Anda di halaman 1dari 22

DONOR DARAH

Merupakan Individu atau orang yang menyumbangkan darahnya, dengan tujuan untuk
membantu yang lain khususnya yang pada kondisi memerlukan suplai darah dari luar, karena
sampai saat ini darah belum bisa di sintesa sehingga ketika diperlukan harus diambil
seseorang/individu.

Syarat-syarat Teknis Menjadi Donor Darah :

1. Umur 17 - 60 tahun
( Pada usia 17 tahun diperbolehkan menjadi donor bila mendapat ijin tertulis dari
orangtua. Sampai usia tahun donor masih dapat menyumbangkan darahnya dengan jarak
penyumbangan 3 bulan atas pertimbangan dokter )
2. Berat badan minimum 45 kg
3. Temperatur tubuh : 36,6 - 37,5o C (oral)
4. Tekanan darah baik ,yaitu:
Sistole = 110 - 160 mm Hg
Diastole = 70 - 100 mm Hg
5. Denyut nadi; Teratur 50 - 100 kali/ menit
6. Hemoglobin
Wanita minimal = 12 gr %
Pria minimal = 12,5 gr %
7. Jumlah penyumbangan pertahun paling banyak 5 kali, dengan jarak penyumbangan
sekurang-kurangnya 3 bulan. Keadaan ini harus sesuai dengan keadaan umum donor.

Seseorang tidak boleh menjadi donor darah pada keadaan:

1. Pernah menderita hepatitis B.


2. Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah kontak erat dengan penderita hepatitis.
3. Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah transfusi.
4. Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah tattoo/tindik telinga.
5. Dalam jangka waktu 72 jam sesudah operasi gigi.
6. Dalam jangka wktu 6 bulan sesudah operasi kecil.
7. Dalam jangka waktu 12 bulan sesudah operasi besar.
8. Dalam jangka waktu 24 jam sesudah vaksinasi polio, influenza, cholera, tetanus dipteria
atau profilaksis.
9. Dalam jangka waktu 2 minggu sesudah vaksinasi virus hidup parotitis epidemica,
measles, tetanus toxin.
10. Dalam jangka waktu 1 tahun sesudah injeksi terakhir imunisasi rabies therapeutic.
11. Dalam jangka waktu 1 minggu sesudah gejala alergi menghilang.
12. Dalam jangka waktu 1 tahun sesudah transpalantasi kulit.
13. Sedang hamil dan dalam jangka waktu 6 bulan sesudah persalinan.
14. Sedang menyusui.
15. Ketergantungan obat.
16. Alkoholisme akut dan kronik.
17. Sifilis.
18. Menderita tuberkulosa secara klinis.
19. Menderita epilepsi dan sering kejang.
20. Menderita penyakit kulit pada vena (pembuluh balik) yang akan ditusuk.
21. Mempunyai kecenderungan perdarahan atau penyakit darah, misalnya, defisiensi G6PD,
thalasemia, polibetemiavera.
22. Seseorang yang termasuk kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi untuk
mendapatkan HIV/AIDS (homoseks, morfinis, berganti-ganti pasangan seks, pemakai
jarum suntik tidak steril).
23. Pengidap HIV/ AIDS menurut hasil pemeriksaan pada saat donor darah.

Manfaat Donor Darah

1. Dapat memeriksakan kesehatan secara berkala 3 bulan sekali seperti tensi, Lab Uji Saring
(HIV, Hepatitis B, C, Sifilis dan Malaria).
2. Mendapatkan piagam penghargaan sesuai dengan jumlah menyumbang darahnya antara
lain 10, 25, 50, 75, 100 kali.
3. Donor darah 100 kali mendapat penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari
Pemerintah.
4. Merupakan bagian dari ibadah.

Manfaat Donor

   1. Mencegah kekentalan darah, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya


       penyumbatan pembuluh darah
   2. Pemerikasaan kadar Hb secara berkala
   3. Pemerikasaan tensi secara berkala
   4. Periksa Hepatitis, HIV, Sifilis secara berkala
   5. Membantu menurunkan resiko terkena serangan jantung
   6. Mengurangi kelebihan zat besi dalam tubuh, kelebihan zat besi dalam tubuh berbahaya
       bagi jantung
   8. Setelah melakukan donor darah, tubuh akan memproduksi sel darah baru yang akan
       membawa oksigen ke jaringan tubuh, seperti yang kita ketahui oksigen sangat penting
       manfaatnya bagi tubuh
   9. Sirkulasi darah yang baik akan meningkatkan metabolisme dan merevitalisasi tubuh

Tujuan Transfusi Darah

1. Meningkatkan volume darah sirkulasi (setelah pembedahan, trauma atau heragi).


2. Meningkatkan jumlah sel darah merah dan untuk mempertahankan kadar hemoglobin
pada klien anemia.
3. Memberikan komponen seluler tertentu sebagai terapi sulih (misalnya: faktor pembekuan
untuk membantu mengontrol perdarahan pada pasien hemofilia).
INDIKASI TRANSFUSI DARAH

Indikasi transfusi darah dan komponen-konponennya adalah : (3,5,12)


1. Anemia pada perdarahan akut setelah didahului penggantian volume dengan cairan.
2. Anemia kronis jika Hb tidak dapat ditingkatkan dengan cara lain.
3. Gangguan pembekuan darah karena defisiensi komponen.
4. Plasma loss atau hipoalbuminemia jika tidak dapat lagi diberikan plasma subtitute atau larutan
albumin.

Dalam pedoman WHO (Sibinga, 1995) disebutkan :


1. Transfusi tidak boleh diberikan tanpa indikasi kuat.
2. Transfusi hanya diberikan berupa komponen darah pengganti yang hilang/kurang.

Berdasarkan pada tujuan di atas, maka saat ini transfusi darah cenderung memakai komponen
darah disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya kebutuhan akan sel darah merah, granulosit,
trombosit, dan plasma darah yang mengandung protein dan faktor-faktor pembekuan. Diperlukan
pedoman dalam pemberian komponen-komponen darah untuk pasien yang memerlukannya,
sehingga efek samping transfusi dapat diturunkan seminimal mungkin.(1,3,12)
Lansteiner, perintis transfusi mengatakan : “Transfusi darah tidak boleh diberikan,kecuali
manfaatnya melebihi resikonya”. Pada anemia, transfusi baru layak diberikan jika pasien
menunjukkan tanda “Oxigen Need” yaitu rasa sesak, mata berkunang, berdebar (palpitasi),
pusing, gelisah atau Hb <6 gr/dl.(12) Pemberian sel darah merah, sering digunakan apabila kadar
Hb kurang dari 6 gr%, dan hampir tidak diperlukan bila Hb lebih dari 10 gr% dan kalau kadar
Hb antara 6-10gr%, maka transfusi sel darah merah atas indikasi keadaan oksigenasi pasien.
Perlu diingat bahwa kadar Hb bukanlah satu-satunya parameter, tetapi harus diperhatikan pula
faktor-faktor fisiologi dan resiko pembedahan yang mempengaruhi oksigenasi pasien tersebut.(2)
Kehilangan sampai 30% EBV umumnya dapat diatasi dengan cairan elektrolit saja.(3,5,12).
Kehilangan lebih daripada itu, setelah diberi cairan elektrolit perlu dilanjutkan dengan transfusi
jika Hb<8 gr/dl.(2,12)
Habibi dkk memberikan petunjuk bahwa dengan pemberian satu unit PRC akan meningkatkan
hematokrit 3-7%. Indikasinya adalah : (2)
1. Kehilangan darah >20% dan volume darah lebih dari 1000 ml.
2. Hemoglobin < 8 gr/dl.
3. Hemoglobin <10 gr/dl dengan penyakit-penyakit utama : (misalnya empisema, atau penyakit
jantung iskemik)
4. Hemoglobin <10 gr/dl dengan darah autolog.
5. Hemoglobin <12 gr/dl dan tergantung pada ventilator.

Dapat disebutkan bahwa :


Hb sekitar 5 adalah CRITICAL
Hb sekitar 8 adalah TOLERABLE
Hb sekitar 10 adalah OPTIMAL

 
2. 2 Definisi dan tujuan transfusi darah
 Transfusi darah adalah suatu rangkaian proses pemindahan darah donor ke dalam sirkulasidarah
resipien sebagai upaya pengobatan. Bahkan sebagai upaya untuk menyelamatkankehidupan.
2,3,4,5,7
Berdasarkan asal darah yang diberikan transfusi dikenal: (1)
 H 
omologoustransfusi
;
berasal dari darah orang lain, (2)
 Autologous transfusi
;
berasal dari darah sendiri.
4
 Tujuan transfusi darah adalah: (1)mengembalikan dan mempertahankan volume yang
normal peredaran darah, (2)mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah,
(3)meningkatkan oksigenasi jaringan, (4)memperbaiki fungsi homeostasis, (5)tindakan
terapikhusus.

Macam2 Komponen Darah Transfusi adalah sebagai berikut

1. Whole blood

Whole blood (darah lengkap) biasanya disediakan hanya untuk transfusi pada perdarahan masif.
Whole blood biasa diberikan untuk perdarahan akut, shock hipovolemik serta bedah mayor
dengan perdarahan > 1500 ml. Whole blood akan meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen
dan peningkatan volume darah. Transfusi satu unit whole blood akan meningkatkan hemoglobin
1 g/dl

2.  Packed Red Blood Cell (PRBC)

PRBC mengandung hemoglobin yang sama dengan whole blood, bedanya adalah pada jumlah
plasma, dimana PRBC lebih sedikit mengandung plasma. Hal ini menyebabkan kadar hematokrit
PRBC lebih tinggi dibanding dengan whole blood, yaitu 70% dibandingkan 40%. PRBC biasa
diberikan pada pasien dengan perdarahan lambat, pasien anemia atau pada kelainan jantung. Saat
hendak digunakan, PRBC perlu dihangatkan terlebih dahulu hingga sama dengan suhu tubuh
(37ºC). bila tidak dihangatkan, akan menyulitkan terjadinya perpindahan oksigen dari darah ke
organ tubuh.

3.  Plasma Beku Segar (Fresh Frozen Plasma)

Fresh frozen plasma (FFP) mengandung semua protein plasma (faktor pembekuan), terutama
faktor V dan VII. FFP biasa diberikan setelah transfusi darah masif, setelah terapi warfarin dan
koagulopati pada penyakit hati. Setiap unit FFP biasanya dapat menaikan masing-masing kadar
faktor pembekuan sebesar 2-3% pada orang dewasa. Sama dengan PRBC, saat hendak diberikan
pada pasien perlu dihangatkan terlebih dahulu sesuai suhu tubuh.
4. Trombosit

Transfusi trombosit diindikasikan pada pasien dengan trombositopenia berat (<20.000 sel/mm3)
disertai gejala klinis perdarahan. Akan tetapi, bila tidak dijumpai gejala klinis perdarahan,
transfusi trombosit tidak diperlukan. Satu unit trombosit dapat meningkatkan 7000-10.000
trombosit/mm3 setelah 1 jam transfusi pada pasien dengan berat badan 70 kg. banyak faktor
yang berperan dalam keberhasilan transfusi trombosit diantaranya splenomegali, sensitisasi
sebelumnya, demam, dan perdarahan aktif.

5. Kriopresipitat

Kriopresipitat mengandung faktor VIII dan fibrinogen dalam jumlah banyak. Kriopresipitat
diindikasikan pada pasien dengan penyakit hemofilia (kekurangan faktor VIII) dan juga pada
pasien dengan defisiensi fibrinogen.

TRANFUSI DARAH

A. Definisi

Penggantian darah atau tranfusi darah adalah suatu pemberian darah lengkap atau
komponen darah seperti plasma, sel darah merah kemasan atau trombosit melalui IV.
Meskipun tranfusi darah penting untuk mengembalikan homeostasis, tranfusi darah dapat
membahayakan. Banyak komplikasi dapat ditimbulkan oleh terapi komponen darah,
contohnya reaksi hemolitik akut yang kemungkinan mematikan, penularan penyakit
infeksi dan reaksi demam. Kebanyakan reaksi tranfusi yang mengancam hidup
diakibatkan oleh identifikasi pasien yang tidak benar atau pembuatan label darah atau
komponen darah yang tidak akurat, menyebabkan pemberian darah yang inkompatibel.
Pemantauan pasien yang menerima darah dan komponen darah dan pemberian produk-
produk ini adalah tanggung jawab keperawatan. Perawat bertanggung jawab untuk
mengkaji sebelum dan selama tranfusi yang dilakukan. Apabila klien sudah terpasang
selang IV, perawat harus mengkaji tempat insersi untuk melihat tanda infeksi atau
infilrasi. Perawat harus memastikan bahwa kateter yang dipakai klien menggunakan
kateter ukuran besar (18-19). Komponen darah harus diberikan oleh personel yang
kompeten, berpengalaman dan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

A. Tujuan

1. Meningkatkan volume sirkulasi darah setelah pembedahan, trauma atau perdarahan


2. Meningkatkan jumlah sel darah merah dan untuk mempertahankan kadar hemoglobin
pada klien yang mengalami anemia berat

3. Memberikan komponen seluler yang terpilih sebagai terapi pengganti (misal : faktor
pembekuan plasma untuk membantu mengontrol perdarahan pada klien yang
menderita hemofilia)

A. Golongan dan Tipe Darah

Darah tersusun dari beberapa unsur yang mempunyai peran utama dalam terapi
tranfusi darah. Komponen ini meliputi antigen, antibody, tipe Rh, dan antigen HLA.
Antigen adalah zat yang mendatangkan respon imun spesifik bila terjadi kontak dengan
benda asing. Sistem imun tubuh berespon dengan memproduksi antibody untuk
memusnahkan penyerang. Reaksi Antigen (Ag) dan Antibodi (AB) ini diperlihatkan
dengan aglutinasi atau hemolisis. Antibodi dalam serum berespon terhadap antigen
penyerang dengan mengelompokkan sel-sel darah merah bersama-sama dan menjadikan
mereka tidak efektif atau memusnahkan sel darah merah. Sistem penggolongan darah
didasarkan pada reaksi Ag-AB yang menentukan kompabilitas darah.

Golongan darah yang paling penting untuk tranfusi darah ialah sistem ABO, yang
meliputi golongan berikut: A, B, O, AB. Penetapan penggolongan darah didasarkan pada
ada tidaknya antigen sel darah merah A dan B. Individu-individu dengan golongan darah
A mempunyai antigen A yang terdapat pada sel darah merah; individu dengan golongan
darah B mempunyai antigen B, dan individu dengan golongan darah O tidak mempunyai
kedua antigen tersebut.

Aglutinin, atau antibody yang bekerja melawan antigen A dan B, disebut


agglutinin anti A dan agglutinin anti B. Aglutinin ini terjadi secara alami. Individu
dengan golongan darah A memproduksi aglutinin anti B di dalam plasmanya secara
alami. Begitu juga dengan individu dengan golongan darah B, akan memproduksi
agglutinin anti A di dalam plasma secara alami. Individu dengan golongan darah O secara
alami memproduksi kedua aglutinin tersebut, inilah sebabnya individu dengan golongan
darah O disebut sebagai donor universal. Individu golongan AB juga menghasilkan
antibodi AB, oleh karena itu individu dengan golongan AB disebut resipien universal.
Bila darah yang ditranfusikan tidak sesuai, maka akan timbul reaksi tranfusi.

Setelah system ABO, tipe Rh merupakan kelompok antigen sel darah merah
dengan kepentingan klinis besar. Tidak seperti anti-A dan anti-B, yang terjadi pada
individu normal dan tidak diimunisasi, antibody Rh tidak terbentuk tanpa stimulasi
imunisasi. Individu dengan antibodi D disebut Rh positif, sedangkan yang tidak memiliki
antibodi D disebut Rh negatif, tidak menjadi soal apakah ada antibodi Rh lainnya.
Antibody D dapat menyebabkan destruksi sel darah merah, seperti dalam kasus reaksi
tranfusi hemolitik lambat.

Penggolongan darah mengidentifikasi penggolonga ABO dan Rh dalam donor


darah. Pencocoksilangan (crossmatching) kemudian menentukan kompatibilitas ABO
dan Rh adalah penting dalam pemberian terapi tranfusi darah.

System HLA merupakan komponen berikutnya untuk dipertimbangkan dalam


pemberian tranfusi. System HLA didasarkan pada antigen yang terdapat dalam leukosit,
trombosit dan sel-sel lainnya. Penggolongan dan pencocoksilangan HLA kadang-kadang
diperlukan sebelum tranfusi trombosit diulangi.

A. Indikasi

1. Pasien dengan kehilangan darah dalam jumlah besar (operasi besar, perdarahan
postpartum, kecelakaan, luka bakar hebat, penyakit kekurangan kadar Hb atau
penyakit kelainan darah)

2. Pasien dengan syok hemoragi

A. Macam-macam Komponen Darah

Darah lengkap (whole blood)

Tranfusi darah lengkap hanya untuk mengatasi perdarahan akut dan masif, meningkatkan
dan mempertahankan proses pembekuan. Darah lengkap diberikan dengan golongan
ABO dan Rh yang diketahui. Infuskan selama 2 sampai 3 jam, maksimum 4 jam/unit.
Dosis pada pediatrik rata-rata 20 ml/kg, diikuti dengan volume yang diperlukan untuk
stabilisasi. Bisanya tersedia dalam volume 400-500 ml dengan masa hidup 21 hari.
Hindari memberikan tranfusi saat klien tidak dapat menoleransi masalah sirkulasi.
Hangatkan darah jika akan diberikan dalam jumlah besar.

Indikasi:

1. Penggantian volume pada pasien dengan syok hemoragi, trauma atau luka bakar

2. Klien dengan perdarahan masif dan telah kehilangan lebih dari 25 persen dari
volume darah total

Packed Red Blood cells (RBCs)

Komponen ini mengandung sel darah merah, SDP, dan trombosit karena sebagian
plasma telah dihilangkan (80 %). Tersedia volume 250 ml. Diberikan selama 2 sampai
4 jam, dengan golongan darah ABO dan Rh yang diketahui. Hindari menggunakan
komponen ini untuk anemia yang mendapat terapi nutrisi dan obat. Masa hidup
komponen ini 21 hari.

Indikasi :

1. Pasien dengan kadar Hb rendah

2. Pasien anemia karena kehilangan darah saat pembedahan

3. Pasien dengan massa sel darah merah rendah

White Blood Cells (WBC atau leukosit)

Komponen ini terdiri dari darah lengkap dengan isi seperti RBCs, plasma dihilangkan 80
% , biasanya tersedia dalam volume 150 ml. Dalam pemberian perlu diketahui
golongan darah ABO dan sistem Rh. Apabila diresepkan berikan dipenhidramin.
Berikan antipiretik, karena komponen ini bisa menyebabkan demam dan dingin. Untuk
pencegahan infeksi, berikan tranfusi dan disambung dengan antibiotik.
Indikasi :

1. Pasien sepsis yang tidak berespon dengan antibiotik (khususnya untuk pasien dengan
kultur darah positif, demam persisten /38,3° C dan granulositopenia)

Leukosit –poor RBCs

Komponen ini sama dengan RBCs, tapi leukosit dihilangkan sampai 95 %, digunakan
bila kelebihan plasma dan antibody tidak dibutuhkan. Komponen ini tersedia dalam
volume 200 ml, waktu pemberian 1 ½ sampai 4 jam.

Indikasi:

1. Pasien dengan penekanan system imun (imunokompromise)

Platelet/trombosit

Komponen ini biasanya digunakan untuk mengobati kelainan perdarahan atau jumlah
trombosit yang rendah. Volume bervariasi biasanya 35-50 ml/unit, untuk pemberian
biasanya memerlukan beberapa kantong. Komponen ini diberikan secara cepat. Hindari
pemberian trombosit jika klien sedang demam. Klien dengan riwayat reaksi tranfusi
trombosit, berikan premedikasi antipiretik dan antihistamin. Shelf life umumnya 6
sampai 72 jam tergantung pada kebijakan pusat di mana trombosit tersebut didapatkan.
Periksa hitung trombosit pada 1 dan 24 jam setelah pemberian.

Indikasi:

1. Pasien dengan trombositopenia (karena penurunan trombosit, peningkatan


pemecahan trombosit

2. Pasien dengan leukemia dan marrow aplasia

Fresh Frozen Plasma (FFP)


Komponen ini digunakan untuk memperbaiki dan menjaga volume akibat kehilangan
darah akut. Komponen ini mengandung semua faktor pembekuan darah (factor V, VIII,
dan IX). Pemberian dilakukan secara cepat, pada pemberian FFP dalam jumlah besar
diperlukan koreksi adanya hypokalsemia, karena asam sitrat dalam FFP mengikat
kalsium. Shelf life 12 bulan jika dibekukan dan 6 jam jika sudah mencair. Perlu
dilakukan pencocokan golongan darah ABO dan system Rh.

Indikasi:

1.Pencegahan perdarahan postoperasi dan syok

2.Pasien dengan defisiensi faktor koagulasi yang tidak bisa ditentukan

3.Klien dengan penyakit hati dan mengalami defisiensi faktor pembekuan.

Albumin 5 % dan albumin 25 %

Komponen ini terdiri dari plasma protein, digunakan sebagai ekspander darah dan
pengganti protein. Komponen ini dapat diberikan melalui piggybag. Volume yang
diberikan bervariasi tergantung kebutuhan pasien. Hindarkan untuk mencampur
albumin dengan protein hydrolysate dan larutan alkohol.

Indikasi :

1.Pasien yang mengalami syok karena luka bakar, trauma, pembedahan atau infeksi

2. Terapi hyponatremi

A. Pertimbangan Pediatrik dan Gerontik

Pediatrik

1. Pada anak-anak, 50 ml darah pertama harus diinfuskan lebih dari 30 menit. Bila tidak
ada reaksi terjadi, kecepatan aliran ditingkatkan dengan sesuai untuk
menginfuskan sisa 275 ml lebih dari periode 2 jam
2. Darah untuk bayi baru lahir dicocok silangkan dengan serum ibu karena mungkin
mempunyai antibody lebih dari bayi tersebut dan memungkinkan identifikasi
yang lebih mudah tentang inkompabilitas

3. Dosis untuk anak-anak bervariasi menurut umur dan berat badan (hitung dosis dalam
milliliter per kilogram berat badan)

4. Tranfusi sel darah merah memerlukan waktu infus yang ketat (untuk mempermudah
deteksi dini reaksi hemolitik yang mungkin terjadi)

5. Penggunaan penghangat darah mencegah hipotermi yang menimbulkan disritmia

6. Gunakan pompa infus elektronik untuk memantau dan mengontrol akurasi kecepatan
tetesan

7. Gunakan vena umbilikalis pada bayi baru lahir sebagai tempat akses vena

8. Tranfusi pada bayi baru lahir hanya boleh dilakukan oleh perawat atau dokter yang
kompeten dan berpengalaman (prosedur ini memerlukan ketrampilan tingkat
tinggi)

9. Tinjau kembali riwayat tranfusi anak

Gerontik

1. Riwayat sebelumnya (anemia dengan gagal sumsum tulang, anemia yang


berhubungan dengan keganasan, perdarahan gastrointestinal kronik, gagal ginjal
kronik)

2. Terdapat kemungkinan bahaya pada jantung, ginjal, dan sistem pernafasan (atur
kecepatan aliran jika klien tidak mampu menoleransi aliran yang telah ditetapkan),
sehingga waktu tranfusi lebih lambat

3. Defisit sensori dapat terjadi (konsultasikan dengan rekam medik atau anggota
keluarga terhadap reaksi tranfusi darah sebelumnya)
4. Premedikasi dapat menyebabkan mengantuk

5. Integritas vena mungkin melemah, pastikan kepatenan kateter atau jarum sebelum
melakukan tranfusi

A. Efek tranfusi

Alergi

Penyebab:

1. Alergen di dalam darah yang didonorkan

2. Darah hipersensitif terhadap obat tertentu

Gejala:

Anaphilaksis (dingin, bengkak pada wajah, edema laring, pruritus, urtikaria,


wheezing), demam, nausea dan vomit, dyspnea, nyeri dada, cardiac arrest, kolaps
sirkulasi

Intervensi:

1. Lambatkan atau hentikan tranfusi

2. Berikkan normal saline

3. Monitor vital sign dan lakukan RJP jika diperlukan

4. Berikan oksigenasi jika diperlukan

5. Monitor reaksi anafilaksis dan jika diindikasikan berikan epineprin dan


kortikosteroid

6. Apabila diresepkan, sebelum pemberian tranfusi berikan diphenhidramin

Anafilaksis
Penyebab:

Pemberian protein IgA ke resipien penderita defisiensi IgA yang telah membentuk
antibodi IgA

Gejala:

Tidak ada demam, syok, distress pernafasan (mengi, sianosis), mual, hipotensi, kram
abdomen, terjadi dengan cepat setelah pemberian hanya beberapa milliliter darah atau
plasma.

Intervensi:

1. Hentikan tranfusi

2. Lanjutkan pemberian infus normal saline

3. Beritahu dokter dan bank darah

4. Ukur tanda vital tiap 15 menit

5. Berikan ephineprine jika diprogramkan

6. Lakukan resusitasi jantung paru (RJP) jika diperlukan

Pencegahan:

Tranfusikan sel darah merah (SDM) yang sudah diproses dengan memisahkan plasma
dari SDM tersebut, gunakan darah dari donor yang menderita defesiensi IgA.

Sepsis

Penyebab:

Komponen darah yang terkontaminasi oleh bakteri atau endotoksin


Gejala:

Menggigil, demam, muntah, diare, penurunan tekanan darah yang mencolok, syok

Intervensi:

1. Hentikan tranfusi

2. Ambil kultur darah pasien

3. Pantau tanda vital setiap 15 menit

4. Berikan antibiotik, cairan IV, vasoreseptor dan steroid sesuai program

Pencegahan:

Jaga darah sejak dari donasi sampai pemberian

Urtikaria

Penyebab:

Alergi terhadap produk yang dapat larut dalam plasma donor

Gejala:

Eritema lokal, gatal dan berbintik-bintik, biasanya tanpa demam

Intervensi:

1. Hentikan tranfusi

2. Ukur vital sign tiap 15 menit

3. Berikan antihistamin sesuai program

4. Tranfusi bisa dimulai lagi jika demam dan gejala pulmonal tidak ada lagi
Pencegahan:

Berikan antihistamin sebelum dan selama pemberian tranfusi

Kelebihan sirkulasi

Penyebab:

Volume darah atau komponen darah yang berlebihan atau diberikan terlalu cepat

Gejala:

Dyspnea, dada seperti tertekan, batuk kering, gelisah, sakit kepala hebat, nadi,
tekanan darah dan pernafasan meningkat, tekanan vena sentral dan vena jugularis
meningkat

Intervensi:

1. Tinggikan kepala klien

2. Monitor vital sign

3. Perlambat atau hentikan aliran tranfusi sesuai program

4. Berikan morfin, diuretik, dan oksigen sesuai program

Pencegahan:

Kecepatan pemberian darah atau komponen darah disesuaikan dengan kondisi klien,
berikan komponen SDM bukan darah lengkap, apabila diprogramkan minimalkan
pemberian normal saline yang dipergunakan untuk menjaga kepatenan IV

Hemolitik

Penyebab:
Antibody dalam plasma resipien bereaksi dengan antigen dalam SDM donor, resipien
menjadi tersensitisasi terhadap antigen SDM asing yang bukan dalam system ABO

Gejala:

Cemas, nadi, pernafasan dan suhu meningkat, tekanan darah menurun, dyspnea, mual dan
muntah, menggigil, hemoglobinemia, hemoglobinuria, perdarahan abnormal, oliguria,
nyeri punggung, syok, ikterus ringan. Hemolitik akut terjadi bila sedikitnya 10-15 ml
darah yang tidak kompatibel telah diinfuskan, sedangkan reaksi hemolitik lambat
dapat terjadi 2 hari atau lebih setelah tranfusi.

Intervensi:

1. Monitor tekanan darah dan pantau adanya syok

2. Hentikan tranfusi

3. Lanjutkan infus normal saline

4. Pantau keluaran urine untuk melihat adanya oliguria

5. Ambil sample darah dan urine

6. Untuk hemolitik lambat, karena terjadi setelah tranfusi, pantau pemeriksaan darah
untuk anemia yang berlanjut

Pencegahan:

Identifikasi klien dengan teliti saat sample darah diambil untuk ditetapkan golongannya
dan saat darah diberikan untuk tranfusi (penyebab paling sering karena salah
mengidentifikasi).

Demam Non-Hemolitik

Penyebab:
Antibody anti-HLA resipien bereaksi dengan antigen leukosit dan trombosit yang
ditranfusikan.

Gejala:

Demam, flushing, menggigil, tidak ada hemolisis SDM, nyeri lumbal, malaise, sakit
kepala

Intervensi:

1. Hentikan tranfusi

2. Lanjutkan pemberian normal saline

3. Berikan antipiretik sesuai program

4. Pantau suhu tiap 4 jam

Pencegahan:

Gunakan darah yang mengandung sedikit leukosit (sudah difiltrasi)

Hiperkalemia

Penyebab:

Penyimpanan darah yang lama melepaskan kalium ke dalam plasma sel

Gejala:

Serangan dalam beberapa menit, EKG berubah, gelombang T meninggi dan QRS
melebar, kelemahan ekstremitas, nyeri abdominal

Hipokalemia

Penyebab:
Berhubungan dengan alkalosis metabolik yang diindikasi oleh sitrat tetapi dapat
dipengaruhi oleh alkalosis respiratorik

Gejala:

Serangan bertahap, EKG berubah, gelombang T mendatar, segmen ST depresi,


poliuria, kelemahan otot, bising usus menurun

Hipotermia

Penyebab:

Pemberian komponen darah yang dingin dengan cepat atau bila darah dingin
diberikan melalui kateter vena sentral.

Gejala:

Menggigil, hipotensi, aritmia jantung, henti jantung/cardiac arrest

Intervensi:

1. Hentikan tranfusi

2. Hangatkan pasien dengan selimut

3. Ciptakan lingkungan yang hangat untuk pasien

4. Hangatkan darah sebelum ditranfusikan

5. Periksa EKG

A. Infeksi yang ditularkan melalui tranfusi

AIDS

Penyebab:
Darah donor HIV seropositif

Gejala:

Demam, keringat malam, letih, berat badan menurun, adenopati, lesi kulit seropositif
terhadap virus HIV

Kontaminasi bakteri

Penyebab:

Kontaminasi pada saat penyumbangan atau persiapan, bakteri endotoksin melepaskan


endotoksin

Gejala:

Serangan dalam 2 jam tranfusi (menggigil, demam, nyeri abdomen, syok, hipotensi
yang nyata

Cytomegalovirus (CMV)

Virus CMV dapat berada pada orang dewasa yang sehat. Pasien-pasien dengan
imunosupresi berisiko tinggi tertular CMV

Gejala:

Letih, lemah, adenopati, demam derajat rendah

Hepatitis

Hepatitis A dan hepatitis B jarang, penyakit hati kronik lebih umum dengan Hepatitis C
daripada hepatitis B

Gejala:
Terjadi dalam dalam beberapa minggu sampai bulan setelah tranfusi, mual, muntah,
ikterus, malaise, kadar enzim hati tinggi

GVHD (Graft versus host desease)

Penyebab:

Limfosit donor yang normal bereproduksi di dalam tubuh resipien yang mengalami
gangguan kekebalan, limfosit menyerang jaringan resipien karena dianggap sebagai
protein asing.

Gejala:

Demam, ruam kulit, diare, infeksi, gangguan fungsi hati (jaundice, supresi sumsum
tulang)

Intervensi:

Berikan metotresat dan kortikosteroid jika diprogramkan

Pencegahan;

Berikan darah yang tidak diradiasi jika diprogramkan, berikan darah yang telah dicuci
dengan saline jika diprogramkan

A. Manajemen efek tranfusi

Pedoman untuk mengatasi reaksi tranfusi yang dibuat oleh American Assotiation of
Blood Banks adalah:

1. Hentikan tranfusi untuk membatasi jumlah darah yang diinfuskan

2. Beritahu dokter

3. Pertahankan jalur IV tetap terbuka dengan infus normal saline


4. Periksa semua label, formulir, dan identifikasi pasien untuk menentukan apakah
pasien menerima darah atau komponen darah yang benar

5. Segera laporkan reaksi tranfusi yang dicurigai pada petugas bank darah

6. Kirimkan sample darah yang diperlukan ke bank darah sesegera mungkin,


bersama-sama dengan kantong darah yang telah dihentikan, set pemberian,
larutan IV yang diberikan, dan semua formulir dan label yang berhubungan.

7. Kirim sampel lainnya (misal urin)

8. Lengkapi laporan institusi atau formulir “reaksi tranfusi yang dicurigai”

9. Peralatan yang harus disiapkan (obat-obatan seperti: aminophilin, difenhidramin,


hidroklorida, dopamine, epinefrin, heparin, hidrokortison, furosemid,
asetaminofen, aspirin; set oksigenasi; kit kateter foley; botol kultur darah; cairan
IV; selang IV)

A. Hal-hal yang perlu diperhatikan

1. Kondisi pasien sebelum ditranfusi

2. Kecocokan darah yang akan dimasukkan

3. Label darah yang akan dimasukkan

4. Golongan darah klien

5. Periksa warna darah (terjadi gumpalan atau tidak)

6. Homogenitas (darah bercampur semua atau tidak)

A. Persiapan Pasien

1. Jelaskan prosedur dan tujuan tranfusi yang akan dilakukan


2. Jelaskan kemungkinan reaksi tranfusi darah yang keungkinan terjadi dan pentingnya
melaporkan reaksi dengan cepat kepada perawat atau dokter

3. Jelaskan kemungkinan reaksi lambat yang mungkin terjadi, anjurkan untuk segera
melapor apabila reaksi terjadi

4. Apabila klien sudah dipasang infus, cek apakah set infusnya bisa digunakan untuk
pemberian tranfusi

5. Apabila klien belum dipasang infus, lakukan pemasangan dan berikan normal saline
terlebih dahulu

6. Pastikan golongan darah pasien sudah teridentifika