Anda di halaman 1dari 32

.

1
Pendahuluan

T ahun 1950-an-1960-an kekisruhan Demokrasi


Parlementer di Indonesia, Pakistan, Thailand,
Myanmar dan sejumlah negara Afrika serta Amerika
Latin menandakan, demokrasi dan peran tentara
ditentukan situasi kesejarahan, geopolitik, dan
budaya.
Penulisan buku ini memfokuskan kajian
penelitian pada studi piramida kekuatan politik dalam
Sistem Politik Demokrasi Terpimpin 1959-1965. Di
mana, pada masa 1959-1965 merupakan periode
berlangsungnya Demokrasi Terpimpin. Presiden
Soekarno pada 5 Juli 1959 mengembalikan Revolusi
Indonesia ke jalan yang benar, mengubah wacana
dari Demokrasi Parlementer ke Demokrasi
Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin: Suatu istilah
yang sarat kontradiksi baik dalam teori maupun
prakteknya. Di bawah Demokrasi Terpimpin tidak
ada pemilihan umum, media massa dikontrol dengan
ketat dan tokoh oposisi ditangkap dan dipenjarakan.
Awal munculnya Demokrasi Terpimpin telah
memicu perang sipil yang luas.
Presiden Soekarno menampilkan Demokrasi
Terpimpin sebagai sebuah bentuk organisasi politik
yang lebih tinggi dari Demokrasi Parlementer. Lebih
jauh, sosialisme yang di bawah Demokrasi
Terpimpin diidentifikasi sebagai bentuk sosialisme
khas Indonesia yang oleh Soekarno disebut

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
1
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Marhainisme. Marhaenisme, demikian Soekarno,
adalah Marxisme yang dipraktekkan atau diterapkan
di Indonesia. Jeanne S. Mintz menyatakan bahwa
“Bentuk khusus Marxisme ini adalah program
pemerintah pada masa itu yang diharapkan menjadi
sebuah koalisi dari faksi nasionalis, agama dan
komunis”.1
Dalam bukunya Miriam Budiarjo menjelaskan
bahwa, Dekrit Presiden 5 Juli dapat dipandang sebagai
suatu usaha untuk mencari jalan keluar dari kemacetan
politik melalui pembentukan kepemimpinan yang kuat.
UUD 1945 membuka kesempatan bagi seorang presiden
untuk bertahan selama kurang-kurangnya lima tahun.
Akan tetapi ketetapan MPRS No. III Tahun 1963 yang
mengangkat Ir. Soekarno sebagai presiden seumur hidup
telah membatalkan pembatasan waktu lima tahun
(Undang-Undang Dasar memungkinkan seorang presiden
untuk dipilih kembali) yang ditentukan oleh Undang-
Undang Dasar.
Selain dari itu banyak lagi tindakan yang
menyimpang dari atau menyeleweng terhadap ketentuan
Undang-undang Dasar. Misalnya dalam tahun 1960 Ir.
Soekarno sebagai Presiden membubarkan Dewan
Perwakilan Rakyat hasil pemilihan umum, padahal dalam
penjelasan Undang-undang Dasar 1945 secara eksplisit
ditentukan bahwa, presiden tidak mempunyai wewenang
melakukan hal yang demikian. Dalam rangka ini harus
pula dilihat beberapa ketentuan lain yang memberi
wewenang kepada presiden sebagai badan eksekutif.
Misalnya presiden diberi wewenang untuk campur
tangan di bidang Yudikatif berdasarkan Undang-Undang
No.19/1964, dan di bidang legislatif berdasarkan
Peraturan Tata Tertib Presiden No.14/1960 dalam hal
anggota Dewan Perwakilan Rakyat tidak mencapai
mufakat.2

1
Jeanne S. Mintz. Muhammad, Marx, Marhaen: Akar
Sosialisme Indonesia,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002
2
Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta:
PT Gramedia, 1998, hal.71.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


2 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
Selain itu terjadi penyelewengan di bidang
perundang-undangan di mana berbagai tindakan
pemerintah dilaksanakan melalui penetapan presiden
(penpres) yang memakai Dekrit 5 Juli sebagai
sumber hukum. Lagi pula didirikan badan-badan
ekstrakonsitusional seperti Front Nasional yang
ternyata dipakai oleh pihak komunis sebagai arena
kegiatan, sesuai dengan taktik Komunisme
Internasional yang menggariskan pembentukan Front
Nasional sebagai persiapan ke arah terbentuknya
demokrasi rakyat. Partai politik dan Pers yang
dianggap menyimpang dari “rel revolusi” tidak
dibenarkan dan dibreidel, sedangkan politik
mercusuar di bidang hubungan luar negeri dan
ekonomi dalam negeri telah menyebabkan keadaan
ekonomi menjadi tambah suram.3
Farchan Bulkin dalam pengantar buku yang
berjudul Analisa Kekuatan Politik di Indonesia
menjelaskan mengenai kekuatan politik: perspektif
dan analisa:
Kekuatan-kekuatan politik di manapun di atas dunia
selalu pada dirinya mencerminkan masalah-masalah
mendalam kesejarahan dan struktural di mana kekuatan-
kekuatan politik itu tumbuh, berkembang dan melakukan
peranan. Kekuatan Politik yang kontemporer yang
menampilkan diri sebagai Partai Politik, Angkatan
Bersenjata, Pemuda, Mahasiwa, kaum Intelektual dan
Golongan Pengusaha, serta Kelompok-kelompok
Penekan yang lain, malah sering dikemukakan sebagai
bentuk-bentuk luar dari masalah-masalah mendalam
seperti perkembangan pikiran, ideologi, nilai-nilai
struktur sosial dan ekonomi. Jika kekuatan-kekuatan
politik dilihat secara demikian maka analisa debuku serta
pemahaman-pemahaman mengenai kecenderungan-
kecenderungan politik serta kekuatan-kekuatan politik

3
Miriam Budiarjo, loc.cit.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
3
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
yang terlibat di dalamnya akan bersifat menyeluruh dan
mendalam serta yang lebih penting lagi akan memiliki
dimensi struktural dan kesejarahan, dimensi-dimensi
yang untuk waktu cukup lama telah diabaikan oleh
pendekatan-pendekatan konvensional dalam studi
perbandingan ilmu politik. 4

Kesadaran mengenai perkembangan teori,


pendekatan dan wawasan baru dalam memahami
kekuatan-kekuatan politik yang pada dasarnya telah
meletakkan tata susunan politik dan kekuatan politik
itu berada di dalam konteks dan hubungannya
dengan persoalan-persoalan yang dalam dan luas ini
dengan sendirinya menuntut untuk dipahaminya
perkembangan sejarah, struktur sosial dan ekonomi
di mana tata susunan politik dan kekuatan politik itu
berada.
Kekuatan-kekuatan politik kontemporer yang
menampilkan diri sebagai Partai Politik, Angkatan
Bersenjata, Pemuda, Mahasiswa, kaum Intelektual
dan Golongan Pengusaha serta Kelompok-kelompok
Penekan. Lebih tegas lagi seperti apa yang
disampaikan oleh Farchan Bulkin dalam bukunya
yang berjudul Analisa Kekuatan Politik di Indonesia
yaitu: 5
Kekuatan politik pada dasarnya memiliki asal-usul di
dalam perubahan-perubahan sosial, politik dan ekonomi
yang menimpa Eropa setelah abad keenambelas.
Perubahan-perubahan ini bukan saja telah menimbulkan
pengaruh yang mendalam di Eropa, tetapi juga dalam
perkembangan selanjutnya keseluruh bagian muka bumi.
Sangat penting kiranya untuk segera disadari bahwa
perubahan-perubahan ini telah menampilkan dimensi-

4
Farchan Bulkin, (ed), Analisa Kekuatan Politik di
Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1985, hal.x.
5
Farchan Bulkin, loc.cit.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


4 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
dimensi pokok yang menjelaskan pemunculan dan
perkembangan kekuatan-kekuatan politik kontemporer
yang tampil bukan hanya di Eropa, tetapi juga di hampir
seluruh negara dan wilayah di dunia.

Adapun dimensi-dimensi pokok yang dimaksud


oleh Farchan Bulkin tersebut antara lain:
Dimensi pokok yang pertama adalah bahwa politik,
ekonomi dan masalah-masalah sosial yang lain secara
pelan-pelan tidak lagi menjadi monopoli kaum
bangsawan, tetapi telah menjadi masalah-masalah
masyarakat luas. Terdapat suatu perkembangan nyata
menuju suatu perluasan partisipasi politik dan hak politik
dan pengelompokan-pengelompokan politik yang lain.
Dimensi kedua adalah semakin luasnya peranan kelas
menengah di hampir seluruh bidang kehidupan. Proses
ini juga dibarengi dengan pengukuhan kebudayaan kota.
Tampilnya kelas menengah dan pengukuhan kebudayaan
kota inilah yang telah menandai kelahiran kelas
menengah, kaum profesional dan golongan intelektual
sebagai kekuatan politik penting yang tidak bisa
diabaikan. Dimensi penting ketiga ialah pemunculan,
pertumbuhan dan perkembangan negara modern dalam
bentuk yang dikenal seperti dalam dewasa ini. Ini berarti
dalam birokrasi dan aparatur negara secara pelan-pelan
telah pula menjadi unsur penting dalam kehidupan sosial,
ekonomi dan politik. Termasuk dalam proses ini adalah
penampilan angkatan bersenjata sebagai unsur penting
negara yang mulai dipimpin dan diorganisasi sesuai
dengan prinsip-prinsip profesionalisme. Dimensi
keempat adalah muncul dan berkembangnya nilai-nilai,
filsafat dan ideologi yang memberikan dasar-dasar
pengukuhan, pengesahan dan rasionalisasi untuk berjalan
dan berkembangnya tata susunan politik dan konfigurasi
kekuatan-kekuatan politik tersebut.6

6
Farchan Bulkin, ibid, hal.xi

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
5
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Kajian kekuatan politik yang dimaksud dalam
penulisan ini, yaitu dalam Sistem Politik Demokrasi
Terpimpin, terdapat dimensi-dimensi kekuatan-
kekuatan politik tersebut hadir dalam pergerakan
berjalannya pemerintahan pada masa Demokrasi
Terpimpin tersebut yaitu Partai Politik, Angkatan
Bersenjata, Pemuda, Mahasiswa, kaum Intelektual
dan Golongan Pengusaha serta Kelompok-kelompok
Penekan dan yang lainnya. Namun, kekuatan politik
yang lebih dominan hadir pada masa Sistem
Demokrasi Terpimpin adalah Soekarno sebagai
Presiden, Angkatan Bersenjata (khususnya Angkatan
Darat) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai
kajian utama dalam penelitian buku ini. Ketiga
kekuatan politik ini memiliki pengaruh yang sangat
besar dalam berjalanya proses pemerintahan.
Ir. Soekarno7 (6 Juni 1901 - 21 Juni 1970) adalah
Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada
periode 1945 - 1966. Ia memainkan peranan penting
untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari
penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia
adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia
(bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi
pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia merupakan
penggagas lahirnya Sistem Demokrasi Terpimpin
yaitu setelah dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli
1959, yang mana pada periode Pemerintahan
Demokrasi Terpimpin Soekarno memegang
kedudukan sebagai Presiden Indonesia.
Angkatan Bersenjata Indonesia banyak mengisi
Dewan tertinggi negara, menguasai urat nadi

7
Leslie H. Palmier. Sukarno, the Nationalist. Pacific
Affairs, vol. 30, No, 2 (Jun. 1957), hal. 101-119.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


6 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
pemerintahan daerah dan secara efektif terlibat dalam
usaha-usaha bisnis nasional. Militer Indonesia tidak
pernah jauh dari politik, sejak melawan Belanda usai,
yang pernah menjajah negeri kepulauan yang kaya
akan sumber-sumber alam selama lebih dari 300
tahun. Banyak di antara pemimpin militer adalah
bekas pejuang revolusi. Terutama setelah diperkenal-
kannya hukum darurat perang pada tahun 1957.
Tentara dan unit-unit lain angkatan bersenjata
menjadi sangat terlibat dalam politik, administrasi sipil
dan pengelolaan ekonomi, yang berakibat bahwa tentara
sebagai unsur kunci dalam koalisi pemerintah dibawah
Demokrasi Terpimpin.8

Akan tetapi meskipun Angkatan Bersenjata


memiliki semua akses ke jalan pemerintahan,
kenyataan pemerintahan ini tidak dapat disebut
sebagai rezim militer. Para pemikir tentara Indonesia
tahun 1957-1958 menyusun doktrin dwifungsi yang
merupakan penjabaran pemikiran ”Tentara
Nasional”, ”Tentara Rakyat”, dan ”Tentara Pejuang”
dari masa kejuangan tahun 1945-1950.
Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai
politik di Indonesia yang berideologi komunis.
Dalam sejarahnya, PKI pernah berusaha melakukan
pemberontakan melawan pemerintah kolonial
Belanda pada 1926, mendalangi pemberontakan PKI
Madiun pada tahun 1948 dan dicap oleh rezim Orde
Baru ikut mendalangi pemberontakan G30S pada
tahun 1965. Namun, tuduhan dalang PKI dalam
pemberontakan tahun 1965 tidak pernah terbukti
secara tuntas, dan masih dipertanyakan seberapa jauh

8
Harold Crouch,. The Army and Politics Indonesia,
Singapore: Oxfort University Press. 1985, hal.3.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
7
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
kebenaran tuduhan bahwa pemberontakan itu
didalangi PKI. Sumber luar memberikan fakta lain
bahwa PKI tahun 1965 tidak terlibat, melainkan
didalangi oleh Soeharto (dan CIA). Hal ini masih
diperdebatkan oleh golongan liberal, mantan anggota
PKI dan beberapa orang yang lolos dari pembantaian
anti PKI.
Meskipun PKI mendukung Soekarno, ia tidak
kehilangan otonomi politiknya. Pada Maret 1960,
PKI mengecam penanganan anggaran yang tidak
demokratis oleh Soekarno. Pada 8 Juli 1960, Harian
Rakjat memuat sebuah artikel yang kritis terhadap
pemerintah. Para pemimpin PKI ditangkap oleh
militer, namun kemudian dibebaskan kembali atas
perintah Soekarno.
Tidak lama sebelum kup tahun 1965, kompetisi
antara PKI dan golongan Militer Indonesia kadang
kala bersifat sangat keras.9 Mungkin pada tahun 1965
pimpinan PKI berpendapat bahwa kelompok militer
mendapat kemenangan dalam politik kekuasaan
Indonesia. Soekarno sendiri cukup paham atas
kejadian demikian, karenanya ia tidak memung-
kinkan kompetisi terhadap kepemimpinannya yang
flamboyan dan kharismatik.
Dalam mencoba mengimbangi kekuatan militer
dengan kekuatan lain, terutama PKI, mungkin ia
mengidealkan kompetisi mereka yang tidak kenal
ampun tersebut. Bahkan setelah kup tersebut, ketika
masih memegang jabatan pada musim hujan tahun
1966, Soekarno mengakali golongan militer dengan
9
Morris Janowitz (ed), Hubungan-Hubungan Sipil
Militer Perspektif Regional, Jakarta: Bina Aksara, 1985.Lihat
juga C.I. Eugene, Rezim-rezim Militer di ASIA: Sistem dan
Gaya Politik, hal.13-18.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


8 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
menghentikan Jenderal Nasution dari posnya sebagai
Menteri Pertahanan.10
Sejak tahun 1959, menurut satu penelitian,
“Perwira-perwira Angkatan Darat secara kasar telah
memegang seperempat dari semua potorfolio kabinet
maupun berbagai posisi penting pada departemen
pemerintahan sipil.11
George juga menyatakan, bahwa “keterlibatan militer
dan politik dalam pemerintahan dengan demikian
merupakan fakta yang sudah lama berlangsung di
Indonesia. Soekarno yang karismatik, dengan dukungan
rakyat ternyata mampu menunda pengambilan alih
kekuasaan militer. Akan tetapi setelah kup Untung,
Soekarno (bersama PKI), didiskreditkan, dan golongan
militer mengambil alih kekuasaan, mereka diterima
rakyat”.12

Presiden Soekarno memanfaatkan peran tentara


sebagai pengimbang terhadap Partai Komunis
Indonesia semasa ia berkuasa penuh 1959-1966.
Tetapi, Soekarno kurang tekun menangani persoalan
ekonomi yang diperlukan guna menopang progam-
program politiknya. Penekanannya yang berlebihan
terhadap politik sebagai panglima menghasilkan
politik mercusuar yang tidak didukung kinerja
ekonomi yang memadai.
Janowitz menjelaskan bahwa, “Demokrasi Terpimpin
dan Ekonomi Terpimpin tumbang dalam krisis ekonomi
dan inflasi 650 persen selama 1964-1965. Soekarno
masih tetap memiliki pengikut dikalangan rakyat, dan ia
menggunakan dasar tersebut dalam usahanya untuk

10
Janowitz, loc.cit.
11
George M. Kahin, (ed), Government and Politics of
Southeats Asia, Ithaca, Ny: Cornell University Press, 1964,
hal.226.
12
George, loc.cit.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
9
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
mendiskreditkan pihak militer dan dengan demikian
memaksanya untuk mengambil tindakan yang
menentukan terhadap dirinya. Pada tanggal 11 September
1965, Soekarno dengan ikhlas harus menandatangani
suatu surat perintah yang memberi Jenderal Soeharto
wewenang yang diperlukan untuk memulihkan keamanan
di negeri Indonesia. Soekarno yang nyaris hanya
merupakan lambang, secara resmi telah digantikan oleh
Jenderal Soeharto pada tanggal 27 Maret 1968”.13

Kajian tentang piramida kekuatan politik


Indonesia pada saat Demokrasi Terpimpin, telah
banyak ditulis oleh pemerhati politik, baik pemerhati
dari luar negeri maupun dalam negeri. Beberapa
pakar yang telah pernah mengkaji tentang piramida
kekuatan politik Indonesia pada periode Sistem
Demokrasi Terpimpin antara lain; Yahya A.
Muhaimin (1982)14, Herbert Feith (1995)15, Dr.
Abdoel Fattah (2005)16.
Muhaimin seorang Dosen FISIP UGM
Yogyakarta dalam tulisannya yang berjudul
Pembangunan Militer dalam Politik di Indonesia
1945-1966, menjelaskan fungsi militer yang esensial,
yaitu sebagai negara yang bertugas pokok
mempertahankan eksistensi negara terhadap ancaman
penyerangan dari luar, maka lahirnya militer
Indonesia betul-betul dalam keadaan yang gelap.

13
Janowitz, loc.cit.
14
Yahya Muhaimin, Perkembangan Militer dalam
Politik Indonesia 1945-1966, Yogyakarta: Gajah Mada
Unversity Press, 1982.
15
Herbert Feith, Soekarno dan Militer dalam
Demokrasi Terpimpin, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995.
16
Abdul Fattah, Demiliterisasi Tentara Pasang Surut
Politik Militer 1945-2004, Yogyakarta:LKiS, 2005

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


10 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
Muhaimin juga mendebukukan, mulai tahun
1959 aliansi-politik anti partai Presiden Soekarno dan
Angkatan Darat retak, dan mulai terjadi aliansi-
politik antara Soekarno dengan PKI. Proses yang
berlangsung antara 1959 sampai dengan meletusnya
kudeta Gerakan 30 September menunjukkan
pertikaian yang amat sengit untuk mencapai survival
antara militer Angkatan Darat versus PKI yang
dilindungi oleh Kharisma Presiden Soekarno.
Dalam tulisannya tersebut, Muhaimin
mendebukukan masalah militer Indonesia di dalam
politik, mengambil scope mulai tahun 1945 sampai
dengan tahun1966.
Feith mengkaji tentang peran militer dalam
politik Indonesia tentang peran militer dalam politik
di Indonesia pada periode Sistem Demokrasi
Terpimpin. Dalam kajiannya, ia mengungkapkan
perjalanan militer, khususnya angkatan darat, dalam
peran politiknya sampai mejadi kuat dan menjadi
kawan sekalipun saingan Soekarno.
Menurut Feith,17 “pada oktober 1956, Presiden
Soekarno mendesak agar partai-partai politik dikubur,
akibat persaingan ideologi dan kepentingan kepartaian
dan agar demokrasi liberal diganti dengan Demokrasi
Terpimpin. Namun, baru pada 1958, Soekarno secara
mantap ingin menegaskan berlakunya Demokrasi
Terpimpin setelah mendapat dukungan angkatan darat.”
Feith18 menyatakan, “Demokrasi Terpimpin adalah suatu
sistem politik yang dipengaruhi secara kritis oleh
hubungan antara Presiden Soekarno dan Angkatan Darat;
suatu hubungan konflik yang mantap, yang ditandai oleh
upaya bersama dan berlangsungnya kompetisi dan
ketegangan antara dua mitra yang bertanding”.

17
Herbert Feith,op.cit., hal.18-27.
18
Herbert Feith, loc.cit.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
11
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Artinya, Presiden Soekarno dan Angkatan Darat
adalah kawan, tetapi juga lawan yang terus bersaing
merebut pengaruh. Kajian Feith banyak mengulas
tentang ikut campur tangan militer dalam politik
pada jaman pemerintahan Soekrno dan hubungan
antara presiden, tentara dan partai.
Dr. Abdoel Fattah, dalam bukunya yang berjudul
Demiliterisasi Tentara Pasang Surut Politik Militer
1945-2004 juga menjelaskan mengenai sisitem
kekuatan politik pada tahun 1959-1966 masa
Demokrasi Terpimpin. Memaparkan bahwa
pergolakan politik yang terus-menerus dan
berlakunya undang-undang keadaan darurat perang
tahun 1957, akibat situasi yang membahayakan
negara, menyebabkan semakin meluasnya peran
tentara di luar bidang pertahanan.
Fattah menyatakan19, “pada masa Demokrasi
Terpimpin, Tentara khususnya Angkatan Darat, menjadi
kekuatan politik yang menonjol karena Partai Politik
kurang terorganisasi, sedangkan Partai Masyumi dan PSI
telah dibubarkan oleh Presiden karena terlibat dalam
mendukung pemberontakan daerah. Sementara itu
menguatnya PKI dalam percaturan politik mendorong
tentara untuk terlibat secara lebih jauh lagi dalam politik.
Untuk mengimbangi kekuatan tentara dan mendukung
Nasakom, maka PKI mendapat tempat di hati Presiden
Soekarno. Hubungan erat Soekarno dengan PKI
menyebabkan TNI tidak senang, karena TNI tidak bisa
melupakan peristiwa PKI Madiun, di mana PKI
berhianat, menusuk dari belakang, di samping tidak
setuju paham komunisme. Akibatnya, persaingan dan
saling mencurigai terus berlangsung antara Presiden,
TNI, dan PKI”.

19
Abdul Fattah, op.cit., hal.133.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


12 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
Pada bukunya tersebut Fattah, menjelaskan
tentang pengaruh dan peran paradigma baru TNI
dalam proses pendemokrasian di Indonesia;
mendapatkan bahan ilmiah penyempurnaan pemba-
ngunan politik dan modernisasi politik di Indonesia
yang mengakibatkan profesionalisme militer dalam
suatu negara yang demokratis; menganalisis
hubungan sipil-militer di Indonesia yang sangat
bermakna bagi kajian ilmu politik; dan menganalisis
keyakinan teroris terhadap pentingnya dan manfaat
reformasi internal TNI menuju masyarakat madani.
Bergerak dari latar belakang tersebut,
permasalahan yang hendak dijawab dalam kajian ini
adalah dengan adanya saling keterkaitan antara
Soekarno, Angkatan Bersenjata dan Partai Komunis
yang hadir sebagai penggerak kekuatan politik yang
lebih dominan dan menyolok pada masa
Pemerintahan Sistem Demokrasi Terpimpin, menjadi
alasan ketertarikan penulis dalam meneliti masalah
ini yaitu, Apakah rezim Demokrasi Terpimpin adalah
hanya merupakan akibat yang kebetulan muncul dari
perimbangan kekuatan-kekuatan politik antara
Angkatan Bersenjata, Kelompok Komunis (PKI) dan
Soekarno di antara keduanya? Seberapa besarkah
peran Soekarno, Angkatan Bersenjata, dan PKI
dalam pergerakan kekuatan politik Indonesia pada
masa Pemerintahan Demokrasi Terpimpin? Mengapa
Soekarno, TNI dan PKI menjadi barometer
perkembangan kekuatan politik di Indonesia pada
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin?
Teori demokrasi digunakan oleh penulis sebagai
landasan berpikir dalam penelitian ini disebabkan
oleh karena pada penelitian ini membahas tentang
Sistem Politik Indonesia yaitu periode Sistem

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
13
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Demokrasi Terpimpin, di mana teori demokrasi
memberi sedikit gambaran mengenai bagaimana
keadaan politik Indonesia pada saat berlangsungnya
Sistem Demokrasi Terpimpin tersebut. Demokrasi
adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan
suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan
rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk
dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias
politica yang membagi ketiga kekuasaan politik
negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk
diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang
saling lepas (independen) dan berada dalam
peringkat yang sejajar satu sama lain. Kesejajaran
dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini
diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling
mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan
prinsip checks and balances.
Isitilah demokrasi berasal dari Yunani Kuno yang
diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM.
Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh
awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan
hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah
ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi
modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan
dengan perkembangan sistem demokrasi di banyak
negara.
Kata demokrasi berasal dari dua kata, yaitu
demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang
berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan
sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita
kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


14 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
dan untuk rakyat.20 Konsep demokrasi menjadi
sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu
politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat
ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan
politik suatu negara.
Dalam ilmu politik, dikenal dua macam tentang
pemahaman demokrasi yaitu pemahaman secara
normatif dan pemahaman secara empiris (demokrasi
prosedural). Dalam pemahaman secara normatif yaitu
demokrasi merupakan sesuatu yang secara idil
hendak dilakukan atau diselenggarakan oleh sebuah
negara, seperti misalnya kita mengenal ungkapan
“pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk
rakyat”. Ungkapan normatif tersebut biasanya
diterjemahkan dalam konstitusi masing-masing
negara. Tetapi hal-hal yang normatif belum tentu
dapat dilihat dalam konteks kehidupan politik sehari-
hari suatu negara. Oleh karena itu sangat perlu dilihat
bagaimana makna demokrasi secara empiris, yakni
demokrasi dalam perwujutannya dalam kehidupan
politik praktis.21 Pemahaman demokrasi dalam
konteks seperti ini mengijinkan kita untuk
mengamati apakah dalam suatu sistem politik
pemerintah memberikan ruang gerak yang cukup
bagi warga masyarakatnya untuk melakukan
partisipasi guna memfokuskan praferensi politik
melalui organisasi politik yang ada? Dengan
demikian demokrasi dalam makna dan praktek dapat
saling berbeda.

20
Miriam Budiarjo, op.cit., hal. 50.
21
Afan Gaffar, Politik Indonesia: Transisi Menuju
Demokrasi, Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar, 2005, hal.3.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
15
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Demokrasi Terpimpin 1959-1965

Demokrasi Terpimpin dijadikan sebagai kerangka


teori dalam penulisan ini dikarenakan pada penelitian
ini mencakup skop periode berlangsungnya Sistem
Politik Demokrasi Terpimpin, dengan alasan
tersebut, penulis memberi gambaran singkat
bagaimana proses terjadinya Sistem Politik
Demokrasi Terpimpin. Adapun yang menjadi ciri-ciri
periode ini adalah dominasi dari Presiden,
terbatasnya peranan politik, berkembangnya
pengaruh Komunis dan meluasnya peranan TNI
sebagai unsur sosio politik. 22
Pada bulan juli 1959, secara resmi Soekarno
mengembalikan negara ke bawah naungan Undang-
Undang Dasar 1945 yang revolusioner, di mana
Presiden memainkan peran sebagai pemimpin. Pada
bulan Februari 1957 Soekarno mengumumkan
konsepsinya bahwa negara harus menerapkan sistem
pemerintahan baru dengan Kabinet Gotong Royong
yang terdiri atas semua Partai Politik, dan
pembentukan Dewan Nasional sebagai Wakil
Kelompok-kelompok Fungsional.
Setelah berlakunya Dekrit 5 Juli 1959,
keterlibatan milter beserta wakil-wakilnya dalam
politik dan lembaga politik meluas dengan cepat.
Ketika Soekarno mengumumkan Kabinet Kerja 10
Juli 1959, sepertiga menteri berasal dari militer.23
Demokrasi Terpimpin yang lahir dan berkembang
pada masa 1959-1965 ini memiliki sebuah proses

22
Miriam Budiarjo, op cit.,hal.,71..
23
Bilveer Singh, Dwifungsi ABRI, Jakarta: PT
Gramedia, 1996, hal.93.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


16 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
perjalanan yang menarik sebagaimana yang
dijelaskan oleh Yahya Muhaimin yaitu24:
Dalam pembentukan pemerintahan barunya itu,
Soekarno yang telah memiliki pengalaman yang amat
banyak serta punya keahlian politik yang besar serta
diperkuat dengan berlangsungnya balance di antara
kekuatan-kekuatan politik secara otomatis mengalami
kesukaran yang relatif kecil. Dalam hal ini hanyalah
TNI-AD yang betul-betul meminta perhatian Soekarno
secara sungguh-sungguh. Soekarno bukan takut bahwa
natinya Nasution punya ambisi untuk menduduki jabatan
Presiden, tetapi dia khawatir bahwa KSAD itu akan
menjadi kekuatan politik yang dominan dibelakang
kepresidenannya. Pengaruh Soekarno terhadap Nasution
amatlah terbatas di dalam suatu struktur sosial dan politik
yang lebih banyak ditentukan oleh hubungan pribadi,
pada hal hingga saat terbitnya Dekrit 5 Juli, TNI-AD
yang menempa situasi dan merupakan motor penggerak
sejak tahun 1957, semakin besar dalam masalah
memperlakukan dan menanggapi PKI. Bagi Soekarno,
PKI dipandang tidak membahayakan prinsip ideologinya
dan kepentingan politiknya. Tetapi bagi TNI-AD, PKI
secara ideologis dan politis membahayakan kepentingan
TNI, mengingat organisasi TNI yang baik. Presiden
Soekarno berkeyakinan, selama ia hidup PKI tidak
sampai berhasil menguasai pemerintahan, sedangkan
pemerintahan TNI adalah masih muda-muda
dibandingkan dengan Soekarno kelahiran 1901.

Melihat ideologi dasar Demokrasi Terpimpin


Yahya Muhaimin juga menjelaskan25:
Dalam membentuk ideologi bagi Demokrasi
Terpimpin, TNI sama sekali tidak memainkan sesuatu
peranan, tetapi inisiatifnya adalah Soekarno. Formulasi
pokok ideologi yang diketengahkan oleh Soekarno ialah
isi pidato-kenegaraannya pada tanggal 17 Agustus 1959,
yang diberi judul “Penemuan Kembali Revolusi Kita”,

24
Yahya Muhaimin, op.cit., hal.116-117.
25
Yahya Muhaimin, ibid., hal.118-119.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
17
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
yang dianggap sebagai manifesto politik atau disingkat
MANIPOL.
Isi Manipol itu disempurnakan oleh Soekarno dan
Ruslan Abdul Gani ketua Dewan Perimbangan Agung
yang dibentuk oleh Presiden Soekarno di bawah UUD
1945, yang pada dasarnya merupakan jelmaan langsung
dari Dewan Nasional dengan perubahan beberapa
anggotanya dan kemudian menjadikan manipol menjadi
basis politik nasional di bawah Demokrasi Terpimpin. Isi
Manipol tersebut disimpulakn menjadi lima prinsip,
yaitu: UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi
Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia yang diberi
acronym dengan USDEK. Manipol Usdek ini dikaitkan
dengan Dasar Negara “Pancasila”, sehingga Pancasila-
Manipol-Usdek menjadi satu rangkaian pola ideologi
Demokrasi Terpimpin yang dengan cepat sekali
menguasai seluruh jaringan mass media communication
di dalam usaha melakukan kampanye dan propoganda
Indonesia, dengan tenaga pendorong utama adalah TNI.

Militer dalam Politik

Militer merupakan salah satu bagian dari


kekuatan politik terbesar yang berperan dalam
menjalankan Sistem Politik Demokrasi Terpimpin,
hal inilah yang menjadi alasan penulis dalam
mengangkat dan memberi gambaran singkat
mengenai militer dan fungsi serta kedudukan militer
dalam politik, sebagai salah satu acuan teoritis dalam
penulisan penelitian ini. Kebanyakan ahli Ilmu
Politik yang telah membicarakan masalah perwira
militer dalam masyarakat yang terpecah belah
beranggapan bahwa latihan, sosialisasi dan orgnisasi
militer telah melemahkan identitas dan pertentangan
antara suku, dan pada waktu yang sama menanamkan
satu pandangan nasionalisme yang bersifat sekuler

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


18 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
dikalangan militer yang direkrut dari berbagai
kelompok suku.26
Menurut Janowitz, para perwira menunjukkan
satu perasaan identitas nasional yang kuat, yang
menjadikan militer sebagai sumber potensial anti
kesukuan, kemampuan militer untuk membentuk
identifikasi nasional adalah hasil dari perpaduan
dalam organisasinya. Para anggota menyadari bahwa
mereka berada dalam satu kelompok yang
mempunyai fungsi kemiliteran yang sama dan tidak
dapat dipisahkan,…berbeda dengan institusi lain
dalam sebuah negara baru, dalam organisasi militer
untuk mendapat pelayanan yang sama adalah lebih
besar. Dengan demikian terdapat satu ikatan dan
perpaduan sosial, karena mereka yang mempunyai
latar belakang dan etnik yang berbeda telah diberi
pengalaman yang sama dan mulai memikirkan diri
mereka sendiri seperti orang India, Mesir, dan
Nigeria.27
Pye, telah pula memberikan tekanan yang lebih
besar pada usaha-usaha sosialisasi yang mempunyai
tujuan di dalam militer yang telah membantu
mewujudkan perhatian kepada negara dan satu
pandangan modern. Ia juga menekankan tentang
pemisahan rakyat itu dari kehidupan sipil dan
mengarahkannya ke dalam kehidupan militer yang
bersifat tidak personal, dan faktor ini telah

26
Eric A. Nordlingger, Militer dalam Politik: Kudeta
dan Pemerintahan, Jakarta: Rineke Cipta, 1994, hal. 55-57.
27
Morris Janowittz, op.cit., hal.63 dan 81.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
19
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
memutuskan ikatan mereka dengan kelompok
kesukuan.28
Generalisasi di atas dan yang lainnya telah
diterangkan dengan tiga peringkat dalam
perbandingan tentang perwira militer dan elit-elit
politik sipil: Pertama, perwira militer telah direkrut
dari berbagai suku yang lebih luas dari elit politik.
Kedua, pengalaman sosialisasi dan latihan militer
lebih seragam dan berorientasi nasional dibanding
elit politik, yang akhirnya menjadikan militer tidak
begitu terkotak-kotakkan dari pada elit politik.29
Kenyataan diatas menunjukkan satu model
tentara modern yang sekuler. Dengan demikian
perwira militer secara relatif tidak terpengaruh oleh
aliran politik kesukuan kontemporer dan dapat
memainkan peranan penting dalam menyatakan
masyarakat mereka yang terpecah belah.
Ikatan mereka dengan korps militer sebagai satu
institusi nasional yang solid dan identifikasi utama
mereka dalam negara; dan bukan dengan kelompk
kecil, telah mengurangi kemungkinan campur tangan
yang disebabkan oleh perasaan kesukuan dan
mewujudkan peraturan yang berkesan mengenai
konflik kesukuan oleh pihak militer yang mengambil
alih kekuasaan.
Amos Permutter dalam penelitiannya yang
dituangkan dalam bukunya The Military and Politics
in Modern Times menekankan bahwa pihak militer
adalah para perwira. Pertama, yang pangkat dan
peranannya menempatkan mereka dalam posisi yang
28
Eric A. Nordlinger, op.cit., hal. 5. Lihat juga dalam
Lucian W. Pye, Armies in the Process of Political
Modernization; 1962, hal.82-84.
29
Eric A. Nordlinger, Ibid.,hal. 6.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


20 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
menuntut adanya kecakapan politik yang tidak
diperlukan prajurit professional-profesional dan
lainnya. Kedua, yang kecakapan politiknya lebih
tinggi dari pangkat, kedudukan dan peranannya.
Ketiga, yang berambisi untuk melindungi integritas
organisasi. Keempat, yang aspirasinya cenderung
bersifat politik. Selanjutnya Permutter mengatakan
bahwa seorang perwira senior, dan jenderal yang
membawa korps, tidak begitu penting bagi studinya
dibandingkan misalnya seorang perwira antara
kapten dan kolonel yang ambisi politiknya dan
pengaruhnya tidak seimbang dengan pangkatnya.30
Berbicara mengenai peran militer dalam politik
pada masa Demokrasi Terpimpin, di mana militer
memiliki peran ganda dalam negara yaitu sebagai
fungsi pertahanan dan peranannya dalam dunia
politik, lebih jelas ditegaskan oleh Bilveer Singh
dalam bukunya yang berjudul Dwifungsi ABRI31,
yaitu:
Sejak berlakunya Dekrit 5 Juli 1959, keterlibatan
militer beserta wakil-wakilnya dalam politik dan
lembaga politik meluas dengan cepat. Ketika Soekarno
mengumumkan Kabinet Kerja pada tanggal 10 Juli 1959,
sepertiga menteri berasal dari militer. Nasution sendiri
menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan, yang
memberinya wewenang melakukan koordinasi antara
Departemen Pertahanan, Peradilan, Kepolisian, dan
urusan Veteran sekaligus tetap menduduki jabatannya
sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Ia juga berhak
membatalkan pengangkatan kaum komunis ke Kabinet
Kerja. Ketika Soekarno mendirikan Dewan Perwakilan
Rakyat Gotong Royong pada tahun 1960, 35 dari 283

30
Amos Perlmuter, Militer dan Politik, Terjemahan
dalam Bahasa Indonesia Oleh Sahat Simamora, Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 2000, hal.15.
31
Bilveer Singh, op.cit, hal. 93-102.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
21
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
anggotanya adalah TNI. Setelah inilah, Nasution untuk
pertama kalinya menggunakan istilah “Dwifungsi” dalam
sebuah Pidato di Porong Jawa Timur.
Selama masa Demokrasi Terpimpin, ketika militer
diakui sebagai kelompok fungsional di bawah UUD
1945, aparat teritorial militer dipakai untuk menyaingi
PKI, yang menjadi partai paling kuat selama periode ini.
Bangkitnya PKI disebabkan oleh karena dibubarkannya
partai-partai politik besar, seperti Masjumi dan PSI, juga
disebabkan oleh lemahnya PNI. Karena Soekarno juga
melihat perlunya meredam membesarnya kekuatan
militer, ia semakin menyandarkan diri pada PKI untuk
mengimbangi militer, dan dengan demikian ia
melindungi PKI dari serangan-serangan militer.
Soekarno juga mendorong terjadinya persaingan dalam
tubuh militer sebagaimana telah berkembang pada awal
tahun 1950-an, dengan sasaran melemahkan Angkatan
Darat bersenjata sebagai Kekuatan Politik, maka
berlangsunglah segitiga perimbangan kekuatan dalam
sebagian besar periode ini sampai pecahnya kudeta PKI
bulan September 1965.

Fungsi militer di dalam negara adalah melakukan


tugas di bidang pertahanan dan keamanan, yang
disebut “fungsi militer”, sedangkan tugas di luar
bidang pertahanan dan keamanan negara menjadi
tugas golongan sipil. Tugas ini disebut “fungsi non
militer” atau “fungsi sipil”.
Ada beberapa sebab yang mendorong militer
secara aktif memasuki arena politik dan memainkan
peranan politik. Faktor-faktor ini lebih terletak pada
kehidupan politik atau sistem politik, bukan pada
militer, dan dikelompokkan menjadi tiga:32

32
Yahaya Muhaimin,op.cit.,hal.3. Lihat juga dalam
John P. Lovell dan C.I Eugene Kim, The Military and Political
Change in Asia, Spring-Summer, 1967, hal. 113-123.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


22 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
1. Rangkaian sebab akibat yang menyangkut
adanya ketidakstabilan sistem politik.
Keadaan seperti ini menyebabkan terbukanya
kesempatan dan peluang yang besar untuk
menggunakan kekerasan di dalam kehidupan
politik.
2. Rangkaian sebab yang bertalian dengan
kemampuan golongan militer untuk
memperoleh peranan-peranan politik yang
menentukan. Yang menarik dalam kaitan ini
ialah bahwa dalam beberapa hal dominasi
militer di dalam politik justru “diundang”
atau dipermudah oleh golongan sipil.
3. Rangkaian sebab yang berhubungan dengan
political perspectives kaum militer. Yang
paling menonjol di antara beberapa perspektif
politik mereka adalah yang berkaitan dengan
peranan dan status mereka di dalam
masyarakat, dan juga yang berkenaan dengan
persepsi mereka terhadap kepemimpinan
kaum sipil dan terhadap sistem politik secara
keseluruhan.

Doktrin dwifungsi ABRI, para perwira militer di


Indonesia selalu melukiskan peran mereka dalam dua
hal: keamanan nasional dan pembangunan nasional
(Lihat gambar 1). Jadi untuk melukiskan para pejabat
militer Indonesia sebagai “orang militer” belaka
sama saja dengan menyimpang dari konstelasi peran
yang utuh, yang lebih menyatukan dari pada
memisahkan apa yang secara artificial kita bedakan
sebagai fungsi-fungsi sipil dan militer yang bersifat

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
23
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
tradisional. 33 Dalam hal ini bagaimana tepatnya para
pejabat militer Indonesia memandang fungsi mereka
terutama berhubungan dengan dwifungsi
diperlihatkan oleh gambar 2. Pada gambar tersebut
terlihat jelas fungsi “pertama” dan fungsi “kedua”
sejauh menyangkut elit militer.

Gambar 1: Persepsi Peran Pejabat Indonesia

Sumber: Bilveer Singh, Dwifungsi ABRI, Jakarta: PT


Gramedia, 1996, hal.68.

33
Bilveer Singh, op.cit, hal.67-73. Lihat juga dalam W.
Maynard, Views of the Indonesian and Philippine Military
Elites, dalam Sheldon W. Simon, The Military and Security in
The Trid World: Domestic and International Impact, Boulder,
Colorado: Westview Press, 1978, hal.137.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


24 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
Gambar 2: Persepsi Pejabat Indonesia tentang Dwifungsi

Sumber: Bilveer Singh, Dwifungsi ABRI, Jakarta: PT


Gramedia, 1996, hal.69.

UUD 1945 sama sekali tidak menyinggung


peranan militer dalam kekuasaan negara. Kecuali
pada pasal 10 disebutkan bahwa presiden memegang
kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan
Laut dan Angkatan Udara. Dengan demikian,
peranan militer ditentukan oleh presiden. Tanpa
penjelasan yang cukup terhadap pasal tersebut, maka

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
25
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
keberadaan militer dalam negara dapat diartikan
bermacam-macam.
Berdasarkan dengan peraturan yang ada, TNI
bukan hanya diperbolehkan, melainkan juga
“bersama dengan kekuatan sosial politik” lainnya
diharapkan terlibat dalam kehidupan kenegaraan.
Dengan mengacu pada dwifungsinya, selain sebagai
kekuatan pertahanan dan keaman (hankam), TNI pun
merupakan kekuatan sosial politik.34 Dalam UU
No.20 Tahun 1982 tentang Hankam, TNI baru
dinyatakan sebagai “kekuatan sosial”35. Namun lewat
UU No. 2 Tahun 1988 mengenai Prajurit TNI, secara
tegas disebutkan bahwa TNI merupakan “kekuatan
sosial politik” juga sebagai kekuatan Hankam.36 TNI
berhak tidak hanya menjalankan fungsi tradisional
sebagaimana kekuatan militer di negara-negara lain,
akan tetapi juga berkewajiban ikut menegakkan
konstitusi serta terlibat dalam penyelenggaraan
pemerintahan. Sedangkan dari sisi praktis, doktrin
tersebut ditransformasi menjadi bentuk kekaryaan.
Lewat konsep ini, banyak anggota TNI yang ditugas-
kan untuk memegang jabatan di luar jalur militer.

Partai Politik dan Sistem Kepartaian

Partai sebagai kekuatan politik adalah suatu


gejala baru bagi semua negara di dunia ini, dalam arti
bahwa pada umumnya tidak setua umur masyarakat

34
Indira Samega, TNI di Era Perubahan, Jakarta:
Erlangga,2000, hal.3.
35
UU No. 20 Tahun 1982 tentang Hankam
36
UU No. 2 Tahun 1988 tentang Prajurit TNI

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


26 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
manusia. Pada penulisan penelitian ini membahas
mengenai Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai
salah satu kekuatan politik yang berpengaruh besar
dalam menjalankan proses berlangsungnya Sistem
Politik Demokrasi Terpimpin. Oleh sebab itu untuk
memberi gambaran dan penjelasan mengenai
kedudukan Partai Komunis Indonesia dalam
pengaruhnya menjalankan Sistem Politik Demokrasi
Terpimpin, terlebih dahulu penulis menjelaskan
mengenai partai politik dan sistem kepartaian serta
fungsi partai politik secara umum sebagai acuan
penulis dalam melanjutkan penulisan penelitian ini.

Partai Politik
Partai-partai yang terorganisir timbul pada akhir
abad 18 dan 19 di Eropa Barat. Sebagai buah dari
usaha kelompok-kelompok di luar lingkungan
kekuasaan politik untuk bersaing memperebutkan
jabatan pemerintahan dan mengendalikan jabatan
pemerintahan. Ketika gerakan-gerakan kelas
menengah dan kelas buruh ini mulai mendesak kelas-
kelas atas dan asitokrat demi partisipasi dalam
pembuatan keputusan, kelompok-kelompok yang
menjalankan pemerintahan terpaksa mencari
dukungan publik dalam rangka mempertahankan
pengaruh dukungan mereka. Dengan demikian
partai-partai politik itu merupakan penghubung
antara rakyat dengan pemerintah; dan di dunia
modern, sifat-sifat dari sistem kepartaian suatu
negara menentukan sifat dari hubungan ini.
Partai politik merupakan salah satu bagian
kekuatan politik yang berperan penting dalam suatu
negara. Banyak defenisi yang dikemukakan para

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
27
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
ilmuan tentang partai politik. Dalam hal
pengelompokan manusia dalam masyarakat, Carl
Friedrich memberi batasan partai politik sebagai
kelompok manusia yang terorganisir secara stabil
dengan tujuan untuk merebut atau mempertahankan
kekuasaan dalam pemerintahan bagi pemimpin
partainya, dan berdasarkan kekuasaan itu akan
memberikan kegunaan materil dan idil kepada para
anggotanya.37
Sementara itu, Soltau memberikan defenisi partai
politik sebagai sekelompok warga negara yang
sedikit banyak terorganisasikan, yang bertindak
sebagai suatu kesatuan politik dan dengan
memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih,
bertujuan untuk menguasai pemerintahan dan
menjalankan kebijakan umum yang mereka buat.38
Partai politik dapat juga dikaitkan sebagai suatu
kelompok yang terorganisir yang anggotanya
memiliki orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang
sama, tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh
kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik
(biasanya) dengan cara konstitutionil untuk
melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.39
Dari pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa
partai politik pada dasarnya mempunyai unsur-unsur
yaitu organisasi yang teratur, terdiri dari orang-orang
yang mempunyai tujuan yang sama yaitu merebut
dan/atau mempertahankan kekuasaan. Adapun cara-
cara yang dicapai untuk mencapai tujuannya, partai

37
Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, Jakarta:
PT Gramedia Widiasaranan Indonesia, 1992, hal.116.
38
Ramlan Surbakti, loc.cit..
39
Miriam Budiarjo, op.cit., hal. 60.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


28 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
politik turut serta dalam kegiatan yang konstituonal
seperti pemilihan umum.

Sistem Kepartaian
Maurice Duverger40 dalam bukunya yang terkenal
Political Parties, menjelaskan klasifikasi sistem
partai, yaitu sistem partai tunggal (single party
system), Sitem Dwi Partai (two party system) dan
sistem multi partai (multi party system).
a. Sistem Partai Tunggal (Single Party System)
Suasana kepartaian dinamakan non-
kompetitif oleh karena partai-partai yang ada
harus menerima pimpinan dari partai yang
dominan dan tidak dibenarkan bersaing
secara merdeka melawan partai itu.
Kecenderungan untuk mengambil pola sistem
partai tunggal disebabkan karena di negara-
negara baru pimpinan sering dihadapkan
dengan masalah bagaimana mengintegrasikan
pelbagai golongan, daerah dan suku yang
berbeda corak sosial dan pandangan
hidupnya. Negara-negara yang berhasil untuk
meniadakan partai-partai lain ialah Uni
Soviet. Partai Komunis Uni Soviet bekerja
dalam suasana yang non-kompetitif; tidak ada
partai lain yang boleh bersaing, atau tunggal
serta organisasi yang bernaung di bawahnya
berfungsi sebagai pembimbing dan penggerak
masyarakat dan menekan perpaduan dari

40
Miriam Budiarjo, ibid. hal. 167.Lihat juga Mourice
Duverger, Political Parties: Their Organitation and Activity in
the Modern State. London: Methuen, 1967.hal.207-217.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
29
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
kepentingan partai dengan kepentingan rakyat
secara menyeluruh.
b. Sistem Dua Partai (Two Party System)
Dalam kepustakaan ilmu politik
pengertian sistem dua partai biasanya
diartikan adanya dua partai atau adanya
beberapa partai tetapi dengan peranan
dominan dari dua partai. Sedikit negara yang
pada dewasa ini memiliki ciri-ciri sistem dua
partai, kecuali Inggris, Amerika Serikat dan
Filipina, dan oleh Maurice Duverger
mengatakan bahwa sistem ini adalah khas
Anglo Saxon. Dalam sistem ini partai-partai
dengan jelas dibagi dalam partai yang
berkuasa dan partai oposisi. Sistem Dua
Partai umumnya diperkuat dengan diguna-
kannya sistem pemilihan single-member
constituency (sistem distrik) di mana dalam
setiap daerah pemilihannya hanya dapat
dipilih satu wakil saja. Sistem pemilihan ini
mempunyai kecenderungan untuk mengham-
bat pertumbuhan dan perkembangan partai
kecil, sehingga dengan demikian memper-
kokoh Sistem Dua Partai di mana ada.
c. Sistem Banyak Partai (Multy Party System)
Umumnya dianggap bahwa keanekaraga-
man dalam komposisi masyarakat menjurus
ke berkembangnya sistem banyak/multi
partai. Di mana perbedaan ras, agama, atau
suku bangsa adalah kuat, golongan-golongan
masyarakat cenderung untuk menyalurkan
ikatan-ikatan terbatas (primordial) tadi dalam
satu wadah saja. Dianggap bahwa pola
banyak/multi partai lebih mencerminkan

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


30 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
.
keanekaragaman budaya dan politik dari pada
pola dua-partai. Sistem banyak/multi partai
ditemukan di Indonesia, Malaysia, Negeri
Belanda, Perancis, Swedia dan sebagainya.
Pola banyak partai umunya diperkuat oleh sistem
pemilihan Perwakilan Berimbang (Proportional
Representation) yang memberi kesempatan luas bagi
pertumbuhan partai-partai dan golongan-golongan
kecil. Melalui Sistem Perwakilan Berimbang partai-
partai kecil dapat menarik keuntungan dari ketentuan
bahwa kelebihan suara yang diperolehnya di suatu
daerah pemilihan dapat ditarik ke daerah pemilihan
lain untuk menggenapkan jumlah suara yang
diperlukan guna memenangkan satu kursi.
Fungsi utama partai politik adalah mencari dan
mempertahankan kekuasaan guna mewujudkan
program-program yang disusun. Namun demikian
ada beberapa fungsi lain dari partai politik yang juga
sangat penting. Miriam Budiarjo menyebutkan
beberapa fungsi dari partai politik di dalam negara
yang demokrtis yaitu:41
1. Partai politik sebagai sarana komunikasi politik
Salah satu tugas dari partai politik adalah
menyalurkan aneka ragam pendapat dan
aspirasi masyarakat dan mengaturnya
sedemikian rupa sehingga kesimpangsiuran
pendapat dalam masyarakat berkurang.
2. Partai sebagai sarana sosialisasi politik
Partai juga memainkan peran sebagai sarana
sosialisasi politik (Instrument of political
socialitation). Di dalam ilmu politik sosialisasi
politk diartikan sebagai sarana proses melalui

41
Miriam Budiarjo, Ibid., hal.163.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
31
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
mana seseorang memperoleh sikap dan
sosialisasi berjalan secara berangsur-angsur
dari masa kanak-kanak sampai dewasa.
Disamping itu sosialisasi politik juga mencakup
proses melalui mana masyarakat menyam-
paikan norma-norma dan nilai-nilai dari satu
generasi ke generasi berikutnya.
3. Partai politik sebagai sarana recruitment politik
Partai politik juga berfungsi untuk mencari dan
mengajak orang yang berbakat untuk turut aktif
dalam kegiatan politik sebagai anggota partai
(political recruitment). Dengan demikian partai
turut memperluas partisipasi politik. Caranya
ialah melalui kontak pribadi, persuasi dan lain-
lain. Juga diusahakan untuk menarik golongan
muda untuk dididik menjadi kader yang di
masa mendatang akan megganti pimpinan lama
(selection of leader)
4. Partai politik sebagai sarana pengatur konflik
(conflict management)
Dalam sarana demokrasi, persaingan dan per-
bedaan pendapat dalam masyarakat merupakan
soal yang wajar. Jika terjadi konflik, partai
politik berusaha mengatasinya.

SOEKARNO, MILITER DAN PARTAI POLITIK


32 Piramida Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Sistem Politik
Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)