Anda di halaman 1dari 12

Hak asasi merupakan hak mendasar yang dimiliki setiap manusia semenjak dia lahir.

Hak pertama yang kita miliki adalah hak untuk hidup seperti di dalam Undang
Undang No. 39 tahun 1999 pasal 9 ayat (1) tentang hak asasi manusia, “Setiap orang
berhak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf hidupnya”, ayat
(2) “Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera, lahir dan
bathin”, dan ayat (3) “Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan
sehat.”

Seiring berjalannya waktu, hak asasi manusia (HAM) mulai dilindungi oleh setiap
negara. Salah satunya adalah Indonesia, hak asasi manusia (HAM) secara tegas di atur
dalam Undang Undang No. 39 tahun 1999 pasal 2 tentang asas-asas dasar yang
menyatakan “Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi
manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat pada
dan tidak terpisahkan dari manusia, yang harus dilindungi, dihormati, dan ditegakkan
demi peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan
serta keadilan.”

Meskipun di Indonesia telah di atur Undang Undang tentang HAM, masih banyak
pula pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Pelanggaran HAM
yang baru-baru ini sedang marak adalah pelanggaran hak asasi perlindungan anak.
Padahal di dalamnya sudah terdapat Undang Undang yang mengatur di dalamnya,
antara lain Undang Undang No. 4 tahun 1979 diatur tentang kesejahteraan anak,
Undang Undang No. 23 tahun 2002 diatur tentang perlindungan anak, Undang
Undang No. 3 tahun 1997 tentang pengadilan anak, Keputusan Presiden No. 36 tahun
1990 diatur tentang ratifikasi konversi hak anak.

Persoalan mungkin dapat menjadi rumit ketika seorang anak mengalami diskriminasi
berlapis, yaitu seorang anak perempuan. Pertama, karena dia seorang anak dan yang
kedua adalah karena dia seorang perempuan. Di kasus inilah keberadaan anak
perempuan diabaikan sebagai perempuan.

Ada banyak kasus tentang pelanggaran hak atas anak. Misalnya pernikahan dini,
minimnya pendidikan, perdagangan anak, penganiayaan anak dan mempekerjakan
anak di bawah umur. Pernikahan dini banyak terjadi di pedesaan, 46,5% perempuan
menikah sebelum mencapai 18 tahun dan 21,5% menikah sebelum mencapai 16
tahun. Survey terhadap pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Doli, di Surabaya
ditemukan bahwa 25% dari mereka pertama kali bekerja berumur kurang dari 18
tahun (Ruth Rosenberg, 2003).

Contoh kasus paling nyata dan paling segar adalah pernikahan yang dilakukan oleh
Kyai Pujiono Cahyo Widianto atau dikenal dengan Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa
(12 tahun). Di dalam pernikahan itu seharusnya melanggar Undang Undang
perkawinan dan Undang Undang perlindungan anak.

Kasus ini juga ikut membuat Seto Mulyadi, Ketua KOMNAS Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) terjun langsung. Menurutnya perkawinan antara Syekh Puji dengan
Lutfiana Ulfa melanggar tiga Undang Undang sekaligus. Pelanggaran pertama yang
dilakukan Syekh Puji adalah terhadap Undang Undang No. 1 tahun 1974 tentang
perkawinan. Di dalam Undang Undang tersebut disebutkan bahwa perkawinan dengan
anak-anak dilarang. Pelanggaran kedua, dilakukan terhadap Undang Undang No. 23
tahun 2002 tentang perlindungan anak yang melarang persetubuhan dengan anak.

Dan yang terakhir, pelanggaran yang dilakukan terkait dengan Undang Undang No.
13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Setelah menikah, anak itu dipekerjakan dan
itu seharusnya dilarang. Selain itu, seharusnya di umur Lutfiana Ulfa yang sekarang
adalah masa untuk tumbuh dan berkembang, bersosialisasi, belajar, menikmati masa
anak-anak dan bermain.(dari berbagai sumber/sir) (Redaksi/malangpost)

LDKS SMP KRISTEN PETRA 4 SIDOARJO

Tanggal 4-5 September 2009 adalah hari yang telah ditunggu-tunggu oleh seluruh pengurus
OSIS SMP Kristen Petra 4periode Th 2009 – 2010 Sidoarjo karena pada hari itu mereka
akan mengikuti kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa yang diselenggarakan di Pusat
Pelatihan Lingkungan Hidup ( PPLH ) di Trawas, Mojokerto. Kegiatan ini dilakukan
dengan tujuan agar setiap siswa siswi pengurus OSIS dapat menjalankan tugas dan tanggung
jawabnya masing-masing dengan baik. Banyak pengalaman baru yang didapatkan oleh
seluruh pengurus OSIS. Ada yang menyenangkan yaitu ketika akan dilangsungkan kegiatan
jerit malam yang diadakan pada pukul 10 malam , semua peserta LDKS merasa tegang
bahkan ada juga yang menangis karena ketakutan tetapi setelah berhasil melewati kegiatan
ini mereka saling menceritakan pengalamannya masing-masing. Pengalaman yang
menyenangkan ketika semua peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan masing-masing
kelompok

Ada tiga jenis atau tingkatan motivasi seseorang, yaitu:


a. Motivasi pertama yang didasarkan atas ketakutan (fear motivation). Dia
melakukan sesuatu karena takut jika tidak maka sesuatu yang buruk akan terjadi,
misalnya siswa patuh pada gurunya karena takut dikenai sangsi jika melakukan
kesalahan yang akan berakibat nilai akan jelek.
b. Motivasi kedua adalah karena ingin mencapai sesuatu (achievement motivation).
Motivasi ini jauh lebih baik dari motivasi yang pertama, karena sudah ada tujuan di
dalamnya. Siswa mau melakukan sesuatu atau belajar karena dia ingin mencapai
suatu sasaran atau prestasi tertentu.

c. Motivasi yang ketiga adalah motivasi yang didorong oleh kekuatan


dari dalam (inner motivation), yaitu karena didasarkan oleh misi atau
tujuan hidupnya. Seseorang yang telah menemukan misi hidupnya
bekerja berdasarkan nilai (values) yang diyakininya. Nilai-nilai itu bisa
berupa rasa kasih (love) pada sesama atau ingin memiliki makna dalam
menjalani hidupnya. Orang yang memiliki motivasi seperti ini
biasanya memiliki visi yang jauh ke depan. Baginya belajar bukan
sekadar untuk memperoleh sesuatu (uang, harga diri, kebanggaan,
prestasi) tetapi adalah proses belajar dan proses yang harus dilaluinya
untuk mencapai misi hidupnya.
( http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/01/4/man01.ht
ml)

Untuk menjadi manajer pada diri sendiri yang efektif dan dapat memotivasi
untuk mencapai sasaran, maka ada tiga hal yang harus dilakukan.

a. Pertama adalah membangkitkan inner motivation dari seorang siswa


dengan menetapkan berbagi sasaran yang akan dicapai. Motivasi yang
benar akan tumbuh dengan sendirinya ketika seseorang telah dapat
melihat visi yang jauh lebih besar dari sekadar pencapaian target.
Sehingga setiap siswa dalam belajar dengan lebih efektif karena
didorong oleh motivasi dari dalam dirinya.
b. Kedua dan ketiga yang perlu dilakukan oleh seorang efektif adalah
memberikan pujian yang tulus dan teguran yang tepat. Kita dapat
membuat orang lain melakukan sesuatu secara efektif dengan cara
memberikan pujian, dorongan dan kata-kata atau gesture yang positif.
Dapat menempatkan ini sebagai prisip pertama dan kedua dalam
menangani manusia, yaitu:

1). jangan mengkritik, mencerca atau mengeluh, dan

2). berikan penghargaan yang jujur dan tulus.


Manusia pada prinsipnya tidak senang dikritik, dicemooh atau dicerca,
tetapi sangat haus akan pujian dan apresiasi. Tetapi kritik atau teguran yang
tepat seringkali justru diperlukan untuk membangun tim kerja yang kokoh dan
handal. Yang penting dalam menegur orang lain adalah bukan pada apa yang
kita sampaikan tetapi cara menyampaikannya. Teguran yang tepat justru dapat
menjadi motivasi dan menimbulkan reaksi yang positif.
Ketika kebutuhan dasar (to live) seseorang terpenuhi, maka dia akan
membutuhkan hal-hal yang memuaskan jiwanya (to love) seperti kepuasan
kerja, penghargaan, respek, suasana kerja , dan hal-hal yang memuaskan
hasratnya untuk berkembang (to learn), yaitu kesempatan untuk belajar dan
mengembangkan dirinya. Sehingga akhirnya orang belajar atau melakukan
sesuatu karena nilai, ingin memiliki hidup yang bermakna dan dapat
mewariskan sesuatu kepada yang dicintainya (to leave a
legacy).
(http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/01/4/man01.html).

3. Strategi Motivasi Belajar

Pembelajaran hendaknya dapat meningkatkan motivasi intrinsik siswa


sebanyak mungkin. Untuk mencapai kearah itu ada beberapa cara yang dapat
meningkatkan motivasi intrinsik siswa.

a. Membangkitkan minat belajar

Tujuan penting adalah membangkitkan hasrat ingin tahu siswa


mengenai pelajaran yang akan datang, dan karena itu pembelajaran
akan mampu meningkatkan motivasi intrinsik siswa.

b. Mendorong rasa ingin tahu

Membangkitkan hasrat ingin tahu siswa tentang apa yang terjadi, dan
begitu seterusnya.

c. Menggunakan variasi metode penyajian yang menarik

Motivasi intrinsik untuk belajar suatu dapat ditingkatkan melalui


penggunaan materi pembelajaran yang menarik.

d. Membantu siswa dalam merumuskan tujuan belajar

Prinsip dasar motivasi adalah anak akan belajar keras untuk mencapai
tujuan apabila tujuan itu dirumuskan atau ditetapkan oleh dirinya
sendiri, dan bukan oleh orang lain.perasaan memiliki tujuan
pembelajaran itu pada akhirnya akan melahirkan dorongan untuk
memperolehnya.( Anni, 2004: 136-137).

C. BELAJAR

1. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan
manusia. Sadar atau tidak, proses ini sebenarnya telah dilakukan manusia
sejak lahir untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mengembangkan
potensi-potensi yang ada pada dirinya.

Belajar menurut kamus umum bahasa Indonesia berarti berusaha, berlatih


dan sebagainya supaya mendapat kepandaian. Dari pengertian itu dapat
diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan kualitas dan
kuantitas perilaku pada diri seseorang yang ditunjukkan dengan peningkatan
pengetahuan, daya pikir, kecakapan, sikap, kebiasaan dan lain –lain.

Belajar adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan oleh manusia untuk
mendapatkan sesuatu yang belum di mengerti atau yang belum didalami
secara menyeluruh tentang suatu hal. Dengan belajar seseorang akan dapat
mengubah dirinya kearah yang lebih baik, baik dari segi kualitas, maupun
kuantitas pengetahuan yang dimilikinya. Apabila dalam suatu proses belajar
seseorang tidak mengalami peningkatan kualitas maupun kuantitas
kemampuan, maka orang tersebut pada dasarnya belum belajar, atau dengan
kata lain gagal dalam belajar.

Belajar merupakan serangkaian kegiatan aktif siswa dalam membangun


pengertian dan pemahaman. Oleh karena itu dalam proses siswa harus di beri
waktu yang memadai untuk bisa membangun makna dan pemahaman,
sekaligus membangun ketrampilan dari peengetahuan yang diperolehnya.
Artinya, memberikan waktu yang cukup bagi siswa untuk berfikir dalam
menghadapi masalah sehingga siswa dapat membangun gagasannya sendiri
untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Tidak membantu siswa
secara dini, menghormati hasil kerja siswa, dan memberi tantangan kepada
siswa dengan banyak memberi latihan soal merupakan strategi guru untuk
membentuk siswanya menjadi pembelajar seumur hidup. Tanggung jawab
belajar pada dasarnya berada di tangan siswa. Namun demikian bukan berarti
guru tidak mempunyai tanggung jawab apapun. Tanggung jawab guru adalah
menciptakan suasana belajar yang dinamis sehingga siswa terdorong motivasi
belajarnya, sehingga suasana belajar yang kondusif dapat tercipta.

Prinsip belajar di atas sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat yang
harus berlanjut sepanjang hidup. Prinsip-prinsip belajar antara lain :

1. belajar harus mempunyai tujuan yang jelas

Tujuan ini dimaksudkan agar seseorang dapat menentukan arah yang


jelas sehingga tahap-tahap yang harus di tempuh akan tersusun dengan
baik, yang memungkinkan pencapaian hasil yang maksimal

2. proses belajar akan terjadi apabila seseorang dihadapkan pada


situasi yang problematik

Dengan banyaknya problem yang di hadapi akan mendorong siswa


untuk berfikir mencari jalan agar masalahnya dapat terselesaikan.
Semakin besar kualitas dan kuantitas problem yang di hadapi, semakin
luas pula cara siswa berfikir untuk memecahkannya.

3. belajar dengan pemahaman akan lebih bermakna di banding


belajar dengan hafalan

Belajar dengan pemahaman memungkinkan siswa mengetahui konsep


yang diajarkan, sehingga apapun permasalahan yang di hadapi akan
bisa terselesaikan dengan baik. Sedangkan belajar dengan hafalan
hanya cenderung merangsang siswa untuk mengingat apa yang telah
diajarkan kepadanya tanpa mengetahui konsep dasar yang relevan
dengan bahan ajaran yang diterima. Hal ini menyebabkan siswa kurang
terampil dalam menghadapi permasalahan yang lebih kompleks meski
dengan konteks yang sama.

4. belajar secara menyeluruh akan lebih berhasil di banding belajar


secara terbagi

Dengan belajar secara menyeluruh siswa akan lebih mengerti dengan


jelas hubungan-hubungan dari berbagai komponen yang ada dalam
suatu bahan ajaran. Sehingga memungkinkan siswa untuk memperoleh
pemahaman yang lebih mudah dan cepat di bandingkan dengan belajar
bagian demi bagian.

5. belajar memerlukan kemampuan untuk menangkap intisari


pelajaran itu sendiri

Sehubungan dengan pengertian di atas, apa yang di terima siswa dalam


belajarnya mempunyai arti bahwa siswa telah menangkap intisari dari
pelajaran yang disampaikan.

6. belajar merupakan proses kontinu

Belajar merupakan suatu proses, dan proses itu membutuhkan waktu.


Hal ini didasarkan pada keterbatasan kemampuan manusai dalam
menerima sesuatu secara spontan. Oleh karena itu belajar akan
membawa hasil yang maksimal apabila dilakukan secara kontinu
dengan jadwal yang teratur dan materi yang sesuai dengan kebutuhan.

7. proses belajar memerlukan metode yang tepat

Pengguanaan metode yang tepat dalam proses belajar mempunyai arti


yang penting baik bagi siswa maupun guru. Dengan materi yang tepat
akan membangkitkan motivasi belajar dalam diri siswa, sehingga
proses transfer pengetahuan akan lebih cepat dilakukan. Dengan
metode yang tepat pula guru berhasil menjadi fasilitator dari proses
belajar yang terjadi.

8. belajar memerlukan minat dan perhatian siswa


Proses belajar membutuhkan minat dan perhatian siswa untuk dapat
mrnyerap materi yang disampaikan. Tugas seorang gurulah yang harus
membangkitkan minat manusia dalam mengembangkan, menambah
pengetahuan, dan mengikuti perkembangan di segala bidang
kehidupan.

Prinsip ini mengacu pada empat pilar pendidikan yang universal yaitu
belajar mengetahui (learning to know ), belajar yang melakukan (learning to
do ), belajar menjadi diri sendiri (learning to be ), dan belajar hidup dalam
kebersamaan (learning to live together ).

Selain itu prinsip belajar menurut Thorndike dalam Nana Syaodih dan R
Ibrahim (1996 : 17) adalah low of endiness yang berarti belajar memerlukan
kesiapan siswa, low of exercise yang menyatakan bahwa belajar memerlukan
banyak latihan, dan low of effect yang menyatakan belajar akan lebih
bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik.

Belajar akan merubah seseorang, tetapi tidak semua perubahan tingkah laku
di sebut perubahan. Ciri-ciri belajar menurut Max Darsono Alex dan kawan –
kawan (2000:30) adalah :

1. Belajar dilakukan dengan sabar dan memiliki tujuan.


2. Belajar merupakan pengalaman tersendiri.
3. Belajar adalah proses interaksi individu dengan lingkungan.
4. Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan pada diri pelaku.

Belajar merupakan suatu aktifitas mental yang berlangsung dalam interaksi


aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan,
pemahaman, ketrampilan serta sikap. Perubahan ini bersifat relatife konstan
dan berbekas (Winkel, 1996: 53). Dengan demikian belajar merupakan suatu
kegiatan yang tidak dapat terpisahkan dari tata kehidupan manusia. Oleh
karena itu, seseorang dikatakan belajar dapat diasumsikan pada diri orang itu
menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah
laku ( Herman hudoyo, 1988:1). Berhasil tidaknya kegiatan belajar akan
sangat di pngaruhi oleh factor-faktor yang terlibat dalam proses belajar itu
sendiri yaitu peserta didik, pengajar, sarana dan prasarana serta penilaian
(Herman Hudoyo, 1988:6-7).

2. Belajar Efektif

Belajar memang suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun


pengetahuannya, bukan hanya proses pasif yang hanya menerima kucuran
ceramah guru tentang pengetahuan. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu
curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Jika proses belajarnya tidak efektif,
yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses belajar
berlangsung. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak
efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti permainan biasa
(Dinas P dan K Jawa tengah, 2003: 2).
Belajar yang efektif harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Bertanggung jawab atas dirimu sendiri.

Tanggung jawab merupakan tolok ukur sederhana di mana kamu sudah mulai
berusaha menentukan sendiri prioritas, waktu dan sumber-sumber terpercaya
dalam mencapai kesuksesan belajar.

b. Pusatkan dirimu terhadap nilai dan prinsip yang kamu percaya.


Tentukan sendiri mana yang penting bagi dirimu. Jangan biarkan teman atau
orang lain mendikte kamu apa yang penting.
c. Kerjakan dulu mana yang penting.

Kerjakanlah dulu prioritas-prioritas yang telah kamu tentukan sendiri. Jangan


biarkan orang lain atau hal lain memecahkan perhatianmu dari tujuanmu.

d. Anggap dirimu berada dalam situasi "co-opetition" (bukan situasi "win-


win" lagi).

"Co-opetition" merupakan gabungan dari kata "cooperation" (kerja sama) dan


"competition" (persaingan). Jadi, selain sebagai teman yang membantu dalam
belajar bersama dan banyak memberikan masukkan/ide baru dalam
mengerjakan tugas, anggaplah dia sebagai sainganmu juga dalam kelas.
Dengan begini, kamu akan selalu terpacu untuk melakukan yang terbaik (do
your best) di dalam kelas.

e. Pahami orang lain, maka mereka akan memahamimu.

Ketika kamu ingin membicarakan suatu masalah akademis dengan


guru/dosenmu, misalnya mempertanyakan nilai matematika atau meminta
dispensasi tambahan waktu untuk mengumpulkan tugas, tempatkan dirimu
sebagai guru/dosen tersebut. Nah, sekarang coba tanyakan pada dirimu, kira-
kira argumen apa yang paling pas untuk diberikan ketika berada dalam posisi
guru/dosen tersebut.

f. Cari solusi yang lebih baik.

Bila kamu tidak mengerti bahan yang diajarkan pada hari ini, jangan hanya
membaca ulang bahan tersebut. Coba cara lainnya. Misalnya, diskusikan
bahan tersebut dengan guru/dosen pengajar, teman, kelompok belajar atau
dengan pembimbing akademismu. Mereka akan membantumu untuk
mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

g. Tantang dirimu sendiri secara berkesinambungan.

Dengan cara ini, belajar akan terasa mengasyikkan, dan mungkin kamu
mendapat ide-ide yang cemerlang.

Seseorang sudah “Belajar” apabila pada dirinya terjadi ciri-ciri sebagai


berikut:
1. Telah mengalami perubahan dari tidak mengerti menjadi mengerti, tidak
paham menjadi paham, ragu-ragu menjadi mantap, tidak dapat mengerjakan
menjadi dapat mengerjakan.

2. Memiliki keterampilan, yaitu dari kurang terampil menjadi lebih terampil,


dari kurang/tidak cekatan menjadi lebih cekatan.

3. Memperoleh nilai-nilai baru yang positif, misalnya semula bersikap acuh


tak acuh terhadap pelajaran agama menjadi acuh, dulu tidak menghargai orang
lain menjadi menghargai.

Enam Langkah Belajar Efektif Dengan Rumus SQ4R, yaitu:


1. Survey (Meninjau)

Usaha untuk mengetahui garis besar isi dari bacaan serta cara
penyusunan dan penyajiannya secara sepintas lalu.

2. Question (Mengajukan Pertanyaan)

Mengajukan pertanyaan bertujuan untuk menimbulkan rasa ingin tahu.


Orang yang ingin tahu akan berusaha mencari jawabannya.

3. Reading (Membaca)

Bacalah dengan cermat bahan pelajaran satu kali lagi sambil berusaha
untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah
diajukan

4. Recite (Mengingat sambil menyebutkan kembali)

Rahasia yang perlu diketahui dalam menyebutkan kembali ialah


sebutkan dengan menggunakan kata-kata sendiri. Mengingat dan
menyebutkan kembali merupakan langkah yang penting karena dengan
cara ini orang dapat mengenali dan juga mempelajari jawaban.

5. Record (Mencatat)

Tujuan membuat catatan ialah untuk menolong kita mengingat pokok-


pokok yang penting tanpa membaca kembali bahan bacaan itu sendiri.
Catatannya dibutuhkan untuk merangsang ingatan kembali apa yang
kita pelajari.

6. Review (Mengulang Kembali)

Mengulang kembali berarti mengungkapkan kembali apa yang telah


Anda pelajari tanpa melihat catatan. Mengulang bahan pelajaran secara
teratur amat berguna karena mengingatkan kembali pengetahuan yang
telah kita pelajari sebelumnya.
Motivasi merupakan proses internal yang mengaktifkan, memandu, dan
memelihara perilaku sesorang secara terus – menerus.Menggunakan kata
motivasi dengan mengkaitkan belajar untuk menggambarkan proses yang
dapat.

1. memunculkan dan mendorong perilaku,


2. memberikan arahan dan tujuan perilaku,
3. memberikan peluang terhadap perilaku yang sama,
4. mengarahkan pada pilihan perilaku tertentu.

Strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa


antara lain.

1. Membangkitkan minat belajar,


2. Mendorong hasrat ingin tahu,
3. Menggunakan variasi pembelajaran yang menarik,
4. Membantu siswa dalam merumuskan tujuan pembelajaran.

Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru

Guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif,
personaliti, dan sosial.
Oleh karena itu, selain terampil mengajar, seorang guru juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak,
dan dapat
bersosialisasi dengan baik.

Profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang memerlukan prinsip-prinsip
profesional. Mereka harus
(1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, (2) memiliki kualifikasi pendidikan dan latar
belakang pendidikan
yang sesuai dengan bidang tugasnya, (3) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang
tugasnya.

Di samping itu, mereka juga harus (4) mematuhi kode etik profesi, (5) memiliki hak dan kewajiban dalam
melaksanakan
tugas, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya, (7) memiliki
kesempatan untuk
mengembangkan profesinya secara berkelanjutan, (8) memperoleh perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas
profesionalnya, dan (9) memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum (sumber UU tentang Guru
dan Dosen).

Bila kita mencermati prinsip-prinsip profesional di atas, kondisi kerja pada dunia pendidikan di Indonesia
masih memiliki
titik lemah pada hal-hal berikut. (1) Kualifikasi dan latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan
bidang tugas. Di
lapangan banyak di antara guru mengajarkan mata pelajaran yang tidak sesuai dengan kualifikasi
pendidikan dan latar
belakang pendidikan yang dimilikinya.

(2) Tidak memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas. Guru profesional seharusnya
memiliki empat
kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, seorang guru
selain terampil
mengajar, juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik. (3)
Penghasilan tidak
ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.

Sementara ini guru yang berprestasi dan yang tidak berprestasi mendapatkan penghasilan yang sama.
Memang benar
sekarang terdapat program sertifikasi. Namun, program tersebut tidak memberikan peluang kepada
seluruh guru.
Sertifikasi hanya dapat diikuti oleh guru-guru yang ditunjuk kepala sekolah yang notabene akan
berpotensi subjektif.

(4) Kurangnya kesempatan untuk mengembangkan profesi secara berkelanjutan. Banyak guru yang
terjebak pada
rutinitas. Pihak berwenang pun tidak mendorong guru ke arah pengembangan kompetensi diri ataupun
karier. Hal itu
terindikasi dengan minimnya kesempatan beasiswa yang diberikan kepada guru dan tidak adanya
program pencerdasan
guru, misalnya dengan adanya tunjangan buku referensi, pelatihan berkala, dsb.

Profesionalisme dalam pendidikan perlu dimaknai he does his job well. Artinya, guru haruslah orang
yang memiliki insting
pendidik, paling tidak mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus menguasai secara mendalam
minimal satu
bidang keilmuan. Guru harus memiliki sikap integritas profesional. Dengan integritas barulah, sang guru
menjadi teladan
atau role model.

Menyadari banyaknya guru yang belum memenuhi kriteria profesional, guru dan penanggung jawab
pendidikan harus
mengambil langkah. Hal-hal yang dapat dilakukan di antaranya (1) penyelenggaraan pelatihan. Dasar
profesionalisme
adalah kompetensi. Sementara itu, pengembangan kompetensi mutlak harus berkelanjutan. Caranya,
tiada lain dengan
pelatihan.

(2) Pembinaan perilaku kerja. Studi-studi sosiologi sejak zaman Max Weber di awal abad ke-20 dan
penelitian-penelitian
manajemen dua puluh tahun belakangan bermuara pada satu kesimpulan utama bahwa keberhasilan
pada berbagai
wilayah kehidupan ternyata ditentukan oleh perilaku manusia, terutama perilaku kerja.

(3) Penciptaan waktu luang. Waktu luang (leisure time) sudah lama menjadi sebuah bagian proses
pembudayaan. Salah
satu tujuan pendidikan klasik (Yunani-Romawi) adalah menjadikan manusia makin menjadi
"penganggur terhormat",
dalam arti semakin memiliki banyak waktu luang untuk mempertajam intelektualitas (mind) dan
kepribadian (personal).

(4) Peningkatan kesejahteraan. Agar seorang guru bermartabat dan mampu "membangun" manusia
muda dengan penuh
percaya diri, guru harus memiliki kesejahteraan yang cukup.

Oleh Dede Mohamad Riva, S.Pd.

Penulis, guru SMP Negeri 3 Kota Bogor, pemenang II lomba penulisan yang diselenggarakan AGP-
PGRI Jawa Barat
2007/2008

Sumber: http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=9232