamika lain yang
disebut energi bebas ( G ) dengan persamaan :
∆G= ∆H-T∆S.............(3)
adalah perubahan energi bebas suatu sistem yang mengalami perubahan pada
suatu tekanan (P) dan suhu (T) yang tetap, ∆H adalah perubahan entalpi
(kandungan panas) sistem dan ∆S perubahan entropinya. Perubahan entalpi
dinyatakan sebagai : ∆H= ∆E-P∆S ,karena perubahan volume ∆V dalam reaksi
biokimia kecil sehingga ∆H hampir sama dengan ∆E , maka :
∆G= ∆E-T∆S.........(4)
Berlawanan dengan perubahan energi dalam sistem (∆E), perubahan
energi bebas (∆G) suatu reaksi adalah kriteria yang berharga untuk menentukan
apakah reaksi tersebut dapat berlangsung dengan spontan.
Suatu reaksi biokimia dapat berlangsung spontan hanya bila ∆G negatif.
Bila ∆G nol, sistem berada dalam keseimbangan dan bila positif, diperlukan
masukan energi bebas untuk menggerakkan reaksi tersebut. Jika ΔG bertanda
negatif, reaksi berlangsung spontan dengan kehilangan energi bebas (reaksi
eksergonik). Jika ΔG sangat besar, reaksi benar-benar berlangsung sampai
selesai dan tidak bisa membalik (irreversibel). Jika ΔG bertanda positif, reaksi
berlangsung hanya jika memperoleh energi bebas (reaksi endergonik). Bila ΔG
sangat besar, sistem akan stabil tanpa kecenderungan untuk terjadi reaksi.

2. Bagaimana anda menurunkan suatu persamaan kesetimbangan kimia dari


perubahan energi bebas gibbs dalam suatu reaksi biokimia yang terjadi?
Jawab :

Secara teoritis reaksi kimia dapat berlangsung ke arah sebaliknya, namun


gaya penggerak reaksi dapat cenderung untuk menuju ke suatu arah saja karena
ke arah sebaliknya sangat tak terhingga kecilnya sehingga tidak dapat diukur.

6 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

Gaya penggerak reaksi kimia disebut perubahan energi bebas yang menyertai
reaksi tersebut. Jadi perubahan energi bebas yang menyertai suatu reaksi kimia
merupakan ukuran kecenderungan ke arah mana reaksi tersebut akan
berlangsung. Menurut hukum termodinamika suatu proses akan berjalan secara
spontan apabila perubahan energi bebasnya (∆G) adalah negatif.

Hubungan antara ∆G dengan kesetimbangan dapat dijabarkan pada


persamaan berikut:
∆G = ∆Go + RT ln Q..........(5)
dimana Q untuk reaksi fase gas adalah hasil kali tekanan parsial produk
pangkat koefisien reaksi dengan hasil kali parsial reaktan pangkat koefisien
reaksi, sedang untuk reaksi dalam larutan Q adalah hasil kali konsentrasi produk
pangkat koefisien reaksi dengan hasil kali konsentrasi reaktan pangkat koefisien
reaksi. Agar lebih jelas mengenai konsep persamaan di atas berikut adalah
paparan mengenai penurunan rumusanya (untuk reaksi secara umum: aA(g) 
bB(g)) :
aA(g)  bB(g)
∆G reaksi= bGB- aGA
bGB= G0B+RTlnPB
bGA= G0A+RTlnPA
∆G= bG0B+bRTlnPB-(aG0A+ aRTlnPA)
∆G=( bG0B-aG0A)+(bRTlnPB-aRTlnPA)
∆G=∆G0reaksi+(RTlnPBb-RTlnPAa)

∆G=∆G0reaksi+RTln lnPBblnPAa
Reaksi dapat dibalik jika ∆G=0. Lalu, jika reaksi setimbang maka :
∆G0reaksi = -RTln lnPBblnPAa  lnPBblnPAa =Kp.........(6)
Contoh soal:
Tentukan harga tetapan kesetimbangan termodinamika untuk reaksi: 2NO(g)
+ O2(g) ↔ 2NO2(g). Pada suhu 25oC jika diketahui ∆Go NO(g) = 86,8 kJ mol-1
dan ∆Gof NO2(g) = 51,9 kJ mol-1
Penyelesaian:
Pada keadaan setimbang

7 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

∆Go = RT ln KP
∆Go = 2∆Gof NO2(g) - 2∆Gof NO(g) - 2∆Gof O2(g)
∆Go = 2 mol x 51,9 kJ mol-1 - 2 mol x 86,8 kJ mol-1
∆Go = -69,8 kJ
ln KP = 28,2
KP = 1,866 x 1012
Harga KP yang jauh lebih besar daripada 0 tersebut juga menunjukkan bahwa
reaksi pada suhu 25oC beraksi sempurna.

3. Apa yang Anda ketahui tentang perubahan sifat-sifat termodinamika dalam


suatu reaksi kimia?
Jawab:

Dalam reaksi kimia apapun, baik reaksi kimia biasa ataupun biokimia, pasti
akan melibatkan terjadinya perubahan besaran termodinamika. Hal ini tentunya
karena reaksi kimia selalu melibatkan perpindahan dan pembebasan energi dalam
prosesnya. Namun, ada sedikit hal yang berbeda pada reaksi biokimia. Hal ini
disebabkan karena reaksi biokimia seringkali berjalan pada suhu yang tetap
(isotermik) dan tekanan yang tetap (isobarik), sehingga menyebabkan properti-
properti yang terjadi di dalamnya pun berbeda. Berikut ini beberaapa contoh sifat
termodinamika yang berubah dalam reaksi biokimia.

a. Energi bebas Gibbs Pembentukan (∆fGi)


Dalam prosesnya, energi bebas Gibbs akan selalu berubah walaupun suhu dan
tekanan tetap. Hal ini tentunya karena energi bebas Gibbs juga banyak dipengaruhi oleh
potensial kimia suatu senyawa. Potensial kimia selalu digunakan dalam perhitungan
termodinamika pada saat T dan P merupakan variabel yang tidak berpengaruh terhadap
energi Gibbs pembentukan ∆fGi. Bentuk persamaannya adalah:

..........(7)
dimana ∆fGi adalah energi Gibbs pembentukan spesies i pada konsentrasi ci. Energi
Gibbs pembentukan standar ∆fGi merupakan perubahan energi Gibbs ketika satu mol
dari spesies berada pada kondisi standar ( di dalam keadaan gas ideal pada 1 bar atau

8 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

pada larutan 1 M) yang dibentuk dari elemennya. Energi Gibbs pembentukan standar
ion bergantung pada kekuatan ion, dan persamaan ∆fGi untuk larutan ideal pada
kekuatan ion spesifik. Keuntungan dari prosedur ini adalah kita dapat menuliskan
kesetimbangan di dalam hubungannya dengan konsentrasi dan menghindari koefisien
aktivitas yang rumit di setiap perhitungan.

(8)
dimana Q merupakan quotient reaksi, dengan persamaan :

..........(9)
Konsentrasi di dalam Q memiliki nilai yang berubah-ubah, maka energi Gibbs reaksi
standar adalah :

...............(10)
dimana ∆fGi0 adalah energi Gibbs pembentukan standar untuk spesies i.
Dalam kaitannya dengan reaksi biokimia, konsentrasi yang dimaksud seringkali
memiliki hubungan dengan pH, karena senyawa hidrogen merupakan salah satu
komponen penting reaksi biokimia yang berfungsi sebagai donor proton dalam reaksi
redoks biokimia. Salah satu contohnya adalah reaksi reduksi pada proses glikolisis.

NAD+ + 2e- + 2H+ ↔ NADH + H+ .............(11)

b. Entropi Reaksi
∆rS merupakan entropi reaksi dan ∆rV merupakan volume reaksi. Persamaan Legendre
membetuk H = U + PV dan G = U + PV – TS sehingga G = H – TS, maka:

....... (12)
Hubungan dari entropi reaksi ∆rS dapat diturunkan dari persamaan (11) dan (12). Dari
persamaan Maxwell tentang entropi dapat ditunjukkan hal berikut :

9 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

(13)
dimana ∆fSi adalah entropi pembentukan standar dari spesies i dan ∆rS0 adalah entropi
reaksi standar pada kekuatan ion tertentu, sehingga :

(14)
dimana ∆fS0i adalah entropi pembentukan standar spesies i. Menurut hukum ketiga
termodinamika, nilai absolut entropi molar spesies dapat ditentukan, tapi kita harus
menghitung entropi pembentukan yang dapat dihitung dari penurunan temperatur pada
energi bebas gibbs pembentukan atau dari kombinasi data pada konstanta
kesetimbangan dan entalpi reaksi.
c. Entalpi Reaksi
Entalpi reaksi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Gibbs-Helmholtz
sebagai berikut:

(15)

Karena , maka entalpi reaksi adalah:

(16)

Substitusi , menghasilkan :

(17)
dimana ∆fHi adalah entalpi pembentukan spesies i. karena H = G + TS, maka :

(18)

10 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

dimana ∆fHio adalah entalpi pembentukan standar dari spesies i.

Efek Suhu Terhadap Sifat-Sifat Termodinamika


Dalam menentukan pengaruh temperatur sifat-sifat termodinamika, variabel molal
lebih banyak digunakan dikarenakan variabel ini tidak bergantung terhadap temperatur.

∆H ∆S ∆G Pengaruh Temperatur
- + - Spontan pada semua temperatur
+ - + Tidak spontan pada semua temperatur
- Spontan pada temperatur rendah
- -
+ Tidak spontan pada temperatur tinggi
+ Tidak spontan pada temperatur rendah
+ +
- Spontan pada temperatur tinggi

Tabel 1. Efek Suhu Terhadap Kespontanan Reaksi

Dari tabel di atas kita dapat mengetahui bahwa suhu memiliki efek terhadap
kespontanan reaksi. Selain itu, perubahan suhu juga amat memengaruhi kesetimbangan
dalam suatu reaksi.

1. Bagaimana menentukan pengaruh temperatur terhadap sifat-sifat


termodinamika dalam suatu reaksi kimia?
Jawab :
Berbeda dengan reaksi biokimia yang cenderung berada dalam kondisi
isotermal, reaksi kimia secara umum amat dipengaruhi oleh adanya perubahan
temperatur. Pengaruh temperatur ini akan sangat mempengaruhi nilai entalpi,
entropi dan energi bebas Gibbs suatu reaksi kimia. Sebenarnya, walaupun reaksi
biokimia dikatakan berjalan dalam kondisi isotermal, bukan berarti tidak terjadi
perubahan ketiga nilai tersebut. Hanya saja, pada reaksi biokimia, perubahan
temperatur yang terjadi tidak terlalu besar, dan sel mempunyai mekanisme untuk
segera menyeimbangkan panas yang ada agar suhunya tidak berubah banyak.
Berikut ini penjelasan mengenai pengaruh temperatur terhadap sifat-sifat
termodinamika dalam suatu reaksi kimia.

11 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

a. Pengaruh temperatur terhadap entalpi


Entalpi (H) merupakan penjumlahan dari energi dalam dan tekanan volume
(PV), sehingga persamaan entalpi adalah sebagai berikut :
H = U + PV......................(19)
Penurunan persamaan 1, menjadi :
dH = dU + d( PV )..............(20)
Pada kondisi gas ideal persamaan II, menjadi :
dH = dU + d( nRT )..............(21)
Pada kondisi isotermal terjadi penambahan gas, sehingga persamaan III
menjadi :
ΔH = ΔU + ΔnRT.................(22)
Pengaruh suhu terhadap entalpi akan sangat jelas terlihat pada kapasitas panas.
Cp = ∂H∂Tp
d ∆HdT= ∆ Cp
∆H2= ∆H1+ T1T2∆CpdT.....(23)
Untuk Cp yang konstan, persamaan 11 menjadi :
∆H2= ∆H1+ ∆Cp ( T2-T1 ) ..........(24)
Hal ini berasal dari reaksi A+B →C+D, dimana ΔHnya adalah ∆H=∆Hproduk-
∆Hreakstan sehingga persamaan,

T2 d∆H T2...........(25)

dapat menjadi, ∫
T1 dT
= ∫ ∆Cp
T1

∆H T02 = ∆H T01 + ∫ ∆CpdT .....(26)

12 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

Tabel 2. Entalpi Katabolisme Substrat Beberapa Mikroba


Sumber : Pauline M. Doran (2003)

Tabel diatas menjelaskan entalpi yang dihasilkan beberapa mikroba ketika


mengkatabolisme substrat tertentu dalam jumlah yang sama. Terlihat bahwa entalpi
yang dihasilkan hampir sama pada semua mikroba ketika menggunakan substrat yang
sama. Perlu diketahui bahwa mikroba-mikroba di atas semuanya adalah dari jenis
mesofil, atau yang hidup pada suhu sedang (20-40° C). Hal ini memperlihatkan bahwa
entalpi yang dihasilkan pada mikroba-mikroba yang bekerja pada suhu yang hampir
sama, akan menghasilkan entalpi yang hampir sama pula dari sumber energi (substrat)
yang sama. Ini menunjukkan salah satu pengaruh dari temperatur terhadap entalpi dari
reaksi biokimia.

b. Pengaruh temperatur terhadap entropi


Entropi dari suatu sistem akan meningkat seiring penambahan temperatur
sistem. Secara sedehana hal ini disebabkan oleh suatu alasan yang sama dengan efek
kenaikan temperatur pada energi dalam dan entalpi, yaitu peningkatan kecepatan atau
kelajuan dari molekul-molekul sistem. Disamping meningkatkan energi kinetik dari
molekul yang secara general meningkatkan energi dalam sistem, penambahan suhu ini
juga meningkatkan keacakan dari gerak tiap molekul. Ketika suhu dinaikkan, molekul-

13 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

molekul berotasi dan bervibrasi kian acak. Keacakan yang meningkat sekaligus juga
berarti meningkatkan entropi sistem, karena entropi berarti keacakan sistem.
Untuk lebih jelasnya mengenai peningkatan entropi sistem akibat kenaikan
suhu dapat diliat pada persamaan berikut:

∆S=CplnT2T1 ...........(27)

Dari persamaan berikut dapat dilihat bahwa nilai entropi (ΔS) adalah
berbanding lurus dengan nilai ln T2/T1. Hal ini punya pengertian bahwa nilai ΔS akan
meningkat bila suhu akhir (T2) juga ikut naik. Meningkatnya temperatur akan
menghasilkan suatu kecepatan distribusi molekul yang lebih besar dan meningkatkan
entropi sistem. Hal ini bisa dilihat pada grafik berikut.

Gambar 4. Hubungan antara temperatur dan entropi


Sumber : en.academic.ru (diakses tanggal 27 Maret 2011)

c. Pengaruh temperatur terhadap Energi Bebas Gibbs


Energi Bebas Gibbs ( G ) dapat digunakan untuk menggambarkan perubahan
energi sistem. Energi Bebas Gibbs merupakan fungsi yang menggambarkan entalpi dan
entropi dari sistem G = H – TS. Pada suhu yang tetap rumusnya adalah ΔG = ΔH –
ΔTS, sedangkan pada tekanan tetap, ΔG = - TΔS. Energi Bebas Gibbs ( ΔG )
digunakan untuk menggambarkan perubahan energi sistem. Pada temperatur dan
tekanan konstan, ΔG dapat digunakan untuk menentukan kespontanan reaksi dengan
fokus pada sistem.
Tanda pada ΔG menunjukkan dimana suatu reaksi akan berlangsung spontan.

14 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

(+) tidak spontan


(-) spontan
(0) pada kesetimbangan
Pada kenyataannya, nilai ΔS yang bervariasi terhadap fungsi temperatur adalah hal yang
penting. Karena ini dapat menyebabkan perubahan tanda dari ΔG.

Tabel 3. Hubungan Temperatur, Energi Bebas Gibbs dan Kespontanan Reaksi


Jadi pengaruh temperatur dalam Energi bebas Gibbs mempengaruhi proses kespontanan
dari suatu reaksi.

Topik 2. Kesetimbangan fasa dan kimia


Fasa merupakan bagian sistem yang serba sama secara fisika dan kimia serta
memiliki batas-batas yang jelas dan tertentu. Dalam mempelajari proses reaksi kimia
yang terjadi, keterlibatan suatu fasa menjadi sesuatu yang tak mungkin diabaikan.
Dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut, anda diharapkan dapat mengkaji
tentang besaran PVT suatu fluida murni dan bagaimana menentukan keadaan
kesetimbangannya.

1. Apa yang anda ketahui tentang persamaan Gibbs-Duhem dan teori aturan fasa
dalam suatu kesetimbangan kimia? Bagaimana pengaruh keterlibatan fasa
dalam suatu kesetimbangan reaksi kimia?

Jawab:
Persamaan Gibbs-Duhem didefinisikan sebagai hubungan antara
perubahan potensial kimia suatu komponen dalam sistem termodinamika. Josiah
Gibbs dan Pierre Duhem berhasil menemukan sebuah hubungan antara mol dari
komponen, entropi, suhu, temperatur, volume, dan tekanan. Hubungan tersebut
menghasilkan suatu persamaan yang dinamakan dengan persamaan Gibbs-
Duhem. Penurunan persamaan gibbs duhem ini berasal dari hukum pertama
termodinamika. Dalam hukum pertama termodinamika dinyatakan bahwa energi
tidak dapat hilang tetapi dapat diubah menjadi bentuk energi yang lainnya,
sehingga
UαS,αV,αn=αU(S,V,n)............(28)

15 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

atau
dU=TdS-PdV+μdn............(29)
dimana U adalah energi dalam, T adalah temperatur absolut, S adalah entropi, P
adalah tekanan, V adalah volume, μ adalah pertambahan inkremen, dan n adalah mol.
Persamaan 2 merupakan persamaan dasar dari energi dalam (fundamental equation),
dan apabila diintegralkan, maka akan didapatkan persamaan Euler tentang teorema
dalam fungsi homogen, yang sering juga disebut sebagai persamaan dasar.
U=TS-P..........(30)
Pada tahun 1873, Gibbs menunjukkan bagaimana cara untuk memasukkan
kontribusi dari suatu material, ke persamaan yang mengenalkan konsep potensial kimia
p dari spesi I dan menulis persamaan dasar untuk energi internal sistem dengan
memasukan kerja PV dan perubahan dari jumlah n. Hal ini dapat ditunjukkan dari
persamaan 4.
dU=TdS-PdV+i=1Iμidni...........(31)
Total diferensial dari energi bebas Gibbs (G) dalam variabel asli adalah sebagai berikut,

.....(32)
Dengan substitusi dari dua hubungan Maxwell dan definisi dari potensial kimia, maka
persamaan 5 diatas dapat diubah menjadi,
dG=Vdp-SdT+i=1Nsμidni......(33)
Sementara itu, energi bebas gibbs juga dirumuskan sebagai berikut,
G=i=1Nsμini.......(34)
Apabila diturunkan maka rumus energi bebas Gibbs diatas akan menjadi,
dG=i=1Nsμidni+i=1Nsnidμi......(35)
Dengan mensubstitusi persamaan 23 ke persamaan 21, maka didapat persamaan Gibbs-
Duhem sebagai berikut,
i=1Nsnidμi=-SdT+Vdp ......(36)
Ket : ni = Jumlah mol komponen i
dμi = Perubahan kenaikan potensial kimia dari
komponen
T = Temperatur Absolut

16 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

V = Volume
p = Tekanan
S = Entropi
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa variable-variabel termodinamika yang
ada tidak berdiri sendiri melainkan saling berkaitan. Untuk sebuah sistem sederhana
dengan i komponen yang berbeda, akan mengakibatkan adanya i+1 parameter
independen atau derajat kebebasan . Sebagai contoh, jika kita tahu tabung gas diisi
dengan nitrogen murni pada suhu ruang (298 K) dan 25 MPa, kita dapat menentukan
kerapatan fluida (258 kg / m3), entalpi (272 kJ / kg), entropi (5,07 kJ / kg-K) atau
variabel termodinamika intensif lainnya. Jika tabung tidak hanya berisi nitrogen
melainkan dicampur pula dengan nitrogen, maka dibutuhkan tambahan informasi yakni
rasio perbandingan kedua zat tersebut.
Pengaruh keterlibatan fasa dalam kesetimbangan reaksi kimia terbagi dalam
beberapa jenis, yaitu:.
a. Kesetimbangan Fasa Cair-Padat
Pada kesetimbangan fasa cair-padat, persamaan perubahan titik beku dengan
tekanan dT/dP adalah sebagai berikut.
dTdP= T (vL- vS)(hL- hS)......(37)

Untuk beberapa zat, besaran dT/dP bernilai kecil dan positif. Pada perubahan
wujud dari es ke air dala suhu 0°C, dT/dP bernilai ‒ 0,007 K/atm. Hal ini merupakan
sifat dari air karena fasa padat memiliki densitas yang lebih rendah daripada fasa cair,
sehingga nilai vL‒ vS < 0.

b. Kesetimbangan yang Melibatkan Uap


Dalam mengaplikasikan kesetimbangan yang melibatkan fasa uap, tekanan
didefinisikan dengan notasi Po. Untuk kesetimbangan fasa jenis ini persamaan (37)
digunakan dalam perhitungan panas dari penguapan kesetimbangan fasa uap-cair, panas
dari sublimasi kesetimbangan fasa padat-cair dan densitas dari fasa.
Perbedaan volume pada persamaan (37) hampir sama dengan volume uap.
Untuk memperkirakan lebih lanjut sifat ideal gas untuk uap, kita dapat mengganti Δv
dengan RT/Po, sehingga persamaannya menjadi,

17 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

dPodT= PoΔhRT2 ......(38)


dPo/PodT/T2= -d ln Pod(1/T)= ΔhR.....(39)
Jika persamaan (39) diintregasikan dibawah asumsi dari konstanta Δh, maka
persamaannya menjadi,
lnPo=c-ΔhRT......(40)
dimana c adalah konstanta, persamaan (39) dan (40) disebut juga sebagai
persamaan Clausius-Clapeyron yang digunakan untuk korelasi, interpolasi dan
ekstapolais dari data tekanan uap dan mengestimasi kalor laten dari data tekanan uap.
Persamaan (40) menunjukkan bahwa plot logaritmik dari Po dengan temperatur absolut
akan menghasilkan garis lurus dengan Δh konstan.
Persamaan Antoine juga digunakan untuk merepresentasikan secara analitis dari
data tekanan uap, sebagai berikut:
logPo=A-ΔBC+t......(41)
Perbedaan mendasar dari persamaan Antoine dan Clausius-Clapeyron adalah
pada parameter C yang lebih besar dari 273.15. Jika kalor laten dari penguapan
ditujukan untuk perhitungan temperatur, maka persamaannya menjadi
logPo=A-BT+ ClogT.....(42)

1. Joni mengamati sebuah gelas berisi air yang ditutup dengan baik sambil
memikirkan apa hubungan air dalam gelas dengan tabel kukus (steam table).
Tiba-tiba Maulan datang dan mengajukan pertanyaan berikut ini: “Joni,
bagaimana caranya mencari tahu besaran-besaran termodinamika air dan uap
air di dalam gelas tersebut”. Apa jawaban Joni kepada Maulan? Jika Joni
mengatakan ya berapakah harga masing-masing besaran-besaran tersebut?

Jawab:
Steamtable dapat digunakan untuk menentukan berbagai sifat
termodinamika air dan uap air dengan menggunakan persamaan berikut:
v=xvg+(1-x)vf.....(43)
h=xhg+1-xhf.....(43)
s=xsg+1-xsf.......(44)
Contoh:

18 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

Berapakah volume spesifik, entalpi, dan entropi uap dengan kualitas 90% pada
400 psia?
Solusi:
Dari steam tabel, pada 400 psia, diketahui:
vf=0.01934
vg=1.162
vfg=vg-vf=1.14266
sehingga volume spesifik:
v=vf+x(vfg)
v=0.01934+(0.9)(1.14266)=1.047734 lbm/ft3
Entalpinya adalah:
hf=424.2
hg=1205
hfg=780.8
h=hf+x(hfg)
h=424.2+(0.9)(780.8)=1126.92 Btu/lbm
Entropinya adalah:
sf=0.6218
sg=1.486
sfg=sg-sf=1.486-0.6218=0.8642
s=sf+x(sfg)
s=0.6218+(0.9)(0.8642)=1.39958 Btu/lbmoR

2. Maulan bersama Joni berdiskusi mengenai materi termodinamika yang perlu


mereka pelajari sambil minum air dingin dengan es batu yang mengambang di
permukaan air. Tiba-tiba Joni bertanya kepada Maulan: “Mengapa ya es
mengapung di air?” Bantulah Maulan menjawab pertanyaan Joni dengan
mengacu pada gambar dibawah ini.

19 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

Air setimbang dengan es pada 1 atm dan 00C. Dalam titik tertentu di
diagram fasa, jumlah derajat kebebasan adalah 2 – yakni suhu dan tekanan.
Misalnya, kemiringan yang negatif pada perbatasan padatan-cairan memiliki
implikasi penting sebagaimana dinyatakan di bagian kanan diagram, yakni bila
tekanan diberikan pada es, es akan meleleh dan membentuk air. Berdasarkan
prinsip Le Chatelier, bila sistem pada kesetimbangan diberi tekanan,
kesetimbangan akan bergeser ke arah yang akan mengurangi perubahan ini. Hal
ini berarti air memiliki volume yang lebih kecil, kerapatan lebih besar daripada
es dan faktanya adalah es mengapung di air.

3. Apa yang bisa anda jelaskan dari grafik ini?

20 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

Jawab:

Ukuran atau besaran dari tekanan uap substansi murni, baik padat
maupun cair, digambarkan pada kurva pressure-vs-temperature seperti di garis
1-2 dan 2-C dalam gambar. Garis ketiga (2-3) menunjukan hubungan
kesetimbangan padat/cair. 3 garis tersebut menggambarkan kondisi P dan T pada
dua fasa yang berada pada tempat dan waktu yang sama, dan dibatasi daerah
fasa tunggal. Garis 1-2, kurva sublimasi (sublimation curve), memisahkan
daerah padat dan gas; garis 2-3, kurva campuran (fusion curve), memisahkan
daerah padat dan cair; garis 2-C, kurva penguapan (vaporization curve),
memisahkan daerah cair dan gas. Ketiga garis tersebut bertemu pada triple
point, dimana tiga fasa berada pada kesetimbangan. Mengacu pada aturan fasa,
triple point adalah invarian (F=0). Jika sistem berada sepanjang dua garis fasa,
disebut univarian (F=1), dimana pada daerah fasa tunggal disebut divariant
(F=2).

Kurva penguapan 2-C berujung pada titik C, yaitu titik kritis. Koordinat
titik ini adalah tekanan kritis Pc dan temperatur kritis Tc, tekanan tertinggi dan
temperatur tertinggi yang merupakan spesi kimia murni bisa berada dalam
kesetimbangan uap/cair.

21 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

Fluida homogen seringkali diklasifikasikan sebagai cairan atau gas.


Bagaimanapun, perbedaan tidak selalu dapat digambarkan bentuknya, karena
dua fasa menjadi tidak dapat dilihat pada titik kritis. Garis panjang misalnya
seperti A ke b menunjukkan dari daerah cair ke daerah gas tanpa menyebrangi
sebuah batasan fasa. Transisi dari cair ke gas tidak secara mendadak. Dalam hal
lain, garis sepanjang itu yang menyebrangi batas fasa 2-C termasuk langkah
penguapan, dimana terjadi perubahan mendadak dari cair ke gas.

Daerah gas terkadang terbagi dalam dua bagian, diperkirakan dengan


garis putus-putus. Gas yang berada pada sebelah kiri garis ini, yang bisa saja
menguap dengan tekanan pada temperatur konstan atau dengan pendinginan
pada tekanan konstan, disebuat uap. Derah dimanapun disebelah kanan garis ini,
dimana T > Tc, termasuk daerah fluida, disebut superkritis.

22 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

BAB III

SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dalam bab sebelumnya, maka dapat dibuat beberapa


simpulan,yaitu:

a. Oksidasi adalah pengeluaran elektron dan reduksi adalah pemerolehan elektron.


Dengan demikian oksidasi akan selalu disertai reduksi aseptor elektron. Prinsip
oksidasi reduksi ini berlaku sama dalam seluruh sistem biokimia.
b. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak proses biologi yang melibatkan reaksi
oksidasi reduksi karena reaksi ini berlangsung secara simultan, contohnya adalah
pernapasan sel yang merupakan reaksi oksidasi glukosa (C6H12O6) menjadi CO2
dan reduksi oksigen menjadi air.
c. Sifat termodinamika yang berubah dalam reaksi biokimia adalah energi bebas
gibbs pembentukan (∆fGi), entalpi, dan entropi reaksi.
d. Persamaan Gibbs-Duhem didefinisikan sebagai hubungan antara perubahan
potensial kimia suatu komponen dalam sistem termodinamika.

23 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

LAMPIRANGambar 1. Peta Konsep

Sistem E’0
volt

H+/H2 -0,42

NAD+/ NADH -0,32

Lipoat; ox/red -0,29

Acetoacetate/ -0,27
hydroxybutyrate

Pyruvate/ lactate -0,19

Oxaloacetate/ malate -0,17

Fumarate/ succinate +0,03

Cytochrome b; Fe3+/ Fe2+ +0,08

Ubiquinone; ox/red +0,10

Cytochrome c1; Fe3+/Fe2+ +0,22

Cytochrome a; Fe3+/Fe2+ +0,29


Oxygen/ water +0,82

Tabel 1. Potensial redoks yang penting pada sistem oksidasi mamalia


Sumber : Harper. Biochemistry. Ed. 27. 2009

24 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

Tabel 2. Steamtable

Fp
NADH
A
H
½OFp 3+ +
+ +2
SITOKROM
FLAVOPROTEI
NAD
2Fe
2H H
OA
2 2
(Reduksi)
(Oksidasi)
H N
2

25 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

Gambar 2. Reaksi redoks dalam transport Elektron

26 | Pemicu 2 Bionergetika
Aspek Termodinamika dalam Oksidasi Biologi serta
Kesetimbangan Fasa dan Kimia

DAFTAR PUSTAKA

Alberty, Robert. A . 1993 . The fundamental equation of thermodynamics for


biochemical reaction systems . Great Britain : IUPAC
Anonim. 2003. “The Biology Project-Biochemistry”.
http://www.biology.arizona.edu//html. (diakses tanggal 21 Maret 2011 pukul
17.14 WIB)

Anonim.“General, Organic and Biochemistry“.


http://www.ull.chemistry.uakron.edu//html. (diakses tanggal 21 Maret pukul
17.19 WIB)

Doran, Pauline M . 2002 . Bioprocess Engineering Principles . London : Academic


Press
Guntur.”KesetimbanganKimia”.http://gunturchem.blogspot.com/2010/01.html. (diakses
tanggal 21 Maret 2011 pukul 16.16 WIB)

Moran, Michael. J dan Shapiro, Howard. N . 2004 . Termodinamika Teknik . Jakarta :


Penerbit Erlangga.
Mozar. “Bioenergetika Oksidasi Biologi”. http://makalahcenter.blogspot.com//html.
(diakses tanggal 21 Maret 2011 pukul 17.10 WIB)

Smith, J.M , Van Ness, H.C dan Abbott, M.M . 2001 . Introduction to Chemical
Engineering Thermodynamics . New York : McGraw-Hill

Yoshito Takeuchi. 2008. “Konsep Oksidasi-Reduksi”. http : //www.che-mis-try//html


(diakses tanggal 21 Maret pukul 17.30 WIB)

27 | Pemicu 2 Bionergetika