Anda di halaman 1dari 3

Squamous Cell Carcinoma

Squamous Cell Carcinoma merupakan suatu keganasan yang sering terjadi pada
rongga mulut dengan presentase 95%. Squamous Cell Carcinoma timbul pada bibir bagian
bawah (40%), lidah (20%), dasar mulut (15%), dan masing-masing 5% pada bibir atas,
palatum, gingival dan daerah tonsil. Mukosa pipi jarang sebagai asal primer squamous cell
carcinoma.1
Squamous cell carcinoma lebih sering didapatkan pada pria dibandingkan wanita. Di
Amerika Serikat sendiri, keganasan ini erat hubungannya dengan pengunyah tembakau.
Merokok, menggunakan pipa, dan minum alcohol juga bisa menjadi penyebab.1 Nama lain
Squamous cell carcinoma antara lain epithelioma sel skuamosa (prickle), karsinoma sel
prickle, karsinoma epidermoid, pavement epithelioma, spinalioma, karsinoma Bowen, dan
cornified epithelioma.2

Gambaran Klinis
Squamous cell carcinoma dimulai dengan bercak indurasi tidak nyeri pada lidah atau
mukosa mulut yang sering mengalami ulserasi membentuk ulkus ganas. Lesinya mudah
dilihat dan diagnosis ditegakkan berdasarkan biopsy. Beberapa kasus squamous cell
carcinoma dengan jumlah pasien yang cukup bermakna, tampak pertama kali dengan
pembesaran kelenjar getah bening leher. Pada kasus yang sangat lanjut, dapat timbul
perlekatan lidah yang mengganggu bicara dan proses menelan.1

Etiologi
Kanker kepala dan leher biasanya disebabkan oleh tembakau dan alkohol, tetapi studi
terbaru menunjukkan bahwa sekitar 25% dari mulut dan 35% dari kanker tenggorokan
disebabkan oleh HPV (human papilloma virus). Untuk 5 year disease free survival rate
kanker HPV positif secara signifikan lebih tinggi bila tepat ditangani dengan operasi, radiasi
dan kemoterapi dibandingkan dengan kanker non-HPV positif, yang dibuktikan dengan
berbagai penelitian termasuk penelitian yang dilakukan oleh Dr Gillison Maureen et. dari
Johns Hopkins Sidney Kimmel Cancer Center. Selain itu pentingnya diet dan gizi di
neoplasia oral telah ditunjukkan dalam beberapa studi epidemiologi. Buah-buahan dan
sayuran (tinggi kadar vitamin A dan C) digambarkan sebagai pelindung di neoplasia oral,
sedangkan daging dan cabai merah bubuk dianggap faktor resiko. Meskipun mikronutrien
individu yang bertanggung jawab belum secara resmi diidentifikasi, sayuran dan buah-
buahan yang melindungi terhadap kanker mulut dan pre-kanker, kaya akan betakaroten,
vitamin C dan vitamin E, dengan sifat anti-oksidan. Kekurangan zat besi, mengakibatkan
atrofi epitel oral dan Plummer-Vinson (Patterson Brown Kelly) sindrom, terkait dengan
saluran pencernaan dan respirasi dan zat besi mungkin memainkan peran protektif dalam
menjaga ketebalan epitel tersebut.3

Patogenesa
Squamous cell carcinoma umumnya terjadi pada usia 40-50 tahun. 4 Lesi yang paling
awal terjadi adalah displasi epitel skuamosa, dengan bentuk yang terberat adalah karsinoma
in situ. Pada stadium ini mungkin dapat atau tidak terlihat bercak penebalan putih
(leukoplakia). Walaupun demikian, kebanyakan lesi bersifat invasi dengan kedalaman
bervariasi saat di diagnosis. Derajat diferensiasinya bervariasi, sebagian besar berdiferensiasi
dengan baik.1
Penyebaran utama karsinoma ini melalui getah bening. Kelenjar getah bening leher
terkena dini. Metastasis melalui pembuluh darah terjadi pada fase lanjut.
Leukoplakia sendiri merupakan istilah untuk lesi yang tampak datar, putih pada
membrane mukosa mulut atau genital. Pada sebagian besar kasus hanya berupa
hyperkeratosis (penebalan lapisan keratin) akibat iritasi kronis. Pada keadaan lain tampak
displasi epitel, dan lesi ini dianggap prekanker. Oleh karena itu, leukoplakia menetap harus
dibiopsi.1

Histopatologi
Secara histopatologi, squamous cell carcinoma terdiri dari massa yang irregular dari
sel-sel epidermis yang berproliferasi dan menginvasi ke dermis. Squamous cell carcinoma
yang berdiferensiasi dengan baik menunjukkan keratinisasi yang cepat dari lapisan squamous
cell. Sel-sel tumor tersusun secara fokal dan konsentris disertai massa keratin, sehingga
terbentuklah mutiara tanduk (horn pearls) yang khas pada squamous cell carcinoma
berdiferensiasi baik.4
Pada squamous cell carcinoma berdiferensiasi buruk menunjukkan keratinisasi yang
terbatas atau kurang sel-sel atipik dengan gambaran mitosis yang abnormal. Tidak dijumpai
interseluler bridge.4

Penatalaksanaan dan Prognosis


Penatalaksanaan squamous cell carcinoma rongga mulut adalah dengan pembedahan
radikal, radioterapi, dan kemoterapi. Keganasan ini sensitif terhadap radioterapi. 1 Baru-baru
ini, manfaat tambahan telah diperoleh dengan radioterapi diubah-fraksinasi (contohnya
fraksinasi dipercepat atau radioterapi hyperfractionated) dan dengan radioterapi
dikombinasikan dengan kemoterapi (kemoradioterapi). Nilai kemoradioterapi diimbangi oleh
toksisitas meningkat dan sering terlalu tinggi, khususnya di antara pasien dengan kondisi
medis berdampingan dan penurunan kinerja status.5 Prognosis tergantung pada stadium
penyakit dan cukup baik bila tidak didapatkan pembesaran kelenjar getah bening.1

Daftar Pustaka
1. Chandrasoma, Parakrama. 2006. Rongga mulut dan kelenjar liur. Dalam: Ringkasan
Patologi Anatomi edisi 2. EGC. Jakarta. h436-437.
2. Rata IGAK. Tumor kulit. Dalam: Ilmu penyakit dan kelamin, edisi ketiga.
Jakarta:FKUI. 199: 207-15
3. Ravi Mehrotra, S Yadav. 2006. Oral squamous cell carcinoma: Etiology,
pathogenesis and prognostic value of genomic alterations.
http://www.indianjcancer.com/article.asp?issn=0019-
509X;year=2006;volume=43;issue=2;spage=60;epage=66;aulast=Mehrotra [31
Januari 2011].
4. Partogi, Donna. 2008. Karsinoma Sel Skuamosa. Departemen Ilmu kesehatan Kulit
dan Kelamin FK USU. Medan.
5. James A. Bonner, M.D., et all. Radiotherapy plus Cetuximab for Squamous-Cell
Carcinoma of the Head and Neck. New England Journal Med 2006; 354:567-578
February 9, 2006