Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

Dalam kepergian malam. pastilah manusia pun bisa. merunduk rendah. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. aku semakin menepi batu-batu. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang. dalam remang gelap. ”Ayo. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. Di dalam alun arus. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. Dan cap dalam keluarga. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. dalam sunyi air yang mengalir.benar menjadi warga kegelapan. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. yang dapat kutempuh. Orang yang berada di barisan menebas lehernya. aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. Kami benar.banting tulang memberi makan mereka. Gelap dalam sel. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. dan mengambil buah yang ranum. Tidak ada. Aku memanjatnya. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. ”Tuhan. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. kemudian tali dari kaki. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. Aku menduga. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam. Bayangan dalam benakku. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. sampai giliranku pun tiba. Pisang monyet. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. anak-anak akan telantar. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. banyak batunya. Aku berterima kasih kepada Tuhan .

Malam-malam berbintang. sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. seorang bekas interogatorku. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang.minggu bersama mereka. Sampai berpuluh tahun kemudian. dan mengirimkan upah yang kuperoleh. atau kalau musim ombak. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. yang tergenang dan bening. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. Kata orang tua itu. aku menemukan sebuah gubuk. Ada mata air di situ. iklim politik pun berubah. Aku bulan di laut. dan pelarianku. Rasanya aku berminggu. Bandung. aku menghitungnya. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. Akan tetapi. Pergi ke laut. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. menyongsong matahari yang terbit. Alam keras membuat mereka hidup. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. alamat. menjual ikan ke seberang. yang sudah berumur membuka pintu. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Aku pun terkejut melihatnya. 21 Agustus 2009 . Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. tepatnya sebuah lembah yang landai. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. Ia terkejut melihatku. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. Setelah berbulan-bulan. Kuketuk pintunya. Setelah kekuatanku pulih. di seberang ada laut. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan.mereguk air dari pinggir sungai. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. kukirim upahku. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. kepada anak-anakku. aku berjalan dan berjalan. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut.

“Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. Setelah menyulut rokoknya. petir seperti ini. Di sebuah kantor. Masih tersisa dua batang. Angin berkesiur liar kian kemari. Genangan air mulai meninggi. Tubuh terbakar hangus seketika. Kuambil satu. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini. Tanpa menoleh ke arahku. Betapa bodoh dan tololnya aku. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. Agak mletot karena terduduki. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. Gosong. mungkin aku sudah sampai di rumah. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Seharusnya di dua halte berikutnya.” aku sengaja berbohong. . Aku bersidakep menahan dingin. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Hujan masih saja lebat. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. Angin masih berkesiur. Sebatang rokok siap dinyalakan. Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. Kalau tidak. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. Senja makin lebam. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. Aku berdehem. Aku bersiaga. “Dulu. “Aku salah turun.” kataku sembari menatap ke jalan. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku.

” Laki laki itu tertawa kecil. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. Seperti hari ini. aku jadi tak bisa tidur. Baginya yang penting aku menggodaku. Kakaknya. Dan hujan tiris. “Kenalkan dulu. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. Kerja serabutan. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. Yang penting kau mau bekerja sama. dan dua sepeda motor. “Kita merampok. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu. “Kalau mau. Aku kaget. seorang wanita. Malamnya. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu . pulang membawa uang. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. Sukra tertawa. aku bisa bantu.” aku menyebut namaku. Adiknya. “Kita merampok orang kaya. sementara order menurun. Istriku di sebelahku sudah terlelap. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini. menikah dengan seorang polisi.” katanya getas. terus terngiang ajakan Sukra. Agak tinggi. meski dingin menyungkup. “Namaku Sukra.” aku. Yang pasti. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak. Agak gondrong.” ujarnya seraya menyodorkan tangan. Di antara empat saudaranya.“Tapi aku dipecat. laki laki. Gelisah saja. Uang mereka banyak. Tapi itu tidak penting. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. menikah dengan seorang juragan beras. Hidung mancung. Yang penting bisa makan. Ada barang sedikit dari mereka. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. ada yang curang dalam berdagang. Banyak sekali.” Setelah itu kami jadi lebih akrab. Aneh juga. Meski cuma lima belas ribuan. Malah yang paling makmur. yang hasil korupsi.” “Sukro. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. hidupnyalah yang paling susah. Aku jadi korban. perempuan. Hidupnya Merampok? Ah. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok.” kata laki-laki itu kemudian. “Nama kita hampir sama ya. Tak jelas mengapa ia tertawa. Mata dan pipi cekung. Agak kurus. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. Si bungsu. Tak ada gunanya. macam-macamlah. Sekarang nganggur. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Uang mereka pun belum tentu uang halal. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku. hidupnya tak pernah kelihatan susah. Entah di bagian mana. Apa saja.

lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. Sama saja.” Sukra meneruskan kalimatnya. “Kalau kau mau. misalnya. Sukro. Bisa kau carikan? Bayarannya besar. teman sekerjaku. Hari itu. jadi pengedar enggak mau.” jawabku sinis. Itu kalau kau mau. “Diajak merampok enggak mau. perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. Ada Selamanya miskin. Sudir. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. kalau kau mau. Bukan jadi pengedar. Agak berbisik. “Kalau bukan kita yang melakukannya.” banyak pilihan pekerjaan. “Jadi pengedar. sabu-sabu. Bukan merampok. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. Ia “Oya. langsung duduk di sebelahku. ia ikut memesan makanan. aku ada pekerjaan untukmu. Aku diam saja. Esoknya aku bekerja tanpa gairah. Sukra mengakak. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat.” Sukra membanting rokoknya. selamanya hidupmu susah. Lima turis Jepang. nanti malam. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya. Sukra!” aku membentak. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku.” kata Sukra. tugasku memasang pompa air. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. Tanpa basa-basi kepadaku.” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. orang lain yang mengambil alih.terjadi perkelahian. Sukra mengakak lagi. Lalu .” “Jadi apa?” “Aku punya tamu.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. Kra. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak. “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya. Ada ekstasi. Kro. ganja. Lalu aku terluka. Mereka mau ke Bali besok sore. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik. Aku diam saja. “Kalau kau takut merampok. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini. Kalau tidak. perempuan. Mereka butuh teman wanita. Ini tanpa risiko. Bisa juga dibakar massa.

Jadi makelar wanita.” membutuhkan wanita-wanita penghibur. Merampok. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar .” sahutku ogah ogahan. Sukro. Berhadap-hadapan. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. “Wajahmu cukup ganteng. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi.” kataku singkat membuat Sukra tertawa. Sebagai pekerja kasar. Sukra tertawa kecil. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. Tapi. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. Mendengar celoteh Sukra. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. Jadi. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan.” Selepas makan.” katanya meyakinkanku. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. warung Tegal tempat kami barusan makan. Tak begitu berat. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. Dan muda. Jadi pengedar. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan. Apalagi kalau sedikit kau rawat. Hanya cukup untuk makan. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. Setiap hari kau bekerja keras. cobalah berpikir sedikit lebih rasional. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. mungkin kau benar. tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. memepet Sukra. dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya. jadi kunyalakan. meraih tanganku. Nah. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu. kau juga berotot. Aku mengambil sebatang rokok.” Sukra memulai serangannya.“Itu pekerjaan haram. setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. “Haram? Ya. aku lupa. Terpaksa aku menggeser sedikit. kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. Menahanku dengan paksa. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. “Maaf. Siapa tahu kau tertarik. Aku cuma terdiam. Lagi pula. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. Rokok tak seorang perempuan. “Tenang dulu. Sebelum sempat kunyalakan.

Itu “Aku tidak tertarik. Janda. “Mengapa bukan kau “Kro. Tidak tergantung pada Kesepian. kau juga bisa bekerja untuknya. Tapi gajimu tetap tiap bulan. Sekarang aku mau berbagi denganmu. sekali. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Kaya. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri. Masih terengah- . Aku mau menolongmu. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. Aku menggeleng. Aku terbangun. atau yang pria saja. Tanpa menoleh. engah. Tidak setiap hari juga. Atau. Aku malaikat penolongmu. Dan. Sukra melanjutkan. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. Sampai terengah engah. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram. aku buru-buru meninggalkan Sukra. Kunyalakan lampu kamar. “Aku punya dua klien.” Sebelum aku berkata-kata. Nah. Cantik. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan.” Aku masih saja bungkam.” berkata begitu. Sukra tertawa. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku.” aku berkata ketus. Mungkin dua kali seminggu. Ia masih membujang.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Semua pekerjaan yang saja. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. Desember 2006 “Ada apa. Perigi. Yang pertama seorang wanita setengah baya. “yang kedua adalah seorang pria. Tergantung kebutuhannya. Dan lari. Ia menyukai sesama jenis. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu. “Sukro!” Sukra berteriak. Kau bisa bekerja untuknya. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. Tanah Kusir. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. Ia tak suka wanita. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Sukro. kau bisa ambil klienku yang wanita saja.dibutuhkan.

Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. Itulah sebabnya disembunyikannya. Sungguh. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. suaminya yang minggat. olehku yang buta. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. Ia seperti dikutuk kecantikannya. gugusan awan merah muda. Baiklah. suaminya. Bilur jejak luka di tubuhnya. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. daun-daunnya yang kemerahan. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. 28 tahun lebih enam hari. Tapi ia hanya tertawa. aku langsung tahu. dan Mawar. bayangbayang yang putih dan memanjang. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. kakinya jenjang. karena aku buta. untuk kesekian kali. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. juga angin yang pucat kelabu. Saat pertama kali melihatnya. ia memilih menyendiri.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara.” katanya. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. Tapi kalian mengatakan aku dusta. masa lalunya yang penuh kesedihan. Kuceritakan penglihatanku. dua tahi lalat kecil di punggungnya. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. Seperti malam-malam sebelumnya. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Kadang tampak ganjil . Aku memang tak punya mata. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. Aku melihat garis pedih dan hitam.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. berdiri menunggu seseorang datang. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran.

Melihatku yang tak punya mata. kenapa buta?” Ia sayu menatapku. dan ia bergidik ngeri. kami akan menaruh matamu ini di surga. . Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya.” Tentu. Ia begitu membenciku. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. ketika aku lahir dan menatap dunia. kamu bisa kembali mengambilnya. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit.” Di rumah itu pengkor. kau akan melihat banyak rahasia. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga. Ia membuangku. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. Kelak. dan tak pernah mau menatapku. Aku memang memilih tak punya mata. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis.” ”Kalau begitu. ia seperti menemukan barang berleleran. ”Biarlah aku tak punya mata saja. Perot. Tentu. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu. kau bisa menduga.” dan kaki pada tubuhku. ”Aku tak buta. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. buat apa aku punya mata. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. diberinya aku degup jantung. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah. Ada yang bongkok.” ”Bila kau tak punya mata. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku. dan berkata. Digerogoti kusta. ”Mata ini akan membuatmu jelita. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. ”Dan kamu. Jileng. Ada yang gagu. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. ”Baiklah. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. Aku tahu. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan.” Lalu aku pun bercerita padanya.

Dunia memang tak menuduhku berdusta. tapi petugas yang lain segera berteriak. Aku seperti mendengar lecut petir. kemudian yang lembek. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. yang kusaksikan membuatnya terpesona.” Aku bisa memahami perasaannya. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding. Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Mungkin saat itu aku berteriak. Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. tapi tak percaya.”Lihat. Di pojokan toko. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut. kau pun takut menatapku. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. ”Kau menyenangkan. ”Lihatlah. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. Tapi dengan apa kau melihat.” Ia kembali tertawa. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. Barangkali ia pun merasakan firasat itu. Ia bisa kehilangan pelanggan. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai.” katanya. Lepas 3 dini hari. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. Arak yang mengepungnya. Kau mendengar suara. Ia terus tertawa. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. Aku tahu menyeringai tertawa. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. Semuanya berlangsung begitu cepat. meliuk merunduk. cahaya seperti lumer di sela jariku. Kutegaskan padanya. aku bisa melihatnya. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. Aku bahkan nyaris dicekiknya. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam. Mungkin tidak. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. ketika beringas dari biasanya. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. Sebagian pelacur telah pergi. ”Bukannya aku tak percaya. rambutnya basah tertempias hujan. Ia pun hendak lari. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku.

Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. tapi mereka. kalian pun bubar. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. memar. bibirnya bengkak kena pukul. Sebagian kalian tertunduk. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Maka menghapus bayangan buruk. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Melemparkannya ke mobil patroli. Wajah Mawar pucat. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Di pangkalan ojek. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. ketika Mawar menjerit. Kalian mesti ke gereja. Kuceritakan apa yang kusaksikan. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Setelah mayat itu digantung. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. melenyapkan maksiat dari kota. mulutnya. motong delapan korbannya. Di kasuk-kusuk. Siapa yang membawanya? Baiklah. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. kuceritakan apa yang telah kusaksikan. Karena bagaimanapun seluruh kota. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. seakan ingin saat itu hari Natal. Begitu nyata dalam penglihatanku. Padahal bukan aku yang dusta. Di kantor. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. Ada bercak darah di pisau itu. Hujan rinai . Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. Orang-orang ramai membicarakan. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. Pelacur dan pembunuh. Ia mengamuk dengan buas. kemudian bergiliran memperkosanya. Mereka selama ini kalian sahkan. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. kemudian digantung sebagai tontonan. Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. burung gagak merah berkaokan. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan.Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Sampai malam. Rupanya ia mabok berat. Di warung dan kafe. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. Di ruang tunggu rumah sakit. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota.

Rambutnya ikal dan panjang. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. kemudian menurunkannya. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. Saat itulah. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. keemasan yang cemerlang. seperti ada cahaya mengitari kepalanya. Senyumnya seperti berjalan anggun. Kuceritakan ini pada kalian. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. Aku begitu terkesima menyaksikannya. malam mengelabu.tergantung dalam bayangan cahaya murung. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. tapi kalian menuduhku pendusta. Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. seperti memanggil nama pelacur itu. 2008 . Matanya seperti bintang bening. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air. Yogyakarta. Aku sendirian di alun-alun itu. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. meski sesekali Kudengar ia berseru.

Tapi. Kami menyambutnya dengan sukacita. ember. tidak penting untuk dipersoalkan. Pada suatu malam. gelas. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. rame- gelandangan. kami. aman dan nyaman. Ada yang memijit. panci. Ibunya. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. Di dalam gerombolan kami itulah. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. Saya ditemani kompor minyak tanah. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. Untung. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. dan tidur. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. apa pun yang terjadi. membaca. karena berbagai alasan. dan menyanyikan lagu yang itu. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas. esai. saya hidup. pengemis. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. pemulung. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. rame makan. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. karena peristiwa itu. Malam itu. teko. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. Sayup- . dan sedih. lelah. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. dan bercocok tanam. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. sejak tahun 1997. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. Nining. Setiap minggu. mereka belajar apa saja. juga memasak. juga cerpen. Semalam. meski hanya sebagai ayah tirinya. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. piring. memang milik Pak Darkin. tindih-menindih. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. pengamen. menyanyi. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. yang selalu membela putri kandungnya itu. Ada yang mau memanggil dokter. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri.

Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. teh. Aduh. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Sayang sekali. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. Saya diseretnya keluar.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. kami kami akan bersedih sepanjang masa. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. Tapi.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Pedagang tak pernah kehabisan. beberapa ekor daging ayam segar. sayur menyumbang sayur. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. kaus oblong. dan peralatan mandi. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. gula. Ia meradang. Ternyata tidak hanya beras. ”Saya tidak tahu. meriahnya. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. saya dinaikkan ke becak. Pedagang ikan menyumbang ikan. bahagianya. Bernapas saja sangat sulit. Nining tidak bersama kami. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining. Tapi. Pak .” jawab saya. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Saya digelandang terus. kopi. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. telor beberapa kilo. tak ada sisa sama sekali. Rupanya saya dibawa ke terbangun. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. Aduh. Sesampai di jalan raya. Setiap habis gajian. Saya heran. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. juga minyak goreng beberapa botol. Pedagang beras menyumbang beras. saya bisa membantu mencarinya.

Pokoknya serba tidak.sebuah pekuburan yang gelap gulita. Ternyata wajah beliau tidak . ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari. Tidak bergaul. merupakan sumbangan Kiai Kintir.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. Itulah jalan spiritualnya. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya. ketat sekali balutannya.” ”Wah. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo. Beliau selalu bisa membahagiakan orang. kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. Saya tak bisa bergerak. pernah sejumlah terekam. beliau tidak berniat sedikit pun. tidak menerima santri. ”Saya menunggu Bapak. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. tidak mengajar. Cerita lainnya adalah. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu.” suara seorang gadis membisik. Maka mengiriminya duit. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo. sedang untuk dirinya sendiri. yang muncul hanya gelap gulita. ”Saya Nining. membujur kaku bagai jenazah. Saya sadar. tidak mau diwawancara. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. membanting dan membalut dengan kain kafan. Tiba-tiba: ”Pak Totok. tidak mau diundang makan.

Mobil. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. Sesampai di jalan raya. Solo Baru. Tak terjadi gerimis. Dari jauh. mengambang hanyut seperti mayat. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. Sejauh mata memandang. becak ditinggalkan pemiliknya. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Semanggi. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. berucap. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. Satu-dua orang penonton motor. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. Semuanya diam. Joyontakan . telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Sampai fajar merekah. Tak terdengar geledek. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. Tangerang. hanyut dibawa arus. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai.Sejak dini hari. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian. rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. andong. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang.

Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. hanyalah kegelapan. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. Seperti malam. Dari penginapan. Membuat mereka tak tenang. Mata saya mulai merapat. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. Semakin gelap semakin ramai. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Pada gelap. Namun. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. semakin gelap. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. Sepanjang mata memandang. suara-suara begitu jelas terdengar. Cinta pun membutakan. Seperti gelap. Begitu dekat. Orang-orang menamakannya cinta buta. Tubuh kelihatan amat samar. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Tak pernah merasa tak tenang. hidung terasa melekat. di kebutaan seperti itu. Lembut mendayu-dayu. saya tak perlu meraba-raba. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. Apakah benar masih ada hari esok. . Banyak orang yang begitu takut pada malam. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan.

Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. atau malam? Karena buta. Kalimat di bungkus kondom “ASLI. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Tapi dengan satu konsekuensi. Segala garis maupun dan bersatu. Membuat saya Saya tahu. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. atau Jantung keras berdetak. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Mata saya pun semakin buta. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. saya bilang. Tak terkecuali pagi. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. Suara yang semakin lama semakin serak. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Membuat saya kerap merasa terjepit. Mungkin malam akan membuat saya takut. Bunyi ranjang berderak. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. Dicengkeram gerhana. Saya jatuh cinta. Antara pasrah dan pasrah. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Tak terkecuali malam. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Semakin kabur. saya bilang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. Antara lelah dan lelah. saya akan bisa mengulanginya lagi. adalah asli. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. melihat matanya sedang menatap. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. datang dari diri saya sendiri. bukan kala pagi atau malam hari. melainkan asli. Bertemu kala siang.

Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Sejak kemarin. Diganti dengan jawaban. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir. . Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Tak bertemu hanya kala siang. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. karena cinta telah membutakan kami berdua. di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Mungkin… pagi dan malam. Jakarta. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air.mempersatukan tubuh kami jadi menciut. Tak menunggu kala atau malam.

jam berapa datangnya? Dari tadi. positif hamil. Jadi. kalian berdua kan dokter. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. Setelah itu. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. “Kalau tahu begini. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. tahun). “Mbak. Beberapa hari yang lampau. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma. Tantiana. Nana menunggu!” meneruskan omongannya. sekarang ada di rumah sakit.” Nana merasa terkunci. saya sepertinya sudah dapat firasat. waktu ke toko buku.” Nana mengatupkan bibirnya. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. Aditya (25 tahun ke-30. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater. setiap keputusan hanya ada pada saya. Dara.” Nana terenyak. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. anaknya. Mereka mencari sebuah restoran. dia baru berusia 17 tahun. “Tante dan Om-mu. “Dik. yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Adiknya berkata. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. “Datanglah bersama Dara. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya. adik bungsunya sambil menangis mengatakan. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. menikah! Mendahului anak sulungnya. Sebelum terjawab. sekalipun berprofesi dokter. saya membeli buku nama-nama calon bayi. lebih baik kita naik kereta saja. Sesungguhnya. Rizal kan cuma teman. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. Seperti dua “Ma. adik bungsunya menelepon HP-nya. Padahal.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. Aku bosan .” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. Dua minggu yang lampau anak bungsunya. “Ma. saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. Nana melihat Dara. Tantiana menangis terus. Alvin. mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap.” sampeyan kok belum datang.

Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai. Tapi. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan. Yang terjadi di luar mimpi kami. kau menikah. “Waktu kau beranjak remaja. Padahal.” Apalagi. saya tidak bisa janjikan itu. Pastinya mereka menganggap “Maaf. tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia . Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. Tapi. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. Kami tidak merisaukan hal itu. “Ma. Padahal. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. Kendati mereka masih tinggal serumah. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. sejak lulus SMA. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. aku kepingin jujur kepadamu. memegang tangan mamanya. Kedokteran juga serius. Mulai sejak itu. tapi kemudian Nana berpikir. “Setelah Aditya menikah. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. Sekalipun Nana merasa. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. Padahal. apa pun pendapat masyarakat. aku diliputi perasaan gelisah. kata kuncinya cuma satu. jarang bisa ngobrol.” sedih sekali. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu. dia menyukaimu. Sekalipun. Siapa pun tahu. Didit tidak meneruskan sekolahnya. “Ma. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. saya perempuan yang berat jodoh. Sesungguhnya. berapa pun umur Dara. kemudian mulai pacaran.” Mereka saling melihat. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. Nana seharusnya berkata begini.” Dara. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara. Apalagi. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu.Dara tersenyum. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. kau tidak peduli pada mereka.

” “Mama kan tahu. Tapi setelah dewasa. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. Jadi. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. Tapi. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. pada persekian menit. untuk menguatkan satu dengan lainnya.baru saja berusia 13 tahun. Rizal. kalau sudah begini. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. Lantas. Sehingga Rizal berkata. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. harus berempati saja. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. terapi ini tidak berkelanjutan. “Dara. “Ma. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri.” Dara berbicara lagi. Sampai hari ini. . Sebagai seorang dokter. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. bukan bersimpati. Nana memegang tangan anak perempuannya. Karena. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. tapi dua orang yang sangat dekat.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. dibicarakan oleh mereka berdua. banyak hal yang dipikirkan. Pastinya. kalau kau mau cerita. pesawatku delayed. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini. Semuanya memang harus diselesaikan. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja. ketika mencoba bercinta dengan Rizal. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat. Sekalipun.” Kemudian ada dering telepon lagi. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali. sekadar dokter dengan pasien.” “Ma. aku sudah siap untuk semua yang terburuk.” “Dik panggillah dokter. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks. “Sebagai seorang dokter. dia tak berhasil. sekalipun mamanya juga dokter. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya. Padahal.” Dara merasa tak berdaya. Dia merasa jijik! Namun. seperti semua dokter.

“Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. jadi kita bisa membagi. tiga darimu dan dua dari Aditya. aku memaknainya lebih jauh. belahan hati suami dan istri. butuh proses yang panjang. Nana memeluk Dara. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. Ketika memasuki ruangan ini. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. Sedangkan anakmu. Beberapa bulan kemudian. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang. tidak bisa diperbaiki. Rizal. ketika Nana berkata.“Sayang. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu. biarlah jadi anaknya Mbak Dara.” kesakitan. Aku yakin kau bisa memahami itu. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. dan melebar di ruangan ini. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. aku kepingin anakku ini punya dua adik. 10 Juni 2008 . Di luar dugaan. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. Tantiana sedikit tenang. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. Bahasa simbol itu artinya. Rizal tersenyum dan memeluknya. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. Jadi. Setelah anakmu lahir. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu.” Tantiana menangis. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini. lahir anak Tantiana. Nana. Kalau tidak. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. Percayalah. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. “Dik. Karena untuk kesembuhan ini. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. dihadiri Rizal dan mamanya. senyum ada di antara Dara. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. Teman-teman anaknya berteriak-teriak. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya. “Zal. aku tak akan pernah bertanya lagi. yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. Tidak ada air mata. Yaitu garwo (sigare nyawa).” Lantas.

Tak ada yang beda. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. sungai-sungai keperakan. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Paling seminggu sekali. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. kabut berebut kecup pipi mereka. meski sama-sama biru. Pada bulan yang sama. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Bertahun-tahun selalu begitu. Sungai itu selalu mengalun perlahan. Itu bisa terjadi meski di siang terik. langit kadang biru. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. tiap tahun. Warnanya lebih tua dari langit. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Sangat pagi. diganti genting Jatiwangi. Dahan dan batangnya dari besi tempa. berkerlip menyilaukan. Rumah tak lagi setengah bilik. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Lantai semen sudah ditambal keramik. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. burung berkicau di pucuk daun kersen. Saat itu seisi rumah ketakutan. Dulu. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. apalagi waktu seekor uncuwing. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. pegunungan ikut merona. Di bawah. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Tak ada lagi berita dari Nining. menggerus apa saja. meski warnanya juga hijau. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Waktu membuka pintu. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. bila langit sedang bahagia. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Embun basahi sepatu sekolah. halaman depan.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. kadang kelabu. tempa. Ada fotonya. Orang-orang menyebutnya siit . Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Hujan malas berkunjung. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. Ada jembatan di atasnya. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. semua berisik dan bocor kala hujan. sungai itu juga bisa mendidih. Cat tak lagi kusam. Saat matahari menggeliat. “caah caah caah!” September. raut pinggul gadis-gadis menari. sungai itu. Tapi semua orang tahu. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. Sudah seminggu tak mampu bangun. rumah.

Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. tapi tak diobati. Lepas magrib sambil membawa abah. burung itu menjauh dengan senyap. Nining! Bantu Enin. begitu kepercayaan Enin. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. “Sieuh. sieuh. Malah tampak riang. pergi sana. Tak menapak di mana pun. bahkan hingga tahlil seribu hari. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. Tapi tangis ledakkan rumah. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya. . Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. Tapi. “Arum. tapi karena sakit. Entah kebetulan atau bukan. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. “Komar. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. Sakit. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. sieuh. Komar. halig siah. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. Enin peluk buah hatinya dengan haru. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. cepat sehat. Menjerit memanggil kematian. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Ia hanya katakan pada Arum. “Belum waktunya anakku kau jemput. terutama Nining. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. panik. Lompat dari satu dahan ke dahan lain.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Siit uncuwing pembawa kabar duka. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. uang. Sieuh.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. esoknya Abah mulai bisa duduk. Ia terbang menuju lembayung.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

’ katanya!” Berharap dan menunggu. ”Hmmh. Ibu terdiam. Ibu Saleha. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. Telepon berdering. Diangkatnya ke telinga. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha.” katanya. televisi. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. Ibu bergumam. lukisan itu. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. meja itu. ’Satria sudah mati. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. Ibu. dan duduk lagi di situ.’ kata Bapak.’ kataku. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. deringnya sudah berhenti. ruangan ini. buku. ruang dan waktu yang seperti ini. Pintu. saya tidak bisa’. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. Ia menggigit bibir. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. telepon. ”Bapak… Kursi itu. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. Ketika disambarnya pula. Seperti ini juga keadaannya. ’Saya selalu teringat Satria. ’tapi cinta adalah soal kata hati. membantu aku membereskan kamar Satria. perabotan. Saras. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. memang rasanya ia seperti anakku juga. jendela. dan kami masih seperti orang menunggu. Rambut. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. wajah. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Saras.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Berharap dan menunggu. . nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. seperti Saras itu punya dua ibu. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. Lantas melihat ke sekeliling.

dan akhirnya dibunuh. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. Munir juga sudah mati. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. sekarang untuk kalian berdua. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. kenangan. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. dianiaya. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. Lantas orang-orang itu berkata. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak.” Dipandangnya kursi Bapak lagi. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. juga terkenang-kenang kalian berdua. Di hadapannya.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. Impian. Nanti dulu. Aku terima Satria sudah mati sekarang. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. menata gelas dan piring. ”Pak. ”Sudah sepuluh tahun. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. ”Bapak sendiri yang bilang. Foto orangtuanya. seperti Ibu berada di dunia yang lain. Menerima? Menerima? Baik. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. Pak. padahal aku selalu makan sendirian saja.’ katamu.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. Bapak. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. aku masih mati. tetapi kalau terbangun. Bapak sudah mati. tutup matanya dibuka. Jiwa terasa memberat. Satria sudah mati. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. Saudara.

”Tapi…. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada.”…. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. ke langit. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. memegang kepalanya. menyatu dengan jiwa terluka. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. mengembara dalam kekelaman semesta. dan aku masih tidak tahu apa-apa. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. jauh. seperti palung terpanjang dan membara.” Nada bicaranya menjadi dingin. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin. ”Menculik anak orang dan membunuhnya. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. berbisik tertahan. jauh. Bapak. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. Mencoba menjawab sendiri. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. Hanya bertanya jawab dengan Bapak. membara dan menyala-nyala. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. luka sayatan yang panjang dan dalam. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. o palung-palung luka setiap jiwa. Lantas bertanya-tanya lagi. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. menutupi wajahnya.

Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. Tapi selalu ada. Tidak jelas jam berapa. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. luar negeri. menonton itu. malah seperti lupa. Ada saja yang dia omongin itu. tukang bakmi langganan Satria. Lupa ini-itu. ’Ya enggaklah kalau ngibul. lantas ngomong tentang dunia. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. membaca koran. Muncul dong sekali-sekali Bapak. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang.’ kataku. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. datang menengok cuma hari Lebaran. Di luar rumah. di kursi itu. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. memberi komentar tentang situasi negeri. Ia selalu bertanya. ”Bagiku Satria masih selalu ada. Ibu masih berbicara sendiri. kursi itu seperti biasanya. malam entah karena apa. dan hanya didengarnya sendiri. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. Ibu tampak mengenali. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. Tidak pernah ketemu lagi memang. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. kadang aku seperti melihatnya di sana. menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun.Terdengar dentang jam tua. makan pisang goreng yang televisi. ”Bapak. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. tapi tidak memanggilnya. Dasar Bapak. banyak yang sudah berubah. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. orang. bagaimana dia diperlakukan. sampai setahun lamanya. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. ”Bapak. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. menyeruput teh panas. pakai kaos oblong dan sarung. banyak juga yang tidak pernah berubah.” lewat. Duduk di . Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun.

Ibu beranjak mengambil telepon genggam. kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. Hanya lewat. Rahasia kehidupan.” gumamnya. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. ”Pasti ibunya Saras lagi. Telepon genggam Ibu berdering. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . suatu kejahatan. ”Ini suatu aib. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. Ibu seperti tersadar dari mimpi. tanpa senyum. ”Kursi itu tetap kosong. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. ”Ya. malah Si Saras.” Ibu masih berbicara. ”Eh. ”Ceritakanlah semua rahasia…. Tapi rupanya bukan.

Tentu. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. perahu tetap teronggok sejak semalam. Hayati berlari begitu cepat. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. . Para nelayan memang hanya tahu perahu. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. lantas melangkah ringan Hayati. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. sejak bertahun. seolahsamping gubuknya. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk.

“Cabut badik? Heheheh. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. aku juga sudah bicara kepadanya.” “Perahu Sukab menyalipku. burung-burung camar menghilang. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. dan memang selalu kencang di pantai itu.” “Oh. . mesinnya sudah mati. sangat kencang. Jawaban mereka bermacam-macam.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. Kulihat mereka tertawatawa.” Nenek itu memaki. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. dan perahu- Menjelang tengah malam. tetapi membentuk suatu rangkaian.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali. “Ya. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang. “Hayati dan Sukab saling mencintai. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. ya. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. perahu Sukab belum juga kelihatan. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. “Ke mana Hayati. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. Pada akhir hari setelah senja menggelap.

berikut pancing dan bubu. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. nenek tua itu menggerundal sendirian. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. tapi mungkin ada juga yang lain. kursi buruk. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. meja buruk. bukannya tambah penumpang. bergemeletuk seperti sebuah mesin. mulutnya sebuah koyo. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Alas kaki yang serba buruk. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. Dipan yang buruk.“Aku lihat perahunya. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. Ada juga pesawat televisi. berkeringat. hanya sandal jepit yang jebol. tentu saja tidak ada sepatu. Sebuah foto pasangan bintang film India. Wajahnya pucat. . Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. tetapi tidak seorang pun di atasnya. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. dan jala di dinding kayu. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. lemari kayu yang buruk. tetapi tampaknya sudah mati.

mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. kedua.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. “Ya. “Aku memang hanya orang kampung. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan.” kata seseorang. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. melalui perceraian. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi. dan sangat mungkin. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi. karena memang sering terjadi. tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. . perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. Hari pertama. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. Nenek tua itu terdiam. Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. Ibu.

Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis.” Segalanya mungkin terjadi. mungkin bukan mati. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. Kulit terbakar. April 2007 . Keduanya terdiam saling memandang. Desember 2006/ Merauke. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. “Kukira mereka tidak akan kembali. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Keduanya mengerti. Di pantai. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. pada hari ketujuh.” mana mau ia mencari ikan bersama kita. pakaian basah kuyup. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara. Sabang. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. Hayati.” sahut yang lain. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam. Sukab tampak lemas di atas perahu.

dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. mereka datang untuk mengemis.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita.” “Oh. dan nanti menghilang setelah Lebaran. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. Apabila tanah lapang sudah penuh. Semuanya ia tangani sendiri. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas. rumah gedung bertingkat. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain.” . anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil. menggelar tikar. seusiaku. mereka selalu datang selama bulan puasa. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja. karena kakekku adalah orang yang sibuk. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota. atau bahkan di depan. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. tetapi Kakek tentu saja melarangku. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. Aku tidak bertanya lebih lanjut. mereka menginap di kaki lima. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. perusahaannya pun banyak sekali.” kata Kakek. Di samping menjadi pejabat tinggi. dan tidur-tiduran dengan santai. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek. memasang tenda plastik. Dari jendela loteng.

” atau “Orang miskin itu jahat. Kakek tidak pernah menjelaskan. bahkan mobil pagar. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. seperti kata Kakek. pula. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi.rumah orang untuk mengemis. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. menyebutkan kata-kata semacam. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. Benarkah.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. tidur-tiduran menatap langit dengan santai. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. depan rumah. memang selalu kulihat mata yang menatap. “Hati-hati terhadap orang miskin.

Pada hari Lebaran. asri. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. entah dari mana. biasanya kan begitu. karena tentu mendahulukan Kakek. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. bahkan sebagian telah pula masuk. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. padahal hari Lebaran sudah berlalu. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek. kokoh. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya. dan mewah dari luar pagar tembok. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. seperti hadir begitu saja di dalam kota. penghuni rumahrumah gedung satpam. >diaC< Pada hari Lebaran. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. “Tenang saja. mandi di kamar mandi mereka. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. makan di meja makan mereka. pasti tidak lewat jalan tol. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. Lagi-lagi Kakek menghela napas. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. merayapi tembok. tidur di tempat tidur mereka. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. Mereka juga berharap begitu.” kataku kepada Kakek. kuat. dititipkan kepada tetangga. dan hidup di dalam rumah.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” .” kata Kakek. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. itu banyak yang pulang kampung. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. melompati pagar. pulang ke Negeri Kemiskinan.” “Tapi kali ini banyak sekali.” “Ya. mendapat omelan panjang dan pendek.” Para tetangga tidak membantah.rumah gedung itu.mengantar kolak untuk berbuka puasa.

“apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki.” menerima segala akibat perbuatan kita.“Ya. Minggu. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. menduduki setiap tanah yang bertingkat. Pondok Aren. Barangkali saja untuk selama-lamanya. Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. melompati pagar. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini. gerobakbanyak.” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil.” sahut Nenek. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. tinggal di sana entah sampai kapan. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur. setelah hari Lebaran berlalu.” katanya kepada Nenek. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. 7 Oktober 2006 kosong. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. bahkan merayapi tembok. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang. memasuki rumah-rumah gedung . Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. Heran. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti.

tetap misterius. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami. berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. tetap bertahan. kemudian berbeda kelas sosial. Apabila kami berbeda kulit. tetap membara. Memang kembali. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. lengket bagai benalu. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. menjadi pasangan baru. lantas saling mencintai. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. nah. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji.Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. Hanya kekosongan. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. tetap menggelisahkan. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. Aku mengatakannya semacam takdir. dan bukan takdir itu sendiri. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. namun kami udelnya. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. karena kami memang tidak terpisahkan.

Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. Karena undang-undang melindungi komodo. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. yang sekarang berada di Pulau Komodo. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. Laut dan langit bagai bertaut. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. Tetapi. sebagai manusia biasa.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. Namun. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. yakni cinta yang dahsyat itu. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. begitulah. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. kami akan saling mengenali. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. masihbisa mencintaikekasihku. Karena kami selalu berperilaku baik. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. di tempat yang baru itu. Sebagai seekor komodo. Hanya kekosongan. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. juga dihuni komodo. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. kukira. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. bisa berupa kursi kekuasaan. bersentuhan sama sekali. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. Akibatnya. Cinta diuji oleh cinta. dan aku tidak mengetahuinya. Hmm. Atas nama cinta. Cinta yang sejati.

akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. Nostalgi=Transendensi (1995).000 ekor. Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. Kalau aku tidak keliru. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. hal 111-114. Semuanya sudah terlambat. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. Bersenjatakan tongkat bercabang. Labuan Bajo. Aku terpeleset dari tebing. Di dalam tubuh itu 1. Sudah jelas ia tampak kelaparan. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. dan meluncur masuk ke kubangan. Baca Linda Hoffman. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. hal 75. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. 2. sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. aku menjadi ragu. Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. sebanyak 1. Ternyata. seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. “Introduction” Lombok to Timor (1997). langsung patah beberapa bagian. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. terdapat pula di Pulau Rinca. dengan jumlah sekitar 1. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. East of Bali: from . Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. dan mencintai kekasihku….650 ekor (1994). Cintaku Jauh di Pulau (1946). Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. kurator Museum Zoologi Bogor. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo.hatiku terasa kosong.

yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. pada 1972. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. cit. op. hal 111-2. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. ibid. terjemahan A 5. Lebih Ikram.. kaki tiga untuk kamera. namun terjadinya di Pulau Rinca. Kampung Komodo. dalam Muller. dan Bahasanya (1987).. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- . Mereka menyebut komodo sebagai ora. Rakyat. 4. yang lenyap di Poreng. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya. jauh baca JAJ Verheijen.3. hal 112 tahun. Muller. Pulau Komodo: Tanah. terdiri atas 400 KK (2003). satu-satunya kampung di pulau itu.

“Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. untuk kita. “Ya.” Tersenyum. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu. barat sana. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya. Elena?” “Bien. tangan si wanita memegang tangan si pria. Seperti ada beban yang menindih. “Belum. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya.” Si wanita tersenyum. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya. meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah.” kata si wanita beberapa saat kemudian. Pedro.” Seorang pria duduk di sebelahnya. Pedro. Si pria menoleh. Julia. “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song). Ada nada pedih. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka. Kepalanya botak. Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. Ia setua si wanita. “Aku selalu menyukai lagu itu.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum. “Si bungsu.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas. Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan. Muy bonita. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya.” “Untuk kita. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. Bara cinta meletup di dadanya. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya. Muy bien. Sesaat ia diam. Suaranya lirih. Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria.” katanya. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. “Como estas. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan.” . Mi Jaragual (My Little Farm). Suaranya datar. “Una hija. hoy.

Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya . meskipun itu Si pria melirik si wanita.” Malam terus merayap.0<>w 8000m< 26 tahun lalu. Di wajahnya berdebar. Dalam sekali pandang. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. cinta mereka berdenyut. si wanita membatin. wajah Raul bergulir. Pedro? Por que?” si wanita menoleh. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja.” kebanggaanku meski aku orang Basque. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir. Pedro datang dengan segala atribut El Barca. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. Ia selalu merindukanmu. Ia masih tampan seperti dulu. Aku cuma Si wanita tersenyum. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi. Tangannya masih juga memegang tangan si pria. Pedro. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp. “Kalau ia menuruti kata-kataku. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. Akan ada dua Raul di sana. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. Begitu juga Elena. memandang laki-laki di sebelahnya itu. Demi aku. Monumental de Barcelona. Di musim panas. Begitulah selalu di Spanyol.Si pria menarik napas. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. matador legendaris yang amat masyhur. Dalam benaknya. Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. Kau bisa pura-pura bahagia.” Mendadak si pria tersenyum getir. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. Api cintanya membara. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut. Tanpa berkata. Tak sabar. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. Api cinta bergejolak di dadanya. bertaut. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita.

“Kau sehat?” si pria bertanya. Mengecup kening si wanita. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah.” Si pria bangkit. Mereka tak menadahkan tangan. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan. Di dadanya rasa nyaman merambah.” “Mi.” Elena tersenyum sumringah.” Si wanita tersenyum. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas. ada yang dalam gegas.” katanya. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. Sejak dulu matamu selalu bagus. “Seperti yang kau lihat.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. Elena. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Pedro. Ada yang santai. Hasta luego. Mereka menjual kepandaian. “Pedro. Suaranya agak parau. Seperti juga hari-hari sebelumnya. Tapi. Lalu mereka . Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. tongkat di tangan. ia duduk di sebelah si wanita. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. bukan?” si wanita menjawab. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. keduanya krim di tangan mereka. “Sudah saatnya kita berpisah. si wanita berambut keemasan itu. Kesejukan di hatinya singgah.” kata si pria kemudian. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman. Elena. ia memang tak ingin menghitung. tambien. Tanpa menoleh. Kelompok Elena. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. muncul belakangan. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas. “Te amo. “Buenos dias. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. menghentikan langkah si pria. Aku pamit. si pria tua itu. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja.” katanya begitu tiba. “Kukira sudah terlalu malam. Tanpa tongkat “Buenos dias. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan. Tanpa menunggu jawaban. didudukinya. Lalu. “Buenas noches.

“Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. Selain Nou Camp. Si pria menoleh. Api cinta mereka memang terpendam. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. Cinta mereka memang terbelenggu. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. api kasih masih panas membara. tepat. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu.pejalan kaki yang berseliweran. Mereka seolah cuma ada berduaan. bukan?” si wanita menoleh. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang. Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur. setelah setetes benih juga Tapi. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. Dalam tubuh yang renta. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. Demi sebuah bisnis keluarga. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. tertawa-tawa berkakakan. “Kau mencintai istrimu. Si pria tersenyum. Elena. Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. Jika aku berkata jujur. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. Pedro?” si wanita bertanya. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. Tapi tak pernah padam. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. “Ya. katamu gigimu sedang sakit. Sariawan membuat gusiku peka. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. si wanita terkasih. cinta mereka tetap bergelora.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

tetap tertunduk. Matador.” kata Pablo. sebutan umum untuk matador. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. Jantungnya kian kencang berdegup. aku juga. Barreras. Julia. divisi utama Liga Spanyol. La Liga. Gairah di dadanya pun meletup. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. julukan klub Barcelona. Plaza de Toros. Te amo.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka. Mendaki. bintang dalam pertunjukan matador. Como estas. Hasta luego. Dalam sunyi abadi. Pesetas. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. sampai jumpa. Novilladas. Sampai kemudian semuanya berhenti. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam. Dengan baju serba hitam. parade para matador sebelum pertunjukan. kursi terdepan (termahal). Nou Camp atau Camp Nou. Muy bien.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. nama mata uang Spanyol. dan Javier berdiri berjajar.* Jakarta. Gradas. baik. Muy bonita. Buenos dias. Tak ada yang dapat dipersalahkan. selamat siang. julukan klub sepak bola Real Madrid. matador pemula. “Tak ada yang perlu dimaafkan. . seorang anak perempuan. Buenas noches. Pablo. Dalam gelap.” kata Julia lirih. Mendaki dan mendaki. tambien. ruangan itu gelap. Tak ada yang menyahut lagi. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. El Merengues. Mi. kandang klub sepak bola Barcelona. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. aku cinta padamu. El Barca (baca El Barsa). tempat pertunjukan matador. Keheningan mencekam. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi.tempat duduk paling tinggi. Si wanita tergagap. Raul. selamat malam. hoy? Apa kabarmu? Bien. Por que? Kenapa? Torero. baik sekali. Una hija. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. Paseillo. Lalu. Dalam peti berbalut kain hitam. Cantik sekali.

pintu utama. sayangku (My dear). .pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. Puerta grande.

Mereka . juga nasihat. seminggu ia menginap di kantor polisi.Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. naik jabatan). Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. Tiap banyak. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. harapan. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu. Ya. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami. mata bunda terpejam. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. Merenung? manggut-manggut. Dan saat kulirik ke samping. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. “Baiknya Bunda istirahat dulu. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. Tahun lalu. Senyam-senyum. Tempo-tempo. mengikuti perkembangan mereka. cucu. Makanya.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. jika ia tahu. seperti jantung kita.” kubilang. melihat anak. Palinggam. menutup-nutupinya. Seluruh keluarga heboh. dan cicit. panik. naik kelas. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. Om. Libur. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. dan cicit yang makin henti berdenyut. telah lama kami hindarkan terhenti. Justru itu. Dengan masalah yang juga tambah banyak. Namun abangku. menutup mata serta telinga beliau. Tapi. Kasus dan sakitnya abangku. laiknya anak muda. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. Palinggam…. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. Ia tergeragap. pasti beliau tidak tidur. cucu.” Aku lalu diam dan terus menyetir.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. kulihat keponakanku di jok belakang. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. sambil terus melaju di jalan tol. tujuh anaknya. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. tidak berani membayangkan. tamat kuliah. Isinya ucapan selamat. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau. “Oh. didampingi seorang cucu. keras kepala. “Terus sajalah. “Libur kau. doa.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. Nanti sore kuantar….” Ia cengar-cengir. kabar buruk dari beliau. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas.

Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku. Pucat pula. ingat suami yang jarang pulang. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. Pun ulah cucu. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol. “Lagi di jalan. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup. bicara sendiri saja. matahari pagi. “Diajak kawan-kawannya. berucap lunak. tak apa-apa Bunda. Lalu Slipi. nenek yang risau itu memanggilnya. “Masuk rumah sakit. HP-ku lalu berbunyi. anak-anak kami. Kawan yang baik. o. Dari istriku. dan berhasil. berempat. Dan saat umur muda Herman. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi. “Naik gunung.” jawab Kak Leila. Dan bunda tetap menoleh. tak Herman kabarnya menangis. Maksudnya membantu Kak Leila. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. si Herman. Herman pulang. baginya tugas ayam dan kucing. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. menanti jawaban. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi. Ingin kencing. Dan bunda menyergap orang itu?” pula. Kak Leila berpura sibuk.” “Eh.” “Cuaca buruk. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat. Agar mereka jadi manusia.” kubilang. anak laki-laki. Semuanya digaruk. Bunda tentu tidak diberi tahu. tak lama lagi Grogol. Pandai-pandai mencari kawan.” Dan diam lagi. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. “Biasa itu. pulang dari rumah sakit. sudah. “Sudah. Rosa langsung diam. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik. “Baik saja.” Kusodorkan . Nak. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia. disekolahkan hingga tinggi. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. Syukur. Atau. kurusnya engkau. pada usia senja? Merasa gagal. memandang jalanan. Lihat. Palinggam. dituduh korupsi. seperti orang- Aku makin gugup. “Apa maksudmu?” “Maksudku.semobil. tangguh.” adikku Rosa menyahut.” kubilang. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah. Tak apa-apa. O.” Tiba-tiba aku jadi gugup. Bunda? Sehat.

Lalu ia mendekat. alis bunda tetap bertaut. Mau bicara. “Biasalah. Cucuku. sibuk benar kudengar istrimu. Aida tak jumpa. Aida. hah. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. “Aku cuma khawatir. menangis tersedu. Aida. Tahu kalian. siswi SMU kelas dua itu. si Aya. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. Alhamdulillah. Tapi.” ujarnya. Dicari serta ditanya ke mana-mana.” ia bilang. orang sibuk kasak-kusuk. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran. Dan. meluncur mulus ke Kebayoran. “Nina. Kemudian tertawa. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. Nak. “Syukurlah.” “Apa kata Nina. bersama pacarnya. Termasuk polisi. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. suara bunda: “Nina? O.” kataku. Biar dia lupa bertanya. Memeluk bunda.” “Nina manajer pemasaran. berhenti di tempat parkir khusus keluarga. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu.” Aku diam kembali. Mereka tahu sehari setelah kejadian. “Jangan kalian berahasia lagi.” Mudah-mudahan lama. Pagar maupun gerbangnya tertutup. . ditemukan adikku Rafli di pantai Padang. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. tak juga puas. “Tanya kesehatanku. Namun boleh jadi berlebihan. tanpa seragam. Aida. seperti biasanya. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir. Andamsari. karena bunda lantas bertanya. Nak. Bunda. Ya? Besok-besok. Kami sudah tiba di Semanggi. tambahku tanpa suara. Ke luar negeri juga. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri. Terpikir olehku. “Sibuk terus. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. Aku berbelok. Lalu.” “Dan kau sibuk pula. Anak gadis kakakku. sehat Nak.Obrolan panjang. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. Sering ke luar kota. masih kuat aku ke Jakarta. bebas dari di luar. Harta meruah. Ini. Semua saudara Batam. sudah menanti di teras. Bunda. Bunda. Kakak dan abang iparku kalang kabut. sudah gadis bukan? Sudah SMP. Eh. Aku lihat abang kalian itu dulu…. Kalian bagaimana? Syukurlah. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya. pulang dihubungi. HP ke bunda. Kakak iparku. Mana cucu-cucuku? Oh.

“Aku punya atasan. kini sudah bercucu pula. sayu. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu. Namun takdir seorang ibu.” sahut bunda kemudian. memandang bunda. Matanya perlahan berkaca-kaca. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. Mukanya kuyu. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit. Suaranya makin lunak. Palinggam. pada hatimu sendiri. Bunda diam. kencing. “Tak paham aku soal-soal begitu. .” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara.hendak meledak. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. Aku tergopoh ke toilet.” ujarnya bak mengadu. Juga aku serta Kak Andam. “Sudah sampai belum?” “Sudah. “Belum tahu. Aku di kakus. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. Aku muncul. hampir menyerupai bisik. “Apalagi kau. “Tetapi bagiku.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran. Nak. melihat bunda lagi.” Bunda mengedarkan senyum. Dan HP-ku kembali bernyanyi. Suara Bang Palinggam terdengar pelan. Bang Palinggam terpana menatap bunda.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. Aku juga kader partai. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. Nina lagi. Bunda. “Namun hingga detik ini.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Bunda. dipecat partaimu. Dan aku merasa. dimaafkan. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya.” dia bilang. Nak. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. Dia menunduk. Nanti saja aku kabari. Bunda. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. Rasanya. sudah. juga kepadaku.” Mengangkat muka lagi. seperti minta Bunda. Loyo.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam. mengapa kau mengelak diperiksa. Kak Andam?” tanyanya antusias. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. Abangku melirik. aku tetap bersih. Palinggam. Dan negeri ini. itu isyarat dari abangku. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. Menarik napas. “Aku punya kawan. Juga kepada Tuhan. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai.

Kalau aku pulang. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. sudah bercucu satu. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh.” jawab Tum. grosir roti dan permen. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. Berubah sekarang. seperti tidak kenal lelah. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. “Di mana dia?” tanyaku antusias. akrab dengan pribumi. Si Talib di Dumai. Ayah Bun tukang gigi. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami. Hebat dia!” pensiun. “Seperti orang-orang di dalam mimpi. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. lebih-lebih tukang gigi. kendati kota kami tetap saja setelempap. Nius. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau.Jakarta.” tambah Amril. Bahkan mengerikan. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya.” “Hanya si Cudik. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. dewasa atau jadi tua. Nius.” . “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. Satu di Palembang. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. Kami ajak bermalam tidak mau. berai. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami. Kawan-kawan lama kami jarang pulang.” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil.” Biju menerangkan dengan gembira. Dia dan keluarganya tergolong aneh. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. Tidak sekalipun berkedip. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. Hanya menatap. kopi di simpang jalan dekat pasar. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. Nius. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. “Seperti ada dan tiada.

Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. adik kelas kami. Kami berebut. suara itu. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. diduduki hingga kini. Matanya tak terlalu sipit. Bagiku. Portir bioskop juga . Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. goreng serta roti lapis mentega. seperti buang hajat. lantai. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. Tunik juga. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. mengajak makan. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. kami kerap nginap di rumah Sultani. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. “Percuma. Juga pandai menjahit. mencukur. tak pake babi laaa. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. Bak orang-orang dalam mimpi. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. Lalu ia sambar roti. pintar di sekolah. Ibunya baik seperti ibu Bun. tidak halam! Enak laaa.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. mencangkunginya kecuali dia. Suka-suka kami mau makan apa. “Itulah. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. lucu. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu. kembali menampakkan senyum yang ganjil. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. mengantar kue mohok hangat- hangat. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng. Nius. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. Sultani.” ia sodorkan nampan perut kami. Biju dan “Makan. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Dia kapten sepak bola. “Tidak halam.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. atau menjelepak duduk di menggairahkan. Tapi kami cegah. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. adik Bun. berisi mohok serta teh manis. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. Minumnya teh hangat. Seperti di rumah Bun. Dan pernah pula Buya Makruf.” sahut Tum. alias usil plus kurang ajar.” bilang Tum.

Kepandaian kiraahnya elok.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. laaa. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. “Sebetulnya telat Bun. Tunik juga. Dan Bun disunat. “Seperti model rambut Bang Rustam. Mestinya waktu kita kelas tiga. jadi keras. Berenang kalang kabut ke tepi. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Ulah Sultani! Suatu kali. Tetapi. Ibunya tersipu. kan?” Aku mengangguk. Aku malah tak sekali. Setelah sembuh.” “Tidak sakit. ikut mengaji saja. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. Kelas enam disunat. tajwid dan Bukan saja Bun. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. Tak licin di sekeliling kepala. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. itu turun dari ibunya. serta sarung beliau “terbang. tidur-tidur ayam. “Rambutku dia cukur. Suaranya merdu. Tapi aku merasa. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. Biar aku yang ngajar. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Terbahak-bahak seperti hantu air.kami. Rustam. “Ayaaa. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. . selesai!” Ayah Bun terkekeh. Bun mau potong bulung bole potong. “Malah. kopiah. mencukur seperti yang kuinginkan. Rancak. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Ayah dan ibunya setuju. mendampingi kawan itu setiap malam. Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Sultani berkata: “Sudah Bun. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. tentu saja. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Babah mau coba? Sret. Sebulan ditanggung fasih. Iya kan. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. ke halaman masjid. Mataku merem melek. tidak terasa. Baju. Mukanya pucat serupa mayat. Mendesis-desis lunak. Dan sesekali. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak.

Mereka terus berteriak. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. aku menghambur ke jalan. Sejumlah orang menerabas masuk. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. Mereka menuju rumah batu. Eh. berdarah. Sudahlah. Tepatnya. Tahi kambing. Menangis. Ibu Sultani berlari mengejar. Nius. Atau pergi.” lesu. tegak kaku di ambang pintu. hasilnya nihil. dan orang bergegas Sultani. Pernah kami tanya ke situ. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. malah sebelah sini terlampau pendek. meraung-raung. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Bergelombang-gelombang manusia. Menyepak pintu hingga rubuh. sepekan rambutmu panjang lagi. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Nius. “Tadi di sini terlampau pendek. Menghabisinya. “Mulai Kariang. Mukanya menangis.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. aku menghindar. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. mendengar di mana Sultani. Kusaksikan ayah Sultani diseret. Suara mereka teramat gaduh. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . diseret abangku pulang. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. Tanganku dicekal. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu. melihat aku di tengah kerumunan. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Sultani juga. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. kuratakan. Tum diam saja mendengarkan sunyi. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. berteriak-teriak. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. Ketika kuraba. suatu pagi. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. Bagus juga kau gundul. Tetapi mereka pun tidak tahu.” kata Amril. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. Aneh sekali. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. Buas sekali. Dia mendekat. kurang ajar ya. Lututku menggigil.

2 April 2005 berkedip. walaupun tahun demi tahun . dua buah. “Semua orang bilang begitu. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. Bahkan sampai kini. seolah-olah tidak pernah lelah. Hanya mata saja. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. “Dan. kemarin pagi. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan.* Jakarta.“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras.

kembangkan payung. di kota berniaga. . walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat). Kadang-kadang pagi. tukang serabi. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami. hujan dan hari. tetapi juga tukang emas. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. jangan pula payung. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. meski aktivitas seseorang berjualan. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. Tidak jelas mengapa demikian. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. bercakap- Betul. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. Paling-paling orang hanya bergumam. atau makan kacang goreng. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. hidupnya. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. siang. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. penjual kerupuk. mirip dengan warga melambai dan menyapa. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. Meski cuaca cerah. Kecuali. Ya. tukang serbat. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. Karena. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa. Adakalanya juga dari pagi sampai malam. anak. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. “Hoi. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. tukang rokok. ya. Karena itu. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. petang atau malam Tetapi. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. juga sosiolog. dan seterusnya. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. Begitupun tukang sate.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang.

“Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. kalau itu. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. Gemuk. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. depan asrama tentara dan polisi. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. “Tetapi. beberapa waktu setelah bubar bioskop. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. Dan. tetap belum ada yang sanggup “Ah. Tetapi. tiada bandingan!” . juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. jangan dikata lagi. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah. tikungan-tikungan jalan. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. serta kegemaran orang memakan kacang goreng. terus. Pada hari raya dan libur-libur panjang. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. makan kacang goreng jalan “Habis. panjang. Juga. Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. tukang kacang goreng. sebesar jempol. Malah bangga. “Ini. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. Lagi pula. Bahkan. lepas-lepas dari kacang goreng.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. Namun. Bertengkar. perlu penelitian. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu.Sekalipun kota kecil. sepuluh atau selusin. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. memang lain kacang goreng kota kita ini. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. Mereka mangkal di emper-emper toko. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. di muka rumah sakit. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit.

ilmunya tinggi. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. Bancah Laweh. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. istrinya dipakai Mak Sanin. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar.tambalan pada jas yang sipit. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. kepala. “Hah. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. dan warnanya hampir tidak jelas lagi. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau. Tenang. Ibarat pelukis. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak. Berhari-hari berjualan. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami. dia Affandi. Biasanya.tenang saja dia melangkah. Tetapi. Ibarat… . . dan Bak Aie yang merupakan pinggiran. tanda Mak Sanin berjualan. tunggal sekaligus penjaga kota kami. khususnya di kalangan kaum ibu. Menyelusup manja ke pelukan suami.anak justru takut pada Mak Sanin. itu Mak Sanin!” ujar si suami. Makin malam. Dengan jas itu-itu juga. kami punya ilmu. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. anak. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. Cubadak Bungkuak. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. dan selalu merah menyala. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. tak-tuk-tak. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. ingin makan kacang goreng. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. Juga karena dia “berisi”. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak.pinggiran kota kami. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. “Ibarat penyair. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. Kumisnya pun lebat melintang. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur.“Ya. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. Orang-orang terbangun.

Tujuh lubang peluru. Bergegas mereka benahi diri.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter.kisi jendela.” Dan. Mak Sanin!” Dan. enak atau dia bertingkah. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. tahu benar aku. berkibar-kibar ditiup angin malam. Padahal. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir . Tidak bakal menyesal. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. pengantin-pengantin baru. Cobalah. “Seliter saja ah. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang. Karung goninya entah di mana. Warga yang lain tidak. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. Dengan jas yang ituitu juga. kota “Padahal. Kemudian. Jakarta. mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. Dan. Belilah. Dan. “Masya Allah. Mak Sanin. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. Semakin jauh. seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. ketika ramai-ramai di tahun ’66. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. Dan besoknya lagi. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. “Huh. Hanya berdua. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja.” kata ayah bagai orang kedinginan. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. pada suatu malam. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya.“Beli dulu kacang gorengnya. itu biasa. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. mungkin juga tidak mau tahu. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka.” “Yo! Eh. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu. Tetapi. Cukuplah. Besoknya. Tetapi. bahkan hingga kini. malam!” Tetapi. sudah mereka tunggu-tunggu. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. tegak menanti di ambang pintu. harum bercampur peluh.

di dinding. di dapur. Jam di mana-mana. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. Berdetak-detik di dalam pendengaran. di motor. di ranjang dan bantal kamar tidur. ”lakukan semuanya semaumu. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. di meja di ruang tamu. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. berteriak. dan di kemengangaan mulut. Lik War menggeleng. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. Di pagar rumah. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. di pintu. di pintu halaman. di perut yang hanya diisi kopi. di bundaran lampu lalu lintas. Manusia selalu berada dalam . saling kontak-sentuh. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. Di jalanan. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. bersebelahan. di mana setiap pitstop. dan begitu lepas sepanjang jalan. Bilang. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. Bisakah manusia bebas dari waktu. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. di layar monitor. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. yang diam-diam maju terus. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. tidak bisa memanggil siapa pun. di mobil. di bak air dan di gayung kamar mandi. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. di lembaran kertas.

serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited. bumbu dan yang lainnya. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi.” kata lik War. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang. titik saling ketergantungan. ”Aku jadi pengen ke Jakarta. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. Lik War pun mengajukan usul lain. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. Lik War pun tersenyum. Kami . yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. ”grammar apa tuh?”. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. ”Terlalu banyak kendaraan. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. yang menembus ladang dan sawah. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung. untuk tolong.pikirku. pikirku. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang. sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka.” kata lik War. what ever will War. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja. Dan setelah itu.” Kami menelan ludah. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. yang mungkin hanya menggeleng. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam.

Lania. Ia menganjurkan jadi kernet. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. ”OK!” kata Marto Pedrosa. ”macak dan akting pengemis. ibunya. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung.” katanya. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. atau buronan karena dengan sesuap nasi. Sri. memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. semodel de Grana. lantas bertemu setahun sekali di kampung. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. dan Tyas. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. Kimi. Berangkat ke Jakarta. untuk segera berpacu sebagai apa saja. sekaligus kudu sepeda dulu. ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. Marto Pedrosa kampung sini. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. Timpah. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. Koral dan dan di kampung sini). ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. dan karenanya (kata lik War. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. menjadi rembulan gaib di saja. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. Nonik. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu .panggil dengan sebutan No Tit. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. Kasim. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. atau penghuni kompleks semodel Tri. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. Santik dan Kuni. ”Atau ikut Arpan. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos.

menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. pentolan. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain.agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi. dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. sebagai apa saja di mana saja. kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. yang biasa lusuh nunut : ikut.*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap. sara : sengsara mandeg : stop. kolonisa . yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. berliku-liku mbabat alas: membuka hutan. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu.

Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. anak petinggi polisi.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. Letusan dan entakan membuatku kaget. Tapi sebelum dia banyak bicara. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. Dan bila kurang. Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. langsung ke tanah. yang genggamannya terasa berat itu. Tapi apa . Sekali. terutama ketika magasinnya penuh. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. Dan kami. Kalau disuruh sangat sederhana itu. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang. Pa!” katanya. membersihkan. rasanya lebih enak memegang pistol polisi. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. Memasukkannya lagi ke magasin. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. dengan magasin penuh. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. dan memasang lagi pistol FN. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. membersihkan. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. lalu ditangkupkan untuk dipasak. aku mengeluarkan FN di hadapannya. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. meloloskan genggaman dan mengokangnya. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. ketika kelas II SMP. di kamar anak petinggi polisi. Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah.” kataku. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. magasin dan satu peluru paling atas. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. ada magasin cadangan di atas lemari. Setahun kemudian aku menguasai FN. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. Sangit mesiu melulur lengan dan wajah. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. Sebuah letusan lagi. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. Guru itu mengangguk. memilih. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol. Mula-mula hanya dengan pistol. diungkit. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. dan memasangkannya lagi.

” kataku. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. telanjang dan gampang. Manusia itu . lantas menodong wajahnya bolong. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak. Mulanya di Perbakin. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. Dik. ketika jadi danyon. Menurunkannya. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. dan menembak. kata ajudan.” katanya. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. kalau maut sangat dekat. perempuan cuma jadi istri tentara. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer. ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. Naik ke boncengan dan melesat. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara. seperti menembak kaleng atau cecurut.kenikmatan main-main dengan colt. Akan lain. Kau tak boleh jadi anak Mama. dengan posisi jongkok menyamping. Letusan itu keras. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. Aku ambil FN dari tas. aku kokang.” kata ajudan baru lulus Akabri. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. Aku tak pernah membunuh orang. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. “setelah lulus kau daftar dokter tentara. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. “Kita harus kejar setoran. Aku beranjak. Aku tertawa. Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima.” katanya. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. dari jarak tiga meter. sekaligus memberi kesadaran. “OK!” katanya. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas. Padahal. Peluru itu menghantam aspal. yang lain. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan.

kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. Aku. Ditempatkan di kota. dada. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah. Aku ayah?” kata Samsidar. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. Aku diam saja.bernyawa. Ia bergegas menelepon ayah. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi.” katanya. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. kakak. sampai ibu meninggal—menyeringai.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. dengan mengumpulkan suami. Aku kini sipil. Ya! Aku yakin tentang hal itu. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang.” katanya— tertawa. Ia minta agar aku merawatnya. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. “Aku kan cuma cari kerja. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. Ayah tertawa. Enak. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. anak. Dua tahun kemudian ibu sakit. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. Aku mengangkat bahu. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. terutama karena jadi rekanan pemda. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. dan seluruh keponakan. yang telaten merawatnya. Aku mematikan telepon. “Kau tahu apa?” katanya. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. ipar. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. dalam kurang tidur. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. Aku tak mengabarinya. . perut. Tanganku digenggam. yang langsung mendekat. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. seperti mendengar bisikannya. Ibu menatap. Dik.

Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. Berjam-jam menunggu ayah. Mengokang dan Ibu meninggal. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur. yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Aku masuk kamar utama. Pasti. Aku menunggu ayah. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. Sepuluh menit lagi.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Mengambil AKA. Ya! Ya . Ya— sepuluh menit lagi. Mengunci pintu.

Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan.” Setengah berbisik. Kita tutup nomor jagonya. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. menghindarkan pendengaran Khairan. olehnya.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak.” kata Melangkah. “Kamu duduk-duduklah. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. Nasir menggeleng. orangtuanya semakin permisif. Bapaknya pasti meneng. Ini hanya pemancing saja. menggerayangi dan . ayah. preman dan pemabuk. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. atau menggoda Saimah. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. ayahnya memberikan pesan khusus. Saimah menyusul dari depan. Saimah makin genit. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. Arsad menaiki sepeda motornya. Khairan. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura. Sad. dengan setoran biasa. Menghindar dari sekolah. makan jajan. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. seingatnya. Ya! Akan tetapi. per lima puluh ribu tombok. Mungkin cuma memesan kopi. menjauh dari keramaian. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. serius. dengan semena-mena merangkul. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. Ia membolos bersama Taberi. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. “Nggak akan tembus kan. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap. Sad. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. Arsad mengenal Suimah. dengan payudara yang berdenyut. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis.” kata Nasir. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. di kisaran empat angka. dengan lembut. Terbayang lagi. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. Motornya dipakai ngojek sembarang orang. Terkadang Arsad hanya nongkrong. Itulah awalnya. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. Sir?” katanya. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. Nasir. “Kita juga main. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. Jalan ke pintu belakang warung. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. bermalasan di warung itu. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu.” katanya. curiga. Khairan menepuk bahunya. Radio menyerukan dangdut. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. Ini bukan punyamu.

bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. yang gigih.” katanya. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar.” Orang-orang tersentak. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. Sepanjang waktu. Khairan menenangkan. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. Cemberut dan makin sering marah. bermakna mempunyai barang dagangan. Ibunya Saimah lembut mengangguk. Istrinya mulai menyindir. Akan tetapi. Meski begitu. Siklus direcoki balas memaki. Berharap. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. biar bisa kompak dengan mertua.” katanya. dan menjual sisanya. semakin tidak mempunyai duit. terkadang orang masih datang . Duyunan orang yang menyetor keberuntungan. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. Utamanya Saimah. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. ia seorang sales yang agresif. Menjadikan empat kali. haid Saimah sudah telat seminggu. Pak RT tak berdaya. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. “Kita ini orang dagang. Ia tertawa. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. pil. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. dan rayuan Saimah. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. Khairan tersenyum. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah. Akan tetapi. Membawa tas pinggang. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. Khairan bungkam. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. “Seminggu bisa berpenghasilan. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. Dan Saimah makin manja. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan. Ia seorang sales pengawal pribadi. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. karenanya orangtuanya masih di kantor. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. Tapi. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. dan berkeliling ke mana saja.” katanya. Orang-orang mendelik. selalu. Ya Miring.

Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. mblesar-kan gas. Ia menuntut. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. yang dikemudikan Nasir. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. dari hadapan. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. telur dadar setengah matang. apakah aku harus menunggu izin Bapak. tak bisa diturunkan. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. menyeru ke seberang. Menyulut rokok. masalah dan menenangkan warga. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu. ada di tengah jalan. Akan tetapi. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. dan sisi rusuk kanannya remuk. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. akselerasi pertamanya. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. Kaki. Lalu lintas sigap diatur. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. tertekuk-tekuk pendek. meliuk-liuk. Belokan liar itu. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. mencuri perhiasan ibunya. yang lainnya memburu supir sirna. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. tangan. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. sudah meteng. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . Krowak tertolong. Sopir Station Wagon geger otak ringan. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. dan minum Topi Miring- yang sama. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. Sebagian menolong Nasir. lajunya sepeda motor Arsa. dan…” “Betul! Tapi. dan derap orang berlari memburu. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. penyelonongan itu. belum pernah pacaran.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah.Nasir memboncengkan Krowak.

tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan. instan Celurit: Senjata mirip sabit. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung.” kalimatnya. Ibunya Arsad terpekik. Tombok. Lantang meneriakkan Brewok. Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. Berparkir di halaman. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. Dua hari setelah persalinan.” tulisnya. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. “Nih. dengan mobil carteran. Khairan. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. dengan dikawal Segera. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. meski tak selalu milik orang Madura . tanpa mampir dulu. dari rumah Bidan. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. istrinya. Dominik. Khairan melapor ke Polisi. Karena itu. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya. Aku seperti masuk penjara. “Aku tidak betah.“Balikkan ia ke kondisi asal. Kedua lelaki itu liar bertatapan. tapi tidak pernah dilayani. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. berharta Genah: Enak dipandang. Dipantati bahkan. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. Saimah menangis. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. Khairan menelan ludah. Ibunya Arsad berteriak-teriak. khas Madura. mereka langsung mendatanginya. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. Khairan mendelik dan membentakkannya. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. Dan memang begitu. Utuhkan lagi.

Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. “Hati-hati!” teriak sopir. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. “Ada apa. Beningnya tertegun. Ia masih belum genap enam tahun. tadi. Tapi memang tak ada. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Marwan kadang kirim SMS. Kadang bisa sebulan tak pulang. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Di kelas. yang kecewa itu. Seperti capung ia tiba. ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” . Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. “Biiikkk…. meledek istrinya. mendapati kotak itu kosong. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya.” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. Beningnya langsung meloncat menghambur. Meski baru play group. Sungguh. Beningnya sudah pegang hape. Ia tak menyangka. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. “Sekarang. Dari kotakota yang disinggahi. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. seakan sudah menebak. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Ia melongok. karna ia terus diam saja. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. setiap pulang. Bibiiikkk…. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya.

banyak temannya yang punya sahabat pena. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Ia pun atau kartu pos. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. rasanya. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. jauh. dengan suara penuh kenangan. “Mungkin aku memang jadul.” Ren kecil duduk di pangkuan. Marwan melirik jam dinding kamarnya. ngambil kartu pos dari Mama. lantas mengeposkannya.” Marwan hanya diam. bagaimana Ren bercerita. Marwan ingat.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. setiap Ayah pulang.20. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. yang dikenal lewat rubrik majalah. Sepanjang hidupnya. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. Itu kotak kayu pemberian Ren. Saat SMP.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. Karena iri. Meski tetap saja ia merasa aneh. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. Marwan tak pernah menerima kartu pos. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri. Marwan diam. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. kartun . Bahkan. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Pukul “Enggak bisa tidur.

di tepian kanal. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. seperti tercekat. Dermaga kota tua. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. Gambar pada kartu pos. kapan pulangnya?” “Ya sudah. setelah Beningnya pulas. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. teman sekantor. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita.” Marwan tersenyum. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Deretan kafe payung warna sepia. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan .” Itulah. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. Sepeda yang berjajar kesukaannya. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Rasanya. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. “Wah. Marwan tersenyum. bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Ah. kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. Air mancur dan patung bocah bersayap. saat Marwan makan siang bersama. Ia selalu merasa bingung. Seolah-olah itu dari Ren…. dinding goa. ia kini mulai dapat memahami. Pagoda kuning keemasan. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Sudut dengan deretan yacht tertambat. Bukit karang yang menjulang.

” Beningnya mengulurkan tangan. Hanya “Tadi Mama datang. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. Cahaya yang terang keperakan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang. Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. tak ada api. Dua belas lewat. “Kata Mama tukang posnya emang sakit. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. seseorang. semua rapi. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Ia melongok ke dalam kamar. Ia melihat ada asap lembut. Bau wangi yang ganjil mengambang. 2008 dipegangi anaknya. Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Marwan menerima dan mengamati kain itu. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Singapura-Yogyakarta. keluar dari lubang kunci. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. Kain kafan yang tepiannya . Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. sekilas ia melihat jam kamarnya. serupa kabut. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar.” pelan Beningnya bicara. menyambar mendekapnya. Lebih keras dari bau amoniak. sulit ia buka.

Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. sepasang mata itu bagai mengambang. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. Tapi. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. Barangkali. Ia bercinta nyaris tanpa suara. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. aku seperti mendengar denting genta. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. yang paling gombal sekali pun. seperti katamu. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. Tetapi ketika ia hatiku. Kau tahu. Dan saat sepasang matanya mengerdip. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. menyebutkan namanya. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. Ia tak pernah mengucapkan rayuan. mana yang pas buat jalan-jalan. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. Aku ingat. Memang. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. menyentuh putingku yang ungu. Aku suka matanya. mana yang pantas buat dipakai makan malam. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. untuk sekadar membuatku tersenyum.

”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. Dan kupikir. tipis. tak rapi. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. yang membuatku lihat di iklan deodoran. aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. Tapi. Sedikit berkumis. kenapa aku jatuh cinta kepadanya.” Bila aku kangen. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. Membuatku tergeragap. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. ”Busyet!!” Mungkinkah. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. aku mesti pergi. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. kali ini. Setiap melihat kunang-kunang. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. Tapi— diam-diam. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. Sungguh. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Bukan karena kamu tak suka. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta.” ”Aku suka kunang-kunang…” . bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. aku begitu menyukainya. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. aku jadi ingin ketemu dia. entahlah.

dengan mata yang layu. saat itu. . Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. Membuat lembah itu malam purnama. menjadi berkilauan. Seminggu setelah pembantaian. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. Padahal. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. kata ibu. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu. ketika lembah itu menjadi bisu. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. Ibu selalu mengajakku kemari. aku lupa. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. di zaman gestapu dulu. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. Seperti yang sudah-sudah. Selalu.” ”Hmm…” Ah. memandangku yang duduk telanjang di sofa. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. seperti sosis dalam setangkup roti. Dan setiap pepohonan tertugur kelu. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Dari jendela apartemen lantai sebelas. bersama ribuan tubuh lainnya. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana.”Hmm. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Aku masih dalam kandungan ibu. ia langsung tidur setelah bercinta. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Agar ia menyimpan kunang-kunang.

selalu saja. Tak ada percakapan. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. seperti dalam sebuah puisi. Kesunyian tak terpermanai. seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. berbicara setengah berbisik. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . dan dengan gerakan pelan menjauhiku. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. Barangkali.Ia sungkan dan jengah. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Karena. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri…. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Ia meraih handphone itu. Seperti jeritan yang teredam. 2005-2008 pernah kau kenal. Aku hanya memandang keluar jendela. Jakarta. Cahaya perlahan susut dan aus. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Dan dingin. tak tercatat pada termometer. Membelakangiku. Kemudian ia bangkit. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan. seperti kerap kau katakan. meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. Tapi. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. dan tergesa mengenakan pakaian.

Aku tak mengerti. Kota di mana bertahun-tahun lampau.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. Dulu aku memang berharap. Memberiku moke. sambil menunjukkan empat jariku. melihatku memasuki halaman rumah mereka. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. Biasanya. Mungkin karena mulutku yang peyot. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. trotoar. mendesing lalu lalang di jalanan. Aku ingat. seperti rintihan kesepian. aku pernah begitu mencintainya. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. Di kulitku yang licin. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin.” jawabku. Tak ada bintang. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. orang-orang akan menghentikanku. Bila ada ular masuk ke rumah. sambil menunjukkan empat jariku. Mungkin mereka hanya menggodaku. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. Mereka tertawa. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. Mungkin mereka butuh hiburan. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. Apabila melihat aku lagi berjalan. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. nari. Padahal. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. Dan mereka kembali tertawa. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. dan langit hanya basah. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. Aku tak pernah mengerti. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka.” jawabku. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. bila ada ular masuk ke pekarangan.

kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. menghilang dalam kegelapan. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. Alangkah menyenangkan jadi ular.itu. Di ladang. Mereka percaya bagaikan putih telur. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. di pojokan itu ada sebuah gereja. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. aku mencoba tak panik. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. Leluhur yang mulai berkhayal. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. Aku sering bertemu ular-ular itu. Sejak itulah aku ular. Kota dengan seribu gereja. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. kendaraan yang lewat berhenti. setiap hari. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. kuntum yang ranum. banyak berkeliaran di kota ini. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. Aku leluhur mereka. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. Seingatku. Tapi di situ. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. betapa enaknya jadi ular. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. Dulu. dan semua ketimbang diriku. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. Dulu. Kurasakan. . Ketika mula dunia tercipta. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. Mestinya. Terdengar suara-suara tong ditendang. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. Aku merayap menyeberangi jalan. Aku begitu ketakutan. kini aku melihat sebuah mal yang megah. kota ini seperti memanggilku. ketika Bumi masih rapuh. Kudengar kembali gema lonceng itu. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. di pinggir jalan. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. Meski terkejut dengan reaksi mereka. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. ketika batu masih berupa buah muda. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Tapi kudengar seseorang berteriak.

seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. mendesis-desis menatapku. Aku diam melingkar di pojokan. Aku merasa asing. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. gadis itu memungutku. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang.”Ssttt…. lorong yang berkelok-kelok. hanya dipisahkan oleh kenangan. Ia mengulurkan tangan. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. Cepat sini…. ”Kita sampai. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. ratusan ular.” Aku memandanginya ragu. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. aku merayapi jalanan kota ini. berdesakan dan bau tengik. memancarkan sulfur cahaya.” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. Kulihat puluhan ular. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. Kulihat rosario menenteng lentera. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui. Dengan tangannya yang mungil.” kata gadis cilik. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. Cara mereka mengingatkanku. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. ”Cepat sembunyi sini…. sampah. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong.” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. sambil menurunkanku dari dekapannya. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. Dan seperti menyusuri ingatan. kulihat itu menyala kemerahan. Di dekapannya. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku.

Kadang air mata itu menetes bening. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. Dulu. Aku menemukannya tak sengaja. menyimpannya dalam botol. menjualnya di lapak trotoar. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. dihancurkan kemajuan. katanya. tapi terlihat rapuh. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. seakan- mencapai kota di seberang sana. Dalam keremangan. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. Kamu sudah melihatnya. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. untuk diganti dengan malmal. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. tetapi selalu diusir. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. dulu kami bertahan: dengan . Sebab bila ketahuan. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. bila menjelang Natal. yang mereka percaya. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. Kami mesti menjualnya diam-diam.Di kota ini. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. Ketika banyak gereja diruntuhkan. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. Padahal Aku mendesis mengangguk. Salib itu menjulang. Ketika kota mempercantik diri. kami Aku belajar mencintai kota ini. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. kalau aku mau menjual rosario. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. Pada saat itulah. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. Para penduduk memberi kami anak-anak. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. Sudah lama. Kadang merah serupa darah. rempah-rempah dan artefak kenangan. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. kami bisa ditangkap petugas keamanan. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. Kemudian dijual. ”Begitulah.

” katanya. samar-samar bisa menenteramkanku. ternyata. ”Kita bisa diam-diam ke sana. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. boleh jadi sebagai tugu kenangan. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. betapa sunyi gereja ini. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. Pasti mereka mengusir kami…. Mataku nanar Ledalero. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal. ”Wow. 2006 . Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang.” katanya. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. Kusaksikan ruangan yang remang. ia memang gadis yang usil dan nakal. katanya. Ah. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. Aku melingkar tenang dalam keranjang. ”Kau tahu. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. aku juga penduduk kota ini. Aku tidak menikah. Tidak. Kami keluar dari Puji Tuhan. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. Dari dalam keranjang anyaman. kataku. gorong-gorong. Ketika ia berjalan. Di dekat altar. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. Dulu aku idiot. nyanyian puji-pujian. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk.Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. Sampai kemudian aku menyadari. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. Terdengar syahdu dan megah. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. tepat di belakang gereja. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. gereja. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu.” teriaknya riang.

Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere.Catatan: 1. Nusa Tenggara Timur. Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. 3. Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta. 2. Agus Noor (23 Desember 2007) . versi Krowe-Sika.

di emper pertokoan. Sejak banyak toko fashion. factory outlet. gunting. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. Begitulah. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. para tukang malam. Nak. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. menata bundelan-bundelan benang. di keteduhan pepohonan. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. silet. Nak. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. selalu. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Nak. Seperti menyaksikan dalam sekejap. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. setiap menjelang Lebaran. Atau mereka tak mau lagi datang. Kata orang. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka.Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. betapa dulu. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. Nak. di pojokan jalan. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya. dari tahun ke tahun. yang konon. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. Nak. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. orang-orang lebih suka . Mereka menggelar dasaran di trotoar. Entahlah. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. Dan di malam takbiran. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. Jarum Ibu pernah bercerita. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. dan benang.

rambutmu. di tangan tukang jahit itu. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. membutuhkan mereka. halus. Entahlah. begitu halus. dan jarum. setiap menjelang yang muncul di kota ini. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. Nak. Sebuah kampung. Saat itu Ayahmu baru meninggal. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. tak banyak bicara. Tak berbekas. Nak. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Nak. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. yang masih muncul di kota ini. Kau masih empat tahun saat itu. barangkali. Nak. Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. Lebaran. Ia menjahitnya dengan rapi. Hanya ia. Menisik dan menjahit. Rabalah. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. tapi kau lihat. Mungkin kau tak ingat. para tukang jahit yang mengisap tembakau. Nak. tukang tentang tukang jahit itu. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. Perawakannya kurus. Kau tahu. Delapan Lebaran lampau. memandangi belanjaan berisi pakaian. Di dada sebelah sini. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. Nak. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. memang mengubah selera. seperti senar. dan menjahitkan pakaian padanya. tetapi juga kebahagiaan. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. Maka. tetapi lebih lembut dan halus. Dan jarum itu. Ia sempat mengelus bertilas. Ada yang mengatakan. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. Nak. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. Nak. tetapi tak bisa menyentuhnya. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. satu-satunya tukang jahit. Kau tahu. Kau bisa melihatnya. Benang itu tipis dan bening. Ia menjahit luka hati ibu. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. Di kampung itulah ia tinggal. Dengan jarum dan benang Begitulah. Nak. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. dari tahun ke tahun. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. Ibu mendatangi tukang jahit itu. Bila ada orang sedih yang datang padanya.membeli pakaian jadi. Lalu diantar Pamanmu. Tapi . kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. tiga bulan sebelum Lebaran. Zaman. Yang jelas sudah sejak lama.

Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. seakan meledek tukang topeng monyet keliling. aku menjalankan mobil pelan-pelan.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. Itulah sebabnya. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. Kemunculannya selalu dalam diam. jalan. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Padahal tukang jahit itu. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu. Menjahitkan kebahagiaan. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran. Ia tinggal di sebalik cakrawala.masih muncul ke kota ini. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. satu-satunya yang selamat. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. malah makin menyelimutinya dengan misteri. Menjelang Lebaran ini. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. Aku ingat. sepanjang hari memintal benang kesabaran. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. sewaktu kanak. aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. anakku memandang heran antrean itu. Ia tinggal di sana. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. Rasanya. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Mereka sudah menunggu sejak dini hari.

Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. Pusing karena semuanya makin mahal.Barangkali. 2007 orang-orang yang antre itu. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu.” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap. Tak bisa membelikan baju baru. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah. Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. Bingung karena masih nganggur. Kuceritakan tentang tukang jahit itu. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja….” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Ayah?” “Ya. dengan gampang mendapatkannya. Brisbane-Yogyakarta. Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) .

di malam hari menjadi bengkak mulutnya. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. Sampai ia berumur sembilan tahun. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya.” Ah. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. sewaktu kanak-kanak. Permen dalam bungkus warna-warni.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. Sepanjang hari yang riang. itu biasa. Permen toffee. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. Seperti bantalbantal mungil milik peri. Mama.” kata Mamanya. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. Ia membayangkan. ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. Anak-anak suka permen. sebermula permen muncul di dunia manusia. suka sekali permen. “Begitulah. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. fudge. Saat kehidupan ini masih ranum. Mereka sedih. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. Saat terbangun pagi hari. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. Neal sendiri. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. lollipop. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat. permen. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. tengah. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. Maka. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. bila peri itu . Dan pada malam hari. itulah. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. Nak. tempat biasanya Papa. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. Bantal mungil warna-warni milik peri.

Sekarang ini. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik. Takut. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. permen itu memang mengundang selera. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. Ia ingat. pada Samuel. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. Neal membayangkan. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. Tetapi. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. bila ia tak membeli. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. Tapi. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi.Sampai sekarang pun. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela. Mestikah ia menjelaskan pada Iza. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. korengan. pengasong itu. . Selintasan. yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. pewarna dan pengawet. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. memberinya sedikit gula.” Tapi. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. bagaimana permen itu dibuat. setengah menggerutu. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. “Lebih enak permen ini. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu. mereka akan memecah kaca mobilnya. wajah Iza terus cemberut.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik. ia tak mau menenteng biji-biji permen. Mencampurnya dengan gelatin agar kental.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

Pelan Pras mencium bibir istrinya. Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya.” jawab Pras sambil . 2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa.Neal mengangguk. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur. memandang mata Neal dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta.

lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. Mereka datang dari segala penjuru dunia. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. Kami menduga. roti kering yang disimpan dalam kaleng. membawa bermacam perbekalan piknik. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. Mereka segera mencetak foto-foto itu. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. Mata kami yang murung dan sayu. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. biskuit dan telor asin. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. dan sempat mengunjungi kota kami. keledai. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. Kadang mereka mengajak kami berfoto. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. Kami menyukai cara mereka tertawa. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi.

0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu. penyair. seolah semua itu terlampau bahagia. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. Betapa menggetarkan melihat pohon. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. dan sungai selalu meliuk-liuk. para pelancong itu bernyanyi. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. tetapi tidak dengan kota kami. Kepada kami para cermin. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. Tapi kota kami. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. dan bintang. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan.rumah rubuh menjadi abu. adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. Lorong-lorong. menurut mereka. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. Dari kejauhan kami . bawah kakimu. begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. jalanan. Memetik kecapi dan Saat malam tiba. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata.>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. candi-candi megah yang disusun serupa tiara.bintang terasa lebih jauh di langit hitam. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m.

Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami. Berwisatalah ke kota kami. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan.menyaksikan mereka. sepotong dendeng. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya.gedung. ke arah kami. Sembari menaiki pedati. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. sekolah. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami.lahan hancur dan tumbuh kembali. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. Sesekali minuman. rumah sakit-rumah sakit. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. dan fana. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti. sungai-sungai. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. sementara. tower dan menara. menanam kembali pohon-pohon. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. yang hancur. runtuh tertimbun waktu. Keajaiban tersendiri. membagikan sekerat biskuit. jembatan. Kami tak ingin kota kami lenyap. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. Jangan khawatir. setiap kota memang memiliki jiwa. kami . hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya.

oleh Erwin . 2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner. Invisible Salim (Fresh Book.1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino.

Air yang dinding penyangga jalan tol. Berkoreng di lutut kirinya. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Beberapa pengendara sepeda motor yang . Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Kadang berloncatan. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. jernih dan bening mengalir perlahan. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. jalan menjelang kantornya. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Selalu bercelana pendek kucel. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya.Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. seperti menjolok sesuatu. Tak ada keruwetan. Ia menurunkan kaca mobilnya. Setiap pagi. Usianya paling 12 tahunan. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Memandang mata itu.

Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. Ia ingat perkataan Oma. itulah mata paling menyimpan dunia. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. memandangi mata seseorang cukup lama. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. ia yang bagai liang hitam. Setiap kali terkenang mata itu. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. ”Mata itu seperti jendela hati. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . Karena itu. Rasanya. indah yang pernah Gustaf tatap. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Mata yang berkilat licik. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. kawat berduri yang terjulur yang menggantung. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Dan ia selalu menggambar mata. Berminggu-minggu mengikuti terapi.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Begitu bening begitu jernih. pecahan kaca yang menancap di kornea. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. saat ia berusia tujuh tahun. Mata yang penuh kemarahan. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Setiap menatap mata seseorang. Tapi Papa kerap menghardik. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. padang gersang ilalang. yang kata Mama.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. panjang. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. terlihat berbeda.

Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. semuanya sudah tampak sempurna. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Ketika berjongkok. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. Gustaf kini bisa mengerti. Membuat Gustaf berpikir. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. batin Gustaf. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. bisa memiliki mata itu. Bila perlu ia menculiknya. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. lantai yang digenangi air bening. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. pikirnya. Dan ia makin ingin mata bocah itu. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. Semua itu hanya mungkin. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Bila ia bisa memiliki mata itu. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. mata. karena memang menyimpan sebuah dunia.

tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. Ia ingin membuka jendela.” ”Persis mata iblis!” Jakarta.terjulur ke arah jalan. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Begitu lift itu tertutup. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya…. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. percaya. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. dan melemparkan recehan. 2006 . sambil berbicara kepada temannya.

Ah. sembari terus bersiul. mengerut menatap laki-laki itu. Sebab. Memakai jaket kulit hitam. Saat ia berbaring di ranjang. tapi ia masih saja hidup. Bergegas. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan .Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. beberapa koper besar. Menenteng seramnya. Melipat selimut. Tato di lengan kanan. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. sembari bersiul-siul kecil. Mungkin ia rampok. Ia tak ingin kecewa lagi. Sesekali. ia bisa mencium bau amis darah itu. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. Kadang berbulan- bulan. Menyisir rambut dan memotong kuku. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. dan wangi. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Bayangan kematian penuh darah. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. rapi. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. Setiap menjelang Ramadhan. mengusir bayangan buruk itu. Berhari-hari. seperti bekas bacokan. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Ramadhan berlalu. Ia jarang berada di kamarnya. Seperti selalu menghilang. dan segera saling bisik. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. keramas. Parut luka seputar pundak. Entahlah. seperti kotak tempat menyimpan gitar. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Merapikan pakaian. Ramadhan kali ini. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. Bila pulang. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. Atau erang kesakitan leher digorok. Dan tadi. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. kemarin. Langsung. Ia memejam. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. memandang langit siang yang terang.

Mati dengan tenang.harga BBM—matanya jelalatan.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Barangkali ia dukun. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Ini yang membuat kian penasaran. memandang entah apa.wajah yang membuatnya mengerang panjang. wajah remuk rusak itu. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. Ia seperti tak mau dikenali. di bulan Ramadhan. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. seperti mengawasi. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar.saat seperti itu. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Kulit wajah mayat. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. Wajah. mereka mendengis bengis. Beres-beres kamar. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya. sebagai seorang pembunuh bayaran. tapi pergi ke kuburan. Sering. Aneh. Seperti menyaksikan kematian . ia terlihat merokok siang hari. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Menjelang Ramadhan ia muncul. menyapu. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Ia terkapar. Rutin yang ganjil. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Mengepungnya.mayat itu meleleh. Mungkin intel. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. seperti lilin panas mencair. rumah petak tak pernah berani bertanya. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. dibuka lebar. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Meski ia tahu. Ia mengerang. Menutup diri. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Mungkin. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. bercerita. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Misterius.

Kamu pantas jadi tentara. dan ”Kamu punya bakat bagus. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Lalu sepulang perang. ia suka membayangkan diri jadi tentara. orang yang jadi tentara sangat ditakuti.orang mengerubung. Benar kata komandannya. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. bayaran yang menderita di masa tuanya. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Memang. Lalu beberapa order ringan lainnya. Alangkah hebatnya jadi tentara. Dan ia mulai mengawasi. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa. Ia akan tinggal di rumahnya. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. diam ia membunuh kucing pamannya. Sumpek bau comberan. nanti bila sudah berhenti. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia tak terlalu menyimak. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Tapi membuatnya merasa aman. Beruntunglah orang . saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Tanpa jejak. Percuma kalo cuma jadi tentara. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian.Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Dan itu disukai komandannya. Ia heran. Ia selalu ingin berada sangat dekat. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Rahang terkesan pipih. berani menghentikan. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Tempat menyembunyikan diri. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Paling mentok jadi sersan. Di kampungnya. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. bisa memukuli orang sepuasnya. Kisah para raksasa penyantap manusia. Orang. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Bicaranya santun. Dan ia membusung bangga. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia paling senang ketika harus disiplin. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Membunuh seorang pengusaha. Umur tujuh tahun. Dikirim ke medan perang. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Tugasnya hanya membunuh.” kata komandannya. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. tertib. Sorot matanya tenang. Beberapa mati dalam penjara. ia diberinya pekerjaan. Kulitnya yang putih bersih. Seorang hakim. kata teman-temannya. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. Ia menyiksa para pemberontak. wartawan.

Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. Lengking gagak di kejauhan. Tapi tolong. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun.” Baru kali ini ia gemetar. Karnawi terkekeh. Senyap. Kematian di bulan Ramadhan. Ia mulai diusik gelisah. 2005 . tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Ia meraba belati. Pelan. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. diperkenankan mati di bulan Ramadhan.” ajak Kiai Karnawi. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Biar tak banyak korban. dan kini memburu kematiannya. Ia pun kemudian selalu berharap. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Lalu menggelar sajadah. membuangku ke jurang dengan mobil itu. Lalu meraba ”Sekarang. itu mobil mahal. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Kalau boleh memilih. Singup. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Ia bisa menembaknya. Kemeresek daun jati jatuh. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Getir. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Dengung jutaan serangga mengepung. Kamu cukup membunuhku. kecuali mati di bulan Ramadhan. Mencibir. kamu mau membunuhku. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Jangan sampai aku kesakitan ya. ”Aku tahu. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. yang pelan. Alhamdulillah. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Yogyakarta. lalu mendorong mobil ke jurang. Terdengar letusan.yang mati di bulan Ramadhan. lakukan tugasmu. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. Sayang kan. Kelebat bayang burung menyambar. kenapa mobil perlahan berhenti. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. Tak usah Karena itulah. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. ia hanya berdiri gamang. Dan semoga saja. Gemetar tak yakin. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Enggak usah merepotkan sampeyan…. Amin. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri.

cucu. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. tambak. namun tak kunjung muncul. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. cicit. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat. Ibu. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. dan anak-anak. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. meski apa peduliku. Tuban. didaki karena licin dan terjal. Juwana. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. bus. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. Subhanallah. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. Sementara di Riau dan Jambi. banyak lagi korban. Saya yang satu minggu kehujanan terus. mungkin tidak sedikit jumlahnya. Rembang. perumahan. perkebunan. hutan terbakar.” . ”Cepat kuburkan. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. saya meraba tubuh orang.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. cahaya perak. mobil-mobil pribadi. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. saya sudah tak tahu jalan. sawah-sawah yang siap panen. ayah. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. maupun motor karena tak Zaman. air tak juga surut.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. kontainer. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. ke mana Saya semakin menggigil. cahaya perak. Jawa Tengah. Rasanya tubuh ini beku. Agaknya tersangkut sesuatu. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. meliputi kota-kota Demak. Banjir masih juga melanda Pati. Mendadak laju rakit ini terhenti. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Pati. dan pertokoan. dari Pati ke Rembang. Masya Allah. kolam ikan. yang terdiri dari truk. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Wahai. Jepara. Gelap gulita. Kudus. Tapi. juga nenek-kakek.

Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. pohon mangga yang sangat rindang. di mana para juga Tuhan.” Di atas atap dapur.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. manalagi. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu. air. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. Banjir yang lebih besar kali ini datang. berseliweran berlarian. Jakarta. Meski sangat kesukaran. sampai saya terjatuh. saya berhasil masuk ke ruang salat.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. Alhamdulillah. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. putra maupun putri. Benar saja. teriknya. manis dari akarnya. di mana Rembang. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. katanya. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya. bermain maupun berdebat soal jodoh. Maka ketika banjir surut. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. sejauh mata memandang. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . Lalu boyongan kembali ke desa. Rumah tertutup santri. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan. Terlalu bising. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. Di mana Pati. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama. di atap masjid itu tidak hanya baju.”Ah. Tiba-tiba rakit mentok. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. dan kedua adik ke Jakarta. air melulu yang tampak. Saya mau cari nafkah di Jakarta.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. di rumah bertingkat kami. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. menikmati sebuah lalu minta lagi. ”Jaga adik-adikmu. katanya. ayah. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. dalam ukuran apa pun. air. merupakan perpaduan yang elok. ibu kok ngomong begitu.

tangan banyak sekali. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya.” seru saya. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali. Di luar. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu. saya tertidur tanpa diawali kantuk.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan. ya. sekeluarga turun-temurun. mencium tangannya. ”Pak Kiai.” ”Subhanallah. banyak sekali. orang-orang berteriak meminta tolong. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan. ke sebuah dusun yang sunyi. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman. meminta doa.” ”Subhanallah. menanyakan kesehatannya. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau. saya kaget bukan alang kepalang.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi.” seru saya sambil mengejar beliau. banyak sekali.air banjir. sementara di luar sana.” ”Subhanallah. ayah. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur. dan kedua adik saya. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- . Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. menjauh.” ”Salamualaikum.” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik.” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar. saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun. ya. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata. bangun dengan sigap. kepada ibu. Di yang mumpuni ini. Waktu bangun. kaki yang dua jenjang itu.

.” doa saya dengan kenceng. Allah. Bagaimana mainan. menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. mungkin mereka tidak menyadari. Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. Tuhan punya rencana. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru. kedua adik saya. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. bukakan mata mereka. Dalam hati saya menyesal. semuanya ini milik-Mu. ”Ya. Seperti mati berdiri. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh. Subhanallah. menimpuk sejadi-jadinya. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. Saya tertegun. Allah. ibu. Menurut ibu. ayah. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. Masya Allah. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu. Dengan kunjung datang. Keadaan jadi kacau dan meriah. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita.” doa saya. ”Gue ude konglomerat.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. ”Ya. saya pasrah setulus mungkin. Bukan uang Sesampai di rumah. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. subhanallah.

Tangerang. 14 Februari 2008 .

Ia pusar bisa berlari sekencang itu. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. mikrolet. Suasana mendesing bunyi gasing. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. Merebut tempat. angkot. O. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. Semua pertanyaan lompat bajing. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. lo. Ada apa anak itu berlari terus. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. Jakarta sudah lama bilang ogah. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. Hitam kayak pantat kuali. “Ada apa. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. . Seolah metropol miliknya sendiri. pusing. Sesuatu apa itu. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. kabarkan. mengucap salam pada metromini. Ia tak peduli. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. lo?!” Semrawut kota semakin bising. Legam bagai Jacky Chan melenting. kopaja. Angin berdebu. dikejar setan. Udara sangat panas. Orang-orang menengok yang padat. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. Tak lelah-lelahnya. Mereka menerobos di antara bus. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. Angin kencang.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. Jakarta Utara. ia terus berlari. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. Jangan pernah kalah. Pelabuhan menjerit. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. mencari kekal pada dinding. Alangkah kencang larinya. Atau baru. Anak itu agaknya merebut waktu. Barangkali ke Jakarta Pusat. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. Jangan pernah mau mengalah. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. Keringat kota diperas habis-habisan. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Ini Matahari terbahak. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. Dihardik satpam jadi emping. yang macet. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. Kerjakan yang mesti berlari itu. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. Ia menuju ke arah selatan. “Ini Metropolis. Jangan ketinggalan. persis malam mati. dikerjakan. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. Metropolis. jadi rupanya ibunya seorang penari. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. Nak? Ngapain lo lari terus? He. Nak? Ada apa.

Jasadnya lenyap ditelan udara. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. kota.Seperti bandit yang dibiarkan lolos. Tak kenal batas. Bukan ratu. Tak mati-mati. Tuhan yang pegang. O. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. Jangan menoleh ke belakang. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. Supaya jarak lari menjadi aman. Orang-orang yang berpapasan mendesah. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. Ia hindar bertengkar kerna pintar. hitungan akurat. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. Ia anak mama. Sotangnya tajam bagai taring kirik. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. Henry Muhammad. Itu udara wengi. anak itu tahan menceker. menghirup angin surga. api. Butiran menjelma hujan. Dalam sehari 50. Namanya bikin gentar. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. Jangan terpeleset. Anakku. Matahari membantu tapi butuh ongkos. kadaluwarsa dari sepihak. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. terbahak. Anak itu melompat pagar tanaman. Mengalir angkasa pesat. O. putri jelita berbanding Sembadra. Di sekolah anak tak pernah bolos.000 tahun mengayuh. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. Aduh. Tiba-tiba agung bagai baja. Tuhan kendali manusia. Seluruh hamba wet. Apa mau dikata. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. O. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. Ksatria Utara tak mau berkelahi. Pesanlah nisan sekarang. Ia musnah. Tak mati-mati. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. Lalu berpijar cahaya api. badai derita Ia terlalu sakti. Aduh. berbakti. Jeritkan segala raung serigalamu. kejeblos di pasir boblos. termasuk jalur hijau jalang. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. Segala tempat. Tak pula timpang. Kemana tanahku. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. orang yang matanya nyalang. Nasib orang. supaya hati tak garang. O. Wangi jembatan layang. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. Menggaris lurus menerka keadilan. Di bawah jalan layang. Mau dicaplok katak. Penari agung bikin keder pemda. Ada saja yang tidak polos. Tiga kali kena gusur. Tak ada tempat yang jauh. Berbanding Pandawa pantas. Tuhan sayang manusia. dan pertapa sejati. Tuhan tempeleng manusia. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. bertengger gubuk derita malang. Kemana tanahku. Anakku. zat. Jangan-jangan sedang menari bersama awan. Itu udara pagi. air. O. mencium bau wangi. Tumbuh harapan. mabuk tetap tegak. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . Di ladang luber. telapak kaki tanpa alas. tanah asli ayah bayang. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. Dipuja petani. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. Berlari terus. Udara. Baik budi. bukan raja. menerkam kijang tercecer. Ibu Pertiwi mengerti. Si anak ksatria utara. Ia keris empu. ia mendelik. Mengambang taat. Walau di lapak. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. O. kesandung maut dari seberang. Pasrah tanpa curang. Berlari terus. Nyawa yang berbakti. KTP diinjak-injak. begitu pemerintah kasih wejangan. bukan pula keris patih. Padang darah berember-ember. Eyang. Namun tak beringas. Hidup bisa dicicil angket. tanah. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. Ia ksatria tuntas. Perahu malaikat burung puyuh.

Satu udara ganti-berganti. ATM. Tanggulangi penjarahan dan perampokan. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. berenang di dataran luas yang dalam. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. Perampokan kantor-kantor. Namun penari cantik dan . dia terus menuntut ganti rugi yang layak. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. Laut meluap. berkali-kali penari itu diburu. ratusan mobil mengambang. menari di atas pagar jembatan layang. di milenium ketiga. Banjir rasanya semakin meninggi. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. mereka sudah sampai Pulau Seribu. Banyak individualis jengah. Supermarket. Nah. Tapi itulah jalan hidup. mall-mall. perumahan mewah. puluhan. toko-toko. Di pojok-pojok Jakarta rawan. bank-bank. Datang dari kutub utara. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. restoran. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu. Bagai papan-papan selancar. Korban tak dapat dihitung. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. Daerah Khusus Ibukota payah. departemen keuangan. Pemerintah yang dulu. Para relawan penolong bertindak. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. Tenaga-tenaga penolong susah. Di seluruh kawasan. Saking banyaknya korban entah. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. Kota gelap gulita. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. tak ada artinya. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. Bagai monumen. Jakarta tenggelam. tentu jumlah itu saat ini. Mereka saling bertanya.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. Dengan sangat meminta ditolak alam”.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. pasar. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati. Di siang hari jadi kota mati. pegadaian. gunung es bersimaharajalela. Dalam jumlah besar membengkak. namun dia selalu lenyap tak berbekas. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI.

Senen. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. Blok M. Jalan Sudirman. Hari balas dendam telah terjadi. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. Benci dari cinta. Kekasih dari asmara. Jalan Thamrin. Tapi segala jenis hotel penuh. terpisah dengan keluarga lainnya. Melek dari kantuk. Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. Parung. Kakek dari nenek. Cikini. Cilandak. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. Keluarga Paman dari keponakan. Gunung Sahari. Sanak terpental dari sanak. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu. Anak itu terus melanjutkan teriakannya. Cemburu dari buta. dan melahap terus ke selatan. Suami dari istri. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Ibu itu terus melanjutkan tariannya. Cinere.membantunya. 20 Mei 2006 . Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. Ibu dari anak. Gelombang menggempur Tanjung Priok. Tangerang. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. Canggah dari wareng. Cucu dari buyut. Sang penari tidak menstop tariannya. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. Bola dari Piala Dunia. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi.

dan memagut dan bercinta. Mineev. Dengan 1. Gadis ini Zahra. dan jus jambu kelutuk. pernah berpentas Martha Graham. Sebaliknya. pemeran Rothbart bergantian. Odette. gubernur berjanji. menteri. balerina 21 tahun. kegemarannya. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. ayu dan ganteng. yang mengelus rambutnya. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. buah-buahan. yang putih maupun yang merah. Dia memilih minum air jeruk nipis. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. Di antaranya di tempat ini. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. dan pembesar negara lainnya. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. ngobrol dengan gubernur. tentang balet di Rusia. Natalya Ashikhmina. bulu- usai. gubernur. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. tidak minum wine.Telaga Angsa DANARTO telaga. sangat populer di seluruh dunia. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. Jerman. sup ikan tuna. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. Maya Ivanova. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Irina Ablitsova. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia.500 penonton. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. Angsa-angsa putih menyelam. Begitu pula para pebalet teman Zahra. menyembul. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. komposisi yang senantiasa berubah. Asmara angsa. Andrei Joukov. Tampak Viatcheslav Gordeev. angin sepoi-sepoi. insya Allah. lalu mendarat kembali. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. juga grup dari Perancis. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. kepada para tamunya. sebagai sponsor pertunjukan. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Mereka rame-rame menikmati salad. Baru pada malam hari . yang disihir Rothbart menjadi angsa. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. Direktur Artistik Chino. Maxim Fomin. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu.

Rothbart sang penyihir. angsa itu menjelma Odette. seluruh istana bergembira. kedua adiknya. Sekalipun dengan mata terpejam. yang ndak cocok bagi kamu. memamerkan putrinya. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. Semua tertawa. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. ”Terpikat boleh terpikat.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”. sih. ”Apa. ”Lho. memangnya kenapa?” tanya Zahra. ibu. Tatiana Chungunkina. ayah. Pangeran Siegfried. dan Anna Vakina. . ”Itu kan mengumbar aurat. jatuh cinta kepada Odette. Begitulah. dan Anastasia Baranova.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. neneknya. Siegfried. Siegfried sadar. adalah para pemeran angsa kecil. sampai Kakek terbatuk-batuk. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain.” kata Kakek. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini. Usaha Rothbart berhasil. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. Eugenia Singur. Oxana Gasnikova. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. yang secantik Odette. Kakek terbatuk-batuk lagi.” sambung Kakek. Semuanya tertawa. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. ”Tapi. Olga Ivachenko.mereka menjelma manusia kembali. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. saya sih.” tukas Kakek. ”Odette atau Odille.” celetuk Nenek. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas. Seketika. Rothbart marah besar. pemilik istana dan telaga. juga tante dan oomnya.” tukas Nenek. Odille. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. cocok-cocok saja. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. Eyang bisa kesleo. lho. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. Semuanya tertawa.

Jika kita bicara soal kesan. sih. Eyang ini gimana. Obrolan berubah jadi perdebatan. Meriah. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet.” sergah Kakek lagi. kecuali Kakek. kok yang disalahin balerinanya.” sanggah Kakek.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. Habis jadi diktator.” ”Eyang yang kasmaran. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. kok Eyang sampai segitunya. Aduh. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Jangan begitu.”Aurat yang mana?” tukas Zahra. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. Melihat kostumnya. mendadak berubah jadi filosof.” ”Saya heran.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Wah. Eyang. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. ”Saya serius. pertunjukan itu harusnya disensor. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra.” ”Kesan. deh.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. bubar. semuanya terkesan jelek. ”Semuanya kan tertutup rapat.” sambung Kakek. wah. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. wah. Eyang.” ”Jangan begitu.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. kostum Zahra ya seperti itu. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake.” Semuanya tertawa. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun . Kesan.” tukas Zahra.” ”Wah. peradaban.

Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. Eyang.” sambung Kakek. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. ”Dalam KKN ada tradisi. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu.” kata Zahra.” cetus Kakek.” sela Kakek. Mendengar kata Kakek ini. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. ”Kostum ketat itu.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. ”Jangan melecehkan negeri sendiri.” Zahra menukas. ”Adat ketimuran kita adalah KKN. ”Adalah tradisi balet. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. Cucuku. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” sewot Zahra. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan. runtuhlah kebudayaan.” . ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. ”Eyang benar-benar lowbrow. ” sergah Tante.” kata Oom. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan. ”Apa?” tanya Kakek.

”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. Eyang. Dan itu bukan teori. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu.. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.” tukas Kakek. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. ”Banyak negara yang busuk. Barangkali besok.” tukas Nenek.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal.” tambah Tante. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. ”Coba. kata Allah. atau lusa.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. Eyang. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. . Anakmu bukan milikmu. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka.” jawab Tante. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. Seperti tercium setan lewat. Eyang.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. Zahra.”Hati orang siapa tahu. Kita bisa menuduh mereka ateis.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Kecuali Kakek. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga.” sergah Kakek. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya.” tambah Nenek. Lengang sejenak. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” kata si Oom. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. saya dikasih contoh. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. Bukan kepada Tuhan. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. saya cuci tangan.

Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Tangerang. cukup sulit. Eyang.” ”Sebagaimana balet. tidak ada pornografi dan pornoaksi. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Dalam balet. Allah mencintai keindahan. Cobalah nikmati tari bedoyo.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo.” ”Saya setuju. Dan ternyata Allah itu indah. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. Ada air yang mudah mematikan api. Ada api yang menyalanyala. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Suatu dakwah keindahan tiada tara.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. Kita wajib memeliharanya. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. tergetar.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang.” sambung Zahra. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Dalam dandanan kebaya pinjungan. sedang dalam . 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang.

Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. sekadar yang saya tahu. Rasa saya tetangga. Sungguh menghabiskan waktu. maupun wali kota. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. satu dua. tidak benar-benar membutuhkan saya. bawahan dengan remaja. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. satu dua. juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. Rasanya camat. Saya rasa kali ini juga begitu. menantu dengan mertua. saya menjawab sekenanya. Saya acuh tak acuh. Istri saya lewat jendela. dan banyak lagi saya tidak nyaman. Misalnya. Karena istri saya gelisah. atasan. Di samping para tetangga. ramai. misalnya. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. menyadarkan saya. Sudah sering datang orang. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Juga tentang hubungan suami istri. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. soal usaha tambak udang. Istri saya memberi tahu. Kadang datang berbondong. kata-kata bijak dari para cendekiawan. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. pengairan sawah. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. perburuhan. yang sama sekali tidak saya ketahui. mengular sampai jalanan. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. setelah sarapan. persoalan anak dengan orangtuanya. dan wali kota. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. teman-teman. bupati. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. Sudah sering datang orang. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Ada apa? belum menemui mereka. Orang-orang . Dan pembicaraan beralih ke olahraga. Cukup menyenangkan. Dengan ngantre minyak tanah. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. saya dijuluki “pendengar yang baik”. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. perbankan. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. bupati. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. juga tayangan televisi. Sebagai penulis lepas. bibit tanaman. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu.

di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. lalu saya cari alamatnya. ataupun di stasiun bus. keluarga. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. Dan sebagainya. Masa pensiun pasti datang. Misalnya. Seluruhnya orang. Banyak komentar.orang biasa. ia seharian di rumah saja. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Saya interviu keluarganya. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. menyebabkan banyak orang mengenal saya. Begitu siuman. Alasan saya. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. kenapa tidur di rumah. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati. Banyak usulan. Begitulah. orang-orang ternama. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. ia kaget. Yang jail maupun pelesetan. dan berapa orang saudaranya. sebagaimana kematian itu pasti tiba. Kepala kantor orang itu kebingungan. agaknya hanya saya seorang. dibawa pulang ke rumahnya. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Kadang sampai 8.000 karakter. Saya catat riwayat hidupnya. tak ada yang menulis. teman. tukang becak. kompleks pertokoan. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. selalu saja orang . Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar.lengang. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Tulisan obituari itu tidak panjang. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. sekitar 5. Keluarganya memberi tahu. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. pekerjaan terakhirnya. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati. sampai kenalan baru. tidak ke mana-mana.000 orang. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. sementara beban keluarganya besar.

Banyak ngomong dianggap meramal.” jawabnya. Apa yang akan terjadi dengan saya. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Tidak kenapa-kenapa. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. Memang ada seorang yang “Pak. Pak Jurnalis. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Saya tak bisa menjawab. seseorang yang ngobrol dengan saya. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Tidak kenapa-kenapa. kenapa?” “Maaf. Pak. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. dan si bungsu di SD kelas 5. tulisan saya tidak adil .” “Baiklah.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Anak-anak saya.” Tapi. Ketika orang menanyakan pendapat saya. Menurut mereka. Keterlaluan. Pak. “Lho. Tapi ini kebetulan saja. Dari kejadian itu. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. saya sedang mewawancarainya. Ada yang bilang. Di pertemuan-pertemuan desa. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Lalu malah terjadi serba-salah. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. katanya. Memangnya saya cenayang. ia meninggal. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya.nyeletuk: “Pak Jurnalis. yang paling kritis. Maka ada saja orang yang anti-saya. jika seseorang ngobrol dengan saya. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. “Maaf.” “Biar untuk Bapak saja. Ntar saya yang menulis Bapak. sehabis ngobrol dengan saya. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Pak.” “Lho. Ini benar-benar klenik.” “Saya permisi. ada yang mengartikan. Saya jadi pendiam dan menyendiri. Saya nggak mau ditulis sekarang. sedikit saja saya ngomong. Pak. Sementara itu ada pula yang bilang. Wah. kenapa?” “Maaf. Kritiknya tidak berdasar.” “Jangan ditinggal korek apinya ini. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. lima orang. ini bahaya.

sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah. Jika sampai di sini hal itu masih baik. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu. Ayah pernah menulis obituari.” “Begini. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya.” “Boleh saja. ini dosa. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. “Kalian ngawur. kan. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. Nah. Lima anak semuanya sekolah.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Itu doa saya. itu semua yang anak. anak-anak ini sok tahu.” “Tidak bisa seenaknya begitu.” “Itu harapan saya. Nah. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang.” dengan empat orang anak. sedang rakus-rakusnya makan. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras. .” “Nah. wah. anak-anak saya itu diam. saya berat.” “Ayah marah kena keritik. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala.” “Semuanya.” “Semua orang bicara dosa dan pahala. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam. kalian ngawur. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka. Sebagai ayah. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga.” jawab saya.” jawab anak-anak itu.” anak-anaknya yang lain. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga.anak saya tersebut. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha.

mereka menatap kebenaran. muda. Sinar matahari memancar. satu dua. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. setelah sarapan. Seluruh mayat itu. anak-anak. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. Bahkan burung-burung. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. nistagmus. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. di luar kemauan. Saya menulis apa saja. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. guru SMP. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. di kebun. tak seekor pun tampak terbang. mengular sampai jalanan. tua. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Istri saya memberi tahu. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. saya.00. 26 Desember 2004. Waktu saya siuman. Jam aum macan. Istri saya saja suka empot-empotan. bayi. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Hari baru membuka matanya. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. di reruntuhan rumah. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. di jalan. tanah.Kami sebenarnya keluarga bahagia. Karena istri saya gelisah. merangsek ke depan meja saya. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. Alhamdulillah. laki-laki. Dengan ngantre minyak tanah. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Ahad. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Allah…tanggal akhir hayat. Entah berapa lama saya pingsan. Istri saya lewat jendela. perempuan. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Tangerang. cerdas dan berani. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Ada apa? belum menemui mereka. termasuk menulis berita. Saya acuh tak acuh. mencecap pencerahan. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. panas. Sudah sering datang orang. Saya rasa kali ini juga begitu. di pekarangan. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan. di atas pohon. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. berserakan memenuhi ruang dan udara. 20 Januari 2005 . saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05.

Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. Dan ia terpana. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. begitu istilah orang-orang. entah karena nyala yang redup. Girangnya sirna. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. dengan kaki-kaki telanjang. memabukkan daripada kesadaran. Entah karena entah karena entah. Untuk saling gombal. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. Meninggalkannya dalam diam yang haru. Senyum manja. Ia burung yang berenang. hilang. Dan saya. Sembunyi-sembunyi. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. Bahana tawa. Sendawa alkohol di permukaan udara. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Phuih! Saya meludah ke mukanya. Kami terkapar di atas pasir basah. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Bercinta di bawah para-para. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. dan ada yang hanya bagian tangan. Saat penghakiman. Maka… menggoda.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. Rajaman semu. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. entah karena basah yang kering. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. saling berhantaman. Maka saya tahu. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. bersentuhan dan mendesah massal. Muka badak. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. Pesta pora. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. . saling beradu berebut perhatian. ada yang hanya bagian kaki.

Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Saya melihat langkah seribu. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Tawa. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal.Saya menunggu. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. Tawa. Tawa. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Di sebuah tempat antah berantah. Musik kian mengentak. panjang ala kadarnya. Tawa. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. terjangkau. Tawa. Tawa. Tawa. “Sendiri?” Saya menatapnya. berapa kira-kira umur mereka. Tawa. Tawa berkepanjangan. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Tawa. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. Ia pun langsung mengambil Alkohol. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Tawa. Entah peragaan busana. bisa atau tidak para model itu. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Tawa. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Tawa. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Entah peragaan gaya. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Ada nama yang akan segera dilupakan. Sementara saya pun pura-pura tertawa. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. Tawa. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. diri saya sendiri terpaku. lalu memisahkan diri. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. Ada luka yang akan segera hilang. Tawa. Tawa. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. Tawa. Tawa. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. Tawa dalam penantian.

“Huahahahaha…mata bintitan. Semua burung yang berenang. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. pantas. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. Ada yang mendesak ingin keluar. Ia masih berada dalam diam yang haru. Mata saya pun memanas. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. Dan semua adalah ikan yang terbang. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. Maka bening berkumpul sedan. Agustus 2004 . Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Ia burung yang berenang. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. dosa. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. Jakarta. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. Maka…. Semakin banyak burung yang berenang. mata yang menatap girang. Saya menunggu. dan pantas. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. Semakin bertambah banyak burung yang berenang.

masih harus menunggu dua pembukaan lagi. Saya akan menjaganya. Membuahinya. Membayar pembantu. Air ketuban sudah hampir kering. Saya akan menjaganya. Dok. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. Tapi… muda. “Robek saja. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Tapi saya berkata dengan yakin. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. Terus menyeruak dan mendarat lengket. yang masih lengket.” kata ayahnya. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. Harus operasi. Menerima. Rasa mual merajalela. Rasa takut seketika membuncah. tapi tak . Baru pembukaan delapan. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah. Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti. Dan jika operasi. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. Materi yang ada. Tapi saya ngotot persalinan alami. sudah satu bulan setengah usia janinnya.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. Sembilan bulan sudah.” kata supervisor saya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. Saya ingin protes. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. majikan. jelas belum mapan. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Kepala saya pening. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. Pun mulai membukit perut saya. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Masih tak percaya. liat. Masih tak percaya. Ketuban sudah pecah.

Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. kontrakan. . Harapan akan segera pulang membawa uang. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. Saya tetap akan pergi. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. Tetap menunggu saya pulang. Berusaha memberikan rasa aman. ketika suster itu berkata. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. kami akan menjelajah dunia. Jika saat itu tiba. Baru akan dimulai merekam adegan. Tetap akan pulang. Tak menunggu saya pulang. aku udah mau tidur!” semprotnya. dan sekolah akan pulang. Kalau perlu. itu? Saya begitu tak sabar menunggu. kalau ia mau. Di mana makhluk mungil menyusu. Berusaha memberikan pengertian. Dan saya tetap akan pergi. air. Saya harus segera menghayati peran. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. Saya sudah tidak butuh rehat.bisa. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. Harapan akan segera pulang. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. telepon. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. Sudah jam delapan. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. Dan harapan. lagi. Membeli apa pun yang harapan. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan.” Saya akan menjaganya. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Saya akan menjaganya. Cukup lama saya harus menenangkannya. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. Air susu saya sudah sarat. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. “Capek ah nunggu. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. Ia membiarkan saya pergi. membayar listrik. Lucu.

Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Menunggu. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. Menunggu. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. Lampaui semua beban. menyerahkan untuknya menyusu. Tapi ia menggeliat. Ada kegelapan. menunggu emosi saya pergi. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. “Action!” teriak sutradara. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Menunggu kesadaran saya kembali. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan.harus terhambat kemacetan. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Melayang seperti burung tanpa menyimpan. Satu saat nanti ia kembali. igau saya. Ada puisi di dalamnya. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. kemilau dengan tangan terbuka. Lantas meronta. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Entah disengaja untuk menarik perhatian. sudah kembali pulas tidur. Menunggu. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. Pelan-pelan . Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. igau saya. Saya akan menjaganya. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. Menunggu. Saya Ada cahaya di ujung lorong. menghalau saya supaya tak dekatdekat. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Menunggu. Saya kecup kedua matanya yang merapat.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

sok gagah. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar. Yang berubah keterbukaan. kantong belanja. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya.minggu. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. sebagian orang yang menanggap saya munafik. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. Pembicaraan mendadak berhenti.kami hanya sebatas pertemanan. Hal.teman saya semakin banyak. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B. saya tidak pernah akal-akalan. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. Di pertokoan. pembual. Mereka saling mengirim surat elektronik. bertahun-tahun. Jika teman saya kelihatan indah. sebetulnya tidak sepenuhnya benar. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. restoran. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. Tapi kami masih menikah. berbulan-bulan. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum.jam. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Jika teman saya uang. atau masih melajang. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. Semua orang merasa sementara teman. Sebagian lagi menganggap saya jiwa. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir. Di rumah. Di ini berjam.sembunyi bermain mata. Banyak terakhiri. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Setelah putus dengan si B ternyata . Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. sakit jiwa. Mereka sembunyi. atau murahan itu. Di kantor. mulailah kelihatan berkantong tebal. berminggu. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. berhari-hari. Saya tidak pernah membohongi.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. Sebagian orang menganggap saya munafik. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan.

Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. Karena. Menganggap saya sakit jiwa. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. pembual. sok gagah. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. Bercerita tentang film yang baru saja diputar. Mendongeng membayar ongkos perawatan. terima karena saya munafik. atau murahan. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Menganggap saya pembual. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. Menganggap saya murahan! lanjut berteman.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . Pembual. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Menemani makan malam. Malam-malam panjang. Mengirim makan siang. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Sakit jiwa. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. sakit jiwa. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. jalan. Saya hanya heran. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. Ereksi yang tidak lama kekal. Sok gagah. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Murahan! Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful