Anda di halaman 1dari 6

10 Kewajiban Kita Terhadap Salafiyah

Penulis Syaikh Sulthan Al Ied ⋅ August 21, 2009 ⋅ Print This Post ⋅ Komentar
Terarsipkan dibawah etika, Manhaj

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa
petunjuk dan agama yang haq agar Dia menangkan diatas seluruh agama, dan cukuplah Allah
sebagai saksi. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) melainkah
hanya Allah semata, tidak sekutu bagi-Nya, dengan mengakui dan mentauhidkan Allah. Dan aku
bersaksi bahwa Muhamad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga Allah senantiasa memberi
sholawat dan salam yang senantiasa bertambah kepada beliau, kepada keluarga beliau, dan para
sahabat beliau. Amma ba’du.

Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam al-Qur`an,

‫ث‬
ْ ّ‫حد‬ َ ّ ‫ة َرب‬
َ ‫ك‬ َ
َ ‫ف‬ ِ ‫م‬
َ ‫ع‬
ْ ِ ‫ما ب ِن‬
ّ ‫وأ‬َ

“Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu ceritakan.” (Adh-Dhuha: 11)

Al-Allamah As-Sa’di berkata mengenai ayat ini, “Dan ini mencakup nikmat-nikmat diniyah
(yang berkaitan dengan agama) dan juga nikmat-nikmat duniawiyah (yang berkaitan dengan
dunia). Maka ceritakanlah, yakni, sanjunglah Allah atas nikmat itu dan sebutlah secara khusus
nikmat itu jika ada maslahatnya. Jika tidak (ada maslahatnya) maka ceritakanlah nikmat-nikmat
Allah itu secara umum. Karena sesungguhnya menceritakan nikmat-nikmat Allah akan
mendorong (kita) untuk mensyukurinya dan akan menyebabkan kecintaan hati kepada (Allah)
Yang memberikan nikmat trsebut, karena sesungguhnya hati itu tercipta dengan tabiat mencintai
orang yang berbuat baik.” Selesai perkataan beliau.

Dan di antara nikmat dan karunia yang agung di masa kita sekarang ini, adalah nampaknya
sunnah, terkalahkannya bid’ah, dan sambutan manusia dari belahan timur dan barat untuk
berpegang teguh dengan manhaj (metode dan jalan dalam beragama) yang penuh berkah,yakni
manhaj salafi. Dan juga sambutan mereka untuk bernaung di bawah panji ahlussunnah as-
salafiyin yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan hak itu pula mereka
menjalankan keadilan. (Yang mereka terdiri dari) para sahabat yang baik, para tabi’in yang
mengikuti mereka dengan baik, para imam yang mendapat petunjuk seperti imam yang empat
dan siapa saja dari para ulama yang taat yang menempuh jalan mereka, seperti Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah, al-Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdilwahhab dan selain mereka dari
kalangan para ulama yang tulus dan baik.

Dan di antara keajaiban perbuatan Allah ta’ala, bahwa ahlul batil (para pengikut kebatilan) telah
mengerahkan tentara berkuda dan pasukan pejalan kaki mereka untuk menghalangi jalan
ahlussunnah as-salafiyin. Mereka melariskan kebatilan-kebatilan mereka, mengada-adakan
kedustaan, membuat-buat syubhat, dan mengadakan makar yang besar. Akan tetapi, Allah
enggan melainkan Dia akan menampakkan cahaya-Nya, menolong sunnah Nabi-Nya –
shollallohu ‘alaihi wa sallam – maka Dia pun melapangkan dada-dada untuk (menerima) akidah
yang murni ini, menggiring hati-hati manusia untuk menuju manhaj as-Salaf (pendahulu umat
Islam) yang shalih, menelantarkan ahlul batil, dan mengembalikan tipu daya mereka. Maka
segala puji hanya bagi Allah semenjak awal hingga terakhir, secara lahir dan batin.

Terhadap kenikmatan penuh berkah yang kita rasakan ini pada hari ini, bagi seorang mukmin
yang bertauhid ada adab-adab syar’i dan kaidah-kaidah yang harus diperhatikan. Di antaranya:

Pertama: Memuji dan bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Karena kenikmatan akan menjadi
langgeng dengan adanya syukur, dan akan hilang dengan ketiadaan syukur. Dan nikmat yang
berkaitan dengan agama ini, bagi seorang yang bertauhid adalah lebih agung daripada
kenikmatan yang berkaitan dengan dunia.

Kedua: Kokoh dan konsisten di atas akidah yang murni, serta berusaha menolong, membela dan
menyebarkan akidah ini dengan usaha yang lebih besar dari yang ada sekarang. Karena jika
Ahlussunnah mengabaikan dakwah mengajak manusia kepada akidah mereka dan membantah
apa saja yang bertentangan dengan akidah ini, niscaya para pengikut hawa nafsu dan kebid’ahan
akan menguasai mereka, sehingga mereka akan membuat kerusakan terhadap para pemuda dan
orang-orang awam.

Ketiga: Bersemangat dalam mempelajari dan mengajarkan ilmu. Karena akidah ini hanya akan
ditolong dengan ilmu, hujjah dan burhan. Sedangkan ahlu bathil memiliki banyak syubhat dan
kebatilan yang tidak mungkin ditolak oleh seorang salafi kecuali jika dia memiliki ilmu dan
penjelasan.

Dakwah salafiyah yang pelakunya memperhatikan ilmu dan pengajarannya, akan tetap langgeng,
tersebar dan membuahkan hasil. Seperti dakwahnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –
qoddasallohu ruhahu (semoga Allah mensucikan ruh beliau) – dan para murid beliau seperti
Ibnul Qayyim, al-Hafizh Ibnu Katsir. Juga seperti dakwahnya al-Imam al-Mujaddid Muhammad
bin Abdilwahhab – semoga Alloh mengampuni beliau, melimpahkan balasan dan pahala yang
banyak kepadanya -, yang mana beliau tidaklah meninggal dunia kecuali telah meninggalkan
begitu banyak murid-murid yang melaksanakan dakwah dan penjelasan, sehingga mereka pun
setelah itu menjadi ulama di berbagai negri dan menjadi penolong sunnah dengan hujah dan
burhan.

Begitu pula dengan dakwah-dakwah salafiyah yang merupakan buah dari dakwah ishlahiyah
(dakwah menuju perbaikan) itu, di seluruh negri-negri Islam. Seperti dakwah (yang dilakukan
oleh) Ahlul Hadits di India dan sekitarnya, dakwah Anshorussunnah di Mesir, dakwah al-
Allamah al-Albani di Syam, al-Allamah Taqiyuddin al-Hilali di Maghrib (Maroko), dakwah al-
Allamah Muqbil al-Wadi’i di negri Yaman, dan dakwah-dakwah ishlahiyah lain yang berdiri di
atas ilmu dan pengajaran. Dan dakwah (mengajak manusia) kepada Allah yang dilandasi dengan
bashiroh (ilmu dan keyakinan) dan petunjuk, akan tetap langgeng dan kokoh.

Dan di antara yang bisa melemahkan dakwah salafiyah:


Berpalingnya sebagian pengikut dakwah ini dari ilmu dan pengajaran serta hafalan matan dan
pembelajaran sunnah-sunnah, kepada qila wa qola (isu yang merebak). Padahal Nabi –
shollallohu ‘alaihi wa sallam – telah melarangnya. Maka sebagian mereka mencukupkan diri
dengan penisbatan kepada salafiyah, tanpa belajar dan memahami manhaj salaf dan ilmu-ilmu
mereka. Dan perkaranya menjadi lebih buruk jika orang-orang awam itu menonjolkan diri dalam
kancah dakwah salafi, sehingga mereka membuat kerusakan dimana mereka menghendaki
kebaikan. Sedangkan ahlussunnah – dengan memuji Allah – kepemimpinan menurut mereka di
dalam agama, adalah bagi ahlul ilmi (ulama) yang tulus menghendaki kebaikan dengan nasihat.
Sebagaimana datang dalam sebuah hadits,

‫ضّلوا‬َ ‫ف‬ َ ٍ ‫عل ْم‬


ِ ‫ر‬
ِ ْ ‫غي‬
َ ِ ‫وا ب‬ ْ َ ‫فأ‬
ْ َ ‫فت‬ َ ‫سئ ُِلوا‬ َ ، ً ‫هال‬
ُ ‫ف‬ ّ ‫ج‬
ُ ‫سا‬ ُ ‫س ُر‬
ً ‫ؤو‬ ُ ‫خذَ الّنا‬
َ ّ ‫م ؛ ات‬
ٌ ِ ‫عال‬
َ ‫ق‬ ْ َ ‫ذا ل‬
َ ْ ‫م ي َب‬ َ ِ ‫حّتى إ‬
َ
‫ضّلوا‬
َ ََ ‫أ‬‫و‬

“Sehingga jika tidak lagi tersisa seorang alim, maka manusia pun mengangkat pemimpin-
pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan
menyesatkan.”

Dan nasihatku kepada siapa saja di antara saudara kami salafiyin yang telah Allah karuniai ilmu,
hendaknya dia mendermakan ilmunya di masjid-masjid, di tempat-tempat taklim dan selainnya.
Hendaknya dia duduk mengajari manusia urusan agama mereka, dan membuka pandangan
mereka tentang manhaj salafi.

Keempat: Semangat dalam mendakwahkan manhaj salafi. Karena seorang salafi yang tulus
adalah kunci kebaikan bagi saudara-saudaranya. Mendakwahi mereka dengan ilmu, hikmah dan
kejelasan dalam dakwah. Mewaspadai (dan menghindari) penyembunyian kebenaran karena
memperhatikan makhluk dengan alasan hikmah! Karena sesungguhnya hal ini menyelisihi
perintah Allah kepada para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalah dengan gamblang.

Kelima: Memurnikan diri untuk kebenaran dan menjauhi sikap tahazzub terhadap individu-
individu (menjadikan individu tertentu sebagai patokan dalam mencintai dan memusuhi – pent).
Ketika Ahlussunnah salafiyin melarang sikap ta’ashub (fanatik) kepada para imam besar yang
menjadi panutan seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Malik, asy-Syafi’i dan yang lain, lalu
bagaimana dengan orang-orang yang di bawah mereka?! Dan ketika Ahlussunnah dengan
penghormatan dan pengagungan mereka terhadap para imam, serta pembelajaran mereka
terhadap kitab-kitab para ahli fikih agama ini, mereka tetap saja melarang ta’ashub madzhabi
(fanatik kepada madzhab tertentu),karena yang dijadikan sandaran adalah dalil syar’i.

Maka aku katakan: jika demikian perkaranya, maka mereka pasti melarang dari sesuatu yang
dinamakan oleh al-Allamah al-Albani – semoga Allah mengampuni beliau – dengan “Ta’ashub
kepada para guru”. Karena sungguh hal ini telah muncul dan tumbuh dalam tubuh dakwah
salafiyah, hizbiyah yang tersamar! Engkau melihat mereka memberikan peringatan dari hizbiyah
yang dibenci, sedangkan mereka sendiri terjerumus ke dalam salah satu jenis hizbiyah, baik
mereka rasakan maupun tidak! Dan engkau lihat hal ini dengan jelas ketika terjadi perselisihan
dan perdebatan?! Ya Allah, cukupkanlah kami dari kejelekan fitnah-fitnah, yang lahir maupun
yang batin…
Dan yang menjadi kewajiban seorang salafi adalah mencari kebenaran, menjadi pengikut dalil,
dengan tetap menghormati para imam dan ulama.

Keenam: Saling menyayangi sesama mereka. Dahulu, para salaf mengatakan, “Jika engkau
mendengar ada seorang Ahlussunnah di belahan timur atau barat, maka kirimkanlah salam
kepadanya, (karena) alangkah sedikitnya Ahlussunnah.” Dan Allah telah menyifati pendahulu
kita yang shalih bahwa mereka adalah orang-orang yang berkasih sayang sesama mereka. Maka
hendaknya hal ini menjadi ciri Ahlussunnah, dan menjadi akhlak mereka yang diperhatikan
dalam belajar dan pengajaran kepada saudara mereka dan dalam meberikan nasihat kepada
mereka serta dalam bermuamalah sesama mereka. Jika kasih sayang ini telah dicabut dari sesama
Ahlussunnah, niscaya mereka akan berpecah belah, berselisih, dan para pengikut hawa nafsu
akan mencuri orang yang lemah dari kalangan Ahlussunnah. Ya Allah, tetapkanlah kami, Yaa
‘Aziz ya Ghoffar!

Ketujuh: Berhati-hati dari berkata atas nama Allah tanpa ilmu, dan berhati-hati agar seseorang
tidak memasuki perkara yang tidak perlu baginya. Pada hari ini – dengan memuji Allah – tidak
ada satu negri pun yang kosong dari Ahlussunnah. Dan (keadaan) mereka ada beberapa
golongan: di antara mereka ada yang awam, dan banyak dari para pemuda kita yang termasuk
golongan ini. Di antara mereka ada para penuntut ilmu, yang mereka bertingkat-tingkat. Dan di
antara mereka ada orang yang alim. Maka kewajiban seorang yang masih awam adalah
mengetahui kedudukan dirinya, tidak boleh baginya ikut masuk membicarakan perkara agama
yang tidak dia mampui dengan alasan untuk menolong sunnah! Karena sesungguhnya sunnah
tidaklah ditolong dengan pembicaraan tentang agama Allah tanpa ilmu.

Dan kewajiban seorang salafi yang awam, tidak menonjolkan diri untuk berdebat dengan para
pengikut hawa nafsu dan kebid’ahan. Sering mereka membuat kerancuan agama terhadap salafi
yang awam ini dengan berbagai syubhat yang ada pada mereka. Sedangkan dia tidak memiliki
ilmu yang bisa membantah kesesatan dan syubhat-syubhat mereka.

Maka kewajiban seorang salafi yang awam dan juga pemuda salafi, menghadapkan diri dengan
hati yang jujur dan sungguh-sungguh untuk menuntut ilmu dan bertanya kepada para ulama
tentang perkara yang susah bagi mereka.

Kedelapan: Bersabar dan berbaik sangka kepada Allah. Jika para musuh telah menyatakan
permusuhannya kepada kalian secara terang-terangan, maka berbaik sangkalah kepada Robb
kalian dan yakinlah bahwa Allah pasti menolong dan memenangkan agama-Nya, memuliakan
wali-waliNya. Lihatlah orang yang telah mendahului kalian dari kalangan Ahlussunnah, seperti
Imam Mubajjal Ahmad bin Hanbal. Ketika terjadi fitnah, tinggallah beliau sendirian
menyampaikan kebenaran secara terang-terangan, dan bersabar atas gangguan yang menimpa.
Sampai akhirnya Allah memenangkan urusannya, memuliakan kedudukannya dan menjadikan
kecintaan terhadap beliau ada pada hati-hati orang yang bertauhid.

Maka bersabarlah – semoga Allah memberkahi kalian – jangan merasa lemah dan jangan
bersedih. Ketahuilah, bahwa tipu daya syaithan dan golongannya adalah lemah, sedangkan
kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
Kesembilan: Berwaspada dari pintu-pintu masuk syaithan dan golongannya. Karena mereka
senantiasa berusaha membuat kerusakan di antara Ahlussunnah salafiyin, membangkitkan fitnah
di tengah-tengah mereka, mengobarkan kemarahan dalam dada-dada mereka, menabur benih
permusuhan di antara mereka dengan namimah (adu domba), penyebaran kedustaan, peragu-
raguan seorang salafi terhadap saudaranya, dan menyampaikan persangkaan-persangkaan dusta.
Sehingga akhirnya kalimat persatuan pun menjadi tercerai berai, dan sesama saudara saling
bermusuhan. Allah ta’ala berfirman,

ِ ْ ‫م ال‬ َ
ْ ُ ‫فيك‬
‫م‬ ِ ‫و‬َ ‫ة‬
َ َ ‫فت ْن‬ ُ ُ ‫غون َك‬ ْ ُ ‫خَلل َك‬
ُ ْ ‫م ي َب‬ ِ ‫عوا‬
ُ ‫ض‬ ْ ‫وَل‬
َ ‫و‬ َ ‫خَباًل‬
َ ‫م إ ِّل‬
ْ ُ ‫دوك‬
ُ ‫ما َزا‬ ُ ‫في‬
ّ ‫كم‬ ِ ‫جوا‬
ُ ‫خَر‬ ْ َ‫ل‬
َ ‫و‬
‫م‬ْ ‫ه‬ُ َ‫ن ل‬َ ‫عو‬ُ ‫ما‬ ّ ‫س‬ َ

“Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari
kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu,
untuk mengadakan kekacauan di antara kamu, sedang di antara kamu ada orang-orang yang
amat suka mendengarkan perkataan mereka.” (at-Taubah: 47)

Dan kewajiban seorang salafi adalah membela kehormatan orang yang beriman. Jika ada suatu
kebatilan yang disandarkan kepada saudaranya yang telah dikenal dengan sunnah, maka dia
wajib mengamalkan ayat yang mulia ini, yang telah Allah jadikan sebagai adab bagi kita. Allah
‘azza wa jalla berfirman,
َ
‫م‬
ٌ ‫ظي‬
ِ ‫ع‬
َ ‫ن‬
ٌ ‫هَتا‬
ْ ُ ‫ذا ب‬ َ َ ‫حان‬
َ ‫ك ٰه‬ َ ْ ‫سب‬
ُ ‫ذا‬ َ ّ ‫ن ل ََنا أن ن ّت َك َل‬
َ ‫م ب ِ ٰه‬ ُ ‫كو‬ ّ ‫قل ُْتم‬
ُ َ ‫ما ي‬ ُ ُ‫موه‬
ُ ُ ‫عت‬
ْ ‫م‬ َ ْ‫وَل إ ِذ‬
ِ ‫س‬ ْ َ ‫ول‬
َ

“Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah
pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang
besar.” (an-Nur: 16)

Kesepuluh: Tawadhu’ dan bersikap lembut terhadap ahlussunnah salafiyin. Termasuk musibah
dan bencana yang menghinakan, adanya seseorang yang terpedaya dengan amalannya. Jika
muncul darinya satu bentuk pertolongan terhadap dakwah salafiyah ini, dia merasa tinggi di atas
saudara-saudaranya dengan keutamaan ini. Dia melihat bahwa dialah yang paling berhak dari
pada yang lainnya – meskipun yang lain lebih berilmu, lebih bertakwa dan lebih memberi
manfaat dari pada dia -. Semacam ini, akan bisa merusak keutamaan tersebut. Dan Allah lebih
mengetahui tentang orang yang terluka di jalan-Nya. Orang yang masih hidup memang tetap
dikhawatirkan terkena fitnah. Maka kita memohon kepada Allah, keikhlasan dan kemantapan
serta kekokohan di atas sunnah.

Dan kewajiban seorang salafi jika mempunyai suatu andil dalam menolong sunnah, adalah
memuji Allah atas kenikmatan dan keutamaan ini. Dia memohon keikhlasan kepada Allah,
memohon agar amalnya diterima, dan agar dia bisa bersikap lembut terhadap saudara-
saudaranya, dengan terus menyampaikan nasihat kepada mereka, dan mengharapkan kebaikan
bagi mereka.

Semoga Allah memberkahi kesungguhan, meluruskan langkah, memberi taufik kepada saudara-
saudara kita kepada jalan yang lurus, menetapkan kita dan mereka di atas sunnah sampai kita
menjumpai-Nya. Semoga sholawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita
Muhammad, kepada keluarga, dan para sahabat beliau.

Ditulis oleh:

Sulthon bin Abdirrohman al-’Ied

Dengan memuji kepada Allah, bersholawat dan bersalam kepada Rasul-Nya.

Pada permulaan Jumada al-Ula tahun 1429 H

Sumber : http://www.sultanal3eed.com