Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

”Tuhan. Bayangan dalam benakku. sampai giliranku pun tiba. Tidak ada. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. Aku memanjatnya. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. Aku berterima kasih kepada Tuhan . Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. Aku menduga. pastilah manusia pun bisa. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. Orang yang berada di barisan menebas lehernya. dalam remang gelap. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. anak-anak akan telantar. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. banyak batunya. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. ”Ayo. Dan cap dalam keluarga. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. dan mengambil buah yang ranum. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. kemudian tali dari kaki. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit.banting tulang memberi makan mereka. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. Pisang monyet. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang. dalam sunyi air yang mengalir. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. Di dalam alun arus. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. Dalam kepergian malam. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam. yang dapat kutempuh. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. merunduk rendah. aku semakin menepi batu-batu. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada.benar menjadi warga kegelapan. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. Kami benar. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. Gelap dalam sel.

kukirim upahku. atau kalau musim ombak. iklim politik pun berubah. kepada anak-anakku. dan mengirimkan upah yang kuperoleh. Kuketuk pintunya. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. di seberang ada laut. Setelah kekuatanku pulih. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. seorang bekas interogatorku. aku berjalan dan berjalan. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. Setelah berbulan-bulan. Malam-malam berbintang. sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Akan tetapi. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Aku bulan di laut. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. Bandung. menyongsong matahari yang terbit. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. 21 Agustus 2009 . Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. dan pelarianku.minggu bersama mereka. tepatnya sebuah lembah yang landai. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. aku menemukan sebuah gubuk. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. yang tergenang dan bening. yang sudah berumur membuka pintu. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. Ia terkejut melihatku. aku menghitungnya. menjual ikan ke seberang. Rasanya aku berminggu.mereguk air dari pinggir sungai. Alam keras membuat mereka hidup. Kata orang tua itu. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. Aku pun terkejut melihatnya. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. Ada mata air di situ. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. alamat. Pergi ke laut. Sampai berpuluh tahun kemudian.

. Betapa bodoh dan tololnya aku. Gosong. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. petir seperti ini.” aku sengaja berbohong. Angin masih berkesiur. Sebatang rokok siap dinyalakan. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Angin berkesiur liar kian kemari. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. Seharusnya di dua halte berikutnya. Kalau tidak. “Dulu. Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. Aku berdehem. Tubuh terbakar hangus seketika. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. Senja makin lebam. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. Masih tersisa dua batang. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. Setelah menyulut rokoknya. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. Genangan air mulai meninggi. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. Tanpa menoleh ke arahku.” kataku sembari menatap ke jalan. Kuambil satu. Aku bersidakep menahan dingin. “Aku salah turun. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini. Agak mletot karena terduduki. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. mungkin aku sudah sampai di rumah. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. Aku bersiaga. Hujan masih saja lebat. Di sebuah kantor.

Uang mereka pun belum tentu uang halal. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. Malamnya. meski dingin menyungkup. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini.“Tapi aku dipecat. “Namaku Sukra. sementara order menurun. Adiknya. Aneh juga. dan dua sepeda motor. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu.” Setelah itu kami jadi lebih akrab. Baginya yang penting aku menggodaku. macam-macamlah.” aku menyebut namaku. Apa saja. Tak ada gunanya. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu. laki laki. Si bungsu.” “Sukro.” katanya getas. “Kalau mau. perempuan. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Dan hujan tiris. Gelisah saja.” aku. Di antara empat saudaranya. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan. Banyak sekali. “Nama kita hampir sama ya. Hidung mancung. Yang penting kau mau bekerja sama. Mata dan pipi cekung.” ujarnya seraya menyodorkan tangan. aku bisa bantu. ada yang curang dalam berdagang. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. Yang pasti. Aku jadi korban. Tapi itu tidak penting. Kakaknya. “Kita merampok. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. pulang membawa uang. terus terngiang ajakan Sukra.” Laki laki itu tertawa kecil. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu . Aku kaget. Ada barang sedikit dari mereka. seorang wanita. hidupnya tak pernah kelihatan susah. Malah yang paling makmur. Yang penting bisa makan. menikah dengan seorang juragan beras. yang hasil korupsi. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. Istriku di sebelahku sudah terlelap. Tak jelas mengapa ia tertawa. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. “Kenalkan dulu. hidupnyalah yang paling susah. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. Agak tinggi. Seperti hari ini.” kata laki-laki itu kemudian. Sukra tertawa. Hidupnya Merampok? Ah. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku. aku jadi tak bisa tidur. Sekarang nganggur. Agak gondrong. Meski cuma lima belas ribuan. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok. Agak kurus. Entah di bagian mana. “Kita merampok orang kaya. menikah dengan seorang polisi. Uang mereka banyak. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. Kerja serabutan. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak.

sabu-sabu. Ada ekstasi.” kata Sukra. Aku diam saja. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku. Lalu . Hari itu. teman sekerjaku.” Sukra membanting rokoknya. ganja. “Diajak merampok enggak mau.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik.” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. Sukra mengakak. Sudir. Agak berbisik. Tanpa basa-basi kepadaku. nanti malam. perempuan. “Kalau bukan kita yang melakukannya.terjadi perkelahian. “Jadi pengedar. Kalau tidak. Lima turis Jepang. Bukan jadi pengedar. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya. aku ada pekerjaan untukmu.” banyak pilihan pekerjaan. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. Kra.” jawabku sinis. tugasku memasang pompa air. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat. Itu kalau kau mau. Bisa juga dibakar massa. Mereka mau ke Bali besok sore. langsung duduk di sebelahku. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. “Kalau kau takut merampok. Sukro. jadi pengedar enggak mau. selamanya hidupmu susah. Bukan merampok. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. Ia “Oya. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. Esoknya aku bekerja tanpa gairah.” Sukra meneruskan kalimatnya. “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya. kalau kau mau. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. Sukra mengakak lagi. Ada Selamanya miskin. Bisa kau carikan? Bayarannya besar. orang lain yang mengambil alih. perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. Lalu aku terluka. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya. Mereka butuh teman wanita. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu. Sama saja. Ini tanpa risiko. Aku diam saja. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. misalnya. Sukra!” aku membentak. Kro. “Kalau kau mau. ia ikut memesan makanan.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri.

kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan.“Itu pekerjaan haram. warung Tegal tempat kami barusan makan. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. Merampok. Rokok tak seorang perempuan. Tak begitu berat. dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. Aku cuma terdiam. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan.” membutuhkan wanita-wanita penghibur. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. “Haram? Ya. Terpaksa aku menggeser sedikit.” kataku singkat membuat Sukra tertawa. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu. meraih tanganku.” Selepas makan. cobalah berpikir sedikit lebih rasional. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. Nah.” sahutku ogah ogahan. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya.” katanya meyakinkanku. mungkin kau benar. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. Apalagi kalau sedikit kau rawat. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar . Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. “Wajahmu cukup ganteng. Aku mengambil sebatang rokok. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. Hanya cukup untuk makan. Dan muda. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. aku lupa. Sukra tertawa kecil. jadi kunyalakan. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. Sebelum sempat kunyalakan. Lagi pula.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. Siapa tahu kau tertarik. Jadi.” Sukra memulai serangannya. Jadi makelar wanita. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. “Tenang dulu. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. Mendengar celoteh Sukra. Tapi. kau juga berotot. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. Jadi pengedar. memepet Sukra. Setiap hari kau bekerja keras. Berhadap-hadapan. Sebagai pekerja kasar. Sukro. Menahanku dengan paksa. “Maaf.

“yang kedua adalah seorang pria. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu.” Aku masih saja bungkam. kau juga bisa bekerja untuknya. Atau. Aku mau menolongmu. Mungkin dua kali seminggu. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. Kaya. Perigi. Cantik. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Sekarang aku mau berbagi denganmu. Kunyalakan lampu kamar. sekali. “Sukro!” Sukra berteriak. kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Ia menyukai sesama jenis. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri. Tanpa menoleh. Tidak setiap hari juga. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. Semua pekerjaan yang saja. Tapi gajimu tetap tiap bulan. Tergantung kebutuhannya.dibutuhkan. Sukra tertawa. “Aku punya dua klien. Dan. Tanah Kusir. Sukra melanjutkan. Kau bisa bekerja untuknya. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan. Sampai terengah engah. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Tidak tergantung pada Kesepian. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. Itu “Aku tidak tertarik. “Mengapa bukan kau “Kro. Dan lari. Ia masih membujang.” aku berkata ketus. Nah. atau yang pria saja. Aku malaikat penolongmu. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Sukro. Desember 2006 “Ada apa. Aku terbangun. Aku menggeleng. Masih terengah- . Ia tak suka wanita. aku buru-buru meninggalkan Sukra. Janda. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. Yang pertama seorang wanita setengah baya.” berkata begitu.” Sebelum aku berkata-kata. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. engah.

tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. ia memilih menyendiri. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. Saat pertama kali melihatnya. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. berdiri menunggu seseorang datang. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. gugusan awan merah muda. Sungguh. 28 tahun lebih enam hari. Kuceritakan penglihatanku. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. olehku yang buta. Kadang tampak ganjil . Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. Bilur jejak luka di tubuhnya. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. Baiklah. Itulah sebabnya disembunyikannya. Aku melihat garis pedih dan hitam.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. dua tahi lalat kecil di punggungnya. suaminya. dan Mawar. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. kakinya jenjang. untuk kesekian kali. Ia seperti dikutuk kecantikannya. masa lalunya yang penuh kesedihan. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. suaminya yang minggat.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. Tapi kalian mengatakan aku dusta. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. Tapi ia hanya tertawa. Aku memang tak punya mata. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. karena aku buta. bayangbayang yang putih dan memanjang.” katanya. daun-daunnya yang kemerahan. Seperti malam-malam sebelumnya. aku langsung tahu. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. juga angin yang pucat kelabu. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar.

Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. dan ia bergidik ngeri.” ”Kalau begitu. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. Aku memang memilih tak punya mata. Jileng. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk.” Lalu aku pun bercerita padanya. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. ”Aku tak buta. kau bisa menduga. kenapa buta?” Ia sayu menatapku.” ”Bila kau tak punya mata. kau akan melihat banyak rahasia. Ia begitu membenciku. ”Mata ini akan membuatmu jelita. Ada yang gagu. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. kamu bisa kembali mengambilnya. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu. ketika aku lahir dan menatap dunia. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku. Kelak. Ia membuangku. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. dan berkata.” Tentu. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. Tentu. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. ”Baiklah. Melihatku yang tak punya mata.” Di rumah itu pengkor. Digerogoti kusta. Ada yang bongkok. ”Biarlah aku tak punya mata saja. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga. . Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga. kami akan menaruh matamu ini di surga. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya. buat apa aku punya mata. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap.” dan kaki pada tubuhku. ”Dan kamu. dan tak pernah mau menatapku. diberinya aku degup jantung. Perot. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. ia seperti menemukan barang berleleran. Aku tahu.

Aku bahkan nyaris dicekiknya. kemudian yang lembek. Aku seperti mendengar lecut petir. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Arak yang mengepungnya. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. Sebagian pelacur telah pergi. Barangkali ia pun merasakan firasat itu. aku bisa melihatnya. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. Tapi dengan apa kau melihat. meliuk merunduk. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam. ”Bukannya aku tak percaya. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. Aku tahu menyeringai tertawa. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. Ia bisa kehilangan pelanggan. Ia pun hendak lari. Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda. rambutnya basah tertempias hujan.” Ia kembali tertawa.” katanya. Mungkin saat itu aku berteriak. yang kusaksikan membuatnya terpesona. Kutegaskan padanya. Ia terus tertawa. tapi petugas yang lain segera berteriak. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. cahaya seperti lumer di sela jariku. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. kau pun takut menatapku. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu.” Aku bisa memahami perasaannya. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. tapi tak percaya. Mungkin tidak. ketika beringas dari biasanya. ”Kau menyenangkan. ”Lihatlah. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi.”Lihat. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. Lepas 3 dini hari. Dunia memang tak menuduhku berdusta. Semuanya berlangsung begitu cepat. Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Kau mendengar suara. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Di pojokan toko.

dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. Wajah Mawar pucat. Sebagian kalian tertunduk. kuceritakan apa yang telah kusaksikan. Ia mengamuk dengan buas. Sampai malam. Maka menghapus bayangan buruk. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Kalian mesti ke gereja. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota. Mereka selama ini kalian sahkan. Kuceritakan apa yang kusaksikan. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Melemparkannya ke mobil patroli. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Di kasuk-kusuk. motong delapan korbannya. burung gagak merah berkaokan. bibirnya bengkak kena pukul. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. Ada bercak darah di pisau itu. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. tapi mereka. Rupanya ia mabok berat. bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. kalian pun bubar. Setelah mayat itu digantung. mulutnya. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. memar. Karena bagaimanapun seluruh kota. ketika Mawar menjerit. Hujan rinai . Padahal bukan aku yang dusta. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkalan ojek. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. Orang-orang ramai membicarakan. kemudian bergiliran memperkosanya. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. Pelacur dan pembunuh. Siapa yang membawanya? Baiklah. Begitu nyata dalam penglihatanku. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti.Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. Di kantor. kemudian digantung sebagai tontonan. Di warung dan kafe. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. melenyapkan maksiat dari kota. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. seakan ingin saat itu hari Natal.

tergantung dalam bayangan cahaya murung. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. tapi kalian menuduhku pendusta. seperti ada cahaya mengitari kepalanya. keemasan yang cemerlang. seperti memanggil nama pelacur itu. Yogyakarta. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. malam mengelabu. Senyumnya seperti berjalan anggun. Matanya seperti bintang bening. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. Saat itulah. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. Rambutnya ikal dan panjang. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Kuceritakan ini pada kalian. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. 2008 . tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. Aku sendirian di alun-alun itu. Aku begitu terkesima menyaksikannya. meski sesekali Kudengar ia berseru. kemudian menurunkannya. Ia berjalan mendekati tiang gantungan.

dan bercocok tanam. membaca. pengamen. yang selalu membela putri kandungnya itu. rame makan. Di dalam gerombolan kami itulah. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. Saya ditemani kompor minyak tanah. saya hidup. Ibunya. ember. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri. Untung. dan menyanyikan lagu yang itu. tidak penting untuk dipersoalkan. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. meski hanya sebagai ayah tirinya. memang milik Pak Darkin. aman dan nyaman. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. dan tidur. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. panci. Kami menyambutnya dengan sukacita. juga cerpen. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. teko. karena peristiwa itu. Ada yang memijit. lelah. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. Pada suatu malam. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. juga memasak. apa pun yang terjadi. karena berbagai alasan. pengemis. Tapi. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. menyanyi. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. Setiap minggu. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. Sayup- . Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. Semalam. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. pemulung. sejak tahun 1997. piring. rame- gelandangan. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. Nining. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. dan sedih. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas. kami. esai. Malam itu. gelas. Ada yang mau memanggil dokter. mereka belajar apa saja. tindih-menindih.

Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Aduh. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. saya dinaikkan ke becak. Ia meradang. Saya heran. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. gula.” jawab saya. dan peralatan mandi. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. meriahnya. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. kopi. sayur menyumbang sayur. bahagianya. teh. Pedagang tak pernah kehabisan. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining. Setiap habis gajian. juga minyak goreng beberapa botol. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. Saya diseretnya keluar. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. Tapi. saya bisa membantu mencarinya. Bernapas saja sangat sulit.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. Nining tidak bersama kami. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Saya digelandang terus. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. Pedagang beras menyumbang beras.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. Sesampai di jalan raya. ”Saya tidak tahu. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. tak ada sisa sama sekali. Sayang sekali. kaus oblong. Pedagang ikan menyumbang ikan. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. Pak . tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Rupanya saya dibawa ke terbangun. telor beberapa kilo. Tapi. beberapa ekor daging ayam segar. kami kami akan bersedih sepanjang masa. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Aduh. Ternyata tidak hanya beras.

