Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

Dalam kepergian malam. banyak batunya. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. merunduk rendah. sampai giliranku pun tiba. dalam sunyi air yang mengalir. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. Orang yang berada di barisan menebas lehernya. ”Tuhan. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. dan mengambil buah yang ranum. Gelap dalam sel. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. yang dapat kutempuh. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. Aku menduga. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. Pisang monyet. pastilah manusia pun bisa. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. Aku berterima kasih kepada Tuhan . dalam remang gelap. aku semakin menepi batu-batu. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. Tidak ada. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap.benar menjadi warga kegelapan. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. anak-anak akan telantar. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang. Di dalam alun arus. aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. Dan cap dalam keluarga.banting tulang memberi makan mereka. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. Bayangan dalam benakku. kemudian tali dari kaki. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. Kami benar. ”Ayo. Aku memanjatnya. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam.

aku menghitungnya. Setelah kekuatanku pulih. Akan tetapi. menyongsong matahari yang terbit. Pergi ke laut. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang. Kuketuk pintunya. sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. kukirim upahku. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. iklim politik pun berubah. Sampai berpuluh tahun kemudian. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus. Setelah berbulan-bulan. dan pelarianku. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. dan mengirimkan upah yang kuperoleh.minggu bersama mereka. yang sudah berumur membuka pintu. Bandung. kepada anak-anakku. Malam-malam berbintang. alamat. aku berjalan dan berjalan. Ia terkejut melihatku. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. aku menemukan sebuah gubuk. Rasanya aku berminggu. 21 Agustus 2009 . Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. Aku bulan di laut. yang tergenang dan bening. atau kalau musim ombak. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. tepatnya sebuah lembah yang landai. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. Kata orang tua itu. menjual ikan ke seberang. seorang bekas interogatorku. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. Alam keras membuat mereka hidup. di seberang ada laut. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka.mereguk air dari pinggir sungai. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. Ada mata air di situ. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. Aku pun terkejut melihatnya. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga.

Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. Betapa bodoh dan tololnya aku. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. Kuambil satu. Aku bersidakep menahan dingin. Tubuh terbakar hangus seketika. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Gosong. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser.” kataku sembari menatap ke jalan. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. Agak mletot karena terduduki. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Aku berdehem. Aku bersiaga. Hujan masih saja lebat. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. “Aku salah turun. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. Seharusnya di dua halte berikutnya. Tanpa menoleh ke arahku. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. Angin masih berkesiur. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini. Sebatang rokok siap dinyalakan.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Senja makin lebam. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. . laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. Setelah menyulut rokoknya. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. “Dulu. mungkin aku sudah sampai di rumah. Genangan air mulai meninggi. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia.” aku sengaja berbohong. Kalau tidak. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. petir seperti ini. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. Masih tersisa dua batang. Di sebuah kantor. Angin berkesiur liar kian kemari.

Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. Baginya yang penting aku menggodaku. Entah di bagian mana. Tapi itu tidak penting.” aku. Tak ada gunanya. “Nama kita hampir sama ya. aku jadi tak bisa tidur. Sukra tertawa. Kakaknya. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku. Aku jadi korban. Kerja serabutan. Agak gondrong. Meski cuma lima belas ribuan. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. Agak tinggi. Ada barang sedikit dari mereka. menikah dengan seorang polisi. Agak kurus. yang hasil korupsi. ada yang curang dalam berdagang. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu. Gelisah saja.” Laki laki itu tertawa kecil. Malah yang paling makmur. Hidupnya Merampok? Ah. seorang wanita. “Kita merampok. Hidung mancung. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini. Malamnya. macam-macamlah. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. Istriku di sebelahku sudah terlelap. Aku kaget. Apa saja. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Tak jelas mengapa ia tertawa.” katanya getas. meski dingin menyungkup. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak. Yang penting kau mau bekerja sama. Seperti hari ini. sementara order menurun.” “Sukro. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. “Namaku Sukra. Di antara empat saudaranya. laki laki. terus terngiang ajakan Sukra. Aneh juga. Yang penting bisa makan. “Kita merampok orang kaya. pulang membawa uang. Si bungsu. dan dua sepeda motor. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok. Sekarang nganggur.“Tapi aku dipecat.” Setelah itu kami jadi lebih akrab. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. Banyak sekali. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. “Kenalkan dulu. Uang mereka banyak. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. Dan hujan tiris. Mata dan pipi cekung. Uang mereka pun belum tentu uang halal. perempuan. aku bisa bantu. hidupnyalah yang paling susah. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. Yang pasti.” kata laki-laki itu kemudian. hidupnya tak pernah kelihatan susah. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. “Kalau mau. menikah dengan seorang juragan beras.” aku menyebut namaku. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu .” ujarnya seraya menyodorkan tangan. Adiknya.

perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. Mereka mau ke Bali besok sore. Ini tanpa risiko. langsung duduk di sebelahku. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya.terjadi perkelahian. Lalu . Ada ekstasi. Agak berbisik. Sukra mengakak lagi. Mereka butuh teman wanita. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. “Kalau bukan kita yang melakukannya.” Sukra membanting rokoknya. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku. Bisa juga dibakar massa. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. Tanpa basa-basi kepadaku.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. “Kalau kau mau. misalnya. orang lain yang mengambil alih. Esoknya aku bekerja tanpa gairah.” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. Sukra!” aku membentak. Kro. ia ikut memesan makanan. Sudir. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini. “Jadi pengedar. Kra. “Kalau kau takut merampok. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya. nanti malam. perempuan. Ia “Oya.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu. kalau kau mau. Aku diam saja.” banyak pilihan pekerjaan. Aku diam saja. aku ada pekerjaan untukmu. Hari itu. jadi pengedar enggak mau.” jawabku sinis. Lalu aku terluka.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik.” Sukra meneruskan kalimatnya. teman sekerjaku. Lima turis Jepang. tugasku memasang pompa air. Ada Selamanya miskin. Itu kalau kau mau. ganja. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat. Bukan jadi pengedar.” kata Sukra. Bisa kau carikan? Bayarannya besar. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. selamanya hidupmu susah. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. “Diajak merampok enggak mau. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. Sukra mengakak. Bukan merampok. Kalau tidak. sabu-sabu. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. Sukro. Sama saja. “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya.

Menahanku dengan paksa. Sukro. meraih tanganku. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. Lagi pula. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. Dan muda. Terpaksa aku menggeser sedikit. aku lupa. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar . Tentang hidup enak dengan jalan pintas. “Wajahmu cukup ganteng. Aku cuma terdiam. “Maaf. Setiap hari kau bekerja keras. jadi kunyalakan. Sebelum sempat kunyalakan. “Haram? Ya. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan.” Sukra memulai serangannya. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. Jadi pengedar.” sahutku ogah ogahan. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. Rokok tak seorang perempuan. Tak begitu berat. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya. Jadi. Sebagai pekerja kasar. Siapa tahu kau tertarik. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. Jadi makelar wanita. memepet Sukra. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. Tapi. Merampok.” kataku singkat membuat Sukra tertawa. Sukra tertawa kecil. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. kau juga berotot. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. “Tenang dulu. cobalah berpikir sedikit lebih rasional. Aku mengambil sebatang rokok. Hanya cukup untuk makan.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi. Berhadap-hadapan. Nah. Mendengar celoteh Sukra. setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. Apalagi kalau sedikit kau rawat. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu. tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan.” membutuhkan wanita-wanita penghibur. warung Tegal tempat kami barusan makan.” Selepas makan.“Itu pekerjaan haram.” katanya meyakinkanku. dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. mungkin kau benar.

Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. Aku malaikat penolongmu. Sekarang aku mau berbagi denganmu.dibutuhkan.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan. Tidak setiap hari juga. Perigi.” aku berkata ketus. Ia tak suka wanita. Cantik. “Mengapa bukan kau “Kro. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri. atau yang pria saja. Tapi gajimu tetap tiap bulan. Ia masih membujang. Tanpa menoleh. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. Dan. Dan lari. Nah. “Aku punya dua klien. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. Itu “Aku tidak tertarik. Aku mau menolongmu. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. Sampai terengah engah. kau juga bisa bekerja untuknya.” Aku masih saja bungkam.” Sebelum aku berkata-kata. engah. Kau bisa bekerja untuknya. Sukro. Janda. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram. Kunyalakan lampu kamar. Desember 2006 “Ada apa. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Sukra melanjutkan. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. sekali.” berkata begitu. Aku terbangun. Kaya. Tergantung kebutuhannya. kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Tidak tergantung pada Kesepian. Atau. aku buru-buru meninggalkan Sukra. Masih terengah- . bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Sukra tertawa. Tanah Kusir. Semua pekerjaan yang saja. Aku menggeleng. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu. Mungkin dua kali seminggu. “yang kedua adalah seorang pria. Ia menyukai sesama jenis. “Sukro!” Sukra berteriak. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. Yang pertama seorang wanita setengah baya.

Kuceritakan penglihatanku. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. dan Mawar. daun-daunnya yang kemerahan. Aku memang tak punya mata. suaminya yang minggat. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. Tapi ia hanya tertawa. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. dua tahi lalat kecil di punggungnya. Sungguh. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. masa lalunya yang penuh kesedihan.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. 28 tahun lebih enam hari. kakinya jenjang. bayangbayang yang putih dan memanjang. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. ia memilih menyendiri. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. karena aku buta. Ia seperti dikutuk kecantikannya. Seperti malam-malam sebelumnya. aku langsung tahu. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. juga angin yang pucat kelabu. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. suaminya. Aku melihat garis pedih dan hitam. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. berdiri menunggu seseorang datang.” katanya. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Baiklah. untuk kesekian kali. Saat pertama kali melihatnya. Itulah sebabnya disembunyikannya. Kadang tampak ganjil . gugusan awan merah muda. Tapi kalian mengatakan aku dusta. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. olehku yang buta. Bilur jejak luka di tubuhnya.

mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani.” dan kaki pada tubuhku. Aku tahu. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah. Kelak.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. ”Aku tak buta. kau bisa menduga. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga. diberinya aku degup jantung. kamu bisa kembali mengambilnya. ”Baiklah. ketika aku lahir dan menatap dunia.” ”Kalau begitu. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. dan berkata. Aku memang memilih tak punya mata. kenapa buta?” Ia sayu menatapku. kami akan menaruh matamu ini di surga. ia seperti menemukan barang berleleran. buat apa aku punya mata. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. Digerogoti kusta. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya. kau akan melihat banyak rahasia. Jileng. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu. ”Biarlah aku tak punya mata saja. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. Ada yang bongkok. Perot. ”Mata ini akan membuatmu jelita. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. Tentu. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. Ia membuangku. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku.” Tentu.” Lalu aku pun bercerita padanya. Ada yang gagu. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. ”Dan kamu. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah. . kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga.” Di rumah itu pengkor. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan.” ”Bila kau tak punya mata. dan tak pernah mau menatapku. Melihatku yang tak punya mata. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. Ia begitu membenciku. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. dan ia bergidik ngeri. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis.

Barangkali ia pun merasakan firasat itu. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. Arak yang mengepungnya. Kutegaskan padanya. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Di pojokan toko. Ia terus tertawa. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. Aku bahkan nyaris dicekiknya. Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. Tapi dengan apa kau melihat. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. Mungkin saat itu aku berteriak. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. kemudian yang lembek. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. ”Bukannya aku tak percaya. Kau mendengar suara. ketika beringas dari biasanya. Aku tahu menyeringai tertawa. Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Semuanya berlangsung begitu cepat. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda.” Aku bisa memahami perasaannya. kau pun takut menatapku. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . cahaya seperti lumer di sela jariku. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding. Ia pun hendak lari. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. tapi petugas yang lain segera berteriak. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. Sebagian pelacur telah pergi. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. rambutnya basah tertempias hujan. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir.”Lihat. Aku seperti mendengar lecut petir. Ia bisa kehilangan pelanggan. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. ”Kau menyenangkan. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Dunia memang tak menuduhku berdusta. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut. yang kusaksikan membuatnya terpesona. aku bisa melihatnya. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. ”Lihatlah. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. meliuk merunduk. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya.” Ia kembali tertawa. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. tapi tak percaya. Mungkin tidak.” katanya. Lepas 3 dini hari.

Melemparkannya ke mobil patroli. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. kemudian bergiliran memperkosanya. Ia mengamuk dengan buas. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Pelacur dan pembunuh. Di warung dan kafe. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. Setelah mayat itu digantung. Sebagian kalian tertunduk. Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. memar. seakan ingin saat itu hari Natal.Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. kemudian digantung sebagai tontonan. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Di kasuk-kusuk. bibirnya bengkak kena pukul. Kalian mesti ke gereja. Mereka selama ini kalian sahkan. Kuceritakan apa yang kusaksikan. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Maka menghapus bayangan buruk. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. mulutnya. Padahal bukan aku yang dusta. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Di pangkalan ojek. Di kantor. tapi mereka. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. Ada bercak darah di pisau itu. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota. dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. Rupanya ia mabok berat. Begitu nyata dalam penglihatanku. Wajah Mawar pucat. Karena bagaimanapun seluruh kota. kalian pun bubar. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. melenyapkan maksiat dari kota. Di ruang tunggu rumah sakit. motong delapan korbannya. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. Sampai malam. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. burung gagak merah berkaokan. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Orang-orang ramai membicarakan. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti. Hujan rinai . kuceritakan apa yang telah kusaksikan. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Siapa yang membawanya? Baiklah. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. ketika Mawar menjerit. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan.

meski sesekali Kudengar ia berseru. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan.tergantung dalam bayangan cahaya murung. Matanya seperti bintang bening. seperti ada cahaya mengitari kepalanya. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. Rambutnya ikal dan panjang. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. malam mengelabu. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. tapi kalian menuduhku pendusta. Kuceritakan ini pada kalian. Senyumnya seperti berjalan anggun. Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. seperti memanggil nama pelacur itu. Aku begitu terkesima menyaksikannya. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. 2008 . Saat itulah. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. kemudian menurunkannya. Aku sendirian di alun-alun itu. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. Yogyakarta. keemasan yang cemerlang.

aman dan nyaman. kami. saya hidup. Sayup- . pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. Ada yang memijit. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. Ada yang mau memanggil dokter. sejak tahun 1997. Nining. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. Tapi. pemulung. tindih-menindih. karena berbagai alasan. lelah. memang milik Pak Darkin. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. piring. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. mereka belajar apa saja. Ibunya. ember. teko. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. menyanyi. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. dan bercocok tanam. membaca. juga cerpen. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. juga memasak. pengemis. rame- gelandangan. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. Untung. gelas. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. esai. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. yang selalu membela putri kandungnya itu. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas. Setiap minggu. meski hanya sebagai ayah tirinya. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. apa pun yang terjadi. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. karena peristiwa itu. dan tidur. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. Kami menyambutnya dengan sukacita. Di dalam gerombolan kami itulah. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. Pada suatu malam. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. Malam itu. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. dan sedih. dan menyanyikan lagu yang itu. panci. pengamen. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. rame makan. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri. tidak penting untuk dipersoalkan. Semalam. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. Saya ditemani kompor minyak tanah. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar.

sayur menyumbang sayur. kaus oblong. Rupanya saya dibawa ke terbangun. Pedagang tak pernah kehabisan. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. beberapa ekor daging ayam segar. dan peralatan mandi. Setiap habis gajian. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. Tapi.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. Pedagang beras menyumbang beras. Sayang sekali. Pedagang ikan menyumbang ikan. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar.” jawab saya. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Saya heran. kopi. tak ada sisa sama sekali. saya dinaikkan ke becak. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Nining tidak bersama kami.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. Saya digelandang terus. saya bisa membantu mencarinya. bahagianya. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. Ia meradang. Ternyata tidak hanya beras. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. Aduh. ”Saya tidak tahu. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Pak . Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. Aduh. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. telor beberapa kilo.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Sesampai di jalan raya. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. juga minyak goreng beberapa botol. Bernapas saja sangat sulit. Saya diseretnya keluar. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Tapi. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining. teh. kami kami akan bersedih sepanjang masa. meriahnya. gula.

Maka mengiriminya duit.” suara seorang gadis membisik. kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. tidak mau diwawancara.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. Beliau selalu bisa membahagiakan orang. beliau tidak berniat sedikit pun.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya.sebuah pekuburan yang gelap gulita. ”Saya Nining. membanting dan membalut dengan kain kafan. sedang untuk dirinya sendiri. membujur kaku bagai jenazah. Ternyata wajah beliau tidak . Tiba-tiba: ”Pak Totok. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini.” ”Wah. Saya sadar. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. Saya tak bisa bergerak. ketat sekali balutannya. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. Tidak bergaul. Cerita lainnya adalah. ”Saya menunggu Bapak. Itulah jalan spiritualnya. tidak mau diundang makan. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. yang muncul hanya gelap gulita. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. Pokoknya serba tidak. merupakan sumbangan Kiai Kintir. tidak menerima santri. pernah sejumlah terekam. tidak mengajar. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo.

cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Dari jauh. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. Sejauh mata memandang. Solo Baru. Tak terdengar geledek. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. berucap. Semanggi. Tak terjadi gerimis. Sesampai di jalan raya. hanyut dibawa arus. Semuanya diam. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. becak ditinggalkan pemiliknya. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Mobil. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. Sampai fajar merekah. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Satu-dua orang penonton motor. Tangerang. Joyontakan . rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. mengambang hanyut seperti mayat. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. andong.Sejak dini hari. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut.

Membuat mereka tak tenang. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Apakah benar masih ada hari esok. Orang-orang menamakannya cinta buta. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Cinta pun membutakan. di kebutaan seperti itu. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. Apa pun namanya saya tidak peduli. Seperti gelap. Mata saya mulai merapat. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Tak pernah merasa tak tenang. hidung terasa melekat. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. Lembut mendayu-dayu. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. Sepanjang mata memandang. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Tubuh kelihatan amat samar. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. Banyak orang yang begitu takut pada malam.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan. . Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Pada gelap. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. Seperti malam. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Dari penginapan. Namun. Begitu dekat. hanyalah kegelapan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. suara-suara begitu jelas terdengar. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. saya tak perlu meraba-raba. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Semakin gelap semakin ramai. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. semakin gelap. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok.

Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. saya bilang. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Membuat saya kerap merasa terjepit. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. atau Jantung keras berdetak. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Antara pasrah dan pasrah. Segala garis maupun dan bersatu. Walaupun kami hanya bertemu kala siang.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. Semakin kabur. Saya jatuh cinta. Suara yang semakin lama semakin serak. Tak terkecuali malam. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. adalah asli. saya bilang. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. atau malam? Karena buta. Bertemu kala siang. Bunyi ranjang berderak. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. bukan kala pagi atau malam hari. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. Tak terkecuali pagi. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. Dicengkeram gerhana. Mata saya pun semakin buta. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Antara lelah dan lelah. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. Mungkin malam akan membuat saya takut. Tapi dengan satu konsekuensi. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. melihat matanya sedang menatap. melainkan asli. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. saya akan bisa mengulanginya lagi. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Membuat saya Saya tahu. Kalimat di bungkus kondom “ASLI. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. datang dari diri saya sendiri. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli.

Jakarta. Tak bertemu hanya kala siang. Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Tak menunggu kala atau malam. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Sejak kemarin. karena cinta telah membutakan kami berdua.mempersatukan tubuh kami jadi menciut. Diganti dengan jawaban. . di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. Mungkin… pagi dan malam. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir.

Nana melihat Dara. “Dik. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. Dua minggu yang lampau anak bungsunya. Tantiana. Alvin. Aku bosan . Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. Tantiana menangis terus. Jadi. Sesungguhnya. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. “Kalau tahu begini. Rizal kan cuma teman. waktu ke toko buku. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater. mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap. “Tante dan Om-mu. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma.” Nana mengatupkan bibirnya. Beberapa hari yang lampau. sekarang ada di rumah sakit. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya. adik bungsunya menelepon HP-nya. Dara. Aditya (25 tahun ke-30. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. menikah! Mendahului anak sulungnya. Adiknya berkata. saya sepertinya sudah dapat firasat. dia baru berusia 17 tahun. “Datanglah bersama Dara. “Mbak. Nana menunggu!” meneruskan omongannya. setiap keputusan hanya ada pada saya. lebih baik kita naik kereta saja. positif hamil. Mereka mencari sebuah restoran. saya membeli buku nama-nama calon bayi. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya. jam berapa datangnya? Dari tadi.” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala.” Nana terenyak. Padahal.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. kalian berdua kan dokter. yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. sekalipun berprofesi dokter. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan.” sampeyan kok belum datang. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. “Ma. adik bungsunya sambil menangis mengatakan. Seperti dua “Ma. Setelah itu. anaknya.” Nana merasa terkunci. Sebelum terjawab. tahun).

berapa pun umur Dara. Pastinya mereka menganggap “Maaf. aku diliputi perasaan gelisah. “Waktu kau beranjak remaja. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. aku kepingin jujur kepadamu. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. kau menikah. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. Padahal. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. jarang bisa ngobrol. Mulai sejak itu. Yang terjadi di luar mimpi kami. Kendati mereka masih tinggal serumah. memegang tangan mamanya. saya tidak bisa janjikan itu. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai.” Mereka saling melihat. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). Didit tidak meneruskan sekolahnya. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. Kami tidak merisaukan hal itu. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). “Ma. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. Sesungguhnya. Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. dia menyukaimu. aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga. sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. “Ma. “Setelah Aditya menikah. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. Nana seharusnya berkata begini. tapi kemudian Nana berpikir. tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia .Dara tersenyum. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. Padahal. Sekalipun Nana merasa. Siapa pun tahu. kata kuncinya cuma satu. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. Kedokteran juga serius. Padahal. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. kemudian mulai pacaran. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. sejak lulus SMA.” Dara. Sekalipun. apa pun pendapat masyarakat. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu.” sedih sekali. Tapi.” Apalagi. kau tidak peduli pada mereka. Tapi. Apalagi. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara. saya perempuan yang berat jodoh.

banyak hal yang dipikirkan. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya.” “Ma. Pastinya. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. kalau sudah begini. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. Sampai hari ini. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. terapi ini tidak berkelanjutan. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya.” Kemudian ada dering telepon lagi. Padahal. seperti semua dokter. pada persekian menit. Rizal. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. Sehingga Rizal berkata.” Dara merasa tak berdaya. tapi dua orang yang sangat dekat. Karena.” “Mama kan tahu. dia tak berhasil. “Dara. untuk menguatkan satu dengan lainnya. harus berempati saja. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. Semuanya memang harus diselesaikan.baru saja berusia 13 tahun. Nana memegang tangan anak perempuannya. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara.” “Dik panggillah dokter. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. bukan bersimpati. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. Lantas. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks. “Sebagai seorang dokter. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. dibicarakan oleh mereka berdua. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. Sekalipun. ketika mencoba bercinta dengan Rizal. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali. Tapi setelah dewasa. Sebagai seorang dokter. sekadar dokter dengan pasien. kalau kau mau cerita. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. Dia merasa jijik! Namun. Jadi. sekalipun mamanya juga dokter. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. pesawatku delayed.” Dara berbicara lagi. . “Ma. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. Tapi. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat.

“Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. tiga darimu dan dua dari Aditya. Nana. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. aku tak akan pernah bertanya lagi.” Tantiana menangis. Di luar dugaan. Tidak ada air mata. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. biarlah jadi anaknya Mbak Dara. Yaitu garwo (sigare nyawa).” Lantas. Rizal. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. dan melebar di ruangan ini. Nana memeluk Dara. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu. Sedangkan anakmu. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. Rizal tersenyum dan memeluknya. lahir anak Tantiana. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. Beberapa bulan kemudian. Karena untuk kesembuhan ini. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. dihadiri Rizal dan mamanya. cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. Bahasa simbol itu artinya. Ketika memasuki ruangan ini. Teman-teman anaknya berteriak-teriak. Jadi. “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. aku memaknainya lebih jauh. Aku yakin kau bisa memahami itu. jadi kita bisa membagi. butuh proses yang panjang. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya.” kesakitan. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. belahan hati suami dan istri. senyum ada di antara Dara. Percayalah. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. “Zal. tidak bisa diperbaiki. aku kepingin anakku ini punya dua adik. Kalau tidak. Setelah anakmu lahir. Tantiana sedikit tenang. “Dik. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini.“Sayang. 10 Juni 2008 . ketika Nana berkata. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya.

meski sama-sama biru. Sangat pagi. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. sungai itu. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. semua berisik dan bocor kala hujan. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Embun basahi sepatu sekolah. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Tapi semua orang tahu. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. Pada bulan yang sama. halaman depan. Paling seminggu sekali. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. kadang kelabu. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Sudah seminggu tak mampu bangun. Beberapa kali ada penduduk hanyut. langit kadang biru. Dulu. Sungai itu selalu mengalun perlahan. kabut berebut kecup pipi mereka. Saat matahari menggeliat. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. sungai-sungai keperakan. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Tak ada yang beda. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. Itu bisa terjadi meski di siang terik. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. “caah caah caah!” September. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. diganti genting Jatiwangi. Bertahun-tahun selalu begitu. Di bawah. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Rumah tak lagi setengah bilik. Warnanya lebih tua dari langit. meski warnanya juga hijau. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. menggerus apa saja. sungai itu juga bisa mendidih. Ada fotonya. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. raut pinggul gadis-gadis menari. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. bila langit sedang bahagia. Ada jembatan di atasnya. apalagi waktu seekor uncuwing. pegunungan ikut merona. tempa. Tak ada lagi berita dari Nining. Hujan malas berkunjung. Lantai semen sudah ditambal keramik. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. tiap tahun. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Orang-orang menyebutnya siit . Saat itu seisi rumah ketakutan. berkerlip menyilaukan. burung berkicau di pucuk daun kersen. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. Waktu membuka pintu. Cat tak lagi kusam. rumah. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah.

pergi sana. Tapi tangis ledakkan rumah. tapi karena sakit. Ia hanya katakan pada Arum. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. Siit uncuwing pembawa kabar duka. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. uang. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. begitu kepercayaan Enin. Komar. sieuh. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. Tapi. terutama Nining. “Belum waktunya anakku kau jemput. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Nining! Bantu Enin. “Arum. Malah tampak riang. sieuh. . “Komar. bahkan hingga tahlil seribu hari. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. cepat sehat. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Entah kebetulan atau bukan. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. Enin peluk buah hatinya dengan haru. burung itu menjauh dengan senyap. esoknya Abah mulai bisa duduk. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. Sakit. Menjerit memanggil kematian. Lepas magrib sambil membawa abah. Sieuh. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. tapi tak diobati. panik. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. Ia terbang menuju lembayung. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. halig siah. Tak menapak di mana pun.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Mantri yang menerima bayaran sukarela. “Sieuh.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

Rambut. Diangkatnya ke telinga. ruang dan waktu yang seperti ini. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. Lantas melihat ke sekeliling. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. ruangan ini. Ibu Saleha. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. membantu aku membereskan kamar Satria.’ kataku. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. buku. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. Berharap dan menunggu. Saras. deringnya sudah berhenti. seperti Saras itu punya dua ibu. Ketika disambarnya pula. ’Saya selalu teringat Satria. Pintu. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. telepon.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh. wajah. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Ibu. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. meja itu. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu.” katanya.’ katanya!” Berharap dan menunggu. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. Ibu terdiam. Saras. dan kami masih seperti orang menunggu. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. ’Satria sudah mati. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. Telepon berdering. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. ”Hmmh. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. memang rasanya ia seperti anakku juga. dan duduk lagi di situ. Seperti ini juga keadaannya. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. ’tapi cinta adalah soal kata hati. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. saya tidak bisa’. ”Bapak… Kursi itu. lukisan itu. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria. jendela.’ kata Bapak. . Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. Ia menggigit bibir. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. televisi. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. perabotan. Ibu bergumam. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku.

suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. dan akhirnya dibunuh. Bapak. menata gelas dan piring. Satria sudah mati. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas. Munir juga sudah mati. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. Saudara. sekarang untuk kalian berdua. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik. kenangan.” Dipandangnya kursi Bapak lagi.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. aku masih mati. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. ”Pak. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. tetapi kalau terbangun. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. juga terkenang-kenang kalian berdua. dianiaya. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. Di hadapannya. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . ”Bapak sendiri yang bilang. Nanti dulu. Aku terima Satria sudah mati sekarang. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. Jiwa terasa memberat. Impian. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. Pak.’ katamu. Foto orangtuanya. tutup matanya dibuka. ”Sudah sepuluh tahun. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya. Lantas orang-orang itu berkata. Menerima? Menerima? Baik. seperti Ibu berada di dunia yang lain. Bapak sudah mati. padahal aku selalu makan sendirian saja.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita.

tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . ”Menculik anak orang dan membunuhnya. jauh. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada. mengembara dalam kekelaman semesta. ke langit. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak. dan aku masih tidak tahu apa-apa. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. luka sayatan yang panjang dan dalam. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. membara dan menyala-nyala. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin. o palung-palung luka setiap jiwa. jauh. seperti palung terpanjang dan membara.”…. Hanya bertanya jawab dengan Bapak. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. Lantas bertanya-tanya lagi. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. memegang kepalanya. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya. menutupi wajahnya. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. berbisik tertahan. menyatu dengan jiwa terluka. ”Tapi…. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. Bapak. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. Mencoba menjawab sendiri. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya.” Nada bicaranya menjadi dingin.

di kursi itu. kursi itu seperti biasanya. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. ”Bapak. Lupa ini-itu. tapi tidak memanggilnya. Tidak jelas jam berapa. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. Tapi selalu ada. ”Bagiku Satria masih selalu ada. Ia selalu bertanya. malah seperti lupa. banyak yang sudah berubah. datang menengok cuma hari Lebaran. menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. membaca koran. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. menonton itu. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. Dasar Bapak. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. makan pisang goreng yang televisi. kadang aku seperti melihatnya di sana.” lewat. luar negeri. lantas ngomong tentang dunia. ’Ya enggaklah kalau ngibul. Duduk di . Di luar rumah. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. Ibu tampak mengenali. pakai kaos oblong dan sarung. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak.’ kataku. Tidak pernah ketemu lagi memang.Terdengar dentang jam tua. Ada saja yang dia omongin itu. sampai setahun lamanya. tukang bakmi langganan Satria. orang. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. banyak juga yang tidak pernah berubah. dan hanya didengarnya sendiri. memberi komentar tentang situasi negeri. malam entah karena apa. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. menyeruput teh panas. Ibu masih berbicara sendiri. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. Muncul dong sekali-sekali Bapak. ”Bapak. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. bagaimana dia diperlakukan.

hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. ”Ceritakanlah semua rahasia…. Tapi rupanya bukan.” Ibu masih berbicara. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. malah Si Saras. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah. ”Kursi itu tetap kosong. Rahasia kehidupan. kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. Ibu seperti tersadar dari mimpi. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. ”Ini suatu aib. ”Pasti ibunya Saras lagi. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. Hanya lewat. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. suatu kejahatan.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga. tanpa senyum. Ibu beranjak mengambil telepon genggam. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. Telepon genggam Ibu berdering.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak. ”Eh. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk. ”Ya.” gumamnya.

seolahsamping gubuknya. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. Tentu. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. Hayati berlari begitu cepat. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. lantas melangkah ringan Hayati. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. Para nelayan memang hanya tahu perahu. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. sejak bertahun. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. perahu tetap teronggok sejak semalam. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. .

Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. mesinnya sudah mati. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu.” Nenek itu memaki. . “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali.” “Perahu Sukab menyalipku. Kulihat mereka tertawatawa. “Cabut badik? Heheheh. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. perahu Sukab belum juga kelihatan. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang. dan perahu- Menjelang tengah malam. dan memang selalu kencang di pantai itu. “Hayati dan Sukab saling mencintai. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. Jawaban mereka bermacam-macam.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan.” “Oh. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. “Ya. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. burung-burung camar menghilang. tetapi membentuk suatu rangkaian. aku juga sudah bicara kepadanya. ya. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. “Ke mana Hayati. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. Pada akhir hari setelah senja menggelap. sangat kencang.

di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. berkeringat. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. tentu saja tidak ada sepatu. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. Ada juga pesawat televisi. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. berikut pancing dan bubu. Alas kaki yang serba buruk. kursi buruk. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. mulutnya sebuah koyo.“Aku lihat perahunya. Dipan yang buruk. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. Wajahnya pucat. lemari kayu yang buruk. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. tetapi tidak seorang pun di atasnya. nenek tua itu menggerundal sendirian. . Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. hanya sandal jepit yang jebol. Sebuah foto pasangan bintang film India. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. dan jala di dinding kayu. tetapi tampaknya sudah mati. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. bukannya tambah penumpang. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. bergemeletuk seperti sebuah mesin. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. tapi mungkin ada juga yang lain. meja buruk.

dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. melalui perceraian. Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. karena memang sering terjadi. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. “Ya. tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. Ibu. dan sangat mungkin. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. Hari pertama.” kata seseorang. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi. Nenek tua itu terdiam. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. kedua.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. “Aku memang hanya orang kampung. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. . matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi.

Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. Di pantai. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka.” sahut yang lain. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. Sabang. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. Keduanya mengerti. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. Sukab tampak lemas di atas perahu. April 2007 . mungkin bukan mati. pakaian basah kuyup. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. pada hari ketujuh. Desember 2006/ Merauke. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga. Keduanya terdiam saling memandang.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. “Kukira mereka tidak akan kembali. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya.” mana mau ia mencari ikan bersama kita. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. Hayati. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. Kulit terbakar. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam.” Segalanya mungkin terjadi. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara.

Di samping menjadi pejabat tinggi. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. dan tidur-tiduran dengan santai. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. perusahaannya pun banyak sekali. Aku tidak bertanya lebih lanjut.” kata Kakek. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. Apabila tanah lapang sudah penuh. memasang tenda plastik. menggelar tikar. Dari jendela loteng. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas. tetapi Kakek tentu saja melarangku. rumah gedung bertingkat. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. Semuanya ia tangani sendiri. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. atau bahkan di depan. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. mereka selalu datang selama bulan puasa. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. mereka menginap di kaki lima.” . seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. dan nanti menghilang setelah Lebaran. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. karena kakekku adalah orang yang sibuk.” “Oh. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. mereka datang untuk mengemis. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. seusiaku. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota.

“Hati-hati terhadap orang miskin. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan. bahkan mobil pagar. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Benarkah. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu. Kakek tidak pernah menjelaskan. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. depan rumah. menyebutkan kata-kata semacam. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. seperti kata Kakek.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya.” atau “Orang miskin itu jahat. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. tidur-tiduran menatap langit dengan santai. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. pula. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela.rumah orang untuk mengemis. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . memang selalu kulihat mata yang menatap. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet.

mengantar kolak untuk berbuka puasa. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota.” Para tetangga tidak membantah. mendapat omelan panjang dan pendek. asri. dititipkan kepada tetangga. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” . Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung.rumah gedung itu. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. dan mewah dari luar pagar tembok. makan di meja makan mereka. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya.” kata Kakek. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. Lagi-lagi Kakek menghela napas. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. Pada hari Lebaran. biasanya kan begitu. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut.” “Ya. entah dari mana. dan hidup di dalam rumah. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. melompati pagar. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang.” kataku kepada Kakek. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. merayapi tembok. “Tenang saja. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. tidur di tempat tidur mereka. pasti tidak lewat jalan tol. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang.” “Tapi kali ini banyak sekali. penghuni rumahrumah gedung satpam. >diaC< Pada hari Lebaran. karena tentu mendahulukan Kakek. bahkan sebagian telah pula masuk. kokoh. padahal hari Lebaran sudah berlalu. kuat. mandi di kamar mandi mereka. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. pulang ke Negeri Kemiskinan. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat. itu banyak yang pulang kampung. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. Mereka juga berharap begitu. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung. seperti hadir begitu saja di dalam kota.

” menerima segala akibat perbuatan kita. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. Barangkali saja untuk selama-lamanya. bahkan merayapi tembok. melompati pagar. Minggu.” sahut Nenek. “apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. Pondok Aren. tinggal di sana entah sampai kapan. Heran. setelah hari Lebaran berlalu. memasuki rumah-rumah gedung .” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. gerobakbanyak. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata.“Ya.” katanya kepada Nenek. 7 Oktober 2006 kosong. menduduki setiap tanah yang bertingkat. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan.

Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. kemudian berbeda kelas sosial. tetap menggelisahkan. karena kami memang tidak terpisahkan. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. nah. tetap bertahan. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. Hanya kekosongan. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. tetap membara. dan bukan takdir itu sendiri. jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. Aku mengatakannya semacam takdir. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. tetap misterius. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan.Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. Memang kembali. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. lantas saling mencintai. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . lengket bagai benalu. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji. berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. Apabila kami berbeda kulit. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. namun kami udelnya. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. menjadi pasangan baru.

kami akan saling mengenali. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. Hmm. dan aku tidak mengetahuinya. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. Namun. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. begitulah. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. Tetapi. Atas nama cinta. bisa berupa kursi kekuasaan. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. Karena undang-undang melindungi komodo. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. juga dihuni komodo. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. Sebagai seekor komodo. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. yakni cinta yang dahsyat itu. Akibatnya. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. Hanya kekosongan. Laut dan langit bagai bertaut. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. kukira. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. yang sekarang berada di Pulau Komodo. sebagai manusia biasa. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. Cinta diuji oleh cinta. bersentuhan sama sekali. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. masihbisa mencintaikekasihku. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. di tempat yang baru itu. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. Karena kami selalu berperilaku baik. Cinta yang sejati. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai.

Semuanya sudah terlambat. sebanyak 1. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. Ternyata. Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. Baca Linda Hoffman. “Introduction” Lombok to Timor (1997). kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. Aku terpeleset dari tebing.650 ekor (1994). hal 75. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. Cintaku Jauh di Pulau (1946). Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo. dan meluncur masuk ke kubangan. kurator Museum Zoologi Bogor. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. Kalau aku tidak keliru. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. dan mencintai kekasihku…. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. hal 111-114. Sudah jelas ia tampak kelaparan. dengan jumlah sekitar 1. 2. Bersenjatakan tongkat bercabang. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini.hatiku terasa kosong. dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. East of Bali: from . Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal.000 ekor. Labuan Bajo. Di dalam tubuh itu 1. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. aku menjadi ragu. langsung patah beberapa bagian. sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. Nostalgi=Transendensi (1995). Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. terdapat pula di Pulau Rinca.

pada 1972. hal 111-2. Pulau Komodo: Tanah. cit. terdiri atas 400 KK (2003). op. terjemahan A 5. 4. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. Kampung Komodo. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. Muller.3. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. jauh baca JAJ Verheijen. yang lenyap di Poreng. hal 112 tahun.. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- .. ibid. satu-satunya kampung di pulau itu. namun terjadinya di Pulau Rinca. dan Bahasanya (1987). Mereka menyebut komodo sebagai ora. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. Lebih Ikram. kaki tiga untuk kamera. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg. Rakyat. dalam Muller.

Seperti ada beban yang menindih. “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. Julia. “Aku selalu menyukai lagu itu. Muy bien. meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah. untuk kita. Ia setua si wanita. Kepalanya botak.” kata si wanita beberapa saat kemudian. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. “Si bungsu. barat sana. Mi Jaragual (My Little Farm). Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas. “Belum. Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya. Suaranya lirih. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. Muy bonita.” “Untuk kita. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka. Pedro. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. Bara cinta meletup di dadanya. “Ya. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu. Ada nada pedih. tangan si wanita memegang tangan si pria. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya.” Tersenyum. hoy. Si pria menoleh. Pedro. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga.” Si wanita tersenyum.” Seorang pria duduk di sebelahnya. Sesaat ia diam. “Como estas. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song). Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria. Elena?” “Bien. “Una hija.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum. Suaranya datar.” katanya.” .

Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi. Demi aku. Tanpa berkata. cinta mereka berdenyut. Pedro datang dengan segala atribut El Barca. wajah Raul bergulir. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi. Tangannya masih juga memegang tangan si pria. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. Pedro? Por que?” si wanita menoleh. bertaut. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. si wanita membatin. Api cintanya membara. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. memandang laki-laki di sebelahnya itu.” Mendadak si pria tersenyum getir. Ia selalu merindukanmu. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. Monumental de Barcelona. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. Begitu juga Elena.” kebanggaanku meski aku orang Basque.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. Di musim panas. Akan ada dua Raul di sana. Dalam benaknya. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp. Di wajahnya berdebar.” Malam terus merayap. Ia masih tampan seperti dulu. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez.Si pria menarik napas. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja. matador legendaris yang amat masyhur. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut. Kau bisa pura-pura bahagia. Api cinta bergejolak di dadanya. Begitulah selalu di Spanyol. Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. Tak sabar. meskipun itu Si pria melirik si wanita. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita. Dalam sekali pandang. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. “Kalau ia menuruti kata-kataku. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. Aku cuma Si wanita tersenyum. Pedro.0<>w 8000m< 26 tahun lalu. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya .

” katanya begitu tiba. Elena. Aku pamit.” “Mi. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas. Sejak dulu matamu selalu bagus.” Elena tersenyum sumringah. tongkat di tangan. bukan?” si wanita menjawab. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan.” Si pria bangkit. “Pedro. menghentikan langkah si pria. tambien. muncul belakangan. Suaranya agak parau. si wanita berambut keemasan itu.” katanya. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. ada yang dalam gegas. Elena. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. ia memang tak ingin menghitung. Tanpa tongkat “Buenos dias. Tanpa menoleh.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. ia duduk di sebelah si wanita. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. Seperti juga hari-hari sebelumnya. Tapi. “Sudah saatnya kita berpisah. Pedro. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman. Ada yang santai. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi. Mengecup kening si wanita. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan. Hasta luego. “Seperti yang kau lihat. si pria tua itu. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu. “Te amo. didudukinya. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. Lalu. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. “Buenas noches.” Si wanita tersenyum. “Kukira sudah terlalu malam. Mereka tak menadahkan tangan. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. keduanya krim di tangan mereka. Kesejukan di hatinya singgah. Tanpa menunggu jawaban. “Kau sehat?” si pria bertanya. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. Lalu mereka .” kata si pria kemudian. Mereka menjual kepandaian. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. Kelompok Elena. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah. “Buenos dias. Di dadanya rasa nyaman merambah.

Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. “Kau mencintai istrimu. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. Elena. Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur. katamu gigimu sedang sakit. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. Sariawan membuat gusiku peka. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. si wanita terkasih. Si pria tersenyum. bukan?” si wanita menoleh. api kasih masih panas membara. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. Cinta mereka memang terbelenggu. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur.pejalan kaki yang berseliweran. Si pria menoleh. Api cinta mereka memang terpendam. Jika aku berkata jujur. Dalam tubuh yang renta. Pedro?” si wanita bertanya. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. tertawa-tawa berkakakan. “Ya. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. Demi sebuah bisnis keluarga. Tapi tak pernah padam. Mereka seolah cuma ada berduaan. Selain Nou Camp. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. setelah setetes benih juga Tapi. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. tepat. “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. cinta mereka tetap bergelora. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

Pablo. Buenos dias. Cantik sekali. selamat siang. Dalam peti berbalut kain hitam. Gradas. Hasta luego. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. tambien. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. Jantungnya kian kencang berdegup. Si wanita tergagap. Muy bonita. “Tak ada yang perlu dimaafkan. selamat malam. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. Por que? Kenapa? Torero. dan Javier berdiri berjajar. Gairah di dadanya pun meletup. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. baik sekali. kursi terdepan (termahal). Paseillo. baik.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. Una hija.” kata Julia lirih. tempat pertunjukan matador. julukan klub Barcelona. sebutan umum untuk matador. Tak ada yang dapat dipersalahkan. El Merengues. bintang dalam pertunjukan matador. Mendaki dan mendaki. Dalam gelap. Dalam sunyi abadi. kandang klub sepak bola Barcelona. Pesetas. aku juga. La Liga. Muy bien. Mi.tempat duduk paling tinggi. nama mata uang Spanyol.* Jakarta. Novilladas. Lalu. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. Sampai kemudian semuanya berhenti.” kata Pablo. divisi utama Liga Spanyol. ruangan itu gelap. Plaza de Toros. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. tetap tertunduk. seorang anak perempuan. Raul. Mendaki. parade para matador sebelum pertunjukan. Keheningan mencekam. Julia. Barreras. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam. .” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka. El Barca (baca El Barsa). Nou Camp atau Camp Nou. julukan klub sepak bola Real Madrid. Como estas. matador pemula. Te amo. aku cinta padamu. sampai jumpa. hoy? Apa kabarmu? Bien. Dengan baju serba hitam. Matador. Buenas noches. Tak ada yang menyahut lagi.

. sayangku (My dear). Puerta grande.pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. pintu utama.

Justru itu. Senyam-senyum.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. telah lama kami hindarkan terhenti. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. “Terus sajalah. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. tamat kuliah. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. Nanti sore kuantar…. menutup-nutupinya. cucu. Tiap banyak. dan cicit. laiknya anak muda. Makanya. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. mata bunda terpejam. jika ia tahu.” Aku lalu diam dan terus menyetir.” kubilang.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. kabar buruk dari beliau. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut. harapan. “Oh. sambil terus melaju di jalan tol. tujuh anaknya. Tapi. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu. panik. Namun abangku. Isinya ucapan selamat. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. Kasus dan sakitnya abangku. Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. didampingi seorang cucu. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas. dan cicit yang makin henti berdenyut. kulihat keponakanku di jok belakang. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. Mereka . naik jabatan). naik kelas. Libur. keras kepala. Seluruh keluarga heboh.Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. Palinggam. pasti beliau tidak tidur. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. “Baiknya Bunda istirahat dulu. juga nasihat. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. tidak berani membayangkan. Ya.” Ia cengar-cengir. “Libur kau. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau. menutup mata serta telinga beliau. mengikuti perkembangan mereka. Om. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. seperti jantung kita. Dan saat kulirik ke samping. melihat anak. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. Ia tergeragap. doa. Merenung? manggut-manggut.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. cucu. seminggu ia menginap di kantor polisi. Palinggam…. Tahun lalu. Dengan masalah yang juga tambah banyak. Tempo-tempo.

kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. bicara sendiri saja.” Dan diam lagi. Bunda tentu tidak diberi tahu. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup.” Tiba-tiba aku jadi gugup. Nak. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi. o. “Masuk rumah sakit. Pucat pula. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. pulang dari rumah sakit. menanti jawaban. Ingin kencing. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. Kak Leila berpura sibuk. si Herman. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. Lalu Slipi. Herman pulang. kurusnya engkau. Pandai-pandai mencari kawan. “Sudah. Bunda? Sehat. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia. dan berhasil. nenek yang risau itu memanggilnya.” jawab Kak Leila. matahari pagi. Dan saat umur muda Herman. Syukur.” kubilang. Pun ulah cucu. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi. tak apa-apa Bunda. Dan bunda menyergap orang itu?” pula. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. pada usia senja? Merasa gagal. dituduh korupsi. “Lagi di jalan. tak lama lagi Grogol. Lihat. anak laki-laki.” Kusodorkan . sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah. O.” kubilang. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali.” “Cuaca buruk. HP-ku lalu berbunyi. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat. “Baik saja. “Naik gunung. Atau. Maksudnya membantu Kak Leila. baginya tugas ayam dan kucing. sudah. Kawan yang baik. Rosa langsung diam. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku. Tak apa-apa. “Apa maksudmu?” “Maksudku. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. Agar mereka jadi manusia. disekolahkan hingga tinggi. berucap lunak. tangguh. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik. tak Herman kabarnya menangis. Semuanya digaruk. “Biasa itu. berempat. “Diajak kawan-kawannya. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi.” “Eh.semobil. seperti orang- Aku makin gugup. anak-anak kami.” adikku Rosa menyahut. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. ingat suami yang jarang pulang. memandang jalanan. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. Dari istriku. Palinggam. Dan bunda tetap menoleh.

Aida.” ujarnya. Mana cucu-cucuku? Oh.” ia bilang.” kataku. Alhamdulillah.” Aku diam kembali. Memeluk bunda.” “Nina manajer pemasaran. ditemukan adikku Rafli di pantai Padang. Aku berbelok. bebas dari di luar. Semua saudara Batam. Ke luar negeri juga. pulang dihubungi. bersama pacarnya. Lalu ia mendekat. Kakak iparku. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun. HP ke bunda. hah. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang. Kalian bagaimana? Syukurlah. Aida. seperti biasanya. Bunda. Bunda. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. Cucuku. Kemudian tertawa. “Biasalah. Nak. meluncur mulus ke Kebayoran. karena bunda lantas bertanya. Termasuk polisi.” “Apa kata Nina. berhenti di tempat parkir khusus keluarga.” Mudah-mudahan lama. Sering ke luar kota. Terpikir olehku. Harta meruah. tambahku tanpa suara. sudah gadis bukan? Sudah SMP. suara bunda: “Nina? O. Tapi. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. Ini. “Jangan kalian berahasia lagi. “Aku cuma khawatir. sibuk benar kudengar istrimu. masih kuat aku ke Jakarta. siswi SMU kelas dua itu. tak juga puas. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. Namun boleh jadi berlebihan.Obrolan panjang. Anak gadis kakakku. alis bunda tetap bertaut. sehat Nak. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir. Biar dia lupa bertanya. si Aya. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu. Aida tak jumpa. “Syukurlah. “Nina. Andamsari. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. . Lalu. Mau bicara. orang sibuk kasak-kusuk. Pagar maupun gerbangnya tertutup. “Sibuk terus. tanpa seragam. Eh. Dicari serta ditanya ke mana-mana. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. Tahu kalian. sudah menanti di teras. Ya? Besok-besok. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. “Tanya kesehatanku. Bunda. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. Nak. Mereka tahu sehari setelah kejadian. Dan. Aku lihat abang kalian itu dulu…. Aida. Kakak dan abang iparku kalang kabut. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang. Kami sudah tiba di Semanggi. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. menangis tersedu.” “Dan kau sibuk pula.

Dia menunduk.” ujarnya bak mengadu. Suara Bang Palinggam terdengar pelan. Bang Palinggam terpana menatap bunda. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja. “Tetapi bagiku. Suaranya makin lunak. pada hatimu sendiri. “Sudah sampai belum?” “Sudah. itu isyarat dari abangku. Mukanya kuyu. “Apalagi kau. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit. Dan aku merasa. sayu. Juga aku serta Kak Andam. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. . bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai.” Bunda mengedarkan senyum. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. Bunda. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu.” dia bilang. seperti minta Bunda. Aku muncul. memandang bunda. “Aku punya atasan.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. sudah. kini sudah bercucu pula. dipecat partaimu. mengapa kau mengelak diperiksa. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya. Nak. Rasanya. Juga kepada Tuhan. “Tak paham aku soal-soal begitu. Nina lagi.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam.” Mengangkat muka lagi. Kak Andam?” tanyanya antusias. juga kepadaku. “Belum tahu. Bunda. Menarik napas. Palinggam. “Aku punya kawan. Dan negeri ini. Nanti saja aku kabari. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. Aku tergopoh ke toilet.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. “Namun hingga detik ini. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. Nak. Loyo. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal. Palinggam.” sahut bunda kemudian. Bunda. Matanya perlahan berkaca-kaca. Aku juga kader partai.hendak meledak. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran. Abangku melirik.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu. melihat bunda lagi. Bunda diam. aku tetap bersih.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. hampir menyerupai bisik. Dan HP-ku kembali bernyanyi.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. dimaafkan. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. kencing. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. Namun takdir seorang ibu. Aku di kakus. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca.

akrab dengan pribumi. Dia dan keluarganya tergolong aneh. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. dewasa atau jadi tua. kendati kota kami tetap saja setelempap. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. Kami ajak bermalam tidak mau. “Seperti orang-orang di dalam mimpi. Ayah Bun tukang gigi. kopi di simpang jalan dekat pasar. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya.” jawab Tum. lebih-lebih tukang gigi.” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. Satu di Palembang.” “Hanya si Cudik. “Seperti ada dan tiada. sudah bercucu satu.Jakarta.” . Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela. Bahkan mengerikan. Nius. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. grosir roti dan permen.” Biju menerangkan dengan gembira. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil. Tidak sekalipun berkedip. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. Si Talib di Dumai. Nius. Hebat dia!” pensiun. “Di mana dia?” tanyaku antusias. berai. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. Berubah sekarang. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. seperti tidak kenal lelah. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. Kalau aku pulang. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. Nius.” tambah Amril. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Hanya menatap. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau.

berisi mohok serta teh manis. pintar di sekolah. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu. Kami berebut. suara itu. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. Tapi kami cegah. seperti buang hajat. mencangkunginya kecuali dia. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. kembali menampakkan senyum yang ganjil. mengantar kue mohok hangat- hangat. adik kelas kami. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Seperti di rumah Bun. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. Matanya tak terlalu sipit. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng. atau menjelepak duduk di menggairahkan. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. “Tidak halam. Bak orang-orang dalam mimpi. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. adik Bun.” sahut Tum. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren. Dan pernah pula Buya Makruf. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”.” bilang Tum. “Percuma. Biju dan “Makan. lantai. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. alias usil plus kurang ajar. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. mencukur.” ia sodorkan nampan perut kami. kami kerap nginap di rumah Sultani. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. Sultani. tidak halam! Enak laaa. goreng serta roti lapis mentega. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. Bagiku. guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. Suka-suka kami mau makan apa. tak pake babi laaa. Ibunya baik seperti ibu Bun. diduduki hingga kini. Dia kapten sepak bola. Portir bioskop juga . Nius. Tunik juga. lucu. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. “Itulah. Minumnya teh hangat. Lalu ia sambar roti. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. mengajak makan. Juga pandai menjahit.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran.

Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. tajwid dan Bukan saja Bun. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Suaranya merdu. Dan Bun disunat. Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat.” “Tidak sakit. ikut mengaji saja. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Tunik juga. Rancak. Biar aku yang ngajar. . ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. mencukur seperti yang kuinginkan. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Ibunya tersipu. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. Berenang kalang kabut ke tepi. jadi keras. tentu saja. Mendesis-desis lunak. Sebulan ditanggung fasih. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. Ayah dan ibunya setuju. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. mendampingi kawan itu setiap malam. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. “Ayaaa. Iya kan. Tapi aku merasa. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. Mataku merem melek. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Tetapi. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. Ulah Sultani! Suatu kali. Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. Bun mau potong bulung bole potong. Mestinya waktu kita kelas tiga. “Malah. ke halaman masjid. Dan sesekali. Babah mau coba? Sret. Kelas enam disunat. itu turun dari ibunya. Rustam. “Sebetulnya telat Bun. Tak licin di sekeliling kepala. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. serta sarung beliau “terbang. Kepandaian kiraahnya elok. tidak terasa. kan?” Aku mengangguk. laaa.kami. “Seperti model rambut Bang Rustam. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. “Rambutku dia cukur. Mukanya pucat serupa mayat. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Terbahak-bahak seperti hantu air. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Setelah sembuh. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. selesai!” Ayah Bun terkekeh. Baju. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Sultani berkata: “Sudah Bun. kopiah. Aku malah tak sekali. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. tidur-tidur ayam.

Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. Atau pergi. Mukanya menangis. Sudahlah. Tetapi mereka pun tidak tahu. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. Tanganku dicekal. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu. Mereka menuju rumah batu. “Tadi di sini terlampau pendek.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. berteriak-teriak. Sultani juga. hasilnya nihil. kurang ajar ya. Bergelombang-gelombang manusia. melihat aku di tengah kerumunan. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. aku menghambur ke jalan. dan orang bergegas Sultani. malah sebelah sini terlampau pendek. Tahi kambing. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Menangis. Nius.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. Aneh sekali. Tum diam saja mendengarkan sunyi. Eh. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. mendengar di mana Sultani. Menghabisinya. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak.” kata Amril. Kusaksikan ayah Sultani diseret. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Ibu Sultani berlari mengejar. Lebih-lebih waktu Sui Lin. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. Suara mereka teramat gaduh. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. berdarah. aku menghindar. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Mereka terus berteriak. Dia mendekat. Tepatnya. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. kuratakan. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. Nius. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. Lututku menggigil. “Mulai Kariang. meraung-raung. Menyepak pintu hingga rubuh. Sejumlah orang menerabas masuk. Pernah kami tanya ke situ. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. Bagus juga kau gundul.” lesu. suatu pagi. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. Ketika kuraba. diseret abangku pulang. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. sepekan rambutmu panjang lagi. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. tegak kaku di ambang pintu. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Buas sekali. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya.

dua buah. Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras.* Jakarta. 2 April 2005 berkedip. “Dan. Bahkan sampai kini. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. Hanya mata saja.“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. seolah-olah tidak pernah lelah. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. “Semua orang bilang begitu. kemarin pagi. walaupun tahun demi tahun .

petang atau malam Tetapi. hidupnya. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. anak. tetapi juga tukang emas. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat). Kecuali. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. tukang serbat. Meski cuaca cerah. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. bercakap- Betul. Karena itu. Tidak jelas mengapa demikian. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. atau makan kacang goreng. jangan pula payung. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. juga sosiolog. hujan dan hari. Ya. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. penjual kerupuk. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. di kota berniaga. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. siang. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa. tukang rokok. walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. kembangkan payung. Adakalanya juga dari pagi sampai malam. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. ya. Kadang-kadang pagi. “Hoi. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. tukang serabi. Begitupun tukang sate. mirip dengan warga melambai dan menyapa. Paling-paling orang hanya bergumam. Karena. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. dan seterusnya.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. . Aku juga tidak bermaksud membahasnya. meski aktivitas seseorang berjualan. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir.

panjang. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. memang lain kacang goreng kota kita ini. perlu penelitian. kalau itu. tetap belum ada yang sanggup “Ah. “Ini. “Tetapi. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. sebesar jempol. Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. sepuluh atau selusin. Namun. tikungan-tikungan jalan. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. Malah bangga. Juga. Gemuk. serta kegemaran orang memakan kacang goreng. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. Bertengkar. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. beberapa waktu setelah bubar bioskop. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. tiada bandingan!” .Sekalipun kota kecil. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. jangan dikata lagi. Pada hari raya dan libur-libur panjang. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. lepas-lepas dari kacang goreng. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. Dan.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. depan asrama tentara dan polisi. Lagi pula. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. Mereka mangkal di emper-emper toko. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. makan kacang goreng jalan “Habis. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. terus. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. tukang kacang goreng. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. Bahkan. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. Tetapi. di muka rumah sakit. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas.

dan selalu merah menyala. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. . Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak. Biasanya.pinggiran kota kami. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. anak. istrinya dipakai Mak Sanin. Tetapi. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. kepala. kami punya ilmu. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. Berhari-hari berjualan. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. Cubadak Bungkuak. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. Juga karena dia “berisi”. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran. ilmunya tinggi. Kumisnya pun lebat melintang. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. tunggal sekaligus penjaga kota kami. dan warnanya hampir tidak jelas lagi. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain.“Ya. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. Bancah Laweh. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya. tanda Mak Sanin berjualan. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau. Menyelusup manja ke pelukan suami. ingin makan kacang goreng. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. Makin malam. Ibarat pelukis. “Hah. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. Dengan jas itu-itu juga. Tenang. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. dia Affandi. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. khususnya di kalangan kaum ibu. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. Ibarat… . itu Mak Sanin!” ujar si suami. “Ibarat penyair. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal.tenang saja dia melangkah.anak justru takut pada Mak Sanin. tak-tuk-tak. Orang-orang terbangun. Seolah ringan saja karung goni itu baginya.tambalan pada jas yang sipit. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum.

Warga yang lain tidak.” Dan.” “Yo! Eh. Padahal. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. itu biasa. seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja. Tetapi. “Masya Allah. sudah mereka tunggu-tunggu. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang. Belilah. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. Cobalah. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. pengantin-pengantin baru. Dan besoknya lagi. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. Semakin jauh. Dengan jas yang ituitu juga. Kemudian.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. ketika ramai-ramai di tahun ’66. mungkin juga tidak mau tahu. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. tahu benar aku. pada suatu malam. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. enak atau dia bertingkah. Dan. harum bercampur peluh. malam!” Tetapi. “Seliter saja ah. kota “Padahal. Tetapi. Jakarta. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. Dan. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. Karung goninya entah di mana. bahkan hingga kini. Bergegas mereka benahi diri.” kata ayah bagai orang kedinginan. Besoknya.kisi jendela. Mak Sanin!” Dan. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir . cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. tegak menanti di ambang pintu. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. Mak Sanin. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu. Hanya berdua.“Beli dulu kacang gorengnya. “Huh. Tidak bakal menyesal. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. Cukuplah. Tujuh lubang peluru. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. berkibar-kibar ditiup angin malam. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati.

di meja di ruang tamu. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum. di lembaran kertas. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. di motor. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. Manusia selalu berada dalam . saling kontak-sentuh. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. Bisakah manusia bebas dari waktu. di pintu. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. di bak air dan di gayung kamar mandi. bersebelahan. Di pagar rumah. yang diam-diam maju terus. berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. di perut yang hanya diisi kopi. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. Jam di mana-mana. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. ”lakukan semuanya semaumu. di bundaran lampu lalu lintas. di mana setiap pitstop. di pintu halaman. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. dan di kemengangaan mulut. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. di ranjang dan bantal kamar tidur. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. di dinding. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. di layar monitor. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. di mobil. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. Berdetak-detik di dalam pendengaran. tidak bisa memanggil siapa pun. berteriak. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. di dapur. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. Bilang. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. dan begitu lepas sepanjang jalan. Lik War menggeleng. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. Di jalanan. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga.

Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja.” kata lik War. untuk tolong. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. what ever will War. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh. serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang. ”Aku jadi pengen ke Jakarta. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung. ”Terlalu banyak kendaraan. titik saling ketergantungan.” kata lik War. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. Dan setelah itu. yang mungkin hanya menggeleng. bumbu dan yang lainnya.pikirku. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang. yang menembus ladang dan sawah. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami. Lik War pun tersenyum. Lik War pun mengajukan usul lain.” Kami menelan ludah. ”grammar apa tuh?”. pikirku. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV. Kami .

atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. Marto Pedrosa kampung sini. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. Sri. lantas bertemu setahun sekali di kampung. ”Atau ikut Arpan. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja.” katanya. dan Tyas. dan karenanya (kata lik War. Santik dan Kuni. ”OK!” kata Marto Pedrosa. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu .panggil dengan sebutan No Tit. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. menjadi rembulan gaib di saja. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. untuk segera berpacu sebagai apa saja. Lania. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. ibunya. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. sekaligus kudu sepeda dulu. Berangkat ke Jakarta. atau penghuni kompleks semodel Tri. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. ”macak dan akting pengemis. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. semodel de Grana. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. Ia menganjurkan jadi kernet. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. Timpah. Kimi. Kasim. memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. Nonik. atau buronan karena dengan sesuap nasi. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. Koral dan dan di kampung sini).

kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. sebagai apa saja di mana saja.*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap. sara : sengsara mandeg : stop. dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. kolonisa . pentolan. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain. menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk.agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi. yang biasa lusuh nunut : ikut. berliku-liku mbabat alas: membuka hutan.

Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. Mula-mula hanya dengan pistol. Sebuah letusan lagi. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. langsung ke tanah. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. ketika kelas II SMP. diungkit.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. Dan kami. dengan magasin penuh. lalu ditangkupkan untuk dipasak. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. terutama ketika magasinnya penuh. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. meloloskan genggaman dan mengokangnya. anak petinggi polisi. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. magasin dan satu peluru paling atas. Pa!” katanya. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. Sekali. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. aku mengeluarkan FN di hadapannya. ada magasin cadangan di atas lemari. dan memasangkannya lagi. Sangit mesiu melulur lengan dan wajah.” kataku. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. Dan bila kurang. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. Kalau disuruh sangat sederhana itu. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. Tapi apa . dan memasang lagi pistol FN. rasanya lebih enak memegang pistol polisi. Guru itu mengangguk. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. memilih. Setahun kemudian aku menguasai FN. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. Memasukkannya lagi ke magasin. Tapi sebelum dia banyak bicara. yang genggamannya terasa berat itu. Letusan dan entakan membuatku kaget. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. membersihkan. di kamar anak petinggi polisi. membersihkan.

Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. Menurunkannya. dari jarak tiga meter. Kau tak boleh jadi anak Mama.” katanya. Naik ke boncengan dan melesat.kenikmatan main-main dengan colt. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. “Kita harus kejar setoran. Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu. Peluru itu menghantam aspal. sekaligus memberi kesadaran. seperti menembak kaleng atau cecurut. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan. Aku tak pernah membunuh orang.” kata ajudan baru lulus Akabri. Mulanya di Perbakin. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. Aku ambil FN dari tas. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. perempuan cuma jadi istri tentara. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas. Manusia itu . “setelah lulus kau daftar dokter tentara. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara.” katanya. ketika jadi danyon. Dik. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer.” kataku. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. Aku tertawa. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. kata ajudan. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. aku kokang. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket. “OK!” katanya. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. lantas menodong wajahnya bolong. telanjang dan gampang. Letusan itu keras. kalau maut sangat dekat. dan menembak. dengan posisi jongkok menyamping. Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. Padahal. ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. yang lain. Akan lain. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. Aku beranjak.

anak. “Kau tahu apa?” katanya. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. Ditempatkan di kota. Aku kini sipil.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi. Dua tahun kemudian ibu sakit. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah. “Aku kan cuma cari kerja. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. Ia bergegas menelepon ayah. Aku diam saja. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang. dada. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. dalam kurang tidur. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. perut. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. Dik. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. yang telaten merawatnya. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. Aku tak mengabarinya. dan seluruh keponakan. Ayah tertawa. seperti mendengar bisikannya. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. Aku ayah?” kata Samsidar. Enak. yang langsung mendekat. sampai ibu meninggal—menyeringai. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara.” katanya— tertawa. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. dengan mengumpulkan suami. Hal yang membuat suami yang ajudan itu.bernyawa. Ya! Aku yakin tentang hal itu. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. Aku mengangkat bahu.” katanya. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. Tanganku digenggam. ipar. . Aku mematikan telepon. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. Ia minta agar aku merawatnya. Aku. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. Ibu menatap. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. kakak. terutama karena jadi rekanan pemda.

Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. Ya! Ya . Aku menunggu ayah. Pasti. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. Mengunci pintu.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Sepuluh menit lagi. Mengambil AKA. Ya— sepuluh menit lagi. Aku masuk kamar utama. yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Mengokang dan Ibu meninggal. Berjam-jam menunggu ayah. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur. yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas.

Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. Sad. Saimah makin genit. Terkadang Arsad hanya nongkrong. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. Kita tutup nomor jagonya. bermalasan di warung itu. orangtuanya semakin permisif. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. Radio menyerukan dangdut. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. Ini hanya pemancing saja. “Kamu duduk-duduklah. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. dengan payudara yang berdenyut. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. ayahnya memberikan pesan khusus. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. Arsad mengenal Suimah. per lima puluh ribu tombok. di kisaran empat angka. Khairan. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. Itulah awalnya. Menghindar dari sekolah. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. “Nggak akan tembus kan. Khairan menepuk bahunya. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. Bapaknya pasti meneng. ayah. Nasir. dengan lembut.” katanya. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. Sad. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. Ia membolos bersama Taberi. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis. Motornya dipakai ngojek sembarang orang. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. Ini bukan punyamu. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. dengan setoran biasa. Jalan ke pintu belakang warung. Sir?” katanya. serius. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil.” kata Nasir. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan. dengan semena-mena merangkul. olehnya. Ya! Akan tetapi. atau menggoda Saimah. Mungkin cuma memesan kopi.” Setengah berbisik. menghindarkan pendengaran Khairan.” kata Melangkah. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. curiga. menggerayangi dan . makan jajan. menjauh dari keramaian. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. “Kita juga main. Saimah menyusul dari depan. Arsad menaiki sepeda motornya. Terbayang lagi. Nasir menggeleng. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. preman dan pemabuk. seingatnya. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak.

Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. pil. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. yang gigih. Cemberut dan makin sering marah. dan berkeliling ke mana saja. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. ia seorang sales yang agresif. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. Akan tetapi. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. Ya Miring. semakin tidak mempunyai duit. karenanya orangtuanya masih di kantor.” katanya. Pak RT tak berdaya. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. Ibunya Saimah lembut mengangguk. Menjadikan empat kali. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. Utamanya Saimah. biar bisa kompak dengan mertua. Khairan tersenyum. Dan Saimah makin manja.” katanya. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. terkadang orang masih datang . Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. haid Saimah sudah telat seminggu. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. Membawa tas pinggang. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. Ia tertawa. dan menjual sisanya. Siklus direcoki balas memaki. Sepanjang waktu.” Orang-orang tersentak. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. dan rayuan Saimah. Tapi. Orang-orang mendelik. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan. bermakna mempunyai barang dagangan. Berharap. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. Ia seorang sales pengawal pribadi. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. Akan tetapi. Khairan bungkam. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. “Seminggu bisa berpenghasilan. “Kita ini orang dagang. Istrinya mulai menyindir. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. selalu.” katanya. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. Khairan menenangkan. Meski begitu. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh.

Arsad dipaksa tergantung lumpuh. yang lainnya memburu supir sirna. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. telur dadar setengah matang.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. dan derap orang berlari memburu. dan minum Topi Miring- yang sama. penyelonongan itu. Sopir Station Wagon geger otak ringan. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. lajunya sepeda motor Arsa. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. Akan tetapi. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. apakah aku harus menunggu izin Bapak. Ia menuntut. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. tak bisa diturunkan. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. menyeru ke seberang. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. masalah dan menenangkan warga. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. belum pernah pacaran. Lalu lintas sigap diatur. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. tertekuk-tekuk pendek. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. mblesar-kan gas. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. dan…” “Betul! Tapi. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. mencuri perhiasan ibunya. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . Kaki. dan sisi rusuk kanannya remuk. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. Krowak tertolong. yang dikemudikan Nasir. Menyulut rokok. ada di tengah jalan. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. sudah meteng.Nasir memboncengkan Krowak. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. akselerasi pertamanya. meliuk-liuk. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. Sebagian menolong Nasir. tangan. dari hadapan. Belokan liar itu. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu.

instan Celurit: Senjata mirip sabit. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya. Ibunya Arsad terpekik. mereka langsung mendatanginya. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. Aku seperti masuk penjara. dari rumah Bidan. Khairan. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. Dipantati bahkan. dengan dikawal Segera. Tombok. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. Khairan melapor ke Polisi. khas Madura. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. dengan mobil carteran. berharta Genah: Enak dipandang. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. Khairan menelan ludah. Dominik. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. Karena itu. tanpa mampir dulu. Kedua lelaki itu liar bertatapan. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. Dua hari setelah persalinan. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu.“Balikkan ia ke kondisi asal. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. Dan memang begitu. Khairan mendelik dan membentakkannya. Berparkir di halaman. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. Utuhkan lagi. Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. “Aku tidak betah. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. “Nih. tapi tidak pernah dilayani. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan. Lantang meneriakkan Brewok. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah.” tulisnya. Ibunya Arsad berteriak-teriak. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. Saimah menangis. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. istrinya. Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. meski tak selalu milik orang Madura .” kalimatnya.

Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. karna ia terus diam saja. Di kelas. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Dari kotakota yang disinggahi. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. “Biiikkk…. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. meledek istrinya. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Ia melongok. Beningnya langsung meloncat menghambur. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. “Sekarang. tadi. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. setiap pulang. Beningnya sudah pegang hape. Marwan kadang kirim SMS.” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Meski baru play group. “Hati-hati!” teriak sopir. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” . Bibiiikkk…. yang kecewa itu. seakan sudah menebak. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Ia tak menyangka. Seperti capung ia tiba. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. mendapati kotak itu kosong. “Ada apa. Tapi memang tak ada. Ia masih belum genap enam tahun. Sungguh. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. Beningnya tertegun. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. Kadang bisa sebulan tak pulang. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah.

Saat SMP. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Itu kotak kayu pemberian Ren. lantas mengeposkannya. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Ia pun atau kartu pos. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo. rasanya. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. Bahkan. banyak temannya yang punya sahabat pena. Marwan ingat. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. bagaimana Ren bercerita. dengan suara penuh kenangan. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Meski tetap saja ia merasa aneh. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Karena iri. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu.” Marwan hanya diam. Pukul “Enggak bisa tidur. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Marwan diam.20. setiap Ayah pulang. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. jauh. Sepanjang hidupnya. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. ngambil kartu pos dari Mama. yang dikenal lewat rubrik majalah. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. Marwan tak pernah menerima kartu pos. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. kartun . Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren.” Ren kecil duduk di pangkuan. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. “Mungkin aku memang jadul.

Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Dermaga kota tua. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya.” Marwan tersenyum. saat Marwan makan siang bersama. Ah. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita. dinding goa. Marwan tersenyum. teman sekantor. Air mancur dan patung bocah bersayap. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. kapan pulangnya?” “Ya sudah. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. Gambar pada kartu pos. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. ia kini mulai dapat memahami. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. “Wah. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Rasanya. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Seolah-olah itu dari Ren…. Pagoda kuning keemasan.di tepian kanal. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Sepeda yang berjajar kesukaannya.” Itulah. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. Ia selalu merasa bingung. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. setelah Beningnya pulas. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. seperti tercekat. kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. Sudut dengan deretan yacht tertambat. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. Deretan kafe payung warna sepia. bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. Bukit karang yang menjulang.

keluar dari lubang kunci. 2008 dipegangi anaknya. tak ada api. serupa kabut. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. semua rapi. Dua belas lewat. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. Ia melihat ada asap lembut. Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. Hanya “Tadi Mama datang. menyambar mendekapnya. sulit ia buka. “Kata Mama tukang posnya emang sakit. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Bau wangi yang ganjil mengambang. sekilas ia melihat jam kamarnya. Ia melongok ke dalam kamar. seseorang. Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. Cahaya yang terang keperakan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar.” pelan Beningnya bicara.” Beningnya mengulurkan tangan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang. Kain kafan yang tepiannya . Lebih keras dari bau amoniak. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. Singapura-Yogyakarta. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun.

berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. mana yang pantas buat dipakai makan malam. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Tapi. sepasang mata itu bagai mengambang. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. aku seperti mendengar denting genta. seperti katamu. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . Tetapi ketika ia hatiku. Barangkali.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. Ia bercinta nyaris tanpa suara. menyentuh putingku yang ungu. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. Aku ingat. mana yang pas buat jalan-jalan. Kau tahu. yang paling gombal sekali pun. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. untuk sekadar membuatku tersenyum. Memang. Dan saat sepasang matanya mengerdip. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Aku suka matanya. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. menyebutkan namanya. Ia tak pernah mengucapkan rayuan. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan.

Setiap melihat kunang-kunang. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. aku begitu menyukainya. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam.” ”Aku suka kunang-kunang…” . aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan. Tapi— diam-diam. Sedikit berkumis. kenapa aku jatuh cinta kepadanya. Sungguh. aku jadi ingin ketemu dia. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Membuatku tergeragap. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. tipis. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki.” Bila aku kangen. ”Busyet!!” Mungkinkah. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. Bukan karena kamu tak suka. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. entahlah. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Dan kupikir. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu. Tapi. aku mesti pergi. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya. kali ini. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. tak rapi. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. yang membuatku lihat di iklan deodoran.

Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. Seperti yang sudah-sudah. aku lupa. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. kata ibu. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. Agar ia menyimpan kunang-kunang. di zaman gestapu dulu. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang.”Hmm. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. bersama ribuan tubuh lainnya. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Seminggu setelah pembantaian. Ibu selalu mengajakku kemari. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. saat itu. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. seperti sosis dalam setangkup roti. dengan mata yang layu. Dan setiap pepohonan tertugur kelu. Dari jendela apartemen lantai sebelas. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. Padahal. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. memandangku yang duduk telanjang di sofa. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai.” ”Hmm…” Ah. menjadi berkilauan. . kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Membuat lembah itu malam purnama. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Selalu. ia langsung tidur setelah bercinta.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. Aku masih dalam kandungan ibu. ketika lembah itu menjadi bisu.

Ia sungkan dan jengah. berbicara setengah berbisik. seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. tak tercatat pada termometer. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. dan tergesa mengenakan pakaian. Seperti jeritan yang teredam. Karena. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . Dan dingin. Ia meraih handphone itu. Cahaya perlahan susut dan aus. Kesunyian tak terpermanai. dan dengan gerakan pelan menjauhiku. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. Jakarta. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Aku hanya memandang keluar jendela. 2005-2008 pernah kau kenal. Tak ada percakapan. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri…. Membelakangiku. Barangkali. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. seperti dalam sebuah puisi. seperti kerap kau katakan. Kemudian ia bangkit. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. Tapi. selalu saja. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan.

Mungkin mereka hanya menggodaku. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. bila ada ular masuk ke pekarangan. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. Mungkin karena mulutku yang peyot. Padahal. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. orang-orang akan menghentikanku. Tak ada bintang. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka. mendesing lalu lalang di jalanan. Kota di mana bertahun-tahun lampau. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut.” jawabku. Aku tak pernah mengerti. Apabila melihat aku lagi berjalan. Di kulitku yang licin. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. nari. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. Bila ada ular masuk ke rumah. seperti rintihan kesepian. Biasanya. Mereka tertawa. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. Aku tak mengerti. Mungkin mereka butuh hiburan. dan langit hanya basah. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. sambil menunjukkan empat jariku. trotoar. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. aku pernah begitu mencintainya. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. sambil menunjukkan empat jariku.” jawabku. melihatku memasuki halaman rumah mereka. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. Aku ingat. Dulu aku memang berharap. Dan mereka kembali tertawa. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. Memberiku moke. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot.

saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. Ketika mula dunia tercipta. di pinggir jalan. ketika Bumi masih rapuh. di pojokan itu ada sebuah gereja. Dulu. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. kota ini seperti memanggilku. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. Aku leluhur mereka. Kota dengan seribu gereja. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. Seingatku. . teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. Aku merayap menyeberangi jalan. banyak berkeliaran di kota ini. Dulu. Mestinya. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. Di ladang. setiap hari. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. dan semua ketimbang diriku. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. Aku begitu ketakutan. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. ketika batu masih berupa buah muda. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. Tapi kudengar seseorang berteriak. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. kendaraan yang lewat berhenti. aku mencoba tak panik. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. Aku sering bertemu ular-ular itu. kini aku melihat sebuah mal yang megah. Sejak itulah aku ular. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja.itu. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. Meski terkejut dengan reaksi mereka. Mereka percaya bagaikan putih telur. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. Leluhur yang mulai berkhayal. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. Kurasakan. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. Alangkah menyenangkan jadi ular. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. Tapi di situ. Kudengar kembali gema lonceng itu. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. betapa enaknya jadi ular. kuntum yang ranum. Terdengar suara-suara tong ditendang. menghilang dalam kegelapan.

Ia mengulurkan tangan. Di dekapannya. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. sampah. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk.” Aku memandanginya ragu. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. Dan seperti menyusuri ingatan. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. Kulihat puluhan ular. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. aku merayapi jalanan kota ini. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. berdesakan dan bau tengik. gadis itu memungutku. Kulihat rosario menenteng lentera. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. ratusan ular. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. Cara mereka mengingatkanku. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. ”Kita sampai. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. kulihat itu menyala kemerahan. Aku diam melingkar di pojokan. Aku merasa asing.” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. ”Cepat sembunyi sini…. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui.” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. Dengan tangannya yang mungil.”Ssttt…. Cepat sini…. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. memancarkan sulfur cahaya. lorong yang berkelok-kelok. hanya dipisahkan oleh kenangan.” kata gadis cilik. sambil menurunkanku dari dekapannya. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. mendesis-desis menatapku.

Kamu sudah melihatnya. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. dihancurkan kemajuan. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. Sebab bila ketahuan. kami bisa ditangkap petugas keamanan. Ketika kota mempercantik diri. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. Kadang merah serupa darah. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. kami Aku belajar mencintai kota ini. Ketika banyak gereja diruntuhkan. katanya. menyimpannya dalam botol. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. Sudah lama. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. Padahal Aku mendesis mengangguk. tapi terlihat rapuh. Kadang air mata itu menetes bening. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. dulu kami bertahan: dengan . tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. bila menjelang Natal. tetapi selalu diusir. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. Aku menemukannya tak sengaja. seakan- mencapai kota di seberang sana. Dalam keremangan.Di kota ini. untuk diganti dengan malmal. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. Kemudian dijual. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. Salib itu menjulang. Pada saat itulah. rempah-rempah dan artefak kenangan. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. Dulu. menjualnya di lapak trotoar. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. yang mereka percaya. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. Kami mesti menjualnya diam-diam. kalau aku mau menjual rosario. Para penduduk memberi kami anak-anak. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. ”Begitulah. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian.

” teriaknya riang. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. Dari dalam keranjang anyaman. Terdengar syahdu dan megah. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal. Aku melingkar tenang dalam keranjang. aku juga penduduk kota ini. ”Wow. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. gorong-gorong.” katanya. betapa sunyi gereja ini. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. Ketika ia berjalan. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. nyanyian puji-pujian. Kami keluar dari Puji Tuhan. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. Kusaksikan ruangan yang remang. Di dekat altar. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. ”Kau tahu. samar-samar bisa menenteramkanku. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. ”Kita bisa diam-diam ke sana. boleh jadi sebagai tugu kenangan. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. ternyata. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. 2006 . Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. tepat di belakang gereja. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. gereja. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan.” katanya. ia memang gadis yang usil dan nakal. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. Aku tidak menikah. kataku. Dulu aku idiot. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. katanya. Pasti mereka mengusir kami…. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku.Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. Ah. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. Mataku nanar Ledalero. Sampai kemudian aku menyadari. Tidak.

Agus Noor (23 Desember 2007) . Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere. versi Krowe-Sika.Catatan: 1. Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta. Nusa Tenggara Timur. Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. 2. 3.

Seperti menyaksikan dalam sekejap. setiap menjelang Lebaran. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. Nak. selalu. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. para tukang malam. Nak. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. yang konon. betapa dulu. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. Nak. di emper pertokoan. Jarum Ibu pernah bercerita. Dan di malam takbiran. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. dan benang. di pojokan jalan. Nak. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap.Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. Mereka menggelar dasaran di trotoar. menata bundelan-bundelan benang. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. Nak. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. dari tahun ke tahun. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. gunting. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. Sejak banyak toko fashion. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. di keteduhan pepohonan. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. orang-orang lebih suka . Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. Kata orang. Begitulah. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Atau mereka tak mau lagi datang. factory outlet. silet. Entahlah. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya.

Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. Nak. Ia menjahitnya dengan rapi. tetapi juga kebahagiaan. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. tapi kau lihat. Menisik dan menjahit. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Nak. Ibu mendatangi tukang jahit itu. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. Nak. Maka. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. Rabalah. Yang jelas sudah sejak lama. Hanya ia. Nak. seperti senar. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. Nak. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Nak. Ada yang mengatakan. setiap menjelang yang muncul di kota ini. tukang tentang tukang jahit itu. Kau tahu. Tak berbekas. halus. satu-satunya tukang jahit. para tukang jahit yang mengisap tembakau. di tangan tukang jahit itu. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. dan menjahitkan pakaian padanya. Nak. membutuhkan mereka. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran.membeli pakaian jadi. Perawakannya kurus. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. dan jarum. barangkali. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. memandangi belanjaan berisi pakaian. dari tahun ke tahun. Kau bisa melihatnya. Zaman. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. Kau masih empat tahun saat itu. Nak. tak banyak bicara. Di kampung itulah ia tinggal. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. Delapan Lebaran lampau. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. Lalu diantar Pamanmu. Lebaran. begitu halus. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Sebuah kampung. Benang itu tipis dan bening. Saat itu Ayahmu baru meninggal. Bila ada orang sedih yang datang padanya. Entahlah. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. Mungkin kau tak ingat. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. yang masih muncul di kota ini. Dengan jarum dan benang Begitulah. Di dada sebelah sini. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. Nak. memang mengubah selera. tiga bulan sebelum Lebaran. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. tetapi tak bisa menyentuhnya. Ia menjahit luka hati ibu. Tapi . Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. Dan jarum itu. Ia sempat mengelus bertilas. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. tetapi lebih lembut dan halus. rambutmu. Kau tahu.

satu-satunya yang selamat. Aku ingat. Kemunculannya selalu dalam diam. Mereka sudah menunggu sejak dini hari. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. Menjahitkan kebahagiaan. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. malah makin menyelimutinya dengan misteri.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu. aku menjalankan mobil pelan-pelan. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. Menjelang Lebaran ini. jalan. Rasanya. aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. sepanjang hari memintal benang kesabaran. Itulah sebabnya. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. seakan meledek tukang topeng monyet keliling.masih muncul ke kota ini. kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. anakku memandang heran antrean itu. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. Ia tinggal di sana. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. Ia tinggal di sebalik cakrawala. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. Padahal tukang jahit itu. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. sewaktu kanak.

Ayah?” “Ya. 2007 orang-orang yang antre itu. dengan gampang mendapatkannya.” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Bingung karena masih nganggur. Tak bisa membelikan baju baru. Brisbane-Yogyakarta. Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja….” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul. Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. Kuceritakan tentang tukang jahit itu. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) .Barangkali. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah. Pusing karena semuanya makin mahal. Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya.

” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. Maka. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. itu biasa. Nak. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati. lollipop. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. Saat terbangun pagi hari. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. Anak-anak suka permen. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. fudge. Seperti bantalbantal mungil milik peri. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat.” Ah. bila peri itu . Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. sewaktu kanak-kanak.” kata Mamanya. permen. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. Mama. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. Neal sendiri. Permen toffee. Mereka sedih. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. Bantal mungil warna-warni milik peri. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. Dan pada malam hari. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. tengah. di malam hari menjadi bengkak mulutnya. ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya. Sampai ia berumur sembilan tahun. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. tempat biasanya Papa. “Begitulah. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. itulah. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. sebermula permen muncul di dunia manusia. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. Sepanjang hari yang riang. suka sekali permen.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. Saat kehidupan ini masih ranum. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. Permen dalam bungkus warna-warni. Ia membayangkan.

yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. Ia ingat. permen itu memang mengundang selera. Neal membayangkan. pewarna dan pengawet. Tetapi. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. memberinya sedikit gula. Mencampurnya dengan gelatin agar kental. . setengah menggerutu. pada Samuel. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. “Lebih enak permen ini.” Tapi.Sampai sekarang pun. Takut. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. Sekarang ini. wajah Iza terus cemberut. Selintasan. ia tak mau menenteng biji-biji permen. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela. Mestikah ia menjelaskan pada Iza. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. korengan. Tapi. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. bila ia tak membeli.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. pengasong itu. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. bagaimana permen itu dibuat. mereka akan memecah kaca mobilnya.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

“Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta. Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya. Pelan Pras mencium bibir istrinya.” jawab Pras sambil . memandang mata Neal dengan lembut. 2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa.Neal mengangguk. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur.

Kami menduga. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. membawa bermacam perbekalan piknik. Kadang mereka mengajak kami berfoto. biskuit dan telor asin. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Mereka datang dari segala penjuru dunia. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. Mereka segera mencetak foto-foto itu. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . roti kering yang disimpan dalam kaleng. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. dan sempat mengunjungi kota kami. keledai. Kami menyukai cara mereka tertawa. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. Mata kami yang murung dan sayu.

menurut mereka.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu.>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. Tapi kota kami. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser.bintang terasa lebih jauh di langit hitam.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. dan sungai selalu meliuk-liuk. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. Betapa menggetarkan melihat pohon. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja. para pelancong itu bernyanyi. tetapi tidak dengan kota kami. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. penyair. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. seolah semua itu terlampau bahagia. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. Memetik kecapi dan Saat malam tiba. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. Dari kejauhan kami . bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. Lorong-lorong. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. bawah kakimu. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. Kepada kami para cermin. begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. jalanan.rumah rubuh menjadi abu. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. candi-candi megah yang disusun serupa tiara. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. dan bintang.

Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. sepotong dendeng. ke arah kami. jembatan. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. dan fana. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. membagikan sekerat biskuit. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. Kami tak ingin kota kami lenyap. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. sementara. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. rumah sakit-rumah sakit. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. Sembari menaiki pedati. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. sekolah. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti.gedung. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban.lahan hancur dan tumbuh kembali. runtuh tertimbun waktu. tower dan menara. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan.menyaksikan mereka. Berwisatalah ke kota kami. menanam kembali pohon-pohon. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. Keajaiban tersendiri. Sesekali minuman. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. kami . Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh. Jangan khawatir. yang hancur. sungai-sungai. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. setiap kota memang memiliki jiwa. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian.

Invisible Salim (Fresh Book.1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino. oleh Erwin . 2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner.

Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Usianya paling 12 tahunan. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Memandang mata itu. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Kadang berloncatan. Tak ada keruwetan. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Setiap pagi. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Beberapa pengendara sepeda motor yang . saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Ia menurunkan kaca mobilnya. jernih dan bening mengalir perlahan. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. jalan menjelang kantornya. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Selalu bercelana pendek kucel. Air yang dinding penyangga jalan tol. Berkoreng di lutut kirinya. seperti menjolok sesuatu. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu.

pecahan kaca yang menancap di kornea. yang kata Mama. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. ia yang bagai liang hitam. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Ia ingat perkataan Oma. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Rasanya. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Mata yang penuh kemarahan. ”Mata itu seperti jendela hati. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. Dan ia selalu menggambar mata. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. terlihat berbeda. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Karena itu. Tapi Papa kerap menghardik. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. padang gersang ilalang. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Mata yang berkilat licik. Begitu bening begitu jernih. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. panjang. Setiap kali terkenang mata itu. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. kawat berduri yang terjulur yang menggantung. itulah mata paling menyimpan dunia. Setiap menatap mata seseorang. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. memandangi mata seseorang cukup lama. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. indah yang pernah Gustaf tatap. saat ia berusia tujuh tahun. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya.

menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. pikirnya. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. Membuat Gustaf berpikir. karena memang menyimpan sebuah dunia. Bila perlu ia menculiknya. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Ia ingin ketika ia muncul kembali. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Bila ia bisa memiliki mata itu. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. lantai yang digenangi air bening. bisa memiliki mata itu. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. Gustaf kini bisa mengerti. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. mata. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. batin Gustaf. semuanya sudah tampak sempurna. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Semua itu hanya mungkin. Ketika berjongkok. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Dan ia makin ingin mata bocah itu.

Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Begitu lift itu tertutup. Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya…. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. percaya. sambil berbicara kepada temannya. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Ia ingin membuka jendela. dan melemparkan recehan. 2006 . ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya.terjulur ke arah jalan. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta.

Ramadhan berlalu. Kadang berbulan- bulan. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Bergegas. Setiap menjelang Ramadhan. seperti kotak tempat menyimpan gitar. Memakai jaket kulit hitam. Langsung. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan . banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Saat ia berbaring di ranjang. Ia jarang berada di kamarnya. Mungkin ia rampok. Seperti selalu menghilang. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. sembari terus bersiul. kemarin. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. keramas. rapi. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Ah. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. Entahlah. Berhari-hari. Merapikan pakaian. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. Ia memejam. mengerut menatap laki-laki itu. sembari bersiul-siul kecil. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Menenteng seramnya. Ia tak ingin kecewa lagi. seperti bekas bacokan. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Tato di lengan kanan. Menyisir rambut dan memotong kuku.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. memandang langit siang yang terang. ia bisa mencium bau amis darah itu. Dan tadi. Sesekali. Bayangan kematian penuh darah. mengusir bayangan buruk itu. beberapa koper besar. dan segera saling bisik. Atau erang kesakitan leher digorok. Melipat selimut. Bila pulang. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. tapi ia masih saja hidup. Parut luka seputar pundak. dan wangi. Ramadhan kali ini. Sebab.

dibuka lebar. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Rutin yang ganjil. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Kulit wajah mayat. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Menjelang Ramadhan ia muncul. di bulan Ramadhan. Barangkali ia dukun. Wajah. Meski ia tahu. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Seperti menyaksikan kematian . atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. Mungkin intel. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Aneh. rumah petak tak pernah berani bertanya. Mati dengan tenang. Sering. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Menutup diri.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. menyapu. Ia mengerang. mereka mendengis bengis. Beres-beres kamar. seperti mengawasi.saat seperti itu. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. wajah remuk rusak itu. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. tapi pergi ke kuburan. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. bercerita. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. sebagai seorang pembunuh bayaran. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. Mengepungnya.mayat itu meleleh. seperti lilin panas mencair. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat. ia terlihat merokok siang hari. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya. Ia terkapar. memandang entah apa. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. Ini yang membuat kian penasaran. Misterius. Mungkin.harga BBM—matanya jelalatan. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Ia seperti tak mau dikenali. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu.

Dan ia mulai mengawasi. bisa memukuli orang sepuasnya.Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa. Bicaranya santun. Seorang hakim. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Sorot matanya tenang. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Orang. Dikirim ke medan perang. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Benar kata komandannya. ia diberinya pekerjaan. Ia paling senang ketika harus disiplin. nanti bila sudah berhenti. Tapi membuatnya merasa aman. Tugasnya hanya membunuh. berani menghentikan. Ia tak terlalu menyimak. Kamu pantas jadi tentara. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia akan tinggal di rumahnya. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. wartawan. Kisah para raksasa penyantap manusia. Ia heran. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Kulitnya yang putih bersih. Beberapa mati dalam penjara. kata teman-temannya. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Tanpa jejak. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. karena pejabat itu pingin kawin lagi. diam ia membunuh kucing pamannya. Umur tujuh tahun. Ia menyiksa para pemberontak. tertib. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Di kampungnya. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Dan ia membusung bangga. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan.” kata komandannya. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian.orang mengerubung. Paling mentok jadi sersan. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Percuma kalo cuma jadi tentara. Memang. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Tempat menyembunyikan diri. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Beruntunglah orang . Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Lalu sepulang perang. Alangkah hebatnya jadi tentara. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. Rahang terkesan pipih. Ia selalu ingin berada sangat dekat. ia suka membayangkan diri jadi tentara. dan ”Kamu punya bakat bagus. Membunuh seorang pengusaha. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. bayaran yang menderita di masa tuanya. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Lalu beberapa order ringan lainnya. Sumpek bau comberan. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Dan itu disukai komandannya.

aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Kemeresek daun jati jatuh. Getir. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Ia mulai diusik gelisah. Kamu cukup membunuhku.” ajak Kiai Karnawi.yang mati di bulan Ramadhan. kenapa mobil perlahan berhenti. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. dan kini memburu kematiannya. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. itu mobil mahal. kecuali mati di bulan Ramadhan. Kelebat bayang burung menyambar. Biar tak banyak korban. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. Ia pun kemudian selalu berharap. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Sayang kan. Tak usah Karena itulah. Dan semoga saja. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. kamu mau membunuhku. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Pelan. Gemetar tak yakin. Ia bisa menembaknya. 2005 . Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Alhamdulillah. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Lalu meraba ”Sekarang. yang pelan. Mencibir. Enggak usah merepotkan sampeyan…. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Singup. Karnawi terkekeh. Tapi tolong. Lalu menggelar sajadah. Terdengar letusan. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. ia hanya berdiri gamang. Kalau boleh memilih. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. membuangku ke jurang dengan mobil itu. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Dengung jutaan serangga mengepung. Kematian di bulan Ramadhan. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. ”Aku tahu. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. ”Kamu bisa membunuhku di sini. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. lakukan tugasmu. Jangan sampai aku kesakitan ya. Amin.” Baru kali ini ia gemetar. Ia meraba belati. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Yogyakarta. Lengking gagak di kejauhan. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. Senyap. lalu mendorong mobil ke jurang.

Banjir masih juga melanda Pati. cicit. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. didaki karena licin dan terjal. kolam ikan. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. Saya yang satu minggu kehujanan terus. bus. Jawa Tengah. meski apa peduliku. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. sawah-sawah yang siap panen.” . cucu. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. air tak juga surut.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. saya meraba tubuh orang. Rasanya tubuh ini beku. Pati. tambak. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. Masya Allah. hutan terbakar. mungkin tidak sedikit jumlahnya. Jepara. yang terdiri dari truk. Subhanallah. maupun motor karena tak Zaman. Ibu. juga nenek-kakek. Juwana. Agaknya tersangkut sesuatu. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. saya sudah tak tahu jalan. Wahai. banyak lagi korban. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. Tuban. ”Cepat kuburkan. kontainer. dari Pati ke Rembang. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. dan pertokoan. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. meliputi kota-kota Demak. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat. ke mana Saya semakin menggigil. cahaya perak. Kudus. perumahan. cahaya perak. Mendadak laju rakit ini terhenti. ayah. mobil-mobil pribadi. Gelap gulita. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. Tapi. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. dan anak-anak. Rembang. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. Sementara di Riau dan Jambi. perkebunan. namun tak kunjung muncul.

nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya. di atap masjid itu tidak hanya baju. kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. Di mana Pati. saya berhasil masuk ke ruang salat. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. manis dari akarnya. Maka ketika banjir surut. dalam ukuran apa pun. Banjir yang lebih besar kali ini datang. pohon mangga yang sangat rindang. manalagi. katanya. air. teriknya. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . di mana Rembang. sejauh mata memandang. dan kedua adik ke Jakarta. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. Saya mau cari nafkah di Jakarta. merupakan perpaduan yang elok. Rumah tertutup santri. Alhamdulillah. Lalu boyongan kembali ke desa. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam.” Di atas atap dapur. ayah. air. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan. berseliweran berlarian. katanya. putra maupun putri. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. Terlalu bising. Tiba-tiba rakit mentok. air melulu yang tampak.”Ah. Meski sangat kesukaran. menikmati sebuah lalu minta lagi. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. Jakarta. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. ibu kok ngomong begitu. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. ”Jaga adik-adikmu. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. Benar saja. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. di rumah bertingkat kami. di mana para juga Tuhan. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana. sampai saya terjatuh. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. bermain maupun berdebat soal jodoh.

saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. tangan banyak sekali. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. kepada ibu. ya. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas.” seru saya. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. ke sebuah dusun yang sunyi. sekeluarga turun-temurun. bangun dengan sigap. saya tertidur tanpa diawali kantuk.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan.” ”Subhanallah. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata. mencium tangannya. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- .” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar. Di luar. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya. meminta doa.air banjir. kaki yang dua jenjang itu. Di yang mumpuni ini.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi. sementara di luar sana. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau. banyak sekali.” ”Subhanallah. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya.” seru saya sambil mengejar beliau. ayah. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. Waktu bangun. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau. dan kedua adik saya. orang-orang berteriak meminta tolong. ya. menjauh. menanyakan kesehatannya. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini. banyak sekali. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman. ”Pak Kiai.” ”Subhanallah. saya kaget bukan alang kepalang. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu.” ”Salamualaikum.” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya.

Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. ayah. semuanya ini milik-Mu. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. Keadaan jadi kacau dan meriah.” doa saya. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. saya pasrah setulus mungkin. ”Ya. Allah. Allah. subhanallah. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. Subhanallah. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. . ”Ya. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu.” doa saya dengan kenceng. ibu. Masya Allah. bukakan mata mereka. Saya tertegun. ”Gue ude konglomerat. Bukan uang Sesampai di rumah. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak. kedua adik saya. caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. Dalam hati saya menyesal. Dengan kunjung datang. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru. Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. Tuhan punya rencana. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. Menurut ibu. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. mungkin mereka tidak menyadari. Seperti mati berdiri. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. menimpuk sejadi-jadinya. Bagaimana mainan.

Tangerang. 14 Februari 2008 .

Orang-orang pura-pura tak mendengar. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. ia terus berlari. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. Ia menuju ke arah selatan. . Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. lo. Barangkali ke Jakarta Pusat. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. Hitam kayak pantat kuali. Ada apa anak itu berlari terus. pusing. Anak itu agaknya merebut waktu. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. mencari kekal pada dinding. Sesuatu apa itu. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. Tak lelah-lelahnya.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan menjerit. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. kopaja. Keringat kota diperas habis-habisan. Jangan pernah mau mengalah. Legam bagai Jacky Chan melenting. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. Kerjakan yang mesti berlari itu. Semua pertanyaan lompat bajing. Alangkah kencang larinya. Nak? Ada apa. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. Merebut tempat. “Ini Metropolis. dikejar setan. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari. Ia tak peduli. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. mengucap salam pada metromini. “Ada apa. persis malam mati. jadi rupanya ibunya seorang penari. Metropolis. Ia pusar bisa berlari sekencang itu. O. Orang-orang menengok yang padat. mikrolet. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. Angin berdebu. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. Jangan pernah kalah. Seolah metropol miliknya sendiri. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Dihardik satpam jadi emping. kabarkan. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. dikerjakan. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. Udara sangat panas. Mereka menerobos di antara bus. Jakarta sudah lama bilang ogah. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. yang macet. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. lo?!” Semrawut kota semakin bising. angkot. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. Suasana mendesing bunyi gasing. Ini Matahari terbahak. Jakarta Utara. Jangan ketinggalan. Angin kencang. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. Atau baru. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. Nak? Ngapain lo lari terus? He.

Dalam sehari 50. Ada saja yang tidak polos. Segala tempat. Bukan ratu. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. Jangan menoleh ke belakang. terbahak. Aduh. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. zat. Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. Supaya jarak lari menjadi aman. Tuhan sayang manusia. Ia hindar bertengkar kerna pintar. Tak pula timpang. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. Lalu berpijar cahaya api. Berlari terus. Sotangnya tajam bagai taring kirik. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. Mau dicaplok katak. anak itu tahan menceker. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. Udara. Nasib orang. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. bukan pula keris patih. Si anak ksatria utara. O. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. bertengger gubuk derita malang. supaya hati tak garang. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. bukan raja. Berlari terus. Pesanlah nisan sekarang. Ia anak mama. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. Dipuja petani. Namun tak beringas. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. Tak kenal batas. Aduh. Walau di lapak. telapak kaki tanpa alas. Pasrah tanpa curang. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. KTP diinjak-injak. ia mendelik. Penari agung bikin keder pemda. Menggaris lurus menerka keadilan. Kemana tanahku. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. Tuhan kendali manusia. api. Tak ada tempat yang jauh. Seluruh hamba wet. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. Di sekolah anak tak pernah bolos. begitu pemerintah kasih wejangan. Tiga kali kena gusur. O. hitungan akurat. Matahari membantu tapi butuh ongkos. Padang darah berember-ember. Tak mati-mati. Jeritkan segala raung serigalamu. air.000 tahun mengayuh. Tuhan tempeleng manusia. Ia ksatria tuntas. menghirup angin surga. Itu udara pagi. Itu udara wengi. mencium bau wangi. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. putri jelita berbanding Sembadra. Kemana tanahku. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. Ia musnah. Mengambang taat. Ia keris empu. Anakku. Wangi jembatan layang. O. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. Perahu malaikat burung puyuh. Baik budi. mabuk tetap tegak. Tiba-tiba agung bagai baja. Nyawa yang berbakti. Apa mau dikata. tanah. Tumbuh harapan. O. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. kadaluwarsa dari sepihak. Tak mati-mati. Jasadnya lenyap ditelan udara. Tuhan yang pegang. kota. badai derita Ia terlalu sakti. Hidup bisa dicicil angket. Henry Muhammad. Berbanding Pandawa pantas. Ibu Pertiwi mengerti.Seperti bandit yang dibiarkan lolos. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. berbakti. Jangan terpeleset. Mengalir angkasa pesat. Orang-orang yang berpapasan mendesah. Anakku. termasuk jalur hijau jalang. Di ladang luber. O. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. orang yang matanya nyalang. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. kejeblos di pasir boblos. Butiran menjelma hujan. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. Anak itu melompat pagar tanaman. Jangan-jangan sedang menari bersama awan. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. O. dan pertapa sejati. menerkam kijang tercecer. Ksatria Utara tak mau berkelahi. tanah asli ayah bayang. Di bawah jalan layang. kesandung maut dari seberang. Eyang. Namanya bikin gentar.

Tanggulangi penjarahan dan perampokan. Di seluruh kawasan. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. restoran. pegadaian. Tapi itulah jalan hidup. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. departemen keuangan. puluhan. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. Satu udara ganti-berganti. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. mall-mall. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. Pemerintah yang dulu. Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. Tenaga-tenaga penolong susah. Korban tak dapat dihitung. Laut meluap. Dalam jumlah besar membengkak. Perampokan kantor-kantor. Kota gelap gulita. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. ratusan mobil mengambang. Jakarta tenggelam. namun dia selalu lenyap tak berbekas. perumahan mewah. Di siang hari jadi kota mati. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. mereka sudah sampai Pulau Seribu. Banjir rasanya semakin meninggi. Bagai papan-papan selancar. Mereka saling bertanya. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. bank-bank. Saking banyaknya korban entah. berkali-kali penari itu diburu. Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati. dia terus menuntut ganti rugi yang layak. Namun penari cantik dan . Daerah Khusus Ibukota payah. tentu jumlah itu saat ini. Dengan sangat meminta ditolak alam”. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. berenang di dataran luas yang dalam. Banyak individualis jengah. Para relawan penolong bertindak. pasar. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. di milenium ketiga.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. toko-toko. tak ada artinya. Supermarket. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. menari di atas pagar jembatan layang. Nah. Di pojok-pojok Jakarta rawan. gunung es bersimaharajalela. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu. ATM. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. Bagai monumen. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. Datang dari kutub utara. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu.

Anak itu terus melanjutkan teriakannya. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. Kekasih dari asmara. Hari balas dendam telah terjadi. Cemburu dari buta. Bola dari Piala Dunia. Blok M. Benci dari cinta. Kakek dari nenek. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Jalan Thamrin. Tapi segala jenis hotel penuh. Senen. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. Ibu dari anak. Sang penari tidak menstop tariannya. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. dan melahap terus ke selatan.membantunya. Suami dari istri. 20 Mei 2006 . Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. Gelombang menggempur Tanjung Priok. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu. terpisah dengan keluarga lainnya. Cucu dari buyut. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. Parung. Jalan Sudirman. Keluarga Paman dari keponakan. Gunung Sahari. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Ibu itu terus melanjutkan tariannya. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. Melek dari kantuk. Tangerang. Canggah dari wareng. Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. Cinere. Cikini. Cilandak. Sanak terpental dari sanak.

gubernur.500 penonton. dan jus jambu kelutuk. Odette. sebagai sponsor pertunjukan. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. Begitu pula para pebalet teman Zahra. menyembul. Direktur Artistik Chino. pernah berpentas Martha Graham. tentang balet di Rusia. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. Jerman. ngobrol dengan gubernur. ayu dan ganteng. bulu- usai.Telaga Angsa DANARTO telaga. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Tampak Viatcheslav Gordeev. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. juga grup dari Perancis. gubernur berjanji. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. menteri. yang disihir Rothbart menjadi angsa. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. Mereka rame-rame menikmati salad. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. yang putih maupun yang merah. kegemarannya. angin sepoi-sepoi. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. dan pembesar negara lainnya. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Asmara angsa. Maxim Fomin. pemeran Rothbart bergantian. buah-buahan. kepada para tamunya. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. Natalya Ashikhmina. Angsa-angsa putih menyelam. Dengan 1. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. lalu mendarat kembali. Sebaliknya. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. sup ikan tuna. Andrei Joukov. sangat populer di seluruh dunia. Maya Ivanova. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. Mineev. Irina Ablitsova. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. Dia memilih minum air jeruk nipis. insya Allah. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. Di antaranya di tempat ini. komposisi yang senantiasa berubah. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. tidak minum wine. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. Baru pada malam hari . yang mengelus rambutnya. balerina 21 tahun. Gadis ini Zahra. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. dan memagut dan bercinta.

Semuanya tertawa.” kata Kakek. dan Anastasia Baranova. Begitulah. Semuanya tertawa. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. Oxana Gasnikova. seluruh istana bergembira. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah.” tukas Nenek. kedua adiknya. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. saya sih. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina.” sambung Kakek. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh.” sambung Oom sambil menyenggol Tante.mereka menjelma manusia kembali. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas. ”Terpikat boleh terpikat. ”Apa. Siegfried.” celetuk Nenek. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini. Eyang bisa kesleo. Rothbart marah besar. Pangeran Siegfried. sih. neneknya. yang ndak cocok bagi kamu. memamerkan putrinya. juga tante dan oomnya. adalah para pemeran angsa kecil. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. Sekalipun dengan mata terpejam. pemilik istana dan telaga. Kakek terbatuk-batuk lagi. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. yang secantik Odette. . dan Anna Vakina. ibu. Semua tertawa. Tatiana Chungunkina. jatuh cinta kepada Odette. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko.” tukas Kakek. angsa itu menjelma Odette. Seketika. sampai Kakek terbatuk-batuk. ”Odette atau Odille. lho. Usaha Rothbart berhasil. cocok-cocok saja. ”Itu kan mengumbar aurat. Siegfried sadar. ”Tapi. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. ”Lho. Rothbart sang penyihir. ayah. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. Olga Ivachenko. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. Eugenia Singur. Odille. memangnya kenapa?” tanya Zahra.

” ”Jangan begitu.” sambung Kakek.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. deh.” ”Jangan begitu. Meriah. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. ”Saya serius.” tukas Zahra. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. wah.” ”Wah. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Eyang. Habis jadi diktator.”Aurat yang mana?” tukas Zahra. kecuali Kakek. Semuanya tertawa kecuali Kakek. pertunjukan itu harusnya disensor. Eyang. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu.” ”Eyang yang kasmaran. ”Semuanya kan tertutup rapat. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. peradaban. kok Eyang sampai segitunya. sih. kok yang disalahin balerinanya.” ”Kesan. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. kostum Zahra ya seperti itu.” Semuanya tertawa. Melihat kostumnya.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget.” ”Wah. wah. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun . Aduh. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. Kesan. Obrolan berubah jadi perdebatan.” sanggah Kakek. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. Jika kita bicara soal kesan.” sergah Kakek lagi. Eyang ini gimana.” ”Saya heran. mendadak berubah jadi filosof. bubar. semuanya terkesan jelek.

”Adalah tradisi balet. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Cucuku.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. ” sergah Tante. ”Apa?” tanya Kakek. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.” kata Zahra.” sewot Zahra. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu.” kata Oom.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. ”Eyang benar-benar lowbrow. Eyang.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya.” sambung Kakek.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis.” . Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. ”Dalam KKN ada tradisi. runtuhlah kebudayaan. Mendengar kata Kakek ini. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang.” cetus Kakek. ”Kostum ketat itu. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari.” Zahra menukas. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan. ”Adat ketimuran kita adalah KKN. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita.” sela Kakek. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran.

semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Coba. Eyang. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari.” tukas Kakek. Barangkali besok.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. Anakmu bukan milikmu. saya cuci tangan. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. atau lusa. Bukan kepada Tuhan. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. Zahra. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya.” sergah Kakek. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta.” tambah Nenek. Kita bisa menuduh mereka ateis.” tukas Nenek.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Eyang. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu.”Hati orang siapa tahu.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. kata Allah. ”Banyak negara yang busuk. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. saya dikasih contoh. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. Dan itu bukan teori. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. .” jawab Tante. Lengang sejenak. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. Seperti tercium setan lewat. Eyang. Kecuali Kakek.” tambah Tante.” kata si Oom.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan.

Eyang. Allah mencintai keindahan. Dalam dandanan kebaya pinjungan. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. Cobalah nikmati tari bedoyo. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Dan ternyata Allah itu indah. 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang.” ”Sebagaimana balet.” ”Saya setuju. Ada air yang mudah mematikan api. tidak ada pornografi dan pornoaksi. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Ada api yang menyalanyala. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. cukup sulit. Tangerang. Dalam balet. tergetar.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. Kita wajib memeliharanya.” sambung Zahra. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. sedang dalam . Suatu dakwah keindahan tiada tara.

saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. Kadang datang berbondong. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. Orang-orang . saya menjawab sekenanya. setelah sarapan. teman-teman. Istri saya memberi tahu. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. kata-kata bijak dari para cendekiawan. Juga tentang hubungan suami istri. Sudah sering datang orang. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. bupati. juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. yang sama sekali tidak saya ketahui. Di samping para tetangga.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. atasan. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. Sebagai penulis lepas. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. menantu dengan mertua. Istri saya lewat jendela. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. Saya rasa kali ini juga begitu. Ada apa? belum menemui mereka. Dengan ngantre minyak tanah. tidak benar-benar membutuhkan saya. Sudah sering datang orang. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. bupati. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Misalnya. Rasanya camat. satu dua. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. Sungguh menghabiskan waktu. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. Karena istri saya gelisah. bawahan dengan remaja. satu dua. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. dan wali kota. saya dijuluki “pendengar yang baik”. misalnya. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. Saya acuh tak acuh. perburuhan. soal usaha tambak udang. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. pengairan sawah. Cukup menyenangkan. mengular sampai jalanan. bibit tanaman. juga tayangan televisi. sekadar yang saya tahu. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. persoalan anak dengan orangtuanya. perbankan. ramai. menyadarkan saya. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. dan banyak lagi saya tidak nyaman. Rasa saya tetangga. maupun wali kota.

ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. orang-orang ternama. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. Dan sebagainya. Begitulah. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. ataupun di stasiun bus. ia seharian di rumah saja. Barangkali mereka juga membaca obituarinya.orang biasa. tidak ke mana-mana. tukang becak. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. kenapa tidur di rumah. Tulisan obituari itu tidak panjang. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara.000 karakter. Keluarganya memberi tahu. Kadang sampai 8. selalu saja orang . kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. dan berapa orang saudaranya.lengang. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. Yang jail maupun pelesetan. sampai kenalan baru. Seluruhnya orang. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati. Masa pensiun pasti datang. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. Banyak komentar. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. agaknya hanya saya seorang. kompleks pertokoan. ia kaget. menyebabkan banyak orang mengenal saya. pekerjaan terakhirnya. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. Misalnya. dibawa pulang ke rumahnya. teman. sementara beban keluarganya besar. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Begitu siuman.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Kepala kantor orang itu kebingungan. Banyak usulan.000 orang. sekitar 5. Alasan saya. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. tak ada yang menulis. Saya interviu keluarganya. lalu saya cari alamatnya. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. sebagaimana kematian itu pasti tiba. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. keluarga. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. Saya catat riwayat hidupnya. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang.

orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. Pak. Lalu malah terjadi serba-salah. Di pertemuan-pertemuan desa. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya. Keterlaluan. Anak-anak saya. Tidak kenapa-kenapa. Ketika orang menanyakan pendapat saya. Apa yang akan terjadi dengan saya.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. Banyak ngomong dianggap meramal.” “Jangan ditinggal korek apinya ini. tulisan saya tidak adil . Wah. Menurut mereka.” “Saya permisi. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. lima orang.” “Baiklah. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. Tapi ini kebetulan saja. ada yang mengartikan. ia meninggal. sedikit saja saya ngomong. Memang ada seorang yang “Pak. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. dan si bungsu di SD kelas 5. Sementara itu ada pula yang bilang. kenapa?” “Maaf.nyeletuk: “Pak Jurnalis. Memangnya saya cenayang. Maka ada saja orang yang anti-saya. sehabis ngobrol dengan saya.” “Biar untuk Bapak saja. Saya tak bisa menjawab. Ini benar-benar klenik. “Maaf. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. Pak. “Lho. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. kenapa?” “Maaf.” Tapi.” “Lho. Ada yang bilang. Tidak kenapa-kenapa. Pak Jurnalis. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Saya nggak mau ditulis sekarang. saya sedang mewawancarainya. Ntar saya yang menulis Bapak.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. Dari kejadian itu. jika seseorang ngobrol dengan saya. seseorang yang ngobrol dengan saya. ini bahaya. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. yang paling kritis. katanya. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. Pak. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. Saya jadi pendiam dan menyendiri. Pak. Kritiknya tidak berdasar.” jawabnya.

anak saya tersebut. Nah.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala. . karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga.” “Ayah marah kena keritik.” dengan empat orang anak. wah.” “Itu harapan saya.” “Semua orang bicara dosa dan pahala. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah.” “Semuanya. Nah.” jawab anak-anak itu. Jika sampai di sini hal itu masih baik. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah. sedang rakus-rakusnya makan.” “Tidak bisa seenaknya begitu.” “Boleh saja. kalian ngawur.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar.” jawab saya.” anak-anaknya yang lain. anak-anak ini sok tahu. Itu doa saya. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka.” “Begini. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. “Kalian ngawur. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain. kan. Sebagai ayah.” “Nah. ini dosa. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras. itu semua yang anak.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. saya berat. Lima anak semuanya sekolah. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga. anak-anak saya itu diam. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu. Ayah pernah menulis obituari.

Hari baru membuka matanya. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. Sinar matahari memancar. perempuan. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. guru SMP. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja.00. tak seekor pun tampak terbang. tua. di pekarangan. Istri saya memberi tahu. tanah. cerdas dan berani. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. Saya acuh tak acuh. Saya menulis apa saja. 26 Desember 2004. di atas pohon. Entah berapa lama saya pingsan. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. nistagmus. di jalan. anak-anak. panas. Allah…tanggal akhir hayat. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. berserakan memenuhi ruang dan udara. saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. di luar kemauan. saya. Seluruh mayat itu. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. setelah sarapan. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Jam aum macan. satu dua. Alhamdulillah. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. Istri saya saja suka empot-empotan. muda. mengular sampai jalanan.Kami sebenarnya keluarga bahagia. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Dengan ngantre minyak tanah. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. termasuk menulis berita. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. di kebun. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. bayi. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. mencecap pencerahan. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Ada apa? belum menemui mereka. mereka menatap kebenaran. Ahad. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. Sudah sering datang orang. Bahkan burung-burung. Saya rasa kali ini juga begitu. laki-laki. Karena istri saya gelisah. 20 Januari 2005 . Tangerang. di reruntuhan rumah. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Waktu saya siuman. Istri saya lewat jendela. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. merangsek ke depan meja saya. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota.

begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. bersentuhan dan mendesah massal. begitu istilah orang-orang. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Ia burung yang berenang. memabukkan daripada kesadaran. Rajaman semu. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. Maka saya tahu. ada yang hanya bagian kaki.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Untuk saling gombal. Girangnya sirna. Sendawa alkohol di permukaan udara. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Phuih! Saya meludah ke mukanya. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Bercinta di bawah para-para. dan ada yang hanya bagian tangan. Dan ia terpana. Entah karena entah karena entah. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. Muka badak. Meninggalkannya dalam diam yang haru. dengan kaki-kaki telanjang. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Kami terkapar di atas pasir basah. entah karena nyala yang redup. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Dan saya. entah karena basah yang kering. saling beradu berebut perhatian. Pesta pora. Bahana tawa. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai. saling berhantaman. Maka… menggoda. Saat penghakiman. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. hilang. . Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Sembunyi-sembunyi. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Senyum manja.

“Sendiri?” Saya menatapnya. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Ada nama yang akan segera dilupakan. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Tawa. Tawa. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. Tawa. lalu memisahkan diri. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Tawa. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Ada luka yang akan segera hilang. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. Tawa berkepanjangan. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Tawa. Tawa. Tawa. Entah peragaan busana. Tawa. Tawa. bisa atau tidak para model itu. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Di sebuah tempat antah berantah. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. Tawa. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. Musik kian mengentak. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Tawa. Tawa. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. berapa kira-kira umur mereka. Tawa. panjang ala kadarnya. Sementara saya pun pura-pura tertawa. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Tawa dalam penantian. terjangkau.Saya menunggu. Tawa. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. Tawa. Entah peragaan gaya. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Ia pun langsung mengambil Alkohol. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. Tawa. Saya melihat langkah seribu. diri saya sendiri terpaku. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. Tawa. Tak mampu menjawab pertanyaan itu.

Lalu semakin banyak ikan yang terbang. mata yang menatap girang. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. Maka…. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Ada yang mendesak ingin keluar. Ia masih berada dalam diam yang haru. Ia burung yang berenang. Jakarta. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Saya menunggu. Dan semua adalah ikan yang terbang. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. Semakin banyak burung yang berenang. Maka bening berkumpul sedan. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata.“Huahahahaha…mata bintitan. dan pantas. dosa. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. Mata saya pun memanas. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Semua burung yang berenang. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. pantas. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. Agustus 2004 .

Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. Masih tak percaya.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. Tapi saya ngotot persalinan alami. Membuahinya. Saya ingin protes. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Menerima. Terus menyeruak dan mendarat lengket. Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti. Kepala saya pening. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Air ketuban sudah hampir kering. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Membayar pembantu. Tapi saya berkata dengan yakin. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. Rasa takut seketika membuncah. Saya akan menjaganya. Rasa mual merajalela.” kata supervisor saya. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. Ketuban sudah pecah. Dok. majikan. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. Harus operasi. Dan jika operasi. Saya akan menjaganya. Masih tak percaya. jelas belum mapan. Sembilan bulan sudah. sudah satu bulan setengah usia janinnya. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. masih harus menunggu dua pembukaan lagi. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. liat.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya.” kata ayahnya. Tapi… muda. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. Baru pembukaan delapan. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. tapi tak . Pun mulai membukit perut saya. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. Materi yang ada. “Robek saja. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. yang masih lengket. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga.

“Capek ah nunggu. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. itu? Saya begitu tak sabar menunggu. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. kontrakan. Jika saat itu tiba. Saya akan menjaganya. Berusaha memberikan rasa aman. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. Tak menunggu saya pulang. Harapan akan segera pulang membawa uang. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. Saya harus segera menghayati peran. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa. Saya tetap akan pergi. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. Membeli apa pun yang harapan. Dan harapan. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. Dan saya tetap akan pergi. Cukup lama saya harus menenangkannya. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. lagi. . aku udah mau tidur!” semprotnya. Sudah jam delapan. dan sekolah akan pulang.” Saya akan menjaganya. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. telepon. Di mana makhluk mungil menyusu. ketika suster itu berkata. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Kalau perlu. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. Tetap menunggu saya pulang. Harapan akan segera pulang. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. kami akan menjelajah dunia. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Saya sudah tidak butuh rehat. membayar listrik. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. air. Lucu. Air susu saya sudah sarat. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. Berusaha memberikan pengertian. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Baru akan dimulai merekam adegan.bisa. Ia membiarkan saya pergi. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. Tetap akan pulang. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. kalau ia mau.

Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. “Action!” teriak sutradara. Pelan-pelan . Ada puisi di dalamnya. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Saya akan menjaganya. Tapi ia menggeliat. Menunggu. Lampaui semua beban. Saya Ada cahaya di ujung lorong. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. menghalau saya supaya tak dekatdekat. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. kemilau dengan tangan terbuka. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. Melayang seperti burung tanpa menyimpan. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. igau saya. Ada kegelapan. Saya kecup kedua matanya yang merapat. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. Menunggu. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Menunggu. Satu saat nanti ia kembali. Lantas meronta. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. menunggu emosi saya pergi. Menunggu kesadaran saya kembali.harus terhambat kemacetan. Menunggu. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. Entah disengaja untuk menarik perhatian. Menunggu. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. sudah kembali pulas tidur. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. Lima puluh pil penenang saya tenggak. igau saya. menyerahkan untuknya menyusu.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

Sebagian lagi menganggap saya jiwa. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir. Semua orang merasa sementara teman. Jika teman saya kelihatan indah. bertahun-tahun. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. Di kantor. Tapi kami masih menikah. Di pertokoan.teman saya semakin banyak. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. atau masih melajang. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. pembual. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. kantong belanja. atau murahan itu.jam. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. Mereka sembunyi. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Banyak terakhiri. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman.kami hanya sebatas pertemanan. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. Saya tidak pernah membohongi. Jika teman saya uang.minggu. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang. berbulan-bulan. Di rumah. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Yang berubah keterbukaan. sok gagah. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. Hal. sebetulnya tidak sepenuhnya benar. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. sebagian orang yang menanggap saya munafik. berminggu. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. Pembicaraan mendadak berhenti. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. berhari-hari. Di ini berjam. restoran. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri.sembunyi bermain mata. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. Mereka saling mengirim surat elektronik. sakit jiwa. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. saya tidak pernah akal-akalan. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Setelah putus dengan si B ternyata . Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang. mulailah kelihatan berkantong tebal. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar.

Mendongeng membayar ongkos perawatan. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Pembual. terima karena saya munafik. Menemani makan malam. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. Mengirim makan siang. Menganggap saya murahan! lanjut berteman. Karena. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. Saya hanya heran. Menganggap saya pembual. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Ereksi yang tidak lama kekal. Bercerita tentang film yang baru saja diputar. Menganggap saya sakit jiwa. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. Sakit jiwa. Murahan! Jakarta. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . sakit jiwa. sok gagah. Sok gagah. atau murahan. Malam-malam panjang. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. pembual. jalan. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful