Anda di halaman 1dari 36

“TENTANG SAYA”1

KHAERUL UMAM NOER

Tulisan ini adalah versi lain dari tulisan yang telah saya ajukan dalam
tugas yang berbeda. Sebagaimana tulisan sebelumnya, saya katakan
bahwa tidak ada pretensi atau tendensi apapun ketika tulisan ini
dibuat. Tulisan ini jauh lebih ringkas, sebab saya tidak membagi
periode waktu kehidupan saya sebagaimana yang saya lakukan
sebelumnya, namun tetap tidak mengurangi konten yang harus
dibicarakan. Sedapat mungkin saya menceritakan bagaimana
perlintasan-perlintasan hidup, yang telah membuat diri saya saat ini,
yang membentuk pandangan hidup saya saat ini, yang dalam
prosesnya telah mengubah hidup saya selamanya.
Tulisan ini hanya dibangi dalam dua bagian. Pada bagian pertama
saya akan bercerita mengenai perlintasan-perlintasan hidup saya.
Mengingat tulisan ini dibuat hampir bersamaan dengan tugas
sebelumnya, maka saya pun mempergunakan lima sumber data yang
sama: diri saya sendiri, keluarga saya, catatan pribadi saya,
dokumentasi foto dan video, dan dokumen resmi (termasuk sertifikat,
piagam, dan lain sebagainya). Bagian kedua berisi pandangan saya
mengenai kebudayaan. Pandangan saya itu tidak lain adalah refleksi
saya atas keadaan diri saya, bagaimana saya memandang diri saya,
dan mengaitkannya dalam konteks kebudayaan.
Tulisan ini mencoba sedapat mungkin untuk merangkum dua puluh
empat tahun hidup saya. Menarasikan hidup adalah sebuah tantangan,
dan untuk menjawab tantangan, sekaligus tugas akademik, saya mulai
menuliskan cerita saya. Oleh karena itu, izinkan saya bertutur.

1
Diajukan sebagai tugas akhir Matakuliah Konsep Kebudayaan Dalam Kajian
Antropologi, Program Pascasarjana Antropologi, Departemen Antropologi FISIP
Universitas Indonesia Tahun 2011. Secara pribadi saya ingin menyampaikan
terimakasih sebesar-besarnya kepada Iwan Tjitradjaja, Ph.D. atas bimbingannya
sepanjang kuliah tersebut.

3
http://www.umamnoer.com
I

Dilahirkan di sebuah desa kecil bernama Ujungharapan pada tanggal


23 Maret 1986, anak laki-laki kecil itu diberi nama Khaerul Umam
Noer. Agak aneh sebenarnya, karena saya memiliki dua buah nama
dengan hanya perbedaan kecil: Khoirul Umam Noer dan Khaerul
Umam Noer. Nama kedua lebih saya gunakan, sebab nama kedua ini
tercantum di ijazah. Saya memiliki dua buah akta kelahiran, dua buah
KTP (yang satu sudah hampir mati), dan tercantum di dua Kartu
Keluarga. Barangkali hal tersebut dianggap melanggar aturan, namun
faktanya di daerah saya memiliki lebih dari satu pengenal bukan hal
yang aneh.
Dahulu desa tersebut lebih dikenal dengan Ujungmalang, dan konon
atas saran dari Adam Malik berubah nama menjadi Ujungharapan.
Desa tersebut kini menjadi kelurahan Bahagia, dan nama
Ujungharapan telah turun pangkat hanya sebatas kampung. Kelurahan
Bahagia terletak di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Provinsi
Jawa Barat, Indonesia. Desa tersebut adalah perlintasan, bahkan sejak
desa tersebut kali pertama mengenal jalan.
Desa tersebut adalah perlintasan utama, bagi mereka yang berasal
dari wilayah Babelan dan Bojong untuk menuju Bekasi dan Jakarta
Timur atau sebaliknya. Saat ini bahkan menjadi jauh lebih sibuk,
terutama sejak dimulainya ekplorasi minyak bumi oleh Pertamina di
kawasan Wates, tidak jauh dari desa tersebut; dan dengan mulai
masuknya para pengembang, menginvasi desa tersebut dengan
“rumah monopoli”, dan menjadikannya sebagai hunian para pekerja,
musafir yang telah meninggalkan kampung halamannya.
Anak laki-laki kecil itu tumbuh sebagaimana anak laki-laki lainnya.
Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang panuh kasih sayang
(setidaknya saya memandangnya seperti itu), anak laki-laki kecil itu
tumbuh menjadi laki-laki yang ada saat ini. Anak itu, merupakan
kombinasi genetis yang mengagumkan. Perpaduan dari DNA Bekasi
(ibu saya lahir dan dibesarkan di Bekasi) dan DNA Cirebon (ayah saya
dilahirkan dan dibesarkan di Cirebon), perpaduan etnisitas Betawi dan
Sunda, perpaduan temperamental yang berbeda, itu lah saya.

3
http://www.umamnoer.com
Saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang agamis, jika saya
diizinkan menyatakan hal tersebut. Sejak usia sangat dini saya sudah
dikenalkan dengan agama Islam. Sejak usia kanak-kanak saya sudah
masuk Taman Kanak-Kanak yang memfokuskan pada pembelajaran Al
Quran. Sayang sekali saat itu (sebelum tahun 1990) istilah Taman
Pendidikan Al Quran belum dikenal, barangkali kalau sudah ada pasti
saya dimasukkan ke TPA oleh orangtua saya.
Sejak TK, terutama sejak saya telah menyelesaikan pendidikan Iqra
(panduan singkat mempelajari dan membaca Al Quran), saya sudah
dibelikan Al Quran super besar. Saya masih menyimpan Al Quran
tersebut. Al Quran hardcover dengan sampul berwarna biru bercampur
ungu dan putih, dengan plastik laminating yang sudah mengelupas di
sana-sini. Hurup Al Quran tersebut besar, sangat besar malah.
Barangkali orangtua saya bertujuan agar saya dapat dengan mudah
membaca Al Quran. Agak menggelikan sesungguhnya bagi saya,
sebab ketika saya kali pertama memegang Al Quran tersebut bahkan
saya tidak dapat mengangkatnya tinggi-tinggi, selain bahwa pada saat
yang bersamaan saya masih belajar Iqra jilid V. Kali pertama saya
membaca Al Quran, saya ingat betul, butuh waktu hampir tujuh tahun
untuk menyelesaikan bacaan saya. Pada saat saya takhtim
(menamatkan membaca Al Quran) untuk pertama kali, orangtua saya
menyelenggarakan sebuah acara kecil-kecilan, dengan membagikan
makanan ke saudara-saudara yang rumahnya berdekatan dengan
rumah. Satu hal lain yang saya ingat, sejak saya takhtim itu, saya
dibebaskan untuk memilih Al Quran mana pun yang saya suka.
Saya ingat, pilihan saya saat itu adalah Al Quran yang dibawa oleh ibu
saya ketika dia pulang dari menunaikan ibadah haji pada tahun 1996.
Al Quran tersebut terlihat begitu cantik di mata saya. Dengan ukuran
yang jauh lebih kecil dari Al Quran pertama saya, AL Quran tersebut
dibungkus dengan kulit berwarna abu-abu yang dicap kaligrafi
berwarna emas, dan memiliki kotak pembungkus yang dibalut beludru
warna senada. Sangat disayangkan, Al Quran tersebut lenyap entah ke
mana. Satu hal yang nampaknya jelas, sejak saat itu, setiap saya
mengganti Al Quran, saya selalu memilih Al Quran yang dicetak di
Arab Saudi, pun ukurannya semakin mengecil. Al Quran yang saya
pergunakan saat ini (jika tidak salah ingat ini Al Quran yang
kedelapan), saya beli di sebuah toko di Madinah ketika melaksanakan

3
http://www.umamnoer.com
haji pada tahun 2009 lalu, sebuah Al Quran seharga 27 real (jika di
rupiah kan kurang lebih Rp. 67.500). Al Quran hardcover berwarna
biru, dengan kertas yang sangat tipis, seperti kertas roti, dan
ukurannya yang kecil, lebih besar sedikit ketimbang kartu ATM, dan
ketebalannya yang tipis, membuatnya nyaman di genggaman tangan
saya.
Saya ingat bagaimana kebiasaan keluarga saya untuk bertadarus (satu
orang mengaji dan yang lainnya menyimak) Al Quran setiap hari
setelah melaksanakan salat magrib. Terus terang saya merindukan
kebiasaan tersebut. Kebiasaan ini mulai punah manakala saya
menginjak ke Madrasah Tsanawiyah. Setiap selesai magrib, saya
biasanya membaca Al Quran, dan ibu saya mendengarkan dari
kamarnya yang tidak jauh dari tempat saya mengaji. Agak aneh
sebenarnya, sebab ibu saya selalu tahu ketika saya salah dalam
membaca dengan berdehem, tanda yang digunakan kalau saya salah
dalam membaca, dan saya akan mengulangi bacaan tersebut. Jika
dibandingkan ibu yang sangat ketat dalam mengajarkan anak-anaknya
membaca Al Quran, ayah saya cenderung lebih bebas dalam mendidik
saya dan kedua kakak saya dalam membaca Al Quran.
Saya baru menyadari, ibu saya baru akan melepas anak-anaknya
untuk membaca Al Quran tanpa pengawasan yang ketat ketika
anaknya telah menyelesaikan pendidikan dasar di Madrasah
Ibtidaiyah. Barangkali, saya menduga, hal ini didasarkan pada asumsi,
ketika saya dan kedua kakak saya telah memasuki Madrasah
Tsanawiyah dianggap telah mampu membaca Al Quran secara mandiri
tanpa perlu pengawasan yang terlalu ketat. Namun hanya ketika kami
beranjak ke Madrasah Aliyah lah ibu saya baru melepaskan
sepenuhnya anak-anaknya untuk mengaji.
Ayah saya, dalam derajat tertentu, adalah kebalikan dari ibu saya. Jika
ibu saya begitu ketat mendidik anak-anaknya dalam masalah
pelajaran agama Islam, utamanya mempelajari penulisan hurup Arab;
ayah saya justru ketat mendidik kami dalam penulisan hurup latin.
Ayah saya, sejak saya masih kanak-kanak, telah mengajarkan saya
membaca hurup latin. Dahulu di rumah keluarga saya terdapat satu
ruang yang dinamakan ruang koboi. Di kamar tersebut diletakkan
puluhan lemari yang penuh krayon, pensil gambar, dan kertas;

3
http://www.umamnoer.com
terdapat pula papan tulis dan kota berisi mainan lainnya. Singkatnya,
kamar itu adalah kamar teman saya dan kedua kakak saya bermain.
Saat ini kamar itu telah berubah fungsi menjadi musalla, tempat salat
bagi para tamu yang kebetulan datang ke rumah.
Saat ini saya semakin menyadari kebiasaan menulis yang berbeda
antara ibu dan ayah saya. Ibu saya lebih banyak menggunakan bahasa
Arab atau setidaknya Melayu ketika menulis catatan-catatan yang
akan dia pergunakan ketika mengajar. Ibu saya baru akan menuliskan
catatan dengan hurup latin pada dua keadaan: entah itu menulis
catatan belanja atau catatan gaji tukang yang bekerja untuk ibu saya.
Ayah saya adalah kebalikannya, ayah saya selalu mempergunakan
hurup latin ketika menuliskan catatan. Saya sangat jarang melihat
ayah saya mempergunakan hurup Arab, meskipun ayah dan ibu saya
adalah lulusan Timur Tengah.
Lebih jauh lagi, ibu saya memiliki toleransi yang rendah sekali
terhadap kemalasan anak-anaknya dalam belajar mengaji. Meskipun
saya tidak pernah mendapatkan hukuman serius dari ibu saya, namun
kedua kakak saya pernah mendapat hukuman dari ibu saya karena
malas dalam belajar mengaji. Ayah saya lagi-lagi adalah kebalikan dari
ibu saya. Ayah saya memiliki tingkat toleransi yang besar terhadap
anak-anaknya yang sering malas belajar mengaji.
Saat saya mulai masuk ke sekolah dasar, saya dimasukkan ke
Madrasah Ibtidaiyah Attaqwa 03 tidak jauh dari rumah saya.
Barangkali ini kebiasaan orangtua saya. Sekolah TK saya persis berada
di seberang rumah, jadi ibu saya hanya mengantar ke pintu gerbang,
melihat anaknya menyebrangi jalan, dan disambut oleh guru di pintu
gerbang sekolah. Ibu saya, begitu saya telah selamat tiba di sekolah,
yang memang berada di depan rumah, langsung masuk ke rumah dan
bersiap untuk mengajar. Maklum lah, ibu saya bukan lah tipe ibu
rumah tangga yang menetap di rumah sepanjang hari, apalagi
menunggui anaknya yang ‘bersekolah’ di Taman Kanak-kanak.
Sejak awal saya menyadari, bahwa ibu saya bukan lah milik saya
pribadi, ia adalah milik masyarakat. Ibu saya adalah seorang yang
mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk dunia pendidikan. Ia
mengajar di, entah berapa banyak, majelis taklim perempuan yang
ada di wilayah Bekasi, Jakarta, dan kadangkala Karawang. Ia juga

