Anda di halaman 1dari 53

LEARNING ORGANIZATION

Penerapan Learning Oganization di Indonesia


Studi kasus pada PT. Unilever Indonesia, Tbk.

Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas Teori Organisasi yang akan dipresentasikan
pada tanggal 9 Desember 2009

Oleh :
Astatia Damaiska (0806346962)
Candra Murti Utami (0806347006)
Disa Vania (0806317546)
Fitri Amelia (0806317
Siladia Grahanida (0806317590)
Vuty Desvaliana (0806317615)

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik


Universitas Indonesia

2009
KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan nikmat dan karunianya sehingga makalah ini dapat selesai dengan lancar.
Makalah ini merupakan hasil telaah pustaka dan analisis tentang learning organization yaitu
penerapan learning organization di Indonesia tepatnya pada PT. Unilever Indonesia, Tbk.
Pembahasan ini dilihat dari berbagai aspek dan teori mengenai learning organization.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini dapat selesai dengan lancar berkat bantuan
berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa;


2. Bapak Azis selaku staff pengajar mata kuliah Teori Organisasi
3. Orang tua kami yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada kami,
serta berbagai pihak yang tidak bisa kami sebutkan semua.

Penulis menyadari karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu
kami menerima segala kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhirnya penulis berharap
karya tulis ini dapat bermanfaat untuk semua pihak khususnya mahasiswa Universitas
Indonesia.

Depok, Desember 2009

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dunia usaha yang semakin kompetitif ini, perubahan adalah suatu keniscayaan.
Sebuah perusahaan harus bisa beradaptasi dengan tantangan yang ada sehingga tetap bertahan
dan memberikan hasil terbaiknya. Hal ini hanya dapat dilakukan jika sebuah organisasi
menjadi organisasi pembelajar (Learning Organization). Hal ini terjadi ketika sebuah
organisasi yang terus menerus belajar, menerima masukan baru, dan memanfaatkan
pengetahuan tersebut menjadi nilai tambah.

Salah satu hal penting dalam menciptakan Learning Organization adalah dengan cara
menciptakan budaya belajar di lingkungan perusahaan. Hal ini dapat dilakukan ketika
karyawan secara sadar dan bertanggung jawab terus-menerus memperhatikan pengembangan
dirinya dan belajar dengan berbagai bentuk dan cara. Tidak hanya itu, di dalamnya juga
terjadi sebuah proses sharing pengetahuan antara karyawan yang satu dengan yang lain.
Dengan demikian ilmu yang dimiliki masing-masing pribadi berubah menjadi ilmu yang
dimiliki oleh banyak karyawan lainnya. Ilmu-ilmu yang penting dan menjadi keunggulan
perusahaan tidak ikut menghilang seiring dengan berakhirnya masa tugas atau berpindahnya
karyawan yang memiliki ilmu tersebut.

Dalam makalah ini, Kami akan membahas learning organization pada PT Unilever
Indonesia karena perusahaan tersebut adalah salah satu perusahaan yang sangat peduli akan
pentingnya menciptakan budaya belajar. Lewat cara-cara yang menarik dan inovatif, PT
Unilever Indonesia mampu membuat program pelatihan dan pembelajaran menjadi sesuatu
yang menyenangkan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana struktur organisasi dalam PT Unilever Indonesia?

2. Apakah tujuan dari PT Unilever Indonesia?

3. Bagaimana pengaruh lingkungan internal maupun eksternal terhadap PT Unilever


Indonesia?

4. Bagaimana strategi PT Unilever Indonesia dalam menghadapi dunia usaha yang


semakin kompetitif?

5. Bagaimana pemanfaatan teknologi oleh PT Unilever Indonesia?

6. Bagaimana penerapan learning organization di PT Unilever Indonesia

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui struktur organisasi dalam PT Unilever Indonesia

2. Mengetahui tujuan dari PT Unilever Indonesia

3. Mengidentifikasi pengaruh lingkungan internal maupun eksternal terhadap PT Unilever


Indonesia

4. Mengidentifikasi strategi PT Unilever Indonesia dalam menghadapi dunia usaha yang


semakin kompetitif

5. Mengetahui pemanfaatan teknologi oleh PT Unilever Indonesia

6. Mengetahui penerapan learning organization di PT Unilever Indonesia

1.4 Manfaat
1. Dapat mengetahui struktur organisasi dalam PT Unilever Indonesia

2. Dapat mengetahui tujuan dari PT Unilever Indonesia

3. Dapat mengidentifikasi pengaruh lingkungan internal maupun eksternal terhadap


PT Unilever Indonesia

4. Dapat mengidentifikasi strategi PT Unilever Indonesia dalam menghadapi dunia


usaha yang semakin kompetitif

5. Dapat mengetahui pemanfaatan teknologi oleh PT Unilever Indonesia

6. Dapat mengetahui penerapan learning organization di PT Unilever Indonesia

1.5 Metode

1. Studi Pustaka

2. Internet

1.6 Sistematika Penulisan

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

1.4 Manfaat

1.5 Metode

1.6 Sistematika Penulisan

BAB II Landasan Teori

2.1 Definisi Learning Organization


2.2 Unsur-unsur dalam Learning Organization

2.3 Manfaat Learning Organization

2.4 Hambatan-hambatan dalam Learning Organization

2.5 Solusi Mengatasi Hambatan-hambatan Learning Organization

BAB III Isi

3.1 Struktur organisasi dalam PT Unilever Indonesia

3.2 Tujuan dari PT Unilever Indonesia

3.3 Strategi PT Unilever Indonesia dalam menghadapi dunia usaha yang semakin kompetitif

3.4 Pengaruh lingkungan internal maupun eksternal terhadap PT Unilever Indonesia

3.5 Pemanfaatan teknologi oleh PT Unilever Indonesia

3.6 Penerapan Learning Organization di PT Unilever Indonesia

BAB IV Kesimpulan dan Saran

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Learning Organization

 Pengertian Learning
Learning merupakan satu proses fundamental yang relevan bagi banyak aspek dari
perilaku organisasi. Learning merupakan satu perubahan perilaku yang relatif permanen yang
terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Pembelajaran menurut Argyris (1982) adalah suatu
lingkaran aktivitas di mana seseorang menemukan suatu masalah (discovery), mencoba
menemukan solusi atasnya (invention), menghasilkan atau melaksanakan solusi itu
(production), dan mengevaluasi hasil yang diperoleh yang mengantarnya pada masalah-
masalah baru (evaluation). Aktivitas-aktivitas ini disebut sebagai lingkaran pembelajaran.

 Pengertian Learning Organization


Secara umum, konsep learning organization dapat diartikan sebagai kemampuan
suatu organisasi untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran (self leraning)
sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon
beragam perubahan yang muncul.

• Menurut Pedler, Boydell dan Burgoyne dalam (Dale, 2003) mendefinisikan bahwa
organisasi pembelajaran adalah “Sebuah organisasi yang memfasilitasi pembelajaran dari
seluruh anggotanya dan secara terus menerus mentransformasikan diri”.
• Menurut Lundberg (Dale, 2003) menyatakan bahwa pembelajaran adalah “suatu
kegiatan bertujuan yang diarahkan pada pemerolehan dan pengembangan keterampilan
dan pengetahuan serta aplikasinya”.
• Menurut Sandra Kerka (1995) yang paling konseptual dari learning organization
adalah asumsi bahwa ‘belajar itu penting’, berkelanjutan, dan lebih efektif ketika
dibagikan dan bahwa setiap pengalaman adalah suatu kesempatan untuk belajar.

Kerka menyatakan, lima disiplin yang diidentifikasikan Peter Senge adalah kunci
untuk mencapai organisasi jenis ini. Peter Senge juga menekankan pentingnya dialog dalam
organisasi, khususnya dengan memperhatikan pada disiplin belajar tim (team learning). Maka
dialog merupakan salah satu ciri dari setiap pembicaraan sesungguhnya dimana setiap orang
membuka dirinya terhadap yang lain, benar-benar menerima sudut pandangnya sebagai
pertimbangan berharga dan memasuki yang lain dalam batasan bahwa dia mengerti tidak
sebagai individu secara khusus, namun isi pembicaraannya. Tujuannya bukan memenangkan
argumen melainkan untuk pengertian lebih lanjut. Belajar tim (team learning) memerlukan
kapasitas anggota kelompok untuk mencabut asumsi dan mesu ke dalam pola “berfikir
bersama” yang sesungguhnya. [Senge. 1990]

 Dimensi Learning Organization


Peter Senge (1999) mengemukakan bahwa di dalam learning organization yang efektif
diperlukan 5 dimensi yang akan memungkinkan organisasi untuk belajar, berkembang, dan
berinovasi yakni:

1. Personal Mastery
Kemampuan untuk secara terus menerus dan sabar memperbaiki wawasan agar
objektif dalam melihat realitas dengan pemusatan energi pada hal-hal yang strategis.
Organisasi pembelajaran memerlukan karyawan yang memiliki kompetensi yang tinggi, agar
bisa beradaptasi dengan tuntutan perubahan, khususnya perubahan teknologi dan perubahan
paradigma bisnis dari paradigma yang berbasis kekuatan fisik ke paradigma yang berbasis
pengetahuan.

2. Mental Model
Suatu proses menilai diri sendiri untuk memahami, asumsi, keyakinan, dan prasangka
atas rangsangan yang muncul. Mental model memungkinkan manusia bekerja dengan lebih
cepat. Namun, dalam organisasi yang terus berubah, mental model ini kadang-kadang tidak
berfungsi dengan baik dan menghambat adaptasi yang dibutuhkan. Dalam organisasi
pembelajar, mental model ini didiskusikan, dicermati, dan direvisi pada level individual,
kelompok, dan organisasi.

3. Shared Vision
Komitmen untuk menggali visi bersama tentang masa depan secara murni tanpa
paksaan. Oleh karena organisasi terdiri atas berbagai orang yang berbeda latar belakang
pendidikan, kesukuan, pengalaman serta budayanya, maka akan sangat sulit bagi organisasi
untuk bekerja secara terpadu kalau tidak memiliki visi yang sama. Selain perbedaan latar
belakang karyawan, organisasi juga memiliki berbagai unit yang pekerjaannya berbeda antara
satu unit dengan unit lainnya. Untuk menggerakkan organisasi pada tujuan yang sama dengan
aktivitas yang terfokus pada pencapaian tujuan bersama diperlukan adanya visi yang dimiliki
oleh semua orang dan semua unit yang ada dalam organisasi.

4. Team Learning
Kemampuan dan motivasi untuk belajar secara adaptif, generatif, dan
berkesinambungan. Kini makin banyak organisasi berbasis tim, karena rancangan organisasi
dibuat dalam lintas fungsi yang biasanya berbasis team. Kemampuan organisasi untuk
mensinergikan kegiatan tim ini ditentukan oleh adanya visi bersama dan kemampuan berfikir
sistemik seperti yang telah diuraikan di atas. Namun demikian tanpa adanya kebiasaan
berbagi wawasan sukses dan gagal yang terjadi dalam suatu tim, maka pembelajaran
organisasi akan sangat lambat, dan bahkan berhenti. Pembelajaran dalam organisasi akan
semakin cepat kalau orang mau berbagi wawasan dan belajar bersama-sama. Berbagi
wawasan pengetahuan dalam tim menjadi sangat penting untuk peningkatan kapasitas
organisasi dalam menambah modal intelektualnya

5. System Thinking
Organisasi pada dasarnya terdiri atas unit yang harus bekerja sama untuk
menghasilkan kinerja yang optimal. Unit-unit itu antara lain ada yang disebut divisi,
direktorat, bagian, atau cabang. Kesuksesan suatu organisasi sangat ditentukan oleh
kemampuan organisasi untuk melakukan pekerjaan secara sinergis. Kemampuan untuk
membangun hubungan yang sinergis ini hanya akan dimiliki kalau semua anggota unit saling
memahami pekerjaan unit lain dan memahami juga dampak dari kinerja unit tempat dia
bekerja pada unit lainnya.

Kelima dimensi dari Peter Senge tersebut perlu dipadukan secara utuh, dikembangkan
dan dihayati oleh setiap anggota organisasi, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Kelima dimensi organisasi pembelajaran ini harus hadir bersama-sama dalam sebuah
organisasi untuk meningkatkan kualitas pengembangan SDM, karena mempercepat proses
pembelajaran organisasi dan meningkatkan kemampuannya untuk beradaptasi pada perubahan
dan mengantisipasi perubahan di masa depan.
Berdasarkan hasil penelitian Tjakraatmaja (2002) dihasilkan temuan bahwa untuk
membangun learning organization dibutuhkan tiga pilar yang saling mendukung, yaitu :

1. Pembelajaran Individual (individual learning),


2. Jalur Transformasi Pengetahuan,
3. Pembelajaran Organisasional (organizational learning).

Karakteristik organisasi belajar memiliki unsur-unsur yang berbeda dengan organisasi


tradisional seperti di bawah ini:
 Karakteristik Organisasi Belajar
Karakteristik Organisasi Tradisional Organisasi Belajar
Siapa yang belajar? Para manajer/karyawan yangSeluruh manajer/karyawan dari
ditunjuk semua unit kerja

Siapa yang mengajar? Pelatih atau nara sumber dariAtasan langsung, pelatih dan
luar nara sumber
Siapa yang ber-
tanggungjawab Departemen Diklat Setiap manajer/karyawan

Piranti belajar yang Kursus, magang, pelatihanKursus, magang, rencana


digunakan? formal, bimbingan, rencanabelajar, tim, mitra kerja, ukuran
pelatihan kinerja, refleksi pribadi

Sepanjang hayat, untuk jangka


Kapan belajar? Ketika dibutuhkan, saatpnjang
orientasi atau sesuai kebutuhan

Teknik Teknis dan manajerial,


Kompetensi apa yang hubungan pribadi, bagaimana
dipelajari? belajar

Ruang kelas, tempat kerja Ruang rapat, saat melakukan


Dimana belajar? pekerjaan, di mana saja

Untuk saat ini sesuai kebutuhan Untuk masa yang akan datang
Waktu?
Ekstrinsik dan terpaksa Intrinsik dan semangat

Motivasi?
Sumber: Braham, 2003

Menurut Pedler, dkk (Dale, 2003) suatu organisasi pembelajaran adalah organisasi yang:

1. Mempunyai suasana dimana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk


belajar dan mengembangkan potensi penuh mereka;
2. Memperluas budaya belajar ini sampai pada pelanggan, pemasok dan stakeholder lain
yang signifikan;
3. Menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat kebijakan
bisnis;
4. Berada dalam proses transformasi organisasi secara terus menerus;

Tujuan proses transformasi ini, sebagai aktivitas sentral, adalah agar perusahaan
mampu mencari secara luas ide-ide baru, masalah-masalah baru dan peluang-peluang baru
untuk pembelajaran, dan mampu memanfaatkan keunggulan kompetitif dalam dunia yang
semakin kompetitif.

Peter Sange (1990) mengatakan sebuah organisasi pembelajar adalah organisasi “yang
terus menerus memperbesar kemampuannya untuk menciptakan masa depannya” dan
berpendapat mereka dibedakan oleh lima disiplin, yaitu: penguasaan pribadi, model mental,
visi bersama, pembelajaran tim, dan pemikiran sistem.

Lundberg (Dale, 2003) menyatakan bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan


bertujuan yang diarahkan pada pemerolehan dan pengembangan ketrampilan dan pengetahuan
serta aplikasinya. Menurutnya, pembelajaran organisasi adalah:

1. Tidaklah semata-mata jumlah pembelajaran masing-masing anggota;


2. Pembelajaran itu membangun pemahaman yang luas terhadap keadaan internal
maupun eksternal melalui kegiatan-kegiatan dan sistem-sistem yang tidak tergantung pada
anggota-anggota tertentu;
3. Pembelajaran tidak hanya tentang penataan kembali atau perancangan kembali unsur-
unsur organisasi;
4. Pembelajaran lebih merupakan suatu bentuk meta-pembelajaran yang mensyaratkan
pemikiran kembali pola-pola yang menyambung dan mempertautkan potongan-potongan
sebuah organisasi dan juga mempertautkan pola-pola dengan lingkungan yang relevan;
5. Pembelajaran organisasi adalah suatu proses yang seolah-oleh mengikat beberapa sub-
proses, misalnya perhatian, penafsiran, pencarian, pengungkapan dan penemuan, pilihan,
pengaruh dan penilaian.
6. Pembelajaran organisasi mencakup baik unsur kognitif, misalnya pengetahuan dan
wawasan yang dimiliki bersama oleh para anggota organisasi maupun kegiatan organisasi
yang berulang-ulang, misalnya rutinitas dan perbaikan tindakan. Ada proses yang sah dan
tanpa henti untuk memunculkan ke permukaan dan menguji praktek-praktek organisasi
serta penjelasan yang menyertainya. Dengan demikian organisasi pembelajar ditandai
dengan pengertian kognitif dan perilaku.

 Metode Single double-loop learning

Dalam learning organization, terdapat 2 metode yang bias digunakan yaitu single loop
dan double loop learning. Chris Argyris memperkenalkan teori pembelajaran satu putaran
atau single loop seperti yang berlaku untuk manajemen bisnis. Pekerjaannya dan studi
mengizinkannya untuk menjadi Profesor James Bryant Conant Pendidikan dan Organizational
Behavior (emeritus) di Universitas Harvard.
Single-loop learning organizatin bukan cara yang terbaik belajar bisnis, tetapi dengan
mempelajari hal itu, Anda dapat menemukan cara-cara untuk meningkatkan bisnis Anda.
single loop learning yang dicirikan oleh perbaikan kesalahan-kesalahan namun bukan
perubahan fundamental dari sistem yang mendasari. Hal ini berarti bahwa pembelajaran
terjadi ketika ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan, dan usaha untuk memperbaikinya
disebut belajar. Tipe belajar seperti ini disebut “pembelajaran negatif”. Sedangkan di sisi lain
double loop learning, cenderung memperoleh sesuatu yang baru melalui pengembangan yang
sudah ada, atau dengan melakukan proses perbaikan tanpa melakukan kesalahan-kesalahan.
Tipe belajar ini dinamakan “pembelajaran positif”, memiliki suatu inovasi yang akan
meningkatkan nilai-nilai organisasi.
Dalam melakukan pembelajaran, organisasi diperkirakan tidak akan berhasil optimal
jika hanya melakukan berdasarkan sametode single-loop learning yaitu memperbaiki mutu
layanan apabila ditemukan kesalahan berdasarkan pengalaman masa lalu dan kebijakan saat
ini. Agar tercapainya learing organizational yang optimal, pembelajaran sepatutnya dilakukan
dengan double-loop learning yakni melakukan learning organization tidak hanya didasarkan
atas faktor kesalahan, tapi juga melakukan peninjauan ulang atas organisasi meski tanpa
kesalahan dalam rangka meningkatkan kualitas perusahaan (Kim, 1993).
Prinsip pembelajaran dengan doubleloop learning diperkirakan lebih unggul jika
bandingkan dengan single-loop karena double-loop learning akan menghasilkan inovasi
dalam efisiensi dan efektivitas layanan. Sementara itu, jika hanya dengan metode single-loop
learning, akan menghasilkan pemecahan masalah yang belum tentu efisien dan efektif.

2.2 Unsur-unsur dalam Learning Organization

1. Struktur Organisasi

Struktur Organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi
yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional
untuk mencapai tujuan. Struktur Organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahan kegiatan
pekerjaan antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi
dibatasi. Dalam struktur organisasi yang baik harus menjelaskan hubungan wewenang siapa
melapor kepada siapa.

Empat elemen dalam struktur organisasi yaitu :

1. Adanya spesialisasi kegiatan kerja

Pembagian Kerja adalah upaya untuk menyederhanakan dari keseluruhan kegiatan dan
pekerjaan (yang telah disusun dalam proses perencanaan) --yang mungkin saja bersifat
kompleks—menjadi lebih sederhana dan spesifik dimana setiap orang akan ditempatkan dan
ditugaskan untuk setiap kegiatan yang sederhana dan spesifik tersebut

2. Adanya standardisasi kegiatan kerja


Untuk menetapkan tingkat kinerja karyawan, dibutuhkan penilaian kinerja. Penilaian
kinerja yang adil membutuhkan standar. Patokan yang dapat digunakan sebagai perbandingan
terhadap kinerja antar karyawan. Menurut Simamora (2004), semakin jelas standar
kinerjanya, makin akurat tingkat penilaian kinerjanya. Masalahnya, baik para penyelia
maupun karyawan tidak seluruhnya mengerti apa yang seharusnya mereka kerjakan. Karena
bisajadi, standar kinerja tersebut belum pernah disusun.Oleh karena itu, langkah pertama
adalah meninjau standar kinerja yang ada dan menyusun standar yang baru jika diperlukan.
Banyak hal yang dapat diukur untuk menentukan kinerja. Banyak literatur, menyebutkan
bahwa kinerja merupakan keterkaitan unsur motivasi, kemampuan individu, serta faktor
organisasi, yang menghasilkan perilaku.

3. Adanya koordinasi kegiatan kerja

• Koordinasi adalah proses dalam mengintegrasikan seluruh aktifitas dari berbagai


departemen atau bagian dalam organisasi agar tujuan organisasi dapat tercapai secara
efektif
• the process of integrating the activities of separate departments in order to pursue
organizational goals effectively. (Stoner, Freeman & Gilbert, 1995)

4. Besaran seluruh organisasi

o makin besar akan semakin komplek. Semakin impersonal, semakin lugas, semakin
sulit diarahkan, semakin sulit dipadukan.
o ukuran menciptakan dilemma.
o tak ada yang tahu ukuran yang optimum.
2. Tujuan Organisasi

Visi Organisasi

• Apa yang organiasi bayangkan atau apa yang organisasi ingin capai di masa yang akan
datang (Kotter, 1996)
• Visi pada tingkatan yang sederhana sebenarnya untuk menjawab pertanyaan apa yang
mau kita ciptakan (Senge, 1995)

Tujuan Visi
• Mampu menyederhanakan ratusan atau bahkan ribuan keputusan yang lebih rinci
• Memotivasi banyak orang untuk melakukan tindakan ke arah yang benar
• Membantu mengkoordinasikan tindakan-tindakan banyak orang yang berbeda, bahkan
ribuan orang secara cepat dan efisien.

Arti pentingnya sebuah visi


• Membentuk suatu identitas umum diantara sejumlah orang yang berbeda-beda
• Meningkatkan aspirasi seseorang dalam organisasi, pekerjaannya dijadikan
sebagai bagian hidupnya
• Mengubah hubungan orang dengan organisasi. Orang tidak lagi mengatakan
organisasi mereka, tetapi organisasi kami
• Memunculkan keberanian alamiah dalam mewujudkan visi organisasi
• Membangun keberanian mengambil resiko dan melaksanakan uji coba-uji coba
• Membangun komitmen bersama demi kepentingan jangka panjang
(Senge,1994)

Karakteristik visi yang efektif


• Bisa dibayangkan, memberikan gambaran mengenai bagaimana gambaran masa depan
nantinya
• Menarik, menyentuh kepentingan jangka panjang anggota organisasi, konsumen, para
pemegang saham, dan orang lain yang menghadapi resiko dalam organisasi
• Dapat dilaksanakan, berisi tujuan-tujuan yang realistis dan bisa dicapai
• Terfokus, cukup jelas sehingga memungkinkan individu mengambil inisiatif dan
respon alternatif dalam hubungannnya dengan kondisi yang berubah
• Bisa dikomunikasikan, mudah dikomunikasikan, bisa dengan mudah dijelaskan dalam
waktu lima menit (Kotter, 1996)
3. Strategi Organisasi

Definisi:

• Suatu pola tujuan, kebijakan, program, tindakan, keputusan, atau alokasi sumberdaya
yang menentukan apa yang organisasi akan lakukan dan mengapa ia melakukan hal
tersebut (Bryson, 1995).
• Upaya-upaya yang terencana dari top management untuk mempengaruhi outcome dari
organisasi dengan cara memanage hubungan antara organisasi dengan lingkungannya.

• Penentuan dari tujuan dasar jangka panjang dan sasaran sebuah perusahaan, dan
penerimaan dari serangkaian tindakan serta alokasi dari sumber-sumber yang
dibutuhkan untuk melaksanakan tujuan tersebut.

Dalam mencapai tujuan dari strategi organisasi sangat diperlukan strategic fit.
Strategic fit ini dibuat oleh management strategic. Adapun kgunaan dari strategic fit ini adalah
menemukan kesesuaian antara strategi organisasi dengan tuntutan lingkungan sehingga
organisasi dapat tetap bertahan.

Pendekatan Dalam Menetapkan Strategi :

a) Planning Mode

Strategi sebagai sebuah model perencanaan atau kumpulan pedoman eksplisit yang
dikembangkan sebelumnya.

b) Evolutionary Mode

Strategi tidak selalu harus merupakan rencana yang matang & sistematis, strategi
berkembang dari waktu ke waktu sebagai pola dari arus keputusan yang bermakna.

Fungsi Strategi

1. Untuk meraih keunggulan bersaing (competitive advantage)

2. Untuk bertahan dalam lingkungan yang sangat dinamis (eksis)

3. Untuk mengelola sumber daya-sumber daya secar proporsional

Proses Pembuatan Strategi

I. Analisis Lingkungan

• Analisis lingkungan internal appraisal

Melakukan identifikasi atau analisis di dalam lingkungan organisasi untuk melihat


kekuatan (strenghts) dan kelemahan (weaknesses) organisasi.
• Analisis lingkngan eksternal appraisal

Melakukan identifikasi atau analisis lingkungan eksternal yaitu, network enviroment,


general environment, dan international environment demi melihat posisi organisasi di
tengah-tengah pesaingnya melalui sudut pandang peluang (opportunities) dan
ancaman (threats) agar mencapai kesuksesan organisasi.

II. Formulation

• Menentukan alternatif-alternatif tindakan oraginisasi demi mencapai strategic


fit yang sesuai dengan tuntutan lingkungan.

• Menyeleksi alternatif-alternatif tersebut.

• Membandingan alternatif-alternatif dan melakukan pemilihan alternatif-


alternatif yang terbaik.

III. Implementation

Mengalokasikan sumber (daya, dana, manusia, dan lain-lain) untuk mendukung alternatif
yang terpilih.

Bagan Pembuatan Strategi

Analisis Formulas Implement


i asi

feedback

feedback

Level Of Strategy

1. Fungsional-Level Strategy
Pelaksanaan dari rencana demi meningkatkan kekuatan fungsi organisasi dan sumber daya
organisasi.

2. Business-Level Strategy

Perencanaan kegiatan yang mengarahkan pada posisi organisasi di dalam kancah persaingan.

3. Corporate-Level Strategy

Menggunakan kompetensi inti dan mengembangkannya sehingga dapatmelindungi sekaligus


mengembangkan domainya (daerah kekuasaan).

4. Lingkungan Organisasi

Setiap organisasi pasti memiliki dan berkaitan dengan lingkungan. Hal ini dikarenakan
organisasi adalah suatu sistem terbuka dimana perilaku elemen-elemen organisasi dan
efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Lingkungan dapat diartikan
sebagai seluruh elemen yang terdapat di luar batas-batas organisasi, yang mempunyai potensi
untuk mempengaruhi sebagian ataupun suatu organisasi secara keseluruhan. Menurut Jones
dan Robbin, lingkungan yang meliputi setiap organisasi terdiri dari lingkungan umum dan
lingkungan khusus. Lingkungan umum adalah lingkungan yang mencakup kondisi yang
mungkin mempunyai dampak terhadap organisasi, termasuk didalamnya faktor ekonomi,
keadaan politik, lingkungan sosial, struktur yang legal, situasi ekologi dan kondisi budaya.
Sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan khusus adalah bagian dari lingkungan yang
secara langsung relevan bagi organisasi dalam mencapai tujuannya. Lingkungan khusus
merupakan sesuatu yang khas bagi setiap organisasi dan berubah sesuai dengan kondisinya.
Lingkungan khusus sebuah organisasi berbeda-beda, tergantung pada daerah atau domain
yang dipilihnya. Domain merujuk pada pilihan yang dibuat organisasi bagi dirinya sendiri
yang menyangkut rangkaian produk atau jasa yang ditawarkan dan pasar yang dilayaninya.
1. Customer

Customer atau pelanggan menggambarkan besarnya permintaan konsumen terhadap


produk ataupun jasa yang dihasilkan oleh organisasi. Hal permintaan konsumen ini sangat
berkaitan erat dengan selera masyarakat itu sendiri sebagai konsumen sebuah produk atau jasa
yang ada. Customer berpengaruh terhadap organisasi melalui besarnya permintaan yang
merupakan respon customer akan output yang dihasilkan organisasi. Jika respon customer
terhadap barang atau jasa yang dihasilkan baik (misalnya barang atau jasa yang dihasilkan
sesuai dengan selera masyarakat) maka ini akan berdampak pada permintaan konsumen yang
meningkat. Sehingga untuk mengatasinya, organisasi harus menambah jumlah produksi
barang atau jasa tersebut. Selain berdampak pada jumlah output yang dihasilkan, customer
juga berpengaruh terhadap jenis output yang dihasilkan. Selera masyarakat sebagai customer
dapat dijadikan input oleh organisasi untuk menentukan jenis output yang akan dihasilkan.

2. Distributor

Distributor memegang peranan yang penting dalam sebuah organisasi terlebih untuk
organisasi penghasil barang atau jasa. Distributor sangat berperan untuk membuat dan
memastikan suatu barang atau jasa yang dihasilkan organisasi dapat tersebar dengan baik
sehingga seluruh masyarakat di segala lokasi di Indonesia dapat menikmatinya. Peran
distributor tersebut sangatlah penting apalagi bila keadaan geografis dan demografis
masyarakat cukup rumit dan kompleks (seperti di Indonesia). Disinilah peran distributor
sangat dibutuhkan dalam rangka penyebaran barang atau jasa yang dihasilkan organisasi.
3. Unions

Unions yang dimaksud dalam hal ini adalah perserikatan. Setiap perusahaan pasti
mengikuti suatu atau beberapa perserikatan. Perserikatan ini dapat menjadi pengikat di antara
para produsen tertentu dengan sesama produsen atau antara produsen dengan serikat lainnya.
Dan dapat pula menjadi pemberi pengaruh di dalam organisasi yang ikut dalam perserikatan
tersebut. Pengaruh yang diberikan dapat berbentuk standar kualitas ataupun dalam bentuk lain
seperti kebijakan bersama.

4. Competitors

Meliputi seluruh organisasi lain yang bergerak di sektor kegiatan yang sama dan
merupakan saingan bagi organisasi itu sendiri. Competitors berpengaruh terhadap ukuran
organisasi, intensitas promosi yang perlu dilakukan, jenis konsumen serta tingkat keuntungan
rata-rata dari seluruh organisasi yang bergerak di sektor kegiatan tersebut. Banyaknya
organisasi yang bergerak di sektor kegiatan yang sama berpengaruh terhadap tingkat
ketidakpastian dalam persaingan anatar organisasi.

5. Government

Hal ini mencakup peraturan-peraturan dan sistem pemerintahan yang melingkupi


organisasi. Peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah berpengaruh terhadap keputusan-
keputusan yang dibuat oleh organisasi. Selain itu, akan berpengaruh pula terhadap hubungan
organisasi dengan elemen-elemen lain di lingkungan organisasi tersebut.

6. Suppliers

Organisasi harus mendapatkan bahan baku lingkungannya untuk keperluan


produksinya. Untuk itulah suppliers berperan. Kadang-kadang lingkungan tidak dapat
menyediakan bahan baku dalam jumlah yang cukup, ataupun tersedia dengan harga yang
tinggi. Sehingga membahayakan organisasi. Segala sesuatu (termasuk pula perubahan) yang
terjadi pada supplier akan berpengaruh terhadap industri.

7. Demographic & cultural

Hal ini mencakup karakteristik demografis dan sistem nilai yang berlaku pada
masayrakat di mana organisasi berada. Karakteristik demografis mencakup distribusi
penduduk menururt umur, distribusi pendapatan, tingkat pendidikan, penyeberan penduduk,
dsb. Sistem nilai merupakan komponen penting dari kebudayaan, dan seringkali berpengaruh
terhadap cara pengelolaan organisasi.

8. International

Lingkungan internasional meliputi segala aspek dari lingkungan yang melewati batas-
batas nasional sebuah negara atau segala sesuatu yang diatur di dalam skala global.
Contohnya adalah berbagai badan-badan internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB), IMF, GATT, WTO, dll.

9. Political

Politik di dalam hal ini termasuk segala sesuatu yang berkaitan dengan distribusi dan
konsentrasi kekuasaan serta sistem politik yang berlaku di suatu negara. Dinamika politik
yang terjadi di dalam suatu negara akan berpengaruh tidak langsung pada kehidupan
organisasi. Peristiwa politik yang ada dijadikan organisasi sebagai input dalam membuat
keputusan.

10. Technological

Teknologi yang dimaksud dalam hal ini adalah segala sesuatu pengetahuan serta
tehnik-teknik yang digunakan untuk membuat produk ataupun jasa. Hal ini berpengaruh
terhadap cara pengelolaan organisasi (termasuk produksi barang atau jasa). Tingkat teknologi
yang digunakan berpengaruh terhadap ukuran dan tingkat keahlian yang harus dimiliki dalam
organisasi. Organisasi yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi seringkali
terpaksa menghentikan kegiatannya.

11. Economic

Pengaruh kondisi ekonomi ini dirasakan oleh semua jenis organisasi, baik organisasi
pemerintah, perusahaan maupun organisasi sosial yang tidak mencari keuntungan. Kondisi
ekonomi di sini menggambarkan keadaan umum dari perekonomian daerah ataupun negara
dimana suatu organisasi berada. Kondisi ekonomi ini antara lain digambarkan oleh besarnya
daya beli konsumen, tingkat pengangguran, tingkat bunga yang berlaku, besarnya inflasi,
tingkat permintaan produk suatu sektor, dan kapasitas produksi total dari sektor.

12. Environment
Lingkungan dapat pula memberikan pengaruhnya pada suatu organisasi. Sesuatu yang
terjadi (isu-isu yang ada) di dalam lingkungan akan memberikan dampak (positif maupun
negatif) pada cara pengorganisasi ataupun pengelolaan organisasi tersebut.

5. Pemanfaatan Teknologi dalam Organisasi

Definisi:

• Ilmu pengetahuan, alat, teknik & kegiatan yang digunakan untuk melakukan
transformasi input menjadi output (Perrow)

• Teknologi mencakup mesin-mesin, pendidikan, prosedur kerja, skill karyawan, dll.


Contoh kegiatan teknologi:
o Industri Mesin: pengerjaan logam
o Stasiun Radio/TV: penulisan cerita
o Biro Arsitek: disain
Teknologi mencakup aspek yang luas, dengan definisi yang bermacam-macam:

• Sebagai aliran bahan mentah hingga berubah menjadi produk jadi (Perrow) Sebagai
tingkat variabilitas kegiatan kerja (Mohr)
• Sebagai derajat mekanisasi dalam proses produksi (Woodward)
• Sebagai tingkat penggunaan alat mekanis (Khandwalla)
• Sebagai derajat ketergantungan antar tugas dalam aliran kerja (Hickson, Pugh et al)
• Sebagai banyaknya produk baru yang dihasilkan (Harvey)

Klasifikasi Teknologi Produksi (Woodward)


 Jenis 1
• Proses pada workshop, membuat (assembling) pesanan berjumlah kecil, berbentuk
pesanan khusus (custom work)
• Titik berat teknologi pada operator
• Tingkat makenisasi: rendah
• Predictability proses: rendah
• Contoh: tukang Las
 Jenis 2
• Proses produksi panjang, digunakan untuk membuat komponen standar
• Output sering harus masuk inventory karena belum dibutuhkan oleh konsumen
• Tingkat mekanisasi: sedang
• Predictability proses: sedang
• Contoh: pembuatan (massal) baut
 Jenis 3
• Keseluruhan proses bersifat mekanis/otomatis, tanpa ada start atau stop
• Proses sangat terkontrol, hasil sangat predictable
• Tingkat mekanisasi: tinggi
• Predictability proses: tinggi
• Contoh: penyulingan minyak

Teknologi organisasi (James Thompson)

3 kategori Teknologi (Nilai Integrasi Aliran Kegiatan Jenis teknologi): Teknologi Perantara,
Teknologi Rangkaian Panjang & Teknologi Intensif

1. Teknologi Perantara (Mediating Technology):


• Menghubungkan organisasi (mediator) dengan klien dari lingkungan
• Klien tidak saling berhubungan secara langsung karena mahal akibat sulit atau rumit.
• Contoh: Bursa saham
2. Teknologi Rangkaian Panjang (Long-Unked Technology):
• Ada tahapan proses produksi yang berurutan dalam organisasi, output suatu tahap jadi
input buat tahap berikutnya, berturut-turut hingga keluar kepada kilen
• contoh: Pabrik Mobil
3. Teknologi Intensif (Intensif Technology):
• Beberapa jenis service khusus digabungkan untuk klien
• Contoh: Rumah Sakit

Departemental Technology (Perrow)

 Teknologi Rutin
• Variasi tugas rendah, tugas formal, analyzable dengan ukuran angka yang jelas
• Contoh: Pembuatan komponen logam (massal)

 Teknologi Non-Rutin
• Variasi tugas tinggi, pencapaian obyektif tidak analyzable, analisis masalah
memerlukan usaha yang besar.
• Contoh: Penelitian (terutama sosial)
 Teknologi Craft
• Aliran kegiatan stabil, tidak analyzable, sehingga perlu latihan, pengalaman, intuisi,
kebijaksanaan.
• Contoh: Pengrajin

 Teknologi Engineering
• Variasi tugas tinggi, kompleks, tetapi ada formula/teknik/prosedur yang baku
• Analyzable
• Contoh: Akuntan

2.3 Manfaat Learning Organization

Manfaat dari Learning Organization dalam Perusahaan:

1. Perusahaan mampu memperoleh, mengintegrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan


baru dan unik melalui ekperimentasi, perbaikan dan inovasi dalam kegiatan internal
organisasi. Perusahaan tidak hanya mencari informasi khusus untuk mempertahankan
daya saing dan keberlanjutan kompetensi intinya, tetapi juga belajar bagaimana
memperoleh, memproses, menyimpan dan mendapatkan kembali informasi secara efektif
dan efisien. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menentukan informasi yang
dibutuhkan untuk memperbaharui, menyebarkan kembali atau menyusun kembali
kompetensi intinya setelah dilakukan pemindaian dan penilaian yang teliti dan terus
menerus pada lingkungan
2. Mencari cara inovatif untuk menghadapi perubahan dan memenangkan persaingan
bisnis. Dengan Learning Organization, maka sikap inovatif dapat berkembang seiring
dengan munculnya sharing knowledge antar karyawan atau atasan dengan karyawan
3. Mendukung individu dan organisasi agar mampu beradaptasi terhadap perubahan
lingkungan. Dengan semakin mudahnya arus informasi masuk ke dalam tatanan
kehidupan masyarakat akibat semakin canggihnya teknologi informasi, maka karyawan
yang dibutuhkan adalah yang orang-orang yang memiliki pengetahuan (knowledge
people). Oleh karena itu, karyawan berpengetahuan yang bekerja dalam suatu perusahaan
hendaknya dinilai sebagai aset utama.
4. Dalam hal pengambilan keputusan manajemen, maka learning organization akan
membantu para eksekutif dan manajer untuk mampu membuat keputusan-keputusan
terutama keputusan tidak terprogram secara lebih kreatif. Learning organization
dipandang sebagai upaya untuk memaksimalkan kemampuan para manajer untuk berpikir
dan berperilaku efektif serta memaksimalkan potensinya. Artinya, para manajer mampu
memotivasi dan memberdayakan karyawan untuk mengambil keputusan secara mandiri.

2.4 Hambatan-hambatan dalam Learning Organization

Ada beberapa fakor penting yang menjadi hambatan utama dalam menerapkan proses
Learning Organization, faktor-faktor tersebut antara lain adalah :
1. kurangnya open-minded management, yaitu kemauan untuk mendengar, men-share
informasi, dan memonopoli kebenaran. Ditingkat individu, juga dituntut open-minded
juga. Padahal masyarakat Indonesia belum bisa menerima dan mempraktekkan open-
minded seperti tuntutan dari penerapan learning organization.
2. budaya belajar yang khas mungkin belum dikenal sebelumnya. Akibatnya, penanaman
budaya baru dipersepsikan sebagai tambahan “kegiatan” yang menjadi beban tersendiri
bagi organisasi/karyawan.
3. ketidakmampuan dalam hal teknik belajar seperti teknik dialog, analisis masa depan,
dan perekayasaan. Teknik dalam dialog, misalnya, sering dibayangi oleh ketidaklugasan
dalam menyampaikan gagasan karena perbedaan-perbedaan dalam jabatan, senioritas,
atau keakhlian.
4. implementasi pengembangan karyawan tidak berdasarkan need assessment dan jika
dilaksanakan tidak berorientasi pada misi, sasaran dan strategi organisasi di masa depan.
5. resistensi terhadap perubahan dari para anggota organisasi (pegawai/karyawan) serta
kekurang pahaman akan arti learning organization

Jadi, hambatan dalam Learning Organization dapat berasal dari sisi individu dan juga
dari perusahaan. Hambatan yang muncul dari diri seseorang (individual) adalah pandangan
seseorang bahwa pengetahuan merupakan suatu kekuatan tersendiri yang dimiliki setiap
orang, sehingga jika pengetahuan tersebut disampaikan kepada orang lain, maka akan muncul
persaingan. Selain itu, pandangan seseorang yang tidak mau belajar jika bukan cara yang ia
yakini, juga akan menghambat proses belajar. Karyawan juga terkadang belum menyadari
pentingnya kegiatan belajar di perusahaan. Mereka menganggap bahwa proses belajar
tersebut tidak memberikan manfaat bagi mereka dan hanya menguras waktu dan tenaga
mereka saja. Waktu yang digunakan untuk melakukan suatu pekerjaan tidak sedikit, sehingga
terkadang karyawan merasa kekurangan waktu untuk bisa belajar.
Hambatan yang berasal dari perusahaan (organization) misalnya kurangnya dukungan
perusahaan dalam proses belajar. Perusahaan tidak memfasilitasi para karyawannya untuk
belajar. Selain itu, budaya belajar merupakan budaya yang baru di beberapa organisasi atau
perusahaan tertentu, sehingga memerlukan proses adaptasi terlebih dahulu. Dalam setiap
kegiatan pembelajaran, setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda dan juga proses
belajar merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dipaksakan, sehingga, perusahaan haruslah
memotivasi para karyawannya agar proses pembelajaran tersebut dapat maksimal dan
berhasil. Konsep learning yang baik adalah konsep dimana seseorang mau dan mampu belajar
atas kemauan dirinya sendiri bukan atas kemauan atasan bahkan perusahaan.

2.5 Solusi Mengatasi Hambatan-hambatan dalam Learning Organization

Faktor-faktor penghambat yang telah dijelaskan sebelumnya hanya dapat diatasi


bilamana pemimpin organisasi mempunyai komitmen yang kuat untuk melaksanakan
perbaikan secara berkelanjutan, memiliki visi yang jelas dan mengkomunikasikannya kepada
seluruh anggota organisasi. Efektivitas Learning Organization akan sangat tergantung pada
sampai sejauh mana pimpinan mendukung proses tersebut, empowerment secara efektif, dan
tidak memandang empowerment sebagai ancaman. Intinya, Learning Organization dengan
dukungan kepemimpinan visioner bertujuan menciptakan budaya organisasi yang sehat dan
positif dalam upaya mencapai cita-cita (visi) bersama. Hanya pemimpin yang mempunyai visi
yang jelas dan mengkomunikasikannya secara konsisten kepada semua anggota organisasi
(visionary leader) serta mengevaluasi pencapaian visi secara periodik yang mampu membawa
organisasinya ke arah perubahan yang diinginkan. Visi yang tidak jelas dan tidak dipahami
oleh semua orang dalam organisasi mengakibatkan iklim kerja menurun dan budaya kerja
berbasis kinerja sulit dicapai secara maksimal. Seorang pimpinan yang tidak memiliki visi,
sebenarnya telah kehilangan kredibilitasnya sebagai seorang panutan. Bila pimpinan
membiarkan hal itu terjadi, maka organisasi bisa terjebak ke dalam salah satu atau bahkan
beberapa pola organisasi, yaitu
1. Organisasi maniak, menunjukkan kegilaan yang luar biasa tentang sukses yang telah
dicapainya melalui kreativitas dan inovasi produk/jasa di masa lalu. Sukses tersebut
membuat pemimpin tergila-gila pada kreativitas dan inovasi produk/jasa, sehingga
produk/jasa baru merupakan tujuan bisnisnya, dan lupa akan pasarnya.
2. Organisasi dramatik. Mirip dengan organisasi maniak, organisasi dramatik terbawa
oleh pembawaan eksekutif yang bermental dan berpembawaan dramatik. Pembawaan
tersebut merupakan menifestasi dari rasa haus akan perhatian umum, gila kesibukan,
demam resiko yang tidak tanggung-tanggung.
3. Organisasi depresif, organisasi seperti ini diibaratkan balok kayu yang hanyut
terbawa arus. Organisasi tidak siap menghadapi perubahandan hanya ikut arus akan apa
yang terjadi di lingkungan luarnya. Terjadi dampak besar, yang antara lain ditandai oleh
depresi pada karyaswannya, iklim kerja seakan-akan mati, karyawan dilanda rasa apatis,
lesu darah. Organisasi tidak akan peduli apa yang akan terjadi di masa depan dan bahwan
melupakan komitmen masa lalunya.
4. Organisasi skisofrenik. Organisasi yang mengidap penyakit ini tidak memiliki
pegangan apa-apa, bagaikan mulut raksasa yang siap melumat karyawannya. Kehidupan
organisasi tidak menentu, sehingga karyawan tidak tahu akan apa yang terjadi.
5. Organisasi paranoid. Ini terjadi karena eksekutifnya mempunyai pandangan dan
pendirian bahwa orang-orang lain tidak dapat dipercaya dan harus diwaspadai, dicurigai.
Asumsi yang melekat dalam organisasi adalah setiap orang mempunyai niat jahat dan
sedang merencanakan penjegalan. Kemajuan dan kreativitas bawahan dianggap sebagai
ancaman jabatan dan kedudukannya dalam organisasi. Akibatnya hunbungan antara
individu dalam organisasi dilandasi saling curiga, sehingga menimbulkan suasana kerja
yang tidak tenang.
6. Organisasi neurotik. Organisasi ini ditandai oleh kepemimpinan eksekutif yang
senantiasa ditandai dengan rasa takut. Eksekutif takut akan kemampuan dirinya dan
menyangsikan kemampuannya untuk mencapai kesusksesan. Konsekwensinya ia
menghindari resiko dan perubahan.
7. Organisai kompulsif-obsesif, yaitu organisasi yang tersu menerus menunjukkan pola
perilaku yang tidak masuk akal, membahayakan kesehatan sendiri dan perbuatannya
hanya terfokus pada satu hal saja, misalnya mengorbankan apapun demi kesempuarnaan
suatu aktivitas. Pemimpin puncak organisasi cenderung mengawasi, mengontrol, dan
mengendalikan dan bila perlu mencurigai bawahannya secara rinci. Akibatnya, terjadi
sentralisasi atas segala macam keputusan organisasi.
8. Organisasi mabuk, mengacu pada organisasi yang berpola perilaku tanpa
menggunakan perhitungan dan akal sehat, karena eksekutif puncaknya kecanduan suatu
hal. Dalam organisasi mabuk, pemimpin tidak akan pernah menyadari atau menerima
realitas yang mengidap organisasinya.
9. Organisasi stress pasca traumatik, adalah organisasi yang mengalami gangguan
emosional karena tergoncang oleh pengalaman dahsyat, misalnya pencaplokan oleh
konglomerat lain, kehilangan kontrak kerja sama dengan perusahaan penting, kehilangan
pelopor/pendiri organisasi.
BAB III

ISI

3.1 Struktur organisasi dalam PT Unilever Indonesia

3.2 Tujuan dari PT Unilever Indonesia

1. VISI PT. UNILEVER

“To become the first choice of consumer, costumer and community”

Visi ini terbentuk disadari bahwa PT. Unilever terfokus pada consumer, costumer dan
community. Hal ini terwujud pada komitmen PT. Unilever terhadap konsumennya yaitu
menyediakan produk bermerek dan pelayanan yang secara konsisten menawarkan nilai dari
segi harga dan kualitas, dan yang aman bagi tujuan pemakaianny agar costumer, consumer
dan community dapat merasa puas.
2. MISI PT. UNILEVER

• Menjadi yang pertama dan terbaik di kelasnya dalam memenuhi kebutuhan dan
aspirasi konsumen
• Menjadi rekan yang utama bagi pelanggan, konsumen dan komunitas.
• Menghilangkan kegiatan yang tak bernilai tambah dari segala proses.
• Menjadi perusahaan terpilih bagi orang-orang dengan kinerja yang tinggi.
• Bertujuan meningkatkan target pertumbuhan yang menguntungkan dan memberikan
imbalan di atas rata-rata karyawan dan pemegang saham.
• Mendapatkan kehormatan karena integritas tinggi, peduli kepada masyarakat dan
lingkungan hidup.
3.3 Strategi PT Unilever Indonesia dalam menghadapi dunia usaha yang semakin
kompetitif

PT Unilever merupakan perusahaan multinasional yang memproduksi barang


konsumen demi memenuhi kebutuhan akan nutrisi, kesehatan dan perawatan pribadi sehari-
hari dengan produk-produk yang membuat para pemakainya merasa nyaman, berpenampilan
baik dan lebih menikmati kehidupan. Untuk menjaga keeksistensiannya dalam persaingan
global maka PT Unilever mempersiapkan beberapa strategi diantaranya sebagai berikut :

• BERFOKUS PADA PELUANG PASAR

PT Unilever Indonesia dalam menjaga ke eksistensiannya di dalam persaingan global


yang semakin meningkat melakukan promosi melalui media elektronik. Namun dalam
kehidupan sehari-hari promosi yang dilakukan PT Unilever Indonesia tidak hanya lewat
media elektronik tetapi banyak juga melalui media cetak, sponsorship, mengadakan event-
event yang memasukkan produk-produk dari PT Unilever seperti Kecap Bango, Pepsodent,
Shampo Pantene, dan lain-lain. Karena jika promosi yang dilakukan hanya melalui media
elektronik maka PT Unilever Indonesia tidak mendapatkan keuntungan yang optimal.
Masyarakat di Indonesia terdiri dari berbagai kalangan dan tingkatan sosial yang beragam.
Jika perusahaan tidak bisa menyentuh hati masyarakat semua kalangan maka perusahaan
tidak dapat berkembang pesat. Makna dari iklan yang ditawarkan oleh perusahaan juga harus
bisa dipahami oleh berbagai kalangan, karena iklan adalah salah satu cara promosi yang bisa
dilakukan oleh perusahaan agar dapat memperoleh keuntungan yang optimal.
Selain melalui iklan elektronik proses pemasaran yang dilakukan Unilever juga
menggunakan berbagai cara, diantaranya dengan berbagai program pemasaran yang dapat
menarik perhatian pelanggan. Kupon belanja gratis produk unilever adalah salah satu cara
promosi yang dilakukan oleh Unilever, selain itu diskon-diskon yang diberikan juga banyak
menarik perhatian pelanggan yang berasal dari kalangan masyarakat menengah kebawah.

Iklan itu sendiri adalah kandungan utama dari manajemen promosi yang menggunakan
ruang media bayaran untuk menyampaikan pesan, sementara para klien dan praktisi
periklanan memandangnya hanya sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan konsumen.
Iklan ini merupakan bagian dari bauran promosi, yang terdiri dari pemasaran langsung, PR
(Public Relations), promosi penjualan, dan penjualan personal. Peranan merek produk juga
sangat berperan penting, karena merek merupakan simbol dari sebuah produk yang
dipasarkan. Bahkan dalam satu perusahaan terdapat berbagai macam merek yang berbeda-
beda.

Pemasaran berskala besar seperti ini hanya satu daripada beragam program promosi
yang dilakukan Unilever, promosi inter-personal langsung ke pelanggan juga dilakukan oleh
Unilever dengan memberikan keuntungan khusus yang diberikan pada pelanggan setia
pengguna produk Unilever. Dengan program pemasaran ini diharapkan Unilever dapat
mencakup pangsa pasar yang luas di pasar konsumen Indonesia.

Dalam pemasaran global, eksistensi perusahaan diperlukan dalam mengembangkan


ide pemikiran, baik dalam cakupan nasional maupun internasional. Dalam hal ini khususnya
perusahaan Unilever harus bisa membuat sebuah grand design mahakarya khususnya
pemasaran global yang menuntut sebuah keajaiban-keajaiban dalam mengembangkan karir
sebuah perusahaan khususnya unilever selain memantau jalannya proses globalisasi dari para
pesaing. Mutlak adanya selalu diadakan apa yang disebut dengan inovation treatment dalam
setiap sesi langkah-langkah perusahaan.

Unilever juga terus mempelajari kebutuhan dan keinginan konsumen, melakukan


inovasi dan aktivasi produk, serta terus membangun citra produk. Hal ini merupakan sebagian
dari strategi perusahaan untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan kepercayaan
konsumen terhadap brand-brand Unilever. Komunikasi yang disampaikan melalui iklan di
berbagai media cetak maupun elektronik sangat efektif dan langsung mengenai sasaran,untuk
evaluasi kedepannya PT Unilever Indonesia, Tbk akan melakukan 4 hal demi tetap memiliki
citra baik pada konsumennya, antara lain: branding, design, technical printing, dan
merchandising. Sehingga dengan cepat hal tersebut dapat mempengaruhi konsumen untuk
membeli dan mengkonsumsi produk-produk yang dikeluarkan oleh PT. Unilever.

Promosi strategi yang dapat dilakukan oleh PT Unilever yaitu:

1. Periklanan → semua bentuk penyajian nonpersonal dan promosi ide, barang atau jasa
yang dibayar oleh suatu sponsor tertentu.
2. Promosi Penjualan → Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan
mencoba atau membeli suatu produk atau jasa.
3. Hubungan Masyarakat dan Publisitas → berbagai program untuk mempromosikan
dan atau melindungi citra perusahaan atau produk individualnya.
4. Penjualan Secara Pribadi → interaksi langsung dengan satu calon pembeli atau
lebih untuk melakukan presentasi, menjawab pertanyaan, dan menerima pesan
5. Pemasaran Langsung → penggunaan surat, telepon, faksimili, e-mail, dan alat
penghubung non personal lain untuk berkomunikasi secara langsung dengan atau
mendapatkan tanggapan langsung dari pelanggan tertentu dan calon pelanggan.

Akan tetapi dengan bertambahnya zaman, persaingan pasar semakin ketat,


berkembangnya berbagai jenis media baru dan semakin canggihnya konsumen maka Strategi
Promosi dirumuskan menjadi:

1. Advertising
2. Consumer Sales Promotion
3. Trade Promotion and Co-Marketing
4. Packaging. Point Of Purchase
5. Personal Selling
6. Public relations
7. Brand Publicity
8. Corporate Advertising
9. The Internet
10. Direct Marketing
11. Experiantial contact: Event, sponsorship
12. Customer Service
13. Word Of Mouth

Consumer – market sales promotion techniques :

• Kupon → Sertifikat yang memberi hak kepada pemegangnya untuk mendapat


pengurangan harga seperti yang tercetak untuk pembelian produk tertentu.
• Price-Off Deals → Memberikan potongan harga langsung ditempat pembelian.
• Premium and Advertising Specialties → Barang yang ditawarkan dengan biaya
yang relatif rendah atau gratis sebagai insentif untuk membeli produk tertentu.
• Contest and Sweeptakes → Hadiah adalah tawaran kesempatan untuk memenangkan
uang tunai, perjalanan, atau barang-barang karena membeli sesuatu.
• Sampling and Trial Offers → Penawaran gratis untuk sejumlah produk atau jasa
(pemberian contoh produk).
• Brand Placement → Salah satu teknik dari sales promotion untuk mencapai pasar
dengan memasukkan produk pada sebuah acara televisi atau film.
• Rebates → memberikan pengurangan harga setelah pembelian terjadi dan bukan pada
toko pengecer.
• Frequency → Program ini merupakan salah satu teknik yang mengarah kepada
program-program yang berkelanjutan seperti menawarkan konsumen diskon atau hadiah
langsung gratis untuk mencapai terjadinya pengulangan dalam pembelian atau langganan
dari merk atau perusahaan yang sama.
• Event Sponsorship → Ketika perusahaan mensponsori suatu acara, membuat merek
sangat ditonjolkan pada acara tersebut sehingga membuat kredibilitas merek meningkat
bersamaan dengan para penonton di acara.

Pendekatan penjualan dan promosi penjualan akan efektif dan efisien apabila
dirancang dengan menerapkan pola regionalisasi atau diterapkan di daerah-daerah atau
kawasan tertentu. Unilever sudah menerapkan pola regionalisasi karena Unilever telah
memiliki pabrik-pabrik atau juga cabang perusahaan di tiap-tiap negara. Hal ini dilakukan
agar setiap negara dapat membeli produk yang sesuai dengan keinginan dan kebiasaan
mengkonsumsi produk yang sangat erat hubungannya dengan cita rasa negaranya.
Unilever telah membuka cabang perusahaan di Indonesia. Untuk lebih dikenal oleh
masyarakat indonesia dan bisa mendapat hati masyarakat Indonesia maka Unilever membuat
produk yang sesuai dengan cita rasa Indonesia seperi kecap Bango. Kecap merupakan
makanan yang terbuat dari kacang kedelai. Bisa dibilang kecap merupakan makanan yang
khas dari Indonesia.

Untuk itu Unilever membuat produk kecap bango untuk di konsumsi masyarakat
Indonesia. Walau kecap bango bukan produk asli buatan unilever namun nama Unilever lebih
terkenal karena kecap bango sekarang ini merupakan produk yang dikembangkan oleh
Unilever. Terlebih iklan yang ditampilkan di media tentang produk kecap bango sangat
mencerminkan negara Indonesia. Dengan model-model yang berasal dari Indonesia, ini akan
lebih membangun image Unilever dimata konsumen di Indonesia. Konsumen akan
mempunyai keinginan untuk membeli produk kecap bango karena terkesan melihat iklan yang
ditampilkan tersebut. Walaupun konsumen hanya coba-coba membeli merek tersebut namun
setidaknya produk tersebut sangat dikenal oleh masyarakat.

Oleh karena itu, kualitas sangat penting dalam pembuatan produk. Karena walaupun
promosi yang dilakukan perusahaan sangat baik namun jika kualitas yang ditawarkan tidak
diperhatikan maka promosi yang dilakukan bisa dibilang sia-sia saja.

• KEPEMIMPINAN HARGA RENDAH

Dengan menjaga harga yang rendah dan rak-rak diisi dengan baik menggunakan
sistim pengisian kembali persediaan yang melegenda melalui mili pada tempat pedagang
eceran. Sistem mili mengirimkan pesanan atas barang dagang baru secara langsung kepada
pemasok ketika pelanggan membayar pembelian mereka pada kasir.Terminal titik pejualan
mencatat kode barang setiap barang yang melewati kasir dan mengirimkan transaksi
pembelian langsung kepada komputer pusat pedagang eceran. Komputer mengumpulkan
pesanan dari semua toko eceran dan mengirimkannya ke pemasok. Pemasok juga dapat
mengakses data penjualan dan persediaan pedagang eceran menggunakan teknologi web.
Sistem ini mampu membuat pedagang eceran mempertahankan biaya rendah sambil
menyesuaikan persediaannya untuk memenuhi permintaan pelanggan. Dampaknya bagi
pelanggan adalah ketidaktertarikannya beralih ke produk lain akibat harga produk unilever
rendah dan terjangkau.
• DIFERENSIASI PRODUK

Produk Unilever terus memperkenalkan kemasan-kemasan yang terbaru, tetapi


Unilever tetap mempertahankan kualitas produknya. Baik itu kemasan yang botol kaca,
sachet, botol kecil dan masih banyak lagi kemasannya.

• MENGUATKAN KEAKRABAN PELANGGAN DAN PEMASOK

Menggunakan sistem informasi untuk memfasilitasi akses langsung dari pemasok


terhadap jadwal produksi.dan bahkan mengizinkan pemasok untuk memutuskan bagaimana
dan kapan mengirim pasokan kepada pemasok. Selain itu Unilever juga melakukan tanya
jawab kepada para konsumen dan membuat suara konsumen tempat para konsumen
mengeluh.

3.4 Pengaruh lingkungan umum maupun khusus terhadap PT Unilever Indonesia

Lingkungan PT Unilever Indonesia Tbk yaitu sebagai berikut :

1. Customer
Kita dapat melihat pengaruh selera masyarakat terhadap jenis output yang dihasilkan
pada PT Unilever Indonesia TBK. Selera masyarakat yang berbeda-beda mempengaruhi
SariWangi (anak perusahaan PT Unilever Indonesia dengan produk teh) dalam menghasilkan
jenis barang (teh) yang akan dipasarkan. Setelah membidik selera teh masyarakat pada
umumnya dengan produk teh celup SariWangi regular, saat ini SariWangi membidik selera
premium para customernya yang rata-rata kalangan menengah ke atas dengan mengeluarkan
produk SariWangi Gold Selection.

2. Distributor

Melihat begitu pentingnya peranan distributor dalam penyebaran produk yang


dihasilkannya, PT Unilever Indonesia Tbk membentuk dan menjalin jaringan distribusi yang
sangat baik (versi majalah Businessweek). Salah satu caranya, PT Unilever mengeluarkan
program promosi bagi para distributor yang membuat display (tamnpilan) dari produk
Unilever yang baik di tempatnya berdagang. Penjual yang membuat display yang baik
terhadap produk Unilever akan diberikan hadiah berupa uang tunai. Penerapan dari hal ini
dapat kita lihat dengan jelas dalam produk Sunsilk yang termasuk dalam produk yang
dihasilkan PT Unilever Indonesia Tbk.

3. Unions

Pepsodent sebagai salah satu produk yang dikeluarkan oleh PT Unilever Indonesia
Tbk, menjalin kerja sama dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Jalinan kemitraan antara
Pepsodent dengan PDGI memberikan pengaruh pada Pepsodent dalam hal kualitas produk
dan kemasan produk. Dalam hal kualitas produk, PDGI memberi input kepada Pepsodent
tentang karakteristik kualitas produk yang baik. Sedangkan dalam hal kemasan, PDGI bekerja
sama dengan Pepsodent untuk mencantumkan himbauan sikat gigi teratur pada kemasan
Pepsodent.

4. Competitors

PT Unilever Indonesia Tbk mengeluarkan sebuah produk sabun mandi yang khusus
pada jenis sabun mandi kesehatan. Produk tersebut diberi nama Lifebuoy. Di pasar, tidak
hanya PT Unilever Indonesia Tbk saja yang menghasilkan produk sabun mandi kesehatan.
Ada beberapa perusahaan yang bergerak pula dalam produk sabun mandi kesehatan seperti
Nuvo dan Dettol. Karena persaingan dalam pasar itulah yang membuat PT Unilver Indonesia
Tbk dengan Lifebuoy-nya lebih memfokuskan produknya pada jenis konsumen yaitu keluarga
dengan memproklamirkan Lifebuoy-nya sebagai sabun mandi kesehatan keluarga. Selain
melirik keluarga sebagai target pemasaran produknya, PT Unilever Indonesia Tbk juga
mengeluarkan program sosial masyarakat yaitu ‘Kampanye Cuci Tangan dengan Sabun’ yang
sekaligus sebagai ajang promosi bagi Lifebuoy.

5. Government

PT Unilever Indonesia Tbk melahirkan trashion sebagai bagian dari program ‘Green
and Clean’. Di dalam program ini, PT Unilever Indonesia Tbk melibatkan sekitar 500 ibu
rumah tangga yang tergabung dalam Komunitas Ibu Bersinar Sunlight untuk berperan serta
dalam pembuatan tas daur ulang dari sampah plastik bekas kemasan produk yang lebih
dikenal dengan trashion. Komunitas yang telah membentuk 53 sentra ini tersebar di beberapa
kota yaitu Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Makasar. Program ini merupakan bentuk
tanggungjawab sosial perusahaan yang sejalan dengan UU 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah yang mewajibkan pelaku usaha untuk bertanggungjawab dalam mengelola sampah
yang berasal dari produk dan/atau kemasan yang dibuat.

6. Suppliers

Salah satu produk teh dari PT Unilever Indonesia Tbk yaitu SariWangi baru saja
meluncurkan pruduk terbarunya yaitu SariWangi Gold Selection. Produk ini adalah produk
yang memenuhi keinginan para kalangan premium. Untuk produk terbarunya itu, PT Unilever
Indonesia Tbk mencari supplier lain dimana pasokan bahan bakunya memiliki karakteristik
yang sesuai dengan karakteristik produk terbarunya tersebut. Karena itulah supplier dari
produk SariWangi regular berbeda dengan supplier dari produk SariWangi Gold Selection.
Kualitas supplier akan sangat berpengaruh pada kualitas produk tersebut. Sehingga PT
Unilever Indonesia Tbk sangat berhati-hati dalam pemilihan supplier.

7. Demographic & cultural

Menurut majalah Businessweek, PT Unilever Indonesia Tbk karakteristik demografis


di Indonesia sangat ideal atau cocok dengan PT Unilever Indonesia Tbk. Produk-produk yang
dihasilkan oleh PT Unilever Indonesia Tbk telah mampu memenuhi kebutuhan para penduduk
Indonesia dengan berbagai produk yang dihasilkannya yang dapat dinikmati oleh semua
kalangan usia dan semua kalangan kelas ekonomi. Misalnya produk Pepsodent yang dapat
dinikmati oleh semua kalangan usia (Pepsodent kids sampai Pepsodent untuk orang dewasa)
dan semua kalangan kelas ekonomi (Pepsodent regular sampai Pepsodent untuk perawatan
khusus). Penduduk Indonesia yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia pun dapat diatasi
oleh PT Unilever Indonesia dengan membentuk jaringan distrribusi yang baik. Sehingga
produk-produk PT Unilever Indonesia Tbk dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia
dari perkotaan hingga pelosok pedesaan. Karakteristik demografis yang ideal inilah yang
membuat PT Unilever Indonesia Tbk menjadi terkenal merajai pasar di Indonesia.

8. International

Kebijakan dalam PT Unilever Indonesia Tbk dipengaruhi pula oleh lingkungan


internasional. Salah satunya adalah kebijakan PT Unilever Indonesia Tbk dalam program
peningkatan gizi anak. PT Unilever Indonesia Tbk melalui produk Blue Band mengeluarkan
program untuk meningkatkan gizi anak-anak yang kurang mampu bi beberapa negara bekerja
sama dengan UNICEF. Selain itu, beberapa program dan produk dari PT Unilever Indonesia
juga bekerja sama dengan WHO.

9. Political

Kondisi politik Indonesia yang sering tidak stabil membuat keadaan ekonomi yang
ada di Indonesia pun menjadi tidak stabil pula. Keadaan ini akan menjadi perhatian PT
Unilever Indonesia Tbk dalam menjalani kegiatan organisasi sehari-hari maupun dalam
membuat keputusan. Misalnya keadaan ekonomi yang tidak stabil akibat kondisi politik yang
tidak menentu membuat PT Unilever Indonesia Tbk untuk mengurangi jumlah produksinya.
Dan bila kondisi politik stabil yang diikuti dengan keadaan ekonomi yang stabil pula, maka
PT Unilever Indonesia Tbk akan membuat keputusan untuk menaikkan jumlah output
produksi.

10. Technological

PT Unilever Indonesia Tbk telah memiliki tujuh buah pabrik di Indonesia. Pabrik-
pabrik berteknologi tinggi tersebut berlokasi di Cikarang dan Rungkut (Surabaya) dengan
kapasitas 76.000 ton per tahun. Dan PT Unilever Indonesia Tbk baru saja menambah pabrik
teknologi tingginya dengan meresmikan pabrik perawatan kulit (skin-care) miliknya yang
berlokasi di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang dimana investasi awalnya sebesar Rp.
500.000.000.000. Pabrik ini tercatat sebagai pabrik perawatan kulit terbesar di Asia. Kekuatan
teknologi digunakan PT Unilever Tbk untuk memberikan pengaruh positif terhadap
organisasinya. Pengaruh positif ini dapat berupa peningkatan jumlah produksi maupun
peningkatan mutu produksi. Yang pada akhirnya kedua hal tersebut akan memengaruhi
organisasi dalam hal cara pengelolaan organisasi.

11. Economic

Kondisi perekonomian Indonesia yang sempat menurun membawa PT Unilever


Indonesia Tbk untuk melakukan suatu inovasi agar produk-produk yang dihasilkannya dapat
tetap dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini dapat kita lihat jelas dalam produk
pembersih cuci piring dan detergen yang dihasilkan oleh PT Unilever Indonesia Tbk yaitu
Sunlight dan Rinso. Sebelumnya kedua produk tersebut dikenal sebagai produk yang cukup
mahal dan belum tentu terjangkau oleh seluruh masyarakat. Dengan kondisi perekonomian
Indonesia yang sempat tergoncang dimana terjadi inflasi dalam jumlah besar dan banyaknya
jumlah pengangguran. Masyarakat lalu mengetatkan anggaran pengeluaran mereka yang
berimbas pada menurunnya tingkat permintaan masyarakat terhadap beberapa produk
(termasuk Sunlight dan Rinso). Untuk menghadapi masalah itu, PT Unilever Indonesia Tbk
mengeluarkan produk Sunlight dan Rinso yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi ekonomi
masyarakat yaitu mengemasnya dalam bentuk sachet. Terbukti dengan dikeluarkannya produk
sachet dari Sunlight dan Rinso, penjualan kedua produk tersebut meningkat dan cenderung
stabil meski dalam keadaan ekonomi yang turun sekalipun.

12. Environment

Seperti masalah lingkungan yang sedang menjadi sorotan di Indonesia akhir-akhir ini
terlebih masalah pemberdayaan sampah dan barang daur ulang. Sebagai tanggapan terhadap
masalah tersebut sekaligus bentuk komitmen PT Unilever Indonesia Tbk dalam mengedukasi
masyarakat untuk turut ambil bagian dalam upaya melestarikan lingkungan melalui
penggunaan produk daur ulang di dalam aktivitas masyarakat sehari-hari, maka PT Unilever
Indonesia Tbk meluncurkan trashion sebagai bagian dari program ‘Green and Clean’. Dimana
tujuan dari program ini adalah untuk menginspirasi masyarakat dalam menggunakan produk
itu (trashion) sebagai alternatif tas belanja dan salah satu inisiatif dalam mengurangi dampak
kemasan plastik. Selain berpengaruh pada program yang dikeluarkan, lingkungan alam juga
mempengaruhi PT Unilever Indonesia Tbk dalam jenis dan kualitas produk yang
dihasilkannya. Masalah lingkungan lain yang sedang menjadi pusat perhatian adalah
berkurangnya persediaan air bersih. Isu lingkungan ini membuat PT Unilever Indonesia Tbk
berinisiatif untuk mengeluarkan produk yang ramah lingkungan dalam hal ini bertujuan untuk
meminimalisir penggunaan air bersih. Tujuan PT Unilever Indonesia Tbk ini direalisasikan
dengan mengeluarkan produk ‘Molto Ultra Sekali Bilas’.

3.5 Pemanfaatan teknologi oleh PT Unilever Indonesia

Dewasa ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan lagi menjadi hal
yang baru. Persaingan di dunia bisnis kerap terjadi terutama dalam hal menggaet konsumen
sebanyak-banyaknya. Dengan adanya perubahan selera konsumen, teknologi dan persaingan
yang pesat, perusahaan berusaha mengembangkan secara terus–menerus produk dan
layanannya. Setiap perusahaan belajar untuk mendesain produk dan layanan yang sesuai
dengan keinginan pasar dan strategi perusahaan itu sendiri. Hal tersebut terimplementasi
dalam teknologi yang digunakan oleh perusahaan.

Sebagai organisasi pembelajar (Learning Organization), Unilever memiliki tujuan


yang jelas untuk mendorong pertumbuhan merek berkelas dunia melalui inovasi yang cepat,
berskala besar dan menantang. Hal ini tercermin dalam teknologi yang digunakan, baik dalam
proses produksi maupun dalam aspek manajemennya. Beberapa teknologi yang diterapkan
dalam perusahaan tersebut antara lain:

1. Dalam proses produksi

1. Laboratorim Penelitian dan Pengembangan

Kemampuan Litbang PT. Unilever terdiri dari enam laboratorium penelitian dan
laboratorium utama; dua di Inggris (Colworth House dan Port Sunlight), satu di Negeri
Belanda (Vlaardingen), satu di Amerika Serikat (Trumbull), satu di China (Shanghai) dan satu
di India (Mumbai). Mereka bekerja secara baik sekali dengan jaringan pusat teknologi global
dan regional yang menyediakan produk-produk masa mendatang untuk perusahaan-
perusahaan Unilever di seluruh dunia.

2. Product Life Cycle (PLC)


Setiap produk sama halnya dengan manusia, juga memiliki suatu siklus hidup, yaitu
dilahirkan, melalui beberapa tahap pendewasaan, hingga akhirnya mati ketika ada produk
baru yang dapat lebih memuaskan kebutuhan konsumen. Karena tiap produk pada akhirnya
akan mengalami penurunan, maka perusahaan harus pintar mengembangkan produk baru
untuk menggantikan produk lamanya agar tidak didahului pesaing dalam menguasai pasar.
Perusahaan juga harus pandai mengadaptasikan strategi – strategi pengembangan produk
barunya dalam proses produksinya supaya dapat menghadapi perubahan selera, teknologi dan
persaingan.

Product Life Cycle atau siklus hidup produk terdiri dari 4 tahap, yaitu :

1) Introduction

Tahap pertama ini dimulai saat awal kehidupan produk dan proses; mulanya inovasi
dirangsang oleh kebutuhan di pasar. Inovasi proses juga dirangsang oleh kebutuhan untuk
memperbesar tingkat output. Tahap pertama dinamakan “maksimisasi kinerja” untuk produk
dan jasa dan “tak terkoordinasi” untuk proses. Laju inovasi produk yang tinggi memperbesar
kemungkinan besarnya keragaman produk. Akibatnya, proses produksi sebagian besar terdiri
atas operasi manual dan tidak standar. Sistem produksi mungkin terfokus tetapi
karakteristiknya tak terkoordinasi karena tata hubungan antaroperasi yang diperlukan masih
belum jelas. Pada tahap ini pula produk didesain dalam jumlah yang tidak terlalu banyak (low
volume).

2) Growth

Persaingan harga menjadi lebih ketat pada tahap pertumbuhan ini. Desain sistem
produksi menekankan minimisasi biaya ketika persaingan di pasar mulai menekankan pada
harga. Proses produksi menjadi lebih padat-modal dan lebih terintegrasi melalui perencanaan
dan pengendalian produksi. Pendesainan produk pun mulai dikembangkan hingga dapat
diterima baik oleh pasar. Pada tahap ini, proses produksi seringkali bersifat tersegmentasi. Ini
tErjadi sebagian karena integrasi berlangsung di tingkat yang lebih luas melalui sistem
pengedalian manajerial dan sebagian karena tipe sistem yang dominan adalah sistem yang
terfokus pada proses. Tapi walaupun inovasi proses mendominasi tetapi baik inovasi proses
maupun produk tetap dirangsang oleh teknologi.
3) Maturity

Ketika keseluruhan sistem mencapai tahap pendewasaan, inovasi cenderung sebagian


besar dirangsang oleh biaya (cost stimulated). Persaingan harga yang lebih jauh makin
menekankan perlunya strategi meminimalkan biaya, dan proses produksi menjadi lebih padat-
modal lagi dan terfokus pada produk. Proses produksi dalam hal ini pendesainan produk
menjadi sangat terstrukstur dan terintegrasi sehingga sulit untuk membuat perubahan (few
design change) karena setiap perubahan akan menimbulakan interaksi yang sangat besar
dengan operasi – operasi dalam proses. Oleh karena itu, tahap pendewasaan ini sering disebut
titik puncak dari daur hidup produk / layanan(jasa).

4) Decline

Tahap ini merupakan tahap akhir yang paling ditakuti oleh sebagian besar perusahaan
karena pada tahap ini perusahaan harus membuat suatu strategi pendesainan agar produknya
dapat bertahan di pasar (tidak hilang dari peredaran). Strategi ini dapat berupa pendesainan
ulang produknya agar lebih menarik misalnya dengan mengganti kemasannya. Bila
perusahaan tidak berhasil menemukan strategi yang jitu dapat terjadi produknya akan
digantikan oleh produk pesaingnya.

Perkembangan industri dewasa ini telah menyebabkan krisis lingkungan dan energi.
Sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap perbaikan mutu lingkungan, Organisasi-
organisasi, tidak terkecuali Unilever makin meningkatkan perhatian mereka pada dampak
lingkungan dari kegiatan, produk dan jasanya. Bermula dari sini, maka organisasi dan industri
dituntut untuk meningkatkan pertanggungjawaban terhadap konservasi lingkungan.
Berdasarkan kondisi ini, maka tuntutan peraturan dunia terhadap pertanggungjawaban
organisasi dan industri dalam pengelolaan lingkungan menjadi meningkat. Sistem Manajemen
Lingkungan telah menjadi tuntutan dari pelanggan negara maju yang secara sadar melihat
pentingnya perlindungan terhadap lingkungan dilaksanakan sejak dini untuk meminimalkan
kerusakan lingkungan di masa depan.

Sebagai organisasi pembelajar, unilever melihat bahwa perhatian terhadap perbaikan


mutu lingkungan merupakan salah satu aspek penting yang dapat menunjang eksistensi
perusahaannya dalam jangka panjang. Oleh karena itu, dalam rangka perlindungan terhadap
lingkungan, dalam teknologi yang digunakan dalam proses produksinya, Unilever
menerapkan Sistem Pengelolaan Lingkungan atau Environmental Management Sytem (EMS)
berdasarkan ISO 14001, diantaranya:

• Sejak Tahun 2005, pabrik Unilever telah berhasil mengurangi kebutuhan air dan
mengurangi pembuangan air limbah dari proses produksinya melalui pemasangan unit
pengolah air limbah reverse osmosis.
• Pada tahun 2003, Unilever telah mengganti bahan bakar boiler dari solar ke gas alam
yang mengandung relative lebih sedikit sulfur. Penggantian ini mengurangi emisi SOx
kami secara signifikan.
• Mengubah rantai ABS yang bercabang menjadi Linier Alkyl Benzen Sulfonat (LABS)
sehingga lebih mudah terurai ke lingkungan melalui produksi deterjen serbuk yang ramah
lingkungan.
• Bekerja sama dengan Asosiasi Industri Daur Ulang Plastik Indonesia (AIDUPI),
mereka memanfaatkan kemasan yang tidak terpakai atau bahan plastik lainnya untuk
membuat produk plastik seperti ember atau keset.

2. Dalam Aspek Manajemen

1. Komunikasi Pemasaran Terpadu ( Integrated Marketing Communication/ IMC )

Komunikasi Pemasaran Terpadu ( Integrated Marketing Communication/ IMC )


merupakan upaya perusahaan memadukan dan mengkoordinasikan semua saluran komunikasi
untuk menyampaikan pesannya secara jelas, konsisten dan berpengaruh kuat tentang
organisasi dan produk-produknya.

Dari definisi umum tersebut, kira bisa lihat sejumlah manfaat IMC bagi
organisasi/perusahaan, di antaranya :

• Membentuk identitas merk yang kuat di pasar dengan mengikat bersama dan
memperkuat semua citra dan pesan komunikasi perusahaan.
• Mengkoordinasikan semua pesan, positioning dan citra, serta identitas perusahaan
melalui semua bantuk komunikasi pemasaran.
• Adanya hubungan yang lebih erat antara perusahaan (mellaui produk/jasanya) dengan
para konsumennya.

Dan dalam prakteknya, ada yang harus diperhatikan oleh para pelaku IMC:

• Solusi IMC menuntut untuk memahami pentingnya semua titik-titik kontak di mana
pelanggan mungkin mendadak menjumpai perusahaan tertentu, produk dan merknya.
• IMC harus bisa menghasilkan konsistensi komunikasi yang lebih baik dan dampak
penjualan yang lebih besar.
• IMC menempatkan tanggung jawab di tangan seseorang untuk menyatukan citra
perusahaan, akrena citra perusahaan itu dibentuk oleh ribuan aktivitas perusahaan.
2. Penggunaan Perangkat Mobile

Sistem informasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari organisasi. Bagi
sebagian perusahaan seperti perusahaan besar bisnisnya tidak akan berjalan tanpa sebuah
sistem informasi. Elemen kunci dari informasi adalah struktur, proses bisnis, politik dan
budaya.Organisasi memiliki struktur yang terdapat dari tingkatan dan keahlian yang
berbeda.Struktur biasanya akan menggambarkan dengan jelas pembagian kerja. Teknologi
informasi adalah salah satu dari banyak alat yang digunakan manajer untuk menghadapi
perubahan. Contohnya perusahaan unilever. Dengan kemampuannya untuk menjual produk
dan mereknya keseluruh dunia dan atas komitmenya pada menajemen yang berkualitas tinggi,
maka Unilever melengkapi para eksekutif terbaik perusahaan dengan perangkat genggam
nirkabel. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari semakin majunnya teknologi agar perusahaan
tersebut semakin maju.

Unilever mengijinkan para eksekutif perusahaannya menggunakan BlackBerry. Hal


ini adalah ide yang baik karena perangkat tersebut adalah pemimpin dalam kategorinya dan
bekerja dengan banyak server e-mail yang berbeda dan standar jaringan nirkabel yang
beragam termasuk CDMA dan Wi-Fi. Hal ini tentu saja memudahkan para eksekutif untuk
membawa kemanapun alat tersebut walaupun perangkat genggam nirkabel mudah hilang atau
dicuri karena begitu portabel dan dapat ditembus oleh hacker dari pihak luar lainnya. Tetapi
dengan kecanggihannya perangkat-perangkat BlackBerry menggunakan sistem operasi yang
mengizinkan manajer teknologi informasi membuat larangan-larangan otomatis seperti tidak
boleh membuka lampiran e-mail yang dikirim dari PC pengguna. Ini mengurangi kesempatan
virus menulari jaringan perusahaan. Penggunaan keamanan ini juga mencegah penggunaan
layanan e-mail atau Browser Web Alternatif. Jadi dengan mengizinkan para eksekutif
menggunakan BlackBerry maka hal tersebut dapat lebih memudahkan para eksekutif untuk
bekerja dengan baik.

3.6 Penerapan Learning Organization di PT Unilever Indonesia

Dalam merancang kegiatan pembelajaran secara total company, Unilever Indonesia


akhirnya merumuskan sebuah program yang disebut Learning Award. Program ini mewadahi
hampir seluruh kegiatan pembelajaran di perusahaan baik yang sifatnya formal dan terstruktur
maupun yang informal dan sporadis.

Learning Award adalah suatu sistem untuk memotivasi orang-orang yang memberikan
sharing pengetahuan dan pengalaman kepada rekan kerja yang lain. Atas kontribusi tersebut,
mereka mendapatkan poin yang dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah sebagai bentuk
apresiasi. Apresiasi tersebut tidak harus berbentuk materi karena apresiasi tertinggi justru
dirasakan ketika seseorang merasa bisa berkontribusi banyak kepada rekan kerjanya yang lain
lewat sharing berbagai pengetahuan dan pengalaman serta ketika dia dihargai sebagai salah
satu internal trainer di perusahaan.

Setiap tahunnya ditentukan karyawan-karyawan terbaik yang berjasa besar dalam


program pembelajaran dengan pemberian penghargaan (award) tertentu seperti:

• Learning Champion of The Year


• Coach of The Year
• The Most Active Contributor
• The Most Valued Contributor
• Top Scorer Award

Secara khusus pimpinan perusahaan akan memberikan selamat dan penghargaan yang
menciptakan kebanggaan bagi para kontributor kegiatan pembelajaran dan membuat mereka
semangat untuk berkontribusi lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya.

Salah satu keunggulan Unilever Indonesia dalam mengembangkan Knowledge


Management maupun menciptakan Learning Organization adalah kemampuannya dalam
menciptakan berbagai program pembelajaran yang unik dan menarik. Awalnya program ini
ada yang merupakan usulan karyawan, sebuah ide yang secara tidak sengaja disampaikan
dalam sebuah pembicaraan maupun hasil dari analisa kebutuhan untuk memanfaatkan
berbagai media yang ada.

Program pembelajaran yang dirancang antara lain:

1. Sharing Pengetahuan

Sharing ini bersifat mendalam dengan menghadirkan tokoh-tokoh di perusahaan.

• Knowledge Club adalah sebuah talk show menghadirkan narasumber dari top
management atau senior manager di mana mereka berbagi banyak hal mulai dari keahlian
khusus, pengetahuan teknis dan non teknis, pengalaman pribadi dan berbagai hal lainnya
untuk menjadi sebuah pembelajaran bagi seluruh karyawan yang mendengarkan.
• Retrospect. Sebuah proses melakukan kilas balik atau retrospeksi atas apa yang sudah
dilakukan di masa lalu. Topik yang dibahas terutama project-project yang dilakukan
perusahaan baik yang berhasil maupun gagal. Jika berhasil akan menjadi catatan bagi
generasi penerus untuk keberhasilan yang lebih besar di masa mendatang. Sedangkan dari
project yang gagal semua orang belajar pelajaran apa yang dapat dipetik dari kegagalan
tersebut sehingga dapat dihindari di masa mendatang. Retrospect dilakukan lewat talk
show dan kemudian hasilnya dirangkum dalam sebuah dokumen learning dengan gaya
pembahasan berupa artikel bisnis sebagai dokumen berharga bagi generasi selanjutnya di
perusahaan.

2. Sharing Informal

• SOLAR (Share of Learning and Result). Program ini dirancang agar siapa saja bisa
memberikan sharing pengetahuan dan pengalaman terutama yang berkaitan pekerjaan atau
mendukung seseorang untuk berkarya lebih baik lagi. Selain memanfaatkan kontributor
dari para internal trainer di perusahaan juga sesekali mengundang pembicara tamu.
• GLAD (Group Learning and Development) adalah proses sharing dari karyawan yang
lebih senior kepada adik-adiknya tentang dunia kerja, pengalaman pribadi, maupun tips-
tips dalam menjalani tantangan di pekerjaan maupun kehidupan pribadi.
• Video Café adalah sebuah program unik di mana para peserta menyaksikan program
video interaktif tentang berbagai topik pengembangan diri sambil menikmati kopi hangat
yang membangkitkan selera.
• Book Club. Program ini dirancang agar karyawan yang gemar membaca mendapat
wadah untuk memberikan sharing kepada karyawan lainnya tentang pelajaran dan ilmu
yang didapat dari buku-buku yang pernah dibacanya.

3. Online Sharing

Agar sebuah aktivitas pembelajaran (learning) dapat dinikmati oleh siapa saja dan
kapan saja, maka hampir seluruh kegiatan di atas memiliki catatan baik berupa dokumentasi
video, rekaman suara, laporan pembahasan, maupun presentasi yang dipakai para kontributor.
Seluruh materi ini disimpan dan ditata dengan rapi dalam situs internal perusahaan yang
diberi nama K-Club yang berarti Knowledge Club.

Kapanpun dan dimanapun karyawan bisa mengakses materi tersebut untuk kemudian
dijadikan referensi.

Sebagai perusahaan yang mendukung budaya belajar bagi seluruh karyawannya, tidak
lengkap rasanya jika tidak memiliki sebuah perpustakaan. Untuk itu Unilever memiliki
perpustakaan yang menyediakan berbagai buku menarik terkait bisnis dan pengembangan
pribadi bagi seluruh karyawan.
Untuk memudahkan dibuat sistem Online Library sehingga seorang karyawan di
manapun dia berada bisa mengakses dan mencari buku yang dibutuhkan dari meja kerjanya.
Dengan sekali klik maka buku tersebut akan tercatat dan dikirimkan ke lokasi kerja karyawan
tersebut. Koleksi perpustakaan ini dilengkapi pula dengan koleksi digital lainnya seperti e-
book, ringkasan dari buku-buku bisnis maupun ditambahkan modul-modul training yang
dirancang dan dibuat sendiri oleh karyawan.

Agar program-program yang telah disebutkan diatas dapat menarik perhatian dan
dapat dimanfaatkan oleh karyawan, maka perusahaan melakukan promosi. Sifat dari promosi
ini adalah profokatif. Tentunya promosi yang provokatif ini dalam konteks positif di mana
perusahaan harus bisa memasarkan kegiatan tadi lewat pengumuman, poster, teaser komputer
maupun berbagai media komunikasi dengan gambar dan pesan yang memiliki kekuatan
sehingga karyawan tertarik untuk mengikutinya. Tanpa adanya promosi kegiatan yang efektif,
bisa jadi berbagai kegiatan yang telah dirancang dengan susah payah tadi tidak mencapai hasil
maksimal yang diinginkan.

Program-program pembelajaran yang dirancang oleh perusahaan tersebut secara


perlahan telah menciptakan benih budaya belajar bagi karyawannya. Awalnya karyawan
diperkenalkan dengan berbagai kegiatan pembelajaran. Kemudian tumbuh berkembang ketika
karyawan memanfaatkannya secara rutin. Budaya belajar akhirnya diterima dan dipahami
sebagai kebutuhan bersama. Dan akhirnya menjadi mekar ketika proses sharing, kolaborasi
menyebar ke seluruh tempat dan menjadi cara kerja perusahaan, a way of corporate work.

Saat ini, secara berkesinambungan jumlah karyawan yang mau dan mampu
memberikan sharing terus bertambah. Mereka masuk dalam daftar internal trainer yang siap
berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Setidaknya 1 dari 4 karyawan Unilever yang berada di
pabrik pernah menjadi internal trainer. Ini membuktikan bahwa siapa saja sebenarnya
memiliki khazanah yang bisa disumbangkan buat kepentingan orang banyak.

Tidak hanya itu, karyawan terutama yang ada di pabrik juga secara aktif membuat
modul-modul training terkait bidang yang mereka kuasai. Kebanyakan para pembuat modul
adalah para operator atau teknisi lapangan bukan dari level supervisor atau lebih tinggi dari
itu
Dengan itu semua tidak mengherankan jika Unilever Indonesia mampu meraih
penghargaan bergengsi Most Admired Knowledge Enterprise (MAKE) Award tingkat
Indonesia maupun Asia di tahun 2005, 2006 dan 2008 bersama perusahaan terpilih lainnya.
Perusahaan ini menjadi salah satu model bagi tumbuhnya organisasi pembelajar (learning
organization).
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Secara perlahan, PT Unilever Indonesia mampu menerapkan learning organization


dalam perusahaannya. Untukl menunjang learning organization ini, unilever menciptakan
program-program pembelajaran yang menarik dan dapat dikemas dengan baik bagi
karyawannya. Program-program ini adalah sharing pengetahuan, sharing informal, dan online
sharing.

Sharing pengetahuan terdiri dari program Knowledge Club dan Retrospect. Sedangkan
sharing informal terdiri dari program SOLAR (Share of Learning and Result), GLAD (Group
Learning and Development), Video Café, dan Book Club. Sedangkan online sharing adalah
program untuk menampung hasil dari sharing pengetahuan dan sharing informal, jadi
karyawan yang tidak mengikuti sharing secara langsung bisa mengakses hasil sharing melalui
online. Program-program ini dapat berjalan dengan baik karena pihak perusahaan melakukan
promosi yang profokatif sehingga program-program tersebut dapat menarik perhatian
karyawan dan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh mereka.

Penerapan learning organization sangat berguna untuk perusahaan yang ingin


melakukan perubahan. Terbukti, PT Unilever dapat lebih berkembang karena menerapkan
learning organization dalam perusahaannya. Dengan adanya learning organization ini,
karyawan dapat lebih mengembangkan dirinya melalui program-program pembelajaran yang
diadakan oleh perusahaan. Dengan demikian, semakin berkembangnya karyawan, maka
perusahaan akan semakin berkembang pula karena banyak inovasi-inovasi yang tercipta.

4.2 Saran

1. PT Unilever Indonesia, sebaiknya melakukan inovasi-inovasi kecil dalam program-


program pembelajarannya, agar karyawan tidak merasa jenuh.

2. PT Unilever diharapkan bisa sharing dengan perusahaan-perusahaan lain agar


penerapan learning organization dapat dilakukan dengan baik ditiap perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA

Jo Hatch, Mary. 1997. Organization Theory. New York: Oxford University Press.

http://cokroaminoto.wordpress.com/2007/09/28/

http://anwarazazi.blogspot.com

damandiri.or.id

http://id.wikipedia.org/wiki/Unilever [Tersedia: Online Kamis,17 September 2009]

http://www.admire.be/pages/references/References/UnileverLogo.jpg

http://www.unilever.co.id/id/ourcompany/sekitarunilever/vitalitasunilever.asp

http://www.muhammadnoer.com/2009/06

http://www.swa.co.id/sekunder/kolom/swadigital/trenti/details.php?
cid=2&id=12&pageNum=1

http://www.muhammadnoer.com/2009/06/kunci-sukses-menciptakan-budaya-belajar-
organisasi/

http://images.businessweek.com/ss/07/09/0907_asiabw50/source/2.htm

http://www.antaranews.com/berita/1259156250/unilever-gelar-berkurban-sepenuh-hati-
bersama-bango

http://woman.kapanlagi.com/hot_event/473_75_tahun_unilever_merangkai_cerita1.html

http://www.mygoldselection.com/index.php/artikel/liputan/37

http://www.hidupgaya.com/index.php?action=content&id=200902241144168

http://www.unilever.co.id/ourcompany/newsandmedia/pressreleases/2008/Unilever_Indonesia
_Receives_IMAC_Award.asp

http://seputar-eo.com/event-organizer/?p=1137

http://www.ritelonline.com/komunitas/apresiasi-agen-1000-sunlight.html/

http://www.kabarbisnis.com/peristiwa/28668-
Apresiasi_Molto_Ultra_bagi_kader_gerakan_sekali_bilas.html