Anda di halaman 1dari 37

KARYA TULIS ILMIAH

HUBUNGAN PERNIKAHAN DINI dengan KEMATANGAN

EMOSI Di WILAYAH KECAMATAN TALANG, KABUPATEN

TEGAL

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat

Sarjana Kedokteran pada Fakultas Kedokteran dan Imu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh:

KHAFID ASY’ ARI

20080310117

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2011

i
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..............................................................................................ii

BAB I......................................................................................................1

PENDAHULUAN.......................................................................................1

LATAR BELAKANG PENELITIAN............................................................1

B. RUMUSAN MASALAH.......................................................................6

C. TUJUAN PENELITIAN........................................................................6

1. Tujuan umum:..............................................................................6

Menganalisis hubungan pernikahan dini dengan kematangan


emosi...............................................................................................6

2. Tujuan khusus:.............................................................................6

D. MANFAAT PENELITIAN.....................................................................6

1. Manfaat Teoritis:..........................................................................6

2. Manfaat Praktis:...........................................................................6

E. KEASLIAN PENELITIAN ....................................................................7

BAB II......................................................................................................8

TINJAUAN PUSTAKA................................................................................8

A. PERNIKAHAN...................................................................................8

1. Pengertian....................................................................................8

2. Tujuan Pernikahan.......................................................................9

B. MENIKAH DINI ..............................................................................10

1. Pengertian Menikah Dini ...........................................................10

2. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Menikah Dini.....................11

3. Penyebab Menikah Dini..............................................................13

4. Dampak Menikah Dini ...............................................................13

ii
C. KEMATANGAN EMOSI....................................................................14

1. Pengertian kematangan emosi..................................................14

2. Ciri – ciri kematangan emosi......................................................14

3. Faktor – faktor yang mempengaruhi kematangan emosi...........16

D. LANDASAN TEORI..........................................................................18

E. KERANGKA TEORI PENELITIAN.......................................................19

F. HIPOTESIS PENELITIAN..................................................................20

BAB III...................................................................................................21

METODE PENELITIAN............................................................................21

A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN.............................................21

B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN.................................................21

C. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN..............................................21

1. Populasi.....................................................................................21

2. Sampel.......................................................................................22

D. VARIABEL PENELITIAN...................................................................23

E. DEFINISI OPERASIONAL.................................................................23

F. ALAT UKUR PENELITIAN................................................................24

1. Kuesioner Kematangan Emosi...................................................24

G. UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS..................................................25

H. JALANNYA PENELITIAN..................................................................26

1. Tahap persiapan........................................................................26

2. Tahap Pengambilan Data ..........................................................27

I. ANALISIS DATA...............................................................................27

Editing............................................................................................27

Koding ...........................................................................................27

Tabulasi.........................................................................................28

iii
Analisis data...................................................................................28

J. KELEMAHAN DAN KESULITAN PENELITIAN......................................29

1. Kelemahan peneliti....................................................................29

2. Kesulitan Penelitian....................................................................30

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................31

iv
BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG PENELITIAN

Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai kebutuhan demi

melangsungkan eksistensinya sebagai makhluk. Kebutuhan tersebut meliputi

kebutuhan psikologis dimana mulai tertarik dengan jenis kelamin lain dan mulai

memadu kasih, kebutuhan sosial seperti membutuhkan hubungan dengan orang

lain dan kebutuhan religi yaitu adanya kewajiban untuk menikah dari kepercayaan

dan agama yang dianut. Semua kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan adanya

pernikahan, karena dengan pernikahan semua kebutuhan tersebut dapat dipenuhi

tanpa melanggar norma dan aturan yang ada di masyarakat. Secara agama semua

kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dan dilakukan dengan sah dan halal dengan

melalui pernikahan (Wulandari,2010).

Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang istrinya (dengan kasih


dan sayang) dan istrinya juga memandang suaminya (dengan kasih dan sayang)
maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih dan sayang. Dan
apabila seorang suami memegangi jemari istrinya (dengan kasih dan sayang)
maka berjatuhanlah dosa – dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id).
Pernikahan menurut undang – undang pernikahan No.1 tahun 1974 adalah

ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri

dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan dan kekal

berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan syarat antara lain pernikahan

didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai, dan untuk seorang yang belum

1
mencapai usia 21 tahun harus mendapat ijin dari orang tua. Batas umur

pernikahan telah ditetapkan dalam pasal 7 ayat (1) UU No. 1 Tahun 74, yaitu

pernikahan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan

pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Namun dalam prakteknya masih

banyak kita jumpai pernikahan pada usia muda atau di bawah umur. Padahal

pernikahan yang sukses pasti membutuhkan kedewasaan tanggung jawab secara

fisik maupun mental untuk bisa mewujudkan harapan yang ideal dalam kehidupan

berumah tangga (Puspitasari,2006). Disebutkan dengan jelas dalam Undang –

Undang Pernikahan bahwa usia pernikahan bagi wanita 16 tahun dan 19 tahun

bagi pria, saat usia seseorang telah dikatakan matang secara fisiologis, namun

belum matang secara psikologis karena menurut Hurlock usia 16 dan 19 tahun

masih digolongkan umur remaja atau adolescence (Walgito,2004a).

“Dan nikahkanlah orang – orang yang sendirian diantara kamu, dan orang
– orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang laki – laki dan hamba
sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin allah akan mengkayakan mereka
dengan karunianya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha
Mengetahui.” (An Nuur 32).
Pernikahan dini masih banyak dilakukan di negara – negara, khususnya di

negara berkembang. Sayangnya masih belum banyak di lakukan penelitian. Raj et

al.(,2009) menyebutkan di India prevalensi wanita menikah dibawah usia 16 tahun

sebesar 22,6% dan di bawah usia 13 tahun sebesar 2,6%. Rashid (2006)

mendapatkan sekitar 153 remaja wanita di Bangladesh menikah pada usia 13

tahun dan 75% menikah sebelum usia 16 tahun,hanya 5% wanita usia berusia 18

tahun.

2
Pernikahan terjadi pada usia dewasa awal (sekitar umur 21 tahun) karena

Menurut pendapat Havigurst tugas perkembangan yang menjadi karakteristik

masa dewasa awal adalah mulai mencari dan menemukan calon pasangan hidup,

membina kehidupan rumah tangga, meniti karir, membesarkan anak-anak dan

mengelola rumah tangga, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab

(Dariyo,2004; Hurlock, 1997). Pendapat lain dikemukakan oleh erikson bahwa

masa perkembangan dewasa awal ditandai membina hubungan intim, yang

menurut perkembangan seksual yang mengarah pada perkembangan hubungan

seksual dengan lawan jenis yang ia cintai, yang dipandang sebagai teman berbagi

suka dan duka. Di hampir setiap masyarakat, hubungan seksual dan keintiman

tersebut diperoleh melalui lembaga pernikahan atau perkawinan (Desmita, 2006).

Dengan kata lain pada usia masa dewasa awal seseorang dihadapkan pada

kodrat alam yaitu untuk hidup bersama dalam suatu pernikahan. Pernikahan

merupakan bentuk hubungan antara laki-laki dan perempuan dewasa yang

diterima serta diakui secara universal (Wulandari, 2010).

Pernikahan seorang laki-laki dan seorang wanita memiliki satu tujuan

pasti. Dalam pasal 1 Undang-Undang Pernikahan, tujuan pernikahan adalah

untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang

Maha Esa (Walgito, 2004a). Memperoleh kebahagiaan juga merupakan sesuatu

yang didambakan oleh pasangan suami istri dalam perkawinan dan kehidupan

rumah tangga yang akan dicapai atas kerja sama yang baik antara suami dan istri

(Tulus, 2009).

3
Banyak masalah yang menyertai pernikahan wanita usia belia, usia belia

merupakan bukan masa reproduksi yang sehat. Terdapat banyak bukti yang

menunjukan bahwa pernikahan dan kehamilan usia belia membahayakan

kesehatan ibu dan bayinya. Penelitian yang dilakukan oleh Grogger dan

Bronars(1993) menyebutkan bahwa pernikahan dan kehamilan pada umur belia

berkaitan dengan kondisi yang serba merugikan, seperti rendahnya tingkat

pendidikan wanita, rendahnya tingkat partisipasi wanita, dan pendapatan keluarga

yang rendah. Sehingga pada hakikatnya pernikahan pada usia muda menunjukkan

ketidakberdayaan wanita untuk merintis masa depan dan memilih sendiri

pasangan hidupnya. Pernikahan usia muda pada akhirnya akan memicu timbulnya

berbagai masalah yang harus mereka hadapi (Hanum, 1997)

Wanita yang menikah pada usia dini mempunyai waktu yang lebih

panjang beresiko untuk hamil dan angka kelahiran juga lebih tinggi. Pernikahan

usia remaja juga berdampak pada rendahnya kualitas keluarga, baik ditinjau dari

segi ketidaksiapan secara psikis dalam menghadapi persoalan sosial maupun

ekonomi rumah tangga, resiko tidak siap mental untuk membina pernikahan dan

menjadi orangtua yang bertanggung jawab, kegagalan pernikahan, kehamilan usia

dini beresiko terhadap kematian ibu karena ketidaksiapan calon ibu remaja dalam

mengandung dan melahirkan bayinya. Kehamilan usia dini ada resiko

pengguguran kehamilan yang dilakukan secara ilegal dan tidak aman secara medis

yang berakibat komplikasi aborsi. Angka kehamilan usia remaja yang mengalami

komplikasi aborsi. Angka kehamilan usia remaja yang mengalami komplikasi

aborsi berkisar antara 38 sampai 68% (Wilopo,2005).

4
Wanita yang menikah dini akan menimbulkan stres dalam keluarga.

Adanya stres dalam keluarga akan berakibat terhadap sikap permisif terhadap

hukuman badan sebagai bagian dari mendidik anak. Semakin baik kematangan

emosi wanita maka semakin siap wanita dalam menghadapi pernikahan.

Sebaliknya apabila semakin kurang kematangan emosi wanita maka akan semakin

tidak siap wanita dalam menghadapi pernikahan (Maryati,2007; cit wulandari,

2010).

Adhim (2002) menyebutkan kema-tangan emosi merupakan salah satu

aspek yang sangat penting untuk menjaga kelangsungan pernikahan di usia muda.

Mereka yang memiliki kematangan emosi ketika memasuki pernikahan cenderung

lebih mampu mengelola perbedaan yang ada di antara mereka. Kematangan emosi

adalah suatu keadaan untuk menjalani kehidupan secara damai dalam situasi yang

tidak dapat diubah, tetapi dengan keberanian individu mampu mengubah hal-hal

yang sebaiknya diubah, serta adanya kebijaksanaan untuk menghargai perbedaan

(Rice, 2004).

Masyarakat pada umumnya mengatakan bahwa wanita lebih dewasa dan

lebih matang secara emosional daripada laki-laki (Santrock, 2003). Berbicara

tentang emosi, kita mungkin tahu tentang steriotipe utama tentang gender dan

emosi. Wanita lebih emosional dan penuh perasaan sedangkan laki-laki lebih ra-

sional dan sering menggunakan logika. Steriotipe ini sangat kuat dan meresap

kesannya pada budaya masyarakat (Shields dalam Santrock, 2003).

5
B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan pada latar belakang penelitian di atas maka rumusan masalah

penelitiannya adalah apakah ada hubungan antara pernikahan dini dengan

kematangan emosi.

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan umum:

Menganalisis hubungan pernikahan dini dengan kematangan emosi.

2. Tujuan khusus:

a. Mengetahui gambaran kematangan emosi pada pasangan di Kecamatan Talang,

Tegal.

b. Mengetahui tingkat kematangan emosi pada pasangan di Kecamatan Talang,

Tegal.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis:
Menambah pengetahuan mengenai hubungan kematangan emosi individu

terhadap pasangan menikah dini.

2. Manfaat Praktis:
a. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan mengenai hubungan pasangan menikah dini

dengan kematangan emosi.

6
b. Bagi Bidang Pemerintah

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi lembaga

pengambilan kebijakan,mengingat dampak dari pernikahan dini kepada

rendahnya kualitas keluarga.

c. Bagi Bidang Keilmuan

Penelitian ini bagi intitusi pendidikan dapat menambah khasanah keilmuan

dan data kepustakaan, terutama yang terkait dengan faktor yang

berhubungan pernikahan dini.

E. KEASLIAN PENELITIAN

Sepengetahuan peneliti, penelitian tentang pernikahan dini atau

kematangan emosi telah dilakukan oleh beberapa peneliti berikut:

1. Desiana Wulandari (2010) melakukan penelitian dengan judul hubungan

kematangan emosi dengan kebahagian perkawinan individu terhadap

pasangan di Kecamatan Turi Kabupaten Sleman. Penelitian ini menggunakan

metode descriptif korelasi. Dengan sampel 57 orang. Hasil penelitian didapat

nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,698 dengan tingkat signifikansi (p) =

0,000. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti pada variabel

dan lokasi penelitian. Peneliti menggunakan variabel bebas pernikahan dini

dan variabel terikat kematangan emosi. Populasi penelitian yaitu pasangan

suami istri di Kecamatan Talang, Tegal.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PERNIKAHAN

1. Pengertian

Pernikahan menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974 pasal 1,

pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita

sebagai seorang suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)

yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kitab Undang-

Undang Hukum Perdata pernikahan adalah pertalian yang sah antara seorang laki-

laki dengan seorang perempuan untuk waktu yang lama. Pernikahan menurut

hukum adat suatu pernikahan merupakan urusan kerabat/urusan masyarakat,

urusan pribadi satu sama lain dalam hubungan yang berbeda-beda, atau

merupakan salah satu cara untuk menjalankan upacara-upacara yang banyak corak

ragamnya menurut tradisi masing-masing tradisi. Hukum agama adalah suatu

perbuatan yang suci (sakramen, samskara) yaitu pernikahan adalah suatu

perikatan antara dua belah pihak yaitu pihak pria dan pihak wanita dalam

memenuhi perintah dan anjuran Yang Maha Esa, agar kehidupan keluarga dan

berumah-tangga serta berkerabat bisa berjalan dengan baik sesuai dengan anjuran

agamanya. Hukum Islam pernikahan adalah akad atau persetujuan antara calon

suami dan calon istri karenanya berlangsung melalui ijab dan qobul atau serah

terima. Apabila akad nikah tersebut telah dilangsungkan, maka mereka telah

8
berjanji dan bersedia menciptakan rumah-tangga yang harmonis, akan hidup

semati dalam menjalani rumah tangga bersama-sama (Nasruddin, 1976).

Pengertian Pernikahan Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

tentang Pernikahan.

Menurut ketentuan Pasal 1 UU No.1 Tahun 1974 tentang Pernikahan,

bahwa pernikahan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang

wanita, sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga ( rumah tangga )

yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sesuai dengan

rumusan pengertian pernikahan tersebut, maka dapat diketahui bahwa dalam suatu

pernikahan ada 3 ( tiga ) unsur pokok yang terkandung didalamnya yaitu sebagai

berikut:

a. Pernikahan sebagai ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang

wanita.

b. Pernikahan bertujuan untuk membentuk keluarga ( rumah tangga ) yang

bahagia dan kekal.

c. Pernikahan berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa.

2. Tujuan Pernikahan

Basri (1999) cit Dewi (2007) di dalam pernikahan seseorang dituntut

untuk berbagi kehidupan bersama pasangan seumur hidupnya. Karena menjalani

pernikahan sampai mati, maka melalui pernikahan diharapkan dapat memberikan

kebahagiaan lahir batin pada setiap pasangan yang mengikatkan diri menjadi

9
sepasang suami istri. Kebahagiaan lahir batin merupakan tujuan dari pernikahan

tersebut.

Pernikahan Undang-Undang Pernikahan No. 1 adalah ikatan lahir batin antara

seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk

keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang

Maha Esa. Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan hidup setiap orang berbeda,

termasuk dalam hal tujuan pernikahan bagi masing-masing individu. Namun,

demi membentuk keluarga yang bahagia maka suami istri perlu mempersatukan

tujuan yang akan dicapai dalam pernikahan itu (Walgito, 2004a).

B. MENIKAH DINI

1. Pengertian Menikah Dini


Pada pasal 6 ayat 2 undang – undang no 1 tahun 1974, disebutkan bahwa

“untuk melangsungkan pernikahan, seorang yang belum mencapai usia 21 tahun

harus mendapatkan izin dari kedua orangtua”. Jelas bahwa undang – undang

tersebut menganggap orang di atas usia tersebut bukan lagi anak – anak sehingga

mereka sudah boleh menikah. Walaupun begitu, selama seseorang belum

mencapai umur 21 tahun, masih diperlukan izin dari orangtua untuk menikah.

Sedangkan dalam undang - undang pernikahan no 1 (1974), memberikan

batasan usia minimal menikah untuk pria adalah 19 tahun dan wanita 16 tahun. Di

dalam perubahan undang – undang pernikahan no 1 (1974), menaikkan batasan

usia minimum tersebut menjadi untuk pria 25 tahun dan wanita 20 tahun.

Meskipun sudah jelas terdapat pasal –pasal dan undang – undang yang membahas

tentang batasan usia pada pria atau wanita yang ingin melangsungkan pernikahan.

10
Tetap saja, masih ada pasangan yang melangsungkan pernikahan dibawah usia

yang sudah ditentukan oleh undang – undang pernikahan.

2. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Menikah Dini


Budinurani (2009) mengemukakan bahwa menikah dini dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu:

a. Faktor Adat
Adat mendorong pernikahan pada usia yang masih muda, karena

seseorang yang terlambat menikah akan membuat malu keluarga.

b. Faktor Agama
Dalam agama islam, menikah itu disyariatkan dan oleh beberapa

pemeluknya dianggap sebagai sesuatu yang harus disegerakan agar terhindar dari

hal – hal yang tidak diinginkan. Bagi umat islam, menikah itu hukumnya adalah

wajib, karena dengan menikah orang akan dikaruniakan keturunan dan

meneruskan garis kehidupan, agama islam sangat melarang terjadinya seks bebas

atau seks diluar nikah.

c. Faktor Ekonomi
Apabila seseorang anak telah menikah berarti orangtua bebas dari

tanggung jawab, sehingga secara ekonomi mengurangi beban keluarga.

d. Faktor Pendidikan
Tiadanya harapan mengenai diri individu di hari depan mendorong anak

menikah pada usia muda. Pernikahan seperti ini yang kurang diperhitungkan anak

masa usia remaja, mereka pikir dengan menikah di usia muda akan mendatangkan

kebahagiaan dan bisa hidup mapan.

11
e. Faktor Hukum Dan Peraturan
Di Indonesia dalam undang – undang pernikahan N0. 1 / 1974 dan

peraturan pelaksanaannya, antara lain ditetapkan bahwa usia minimum bagi

wanita yang akan menikah adalah 20 tahun dan pada laiki – laki batas minimum

untuk bisa menikahi seorang wanita adalah berusia 25 tahun.

f. Faktor Hukum
Adat dan peraturan tentang perceraian, semakin muda orang bercerai

dalam suatu masyarakat, semakin banyak pernikahan dini dalam masyarakat itu

sendiri. Peraturan juga memiliki peraturan undang – undang yang mengaturnya,

hal ini agar orang ingin menikah tidak mudah untuk kawin cerai.

g. Faktor Larangan Perilaku Seksual


pada masyarakat yang melarang hubungan seks diluar pernikahan terdapat

kecendrungan untuk lebih untuk lebih cepat menikah. Untuk bisa memenuhi

hasrat seksualnya. Kebutuhan biologisnya juga sangat berpengaruh dalam

kehidupan individu itu sendiri.

h. Romantis Mengenai Kehidupan Pernikahan


Suatu daya tarik yang besar mengenai pernikahan adalah persepsi

seseorang bahwa kehidupan berumah tangga merupakan perpanjangan yang

romantis dari hubungan sesama muda mudi masih pacaran.

i. Stimulasai Dorongan seksual


Dalam dekade 80 di sekitar kita makin banyak hal – hal yang merangsang

nafsu remaja, seperti misalnya film cabul, bacaan porno, lokasi WTS, taman –

taman hiburan dan lain sebagainya. Sehingga mudah dimengerti bahwa makin

12
banyak remaja yang tidak dapat menahan diri, akhirnya banyak memikirkan

perbuatan seksual dan barakibat menikah pada usia muda.

j. Pendidikan Seks
Kurang adanya pendidikan seks yang dapat dipertanggung jawabkan untuk

remaja, menyebabkan ketidaktahuan mereka tentang seks. Akibatnya para remaja

putri mudah menjadi korban perbuatan nafsu seksual.

3. Penyebab Menikah Dini


Pernikahan usia muda atau yang lebih sering disebut dengan pernikahan

dini adalah realita yang setidaknya dipicu oleh dua faktor dan membaginya dalam

dua golongan. Faktor penyebab menikah muda ada dua golongan yaitu pertama

dilatar belakangi oleh kesadaran moral yang sangat tinggi terhadap agama untuk

memelihara dari perbuatan hina dan yang kedua karena keterpaksaan. Pemicu

terbesarnya dalam hal ini adalah hamil di luar nikah (Budinurani, 2009).

4. Dampak Menikah Dini


Menikah muda memiliki dampak negatif maupun dampak positif. Dampak

positifnya dari menikah muda adalah dapat dicegahnya seks bebas dikalangan

remaja dan beban orangtua dari tanggung jawab ekonomi keluarga dapat lebih

ringan.

Menurut Sampoerno dan Azwar (1987) dampak negatif pernikahan dini

dilihat dari sisi kesehatannya sangat kurang baik untuk alat – alat reproduksi

manusia itu sendiri Di lain pihak masalah mendapatkan pekerjaan dan pemenuhan

kebutuhan ekonomi sangat menjadi sebab utama keretakan hubungan sebuah

keluarga yang ditimbulkan dari suatu pernikahan dini.

13
C. KEMATANGAN EMOSI

1. Pengertian kematangan emosi


Emosi merupakan sebutan yang kita berikan kepada perasaan tertentu,

mempengaruhi bagaimana kita berfikir mengenai perasaan, dan bagaimana kita

bertindak. Perasaan tersebut antara lain sedih, gembira, kecewa, semangat, marah,

benci, atau cinta (albin, 1994).

2. Ciri – ciri kematangan emosi


Hurlock (1994) mengemukakan bahwa kematangan emosi ditandai dengan

individu tidak melepaskan emosi di depan yang lain tetapi menunggu waktu dan

tempat yang tepat. Individu tersebut mengkaji situasi secara kritis sebelum

berespon secara emosional, bukan bereaksi tanpa berpikir seprti anak – anak atau

orang tidak matang.

Menurut walgito (2004a) ada beberapa ciri kematangan emosi, yaitu:

a. Dapat menerima baik keadaan dirinya maupun keadaan orang lain seperti

apa adanya, sesuai dengan keadaan obyektifnya. Hal ini disebabkan karena

seseorang yang telah matang emosinya dapat berpikir secara lebih baik,

dapat berpikir secara obyektif.

b. Tidak bersifat impulsif, akan merespon stimulus dengan cara berpikir baik,

dapat mengatur pikirannya untuk pikirannya untuk memberikan tanggapan

terhadap stimulus yang mengenainya.

c. Dapat mengontrol emosi dan mengekspresikan emosinya dengan baik.

14
d. Bersifat sabar, penuh pengertian dan pada umumnya cukup mempunyai

toleransi yang baik.

e. Mempunyai tanggung jawab yang baik, dapat berdiri sendiri, tidak mudah

mengalami frustasi dan akan menghadapi dengan penuh pengertian.

Rogers (1981) menyatakan bahwa ada tujuh karakteristik yang dapat

mengindikasikan kematangan emosi, yaitu :

a. Kemandirian, adalah kemampuan untuk menentukan dan memutuskan apa

yang dikehendakinya serta tanggung jawab atas keputusannya itu.

b. Mampu menerima realita, yaitu kemampuan untuk menerima kenyataan

bahwa dirinya tidak selalu sama dengan orang lain, bahwa ia memiliki

kesempatan, kemampuan serta tingkat intelegensia yang berbeda dengan

orang lain. Dengan menyadari hal tersebut ia dapat menentukan tingkah

laku yang tepat.

c. Mampu beradaptasi, yaitu kemampuan untuk menerima orang lain atau

situasi tertentu dengan cara yang berbeda – beda. Dengan kata lain, dapat

bersikap fleksibel dalam menghadapi orang lain atau situasi tertentu.

d. Mampu merespon secara peka terhadap orang lain. Kemampuan merespon

ini harus melibatkan kesadaran bahwa setiap individu adalah unik dan

memiliki hak – haknya sendiri, dengan demikian diharapkan seseorang

akan mampu merespon dengan tepat keunikan masing – masing individu.

15
e. Memiliki kapasitas untuk seimbang secara emosional. Individu dengan

tingkat kematangan emosi yang tinggi menyadari bahwa setiap makhluk

sosial yang memiliki ketergantungan pada orang lain, namun ia tidak harus

takut bahwa ketergantungan itu akan menyebabkan ia diperalat oleh orang

lain.

f. Mampu berempati pada orang lain sehingga dapat memahami perasaan

dan pikiran orang lain.

g. Mampu mengontrol permusuhan dan amarah. Untuk dapat mengontrol

amarahnya harus mengenali batas sensitivitas dirinya. Jadi dengan

mengetahui hal – hal apa saja yang membuat dirinya marah, ia akan dapat

mengontrol amarahnya.

3. Faktor – faktor yang mempengaruhi kematangan emosi


walgito (2004a) mengatakan bahwa kematangan emosi berkaitan erat dengan

umur individu. Makin bertambahnya usia seseorang diharapkan emosinya akan lebih

matang dan individu akan lebih menguasai atau mengendalikan emosinya. Namun, usia

yang sama antara pria dan wanita tidak menjamin kematangan keduanya sama. Pada

umumnya wanita lebih dulu mencapai kematangan daripada pria.

Rogers (1981) menguraikan beberapa faktor pengaruh kematangan emosi antara lain

adalah :

Keluarga
Pengalaman dengan keluarga mempengaruhi perkembangan emosi seseorang dan

menumbuhkan perasaan kesepian, ketakutan, dan kecemasan akan perpisahan.

16
Jenis kelamin
Perempuan lebih matang emosinya daripada laki – laki. Peneliti Barkeley

menunjukkan bahwa perilaku perempuan terganggu pada awal masa remaja, barang

kali karena budaya permisif pada perempuan yang mengakibatkan perempuan cepat

emosi, tetapi lebih cepat stabil dibanding laki – laki dan perempuan lebih dapat

mengekspresikan emosinya daripada laki – laki.

Televisi
Televisi memberikan gambaran yang membingungkan antara yang nyata dan tidak

nyata. Efeknya sangat besar terutama film – film keras sehingga mengakibatkan

munculnya agresi.

Menurut young (1985) faktor yang mempengaruhi kematangan emosi antara lain

adalah:

Faktor lingkungan
Faktor lingkungan tempat hidup termasuk di dalamnya yaitu lingkungan keluarga

dan lingkungan masyarakat. Keadaan keluarga yang tidak harmonis, terjadi keretakan

dalam hubungan keluarga yang tidak ada ketentraman dalam keluarga dapat

menimbulkan presepsi yang negatif pada diri individu. Begitu pula lingkungan sosial

yang tidak memberikan rasa aman dan tidak mendukung juga akan menggangu

kematangan emosi.

Faktor individu
Faktor individu meliputi faktor kepribadian yang dipunyai individu. Adanya

presepsi pada setiap individu dalam mengartikan sesuatu hal juga dapat menimbulkan

gejolak emosi pada diri individu. Hal ini disebabkan oleh pikiran negatif, tidak

realistik, dan tidak sesuai dengan kenyataan. Kalau individu dapat membatalkan

17
pikiran –pikiran yang krliru menjadi pikiran – pikiran yang benar, maka individu

dapat mempersepsikan sesuatu hal dengan baik.

Faktor pengalaman
Pengalaman yang diperoleh individu selama hidupnya akan memberikan

pengaruh yang positif terhadap individu, akan tetapi pengalaman yang tidak

menyenangkan bila selalu terulang dapat memberi pengaruh negatif terhadap individu

maupun terhadap kematangan emosi individu tersebut.

D. LANDASAN TEORI

Perkawinan merupakan bersatunya seorang laki – laki dan seorang

perempuan dalam suatu ikatan suci/ sacral menjadi suami istri. Perkawinan ini

dilaksanakan pada usia dewasa awal yaitu antara umur 18-40 tahun. Usia dewasa

awal mempunyai tugas perkembangan yaitu menikah dan bekerja.

Perkawinan dua individu memiliki tujuan yaitu memperoleh kebahagian

perkawinan. Kebahagian perkawinan mempunyai patokan yaitu apabila dalam

sebuah keluarga tidak terdapat goncangan yang berarti sehingga akan membuat

anggota yang ada di dalamnya akan hidup lebih lama dan lebih sehat.

Goncangan atau konflik – konflik dalam perkawinan bisa diminimalkan

jika masing – masing individu memiliki kematangan emosi yang baik. Karena

kematangan emosi adalah salah satu faktor – faktor yang mempengaruhi

kebahagian perkawinan.

Masa dewasa awal merupakan masa kematangan, termasuk kematangan

emosi. Kematangan emosi adalah seorang individu dapat melihat situasi secara

18
kritis sebelum berespon secara emosional sehingga tidak bereaksi seperti anak –

anak dan orang yang tidak matang, serta emosinya stabil.

E. KERANGKA TEORI PENELITIAN

Pernikahan Kematangan
Dini Emosi

- Faktor Adat
- Usia
- Faktor Agama
- Keluarga
- Faktor Ekonomi
- Jenis kelamin
- Faktor Pendidikan
- Televisi
- Faktor Hukum dan Peraturan
- Lingkungan
- Faktor Hukum
- Individu
- Faktor Pelarangan Perilaku
Seksual - Pengalaman

- Romantis Mengenai
Kehidupan Pernikahan

- Stimulasi Dorongan Seksual

- Pendidikan Seks

19
F. HIPOTESIS PENELITIAN

Terdapat hubungan kematangan emosi antara individu yang menikah dini dengan

yang tidak menikah dini.

20
BAB III

METODE PENELITIAN

A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental, dan dilakukan

dengan menggunakan metode descriptive analytic correlational dengan

rancangan penelitian cross sectional. Metode penelitian tersebut digunakan oleh

peneliti untuk dapat mengetahui hubungan antara pernikahan dini dengan

kematangan emosi.

B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian dilakukan di wilayah Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.

Waktu penelitian dilaksanakan antara bulan Juli sampai Agustus 2011.

C. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi

dalam penelitian ini adalah individu yang menikah pada bulan januari sampai

agustus 2010 di Kecamatan Talang, Tegal. Total populasi saat dilakukan studi

pendahuluan tanggal 22 April 2011 terdapat 42 pasangan yang berdomisili

diwilayah Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.

21
2. Sampel
Arikunto (2006) menyebutkan bahwa sampel adalah sebagian atau wakil

populasi yang diteliti. Apa yang dipelajari dari sampel, kesimpulannya akan dapat

diberlakukan untuk populasi. Oleh karena itu sampel yang diambil dari populasi

harus betul – betul representatif (Sugiyono, 2007).

Sampel yang dibutuhkan untuk populasi kecil atau di bawah 10.000 dapat

menggunakan rumus formula yang lebih sederhana seperti berikut (Notoatmodjo,

2002):

n= N

1+ N(d2)

N = besar populasi

n = besar sampel

d = tingkat kepercayaan/ketetapan yang diinginkan (d=0,1)

berdasarkan rumus di atas, maka besar sampel yang dibutuhkan dalam

penelitian ini adalah 30 pasangan responden. Pengambilan sampel dilakukan

dengan proportional sampling. Teknik pengambilan subjek dari setiap wilayah

ditentukan seimbang atau sebanding dengan banyaknya subjek dalam masing –

masing wilayah (Arikunto, 2006).

Kecamatan Talang terbagi menjadi 19 kelurahan, yaitu Kelurahan

Cankring, Kelurahan Dawuhan, Kelurahan Dukuh Malang, Kelurahan Bengle,

Kelurahan Gembang Kulon, Kelurahan Getas Kerep, Kelurahan Kajen, Kelurahan

22
Kaladawa, Kelurahan Kali Gayam, Kelurahan Kebasen, Kelurahan Langgen,

Kelurahan Pacul, Kelurahan Pasangan, Kelurahan Pegirikan, Kelurahan

Pekiringan, Kelurahan Pesayangan, Kelurahan Talang, Kelurahan Tegal Wangi,

Kelurahan Wangandawa. Peneliti mengambil sampel secara penuh.

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:


1) Individu menikah pada tahun 2010.

2) Individu yang menikah saat umur di bawah 21 tahun.

3) Tinggal diwilayah kecamatan Talang saat pengambilan data.

4) Bersedia menjadi responden.

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:


1) Pasangan poligami.

2) Mengisi kuesioner kurang lengkap.

D. VARIABEL PENELITIAN

Variabel bebes yaitu pernikahan dini, sedangkan terikat yaitu kematangan

emosi seorang individu.

E. DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional adalah suatu definisi mengenai variabel yang

dirumuskan berdasarkan karakteristik - karakteristik variabel tersebut yang dapat

diamati (Azwar, 2007).

23
F. ALAT UKUR PENELITIAN

1. Kuesioner Kematangan Emosi


Skala pengukuran kematangan emosi merupakan modifikasi dari skala

kematangan emosi yang diadaptasi dari Riwayat (2006). Kuesioner kematangan

emosi tersebut terdiri dari 55 item terdiri dari 26 pernyataan favourable dan 29

pertanyaan unfavourable. Pada pertanyaan favoureble skor tertinggi adalah 4

untuk jawaban sangat sesuai (SS), untuk 3 jawaban sesuai (S), 2 untuk jawaban

tidak sesuai (TS), dan 1 untuk jawaban sangat tidak sesuai (STS) sedangkan untuk

pertanyaan unfavoureble skor tertinggi adalah 1 untuk sangat sesuai (SS), 2 untuk

jawaban sesuai (S), 3 untuk jawaban tidak sesuai (TS), dan 4 untuk jawaban

sangat tidak sesuai (STS).

24
Tabel 1. Kisi-kisi Kuesioner untuk mengukur Tingkat Kematangan Emosi

Variabel kematangan emosi dikategorikan menjadi sangat rendah,

rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi (Azwar, 2009a).

G. UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS

Uji validitas dan rehabilitas instrumen ini adalah uji terpakai.

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau

kesahihan sesuatu instrument. Sebuah instrumen dikatakan vaild apabila mampu

25
mengukur apa yang diinginkan dan apabila dapat mengungkapkan data dari

variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto, 2006).

Arikunto (2006) menyebutkan bahwa reabilitas menunjuk pada

suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk

digunakan sebagai alat ukur pengumpul data karena instrumen tersebut sudah

baik.

Analisis data validitas instrumen dilakukan dengan

mengkorelasikan skor faktor dengan skor total dengan menggunakan teknik

korelasi pearson product moment (Sugiyono, 2007). Bila korelasi tiap faktor

positif dan besarnya 0,3 ke atas maka faktor tersebut merupakan konstruk yang

kuat.

Angka koefisien reliabilitas berada pada rentang 0 – 1,00. Semakin besar

koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 maka semakin tinggi reliabilitasnya.

Begitupula apabila angka koefisiennya mendekati 0 maka semakin rendah

reliabilitasnya (Azwar, 2009b)

H. JALANNYA PENELITIAN

1. Tahap persiapan
Tahap persiapan meliputi studi pendahuluan pada bulan April 2011 di

Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal dan pembuatan proposal dari bulan Febrari

2011 sampai April 2011. Setelah ujian proposal dan revisi proposal, peneliti

mengajukan permohonan izin penelitian ke pihak universitas, propinsi, kabupaten,

dan kelurahan.

26
2. Tahap Pengambilan Data
Peneliti melaksanakan uji validitas dan reliabilitas terhadap responden

yang sama dengan responden penelitian dan dilaksanakan bersamaan dengan saat

pengambilan data (uji terpakai). Peneliti melakukan pengambilan data dengan

berkunjung ke rumah masing-masing responden. Peneliti memberitahukan tujuan

penelitian, permohonan menjadi responden, dan setelah responden menyetujui

maka peneliti menjelaskan cara pengisian kuesioner. Sebagian besar responden

meminta peneliti untuk mengambil kuesioner yang telah diisi pada hari yang

berbeda. Peneliti melakukan pengecekan kuesioner setelah pengambilan

kuesioner.

Kegiatan pengambilan data ini dilakukan selama bulan Juli sampai

Agustus 2011.

Setelah data terkumpul dilanjutkan dengan tahap analisis data serta pembahasan

dan penyusunan laporan dan diakhiri dengan ujian hasil.

I. ANALISIS DATA

Tahap – tahap analisa data yang dilakukan adalah:

Editing
Editing adalah pengecekan atau pengkoreksian data yang telah dikumpulkan.

Koding
Koding adalah pemberian atau pembuatan kode – kode pada tiap – tiap data

yang masuk pada kategori yang sama.

27
Tabulasi
Tabulasi adalah membuat tabel – tabel yang berisikan data yang telah diberi

kode, sesuai dengan analisis yang dibutuhkan.

Analisis data
a. Analisa Univariat

Analisa Univariat merupakan analisa untuk mengetahui distribusi frekuensi

masing – masing variabel, yaitu:

1). Tingkat kematangan emosi individu di Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.

Pengukuran tingkat kematangan emosi menggunakan skala psikologis

kematangan emosi yang terdiri dari 38 item yang masing – masing itemnya diberi

skor mulai 1, 2, 3, sampai 4. Dengan demikian, skor terbesar 152 (yaitu 38x4).

Maka rentang skor skala sebesar 114 (yaitu 152 – 38) dibagi dalam enam satuan

deviasi standar (σ ) sehingga diperoleh 114/6 = 19 dan mean teoritisnya adalah

µ = 3 8 x3 = 114.

b. Analisa Bivariat

Analisa Bivariat digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara

dua variabel yang diteliti, yaitu Pernikahan Dini dan kematangan emosi individu

terhadap pasangan di Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Analisa Bivariat

menggunakan metode analisis korelasi Spearman Rank karena kedua variabel

merupakan duta ordinal serta dari kedua variabel tidak harus distribusi normal.

28
Ada tidaknya hubungan dinyatakan dengan koefisien korelasi di atas 0,00.

Apabila koefisien korelasi > 0,00 dapat diartikan ada hubungan antar kedua

variabel dengan nilai maksimal 1,00. Kuat tidaknya hubungan ditentukan dengan

melihat besar kecilnya angka dalam koefisien korelasi. Apabila diperoleh angka

negatif berarti korelasinya negatif, menunjukkan kebalikan urutan ( Arikunto

2006).

Tabel 5. Pedoman dalam inerpretasi koefisien korelasi

J. KELEMAHAN DAN KESULITAN PENELITIAN

1. Kelemahan peneliti

a. Peneliti tidak mengulas faktor yang mempengaruhi kebahagiaan

perkawinan tentang latar belakang masa kanak- kanak.

b. Peneliti tidak mengulas kondisi keuangan responden karena data keuangan

tidak didapatkan secara lengkap.

29
c. Peneliti tidak melakukan kroscek pada responden pasangan suami istri

yang keduanya mengisi kuesioner.

2. Kesulitan Penelitian

a. Kelurahan terlalu banyak.

b. Letak terlalu jauh

30
DAFTAR PUSTAKA

Albin, R. S. 1994. Emosi: Bagaimana mengenal, menerima dan


mengarahkannya. Yogyakarta: Kanisius.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Ed. VI.


Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, S. 2007. Metode Penelitian. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Azwar, S. 2009a. Penysunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, S. 2009b. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budinurani, A. 2009. Kemandirian Pada Remaja Putra Yang Menikah Muda.


[serial online][cited 2011 April 21]. Available from:
www.library.gunadarma.ac.id.

Dariyo, A. 2004. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: Grashindo.

Desmita. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Dewi, C. K. 2007. Perbedaaan Kebahagiaan Perkawinan Berdasarkan


Keberfungsian Keluarga pada Pasangan yang Menikah karena
Kehamilan Akibat Hubungan seksual Pranikah Ketika Remaja dan yang
Bukan. Sripsi tidak diterbitkan. Fakultas Psikologi UGM.

Hanum, S. H. 1997. Perkawinan Usia Belia. Yogyakarta: Pusat Penelitian


Kependudukan Universitas Gadjah Mada.

31
Hurlock, E.B. 1994. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Edisi 5. Jakarta: Erlangga

Hurlock, E.B. 1997 Psikologi perkembangan edisi kelima. Jakarta: Erlangga.

Nasruddin, Thoha. 1967. Pedoman Perkawinan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Puspitasari, F. 2006. Perkawinan Usia Muda: Faktor-Faktor Pendorong Dan


Dampaknya Terhadap Pola Asuh Keluarga (Stusi Kasus di Desa
Mandalagiri Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya). Skripsi
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.[serial online][cited
2010 June 19]. Avaiable from: www.digilib.unnes.ac.id.

Rashid, S.F. Emerging Changes In Reproductive Behaviour Among Marrired


Adolescent Girls In An Urban Slum In Dhaka, Bangladesh [Serial Online]
[Disitasi Pada Tanggal 21 Desember 2009]. Diakses Dari Url:
http://www.Rhmjournal.Org.Uk

Rice, E. 2004 Emotional maturity http://hwarmstrong.org/rice05.pdf. diunduh 20


April 2010.

Rogers, D. 1981. Adolelescent and Youth. New York: Prentice Hall College.

Sampoerno, D., & Azwar, A. 1987. Perkawinan dan kehamilan pada wanita usia
muda. Jakarta : Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia.

Santrock, J.B. 2003 Adolescence: Perkembangan masa remaja edisi keenam.


Jakarta: Erlangga.

Sugiyono. 2007. Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta.

32
Tulus, 2009. Kiat Memelihara Hubungan Perkawinan. Perkawinan dan Keluarga,
37 (440). 18 – 19.

Walgito, B. 2004a. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Ed. II. Yogyakarta:


Andi.

Wilopo, S.A. 2005. Kita Selamatkan Remaja dari Aborsi dalam Rangka
Pemantapan Keluarga Berkualitas 2015. Naskah dipresentasikan dalam
seminar RAKERNAS BKKBN. Medan, 11 Februari 2005.

Wulandari, D. 2010. Hubungan kematangan emosi dengan kebahagian


perkawinan individu terhadap pasangan di Kecamatan Turi Kabupaten
Sleman. tidak diterbitkan. Fakultas kedokteran UGM.

Young, K. 1985. Social Psychology. New York: Aaplenton Century.

33