Anda di halaman 1dari 61

Pengantar

Kali ini Akuntan Muda hadir lagi di April 2011 ini. Isu teranyar di
edisi kali ini adalah mengenai asas eja dan asas bunyi yang
merupakan dasar dalam penyerapan kata asing. Banyak orang
cenderung skeptis ketika membicarakan bahasa. Namun
sebenarnya bahasa begitu penting sampai-sampai kita seharusnya
mau mempelajarinya dengan sukarela. Pernahkah Anda menjumpai
tulisan yang begitu mudah dan menyenangkan untuk dibaca?
Tulisan yang dapat Anda pahami tanpa perlu banyak mengerutkan
kening? Orang yang mampu menghasilkan tulisan semacam itu
pertama sekali pastilah memiliki kemampuan berbahasa yang baik.
Nah, kembali ke diri kita sendiri, apakah kita lebih memilih memiliki
tulisan yang rumit, tidak jelas, dan membuat orang enggan orang
membacanya ataukah kita ingin memiliki tulisan yang mudah dan
menyenangkan untuk dibaca?

arie rahayu

Penasihat
Prof. Dr. Zaki Baridwan, MSc.; Prof. Dr. Suwardjono, MSc.

Redaksi: Arie Rahayu, Arif Perdana, Hesty Wulandari, Yeni Januarsi

Blog: http://akuntanmuda.wordpress.com/
E-mail: akuntanmuda@yahoo.com
Akuntan Muda atau akuntan.muda@gmail.com
Halaman 1
Daftar Isi

1 Pengantar

3 Benarkah Fair Value itu Fair? Bagaimana Hubungannya


dengan Fraud dan Standar Akuntansi?

7 (Kolom) Tanya Uni Hesty

16 Manipulasi Aktivitas Real

23 Belajar IFRS: Mengetahui Lebih Dalam Perubahan PSAK


No.16 (Revisi 2007) tentang Aset Tetap (bag. 2)

38 Integrasi Pelaporan Keuangan dan nonKeuangan

50 Asas Bunyi vs. Asas Eja

Akuntan Muda Halaman 2


Benarkah Fair Value itu Fair?
Bagaimana Hubungannya dengan
Fraud dan Standar Akuntansi?

Berdasarkan FASB
Concept Statement
No. 7 dapat ditarik
suatu kesimpulan
bahwa fair value
adalah harga yang akan diterima dalam penjualan aset atau
pembayaran untuk mentransfer kewajiban dalam transaksi yang
tertata antara partisipan di pasar dan tanggal pengukuran (FASB
2000). Terdapat tiga hirarki dalam mengestimasi fair value, yaitu
dengan menggunakan nilai pasar, komparasi dengan harga pasar
dari item yang dapat diperbandingkan dengan item yang dinilai,
dan dengan menggunakan estimasi (Hitz 2007). Meskipun fair
value dapat diukur dengan menggunakan current market value,
namun tidak berarti fair value itu sepenuhnya adalah current
market value. Untuk item-item tertentu di dalam laporan
keuangan yang berasal dari transaksi yang lazim terjadi (arm’s
length transaction) dan harga-harganya juga dapat dengan
mudah diukur dengan harga pasar, fair value dapat diukur

Akuntan Muda Halaman 3


dengan menggunakan current market value. Pengukuran fair
value seperti ini disebut juga dengan mark to market. Namun
untuk item-item yang harga pasarnya tidak tersedia, fair value
diukur dengan menggunakan model penilaian yang didasarkan
atas perhitungan-perhitungan dan estimasi tertentu. Pengukuran
fair value seperti ini disebut juga dengan mark to model. Dengan
demikian penggunaan fair value sesungguhnya dapat
menimbulkan implikasi yang bersifat subyektif terutama yang
berkaitan dengan penilaian (Blommaert dalam Verhog 2003).

(Gassen & Schwedler 2009) menemukan bahwa terdapat


pemahaman yang berbeda-beda mengenai fair value. Fair value
yang didasarkan atas harga pasar (mark to market) lebih bernilai
dan memiliki decision usefulness lebih tinggi dibandingkan
dengan fair value yang didasarkan atas penilaian (mark to
model). (Gassen & Schwedler 2009) juga menemukan bahwa fair
value yang berdasarkan pada harga pasar memiliki decision
usefulness yang tinggi untuk aset-aset lancar dan non
operasional, dan untuk aset tidak lancar serta aset-aset yang
digunakan untuk kegiatan operasional, tidak ada perbedaan yang
siginifikan dari sisi decision usefulness baik yang menggunakan
historical cost maupun menggunakan market based fair value.

Akuntan Muda Halaman 4


Pendekatan dalam perhitungan fair value dapat diklasifikasikan
menjadi tiga yaitu pendekatan pasar, pendekatan pendapatan
dan pendekatan biaya (SFAS 157) Masing-masing pendekatan ini
jika ditelusuri lebih lanjut memiliki resiko untuk menimbulkan
terjadinya fraud dalam laporan keuangan, dan ini akan menjadi
suatu diskusi yang sangat menarik mengenai penerapan fair
value dan hubungannya dengan tindakan fraud dan resiko global.

Pengukuran dengan menggunakan atribut fair value memerlukan


perhatian yang serius dari penyusun standar akuntansi, terutama
dalam menciptakan konvergensi antara dua rerangka konseptual
dan standar akuntansi yang saat ini banyak menjadi acuan yaitu
yang dikeluarkan oleh FASB dan IASB. Hal ini diperlukan untuk
mengatasi kendala-kendala penerapan fair value agar menjadi
lebih andal (reliable), dapat diaudit (auditable), dan dapat
diverifikasi (verifiable). Penerapan fair value tidak dapat dihindari
dalam perkembangan akuntansi saat ini, yang harus dilakukan
adalah menyediakan instrumen agar konsep fair value dapat
lebih diperkuat dan dapat diukur secara lebih reliabel.
Pernyataan yang jelas dalam rerangka konseptual juga
diperlukan terutama rekomendasi penggunaan fair value untuk
item-item tertentu, seperti aset-aset atau kewajiban yang

Akuntan Muda Halaman 5


digunakan untuk meraih keuntungan jangka pendek (short-term
trading profit). Pengungkapan (disclosure) mengenai
penggunaan fair value juga perlu diatur secara lebih ketat untuk
menghindari bias dan penyalahgunaan manajemen dalam
melakukan estimasi, khususnya untuk item-item yang diukur
dengan fair value namun current market value-nya tidak
tersedia.

(Arif Perdana)

Referensi:
Fair Value Accounting, New Global Risk & Detection Techniques
(Gerard M Zack, 2009)
The Decision Usefulness of Financial Accounting Measurement
Concepts: Evidence from an Online Survey of Professional
Investors and Their Advisors (Joachim Gassen & Kristina
Schwedler, 2009)
The Decision Usefulness of Fair Value Accounting – A Theoretical
Perspective (Joerg-Markus Hitz, 2007)
Is Fair Value Fair? (Willem Verhoog, 2003)

Kredit foto: eflon - http://bit.ly/ezC1X7

Akuntan Muda Halaman 6


Tanya Uni Hesty
Uni Hesty saat ini mengajar di jurusan
akuntansi Politeknik Caltex di kota bertuah
Pekanbaru dan akan segera mengajar di
Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negri
Sutan Syarif Kasim Pekanbaru. Uni
menamatkan S1 di Universitas Andalas,
Padang. Setelah berkutat dengan kuliah
selama 5,5 tahun dengan nilai ala
kadarnya, meneruskan kuliah profesi
akuntan dan menamatkan studi S2 di kampus biru UGM, tempat
yang kemudian mengubahnya menjadi pencinta pembelajaran.

Silakan kirim pertanyaan apa saja seputaran akuntansi kepada


Uni Hesty melalui e-mail di : wulandari_712@yahoo.com

Bagaimana menemukan topik penelitian ?

Menulis untuk penelitian memang bukan hal yang mudah karena


ada banyak faktor yang ikut mempengaruhinya. Kebanyakan
faktor-faktor tersebut bersifat abstrak dan sebagian besar
berasal dari diri sendiri yang seringkali tidak berhasil

Akuntan Muda Halaman 7


didefenisikan dengan baik ; seperti sulitnya menemukan topik
yang pas, setelah menemukan topik yang bagus pun kadang
kadang sumber datanya sulit didapatkan; judul oke, sumber data
oke, bukan berarti masalah selesai, kadang kita masih harus
berhadapan dengan ketidaksetujuan pembimbing; masalah
dengan satu pembimbing selesai, eh pembimbing duanya malah
ga kompak; kalo mereka berdua sudah berhasil diyakinkan, eh
yang bermasalah malah yang ngerjain TA karena tidak
kunjungmendapatkan mood yang bagus untuk memulai; pas
sudah mendapatkan mood yang bagus malah diajak teman pergi
ke mal ☺ dan seterusnya. Dengan segala hambatan yang bersifat
kasat mata seperti diatas, TA, skripsi atau tesis terdengar amat
menakutkan.

Hal yang sama saya juga saya temui ketika ditugaskan mengajar
mata kuliah metodologi penelitian untuk mahasiswa semester 5
semester lalu. Banyak diantara mereka yang telah memiliki judul
dan topik penelitian dan bahkan sudah menulis hingga proposal
selesai (karena memang diharuskan oleh kampus) namun masih
jauh lebih banyak yang belum menemukan judul yang pas untuk
dijadikan penelitian.

Akuntan Muda Halaman 8


Judul penelitian memang bukan hal yang bisa disepelekan. TA,
skripsi hingga tesisi yang tebalnya berpuluh halaman itu dimulai
dari ssebaris kalimat yang bernama judul. Untuk setiap orang
kasusnya berbeda-beda, ada yang dengan mudah
menemukannya, hanya dengan melihat papan nama sebuah
perusahaan atau iklan sebuah produk di televisi, tapi jauh lebih
banyak orang yang tidak berhasil merangkai satu katapun meski
sudah membolak balik puluhan jurnal penelitian, kalau saya
bilang sih, seperti main lotre; ada yang iseng-iseng mencoba
malah menang sementara yang serius bermain malah tidak
pernah sekalipun menang.

Lalu bagaimana bisa memulai menulis TA kalo menemukan topik


penelitian terasa begitu sulit? Hmmmm....kalo menurut Uni
Hesty sih, ada banyak jalan untuk menemukan topik yang bagus
untuk penelitian..

1. Temukan bidang yang diminati

Jika anda adalah mahasiswa akuntansi, ada banyak bidang yang


bisa anda jadikan kajian. Namun sebelumnya, kita harus
mengetahui apakah kita penggemar kajian akuntansi keuangan,
akuntansi manajemen, sektor publik, sia atau pajak?

Akuntan Muda Halaman 9


Menemukan bidang yang diminati merupakan tahap awal yang
penting, karena dengan demikian, kita juga lebih mudah
menemukan dosen mana yang bisa diajak berdiskusi atau
bertukar pikiran tentang bidang tersebut hingga aliran literatur
mana saja yang bisa dijadikan sumber data dan inspirasi. Jika kita
lebih tertarik pada bidang pajak; lalu carilah bagian mana yang
paling menarik perhatian kita: PPh, PPn, PBB atau Bea dan
Cukai?. Jika lebih menyukai akuntansi manajerial, mana yang
lebih menarik perhatian kita: perhitungan biaya, teori-teori
manajerial terbaru, atau strategi pengambilan keputusan?.

2. Temukan masalahnya

Jika kita telah menemukan bahwa bidang kajian yang kita minati
adalah akuntansi manajerial dengan pembahasan khusus
mengenai teori-teori manajerial kontemporer seperti just in time
atau balanced score card, maka langkah berikutnya bisa dimulai
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar dengan
harapan pertanyaan tersebut juga bisa menjadi pertanyaan
penelitian kita yang kemudian bisa ditransformasikan menjadi
sebuah judul. Sebagai contoh, jika JIT diterapkan dengan sukses
di Jepang maka pertanyaan yang bisa kita ajukan adalah :

Akuntan Muda Halaman 10


mengapa JIT bisa sukses di terapkan di sana? karakteristik apa
saja yang diperlukan agar penerapan metode ini bisa dilakukan
dengan sukses? lalu apakah metode yang sama juga bisa
diterapkan diseluruh perusahaan? atau apakah metode yang
sama bisa diterapkan diseluruh negara?. Dengan memberikan
pertanyaan mendasar seperti pertanyaan diatas saja kita sudah
menemukan empat bakal calon judul penelitian lho..

3. Substance over form

Pernah membahas bagian ini kan di mata kuliah teori akuntansi?


Hubungannya apa dengan judul penelitian?. Banyak orang yang
memaksakan diri untuk mendapatkan judul penelitian yang wah
dan keren tapi tidak tahu apa yang harus diteliti; bosan dengan
penelitian yang sifatnya itu-itu saja hingga ingin berinovasi. Tidak
ada yang salah dengan itu semua, namun perlu diperhatikan
bahwa penelitian yang bersifat pionir jauh lebih sulit dibangun
karena ada banyak uji yang harus dilakukan. Pembimbing saya
pernah mengatakan bahwa yang penting dalam sebuah
penelitian adalah kontribusinya bagi ilmu pengetahuan itu
sendiri. Beliau dulu pernah menceritakan tentang pengaruh
warna kertas ujian terhadap hasil ujian mahasiswa di Amerika.

Akuntan Muda Halaman 11


Sama seperti saya, mungkin kalian juga berpikir apa sih yang
istimewa dari penelitian tentang warna kertas?. Ternyata yang
istimewa dari penelitian tersebut adalah periode pelaksanaannya
yang memakan waktu hingga sepuluh tahun sehingga hasilnya
bisa diperbandingkan dari tahun ke tahun. See? Bahkan hal yang
sederhana pun bisa menjadi inspirasi penelitian yang hebat

4. Perbanyak membaca

Dalam sebaran ilmu pengetahuan, membaca adalah sumber


inspirasi. Semakin banyak kita membaca maka akan semakin
banyak inspirasi yang kita dapatkan. Membaca berarti
menambah kekayaan sudut pandang akan satu masalah, baik
dari sudut pandang orang awam ataupun dari sudut pandang
para pakar. Membaca lebih banyak artikel penelitian akan sangat
membantu; yang berbahasa Inggris akan sangat disarankan
karena jangkauannya lebih luas dan besar kemungkinan untuk
bisa diadopsi di Indonesia. Membaca majalah juga disarankan,
tapi bukan sembarang majalah. Sebaiknya majalah yang
berhubungan dengan kajian kita. Beberapa majalah seperti
majalah SWA bahkan seringkali memberikan liputan
komprehensif tentang sebuah topik keuangan. Bagi yang lebih

Akuntan Muda Halaman 12


suka berada di depan layar komputer, ada banyak kemudahan
untuk mendapatkan ide dan inspirasi, ada banyak situs yang
menyediakan layanan artikel penelitian gratis hingga diskusi-
diskusi yang begitu hidup di banyak grup di internet.

5. Jangan segan-segan bertanya pada orang yang


jauh lebih ahli

Orang yg ahli dalam hal ini bisa jadi adalah dosen pengampu
mata kuliah yang menjadi acuan kita, teman yang paling pintar di
kelas atau teman yang paling banyak referensinya. Dengan
bertukar pikiran dan meminta sudut pandang dari beberapa
orang yg ahli dibidangnya, kita (harusnya) mendapatkan
pencerahan yang akan membantu baik berupa kemungkinan
untuk meneruskan penelitian ini, kendala, tantangan hingga
prospek yang dijanjikan. Malu? Takut? Hmm hari gini? Banyak
dosen yang sangat senang berdiskusi dengan mahasiswanya dan
tidak sedikit dosen yang sangat menghargai upaya mahasiswa
untuk bertanya dan meminta pendapatnya untuk suatu kasus
lho. Jika sudah mendapatkan suatu artikel penelitian, perhatikan
bagian limitation atau keterbatasan penelitian serta bagian
suggestion atau saran penelitian. Bagian tersebut bisa menjadi

Akuntan Muda Halaman 13


ide untuk memulai penelitian berikutnya. Jika ada artikel yang
mencantumkan alamat e-mail penulisnya, jangan sungkan untuk
berdiskusi dengan mereka sehingga gambaran yang kita miliki
akan semakin banyak.

6. Jangan pernah menyerah

Menulis untuk TA, skripsi dan thesis merupakan sebuah


perjalanan panjang yang komprehensif. Setiap prosesnya
mengikutsertakan kesabaran dan ketelatenan. Jika kita
bermasalah disatu tahap, bukan berarti dikeseluruhan tahapan
kita akan selalu bermasalah. Dalam melakukan penelitian,
trouble is a friend ☺, Laptop eror, data tidak valid, hasil yang
tidak signifikan? Biasaaaaaaa Dosen ga kooperatif dan sibuk luar
biasa? Biasaaaaaa...hadapi saja dengan senyum..kalo mau nangis
pun boleh lho ...karena yang namanya masalah, fungsinya adalah
menguatkan kita, dan semakin sering kita menghadapinya maka
akan makin biasa. ☺

Mudah-mudahan setelah membaca ini teman-teman yang buntu


otaknya menjadi lancar, yang kehilangan semangat jadi

Akuntan Muda Halaman 14


semangat lagi...Kalo masih belum tercerahkan, silahkan kirim e-
mail ke uni hesty lagi yaaa .

Salam,

Uni Hesty

Akuntan Muda Halaman 15


Sekilas...

Manipulasi
Aktivitas Real
Awal masalah manipulasi
aktivitas real menjadi perhatian
akuntan adalah ketika
diterbitkannya FASB Statement
No. 2, “Accounting for Research
and Development Costs” pada
tahun 1974. SFAS 2 mewajibkan sebagian besar biaya research
and development (R&D) untuk dibiayakan (expensed) alih-alih
dikapitalisasi seperti sebelumnya. Bila dengan cara kapitalisasi,
R&D tidak memiliki pengaruh terhadap laba maka hal ini
berubah 180⁰ dengan berlakunya SFAS 2. Jumlah pengeluaran
R&D akan mampu mempengaruhi jumlah laba dolar-ke-dolar.

Pemberlakuan SFAS 2 ini membawa perubahan besar pada


perilaku manager yang sebelumnya ‘bebas’ menjadi jauh lebih
berhati-hati ketika menjadwalkan pengeluaran R&D, terutama
sekali ketika laba diperkirakan akan turun. Baber et al. (1991),

Akuntan Muda Halaman 16


Bruns dan Merchant, Jr. (1990), serta Perry dan Grinaker (1994)
menunjukkan hasil empiris bahwa manager cenderung akan
menunda sebagian pengeluaran R&D ketika laba aktual (i.e. yang
berasal dari operasi perusahaan) diperkirakan akan turun. Hal ini
mengakibatkan perbedaan laba aktual dan laba
terlapor/reported earnings yang tercantum dalam laporan
keuangan. Sesudahnya kita pun bertanya-tanya, seberapa jauh
kita bisa percaya pada laba terlapor?

Popularitas

Namun demikian, meski isu yang diusung tergolong besar,


manipulasi aktivitas real tidak banyak mendapat perhatian
akuntan pada tahun-tahun berikutnya. Ada beberapa paper yang
muncul (e.g. Bushee 1998) namun, secara umum, isunya sendiri
tidak terlalu terdengar. Isu manipulasi aktivitas real tampaknya
saat itu kalah populer dengan isu manipulasi akuntansi (yang
lebih sering disebut manipulasi laba) dan isu relevansi nilai (value
relevance).

Secara umum, tidak banyak akuntan yang tertarik penelitian


manipulasi aktivitas real. Hal ini mungkin karena manipulasi
aktivitas real ‘tidak terasa akuntansi’, berbeda dengan topik
audit, relevansi nilai, ataupun manipulasi akuntansi/laba. Ini
adalah persepsi yang keliru. Manipulasi aktivitas real sebenarnya
justru ‘sangat akuntansi’ karena ia didorong oleh keberadaan
ukuran-ukuran finansial dan akuntansi yang bersifat jangka
pendek. Hal ini bisa dilihat dari keberadaannya sebagai
pengganti manipulasi akuntansi/laba ketika manipulasi

Akuntan Muda Halaman 17


akuntansi/laba tidak dapat dilakukan karena ada penghalang
tertentu seperti SOX (Cohen et al. 2008).

Alasan lain ketidakpopuleran isu manipulasi aktivitas real salah


satunya mungkin disebabkan oleh ketiadaan alat ukur yang
standar. Setiap peneliti manipulasi aktivitas real membangun alat
ukurnya sendiri-sendiri. Ini berbeda dengan topik relevansi nilai
yang memiliki Model Ohlson atau topik manipulasi
laba/akuntansi yang kebanyakan berlandaskan pada Model
Jones atau variasinya.

Rendahnya perhatian atas isu manipulasi aktivitas real


berlangsung sampai tahun 2005 ketika banyak akademisi
akuntansi dikejutkan oleh hasil penelitian Graham et al. (2005).
Graham et al. (2005) melakukan survey kepada 300 chief
financial officer (CFO) di Amerika Serikat. Mereka menemukan
bahwa 78% responden setuju dengan pilihan menurunkan
pengeluaran diskresioner seperti R&D, pengiklanan,
pemeliharaan, dan lain-lain. Respon kesetujuan ini sangat besar
bila dibandingkan pilihan kedua, yaitu menunda suatu proyek
baru, yang hanya disetujui oleh 55% responden. Sementara itu,
pilihan untuk mengubah asumsi akuntansi terbukti sangat tidak
populer dan hanya disetujui oleh 8% responden. Hasil ini
menunjukkan bahwa masalah manipulasi aktivitas real yang
dihadapi dunia busines sudah mencapai tingkatan sangat
mengkhawatirkan.

Di sini mungkin Anda bertanya-tanya mengapa penundaan


pengeluaran diskresioner menjadi masalah besar. Ada 2 alasan,

Akuntan Muda Halaman 18


pertama penundaan pengeluaran diskresioner bisa mengganggu
bauran program yang telah direncanakan managemen. Bila
bauran program tersebut bersifat strategik dan komprehensif
maka penundaan salah satu bagiannya bisa mengurangi kualitas
hasil yang diharapkan. Alasan kedua adalah karena penundaan
pengeluaran diskresioner, tidak seperti manipulasi akuntansi,
tidak dilakukan semerta-merta begitu managemen mengetahui
bahwa laba mereka tahun ini kurang dari target. Umumnya,
penundaan pengeluaran diskresioner dimulai di kuartal ke-
empat (September-Desember) ketika managemen telah memiliki
perkiraan yang cukup memadai atas laba tahun ini. Hal ini berarti
penundaan pengeluaran diskresioner bisa berumur 3 sampai 1
bulan. Suatu umur yang cukup panjang di era persaingan ketat
seperti sekarang.

Gambaran kerugian penundaan pengeluaran diskresioner


tersebut baru di level mikro (i.e. perusahaan). Penundaan
pengeluaran diskresioner sendiri sebenarnya merupakan bagian
dari satu isu yang lebih besar yaitu dorongan untuk berinvestasi
tidak dalam bidang yang paling meningkatkan nilai (value)
perusahaan. Porter (1992) menjelaskan bahwa sifat dan karakter
ini juga mengejewantah level yang lebih tinggi yaitu dalam
investasi antarperusahaan dan dari pasar modal ke perusahaan.
Kesalahan alokasi investasi inilah yang menyebabkan rendahnya
kemampuan bersaing Amerika dibandingkan German dan Jepang
(Porter 1992).

Akuntan Muda Halaman 19


Model

Tidak lama setelah paper Graham et al. (2005), Roychowdhury


(2006) juga berhasil mempublikasi papernya. Paper
Roychowdhury (2006) melengkapi apa yang selama ini menjadi
kekurangan isu manipulasi aktivitas real: ketiadaan model.
Beberapa paper yang muncul di sekitar waktu yang sama
menggunakan Model Roychowdhury sebagai alat ukurnya. Salah
satunya adalah paper Cohen et al. (2008) yang juga banyak
dikutip.

Pertama-pertama, Roychowdhury (2006) mengembangkan


model deteksi manipulasi aktivitas real-nya. Kemudian, ia
melakukan uji pola laba seperti yang dilakukan Burgstahler dan
Dichev (1997). Di sini, ia menemukan bahwa pola laba di sekitar
kuartil dekat laba 0 konsisten dengan hipotesis bahwa
perusahaan berusaha menghindari melaporkan rugi.

Model Roychowdhury sendiri menggunakan 3 cara untuk


mendeteksi manipulasi aktivitas real yaitu keberadaan kas
abnormal yang terkait dengan peningkatan penjualan, produksi
berlebih (overproduction), dan pengurangan pengeluaran
diskresioner pada periode terkait. Roychowdhury (2006)
menemukan bahwa ketiga cara ini digunakan ketika perusahaan
menghindari melaporkan kerugian. Usaha penghindaran
melaporkan rugi ini dipengaruhi juga oleh jenis industri, stok
sediaan dan utang untuk dimanipulasi, dan keberadaan investor
canggih (sophisticated investors).

Akuntan Muda Halaman 20


Simpulan

Sedikitnya penelitian manipulasi aktivitas real menunjukkan


bahwa akuntan belum sampai pada mengobati penyakit
melainkan hanya mengobati gejala. Idealnya, kita mencari tahu
mengapa produk yang kita hasilkan (i.e. laporan keuangan)
mendorong suatu perilaku yang merugikan (i.e. manipulasi
aktivitas real) dan mencari solusinya. Sementara itu, dari sisi
pragmatis peneliti, manipulasi aktivitas real merupakan bidang
penelitian akuntansi yang belum banyak digali dan, oleh
karenanya, menyediakan peluang riset yang begitu luas. Di
tengah-tengah persaingan penelitian yang makin ketat maka
peluang semacam ini menjadi begitu berharga.

Bersambung...

(Arie Rahayu)

Referensi:

Baber, W. R., P. M. Fairfield, dan J. A. Haggard. 1991. The effect


of concern about reported income on discretionary spending
decisions: The case of research and development. The
Accounting Review 66 (4): 818-829.

Akuntan Muda Halaman 21


Bruns Jr., W. J., dan K. A. Merchant. 1990. The dangerous
morality of managing earnings. Management Accounting
(Agustus) 72 (2): 22-25.
Burgstahler, D., dan I. Dichev. 1997. Earnings management to
avoid earnings decreases and losses. Journal of Accounting
and Economics 24: 99-126.
Bushee, B. J. 1998. The influence of institutional investors on
myopic R&D investment behavior. The Accounting Review 73
(3): 305-333.
Cohen, D. A., A. Dey, dan T. Z. Lys. 2008. Real- and accrual-based
earnings management in the Pre- and Post-Sarbanes-Oxley
periods. The Accounting Review 83 (3): 757-787.
Graham, J. R., C. R. Harvey, dan S. Rajgopal. 2005. The economic
implications of corporate financial reporting. Journal of
Accounting and Economics 40: 3-73.
Perry, Susan, dan Robert Grinaker. 1994. Earnings expectations
and discretionary research and development spending.
Accounting Horizons 8 (4): 43-51.
Porter, M. E. 1992. Capital disadvantage: America’s failing capital
investment system. Harvard Business Review (September-
Oktober): 65-82.
Roychowdhury, S. 2006. Earnings management through real
activities manipulation. Journal of Accounting and Economics
42: 335-370.

Kredit foto:

‘Chess’ oleh romainguy at http://bit.ly/agBwWz

Akuntan Muda Halaman 22


BELAJAR IFRS
MENGETAHUI LEBIH DALAM PERUBAHAN
PSAK NO.16
(REVISI 2007) TENTANG ASET TETAP
(Bagian 2)

Oleh: Yeni Januarsi

Pada edisi pertama Buletin Akuntan Muda, saya telah


memaparkan beberapa point yang terdapat dalam perubahan
PSAK 16 (revisi 2007) yang meliputi istilah aset tetap dan definisi,
pengakuan aset tetap, pengukuran aset tetap, dan pengukuran
setelah pengakuan awal. Pada bagian ke dua ini, beberapa topik
yang bakalan saya paparkan meliputi: pengeluaran setelah
akuisisi, pertukaran aset tetap, dan penurunan nilai aset.

PENGELUARAN SETELAH AKUISISI


Umumnya, ketika aset tetap telah siap digunakan dan telah
melalui beberapa periode penggunaan, ada kemungkinan
perusahaan akan mengeluarkan biaya mulai dari yang jumlahnya
kecil sampai yang jumlahnya besar, atau mulai dari penggantian
hanya lampu mobil, misalnya, sampai dengan harus mengganti

Akuntan Muda Halaman 23


mesin mobil. Masalah penting terkait pengeluaran setelah
akuisisi adalah bagaimana kita mengalokasikan biaya-biaya
yang telah dikeluarkan tadi ke setiap periode waktu. Untuk
mengalokasikannya, kita perlu menentukan apakah pengeluaran
tersebut diperlakukan sebagai kapitalisasi (alias dicatat sebagai
aset) ataukah dibebankan pada periode terjadinya. Jika
pengeluaran dapat dikapitalisasi, maka kita bisa menentukan
pengalokasian biaya-biaya tersebut dengan cara melakukan
depresiasi sesuai sisa periode waktu (tentunya yang telah
direvisi).

Pasti rekan-rekan bertanya, bagaimana kriteria untuk


dapat menentukan apakah biaya yang dikeluarkan setelah
akuisisi itu dikatagorikan sebagai kapitalisasi ataukah dibebankan
pada periode terjadinya???. Untuk menjawabnya, kita bisa buka
PSAK no.16 (revisi 2007) 12 dan 13. Dalam Paragraf 12
dinyatakan bahwa :
“sesuai dengan prinsip pengakuan dalam paragraf
7, entitas tidak boleh mengakui biaya perawatan
sehari-hari aset tetap sebagai bagian dari aset
yang bersangkutan. Biaya-biaya ini diakui dalam
laporan laba rugi saat terjadinya. Biaya
perawatan sehari-hari terutama terdiri atas biaya
tenaga kerja dan bahan habis pakai (consumables)
termasuk didalamnya suku cadang kecil.
Pengeluaran-pengeluaran untuk hal tersebut
sering disebut “biaya pemeliharaan dan
perbaikan”Aset tetap”

Akuntan Muda Halaman 24


Kemudian, dalam Paragraf 13 dinyatakan bahwa :
“Bagian-bagian tertentu aset tetap mungkin perlu
diganti secara periodik...Entitas dapat juga
memperoleh komponen aset tetap tertentu untuk
melakukan penggantian yang tidak terlalu sering
dilakukan...atau melakukan penggantian yang
tidak berulang. Sesuai dengan prinsip pengakuan
dalam paragraf 7, entitas mengakui biaya
penggantian komponen suatu aset dalam jumlah
tercatat aset saat biaya itu terjadi jika pengeluaran
tersebut memenuhi kriteria untuk diakui sebagai
bagian dari aset. Jumlah tercatat komponen yang
diganti tersebut tidak lagi diakui apabila telah
memenuhi ketentuan penghentian pengakuan (lihat
paragraf 69-74)”.

Dari paragraf 12 dapat dilihat bahwa biaya yang dikeluarkan


setelah akuisisi yang merupakan biaya perawatan sehari-hari
dari aset tetap, harus dibebankan pada periode terjadinya
(dilaporkan dalam laporan laba rugi). Jika biaya yang
dikeluarkan dikatagorikan sebagai biaya perawatan sehari-hari,
maka mungkin umumnya biaya ini jumlahnya tidak terlalu besar
dan dari segi frekuensinya, sering dikeluarkan.

Selain itu, jika dikaitkan dengan paragraf 7 PSAK 16 (Revisi


2007) yang menyatakan bahwa biaya perolehan aset tetap
harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika :

Akuntan Muda Halaman 25


(a) besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan
berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas;
dan
(b) biaya perolehan aset dapat diukur secara andal,
maka biaya perawatan yang sehari-hari dikeluarkan mungkin
saja dapat memenuhi kriteria yang kedua tetapi tidak dapat
memenuhi kriteria yang pertama yaitu “besar kemungkinan
manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset
tersebut akan mengalir ke entitas” sehingga karena tidak dapat
memenuhi kriteria pertama maka biaya perawatan sehari-hari
tidak dapat dikapitalisasi.

Kadangkala kita bingung, bagaimana mendefinisikan ada


tidaknya manfaat ekonomis dimasa depan. Kieso et al. (2011)
memberikan kriteria bahwa manfaat ekonomi masa depan
dapat meliputi naiknya:
1. Umur manfaat aset
2. Kuantitas produk yang diproduksi, dan
3. Kualitas produk yang diproduksi.

Dilain situasi, mungkin saja perusahaan mengeluarkan


biaya-biaya untuk mengganti bagian aset atau menambah
bagian aset tetapi penggantian atau penambahan tersebut
tidak sering dilakukan, atau tidak dilakukan secara berulang
maka jika memenuhi apa yang disyaratkan dalam paragraf 7,
pengeluaran tersebut dapat dikapitalisasi ke nilai tercatat aset
tetap yang kemudian dapat disusutkan secara berkala. Misalkan
perusahaan ingin menambah sayap pada bangunan utama

Akuntan Muda Halaman 26


kantor, maka biaya yang dikeluarkan untuk menambah sayap
tersebut dapat dikapitalisasi karena selain aset baru telah
diciptakan, penambahan sayap juga memenuhi kriteria yang
disyaratkan pada paragraf 7.

Contoh lainnya adalah pada kasus penggantian spare part


mesin. Pada kasus ini, biaya yang dikeluarkan untuk mengganti
sparepart mesin dapat dikapitalisasi jika biaya tersebut dapat
diukur secara andal dan jika besar kemungkinan memiliki
manfaat ekonomis di masa depan [dapat mengacu pada kriteria
yang dikemukakan oleh Kieso et. al (2011)]. Jika salah satu
kriteria tersebut tidak dipenuhi, maka penggantian sparepart
mesin harus dibebankan pada periode terjadinya.

PERTUKARAN ASET TETAP


Perusahaan dapat memperoleh aset tetapnya dari hasil
pertukaran dengan aset non-moneter lainnya. Misalkan
memperoleh kendaraan dengan cara menukarkan mesin yang
dimiliki perusahaan. Perbedaan mandasar antara PSAK 16 lama
dengan PSAK 16 baru1 adalah berdasar PSAK no.16 (1994),
pertukatan aset non moneter harus membedakan apakah
pertukaran tersebut antara aset yang sejenis atau aset tidak
sejenis. Namun, dalam PSAK 16 (revisi 2007), aturan tersebut
tidak berlaku lagi. Ketika terjadi pertukaran aset nonmoneter,

1
PSAK 16 lama mengacu pada PSAK 16 (sebelum revisi 2007) dan PSAK 16 baru mengacu
pada PSAK 16 (revisi 2007)

Akuntan Muda Halaman 27


maka yang dipertimbangkan adalah apakah aset yang
ditukarkan itu memiliki kriteria substansi komersial atau tidak.

Masalah yang muncul pada pertukaran aset non moneter


ini adalah bagaimana menentukan harga perolehan aset baru
yang diterima dari transaksi pertukaran. Berdasarkan paragraf 24
PSAK 16 (revisi 2007) pertukaran aset non monemter dengan
aset non moneter lainnya diukur sebesar nilai wajar kecuali :
a. Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial
atau
b. Nilai wajar aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat
diukur secara andal
Jika aset yang diperoleh tidak dapat diukur dengan nilai wajar,
maka biaya perolehannya diukur dengan jumlah tercatat dari
aset yang diserahkan

Biaya perolehan aset tetap dari suatu


pertukaran diukur SEBESAR NILAI WAJAR
kecuali Transaksi pertukaran tidak memiliki
substansi komersial atau Nilai wajar aset yang
diterima dan diserahkan tidak dapat diukur
secara andal.

Jika aset yang diperoleh tidak dapat diukur


dengan nilai wajar, maka BIAYA
PEROLEHANNYA DIUKUR DENGAN JUMLAH
TERCATAT DARI ASET YANG DISERAHKAN

Akuntan Muda Halaman 28


Substansi komersial disini berarti (paragraf 25) :
a. Konfigurasi arus kas / aset yang diterima berbeda
dengan yang diserahkan atau
b. Nilai khusus entitas dari kegiatan op.erasional berubah
akibat pertukaran; dan
c. Selisih a atau b relatif signifikan terhadap nilai wajar dari
aset yang dipertukarkan

Mungkin arti yang


lebih sederhana Suatu transaksi pertukaran
tentang substansi memiliki SUBSTANSI KOMERSIAL
komersial dapat jika aliran kas masa depan
diadopsi dari Kieso et berubah sebagai akibat dari
al. (2011) yang transaksi pertukaran tersebut
menyatakan bahwa
yaitu jika posisi ekonomis kedua
suatu transaksi
belah pihak berubah.
pertukaran memiliki
substansi komersial
jika aliran kas masa depan berubah sebagai akibat dari
transaksi pertukaran tersebut yaitu jika posisi ekonomis kedua
belah pihak berubah. Untuk lebih jelas memahami konsep
substansi komersial dapat disimak contoh berikut. Misalkan PT.
Arya menukar beberapa mesin yang dimilikinya dengan sebidang
tanah yang dimiliki oleh PT. Duta.

Akuntan Muda Halaman 29


Dari transaksi pertukaran ini, nampak bahwa waktu dan jumlah
aliran kas yang dihasilkan oleh tanah berbeda secara signifikan
jika dibandingkan dengan waktu dan jumlah aliran kas yang
dihasilkan oleh mesin. Sebagai akibatnya, PT. Duta dan PT. Arya
berada pada posisi ekonomis yang berbeda.

Contoh diatas terjadi dalam kasus aset non-moneter yang


ditukarkan tidak sama. Ketika aset yang ditukarkan sama (misal
menukar kendaraan dengan kendaraan) timbul pertanyaan
apakah substansi komersial dapat terjadi??? Nah...dalam kasus
pertukaran aset nonmoneter yang sejenis ini, mungkin aja
terjadi perubahan dalam posisi ekonomis perusahaan, sehingga
kriteria substansi komersial terpenuhi. Sebagai contoh dalam
transaksi pertukaran kendaraan A ditukar dengan kendaraan B,
jika kendaraan B memiliki umur ekonomis yang lebih lama
secara signifikan daripada kendaraan A, maka dimungkinkan
sekali aliran kas dari kendaraan B berbeda secara signifikan
dibandingkan aliran kas dari kendaraan A. Dengan demikian
transaksi pertukaran tersebut memiliki substansi komersial.

Pada transaksi pertukaran aset yang sejenis juga dimungkinkan


tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal aliran kas
masuk sehingga jika keadaan ini terwujud maka kedua
perusahaan ada pada kondisi ekonomis yang sama sehingga
subsatansi komersial tidak terjadi. Dalam keadaan ini, maka
biasanya jika terjadi kerugian akan segera diakui tetapi jika
terjadi keuntungan akan ditunda pengakuannya (Kieso et al,
2011). Berikut ini disajikan summary situasi pertukaran aset dan

Akuntan Muda Halaman 30


bagaimana perlakuan akuntansi untuk tiap situasi peertukaran
(Kieso et al, 2011).

Tabel 1
Beberapa situasi peretukaran aset dan perlakuan
akuntansi yang terkait
Perlakuan akuntansi
No Situasi pertukaran
terhadap gain/loss
1 Pertukaran memiliki Laba dan rugi diakui
substansi komersial segera
2 Pertukaran tidak memiliki Menunda pengakuan
substansi komersial-tidak gain; mengakui loses
melibatkan kas dengan segera.
3 Pertukaran tidak memiliki Laba diakui sebagian;
substansi komersial- Rugi diakui
melibatkan kas secepatnya.*
*Jika kas yang diterima 25% atau lebih dari nilai fair value pada saat pertukaran, maka
akui semua laba karena earnings process telah selesai.

PENURUNAN NILAI
Penurunan nilai atau disebut juga impairment mengacu pada
keadaan dimana nilai terpulihkan2 (recoverable amount) lebih
kecil daripada nilai tercatat aset (carrying amount) atau suatu
keadaan dimana nilai tercatat dari aset melebihi jumlah
terpulihkan. Tapi...sebelum memastikan bahwa aset mengalami

2
Istilah nilai terpulihkan dalam tulisan ini dapat disamakan dengan “nilai yang dapat
diperoleh kembali”

Akuntan Muda Halaman 31


penurunan nilai,pihak entitas harus melakukan review ada atau
tidak indikasi penurunan nilai (impairment test). Kalau ada, baru
entitas boleh mengakui adanya impairment.
Jadi, tahap pertama adalah lakukan tes untuk
menentukan ada tidaknya indikasi penurunan nilai. Indikasi
penurunan nilai dapat berupa informasi yang datang dari luar
maupun dalam perusahaan. Informasi yang datangnya dari luar
perusahaan diantaranya adalah:
1. Adanya penurunan signifikan dari nilai pasar
2. Selama periode tertentu telah/akan terjadi perubahan
memburuk dalam hal teknologi, pasar, kondisi ekonomi,
hukum, atau dalam pasar produk atau jasa yang
dihasilkan oleh aset tersebut
3. Selama periode tertentu, suku bunga pasar dari investasi
telah meningkat sehingga akan menurunkan recoverable
amount dari aset secara material
4. Jumlah tercatat aset neto entitas melebihi kapitalisasi
pasarnya.

Sedangkan Informasi yang datangnya dari dalam perusahaan


diantaranya adalah:
 Keusangan/ kerusakan
 Perubahan signifikan dengan cara penggunaan aset
 Kinerja ekonomi aset memburuk

Setelah dilakukan tes tahap pertama, maka entitas akan


mengetahui ada atau tidak indikasi penurunan nilai. Apabila
entitas memiliki indikasi penurunan nilai, maka tahap
selanjutnya adalah entitas harus mengakui adanya impairment
aset dengan mengakui terjadinya impairment loss. Proses

Akuntan Muda Halaman 32


terjadinya impairment digambarkan di Gambar 1 halaman
berikutnya.

Gambar 1
Contoh Terjadinya Impairment

Recoverable amount < carrying


Impairment
terjadi amount
karena

Nilai tertinggi antara : Nilai Nilai asset – akumulasi


pakai vs nilai wajar depresiasi – akumulasi
dikurangi biaya penjualan rugi penurunan nilai

Nilai pakai = Nilai sekarang dari


taksiran arus kas yang diharapkan
akan diterima atas penggunaan
aset dan penghentian penggunaan
aset pada akhir masa manfaatnya

Secara garis besar, tahapan terjadinya impairment dapat


dirangkum sebagai berikut (Kieso et al., 2011):

Akuntan Muda Halaman 33


1. Review kejadian atau keadaaan-keadaan yang
memungkinkan terjadinya impairment
2. Jika hasil review mengindikasikan adanya impairment,
maka lakukan recoverability test (test untuk
menentukan pakah impairment terjadi atau tidak). test
ini dilakukan dengan cara menguji jika jumlah aliran aks
masa depan yang diharapkan dari aset tetep kurang
dari nilai tercatat, maka impairment talah tarjadi.
3. Asumsikan impairment terjadi, maka entitas akan
mengakui adanya impairment loss dimana nilai terbawa
aset melebihi nilai wajar aset. Nilai wajar aset
merupakan nilai pasar atau nilai sekarang dari aliran kas
bersih masa depan yang diharapkan.

Sebagai contoh misalkan PT. Alou memiliki aset dengan nilai


tercatat sebesar Rp600.000. karena adanya perubahan dalam
penggunaan aset tersebut, perusahaan melakukan review
apakah kemungkinan terjadi impairment. Aset memiliki kos
awal sebesar Rp800.000 dan akumulasi depresiasi Rp200.000.
PT. Alou mengekspektasikan future net cash flow
(undiscounted) dari penggunaan aset sebesar Rp650.000. Dari
kondisi ini, maka apakah aset mengalami penurunan nilai
(impairment)?
Asumsikan bahwa entitas telah melakukan review
kejadian atau keadaaan-keadaan yang memungkinkan
terjadinya impairment dan hasil review mengindikasikan adanya
impairment, maka tahap berikutnya adalah melakukan
recoverability test. Dari recoverability test menunjukkan bahwa

Akuntan Muda Halaman 34


ekspektasi future net cash flow dari penggunaan aset sebesar
Rp650.000 dan nilai tercatat sebesar Rp600.000. Dari situasi ini
berarti tidak terjadi impairment karena recovarable amount
(dalam hal ini diwakili oleh nilai ekspektasi future net cash flow)
lebih besar dari pada nilai tercatatnya. Dengan demikian PT.
Alou tidak akan mengakui adanya impairment loss.
Contoh lain untuk menggambarkan adanya impairment
dapat disimak sebagai berikut. Misalkan PT. Rama melakukan
impairment test untuk aset tetapnya. Aset tetapnya memiliki
informasi value in used (nilai pakai) Rp200.000, nilai fair value
dikurangi biaya jual sebesar Rp190.000, dan carrying Amount
sebesar Rp250.000. Dari situasi ini untuk menentukan apakah
terjadi impairment atau tidak, maka PT. Rama harus
membandingkan recoverable amount dengan nilai terbawa.
Impairment terjadi ketika Recoverable amount lebih kecil
daripada carrying Amount.
Recoverable amount dalam kasus ini harus dipilih nilai
terbesar antara 1) nilai fair value dikurangi biaya jual sebesar
Rp190.000; 2) value in used (nilai pakai) Rp200.000. dari kedua
informasi tersebut, maka yang menjadi Recoverable amount
adalah value in used (nilai pakai) sebesar Rp200.000. Nilai
terbawa aset sebesar Rp 250.000, sehingga Recoverable amount
lebih kecil daripada carrying Amount sebesar Rp250.000.000.
dalam kasus ini, maka dapat dikatakan bahwa aset mengalami
penurunan nilai (impairment).

Akuntan Muda Halaman 35


Gambar 2
Contoh Terjadinya Impairment

Recoverable amount < carrying


Impairment amount
terjadi
karena Rp200.000 < Rp.250.000

Nilai tertinggi antara : Nilai asset – akumulasi


Nilai pakai vs nilai wajar depresiasi – akumulasi
dikurangi biaya penjualan rugi penurunan nilai

Nilai tertinggi antara Rp


200.000 vs Rp190.000

Setelah ditentukan bahwa aset mengalami penurunan


nilai, maka konsekuensi dalam catatan akuntansi adalah PT.
Rama harus mengakui adanya impairment loss sebesar selisih
antara carrying Amount dengan recoverable amount-nya.

Akuntan Muda Halaman 36


Impairment Loss = Carrying amount - Recoverable amount
= 250.000 - Rp 200.000
= Rp50.000

Jurnal yang dibuat oleh PT. Rama untuk mengakui adanya


impairment loss:

Loss on Impairment .................... Rp 50.000


Accumulated depreciation ..............Rp50.000

Loss on impairment akan disajikan pada laporan laba rugi


komprehensif pada bagian “other income and expense”.
Perusahaan akan meng-kredit aset (yang terkait) atau
‘akumulasi depresiasi-aset’ untuk mengurangi carrying amount
dari aset untuk kasus impairment.

Akuntan Muda Halaman 37


INTEGRASI PELAPORAN
KEUANGAN DAN NONKEUANGAN

ETIKA DAN PROFITABILITAS


Setiap perusahaan tentunya
memiliki tujuan untuk
mencapai profitabilitas yang
baik. Profitabilitas dapat
ditunjukkan dari angka laba
yang stabil dan meningkat dari tahun ke tahun serta aliran kas
positif yang masuk ke dalam perusahaan. Profitabilitas tercermin
dari informasi keuangan yang disampaikannya kepada publik.
Berbagai skandal akuntansi dan keuangan yang terjadi beberapa
tahun lalu telah berdampak pada krisis ekonomi global.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah seberapa penting


informasi keuangan yang disampaikan oleh perusahaan. Apakah
profitabilitas merupakan satu-satunya tolok ukur yang dapat
dijadikan acuan untuk menilai kinerja perusahaan. Profitabilitas
yang fokus pada nilai-nilai materil telah mengakibatkan sebagian
perusahaan mengabaikan proses yang semestinya harus

Akuntan Muda Halaman 38


dilakukan dalam bisnis. Dari sisi manajemen, profitabilitas
disiasati dengan berbagai cara, mulai dari cara yang legal melalui
pemilihan kebijakan akuntansi yang menguntungkan hingga
melibatkan tindakan fraud yang illegal. Bahkan perusahaan
seringkali mengabaikan etika-etika dalam menjalankan proses
bisnis yang seharusnya dilakukan untuk mencapai profitabilitas.
Fokus pada profitabilitas yang bersifat finansial telah
mengarahkan perusahaan untuk ‘menghalalkan’ berbagai cara
dalam mencapainya. Persaingan pasar yang tidak sehat dan
kerusakan lingkungan merupakan dampak yang ditimbulkan dari
filsafat materialistis dalam mengejar profitabilitas.

Dari sudut pandang bisnis ada sebagian pendapat yang


menyatakan bahwa etika dan bisnis merupakan suatu hal yang
terpisah dan tidak dapat berjalan secara bersamaan. Namun
pandangan ini perlu dikritisi lebih lanjut. Beberapa kesuksesan
yang dialami oleh perusahaan-perusahaan besar semuanya
berawal dari penerapan etika yang baik dalam proses bisnisnya
apakah yang menyangkut proses produksi, perlakuan terhadap
karyawan, pelanggan dan pemasok ataupun pesaing-pesaing
mereka.

Akuntan Muda Halaman 39


Contoh yang dapat dikemukakan adalah Perusahaan Toyota yang
menerapkan etika dalam proses produksi, kepada pelanggan
dan supplier. Matsushita Electronics yang mampu bertahan
hingga lebih dari satu abad karena prinsip etisnya dalam
membangun karyawannya untuk tumbuh dan berkembang
secara bersama-sama, memanusiakan setiap karyawannya dan
peduli terhadap pelanggan. IBM yang peduli pada individu dan
memberikan layanan yang terbaik dan tercepat kepada
pelanggan, dan fokus kepada konsumen untuk membangun
kepercayaan. Honda, Sony, dan Chrysler juga merupakan contoh
perusahaan lainnya yang membangun serta mengembangkan
perusahaannya dengan berdasarkan prinsip-prinsip etika yang
baik dan benar. Dalam jangka pendek, menjalankan bisnis
dengan etika seringkali akan menimbulkan biaya yang tinggi.
Dalam jangka panjang, bisnis yang dilandasi oleh etika dan
proses yang benar akan mampu menjamin keberlanjutan
kegiatan perusahaan.

PELAPORAN INTEGRASIAN: A4S, GRI


DAN IIRC
Informasi-informasi keuangan saat ini tidak lagi menjadi sumber
utama yang dapat memenuhi kepentingan publik. Tuntutan

Akuntan Muda Halaman 40


publik atas penerapan prinsip-prinsip GCG terhadap proses bisnis
yang dijalankan oleh perusahaan semakin meningkat. Angka-
angka keuangan tidak lagi relevan untuk dijadikan sebagai dasar
bagi pengambilan keputusan jangka panjang. Isu mengenai
kerusakan lingkungan, perubahan iklim dan sumber daya alam
yang semakin menipis memiliki pengaruh yang signifikan dalam
proses bisnis perusahaan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa
kegiatan bisnis telah membawa perubahan yang begitu besar
dalam perekonomian, tetapi dampak eksternal yang
ditimbulkannya terhadap lingkungan dan sosial kemasyarakatan
juga besar. Proses bisnis yang dijalankan yang melibatkan
aktivitas yang berhubungan dengan sosial, lingkungan dan tata
kelola semakin dibutuhkan publik untuk menilai kinerja
perusahaan secara menyeluruh dalam jangka panjang. Untuk
memenuhi tuntutan tersebut sebagian perusahaan secara
sukarela telah menyampaikan informasi-informasi non keuangan
tersebut dalam laporan CSR atau sustainabilitas perusahaan.

Ide pelaporan informasi mengenai lingkungan sebenarnya sudah


dituangkan dalam publikasi yang berjudul Handbook of National
Accounting: System for integrated Environmental and Economic
Accounting (SEEA). Publikasi ini pertama kali diterbitkan oleh PBB

Akuntan Muda Halaman 41


pada saat workshop international yang diselenggarakan oleh
United Nation Environment Program (UNEP) dan Bank Dunia
pada tahun 1993. Tujuan dari dipublikasikannya SEEA adalah
untuk menyediakan rerangka penyajian informasi-informasi
sumber daya lingkungan. Dengan adanya informasi tersebut
analisis yang melibatkan keterkaitan antara lingkungan dan dan
dampaknya terhadap ekonomi dapat ditelaah secara lebih
menyeluruh. Setelah melalui diskusi yang panjang yang
melibatkan berbagai lembaga, organisasi dan individu yang
berkepentingan, pada tahun 2003, PBB melakukan resvisi
terhadap SEEA.

Ide mengenai pelaporan informasi publik yang lebih


komprehensif yang melibatkan informasi keuangan dan non-
keuangan (sustainabilitas) kemudian semakin berkembang di
forum-forum intenasional. Integrasi antara pelaporan keuangan
dan sustainabilitas perusahaan menjadi tantangan yang harus
dihadapi oleh profesi akuntansi di masa depan. Ide mengenai
pelaporan publik yang lebih komprehensif telah diwacanakan
sejak tahun 2004 dalam suatu proyek yang didirikan oleh
Pangeran Charles (Prince of Wales). Proyek yang diberi nama
Accounting for Sustainability Project (A4S) ini dijalankan untuk

Akuntan Muda Halaman 42


mengembangkan suatu pendekatan baru dalam pelaporan
akuntansi yang dapat memberikan konsekuensi keputusan
jangka panjang. Pelaporan yang lebih lengkap dan komprehensif
sangat diperlukan bagi pemangku kepantingan dalam
menghadapi tantangan perekonomian global.

Perbedaan utama dari pelaporan keuangan dan non-keuangan


adalah pada ketersediaan standar yang mengaturnya.
Penyampaian informasi-informasi keuangan sudah diatur
sedemikian rupa dengan standar seperti IFRS atau GAAP, yang
diterima oleh masyarakat global. Meningkatnya kepentingan
terhadap informasi non keuangan juga berimplikasi pada
kebutuhan standarisasi atas pelaporan informasi tersebut.
Standarisasi ini diperlukan agar nilai dari informasi yang disajikan
meningkat dan dapat diperbandingkan berdasarkan periode
pelaporan dan entitas pelapor.

Standar pelaporan informasi non keuangan yang ada sekarang ini


belum berlaku secara global seperti halnya IFRS. Standar yang
ada masih berupa inisiatif yang dilakukan oleh GRI. Inisiatif ini
dilakukan oleh the Global Reporting Inisiatif (GRI) sejak tahun
2006. Organisasi nirlaba ini didanai oleh sponsorship dari
lembaga internasional, proyek GCG, pemerintah dan komunitas

Akuntan Muda Halaman 43


internasional lainnya. GRI memiliki visi untuk mempromosikan
pelaporan mengenai ekonomi, lingkungan dan kinerja sosial
sehingga dapat diterima secara luas seperti halnya pelaporan
keuangan dan memberikan kontribusi penting bagi kesuksesan
suatu organisasi. Untuk mencapi visi tersebut, upaya yang
dilakukan oleh GRI adalah dengan menciptakan rerangka
pelaporan sustainabilitas (GRI Sustainability Reporting
Framework).

Rerangka pelaporan ini merupakan panduan yang dapat


digunakan oleh perusahaan dalam mengungkapkan informasi
sustainabilitas mereka kepada publik. Proses pengembangan
rerangka ini telah dilakukan secara sistematik melalui kegiatan
diskusi dan dialog untuk mencapai consensus. Proses yang
dilakukan secara terbuka dan inklusif ini melibatkan berbagai
pemangku kepentingan di lebih dari 60 negara di dunia.
Pemangku kepentingan tersebut meliputi perusahaan, publik,
akademisi, pekerja dan institusi professional.

Ide pelaporan informasi non keuangan berupa informasi


sustainabilitas ini kemudian berkembang menjadi pelaporan
integrasian. Integrasi antara informasi keuangan dan non
keuangan akan memberikan gambaran yang lebih baik kepada

Akuntan Muda Halaman 44


pemangku kepentingan mengenai kinerja suatu perusahaan.
Pada tanggal 11 September 2009, A4S bersama-sama dengan the
GRI menyelenggarakan pertemuan yang dihadiri oleh para
investor, dewan standar, organisasi profesi akuntansi,
perwakilan PBB dan perwakilan publik. Pertemuan ini
menyepakati pentingnya pelaporan integrasian. Pertemuan ini
juga merekomendasikan dibentuknya lembaga internasional
yang berperan dalam mempromosikan pentingnya pelaporan
integrasian.

Untuk mewujudkan ide tersebut, sejak bulan Agustus 2010 telah


dibentuk organisasi internasional yang bertanggung jawab untuk
menciptakan rerangka pelaporan integrasian yang dapat
diterima secara global. Organisasi internasional tersebut adalah
Komite Pelaporan Integrasian Internasional (International
Integrated Reporting Committee, IIRC). Rerangka pelaporan yang
dikembangkan oleh IIRC akan mengintegrasikan informasi
keuangan, lingkungan, sosial dan tata kelola dalam format yang
lebih jelas, konsisten, dan dapat diperbandingkan. Rerangka ini
berperan penting dalam menjawab tantangan global berkaitan
dengan ekonomi global dan sustainabilitas. Secara lebih lengkap,
peran dan fungsi IIRC adalah:

Akuntan Muda Halaman 45


• Meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pelaporan
integrasian sehingga tercapai konsensus bersama diantara
lembaga pemerintahan, otoritas pasar modal, perusahaan,
investor, dewan standar akuntansi dan dewan standar
lainnya dengan cara yang terbaik;

• Mengembangkan rerangka pelaporan integrasian, yang


meliputi ruang lingkup dan komponen-komponen penting
yang terlibat.

• Mengidentifikasikan area prioritas yang memerlukan upaya


dan pengembangan lebih lanjut.

• Mempertimbangkan apakah standar untuk pelaporan


integrasian seharusnya diterapkan sebagai kewajiban
(mandatory) atau bersifat sukarela (voluntary). IIRC juga
memfasilitasi kolaborasi antara dewan standard dan upaya
konvergensi atas standar-standar yang diperlukan dalam
rangka menciptakan pelaporan integrasian;

• Mempromosikan penerapan pelapoan integrasian terhadap


regulator dan penyaji laporan keuangan yang
berkepentingan.

Produk utama yang dikembangkan oleh IIRC yaitu rerangka


pelaporan integrasian bertujuan untuk:

Akuntan Muda Halaman 46


• Mendukung kebutuhan investor jangka panjang dalam
pengambilan keputusan dengan menyediakan informasi-
informasi yang memiliki konsekuensi luas dan jangka
panjang;

• Merefleksikan hubungan antara lingkungan, sosial dan tata


kelola dengan faktor-faktor keuangan dalam pengambilan
keputusan yang berpengaruh terhadap kinerja dan kondisi
dalam jangka panjang. Informasi seperti ini memberikan
ketertautan yang lebih jelas antara nilai-nilai ekonomis dan
sustainabilitas;

• Menyediakan rerangka kerja yang diperlukan untuk faktor


lingkungan dan sosial yang harus diperhitungkan secara
sistematis dalam pelaporan dan pengambilan keputusan;

• Menyeimbangkan pengukuran kinerja dari hal-hal yang


tidak semestinya yang hanya menekankan pada ukuran
jangka pendek;

• Menciptakan pelaporan yang lebih bernilai bagi manajemen


dalam menjalankan kegiatan operasional bisnis sehari-hari.

Pelaporan integrasian disebut juga dengan One Report. Konsep


One report merujuk laporan tunggal yang menggabungkan
antara informasi keuangan dan informasi narasi yang tercantum

Akuntan Muda Halaman 47


di dalam laporan tahunan perusahaan dengan informasi non
keuangan (yang meliputi permasalahan mengenai lingkungan,
sosial dan tata kelola) yang dapat ditemui di dalam Laporan CSR
ataupun Sustainabilitas Perusahaan. Penggabungan ini tidak
hanya berarti membundel kedua laporan tersebut menjadi satu,
tetapi yang lebih penting dari itu, laporan tunggal tersebut dapat
menunjukkan hubungan timbal balik yang terjadi antara
informasi keuangan dan non–keuangan.

Novo Nordic dan United Technology merupakan dua perusahaan


yang telah mengintegrasikan informasi keuangan dan non
keuangan dalam pelaporan tahunannya. Novo Nordic telah
melakukan integrasi kedua informasi dalam pelaporan
tahunannya sejak tahun 2003. Informasi keuangan disusun
berdasarkan IFRS, sementara itu informasi non keuangan
mengacu kepada standar yang dikeluarkan oleh The Global
Reporting Inisiatif (GRI). Selain itu, Novo Nordic juga
menggunakan KAP PWC yang menyediakan jasa assurance atas
informasi non-keuangan yang disampaikan kepada publik. Pada
tahun 2008, United Technology telah mengintegrasikan informasi
keuangan dan non keuangan dalam pelaporan tahunannya.
Laporan tahunan yang disampaikan tersebut memberikan

Akuntan Muda Halaman 48


gambaran yang lebih luas kepada pengguna mengenai hubungan
antara angka-angka keuangan dengan pengukuran non-
keuangan seperti penghematan konsumsi bahan bakar,
penurunan insiden kecelakaan kerja, dan pengurangan emisi
karbon, kebisingan dan nitrogen oxide.

(Arif Perdana)

Kredit foto: Banfff National Park http://bit.ly/gHnQar

Akuntan Muda Halaman 49


Asas Bunyi vs. Asas Eja

Asumsi: Penggunaan bahasa yang baik dan lengkap


lebih disukai daripada penggunaan bahasa yang
setengah-setengah. Ini berarti bila Anda sedang
menggunakan bahasa Indonesia maka gunakanlah
dengan baik dan benar. Sementara itu, bila Anda
lebih menyukai dan memilih menggunakan Bahasa
Inggris maka gunakanlah juga dengan baik dan
benar secara utuh.

Jargon

Ilmu pengetahuan makin lama


makin berkembang. Seiring
dengan perkembangan tersebut,
muncul pula jargon-jargon baru
yang tidak kita kenal
sebelumnya. Jargon merupakan

Akuntan Muda Halaman 50


istilah teknis yang spesifik pada ilmu tertentu. Contoh jargon
dalam bidang akuntansi (dalam Bahasa Inggris-nya) antara lain
audit, financial statements, accrual, dan net income.

Jargon sangat diperlukan agar para pembelajar dalam bidang


terkait dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien. Misalnya
ketika seorang pembelajar akuntansi menyebut 'net income' atau
'laba bersih' maka Anda paham bahwa yang dimaksud (i.e. laba
bersih) adalah suatu angka yang dihasilkan dari perhitungan
tertentu. Anda bisa membayangkan pendapatan (revenues)
dikurang biaya (expenses). Anda tahu bahwa biaya tersebut
terbagi lagi atas kos barang terjual (cost of goods sold) dan biaya
operasi. Anda tahu susunan dan format perhitungan agar sampai
pada angka laba bersih. Anda tahu semua PSAK terkait yang
mendasari perlakuan atas tiap aspek dan hal terkait laba bersih.

Sayangnya, kebanyakan jargon merupakan bahasa asing


terutama Bahasa Inggris. Hal ini wajar karena perkembangan
ilmu banyak terjadi di dunia barat. Masalah bagi kita adalah
kemunculan jargon-jargon ini begitu cepat sehingga tidak banyak
diakomodasi dalam kamus Bahasa Indonesia yang autoritatif.
Kita sendirilah yang harus menentukan bagaimana

Akuntan Muda Halaman 51


mengadaptasinya ke dalam Bahasa Indonesia, terutama bila kita
sedang menulis paper.

Menyerap Kata

Ada beberapa cara untuk mengadaptasi jargon ke dalam Bahasa


Indonesia. Pertama, kita bisa tetap menggunakan versi bahasa
aslinya. Hal ini juga saya lakukan dalam paragraf sebelumnya,
misalnya pada kata revenues, cost of goods sold, dan expenses.
Cara macam ini terutama bermanfaat ketika belum ada padanan
yang disepakati bersama dalam Bahasa Indonesia. Namun
demikian, cara macam ini membawa kesulitan tersendiri ketika
ada banyak jargon dalam tulisan kita. Paper kita akan banyak
memuat italics (huruf bercetak miring). Selain itu, tata bahasa
kita sedikit banyak akan menjadi kacau. Ini terjadi karena Bahasa
Indonesia dan Bahasa Inggris (versi yang banyak digunakan)
memiliki struktur dan tata bahasa yang berbeda. Hal ini
menyebabkan penggunaan versi aslinya kurang disukai dalam
mengadaptasi jargon asing ke dalam Bahasa Indonesia.

Akuntan Muda Halaman 52


Cara kedua adalah dengan mencarikan padanan kata jargon di
dalam Bahasa Indonesia. Misalnya financial statements menjadi
laporan keuangan, download menjadi unduh, dan sebagainya.
Cara ini merupakan cara yang ideal. Sayangnya tidak banyak
padanan yang bisa kita temukan dengan cara seperti ini.

Kelemahan cara pertama dan kedua membawa kita ke cara


ketiga yaitu menyerap kata. Ini merupakan cara yang termudah
mengingat bahan dasarnya (i.e. kata yang hendak diserap) sudah
tersedia untuk diadaptasi. Kita tinggal menentukan asas yang
akan kita gunakan dalam menyerap jargon tersebut.

Ada 2 asas yang bisa kita pilih dalam menyerap kata, yaitu asas
bunyi dan asas eja. Asas bunyi menggunakan pengucapan suatu
kata asing sebagai dasar penyerapannya ke dalam Bahasa
Indonesia. Asas ini cukup populer dalam dunia akuntansi.
Misalnya kata 'manajemen' yang diambil dari Bahasa Inggris,
'management'. Huruf 'j' dalam kata 'manajemen' muncul karena
huruf 'g' dalam kata' management' tidak diucapkan sebagai 'g'
melainkan 'j'.

Sementara itu, asas eja menggunakan bentuk tulis kata asing itu
sendiri sebagai dasar menyerap kata ditambah dengan panduan

Akuntan Muda Halaman 53


Pedoman Umum Pembentukan Istilah atau PUPI (Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan 1988). Kata 'management' akan
diserap menjadi 'managemen'. Huruf 't' dalam kata
'management' dihilangkan sesuai pedoman PUPI yaitu gugus
konsonan akhir -nt berubah menjadi -n ketika diserap ke dalam
Bahasa Indonesia.

Pilih Asas Bunyi atau Asas Eja

Kedua asas ini timbul karena ada perbedaan antara tulisan suatu
kata asing dan pengucapannya (pronounciation). Asas bunyi
mendasarkan penyerapan suatu kata pada pengucapannya
dalam bahasa asli. Sementara asas eja mendasarkan penyerapan
suatu kata pada tulisannya dalam bahasa asli. Tabel di halaman
berikutnya menunjukkan beberapa contoh perbedaan tulisan
dan pengucapan beberapa kata Bahasa Inggris.

Lalu, asas apa yang sebaiknya kita gunakan? Banyak orang


mungkin menyukai menggunakan asas bunyi karena telah
terbiasa dengan bentuk serapan kata-kata tertentu. Namun
demikin, dalam jangka panjang, asas eja lebih menguntungkan

Akuntan Muda Halaman 54


untuk digunakan. Hal ini karena asas eja menjamin hasil serapan
tiap orang akan sama.

Tulisan Pengucapan
Accrual ɘ-'krü-ɘl
Accumulation ɘ-ˌkyü-m(y)ɘ-'lā-shɘn
Discretionary dis-'kre-shɘ-ˌner-ē
Management 'ma-nij-mɘnt
Merger mɘr-jɘr
Myopia mī-'ō-pē-ɘ
Proposition ˌprä-pɘ-'zi-shɘn
Relevance 're-lɘ-vɘn(t)s

Sumber: Merriam-Webster's Collegiate Dictionary, Eleventh


Edition

Jaminan ini muncul karena (i) setiap orang memiliki landasan


penyerapan yang sama dan (ii) setiap orang memiliki panduan
yang sama ketika menyerap kata asing yaitu PUPI. Landasan
penyerapan dalam asas eja adalah bentuk tulisan dari suatu kata
asing dan bentuk tulisan ini akan selalu sama di tiap kamus yang

Akuntan Muda Halaman 55


dirujuk oleh orang yang hendak menyerap suatu kata. Misalnya
kata equity, merger, proposition, Anda buka kamus apapun
bentuk tulisnya akan selalu sama. Sementara itu, PUPI
memberikan panduan yang rinci mengenai bagaimana
seharusnya kita menyerap kata sehingga, bila diikuti dengan
teliti, hasil serapan kita akan sama dengan hasil serapan siapa
saja yang juga menggunakan PUPI. Tabel berikut menunjukkan
beberapa panduan yang ada dalam PUPI.

sc di muka a, o, u dan konsonan menjadi sk


scandium skandium
scotopia skotopia
sc di muka e, t, dan y menjadi s
scenography senografi
scyphystome sifistoma
sch di muka vokal menjadi sk
schema skema
schizophrenia skizofrenia

Sumber: PUPI

Kesamaan hasil bagi siapa saja yang menyerap tersebut tidak


berlaku bila kita menggunakan asas bunyi. Pertama, asas bunyi

Akuntan Muda Halaman 56


tidak memiliki landasan yang sama. Pengucapan suatu kata
dalam Bahasa Inggris, misalnya, akan berbeda menurut daerah
dan dialeknya. Pengucapan kata menurut Bahasa Inggris –
Amerika sedikit-banyak akan berbeda dengan Bahasa Inggris –
Inggris Raya ataupun Bahasa Inggris – Australia. Kedua, asas
bunyi tidak memiliki pedoman khusus dalam menyerap kata.
Semuanya diputuskan secara arbitrari bergantung kepada siapa
penyerapnya. Misal mengapa hanya huruf 'g' yang diubah
mengikuti bunyinya (i.e. menjadi 'j') pada kata 'manajemen'?
Bukankah kita umumnya mengucapkan dua huruf a pertama (i.e.
'mana') sebagai 'e'?

Contoh mandiri: Coba anda serap kata proposition dan


discretionary accrual menggunakan asas eja dan asas bunyi.
Khusus untuk asas bunyi, coba bayangkan juga semua
kemungkinan yang ada.

Manfaat Standarisasi Serapan

Manusia pada dasarnya senang pada hal-hal yang memiliki


struktur dan pola yang serupa. Coba ingat-ingat ketika Facebook

Akuntan Muda Halaman 57


mengubah tampilannya atau ketika Anda harus beralih dari
Office 1997 ke Office 2007? Apakah Anda seketika itu juga
langsung merasa senang? Kebanyakan orang akan langsung
bersuara “lebih bagus tampilan yang dulu”. Sebenarnya yang
sering terjadi hanyalah kita enggan menghadapi sesuatu yang
berbeda dari yang sudah sering kita jumpai. Kita menyukai pola
dan struktur yang serupa.

Hal yang sama terjadi ketika Anda harus belajar sesuatu dan
Anda menggunakan lebih dari 1 literatur berbahasa Indonesia
dengan elemen bahasa yang berbeda-beda (e.g. serapan, istilah).
Anda akan jengah meskipun Anda mungkin tidak menyadarinya.1
Hal ini terjadi karena otak Anda dipaksa untuk menyesuaikan
atas hal-hal yang sifatnya dasar setiap kali Anda berganti
literatur.

Perasaan jengah ini lebih kentara bila Anda baru saja membaca
literatur berbahasa Indonesia (e.g. penelitian akuntansi) setelah
sebelumnya terbiasa membaca literatur berbahasa Inggris (e.g.
buku teks). Satu penyebabnya adalah kemapanan struktur dan
pola Bahasa Inggris dalam bidang akuntansi yang belum dimiliki
Bahasa Indonesia. Misalnya literatur akuntansi berbahasa Inggris

Akuntan Muda Halaman 58


akan selalu menuliskan 'managerial myopia'. Namun Anda akan
menemukan lebih dari satu versi dalam literatur berbahasa
Indonesia, seperti 'miopia managerial', 'managerial myopia', dan
'myopia manajerial'.

Coba bayangkan Anda membaca 2 paper akuntansi dan


menemukan 10 istilah yang diserap secara berbeda. Bayangkan
berapa banyak kemungkinan hasil serapan yang muncul.
Bayangkan juga ketidakkonsistenan cara yang digunakan dalam
menyerap kata. Lalu bagaimana kita bisa (secara bawah sadar)
menemukan pola dan strukturnya?

Berhubung waktu hanya ada 24 jam sehari maka waktu yang kita
gunakan untuk memahami landasan suatu tulisan (i.e. bahasa
dengan struktur dan polanya) akan memakan waktu yang bisa
kita gunakan untuk memahami substansi tulisan. Ini baru
berbicara tentang serapan itu sendiri (per se), belum lagi kalau
membicarakan ketidaktepatan penempatan suatu istilah dalam
kalimat, seperti kekeliruan penempatan adjektif Bahasa Inggris
ke dalam tulisan berbahasa Indonesia. Lebih banyak lagi waktu
yang dibuang untuk tidak bisa nyaman dalam membaca sesuatu.

Akuntan Muda Halaman 59


Akhirnya,

Kalau memang standarisasi penyerapan itu begitu penting, lantas


mengapa tidak banyak yang mendukung? Yah, selamanya yang
namanya hal baru itu akan sulit diterima karena kebanyakan
orang senang dengan apa yang telah menjadi kebiasaan. Namun,
seperti halnya penolakan di awal terhadap tampilan baru
Facebook atau Office 2007 tadi, Anda perlu sedikit membiasakan
diri pada hal baru tersebut agar dapat lebih adil (fair) dalam
membandingkan mana yang lebih baik. Saran saya, bila Anda
masih skeptis, biasakan diri Anda membaca hanya literatur
akuntansi berbahasa Inggris dan kemudian coba baca literatur
berbahasa Indonesia. Anda akan merasakan bedanya.

(Arie Rahayu)

Akuntan Muda Halaman 60