BUK AKU KU SA RENCA PEMB R ANA P BANGUNAN N  JAN A MEN NGKA NENGAH NASIONAL ( MN)  (RPJM TA N 2010 AHUN 0 ‐ 2014 
    Sub Bidang g Perum mahan dan Pe ermukiman                       
Ja akarta 201 10  Direkt torat Perm mukiman d dan Perum mahan  BAPPENAS  B

PENGANTAR

Sebagai upaya menyebarluaskan kebijakan pemerintah terkait perumahan dan permukiman baik di kalangan pemerintah sendiri maupun non-pemerintah, Direktorat Permukiman dan Perumahan berinisiatif untuk memperbanyak materi RPJMN 2010-2014 subbidang perumahan dan permukiman. Kami sengaja menyajikan dalam bentuk buku saku untuk memudahkan pembacanya. Akhir kata, semoga buku saku ini dapat bermanfaat.

Jakarta,

Januari 2010

Budi Hidayat Direktur Permukiman dan Perumahan


 

ii 
 

................ 11 Bab 4 Kebijakan Pembangunan Nasional 2010-2014.....................DAFTAR ISI Pengantar............................ 14 4............................................................................................................................. 18 4.................2 Prioritas Nasional..... 9 3......................1 Arah Kebijakan Umum ....................................................................................... 39 iii    .............4 Sasaran Pembangunan .................................. 33 Bab 1 Kondisi Umum ...............................................3 Arah Kebijakan Bidang-Bidang Pembangunan ......................... 7 Bab 3 Arahan RPJPN 2005-2025 ...........................1 Strategi dan Kebijakan Pembangunan Nasional ...... 3 Bab 2 Kondisi Umum .................................................... 19 4.......1.........................................1 Visi Indonesia .........2 Pencapaian Pembangunan Nasional 2004-2009 ...... 5 2................ 9 3...............................2..... 14 4...... 28 BUKU 2 MEMPERKUAT SINERGI ANTARBIDANG PEMBANGUNAN .......................................... 25 Prioritas 3 Kesehatan ..................................................1.....................3 Tantangan Pembangunan Nasional ............... 18 4................................... 13 4................................................... 13 4.2 Misi Pembangunan ............... 23 Matriks Buku 1 Prioritas Nasional ................................................. i Daftar Isi ...................................2............................. v BUKU 1 PRIORITAS NASIONAL ................. 5 2........................................ 16 4...................... 13 4............................................................................................................................................................................3 Agenda Pembangunan .................................1......................................................... 35 Bab 2 Permasalahan dan Sasaran ..................................... 21 Bab 5 Kerangka Ekonomi Makro 2010-2014 ............................ iii Daftar Singkatan ..................2 Arah Kebijakan Umum Pembangunan Nasional ............................................................2 Arah Pembangunan Jangka Menengah Ke-2 ................................................................................................. 6 2.........................1 Visi dan Misi RPJPN 2005-2025 ............ 25 Prioritas 6 Infrastruktur ............. 1 Bab 1 Pendahuluan.........1 Latar Belakang .........................................1............................

............................. 59 Tabel 2..................................................................................................... 61 Peningkatan Investasi Infrastruktur melalui KPS ....... 39 2............. 58 3................................. 44 2........................................................1 Air Minum .......... 72 Kementerian Perumahan Rakyat ............ 72 Kementerian Pekerjaan Umum ..2.......................................1 Perumahan .....2 Air Limbah.......................... 51 3....................... 80 Tabel 2..................................2 Persampahan .........................2 Permukiman ..............2.2.............................. 46 2................. 57 3.........................................2.............................3 Persampahan .................................. 61 Peningkatan Pelayanan Infrastruktur sesuai SPM .......................................1 Meningkatkan Pelayanan Sarana dan Prasarana sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal .........................................2 Rencana Tindak Prioritas Bidang ............. 42 2...................... 47 Bab 3 Strategi dan Arah Kebijakan ................3 Erata ..................................2......... 53 3............... 71 Rencana Tindak Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 per Kementerian/Lembaga ..........1 Air Minum ......2.........2 Meningkatkan Kerjasama Pemerintah dan Swasta .................................. 42 2........2.....................Inventarisasi Perbedaan RPJMN 2010-2014 iv    .....................4 Drainase ..............

DAFTAR SINGKATAN 3R AMPL-BM APBN BABS BANTEK BINTEK BKP4N BPN CSR DAK DAS DIKLAT IKK IPAL IPLT IPTEK K/L KAB KAPET KEMENPERA KEMENPU KPR KPS LSM MBR MDGs MONEV NKRI NSPK P2KP PDAM PERKIM PERUSDA PHBS PIP2B PKH PNPM Reduce. Standar. Peraturan. Recycle Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Buang Air Besar Sembarangan Bantuan Teknis Bimbingan Teknis Badan Koordinasi Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman Nasional Badan Pertanahan Nasional Corporate Social Responsibility Dana Alokasi Khusus Daerah Aliran Sungai Pendidikan dan Latihan Ibukota Kecamatan Instalasi Pengolahan Air Limbah Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kementerian/Lembaga Kabupaten Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Kementerian Perumahan Rakyat Kementerian Pekerjaan Umum Kredit Pemilikan Rumah Kerjasama Pemerintah Swasta Lembaga Swadaya Masyarakat Masyarakat Berpendapatan Rendah Millennium Development Goals Monitoring dan Evaluasi Negara Kesatuan Republik Indonesia Norma. Reuse. dan Kriteria Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan Perusahaan Daerah Air Minum Perumahan dan Permukiman Perusahaan Daerah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan Program Keluarga Harapan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat v    .

PP PSO PSU RAPBN Renstra K/L RIS-SPAM RISPK RKP Rp RPJM RPJMN RPJPN RPKP RTBL RTH RTRW RUSUNAMI RUSUNAWA SDA SDM SMF SPM SPPIK SSK TPA TPS UU Peraturan Pemerintah Public Service Obligation Prasarana. Sarana dan Utilitas Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Rencana Strategis Kementerian/Lembaga Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum Rencana Induk Sistem Penanggulangan Kebakaran Rencana Kerja Pemerintah Rupiah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Ruang Terbuka Hijau Rencana Tata Ruang Wilayah Rumah Susun Sederhana Milik Rumah Susun Sederhana Sewa Sumber Daya Alam Sumber Daya Manusia Sarana Multigriya Finansial Standar Pelayanan Minimal Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan Strategi Sanitasi Kota Tempat Pemrosesan Akhir Tempat Pemrosesan Sementara Undang-Undang vi    .

BUKU 1 PRIORITAS NASIONAL 1    .

2    .

RPJMN akan dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang akan menjadi pedoman bagi penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Untuk pelaksanaan lebih lanjut. 3    .BAB 1 PENDAHULUAN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 merupakan tahap kedua dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007. RPJMN 2010-2014 ini selanjutnya menjadi pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL) dan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menyusun/ menyesuaikan rencana pembangunan daerahnya masingmasing dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan nasional.

kebijakan umum. dan kerangka ekonomi makro yang merupakan penjabaran dari Visi. DEMOKRATIS. Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dengan visi: “TERWUJUDNYA INDONESIA YANG SEJAHTERA.” memuat rencana pembangunan yang mencakup bidang-bidang kehidupan masyarakat sebagaimana yang tertuang dalam RPJPN 2005—2025 dengan tema: “MEMPERKUAT SINERGI ANTARBIDANG PEMBANGUNAN” dalam rangka mewujudkan visi pembangunan nasional yang tercantum dalam Buku I. memuat rencana pembangunan kewilayahan yang disusun dengan tema: “MEMPERKUAT SINERGI ANTARA PUSAT DAN DAERAH DAN ANTARDAERAH” dalam rangka mewujudkan visi pembangunan nasional yang tercantum dalam Buku I. dan Program Aksi serta sebelas prioritas pembangunan nasional dari Presiden-Wakil Presiden. Buku 2 Buku 3 4    . Misi.RPJMN 2010-2014 disusun dalam tiga buku yang merupakan satu kesatuan yang utuh dengan masing-masing memuat hal-hal sebagai berikut: Buku 1 memuat strategi. DAN BERKEADILAN.

Di masa datang.1 Latar Belakang Penyelenggaraan pembangunan dalam kurun waktu 2004-2009 telah membuahkan hasil yang menggembirakan. tetapi juga akan 5    . tetapi tetap menyisakan tugas ke depan. Energi. alam sudah semakin penuh dan jenuh untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terus akan bertambah dan berkembang. Penduduk dunia masih akan terus bertambah. tetapi tantangan dan ujian dari berbagai aspek tidaklah mudah. dan air akan menjadi komoditas yang makin langka dan berharga yang harus terus diamankan dan dikelola dalam kerangka keharmonisan lingkungan. Kemajuan teknologi dan globalisasi akan memberikan peluang.BAB 2 KONDISI UMUM 2. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara yang lebih maju lagi. pangan.

2. lebih adil. yang dilakukan oleh seluruh masyarakat secara aktif. (ii) terwujudnya masyarakat. kekayaan sumber daya alam. tetapi Indonesia telah mampu membangun ketahanan nasional. bermartabat dan menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab serta hak asasi manusia. bangsa Indonesia telah berhasil menciptakan Indonesia yang lebih aman. yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia. yang didukung sepenuhnya oleh kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. serta reputasi yang baik di mata dunia. prestasi. dan lebih demokratis serta lebih sejahtera. Meskipun demikian. dengan kerja keras semuanya di tengah berbagai tantangan dalam negeri dan internasional yang dihadapi. 6    .2 Pencapaian Pembangunan Nasional 2004-2009 Selama periode 2004-2009. Semua ini dilakukan untuk mencapai cita-cita luhurnya yaitu (i) terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat.menyajikan tantangan dan persoalan bagi sumber daya manusia Indonesia. lebih damai. Selama lima tahun terakhir telah banyak kemajuan yang telah dicapai di dalam mewujudkan tiga agenda pembangunan RPJMN 2004-2009. sumber daya manusia dan budaya bangsa. bangsa dan negara yang demokratis. Indonesia tidak hanya sekedar pulih dari krisis. Bangsa Indonesia tetap bertekad untuk bersama-sama mengatasi permasalahan dan tantangan yang dihadapi serta memanfaatkan semua potensi dan peluang yang ada pada periode 2010-2014. dan (iii) terwujudnya pembangunan yang adil dan merata. berbudaya. melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada keunggulan daya saing.

Keempat. pertumbuhan ekonomi yang tercipta harus dapat memberikan kesempatan kerja seluas-luasnya dan lebih merata ke sektorsektor pembangunan. Selain itu pemerintah juga telah mendorong partisipasi swasta. Kedua. tantangan pembangunan tidaklah semakin ringan. percepatan pertumbuhan ekonomi yang diinginkan adalah pertumbuhan ekonomi yang mengikutsertakan sebanyak mungkin penduduk Indonesia (inclusive growth). keberhasilan proses pembangunan ekonomi tergantung pada kualitas 7    . pertumbuhan ekonomi harus tersebar ke seluruh wilayah Indonesia. terutama daerah-daerah yang masih memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. pertumbuhan ekonomi tidak boleh merusak lingkungan hidup. yang banyak menyediakan lapangan kerja. Kelima. masyarakat. dan pemerintah daerah dalam pelayanan dan penyelenggaraan sarana dan prasarana. pembangunan infrastruktur makin penting jika dilihat dari berbagai dimensi.3 Tantangan Pembangunan Nasional Dalam kurun waktu lima tahun mendatang (2010-2014). sumber pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan harus berasal dari peningkatan produktivitas. untuk mengurangi kesenjangan antardaerah. capaian laju pertumbuhan ekonomi sekitar 6% selama periode 2004-2008 belum cukup untuk mewujudkan tujuan masyarakat Indonesia yang sejahtera. Terdapat beberapa tantangan yang dihadapi untuk mencapai perwujudan masyarakat Indonesia yang sejahtera di tengah persaingan global yang meningkat. untuk mengurangi kesenjangan antarpelaku usaha. Keenam. beberapa infrastruktur yang cukup strategis telah berhasil diselesaikan pembangunannya.Di bidang sarana dan prasarana. 2. Ketiga. Pertama. Kedelapan. Ketujuh.

8    . Kesepuluh.birokrasi. Kesembilan. hukum harus menjadi panglima. dalam sistem yang demokratis. demokrasi telah diputuskan sebagai dasar hidup berbangsa.

maka Visi Pembangunan Nasional tahun 20052025 adalah: INDONESIA YANG MANDIRI. MAJU.1 Visi dan Misi RPJPN 2005-2025 Berdasarkan kondisi bangsa Indonesia saat ini. ADIL DAN MAKMUR 9    .BAB 3 ARAHAN RPJPN 2005-2025 3. dan amanat pembangunan yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing 3. 10    . damai. beretika. dan berkualitas pendidikan yang tinggi. dan berbasiskan kepentingan nasional 8. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia.Penjelasan dari visi tersebut adalah sebagai berikut: Mandiri: Bangsa yang mampu mewujudkan kehidupan sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang telah maju dengan mengandalkan pada kemampuan dan kekuatan sendiri. Masing-masing tahap mempunyai skala prioritas dan strategi pembangunan yang merupakan kesinambungan dari skala prioritas dan strategi pembangunan pada periode-periode sebelumnya. dan bersatu 5. Maju: Suatu bangsa dikatakan makin maju apabila sumber daya manusianya memiliki kepribadian bangsa. kuat. gender. dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila 2. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional. Adil: Berarti tidak ada diskriminasi dalam bentuk apapun. bermoral. Delapan Misi Pembangunan Nasional adalah sebagai berikut: 1. maupun wilayah. baik antarindividu. berbudaya. Makmur: Bangsa yang makmur adalah bangsa yang sudah terpenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Strategi untuk melaksanakan visi dan misi tersebut dijabarkan secara bertahap dalam periode lima tahunan atau RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah). Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan 6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari 7. sehingga dapat memberikan makna dan arti penting bagi bangsa-bangsa lain di dunia. berakhlak mulia. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum 4. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri. maju. Mewujudkan Indonesia aman.

2 Arah Pembangunan Jangka Menengah Ke-2 (2010-2014) Berlandaskan pelaksanaan.1 Pentahapan Pembangunan dalam RPJPN 2005-2025 Sumber : RPJPN 2005‐2025 3.Tahapan skala prioritas utama dan strategi RPJM secara ringkas digambarkan sebagai berikut. pencapaian. RPJM ke-2 ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. Gambar 3. dan sebagai keberlanjutan RPJM ke-1. antara lain meningkatnya pendapatan per kapita. Peningkatan kesejahteraan rakyat ditunjukkan oleh membaiknya berbagai indikator pembangunan sumber daya manusia. menurunnya angka kemiskinan dan tingkat pengangguran sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas disertai dengan 11    .

dipercepatnya pengembangan pusat-pusat pertumbuhan potensial di luar Jawa. industri maritim.berkembangnya lembaga jaminan sosial. tenaga air. khususnya bioenergi. kesejahteraan. meningkatnya kesetaraan gender. antarkelompok masyarakat. 12    . tenaga angin. peningkatan pemanfaatan energi terbarukan. meningkatnya tumbuh kembang optimal. serta pengembangan sumber daya air dan pengembangan perumahan dan permukiman. Peningkatan daya saing perekonomian juga dilakukan melalui penguatan industri manufaktur sejalan dengan penguatan pembangunan pertanian dan peningkatan pembangunan kelautan dan sumber daya alam lainnya sesuai dengan potensi daerah secara terpadu serta meningkatnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kondisi itu didukung oleh pengembangan jaringan infrastruktur transportasi. meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat yang didukung dengan pelaksanaan sistem pendidikan nasional yang mantap. optimal. serta pos dan telematika. wisata bahari. energi dan sumber daya mineral dikembangkan secara sinergi. menurunnya kesenjangan kesejahteraan antarindividu. meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat. serta penataan kelembagaan ekonomi yang mendorong prakarsa masyarakat dalam kegiatan perekonomian. industri kelautan yang meliputi perhubungan laut. terkendalinya jumlah dan laju pertumbuhan penduduk. panas bumi. dan antardaerah. percepatan pembangunan infrastruktur dengan lebih meningkatkan kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha. serta makin mantapnya nilai-nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya dan karakter bangsa. dan perlindungan anak. perikanan. peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan. dan berkelanjutan. dan tenaga surya untuk kelistrikan. Bersamaan dengan itu.

kekayaan sumber daya alam.1. DEMOKRATIS. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat. Tujuan penting ini dikelola melalui kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada keunggulan daya saing.1 Visi Indonesia Kerangka Visi Indonesia 2014 adalah : “TERWUJUDNYA INDONESIA YANG SEJAHTERA. DAN BERKEADILAN” Dengan penjelasan sebagai berikut: Kesejahteraan Rakyat. sumber daya manusia dan budaya bangsa. 13    .BAB 4 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL 2010-2014 4.1 Strategi dan Kebijakan Pembangunan Nasional 4.

Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata.1. aman dan damai. ditetapkan lima agenda utama pembangunan nasional tahun 2009-2014. Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera 2. Misi pemerintah dalam periode 2010-2014 diarahkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera.2 Misi Pembangunan Misi pembangunan 2010-2014 adalah rumusan dari usahausaha yang diperlukan untuk mencapai visi Indonesia 2014. yaitu: 14    . Usahausaha Perwujudan visi Indonesia 2014 akan dijabarkan dalam misi pemerintah tahun 2010-2014 sebagai berikut: 1. bermartabat dan menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab serta hak asasi manusia.1. yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia. Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang 4.3 Agenda Pembangunan Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 20092014. yang dilakukan oleh seluruh masyarakat secara aktif. Keadilan. namun tidak dapat terlepas dari kondisi dan tantangan lingkungan global dan domestik pada kurun waktu 2010-2014 yang mempengaruhinya. yaitu terwujudnya Indonesia Sejahtera. serta meletakkan fondasi yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan demokratis. Demokratis dan Berkeadilan. bangsa dan negara yang demokratis. 4. Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi 3. Terwujudnya masyarakat. berbudaya.Demokrasi.

Agenda 1 : Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Agenda 2 : Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan Agenda 3 : Penegakan Pilar Demokrasi Agenda 4 : Penegakkan Hukum dan Pemberantasan Korupsi Agenda 5 : Pembangunan yang Inklusif dan Berkeadilan Agenda 1 Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Peningkatan kesejahteraan rakyat tetap menjadi prioritas dari pemerintah mendatang. dan percepatan pembangunan infrastruktur dasar. termasuk peningkatan program di bidang pendidikan. penurunan tingkat pengangguran dan perbaikan kualitas hidup rakyat. Wujud dari perbaikan tata kelola pemerintahan ini antara lain dapat dilihat dari penurunan tingkat korupsi. Wujud dari Indonesia 15    . Agenda 2 Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan Perbaikan tata kelola pemerintahan yang baik menjadi isu yang penting dalam konteks nasional dan internasional. Wujud akhir dari perbaikan kesejahteraan akan tercermin pada peningkatan pendapatan. dan pengurangan ekonomi biaya tinggi. kesehatan. dan adil menuntut penegakan pilar-pilar demokrasi yang lebih konsisten. demokratis. Oleh karena itu agenda penegakan pilar demokrasi merupakan agenda yang tetap penting dalam periode 2010-2014. Perbaikan kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan melalui sejumlah program pembangunan untuk penanggulangan kemiskinan dan penciptaan kesempatan kerja. Agenda 3 Penegakan Pilar Demokrasi Transisi dari kehidupan demokrasi masa lalu dengan segala keberhasilan dan kegagalannya menuju Indonesia masa depan yang lebih sejahtera. perbaikan pelayanan publik.

Dalam lima tahun ke depan. Oleh karena itu.4 Sasaran Pembangunan Persoalan dan dimensi pembangunan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia selalu berubah dan makin kompleks. jaminan akan keberagaman yang tercermin dengan adanya perlindungan terhadap segenap warga negara tanpa membedakan paham. Kepastian hukum akan memberikan rasa aman. Wujud dari penegakan hukum adalah munculnya kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia. 4. Agenda 4 Penegakkan Hukum dan Pemberantasan Korupsi Sistem yang demokratis juga harus disertai tegaknya rule of law. dan kepastian berusaha bagi masyarakat. rasa adil. Penyebabnya antara lain proses pembangunan yang tidak partisipatif belum banyak diterapkan sehinga keadilan dan keikutsertaan secara luas belum diterapkan. sedangkan kemampuan dan sumber daya 16    . terjaminnya kebebasan berpendapat. dan gender.yang demokratis adalah penghargaan terhadap hak asasi manusia. Permasalahan dan tuntutan pembangunan yang dihadapi akan bertambah banyak. golongan. Agenda 5 Pembangunan yang Inklusif dan Berkeadilan Peningkatan kualitas pembangunan yang inklusif dan berkeadilan terus menjadi agenda prioritas dalam pemerintahan 2010-2014 mengingat pelaksanaan agenda keadilan sampai saat ini belum mampu mewujudkan sepenuhnya hasil yang diinginkan. asal-usul. adanya checks and balances. penguatan dimensi keadilan dan keikutsertaan akan dilakukan untuk setiap kegiatan atau program pembangunan. agenda penegakan hukum masih merupakan agenda yang penting dalam periode 2010-2014.1. Salah satunya melalui Program Keluarga Harapan (PKH).

antara lain ekonomi. lingkungan hidup. pemerintah bersikap realistis. adil. Sasaran Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sasaran pembangunan ekonomi dan kesejahteraan mencakup berbagai bidang. dengan tidak membuat sasaran-sasaran yang sejak semula disadari tidak bisa dipenuhi. 17    . pelabuhan udara. pangan. infrastruktur. Sasaran di bidang ini juga adalah untuk menjamin setiap lima tahun terselenggaranuya proses pemilu yang memenuhi azas-azas demokrasi yang baik. jalan kereta api. energi. Pembangunan perumahan dan permukiman sendiri tercantum dalam bidang infrastruktur yang memiliki sasaran meneruskan pembangunan dan pasokan infrastruktur yang ditunjukkan oleh meningkatnya kuantitas dan kualitas berbagai prasarana penunjang pembangunan seperti jalan raya. pendidikan. bermutu. air bersih dan sanitasi. seimbang dengan peningkatan kepatuhan terhadap pranata hukum. pelabuhan laut. serta pos dan telekomunikasi. dan mampu menyelenggarakan amanah dan tugas serta tanggung jawabnya secara baik. Pemerintah harus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memenuhi tuntutan yang tidak terbatas dengan membuat pilihan dalam bentuk skala prioritas. irigasi. kesehatan. efektif. yaitu jujur. serta usaha kecil dan menengah. Dalam menentukan pilihan tersebut.pembangunan yang tersedia cenderung terbatas. dan menjamin seluruh warga negara pemilih dapat melaksanakan hak memilihnya secara bebas dan bertanggung jawab. listrik. Sasaran Perkuatan Pembangunan Demokrasi Sasaran penegakan pilar demokrasi adalah membangun dan semakin memantapkan sistem demokrasi di Indonesia yang dapat menghasilkan pemerintahan dan lembaga legistatif yang kredibel.

3. Dengan demikian. dan kesenjangan gender. dan berkeadilan.Sasaran Penegakan Hukum Sasaran reformasi penegakan hukum adalah tercapainya suasana dan kepastian keadilan melalui penegakan hukum (rule of law) dan terjaganya ketertiban umum. demokratis. maka arah kebijakan umum pembangunan nasional 2010-2014 adalah sebagai berikut: 1. pengurangan kesenjangan pembangunan antardaerah (desa-kota). 18    . penghapusan segala macam diskriminasi. pemerintah tetap mengembangkan sektor-sektor pembangunan lainnya secara konsisten. Selain berbagai bidang yang telah disebutkan di atas. Arah kebijakan umum untuk memperkuat pilar-pilar demokrasi dengan penguatan yang bersifat kelembagaan dan mengarah pada tegaknya ketertiban umum. Arah kebijakan umum untuk memperkuat dimensi keadilan dalam semua bidang termasuk pengurangan kesenjangan pendapatan. Arah kebijakan umum untuk melanjutkan pembangunan mencapai Indonesia yang sejahtera. pengakuan dan penerapan hak asasi manusia. pada akhir RPJMN 2010 -2014 Indonesia berhasil mencapai berbagai sasaran pembangunan nasional untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera. terkoordinasi dan terintegrasi. 4.2. 2. serta kebebasan yang bertanggungjawab.2 Arah Kebijakan Umum Pembangunan Nasional 4.1 Arah Kebijakan Umum Mengacu pada permasalahan dan tantangan yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia baik dewasa ini maupun dalam lima tahun mendatang.

4.7 tahun pada 2009 menjadi 72. melalui peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan di antaranya dengan perluasan penyediaan air bersih. Sebagian besar sumber daya dan kebijakan akan diprioritaskan untuk menjamin implementasi dari 11 prioritas nasional yaitu: (1) reformasi birokrasi dan tata kelola. dan pencapaian keseluruhan sasaran Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015. (9) lingkungan hidup dan bencana. tidak hanya kuratif. terluar. serta (11) kebudayaan. Substansi inti yang terkait pembangunan perumahan dan permukiman adalah substansi inti ke-1: 19    . (4) penanggulangan kemiskinan. dan paskakonflik. (5) ketahanan pangan.2 Prioritas Nasional Visi dan Misi pemerintah 2009-2014. terdepan. Pembangunan subbidang perumahan dan permukiman tercantum dalam prioritas 3 dan prioritas 6 dengan penjabaran sebagai berikut: Prioritas 3 : Kesehatan Penitikberatan pembangunan bidang kesehatan melalui pendekatan preventif. (8) energi. (2) pendidikan. Sebelas Prioritas Nasional di bawah ini bertujuan untuk sejumlah tantangan yang dihadapi oleh bangsa dan negara di masa mendatang. (6) infrastruktur. pengurangan wilayah kumuh sehingga secara keseluruhan dapat meningkatkan angka harapan hidup dari 70. (7) iklim investasi dan usaha. (3) kesehatan.0 tahun pada 2014. kreativitas. (10) daerah tertinggal. perlu dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional ke dalam sejumlah program prioritas sehingga lebih mudah diimplementasikan dan diukur tingkat keberhasilannya. dan inovasi teknologi.2.

serta tingkat kematian bayi dari 34 per 1.” Prioritas 3 merupakan bagian dari upaya untuk penguatan infrastruktur sosial.“Program kesehatan masyarakat: Pelaksanaan Program Kesehatan Preventif Terpadu yang meliputi pemberian imunisasi dasar kepada 90% balita pada 2014. 180 Rusunami dan 650 twin block berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836. 20    . di bidang perekonomian. Penurunan tingkat kematian ibu saat melahirkan dari 307 per 100. upaya untuk mewujudkan Visi dan Misi Pembangunan Nasional juga dilakukan melalui pencapaian prioritas nasional lainnya di bidang politik.” Prioritas 6 : Infrastruktur Pembangunan infrastruktur nasional yang memiliki daya dukung dan daya gerak terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkeadilan dan mengutamakan kepentingan masyarakat umum di seluruh bagian negara kepulauan Republik Indonesia dengan mendorong partisipasi masyarakat.000 Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi.000 keluarga yang kurang mampu pada 2012. Penyediaan akses sumber air bersih yang menjangkau 67% penduduk dan akses terhadap sanitasi dasar berkualitas yang menjangkau 75% penduduk sebelum 2014. dan keamanan.000 kelahiran pada 2008 menjadi 24 pada 2014. sedangkan prioritas 6 merupakan bagian dari upaya untuk percepatan pembangunan infrastruktur fisik. Substansi inti yang terkait pembangunan perumahan dan permukiman adalah substansi inti ke-4: “Perumahan rakyat: Pembangunan 685. hukum. Selain sebelas prioritas yang telah disebutkan. dan di bidang kesejahteraan rakyat.000 kelahiran pada 2008 menjadi 118 pada 2014.

4. Bidang Wilayah dan Tata Ruang 9. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 4.3 Arah Kebijakan Bidang-Bidang Pembangunan Pembangunan Nasional dilakukan secara menyeluruh di berbagai bidang kehidupan masyarakat. Bidang Politik 6. perencanaan pembangunan nasional dikelompokkan ke dalam 9 (sembilan) bidang pembangunan menurut Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025. Bidang Hukum dan Aparatur 8. Bidang Pertahanan dan Keamanan 7. Arah dan kebijakan masingmasing bidang pembangunan tersebut diuraikan dalam Buku II. Bidang Ekonomi 3. yaitu: 1. Bidang Sarana dan Prasarana 5. Untuk itu. Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Pembangunan perumahan dan permukiman tercantum dalam bidang sarana dan prasarana. Bidang Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama 2. 21    .

22    .

Dana Alokasi Khusus Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. berdasarkan berbagai langkah kebijakan yang telah dituangkan dalam lima agenda pembangunan dan pembiayaan pembangunannya. 23    .BAB 5 KERANGKA EKONOMI MAKRO 2010-2014 Kerangka ekonomi makro memberikan gambaran mengenai kemajuan ekonomi yang akan dicapai dalam tahun 2010-2014.

ketahanan pangan. dan kewilayahan (daerah tertinggal. kriteria khusus. terluar. k) Keluarga Berencana. Kriteria tersebut disempurnakan sejalan dengan revisi UU No. Bidang DAK ditentukan berdasarkan identifikasi kebutuhan DAK untuk mendukung pencapaian prioritas nasional. Khusus tahun 2010. c) Infrastruktur Jalan. i) Pertanian. keluarga berencana. lingkungan hidup. Dalam RPJMN 2010-2014 bidang-bidang yang didanai DAK adalah: 1. terdepan. dalam RPJMN 2010-2014 bidang-bidang yang layak dipertimbangkan untuk didanai DAK meliputi antara lain: pelayanan dasar publik yang bersifat wajib seperti pendidikan dasar. 24    . e) Infrastruktur Air Minum. logistik nasional. 33 Tahun 2004.Alokasi DAK ke daerah ditentukan berdasarkan kriteria alokasi yang ditetapkan dalam undang-undang. bidang DAK telah ditetapkan meliputi: a) Pendidikan. dan n) Sarana Perdagangan. l) Kehutanan. Menurut UU No. h) Kelautan dan Perikanan. infrastruktur dasar. g) Prasarana Pemerintahan Daerah. dan pasca konflik). 33 Tahun 2004. j) Lingkungan Hidup. d) Infrastruktur Irigasi. kriteria tersebut terdiri dari kriteria umum. b) Kesehatan. Sehubungan dengan itu. m) Sarana dan Prasarana Perdesaan. kesehatan dasar. dan kriteria teknis. f) Infrastruktur Sanitasi. 2. Pada tahun-tahun selanjutnya bidang kegiatan yang didanai DAK akan ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun anggaran bersangkutan.

MATRIKS BUKU 1 PRIORITAS NASIONAL                              25    PRIORITAS 3 TEMA PRIORITAS PROGRAM AKSI DI BIDANG KESEHATAN Penitikberatan pembangunan bidang kesehatan melalui pendekatan preventif. tidak hanya kuratif.7 tahun pada tahun 2009 menjadi 72.0 tahun pada tahun 2014. melalui peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan diantaranya dengan perluasan penyediaan air bersih. pengurangan wilayah kumuh sehingga secara keseluruhan dapat meningkatkan angka harapan hidup dari 70. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat PENANGGUNGJAWAB BEKERJASAMA DENGAN . dan pencapaian keseluruhan sasaran Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015 Menteri Kesehatan Menteri Pekerjaan Umum.

serta Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Pengaturan.472 desa 179 kawasan dan 1.063 kawasan dan 4.Matriks Target Kegiatan Prioritas SUBSTANSI INTI/ KEGIATAN PRIORITAS TARGET SASARAN INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 K/L No KESEHATAN MASYARAKAT: Pelaksanaan upaya kesehatan preventif terpadu yang meliputi: penurunan tingkat kematian ibu saat melahirkan dari 228 (2007) menjadi 118 per 100. persampahan. serta Pengelolaan Pengembangan Infrastruktur Sanitasi dan Persampahan 1. PU ------26    . Pengembangan Sumber Pembiayaan dan Pola Investasi. Pengembangan Sumber Pembiayaan dan Pola Investasi. Pengawasan. Pembinaan. dan drainase) 94 107 122 137 138 Kemen.165 desa 195 kawasan dan 500 desa 247 kawasan dan 1. Pengawasan.000 desa 263 kawasan dan 700 desa Kemen. Pembinaan. PU 2 387 Kawasan Jumlah kawasan dan desa yang terfasilitasi pembangunan sanitasi (air limbah. pemberian imunisasi dasar kepada 90% bayi pada tahun 2014.000 kelahiran hidup (2014).650 desa Jumlah kawasan dan desa yang terfasilitasi pembangunan air minum 159 kawasan dan 1. penurunan tingkat kematian bayi dari 34 (2007) menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup (2014). penyediaan akses sumber air bersih yang menjangkau 67% penduduk dan akses terhadap sanitasi dasar berkualitas yang menjangkau 75% penduduk sebelum tahun 2014 1 Pengaturan.

650 desa 793.845. Pengawasan. pemberian imunisasi dasar kepada 90% bayi pada tahun 2014.900.445.577.063 kawasan dan 4.7 2.595.6 2.0 1.0 2.000 kelahiran hidup (2014).5 10. Pengembangan Sumber Pembiayaan dan Pola Investasi.0 2.0   ‐‐‐‐‐‐‐ 27    .301.0 2.678. penyediaan akses sumber air bersih yang menjangkau 67% penduduk dan akses terhadap sanitasi dasar berkualitas yang menjangkau 75% penduduk sebelum tahun 2014 1 Pengaturan.0 9.088.2 2.0 2 387 Kawasan 1. Pembinaan. Pembinaan. penurunan tingkat kematian bayi dari 34 (2007) menjadi 24 per 1. Pengembangan Sumber Pembiayaan dan Pola Investasi.328.000 kelahiran hidup (2014). serta Pengelolaan Pengembangan Infrastruktur Sanitasi dan Persampahan 1. serta Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Pengaturan.577.0 2.361. Pengawasan.Matriks Pagu Indikatif SUBSTANSI INTI/ KEGIATAN PRIORITAS INDIKASI PAGU (RP. MILIAR) SASARAN 2010 2011 2012 2013 2014 TOTAL No KESEHATAN MASYARAKAT: Pelaksanaan upaya kesehatan preventif terpadu yang meliputi: penurunan tingkat kematian ibu saat melahirkan dari 228 (2007) menjadi 118 per 100.

PRIORITAS 6 TEMA PRIORITAS PROGRAM AKSI DI BIDANG INFRASTRUKTUR Pembangunan infrastruktur nasional yang memiliki daya dukung dan daya gerak terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkeadilan dan mengutamakan kepentingan masyarakat umum di seluruh bagian negara kepulauan Republik Indonesia dengan mendorong partisipasi masyarakat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Menteri Pekerjaan Umum. Menteri Perhubungan. Menteri Pertanian. Kepala Badan Pertanahan Nasional. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal                 PENANGGUNGJAWAB BEKERJASAMA DENGAN 28    . Menteri Kehutanan. Menteri Dalam Negeri. Menteri Komunikasi dan Informatika. Menteri Negara Perumahan Rakyat.

dan utilitas kawasan perumahan dan permukiman 380 twin block 26.458 Kemen.000 unit 21.960 7. Pembinaan.000 keluarga yang kurang mampu pada 2012 1 Pembangunan rumah susun sederhana sewa Pengaturan.000 310.616 186. dan utilitas kawasan perumahan dan permukiman Jumlah bantuan subsidi perumahan 100 100 180 0 0 Kemenpera 2 3.200 3. sarana.010 145. sarana.000 25.700 unit Jumlah rusunawa terbangun Jumlah satuan unit hunian rumah susun yang terbangun dan infrastruktur pendukungnya Jumlah fasilitasi dan stimulasi prasarana.000 Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi. PU 3 700. Pengawasan dan Penyelenggaraan dalam Pengembangan Permukiman Fasilitasi pembangunan prasarana.000 Kemenpera 29    .000 290.000 unit 90.374 117. 180 Rusunami dan 650 twin block berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836.Matriks Target Kegiatan Prioritas SUBSTANSI INTI/ KEGIATAN PRIORITAS TARGET SASARAN INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 K/L No PERUMAHAN RAKYAT: Pembangunan 685.350.041 7.000 290.000 161.000 Kemenpera 4 Bantuan subsidi perumahan Tahun 2010 .2014 1.041 5.

000 85.000 Kemenpera ------- 30    .000 unit 50.000 100.000 unit Jumlah bantuan subsidi perumahan Jumlah fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru perumahan swadaya Jumlah fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas perumahan swadaya 187.No SUBSTANSI INTI/ KEGIATAN PRIORITAS TARGET SASARAN INDIKATOR 2010 187.000 25.000 75.000 30.006 unit 200.006 2011 2012 2013 2014 Kemenpera K/L 5 Pembayaran Tunggakan Subsidi Tahun 2008 .000 90.2009 Fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru perumahan swadaya 6 30.000 50.000 Kemenpera 7 Fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas perumahan swadaya 400.000 65.

10 1.162.240.00 4 1.160.00 4.31 906.000 keluarga yang kurang mampu pada 2012 1 Pembangunan rumah susun sederhana sewa Pengaturan.000 unit 564.00 2 300.330.375.84 731.00 400.006 unit 3.Matriks Pagu Indikatif SUBSTANSI INTI/ KEGIATAN PRIORITAS INDIKASI PAGU (RP.2014 Pembayaran Tunggakan Subsidi Tahun 2008 .00 1.700 unit 1.840.00 900.00 20.350. MILIAR) SASARAN 2010 2011 2012 2013 2014 TOTAL No PERUMAHAN RAKYAT: Pembangunan 685.000 unit 187.740. Pembinaan.200.00 4.2009 380 twin block 26.010.00 200.00 1.00 2.440.700.51 31    . dan utilitas kawasan perumahan dan permukiman Bantuan subsidi perumahan Tahun 2010 . sarana.530.50 4.51 - - - - 923. Pengawasan dan Penyelenggaraan dalam Pengembangan Permukiman Fasilitasi pembangunan prasarana.560.000 Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi.00 3 700.00 3.25 1.440.00 4.00 3.200.00 5 923.00 4. 180 Rusunami dan 650 twin block berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836.

00 2014 300.145.00 510. MILIAR) SASARAN 2010 200.00 540.000 unit 250.00 TOTAL 2.00   ‐‐‐‐‐‐‐  32    .No SUBSTANSI INTI/ KEGIATAN PRIORITAS INDIKASI PAGU (RP.00 6 Fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru perumahan swadaya Fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas perumahan swadaya 7 400.00 625.00 2011 500.00 375.00 2012 715.00 700.000 unit 300.00 2013 330.

BUKU 2 MEMPERKUAT SINERGI ANTARBIDANG PEMBANGUNAN Bidang Sarana dan Prasarana Subbidang Perumahan dan Permukiman 33    .

34    .

pemerintah telah memfasilitasi penyediaan perumahan bagi masyarakat berpendapatan rendah serta memberikan dukungan penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman.037 35    . persampahan dan drainase.716 Fasilitasi Pembangunan/Perbaikan Rumah Swadaya 3.BAB 1 KONDISI UMUM Dalam rangka pemenuhan hak dasar untuk tempat tinggal dan lingkungan yang layak sesuai dengan UUD 1945 Pasal 28H. air limbah.659.709 Fasilitasi Pembangunan Rusunami 6.580 Pembangunan Rusunawa 37. Tabel Pembangunan Perumahan Tahun 2005-2009 Jumlah Pembangunan Perumahan (unit) Pembangunan Rumah Baru Layak Huni 1.331. seperti air minum.

berdasarkan kondisi bangunan tempat tinggal. sisanya 21.94 persen pada tahun 2007. pada tahun 2007 terdapat 78. kondisi sedang 43. pemerintah telah membentuk PT.25 persen. Selain itu.8 persen. Sebagai pendukung. rumah tangga yang menempati rumah milik sendiri dan telah didukung oleh bukti hukum tanah berupa sertifikat bank dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).94 persen.29 persen.78 persen menempati rumah bukan milik sendiri seperti kontrak. masih terdapat permukiman kumuh seluas 57.22 persen rumah tangga yang menempati rumah milik sendiri.87 persen.49 persen pada tahun 2004 menjadi 77.28 persen. ditinjau dari aspek kepastian jaminan bermukim.Berdasarkan status penguasaan tempat tinggal. Berdasarkan kualitas fisik bangunan. kondisi rusak 9.800 ha pada akhir tahun 2009. Sementara itu. pada tahun 2007 proporsi rumah tangga yang menempati rumah berlantai bukan tanah mencapai 86.94 persen. Sekalipun telah dilakukan berbagai upaya peningkatan kualitas lingkungan permukiman. SMF) berdasarkan PP Nomor 36    . Sarana Multigriya Finansial (PT. sewa. rumah tangga yang menempati rumah dengan kondisi baik mencapai 45. dan kondisi rusak berat 0. dan berdinding permanen sebesar 87.6 persen. Proporsi rumah tangga yang menempati rumah bukan milik sendiri di perkotaan mencapai 32. maupun akta jual beli mengalami peningkatan dari 74.98 persen jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan yang sebesar 13. Upaya pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan sumber pembiayaan perumahan dilakukan. dan rumah orang tua. girik. melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2005 yang direvisi dengan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pembiayaan Sekunder Perumahan yang mendukung dan memfasilitasi operasionalisasi pasar sekunder pembiayaan perumahan. antara lain. beratap bukan daun sebanyak 98.

Peningkatan kualitas perencanaan dilakukan melalui fasilitasi pemerintah daerah dalam mengimplementasikan Kebijakan Nasional AMPLBM.57 persen. Pada tahun 2006. Untuk pembangunan air limbah.8 persen di perkotaan dan 60 persen di perdesaan). Penyediaan air minum berbasis masyarakat yang berpedoman pada Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM) telah berkembang pesat didukung pendanaan bank pemerintah maupun pihak lain. proporsi rumah tangga yang terlayani dengan sistem pengolahan setempat dan sistem terpusat skala komunal pada tahun 2006 secara nasional mencapai 69. merupakan hasil dari kegiatan pembangunan jaringan dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal di 217 kota/kabupaten.3 persen (81. seperti lembaga donor.5 Tahun 2005 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia untuk Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pembiayaan Sekunder Perumahan. Ketersediaan sarana dan prasarana dasar permukiman berupa air minum dan sanitasi secara merata dan berkelanjutan turut menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Pencapaian tersebut. swasta (investasi langsung maupun Corporate Social Responsibility) dan masyarakat. Restrukturisasi hutang PDAM serta penyusunan beberapa peraturan pendukung guna mempercepat pembangunan prasarana dan sarana air minum juga telah dilaksanakan. yang telah menyumbang pada proporsi rumah tangga yang terlayani 37    . Selama periode 2004—2009 pembangunan sistem air limbah terpusat skala kota juga telah dilakukan di kota Denpasar. proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap sistem perpipaan (PDAM) mencapai 18. lembaga swadaya masyarakat (LSM).38 persen dan akses terhadap sistem nonperpipaan terlindungi sebesar 43. antara lain.

kondisi saluran mengalir dengan lambat/tergenang sebesar 14. Dari sisi perencanaan. tengah dikembangkan penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) agar pemerintah daerah memiliki dasar bagi pembangunan sanitasi bagi daerahnya masing-masing. proporsi rumah tangga yang telah terlayani saluran drainase dengan kondisi berfungsi baik/mengalir lancar mencapai 52.49 persen. Upaya pengurangan volume timbulan sampah melalui penerapan konsep reduce. dan yang menerapkan controlled landfill sebanyak 55 TPA.63 persen yang terangkut.65 persen. Sementara itu. Jumlah tempat pemrosesan akhir (TPA) yang menerapkan sanitary landfill mencapai 10 TPA. dan 32.83 persen. 38    . Pada tahun 2008 telah diberlakukan UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang mewajibkan seluruh TPA dikelola secara sanitary landfill sehingga diharapkan terjadi peningkatan kualitas layanan pengelolaan sampah. Untuk pengelolaan persampahan. rata-rata timbulan sampah (2006) mencapai 74 juta ton/tahun.68 persen rumah tangga tanpa saluran drainase. reuse and recycle (3R) terus digalakkan oleh masyarakat dan pemerintah untuk membatasi laju timbulan sampah hingga mencapai 20.dengan sistem air limbah terpusat skala kota menjadi 1.

000 rumah tangga baru per tahun. Jumlah kekurangan rumah (backlog) meningkat dari 5. Masih terdapat Rumah tangga yang menempati rumah tidak layak huni. Pada tahun 2007 masih terdapat 9.8 juta unit pada tahun 2004 menjadi 7.BAB 2 PERMASALAHAN DAN SASARAN 2.4 juta unit pada tahun 2009. Akumulasi backlog diperkirakan akan terus terjadi akibat pertumbuhan 710.1 Perumahan Sampai akhir tahun 2009. 39    . pembangunan perumahan masih dihadapkan pada empat permasalahan pokok sebagai berikut.87 persen dengan kondisi rusak berat.25 persen rumah tangga yang menempati rumah dengan kondisi rusak dan 0. Penyediaan rumah masih terbatas.

serta peningkatan harga lahan semakin mempersulit akses masyarakat untuk menempati hunian yang layak dan terjangkau di perkotaan. Semakin meluas permukiman kumuh. masih minimnya kerjasama pemerintah40    . Berbagai permasalahan pokok di atas disebabkan oleh berbagai faktor berikut: Akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap penguasaan dan legalitas lahan terbatas. Dengan peningkatan 1. luas permukiman kumuh meningkat dari 54.800 ha pada tahun 2009. Upaya fasilitasi pembangunan perumahan oleh pemerintah masih menghadapi kendala keterbatasan anggaran pembangunan perumahan dan subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah belum termanfaatkannya alternatif sumber pembiayaan. Upaya peningkatkan kualitas permukiman belum dapat mengurangi laju pertumbuhan luas permukiman kumuh.37 persen per tahun.Jaminan kepastian bermukim (secure tenure) masih lemah.06 persen rumah tangga yang menempati rumah milik sendiri tanpa bukti hukum berupa sertifikat BPN. Tingginya laju pertumbuhan penduduk di perkotaan. maupun akta jual beli. girik. Akses masyarakat terhadap pembiayaan perumahan terbatas. Tingginya biaya pengurusan serta keterbatasan informasi terhadap prosedur sertifikasi dan rencana tata ruang mengakibatkan sebagian masyarakat menempati rumah tanpa memiliki bukti legalitas pemanfaatan lahan dan bangunan serta tidak sesuai dengan rencana tata ruang.000 ha pada tahun 2004 menjadi 57. Pada akhir tahun 2007 masih terdapat 22. keterbatasan lahan perumahan dan permukiman.

Kelembagaan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman belum mantap. Koordinasi antarlembaga juga belum berjalan baik. Belum mantap pasar primer dan pembiayaan sekunder perumahan. Biaya transaksi administrasi perijinan dalam pembangunan perumahan yang masih tinggi serta minimnya informasi dan transparansi mengenai proses perijinan sesuai dengan UU 41    . Masih rendah efisiensi dalam pembangunan perumahan. Penyerahan kewenangan pembangunan perumahan yang menjadi urusan wajib pemerintah daerah belum disertai dengan peningkatan kapasitas kelembagaan dan kualitas SDM serta perangkat organisasi penyelenggara dalam memenuhi standar pelayanan minimal di bidang pembangunan perumahan. salah satunya ditunjukkan dengan belum efektifnya fungsi Badan Koordinasi Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman Nasional (BKP4N). serta diperburuk lagi dengan masih rendahnya partisipasi serta kapasitas lembaga penyalur subsidi kredit mikro pembangunan perumahan. Ketidaksesuaian tersebut berimplikasi pada tingginya suku bunga KPR akibat tingginya risiko yang ditanggung oleh kreditur. Kinerja pasar primer perumahan masih dihadapkan pada beberapa kendala. belum adanya standardisasi KPR dan sumber pendanaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yg masih bertumpu pada dana pihak ketiga berjangka pendek sehingga terjadi ketidaksesuaian jangka waktu pengembalian antara sumber pendanaan dan investasi pembangunan perumahan. antara lain. Hal ini terjadi akibat belum berjalannya pembiayaan sekunder perumahan sesuai dengan yang diharapkan.swasta.

2. pengelolaan persampahan.2. faktor-faktor yang diidentifikasi menyebabkan terjadinya kondisi ini antara lain: (1) belum memadainya perangkat peraturan.2 Permukiman Untuk pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman. Secara umum. serta pengembangan dan pemanfaatan teknologi untuk mewujudkan penyediaan rumah yang terjangkau. pemanfaatan sumber daya lokal. 2. Pembangunan dan perbaikan rumah yang dilakukan oleh masyarakat secara swadaya belum disertai dengan fasilitasi peningkatan kapasitas masyarakat. (2) terbatasnya penyedia layanan yang kredibel dan profesional. khususnya yang berpenghasilan rendah. Pemanfaatan sumber daya perumahan dan permukiman belum optimal. dan drainase).1 Air Minum Permasalahan utama pembangunan air minum adalah masih rendahnya akses terhadap penyediaan air minum. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kondisi ini antara lain: 42    .Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik berimplikasi pada meningkatnya harga jual rumah sehingga mengurangi keterjangkauan (affordability) masyarakat. (2) belum optimalnya sistem perencanaan serta (4) terbatasnya pendanaan. permasalahan utama yang dihadapi adalah rendahnya akses terhadap air minum dan sanitasi (air limbah.

Tidak terolahnya limbah domestik dan nondomestik menjadi penyebab utama menurunnya kualitas air baku air minum. 4. kualitas. Sementara itu.42 persen atau 61 dari 272 PDAM bahwa dalam kondisi sehat: Sementara itu. belum diterapkannya manajemen aset. Penyusunan rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang kurang bersinergi dengan konsep pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) makin mengancam ketersediaan air baku bagi daerah hilir. Salah satu akibatnya adalah sulitnya PDAM menjalankan prinsip korporasi. Penyebab utamanya adalah 55. Menurun kuantitas.02 persen) telah mencapai Rp. Ekstraksi air tanah secara berlebihan oleh rumah tangga dan industri telah menurunkan kuantitas dan kualitas air baku.51 persen PDAM masih menerapkan tarif rata-rata di bawah biaya produksi air minum. dan kontinuitas air baku air minum.Belum lengkap dan terbaharukan perangkat peraturan yang mendukung penyediaan air minum.83 trilyun. Hasil audit kinerja PDAM pada tahun 2007 menunjukkan hanya 22. akumulasi bahwa kerugian seluruh PDAM yang merugi (68. Masih terbatas penyedia air minum baik oleh perusahaan daerah air minum (PDAM) dan non-PDAM yang sehat (kredibel dan profesional). disamping kapasitas sumber daya manusia dan pendanaan yang belum memadai. Maraknya penyediaan air minum berbasis masyarakat juga terkendala oleh tiadanya perundangan yang mengatur pola kerjasama pemerintah dan masyarakat. serta belum disusunnya bussiness plan yang 43    . UU Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah sampai saat ini belum direvisi. pemanfaatan air yang belum efisien dan masih minimnya pengelolaan air baku pada wilayah hulu dan/atau daerah resapan menyebabkan semakin berkurangnya air baku air minum. Penerapan teknologi pemanfaatan sumber air alternatif juga belum diprioritaskan.

Beberapa faktor penyebab terjadinya kondisi ini yaitu: Belum memadai perangkat peraturan yang mendukung pengelolaan air limbah. Terbatas pendanaan untuk mendukung keseluruhan aspek penyediaan air minum. Belum optimal sistem perencanaan penyediaan air minum. Saat ini payung kebijakan yang mendukung pengelolaan air limbah hanya berupa UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pasal 21 ayat (2) bahwa perlindungan dan pelestarian sumber air -salah satunyadilakukan melalui pengaturan sarana dan prasarana sanitasi. kualitas sumber daya manusia pada lembaga pengelolanya juga masih menjadi kendala. Rendahnya kinerja keuangan PDAM juga menyebabkan PDAM sulit mendapatkan sumber pendanaan alternatif. Sementara itu.absah. baik dalam bentuk KPS ataupun Corporate Social Responsibility (CSR) masih belum dimanfaatkan secara signifikan. Untuk penyediaan air minum yang berbasis masyarakat. 2. menjadi saling tumpang tindih.2 Air Limbah Permasalahan utama yang dihadapi mencakup masih rendahnya akses penduduk terhadap pelayanan air limbah.2. khususnya di perkotaan. sumber pendanaan dari pihak swasta. Pendanaan air minum masih bertumpu pada anggaran pemerintah. Hampir seluruh kota/kabupaten belum memiliki rencana induk sistem penyediaan air minum yang absah. Belum terpetakannya wilayah yang akan dilayani sistem perpipaan maupun nonperpipaan menyebabkan banyak sistem penyediaan air minum. 44    .

Akibatnya. prioritas serta pentahapan pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana air limbah tidak tergambar jelas.9 persen penduduk yang melakukan praktik buang air besar sembarangan (BABS). Kepedulian pemerintah pada pengelolaan air limbah sekarang berada pada titik tertinggi sejak 45    . Institusi pengelola air limbah masih belum menerapkan prinsip manajemen yang baik.Masih rendah kesadaran pelaku akan pengelolaan air limbah yang layak. Rendahnya kesadaran pelaku akan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) –yang salah satunya ditunjukkan dengan masih terdapatnya 28. yang ditunjukkan dengan belum adanya manajemen aset dan penyusunan business plan yang absah. Belum tersedia rencana induk pengelolaan air limbah. Hampir seluruh kota di Indonesia belum memetakan kebutuhan infrastruktur dan layanan air limbah serta tidak tersedianya rencana rinci terhadap pemenuhan kebutuhan tersebut.serta rendahnya pemanfaatan IPAL dan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT) merupakan penyebab utama terjadinya pencemaran air permukaan. serta kurangnya dukungan SDM yang berkualitas pada non-Perusda yang mengelola air limbah. Terbatas pendanaan untuk mendukung keseluruhan aspek pengelolaan air limbah. Selain itu. masih rendahnya kesediaan membayar (willingness to pay) dari masyarakat untuk pelayanan air limbah domestik dan minimnya subsidi pemerintah menjadikan pengelola tidak dapat menutup biaya pelayanannya secara penuh (full-cost recovery). Minim pengelola air limbah baik oleh perusahaan daerah dan nonperusahaan daerah (Perusda dan non-Perusda) yang kredibel dan profesional.

Penerapan konsep 3R yang belum terintegrasi dan belum diterapkannya pemanfaatan teknologi menyebabkan timbulan sampah belum berkurang secara signifikan. Namun demikian.3 Persampahan Permasalahan utama yang dihadapi dalam pembangunan persampahan adalah rendahnya akses terhadap layanan pengelolaan sampah. banyak yang tidak didesain sebagai sanitary landfill atau mengalami perubahan sistem dari sanitary landfill dan/atau controlled landfill menjadi open dumping. sampah di TPS . 2. Makin terbatasnya lahan untuk TPA dan makin 46    . Selain itu. Implementasi UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah masih terkendala oleh belum tersedianya peraturan-peraturan pendukungnya.beberapa tahun terakhir. peningkatan alokasi pendanaan masih belum mampu untuk membiayai total kebutuhan yang ada. Mengenai TPA. Dari sisi pengangkutan. termasuk KPS dan CSR. yaitu sebagai berikut.2. Terdapat 5 faktor yang diidentifikasi menjadi penyebab terjadinya kondisi ini. Di sisi lain. Hingga saat ini penanganan sampah masih terfokus pada penanganan timbulan sampah dan belum ada pengurangan volume sampah dari sumbernya.masih belum ditangani dengan baik akibat kerancuan institusi pengelola.yang merupakan titik pertemuan antara sistem pengangkutan yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah . Penanganan sampah belum optimal. masih sedikit sampah yang diangkut ke tempat pemrosesan akhir (TPA)/tempat pemrosesan sementara (TPS). Masih belum memadai perangkat peraturan yang mendukung pengelolaan sampah. skema-skema pembiayaan yang bersumber dari nonpemerintah masih belum dikembangkan.

Belum optimal sistem perencanaan pengelolaan sampah. manajemen yang kurang profesional dan minimnya kualitas SDM. makin menyulitkan upaya Minim pengelola layanan persampahan yang kredibel dan profesional. Perusda belum memiliki manajemen aset dan menyusun business plan yang absah. kerjasama swasta.2. Terbatas pendanaan untuk mendukung keseluruhan aspek pengelolaan sampah. seperti dana masyarakat. Institusi pengelola sampah di daerah saat ini masih belum berfungsi secara profesional. Belum adanya rencana induk pengelolaan sampah menjadikan belum tersedianya profil dan rencana penanganan sampah di tingkat kabupaten/kota. investasi swasta dan dana CSR. sumber pendanaan bagi pengelolaan sampah masih bertumpu pada anggaran pemerintah sebagai akibat belum dikembangkannya alternatif sumber pendanaan lainnya.4 Drainase Belum optimalnya fungsi drainase sebagai pematus air hujan yang mengakibatkan timbulnya genangan merupakan 47    . Permasalahan yang muncul pada dinas pengelola sampah bahkan lebih menyeluruh baik berupa alokasi dana yang minim.tingginya timbulan sampah penanganan persampahan. Ketiadaan rencana induk juga mengakibatkan tidak bersinerginya sistem pengelolaan sampah yang dilakukan oleh pemerintah dengan yang dilakukan oleh masyarakat sehingga integrasi penanganan sampah dari sumber hingga ke TPA belum tercapai. Hingga saat ini. 2.

dan tersier.permasalahan utama yang dihadapi dalam pembangunan drainase. operasi maupun pemeliharaan sistem drainase 48    . Pembuangan air limbah domestik dan air limbah industri rumah tangga ke saluran drainase juga menyebabkan peningkatan debit air pada saluran drainase. perencanaan sistem drainase saat ini juga belum mengintegrasikan antara sistem drainase primer. Belum ada kejelasan pengelola sistem drainase. Perencanaan sistem pengelolaan drainase belum didasari dengan adanya suatu rencana induk pengelolaan sistem drainase yang absah. Terbatas pendanaan untuk mendukung keseluruhan aspek pengelolaan drainase. Ketidakjelasan pengelola menyebabkan tidak ada lembaga yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan saluran drainase. serta rendahnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Hal ini disebabkan oleh hal berikut. Selain itu. Peningkatan debit limpasan hujan juga disebabkan oleh semakin berkurangnya bidang resapan dan adanya perubahan iklim akibat efek pemanasan global (global warming) yang menyebabkan peningkatan intensitas curah hujan dalam interval waktu yang semakin pendek. Terbatasnya anggaran pemerintah baik untuk investasi. sekunder. Menurunnya fungsi saluran drainase yang berimplikasi pada peningkatan luasan dan durasi tergenang diakibatkan oleh kelangkaan lokasi pembuangan sampah. Hal itu mengakibatkan pengabaian atas kondisi saluran drainase sehingga berfungsi kurang optimal. Belum optimal sistem perencanaan pengelolaan drainase. Kapasitas sistem drainase sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

dan didukung oleh prasarana dan sarana dasar serta utilitas yang memadai. yang ditandai dengan tersedianya akses terhadap sistem pengelolaan air limbah terpusat (off-site) bagi 10 persen total penduduk. Terwujudnya kondisi Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) hingga akhir tahun 2014. serta memiliki jaminan kepastian hukum dalam bermukim (secure tenure) untuk mendukung pencapaian target millenium development goals (MDGs). baik melalui sistem pengelolaan air limbah terpusat skala kota sebesar 5 persen maupun sistem pengelolaan air limbah terpusat skala komunal sebesar 5 persen serta penyediaan akses dan peningkatan kualitas terhadap sistem pengelolaan air limbah setempat (on-site) yang layak bagi 90 persen total penduduk 49    1 Perumahan 2 Air Minum 3 Air Limbah . Ketidakjelasan pengelola sistem drainase. Sasaran lain yang ingin dicapai adalah meningkatnya kualitas perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman di tingkat pusat dan daerah. No Sektor Sasaran Tersedianya akses bagi masyarakat terhadap perumahan baik perumahan baru maupun peningkatan kualitas perumahan dan lingkungan permukiman serta kepastian hukum bagi 5.menjadikan pengelolaan drainase belum berjalan secara optimal. aman. Berdasarkan beberapa permasalahan di atas sasaran umum yang akan dicapai dalam pembangunan perumahan dan permukiman adalah meningkatnya akses bagi rumah tangga terhadap rumah dan lingkungan permukiman yang layak.6 juta rumah tangga Tersedianya akses air minum bagi 70 persen penduduk pada akhir tahun 2014. menyebabkan lemahnya operasi dan pemeliharaan sistem. dengan perincian akses air minum perpipaan 32 persen dan akses air minum non-perpipaan terlindungi 38 persen. terjangkau.

No 4 5 Sektor Persampahan Drainase Sasaran Tersedianya akses terhadap pengelolaan sampah bagi 80 persen rumah tangga di daerah perkotaan Menurunnya luas genangan sebesar 22.500 Ha di 100 kawasan strategis perkotaan 50    .

maupun dunia usaha dalam rangka mewujudkan kesejahteraan. listrik serta informasi dengan harga terjangkau bagi 51    . dan mewujudkan keadilan. transportasi. Penyediaan infrastruktur dasar diprioritaskan untuk menjamin akses masyarakat terhadap jasa kegiatan infrastruktur.BAB 3 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Berdasarkan identifikasi permasalahan dan sasaran pada bab sebelumnya. Infrastruktur dasar merupakan sarana prasarana yang harus disediakan oleh pemerintah karena tidak memiliki aspek komersial. pembangunan bidang sarana dan prasarana diprioritaskan pada penyediaan infrastruktur dasar agar dapat menjamin baik keberlangsungan fungsi masyarakat atau rumah tangga. sedangkan infrastruktur yang memiliki nilai komersial diharapkan dibiayai melalui partisipasi pihak swasta ataupun masyarakat melalu mekanisme unbundling maupun dual track strategy. perumahan. seperti air bersih. sanitasi. memperkecil kesenjangan.

jasa. Secara lebih rinci arah kebijakan berdasarkan fokus prioritas diatas dapat diuraikan sebagai berikut : 52    . yang difokuskan pada peningkatan pelayanan sarana dan prasarana sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM). perumahan dan permukiman.menjamin kelancaran distribusi barang. Sasaran fokus prioritas adalah meningkatnya pelayanan sarana dan prasarana yang mendukung sektor riil. transportasi. Kedua. perumahan dan permukiman. energi. energi dan ketenagalistrikan. transportasi. yang difokuskan untuk: (i) mendukung peningkatan daya saing sektor riil dan (ii) meningkatkan kerjasama pemerintah dan swasta (KPS). dengan indikator presentase peningkatan kapasitas dan kuantitas pelayanan sarana dan prasarana yang meliputi sarana dan prasarana sumber daya air. dan informasi untuk meningkatkan daya saing produk nasional. dan ketenagalistrikan. khususnya masyarakat berpenghasilan rendah Prioritas bidang pembangunan sarana dan prasarana lima tahun ke depan adalah pertama. serta komunikasi dan informatika. dengan indikator presentase tingkat pelayanan sarana dan prasarana yang meliputi sarana dan prasarana sumber daya air. serta komunikasi dan informatika.seluruh masyarakat. menjamin ketersediaan infrastruktur dasar untuk mendukung peningkatan kesejahteraan. Sasaran fokus prioritas adalah terjaminnya ketersediaan infrastruktur dasar sesuai dengan tingkat kinerja yang telah ditetapkan.

(b) pembangunan 685. (b) pengembangan fasilitasi likuiditas. (c) peningkatan mobilisasi sumber-sumber dana jangka panjang. (c) fasilitasi pembangunan 180 tower rusunami melalui peran swasta. sarana dan utilitas perumahan swadaya.000 unit Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi. b) meningkatkan aksesibilitas masyarakat berpenghasilan menengah-bawah terhadap hunian yang layak dan terjangkau melalui: (a) penyediaan subsidi perumahan.1 Meningkatkan Pelayanan Sarana dan Prasarana sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal Dengan memperhatikan berbagai kondisi umum. akan dikembangkan berbagai arah kebijakan sebagai berikut: 1. Meningkatkan aksesibilitas masyarakat berpenghasilan rendah terhadap hunian yang layak dan terjangkau. (f) pembangunan rumah khusus termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan pasca bencana.3. (h) pemanfaatan dan pengembangan sumber daya lokal. permasalahan dan sasaran di atas. teknologi dan penelitian di bidang perumahan dan permukiman. (d) penyediaan prasarana. dan (d) pengembangan tabungan perumahan nasional 53    . dengan: a) meningkatkan penyediaan hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui (a) pembangunan 650 twin block rusunawa. (g) fasilitasi penyediaan lahan. sarana dan utilitas pengembangan kawasan perumahan antara lain untuk mendukung pengembangan kota baru (New Town Development). (e) fasilitasi pembangunan baru/peningkatan kualitas perumahan swadaya serta penyediaan prasarana.

c) meningkatkan kualitas lingkungan permukiman melalui penyediaan prasarana. (e) serta fasilitasi penyusunan rencana induk pengembangan permukiman daerah. serta pengembangan peraturan perundangan pendukungnya. 54    . (c) peningkatan kapasitas dan koordinasi berbagai pemangku kepentingan pembangunan perumahan dan permukiman. (b) pemberdayaan dan kemitraan pelaku pembangunan perumahan dan permukiman. g) memantapkan pasar primer dan pembiayaan sekunder perumahan yang didukung oleh sumber pembiayaan jangka panjang yang berkelanjutan melalui pengembangan informasi dan standardisasi KPR. (d) pengembangan pengelolaan aset (property management). keamanan dan keselamatan bangunan gedung melalui pengawasan dan pembinaan teknis standar bangunan gedung serta peningkatan keserasiannya dengan tata ruang dan lingkungan. sarana dasar. e) meningkatkan kenyamanan. f) meningkatkan kualitas perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman melalui (a) pengembangan regulasi dan kebijakan. dan utilitas umum yang memadai dan terpadu dengan pengembangan kawasan perumahan dalam rangka mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh d) meningkatkan jaminan kepastian hukum dalam bermukim (secure tenure) melalui fasilitasi pra-sertifikasi dan pendampingan paska-sertifikasi tanah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. serta standardisasi perijinan dalam membangun rumah.

ataupun antara pemerintah. serta pengembangan dan penerapan teknologi pemanfaatan sumber air alternatif termasuk air reklamasi. revisi. pelaksanaan manajemen aset. melalui pengendalian penggunaan air tanah oleh pengguna domestik maupun industri. maupun deregulasi peraturan perundang-undangan yang diantaranya adalah penyusunan peraturan pendukung Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. penerapan korporatisasi. (c) peningkatan keterkaitan antara sistem 55    . d) meningkatkan kinerja manajemen penyelenggaraan air minum. penanganan air limbah. baik yang dilakukan oleh institusi maupun masyarakat. dan pengelolaan persampahan melalui (a) penyusunan business plan. swasta dan masyarakat. melalui: a) menyediakan perangkat peraturan di tingkat Pusat dan/atau Daerah untuk mendukung pelayanan air minum. Meningkatkan aksesibilitasi masyarakat terhadap layanan air minum dan sanitasi yang memadai. b) memastikan ketersediaan air baku air minum. antara pemerintah dengan masyarakat. air limbah dan persampahan. perlindungan sumber air tanah dan permukaan dari pencemaran domestik melalui peningkatan cakupan pelayanan sanitasi. (b) peningkatan kerja sama antarpemerintah.2. melalui peningkatan kesadaran semua pihak akan pentingnya pembangunan prasarana dan sarana permukiman serta peningkatan koordinasi antarpemangku kepentingan dalam pengarusutamaan pembangunan prasarana dan sarana permukiman. melalui penambahan. dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. c) meningkatkan prioritas pembangunan prasarana dan sarana permukiman (air minum dan sanitasi). antara pemerintah dengan swasta.

pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat dengan pemerintah; dan (d) optimalisasi pemanfaatan sumber dana. Khusus bagi pengelolaan persampahan, perbaikan layanan pengelolaan persampahan dilakukan melalui (a) minimasi sampah yang tidak terangkut ke TPS (Tempat Pengolahan Sampah Sementara); (b) meningkatkan penggunaan sistem pengolahan sampah alternatif; (c) optimalisasi penggunaan TPA regional; dan (d) penerapan sistem sanitary landfill pada TPA. Adapun peningkatan kinerja pengelolaan drainase dilakukan melalui penegasan kewenangan dan tanggung jawab lembaga pengelola drainase; serta penerapan manajemen aset dan peningkatan kualitas sumber daya manusia e) meningkatkan sistem perencanaan pembangunan air minum dan sanitasi, melalui penyusunan rencana induk sistem penyediaan air minum (RIS-SPAM) sesuai prinsipprinsip pembangunan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat maupun lembaga; penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) yang selaras dengan RIS-SPAM; penyusunan rencana induk sistem pengelolaan persampahan; penyusunan rencana induk sistem pengelolaan drainase; serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaannya; f) meningkatkan cakupan pelayanan air minum, air limbah, persampahan dan drainase melalui optimalisasi sistem yang ada; percepatan penambahan kapasitas sistem dan sambungan rumah air minum, baik berbasis masyarakat maupun lembaga; peningkatan pemanfaatan teknologi tepat guna; pengelolaan pemanfaatan air minum menggunakan instrumen tarif; percepatan pembangunan sanitasi perkotaan maupun perdesaan yang terdiri dari pengembangan sistem air limbah terpusat (off-site) skala kota maupun komunal, peningkatan pengelolaan sistem
56 
 

air limbah setempat (on-site), penanganan air limbah berbasis masyarakat tanpa subsidi, peningkatan pemanfaatan teknologi tepat guna; penambahan kapasitas pengangkutan sampah menuju TPS maupun TPA; pembangunan TPA baru dengan sistem sanitary landfill; dan pembangunan saluran drainase terutama di kawasan strategis perkotaan. g) Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), melalui pembangunan prasarana dan sarana air minum dan sanitasi di sekolah sebagai bagian dari upaya peningkatan sosialisasi perilaku yang higinis bagi siswa sekolah dan penerapan praktik perilaku hidup bersih dan sehat oleh masyarakat; serta meningkatkan kepedulian dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan saluran drainase mikro. h) Mengembangkan alternatif sumber pendanaan bagi pembangunan air minum, air limbah dan persampahan, melalui pemberian subsidi tarif dalam bentuk PSO bagi masyarakat berpenghasilan rendah; pemberian jaminan kredit dan subsidi selisih bunga pada pinjaman PDAM; pemberian insentif berbasis kinerja (output based aid) bagi pemerintah daerah yang lebih memprioritaskan pembangunan air minum dan air limbah; pemberian hibah imbal balik (matching grant) bagi pemerintah daerah yang lebih memprioritaskan pembangunan sanitasi; penerbitan instrumen keuangan melalui pasar modal; pengembangan skema-skema pembiayaan yang berasal dari dana masyarakat; serta pemberian insentif fiskal dan non-fiskal bagi dunia usaha yang terlibat dalam pembangunan air minum, air limbah dan persampahan. Menyediakan sumber pendanaan bagi pengembangan

57 
 

sistem drainase serta operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana drainase yang memadai. i) meningkatkan keterlibatan masyarakat dan swasta dalam pengelolaan persampahan, pada (a) upaya pengurangan timbulan sampah mulai dari sumbernya melalui penerapan prinsip 3R (reuse, reduce and recycle), dan mendorong swasta untuk menggunakan kemasan pembungkus yang ramah lingkungan; serta (b) upaya pengelolaan persampahan secara profesional, melalui pemasaran bisnis persampahan pada masyarakat dan swasta; dan pentahapan (unbundling) pengelolaan persampahan sehingga menarik bagi masyarakat dan swasta j) mengurangi volume air limpasan, melalui penyediaan bidang resapan, baik oleh masyarakat maupun pemerintah daerah. 3.2 Meningkatkan Kerjasama Pemerintah Dan Swasta 3.2.1 Air Minum Arah kebijakan dalam penyediaan air minum dengan skema KPS adalah mengembangkan inovasi pendanaan yang disesuaikan dengan modalitas proyek. Strategi yang ditempuh untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra penyediaan air minum adalah: (a) memperbaharui perangkat peraturan yang mendukung pelaksanaan KPS dalam penyediaan air minum; (b) mengembangkan inovasi sumber pendanaan dalam pembiayaan air minum; (c) memperkuat koordinasi kerjasama antarpemerintah daerah dalam konteks pelayanan regional; serta (d) mengembangkan bundling untuk sistem penyediaan air minum, seperti instalasi pengolahan air (IPA), transmisi, dan distribusi khususnya dalam skala kawasan

58 
 

melalui pemasaran bisnis persampahan pada masyarakat dan swasta. (d) pemberian jaminan kepastian hukum kerjasama pengelolaan sampah antarpemda dalam pengelolaan akhir sampah bersama dan antara pemda dengan swasta. 3. serta pentahapan (unbundling) untuk sistem pengelolaan persampahan yang paling komersial. serta (g) mengembangkan bundling untuk sistem pengelolaan sampah. (e) memperkuat koordinasi kerjasama antarpemda dalam konteks pelayanan regional. (f) mengembangkan sistem tarif (tipping fee) yang mempertimbangkan pemulihan biaya dan kemampuan APBD dan masyarakat di daerah. khususnya dalam skala kawasan komersial. seperti pengumpulan. 59    . seperti water meter. Strategi yang ditempuh untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra persampahan adalah: (a) upaya pengurangan timbulan sampah mulai dari sumbernya melalui penerapan prinsip 3R (reuse.komersial.2. dan unbundling untuk penyediaan air minum yang paling komersial. pengangkutan. reduce and recycle). (c) perkuatan lembaga pengelolaan sampah untuk peningkatan pelayanan persampahan dalam satu wilayah.2 Persampahan Arah kebijakan dalam persampahan yang dikembangkan dengan skema KPS adalah meningkatkan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra pengelolaan. (b) pengelolaan persampahan secara profesional. dan pengolahan akhir sampah. dan mendorong swasta untuk menggunakan kemasan pembungkus yang ramah lingkungan. sehingga menarik bagi masyarakat dan swasta.

 205 kab/kota  Pengaturan. Milyar)  83.Tabel 2.  Pengawasan dan  Penyelenggaraan  207 kab/kota  dalam Pengem‐ bangan Permukiman  207 kab/kota  207 kab/kota 207 kab/kota 290.0  Kementerian  Pembinaan  Pekerjaan  dan  Umum  Pengembangan  Infrastruktur  292.0  60 paket  60 paket 26.2 Rencana Tindak Prioritas Bidang Bidang Pembangunan : Sarana dan Prasarana Prioritas Bidang 1 : Menjamin Ketersediaan Infrastruktur Dasar untuk Mendukung Peningkatan Kesejahteraan Fokus Prioritas : Peningkatan Pelayanan Infrastruktur sesuai Standar Pelayanan Minimum (SPM)    No  1  Kegiatan Prioritas  Sasaran  Indikator  Jumlah penyusunan NSPK  bidang pengembangan  permukiman  Jumlah Strategi  Pembangunan Permukiman  dan Infrastruktur Perkotaan  (SPPIK)  Jumlah Rencana  Pengembangan Kawasan  Permukiman (RPKP)   Jumlah rencana tindak  penanganan kawasan  kumuh perkotaan di  kab/kota Jumlah peningkatan  kemampuan peran serta  masyarakat dalam penye‐ lenggaraan pengembangan  permukiman  Target 2014  5 paket. 205 kab/kota Total  Alokasi  (Rp.0  207 kawasan  207 kawasan 272.0  61    .  Pembinaan.0  Permukiman  Program  K/L  5 paket.

 Milyar)  1.358.0      26.330.No  Kegiatan Prioritas  Sasaran  207 kawasan  Indikator  Jumlah kawasan kumuh di  perkotaan yang tertangani  Jumlah satuan unit hunian  Rumah Susun yang  terbangun dan infrastruktur  pendukungnya  Jumlah kawasan perumahan  bagi MBR  Jumlah kawasan permu‐ kiman rawan bencana  Jumlah kawasan perdesaan  potensial / agropolitan yang  tertangani  Jumlah kawasan yang  dilayani oleh infrastruktur  pendukung kegiatan  ekonomi dan sosial  Jumlah peningkatan  lingkungan hunian untuk  masyarakat yang tinggal di  pulau kecil.0    259.803 desa      102 kawasan      62    . desa tertinggal  dan terpencil  Jumlah kawasan yang  mengalami peningkatan  kualitas lingkungan di  kawasan perbatasan dan  pulau kecil terluar  Target 2014  207 kawasan   26.0    2.760 unit   240 kawasan   15 kawasan   205 kawasan   185 kawasan   8.0            15 kawasan    205 kawasan    185 kawasan      8.0    780.803 desa   102 kawasan   Program  K/L  Total  Alokasi  (Rp.0    65.0    1.0  3.800.285.760 unit        240 kawasan    837.

0  65 kab/kota 238.0  Kementerian  Pembinaan  Pekerjaan  dan  Umum  Pengembangan  Infrastruktur  496.0  Permukiman  Program  K/L  317.  RTH di 213 kab/kota  serta Penyeleng‐ Rencana Tindak  garaan Pemba‐ Pengembangan  ngunan Bangunan  Kawasan Permu‐ Gedung dan Pena‐ kiman Tradisional dan  taan Kawasan/  Bersejarah  Lingkungan Permu‐ kiman  33 propinsi      65 kab/kota      Jumlah propinsi yang  mendapatkan pembinaan  peningkatan kualitas  penyelenggaraan bangunan  gedung  Jumlah kab/kota yang  mendapat pemeliharaan  gedung negara bersejarah  NSPK di 226  kab/kota  RTBL di 193  kab/kota  RISPK di 125 kab/  kota dan 155  kawasan  RTH di 213 kab/kota Rencana Tindak  Pengembangan  Kawasan Permu‐ kiman Tradisional  dan Bersejarah di 33  kawasan  33 propinsi Total  Alokasi  (Rp. dan  Pengawasan dalam  Penataan Bangunan  NSPK di 226 kab/kota  dan Lingkungan  RTBL di 193 kab/kota  termasuk  RISPK di 125 kab/kota  Pengelolaan Gedung  dan 155 kawasan  dan Rumah Negara.  Pembinaan. Milyar)  19.No  2  Kegiatan Prioritas  Sasaran  Indikator  Jumlah NSPK bidang  Penataan Bangunan dan  Lingkungan  Jumlah pendampingan  penyusunan NSPK bidang  penataan bangunan dan  lingkungan oleh Pemda  Target 2014  37 NSPK   37 NSPK  Pengaturan.0  63    .

0  160 kawasan 400. Milyar)  329.0  64    .0      152 kawasan      207 kawasan      160 kawasan      33 Propinsi      152 kawasan 207 kawasan 1.0  33 Propinsi 160.137.0  562.No  Kegiatan Prioritas  Sasaran  111 kab/kota  Indikator  Jumlah kab/kota yang  mendapat manfaat  pengembangan sarana dan  prasarana pencegahan dan  penanggulangan bahaya  kebakaran  Jumlah kab/kota yang  mendapatkan peningkatan  bangunan gedung yang  memenuhi persyaratan  kelengkapan aksesibilitas  pada bangunan gedung  Jumlah kawasan yang  meningkat kualitasnya Jumlah kawasan yang  mengalami peningkatan  kualitas ruang terbuka hijau  pada lingkungan  permukiman  Jumlah kawasan yang  mengalami peningkatan  kualitas lingkungan  permukiman tradisional dan  bersejarah  Jumlah propinsi yang  mendapatkan PIP2B  Target 2014  111 kab/kota Program  K/L  Total  Alokasi  (Rp.0      128 kab/kota  128 kab/kota 43.

  Jumlah Bantek.  dan pendampingan  (SSK persampahan)  Total  Alokasi  (Rp. Bintek.  50 Bantek. Bintek.  Pembinaan. dan persampahan)  dan pendam‐pingan  (SSK drainase)  150 Bantek.  serta Pengelolaan  Pengembangan  Infrastruktur Sanitasi  dan Persampahan  75 buah NSPK  426 Bantek. dan  dan pendampingan  pendampingan (SSK  (SSK air limbah)  pengelolaan air limbah.  Pengawasan.0  67.  Pengembangan  Sumber Pembiayaan  dan Pola Investasi. Milyar)  5.984 kel/des Jumlah kel/des yang    mendapatkan  pendampingan      pemberdayaan masyarakat  PNPM‐P2KP Kementerian  Pembinaan  25 NSPK air limbah  Jumlah NSPK untuk  dan  20 NSPK drainase  pengelolaan air limbah. dan persampahan  Umum  Infrastruktur  persampah‐an  yang tersusun  Permukiman  226 Bantek. Bintek.7  65    . Bintek.No  Kegiatan Prioritas  Sasaran  21.  drainase.  Pekerjaan  Pengembangan  30 NSPK  drainase.  dan pendampingan  SSK   21.984 kel/des  Indikator  Target 2014  Program  K/L      3  Pengaturan.7  644. Bintek.943.

 dan  masyarakat  Peningkatan pelayanan  Pembangunan prasarana  dan sarana air limbah  air limbah di 221  dengan sistem off‐site dan  kab/kota  on‐site  15 kegiatan fasilitasi  pengembangan  sumber pembiayaan  dan pengembangan  pola investasi  persampahan  15.5  426 kegiatan monev      Jumlah monev kinerja  pengembangan air limbah.458.  dunia usaha.0    66    . Milyar)  129.9        Jumlah fasilitasi  pengembangan sumber  pembiayaan dan pola  investasi bidang  persampahan melalui  kerjasama pemerintah. dan persampahan  54.No  Kegiatan Prioritas  Sasaran  65 paket diklat  Indikator  Jumlah penyelenggaraan  pelatihan (Diklat) teknis  pengelolaan sanitasi  lingkungan dan  persampahan  Target 2014  35 paket diklat  pengelolaan air  limbah  15 paket diklat  pengelolaan  drainase  15 paket diklat  pengelolaan  persampahan  226 kegiatan monev  air limbah  50 kegiatan monev    drainase  150 kegiatan monev  persampahan  15 kegiatan fasilitasi   Program  K/L  Total  Alokasi  (Rp.  drainase.0  11 kab/kota sistem  off‐site  210 kab/kota sistem    on‐site  4.

0  Keterangan : *) Kawasan khusus meliputi kawasan pemekaran.600  Ha)  Peningkatan TPA di  210 kab/kota. dan 53  pelabuhan perikanan      Pembinaan bagi 185  PDAM dan 225 non‐ PDAM   Rencana Induk SPAM  di 200 kab/kota  Jumlah PDAM dan non‐ PDAM yang memperoleh  pembinaan Jumlah Rencana Induk  SPAM yang telah ditetapkan  210 kab/kota  peningkatan TPA  250 unit pengum‐ pul sampah      250 lokasi  persampahan  terpadu 3R  4. 100 kawasan  khusus*.650  khusus* yang terfasilitasi  desa.IKK.204. prasarana pengum‐ pulan sampah dan persam‐ pahan terpadu 3R  Target 2014  50 kab/kota   Program  K/L  Total  Alokasi  (Rp.0  996. Milyar)  3.  persampahan terpadu  3R di 250 lokasi   Indikator  Pembangunan drainase  perkotaan  Peningkatan/pembangunan  TPA.  Pembinaan.810.500.No  Kegiatan Prioritas  Sasaran  Penanganan drainase  di 50 kab/ kota (4. kawasan MBR  perkotaan.0      4    Pengaturan.0  209. dan KAPET 67    .  Pengembangan  Sumber Pembiayaan  dan Pola Investasi. dan kawasan  air minum di 4.  Pengawasan. 577 kawasan  MBR perkotaan. terpencil. 820  IKK. sarana  pengumpul sampah  sebanyak 250 unit. perbatasan. pulau terluar.  serta Pengembangan  Sistem Penyediaan  Air Minum  Peningkatan pelayanan  Jumlah desa.0        5.650 desa  Kementerian  Pembinaan  Pekerjaan  dan  577 kawasan MBR  Umum  Pengembangan  perkotaan  Infrastruktur  820 IKK  Permukiman  100 kawasan  khusus*  53 kawasan  pelabuhan  perikanan  Pembinaan 185 PDAM  dan 225 non‐PDAM      200 kab/kota      10.

0          71. jumlah provinsi  32 provinsi dan  percontohan reuse dan  yang melakukan kampanye  daur ulang air limbah  di 8 lokasi  Fasilitasi pinjaman  bank bagi 107  PDAM  Prastudi KPS di 23  PDAM  9 laporan studi  alternatif pem‐ biayaan  pengembangan  SPAM  32 provinsi dan   8 lokasi      74. dan 9 laporan  studi alternatif  pembiayaan  pengembangan SPAM      Kampanye hemat air di  Jumlah aktivitas reuse/daur  ulang air.No  Kegiatan Prioritas  Sasaran  Diklat bagi penye‐ lenggara air minum di  100 kab/kota dan  monev di 299 kab/kota  22 NSPK air minum  dan NSPK dalam Perda  di 100 kab/kota  Indikator  Jumlah penyelenggaraan  pelatihan (Diklat) teknis dan  jumlah monev pengem‐ bangan air minum  Jumlah NSPK tersusun dan  jumlah kab/kota yang  menyelenggarakan  pengembangan SPAM  sesuai NSPK  Jumlah laporan pra studi  kelayakan KPS dan studi  alternatif pembiayaan  Target 2014  100 kab/kota.0        104. Milyar)  83.0      68    .0      Fasilitasi pinjaman  bank bagi 107 PDAM.  prastudi KPS di 23  PDAM. 299 kab/kota    22 NSPK air minum  dan NSPK dalam Perda  di 100 kab/kota  Program  K/L  Total  Alokasi  (Rp.

 sarana  dan utilitas perumahan  swadaya  Jumlah permukiman kumuh  yang terfasilitasi  50.000 536.560.000 Pengembangan  Kementerian  Perumahan &  Perumahan  Rakyat  Permukiman  Pengembangan  Kementerian  Perumahan &  Perumahan  Rakyat  Permukiman  Pengembangan  Kementerian  Perumahan &  Perumahan  Rakyat  Permukiman  69  236.0  6  50.No  5  Kegiatan Prioritas  Pembangunan  rumah susun  sederhana sewa  Fasilitasi dan  stimulasi pemba‐ ngunan perumahan  swadaya  Fasilitasi dan  stimulasi pening‐ katan kualitas peru‐ mahan swadaya  Fasilitasi pemba‐ ngunan PSU kawa‐ san perumahan dan  permukiman  Fasilitasi pemb‐ angunan PSU peru‐ mahan swadaya  Sasaran  380 twin block  Indikator  Jumlah rusunawa terbangun Target 2014  380  Program  Pengembangan  Perumahan &  Permukiman  Pengembangan  Perumahan &  Permukiman  K/L  Kementerian Perumahan  Rakyat  Kementerian  Perumahan  Rakyat  Total  Alokasi  (Rp.3  7  50.0    . Milyar)  4.000 unit  50.000 Pengembangan  Kementerian  Perumahan &  Perumahan  Rakyat  Permukiman  Pengembangan  Kementerian  Perumahan &  Perumahan  Rakyat  Permukiman  286.000 12.0  Jumlah unit lahan dan  bangunan rumah yang  terfasilitasi pra‐sertifikasi  30.375.000 unit  700. sarana  dan utilitas kawasan  perumahan dan permu‐ kiman  Jumlah fasilitasi dan  stimulasi prasarana.3  8  700.000 unit  Jumlah fasilitasi dan  stimulasi pembangunan  baru perumahan swadaya  Jumlah fasilitasi dan  stimulasi peningkatan  kualitas perumahan  swadaya  Jumlah fasilitasi dan  stimulasi prasarana.3  655 Ha  10  Fasilitasi dan  Stimulasi Penataan  Lingkungan  Permukiman Kumuh  30.0  9  50.000 unit  50.000 unit  11  Fasilitasi pra‐ sertifikasi dan  pendampingan  655  1.043.000 4.

 Milyar)  12  Fasilitasi  pembangunan  rumah khusus  13  Pengembangan  Kebijakan dan  Koordinasi Pelak‐ sanaan Kebijakan  Perumahan dan  Permukiman  14  Pengembangan  Kebijakan dan  Koordinasi Pelak‐ sanaan Kebijakan  Pembiayaan  Perumahan dan  Permukiman  15  Bantuan subsidi  perumahan  5.0  685.000 unit  Jumlah rumah khusus  terbangun  Jumlah revisi peraturan  perundangan   5.000 unit     658.000 20 peraturan  perundangan  20  Pengembangan  Perumahan &  Permukiman Pengembangan  Perumahan &  Permukiman  Kementerian  Perumahan  Rakyat Kementerian  Perumahan  Rakyat  259.6  10 peraturan  perundangan  Jumlah revisi peraturan  perundangan   10  Pengembangan  Kementerian  Perumahan  Pembiayaan  Rakyat  Perumahan &  Permukiman  412.000 Pengembangan  Kementerian  Perumahan  Pembiayaan  Rakyat  Perumahan &  Permukiman PM    ‐‐‐‐‐‐‐      70    .7  802.No  Kegiatan Prioritas  pasca‐sertifikasi   Sasaran  Indikator  dan pendampingan pasca  sertifikasi  Target 2014  Program  K/L  Total  Alokasi  (Rp.

00  3  Air Baku  Pengelolaan prasarana  transmisi air baku untuk  beberapa kawasan di  pulau Jawa                    1. Milyar)  6.Prioritas Bidang 2 Fokus Prioritas   No  1  Kegiatan Prioritas  : Menjamin Kelancaran Distribusi Barang.436 liter /  detik  340.00     ‐‐‐‐‐‐‐  71    . dan Informasi untuk Meningkatkan Daya Saing Produk Nasional : Peningkatan Investasi Infrastruktur Melalui Kerjasama Pemerintah dan Swasta  Sasaran  Indikator  Pelayanan transmisi air  minum dan peningkatan  distribusi sambungan air  minum di kawasan  perkotaan.  pulau Bali. pulau Sulawesi  Persampahan  Pengelolaan  persampahan perkotaan  secara terpadu  2  Pembangunan Pengelolaan  Terbangunnya instalasi  pengelolaan  persampahan terpadu di  persampahan terpadu  Kota Bandung dan  sekitarnya serta Kota Bogor  dan Depok  Pembangunan saluran  pembawa air baku di  beberapa kota  Terbangunnya saluran  pembawa air baku  2 buah  Kementerian  Pekerjaan  Umum dan  Pemerintah  Kota  Kementerian  Pekerjaan  Umum dan  Pemerintah  Kota  1.850  liter/detik  K/L  Kementerian  Pekerjaan  Umum dan  Pemerintah  Daerah  Total Alokasi (Rp.00  Air Bersih  Meningkatnya pelayanan  Meningkatnya transmisi  dan distribusi air untuk  prasarana perkotaan  pelayanan sektor air minum  pada sektor air minum  perkotaan di pulau  Sumatera.200. Jasa.195.  Target 2014  20. pulau Jawa.

 dan  penyelenggaraan dalam  207 kab/kota pengembangan  permukiman  207 kab/kota 207 kawasan Indikator  Jumlah penyusunan NSPK bidang  perngembangan permukiman  Jumlah Strategi Pembangunan  Permukiman dan Infrastruktur  Perkotaan (SPPIK)  Jumlah Rencana Pengembangan  Kawasan Permukiman (RPKP)  Jumlah rencana tindak  penanganan kawasan kumuh  perkotaan di kab/kota  Jumlah peningkatan kemampuan  peran serta masyarakat dalam  penyelenggaraan pengembangan  permukiman  Jumlah kawasan kumuh di  perkotaan yang tertangani  Target 2014  5 paket.358.00   72    .Tabel 2. pembinaan. 205 kab/kota pengawasan.3 Rencana Tindak Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 Per Kementerian/Lembaga Kementerian/Lembaga : Kementerian Pekerjaan Umum    No  1  Program/Kegiatan  Sasaran  Prioritas  Pengaturan. Milyar)         83.00   207 kawasan 207 kawasan 1.00   207 kab/kota 207 kawasan     290.00       272. 205 kab/kota 207 kab/kota Total Alokasi  (Rp.00   60 paket 60 paket       26.00       292.  5 paket.

 dan  pulau kecil terluar    Target 2014  26.No  Program/Kegiatan  Prioritas    Sasaran  26.00   73    .285.760 unit Indikator  Jumlah satuan unit rumah susun  yang terbangun dan infrastruktur  pendukungnya  Jumlah kawasan perumahan bagi  MBR  Jumlah kawasan permukiman  rawan bencana  Jumlah kawasan perdesaan  potensial / agropolitan yang  tertangani    Jumlah kawasan yang dilayani  oleh infrastruktur pendukung  kegiatan ekonomi dan sosial    Jumlah peningkatan lingkungan  hunian untuk masyarakat yang  tinggal di pulau kecil.00       780.803 desa     102 kawasan     240 kawasan 15 kawasan 205 kawasan     837.00   185 kawasan 1.00   102 kawasan     259.760 unit Total Alokasi  (Rp.800.00         65. desa  tertinggal dan terpencil    Jumlah kawasan yang mengalami  peningkatan kualitas lingkungan  di kawasan perbatasan.803 desa 2. Milyar)    3.00   8.330.00         240 kawasan   15 kawasan   205 kawasan     185 kawasan     8.

00   74    .  37 NSPK Dan Pengawasan Dalam  Penataan Bangunan Dan  NSPK di 226 kab/kota Lingkungan Termasuk  RTBL di 193 kab/kota  Pengelolaan Gedung  RISPK di 125 kab/kota dan  Dan Rumah Negara.00   Jumlah propinsi yang  mendapatkan pembinaan  peningkatan kualitas  penyelenggaraan bangunan  gedung  Jumlah kab/kota yang mendapat  pemeliharaan gedung negara  yang bersejarah  Jumlah kab/kota yang mendapat  manfaat pengembangan sarana  dan prasarana pencegahan dan  penanggulangan bahaya  kebakaran      241.Program/Kegiatan  Sasaran  Prioritas  2  Pengaturan.00       496.  155 kawasan  serta Penyelenggaraan  RTH di 213 kab/kota  Pembangunan Bangunan  Rencana Tindak    Gedung dan Penataan  Pengembangan Kawasan  Kawasan/Lingkungan  Permukiman Tradisional dan  Permukiman  Bersejarah  No  33 propinsi   65 kab/kota   111 kab/kota   Indikator  Jumlah NSPK bidang Penataan  Bangunan dan Lingkungan  Jumlah pendampingan  penyusunan NSPK bidang  penataan bangunan dan  lingkungan oleh Pemda  Target 2014  37 NSPK NSPK di 226 kab/kota RTBL di 193 kab/kota  RISPK di 125 kab/kota  dan 155 kawasan  RTH di 213 kab/kota  Rencana Tindak  Pengembangan  Kawasan Permukiman  Tradisional dan  Bersejarah  33 propinsi Total Alokasi  (Rp.00   65 kab/kota     240. Milyar)         19. Pembinaan.00   111 kab/kota     329.

00   75    .00   33 Propinsi 20.293 kel/des     160.943.00   160 kawasan     400. Milyar)         43.00       562.00    5.No  Program/Kegiatan  Prioritas  Sasaran  128 kab/kota Indikator  Jumlah kab/kota yang  mendapatkan peningkatan  bangunan gedung yang  memenuhi persyaratan  kelengkapan aksesibilitas pada  bangunan gedung    Jumlah kawasan yang meningkat  kualitasnya  Jumlah kawasan yang mengalami  peningkatan kualitas ruang  terbuka hijau pada lingkungan  permukiman    Jumlah kawasan yang mengalami  peningkatan kualitas lingkungan   permukiman tradisional dan  bersejarah  Jumlah propinsi yang  mendapatkan PIP2B  Jumlah kel/des yang  mendapatkan pendampingan  pemberdayaan masyarakat  PNPM‐P2KP  Target 2014  128 kab/kota Total Alokasi  (Rp.137.984 kel/des     152 kawasan 207 kawasan 1.00       152 kawasan     207 kawasan     160 kawasan     33 Propinsi     21.

 Bintek. dan  NSPK persampahan  persampahan yang tersusun  226 Bantek. dan  Investasi.  50 Bantek. dan 30  air limbah. drainase.  Jumlah Bantek. Bintek.70       129. Milyar)         67.70       644. dan  dan persampahan  pendampingan (SSK)  drainase   150 Bantek. Bintek.  Pengembangan Sumber  Pembiayaan Dan Pola  426 Bantek. dan persampahan  drainase  150 kegiatan monev  persampahan  Total Alokasi  (Rp. Bintek.90   76    . drainase.  75 buah NSPK Pengawasan. dan  dan pendampingan  pendampingan (SSK)  (SSK) air limbah   pengelolaan air limbah.  dan pendampingan  (SSK) persampahan  35 paket diklat  Jumlah penyelenggaraan  pengelolaan air  pelatihan (Diklat) teknis  limbah   pengelolaan sanitasi lingkungan  15 paket diklat  dan persampahan  pengelolaan drainase  15 paket diklat  pengelolaan  persampahan  226 kegiatan monev  Jumlah monev kinerja  air limbah   pengembangan air limbah. Pembinaan. serta  pendampingan SSK  Pengelolaan  Pengembangan  Infrastruktur Sanitasi  dan Persampahan  Indikator  Target 2014  65 paket diklat   426 kegiatan monev   Jumlah NSPK untuk pengelolaan  25 NSPK air limbah.  50 kegiatan monev  drainase.No  3    Program/Kegiatan  Sasaran  Prioritas  Pengaturan. Bintek. 20  NSPK drainase.50         54.

 pulau  Penyediaan Air Minum  terluar.  terpencil.  100 kawasan khusus  Investasi.  prasarana pengumpulan sampah  dan persampahan terpadu 3R  Target 2014  15 kegiatan fasilitasi pengembangan sumber  pembiayaan dan  pengembangan pola  investasi  persampahan  11 kab/kota dengan  sistem offsite dan 210  kab/kota dengan sistem  on‐site  50 kab/kota Peningkatan TPA di  210 kab/kota  250 unit sarana  pengumpul sampah  250 lokasi persam‐ pahan terpadu 3R  4.650 desa.458.884.00    5. 577 kawasan MBR  Pembiayaan dan Pola  perkotaan. 820 IKK.00       Penanganan drainase di 50  kab/kota (4.600 Ha)  Peningkatan TPA di 210  kab/kota   Sarana pengumpul sampah  sebanyak 250 unit      Persampahan terpadu 3R di  250 lokasi  4  Pengaturan. dan 53 kawasan  pelabuhan perikanan           3. serta  Pengembangan Sistem  (pemekaran.  Pengembangan Sumber  desa.650  Pengawasan. 100  kawasan khusus  (pemekaran.IKK.No  Program/Kegiatan  Prioritas  Sasaran  15 kegiatan fasilitasi  pengembangan sumber  pembiayaan dan  pengembangan pola investasi  persampahan  Peningkatan pelayanan air  limbah di 221  kab/kota  Indikator  Jumlah fasilitasi pengembangan  sumber pembiayaan dan pola  investasi bidang persampahan  melalui kerjasama pemerintah.00   77  .500.00   Jumlah desa. 577  kawasan MBR   perkotaan.  peningkatan pelayanan air  minum di 4. Pembinaan.  dunia usaha. dan masyarakat  Pembangunan prasarana dan  sarana air limbah dengan sistem  off‐site dan on‐site  Pembangunan drainase  perkotaan  Peningkatan/pembangunan TPA.  dan 53 kawasan  pelabuhan perikanan  Total Alokasi  (Rp. pulau  terluar.  dan KAPET). perbatasan. terpencil. 820 IKK. Milyar)         15.204. perbatasan. dan kawasan  khusus (pemekaran. terpencil. perbatasan.  dan KAPET) yang terfasilitasi  10.00        4. dan KAPET). kawasan MBR  perkotaan. pulau  terluar.

 jumlah provinsi yang  melakukan kampanye        74.00       fasilitasi pinjaman bank bagi  107 PDAM.00       kampanye hemat air di 32  provinsi dan percontohan  reuse dan daur ulang air  limbah di 8 lokasi  Jumlah aktivitas reuse/daur  ulang air. dan 9 laporan studi  alternatif pembiayaan  pengembangan SPAM        71.00   78    .00           209.00         83.No  Program/Kegiatan  Prioritas      Sasaran  Pembinaan bagi 185 PDAM  dan 225 non‐  PDAM  Rencana Induk SPAM di 200  kab/kota  Diklat bagi penyelenggara air  minum di 100 kab/kota dan  monev di 299 kab/kota  Indikator  Jumlah PDAM dan non‐PDAM  yang  memperoleh pembinaan  Jumlah Rencana Induk SPAM  yang telah ditetapkan  Jumlah penyelenggaraan  pelatihan (Diklat) teknis dan  jumlah monev pengembangan  air minum  Jumlah NSPK tersusun dan  jumlah kab/kota yang  menyelenggarakan  pengembangan SPAM sesuai  NSPK  Jumlah laporan pra studi  kelayakan KPS dan studi  alternatif pembiayaan  Target 2014  Pembinaan bagi 185  PDAM dan 225 non‐ PDAM  200 kab/kota Diklat bagi  penyelenggara air  minum di 100 kab/kota  dan monev di 299  kab/kota  22 NSPK air minum dan  NSPK  dalam Perda di 100  kab/kota  107 PDAM terfasilitasi  pinjaman bank  prastudi KPS di 23  PDAM   9 laporan studi  alternatif pembiayaan  pengembangan SPAM  32 provinsi dan 8 lokasi Total Alokasi  (Rp. Milyar)       996. prastudi KPS di 23  PDAM .00           22 NSPK air minum dan NSPK  dalam Perda di  100 kab/kota      104.

500 pegawai  31 paket untuk  persampahan dan drainase  65 unit untuk air minum dan  air limbah  33 paket cadangan  mendesak bidang perkim  Indikator  Jumlah pegawai dan paket  pembinaan  Penyediaan prasarana dan  sarana air minum.500 pegawai dan 233  paket  31 paket untuk  persampahan dan  drainase  65 unit untuk air  minum dan air limbah  33 paket cadangan  mendesak bidang  perkim  185 paket Total Alokasi  (Rp. air limbah. Kerjasama  Luar Negeri.20   TOTAL ALOKASI DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA. Milyar)   1.No  5  Program/Kegiatan  Prioritas  Pelayanan Manajemen  Bidang Permukiman  Sasaran  Pelaksanaan administrasi  penggajian dan perkantoran  untuk 9. Data  Informasi serta Evaluasi  Kinerja Infrastruktur  Bidang Permukiman  185 paket Jumlah paket penyusunan  kebijakan.00   6  Penyusunan Kebijakan. strategi. kerjasama luar negeri  dan pola investasi.  Program dan  Anggaran. data  dan informasi      441. evaluasi. program dan  anggaran.00       650.  persampahan dan drainase pada  lokasi pasca bencana/konflik   sosial  Target 2014  9.167.000.00     ‐‐‐‐‐‐‐        79    . KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM  50.

Kementerian/Lembaga : Kementerian Perumahan Rakyat  
No  Program/Kegiatan Prioritas  Sasaran  Indikator  Target  2014  Total Alokasi (Rp. Milyar)          1.171,38  1.171,38  12.111,12  4.560,00  536,25 

I  PROGRAM DUKUNGAN DAN MANAJEMEN TUGAS TEKNIS LAINNYA 1  Dukungan Manajemen dan  Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya  II  PROGRAM PENGEMBANGAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN 1  Pembangunan rumah susun  380 twin block Jumlah rusunawa terbangun sederhana sewa  50.000 unit Jumlah fasilitasi dan stimulasi  2  Fasilitasi dan stimulasi  pembangunan baru perumahan  pembangunan perumahan  swadaya  swadaya  3  Fasilitasi dan stimulasi peningkatan  50.000 unit Jumlah fasilitasi dan stimulasi  kualitas perumahan swadaya  peningkatan kualitas perumahan  swadaya  700.000 unit Jumlah fasilitasi dan stimulasi  4  Fasilitasi pembangunan PSU  prasarana, sarana dan utilitas  kawasan  perumahan dan  perumahan swadaya  permukiman  5  Fasilitasi pembangunan PSU  50.000 unit Jumlah fasilitasi dan stimulasi  perumahan swadaya  prasarana, sarana dan utilitas  perumahan swadaya  6  Fasilitasi dan Stimulasi Penataan  655 Ha Jumlah permukiman kumuh yang  Lingkungan Permukiman Kumuh  terfasilitasi  7  Fasilitasi pra‐sertifikasi dan  30.000 unit Jumlah unit lahan dan bangunan  pendampingan pasca‐sertifikasi   rumah yang terfasilitasi pra‐sertifikasi  dan pendampingan pasca sertifikasi 
 

380 50.000

50.000

286,25 

700.000

4.375,00 

50.000

236,25 

655 30.000

1.043,00  12,00 

80 

No  Program/Kegiatan Prioritas  Sasaran  Indikator  8  Fasilitasi pembangunan rumah  5.000 unit Jumlah rumah khusus terbangun khusus  20 peraturan  Jumlah revisi peraturan perundangan  9  Pengembangan Kebijakan dan  Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan  perundangan  Perumahan dan Permukiman  III  PROGRAM PENGEMBANGAN PEMBIAYAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN 10 peraturan  Jumlah revisi peraturan perundangan  1  Pengembangan Kebijakan dan  Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan  perundangan  Pembiayaan Perumahan dan  Permukiman  TOTAL ALOKASI KEMENPERA 2010‐2014 

Target  5.000 20 

Total Alokasi 259,75  802,62 

10 

412,01  412,01 

13.694,50 

  ‐‐‐‐‐‐‐   

81 
 

ERATA
1. Matrik Target Prioritas 6 - Perumahan Rakyat (Halaman 29)

Seharusnya:
TARGET SASARAN INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 K/L

No

SUBSTANSI INTI/ KEGIATAN PRIORITAS

PERUMAHAN RAKYAT: Pembangunan 685.000 Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi, 180 Rusunami dan 650 twin block berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836.000 keluarga yang kurang mampu pada 2012 1 Pembangunan rumah susun sederhana sewa Pengaturan, Pembinaan, Pengawasan dan Penyelenggaraan dalam Pengembangan Permukiman Fasilitasi pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas kawasan perumahan dan permukiman 380 twin block 26.700 unit Jumlah rusunawa terbangun 100 100 180 0 0 Kemenpera

2

Jumlah satuan unit huni-an rumah susun yang terbangun dan infra-struktur pendukungnya Jumlah fasilitasi dan stimulasi prasarana, sarana, dan utilitas kawasan perumahan dan permukiman

3.960

7.041

7.041

5.200

3.458

Kemen. PU

3

700.000 unit

90.374 117.010 145.000

161.616 186.000 Kemenpera

000 unit 685.Perumahan dan Permukiman (Halaman 68. Poin 15) Seharusnya: Total Alokasi (Rp. Milyar) PM No Kegiatan Prioritas Sasaran Indikator Target 2014 Program K/L 15 Bantuan subsidi perumahan 685.000 Pengembangan Pembiayaan Perumahan & Permukiman Kementerian Perumahan Rakyat .2. Tabel Rencana Tindak Prioritas Bidang Sarana dan Prasarana .

00 4 Fasilitasi pembangunan PSU kawasan perumahan dan permukiman .374 2014 700.000 K) No PROGRAM/KEGIATAN PRIORITAS TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) 4.3.Kementerian Perumahan Rakyat (Halaman 78. sarana dan utilitas kawasan perumahan dan permukiman 90. Tabel Rencana Tindak Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 Per Kementerian/Lembaga . Poin 4) Seharusnya: SASARAN (Hasil Outcomes/ Output yang diharapkan) 700.000 unit TARGET INDIKATOR 2010 Jumlah fasilitasi dan stimulasi prasarana.375.

Perumahan dan Permukiman SASARAN (Hasil Outcomes/ Output yang diharapkan) Tersusunnya Rencana Tindak Sistem Ruang Terbuka Hijau (RTH) TARGET INDIKATOR 2010 Jumlah kab/kota yang mendapat fasilitasi penyusunan Rencana Tindak Sistem Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jumlah NSPK bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan 33 2014 213 k) NO FOKUS PRIORITAS/ KEGIATAN PRIORITAS PROGRAM K/L TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) 66.4. Dan Pengawasan Dalam Penataan Bangunan Dan Lingkungan Termasuk Pengelolaan Gedung Dan Rumah Negara.0 b Pengaturan.0 a Pengaturan.0 . Pembinaan. Pengawasan dan Penyelenggaraan dalam Pengembangan Permukiman Jumlah NSPK nasional bidang permukiman 2 5 k) 7. Pembinaan. Rencana Tindak Prioritas Bidang Wilayah dan Tata Ruang . serta Penyelenggaraan Pembangunan Bangunan Gedung dan Penataan Kawasan/ Lingkungan Permukiman Pembinaan dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman Kemen. Pekerjaan Umum Termanfaatkannya produk pengaturan bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan Tersusunnya NSPK nasional bidang pengembangan permukiman 7 37 k) 19.Prioritas Bidang: Pembangunan Perkotaan overlap dengan Rencana Tindak Prioritas Bidang Sarana dan Prasarana .

Pembinaan. Pengawasan dan Penyelenggaraan dalam Pengembangan Permukiman Tersusunnya Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIK) di daerah Jumlah kab/kota yang memperoleh pendampingan penyusunan Strategi Pemba-ngunan Permu-kiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIK) 50 207 k) Pembinaan dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman Kemen. Dan Pengawasan Dalam Penataan Bangunan Dan Lingkungan Termasuk Pengelolaan Gedung Dan Rumah Negara. Pembinaan.NO FOKUS PRIORITAS/ KEGIATAN PRIORITAS SASARAN (Hasil Outcomes/ Output yang diharapkan) Termanfaatkannya keluarahan/desa dalam pendampingan pemberdayaan masyarakat PNPM-P2KP TARGET INDIKATOR 2010 Jumlah Kelurahan/Desa yang mendapatkan pendampingan pemberdayaan sosial (P2KP-PNPM) 9.556 2014 20. Pekerjaan Umum 292. Pekerjaan Umum d Pengaturan.943.0 c Pengaturan.293 k) PROGRAM K/L TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) 5.0 . serta Penyelenggaraan Pembangunan Bangunan Gedung dan Penataan Kawasan/ Lingkungan Permukiman Pembinaan dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman Kemen.

0 Meningkatnya kualitas lingkungan permukiman tradisional dan bersejarah yang setara dengan 422 Ha 65 160 k) 400. serta Penyelenggaraan Pembangunan Bangunan Gedung dan Penataan Kawasan/Lingkungan Permukiman Pembinaan dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman Kemen. Pekerjaan Umum 32 152 k) 1. Dan Pengawasan Dalam Penataan Bangunan Dan Lingkungan Termasuk Pengelolaan Gedung Dan Rumah Negara.0 .NO FOKUS PRIORITAS/ KEGIATAN PRIORITAS SASARAN (Hasil Outcomes/ Output yang diharapkan) Meningkatnya kualitas ruang terbuka hijau pada lingkungan permukiman yang setara dengan 369 Ha Meningkatnya jumlah kawasan yang meningkat kualitasnya yang setara dengan 7. Pembinaan.137.380 Ha yang mendapatkan dukungan sarana dan prasrana pada kawasan yang direvitalisasi Jumlah kawasan setara 422 Ha yang mendapatkan dukungan sarana dan prasarana pada permukiman tradisional dan bersejarah 39 2014 207 k) PROGRAM K/L TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) 562.0 e Pengaturan.380 Ha TARGET INDIKATOR 2010 Jumlah Kawasan setara 369 Ha yang mendapatkan dukungan sarana dan prasarana Ruang Terbuka Hijau Jumlah Kawasan setara 7.

0 . Pembinaan. Pekerjaan Umum Jumlah kawasan agropolitan yang dilayani oleh infrastruktur pendukung kegiatan ekonomi dan sosial 50 kws 185 kws k) 1.285. Pengawasan dan Penyelenggaraan dalam Pengembangan Permukiman Pembinaan dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman Kemen.0 f Pengaturan.NO FOKUS PRIORITAS/ KEGIATAN PRIORITAS SASARAN (Hasil Outcomes/ Output yang diharapkan) Tertanganinya kawasan-kawasan pusat pertumbuhan di perdesaan termasuk agropolitan Terbangunnya kawasan yang didukung oleh infrastruktur ekonomi dan sosial wilayah TARGET INDIKATOR 2010 Jumlah kawasan perdesaan potensial / agropolitan yang tertangani 55 kws 2014 205 kws k) PROGRAM K/L TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) 780.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful