Anda di halaman 1dari 4

Bulai ( Peronosclerospora maydis (Rac.

) Shaw )
Biologi Patogen Peronosclerospora maydis (Rac.)
Menurut Anonimus C (2010), klasifikasi dari patogen penyebab penyakit bulai adalah:
Kingdom : Fungi
Filum : Oomycota
Kelas : Oomycetes
Ordo : Sclerosoprales

Famili : Sclerosporaceae
Genus : Peronosclerospora
Spesies : Peronosclerospora maydis Rac (Shaw)
Konidiofor berukuran 132 - 261 mikron, tipis. Konidianya hialin, berdinding tipis, berukuran
24 - 46.6 x 12 - 20 mikron. Oogonianya berwarna coklat kemerahan, berbentuk elips tidak
beraturan, berukuran 55 - 73 x 49 - 58 mikron (Singh, 1998).
Pada umumnya konidiofor mempunyai percabangan tingkat tiga atau empat. Cabang tingkat
terakhir membentuk sterigma. Konidium yang masih mudaberbentuk bulat, sedang yang
sudah masak dapat membentuk jorong. Konidium tumbuh dengan membentuk pembuluh
kecambah (Semangun, 1993) (Gambar.1)

Gejala Serangan
Tanaman yang terserang mengalami gangguan pertumbuhan. Bentuk daunnya akan
meruncing dan kecil. Bila infeksi terjadi pada tanaman yang lebih tua, tanaman dapat tumbuh
terus dan membentuk buah. Buah sering mempunyai tangkai yang panjang, dengan kelobot
yang tidak menutup di ujungnya dan hanya membentuk sedikit biji (Semangun, 1993).

Gejala yang ditunjukkan oleh penyakit ini adalah pertumbuhan terhambat, pada daun akan
terlihat garis-garis klorotik. Penyakit akan terlihat jelas pada saat tanaman masih muda. Daun
akan berwarna putih kekuningan mulai dari pangkalnya, infeksi kedua akan terlihat garis
klorotik sempit disepanjang permukaan daun (Singh, 1998) (Gambar 2).
Faktor yang mempengaruhi
Penyakit bulai pada jagung terutama terdapat di dataran rendah. Konidium yang paling baik
berkecambah pada suhu 30 ºC. Infeksi hanya terjadi kalau ada air, baik ini air embun, air
hujan. Infeksi sangat ditentukan oleh umur tanaman dan umur daun yang terinfeksi. Tanaman
yang berumur lebih dari 3 minggu cukup tahan terhadap infeksi, dan makin muda tanaman,
makin rentan pula (Semangun, 1993).
Pembentukan konidia jamur ini menghendaki air bebas, gelap dan suhu tertentu yaitu 24 ºC.
Penyakit ini merupakan penyakit yang paling berbahaya. Penyebarannya sangat luas,
kehilangan hasil dapat mencapai 90% (Wakman dan Burhanuddin, 2007).
Pengendalian
Menurut Semangun (1993), pengendalian penyakit bulai yaitu:
1. Penanaman varietas tahan seperti Arjuno, Pioner 12, Abimanyu

2. Segera mencabut tanaman yang menunjukkan gejala penyakit

3. Merawat benih dengan metalaksil (ridomil 35 SD)

Tiga cara pengelolaan penyakit bulai dengan menggunakan kultur teknis, penggunaan
fungisida dan penanaman varietas tahan bulai. Hal yang paling baik dapat digunakan
kombinasi dari ketiga pengandalian tersebut (Singh, 1998).
2. Karat (Puccinia sorghi Schw dan P. Polysora Underw)

Biologi Patogen
Menurut Anonimus b (2010), klasifikasi dari patogen penyebab karat ini adalah:
Kingdom : Fungi
Filum : Basidiomycota
Kelas : Pucciniomycotina
Ordo : Pucciniales
Famili : Pucciniaceae
Genus : Puccinia
Spesies : Puccinia sorghi Schw
Jamur mempunyai uredium pada kedua sisi daun dan upih daun, rapat atau jarang, tersebar
tidak menentu. Urediospora bulat atau jorong 24-29 x 22-29 mikron, berdinding coklat
kemerahan, berduri-duri halus. Jamur membentuk telium terbuka (Semangun, 1993).
Tebal dinding spora 1-1,5 mikron dengan 4-5 lubang ekuator, ukuran 18-27 x 29-41 mikron,
mudah lepas, dua sel, timbul pada tangkai pendek ukuran 10-30 mikron. Teliospora berwarna
coklat, halus, elips, kedua ujungnya membulat, (Wakman dan Burhanuddin, 2007) (Gambar
3).

Gejala Serangan
Gejala pada tanaman jagung yang terinfeksi penyakit karat adalah adanya bisul, terutama
pada daun. Bisul terbentuk pada kedua permukaan daun bagian atas dan bawah. Bisul dengan
warna coklat kemerahan tersebar pada permukaan daun dan berubah warna menjadi hitam
kecoklatan setelah teliospora berkembang. Bisul ini dapat terlihat jelas dan bila dipegang
akan terasa kasar (Gambar.4). Pada saat terjadi penularan berat, daun menjadi kering
(Wakman dan Burhanuddin, 2007).

Di lapang kadang-kadang epidermis tetap menutupi urediosorus sampai matang. Tetapi


adakalanya epidermis pecah dan massa spora dalam jumlah besar menjadi tampak
(Semangun, 1993).
Faktor yang mempengaruhi
Urediospora Puccinia polysora paling banyak dipencarkan menjelang tengah hari.
Perkecambahan spora adalah 27-28º C. Puccinia sorghi terutama terdapat pada suhu agak
rendah di daerah pegnnungan, berkembang pada suhu 16-23 ºC (Semangun, 1993).
Perbedaan ras masing-masing spesies telah diketahui dari reaksi beberapa varietas jagung.
Puccinia polysora tidak berkembang pada ketinggian 1200 m dan diketinggian kurang dari
900 m cocok bagi perkembangan penyakit karat (Wakman dan Burhanuddin, 2007).

Pengendalian
Penyakit karat dapat dikendalikan dengan beberapa cara yaitu penanaman varietas tahan
(arjuna, Bromo, Rama, Pioneer-3) dan aplikasi fungisida pada saat mulai tampak bisul pada
karat daun (Wakman dan Burhanuddin, 2007).