Anda di halaman 1dari 10

PENGEMBANGAN BIBIT ULAT SUTERA & BIBIT MURBEI SERTA

PENYEDIAAN LAHAN TANAMAN MURBEI


OLEH PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA TENGAH *
Oleh : Haris Setiana**

Pendahuluan
Strategi pengembangan persuteraan alam di Indonesia yang
digariskan pemerintah, turut melibatkan berbagai unsur
kelembagaan pemerintah yang meliputi sektor Kehutanan,
Koperasi, Perindustrian dan Pemerintahan Daerah. Di samping
itu disertakan pula sektor BUMN, BUMS, Badan Usaha Koperasi
serta badan-badan usaha perseorangan.

Perum Perhutani sebagai BUMN sektor Kehutanan juga ikut


berperan aktif dalam pengembangan usaha persuteraan alam di
Indonesia. Kegiatan yang sejak lama dilaksanakan adalah
menyediakan bibit/telur ulat sutera untuk petani pemelihara ulat
sutera dan melakukan pembinaan masyarakat desa hutan untuk
memelihara ulat sutera sampai menghasilkan kokon yang
selanjutnya dipintal di pabrik pemintalan milik Perum Perhutani.
Adapun benang sutera (rawsilk) yang dihasilkan Perum
Perhutani, dijual langsung kepada para perajin pertenunan kain
yang pembinaannya dilakukan oleh sektor perindustrian.

Pada awal sekitar tahun 1960, bibit ulat sutera yang digunakan
adalah jenis lokal (polyvoltine). Untuk meningkatkan produksi
dan mutu kokon

1 dari 10
* Makalah disampaikan pada Kegiatan Sosialisasi Pengembangan
Sutera Alam,
Semarang 3 Desember 2005
** Asper Produksi Pusat Pembibitan Ulat Sutera KPH Kedu Utara
agar penghasilan para petani bisa meningkat, penggunaan bibit
lokal diganti dengan jenis bivoltine yang pada waktu itu masih
harus diimpor dari Jepang.

Pada tahun 1975, Perum Perhutani mendirikan PPUS Candiroto


KPH Kedu Utara yang merupakan pusat pembibitan dan produksi
telur ulat sutera dengan tujuan memasok kebutuhan telur ulat
sutera bagi daerah-daerah pengembangan persuteraan alam di
Indonesia, khususnya di lingkungan Perum Perhutani. Secara
operasional, pelaksanaan produksi telur dilakukan bertahap,
mulai dengan produksi telur F2 dari F1 impor dan pada akhirnya
sejak tahun 1982 impor telur dari Jepang dapat dihentikan
karena kebutuhan telur F1 sudah mampu dicukupi dari PPUS
Candiroto.

Agar usaha persuteraan alam bisa berkembang, perlu dilakukan


penelitian-penelitian pada bidang persuteraan alam ini baik pada
bibit telur ulat sutera, tanaman murbei maupun pada benang
sutera serta aspek lain yang berkaitan denga pengembangan
usaha persuteraan alam. Berikut gambaran upaya
pengembangan yang dilakukan Perum Perhutani Unit I Jawa
Tengah dalam bidang persuteraan alam.

I. Pengembangan Bibit Ulat Sutera

Pengembangan telur ulat sutera di Perum Perhutani dilakukan di


Pusat Pembibitan Ulat Sutera (PPUS) Candiroto KPH Kedu Utara

2 dari 10
dan di KPSA (Kesatuan Pengusahaan Sutera Alam) Soppeng
Sulawesi Selatan.

Dua lokasi pembibitan ulat sutera yang berada di bawah


koordinasi Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah ini melaksanakan
kegiatan produksi telur ulat sutera yang diarahkan untuk
mencukupi kebutuhan bibit telur ulat sutera baik untuk Perum
Perhutani sendiri maupun para petani pemelihara ulat sutera
sekaligus sebagai partisipasi aktif Perum perhutani dalam
pengembangan usaha persuteraan alam di Indonesia.

Target mutu bibit telur ulat sutera yang harus dicapai adalah
telur F1 yang bebas penyakit pebrine, ulatnya mudah dipelihara
serta mampu menghasilkan kokon dan benang sutera yang
cukup tinggi.

Untuk menghasilkan bibit telur ulat sutera yang berkualitas


unggul, PPUS Candiroto dan KPSA Soppeng melakukan
penelitian-penelitian untuk mencari jenis-jenis baru yang
mutunya lebih baik dari bibit telur ulat sutera yang sudah
beredar. Upaya ini penting dilakukan karena bibit telur ulat yang
bermutu baik merupakan langkah awal yang menentukan
keberhasilan produksi kokon.

Dalam rangka pengembangan bibit telur ulat sutera ini, Perum


Perhutani telah memperoleh alih teknologi pembibitan dari para
expert Jepang, Korea selatan, India, Uzbeckistan dan Rumania.

Selain itu, di kedua sentra pembibitan milik Perum Perhutani ini,


telah dilengkapi dengan sarana produksi yang sesuai dengan
standar persyaratan teknis pembibitan berupa ruangan

3 dari 10
pemeliharaan ulat sutera, peneluran, treatment telur ulat
sutera, laboratorium pemeriksaan penyakit, lemari pendingin
(dry cold storage), dan kebun murbei.

Dalam hal pemekaran kapasitas produksi telur ulat sutera,


sampai saat ini masih harus menyesuaikan dengan kebutuhan
riil sesuai dengan perkembangan persuteraan di masing-masing
daerah. Menurut rencana jangka panjang, produksi telur dari
PPUS Candiroto dipersiapkan untuk memasok sentra persuteraan
di Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, sedangkan produksi
telur dari KPSA Soppeng direncanakan untuk memasok daerah
Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Tabel 1. Produksi dan Distribusi Telur Ulat Sutera Tahun 2000 - 2004
PPUS Candiroto KPSA Soppeng Jumah Unit I
Tahun Produksi Distribusi Produksi Distribus Produksi Distribu
(Box) (Box) (Box) i (Box) si
(Box) (Box)
2000 10.354 9.481 13.421 12.420 23.775 21.901
2001 11.801 11.798 18.324 14.596 30.125 26.394
2002 3.709 5.878 10.625 12.364 14.334 18.242
2003 6.018 3.180 18.797 16.772 24.815 19.952
2004 4.014 1.704 10.296 12.607 14.310 14.311

Untuk wilayah Jawa Tengah, pasokan telur ulat sutera F1 pernah


meliputi semua wilayah kabupaten. Pada tahun 1999 – 2001,
semua kabupaten di Jawa Tengah pernah menerima pasokan
telur ulat sutera F1 yang berasal dari PPUS Candiroto. Tetapi
sejak masuknya benang sutera dari Cina yang mempengaruhi
keberadaan pemintal benang yang menampung kokon dari para
pemelihara ulat sutera, jumlah Kabupaten pemelihara ulat sutera
menjadi semakin sedikit. Pada tahun 2004 – September 2005,
tercatat hanya 13 kabupaten di Jawa Tengah yang masih
melakukan pemesanan telur ulat sutera F1 ke PPUS Candiroto
ataupun ke KPSA Soppeng Sulawesi Selatan.

4 dari 10
Tabel 2. Kabupaten di Jawa Tengah tempat Pemelihara Ulat Sutera tahun
2004 – 2005
No Nama Kabupaten Keterangan
1. Temanggung
2. Magelang
3. Wonosobo
4. Banyumas
5. Surakarta
6. Batang
7. Semarang
8. Boyolali
9. Pati
10. Purwodadi
11. Jepara
12. Banjarnegara
13. Purworejo
Sumber : Data Distribusi Telur PPUS Candiroto

Walaupun demikian, Perum Perhutani tetap berupaya untuk


mengembangkan bibit telur ulat sutera F1 ini. Bahkan, dalam
melakukan pengembangan bibit telur ulat sutera, Perum
Perhutani selalu melakukan kerjasama dengan petani pemelihara
ulat sutera. Setelah dilakukan percobaan pada skala terbatas di
lingkungan Perum Perhutani. Bibit telur ulat sutera F1 juga
diujicobakan di tingkat petani pemelihara ulat sutera. Jika kriteria
hasil bibit telur ulat sutera tersebut bisa melebihi bibit niagawi
yang lama, maka bibit telur ulat sutera yang baru bisa
disosialisasikan untuk menggantikan bibit telur ulat sutera
niagawi yang lama.

Dalam hal pengembangan bibit telur ulat sutera, Perum


Perhutani juga selalu membantu para peneliti, baik dari Litbang
Kehutanan, lembaga penelitian maupun perguruan tinggi dimana
hasilnya diupayakan bisa dipergunakan untuk pengembangan
usaha persuteraan alam.

II. Pengembangan Bibit Tanaman Murbei

Kebun murbei merupakan modal awal dalam usaha persuteraan


alam karena merupakan satu-satunya pakan untuk ulat sutera
yang akan dipelihara. Sebagai penunjang utama dalam usaha

5 dari 10
persuteraan alam, kebun murbei harus dipersiapkan dengan
baik, mulai dari persiapan lahan maupun jenis murbei yang
ditanam agar menghasilkan daun murbei yang berkualitas dan
mempunyai produktivitas yang tinggi.

Perum Perhutani memiliki jenis-jenis murbei unggulan yang


berasal dari berbagai negara maupun jenis lokal. Jenis yang pada
saat ini paling banyak ditanam adalah jenis Morus cathayana,
Morus multicaulis dan Morus sp. Var. Canva.

Tabel . Jenis-Jenis Murbei di Perum Perhutani


No Jenis Murbei Asal Keterangan
1. Morus alba Lokal
2. Morus multicaulis Jepang
3. Morus nigra Lokal
4. Morus cathayana Jepang
5. Morus sima Jepang
6. Morus sp. Var. canva India
7. Morus sp. Var. SHA2 x Lun 109 Cina
8. Morus alba L. (Calafat) Rumania Koleksi
9. Morus alba L. (HS 75) Rumania Koleksi
10. Morus alba L. (Eforia) Rumania Koleksi
11. Morus alba L. (HB 71) Rumania Koleksi
12. Morus alba L. (Cina 2) Rumania Koleksi
Sumber : PPUS Candiroto

Untuk mendapatkan daun murbei yang berkualitas baik dan


produktivitas yang tinggi, jenis-jenis murbei yang unggul
memerlukan perawatan dan pengelolaan kebun yag intensif
mulai dari pencangkulan, pemangkasan, dan pemupukan
maupun pemberantasan hama dan penyakit pada tanaman.

Selain itu, seperti halnya dalam pengembangan bibit telur ulat


sutera, untuk menghasilkan tanaman murbei unggulan yang
berkualitas baik dan mempunyai produktivitas yang tinggi,
Perum Perhutani juga selalu melakukan upaya pengembangan

6 dari 10
dalam bidang tanaman murbei, dengan melakukan pengamatan
maupun peneltian.

Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah bekerja sama dengan Pusat


Penelitian dan Pemuliaan Benih Tanaman Hutan (P3BTH)
Purwobinagun Yogyakarta, sampai saat ini masih melakukan
percobaan penanaman berbagai jenis dan varietas murbei yang
dihasilkan oleh P3BTH di lokasi PPUS Candiroto KPH Kedu Utara
dan PSA Regaloh KPH Pati.
Dalam penelitian ini dilakukan penanaman berbagai jenis dan
varietas tanaman murbei untuk melihat kecocokan tumbuh,
kandungan nutrisi dan lain-lain yang berguuna untuk
pegembangan usaha persuteraan alam.

Selain itu, Perum Perhutani membantu para peneliti dan


mahasiswa yang melakukan penelitian di bidang tanaman
murbei dengan menyediakan sarana dan prasarana untuk
kepentingan penelitian yang dilakukan. Petugas Perum Perhutani
selalu ikut berperan aktif ketika penelitian dilaksanakan.

Untuk pegembangan tanaman murbei di Indonesia, Perum


Perhutani juga turut membantu dalam penyediaan stek tanaman
murbei. Penyebaran tanaman murbei yang berasal dari Perum
Perhutani meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia mulai dari
Sumatera, Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan dan
Sulawesi.
Di wilayah Jawa Tengah, seluruh Kabupaten merupakan wilayah
penyebaran stek murbei yang berasal dari Perum Perhutani Unit
I.

7 dari 10
Sampai saat ini, jumlah seluruh kebun murbei di Perum
Perhutani Unit I Jawa Tengah yang berada di PPUS Candiroto KPH
Kedu Utara, PSA Regaloh KPH Pati dan KPSA Soppeng Sulawesi
Selatan adalah seluas 448,9 hektar. Seluas 196,3 hektar untuk
kepentingan produksi telur ulat sutera F1 dan sisanya seluas
252,6 hektar yang berada di PSA Regaloh dipergunakan untuk
produksi kokon yang diperlukan untuk bahan baku pemintalan
benang sutera.
Di PSA Regaloh, pemeliharaan ulat sutera dilakukan oleh para
petani di sekitar hutan dengan fasilitas yang disediakan oleh
Perum Perhutani berupa kebun murbei, ruang dan alat-alat
pemeliharaan ulat sutera. Kokon yang dihasilkan oleh para
petani dikembalikan kepada Perum Perhutani dengan
memperoleh upah penerimaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Untuk memperbaiki kondisi tanaman murbei, di lokasi kebun


murbei Perum Perhutani dilakukan rehabilitasi dengan tanaman
baru. Di PSA Regaloh, rehabilitasi dengan tanaman baru telah
dilakukan secara bertahap, dimulai sejak tahun 1999 sampai
dengan tahun 2003 seluas 252,6 hektar.
Tabel . Kapasitas Produksi PSA Perhutani Keadaan 2005
No Uraian Sat PPUS PSA KPSA Jumla Ket.
Candirot Regalo Soppen h
o h g
1. Luas Kebun Ha 91,3 252,6 105 448,9
Murbei
2. Luas intensif Ha 28,5 252,6 22,6 303,7
3. Produksi Daun Ton/t 228 3.789 226 4.300
h Soppeng
4. Pemeliharaan ulat Box/t 162 2.706 161 3.070 ditamba
h KSO
h
5. Produksi Telur F1 Box/t 12.960 - 16.500 29.46
h 0
6. Produksi Kokon Kg/th - 67.650 - 67.65
pintal 0

8 dari 10
Dengan kondisi tanaman murbei saat ini, kapasitas produksi
daun murbei di PSA Regaloh diperhitungkan sebanyak 3.789
ton/tahun (ratio 15 ton/ha/tahun; dapat menghasilkan kokon
sebanyak 67,6 ton/tahun (ratio = 25 kg/box); menghasilkan
benang sutera (rawsilk) sebanyak 7,4 ton/tahun (rendemen
11%).

Satu hal yang tidak kalah pentingnya dengan pengembangan


bibit telur ulat sutera dan bibit tanaman murbei, pembinaan
teknis atau pendampingan merupakan hal penting yang juga
dapat menentukan keberhasilan usaha persuteraan alam.
Pembinaan teknis ini penting dilakukan agar para petani berhasil
memperoleh panen kokon dengan mutu yang bagus sehingga
dapat menghasilkan benang yang berkualitas dan rendemen
yang tinggi.
Pembinaan teknis budidaya tanaman murbei, pemeliharaan ulat
sutera dan pemintalan benang sutera dapat dilaksanakan
langsung di lapangan atau juga dilakukan dalam bentuk
pelatihan teknis atau magang.

Perum Perhutani bersama-sama dengan petugas penyuluh dari


Dinas kehutanan atau Dinas PKT melakukan pembinaan teknis
serta mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi oleh
para petani.

III. Kesimpulan
1. Perum Perhutani sebagai BUMN sektor Kehutanan ikut
berperan aktif dalam pengembangan usaha persuteraan alam
di Indonesia.

9 dari 10
2. Dalam rangka menunjang pengembangan usaha persuteraan
alam di Indonesia, Perum Perhutani selalu mengembangkan
bibit telur ulat sutera maupun bibit murbei.
3. Selain upaya pengembangan bibit telur ulat sutera dan
pengembangan bibit tanaman murbei, pembinaan
teknis/pendampingan merupakan penentu keberhasilan
produksi kokon yang dihasilkan.

Semarang, 3 Desember 2005

10 dari 10