Anda di halaman 1dari 12

Home - Redaksi - Daftar Agen - Buku Tamu

Top of Form
Artikel Lainnya
Direktori Asysyariah online

:: Mengikuti Sunnah
Cari
Rasulullah Shallallahu Tulis keyword yang anda cari
'alaihi wa sallam dan
Menjauhi Bid’ah Bottom of Form

:: Kebodohan Merusak Kamis, 04 Januari 2006 - 18:19:33, Penulis : Al-Ustadz Qomar


Kebersamaan ZA, Lc.
:: Jual Beli Dengan Uang Kategori : Kajian Utama
Muka Sejarah Suram Ikhwanul Muslimin
:: Syarat-syarat Shalat [Print View] [kirim ke Teman]
:: Menepati Janji
:: Menumpas Bani Pemikiran dan buku tokoh-tokoh mereka, semacam Hasan Al-
Quraizhah (Perang Banna, Sayyid Quthub, Said Hawwa, Fathi Yakan, Yusuf Al-
Ahzab bag 4) Qardhawi, At-Turabi tersebar luas dengan berbagai bahasa,
sehingga sempat mewar-nai gerakan-gerakan dakwah di berbagai
:: Dajjal, Antara
negara.
Kenyataan dan
Ikhwanul Muslimin, gerakan ini tidak bisa lepas dari sosok
Kamuflase
pendirinya, Hasan Al-Banna. Dialah gerakan Ikhwanul Muslimin
:: Menyibak Misteri Ibnu dan Ikhwanul Muslimin adalah dia. Karismanya benar-benar
Shayyad tertanam di hati pengikut dan simpatisannya, yang kemudian
:: Menanti Tanda-tanda senantiasa mengabadikan gagasan dan pemikiran Al-Banna di
Kekuasaan Allah di medan dakwah sepeninggalnya.
Akhir Zaman Untuk mengetahui lebih dekat hakikat gerakan ini, mari kita
:: Dajjal Sudah Ada di simak sejarah singkat Hasan Al-Banna dan berdirinya gerakan
Sebuah Pulau Ikhwanul Muslimin.
:: Beberapa Pengingkaran
Terhadap Eksistensi Kelahirannya
Dajjal Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906 M, di sebuah desa
:: Sifat-sifat Dajjal bernama Al-Mahmudiyyah, yang masuk wilayah Al-Buhairah.
:: Keluarnya Dajjal Ayahnya seorang yang cukup terkenal dan memiliki sejumlah
Sebagai Tanda Hari peninggalan ilmiah seperti Al-Fathurrabbani Fi Tartib Musnad Al-
Kiamat Imam Ahmad Asy-Syaibani, beliau adalah Ahmad bin
:: Adakah Dajjal? Abdurrahman Al-Banna yang lebih dikenal dengan As-Sa’ati.
:: Larangan Berfatwa
Tanpa Bimbingan Pendidikannya
Salafush Shalih Ia mulai pendidikannya di Madrasah Ar-Rasyad Ad-Diniyyah
dengan menghafal Al-Qur`an dan sebagian hadits-hadits Nabi
serta dasar-dasar ilmu bahasa Arab, di bawah bimbingan Asy-
Syaikh Zahran seo-rang pengikut tarekat shufi Al-Hashafiyyah.
Alamat Redaksi Al-Banna benar-benar terkesan dengan sifat-sifat gurunya yang
mendidik, sehingga ketika Asy-Syaikh Zahran menyerahkan
kepemim-pinan Madrasah itu kepada orang lain, Hasan Al-Banna
Jl Godean Km 5, Gg pun ikut meninggalkan madrasah.
Kenanga 26B, Patran RT Selanjutnya ia masuk ke Madrasah I’dadiyyah di Mahmudiyyah,
1/RW 1, Banyuraden, setelah berjanji kepada ayahnya untuk menyelesaikan hafalan Al-
Gamping, Sleman 55293, Qur`an-nya di rumah. Tahun ketiga di madrasah ini adalah awal
Telp. (0274) 626439 perke-nalannya dengan gerakan-gerakan dakwah melalui sebuah
organisasi, Jum’iyyatul Akhlaq Al-Adabiyyah, yang dibentuk
oleh guru matematika di madrasah tersebut. Bahkan Al-Banna
sendiri terpilih sebagai ketuanya. Aktivitasnya terus berlanjut
hingga ia bergabung dengan organisasi Man’ul Muharramat.
Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah Al-
Mu’allimin Al-Ula di kota Damanhur. Di sinilah ia berkenalan
dengan tarekat shufi Al-Hashafiyyah. Ia terkagum-kagum dengan
majelis-majelis dzikir dan lantunan nasyid yang didendangkan
secara bersamaan oleh pengikut tarekat tersebut. Lebih tercengang
lagi ketika ia dapati bahwa di antara pengikut tarekat tersebut ada
guru lamanya yang ia kagumi, Asy-Syaikh Zahran. Akhirnya Al-
Banna bergabung dengan tarekat tersebut. Sehingga ia pun aktif
dan rutin mengamalkan dzikir-dzikir Ar-Ruzuqiyyah pagi dan
petang hari. Tak ketinggalan, acara maulud Nabipun rutin ia ikuti:
“…Dan kami pergi bersama-sama di setiap malam ke masjid
Sayyidah Zainab, lalu melakukan shalat ‘Isya di sana. Kemudian
kami keluar dari masjid dan membuat barisan-barisan. Pimpinan
umum Al-Ustadz Hasan Al-Banna maju dan melantunkan sebuah
nasyid dari nasyid-nasyid maulud Nabi, dan kamipun
mengikutinya secara bersamaan dengan suara yang nyaring,
membuat orang melihat kami,” ujar Mahmud Abdul Halim dalam
bukunya. (Al-Ikhwanul Muslimun Ahdats Shana’at Tarikh, 1/109)
Di antara aktivitas selama bergabung dengan tarekat ini ialah
pergi bersama teman-teman se-tarekat ke kuburan, untuk meng-
ingatkan mereka tentang kematian dan hisab (perhitungan amal).
Mereka duduk di depan kuburan yang masih terbuka, bahkan
salah seorang mereka terkadang masuk ke liang kubur tersebut
dan berbaring di dalamnya agar lebih menghayati hakekat
kematian nanti.
Al-Banna terus bergabung dengan tarekat tersebut sampai pada
akhirnya ia berbai’at kepada syaikh tarekat saat itu yaitu Asy-
Syaikh Basyuni Al-’Abd. Jabir Rizq mengatakan: “…(Hasan Al-
Banna) sangat berkeinginan mengambil ajaran tarekat itu, sampai-
sampai ia meningkat dari sekedar simpatisan ke pengikut yang
berbai’at.” Sepeninggal Basyuni, Al-Banna berbai’at kepada Asy-
Syaikh Abdul Wahhab Al-Hashafi, pengganti pendiri tarekat
tersebut. Ia diberi ijazah wirid-wirid tarekat tersebut. Dengan
bangga Al-Banna mengungkapkan: “Dan saya berteman dengan
saudara-saudara dari tarekat Al-Hashafiyyah di Damanhur. Saya
rutin mengikuti acara al-hadhrah di Masjid Taubah setiap
malam… Sayyid Abdul Wahhab-pun datang, dialah yang
memberikan ijazah di kelompok tarekat Hashafiyyah
Syadziliyyah, dan saya menda-pat ajaran tarekat ini darinya. Ia
juga mem-beri saya wirid dan amalan tarekat itu.”
Karena faktor tertentu, akhirnya kelompok tarekat ini mendirikan
sebuah organisasi, bernama Jum’iyyah Al-Hashafiyyah Al-
Khairiyyah yang diketuai oleh teman lamanya, Ahmad As-
Sukkari. Sementara Hasan Al-Banna menjadi sekretarisnya. Al-
Banna mengatakan: “Di saat-saat ini, nampak pada kami untuk
mendirikan organisasi perbaikan yaitu Al-Jum’iyyah Al-
Hashafiyyah Al-Khairiyyah, dan aku terpilih sebagai
sekretarisnya… Lalu dalam perjuangan ini, aku menggantikannya
dengan organisasi Ikhwanul Muslimin setelah itu.”
Al-Banna menghabiskan waktunya di madrasah Al-Mu’allimin
dari tahun 1920-1923 M. Di sela-sela masa itu, ia juga banyak
membaca majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Muhammad
Rasyid Ridha, salah seorang tokoh gerakan Ishlahiyyah yang
banyak dipengaruhi pemikiran Mu’ta-zilah. Di sisi lain, iapun
suka mendatangi Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib di
perpustakaan salafinya.
Al-Banna, ketika ingin melanjutkan pendidikannya ke Darul
Ulum, sempat bimbang antara melanjutkan atau menekuni
dakwah dan amal. Ini dikarenakan interaksinya dengan buku Ihya‘
Ulumuddin. Namun bermodalkan nasehat dari salah seorang
gurunya, ia mantap untuk melanjutkan pendidikan.
Ia akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikannya di Darul
Ulum. Di sini, ia sangat giat membentuk jamaah-jamaah dakwah,
sehingga di tengah-tengah aktivitasnya tercetus dalam benaknya,
ide untuk menjalin hubungan dengan orang-orang yang duduk di
warung-warung kopi dan di desa-desa terpencil untuk
mendakwahi mereka. Pada akhirnya Al-Banna lulus dari Darul
Ulum pada tahun 1927 M.
Usai pendidikannya di Darul Ulum, ia diangkat menjadi guru di
daerah Al-Isma’iliyyah. Iapun mengajar di sekolah dasar selama
19 tahun. Sebelumnya, ia datang ke daerah itu pada tanggal 19
September 1927 dan tinggal di sana selama 40 hari untuk
mempelajari seluk-beluk lingkungan tersebut. Ternyata, ia dapati
banyak terjadi perselisihan di antara masyarakat, sementara ia
berkehendak agar dapat berkomunikasi, bergaul dengan semua
pihak, dan mempersatukannya. Usai berpikir panjang, akhirnya ia
memutuskan untuk menjauh dari semua kelompok yang ada dan
berkonsentrasi mendakwahi mereka yang berada di warung-
warung kopi. Lambat laun dakwahnya-pun tersebar dan semakin
bertambah jumlah pengikutnya.

Pembentukan Gerakan Ikhwanul Muslimin


Pada bulan Dzulqa’dah 1347 H yang bertepatan dengan Maret
1928, enam orang dari pengikutnya mendatangi rumahnya,
membai’atnya demi beramal untuk Islam dan sama-sama
bersumpah untuk menjadikan hidup mereka untuk dakwah dan
jihad. Dengan itu muncullah tunas pertama gerakan Ikhwanul
Muslimin. Selang empat tahun, dakwahnya meluas, sehingga ia
pindah ke ibukota Kairo, bersama markas besar Ikhwanul
Muslimin. Dengan bergulirnya waktu, jangkauan dakwah semakin
lebar. Kini saatnya bagi Al-Banna untuk mengajak anggotanya
melakukan jihad amali. Dengan situasi yang ada saat itu, ia
membentuk pasukan khusus untuk melindungi jamaahnya. Pada
tahun 1942 M, Hasan Al-Banna menetapkan untuk mencalonkan
dirinya dalam pemilihan umum, tapi ia mencabutnya setelah
maju, karena ada ancaman dari Musthafa Al-Basya, yang waktu
itu menjabat sebagai pimpinan Al-Wizarah (Perdana Menteri,
ed.). Dua tahun kemudian, ia mencalonkan diri kembali, namun
Inggris memanipulasi hasil pemilihan umum.

Wafatnya
Pada tahun 1949 M, Al-Banna mendapat undangan gelap untuk
hadir di kantor pusat organisasi Jum’iyyatusy Syubban Al-
Muslimin beberapa saat sebelum maghrib. Ketika ia hendak naik
taksi bersama Abdul Karim Manshur, tiba-tiba lampu penerang
jalan tersebut dipadamkan. Bersamaan dengan itu peluru-peluru
beterbangan mengarah ke tubuhnya. Ia sempat dievakuasi dengan
ambulans. Namun karena pendarahan yang hebat, ajal
menjemputnya. Dengan itu, tertutuplah lembaran kehidupannya.
Demikian sejarah ringkas Hasan Al-Banna bersama gerakan
dakwah yang ia dirikan. Pembaca mungkin berbeda-beda dalam
menanggapi sejarah tersebut, sesuai dengan sudut pandang yang
digunakan. Namun bila kita melihatnya dengan kacamata syar’i,
menimbangnya dengan timbangan Ahlus Sunnah, maka kita akan
mendapatinya sebagai sejarah yang suram. Mengapa? Karena kita
melihat, ternyata gerakan tersebut lahir dari sebuah sosok yang
berlatar belakang aliran shufi Hashafi dengan berbagai kegiatan
bid’ahnya, seperti bai’at kepada syaikh tarekat dan kepada Al-
Banna sendiri sebagai pimpinan gerakan, amalan wirid-wirid
Ruzuqiyyah yang diada-adakan, dzikir berjamaah, maulud Nabi,
ziarah-ziarah kubur dengan cara bid’ah sampai pada praktek
politik praktis di atas asas demokrasi. Gurunyapun campur aduk,
dari syaikh tarekat, seorang yang terpengaruh madzhab
Mu’tazilah, dan seorang yang berakidah salafi.
Warna-warni sosok pendiri tersebut sangat berpengaruh dalam
menentukan corak gerakan tersebut, sehingga warnanyapun tidak
jelas, buram. Tidak seperti Ash-Shirathul Mustaqim yang Nabi n
katakan:

َ ِ‫ضاِء ل َي ْل َُها ك َن ََهار‬


‫ها‬ َ ْ ‫ل ال ْب َي‬
ِ ْ ‫مث‬
ِ ‫ى‬
َ ‫عل‬ ْ ُ ‫ت ََرك ْت ُك‬
َ ‫م‬

“Aku tinggalkan kalian di atas yang putih bersih, malamnya


seperti siangnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Abi ‘Ashim,
Al-Hakim, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam
Zhilalul Jannah no. 33)
Untuk melihat lebih dekat dan jelas buktinya mari kita simak
pembahasan berikutnya.

Pandangan Umum terhadap Gerakan Ikhwanul Muslimin


Sekilas, dari sejarah singkat Hasan Al-Banna tampak jati diri
gerakan yang didirikannya. Namun itu tidak cukup untuk
mengungkap lebih gamblang. Untuk itu perlu kami nukilkan di
sini beberapa kesimpulan yang didasari oleh komentar Al-Banna
sendiri atau tokoh-tokoh gerakan ini atau simpatisannya.
Pertama: Menggabung Kelompok-kelompok Bid’ah
Tentu pembaca tahu, bahwa bid’ah tercela secara mutlak dalam
agama:

ٌ َ ‫ضل َل‬
‫ة‬ ّ ُ‫ك‬
َ ٍ‫ل ب ِد ْع َة‬

“Semua bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim, Kitabul Jum’ah, no.


2002)
Kata-kata ini senantiasa Nabi n ucapkan dalam pembukaan
khutbahnya. Bahkan Nabi n juga katakan:

ً ‫دثا‬
ِ ‫ح‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ن آَوى‬
ْ ‫م‬
َ ‫ه‬ َ َ‫ل َع‬
ُ ‫ن الل‬

“Allah melaknati orang yang melindungi bid’ah.” (HR. Muslim,


Kitabul Adhahi, Bab Tahrim Adz-Dzabh Lighairillah, no. 5096)
Yakni ridha terhadapnya dan tidak mengingkarinya. Dan banyak
lagi hadits yang lain. Tapi anehnya, Al-Banna justru menaungi
kelompok-kelompok bid’ah sebagaimana dia sendiri ungkapkan:
“Sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah
salafiyyah… tarekat sunniyah… hakekat shufiyyah…dan badan
politik…” (Majmu’ah Rasa`il, hal. 122)
Ini menggambarkan usaha untuk mencampur antara al-haq dan al-
bathil. Dan ini adalah cara yang batil. Jika memang dakwahnya
adalah salafiyyah yang sesungguhnya –dan itulah kebenaran–
tidak mungkin dipadukan dengan shufiyyah dengan berbagai
bid’ahnya dan praktek politik praktis yang diimpor dari Barat.
Karena prinsip ini, maka realita membuktikan bahwa: “Ratusan
ribu manusia telah bergabung dengan kelompok Ikhwanul
Muslimin. Mereka dari kelompok yang bermacam-macam, paham
yang berbeda-beda. Di antara mereka ada sekelompok Shufi yang
menyangka bahwa kelompok ini adalah Shufi gaya baru…,”
demikian ungkap Muhammad Quthub dalam bukunya Waqi’una
Al-Mu’ashir (hal. 405).
Bahkan dengan kelompok Syi’ah-pun berpelukan. Itu terbukti
dengan usaha Al-Banna untuk menyatukan antara Sunnah dengan
Syi’ah, dan tak sedikit anggota gerakan yang beraliran Syi’ah.
Umar At-Tilmisani, murid Al-Banna sekaligus pimpinan umum
ketiga gerakan ini, mengungkapkan: “Pada tahun empat-puluhan
seingat saya, As-Sayyid Al-Qummi, dan ia berpaham Syi’ah,
singgah sebagai tamu Ikhwanul Muslimin di markas besarnya.
Dan saat itu Al-Imam Asy-Syahid (Al-Banna) berusaha dengan
serius untuk mendekatkan antar berbagai paham, sehing-ga musuh
tidak menjadikan perpecahan paham sebagai celah, yang dari situ
mereka robek-robek persatuan muslimin. Dan kami suatu hari
bertanya kepadanya, sejauh mana perbedaan antara Ahlus Sunnah
dengan Syi’ah, maka ia pun melarang untuk masuk dalam
permasalahan semacam ini… Kemudian mengatakan: ‘Ketahuilah
bahwa Sunnah dan Syi’ah adalah muslimin, kalimat La ilaha
illallah Muhammad Rasulullah menyatukan mereka, dan inilah
pokok aqidah. Sunnah dan Syi’ah dalam hal itu sama dan sama-
sama bersih. Adapun perbedaan antara keduanya adalah pada
perkara-perkara yang mungkin bisa didekatkan.” (Dzikrayat la
Mudzakkirat, karya At-Tilmisani, hal. 249-250)
Benarkah dua kelompok itu sama dan bersih dalam dua kalimat
syahadat? Tidakkah Al-Banna tahu, bahwa di antara kelompok
Syi’ah ada yang menuhankan ‘Ali bin Abi Thalib? Tidakkah dia
tahu bahwa Syi’ah menuhankan imam-imam mereka, dengan
menganggap mereka mengetahui perkara-perkara ghaib?
Tidakkah dia tahu bahwa di antara Syi’ah ada yang meyakini
bahwa Malaikat Jibril keliru menyampaikan risalah –mestinya
kepada Ali, bukan kepada Nabi n–? Seandainya hanya ini saja
(penyimpangan) yang dimiliki Syi’ah, mungkinkah didekatkan
antara keduanya? Lebih-lebih dengan segudang kekafiran dan
bid’ah Syi’ah.
Kedua: Lemahnya Al-Wala` dan Al-Bara`
Pembaca, tentu anda tahu bahwa Al-Wala` (loyalitas kepada
kebenaran) dan Al-Bara` (antipati terhadap kebatilan) merupakan
prinsip penting dalam agama kita, Islam.
Abu ‘Utsman Ash-Shabuni (wafat 449 H) mengatakan: “Dengan
itu, (Ahlus Sunnah) seluruhnya bersepakat untuk merendahkan
dan menghinakan ahli bid’ah, dan menjauhkan serta menjauhi
mereka, dan tidak berteman dan bergaul dengan mereka, serta
mendekatkan diri kepada Allah dengan menjauhi mereka.”
(‘Aqidatussalaf Ashabil Hadits, hal. 123, no. 175)
Tapi prinsip ini menjadi luntur dan benar-benar luntur dalam
manhaj gerakan Ikhwanul Muslimin. Itu terbukti dari penjelasan
di atas. Juga sambutan hangatnya terhadap pimpinan aliran Al-
Marghiniyyah, sebuah aliran wihdatul wujud yang menganggap
Allah menjadi satu dengan makhluk (lihat Qafilatul Ikhwan Al-
Muslimin, 1/259, karya As-Sisi). Lebih dari itu –dan anda boleh
kaget– Al-Banna mengatakan: “Maka saya tetapkan bahwa
permusuhan kita dengan Yahudi bukan permusuhan karena
agama. Karena Al-Qur`an menganjurkan untuk bersahabat dengan
mereka. Dan Islam adalah syariat kemanusiaan sebelum syariat
kesukuan. Allah-pun telah memuji mereka dan menjadikan
kesepakatan antara kita dengan mereka… dan ketika Allah ingin
menyinggung masalah Yahudi, Allah menyinggung mereka dari
sisi ekonomi, firman-Nya….” (Al-Ikhwanul Al-Muslimun Ahdats
Shana’at Tarikh, 1/409 dinukil dari Al-Maurid, hal. 163-164)
Apa yang pantas kita katakan wahai pembaca? Barangkali tepat
kita katakan di sini:
َ
‫ض‬
ٍ ْ‫ن ب ِب َع‬
َ ْ‫فُرو‬ ِ ‫ض ال ْك َِتا‬
ُ ْ ‫ب وَت َك‬ ِ ْ‫ن ب ِب َع‬ ِ ْ ‫أفَت ُؤ‬
َ ْ‫من ُو‬

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab dan ingkar


terhadap sebahagian yang lain?” (Al-Baqarah: 85)
Ke mana hafalan Al-Qur`an-nya? Siapapun yang membaca pasti
tahu bahwa Allah telah mengkafirkan Yahudi, mereka membunuh
para nabi, mencela Allah, tidak mau beriman kepada Nabi
Muhammad n, dan beberapa kali berusaha membunuh Nabi n.
Apakah ini semua tidak pantas menimbulkan permusuhan antara
muslimin dengan Yahudi dalam pandangannya?
Bukti lain tentang lemahnya Al-Wala` dan Al-Bara`, bahwa
sebagian penasehatnya adalah Nashrani. Menurut pengakuan
Yusuf Al-Qardhawi, katanya: “Saya tumbuh di sebuah lingkungan
yang berkorban untuk Islam. Madrasah ini, yang memimpinnya
adalah seorang yang mempunyai ciri khas keseimbangan dalam
pemikiran, gerakan, dan hubungannya. Itulah dia Hasan Al-
Banna. Orang ini sendiri adalah umat dari sisi ini, di mana dia
bisa bergaul dengan semua manusia, sampai-sampai sebagian
penasehatnya adalah orang-orang Qibthi –yakni suku bangsa di
Mesir yang beragama Nashrani– dan ia masukkan mereka ke
dalam departemen politiknya…” (Al-Islam wal Gharb, ma’a
Yusuf Al-Qardhawi, hal. 72, dinukil dari Dhalalat Al-Qardhawi,
hal. 4)
Padahal Allah k berfirman:
ْ َ
‫دوا‬ ّ َ‫خَبال ً و‬ َ ‫م‬ ْ ُ ‫م ل َ ي َأل ُوْن َك‬ ْ ُ ‫ن د ُوْن ِك‬ ْ ‫م‬ ِ ‫ة‬ ً َ ‫طان‬َ ِ ‫ذوا ب‬ ِ ّ ‫مُنوا ل َ ت َت‬
ُ ‫خ‬ َ ‫نآ‬ َ ْ ‫َيا أي َّها ال ّذ ِي‬
َ َ
ْ ‫م أك ْب َُر قَد‬ ْ ُ‫صد ُوُْره‬ ُ ‫في‬ ِ ‫خ‬ ْ ُ ‫ما ت‬ َ َ‫م و‬ ْ ِ‫واه ِه‬ َ ْ‫ن أف‬ْ ‫م‬ِ ‫ضاُء‬ َ ْ‫ت ال ْب َغ‬ِ َ ‫م قَد ْ ب َد‬ ْ ّ ‫ما ع َن ِت‬
َ
‫ن‬ ُ
َ ْ ‫ق لو‬
ِ ْ‫م ت َع‬ْ ُ ‫ت‬ْ ‫ن‬ُ ‫ك‬ ‫ن‬ ْ ِ ‫إ‬ ‫ت‬
ِ ‫يا‬
َ ‫ال‬ ْ ‫م‬ُ ُ ‫ك‬ َ ‫ل‬ ‫نا‬
ّ ّ ‫ي‬َ ‫ب‬

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi


teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu,
(karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan)
kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan
kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang
disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah
Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu
memahaminya.” (Ali ‘Imran: 118)
Ketiga: Tidak Perhatian terhadap Aqidah
Pembaca, aqidah adalah hidup matinya seorang muslim. Bagi
muslim sejati, yang berharga menjadi murah demi membela
aqidah. Aqidah adalah segala-galanya, tidak bisa main-main, tidak
bisa coba-coba. Tapi tidak demikian adanya dengan kelompok
yang kita bicarakan ini. Itu terbukti dari keterangan di atas,
ditambah keadaan Al-Banna sendiri yang tidak beraqidah salaf
dalam mengimani Asma`ul Husna dan sifat-sifat Allah. Salah
jalan, ia terangkan aqidah salaf tapi ternyata itu aqidah khalaf
(yang datang belakangan dan menyelisihi salaf). Ungkapnya:
“Adapun Salaf, mereka mengatakan: Kami beriman dengan ayat-
ayat dan hadits-hadits sebagaimana datangnya, dan kami serahkan
keterangan tentang maksudnya kepada Allah tabaraka wa ta’ala,
sehingga mereka menetapkan sifat Al-Yad (tangan) dan Al-’Ain
(mata)… Semua itu dengan makna yang tidak kita ketahui, dan
kita serahkan kepada Allah pengetahuan tentang ilmunya…”
(Majmu’ Rasa`il, karya Al-Banna, hal. 292, 324)
Tauhid Al-Asma` dan Sifat, adalah salah satu dari tiga unsur
penting dalam ilmu-ilmu tentang Allah k. Intinya adalah
mengimani nama-nama Allah k dan sifat-sifat-Nya sebagaimana
Allah k sebutkan dalam Al-Qur`an atau Nabi n sebutkan dalam
hadits yang shahih.
Aqidah Ahlussunnah dalam hal ini tergambar dalam jawaban
Imam kota Madinah saat itu, Al-Imam Malik bin Anas Al-
Ashbuhi t, ketika ditanya oleh seseorang: “Allah naik di atas
‘Arsy-Nya, bagaimana di atas itu?” Dengan bercucuran keringat
karena kaget, beliau menjawab: “Naik di atas itu diketahui
maknanya. Caranya tidak diketahui. Iman dengannya adalah
wajib. Dan bertanya tentang itu adalah bid’ah!”
Ucapan Al-Imam Malik ini minimalnya mengandung empat hal:
1. Naik di atas itu diketahui maknanya: Demikian pula nama, sifat
dan perbuatan Allah yang lain seperti, murka, cinta, melihat, dan
sebagainya. Semuanya diketahui maknanya, dan semua itu dengan
bahasa Arab yang bisa dimengerti.
2. Tapi caranya tidak diketahui: yakni kaifiyyah, cara dan seperti
apa tidaklah diketahui, karena Allah k tidak memberi-tahukan
perincian tentang hal ini. Demikian pula sifat-sifat yang lain.
3. Iman dengannya adalah wajib: karena Allah memberitakannya
dalam Al-Qur`an dan Nabi n mengabarkan dalam haditsnya yang
shahih.
4. Dan bertanya tentang itu adalah bid’ah: yakni bertanya tentang
tata caranya dan seperti apa sifat-sifat tersebut adalah bid’ah, tidak
pernah dilakukan oleh generasi awal. Mereka beriman apa adanya,
karena Allah k tidak pernah memberitakan perincian tata caranya.
Berbeda dengan ahli bid’ah yang melakukan takyif yakni mereka-
reka kaifiyyah sifat tersebut, atau bertanya untuk mencari tahu
dengan pertanyaan: Bagaimana?
Dengan penjelasan di atas, maka ucapan Hasan Al-Banna:
…”Semua itu dengan makna yang tidak kita ketahui, dan kita
serahkan kepada Allah pengetahuan tentang ilmunya”, adalah
ucapan yang menyelisihi kebenaran. Dan ini tentu bukan manhaj
salaf. Bahkan ini adalah manhaj Ahluttafwidh atau Al-
Mufawwidhah, yang menganggap ayat dan hadits tentang sifat-
sifat Allah itu bagaikan huruf muqaththa’ah, yakni huruf-huruf di
awal surat seperti alif lam mim, yang tidak diketahui maknanya.
Madzhab ini sangat berbahaya, yang konsekuensinya adalah
menganggap Nabi n dan para shahabatnya bodoh, karena mereka
tidak mengetahui makna ayat-ayat itu. Oleh karenanya, Ibnu
Taimiyyah t mengatakan bahwa: “Al-Mufawwidhah termasuk
sejahat-jahat ahli bid’ah.” (lihat Dar`u Ta’arudhil ‘Aql wan Naql
karya Ibnu Taimiyyah, 1/201-205, dinukil dari Al-Ajwibah Al-
Mufidah, hal. 71)
Bukti lain, ia hadir di salah satu sarang kesyirikan terbesar di
Mesir yaitu kuburan Sayyidah Zainab, lalu memberikan wejangan
di sana, tetapi sama sekali tidak menyinggung kesyirikan-
kesyirikan di sekitar kuburan itu (lihat buku Qafilatul Ikhwan,
1/192). Jika anda heran, maka akan lebih heran lagi ketika dia
mengatakan: “Dan berdoa apabila diiringi dengan tawassul
kepada Allah k dengan perantara seseorang dari makhluk-Nya,
adalah perbedaan pendapat yang sifatnya furu’ (cabang) dalam hal
tata cara berdoa dan bukan termasuk perkara aqidah.” (Majmu’
Rasa`il karya Al-Banna, hal. 270)
Pembaca, jika anda mengikuti kajian-kajian majalah kesayangan
ini, pada dua edisi sebelumnya dalam Rubrik Aqidah akan anda
dapati pembahasan tentang tawassul. Tawassul (menjadikan
sesuatu sebagai perantara untuk menyampaikan doa kepada Allah)
telah dibahas panjang lebar oleh ulama dan sangat erat kaitannya
dengan aqidah. Di antara tawassul itu ada yang sampai kepada
derajat syirik akbar, adapula yang bid’ah. Dari sisi ini, bisa
pembaca bandingkan antara nilai aqidah menurut para ulama dan
menurut Hasan Al-Banna.
Keempat: Menganggap Sepele Bid’ah dalam Agama
Sekilas telah anda ketahui tentang bahaya bid’ah yang Nabi n
katakan:
ُ
‫حد ََثات َُها‬
ْ ‫م‬ ُ ‫شّر ا ْل‬
ُ ِ‫موْر‬ َ

“Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan.” (HR.


Muslim, Kitabul Jum’ah, no. 2002)
Oleh karenanya, Nabi n berpesan:
ُ
ُ ‫ت ا ْل‬
‫موِْر‬ ِ ‫حد ََثا‬
ْ ‫م‬ ْ ُ ‫ وَإ ِّياك‬...
ُ َ‫م و‬

“Dan jauhi oleh kalian perkara-perkara baru (yakni dalam agama)


karena semua bid’ah itu sesat, dan semua kesesatan di neraka.”
(Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Namun berbeda keadaannya dengan gerakan Ikhwanul Muslimin,
sebagaimana anda baca dalam sejarah ringkas Al-Banna. Berbagai
macam bid’ah ia kumpulkan, kelompok-kelompok bid’ah ia
rangkul, acara bid’ah ia datangi seperti maulud Nabi dan dzikir
bersama dengan satu suara, bahkan sebagian bacaannya
mengandung aqidah wihdatul wujud. Tentu itu bukan secara
kebetulan, terbukti dengan penegasannya: “Dan bid’ah
idhafiyyah, tarkiyyah, dan iltizam pada ibadah-ibadah yang
bersifat mutlak adalah perbedaan fiqih, yang masing-masing
punya pendapat dalam masalah itu…” (Majmu’ Rasa`il karya Al-
Banna, hal. 270)
Ia hanya anggap bid’ah-bid’ah itu layaknya perbedaan fiqih biasa.
Coba bandingkan dengan wasiat Nabi n di atas. Oleh karenanya,
muncul kaidah mereka yang sangat populer: “Kita saling
membantu pada perkara yang kita sepakati, dan saling
mamaklumi pada apa yang kita perselisihkan.” Pada prakteknya,
mereka saling memaklumi dengan Syi’ah, Shufi yang ekstrim,
bahkan Yahudi dan Nashrani, apalagi ahli bid’ah yang belum
sederajat dengan mereka.
Sedikit penjelasan terhadap ucapan Al-Banna, bid’ah idhafiyyah
adalah sebuah amalan yang pada asalnya disyariatkan, tapi dalam
pelaksanaannya ditambah-tambah dengan sesuatu yang bid’ah.
Termasuk di dalamnya yaitu sebuah ibadah yang mutlak, artinya
tidak terkait dengan waktu, jumlah, tata cara, atau tempat tertentu.
Tetapi dalam pelaksanaannya, seseorang mengaitkan dengan tata
cara tertentu dan iltizam (terus-menerus) dengannya. Contoh
dzikir dengan ucapan La ilaha Illallah, dalam sebuah hadits
dianjurkan secara mutlak, tapi ada orang yang membatasi dengan
jumlah tertentu (500 kali, misalnya) dan beriltizam dengannya.
Bid’ah tarkiyyah, adalah mening-galkan sesuatu yang Allah
halalkan atau mubahkan dengan niat ber-taqarrub, mendekatkan
diri dan beribadah kepada Allah dengan itu. Contohnya adalah
orang yang tidak mau menikah dengan tujuan semacam itu,
seperti yang dilakukan pendeta Nashrani dan sebagian muslimin
yang mencontoh mereka. (lihat Mukhtashar Al-I’tsham, hal. 11
dan 72)
Kelima: Bai’at Bid’ah
Bai’at adalah sebuah ibadah. Layaknya ibadah yang lain, tidak
bisa dibenarkan kecuali dengan dua syarat: ikhlas dan sesuai
dengan ajaran Nabi n. Dalam sejarah Nabi dan para shahabatnya,
bahkan para imam Ahlus Sunnah setelah mereka, mereka tidak
pernah memberikan bai’at kepada selain khalifah, imam, atau
penguasa muslim. Maka, sebagaimana dikatakan Sa’id bin Jubair
–seorang tabi’in–: “Sesuatu yang tidak diketahui oleh para Ahli
Badr (shahabat yang ikut Perang Badr), maka hal itu bukan bagian
dari agama.” (Al-Fatawa, 4/5 dinukil dari Hukmul Intima`, hal.
165). Al-Imam Malik mengatakan: “Sesuatu yang di masa
shahabat bukan sebagai agama, maka hari ini juga bukan sebagai
agama.” (Al-Fatawa, 4/5 dinukil dari Hukmul Intima`, hal. 165)
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya tentang bai’at, beliau
menjawab: “Bai’at tidak diberikan kecuali kepada waliyyul amr
(penguasa) kaum muslimin. Adapun bai’at-bai’at yang ada ini
adalah bid’ah, dan merupakan akibat dari adanya ikhtilaf
(perselisihan). Yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin yang
berada di satu negara atau satu kerajaan, hendaknya bai’at mereka
hanya satu dan untuk satu pimpinan…” (Fiqh As-Siyasah As-
Syar’iyyah hal. 281 dan lihat Al-Maurid Al-’Adzb Az-Zulal,
karya An-Najmi hal. 214). Lebih rinci tentang hukum bai’at,
silakan anda buka-buka kembali Asy-Syariah edisi-edisi
sebelumnya.
Sementara, Hasan Al-Banna sendiri berbai’at kepada syaikh
tarekat shufi. Dan ketika mendirikan gerakan ini, ia dibai’at oleh
enam tunas gerakan ini, bahkan Al-Banna menjadikan bai’at
sebagai unsur penting manhaj gerakan Ikhwanul Muslimin. Dia
katakan: “Wahai saudara-saudara yang jujur, rukun bai’at kita ada
sepuluh, hafalkanlah: 1. Paham, 2. Ikhlas, 3. Amal, 4. Jihad, 5.
Pengorbanan, 6. Taat, 7. Kokoh, 8. Konsentrasi, 9. Persaudaraan,
10. Percaya.” (Majmu’ Rasa`il, karya Al-Banna, hal. 268)
Untuk mengkaji kritis secara tuntas point-point itu tentu butuh
berlembar-lembar kertas. Namun cukup untuk mengetahui
batilnya, bahwa rukun-rukun bai’at ini berdiri di atas asas bai’at
yang salah. Sebagai tambahan, tahukah anda apa yang dimaksud
ketaatan pada point keenam? Silahkan anda simak penuturan Al-
Banna: “…Dan pada periode kedua yaitu periode takwin
(menyusun kekuatan), aturan dakwah dalam periode ini adalah
keshufian yang murni dari sisi rohani dan militer murni dari sisi
amal. Dan selalu, motto dua sisi ini adalah ‘komando’ dan ‘taat’
tanpa ragu, bimbang, bertanya, segan.” (Risalah Ta’lim, karya Al-
Banna, hal. 274)
Yakni taat komando secara mutlak, bagaikan mayat di hadapan
yang memandikan. Sedangkan Nabi n saja, dalam bai’at yang sah
mensyaratkan ketaatan dengan dua syarat:
1. Pada perkara yang sesuai syariat.
2. Sebatas kemampuan.
(lihat Al-Maurid Al-’Adzb Az-Zulal, karya An-Najmi hal. 217)
Tahukah pula anda, apa yang dimaksud dengan paham pada point
pertama? Mari kita simak penuturan sang imam ini: “Hanyalah
yang saya maukan dengan ‘paham’ ini, adalah engkau harus yakin
bahwa pemikiran kami adalah Islami dan benar, dan agar engkau
memahami Islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas
20 prinsip yang kami ringkas seringkas-ringkasnya.” (Majmu’
Rasa`il, karya Al-Banna, hal. 356)
Pembaca, haruskah seseorang berbai’at untuk membenarkan
pemikiran Al-Banna yang sedemikian rupa, seperti anda baca?
Haruskah kita memahami Islam seperti dia pahami, hanya
berkutat pada 20 prinsip yang ia buat, itu pun bila prinsip-prinsip
itu benar?
Anehnya juga, ketika menyebutkan 38 kewajiban muslim
berkaitan dengan bai’at tersebut, salah satunya adalah: “Jangan
berlebih-lebihan minum kopi, teh dan minuman-minuman sejenis
yang membuat susah tidur.” (Majmu’ Rasa`il, karya Al-Banna,
hal. 277, dinukil dari Haqiqatud Da’wah, karya Al-Hushayyin,
hal. 80), namun dia tidak menyinggung masalah pembenahan
aqidah.
Pembaca yang saya muliakan, dari penjelasan di atas tentu anda
merasakan, bagaimana sosok Hasan Al-Banna begitu mewarnai
corak gerakan yang ia dirikan. Sekaligus anda dapat mengetahui
betapa jauhnya gerakan ini dari Ash-Shirathul Mustaqim, jalan
yang digariskan Nabi n dan kita diperintahkan menelusurinya
serta berhati-hati dari selainnya. Lebih-lebih, gerakan ini juga,
tidak kurang-kurangnya memuji musuh-musuh Allah seperti, Al-
Khomeini, dan tokoh-tokoh Syi’ah yang lain, Al-Marghini tokoh
wihdatul wujud, memusuhi Muwahhidin, melakukan
pembunuhan-pembunuhan kepada aparatur negara yang dianggap
merugikan dengan cara yang tidak syar’i, berdemo, melakukan
kudeta tanpa melalui prosedur syar’i, nasyid ala shufi dan
sandiwara. Dan betapa pengikutnya berlebihan dalam menyanjung
Al-Banna sampai menjulukinya Asy-Syahid (yang mati syahid),
dan dengan yakin salah satu di antara mereka mengatakan:
“Bahwa ia (yakni Hasan Al-Banna) hidup di sisi Rabbnya dan
mendapat rizki di sana.” (lihat Al-Maurid Al-’Adzb Az-Zulal,
karya An-Najmi hal. 206, 165, 208, 226, 229, 117, 228)
Padahal, Al-Imam Al-Bukhari menyebutkan sebuah bab dalam
bukunya Shahih Al-Bukhari berjudul: “Tidak boleh dikatakan
bahwa fulan adalah syahid”, lalu beliau sebutkan dalilnya. Beliau
juga menyebutkan hadits dalam bab lain: “…Bahwa Ummul ‘Ala
berkata: ‘Utsman bin Mazh’un dapat bagian di rumah kami
(setelah diundi), maka ketika ia sakit kami mera-watnya. Tatkala
wafat, aku katakan: ‘Persaksianku atas dirimu wahai Abu Sa`ib
('Utsman bin Mazh’un) bahwa Allah telah memuliakanmu’. Maka
Nabi n mengatakan: ‘Darimana engkau tahu bahwa Allah telah
memuliakannya?’ Saya katakan: ‘Ayah dan ibuku tebusanmu,
wahai Rasulullah. Demi Allah, saya tidak tahu.’ Maka Nabi n
mengatakan: ‘Sesungguhnya aku, demi Allah, dan aku ini adalah
utusan Allah, aku tidak tahu apa yang akan Allah perlakukan
kepadaku dan kepada kalian’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Wahai saudaraku, sadarlah dan ambillah pelajaran....

Home | Redaksi | Buku Tamu

Copyright © 2005 Asysyariah.com.. All rights reserved


Developed by OaSe Media