Saya sadar. Itulah jalan spiritualnya. Beliau selalu bisa membahagiakan orang. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara. ketat sekali balutannya.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo.” ”Wah. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari. membujur kaku bagai jenazah. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo. Maka mengiriminya duit. membanting dan membalut dengan kain kafan. Ternyata wajah beliau tidak . ”Saya menunggu Bapak. Cerita lainnya adalah. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. pernah sejumlah terekam. kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. tidak mau diwawancara. tidak menerima santri. Saya tak bisa bergerak. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. yang muncul hanya gelap gulita.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. tidak mau diundang makan. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu. Tidak bergaul. Tiba-tiba: ”Pak Totok. merupakan sumbangan Kiai Kintir. sedang untuk dirinya sendiri. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. ”Saya Nining. Pokoknya serba tidak. tidak mengajar. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting.sebuah pekuburan yang gelap gulita.” suara seorang gadis membisik. beliau tidak berniat sedikit pun. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya.

Dari jauh. rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. Sampai fajar merekah. Tak terdengar geledek. Sesampai di jalan raya. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. Semuanya diam. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. Solo Baru. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Joyontakan . cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. Tak terjadi gerimis. berucap. hanyut dibawa arus. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. mengambang hanyut seperti mayat. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. Tangerang. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Sejauh mata memandang. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Semanggi.Sejak dini hari. andong. Satu-dua orang penonton motor. becak ditinggalkan pemiliknya. Mobil. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut.

SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tubuh kelihatan amat samar. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. Apakah benar masih ada hari esok. hidung terasa melekat. Banyak orang yang begitu takut pada malam. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. Sepanjang mata memandang. saya tak perlu meraba-raba. Lembut mendayu-dayu. Namun. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. . Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Begitu dekat. Cinta pun membutakan. Seperti malam. di kebutaan seperti itu. hanyalah kegelapan. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Mata saya mulai merapat. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. Dari penginapan. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Semakin gelap semakin ramai. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. suara-suara begitu jelas terdengar. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Seperti gelap. semakin gelap. Pada gelap. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Orang-orang menamakannya cinta buta. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Tak pernah merasa tak tenang. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Membuat mereka tak tenang. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. Atau apakah masih perlu akan hari esok.

atau malam? Karena buta. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Bertemu kala siang. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Suara yang semakin lama semakin serak. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. Dicengkeram gerhana. Mata saya pun semakin buta. Tak terkecuali malam. melainkan asli. Saya jatuh cinta. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. Tak terkecuali pagi. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. Membuat saya Saya tahu. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. saya bilang. Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. saya bilang. Semakin kabur. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. melihat matanya sedang menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Segala garis maupun dan bersatu. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. bukan kala pagi atau malam hari. Antara pasrah dan pasrah. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. Membuat saya kerap merasa terjepit. Antara lelah dan lelah. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. adalah asli. atau Jantung keras berdetak. Mungkin malam akan membuat saya takut. Bunyi ranjang berderak. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. saya akan bisa mengulanginya lagi. datang dari diri saya sendiri. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI. Tapi dengan satu konsekuensi. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit.

Jakarta. di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir. Sejak kemarin. Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. karena cinta telah membutakan kami berdua. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Mungkin… pagi dan malam. Tak bertemu hanya kala siang. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang.mempersatukan tubuh kami jadi menciut. Diganti dengan jawaban. . Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. Tak menunggu kala atau malam.

mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap. Alvin. waktu ke toko buku. Mereka mencari sebuah restoran. Tantiana. “Dik. tahun). dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. Dara. Sesungguhnya. anaknya. Setelah itu. “Mbak. saya sepertinya sudah dapat firasat. Nana menunggu!” meneruskan omongannya. Seperti dua “Ma. yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. positif hamil. “Kalau tahu begini.” sampeyan kok belum datang. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. kalian berdua kan dokter. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. Aku bosan .” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. Sebelum terjawab. “Tante dan Om-mu. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya. Nana melihat Dara. menikah! Mendahului anak sulungnya.” Nana mengatupkan bibirnya. Dua minggu yang lampau anak bungsunya. Jadi. Aditya (25 tahun ke-30. Adiknya berkata. setiap keputusan hanya ada pada saya. “Ma. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan.” Nana merasa terkunci. Tantiana menangis terus. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma. saya membeli buku nama-nama calon bayi. Rizal kan cuma teman. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. Beberapa hari yang lampau. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. Padahal. dia baru berusia 17 tahun. adik bungsunya sambil menangis mengatakan. adik bungsunya menelepon HP-nya. “Datanglah bersama Dara.” Nana terenyak. lebih baik kita naik kereta saja. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. sekarang ada di rumah sakit. jam berapa datangnya? Dari tadi. sekalipun berprofesi dokter. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya.

Kedokteran juga serius. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat.” sedih sekali. tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia . Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng.” Mereka saling melihat. Kami tidak merisaukan hal itu. saya tidak bisa janjikan itu. Sekalipun Nana merasa. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). Padahal. dia menyukaimu. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. Nana seharusnya berkata begini. kau tidak peduli pada mereka. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. Siapa pun tahu. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. memegang tangan mamanya. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya.Dara tersenyum. aku diliputi perasaan gelisah. apa pun pendapat masyarakat. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. Padahal. kemudian mulai pacaran.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai. Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. Pastinya mereka menganggap “Maaf. sejak lulus SMA. Apalagi. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. Sekalipun. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). Kendati mereka masih tinggal serumah. Didit tidak meneruskan sekolahnya.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga. kata kuncinya cuma satu. “Ma. jarang bisa ngobrol. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. Mulai sejak itu. berapa pun umur Dara. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu.” Apalagi. “Ma. Padahal. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. aku kepingin jujur kepadamu. Tapi. Tapi. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. “Setelah Aditya menikah. saya perempuan yang berat jodoh. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. tapi kemudian Nana berpikir. Sesungguhnya. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara. “Waktu kau beranjak remaja. kau menikah. Yang terjadi di luar mimpi kami. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu.” Dara. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi.

Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. harus berempati saja. Pastinya.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. untuk menguatkan satu dengan lainnya. sekalipun mamanya juga dokter. kalau kau mau cerita. Nana memegang tangan anak perempuannya. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. “Ma.” “Mama kan tahu. Sehingga Rizal berkata. tapi dua orang yang sangat dekat. Karena. dibicarakan oleh mereka berdua. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. Sampai hari ini. ketika mencoba bercinta dengan Rizal. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. pesawatku delayed. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks.” Kemudian ada dering telepon lagi. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya. Dia merasa jijik! Namun. “Dara. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. Semuanya memang harus diselesaikan. Tapi.” “Ma. banyak hal yang dipikirkan. dia tak berhasil. pada persekian menit. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. Lantas. Tapi setelah dewasa. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat.” Dara merasa tak berdaya. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. sekadar dokter dengan pasien.baru saja berusia 13 tahun. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. . saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. Rizal. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat. Jadi. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja. bukan bersimpati. seperti semua dokter. kalau sudah begini. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. “Sebagai seorang dokter. terapi ini tidak berkelanjutan. Padahal. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya. Sekalipun. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali. Sebagai seorang dokter.” Dara berbicara lagi.” “Dik panggillah dokter. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini.

Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. dan melebar di ruangan ini. Tantiana sedikit tenang. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang.” Tantiana menangis. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. Bahasa simbol itu artinya. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. “Dik. aku tak akan pernah bertanya lagi. Beberapa bulan kemudian. ketika Nana berkata. Ketika memasuki ruangan ini. “Zal. jadi kita bisa membagi. Setelah anakmu lahir. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu.“Sayang. Nana memeluk Dara. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. Tidak ada air mata.” Lantas. dihadiri Rizal dan mamanya. Percayalah. lahir anak Tantiana. Nana. Jadi. Teman-teman anaknya berteriak-teriak.” kesakitan. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. Karena untuk kesembuhan ini. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. biarlah jadi anaknya Mbak Dara. Yaitu garwo (sigare nyawa). “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. 10 Juni 2008 . tidak bisa diperbaiki. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. Aku yakin kau bisa memahami itu. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya. Di luar dugaan. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. Sedangkan anakmu. Rizal tersenyum dan memeluknya. tiga darimu dan dua dari Aditya. belahan hati suami dan istri. senyum ada di antara Dara. Rizal. butuh proses yang panjang. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. Kalau tidak. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. aku memaknainya lebih jauh. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini. aku kepingin anakku ini punya dua adik. “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu.

Rumah tak lagi setengah bilik. apalagi waktu seekor uncuwing. Bertahun-tahun selalu begitu. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. pegunungan ikut merona. Itu bisa terjadi meski di siang terik. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Ada fotonya. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. Tak ada yang beda. Hujan malas berkunjung. tempa. kabut berebut kecup pipi mereka. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Cat tak lagi kusam. berkerlip menyilaukan. halaman depan. Warnanya lebih tua dari langit. rumah. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Sungai itu selalu mengalun perlahan. sungai-sungai keperakan. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. raut pinggul gadis-gadis menari. menggerus apa saja. meski warnanya juga hijau. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Tak ada lagi berita dari Nining. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Pada bulan yang sama. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. sungai itu juga bisa mendidih. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. “caah caah caah!” September. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. meski sama-sama biru. Di bawah. Rumah kedua gadis itu yang berubah. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. diganti genting Jatiwangi. Embun basahi sepatu sekolah. Orang-orang menyebutnya siit . tiap tahun. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Tapi semua orang tahu. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. bila langit sedang bahagia. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Lantai semen sudah ditambal keramik. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Sangat pagi. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Sudah seminggu tak mampu bangun. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. Saat itu seisi rumah ketakutan. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. langit kadang biru. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Ada jembatan di atasnya. kadang kelabu. burung berkicau di pucuk daun kersen. sungai itu. semua berisik dan bocor kala hujan. Saat matahari menggeliat. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. Paling seminggu sekali. Dulu. Waktu membuka pintu.

Enin peluk buah hatinya dengan haru. “Belum waktunya anakku kau jemput. “Arum. Sakit. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Nining! Bantu Enin. “Komar. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. uang. halig siah. Lepas magrib sambil membawa abah. sieuh. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. Tapi. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. esoknya Abah mulai bisa duduk. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Menjerit memanggil kematian. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. “Sieuh. . Tapi tangis ledakkan rumah. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. tapi tak diobati.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Mantri yang menerima bayaran sukarela. pergi sana. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. burung itu menjauh dengan senyap. begitu kepercayaan Enin. Entah kebetulan atau bukan. panik. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. sieuh. Komar. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. tapi karena sakit. bahkan hingga tahlil seribu hari. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Ia hanya katakan pada Arum. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. Siit uncuwing pembawa kabar duka. Malah tampak riang. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. terutama Nining. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. Sieuh. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. cepat sehat. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. Tak menapak di mana pun. Ia terbang menuju lembayung.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

lukisan itu. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. Ia menggigit bibir. seperti Saras itu punya dua ibu. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. deringnya sudah berhenti.” katanya. ”Hmmh. dan duduk lagi di situ. buku. Ketika disambarnya pula. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. Pintu. Ibu terdiam. ”Bapak… Kursi itu. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. meja itu. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati.’ katanya!” Berharap dan menunggu. Saras. Berharap dan menunggu.’ kata Bapak. Ibu bergumam. jendela.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. membantu aku membereskan kamar Satria. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. Ibu Saleha. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. televisi. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. . ruang dan waktu yang seperti ini. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. Rambut. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. Lantas melihat ke sekeliling. ’Saya selalu teringat Satria. ’tapi cinta adalah soal kata hati. Diangkatnya ke telinga. dan kami masih seperti orang menunggu. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. ’Satria sudah mati.’ kataku. Ibu. wajah. ruangan ini. Telepon berdering. memang rasanya ia seperti anakku juga. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. telepon. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. Seperti ini juga keadaannya. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. saya tidak bisa’. perabotan. Saras. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis.

Saudara. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. Jiwa terasa memberat. aku masih mati.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. Lantas orang-orang itu berkata. dan akhirnya dibunuh. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. sekarang untuk kalian berdua. Aku terima Satria sudah mati sekarang. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. Foto orangtuanya. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi.” Dipandangnya kursi Bapak lagi. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. Bapak sudah mati. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . tetapi kalau terbangun. Di hadapannya. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. juga terkenang-kenang kalian berdua. dianiaya. ”Pak. padahal aku selalu makan sendirian saja. Impian. seperti Ibu berada di dunia yang lain. Menerima? Menerima? Baik. ”Sudah sepuluh tahun. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. kenangan. Satria sudah mati. Nanti dulu. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya. tutup matanya dibuka.’ katamu. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. Munir juga sudah mati. ”Bapak sendiri yang bilang. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. Bapak. Pak. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik. menata gelas dan piring.

Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. memegang kepalanya. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. mengembara dalam kekelaman semesta. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. o palung-palung luka setiap jiwa. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. dan aku masih tidak tahu apa-apa. berbisik tertahan. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. Bapak. Lantas bertanya-tanya lagi.”…. membara dan menyala-nyala. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. Mencoba menjawab sendiri. menutupi wajahnya. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. seperti palung terpanjang dan membara. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. ”Menculik anak orang dan membunuhnya. ke langit. ”Tapi…. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya.” Nada bicaranya menjadi dingin. menyatu dengan jiwa terluka. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. Hanya bertanya jawab dengan Bapak. jauh. luka sayatan yang panjang dan dalam. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. jauh.

Ibu tampak mengenali. kadang aku seperti melihatnya di sana. makan pisang goreng yang televisi. ”Bagiku Satria masih selalu ada. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. datang menengok cuma hari Lebaran. ”Bapak. Di luar rumah. ”Bapak. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. Tidak jelas jam berapa. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. Dasar Bapak. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. Lupa ini-itu. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. luar negeri. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. Ibu masih berbicara sendiri. dan hanya didengarnya sendiri. Ada saja yang dia omongin itu. lantas ngomong tentang dunia.” lewat. tukang bakmi langganan Satria. tapi tidak memanggilnya. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. Duduk di . membaca koran. Tapi selalu ada. ’Ya enggaklah kalau ngibul. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. banyak yang sudah berubah. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. kursi itu seperti biasanya. pakai kaos oblong dan sarung. Ia selalu bertanya. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan.’ kataku. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. malah seperti lupa. malam entah karena apa. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. banyak juga yang tidak pernah berubah. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. Muncul dong sekali-sekali Bapak. Tidak pernah ketemu lagi memang. bagaimana dia diperlakukan. sampai setahun lamanya. menyeruput teh panas. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. menonton itu. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. orang.Terdengar dentang jam tua. menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. di kursi itu. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. memberi komentar tentang situasi negeri.

seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk. ”Kursi itu tetap kosong. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. Tapi rupanya bukan. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. Ibu beranjak mengambil telepon genggam. Rahasia kehidupan. kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . ”Eh. malah Si Saras. ”Ya.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak. Telepon genggam Ibu berdering. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. suatu kejahatan. ”Pasti ibunya Saras lagi. Ibu seperti tersadar dari mimpi.” gumamnya. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu.” Ibu masih berbicara. ”Ceritakanlah semua rahasia…. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku. ”Ini suatu aib. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga. Hanya lewat. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. tanpa senyum. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar….

Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. sejak bertahun. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. seolahsamping gubuknya. tiba-tiba terdengar derum suara mesin.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. lantas melangkah ringan Hayati. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. Tentu. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. . Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. Para nelayan memang hanya tahu perahu. Hayati berlari begitu cepat. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. perahu tetap teronggok sejak semalam.

Pada akhir hari setelah senja menggelap. “Hayati dan Sukab saling mencintai. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. Jawaban mereka bermacam-macam. “Ya. aku juga sudah bicara kepadanya. mesinnya sudah mati. sangat kencang. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. dan perahu- Menjelang tengah malam. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. tetapi membentuk suatu rangkaian. “Cabut badik? Heheheh. ya. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang.” “Oh. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain. burung-burung camar menghilang. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. “Ke mana Hayati. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang. . Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. perahu Sukab belum juga kelihatan. dan memang selalu kencang di pantai itu.” Nenek itu memaki. Kulihat mereka tertawatawa.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan.” “Perahu Sukab menyalipku. “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya.

lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. . Alas kaki yang serba buruk. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. bukannya tambah penumpang. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. Sebuah foto pasangan bintang film India. Wajahnya pucat. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. tetapi tidak seorang pun di atasnya. lemari kayu yang buruk. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. bergemeletuk seperti sebuah mesin. hanya sandal jepit yang jebol. mulutnya sebuah koyo. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. kursi buruk. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. berkeringat. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab.“Aku lihat perahunya. tetapi tampaknya sudah mati. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. nenek tua itu menggerundal sendirian. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. tentu saja tidak ada sepatu. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. berikut pancing dan bubu. Dipan yang buruk. dan jala di dinding kayu. tapi mungkin ada juga yang lain. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. meja buruk. Ada juga pesawat televisi.

. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. karena memang sering terjadi. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan. Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. Hari pertama.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi. Nenek tua itu terdiam. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. dan sangat mungkin. Ibu. tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. “Aku memang hanya orang kampung. “Ya.” kata seseorang. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. melalui perceraian. kedua. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara.

Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya. “Kukira mereka tidak akan kembali. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing.” Segalanya mungkin terjadi. Di pantai. Sukab tampak lemas di atas perahu.” mana mau ia mencari ikan bersama kita. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. Hayati. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. April 2007 . Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam. Desember 2006/ Merauke. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Kulit terbakar.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. Sabang. pada hari ketujuh. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. pakaian basah kuyup. “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali.” sahut yang lain. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara. Keduanya terdiam saling memandang. mungkin bukan mati. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. Keduanya mengerti. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka.

” “Oh. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. perusahaannya pun banyak sekali. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. rumah gedung bertingkat. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. Di samping menjadi pejabat tinggi. memasang tenda plastik. atau bahkan di depan. menggelar tikar. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia.” . Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. mereka datang untuk mengemis. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota. karena kakekku adalah orang yang sibuk. seusiaku. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil. dan nanti menghilang setelah Lebaran.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya.” kata Kakek. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. dan tidur-tiduran dengan santai.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. Aku tidak bertanya lebih lanjut. Apabila tanah lapang sudah penuh. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja. tetapi Kakek tentu saja melarangku. Dari jendela loteng. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. mereka menginap di kaki lima. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek. Semuanya ia tangani sendiri. mereka selalu datang selama bulan puasa. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut.

bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. memang selalu kulihat mata yang menatap. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. “Hati-hati terhadap orang miskin. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. tidur-tiduran menatap langit dengan santai.rumah orang untuk mengemis. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. Kakek tidak pernah menjelaskan. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. Benarkah. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. seperti kata Kakek. pula. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. menyebutkan kata-kata semacam. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar.” atau “Orang miskin itu jahat. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. bahkan mobil pagar. depan rumah. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan.

Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. Pada hari Lebaran. biasanya kan begitu. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. itu banyak yang pulang kampung. mendapat omelan panjang dan pendek. dan hidup di dalam rumah. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. melompati pagar. entah dari mana. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang.mengantar kolak untuk berbuka puasa. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang. mandi di kamar mandi mereka.” “Ya. kuat. pulang ke Negeri Kemiskinan. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda.” kata Kakek. seperti hadir begitu saja di dalam kota. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. bahkan sebagian telah pula masuk. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut.” “Tapi kali ini banyak sekali. merayapi tembok. padahal hari Lebaran sudah berlalu. tidur di tempat tidur mereka. “Tenang saja. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung. makan di meja makan mereka.” Para tetangga tidak membantah.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” . penghuni rumahrumah gedung satpam. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat. karena tentu mendahulukan Kakek. asri. dan mewah dari luar pagar tembok. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah. dititipkan kepada tetangga. kokoh. Mereka juga berharap begitu. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut.rumah gedung itu.” kataku kepada Kakek. >diaC< Pada hari Lebaran. pasti tidak lewat jalan tol. Lagi-lagi Kakek menghela napas.

Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. bahkan merayapi tembok. 7 Oktober 2006 kosong. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini.“Ya. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan.” sahut Nenek. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. memasuki rumah-rumah gedung .” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang. Barangkali saja untuk selama-lamanya. “apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. menduduki setiap tanah yang bertingkat. setelah hari Lebaran berlalu. Pondok Aren. tinggal di sana entah sampai kapan. Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. gerobakbanyak. Heran. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur.” katanya kepada Nenek. Minggu. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti.” menerima segala akibat perbuatan kita. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki. melompati pagar.

karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. Memang kembali. tetap bertahan. membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. karena kami memang tidak terpisahkan. lantas saling mencintai. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. tetap menggelisahkan. Aku mengatakannya semacam takdir. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. nah. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. lengket bagai benalu. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . Hanya kekosongan. Apabila kami berbeda kulit. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. tetap misterius. tetap membara. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami. namun kami udelnya. menjadi pasangan baru. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia.Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. kemudian berbeda kelas sosial. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. dan bukan takdir itu sendiri. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo.

kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. Cinta diuji oleh cinta. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. Namun. begitulah. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. Karena kami selalu berperilaku baik. Sebagai seekor komodo. yang sekarang berada di Pulau Komodo. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. Karena undang-undang melindungi komodo. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. juga dihuni komodo. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. Laut dan langit bagai bertaut. bersentuhan sama sekali. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. masihbisa mencintaikekasihku.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. dan aku tidak mengetahuinya. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. sebagai manusia biasa. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. bisa berupa kursi kekuasaan. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. di tempat yang baru itu. Akibatnya. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. Atas nama cinta. kami akan saling mengenali. Hmm. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . kukira. Cinta yang sejati. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. yakni cinta yang dahsyat itu. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. Hanya kekosongan. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. Tetapi.

Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. 2.000 ekor. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. aku menjadi ragu. dengan jumlah sekitar 1.650 ekor (1994). terdapat pula di Pulau Rinca. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. Di dalam tubuh itu 1. Kalau aku tidak keliru. Semuanya sudah terlambat. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. sebanyak 1. Cintaku Jauh di Pulau (1946). dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. hal 111-114. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. langsung patah beberapa bagian. Labuan Bajo. Aku terpeleset dari tebing. seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo.hatiku terasa kosong. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. Baca Linda Hoffman. Bersenjatakan tongkat bercabang. Ternyata. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. hal 75. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. “Introduction” Lombok to Timor (1997). Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. Sudah jelas ia tampak kelaparan. dan meluncur masuk ke kubangan. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta. East of Bali: from . sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. kurator Museum Zoologi Bogor. Nostalgi=Transendensi (1995). Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. dan mencintai kekasihku….

. hal 112 tahun. 4. ibid. Pulau Komodo: Tanah. yang lenyap di Poreng. dalam Muller. Muller. terjemahan A 5.. terdiri atas 400 KK (2003). Rakyat. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. Kampung Komodo. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya.3. cit. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- . kaki tiga untuk kamera. op. hal 111-2. jauh baca JAJ Verheijen. dan Bahasanya (1987). Mereka menyebut komodo sebagai ora. Lebih Ikram. namun terjadinya di Pulau Rinca. satu-satunya kampung di pulau itu. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. pada 1972.

Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu.” katanya. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya. Pedro. Suaranya datar. Ada nada pedih.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas.” .” kata si wanita beberapa saat kemudian. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. Muy bonita. Bara cinta meletup di dadanya.” Si wanita tersenyum. Pedro. Seperti ada beban yang menindih.” Seorang pria duduk di sebelahnya. Suaranya lirih. meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah. Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. “Si bungsu. Sesaat ia diam. hoy. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song). Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. “Una hija. Si pria menoleh.” Tersenyum. Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria. Kepalanya botak. Mi Jaragual (My Little Farm). Muy bien. Ia setua si wanita. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya. untuk kita. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya. “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya.” “Untuk kita.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka. “Aku selalu menyukai lagu itu. barat sana. “Belum. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya. tangan si wanita memegang tangan si pria. “Como estas. Julia. Elena?” “Bien. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. “Ya.

” Malam terus merayap. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. cinta mereka berdenyut. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. wajah Raul bergulir. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. Monumental de Barcelona. Begitulah selalu di Spanyol. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp. Di musim panas. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez. Pedro? Por que?” si wanita menoleh.” kebanggaanku meski aku orang Basque. Dalam benaknya. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. bertaut. Tanpa berkata. Akan ada dua Raul di sana. Api cintanya membara. memandang laki-laki di sebelahnya itu. Kau bisa pura-pura bahagia. “Kalau ia menuruti kata-kataku. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya . Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja. Tangannya masih juga memegang tangan si pria. Tak sabar. si wanita membatin.Si pria menarik napas. meskipun itu Si pria melirik si wanita. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. Di wajahnya berdebar. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan. Ia masih tampan seperti dulu. Demi aku. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita. Aku cuma Si wanita tersenyum. Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut. Pedro. Api cinta bergejolak di dadanya. Begitu juga Elena. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu.” Mendadak si pria tersenyum getir. Pedro datang dengan segala atribut El Barca. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi. Dalam sekali pandang.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. matador legendaris yang amat masyhur. Ia selalu merindukanmu.0<>w 8000m< 26 tahun lalu.

tambien. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. si pria tua itu. bukan?” si wanita menjawab.” katanya. tongkat di tangan. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. Lalu mereka . si wanita berambut keemasan itu. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman.” katanya begitu tiba. “Buenas noches. “Pedro. Seperti juga hari-hari sebelumnya. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja. Aku pamit. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. Kesejukan di hatinya singgah. Lalu.” Si pria bangkit. Tanpa menoleh. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan.” kata si pria kemudian. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. ada yang dalam gegas.” Si wanita tersenyum. “Sudah saatnya kita berpisah. “Buenos dias. Elena. keduanya krim di tangan mereka. ia memang tak ingin menghitung. “Te amo. Hasta luego. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas. “Kau sehat?” si pria bertanya. Pedro. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. ia duduk di sebelah si wanita. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka. Tapi. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan. Tanpa menunggu jawaban. Tanpa tongkat “Buenos dias. “Kukira sudah terlalu malam. Di dadanya rasa nyaman merambah. Kelompok Elena. Mereka menjual kepandaian.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu. muncul belakangan.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. didudukinya. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Mengecup kening si wanita. Elena. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. Sejak dulu matamu selalu bagus. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. menghentikan langkah si pria. Mereka tak menadahkan tangan. “Seperti yang kau lihat. Suaranya agak parau. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi.” “Mi. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas. Ada yang santai. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan.” Elena tersenyum sumringah.

Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur. Api cinta mereka memang terpendam. Jika aku berkata jujur.pejalan kaki yang berseliweran. Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu. setelah setetes benih juga Tapi. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. Si pria menoleh. Sariawan membuat gusiku peka. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. “Ya. katamu gigimu sedang sakit. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. Cinta mereka memang terbelenggu.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. “Kau mencintai istrimu. Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. Demi sebuah bisnis keluarga. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. Si pria tersenyum. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. Selain Nou Camp. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. tepat. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. Tapi tak pernah padam. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang. api kasih masih panas membara. tertawa-tawa berkakakan. bukan?” si wanita menoleh. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. Dalam tubuh yang renta. Mereka seolah cuma ada berduaan. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. cinta mereka tetap bergelora. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. Pedro?” si wanita bertanya. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. si wanita terkasih. Elena.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

ruangan itu gelap. Mendaki dan mendaki.tempat duduk paling tinggi. Dalam peti berbalut kain hitam. Jantungnya kian kencang berdegup. Plaza de Toros. julukan klub Barcelona. selamat malam. matador pemula. nama mata uang Spanyol. Julia. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. aku juga. Dalam sunyi abadi. Barreras. kursi terdepan (termahal). Pesetas. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh.” kata Pablo. El Merengues. “Tak ada yang perlu dimaafkan. seorang anak perempuan. selamat siang. tetap tertunduk. sampai jumpa. Hasta luego. hoy? Apa kabarmu? Bien. Novilladas. julukan klub sepak bola Real Madrid. Como estas. Keheningan mencekam. Gairah di dadanya pun meletup. Buenos dias. baik. Mendaki. Dalam gelap. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. Matador. Buenas noches. Paseillo. dan Javier berdiri berjajar.* Jakarta.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. El Barca (baca El Barsa). Lalu.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka.” kata Julia lirih. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. Por que? Kenapa? Torero. . kandang klub sepak bola Barcelona. Dengan baju serba hitam. Cantik sekali. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. tempat pertunjukan matador. bintang dalam pertunjukan matador. Te amo. Una hija. tambien. Gradas. Raul. baik sekali. Tak ada yang dapat dipersalahkan. Tak ada yang menyahut lagi. sebutan umum untuk matador. Nou Camp atau Camp Nou. Muy bonita. aku cinta padamu. divisi utama Liga Spanyol. parade para matador sebelum pertunjukan. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. Si wanita tergagap. Mi. Pablo. Muy bien. La Liga. Sampai kemudian semuanya berhenti. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap.

pintu utama. . Puerta grande.pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. sayangku (My dear).

mata bunda terpejam. Ia tergeragap. seperti jantung kita. tidak berani membayangkan. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. Nanti sore kuantar….” Ia cengar-cengir. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. Seluruh keluarga heboh. Justru itu. “Libur kau. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. Tahun lalu.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. “Terus sajalah. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. naik kelas. Merenung? manggut-manggut. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. pasti beliau tidak tidur. Kasus dan sakitnya abangku. Palinggam. Senyam-senyum.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. naik jabatan). Makanya. Ya. Dengan masalah yang juga tambah banyak. Tapi. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. Dan saat kulirik ke samping. jika ia tahu. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi.” kubilang. cucu. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. kulihat keponakanku di jok belakang.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. Om. “Oh. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau. Namun abangku. “Baiknya Bunda istirahat dulu. Tempo-tempo. dan cicit. tamat kuliah. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. sambil terus melaju di jalan tol. tujuh anaknya. Tiap banyak. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. panik. dan cicit yang makin henti berdenyut. Libur. Isinya ucapan selamat. harapan. keras kepala. Mereka . seminggu ia menginap di kantor polisi. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. Palinggam…. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. telah lama kami hindarkan terhenti. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami. menutup mata serta telinga beliau.” Aku lalu diam dan terus menyetir. doa. laiknya anak muda. melihat anak. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. menutup-nutupinya. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas. mengikuti perkembangan mereka. kabar buruk dari beliau. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. cucu. Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. juga nasihat. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut. didampingi seorang cucu.Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu.

tak Herman kabarnya menangis. pulang dari rumah sakit.” kubilang. Ingin kencing. tak lama lagi Grogol. “Diajak kawan-kawannya.” Kusodorkan . “Naik gunung. anak-anak kami. baginya tugas ayam dan kucing. “Sudah. Dari istriku. Syukur. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku. Bunda tentu tidak diberi tahu. menanti jawaban. Kak Leila berpura sibuk. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar.” Dan diam lagi. Pucat pula. disekolahkan hingga tinggi.semobil. “Apa maksudmu?” “Maksudku.” Tiba-tiba aku jadi gugup. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi. dituduh korupsi. “Baik saja. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. seperti orang- Aku makin gugup. Dan bunda menyergap orang itu?” pula.” kubilang. bicara sendiri saja. berempat. Nak.” jawab Kak Leila. Bunda? Sehat. tak apa-apa Bunda. Rosa langsung diam.” “Eh. Dan bunda tetap menoleh. anak laki-laki. Pun ulah cucu. Agar mereka jadi manusia. dan berhasil. “Biasa itu. memandang jalanan. “Masuk rumah sakit. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi. Dan saat umur muda Herman. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. Pandai-pandai mencari kawan. pada usia senja? Merasa gagal. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah. HP-ku lalu berbunyi. o. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. Palinggam. Tak apa-apa. Maksudnya membantu Kak Leila. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik. Atau.” adikku Rosa menyahut. Lalu Slipi. Kawan yang baik. O. tangguh. “Lagi di jalan. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. Lihat.” “Cuaca buruk. Herman pulang. matahari pagi. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. sudah. nenek yang risau itu memanggilnya. berucap lunak. si Herman. Semuanya digaruk. ingat suami yang jarang pulang. kurusnya engkau. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat.

Andamsari. karena bunda lantas bertanya. Bunda. Lalu. berhenti di tempat parkir khusus keluarga. Dicari serta ditanya ke mana-mana. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya. Tapi. Aku lihat abang kalian itu dulu…. Memeluk bunda. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang. alis bunda tetap bertaut. Mana cucu-cucuku? Oh. Termasuk polisi. Pagar maupun gerbangnya tertutup. Bunda. Ke luar negeri juga. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. sehat Nak. sudah gadis bukan? Sudah SMP. . Aida. Sering ke luar kota. Eh. Lalu ia mendekat. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. Semua saudara Batam. Kalian bagaimana? Syukurlah.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. “Sibuk terus. Nak. orang sibuk kasak-kusuk. sibuk benar kudengar istrimu. tanpa seragam. masih kuat aku ke Jakarta. bersama pacarnya. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. Ya? Besok-besok. Tahu kalian. Namun boleh jadi berlebihan. Aida. siswi SMU kelas dua itu.” “Dan kau sibuk pula. “Jangan kalian berahasia lagi.Obrolan panjang. bebas dari di luar.” “Nina manajer pemasaran. Biar dia lupa bertanya.” ujarnya. Kemudian tertawa. Kakak iparku. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana.” Mudah-mudahan lama. Alhamdulillah.” kataku. ditemukan adikku Rafli di pantai Padang. seperti biasanya. sudah menanti di teras. HP ke bunda. Nak. “Syukurlah. “Tanya kesehatanku. “Aku cuma khawatir. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. si Aya. tak juga puas. Mereka tahu sehari setelah kejadian. “Biasalah. Anak gadis kakakku. menangis tersedu. Terpikir olehku. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. Dan. Harta meruah.” ia bilang. Cucuku. Aida tak jumpa. pulang dihubungi. tambahku tanpa suara. Kakak dan abang iparku kalang kabut. meluncur mulus ke Kebayoran. Bunda. Aku berbelok.” “Apa kata Nina. Kami sudah tiba di Semanggi. Ini.” Aku diam kembali. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran. Mau bicara. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri. hah. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir. Aida. suara bunda: “Nina? O. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. “Nina. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan.

kini sudah bercucu pula. Aku muncul. Bunda diam. mengapa kau mengelak diperiksa. “Sudah sampai belum?” “Sudah. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya. Mukanya kuyu. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal. Matanya perlahan berkaca-kaca. Dan negeri ini. Dan HP-ku kembali bernyanyi. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam. Loyo. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai. Dia menunduk. aku tetap bersih.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. “Apalagi kau. hampir menyerupai bisik. Rasanya. Nanti saja aku kabari. “Namun hingga detik ini. dipecat partaimu. “Belum tahu. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. “Tetapi bagiku. sayu. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. melihat bunda lagi. “Aku punya atasan. memandang bunda. juga kepadaku. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. Bang Palinggam terpana menatap bunda. Bunda. Palinggam. “Aku punya kawan. Kak Andam?” tanyanya antusias. Menarik napas. pada hatimu sendiri.hendak meledak. kencing. Juga aku serta Kak Andam.” Bunda mengedarkan senyum. Suaranya makin lunak. . Nak. itu isyarat dari abangku. sudah. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. Bunda. Aku tergopoh ke toilet. Nak. Aku juga kader partai. Juga kepada Tuhan.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. Palinggam.” sahut bunda kemudian.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. dimaafkan. Bunda sekarang tampaknya banyak diam.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga.” ujarnya bak mengadu.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit. Suara Bang Palinggam terdengar pelan. Dan aku merasa.” dia bilang.” Mengangkat muka lagi. Aku di kakus. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja. “Tak paham aku soal-soal begitu. seperti minta Bunda. Namun takdir seorang ibu. Nina lagi. Bunda. Abangku melirik. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran.

” . Ayah Bun tukang gigi. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. dewasa atau jadi tua. seperti tidak kenal lelah. “Seperti orang-orang di dalam mimpi.” jawab Tum. kendati kota kami tetap saja setelempap. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. lebih-lebih tukang gigi. Nius. Nius. “Seperti ada dan tiada. akrab dengan pribumi. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil. “Di mana dia?” tanyaku antusias. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue.” tambah Amril. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Hebat dia!” pensiun. Si Talib di Dumai. kopi di simpang jalan dekat pasar. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. sudah bercucu satu. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang.” “Hanya si Cudik. Kami ajak bermalam tidak mau. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. grosir roti dan permen. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela.” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. Bahkan mengerikan. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. Nius.Jakarta. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. Satu di Palembang. berai. Kalau aku pulang. Tidak sekalipun berkedip. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Hanya menatap.” Biju menerangkan dengan gembira. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami. Berubah sekarang. Dia dan keluarganya tergolong aneh. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh.

guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak.” bilang Tum. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. diduduki hingga kini. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. Ibunya baik seperti ibu Bun. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. tak pake babi laaa. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. Tunik juga. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. lucu. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. kami kerap nginap di rumah Sultani. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. Lalu ia sambar roti. Dia kapten sepak bola. “Tidak halam. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri.” ia sodorkan nampan perut kami. Dan pernah pula Buya Makruf. adik Bun. goreng serta roti lapis mentega. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. lantai. Suka-suka kami mau makan apa. suara itu. Sultani. Matanya tak terlalu sipit. Portir bioskop juga . atau menjelepak duduk di menggairahkan. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. Nius. mencukur.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Seperti di rumah Bun. alias usil plus kurang ajar. Tapi kami cegah. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu. “Percuma. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Biju dan “Makan. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. adik kelas kami. “Itulah. Minumnya teh hangat. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. mengantar kue mohok hangat- hangat. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. kembali menampakkan senyum yang ganjil. seperti buang hajat. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. Juga pandai menjahit. Bak orang-orang dalam mimpi. pintar di sekolah. mencangkunginya kecuali dia. tidak halam! Enak laaa. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh.” sahut Tum. berisi mohok serta teh manis. mengajak makan. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. Kami berebut. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. Bagiku.

Kepandaian kiraahnya elok. Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Tetapi. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. “Malah. itu turun dari ibunya. “Seperti model rambut Bang Rustam. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Rustam. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. tidur-tidur ayam. tajwid dan Bukan saja Bun. . Setelah sembuh. laaa. mendampingi kawan itu setiap malam. Baju. ke halaman masjid. Kelas enam disunat. kan?” Aku mengangguk. Dan sesekali. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Ulah Sultani! Suatu kali. kopiah. ikut mengaji saja. Mukanya pucat serupa mayat. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. jadi keras. Tak licin di sekeliling kepala. tidak terasa. “Sebetulnya telat Bun. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. Iya kan. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Mendesis-desis lunak. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Tunik juga. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. mencukur seperti yang kuinginkan. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Dan Bun disunat. Berenang kalang kabut ke tepi. Biar aku yang ngajar. selesai!” Ayah Bun terkekeh. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. Suaranya merdu. Ibunya tersipu.kami. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Terbahak-bahak seperti hantu air. Sebulan ditanggung fasih. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Mataku merem melek. Rancak. Ayah dan ibunya setuju. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Sultani berkata: “Sudah Bun. banyak kawan merasakan ulah Sultani. “Ayaaa. Aku malah tak sekali. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak.” “Tidak sakit. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Mestinya waktu kita kelas tiga. serta sarung beliau “terbang. Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. “Rambutku dia cukur.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. Tapi aku merasa. Bun mau potong bulung bole potong. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Babah mau coba? Sret. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. tentu saja. Ibunya selalu mengaji tiap subuh.

Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. “Tadi di sini terlampau pendek. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Menangis.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. Sejumlah orang menerabas masuk. Nius. Bergelombang-gelombang manusia. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Tetapi mereka pun tidak tahu. Tahi kambing. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Mereka terus berteriak. tegak kaku di ambang pintu. Suara mereka teramat gaduh. Sudahlah. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. Nius. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Eh. berdarah. kurang ajar ya. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. “Mulai Kariang. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. Buas sekali.” kata Amril. mendengar di mana Sultani. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu. diseret abangku pulang. berteriak-teriak. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami.” lesu. Mukanya menangis. Mereka menuju rumah batu. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. hasilnya nihil. Lututku menggigil. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Atau pergi. Tepatnya. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. aku menghindar. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik. Bagus juga kau gundul. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . Menghabisinya. Dia mendekat. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. Pernah kami tanya ke situ. Kusaksikan ayah Sultani diseret. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. melihat aku di tengah kerumunan. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. Tanganku dicekal. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. Sultani juga. Tum diam saja mendengarkan sunyi. kuratakan. aku menghambur ke jalan. meraung-raung. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. sepekan rambutmu panjang lagi. dan orang bergegas Sultani. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. suatu pagi. Aneh sekali. malah sebelah sini terlampau pendek. Ketika kuraba. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. Ibu Sultani berlari mengejar. Menyepak pintu hingga rubuh.

seolah-olah tidak pernah lelah. kemarin pagi. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. dua buah.* Jakarta. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. Bahkan sampai kini. “Semua orang bilang begitu. “Dan. 2 April 2005 berkedip.“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai. walaupun tahun demi tahun . Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. Hanya mata saja. Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras.

tukang rokok. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. kembangkan payung. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. dan seterusnya. meski aktivitas seseorang berjualan. jangan pula payung. Adakalanya juga dari pagi sampai malam. atau makan kacang goreng. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. petang atau malam Tetapi. melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. Begitupun tukang sate. hujan dan hari. di kota berniaga. Meski cuaca cerah. mirip dengan warga melambai dan menyapa. juga sosiolog. Karena. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat). ya. bercakap- Betul. walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. Kecuali. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. Karena itu. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. siang. penjual kerupuk. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung. . tukang serbat. “Hoi. tukang serabi. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. tetapi juga tukang emas. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. anak. Kadang-kadang pagi. Tidak jelas mengapa demikian. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. hidupnya. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. Paling-paling orang hanya bergumam. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. Ya. karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu.

serta kegemaran orang memakan kacang goreng. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. memang lain kacang goreng kota kita ini. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. sebesar jempol. kalau itu. depan asrama tentara dan polisi. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah.Sekalipun kota kecil. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. Pada hari raya dan libur-libur panjang. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. di muka rumah sakit. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. Mereka mangkal di emper-emper toko. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. Bertengkar. terus. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. makan kacang goreng jalan “Habis. tukang kacang goreng. Malah bangga. Bahkan. tetap belum ada yang sanggup “Ah. jangan dikata lagi. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. Lagi pula.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. lepas-lepas dari kacang goreng. “Ini. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. tikungan-tikungan jalan. beberapa waktu setelah bubar bioskop. sepuluh atau selusin. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. Dan. Tetapi. “Tetapi. Namun. Gemuk. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. Juga.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. panjang. tiada bandingan!” . perlu penelitian. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit.

tambalan pada jas yang sipit. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. tunggal sekaligus penjaga kota kami. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. “Ibarat penyair. Kumisnya pun lebat melintang. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. itu Mak Sanin!” ujar si suami. tanda Mak Sanin berjualan. tak-tuk-tak.anak justru takut pada Mak Sanin. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. kami punya ilmu. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. “Hah. Tenang. khususnya di kalangan kaum ibu. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya. Juga karena dia “berisi”. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami.“Ya. dan selalu merah menyala. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. anak. kepala. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. Biasanya. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. ingin makan kacang goreng. Tetapi. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak. Makin malam. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. .pinggiran kota kami. Bancah Laweh. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. Dengan jas itu-itu juga. Orang-orang terbangun. dia Affandi. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. Berhari-hari berjualan. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. Cubadak Bungkuak. Menyelusup manja ke pelukan suami. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun.tenang saja dia melangkah. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. dan warnanya hampir tidak jelas lagi. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau. Ibarat pelukis. Ibarat… . istrinya dipakai Mak Sanin. ilmunya tinggi.

pengantin-pengantin baru. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. enak atau dia bertingkah. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. “Seliter saja ah. mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. Mak Sanin!” Dan. Dengan jas yang ituitu juga. Jakarta. Dan. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. Karung goninya entah di mana. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. Dan. Dan besoknya lagi. sudah mereka tunggu-tunggu.kisi jendela. Cukuplah. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. Padahal. Warga yang lain tidak. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. Belilah. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. tegak menanti di ambang pintu. harum bercampur peluh. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. pada suatu malam. malam!” Tetapi.” “Yo! Eh. itu biasa.” kata ayah bagai orang kedinginan. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja. seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. Kemudian.“Beli dulu kacang gorengnya. kota “Padahal. Besoknya. Hanya berdua. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. “Masya Allah. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. Bergegas mereka benahi diri. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. bahkan hingga kini. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. berkibar-kibar ditiup angin malam. Cobalah. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir . “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. Tidak bakal menyesal. mungkin juga tidak mau tahu. Mak Sanin. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. tahu benar aku.” Dan. Semakin jauh. Tetapi. Tujuh lubang peluru. Tetapi. ketika ramai-ramai di tahun ’66. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu. “Huh.

di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. Lik War menggeleng. di pintu halaman. Di pagar rumah. di pintu. di mobil.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. Di jalanan. ”lakukan semuanya semaumu. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. di layar monitor. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. yang diam-diam maju terus. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. di dapur. di lembaran kertas. saling kontak-sentuh. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. di perut yang hanya diisi kopi. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. Bisakah manusia bebas dari waktu. Manusia selalu berada dalam . sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. di dinding. berteriak. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. tidak bisa memanggil siapa pun. di motor. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. di bundaran lampu lalu lintas. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. Bilang. di bak air dan di gayung kamar mandi. Jam di mana-mana. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. Berdetak-detik di dalam pendengaran. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. bersebelahan. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. di ranjang dan bantal kamar tidur. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. dan begitu lepas sepanjang jalan. dan di kemengangaan mulut. di mana setiap pitstop. agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. di meja di ruang tamu.

”Aku jadi pengen ke Jakarta. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami.pikirku. Lik War pun tersenyum. what ever will War. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung. Kami . untuk tolong. Lik War pun mengajukan usul lain.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited. ”grammar apa tuh?”. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil.” kata lik War.” Kami menelan ludah. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu.” kata lik War. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang. Dan setelah itu. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. titik saling ketergantungan. yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. yang menembus ladang dan sawah. yang mungkin hanya menggeleng. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam. sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. pikirku. ”Terlalu banyak kendaraan. bumbu dan yang lainnya. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV.

atau buronan karena dengan sesuap nasi. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa.” katanya. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang.panggil dengan sebutan No Tit. Ia menganjurkan jadi kernet. Lania. untuk segera berpacu sebagai apa saja. sekaligus kudu sepeda dulu. Kasim. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu . atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. Kimi. ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. Nonik. ”macak dan akting pengemis. Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. atau penghuni kompleks semodel Tri. Berangkat ke Jakarta. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. Sri. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. Timpah. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. semodel de Grana. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. Marto Pedrosa kampung sini. ”OK!” kata Marto Pedrosa. ibunya. Koral dan dan di kampung sini). ”Atau ikut Arpan. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. dan Tyas. lantas bertemu setahun sekali di kampung. menjadi rembulan gaib di saja. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. dan karenanya (kata lik War. Santik dan Kuni. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal.

Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain. menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa. dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. pentolan. kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk.agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi. yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. yang biasa lusuh nunut : ikut. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu. berliku-liku mbabat alas: membuka hutan. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. kolonisa . sebagai apa saja di mana saja.*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap. sara : sengsara mandeg : stop.

Sekali. magasin dan satu peluru paling atas. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. Dan kami. langsung ke tanah. anak petinggi polisi.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. Kalau disuruh sangat sederhana itu. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. terutama ketika magasinnya penuh. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang. Dan bila kurang. Sangit mesiu melulur lengan dan wajah. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. Memasukkannya lagi ke magasin. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. membersihkan. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol. membersihkan. Guru itu mengangguk. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. Mula-mula hanya dengan pistol. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. ketika kelas II SMP. meloloskan genggaman dan mengokangnya. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. lalu ditangkupkan untuk dipasak. Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman.” kataku. dengan magasin penuh. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. Setahun kemudian aku menguasai FN. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. diungkit. yang genggamannya terasa berat itu. memilih. rasanya lebih enak memegang pistol polisi. dan memasangkannya lagi. ada magasin cadangan di atas lemari. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. Sebuah letusan lagi. Letusan dan entakan membuatku kaget. Tapi sebelum dia banyak bicara. Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. Pa!” katanya. Tapi apa . di kamar anak petinggi polisi. dan memasang lagi pistol FN. aku mengeluarkan FN di hadapannya. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar.

Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara. lantas menodong wajahnya bolong. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan. kalau maut sangat dekat. dan menembak.kenikmatan main-main dengan colt. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. Kau tak boleh jadi anak Mama. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket.” katanya. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. Aku tertawa. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan.” kataku. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. “OK!” katanya. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. kata ajudan. aku kokang. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. yang lain. Manusia itu . dari jarak tiga meter. Dik. perempuan cuma jadi istri tentara. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. Letusan itu keras. “setelah lulus kau daftar dokter tentara. Mulanya di Perbakin. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. Menurunkannya. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. Akan lain. Aku ambil FN dari tas. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu.” katanya. seperti menembak kaleng atau cecurut. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. Aku beranjak. Peluru itu menghantam aspal. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. dengan posisi jongkok menyamping. telanjang dan gampang. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. ketika jadi danyon. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. sekaligus memberi kesadaran. Padahal. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak. Naik ke boncengan dan melesat. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku.” kata ajudan baru lulus Akabri. Aku tak pernah membunuh orang. Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. “Kita harus kejar setoran.

“Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. Aku diam saja.” katanya— tertawa. Enak. Aku mematikan telepon. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. Dik. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. Tanganku digenggam. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. “Aku kan cuma cari kerja. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. yang telaten merawatnya. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. Ayah tertawa. seperti mendengar bisikannya. Ditempatkan di kota. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. Aku. dan seluruh keponakan. Aku kini sipil. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. “Kau tahu apa?” katanya. Ia minta agar aku merawatnya.bernyawa. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. dengan mengumpulkan suami. Aku mengangkat bahu. Ibu menatap. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. Ia bergegas menelepon ayah. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman.” katanya. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. dalam kurang tidur. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah. Aku tak mengabarinya. . yang langsung mendekat. Aku ayah?” kata Samsidar. sampai ibu meninggal—menyeringai. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. dada. Dua tahun kemudian ibu sakit. kakak. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. terutama karena jadi rekanan pemda. perut. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi. Ya! Aku yakin tentang hal itu. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. anak. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara. ipar.

Mengokang dan Ibu meninggal. yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Aku masuk kamar utama. Mengambil AKA. Sepuluh menit lagi.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Aku menunggu ayah. yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur. Berjam-jam menunggu ayah. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Ya— sepuluh menit lagi. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. Ya! Ya . Pasti. Mengunci pintu.

Ini hanya pemancing saja. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. Itulah awalnya. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. seingatnya. Saimah makin genit. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. dengan setoran biasa. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan. orangtuanya semakin permisif. ayahnya memberikan pesan khusus. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. Kita tutup nomor jagonya. Ya! Akan tetapi.” kata Nasir. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. serius. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. menjauh dari keramaian. Saimah menyusul dari depan. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang.” katanya. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. makan jajan. Arsad menaiki sepeda motornya. Motornya dipakai ngojek sembarang orang. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. Sad. Terkadang Arsad hanya nongkrong. Khairan menepuk bahunya. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. Radio menyerukan dangdut. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. Nasir menggeleng.” Setengah berbisik. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura. Jalan ke pintu belakang warung. dengan lembut. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. dengan payudara yang berdenyut. Nasir. dengan semena-mena merangkul. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. “Kita juga main. Mungkin cuma memesan kopi. menggerayangi dan . Terbayang lagi. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. Khairan.” kata Melangkah. olehnya. Ia membolos bersama Taberi. “Kamu duduk-duduklah. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. Sad. ayah. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. Ini bukan punyamu. Arsad mengenal Suimah. atau menggoda Saimah. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. bermalasan di warung itu. menghindarkan pendengaran Khairan. per lima puluh ribu tombok. di kisaran empat angka. Bapaknya pasti meneng. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. preman dan pemabuk. curiga. Menghindar dari sekolah. Sir?” katanya. “Nggak akan tembus kan.

Ia tertawa. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis.” katanya. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. ia seorang sales yang agresif. Khairan bungkam. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. selalu. biar bisa kompak dengan mertua. Pak RT tak berdaya. semakin tidak mempunyai duit. Membawa tas pinggang.” katanya. Meski begitu. Orang-orang mendelik. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. “Seminggu bisa berpenghasilan. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. karenanya orangtuanya masih di kantor. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan. Khairan tersenyum. Sepanjang waktu. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan. dan menjual sisanya. Berharap. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. terkadang orang masih datang . Siklus direcoki balas memaki. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah.” Orang-orang tersentak. Akan tetapi. haid Saimah sudah telat seminggu. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. “Kita ini orang dagang. Menjadikan empat kali.” katanya. yang gigih. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. Ibunya Saimah lembut mengangguk. Khairan menenangkan. pil. Tapi. Ya Miring. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. Akan tetapi. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. Utamanya Saimah. dan berkeliling ke mana saja. Ia seorang sales pengawal pribadi. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. dan rayuan Saimah. bermakna mempunyai barang dagangan. Istrinya mulai menyindir. Dan Saimah makin manja. Cemberut dan makin sering marah. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus.

tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. Lalu lintas sigap diatur. tangan. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. belum pernah pacaran. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri.Nasir memboncengkan Krowak. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. Akan tetapi. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. mblesar-kan gas. apakah aku harus menunggu izin Bapak. Ia menuntut. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. Kaki. mencuri perhiasan ibunya. Sebagian menolong Nasir. tertekuk-tekuk pendek. sudah meteng. tak bisa diturunkan. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. Krowak tertolong. akselerasi pertamanya. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. penyelonongan itu. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. dan sisi rusuk kanannya remuk. menyeru ke seberang.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. dan derap orang berlari memburu. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. lajunya sepeda motor Arsa. dan…” “Betul! Tapi. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. Belokan liar itu. yang dikemudikan Nasir. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. Sopir Station Wagon geger otak ringan. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. dari hadapan. Menyulut rokok. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. masalah dan menenangkan warga. telur dadar setengah matang. Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. dan minum Topi Miring- yang sama. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. meliuk-liuk. ada di tengah jalan. yang lainnya memburu supir sirna.

Tombok. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. dari rumah Bidan. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. tapi tidak pernah dilayani. Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. Dominik. Khairan melapor ke Polisi. Dipantati bahkan. instan Celurit: Senjata mirip sabit. tanpa mampir dulu.” tulisnya. Karena itu. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. Lantang meneriakkan Brewok. Aku seperti masuk penjara. Ibunya Arsad terpekik. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. dengan dikawal Segera. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. istrinya. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. “Nih. Dan memang begitu.” kalimatnya. Berparkir di halaman. Khairan. Khairan menelan ludah. Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. mereka langsung mendatanginya. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. Dua hari setelah persalinan. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. dengan mobil carteran. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. berharta Genah: Enak dipandang.“Balikkan ia ke kondisi asal. Khairan mendelik dan membentakkannya. Kedua lelaki itu liar bertatapan. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. Utuhkan lagi. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. Saimah menangis. “Aku tidak betah. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan. khas Madura. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. Ibunya Arsad berteriak-teriak. meski tak selalu milik orang Madura .

dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Tapi memang tak ada. Ia tak menyangka. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. Meski baru play group. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. “Ada apa. Beningnya tertegun. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. tadi. setiap pulang. Seperti capung ia tiba. Dari kotakota yang disinggahi. Ia melongok. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” . meledek istrinya. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. “Sekarang. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. Kadang bisa sebulan tak pulang. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Di kelas. Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Bibiiikkk…. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. Ia ingin segera membuka kotak pos itu.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. yang kecewa itu. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. karna ia terus diam saja. Ia masih belum genap enam tahun. Beningnya sudah pegang hape. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. seakan sudah menebak. “Hati-hati!” teriak sopir. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. “Biiikkk….” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Marwan kadang kirim SMS. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. Sungguh. Beningnya langsung meloncat menghambur. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. mendapati kotak itu kosong. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.

“Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. kartun . Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. yang dikenal lewat rubrik majalah. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. Pukul “Enggak bisa tidur. Marwan tak pernah menerima kartu pos. jauh. Sepanjang hidupnya. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan.20.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. setiap Ayah pulang. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Ia pun atau kartu pos. bagaimana Ren bercerita. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo. rasanya. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Meski tetap saja ia merasa aneh. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu.” Marwan hanya diam. Saat SMP. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. “Mungkin aku memang jadul. Bahkan. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren.” Ren kecil duduk di pangkuan. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. banyak temannya yang punya sahabat pena. Karena iri. Marwan ingat. Marwan diam. Itu kotak kayu pemberian Ren. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. lantas mengeposkannya. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. ngambil kartu pos dari Mama. dengan suara penuh kenangan.

“Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia.” Marwan tersenyum. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Gambar pada kartu pos. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. Air mancur dan patung bocah bersayap. Rasanya. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. ia kini mulai dapat memahami. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. teman sekantor. Deretan kafe payung warna sepia. Seolah-olah itu dari Ren…. saat Marwan makan siang bersama. setelah Beningnya pulas. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita. bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. kapan pulangnya?” “Ya sudah. kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. Sepeda yang berjajar kesukaannya. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati.” Itulah. Marwan tersenyum. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. seperti tercekat. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. Ia selalu merasa bingung. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur.di tepian kanal. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . Bukit karang yang menjulang. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Pagoda kuning keemasan. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. Sudut dengan deretan yacht tertambat. “Wah. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. dinding goa. Ah. Dermaga kota tua. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah.

jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. Hanya “Tadi Mama datang. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. Cahaya yang terang keperakan. semua rapi. “Kata Mama tukang posnya emang sakit. tak ada api. Marwan menerima dan mengamati kain itu.” pelan Beningnya bicara. Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Ia melihat ada asap lembut. Bau wangi yang ganjil mengambang. Dua belas lewat. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar. Kain kafan yang tepiannya . Lebih keras dari bau amoniak. Singapura-Yogyakarta. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. menyambar mendekapnya. sulit ia buka. Ia melongok ke dalam kamar. seseorang. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang. 2008 dipegangi anaknya. serupa kabut. sekilas ia melihat jam kamarnya. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. keluar dari lubang kunci.” Beningnya mengulurkan tangan.

Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. menyentuh putingku yang ungu. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. aku seperti mendengar denting genta. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . Dan saat sepasang matanya mengerdip. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. mana yang pantas buat dipakai makan malam. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. untuk sekadar membuatku tersenyum. Tapi. Kau tahu. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. mana yang pas buat jalan-jalan. sepasang mata itu bagai mengambang. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. Aku suka matanya. menyebutkan namanya. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. Ia tak pernah mengucapkan rayuan. Ia bercinta nyaris tanpa suara. Aku ingat. Barangkali. yang paling gombal sekali pun. Tetapi ketika ia hatiku. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. seperti katamu. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. Memang.

aku jadi ingin ketemu dia. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. Sedikit berkumis. aku begitu menyukainya. Dan kupikir. yang membuatku lihat di iklan deodoran. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Membuatku tergeragap. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm. Sungguh. kali ini. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. Tapi. aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. Setiap melihat kunang-kunang. Bukan karena kamu tak suka. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. kenapa aku jatuh cinta kepadanya.” ”Aku suka kunang-kunang…” . tipis. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja.” Bila aku kangen. Tapi— diam-diam. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. ”Busyet!!” Mungkinkah. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. tak rapi. entahlah. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. aku mesti pergi.

” ”Hmm…” Ah. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. Seperti yang sudah-sudah. Selalu. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Aku masih dalam kandungan ibu. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu.”Hmm. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. Seminggu setelah pembantaian. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. Padahal. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. . Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. Membuat lembah itu malam purnama. seperti sosis dalam setangkup roti. Agar ia menyimpan kunang-kunang.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. ketika lembah itu menjadi bisu. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air. memandangku yang duduk telanjang di sofa. Dan setiap pepohonan tertugur kelu. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. menjadi berkilauan. di zaman gestapu dulu. dengan mata yang layu. kata ibu. saat itu. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. ia langsung tidur setelah bercinta. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. Ibu selalu mengajakku kemari. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. bersama ribuan tubuh lainnya. aku lupa. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Dari jendela apartemen lantai sebelas.

seperti dalam sebuah puisi. berbicara setengah berbisik. Seperti jeritan yang teredam. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. Kemudian ia bangkit. Ia meraih handphone itu. seperti kerap kau katakan. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri…. Membelakangiku. seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. Tapi. Aku hanya memandang keluar jendela. 2005-2008 pernah kau kenal. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Barangkali. tak tercatat pada termometer. dan tergesa mengenakan pakaian.Ia sungkan dan jengah. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. selalu saja. Kesunyian tak terpermanai. Karena. meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. dan dengan gerakan pelan menjauhiku. Cahaya perlahan susut dan aus. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Tak ada percakapan. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. Dan dingin. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Jakarta.

bila ada ular masuk ke pekarangan. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. orang-orang akan menghentikanku. Di kulitku yang licin. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. mendesing lalu lalang di jalanan. Mungkin mereka butuh hiburan. trotoar. Aku tak mengerti. Dulu aku memang berharap. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. sambil menunjukkan empat jariku.” jawabku. Kota di mana bertahun-tahun lampau.” jawabku. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. seperti rintihan kesepian. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . Dan mereka kembali tertawa. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. Bila ada ular masuk ke rumah. Padahal. aku pernah begitu mencintainya. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. Mungkin karena mulutku yang peyot. dan langit hanya basah. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. Mungkin mereka hanya menggodaku. Memberiku moke. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. Tak ada bintang. melihatku memasuki halaman rumah mereka. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. sambil menunjukkan empat jariku. Apabila melihat aku lagi berjalan. Aku tak pernah mengerti. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. Biasanya. nari. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. Mereka tertawa. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. Aku ingat.

ketika Bumi masih rapuh. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. kini aku melihat sebuah mal yang megah. Aku sering bertemu ular-ular itu. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. Alangkah menyenangkan jadi ular. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. Aku begitu ketakutan. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. menghilang dalam kegelapan. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. Tapi kudengar seseorang berteriak. Terdengar suara-suara tong ditendang. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. Kurasakan. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. Meski terkejut dengan reaksi mereka. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. setiap hari. Kudengar kembali gema lonceng itu. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. betapa enaknya jadi ular. Dulu.itu. Leluhur yang mulai berkhayal. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. kendaraan yang lewat berhenti. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. kuntum yang ranum. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. Tapi di situ. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. . menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. Kota dengan seribu gereja. Dulu. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Aku merayap menyeberangi jalan. di pinggir jalan. Ketika mula dunia tercipta. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. Di ladang. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. ketika batu masih berupa buah muda. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. Aku leluhur mereka. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. kota ini seperti memanggilku. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. Sejak itulah aku ular. aku mencoba tak panik. Mereka percaya bagaikan putih telur. di pojokan itu ada sebuah gereja. banyak berkeliaran di kota ini. dan semua ketimbang diriku. Seingatku. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. Mestinya.

Kulihat puluhan ular. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . kulihat itu menyala kemerahan. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. Cepat sini…. gadis itu memungutku. lorong yang berkelok-kelok. ”Cepat sembunyi sini…. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. Dan seperti menyusuri ingatan. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. Dengan tangannya yang mungil. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. sambil menurunkanku dari dekapannya. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku. ”Kita sampai.” Aku memandanginya ragu. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. hanya dipisahkan oleh kenangan. Aku diam melingkar di pojokan.” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. sampah. aku merayapi jalanan kota ini. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. Ia mengulurkan tangan. Cara mereka mengingatkanku. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. mendesis-desis menatapku. Kulihat rosario menenteng lentera. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. Sungguh kota ganjil yang serba temaram.”Ssttt…. berdesakan dan bau tengik. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. memancarkan sulfur cahaya. Di dekapannya. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi.” kata gadis cilik. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. Aku merasa asing. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui.” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. ratusan ular.

Kadang air mata itu menetes bening. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. tapi terlihat rapuh. Sudah lama. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. tetapi selalu diusir. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. menyimpannya dalam botol. Para penduduk memberi kami anak-anak. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. kalau aku mau menjual rosario. bila menjelang Natal. Kami mesti menjualnya diam-diam. Kamu sudah melihatnya. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. katanya. Aku menemukannya tak sengaja. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. dihancurkan kemajuan. untuk diganti dengan malmal. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. Dalam keremangan. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. kami Aku belajar mencintai kota ini. rempah-rempah dan artefak kenangan. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. ”Begitulah. yang mereka percaya. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. Pada saat itulah.Di kota ini. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. Sebab bila ketahuan. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. Salib itu menjulang. Kadang merah serupa darah. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. Padahal Aku mendesis mengangguk. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. Ketika banyak gereja diruntuhkan. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. dulu kami bertahan: dengan . Dulu. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. menjualnya di lapak trotoar. seakan- mencapai kota di seberang sana. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. Ketika kota mempercantik diri. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. Kemudian dijual. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. kami bisa ditangkap petugas keamanan. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario.

2006 . gereja. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. aku juga penduduk kota ini. Aku melingkar tenang dalam keranjang. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal.” katanya. ”Wow. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. Ketika ia berjalan. ternyata. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. Pasti mereka mengusir kami…. boleh jadi sebagai tugu kenangan. Aku tidak menikah. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. Di dekat altar. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. Mataku nanar Ledalero. Kusaksikan ruangan yang remang.Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. Dulu aku idiot. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. Dari dalam keranjang anyaman. nyanyian puji-pujian. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. betapa sunyi gereja ini. ”Kita bisa diam-diam ke sana. ia memang gadis yang usil dan nakal. kataku.” teriaknya riang. tepat di belakang gereja. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. Tidak. Terdengar syahdu dan megah. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. katanya.” katanya. samar-samar bisa menenteramkanku. Kami keluar dari Puji Tuhan. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. Ah. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. gorong-gorong. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. ”Kau tahu. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. Sampai kemudian aku menyadari. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu.

Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere. Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. 3.Catatan: 1. 2. Agus Noor (23 Desember 2007) . Nusa Tenggara Timur. Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta. versi Krowe-Sika.

Begitulah. menata bundelan-bundelan benang. dari tahun ke tahun. yang konon. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. Nak. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. di emper pertokoan. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. Nak. selalu. para tukang malam. silet. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. Entahlah. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. Nak. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. betapa dulu. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. Jarum Ibu pernah bercerita. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. Seperti menyaksikan dalam sekejap. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. Kata orang. Mereka menggelar dasaran di trotoar. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. gunting. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. Atau mereka tak mau lagi datang. factory outlet. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. di pojokan jalan. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. Sejak banyak toko fashion. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya.Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. dan benang. Nak. Dan di malam takbiran. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. orang-orang lebih suka . di keteduhan pepohonan. setiap menjelang Lebaran. Nak. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul.

Menisik dan menjahit. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. Bila ada orang sedih yang datang padanya. tiga bulan sebelum Lebaran. Kau bisa melihatnya. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Lalu diantar Pamanmu. membutuhkan mereka. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. Rabalah. dan jarum. Nak. tetapi juga kebahagiaan. dan menjahitkan pakaian padanya. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. Yang jelas sudah sejak lama. Di kampung itulah ia tinggal. Tapi . Ada yang mengatakan. tetapi tak bisa menyentuhnya. Nak. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu.membeli pakaian jadi. dari tahun ke tahun. Ia sempat mengelus bertilas. para tukang jahit yang mengisap tembakau. Mungkin kau tak ingat. Saat itu Ayahmu baru meninggal. Nak. Ia menjahitnya dengan rapi. di tangan tukang jahit itu. Kau tahu. Ia menjahit luka hati ibu. memang mengubah selera. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Ibu mendatangi tukang jahit itu. Nak. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. Sebuah kampung. Nak. setiap menjelang yang muncul di kota ini. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. tak banyak bicara. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. barangkali. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. tetapi lebih lembut dan halus. Kau tahu. rambutmu. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Maka. Entahlah. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. Dan jarum itu. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. Hanya ia. Di dada sebelah sini. Tak berbekas. satu-satunya tukang jahit. Delapan Lebaran lampau. tukang tentang tukang jahit itu. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. yang masih muncul di kota ini. Nak. Nak. Benang itu tipis dan bening. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. Zaman. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. Perawakannya kurus. Dengan jarum dan benang Begitulah. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. Nak. memandangi belanjaan berisi pakaian. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. Lebaran. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. halus. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. Nak. seperti senar. tapi kau lihat. Kau masih empat tahun saat itu. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. begitu halus.

Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. Padahal tukang jahit itu. Rasanya. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. Aku ingat. anakku memandang heran antrean itu. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Itulah sebabnya. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran.masih muncul ke kota ini. jalan. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. sepanjang hari memintal benang kesabaran. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran. aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. aku menjalankan mobil pelan-pelan. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. seakan meledek tukang topeng monyet keliling. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. malah makin menyelimutinya dengan misteri. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. Kemunculannya selalu dalam diam. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . Mereka sudah menunggu sejak dini hari. Ia tinggal di sana. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. satu-satunya yang selamat. Menjelang Lebaran ini. Ia tinggal di sebalik cakrawala. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. sewaktu kanak. Menjahitkan kebahagiaan.

Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. Kuceritakan tentang tukang jahit itu. hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) . Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja….” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul.Barangkali. Bingung karena masih nganggur. dengan gampang mendapatkannya. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap. Brisbane-Yogyakarta. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah. Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung.” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Tak bisa membelikan baju baru. Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban. 2007 orang-orang yang antre itu. Ayah?” “Ya. Pusing karena semuanya makin mahal. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu.

Sepanjang hari yang riang. Ia membayangkan. Anak-anak suka permen. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. Maka. sewaktu kanak-kanak. Mama. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. itu biasa. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Permen dalam bungkus warna-warni. fudge.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. itulah. Sampai ia berumur sembilan tahun. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. Neal sendiri. Nak. suka sekali permen. Saat kehidupan ini masih ranum. permen.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. Dan pada malam hari. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. sebermula permen muncul di dunia manusia. ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. Bantal mungil warna-warni milik peri. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. tengah. Saat terbangun pagi hari. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. di malam hari menjadi bengkak mulutnya. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. Seperti bantalbantal mungil milik peri. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. Mereka sedih. tempat biasanya Papa. bila peri itu . Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. Permen toffee. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya. “Begitulah. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. lollipop.” kata Mamanya. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati.” Ah. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita.

tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. Tetapi. Mencampurnya dengan gelatin agar kental. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. memberinya sedikit gula.Sampai sekarang pun. “Lebih enak permen ini. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. pengasong itu. permen itu memang mengundang selera. Neal membayangkan. bila ia tak membeli. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela. Sekarang ini. yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. Tapi. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan. mereka akan memecah kaca mobilnya. setengah menggerutu. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu.” Tapi. wajah Iza terus cemberut. ia tak mau menenteng biji-biji permen. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. Mestikah ia menjelaskan pada Iza. . bagaimana permen itu dibuat. Ia ingat. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. pewarna dan pengawet. Takut. Selintasan. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. pada Samuel. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. korengan. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

memandang mata Neal dengan lembut. Pelan Pras mencium bibir istrinya. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur. Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya. 2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa.” jawab Pras sambil . “Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta.Neal mengangguk.

Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. Kami menduga. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. membawa bermacam perbekalan piknik. Mata kami yang murung dan sayu. Mereka segera mencetak foto-foto itu. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. Mereka datang dari segala penjuru dunia. roti kering yang disimpan dalam kaleng. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. Kami menyukai cara mereka tertawa. dan sempat mengunjungi kota kami. Kadang mereka mengajak kami berfoto. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. keledai. biskuit dan telor asin.

adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. penyair. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. Kepada kami para cermin. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. Betapa menggetarkan melihat pohon. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. candi-candi megah yang disusun serupa tiara. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja. menurut mereka. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. Lorong-lorong. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. dan bintang. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata. Tapi kota kami. dan sungai selalu meliuk-liuk. seolah semua itu terlampau bahagia. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. tetapi tidak dengan kota kami. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona. begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu. jalanan.rumah rubuh menjadi abu. Memetik kecapi dan Saat malam tiba. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. Dari kejauhan kami .>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan. bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. bawah kakimu. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan.bintang terasa lebih jauh di langit hitam. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. para pelancong itu bernyanyi.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi.

Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. menanam kembali pohon-pohon. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya. Kami tak ingin kota kami lenyap. runtuh tertimbun waktu. setiap kota memang memiliki jiwa.menyaksikan mereka. tower dan menara. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. jembatan. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan. Jangan khawatir. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. Sembari menaiki pedati. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. kami . Keajaiban tersendiri. dan fana. ke arah kami. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. Sesekali minuman. sungai-sungai. rumah sakit-rumah sakit.lahan hancur dan tumbuh kembali. membagikan sekerat biskuit. sementara. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. yang hancur. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya.gedung. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. Berwisatalah ke kota kami. sekolah. sepotong dendeng. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh.

2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner. Invisible Salim (Fresh Book. oleh Erwin .1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino.

ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat.Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Ia menurunkan kaca mobilnya. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Air yang dinding penyangga jalan tol. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Berkoreng di lutut kirinya. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Kadang berloncatan. Beberapa pengendara sepeda motor yang . Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang. seperti menjolok sesuatu. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. jernih dan bening mengalir perlahan. Usianya paling 12 tahunan. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. Setiap pagi. jalan menjelang kantornya. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Selalu bercelana pendek kucel. Tak ada keruwetan. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Memandang mata itu.

Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. terlihat berbeda. Tapi Papa kerap menghardik. panjang. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Mata yang penuh kemarahan. ”Mata itu seperti jendela hati. memandangi mata seseorang cukup lama. Karena itu. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. indah yang pernah Gustaf tatap. Ia ingat perkataan Oma. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. ia yang bagai liang hitam. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. Begitu bening begitu jernih. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Dan ia selalu menggambar mata. pecahan kaca yang menancap di kornea. Rasanya. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. Setiap menatap mata seseorang. saat ia berusia tujuh tahun. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. yang kata Mama. padang gersang ilalang. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. Mata yang berkilat licik. kawat berduri yang terjulur yang menggantung.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. Setiap kali terkenang mata itu. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. itulah mata paling menyimpan dunia.

mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Dan ia makin ingin mata bocah itu. Membuat Gustaf berpikir. Bila ia bisa memiliki mata itu. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. Bila perlu ia menculiknya. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. Ketika berjongkok. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. lantai yang digenangi air bening. mata. semuanya sudah tampak sempurna. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. Ia ingin ketika ia muncul kembali.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. karena memang menyimpan sebuah dunia. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. batin Gustaf. pikirnya. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. bisa memiliki mata itu. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Gustaf kini bisa mengerti. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Semua itu hanya mungkin. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi.

Begitu lift itu tertutup. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. sambil berbicara kepada temannya. ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. 2006 .” ”Persis mata iblis!” Jakarta. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. dan melemparkan recehan.terjulur ke arah jalan. Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya…. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. Ia ingin membuka jendela. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. percaya.

Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan. beberapa koper besar. ia bisa mencium bau amis darah itu. kemarin. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. Menenteng seramnya. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. Dan tadi. Setiap menjelang Ramadhan. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. dan segera saling bisik. mengerut menatap laki-laki itu. Entahlah. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Parut luka seputar pundak. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. memandang langit siang yang terang. Ia jarang berada di kamarnya. Ramadhan berlalu. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Langsung. Mungkin ia rampok. Ia tak ingin kecewa lagi. sembari terus bersiul. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Ia memejam. dan wangi. Seperti selalu menghilang. Tato di lengan kanan. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan . mengusir bayangan buruk itu. keramas. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. seperti bekas bacokan. Menyisir rambut dan memotong kuku. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. sembari bersiul-siul kecil. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. tapi ia masih saja hidup. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Bergegas. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. Sesekali. seperti kotak tempat menyimpan gitar. Merapikan pakaian. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. rapi. Berhari-hari. Saat ia berbaring di ranjang. Ah. Atau erang kesakitan leher digorok. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Bayangan kematian penuh darah. Melipat selimut. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Kadang berbulan- bulan. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. Bila pulang. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Ramadhan kali ini. Sebab. Memakai jaket kulit hitam.

saat seperti itu. mereka mendengis bengis. Menjelang Ramadhan ia muncul. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. rumah petak tak pernah berani bertanya. Ia mengerang. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. Aneh. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. menyapu.harga BBM—matanya jelalatan. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Mengepungnya. Ia seperti tak mau dikenali. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. tapi pergi ke kuburan. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. Barangkali ia dukun. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Menutup diri. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Misterius. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Kulit wajah mayat. memandang entah apa. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. wajah remuk rusak itu. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Mungkin. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. bercerita. seperti lilin panas mencair. seperti mengawasi. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. dibuka lebar. Mati dengan tenang. Rutin yang ganjil. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat. Beres-beres kamar. Seperti menyaksikan kematian . Meski ia tahu. Sering.mayat itu meleleh. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. ia terlihat merokok siang hari. sebagai seorang pembunuh bayaran. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. di bulan Ramadhan. Ini yang membuat kian penasaran. Ia terkapar. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Wajah. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Mungkin intel. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat.

Memang. Tugasnya hanya membunuh. Benar kata komandannya. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Dan ia membusung bangga. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Kisah para raksasa penyantap manusia. Tapi membuatnya merasa aman. karena pejabat itu pingin kawin lagi. diam ia membunuh kucing pamannya. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. tertib. Dan ia mulai mengawasi.orang mengerubung. Dikirim ke medan perang. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. Percuma kalo cuma jadi tentara. Dan itu disukai komandannya. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Sumpek bau comberan. Beberapa mati dalam penjara. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa.Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. kata teman-temannya.” kata komandannya. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Bicaranya santun. Kulitnya yang putih bersih. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Kamu pantas jadi tentara. nanti bila sudah berhenti. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Tempat menyembunyikan diri. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Rahang terkesan pipih. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Alangkah hebatnya jadi tentara. Di kampungnya. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Beruntunglah orang . Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Paling mentok jadi sersan. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Ia akan tinggal di rumahnya. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. wartawan. Lalu beberapa order ringan lainnya. bayaran yang menderita di masa tuanya. Ia tak terlalu menyimak. Ia menyiksa para pemberontak. Orang. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Sorot matanya tenang. ia diberinya pekerjaan. Tanpa jejak. Seorang hakim. dan ”Kamu punya bakat bagus. Membunuh seorang pengusaha. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Ia paling senang ketika harus disiplin. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. berani menghentikan. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. bisa memukuli orang sepuasnya. Umur tujuh tahun. Lalu sepulang perang. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia heran.

ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. yang pelan.yang mati di bulan Ramadhan. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Ia mulai diusik gelisah. Sayang kan. itu mobil mahal. lalu mendorong mobil ke jurang. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Yogyakarta.” ajak Kiai Karnawi. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Pelan. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. kecuali mati di bulan Ramadhan. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku.” Baru kali ini ia gemetar. membuangku ke jurang dengan mobil itu. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. Dengung jutaan serangga mengepung. 2005 . Ia pun kemudian selalu berharap. ia hanya berdiri gamang. Tapi tolong. Kemeresek daun jati jatuh. dan kini memburu kematiannya.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Lalu menggelar sajadah. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. kamu mau membunuhku. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Ia bisa menembaknya. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. Senyap. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Getir. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Lalu meraba ”Sekarang. lakukan tugasmu. Terdengar letusan. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Biar tak banyak korban. kenapa mobil perlahan berhenti. Singup. ”Aku tahu. Amin. Jangan sampai aku kesakitan ya. Gemetar tak yakin. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Kematian di bulan Ramadhan. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Lengking gagak di kejauhan. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Ia meraba belati. Kalau boleh memilih. Karnawi terkekeh. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Mencibir. Kelebat bayang burung menyambar. Tak usah Karena itulah. Enggak usah merepotkan sampeyan…. Dan semoga saja. Alhamdulillah. Kamu cukup membunuhku.

Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. kontainer. Agaknya tersangkut sesuatu. cahaya perak. Rasanya tubuh ini beku. yang terdiri dari truk. Rembang. meliputi kota-kota Demak. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. Masya Allah.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. dari Pati ke Rembang. Banjir masih juga melanda Pati. Mendadak laju rakit ini terhenti. dan pertokoan. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. bus. mungkin tidak sedikit jumlahnya. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. perumahan. meski apa peduliku. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. Kudus. Pati. dan anak-anak. juga nenek-kakek. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. namun tak kunjung muncul. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. Saya yang satu minggu kehujanan terus. Gelap gulita. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. saya meraba tubuh orang. saya sudah tak tahu jalan. Subhanallah. didaki karena licin dan terjal. Sementara di Riau dan Jambi. hutan terbakar. Tuban. Jawa Tengah. air tak juga surut. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. ”Cepat kuburkan. cucu. perkebunan.” . Ibu. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. tambak. Juwana. cahaya perak. kolam ikan. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. ke mana Saya semakin menggigil.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. Jepara. cicit. banyak lagi korban. Tapi. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. sawah-sawah yang siap panen. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. maupun motor karena tak Zaman. mobil-mobil pribadi. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. ayah. Wahai.

kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu. Terlalu bising.” Di atas atap dapur. Banjir yang lebih besar kali ini datang. Rumah tertutup santri. ibu kok ngomong begitu. Di mana Pati. Benar saja. air melulu yang tampak. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. air. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. sampai saya terjatuh. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana.”Ah. di mana para juga Tuhan. Saya mau cari nafkah di Jakarta. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. katanya. Meski sangat kesukaran. menikmati sebuah lalu minta lagi. di rumah bertingkat kami. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. air. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. Maka ketika banjir surut. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. teriknya. bermain maupun berdebat soal jodoh. dan kedua adik ke Jakarta. putra maupun putri. di mana Rembang. Alhamdulillah.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. manis dari akarnya. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan. Tiba-tiba rakit mentok. berseliweran berlarian. katanya. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . saya berhasil masuk ke ruang salat. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. di atap masjid itu tidak hanya baju. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. ”Jaga adik-adikmu. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. Jakarta. merupakan perpaduan yang elok. Lalu boyongan kembali ke desa.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. pohon mangga yang sangat rindang. ayah. dalam ukuran apa pun. manalagi. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. sejauh mata memandang.

tangan banyak sekali. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu. Waktu bangun. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini. mencium tangannya. saya tertidur tanpa diawali kantuk. menanyakan kesehatannya. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. ya. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan. kaki yang dua jenjang itu. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau.” ”Subhanallah. Di yang mumpuni ini.” ”Salamualaikum. Di luar. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. ya.” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar. ke sebuah dusun yang sunyi.” ”Subhanallah. kepada ibu. bangun dengan sigap. ayah. meminta doa. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya. sementara di luar sana. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya.” seru saya sambil mengejar beliau. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali. saya kaget bukan alang kepalang. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur.air banjir. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas. orang-orang berteriak meminta tolong. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau. ”Pak Kiai. banyak sekali. menjauh. banyak sekali.” seru saya.” ”Subhanallah. dan kedua adik saya. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- .” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. sekeluarga turun-temurun. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu.

caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. Saya tertegun. Allah. Seperti mati berdiri. Bagaimana mainan. saya pasrah setulus mungkin. Tuhan punya rencana.” doa saya dengan kenceng. mungkin mereka tidak menyadari. Bukan uang Sesampai di rumah. Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. ibu. Masya Allah. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. Allah. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu. kedua adik saya. ”Ya. bukakan mata mereka.” doa saya. . menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. menimpuk sejadi-jadinya. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. ”Ya. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. Keadaan jadi kacau dan meriah. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. semuanya ini milik-Mu. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh. ayah. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. Subhanallah. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru. Menurut ibu. Dengan kunjung datang. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. subhanallah. Dalam hati saya menyesal. ”Gue ude konglomerat.

14 Februari 2008 .Tangerang.

seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. . pusing. Angin kencang. kabarkan. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. Mereka menerobos di antara bus. lo?!” Semrawut kota semakin bising. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. Legam bagai Jacky Chan melenting. Seolah metropol miliknya sendiri. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. Ini Matahari terbahak. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. Tak lelah-lelahnya. Ia tak peduli.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. mikrolet. Ada apa anak itu berlari terus. Nak? Ngapain lo lari terus? He. Merebut tempat. Alangkah kencang larinya. Kerjakan yang mesti berlari itu. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. persis malam mati. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. Ia menuju ke arah selatan. O. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. Ia pusar bisa berlari sekencang itu. Pelabuhan menjerit. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. Hitam kayak pantat kuali. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. Jakarta sudah lama bilang ogah. mengucap salam pada metromini. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. Keringat kota diperas habis-habisan. Semua pertanyaan lompat bajing. angkot. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Dihardik satpam jadi emping. Udara sangat panas. Sesuatu apa itu. ia terus berlari. Suasana mendesing bunyi gasing. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. Anak itu agaknya merebut waktu. “Ini Metropolis. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. Nak? Ada apa. lo. mencari kekal pada dinding. Jangan pernah mau mengalah. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. jadi rupanya ibunya seorang penari. Orang-orang menengok yang padat. dikejar setan. Jangan ketinggalan. Angin berdebu. Atau baru. kopaja. Metropolis. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. dikerjakan. Jangan pernah kalah. “Ada apa. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. Jakarta Utara. Barangkali ke Jakarta Pusat. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. yang macet.

Orang-orang yang berpapasan mendesah. Anak itu melompat pagar tanaman. Seluruh hamba wet. Berlari terus. Pesanlah nisan sekarang. Penari agung bikin keder pemda. Anakku. Di bawah jalan layang. Tiga kali tanah dibeli di berbagai .Seperti bandit yang dibiarkan lolos. Walau di lapak. Kemana tanahku. Baik budi. kejeblos di pasir boblos. Matahari membantu tapi butuh ongkos. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. bukan pula keris patih. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. termasuk jalur hijau jalang. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. Jangan terpeleset. Lalu berpijar cahaya api. Tak mati-mati. Mau dicaplok katak. Henry Muhammad. hitungan akurat. menghirup angin surga. Tiga kali kena gusur. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. Ada saja yang tidak polos. Pasrah tanpa curang. Berbanding Pandawa pantas. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. O. anak itu tahan menceker. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. Itu udara pagi. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. Supaya jarak lari menjadi aman. O. Padang darah berember-ember. Tak kenal batas. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. Mengambang taat. Namun tak beringas. Menggaris lurus menerka keadilan. api. Apa mau dikata. Perahu malaikat burung puyuh. kota. bukan raja. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. Mengalir angkasa pesat. Berlari terus. Itu udara wengi. Nasib orang. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. Ksatria Utara tak mau berkelahi. Bukan ratu. O. Tak pula timpang. badai derita Ia terlalu sakti. Ia ksatria tuntas. Jangan menoleh ke belakang. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. Anakku. Tuhan yang pegang. kesandung maut dari seberang. zat. Tak ada tempat yang jauh. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. Si anak ksatria utara. O. Tuhan kendali manusia. Tak mati-mati. telapak kaki tanpa alas. kadaluwarsa dari sepihak. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. Eyang. begitu pemerintah kasih wejangan. Tiba-tiba agung bagai baja. orang yang matanya nyalang. O. Hidup bisa dicicil angket. terbahak. mencium bau wangi. putri jelita berbanding Sembadra. O. Segala tempat. air. KTP diinjak-injak. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. Ia keris empu. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. bertengger gubuk derita malang.000 tahun mengayuh. Butiran menjelma hujan. Tumbuh harapan. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. Ia musnah. Jasadnya lenyap ditelan udara. Di ladang luber. Wangi jembatan layang. dan pertapa sejati. tanah asli ayah bayang. Dalam sehari 50. Nyawa yang berbakti. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. Sotangnya tajam bagai taring kirik. Ibu Pertiwi mengerti. Ia anak mama. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. Dipuja petani. menerkam kijang tercecer. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. Udara. mabuk tetap tegak. berbakti. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. Jangan-jangan sedang menari bersama awan. Aduh. ia mendelik. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. Di sekolah anak tak pernah bolos. Kemana tanahku. Ia hindar bertengkar kerna pintar. tanah. Aduh. Tuhan sayang manusia. Namanya bikin gentar. Tuhan tempeleng manusia. supaya hati tak garang. Jeritkan segala raung serigalamu.

Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. toko-toko. pegadaian. Kota gelap gulita. ATM. Bagai monumen. Saking banyaknya korban entah. Para relawan penolong bertindak. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. puluhan. menari di atas pagar jembatan layang. Satu udara ganti-berganti. gunung es bersimaharajalela. di milenium ketiga. Korban tak dapat dihitung. Tapi itulah jalan hidup. Mereka saling bertanya. berenang di dataran luas yang dalam. Dengan sangat meminta ditolak alam”. Di siang hari jadi kota mati. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. Bagai papan-papan selancar. Di pojok-pojok Jakarta rawan. tak ada artinya. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. Banyak individualis jengah. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. dia terus menuntut ganti rugi yang layak. mereka sudah sampai Pulau Seribu. Tenaga-tenaga penolong susah. Di seluruh kawasan. Banjir rasanya semakin meninggi. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. perumahan mewah. Laut meluap.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. Jakarta tenggelam. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. ratusan mobil mengambang. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. pasar. Dalam jumlah besar membengkak. Datang dari kutub utara. tentu jumlah itu saat ini. Pemerintah yang dulu. restoran. Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. berkali-kali penari itu diburu. Tanggulangi penjarahan dan perampokan. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. Supermarket. namun dia selalu lenyap tak berbekas. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. mall-mall. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. Perampokan kantor-kantor. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. bank-bank. Daerah Khusus Ibukota payah. departemen keuangan. Nah. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. Namun penari cantik dan .

Cilandak. Anak itu terus melanjutkan teriakannya. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Gelombang menggempur Tanjung Priok. Bola dari Piala Dunia. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Kakek dari nenek. Kekasih dari asmara. Cucu dari buyut. Cikini. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. Ibu dari anak. Suami dari istri. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Parung. Cemburu dari buta. terpisah dengan keluarga lainnya. Blok M. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. Senen. Sang penari tidak menstop tariannya. Jalan Sudirman. dan melahap terus ke selatan. Sanak terpental dari sanak. Tangerang. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu. Melek dari kantuk. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. Jalan Thamrin. Cinere. 20 Mei 2006 . Ibu itu terus melanjutkan tariannya. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. Hari balas dendam telah terjadi.membantunya. Keluarga Paman dari keponakan. Gunung Sahari. Tapi segala jenis hotel penuh. Benci dari cinta. Canggah dari wareng. Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu.

Mineev. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. kegemarannya. kepada para tamunya. dan memagut dan bercinta. Baru pada malam hari . angin sepoi-sepoi. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. Maxim Fomin. buah-buahan. Direktur Artistik Chino. gubernur. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. Odette. Tampak Viatcheslav Gordeev. Begitu pula para pebalet teman Zahra. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. Angsa-angsa putih menyelam. ngobrol dengan gubernur. dan jus jambu kelutuk. sup ikan tuna. pernah berpentas Martha Graham. Jerman. Asmara angsa. menteri. Gadis ini Zahra. Sebaliknya. pemeran Rothbart bergantian. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. sebagai sponsor pertunjukan. yang mengelus rambutnya. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. Andrei Joukov. dan pembesar negara lainnya. insya Allah. tidak minum wine. Maya Ivanova. juga grup dari Perancis. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. Dia memilih minum air jeruk nipis. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. ayu dan ganteng. komposisi yang senantiasa berubah. Mereka rame-rame menikmati salad. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. Di antaranya di tempat ini. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. yang putih maupun yang merah. yang disihir Rothbart menjadi angsa. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. menyembul. Dengan 1. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya.500 penonton. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. lalu mendarat kembali. bulu- usai. Irina Ablitsova.Telaga Angsa DANARTO telaga. sangat populer di seluruh dunia. balerina 21 tahun. Natalya Ashikhmina. tentang balet di Rusia. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. gubernur berjanji. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu.

”Tapi. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. ”Terpikat boleh terpikat. Rothbart sang penyihir. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. neneknya. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. ibu. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. ”Lho. seluruh istana bergembira. pemilik istana dan telaga. Eyang bisa kesleo. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. yang ndak cocok bagi kamu. Siegfried. . Rothbart marah besar. Odille. sih. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”. saya sih. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. lho. Kakek terbatuk-batuk lagi. Semua tertawa. dan Anna Vakina.mereka menjelma manusia kembali. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain.” celetuk Nenek. memangnya kenapa?” tanya Zahra. Olga Ivachenko. Begitulah. Seketika. ”Odette atau Odille. Semuanya tertawa. jatuh cinta kepada Odette. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh.” sambung Kakek.” kata Kakek. sampai Kakek terbatuk-batuk. adalah para pemeran angsa kecil. Oxana Gasnikova. Semuanya tertawa. ”Itu kan mengumbar aurat. ”Apa. Siegfried sadar. Pangeran Siegfried. Eugenia Singur. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko.” tukas Nenek. Usaha Rothbart berhasil. yang secantik Odette. ayah.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. cocok-cocok saja. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. angsa itu menjelma Odette. dan Anastasia Baranova. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. kedua adiknya.” tukas Kakek. juga tante dan oomnya. Sekalipun dengan mata terpejam. memamerkan putrinya. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. Tatiana Chungunkina.

” sambung Kakek. deh. Meriah. semuanya terkesan jelek. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. Habis jadi diktator.”Aurat yang mana?” tukas Zahra.” ”Kesan.” ”Wah. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake.” sanggah Kakek.” ”Eyang yang kasmaran.” ”Wah.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. ”Saya serius.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. kok yang disalahin balerinanya. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun . pertunjukan itu harusnya disensor. wah. Melihat kostumnya. Aduh. mendadak berubah jadi filosof. kecuali Kakek. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya.” ”Saya heran.” ”Jangan begitu. Eyang ini gimana. Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. bubar. Kesan. kok Eyang sampai segitunya. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. Jika kita bicara soal kesan.” ”Jangan begitu. sih.” tukas Zahra.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. Obrolan berubah jadi perdebatan. ”Semuanya kan tertutup rapat. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari.” Semuanya tertawa.” sergah Kakek lagi. wah. kostum Zahra ya seperti itu. Eyang. peradaban.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. Eyang.

runtuhlah kebudayaan. ”Eyang benar-benar lowbrow. Cucuku. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu.” kata Oom. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. Mendengar kata Kakek ini.” sewot Zahra. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” sela Kakek. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. ”Apa?” tanya Kakek.” cetus Kakek.” Zahra menukas.” .” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. ”Adalah tradisi balet. ” sergah Tante. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. ”Kostum ketat itu.” sambung Kakek. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. Eyang. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ”Dalam KKN ada tradisi.” kata Zahra. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. ”Adat ketimuran kita adalah KKN.

Anakmu bukan milikmu. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. ”Coba.” tambah Nenek. Eyang. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. . Kecuali Kakek. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Bukan kepada Tuhan. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga.” tukas Kakek. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. Lengang sejenak. Dan itu bukan teori. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan.” sergah Kakek. atau lusa. ”Banyak negara yang busuk. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. Zahra. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Barangkali besok. Seperti tercium setan lewat. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri….” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta.” tukas Nenek. Eyang.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.”Hati orang siapa tahu.” tambah Tante. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. Eyang.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. kata Allah. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. saya cuci tangan. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu.” jawab Tante. Kita bisa menuduh mereka ateis.” kata si Oom.. saya dikasih contoh.

Ada api yang menyalanyala. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat.” ”Saya setuju. Tangerang. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. Suatu dakwah keindahan tiada tara. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. cukup sulit. Dan ternyata Allah itu indah. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka.” ”Sebagaimana balet.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. Dalam balet. Allah mencintai keindahan. Cobalah nikmati tari bedoyo. Kita wajib memeliharanya.” sambung Zahra. Ada air yang mudah mematikan api. sedang dalam . Eyang. 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. tidak ada pornografi dan pornoaksi. Dalam dandanan kebaya pinjungan.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. tergetar.

juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. bawahan dengan remaja. Rasanya camat. perbankan. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. bupati. Dengan ngantre minyak tanah. bupati. atasan. ramai. Saya acuh tak acuh. mengular sampai jalanan. Rasa saya tetangga. persoalan anak dengan orangtuanya. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. Kadang datang berbondong. satu dua. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. soal usaha tambak udang. Sebagai penulis lepas. tidak benar-benar membutuhkan saya. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. misalnya. teman-teman. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. satu dua. Ada apa? belum menemui mereka. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. saya dijuluki “pendengar yang baik”. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. Sudah sering datang orang. Saya rasa kali ini juga begitu. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Cukup menyenangkan.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Sudah sering datang orang. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. dan wali kota. Karena istri saya gelisah. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. Orang-orang . bibit tanaman. Misalnya. Juga tentang hubungan suami istri. Sungguh menghabiskan waktu. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. Di samping para tetangga. maupun wali kota. perburuhan. menyadarkan saya. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. saya menjawab sekenanya. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. kata-kata bijak dari para cendekiawan. setelah sarapan. pengairan sawah. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. Istri saya memberi tahu. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. dan banyak lagi saya tidak nyaman. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. yang sama sekali tidak saya ketahui. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. Istri saya lewat jendela. menantu dengan mertua. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. sekadar yang saya tahu. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. juga tayangan televisi.

sekitar 5. sementara beban keluarganya besar. Dan sebagainya. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. teman. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. tukang becak. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. Banyak komentar. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. Keluarganya memberi tahu. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. Banyak usulan. Yang jail maupun pelesetan. tak ada yang menulis. ia kaget.000 karakter. agaknya hanya saya seorang. Masa pensiun pasti datang. menyebabkan banyak orang mengenal saya. dibawa pulang ke rumahnya. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. pekerjaan terakhirnya. kenapa tidur di rumah. Kepala kantor orang itu kebingungan. kompleks pertokoan.000 orang. ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. Begitu siuman. ia seharian di rumah saja. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Seluruhnya orang. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. dan berapa orang saudaranya. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. Begitulah. selalu saja orang . Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. sebagaimana kematian itu pasti tiba.orang biasa. Misalnya. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. tidak ke mana-mana.lengang. Alasan saya. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. orang-orang ternama. sampai kenalan baru. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati. Saya catat riwayat hidupnya. Kadang sampai 8. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. ataupun di stasiun bus. lalu saya cari alamatnya. Saya interviu keluarganya. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. keluarga. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. Tulisan obituari itu tidak panjang.

” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis.” “Lho. Anak-anak saya. Ada yang bilang. Di pertemuan-pertemuan desa. Pak.” jawabnya. Apa yang akan terjadi dengan saya. tulisan saya tidak adil . Maka ada saja orang yang anti-saya. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini.nyeletuk: “Pak Jurnalis. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. sehabis ngobrol dengan saya. ia meninggal. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2.” “Jangan ditinggal korek apinya ini. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Saya nggak mau ditulis sekarang. Keterlaluan. “Lho. Tapi ini kebetulan saja. yang paling kritis. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. Ini benar-benar klenik. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. Pak. Memang ada seorang yang “Pak. Menurut mereka. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. lima orang. Saya jadi pendiam dan menyendiri. kenapa?” “Maaf.” “Saya permisi. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. dan si bungsu di SD kelas 5. “Maaf. Tidak kenapa-kenapa. Ketika orang menanyakan pendapat saya. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. Tidak kenapa-kenapa. Sementara itu ada pula yang bilang. sedikit saja saya ngomong. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu.” Tapi. Pak. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. seseorang yang ngobrol dengan saya. kenapa?” “Maaf.” “Biar untuk Bapak saja.” “Baiklah. Lalu malah terjadi serba-salah. Dari kejadian itu. Saya tak bisa menjawab. Ntar saya yang menulis Bapak. Wah. katanya. Pak. ini bahaya. saya sedang mewawancarainya. jika seseorang ngobrol dengan saya. Memangnya saya cenayang. Pak Jurnalis. ada yang mengartikan. Kritiknya tidak berdasar. Banyak ngomong dianggap meramal.

” anak-anaknya yang lain. saya berat.anak saya tersebut. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. . Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. Jika sampai di sini hal itu masih baik.” dengan empat orang anak. anak-anak saya itu diam. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu. ini dosa.” “Itu harapan saya.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain.” “Tidak bisa seenaknya begitu. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. Itu doa saya. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu.” “Begini. itu semua yang anak. Nah. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala.” “Semua orang bicara dosa dan pahala. Ayah pernah menulis obituari.” “Ayah marah kena keritik. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka. anak-anak ini sok tahu. Lima anak semuanya sekolah.” “Nah. sedang rakus-rakusnya makan. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam. kalian ngawur. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya.” “Boleh saja. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras. Nah.” jawab saya. “Kalian ngawur. Sebagai ayah.” jawab anak-anak itu. wah. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha.” “Semuanya. kan. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah.

laki-laki. Jam aum macan.Kami sebenarnya keluarga bahagia. Hari baru membuka matanya. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. di kebun. di pekarangan. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Dengan ngantre minyak tanah. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. Sinar matahari memancar. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. Saya rasa kali ini juga begitu. termasuk menulis berita. Ada apa? belum menemui mereka. guru SMP. Istri saya lewat jendela. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. mengular sampai jalanan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Ahad. perempuan. Saya acuh tak acuh. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. di luar kemauan. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. bayi. Allah…tanggal akhir hayat. Waktu saya siuman. Entah berapa lama saya pingsan. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. tak seekor pun tampak terbang. di atas pohon. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. tanah. Seluruh mayat itu. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. nistagmus. mereka menatap kebenaran. 26 Desember 2004. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. berserakan memenuhi ruang dan udara. anak-anak. Sudah sering datang orang. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan.00. muda. di reruntuhan rumah. tua. Istri saya memberi tahu. Karena istri saya gelisah. Saya menulis apa saja. merangsek ke depan meja saya. Tangerang. di jalan. setelah sarapan. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. 20 Januari 2005 . dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. saya. mencecap pencerahan. satu dua. cerdas dan berani. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. Alhamdulillah. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. panas. Bahkan burung-burung. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Istri saya saja suka empot-empotan. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM.

Kami terkapar di atas pasir basah. bersentuhan dan mendesah massal. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. entah karena nyala yang redup. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Ia burung yang berenang. Untuk saling gombal. Entah karena entah karena entah. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Meninggalkannya dalam diam yang haru. Rajaman semu. Maka… menggoda. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. Bercinta di bawah para-para. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. Dan ia terpana. hilang. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. dengan kaki-kaki telanjang. begitu istilah orang-orang. entah karena basah yang kering. Dan saya. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. dan ada yang hanya bagian tangan. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. memabukkan daripada kesadaran. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. ada yang hanya bagian kaki. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Saat penghakiman. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Bahana tawa. Muka badak. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Sendawa alkohol di permukaan udara. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Senyum manja. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. saling berhantaman. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. saling beradu berebut perhatian. Sembunyi-sembunyi. Pesta pora. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Girangnya sirna. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. Maka saya tahu. . Phuih! Saya meludah ke mukanya.

“Sendiri?” Saya menatapnya. bisa atau tidak para model itu. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Tawa. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Tawa. Tawa dalam penantian. Musik kian mengentak. Tawa. Tawa. Tawa berkepanjangan. Tawa. Tawa. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. diri saya sendiri terpaku. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Entah peragaan gaya. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. saya melihat sepasang manusia bercengkerama.Saya menunggu. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Entah peragaan busana. panjang ala kadarnya. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. berapa kira-kira umur mereka. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Tawa. Tawa. Ada luka yang akan segera hilang. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Ia pun langsung mengambil Alkohol. Tawa. Tawa. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Tawa. Tawa. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. Tawa. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. Tawa. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Ada nama yang akan segera dilupakan. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. terjangkau. Saya melihat langkah seribu. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. Tawa. Tawa. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Di sebuah tempat antah berantah. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. Tawa. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. lalu memisahkan diri. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Sementara saya pun pura-pura tertawa.

Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. Jakarta. Maka….“Huahahahaha…mata bintitan. Dan semua adalah ikan yang terbang. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. Mata saya pun memanas. Ia masih berada dalam diam yang haru. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. dosa. mata yang menatap girang. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. Maka bening berkumpul sedan. dan pantas. Ia burung yang berenang. Semakin banyak burung yang berenang. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. Agustus 2004 . Saya menunggu. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. Ada yang mendesak ingin keluar. pantas. Semua burung yang berenang. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur.

Suara tangisnya seisi ruangan melengking. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. “Robek saja. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. Membuahinya. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Tapi saya ngotot persalinan alami. sudah satu bulan setengah usia janinnya. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. yang masih lengket. Baru pembukaan delapan. Sembilan bulan sudah. Masih tak percaya. Rasa mual merajalela. Tapi saya berkata dengan yakin. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. liat. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. Dok.” kata ayahnya. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Tapi… muda. jelas belum mapan. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Rasa takut seketika membuncah.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Ketuban sudah pecah. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. masih harus menunggu dua pembukaan lagi.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Menerima. Air ketuban sudah hampir kering. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking.” kata supervisor saya. Saya akan menjaganya. Pun mulai membukit perut saya. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. Saya akan menjaganya. majikan. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. Masih tak percaya. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Saya ingin protes. Materi yang ada. Dan jika operasi. Harus operasi. Kepala saya pening. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. Membayar pembantu. tapi tak . Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti. Terus menyeruak dan mendarat lengket. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah.

Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. aku udah mau tidur!” semprotnya. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. Kalau perlu. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Tetap akan pulang. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. . Jika saat itu tiba. Tak menunggu saya pulang.bisa. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. Harapan akan segera pulang. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. Air susu saya sudah sarat. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. Baru akan dimulai merekam adegan. Lucu. Saya harus segera menghayati peran. Dan saya tetap akan pergi. telepon. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. Berusaha memberikan pengertian. ketika suster itu berkata. Di mana makhluk mungil menyusu.” Saya akan menjaganya. Membeli apa pun yang harapan. Saya sudah tidak butuh rehat. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. lagi. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. Berusaha memberikan rasa aman. kontrakan. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. membayar listrik. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Saya akan menjaganya. Saya tetap akan pergi. Cukup lama saya harus menenangkannya. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. Ia membiarkan saya pergi. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. Harapan akan segera pulang membawa uang. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. air. Tetap menunggu saya pulang. kami akan menjelajah dunia. itu? Saya begitu tak sabar menunggu. “Capek ah nunggu. Dan harapan. Sudah jam delapan. kalau ia mau. dan sekolah akan pulang. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya.

menunggu emosi saya pergi. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. Tapi ia menggeliat. Satu saat nanti ia kembali. Pelan-pelan . Melayang seperti burung tanpa menyimpan. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. Ada puisi di dalamnya. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Lantas meronta. Menunggu. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Ada kegelapan. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Lampaui semua beban. Saya akan menjaganya. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Saya kecup kedua matanya yang merapat. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. kemilau dengan tangan terbuka. Menunggu. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Menunggu. Saya Ada cahaya di ujung lorong. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. menghalau saya supaya tak dekatdekat. sudah kembali pulas tidur. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. Menunggu kesadaran saya kembali. Menunggu. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. igau saya. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. Entah disengaja untuk menarik perhatian. igau saya.harus terhambat kemacetan. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. “Action!” teriak sutradara. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. menyerahkan untuknya menyusu. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. Menunggu.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

Di ini berjam. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan. Hal. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Mereka saling mengirim surat elektronik. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum. berhari-hari. sakit jiwa. Pembicaraan mendadak berhenti. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon. restoran. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS.teman saya semakin banyak. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Banyak terakhiri. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. berbulan-bulan. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Tapi kami masih menikah. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. Yang berubah keterbukaan. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. Saya tidak pernah membohongi.minggu. Di rumah. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang. saya tidak pernah akal-akalan. atau murahan itu. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. sebetulnya tidak sepenuhnya benar.jam. Sebagian lagi menganggap saya jiwa. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri. Sebagian orang menganggap saya munafik.kami hanya sebatas pertemanan. Semua orang merasa sementara teman. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. pembual. berminggu. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir. Setelah putus dengan si B ternyata . Jika teman saya uang. Di pertokoan.sembunyi bermain mata.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. kantong belanja. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. Mereka sembunyi. bertahun-tahun. Jika teman saya kelihatan indah. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang. atau masih melajang. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. sok gagah. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman. mulailah kelihatan berkantong tebal. sebagian orang yang menanggap saya munafik. Di kantor.

Menganggap saya murahan! lanjut berteman. Pembual. Sok gagah. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya pembual. sok gagah. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Saya hanya heran. Malam-malam panjang. Bercerita tentang film yang baru saja diputar. pembual. Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. terima karena saya munafik. Karena. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. sakit jiwa. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Murahan! Jakarta. Menemani makan malam. Mendongeng membayar ongkos perawatan. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Mengirim makan siang. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. Sakit jiwa. Ereksi yang tidak lama kekal. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. atau murahan. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. jalan. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful