Anda di halaman 1dari 125

EPIDEMIOLOGI

OLEH
DR. H. BILLY SETIANEGARA MPHM
PENDAHULUAN

• Sejarah perkembangan Epidemiologi


– Pengaruh lingkungan terhadap kejadian penyakit
– Penggunaan data kuantitatif dan statistik
– Penularan penyakit
– Eksperimen pada manusia
• Batasan dan pengertian Epidemiologi
• Mengapa petugas kesehatan membutuhkan pengetahuan
epidemiologi
• Peran Epidemiologi dalam bidang kedokteran dan kesehatan
masyarakat
– Tujuan
– Jangkauan epidemiologi
SEJARAH PERKEMBANGAN EPIDEMIOLOGI

• Sejarah menunjukkan bahwa epidemiologi merupakan ilmu yang telah


dikenal sejak zaman dahulu yang berkembang bersamaan dengan ilmu
kedokteran karena keduanya saling berkaitan.
Misalnya studi epidemiologi bertujuan mengungkapkan penyebab
penyalit atau program P2M yang membutuhkan pengetahuan ilmu
kedokteran seperti : ilmu faal, biokimia, patologi, mikrobiologi dan
genetika.

• Hasil yang diperoleh dari studi epidemiologi dapat digunakan untuk


menentukan pengobatan suatu penyakit, melakukan pencegahan dan
meramalkan hasil pengobatan.

• Perbedaan antara ilmu kedokteran dengan epidemiologi terletak pada


cara penanganan masalah kesehatan. Ilmu kedokteran lebih menekankan
pelayanan kasus sedangkan epidemiologi lebih menekankan pada
kelompok individu.
SEJARAH PERKEMBANGAN EPIDEMIOLOGI

• Oleh karena itu pada epidemiologi selain butuh ilmu kedokteran, juga
membutuhkan disiplin ilmu lain seperti : demografi, antropologi,
sosiologi, geologi, lingkungan fisik, ekonomi, budaya dan statistika. Hal
ini menjadikan epidemiologi menjadi suatu ilmu yang kompleks

• Walaupun epidemiologi telah dikenal sejak zaman dahulu, tetapi dalam


perkembangannya mengalami banyak hambatan, sehingga baru pada
beberapa dasawarsa terakhir ini epidemiologi diakui sebagai suatu
disiplin ilmu.

• Salah satu penyebab hambatan tsb adalah belum semua ahli bidang
kedokteran setuju dengan metode yang digunakan epidemiologi karena
adanya perbedaan paradigma dalam menangani masalah kesehatan
terutama pada masa berlakunya paradigma bahwa penyakit disebabkan
oleh roh jahat.
SEJARAH PERKEMBANGAN EPIDEMIOLOGI

• Keberhasilan menembus paradigma tersebut adalah berkat


perjuangan yang gigih dari para sarjana seperti : Hipocrates,
John Graunt, John Snow, William Farr, Robert Koch, James
Lind, Lord Kelvin, Kuhn dan Francis Galton.

• Para sarjana tersebut telah meletakkan konsep epidemiologi yang


masih bertahan sampai sekarang berupa :
– Pengaruh lingkungan terhadap kejadian penyakit
– Penggunaan data kuantitatif dan statistik
– Penularan penyakit dan
– Eksperimen pada manusia.
PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP
KEJADIAN PENYAKIT

• Orang pertama yang berpikir bahwa ada hubungan antara


lingkungan dengan kejadian penyakit adalah Hipocrates yang
hidup pada zaman yunani tahun 460-370 SM. Hipocrates adalah
dokter terbesar pada zamannya dan dianggap sebagai bapak
ilmu kedokteran.

• Selain itu Hipocrates juga dikenal sebagai seorang hygienis


karena tulisannya yang berjudul : Air, Water and Places. Dalam
tulisan itu ia mengemukakan bahwa : …. Barang siapa yang ingin
mempelajari ilmu kedokteran, harus memperhatikan keadaan
musim dan akibatnya, memperhatikan dan mempelajari tentang
angin, udara, kedudukan kota, tenggelam dan terbitnya matahari,
kebiasaan makan dan minum, pakaian, gizi, air yang digunakan
penduduk, keadaan tanah, kebiasaan hidup dan lain-lain.
PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP
KEJADIAN PENYAKIT

• Dari kutipan diatas jelas bahwa Hipocrates menekankan


pentingnya menemukan berbagai pengaruh faktor lingkungan
dan kebiasaan hidup terhadap timbulnya penyakit atau dengan
kata lain Hipocrates telah menghubungkan timbulnya penyait
dengan faktor lingkungan baik fisik ataupun sosial.

• Hipocrates juga menyatakan bahwa epidemi merupakan suatu


kejadian massal sehingga dari pernyataan tersebut dapat
dikatakan bahwa Hipocrates adalah ahli epidemiologi
pertama di Dunia.
PENGGUNAAN DATA KUANTITATIF DAN
STATISTIK

• Pentingnya data kuantitatif dalam ilmu pengetahuan dinyatakan oleh


Lord Kelvin yang diungkapkan oleh Kuhn dalam bentuk lain tapi
mempunyai arti sama yaitu : bila anda tidak dapat menyatakan sesuatu
dalam bentuk angka maka pengetahuan anda belum sempurna.
• Pernyataan ini diikuti oleh berbagai sarjana termasuk Francies Galton
dan sejak saat itu data kuantitatif menjadi sangat populer dan banyak
diunakan dalam berbagai disiplin ilmu.
• Pencatatan data statistik diawali dengan oleh suatu publikasi tentang
kesehatan dan kematian di kota London tahun 1632 oleh John Graunt
yang menyimpukan :
– Biasanya jumlah kelahiran laki2 lebih banyak dari wanita
– Angka kematian terbanyak terjadi pada bayi
– Angka kematian bervariasi menurut musim
– Kematian disebabkan karena penyakit akut dan kronis
MASALAH PENULARAN PENYAKIT

• Pengertian penyakit menular telah dikenal sejak abad pertengahan


berupa upaya pengisolasian penderita Lepra yang dilakukan oleh pihak
gereja.
• Konsep tentang penularan penyakit diawali oleh Fracastorius (1483-
1553) dengan teori De contagione yaitu penularan penyakit yang terjadi
melalui jasad renik yang sangat kecil dan tidak nampak.
• Kemudian perkembangan epidemiologi mengalami kemandegan sampai
abad ke 18 karena adanya revolusi industri di Inggris yang berdampak
timbulnya permasalahan sosial dan kesehatan karena peningkatan jumla
penduduk, timbulnya daerah kumuh dengan berbagai masalah sanitasi,
pembuangan sampah dan tinja yang sangat buruk. Sampai suatu saat
terjadi ledakan wabah kolera sedemikian besar sehingga kolera disebut
sebagai bapak kesehatan masyarakat.
• Studi epidemiologi tentang wabah kolera tersebut dilakukan pertama
oleh William Farr yang menganalisa secara statistik dan epidemiologis
kematian yang berkaitan dengan kolera yang terjadi pada tahun 1832
dan 1849.
MASALAH PENULARAN PENYAKIT

• Dalam analisa epidemiologisnya terhadap kolera Farr melakukan:


– Pengamatan kematian yang terjadi di berbagai institusi seperti
penjara, industri tambang dll serta membandingkannya dengan
kematian yan terjadi di masyarakat umum.
– Menggunakan metode statistik yang memdemonstrasikan adanya
hubungan antara insidensi dan distribusi kolera dengan pencemaran
air minum dari sungai Thames.
• Farr juga memperkenalkan istilah Population at risk yang
berarti kelompok penduduk yang mempunyai resiko untuk
terkena kolera yaitu seluruh penduduk yang menggunakan air
sungai Thames.
• Metode analisa yang digunakan oleh William Farr ini merupakan
prinsip dasar epidemiologi modern saat ini.
MASALAH PENULARAN PENYAKIT

• Pada tahun 1854 John Snow juga melakukan pengamatan


epidemiologis kolera yang terjadi pd waktu itu dengan hasil :
– Ada hubungan antara air minum dengan insidensi penyakit kolera
– Pada epidemi yang terjadi pada 2 september 1854 Snow menarik kesimpulan
bahwa terdapat perbedaan insidensi kolera dengan perbedaan sumber air
minum yang digunakan masyarakat.
• Dalam penelitian tersebut Snow juga mengumpulkan data tentang
kebiasaan hidup masyarakat, keadaan sosial ekonomi, tingkat pendi
dikan, kebudayaan, hygiene perorangan, keadaan perumahan dll.
• Dari analisa data tersebut disimpulkan bahwa kasus kolera yang fatal
banyak terjadi pada penduduk dengan tingkat sosial ekonomi rendah
disertai hygiene perorangan yang buruk karena kebanyakan kasus kolera
yang terjadi pada penduduk miskin dengan perumahan jelek, berjubel,
dan semua kegiatan hidup dilakukan dalam satu kamar.
EKSPERIMEN PADA MANUSIA

• Suatu cara yang paling baik untuk mengungkapkan penyebab suatu


penyakit adalah melakukan percobaan langsung pada manusia, tetapi hal
ini jarang dilakukan karena pertimbangan faktor etis terutama bila
percobaan tersebut dapat menimbulkan efek kerugian bagi manusia.
• Percobaan pada manusia sebenarnya telah dilakukan sejak abad ke 15
walau dengan jumlah yang sangat sedikit misalnya:
– Eksperimen oleh James Lind pada tahun 1747 terhadap pelaut yang
menderita scorbut yang menyimpulkan bahwa scorbut disebabkan karena
kekurangan zat yang terdapat dalam buah segar yang belakangan terbukti
sebagai Vitamin C atau Ascorbic acid.
• Pada tahun 1961, Goldberger mengadakan eksperimen pada manusia
terhadap penyakit Pellagra yang disimpulkan bahwa pellagra bukan
disebabkan infeksi melainkan karena kekurangan vitamin yang
belakangan dikenal sebagai vitamin B kompleks
• Untuk menghindari faktor etis biasanya dilakukan eksperimen terhada
binatang percobaan sebelum dilakukan pada manusia.
• Percobaab pada manusia sering dapat dilakukan secara tidak langsung
pada kehidupan sehari-hari dengan mengamati kejadian atau akibat
sesuatu yang dikonsumsi atau terpapar kepada manusia.
BATASAN DAN PENGERTIAN
EPIDEMIOLOGI
• Epidemiologi merupakan ilmu yang kompleks dan senantiasa berkembang, karena
itu tidaklah mudah untuk menentukan suatu batasan yang baku.
• Hal ini tampak dengan diberikannya definisi yang bervariasi oleh banyak ahli
epidemiologi antara lain sbb :
– Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari distribusi penyakit dan
determinan yang mempengaruhi frefuensi penyakit pada kelompok
manusia ( Mac. Mahon. B & Pugh. T.F., 1970 )
– Epidemiologi adalah studi tentang faktor yang menentukan frekuensi dan
distribusi penyakit pada populasi manusia ( Lowe C.R. & Koes-trzwski. J.,
1973 )
– Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan
penyakit dan rudapaksa pada populasi manusia ( Mausner J.S. & Bahn, 1974)
– Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari distribusi penyakit atau keadaan
fisiologis pada penduduk dan determinan yang mempengaruhi distribusi
tersebut ( Lilienfield A.M. & D.E.Lilienfield, 1980 )
– Epidemiologi adalah suatu studi tentang distribusi dan determinan penyakit
pada populasi manusia ( Barker. D.J.P., 1982
• Dari definisi tsb disimpulkan bahwa Epidemiologi adalah ilmu
yang mempelajari penyakit, rudapaksa dan fenomena fisiologis
tentang frekuensi dan determinannya pada manusia.
PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI

• Pengertian epidemiologi dapat ditinjau dari beberapa aspek


sesuai dengan tujuan masing2 yaitu :
1. Aspek akademis
2. Aspek praktis
3. Aspek klinis
4. Aspek administratif

• Aspek akademis
Secara akademik, epidemiologi berarti analisa ilmiah data
kesehatan, sosial ekonomi dan kecenderungan yang terjadi
untuk mengadakan identifikasi dan interpretasi perubahan
keadaan kesehatan yang terjadi atau akan terjadi di
masyarakat umum atau kelompok penduduk tertentu.
PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI

• Aspek Praktis
Ditinjau dari segi praktis, epidemiologi merupakan ilmu yang ditujukan
pada upaya pencegahan penyebaran penyakit yang menimpa individu,
kelompok atau masyarakat umum.
Dalam hal ini, penyebab penyakit tidak harus diketahui secara pasti,
tetapi diutamakan pada cara penularan, infektifitas, menghindarkan agen
yang diduga sebagai penyebab, toksin atau lingkungan, dan membentuk
kekebalan untuk menjamin kesehatan masyarakat.
• Aspek Klinis
Dari aspek klinis epidemiologi berarti suatu usaha untuk mendeteksi
secara dini perubahan insidensi atau prevalensi melalui penemuan klinis
atau laboratoris pada awal KLB atau timbulnya penyakit baru.
• Aspek administratif
Secara administratif epidemiologi berarti suatu usaha untuk mengetahui
status kesehatan masyarakat disuatu wilayah atau negara untuk
diberikan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.
MANFAAT EPIDEMIOLOGI

1. Walaupun teknologi kedokteran telah maju pesat, masih banyak faktor


penyebab penyakit yang belum terungkapkan terutama penyakit kronis,
penyakit yang jarang terjadi, atau penyakit yang baru dan belum pernah
dilaporkan sebelumnya. Hanya dengan pendekatan epidemiologislah penyebab
penyakit tersebut dapat diungkapkan.
2. Keberhasilan pengobatan atau pencegahan penyakit yang dilakukan di
laboratorium masih harus diuji keampuhannya di masyarakat menggunakan
metode epidemiologis.
3. Frekuensi dan distribusi penyakit yang diperoleh di Rumah Sakit harus di
uji silang kebenarannya dengan kondisi yang terjadi di masyarakat.
4. Dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui
peningkatan pelayanan kesehatan dibutuhkan informasi tentang orang yang
terkena, jumlahnya dimana dan bilamana terjadinya, penyebaran dan
penyebabnya , hanya dapat diperoleh dengan pendekatan epidemiologis.
5. Dalam menghadapi masalah kesehatan karena ledakan penduduk atau
pencegahan suatu penyakit, perlu dilakukan upaya epidemiologis misalnya
upaya KB atau dengan immunisasi dan penyaringan kelompok resiko terkena
suatu penyakit.
PERAN EPIDEMIOLOGI DALAM BIDANG
KEDOKTERAN

1. Mengungkap penyebab penyakit


2. Meneliti hubungan sebab akibat antara timbulnya penyakit dengan
determinan yang mempengaruhinya.
3. Meneliti perjalanan penyakit secara alamiah.
4. Mengembangkan indeks deskriptif untuk menyatakan tinggi
rendahnya insidensi atau prevalensi suatu penyakit dalam suatu
wilayah dan dapat dibandingkan dengan daerah lain.
5. Penemuan berbagai penyakit seperti skorbut, pellagra dan kolera.
6. Menentukan hubungan antara rokok dengan penyakit jantung
koroner, carsinoma paru dan hipertensi.
7. Hubungan antara air dan makanan dengan suatu penyakit.
8. Hubungan antara pil KB dengan radang pada pembuluh vena.
9. Hubungan antara penyakit heriditer dengan ras atau etnis tertentu.
PERAN EPIDEMIOLOGI DALAM KESEHATAN
MASYARAKAT

1. Mengadakan analisis perjalanan penyakit di masyarakat serta


perubahan2 yang terjadi akibat intervensi alam atau manusia.
2. Menjelaskan pola penyakit pada berbagai kelompok
masyarakat
3. Menjelaskan hubungan antara dinamika penduduk dengan
dengan penyebaran penyakit.
• Bertambahnya pemukiman baru menimbulkan akibat
bertambahnya tempat sarang penyakit
• Mudahnya transportasi berakibat peningkatan penyebaran
penyakit karena mobilitas penduduk yang tinggi.
• Terjadinya perubahan tata kehidupan masyarakat mengakibatkan
perubahan pola timbulnya penyakit
KEGUNAAN HASIL STUDI EPIDEMIOLOGIS

1. Mendiagnosa dan memprediksi kebutuhan pelayanan


kesehatan pada masyarakat dimasa yang akan datang serta
menentukan prioritas masalah kesehatan.

2. Sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan program


pelayanan kesehatan seperti pengobatan, pencegahan, dan
penanggulangan masalah kesehatan di masyarakat
TUJUAN STUDI EPIDEMIOLOGI

• Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan yang hendak


dicapai dalam mempelajari epidemiologi adalah untuk
memperoleh data frekuensi, distribusi dan determinan
penyakit atau fenomena lain yang berkaitan dengan
kesehatan masyarakat.
• Misalnya :
– Penyelidikan epidemiologis pada suatu KLB karena keracunan
makanan untuk mengungkap makanan yang tercemar, orang yang
terkena apa sebab dan akibat yang ditimbulkannya.
– Menemukan hubungan antara asbes dengan karsinoma paru.
– Menguji hasil hipotesis yang ditemukan pada hewan percobaan
apakah juga dapat terjadi pada manusia.
– Memperoleh informasi yang dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam menyusun perencanaan, penanggulangan
masalah dan menentukan prioritas kegiatan.
JANGKAUAN EPIDEMIOLOGI

1. Pada awalnya hanya mempelajari penyakit infeksi yang


dapat menimbulkan wabah melalui temuan tentang jenis
penyakit, cara penularan dan cara penanggulangan dan
pencegahannya.
2. Kemudian juga mempelajari penyakit infeksi non wabah.
3. Selanjutnya mempelajari penyakit non infeksi seperti
penyakit jantung, tumor, hipertensi, DM dll.
4. Akhirnya epidemiologi dapat mempelajari hal-hal yang bukan
penyakit seperti : masalah fertilitas, menopause, kecelakaan,
kenakalan remaja, penyalahgunaan obat
PROSES PENULARAN PENYAKIT
KEADAAN PEJAMU
LINGKUNGAN : •Keadaan umum
1. Lingkungan fisik : Geo •Genetik
grafis dan musim •Usia
2. Lingkungan biologis •Gender
3. Lingkungan sosial eko
AGENT PENYEBAB
•Keadaan fisiologis
1. Unsur hidup: Virus, bakteri
nomi. : Pekerjaan, Ur- •Status gizi
Jamur, parasit, Protozoa dan
banisasi, pendapatan, •Kekebalan tubuh
Metazoa
Bencana alam •Penyakit sebelumnya
2. Unsur mati : fisika, kimia dan
•Sifat-sifat manusia
kekerasan fisik
3. Unsur pokok kehidupan :
Air dan udara
SUMBER PENULARAN
•Penderita
•Karrier
•Hewan CARA MASUK
•Tumbuhan •Mukosa atau kulit
•Benda lain •Sistem Pencernaan
•Sistem Pernafasan
•Sistem Urogenital
•Gigitan, suntikan atau luka
CARA PENULARAN •Placenta
•Kontak langsung
•Air borne
•Food borne PENDERITA :
•Vector borne •Sakit
•transplacental •Sembuh
•Cacad atau Meninggal
KONSEP TERJADINYA PENYAKIT

H A

ECOLOGICAL CONCEPT ( JOHN GORDON )


E

H At equilibrium
A

E A H E
Increase the ability of an agent to infect and
Increase the proportion of susceptible host
Cause disease n man
in the human population
H
A
E
A E
H
Environmental changes fascilitate
agent spread Environmental changes cause
Increased susceptible host
KONSEP TERJADINYA PENYAKIT

THE HEALTH FIELD CONCEPT


(H.L. Laframboise, 1973)
SEHAT

Lingkungan Gaya hidup Biologi Pelayanan kesehatan

THE FORCED FIELD AND WELL-BEING


PARADIGMS OF HEALTH ( H.L. BLUM 1974 )

KETURUNAN

LINGKUNGAN HEALTH PELAYANAN KESEHATAN

GAYA HIDUP
PROSES KEJADIAN PENYAKIT

MENINGGAL
CACAD
PENYEBAB

KLINIK BERAT
S
KOMPLIKASI
E
LING KLINIK JELAS M
KUNG PEJAMU
AN
KLINIK TAK JELAS

SUB-KLINIK B
U
PREPATOGENESIS PATO
GENESIS INKUBASI
H
SIFAT-SIFAT MIKROORGANISME

1. Patogenitas :
Kemampuan mikroorganisme untuk menimbulkan penyakit
pada pejamu. Dituliskan dengan rumus :
Jumlah kasus penyakit tertentu
Patogenitas = -----------------------------------------
Jumlah orang yang terinfeksi
2. Virulensi :
Kemampuan mikroorganisme untuk menimbulkan penyakit
yang berat atau fatal, dinyatakan dengan rumus :
Jumlah kasus berat dan fatal
Virulensi =--------------------------------------------
Jlh semua kasus penyakit tertentu
SIFAT-SIFAT MIKROORGANISME

3. Tropisme :
Pemilihan jaringan atau organ yang diserang, Penyerangan terhadap jaringan
atau organ vital seperti otak atau jantung lebih menimbulkan penyakit yang
berat dibandingkan serangan terhadap jaringan tidak vital seperti saluran
nafas atau pencernaan.
4. Pejamu yang diserang :
Bila suatu organisme hanya menyerang manusia maka dikatakan bahwa
mikroorganisme tersebut mempunyai rentang yang pendek dan jika juga bisa
menyerang binatang dikatakan mempunyai rentang yang luas.
5. Kecepatan berkembang biak:
Mikroorganisme yang punya kemampuan berkembang biak dengan cepat akan
cepat pula menimbulkan penyakit.
6. Kemampuan menembus jaringan, memproduksi toxin dan menimbulkan
kekebalan.
Jika mikroorganisme mampu menembus jaringan atau mampu memproduksi
toxin, ia akan cepat menimbulkan penyakit, sebaliknya apabila ia mampu
merangsang atau menimbulkan kekebalan berarti sulit menimbulkan penyakit.
MASA TUNAS ATAU INKUBASI

• PENGERTIAN:
Mikroorganisme yang masuk kedalam tubuh tidak serta merta menimbulkan
gejala tapi membutuhkan tenggang waktu tertentu yang berbeda bagi setiap
mikroorganisme.
Pada penyakit infeksi, masa tunas atau inkubasi adalah waktu yang dibutuhkan
oleh mikroorganisme untuk berkembang biak sampai mencapai jumlah tertentu
dan melewati ambang yang dibutuhkan untuk menimbulkan gejala klinik atau
sakit.
Setiap mikroorganisme mempunyai masa tunas yang berbeda tergantung pada :
– Kecepatan berkembang biak : Makin cepat berkembang biak makin pendek
pula masa tunas dan makin cepat menimbulkan penyakit.
– Jumlah mikroorganisme : Makin banyak kuman yang masuk, makin cepat
pula masa tunas
– Tempat masuknya mikroorganisme : Bila kuman masuk ke organ vital, akan
cepat menimbulkan gejala dibanding dengan organ lain.
– Derajat kekebalan : Jika pejamu mempunyai kekebalan maka masa tunas
akan memanjang dan makin sulit menimbulkan penyakit.
MASA TUNAS ATAU INKUBASI

• MANFAAT MASA TUNAS


Pengetahuan tentang masa tunas sangat berguna untuk
membantu mendeteksi penyebab kejadian luar biasa sumber
umum misalnya keracunan makanan dengan cara sbb:
– Menentukan waktu terpajan dan timbulnya gejala
– Membuat kurva epidemi atau kurva masa tunas.
– Menghitung median masa tunas
– Mencari penyebab penyakit yang mempunyai masa tunas yang sama
dengan median hasil perhitungan.
MASA TUNAS BEBERAPA BAKTERI

JENIS BAKTERI MASA TUNAS


Staphylococcus 1 – 8 jam, rata-rata 2 – 4 jam
Beta Streptococcus hemoliticus 1 – 3 hari
Vibrio cholera 1 – 3 hari
Escheria coli patogen 8 – 48 jam, rata-rata 10 – 24 jam
Salmonella 8 – 72 jam, rata-rata 18 – 36 jam
Shigellosis 24 – 72 hari
Viral gastro enteritis 3 – 5 hari
Dycentri Amoeba 5 hari – beberapa bulan
Rata-rata 2 – 4 minggu
Botulisme 2 jam – 8 hari, rata-rata 18 – 36 jam
Brucellosis 7 – 21 jam
Typhoid fever 7 – 28 jam, rata-rata 14 hari
Hepatitis A Rata-rata 25 hari
MASA TUNAS BEBERAPA ZAT KIMIA

JENIS ZAT KIMIA MASA TUNAS


Antimon Beberapa menit – 1 jam
Cadmium 15 – 30 menit
Copper Beberapa menit – beberapa jam
Plumbum 30 menit atau lebih
Zinc Beberapa menit – beberapa jam
Phosphor organik ( pestisida) Beberapa menit – beberapa jam
Chlorinated hydrocarbon ( DDT, Endrin ) ½ - 8 jam
Mercuri 1 minggu atau lebih
Monosodium Glutamate Beberapa menit – 1 jam
Nicotinic acid Beberapa menit – 1 jam
Hypervitaminosis 1 – 6 jam
RESERVOIR

• Pengertian :
Reservoir adalah tempat hidup dan berkembang biaknya suatu agen
penyebab penyakit.
• Yang dapat menjadi reservoir adalah :
– Manusia
– Hewan
– Artropoda dll
• Cara terjadinya siklus penularan penyakit dengan manusia sebagai
reservoir :
– Siklus penularan langsung : dari orang ke orang lain.
Misalnya Difteri, Parotitis, Demam tifoid, amoebiasis dll
– Siklus penularan tidak langsung : dari orang ke orang lain melalui vector.
Misalnya : Malaria dan Demam berdarah.
KARIER

• PENGERTIAN :
Karier adalah orang atau hewan yang pernah terinfeksi suatu penyakit, dengan
atau tanpa gejala klinis tetapi merupakan sumber penularan yang potensial.

• MACAM-MACAM KARIER :
1. Karier masa tunas : Orang yang terinfeksi, belum ada gejala tapi berpotensi
menularkan penyakit.
Misalnya : Hepatitis, Morbili, Varicella
2. Karier penyakit tanpa gejala : Orang yang terinfeksi tidak pernah ada gejala sakit
tapi berpotensi menularkan penyakit.
Misalnya : Infeksi meningococcus, Poliomyelitis, hepatitis
3. Karier masa pemulihan :Penderita dalam masa penyembuhan tapi ber potensi
menularkan penyakit.
Misalnya: Difteri, Variola, Hepatitis B, Morbili, Salmonelosis.
4. Karier penyakit kronis: Penderita penyakit kronis yang berfungsi sebagai reservoir.
Misalnya: Demam tifoid, Hepatitis
PERJALANAN PENYAKIT ALAMIAH

• PENGERTIAN :
Perjalanan penyakit alamiah adalah proses perkembangan suatu
penyakit yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi manusia baik
dengan sengaja atau tidak sengaja.
Perjalanan penyakit alamiah seolah-olah adalah suatu , eksperimen ,
yang dilakukan oleh alam.
• JENIS EKSPERIMEN ALAMIAH
– PATOGENIK : istilah yang menerangkan kondisi seseorang yang mulanya
sehat kemudian menjadi sakit karena pengaruh alam atau oleh orang yang
bersangkutan secara sengaja atau tidak sengaja.
• Intervensi alam : bencana alam, banjir, gempa, letusan gunung dll
• Intervensi oleh yang bersangkutan : dengan sengaja : merokok, minum alkohol
tanpa sengaja: misalnya termakan atau terminum makanan atau minuman yang
tercemar racun atau bibit penyakit.
– PATOGRESIF : adalah perjalanan klinis dari suatu penyakit yang terdiri
dari fase prepatogenesis dan fase patogenesis
TAHAPAN PERJALANAN PENYAKIT ALAMIAH

1. TAHAP PEKA
Yaitu orang sehat tetapi mempunyai faktor resiko atau faktor predisposisi
untuk terkena penyakit
• Faktor yang tak terhindarkan : Genetik atau etnik, umur dan gender
• Faktor yang dapat dihindari : Kondisi fisik, kebiasaan hidup, sosial ekonomi.

2. TAHAP PRA-GEJALA ATAU SUB-KLINIS


Yaitu orang yang telah terinfeksi tapi belum menunjukkan gejala atau
belum terjadi gangguan fungsi organ sehingga sulit dideteksi secara klinis
dengan ciri-ciri :
• Perubahan akibat infeksi atau pemaparan oleh agen belum nampak
• Pada penyakt infeksi terjadi perkembangbiakan mikro organisme patogen
• Pada penyakit non infeksi merupakan periode terjadinya perubahan anatomi
dan histologi tanpa perubahan fisiologi
TAHAPAN PERJALANAN PENYAKIT ALAMIAH

3. TAHAP KLINIS
Yaitu ketika telah terjadi perubahan fungsi organ sehingga
menimbulkan gejala penyakit.
Manifestasi klinis pada tahap ini sangat bervariasi mulai dari yang
paling ringan sampai yang sangat berat atau kematian.
Variasi ini disebut sebagai SPEKTRUM PENYAKIT
4. TAHAP KETIDAKMAMPUAN
Yaitu tahap dimana terjadi pembatasan dalam melakukan kegiatan
sehari-hari meliputi gangguan fisik atau mental, sementara atau
menetap, terjadi dalam waktu lama atau singkat

Tampak Sakit Sakit Sakit Sakit berat mati


sehat ringan sedang berat sekali
PENCEGAHAN PENYAKIT

1. PENCEGAHAN PRIMER :
Pencegahan primer adalah upaya untuk mempertahankan orang yang sehat
agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit
a. Pencegahan umum : yaitu pencegahan yang dilakukan secara umum
misalnya pendidikan kesehatan dan upaya kebersihan lingkungan.
b. Pencegahan khusus : yaitu pencegahan yang ditujukan kepada orang yang
mempunyai resiko dengan cara immunisasi.

2. PENCEGAHAN SEKUNDER :
Pencegahan sekunder adalah pencegahan yang ditujukan kepada orang yang
telah sakit agar tetap sembuh, menghambat progresifitas, menghindarkan
timbulnya komplikasi dan mengurangi ketidakmampuan.
Pencegahan sekunder ini dapat dilakukan dengan deteksi dini dan pengobatan
secara cepat dan tepat.
Deteksi dini dapat dilakukan dengan cara : penyaringan / screening,
pengamatan atau survei epidemiologis dan pelayanan kesehatan yang baik pada
sarana pelayanan kesehatan.
PENCEGAHAN PENYAKIT

3. PENCEGAHAN TERSIER
Pencegahan tersier adalah pencegahan yang dimaksudkan untuk mengurangi
ketidakmampuan dan mengadakan rehabilitasi.
Upaya ini dapat dilakukan dengan :
a. Memaksimalkan fungsi organ yang cacad
b. Membuat protesa ( organ palsu ) misalnya kaki palsu, gigi palsu dll.
c. Mendirikan pusat rehabilitasi medik
KONSEP DASAR EPIDEMIOLOGI PENYAKIT

HOST

AGENT ENVIRONMENT

1. SEGITIGA FAKTOR EPIDEMIOLOGI PENYAKIT


2. FAKTOR EPIDEMIOLOGI PENYAKIT

A. HOST

1. Genetik : keturunan
2. Umur : Usia
3. Gender : Jenis kelamin
4. Suku, Ras, Warna kulit
5. Keadaan fisiologis tubuh misalnya kelelahan, kehamilan, pubertas
dan stress.
6. Keadaan immunologis : kekebalan tubuh
7. Tingkah laku ( Behaviour ) misalnya gaya hidup, Hygiene, rekreasi,
olah raga, Hobby, Kebiasaan dll
2. FAKTOR EPIDEMIOLOGI PENYAKIT

B. AGENT

1. Nutrisi / Gizi : kelebihan atau kekurangan gizi


2. Sebab kimiawi : Zat beracun, CO, Asbes, Allergen, Pb,Hg dll
3. Penyebab fisik : Radiasi, Trauma fisik
4. Penyebab biologis :
a. Metazoa : cacing tambang, schistosomiasis
b. Protoxoa : Amoeba, Plasmodium
c. Bakteri : GO, Typhoid, Pneumonia, Tb
d. Fungi/Jamur : Tinea pedis, Tinea versicolor
e. Ricketsia : Rocky Mountain Spotted Fever
f. Virus : Campak, cacar, Polio, Rabies dll
2. FAKTOR EPIDEMIOLOGI PENYAKIT

C. ENVIRONMENT ATAU LINGKUNGAN

1. Lingkungan fisik : Geografis, Iklim, Musim


2. Lingkungan biologis :
- Kepadatan penduduk,
- Flora : sebagai sumber makanan
- Fauna : sebagai sumber protein
3. Lingkungan sosial
- Migrasi, Urbanisasi
- Lingkungan kerja
- Perumahan, Pemukiman
- Kekacauan, bencana alam, perang dll
SIFAT-SIFAT HOST

1. RESISTENSI : Kemampuan untuk bertahan terhadap infeksi

2. IMMUNITAS : Kemampuan untuk mengembangkan respos


immunologis baik secara alamiah atau didapat.

3. INFECTIOUSNESS : Potensi atau kemampuan orang sakit untuk


menularkan kepada orang lain
SIFAT-SIFAT AGENT

1. INFEKTIVITAS
Kemampuan agent untuk beradaptasi dalam tubuh host sehingga mampu
berkembang biak.
2. PATOGENISITAS
Kesangguban organisme menimbulkan reaksi klinis khusus yang patologis
setelah infeksi pada host yang diserang.
3. VIRULENSI
Kesangguban organisme menghasilkan reaksi patologis yang berat yang
mungkin dapat menimbulkan bahaya kematian.
4. TOKSISITAS
Kesangguban organisme untuk menghasilkan racun atau toxin
5. INVASIVITAS
Kemampuan organisme melakukan penetrasi dan menyebar setelah masuk ke
jaringan tubuh.
6. ANTIGENISITAS
Kesangguban organisme untuk merangsang reaksi immunologis dalam tubuh
host
SIFAT-SIFAT LINGKUNGAN

1. TOPOGRAFIS
Situasi lokasi tertentu baik yang alamiah atau buatan manusia yang
mungkin mempengaruhi terjadinya penyebaran penyakit
2. GEOGRAFIS
Keadaan yang berhubungan dengan struktur geologi bumi yang
berkaitan dengan kejadian penyakit.
3. DEMOGRAFIS
Keadaan susunan penduduk atau kepadatan penduduk yang berakibat
berkembangnya suatu penyakit
4. EKOLOGIS
Ketidakseimbangan ekologis fauna atau flora yang menyebabkan
berkembangnya suatu penyakit
UKURAN MORBIDITAS DAN MORTALITAS

• RATIO, PROPORSI DAN ANGKA


Data yang terkumpul biasanya masih merupakan data kasar yang
perlu diolah untuk dianalisa dan ditarik kesimpulan.
Hasil pengolahan masih berupa nilai absolut dengan ciri-ciri :
1. Berupa jumlah
2. Diperoleh dengan cepat
3. Tidak dapat digunakan untuk membandingkan
Oleh karena itu, untuk dapat digunakan untuk membandingkan,
maka data morbiditas ( kesakitan ) dan data mortalitas ( kematian )
harus berupa data relatif.
Dalam epidemiologi, ukuran yang banyak digunakan dalam
menentukan morbiditas dan mortalitas adalah RATIO, PROPORSI DAN
ANGKA.
UKURAN MORBIDITAS DAN MORTALITAS
• RASIO
Rasio merupakan nilai atau data relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua
nilai yang pembilangnya TIDAK merupakan bagian dari penyebut.
Misalnya ada nilai kuantitatif A dan nilai kuantitatif B, maka rasio kedua nilai
tersebut adalah A/B.
Contoh :
Pada suatu kejadian luar biasa keracunan makanan, terdapat 32 orang penderita
yang 12 diantaranya adalah anak-anak, maka rasio anak-anak terhadap dewasa
adalah : 12/(32-12) = 12/20 = 0.6.
• PROPORSI
Proporsi adalah perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya
merupakan bagian dari penyebut.
Pada contoh tsb diatas maka proporsi adalah = 12/(12+20) = 0,375 atau 37,5 %
• ANGKA
Angka merupakan proporsi dalam bentuk khusus yaitu perbandingan
antara pembilang dan penyebut yang dinyatakan dalam batas waktu
tertentu. Insidensi merupakan kasus baru suatu penyakit yg terjadi dlm
kurun waktu tertentu, ini adalah cara terbaik untuk menentukan resiko
timbulnya penyakit.
ANGKA INSIDENSI / INCIDENCE RATE
• DEFINISI
Angka insidensi atau incidence rate adalah proporsi kelompok individu yang
terdapat pada penduduk suatu wilayah tertentu atau negara yang semula tidak
sakit dan menjadi sakit dalam kurun waktu tertentu dimana pembilang pada
proporsi tersebut adalah kasus baru.
Incidence rate disebut juga Cumulative Incidence atau Attack rate
Rumusnya dinyatakan sbb:
p=d/n X k
p = Estimasi angka insidensi
d = Jumlah kasus baru
n = Jumlah individu yang awalnya tidak sakit
k = Konstanta ( persen, permil atau per 10.000 )

Dengan kata lain Angka Insidensi atau Incidence Rate adalah jumlah
kejadian dalam kurun waktu tertentu dibagi dengan penduduk yang mempunyai
resiko ( population at risk ) terhadap kejadian tersebut dalam kurun waktu
tertentu dikalikan dengan konstanta
Jumlah kejadian dalam waktu tertentu
Angka insidensi = -------------------------------------------------- xk
Jumlah population at risk waktu tertentu
ANGKA INSIDENSI / INCIDENCE RATE (1)

• BEBERAPA PERTIMBANGAN

Untuk memperoleh insidensi harus dilakukan dengan pengamatan pada kelompok


penduduk yang mempunyai resiko terkena penyakit yang ingin dicari dengan cara
mengikuti secara prospektif untuk menentukan insidensi kasus baru.

Untuk menghitung angka insidensi hendaknya mempertimbangkan


beberapa hal sbb :

1. Pengetahuan tentang status kesehatan populasi studi


Kelompok individu dalam populasi harus ditentukan status kesehatannya
dan diklasifikasikan menjadi ,, Sakit ,, atau ,, Tidak sakit ,, . Penentuan ini
dapat dilakukan melalui catatan yang ada atau melalui penyaringan atau
pemeriksaan.
Hal ini penting untuk menentukan keadaan awal bahwa penyakit yang akan
diteliti pada kelompok individu belum terjadi terutama bila hendak
dibandingkan dengan kelompok lain dimana variabel yang penting harus
sama kondisinya.
ANGKA INSIDENSI / INCIDENCE RATE (2)
2. Menentukan waktu awal penyakit
Hal yang sangat penting ditemukan adalah menentukan saat mulai
timbulnya penyakit dengan kriteria diagnostik yang jelas dan objektif
bukan berdasarkan keluhan penderita atau kecurigaan dokter yang
memeriksanya.
Hal ini disebabkan karena kadang2 sangat sulit menentukan awal
dari suatu penyakit terutama penyakit kronis karena tidak
menunjukkan gejala yang khas.

3. Spesifikasi penyebut
Bila penelitian epidemiologis untuk mencari insidensi penyakit dilakukan
dalam waktu lama, tidak semua subjek penelitian dapat mengikuti
sepenuhnya sampai penelitian selesai karena mungkin ada yang meninggal
karena penyakit lain, pindah atau mengundurkan diri maka rumus yang
dipakai harus diperbaiki menjadi :
p = d / (n-1/2 w)
p = Estimasi cumulative incidence rate
d = Jumlah kasus baru
n = Jumlah person at risk
w = Jumlah yang mengundurkan diri ( ½ berarti pertengahan tahun )
ANGKA INSIDENSI / INCIDENCE RATE (3)

4. Spesifikasi pembilang yaitu jumlah orang atau jumlah kejadian


Dalam hal tertentu seseorang dapat mengalami sakit yang sama beberapa
kali dalam kurun waktu tertentu. Dengan demikian ada dua angka insidensi
dari data yang sama yaitu angka insidensi berdasarka orang yang
menderita dan angka insidensi berdasarkan kejadian penyakitnya.
Angka insidensi berdasarkan orang yang menderita ditulis dengan
rumus : Jumlah penderita
IR = ----------------------- periode 1 tahun
Population at risk
Angka insidensi berdasarkan kejadian penyakit dinyatakan dalam
rumus : Jumlah kejadian penyakit
IR = ---------------------------------- periode 1 tahun
Population at risk
Angka insidensi berdasarkan penyakit dapat lebih besar daripada angka
insidensi berdasarkan penderita karena seseorang dapat menderita sakit
yang sama lebih dari satu kali dalam suatu periode.
ANGKA INSIDENSI / INCIDENCE RATE (4)

5. Periode pengamatan
Angka insidensi harus dinyatakan dalam kurun waktu tertentu,
biasanya 1 tahun tetapi dapat juga dalam periode waktu lain asalkan cukup
panjang misalnya pada penyakit dengan frekuensi yang sangat sedikit
membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Pada populasi yang besar, penyebut hendaknya menggunakan
penduduk hasil sensus.
Pada populasi kecil atau terbatas seperti sekolah atau industri,
untuk penyebut digunakan individu yang benar-benar tidak menderita sakit
pada saat dilakukan pengamatan.
Untuk penyakit dengan insidensi yang terjadi dalam waktu yang
pendek misalnya pada KLB digunakan istilah Attack Rate

• MANFAAT INCIDENCE RATE


1. Mengukur angka kejadian penyakit baik karena pengaruh alam atau
karena suatu program
2. Penelitian epidemiologi untuk mencari adanya asosiasi sebab akibat.
3. Perbandingan antar berbagai populasi dengan pemaparan yang berbeda.
4. Mengukur besarnya resiko yang ditimbulkan oleh determinan tertentu
ANGKA PREVALENSI / PREVALENCE RATE

• DEFINISI
Angka prevalensi atau prevalence rate adalah proporsi antara jumlah semua kasus
yang tercatat dengan jumlah penduduk pada suatu waktu atau periode tertentu.

• UKURAN PREVALENCE RATE


1. Point prevalence rate yaitu jumlah semua kasus yang dicatat dibagi dengan
jumlah penduduk pada saat tertentu.
2. Period prevalence rate yaitu jumlah semua kasus yang dicatat dibagi
dengan jumlah penduduk selama periode waktu tertentu.

• MANFAAT PREVALENCE RATE


1. Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan penyakit.
2. Menyusun rencana pelayanan kesehatan, misalnya penyediaan sarana obat-
obatan, tenaga dan ruangan.
3. Menyatakan banyaknya kasus yang dapat didiagnosa.
GAMBAR SKEMATIS INSIDENSI,
POINT PREVALENCE DAN PERIOD PREVALENCE

2
3

4
5
6

7
8
9

1 januari 1980 31 desember 1980

Insidensi : kasus 2,3,4 8,9


Point prevalence 1 januari : kasus 1,5,7 ; 31 des 1980 : kasus 2,5
Period prevalence : kasus 1,2,3,4,5,7,8,9
HUBUNGAN ANTARA INSIDENSI DAN PREVALENSI
• Angka prevalensi dipengaruhi oleh tingginya insidensi dan lamanya sakit yaitu
periode mulainya didiagnosanya penyakit sampai berakhirnya penyakit tersebut
karena sembuh, mati atau kronis atau cacad.
Hubungan tersebut digambarkan dengan rumus :
P=IXD
P = Prevalensi
I = Insidensi D= Lamanya sakit

Penurunan prevalensi dapat dipengaruhi oleh :


1. Menurunnya insidensi dan
2. Masa atau waktu sakit memendek karena
3. Perbaikan pelayanan kesehatan
Oleh karena itu prevalensi tak bisa dibandingkan antar wilayah yang
tingkat pelayanan kesehatannya tidak sama

Jika tehnologi kedokteran hanya dapat menurunkan angka kematian tetapi


tidak menyembuhkan penyakit, maka prevalensi akan meningkat.
Jika dengan tehnologi kedokteran, suatu penyakit dapat dengan cepat
disembuhka atau penyakit sangat cepat menimbulkan kematian, maka prevalensi
akan menetap atau mungkin menurun walaupun ada kenaikan insidensi.
LATIHAN 1

Setiap anak panah menunjukkan kejadian suatu penyakit yang terjadi pada populasi 20 orang
a.. Hitunglah insidensi dan prevalensi tahun 1971
b. Bila survei dilakukan pada bulan juli 1971, prevalensi apa yang dihasilkan

20-

15-

10-

5-

Nop 70 Jan 71 Jul 71 Des 71


LATIHAN 2

Hitunglah jangka waktu rata-rata dalam tahun dari kondisi penyakit syaraf menahun
sebagaimana terdapat dalam tabel dibawah ini

Tabel 8. Prevalensi dan insidens dari penyakit syaraf di Rochester, Minnesota

NAMA PENYAKIT PREVALENSI INSIDENSI


Per 100.000 Pdd Per 100.000 Pdd
Epilepsi 376 30.8

Sclerosis berganda 55 5.0


Penyakit Parkinson 157 20.0
Penyakit Motor Neuron 7 1.7
Neoplasma jaringan syaraf 69 17.3
PENGUKURAN RESIKO

• PENGERTIAN
Kita ketahui bahwa setiap orang akan dihadapkan dengan berbagai
resiko sejak lahir. Misalnya resiko untuk terkena suatu penyakit atau
kematian. Oleh karena itu, resiko dapat diartikan sebagai suatu derajat
ketidak pastian yang biasanya terletak antara 0 dan 1.
Ketidakpastian disini maksudnya adalah orang yang mempunyai
resiko belum tentu akan terkena penyakit, tapi sebaliknya orang yang
tidak mempunyai resiko pun dapat terkena penyakit.
Resiko dikatakan nol apabila terdapat kepastian bahwa suatu
peristiwa tidak akan terjadi, dikatakan resiko sama dengan 1 apabila
suatu peristiwa pasti terjadi. Kejadian ekstrim ini dalam praktek hampir
tak pernah terjadi sehingga besarnya resiko terletak antara 0 dan 1
Ukuran besarnya resiko dalam epidemiologi mempunyai arti
penting karena merupakan indeks dalam analisis data epidemiologis.
KONSEP DASAR RESIKO

Besarnya resiko untuk terkena suatu penyakit dapat dihitung dan


dibandingkan dengan cara menghitung besarnya insidensi suatu penyakit antara
orang yang terpapar dengan penyebab penyait tersebut dengan orang yang tidak
terpapar. Perhitungan ini dapat diperoleh pada penelitian prospektif baik karena
intervensi alam atau oleh peneliti.
Disamping itu, perhitungan dan perbandingan besarnya resiko dapat pula
diperkirakan dari besarnya pemaparan terhadap faktor penyebab penyakit yang
diterima oleh sekelompok penderita dan bukan penderita. Hal ini dapat diperoleh
dari suatu penelitian retrospektif atau case control study.
Bila sekelompok individu terpajan oleh faktor penyebab penyakit maka ada
sebagian individu akan menderita sakit sehingga besarnya resiko atau probabilitas
terkena penyakit adalah banyaknya individu yang menderita dibagi dengan
banyaknya individu dalam kelompok. Hal ini juga terjadi pada kelompok individu
yang tidak terpajan oleh faktor penyakit, tetap akan ada individu yang sakit
sehingga probabilitas atau resiko tanpa pemaparan adalah jumlah individu yang
menderita sakit dibagi dengan jumlah individu dalam kelompok itu.
Untuk memgetahui besarnya pengaruh pemaparan terhadap timbulnya
penyakit dapat dilakukan dengan membandingkan besarnya resiko antara
kelompok terpajan dengan kelompok tidak terpajan.
KONSEP DASAR RESIKO (2)

Sekelompok individu (A) Sebagian individu


Terpajan oleh faktor Menderita sakit (a)
Penyebab penyakit

Sebagian individu
Besarnya resiko Tidak sakit (a’)
Akibat pemaparan = a/A

Sekelompok individu (B) Sebagian individu


Tidak terpajan oleh faktor Menderita sakit (b)
Penyebab penyakit

Besarnya resiko Sebagian individu


Tanpa pemaparan = b/B Tidak sakit (b’)

RESIKO ATRIBUT = a/A – b/B RESIKO RELATIF = a/A : b/B


RESIKO ATRIBUT = ATTRIBUTABLE RISK

• PENGERTIAN
Resiko atribut adalah selisih antara angka insiden kelompok terpajan
dengan angka insiden kelompok tidak terpajan dan hasilnya dianggab
sebagai akibat pemaparan oleh penyebab penyakit ( atribut).
• KEGUNAAN
1. Memberi penerangan kepada masyarakat tentang manfaat
yang diperoleh bila faktor penyebab penyakit dapat dihindarkan.
2. Menyusun rencana pencegahan penyakit dengan cara
menghilangkan atau mengurangi ‘atribut’ atau faktor yang
dianggab sebagai penyebab timbulnya penyakit.
• CONTOH
Hubungan antara rokok dengan karsinoma paru.
1. Dari 100 orang perokok ditemukan 5 orang yang menderita Ca
paru, sehingga besarnya resiko = 0.05.
2. Dari 100 orang bukan perokok ditemukan 2 orang yang menderita
Ca paru sehingga besarnya resiko = 0.02
Dengan demikian resiko atribut adalah 0.05 – 0.02 = 0.03 yang artinya
ada 3 % kejadian Ca paru dikarenakan faktor rokok. Jadi sebenarnya
ada 3 % orang lagi yang tak sakit andainya dia tidak merokok.
RESIKO RELATIF = RELATIVE RISK
• PENGERTIAN
Resiko relatif atau Relative risk adalah ratio atau perbandingan antara angka
insiden kelompok yang terpajan dengan angka insiden kelompok tidak terpajan.
Resiko relatif disebut juga sebagai Risk Ratio.
• CIRI-CIRI RESIKO RELATIF
1. Resiko relatif tidak menyatakan besarnya insidensi
2. Resiko relatif diperoleh dari hasil penelitian prospektif sedangkan resiko
relatif yang diperoleh dari data retrospektif disebut Odd Ratio yang hanya
merupakan perkiraan saja.
3. Resiko relatif menyatakan besarnya resko yang harus ditanggung oleh
kelompok terpajan dibandingkan dengan kelompok tidak terpajan.
4. Resiko relatif tidak mengukur besarnya probabilitas seseorang akan
terkena penyakit sebagai akibat pemaparan oleh faktor penyebab penyakit.
5. Tingginya resiko relatif dapat digunakan untuk memperkuat dugaan
adanya hubungan sebab akibat, makin tinggi nilai RR kemungkinan adanya
hubungan sebab akibat menjadi semakin besar.
6. Resiko relatif merupakan suatu Ratio. Dengan demikian, masing-masing
resiko akan hilang, sehingga bila ditemukan RR tinggi kita tidak tahu
apakah karena resiko terpajan yang tinggi atau karena resiko tidak terpajan
yang rendah. Untuk menghindari mis interpretasi ini, hendaknya pada RR
disertakan pula besarnya resiko masing2 kelompok.
CONTOH RESIKO RELATIF (1)

1. DARI PENELITIAN PROSPEKTIF


Dari 1000 orang perokok, terdapat 90 orang menderita Ca kandung
kemih dan dari 1000 orang bukan perokok terdapat sebanyak 30 orang
penderita Ca kandung kemih.
Besarnya resiko yang harus ditanggung oleh perokok yang terkena
Ca kandung kemih dibanding dengan bukan perokok dapat dijelaskan
dalam tabel kontingensi dibawah ini.

Ca positif Ca negatif Jumlah Resiko


Perokok 90 910 1000 0.09
Bukan 30 970 1000 0.03
perokok
Jumlah 120 1880 2000 RR=3.0

Kesimpulan : Resiko perokok untuk terkena Ca kandung kemih


3 kali lebih besar dibandingkan dengan bukan
perokok.
CONTOH RESIKO RELATIF (2)

2. DARI PENELITIAN RETROSPEKTIF


Misalkan pada 100 orang penderita Ca paru terdapat 5 orang perokok,
sedangkan pada 100 orang bukan penderita Ca paru terdapat 2 orang
perokok, maka besarnya Odd ratio dapat dijelaskan dalam tabel
kontingensi dibawah ini :

Ca Paru Perokok Pos Perokok Neg Jumlah Resiko


Positif 5 95 100 0.0526
Negatif 2 98 100 0.0204
Jumlah 7 193 200 OR=2.6

Odd ratio = 5 X 98 / 2 X 95 = 490/190 = 2.6

Kesimpulan : Besarnya resiko penderita Ca paru yang mempunyai


pengalaman terpajan oleh rokok 2.6 kali lebih besar
dengan tidak terpajan oleh rokok.
INTERAKSI

• PENGERTIAN
Resiko timbulnya suatu penyakit tidak hanya disebabkan adanya satu faktor
saja, tetapi dapat terdiri dari dua atau lebih faktor yang secara bersama-sama
mempengaruhi timbulnya penyakit.
Proses interaksi terjadi bila dua atau lebih faktor resiko secara bersama
mempengaruhi timbulnya penyakit atau bila insidensi suatu penyakit ditimbulkan
oleh dua faktor atau lebih yang besar resikonya berbeda dengan resiko gabungan
masing-masing faktor ( Mc Mahon ).
Ini berarti bahwa suatu penyakit yang ditimbulkan oleh dua faktor secara
bersamaan pada seseorang maka orang yang terpajan oleh dua faktor tsb, mempu
nyai resiko yang berbeda dengan besarnya resiko gabungan faktor tsb.
Untuk menghitung besarnya interaksi, telah dikembangkan 2 model yaitu :
1. Model penjumlahan
2. Model perkalian
INTERAKSI , MODEL PENJUMLAHAN (1)

• PENGERTIAN
Model penjumlahan ialah menghitung perbedaan antara resiko
yang diakibatkan oleh gabungan dua faktor atau lebih dengan jumlah
dari resiko masing-masing faktor. Karena perbedaan antara resiko dua
faktor atau lebih secara bersama dapat menghasilkan nilai yang lebih
kecil atau lebih besar atau sama dengan jumlah resiko yang diakibatkan
oleh masing-masing faktor maka dalam model ini dikenal :
1. Interaksi positif ( sinergis )
2. Interaksi negatif ( antagonis )
3. Tidak ada interaksi
Suatu interaksi dikatakan positif apabila resiko yang
ditimbulkan oleh beberapa faktor tsb lebih besar dari pada jumlah resiko
masing-masing faktor, sedangkan apabila lebih kecil disebut interaksi
negatif dan bila tak terdapat perbedaan dikatakan tidak terjadi interaksi.
INTERAKSI , MODEL PENJUMLAHAN (2)

• Misalnya ada dua faktor x dan y yang dapat berpengaruh terhadap


timbulnya suatu penyakit.
Angka insidensi yang disebabkan oleh faktor x dan y diberi tanda 1,
sedangkan angka insidensi yang tidak disebabkan oleh x dan y diberi
tanda 0, maka kombinasinya adalah sbb :

Tak ada faktor y (0) Ada faktor y (1))


Tak ada faktor x (0) P00 P01
Ada faktor x (1) P10 P11
P00 : Angka insidensi tanpa faktor x dan y
P10 : Angka insidensifaktor x tanpa faktor y Maka dikatakan
P01 : Angka insidensi faktor y tanpa faktor x Sinergis : P11-P00 > (P10-P00)+(P01-P00)
P11 : Angka insidensi dengan faktor x dan y Antagonis: P11-P00 < (P10-P00)+(P01-P00)
Tak ada interaksi bila :
Bila P00 dipakai sebagai referensi maka :
P10–P00= Efek dari faktor x tanpa faktor y
P11-P00 = (P10-P00)+(P01-P00) atau
P01-P00= Efek dari faktor y tanpa faktor x P11/P00-1=(P10/P00-1)+P01/P00-1) atau
P11-P00= Efek dari faktor x dan y
Rxy – 1 = ( Rx – 1 ) + ( Ry - 1 )
INTERAKSI : MODEL PERKALIAN

• PENGERTIAN
Model ini menyatakan jumlah pertambahan resiko awal yang disebabkan
adanya satu atau beberapa faktor penyebab timbulnya penyakit.
Misalnya resiko timbulnya suatu penyakit tanpa adanya faktor x dan y
adalah 3 permil, dengan adanya faktor x resiko tersebut meningkat 3 kali
yang berarti menjadi 9 permil.
Contoh :

Fy tidak Fy Ya RR tidak RR ya
Fx Tidak 2.0 12.0 1.0 6.0
Fx Ya 8.0 48.0 4.0 24.0

Efek X = Rx = 8.0/2.0 = 4.0


Efek Y = Ry = 12.0/2.0 = 6.0
Efek X dan Y = Rxy = 48.0/2.0 = 24.0 atau
Rxy = Rx kali Ry
INDEKS KESEHATAN

• PENGERTIAN
Untuk menilai kondisi kesehatan masyarakat, dibutuhkan
suatu ukuran yang dapat digunakan sebagai indikator penilaian kondisi
kesehatan masyarakat. Indeks kesehatan yang dapat digunakan ada
banyak sekali, tetapi yang akan dibahas disini hanya indeks kesehatan
yang banyak digunakan untuk keperluan epidemiologis yaitu :
1. Indeks fertilitas
2. Indeks morbiditas dan
3. Indeks mortalitas
Ketiga indeks kesehatan ini berhubungan dengan atau
bersangkutan dengan peristiwa penting dalam kehidupan manusia, oleh
karena itu sering disebut juga sebagai Vital statistic terutama yang
berhubunan dengan kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) dan
penyakit (morbiditas).
1. INDEKS FERTILITAS (1)

1. ANGKA KELAHIRAN KASAR = CRUDE BIRTH RATE = CBR


Angka kelahiran kasar adalah semua kelahiran hidup yang dicatat dalam
satu tahun dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama
dikalikan dengan 1000 permil.
Jumlah kelahiran hidup yang dicatat
CBR = ---------------------------------------------------X 1000
Jlh pdd pd pertengahan tahun yg sama

Angka kelahiran ini disebut kasar karena sebagai penyebut digunakan


jumlah penduduk yang berarti termasuk penduduk yang tidak punya peluang
untuk melahirkan diikut sertakan seperti anak2, laki2 dan wanita usia lanjut.
Angka ini dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat fertilitas secara
umum dalam waktu singkat tapi kurang sensitif misalnya:
a. Membandingkan tingkat fertilitas 2 wilayah
b Mengukur perubahan fertilitas karena perubahan pada tingkat kelahiran
akan menimbulkan perubahan pada jumlah penduduk
1. INDEKS FERTILITAS (2)

2. ANGKA FERTILITAS UMUM = GENERAL FERTILITY RATE =


GFR
Angka fertilitas umum adalah jumlah kelahiran hidup dalam waktu
1 tahun dibagi dengan jumlah penduduk wanita usia subur ( 15-49 )
tahun dikalikan suatu konstanta misalnya 1000 permil.

Jlh kelahiran hidup dalam 1 tahun


GFR = -------------------------------------------------X 1000
Jlh wanita usia subur pd suatu daerah

Angka ini digunakan untuk mengetahui secara umum tingkat


kesuburan rata-rata wanita usia subur di suatu daerah tanpa dapat
diketahui siapa atau pada golongan usia berapa yang paling subur.
1. INDEKS FERTILITAS (3)

2. ANGKA FERTILITAS MENURUT GOLONGAN USIA


( AGE SPESIFIC FERTILITY RATE ) = ASFR
Angka fertilitas menurut golonngan umur adalah jumlah kelahiran hidup
oleh ibu pada golongan umur tertentu yang dicatat selama satu tahun perseribu
penduduk wanita pada golongan umur tertentu pada tahun yang sama.
Jlh kelahiran hidup oleh ibu pd gol. umur tertentu
ASFR = ------------------------------------------------------------------X 1000
Jlh pdd wanita pd gol umur tertentu tahun yg sama

Angka fertilitas menurut golongan umur dimaksudkan untuk mengatasi


kelemahan angka kelahiran kasar atau angka fertilitas umum karena tingkat
kesuburan pada tiap umur tertentu tidak sama, sehingga gambaran kelahiran
menjadi lebih teliti.
Jika masa subur wanita antara 15 – 49 tahun, dengan interval 5 tahun akan
dapat diperoleh 7 golongan umur yang disusun menjadi suatu frekuensi distri
busi. Dengan demikian dapatlah diketahui pada golongan umur berapa tingkat
fertilitas atau kesuburannya paling tinggi.
1. INDEKS FERTILITAS (4)

3. ANGKA FERTILITAS TOTAL = TOTAL FERTILITY RATE = TFR


Angka fertilitas total adalah jumlah angka fertilitas menurut golongan umur
selama satu tahun selama masa usia subur wanita.
Dengan demikian apabila interval usia yang digunakan adalah 5 maka TFR
adalah Jumlah ASFR dikalikan dengan 5.
Contoh :

UMUR JLH WANITA JLH KELAHIRAN ASBR (permil)


15 – 20 28.000 1.067 38.1
20 – 25 30.000 3.501 116.7
25 – 30 25.000 2.513 100.5
30 – 35 28.000 1.506 53.8
35 – 40 24.000 588 24.5
40 – 45 20.000 110 5.5
45 - 50 5.000 0 0
JUMLAH 160.000 9.285 339.1

Karena interval = 5 maka TFR = 5 x 339.1 = 1.695,5 permil artinya


Ada 1695,5 bayi dilahirkan hidup dari tiap 1000 wanita usia subur.
2. ANGKA KEMATIAN (1)

1. ANGKA KEMATIAN KASAR = CRUDE DEATH RATE = CDR


Angka kematian kasar adalah jumlah kematian oleh semua sebab yang
dicatat selama satu tahun perseribu penduduk pada pertengahan tahun yang
sama. Angka ini disebut kasar karena tanpa memperhatikan kelompok umur
atau sebab tertentu yang mempunyai tingkat kematian yang berbeda.
Jlh kematian yg dicatat selama satu tahun
AKK = ------------------------------------------------------ X 1000
Jlh pdd pada pertengahan tahun yg sama
Angka kematian kasar ini hanya memberikan gambaran umum tentang
keadaan kematian di suatu daerah. Angka ini sangat tergantung dengan
komposisi umur dan jenis kelamin penduduk setempat.
Oleh karena itu AKK tidaklah tepat digunakan untuk membandingkan
perbedaan derajat kesehatan dari dua tempat yang berbeda.
Agar dapat dipakai untuk perbandingan, maka AKK harus dilakukan
koreksi sehingga didapatkan suatu angka kematian yang sudah dikoreksi atau
distandardisasi yaitu Standardized Death Rate atau SDR.
2. ANGKA KEMATIAN (2)

2. ANGKA KEMATIAN UMUR SPESIFIK = AGE SPESIFIC DEATH


RATE = ASDR
Spesifikasi angka kematian dapat dilakukan atas dasar umur, jenis
kelamin, pekerjaan, pendidikan, sebab tertentu dll.
ASDR adalah angka kematian yang terjadi dikalangan penduduk
usia tertentu.
Jlh kematian pd gol usia tertentu selama 1 tahun
ASDR = -------------------------------------------------------------X 1000
Jlh pdd golongan usia tertentu pd tengah tahun

MANFAAT ASDR :
a. Mengetahui dan menggambarkan derajat kesehatan masyarakat pd
golongan umur tertentu.
b. Membandingkan taraf kesehatan masyarakat di berbagai wilayah.
c. Menghitung rata-rata harapan hidup.
2. ANGKA KEMATIAN (3)

3. STANDARDIZED DEATH RATE = SDR

SDR adalah angka kematian kasar yang sudah distandardisasi agar dapat
dipakai sebagai perbandingan antara berbagai tempat yang berbeda.

CARA STANDARISASI ANGKA KEMATIAN KASAR.


a. Susunlah penduduk yang ada menurut golongan umur tertentu
b. Susunlah kematian yang ada menurut golongan umur yang sesuai dengan
golongan umur penduduk
c. Hitunglah Age Spesific Death Rate untuk tiap golongan umur.
d. Buatlah Standard Population atau penduduk standar dengan cara menjum
lahkan masing2 penduduk di daerah yang akan dibanding kan angka
kematiannya.
e. Hitunglah jumlah kematian yang terjadi pada tiap golongan umur pada
satndard population, menurut ASDR dari daerah2 tsb.
f. Jumlahkan kematian pada penduduk standar tsb apabila hanya digunakan
ASDR dari satu daerah saja.
g. Hitunglah SDR untuk masing2 daerah dengan cara membagi jumlah
kematian pada point f. ,dengan jumlah penduduk dari standard population.
CONTOH PERHITUNGAN
STANDARDIZED DEATH RATE (1)

• Disuatu wilayah terdapat dua daerah yang berbeda, Daerah A adalah daerah yang
tergolong kurang maju dibandingkan dengan daerah B. Namun pada suatu survei
didapatkan CDR daerah A = 7 permil sedangkan CDR daerah B = 10 permil. Hal
ini sepintas menunjukkan kematian lebih banyak pada B sehingga seolah-olah
derajat kesehatan B lebih buruk pada A yang kurang maju.
• Komposisi penduduk masing2 adalah sbb :

UMUR Pdd Daerah A Pdd Daerah B


0 - 10 500.000 50.000
11 – 20 200.000 150.000
21 – 30 200.000 250.000
31 – 40 100.000 200.000
41 – 70 90.000 200.000
71 - 90 10.000 200.000
JUMLAH 1.100.000 1.050.000
JLH KEMATIAN 7.700 10.500
CDR 7 Permil 10 Permil
CONTOH PERHITUNGAN
STANDARDIZED DEATH RATE (2)

• Komposisi ASDR daerah A dan B diperinci sbb :

UMUR PENDUDUK A KEMATIAN ASDR


0 – 10 500.000 2.500 5
11 – 20 200.000 1.000 5
21 – 30 200.000 900 4,5
31 – 40 100.000 800 8
41 – 70 90.000 1.800 20
71 – 90 10.000 700 70
JUMLAH 1.100.000 7.700

UMUR PENDUDUK B KEMATIAN ASDR


0 – 10 50.000 500 10
11 – 20 150.000 1.200 8
21 – 30 250.000 1.250 5
31 – 40 200.000 1.800 9
41 – 70 200.000 2.000 10
71 – 90 200.000 3.750 18,75
JUMLAH 1.050.000 10.500
CONTOH PERHITUNGAN
STANDARDIZED DEATH RATE (3)

• Komposisi setelah standardisasi ( penduduk A dan B dijumlahkan )

UMUR Pdd Std ASDR A ASDR B


0 – 10 550.000 5/1000X 550.000= 2.750 10/1000X550.000= 5.500
11 – 20 350.000 5/1000X/350.000= 1.750 8/1000X350.000= 2.800
21 – 30 450.000 4,5/1000X450.000= 2.025 5/1000X450.000= 2.250
31 – 40 300.000 8/1000X300.000= 2.400 9/1000X300.000= 2.700
41 – 70 290.000 20/1000X290.000= 5.800 10/1000X290.000= 2.900
71 – 90 210.000 70/1000X210.000= 14.700 18,75/1000X210.000=3.93
8
JLH 2.150.000 29.475 20.088

KESIMPULAN:
SDR A = 29.425/2.150.000 x 1000 = 13.7 Permil
SDR B = 20.088/2.150.000x 1000 = 9.3 Permil
JADI SDR A > SDR B , SEHINGGA KONDISI B LEBIH BAIK
2. ANGKA KEMATIAN (4)

4. ANGKA KEMATIAN BAYI = INFANT MORTALITY RATE = IMR


IMR adalah jumlah kematian bayi berumur kurang dari satu tahun
yang dicatat selama satu tahun perseribu kelahiran hidup pada tahun
yang sama.
Jlh kematian umur 0 – 1 thn tercatat selama 1 thn
IMR = ----------------------------------------------------------------X 1000
Jumlah kelahiran hidup pd tahun yg sama
Keuntungan IMR adalah apabila keadaan penduduk di tempat
tersebut cukup stabil, maka IMR dapat dipakai sebagai indikator yang
cukup baik terutama untuk memberi gambaran keadaan kebersihan
lingkungannya. Namun apabila keadaan penduduknya tidak stabil
atau cepat berubah maka angka ini sukar dipakai sebagai pegangan
2. ANGKA KEMATIAN (5)

5. ANGKA KEMATIAN NEONATAL = NEONATAL MORTALITY


RATE = NMR.
NMR adalah jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28
hari yang tercatat dalam satu tahun perseribu kelahiran hidup selama
tahun yang sama.
Jlh kematian bayi umur < 28 hari
NMR = ----------------------------------------------X 1000
Jlh kelahiran hidup pd thn yg sama
Tinggi rendahnya NMR digunakan untuk mengetahui :
a. Tinggi rendahnya usaha perawatan post natal.
b. Program immunisasi
c. Pertolongan persalinan
d. Penyakit infeksi terutama ISPA
2. ANGKA KEMATIAN (6)

6. ANGKA KEMATIAN PERINATAL = PERINATAL MORTALITY RATE =


PMR
Angka kematian perinatal menurut WHO adalah jumlah kematian janin
yang dilahirkan pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih ditambah dengan
jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 hari yang dicatat selama
satu tahun per seribu kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Ada sebagian ahli mengatakan bahwa angka kematian perinatal adalah
jumlah kematian janin yang beusia 20 minggu keatas sampai 28 hari setelah
dilahirkan.
Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya AKP adalah :

1. Banyaknya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR)


2. Status gizi ibu dan bayi
3. Keadaan sosial ekonomi
4. Penyakit infeksi terutama ISPA
5. Pertolongan persalinan
2. ANGKA KEMATIAN(7)

7. ANGKA KEMATIAN BALITA = UNDERFIVE MORTALITY RATE


Angka kematian balita adalah gabungan antara angka kematian
bayi dengan kematian anak usia 1 sampai 4 tahun.
Jadi, angka kematian balita adalah jumlah kematian balita yang
dicatat selama satu tahun per seribu jumlah penduduk balita
(termasuk bayi )pada tahun yang sama.
Angka kematian balita sangat penting untuk mengukur taraf
kesehatan masyarakat karena angka ini merupakan indikator yang
sensitif untuk mengukur status kesehatan bayi dan anak. Tinggi
rendahnya angka ini dipengaruhi oleh program pelayanan kesehatan,
program immunisasi , perbaikan gizi, sosial ekonomi dan taraf
pendidikan formal masyarakat dan penyakit infeksi.
2. ANGKA KEMATIAN(8)

8. ANGKA KEMATIAN KARENA SEBAB TERTENTU = CAUSE


SPESIFIC DEATH RATE = CPDR.
Angka kematian karena sebab tertentu adalah jumlah kematian
karena sebab penyakit tertentu yang dicatat selama satu tahun per
100.000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama.
Angka ini sering digunakan dalam epidemiologi untuk mengetahui
frekuensi kematian yang disebabkan karena penyakit tertentu.
Angka ini dapat lebih dirinci menurut golongan umur, jenis
kelamin dan lain-lain sesuai kebutuhan.
Angka ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk
menyusun rencana pencegahan dan pemberantasan penyakt tertentu
selain untuk mengetahui tingginya resiko kematian akibat terpajan
oleh faktor penyebab tertentu.
2. ANGKA KEMATIAN(9)

9. CASE FATALITY RATIO = CFR


Case fatality ratio adalah perbandingan antara jumlah kematian karena
penyakit tertentu yang terjadi selama satu tahun dengan jumlah penderita
penyakit tertentu pada tahun yang sama.
CFR digunakan untuk mengetahui penyakit2 dengan tingkat kematian yang
tinggi di rumah sakit dan dapat dirinci berdasarkan golongan umur, jenis
kelamin, tingkat pendidikan dll sesuai kebutuhan.

10. PROPORSI KEMATIAN BALITA


Proporsi kematian balita adalah perbandingan antara jumlah kematian
balita yang dicatat selama satu tahun dengan jumlah seluruh kematian pada
tahun yang sama.
Manfaat proporsi ini sama dengan angka kematian balita tetapi tidak bisa
digunakan untuk membandingkan dengan daerah lain
2. ANGKA KEMATIAN(10)

11. ANGKA KEMATIAN IBU = MATERNAL MORTALITY RATE =


MMR
Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu sebagai akibat
atau komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas yang dicatat selama
satu tahun per seribu kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Sebagai pembilang tidak tergantung dari lamanya kehamilan tetapi
tidak termasuk ibu yang meninggal karena sebab lain yang tak
berhubungan dengan proses reproduksi.
Tinggi atau rendahnya MMR menunjukkan :
1. Keadaan sosial ekonomi
2. Kesehatan ibu sebelum hamil, persalinan dan nifas
3. Pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil
4. Pertolongan persalinan dan perawayan bumil masa nifas
3. ANGKA KESAKITAN

• ANGKA KESAKITAN = ANGKA MORBIDITAS


Angka morbiditas atau angka kesakitan adalah jumlah penderita
yang dicatat selama satu tahun per seribu penduduk pada pertengahan
tahun yang sama.
Angka ini dapat digunakan untuk :
1. Menggambarkan keadaan kesehatan secara umum
2. Mengetahui keberhasilan program pemberantasan penyakit
3. Mengetahui keadaan sanitasi lingkungan
4. Memperoleh gambaran pengetahuan penduduk terhadap
pelayanan kesehatan.
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (1)

1. CARRIER
Manusia atau hewan tempat tinggal suatu agent menular spesifik
dengan adanya penyakit yang secara klinis tidak nyata tapi dapat
bertindak sebagai sumber infeksi yang cuku penting.
a. Incubatory carrier
Carrier pada masa tunas atau masa inkubasi
b. Convalescent Carrier
Carrier sesudah masa penyembuhan
c. Temporary carrier / Transient carrier
Carrier sementara atau dalam waktu singkat
d. Chronic Carrier
Carrier dalam waktu lama
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (2)

2. CASE FATALITY RATE


Persentasi penderita yang meninggal karena suatu penyakit terhadap
seluruh penderita.
3. CHEMOPROPHILAXIS
Pemberian bahan kimia termasuk antibiotika pada manusia atau
binatang untuk mencegah pertumbuhan atau perkembangan infeksi
menjadi penyakit yang nyata.
4. CLEANING
Pemberian dengan cara menggosok dan mencuci dengan air panas,
sabun atau deterjen atau dengan menghisap debu atau agent
menular/zat organik dari permukaan badan hospes.
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (3)

5. COMMUNICABLE DISEASE
Penyakit yang disebabkan oleh unsur / agent penyebab menular
tertentu atau hasil racunnya yang terjadi karena perpindahan /
penularan agent atau hasilnya, dari orang sakit, hewan atau
reservoir lainnya kepada pejamu yang rentan ( potensial host), baik
secara langsung atau tak langsung melalui hewan perantara
( vektor ) atau lingkungan yang tidak hidup.
6. COMMUNICABLE PERIODE
Waktu tertentu dimana agent menular dapat dipindahkan baik
secara langsung maupun tak langsung dari orang sakit ke orang
lain , dari hewan sakit ke manusia atau dari orang sakit ke hewan.
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (4)

7. INCUBATION PERIOD
Waktu antara terjadinya permulaan kontak dengan agent penyebab
sampai timbulnya gejala yang pertama kali.
8. CONTACT
Orang atau hewan yang telah berhubungan / mengalami hubungan
dengan orang atau hewan sakit atau lingkungan yang
terkontaminasi sehingga dapat memberi peluang menjadi sakit
9. CONTAMINATION
Adanya agent menular pada permukaan tubuh, pakaian, tempat
tidur, mainan, alat bedah maupun benda / zat mati termasuk air dan
makanan.
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (5)

10. POLUTION
Keadaan yang secara langsung memperlihatkan perusakan
lingkungan tetapi tak harus menular.
11. DESINFECTION
Peristiwa mematikan agent penyakit menular dengan bahan kimia,
alat atau cara fisik yang mengenai langsung agent penyakit tersebut
diluar tubuh.
a. Concurent desinfection
Usaha desinfeksi secepatnya setelah pengeluaran bahan yang
menular dari tubuh orang sakit atau setelah terjadi pengotoran
oleh kotoran menular atau benda yang sebelumnya dianggabtak
perlu didesinfeksi
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (6)

11. b. Terminal desinfection


Usaha desinfeksi setelah penderita dipindahkan, meninggal,
setelah tak lagi menjadi sumber infeksi, setelah isolasi atau
tindakan lain yang sudah tidak dilakukan lagi.
12. DESINFESTATION
Semua proses fisik atau kimia untuk merusak / menghancurkan atau
memusnahkan hewan-hewan kecil yang tak dikehendaki khususnya
artropoda atau rodent yang berada pada orang, pakaian atau
lingkungan seseorang atau hewan peliharaan.
13. ENDEMIC
Adanya agent atau penyakit menular yang tetap dalam suatu area
geografis tertentu. Secara statistik dinyatakan endemi apabila angka
kejadian suatu penyakit berada dalam rentang 2 kali Standar deviasi
dibawah dan diatas rata-rata.
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (7)

a. Hyper endemic
Penularan hebat yang menetap
b. Holo endemic
Tingkat infeksi yang cukup tinggi sejak awal kehidupan dan
dapat mempengaruhi hampir seluruh populasi.
14. EPIDEMIC
Kejadian atau peristiwa dalam suatu masyarakat atau wilayah dari
suatu penyakit tertentu yang secara nyata melebihi dari jumlah yang
diperkirakan.
a. Belum pernah ada/ telah hilang menjadi ada walaupun hanya 1
b. Semula ada dalam jumlah tertentu menjadi berlipat ganda
(menurut deret ukur) dalam waktu tertentu.
c. Secara statistik dinyatakan epidemi apabila jumlah kejadian
melebihi rata2 ditambah 2 kali standar deviasi.
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (8)

15. FUMIGATION
Semua proses untuk mematikan hewan khususnya artropoda, rodent
dan binatang kecil lainnya dengan menggunakan gas.
16. IMMUN INDIVIDUAL
Manusia atau hewan yang mempunyai antibodi khusus atau kekebalan
seluler sebagai hasil infeksi yang terjadi sebelumnya, immunisasi atau
keadaan yang disebabkan kejadian khusus sebelumnya dan memberikan
reaksi mencegah timbulnya penyakit.
17. IMMUNITY
Kekebalan yang dihubungkan dengan adanya antibodi khusus atau
kekebalan seluler yang spesifik terhadap mikro organisme penyebab
atau racunnya untuk menimbulkan penyakit.
a. Active Humoral Immunity : kekebalan aktif
Kekebalan tubuh karena adanya antibodi yang dihasilkan oleh
tubuh sendiri.
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (9)

17. b. Passive Humoral Immunity : kekebalan pasif


Kekebalan yang didapat dengan pemindahan antibodi pelindung
buatan dari serum hewan yang dikebalkan terhadap penyakit
menular tertentu.
18. ISOLATION
Upaya pemisahan orang atau hewan yang sakit selama masa penularan
pada tempat / kondisi tertentu sebagai usaha mencegah / membatasi
kemungkinan penularan baik langsung atau tidak langsung kepada
orang / hewan yang rentan
19. QUARANTINE : KARANTINA
Larangan atau pembatasan kegiatan orang atau hewan sehat yang
telah kontak / terpapar dengan kasus penyakit menular selama periode
penularan untuk mencegah penularan selama masa inkubasi andaikata
infeksi sudah terjadi
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (10)

19. a. Absolute / Complete Quarantine


Pembatasan kebebasan gerak mereka yang terpapar penyakit
tertentu untuk periode waktu tidak lebih dari waktu inkubasi
terpanjang penyakit tersebut.
b. Modified Quarantine
Pembatasan sebagian dari kebebasan bergerak terhadap mereka
yang mengalami kontak, atas dasar dugaan / dicurigai memiliki
kerentanan yang berbeda yang dihubungkan dengan bahaya
terjadinya penularan penyakit.
20. REPELLENT
Bahan kimia yang diaplikasikan pada kulit atau pakaian atau tempat
lain untuk mengurangi penyerangan oleh artropoda atau penusukan /
masuknya agent lain kedalam kulit misalnya larva cacing.
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (11)

21. RESERVOIR
Hewan, arthropoda, tanaman, tanah atau zat atau kombinasinya
dimana agent yang menular dapat hidup dan berkembang secara
normal.
22. VIRULENCE
Tingkat patogenitas suatu agent menular yang dinyatakan oleh
angka kefatalan kasus atau kemampuannya menyerang dan merusak
pada pejamu.
23. ZOONOSIS
Suatu infeksi atau penyakit menular yang secara alamiah dapat
ditularkan dari hewan vertebrata ke pejamu manusia
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (12)

24. RESISTENCE
Mekanisme tubuh yang secara keseluruhan membuat rintangan
untuk berkembangnya penyerangan atau pembiakan agent menular
atau kerusakan oleh racun yang dihasilkannya.
25. SUSCEPTIBLE
Orang atau hewan yang dianggab tidak mempunyai kekebalan atau
daya tahan yang cukup untuk melawan agen patogen khusus untuk
mencegah terjadinya infeksi atau penyakit jika mengalami
keterpaparan pada agent
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (13)
26. TRANSMISSION OF INFECTIOUS AGENT
Segala cara atau mekanisme dimana agent menular menyebar dari
sumber atau reservoir ke manusia.
a. Direct Transmission
Penularan langsung atau pemindahan yang cepat agent menular ke
pintu masuk yang sesuai sehingga timbul infeksi.
b. Indirect Transmission.
1. Vehicle Borne
Bahan atau benda mati yang terkontaminasi yang menjadi
media antara dimana agent menular terangkut dan masuk ke
pejamu yang rentan melalui pintu masuk yang sesuai.
2. Vector Borne
Agent penyakit dibawa diluar tubuh ( mecanic Vector Borne ) atau
masuk dalam tubuh / masuk ciclus hidup vector ( Biologic
Vector Borne ).
3. Air Borne :
Penyebaran melalui udara / aerosol berupa droplet atau dust
( debu )
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (14)

27. SURVEILANCE OF DISEASE.


Pengawasan penyakit yang merupakan kelanjutan penelitian yang
cermat dari segala aspek terjadinya dan penyebaran penyakit yang
berhubungan dengan penanggulangan yang berlaku, termasuk
pengumpulan dan penilaian yang sistimatik terhadap :
a. Laporan morbiditas dan mortalitas
b. Laporan khusus investigasi lapangan dari wabah dan kasus
perorangan
c. Isolasi dan identifikasi faktor penyebab penyakit menular melalui
pemeriksaan laboratorium.
d. Data tentang adanya, guna dan efek yang tidak menguntungkan
dari vaccin dan toxoid, immun globulin, insectisida dan zat lain
yang digunakan dalam kontrol.
d. Informasi mengenai tingkat kekebalan dalam kelompok atau
golongan suatu populasi tertentu.
e. Data epidemiologi lainnya yang berhubungan.
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (15)

28. AGENT :
Suatu kesatuan biologis, fisik dan kemih/excretant yang mempunyai
kemampuan untuk menyebabkan penyakit.
29. ANTIBODY
Suatu protein / globulin yang terdapat dalam cairan darah dan
jaringan yang diproduksi sebagai reaksi atas rangsangan suatu antigen
spesifik dan mempunyai kemampuan untuk bergabung dengan antigen
tersebut untuk menetralkan atau memusnahkannya.
30. ANTIGEN
Bagian atau produk dari suatu agent biologis yang mampu
merangsang pembentukan antibody spesifik.
31. ANTITOXIN
Antibodi terhadap toxin (biasanya exotoxin) dari suatu mikro-
organisme
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (16)

32. ETIOLOGI
Ilmu atau teori tentang penyebab penyakit; kumpulan pengetahuan tentang
penyebab2 penyakit.
33. EXPOSURE
Kesempatan dari suatu host yang rentan untuk mendapatkan infeksi baik
dengan cara penularan langsung maupun tidak langsung. Suatu exposure atau
pemaparan yang efektif akan berakhir dengan infeksi.
34. IMUN SERUM GLOBLIN
Larutan steril dari globulin yang mengandung antibodi yang secara normal
terdapat pada darah orang dewasa.
35. KASUS
Seorang yang sakit atau telah kena infeksi yang mempunyai gejala spesifik
secara klinis, laboratoris dan epidemiologis.
36. KOHORT
Suatu kelompok tertentu dari orang yang dipilih khusus untuk suatu penelitian.
BEBERAPA DEFINISI ISTILAH PENTING DALAM
EPIDEMIOLOGI (17)

37. KEKEBALAN KELOMPOK / HERD IMMUNITY


Daya tahan suatu kelompok masyarakat terhadap masuk dan menyebarnya
suatu penyebab penyakit. Hal ini disebabkan karena adanya sebagian besar
anggota kelompok yang kebal terhadap penyakit tersebut yang tersebar rata
dalam kelompok masyarakat tersebut.
38. PENCEMARAN /KONTAMINASI
Adanya agent penyebab penyakit pada permukaan tubuh, pakaian, tempat
tidur, mainan, pembalut atau alat bedah atau substansi atau benda mati
lainnya termasuk air, susu dan makanan dll.
39. RENTAN
Seseorang atau hewan yang tidak punya daya tahan yang cukup untuk
mencegah timbulnya penyakit apabila mendapat infeksi bibit penyakit tertentu.
40. SINDROM
Kumpulan tanda dan gejala yang khas untuk penyakit tertentu.
EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT TIDAK MENULAR ( PTM )
PENGERTIAN PTM

1. PENYAKIT KRONIK : penyakit yang berlangsung lama


walaupun ada juga ptm yang akut misalnya keracunan.

2. PENYAKIT NON INFEKSI : penyakit yang bukan disebabkan


karena infeksi tetapi bukan berarti tidak ada samasekali
peranan mikroorganisme.

3. New communicable disease : karena penyakit ini dianggab


berpotensi menular misalnya melalui gaya hidup/ life style,
misalnya pola makan, sex bebas, penyalahgunaan narkoba dll.

4. Penyakit degeneratif : karena adanya proses perubahan fisik


dan mental akibat degenerasi yang disebabkan karena usia tua.
KARAKTERISTIK PTM

1. Penularan tidak melalui suatu rantai penularan tertentu,

2. Masa inkubasi yang panjang.

3. Berlangsung lama / berlarut-larut.

4. Banyak menyulitkan diagnosa.

5. Mempunyai varian yang luas.

6. Memerlukan biaya tinggi.

7. Faktor penyebabnya multikausal bahkan tidak jelas


PERBEDAAN PENYAKIT MENULAR DENGAN PTM

PM PTM
• Banyak terjadi di negara 1. Banyak terjadi di negara maju
berkembang 2. Tidak ada rantai penularan
• Rantai penularan jelas. 3. Berlangsung lama / kronis
• Berlangsung akut 4. Penyebab tidak jelas
• Penyebab mikroorganisme. 5. Biasanya multi-kausa
• Bersifat uni-kausa 6. Diagnosis sulit
• Diagnosis mudah 7. Sulit menemukan penyebab
• Penyebab mudah diketahui 8. Biaya mahal
• Biaya relatif murah 9. Iceberg phenomenon lebih
• Jelas muncul kepermukaan besar
• Morbiditas dan mortalitas 10. Morbiditan dan mortalitas
cenderung menurun cenderung meningkat
PENGAMATAN PTM SECARA PERORANGAN KURANG
BERMAKNA UNTUK MENETAPKAN HUBUNGAN NYA
DENGAN PAPARAN/EXPOSURE KARENA :

1. Masa laten antara exposure dengan PTM panjang.

2. Frekuensi paparan faktor resiko yang tidak teratur

3. Insiden PTM rendah

4. Resiko paparan kecil

5. Penyebab yang multi-kompleks


PENDEKATAN EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT TIDAK MENULAR(1)

PENELITIAN EPIDEMIOLOGI UNTUK PTM

• Sebagaimana umumnya jenis penelitian epidemiologi, penelitian


epid. Untuk PTM dapat dilakukan penelitian observational dan
experimental atau intervensi.
• Tapi karena pelaksanaannya memakan waktu lama maka
penelitian epidemiologi utk PTM kebanyakan dilakukan secara
observational, antara lain :

– Penelitian cross sectional


– Case control study
– Cohort study
PENDEKATAN EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT TIDAK MENULAR(2)
Perhitungan frekuensi PTM

• Secara umum dikenal 3 macam perhitungan frekuensi PT yaitu:

– Ratio : pembilang bukan bagian penyebut, biasanya tidak ada


satuannya

– Proporsi : pembilang adalah bagian dari penyebut, biasanya


satuannya digunakan persen atau permil

– Rate atau Angka : sejumlah orang sakit / population at risk pada


suatu waktu tertentu. Biasa dalam persen.
Note : perbandingan rate antara kelompok terpapar dengan tidak
terpapar disebut resiko relatif sedangkan selisih rate antara kedua
kelompok itu disebut atributable risk.
FAKTOR RESIKO PTM (1)

PENGERTIAN
• Faktor resiko adalah : ,, Characteristics, signs and symptoms in
disease-free individual which are statistically associated with
the incidence of susequent disease,, ( Simborg, DW )
• Konsep Faktor resiko perlu dikembangkan dalam epidemiologi
PTM karena :
1. Tidak jelasnya kausa PTM dan ketidakjelasannya dalam hal non-
mikroorganisme
2. Menonjolnya penerapan konsep multikausal pada PTM
3. Kemungkinan adanya penambahan atau interaksi antar resiko.
4. Perkembangan metodologik telah memberi kemampuan untuk
mengukur besarnya faktor resiko.
FAKTOR RESIKO PTM (2)

JENIS
• Menurut dapat tidaknya resiko diubah :
1. Unchangeble risk factor misalnya usia, genetik.
2. Changeble risk factors misalnya kebiasaan merokok, olahraga.
• Menurut kestabilan peran faktor :
1. Suspected risk factors : faktor yang dicurigai
2. Establish risk factors : faktor yang telah didukung oleh
penelitian.
• Menurut dokumentasinya
1. Well ducumented , 2. Less documented
• Menurut kekuatannya
1. Strong , 2. Weak
FAKTOR RESIKO PTM (3)

KEGUNAAN
1. Prediksi : Meramalkan kejadian penyakit, misalmya perokok
berat mempunyai kemungkinan 10 kali lebih besar untuk ca
paru drpd bukan perokok.
2. Penyebab: kejelasan/beratnya sebagai penyebab setelah
menghilangkan faktor pengganggu( confounding factor ).
3. Diagnosis : membantu proses diagnosis.
4. Prevensi : Jika satu faktor penyebab, pengulangan dapat
digunakan untuk pencegahan penyakit meskipun mekanisme
penyakit sudah diketahui atau tidak.
FAKTOR RESIKO PTM (4)

KRITERIA FAKTOR RESIKO.


1. Kekuatan hubungan : adanya resiko yang relatif tinggi
2. Temporal : Kausa mendahului akibat
3. Respon terhadap dosis: makin besar paparan makin tinggi
kejadian penyakit
4. Reversibilitas: penurunan paparan akan diikuti penurunan
kejadian penyakit
5. Konsistensi : kejadian yang sama akan berulang pada waktu,
tempat dan penelitian lain
6. Kelayakan biologis: sesuai dengan konsep biologis
7. Spesifisitas: satu penyebab menyebabkan satu akibat
8. Analogi : ada kesamaan untuk penyebab dan akibat yang
serupa
CONTOH FAKTOR RESIKO PTM

1. Rokok
2. Alkohol
3. Dieet/makanan
4. Gaya hidup
5. Obesitas
6. Asbes
7. Radiasi
8. Sexual behaviour
9. Obat2an
RISK FACTOR AND MAJOR DISORDER (1)

RISK FACTORS MAJOR DISORDER


1. Depression Suicide 1,2
2. Family history
3. High annual milleage Motor vehicle accidents 3,4,5,6
4. Seat belt non-usage
5. Increased alcohol habits
6. Drugs and medication
7. Increased alcohol habits Pneumonia 7,8,9,10
8. History of bacterial
pnumonia
9. Presence of bronchitis
10. Increased smoking habits
RISK FACTOR AND MAJOR DISORDER (2)

RISK FACTOR MAJOR DISORDER

1. Presence of crime record Homicide 1,2


2. Weapon carried
3. Increased alcohol habits
Cirrhosis of liver 3
4. Increased smoking habits
Cancer of lung 4
5. Blood cholesterol raised
6. Blood pressure elevated Cerebrovascular and peripheral
arterial disease. 4,5,6,7,8
7. Presence of diabetes
8. Family history of diabetes
RISK FACTOR AND MAJOR DISORDER (3)

RISK FACTORS MAJOR DISORDER


1. Increased smoking habits
2. Blood cholesterol raised Arterioslerotic heart disease
3. Blood pressure elevated 1,2,3,4,5,6,7,8.
4. Diabetes
5. Famity history of diabetes
6. Weigh
7. Lack of exercise
8. Family history of ischaemic
heart disease Cancer of intestine and rectum
9. Rectal polyp 9,10,11,12.
10. Rectal bleeding
11. Ulcerative colitis
12. Proctosigmoidoscopy not done
TINGKATAN UPAYA PENCEGAHAN PTM (1)

1. PRIMORDIAL
• UPAYA INI DIMAKSUDKAN DENGAN MEMBERIKAN
KONDISI PADA MASYARAKAT YANG MEMUNGKINKAN
PENYAKIT TIDAK MENDAPAT DUKUNGAN DASAR DARI
KEBIASAAN, GAYA HIDUP DAN FAKTOR RESIKO LAINNYA
YANG MEMERLUKAN DUKUNGAN LINTAS SEKTORAL
DAN MASYARAKAT PADA UMUMNYA..
2. TINGKAT PERTAMA
a. promosi kesehatan misalnya kampanye kesadaran
masyarakat, promosi kesehatan dan diklat kesehatan
b. pencegahan khusus misalnya pencegahan keterpaparan,
pemberian chemopreventif seperti immunisasi.
TINGKATAN UPAYA PENCEGAHAN PTM (2)

3. TINGKAT DUA

a. DIAGNOSIS DINI MISALNYA DENGAN SREENING


b. PENGOBATAN MISALNYA BEDAH ATAU
KEMOTERAPI.

4. TINGKAT TIGA

MELIPUTI REHABILITAI MISALNYA PERAWATAN


JOMPO, PERAWATAN DIRUMAH
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT JANTUNG (1)

• LATAR BELAKANG.
• Dinegara maju penyakit jantung cenderung lebih tinggi dan
menjadi masalah kesehatan yang utama karena keadaan dan
prilaku masyarakat yang modern misalnya tingginya stress, gaya
hidup mewah, merokok, minum alkohol dan pola makan yang
salah (berlebihan).
• Di negara yang baru berkembang, penyakit jantung juga
cenderung meningkat sebagai akibat modernisasi dan meniru
gaya hidup masyarakat negara maju disamping masih tingginya
penyakit infeksi karena prilaku sehat dan lingkungan yang
kurang baik. ( double burden ). Penyakit jantung dan pembuluh
darah bukanlah suatu penyakit yang menular tapi penyebabnya
lebih karena penularan gaya hidup sebagai faktor resiko sehingga
PJPD seringdikategorikan sebagai new communicable disease.
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT JANTUNG (2)

• LATAR BELAKANG.
• Menurut WHO 1990, kematian karena PJPD di dunia mencapai 12
juta orang yang merupakan pembunuh nomor satu manusia, bandingkan
dengan diare 5 juta, kanker 4,8 juta dan TBC 3 juta. Padahal PJPD
adalah preventable disease yang dapat dikurangi sampai 50 % hanya
dengan perbaikan gaya hidup.
• Di Indonesia dari SKRT 1986 dilaporkan bahwa mortalitas nya 9,7
% yaitu peringkat ketiga tetapi dengan kecenderungan yang makin
meningkat terutama di wilayah urban (perkotaan).
• Banyak study terhadap PJPD telah dilakukan untuk
mengidentifikasi faktor resiko dan obat2an jantung, misalnya
Framingham study, Multiple risk faktor intervention trial, survival and
ventricular enlargement, study of myocardial infarction late evaluation
dan survey monica jakarta
UPAYA PENCEGAHAN PJPD

• Upaya pencegahan PJPD terutama ditjukan pepada faktor


resikonya misalnya gizi, rokok, stress, uncontroled hypertension,
dan olahraga.

• Yayasan jantung Indonesia telah memperkenalkan panca usaha


kesehatan jantung yang menganjurkan pola hidup sehat :
– S eimbangkan gizi
– E nyahkan rokok
– H indari stress
– A wasi tekanan darah secara teratur
– T eratur olahraga
KLASIFIKASI PJPD

• MENURUT ICD IX TAHUN 1993 ( international classification of


diseases ix 1993 )

1. 100-102 : Acute rheumatic fever


2. 105-109 : Chronic rheumatic heart disease
3. 110-115 : Hypertensive disease
4. 120-125 : Ischaemic heart disease.
5. 126-128 : Disease of pulmonary circulation
6. 130-152 : Other form of heart disease
7. 160-169 : Cerebro vascular disease
8. 170-179 : Disease of artery, arteriole and capilair
9. 180-189 : Disease of vein and lymphatic system
10. 190-199 : Others
Dari sekian banyak diagnosa tersebut, perhatian akan lebih banyak
ditujukan terhadap penyakit jantung utama yaitu aterosklerosis,
hypertensi, pjk dan cerebrovascular disease.