Anda di halaman 1dari 61

ELEKTRONIKA II

• Text book
– Ramakant A. Gayakwad, Op-amp and Linear
Integrated Circuit: 4th Ed., Prentice Hall.
– Malvino, Elektronika Komputer Digital:
pengantar mikrokomputer, Edisi 2, Erlangga.
• Refferensi
– Malvino, Prinsip-prinsip Elektronika jilid 2:
Edisi 3, Erlangga.
– Soetrisno, Elektronika: Teori dan
penerapannya, jilid 2, ITB.
1
ELEKTRONIKA II
1. Penguat Diferensial 6.Aplikasi umum Op-amp sebagai IC
• Penguat diferensial keluaran tunggal linear
• Common Mode Rejection Ratio • Penguat AC dan DC
1. Dasar-dasar Op-amp • Penguat AC non-simetris
• Penguat diferensial 2i/1o • Penguat instrumentasi
• Penguat diferensial bertingkat • Penguat masukkan diferensial dan
• Op-amp ideal keluaran diferensial
• Konverter V-I dan Konverter I-V
1. Penguat menggunakan Op-amp • Integrator dan diferensiator
• Penguat inverting
• Penguat non-inverting
6.Filter aktif
• Low-pass dan High-pass filter
• Penguat penjumlah
• Band-pass dan Band-reject filter
1. Sifat & besaran dasar Op-amp
• Offset tegangan keluaran
6.Dasar-dasar elektronika digital
• Sistem dan kode-kode bilangan
• Tanggapan amplitudo
• Gerbang-gerbang logika & tabel
• Slew rate kebenaran
• Impendansi masukkan dan keluaran • Rangkaian TTL & Flip-flop
5. Penguat diferensial menggunakan Op- • Bistabil & astabil
amp • Konverter A/D & D/A
• Penguat diferensial 1 Op-amp • Sistem µP.
• Penguat diferensial 2 Op-amp
• Penguat diferensial 3 Op-amp
2
Penguat Diferensial (1)

+Vcc +Vcc 2 buah penguat :


Rc1 R c2 • Q1 = Q2
• RE1 = RE2
• RC1 = RC2
Q1 Q2
• |+Vcc| = |-VEE|

jika dihubungkan
RE 1 RE 2 atau digabungkan
-VE E -VE E menjadi:
3
Penguat Diferensial (2)

+Vcc • Menjadi rangk. 2i/2o


(Penguat diferensial
Rc1 R c2 masukkan dan keluaran
Vo 1
berimbang)
Vo 2 • Selisih 2o sebanding dng
Q1 Q2
selisih 2i
Vin 1
Vo1 – Vo2 = A (Vi1 – Vi2)
Vod = A Vid
Vin 2
RE = RE1 // RE2
- VEE A = Penguatan

4
Penguat Diferensial (3)
+Vcc
Karakteristik :
– Jika Vid = Vin 1 >>
Rc1 R c2
• iE1 >> Vo 1
• VA >>
• VBE(Q2) << Vo 2
• iE2 << Q1 Q2
• iE = iE1 + iE2 (tetap)
Vi n 1
– Karena,

2
Vi n 2

iE
VA = iE.RE - VEE A
• VA tidak dipengaruhi
iE

iE
Vid 1
• RE tidak dilalui oleh RE = RE 1 //RE 2
arus isyarat/signal
- VE E
5
Penguat Diferensial (4)

• Mis. Vin 2 dibuat tetap dan Vin 1 > +Vcc


– iE1 > dan iE2 <
– Vo >
Rc1 R c2
– Vin 1 → Vo sefasa
– Vin 1 disebut input non-
inverting (+) Vo
Q1 Q2
• Mis. Vin 1 dibuat tetap dan Vin 2 >
– iC2 > Vin 1

2
– Vo <

iE
– Vin 2 → Vo fasa terbalik A
– Vin 2 disebut input inverting(-)

iE

iE
1
• Op-amp: Penguat diferensial Vin 2
dengan masukan diferensial dan R E = RE1 // R E2
keluaran tunggal. - VEE

6
Common Mode Rejection Ratio (CMRR)
(1)
• Penggabungan kedua
+Vcc
masukkan op-amp atau Vin 1 =
Vin 2, disebut Common Mode.
Rc1 R c2
• Idealnya, Acm = 0.
Vo.cm • Prakteknya, Acm ≠ 0, tapi Acm <<
Q1 Q2 Adif.
• Perbandingan antara Adif
2

dengan Acm disebut CMRR,


iE

A
iE

iE

Vin.cm
1

CMRR = Adif / Acm

R E = RE1 // R E2
- VEE
• Dimana Acm = Vo.cm / Vin.cm

7
Common Mode Rejection Ratio (CMRR)
(2)
• CMRR dinyatakan dalam dB, • Mis. dimiliki penguat
shg: diferensial dengan CMRR=
CMRR(dB) = 20 log (Adif / Acm) 100 dB dan Adif=100.
atau • Maka,
CMRR(dB) = Adif(dB) / Acm(dB) Acm = -(100 – 20log 100)
Acm = -60 dB = 0,001
• CMRR = 100 dB termasuk • Jadi, jika Vin.cm = 10 V dan
tinggi karena noise dari jala-jala
PLN, maka akan ada keluaran:
• Vo.cm = Acm . Vin.cm
CMRR tinggi diperlukan pada
penguat instrumentasi Vo.cm = 10 mV

8
DASAR-DASAR OP-AMP (1)

1. Penguat Diff. 2i/1o +Vcc


Analisa DC (lht gbr kanan)
Pada Q1, R c1 Rc2

iC
- iB.Ri1 –VBE – RE(2iE) + VEE = 0
Karena, iE = iB.βdc

iC
dan iC ≅ iE Vo
Shg: VEE − VBE
i =
E iB iB
2R E + R i1 Q1 Q2
β dc
Umumnya,
Ri1 Ri2

iE
Ri A
< < 2R E
β dc

iE

2iE
Shg: VEE − VBE Vi1 Vi2
iE =
2R E
Artinya: nilai RE menentukan iE RE
sesuai dg VEE yg dipakai -VEE
9
DASAR-DASAR OP-AMP (2)
Selanjutnya akan ditentukan
VCE, VCE = VC − VE re re
iC1 iC2
VCE = VCC − R C .i C + VBE

ib1
ie1 ie2

ib1
RE
R i1 Ri2
Analisa DC pd Q2 sama seperti
Q1. R C1 I II R C2 Vo
Vi1
Vi2
Analisa AC (lht gbr kanan)
Hkm. Kirchoff:
Loop
Vi1 − RI:i1.i b1 − i e1.re − R E (i e1 + i e 2 ) = 0

Lopp II:
Vi 2 − R i 2 .i b 2 − i e 2 .re − R E (i e1 + i e 2 ) = 0

i e1 =
( re + R E ) Vi1 − R E .Vi 2
ie2 =
( re + R E ) Vi 2 − R E .Vi1
Sehingga diperoleh: ( re + R E ) 2 − R E 2 ( re + R E ) 2 − R E 2
10
DASAR-DASAR OP-AMP (3)

Keluarannya: Maka penguatan tegangan AC:


Vo = VC 2 = − i c 2 .R C
Vo = − i e 2 .R C Vo R C
R E .Vi1 − ( re + R E ) Vi 2 A= =
Vo = R C
re ( re + 2R E )
Vid 2re
Karena RE >> re, maka: Impendansi masukan, bergantung
• re + R E ≅ R E dari Q:
• re + 2RE ≅ 2 RE
Ri = Ri1 = Ri2 = 2βAC.re
Shg:
R E ( Vi1 − Vi 2 )
Vo = R C Impendansi keluaran adalah
2re R E
tahanan kolektor:
Vid
Vo = R C Ro = RC
2re
11
DASAR-DASAR OP-AMP (4)
+Vc c
2. Penguat diff. bertingkat
Terdiri dari beberapa peng. Rc 1
1 ,2 k Rc 2 Rc 2
diff. yang dipasang seri. 2 ,2 k Rc 1 1 ,2 k
2 ,2 k
7 ,8 3 V
Misalnya, penguat differensial 9 ,3 2 V
Vo
2 tingkat (phase):
 Phase 1: penguat differensial +
Q3 Q4
Q1 Q2
2i/2o
 Phase 2: penguat differensial
2i/1o.
Vid -0 , 7 1 5 V
1 0 0 R E’ R E’
Dalam banyak kasus, Q dan R 100
yang dipakai harus sama agar -
diperoleh kinerja yang baik. 7 ,1 2 V

Menghasilkan AAC >>>


Diperlukan Q dan R yang 4 ,7 k R E 2 1 5 k RE 2
cocok
Dibuat dalam bentuk IC. -VE E 12
DASAR-DASAR OP-AMP (5)

3. Op-Amp Ideal
Ciri-cirinya:
– Impendansi masukan rangkaian terbuka, Ri,lb = ∞,
sehingga tidak ada arus yang masuk inlet.
– Impendansi keluaran rangkaian terbuka, Ri,lt = 0.
– Penguatan tegangan rangkaian terbuka, Av = ∞.
– Respon penguatan berlaku pada semua frekuensi,
fbw = ∞.
– CMRR = 0.

13
PENGUAT MENGGUNAKAN OP-AMP (1)
• Penguatan yg tidak terlalu besar harus menggunakan
feedback negatif.
• Feed-back negatif: memasang resistor (Rf)antara keluaran
dan masukan inverting.
• Penguatan rangkaian terbuka sangat besar (ideal: Av,lb= ∞.
• Penguatan dengan feedback negatif bergantung dari
komponen feedbacknya (berlaku pada frekuensi rendah).
Rf

Vi1 Vi1
Vo Vo
R1

Vi2 Vi2
Op-amp Rangkaian Op-amp Rangkaian
Terbuka Feedback Negatif 14
PENGUAT MENGGUNAKAN OP-AMP (2)

1.Penguat Inverting i3
• a terhubung maya oleh Rid R1 Rf
Vi
dengan b. a Vo
• Va = Vb = 0. i1 i2
R id
c
• Vi = i1.R1 – Va b
• i1 ≅ i3
• Va – Vc = i2.Rf
• Vc = Vo
• Maka: Sehingga:
Vi = i1.R1 dan Vo i .R
Av = = − 1 f
Vo = -i3.Rf = -i1.Rf Vi i1.R 1
Rf
Av =
R1
15
PENGUAT MENGGUNAKAN OP-AMP (3)

2. Penguat Non-inverting
• Masukan (-) terhubung R1
c Rf
maya dengan (+).
b Vo
• Vi = Vb = 0. Rid
a
• Va = Vo
• Maka: Vi
Va
Vb = R1
R1 + R f
VO Rf
Vi =
R1 + R f
R1 Av = 1+
R1
VO R 1 + R f
Av = =
Vi R1

16
PENGUAT MENGGUNAKAN OP-AMP (4)

• Bentuk lain penguat non-


inverting:
– Membuat R1=∞ dan Rf = 0.
– Karena masukan (+) dan
(-) terhubung singkat maya,
Vi = Vo
Av = 1 Vo
– Disebut VOLTAGE
FOLLOWER, berfungsi
sbg BUFFER penguatan 1.
– Ciri-ciri:
• Av = 1
• Ro <<< Vi
• Ri >>>

17
PENGUAT MENGGUNAKAN OP-AMP (5)

3. Penguat Menjumlah
• Terhubung singkat maya. Rf
V1
• Va = 0. i1
R1 i
• I1 + i2 + i3 = i V2
• i2 a Vo
Maka: R2
V3
Va − Vo = i.R 4 i3
R3
− Vo = ( i1 + i 2 + i 3 ) R 4
Vo = − ( i1 + i 2 + i 3 ) R 4

 V1 V2 V3 
Vo = −  + +  .R 4
 R1 R 2 R 3 
• Sering dipakai untuk menjumlahkan/mencampur beberapa signal tanpa
saling mengganggu.
• Biasa dikenal sebagai AUDIO-MIXER. 18
SIFAT & BESARAN DASAR OP-AMP (1)
Vo dg Vo.of =0
V
1. Offset Tegangan Keluaran +Vcc

• Vo.of adalah tegangan dc pd


t
keluaran op-amp dalam 0

keadaan loop tertutup - Vcc

tanpa masukan (Vo = 0).


Vo dg Vo.of >0
• Idealnya, Vo.of = 0. +Vcc

• Penyebab Vo.of ≠ 0: t

• Vi > Vi.of 0

- Vcc
• Arus panjar masukan basis
tidak seimbang, karena
komponen yg tidak sama. Rf

• Pencegahan: Vi
Vo
• Vi ≤ Vi.of R1 a

• Menambahkan R2 = R1//Rf,
R2
di a R1 terlihat paralel
terhadap Rf.
19
SIFAT & BESARAN DASAR OP-AMP (2)
Rf
• Pencegahan (lanjutan)
Vi +Vcc
• Membuat rangkaian nol 2 7 Vo
a
offset R1
741
6
• Rangkaian nol offset 5
4
3
R2 1
• Menggunakan pin nol offset
• Rangkaian nol offset tanpa -Vcc
pin nol offset.
Rf +Vcc Rf

Vi
Vo R2 Vo
a a
R1 R1
-Vcc

R2
R2
+Vcc +Vcc
Vi
Penguat Inverting dg Rangkaian Kompensasi Nol- Penguat Non-inverting dg Rangkaian Kompensasi Nol-
20
Offset Offset
SIFAT & BESARAN DASAR OP-AMP (3)
Av
(dB)
2. Tanggapan Amplitudo
• Op-amp mempunyai beberapa
tahap penguatan dg menggunakan
100
rangkaian gandengan DC.
• Op-amp tdk punya kutub pd frek Gradien -6 dB/
rendah dan lebih dari 2 kutub pd 80 oktaf
frek tinggi.
• Agar dapat diberi berbagai nilai 60
faktor balikan tanpa terjadi osilasi,
diperlukan kompensasi frekuensi. 40 a b

• IC 741 sudah mempunyai


kompensasi frekuensi di dalamnya 20
(kompensasi dalam).
c
• Pada 10 Hz kompensasi kutub f
dominan menyebabkan terjadinya 1 10 100 1k 10k 100k 1M 10M (hz)
kutub.
• Tanggapan amplitudo 741 loop
tertutup dpt ditentukan dari yg loop
terbuka. 21
SIFAT & BESARAN DASAR OP-AMP (4)
• Tanggapan aplitudo Op-amp tanpa kompensasi dalam bergantung pd
rangkaian kompensasi luar.
• 748 adalah IC yg identik dg 741 tanpa kompensasi kutub pada transistor
keluarannya.
• Keuntungan op-amp dg Ck diluar:
Pd Av > dpt diperoleh frekuensi potong yg lebih tinggi.
Av
Ck (dB)

8 +Vcc 100
2 7 Vo
80
748
6
4 60
3 5
1
40
5M
10M 20

25k f
1 10 100 1k 10k 100k 1M 10M (hz)
-Vcc 22
SIFAT & BESARAN DASAR OP-AMP (5)
3. Laju Belok (slew rate)
• Sifat terhadap perubahan • Impendansi masukan
signal yg besar: square wave • Ri.diferensial.
atau impulse. • Ri.common mode.
• Laju belok 741 adalah 0,5 V/µs.
• Laju belok disebabkan oleh Ri c Rf
proses pengisian dan
pengosongan Ck. c R1
• Jika Ck <<, maka laju belok >>. a Vo
4. Impendansi masukan & Ri d
b id
keluaran
• Idealnya: Ri,lb = ∞ dan Ri,lt = 0.
V i ii

ic
Ri c
• Pd 741: Ri,lb = 1 MΩ dan Ri,lt =
75 Ω.
23
SIFAT & BESARAN DASAR OP-AMP (6)
• Analisa rangkaian
Vab Selanjutnya:
id =
R id.lb ii = ic + id
Vo Vi Vi Vi
id = = i = +
R id.lb .A v.lb R . A v.lb i
R ic R id.ef
id .lb
A v.lt
Vi 1 ii 1 1
id = = = +
R i Vi R ic R id.ef
R id.ef
R i = R ic // R id.ef
• Rid.ef ≅ Ri dilihat dari masukan diferensial a dan b:
• Open loop : Rid.ef = Rid.lb
• Closed loop : Rid.lt ≅ Ric
• Biasanya : Ric >> Rid.lb 24
SIFAT & BESARAN DASAR OP-AMP (7)
• Impendansi Keluaran
– Ro.lt < Ro.lb R1
Rf i2
– Untuk menentukan Ro, dipasang
Ri d io
sumber tegangan khayal pada
outlet (Vo). i1 Vo
– Analisa rangkaian:
V
i1 = o.lb
R o.lb 1 i 1 1
Maka, = o = +
Vo R o Vo R A v.lt R1 + R f
A v.lb . o.lb
A v.lb .Vid A v.lt A v.lb
i1 = =
R o.lb R o.lb A v.lt
R o = R o.lb // ( R1 + R f )
A v.lb
sehingga: i o = i1 + i 2
A v.lt
A v.lb .
Vo R o ≅ R o.lb
A v.lt Vo A v.lb
io = + 25
R o.lb R1 + R f
PENGUAT DIF. MENGGUNAKAN OP-AMP (1)
• Umum dipakai dalam 1. Penguat Dif. 1 Op-amp
Instrumentasi dan aplikasi Rf

industri. V1 R1
Vo
• Menguatkan perbedaan
antara 2 signal masukkan. V2 Va
• Dipilih karena: R2 R3
– CMRR >>, menolak noise
tegangan lebih baik dari pada
single input.
– Impendansi masukkan yang R1 = R2; R 3 = R F
dapat diseimbangkan. Penguatannya:
Vo Rf
AV = = −
Vid R1
26
PENGUAT DIF. MENGGUNAKAN OP-AMP (2)
• Impendansi masukkan Vo Rf Rf
AV = = 1+ Vo
– Mis, V2=0 Vid R1 A2

 Ri1 ≅ R1 V1 R3
– Mis, V1=0 R2 R1

 Ri2 ≅ (R2 + R3)


A1
• Ri1 ≠ Ri2 a

V2
• Solusi:
• Impendansi masukkan pada A1:
R1;R2 dan R3 harus >>> Rs,
 R2 
sehingga pembebanan 
Ri. A1 = Ri.lb  1 + A1.lt 
karena sumber signal tidak  R 2 + R3 
terjadi. • Impendasi masukkan pada A2:
2. Penguat Dif. 2 Op-amp  R1 
Ri.A 2 = Ri.lb  1 + A 2.lt 
• Meningkatkan Av  R1 + R f 
• Meningkatkan Ri •
Ri.A 2 ≠ Ri.A1 27
• R1= R3 ; R2= Rf
PENGUAT DIF. MENGGUNAKAN OP-AMP (3)
3. Penguat Dif. 3 Op-amp
• Kelebihan 2 jenis penguat dif. sebelumnya dapat digabungkan dalam
satu penguat dif. yang:
• Penguatannya dapat diatur,
• Impendansi masukkan >>>
• Kombinasi ini memerlukan 3 buah op-amp.
V1 Rf

a R1
A1 Vo
R4 A3

R5 R1 = R 2
R3 = R f

R4

A2 b R2 R3
V2
28
Tahap 1 Tahap 2
PENGUAT DIF. MENGGUNAKAN OP-AMP (4)
• Tahap 1: Va = 2R 4 + R5 V1 − R4
Vb • Besarnya penguatan total dapat
R 4 + R5 R 4 + R5 diset menggunakan R5.
2R 4 + R 5 R4
Vb = V2 − Va • Tahap 1 berfungsi sebagai
R 4 + R5 R 4 + R5
buffer.
Maka, 2R 4 + R 5
Vab = Vid • Impendansi masukkannya sama
R5 dengan impendansi masukkan
tahap 1.  R 4 + R5 
• Tahap 2: penguat dif. dgn 
Ri.A1 = Ri.lb  1 + A1.lt 
 2R 4 + R5 
penguatan, V R
o
= − f  R + R5 
Vab R1 Ri.A 2 = Ri.lb  1 + A 2.lt 4 
 2R 4 + R5 
• Penguatan total:
Vo V V A1.lt = A 2.lt
Av = = o ab
Vid Vab Vid • Karena, Ri.A1 = Ri.A 2
maka, seimbang.
R f  2R 4 + R5 
Av = −  
R1  R5  29
PENGUAT DIF. MENGGUNAKAN OP-AMP (5)
• Modifikasi sederhana untuk memperoleh impendasi masukkan yang paling
besar adalah dengan mengganti rangkaian tahap 1 dengan rangkaian
buffer. V1 Rf

a R1
A1 Vo
A3

R1 = R 2
R3 = R f

A2 b R2 R3
V2

Tahap 1 Tahap 2

• Impendansi masukkan: Ri = Ri.lb (1 + A lb )

• Penguatannya terbatas: A =
Vo R
v = − f
Vid R1 30
PENGUAT DIF. MENGGUNAKAN OP-AMP (6)
• Impendansi keluaran ketiga jenis penguat diferensial di atas
sama, yaitu:
Ro.lb
Ro =
A lb
1+
A lt

dimana nilai Ro.lb dan Alb ada di datasheet op-amp.


• Bandwidth penguat diferensial juga bergantung dari penguat
loop tertutupnya:
A lb .fo
fF =
A lt

dimana fo adalah frekuensi potong loop terbuka pada saat Ao =


1 = 0 dB (ada di datasheet).
31
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (1)
1.Penguat DC & AC a.Penguat DC
– Sifat penguat loop tertutup • Yang harus diperhatikan adalah
bergantung pada komponen tegangan offset keluaran (Vo.of)
balikannya dan bukan pada HARUS betul-betul NOL.
sifat IC op-amp. • Penambahan rangkaian
– Hal ini lbh menguntungkan: kompensasi offset nol adalah
• Akurasi rangkaian; keharusan MUTLAK.
• Stabilitas rangkaian.
a.Penguat AC
– Didukung oleh resistor dan • Bentuk rangkaiannya sama
kapasitor presisi tinggi – dengan penguat DC.
sebagai komponen balikan.
• Penambahan kapasitor:
– Dapat menguatkan signal
Respon AC dg bandwidth-nya;
DC dan AC:
Menahan DC yg ikut masuk;
• Inverting;
Sebagai kopling antar bagian.
• Non-inverting;
• Differential. 32
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (2)
Rf
Ci
Rf
2 Vo
R1
a 2 Vo 741
R1 Ci 6
Ro 741
6
Vin - (Rf/R1) Vin 3
(1 + Rf/R1) Vin
3 Ro Rom
Rom
Vin

• Fungsi kapasitor Ci tidak saja me-blok tegangan DC, tetapi juga


menentukan batas bawah frekuensi potong pada perhitungan
bandwidth.
• Impendasi kapasitor pada rangkaian adalah Rif

33
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (3)
• Perhitungan bandwidth 2.Penguat AC + Catudaya tunggal
frekuensi:
– Batas bawah:
– Pemberian catudaya dapat
dilakukan dengan menambahkan
1 kapasitor kopling (Co) lain pada
f L=
2π Ci ( Rif + Ro ) keluaran penguat AC.
Rif = Impendansi masukkan – Co berfungsi memblok level DC,
Ro = Impendansi keluaran AC Vo.of dan level DC yang ada pada
(sumber sinyal) sinyal keluaran.
– Batas atas: – Selain itu ada rangkaian pembagi
f H=
( UGB) RF tegangan DC pada pin non-
AF ( R1 + RF ) inverting, sehingga keluarannya
dapat mengayun secara simetris,
UGB ≡ Unity Gain Bandwidth, untuk itu dibuat R2 = R3.
frekuensi potong untuk
penguatan = 1 = 0 dB.
– Bandwidth:
f= f − f
H L 34
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (4) Vo’
Rf
Ci Vcc / 2

2 Co Vo
R1
Ro Vcc 741
0
Vin Vo’
R2 Vo
3 Vcc / 2
R3
Vin

t
0
Vo’

Vcc / 2

Rf
2 Co Vo
R1 Vcc 0
741
Ci R2 Vo’ Vo
Vcc / 2
3
Ro R3
Vin 0
35
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (5)
3.Penguat Instrumentasi
– Sistem instrumentasi dipakai RA RT
mengukur sinyal keluaran V a
transducer.
– Penguat instrumentasi RB
menguatkan sinyal keluaran
transducer sehingga dapat RC b
diolah lebih lanjut.
– Penguat instrumentasi Pada kondisi setimbang:
Vb = Va
dibangun dari penguat
RB .V R A .V
diferensial 3 Op-amp. =
RB + R C R A + R T
– Umumnya, sistem
RC R T
instrumentasi menggunakan =
transducer dalam rangkaian RB R A
jembatan (wheatstone). Kondisi setimbang ditentukan sebagai
kondisi referensi.
36
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (6)
4.Penguat masukan diferensial- • Dengan teori superposisi:
 Rf  R
keluaran diferensial Vo1 =  1 +

 V1 − f V2
R1  R1
• Op-amp sebagai penguat  Rf  R
Vo 2 =  1 +  V2 − f V1
diferensial biasa mempunyai  R1  R1
keluaran tunggal. • Sehingga:
Vo = Vo1 − Vo 2
• Pada prakteknya diperlukan juga
 2R f 
keluaran diferensial. Vo =  1 +  ( V1 − V2 )
• Pre-amp:  R1 
Rf
 2R f 
Vo =  1 +  Vi
R1
 R1 
Vo1
V1
• Pre-amp sangat berguna pada
lingkungan “noisy”, terutama
Rf saat sinyal masukan relatif
R1
kecil.
Vo2 • Menolak tegangan noise mode
37
V2 bersama.
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (7)
5. Konverter V-I (floating load)
- Penguat balikan negatif arus seri.
- Tegangan balikan di R1
Vin = Vid + Vf
bergantung dari arus keluaran Vin = 0 + R1io
dan terpasang seri dengan
tegangan masukan.
Vin
R1 io
io =
c Vf RL R1
io
Vid

io • Vin dikonversi jadi io oleh


adanya komponen R1.
• Dapat dipakai sebagai
Vin voltmeter AC & DC tegangan
rendah.

38
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (8)
a. Voltmeter DC tegangan rendah - Tahanan thevenin rangkaian
– Menggunakan rangkaian konverter kompensator: Rk ≅ 10 Ω.
V-I tegangan rendah. - Switch pada x1:
– Mengganti RL menjadi R1 = 10 + 1 k ≅ 1 k Ω
amperemeter. - Bila Vin = 1 V, maka:
– Simpangan maksimum 1 mA. Vin 1V
io = ≅ = 1mA
R1 1kΩ
Rangkaian kompensator
13 k x4

10 k x3
+ Vcc
2k x2
A (1mA)
5k
15 k 1k x1

10
Vin
- Vcc

39
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (9)
b. Voltmeter AC tegangan rendah • Kuat arus yang ditampilkan
- Ampere meter hanya dapat dipakai oleh ampere meter adalah:
untuk tegangan DC. 0,9Vin
- Diperlukan rangkaian penyearah io =
R1
sebelum ampere meter. • Vin ≡ Vrms.AC

6,8 k x4

4,7 k x3

2k x2
A (1mA)
1k x1

Vin

40
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (10)
6. Konverter I – V - Jika kombinasi Vin dan R1 diganti
- Penguat inverting dapat berlaku oleh sebuah sumber arus iin,
sebagai konverter I – V. tegangan keluarannya sebanding
dengan kuat arus masukan.
Rf
Vo ≈ iin
Vin iin - Aplikasi:
a Vo
iin R1 • Digital – Analog Converter (DAC)
b • Transduser arus dari
fotodetektor.
Rf
Vo Rf
= − iin
Vin R1 a
iin
Vin
Vo = − Rf b
Vo = - iin Rf
R1
Va = Vb = 0 Vo = − iinR f 41
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (11)
a. DAC menggunakan I–V Conveter
– MC1408: DAC dgn keluaran io yang
sesuai dgn masukan data 8 bit.

V D D D D D D D D  - Artinya:
io = ref  7 + 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 + 0 
R1  2 4 8 16 32 64 128 256 • Io = 0 ; Do, …, D7 = 0
• Io ≡ max ; Do, …, D7 = 1

D7 5 14 Vref - Selanjutnya, io dirubah


6 R1 menjadi besaran tegangan
7 C
8 MC1408 yang sesuai dg memilih Rf
9
10 yang cocok.
11 Rf io Vo = io Rf
D0 12 4
io
741

Vo = io Rf

42
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (12)
b. Fotodetektor menggunakan I-V
konverter - CL505L: fotosel,
- Semua fotodetektor menghasilkan - Rmin = 1,5 kΩ; cahaya 0,61 lux.
arus listrik. - Rmax = 100 kΩ; gelap.
- Arus listrik diubah menjadi tegangan - Tegangan kerja = 10 V.
untuk mengetahui besarnya energi - Suhu kerja = -50oC – 75oC.
cahaya yang ditangkap. - Tegangan keluaran,
C V o = io Rf
- Untuk RT ≡ tahanan fotosel, maka:
VDC
io =
io Rf RT
CL5050L 741
VDC
Vo = io Rf

43
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (13)
7. Integrator - Pada titik b,
- Rangkaian dengan keluaran iin = ic + ib
berupa integral masukan. karena ib = 0, maka
- Berasal dari penguat inverting iin = ic dV
dengan mengganti tahanan iin = Cf C
- Sehingga, dt
feedback menjadi kapasitor Vin − Vb d( Vb − Vo )
= Cf
feedback. R1 dt
Vin d( − Vo )
= Cf
Cf R1 dt
ic
iin diintegralkan,
d( − Vo )
t t
1
R1 b
ib 741

R1 0
Vin .dt = C f∫
0
dt
.dt
Vin a Vo t
1
Vin .dt = C f ( − Vo ) + Vo,t = 0
R1 ∫0
t
1
R1.Cf ∫0
Vo = − Vin .dt + C
44
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (14)
- Prakteknya, bersama Cf dipasang Rf: - Respon frekuensi integrator:
Av (dB)
- Mengurangi error keluaran.
- Membatasi penguatan frek rendah. 100 Basic
Integrator
- Memperkecil variasi teg keluaran.
80
- Bila Vin=0, Cf terisi oleh Vi.of yang Ideal
Practical
mempengaruhi keluaran. 60
Integrator
40
Rf
20
R1 Cf

741 f
1 10 100 1k 10k 100k 1M 10M
Vin Vo (hz)
fa fb
- Dengan penambahan Rf,
penguatannya konstan untuk
frekuensi kurang dari fa.

45
APLIKASI UMUM OP-AMP: IC LINEAR (15)
- fb : frekuensi saat A=1=0 dB.

1
fb =
2π R f C f

46
FILTER AKTIF & OSCILATOR (1)
1. Filter Aktif a.Orde 1 Low-pass Filter (LPF)
Definisi:
Rangkaian filter yang
menggunakan komponen
aktif (Op-Amp). Rf
2
Kelebihan: R1
351
6
•Fleksibilitas penguatan dan Vo
frekuensi 3
V in R
•Tidak membebani C
•Ekonomis
Jenis-jenis filter:
•Butterworth (flat-flat)
•Chebyshev (ripple-flat)
•Cauer (ripple-ripple) 47
FILTER AKTIF & OSCILATOR (2)
Respon amplitudo: Penguatan frekuensi yang lolos:
Av (dB)
Rf
Af = 1+
R1
Dengan frekuensi potong:
Respon 1
Af Ideal fH =
2π .R.C
0,707Af

-20 dB/dekade Dan tegangan keluarannya:


Vo Af
AV = =
Vin 2
0 fH
f
1 +  f 

(hz)  fH 

48
FILTER AKTIF & OSCILATOR (3)
Langkah mendisain 1st order Frequency scalling:
LPF: • Proses perubahan frekuensi
1. Menentukan frekuensi potong, fH, menjadi yang baru, f’H.
potong, fH. • Mengalikan nilai R atau C dengan
2. Memilih nilai kapasitor, perbandingan frekuensi potong asal
C≤1µF. dan yang baru.
3. Menghitung nilai tahanan, fH fH
1 R'= R atau C ' = C
R= f 'H f 'H
2π . f H .C
4. Menentukan R1 dan Rf • Nilai R’ atau C’ yang baru terkadang
sesuai dengan penguatan tidak standar.
frekuensi lolos yang • Biasanya nilai kapasitor selalu tetap
diinginkan, sedangkan nilai tahanan diperoleh
Rf dengan menggunakan variabel
Af = 1+ resistor.
R1 49
FILTER AKTIF & OSCILATOR (4)
b.Orde 2 LPF Av (dB)

Rf
2
R1 Respon
351
R3 6 Ideal
Vo Af
3 0,707Af
V in R2 C2 C3
-40 dB/dekade

• Respon: –40dB/dekade f
0 fH
• Orde lebih tinggi dapat (hz)
didisain berdasarkan orde 2

50
FILTER AKTIF & OSCILATOR (5)
Penguatan frekuensi lolosnya: Langkah mendisain 2nd order
LPF:
Rf
Af = 1+ = 1,586 1. Menentukan frekuensi potong,
R1 fH.
2. Menentukan nilai-nilai
Frekuensi potongnya: komponen yang sama (agar
lebih mudah),
1
fH = • R2 = R3 = R
2π R2 R3C 2 C3 • C2 = C3 = C
lalu menetukan nilai kapasitor,
Penguatan tegangannya: C≤1µF
Af 3. Menghitung nilai tahanan.
Vo
AV = = 4. Karena R2=R3 dan C2=C3,
Vin 4 maka Af=1,586 atau Rf=
1 +  f 
 0,586R1. Nilai ini dimaksudkan
 fH  agar diperoleh respon orde 2.
Karena itu dipilih R1≤100kΩ,
sehingga Rf dapat dihitung.
51
FILTER AKTIF & OSCILATOR (6)
c.1st Order HPF
Av (dB)

Rf
2
R1
351
6
Vo
Af
3 0,707Af
V in C
R
20 dB/dekade

f
0 fL (hz)

52
FILTER AKTIF & OSCILATOR (7)
Penguatan frekuensi lolosnya: d. 2nd order HPF:
Rf
Af = 1+
R1 Rf
2
Frekuensi potongnya: R1
351
1 C2 C3 6
fL =
Vo
2π .R.C 3
V in R3
R2
Penguatan tegangannya:
A f  f 

Vo  f L
AV = =
Vin 2
1 +  f 

 f L

53
FILTER AKTIF & OSCILATOR (8)
Penguatan frekuensi lolosnya:
A v (d B )
Rf
Af = 1+ = 1,586
R1
Frekuensi potongnya:

Af 1
fL =
0 ,7 07Af 2π R2 R3C 2 C3
4 0 d B /de k a d e Penguatan tegangannya:

V Af
AV = o =
f Vin 4
0 fL (h z) 1 +  f L 
 f

54
FILTER AKTIF & OSCILATOR (9)
e.BPF (Band Pass Filter) • W-BPF
• Dibuat dengan menggabungkan LPF – Dibuat dengan menggabungkan
dan HPF. LPF dan HPF.
– Orde W-BPF bergantung dari orde
• Syaratnya: fH 〉 fL LPF dan HPF.
• N-BPF
• Quality factor: f fC – Hanya memakai 1 buah op-amp.
Q= C =
BW fH − fL – Memiliki 2 jalur balikan (multiple-
untuk frekuensi tengah: feedback filter).
– Menggunakan modus inverting.
fC = fH . fL – Dibuat khusus untuk meloloskan
pada frekuensi tertentu (fc)
• Jenis-jenis BPF:
 Wide BPF (Q<10)
 Narrow BPF (Q>10)

55
FILTER AKTIF & OSCILATOR (10)
C2
Q
R2 =
C1 (
2π . f C .C 2Q 2 − A f )
R3
R1 Q
R3 =
R2 741/351 π . f C .C
Vin Vo
R3 - Dan penguatan pada frekuensi lolos:
R3 syarat:
Af = A f 〈 2Q 2
2R1
- Untuk memudahkan perancangan dipilih: - Mudah mengganti Frequency scaling
C1=C2=C tanpa merubah Af dan BW dengan
- Sehingga: mengganti R2 menjadi variabel
resistor:
2
Q  fC 
R1 = R2 = R2  ' 
'
2π . f C .C. A f  f 
 C
56
FILTER AKTIF & OSCILATOR (11)
e.BRF (Band Reject Filter) Rf
2
• Band Stop Filter atau Band R1
A1
6
Elimination Filter 3 R2 R4
C
• Jenis-jenis BRF: R

 Wide BRF (Q<10) a Vo


Vin R3
 Narrow BRF / Notch Filter (Q>10) R’f
2
R’1
• W-BRF A2
6 R om
o Dibuat dengan menjumlahkan R’
3

LPF dengan HPF menggunakan C’

penguat menjumlah dengan Av (dB)


ketentuan:
fH 〈 fL
Pass-band Reject Pass-band
o A1=A2 dan penguatan penjumlah band
adalah 1 Af
o Frekuensi tengah: 0,707Af

fC = fH . fL
57
f
0 fH fC fL (hz)
FILTER AKTIF & OSCILATOR (12)
• N-BRF R R
o Sering disebut notch filter, biasa
dipakai untuk menolak satu frekuensi. V in Vo
7 4 1 /3 5 1
o Banyak digunakan dalam instrumen
komunikasi dan biomedic untuk C C
menghilangkan dengung frekuensi
PLN pada 60Hz 2R 2C

o Yang umumnya dipakai: Rangkaian


Twin-T, filter pasif yang dibuat dari 2
rangkaian berbentuk T.
o Rangkaian I: dari 2 R dan 1 C. Av (dB)
o Rangkaian II: dari 2 C dan 1 R.
o Kelemahan: harga Q rendah.
o Solusi: menambahkan buffer.
o Frekuensi notch-out adalah frekuensi Af
dengan penguatan maksimum, yaitu: 0,707Af

1
fN =
2π .R.C
58
f
0 fH fN fL (hz)
FILTER AKTIF & OSCILATOR (13)
e.All-pass Filter
• Meloloskan semua frekuensi Rf
masukan tanpa peguatan. 2
R1
• Menggeser fasa untuk untuk 741/351
6 Vo
frekuensi masukan yang berbeda. Vin
• Jika sinyal dikirimkan melalui jalur R’
3
transmisi sering berubah fasa. C’
• Disebut juga delay equalizers
atau phase correctors.
• Penguatannya: V Vin
Vo
vo 1 − j 2π fRC
=
vi 1 + j 2π fRC
• Pergeseran fasa antara masukan 0 t
dan keluaran:

φ = − 2 tan − 1 ( 2π fRC ) φ
59
SISTEM DAN KODE-KODE BILANGAN (1)
1.Kode-kode Bilangan •Register Transistor
• Apapun kode bilangan yang +5 V
dipakai, ekivalensi kuncinya, 1 kΩ 1 kΩ 1 kΩ 1 kΩ
° Decimal (basis 10)
° Biner (basis 2) +5 V +5 V 0 V 0 V
° Hexadecimal (basis 16)
° Binery Coded Deciamal
° ASCII 1 0 Ωk 1 0 Ωk 1 0 Ωk 1 0 Ωk

• Rangkaian elektronika dapat


dirancang untuk bekerja pada 0 V 0 V +5 V +5 V
dua keadaan, sehingga dapat
mengolah data. 2.Biner
• Transistor: pemeran utama
• Rendah vs tinggi = 0 vs 1
elektronika digital.
° Desain operasi saturasi • Double-dabble
° Operasi cut-off. • Konversi biner-desimal
° Bebas pengaruh suhu dan
variasi transistor. 60
SISTEM DAN KODE-KODE BILANGAN (2)
3.Heksadesimal 5.ASCII
• Lebih singkat dari biner. • American Standard Code for
• Digunakan luas pada µP. Information Interchange.
• Konversi heksa-biner. • Kode biner dari angka, abjad
• Konversi heksa-desimal. dan simbol-simbol lain.
4.BCD • Kode alfanumerik untuk unit
• Nibble: string 4 bit. I/O dari komputer.
• Setiap digit desimal dikodekan
dgn satu nibble.
• Berguna untuk konversi data
desimal masuk atau keluar
sistem digital.
• Contoh: kalkulator, alat ukur
digital.
• Komputer BCD vs komputer
biner
61