Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. Kami benar. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. Aku menduga. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. pastilah manusia pun bisa. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. dalam remang gelap. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. ”Tuhan. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. Di dalam alun arus. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam. Pisang monyet. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang. Bayangan dalam benakku. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan.benar menjadi warga kegelapan. Aku memanjatnya. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. anak-anak akan telantar. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. Aku berterima kasih kepada Tuhan . kemudian tali dari kaki. dalam sunyi air yang mengalir. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. banyak batunya. Tidak ada. ”Ayo. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit. aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. aku semakin menepi batu-batu. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai.banting tulang memberi makan mereka. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. yang dapat kutempuh. Dalam kepergian malam. Dan cap dalam keluarga. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. dan mengambil buah yang ranum. merunduk rendah. Gelap dalam sel. sampai giliranku pun tiba. Orang yang berada di barisan menebas lehernya. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam.

sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. Bandung. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. Ia terkejut melihatku. Kata orang tua itu. seorang bekas interogatorku. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. Aku bulan di laut. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. Alam keras membuat mereka hidup. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Pergi ke laut.minggu bersama mereka. kepada anak-anakku.mereguk air dari pinggir sungai. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. iklim politik pun berubah. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. alamat. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. Kuketuk pintunya. yang sudah berumur membuka pintu. menjual ikan ke seberang. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. aku berjalan dan berjalan. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. Setelah kekuatanku pulih. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. dan pelarianku. Sampai berpuluh tahun kemudian. Aku pun terkejut melihatnya. aku menemukan sebuah gubuk. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. di seberang ada laut. Malam-malam berbintang. Setelah berbulan-bulan. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang. dan mengirimkan upah yang kuperoleh. kukirim upahku. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. yang tergenang dan bening. Akan tetapi. aku menghitungnya. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. atau kalau musim ombak. 21 Agustus 2009 . Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. menyongsong matahari yang terbit. Rasanya aku berminggu. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. tepatnya sebuah lembah yang landai. Ada mata air di situ. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus.

Senja makin lebam. Genangan air mulai meninggi. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Seharusnya di dua halte berikutnya. “Dulu. Sebatang rokok siap dinyalakan. Hujan masih saja lebat. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. mungkin aku sudah sampai di rumah. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Setelah menyulut rokoknya. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. Kuambil satu. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. Angin masih berkesiur. Gosong.” aku sengaja berbohong. Agak mletot karena terduduki. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. petir seperti ini. Aku berdehem. Di sebuah kantor. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. .” kataku sembari menatap ke jalan.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. Tubuh terbakar hangus seketika. Betapa bodoh dan tololnya aku. Aku bersidakep menahan dingin. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku. Aku bersiaga. Kalau tidak. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. “Aku salah turun. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Tanpa menoleh ke arahku. Masih tersisa dua batang. Angin berkesiur liar kian kemari.

Aku kaget. Uang mereka banyak. sementara order menurun.” ujarnya seraya menyodorkan tangan. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet.” katanya getas. Malah yang paling makmur. Yang penting kau mau bekerja sama. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu. menikah dengan seorang polisi. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu .” Setelah itu kami jadi lebih akrab.“Tapi aku dipecat. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. Tak ada gunanya. Gelisah saja. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah. Hidupnya Merampok? Ah. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini. Aku jadi korban. Baginya yang penting aku menggodaku.” Laki laki itu tertawa kecil. Uang mereka pun belum tentu uang halal. Ada barang sedikit dari mereka.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. Sukra tertawa. Kerja serabutan. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Malamnya. Agak kurus.” aku. Kakaknya. menikah dengan seorang juragan beras. terus terngiang ajakan Sukra. Entah di bagian mana. Sekarang nganggur. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. Tak jelas mengapa ia tertawa. Istriku di sebelahku sudah terlelap.” “Sukro. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok. meski dingin menyungkup. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. “Kita merampok. Di antara empat saudaranya. perempuan. Yang penting bisa makan. Seperti hari ini. laki laki. “Kalau mau. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. Adiknya. Apa saja. Dan hujan tiris. aku bisa bantu. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan. Agak tinggi. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku.” kata laki-laki itu kemudian. hidupnyalah yang paling susah. Mata dan pipi cekung. ada yang curang dalam berdagang.” aku menyebut namaku. “Nama kita hampir sama ya. Hidung mancung. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. dan dua sepeda motor. Si bungsu. “Kenalkan dulu. hidupnya tak pernah kelihatan susah. seorang wanita. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak. macam-macamlah. Banyak sekali. Aneh juga. Meski cuma lima belas ribuan. Yang pasti. aku jadi tak bisa tidur. Agak gondrong. yang hasil korupsi. “Kita merampok orang kaya. pulang membawa uang. Tapi itu tidak penting. “Namaku Sukra.

Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku. Sukra mengakak lagi. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat. Lalu . Ia “Oya. ganja. “Kalau kau takut merampok. selamanya hidupmu susah. Ada ekstasi. Itu kalau kau mau. ia ikut memesan makanan. Kra. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. Agak berbisik. Hari itu. Bisa kau carikan? Bayarannya besar.terjadi perkelahian. jadi pengedar enggak mau.” banyak pilihan pekerjaan. Ada Selamanya miskin. langsung duduk di sebelahku. Sukra!” aku membentak. Esoknya aku bekerja tanpa gairah. nanti malam. aku ada pekerjaan untukmu. Aku diam saja. tugasku memasang pompa air. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya.” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. Sama saja. “Kalau kau mau.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. Aku diam saja. Sukro. misalnya.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. Lalu aku terluka. Sudir. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini. Ini tanpa risiko.” Sukra membanting rokoknya.” jawabku sinis. orang lain yang mengambil alih. Bukan merampok. Sukra mengakak. Kalau tidak. Lima turis Jepang. Tanpa basa-basi kepadaku. sabu-sabu. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. Bisa juga dibakar massa. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. “Kalau bukan kita yang melakukannya.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik. Mereka butuh teman wanita. Mereka mau ke Bali besok sore. “Diajak merampok enggak mau. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya.” kata Sukra. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. perempuan. kalau kau mau. teman sekerjaku. Kro. “Jadi pengedar. “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya.” Sukra meneruskan kalimatnya. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya. Bukan jadi pengedar.

Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. jadi kunyalakan.” katanya meyakinkanku. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. “Wajahmu cukup ganteng. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. Sebelum sempat kunyalakan. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya. Menahanku dengan paksa. Tak begitu berat. Dan muda. tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar . Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. Jadi pengedar. Sukro. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing. Lagi pula. Sukra tertawa kecil.” membutuhkan wanita-wanita penghibur.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. Aku cuma terdiam. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. Rokok tak seorang perempuan. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. Nah. meraih tanganku. Sebagai pekerja kasar. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu.” Selepas makan. kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. Apalagi kalau sedikit kau rawat. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. Berhadap-hadapan. setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. aku lupa. mungkin kau benar. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. cobalah berpikir sedikit lebih rasional.” sahutku ogah ogahan. “Tenang dulu. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan. Jadi makelar wanita. memepet Sukra. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa. Setiap hari kau bekerja keras. Siapa tahu kau tertarik. Jadi. Merampok. Aku mengambil sebatang rokok. Mendengar celoteh Sukra. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. kau juga berotot. “Haram? Ya. “Maaf.” kataku singkat membuat Sukra tertawa. Tapi. Terpaksa aku menggeser sedikit. warung Tegal tempat kami barusan makan. Hanya cukup untuk makan.” Sukra memulai serangannya.“Itu pekerjaan haram.

Di cermin itu kulihat wajah Sukro. Aku mau menolongmu. Perigi. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu. Tanpa menoleh. Semua pekerjaan yang saja. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. Tapi gajimu tetap tiap bulan. Yang pertama seorang wanita setengah baya. “yang kedua adalah seorang pria. Tidak tergantung pada Kesepian.” Sebelum aku berkata-kata. Ia masih membujang. Dan lari. Cantik.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. “Mengapa bukan kau “Kro. Dan. engah. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. Mungkin dua kali seminggu. Sukro. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. “Aku punya dua klien. atau yang pria saja. “Sukro!” Sukra berteriak. Nah. Desember 2006 “Ada apa. Ia tak suka wanita. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. Sekarang aku mau berbagi denganmu. Itu “Aku tidak tertarik.” berkata begitu. Kaya. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. Aku malaikat penolongmu. Kau bisa bekerja untuknya. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri.” aku berkata ketus. Tanah Kusir. Tidak setiap hari juga. sekali. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri. Tergantung kebutuhannya.dibutuhkan. Atau. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram. aku buru-buru meninggalkan Sukra.” Aku masih saja bungkam. Kunyalakan lampu kamar. Janda. kau juga bisa bekerja untuknya. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Aku menggeleng. Masih terengah- . kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Sukra melanjutkan. Sampai terengah engah. Aku terbangun. Ia menyukai sesama jenis. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan. Sukra tertawa.

28 tahun lebih enam hari. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. Tapi ia hanya tertawa. Aku melihat garis pedih dan hitam. dua tahi lalat kecil di punggungnya. Saat pertama kali melihatnya. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. Tapi kalian mengatakan aku dusta. suaminya yang minggat. daun-daunnya yang kemerahan. Itulah sebabnya disembunyikannya. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. dan Mawar. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. ia memilih menyendiri. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. juga angin yang pucat kelabu. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. Bilur jejak luka di tubuhnya. gugusan awan merah muda. masa lalunya yang penuh kesedihan. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. Baiklah. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. suaminya. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. Sungguh. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. Seperti malam-malam sebelumnya. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. aku langsung tahu.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana. olehku yang buta. ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran.” katanya. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. Kadang tampak ganjil . Ia seperti dikutuk kecantikannya. karena aku buta. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. untuk kesekian kali. berdiri menunggu seseorang datang. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku memang tak punya mata. bayangbayang yang putih dan memanjang. Kuceritakan penglihatanku. kakinya jenjang.

aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka.” Di rumah itu pengkor. ”Aku tak buta. kamu bisa kembali mengambilnya. Digerogoti kusta. buat apa aku punya mata. dan tak pernah mau menatapku. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis.” ”Bila kau tak punya mata. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. dan berkata. Perot. Melihatku yang tak punya mata. kenapa buta?” Ia sayu menatapku.” Lalu aku pun bercerita padanya. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. kami akan menaruh matamu ini di surga. dan ia bergidik ngeri. kau bisa menduga. Ada yang bongkok. Ada yang gagu. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya. Jileng. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit.juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. Kelak. ketika aku lahir dan menatap dunia. Ia membuangku. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku. kau akan melihat banyak rahasia. diberinya aku degup jantung. ”Mata ini akan membuatmu jelita. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. Aku memang memilih tak punya mata.” Tentu. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka.” dan kaki pada tubuhku. ”Baiklah. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk. ”Dan kamu. Ia begitu membenciku. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku.” ”Kalau begitu. ia seperti menemukan barang berleleran. Tentu. Aku tahu. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah. . ”Biarlah aku tak punya mata saja. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap.

Kutegaskan padanya. kemudian yang lembek. Arak yang mengepungnya. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. rambutnya basah tertempias hujan. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. Ia bisa kehilangan pelanggan. Lepas 3 dini hari. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. Aku bahkan nyaris dicekiknya. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. aku bisa melihatnya. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut.” katanya. Barangkali ia pun merasakan firasat itu. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. ketika beringas dari biasanya. cahaya seperti lumer di sela jariku. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. yang kusaksikan membuatnya terpesona. Mungkin saat itu aku berteriak. ”Bukannya aku tak percaya. kau pun takut menatapku. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda. Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. tapi petugas yang lain segera berteriak. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . Kau mendengar suara. Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Ia pun hendak lari. meliuk merunduk. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Sebagian pelacur telah pergi. Mungkin tidak. Tapi dengan apa kau melihat. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam.” Aku bisa memahami perasaannya. Aku seperti mendengar lecut petir. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian.”Lihat. Semuanya berlangsung begitu cepat. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. tapi tak percaya. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Ia terus tertawa.” Ia kembali tertawa. ”Kau menyenangkan. ”Lihatlah. Aku tahu menyeringai tertawa. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. Dunia memang tak menuduhku berdusta. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. Di pojokan toko.

Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. kalian pun bubar. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Setelah mayat itu digantung. kemudian bergiliran memperkosanya. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Maka menghapus bayangan buruk. Begitu nyata dalam penglihatanku. Ia mengamuk dengan buas. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Rupanya ia mabok berat. kuceritakan apa yang telah kusaksikan. bibirnya bengkak kena pukul. Sebagian kalian tertunduk. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. Di ruang tunggu rumah sakit. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Hujan rinai . melenyapkan maksiat dari kota. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. Siapa yang membawanya? Baiklah. memar. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Kalian mesti ke gereja. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti.Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. Sampai malam. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Pelacur dan pembunuh. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. Ada bercak darah di pisau itu. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. motong delapan korbannya. Di kantor. Karena bagaimanapun seluruh kota. kemudian digantung sebagai tontonan. seakan ingin saat itu hari Natal. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. ketika Mawar menjerit. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. mulutnya. Melemparkannya ke mobil patroli. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. Wajah Mawar pucat. Padahal bukan aku yang dusta. Di kasuk-kusuk. Mereka selama ini kalian sahkan. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. Di warung dan kafe. Kuceritakan apa yang kusaksikan. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. Orang-orang ramai membicarakan. bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. Di pangkalan ojek. burung gagak merah berkaokan. tapi mereka. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding.

tergantung dalam bayangan cahaya murung. 2008 . meski sesekali Kudengar ia berseru. Matanya seperti bintang bening. Yogyakarta. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu. Aku sendirian di alun-alun itu. Rambutnya ikal dan panjang. tapi kalian menuduhku pendusta. Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. kemudian menurunkannya. seperti memanggil nama pelacur itu. Senyumnya seperti berjalan anggun. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. Kuceritakan ini pada kalian. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. keemasan yang cemerlang. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. seperti ada cahaya mengitari kepalanya. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. Saat itulah. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. malam mengelabu. Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. Aku begitu terkesima menyaksikannya.

teko. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. kami. Setiap minggu. Ibunya. Ada yang mau memanggil dokter. mereka belajar apa saja. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. Sayup- . gelas. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. Untung. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. apa pun yang terjadi. ember. karena berbagai alasan. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. aman dan nyaman. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. memang milik Pak Darkin. membaca. Di dalam gerombolan kami itulah. pengemis. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. saya hidup. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. tindih-menindih. juga cerpen. dan bercocok tanam. sejak tahun 1997. Kami menyambutnya dengan sukacita. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas. piring. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. pengamen. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. menyanyi. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. panci. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. meski hanya sebagai ayah tirinya. karena peristiwa itu. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. juga memasak. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. pemulung. Nining. rame makan. Saya ditemani kompor minyak tanah. Ada yang memijit. tidak penting untuk dipersoalkan. lelah. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. Malam itu.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. Pada suatu malam. dan menyanyikan lagu yang itu. dan sedih. esai. Semalam. Tapi. dan tidur. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. yang selalu membela putri kandungnya itu. rame- gelandangan. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri.

masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. saya dinaikkan ke becak. ”Saya tidak tahu. Tapi. Saya diseretnya keluar. Tapi. telor beberapa kilo. Aduh. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. Pak . Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. Sesampai di jalan raya. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. teh. beberapa ekor daging ayam segar.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. juga minyak goreng beberapa botol. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Ia meradang. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. Ternyata tidak hanya beras. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. Bernapas saja sangat sulit. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. bahagianya. Rupanya saya dibawa ke terbangun. kaus oblong. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Sayang sekali. saya bisa membantu mencarinya. sayur menyumbang sayur. kami kami akan bersedih sepanjang masa. dan peralatan mandi. Pedagang beras menyumbang beras. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. meriahnya. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Setiap habis gajian. Pedagang tak pernah kehabisan. ”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. Nining tidak bersama kami. kopi. gula. Aduh. Saya digelandang terus. tak ada sisa sama sekali.” jawab saya.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. Saya heran. Pedagang ikan menyumbang ikan.

Maka mengiriminya duit. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari. Saya sadar. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. tidak mau diundang makan. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Itulah jalan spiritualnya. ”Saya menunggu Bapak. beliau tidak berniat sedikit pun. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. Ternyata wajah beliau tidak . pernah sejumlah terekam. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. Cerita lainnya adalah. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. ketat sekali balutannya. sedang untuk dirinya sendiri. Saya tak bisa bergerak. membanting dan membalut dengan kain kafan. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara. Pokoknya serba tidak. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo. tidak mau diwawancara. wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya. tidak mengajar.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. Beliau selalu bisa membahagiakan orang. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. yang muncul hanya gelap gulita. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya. Tidak bergaul. ”Saya Nining.” suara seorang gadis membisik.sebuah pekuburan yang gelap gulita. merupakan sumbangan Kiai Kintir.” ”Wah. Tiba-tiba: ”Pak Totok. membujur kaku bagai jenazah.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo. tidak menerima santri.

Tak terjadi gerimis. mengambang hanyut seperti mayat. Solo Baru. Sejauh mata memandang. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. berucap. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. Tangerang. cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Sampai fajar merekah. Mobil. rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Tak terdengar geledek. becak ditinggalkan pemiliknya. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. Semuanya diam. Sesampai di jalan raya. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang.Sejak dini hari. Semanggi. andong. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. hanyut dibawa arus. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Satu-dua orang penonton motor. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Joyontakan . Dari jauh.

Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Membuat mereka tak tenang. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. Tak pernah merasa tak tenang. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apakah benar masih ada hari esok. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Cinta pun membutakan. suara-suara begitu jelas terdengar. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Mata saya mulai merapat. Banyak orang yang begitu takut pada malam. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. semakin gelap. hidung terasa melekat. Pada gelap. Sepanjang mata memandang. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. hanyalah kegelapan. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan. Namun. . Lembut mendayu-dayu. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. Seperti malam. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. saya tak perlu meraba-raba. Semakin gelap semakin ramai. Tubuh kelihatan amat samar. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. di kebutaan seperti itu. Apa pun namanya saya tidak peduli. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. Dari penginapan. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Seperti gelap. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. Begitu dekat. SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala.

Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Tapi dengan satu konsekuensi. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Tak terkecuali pagi. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Tak terkecuali malam. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. Membuat saya kerap merasa terjepit. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . saya akan bisa mengulanginya lagi. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Membuat saya Saya tahu. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. Antara pasrah dan pasrah. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Semakin kabur. bukan kala pagi atau malam hari. Mungkin malam akan membuat saya takut. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. atau Jantung keras berdetak.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Bunyi ranjang berderak. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. melihat matanya sedang menatap. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Mata saya pun semakin buta. Segala garis maupun dan bersatu. datang dari diri saya sendiri. mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. melainkan asli. saya bilang. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Dicengkeram gerhana. saya bilang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. Kalimat di bungkus kondom “ASLI. atau malam? Karena buta. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. Saya jatuh cinta. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. Bertemu kala siang. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. Antara lelah dan lelah. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Suara yang semakin lama semakin serak. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. adalah asli. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli.

karena cinta telah membutakan kami berdua. Mungkin… pagi dan malam. di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Sejak kemarin. Jakarta. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir.mempersatukan tubuh kami jadi menciut. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Tak menunggu kala atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Diganti dengan jawaban. . Tak bertemu hanya kala siang. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air.

” Nana merasa terkunci. anaknya. lebih baik kita naik kereta saja. Jadi. waktu ke toko buku. kalian berdua kan dokter. Mereka mencari sebuah restoran. Sebelum terjawab. Nana menunggu!” meneruskan omongannya. Setelah itu. Nana melihat Dara. Padahal. Sesungguhnya. Seperti dua “Ma. Dara. Aku bosan . “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma. Alvin. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. setiap keputusan hanya ada pada saya.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. positif hamil. “Tante dan Om-mu.” sampeyan kok belum datang. adik bungsunya menelepon HP-nya. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. saya membeli buku nama-nama calon bayi. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya.” Nana mengatupkan bibirnya. jam berapa datangnya? Dari tadi. Adiknya berkata. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. sekarang ada di rumah sakit. “Mbak. yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Aditya (25 tahun ke-30.” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. Rizal kan cuma teman. Beberapa hari yang lampau. adik bungsunya sambil menangis mengatakan. Dua minggu yang lampau anak bungsunya. mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap.” Nana terenyak. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. saya sepertinya sudah dapat firasat. “Kalau tahu begini. Tantiana menangis terus. “Ma. saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. tahun). Tantiana. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya. “Dik. “Datanglah bersama Dara. sekalipun berprofesi dokter. menikah! Mendahului anak sulungnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat. dia baru berusia 17 tahun. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya.

saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara. Nana seharusnya berkata begini. kau tidak peduli pada mereka. sejak lulus SMA. tapi kemudian Nana berpikir. “Ma. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. aku diliputi perasaan gelisah. Padahal.Dara tersenyum. aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. berapa pun umur Dara. Kedokteran juga serius. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. kata kuncinya cuma satu.” Mereka saling melihat. Mulai sejak itu. saya tidak bisa janjikan itu. Pastinya mereka menganggap “Maaf. Kami tidak merisaukan hal itu. “Waktu kau beranjak remaja.” sedih sekali. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. Tapi. Tapi. memegang tangan mamanya. apa pun pendapat masyarakat. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. aku kepingin jujur kepadamu. Siapa pun tahu. Apalagi. Didit tidak meneruskan sekolahnya. sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. Padahal.” Apalagi.” Dara. kau menikah. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. “Ma. kemudian mulai pacaran. Sesungguhnya. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan. saya perempuan yang berat jodoh. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. Yang terjadi di luar mimpi kami.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. Sekalipun. Kendati mereka masih tinggal serumah. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). Sekalipun Nana merasa. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia . Padahal. dia menyukaimu. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu. “Setelah Aditya menikah. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. jarang bisa ngobrol.

seperti semua dokter. Tapi. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini.baru saja berusia 13 tahun. untuk menguatkan satu dengan lainnya. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. Sampai hari ini. Lantas. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya. banyak hal yang dipikirkan. Sebagai seorang dokter. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. Dia merasa jijik! Namun. “Ma. Karena. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. Semuanya memang harus diselesaikan. Pastinya. bukan bersimpati. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara.” Dara merasa tak berdaya. dibicarakan oleh mereka berdua. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. kalau kau mau cerita. Jadi. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya. . Sehingga Rizal berkata. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. terapi ini tidak berkelanjutan. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja.” “Mama kan tahu. Rizal. sekalipun mamanya juga dokter.” “Ma. tapi dua orang yang sangat dekat. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. ketika mencoba bercinta dengan Rizal. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama.” Dara berbicara lagi. Sekalipun.” Kemudian ada dering telepon lagi. “Sebagai seorang dokter. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. harus berempati saja.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum. kalau sudah begini. Nana memegang tangan anak perempuannya. pesawatku delayed. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. Padahal. pada persekian menit. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. “Dara. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks. dia tak berhasil. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat.” “Dik panggillah dokter. sekadar dokter dengan pasien. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. Tapi setelah dewasa.

Kalau tidak. “Dik. lahir anak Tantiana. Tantiana sedikit tenang. Tidak ada air mata. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. Percayalah. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. Di luar dugaan. “Zal. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. Setelah anakmu lahir. aku memaknainya lebih jauh. tiga darimu dan dua dari Aditya. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. jadi kita bisa membagi. “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. Yaitu garwo (sigare nyawa). butuh proses yang panjang. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya. Beberapa bulan kemudian. 10 Juni 2008 . belahan hati suami dan istri. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. biarlah jadi anaknya Mbak Dara.” Lantas. Jadi. Rizal tersenyum dan memeluknya. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. Nana memeluk Dara. senyum ada di antara Dara. Bahasa simbol itu artinya. Sedangkan anakmu. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri.” kesakitan. Rizal. tidak bisa diperbaiki. Karena untuk kesembuhan ini. Ketika memasuki ruangan ini. dan melebar di ruangan ini. aku kepingin anakku ini punya dua adik.” Tantiana menangis. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah. dihadiri Rizal dan mamanya. Aku yakin kau bisa memahami itu. Teman-teman anaknya berteriak-teriak. Nana. yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang. aku tak akan pernah bertanya lagi. ketika Nana berkata. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini.“Sayang. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu.

tiap tahun. sungai itu juga bisa mendidih. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Sudah seminggu tak mampu bangun. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. semua berisik dan bocor kala hujan. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Tak ada lagi berita dari Nining. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Ada jembatan di atasnya. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. bila langit sedang bahagia. langit kadang biru. Pada bulan yang sama. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. burung berkicau di pucuk daun kersen. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. Lantai semen sudah ditambal keramik. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. Paling seminggu sekali. kadang kelabu. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. Embun basahi sepatu sekolah. Warnanya lebih tua dari langit. meski sama-sama biru. “caah caah caah!” September. Hujan malas berkunjung. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. raut pinggul gadis-gadis menari. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. Bertahun-tahun selalu begitu. tempa.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. Di bawah. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Rumah tak lagi setengah bilik. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. Cat tak lagi kusam. meski warnanya juga hijau. sungai-sungai keperakan. Ada fotonya. kabut berebut kecup pipi mereka. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. Sangat pagi. Waktu membuka pintu. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Itu bisa terjadi meski di siang terik. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. menggerus apa saja. rumah. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Saat matahari menggeliat. Tapi semua orang tahu. Sungai itu selalu mengalun perlahan. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Tak ada yang beda. apalagi waktu seekor uncuwing. sungai itu. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. berkerlip menyilaukan. diganti genting Jatiwangi. pegunungan ikut merona. Orang-orang menyebutnya siit . Dulu. Saat itu seisi rumah ketakutan. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. halaman depan. Trotoar menjepit kiri kanan jalan.

Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. sieuh. “Arum. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. Tapi. halig siah. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. begitu kepercayaan Enin. Lepas magrib sambil membawa abah. terutama Nining. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. Malah tampak riang. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Tak menapak di mana pun. cepat sehat. “Komar. tapi tak diobati. Sakit. Menjerit memanggil kematian. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu. bahkan hingga tahlil seribu hari. Sieuh. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. . Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. pergi sana. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. burung itu menjauh dengan senyap. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. esoknya Abah mulai bisa duduk. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. Nining! Bantu Enin. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. panik. Komar. “Belum waktunya anakku kau jemput. uang. Siit uncuwing pembawa kabar duka. Ia hanya katakan pada Arum. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. sieuh. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Entah kebetulan atau bukan. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. Ia terbang menuju lembayung. Enin peluk buah hatinya dengan haru.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. “Sieuh. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Mantri yang menerima bayaran sukarela. tapi karena sakit. Tapi tangis ledakkan rumah.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

dan duduk lagi di situ. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. deringnya sudah berhenti. Berharap dan menunggu. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. ’tapi cinta adalah soal kata hati. seperti Saras itu punya dua ibu. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. Pintu. Saras. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. jendela. lukisan itu.’ katanya!” Berharap dan menunggu. ruangan ini. memang rasanya ia seperti anakku juga. Lantas melihat ke sekeliling.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini.’ kataku. televisi. Ibu bergumam. Ibu terdiam. Seperti ini juga keadaannya. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. Ibu.” katanya. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. ’Saya selalu teringat Satria. meja itu. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. ”Bapak… Kursi itu. dan kami masih seperti orang menunggu. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. wajah. Telepon berdering. ruang dan waktu yang seperti ini. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Diangkatnya ke telinga. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. Rambut. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. . Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. Ia menggigit bibir. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. telepon. membantu aku membereskan kamar Satria. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. Ketika disambarnya pula. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. Saras.’ kata Bapak. saya tidak bisa’. perabotan. buku. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Ibu Saleha. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. ”Hmmh. ’Satria sudah mati.

” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. tutup matanya dibuka. seperti Ibu berada di dunia yang lain. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. Jiwa terasa memberat. ”Bapak sendiri yang bilang. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. aku masih mati. Lantas orang-orang itu berkata. Aku terima Satria sudah mati sekarang.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik.” Dipandangnya kursi Bapak lagi. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. Di hadapannya. padahal aku selalu makan sendirian saja. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. kenangan. ”Pak. juga terkenang-kenang kalian berdua. dan akhirnya dibunuh. Nanti dulu. sekarang untuk kalian berdua. ”Sudah sepuluh tahun. menata gelas dan piring. Impian. Bapak sudah mati. Munir juga sudah mati. Satria sudah mati. Bapak. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. Foto orangtuanya. ’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali.’ katamu. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. tetapi kalau terbangun. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. Pak.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . Menerima? Menerima? Baik. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua. dianiaya. Saudara.

”…. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya.” Nada bicaranya menjadi dingin. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. ke langit. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. Lantas bertanya-tanya lagi. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. memegang kepalanya. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. menyatu dengan jiwa terluka. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . Sekarang aku bertanya jawab sendiri…. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. seperti palung terpanjang dan membara. mengembara dalam kekelaman semesta. berbisik tertahan. menutupi wajahnya. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. dan aku masih tidak tahu apa-apa. luka sayatan yang panjang dan dalam. Bapak. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya. jauh. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. membara dan menyala-nyala. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya. ”Tapi…. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. ”Menculik anak orang dan membunuhnya. o palung-palung luka setiap jiwa. jauh. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. Hanya bertanya jawab dengan Bapak. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak. Mencoba menjawab sendiri.

dan hanya didengarnya sendiri. Muncul dong sekali-sekali Bapak. ”Bapak. memberi komentar tentang situasi negeri. Ibu masih berbicara sendiri. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. Lupa ini-itu. sampai setahun lamanya. di kursi itu. tapi tidak memanggilnya. makan pisang goreng yang televisi. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. Tidak jelas jam berapa. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. kursi itu seperti biasanya. tukang bakmi langganan Satria. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. Tidak pernah ketemu lagi memang. Ibu tampak mengenali. Ada saja yang dia omongin itu. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. Tapi selalu ada. orang. kadang aku seperti melihatnya di sana. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. Duduk di . menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. luar negeri. pakai kaos oblong dan sarung. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. Ia selalu bertanya.” lewat. ’Ya enggaklah kalau ngibul. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. membaca koran.Terdengar dentang jam tua. bagaimana dia diperlakukan. banyak yang sudah berubah. banyak juga yang tidak pernah berubah. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. malam entah karena apa. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. ”Bapak. Dasar Bapak. malah seperti lupa. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. ”Bagiku Satria masih selalu ada. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. lantas ngomong tentang dunia.’ kataku. menyeruput teh panas. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. datang menengok cuma hari Lebaran. menonton itu. Di luar rumah.

kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak. Tapi rupanya bukan. malah Si Saras. ”Pasti ibunya Saras lagi. Ibu seperti tersadar dari mimpi. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku. Telepon genggam Ibu berdering. ”Eh. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. tanpa senyum. ”Ya. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah.” gumamnya. ”Kursi itu tetap kosong. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong.” Ibu masih berbicara. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. Ibu beranjak mengambil telepon genggam. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. Hanya lewat. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. Rahasia kehidupan. ”Ini suatu aib. ”Ceritakanlah semua rahasia…. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. suatu kejahatan. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk.

Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut. perahu tetap teronggok sejak semalam. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. . seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. “Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. sejak bertahun. Para nelayan memang hanya tahu perahu. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. Tentu. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. Hayati berlari begitu cepat. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. lantas melangkah ringan Hayati. seolahsamping gubuknya.

aku juga sudah bicara kepadanya. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala. burung-burung camar menghilang. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. . “Ke mana Hayati. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. Jawaban mereka bermacam-macam. ya. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan.” “Oh. perahu Sukab belum juga kelihatan. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. tetapi membentuk suatu rangkaian.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. sangat kencang. kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. dan memang selalu kencang di pantai itu. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. Kulihat mereka tertawatawa. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal. Pada akhir hari setelah senja menggelap. mesinnya sudah mati. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya. “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. “Hayati dan Sukab saling mencintai. “Ya. dan perahu- Menjelang tengah malam.” “Perahu Sukab menyalipku.” Nenek itu memaki. “Cabut badik? Heheheh.

ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. nenek tua itu menggerundal sendirian. Ada juga pesawat televisi. hanya sandal jepit yang jebol. meja buruk. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Alas kaki yang serba buruk. bukannya tambah penumpang. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. berikut pancing dan bubu. tapi mungkin ada juga yang lain. bergemeletuk seperti sebuah mesin. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria. . lemari kayu yang buruk. mulutnya sebuah koyo. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. tentu saja tidak ada sepatu. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. Dipan yang buruk. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. tetapi tampaknya sudah mati. kursi buruk. Sebuah foto pasangan bintang film India. berkeringat. dan jala di dinding kayu. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. Wajahnya pucat. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. tetapi tidak seorang pun di atasnya. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain.“Aku lihat perahunya. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong.

“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu. dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. Nenek tua itu terdiam. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. melalui perceraian. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. “Aku memang hanya orang kampung. Hari pertama. Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. “Ya. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. . karena memang sering terjadi. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi.” kata seseorang. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. Ibu. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. kedua. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali.” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. dan sangat mungkin. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi.

kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. Kulit terbakar. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam. Hayati. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah.” Segalanya mungkin terjadi. April 2007 . betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. pakaian basah kuyup. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. Di pantai. mungkin bukan mati. “Kukira mereka tidak akan kembali. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. Keduanya terdiam saling memandang. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya.” sahut yang lain. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. Keduanya mengerti. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. pada hari ketujuh. Sabang. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka. Desember 2006/ Merauke. Sukab tampak lemas di atas perahu.” mana mau ia mencari ikan bersama kita.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali.

seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. tetapi Kakek tentu saja melarangku. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. rumah gedung bertingkat. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. Aku tidak bertanya lebih lanjut. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. mereka menginap di kaki lima. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. dan nanti menghilang setelah Lebaran. menggelar tikar. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. mereka selalu datang selama bulan puasa. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. karena kakekku adalah orang yang sibuk. Di samping menjadi pejabat tinggi. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. dan tidur-tiduran dengan santai. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. memasang tenda plastik. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. mereka datang untuk mengemis.” “Oh. Dari jendela loteng. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. Semuanya ia tangani sendiri. atau bahkan di depan. perusahaannya pun banyak sekali. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas. Apabila tanah lapang sudah penuh.” kata Kakek.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. seusiaku. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil.” . dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota.

pula. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. memang selalu kulihat mata yang menatap. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. Kakek tidak pernah menjelaskan. tidur-tiduran menatap langit dengan santai. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka . Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. bahkan mobil pagar. menyebutkan kata-kata semacam.rumah orang untuk mengemis. Benarkah. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. seperti kata Kakek. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. “Hati-hati terhadap orang miskin. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. depan rumah.” atau “Orang miskin itu jahat. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu.

orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. asri. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat.” Para tetangga tidak membantah. melompati pagar. “Tenang saja. makan di meja makan mereka. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. entah dari mana. dan hidup di dalam rumah. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota.” “Ya. biasanya kan begitu. Lagi-lagi Kakek menghela napas.mengantar kolak untuk berbuka puasa. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang.” kata Kakek. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. bahkan sebagian telah pula masuk. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” . pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. kuat. mendapat omelan panjang dan pendek. pulang ke Negeri Kemiskinan. dititipkan kepada tetangga. >diaC< Pada hari Lebaran. karena tentu mendahulukan Kakek. penghuni rumahrumah gedung satpam. padahal hari Lebaran sudah berlalu.” “Tapi kali ini banyak sekali.” kataku kepada Kakek. dan mewah dari luar pagar tembok. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek. itu banyak yang pulang kampung.rumah gedung itu. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. mandi di kamar mandi mereka. merayapi tembok. Pada hari Lebaran. tidur di tempat tidur mereka. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. kokoh. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. seperti hadir begitu saja di dalam kota. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung. pasti tidak lewat jalan tol. Mereka juga berharap begitu. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya.

“apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. menduduki setiap tanah yang bertingkat. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. Minggu. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki. tinggal di sana entah sampai kapan. Barangkali saja untuk selama-lamanya. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. Heran. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. bahkan merayapi tembok.” menerima segala akibat perbuatan kita. Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. setelah hari Lebaran berlalu. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti. Pondok Aren. melompati pagar. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang.” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. 7 Oktober 2006 kosong. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. memasuki rumah-rumah gedung . gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata.” sahut Nenek. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. gerobakbanyak.” katanya kepada Nenek. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini.“Ya.

berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. tetap misterius. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati.Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. menjadi pasangan baru. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. lantas saling mencintai. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. Hanya kekosongan. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. nah. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. kemudian berbeda kelas sosial. tetap menggelisahkan. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. Aku mengatakannya semacam takdir. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. tetap membara. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan. namun kami udelnya. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona. tetap bertahan. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. dan bukan takdir itu sendiri. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. lengket bagai benalu. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . Apabila kami berbeda kulit. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. Memang kembali. karena kami memang tidak terpisahkan.

kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. di tempat yang baru itu. bersentuhan sama sekali. yakni cinta yang dahsyat itu. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. Namun. begitulah. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. Atas nama cinta. kami akan saling mengenali. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. Sebagai seekor komodo. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. bisa berupa kursi kekuasaan. Akibatnya. masihbisa mencintaikekasihku. dan aku tidak mengetahuinya. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. Karena undang-undang melindungi komodo. sebagai manusia biasa.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. juga dihuni komodo. Laut dan langit bagai bertaut. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. Hanya kekosongan. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. Tetapi. Cinta diuji oleh cinta. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. Cinta yang sejati. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. Hmm. Karena kami selalu berperilaku baik. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. yang sekarang berada di Pulau Komodo. kukira. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani.

hal 75. Aku terpeleset dari tebing. Bersenjatakan tongkat bercabang. Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. Nostalgi=Transendensi (1995). aku menjadi ragu. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. dengan jumlah sekitar 1. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. 2. Sudah jelas ia tampak kelaparan. Di dalam tubuh itu 1. kurator Museum Zoologi Bogor. langsung patah beberapa bagian. dan mencintai kekasihku….650 ekor (1994). Ternyata. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. “Introduction” Lombok to Timor (1997). seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. East of Bali: from . apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta. dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. terdapat pula di Pulau Rinca. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. dan meluncur masuk ke kubangan. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. Semuanya sudah terlambat. sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu.000 ekor. Cintaku Jauh di Pulau (1946). Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. Labuan Bajo. hal 111-114. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. Kalau aku tidak keliru. aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo. Baca Linda Hoffman. sebanyak 1. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan.hatiku terasa kosong.

3. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. pada 1972. yang lenyap di Poreng. Kampung Komodo. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. jauh baca JAJ Verheijen. Rakyat. terdiri atas 400 KK (2003). satu-satunya kampung di pulau itu. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg. 4. namun terjadinya di Pulau Rinca. Muller.. kaki tiga untuk kamera. Pulau Komodo: Tanah.. hal 111-2. Lebih Ikram. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. terjemahan A 5. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- . wisatawan asal Swiss berusia 84 nya. Mereka menyebut komodo sebagai ora. dan Bahasanya (1987). cit. op. ibid. dalam Muller. hal 112 tahun.

Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria. Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. Elena?” “Bien. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya.” “Untuk kita.” Si wanita tersenyum. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya. Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya.” kata si wanita beberapa saat kemudian. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka. Sesaat ia diam. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. “Como estas. Muy bonita. Suaranya lirih. Suaranya datar. “Belum. “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. Julia. tangan si wanita memegang tangan si pria. Bara cinta meletup di dadanya.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song). Kepalanya botak.” . meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah.” Tersenyum. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. Ada nada pedih. “Ya. Seperti ada beban yang menindih. hoy.” katanya. Muy bien. “Una hija. barat sana. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. Pedro. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya.” Seorang pria duduk di sebelahnya. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. Mi Jaragual (My Little Farm). Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan. “Si bungsu. Ia setua si wanita.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas. untuk kita. Pedro. Si pria menoleh. “Aku selalu menyukai lagu itu.

” Malam terus merayap.0<>w 8000m< 26 tahun lalu. Dalam sekali pandang. Monumental de Barcelona. Begitulah selalu di Spanyol. Ia masih tampan seperti dulu. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp. Dalam benaknya. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya .” kebanggaanku meski aku orang Basque. “Kalau ia menuruti kata-kataku. Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. Demi aku. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. wajah Raul bergulir. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. bertaut. memandang laki-laki di sebelahnya itu. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi. Ia selalu merindukanmu. cinta mereka berdenyut. Aku cuma Si wanita tersenyum. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. meskipun itu Si pria melirik si wanita. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan. Tak sabar. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya.” Mendadak si pria tersenyum getir. matador legendaris yang amat masyhur. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. Di wajahnya berdebar. Begitu juga Elena. Kau bisa pura-pura bahagia. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. Api cintanya membara. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. Tanpa berkata.Si pria menarik napas.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. Pedro datang dengan segala atribut El Barca. Api cinta bergejolak di dadanya. Akan ada dua Raul di sana. Pedro? Por que?” si wanita menoleh. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez. si wanita membatin. Tangannya masih juga memegang tangan si pria. Pedro. Di musim panas.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m.

Suaranya agak parau. “Buenos dias. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. Kesejukan di hatinya singgah. bukan?” si wanita menjawab. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu. Sejak dulu matamu selalu bagus. ada yang dalam gegas. Pedro. “Pedro. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. Aku pamit. “Te amo. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas. Lalu. Ada yang santai. “Sudah saatnya kita berpisah. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. Tanpa menunggu jawaban. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. Tanpa menoleh. didudukinya. Hasta luego.” Si wanita tersenyum. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka. keduanya krim di tangan mereka. tambien.” Si pria bangkit. menghentikan langkah si pria. si pria tua itu. ia duduk di sebelah si wanita. muncul belakangan.” kata si pria kemudian. Mereka tak menadahkan tangan.” “Mi. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. Elena. tongkat di tangan.” katanya begitu tiba.” Elena tersenyum sumringah. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan. Kelompok Elena.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. Mereka menjual kepandaian. Di dadanya rasa nyaman merambah. si wanita berambut keemasan itu. Seperti juga hari-hari sebelumnya. Elena. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas.” katanya. Tanpa tongkat “Buenos dias. Tapi. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. ia memang tak ingin menghitung. “Kau sehat?” si pria bertanya. “Seperti yang kau lihat. Lalu mereka . Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja. “Buenas noches. “Kukira sudah terlalu malam. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. Mengecup kening si wanita. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah.

Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. Elena. bukan?” si wanita menoleh. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. Si pria menoleh. api kasih masih panas membara. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. Pedro?” si wanita bertanya. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. si wanita terkasih. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. “Ya. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur.pejalan kaki yang berseliweran. Selain Nou Camp. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya. Cinta mereka memang terbelenggu. Jika aku berkata jujur. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. Sariawan membuat gusiku peka. “Kau mencintai istrimu. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. setelah setetes benih juga Tapi. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. Dalam tubuh yang renta. Mereka seolah cuma ada berduaan. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. cinta mereka tetap bergelora. katamu gigimu sedang sakit. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. Si pria tersenyum. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . tertawa-tawa berkakakan. Tapi tak pernah padam. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur. Demi sebuah bisnis keluarga. tepat.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. Api cinta mereka memang terpendam. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi.tempat duduk paling tinggi. Jantungnya kian kencang berdegup. Dalam gelap. selamat malam. Por que? Kenapa? Torero. Novilladas. bintang dalam pertunjukan matador. Tak ada yang menyahut lagi. Buenos dias. sampai jumpa. kursi terdepan (termahal). baik sekali. sebutan umum untuk matador. seorang anak perempuan.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. julukan klub Barcelona. aku juga. tambien.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka. Dalam sunyi abadi. nama mata uang Spanyol. tetap tertunduk. Paseillo. tempat pertunjukan matador. Como estas.” kata Pablo. divisi utama Liga Spanyol. Keheningan mencekam. Te amo. Matador. El Merengues. hoy? Apa kabarmu? Bien. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. Barreras. Sampai kemudian semuanya berhenti. . dan Javier berdiri berjajar. Lalu. baik. Buenas noches. Muy bonita. Una hija. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. Pablo. Mendaki dan mendaki. selamat siang. julukan klub sepak bola Real Madrid. aku cinta padamu. Hasta luego.” kata Julia lirih. Raul. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. Si wanita tergagap. parade para matador sebelum pertunjukan. Mendaki. La Liga. Tak ada yang dapat dipersalahkan. Gairah di dadanya pun meletup. Dalam peti berbalut kain hitam. Dengan baju serba hitam. Nou Camp atau Camp Nou. Cantik sekali. matador pemula. Plaza de Toros. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. Julia. El Barca (baca El Barsa). Muy bien. “Tak ada yang perlu dimaafkan. ruangan itu gelap. kandang klub sepak bola Barcelona. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam. Gradas. Pesetas. Mi.* Jakarta.

pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. sayangku (My dear). . pintu utama. Puerta grande.

telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu.” Ia cengar-cengir. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. “Libur kau. kabar buruk dari beliau. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. melihat anak. Palinggam. doa.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. Isinya ucapan selamat. Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. tujuh anaknya. mengikuti perkembangan mereka. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. naik jabatan). “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. Kasus dan sakitnya abangku. cucu. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana. Palinggam…. pasti beliau tidak tidur. telah lama kami hindarkan terhenti. dan cicit yang makin henti berdenyut.” Aku lalu diam dan terus menyetir. keras kepala. Ia tergeragap. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. sambil terus melaju di jalan tol. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. didampingi seorang cucu. Seluruh keluarga heboh. Om. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut. dan cicit.Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. jika ia tahu. Mereka . Dan saat kulirik ke samping. Namun abangku. Dengan masalah yang juga tambah banyak. Libur. “Terus sajalah. menutup-nutupinya. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. Tapi. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. Tempo-tempo. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas.” kubilang. Nanti sore kuantar…. Justru itu. kulihat keponakanku di jok belakang. Senyam-senyum. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami. menutup mata serta telinga beliau. Tahun lalu. laiknya anak muda. Merenung? manggut-manggut. tamat kuliah. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. cucu. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. seminggu ia menginap di kantor polisi. Ya. naik kelas. seperti jantung kita. harapan. panik. tidak berani membayangkan.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. juga nasihat. “Oh. mata bunda terpejam. Makanya. “Baiknya Bunda istirahat dulu. Tiap banyak.

Lalu Slipi. matahari pagi. kurusnya engkau. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda. nenek yang risau itu memanggilnya. pulang dari rumah sakit. “Sudah. Bunda tentu tidak diberi tahu. Nak. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. memandang jalanan. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia. tak apa-apa Bunda. berempat. bicara sendiri saja. seperti orang- Aku makin gugup. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. Pucat pula. Herman pulang. “Lagi di jalan. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat. “Baik saja. Pandai-pandai mencari kawan.” Dan diam lagi. Ingin kencing. Tak apa-apa. berucap lunak.” adikku Rosa menyahut. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. sudah. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol.” jawab Kak Leila. Bunda? Sehat. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. Atau. Dan bunda tetap menoleh. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi.” Tiba-tiba aku jadi gugup. “Apa maksudmu?” “Maksudku. Maksudnya membantu Kak Leila. disekolahkan hingga tinggi. Semuanya digaruk. Dan bunda menyergap orang itu?” pula. Kak Leila berpura sibuk. dituduh korupsi. Palinggam.semobil. HP-ku lalu berbunyi. o. Agar mereka jadi manusia. ingat suami yang jarang pulang. “Diajak kawan-kawannya. O. “Naik gunung. baginya tugas ayam dan kucing. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup.” kubilang. dan berhasil. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi. tangguh. Dan saat umur muda Herman. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku. menanti jawaban. pada usia senja? Merasa gagal. tak lama lagi Grogol. Lihat. “Biasa itu. Pun ulah cucu. anak laki-laki. Rosa langsung diam. Kawan yang baik. Syukur.” kubilang. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. anak-anak kami. si Herman.” Kusodorkan . “Masuk rumah sakit. tak Herman kabarnya menangis. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali.” “Cuaca buruk.” “Eh. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah. Dari istriku. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi.

Bunda. HP ke bunda.” “Nina manajer pemasaran. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu. Dicari serta ditanya ke mana-mana. Tapi. Semua saudara Batam. orang sibuk kasak-kusuk. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. seperti biasanya. si Aya. tak juga puas. . Aida tak jumpa. “Tanya kesehatanku. Aida. Ini. Terpikir olehku. alis bunda tetap bertaut. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang. sehat Nak. Aida. hah. Anak gadis kakakku. Kami sudah tiba di Semanggi. Lalu ia mendekat. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun.” Aku diam kembali. Kakak iparku. Kakak dan abang iparku kalang kabut. Aida. Bunda.” kataku. Termasuk polisi. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri. suara bunda: “Nina? O. Dan. “Biasalah. “Nina. “Sibuk terus. Pagar maupun gerbangnya tertutup. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. Bunda. Mereka tahu sehari setelah kejadian. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. Ya? Besok-besok. menangis tersedu. siswi SMU kelas dua itu. tanpa seragam. Namun boleh jadi berlebihan. Harta meruah. Biar dia lupa bertanya. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. karena bunda lantas bertanya.Obrolan panjang. sudah menanti di teras. tambahku tanpa suara. Andamsari. Nak. sudah gadis bukan? Sudah SMP. “Aku cuma khawatir. Mana cucu-cucuku? Oh. Aku berbelok. Aku lihat abang kalian itu dulu…. Mau bicara. bersama pacarnya. sibuk benar kudengar istrimu.” ujarnya. Ke luar negeri juga.” Mudah-mudahan lama. berhenti di tempat parkir khusus keluarga. Nak. masih kuat aku ke Jakarta. Cucuku. ditemukan adikku Rafli di pantai Padang. Sering ke luar kota. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. Lalu. Kemudian tertawa. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. Kalian bagaimana? Syukurlah.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. pulang dihubungi. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya.” “Apa kata Nina. Eh.” ia bilang. “Syukurlah. Alhamdulillah. Memeluk bunda. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari.” “Dan kau sibuk pula. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. “Jangan kalian berahasia lagi. Tahu kalian. meluncur mulus ke Kebayoran. bebas dari di luar. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran.

Suara Bang Palinggam terdengar pelan. Mukanya kuyu. Bang Palinggam terpana menatap bunda. Nanti saja aku kabari.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. pada hatimu sendiri. seperti minta Bunda. Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu. Loyo. Aku tergopoh ke toilet. Juga kepada Tuhan. Kak Andam?” tanyanya antusias. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. dimaafkan. “Sudah sampai belum?” “Sudah. Nina lagi. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. melihat bunda lagi. juga kepadaku.” ujarnya bak mengadu. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. “Tetapi bagiku. Aku muncul. Bunda. “Belum tahu.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga.” dia bilang.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. hampir menyerupai bisik. itu isyarat dari abangku. Rasanya. “Aku punya atasan. mengapa kau mengelak diperiksa. Dan aku merasa. Aku juga kader partai. Nak. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran. Bunda. Bunda diam. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. Abangku melirik. Menarik napas. Palinggam. Matanya perlahan berkaca-kaca. Dan HP-ku kembali bernyanyi. “Aku punya kawan. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. “Namun hingga detik ini. Namun takdir seorang ibu.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. Juga aku serta Kak Andam. sudah.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit.” Mengangkat muka lagi. dipecat partaimu. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. Palinggam. Bunda. Dan negeri ini. aku tetap bersih. . Aku di kakus. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. memandang bunda. Dia menunduk.” sahut bunda kemudian. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai. “Tak paham aku soal-soal begitu.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. Suaranya makin lunak. “Apalagi kau. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja. kencing.hendak meledak. sayu. kini sudah bercucu pula. Nak.” Bunda mengedarkan senyum.

“Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela. Nius. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya.” jawab Tum. Ayah Bun tukang gigi. Kalau aku pulang. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. berai. Satu di Palembang. Tidak sekalipun berkedip. kopi di simpang jalan dekat pasar. “Seperti orang-orang di dalam mimpi. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya.” Biju menerangkan dengan gembira. Nius. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. “Seperti ada dan tiada. Bahkan mengerikan. Berubah sekarang. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil. grosir roti dan permen. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. dewasa atau jadi tua. kendati kota kami tetap saja setelempap. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang.Jakarta. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak.” “Hanya si Cudik. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. sudah bercucu satu.” tambah Amril. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. Kami ajak bermalam tidak mau. seperti tidak kenal lelah. akrab dengan pribumi. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan.” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. Nius. Hebat dia!” pensiun. lebih-lebih tukang gigi. Hanya menatap. Dia dan keluarganya tergolong aneh. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. Si Talib di Dumai. “Di mana dia?” tanyaku antusias.” . Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo.

” sahut Tum. Suka-suka kami mau makan apa.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu. Ibunya baik seperti ibu Bun. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. diduduki hingga kini. kembali menampakkan senyum yang ganjil. “Percuma. Biju dan “Makan. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. lantai. tak pake babi laaa. lucu. Tapi kami cegah. Bagiku. mencangkunginya kecuali dia. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. kami kerap nginap di rumah Sultani. adik Bun. berisi mohok serta teh manis. mengajak makan. Tunik juga. Dia kapten sepak bola. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. Juga pandai menjahit. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. seperti buang hajat. atau menjelepak duduk di menggairahkan. Nius. mencukur. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. Sultani. pintar di sekolah. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. Matanya tak terlalu sipit. “Tidak halam. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok.” bilang Tum. Bak orang-orang dalam mimpi. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. Lalu ia sambar roti. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. suara itu. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. alias usil plus kurang ajar. Seperti di rumah Bun. Portir bioskop juga . “Itulah. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren. adik kelas kami. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. Kami berebut. goreng serta roti lapis mentega. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. Minumnya teh hangat. Dan pernah pula Buya Makruf.” ia sodorkan nampan perut kami. tidak halam! Enak laaa. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. mengantar kue mohok hangat- hangat. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng.

tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. Mukanya pucat serupa mayat. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Terbahak-bahak seperti hantu air. . Mestinya waktu kita kelas tiga. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Sultani berkata: “Sudah Bun. serta sarung beliau “terbang. Sebulan ditanggung fasih. Babah mau coba? Sret. ikut mengaji saja. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Ibunya tersipu. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik.kami. Mataku merem melek. Bun mau potong bulung bole potong. tajwid dan Bukan saja Bun. itu turun dari ibunya. Ayah dan ibunya setuju. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Dan Bun disunat. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan.” “Tidak sakit. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. tentu saja. Kelas enam disunat. Rancak. Dan sesekali. Setelah sembuh. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Kepandaian kiraahnya elok. “Seperti model rambut Bang Rustam. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Biar aku yang ngajar. selesai!” Ayah Bun terkekeh. mendampingi kawan itu setiap malam.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. “Rambutku dia cukur. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. tidur-tidur ayam. Tunik juga. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Tapi aku merasa. mencukur seperti yang kuinginkan. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Baju. “Malah. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. Aku malah tak sekali. ke halaman masjid. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. kopiah. tidak terasa. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. Tak licin di sekeliling kepala. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Rustam. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. Mendesis-desis lunak. jadi keras. Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Iya kan. Ulah Sultani! Suatu kali. laaa. “Ayaaa. Berenang kalang kabut ke tepi. “Sebetulnya telat Bun. Tetapi. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. Suaranya merdu. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. kan?” Aku mengangguk.

Ibu Sultani berlari mengejar. Tetapi mereka pun tidak tahu. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. Mukanya menangis. Tanganku dicekal. diseret abangku pulang. Sultani juga. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. melihat aku di tengah kerumunan. aku menghambur ke jalan. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. berteriak-teriak. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Menangis.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. tegak kaku di ambang pintu. Dia mendekat. kurang ajar ya.” kata Amril. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. Mereka menuju rumah batu. berdarah. Sudahlah. Tahi kambing. Bergelombang-gelombang manusia. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. Mereka terus berteriak. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. mendengar di mana Sultani.” lesu. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. Suara mereka teramat gaduh. hasilnya nihil. “Mulai Kariang. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak. Buas sekali. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. Nius. Nius. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. “Tadi di sini terlampau pendek. Bagus juga kau gundul. suatu pagi. Kusaksikan ayah Sultani diseret. Menghabisinya. Lututku menggigil. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. Eh. Atau pergi. Ketika kuraba. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. dan orang bergegas Sultani. meraung-raung. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. Aneh sekali. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. Pernah kami tanya ke situ. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. malah sebelah sini terlampau pendek. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Sejumlah orang menerabas masuk. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . Tum diam saja mendengarkan sunyi. Tepatnya. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. sepekan rambutmu panjang lagi. aku menghindar. Menyepak pintu hingga rubuh. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. kuratakan. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik.

dua buah. seolah-olah tidak pernah lelah. Bahkan sampai kini. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan. walaupun tahun demi tahun .* Jakarta. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. 2 April 2005 berkedip. Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. Hanya mata saja. “Dan. kemarin pagi. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara.“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai. “Semua orang bilang begitu.

sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami. mirip dengan warga melambai dan menyapa. tukang rokok. Karena itu. . Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. Meski cuaca cerah. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. Kecuali. melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. tukang serbat. Adakalanya juga dari pagi sampai malam. Begitupun tukang sate. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. Kadang-kadang pagi.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat). jangan pula payung. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. siang. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. ya.anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. Tidak jelas mengapa demikian. Paling-paling orang hanya bergumam. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. penjual kerupuk. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa. anak. kembangkan payung. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. atau makan kacang goreng. di kota berniaga. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. tetapi juga tukang emas. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. petang atau malam Tetapi. meski aktivitas seseorang berjualan. “Hoi. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. tukang serabi. bercakap- Betul. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. Ya. dan seterusnya. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. juga sosiolog. Karena. hidupnya. hujan dan hari.

lepas-lepas dari kacang goreng. tetap belum ada yang sanggup “Ah. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit.Sekalipun kota kecil. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. terus. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. kalau itu. sebesar jempol. serta kegemaran orang memakan kacang goreng. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. perlu penelitian. beberapa waktu setelah bubar bioskop. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. Bertengkar. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. memang lain kacang goreng kota kita ini. “Tetapi. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. “Ini. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. sepuluh atau selusin. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. Lagi pula. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. makan kacang goreng jalan “Habis. Malah bangga. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. di muka rumah sakit. tukang kacang goreng. Pada hari raya dan libur-libur panjang. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. Bahkan. Namun. Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah. tiada bandingan!” . Tetapi. panjang. tikungan-tikungan jalan. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. Dan. Gemuk. Mereka mangkal di emper-emper toko. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. depan asrama tentara dan polisi. Juga. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. jangan dikata lagi.

“Hah. Juga ke Lubuak Mato Kuciang. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. Juga karena dia “berisi”. Berhari-hari berjualan. tanda Mak Sanin berjualan. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. Makin malam.anak justru takut pada Mak Sanin. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak. Menyelusup manja ke pelukan suami. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. anak. . Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. itu Mak Sanin!” ujar si suami. Ibarat… . Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. Dengan jas itu-itu juga.tambalan pada jas yang sipit.tenang saja dia melangkah. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. “Ibarat penyair. kami punya ilmu. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. Tenang. tunggal sekaligus penjaga kota kami. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau. Cubadak Bungkuak. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau.pinggiran kota kami. Ibarat pelukis.“Ya. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. kepala. Biasanya. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami. istrinya dipakai Mak Sanin. Kumisnya pun lebat melintang. dia Affandi. dan warnanya hampir tidak jelas lagi. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. ilmunya tinggi. khususnya di kalangan kaum ibu. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. Orang-orang terbangun. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. ingin makan kacang goreng. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. Tetapi. tak-tuk-tak. dan selalu merah menyala. Bancah Laweh. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya.

Tetapi. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. Cobalah. ketika ramai-ramai di tahun ’66. kota “Padahal. mungkin juga tidak mau tahu. Mak Sanin!” Dan.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. Tidak bakal menyesal. Hanya berdua. bahkan hingga kini. “Masya Allah. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. Dengan jas yang ituitu juga. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. Mak Sanin. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir .” “Yo! Eh. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. tahu benar aku.kisi jendela. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. harum bercampur peluh. Dan besoknya lagi. Besoknya. malam!” Tetapi. Padahal. Dan. Kemudian. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati. enak atau dia bertingkah. Jakarta. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. Belilah.” Dan. berkibar-kibar ditiup angin malam. Bergegas mereka benahi diri. Semakin jauh. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja. Dan. itu biasa. seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. “Seliter saja ah. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. Warga yang lain tidak. tegak menanti di ambang pintu. Karung goninya entah di mana. Tetapi. “Huh. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. Cukuplah. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu. mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. bunyi tangkelek-nya yang menjauh. pengantin-pengantin baru. pada suatu malam.“Beli dulu kacang gorengnya. sudah mereka tunggu-tunggu.” kata ayah bagai orang kedinginan. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. Tujuh lubang peluru.

balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. bersebelahan. dan begitu lepas sepanjang jalan. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. di lembaran kertas. di perut yang hanya diisi kopi. di pintu. Berdetak-detik di dalam pendengaran. yang diam-diam maju terus. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. di bak air dan di gayung kamar mandi. berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. dan di kemengangaan mulut. Di jalanan. di dapur. Manusia selalu berada dalam . Di pagar rumah. Lik War menggeleng. di motor. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. tidak bisa memanggil siapa pun. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. di dinding. di pintu halaman. di ranjang dan bantal kamar tidur. di mobil. di bundaran lampu lalu lintas. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. ”lakukan semuanya semaumu. Jam di mana-mana. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. Bilang. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. Bisakah manusia bebas dari waktu. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. di mana setiap pitstop. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. di layar monitor. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. saling kontak-sentuh. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. di meja di ruang tamu. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. berteriak.

dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang. Dan setelah itu. yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV. yang mungkin hanya menggeleng.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan. ”grammar apa tuh?”. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. pikirku. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam. ”Aku jadi pengen ke Jakarta. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh.” Kami menelan ludah. sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil.” kata lik War. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi. untuk tolong. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. what ever will War.pikirku. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja. yang menembus ladang dan sawah. Kami .menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited. Lik War pun tersenyum. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. Lik War pun mengajukan usul lain. serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam. ”Terlalu banyak kendaraan. Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. titik saling ketergantungan. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang.” kata lik War. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang. bumbu dan yang lainnya. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil.

Marto Pedrosa kampung sini. ibunya. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. ”OK!” kata Marto Pedrosa. atau buronan karena dengan sesuap nasi. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. menjadi rembulan gaib di saja. Koral dan dan di kampung sini). Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam.” katanya. Sri. dan karenanya (kata lik War. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini.panggil dengan sebutan No Tit. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. Nonik. sekaligus kudu sepeda dulu. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. Berangkat ke Jakarta. Lania. Kimi. dan Tyas. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. Santik dan Kuni. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. Ia menganjurkan jadi kernet. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. Timpah. ”Atau ikut Arpan. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu . ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. lantas bertemu setahun sekali di kampung. untuk segera berpacu sebagai apa saja. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. ”macak dan akting pengemis. atau penghuni kompleks semodel Tri. semodel de Grana. Kasim.

dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. pentolan. yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu.*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap. sara : sengsara mandeg : stop. berliku-liku mbabat alas: membuka hutan. sebagai apa saja di mana saja. menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa. kolonisa . berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk.agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi. yang biasa lusuh nunut : ikut. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain.

magasin dan satu peluru paling atas. dan memasang lagi pistol FN. rasanya lebih enak memegang pistol polisi. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. langsung ke tanah. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. Sebuah letusan lagi. Tapi sebelum dia banyak bicara. Tapi apa . banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol.” kataku. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. Mula-mula hanya dengan pistol. Setahun kemudian aku menguasai FN. Memasukkannya lagi ke magasin. membersihkan. membersihkan. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. Dan bila kurang. Pa!” katanya. Letusan dan entakan membuatku kaget. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. diungkit. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. Kalau disuruh sangat sederhana itu.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. aku mengeluarkan FN di hadapannya. Sekali. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. memilih. Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. Dan kami. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. terutama ketika magasinnya penuh. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. ketika kelas II SMP. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. dengan magasin penuh. dan memasangkannya lagi. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. yang genggamannya terasa berat itu. Sangit mesiu melulur lengan dan wajah. anak petinggi polisi. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. ada magasin cadangan di atas lemari. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. meloloskan genggaman dan mengokangnya. di kamar anak petinggi polisi. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. Guru itu mengangguk. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. lalu ditangkupkan untuk dipasak. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang.

Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. Menurunkannya. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. Dik.” kataku. Akan lain. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. yang lain. “setelah lulus kau daftar dokter tentara. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. Letusan itu keras. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu. Naik ke boncengan dan melesat. telanjang dan gampang.” katanya. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket.” kata ajudan baru lulus Akabri.” katanya. kata ajudan. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. dan menembak. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang.kenikmatan main-main dengan colt. Aku ambil FN dari tas. Kau tak boleh jadi anak Mama. “OK!” katanya. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan. dari jarak tiga meter. Aku beranjak. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. sekaligus memberi kesadaran. Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. Mulanya di Perbakin. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. ketika jadi danyon. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. Aku tak pernah membunuh orang. ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. Manusia itu . lantas menodong wajahnya bolong. Peluru itu menghantam aspal. “Kita harus kejar setoran. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. Aku tertawa. Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas. dengan posisi jongkok menyamping. seperti menembak kaleng atau cecurut. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara. kalau maut sangat dekat. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan. aku kokang. perempuan cuma jadi istri tentara. Padahal. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati.

Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. dalam kurang tidur. . “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. yang langsung mendekat.bernyawa.” katanya— tertawa. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. “Aku kan cuma cari kerja. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. dan seluruh keponakan. terutama karena jadi rekanan pemda. Aku mematikan telepon. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. Aku. Ya! Aku yakin tentang hal itu. dada. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. Ayah tertawa. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. Ditempatkan di kota. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. Ia minta agar aku merawatnya. Aku diam saja. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. Ia bergegas menelepon ayah. yang telaten merawatnya. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah.” katanya. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. perut. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. anak. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. seperti mendengar bisikannya. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi. Aku kini sipil. sampai ibu meninggal—menyeringai. Aku ayah?” kata Samsidar. Dua tahun kemudian ibu sakit.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. dengan mengumpulkan suami. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. Aku tak mengabarinya. Enak. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. Dik. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. Ibu menatap. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. Tanganku digenggam. Aku mengangkat bahu. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. kakak. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. ipar. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. “Kau tahu apa?” katanya.

Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. Aku menunggu ayah. Mengambil AKA. yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Mengunci pintu. Berjam-jam menunggu ayah. Aku masuk kamar utama. yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Ya— sepuluh menit lagi. Mengokang dan Ibu meninggal. Ya! Ya . Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Pasti. Sepuluh menit lagi.

“Kamu duduk-duduklah. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. preman dan pemabuk. Ya! Akan tetapi. Setelah itu ia benar-benar menguasainya.” kata Nasir. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. curiga. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. Ia membolos bersama Taberi. di kisaran empat angka. Nasir. Motornya dipakai ngojek sembarang orang. Sad. Bapaknya pasti meneng. Nasir menggeleng. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan. dengan payudara yang berdenyut. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. dengan lembut. ayahnya memberikan pesan khusus. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. serius. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. atau menggoda Saimah. Saimah menyusul dari depan. Terbayang lagi. Ini hanya pemancing saja. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. Arsad mengenal Suimah. per lima puluh ribu tombok.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. Kita tutup nomor jagonya. dengan semena-mena merangkul. Saimah makin genit. seingatnya. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. Mungkin cuma memesan kopi. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. menjauh dari keramaian. Radio menyerukan dangdut. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung.” katanya. Sad. “Kita juga main. bermalasan di warung itu. Jalan ke pintu belakang warung. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura. Terkadang Arsad hanya nongkrong. dengan setoran biasa. Ini bukan punyamu. olehnya. Sir?” katanya. Arsad menaiki sepeda motornya. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap. orangtuanya semakin permisif. makan jajan. Menghindar dari sekolah. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. menghindarkan pendengaran Khairan. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. Khairan menepuk bahunya.” kata Melangkah. “Nggak akan tembus kan. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis.” Setengah berbisik. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. Khairan. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. menggerayangi dan . Itulah awalnya. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. ayah.

Saimah tersenyum dan terus tersenyum. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan. terkadang orang masih datang . sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. Menjadikan empat kali. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. dan rayuan Saimah.yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. Ya Miring. “Seminggu bisa berpenghasilan. “Kita ini orang dagang. ia seorang sales yang agresif.” katanya. dan menjual sisanya. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. Khairan tersenyum. dan berkeliling ke mana saja. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. Berharap. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. Istrinya mulai menyindir. Akan tetapi. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. Khairan bungkam. Dan Saimah makin manja. Orang-orang mendelik. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. Ia tertawa. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. Ibunya Saimah lembut mengangguk. haid Saimah sudah telat seminggu. Sepanjang waktu.” katanya. Ia seorang sales pengawal pribadi. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. pil. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. Tapi. Cemberut dan makin sering marah. Khairan menenangkan. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan. Akan tetapi. Siklus direcoki balas memaki. selalu. karenanya orangtuanya masih di kantor. yang gigih. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. Membawa tas pinggang. Meski begitu. Pak RT tak berdaya. bermakna mempunyai barang dagangan.” katanya. Utamanya Saimah.” Orang-orang tersentak. semakin tidak mempunyai duit. biar bisa kompak dengan mertua. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut.

dan…” “Betul! Tapi. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. tangan. mblesar-kan gas. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. ada di tengah jalan. yang lainnya memburu supir sirna. yang dikemudikan Nasir. dan sisi rusuk kanannya remuk. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. Ia menuntut. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu. dan derap orang berlari memburu. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. Kaki. Belokan liar itu. tak bisa diturunkan. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. Akan tetapi. belum pernah pacaran. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. sudah meteng. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . Lalu lintas sigap diatur. Krowak tertolong. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS. menyeru ke seberang. Menyulut rokok. masalah dan menenangkan warga. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan.Nasir memboncengkan Krowak. meliuk-liuk. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. tertekuk-tekuk pendek. apakah aku harus menunggu izin Bapak. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. akselerasi pertamanya. Sebagian menolong Nasir. telur dadar setengah matang. penyelonongan itu. Sopir Station Wagon geger otak ringan. dan minum Topi Miring- yang sama. mencuri perhiasan ibunya. lajunya sepeda motor Arsa. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. dari hadapan. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri.

tapi tidak pernah dilayani. Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. Dua hari setelah persalinan. Karena itu. Ibunya Arsad berteriak-teriak. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. Khairan menelan ludah. mereka langsung mendatanginya. Kedua lelaki itu liar bertatapan. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. “Aku tidak betah. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. Ibunya Arsad terpekik. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. dari rumah Bidan. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. Lantang meneriakkan Brewok. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. Dipantati bahkan. istrinya. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan.“Balikkan ia ke kondisi asal.” tulisnya. tanpa mampir dulu. Saimah menangis. Khairan mendelik dan membentakkannya. Dan memang begitu. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. Tombok. berharta Genah: Enak dipandang. dengan dikawal Segera. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. Berparkir di halaman. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. “Nih. instan Celurit: Senjata mirip sabit. dengan mobil carteran. Utuhkan lagi. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. Dominik. Khairan melapor ke Polisi. Khairan. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan. Aku seperti masuk penjara. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. meski tak selalu milik orang Madura .” kalimatnya. khas Madura. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya.

untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. Ia tak menyangka. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Ia masih belum genap enam tahun. tadi. Sungguh. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. mendapati kotak itu kosong. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. meledek istrinya. setiap pulang. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. “Biiikkk…. “Hati-hati!” teriak sopir. karna ia terus diam saja. Marwan kadang kirim SMS. Seperti capung ia tiba. Beningnya tertegun. Bibiiikkk…. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. Dari kotakota yang disinggahi. “Ada apa. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. Tapi memang tak ada. Meski baru play group. “Sekarang. Kadang bisa sebulan tak pulang. Ia melongok. yang kecewa itu. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. seakan sudah menebak. Beningnya sudah pegang hape. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. Beningnya langsung meloncat menghambur. Di kelas.” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” . ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman.

Itu kotak kayu pemberian Ren.” Ren kecil duduk di pangkuan.” Marwan hanya diam.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. Meski tetap saja ia merasa aneh. ngambil kartu pos dari Mama.20. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. setiap Ayah pulang. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. jauh. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Sepanjang hidupnya. yang dikenal lewat rubrik majalah. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu. Marwan tak pernah menerima kartu pos. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri. dengan suara penuh kenangan. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. lantas mengeposkannya. Marwan ingat. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. rasanya. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. Marwan diam. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya. Ia pun atau kartu pos. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Karena iri. kartun . Saat SMP. bagaimana Ren bercerita. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. Marwan melirik jam dinding kamarnya. “Mungkin aku memang jadul. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo. Bahkan. banyak temannya yang punya sahabat pena. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan. Pukul “Enggak bisa tidur.

udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. “Wah. dinding goa. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. Sepeda yang berjajar kesukaannya. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Pagoda kuning keemasan. ia kini mulai dapat memahami. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan.” Itulah. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Seolah-olah itu dari Ren…. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Ia selalu merasa bingung. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. Dermaga kota tua. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. teman sekantor. kapan pulangnya?” “Ya sudah. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. Gambar pada kartu pos. Membiarkannya ikut ke pemakaman. saat Marwan makan siang bersama. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. Air mancur dan patung bocah bersayap. Marwan tersenyum. bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. Sudut dengan deretan yacht tertambat. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya.” Marwan tersenyum. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. Deretan kafe payung warna sepia. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. Bukit karang yang menjulang.di tepian kanal. Rasanya. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. setelah Beningnya pulas. Ah. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. seperti tercekat. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu.

“Kata Mama tukang posnya emang sakit. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. Cahaya yang terang keperakan. Hawa dingin bagai merembes dari dinding.” pelan Beningnya bicara. Ia melihat ada asap lembut. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. sekilas ia melihat jam kamarnya. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. 2008 dipegangi anaknya. Singapura-Yogyakarta. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. tak ada api. keluar dari lubang kunci. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar. Ia melongok ke dalam kamar. seseorang. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. Dua belas lewat. Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Kain kafan yang tepiannya . Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. sulit ia buka. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. serupa kabut. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Hanya “Tadi Mama datang. Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil.” Beningnya mengulurkan tangan. semua rapi. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. menyambar mendekapnya. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Lebih keras dari bau amoniak. Bau wangi yang ganjil mengambang. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai.

betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. Ia tak pernah mengucapkan rayuan.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. Dan saat sepasang matanya mengerdip. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. menyebutkan namanya. untuk sekadar membuatku tersenyum. Barangkali. menyentuh putingku yang ungu. sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. Ia bercinta nyaris tanpa suara. aku seperti mendengar denting genta. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. sepasang mata itu bagai mengambang. mana yang pantas buat dipakai makan malam. seperti katamu. Tetapi ketika ia hatiku. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . yang paling gombal sekali pun. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. Kau tahu. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. Aku ingat. Memang. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Aku suka matanya. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. mana yang pas buat jalan-jalan. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. Tapi. Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman.

Tapi— diam-diam.” ”Aku suka kunang-kunang…” . Sungguh. yang membuatku lihat di iklan deodoran. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. Membuatku tergeragap. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. Dan kupikir. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. kali ini. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. Bukan karena kamu tak suka. aku begitu menyukainya. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm. Sedikit berkumis. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu.” Bila aku kangen. Tapi. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. ”Busyet!!” Mungkinkah. entahlah. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. Setiap melihat kunang-kunang. tak rapi. kenapa aku jatuh cinta kepadanya. aku jadi ingin ketemu dia. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. tipis. aku mesti pergi. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang.

ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Ibu selalu mengajakku kemari. aku lupa. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Dan setiap pepohonan tertugur kelu. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. dengan mata yang layu. kata ibu. menjadi berkilauan. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. Agar ia menyimpan kunang-kunang. di zaman gestapu dulu. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. . Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana. Selalu. seperti sosis dalam setangkup roti. ketika lembah itu menjadi bisu. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. Aku masih dalam kandungan ibu. bersama ribuan tubuh lainnya.” ”Hmm…” Ah. Padahal. Dari jendela apartemen lantai sebelas. Membuat lembah itu malam purnama. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. Seminggu setelah pembantaian. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. Seperti yang sudah-sudah. ia langsung tidur setelah bercinta. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air.”Hmm. saat itu. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. memandangku yang duduk telanjang di sofa.

Karena. Kesunyian tak terpermanai. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. seperti dalam sebuah puisi. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. tak tercatat pada termometer. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. Jakarta. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan. dan dengan gerakan pelan menjauhiku. Tak ada percakapan. Dan dingin. dan tergesa mengenakan pakaian. Ia meraih handphone itu. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Seperti jeritan yang teredam. Tapi. Membelakangiku. Kemudian ia bangkit. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. selalu saja.Ia sungkan dan jengah. meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. 2005-2008 pernah kau kenal. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. berbicara setengah berbisik. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. Aku hanya memandang keluar jendela. seperti kerap kau katakan. Barangkali. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri…. Cahaya perlahan susut dan aus.

sambil menunjukkan empat jariku. Aku tak mengerti. Aku ingat. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. nari.” jawabku. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. Apabila melihat aku lagi berjalan. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. aku pernah begitu mencintainya. Padahal. Di kulitku yang licin. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular .Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini. melihatku memasuki halaman rumah mereka. Mungkin mereka butuh hiburan. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. trotoar.” jawabku. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. mendesing lalu lalang di jalanan. Mungkin karena mulutku yang peyot. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka. Dulu aku memang berharap. Tak ada bintang. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. Aku tak pernah mengerti. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. Memberiku moke. Bila ada ular masuk ke rumah. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. Kota di mana bertahun-tahun lampau. sambil menunjukkan empat jariku. dan langit hanya basah. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. Biasanya. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. seperti rintihan kesepian. Dan mereka kembali tertawa. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. Mereka tertawa. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. orang-orang akan menghentikanku. bila ada ular masuk ke pekarangan. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. Mungkin mereka hanya menggodaku.

Mestinya. ketika Bumi masih rapuh. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. Aku leluhur mereka. kuntum yang ranum. Leluhur yang mulai berkhayal. Aku begitu ketakutan. Kota dengan seribu gereja. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. Dulu. dan semua ketimbang diriku. Seingatku. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. setiap hari. Meski terkejut dengan reaksi mereka. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Aku sering bertemu ular-ular itu. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. di pinggir jalan. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. Tapi kudengar seseorang berteriak. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. kota ini seperti memanggilku. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. . Dulu. Tapi di situ. kini aku melihat sebuah mal yang megah. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. kendaraan yang lewat berhenti. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. di pojokan itu ada sebuah gereja. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. ketika batu masih berupa buah muda. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. Mereka percaya bagaikan putih telur. Di ladang. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. Sejak itulah aku ular. yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. banyak berkeliaran di kota ini. Ketika mula dunia tercipta. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. Terdengar suara-suara tong ditendang. Kurasakan. Alangkah menyenangkan jadi ular. Aku merayap menyeberangi jalan. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. aku mencoba tak panik.itu. Kudengar kembali gema lonceng itu. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. menghilang dalam kegelapan. betapa enaknya jadi ular. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi.

sambil menurunkanku dari dekapannya. ratusan ular. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. Aku diam melingkar di pojokan. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. ”Cepat sembunyi sini…. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu.” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. ”Kita sampai. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. berdesakan dan bau tengik. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. Dengan tangannya yang mungil.” kata gadis cilik.” Aku memandanginya ragu. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik . Cepat sini…. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata.”Ssttt…. Dan seperti menyusuri ingatan. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. sampah. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. hanya dipisahkan oleh kenangan. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. mendesis-desis menatapku. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. Ia mengulurkan tangan. Kulihat rosario menenteng lentera.” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. kulihat itu menyala kemerahan. memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku. Cara mereka mengingatkanku. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. gadis itu memungutku. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian. Aku merasa asing. Kulihat puluhan ular. memancarkan sulfur cahaya. aku merayapi jalanan kota ini. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. lorong yang berkelok-kelok. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. Di dekapannya.

Aku menemukannya tak sengaja. ”Begitulah. membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. Pada saat itulah. Kadang air mata itu menetes bening. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. bila menjelang Natal. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. Sebab bila ketahuan. kalau aku mau menjual rosario. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. dihancurkan kemajuan. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku.Di kota ini. tapi terlihat rapuh. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. kami bisa ditangkap petugas keamanan. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. Dalam keremangan. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. dulu kami bertahan: dengan . dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. seakan- mencapai kota di seberang sana. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. Para penduduk memberi kami anak-anak. menyimpannya dalam botol. katanya. tetapi selalu diusir. rempah-rempah dan artefak kenangan. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. Kamu sudah melihatnya. yang mereka percaya. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. Kami mesti menjualnya diam-diam. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. Salib itu menjulang. kami Aku belajar mencintai kota ini. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. Padahal Aku mendesis mengangguk. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. Kemudian dijual. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. menjualnya di lapak trotoar. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. untuk diganti dengan malmal. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. Ketika banyak gereja diruntuhkan. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. Ketika kota mempercantik diri. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran. Dulu. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. Sudah lama. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. Kadang merah serupa darah.

kataku. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. Ketika ia berjalan. nyanyian puji-pujian. Kami keluar dari Puji Tuhan. boleh jadi sebagai tugu kenangan. ia memang gadis yang usil dan nakal.Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. 2006 . ternyata. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia.” teriaknya riang. aku juga penduduk kota ini. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu. Terdengar syahdu dan megah. gorong-gorong. katanya. Pasti mereka mengusir kami…. Di dekat altar. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. Sampai kemudian aku menyadari. Aku melingkar tenang dalam keranjang. Dari dalam keranjang anyaman. tepat di belakang gereja. samar-samar bisa menenteramkanku. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. ”Wow. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. betapa sunyi gereja ini. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. Tidak. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. ”Kita bisa diam-diam ke sana. Mataku nanar Ledalero. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. Kusaksikan ruangan yang remang. Ah.” katanya. Aku tidak menikah. Dulu aku idiot. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu. gereja. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. ”Kau tahu. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal.” katanya. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan.

Agus Noor (23 Desember 2007) . Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta.Catatan: 1. versi Krowe-Sika. Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere. Nusa Tenggara Timur. 3. Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. 2.

Kata orang. yang konon. setiap menjelang Lebaran. Nak. Entahlah. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. silet. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Begitulah. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. dari tahun ke tahun. Seperti menyaksikan dalam sekejap. Atau mereka tak mau lagi datang. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. di keteduhan pepohonan. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. Nak. di emper pertokoan. betapa dulu. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. di pojokan jalan. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. selalu. Jarum Ibu pernah bercerita. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. Sejak banyak toko fashion. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya. ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Mereka menggelar dasaran di trotoar. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. Dan di malam takbiran. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. factory outlet. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. orang-orang lebih suka . para tukang malam. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. Nak. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. gunting. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. dan benang. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. Nak. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. Nak.Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. menata bundelan-bundelan benang.

Hanya ia. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. Kau masih empat tahun saat itu. rambutmu. Rabalah. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. di tangan tukang jahit itu. Kau bisa melihatnya. Bila ada orang sedih yang datang padanya. tetapi tak bisa menyentuhnya. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. Dan jarum itu. seperti senar. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. yang masih muncul di kota ini. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Dengan jarum dan benang Begitulah. Mungkin kau tak ingat. halus. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. Lebaran. Nak. Delapan Lebaran lampau. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. tetapi lebih lembut dan halus. Ia sempat mengelus bertilas. tapi kau lihat. Lalu diantar Pamanmu.membeli pakaian jadi. Nak. Nak. Ia menjahitnya dengan rapi. setiap menjelang yang muncul di kota ini. para tukang jahit yang mengisap tembakau. Benang itu tipis dan bening. Maka. dari tahun ke tahun. Entahlah. Perawakannya kurus. Menisik dan menjahit. Nak. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Yang jelas sudah sejak lama. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. Di dada sebelah sini. Nak. Zaman. begitu halus. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Sebuah kampung. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. tetapi juga kebahagiaan. Saat itu Ayahmu baru meninggal. Kau tahu. Nak. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. Ia menjahit luka hati ibu. Ibu mendatangi tukang jahit itu. Tak berbekas. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. dan menjahitkan pakaian padanya. Ada yang mengatakan. Kau tahu. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. dan jarum. tukang tentang tukang jahit itu. Nak. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. memandangi belanjaan berisi pakaian. barangkali. satu-satunya tukang jahit. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. tiga bulan sebelum Lebaran. Tapi . Di kampung itulah ia tinggal. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. memang mengubah selera. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. Nak. Nak. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. membutuhkan mereka. tak banyak bicara. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran.

Menjelang Lebaran ini. Menjahitkan kebahagiaan. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. Itulah sebabnya. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. sepanjang hari memintal benang kesabaran. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. aku menjalankan mobil pelan-pelan. jalan.masih muncul ke kota ini. Ia tinggal di sebalik cakrawala. Mereka sudah menunggu sejak dini hari. Ia tinggal di sana. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. malah makin menyelimutinya dengan misteri. Rasanya. kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. Kemunculannya selalu dalam diam. aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. anakku memandang heran antrean itu. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. Aku ingat. satu-satunya yang selamat. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. sewaktu kanak. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. seakan meledek tukang topeng monyet keliling. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu. Padahal tukang jahit itu. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak.

hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) .” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban. Pusing karena semuanya makin mahal. Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. 2007 orang-orang yang antre itu. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. Brisbane-Yogyakarta.” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul. Ayah?” “Ya. Bingung karena masih nganggur. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah. dengan gampang mendapatkannya. Kuceritakan tentang tukang jahit itu. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja…. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu.Barangkali. Tak bisa membelikan baju baru.

peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. sebermula permen muncul di dunia manusia. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. sewaktu kanak-kanak. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. Bantal mungil warna-warni milik peri. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. suka sekali permen. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. Permen dalam bungkus warna-warni. Sampai ia berumur sembilan tahun. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. Mereka sedih. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya. Mama. itulah. Saat kehidupan ini masih ranum. “Begitulah. Permen toffee. bila peri itu . tengah.” kata Mamanya. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Nak. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. Dan pada malam hari. tempat biasanya Papa. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. Saat terbangun pagi hari. di malam hari menjadi bengkak mulutnya. Anak-anak suka permen.” Ah. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. itu biasa.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. fudge. permen. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. Ia membayangkan. dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. Neal sendiri. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. lollipop. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. Maka. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. Sepanjang hari yang riang. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. Seperti bantalbantal mungil milik peri.

Ia ingat.Sampai sekarang pun. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan. permen itu memang mengundang selera. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan. pada Samuel. pengasong itu. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. pewarna dan pengawet. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. ia tak mau menenteng biji-biji permen. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. “Lebih enak permen ini. . Mencampurnya dengan gelatin agar kental. Sekarang ini. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. bagaimana permen itu dibuat. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. setengah menggerutu. Takut. wajah Iza terus cemberut. yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. bila ia tak membeli. Tapi. mereka akan memecah kaca mobilnya. Tetapi. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. korengan. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. Selintasan. Mestikah ia menjelaskan pada Iza. Neal membayangkan.” Tapi. memberinya sedikit gula.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

” jawab Pras sambil . Pelan Pras mencium bibir istrinya. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur. Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya. 2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa.Neal mengangguk. “Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta. memandang mata Neal dengan lembut.

di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. Kami menyukai cara mereka tertawa. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. membawa bermacam perbekalan piknik. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. Mereka datang dari segala penjuru dunia. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. Kami menduga. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. keledai. biskuit dan telor asin. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. Mata kami yang murung dan sayu. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. roti kering yang disimpan dalam kaleng. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. dan sempat mengunjungi kota kami. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. Mereka segera mencetak foto-foto itu. Kadang mereka mengajak kami berfoto. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda.

adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan.bintang terasa lebih jauh di langit hitam. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. candi-candi megah yang disusun serupa tiara. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. para pelancong itu bernyanyi. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona. sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap. penyair. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. Tapi kota kami. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. dan sungai selalu meliuk-liuk. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja. jalanan. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata. menurut mereka.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan. seolah semua itu terlampau bahagia. Dari kejauhan kami . begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda.rumah rubuh menjadi abu. Memetik kecapi dan Saat malam tiba. tetapi tidak dengan kota kami.>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. bawah kakimu. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota. Betapa menggetarkan melihat pohon. dan bintang.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu. Lorong-lorong. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. Kepada kami para cermin.

sekolah. kami . seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. menanam kembali pohon-pohon. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. tower dan menara. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. jembatan. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. sementara. Jangan khawatir. Kami tak ingin kota kami lenyap. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti. Berwisatalah ke kota kami. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. rumah sakit-rumah sakit. runtuh tertimbun waktu. setiap kota memang memiliki jiwa.menyaksikan mereka.gedung.lahan hancur dan tumbuh kembali. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh. membagikan sekerat biskuit. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. Sembari menaiki pedati. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. sungai-sungai. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya. dan fana. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. Sesekali minuman. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. yang hancur. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. sepotong dendeng. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. ke arah kami. Keajaiban tersendiri.

oleh Erwin . Invisible Salim (Fresh Book. 2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner.1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino.

akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Beberapa pengendara sepeda motor yang . Selalu bercelana pendek kucel. Usianya paling 12 tahunan. Memandang mata itu. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Setiap pagi. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. seperti menjolok sesuatu. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Tak ada keruwetan. jernih dan bening mengalir perlahan. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Berkoreng di lutut kirinya. kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. jalan menjelang kantornya. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. Air yang dinding penyangga jalan tol. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Ia menurunkan kaca mobilnya.Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. Kadang berloncatan.

Begitu bening begitu jernih. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Karena itu. Mata yang penuh kemarahan. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Mata yang tertutup jelaga kebencian. panjang. Setiap kali terkenang mata itu. Tapi Papa kerap menghardik. saat ia berusia tujuh tahun. Setiap menatap mata seseorang. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Berminggu-minggu mengikuti terapi. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . pecahan kaca yang menancap di kornea. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. yang kata Mama. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. terlihat berbeda. Dan ia selalu menggambar mata. ia yang bagai liang hitam. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. indah yang pernah Gustaf tatap. kawat berduri yang terjulur yang menggantung. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. padang gersang ilalang. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Rasanya. memandangi mata seseorang cukup lama.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. ”Mata itu seperti jendela hati. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Mata yang berkilat licik. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. itulah mata paling menyimpan dunia. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Ia ingat perkataan Oma. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya.

lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Bila perlu ia menculiknya.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. pikirnya. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Membuat Gustaf berpikir. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. batin Gustaf. Dan ia makin ingin mata bocah itu. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. Bila ia bisa memiliki mata itu. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. semuanya sudah tampak sempurna. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Ia ingin ketika ia muncul kembali. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. lantai yang digenangi air bening. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Ketika berjongkok. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Gustaf kini bisa mengerti. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. karena memang menyimpan sebuah dunia. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. mata. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Semua itu hanya mungkin. bisa memiliki mata itu. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya.

seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. percaya. sambil berbicara kepada temannya. dan melemparkan recehan. 2006 . ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Ia ingin membuka jendela. Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya…. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. Begitu lift itu tertutup.terjulur ke arah jalan.” ”Persis mata iblis!” Jakarta.

Bergegas. ia bisa mencium bau amis darah itu. Melipat selimut. Ah. Atau erang kesakitan leher digorok. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Menenteng seramnya. sembari bersiul-siul kecil. Merapikan pakaian. dan segera saling bisik. dan wangi. Setiap menjelang Ramadhan. Ia tak ingin kecewa lagi. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Bila pulang. Bayangan kematian penuh darah. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. seperti bekas bacokan. Dan tadi. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. tapi ia masih saja hidup. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Sesekali. sembari terus bersiul. Mungkin ia rampok. Parut luka seputar pundak. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan . ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. mengerut menatap laki-laki itu. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. mengusir bayangan buruk itu. Sebab. Kadang berbulan- bulan. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Saat ia berbaring di ranjang. Ia jarang berada di kamarnya. beberapa koper besar. keramas. Entahlah. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. seperti kotak tempat menyimpan gitar. Berhari-hari. Ramadhan berlalu. Seperti selalu menghilang. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. Tato di lengan kanan. Ramadhan kali ini. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Ia memejam.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. memandang langit siang yang terang. kemarin. Menyisir rambut dan memotong kuku.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Langsung. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. Memakai jaket kulit hitam. rapi. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya.

Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. wajah remuk rusak itu. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Barangkali ia dukun. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. ia terlihat merokok siang hari. Rutin yang ganjil.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. memandang entah apa. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Ia seperti tak mau dikenali. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya. Mungkin intel. Mengepungnya. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Menutup diri. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. menyapu. Aneh.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Kulit wajah mayat. seperti lilin panas mencair. Beres-beres kamar. sebagai seorang pembunuh bayaran. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. dibuka lebar. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. di bulan Ramadhan. Menjelang Ramadhan ia muncul.saat seperti itu. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Mungkin. Ini yang membuat kian penasaran. rumah petak tak pernah berani bertanya. Mati dengan tenang. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. mereka mendengis bengis. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Misterius. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Sering. Seperti menyaksikan kematian . Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. bercerita. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Ia terkapar.mayat itu meleleh. tapi pergi ke kuburan. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Ia mengerang. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati.harga BBM—matanya jelalatan. Meski ia tahu. Wajah. seperti mengawasi. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk.

Alangkah hebatnya jadi tentara. diam ia membunuh kucing pamannya. Umur tujuh tahun. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Memang. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Ia paling senang ketika harus disiplin. Sorot matanya tenang. Ia selalu ingin berada sangat dekat. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Ia akan tinggal di rumahnya. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Kulitnya yang putih bersih. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. bisa memukuli orang sepuasnya. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. dan ”Kamu punya bakat bagus. Benar kata komandannya. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. Kisah para raksasa penyantap manusia. Tugasnya hanya membunuh. Percuma kalo cuma jadi tentara. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. tertib. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. bayaran yang menderita di masa tuanya. Tempat menyembunyikan diri. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Lalu beberapa order ringan lainnya. Ia heran. Lalu sepulang perang. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Tapi membuatnya merasa aman. Bicaranya santun. kata teman-temannya. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Dan ia mulai mengawasi. Di kampungnya. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Membunuh seorang pengusaha. nanti bila sudah berhenti. Dan ia membusung bangga. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Orang. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi.” kata komandannya. Tanpa jejak. Paling mentok jadi sersan. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Beruntunglah orang . Ia menyiksa para pemberontak. Kamu pantas jadi tentara. Ia tak terlalu menyimak. Rahang terkesan pipih. ia diberinya pekerjaan. Sumpek bau comberan. Seorang hakim.orang mengerubung. Dan itu disukai komandannya. wartawan. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. karena pejabat itu pingin kawin lagi. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. Beberapa mati dalam penjara. berani menghentikan.Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Dikirim ke medan perang.

”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Terdengar letusan. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Getir. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Ia meraba belati. Ia mulai diusik gelisah. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. Lengking gagak di kejauhan. dan kini memburu kematiannya. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Gemetar tak yakin. Lalu meraba ”Sekarang. lakukan tugasmu. Jangan sampai aku kesakitan ya. Biar tak banyak korban. Kamu cukup membunuhku.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Sayang kan. Enggak usah merepotkan sampeyan…. Senyap. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. Kalau boleh memilih. kenapa mobil perlahan berhenti. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Mencibir. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. kecuali mati di bulan Ramadhan. membuangku ke jurang dengan mobil itu. Yogyakarta. Amin. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Singup. Dan semoga saja. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan.” Baru kali ini ia gemetar. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Lalu menggelar sajadah. Dengung jutaan serangga mengepung. kamu mau membunuhku. Pelan. lalu mendorong mobil ke jurang. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. ia hanya berdiri gamang. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. Karnawi terkekeh. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Tapi tolong. Ia bisa menembaknya. Kemeresek daun jati jatuh. yang pelan. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. 2005 .” ajak Kiai Karnawi.yang mati di bulan Ramadhan. ”Aku tahu. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Alhamdulillah. Ia pun kemudian selalu berharap. Kematian di bulan Ramadhan. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Tak usah Karena itulah. Kelebat bayang burung menyambar. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. itu mobil mahal. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia.

Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Agaknya tersangkut sesuatu. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. juga nenek-kakek. Tapi. cicit. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. bus. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. kontainer. mobil-mobil pribadi. Rasanya tubuh ini beku. ayah. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. Wahai. cucu. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. perkebunan. Jawa Tengah. yang terdiri dari truk. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. saya sudah tak tahu jalan. Banjir masih juga melanda Pati. meski apa peduliku. kolam ikan. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat. Tuban. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. Ibu. dari Pati ke Rembang. tambak. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. dan pertokoan. Kudus. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Jepara. cahaya perak. Masya Allah. meliputi kota-kota Demak. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. air tak juga surut. perumahan. ”Cepat kuburkan. ke mana Saya semakin menggigil. saya meraba tubuh orang. mungkin tidak sedikit jumlahnya. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. sawah-sawah yang siap panen. Mendadak laju rakit ini terhenti. namun tak kunjung muncul. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran.” .Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. Subhanallah. banyak lagi korban. cahaya perak. dan anak-anak. Rembang. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. hutan terbakar. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. Gelap gulita. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. Sementara di Riau dan Jambi. Saya yang satu minggu kehujanan terus. Juwana. didaki karena licin dan terjal. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. Pati. maupun motor karena tak Zaman.

dan kedua adik ke Jakarta. air. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. putra maupun putri. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. teriknya. Rumah tertutup santri. ibu kok ngomong begitu. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. di mana Rembang. pohon mangga yang sangat rindang. Meski sangat kesukaran. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. saya berhasil masuk ke ruang salat. Benar saja. Alhamdulillah. manalagi. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana. Jakarta. ayah.” Di atas atap dapur. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. Tiba-tiba rakit mentok.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu. air.”Ah.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan. dalam ukuran apa pun.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. air melulu yang tampak. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. berseliweran berlarian. di atap masjid itu tidak hanya baju. bermain maupun berdebat soal jodoh. manis dari akarnya. merupakan perpaduan yang elok. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. katanya. menikmati sebuah lalu minta lagi. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. Banjir yang lebih besar kali ini datang. sejauh mata memandang. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia. Saya mau cari nafkah di Jakarta. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya. di rumah bertingkat kami. sampai saya terjatuh. Maka ketika banjir surut. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan. Terlalu bising. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama. ”Jaga adik-adikmu. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. Di mana Pati. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. katanya. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. di mana para juga Tuhan. Lalu boyongan kembali ke desa.

saya kaget bukan alang kepalang. sementara di luar sana. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas. orang-orang berteriak meminta tolong. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- . banyak sekali.” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. dan kedua adik saya.” seru saya. Di yang mumpuni ini.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan. Waktu bangun.” ”Subhanallah. ”Pak Kiai. bangun dengan sigap. tangan banyak sekali. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu. ke sebuah dusun yang sunyi.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi.” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar. saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. kaki yang dua jenjang itu. ayah.air banjir. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan. ya. banyak sekali. sekeluarga turun-temurun.” ”Salamualaikum. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa.” seru saya sambil mengejar beliau. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman. meminta doa. Di luar.” ”Subhanallah. mencium tangannya. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam. menjauh. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. menanyakan kesehatannya. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali. ya.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. kepada ibu. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu.” ”Subhanallah. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau. saya tertidur tanpa diawali kantuk. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur.

Menurut ibu.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. Saya tertegun. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh. Subhanallah. menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak. Bukan uang Sesampai di rumah. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru. ”Gue ude konglomerat. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. Bagaimana mainan. uang yang saya bawa itu uang sungguhan. Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. mungkin mereka tidak menyadari. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. saya pasrah setulus mungkin. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita. ”Ya. Keadaan jadi kacau dan meriah. Tuhan punya rencana. caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. Masya Allah. Seperti mati berdiri. bukakan mata mereka. semuanya ini milik-Mu. . Dengan kunjung datang. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. Allah.” doa saya dengan kenceng. ayah. ibu. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub. subhanallah. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. ”Ya. Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. Allah.” doa saya. kedua adik saya. menimpuk sejadi-jadinya. Dalam hati saya menyesal.

Tangerang. 14 Februari 2008 .

O. Ada apa anak itu berlari terus. Hitam kayak pantat kuali. Ia tak peduli. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. lo?!” Semrawut kota semakin bising. persis malam mati. mengucap salam pada metromini. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. Nak? Ada apa. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. Jangan pernah kalah. “Ini Metropolis. Jakarta sudah lama bilang ogah. Jangan ketinggalan. kopaja. Jangan pernah mau mengalah. ia terus berlari. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. kabarkan. lo. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. Kerjakan yang mesti berlari itu. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari. Ia menuju ke arah selatan. Alangkah kencang larinya. Ia pusar bisa berlari sekencang itu. Keringat kota diperas habis-habisan. jadi rupanya ibunya seorang penari. Anak itu agaknya merebut waktu. Sesuatu apa itu. yang macet. Merebut tempat. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. Tak lelah-lelahnya. Udara sangat panas. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. dikerjakan. Orang-orang menengok yang padat. mencari kekal pada dinding. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. Atau baru. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. Legam bagai Jacky Chan melenting. . Ia tak mendapatkan bus atau angkot. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. Angin kencang. Dihardik satpam jadi emping. Ini Matahari terbahak.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. angkot. Angin berdebu. Pelabuhan menjerit. Metropolis. Suasana mendesing bunyi gasing. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. pusing. “Ada apa. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. Semua pertanyaan lompat bajing. mikrolet. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. Seolah metropol miliknya sendiri. Jakarta Utara. Nak? Ngapain lo lari terus? He. Barangkali ke Jakarta Pusat. dikejar setan. Mereka menerobos di antara bus.

Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. ia mendelik. Itu udara pagi. O. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. O. begitu pemerintah kasih wejangan. Nyawa yang berbakti. Tuhan yang pegang. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. api. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. Butiran menjelma hujan. Anak itu melompat pagar tanaman. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. Wangi jembatan layang. O. Tuhan kendali manusia. Bukan ratu. O. Anakku. hitungan akurat. Si anak ksatria utara. O. tanah. Di ladang luber. Segala tempat. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. Kemana tanahku. Hidup bisa dicicil angket. Tak kenal batas. Ia hindar bertengkar kerna pintar. Di bawah jalan layang. Penari agung bikin keder pemda. kadaluwarsa dari sepihak. bukan pula keris patih. O. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. dan pertapa sejati. Supaya jarak lari menjadi aman. Perahu malaikat burung puyuh. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. Tak ada tempat yang jauh. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. mabuk tetap tegak. bukan raja. Berlari terus. air. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. Anakku. Berlari terus. Mau dicaplok katak. Ibu Pertiwi mengerti. Jangan terpeleset. berbakti. menghirup angin surga. Tak pula timpang. Kemana tanahku. Itu udara wengi. Pesanlah nisan sekarang. putri jelita berbanding Sembadra. Dalam sehari 50. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. Aduh. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. Matahari membantu tapi butuh ongkos. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. Walau di lapak. telapak kaki tanpa alas. Tiba-tiba agung bagai baja. Namun tak beringas. Ksatria Utara tak mau berkelahi. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. Apa mau dikata. mencium bau wangi. Nasib orang. Sotangnya tajam bagai taring kirik. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. supaya hati tak garang. Ia ksatria tuntas. KTP diinjak-injak. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. Orang-orang yang berpapasan mendesah. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. Tuhan tempeleng manusia. Pasrah tanpa curang. Ia anak mama. Seluruh hamba wet. Dipuja petani. kota.Seperti bandit yang dibiarkan lolos. zat. tanah asli ayah bayang. kejeblos di pasir boblos. termasuk jalur hijau jalang. kesandung maut dari seberang. Menggaris lurus menerka keadilan. Tuhan sayang manusia. Tak mati-mati. Baik budi. Berbanding Pandawa pantas. Di sekolah anak tak pernah bolos. Jeritkan segala raung serigalamu. Eyang. Tumbuh harapan. Mengambang taat. Jasadnya lenyap ditelan udara. Namanya bikin gentar. Padang darah berember-ember. Henry Muhammad. Ia musnah. Aduh. bertengger gubuk derita malang. Udara. menerkam kijang tercecer. Tak mati-mati. Lalu berpijar cahaya api.000 tahun mengayuh. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. Ada saja yang tidak polos. Tiga kali kena gusur. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . badai derita Ia terlalu sakti. Jangan-jangan sedang menari bersama awan. anak itu tahan menceker. Mengalir angkasa pesat. Jangan menoleh ke belakang. terbahak. orang yang matanya nyalang. Ia keris empu.

Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. tentu jumlah itu saat ini. Kota gelap gulita. Perampokan kantor-kantor. berenang di dataran luas yang dalam. dia terus menuntut ganti rugi yang layak. Supermarket. toko-toko. Banjir rasanya semakin meninggi. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. pasar. departemen keuangan. puluhan.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. ATM. Jakarta tenggelam. namun dia selalu lenyap tak berbekas. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. Tenaga-tenaga penolong susah. berkali-kali penari itu diburu. Korban tak dapat dihitung. Para relawan penolong bertindak. Mereka saling bertanya. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. Saking banyaknya korban entah. ratusan mobil mengambang. Tapi itulah jalan hidup. tak ada artinya.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. Pemerintah yang dulu. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. di milenium ketiga. Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati. menari di atas pagar jembatan layang. Dengan sangat meminta ditolak alam”. mall-mall. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. bank-bank. Di siang hari jadi kota mati. Bagai monumen. gunung es bersimaharajalela. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. Di seluruh kawasan. Bagai papan-papan selancar. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. Datang dari kutub utara. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. Satu udara ganti-berganti. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. pegadaian. mereka sudah sampai Pulau Seribu. Namun penari cantik dan . Banyak individualis jengah. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. perumahan mewah. Daerah Khusus Ibukota payah. Tanggulangi penjarahan dan perampokan. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. Nah. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. Di pojok-pojok Jakarta rawan. Laut meluap. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. restoran. Dalam jumlah besar membengkak.

Ibu itu terus melanjutkan tariannya. Cikini. Cinere. Kakek dari nenek. Jalan Sudirman. Ibu dari anak. Sang penari tidak menstop tariannya. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Parung. Keluarga Paman dari keponakan. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Kekasih dari asmara. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu.membantunya. Sanak terpental dari sanak. terpisah dengan keluarga lainnya. Bola dari Piala Dunia. Blok M. Cucu dari buyut. Suami dari istri. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. 20 Mei 2006 . Jalan Thamrin. Hari balas dendam telah terjadi. Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. dan melahap terus ke selatan. Tapi segala jenis hotel penuh. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Canggah dari wareng. Anak itu terus melanjutkan teriakannya. Cemburu dari buta. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. Senen. Cilandak. Gunung Sahari. Benci dari cinta. Melek dari kantuk. Tangerang. Gelombang menggempur Tanjung Priok.

yang disihir Rothbart menjadi angsa. Jerman. Gadis ini Zahra. kepada para tamunya. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. insya Allah. Direktur Artistik Chino. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. menyembul. Mereka rame-rame menikmati salad. Asmara angsa. yang mengelus rambutnya. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. sebagai sponsor pertunjukan. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. dan jus jambu kelutuk. Sebaliknya. lalu mendarat kembali. komposisi yang senantiasa berubah. Angsa-angsa putih menyelam. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. sup ikan tuna. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. Di antaranya di tempat ini. Maxim Fomin. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. sangat populer di seluruh dunia. dan memagut dan bercinta. balerina 21 tahun. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. Begitu pula para pebalet teman Zahra. juga grup dari Perancis.500 penonton. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. buah-buahan. tentang balet di Rusia. gubernur berjanji. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai. yang putih maupun yang merah. dan pembesar negara lainnya. Andrei Joukov. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. tidak minum wine. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. bulu- usai. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Irina Ablitsova. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. angin sepoi-sepoi. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. ngobrol dengan gubernur. menteri. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. ayu dan ganteng. Odette. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. kegemarannya. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Dia memilih minum air jeruk nipis. Tampak Viatcheslav Gordeev.Telaga Angsa DANARTO telaga. Baru pada malam hari . pemeran Rothbart bergantian. gubernur. Maya Ivanova. Natalya Ashikhmina. Mineev. Dengan 1. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. pernah berpentas Martha Graham.

begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. ibu. ”Apa. Seketika. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko.” kata Kakek.” celetuk Nenek. adalah para pemeran angsa kecil. dan Anna Vakina. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. Semuanya tertawa. saya sih. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. jatuh cinta kepada Odette. Siegfried sadar. pemilik istana dan telaga. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. Eyang bisa kesleo. ”Itu kan mengumbar aurat. dan Anastasia Baranova. cocok-cocok saja. sih. Oxana Gasnikova. sampai Kakek terbatuk-batuk.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. memamerkan putrinya. Olga Ivachenko. angsa itu menjelma Odette. yang secantik Odette. Tatiana Chungunkina. Begitulah. seluruh istana bergembira. ”Terpikat boleh terpikat. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. memangnya kenapa?” tanya Zahra. Rothbart marah besar. Siegfried. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. Pangeran Siegfried. Rothbart sang penyihir.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. . ”Odette atau Odille. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih.” tukas Nenek. Odille. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. ”Lho. Usaha Rothbart berhasil. juga tante dan oomnya.mereka menjelma manusia kembali.” sambung Kakek. Eugenia Singur. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. Kakek terbatuk-batuk lagi. Sekalipun dengan mata terpejam. Semuanya tertawa. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”. ”Tapi. yang ndak cocok bagi kamu. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. lho.” tukas Kakek. neneknya. Semua tertawa. ayah. kedua adiknya. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini.

Meriah.” ”Saya heran. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”.” ”Wah. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. kecuali Kakek.” ”Kesan. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra.” sambung Kakek. kok Eyang sampai segitunya.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas.” ”Wah.” sergah Kakek lagi.” Semuanya tertawa. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh.” tukas Zahra. kok yang disalahin balerinanya. Habis jadi diktator. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun . deh. Eyang. bubar.” ”Eyang yang kasmaran. wah. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. wah. Eyang ini gimana. sih.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. ”Saya serius. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” sanggah Kakek.”Aurat yang mana?” tukas Zahra.” ”Jangan begitu. Melihat kostumnya. Aduh.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana.” ”Jangan begitu. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. Eyang. Obrolan berubah jadi perdebatan. peradaban.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. kostum Zahra ya seperti itu. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. Kesan. semuanya terkesan jelek. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. pertunjukan itu harusnya disensor. ”Semuanya kan tertutup rapat. mendadak berubah jadi filosof. Jika kita bicara soal kesan. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya.

semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. ”Eyang benar-benar lowbrow. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat.” sewot Zahra. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” . ” sergah Tante. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek. Mendengar kata Kakek ini.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. ”Dalam KKN ada tradisi.” Zahra menukas. ”Kostum ketat itu. ”Adat ketimuran kita adalah KKN. runtuhlah kebudayaan.” cetus Kakek. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari.” kata Zahra. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili.” sela Kakek. ”Apa?” tanya Kakek. Eyang. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang.” sambung Kakek.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ”Adalah tradisi balet.” kata Oom. Cucuku. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu.

” jawab Tante.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. Lengang sejenak.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. Eyang. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. Kecuali Kakek. . saya dikasih contoh. ”Coba. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Kita bisa menuduh mereka ateis. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. ”Banyak negara yang busuk.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. kata Allah.” tukas Nenek.” kata si Oom. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Seperti tercium setan lewat.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.” tukas Kakek. atau lusa. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri….” sergah Kakek.” tambah Nenek.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya.. Anakmu bukan milikmu. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. Zahra. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. Bukan kepada Tuhan.” tambah Tante. Barangkali besok. saya cuci tangan. Eyang.”Hati orang siapa tahu.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. Dan itu bukan teori. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. Eyang.

Dalam balet. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat.” sambung Zahra. Dan ternyata Allah itu indah. sedang dalam . Suatu dakwah keindahan tiada tara. Cobalah nikmati tari bedoyo. 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. Kita wajib memeliharanya. tidak ada pornografi dan pornoaksi.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. Dalam dandanan kebaya pinjungan.” ”Saya setuju. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka.” ”Sebagaimana balet. tergetar. Tangerang. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. Allah mencintai keindahan. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Eyang. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. Ada api yang menyalanyala. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. cukup sulit. Ada air yang mudah mematikan api.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo.

soal usaha tambak udang. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. bibit tanaman. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. mengular sampai jalanan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. bawahan dengan remaja. Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang. setelah sarapan. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. menantu dengan mertua. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. Cukup menyenangkan. Sudah sering datang orang. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. Misalnya. Rasanya camat. Di samping para tetangga. teman-teman. Kadang datang berbondong. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. satu dua. juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. satu dua. Rasa saya tetangga. pengairan sawah. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. Sungguh menghabiskan waktu. yang sama sekali tidak saya ketahui. bupati. Ada apa? belum menemui mereka. perburuhan. juga tayangan televisi. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. Dengan ngantre minyak tanah. Istri saya lewat jendela. kata-kata bijak dari para cendekiawan. perbankan. Juga tentang hubungan suami istri. Orang-orang . misalnya. persoalan anak dengan orangtuanya. sekadar yang saya tahu. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. dan banyak lagi saya tidak nyaman. bupati. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. tidak benar-benar membutuhkan saya. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. atasan. Karena istri saya gelisah. ramai. Sebagai penulis lepas. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. maupun wali kota. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. saya menjawab sekenanya. Istri saya memberi tahu. Saya rasa kali ini juga begitu. saya dijuluki “pendengar yang baik”. dan wali kota.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. menyadarkan saya.

Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Dan sebagainya. ia kaget. kompleks pertokoan. Saya interviu keluarganya. Begitulah. sebagaimana kematian itu pasti tiba. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. teman. sampai kenalan baru. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. kenapa tidur di rumah. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. dan berapa orang saudaranya. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Kepala kantor orang itu kebingungan.orang biasa. selalu saja orang . Alasan saya. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Kadang sampai 8. Saya catat riwayat hidupnya. Misalnya.000 orang. Masa pensiun pasti datang. Banyak usulan. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. orang-orang ternama. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. dibawa pulang ke rumahnya. tidak ke mana-mana. lalu saya cari alamatnya. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar.000 karakter. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. menyebabkan banyak orang mengenal saya. Keluarganya memberi tahu. sementara beban keluarganya besar. Tulisan obituari itu tidak panjang. Banyak komentar. keluarga. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. Yang jail maupun pelesetan. pekerjaan terakhirnya. sekitar 5. tak ada yang menulis. tukang becak. Begitu siuman. agaknya hanya saya seorang. ia seharian di rumah saja. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. ataupun di stasiun bus. ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati.lengang. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. Seluruhnya orang. Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. apa ada yang tertarik membaca obituari saya.

sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. ia meninggal. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya. ada yang mengartikan. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Memang ada seorang yang “Pak. Maka ada saja orang yang anti-saya. saya sedang mewawancarainya. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. sehabis ngobrol dengan saya. Wah. Pak. Tapi ini kebetulan saja. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Banyak ngomong dianggap meramal.” Tapi.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. Pak. katanya. kenapa?” “Maaf. Menurut mereka. Ini benar-benar klenik.” “Jangan ditinggal korek apinya ini. tulisan saya tidak adil . “Lho. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. Kritiknya tidak berdasar. jika seseorang ngobrol dengan saya. Saya nggak mau ditulis sekarang. Ketika orang menanyakan pendapat saya. Lalu malah terjadi serba-salah. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Pak. Saya jadi pendiam dan menyendiri. dan si bungsu di SD kelas 5. Memangnya saya cenayang. Tidak kenapa-kenapa. Dari kejadian itu. ini bahaya. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal.” jawabnya. Pak. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh.” “Lho. Saya tak bisa menjawab.nyeletuk: “Pak Jurnalis. Sementara itu ada pula yang bilang. Di pertemuan-pertemuan desa. Anak-anak saya.” “Baiklah. Keterlaluan. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. Tidak kenapa-kenapa. sedikit saja saya ngomong. lima orang. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. Ada yang bilang. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Apa yang akan terjadi dengan saya.” “Saya permisi. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. Pak Jurnalis. seseorang yang ngobrol dengan saya.” “Biar untuk Bapak saja. Ntar saya yang menulis Bapak. “Maaf. yang paling kritis. kenapa?” “Maaf.

terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga. Nah. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. anak-anak ini sok tahu.” jawab saya. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras.” “Semuanya. ini dosa. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang. kalian ngawur. Itu doa saya. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga. Lima anak semuanya sekolah.” “Begini.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala.anak saya tersebut. Ayah pernah menulis obituari.” anak-anaknya yang lain. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain. anak-anak saya itu diam. “Kalian ngawur. Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu.” “Itu harapan saya. Sebagai ayah. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. itu semua yang anak.” “Semua orang bicara dosa dan pahala. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam.” “Tidak bisa seenaknya begitu. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka.” “Ayah marah kena keritik. Nah. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. wah.” “Boleh saja. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. sedang rakus-rakusnya makan.” jawab anak-anak itu.” “Nah. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. Jika sampai di sini hal itu masih baik. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah.” dengan empat orang anak. . kan. saya berat.

Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. satu dua. Istri saya saja suka empot-empotan. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Istri saya lewat jendela. termasuk menulis berita. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. laki-laki. Karena istri saya gelisah. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Bahkan burung-burung. Alhamdulillah. panas. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan. Seluruh mayat itu. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. mereka menatap kebenaran. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak. Sudah sering datang orang. di pekarangan. saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. di jalan. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. setelah sarapan. berserakan memenuhi ruang dan udara. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. tua. Tangerang. merangsek ke depan meja saya. Waktu saya siuman. perempuan. di kebun. Saya acuh tak acuh. saya. di reruntuhan rumah. guru SMP. Allah…tanggal akhir hayat.00. di luar kemauan. Sinar matahari memancar. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. anak-anak. Entah berapa lama saya pingsan. Jam aum macan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Ada apa? belum menemui mereka. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. nistagmus. Dengan ngantre minyak tanah. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. Hari baru membuka matanya.Kami sebenarnya keluarga bahagia. bayi. mengular sampai jalanan. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. cerdas dan berani. tanah. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. muda. Ahad. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. mencecap pencerahan. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. tak seekor pun tampak terbang. 26 Desember 2004. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. di atas pohon. 20 Januari 2005 . Saya rasa kali ini juga begitu. Saya menulis apa saja. Istri saya memberi tahu. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan.

Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. memabukkan daripada kesadaran. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. Ia burung yang berenang. Bercinta di bawah para-para. bersentuhan dan mendesah massal. Meninggalkannya dalam diam yang haru. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai. Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Muka badak. entah karena basah yang kering. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. Bahana tawa. Sembunyi-sembunyi. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Senyum manja. Phuih! Saya meludah ke mukanya. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. saling berhantaman. Dan saya. Entah karena entah karena entah. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal.Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. hilang. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. entah karena nyala yang redup. Girangnya sirna. Sendawa alkohol di permukaan udara. ada yang hanya bagian kaki. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. begitu istilah orang-orang. dan ada yang hanya bagian tangan. Maka… menggoda. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Untuk saling gombal. dengan kaki-kaki telanjang. Rajaman semu. Kami terkapar di atas pasir basah. . hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Dan ia terpana. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. Maka saya tahu. saling beradu berebut perhatian. Saat penghakiman. Pesta pora.

Tawa. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. bisa atau tidak para model itu. Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Tawa. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. Ada luka yang akan segera hilang. berapa kira-kira umur mereka. Di sebuah tempat antah berantah. Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. panjang ala kadarnya. Tawa. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . terjangkau. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. Entah peragaan busana. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. Tawa. Tawa. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. Tawa. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. Tawa. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. Sementara saya pun pura-pura tertawa. Tawa. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. Entah peragaan gaya. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Tawa. Ada nama yang akan segera dilupakan. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Musik kian mengentak. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. Tawa. lalu memisahkan diri. Ia pun langsung mengambil Alkohol. Tawa. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Tawa. Tawa. “Sendiri?” Saya menatapnya. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Tawa. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan. Tawa berkepanjangan. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. Tawa dalam penantian.Saya menunggu. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Tawa. diri saya sendiri terpaku. Saya melihat langkah seribu. Tawa. Tawa.

pantas. dosa. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. Semakin banyak burung yang berenang. Ia burung yang berenang. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. dan pantas. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. Ada yang mendesak ingin keluar. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. Dan semua adalah ikan yang terbang. Agustus 2004 . Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Jakarta. Maka…. Maka bening berkumpul sedan. Semua burung yang berenang. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas.“Huahahahaha…mata bintitan. Ia masih berada dalam diam yang haru. Saya menunggu. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. mata yang menatap girang. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. Mata saya pun memanas.

tapi tak . Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti. Rasa mual merajalela. Tapi saya ngotot persalinan alami.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. “Robek saja. Kepala saya pening. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya.” kata ayahnya. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Tapi… muda. Suara tangisnya seisi ruangan melengking. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. Membuahinya. Harus operasi. masih harus menunggu dua pembukaan lagi. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Menerima. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. Masih tak percaya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Dok. Rasa takut seketika membuncah. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. Tapi saya berkata dengan yakin. Ketuban sudah pecah. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. majikan. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. Materi yang ada. Saya akan menjaganya. Saya akan menjaganya. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. yang masih lengket. Masih tak percaya.” kata supervisor saya. Baru pembukaan delapan. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. Air ketuban sudah hampir kering. liat. Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. Membayar pembantu. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. Sembilan bulan sudah. Terus menyeruak dan mendarat lengket. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. Pun mulai membukit perut saya. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. Saya ingin protes. Dan jika operasi. jelas belum mapan. sudah satu bulan setengah usia janinnya.

Tak menunggu saya pulang. lagi. Saya harus segera menghayati peran. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Tetap menunggu saya pulang. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. Harapan akan segera pulang. Berusaha memberikan pengertian. Berusaha memberikan rasa aman. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. Dan saya tetap akan pergi. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. Di mana makhluk mungil menyusu. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Membeli apa pun yang harapan. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Saya sudah tidak butuh rehat. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. membayar listrik. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. Harapan akan segera pulang membawa uang. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. Lucu. Sudah jam delapan. Kalau perlu. dan sekolah akan pulang. air. Dan harapan. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas.bisa. Saya tetap akan pergi. kami akan menjelajah dunia. ketika suster itu berkata. Jika saat itu tiba. “Capek ah nunggu. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. . Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. kalau ia mau.” Saya akan menjaganya. Air susu saya sudah sarat. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. Ia membiarkan saya pergi. Cukup lama saya harus menenangkannya. telepon. kontrakan. Saya akan menjaganya. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. aku udah mau tidur!” semprotnya. itu? Saya begitu tak sabar menunggu. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. Baru akan dimulai merekam adegan. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. Tetap akan pulang. sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa.

Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Ada kegelapan. Lantas meronta. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. sudah kembali pulas tidur. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. menunggu emosi saya pergi. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. menghalau saya supaya tak dekatdekat. Pelan-pelan . Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Saya kecup kedua matanya yang merapat. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. Menunggu. Menunggu. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Satu saat nanti ia kembali. Tapi ia menggeliat. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Entah disengaja untuk menarik perhatian. Menunggu. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. Menunggu. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. Saya Ada cahaya di ujung lorong. Lampaui semua beban. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. igau saya. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. Ada puisi di dalamnya. Menunggu. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Menunggu kesadaran saya kembali. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. “Action!” teriak sutradara. menyerahkan untuknya menyusu. Saya akan menjaganya. Melayang seperti burung tanpa menyimpan. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia.harus terhambat kemacetan. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. igau saya. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. kemilau dengan tangan terbuka.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Yang berubah keterbukaan. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. bertahun-tahun. atau murahan itu. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. pembual. berminggu. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum. Tapi kami masih menikah. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Di pertokoan. sok gagah. atau masih melajang. restoran. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru.jam.kami hanya sebatas pertemanan. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar. Di kantor. Pembicaraan mendadak berhenti. Banyak terakhiri. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B.minggu. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan.sembunyi bermain mata. Di ini berjam. Jika teman saya uang.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. Di rumah. sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Mereka saling mengirim surat elektronik. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang.teman saya semakin banyak. Setelah putus dengan si B ternyata . kantong belanja. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. Sebagian lagi menganggap saya jiwa. Hal. berbulan-bulan. Saya tidak pernah membohongi. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. Jika teman saya kelihatan indah. berhari-hari. Sebagian orang menganggap saya munafik. saya tidak pernah akal-akalan. Mereka sembunyi. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang. mulailah kelihatan berkantong tebal. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. sakit jiwa. sebagian orang yang menanggap saya munafik. Semua orang merasa sementara teman. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan.

Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. Pembual. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. atau murahan. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. Karena. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. Mengirim makan siang. sok gagah. Murahan! Jakarta. pembual. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Menganggap saya murahan! lanjut berteman. Bercerita tentang film yang baru saja diputar. Menemani makan malam. Malam-malam panjang. Menganggap saya pembual. jalan. Ereksi yang tidak lama kekal. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. sakit jiwa. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . Tapi tetap orang menganggap saya munafik. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Mendongeng membayar ongkos perawatan. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Saya hanya heran.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. Sakit jiwa. Sok gagah. terima karena saya munafik. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. Menganggap saya sakit jiwa. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe.