Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

Pisang monyet. Orang yang berada di barisan menebas lehernya.benar menjadi warga kegelapan. dalam sunyi air yang mengalir. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. banyak batunya. Aku memanjatnya. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. Aku menduga. aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. Kami benar. pastilah manusia pun bisa. yang dapat kutempuh. dan mengambil buah yang ranum. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. kemudian tali dari kaki. aku semakin menepi batu-batu. sampai giliranku pun tiba. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. dalam remang gelap. Dalam kepergian malam. ”Ayo. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. Bayangan dalam benakku. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. anak-anak akan telantar. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam.banting tulang memberi makan mereka. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. ”Tuhan. Tidak ada. Aku berterima kasih kepada Tuhan . mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. merunduk rendah. Di dalam alun arus. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. Gelap dalam sel. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. Dan cap dalam keluarga. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai.

menjual ikan ke seberang. Alam keras membuat mereka hidup. Setelah berbulan-bulan. kepada anak-anakku. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. yang sudah berumur membuka pintu. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang.minggu bersama mereka. dan pelarianku. Aku pun terkejut melihatnya. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. Rasanya aku berminggu. Pergi ke laut. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. di seberang ada laut. atau kalau musim ombak. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. aku menghitungnya. Aku bulan di laut. Setelah kekuatanku pulih. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. tepatnya sebuah lembah yang landai. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus. iklim politik pun berubah. Sampai berpuluh tahun kemudian. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. aku menemukan sebuah gubuk. yang tergenang dan bening. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. seorang bekas interogatorku. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. aku berjalan dan berjalan. Malam-malam berbintang. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Kata orang tua itu. Akan tetapi. sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. Bandung. menyongsong matahari yang terbit. Ia terkejut melihatku. Ada mata air di situ. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. dan mengirimkan upah yang kuperoleh. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. Kuketuk pintunya. 21 Agustus 2009 . Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. kukirim upahku.mereguk air dari pinggir sungai. alamat.

” kataku sembari menatap ke jalan. petir seperti ini. Aku bersiaga. Seharusnya di dua halte berikutnya. Angin berkesiur liar kian kemari. Setelah menyulut rokoknya. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. Betapa bodoh dan tololnya aku. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. Aku berdehem. Tubuh terbakar hangus seketika. Angin masih berkesiur. Hujan masih saja lebat. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. “Dulu. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. Sebatang rokok siap dinyalakan. Tanpa menoleh ke arahku. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Gosong. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. Agak mletot karena terduduki. Genangan air mulai meninggi. . Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. Masih tersisa dua batang. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. Kalau tidak. “Aku salah turun. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini.” aku sengaja berbohong.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. mungkin aku sudah sampai di rumah. Senja makin lebam. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. Aku bersidakep menahan dingin. Di sebuah kantor. Kuambil satu. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu.

Meski cuma lima belas ribuan. Apa saja. Yang penting bisa makan. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. Di antara empat saudaranya.” ujarnya seraya menyodorkan tangan. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. Entah di bagian mana.“Tapi aku dipecat. Malamnya. Malah yang paling makmur. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. Si bungsu. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak. perempuan. Adiknya. ada yang curang dalam berdagang. sementara order menurun. Agak tinggi. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah. menikah dengan seorang juragan beras.” “Sukro.” Setelah itu kami jadi lebih akrab. “Nama kita hampir sama ya.” katanya getas. Hidung mancung. Yang pasti. Aku jadi korban. Gelisah saja. Kerja serabutan. macam-macamlah. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu. terus terngiang ajakan Sukra. Sukra tertawa. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. meski dingin menyungkup. menikah dengan seorang polisi. Baginya yang penting aku menggodaku. Tapi itu tidak penting. Aneh juga. Yang penting kau mau bekerja sama. hidupnya tak pernah kelihatan susah. Ada barang sedikit dari mereka. seorang wanita. Mata dan pipi cekung. “Kita merampok orang kaya. dan dua sepeda motor. Uang mereka banyak. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan. Agak kurus. Banyak sekali. Istriku di sebelahku sudah terlelap. Hidupnya Merampok? Ah. Dan hujan tiris.” kata laki-laki itu kemudian. Uang mereka pun belum tentu uang halal. “Kita merampok.” aku. “Kenalkan dulu. Agak gondrong. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. Tak ada gunanya. yang hasil korupsi. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. pulang membawa uang. Tak jelas mengapa ia tertawa. Sekarang nganggur. “Kalau mau. aku bisa bantu. aku jadi tak bisa tidur. Kakaknya. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini. Aku kaget. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok.” Laki laki itu tertawa kecil. hidupnyalah yang paling susah. laki laki. Seperti hari ini.” aku menyebut namaku. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu . “Namaku Sukra. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin.

Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. teman sekerjaku.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik.” jawabku sinis. “Jadi pengedar. Ada ekstasi. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya. “Kalau kau mau. orang lain yang mengambil alih. “Diajak merampok enggak mau. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. ia ikut memesan makanan. Mereka mau ke Bali besok sore. “Kalau bukan kita yang melakukannya. Agak berbisik.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. Ini tanpa risiko. Sudir. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. nanti malam. Tanpa basa-basi kepadaku. Aku diam saja.” banyak pilihan pekerjaan. Kalau tidak. Kro. Aku diam saja. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. ganja. Bukan merampok. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. Ia “Oya. Sukra!” aku membentak.” kata Sukra. aku ada pekerjaan untukmu. Lima turis Jepang. “Kalau kau takut merampok.” Sukra membanting rokoknya. Hari itu. perempuan.” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. misalnya. langsung duduk di sebelahku. Lalu aku terluka.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat. Ada Selamanya miskin. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak. Kra. selamanya hidupmu susah.terjadi perkelahian. tugasku memasang pompa air. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini. Sukra mengakak lagi. Mereka butuh teman wanita. kalau kau mau. Bukan jadi pengedar. jadi pengedar enggak mau. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya. Bisa kau carikan? Bayarannya besar. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya. Esoknya aku bekerja tanpa gairah. perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. Itu kalau kau mau. Sukra mengakak. Sukro. sabu-sabu.” Sukra meneruskan kalimatnya. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. Sama saja. Bisa juga dibakar massa. “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya. Lalu .

dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. warung Tegal tempat kami barusan makan.” sahutku ogah ogahan. memepet Sukra. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya.” Selepas makan. Aku mengambil sebatang rokok. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar .“Itu pekerjaan haram. “Maaf. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu.” kataku singkat membuat Sukra tertawa. Dan muda. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. Terpaksa aku menggeser sedikit. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. Siapa tahu kau tertarik. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya. Apalagi kalau sedikit kau rawat. Menahanku dengan paksa. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. Tapi. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu.” katanya meyakinkanku. cobalah berpikir sedikit lebih rasional. “Wajahmu cukup ganteng. aku lupa.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi. jadi kunyalakan. setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. mungkin kau benar. Sukro. Setiap hari kau bekerja keras. kau juga berotot. Jadi pengedar. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. Mendengar celoteh Sukra. “Haram? Ya. Rokok tak seorang perempuan. Aku cuma terdiam. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing. Jadi. Sebagai pekerja kasar. Berhadap-hadapan. Hanya cukup untuk makan. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan. Sukra tertawa kecil. meraih tanganku. Tak begitu berat.” membutuhkan wanita-wanita penghibur. kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. Merampok. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar.” Sukra memulai serangannya. Jadi makelar wanita. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. Nah. “Tenang dulu. Lagi pula. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. Sebelum sempat kunyalakan.

Perigi. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram. “Aku punya dua klien. Tidak tergantung pada Kesepian. Ia menyukai sesama jenis. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. Sukro. Janda. Sukra tertawa. Aku menggeleng.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. Tapi gajimu tetap tiap bulan. Ia masih membujang.” Sebelum aku berkata-kata. Kau bisa bekerja untuknya. Ia tak suka wanita. sekali.” berkata begitu. kau juga bisa bekerja untuknya. “Mengapa bukan kau “Kro. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri.” aku berkata ketus. Dan. Cantik. Nah. Aku malaikat penolongmu. aku buru-buru meninggalkan Sukra. engah. kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Sekarang aku mau berbagi denganmu. Sukra melanjutkan. Tanah Kusir. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Kunyalakan lampu kamar. atau yang pria saja. Desember 2006 “Ada apa. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. “yang kedua adalah seorang pria. Atau.” Aku masih saja bungkam. “Sukro!” Sukra berteriak. Aku terbangun. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu.dibutuhkan. Tergantung kebutuhannya. Sampai terengah engah. Yang pertama seorang wanita setengah baya. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. Aku mau menolongmu. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. Dan lari. Tanpa menoleh. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. Masih terengah- . Semua pekerjaan yang saja. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. Mungkin dua kali seminggu. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Kaya. Tidak setiap hari juga. Itu “Aku tidak tertarik.

” katanya. suaminya yang minggat. Baiklah. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. aku langsung tahu. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. bayangbayang yang putih dan memanjang. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. Sungguh. dua tahi lalat kecil di punggungnya. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. Saat pertama kali melihatnya. 28 tahun lebih enam hari. Seperti malam-malam sebelumnya. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. Aku melihat garis pedih dan hitam.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. Itulah sebabnya disembunyikannya. Tapi ia hanya tertawa. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. berdiri menunggu seseorang datang. Bilur jejak luka di tubuhnya. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. olehku yang buta. Aku memang tak punya mata. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. Tapi kalian mengatakan aku dusta. masa lalunya yang penuh kesedihan. gugusan awan merah muda. Ia seperti dikutuk kecantikannya. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. karena aku buta. Kuceritakan penglihatanku. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. ia memilih menyendiri. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. daun-daunnya yang kemerahan. Kadang tampak ganjil . Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. juga angin yang pucat kelabu. dan Mawar. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. kakinya jenjang. suaminya.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. untuk kesekian kali.

ia seperti menemukan barang berleleran. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. dan ia bergidik ngeri. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. . dan tak pernah mau menatapku.” ”Bila kau tak punya mata. Tentu. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. kami akan menaruh matamu ini di surga. ”Aku tak buta. Aku memang memilih tak punya mata. kenapa buta?” Ia sayu menatapku. ”Mata ini akan membuatmu jelita. Jileng. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. Melihatku yang tak punya mata. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga.” Tentu. buat apa aku punya mata. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu. Ada yang gagu. ”Biarlah aku tak punya mata saja. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. Digerogoti kusta. ”Dan kamu. Ada yang bongkok. ketika aku lahir dan menatap dunia. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. Perot.” ”Kalau begitu. kau bisa menduga. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. Ia membuangku.” Lalu aku pun bercerita padanya. diberinya aku degup jantung. dan berkata.” Di rumah itu pengkor. Aku tahu. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah. Kelak. kamu bisa kembali mengambilnya. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. kau akan melihat banyak rahasia. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku. ”Baiklah. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. Ia begitu membenciku.” dan kaki pada tubuhku.

Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Ia bisa kehilangan pelanggan. Di pojokan toko. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat.”Lihat. Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. cahaya seperti lumer di sela jariku. Mungkin tidak. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. Ia pun hendak lari. Mungkin saat itu aku berteriak. aku bisa melihatnya. kau pun takut menatapku. ”Kau menyenangkan. Lepas 3 dini hari. Kau mendengar suara. Semuanya berlangsung begitu cepat. tapi petugas yang lain segera berteriak. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. meliuk merunduk. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. Arak yang mengepungnya. ”Lihatlah. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. Aku bahkan nyaris dicekiknya. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini.” Ia kembali tertawa. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. Ia terus tertawa. Sebagian pelacur telah pergi. Aku tahu menyeringai tertawa. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . yang kusaksikan membuatnya terpesona.” katanya. rambutnya basah tertempias hujan. Dunia memang tak menuduhku berdusta. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut. ”Bukannya aku tak percaya. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. Tapi dengan apa kau melihat. Aku seperti mendengar lecut petir. ketika beringas dari biasanya. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding.” Aku bisa memahami perasaannya. kemudian yang lembek. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. Kutegaskan padanya. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. Barangkali ia pun merasakan firasat itu. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam. tapi tak percaya. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi.

Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. Di kantor. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Maka menghapus bayangan buruk. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota. Di kasuk-kusuk. Melemparkannya ke mobil patroli. Di ruang tunggu rumah sakit. Wajah Mawar pucat. Mereka selama ini kalian sahkan. Padahal bukan aku yang dusta. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. seakan ingin saat itu hari Natal. motong delapan korbannya. Begitu nyata dalam penglihatanku. Di warung dan kafe. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Siapa yang membawanya? Baiklah. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. Di pangkalan ojek. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Kalian mesti ke gereja. kalian pun bubar. Sampai malam. Orang-orang ramai membicarakan. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. Setelah mayat itu digantung. Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. kuceritakan apa yang telah kusaksikan. tapi mereka. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Karena bagaimanapun seluruh kota. Hujan rinai . Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. mulutnya. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. ketika Mawar menjerit. burung gagak merah berkaokan. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. Ia mengamuk dengan buas. Ada bercak darah di pisau itu. kemudian bergiliran memperkosanya. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. Sebagian kalian tertunduk. melenyapkan maksiat dari kota. bibirnya bengkak kena pukul. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. memar. Rupanya ia mabok berat. Pelacur dan pembunuh. Kuceritakan apa yang kusaksikan. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. kemudian digantung sebagai tontonan.Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta.

Senyumnya seperti berjalan anggun. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. Kuceritakan ini pada kalian. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. malam mengelabu. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air. seperti memanggil nama pelacur itu. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. meski sesekali Kudengar ia berseru. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. tapi kalian menuduhku pendusta.tergantung dalam bayangan cahaya murung. Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. Saat itulah. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Matanya seperti bintang bening. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. Yogyakarta. Aku begitu terkesima menyaksikannya. Rambutnya ikal dan panjang. Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. 2008 . keemasan yang cemerlang. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. Aku sendirian di alun-alun itu. kemudian menurunkannya. seperti ada cahaya mengitari kepalanya.

tindih-menindih. dan sedih. juga cerpen. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. apa pun yang terjadi. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. Pada suatu malam. Kami menyambutnya dengan sukacita. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. Ada yang memijit. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. sejak tahun 1997. yang selalu membela putri kandungnya itu. Tapi. dan menyanyikan lagu yang itu. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. ember. dan tidur. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. karena peristiwa itu.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. dan bercocok tanam. Nining. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. pemulung. Untung. Di dalam gerombolan kami itulah. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. membaca. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. saya hidup. gelas. memang milik Pak Darkin. meski hanya sebagai ayah tirinya. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. panci. pengamen. mereka belajar apa saja. Semalam. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. Setiap minggu. tidak penting untuk dipersoalkan. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. pengemis. Malam itu. Ibunya. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. aman dan nyaman. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. karena berbagai alasan. teko. Sayup- . Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. lelah. juga memasak. esai. piring. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. menyanyi. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. Ada yang mau memanggil dokter. kami. rame makan. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. Saya ditemani kompor minyak tanah. rame- gelandangan. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas.

Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. Saya diseretnya keluar.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. kami kami akan bersedih sepanjang masa. saya dinaikkan ke becak. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. Rupanya saya dibawa ke terbangun.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. saya bisa membantu mencarinya. beberapa ekor daging ayam segar. juga minyak goreng beberapa botol. kopi. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. telor beberapa kilo. ”Saya tidak tahu. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. bahagianya. Setiap habis gajian. kaus oblong. Sesampai di jalan raya. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. Saya digelandang terus. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Tapi. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. Aduh. Pedagang tak pernah kehabisan. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. sayur menyumbang sayur.” jawab saya. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. Saya heran. Bernapas saja sangat sulit. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. dan peralatan mandi. Tapi. Aduh. Pak . gula. Ia meradang. meriahnya. Pedagang ikan menyumbang ikan. teh. Ternyata tidak hanya beras. Sayang sekali. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Pedagang beras menyumbang beras. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Nining tidak bersama kami.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. tak ada sisa sama sekali.

Maka mengiriminya duit. pernah sejumlah terekam. tidak mau diundang makan. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu. Tidak bergaul. Beliau selalu bisa membahagiakan orang. ”Saya menunggu Bapak. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. Cerita lainnya adalah.” suara seorang gadis membisik.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo. ketat sekali balutannya. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. yang muncul hanya gelap gulita. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. sedang untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba: ”Pak Totok. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. Ternyata wajah beliau tidak . ”Saya Nining. merupakan sumbangan Kiai Kintir. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari.sebuah pekuburan yang gelap gulita. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. beliau tidak berniat sedikit pun. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Itulah jalan spiritualnya.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya.” ”Wah. tidak menerima santri. tidak mengajar. Pokoknya serba tidak. Saya sadar. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya. membanting dan membalut dengan kain kafan. tidak mau diwawancara. Saya tak bisa bergerak. kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. membujur kaku bagai jenazah.

Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. Mobil. Sejauh mata memandang. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian.Sejak dini hari. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. Sesampai di jalan raya. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. hanyut dibawa arus. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. becak ditinggalkan pemiliknya. Semuanya diam. Tak terjadi gerimis. Joyontakan . andong. Solo Baru. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Dari jauh. rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang. mengambang hanyut seperti mayat. Sampai fajar merekah. Tangerang. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. berucap. Semanggi. Tak terdengar geledek. Satu-dua orang penonton motor.

semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. Banyak orang yang begitu takut pada malam. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. Orang-orang menamakannya cinta buta. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. Tak pernah merasa tak tenang. semakin gelap. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. suara-suara begitu jelas terdengar. Seperti malam. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Seperti gelap. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Mata saya mulai merapat. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Tubuh kelihatan amat samar. Membuat mereka tak tenang.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan. hanyalah kegelapan. Semakin gelap semakin ramai. Sepanjang mata memandang. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Apakah benar masih ada hari esok. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. saya tak perlu meraba-raba. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Begitu dekat. . sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. di kebutaan seperti itu. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. Namun. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. Apa pun namanya saya tidak peduli. Dari penginapan. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. hidung terasa melekat. Pada gelap. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Cinta pun membutakan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh.

datang dari diri saya sendiri. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. Bunyi ranjang berderak. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. melihat matanya sedang menatap. atau malam? Karena buta. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. atau Jantung keras berdetak. saya bilang. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. melainkan asli. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Dicengkeram gerhana. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Tak terkecuali malam. Suara yang semakin lama semakin serak. Tak terkecuali pagi. Membuat saya Saya tahu. Semakin kabur. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Mungkin malam akan membuat saya takut. Tapi dengan satu konsekuensi. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. Saya jatuh cinta. saya bilang. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. Mata saya pun semakin buta. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. bukan kala pagi atau malam hari. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . adalah asli. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Antara pasrah dan pasrah. Membuat saya kerap merasa terjepit. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. saya akan bisa mengulanginya lagi. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Antara lelah dan lelah. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. Segala garis maupun dan bersatu. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. Bertemu kala siang. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali.

Jakarta. di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. Tak bertemu hanya kala siang. karena cinta telah membutakan kami berdua. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang.mempersatukan tubuh kami jadi menciut. . Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir. Diganti dengan jawaban. Tak menunggu kala atau malam. Sejak kemarin. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Mungkin… pagi dan malam.

Aku bosan . Rizal kan cuma teman. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. Dara. Beberapa hari yang lampau. jam berapa datangnya? Dari tadi. saya sepertinya sudah dapat firasat. Setelah itu.” Nana mengatupkan bibirnya. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. kalian berdua kan dokter. Sesungguhnya.” sampeyan kok belum datang. Mereka mencari sebuah restoran. Tantiana menangis terus. Nana menunggu!” meneruskan omongannya. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater. tahun). adik bungsunya sambil menangis mengatakan.” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma. dia baru berusia 17 tahun. saya membeli buku nama-nama calon bayi. waktu ke toko buku.” Nana merasa terkunci. “Dik. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. setiap keputusan hanya ada pada saya. Adiknya berkata. sekarang ada di rumah sakit. menikah! Mendahului anak sulungnya. yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Tantiana. positif hamil. anaknya.” Nana terenyak. “Tante dan Om-mu. “Datanglah bersama Dara. “Kalau tahu begini. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya. adik bungsunya menelepon HP-nya. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. Seperti dua “Ma. mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap. saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. “Mbak. Dua minggu yang lampau anak bungsunya.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. sekalipun berprofesi dokter. Sebelum terjawab. Aditya (25 tahun ke-30. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. Nana melihat Dara. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. Alvin. Padahal. Jadi. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. “Ma. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya. lebih baik kita naik kereta saja.

kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. Pastinya mereka menganggap “Maaf. aku kepingin jujur kepadamu. Padahal. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. saya perempuan yang berat jodoh. tapi kemudian Nana berpikir. Mulai sejak itu. aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga. kemudian mulai pacaran. “Setelah Aditya menikah. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. Kendati mereka masih tinggal serumah.” Dara.Dara tersenyum. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. Padahal. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. Sekalipun. memegang tangan mamanya. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. Kami tidak merisaukan hal itu. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. Padahal. Nana seharusnya berkata begini. kau menikah. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. sejak lulus SMA. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. “Ma. Kedokteran juga serius.” Mereka saling melihat. Yang terjadi di luar mimpi kami. apa pun pendapat masyarakat. Siapa pun tahu. berapa pun umur Dara. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. saya tidak bisa janjikan itu. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). Tapi. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise).” sedih sekali. Tapi. dia menyukaimu. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu. Apalagi. kata kuncinya cuma satu. kau tidak peduli pada mereka. “Ma. Didit tidak meneruskan sekolahnya. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. Sekalipun Nana merasa. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat.” Apalagi.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. Sesungguhnya. “Waktu kau beranjak remaja. jarang bisa ngobrol. tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia . Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. aku diliputi perasaan gelisah.

“Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. banyak hal yang dipikirkan. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya. harus berempati saja.baru saja berusia 13 tahun. dibicarakan oleh mereka berdua. Lantas. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. Dia merasa jijik! Namun. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. Tapi setelah dewasa. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali.” “Dik panggillah dokter. Rizal.” Dara berbicara lagi. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. Nana memegang tangan anak perempuannya. Sebagai seorang dokter. dia tak berhasil. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya. Karena. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja. “Ma. Semuanya memang harus diselesaikan. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat. pesawatku delayed. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. Sampai hari ini. bukan bersimpati. Jadi. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. Sehingga Rizal berkata. “Dara. sekadar dokter dengan pasien. untuk menguatkan satu dengan lainnya. Sekalipun. sekalipun mamanya juga dokter. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. kalau kau mau cerita. Padahal. seperti semua dokter. Pastinya. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks. terapi ini tidak berkelanjutan. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh.” Kemudian ada dering telepon lagi.” “Mama kan tahu. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. ketika mencoba bercinta dengan Rizal. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. kalau sudah begini. “Sebagai seorang dokter. Tapi.” Dara merasa tak berdaya. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. pada persekian menit. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. . adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini. tapi dua orang yang sangat dekat.” “Ma.

jadi kita bisa membagi. “Zal. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini. Tidak ada air mata. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. Aku yakin kau bisa memahami itu.” Lantas. Sedangkan anakmu. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. Rizal tersenyum dan memeluknya. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. ketika Nana berkata. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu. aku tak akan pernah bertanya lagi. Teman-teman anaknya berteriak-teriak. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. Nana memeluk Dara. senyum ada di antara Dara. aku kepingin anakku ini punya dua adik. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. Percayalah. Bahasa simbol itu artinya. cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang.“Sayang. Jadi. “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal.” kesakitan. “Dik. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. belahan hati suami dan istri. Setelah anakmu lahir. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. dihadiri Rizal dan mamanya. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. Tantiana sedikit tenang. dan melebar di ruangan ini. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. tiga darimu dan dua dari Aditya. biarlah jadi anaknya Mbak Dara. “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. Rizal. aku memaknainya lebih jauh. Kalau tidak. butuh proses yang panjang. Karena untuk kesembuhan ini. Nana.” Tantiana menangis. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. Yaitu garwo (sigare nyawa). Di luar dugaan. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. 10 Juni 2008 . yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. tidak bisa diperbaiki. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya. Ketika memasuki ruangan ini. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. lahir anak Tantiana. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. Beberapa bulan kemudian.

Sudah seminggu tak mampu bangun. Ada jembatan di atasnya. bila langit sedang bahagia. Namun ia tetap berusaha tersenyum. tempa. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. diganti genting Jatiwangi. “caah caah caah!” September. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Orang-orang menyebutnya siit . Lantai semen sudah ditambal keramik. kabut berebut kecup pipi mereka. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. Tak ada lagi berita dari Nining. Dahan dan batangnya dari besi tempa. raut pinggul gadis-gadis menari. Sangat pagi. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. sungai itu. Sungai itu selalu mengalun perlahan. Dulu. Warnanya lebih tua dari langit. Saat matahari menggeliat. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. Tapi semua orang tahu. sungai-sungai keperakan. pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. rumah. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Ada fotonya. Rumah tak lagi setengah bilik. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. Hujan malas berkunjung. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. burung berkicau di pucuk daun kersen. Saat itu seisi rumah ketakutan. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. Paling seminggu sekali. halaman depan. kadang kelabu. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. apalagi waktu seekor uncuwing. Beberapa kali ada penduduk hanyut. meski warnanya juga hijau. Pada bulan yang sama. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. tiap tahun. Di bawah.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. Embun basahi sepatu sekolah. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Bertahun-tahun selalu begitu. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Waktu membuka pintu. langit kadang biru. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Tak ada yang beda. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Cat tak lagi kusam. sungai itu juga bisa mendidih. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. meski sama-sama biru. semua berisik dan bocor kala hujan. menggerus apa saja. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Itu bisa terjadi meski di siang terik. berkerlip menyilaukan.

uang. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. sieuh. bahkan hingga tahlil seribu hari. Menjerit memanggil kematian. terutama Nining. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. Sieuh. Nining! Bantu Enin. esoknya Abah mulai bisa duduk. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. pergi sana. Mantri yang menerima bayaran sukarela. begitu kepercayaan Enin. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. Ia terbang menuju lembayung. Entah kebetulan atau bukan. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. Sakit. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Siit uncuwing pembawa kabar duka. panik. cepat sehat. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Ia hanya katakan pada Arum. Malah tampak riang. “Arum. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. “Belum waktunya anakku kau jemput. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. sieuh. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. halig siah. Lepas magrib sambil membawa abah. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. burung itu menjauh dengan senyap. tapi tak diobati. tapi karena sakit. “Komar. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. . Enin peluk buah hatinya dengan haru. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. Komar. Tapi. Tapi tangis ledakkan rumah. “Sieuh. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Tak menapak di mana pun. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. wajah. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. Diangkatnya ke telinga. memang rasanya ia seperti anakku juga. Rambut. Ibu terdiam. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. saya tidak bisa’. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. dan duduk lagi di situ. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. deringnya sudah berhenti.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh. . kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis. Saras. dan kami masih seperti orang menunggu.’ kata Bapak. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. Seperti ini juga keadaannya. ’Saya selalu teringat Satria. ”Hmmh. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. televisi. seperti Saras itu punya dua ibu. ruangan ini.’ katanya!” Berharap dan menunggu.’ kataku. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. telepon. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. Pintu. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. Telepon berdering. Ibu.” katanya. Ibu bergumam. perabotan. Ia menggigit bibir. Saras. lukisan itu. ’Satria sudah mati. ’tapi cinta adalah soal kata hati. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. jendela. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. ruang dan waktu yang seperti ini. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. membantu aku membereskan kamar Satria. buku. meja itu. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. Lantas melihat ke sekeliling. Ibu Saleha. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. Ketika disambarnya pula. ”Bapak… Kursi itu. Berharap dan menunggu.

suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. dianiaya.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini.” Dipandangnya kursi Bapak lagi. menata gelas dan piring. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria. Bapak sudah mati. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. aku masih mati. sekarang untuk kalian berdua. Saudara.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik. padahal aku selalu makan sendirian saja. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. ”Bapak sendiri yang bilang.’ katamu. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya. Nanti dulu.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. Lantas orang-orang itu berkata. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. Foto orangtuanya. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. seperti Ibu berada di dunia yang lain. ”Sudah sepuluh tahun. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. Satria sudah mati. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. Munir juga sudah mati. Aku terima Satria sudah mati sekarang. Jiwa terasa memberat. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. ”Pak. tetapi kalau terbangun.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. tutup matanya dibuka. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. Menerima? Menerima? Baik. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. Impian. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. Bapak. Di hadapannya. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. Pak. dan akhirnya dibunuh. kenangan. juga terkenang-kenang kalian berdua.

Bapak. luka sayatan yang panjang dan dalam. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . berbisik tertahan. menutupi wajahnya. jauh. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. o palung-palung luka setiap jiwa. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri.”…. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada.” Nada bicaranya menjadi dingin. dan aku masih tidak tahu apa-apa. jauh. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya. ”Tapi…. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin. mengembara dalam kekelaman semesta. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. ”Menculik anak orang dan membunuhnya. Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. ke langit. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. memegang kepalanya. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. Lantas bertanya-tanya lagi. Mencoba menjawab sendiri. Hanya bertanya jawab dengan Bapak. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. seperti palung terpanjang dan membara. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. membara dan menyala-nyala. menyatu dengan jiwa terluka.

”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak.” lewat. Tidak pernah ketemu lagi memang. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. membaca koran. Muncul dong sekali-sekali Bapak. Tidak jelas jam berapa. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. ”Bagiku Satria masih selalu ada. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. memberi komentar tentang situasi negeri. Ia selalu bertanya. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. malam entah karena apa. orang. menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. tukang bakmi langganan Satria. makan pisang goreng yang televisi. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. Ibu masih berbicara sendiri. ”Bapak. sampai setahun lamanya. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. Dasar Bapak. malah seperti lupa. banyak juga yang tidak pernah berubah. Ibu tampak mengenali. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam.’ kataku. banyak yang sudah berubah. bagaimana dia diperlakukan. luar negeri. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. kadang aku seperti melihatnya di sana. tapi tidak memanggilnya. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. pakai kaos oblong dan sarung. menonton itu. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. Di luar rumah. ’Ya enggaklah kalau ngibul. datang menengok cuma hari Lebaran. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi.Terdengar dentang jam tua. Tapi selalu ada. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. Lupa ini-itu. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. kursi itu seperti biasanya. menyeruput teh panas. Ada saja yang dia omongin itu. Duduk di . lantas ngomong tentang dunia. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. di kursi itu. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. ”Bapak. dan hanya didengarnya sendiri.

”Kursi itu tetap kosong. ”Eh. ”Ya. tanpa senyum. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. Ibu beranjak mengambil telepon genggam. ”Ini suatu aib. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . Tapi rupanya bukan. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. Ibu seperti tersadar dari mimpi. ”Ceritakanlah semua rahasia…. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. ”Pasti ibunya Saras lagi. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. suatu kejahatan.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak.” Ibu masih berbicara. malah Si Saras.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga.” gumamnya. Telepon genggam Ibu berdering. Rahasia kehidupan. Hanya lewat. kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk.

lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. . Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. perahu tetap teronggok sejak semalam. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. lantas melangkah ringan Hayati. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. seolahsamping gubuknya. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. sejak bertahun. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. Tentu. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. Para nelayan memang hanya tahu perahu.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. Hayati berlari begitu cepat. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut.

Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain.” “Perahu Sukab menyalipku. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya.” Nenek itu memaki. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. Pada akhir hari setelah senja menggelap. “Cabut badik? Heheheh. mesinnya sudah mati. “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan. . tetapi membentuk suatu rangkaian. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. Kulihat mereka tertawatawa. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. “Hayati dan Sukab saling mencintai.” “Oh. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang. Jawaban mereka bermacam-macam. perahu Sukab belum juga kelihatan. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. aku juga sudah bicara kepadanya. “Ke mana Hayati. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. “Ya. dan memang selalu kencang di pantai itu. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. ya. dan perahu- Menjelang tengah malam. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. sangat kencang. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. burung-burung camar menghilang. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal.

Sebuah foto pasangan bintang film India. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. tetapi tampaknya sudah mati. kursi buruk. nenek tua itu menggerundal sendirian. tentu saja tidak ada sepatu. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. meja buruk. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Ada juga pesawat televisi. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. . berikut pancing dan bubu. lemari kayu yang buruk. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain.“Aku lihat perahunya. bukannya tambah penumpang. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. tapi mungkin ada juga yang lain. tetapi tidak seorang pun di atasnya. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. Dipan yang buruk. bergemeletuk seperti sebuah mesin. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. berkeringat. hanya sandal jepit yang jebol. dan jala di dinding kayu. Wajahnya pucat. mulutnya sebuah koyo. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. Alas kaki yang serba buruk. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa.

dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. melalui perceraian. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. “Aku memang hanya orang kampung. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. karena memang sering terjadi. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. dan sangat mungkin. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. Hari pertama. kedua. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji.” kata seseorang. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Ibu. . Nenek tua itu terdiam. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. “Ya. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka.

“apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. pakaian basah kuyup.” mana mau ia mencari ikan bersama kita. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Desember 2006/ Merauke. Di pantai.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. Kulit terbakar. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. Sabang. Keduanya mengerti. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya. mungkin bukan mati. Keduanya terdiam saling memandang. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis.” Segalanya mungkin terjadi. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara. April 2007 . “Kukira mereka tidak akan kembali. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam. pada hari ketujuh. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. Sukab tampak lemas di atas perahu. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka.” sahut yang lain. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka. Hayati. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri.

” “Oh. memasang tenda plastik. mereka menginap di kaki lima. Semuanya ia tangani sendiri.” kata Kakek. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. karena kakekku adalah orang yang sibuk. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. Apabila tanah lapang sudah penuh. tetapi Kakek tentu saja melarangku.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. perusahaannya pun banyak sekali. Aku tidak bertanya lebih lanjut. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. rumah gedung bertingkat. dan nanti menghilang setelah Lebaran. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. atau bahkan di depan. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang.” . Di samping menjadi pejabat tinggi. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. seusiaku. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. menggelar tikar. dan tidur-tiduran dengan santai. mereka datang untuk mengemis. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. mereka selalu datang selama bulan puasa.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. Dari jendela loteng. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan.

tidur-tiduran menatap langit dengan santai. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. pula. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Benarkah. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet.” atau “Orang miskin itu jahat. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. “Hati-hati terhadap orang miskin. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu. memang selalu kulihat mata yang menatap. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. seperti kata Kakek. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. bahkan mobil pagar. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. depan rumah.rumah orang untuk mengemis. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. Kakek tidak pernah menjelaskan. menyebutkan kata-kata semacam.

meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. dititipkan kepada tetangga. penghuni rumahrumah gedung satpam. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. seperti hadir begitu saja di dalam kota. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang.mengantar kolak untuk berbuka puasa.rumah gedung itu. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung. mandi di kamar mandi mereka. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. bahkan sebagian telah pula masuk. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka. padahal hari Lebaran sudah berlalu. Pada hari Lebaran. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” . kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota. asri. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. melompati pagar. itu banyak yang pulang kampung. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. makan di meja makan mereka. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. kokoh. >diaC< Pada hari Lebaran. entah dari mana. Mereka juga berharap begitu. pulang ke Negeri Kemiskinan. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. biasanya kan begitu.” kata Kakek. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali.” “Ya.” “Tapi kali ini banyak sekali. pasti tidak lewat jalan tol. Lagi-lagi Kakek menghela napas. dan mewah dari luar pagar tembok. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda.” kataku kepada Kakek. merayapi tembok. dan hidup di dalam rumah. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. tidur di tempat tidur mereka. “Tenang saja. mendapat omelan panjang dan pendek.” Para tetangga tidak membantah. karena tentu mendahulukan Kakek. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat. kuat.

“Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti. bahkan merayapi tembok. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. melompati pagar. Pondok Aren. gerobakbanyak. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. 7 Oktober 2006 kosong. Minggu.” katanya kepada Nenek.” menerima segala akibat perbuatan kita. Barangkali saja untuk selama-lamanya. tinggal di sana entah sampai kapan. memasuki rumah-rumah gedung . kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur.” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. menduduki setiap tanah yang bertingkat. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. setelah hari Lebaran berlalu. Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. “apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini.” sahut Nenek. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. Heran.“Ya.

membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. Memang kembali. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. tetap menggelisahkan. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. tetap membara. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. Hanya kekosongan. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. tetap bertahan. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. Apabila kami berbeda kulit. karena kami memang tidak terpisahkan. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. kemudian berbeda kelas sosial. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. dan bukan takdir itu sendiri. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. lantas saling mencintai. Aku mengatakannya semacam takdir. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. nah.Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. namun kami udelnya. tetap misterius. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. menjadi pasangan baru. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. lengket bagai benalu. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami.

Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. Tetapi. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. Cinta diuji oleh cinta. kami akan saling mengenali. begitulah. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. Laut dan langit bagai bertaut. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. Namun. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. masihbisa mencintaikekasihku. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. Sebagai seekor komodo.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. yakni cinta yang dahsyat itu. bersentuhan sama sekali. Atas nama cinta. kukira. Cinta yang sejati. dan aku tidak mengetahuinya. Karena kami selalu berperilaku baik. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. Hmm. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. juga dihuni komodo. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. Akibatnya. di tempat yang baru itu. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. Karena undang-undang melindungi komodo. Hanya kekosongan. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. yang sekarang berada di Pulau Komodo. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. bisa berupa kursi kekuasaan. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. sebagai manusia biasa.

hal 111-114. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. kurator Museum Zoologi Bogor. langsung patah beberapa bagian. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu.hatiku terasa kosong. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. dengan jumlah sekitar 1. hal 75. Di dalam tubuh itu 1. dan mencintai kekasihku…. Baca Linda Hoffman. Semuanya sudah terlambat. Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. Bersenjatakan tongkat bercabang. “Introduction” Lombok to Timor (1997). Sudah jelas ia tampak kelaparan. Nostalgi=Transendensi (1995). dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. 2. Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta.650 ekor (1994). aku menjadi ragu. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. dan meluncur masuk ke kubangan. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. East of Bali: from . seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. Aku terpeleset dari tebing. Labuan Bajo. Cintaku Jauh di Pulau (1946). Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. sebanyak 1.000 ekor. terdapat pula di Pulau Rinca. Kalau aku tidak keliru. Ternyata. Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar.

3. Lebih Ikram. hal 112 tahun. terdiri atas 400 KK (2003). Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg.. Muller. Mereka menyebut komodo sebagai ora. op. kaki tiga untuk kamera. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya. terjemahan A 5. pada 1972. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- .. Pulau Komodo: Tanah. cit. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. Kampung Komodo. yang lenyap di Poreng. 4. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. satu-satunya kampung di pulau itu. Rakyat. ibid. jauh baca JAJ Verheijen. namun terjadinya di Pulau Rinca. dan Bahasanya (1987). dalam Muller. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. hal 111-2.

Muy bonita. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya.” kata si wanita beberapa saat kemudian. tangan si wanita memegang tangan si pria. untuk kita. barat sana. Elena?” “Bien. “Ya.” Si wanita tersenyum.” “Untuk kita.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum. Muy bien. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya. “Aku selalu menyukai lagu itu. “Si bungsu.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas. Sesaat ia diam. Suaranya datar. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu. meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga. Ia setua si wanita. Suaranya lirih. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka.” Seorang pria duduk di sebelahnya. Ada nada pedih. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. hoy. “Una hija. Pedro. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya.” katanya. Si pria menoleh. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya. Julia. Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya. Seperti ada beban yang menindih. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. Pedro. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song). “Belum. Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan. Bara cinta meletup di dadanya. “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. Mi Jaragual (My Little Farm).” Tersenyum. Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. “Como estas. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya. Kepalanya botak.” .

matador legendaris yang amat masyhur.” Mendadak si pria tersenyum getir. wajah Raul bergulir. Ia selalu merindukanmu. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. Aku cuma Si wanita tersenyum.Si pria menarik napas. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. meskipun itu Si pria melirik si wanita. Dalam sekali pandang. bertaut. si wanita membatin. Tanpa berkata.” kebanggaanku meski aku orang Basque. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya . Pedro datang dengan segala atribut El Barca. Ia masih tampan seperti dulu. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut. Pedro? Por que?” si wanita menoleh. Api cinta bergejolak di dadanya. Tak sabar. Akan ada dua Raul di sana. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. Api cintanya membara.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp. Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja. memandang laki-laki di sebelahnya itu. Begitu juga Elena. Di musim panas. Kau bisa pura-pura bahagia. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. Pedro. Dalam benaknya.” Malam terus merayap. Monumental de Barcelona. cinta mereka berdenyut. Tangannya masih juga memegang tangan si pria. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. “Kalau ia menuruti kata-kataku. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. Begitulah selalu di Spanyol. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya. Di wajahnya berdebar. Demi aku. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp.0<>w 8000m< 26 tahun lalu. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita.

Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan. Suaranya agak parau. “Buenas noches.” Si pria bangkit. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. Seperti juga hari-hari sebelumnya. Mereka tak menadahkan tangan. tambien. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. Elena. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. Ada yang santai. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. Hasta luego. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. Pedro. “Sudah saatnya kita berpisah. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa.” kata si pria kemudian. si pria tua itu. “Kukira sudah terlalu malam. muncul belakangan. Mereka menjual kepandaian. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan. “Seperti yang kau lihat. Lalu mereka . Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. Kesejukan di hatinya singgah.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu.” Si wanita tersenyum. Tapi. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas. Sejak dulu matamu selalu bagus. Elena. Tanpa tongkat “Buenos dias. Mengecup kening si wanita.” Elena tersenyum sumringah. keduanya krim di tangan mereka. Lalu. Aku pamit. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. tongkat di tangan. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. Tanpa menoleh. Tanpa menunggu jawaban. “Pedro.” “Mi. “Kau sehat?” si pria bertanya.” katanya begitu tiba. ia duduk di sebelah si wanita. “Buenos dias. didudukinya. bukan?” si wanita menjawab. ia memang tak ingin menghitung. si wanita berambut keemasan itu. “Te amo. Kelompok Elena. menghentikan langkah si pria.” katanya. Di dadanya rasa nyaman merambah. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. ada yang dalam gegas. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka.

Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. Pedro?” si wanita bertanya. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. Api cinta mereka memang terpendam. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. Cinta mereka memang terbelenggu. Tapi tak pernah padam. Selain Nou Camp. cinta mereka tetap bergelora. setelah setetes benih juga Tapi. Dalam tubuh yang renta. katamu gigimu sedang sakit. tertawa-tawa berkakakan. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. Si pria tersenyum. tepat. bukan?” si wanita menoleh. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. Sariawan membuat gusiku peka. api kasih masih panas membara. Mereka seolah cuma ada berduaan. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya. “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. Demi sebuah bisnis keluarga. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. Jika aku berkata jujur. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. si wanita terkasih. “Kau mencintai istrimu. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. “Ya. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya.pejalan kaki yang berseliweran. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. Si pria menoleh. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . Elena. Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

Una hija. bintang dalam pertunjukan matador. Gradas. Te amo. Mi. kandang klub sepak bola Barcelona. aku juga. matador pemula. tambien. Dalam sunyi abadi. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero.” kata Julia lirih. seorang anak perempuan. aku cinta padamu. julukan klub sepak bola Real Madrid. tempat pertunjukan matador. julukan klub Barcelona. baik.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka. kursi terdepan (termahal). sampai jumpa. Jantungnya kian kencang berdegup. Buenas noches. Por que? Kenapa? Torero. selamat siang. El Barca (baca El Barsa). Buenos dias. divisi utama Liga Spanyol. Como estas. La Liga. Muy bien. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam. Pablo. Sampai kemudian semuanya berhenti. selamat malam. Julia. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. Muy bonita. ruangan itu gelap. nama mata uang Spanyol. Gairah di dadanya pun meletup. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. Dalam peti berbalut kain hitam.” kata Pablo. Nou Camp atau Camp Nou. Mendaki. Mendaki dan mendaki. hoy? Apa kabarmu? Bien. dan Javier berdiri berjajar. Novilladas. Hasta luego. sebutan umum untuk matador. Cantik sekali. Barreras.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. parade para matador sebelum pertunjukan. Keheningan mencekam. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. .tempat duduk paling tinggi.* Jakarta. Lalu. El Merengues. Pesetas. Raul. Plaza de Toros. Tak ada yang dapat dipersalahkan. “Tak ada yang perlu dimaafkan. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. Tak ada yang menyahut lagi. Dalam gelap. Matador. Si wanita tergagap. baik sekali. Paseillo. Dengan baju serba hitam. tetap tertunduk.

sayangku (My dear). . pintu utama.pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. Puerta grande.

“Libur kau. Mereka . dan cicit yang makin henti berdenyut. Nanti sore kuantar….Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. Tiap banyak. tamat kuliah. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. keras kepala. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau. dan cicit. kulihat keponakanku di jok belakang. tujuh anaknya. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. Ia tergeragap. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. seminggu ia menginap di kantor polisi. doa. harapan.” Ia cengar-cengir. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. laiknya anak muda. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami. melihat anak. “Oh. Libur. cucu. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. cucu. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. mengikuti perkembangan mereka. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. juga nasihat. Palinggam…. Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. Dan saat kulirik ke samping. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. naik kelas. Om. Justru itu. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. Tapi.” kubilang.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. mata bunda terpejam. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. Kasus dan sakitnya abangku. menutup mata serta telinga beliau.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. Tempo-tempo. naik jabatan). Ya. Merenung? manggut-manggut. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. Isinya ucapan selamat.” Aku lalu diam dan terus menyetir. telah lama kami hindarkan terhenti. jika ia tahu. “Terus sajalah. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. seperti jantung kita. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. panik. Senyam-senyum. menutup-nutupinya. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas. pasti beliau tidak tidur. Dengan masalah yang juga tambah banyak. didampingi seorang cucu. sambil terus melaju di jalan tol. “Baiknya Bunda istirahat dulu. Seluruh keluarga heboh. Palinggam. kabar buruk dari beliau. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. Tahun lalu. tidak berani membayangkan. Namun abangku. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut. Makanya.

HP-ku lalu berbunyi.” “Cuaca buruk. Pucat pula. Nak. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. pulang dari rumah sakit. Rosa langsung diam. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol. Lihat. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. dan berhasil.” kubilang. sudah. Dari istriku. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat.” “Eh. Semuanya digaruk. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia. Atau. Palinggam. Syukur. dituduh korupsi. tak lama lagi Grogol. matahari pagi. berucap lunak. berempat.” Kusodorkan . Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi. ingat suami yang jarang pulang.” jawab Kak Leila. Dan saat umur muda Herman. o.” Dan diam lagi. Herman pulang. Pandai-pandai mencari kawan. “Diajak kawan-kawannya. Bunda? Sehat. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. Maksudnya membantu Kak Leila. “Lagi di jalan. Dan bunda tetap menoleh. Agar mereka jadi manusia. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali. kurusnya engkau. bicara sendiri saja. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup. tangguh.semobil. “Biasa itu. Lalu Slipi. Dan bunda menyergap orang itu?” pula. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. Bunda tentu tidak diberi tahu.” Tiba-tiba aku jadi gugup. Tak apa-apa. anak laki-laki. “Naik gunung. Kawan yang baik. Kak Leila berpura sibuk. baginya tugas ayam dan kucing. Ingin kencing. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi. seperti orang- Aku makin gugup. disekolahkan hingga tinggi. pada usia senja? Merasa gagal. “Apa maksudmu?” “Maksudku. tak Herman kabarnya menangis. Pun ulah cucu. menanti jawaban. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah.” kubilang.” adikku Rosa menyahut. “Baik saja. nenek yang risau itu memanggilnya. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. memandang jalanan. tak apa-apa Bunda. si Herman. anak-anak kami. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. O. “Sudah. “Masuk rumah sakit.

Tahu kalian.” Mudah-mudahan lama. Aida. ditemukan adikku Rafli di pantai Padang. Anak gadis kakakku. Dicari serta ditanya ke mana-mana. orang sibuk kasak-kusuk.” “Dan kau sibuk pula. Sering ke luar kota. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. siswi SMU kelas dua itu. seperti biasanya. “Biasalah. Aida. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri. “Jangan kalian berahasia lagi. “Sibuk terus. Aida tak jumpa. Pagar maupun gerbangnya tertutup. “Tanya kesehatanku. bersama pacarnya. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. masih kuat aku ke Jakarta. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. Mau bicara. Ke luar negeri juga. Bunda. Bunda. Namun boleh jadi berlebihan. “Syukurlah. Kami sudah tiba di Semanggi. Kakak dan abang iparku kalang kabut. Mereka tahu sehari setelah kejadian. Dan. “Aku cuma khawatir. Kalian bagaimana? Syukurlah.” ia bilang.” “Nina manajer pemasaran. tanpa seragam. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran. sudah menanti di teras. si Aya. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. Terpikir olehku. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu.” ujarnya. Lalu ia mendekat.” “Apa kata Nina. suara bunda: “Nina? O. Eh. berhenti di tempat parkir khusus keluarga. Memeluk bunda. Aku berbelok. Tapi. Termasuk polisi. HP ke bunda. Aida. sehat Nak. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun. meluncur mulus ke Kebayoran. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. Alhamdulillah. pulang dihubungi. Nak. Mana cucu-cucuku? Oh.” kataku. karena bunda lantas bertanya. “Nina. Aku lihat abang kalian itu dulu…. sibuk benar kudengar istrimu. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. Lalu. . Kakak iparku. tambahku tanpa suara. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang. alis bunda tetap bertaut. menangis tersedu. bebas dari di luar.Obrolan panjang. tak juga puas. Andamsari. sudah gadis bukan? Sudah SMP. Biar dia lupa bertanya. Ini. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. Kemudian tertawa. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir. Harta meruah. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang.” Aku diam kembali.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. Cucuku. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. Ya? Besok-besok. Nak. Bunda. Semua saudara Batam. hah.

Aku juga kader partai. Aku muncul. Palinggam.” dia bilang. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. Bang Palinggam terpana menatap bunda. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu.hendak meledak. Nanti saja aku kabari.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. “Aku punya atasan. Palinggam. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran.” Bunda mengedarkan senyum. Bunda diam. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. Menarik napas. “Belum tahu. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam. “Aku punya kawan. . Matanya perlahan berkaca-kaca. Namun takdir seorang ibu. Nina lagi. Bunda. Dan HP-ku kembali bernyanyi.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Juga aku serta Kak Andam. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah.” Mengangkat muka lagi. pada hatimu sendiri. aku tetap bersih. dipecat partaimu. kencing. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya. Rasanya. Bunda. Nak. Aku di kakus. Suara Bang Palinggam terdengar pelan. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja. juga kepadaku. seperti minta Bunda. Aku tergopoh ke toilet. Dan negeri ini.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal. sudah. Dan aku merasa. Suaranya makin lunak. “Namun hingga detik ini. Kak Andam?” tanyanya antusias. Abangku melirik. itu isyarat dari abangku. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. hampir menyerupai bisik. Bunda. Dia menunduk. sayu.” ujarnya bak mengadu. Nak. Mukanya kuyu. “Tetapi bagiku. Juga kepada Tuhan. memandang bunda.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. melihat bunda lagi.” sahut bunda kemudian. dimaafkan. “Tak paham aku soal-soal begitu. kini sudah bercucu pula. “Apalagi kau. Loyo. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai. mengapa kau mengelak diperiksa. “Sudah sampai belum?” “Sudah.

Bahkan mengerikan. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan.” “Hanya si Cudik. “Seperti orang-orang di dalam mimpi. Tidak sekalipun berkedip. kendati kota kami tetap saja setelempap. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo.” . Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. akrab dengan pribumi.Jakarta. Kami ajak bermalam tidak mau. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh.” Biju menerangkan dengan gembira. Hebat dia!” pensiun.” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. Satu di Palembang. Dia dan keluarganya tergolong aneh. Hanya menatap. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. Nius. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. sudah bercucu satu. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Kalau aku pulang. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami. Ayah Bun tukang gigi. Si Talib di Dumai. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. “Di mana dia?” tanyaku antusias. “Seperti ada dan tiada.” tambah Amril. lebih-lebih tukang gigi.” jawab Tum. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. kopi di simpang jalan dekat pasar. dewasa atau jadi tua. Berubah sekarang. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami. grosir roti dan permen. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela. berai. Nius. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. seperti tidak kenal lelah. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. Nius. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum.

adik Bun. Matanya tak terlalu sipit. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. Lalu ia sambar roti. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. Biju dan “Makan. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu. Bagiku. Suka-suka kami mau makan apa. pintar di sekolah. seperti buang hajat. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. Seperti di rumah Bun. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng. adik kelas kami.” sahut Tum. tak pake babi laaa. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. Tunik juga. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. Tapi kami cegah.” bilang Tum. lantai. Portir bioskop juga . suara itu. Ibunya baik seperti ibu Bun.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. Juga pandai menjahit. “Itulah. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. alias usil plus kurang ajar. Nius. Sultani. kembali menampakkan senyum yang ganjil. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. berisi mohok serta teh manis. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. lucu. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. tidak halam! Enak laaa. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. atau menjelepak duduk di menggairahkan. “Percuma. mengantar kue mohok hangat- hangat. Dan pernah pula Buya Makruf. kami kerap nginap di rumah Sultani. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. Dia kapten sepak bola. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. Minumnya teh hangat.” ia sodorkan nampan perut kami. diduduki hingga kini. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. mencangkunginya kecuali dia. “Tidak halam. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. mengajak makan. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. Kami berebut. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. Bak orang-orang dalam mimpi. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren. goreng serta roti lapis mentega.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. mencukur.

Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. itu turun dari ibunya. Mataku merem melek. Berenang kalang kabut ke tepi. Ibunya tersipu. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. tidak terasa. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Tapi aku merasa.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. Rancak. Bun mau potong bulung bole potong. Babah mau coba? Sret. kopiah. Aku malah tak sekali. Rustam. .kami. Dan sesekali. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. Sebulan ditanggung fasih.” “Tidak sakit. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. “Seperti model rambut Bang Rustam. Sultani berkata: “Sudah Bun. kan?” Aku mengangguk. Tunik juga. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. tajwid dan Bukan saja Bun. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. ikut mengaji saja. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. Iya kan. “Malah. “Sebetulnya telat Bun. selesai!” Ayah Bun terkekeh. Suaranya merdu. Kelas enam disunat. “Rambutku dia cukur. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. ke halaman masjid. Kepandaian kiraahnya elok. Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. tidur-tidur ayam. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. mendampingi kawan itu setiap malam. “Ayaaa. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. serta sarung beliau “terbang. Mendesis-desis lunak. Mukanya pucat serupa mayat. Setelah sembuh. jadi keras. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. Dan Bun disunat. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. Ayah dan ibunya setuju. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Terbahak-bahak seperti hantu air. tentu saja. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Biar aku yang ngajar. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Tak licin di sekeliling kepala. Ulah Sultani! Suatu kali. Mestinya waktu kita kelas tiga. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. laaa. Baju. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. Tetapi. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. mencukur seperti yang kuinginkan. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji.

Suara mereka teramat gaduh. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. “Tadi di sini terlampau pendek. Ibu Sultani berlari mengejar. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. Tanganku dicekal. aku menghindar. Aneh sekali. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Tepatnya. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. Sejumlah orang menerabas masuk. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu. Mukanya menangis. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. Sudahlah. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. berteriak-teriak. meraung-raung.” kata Amril. Menghabisinya. Lututku menggigil. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. Menyepak pintu hingga rubuh. melihat aku di tengah kerumunan. Buas sekali. hasilnya nihil. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. Sultani juga. sepekan rambutmu panjang lagi. Tetapi mereka pun tidak tahu. diseret abangku pulang. Tum diam saja mendengarkan sunyi. aku menghambur ke jalan. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. mendengar di mana Sultani. Tahi kambing. tegak kaku di ambang pintu. Mereka menuju rumah batu. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. “Mulai Kariang. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. suatu pagi. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. Nius. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak. kuratakan.” lesu. dan orang bergegas Sultani. malah sebelah sini terlampau pendek. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. berdarah. kurang ajar ya. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. Mereka terus berteriak. Kusaksikan ayah Sultani diseret. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik. Ketika kuraba. Menangis. Nius. Atau pergi. Pernah kami tanya ke situ.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Eh. Bergelombang-gelombang manusia. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. Bagus juga kau gundul. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. Dia mendekat. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak.

seolah-olah tidak pernah lelah. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. Bahkan sampai kini. dua buah. Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras. walaupun tahun demi tahun . “Semua orang bilang begitu. kemarin pagi. “Dan.“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai. 2 April 2005 berkedip.* Jakarta. Hanya mata saja.

melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. hidupnya. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat). bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. petang atau malam Tetapi. ya. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. meski aktivitas seseorang berjualan. Adakalanya juga dari pagi sampai malam. kembangkan payung. . Kecuali. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. tukang serbat. tukang rokok. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. Meski cuaca cerah. Begitupun tukang sate. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. hujan dan hari. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. bercakap- Betul. Tidak jelas mengapa demikian. “Hoi. karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. di kota berniaga. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. dan seterusnya. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. Paling-paling orang hanya bergumam. Kadang-kadang pagi. siang. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. juga sosiolog. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. penjual kerupuk. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami. Ya. mirip dengan warga melambai dan menyapa.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. anak. tukang serabi. atau makan kacang goreng. jangan pula payung. Karena. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. Karena itu. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. tetapi juga tukang emas. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap.

jangan dikata lagi. panjang. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. Juga. lepas-lepas dari kacang goreng. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. depan asrama tentara dan polisi. Gemuk. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. serta kegemaran orang memakan kacang goreng. Namun. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit. terus. memang lain kacang goreng kota kita ini. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. Bahkan.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. Pada hari raya dan libur-libur panjang. perlu penelitian. makan kacang goreng jalan “Habis. Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. Mereka mangkal di emper-emper toko. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. tiada bandingan!” . Dan. Bertengkar. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. Malah bangga. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. sepuluh atau selusin. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. “Ini. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. “Tetapi. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu.Sekalipun kota kecil. di muka rumah sakit. sebesar jempol. tukang kacang goreng. beberapa waktu setelah bubar bioskop. Lagi pula. Tetapi. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. tetap belum ada yang sanggup “Ah. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. tikungan-tikungan jalan. kalau itu. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos.

khususnya di kalangan kaum ibu. Cubadak Bungkuak. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. “Ibarat penyair. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. Bancah Laweh. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. Makin malam. dia Affandi. Ibarat pelukis. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak. Orang-orang terbangun.tenang saja dia melangkah. ingin makan kacang goreng. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. Ibarat… . istrinya dipakai Mak Sanin. tunggal sekaligus penjaga kota kami. tanda Mak Sanin berjualan. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya. Tenang. ilmunya tinggi. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. Juga karena dia “berisi”.anak justru takut pada Mak Sanin. itu Mak Sanin!” ujar si suami. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. . Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah.“Ya. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. dan warnanya hampir tidak jelas lagi. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami. tak-tuk-tak. Kumisnya pun lebat melintang. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. Tetapi. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. kami punya ilmu. dan selalu merah menyala.tambalan pada jas yang sipit. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. Dengan jas itu-itu juga. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran. Biasanya. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. “Hah. anak. Menyelusup manja ke pelukan suami. kepala. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau.pinggiran kota kami. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. Berhari-hari berjualan.

pengantin-pengantin baru.” “Yo! Eh. ketika ramai-ramai di tahun ’66. Padahal. kota “Padahal. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir .” Dan. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. Hanya berdua. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. Cukuplah. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu.” kata ayah bagai orang kedinginan. Mak Sanin. bahkan hingga kini. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. Dengan jas yang ituitu juga. pada suatu malam. Tetapi. tahu benar aku. itu biasa. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. Belilah. “Masya Allah. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. Semakin jauh. Dan besoknya lagi. Bergegas mereka benahi diri. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja. Warga yang lain tidak. Dan. Cobalah. Tetapi. mungkin juga tidak mau tahu. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. Besoknya. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati. harum bercampur peluh. malam!” Tetapi. Tujuh lubang peluru. tegak menanti di ambang pintu. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. enak atau dia bertingkah. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. Dan. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. Kemudian. mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. Mak Sanin!” Dan. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang. Jakarta. berkibar-kibar ditiup angin malam.“Beli dulu kacang gorengnya. seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. sudah mereka tunggu-tunggu. Tidak bakal menyesal. “Huh.kisi jendela. Karung goninya entah di mana. “Seliter saja ah.

berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. di pintu halaman. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. di ranjang dan bantal kamar tidur. tidak bisa memanggil siapa pun. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. yang diam-diam maju terus. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. bersebelahan. agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. Di pagar rumah. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. di motor. di bundaran lampu lalu lintas. Jam di mana-mana. di mana setiap pitstop. Manusia selalu berada dalam . di layar monitor. dan di kemengangaan mulut. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. berteriak. Di jalanan. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. ”lakukan semuanya semaumu. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. di dapur. Lik War menggeleng. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. dan begitu lepas sepanjang jalan. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. di mobil. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. di meja di ruang tamu. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. Bisakah manusia bebas dari waktu. di lembaran kertas. di dinding. di pintu. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. Bilang. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. di perut yang hanya diisi kopi. saling kontak-sentuh. Berdetak-detik di dalam pendengaran. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. di bak air dan di gayung kamar mandi.

yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam. yang mungkin hanya menggeleng. ”Terlalu banyak kendaraan. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. Kami . karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh.” kata lik War. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang. pikirku.” Kami menelan ludah.” kata lik War. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. Lik War pun tersenyum. ”grammar apa tuh?”. untuk tolong. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. what ever will War. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV. ”Aku jadi pengen ke Jakarta. bumbu dan yang lainnya. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. Dan setelah itu.pikirku. titik saling ketergantungan. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. Lik War pun mengajukan usul lain. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. yang menembus ladang dan sawah. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi.

sekaligus kudu sepeda dulu. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. Timpah. Kimi. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. ”macak dan akting pengemis. semodel de Grana. atau buronan karena dengan sesuap nasi. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. ”Atau ikut Arpan. Berangkat ke Jakarta. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos.” katanya. dan karenanya (kata lik War. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung. Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. Nonik. atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. untuk segera berpacu sebagai apa saja. atau penghuni kompleks semodel Tri. dan Tyas. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. Marto Pedrosa kampung sini. ”OK!” kata Marto Pedrosa. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. Sri. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. ibunya. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. Santik dan Kuni. Kasim. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. menjadi rembulan gaib di saja. Lania. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. Koral dan dan di kampung sini). Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu .panggil dengan sebutan No Tit. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. lantas bertemu setahun sekali di kampung. Ia menganjurkan jadi kernet.

menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa.*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. yang biasa lusuh nunut : ikut. sebagai apa saja di mana saja. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain. kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk. berliku-liku mbabat alas: membuka hutan. sara : sengsara mandeg : stop. pentolan.agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi. kolonisa . dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu. yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta.

dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar.” kataku. aku mengeluarkan FN di hadapannya. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. dan memasang lagi pistol FN. Tapi sebelum dia banyak bicara. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. anak petinggi polisi. dan memasangkannya lagi. meloloskan genggaman dan mengokangnya. Kalau disuruh sangat sederhana itu. langsung ke tanah. Dan bila kurang. Guru itu mengangguk. Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. dengan magasin penuh. di kamar anak petinggi polisi. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. membersihkan. membersihkan. Sebuah letusan lagi. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. Letusan dan entakan membuatku kaget. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. magasin dan satu peluru paling atas. Pa!” katanya. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. yang genggamannya terasa berat itu. Tapi apa . Sangit mesiu melulur lengan dan wajah. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. Dan kami. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. ada magasin cadangan di atas lemari. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. Mula-mula hanya dengan pistol. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. diungkit. lalu ditangkupkan untuk dipasak. memilih. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. Setahun kemudian aku menguasai FN. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. rasanya lebih enak memegang pistol polisi. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar. ketika kelas II SMP. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang. Memasukkannya lagi ke magasin. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. Sekali. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol. terutama ketika magasinnya penuh. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama.

Menurunkannya. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan. Kau tak boleh jadi anak Mama. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer.” katanya. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. Aku ambil FN dari tas. kalau maut sangat dekat. ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. perempuan cuma jadi istri tentara. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara.” kataku. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas. Letusan itu keras. aku kokang. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan. Aku tak pernah membunuh orang. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. Manusia itu . Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. Akan lain. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak. “setelah lulus kau daftar dokter tentara. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. Aku tertawa. “OK!” katanya. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket. ketika jadi danyon. “Kita harus kejar setoran. Dik. lantas menodong wajahnya bolong. dengan posisi jongkok menyamping.” kata ajudan baru lulus Akabri. Mulanya di Perbakin. Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. Naik ke boncengan dan melesat. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. yang lain. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. seperti menembak kaleng atau cecurut. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. sekaligus memberi kesadaran.” katanya. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. Padahal. Aku beranjak. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. telanjang dan gampang. kata ajudan. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. dan menembak.kenikmatan main-main dengan colt. dari jarak tiga meter. Peluru itu menghantam aspal. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu.

Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. Aku mematikan telepon. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. Aku. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi. Aku diam saja. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah. Ibu menatap. yang telaten merawatnya. seperti mendengar bisikannya. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. Enak. yang langsung mendekat. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. Ia minta agar aku merawatnya. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. Aku mengangkat bahu. dan seluruh keponakan. Tanganku digenggam. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara. Aku ayah?” kata Samsidar. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. dengan mengumpulkan suami. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. dada. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah.” katanya. kakak. Dik. Ya! Aku yakin tentang hal itu. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. “Aku kan cuma cari kerja.” katanya— tertawa. . Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. Aku kini sipil. “Kau tahu apa?” katanya.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. anak. perut. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. Aku tak mengabarinya. Ia bergegas menelepon ayah. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. sampai ibu meninggal—menyeringai. Ayah tertawa. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. terutama karena jadi rekanan pemda. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon.bernyawa. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. dalam kurang tidur. Ditempatkan di kota. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. Dua tahun kemudian ibu sakit. ipar.

Mengunci pintu. yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Pasti. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. Ya! Ya . Ya— sepuluh menit lagi. Berjam-jam menunggu ayah. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Sepuluh menit lagi. Mengambil AKA. Aku menunggu ayah. Mengokang dan Ibu meninggal. Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. Aku masuk kamar utama. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun.

dan Arsad pun menikmati hari-hari manis. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. Sad. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. Sir?” katanya. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap. bermalasan di warung itu. Arsad menaiki sepeda motornya. Ya! Akan tetapi. curiga. Sad. Motornya dipakai ngojek sembarang orang.” katanya. Menghindar dari sekolah. “Kita juga main. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. Ini bukan punyamu. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. Itulah awalnya. per lima puluh ribu tombok. preman dan pemabuk. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. ayah. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. dengan lembut. Bapaknya pasti meneng.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. Terbayang lagi. Nasir. Mungkin cuma memesan kopi.” kata Nasir. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan. Jalan ke pintu belakang warung. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. Saimah menyusul dari depan. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. Ini hanya pemancing saja. menghindarkan pendengaran Khairan. menjauh dari keramaian. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. Arsad mengenal Suimah. Kita tutup nomor jagonya. Nasir menggeleng. Saimah makin genit. “Nggak akan tembus kan. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. Ia membolos bersama Taberi. Khairan menepuk bahunya. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. di kisaran empat angka. atau menggoda Saimah. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. dengan semena-mena merangkul. Terkadang Arsad hanya nongkrong.” kata Melangkah. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. dengan payudara yang berdenyut. orangtuanya semakin permisif. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. “Kamu duduk-duduklah. serius. Khairan. ayahnya memberikan pesan khusus. seingatnya. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. makan jajan. Radio menyerukan dangdut. menggerayangi dan . Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah.” Setengah berbisik. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. dengan setoran biasa. olehnya.

semakin tidak mempunyai duit. haid Saimah sudah telat seminggu.” katanya. Berharap.” katanya. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. Membawa tas pinggang. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. bermakna mempunyai barang dagangan. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. “Kita ini orang dagang. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. Ia tertawa. ia seorang sales yang agresif. Orang-orang mendelik. Pak RT tak berdaya. selalu. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah. karenanya orangtuanya masih di kantor. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. Menjadikan empat kali. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. Sepanjang waktu. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. Khairan bungkam. Ia seorang sales pengawal pribadi. Siklus direcoki balas memaki. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. dan berkeliling ke mana saja. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. pil.” katanya. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. Khairan tersenyum. biar bisa kompak dengan mertua. Ibunya Saimah lembut mengangguk. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. terkadang orang masih datang . “Seminggu bisa berpenghasilan. dan rayuan Saimah. Tapi. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah.” Orang-orang tersentak. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. Cemberut dan makin sering marah. Khairan menenangkan. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. Utamanya Saimah. Ya Miring. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. Dan Saimah makin manja. Istrinya mulai menyindir. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. dan menjual sisanya. Akan tetapi. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. Akan tetapi. Meski begitu. yang gigih. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah.

Krowak tertolong. yang dikemudikan Nasir. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. Ia menuntut. lajunya sepeda motor Arsa. Kaki. dari hadapan. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. mblesar-kan gas. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. Belokan liar itu. Akan tetapi. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. Lalu lintas sigap diatur. belum pernah pacaran. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. apakah aku harus menunggu izin Bapak. Menyulut rokok. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. menyeru ke seberang. dan sisi rusuk kanannya remuk. sudah meteng. dan derap orang berlari memburu. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. tertekuk-tekuk pendek. dan minum Topi Miring- yang sama.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu.Nasir memboncengkan Krowak. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. ada di tengah jalan. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . yang lainnya memburu supir sirna. meliuk-liuk. masalah dan menenangkan warga. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. akselerasi pertamanya. Sebagian menolong Nasir. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. dan…” “Betul! Tapi. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. Sopir Station Wagon geger otak ringan. penyelonongan itu. tak bisa diturunkan. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. telur dadar setengah matang. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. mencuri perhiasan ibunya. tangan.

instan Celurit: Senjata mirip sabit. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan.“Balikkan ia ke kondisi asal. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. Khairan. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. mereka langsung mendatanginya. Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. Saimah menangis. “Aku tidak betah. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. Dipantati bahkan. meski tak selalu milik orang Madura . Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. Dominik. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. tapi tidak pernah dilayani. Lantang meneriakkan Brewok. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. Utuhkan lagi. Tombok. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. dengan mobil carteran. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. khas Madura. Aku seperti masuk penjara. Berparkir di halaman. tanpa mampir dulu. Dua hari setelah persalinan. Kedua lelaki itu liar bertatapan. istrinya. Ibunya Arsad berteriak-teriak. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. Khairan mendelik dan membentakkannya. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. Dan memang begitu. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad.” tulisnya. Khairan melapor ke Polisi.” kalimatnya. dengan dikawal Segera. berharta Genah: Enak dipandang. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya. Ibunya Arsad terpekik. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. “Nih. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. Karena itu. Khairan menelan ludah. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan. dari rumah Bidan.

setiap pulang. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. Seperti capung ia tiba. Kadang bisa sebulan tak pulang. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. Ia masih belum genap enam tahun. mendapati kotak itu kosong. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. meledek istrinya. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. Ia melongok. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban. yang kecewa itu. karna ia terus diam saja. seakan sudah menebak. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. Bibiiikkk…. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. Ia ingin segera membuka kotak pos itu.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. tadi. Meski baru play group. Beningnya tertegun. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Sungguh. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. Beningnya sudah pegang hape. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. “Hati-hati!” teriak sopir. ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. “Biiikkk…. Beningnya langsung meloncat menghambur. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” . Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. Dari kotakota yang disinggahi. Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. “Sekarang. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. “Ada apa. Ia tak menyangka. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Di kelas. Marwan kadang kirim SMS. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang.” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu.

kartun .20. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan. Marwan ingat.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. Itu kotak kayu pemberian Ren. Sepanjang hidupnya. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. dengan suara penuh kenangan. setiap Ayah pulang. Karena iri. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. “Mungkin aku memang jadul. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Pukul “Enggak bisa tidur. Saat SMP. bagaimana Ren bercerita. yang dikenal lewat rubrik majalah. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. lantas mengeposkannya. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Marwan tak pernah menerima kartu pos. Bahkan.” Ren kecil duduk di pangkuan. banyak temannya yang punya sahabat pena. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Marwan diam. Ia pun atau kartu pos. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu.” Marwan hanya diam. Meski tetap saja ia merasa aneh. jauh. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. ngambil kartu pos dari Mama. rasanya.

Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. teman sekantor. Bukit karang yang menjulang. Pagoda kuning keemasan. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. Ah. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. Gambar pada kartu pos. Ia selalu merasa bingung. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . setelah Beningnya pulas. Dermaga kota tua. Pasti mereka menduga ia dan Ita….” Itulah. Seolah-olah itu dari Ren…. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. kapan pulangnya?” “Ya sudah. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. “Wah. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Deretan kafe payung warna sepia. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. ia kini mulai dapat memahami. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita.” Marwan tersenyum. Marwan tersenyum. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. Sudut dengan deretan yacht tertambat. dinding goa. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. seperti tercekat. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. Rasanya. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Air mancur dan patung bocah bersayap. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. saat Marwan makan siang bersama. Membiarkannya ikut ke pemakaman.di tepian kanal. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. Sepeda yang berjajar kesukaannya. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah.

Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Dua belas lewat. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. Ia melongok ke dalam kamar. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang. sekilas ia melihat jam kamarnya. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. tak ada api. Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Bau wangi yang ganjil mengambang. keluar dari lubang kunci. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. Ia melihat ada asap lembut. semua rapi. Hanya “Tadi Mama datang. “Kata Mama tukang posnya emang sakit. 2008 dipegangi anaknya. Kain kafan yang tepiannya . Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. menyambar mendekapnya. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. sulit ia buka. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar.” Beningnya mengulurkan tangan.” pelan Beningnya bicara. Cahaya yang terang keperakan.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. seseorang. serupa kabut. Lebih keras dari bau amoniak. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Singapura-Yogyakarta.

Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Aku ingat. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. Memang. menyebutkan namanya. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. Aku suka matanya. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta. sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. aku seperti mendengar denting genta. seperti katamu. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. Kau tahu. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. Tapi. Tetapi ketika ia hatiku. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. mana yang pas buat jalan-jalan. Ia bercinta nyaris tanpa suara. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Dan saat sepasang matanya mengerdip. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . untuk sekadar membuatku tersenyum. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. mana yang pantas buat dipakai makan malam. menyentuh putingku yang ungu. sepasang mata itu bagai mengambang. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. Ia tak pernah mengucapkan rayuan. Barangkali. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. yang paling gombal sekali pun.

kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. Sungguh. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya. Setiap melihat kunang-kunang.” ”Aku suka kunang-kunang…” . kenapa aku jatuh cinta kepadanya. kali ini. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. aku jadi ingin ketemu dia. aku begitu menyukainya. aku mesti pergi. aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. Bukan karena kamu tak suka. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. Sedikit berkumis. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. ”Busyet!!” Mungkinkah. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. tipis. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan. Membuatku tergeragap. entahlah. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. tak rapi.” Bila aku kangen. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. Dan kupikir. yang membuatku lihat di iklan deodoran. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. Tapi— diam-diam. Tapi. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja.

kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. Padahal. Dari jendela apartemen lantai sebelas. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air. Seminggu setelah pembantaian. seperti sosis dalam setangkup roti. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu.”Hmm. dengan mata yang layu. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. Aku masih dalam kandungan ibu. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. menjadi berkilauan. saat itu. Ibu selalu mengajakku kemari. . di zaman gestapu dulu. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. ketika lembah itu menjadi bisu. memandangku yang duduk telanjang di sofa. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. aku lupa. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu.” ”Hmm…” Ah. Agar ia menyimpan kunang-kunang. Seperti yang sudah-sudah. Membuat lembah itu malam purnama.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. bersama ribuan tubuh lainnya. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. ia langsung tidur setelah bercinta. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Dan setiap pepohonan tertugur kelu. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. kata ibu. Selalu. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang.

Karena. Jakarta. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. Membelakangiku. seperti kerap kau katakan. Ia meraih handphone itu. Tapi. Kesunyian tak terpermanai. berbicara setengah berbisik. meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri…. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. 2005-2008 pernah kau kenal. seperti dalam sebuah puisi. selalu saja. Tak ada percakapan. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . dan tergesa mengenakan pakaian. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. tak tercatat pada termometer. Dan dingin. seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. Seperti jeritan yang teredam. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku.Ia sungkan dan jengah. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan. Aku hanya memandang keluar jendela. Cahaya perlahan susut dan aus. dan dengan gerakan pelan menjauhiku. Barangkali. Kemudian ia bangkit. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku.

bila ada ular masuk ke pekarangan. orang-orang akan menghentikanku. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. dan langit hanya basah. Mungkin karena mulutku yang peyot. melihatku memasuki halaman rumah mereka. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. trotoar. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. Memberiku moke. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. Mungkin mereka hanya menggodaku. Aku ingat. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. sambil menunjukkan empat jariku. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. Di kulitku yang licin. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. Bila ada ular masuk ke rumah. Dan mereka kembali tertawa. sambil menunjukkan empat jariku. mendesing lalu lalang di jalanan. Dulu aku memang berharap.” jawabku. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. Mungkin mereka butuh hiburan. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. Aku tak pernah mengerti. aku pernah begitu mencintainya. Kota di mana bertahun-tahun lampau.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. seperti rintihan kesepian. Biasanya. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. Padahal. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. Mereka tertawa. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini.” jawabku. Apabila melihat aku lagi berjalan. nari. Tak ada bintang. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . Aku tak mengerti. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin.

Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. Alangkah menyenangkan jadi ular. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. Ketika mula dunia tercipta. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. Kudengar kembali gema lonceng itu. menghilang dalam kegelapan. Dulu. saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. Sejak itulah aku ular. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. kota ini seperti memanggilku. Kurasakan. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. Aku leluhur mereka. Leluhur yang mulai berkhayal. Seingatku. kuntum yang ranum. Aku sering bertemu ular-ular itu. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. Mestinya. banyak berkeliaran di kota ini. setiap hari. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. di pinggir jalan. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. Mereka percaya bagaikan putih telur. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. . ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. Tapi kudengar seseorang berteriak. Aku begitu ketakutan. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. kini aku melihat sebuah mal yang megah. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. Terdengar suara-suara tong ditendang. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Dulu. Meski terkejut dengan reaksi mereka. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. betapa enaknya jadi ular. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja.itu. Aku merayap menyeberangi jalan. Di ladang. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. ketika Bumi masih rapuh. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. aku mencoba tak panik. dan semua ketimbang diriku. Kota dengan seribu gereja. di pojokan itu ada sebuah gereja. kendaraan yang lewat berhenti. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. ketika batu masih berupa buah muda. Tapi di situ.

” kata gadis cilik. gadis itu memungutku. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. ”Cepat sembunyi sini…. aku merayapi jalanan kota ini. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. Cara mereka mengingatkanku. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian. sampah. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. memancarkan sulfur cahaya. Aku diam melingkar di pojokan. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan.”Ssttt….” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. hanya dipisahkan oleh kenangan. berdesakan dan bau tengik. ratusan ular. Ia mengulurkan tangan. Cepat sini…. Dengan tangannya yang mungil. Kulihat puluhan ular. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku. lorong yang berkelok-kelok. ”Kita sampai. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. Aku merasa asing. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. Di dekapannya. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. mendesis-desis menatapku. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. Dan seperti menyusuri ingatan.” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong. kulihat itu menyala kemerahan. sambil menurunkanku dari dekapannya. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui.” Aku memandanginya ragu. Kulihat rosario menenteng lentera. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya.

Kadang merah serupa darah. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. menyimpannya dalam botol. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. Dulu. Ketika kota mempercantik diri. Kemudian dijual. kami Aku belajar mencintai kota ini. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. Sudah lama. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. Kamu sudah melihatnya. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. menjualnya di lapak trotoar. seakan- mencapai kota di seberang sana. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. rempah-rempah dan artefak kenangan. tetapi selalu diusir. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. dihancurkan kemajuan. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. bila menjelang Natal. tapi terlihat rapuh. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. Salib itu menjulang. Dalam keremangan. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur.Di kota ini. ”Begitulah. Ketika banyak gereja diruntuhkan. Kami mesti menjualnya diam-diam. Aku menemukannya tak sengaja. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. Padahal Aku mendesis mengangguk. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. untuk diganti dengan malmal. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. katanya. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. dulu kami bertahan: dengan . akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. Sebab bila ketahuan. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. Pada saat itulah. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. yang mereka percaya. Para penduduk memberi kami anak-anak. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. kalau aku mau menjual rosario. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. kami bisa ditangkap petugas keamanan. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. Kadang air mata itu menetes bening. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu.

ia memang gadis yang usil dan nakal. Tidak. Sampai kemudian aku menyadari. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. Ah.” katanya. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. 2006 . Terdengar syahdu dan megah. nyanyian puji-pujian. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. ternyata. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri.Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu. Kusaksikan ruangan yang remang. gereja. tepat di belakang gereja. aku juga penduduk kota ini. kataku. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. samar-samar bisa menenteramkanku. Mataku nanar Ledalero. boleh jadi sebagai tugu kenangan. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. gorong-gorong.” katanya.” teriaknya riang. Pasti mereka mengusir kami…. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. Aku tidak menikah. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. Aku melingkar tenang dalam keranjang. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. ”Kita bisa diam-diam ke sana. ”Kau tahu. Dari dalam keranjang anyaman. ”Wow. katanya. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. betapa sunyi gereja ini. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. Ketika ia berjalan. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. Kami keluar dari Puji Tuhan. Di dekat altar. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. Dulu aku idiot. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini.

3. Nusa Tenggara Timur. Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere. Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. Agus Noor (23 Desember 2007) .Catatan: 1. Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta. versi Krowe-Sika. 2.

Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. Nak. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. di keteduhan pepohonan. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. Nak. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. factory outlet. Nak. selalu. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. setiap menjelang Lebaran. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. Mereka menggelar dasaran di trotoar.Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Sejak banyak toko fashion. Nak. orang-orang lebih suka . Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Jarum Ibu pernah bercerita. para tukang malam. Entahlah. menata bundelan-bundelan benang. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. Seperti menyaksikan dalam sekejap. silet. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. dan benang. Atau mereka tak mau lagi datang. Nak. gunting. dari tahun ke tahun. di pojokan jalan. di emper pertokoan. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. Begitulah. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. yang konon. Dan di malam takbiran. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. betapa dulu. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. Kata orang.

Maka. Kau masih empat tahun saat itu. dari tahun ke tahun. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. Zaman. Bila ada orang sedih yang datang padanya. Nak. Kau tahu. barangkali. Nak. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. Delapan Lebaran lampau. Dan jarum itu. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Lalu diantar Pamanmu. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. Menisik dan menjahit. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. Nak. Ia menjahitnya dengan rapi. tak banyak bicara. Ibu mendatangi tukang jahit itu.membeli pakaian jadi. Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. satu-satunya tukang jahit. Dengan jarum dan benang Begitulah. Kau bisa melihatnya. dan menjahitkan pakaian padanya. Nak. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. Saat itu Ayahmu baru meninggal. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. begitu halus. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. tetapi tak bisa menyentuhnya. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. Ia sempat mengelus bertilas. tetapi juga kebahagiaan. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. Yang jelas sudah sejak lama. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Nak. Nak. tiga bulan sebelum Lebaran. Di kampung itulah ia tinggal. para tukang jahit yang mengisap tembakau. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. Tak berbekas. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. tetapi lebih lembut dan halus. yang masih muncul di kota ini. Sebuah kampung. Perawakannya kurus. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. Nak. seperti senar. rambutmu. Hanya ia. Entahlah. Kau tahu. tapi kau lihat. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. dan jarum. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. membutuhkan mereka. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. Rabalah. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. Nak. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. setiap menjelang yang muncul di kota ini. Nak. di tangan tukang jahit itu. memang mengubah selera. Mungkin kau tak ingat. Lebaran. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. Tapi . tukang tentang tukang jahit itu. Benang itu tipis dan bening. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. Di dada sebelah sini. Ada yang mengatakan. Ia menjahit luka hati ibu. halus. memandangi belanjaan berisi pakaian.

Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. Itulah sebabnya. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Aku ingat. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. Ia tinggal di sana. jalan. kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. aku menjalankan mobil pelan-pelan. Mereka sudah menunggu sejak dini hari. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu.masih muncul ke kota ini. sepanjang hari memintal benang kesabaran. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. Kemunculannya selalu dalam diam. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . satu-satunya yang selamat. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Padahal tukang jahit itu. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. Menjahitkan kebahagiaan. aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Ia tinggal di sebalik cakrawala. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. Rasanya. anakku memandang heran antrean itu. Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. sewaktu kanak. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. Menjelang Lebaran ini. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. seakan meledek tukang topeng monyet keliling. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu. malah makin menyelimutinya dengan misteri.

Pusing karena semuanya makin mahal. Bingung karena masih nganggur.” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul. dengan gampang mendapatkannya. Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap. Tak bisa membelikan baju baru. hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) .Barangkali. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. 2007 orang-orang yang antre itu. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah.” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. Ayah?” “Ya. Brisbane-Yogyakarta. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja…. Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya. Kuceritakan tentang tukang jahit itu.

“Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. suka sekali permen. Neal sendiri. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. Anak-anak suka permen. tempat biasanya Papa. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. Permen toffee. ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. Saat kehidupan ini masih ranum. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. Mama. fudge. Maka. Permen dalam bungkus warna-warni. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya. permen. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. Ia membayangkan. Sepanjang hari yang riang. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. bila peri itu . Saat terbangun pagi hari. itulah. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. Sampai ia berumur sembilan tahun.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. lollipop. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. di malam hari menjadi bengkak mulutnya. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. itu biasa. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya. sebermula permen muncul di dunia manusia.” Ah. Nak. sewaktu kanak-kanak. “Begitulah.” kata Mamanya. tengah. Seperti bantalbantal mungil milik peri. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. Dan pada malam hari. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. Bantal mungil warna-warni milik peri. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati. Mereka sedih.

setengah menggerutu. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik. memberinya sedikit gula. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. Ia ingat. Neal membayangkan. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik.” Tapi. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. Sekarang ini. pengasong itu. bagaimana permen itu dibuat. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. korengan.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. Mencampurnya dengan gelatin agar kental. Tetapi. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. Mestikah ia menjelaskan pada Iza. ia tak mau menenteng biji-biji permen. Selintasan. Tapi. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. bila ia tak membeli. . Takut. pewarna dan pengawet. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. permen itu memang mengundang selera. mereka akan memecah kaca mobilnya. pada Samuel. “Lebih enak permen ini. wajah Iza terus cemberut. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.Sampai sekarang pun. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa. Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya. “Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta. Pelan Pras mencium bibir istrinya.” jawab Pras sambil .Neal mengangguk. memandang mata Neal dengan lembut. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur.

Mata kami yang murung dan sayu. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. Mereka datang dari segala penjuru dunia. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. Kadang mereka mengajak kami berfoto. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. keledai. Kami menduga. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda. Mereka segera mencetak foto-foto itu. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. dan sempat mengunjungi kota kami. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. Kami menyukai cara mereka tertawa. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. biskuit dan telor asin. roti kering yang disimpan dalam kaleng. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. membawa bermacam perbekalan piknik. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama.

kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. dan sungai selalu meliuk-liuk. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. jalanan. Dari kejauhan kami . Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu.>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. Betapa menggetarkan melihat pohon. menurut mereka. pepohonan di kota kami saling bertubrukan.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona. begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja.bintang terasa lebih jauh di langit hitam.rumah rubuh menjadi abu. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. dan bintang. Lorong-lorong. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. para pelancong itu bernyanyi. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. Memetik kecapi dan Saat malam tiba. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan. Kepada kami para cermin. penyair. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. Tapi kota kami. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. bawah kakimu. seolah semua itu terlampau bahagia. tetapi tidak dengan kota kami. candi-candi megah yang disusun serupa tiara.

para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya. kami . seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. Keajaiban tersendiri. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. sekolah. runtuh tertimbun waktu. sungai-sungai. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami.menyaksikan mereka. dan fana. yang hancur. Berwisatalah ke kota kami. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung.lahan hancur dan tumbuh kembali. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. ke arah kami. Sesekali minuman. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. sementara. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. menanam kembali pohon-pohon. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan. Kami tak ingin kota kami lenyap. sepotong dendeng. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. Sembari menaiki pedati. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri.gedung. jembatan. Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti. tower dan menara. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. setiap kota memang memiliki jiwa. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. rumah sakit-rumah sakit. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. Jangan khawatir. membagikan sekerat biskuit.

1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino. oleh Erwin . 2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner. Invisible Salim (Fresh Book.

Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Air yang dinding penyangga jalan tol. Setiap pagi. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Kadang berloncatan. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Berkoreng di lutut kirinya. Memandang mata itu. seperti menjolok sesuatu. jalan menjelang kantornya. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. jernih dan bening mengalir perlahan. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan.Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. Tak ada keruwetan. Beberapa pengendara sepeda motor yang . Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Ia menurunkan kaca mobilnya. kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. Usianya paling 12 tahunan. Selalu bercelana pendek kucel. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa.

hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. yang kata Mama. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. Setiap kali terkenang mata itu. Setiap menatap mata seseorang. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. Mata yang tertutup jelaga kebencian. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. ”Mata itu seperti jendela hati. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. Mata yang penuh kemarahan. saat ia berusia tujuh tahun. Tapi Papa kerap menghardik. panjang. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. ia yang bagai liang hitam. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. kawat berduri yang terjulur yang menggantung.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Ia ingat perkataan Oma. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. indah yang pernah Gustaf tatap. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. Dan ia selalu menggambar mata. terlihat berbeda. Rasanya. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. itulah mata paling menyimpan dunia. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. pecahan kaca yang menancap di kornea. Karena itu. Begitu bening begitu jernih. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. Mata yang berkilat licik. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. padang gersang ilalang. memandangi mata seseorang cukup lama.

Ketika berjongkok. pikirnya. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Semua itu hanya mungkin. lantai yang digenangi air bening. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. batin Gustaf. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. mata. semuanya sudah tampak sempurna. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Bila perlu ia menculiknya. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. Membuat Gustaf berpikir. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. bisa memiliki mata itu. karena memang menyimpan sebuah dunia. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Gustaf kini bisa mengerti. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Dan ia makin ingin mata bocah itu. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Bila ia bisa memiliki mata itu. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock.

tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. percaya. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. 2006 . Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya…. dan melemparkan recehan. Begitu lift itu tertutup.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya.terjulur ke arah jalan. sambil berbicara kepada temannya. Ia ingin membuka jendela. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu.

sembari terus bersiul. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. Ia memejam. Dan tadi. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan. Parut luka seputar pundak. Bergegas. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Bila pulang. kemarin. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. dan segera saling bisik. Saat ia berbaring di ranjang. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Setiap menjelang Ramadhan. keramas. Merapikan pakaian. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Kadang berbulan- bulan. seperti bekas bacokan. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Entahlah. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Sebab. ia bisa mencium bau amis darah itu. Ramadhan kali ini. Melipat selimut. Menyisir rambut dan memotong kuku. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. Berhari-hari. Bayangan kematian penuh darah. memandang langit siang yang terang. dan wangi. Ah. Ia tak ingin kecewa lagi. rapi. mengerut menatap laki-laki itu. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan . Menenteng seramnya.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. sembari bersiul-siul kecil. mengusir bayangan buruk itu. beberapa koper besar. Sesekali. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Mungkin ia rampok. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Tato di lengan kanan. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. Seperti selalu menghilang. Ramadhan berlalu. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Langsung. Memakai jaket kulit hitam. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. tapi ia masih saja hidup. Ia jarang berada di kamarnya. seperti kotak tempat menyimpan gitar.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. Atau erang kesakitan leher digorok.

Mungkin intel. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. rumah petak tak pernah berani bertanya. Aneh. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Misterius. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. di bulan Ramadhan. Mungkin. mereka mendengis bengis. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. ia terlihat merokok siang hari.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. sebagai seorang pembunuh bayaran. Menutup diri. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan.mayat itu meleleh. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. Menjelang Ramadhan ia muncul. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. Ini yang membuat kian penasaran. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. seperti mengawasi. Barangkali ia dukun. menyapu. wajah remuk rusak itu. Seperti menyaksikan kematian . Beres-beres kamar. Ia seperti tak mau dikenali. Mengepungnya.saat seperti itu. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Meski ia tahu. Ia mengerang. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. Ia terkapar. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. bercerita. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat.harga BBM—matanya jelalatan. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Wajah. memandang entah apa. Kulit wajah mayat. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya. tapi pergi ke kuburan. Rutin yang ganjil.wajah yang membuatnya mengerang panjang. seperti lilin panas mencair. Mati dengan tenang. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. dibuka lebar. Sering.

Tempat menyembunyikan diri. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Tapi membuatnya merasa aman. Tugasnya hanya membunuh. dan ”Kamu punya bakat bagus. Orang. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. wartawan. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga.” kata komandannya. Kamu pantas jadi tentara. Ia tak terlalu menyimak. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. bayaran yang menderita di masa tuanya. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi.orang mengerubung. Kisah para raksasa penyantap manusia. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Bicaranya santun. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. diam ia membunuh kucing pamannya. Dan ia membusung bangga. Kulitnya yang putih bersih. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Sumpek bau comberan. Memang. Ia paling senang ketika harus disiplin. berani menghentikan. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. bisa memukuli orang sepuasnya. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. ia diberinya pekerjaan. Umur tujuh tahun. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Beruntunglah orang . Rahang terkesan pipih. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Paling mentok jadi sersan. Ia menyiksa para pemberontak. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa. Ia heran. Dan ia mulai mengawasi. Ia menikmati bayaran yang lumayan. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. karena pejabat itu pingin kawin lagi. tertib. Tanpa jejak. Lalu sepulang perang. Benar kata komandannya. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Alangkah hebatnya jadi tentara. Dikirim ke medan perang. nanti bila sudah berhenti.Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Membunuh seorang pengusaha. Beberapa mati dalam penjara. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Di kampungnya. Seorang hakim. Lalu beberapa order ringan lainnya. kata teman-temannya. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Ia akan tinggal di rumahnya. Dan itu disukai komandannya. Percuma kalo cuma jadi tentara. Sorot matanya tenang. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran.

Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. kecuali mati di bulan Ramadhan. dan kini memburu kematiannya. Kemeresek daun jati jatuh. Kalau boleh memilih. Lengking gagak di kejauhan.” ajak Kiai Karnawi. Sayang kan.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. Karnawi terkekeh. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Kelebat bayang burung menyambar. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. ”Aku tahu. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Getir. Ia bisa menembaknya. Senyap.” Baru kali ini ia gemetar. Tak usah Karena itulah. Alhamdulillah. Singup. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Kematian di bulan Ramadhan. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. ia hanya berdiri gamang. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Dengung jutaan serangga mengepung. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Ia mulai diusik gelisah. 2005 . Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Lalu meraba ”Sekarang. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Yogyakarta. itu mobil mahal. Dan semoga saja. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Biar tak banyak korban. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Gemetar tak yakin. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku.yang mati di bulan Ramadhan. lakukan tugasmu. membuangku ke jurang dengan mobil itu. Amin. Terdengar letusan. kamu mau membunuhku. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. Mencibir. Ia pun kemudian selalu berharap. Jangan sampai aku kesakitan ya. Pelan. kenapa mobil perlahan berhenti. Enggak usah merepotkan sampeyan…. Tapi tolong. lalu mendorong mobil ke jurang. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Kamu cukup membunuhku. Ia meraba belati. yang pelan. Lalu menggelar sajadah. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri.

Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. cahaya perak.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. yang terdiri dari truk. Sementara di Riau dan Jambi. meliputi kota-kota Demak. mungkin tidak sedikit jumlahnya. hutan terbakar. tambak. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. Jepara. cahaya perak. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. Tapi. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. ayah. perumahan. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. saya meraba tubuh orang. ke mana Saya semakin menggigil. Saya yang satu minggu kehujanan terus. Juwana. Pati. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. air tak juga surut. Gelap gulita. Mendadak laju rakit ini terhenti. Ibu.” . Agaknya tersangkut sesuatu. maupun motor karena tak Zaman. sawah-sawah yang siap panen. bus. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. dan anak-anak. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. meski apa peduliku. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. Tuban. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. perkebunan. Rembang. Masya Allah. didaki karena licin dan terjal. cicit. cucu. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. saya sudah tak tahu jalan. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. Rasanya tubuh ini beku. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. kolam ikan. juga nenek-kakek. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. mobil-mobil pribadi. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. Subhanallah. Kudus. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. ”Cepat kuburkan. kontainer. dan pertokoan. banyak lagi korban. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. Banjir masih juga melanda Pati. dari Pati ke Rembang. Wahai. namun tak kunjung muncul. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. Jawa Tengah.

Jakarta. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. teriknya. dan kedua adik ke Jakarta. putra maupun putri. di mana Rembang. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan. Lalu boyongan kembali ke desa. di mana para juga Tuhan. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. manis dari akarnya. katanya.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. di rumah bertingkat kami. ibu kok ngomong begitu. sampai saya terjatuh. ayah. saya berhasil masuk ke ruang salat. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. Alhamdulillah. di atap masjid itu tidak hanya baju. Terlalu bising. merupakan perpaduan yang elok. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. berseliweran berlarian. air. bermain maupun berdebat soal jodoh. dalam ukuran apa pun. pohon mangga yang sangat rindang. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. air. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. sejauh mata memandang. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan.”Ah. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya. Saya mau cari nafkah di Jakarta. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. air melulu yang tampak. Ternyata tangan saya menyentuh tembok.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. ”Jaga adik-adikmu. Banjir yang lebih besar kali ini datang. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . Di mana Pati. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana.” Di atas atap dapur. katanya. kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu. menikmati sebuah lalu minta lagi.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. Benar saja. Maka ketika banjir surut. Tiba-tiba rakit mentok. Rumah tertutup santri. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama. manalagi. Meski sangat kesukaran.

ya. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi. bangun dengan sigap. Di luar. menjauh.” ”Subhanallah. banyak sekali. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. meminta doa. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu. menanyakan kesehatannya. dan kedua adik saya.” ”Salamualaikum.air banjir. saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya.” seru saya sambil mengejar beliau. ya.” ”Subhanallah. ”Pak Kiai.” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas. kepada ibu. sekeluarga turun-temurun. mencium tangannya.” ”Subhanallah. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- . Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. sementara di luar sana. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya. ke sebuah dusun yang sunyi. saya tertidur tanpa diawali kantuk. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun. orang-orang berteriak meminta tolong.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan.” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata. banyak sekali.” seru saya. Di yang mumpuni ini. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan. ayah. saya kaget bukan alang kepalang. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman. kaki yang dua jenjang itu. tangan banyak sekali. Waktu bangun. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu.

. semuanya ini milik-Mu. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. Dalam hati saya menyesal. mungkin mereka tidak menyadari. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu.” doa saya. saya pasrah setulus mungkin. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. Keadaan jadi kacau dan meriah. ayah. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. ibu. Allah. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami.” doa saya dengan kenceng. Bagaimana mainan. Tuhan punya rencana. ”Ya. Masya Allah. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. kedua adik saya. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. ”Gue ude konglomerat. Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. Bukan uang Sesampai di rumah. Subhanallah. Allah. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh. Dengan kunjung datang. Seperti mati berdiri. Saya tertegun.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita. menimpuk sejadi-jadinya. bukakan mata mereka. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. ”Ya. subhanallah. Menurut ibu. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu.

14 Februari 2008 .Tangerang.

Anak itu agaknya merebut waktu. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. Dihardik satpam jadi emping. Angin berdebu. Jangan pernah mau mengalah. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Legam bagai Jacky Chan melenting. mengucap salam pada metromini. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. mikrolet. mencari kekal pada dinding. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. Hitam kayak pantat kuali. Sesuatu apa itu. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. Ia menuju ke arah selatan. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. lo. dikerjakan. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. O.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. Jangan ketinggalan. Ia tak peduli. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. Nak? Ada apa. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. Merebut tempat. kabarkan. Atau baru. Ia pusar bisa berlari sekencang itu. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. angkot. kopaja. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. “Ada apa. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. pusing. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. Jangan pernah kalah. Keringat kota diperas habis-habisan. . jadi rupanya ibunya seorang penari. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Ini Matahari terbahak. “Ini Metropolis. Alangkah kencang larinya. Orang-orang menengok yang padat. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. Metropolis. persis malam mati. Pelabuhan menjerit. Barangkali ke Jakarta Pusat. Nak? Ngapain lo lari terus? He. Mereka menerobos di antara bus. Kerjakan yang mesti berlari itu. dikejar setan. Suasana mendesing bunyi gasing. Seolah metropol miliknya sendiri. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Semua pertanyaan lompat bajing. Tak lelah-lelahnya. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. Udara sangat panas. yang macet. Angin kencang. lo?!” Semrawut kota semakin bising. ia terus berlari. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. Jakarta Utara. Jakarta sudah lama bilang ogah. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. Ada apa anak itu berlari terus. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat.

Si anak ksatria utara. Ia keris empu. KTP diinjak-injak. Segala tempat. orang yang matanya nyalang. Udara. dan pertapa sejati. Itu udara pagi. Perahu malaikat burung puyuh. O. api. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. Aduh. Eyang. Anak itu melompat pagar tanaman. Padang darah berember-ember. Berbanding Pandawa pantas. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. Butiran menjelma hujan. Di bawah jalan layang. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. menghirup angin surga. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . Tuhan yang pegang. Baik budi. Ia ksatria tuntas. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. Dalam sehari 50. Tak kenal batas. hitungan akurat. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. Ia hindar bertengkar kerna pintar. putri jelita berbanding Sembadra. Tiga kali kena gusur. Ia musnah. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. terbahak. zat. Nasib orang. Menggaris lurus menerka keadilan. Orang-orang yang berpapasan mendesah. O. Mau dicaplok katak. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. air. Walau di lapak.000 tahun mengayuh. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. Tuhan tempeleng manusia. mabuk tetap tegak. Di ladang luber. Tumbuh harapan. Apa mau dikata. Namanya bikin gentar. Tak mati-mati. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. Pesanlah nisan sekarang. Tak mati-mati. Ia anak mama. Ada saja yang tidak polos. O. tanah. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. Tuhan kendali manusia. Jeritkan segala raung serigalamu. Tiba-tiba agung bagai baja. Jangan menoleh ke belakang. Sotangnya tajam bagai taring kirik. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. Ibu Pertiwi mengerti. Ksatria Utara tak mau berkelahi. bertengger gubuk derita malang. Jangan-jangan sedang menari bersama awan. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. O. Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. Tuhan sayang manusia. tanah asli ayah bayang. Seluruh hamba wet. Kemana tanahku. Aduh. mencium bau wangi. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. O. Jasadnya lenyap ditelan udara. Di sekolah anak tak pernah bolos. Tak ada tempat yang jauh. Mengambang taat. bukan pula keris patih. ia mendelik. Nyawa yang berbakti. Lalu berpijar cahaya api. Wangi jembatan layang. kadaluwarsa dari sepihak. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. Anakku. kota. anak itu tahan menceker. Berlari terus. Pasrah tanpa curang. Dipuja petani. kejeblos di pasir boblos. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. Bukan ratu. kesandung maut dari seberang. menerkam kijang tercecer. Namun tak beringas. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. O. Hidup bisa dicicil angket. termasuk jalur hijau jalang. Penari agung bikin keder pemda. bukan raja. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. telapak kaki tanpa alas. Mengalir angkasa pesat. Jangan terpeleset. berbakti. Berlari terus.Seperti bandit yang dibiarkan lolos. Henry Muhammad. Anakku. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. Itu udara wengi. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. begitu pemerintah kasih wejangan. badai derita Ia terlalu sakti. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. Matahari membantu tapi butuh ongkos. Kemana tanahku. Tak pula timpang. Supaya jarak lari menjadi aman. supaya hati tak garang.

Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. berenang di dataran luas yang dalam. mall-mall. Datang dari kutub utara. restoran. departemen keuangan. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. Di seluruh kawasan. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. Banyak individualis jengah. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. Bagai papan-papan selancar. Bagai monumen. Nah. pasar. toko-toko. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. di milenium ketiga. Jakarta tenggelam. Para relawan penolong bertindak. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. Tapi itulah jalan hidup. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati. Mereka saling bertanya. pegadaian. Satu udara ganti-berganti. gunung es bersimaharajalela. Pemerintah yang dulu. menari di atas pagar jembatan layang. Di pojok-pojok Jakarta rawan. Kota gelap gulita. perumahan mewah. Laut meluap. namun dia selalu lenyap tak berbekas. ATM. Perampokan kantor-kantor. Tenaga-tenaga penolong susah. mereka sudah sampai Pulau Seribu. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. tentu jumlah itu saat ini. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. ratusan mobil mengambang. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. berkali-kali penari itu diburu. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. Banjir rasanya semakin meninggi. tak ada artinya. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. Dengan sangat meminta ditolak alam”. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. Saking banyaknya korban entah. Tanggulangi penjarahan dan perampokan. Dalam jumlah besar membengkak. Di siang hari jadi kota mati. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. Namun penari cantik dan . Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. dia terus menuntut ganti rugi yang layak. Supermarket. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu. Daerah Khusus Ibukota payah. Korban tak dapat dihitung. bank-bank. puluhan. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari.

Anak itu terus melanjutkan teriakannya. Tapi segala jenis hotel penuh. Sanak terpental dari sanak. Cemburu dari buta. Keluarga Paman dari keponakan. Gunung Sahari. Suami dari istri. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Jalan Thamrin. Cikini. Sang penari tidak menstop tariannya. Canggah dari wareng. Jalan Sudirman. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Kekasih dari asmara. Ibu dari anak. Ibu itu terus melanjutkan tariannya. Cinere. Parung. Cilandak. Blok M.membantunya. dan melahap terus ke selatan. Bola dari Piala Dunia. Gelombang menggempur Tanjung Priok. Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. Tangerang. Kakek dari nenek. terpisah dengan keluarga lainnya. Benci dari cinta. Hari balas dendam telah terjadi. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. 20 Mei 2006 . Melek dari kantuk. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. Cucu dari buyut. Senen.

Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Gadis ini Zahra. buah-buahan. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai. balerina 21 tahun. menteri. Di antaranya di tempat ini. Angsa-angsa putih menyelam.Telaga Angsa DANARTO telaga. gubernur. komposisi yang senantiasa berubah. Begitu pula para pebalet teman Zahra. pernah berpentas Martha Graham. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. gubernur berjanji. bulu- usai. Dia memilih minum air jeruk nipis. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. pemeran Rothbart bergantian. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. Asmara angsa. Mineev. juga grup dari Perancis. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. tentang balet di Rusia. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Jerman. yang disihir Rothbart menjadi angsa. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. Tampak Viatcheslav Gordeev. Irina Ablitsova. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. dan memagut dan bercinta. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. Direktur Artistik Chino. ngobrol dengan gubernur. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. Andrei Joukov. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. lalu mendarat kembali. Odette. Mereka rame-rame menikmati salad. tidak minum wine. Baru pada malam hari . dan jus jambu kelutuk. Dengan 1.500 penonton. kepada para tamunya. sangat populer di seluruh dunia. ayu dan ganteng. sup ikan tuna. Maxim Fomin. Sebaliknya. dan pembesar negara lainnya. kegemarannya. menyembul. sebagai sponsor pertunjukan. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. Natalya Ashikhmina. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Maya Ivanova. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. angin sepoi-sepoi. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. yang mengelus rambutnya. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. insya Allah. yang putih maupun yang merah.

Oxana Gasnikova. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. angsa itu menjelma Odette. Pangeran Siegfried. Siegfried. ”Tapi. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. cocok-cocok saja. dan Anna Vakina. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Rothbart sang penyihir. adalah para pemeran angsa kecil. yang secantik Odette.” sambung Kakek. Semuanya tertawa. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. Rothbart marah besar. ”Odette atau Odille. Semuanya tertawa. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. lho. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas.mereka menjelma manusia kembali. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh.” celetuk Nenek. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. dan Anastasia Baranova. pemilik istana dan telaga.” tukas Nenek.” tukas Kakek.” kata Kakek. sih. Eugenia Singur. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. ”Lho. seluruh istana bergembira. neneknya. ibu. Semua tertawa. Seketika. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. juga tante dan oomnya. ayah. Sekalipun dengan mata terpejam. ”Terpikat boleh terpikat. Kakek terbatuk-batuk lagi. Begitulah. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. saya sih. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. sampai Kakek terbatuk-batuk. Tatiana Chungunkina. jatuh cinta kepada Odette. Eyang bisa kesleo. ”Apa. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. ”Itu kan mengumbar aurat. memamerkan putrinya. memangnya kenapa?” tanya Zahra. kedua adiknya. . yang ndak cocok bagi kamu. Odille. Siegfried sadar. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. Olga Ivachenko. Usaha Rothbart berhasil.

Eyang ini gimana. mendadak berubah jadi filosof.” ”Saya heran.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. kok Eyang sampai segitunya. semuanya terkesan jelek.” Semuanya tertawa. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. Meriah.” ”Wah. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. kostum Zahra ya seperti itu. ”Semuanya kan tertutup rapat. Aduh. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake.” ”Kesan. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. pertunjukan itu harusnya disensor. kok yang disalahin balerinanya.” ”Eyang yang kasmaran. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol.” sambung Kakek. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun . sih.” sergah Kakek lagi. deh.” ”Wah. Melihat kostumnya.”Aurat yang mana?” tukas Zahra. peradaban.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. wah. Jika kita bicara soal kesan. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. wah.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. ”Saya serius.” sanggah Kakek.” ”Jangan begitu. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh.” ”Jangan begitu. Eyang. Kesan. bubar. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. Eyang. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Habis jadi diktator. Obrolan berubah jadi perdebatan. kecuali Kakek.” tukas Zahra. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya.

”Kostum ketat itu. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek. ”Apa?” tanya Kakek. Cucuku. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili.” ”Omong kosong!” sergah Kakek.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. ”Adat ketimuran kita adalah KKN. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari.” kata Oom.” sewot Zahra. ” sergah Tante.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. ”Dalam KKN ada tradisi.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu.” sela Kakek.” sambung Kakek.” cetus Kakek. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. ”Eyang benar-benar lowbrow.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Adalah tradisi balet.” kata Zahra.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan. runtuhlah kebudayaan. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” Zahra menukas. Eyang. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan.” . Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. Mendengar kata Kakek ini. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.

”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng.” jawab Tante. ”Banyak negara yang busuk.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. Barangkali besok. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.” tambah Nenek. Eyang.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. saya dikasih contoh. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. Kita bisa menuduh mereka ateis. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. Lengang sejenak. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. Zahra. Dan itu bukan teori. atau lusa. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. Seperti tercium setan lewat.” sergah Kakek. . semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu.” tambah Tante. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. kata Allah. Eyang.. Kecuali Kakek. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. Anakmu bukan milikmu. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Semuanya tertawa kecuali Kakek. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga.” kata si Oom. Eyang. Dalam hidup para balerina dan balerino itu.” tukas Kakek. Bukan kepada Tuhan. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. saya cuci tangan. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya.”Hati orang siapa tahu.” tukas Nenek. ”Coba.

14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. Suatu dakwah keindahan tiada tara. cukup sulit.” ”Sebagaimana balet. Tangerang. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. Eyang. Dan ternyata Allah itu indah. Ada api yang menyalanyala. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Cobalah nikmati tari bedoyo. tidak ada pornografi dan pornoaksi.” ”Saya setuju.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. tergetar. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. Ada air yang mudah mematikan api.” sambung Zahra. Allah mencintai keindahan. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Dalam dandanan kebaya pinjungan.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. sedang dalam . Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. Dalam balet. Kita wajib memeliharanya. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun.

Sudah sering datang orang. Orang-orang . soal usaha tambak udang. Kadang datang berbondong. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. Juga tentang hubungan suami istri. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. Sungguh menghabiskan waktu. Sudah sering datang orang. ramai. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. maupun wali kota. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. saya dijuluki “pendengar yang baik”. Ada apa? belum menemui mereka. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. Rasanya camat.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Cukup menyenangkan. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. satu dua. sekadar yang saya tahu. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. bawahan dengan remaja. Istri saya memberi tahu. Sebagai penulis lepas. teman-teman. Saya acuh tak acuh. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Dengan ngantre minyak tanah. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. dan wali kota. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. perburuhan. Rasa saya tetangga. perbankan. menyadarkan saya. Misalnya. yang sama sekali tidak saya ketahui. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. pengairan sawah. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. bupati. Karena istri saya gelisah. kata-kata bijak dari para cendekiawan. misalnya. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. bupati. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. saya menjawab sekenanya. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. mengular sampai jalanan. Di samping para tetangga. bibit tanaman. tidak benar-benar membutuhkan saya. satu dua. persoalan anak dengan orangtuanya. dan banyak lagi saya tidak nyaman. juga tayangan televisi. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. setelah sarapan. Saya rasa kali ini juga begitu. atasan. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. menantu dengan mertua. Istri saya lewat jendela.

Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. sementara beban keluarganya besar. Yang jail maupun pelesetan. kenapa tidur di rumah. Masa pensiun pasti datang. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. Alasan saya. Kepala kantor orang itu kebingungan. Saya interviu keluarganya. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. tak ada yang menulis. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu.lengang. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. Begitu siuman. Banyak komentar. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. tidak ke mana-mana. menyebabkan banyak orang mengenal saya. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. ataupun di stasiun bus. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Dan sebagainya. Keluarganya memberi tahu. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. keluarga. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. teman. Seluruhnya orang. kompleks pertokoan. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. sampai kenalan baru. agaknya hanya saya seorang. sekitar 5. pekerjaan terakhirnya. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. dibawa pulang ke rumahnya. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. lalu saya cari alamatnya. Begitulah. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya.orang biasa. dan berapa orang saudaranya. Saya catat riwayat hidupnya. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. ia kaget. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. sebagaimana kematian itu pasti tiba. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Banyak usulan. orang-orang ternama. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. selalu saja orang .000 karakter. Tulisan obituari itu tidak panjang. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. ia seharian di rumah saja. Kadang sampai 8. Misalnya. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil.000 orang. tukang becak. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya.

jika seseorang ngobrol dengan saya. Saya jadi pendiam dan menyendiri. Ada yang bilang. Maka ada saja orang yang anti-saya.” “Baiklah. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. saya sedang mewawancarainya. Ntar saya yang menulis Bapak.” “Biar untuk Bapak saja. Menurut mereka. kenapa?” “Maaf. ada yang mengartikan. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Tapi ini kebetulan saja. ini bahaya. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya. Ini benar-benar klenik. Sementara itu ada pula yang bilang. Tidak kenapa-kenapa. tulisan saya tidak adil . terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. sehabis ngobrol dengan saya. Pak. Banyak ngomong dianggap meramal. Tidak kenapa-kenapa. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. sedikit saja saya ngomong. “Maaf. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. Dari kejadian itu. Memang ada seorang yang “Pak. kenapa?” “Maaf. Pak. Ketika orang menanyakan pendapat saya.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Keterlaluan.” “Lho. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi.” Tapi. Di pertemuan-pertemuan desa. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. katanya.” jawabnya. yang paling kritis.” “Saya permisi.” “Jangan ditinggal korek apinya ini. Pak. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Lalu malah terjadi serba-salah. lima orang.nyeletuk: “Pak Jurnalis. Apa yang akan terjadi dengan saya. Wah. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Kritiknya tidak berdasar. Saya tak bisa menjawab. dan si bungsu di SD kelas 5.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. Saya nggak mau ditulis sekarang. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Pak Jurnalis. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Anak-anak saya. Pak. “Lho. Memangnya saya cenayang. seseorang yang ngobrol dengan saya. ia meninggal.

“Kalian ngawur.” anak-anaknya yang lain. sedang rakus-rakusnya makan. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah.” “Tidak bisa seenaknya begitu.” jawab saya. wah. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Jika sampai di sini hal itu masih baik. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam. Nah.” “Begini.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka. kan. Sebagai ayah. Nah. Ayah pernah menulis obituari.” “Semuanya. ini dosa. saya berat. itu semua yang anak. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama.” dengan empat orang anak. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. kalian ngawur. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain.anak saya tersebut.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala. anak-anak ini sok tahu.” “Itu harapan saya.” “Nah.” jawab anak-anak itu.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. anak-anak saya itu diam. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga. Lima anak semuanya sekolah.” “Ayah marah kena keritik.” “Semua orang bicara dosa dan pahala. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya.” “Boleh saja. . Itu doa saya.

Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. Istri saya memberi tahu. di jalan. tua. merangsek ke depan meja saya. guru SMP. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. di reruntuhan rumah. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Saya menulis apa saja. Ada apa? belum menemui mereka. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. perempuan. Seluruh mayat itu. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai.Kami sebenarnya keluarga bahagia. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Saya acuh tak acuh. di luar kemauan. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. 20 Januari 2005 . Jam aum macan. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. Hari baru membuka matanya. Alhamdulillah. Istri saya saja suka empot-empotan. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Sinar matahari memancar. muda. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. di kebun. Istri saya lewat jendela. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. Karena istri saya gelisah. di atas pohon. anak-anak. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Waktu saya siuman. saya. di pekarangan. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. tak seekor pun tampak terbang. 26 Desember 2004. termasuk menulis berita. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. cerdas dan berani. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Tangerang.00. laki-laki. Allah…tanggal akhir hayat. Dengan ngantre minyak tanah. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. Ahad. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. nistagmus. bayi. mencecap pencerahan. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Sudah sering datang orang. tanah. mereka menatap kebenaran. setelah sarapan. mengular sampai jalanan. berserakan memenuhi ruang dan udara. Entah berapa lama saya pingsan. Saya rasa kali ini juga begitu. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. satu dua. Bahkan burung-burung. panas.

Bahana tawa. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. . entah karena nyala yang redup. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. Dan saya. saling berhantaman. entah karena basah yang kering. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. memabukkan daripada kesadaran. Entah karena entah karena entah. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. Kami terkapar di atas pasir basah. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. Untuk saling gombal. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. Rajaman semu. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. hilang. Phuih! Saya meludah ke mukanya. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. bersentuhan dan mendesah massal. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Maka saya tahu. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. saling beradu berebut perhatian. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Muka badak. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. dengan kaki-kaki telanjang. dan ada yang hanya bagian tangan. ada yang hanya bagian kaki. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. Girangnya sirna. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. Maka… menggoda. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Bercinta di bawah para-para. Saat penghakiman. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Pesta pora. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. begitu istilah orang-orang. Meninggalkannya dalam diam yang haru. Sembunyi-sembunyi. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. Sendawa alkohol di permukaan udara. Senyum manja. Dan ia terpana. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Ia burung yang berenang.

Tawa. Saya melihat langkah seribu. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Tawa. Tawa. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. Entah peragaan gaya. Ada nama yang akan segera dilupakan. Tawa. Tawa. Tawa. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Tawa. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. Sementara saya pun pura-pura tertawa. Tawa. Tawa dalam penantian. Tawa. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. Tawa berkepanjangan. “Sendiri?” Dan sesudahnya. panjang ala kadarnya. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Ia pun langsung mengambil Alkohol. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah.Saya menunggu. Tawa. terjangkau. diri saya sendiri terpaku. Tawa. Tawa. lalu memisahkan diri. Tawa. bisa atau tidak para model itu. Tawa. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. Tawa. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Ada luka yang akan segera hilang. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Tawa. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. Musik kian mengentak. Tawa. Entah peragaan busana. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. “Sendiri?” Saya menatapnya. Di sebuah tempat antah berantah. berapa kira-kira umur mereka. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu.

Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. pantas. Semakin banyak burung yang berenang. Semua burung yang berenang. Ia burung yang berenang. Maka bening berkumpul sedan. dosa. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Maka…. Ia masih berada dalam diam yang haru. Agustus 2004 . Jakarta. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. Saya menunggu. mata yang menatap girang. Dan semua adalah ikan yang terbang. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. dan pantas. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga.“Huahahahaha…mata bintitan. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. Mata saya pun memanas. Ada yang mendesak ingin keluar.

“Robek saja. jelas belum mapan. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. majikan. Pun mulai membukit perut saya. Ketuban sudah pecah. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Materi yang ada. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. Saya ingin protes. Tapi saya ngotot persalinan alami.” kata ayahnya. Dok. Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. masih harus menunggu dua pembukaan lagi. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Sembilan bulan sudah. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. Rasa mual merajalela.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Tapi saya berkata dengan yakin. Kepala saya pening. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. Air ketuban sudah hampir kering. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. Saya akan menjaganya. Masih tak percaya. Rasa takut seketika membuncah. Masih tak percaya. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. liat. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. Baru pembukaan delapan. Tapi… muda. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Harus operasi. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. sudah satu bulan setengah usia janinnya. Membuahinya. tapi tak . Menerima. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. Terus menyeruak dan mendarat lengket. Membayar pembantu. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. Saya akan menjaganya. yang masih lengket.” kata supervisor saya.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. Dan jika operasi.

bisa. “Capek ah nunggu. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. Membeli apa pun yang harapan. Berusaha memberikan rasa aman. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. kontrakan. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Baru akan dimulai merekam adegan. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. Jika saat itu tiba. Tetap menunggu saya pulang. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Berusaha memberikan pengertian. Air susu saya sudah sarat.” Saya akan menjaganya. Harapan akan segera pulang membawa uang. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. . kalau ia mau. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. air. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. Kalau perlu. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. Lucu. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. Saya sudah tidak butuh rehat. Harapan akan segera pulang. kami akan menjelajah dunia. Dan harapan. dan sekolah akan pulang. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. Cukup lama saya harus menenangkannya. Tetap akan pulang. Dan saya tetap akan pergi. aku udah mau tidur!” semprotnya. telepon. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. Ia membiarkan saya pergi. ketika suster itu berkata. Tak menunggu saya pulang. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. lagi. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Sudah jam delapan. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. Di mana makhluk mungil menyusu. membayar listrik. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. Saya harus segera menghayati peran. Saya akan menjaganya. Saya tetap akan pergi. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. itu? Saya begitu tak sabar menunggu.

Menunggu. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. Menunggu. menunggu emosi saya pergi. Lantas meronta. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. menyerahkan untuknya menyusu. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Tapi ia menggeliat. kemilau dengan tangan terbuka. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening.harus terhambat kemacetan. Pelan-pelan . Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. Lampaui semua beban. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. sudah kembali pulas tidur. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. igau saya. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. Melayang seperti burung tanpa menyimpan. “Action!” teriak sutradara. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. igau saya. Menunggu. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Ada kegelapan. menghalau saya supaya tak dekatdekat. Ada puisi di dalamnya. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Saya Ada cahaya di ujung lorong. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Menunggu. Entah disengaja untuk menarik perhatian. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Satu saat nanti ia kembali. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. Menunggu. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. Saya akan menjaganya. Menunggu kesadaran saya kembali. Saya kecup kedua matanya yang merapat.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Yang berubah keterbukaan. Banyak terakhiri. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Saya tidak pernah membohongi. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir. Semua orang merasa sementara teman. Jika teman saya kelihatan indah. kantong belanja. Jika teman saya uang. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. Pembicaraan mendadak berhenti. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum. Mereka saling mengirim surat elektronik. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. Sebagian orang menganggap saya munafik. Mereka sembunyi. Hal. Setelah putus dengan si B ternyata . berhari-hari. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang. atau murahan itu.jam. berminggu. Di kantor. mulailah kelihatan berkantong tebal. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. saya tidak pernah akal-akalan.teman saya semakin banyak. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. sebagian orang yang menanggap saya munafik.sembunyi bermain mata. sakit jiwa. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. berbulan-bulan. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri.kami hanya sebatas pertemanan. sok gagah. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. bertahun-tahun. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. Di ini berjam. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. Tapi kami masih menikah. Di pertokoan.minggu. restoran. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar. atau masih melajang. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan. Di rumah. Sebagian lagi menganggap saya jiwa. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang.

Bercerita tentang film yang baru saja diputar. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . Sok gagah. sakit jiwa. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. sok gagah. Saya hanya heran. Menemani makan malam. Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. atau murahan. Murahan! Jakarta. Mengirim makan siang. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. Ereksi yang tidak lama kekal. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. Menganggap saya murahan! lanjut berteman. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. Karena. jalan. pembual. Menganggap saya sakit jiwa.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. terima karena saya munafik. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Sakit jiwa. Mendongeng membayar ongkos perawatan. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. Menganggap saya pembual. Malam-malam panjang. Pembual.