Anda di halaman 1dari 56

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

( PTK )

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

MELALUI TEHNIK PEMBERIAN TUGAS PEKERJAAN RUMAH

BAGI SISWA KELAS VI SEKOLAH DASAR NEGERI 1 SAMUDRA KULON


Disusun oleh :

NURSIDIK KURNIAWAN, A.Ma.Pd.SD

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

I. JUDUL

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA


MELALUI TEHNIK PEMBERIAN TUGAS PEKERJAAN RUMAH

BAGI SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 1 SAMUDRA KULON

II. BIDANG KAJIAN

Pembelajaran Matematika dan Pemberian Pekerjaan Rumah.

III. PENDAHULUAN
Latar Belakang

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memperlukan usaha dan dana yang
cukup besar, hal ini diakui oleh semua orang atau suatu bangsa demi kelangsungan masa
depannya. Demikian halnya dengan Indonesia menaruh harapan besar terhadap pendidik
dalam perkembangan masa depan bangsa ini, karena dari sanalah tunas muda harapan
bangsa sebagai generasi penerus dibentuk.

Meski diakui bahwa pendidikan adalah investasi besar jangka panjang yang harus ditata,
disiapkan dan diberikan sarana maupun prasarananya dalam arti modal material yang
cukup besar, tetapi sampai saat ini Indonesia masih berkutat pada problemmatika
( permasalahan ) klasik dalam hal ini yaitu kualitas pendidikan. Problematika ini setelah
dicoba untuk dicari akar permasalahannya adalah bagaikan sebuah mata rantai yang
melingkar dan tidak tahu darimana mesti harus diawali.

Terkait dengan mutu pendidikan khususnya pendidikan pada jenjang Sekolah Dasar
( SD ) dan Madrasah Ibtidaiyah ( MI ) sampai saat ini masih jauh dan apa yang kita
harapkan. Betapa kita masih ingat dengan hangat akan standarisasi Ujian Akhir Sekolah (
UAS ) dengan nilai masing – masing mata pelajaran 4,51 dikeluhkan oleh semua para
pendidik bahkan oleh orang – orang tua siswa sendiri, karena anak atau siswanya tidak
dapat lulus. Hal lucu yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Melihat kondisi rendahnya
prestasi atau hasil belajar siswa tersebut beberapa upaya dilakukan salah satunya adalah
pemberian tugas berupa kepada siswa. Dengan pemberian pekerjaan rumah kepada siswa
diharapkan siswa dapat meningkatkan aktifitas belajarnya, sehingga terjadi pengulangan
dan penguatan terhadap meteri yang diberikan di sekolah dengan harapan siswa mampu
meningkatkan hasil belajar atau prestasi siswa.

IV. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut didepan, maka rumusan
permasalahan yang diajukan dalam proposal ini adalah :

Apakah melalui tehnik pemberian tugas pekerjaan rumah dapat meningkatkan prestasi
belajar Matematika bagi siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 1 Samudra Kulon ?

Pemecahan Masalah

Siswa yang mendapatkan perhatian dan perlakuan khusus tentunya akan menghasilkan
atau menguasai yang berbeda pula dalam sebuah kelas atau kelompok bahkan perlakuan
individual sekaligus dengan diberikanya perlakuan dan perhatian yang lebih baik dalam
belajar di sekolah maupun di rumah, tentunya akan lebih baik pula penguasaan
kertramilan atau konsep terhadap mata pelajaran – mata pelajaran yang dipelajarinya.
Dengan pemberian PR secara rutin dan terorganisir dengan baik paling tidak akan mampu
mengkondisikan dalam bentuk motifasi ekstinsik bagi siswa itu sendiri.

Moh. Uzer ( 1996:29) menjelaskan “Motivasi ekstrinsik timbul sebagai akibat pengaruh
dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, atau paksaan orang lain sehingga dengan
kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar, misalnya
seseorang mau belajar karena ia disuruh orang tua untuk mendapatkan peringkat
pertama.”

Demikian halnya dengan guru memberikan PR dengan harapan baik itu dirasa memaksa
bagi siswa atau itu karena disuruh sebagai tugas dengan perasaan terpaksa, yang jelas
mengkondisikan siswa harus belajar. Dengan pola demikian tentunya anak yang lebih
banyak belajar dirumah akan lebih baik misalnya dalam mata pelajaran yang dikerjakan..

a. Hipotensis

Hipotensisi yang diajukan dalam proposal penelitian ini adalah :

“ Melalui tehnik pemberian tugas pekerjaan rumah dapat meningkatkan hasil belajar
matematika bagi siswa kelas VI SDN 1 Samudra Kulon”

V. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan Umum

Tujuan peneliti yang diharapkan dari penelitian ini menjadi masukan bagi guru dan siswa
untuk meningkatkan belajar di rumah.
2. Tujuan Khusus

Adapaun tujuan khusus dari penelitian ini :

“Untuk mengetahui apakah melalui pemberian pekerjaan rumah dapat meningkatkan


prestasi belajar matematika bagi siswa kelas VI SDN 1 Samudra Kulon.”

VI. MANFAAT HASIL PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :

a. SDN 1 Samudra Kulon

Dengan hasil penelitian ini diharapkan SD Negeri 1 Samudra Kulon dapat lebih
meningkatkan pemberdayaan pemberian pekerjaan rumah agar prestasi belajar siswa
lebih baik dan perlu dicoba untuk diterapkan pada pelajaran lain.

b. Guru

Sebagai bahan masukan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di kelasnya.

c. Siswa

Sebagai bahan masukan bagi siswa untuk memanfaatkan pekerjaan rumah dalam rangka
meningkatkan prestasi belajarnya.

VII. KAJIAN PUSTAKA

Landasan Teori

1. Matematika

Istilah Matematika berasal dari bahasa Yunani “Mathematikos” secara ilmu pasti, atau
“Mathesis” yang berarti ajaran, pengetahuan abstrak dan deduktif, dimana kesimpulan
tidak ditarik berdasarkan pengalaman keindraan, tetapi atas kesimpulan yang ditarik dari
kaidah – kaidah tertentu melalui deduksi (Ensiklopedia Indonesia).
Dalam Garis Besar Program Pembelajaran ( GBPP )terdapat istilah Matematika Sekolah
yang dimaksudnya untuk memberi penekanan bahwa materi atau pokok bahasan yang
terdapat dalam GBPP merupakan materi atau pokok bahasan yang diajarkan pada jenjang
Pendidikan Dasar dan Menengah (Direkdikdas : 1994 )
Belajar

Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar maka
responya menjadi lebih baik dan sebaliknya bila tidak belajar responya menjadi menurun
sedangkan menurut Gagne belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah
sifat stimulasi limgkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapasitas baru
( Dimyati, 2002-10). Sedangkan menurut kamus umum bahasa Indonesia belajar
diartikan berusaha ( berlatih dsb )supaya mendapat suatu kepandaian ( Purwadarminta :
109 )

Belajar dalam penelitian ini diartikan segala usaha yang diberikan olh guru agar
mendapat dan mampu menguasai apa yang telah diterimanya dalam hal ini adalah
pelajaran Matematika.
Prestasi Belajar.

Prestasi belajar berasal dari kata “ prestasi “ dan “belajar’ prestasi berarti hasil yang telah
dicapai (Depdikbud, 1995 : 787 ). Sedangkan pengertian belajar adalah berusaha
memperoleh kepandaian atau lmu (Depdikbud, 1995 : 14 ). Jadi prestasi belajar adalah
penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran,
lazimnya ditunjukan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru. Prestasi dalam
penilitian yang dimaksudkan adalah nilai yang diperoleh oleh siswa pada mata pelajaran
matematika dalam bentuk nilai berupa angka yang diberikan oleh guru kelasnya setelah
melaksanakan tugas yang diberikan padanya
Teknik

Dalam umum bahasa Indonesia teknik diartikakan cara (kepandaian, dsb) membuat
sesuatu atau melakukan sesuatu yang berkenaan dengan kesenian (purwadarminta,:
1035). Sedangkan teknik yang dimaksud disini adalah cara tertentu yang dilakukan oleh
guru yang akan dikenakan kepada siswanya dalam rangka mendapatkan informasi atau
laporan yang diinginkan.
Pekerjaan rumah

Pekerjaan rumah atau yang lazim disebut PR dalam bahasa Inggris “Homework “ yang
artinya mengerjakan pekerjaan rumah. Dalam penilitian ini yang dimaksudkan dengan
PR adalah sebuah tugas atau pekerjaan tertentu baik tertulis atau lisan yang harus
dikerjakan diluar jam sekolah (terutama dirumah) berkaitan dengan pelajaran yang
telah disampaikan guru untuk meningkatkan penguasaan konsep atau ketrampilan dan
sekaligus memberikan pengembangan.
VIII. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN

Rencana Penelitian

1. Subjek penelitian

Subyek dalam peniltian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri 1 Samudra Kulon
kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas jumlah siswa 38 orang.

Pertimbangan penulis mengambil subyek penilitiann tersebut dimana siswa kelas VI telah
mampu dan memiliki kemandirian dalam mengerjakan tugas seperti PR, karena siswa
kelas VI telah mampu membaca dan menulis serta berhitung yang cukup. Selain itu
penulis pengajar di kelas VI.

2. Tempat Penelitian

Dalam penilitian ini penulis mengambil lokasi di SD Negeri 1 Samudra Kulon,


kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas penulis mengambil lokasi atau tempat ini
dengan pertimbangan bekerja pada sekolah tersebut, sehingga memudahkan dalam
mencari data, peluang waktu yang luas dan subyek penlitian yang sangat sesuai dengan
profesi penulis.
3. Waktu Penelitian

Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan menggunakan waktu


penelitian selama 3 bulan Agustus s.d Oktober. Waktu dari perencanaan sampai
penulisan laporan hasil penelitian tersebut pada semester I Tahun pelajaran 2007/2008.

4. Lama Tidakan

Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan Okteber, mulai dari siklus I, Siklus II
dan Siklus III.

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian yang diterapkan dalam hal ini antara lain :

1. Perencanaan

Meliputi penyampaian materi pelajaran, latian soal, pembahasan latian soal, tugas
pekerjaan rumah ( kegiatan penelitian utama ) pembahasan PR, ulangan harian.

2. Tindakan ( Action )/ Kegiatan, mencakup

a. Siklus I, meliputi : Pendahuluan, kegiatan pokok dan penutup.

b. Siklus II ( sama dengan I )

c. Siklus III ( sama dengan I dan II )

3. Refleksi, dimana perlu adanya pembahasan antara siklus – siklus tersebut untuk
dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.

IX. JADWAL PENELITIAN

No
KEGIATAN
MINGGU KE……..

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

1
Perencanaan

2
Proses pembelajaran

3
Evaluasi
4
Pengumpulan Data

5
Analisis Data

6
Penyusunan Hasil
7
Pelaporan Hasil

X. BIAYA PENELITIAN

Akibat yang timbul dari penelitian ini menjadi tanggung jawab peneliti, adapun biaya
tersebut adalah :

1. Fotocopy Naskah : Rp 20.000,00

2. Kerta folio 1 pack : Rp 30.000,00

3. jilid buku : Rp 10.000,00

4. Rental Komputer : Rp 50.000,00


5. lain – lain : Rp 20.000,00

JUMLAH : Rp 130.000,00

XI. PERSONALIA PENELITI

Penelitian ini melibatkan Tim peneliti, identitas dari Tim tersebut adalah :

1. Nama : NURSIDIK KURNIAWAN

NIM : 813846371

Pekerjaan : Guru Wiyata Bakti SDN 1 Samudra Kulon

Tugas dalam penelitian : Pengumpulan dan Analisis Data

http://nhowitzer.multiply.com/journal/item/2
A.JUDUL PENELITIAN

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS VI SD NEGERI 32 POASIA


KENDARI DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PADA POKOK
BAHASAN FAKTOR DAN KELIPATAN BILANGAN MELALUI PENDEKATAN
MATEMATIKA REALISTIK

B. BIDANG KAJIAN

Desain dan Strategi Pembelajaran di Kelas

C. PENDAHULUAN

Peningkatan penguasaan, pemanfaatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan


teknologi merupakan salah satu tujuan yang sangat diinginkan oleh bangsa Indonesia.
Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah dan masyarakat pendidikan telah melakukan
berbagai upaya pada berbagai jenjang persekolahan sesuai dengan kurikulum yang
diberlakukan secara nasional yang memuat berbagai mata pelajaran termasuk
matematika.

Tidak sedikit sumbangan matematika untuk mengembangkan kemampuan manusia dalam


memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesadaran
terhadap hal ini telah mendorong berbagai kalangan pendidikan untuk melakukan
berbagai upaya, baik peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, perubahan
kurikulum, pelatihan guru-guru dan tenaga dosen LPTK, peningkatan kualitas guru, dan
pelaksanaan perlombaan seperti Olimpiade Sains Nasional untuk menyeleksi putra-putri
terbaik bangsa dalam ajang menyeleksi bidang sains dan matematika pada skala nasional
dan internasional. Semua upaya tersebut merupakan bukti nyata kesungguhan berbagai
kalangan untuk mengangkat derajat bangsa melalui pendidikan. Walau demikian, harus
disadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar sehingga tantangan dan
hambatan yang dihadapi untuk mewujudkan cita-cita tersebut juga tidak sedikit. Hal ini
dirasakan oleh keseluruhan komponen pendidikan khususnya guru matematika yang
menjadi tulang punggung pelaksana pendidikan matematika di sekolah-sekolah.

SD Negeri 32 Poasia yang berlokasi di Perumahan Dosen Kampus Baru Universitas


Haluoleo merupakan salah satu SD yang guru-gurunya juga mengalami hal yang sama
sebagimana diuraikan di atas. Namun setelah dilakukan berbagai upaya perbaikan demi
meningkatkan hasil belajar matematika siswa khususnya minat dan motivasi belajar telah
nampak berbagai perubahan secara klasikal baik hasil belajar maupun minat dan motivasi
belajar siswa.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Kadir (2005), pada pembelajaran
matematika di kelas V SD Negerin 32 Poasia yang berakhir pada akhir September 2005
terlihat bahwa minat, motivasi, dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal
matematika sudah cukup baik. Hal ini terbukti dari banyaknya siswa yang memperoleh
nilai di atas 6,5 lebih dari 80%. Namun demikian, dari hasil diskusi dengan guru yang
dilibatkan dalam penelitian tersebut diperoleh kenyataan bahwa jika dilihat dari
komposisi soal yang diteskan, secara umum siswa belum mampu menyelesaikan soal
cerita. Para siswa masih mengalami kesulitan untuk menyelesaikan soal-soal matematika
bentuk cerita. Dari hasil pengamatan terhadap lembar jawaban siswa terlihat bahwa ada
beberapa penyebab hal ini bisa memungkinkan terjadi, yaitu: kemampuan siswa dalam
memaknai bahasa soal masih kurang, siswa belum dapat menentukan apa yang diketahui
dan apa yang ditanyakan, serta kemampuan siswa dalam menentukan model matematika
yang digunakan dalam penyelesaian soal.

Dari laporan hasil observasi yang dilakukan disimpulkan bahwa guru telah melaksanakan
pembelajaran dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PPMRII)
sesuai dengan skenario yang dirancang. Namun demikian, pada pemberian tugas latihan
di kelas dan di rumah kepada siswa, guru masih kurang memperhatikan aspek soal cerita
sebagai salah satu bentuk soal latihan di rumah. Guru masih terfokus pada soal-soal
latihan yang ada di buku. Hal ini kurang memberi ruang kepada siswa untuk
mengembangkan idenya dalam melatih kemampuannya memecahkan masalah yang ada
pada soal matematika berbentuk cerita.

Berdasarkan alasan di atas, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk lebih
meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika khususnya
soal berbentuk cerita. Hal ini dapat diwujudkan karena guru telah dapat melaksanakan
pembelajaran matematika dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik. Artinya,
guru dan siswa telah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk melaksanakan
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ini dalam pembelajaran matematika.
Pendekatan Matematika Realistik digunakan karena pendekatan ini adalah suatu
pendekatan pembelajaran yang mengarahkan siswa pada pembelajaran secara bermakna,
sesuai dengan kemampuan berpikir siswa serta berkaitan dengan kehidupan siswa sehari-
hari. Keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari ini akan mengarahkan siswa pada
pengertian bahwa matematika bukan hanya ilmu simbolik belaka tetapi dapat
dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu dan mempermudah
pekerjaan manusia dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya. Pemberian
pembelajaran matematika yang bermakna kepada siswa dan tidak memisahkan belajar
matematika dengan pengalaman siswa sehari-hari, siswa akan dapat mengaplikasikan
matematika dalam kehidupan sehari-hari dan tidak cepat lupa.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka disarankan perlu dilaksanakannya penelitian ini


yang merupakan kerjasama antara dosen matematika FKIP Unhalu dengan guru
matematika kelas VI SD Negeri 32 Poasia Kendari dengan judul: “Meningkatkan
Kemampuan Siswa Kelas VI SD Negeri 32 Poasia Kendari dalam Menyelesaikan Soal
Matematika Berbentuk Cerita pada Pokok Bahasan Faktor dan Kelipatan Bilangan
Melalui Pendekatan Matematika Realistik”.
D. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH

1. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan
sebagai berikut: “apakah kemampuan siswa kelas VI SD Negeri 32 Poasia Kendari dalam
menyelesaikan soal matematika berbentuk cerita pada pokok bahasan faktor dan
kelipatan bilangan dapat ditingkatkan melalui pendekatan matematika realistik?”

2. Pemecahan Masalah

Untuk memecahkan permasalahan di atas, dilakukan tindakan-tindakan sesuai dengan


kaidah penelitian tindakan kelas, yaitu:

1. Mengadakan tes untuk mengetahui kemampuan awal matematika siswa. Hasil tes
ini kemudian menjadi dasar bagi peneliti untuk membagi siswa ke dalam
kelompok-kelompok yang masing-masing beranggotakan 4-5 orang untuk
merangsang pertukaran pendapat dan interaksi antar guru dengan siswa dan antar
siswa, saling menghormati pendapat yang berbeda, dan menumbuhkan konsep diri
siswa. Pembagian anggota kelompok didasarkan pada tingkat kemampuan, jenis
kelamin, status sosial dan etnis.

2. Memberikan angket untuk diisi oleh siswa sehingga dapat diketahui tanggapan
siswa mengenai pelaksanaan pembelajaran matematika.

3. Mengadakan pembimbingan pada guru matematika SD Negeri 32 Poasia tentang


pendekatan matematika realistik khususnya tentang pembelajaran matematika soal
cerita.

4. Menyusun perangkat pembelajaran yang mengacu pada karakteristik PMRI yajng


secara umum meliputi komponen: tujuan, materi, kegiatan belajar mengajar di
kelas, dan evaluasi.

5. Melaksanakan skenario pembelajaran yang mengacu pada pendekatan PMRI


untuk tiap-tiap siklus tindakan (direncanakan tiga siklus), evaluasi dan refleksi.

6. Tindakan di dalam kelas disesuaikan dengan sintaks implementasi PMRI dalam


kegiatan belajar mengajar di kelas, yaitu:

1. Melaksanakan skenario pembelajaran melalui penyajian masalah yang


kontekstual untuk menghubungkan matematika denga dunia sekitar
(sebelum siswa masuk pada sistem formal, terlebih dahulu siswa dibawa
ke situasi informal).
2. Mengusahakan keterlibatan siswa dengan bantuan guru untuk menemukan
kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri sesuai materi matematika
yang dipelajari.

3. Mengaplikasikan konsep yang telah ditemukan ke dalam masalah sehari-


hari atau dalam bidang lain.

7. Evaluasi dilaksanakan selama dan setelah proses pembelajaran. Evaluasi selama


proses pembelajaran dilakukan melalui observasi bagaimana siswa
mengkomunikasikan matematika. Sedangkan setelah pembelajaran dapat
dilakukan dengan memberikan pekerjaan rumah untuk mengerjakan soal beserta
alasannya dan mengajukan soal kepada siswa untuk dikerjakan beserta alasannya.
Pada akhir setiap siklus tindakan dilakukan evaluasi untuk mengetahui kemajuan
hasil belajar yang telah dicapai siswa. Hasil dari evaluasi pada akhir setiap siklus
akan direfleksi untuk memperbaiki pelaksanaan tindakan.

8. Tindakan pada setiap siklus dikatakan berhasil bila telah minimal 80% siswa
mencapai nilai paling rendah 6,5.

E. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk
meningkatkan kemampuan siswa kelas VI SD Negeri 32 poasia kendari dalam
menyelesaikan soal matematika berbentuk cerita pada pokok bahasan faktor dan
kelipatan bilangan melalui pendekatan matematika realistik.

6. MANFAAT HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang bererti seperti berikut:

1. Bagi guru: dengan penelitian ini, (1) guru dapat memperbaiki dan meningkatkan
kualitas pendekatan pembelajaran di kelas, shingga konsep-konsep matematika
yang diajarkan guru dapat dikuasai siswa, (2) guru akan terbiasa untuk melakukan
penelitian tindakan kelas dengan merancang pendekatan-pendekatan pembelajaran
yang baru guna meningkatkan prestasi belajar siswanya, dan (3) guru dapat
meningkatkan kemampuan meneliti dan menyusun laporan dalam bentuk karya
ilmiah yang baku, sehingga dapat meningkatkan rasa ingin tahu, yang lebih kuat
dan mendorong terciptanya disposisi matematika (mathematical disposition)

2. Bagi siswa: hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi untuk meningkatkan
minat, motivasi, dan kemampuannya dalam memahami konsep-konsep
matematika sehingga prestasi belajarnya dapat meningkat.

3. Bagi dosen: dengan melakukan penelitian tindakan kelas dengan sekolah mitra,
dosen akan lebih memahami masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi guru
di sekolah yang sangat membantu dosen dalam mendidik calon guru matematika
di LPTK.

4. Bagi sekolah: hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi positif pada sekolah
dalam rangka perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran.

5. Bagi FKIP Unhalu: hasil penelitian ini sangat bermanfaat untuk perbaikan
pembelajaran di LPTK, khususnya Program Studi Pendidikan Matematika sebagai
lembaga yang mencetak calon guru matematika.

6. KAJIAN PUSTAKA

1. Proses Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar merupakan sebuah proses interaksi yang menghimpun sejumlah
nilai (norma) yang merupakan substansi, sebagai medium antara guru dan siswa dalam
rangka mencapai tujuan.

Dalam proses belajar mengajar terdapat dua kegiatan yakni kegiatan guru dan kegiatan
siswa. Guru mengajar dengan gayanya sendiri dan siswa juga belajar dengan gayanya
sendiri. Sebagai guru, tugasnya tidak hanya mengajar tetapi juga belajar memahami
suasana psikologis siswanya dan kondisi kelas. Dalam mengajar, guru harus memahami
gaya-gaya belajar siswanya sehingga kerelavansian antara gaya-gaya mengajar guru dan
siswa akan memudahkan guru menciptakan interaksi edukatif dan kondusif. Hal ini
sejalan dengan pendapat Ametembun (1985) bahwa suatu interaksi yang harmonis terjadi
bila dalam prosesnya tercipta keselarasan, keseimbangan, keserasian antara kedua
komponen yaitu guru dan siswa.

Dalam proses edukatif guru harus berusaha agar siswanya aktif dan kreatif secara
optimal. Guru tidak harus terlena dengan menerapkan gaya konvensional. Karena gaya
mengajar seperti ini tidak sesuai dengan konsepsi pendidikan modern. Pendidikan
modern menghendaki siswa lebih aktif dalam kegiatan interaktif edukatif. Guru bertindak
sebagai fasilitator dan pembimbing sedangkan siswa aktif dalam belajar.

Banyak kegiatan yang harus dilakukan gurudalam proses belajar mengajar seperti
memahami prinsip-prinsip proses belajar mengajar, menyiapkan bahan dan sumber
belajar, memilih metode yang tepat, menyiapkan alat bantu pengajaran, memilih
pendekatan, dan mengadakan evaluasi. Semua kegiatan yang dilakukan guru harus
didekati dengan pendekatan sistem, sebab pengajaran adalah suatu sistem yang
melibatkan sejumlah kompenen pengajaaran dan semua komponen tersebut saling
berkaitan dan saling menunjang dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.

Sehubungan dengan diberlakukannya kurikulum 2004, maka salah satu pendekatan


pembelajaran matematika yang digunakan adalah pendekatan matematika realistik
Indonesia (PMRI). Kemahiran matematia yang diharapkan dapat diwujudkan adalah
sebagaimana tertuang dalam peta kompetensi mata pelaaran matematika di kelas VI SD,
yaitu (1) menjelaskan gagasan atau pernyataan matematika (termasuk peran definisi), (2)
memecahkan dan menafsirkan masalah soal cerita, dan (3) menghargai matematika
sebagai suatu yang berguna dan bermanfaat dalam kehidupan. Berdasarkan uraian
tersebut maka soal cerita merupakan soal yang seharusnya mendapat porsi cukup besar
dalam setiap pembelajaran yang dilaksanakan. Artinya, pembelajaran seharusnya dimulai
dengan penggunaan masalah kontekstual dalam bentuk soal cerita sehingga siswa
memiliki kepekaan dalam memahami suatu persoalan dan bagaimana memecahkannya
sehingga bermanfaat dalam kehidupannya.

2. Soal Cerita Matematika dan Langkah-lankah Menyelesaikannya

Permasalahan matematika yang berkaitan dengan kehidupan nyata biasanya dituangkan


melalui soal-soal berbentuk cerita (verbal). Menurut Abidia 1989:10), soal cerita adalah
soal yang disajian dalam bentuk cerita pendek. Cerita yang diungkapkan dapat
merupakan masalah kehidupan sehari-hari atau masalah lainnya. Boot masalah yang
diungkapkan akan mempengaruhi panjang pendeknya cerita tersebut. Makin besar bibot
masalah yang diungkapkan, memungkinkan semakin panjang cerita yang disajikan.
Sementara itu, menurut Haji (1994:13), soal yang dapat digunakan untuk mengetahui
kemampuan siswa dalam bidang matematika dapat berbentuk cerita dan soal bukan
cerita/soal hitungan. Dilanjutkannya, soal cerita merupakan modifikasi dari soal-soal
hitungan yang berkaitan dengan kenyataan yang ada di lingkungan siswa. Soal cerita
yang dmaksudkan dalam penelitian ini adalah soal matematika yang berbentuk cerita
yang terkait dengan berbagai pokok bahasan yang diajarkan pada mata pelajaran
matematika di kelas VI SD.

Untuk dapat menyelesaikan soal cerita, siswa harus menguasai hal-hal yang dipelajari
sebelumnya, misalnya pemahaman tentang sartuan ukuran luas, satuan ukuran panjang
dan lebar, satuan berat, satuan isi, nilai tukar mata uang, satuan waktu, dan sebagainya.
Di samping itu, siswa juga harus menguasai materi prasyarat, seperti rumus, teorema, dan
aturan/ hukum yang berlaku dalam matematika. Pemahaman terhadap hal-hal tersebut
akan membantu siswa memahami maksud yang terkandung dalam soal-soal cerita
tersebut.

Di samping hal-hal di atas, seorang siswa yang diperhadapkan dengan soal cerita harus
memahami langkah-langkah sistematik untuk menyelesaikan suatu masalah atau soal
cerita matematika. Haji (1994:12) mengungkapkan bahwa untuk menyelesaikan soal
cerita dengan benar diperlukan kemamuan awal, yaitu kemamuan untuk: (1) menentukan
hal yang diketahui dalam soal; (2) menentukan hal yang ditanyakan; (3) membuat model
matematika; (4) melakukan perhitungan; dan (5) menginterpretasikan jawaban model ke
permasalahan semua. Hal ini sejalan dengan langkah-langkah penyelesaian soal cerita
sebagaimana dituangkan dalam Pedoman Umum Matematika Sekolah Dasar (1983),
yaitu: (1) membaca soal dan memikirkan hubungan antara bilangan-bilangan yang ada
dalam soal; (2) menuliskan kalimat matematika; (3) menyelesaikan kalimat matematika;
dan (4) menggunakanan penyelesaian untuk menjawab pertanyan.

Dari kedua pendapat di atas terlihat bahwa hal yang paling utama dalam menyeesaikan
suatu soal cerita adaah pemahaman terhadap suatu masalah sehingga dapat dipilah antara
yang diketahui dengan yang ditanyakan. Untuk melakukan hal ini, Hudoyo dan
Surawidjaja (1997:195) memberikan petunjuk: (1) baca dan bacalah ulang masalah
tersebut; pahami kata demi kata, kalimat demi kalimat; (2) identifikasikan apa yan
diketahui dari masalah tersebut; (3) identifikasikan apa yang hendak dicari; (4) abaikan
hal-hal yang tidak relevan dengan permasalahan; (5) jangan menambahkan hal-hal yang
tidak ada sehingga masalahnya menjadi berbeda dengan masalah yang dihadapi.

Pendapat-pendapat di atas sejalan dengan pendapat Soedjadi (192), bahwa untuk


menyelesaikan soal matematika umumnya dan terutama soal cerita dapat ditempuh
langkah-langkah: (1) membaca soal dengan cermat untuk menangkap makna tiap kalimat;
(2) memisahkan dan mengungkapkan apa yang diketahui dalam soal, apa yang
diminta/ditanyakan dalam soal, operasi pengerjaan apa yang diperlukan; (3) membuat
model matematika dari soal; (4) menyelesaikan model menurut aturan-aturan matematika
sehingga mendapatkan jawaban dari model tersebut; dan (5) mengembalikan jawaban
soal kepada jawaban asal.

Mencermati beberapa pendapat di atas, maka langkah-langkah yang diperlukan untuk


menyelesaikan soal bentuk cerita yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1)
menentukan hal yang diketahui dalam soal; (2) menentukan hal yang ditanyakan dalam
soal; (3) membuat model/kalimat matematika; (4) melakuka perhitungan (menyelesaikan
kalimat matematika), dan (5) menuliskan jawaban akhir sesuai dengan permintaa soal.

3. Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)

Istilah matematika realistik semula muncul dalam pembelajaran matematika di negeri


Belanda yang dikenal dengan nama Realistic Mathematics Education (RME). Pendekatan
pembelajaran ini merupakan reaksi terhadap pembelajaran matematika modern (new
math) di Amerika dan pembelajaran matematika di Belanda sebelumnya yang dipandang
sebagai “mechanistic mathematics education”.

PMRI pada dasarnya merupakan pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami
siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai
pendidikan matematika secara lebih baik dari pada masa yang lalu. Seperti halnya
pandangan baru tentang proses belajar mengajar, dalam PMRI juga diperlukan upaya
mengaktifkan siswa. Upaya tersebut dapat diwujudkan dengan cara (1) mengoptimalkan
keikutsertaan unsur-unsur proses belajar mengajar dan (2) mengoptimalkan keikutsertaan
seluruh sense peserta didik. Salah satu kemungkinannya adalah dengan memberi
kesempatan kepada siswa untuk dapat menemukan atau mengkonstruksi sendiri
pengetahuan yang akan dikuasainya.
Dalam pandangan PMRI, pembelajaran matematika lebih memusatkan kegiatan belajar
pada siswa dan lingkungan serta bahan ajar yang disusun sedemikian rupa sehingga siswa
lebih aktif mengkonstruksi pengetahuan untuk dirinya sendiri. Peran guru lebih banyak
sebagai motivator terjadinya proses pembelajaran, bukan sebagai pengajar atau
penyampai ilmu. Ini berarti materi matematika yang disajikan kepada siswa harus berupa
suatu “proses” bukan sebagai barang “jadi”.

Marpaung dalam Hartadji dan Ma’nar (2001) menyatakan bahwa RME atau PMRI
bertolak dari masalah-masalah yang kontekstual, siswa aktif, guru berperan sebagai
fasilitator, anak bebas mengeluarkan idenya, siswa berbagi ide-idenya, artinya mereka
bebas mengkomunikasikan ide-idenya satu sama lain. Guru membantu mereka
membandingkan ide-ide itu dan membimbing mereka untuk mengambil keputusan
tentang ide mana yang lebih baik buat mereka.

PMRI sejalan dengan teori psikologi kognitif dan pembelajaran matematika. Menurut
pandangan psikologi kognitif, yang bermakna itu lebih mudah dipahami siswa daripada
yang tidak bermakna. Bermakna disini dimaksudkan, bahwa informasi baru mempunyai
kaitan dengan informasi yang sudah tersimpan dalam memori. Memori kita menyimpan
pengalaman-pengalaman yang memiliki arti bagi kita, yang kontekstual, yang realistik.

PMRI memberikan kemudahan bagi guru matematika dalam pengembangan konsep-


konsep dan gagasan-gagasan matematika bermula dari dunia nyata. Dunia nyata tidak
berarti konkrit secara fisik dan kasat mata, namun juga termasuk yang dapat dibayangkan
oleh pikiran anak. Jadi dengan demikian PMRI menggunakan situasi dunia nyata atau
suatu konteks nyata sebagai titik tolak belajar matematika.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, PMRI mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1)


menggunakan konteks yang nyata sebagai titik awal belajar, (2) menggunakan model
sebagai jembatan antara real dan abstrak, (3) belajar dalam suasana demokratis dan
interaktif, dan (4) menghargai jawaban informal siswa sebelum mereka mencapai bentuk
formal matematika.

Dalam pelaksanaannya, PMRI menganut lima prinsip utama, yaitu: (1) penggunaan
konteks, sebagai sumber belajar dalam menemukan kembali ide matematika dan secara
bersamaan menerapkan ide tersebut; (2) menggunakan model produksi dan konstruksi
siswa; (3) menolak proses yang mekanistik, saling terlepas dan tak bermakna, prosedur
rutin, dan sering bekerja individual; (4) siswa bukan penerima informasi, tetapi subyek
aktif dalam menemukan kembali; dan (5) menggunakan berbagai teori belajar yang
relevan dan saling terkait.

Beberapa keuntungan dalam PMRI antara lain: (1) Melalui penyajian yang kontekstual,
pemahaman konsep siswa meningkat dan bermakna, mendorong siswa melek
matematika, dan memahami keterkaitan matematika dengan dunia sekitarnya; (2) siswa
terlibat langsung dalam proses doing math sehingga mereka tidak takut belajar
matematika; (3) siswa dapat memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya dalam
kehidupan sehari-hari dan mempelajari bidang studi lainnya; (4) memberi peluang
pengembangan potensi dan kemampuan berfikir alternatif; (5) kesempatan cara
penyelesaian yang berbeda; (6) melalui belajar kelompok berlangsung pertukaran
pendapat dan interaksi antar guru dengan siswa dan antar siswa, saling menghormati
pendapat yang berbeda, dan menumbuhkan konsep diri siswa; dan (7) melalui
matematisasi vertikal, siswa dapat mengikuti perkembangan matematika sebagai suatu
disiplin.

Dengan melhat keuntungan dalam PMRI di atas mengarahkan kita pada suatu kesimpulan
bahwa dengan menggunakan pendekatan PMRI dalam pembelajaran matematika siswa
akan terbiasa memahami suatu persoalan dengan suatu sudut pandang yang bervariasi
sehingga permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Potensi siswa
akan berkembang baik minat dan motivasinya dalam belajar matematika karena
pembelajaran yang dimulai dengan konteks mengarahkan siswa pada pentingnya
matematika dalam kehidupan sehari-hari. Siswa dipahamkan tentang kegunaan
matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena pentingnya pendekatan ini digunakan dalam pembelajaran matematika, maka
seharusnyalah setiap guru memperhatikan bagaimana sintak pelaksanaan pendekatan
PMRI dalam pembelajaran matematika. Adapun sintaks implementasi matematika
realistik (PMRI) adalah:

Tabel 1 Sintaks Implementasi Matematia Realistik (PMRI)

Aktivitas Guru Aktivitas Siswa

Guru memberikan siswa masalah Siswa secara sendiri atau kelompok


kontekstual kecil mengerjakan masalah dengan
strategi-strategi informal.

Guru merespon secara positif jawaban


siswa. Siswa diberikan kesempatan
untuk memikirkan strategi siswa yang
paling efektif.
Guru mengarahkan siswa pada Siswa secara sendiri-sendiri atau
beberapa masalah kontekstual dan berkelompok menyelesaikan masalah
selanjutnya meminta siswa tersebut.
mengerjakan masalah dengan
menggunakan pengalaman mereka

Guru mengelilingi siswa sambil Beberapa siswa mengerjakan di


memberikan bantuan seperlunya. papan tulis. Melalui diskusi kelas,
jawaban siswa dikonfrontasikan.

Guru mengenalkan istilah konsep Siswa merumuskan bentuk


matematika formal.

Guru memberikan tugas di rumah, Siswa mengerjakan tugas rumah dan


yaitu mengerjakan soal atau membuat menyerahkannya kepada guru
masalah cerita beserta jawabanya yang
sesuai dengan matematika formal.

(I Gusti Putu Suharta, 2001)

4. Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Kadir (2005) menyimpulkan bahwa melalui
penggunaan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI), hasil
belajar matematika siswa kelas V SD Negeri 32 Poasia Kota Kendari dapat ditingkatkan.
Dari hasil penelitiannya juga tergambar adanya peningkatan minat dan motivasi belajar
siswa setelah siswa di ajar dengan pendekatan PMRI.
Hasil penelitian Ahmad Fauzan (2001) tentang pengembangan dan implementasi protype
I dan II perangkat pembelajaran geometri untuk siswa kelas IV SD berdasarkan
pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) diperoleh hasil bahwa pada tahap
awal penelitian ditemukan banyak kendala seperti siswa mengalami kesulitan untuk
memahami contextual problem, tidak terbiasa bekerja berkelompok, sangat tergantung
kepada guru, tidak aktif dan kreatif, sangat lemah dalam penalaran dan penguasaan
konsep-konsep yang sudah dipelajari, hanya tertarik pada hasi akhir dan mengabaikan
proses untuk menemukan jawaban. Setelah dilakukan beberapa usaha diperoleh bebarapa
perubahan positif pada siswa. Usaha dimaksud adalah: mengadakan diskusi sebelum
siswa memecahkan contextual problem, membuat catatan-catatan pada buku latihan
siswa, dan tidak memberi nilai maksimal kepada siswa yang tidak memberi alasan untuk
jawabannya. Beberapa perubahan psotif yang didapat adalah siswa menjadi lebih aktif
dan kreatif, kemampuan siswa dalam memahami soal cerita semakin baik, beberapa
siswa menunjukkan kemajuan yang baik dalam penalaran, dan hasil postes lebih baik
daripada hasil pretes pada semua kelompok siswa yang diteliti.

5. Keranga Berpikir

Pendekatan Pendidika Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan suatu


pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran matematika sekolah yang dilaksanakan
dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajara.
Melalui matematisasi horizontal-vertikal siswa diharapkan dapat menemukan dan
merekonstruksi konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal.
Seanjutnya, siswa diberi kesempatan menerapkan konsep-kosep matematika untuk
memecahkan masalah sehari-hari atau masalah dalam bidang lain. Dengan kata lain
pembelajaran PMRI mengarahkan siswa pada belajar dengan bermakna.

Kebermaknaan yang timbul sebagai akibat pembelajaran PMRI akan memberi peluang
kepada siswa mengembangkan potensi dan kemampuan berpikir alternatif,
mengembangkan cara penyelesaian berbeda terhadap suatu permasalahan, memanfaatkan
pengetahuan dan pengalaman sehari-hari serta saling hormat menghormati dan
menumbuhkan konsep diri yang kesemuanya itu mengarah kepada peningkatan
kemampuan siswa dalam memecahkan setiap soal matematika bahkan dalam aplikasinya
dengan kehidupan sehari-hari atau bidang lainnya.

Soal-soal matematika yang digunakan sebagai gambaran kehidupan sehari-hari atau


aplikasinya dalam bidang lain ini tertuang dalam bentuk-bentuk soal cerita atau masalah
kontekstual. Soal yang disusun dalam bentuk kalimat verbal tersebut memungkinkan
siswa menggunakan daya imajinasi dan kreativitasnya serta ide dan nalarnya untuk
mengemukkakan berbagai alternatif pemecahan soal-soal tersebut. Jika siswa dibina
dengan membiasakannya menyelesaikan soal-soal seperti ini, di mana siswa merasakan
manfaat matematika dalam kehidupannya sehari-hari, maka tentu kemampan nalar, ide
dan kreativitasnya dalam pembelajaran akan meningkat. Meningkatnya aktifitas dan
kreativitas siswa dalam pembelajaran akan meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil yang
diperoleh siswa berupa perubahan kemampuan matematika siswa sebagai akibat dari
proses interaksi siswa dengan lingkungannya ini disebut hasil belajar matematika siswa.
Artinya, semakin baik pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan
pembelajaran matematika realistik akan semakin meningkatkan hasil belajar matematika
siswa.

6. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori, hasil enelitian yang relevan, dan kerangka berpikir di atas,
dirumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini sebagai berikut: “Dengan
menggunakan pendekatan matematika realistik dalam proses belajar mengajar
matematika, maka kemampuan siswa kelas VI SD Negeri 32 Poasia Kendari dalam
menyelesaikan soal matematika berbentuk cerita pada pokok bahasan faktor dan
kelipatan bilangan dapat ditingkatkan”.

H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN

1. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas VI SD Negeri 32 Poasia Kota Kendari sebagai
sekolah mitra, dengan jumlah siswa sebanyak 24 orang yang terdiri dari 12 orang siswa
pria dan 12 orang siswa wanita. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester
ganjil tahun pelajaran 2006/2007 selama 8 bulan.

2. Faktor yang Diselidiki


Untuk menjawab permasalahan di atas, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki, yaitu:

1. Faktor siswa: yaitu dengan melihat apakah tingkat kemampuan siswa pada pokok
bahasan bilangan cacah dan bilangan pecahan berada dalam kategori rendah,
sedang atau tinggi ?

2. Faktor guru: yaitu dengan memperhatikan bagaimana persiapan materi dan


kesesuaian pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran di
kelas.

3. Faktor sumber pelajaran: yaitu dengan memperhatikan sumber pelajaran yang


digunakan apakah sudah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, demikian
pula latihan-latihan yang diberikan, apakah sudah berjenjang sesuai dengan
tingkat kemampuan siswa serta dengan tujuan yang akan dicapai sesuai dengan
pendekatan matematika realistik yang digunakan.

3. Rencana Penelitian Tindakan Kelas


Pelaksanaan penelitian ini direncanakan dalam tiga siklus tindakan. Tiap siklus
dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, seperti apa yang telah didesain
dalam faktor yang diselidiki. Bila target ketuntasan belajar klasikal, yaitu minimal 80 %
siswa tidak mencapai nilai paling rendah 6,5, maka dilaksanakan siklus tambahan.
Adapun skema alur tindakan yang direncanakan dalam penelitian ini disajikan pada
Gambar 1 berikut.
Gambar 1 Alur dalam penelitian tindakan kelas (PTK)

Tim Pelatih Proyek PGSM (1999)


4. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti terlebih dahulu melaksanakan tes awal berupa tes
diagnostik untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum diberikan tindakan di
samping observasi. Observasi awal dilakukan untuk dapat mengetahui ketetapan tindakan
yang akan diberikan dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal cerita.

Dari hasil evaluasi dan observasi awal, maka dalam refleksi ditetapkan tindakan yang
digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa, yaitu melalui
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan matematika realistik.

Dengan berpatokan pada refleksi awal tersebut, maka dilaksanakanlah penelitian tindakan
kelas ini dengan prosedur sebagai berikut.

a. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini meliputi:

1. Membuat skenario pelaksanaan tindakan.

2. Membuat lembar observasi: untuk melihat bagaimana suasana belajar


mengajar di kelas ketika pendekatan matematika realistik dilaksanakan.

3. Membuat kuesioner: untuk mengumpulkan data tentang tanggapan siswa


mengenai pelaksanaan pendekatan matematika realistik dalam
pembelajaran.

4. Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu


siswa memahami konsep-konsep matematika dengan baik.

5. Mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah materi matematika telah


dikuasai oleh siswa.

b. Pelaksanaan tindakan
Tindakan yang telah dirancang dilaksanakan oleh satu orang guru matematika kelas VI
SD Negeri 32 Poasia. Pembelajaran yang dilakukan guru dengan menggunakan
pendekatan matematika realistik sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat.

c. Observasi
Observasi dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Proses
observasi dilakukan oleh dua orang dari tim peneliti untuk mengamati guru dalam kelas
selama melaksanakan tindakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan matematika realistik. Pengamatan juga dilakukan terhadap prilaku dan
aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan dampak yang ditimbulkan
dari prilaku guru terhadap siswa selama proses pembelajaran.

d. Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan pada setiap akhir siklus pelaksanaan tindakan. Evaluasi tersebut ditujukan untuk
mengetahui ada atau tidak adanya peningkatan hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan yang
diajarkan. Alat evaluasi yang digunakan adalah tes hasil belajar yang disusun peneliti. Bilamana secara
klasikal minimal 80 % siswa telah mencapai nilai paling rendah 6,5, maka tindakan dianggap telah berhasil
dilaksanakan.
e. Refleksi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dianalisis. Kelemahan-kelemahan
atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada setiap siklus akan diperbaiki pada siklus
berikutnya.

5. Data dan Cara Pengambilannya


1. Sumber data: personil penelitian yang terdiri dari siswa dan guru.

2. Jenis data: data kuantitatif yang diperoleh dari tes hasil belajar dan data kualitatif
yang diperoleh melalui lembar observasi, kuesioner, dan jurnal.

3. Cara pengambilan data:

1. Data situasi pelaksanaan pendekatan matematika realistik diambil dengan


menggunakan lembar observasi.

2. Data tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pendekatan matematika


realistik diambil dengan menggunakan kuesioner.

3. Data refleksi diri serta perubahan-perubahan yang terjadi dalam kelas,


diambil dengan menggunakan jurnal.

4. Data tentang hasil belajar matematika siswa diambil dengan menggunakan


tes hasil belajar.

6. Indikator Kerja
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan pelaksanaannya dalam tiga siklus tindakan.
Namun demikian, bila pada hasil evaluasi suatu siklus paling sedikit 80 % siswa telah
mendapatkan nilai paling rendah 6,5, maka siklus selanjutnya tidak dilaksanakan karena
indikator keberhasilan telah tercapai.

I. JADWAL PENELITIAN
BULAN
Kegiatan
4 5 6 7 8 9 10 11
1 2 3 4 5 6 7 8 9

1. Perencanaan

a. Observasi lokasi penelitian

b. Wawancara dengan guru

c. Diskusi hasil obersvasi


dan

Wawancara dengan guru

2. Persiapan

a. Membuat skenario
pembelajaran, lembar
observasi, dan kuesioner

b. Membuat alat bantu

c. Membuat alat evaluasi

d. Membuat jurnal

3. Pelaksanaan Siklus I

a. Perencanaan

b. Pelaksanaan tindakan

c. Obsevasi/evaluasi

d. Refleksi diri

4. Pelaksanaan Siklus II

a. Perencanaan

b. Pelaksanaan tindakan
c. Obsevasi/evaluasi

d. Refleksi diri

5. Pelaksanaan Monitoring

6. Pelaksanaan Siklus III

a. Perencanaan

b. Pelaksanaan tindakan

c. Obsevasi/evaluasi

d. Refleksi diri

7. Pelaporan

a. Tabulasi dan analisis data

b. Penyusunan draft hasil


penelitian

c. Seminar draft hasil


penelitian

d. Pembuatan laporan

e. Penggandaan laporan

f. Pengiriman laporan akhir

J. BIAYA PENELITIAN

1. Biaya Perencanaan

a. Observasi lokasi penelitian (3 orang, 3 hari)

Rp
Konsumsi : 3x3xRp. 17.500 157.500
Transportasi : 1x3xRp. 20.000 Rp 60.000

b. Wawancara dengan guru (3 orang, 1 hari)

Konsumsi : 3x1xRp. 17.500 Rp 52.500

Transportasi : 1x1xRp. 20.000 Rp 20.000

c. Diskusi hasil observasi da wawancara

dengan guru (3 orang, 2 hari)

Rp
Konsumsi : 3x2xRp. 17.500 105.000

Rp
Transportasi : 3x2xRp. 20.000 120.000

Rp.
Jumlah (1) 515.000

2. Biaya Persiapan

a. Rapat persiapan pembuatan instrumen penelitian (3 orang,10hari)

Konsumsi : 3x1xRp. 17.500 Rp 52.500

Transportasi : 3x1xRp. 20.000 Rp 60.000

b. Pembuatan scenario pembelajaran, lembar

Observasi, dan kuesioner (3 orang, 10 hari)

Rp
Konsumsi : 3x10xRp. 17.500 525.000

Rp
Transportasi : 3x10xRp. 20.000 600.000

c. Pembuatan alat bantu, evaluasi, dan jurnal (3 orang, 10 hari)


Rp
- Konsumsi : 3x10xRp. 17.500 630.000

Rp
- Transportasi : 3x10xRp. 20.000 600.000

Rp
Jumlah (2) 2.467.500

3. Biaya Pembelian ATK

Rp
a. Kertas duplikator 5 rim, @ Rp. 25.000 125.000

Rp.
b. Kertas bergaris 5 rim, @ Rp. 30.000,- 150.000

Rp
c. Kertas Komputer 2 ply 2 dos, @RP. 300.000 600.000

Rp
d. Kertas Ukuran A4 4 rim, @ Rp. 30.000 120.000

Rp
e. Pita komputer 3 buah, @ Rp. 35.000 105.000

f. Refill Tinta Printer 3 buah, @ Rp. 27.500 Rp 82.500

Rp.
g. Catridge 1 buah (hitam) 125.000

Rp.
h. Cartrige 1 buah (warna) 150.000

Rp.
i. Spidol Whiteboard 2 box, @ 85.000,- 170.000

Rp.
j. Karton manila 20 lembar @ Rp. 7.500 150.000

k. Tip Ex 2 buah @ Rp. 7.500 Rp. 15.000


l. Balpoint 1 lusin Rp. 20.000

m Pensil 1 lusin Rp. 10.000

n. Isolasi 2 buah @ Rp. 10.000,- Rp. 20.000

o. Cutter 1 buah Rp. 15.000

p. Paku tinis 5 dos @ Rp. 3.000,- Rp. 15.000

q. Lem kertas 1 buah Rp. 5.000

Jumlah (3) Rp 1.877.500

4. Biaya Operasional

Rincian biaya berikut untuk setiap siklus (selama tiga siklus)

(1
) Perencanaan tindakan, observasi awal dan rapat tim peneliti

(3 orang, 1 hari): 3x1xRp. 125.000 Rp 375.000

(2
) Biaya implementasi tindakan untuk 2 orang : 2xRp. 125.000 Rp 250.000

(3
) Biaya observasi dan evaluasi: 3xRp. 100.000 Rp 300.000

(4
) Biaya analisis dan refleksi : 3xRp. 100.000 Rp 300.000

Jumlah Rp 1.225.000

Biaya 1 siklus Rp. 1.225.000

Jadi biaya 3 siklus : 3xRp. 1.225.000 Jumlah (4) Rp 3.675.000

5. Honor selama 8 bulan


a. Honor 1 orang ketua peneliti: 8x1xRp. 200.000 Rp 1.600.000

b. Honor 2 orang anggota peneliti: 8x2xRp. 150.000 Rp 2.400.000

Jumlah (5) Rp 4.000.000

Biaya seleksi internal, semnar local,


6. publikasi,

dan diseminasi hasil penelitian Rp 960.000

Jumlah (6) Rp 960.000

7. Biaya pelaporan

a. Penyusunan draft laporan penelitian (3 orang, 1 hari)

Konsumsi : 3x1xRp. 17.500 Rp 52.500

Transportasi : 3x1xRp. 20.000 Rp 60.000

b. Penyusunan laporan akhir (3 orang, 10 hari)

Konsumsi : 3x10xRp. 17.500 Rp 525.000

Transportasi : 3x10xRp. 20.000 Rp 600.000

d. Penggandaan laporan: 14 x 50 x Rp. 150 Rp. 105.000

d. Penjilidan laporan 15 examplar: 15xRp.7.500 Rp. 112.500

e. Pengiriman laporan ke Jakarta Rp 50.000

Jumlah (7) Rp 1.505.000

Rekapitulasi:

1. Biaya perencanaan = Rp 515.000

= Rp 1.877.5004. Baiaya operasional= Rp 3.675.0002. Biaya


persiapan = Rp 2.467.500
5. Honorarium3. Biaya pembelian ATK = Rp 4.000.000

6. Biaya seleksi internal, seminar lokal, publikasi, dan = Rp 960.000

Diseminasi hasil penelitian

7. Biaya pelaporan = Rp 1.505.000

Jumlah = Rp 15.000.000

(Lima belas juta rupiah)


K. PERSONALIA PENELITIAN

Personalia penelitian dan waktu yang disediakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
Ketua peneliti : Drs. La Misu, M.Pd.
Dosen Pendidikan Matematika FKIP Unhalu Kendari
Waktu yang disediakan: 15 jam/minggu
Anggota Peneliti 1 : Hartana, S.Pd.
Guru kelas VI SD Negeri 32 Poasia Kendari
Waktu yang disediakan: 10 jam/minggu
Anggota Peneliti 2 : Hidayah, A.Ma.
Guru kelas V SD Negeri 32 Poasia Kendari
Waktu yang disediakan: 10 jam/minggu

Peran serta masing-masing dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut:

Pada tahap perencanaan: ketua peneliti, bersama dengan anggota peneliti 2 melakukan
observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh anggota peneliti 1.
Observasi dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran
matematika yang dilaksanakan oleh anggota peneliti 1 sebelum penelitian ini
dilaksanakan. Observasi dilaksanakan dalam beberapa kali pelaksanaan pembelajaran
matematika (direncanakan 3 kali). Untuk lebih memantapkan hasil observasi yang
dilakukan juga dilakukan wawancara dengan anggota peneliti 1. Hasil observasi dan
wawancara kemudian didiskusikan oleh ketua, dan kedua anggota peneliti sehingga
diputuskan langkah pemecahan permasalahan pembelajaran yang ditemukan. Hasil
diskusi tersebut kemudian dibuat dalam bentuk pra proposal.

Pada tahap persiapan, ketua tim peneliti bersama anggota 1 dan 2 merancang skenario
pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan PMRI,
lembar observasi, alat bantu pembelajaran, kuosioner, alat evaluasi, dan jurnal. Hasil
keseluruhan perancangan tersebut kemudian didiskusikan kembali sehingga anggota 1
sebagai guru yang akan melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan PMRI dapat
memahami secara mendalam langkah-langkah pembelajaran dengan PMRI, sedang
anggota 2 dapat memahami apa-apa yang harus diobservasi selama anggota 1
melaksanakan pembelajaran. Di samping itu juga supaya ada kesepahaman langkah
dalam menggunakan berbagai perangkat yang digunakan dalam penelitian ini.

Pada tahap pelaksanaan, anggota peneliti 1 melaksanakan pembelajaran sesuai skenario


yang telah dibuat, dan anggota peneliti 2 melakukan observasi yang pada tahap awal
pelaksanaan pembelajaran ditemani oleh ketua peneliti. Hasil observasi terhadap setiap
pembelajaran yang telah dilaksanakan kemudian didiskusikan oleh tim peneliti sekaligus
mengecek beberapa kelemahan yang dilakukan dalam setiap pembelajaran oleh anggota
peneliti 1. Dari hasil diskusi tersebut kemudian anggota peneliti 1 melakukan refleksi
terhadap pembelajaran yang telah dilakukan sehingga dapat diperbaiki pada pembelajaran
selanjutnya.

Pada tahap monitoring, ketua dan anggota peneliti mendiskusikan berbagai hal
sehubungan dengan penelitian ini sehingga diperoleh kesamaan langkah sesuai dengan
rencana pelaksanaan penelitian yang telah direncanakan termasuk menyiapkan berbagai
perangkat penelitian.

Pada tahap akhir/pelaporan, ketua peneliti mengumpulkan semua data yang telah
dikumpulkan oleh anggota peneliti 1 dan 2 untuk ditabulasi dan dianalisis. Hasil tabulasi
dan analisis kemudian dianalisis kembali oleh tim sehingga dapat ditemukan kelemahan
dan keunggulan pelaksanaan penelitian ini. Di samping itu juga untuk menentukan
bentuk draft laporan penelitian sesuai dengan petunjuk/pedoman laporan PTK tahun
2006. Draft laporan tersebut kemudian disepakati sebagai bentuk laporan akhir yang akan
diseminarkan oleh ketua peneliti didampingi oleh anggota peneliti 1 dan 2. Laporan yang
dikoreksi dari pelaksanaan seminar kemudian diperbaiki oleh ketua peneliti untuk
dijadikan laporan akhir. Laporan akhir ini kemudian digandakan dan dijilid untuk
kemudian ditanda tangani sebagai laporan akhir pelaksanaan PTK yang akan dikirim ke
Jakarta.
L. DAFTAR PUSTAKA

Abadi, Mini Jaya. 2001. Undang-Undang RI Nomor 25 Tahun 2000 tentang


Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun 2000-2004. Bab VII
Pembangunan Pendidikan. Mini Jaya Abadi, Jakarta.
Abidin, Zainal. 1989. Studi tentang Prestasi Siswa Kelas VI SD Negeri di Kodya
Banda Aceh dalam Menyelesaikan Soal Hitungan dan Soal Cerita. Tesis, PPs
IKIP Malang.
Ametembun, N.A. 1985. Kerelevansian Gaya-Gaya Mengajar dan Belajar (Suatu
Tinjauan Analitik). FIP-IKIP Bandung, Bandung.
Ametembun, N.A. 2000. Beberapa Model Pembelajaran dan Strategi Mengajar
dalam Pembelajaran Matematika. Depdiknas, Jakarta.
Anonim. 1999. Penelitian Tindakan Kelas; Bahan Pelatihan Dosen LPTK dan
Guru Sekolah Menengah. TIM Pelatih Proyek PGSM, Jakarta.
Anonim, 2000, Beberapa Model Pembelajaran dan Strategi Mengajar dalam
Pembelajaran Matematika, Depdiknas, Jakarta.
Anonim, 2002, Model-Model Pembelajaran, Depdiknas, Jakarta.
As’ari, A.R. 2000. Pembelajaran Matematika yang Demokratis. Universitas
Negeri Malang.
Basuki Wibawa. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Dirjen Pendidikan Dasar dan
Menengah, Direktorat Tenaga Kependidikan, Jakarta.
Budiarto, Mega Teguh, dkk. 2004. Matematika Buku 1 Dirjen Depdiknas, Jakarta.
Budiarto, Mega Teguh, dkk. 2004. Matematika Buku 3. Dirjen Depdiknas,
Jakarta.
De Lange, J. 1987. Mathematics, Insight and Meaning. OW & Co, Utrecht.
----------. 1995. Assesment: no chance without problems, In Romberg, TA. (Ed).
Reform in school mathematics and authentic assessment. Suny Press, New York.
Depdikbud. 1982/1983. Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial.
Ditjen-Dikti Depdikbud, Jakarta.
Dimyati dan Mudjiono. 1996. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta, Jakarta.
Djamamarah, S.B. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Rineka
Cipta, Jakarta.
Fauzan, Ahmad. 2001. Pengembangan dan Implementasi Prototype I dan II
Perangkat Pembelajaran Geometri untu Siswa Kelas 4 SD Menggunakan
Pendekatan RME, makalah disampaikan pada Seminar Nasional Realistic
Mathematics Education (RME) di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), 24
Pebruari 2001.
Freudenthal, H. 1973. Mathematics as an Educational Task. Reidel Publishing,
Dordrecht
-----------. 1994. Revisiting Mathematics Education. Reidel Publishing, Dordrecht
Gravemeijer, K. 1994. Developing Realistic Mathematic Education. Freudenthal
Institute, Utrecht.
Haji, Saleh, 1994. Diagnosis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita
di Kelas VI SD Negeri Percobaan Surabaya. Tesis, PPS IKIP Malang.
Hartadji Nursyafi’i dan Ma’nar. 2001. Laporan Pengembangan dan Ujicoba
Perangkat Contextual Teaching and Learning Mata Pelajaran Matematika Pokok
Bahasan Aritmetika Sosial. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama, Jakarta.
Hudoyo, Herman, 1988, Belajar Mengajar Matematika, P2LPTK. Jakarta.
Hudoyo, Herman dan Surawidjaja, A. 1996/1997. Matematika. Bagian P3GSD
Ditjen-Dikti Depdikbud, Jakarta.
Joyce, B. and Weill, M. 1980. Models of Teaching. Prentice Hall Inc., New Jersey
Kadir, 2005. Strategi Pengembangan dan Pemanfaatan Media Pembelajaran
Matematika. Makalah disampaikan pada Sosialisasi KBK bagi Guru-Guru
Matematika MTs DEPAG se Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari, 29 Juni – 1
Juli 2005.
M. Nur. 2000. Pembelajaran Kooperatif, Pusat Sain dan Matematika Sekolah.
PPs Universitas Negeri Surabaya, Surabaya.
N.K. Roestiyah. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta, Jakarta.
Polya, George. 1980. On Solving Mathematical Problem in High School, dalam
Krulik, Stephen dan Reys, Robert E. (Eds.) Problem Solving in School
Mathematics. NCTM, Reston-Virginia.
Slameto. 1987. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Bina Aksara,
Jakarta.
Slavin, R.E. 1995. Cooperative Learning. A Simon and Schuster Company,
Massachusetts.
Soekamto, T., Wardani, I.G.A.K., dan Winataputra, U.S. 1993. Prinsip Belajar
dan Pembelajaran, Bahan Ajar PEKERTI P2LPTK, Jakarta.
Soekamto, T., dan Winataputra, U.S., 1997. Teori Belajar dan model-model
Pembelajaran, Bahan Ajar PEKERTI P2LPTK, Jakarta.
Suharta, I Gusti Putu. 2001. Pembelajaran Pecahan dalam Matematika Realistik.
Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Realistic Mathematics Education
(RME) di Jurusan Matematika FMIPA UNESA, 24 Pebruari 2001.
Sutarto, Hadi. 2001. Memperkenalkan RME kepada Guru SLTP di Yogyakarta,
makalah disampaikan pada Seminar Realistic Mathematic Education (RME) di
Universitas Negeri Surabaya (UNESA), 24 Februari 2001.
Sumarmo, Utari. 2001. Upaya Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil
Pembelajaran Matematika Melalui Penelitian Kolaboratif Guru dan Dosen
LPTK. Makalah, FPMIPA UPI, Bandung.
Sumarmo, Utari. 2002. Alternatif Pembelajaran Matematika dalam Implementasi
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah, FPMIPA UPI, Bandung.
Treffers, A. 1991. Realistics Mathematics Education in The Netherlands 1980-
1990. dalam Streeflands (ed). Realistics Mathematics Education in Primary
School. CD-b Press, Utrecht.
Usman, M.U. dan Setiawati, L. 2001. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar
Mengajar. Cetakan Kedua. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Y. Marpaung. 2001. Prospek RME untuk Pembelajaran Matematika di Indonesia.
Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Realistic Mathematics Education
(RME) di Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Surabaya (UNESA), 24
Februari 2001.
Yuwono, Ipung. 2001. RME (Realistic Mathematics Education) dan Hasil Studi
Awal Implementasinya di SLTP. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional
Realistic Mathematics Education (RME) di Jurusan Matematika FMIPA
Universitas Negeri Surabaya (UNESA), 24 Februari 2001.
M. LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Instrumen Penelitian

a. Contoh Rencana Pembelajaran


e. Contoh lembar soal dan jawaban siswa yang dilatihkan

1. Pada pelajaran Penjaskes, setiap siswa kelas VI diwajibkan lari


mengelilingi halaman sekolah berbentuk persegi panjang. Jika keliling
halaman tersebut 118 m dan panjangnya 35 m, berapakah lebar halaman
yang dikelilingi siswa tersebut?

Penyelesaian:

1. Diketahui:

2. Ditanyakan:

3. Kalimat matematika (rumus/model):

4. Penyelesaian kalimat matematika:

5. Jawaban akhir yang diminta soal:


2. Curriculum Vitae

a. Riwayat Hidup Ketua Peneliti

Identitas diri:

Nama Lengkap : Drs. La Misu, M.Pd.

N I P : 132 008 807

Tempat, Tangal Lahir : Wakoko, tahun 1966

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Pekerjaan : Staf Pengajar pada PS Pend. Matematika


FKIP Unhalu Kendari

Pangkat/Gol. Ruang : Penata Tk. I/ IIId

Jabatan : Lektor

Alamat : Jl. Haeba No. 44 Kendari 93117 Telp. 0401-


394232 HP. 081341556673

Riwayat Pendidikan Tinggi:

Program Sarjana (S1):

Nama Perguruan Tinggi : Universitas Haluoleo

Fakultas/Jurusan : FKIP/Pend. MIPA

Program Studi : Pendidikan Matematika

Tahun Masuk : 1985

Tahun Lulus : 1990

Program Pascasarjana (S2):


Nama Perguruan Tinggi : IKIP Surabaya

Fakultas/Jurusan : Pascasarjana / Pend. Matematika

Program Studi : Pendidikan Matematika

Tahun Masuk : 1995

Tahun Lulus : 1998

Pengalaman Pengajaran/Penelitian:

Mata Kuliah yang Diajarkan di PT:

1. Teori Bilangan

2. Pengantar Dasar Matematika / Matematika Dasar

3. Kalkulus (I/II)

4. Pembelajaran Matematika di SD

Pengalaman Penelitian

1. Ketua Peneliti pada penelitian: Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika pada


Siswa SLTP Negeri 2 Kendari dengan menggunakan Model Pencapaian Konsep,
1999.

2. Ketua Peneliti pada penelitian: Pengembangan Keterampilan Penalaran Formal


pada Mahasiswa Baru Pendidikan MIPA FKIP Unhalu, 2003

b. Riwayat Hidup Anggota Peneliti 1


Identitas Diri:

Nama Lengkap : Hartana, S.Pd.


N I P : 132 081 068

Tempat, Tangal Lahir : Soppeng, 25 Januari 1971

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Guru Kelas Tinggi di SDN 32 Poasia Kota


Kendari

Pangkat/Gol. Ruang : Pengatur/ IId

Alamat : Perumnas Bumi Poasia Permai Blok A No. 35


Kendari 93232 HP. 081524767767

Riwayat Pendidikan Tinggi:


Nama Perguruan Tinggi : Universitas Haluoleo

Fakultas/Jurusan : FKIP/Ilmu Pendidikan

Program Studi : Psikologi Pendidikan dan Bimbingan

Tahun Masuk : 2000

Tahun Lulus : 2005

Pengalaman penelitian:

Anggota Peneliti: Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Pokok


Bahasan Bilangan Cacah dan Bilangan Pecahan di Kelas VI SD Negeri 32 Poasia
Kota Kendari melalui Pendekatan Matematika Realistik (2005)

c. Riwayat Hidup Anggota Peneliti 2

Identitas Diri:

Nama Lengkap : Hidayah, A.Ma.

N I P : 132 219 129

Tempat, Tangal Lahir : Kolaka, 1975

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Guru Kelas Tinggi di SDN 32 Poasia Kota


Kendari

Pangkat/Gol. Ruang : Pengatur/ IId

Alamat : Perdos Kampus Baru Unhalu Blok H No. 6


Kendari 93232 HP. 08124174454

Riwayat Pendidikan Tinggi:


Nama Perguruan Tinggi: Universitas Haluoleo

Fakultas/Jurusan : FKIP/Ilmu Pendidikan

Program Studi : Diploma-2 PGSD

Tahun Masuk : 1993

Tahun Lulus : 1996

Pengalaman penelitian:

Anggota Peneliti: Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Pokok


Bahasan Bilangan Cacah dan Bilangan Pecahan di Kelas VI SD Negeri 32 Poasia
Kota Kendari melalui Pendekatan Matematika Realistik (2005)

Identitas Diri:

Nama Lengkap : Kadir, S.Pd., M.Si.

N I P : 132 094 172

Tempat, Tangal Lahir : Bau-Bau, 1 Oktober 1968

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Pekerjaan : Staf Pengajar pada PS Pend. Matematika


FKIP Unhalu Kendari

Pangkat/Gol. Ruang : Penata Tk. I/ IIId

Alamat : Perumnas Bumi Poasia Permai Blok A No. 35


Kendari 93232 HP. 081341512842
Riwayat Pendidikan Tinggi:

Program Sarjana (S1):

Nama Perguruan Tinggi : Universitas Haluoleo

Fakultas/Jurusan : FKIP/Pend. MIPA

Program Studi : Pendidikan Matematika

Tahun Masuk : 1988

Tahun Lulus : 19 April 1993

Program Pascasarjana (S2):

Nama Perguruan Tinggi : Institut Teknologi Bandung (ITB)

Fakultas/Jurusan : Pascasarjana ITB/Matematika

Program Studi : Matematika (Matematika Terapan)

Tahun Masuk : 1997

Tahun Lulus : 2 Februari 2000

Pengalaman Pengajaran/Penelitian:

Mata Kuliah yang Diajarkan di PT:

5. Pengantar Dasar Matematika

6. Kalkulus (I/II/Lanjut (Peubah Banyak))

7. Komputer (Pengantar/Lanjutan)

8. Aljabar Linier
Pengalaman Penelitian

3. Kemampuan Berpikir Anak Usia SD (Studi Kasus pada Masyarakat Bajo di Desa
Bonebalano Kab. Muna) (Majalah Ilmiah “Bersama”, Vol. II, No. 1, Januari-Juni
1998, Bandung).

4. Optimalisasi Pengajaran Matematika di Sulawesi Tenggara melalui Program


Kualifikasi (MIPMIPA, Vol. 1, No. 1, Januari 2002)

5. Penguasaan Konsep Dasar Matematika SD Siswa Kelas I SLTP Negeri di


Kabupaten Buton, Studi pada SLTP Negeri 2 Lakudo, SLTP Negeri 1 Gu, dan
SLTP Negeri 1 Batauga (MIPMIPA, Vol. 2, No. 1, Januari 2003).

6. Efektivitas Pemberian Tugas Membuat Jurnal Matematika dalam Pembelajaran


Konsep Peluang dan Statistika di SMU Negeri 4 Kendari (MIPMIPA, Vol. 3, No.
1, Januari 2004).

7. Kedudukan Pendidikan Matematika Realistik (PMR) dalam Pendekatan


Pembelajaran Matematika (Majalah Ilmiah BERSAMA, Vol. 9, No. 1, Januari-
Juni 2005).

ALTERNATIF JUDUL

PENGGUNAAN PETA DAN MODEL BAK PASIR DALAM PEMBELAJARAN


PETA PROPINSI JAWA TIMUR PADA SISWA KELAS IVA MIN MALANG IX

Catatan:

1. PEMBELAJARAN PETA PROPINSI JAWA TIMUR sebagai masalah/penyakit;

2. PETA DAN MODEL BAK PASIR sebagai tindakan/obat;

3. SISWA KELAS IVA sebagai pasien;

4. MIN MALANG IX sebagai rumah sakit.

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Kemukakan:
1. Harapan tentang belajar IPS tentang peta propinsi daerah setempat (Jawa Timur);
misalnya siswa menguasai atau dapat membuat dan membaca peta daerah setempat
dengan baik. Hal ini dapat dirujuk dari naskah kurikulum yang ada, tentang kompetensi
belajar peta.

2. Fakta yang ada, misalnya masih banyak siswa yang gagal atau belum mampu untuk
membuat dan membaca peta daerah setempat dengan baik. Fakta ini dapat diambil dari
pengalaman-pengalaman guru sendiri dan atau teman guru lain yang mengalami masalah
yang sama ketika mengajar masalah peta; atau mungkin juga hasil-hasil tulisan yang ada
dalam berbagai literatur yang membahas masalah peta.

3. Tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan masalah/penyakit. Tindakan ini harus


dapat dukungan teori (tunjukkan buku sumber atau literatur yang digunakan); juga
tunjukkan hasil penelitian sebelumnya. Hasil penelitian sebelumnya tidak harus sama
persis dengan tindakan yang akan kita lakukan.

B. RUMUSAN MASALAH

Kemukakan:

Pertanyaan yang dibuat atau dirumuskan hendaknya benar-benar pertanyaan yang penting
untuk dicarikan jawabannya. Oleh karena tugas guru dalam pembelajaran mencakup tiga
hal, yakni (1) merencanakan pembelajaran, (2) melaksanakan pembelajaran, dan (3)
mengevaluasi pembelajaran. Dengan demikian rumusan masalah juga dapat menanyakan
ketiga hal di atas.

Misalnya:

Rumusan Masalah Umum

Bagaimanakah proses pembelajaran dengan menggunakan peta dan model bak pasir
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran peta propinsi Jawa Timur pada siswa kelas IV
A MIN Malang IX?

Rumusan Masalah Khusus

Berdasarkan rumusan masalah umum di atas, dapat dikemukakan rumusan masalah


khusus sebagai berikut:

1. Bagaimanakah proses perencanaan pembelajaran dengan menggunakan peta dan model


bak pasir untuk meningkatkan kualitas pembelajaran peta propinsi Jawa Timur pada
siswa kelas IV A MIN Malang IX?

2. Bagaimanakah proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan peta dan model


bak pasir untuk meningkatkan kualitas pembelajaran peta propinsi Jawa Timur pada
siswa kelas IV A MIN Malang IX?
3. Bagaimanakah penilaian proses dan hasil pembelajaran dengan menggunakan peta dan
model bak pasir untuk meningkatkan kualitas pembelajaran peta propinsi Jawa Timur
pada siswa kelas IV A MIN Malang IX?

Catatan:

1. Dalam rumusan masalah komponen yang ada di judul (masalah/penyakit,


obat/tindakan, siswa/pasien, dan madrasah/sekolah/rumah sakit) tetap dimasukkan.

2. Rumusan masalah dapat dirumuskan dalam bentuk yang lain

C. TUJUAN PENELITIAN

Kemukakan:

Pernyataan yang dirumuskan harus mengacu pada rumusan masalah yang dibuat. Jika
jumlah rumusan masalahnya satu, maka rumusan tujuan penelitiannya juga satu, dan
seterusnya. Dengan demikian jumlah rumusan tujuan penelitian sama dengan jumlah
rumusan masalah yang dibuat. Perbedaan keduanya terletak pada, dalam rumusan
masalah menggunakan kalimat pertanyaan dan diakhiri tanda tanya, sedangkan dalam
tujuan penelitian menggunakan kalimat pernyataan dan diakhiri dengan tanda titik.

Misalnya:

Tujuan Penelitian Umum

Mendeskripsikan proses pembelajaran dengan menggunakan peta dan model bak pasir
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran peta propinsi Jawa Timur pada siswa kelas IV
A MIN Malang IX.

Tujuan Penelitian Khusus

Tujuan penelitian umum di atas, dapat dijabarkan dalam tujuan penelitian khusus sebagai
berikut:

1. Mendeskripsikan proses perencanaan pembelajaran dengan menggunakan peta dan


model bak pasir untuk meningkatkan kualitas pembelajaran peta propinsi Jawa Timur
pada siswa kelas IV A MIN Malang IX.

2. Mendeskripsikan proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan peta dan


model bak pasir untuk meningkatkan kualitas pembelajaran peta propinsi Jawa Timur
pada siswa kelas IV A MIN Malang IX.
3. Mendeskripsikan penilaian proses dan hasil pembelajaran dengan menggunakan peta
dan model bak pasir untuk meningkatkan kualitas pembelajaran peta propinsi Jawa Timur
pada siswa kelas IV A MIN Malang IX.

D. MANFAAT PENELITIAN

Kemukakan:

Sebutkan pihak-pihak yang menerima manfaat PTK yang kita lakukan. Kemukakan
manfaat apa yang diterima masing-masing pihak tersebut. Pihak yang dimaksud (1)
pasien/siswa, (2) dokter/guru, (3) rumah sakit/madrasah-sekolah, (4) orang lain/calon
peneliti berikutnya.

Misalnya:

1. Bagi Siswa

Dengan dilaksanakannya PTK ini, diharapkan siswa dapat …..

2. Bagi Guru

Dengan dilaksanakannya PTK ini, diharapkan siswa dapat …..

3. Bagi Madrasah

Dengan dilaksanakannya PTK ini, diharapkan siswa dapat …..

4. Bagi Teman Sejawat/Calon Peneliti Berikutnya

Dengan dilaksanakannya PTK ini, diharapkan siswa dapat …..

E. HIPOTESIS PENELITIAN

Kemukakan:

Pernyataan yang menyakinkan kepada kita bahwa tindakan yang kita lakukan telah
mendapat dukungan teori atau temuan penelitian sebelumnya.

Misalnya:

Jika peta dan model bak pasir digunakan dalam pembelajaran peta propinsi Jawa Timur ,
maka kualitas belajar siswa kelas IV A MIN Malang IX dapat ditingkatkan.F. KAJIAN
PUSTAKA (Nanti Menjadi Bab II dalam laporan PTK)
1. Masalah/Penyakit yang akan Diselesaikan
2. Tindakan yang dilakukan

3. Penerapan Tindakan untuk Menyelesaikan Masalah

Dengan demikian, kajian pustaka untuk judul penelitian di atas adalah

1. Pembelajaran IPS di MI

a. Hakekat Pembelajaran IPS di MI

b. Pembelajaran Peta Propinsi Daerah Setempat

2. Media Peta dan Model Bak Pasir

a. Hakekat Media Pembelajaran

b. Media Peta dan Model Bak Pasir

3. Penggunaan Peta dan Model Bak Pasir dalam Pembejaran Peta Propinsi Jawa Timur

G. METODE PENELITIAN (Nanti Menjadi Bab III dalam laporan PTK)

Pada bagian ini terdapat beberapa alternatif isi dari sub-sub bab metode penelitian.
Bapak/Ibu hendaknya mengikuti bentuk susunan metode penelitian yang telah ditetapkan
oleh lembaganya masing-masing.

Contoh alternatif

1. Lokasi dan Waktu

Kemukakan kondisi siswa yang akan mendapatkan tindakan, dan berapa lama tindakan
tersebut akan dilaksanakan.

Misalnya:

PTK ini dilaksanakan di kelas IV A MIN Malang IX, dengan jumlah subyek penelitian
sebanyak 30 (tigapuluh) orang siswa. Waktu penelitian dilaksanakan pada semester
genap tahun pelajaran 2008-2009 mulai bulan Maret sampai dengan bulan April 2009
dengan durasi waktu 6 kali pertemuan.
2. Prosedur Penelitian

Secara umum pelaksanaan penelitian akan dilakukan selama tiga siklus (misalnya) yang
pada setiap siklusnya akan diterapkan tindakan tertentu. Dalam setiap siklus aktivitas
penelitian dilakukan melalui prosedur PTK, yakni berupa kegiatan (1) perencanaan
tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan/observasi, dan (4) refleksi.

a. Perencanaan Tindakan
proposals complete information programing cheap printer cartridges

Pada bagian ini kemukakan apa saja yang akan dilakukan oleh guru dalam program
pembelajaran yang akan dilakukan. Kegiatan yang dirancang adalah kegiatan sebelum
menyusun RPP hingga kegiatan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan.
Langkah awal kegiatan perencanaan tindakan diawali dengan menganalisis komponen
dan isi butir pembelajaran sebagaimana tertuang dalam kurikulum (analisis
pengembangan materi), menetapkan materi pembelajaran, menelaah buku paket IPS yang
ada, mengembangkan silabus, menyusun RPP, membuat peta sebagai media
pembelajaran, membuat instrument pengumpulan data (misalnya pedoman observasi,
pedoman wawancara, angket, pedoman dokumentasi dan lain sebagainya), …, instrumen
tes ulangan harian.

b. Pelaksanaan TindakanPada bagian ini kemukakan kegiatan apa saja yang dilakukan
pada sesi pembelajaran. Misalnya apa saja kegiatan yang dilakukan pada setiap sesi
siklus penelitian.

Misalnya:

Pada siklus I, pertemuan pertama guru memfasilitasi siswa mempelajari …. Sedangkan


pada pertemuan kedua ….

Pada siklus II, pertemuan pertama guru memfasilitasi siswa mempelajari …. Sedangkan
pada pertemuan kedua ….

Pada siklus III, pertemuan pertama guru memfasilitasi siswa mempelajari …. Sedangkan
pada pertemuan kedua ….

Kegiatan utama pembelajaran adalah menugasi siswa membaca peta, menafsirkan peta,
membuat peta, dan melengkapi peta buta yang telah disediakan oleh guru. Pada sesi
pembuatan peta dengan menggunakan model bak pasir, setiap kelompok diminta untuk
mempresentasikan hasil pekerjaannya. Selama kegiatan pembelajaran, kegiatan
pengamatan dilakukan untuk melihat efek dari pemberian tindakan.

c. Pengamatan
Perekaman data dilakukan pada setiap pelaksanaan tindakan dalam kegiatann
pembelajaran dengan menggunakan pedoman observasi. Pengamatan dilakukan terhadap
(1) kegiatan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, (2) kegiatan siswa dalam
berinteraksi dengan guru, berinteraksi dengan siswa, dan interaksi siswa dengan sumber
belajarnya.

d. Refleksi

Data yang direkam dari hasil observasi diolah dan dianalisis untuk menentukan langkah
selanjutnya. Pada setiap selesai sesi pembelajaran dilakukan refleksi, hasil refleksi
digunakan untuk tindak lanjut sesi atau siklus pembelajaran berikutnya. Analisis data
menggunakan teknik statistik deskriptif yang disajikan berupa tabel-tabel persentase
tentang keberhasilan dan ketidakberhasilan tindakan yang dicapai oleh siswa.

DAFTAR ISI

Halaman Judul………………………………………………………………… i
Halaman Pengesahan ………………………………………………………… ii
Kata Pengantar…………………………………………………………….…… iii
Daftar Isi……………………………………………………………………….. iv
Daftar Tabel…………………………………………………………………… vi
Daftar Gambar ……………………………………………………………….. vii
Daftar Lampiran………………………………………………………………. viii
Abstrak…..……….…………………………………………………………… ix
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………….
A. Latar Belakang Masalah .……………………………………….
B. Rumusan Masalah ………………………………………………
C. Tujuan Penelitian………………………………………………
D. Manfaat Penelitian………………….…………………………..
E. Hipotesis Penelitian…………………………………………….
F. Pembatasan Masalah……………………………………………

BAB II KAJIAN PUSTAKA


A. Masalah/Penyakit yang akan Diselesaikan ………………….
B. Tindakan yang dilakukan….…………………………………
C. Penerapan Tindakan untuk Menyelesaikan Masalah ……….

BAB III METODE PENELITIAN.…………………..……………………….


A. Lokasi dan Waktu

B. Prosedur Penelitian

1. Perencanaan ……………………………………
2. Implementasi…………………………………..
3. Pengamatan ……………………………………
4. Refleksi ………………………………………..

BAB IV PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN ………………………..


A. Paparan Data …………………………………………………………………….

1. Siklus I

a. Perencanaan

b. Pelaksanaan

c. Penilaian

2. Siklus II

a. Perencanaan

b. Pelaksanaan

c. Penilaian

3. Siklus III

a. Perencanaan

b. Pelaksanaan

c. Penilaian

4. Siklus berikutnya
B. Pembahasan ……………………………………………………………………..
BAB V PENUTUP
……………………………………………………………………………….
A. Kesimpulan ……………………………………………………………………..
B. Saran ……………………………………………………………………………….
DAFTAR RUJUKAN………………………………………………………….
LAMPIRAN-LAMPIRAN…………….. ……………………………………

Sumber : wahidmurni.blogspot.com