3
http://www.umamnoer.com
mengajar di Pondok Pesantren Attaqwa Putri. Setiap hari, ibu saya
menerima banyak tamu, baik itu murid-muridnya yang berasal dari
berbagai wilayah, staf tata usaha Pondok Pesantren Attaqwa Putri
yang memberikan laporan kegiatan, maupun para pejabat, mulai dari
yang penting sampai yang sok penting. Saya sih senang-senang saja,
toh banyak makanan yang tersedia, jadi dalam hal terdapat simboisis
mutualisme antara saya dan ibu saya. Ibu saya, melalui tamu yang
datang, menghasilkan banyak makanan, sedangkan saya
menyediakan keramahan dan waktu untuk menyambut setiap tamu
yang datang.
Ibu saya menyediakan banyak waktu untuk mengajar, sebanyak waktu
yang ia sediakan untuk menerima kunjungan dari murid-muridnya.
Saya tidak tahu persis sejak kapan ibu saya berkecimpung di dunia
pendidikan. Menurut pengakuan muridnya, yang merupakan ibu dari
teman saya, ibu saya pernah mengajar ketika ibu teman saya itu
sedang di Madrasah Tsanawiyah tahun 1973. Jika informasi tersebut
benar, berarti ibu saya telah mengajar hampir empat puluh tahun.
Bukan waktu yang sebentar, pun bukan waktu yang panjang. Bagi ibu
saya, waktu adalah relatif. Saya semakin melihat kebenaran kata-kata
ibu saya mengenai relativitas waktu. Rasanya baru kemarin ketika
saya menyelesaikan pendidikan saya di Madrasah Aliyah dan
menerima ijazah saya, namun ternyata sudah tujuh tahun yang lalu.
Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa yang dilakukan ibu
saya terkait erat dengan “status” yang dia sandang. Sebagai anak dari
seorang Pahlawan Nasional, kakek saya, Almaghfurillah KH. Noer Alie,
konon katanya membesarkan anak-anaknya untuk meneruskan cita-
citanya, membentuk sebuah masyarakat madani yang menjadikan
pendidikan sebagai asas pembentuknya. Saya rasa kakek saya pasti
bangga dengan anak-anaknya, entah apakah dia memiliki kebanggaan
yang sama dengan cucu-cucunya. Keluarga besar saya, tidak hanya
ibu saya saja, yang hampir seluruhnya berkecimpung di dunia
pendidikan, memandang pendidikan sebagai suatu kewajiban, hampir-
hampir sebagai perintah Allah yang harus diimani. Oleh karena itu,
tidak lah terlalu mengherankan, manakala pendidikan menjadi
kompetisi tersendiri dalam keluarga kami.

3
http://www.umamnoer.com
Ayah saya, dalam banyak hal, memiliki perbedaan dengan ibu saya.
Meskipun sama-sama mengabdikan diri pada dunia pendidikan, ayah
saya tidak lah mengajar di taklim-taklim sebagaimana ibu saya.
Pengajian atau majelis taklim bagi laki-laki di tempat saya memang
agak jarang, yang banyak itu adalah pengajian laki-laki yang berkaitan
dengan kegiatan “dadakan” seperti ratib atau haul (umumnya
memperingati tahun kematian seseorang), ada pula taklim biasa
namun ayah saya datang hanya sebagai tamu biasa. Ayah saya,
seingat saya, agak jarang untuk hadir ke acara-acara yang sifatnya
seremonial. Biasanya ayah saya datang ke acara yang mengundang
dirinya, terutama jika si pengundang itu memiliki hubungan dengan
ayah saya, entah itu murid atau kolega.
Ayah saya lebih tertarik membangun relasi-relasi pribadi dengan
orang-orang ada di sekitarnya. Saat ini bahkan lebih ajaib lagi. Ayah
saya adalah pendengar yang luar biasa. Dia dapat mendengarkan
ocehan orang tanpa sekalipun membuat orang tersebut merasa telah
mengoceh terlalu banyak. Ayah saya sanggup mendengar keluhan
atau curhat sepanjang waktu, terutama setelah salat zuhur atau asar,
tanpa sedikit pun mencela orang tersebut. Ayah saya adalah tipe
orang ikhlas bangun dari tidur siang hanya untuk mendengar curhat
dari para tamu yang menyengajakan diri datang. Akibat dari
kemampuannya yang luar biasa ini, banyak orang yang tiba-tiba
datang ke rumah mencari ayah saya. Tentu saja awalnya hal ini sangat
mengagumkan saya dan keluarga. Bayangkan, agaknya ayah saya
mengisi “celah kehampaan”, di mana orang hanya bicara tanpa mau
mendengarkan. Saya bahkan sering tertawa terkikik ketika melihat
ayah saya dalam posisi dewa: bersandar dengan miring, dengan
tangan kanan menyandar ke pegangan sofa, dan tangan kirinya
berada di pahanya, sebuah posisi sempurna yang menggambarkan
seseorang yang sedang mendengarkan dengan seksama. Di tambah
segelas teh hangat dan beberapa potong gorengan, saya percaya,
bahkan pun terjadi gempa, ayah saya tidak akan bergeser dari
posisinya.
Jika ada hal yang sering membuat saya risih tekait dengan ayah saya,
maka itu adalah sebutan yang gelar yang disematkan di depan nama
ayah saya: kiai. Saya bukan anak kiai, sebab saya tidak pernah
menganggap ayah saya sebagai kiai. Bahkan ayah saya sendiri sering

3
http://www.umamnoer.com
tertawa ketika dipanggil kiai. Salah satu keunggulan yang dimiliki ayah
saya adalah kemampuannya untuk memberikan sugesti kepada orang
lain. Kemampuan ini tidak mempan terhadap anak-anaknya.
“Kesaktian” ayah saya boleh dikatakan sudah melegenda. Banyak di
antara murid-muridnya datang ke rumah hanya untuk curhat, dan
ayah saya hanya memberikan sedikit nasihat, dan mereka yang
datang akan mengangguk-angguk terkena mantra sugesti ayah saya.
Kadang saya berpikir, mengapa saya yang notabene adalah anaknya
seringkali tidak sependapat dengan ayah saya. Lebih mengherankan
lagi adalah pandangan heran orang-orang yang jika saya katakan ayah
saya hanya lah seorang pria paruh baya yang doyan makan gorengan
dan penuh humor. Barangkali mereka berpikir ayah saya lebih sakti
dari yang dipertunjukkan, namun saya dapat meyakinkan siapa pun
yang mengenal ayah saya, bahwa ayah saya hanya lah orang yang
sangat tidak luar biasa.
Saya belajar banyak hal dari ibu dan ayah saya. Saya belajar banyak
mengenai etos kerja, tanggungjawab dan loyalitas dari ibu saya,
bagaimana ia bekerja untuk memajukan pendidikan murid-muridnya
tanpa memandang batasan usia, gender dan etnisitas. Saya belajar
banyak mengenai toleransi, keterbukaan dan humor dari ayah saya,
bagaimana ia mampu membangun relasi dengan banyak orang
sekaligus membuka diri mereka pada orang-orang tersebut. Kedua
orangtua saya tentu saja mengajarkan banyak hal secara formal,
namun mereka mengajarkan lebih banyak lagi secara non formal.
Hal lain yang saya pelajari dari kedua orang saya adalah tujuan dan
negosiasi untuk mencapai tujuan tersebut. Saya dibesarkan dalam
lingkungan keluarga di mana negosiasi menjadi salah satu cara untuk
mendapatkan apa yang diinginkan. Walaupun terkesan diktator dan
otoritarian, ibu dan ayah saya mengajarkan kepada anak-anaknya
untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka
inginkan, dan apa yang mereka keluhkan. Saya sendiri sejak kecil
telah bernegosiasi dengan ibu dan ayah dalam banyak hal. Ketika saya
kecil misalnya, ibu saya selalu bernegosiasi pada saat saya hendak
membaca komik. Ibu saya selalu berkata kepada saya “penuhi hak
Tuhan baru tuntut hakmu”, maksudnya adalah agar saya terlebih
dahulu salat atau mengaji baru nonton tv atau baca komik.

3
http://www.umamnoer.com
Semakin beranjak dewasa, saya baru menyadari, bahwa saya semakin
mahir melakukan negosiasi dengan ibu dan ayah saya. Misalnya ketika
ketika saya bernegosiasi untuk tidak dikirim ke Madura, atau ketika
saya menolak untuk ke Timur Tengah, atau ketika saya memilih satu
subjek ilmu yang bahkan tidak saya ketahui wujudnya: antropologi.
Saya menyadari sepenuhnya negosiasi yang saya lakukan dengan ibu
dan ayah saya adalah cara mereka membangun karakter demokrasi di
rumah kecil kami. Karakter yang sama yang coba dibangun pada dua
orang anaknya yang lain.
Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertama saya
laki-laki bernama Adang Iskandar, sedangkan kakak kedua saya
perempuan bernama Ade Nailul Huda. Sama seperti saya, kedua kakak
saya menerima pendidikan yang sama baiknya dengan saya. Saat ini,
keduanya sudah menikah, dan nampaknya mereka akan sangat sibuk
dengan keluarga masing-masing. Kakak pertama saya menikah
dengan perempuan bernama Siti Hinsyana Nunia, dan dikaruniai satu
orang anak perempuan bernama Azka Arzaki. Kakak kedua saya
menikah dengan laki-laki bernama M. Azizan Fitriana, dan dikaruniai
satu orang anak perempuan bernama Ma’azzah Nurul Maula. Nah,
karena saya saat ini belum menikah, saya menikmati waktu saya
bermain dengan dua orang keponakan, yang walaupun sering bikin
saya jengkel setengah mati, tapi mereka dapat membawa warna baru
dalam kehidupan saya.
Kakak pertama saya, Adang Iskandar, numpang lahir di negri orang.
Lahir ketika orangtua saya sedang menyelesaikan studi magister di Al
Azhar Mesir, namun jangan bayangkan kakak laki-laki saya mirip orang
Arab, ia jauh berbeda bahkan dalam imaji paling absurd sekalipun.
Secara umum, kami bertiga tidak ada satu pun yang mirip. Berbeda
dengan teman-teman saya yang dalam derajat tertentu memiliki
kemiripan fisik dengan kakaknya, saya sama sekali tidak mirip dengan
kakak-kakak saya. kemiripan di antara kami bertiga terletak pada
temperamen dan kadar emosi. Kakak laki-laki saya selalu mengatakan
bahwa ia adalah eksperimen pertama dari ibu dan ayah saya. Dia
dibesarkan, menurutnya, dalam lingkungan yang ortodoks. Menurut
pengakuan kedua kakak saya, mereka sering dihukum oleh ibu saya
manakala mereka gagal membaca Al Quran atau malas mengaji atau

3
http://www.umamnoer.com
bahkan malas ke sekolah. Berbeda dengan saya, yang lagi-lagi
menurut mereka, lebih ringan bahkan lebih lembek.
Kakak laki-laki saya ini dapat digolongkan sebagai tipe yang santai.
Barangkali karena orangtua tidak terlalu memberikan target yang
harus dicapai dalam dunia akademik. Kakak laki-laki saya adalah satu-
satunya orang yang sempat merasakan bersekolah di luar Attaqwa
ketimbang dua adiknya. Pada saat menginjak Madrasah Aliyah, kakak
saya pindah ke Pondok Modern Islam Assalam yang terletak di
Surakarta. Saya ingat betul kebiasaan saya dan ayah saya, yang
setiap jumat pertama pasti ke terminal Pulogadung untuk
mengunjungi kakak saya di pondoknya. Ayah saya memiliki teman di
Solo, dahulu teman ayah saya mengajar di Ngruki, namun kemudian
entah karena alasan apa ia pindah untuk mengajar ke Assalam. Setiap
mengunjungi kakak saya, sambil membawa pesanannya yang luar
biasa banyak dan merepotkan, ayah saya selalu datang ke rumah
temannya untuk menginap. Setiap jumat sore saya dan ayah saya
berangkat, menginap satu malam di Solo, dan senin pagi dapat
dipastikan kami telah tiba kembali di rumah.
Kakak saya, walaupun sering menjengkelkan, adalah tumpuan
keluarga untuk hal-hal yang berkaitan dengan komputer. Adalah
sebuah kesalahan, setidaknya bagi saya, ketika kakak saya
mengambil kuliah di bidang ekonomi Islam, padahal ia akan jauh lebih
baik mengembangkan diri jika mengambil komputer atau teknologi
informasi. Walaupun akhirnya lulus juga, dengan sejumlah pelototan
mata dan omelan orangtua, terutama sejak ibu saya menerobos
urusan akademik dengan menghubungi temannya, yang merupakan
guru besar di UIN, untuk membantu kakak saya. Saat ini kakak saya
sedang menikmati usahanya yang baru, entah yang keberapa saya
lupa, yang lagi-lagi berhubungan dengan teknologi.
Kakak kedua saya, perempuan, dalam beberapa hal memiliki
kesamaan dengan saya. Kami berdua sama-sama doyan masak dan
makan. Kami berdua pun berbagi beban akademik yang sama yang
diberikan orangtua. Entah kenapa, ayah dan ibu saya selalu
memberikan target akademik yang harus dicapai oleh kakak
perempuan saya dan saya. Saya sendiri tidak mau berspekulasi lebih
jauh mengenai hal ini. Kakak perempuan saya, karena merupakan

3
http://www.umamnoer.com
kakak perempuan satu-satunya, adalah teman yang baik untuk
bercerita. Saya dan kakak saya yang satu ini, dahulu ketika kami
masih bersekolah, sering mengendap-endap pada malam hari ke
dapur, memasak nasi goreng, yang celakanya lebih sering terlalu
pedas atau asin, kemudian ngobrol di depan teve sambil menyantap
masakan yang kami buat.
Saya memiliki banyak hal aneh yang dilakukan dengan kakak
perempuan saya. Boleh dikatakan, dalam beberapa hal saya lebih
akrab dengan kakak perempuan saya ketimbang kakak laki-laki saya.
Barangkali karena kami hanya tiga bersaudara, dan kakak perempuan
saya berjarak lebih dekat ketimbang kakak laki-laki, menyebabkan
saya lebih akrab dengan kakak perempuan saya. Saya masih ingat
betapa saya sedih ketika mengantar kakak perempuan saya, saat ia
memutuskan untuk melanjutkan studi ke Timur Tengah, atau lebih
tepatnya Mesir. Saya ingat kegilaan saya untuk menulis surat kecil,
hanya berdiameter 15cm, namun panjangnya hingga mencapai dua
meter. Dalam surat-surat yang saya kirimkan, bersamaan dengan
kiriman orangtua jika kebetulan ada yang akan ke Mesir, saya
bercerita banyak hal. Mulai dari kegiatan sekolah hingga berbagai
kejadian lucu di keluarga kami.
Kakak perempuan saya, dalam beberapa hal, sangat mirip dengan ibu
saya, terutama pilihannya untuk melanjutkan studi di Al Azhar.
Keluarga besar kami dibesarkan dalam tradisi keilmuan agama Islam
yang bersumber dari Al Azhar. Anggap lah ini merupakan ortodoksi
keluarga besar kami. Hampir seluruh kakak dan adik ibu saya adalah
jebolan Al Azhar, hanya satu yang jebolan IIQ Islamabad, dan satu
lulusan dalam negri. Dapat dibayangkan bahwa pendidikan yang
diambil oleh ibu saya dan saudara-saudaranya akan diturunkan ke
anak-anaknya. Kakak laki-laki saya sejak awal menolak untuk dikirim
ke Al Azhar, bahkan kakak saya itu lebih asik mengoprek komputer
ketimbang belajar. Pilihan utama jatuh ke kakak perempuan saya,
yang memang paling serius ketika belajar. Pilihan itu pun awalnya
hendak ‘diturunkan’ ke saya, namun saya menolak dan melarikan diri
ke bidang sosial. Dalam hal ini saya memiliki sejumput rasa bersalah
pada kakak perempuan saya, membiarkan dia sendiri terkubur dalam
kitab-kitab klasik.

3
http://www.umamnoer.com
Satu hal yang saya kagumi dari kakak saya adalah keputusannya
untuk melanjutkan studi ke Sudan. Sudan adalah negara terakhir yang
ada dalam bayangan saya untuk melanjutkan studi setelah dari Mesir.
Sudan sepengetahuan saya adalah daerah konflik yang
berkepanjangan. Namun kakak saya dengan keputusan bulat memilih
Sudan, dan yang dapat saya lakukan adalah berdoa. Dalam hal ini
terdapat kesamaan antara saya dan kakak saya, ketika kami sudah
memilih sesuatu, hanya wahyu dari langit yang dapat mengubah
keputusan tersebut. Saya paham dan tahu betul, apapun provokasi
yang saya lakukan tidak akan berpengaruh pada keputusan yang telah
dibuat kakak perempuan saya.
Meskipun saya menyayangi kedua kakak saya, namun tidak berarti
hidup kami damai sentosa. Saya sering bertengkar dengan kedua
kakak saya, bahkan untuk hal yang tidak penting sekalipun. Saya
bahkan merasa, mengingat saya adalah satu-satunya anak yang
belum menikah di rumah, saya sering diperlakukan tidak adil oleh
keluarga saya. Saya sering berada di tengah pertengkaran keluarga,
atau bahkan saya yang memicu pertengkaran itu. Sebagai anak
terakhir atau bontot, posisi saya super kejepit. Ketika ibu saya marah
terhadap kakak, atau si bibi yang membantu di rumah, maka saya lah
yang menjadi sasaran omelan dan diharuskan menyampaikan ‘pesan’
yang berisi omelan tersebut; pun sebaliknya. Celakanya, sejak ibu dan
ayah saya memasukkan penyempitan pembuluh darah dan struk
ringan ke daftar riwayat kesehatan mereka, maka saya memiliki peran
lain: sebagai pemadam kebakaran. Adalah tanggungjawab saya untuk
menyediakan suplai obat-obatan bagi ibu saya dan obat herbal bagi
ayah saya, dan adalah tanggungjawab saya pula untuk menerima
omelan, bahkan ketika saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi
atau ulah apa yang dilakukan oleh dua orang kakak saya, bahkan saat
ini lebih parah, hingga masalah supir atau si bibi pun saya yang kena
getahnya.
Di luar keluarga inti, masih ada si bibi yang singgah lama dalam
keluarga saya. Nama aslinya adalah Aprillah binti Salim. Sudah
menjadi tradisi dalam keluarga kami untuk mengambil “pembantu”,
sebetulnya agak risih menggunakan istilah ini sebab bagi keluarga
kami mereka adalah orang yang membantu (kami cenderung
menghindari kata ‘pembantu’ atau ‘pekerja rumah tangga’) yang

3
http://www.umamnoer.com
kemudian dianggap sebagai saudara, yang berasal dari Cirebon.
Semua yang pernah membantu dan bekerja di rumah pasti memiliki
momongan tersendiri (kalau sekarang disebut baby sitter). Si bibi,
begitu kami memanggil dirinya, bahkan panggilan ini sudah sangat
terkenal di kampung kami (agak menarik sebab semua murid ibu dan
ayah saya pasti memanggilnya dengan nama bibi tanpa mereka tahu
nama aslinya), telah datang ke rumah sejak tahun 1996, atau ketika
saya berada di kelas enam Madrasah Ibtidaiyah. Jangan bertanya
mengapa kami selalu mengambil orang Cirebon untuk membantu di
rumah. Barangkali jawaban terbaik yang dapat saya berikan adalah
karena ayah saya orang Cirebon dan kami sekeluarga sangat akrab
dengan masakan sunda, yang di dominasi sayur dan pepes.
Si bibi ini, karena sudah empat belas tahun ada di rumah, sudah saya
anggap sebagai keluarga. Dia sering bepergian bersama keluarga,
kemanapun keluarga kami jalan-jalan pasti dirinya tidak pernah absen.
Bahkan dia menemani saya dan ibu saya untuk melaksanakan ibadah
haji tahun 2009 silam. Bagi saya, bibi adalah partner masak yang
menyenangkan. Saya senang melakukan eksperimen masakan dengan
si bibi, dan walaupun kadang-kadang hasilnya aneh, yang kami
lakukan hanya lah tertawa dan mencoba menyelamatkan eksperimen
tersebut sedapat mungkin. Saking lamanya si bibi berada di rumah,
dia bahkan tahu kesukaan masing-masing anggota keluarga, yang
bahkan tidak saya sadari. Bibi misalnya tahu persis kebencian ibu saya
terhadap terasi dan makanan bau lainnya (petai dan jengkol) yang
tidak akan masuk ke dalam menu masakan, atau kebencian kakak
perempuan saya terhadap makanan pahit dan peralatan makan yang
berat. Dia bahkan selalu menyisakan sayap ayam, jika kebetulan
sedang membuat ayam goreng, untuk saya, sebab dia selalu melihat
bahwa saya tidak pernah menolak sayap ayam.
Hal ini menarik, sebab bibi dapat menceritakan kebiasaan makan
keluarga kami dengan sangat detail. Siapa suka masakan apa, apakah
itu pedas atau asin, apakah itu panas atau dingin, dan lain sebagainya.
Kadang saya malu sendiri dengan keahlian akademik untuk
memperhatikan detail manakala saya berhadapan dengan si bibi yang
tahu betul detail kebiasaan di keluarga kami. Bagaimana ia tahu
kebiasaan saya untuk menumpuk buku dan kemalasan saya
membereskan tempat tidur, sehingga setiap saya selesai sekolah (dulu

3
http://www.umamnoer.com
waktu masih sekolah) kamar saya pasti langsung beres, bahkan
hingga hari ini ketika saya kembali dari Depok, kamar saya pasti
sangat rapih. Dia bahkan tahu kesukaan ibu saya terhadap aroma
melati dan kenanga, yang kebetulan memang tumbuh di depan
rumah. Setiap selesai belanja misalnya, ketika ibu saya sedang
berolahraga di luar, bibi pasti masuk ke kamar ibu saya,
membersihkan, membuang bunga yang lama, dan mengganti dengan
bunga yang baru saja dia petik.
Selain si bibi, masih ada supir, kami menyebutnya dengan panggilan
bang Amin. Panggilan itu hanya berlaku jika tidak dalam kondisi marah
atau jengkel, namun jika sedang marah, kami sekeluarga
memanggilnya dengan panggilan Mintul. Bang Amin adalah supir yang
amanah, pekerja kebun dan kolam yang rajin, ahli ibadah yang taat,
dan mekanik yang buruk. Jangan pernah menyerahkan urusan bengkel
kepadanya, dijamin kacau. Dia adalah pekebun yang cukup rajin,
terutama menebang pohon-pohon yang menurut anggapannya terlalu
rimbun. Saya sering bertengkar dengannya manakala dia memotong
pohon buah yang telah menghasilkan, atau ketika dia mencabut pohon
bunga yang saya beli. Dia juga bertugas untuk merawat kolam ikan
mini milik saya, di mana tugasnya mencakup pemeliharaan kolam
beserta isinya.
Keluarga kecil saya, hanya berisi ayah+ibu+kakak laki (dan keluarga
kecilnya)+kakak perempuan (dan keluarga kecilnya)+saya+si
bibi+supir, adalah keluarga yang bukan seperti digambarkan dalam
sinetron atau film layar lebar. Keluarga kecil kami penuh intrik politik,
konflik berkepanjangan, perdamaian yang penuh sogokan makanan,
dan ritual makan bersama di meja makan atau nonton bareng.
Meskipun demikian, keluarga kecil ini adalah bagian dari hidup saya.
Di samping orang-orang tersebut di atas, masih ada dua sosok lain
yang juga dianggap sebagai bagian dari keluarga saya: dua orang
murid ibu saya, Zuhriah dan Dede Zubaidah. Keduanya telah lama
“mengabdi” pada orangtua saya, jika tidak salah sejak tahun 1991.
Mereka pun mengetahui dengan baik kebiasaan yang berlaku di
keluarga saya. Kami semua, biasanya masih ditambah yang
membantu di rumah kakak perempuan dan laki-laki, pasti akan ikut
serta jika keluarga kami akan ke luar kota. Benar-benar perjalanan
yang luar biasa ramai.

3
http://www.umamnoer.com
Saya lupa sampai mana bercerita. Ah ya, saya baru bercerita ketika
saya masuk ke Taman Kanak-kanak. Taman Kanak-kanak yang saya
masuki berada persis di depan rumah saya. rasanya tidak banyak yang
saya ingat pada fase ini. Saya hanya ingat beberapa keping mozaik
kehidupan saya ketika berada di Taman Kanak-kanak. Salah satunya
adalah ketakutan saya terhadap darah, di mulai di fase ini. Suatu hari
teman bermain saya terlempar dari ayunan dan dengan sukses
mendarat di paving blok di halaman sekolah. Dengan wajah yang
terlebih dahulu mendarat, teman saya itu mengalami luka serius, yang
lansung di bawa ke puskesmas di desa saya. Sejak saat itu saya selalu
mual ketika melihat darah bercucuran.
Ingatan lain yang juga membekas di memori saya adalah ketika saya
belajar Iqra. Ketika saya tampil dalam acara kenaikan tingkat di TK,
dan saya untuk kali pertama tampil di hadapan publik. Setelah acara
itu, ibu saya membelikan saya Al Quran pertama saya; dan mulai lah
masa itu: belajar membaca Al Quran di bawah bimbingan ibu saya.
Saya ingat betul, sejak saat itu hingga saya lulus MI enam tahun
kemudian, saya selalu menunggu ibu saya selesai salat maghrib,
kemudian mulai secara perlahan membaca Al Quran superbesar yang
ada di hadapan saya. Kamar ibu saya bersebelahan dengan ruang di
mana saya biasa mengaji, dan ibu saya mendengarkan dari dalam
kamar. Jika suara saya kurang terdengar, maka ibu saya pasti akan
meminta saya menaikkan suara saya; dan jika saya salah, maka ibu
saya akan berdehem, yang menandakan saya keliru dalam membaca.
Lebih dari itu, tidak banyak hal penting yang terjadi di TK. Pada tahun
1992 saya akhirnya lulus dari Taman Kanak-Kanak, dan melanjutkan
pendidikan ke Madrasah Ibtidaiyah Attaqwa 03, tidak jauh daru rumah
saya. Tahukah anda bahwa saya lompat kelas? Saya hanya
mengenyam pendidikan kelas I hanya sekitar kurang dari dua bulan.
Menurut kepala sekolah saat itu, yang juga masih saudara saya, saya
itu kurang serius dalam mendengarkan pelajaran. Bukan karena saya
malas atau bodoh, tapi materi yang diajarkan telah saya pelajari di
rumah. Ketika teman sebaya saya masih berkutat dengan hurup
alphabet dan hijaiyah di kelas, saya sudah mempelajarinya di rumah
dan TK. Barangkali untuk alasan efisiensi, saya langsung dinaikkan ke
kelas II. Hingga saat ini saya bersyukur bahwa saya lompat kelas.
Bayangkan, saya memiliki saudara, yang secara kultural saya lebih

3
http://www.umamnoer.com
tua, dia harus memanggil saya abang, jika saya saya tidak lompat
kelas, maka saya harus memanggil dia kakak (dengan alasan
senioritas). Saya senang bahwa kemungkinan itu tidak perlu terjadi.
Perjalanan akademik saya di tingkat sekolah dasar biasa-biasa saja.
Tidak ada yang terlalu istimewa. Saya bersekolah di MIA 03 Al Barkah
hanya sampai kelas III (karena pada saat itu memang hanya sampai
kelas III saja), dan melanjutkan ke MIA 01 Pusat Putra untuk jenjang
kelas IV-VI. Dapat saya katakan saya termasuk sangat baik dalam
bidang akademik. Saya selalu berada di tiga besar, dengan tingkat
yang fluktuatif. Satu hal yang akan selalu saya kenang, saya pernah
mendapat nilai sepuluh di pelajaran Bahasa Arab pada kelas V, luar
biasa (buat saya tentunya). Pada saat itu, setiap kegiatan kenaikan
kelas, bagi yang ranking 1 sampai 3 dipastikan akan mendapatkan
piagam. Saya masih menyimpan dengan baik piagam-piagam
tersebut.
Perjalanan akademik saya dilanjutkan di Madrasah Tsanawiyah
Attaqwa Pusat Putra. Mulai dari kelas I hingga kelas III saya jalankan
dengan lancar, terlalu lancar malah. Tidak banyak kesan saya ketika
saya berada di Madrasah Tsanawiyah, kecuali kebiasaan saya untuk
duduk di bawah pohon sengon besar di samping jembatan di depan
sekolah ketika istirahat siang. Sekolah saya adalah pondok pesantren,
saat ini trend disebut fullday school. Saya mulai belajar pukul 07.30
pagi hingga pukul 11.30 siang, dari pukul 12.30-13.30 istirahat, dari
pukul 13.30-15.30 kembali belajar, dari pukul 16.00-19.00 istirahat,
dan dari pukul 19-21.00 muhadarah. Pada pukul 12.30 itu lah saya
mulai duduk, ditemani beberapa teman sambil makan gorengan dan
minuman dingin. Saya bisa duduk di sana hingga waktu yang tidak
ditentukan, biasanya sampai seorang guru, yang saya yakin hampir
semua guru tahu tabiat saya untuk duduk di bawah pohon, memanggil
semua murid yang ada di asrama untuk masuk kelas. Khusus untuk
saya, sang guru, biasanya Kepala Madrasah Tsanawiyah sendiri,
bahkan harus memanggil nama saya melalui pengeras suara agar
saya, dan teman-teman saya, bangun dari duduk di bawah pohon dan
masuk ke kelas. Celakanya hal tersebut berlangsung hampir setiap
hari di setiap minggu.

3
http://www.umamnoer.com
Selesai di Madrasah Tsanawiyah, sebenarnya saya agak takut dan
khawatir. Ibu saya kembali meminta saya melanjutkan di pondok
temannya di Madura, Pondok Pesantren Al Amin di Sumenep, Madura.
Akhirnya saya mampu memberikan argumentasi dengan menolak
untuk melanjutkan ke Madura. Saya kembali melanjutkan ke Attaqwa.
Saya meneruskan di Madrasah Aliyah Attaqwa Pusat Putra.
Sebagaimana di Madrasah Tsanawiyah, karir akademik saya di
Madrasah Aliyah pun berjalan dengan baik. Salah satu hal terbaik yang
saya dapatkan ketika belajar di Madrasah Aliyah adalah kesempatan
saya untuk menjadi senior. Saya dan teman-teman diangkat menjadi
pengurus Persatuan Pelajar Attaqwa (PPA) pada tahun 2002. Saya
sendiri diangkat menjadi Sekretaris Umum. Entah apa yang ada
dipikiran Ketua Umum, waktu itu Iwan Rahmat, dengan mengangkat
saya sebagai sekretaris. Barangkali pertimbangannya waktu itu saya
dianggap mampu mengurusi manajemen dan administasi, selain fakta
bahwa sekretaris adalah tumbal utama ketika melakukan berbagai
kegiatan, sebab melalui sekretaris lah seluruh perizinan disampaikan
ke pimpinan pondok, yang notabene adalah paman saya sendiri.
Anda boleh tanya ke teman-teman lain bagaimana saya menjadi
sekretaris yang kejam dan bertangan besi. Pada masa saya menjabat
sekretaris, saya mencabut seluruh hak setiap departemen untuk
membuat surat-menyurat, sekaligus mencabut hak mereka untuk
memohon perizinan. Dengan dicabutnya hak tersebut, saya merasa
seperti orang penting. Bayangkan setiap sabtu saya selalu diburu oleh
teman-teman kepala departemen untuk mengajukan permohonan
melakukan kegiatan, sebab seluruh surat dan perizinan harus
sepengetahuan dan seizin sekretaris. Saya bahkan memaksa seluruh
departemen untuk menghentikan seluruh kegiatan satu minggu
sebelum Sidang Pleno Anggota PPA. Kepengurusan kami, di bawah
tangan besi saya, yang mencatat sejarah: menyerahkan Laporan
Pertanggungjawaban (LPJ) dua hari sebelum Sidang Pleno Anggota PPA
dibuka, dan diserahkan langsung kepada seluruh pimpinan di Pondok
Pesantren Attaqwa Putra. Taktik tersebut berhasil memaksa Presidium
Sidang untuk menolak usulan Dewan Perwakilan Kelas untuk
mengadakan rapat terbatas untuk keperluan evaluasi.
Argumentasinya sederhana: mereka kan sudah memegang LPJ dua
hari sebelum pleno dimulai, harusnya mereka sudah rapat sebelum

3
http://www.umamnoer.com
pleno dimulai. Dan dimulai lah Sidang Pleno dengan kemenangan 1-0
di pihak kami. Ketika saya menjabat sekretaris, cukup banyak yang
saya lakukan, dan yang paling sering adalah membuat Ketua I, saat itu
dipegang teman saya, Mirwan Nijan, menangis tersedu-sedu. Dia
(Mirwan) adalah tipe melankolis, sang ratu drama. Saya akui, saya
bukan lah sekretaris yang kelewat taat apa kata bos. Saya adalah tipe
pembangkang. Meskipun demikian, saya selalu berusaha untuk
menyelesaikan seluruh pekerjaan tepat waktu.
Saya menyelesaikan pendidikan Madrasah Aliyah saya pada tahun
2003. Ada yang unik pada tahun 2003. Pada tahun 2003 lah dimulai
standardisasi nilai Ujian Nasional. Saya adalah angkatan pertama yang
menjadi kelinci percobaan UN. Di saat teman-teman yang lain sibuk
belajar UN, saya malah sibuk mempersiapkan SPMB (sekarang
bernama SNMPTN). Saya memilih untuk mengambil les tambahan di
bimbingan belajar Nurul Fikri, meskipun saya harus mengambil resiko
bolos belajar setiap hari senin, selasa dan kamis. Jadual pun saya
susun ulang, dan hanya membolos pada hari senin, sebab jadual
bimbel saya ubah menjadi senin, jumat dan minggu. Pada waktu itu
pengaturan jadual diperketat, sebab angkatan saya akan
melaksanakan UN yang pengawasnya langsung didatangkan KKM
Provinsi.
Jauh sebelum UN dilaksanakan, saya telah terdaftar sebagai calon
mahasiswa dari Universitas Paramadina. Tanpa saringan masuk, sebab
sekolah kami memiliki kuota. Tak lama kemudian saya mendaftar di
SPMB dan diterima di Universitas Airlangga, dan mengingat prospek di
Unair lebih menyenangkan buat saya, saya melepaskan Universitas
Paramadina. Saya lulus UN dengan nilai yang cukup meyakinkan,
sebesar keyakinan saya bahwa setiap siswa di sekolah saya akan
lulus. Saya yakin hal itu, mengingat kami adalah korban pertama,
maka pihak sekolah pun melakukan berbagai upaya agar kami semua
dapat lulus.
Setelah acara perpisahan dengan seluruh guru dan teman-teman, saya
berpisah jalan dengan teman-teman saya. Di saat teman-teman saya
lebih memilih untuk berkuliah di Jakarta dan Yogyakarta, saya tersesat
sendiri di Surabaya. Saya harus akui, saya menikmati kesendirian saya
di Surabaya. Saya kaget, ternyata saya tidak lah sesendiri yang saya

3
http://www.umamnoer.com
bayangkan. Ternyata ada seorang saudara saya di Surabaya, seorang
laki-laki bernama Ibnu Satria, yang ternyata pula satu angkatan
dengan saya di Universitas Airlangga walaupun berbeda fakultas. Saya
adalah mahasiswa FISIP jurusan antropologi, sedangkan dia adalah
mahasiswa FK jurusan pendidikan dokter. Saya rasa dunia dengan
dunianya terkadang sangat berbeda. Meskipun dia sudah berada di
Surabaya sejak SMA, namun saya lebih mengenal Surabaya dari pada
dia. Boleh jadi hal ini disebabkan saya di Surabaya menggantungkan
hidup saya pada angkutan umum (di Surabaya dikenal dengan nama
Lyn) dan taksi, sedangkan dia menggantungkan hidupnya pada
kendaraan pribadi.
Secara umum dapat saya katakana kehidupan saya di Surabaya
sangat menyenangkan. Saya kos di Dharmawangsa Barat No.18, di
rumah Bapak Kasmari lah saya tinggal selama enam tahun. Di rumah
tersebut, ibu saya menyebutnya kandang burung, sebab saya tinggal
di lantai dua, sedangkan si ibu kos dan keluarganya berada di lantai 1.
Terdapat enam kamar di lantai dua, awalnya tujuh kamar, tapi satu
kamar dibongkar untuk menciptakan ruang tamu di belakang. Kamar
tersebut tidak pernah terisi penuh. Pada awal saya datang tahun 2003,
terdapat enam kos laki-laki di sepanjang Dharmawangsa Barat, dan
ketika saya meninggalkannya pada tahun 2010, hanya dua tempat
yang masih bertahan: kos tempat saya dan kos yang berada di depan
kos saya. Saya memperhatikan, bahwa umumnya laki-laki yang kos
membawa kendaraan, dan mereka lebih memilih untuk kos yang agak
jauh dengan pertimbangan harga kos yang lebih murah (beberapa
bahkan nekat pulang-pergi walaupun dia tinggal di Sidoarjo bahkan
Gresik).
Saya enggan pindah dari kos saya yang lama sebab letaknya yang
strategis. Hanya berjalan lima menit saya telah tiba di jalan Airlangga-
Dharmawangsa, dan tercatat sepuluh angkutan yang melewati jalan
tersebut ke segala arah di Surabaya, dan tercatat puluhan penjual
makanan siap memenuhi selera saya atas masakan. Saya bukan orang
yang suka pilih-pilih makanan atau pun tempat makan, oleh karena itu
saya menikmati seluruh tempat makan di sekitar kos saya, bahkan
dalam radius 2km dari kos saya. Saya bahkan punya hobi baru ketika
di Surabaya, saya suka naik lyn hanya untuk tahu lyn yang saya
tumpangi melewati jalan apa saja, pertokoan apa saja, pasar apa saja,

3
http://www.umamnoer.com
rumah sakit apa saja, taman apa saja, kantor apa saja, dan berakhir di
mana lyn tersebut. Hobi ini tidak jarang membuat saya tersesat, dan
taksi adalah penyalamat saya. Saya akui hobi saya itu agak mahal dan
kurang bermanfaat, tapi saya menikmatinya sebagai bagian dari ritus
peralihan saya.
Masa kuliah sarjana saya lalui dengan lancar. Sesuai target, saya
sudah menyelesaikan penulisan skripsi saya pada semester tujuh.
Hanya ada sedikit masalah. Pihak fakultas tidak mengizinkan saya
mengambil KKN pada semester enam, alhasil saya harus ikut KKN
semester tujuh. Kondisi ini unik, sebab saya sudah dinyatakan lulus
secara yudisium padahal saya belum KKN, dan ini membuat saya
harus mengikuti wisuda semester delapan, menunggu nilai KKN turun.
Saya wisuda pada Oktober 2007 dengan nilai lumayan bagus,
walaupun mepet-mepet cum laude. Nilai IPK saya pas 3.50, batas
minimal cum laude. Akibat dari telatnya saya wisuda, saya tidak
mungkin langsung melanjutkan, sebab ijazah belum keluar. Saya
berpikir praktis, saya akan melanjutkan ke jenjang magister di mana
tidak dibutuhkan ijazah, cukup surat keterangan. Di mana lagi saya
bisa melakukan hal itu kecuali di Universitas Airlangga, tempat di
mana sarjana saya berasal. Tolong jangan salah paham, bukan berarti
saya tidak menyukai almamater saya. Saya mencintai almamater saya
sebab melalui Amrta Airlangga lah saya seperti ini. Maka melaju lah
saya di jenjang magister, dan saya memilih Ilmu-Ilmu Sosial sebagai
jurusan saya.
Saya memiliki banyak kenangan sangat manis ketika sarjana. Pada
saat itu lah, untuk pertama kalinya saya jatuh cinta pada antropologi.
Bayangkan seperti ini. Saya dididik dalam tradisi pesantren, maka
tidak ada antropologi dalam pendidikan saya. Alasan saya memilih
antropologi adalah karena saya percaya takdir menghendaki demikian.
Maka saya menggelar pilihan jurusan, mengambil koin, membaca
basmalah, dan melempar koin tersebut. Koin tersebut jatuh di
Universitas Airlangga dan menutupi empat pilihan: ekonomi, psikologi,
sosiologi, dan antropologi. Saya berpikir, ekonomi? Saya tidak paham
dengan teori ekonomi yang membingungkan. Psikologi? Persaingannya
sangat ketat, sehingga saya ragu saya akan lulus. sosiologi? Saya
mengasosiasikan ilmu ini dengan statistik, dan karena saya tidak bisa
statistik maka saya menolak memilih sosiologi. Antropologi? Apa yang

3
http://www.umamnoer.com
saya tahu tentang antropologi? Tidak ada. Saya mengasosiasikan
antropologi dengan arkeologi, saudara saya bahkan mengasosiasikan
ilmu ini dengan ilmu perbintangan (barangkali maksudnya astronomi).
Setelah menimbang, saya memilih antropologi dengan alasan
sederhana: saya anggap ilmu itu unik sebab saya sama sekali tidak
tahu subjek yang dibahas. Ilmu ini menjadi lebih unik sebab hanya
saya di keluarga besar saya, bahkan di lingkungan sosial saya, yang
mau mengambil subjek ini. Pilihan kedua jatuh pada sastra Arab UI,
sebenarnya saya mau ambil sejarah, namun orangtua, terutama ibu
saya menolak keinginan saya.
Antropologi, di satu sisi bagi saya adalah sebuah bentuk pelarian.
Keluarga besar saya banyak yang menceburkan diri pada bidang ilmu
agama. Buat saya hal tersebut tentu bukan masalah yang harus
dibesar-besarkan. Barangkali saya bisa membuat statistik sederhana.
Dari sepuluh orang, lima dipastikan akan dikirim ke Timur Tengah atau
Asia Selatan, tiga orang dengan senang hati mendaftar di universitas
berbasis Islam, satu orang akan memilih universitas yang masih
berbau Islam, dan satu orang lagi adalah devian. Saya adalah devian
tersebut. Sendiri memilih universitas sekuler (agak keterlaluan
membandingkan Airlangga dengan UIN), dengan jurusan yang tidak
hubungannya sama sekali dengan agama yang saya anut. Di sisi yang
berbeda, saya jatuh cinta dengan antropologi sebab membuat saya
menjadi lebih terbuka. Orang-orang di sekeliling saya selalu menilai
bahwa saya memiliki pemikiran yang kelewat sekular, walaupun saya
kadang bingung di mana letak sekularitas (jika memang boleh disebut
sekularitas) saya.
Kuliah di antropologi membawa kebahagiaan tersendiri buat saya.
Antropologi dapat menjawab kesenangan saya berkeluyuran di daerah
orang. Bayangkan. Sejak semester satu hingga semester enam selalu
terdapat kuliah lapangan. Saya sudah menghitung, rasanya hampir
seluruh kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah telah saya datangi.
Namun kesenangan saya sedikit berkurang ketika menginjak program
master dalam bidang antropologi. Ketika mengambil program sarjana,
saya banyak ditemani oleh teman-teman yang menyenangkan. Saya
akui, saya memiliki kelompok tersendiri yang sama-sama doyan jalan,
sama-sama doyan makan, dan sama-sama doyan keluyuran. Saat ini
saya kangen sama teman-teman saya itu.

3
http://www.umamnoer.com
Perjalanan akademik saya di pascasarjana antropologi boleh dibilang
berjalan sangat baik. Meskipun pada awalnya ada persitegangan
antara saya dan pihak fakultas, terutama dengan hilangnya
matakuliah antropologi pada semester dua dan tiga. Saya diberi tahu,
bahwa antropologi adalah peminatan yang ditawarkan, bukan program
studi itu sendiri. Ah rasanya saya ditipu. Tapi tidak apa-apa lah. Tidak
ada penipuan jika dalam ilmu pengetahuan, jadi saya terima
keputusan tersebut. Di program pasca ini, saya tidak menemukan
teman yang memiliki minat yang sama dengan saya. Saya maklum
sepenuhnya, sebab teman-teman pasca saya sebagian besarnya
sudah bekerja, dan sebagian besar lainnya sudah berkeluarga. Jika
dibandingkan dengan saya yang belum bekerja dan belum menikah,
dapat berjalan tanpa beban adalah sebuah kemewahan buat mereka.
Pada saat pasca ini lah saya mulai membangun karir akademik. Saya
mulai mengembangkan minat saya. Hingga saat ini saya mengakui
bahwa saya memiliki begitu banyak minat. Saya memiliki minat dalam
bidang kajian perempuan dan feminisme (yang saya yakin karena latar
belakang historis saya dan pengaruh dosen), bidang kajian budaya
popular (yang saya yakin karena minat saya pada musik dan film), dan
saat ini saya sedang tertarik bidang kajian postkolonial (saya yakin ini
gara-gara mantan dosen saya yang selalu menyuruh saya membaca
buku-buku postkolonial). Bagi saya, minat-minat tersebut bukan lah
untuk dipertentangkan atau dipilah-pilih. Saya menyukai seluruh
minat-minat tersebut, setidaknya hingga saat ini.
Lulus dari program pascasarjana minat studi antropologi, saya
mendapat hadiah luar biasa dari ibu saya: berangkat haji. Adalah
sebuah anugerah bagi saya, sebab berangkat haji adalah mimpi bagi
semua pemeluk agama Islam. Menunaikan rukun Islam yang kelima
merupakan pengalaman paling unik yang pernah saya alami. Saya
merasa bahwa saya sedang melakukan mudik. Mudik atau kembali ke
udik, adalah kembali ke asal muasal di mana saya berasal. Meskipun
saya dilahirkan di Bekasi, saya menghormati tanah kelahiran ayah
saya di Cirebon, dan bagi saya Cirebon hanya lah satu kota di Jawa
Barat tempat DNA saya berasal. Tidak lebih dan tidak kurang. Oleh
karena itu saya tidak pernah menganggap perjalanan ke Cirebon
sebagai mudik. Perjalanan mudik saya adalah ke Tanah Suci. Ini
adalah perjalanan kedua saya ke sana. Saya pernah mengunjungi

3
http://www.umamnoer.com
tanah suci dalam rangka umrah pada tahun 1996. Tidak banyak yang
saya ingat pada masa itu, maklum saja, saya baru berusia sepuluh
tahun. Tiga belas tahun kemudian saya kembali dan mencoba
menyesap kembali semua memori itu.
Perjalanan haji menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Empat
puluh hari bersama dengan sembilan puluh orang (KBIH yang saya
ikuti membawa jamaah dua bis atau setara 90 orang), dan berinteraksi
selama itu dengan orang-orang tersebut. Berbeda dengan kegiatan
penelitian lain yang pernah saya lakukan, berinteraksi selama empat
puluh hari membawa nuansa yang sama sekali baru. Selama empat
puluh hari itu pula saya mencoba sedikit mengesampingkan rasa
keindonesiaan saya dengan sedapat mungkin menolak makanan
Indonesia. Sudah saya katakan, saya adalah pemakan segala. Saya
menikmati semua jenis makanan yang ada di Arab Saudi, sambil
membayangkan proses membuatnya, siapa tahu bisa saya aplikasikan
ketika saya kembali ke Indonesia.
Kembali ke tanah air saya secara tidak langsung menambah bobot
pada nama saya. Tiba-tiba saya sering dipanggil “aji Umam”, dan tiba-
tiba pula saya merasa risih. Pada awalnya panggilan tersebut terasa
sangat asing, bahkan rasa itu belum juga hilang hingga saat ini. Saya
merasa tidak nyaman dengan panggilan tersebut. Saya sadari
sepenuhnya, bahwa panggilan tersebut berkaitan erat dengan status
baru dan peran yang harus saya mainkan dengan status tersebut.
Saya adalah seorang muslim yang dianggap paripurna sebab telah
menunaikan ibadah haji, dan peran yang harus saya mainkan adalah
peran sebagai orang berhaji yang baik dan benar. Tentu saja hal ini
cukup menyulitkan. Bahkan tanpa peran baru ini pun, peran yang saya
mainkan sudah cukup kompleks. Namun, mengutip teman saya,
bahwa peran yang saya mainkan adalah sebuah kemewahan yang
hanya dapat dinikmati oleh segelintir kecil orang, dan saya tidak
sepatutnya mengeluh terus-menerus mengenai hal tersebut.
Barangkali teman saya benar. Bayangkan bahwa saudara saya yang
baru akan membayar biaya ONH, baru akan mendapat jatah kuota
pada tahun 2013, tiga tahun lagi tanpa adanya kepastian umur.
Mengingat hal tersebut, saya pun berhenti mengeluh dan mencoba
beradaptasi dengan peran baru ini.

3
http://www.umamnoer.com
Kembali dari tanah suci satu kegiatan besar menanti: melanjutkan
studi saya. Banyak orang bertanya, untuk apa saya belajar terus. Saya
katakan bahwa saya mengikuti anjuran nabi dengan belajar terus
hingga akhirnya saya mati. Di satu sisi, saya melakukan ini karena
permintaan khusus ibu saya. Ibu saya menuntut agar saya dapat
menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi yang dapat dicapai, dan
karena saya sangat menghormati dan mencintai ibu saya, saya
enggan menolak permintaan tersebut. Di sisi yang lain, saya
menyadari bahwa melanjutkan pendidikan adalah semua anugerah
yang tidak dapat dicapai oleh semua orang, dan dengan menyia-
nyiakan kesempatan tersebut saya khawatir dikatakan sebagai orang
yang tidak pandai bersyukur. Saya sendiri menyukai belajar karena
saya tidak memiliki beban. Saya belum berkeluarga, dan dengan
demikian membuat langkah saya lebih ringan dalam melakukan
banyak hal.
Akhirnya saya memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan
saya. Akhirnya saya pindah dari Surabaya dan menjadi penghuni baru
Depok. Di Universitas Indonesia saya berlabuh. Melanjutkan program
doktoral saya, sambil terus meyakinkan diri bahwa saya sanggup
bertahan dan menyelesaikan studi saya. Memang bukan hal yang
ringan, namun saya rasa saya tidak perlu terlalu khawatir. Terhitung
sejak Agustus 2010 saya menjadi penghuni kota yang baru ini. Saya
sedang mencoba memahami ruwetnya jalan kota ini, sambil mencoba
berbagai moda angkutan dari dan ke kota ini. Di rumah saya, Bekasi,
adalah sebuah kemewahan saya dapat keluyuran naik angkutan
umum, sebab saya biasanya selalu di antar kemanapun saya hendak
pergi. Dengan migrasi saya ke Depok, saya tidak akan menyia-nyiakan
kesempatan untuk naik angkutan umum, sebagaimana yang sering
saya lakukan ketika berada di Surabaya. Cukup lah hingga saat ini
saya katakana bahwa saya menyukai Depok, meskipun kota ini belum
dapat saya anggap sebagai rumah ketiga saya. Rumah pertama saya
adalah tempat saya dilahirkan, dan Surabaya akan selalu menjadi
rumah kedua saya. Apakah Depok akan menjadi rumah ketiga saya?
Hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan ini.

II

3
http://www.umamnoer.com
Pada bagian sebelumnya saya telah banyak bercerita mengenai
kehidupan saya, orang-orang di sekeliling saya, dan lingkungan saya.
Saya juga sudah bercerita mengenai apa yang terjadi dalam hidup
saya. Saya harus akui, bahwa kehidupan saya bukan lah kehidupan
yang tenang, bahkan saya sendiri meragukan apakah kehidupan yang
tenang itu ada. Kehidupan saya penuh perlintasan, penuh lika-liku, dan
tidak jarang membuat saya tersesat. It’as a bumpy ride. Saya
menyadari banyak hal, sejak saya menuliskan kalimat pertama dalam
tugas ini. Sebuah kesadaran yang menyeruak, manakala saya mulai
memperhatikan kehidupan saya, dan bagaimana kehidupan saya
terbentuk.
Akhirnya saya sampai pada satu pertanyaan penting: apa yang saya
maksud dengan kebudayaan? Secara sederhana, kebudayaan bagi
saya adalah: “jejaring makna... yang ditransmisikan secara
sosial dengan segala variasi yang tercipta... yang dengannya
menjadikan saya berbeda... dan sejauh apapun saya berjalan,
saya akan tetap kembali di tempat saya berasal.”
Pertama, saya memandang kebudayaan sebagai “jejaring makna...”.
Saya setuju dengan Geertz (1973b), yang juga setuju dengan Weber,
bahwa manusia terjerat dengan jejaring yang dibuatnya sendiri.
Manusia dapat dianalogikan seperti laba-laba yang terjerat pada
jejaring yang dibuatnya sendiri, yang secara sadar dipintal, dianyam
setiap jelujurnya, dan sepenuhnya bergantung pada pintalan jaring
tersebut. Di sisi yang berbeda, jejaring makna itu sendiri
dimanifestasikan ke publik dalam bentuk simbol-simbol. Simbol itu
sendiri tidak lain adalah wahana pemaksanaan yang bersifat publik,
sebab makna yang ditimbulkan pun harus bersifat publik.
Rasanya sulit membayangkan penjelasan di atas, maka saya akan
mencoba melihatnya dalam kehidupan saya. Dalam kumpulan episode
kehidupan saya, saya selalu bersinggungan dengan simbol-simbol.
Ada yang mengatakan bahwa manusia adalah animal simbolikum
(rasanya penulisannya betul). Salah satu simbol yang paling terlihat
adalah nama belakang saya. Sejak awal saya menyadari, bahwa nama
belakang saya adalah salah simbol yang harus terus saya bawa. Nama
saya bukan hanya sekedar nama untuk kepentingan administrasi

3
http://www.umamnoer.com
belaka, bukan juga penanda diri saya semata. Nama belakang saya
adalah beban moral yang terus saya bawa sepanjang hidup saya (yang
entah sampai kapan). Nama “NOER” di belakang nama saya diambil
dari nama kakek saya, nama yang sama hanya dimiliki oleh empat
orang saudara-saudara saya, saya salah satunya. Kedua kakak
kandung saya saja tidak memiliki nama belakang itu. Sepengetahuan
saya, tidak ada orang di tempat saya tinggal yang memiliki nama
“NOER” di belakang namanya.
Nama belakang saya itu unik, begitu “keramat”, sehingga tidak semua
cucu kakek saya “berhak” menyandang nama tersebut. Nama
belakang itu baru saya dapatkan ketika saya berusia tujuh belas
tahun. Entah apa alasannya, namun saya adalah orang terakhir di
keluarga besar saya yang menyandang nama tersebut. Di atas saya
telah ada tiga orang, dan ketiganya memiliki latar belakang akademik
yang mumpuni. Pemberian kata “NOER” di belakang nama saya,
menurut pengakuan ibu saya, sudah terlebih dahulu dibicarakan
dengan saudara-saudaranya yang lain. Tentu saja saya heran,
masalah nama kenapa menjadi sangat pelik? Saya pun menyadari,
hanya empat orang dari sepuluh orang anak kakek saya yang anaknya
(cucu kakek saya) memiliki nama NOER. Bahkan ada cerita ketika para
saudara-saudara ibu saya menolak memberikan nama itu pada salah
satu anak dari saudaranya (entah apa alasannya). Isu yang terbaru
menyebutkan bahwa adik bungsu ibu saya mengajukan nama NOER
untuk anak pertamanya, yang tahun depan akan berusia tujuh belas
tahun.
Barangkali saya dapat membayangkan, bahwa hanya di keluarga saya
saja yang mempersoalkan masalah nama dengan sangat serius. Saya
pun sadar, di belakang nama terletak sebuah posisi di mana saya
berdiri, dan posisi itu mengharuskan saya untuk berperilaku
sebagaimana diharapkan oleh orang-orang di sekitar si penyandang
nama itu, termasuk masyarakat luas. Nama saya itu menjadi penanda
paling signifikan, dan harus saya akui membawa kemudahan bagi saya
ketika berurusan dengan birokrasi. Tidak jarang urusan birokrasi yang
harus saya jalani menjadi super kilat ketika membaca nama saya. Di
satu sisi, nama adalah pemberian yang tidak dapat diubah dengan
seenak hati, Di sisi yang berbeda, nama saya menjadi penanda bahwa

3
http://www.umamnoer.com
saya berbeda dengan orang kebanyakan. Sejenis ‘hak khusus’ yang
‘diberikan’.
Secara historis, wilayah desa saya tidak dapat dilepaskan dari bayang-
bayang kakek saya. Tentu saja kakek saya bukan lah orang yang
melakukan ‘babad alas’ atau orang yang kali pertama datang, namun
orang yang membawa perubahan besar di wilayah saya. Bahkan kakek
saya sendiri (setidaknya saya melihatnya demikian) adalah simbol
yang dimitoskan. Cerita mengenai perjuangan kakek saya begitu
melegenda, dan lembaga pendidikan yang didirikan, yang awalnya
hanya lah sebuah pondok kecil tidak jauh dari rumah saya, menggurita
dan membawa banyak kehormatan di dalamnya. Saya sadar
sepenuhnya, bahwa apa yang dilakukan kakek saya adalah untuk
kepentingan masyarakat, namun cerita yang berkembang tidak lah
sama.
Nama belakang saya, saya menganggapnya sebagai simbol, dapat
dilihat fetisisme. Sebuah nama yang begitu dipuja oleh banyak orang,
yang seringkali membuat saya risih sendiri. Saya akhirnya terjerat
dengan nama saya sendiri. Saya sendiri sering berkelakar, bahwa saya
akan dengan senang hati menghapus nama saya itu, kelakar yang
dimulai dengan tawa dan diakhiri dengan pelototan mata ibu saya.
Saya pun semakin menyadari persoalan simbol ini manakala saya
mulai bereksperimen dengan diri saya. Saya pernah bereksperimen
untuk ‘bertindak di luar harapan’, dan saya mendapat konsekuensi
moral atas tindakan tersebut.
Contoh lainnya saya rasa dapat jelas ketika saya pulang menunaikan
ibadah haji, ketika saya menambahkan satu gelar di depan nama saya.
“Aji Umam”, begitu saya biasa dipanggil kalau salat Jumat. Di wilayah
saya, gelar haji bukan semata muncul sebagai konsekuensi ketika
seseorang telah melaksanakan rukun Islam kelima. Panggilan itu
memiliki efek samping: bahwa orang yang dipanggil demikian, lagi-
lagi, diharapkan untuk berperilaku sebagaimana layaknya orang yang
telah melaksanakan ibadah haji. Ada sanksi moral ketika orang yang
dipanggil haji tidak berperilaku “baik” dan “benar”, yakni munculnya
anggapan, saya lebih suka menyebutnya stigma, bahwa haji orang
tersebut tidak mabrur.

3
http://www.umamnoer.com
Dalam konteks keislaman, seseorang baru dikatakan mendapat haji
mambrur, yang artinya hajinya diterima Allah, jika setelah pulang haji,
orang tersebut berperilaku “lebih baik” dan “lebih benar” jika
dibandingkan sebelum berangkat haji. Jika sebelum berangkat haji
orang itu sering berjudi, maka ketika pulang haji, dia “harus”
meninggalkan kebiasaan berjudinya. Jika iya ternyata masih juga
berjudi, maka ia dikatakan tidak mendapat haji mabrur. Namun itu
contoh yang ekstrem. Dalam kasus yang lebih umum, mereka yang
telah melaksanakan ibadah haji “diharapkan” untuk lebih taat
beribadah dan berperilaku.
Saya setuju dengan Geertz, bahwa kebudayaan adalah suatu konteks,
yang didalamnya segala hal dapat dijelaskan dengan gamblang. Saya
rasa sama saja antara dua contoh yang saya berikan: nama belakang
saya dan gelar haji. Keduanya harus dilihat dari konteksnya, yakni
masyarakat di mana hal tersebut berasal. Bagi sebagian besar orang,
ketika mendengar keluh kesah saya tentang nama belakang saya akan
cenderung cuek, bahkan, mengutip Gus Dur, bilang “gitu aja kok
repot”. Mereka tentu saja tidak repot, sebab mereka tidak memiliki
nama belakang sebagaimana saya miliki, dan mereka tidak tinggal di
wilayah di mana saya berasal. Dalam konteks masyarakat
Ujungharapan, bahkan kalau persoalan administrasi itu sampai ke
Kabupaten, nama belakang saya membawa kerepotan tersendiri.
Saya ingat dua bulan yang lalu, ketika saya mengantar istri kakak saya
mengurus SKCK, iya harus menunggu hingga satu jam sebelum
dilayani. Ketika iya dilayani, terdapat “kecelakaan”, KTP saya terjatuh,
dan si petugas memungut KTP saya, dan tanpa sengaja membaca KTP
saya. Ada yang menarik melihat reaksi petugas tersebut, yang
ternyata adalah lulusan dari almamater yang sama. Iya mengenali
saya dari nama saya, dan secara “refleks” meminta maaf atas
prosedur yang merepotkan. Hanya butuh waktu lima menit, dan
segala urusan mengenai SKCK selesai. Bahkan dia sendiri yang
kemudian mengurus ke meja-meja yang lain. Bagi saya ini luar biasa,
sebab biasanya butuh waktu sekurangnya 30 menit untuk membuat
SKCK. Bagi mereka yang tidak mengetahui tentu akan berpikir bahwa
saya menyogok oknum polisi agar dimudahkan, demikian pula dengan
oknum kelurahan agar mudah mengeluarkan Surat Keterangan,
namun kenyataannya bukan lah seperti itu. Saya tetap membayar

3
http://www.umamnoer.com
sesuai aturan dan tidak ada sogok-menyogok di sana. Apa yang
sesungguhnya terjadi harus dilihat dari konteksnya, bahwa ada
“makna” tersembunyi di balik nama.
Makna itu sendiri tidak lah mewujud dengan sendirinya, ia harus
termanifestasikan melalui simbol. Bahkan lebih jauh, simbol itu sendiri
harus bersifat publik, menyebar bagai jaring, dan menjerat siapapun
yang bersinggungan dengan jaring tersebut. Saya sendiri mengakui,
nama sebagai simbol bersifat sangat ambigu. Di satu sisi terasa risih,
namun di sisi lain terasa nikmat (adalah sangat hipokrit jika saya
merasa tidak diuntungkan). Nama tidak lagi sebatas penanda individu
yang sifatnya privat, namun telah menjadi publik sebab dibuka di
ruang-ruang publik, dan publik pun mengakui “makna” di balik nama
tersebut. Jejaring makna menyebar dan mengikat kami semua
kedalamnya.
Kedua, saya memandang kebudayaan sebagai sesuatu “yang
ditransmisikan secara sosial dengan segala variasi yang
tercipta...”. Dalam hal ini saya meminjam konsep dari Durham (2002)
dan Barth (2002). Saya rasa, bahwa saya dapat meminjam konsep
keduanya, terutama pada posisi melihat variasi, dalam menjelaskan
apa yang terjadi dalam diri saya dan mengapa saya berbeda dengan
kedua kakak saya.
Saya mencoba mencari titik temu di antara keduanya. Saya
memandang diri saya sebagai hasil dari dimensi historis yang berjalan
beriringan dengan dimensi kultural. Saya memandang diri sebagai
hasil dari pengajaran, baik formal maupun non formal, baik di sengaja
maupun tidak, baik terstruktur maupun tidak. Secara umum saya
melihat bahwa kebudayaan yang saya miliki ditransmisikan secara
sosial, melalui keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat pada
umumnya. Namun proses transmisi itu tidak lah memberikan jaminan
sepenuhnya atas pengetahuan yang terbagi secara merata. Transmisi
itu sendiri mengisyaratkan terjadinya variasi-variasi.
Proses transmisi pada dasarnya berupaya untuk “membagi
pengetahuan”, atau dalam hal ini apa yang dikenal sebagai “shared
knowledge”, secara adil dan merata. Namun saya sendiri melihat,
bahwa pengetahuan yang dibagi bersama itu tidak pernah sukses
mencapai satu kondisi yang adil dan merata. Selalu terdapat variasi-

3
http://www.umamnoer.com
variasi yang muncul dalam proses transmisi itu. Variasi-variasi itu
muncul karena banyak faktor, termasuk di antaranya adalah dalam
proses dan penerimaan individu-individu. Durham menyebutnya
sebagai kondisi di mana kebudayaan sebagai changing temporary
collection of socially transmitted information. Saya setuju dengan
Durham, kebudayaan dilihat sebagai bentuk informasi yang
ditransmisikan secara sosial dan kontinu, serta secara faktual terus
menerus mengalami perubahan. Variasi muncul sebagai akibat dari
perubahan itu sendiri, atau dalam proses transmisi itu sendiri. Variasi
selalu muncul sebagai konsekuensi logis dari tidak adanya jaminan
keadilan dalam proses transmisi pengetahuan dan kebudayaan.
Transmisi sosial menjadi kata kunci yang penting dalam memahami
munculnya variasi-variasi. Kebudayaan secara sederhana dilihat
sebagai keseluruhan koleksi dari transmisi informasi secara sosial
dalam masyarakat. Ketika melihat kebudayaan bukan sebagai sesuatu
entitas yang utuh dan penuh, namun sebagai keseluruhan koleksi,
maka kebudayaan dilihat sebagai kumpulan dari satuan-satuan, atau
cultural unit. Nah, keseluruhan satuan-satuan ini tidak lah berada
dalam alam pikiran keseluruhan anggota-anggota kelompok, namun
lebih pada alam pikiran masing-masing anggota kelompok. Akibatnya,
setiap anggota kelompok memiliki kumpulan satuan-satuannya sendiri
yang membentuk diri atau individu tertentu, di samping bahwa
kumpulan-kumpulan tersebut juga dapat dilihat dalam skala yang lebih
besar. Dalam skala minimum, terdapat variasi di antara individual
cultural items entah itu dari sisi isi, bentuk, atau ukuran dari informasi
yang dimiliki oleh setiap individu
Saya mencoba memahami, proses transmisi apa yang telah saya
jalani. Saya mencoba memahami, mengapa antara saya dan kedua
kakak saya begitu berbeda, bahkan tidak ada kesamaan yang identik
di antara kami bertiga. Meskipun kami bertiga sama-sama, secara
faktual, belajar dari ibu dan ayah yang sama, namun hasilnya berbeda.
Saya dan kakak perempuan saya misalnya. Meskipun memiliki
kesamaan dalam derajat tertentu, namun terdapat perbedaan
mendasar di antara kami berdua. Misalnya saya dan kakak perempuan
saya. Meskipun kami sama-sama belajar membaca Al Quran dari ibu
kami, namun saya dan kakak saya memiliki perbedaan dalam kondisi
ketika membaca Al Quran. Kakak saya adalah orang yang tidak

3
http://www.umamnoer.com
mentolelir gangguan ketika ia membaca Al Quran, akibatnya siapapun
yang hendak ‘mengganggu’ dengan alasan apapun terpaksa harus
menunggu. Berbeda dengan saya yang dengan senang hati menerima
gangguan, bahkan dengan senang hati menyegerakan untuk selesai
mengaji. Sama halnya seperti saya dengan kakak laki-laki saya. Saya
selalu membaca Al Quran dengan cepat dan bersuara jelas, sedangkan
kakak laki-laki saya selalu membaca Al Quran lebih lambat dengan
suara lebih pelan.
Saya berpikir. Jika saya dan kedua kakak saya menerima transmisi
pengetahuan yang berasal dari sumber yang sama, apa yang
menyebabkan saya dan kakak saya begitu berbeda? Mengapa
terdapat variasi dalam cara kami membaca Al Quran? Jawaban paling
sederhana datang dari si sumber, yakni ibu saya. Ibu saya mengakui
bahwa ia mendidik kakak saya lebih keras karena ketidakmampuan
lidahnya untuk menyesuaikan dengan lafal Al Quran, akibatnya ibu
saya lebih garang ketimbang ketika mengajar saya. Akibatnya pula,
hal yang diakui oleh kakak laki-laki saya, dia selalu gugup ketika
membaca Al Quran. Berbeda dengan kakak perempuan saya yang
sama seperti saya, yakni membaca Al Quran dengan cepat dan
bersuara jelas. Namun ada perbedaan sikap antara saya dan kakak
perempuan saya, dalam hal ini saya baru menemukan jawabannya
dari apa yang diperintahkan oleh ibu saya. Di antara tiga orang
anaknya, ibu saya hanya menekankan pendidikan menghafal Al Quran
pada kakak perempuan saya. Saya menyadari sepenuhnya, bahwa
kakak perempuan saya memiliki memori jangka panjang yang sangat
baik. Saya senang memperhatikan ketika kakak saya menghapal Al
Quran, bahwa ia akan mengambil tempat yang tenang untuk mulai
menghapal. Kebiasaan yang sama masih dia lakukan saat ini,
terutama jika ia sedah melakukan sesuatu yang membutuhkan
konsentrasi tingkat tinggi.
Saya pun semakin berpikir. Rasanya ada yang hilang manakala saya
melihat variasi yang muncul antara saya dan kedua kakak saya. Lalu
saya menemukan apa yang hilang itu, persis di hadapan mata saya,
bahkan telah saya tulis dalam bagian sebelumnya. Apa yang dikatakan
oleh kakak laki-laki saya sebagai “kelinci percobaan”, dan saya pun
memahami mengapa ibu saya melakukan proses transmisi yang
berbeda. Kuncinya adalah perubahan itu sendiri. Izinkan saya sedikit

3
http://www.umamnoer.com
berimaji, bahwa ibu saya akhirnya melihat bahwa model pengajaran
yang diberikan kepada kakak laki-laki saya tidak efektif, dan kemudian
mengubah moda transmisi yang dilakukannya pada kakak perempuan
saya, dan kemudian menyadari bahwa apa yang moda transmisi pada
kakak kedua saya pun tidak berjalan efektif, dan diubahnya moda
transmisi tersebut pada saya. Terus terang imaji ini agak menakutkan.
Dapat lah saya bayangkan, seandainya saya memiliki satu orang adik,
saya yakin moda transmisi pengetahuan yang akan dilakukan ibu saya
akan berbeda dengan apa yang dilakukannya kepada saya.
Ketiga, saya melihat kebudayaan sebagai sesuatu “yang dengannya
menjadikan saya berbeda...”. Dalam hal ini saya meminjam konsep
dari Lila Abu-Lughod (1991) dan Geertz (1973a). Harus saya akui, saya
banyak berpikir mengenai apa yang ditulis oleh Abu-Lughod, bahkan
terpengaruh dengan provokasinya. Dalam banyak hal saya setuju
dengan Abu-Lughod, bahwa adalah sangat naif melihat kebudayaan
melalui kacamata Barat, namun itu terlalu jauh dari apa yang saya
alami. Kritik Abu-Lughod pada dasarnya sangat konstruktif. Jika
kebudayaan dan konsep mengenai kebudayaan selalu dilihat melalaui
kacamata Barat, tinggalkan saja. Saya sepakat sepenuhnya dengan
pendapat tersebut. Namun kritik Abu-Lughod terlalu elitis jika melihat
konteks diri saya.
Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya, bahwa saya berbeda
dengan dua orang kakak saya, sebagai akibat dari variasi yang muncul
dalam proses transmisi pengetahuan. Dalam hal ini, saya melihat diri
saya sebagai individu yang otonom, berbeda dengan kedua kakak
saya. Dalam hal ini lah saya setuju dengan Abu-Lughod. Bahwa cerita
mengenai saya adalah cerita mengenai yang partikular. Partikularitas
menjadi sangat penting, sebab kebudayaan tidak hanya dilihat melalui
kacamata raksasa, melalui seperangkat sistem dan struktur, melalui
wujud artefak, atau pun pola-pola yang dapat dilihat dan dirasa. Dalam
hal ini pula saya setuju dengan Geertz (1973a), bahwa konsepsi
mengenai kebudayaan harus lah meletakkan manusia sebagai
manusia seutuhnya.
Saya memahami diri saya sebagai entitas yang partikular. Entitas yang
berbeda. Entitas yang dengannya saya dapat dengan bangga
menyatakan “ini lah saya”. Saya memandang kompleksitas

3
http://www.umamnoer.com
kebudayaan sama kompleksnya dengan diri saya sendiri, yang
mewujud dalam organisme biologis. Saya menyadari sepenuhnya, dan
setuju sepenuhnya dengan Geertz, bahwa tanpa manusia tidak akan
ada kebudayaan; lebih penting lagi, tanpa kebudayaan tidak akan
manusia. Di sini lah saya melihat diri saya. Saya melihat diri saya
melalui kebudayaan yang membentuk diri saya. Tanpa kehadiran diri,
saya tidak akan memiliki kebudayaan; dan tanpa kehadiran
kebudayaan, saya akan gagal mengatakan bahwa ini lah diri saya.
Dalam konteks ini saya memandang, bahwa apa yang ditawarkan oleh
Abu-Lughod menjadi sangat penting. Dalam tulisannya, Abu-Lughos
menggeser fokus pada sesuatu yang partikular, dalam hal ini diri saya
sendiri. Saya melihat diri saya sendiri bukan sebagai robot yang
mengikuti aturan-aturan budaya yang ketat dan tegas, namun sebagai
individu yang berbeda dengan individu lain. Saya adalah individu yang
tumbuh dan mengalami masa hidup yang penuh pasang-surut. Saya
mencoba berbagai hal yang saya suka tanpa perlu merasa khawatir
terlihat jelek di mata orang lain, mencoba berbagai hal baru, tersesat
di tengah perjalanan, dan memutuskan untuk memilih berbagai pilihan
yang tersedia bagi saya. Saya mencoba mencari dan menemukan
kebahagiaan saya sendiri.
Partikularitas diri saya lah yang menjadikan saya saat ini. Sebagai diri,
saya mewujud melalui fisik, dan terbentuk melalui pengalaman. Proses
diri, diiringi proses trial and error, menjadikan diri saya saat ini. Saya
tidak pernah malu mengatakan bahwa saya sering tersesat dalam
proses tersebut. Saya tidak pernah malu mengatakan bahwa saya
mengalami lebih banyak kesalahan dan kegagalan ketimbang, apa
yang disebut sebagai, keberhasilan. Dalam proses itu lah saya
mewujud dan mengada.
Keempat, saya memandang kebudayaan sebagai tempat di mana
“sejauh apapun saya berjalan, saya akan tetap kembali di
tempat saya berasal”. Saya meminjam konsep terakhir dari Karen
Olwig (1997). Saya melihat diri sebagai musafir yang jauh berjalan.
Semenjak saya dilahirkan, dua puluh empat tahun yang lalu, di tengah
malam yang bermandi cahaya bulan, saya mulai berubah. Takdir
membawa saya ke berbagai tempat, berbagai situasi, berbagai hal
yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

3
http://www.umamnoer.com
Saya tidak membayangkan akan menjadi diri saya saat ini: seorang
mahasiswa pascasarjana program doktor antropologi yang mencoba
melihat dan memahami hidupnya di tengah malam di kamar yang
sepi. Alangkah lucunya saya, membayangkan banyak hal mengenai
hidup hanya ditemani dua buah laptop, yang satu saya gunakan
sebagai pengganti tv; sendiri di lantai dua rumah kos saya; tengah
malam menulis, sambil menyayangkan penjual nasi goreng yang
ternyata telah lama pergi, dan berdoa agar tulisan ini selesai untuk
dikumpulkan esok hari. Itu lah gambaran diri saya saat ini, tidak
kurang dan tidak lebih.
Lama sudah saya berjalan, menjauhi tempat di mana saya dilahirkan.
Saya sudah berpindah dari satu ke tempat lain. Saya belajar di TK di
depan rumah, bergeser ketika Ibtidaiyah (kelas 1-3) di lokasi yang
kurang lebih 200 meter dari rumah, bergeser kembali ketika Ibtidaiyah
(kelas 4-6) + Tsanawiyah yang kurang lebih 700 meter dari rumah,
bergeser lagi ketika Aliyah kurang lebih 100 meter dari lokasi
Tsanawiyah. Saya pun semakin menjauh kuliah, hampir 900 km dari
rumah, dan kembali bergeser ke Depok, wilayah yang saya huni saat
ini.
Saya menyadari sepenuhnya, sejauh apapun saya berjalan, saya akan
kembali ke tempat di mana saya berasal. Olwig menyebutnya sebagai
“sustaining a home in a deterritorialized world”, itu lah saya. Dalam
dunia yang semakin terdeteritorialisasi, saya tetap mempertahankan
rumah. Saya merasa tidak jauh berbeda dengan orang Nevis yang
menjadi subjek kajian Olwig. Bahwa orang Nevis, sejauh apapun
mereka berpindah, mereka tetap mempertahankan rumah mereka.
Sama halnya dengan para Sayyid dari Hadhrami yang menjadi kajian
Engseng Ho (2006), yang sejauh dan selama apapun mereka menetap
di wilayah diaspora mereka, mereka tetap menjadikan Tarim sebagai
wilayah asal mereka. Sama halnya dengan saya, bahwa sejauh apapun
jalan yang telah saya tempuh, saya tetap kembali ke ‘rumah’ saya di
Ujungharapan.
Meskipun saya mengeluh mengenai kondisi saya di sana, dengan
segudang atribut yang dilekatkan pada diri saya, namun di sana lah
saya berasal, dan di sana lah saya akan kembali. Saya selalu merasa
memiliki kebutuhan tertentu untuk selalu berada di rumah. Tempat di

3
http://www.umamnoer.com
mana saya merasa aman. Tempat di mana saya merasa di sana lah
jiwa saya diletakkan. Rumah yang menjadi sanctuary dan tempat
kembali bagi diri saya yang telah lelah berjalan.
Saya merasa bahwa kebudayaan bagi saya adalah sesuatu berharga
yang saya miliki. Saya menyebutnya sebagai “the precious”, merujuk
pada cincin yang dimiliki oleh Isildur yang coba direbut oleh Penyihir
dari Mordor dalam trilogi Lords of The Ring karya Tolkien. Benda
berharga yang menjadi milik saya, diambil dari tanah yang dijanjikan,
ditempa melalui pengalaman, digosok melalui kesalahan-kesalahan,
dan dicuci melalui pengakuan. Benda itu lah yang saya miliki. Benda
itu lah yang menjadi dasar justifikasi bahwa ini lah saya saat ini.
Akhirnya saya dapat mengatakan bahwa kebudayaan lah yang
membentuk saya saat ini. Apa yang anda lihat dalam catatan super
ringkas, dari dua puluh empat tahun hidup saya. Dalam perjalanan
hidup saya, waktu adalah batasan saya, dan proses adalah aktivitas
saya. Saya menyenangi hidup saya saat ini dengan keyakinan yang
sama besarnya dengan keyakinan bahwa saya pun akan menyukai
kehidupan saya nanti. Akan jadi apa saya nanti, lima, sepuluh, dua
puluh tahun lagi? Entah lah. Hanya kepada Allah lah saya bergantung
dan meminta, dengan harapan saya dapat menjadi diri saya apa
adanya.
Sebagai catatan tambahan, saya ingin mengucapkan terimakasih
kepada Pak Iwan, yang dengan “jahatnya” telah meminta saya
menuliskan kisah ini. Saya hanya berdoa semoga Bapak tidak
mengalami mimpi buruk setelah membaca catatan yang, mengutip
Romo Sam, berisi hanya omong kosong. Saya telah mencapai titik di
mana saya tidak tahu apa yang harus saya ucapkan lagi. Sebagai
penutup, setelah mengetik sambil menonton film Anna & The King,
saya terngiang kalimat Chulalongkorn, yang kelak menjadi raja besar
di Siam, bahwa diri saat ini berhutang pada masa lalu. Maka saya pun
menambahkan, hanya dengan memahami masa lalu lah saya dapat
berdamai dengan diri saya saat ini. Saya pun harus kembali ke masa
kini, masa di mana tubuh saya sudah tidak mau berkompromi untuk
berkonsentrasi lebih lama lagi, maka akan saya menutup tulisan ini.
Sumber bacaan:

3
http://www.umamnoer.com
Abu-Lughod, Lila. 1991. “Writing Against Culture”, dalam Richard G.
Fox (ed.) Recapturing Anthropology, Working in the Present.
Santa Fe, New Mexico: School of American Research Press. Hlm.
137-162
Barth, Fredrik. 2002. “Toward a Richer Description and Analysis of
Cultural Phenomena”, dalam Rchard G. Fox dan Barbara J. King
(eds.) Anthropology Beyond Culture. Oxford, New York: Berg.
Hlm. 23-36
Durham, William H. 2002. “Cultural Variation in Time and Space: the
Case for the Populational Theory of Culture”, dalam Richard G.
Fox dan Barbara J.King (eds.) Anthropology Beyond Culture.
Oxford, New York: Berg. Hlm. 193-206
Engseng Ho. 2006. The Graves of Tarim, Genealogy and Mobility
Across the Indian Ocean. Los Angeles, California: University of
California Press
Geertz, Clifford. 1973a. “Thick Description: Toward and Interpretive
Theory of Culture”, dalam Clifford Geertz The Interpretation of
Cultures, Selected Essays. New York: Basic Books. Hlm. 3-30
__________. 1973b. “The Impact of the Consept of Culture on the
Concept of Man”, dalam Clifford Geertz The Interpretation of
Cultures, Selected Essays. New York: Basic Books. Hlm. 33-54
Olwig, Karen F. 1997. “Cultural Sites: Sustaining a Home in a
Deterritorialized World”, dalam Kirsten Hastrup dan Karen F.
Olwig (eds.) Siting Culture, The Shifting Anthropological Object.
London, New York: Routledge. Hlm. 17-38

3
http://www.umamnoer.com