Anda di halaman 1dari 14

c   




  
  c 

  
  !
  c ! "



#

 $ % &&&'()*+,

 % &&&'-)-),

. $% &&&'-/&&,

00 % &&&'-)*',

1% &&&&'//',

22 ! % &&&'-3)4,

% &&&'---3,

5   !

6 1
  



3'&&


c 
6 6

$p 7  8

Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang
seksama dan cermat. Karena untuk mendapatkan air yang bersih, sesuai
dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah
banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia,
baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan industri dan
kegiatan-kegiatan lainnya. Dan ketergantungan manusia terhadap air pun
semakin besar sejalan dengan perkembangan penduduk yang semakin
meningkat. (Mukrimah Rahman)
Salah satu kebutuhan penting akan kesehatan lingkungan adalah
masalah air bersih, persampahan dan sanitasi, yaitu kebutuhan akan air bersih,
pengelolaan sampah yang setiap hari diproduksi oleh masyarakat serta
pembuangan air limbah yang langsung dialirkan pada saluran/sungai. Hal
tersebut meyebabkan pendangkalan saluran/sungai, tersumbatnya
saluran/sungai karena sampah pada saat musim penghujan selalu terjadi banjir
dan menimbulkan penyakit.(Wakurnia Wati)
Masalah air merupakan masalah yang utama, baik masalah penyediaan
air bersih di kota dan didesa. maupun masalah penyaluran dan pngelolaan air
buangan penduduk dan industri. Air sangat dibutuhkan oleh semua mahluk di
dunia. Oleh karen itu seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia
berbagai upaya dilakukan untuk menyediakan air bersih yang aman bagi
kesehatan . Adapun air yang sehat harus memenuhi empat kretiria parameter.
Parameter pertama adalah parameter fisik yang meliputi padatan terlarut,
kekeruhan , warna, rasa, bau, dan suhu. Parameter kedua adalah parameter
kimiawi yang terdiri atas berbagai ion, senyawa beracun, kandungan oksigen
terlarut dan kebutuhan oksigen kimia. Parameter yang ketiga adalah parameter
biologis meliputi jenis dan kandungan mikrooganisme baik hewan maupun
tumbuhan. Parameter yang terakhir adalah parameter radioaktif meliputi
kandungan bahan ± bahan radioaktif.
Pada umumnya penyakit kusta terdapat di negara yang sedang
berkembang, dan sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi
lemah. Hal ini sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam
memberikan pelayanan yang memadai di bidang kesehatan, pendidikan,
kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. (Masliah)
Faktor risiko lingkungan berpengaruh yaitu kondisi sanitasi yang
kurang baik meliputi kebersihan rumah, kelembapan udara fasilitas sanitasi
yang jelek dan juga kebiasaan masyarakat tidur bersama-sama, pakai pakaian
bergantian dan BAB di kebun juga dapat memicu terjadinya penularan
berbagai macam penyakit dan tidak menutup kemungkinan kusta. (Munira
I.L).
Adapun untuk Scabies, Faktor yang berperan dalam penularan adalah
sosial ekonomi yang rendah, hygiene perorangan yang jelek, lingkungan yang
tidak saniter, perilaku yang tidak mendukung kesehatan, serta kepadatan p
enduduk. Faktor yang paling dominan adalah kemiskinan dan higiene
perorangan yang jelek di negara berkembang merupakan kelompok
masyarakat yang paling banyak menderita penyakit Scabies. (Effi Ekayanti &
Qolbiyah)

$p 6 6    

Dari latar belakang diatas dapat yang ada maka, penulis menguraikan rumusan
masalah sebagai berikut :
1.p Apa yang dimaksud dengan water washed diseases ?
2.p Bagaimana hubungan antara kualitas mikrobiologi air dengan water
washed diseases ?
3.p Bagaimana hubungan antara penyakit kulit kaitannya dengan water
washed diseases (scabies dan leprosy) ?

X$p 7696
Adapun makalah ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui :
1.p Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan water washed disease;
2.p Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan hubungan antara kualitas
mikrobiologi air dengan water washed diseases;
3.p Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan mengenai penyakit kulit
kaitannya dengan water washed diseases (scabies dan leprosy).


c 
 


&$p c  j j  

Water Washed Disease adalah penyakit yang disebabkan oleh


kurangnya air & tidak terjaminnya kebersihan untuk pemeliharaaan
kebersihan (Hygiene Perorangan). Banyak terdapat di daerah tropis. Penyakit :
Dipengaruhi oleh penularannya & sangat banyak, antara lain :

a)p Penyakit infeksi saluran pencernaan : bersifat fecaloral seperti Diare,


Kholera, Thypoid, Hepatitis Infektiosa, Disentri Basiler
b)p Penyakit infeksi kulit dan selaput lendir. Penyakit yang erat kaitannya
degan Hygiene perorangan yang buruk : infeksi fungus pada kulit,
conjunctivitis
c)p Penyakit yang disebabkan oleh insekta pada kulit & selaput lendir.
Penyakit yang ditentukan oleh tersedianya air bersih untuk hygiene
perorangan untuk mencegah invasi parasit pada tubuh dan pakaian :
Sarcoptes, Scabies, Louse borne relapsing fever, Leprosy dsb.

(Wakurnia Wati).

Faktor risiko lingkungan berpengaruh yaitu kondisi sanitasi yang


kurang baik meliputi kebersihan rumah, kelembapan udara fasilitas sanitasi
yang jelek dan juga kebiasaan masyarakat tidur bersama-sama, pakai pakaian
bergantian dan BAB di kebun juga dapat memicu terjadinya penularan
berbagai macam penyakit dan tidak menutup kemungkinan kusta. (Munira
I.L).
Faktor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah sosial
ekonomi yang rendah, hygiene perorangan yang jelek, lingkungan yang tidak
saniter, perilaku yang tidak mendukung kesehatan, serta kepadatan p enduduk.
Faktor yang paling dominan adalah kemiskinan dan higiene perorangan yang
jelek di negara berkembang merupakan kelompok masyarakat yang paling
banyak menderita penyakit Scabies. (Effi Ekayanti & Qolbiyah)

3$p
      0     :  :
$
Beberapa penyakit yang dapat ditimbulkan oleh air yang mengandung
mikrobiologi maupun senyawa-senyawa pencemar lainnya. Antara lain yaitu
water washed disease. Penyakit yang tergolong dalam water washed disease
antara lain : scabies, leprosy dan sebagainya.
Penyakit scabies dan leprosy tersebut merupakan penyakit kulit yang
tergolong dalam water washed disease.
Secara garis besarnya penyakit water washed diseases dapat terjadi apabila
air yang masuk ke dalam tubuh tercemar oleh kotoran dapat pula ditukarkan
dapat pula ditularkan dengan kotoran yang lebih langsung yaitu antara faecea
dan mulut. Dalam kondisi hieginis yang buruk karena tidak tersedianya air
bersih yang cukup untuk pencucian, penularan penyakit atau infeksi dapat
dikurangi dengan penyediaan air tambahan, dalam hal ini kualitasnya tidak
perlu setaraf dengan air minum.

*$p c ! 


$p ;

Scabies adalah penyakit zoonosis yang menyerang kulit, mudah


menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya,
dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia yang disebabkan
oleh tungau (kutu atau mite) m    
(Buchart, 1997; Rosendal
1997). (Qolbiyah M. Nur)
Gatal merupakan gejala utama sebelum gejala klinis lainnya muncul,
rasa gatal biasanya hanya pada lesi tetapi pada skabies kronis gatal dapat
dirasakan pada seluruh tubuh. Gejala yang timbul antara lain ada rasa gatal
yang hebat pada malam hari, ruam kulit yang terjadi terutama di bagian sela-
sela jari tangan, di bawah ketiak, pinggang, alat kelamin, sekeliling siku,
aerola v vv 
(area sekeliling puting susu), dan permukaan depan
pergelangan.
Faktor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah sosial
ekonomi yang rendah, hygiene perorangan yang jelek, lingkungan yang tidak
saniter, perilaku yang tidak mendukung kesehatan, serta kepadatan p enduduk.
Faktor yang paling dominan adalah kemiskinan dan higiene perorangan yang
jelek di negara berkembang merupakan kelompok masyarakat yang paling
banyak menderita penyakit Scabies ini (Carruthers, 1978; Kabulrachman,
1992).
(Effi Ekayanti)
Prevalensi penyakit Scabies di Indonesia adalah sekitar 6-27% dari
populasi umum dan cenderung lebih tinggipada anak dan remaja (Sungkar,
1997). Diperkirakan sanitasi lingkungan yang buruk di Pondok Pesantren
(Ponpes) merupakan faktor dominan yang berperan dalam penularan dan tingg
inya angka prevalensi penyakit Scabies diantara santri di Ponpes (Dinkes Prop
Jatim, 1997).
Sanitasi lingkungan Ponpes yang diteliti meliputi parameter sanitasi
gedung, sanitasi kamar mandi, pengelolaan sampah, sistem pembuangan air
limbah, kepadatan hunian kamar tidur, dan kelembaban ruangan. Hasil uji
statistik Chi kuadrat menunjukkan bahwa diantara parameter tersebut yang
berperan terhadap prevalensi penyakit Scabies adalah sanitasi kamar mandi (p
<0,01), kepadatan hunian kamar tidur (p <0,01), dan kelembaban ruangan (p
<0,05).
Penyediaan air bersih merupakan kunci utama sanitasi kamar mandi
yang berperan terhadap penularan penyakit Scabies pada para santri Ponpes,
karena penyakit Scabies merupakan penyakit yang berbasis pada persyaratan
air bersih ( 
 
  ) yang dipergunakan untuk membasuh
anggota badan sewaktu mandi (Azwar, 1995). Pada kenyataannya kebutuhan
air bersih untuk mandi, mencuci dan kebutuhan kakus sebagian besar Ponpes
di Kabupaten Lamongan dipasok dari air sungai tanpa pengolahan terlebih
dahulu.
Higiene Perorangan, Penilaian higiene perorangan dalam penelitian ini
meliputi antara lain frekuensi mandi, memakai sabun at au tidak, keramas,
frekuensi mencuci pakaian dan handuk, pakaian dan handuk dipakai
bergantian, dan kebersihan alas tidur.
Perilaku Sehat, Perilaku sehat diukur melalui tiga parameter yaitu
pengetahuan, sikap, dan tindakan terhadap penyakit Scabies. Ketiga parameter
tersebut menunjukkan peran yang nyata terhadap prevalensi penyakit Scabies
(Chi kuadrat, ketiganya dengan p <0,01). Perilaku yang tidak mendukung
tersebut diantaranya adalah seringmemakai baju atau handuk bergantian
dengan teman, tidur bersama dan berhimpitan dalam satu tempat tidur.
Peran Faktor Sanitasi Lingkungan, Faktor sanitasi lingkungan yang
dimaksud disini adalah merupakan parameter keseluruhan yang dibentuk
variabel penelitian sanitasi lingkungan Ponpes, higiene perorangan dan
perilaku sehat yang berperan dalam penularan penyakit Scabies (Suparmoko,
1991).
$p <!

Penyakit kusta (Leprosi) adalah penyakit menular dan merupakan penyakit


infeksi kronis yang disebabkan oleh ›   v
 . Penyakit ini
adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran
pernafasan atas, dan lesi pada kulit adalah tanda yang biasa diamati dari luar.
Dapat menyebabkan lesi kulit, mati rasa, dan kelumpuhan pada tangan dan
kaki.

Selain itu, juga dapat merusak sistem saraf bahkan menyebabkan


terjadinya kelainan bentuk dan cacat. Kusta juga dikenal sebagai Hansen¶s
disease (Fitness, dkk, 2003). ›   v
 
merupakan obligat
intraselular yang menginfeksi makrofag dan sel Shwann. Dalam melawan
bakteri misalnya bakteri penyebab leprosy, diperlukan peningkatan respon
selular dan humoral (antibodi atau Ig M) dalam tubuh (Kwenang, 2007&
Fitness, et. al., 2002).

Faktor risiko lingkungan berpengaruh yaitu kondisi sanitasi yang kurang


baik meliputi kebersihan rumah, kelembapan udara fasilitas sanitasi yang jelek
dan juga kebiasaan masyarakat tidur bersama-sama, pakai pakaian bergantian
dan BAB di kebun juga dapat memicu terjadinya penularan berbagai macam
penyakit dan tidak menutup kemungkinan kusta.

(Munira I.L)

Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan


tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si
penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa
penularan penyakit kusta adalah:
a. Melalui sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang
sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2±7 x 24 jam.
b. Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15
tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan
adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.
(Masliah)
Klinis ternyata kontak lama dan berulang-ulang ini bukanlah merupakan
faktor yng penting. Banyak hal-hal yang tidak dapat di terangkan mengenai
penularan ini sesuai dengan hukum-hukum penularan seperti halnya penyakit-
penyakit terinfeksi lainnya.
Menurut Cocrane (1959), terlalu sedikit orang yang tertular penyakit kusta
secara kontak kulit dengan kasus-kasus lepra terbuka.
Menurut Ress (1975) dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan
perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal yakni jumlah atau
keganasan Mocrobakterillm Leprae dan daya tahan tubuh penderita. Disamping
itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah :
yp ±sia : Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa
yp Jenis kelamin : Laki-laki lebih banyak dijangkiti
yp Ras : Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti
yp Kesadaran sosial :±mumnya negara-negara endemis kusta adalah Negara
dengan tingkat sosial ekonomi rendah
yp Lingkungan : Fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat

Tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta antara lain, kulit


mengalami bercak putih, merah, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa
kesemutan pada anggota badan atau bagian raut muka, dan mati rasa
karena kerusakan syaraf tepi.





c 76c

Y p  c6 
±ntuk keperluan air minum, rumah tangga dan industri, secara umum
dapat digunakan sumber air yang berasal dari air sungai, mata air, danau,
sumur, dan air hujan yang telah dihilangkan zat-zat kimianya, gas racun, atau
kuman-kuman yang berbahaya.
Dalam hal ini kita telah membahas mengenai akibat dari konsumsi air
tersebut yang mengandung mikrobiologi khususnya dalam water washed
disease dimana akan menyebabkan manusia yang menggunakan air tersebut
terkena penyakit seperti m  
(akibat m     )
dan  ( akibat
dari ›   v
 ).
Faktor sanitasi lingkungan yang berperan terhadap tingginya prevalensi
penyakit Scabies dikalangan para santri Ponpes di Kabupaten Lamongan
adalah sanitasi Ponpes (terutama sanitasi dan ventilasi kamar tidur para santri),
perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat terhadap penyakit Scabies,
serta higiene perorangan yang buruk dari para santri.
Faktor risiko lingkungan berpengaruh yaitu kondisi sanitasi yang kurang
baik meliputi kebersihan rumah, kelembapan udara fasilitas sanitasi yang jelek
dan juga kebiasaan masyarakat tidur bersama-sama, pakai pakaian bergantian
dan BAB di kebun juga dapat memicu terjadinya penularan berbagai macam
penyakit dan tidak menutup kemungkinan kusta.
Melihat bahaya dari penyakit tersebut bagi manusia, maka perlu perhatian
dan penanganan lebih lanjut terhadap perilaku sehat dan sanitasi lingkungan.

V p 
Berdasarkan pembahasan makalah diatas maka saran yang dapat kami
berikan ialah :
lp Yang paling penting harus memperhatikan kondisi air yang
dikonsumsi untuk menggunakannya baik serbagai air minum maupun
air cuci.
lp Cuci tangan adalah suatu hal yang sederhana untuk menghilangkan
kotoran dan meminimalisir kuman yang ada di tangan dengan
mengguyur air dan dapat dilakukan dengan menambah bahan tertentu.
Dengan cuci tangan diharapkan akan mencegah penyebaran kuman
patogen melalui tangan. Dengan higiene tangan (   ) yang
tepat dapat mencegah infeksi dan penyebaran resistensi anti mikroba.
Higiene tangan sangat diperlukan di bidang mikrobiologi maupun di
tempat perawatan atau tempat-tempat yang rawan terjadi penyebaran
mikroorganisme melalui media tangan kita. Di rumah sakit, higiene
tangan yang tepat dapat menurunkan atau mencegah terjadinya infeksi
nosokomial. (Evi)
lp Suci hamakan sisir, sikat rambut dan perhiasan rambut dengan cara
merendam di cairan antiseptik.
lp Cuci semua handuk, pakaian, sprei dalam air sabun hangat dan
gunakan seterika panas untuk membunuh semua telurnya, atau dicuci
kering (   ).
lp Keringkan topi yang bersih, kerudung dan jaket.
lp Hindari pemakaian bersama sisir, mukena atau jilbab.




57c6 7 

1.p Munira I. Lestaluhu. à  



 
  
  
  

à
 
 

v
  
  
mv
 

. Yudied AM, Didik MM, Darmono, Budi S. Buletin Human Media
Volume 03 nomor 03 tahun 2008.
2.p Wakurnia Wati. Y 
à  
  
    
 
à v
Y 
mv


m
v  
à  
à
mv



 v 

à v
à v  
 v 
à  

m  
!"
 

 "
m  .
#"p Qalbia M. Nur.  
$ 
  
 
à  
  
m  

 
 

à  
Y
 
 
. Tesis.

%"p Mukrimah Rahman. v  


Y 
 
Y  
v  
 v

v 

  
àv
m
à 
  
&
m  
à  

&"
Kadek Diana Harmayani dan I G. M. Konsukartha (Dosen Jurusan
Teknik Sipil, Fakultas Teknik ±niversitas ±dayana). Jurnal.

'"p Evi.    


Y
àv 
 
(
  
 
 

 
m 
m    
à

   v
›   
   

à 
&   
 v
Indonesia. Farida Juliantina Rachmawati dan
Shofyatul Yumna Triyana. Jurnal. Fakultas Kedokteran ±niversitas Islam
Indonesia Yogyakarta.

6.p Effi Ekayanti.  


m   
  

 
  

 
  
m  
m
 
m 


 

à  
 v $ Isa Ma¶rufi!), Soedjajadi Keman), Hari Basuki
Notobroto#).
7.p Masliah.   
à
 
› 
$ 
  v   . dr. Zulkifli,
M.Si. Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat ±niversitas Sumatera ±tara.