Anda di halaman 1dari 24

Bayyinah

Intan Fauziah
Ikhsan Budiarto
Nurma sari
Ummu Hikamah

Kelompok 3 A
 Karena fungsi kulit yang sangat penting bagi
kesehatan tubuh (sebagai pelindung dan filter
tubuh, mengatur suhu tubuh, menjaga
kelembaban) maka perlu dilakukan perawatan
yang teratur untuk mempertahankan kulit tetap
kondisi sehat dan meminimalkan tanda-tanda
kulit menua.
 Perawatan dasar yang umum adalah dengan
menggunakan kosmetika dasar seperti :
- Pembersih (Cleanser)
- Penyengar (Toner)
- Pelembab (Moisturiser)
 Merupakan sediaan kosmetika yang
digunakan untuk mengangkat kotoran
atau sisa-sisa make up diwajah.
Penggunaannya biasanya dengan
mengusapkan sambil memijat halus
diwajah dan kemudian dibersihkan
dengan menggunakan kapas atau tisu.
 Foaming Facial adalah pembersih bebas sabun
yang telah dirancang dengan campuran ringan
yang unik, namun mengandung surfaktan yang
sangat efektif membersihkan kulit. Berbeda
dengan pembersih yang menggunakan surfaktan
keras yang dapat membuat kulit bebas dari
minyak tapi dapat menjadi kering atau iritasi
 Foaming Facial mengandung surfaktan yang
dipilih secara hati-hati untuk benar-benar
menghilangkan kotoran dan make-up tapi tidak
akan menyengat dan tidak akan merusak
lapisan pelindung kulit.
 Mempunyai daya bersih yang bagus
 Meninggalkan kesan lembut dikulit
 Tidak menyebabkan iriitasi pada kulit
atau aman digunakan
 Tidak memberikan kesan lengket
 Aroma dan warna yang sesuai dan menarik
 Spreading bagus saat diaplikasi
 Stabil dalam penyimpanan dan saat dijual
 Sebaiknya mempunyai pH sekitar 4-7
 Bahan aktif
 Surfaktan anionk
 Surfaktan non ionik / amfoter
 Emulsifier
 Humectan atau moisturizer
 Antioksidan
 Pengawet
 Solubilizer
 Pengkhelat
 parfum
 Ekstrak bengkuang dan papaya sebagai aktif
 Lauret -7- sitrat sebagai surfaktan dan
peningkat busa
 Na lauret sulfat sebagai surfaktan anionik
 kokamid DEA sebagai surfaktan non ionic
untuk mengurangi iritasi
 HPMC sebagai emulsifier/pengental
 BHA sebagai antioksidan
 dinatrium EDTA sebagai pengkelat
 Propilenglikol sebagai humektan
 Nipagin dan Nipasol sebagai pengawet
 Bengkuang diperkaya memiliki sifat kimia yang
dapat mendinginkan dan mengejukkan
kulit.Bengkuang juga mengandung
pachyrhizon,rotenone,vitamin B1 dan C yang
dapat membuat kulit cerah.
 Papaya juga dapat memutihkan kulit karena
mengandung enzim papain yang mampu
mengangkat sel-sel kulit mati.Enzim papain yang
ada pada getah dan biji dapat menghindarkan
kulit dari penyakit dan menyempurnakan
pertumbuhan kulit.Pertumbuhan kulit yang baik
dapat mengurangi keriput dan noda hitam akibat
terkena sinar matahari.
 Sinonim : Sodium dodecyl sinonim; Elfan 240, sodium dodecyl sulfat,
natrium lauril sulfat, natrium sulfat monododecyl, natrium monolauryl
sulfat; Texapon K12P.
 Fungsional kategori : surfaktan anionik, deterjen, agen pengemulsi,
penetran kulit; pelincir tablet dan kapsul; agen pembasahan.
 Deskripsi : Sodium lauril sulfat terdiri dari krim putih atau kristal
berwarna kuning pucat, serpih, atau bubuk memiliki rasa lembut, , rasa
pahit, dan bau samar-samar zat berlemak.
 Sifat khas
 Keasaman / alkalinitas: pH asam 7,0-9,5 (larutan cair 1% b/v):
 Aktivitas antimikroba: natrium lauril sulfat memiliki tindakan
bakteriostatik terhadap bakteri Gram-positif tetapi tidak efektif
terhadap beberapa mikroorganisme Gram negatif. Aktivitas fungisida zat
tertentu seperti sulfanilamide dan sulfathiazole. Konsentrasi misel
kritis: 8,2 mmol / L (0,23 g / L) pada 200 C
 nilai HLB: 40
 Titik lebur: 204-2070C (untuk zat murni)
 Kelembaban: 45%. natrium lauril sulfat tidak higroskopis.
 Kelarutan:.mudah larut dalam air memberikan solusi yang terbuat
dari batu baiduri. praktis tidak larut dalam kloroform dan eter.
 Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan : Sodium lauril sulfat stabil
dalam kondisi penyimpanan normal. Namun, dalam larutan, di
bawah kondisi ekstrim, yaitu, pH 2,5 atau di bawah, mengalami
hidrolisis untuk lauril alkohol dan sodium bisulfat. Bulk material
harus disimpan dalam wadah tertutup jauh dari agen oksidasi yang
kuat di tempat yang sejuk dan kering.
 Incompatibilitas : Sodium lauril sulfat bereaksi dengan surfaktan
kationik, menyebabkan hilangnya aktivitas bahkan dalam
konsentrasi terlalu rendah untuk menyebabkan pengendapan.
Tidak seperti sabun, itu kompatibel dengan larutan asam dan ion
kalsium dan magnesium. Larutan natrium lauril sulfat (pH 9,5-
10,0), yang agak korosif terhadap baja ringan, tembaga, kuningan,
tembaga, dan aluminium. Natrium lauril sulfat juga kompatibel
dengan beberapa alkaloid garam dan presipitat dengan garam
timbal dan kalium.
 Nama generik : Hypromellose , Hidroksipropilmetilselulosa,
Hypromellosum, Hypromellose
 Sinonim : Benecel MHPC; E464; hydroxypropyl metilselulosa, HPMC;
Metosel; eter glikol propilena metilselulosa; metil
hydroxypropylcellulose; Metolose; Tylopur.
 Pemerian : sedikit berbau, sedikit berasa, serbuk putih atau putih
kekuningan.
 Fungsi : Agen penyalut, pembentuk film, tingkat polimer
pengendalian untuk pelepasan berkelanjutan, penstabilan,
pensuspens, pengikat tablet, agen peningkat viskositas.
 Konsentrasi : 2-5 %
 pH : 5-8
 Kelarutan : larut di dalam air dingin, membentuk suatu koloid yang
merekat pada larutan, tidak mampu larut di dalam cloroform, etanol
( 95%), dan eter, hanya dapat larut di dalam campuran-campuran dari
etanol dan dichloromethane, campuran-campuran dari metanol dan
dichloromethane, dan campuran-campuran dari air dan alkohol.
Kelas-kelas tertentu dari hypromellose bersifat dapat larut di dalam
larutan aseton yang mengandung air, campuran-campuran dari
dichloromethane dan propan-2-ol, dan bahan pelarut organik lainnya.
 Inkompatibilitas : Hypromellose tidak
cocok/bertentangan dengan beberapa bahan
pengoksid karena tidak bersifat ion,
hypromellose tidak akan kompleks dengan
garam-garam metalik atau bersifat ion organik
untuk membentuk pengedapan yang tak mampu
larut.
 Stabilitas : Hypromellose adalah suatu material
yang stabil, meski higroskopik setelah
pengeringan. Larutan stabil pada pH 3–11.
Kenaika suhu mengurangi kekentalan larutan.
Hypromellose mengalami perubahan bentuk sol–
gel dengan pemanasan dan mendingin, secara
berturut-turut.
 Penyimpanan : Hypromellose harus disimpan
pada tempat yang tertutup, sejuk dan kering.
 Organoleptis
Bentuk : kristal
Warna : putih
Bau : lemah
 Sifat Kimia
Nama kimia : 2-tert-butyl-4-methoxyphenol
Rumus Molekul : C11H16O2
 Sifat Fisika
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam
metanol, mudah larut dalam lebih dari 50% larutan etanol,
propilendlikol, kloroform, eter, heksana, dan dalam larutan
alkali hidroksida
Incompatible : Incompatible dengan pengoksidator kuat dan
garam besi.
Penggunaan : Antioksidan dengan kisaran konsentrasi 0,005-
0,02%
Dinatrium edetat mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak
lebih dari 101,0% C10H14N2Na2O8 dihitung terhadap zat yang
sudah dikeringkan.
Sifat Kimia
 Nama kimia : Ethylenediaminetetraacetic acid, disodium salt
; Disodium ethylenediaminetetraacetate dihydrate
 Rumus molekul : C10H14N2Na2O8 (anhidrat) ;
C10H18N2Na2O10 (dihidrat)
 Berat molekul : 336.2 (anhidrat) ; 372.2 (dihidrat)
 Nama lain : Disodium EDTA; disodium
ethylenediaminetetraacetate; edathamil disodium; edetate
disodium; edetic acid, disodium salt.
Sifat Fisika
 Organoleptis
 Bentuk : Serbuk hablur
 Warna : Putih
 Kelarutan : Larut dalam air, praktis tidak larut
dalam kloroform dan eter.
 Titik lebur : 252°C (dihidrat)
 pH : 4,3 – 6,0
 Aplikasi : Chelating agent
 Stabillitas dan penyimpanan : Edetate garam lebih
stabil daripada asam edetic. Larutan berair dari
dinatrium edetat dapat disterilkan dengan autoklaf,
dan harus disimpan dalam wadah bebas alkali.
Dinatrium edetat adalah higroskopis dan tidak stabil
bila terkena air. Ini harus disimpan dalam wadah
tertutup baik di tempat yang sejuk dan kering.
 Ketidakcocokan : Dinatrium edetat berperilaku
sebagai asam lemah, menggantikan dioksida karbon
dari karbonat dan bereaksi dengan logam membentuk
hidrogen. Tidak kompatibel dengan agen oksidasi yang
kuat, basa kuat, ion logam, dan paduan logam.
 Sinonim : 1,2-Dihydroxypropane; E1520; 2-hydroxypropanol;
methyl ethylene glycol; methyl glycol; propane-1,2-diol, (−)-1,2-
Propanediol (+)-1,2-Propanediol
 Rumus empiris : C3H8O2
 Berat Molekul : 76,09
 Fungsi : Sebagai pengawet antimikroba, humektan, pelarut,
penstabil untuk vitamin dan sebagai pelarut campur.
 Kelarutan : dapat dicampur dengan aseton, kloroform, etanol 95%,
gliserin dan air; larut dalam 6 bagian eter, tidak bercampur dengan
minyak mineral tetapi akan melarutkan beberapa minyak essensial.
 Stabilitas : propilenglikol stabil dalam wadah tertutup tetapi pada
temperatur tinggi dan dalam keadaan wadah terbuka maka
propilenglikol akan mudah teroksidasi dan akan menaikkan produk
seperti propionaldehid, asam laktat, asam piruvat dan asam asetat.
 Pemerian : Propilenglikol berwarna jernih atau tidak berwarna,
kental, praktis tidak berbau, cairan yang manis, agak terasa getir
seperti gliserin. Propilenglikol mempunyai titik didih 188oC.
Tabel Penggunaan Propilenglikol

Penggunaan Bentuk takaran Konsentrasi (%)

Humectant Topikal ≈15

Pengawet larutan, semisolids 15–30

Pelarut atau pelarut campur Larutan aerosol 10–30

Larutan oral 10–25

Parenteral 10–60

Topikal 5–80

Propilenglikol digunakan sebagai pelarut extracta dan pengawet


pada berbagai sediaan parenteral dan nonparenteral. Propilenglikol
merupakan pelarut umum yang digunakan selain gliserin dan untuk
melarutkan berbagai material seperti kortikosteroid, fenol,
golongan sulfa, barbiturat, vitamin A dan D, kebanyakan alkaloid
dan berbagai anastesi lokal.
 Mengandung tidak kurang dari 99% dan tidak lebih dari 100,5%
C10H12O3 dihitung terhadap zat yang dikeringkan.
 Sinonim : Propil p-hidroksi benzoate; propil parabean;
Propil pasasept; chemocide PK; solbrol P; Propil chemosept
Berat Molekul : 180,21
Rumus Molekul : C10H12O3
Pemerian : serbuk hablur putih; tidak berbau; tidak
berasa
Kelarutan : sangat sukar larut dalam air; larut dalam 3,5
bagian etanol (95%)P; dalam 3 bagian aseton P; dalam 140 bagian
Gliserol P;dan dalam 40 bagian minyak lemak, mudah larut dalam
larutan alkali hidroksida.
Wadah dan penyimpanan: Dalam wadah tertutup baik
Khasiat: Pengawet
Penggunaan: Penggunaan nipasol sebagai zat pengawet adalah
0,1-0,2 %
pH: Propil Paraben menunjukkan aktifitas antimikroba pada pH
antara 4-8.
 Sinonim : 4-hydroxybenzoic acid methylester; Methyl
p-hydroxybenzoate; Nipagin M; Uniphen p-23; E218
 Nama Kimia : Metil-p-hidroksibenzoat
 Rumus Kimia : C8H8O3
 Berat Molekul : 152,15
 Pemerian
 Bentuk : Serbuk hablur halus
 Warna : Putih
 Bau : hamper tidak berbau
 Rasa : Tidak mempunyai rasa
 Sifat Khas
 Titik lebur : 125 – 128 ̊ C
 Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air
mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%) P, dan dalam 3 bagian
aseton P; mudah larut dalam eter P dan dalam larutan alkali
hidroksida; larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan dalam 40
bagian minyak lemak nabati panas, jika didinginkan larutan tetap
jernih.
 pH :4–8
 Aplikasi : Zat pengawet, biasanya digunakan kombinasi
sebagai pengawet dengan perbandingan methyl paraben (0,18%) dan
propel paraben (0,02%)
 Stabilitas dan Penyimpanan: Dalam wadah tertutup baik, kering
dan sejuk
 OTT : aktivitas metyl paraben akan berkurang dengan
adanya surfaktan non ionic seperti polisorbat 80 sebagai akibat dari
aktivitas misel, adanya propilenglikol (10%) dapat mencegah
interaksi tersebut. Ketidakcocokan lain dengan zat seperti bentonit,
talk, tragakan, natrium alginate, sorbitol, minyak esensial, dan
atropine.
 Ekstrak bengkuang 8%
 Ekstrak papaya 5%
 Lauret-7-sitrat 2%
 Na Lauret sulfat 10%
 Kokamid DEA 5%
 Nipagin 0,2%
 Nipasol 0,02%
 HPMC 2%
 BHA 0,01%
 Propilenglikol 5%
 Dinatrium EDTA 0,1%
 Parfum 1%
 Lar.Asam sitrat qs
 Air suling ad 100
 HPMC dikembangkan dalam air panas suhu ± 60° sampai
homogen, diamkan sampai suhu 20 – 25°C sehingga dihasilkan
larutan kental homogen. (m1)
 Tambahkan sedikit demi sedikit natrium lauret sulfat, lauret-7-
sitrat, dan kokamid DEA kedalam m1 sambil terus diaduk sampai
homogen. (m2)
 BHA dilarutkan dalam propilenglikol kemudian ditambahkan ke
ekstrak yang sudah dicampur sebelumnya, aduk sampai homogen
kemudian masukan ke m1.
 Tambahkan dinatrium EDTA, nipagin, nipasol, dan parfum yang
sudah larut ke dalam m1 dan aduk sampai homogen.
 Atur pH dengan menggunakan larutan dapar sitrat atau kalium
biftalat pH 5,0.
 Tambahkan sisa air sampai tanda batas dan diaduk kembali
sampai homogen.
 Organoleptis, mulai dari warna, bau, dan
penampilan sediaan.
 Homogenitas sediaan
 Evaluasi tinggi dan kestabilan busa
 Evaluasi bobot jenis dengan viknometer
 Evaluasi viskositas dan sifat alir
 Cek kadar pH dengan pH meter