P. 1
Puisi Sebelum Maut Itu Datang Ya Allah Karya Hamid Jabar

Puisi Sebelum Maut Itu Datang Ya Allah Karya Hamid Jabar

|Views: 8,532|Likes:
Dipublikasikan oleh susastra

More info:

Published by: susastra on Sep 09, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2014

pdf

text

original

Obituary Hamid Jabbar (1949-2004

)

Foto: Gatra

The literary magazine Horison, July 2004 edition, published a special report “In Memoriam Hamid Jabbar”. His colleagues and close friends like Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib, Cecep Syamsul Hari, Rahman Arge, Berthold Damshauser, Wilson Nadeak, and Slamet Sukirnanto wrote their notes on the obituary of the late poet who was born in Koto Gadang, Bukittinggi, West Sumatra, on July 27, 1949. It is a bit strange that his poems were not included nor discussed in Harry Aveling’s Rahasia Membutuhkan Kata: Puisi Indonesia 1966-1998 (2003) [Secret Needs Words: Indonesian Poetries 1966-1998] or in Sapardi Djoko Damono’s Sihir Rendra: Permainan Makna (1999) [The Magic of Rendra: Playing with Meanings]. However, his works had been published in Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2003) [The Horizon of Indonesian Poetries] and Ketika Kata Ketika Warna (1995) [When Words When Colors] which he edited together with Taufiq Ismail and other poets. I don’t really know why Hamid Jabbar’s poems were not discussed by Harry Aveling, who analyzed Indonesian poetries in the New Order era with political perspective. Yet, in 1998 Hamid Jabbar published an anthology called Super Hilang: Segerobak Sajak [Super Disappearing: A Bunch of Poems], which had won awards from Yayasan Buku Utama and Pusat Bahasa. The social criticism loaded in that anthology is relatively sharp, like in “Proklamasi 2” or “Indonesiaku”. There are two possibilities why Harry Aveling did not discuss Hamid Jabbar’s works. First, he didn’t have access to Hamid Jabbar’s poems. Second, the poems did not fulfill his literary taste.

Was Hamid Jabbar not an important poet? Was he just an ordinary poet? If we ask that kind of question to K.H. A. Mustofa Bisri, perhaps he will not pay any attention, since he never cares for such a question. But, if we consider Hamid Jabbar’s intensity and totality in writing poetry, we will see that for this “Bola Bekel” writing poetry was a choice of life. Just like when he and Rendra enjoyed their meals in a restaurant by the river in Palangkaraya, in April 2004. When his diabetes relapsed, and worried his colleagues, he simply said, “Jangan khawatirkan kesehatanku. Cita-citaku, kalau tidak mati di depan Ka’bah di Mekkah, ya mati di atas panggung” [“Don’t worry about my health. If I have to die, I want to die either in front of Ka’bah in Mecca or on the stage reading poetry’]. Forty five days later, he died on the stage while reading his poetry at Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. God heard his words and fulfilled his wish. On Saturday night, May 29, 2004, Hamid Jabbar, Jamal D. Rahman, Franz MagnisSuseno, Putu Wijaya, and Franky Sahilatua performed together having orations, reading poetries and singing songs at UIN. When Franky’s turn to sing came, Hamid Jabbar asked the program committee to be allowed to read his poetries first. “I promise, after reading poetries I will really go home,” said Hamid Jabbar as reported by Agus R. Sarjono to Berthold Damshauser. And while reading poetries, he really “went home’. He died reading his poetries, one of which said, “Walau Indonesia menangis, mari kita bernyanyi” [Though Indonesia cries, let us just sing]. Siapa pun yang mendengar akhir hayat seorang penyair seperti itu, pasti akan takjub. Sudah pasti sebagai sahabat kita akan merasakan kehilangan, namun sebagai seniman, kematian semacam itu adalah kematian yang indah, kematian yang heroik, bahkan dapat dikatakan mati syahid, karena meninggal di saat sedang menunaikan tugas mulia sebagai seorang penyair. “Betapa dahsyat! Betapa dramatis! Betapa puitis! Betapa mulia bagi seorang penyair. Mengalami saat yang mungkin merupakan saat yang paling bermakna bagi manusia—saat meninggalkan dunia fana menuju dunia yang baru—dalam melakukan sesuatu yang dicintai: berpuisi! Bukankah itu suatu karunia yang sangat luar biasa?” tulis Damshauser. Sementara Sutardji Calzoum Bachri mengatakan kepada Slamet Sukirnanto, “Kir, teman kita ini meninggal dengan indah. Seorang penyair meninggal ketika sedang tampil di atas panggung dalam pergelaran membaca puisi. Mungkin dalam sejarah sastra, dalam sejarah pembacaan puisi, mungkin baru sekarang ini, yang pertama kali seorang penyair meninggal ketika membaca puisi. Pahlawan puisi!” Julukan Sutardji kepada Hamid Jabbar itu menunjukkan penghargaan yang demikian besar kepada seorang sahabat. Seorang sahabat yang pada 30 Maret 1973 telah mengetikkan Kredo Puisinya yang menghebohkan dunia sastra Indonesia itu. Di harian Republika, Sutardji menegaskan, dalam sejarah pembacaan puisi sejak Empu Tanakung, Ronggowarsito, Abdul Kadir Munsyi, hingga Chairil Anwar, belum pernah ada penyair yang meninggal saat membacakan puisinya di panggung. Ketika saya masih mahasiswa, sekitar 1992, saya sempat satu panggung di Auditorium Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dengan Hamid Jabbar, Ikranagara, Sapardi Djoko Damono, dan Purwadi Djunaedi. Kami membacakan puisi kami masing-masing. Yang saya ingat, Hamid Jabbar membacakan puisi “Proklamasi 2” dan mendapat sambutan yang meriah dari mahasiswa UI. Puisi itu kemudian dimuat di majalah kampus Suara Mahasiswa UI edisi perdana. Hingga akhir

hayatnya, kalau kita perhatikan dengan seksama, ada kesadaran dalam diri Hamid Jabbar ketika menciptakan puisi. Bahwa puisi yang ditulisnya itu nantinya akan dibacakan di depan publik. Puisi semacam ini, menurut A. Teeuw, merupakan puisi oral, puisi yang memerlukan pengucapan atau kelisanan. Karenanya, saya sependapat dengan Cecep Syamsul Hari, bahwa puisi-puisi Hamid Jabbar sangat memperhitungkan bunyi. Ada unsur musikal dalam puisi-puisi Hamid Jabbar. Berthold Damshauser keberatan jika Hamid Jabbar hanya dianggap sebagai penyair parodi. Anggapan seperti itu tidak saja salah, melainkan juga membatasi kekayaan kepenyairannya. Menurut Damshauser, tema utama puisi-puisi Hamid Jabbar adalah tentang Tuhan. Selain itu, ciri yang menonjol dalam puisinya adalah adanya kontras yang tajam. Di satu sisi ia seorang manusia yang riang, di sisi lain ia menderita. Menderita karena dunia yang ganas membuat sesamanya menderita. Namun, dalam segala kesedihan yang disebabkan oleh keadaan di sekelilingnya, ia tetap merasa perlu meriangkan dunia, meriangkan sesamanya. Itulah jalan yang dipilihnya. Dan, menurut Damshauser, pilihan itu sangat bijaksana dan arif. Ada sebuah puisi Hamid Jabbar yang memperlihatkan keseriusannya memperhatikan persoalan bangsa, yakni puisi berjudul “Astagfirullah”. Meskipun menggarap tema-tema sosial, Hamid Jabbar senantiasa mengaitkannya dengan Tuhan sebagai sang Maha Pencipta. Hubungan antara sesama manusia berikut berbagai persoalan yang menggayutinya tak pernah lepas dari Sang Maha Melihat itu. Dalam pengucapannya, Hamid Jabbar sangat mempedulikan irama, yang enak untuk dibacakan atau dideklamasikan. Meskipun tampaknya ia mempermainkan kata, namun yang terjadi kemudian adalah permainan makna dari kata-kata tersebut. Ini sekaligus memperlihatkan kepiawaian Hamid Jabbar dalam berpuisi. Astagfirullah astagfirullah penuh sadar astagfirullah sepenuh istigfar maka sudah remuk-redamlah aku dari debu kembali sezarrah debu walau debu sudah fitrahnya hanya kelu tapi tanggungjawab tak bisa hanya bisu katakan kata-kata yang semestinya mesti walau biar hanya kepada diri sendiri tapi justru pada diri sendiri aku tak mampu lagi sebab aku butuh tubuh utuh yang tak saling bunuh dan kini cerai-berai sudah jungkir-balik salah-kaprah astagfirullah astagfirullah astagfirullah astagfirullah astagfirullah hari-hari huru-hara diriku duhai astagfirullah tak selesai pada sekedar caci-maki ataupun haru-simpati. astagfirullah jungkir-balik salah-kaprah telah berlaku.

astagfirullah, telah berlaku terbeli terjual, namun bukan sekedar salah-cetak kiranya bila tiba-tiba laba jadi bala. astagfirullah bila bala jadi bola jadi loba jadi besar jadi sebar jadi kabar jadi bakar. astagfirullah. memang ragam jadi garam, tapi astagfirullah betapa perihnya teramat parah tersebab hati tertukar tahi. maka jika padat menjadi dapat tentulah alhamdulillah, tapi apa hendak dikata bila sokong ternyata kosong, bila larat tak dapat diralat, jika mahar jadi hamar, bila ramah dinyatakan marah, atau lebah menjadi belah, rekat jadi kerat, raba jadi bara, bawah jadi wabah, sahut jadi hasut, gosok jadi sogok, hingga semua hajat dan hajat semua tertukar tempat menjadi jahat maha jahat, segalanya lagi gila, dan ini semua bukan salah ketik atau salah ketuk, hingga biar gratis pun ternyata sungguh tragis muaranya, maka tak putus-putus astagfirullah kuketukketuk ke segala remuk dalam diri nisbi ini, duhai diriku tangis segala tangis! astagfirullah, wahai diriku, diriku yang kukenal, wahai kukenal kujunjung tinggi, tapi tak kunjung kumengerti. wahai entah salah apa, salah faham atau justru saling iti-dengki bin dendam antara kalian, wahai kalian dalam diriku yang mengaku bernama otak di kepala, hati di dada, lidah di mulut, hingga kaki dan tangan dan lutut terbalut-balut tersebab bertingkai-pingkai tak terlerai, tabrak-lari tabraklari, baku caci-maki! otakku bilang: diabetes! mulutku bilang: dialapar! tapi lambung dan duburku koor lain lagi: diarakus diarakus! astagfirullah, begitu biankah rakus menguras segala, rakus akan kebenaran atau memang benar diarakus atas segala hal, tak peduli salah atau benar! astagfirullah! astagfirullah wahai diri, diriku, urat dan nadi, darah dan gairah tumpah di arus jutaan jaringan anatomi ini, ruh dan jasad ini, astagfirullah! astagfirullah kanal-kanal salah arus menjadi anak-anak nakal dalam diri, wahai anak-anak nakal banyak lagak salah urus jadi anak-anak galak yang tumpang tindih antara timpang dan rintih, antara sayang dan sedih, petak-umpet membangun pedih, repet-merepet tak sampaisampai tak letih-letih, di sana dan di sini, di kamar-kamar malam di rumah diri, ekstasi saling sodomi, zalimi duhai zalim menzalimi, saling makar di kelam kamar tak terperi. astagfirullah terbunuh sudah daku di hari-hari huru-hara diriku di duka satu koma tiga triliyun

ngilu bertimbun-timbun duhai tak usai-usai istigfarku padamu ya Allah! astagfirullah laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyil aziim Hamid Jabbar had contributed a lot of ideas to the development of Indonesian literature. However, the most important to note was his idea to bring writers to schools and campuses and meet students in a program called “Siswa Bertanya, Sastrawan Bicara” [Students Ask, Writers Speak]. For students, meeting face to face with writers was a wonderful experience. Not only they could ask questions about how to write literature, but they could also learn directly from the writers how to deal with life, and share experiences. By getting close to students and teachers in schools and campuses, the appreciation of literature in those education institutions would hopefully be improved. Let’s just hope that this noble idea will be continued by his colleagues and the younger generation. Another Hamid Jabbar’s poetry which is very beautiful is “Aroma Maut” [The Scent of Death]. Its theme is the same as Chairil Anwar’s “Derai-derai Cemara.” I quote the poetry completely here to pay my respect to the late poet Hamid Jabbar. Aroma Maut Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku? Barangkali satu denyut lepas, o satu denyut lepas tepat di saat tak jelas batas-batas, sayangku: Segalanya terhempas, o segalanya terhempas! (Laut masih berombak, gelombangnya entah ke mana. Angin masih berhembus, topannya sampai ke mana. Bumi masih beredar, getarnya sampai ke mana? Semesta masih belantara, sunyi sendiri ke mana?) Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku? Barangkali hilir-mudik di suatu titik tumpang-tindih merintih dalam satu nadi, sayangku: Sampai tetes-embun pun selesai, tak menitik! (Gelombang lain datang begitu lain. Topan lain datang begitu lain. Gelap lain datang begitu lain. Sunyi lain datang sendiri tak bisa lain!)

On Saturday night, May 29, 2004, Hamid Jabbar, Lubuk Minturun’s husband, died while reading poetry. The death is “like a warrior who died in the center of war” as stated by Emha Ainun Nadjib. Hamid Jabbar was buried in Pondok Rangon Cemetery, East Jakarta. Citayam, July 19, 2007 Asep Sambodja

Acuan Aveling, Harry. 2003. Rahasia Membutuhkan Kata. Magelang: Indonesiatera. Damono, Sapardi Djoko. 1999. Sihir Rendra: Permainan Makna. Jakarta: Pustaka Firdaus. Eneste, Pamusuk. 2001. Buku Pintar Sastra Indonesia. Jakarta: Kompas. Horison. Tahun XXXVIII, No. 7, Juli 2004. Ismail, Taufiq et.al. (ed.). 1995. Ketika Kata Ketika Warna. Jakarta: Yayasan Ananda. _____. 2001. Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi. Jakarta: Horison. Jabbar, Hamid. 1998. Super Hilang: Segerobak Sajak. Jakarta: Balai Pustaka. Waluyo, Herman J. 2003. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hamid Jabbar dan Karyanya
Hamid Jabbar lahir di Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat, 27 Juli 1949. Ia meninggal di Jakarta, 29 Mei 2004. Bernama lengkap Abdul Hamid bin Zainal Abidin bin Abdul Jabbar. Pendidikan terakhir SMA (tahun 1970). Pada masa kecilnya ia suka mendendangkan pantun-pantun nasihat dari ibu kandungnya, Ummi. Pada usia remaja ia merantau ke Sukabumi, Bandung, dan Jakarta. Di Bandung dan Sukabumi, ia menjadi aktivis Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (1966-1969). Aktivis KAPI Sukabumi dan Bandung semasa aksi demonstrasi Angkatan ’66 ini mulai menulis puisi, cerpen, cerita anak, novel, dan esai pada 1969, namun baru disiarkan di media massa pada 1973. Ia mengaku berguru pada Sutardji Calzoum Bachri. Karyakaryanya tersebar di berbagai koran terbitan Jakarta, Bandung, dan Padang, serta beberapa majalah terbitan Jakarta, termasuk Horison (Jakarta) dan Dewan Sastra (Malaysia). Puisi dan cerpennya dimuat di Horison, Sarinah, Ulumul Qur’an, Menyimak, Hai, Singgalang, Sinar Harapan, dan lain-lain. Bersama Wisran Hadi mendirikan Grup Bumi Teater di Padang, di samping aktif melakukan studi tentang sastra dan budaya Minangkabau. Mengikuti berbagai seminar sastra dan budaya, juga membacakan puisi-puisi di berbagai kota dan peristiwa, di Indonesia maupun di Malaysia dan Singapura. Pekerjaan Ia pernah bekerja menjadi mandor perkebunan teh di Sukabumi, Kepala Gudang beras di Bandung dan Padang, malah juga menjadi Asisten Manager Administrasi Keuangan sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Selain itu juga bekerja sebagai wartawan Indonesia Ekspres (Bandung) dan Pos Kota (Malaysia), redaktur harian Singgalang (Padang), redaktur Balai Pustaka (1980-1983), editor majalah Sarinah (Jakarta), Sekretaris Dewan Kesenian Jakarta (1993-1996), dan terakhir ia menjadi Redaktur Senior majalah sastra Horison hingga akhir hayatnya. Ia pun menekuni penulisan skenario sinetron. Hamid Jabbar juga melakukan studi mengenai pantun Minangkabau. Ia menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media massa yang terbit di Bandung, Jakarta, Padang, dan Malaysia. Pada Festival Istiqlal II (1995), ia menjadi Ketua Panitia Penyelenggara Istiqlal International Poetry Reading. Di tahun yang sama ia juga mengikuti Puisi IndonesiaBelanda, yang diikuti para penyair terkemuka dari Indonesia dan Belanda (September di Jakarta dan Desember di Denhaag, Belanda). Karya Fiksi: Prosa 1973 1974 1976 “Dari Ruang Ini”. Horison, 11.8, 344-345. “Suara”. Horison, 9.9, 278-280. “Pada Detik Kesekian”. Horison, 10-11.11, 331.

1981

1982 1985 1986

1. “Demam”. Horison, 6.16, 193. 2. “Kepala Gagasan”. Horison, 6.16, 214-215. 3. “Sepanjang Jalan”. Horison, 7.16, 226-228. 4. “Kabar Ular”. Horison, 8.16, 273-277,287. 5. “Bulan dalam Perahu”. Horison, 9.16, 309-310. 6. “Loncatan-loncatan”. Horison, 9.16, 317-318. 7. “Menembus Malam”. Horison, 10.16, 347-348. 8. “Meja”. Horison, 11-12.16, 383, 405. 9. “Kita”. Horison, 11-12.16, 404-405. 10. “Sepatu yang Terhormat”. Zaman, 42.2, 16-17. 11. “Kakek Merdeka”. Zaman, 48.2, 36-37. 1. “Cerita Pendek yang Gagal”. Horison, 3-4.17, 78-79. 2. “Mata-mata”.Horison, 8.17, 218-222. “Anjing-anjing Pemburu”. Horison, Tahun XIX, No. 6, Juni. “Engku Datuk Yth. di Jakarta”, dalam Hoerip, Satyagraha (ed.). Antologi Cerita Pendek Indonesia IV.

Puisi 1973 1974 1975

1977 1978 1979

1980 1981

“Sejuta Panorama Suara”. Horison, 10.8, 305. 1. Paco-Paco. Jakarta: Puisi Indonesia, 42 halaman. 2. “Homo Homini Lupus”. Horison, 12.9, 370. 3. “Sebelum Maut Itu Datang, Ya Allah”. Horison, 12.9, 370-371. 1. Dua Warna (antologi bersama Upita Agustine). 2. “Lagu Sebuah”, “Sangsaiku”, dan “Sebuah Mobil”. Horison, 1.10, 1415. 3. “Nyaris Lupa”, “Setitik Nur”, dan “Seperti Kakekku Dulu”. Horison, 12.10, 369. “Debu” dan “Doa I”. Horison, 8.12, 238. “Beri Aku Satu yang Tetap dalam Diriku” dan “Luka Itu Aneh Sekali”. Horison, 7.13, 210. 1. “Indonesiaku”. Horison, 11.14, 368-371. 2. “Tetapi”. Zaman, 1.1, 15. 3. “Lapangan Rumput, Masa Kanak-kanak, dan Sisa Embun”. Zaman, 2.1, 39. 4. “Potong Bebek Angsa”. Zaman, 10.1, 37. 1. “Nyanyian Belum”. Zaman, 17.1, 39. 2, “Nyanyian Purba”. Zaman, 46.1, 35. 1. Wajah Kita. Jakarta: Balai Pustaka. 2. “Perjamuan”. Pandji Masjarakat, 326.22, 35. 3. “Beri Aku Satu yang Tetap dalam Diriku” dan “Ternyata”. Pandji Masjarakat, 329.23, 35. 4. “Eksekusi”, “Slogan”, “UUUUU”, dan “Telegram”. Aktuil, 15.13, 57. 5. “Jakarta 1”. Zaman, 6.3, 26. 6. “Luka Itu Aneh Sekali”. Zaman, 46.2, 27.

1983

1992 1993 1995 1998 (t.t.) 2001 2002 2004 Skenario

1. “Lapangan Rumput, Masa Kanak-kanak, dan Sisa Embun”. Horison, 4.18, 194. 2. “Banyak Orang Menangis, Kekasih” dan “Di Taman Bunga, Luka Tercinta”. Horison, 4.18, 195. “Jangan Tangisi” dan “nasrAllahi qariib”. Bosnia Kita. Parade Puisi Indonesia (editor, bersama Slamet Sukirnanto). Jakarta: Global Citra Media Nusantara, 78 halaman (berisi puisi-puisi 17 penyair Indonesia dan diberi kata pengantar oleh Sutardji Calzoum Bachri). Ketika Kata Ketika Warna (editor, bersama Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Amri Yahya, dan Agus Dermawan T.). Jakarta: Yayasan Ananda. Super Hilang: Segerobak Sajak. Jakarta: Balai Pustaka, 397 halaman (berisi 143 sajak yang ditulis sejak 1971 hingga 1998). Zikrullah. “Assalamu ‘Alaikum 1”, “Doa Terakhir Musafir’, “Homo Homini Lupus”, “Indonesiaku”, dan “Proklamasi 2”. Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi. Jakarta: Horison. “Nyanyian Negeri Jajahan”, “Sapi [K] Emas”, dan “Selamat Tinggal Manusia Budak Indonesia”. Horison, Tahun XXXV, No. 4, Edisi Khusus April. Indonesiaku. Jakarta: Horison.

1. “Malin Kundang, Legenda Masa Lalu – Parodi Masa Kini”. 2. “”War-Teg-Bes, Warga ‘The Best’”. Cerita Anak 1978 1. Raja Berak Menangis. 2. Siapa Mau Jadi Raja.

Karya Non-fiksi: (t.t.) 1. Editor buku biografi Herlina, Pending Emas dan Bangkit dari Dunia Sakit. 2. Transmigrasi di Indonesia (bersama Ramadhan K.H.). 1997 Panorama Sastra Nusantara (bersama Taufiq Ismail). Jakarta: Balai Pustaka, 434 halaman (berisi makalah yang diajukan pada Pertemuan Sastrawan Nusantara IX dan Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997 di Sumatra Barat, 6-11 Desember). 2003 “Pidato Miring”. Horison, Tahun XXXVI, No. 8, Agustus.

Penghargaan 1998 1. Yayasan Buku Utama (Super Hilang: Segerobak Sajak, buku puisi terbaik). 2. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Super Hilang: Segerobak Sajak, buku puisi terbaik).

Artikel dan Tulisan tentang Hamid Jabbar 1991 Waluyo, Herman J. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga. 2001 “Puisi Besar”. Kompas, Jumat, 1 Juni. 2002 Sarjono, Agus R. “Laut, Komodo, dan Sastra”. Kompas Cyber Media, Minggu, 10 November. 2003 Waluyo, Herman J. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2004 1. Benke, Benny. “Hamid Jabbar, Meninggal Ketika Berpuisi”. Suara Merdeka, Senin, 31 Mei. 2. “Dimakamkan di Jakarta”. Suara Pembaruan, 31 Mei. 3. “Menjemput Maut di Pentas Sajak”. Republika.co.id, Senin, 31 Mei. 4. “Pembukaan FSS Diawali Hening Cipta untuk Hamid Jabbar”. Kompas Cyber Media, Senin, 31 Mei. 5. “Hamid Jabbar dan Keperihan dari Dalam”. Kompas Cyber Media, Selasa 1 Juni. 6. “Obituari: Memahami Jarak dan Aroma Ajal”. Gatra, Edisi 30, 4 Juni. 7. “Doa dan Tahlil untuk Penyair Hamid Jabbar”. Tempointeraktif.com, Selasa, 15 Juni. 8. Arge, Rahman. “Hamid Jabbar, Sekali Tempo…”. Horison, Tahun XXXVIII, No. 7, Juli. 9. Damshauser, Berthold. “Sang Periang yang Arif”. Horison, Tahun XXXVIII, No. 7, Juli. 10. Hari, Cecep Syamsul. “Telah Pulang, Abang Disayang”. Horison, Tahun XXXVIII, No. 7, Juli. 11. Ismail, Taufiq. “Memahami Jarak dan Aroma Ajal”. Horison, Tahun XXXVIII, No. 7, Juli. 12. Nadeak, Wilson. “Hamid Jabbar, Sebuah Kenangan.” Horison, Tahun XXXVIII, No. 7, Juli. 13. Nadjib, Emha Ainun. “Kalau Hanya Penyair, Ia Hanya Mati”. Horison, Tahun XXXVIII, No. 7, Juli. 14. Sukirnanto, Slamet. “Mengenang Penyair Hamid Jabbar”. Horison, Tahun XXXVIII, No. 7, Juli. 15. Sarjono, Agus R. “Integritas”. Kompas Cyber Media, Minggu, 11 Juli.

Buku-buku yang Membicarakan Karya Hamid Jabbar 1987 Suryadi Ag., Linus (ed.). Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern 4. Jakarta: Gramedia.

1988

1990 1991 2000 2001

2003 2004

1. Eneste, Pamusuk. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Djambatan. 2. Kratz, Ernst Ulrich. Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah: Drama, Prosa, Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Eneste, Pamusuk. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Djambatan. Waluyo, Herman J. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga. Rampan, Korrie Layun. Leksikon Susastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 1. Eneste, Pamusuk. Bibliografi Sastra Indonesia. Magelang: IndonesiaTera. 2. Eneste, Pamusuk. Buku Pintar Sastra Indonesia. Jakarta: Kompas. 3. Ismail, Taufiq dkk. Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi. Jakarta: Horison. 1. Herfanda, Ahmadun Y. dkk. (ed.). Leksikon Sastra Jakarta: Sastrawan Jakarta dan Sekitarnya. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang. 2. Waluyo, Herman J. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Horison. Tahun XXXVIII, No. 7, Juli.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->