Anda di halaman 1dari 3

Riandhika Munggaran

108083000079
Hubungan Internasional/ VI B

POLITIK GLOBAL AMERIK SERIKAT DALAM MASALAH KEAMANAN


DAN TERORISME.

Amerika Serikat merupakan sebuah negara yang memiliki sejarah panjang tentang
kebijakan luar negerinya. Pada masa Perang Dingin, ketika dunia terbagi atas dua kekuatan besar
saja yaitu antara blok Komunis yang dipimpin oleh Uni Soviet dan blok Kapitalis yang dipimpin
oleh Amerika Serikat, Amerika mengembangkan sebuah kebijakan luar negerinya yang
berorientasi pada pembendungan pengaruh komunisme atau sering kita sebut sebagai
containtment policy (politik pembendungan).1 Alasan kenapa Amerika mengeluarkan kebijakan
tersebut karena Amerika merasa terancam dengan menyebarnya pengaruh terorisme yang
pastinya akan memberi dampak pada ketahanan keamanan nasional mereka sendiri.

Keluarnya Amerika Serikat sebagai pemenang dari Perang Dingin secara tidak langsung
menjadikan Amerika sebagai satu-satunya negara adidaya di dunia. Munculnya gelombang
globalisasi dan kemajuan membuat Amerika sadar bahwa ancaman yang dating tidak hanya
ancaman yang berasal dari isu-isu tradisional saja seperti penggunaan angkatan bersenjata
(militer), akan tetapi timbul ancaman-ancaman non-tradisional seperti terorisme. Runtuhnya
gedung World Trade Center (WTC) di New York tanggal 11 September lalu akibat serangan
teroris telah membawa implikasi fundamental terhadap situasi politik internasional. Bagi
Amerika, serangan tersebut merupakan pukulan telak terhadap supremasi Negara adidaya
tersebut dan menuntut respon dalam perang melawan terorisme.2

1
Containtment policy merupakan kebijakan Amerika Serikat dalam menggunakan kekuatan
militer, ekonomi, dan strategi-strategi diplomatik untuk menahan penyebaran komunisme,
meningkatkan keamanan nasional Amerika, dan mencegah sebuah “efek domino”. Dasar
dari doktrin ini diartikulasikan oleh diplomat Amerika Serikat, George F. Kennan.
2
Makalah, KEAMANAN INTERNASIONAL PASCA 11 SEPTEMBER: TERORISME, HEGEMONI AS
DAN IMPLIKASI REGIONAL. Rizal Sukma. Diakses dari www.lfip.org/english/pdf/bali-
seminar/Keamanan%20Intl%20rizal%20sukma.pdf Halaman 2
Setelah 9/11 (kejadian 11 September 2001), Bush yang terpilih menjadi Presiden
Amerika Serikat ke-43 pada 20 September 2001 mengeluarkan sebuah kebijakan luar negeri baru
bersama para dewannya yaitu “war on terror” kepada seluruh dunia, kebijakan ini mencakup
operasi militer terbuka ataupun tertutup, legislasi keamanan baru, usaha-usaha dalam
menghentikan pendanaan dalam gerakan terorisme, dan lainnya. Amerika telah menyerukan juga
kepada Negara-negara lain untuk bersama dalam memerangi terorisme. Amerika mengatakan
kepada dunia jika mereka (Negara-negara lain) tidak bersama kami (Amerika), berarti kalian
bersama teroris.3

Dengan di cetuskannya war on terror ini maka Amerika memulai sebuah kebijakan baru
dalam memerangi terorisme. Dengan pernyataan George W Bush di atas tadi maka seolah-olah
Amerika ingin menciptakan sebuah struktur “bipolar” baru, pernyataan “either you are with us
or you are with the terrorists” seakan menggambarkan dunia sekarang hanya akan terbagi
menjadi dua yaitu, yang mendukung Amerika dan yang mendukung gerakan terorisme. Selain itu
dengan adanya kebijakan baru ini telah menjadikan isu-isu lain menjadi kurang mendapatkan
perhatian Amerika, misalnya saja isu-isu HAM dan Demokrasi yang makin terabaikan. Selain itu
Amerika yang sering mengaitkan terorisme dengan gerakan Islam radikal akan menambah
kebencian Negara-negara Islam di dunia kepada Negara adidaya tersebut. Dalam mengatasi
masalah terorisme ini dan dalam rangka menjalankan kebijakan ini maka Amerika mengeluarkan
sebuah doktrin baru yaitu “doktrin preemption”, melalui doktrin ini Amerika secara sepihak telah
memberikan hak kepada dirinya sendiri untuk mengambil tindakan terlebih dahulu, khususnya
melalui tindakan militer unilateral, untuk menghancurkan apa saja yang dianggapnya sebagai
ancaman terror bagi kepentingan Amerika di mana saja.4

Salah satu bukti nyata dari pengaplikasian kebijakan war on terror yang dijalankan oleh
Amerika adalah dua aksi militer yang dilakukan oleh Amerika. Aksi militer pertama, dilakukan
terhadap rezim Taliban di Afghanistan yang merupakan sebuah reaksi langsung atas serangan 11
September. Aksi militer kedua adalah serangan terhadap Irak yang merupaakan bukti nyata atas
doktrin preemption yang dianut oleh Amerika sekaligus sebagai pertunjukkan menguatnya

3
Disarikan dari www.globalpolicy.org/empire/war-on-terrorism.html, diakses pada tanggal
12 Mei 2011
4
Makalah, KEAMANAN INTERNASIONAL PASCA 11 SEPTEMBER: TERORISME, HEGEMONI AS
DAN IMPLIKASI REGIONAL. Rizal Sukma. Diakses dari www.lfip.org/english/pdf/bali-
seminar/Keamanan%20Intl%20rizal%20sukma.pdf Halaman 4-6
unilateralisme Amerika dalam menjalankan kebijakan keamanan nasional dan politik luar
negerinya. Meskipun serangan militer pertama Amerika ke Afghanistan dalam masalah Taliban
dan Al-Qaeda mendapatkan dukungan dari Dewan Keamanan PBB, akan tetapi pada saat invasi
Amerika yang kedua di Irak memunculkan berbagai kontroversi. Serangan ini didasarkan hanya
pada dugaan-dugaan saja, alasan Amerika yang berubah-ubah, mulai dari pemusnahan senjata
pemusnah masal (WMD) sampai dengan penggulingan rezim Saddam Hussein. Selain itu juga
pemerintah Amerika terkesan sombong, terlalu percaya diri, dan tidak mempedulikan otoritas
lain (hubris), contoh saja, mereka melewati otoritas Dewan Keamanan PBB dalam invasinya ke
Irak.5

Dapat dilihat dari penjelasan di atas bahwa kebijakan melawan teroris yang digemakan
oleh Amerika telah memberikan beberapa implikasi yang buruk bagi mereka sendiri meskipun
ada pula hal yang didapat Amerika dalam misinya melawan terorisme. Contohnya saja,
keberhasilan tentara Amerika dalam membunuh pimpinan besar Al-Qaeda, Osama bin-Laden
baru-baru ini.

5
Ibid hal 7-8