P. 1
Kumpulan Cerpen Kompas

Kumpulan Cerpen Kompas

|Views: 538|Likes:
Dipublikasikan oleh Malau Arief

More info:

Published by: Malau Arief on May 28, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2013

pdf

text

original

Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. kemudian tali dari kaki. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam. aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. anak-anak akan telantar. aku semakin menepi batu-batu. pastilah manusia pun bisa. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. Tidak ada. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. Dan cap dalam keluarga. Gelap dalam sel. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. Pisang monyet. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. sampai giliranku pun tiba. ”Tuhan. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. banyak batunya. Dalam kepergian malam. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. Bayangan dalam benakku. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. Aku menduga. Di dalam alun arus. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang.benar menjadi warga kegelapan.banting tulang memberi makan mereka. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam. dalam remang gelap. dan mengambil buah yang ranum. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. Aku berterima kasih kepada Tuhan . Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. merunduk rendah. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. Orang yang berada di barisan menebas lehernya. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. ”Ayo. dalam sunyi air yang mengalir. Kami benar. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. yang dapat kutempuh. Aku memanjatnya. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang.

dan mengirimkan upah yang kuperoleh. menyongsong matahari yang terbit.minggu bersama mereka. Malam-malam berbintang. yang tergenang dan bening. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. tepatnya sebuah lembah yang landai. Setelah kekuatanku pulih. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang. Ia terkejut melihatku. aku menemukan sebuah gubuk. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. di seberang ada laut. Kuketuk pintunya. kepada anak-anakku. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. atau kalau musim ombak. Pergi ke laut. sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. Aku bulan di laut. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. Ada mata air di situ. Rasanya aku berminggu. aku berjalan dan berjalan. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus. Akan tetapi. kukirim upahku. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. Bandung. menjual ikan ke seberang. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. Kata orang tua itu. dan pelarianku. iklim politik pun berubah. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. 21 Agustus 2009 . Setelah berbulan-bulan. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. Alam keras membuat mereka hidup. alamat. Aku pun terkejut melihatnya. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. yang sudah berumur membuka pintu. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. aku menghitungnya. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Sampai berpuluh tahun kemudian. seorang bekas interogatorku.mereguk air dari pinggir sungai.

Hujan masih saja lebat. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. Di sebuah kantor. Genangan air mulai meninggi. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. Tanpa menoleh ke arahku. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Masih tersisa dua batang. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. Betapa bodoh dan tololnya aku. “Dulu. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. Angin berkesiur liar kian kemari. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. Agak mletot karena terduduki. Seharusnya di dua halte berikutnya. Tubuh terbakar hangus seketika. Setelah menyulut rokoknya. Aku bersidakep menahan dingin. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. . Gosong. Aku berdehem. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. Aku bersiaga. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Angin masih berkesiur. petir seperti ini. Senja makin lebam. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. “Aku salah turun. Sebatang rokok siap dinyalakan.” kataku sembari menatap ke jalan. mungkin aku sudah sampai di rumah. Kalau tidak. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. Kuambil satu.” aku sengaja berbohong. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil.

Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan. “Kita merampok. Entah di bagian mana. Agak gondrong. menikah dengan seorang juragan beras.” katanya getas. Gelisah saja. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. Adiknya.” Setelah itu kami jadi lebih akrab. “Kenalkan dulu. Aneh juga.” Laki laki itu tertawa kecil. Yang pasti. Kakaknya. Uang mereka pun belum tentu uang halal. Sukra tertawa. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. Hidupnya Merampok? Ah. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. Hidung mancung. Malamnya. Yang penting kau mau bekerja sama. menikah dengan seorang polisi. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah.” “Sukro. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. “Kita merampok orang kaya. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. Seperti hari ini. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak. “Namaku Sukra. Uang mereka banyak. Agak kurus.“Tapi aku dipecat. Si bungsu. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. Banyak sekali. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. seorang wanita. Apa saja. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Dan hujan tiris. Tak ada gunanya. Agak tinggi. Mata dan pipi cekung. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. Malah yang paling makmur. pulang membawa uang. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. meski dingin menyungkup.” aku. Di antara empat saudaranya. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku. terus terngiang ajakan Sukra. dan dua sepeda motor.” aku menyebut namaku. sementara order menurun. Istriku di sebelahku sudah terlelap. Sekarang nganggur. Baginya yang penting aku menggodaku. perempuan. yang hasil korupsi. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini. Aku kaget. hidupnyalah yang paling susah. hidupnya tak pernah kelihatan susah. Yang penting bisa makan.” kata laki-laki itu kemudian. Tak jelas mengapa ia tertawa. Meski cuma lima belas ribuan. Aku jadi korban. “Kalau mau. Ada barang sedikit dari mereka. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. laki laki. Tapi itu tidak penting. macam-macamlah. Kerja serabutan.” ujarnya seraya menyodorkan tangan. aku jadi tak bisa tidur. “Nama kita hampir sama ya. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. ada yang curang dalam berdagang. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu . aku bisa bantu.

” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. Sukra mengakak lagi. “Kalau bukan kita yang melakukannya. Bisa kau carikan? Bayarannya besar. jadi pengedar enggak mau. Kalau tidak. kalau kau mau. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak.” Sukra meneruskan kalimatnya. “Diajak merampok enggak mau. Bukan jadi pengedar. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. Ada ekstasi. sabu-sabu. Esoknya aku bekerja tanpa gairah. Hari itu. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. tugasku memasang pompa air. Ini tanpa risiko. Mereka butuh teman wanita. Sudir. Sukra mengakak. Sukra!” aku membentak. Kra. Lalu aku terluka. selamanya hidupmu susah. langsung duduk di sebelahku. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat.” banyak pilihan pekerjaan. “Kalau kau takut merampok. Ia “Oya.terjadi perkelahian.” kata Sukra. Sukro. “Kalau kau mau. Mereka mau ke Bali besok sore. nanti malam. aku ada pekerjaan untukmu. perempuan. orang lain yang mengambil alih. Bisa juga dibakar massa.” jawabku sinis. Itu kalau kau mau. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya. Ada Selamanya miskin.” Sukra membanting rokoknya. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya. “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya. Aku diam saja. misalnya. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya. Sama saja. Agak berbisik.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. Bukan merampok. Tanpa basa-basi kepadaku. ganja. teman sekerjaku. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. ia ikut memesan makanan. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. Kro. Lima turis Jepang. Aku diam saja. Lalu . “Jadi pengedar. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini.

Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. “Wajahmu cukup ganteng.” Sukra memulai serangannya. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. Sebelum sempat kunyalakan. Menahanku dengan paksa.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. Aku cuma terdiam. kau juga berotot. Jadi. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. Hanya cukup untuk makan. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. “Haram? Ya. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar . Apalagi kalau sedikit kau rawat. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik.“Itu pekerjaan haram. Merampok. setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu.” kataku singkat membuat Sukra tertawa. Nah. Sukra tertawa kecil.” membutuhkan wanita-wanita penghibur. Jadi makelar wanita. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. Sebagai pekerja kasar. Setiap hari kau bekerja keras. Terpaksa aku menggeser sedikit. Lagi pula. meraih tanganku. Sukro. Siapa tahu kau tertarik. Aku mengambil sebatang rokok. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. warung Tegal tempat kami barusan makan. jadi kunyalakan. cobalah berpikir sedikit lebih rasional. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu. Mendengar celoteh Sukra. tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. Rokok tak seorang perempuan. memepet Sukra. Jadi pengedar.” sahutku ogah ogahan. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. Tak begitu berat. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. Dan muda. mungkin kau benar. Tapi. kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini.” Selepas makan. “Tenang dulu. Berhadap-hadapan. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya.” katanya meyakinkanku. aku lupa. “Maaf. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan.

Masih terengah- . Ia masih membujang. Tergantung kebutuhannya. Cantik. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Tidak tergantung pada Kesepian. Tanah Kusir. Semua pekerjaan yang saja. Dan. “Sukro!” Sukra berteriak.dibutuhkan. aku buru-buru meninggalkan Sukra. Dan lari. Aku mau menolongmu. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan. Sukra melanjutkan.” berkata begitu. Ia menyukai sesama jenis. Itu “Aku tidak tertarik. Aku menggeleng. Kaya. kau juga bisa bekerja untuknya. Perigi. Aku terbangun. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. Tapi gajimu tetap tiap bulan. sekali.” aku berkata ketus. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. Aku malaikat penolongmu.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Tidak setiap hari juga. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. Mungkin dua kali seminggu. engah. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri. Sampai terengah engah. Tanpa menoleh. kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. “Mengapa bukan kau “Kro. Desember 2006 “Ada apa. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. atau yang pria saja. Sekarang aku mau berbagi denganmu. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Sukro. Yang pertama seorang wanita setengah baya. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. Sukra tertawa. “Aku punya dua klien.” Aku masih saja bungkam. “yang kedua adalah seorang pria. Janda. Nah. Ia tak suka wanita. Kau bisa bekerja untuknya. Kunyalakan lampu kamar. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu. Atau.” Sebelum aku berkata-kata.

Itulah sebabnya disembunyikannya. karena aku buta. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. ia memilih menyendiri. Aku memang tak punya mata. kakinya jenjang. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu.” katanya. Aku melihat garis pedih dan hitam. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. Tapi kalian mengatakan aku dusta. Sungguh. Baiklah. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. suaminya.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. Kadang tampak ganjil . daun-daunnya yang kemerahan. juga angin yang pucat kelabu. bayangbayang yang putih dan memanjang. dan Mawar. berdiri menunggu seseorang datang. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. dua tahi lalat kecil di punggungnya. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. Kuceritakan penglihatanku. aku langsung tahu. Tapi ia hanya tertawa. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. olehku yang buta. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. Seperti malam-malam sebelumnya. suaminya yang minggat. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. Bilur jejak luka di tubuhnya. Ia seperti dikutuk kecantikannya. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. 28 tahun lebih enam hari. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. gugusan awan merah muda. untuk kesekian kali. masa lalunya yang penuh kesedihan. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. Saat pertama kali melihatnya. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran.

kami akan menaruh matamu ini di surga. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku.” ”Kalau begitu.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. ”Mata ini akan membuatmu jelita. . dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. Jileng. ketika aku lahir dan menatap dunia. Aku tahu. Tentu. Aku memang memilih tak punya mata. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu.” Di rumah itu pengkor. Ia begitu membenciku. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk. dan ia bergidik ngeri. ”Dan kamu. dan berkata. Ada yang bongkok.” Tentu. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. ”Baiklah. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. kau bisa menduga. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. dan tak pernah mau menatapku. ”Biarlah aku tak punya mata saja. Perot. diberinya aku degup jantung. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah.” dan kaki pada tubuhku. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. kau akan melihat banyak rahasia. Kelak. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah. Melihatku yang tak punya mata. ”Aku tak buta. kamu bisa kembali mengambilnya. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. Ada yang gagu. Digerogoti kusta. buat apa aku punya mata. Ia membuangku. ia seperti menemukan barang berleleran. kenapa buta?” Ia sayu menatapku. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung.” ”Bila kau tak punya mata.” Lalu aku pun bercerita padanya.

Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Lepas 3 dini hari. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. tapi petugas yang lain segera berteriak. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. ketika beringas dari biasanya. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam. meliuk merunduk. Arak yang mengepungnya.”Lihat. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. Ia terus tertawa. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. Mungkin saat itu aku berteriak. Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. ”Lihatlah. Ia bisa kehilangan pelanggan. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. ”Bukannya aku tak percaya. ”Kau menyenangkan. Sebagian pelacur telah pergi. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Semuanya berlangsung begitu cepat. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Di pojokan toko. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda.” Aku bisa memahami perasaannya. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. Aku bahkan nyaris dicekiknya. Mungkin tidak. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding. Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. Tapi dengan apa kau melihat. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. rambutnya basah tertempias hujan. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. Ia pun hendak lari. Dunia memang tak menuduhku berdusta.” Ia kembali tertawa. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. tapi tak percaya. aku bisa melihatnya. Kutegaskan padanya. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir.” katanya. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. Aku seperti mendengar lecut petir. yang kusaksikan membuatnya terpesona. Barangkali ia pun merasakan firasat itu. kau pun takut menatapku. Kau mendengar suara. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. cahaya seperti lumer di sela jariku. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . Aku tahu menyeringai tertawa. kemudian yang lembek.

Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Sebagian kalian tertunduk. Di kasuk-kusuk. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. Begitu nyata dalam penglihatanku. Kalian mesti ke gereja. kalian pun bubar. kemudian bergiliran memperkosanya. memar. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. Di kantor. Maka menghapus bayangan buruk. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. Kuceritakan apa yang kusaksikan. burung gagak merah berkaokan. Rupanya ia mabok berat. Di ruang tunggu rumah sakit. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. seakan ingin saat itu hari Natal. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. kemudian digantung sebagai tontonan. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Setelah mayat itu digantung. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. kuceritakan apa yang telah kusaksikan. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Ada bercak darah di pisau itu. Wajah Mawar pucat. Di warung dan kafe. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. Orang-orang ramai membicarakan. Sampai malam. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. ketika Mawar menjerit. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. tapi mereka. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. Karena bagaimanapun seluruh kota. Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. Padahal bukan aku yang dusta. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. mulutnya. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Hujan rinai . Melemparkannya ke mobil patroli. Mereka selama ini kalian sahkan. Siapa yang membawanya? Baiklah. Ia mengamuk dengan buas. bibirnya bengkak kena pukul. Di pangkalan ojek. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Pelacur dan pembunuh. motong delapan korbannya. bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota. melenyapkan maksiat dari kota.

dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. Yogyakarta. tapi kalian menuduhku pendusta. Rambutnya ikal dan panjang. seperti ada cahaya mengitari kepalanya. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. Aku begitu terkesima menyaksikannya. kemudian menurunkannya. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air.tergantung dalam bayangan cahaya murung. Saat itulah. seperti memanggil nama pelacur itu. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. 2008 . Kuceritakan ini pada kalian. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. meski sesekali Kudengar ia berseru. malam mengelabu. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. Senyumnya seperti berjalan anggun. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. keemasan yang cemerlang. Aku sendirian di alun-alun itu. Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. Matanya seperti bintang bening. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun.

aman dan nyaman. piring. mereka belajar apa saja. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. karena peristiwa itu. meski hanya sebagai ayah tirinya. dan tidur. esai. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. teko. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. rame makan. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. saya hidup. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. dan sedih. tindih-menindih. juga cerpen. Malam itu. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. kami. Pada suatu malam. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. Ada yang mau memanggil dokter. pengamen. Di dalam gerombolan kami itulah. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. ember. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. lelah. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. pengemis. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri. Tapi. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. gelas. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. panci. apa pun yang terjadi. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. tidak penting untuk dipersoalkan. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. pemulung. Ibunya.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. rame- gelandangan. karena berbagai alasan. Semalam. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. sejak tahun 1997. membaca. memang milik Pak Darkin. menyanyi. yang selalu membela putri kandungnya itu. Untung. Sayup- . Setiap minggu. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. juga memasak. Nining. Saya ditemani kompor minyak tanah. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas. Kami menyambutnya dengan sukacita. dan menyanyikan lagu yang itu. dan bercocok tanam. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. Ada yang memijit.

Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. meriahnya. Saya digelandang terus. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. ”Saya tidak tahu. juga minyak goreng beberapa botol. Sesampai di jalan raya. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. Ia meradang. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. Pedagang ikan menyumbang ikan. tak ada sisa sama sekali. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. bahagianya. Tapi. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. Tapi. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. Pak . kaus oblong. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. Pedagang tak pernah kehabisan. Setiap habis gajian. Bernapas saja sangat sulit. Pedagang beras menyumbang beras. Saya heran. telor beberapa kilo. Ternyata tidak hanya beras. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. Sayang sekali.” jawab saya. saya bisa membantu mencarinya. kami kami akan bersedih sepanjang masa. kopi. Saya diseretnya keluar. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. beberapa ekor daging ayam segar. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. saya dinaikkan ke becak. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Aduh.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. Aduh. sayur menyumbang sayur. gula. dan peralatan mandi. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. Nining tidak bersama kami. teh. Rupanya saya dibawa ke terbangun.

Beliau selalu bisa membahagiakan orang. tidak mengajar. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. tidak mau diwawancara. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya. yang muncul hanya gelap gulita. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo.” ”Wah. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. ”Saya menunggu Bapak. beliau tidak berniat sedikit pun. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo. ketat sekali balutannya.” suara seorang gadis membisik. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. tidak mau diundang makan. Saya sadar. sedang untuk dirinya sendiri. Maka mengiriminya duit. pernah sejumlah terekam. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya. Tiba-tiba: ”Pak Totok. membujur kaku bagai jenazah. Saya tak bisa bergerak. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya.sebuah pekuburan yang gelap gulita. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu. Ternyata wajah beliau tidak . Pokoknya serba tidak. Tidak bergaul. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. Itulah jalan spiritualnya. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. tidak menerima santri. merupakan sumbangan Kiai Kintir.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. ”Saya Nining. kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. membanting dan membalut dengan kain kafan. Cerita lainnya adalah.

banjir sudah melahap seluruh kota Solo. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Tak terdengar geledek. berucap. mengambang hanyut seperti mayat. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Mobil. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. andong. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. Sesampai di jalan raya. Satu-dua orang penonton motor. Solo Baru. Semanggi. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. Tak terjadi gerimis. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. hanyut dibawa arus. Tangerang. Sejauh mata memandang. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian.Sejak dini hari. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. Dari jauh. Semuanya diam. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. Joyontakan . becak ditinggalkan pemiliknya. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Sampai fajar merekah.

Seperti malam. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. hidung terasa melekat. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Cinta pun membutakan. semakin gelap. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. Apakah benar masih ada hari esok. Tubuh kelihatan amat samar. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Seperti gelap. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. Mata saya mulai merapat. Dari penginapan. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. Sepanjang mata memandang. suara-suara begitu jelas terdengar. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Banyak orang yang begitu takut pada malam. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Namun. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Membuat mereka tak tenang. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. Pada gelap. . Begitu dekat. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. hanyalah kegelapan.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. di kebutaan seperti itu. Tak pernah merasa tak tenang. Orang-orang menamakannya cinta buta. Lembut mendayu-dayu. saya tak perlu meraba-raba.

Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Hangat kulitnya yang tak berjarak. saya bilang. bukan kala pagi atau malam hari. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. Bunyi ranjang berderak. Tapi dengan satu konsekuensi. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. adalah asli. Bertemu kala siang. Segala garis maupun dan bersatu. Tak terkecuali malam. atau malam? Karena buta. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. melainkan asli. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. Saya jatuh cinta. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. saya bilang. Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. Dicengkeram gerhana. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. saya akan bisa mengulanginya lagi. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Kalimat di bungkus kondom “ASLI. Suara yang semakin lama semakin serak. Semakin kabur. Mungkin malam akan membuat saya takut. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. atau Jantung keras berdetak. Antara lelah dan lelah. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Membuat saya Saya tahu. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Mata saya pun semakin buta. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Membuat saya kerap merasa terjepit. Tak terkecuali pagi. datang dari diri saya sendiri. Antara pasrah dan pasrah. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. melihat matanya sedang menatap. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit.

di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Jakarta. Diganti dengan jawaban. Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Mungkin… pagi dan malam. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Tak menunggu kala atau malam. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Sejak kemarin. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. . karena cinta telah membutakan kami berdua. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. Tak bertemu hanya kala siang. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya.mempersatukan tubuh kami jadi menciut. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir.

“Tante dan Om-mu. Beberapa hari yang lampau.” Nana merasa terkunci. saya membeli buku nama-nama calon bayi. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya. sekarang ada di rumah sakit. Sesungguhnya. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater. adik bungsunya sambil menangis mengatakan.” Nana terenyak. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. Nana melihat Dara. Aditya (25 tahun ke-30. setiap keputusan hanya ada pada saya. Dua minggu yang lampau anak bungsunya. saya sepertinya sudah dapat firasat. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. “Ma. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. Tantiana. Setelah itu. anaknya. kalian berdua kan dokter. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. tahun). mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap. Adiknya berkata. Jadi.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. Padahal. waktu ke toko buku. jam berapa datangnya? Dari tadi. “Kalau tahu begini. saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. “Datanglah bersama Dara. dia baru berusia 17 tahun. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. “Mbak. Dara. Aku bosan . positif hamil. Nana menunggu!” meneruskan omongannya.” sampeyan kok belum datang. Tantiana menangis terus. “Dik. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya. Mereka mencari sebuah restoran. Seperti dua “Ma. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. sekalipun berprofesi dokter. Alvin. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. adik bungsunya menelepon HP-nya.” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma. lebih baik kita naik kereta saja. Rizal kan cuma teman. Sebelum terjawab. menikah! Mendahului anak sulungnya.” Nana mengatupkan bibirnya.

Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. Sekalipun. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara.Dara tersenyum. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. Sesungguhnya. kau tidak peduli pada mereka. kata kuncinya cuma satu. kau lagi ingin serius dan sendiri saja.” Apalagi. jarang bisa ngobrol. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai. sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. saya tidak bisa janjikan itu. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. Apalagi. Kami tidak merisaukan hal itu. Padahal. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. Didit tidak meneruskan sekolahnya. Nana seharusnya berkata begini.” Dara. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. Kendati mereka masih tinggal serumah.” Mereka saling melihat. “Waktu kau beranjak remaja. memegang tangan mamanya. Mulai sejak itu. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. Kedokteran juga serius. tapi kemudian Nana berpikir. Tapi. apa pun pendapat masyarakat. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). Siapa pun tahu. Padahal. tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia . aku diliputi perasaan gelisah. kemudian mulai pacaran. Yang terjadi di luar mimpi kami. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. kau menikah. dia menyukaimu. Padahal. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. sejak lulus SMA. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). aku kepingin jujur kepadamu. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. berapa pun umur Dara. Tapi. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu.” sedih sekali. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. “Ma. Pastinya mereka menganggap “Maaf.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. “Setelah Aditya menikah. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan. “Ma. saya perempuan yang berat jodoh. Sekalipun Nana merasa.

” “Dik panggillah dokter. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara.” Dara merasa tak berdaya. Jadi. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. Tapi setelah dewasa. banyak hal yang dipikirkan. Dia merasa jijik! Namun. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali. Sehingga Rizal berkata. kalau kau mau cerita. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit.” “Mama kan tahu. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. “Ma. harus berempati saja. Sebagai seorang dokter. Padahal. dibicarakan oleh mereka berdua. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. Karena. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat.baru saja berusia 13 tahun. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. ketika mencoba bercinta dengan Rizal. kalau sudah begini.” Kemudian ada dering telepon lagi. sekadar dokter dengan pasien. tapi dua orang yang sangat dekat. pada persekian menit. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. Lantas. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. Rizal. Sampai hari ini. Tapi. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya. bukan bersimpati. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. pesawatku delayed. sekalipun mamanya juga dokter. Sekalipun. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. “Dara. “Sebagai seorang dokter. untuk menguatkan satu dengan lainnya.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. seperti semua dokter. dia tak berhasil. Semuanya memang harus diselesaikan. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya.” “Ma. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. . hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja. Pastinya. terapi ini tidak berkelanjutan. Nana memegang tangan anak perempuannya. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya.” Dara berbicara lagi.

aku kepingin anakku ini punya dua adik. Karena untuk kesembuhan ini. “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. aku tak akan pernah bertanya lagi. Teman-teman anaknya berteriak-teriak. “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. Percayalah. yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. butuh proses yang panjang. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. Rizal. ketika Nana berkata. Tantiana sedikit tenang. cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang. jadi kita bisa membagi. “Zal. dan melebar di ruangan ini. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. senyum ada di antara Dara. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya. 10 Juni 2008 . Jadi. biarlah jadi anaknya Mbak Dara. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. Nana. Nana memeluk Dara. Aku yakin kau bisa memahami itu.” Lantas. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. Kalau tidak. Sedangkan anakmu. Bahasa simbol itu artinya. “Dik.” kesakitan. Setelah anakmu lahir. tidak bisa diperbaiki. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. belahan hati suami dan istri. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. tiga darimu dan dua dari Aditya. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. aku memaknainya lebih jauh.” Tantiana menangis. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini. Di luar dugaan. Tidak ada air mata. Yaitu garwo (sigare nyawa). Rizal tersenyum dan memeluknya. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. Beberapa bulan kemudian. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. Ketika memasuki ruangan ini.“Sayang. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. dihadiri Rizal dan mamanya. lahir anak Tantiana.

“caah caah caah!” September. kabut berebut kecup pipi mereka. Orang-orang menyebutnya siit . Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. langit kadang biru. bila langit sedang bahagia. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. Pada bulan yang sama. Ada fotonya. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. Tapi semua orang tahu. Bertahun-tahun selalu begitu. menggerus apa saja. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. Dahan dan batangnya dari besi tempa. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Sangat pagi. Warnanya lebih tua dari langit. apalagi waktu seekor uncuwing. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Dulu. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. raut pinggul gadis-gadis menari. kadang kelabu. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Itu bisa terjadi meski di siang terik. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Ada jembatan di atasnya. Lantai semen sudah ditambal keramik. tiap tahun. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Tak ada yang beda. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. meski warnanya juga hijau. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. diganti genting Jatiwangi. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Tak ada lagi berita dari Nining. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Rumah tak lagi setengah bilik. Saat matahari menggeliat. Cat tak lagi kusam. tempa. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Hujan malas berkunjung. semua berisik dan bocor kala hujan. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Embun basahi sepatu sekolah. sungai-sungai keperakan. meski sama-sama biru. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Paling seminggu sekali. Saat itu seisi rumah ketakutan. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Sudah seminggu tak mampu bangun. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. halaman depan. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Namun ia tetap berusaha tersenyum. sungai itu. Di bawah. sungai itu juga bisa mendidih. burung berkicau di pucuk daun kersen. rumah. Waktu membuka pintu. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Sungai itu selalu mengalun perlahan. pegunungan ikut merona. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. berkerlip menyilaukan.

tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. esoknya Abah mulai bisa duduk. “Komar. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. “Sieuh. Menjerit memanggil kematian. tapi karena sakit. Komar. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. Siit uncuwing pembawa kabar duka. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. “Belum waktunya anakku kau jemput. uang. Tak menapak di mana pun. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. Nining! Bantu Enin. Malah tampak riang. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. pergi sana. Ia hanya katakan pada Arum. Ia terbang menuju lembayung. tapi tak diobati. panik. cepat sehat. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. “Arum. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. begitu kepercayaan Enin. halig siah. burung itu menjauh dengan senyap. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Lepas magrib sambil membawa abah. sieuh. . Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. bahkan hingga tahlil seribu hari. Tapi tangis ledakkan rumah. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. terutama Nining. Entah kebetulan atau bukan. Sakit. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. Enin peluk buah hatinya dengan haru. Sieuh. Tapi. sieuh.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

deringnya sudah berhenti. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. buku.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. ’Saya selalu teringat Satria. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. ’Satria sudah mati. jendela. . ”Hmmh. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Ibu. Ibu terdiam. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. Ibu Saleha. dan duduk lagi di situ. ”Bapak… Kursi itu. dan kami masih seperti orang menunggu. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. Ketika disambarnya pula. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. Pintu. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Ibu bergumam. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. Seperti ini juga keadaannya. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. ’tapi cinta adalah soal kata hati. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. Telepon berdering.” katanya. meja itu.’ kataku. Berharap dan menunggu. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. ruangan ini. saya tidak bisa’. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria.’ kata Bapak. Diangkatnya ke telinga. Lantas melihat ke sekeliling. televisi. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. perabotan. Rambut. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. Ia menggigit bibir.’ katanya!” Berharap dan menunggu. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. lukisan itu. Saras. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. telepon. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. wajah. memang rasanya ia seperti anakku juga. membantu aku membereskan kamar Satria. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. Saras. seperti Saras itu punya dua ibu. ruang dan waktu yang seperti ini. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria.

dan akhirnya dibunuh. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. Di hadapannya. ”Bapak sendiri yang bilang. aku masih mati. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. padahal aku selalu makan sendirian saja. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. tutup matanya dibuka. Nanti dulu. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas. seperti Ibu berada di dunia yang lain. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak.’ katamu.” Dipandangnya kursi Bapak lagi.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. Munir juga sudah mati. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. Bapak sudah mati. Pak. kenangan. sekarang untuk kalian berdua. Foto orangtuanya. Aku terima Satria sudah mati sekarang. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. Jiwa terasa memberat. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. Impian. Menerima? Menerima? Baik. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . dianiaya. tetapi kalau terbangun. Saudara. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria. Bapak. juga terkenang-kenang kalian berdua. Satria sudah mati. menata gelas dan piring. ”Pak. Lantas orang-orang itu berkata. ”Sudah sepuluh tahun. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam.

”Menculik anak orang dan membunuhnya. menutupi wajahnya. luka sayatan yang panjang dan dalam. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. o palung-palung luka setiap jiwa. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya. Mencoba menjawab sendiri. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. seperti palung terpanjang dan membara. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. jauh. menyatu dengan jiwa terluka. Lantas bertanya-tanya lagi. Hanya bertanya jawab dengan Bapak.”…. jauh. ke langit. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. mengembara dalam kekelaman semesta. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. membara dan menyala-nyala. dan aku masih tidak tahu apa-apa. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. ”Tapi…. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin.” Nada bicaranya menjadi dingin. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. berbisik tertahan. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. memegang kepalanya. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . Bapak. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak.

Ibu tampak mengenali.’ kataku. banyak yang sudah berubah. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. sampai setahun lamanya. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. malam entah karena apa. bagaimana dia diperlakukan. pakai kaos oblong dan sarung. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. Tapi selalu ada. menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. kursi itu seperti biasanya. ”Bapak. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. Ibu masih berbicara sendiri. menonton itu. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham.Terdengar dentang jam tua. Duduk di . banyak juga yang tidak pernah berubah. Tidak pernah ketemu lagi memang. datang menengok cuma hari Lebaran. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. menyeruput teh panas. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. tukang bakmi langganan Satria. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. ”Bagiku Satria masih selalu ada. ”Bapak. Lupa ini-itu. dan hanya didengarnya sendiri. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. membaca koran. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. malah seperti lupa. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. makan pisang goreng yang televisi. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. memberi komentar tentang situasi negeri. luar negeri. Dasar Bapak. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. tapi tidak memanggilnya. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. di kursi itu. lantas ngomong tentang dunia. Ia selalu bertanya. Di luar rumah.” lewat. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. Tidak jelas jam berapa. Muncul dong sekali-sekali Bapak. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. kadang aku seperti melihatnya di sana. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. ’Ya enggaklah kalau ngibul. Ada saja yang dia omongin itu. orang.

”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. ”Ceritakanlah semua rahasia…. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku. ”Ya. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. ”Kursi itu tetap kosong. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. suatu kejahatan.” gumamnya. Hanya lewat. ”Pasti ibunya Saras lagi. ”Ini suatu aib. Telepon genggam Ibu berdering. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. tanpa senyum. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga. Ibu beranjak mengambil telepon genggam. Tapi rupanya bukan. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah.” Ibu masih berbicara. Rahasia kehidupan. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak. malah Si Saras. ”Eh. Ibu seperti tersadar dari mimpi.

Hayati berlari begitu cepat. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. Tentu. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. perahu tetap teronggok sejak semalam. Para nelayan memang hanya tahu perahu. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. lantas melangkah ringan Hayati. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. . sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. seolahsamping gubuknya. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. sejak bertahun. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. sejak beribu-ribu tahun yang lalu.

menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. “Hayati dan Sukab saling mencintai. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. “Ke mana Hayati.” “Perahu Sukab menyalipku. Jawaban mereka bermacam-macam. tetapi membentuk suatu rangkaian. Pada akhir hari setelah senja menggelap. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. Kulihat mereka tertawatawa. mesinnya sudah mati. dan memang selalu kencang di pantai itu. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. “Cabut badik? Heheheh.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan. dan perahu- Menjelang tengah malam. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal. “Ya. . kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya.” Nenek itu memaki. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. ya. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. burung-burung camar menghilang. “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. aku juga sudah bicara kepadanya. perahu Sukab belum juga kelihatan.” “Oh. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. sangat kencang.

Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. berkeringat. lemari kayu yang buruk. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain.“Aku lihat perahunya. nenek tua itu menggerundal sendirian. bukannya tambah penumpang. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. berikut pancing dan bubu. bergemeletuk seperti sebuah mesin. tapi mungkin ada juga yang lain. dan jala di dinding kayu. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. Alas kaki yang serba buruk. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. meja buruk. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. Dipan yang buruk. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. Wajahnya pucat. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. tetapi tidak seorang pun di atasnya. kursi buruk. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. tetapi tampaknya sudah mati. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. Ada juga pesawat televisi. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. Sebuah foto pasangan bintang film India. hanya sandal jepit yang jebol. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. tentu saja tidak ada sepatu. . Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. mulutnya sebuah koyo. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab.

Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. kedua. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. karena memang sering terjadi.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji.” kata seseorang. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. Hari pertama. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. “Ya. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. Ibu. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. . begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. “Aku memang hanya orang kampung. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. melalui perceraian. Nenek tua itu terdiam. dan sangat mungkin.

Kulit terbakar. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. Keduanya mengerti. mungkin bukan mati. pada hari ketujuh. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. Di pantai.” sahut yang lain. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara.” mana mau ia mencari ikan bersama kita. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. Sabang.” Segalanya mungkin terjadi. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. pakaian basah kuyup. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam. Keduanya terdiam saling memandang. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. Hayati. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. Sukab tampak lemas di atas perahu. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. April 2007 . sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka. Desember 2006/ Merauke. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. “Kukira mereka tidak akan kembali. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali.

Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. mereka menginap di kaki lima. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek. mereka datang untuk mengemis. Semuanya ia tangani sendiri. mereka selalu datang selama bulan puasa. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. dan nanti menghilang setelah Lebaran. perusahaannya pun banyak sekali.” . Aku tidak bertanya lebih lanjut. tetapi Kakek tentu saja melarangku. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja. Dari jendela loteng. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain.” “Oh. memasang tenda plastik. dan tidur-tiduran dengan santai. Apabila tanah lapang sudah penuh. karena kakekku adalah orang yang sibuk.” kata Kakek.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. menggelar tikar. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. atau bahkan di depan. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. rumah gedung bertingkat. seusiaku. Di samping menjadi pejabat tinggi. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung.

Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela.rumah orang untuk mengemis.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. menyebutkan kata-kata semacam. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. memang selalu kulihat mata yang menatap. pula. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. bahkan mobil pagar. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu. Benarkah. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. seperti kata Kakek. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. Kakek tidak pernah menjelaskan. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. “Hati-hati terhadap orang miskin. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. tidur-tiduran menatap langit dengan santai. depan rumah.” atau “Orang miskin itu jahat.

Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung.” kata Kakek. Lagi-lagi Kakek menghela napas.” “Ya. mendapat omelan panjang dan pendek. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. dan hidup di dalam rumah.mengantar kolak untuk berbuka puasa. >diaC< Pada hari Lebaran. seperti hadir begitu saja di dalam kota. makan di meja makan mereka. entah dari mana. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung.” Para tetangga tidak membantah. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. biasanya kan begitu. itu banyak yang pulang kampung. Pada hari Lebaran. melompati pagar. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. padahal hari Lebaran sudah berlalu.” “Tapi kali ini banyak sekali. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka.rumah gedung itu. penghuni rumahrumah gedung satpam. bahkan sebagian telah pula masuk. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah. “Tenang saja. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. dititipkan kepada tetangga. kokoh. pasti tidak lewat jalan tol. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. dan mewah dari luar pagar tembok. karena tentu mendahulukan Kakek. tidur di tempat tidur mereka.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” . pulang ke Negeri Kemiskinan.” kataku kepada Kakek. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. merayapi tembok. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek. kuat. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. mandi di kamar mandi mereka. Mereka juga berharap begitu. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. asri. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota.

“apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. menduduki setiap tanah yang bertingkat. Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang. melompati pagar. tinggal di sana entah sampai kapan. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu.” sahut Nenek. bahkan merayapi tembok. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur. Heran. Barangkali saja untuk selama-lamanya. Minggu. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan.” menerima segala akibat perbuatan kita. 7 Oktober 2006 kosong. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang.” katanya kepada Nenek.” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. Pondok Aren. gerobakbanyak.“Ya. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. setelah hari Lebaran berlalu. memasuki rumah-rumah gedung .

jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. tetap menggelisahkan. Aku mengatakannya semacam takdir. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. Memang kembali. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji.Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. menjadi pasangan baru. Apabila kami berbeda kulit. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. lantas saling mencintai. tetap membara. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. namun kami udelnya. tetap bertahan. tetap misterius. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. kemudian berbeda kelas sosial. lengket bagai benalu. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. dan bukan takdir itu sendiri. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. Hanya kekosongan. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. karena kami memang tidak terpisahkan. membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. nah. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan.

apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. yang sekarang berada di Pulau Komodo. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. yakni cinta yang dahsyat itu. sebagai manusia biasa. Tetapi. Karena undang-undang melindungi komodo. kami akan saling mengenali. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. juga dihuni komodo. Karena kami selalu berperilaku baik. Cinta yang sejati. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. bisa berupa kursi kekuasaan. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. begitulah. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. bersentuhan sama sekali. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. Akibatnya. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. Hmm. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. Cinta diuji oleh cinta. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. di tempat yang baru itu. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. kukira. Hanya kekosongan. Namun. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. Sebagai seekor komodo. Atas nama cinta. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. masihbisa mencintaikekasihku. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. dan aku tidak mengetahuinya. Laut dan langit bagai bertaut.

langsung patah beberapa bagian. hal 75. dan meluncur masuk ke kubangan. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. Sudah jelas ia tampak kelaparan. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. Semuanya sudah terlambat. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. East of Bali: from . kurator Museum Zoologi Bogor. Di dalam tubuh itu 1. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. Baca Linda Hoffman. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. dengan jumlah sekitar 1. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. terdapat pula di Pulau Rinca. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. Nostalgi=Transendensi (1995).000 ekor. hal 111-114.hatiku terasa kosong. aku menjadi ragu. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo. Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. dan mencintai kekasihku…. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. “Introduction” Lombok to Timor (1997). Ternyata. Cintaku Jauh di Pulau (1946). Labuan Bajo. seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. 2. Bersenjatakan tongkat bercabang.650 ekor (1994). Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta. Kalau aku tidak keliru. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. Aku terpeleset dari tebing. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. sebanyak 1. sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu.

mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg. yang lenyap di Poreng. Muller. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. hal 112 tahun. ibid. Lebih Ikram. pada 1972. Pulau Komodo: Tanah. namun terjadinya di Pulau Rinca. dan Bahasanya (1987). Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- . terdiri atas 400 KK (2003).3. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya.. kaki tiga untuk kamera. terjemahan A 5. Rakyat. 4. cit. satu-satunya kampung di pulau itu.. hal 111-2. jauh baca JAJ Verheijen. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. Mereka menyebut komodo sebagai ora. dalam Muller. op. Kampung Komodo.

” “Untuk kita. “Aku selalu menyukai lagu itu. Julia.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan. “Belum. Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas. Ada nada pedih. Muy bien. meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah.” katanya.” kata si wanita beberapa saat kemudian. Seperti ada beban yang menindih. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya. “Si bungsu. “Ya. Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya.” Seorang pria duduk di sebelahnya. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya.” Si wanita tersenyum. “Una hija. Sesaat ia diam. Elena?” “Bien. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani.” . Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. Si pria menoleh. barat sana. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu. Bara cinta meletup di dadanya. Pedro. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya. Ia setua si wanita. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. Muy bonita. “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song).” Tersenyum. Suaranya datar. Kepalanya botak. Pedro. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka. hoy. “Como estas. Suaranya lirih. untuk kita. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga. Mi Jaragual (My Little Farm). tangan si wanita memegang tangan si pria.

Pedro datang dengan segala atribut El Barca. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp. Aku cuma Si wanita tersenyum. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. Begitu juga Elena. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan.” Malam terus merayap. Dalam benaknya. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. cinta mereka berdenyut. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. Pedro. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita. bertaut. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez. Pedro? Por que?” si wanita menoleh. si wanita membatin. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya . Ia selalu merindukanmu. Monumental de Barcelona. Akan ada dua Raul di sana. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir. “Kalau ia menuruti kata-kataku. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. Ia masih tampan seperti dulu.” Mendadak si pria tersenyum getir. Dalam sekali pandang. memandang laki-laki di sebelahnya itu. Api cintanya membara.0<>w 8000m< 26 tahun lalu. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp. Di wajahnya berdebar. Kau bisa pura-pura bahagia. Demi aku. Di musim panas. Api cinta bergejolak di dadanya. matador legendaris yang amat masyhur. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya.” kebanggaanku meski aku orang Basque. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. meskipun itu Si pria melirik si wanita. wajah Raul bergulir.Si pria menarik napas.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. Begitulah selalu di Spanyol. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi. Tak sabar. Tanpa berkata. Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. Tangannya masih juga memegang tangan si pria.

bukan?” si wanita menjawab. Kesejukan di hatinya singgah. “Buenos dias. muncul belakangan. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. “Kukira sudah terlalu malam. keduanya krim di tangan mereka. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. Mengecup kening si wanita.” Si pria bangkit. menghentikan langkah si pria. Lalu mereka . Elena. Hasta luego. si pria tua itu.” Si wanita tersenyum. “Buenas noches. ia memang tak ingin menghitung. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. ia duduk di sebelah si wanita. si wanita berambut keemasan itu. “Sudah saatnya kita berpisah. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka. Kelompok Elena. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa. “Te amo.” “Mi.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. Sejak dulu matamu selalu bagus. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. Lalu. tongkat di tangan. Tanpa menunggu jawaban. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. ada yang dalam gegas. Mereka tak menadahkan tangan. “Seperti yang kau lihat. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan.” kata si pria kemudian. Ada yang santai.” Elena tersenyum sumringah. Seperti juga hari-hari sebelumnya. “Pedro.” katanya begitu tiba. Elena. Tapi. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. Aku pamit.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan. Tanpa menoleh. didudukinya. Pedro.” katanya. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas. Suaranya agak parau. Di dadanya rasa nyaman merambah. Mereka menjual kepandaian. Tanpa tongkat “Buenos dias. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. tambien. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas. “Kau sehat?” si pria bertanya.

Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. Sariawan membuat gusiku peka. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. “Ya. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. setelah setetes benih juga Tapi. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. Si pria menoleh. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. Elena. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. Jika aku berkata jujur. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. Selain Nou Camp. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. “Kau mencintai istrimu. Mereka seolah cuma ada berduaan. Cinta mereka memang terbelenggu. tepat. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. cinta mereka tetap bergelora. Pedro?” si wanita bertanya. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. tertawa-tawa berkakakan. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya. Demi sebuah bisnis keluarga.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. Api cinta mereka memang terpendam. Tapi tak pernah padam. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. Dalam tubuh yang renta.pejalan kaki yang berseliweran. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . api kasih masih panas membara. katamu gigimu sedang sakit. si wanita terkasih. bukan?” si wanita menoleh. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. Si pria tersenyum.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

matador pemula. Muy bonita. sebutan umum untuk matador. Novilladas. Cantik sekali. parade para matador sebelum pertunjukan. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. El Merengues. Gairah di dadanya pun meletup. El Barca (baca El Barsa). Como estas. Keheningan mencekam. julukan klub Barcelona. tambien. Te amo. Hasta luego. selamat siang. hoy? Apa kabarmu? Bien. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. Sampai kemudian semuanya berhenti. . Plaza de Toros. La Liga. “Tak ada yang perlu dimaafkan. Paseillo. Pablo. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. Tak ada yang dapat dipersalahkan. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. Si wanita tergagap.” kata Julia lirih. Mi.” kata Pablo. aku juga. nama mata uang Spanyol. selamat malam. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. Pesetas. Raul. seorang anak perempuan.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka. bintang dalam pertunjukan matador. Dalam sunyi abadi. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. baik. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. Por que? Kenapa? Torero. Dalam gelap. Nou Camp atau Camp Nou. Tak ada yang menyahut lagi. sampai jumpa. baik sekali. dan Javier berdiri berjajar. Mendaki dan mendaki. tetap tertunduk. Julia. Una hija. Matador. kandang klub sepak bola Barcelona. Muy bien. Mendaki. aku cinta padamu. Barreras.tempat duduk paling tinggi. tempat pertunjukan matador. divisi utama Liga Spanyol. Dalam peti berbalut kain hitam.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. Gradas. Buenos dias.* Jakarta. ruangan itu gelap. julukan klub sepak bola Real Madrid. Buenas noches. Dengan baju serba hitam. Lalu. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam. kursi terdepan (termahal). Jantungnya kian kencang berdegup.

sayangku (My dear). Puerta grande. pintu utama.pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. .

yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. mata bunda terpejam. tujuh anaknya. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut. sambil terus melaju di jalan tol. Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. Palinggam. Nanti sore kuantar…. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. naik jabatan). laiknya anak muda. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. Mereka . Dengan masalah yang juga tambah banyak. seperti jantung kita. tamat kuliah. Namun abangku. doa. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu. pasti beliau tidak tidur. didampingi seorang cucu. Tahun lalu. “Oh. “Terus sajalah. seminggu ia menginap di kantor polisi. Dan saat kulirik ke samping. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. juga nasihat. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. Tapi. telah lama kami hindarkan terhenti.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. kabar buruk dari beliau. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. Makanya. Palinggam…. menutup mata serta telinga beliau. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas. menutup-nutupinya. mengikuti perkembangan mereka. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. Libur. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. Kasus dan sakitnya abangku. melihat anak. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. “Libur kau.” Ia cengar-cengir. Ia tergeragap. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun.Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. Senyam-senyum.” Aku lalu diam dan terus menyetir. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. cucu. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. Justru itu. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. dan cicit yang makin henti berdenyut. Tempo-tempo. “Baiknya Bunda istirahat dulu. jika ia tahu. dan cicit. Isinya ucapan selamat. cucu. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. panik. naik kelas. Tiap banyak. Ya. Merenung? manggut-manggut. keras kepala. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. Om. Seluruh keluarga heboh.” kubilang. harapan. kulihat keponakanku di jok belakang. tidak berani membayangkan.

matahari pagi. pada usia senja? Merasa gagal. tangguh. berempat. “Diajak kawan-kawannya. Syukur. Kak Leila berpura sibuk. anak-anak kami. nenek yang risau itu memanggilnya. Pun ulah cucu. “Sudah. Ingin kencing. seperti orang- Aku makin gugup.” adikku Rosa menyahut. sudah. “Lagi di jalan. Atau. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. Dari istriku. “Masuk rumah sakit. berucap lunak. Herman pulang. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi. o.” “Cuaca buruk. ingat suami yang jarang pulang. baginya tugas ayam dan kucing. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. Semuanya digaruk. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi. “Naik gunung. Dan bunda tetap menoleh. Lihat. bicara sendiri saja.” jawab Kak Leila. tak lama lagi Grogol. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali.” Tiba-tiba aku jadi gugup. “Baik saja. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. Palinggam.semobil. HP-ku lalu berbunyi. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi. memandang jalanan. tak Herman kabarnya menangis. kurusnya engkau. “Biasa itu. “Apa maksudmu?” “Maksudku.” kubilang. tak apa-apa Bunda. si Herman. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah.” Kusodorkan . Pucat pula. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. Bunda tentu tidak diberi tahu.” kubilang. O. Agar mereka jadi manusia. Maksudnya membantu Kak Leila. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup. pulang dari rumah sakit. Tak apa-apa. menanti jawaban. Lalu Slipi. disekolahkan hingga tinggi. Pandai-pandai mencari kawan. Dan saat umur muda Herman. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau.” Dan diam lagi. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. Nak. dituduh korupsi. Dan bunda menyergap orang itu?” pula. dan berhasil. anak laki-laki. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia. Rosa langsung diam. Bunda? Sehat. Kawan yang baik. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa.” “Eh.

ditemukan adikku Rafli di pantai Padang. meluncur mulus ke Kebayoran.” ujarnya. Semua saudara Batam. berhenti di tempat parkir khusus keluarga. Tapi. Aida. Nak. Ya? Besok-besok. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. Kalian bagaimana? Syukurlah. menangis tersedu. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun.” ia bilang. Lalu.” Mudah-mudahan lama. hah. Mau bicara. pulang dihubungi. Bunda. “Aku cuma khawatir. orang sibuk kasak-kusuk. HP ke bunda. sehat Nak. Tahu kalian. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang. alis bunda tetap bertaut. siswi SMU kelas dua itu. Anak gadis kakakku. Eh. Aida tak jumpa. Aku berbelok.” Aku diam kembali.” kataku. sibuk benar kudengar istrimu. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. Lalu ia mendekat.” “Apa kata Nina. Biar dia lupa bertanya. Alhamdulillah. Harta meruah. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. Kemudian tertawa. Bunda. tambahku tanpa suara. “Jangan kalian berahasia lagi. Aida. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. tak juga puas. “Nina. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. bebas dari di luar. masih kuat aku ke Jakarta. Dan. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. Ini. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu. Mereka tahu sehari setelah kejadian. si Aya. karena bunda lantas bertanya. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. Sering ke luar kota. Kakak dan abang iparku kalang kabut. Nak. Bunda. bersama pacarnya. seperti biasanya. Cucuku. Termasuk polisi. Andamsari. Namun boleh jadi berlebihan. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir.” “Nina manajer pemasaran. sudah gadis bukan? Sudah SMP. Terpikir olehku. “Biasalah. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. Ke luar negeri juga.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. “Tanya kesehatanku. Kakak iparku. “Syukurlah. Memeluk bunda. Aida. sudah menanti di teras.” “Dan kau sibuk pula. Dicari serta ditanya ke mana-mana. suara bunda: “Nina? O. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya. . tanpa seragam. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran.Obrolan panjang. Mana cucu-cucuku? Oh. Aku lihat abang kalian itu dulu…. Kami sudah tiba di Semanggi. Pagar maupun gerbangnya tertutup. “Sibuk terus.

Nanti saja aku kabari. dimaafkan. Dan HP-ku kembali bernyanyi. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. Bang Palinggam terpana menatap bunda. kencing. Aku juga kader partai. “Sudah sampai belum?” “Sudah. itu isyarat dari abangku. “Aku punya atasan. pada hatimu sendiri. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. Dan aku merasa. “Aku punya kawan. Suaranya makin lunak. Abangku melirik.” dia bilang. Nina lagi. “Tak paham aku soal-soal begitu. Aku tergopoh ke toilet. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. Aku muncul.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam. “Apalagi kau. dipecat partaimu. Menarik napas. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. sayu. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja. Nak. Palinggam. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit. kini sudah bercucu pula. “Belum tahu.” ujarnya bak mengadu. mengapa kau mengelak diperiksa.” sahut bunda kemudian. Namun takdir seorang ibu.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya. Nak. seperti minta Bunda. Loyo. Juga kepada Tuhan. Bunda.hendak meledak. Aku di kakus. aku tetap bersih. Suara Bang Palinggam terdengar pelan. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. Dia menunduk. Bunda. “Namun hingga detik ini. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. Bunda diam. “Tetapi bagiku. Juga aku serta Kak Andam. . Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. melihat bunda lagi. memandang bunda. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. Mukanya kuyu. Kak Andam?” tanyanya antusias. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai. Dan negeri ini. Bunda. Matanya perlahan berkaca-kaca.” Bunda mengedarkan senyum.” Mengangkat muka lagi. hampir menyerupai bisik. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal. sudah. juga kepadaku. Palinggam.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Rasanya.

Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. grosir roti dan permen. akrab dengan pribumi. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. “Seperti ada dan tiada. “Di mana dia?” tanyaku antusias. dewasa atau jadi tua. Nius. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. lebih-lebih tukang gigi. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami.” Biju menerangkan dengan gembira. kendati kota kami tetap saja setelempap. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana.” .” tambah Amril. Hanya menatap. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. Si Talib di Dumai.” jawab Tum. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami. Dia dan keluarganya tergolong aneh. Bahkan mengerikan. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. seperti tidak kenal lelah. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. berai. Berubah sekarang. “Seperti orang-orang di dalam mimpi. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. Ayah Bun tukang gigi.” “Hanya si Cudik. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil. Kalau aku pulang. kopi di simpang jalan dekat pasar.” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. Tidak sekalipun berkedip. Satu di Palembang. Nius. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. Hebat dia!” pensiun. Kami ajak bermalam tidak mau. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu.Jakarta. Nius. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. sudah bercucu satu. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela.

tidak halam! Enak laaa. Bak orang-orang dalam mimpi. “Itulah. diduduki hingga kini. Bagiku.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. mencangkunginya kecuali dia. Nius. seperti buang hajat. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. kembali menampakkan senyum yang ganjil. Tunik juga. Minumnya teh hangat. “Tidak halam. Biju dan “Makan. goreng serta roti lapis mentega. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. Suka-suka kami mau makan apa. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. berisi mohok serta teh manis. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. adik kelas kami. Juga pandai menjahit. Ibunya baik seperti ibu Bun. Sultani. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. tak pake babi laaa. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. atau menjelepak duduk di menggairahkan.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. Portir bioskop juga . lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin.” bilang Tum. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. Kami berebut. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. Dia kapten sepak bola. Tapi kami cegah. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu. Dan pernah pula Buya Makruf. Seperti di rumah Bun.” sahut Tum. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. lucu. suara itu. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. “Percuma. pintar di sekolah. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. mengantar kue mohok hangat- hangat.” ia sodorkan nampan perut kami. lantai. Lalu ia sambar roti. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. Matanya tak terlalu sipit. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. mencukur. mengajak makan. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren. kami kerap nginap di rumah Sultani. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. adik Bun. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. alias usil plus kurang ajar.

Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. . Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. Sultani berkata: “Sudah Bun. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. kopiah. laaa. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. Tapi aku merasa. Terbahak-bahak seperti hantu air. Iya kan. “Seperti model rambut Bang Rustam. jadi keras. Tetapi. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. Mestinya waktu kita kelas tiga. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. ke halaman masjid. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Kelas enam disunat.” “Tidak sakit. Ayah dan ibunya setuju. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. selesai!” Ayah Bun terkekeh. Bun mau potong bulung bole potong. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Kepandaian kiraahnya elok. mendampingi kawan itu setiap malam. Suaranya merdu. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Tak licin di sekeliling kepala. Ulah Sultani! Suatu kali. tajwid dan Bukan saja Bun. “Sebetulnya telat Bun. mencukur seperti yang kuinginkan. Jangan pula licin tandas bak kelapa. serta sarung beliau “terbang. Biar aku yang ngajar. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. Babah mau coba? Sret. Berenang kalang kabut ke tepi. “Ayaaa. itu turun dari ibunya. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. Dan sesekali. “Rambutku dia cukur. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Tunik juga. Mataku merem melek. tidur-tidur ayam. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. Ibunya tersipu. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. Aku malah tak sekali. Sebulan ditanggung fasih. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. tentu saja. Mukanya pucat serupa mayat.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. Baju. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. Rustam. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Setelah sembuh.kami. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. tidak terasa. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Dan Bun disunat. Rancak. kan?” Aku mengangguk. Mendesis-desis lunak. “Malah. ikut mengaji saja.

Tahi kambing. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. Bergelombang-gelombang manusia. Suara mereka teramat gaduh. Sejumlah orang menerabas masuk. Atau pergi. “Mulai Kariang. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. aku menghambur ke jalan.” kata Amril. Ketika kuraba. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. kurang ajar ya. tegak kaku di ambang pintu. aku menghindar.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. mendengar di mana Sultani. Mukanya menangis. Kusaksikan ayah Sultani diseret. Menyepak pintu hingga rubuh. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. suatu pagi. Tanganku dicekal. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . Tepatnya. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. Bagus juga kau gundul.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Buas sekali. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. malah sebelah sini terlampau pendek. Menangis. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. melihat aku di tengah kerumunan. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik. berteriak-teriak. Mereka terus berteriak. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. hasilnya nihil. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Sultani juga. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. Mereka menuju rumah batu. Eh. Aneh sekali. Pernah kami tanya ke situ.” lesu. Ibu Sultani berlari mengejar. meraung-raung. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. Tetapi mereka pun tidak tahu. kuratakan. Tum diam saja mendengarkan sunyi. Dia mendekat. Nius. Sudahlah. berdarah. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. Menghabisinya. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. “Tadi di sini terlampau pendek. sepekan rambutmu panjang lagi. dan orang bergegas Sultani. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Nius. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. diseret abangku pulang. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. Lututku menggigil. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu.

yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. Bahkan sampai kini. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan. walaupun tahun demi tahun .“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai. seolah-olah tidak pernah lelah. dua buah. 2 April 2005 berkedip. Hanya mata saja.* Jakarta. “Dan. Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras. “Semua orang bilang begitu. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. kemarin pagi.

melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung. Tidak jelas mengapa demikian. Adakalanya juga dari pagi sampai malam. Karena. anak. bercakap- Betul. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat). orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. Ya. Meski cuaca cerah. mirip dengan warga melambai dan menyapa. tetapi juga tukang emas. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. jangan pula payung. Paling-paling orang hanya bergumam. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. hidupnya. . karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. atau makan kacang goreng. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. dan seterusnya. walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. petang atau malam Tetapi. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa. tukang serabi. tukang rokok. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. penjual kerupuk. “Hoi. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. kembangkan payung. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. hujan dan hari. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. Kecuali. juga sosiolog. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. Karena itu. di kota berniaga. meski aktivitas seseorang berjualan.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. siang. tukang serbat. ya. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. Kadang-kadang pagi. Begitupun tukang sate. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana.

tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. Namun. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit. Tetapi. Lagi pula. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. sebesar jempol. lepas-lepas dari kacang goreng. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. sepuluh atau selusin. Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. jangan dikata lagi. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. serta kegemaran orang memakan kacang goreng. tetap belum ada yang sanggup “Ah. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. Dan. “Tetapi. terus.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. makan kacang goreng jalan “Habis. tikungan-tikungan jalan. di muka rumah sakit. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. kalau itu. perlu penelitian. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. Gemuk.Sekalipun kota kecil. tukang kacang goreng. Malah bangga. Bahkan. “Ini. beberapa waktu setelah bubar bioskop. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. Pada hari raya dan libur-libur panjang. panjang. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. depan asrama tentara dan polisi.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. memang lain kacang goreng kota kita ini. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. Mereka mangkal di emper-emper toko. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. Bertengkar. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. Juga. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. tiada bandingan!” .

sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. itu Mak Sanin!” ujar si suami. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. kami punya ilmu. dan selalu merah menyala. . Ibarat… .anak justru takut pada Mak Sanin. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. ilmunya tinggi. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya. tunggal sekaligus penjaga kota kami. Bancah Laweh. Cubadak Bungkuak. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau.tambalan pada jas yang sipit. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. tak-tuk-tak. Kumisnya pun lebat melintang. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. “Ibarat penyair. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. Ibarat pelukis. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. Tenang. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. Menyelusup manja ke pelukan suami. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. Tetapi.pinggiran kota kami. Makin malam. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. anak. Juga karena dia “berisi”. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak. Biasanya. Orang-orang terbangun. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota.“Ya. Berhari-hari berjualan. istrinya dipakai Mak Sanin. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. ingin makan kacang goreng. kepala. dan warnanya hampir tidak jelas lagi. khususnya di kalangan kaum ibu. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru.tenang saja dia melangkah. dia Affandi. “Hah. tanda Mak Sanin berjualan. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. Dengan jas itu-itu juga.

seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. tahu benar aku. malam!” Tetapi. harum bercampur peluh. pada suatu malam. Jakarta. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. Padahal.” kata ayah bagai orang kedinginan. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir . sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. Karung goninya entah di mana. Tujuh lubang peluru. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. enak atau dia bertingkah. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. “Huh. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. ketika ramai-ramai di tahun ’66.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. kota “Padahal. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang. Tetapi. Dan besoknya lagi. Hanya berdua. Warga yang lain tidak. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. “Seliter saja ah. Cukuplah. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. sudah mereka tunggu-tunggu.” “Yo! Eh. pengantin-pengantin baru.” Dan. Dan. Besoknya.kisi jendela. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. tegak menanti di ambang pintu. Mak Sanin!” Dan. Dengan jas yang ituitu juga. Mak Sanin. Tetapi. “Masya Allah. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. Belilah. mungkin juga tidak mau tahu. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. Semakin jauh. Dan. Bergegas mereka benahi diri. Kemudian. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu. Cobalah. Tidak bakal menyesal. itu biasa. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati.“Beli dulu kacang gorengnya. bahkan hingga kini. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. berkibar-kibar ditiup angin malam.

masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. dan di kemengangaan mulut. tidak bisa memanggil siapa pun. Bisakah manusia bebas dari waktu. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. di mobil. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. saling kontak-sentuh. agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. Di pagar rumah. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum. di layar monitor. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. di pintu. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. ”lakukan semuanya semaumu. di meja di ruang tamu. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. di perut yang hanya diisi kopi. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. di bundaran lampu lalu lintas. di dapur. Berdetak-detik di dalam pendengaran. Bilang. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. di lembaran kertas. di pintu halaman. Lik War menggeleng. Di jalanan. berteriak. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. di motor.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. dan begitu lepas sepanjang jalan. Jam di mana-mana. bersebelahan. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. di dinding. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. di bak air dan di gayung kamar mandi. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. di mana setiap pitstop. Manusia selalu berada dalam . yang diam-diam maju terus. di ranjang dan bantal kamar tidur.

untuk tolong. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. Lik War pun tersenyum. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. ”Terlalu banyak kendaraan. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang.” kata lik War. yang menembus ladang dan sawah. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung.” kata lik War. Kami . bumbu dan yang lainnya.pikirku. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang. ”Aku jadi pengen ke Jakarta. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang. serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam. what ever will War. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited. ”grammar apa tuh?”. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam.” Kami menelan ludah. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. Lik War pun mengajukan usul lain. yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja. yang mungkin hanya menggeleng. Dan setelah itu. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. titik saling ketergantungan. pikirku. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang.

ibunya. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. Sri. menjadi rembulan gaib di saja. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. lantas bertemu setahun sekali di kampung. Lania.panggil dengan sebutan No Tit. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. Nonik. Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. Koral dan dan di kampung sini). dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu . semodel de Grana. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. dan Tyas. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. ”macak dan akting pengemis. memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. atau penghuni kompleks semodel Tri. Ia menganjurkan jadi kernet. ”Atau ikut Arpan. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. ”OK!” kata Marto Pedrosa. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. Marto Pedrosa kampung sini.” katanya. untuk segera berpacu sebagai apa saja. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung. ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. dan karenanya (kata lik War. Kasim. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. Santik dan Kuni. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. atau buronan karena dengan sesuap nasi. Kimi. sekaligus kudu sepeda dulu. Berangkat ke Jakarta. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. Timpah. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti.

*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap. yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk. menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa. kolonisa . sebagai apa saja di mana saja. kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. yang biasa lusuh nunut : ikut. pentolan. sara : sengsara mandeg : stop.agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi. dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. berliku-liku mbabat alas: membuka hutan. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain.

mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. dan memasangkannya lagi. terutama ketika magasinnya penuh. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. aku mengeluarkan FN di hadapannya. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. ketika kelas II SMP. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua.” kataku. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang. langsung ke tanah. Mula-mula hanya dengan pistol. lalu ditangkupkan untuk dipasak. Sekali. meloloskan genggaman dan mengokangnya. Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. memilih. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. Sebuah letusan lagi. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. di kamar anak petinggi polisi. Memasukkannya lagi ke magasin. dan memasang lagi pistol FN. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. anak petinggi polisi. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. Letusan dan entakan membuatku kaget. rasanya lebih enak memegang pistol polisi. Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. yang genggamannya terasa berat itu. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. Kalau disuruh sangat sederhana itu. magasin dan satu peluru paling atas. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. Setahun kemudian aku menguasai FN. Sangit mesiu melulur lengan dan wajah. diungkit. Tapi sebelum dia banyak bicara. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. Dan kami. Pa!” katanya. ada magasin cadangan di atas lemari. dengan magasin penuh. membersihkan. Tapi apa . Guru itu mengangguk. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. membersihkan. Dan bila kurang.

ketika jadi danyon. Mulanya di Perbakin. Menurunkannya. perempuan cuma jadi istri tentara. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser.” katanya. telanjang dan gampang. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. Manusia itu . atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket. lantas menodong wajahnya bolong. “setelah lulus kau daftar dokter tentara.” kata ajudan baru lulus Akabri. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan. kalau maut sangat dekat. Naik ke boncengan dan melesat. Kau tak boleh jadi anak Mama. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang. aku kokang. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu. Letusan itu keras. Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. Aku beranjak. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. kata ajudan. Dik. dengan posisi jongkok menyamping. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara. yang lain. sekaligus memberi kesadaran. Padahal. Akan lain. ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. Aku ambil FN dari tas. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak. “Kita harus kejar setoran. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. “OK!” katanya. dan menembak. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas.” katanya. Peluru itu menghantam aspal. Aku tertawa.” kataku. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. seperti menembak kaleng atau cecurut. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer. Aku tak pernah membunuh orang.kenikmatan main-main dengan colt. dari jarak tiga meter.

Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. sampai ibu meninggal—menyeringai. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. . yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. ipar. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah. dan seluruh keponakan. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. Aku. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. Ia bergegas menelepon ayah. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. Ibu menatap. Dik. Aku kini sipil. perut. yang langsung mendekat. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. seperti mendengar bisikannya. terutama karena jadi rekanan pemda. Aku diam saja. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. dengan mengumpulkan suami. “Aku kan cuma cari kerja. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. Ia minta agar aku merawatnya. Tanganku digenggam. kakak. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. Ya! Aku yakin tentang hal itu. Aku mengangkat bahu. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. Aku tak mengabarinya. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. Dua tahun kemudian ibu sakit.bernyawa. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. anak. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. Aku ayah?” kata Samsidar. Enak. “Kau tahu apa?” katanya. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. Ditempatkan di kota. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang.” katanya— tertawa. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. dalam kurang tidur. yang telaten merawatnya.” katanya. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. dada. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. Ayah tertawa. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. Aku mematikan telepon.

Berjam-jam menunggu ayah. yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Ya! Ya . Ya— sepuluh menit lagi. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Aku masuk kamar utama. Mengambil AKA. yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. Pasti. Aku menunggu ayah. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. Sepuluh menit lagi. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur. Mengokang dan Ibu meninggal.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Mengunci pintu.

ayahnya memberikan pesan khusus. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak. di kisaran empat angka. Saimah makin genit. “Kamu duduk-duduklah. menggerayangi dan . serius.” kata Melangkah. Radio menyerukan dangdut. Ia membolos bersama Taberi. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. Jalan ke pintu belakang warung. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. Arsad menaiki sepeda motornya. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. dengan setoran biasa. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. Bapaknya pasti meneng. dengan payudara yang berdenyut. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. atau menggoda Saimah. Nasir menggeleng. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan.” katanya. dengan lembut. Kita tutup nomor jagonya. Ini bukan punyamu. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura. curiga. Motornya dipakai ngojek sembarang orang.” kata Nasir. Sad. ayah. Sad. Menghindar dari sekolah. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. Mungkin cuma memesan kopi. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. makan jajan. Itulah awalnya. Khairan menepuk bahunya. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. Saimah menyusul dari depan. Nasir. Khairan. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. orangtuanya semakin permisif. “Kita juga main. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. preman dan pemabuk.” Setengah berbisik. “Nggak akan tembus kan. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. olehnya. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. Ya! Akan tetapi. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. bermalasan di warung itu. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. Ini hanya pemancing saja. seingatnya. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap. menjauh dari keramaian. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. per lima puluh ribu tombok. Terkadang Arsad hanya nongkrong. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis. Sir?” katanya. Arsad mengenal Suimah. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. Terbayang lagi. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. dengan semena-mena merangkul. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. menghindarkan pendengaran Khairan.

Dan Saimah makin manja. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. pil. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. dan menjual sisanya. Ia seorang sales pengawal pribadi. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah.” katanya. Sepanjang waktu. Akan tetapi. biar bisa kompak dengan mertua. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah.” Orang-orang tersentak. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. Ia tertawa. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa.” katanya. yang gigih. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. Akan tetapi.” katanya. Meski begitu. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. terkadang orang masih datang . semakin tidak mempunyai duit. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan. Menjadikan empat kali. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. selalu. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. haid Saimah sudah telat seminggu. ia seorang sales yang agresif. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. bermakna mempunyai barang dagangan. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri. Ibunya Saimah lembut mengangguk. Khairan tersenyum. Orang-orang mendelik. Tapi. Cemberut dan makin sering marah. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. Membawa tas pinggang. karenanya orangtuanya masih di kantor. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. Istrinya mulai menyindir. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. Berharap. Utamanya Saimah. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. dan berkeliling ke mana saja. Pak RT tak berdaya. Ya Miring. Khairan bungkam. Siklus direcoki balas memaki. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah. dan rayuan Saimah. “Seminggu bisa berpenghasilan. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. Khairan menenangkan. “Kita ini orang dagang. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut.

Menyulut rokok. sudah meteng. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. meliuk-liuk. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. Lalu lintas sigap diatur. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. dan…” “Betul! Tapi. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. belum pernah pacaran. Sebagian menolong Nasir. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. lajunya sepeda motor Arsa. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. akselerasi pertamanya. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. dan sisi rusuk kanannya remuk. dan derap orang berlari memburu. apakah aku harus menunggu izin Bapak. penyelonongan itu. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. Krowak tertolong. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. mblesar-kan gas. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. telur dadar setengah matang. Sopir Station Wagon geger otak ringan. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. Kaki. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. menyeru ke seberang. mencuri perhiasan ibunya. tertekuk-tekuk pendek. Belokan liar itu. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. tak bisa diturunkan. dari hadapan. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . sementara mereka telah bablas? Anak saya itu. Akan tetapi. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. yang dikemudikan Nasir. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. ada di tengah jalan. Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. Ia menuntut. tangan. masalah dan menenangkan warga.Nasir memboncengkan Krowak. dan minum Topi Miring- yang sama. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. yang lainnya memburu supir sirna. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja.

dengan dikawal Segera. “Aku tidak betah. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan. Ibunya Arsad terpekik. istrinya. khas Madura. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. Khairan melapor ke Polisi. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan. dengan mobil carteran. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. meski tak selalu milik orang Madura . tanpa mampir dulu. Dominik. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya. Dan memang begitu. Khairan mendelik dan membentakkannya.” kalimatnya. Karena itu. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. Aku seperti masuk penjara. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. Kedua lelaki itu liar bertatapan. instan Celurit: Senjata mirip sabit. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. Khairan. dari rumah Bidan. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad.“Balikkan ia ke kondisi asal. Saimah menangis. Utuhkan lagi. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. Dipantati bahkan. mereka langsung mendatanginya. “Nih. Ibunya Arsad berteriak-teriak. Lantang meneriakkan Brewok. Khairan menelan ludah. Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. berharta Genah: Enak dipandang. Dua hari setelah persalinan. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. tapi tidak pernah dilayani. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. Berparkir di halaman. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba.” tulisnya. Tombok.

” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. tadi. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. Ia tak menyangka. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Beningnya tertegun. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” .Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. Beningnya langsung meloncat menghambur. setiap pulang. Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. Marwan kadang kirim SMS. Dari kotakota yang disinggahi. Ia masih belum genap enam tahun. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban. “Biiikkk…. meledek istrinya. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. “Hati-hati!” teriak sopir. Kadang bisa sebulan tak pulang. Di kelas. “Sekarang. seakan sudah menebak. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. mendapati kotak itu kosong. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Ia melongok. Meski baru play group. karna ia terus diam saja. yang kecewa itu. Sungguh. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. Seperti capung ia tiba. Bibiiikkk…. “Ada apa. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. Beningnya sudah pegang hape. Tapi memang tak ada. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi.

” Marwan hanya diam. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. bagaimana Ren bercerita. Marwan melirik jam dinding kamarnya. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. Karena iri.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Ia pun atau kartu pos.” Ren kecil duduk di pangkuan. jauh. kartun . ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. “Mungkin aku memang jadul. banyak temannya yang punya sahabat pena. dengan suara penuh kenangan. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu. Pukul “Enggak bisa tidur. Itu kotak kayu pemberian Ren. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan. ngambil kartu pos dari Mama. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Marwan ingat.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. Saat SMP. Meski tetap saja ia merasa aneh. setiap Ayah pulang. yang dikenal lewat rubrik majalah. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. rasanya. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya.20. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. Marwan diam. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. Bahkan. lantas mengeposkannya. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. Sepanjang hidupnya. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya. Marwan tak pernah menerima kartu pos.

Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. Deretan kafe payung warna sepia. Bukit karang yang menjulang. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . “Wah. Gambar pada kartu pos. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. teman sekantor. dinding goa. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. Membiarkannya ikut ke pemakaman. saat Marwan makan siang bersama. kapan pulangnya?” “Ya sudah. Ia selalu merasa bingung. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. Seolah-olah itu dari Ren…. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. setelah Beningnya pulas. ia kini mulai dapat memahami. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Marwan tersenyum. Ah. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.” Marwan tersenyum. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. Rasanya. Sudut dengan deretan yacht tertambat.di tepian kanal. Pagoda kuning keemasan. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita. seperti tercekat. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Sepeda yang berjajar kesukaannya.” Itulah. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. Air mancur dan patung bocah bersayap. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. Dermaga kota tua.

sekilas ia melihat jam kamarnya. 2008 dipegangi anaknya. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. semua rapi. seseorang.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. serupa kabut. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Hawa dingin bagai merembes dari dinding.” pelan Beningnya bicara. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Ia melihat ada asap lembut. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. Cahaya yang terang keperakan. Dua belas lewat. “Kata Mama tukang posnya emang sakit. menyambar mendekapnya. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. keluar dari lubang kunci.” Beningnya mengulurkan tangan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar. Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. Singapura-Yogyakarta. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. Hanya “Tadi Mama datang. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Ia melongok ke dalam kamar. sulit ia buka. Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Kain kafan yang tepiannya . Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Bau wangi yang ganjil mengambang. tak ada api. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. Lebih keras dari bau amoniak.

Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. menyebutkan namanya. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Aku ingat. Tetapi ketika ia hatiku. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. Aku suka matanya. Kau tahu. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. Ia tak pernah mengucapkan rayuan. untuk sekadar membuatku tersenyum. sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. sepasang mata itu bagai mengambang. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . menyentuh putingku yang ungu. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. mana yang pantas buat dipakai makan malam. Barangkali. seperti katamu. Dan saat sepasang matanya mengerdip. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. yang paling gombal sekali pun. Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. mana yang pas buat jalan-jalan.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. aku seperti mendengar denting genta. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Tapi. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. Ia bercinta nyaris tanpa suara. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Memang. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta.

Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. kali ini. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. aku begitu menyukainya. Tapi— diam-diam.” Bila aku kangen. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. entahlah. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. Setiap melihat kunang-kunang.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. tak rapi. kenapa aku jatuh cinta kepadanya. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. Tapi. Sungguh. Membuatku tergeragap. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. tipis. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. yang membuatku lihat di iklan deodoran. ”Busyet!!” Mungkinkah. Dan kupikir.” ”Aku suka kunang-kunang…” . aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. Bukan karena kamu tak suka. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. aku mesti pergi. Sedikit berkumis. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. aku jadi ingin ketemu dia. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku.

Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. di zaman gestapu dulu.” ”Hmm…” Ah. Membuat lembah itu malam purnama. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. Padahal. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana. ketika lembah itu menjadi bisu.”Hmm. Seminggu setelah pembantaian. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. bersama ribuan tubuh lainnya. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. menjadi berkilauan. Ibu selalu mengajakku kemari. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Seperti yang sudah-sudah. Dan setiap pepohonan tertugur kelu. Selalu. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu. dengan mata yang layu. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. Dari jendela apartemen lantai sebelas. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. saat itu. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Agar ia menyimpan kunang-kunang. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. ia langsung tidur setelah bercinta. seperti sosis dalam setangkup roti. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. kata ibu. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Aku masih dalam kandungan ibu. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. . memandangku yang duduk telanjang di sofa. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. aku lupa.

Kemudian ia bangkit. seperti kerap kau katakan. Karena. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. Jakarta. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri…. dan tergesa mengenakan pakaian. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . tak tercatat pada termometer. 2005-2008 pernah kau kenal. Barangkali. berbicara setengah berbisik. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Dan dingin. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. Kesunyian tak terpermanai. Ia meraih handphone itu.Ia sungkan dan jengah. Membelakangiku. Aku hanya memandang keluar jendela. Seperti jeritan yang teredam. meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. Cahaya perlahan susut dan aus. Tak ada percakapan. selalu saja. seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. Tapi. dan dengan gerakan pelan menjauhiku. seperti dalam sebuah puisi.

yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. trotoar. Apabila melihat aku lagi berjalan. orang-orang akan menghentikanku. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini. dan langit hanya basah. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. Dulu aku memang berharap. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. Mereka tertawa. Mungkin mereka hanya menggodaku. Padahal. Bila ada ular masuk ke rumah. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. Biasanya. Tak ada bintang. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. Aku tak mengerti. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. Aku ingat. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. Kota di mana bertahun-tahun lampau. Di kulitku yang licin. Aku tak pernah mengerti.” jawabku. Mungkin karena mulutku yang peyot. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. Mungkin mereka butuh hiburan. aku pernah begitu mencintainya. melihatku memasuki halaman rumah mereka. sambil menunjukkan empat jariku. sambil menunjukkan empat jariku. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. seperti rintihan kesepian. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. bila ada ular masuk ke pekarangan. mendesing lalu lalang di jalanan. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. Dan mereka kembali tertawa. nari.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. Memberiku moke.” jawabku. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku.

Aku leluhur mereka. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. kuntum yang ranum. Terdengar suara-suara tong ditendang. dan semua ketimbang diriku. Aku merayap menyeberangi jalan. menghilang dalam kegelapan. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. Kurasakan. Kudengar kembali gema lonceng itu. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. kota ini seperti memanggilku. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. Alangkah menyenangkan jadi ular. . aku mencoba tak panik. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. Ketika mula dunia tercipta. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. betapa enaknya jadi ular. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. ketika batu masih berupa buah muda. kini aku melihat sebuah mal yang megah. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. ketika Bumi masih rapuh. Meski terkejut dengan reaksi mereka. Tapi di situ. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. Mereka percaya bagaikan putih telur. Kota dengan seribu gereja. saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. di pinggir jalan. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. kendaraan yang lewat berhenti. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. Mestinya. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. Di ladang. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. Dulu. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. setiap hari. Tapi kudengar seseorang berteriak. Leluhur yang mulai berkhayal.itu. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. Aku sering bertemu ular-ular itu. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. Dulu. Sejak itulah aku ular. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. Aku begitu ketakutan. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. di pojokan itu ada sebuah gereja. Seingatku. banyak berkeliaran di kota ini. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil.

memancarkan sulfur cahaya. Di dekapannya. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . Kulihat rosario menenteng lentera. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. Aku diam melingkar di pojokan. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. Ia mengulurkan tangan.” Aku memandanginya ragu. ”Cepat sembunyi sini…. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. Dengan tangannya yang mungil. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. Dan seperti menyusuri ingatan. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. ”Kita sampai. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian. lorong yang berkelok-kelok. Kulihat puluhan ular. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. gadis itu memungutku. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. berdesakan dan bau tengik. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui. Aku merasa asing. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. sambil menurunkanku dari dekapannya. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong. Sungguh kota ganjil yang serba temaram.” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. ratusan ular. aku merayapi jalanan kota ini. sampah. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. hanya dipisahkan oleh kenangan. Cepat sini….”Ssttt…. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. mendesis-desis menatapku. kulihat itu menyala kemerahan.” kata gadis cilik.” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. Cara mereka mengingatkanku.

terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. Kadang air mata itu menetes bening. Salib itu menjulang. dihancurkan kemajuan. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. Sudah lama. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. Kami mesti menjualnya diam-diam. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. bila menjelang Natal. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. Ketika kota mempercantik diri. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. kami bisa ditangkap petugas keamanan. menyimpannya dalam botol. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. Kemudian dijual. Dalam keremangan. yang mereka percaya.Di kota ini. untuk diganti dengan malmal. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. Padahal Aku mendesis mengangguk. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. Para penduduk memberi kami anak-anak. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. kalau aku mau menjual rosario. tetapi selalu diusir. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. Kamu sudah melihatnya. ”Begitulah. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. menjualnya di lapak trotoar. katanya. tapi terlihat rapuh. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. Pada saat itulah. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. Sebab bila ketahuan. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. dulu kami bertahan: dengan . menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. Aku menemukannya tak sengaja. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. Kadang merah serupa darah. Dulu. rempah-rempah dan artefak kenangan. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. seakan- mencapai kota di seberang sana. Ketika banyak gereja diruntuhkan. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. kami Aku belajar mencintai kota ini.

gereja. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. Aku tidak menikah. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu. ternyata. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. ia memang gadis yang usil dan nakal. Dari dalam keranjang anyaman. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. Kusaksikan ruangan yang remang. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. 2006 .” teriaknya riang. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. boleh jadi sebagai tugu kenangan. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. Sampai kemudian aku menyadari. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang.” katanya. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya.Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. Aku melingkar tenang dalam keranjang. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. Pasti mereka mengusir kami…. ”Wow. ”Kita bisa diam-diam ke sana. aku juga penduduk kota ini. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. Ketika ia berjalan. ”Kau tahu. Kami keluar dari Puji Tuhan. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. samar-samar bisa menenteramkanku. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. betapa sunyi gereja ini. Terdengar syahdu dan megah. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. nyanyian puji-pujian. Ah. Tidak. Di dekat altar. Dulu aku idiot. katanya.” katanya. gorong-gorong. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. kataku. Mataku nanar Ledalero. tepat di belakang gereja. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal.

Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta. versi Krowe-Sika.Catatan: 1. Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. 3. 2. Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere. Nusa Tenggara Timur. Agus Noor (23 Desember 2007) .

Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. Begitulah. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. Nak. Jarum Ibu pernah bercerita.Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Dan di malam takbiran. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. selalu. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. Sejak banyak toko fashion. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. Seperti menyaksikan dalam sekejap. factory outlet. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. Nak. setiap menjelang Lebaran. Nak. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. dan benang. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. Entahlah. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. Atau mereka tak mau lagi datang. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. di emper pertokoan. Mereka menggelar dasaran di trotoar. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. yang konon. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. Kata orang. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. orang-orang lebih suka . dari tahun ke tahun. gunting. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. Nak. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. betapa dulu. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. di keteduhan pepohonan. para tukang malam. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. Nak. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. di pojokan jalan. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. silet. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. menata bundelan-bundelan benang.

Nak. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. para tukang jahit yang mengisap tembakau. Nak.membeli pakaian jadi. Dan jarum itu. Kau tahu. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. Di kampung itulah ia tinggal. Delapan Lebaran lampau. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. Kau masih empat tahun saat itu. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. setiap menjelang yang muncul di kota ini. Ibu mendatangi tukang jahit itu. Ia menjahitnya dengan rapi. Nak. Sebuah kampung. Kau tahu. membutuhkan mereka. Mungkin kau tak ingat. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. Saat itu Ayahmu baru meninggal. dan menjahitkan pakaian padanya. tukang tentang tukang jahit itu. yang masih muncul di kota ini. Tak berbekas. dari tahun ke tahun. tetapi tak bisa menyentuhnya. satu-satunya tukang jahit. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. tapi kau lihat. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. memandangi belanjaan berisi pakaian. tiga bulan sebelum Lebaran. Di dada sebelah sini. Ia sempat mengelus bertilas. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. Kau bisa melihatnya. Lebaran. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. Entahlah. Nak. di tangan tukang jahit itu. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Lalu diantar Pamanmu. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. barangkali. Nak. Tapi . Rabalah. Dengan jarum dan benang Begitulah. Maka. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. tetapi lebih lembut dan halus. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Ia menjahit luka hati ibu. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. Nak. seperti senar. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. memang mengubah selera. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Yang jelas sudah sejak lama. Menisik dan menjahit. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. Zaman. Perawakannya kurus. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. halus. Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. Nak. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. tetapi juga kebahagiaan. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. begitu halus. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. Hanya ia. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. rambutmu. Bila ada orang sedih yang datang padanya. Ada yang mengatakan. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. Benang itu tipis dan bening. dan jarum. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. Nak. Nak. tak banyak bicara.

Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran.masih muncul ke kota ini. anakku memandang heran antrean itu. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. Ia tinggal di sebalik cakrawala. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. aku menjalankan mobil pelan-pelan. Ia tinggal di sana. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. sewaktu kanak. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. malah makin menyelimutinya dengan misteri. Aku ingat. satu-satunya yang selamat. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. Mereka sudah menunggu sejak dini hari. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. jalan. aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Menjahitkan kebahagiaan. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu. kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. seakan meledek tukang topeng monyet keliling. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. Itulah sebabnya.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. Menjelang Lebaran ini. Padahal tukang jahit itu. Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. Rasanya. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. sepanjang hari memintal benang kesabaran. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Kemunculannya selalu dalam diam.

Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban. Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. Tak bisa membelikan baju baru. Bingung karena masih nganggur. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja…. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya. Ayah?” “Ya. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. Brisbane-Yogyakarta.” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul.” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) . Pusing karena semuanya makin mahal. Kuceritakan tentang tukang jahit itu. dengan gampang mendapatkannya. Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap.Barangkali. 2007 orang-orang yang antre itu. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah.

saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya. fudge. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. Bantal mungil warna-warni milik peri. Seperti bantalbantal mungil milik peri. Dan pada malam hari. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. Mereka sedih. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. Ia membayangkan.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. Sampai ia berumur sembilan tahun. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. Saat terbangun pagi hari. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. Anak-anak suka permen.” Ah. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Neal sendiri. Maka. Mama. Sepanjang hari yang riang. bila peri itu . dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya.” kata Mamanya. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. di malam hari menjadi bengkak mulutnya. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. Saat kehidupan ini masih ranum. permen. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. itu biasa. Permen toffee. suka sekali permen. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. tempat biasanya Papa. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. Nak. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. “Begitulah. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat. tengah. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. Permen dalam bungkus warna-warni. sebermula permen muncul di dunia manusia. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. itulah. lollipop. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. sewaktu kanak-kanak.

Takut. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. wajah Iza terus cemberut. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. Mestikah ia menjelaskan pada Iza. “Lebih enak permen ini. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. pada Samuel. mereka akan memecah kaca mobilnya. memberinya sedikit gula. Neal membayangkan. Selintasan. yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan. korengan. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. permen itu memang mengundang selera. setengah menggerutu. Sekarang ini.Sampai sekarang pun. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. . Tetapi. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. bila ia tak membeli. Mencampurnya dengan gelatin agar kental. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar.” Tapi. Tapi. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. bagaimana permen itu dibuat. pewarna dan pengawet. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. Ia ingat. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. ia tak mau menenteng biji-biji permen. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. pengasong itu. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

“Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur. Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya. memandang mata Neal dengan lembut. 2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa.Neal mengangguk.” jawab Pras sambil . Pelan Pras mencium bibir istrinya.

botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. roti kering yang disimpan dalam kaleng. biskuit dan telor asin. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. Kami menyukai cara mereka tertawa. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. Kadang mereka mengajak kami berfoto. dan sempat mengunjungi kota kami. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. Mereka segera mencetak foto-foto itu. keledai. membawa bermacam perbekalan piknik. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. Mereka datang dari segala penjuru dunia. Kami menduga. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. Mata kami yang murung dan sayu. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu.

Memetik kecapi dan Saat malam tiba. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu.>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. dan bintang. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. bawah kakimu. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. Dari kejauhan kami . Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. Kepada kami para cermin. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. penyair. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. dan sungai selalu meliuk-liuk. para pelancong itu bernyanyi. candi-candi megah yang disusun serupa tiara. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. menurut mereka. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. tetapi tidak dengan kota kami. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. seolah semua itu terlampau bahagia. jalanan.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. Lorong-lorong. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia.bintang terasa lebih jauh di langit hitam. adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. Tapi kota kami. Betapa menggetarkan melihat pohon. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona.rumah rubuh menjadi abu.

dan fana. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. sekolah. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. Jangan khawatir. sementara. Kami tak ingin kota kami lenyap. sungai-sungai. runtuh tertimbun waktu. Sembari menaiki pedati. setiap kota memang memiliki jiwa. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. sepotong dendeng. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. rumah sakit-rumah sakit. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya. menanam kembali pohon-pohon. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti. Berwisatalah ke kota kami. yang hancur. Keajaiban tersendiri. tower dan menara. jembatan. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu.menyaksikan mereka. seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. kami .lahan hancur dan tumbuh kembali. Sesekali minuman. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami.gedung. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. ke arah kami. membagikan sekerat biskuit. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami.

Invisible Salim (Fresh Book.1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino. oleh Erwin . 2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner.

jernih dan bening mengalir perlahan. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang. Air yang dinding penyangga jalan tol. jalan menjelang kantornya. Tak ada keruwetan. seperti menjolok sesuatu. Beberapa pengendara sepeda motor yang . akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Kadang berloncatan. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya.Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. Selalu bercelana pendek kucel. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Berkoreng di lutut kirinya. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Memandang mata itu. Usianya paling 12 tahunan. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Ia menurunkan kaca mobilnya. Setiap pagi. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan.

kawat berduri yang terjulur yang menggantung. yang kata Mama. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Rasanya. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. memandangi mata seseorang cukup lama. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . itulah mata paling menyimpan dunia. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Mata yang penuh kemarahan. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Mata yang tertutup jelaga kebencian. indah yang pernah Gustaf tatap. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Begitu bening begitu jernih. panjang. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. ia yang bagai liang hitam. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. saat ia berusia tujuh tahun. Setiap kali terkenang mata itu. Karena itu. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. padang gersang ilalang. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. Dan ia selalu menggambar mata. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. Tapi Papa kerap menghardik. pecahan kaca yang menancap di kornea. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. ”Mata itu seperti jendela hati. Ia ingat perkataan Oma. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Mata yang berkilat licik. Setiap menatap mata seseorang. Berminggu-minggu mengikuti terapi. terlihat berbeda. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu.

hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. karena memang menyimpan sebuah dunia. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. lantai yang digenangi air bening. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. bisa memiliki mata itu. lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. Bila ia bisa memiliki mata itu. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Semua itu hanya mungkin. batin Gustaf. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. semuanya sudah tampak sempurna. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. pikirnya. Ketika berjongkok. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Dan ia makin ingin mata bocah itu. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Membuat Gustaf berpikir. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. mata. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Bila perlu ia menculiknya. Gustaf kini bisa mengerti. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia.

Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. percaya. Ia ingin membuka jendela. dan melemparkan recehan. Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya….” ”Persis mata iblis!” Jakarta. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. sambil berbicara kepada temannya. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. 2006 .terjulur ke arah jalan. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Begitu lift itu tertutup.

Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. memandang langit siang yang terang. dan wangi. beberapa koper besar. Setiap menjelang Ramadhan. Langsung. Atau erang kesakitan leher digorok. mengusir bayangan buruk itu. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan. sembari bersiul-siul kecil. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. Ah. Sesekali. seperti kotak tempat menyimpan gitar. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. dan segera saling bisik. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Kadang berbulan- bulan. Menyisir rambut dan memotong kuku. seperti bekas bacokan. rapi.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. sembari terus bersiul. kemarin. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Tato di lengan kanan. Seperti selalu menghilang. Bila pulang. Bergegas. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan . ia bisa mencium bau amis darah itu. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. keramas. Entahlah. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. tapi ia masih saja hidup. Ia jarang berada di kamarnya. Ramadhan kali ini. Melipat selimut. Ia memejam. Parut luka seputar pundak. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. Berhari-hari. Merapikan pakaian. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Mungkin ia rampok. Bayangan kematian penuh darah. Ramadhan berlalu. mengerut menatap laki-laki itu. Dan tadi. Sebab. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Saat ia berbaring di ranjang. Ia tak ingin kecewa lagi. Menenteng seramnya.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Memakai jaket kulit hitam. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar.

Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Misterius. Menutup diri. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. memandang entah apa. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Kulit wajah mayat. Ia mengerang. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Rutin yang ganjil. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat.mayat itu meleleh. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Wajah. Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. seperti mengawasi. Ini yang membuat kian penasaran. Ia terkapar. Ia seperti tak mau dikenali. dibuka lebar. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah.wajah yang membuatnya mengerang panjang. rumah petak tak pernah berani bertanya. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Menjelang Ramadhan ia muncul. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. Mungkin intel. Dan orang-orang merinding mendengarnya.harga BBM—matanya jelalatan. ia terlihat merokok siang hari.saat seperti itu. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. sebagai seorang pembunuh bayaran. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Aneh. Mati dengan tenang. Mengepungnya. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. wajah remuk rusak itu. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya. Barangkali ia dukun. menyapu. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. seperti lilin panas mencair. Beres-beres kamar. bercerita. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Meski ia tahu. Seperti menyaksikan kematian .laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Sering. Mungkin. tapi pergi ke kuburan. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. mereka mendengis bengis. di bulan Ramadhan.

Orang.” kata komandannya. Tugasnya hanya membunuh. Dikirim ke medan perang. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Benar kata komandannya. Kulitnya yang putih bersih. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa. Tempat menyembunyikan diri. Paling mentok jadi sersan.Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Dan itu disukai komandannya. bisa memukuli orang sepuasnya. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. Tanpa jejak. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Sumpek bau comberan. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Umur tujuh tahun. Kamu pantas jadi tentara. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Beberapa mati dalam penjara. Seorang hakim. Rahang terkesan pipih. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. dan ”Kamu punya bakat bagus. Memang. Percuma kalo cuma jadi tentara. nanti bila sudah berhenti. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan.orang mengerubung. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. tertib. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Lalu beberapa order ringan lainnya. Dan ia membusung bangga. Dan ia mulai mengawasi. Beruntunglah orang . Ia sudah membeli rumah buat hari tua. bayaran yang menderita di masa tuanya. Lalu sepulang perang. Sorot matanya tenang. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Ia paling senang ketika harus disiplin. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Ia heran. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Membunuh seorang pengusaha. Di kampungnya. ia diberinya pekerjaan. Bicaranya santun. Kisah para raksasa penyantap manusia. Ia tak terlalu menyimak. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. Ia akan tinggal di rumahnya. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Ia menyiksa para pemberontak. berani menghentikan. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. wartawan. Alangkah hebatnya jadi tentara. kata teman-temannya. diam ia membunuh kucing pamannya. Tapi membuatnya merasa aman.

Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Ia pun kemudian selalu berharap. Alhamdulillah. Sayang kan. Ia meraba belati. Singup. dan kini memburu kematiannya. Kalau boleh memilih. kenapa mobil perlahan berhenti.” ajak Kiai Karnawi. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. lakukan tugasmu. Enggak usah merepotkan sampeyan…. ”Kamu bisa membunuhku di sini. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Mencibir. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. membuangku ke jurang dengan mobil itu. Dan semoga saja. lalu mendorong mobil ke jurang.” Baru kali ini ia gemetar. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Ia bisa menembaknya. kecuali mati di bulan Ramadhan. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. Getir. Tak usah Karena itulah. Lengking gagak di kejauhan. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. Kamu cukup membunuhku. Senyap. Kelebat bayang burung menyambar. 2005 . Lalu meraba ”Sekarang. kamu mau membunuhku. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. Karnawi terkekeh. Dengung jutaan serangga mengepung. Terdengar letusan. Gemetar tak yakin. Yogyakarta. Ia mulai diusik gelisah.yang mati di bulan Ramadhan. Amin. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. itu mobil mahal. Biar tak banyak korban. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. ia hanya berdiri gamang. Jangan sampai aku kesakitan ya. Tapi tolong. Kematian di bulan Ramadhan. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. Pelan. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. ”Aku tahu. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Kemeresek daun jati jatuh. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Lalu menggelar sajadah. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. yang pelan.

ayah.” . sawah-sawah yang siap panen. saya meraba tubuh orang. Sementara di Riau dan Jambi. Ibu. kolam ikan. Rembang. bus. ”Cepat kuburkan. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. meliputi kota-kota Demak. Wahai. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. Jepara. Pati. cucu. Masya Allah. mobil-mobil pribadi. didaki karena licin dan terjal. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. saya sudah tak tahu jalan. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. banyak lagi korban. cahaya perak. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat. Juwana. juga nenek-kakek. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. cicit. meski apa peduliku. Mendadak laju rakit ini terhenti. perkebunan. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. air tak juga surut. maupun motor karena tak Zaman. Kudus. yang terdiri dari truk. Jawa Tengah. dan anak-anak. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. dan pertokoan. namun tak kunjung muncul. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. Tapi. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. mungkin tidak sedikit jumlahnya. dari Pati ke Rembang. Subhanallah. ke mana Saya semakin menggigil. Saya yang satu minggu kehujanan terus. cahaya perak. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. Rasanya tubuh ini beku. Tuban. tambak. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. Agaknya tersangkut sesuatu. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. kontainer. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. perumahan. hutan terbakar. Banjir masih juga melanda Pati. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. Gelap gulita.

pohon mangga yang sangat rindang. Jakarta. putra maupun putri.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. Saya mau cari nafkah di Jakarta. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. di atap masjid itu tidak hanya baju. di rumah bertingkat kami. Benar saja. Alhamdulillah. manis dari akarnya. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan. ibu kok ngomong begitu. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. Lalu boyongan kembali ke desa. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu. ayah. menikmati sebuah lalu minta lagi. Maka ketika banjir surut.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. dalam ukuran apa pun. air. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama. berseliweran berlarian. sampai saya terjatuh. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya.”Ah. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan. bermain maupun berdebat soal jodoh. di mana Rembang. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. Tiba-tiba rakit mentok.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. teriknya.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. Meski sangat kesukaran. katanya. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. sejauh mata memandang. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . katanya. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. saya berhasil masuk ke ruang salat. Banjir yang lebih besar kali ini datang. ”Jaga adik-adikmu. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. merupakan perpaduan yang elok. di mana para juga Tuhan. Di mana Pati. manalagi. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. air melulu yang tampak. Terlalu bising. dan kedua adik ke Jakarta. air. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal.” Di atas atap dapur. Rumah tertutup santri.

”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu. menjauh. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas. ayah. ya. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu. banyak sekali. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau. Di luar. sekeluarga turun-temurun. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman. dan kedua adik saya.” ”Subhanallah. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun. saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. Waktu bangun.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi. ke sebuah dusun yang sunyi. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini. ”Pak Kiai.” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu.” ”Subhanallah. kepada ibu. meminta doa.air banjir.” seru saya.” ”Salamualaikum. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. tangan banyak sekali. orang-orang berteriak meminta tolong. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- .” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. banyak sekali. kaki yang dua jenjang itu. saya kaget bukan alang kepalang. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi.” seru saya sambil mengejar beliau. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau. ya. bangun dengan sigap. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam. Di yang mumpuni ini. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. menanyakan kesehatannya. mencium tangannya.” ”Subhanallah. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan. sementara di luar sana. saya tertidur tanpa diawali kantuk.

saya pasrah setulus mungkin. Saya tertegun. Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. . menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. Seperti mati berdiri. Bukan uang Sesampai di rumah. Menurut ibu. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. ”Ya. ayah. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. Dengan kunjung datang. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman.” doa saya. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. Tuhan punya rencana. semuanya ini milik-Mu. ”Ya. Keadaan jadi kacau dan meriah. kedua adik saya. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. Allah. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. Allah. ibu. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. ”Gue ude konglomerat. Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. subhanallah. Masya Allah. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. Bagaimana mainan. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya.” doa saya dengan kenceng. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu. menimpuk sejadi-jadinya. caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. Dalam hati saya menyesal. mungkin mereka tidak menyadari. bukakan mata mereka. Subhanallah.

Tangerang. 14 Februari 2008 .

“Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. Jakarta Utara. Nak? Ngapain lo lari terus? He. mengucap salam pada metromini. “Ini Metropolis. Kerjakan yang mesti berlari itu. kabarkan. Merebut tempat. Pelabuhan menjerit. Atau baru. Ia tak peduli. Orang-orang pura-pura tak mendengar. . Keringat kota diperas habis-habisan. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. Jangan pernah kalah. Dihardik satpam jadi emping. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. “Ada apa. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. Suasana mendesing bunyi gasing. Tak lelah-lelahnya. pusing. mencari kekal pada dinding. yang macet. Seolah metropol miliknya sendiri. Legam bagai Jacky Chan melenting. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. Jakarta sudah lama bilang ogah. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. Mereka menerobos di antara bus. lo?!” Semrawut kota semakin bising. persis malam mati.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. Ia menuju ke arah selatan. Orang-orang menengok yang padat. Hitam kayak pantat kuali. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. Alangkah kencang larinya. dikejar setan. Sesuatu apa itu. Ia pusar bisa berlari sekencang itu. Nak? Ada apa. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. dikerjakan. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. jadi rupanya ibunya seorang penari. Metropolis. O. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. kopaja. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. ia terus berlari. angkot. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. mikrolet. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. Angin kencang. lo. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. Anak itu agaknya merebut waktu. Barangkali ke Jakarta Pusat. Jangan ketinggalan. Semua pertanyaan lompat bajing. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. Angin berdebu. Ada apa anak itu berlari terus. Ini Matahari terbahak. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari. Udara sangat panas. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. Jangan pernah mau mengalah. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala.

Pasrah tanpa curang. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. Padang darah berember-ember. O. Pesanlah nisan sekarang. menghirup angin surga. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. Tuhan yang pegang. terbahak. Namun tak beringas. Itu udara wengi. Tak kenal batas. Kemana tanahku. Dipuja petani. Ia keris empu. Tumbuh harapan. O. putri jelita berbanding Sembadra. Lalu berpijar cahaya api. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . api. Ibu Pertiwi mengerti. Bukan ratu. Anakku. Udara. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. Ia hindar bertengkar kerna pintar. Perahu malaikat burung puyuh. Di bawah jalan layang. Di sekolah anak tak pernah bolos. ia mendelik. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. zat. Anak itu melompat pagar tanaman. Tuhan tempeleng manusia. Ia ksatria tuntas. badai derita Ia terlalu sakti. Ia musnah. bukan raja. Jangan terpeleset. Dalam sehari 50. Tiba-tiba agung bagai baja. Menggaris lurus menerka keadilan. Ada saja yang tidak polos. Supaya jarak lari menjadi aman. Apa mau dikata. O. Matahari membantu tapi butuh ongkos. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. Namanya bikin gentar. Tak pula timpang. Tak mati-mati. Seluruh hamba wet. Henry Muhammad. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. Berlari terus. Ia anak mama. Segala tempat. supaya hati tak garang. Si anak ksatria utara. Orang-orang yang berpapasan mendesah.Seperti bandit yang dibiarkan lolos. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. O. begitu pemerintah kasih wejangan. Tak mati-mati. bertengger gubuk derita malang. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. tanah asli ayah bayang. air. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. Tak ada tempat yang jauh. Tiga kali kena gusur. orang yang matanya nyalang. telapak kaki tanpa alas. Tuhan kendali manusia. Tuhan sayang manusia. Penari agung bikin keder pemda. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. Jeritkan segala raung serigalamu. Jangan menoleh ke belakang.000 tahun mengayuh. mencium bau wangi. Jangan-jangan sedang menari bersama awan. Ksatria Utara tak mau berkelahi. mabuk tetap tegak. Berlari terus. Butiran menjelma hujan. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. O. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. anak itu tahan menceker. termasuk jalur hijau jalang. Aduh. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. kota. Baik budi. kejeblos di pasir boblos. Hidup bisa dicicil angket. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. bukan pula keris patih. O. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. Mengalir angkasa pesat. menerkam kijang tercecer. Itu udara pagi. dan pertapa sejati. Mengambang taat. Kemana tanahku. Anakku. hitungan akurat. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. Walau di lapak. kadaluwarsa dari sepihak. Eyang. berbakti. Berbanding Pandawa pantas. Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. Mau dicaplok katak. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. Aduh. tanah. KTP diinjak-injak. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. Di ladang luber. kesandung maut dari seberang. Wangi jembatan layang. Nasib orang. Nyawa yang berbakti. Sotangnya tajam bagai taring kirik. Jasadnya lenyap ditelan udara.

Bagai papan-papan selancar. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. Datang dari kutub utara. tentu jumlah itu saat ini. pasar. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. Di pojok-pojok Jakarta rawan. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. Dengan sangat meminta ditolak alam”. Satu udara ganti-berganti. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. berenang di dataran luas yang dalam. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. Bagai monumen. Perampokan kantor-kantor. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. Namun penari cantik dan . Saking banyaknya korban entah.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. gunung es bersimaharajalela. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. Banyak individualis jengah. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. Jakarta tenggelam. berkali-kali penari itu diburu. perumahan mewah. namun dia selalu lenyap tak berbekas. ratusan mobil mengambang. puluhan. Supermarket. mall-mall. mereka sudah sampai Pulau Seribu. Dalam jumlah besar membengkak. Para relawan penolong bertindak. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. Korban tak dapat dihitung. Banjir rasanya semakin meninggi. Nah. Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. tak ada artinya. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. Kota gelap gulita. Tapi itulah jalan hidup. ATM. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. Tanggulangi penjarahan dan perampokan. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. di milenium ketiga. Daerah Khusus Ibukota payah. Di siang hari jadi kota mati. Tenaga-tenaga penolong susah. Mereka saling bertanya. Di seluruh kawasan. Pemerintah yang dulu. departemen keuangan. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. menari di atas pagar jembatan layang. restoran. Laut meluap. bank-bank. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. pegadaian. toko-toko. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. dia terus menuntut ganti rugi yang layak. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam.

Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. Cucu dari buyut. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. Hari balas dendam telah terjadi. Keluarga Paman dari keponakan. Bola dari Piala Dunia.membantunya. Anak itu terus melanjutkan teriakannya. Cemburu dari buta. Suami dari istri. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Sang penari tidak menstop tariannya. Jalan Sudirman. Cikini. Kampung Rambutan memahami musibah itu. 20 Mei 2006 . Cilandak. Senen. Blok M. Cinere. Melek dari kantuk. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Ibu itu terus melanjutkan tariannya. Jalan Thamrin. Canggah dari wareng. Kekasih dari asmara. Benci dari cinta. Tapi segala jenis hotel penuh. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. Gelombang menggempur Tanjung Priok. dan melahap terus ke selatan. Tangerang. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. terpisah dengan keluarga lainnya. Ibu dari anak. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Gunung Sahari. Sanak terpental dari sanak. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. Kakek dari nenek. Parung. Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu.

pernah berpentas Martha Graham. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Andrei Joukov. sangat populer di seluruh dunia. Baru pada malam hari . Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Sebaliknya. kegemarannya. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. Tampak Viatcheslav Gordeev. yang disihir Rothbart menjadi angsa. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. ayu dan ganteng. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. bulu- usai. Mereka rame-rame menikmati salad. Di antaranya di tempat ini.500 penonton. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. Irina Ablitsova. angin sepoi-sepoi. sebagai sponsor pertunjukan. Maya Ivanova. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. komposisi yang senantiasa berubah. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. Direktur Artistik Chino. Jerman. Gadis ini Zahra. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai. lalu mendarat kembali. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. kepada para tamunya. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. Mineev. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. dan memagut dan bercinta. juga grup dari Perancis. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. yang putih maupun yang merah. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. ngobrol dengan gubernur. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. menteri. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. Dia memilih minum air jeruk nipis. Begitu pula para pebalet teman Zahra. yang mengelus rambutnya. tentang balet di Rusia. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. gubernur. Odette. balerina 21 tahun. sup ikan tuna. gubernur berjanji. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. pemeran Rothbart bergantian. menyembul.Telaga Angsa DANARTO telaga. dan pembesar negara lainnya. Asmara angsa. Angsa-angsa putih menyelam. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. dan jus jambu kelutuk. Maxim Fomin. insya Allah. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. tidak minum wine. buah-buahan. Dengan 1. Natalya Ashikhmina.

” sambung Kakek. jatuh cinta kepada Odette. cocok-cocok saja. Siegfried. Semuanya tertawa. seluruh istana bergembira. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya.” tukas Nenek. yang ndak cocok bagi kamu.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. ”Apa. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. ibu. memangnya kenapa?” tanya Zahra. angsa itu menjelma Odette.” tukas Kakek. dan Anna Vakina. ”Tapi. yang secantik Odette. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. ”Odette atau Odille. neneknya. Pangeran Siegfried. Oxana Gasnikova. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. ”Lho. Rothbart sang penyihir. kedua adiknya. sampai Kakek terbatuk-batuk. Siegfried sadar. saya sih. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. Sekalipun dengan mata terpejam. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. Semuanya tertawa. juga tante dan oomnya. Usaha Rothbart berhasil. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini. Kakek terbatuk-batuk lagi. Olga Ivachenko. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. lho. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. memamerkan putrinya.” celetuk Nenek. sih. ”Itu kan mengumbar aurat. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. dan Anastasia Baranova.mereka menjelma manusia kembali. ayah. Begitulah.” kata Kakek. pemilik istana dan telaga. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. Semua tertawa. Eyang bisa kesleo. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. Rothbart marah besar. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. Odille. adalah para pemeran angsa kecil. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. ”Terpikat boleh terpikat.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. Tatiana Chungunkina. . Seketika. Eugenia Singur.

Jika kita bicara soal kesan. bubar.” Semuanya tertawa. kok Eyang sampai segitunya.” sergah Kakek lagi.” ”Jangan begitu. wah.” sanggah Kakek.” ”Wah. kok yang disalahin balerinanya. Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Semuanya kan tertutup rapat.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. Kesan. Aduh. Eyang. Semuanya tertawa kecuali Kakek. kecuali Kakek. pertunjukan itu harusnya disensor.” ”Eyang yang kasmaran. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu.”Aurat yang mana?” tukas Zahra. Melihat kostumnya.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. Habis jadi diktator. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari.” ”Jangan begitu.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. deh. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh.” sambung Kakek.” tukas Zahra. Meriah. peradaban. Eyang ini gimana. sih. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. Eyang. kostum Zahra ya seperti itu. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”.” ”Kesan. ”Saya serius. Obrolan berubah jadi perdebatan.” ”Wah. semuanya terkesan jelek. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun . Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. wah.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator.” ”Saya heran. mendadak berubah jadi filosof. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake.

” ”Omong kosong!” sergah Kakek. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. ”Adat ketimuran kita adalah KKN. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan. ” sergah Tante. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. Cucuku.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat.” kata Oom. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.” sewot Zahra. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” sambung Kakek. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. ”Eyang benar-benar lowbrow.” Zahra menukas. Eyang. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran.” sela Kakek. Mendengar kata Kakek ini. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. ”Dalam KKN ada tradisi.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. runtuhlah kebudayaan. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. ”Kostum ketat itu.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” kata Zahra. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.” . ”Adalah tradisi balet. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. ”Apa?” tanya Kakek.” cetus Kakek. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan.

Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. Kecuali Kakek.” tambah Tante.” kata si Oom. ”Banyak negara yang busuk. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. kata Allah. Barangkali besok. atau lusa. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. saya cuci tangan. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini.” jawab Tante. Zahra. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka.” tukas Kakek.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Coba.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal.”Hati orang siapa tahu. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. Bukan kepada Tuhan. Eyang. Kita bisa menuduh mereka ateis. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. saya dikasih contoh. .” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral.” sergah Kakek.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. Lengang sejenak. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja.” tambah Nenek. Eyang. Eyang. Seperti tercium setan lewat. Anakmu bukan milikmu.. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu.” tukas Nenek. Dan itu bukan teori. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.

” ”Saya setuju. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. cukup sulit. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. tidak ada pornografi dan pornoaksi. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Kita wajib memeliharanya.” sambung Zahra.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. tergetar. Dalam balet. Ada api yang menyalanyala. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Suatu dakwah keindahan tiada tara.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. Dalam dandanan kebaya pinjungan.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo.” ”Sebagaimana balet. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. Eyang. Tangerang. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. sedang dalam . Dan ternyata Allah itu indah. Cobalah nikmati tari bedoyo. 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. Ada air yang mudah mematikan api. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. Allah mencintai keindahan. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan.

Saya rasa kali ini juga begitu. Ada apa? belum menemui mereka. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. dan banyak lagi saya tidak nyaman. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. Kadang datang berbondong. Di samping para tetangga. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. bawahan dengan remaja. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Juga tentang hubungan suami istri. juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. Misalnya. Istri saya lewat jendela. juga tayangan televisi. tidak benar-benar membutuhkan saya. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. Sungguh menghabiskan waktu. Sebagai penulis lepas. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. perbankan. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. satu dua. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. menyadarkan saya. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. persoalan anak dengan orangtuanya. saya menjawab sekenanya. soal usaha tambak udang. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. dan wali kota. Orang-orang . Rasanya camat. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. maupun wali kota. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. pengairan sawah. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. kata-kata bijak dari para cendekiawan. Karena istri saya gelisah. perburuhan. setelah sarapan. saya dijuluki “pendengar yang baik”. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. yang sama sekali tidak saya ketahui. mengular sampai jalanan. bibit tanaman. Cukup menyenangkan. Sudah sering datang orang. menantu dengan mertua. Dengan ngantre minyak tanah. satu dua. Rasa saya tetangga. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. sekadar yang saya tahu. Istri saya memberi tahu. atasan. ramai. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. bupati. teman-teman. Saya acuh tak acuh. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. bupati. misalnya.

Kepala kantor orang itu kebingungan. Banyak komentar. sampai kenalan baru. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. orang-orang ternama. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Begitu siuman. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Tulisan obituari itu tidak panjang. sementara beban keluarganya besar. Saya interviu keluarganya. dan berapa orang saudaranya. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. teman. agaknya hanya saya seorang. pekerjaan terakhirnya. dibawa pulang ke rumahnya.lengang. sebagaimana kematian itu pasti tiba. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. Dan sebagainya. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. Kadang sampai 8. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. kompleks pertokoan. Banyak usulan. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Seluruhnya orang. tidak ke mana-mana.orang biasa. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. tak ada yang menulis. Misalnya. Keluarganya memberi tahu. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. keluarga. Saya catat riwayat hidupnya. Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. menyebabkan banyak orang mengenal saya. tukang becak. sekitar 5. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Yang jail maupun pelesetan. Begitulah. ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Masa pensiun pasti datang. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu.000 karakter. selalu saja orang .000 orang. ataupun di stasiun bus. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. ia seharian di rumah saja. lalu saya cari alamatnya. ia kaget. kenapa tidur di rumah. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. Alasan saya.

Saya nggak mau ditulis sekarang. Tapi ini kebetulan saja.” “Lho.” “Jangan ditinggal korek apinya ini. Kritiknya tidak berdasar. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Pak. Pak. Memangnya saya cenayang. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Maka ada saja orang yang anti-saya. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Sementara itu ada pula yang bilang. Dari kejadian itu. katanya.” “Biar untuk Bapak saja. Pak. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Banyak ngomong dianggap meramal. dan si bungsu di SD kelas 5. Tidak kenapa-kenapa. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya.” “Baiklah. Ada yang bilang. Ini benar-benar klenik. sedikit saja saya ngomong. Wah. Di pertemuan-pertemuan desa. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Saya tak bisa menjawab. ada yang mengartikan. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya. saya sedang mewawancarainya. sehabis ngobrol dengan saya.” jawabnya. Pak. lima orang.” Tapi. Keterlaluan. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. seseorang yang ngobrol dengan saya. ini bahaya. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. kenapa?” “Maaf.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis.nyeletuk: “Pak Jurnalis. Ketika orang menanyakan pendapat saya. Pak Jurnalis. Memang ada seorang yang “Pak. Anak-anak saya. jika seseorang ngobrol dengan saya. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Tidak kenapa-kenapa. Menurut mereka. Lalu malah terjadi serba-salah. Saya jadi pendiam dan menyendiri. “Maaf. Apa yang akan terjadi dengan saya. tulisan saya tidak adil . Ntar saya yang menulis Bapak. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. kenapa?” “Maaf.” “Saya permisi. “Lho. ia meninggal. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. yang paling kritis.

anak-anak ini sok tahu. Nah. Ayah pernah menulis obituari. saya berat. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang. Sebagai ayah. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. Nah.” “Boleh saja. kalian ngawur. Lima anak semuanya sekolah. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu. itu semua yang anak. Jika sampai di sini hal itu masih baik.” “Itu harapan saya.” dengan empat orang anak.” “Tidak bisa seenaknya begitu. anak-anak saya itu diam. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. “Kalian ngawur. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala. wah.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu.” anak-anaknya yang lain.” jawab saya. .anak saya tersebut.” “Nah.” “Ayah marah kena keritik. kan. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka. Itu doa saya. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga.” “Begini. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha.” jawab anak-anak itu. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. sedang rakus-rakusnya makan. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. ini dosa. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala.” “Semua orang bicara dosa dan pahala.” “Semuanya.

di kebun. Seluruh mayat itu. di luar kemauan. Sudah sering datang orang. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. di atas pohon. saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. muda. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini.00. tak seekor pun tampak terbang. mereka menatap kebenaran. 20 Januari 2005 .Kami sebenarnya keluarga bahagia. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. Tangerang. Bahkan burung-burung. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. Dengan ngantre minyak tanah. saya. mencecap pencerahan. Jam aum macan. merangsek ke depan meja saya. Allah…tanggal akhir hayat. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. Saya menulis apa saja. Alhamdulillah. Sinar matahari memancar. tanah. 26 Desember 2004. di jalan. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. di reruntuhan rumah. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. Istri saya saja suka empot-empotan. Saya rasa kali ini juga begitu. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. setelah sarapan. bayi. Ahad. di pekarangan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Karena istri saya gelisah. nistagmus. guru SMP. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. anak-anak. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. satu dua. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Saya acuh tak acuh. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. termasuk menulis berita. tua. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. mengular sampai jalanan. Ada apa? belum menemui mereka. panas. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Istri saya memberi tahu. Entah berapa lama saya pingsan. Hari baru membuka matanya. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. cerdas dan berani. Waktu saya siuman. Istri saya lewat jendela. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. laki-laki. perempuan. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. berserakan memenuhi ruang dan udara.

Senyum manja. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. entah karena basah yang kering. Entah karena entah karena entah. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. Sembunyi-sembunyi. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Saat penghakiman. Muka badak. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Bercinta di bawah para-para. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. saling berhantaman. Kami terkapar di atas pasir basah. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. entah karena nyala yang redup. saling beradu berebut perhatian. . dan ada yang hanya bagian tangan. Maka saya tahu. Meninggalkannya dalam diam yang haru. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Ia burung yang berenang. begitu istilah orang-orang. Dan ia terpana. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Untuk saling gombal. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. Pesta pora. Rajaman semu. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. Phuih! Saya meludah ke mukanya. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. bersentuhan dan mendesah massal. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. dengan kaki-kaki telanjang. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. Sendawa alkohol di permukaan udara. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. Girangnya sirna. ada yang hanya bagian kaki. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. memabukkan daripada kesadaran. Dan saya. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Maka… menggoda. Bahana tawa. hilang.

Tawa. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. diri saya sendiri terpaku. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. berapa kira-kira umur mereka.Saya menunggu. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. Tawa. Ia pun langsung mengambil Alkohol. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. Tawa. lalu memisahkan diri. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. Tawa. Tawa. Ada nama yang akan segera dilupakan. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. panjang ala kadarnya. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. Tawa. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Tawa. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Entah peragaan gaya. Tawa. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. Ada luka yang akan segera hilang. Tawa. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. Tawa. Tawa. “Sendiri?” Dan sesudahnya. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. Entah peragaan busana. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Tawa. Tawa. Di sebuah tempat antah berantah. Tawa dalam penantian. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Saya melihat langkah seribu. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. “Sendiri?” Saya menatapnya. Tawa. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Tawa berkepanjangan. Musik kian mengentak. bisa atau tidak para model itu. Tawa. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Sementara saya pun pura-pura tertawa. Tawa. Tawa. terjangkau.

Dan semua adalah ikan yang terbang. Maka bening berkumpul sedan. Mata saya pun memanas. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. Ia masih berada dalam diam yang haru. Lalu semakin banyak ikan yang terbang.“Huahahahaha…mata bintitan. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Semakin banyak burung yang berenang. Semua burung yang berenang. Jakarta. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. Ada yang mendesak ingin keluar. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. Saya menunggu. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. pantas. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. Ia burung yang berenang. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. dan pantas. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. mata yang menatap girang. Agustus 2004 . Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. dosa. Maka…. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas.

Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah. Rasa mual merajalela. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. tapi tak . Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. Harus operasi. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. Dok. Rasa takut seketika membuncah. Tapi saya berkata dengan yakin. Masih tak percaya.” kata supervisor saya. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. Saya akan menjaganya. Saya ingin protes. Ketuban sudah pecah.” kata ayahnya. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. yang masih lengket. Sembilan bulan sudah. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. Membuahinya. Masih tak percaya. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Baru pembukaan delapan. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Air ketuban sudah hampir kering.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Tapi saya ngotot persalinan alami. majikan. Saya akan menjaganya. Tapi… muda. Kepala saya pening. Menerima. Terus menyeruak dan mendarat lengket. sudah satu bulan setengah usia janinnya. jelas belum mapan. Pun mulai membukit perut saya. Dan jika operasi. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Membayar pembantu. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. Materi yang ada. “Robek saja.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. masih harus menunggu dua pembukaan lagi. liat. Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda.

tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. air. aku udah mau tidur!” semprotnya. Dan harapan. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. Saya tetap akan pergi. . Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Dan saya tetap akan pergi. Sudah jam delapan. Cukup lama saya harus menenangkannya. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. Harapan akan segera pulang membawa uang. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. Membeli apa pun yang harapan. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. Saya sudah tidak butuh rehat. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Tak menunggu saya pulang. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa. kontrakan. dan sekolah akan pulang. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. lagi. Di mana makhluk mungil menyusu. Berusaha memberikan pengertian. ketika suster itu berkata. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. Air susu saya sudah sarat. Saya harus segera menghayati peran. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. Berusaha memberikan rasa aman. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan.” Saya akan menjaganya. Tetap menunggu saya pulang. Baru akan dimulai merekam adegan. Lucu. Tetap akan pulang. kalau ia mau. telepon. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. “Capek ah nunggu. Kalau perlu. Jika saat itu tiba.bisa. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. Ia membiarkan saya pergi. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. kami akan menjelajah dunia. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Saya akan menjaganya. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. itu? Saya begitu tak sabar menunggu. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. membayar listrik. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Harapan akan segera pulang. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi.

Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. Ada kegelapan. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. Menunggu. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. menunggu emosi saya pergi. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Lantas meronta. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Melayang seperti burung tanpa menyimpan. Saya kecup kedua matanya yang merapat. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. Lampaui semua beban. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Entah disengaja untuk menarik perhatian. Menunggu. Ada puisi di dalamnya. menghalau saya supaya tak dekatdekat. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Tapi ia menggeliat. Satu saat nanti ia kembali. Menunggu. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka.harus terhambat kemacetan. igau saya. Menunggu kesadaran saya kembali. kemilau dengan tangan terbuka. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Menunggu. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. Saya Ada cahaya di ujung lorong. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. menyerahkan untuknya menyusu. sudah kembali pulas tidur. Saya akan menjaganya. Menunggu. “Action!” teriak sutradara. Pelan-pelan . igau saya. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar.teman saya semakin banyak. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang. berhari-hari. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. Yang berubah keterbukaan.minggu. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. sebagian orang yang menanggap saya munafik. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman. Di kantor. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. Sebagian lagi menganggap saya jiwa. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. Jika teman saya uang. pembual. Setelah putus dengan si B ternyata . Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. Di ini berjam. Semua orang merasa sementara teman. Jika teman saya kelihatan indah. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum. sok gagah. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. Banyak terakhiri. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. berbulan-bulan. restoran. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. Hal. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. atau masih melajang. kantong belanja. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. Mereka saling mengirim surat elektronik. Tapi kami masih menikah. Di pertokoan.sembunyi bermain mata. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. sakit jiwa. Pembicaraan mendadak berhenti.jam. sebetulnya tidak sepenuhnya benar. saya tidak pernah akal-akalan. Sebagian orang menganggap saya munafik. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan. Mereka sembunyi. berminggu. mulailah kelihatan berkantong tebal. atau murahan itu. bertahun-tahun. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Saya tidak pernah membohongi. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS.kami hanya sebatas pertemanan. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. Di rumah. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan.

pembual. sok gagah. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. Menganggap saya sakit jiwa. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. sakit jiwa. Menganggap saya pembual. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. Sakit jiwa. Menemani makan malam. Murahan! Jakarta. Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. Tapi tetap orang menganggap saya munafik.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. Saya hanya heran. Pembual. Mengirim makan siang. Menganggap saya murahan! lanjut berteman. Malam-malam panjang. Ereksi yang tidak lama kekal. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. Bercerita tentang film yang baru saja diputar. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Sok gagah. atau murahan. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. jalan. Mendongeng membayar ongkos perawatan. terima karena saya munafik. Karena. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->