Gelap, gelap sekali

Aba Marjani Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah

lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.

Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung

terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.

malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh.

Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”

Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”

”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri. Beberapa menit kami tenggelam dalam hening. Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama. Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah. Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.

Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka. ”Ada apa?” kataku. Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”

”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.

Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.” ”Oleh siapa?” tanyaku. ”Belum tahu.” Tangis ibu Saleh tak henti- henti. Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang

Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari

kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.

Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami

nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.

Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun. ”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”

Yang lain-lain terdiam. ”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.

Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin

saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena

istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam

dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi bersentuhan dengan kakiku.

jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka

Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-

suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk antara mereka yang kukenal.

bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari

Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga

bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.

Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang

pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam

Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan lehermu!”

jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan

Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu sedikit melegakan rasa sakitku.

memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka

hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku. orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah

Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa

Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke

tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan

senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus

tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya

Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang

pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah orang ingin mencari selamat sendiri.

biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua

Dalam kepergian malam. sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri menambah perihnya goresan tali. merunduk rendah. Air yang dingin mendengarkan langkah kaki. aku berjalan sejauh-jauh jarak Matahari mulai muncul di celah gunung. kemudian tali dari kaki. Aku berterima kasih kepada Tuhan . pastilah manusia pun bisa. Selang beberapa menit membungkuk dan terjun ke dalam sungai. Orang yang berada di barisan menebas lehernya. dalam sunyi air yang mengalir. bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet. Kami benar. Di dalam alun arus. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah. aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya. ”Ayo. dan mengambil buah yang ranum. Aku memanjatnya. anak-anak akan telantar. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan. dalam remang gelap. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. Dan cap dalam keluarga. ”Tuhan. Gelap dalam sel. Semuanya gelap gulita! dengan kisah gelap. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. Truk berhenti di mulut Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. istriku dalam kesetiaannya harus Tiba-tiba hatiku menjerit. Bayangan dalam benakku. mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini. aku semakin menepi batu-batu. Bahasa batin Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. Buah yang matang tapi ketika kukunyah. Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam. menyusuri tepi sungai dengan Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah. naik! Naik! Naik!” Truk menggelegar memecah kegelapan malam.benar menjadi warga kegelapan. Aku menduga. Dalam detik yang sama aku mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air.banting tulang memberi makan mereka. sampai giliranku pun tiba. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. lindungilah mereka!” Tendangan di pantatku menyadarkan aku. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba lama semakin hilang. yang dapat kutempuh. aku dapat sebuah jembatan yang besar dan panjang. banyak batunya. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Tidak ada. menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun suara yang sama bergenta. Pisang monyet.

Akan tetapi. aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. aku tidur dan malam melaut bersama nelayan. seorang bekas interogatorku. menyongsong matahari yang terbit.mereguk air dari pinggir sungai. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. aku Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. iklim politik pun berubah. Pergi ke laut. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan Di kaki gunung. Setelah kekuatanku pulih. menjual ikan ke seberang. menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. tepatnya sebuah lembah yang landai. dan mengirimkan upah yang kuperoleh. Aku bulan di laut. sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. Ada mata air di situ. karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. di seberang ada laut. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus. aku menghitungnya. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan cepat-cepat menghilang. masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan- kapan akan berakhir. alamat. Setelah berbulan-bulan. yang tergenang dan bening. Aku pun terkejut melihatnya. Siang hari mendapat informasi mengenai alamat mereka. Alam keras membuat mereka hidup. 21 Agustus 2009 . yang sudah berumur membuka pintu. aku berjalan dan berjalan. Rasanya aku berminggu. Kata orang tua itu. bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. Sampai berpuluh tahun kemudian. Ia terkejut melihatku. dan pelarianku. Tanpa Mereka hanya peduli pusaran arus laut. Kuketuk pintunya. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan. kepada anak-anakku.minggu bersama mereka. kukirim upahku. Seorang lelaki tua dan ibu memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya. Aku Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. atau kalau musim ombak. Malam-malam berbintang. aku menemukan sebuah gubuk. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga. Bandung.

Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari kehangatan bersamaku. Setelah menyulut rokoknya. Seharusnya di dua halte berikutnya. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan tubuhku seperti sepotong kayu. Angin berkesiur liar kian kemari. berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini. seorang Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh mendekat. Aku berdehem.” kataku sembari menatap ke jalan. Sebatang rokok siap dinyalakan. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang menyatu dengan putihnya tempias hujan. “Dulu. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. . petir seperti ini. “Punya korek?” ia menyergapku sebelum aku sempat menggeser. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. laki-laki mengambil bungkus rokok milikku dari saku belakang celana. Tanpa menoleh ke arahku. Betapa bodoh dan tololnya aku. Hujan masih saja lebat. Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai Pasrah oleh jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-ban mobil. Di sebuah kantor.Sukro dan Sukra Oleh Adek Alwi Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Sesaat kemudian asap rokok kami sudah itu menyodorkan bungkus rokoknya kepadaku. “Aku salah turun. Aku bersiaga. Genangan air mulai meninggi. Masih tersisa dua batang. mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku. Tubuh terbakar hangus seketika. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam dadaku.” aku sengaja berbohong. Terlintas dalam benakku bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Dalam badai perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah gubuk tempat kami mengontrak selama ini. “Mau pulang?” laki-laki itu bertanya. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. Agak mletot karena terduduki. Bukankah aku seharusnya turun di dua halte ingin membelah dunia. “Bekerja di mana?” laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap rokoknya untuk kesekian kali. Kalau tidak. Kuambil satu. mungkin aku sudah sampai di rumah. Kurogoh saku celana sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. Angin masih berkesiur. Aku bersidakep menahan dingin. Senja makin lebam. Di dompetku cuma ada tiga lembar uang lima ribuan. Gosong.

“Kalau mau. Bagaimana kalau yang punya rumah terbangun? Lalu . meski dingin menyungkup. Apa saja. menikah dengan seorang polisi. Tapi itu tidak penting. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan karyawan. Laki-laki itu tiba-tiba terbahak. Yang pasti. Agak kurus. Ada barang sedikit dari mereka.” “Sukro. Uang mereka pun belum tentu uang halal. Agak gondrong. Aku terlalu pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu.” kata laki-laki itu kemudian. seorang wanita. Malah yang paling makmur. “Nama kita hampir sama ya. bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. Ia memiliki sebuah mobil juga tak kelihatan susah. Di antara empat saudaranya.” aku menyebut namaku. macam-macamlah. Sukra tertawa. “Atau tepatnya mungkin kau bisa membantu aku. Kita ambil Karena umumnya orang kaya pun perampok. Dalam remang kulihat wajah pasrahnya. Aku jadi korban. Si bungsu. “Kita merampok orang kaya. Ketika aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu. Dan hujan tiris. aku jadi tak bisa tidur. perempuan. “Kenalkan dulu.” Laki laki itu tertawa kecil. Yang penting kau mau bekerja sama. Baginya yang penting aku menggodaku.“Tapi aku dipecat. Aku kaget. Hidung mancung. Meski cuma lima belas ribuan. Malamnya. Adiknya.” katanya getas. sementara order menurun. Gelisah saja. Entah di bagian mana. hidupnyalah yang paling susah. aku bisa bantu. Yang penting bisa makan. Hidupnya Merampok? Ah. Sekarang nganggur. Tak jelas mengapa ia tertawa. Mata dan pipi cekung. Suaranya nyaris tak terdengar karena hujan begitu lebat. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. Kerja serabutan. yang hasil korupsi. “Kita merampok.” Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada istriku. ada yang curang dalam berdagang. hidupnya tak pernah kelihatan susah. terus terngiang ajakan Sukra. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. “Namaku Sukra. Aneh juga. Kadang-kadang kasihan juga aku melihat wanita ini. laki laki.” ujarnya seraya menyodorkan tangan. pulang membawa uang.” Setelah itu kami jadi lebih akrab. tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. Ajakan laki laki itu terus Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau tahu apa pekerjaanku. Tubuhnya hampir tak berbeda dengan “Kerja apa?” aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk menyembunyikan perasaan gembiraku. Uang mereka banyak. dan dua sepeda motor. Tak ada gunanya. Kami ngobrol hingga senja hilang dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. Istriku di sebelahku sudah terlelap.” aku. Seperti hari ini. Kakaknya. Banyak sekali. menikah dengan seorang juragan beras. Agak tinggi.

Esoknya aku bekerja tanpa gairah. Upahmu seratus ribu untuk setiap satu disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya.” Sukra meneruskan kalimatnya. Bukan merampok. Ada ekstasi. aku ada pekerjaan untukmu. Agak berbisik. Hari itu.” banyak pilihan pekerjaan. jadi pengedar enggak mau.terjadi perkelahian.” “Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?” “Sudahlah kalau kau memang tak tertarik. Ada Selamanya miskin. ganja. Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya.” kata Sukra sembari mengepulkan “Merampok itu bukan pekerjaan ringan. misalnya. Ia “Oya. Kalau tidak. Bukan jadi pengedar. Lima turis Jepang. Aku diam saja. Sukra mengakak. Sudir. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat.” kata Sukra. “Untuk apa kau bekerja keras kalau sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh asap rokoknya. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. “Diajak merampok enggak mau. atau apa saja yang dibutuhkan konsumen. teman sekerjaku. Sukra!” aku membentak. aku bisa memberimu pekerjaan lainnya. Sukra mengakak lagi.” “Jadi apa?” “Aku punya tamu.” “Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri. Lalu . “Jadi pengedar. “Kalau kau mau. selamanya hidupmu susah. Mereka mau ke Bali besok sore. Ini tanpa risiko. Itu kalau kau mau. Kra. Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini. Apa salahnya justru kita yang mengambil kesempatan itu. Sama saja. sabu-sabu. sampai jengkel karena setiap kali mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke Kubilang badanku kurang enak. Bisa juga dibakar massa. kalau kau mau.” Sukra membanting rokoknya. Sukro. Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah warung Tegal. Lalu aku terluka. Kro. ia ikut memesan makanan. lebih ringan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. tugasku memasang pompa air. “Kalau kau takut merampok. Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan seplastik air dingin di tanganku. perempuan. Tanpa basa-basi kepadaku. Jadi maumu apa?” Sukra berkata kepadaku. Bisa kau carikan? Bayarannya besar. Mereka butuh teman wanita. orang lain yang mengambil alih. perut bumi kulakukan dengan setengah tenaga. “Kalau bukan kita yang melakukannya. Aku diam saja. nanti malam. Semilir angin membelai dan menyejukkanku.” jawabku sinis. langsung duduk di sebelahku.

Sebagai pekerja kasar. Setiap pekan aku pasti punya tamu orang asing. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. Nah. Jadi pengedar. Itu beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. Tak begitu berat. Ia mengakak seperti biasanya seraya kalau kau tak mau menerima tawaranku. cobalah berpikir sedikit lebih rasional.” membutuhkan wanita-wanita penghibur.” kataku singkat membuat Sukra tertawa. setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. Sukra tertawa kecil. Menahanku dengan paksa. “Wajahmu cukup ganteng.” Sukra memulai serangannya.” katanya meyakinkanku. Lagi pula. Mendengar celoteh Sukra. “Maaf. Tapi. Kini entah apa lagi yang akan ia tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap itu. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. Tak enak juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada “Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?” Sukra memulai lagi percakapan. Siapa tahu kau tertarik. “Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan. Sukro. dalam banyak dibandingkan apa yang sudah kau peroleh selama ini. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar . kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap malam. Tapi ia bilang masih ada satu peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi pun tak apa.“Itu pekerjaan haram. Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. warung Tegal tempat kami barusan makan. Aku sebenarnya ingin buru-buru berpisah lebih baik. Untuk hasil yang pasti tak sepadan. Dan mereka pun mungkin pas-pasan. Jadi makelar wanita. Rokok tak seorang perempuan.” sahutku ogah ogahan. memepet Sukra. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni di seberang darinya.” Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi. meraih tanganku. Apalagi kalau sedikit kau rawat. Sebelum sempat kunyalakan. Kurasa pekerjaan ini cocok untukmu. “Haram? Ya. Merampok. kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini. Dan muda. “Kau tolak Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. mungkin kau benar. Berhadap-hadapan. “Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan. kau juga berotot. aku lupa.” Selepas makan. tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai kenyang hanya dengan uang lima ribuan. Ia baru akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. Aku cuma terdiam. Aku mengambil sebatang rokok. “Tenang dulu. jadi kunyalakan. Terpaksa aku menggeser sedikit. Setiap hari kau bekerja keras. Kro! Mau ke mana kau? Baiklah Tentang apa saja. Hanya cukup untuk makan. Jadi. seorang perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan.

Sampai terengah engah. atau yang pria saja. “yang kedua adalah seorang pria. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. kau bisa ambil klienku yang wanita saja. Ia masih membujang. sekali. Tidak setiap hari juga. “Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?” Sukra seperti memaksa aku bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan. Aku malaikat penolongmu. engah. Tergantung kebutuhannya. Tanah Kusir. Tapi gajimu tetap tiap bulan.” pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. Gajimu pun jadi dua kali lipat?? saja yang melakoninya?” “Kedua-duanya pekerjaan haram. Janda. Semua pekerjaan yang saja. aku buru-buru meninggalkan Sukra. kau juga bisa bekerja untuknya.” Aku masih saja bungkam. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku.dibutuhkan. Kau bisa bekerja untuknya. bisa juga dia mengajakmu ke luar negeri. Aku terbangun. “Mengapa bukan kau “Kro. Sekarang aku mau berbagi denganmu. Dan lari. Yang pertama seorang wanita setengah baya. Mungkin juga seminggu seberapa banyak kau bekerja. Mungkin dua kali seminggu. Sukra melanjutkan. Aku mau menolongmu. Perigi. Desember 2006 “Ada apa. Atau. Kaya.” aku berkata ketus. Aku menggeleng. Masih terengah- . Ia tak suka wanita. Dan. Itu “Aku tidak tertarik.” Sebelum aku berkata-kata. Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu. Cantik. Mas?” istriku mengguncang-guncang tubuhku. Boleh juga kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. Sukro. Tanpa menoleh. kau bisa tetap berkumpul bersama istrimu. Ia menyukai sesama jenis.” berkata begitu. Di cermin itu kulihat wajah Sukro. “Tunggu!” “Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!” aku berteriak. Tidak tergantung pada Kesepian. Kuteguk air putih untuk menenangkan diri. “Sukro!” Sukra berteriak. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah bicaranya. “Aku punya dua klien. Sukra tertawa. Nah. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. Kunyalakan lampu kamar.

ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan dengan gaun yang mengundang. Kuceritakan penglihatanku. dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah ”Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. untuk kesekian kali. olehku yang buta. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul. ”Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu. karena aku buta. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu. Namanya Sebulan setelah melahirkannya. Baiklah. Aku melihat garis pedih dan hitam. seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. 28 tahun lebih enam hari. tak ada yang tak terlihat aku menyukainya sejak pertama. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru. gugusan awan merah muda. ia selalu muncul kau menyebutnya pelacur. ia memilih menyendiri. aku langsung tahu. Saat pertama kali melihatnya. Aku bisa melihat semua yang hendak petak kontrakannya di pinggiran kota sana.Mawar di Tiang Gantungan Oleh: Agus Noer Kuceritakan apa yang kulihat. Itulah sebabnya disembunyikannya. kakinya jenjang. butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Tapi ia hanya tertawa. Sungguh. betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku memang tak punya mata. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. Bilur jejak luka di tubuhnya. daun-daunnya yang kemerahan. bayangbayang yang putih dan memanjang. Ia seperti dikutuk kecantikannya. Tapi kalian mengatakan aku dusta.” katanya. suaminya yang minggat. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian. Seperti malam-malam sebelumnya. dan Mawar. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku. berdiri menunggu seseorang datang. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. suaminya. juga angin yang pucat kelabu.” Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. Aku melihatnya di pinggir jalan itu. masa lalunya yang penuh kesedihan. dua tahi lalat kecil di punggungnya. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi. kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan. Kadang tampak ganjil .

juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. Kemudian ditunjukkan padaku menderita karenanya. aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka. kemudian menjualku pada seseorang yang langka paling berharga. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka. ”Aku tak buta. ia seperti menemukan barang berleleran. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. Kelak. Perot. ”Biarlah aku tak punya mata saja. Ia begitu membenciku. Tentu. ”Dan kamu. Seorang anak kedua kakinya menampung para pengemis. Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit. kau akan melihat banyak rahasia. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karena rajasinga. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. kamu bisa kembali mengambilnya. diberinya aku degup jantung. Aku tahu. kenapa buta?” Ia sayu menatapku.” Tentu.” ”Kalau begitu. bila aku bisa melihat tanpanya?” Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu.” Di rumah itu pengkor. ”Anak ini akan membuat ibu siapa pun yang menatapnya. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah. dan berkata. Ada yang gagu. Aku memang memilih tak punya mata. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. disematkannya tangan malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. dan tak pernah mau menatapku. orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlamalama bersitatap denganku. ketika aku lahir dan menatap dunia. Ia membuangku. perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata.” Lalu aku pun bercerita padanya. kami akan menaruh matamu ini di surga. ”Baiklah. mereka bergantian membisikkan nasib yang akan kujalani. Digerogoti kusta. buat apa aku punya mata.” ”Bila kau tak punya mata.” dan kaki pada tubuhku. ”Mata ini akan membuatmu jelita. kau bisa menduga. . Seperti tanah liat yang mulai terbentuk. Ada yang bongkok. dan ia bergidik ngeri. Aku senang sekali ketika sepasang sepasang mata yang indah. Tapi kau akan Lalu kukatakan pada malaikat itu. Melihatku yang tak punya mata. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga? Sengaja kubuka kelopak mataku. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. Jileng.

Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar.” Ia kembali tertawa. Aku bahkan nyaris dicekiknya. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!” . Ia Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara. tapi petugas yang lain segera berteriak. meliuk merunduk. Sebagian pelacur telah pergi. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. Tapi dengan apa kau melihat. Semuanya berlangsung begitu cepat. Aku seperti mendengar lecut petir. Lepas 3 dini hari. terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil. kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. kemudian yang lembek. cahaya seperti lumer di sela jariku. Arak yang mengepungnya. betapa setiap suara punya warna yang berbedabeda.” katanya. kalau kau tak punya mata?” ”Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. ketika beringas dari biasanya. aku bisa menyentuhnya dengan tanganku. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. rambutnya basah tertempias hujan. aku bisa melihatnya mengembang dan mengerut seperti gumpalan kabut. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. kau pun takut menatapku. ”Bukannya aku tak percaya. Ia terus tertawa. tapi tak percaya. menggeliat bosan yang menunggu pelanggan dan sentuhan…” Dia tertawa. tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian. ”Kau menyenangkan. Ia pun hendak lari. Kau mendengar suara. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. Mungkin saat itu aku berteriak.” Aku bisa memahami perasaannya. Dunia memang tak menuduhku berdusta. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian Sejak itu aku sering menemaninya. Ia bisa kehilangan pelanggan. dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan trotoar. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Di pojokan toko. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. Barangkali ia pun merasakan firasat itu. Aku tahu menyeringai tertawa. aku rebahan di tumpukan kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam.”Lihat. Mungkin tidak. yang kusaksikan membuatnya terpesona. Ia berteduh di kardus memandangi bayangan takdir paling getir. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip. aku bisa melihatnya. Seorang pelacur cantik duduk bersama perempuan tua buta. Kutegaskan padanya. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. ”Lihatlah. Tetapi para petugas sudah menabrak-nabrak dinding.

Dan inilah yang kusaksikan malam itu: Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Padahal bukan aku yang dusta. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. kemudian digantung sebagai tontonan. Kusaksikan senja yang tubuh itu terayun di tiang gantungan. tapi mereka. Di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkalan ojek. Di kantor. kalian pun bubar. memar. Dan selanjutnya seorang pelanggan yang tak membayarnya. bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari panjang. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding. Mereka selama ini kalian sahkan. seakan ingin saat itu hari Natal. Itu alasan yang cukup untuk kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh mengamuk. karena begitulah menurut undang-undang yang baru dicambuk dan dirajam. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang tengah patroli seperti biasa. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Siapa yang membawanya? Baiklah. Hujan rinai . Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu. Rupanya ia mabok berat. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Begitu nyata dalam penglihatanku. Melemparkannya ke mobil patroli. Karena bagaimanapun seluruh kota. Maka menghapus bayangan buruk. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Sebagian kalian tertunduk. Ia pembunuh yang telah memotongmenyeretnya ke tiang gantungan. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! Di pasar. Kalian mesti ke gereja. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Ada bercak darah di pisau itu. ketika Mawar menjerit. Wajah Mawar pucat. bibirnya bengkak kena pukul. kemudian bergiliran memperkosanya. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti. Kuceritakan apa yang kusaksikan. Di warung dan kafe. Pelacur dan pembunuh. Mereka menyumpal Begitulah kejadiannya. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit diraihnya. Mereka bilang mereka sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. burung gagak merah berkaokan. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. mulutnya. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil terkapar… binatang terluka. Setelah mayat itu digantung. kuceritakan apa yang telah kusaksikan. Ia mengamuk dengan buas. Di kasuk-kusuk. tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. dan angin yang muram berkesiur pelan membuat Keesokan harinya kalian gempar. Segala yang cabul mesti dimusnahkah. motong delapan korbannya. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Sampai sekarang pun kalian masih terus tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Sampai malam. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Orang-orang ramai membicarakan. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. melenyapkan maksiat dari kota.

malam mengelabu. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. memandangi tubuh Mawar yang sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita. Aku sendirian di alun-alun itu. tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. Yogyakarta. anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. seperti memanggil nama pelacur itu. keemasan yang cemerlang. Rambutnya ikal dan panjang. Matanya seperti bintang bening. seperti ada cahaya mengitari kepalanya. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air. aku Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah. Senyumnya seperti berjalan anggun.tergantung dalam bayangan cahaya murung. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang turun. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. Ia tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. Kudengar kalian Seperti pengantin membopong mempelainya. Kuceritakan ini pada kalian. 2008 . kemudian menurunkannya. Saat itulah. meski sesekali Kudengar ia berseru. Aku begitu terkesima menyaksikannya. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan. tapi kalian menuduhku pendusta. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu.

dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. esai. meski hanya sebagai ayah tirinya.Bengawan Solo Oleh : Danarto Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. Sehari-harinya saya berserakan di mana-mana. Ada yang sibuk Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. gadis kecil hitam manis tujuh tahun. karena berbagai alasan. saya hidup. Malam itu. Tapi. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah. kami. ember. pengemis. anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri. aman dan nyaman. Setiap minggu. Semalam. Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. dan tidur. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. rame makan. piring. tindih-menindih. penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon. panci. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. gelas. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak Kemudian satu-dua anak datang dan pergi. Ibunya. rame- gelandangan. Ada yang memijit. sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. mereka belajar apa saja. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa. dan bercocok tanam. Ada yang mau memanggil dokter. tidak penting untuk dipersoalkan. dan sedih. memang milik Pak Darkin. dan menyanyikan lagu yang itu. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan Sebagai tukang sapu pasar. saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak menulis. Nining. Nining merasa Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah. menyanyi. saya berkelahi melawan Pak sadarkan diri. Pada suatu malam. teko. Saya terjerembab tak mencarikan minuman panas. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul. sejak tahun 1997. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. pemulung. yang selalu membela putri kandungnya itu. anak baik-baik yang tidak betah di rumah lalu mengatur mereka dengan marah-marah. Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. Di dalam gerombolan kami itulah. juga cerpen. pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang sendok garpu. Kami menyambutnya dengan sukacita. beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu ditulisnya sendiri. lelah. apa pun yang terjadi. dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak. membaca. Untung. Sayup- . karena peristiwa itu. juga memasak. pengamen. Saya ditemani kompor minyak tanah.

”Kamu sembunyikan Nining di mana!” Saya tak bisa menjawab. Setiap habis gajian. Pedagang tak pernah kehabisan. ”Saya tidak tahu. tak ada sisa sama sekali. Rupanya saya dibawa ke terbangun. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. kaus oblong. sayur menyumbang sayur. Hari itu kami anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. bahkan digayuti utang di sejumlah warung. Saya diseretnya keluar. kami kami akan bersedih sepanjang masa. yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. Pedagang ikan menyumbang ikan. Ternyata tidak hanya beras. dan peralatan mandi. Pak . Tapi. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Nining tidak bersama kami. Saya heran. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung.” ”Sontoloyo!” Saya terbatuk-batuk. Sesampai di jalan raya. teh. tak seorang pun anak yang Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. bahagianya. Ia meradang. Bumbu-bumbu dapur rasanya Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur. saya bisa membantu mencarinya. Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. meriahnya. Anak- sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. ”Mau kamu saya bikin modar!” ”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining. Aduh. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya. kopi. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu. telor beberapa kilo. beberapa ekor daging ayam segar. Pedagang beras menyumbang beras. Saya digelandang terus. saya dinaikkan ke becak. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. gula. Tapi. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung.” ”Bohong!” ”Kalau memang Nining hilang. Aduh.” jawab saya. Sayang sekali. Bernapas saja sangat sulit.Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. juga minyak goreng beberapa botol. masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami.

Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo. bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini. membujur kaku bagai jenazah.” ”Wah. membanting dan membalut dengan kain kafan. merupakan sumbangan Kiai Kintir. itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu. semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu.” suara seorang gadis membisik. tidak mau diundang makan. Tidak bergaul. Beliau selalu bisa membahagiakan orang. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW menerus sepanjang hidup kalian. tidak menerima santri. Ternyata wajah beliau tidak . wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya. pernah sejumlah terekam.sebuah pekuburan yang gelap gulita. sedang untuk dirinya sendiri. Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. beliau tidak berniat sedikit pun. Maka mengiriminya duit. Pokoknya serba tidak. yang muncul hanya gelap gulita.” ”Sekarang beliau di mana?” ”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo. ”Dari mana kamu tahu saya di sini?” ”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari. ”Saya menunggu Bapak. Saya sadar. ”Saya Nining. Cerita lainnya adalah. ”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya. Saya tak bisa bergerak.” ”Mengapa kamu di sini?” sergah saya. semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara. tidak mau diwawancara. kalian akan menangis terus- Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. gawat!” Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. Itulah jalan spiritualnya.” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya. ketat sekali balutannya. tidak mengajar. Tiba-tiba: ”Pak Totok.

mengambang hanyut seperti mayat. begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikinbikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Tak terjadi gerimis. Tak ada seorang pun yang Kiai Kintir tenggelam. Sejauh mata memandang. Joyontakan . becak ditinggalkan pemiliknya. Tangerang. rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Tak terdengar geledek. Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang. cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri. Mobil. bisa-bisa Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Sesampai di jalan raya. andong. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai.Sejak dini hari. berucap. Satu-dua orang penonton motor. Tampak tubuh Kiai Kintir terseret ke tengah bengawan. Sampai fajar merekah. Solo Baru. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar. diam menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Semuanya diam. Semanggi. banjir sudah melahap seluruh kota Solo. hanyut dibawa arus. 17 Maret 2008 Banjir di Pasar Kliwon. ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian. Dari jauh.

Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Apa pun namanya saya tidak peduli. di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir. Tak pernah merasa tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidaktenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok bertatapan. Banyak orang yang begitu takut pada malam. Membuat jantung mereka berdegup Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. semakin gelap. Lembut mendayu-dayu. Tubuh kelihatan amat samar. Begitu dekat. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Apakah benar masih ada hari esok. suara-suara begitu jelas terdengar. Sepanjang mata memandang. Orang-orang menamakannya cinta buta. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. seperti suara-suara ponsel Di saat-saat seperti itu. kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. hidung terasa melekat.Gerhana Mata oleh: Jenar Mahesa Ayu Malam selalu memberi ketenangan. di kebutaan seperti itu. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. . Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Tak terdengar suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Seperti malam. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir. hanyalah kegelapan. SuaraTak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di akhirnya begitu terang terlihat. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan. Namun. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya. saya tak perlu meraba-raba. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. semakin semuanya Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Tak pernah ada yang berdering tak henti-hentinya. Pada gelap. Membuat mereka tak tenang. Dari penginapan. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia. Cinta pun membutakan. namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Seperti gelap. Mata saya mulai merapat. Pada sesuatu yang membuat mata lebih kencang. waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok.

mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Segala garis maupun dan bersatu. Antara lelah dan lelah. Dan dengan tubuh dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Suara yang semakin lama semakin serak. Saya masih kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya kala pagi dan malam yang tak asli. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang . Tak terkecuali pagi. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa dari saya. Bunyi ranjang berderak. walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak.suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting Kami hanya bertemu kala siang. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. saya bilang. atau malam? Karena buta. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Saya jatuh cinta. melainkan asli. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Tapi dengan satu konsekuensi. Walaupun kami hanya bertemu kala siang. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi saya inginkan. saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. adalah asli. SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Mata saya pun semakin buta. Mungkin malam akan membuat saya takut. Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Bertemu kala siang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang Banyak yang tambah mempertanyakan. Tak terkecuali malam. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu Banyak yang mempertanyakan. saya bilang. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Membuat saya kerap merasa terjepit. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan asli? Karena cinta. Kenapa harus menciptakan buta yang tak Terus terang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli. pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika. Antara pasrah dan pasrah. Semakin kabur. Kalimat di bungkus kondom “ASLI. saya akan bisa mengulanginya lagi. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli. selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali. datang dari diri saya sendiri. Dicengkeram gerhana. melihat matanya sedang menatap. bukan kala pagi atau malam hari. atau Jantung keras berdetak. Membuat saya Saya tahu.

Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Mungkin… pagi dan malam. Tak menunggu kala atau malam. Sejak kemarin. Bukan kala pagi Enam tahun sudah waktu bergulir. Tak bertemu hanya kala siang. 2 Oktober 2006 11:06 AM cincin dengan namanya terukir. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya.mempersatukan tubuh kami jadi menciut. Jakarta. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. di jari manis kanan saya telah melingkar Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir. Mungkin… dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. karena cinta telah membutakan kami berdua. Diganti dengan jawaban. .

Sesungguhnya. kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya. Tantiana. Setelah itu. Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. adik bungsunya sambil menangis mengatakan. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!” Nana mengembuskan nafasnya. positif hamil. tahun). kalian berdua kan dokter. Rizal kan cuma teman. saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. Mereka mencari sebuah restoran. “Tante dan Om-mu. sekarang ada di rumah sakit.” Nana mengatupkan bibirnya. Jadi. setiap keputusan hanya ada pada saya. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. “Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?” “Ma. Adiknya berkata. dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!” berkata kepada adik almarhum suaminya. Nana menganggap mingguminggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau. waktu ke toko buku. Dara. dia baru berusia 17 tahun. Nana melihat Dara. “Datanglah bersama Dara. Dua minggu yang lampau anak bungsunya.” Nana merasa terkunci. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Aku bosan . “Dik.Delayed Ratna Indraswari Ibrahim Sebagai seorang perempuan. “Ma. memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil. Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya. lebih baik kita naik kereta saja. Padahal. Seperti dua “Ma. adik bungsunya menelepon HP-nya. Sebelum terjawab.” Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. saya sepertinya sudah dapat firasat. menikah! Mendahului anak sulungnya. “Mbak. saya membeli buku nama-nama calon bayi. Tantiana menangis terus. anaknya. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater. mudah-mudahan volume pekerjaan Kedua perempuan ini bersitatap.” sampeyan kok belum datang. Beberapa hari yang lampau.” Nana terenyak. Aditya (25 tahun ke-30. jam berapa datangnya? Dari tadi. sekalipun berprofesi dokter. Nana menunggu!” meneruskan omongannya. “Kalau tahu begini. Alvin. yang minggu kemarin merayakan ulang Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya sahabat.

kemudian mulai pacaran. Yang terjadi di luar mimpi kami. Nana pada usianya ini tidur lebih cepat. mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dua tahun darimu. Tapi. “Ma. “Ma. Nana seharusnya berkata begini. sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. sejak lulus SMA. banyak temanmu yang sudah bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. Sekalipun. Sekalipun Nana merasa. Padahal. Apalagi.” Mereka saling melihat. Kendati mereka masih tinggal serumah. dia menyukaimu. “Waktu kau beranjak remaja.” Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini. sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu. saya perempuan yang berat jodoh. Tapi. kau menikah. memegang tangan mamanya. barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. Aku dan ayahmu pernah adikmu yang menikah pada usia itu!” dengan siapa yang kau suka. apa pun pendapat masyarakat. Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis. tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia . Pastinya mereka menganggap “Maaf. beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi. tapi kemudian Nana berpikir. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya.” “Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. aku kepingin jujur kepadamu. Kami tidak merisaukan hal itu. dia lebih muda membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun.” Dara. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). Teman-temanmu di Fakultas Dara memutuskan lamunannya. Didit tidak meneruskan sekolahnya. dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. kau lagi ingin serius dan sendiri saja. Kedokteran juga serius. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan.Dara tersenyum. jarang bisa ngobrol. saya tidak bisa janjikan itu.” sedih sekali. saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita “Dara. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai. kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. aku dan ayahmu sudah sering kami heran juga.” Apalagi. “Setelah Aditya menikah. aku diliputi perasaan gelisah. Siapa pun tahu. kau tidak peduli pada mereka. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini. Padahal. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. Padahal. berapa pun umur Dara. kata kuncinya cuma satu. Sesungguhnya. Mulai sejak itu.

untuk menguatkan satu dengan lainnya. tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat. mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri.” “Ma. pada persekian menit. Semuanya memang harus diselesaikan. terapi ini tidak berkelanjutan. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. ketika mencoba bercinta dengan Rizal. . “Dara. aku sudah siap untuk semua yang terburuk. Sebagai seorang dokter. Dia merasa jijik! Namun. seperti semua dokter. Rizal. dia merasa tidak lebih seperti boneka seks. Nana memegang tangan anak perempuannya.” Dara merasa tak berdaya. dilakukan oleh mamanya adalah berempati. bukan bersimpati.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum.” “Mama kan tahu.” “Dik panggillah dokter. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama. “Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh. dia tak berhasil. Tapi setelah dewasa. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit. memang yang harus Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini. mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali. saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali. dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. Dara tidak mau terapi ini Sesungguhnya. akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. Pastinya. sekadar dokter dengan pasien. Padahal. dibicarakan oleh mereka berdua. “Sebagai seorang dokter. harus berempati saja. sekalipun mamanya juga dokter. banyak hal yang dipikirkan. kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi. Sekalipun.” Dara berbicara lagi. Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara. “Ma. hubungan Rizal dan Dara bukan jatuh pada erotisme saja. Jadi. saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya. tapi dua orang yang sangat dekat. Lantas. ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. Sehingga Rizal berkata. Itu yang sering diucapkan Kali ini mama yang memotong pikirannya. Karena. adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini. Tapi. kalau sudah begini. pesawatku delayed. karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat. Sampai hari ini. “Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit. kalau kau mau cerita.” Kemudian ada dering telepon lagi.baru saja berusia 13 tahun.

cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!” Malang. “Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu.“Sayang. kapan menjadi dokter Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal. biarlah jadi anaknya Mbak Dara. Jadi. butuh proses yang panjang. Setelah anakmu lahir. Sedangkan anakmu. Bahasa simbol itu artinya. saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. Aku yakin kau bisa memahami itu. Percayalah. Tidak ada air mata. Nana memeluk Dara. “Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. Kalau tidak. Nana. Rizal tersenyum dan memeluknya. Tantiana sedikit tenang. kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. belahan hati suami dan istri. Bantulah aku!” Rizal dan Dara bersitatap. Dara merayakan bersama anak temansiapa ya yang mau jadi bapaknya?” temannya.” Tantiana menangis. aku kepingin anakku ini punya dua adik. Beberapa bulan kemudian. Kami tidak menganggap itu dosa yang Dan. dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah.” kesakitan. ketika anak Tantiana berusia satu tahun. tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu. Di luar dugaan. ketika Nana berkata. Yaitu garwo (sigare nyawa). tiga darimu dan dua dari Aditya. jadi di mataku kau tetap seorang Kali ini. Karena untuk kesembuhan ini. Teman-teman anaknya berteriak-teriak. “Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?” “Zal. dihadiri Rizal dan mamanya. tidak bisa diperbaiki. “Aku akan menjadi nenek dari lima cucu. dan melebar di ruangan ini. aku sudah mencurigai hal itu sejak gadis… Nduk. apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?” lama. bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. “Zal. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana. 10 Juni 2008 . aku tak akan pernah bertanya lagi. senyum ada di antara Dara. Rizal. lahir anak Tantiana. Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. aku memaknainya lebih jauh. “Dik. Ketika memasuki ruangan ini. Lantas Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain. jadi kita bisa membagi.” Lantas. yang ada cuma luka dan dan pasien dan kapan menjadi suami-istri. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya.

Trotoar menjepit kiri kanan jalan. meski sama-sama biru. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu. diganti genting Jatiwangi. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. pegunungan ikut merona. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Saat itu seisi rumah ketakutan. Paling seminggu sekali. Tapi semua orang tahu. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan tepatnya. setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Sungai itu selalu mengalun perlahan. jalan raya Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi. “caah caah caah!” September. semua berisik dan bocor kala hujan. berkerlip menyilaukan. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Hujan malas berkunjung. Pagar tak lagi pohon teh-tehan. menggerus apa saja. sungai itu juga bisa mendidih. Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Ada fotonya. Warnanya lebih tua dari langit. meski warnanya juga hijau. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Sangat pagi. Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. Lantai semen sudah ditambal keramik. raut pinggul gadis-gadis menari. Saat matahari menggeliat. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. sungai-sungai keperakan. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Waktu membuka pintu. langit kadang biru. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Dulu. Rumah tak lagi setengah bilik. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Bertahun-tahun selalu begitu. Sudah seminggu tak mampu bangun.Siit Uncuwing Rieke Diah Pitaloka Setiap pagi. Itu bisa terjadi meski di siang terik. Kalau sudah begitu orangorang di tepi sungai. burung berkicau di pucuk daun kersen. sungai itu. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri jembatan yang sama. Dahan dan batangnya dari besi tempa. kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. kabut berebut kecup pipi mereka. tempa. Di bawah. Pada bulan yang sama. Tak ada lagi berita dari Nining. Embun basahi sepatu sekolah. Tak ada yang beda. bila langit sedang bahagia. rumah. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki. air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di diganti tembok. lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. Satu dua Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. kadang kelabu. apalagi waktu seekor uncuwing. Ada jembatan di atasnya. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. orang-orang di atas jembatan akan berteriak. Orang-orang menyebutnya siit . Cat tak lagi kusam. Seng yang dulu Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. tiap tahun. dua setengah kilometer dari kunang-kunang masih bermain di sela langkah. halaman depan.

Lompat dari satu dahan ke dahan lain. Sieuh. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. cepat sehat. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Siit uncuwing pembawa kabar duka. . Tapi tangis ledakkan rumah. Sebab siit uncuwing pergi Enin dan Ambu berhari-hari. bahkan hingga tahlil seribu hari. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. tapi karena sakit. walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu.” Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!” Tetap saja burung itu tak mau pergi. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin.Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. Lepas magrib sambil membawa abah. Entah kebetulan atau bukan. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing. “Sieuh. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. Nining! Bantu Enin. pergi!” Kali ini Enin melempari dengan kerikil. begitu kepercayaan Enin. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. Enin peluk buah hatinya dengan haru. Tak menapak di mana pun. “Arum. tapi tak diobati. sieuh. pergi sana. Ia terbang menuju lembayung. burung itu menjauh dengan senyap. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya. “Komar. terutama Nining. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu. Tak diobati karena mereka tak punya Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. Malah tampak riang. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Komar. Menjerit memanggil kematian. uang. Ia hanya katakan pada Arum. esoknya Abah mulai bisa duduk. Sakit. Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. sieuh. tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. “Belum waktunya anakku kau jemput. Tapi. panik. halig siah. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya.

“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.” Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. “Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”

“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”

Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah ongkos ke Bandung. peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus

Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga rumah.

bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping

“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?” “Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.” Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.

Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman tak ada kabar berita darinya. Awal Mei.

uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan

Ambu.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan

“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa Doakan teteh supaya bisa pulang.” munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga.

sampai Arum hafal isinya.

Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang,

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!” hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar,

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!” Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. “Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan. “Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!” Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit

uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil

Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. Arum mengendap. Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”

Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”

Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi

Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. “Hayu pulang, geulis.” Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.

“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.

Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong. Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. Di surau-surau takbir pertama berkumandang… Depok, 160907

Rieke Diah Pitaloka ( 21 Oktober 2007)

Saras. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria. meja itu.Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma cangkir teh. kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak.’ katanya!” Berharap dan menunggu. dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu.” katanya. Bapak suka sinis sama Ibu Saleha. . jendela. wajah. Saras. seperti Saras itu punya dua ibu. Dulu almarhum tidak bisa terus menerus menunggu Satria. Ibu terdiam. televisi. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…” Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi. Ia menggigit bibir. Berharap dan menunggu. Seperti ini juga keadaannya. ruang dan waktu yang seperti ini. Lantas melihat ke sekeliling. lukisan itu. Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. ”Bapak… Kursi itu. kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa punya… salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat. buku. nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah. sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. Ibu Saleha. Ibu. saya tidak bisa’. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran ”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini. Ketika disambarnya pula. berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis. ”Hmmh.’ kata Bapak. ’Saya selalu teringat Satria. deringnya sudah berhenti. Ibu bergumam. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat sama siapapun. Diangkatnya ke telinga. masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Telepon berdering. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu. telepon. bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. ruangan ini. apa jadinya kalau harapan saja kita tidak ”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku. dan kami masih seperti orang menunggu. perabotan. Pintu. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali. dan duduk lagi di situ. ’tapi cinta adalah soal kata hati. karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya simpati. Rambut. melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. membantu aku membereskan kamar Satria. karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan. memang rasanya ia seperti anakku juga.’ kataku. ’Satria sudah mati.

’Kami tahu siapa saja keluarga ”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita. bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati. dan akhirnya dibunuh. ”Pak.” Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali. ”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua.” Dipandangnya kursi Bapak lagi.” Ibu memandang ke arah kursi Bapak. ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas foto di atas meja. Lantas orang-orang itu berkata. Jiwa terasa memberat. kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan. Saudara. Foto orangtuanya. juga terkenang-kenang kalian berdua. suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. padahal aku selalu makan sendirian saja. Pak. Bapak sudah mati. tetapi kalau terbangun. Aku terima Satria sudah mati sekarang.’ Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik. tutup matanya dibuka. orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto- foto saudara-saudaranya. sekarang untuk kalian berdua. ruangan itu bagaikan mendadak sunyi. Nanti dulu. kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi. kenangan. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau Sejenak Ibu terdiam. Impian. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh boleh kita terima begitu saja?” bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua Saat Ibu menghela nafas. Munir juga sudah mati. aku masih mati. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. dianiaya. Menerima? Menerima? Baik. Di hadapannya.”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria.’ katamu. setiap waktu makan lagi di muka bumi ini. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. tapi tubuh serasa melayang-layang…” Lantas nada ucapannya berubah sama sekali. menata gelas dan piring. ”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. ”Bapak sendiri yang bilang. hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar. Satria sudah mati. tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam berpikiran seperti itu?” tiba. ”Sudah sepuluh tahun. dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah . seperti Ibu berada di dunia yang lain. Bapak.

Mencoba menjawab sendiri. Lantas bertanya-tanya lagi. Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?” Hanya Ibu sendiri di ruangan itu. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang. Hanya bertanya jawab dengan Bapak. berkobar menantikan saat membakar dunia…” terdalam. meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab. bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?” . dan aku masih tidak tahu apa-apa. o palung-palung luka setiap jiwa. tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana Ya. jauh. jauh. karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana. bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah. memegang kepalanya. berbisik tertahan. menyatu dengan jiwa terluka. mengembara dalam kekelaman semesta. ”Bapak… aku yakin dia ada di sana. begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!” tentu sudah tidak ada. ”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu bertanya-tanya. Bapak. apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?” Namun Ibu segera menoleh ke arah lain. ”Tapi…. ke langit. ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu. tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya.”…. jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu. jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? diajaknya bicara. ”Menculik anak orang dan membunuhnya. menutupi wajahnya. Dulu aku bisa kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup. palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya Ibu mendadak berhenti bicara. seperti palung terpanjang dan membara. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya. tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. tempat seolah-olah ada seseorang ”Pak. bahwa Satria dan bahagia hanya dengan akalnya. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang perasaanku bisa membuatku yakin. ”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!” Namun ia segera melepaskan tangannya. Sekarang aku bertanya jawab sendiri….” Nada bicaranya menjadi dingin. ”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu. membara dan menyala-nyala. luka sayatan yang panjang dan dalam. meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri.

tukang bakmi langganan Satria. Ada saja yang dia omongin itu. kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. Duduk di . tapi tidak memanggilnya. kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini. dan hanya didengarnya sendiri. pakai kaos oblong dan sarung. atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’. mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun… menyusul Bapak. Tidak jelas jam berapa. Susah rasanya mengingat-ingat Ibu tersenyum geli sendiri. banyak juga yang tidak pernah berubah. ’Seperti apa Satria kalau masih amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata. di kursi itu. datang menengok cuma hari Lebaran. Ibu tampak mengenali. Dasar Bapak. bagaimana dia diperlakukan. ”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. Ibu masih berbicara sendiri. kursi itu seperti biasanya. membaca koran. ”Bapak. banyak yang sudah berubah. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal. tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. Muncul dong sekali-sekali Bapak. sembunyi-sembunyi pula!’ hidup sekarang?’. tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. Di luar rumah. Tapi selalu ada. dan apa sebenarnya yang telah terjadi. ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. ”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. Tidak pernah ketemu lagi memang. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak disediakan Si Mbok. orang. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari apapun. sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu ”Sudah sepuluh tahun. kadang aku seperti melihatnya di sana. memberi komentar tentang situasi negeri. sampai setahun lamanya. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham. ”Bagiku Satria masih selalu ada.’ kataku. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…” ”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. luar negeri. malam entah karena apa. lantas ngomong tentang dunia. atau kadang-kadang keluar Wajah Ibu kini tampak sendu sekali.Terdengar dentang jam tua. satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan. malah seperti lupa. makan pisang goreng yang televisi. ’Ya enggaklah kalau ngibul. menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan ”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria. menyeruput teh panas. ”Bapak.” lewat. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi. menonton itu. Lupa ini-itu. Ia selalu bertanya.

”Ini suatu aib. ”Eh.” gumamnya. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum. ”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu. ”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu. Telepon genggam Ibu berdering. tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. bahkan juga dalam mimpi-mimpiku.” Ibu masih berbicara. Ibu seperti tersadar dari mimpi.”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak. Tapi rupanya bukan. seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk. ”Ya. Ibu beranjak mengambil telepon genggam. ”Kursi itu tetap kosong. suatu kejahatan. ”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden! . ”Ceritakanlah semua rahasia…. tanpa senyum. ”Pasti ibunya Saras lagi. kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan. Hanya lewat. yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar…. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya? ”Rahasia sejarah. ”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria. malah Si Saras. hallo… “ Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras. Rahasia kehidupan.” Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga. telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut.

“Hayati! Mau ke mana?” olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu. membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali Seno Gumira Ajidarma yang biasa memikul air sejak subuh. melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. Ia meletakkannya begitu saja di Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai. Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut.Cinta di Atas Perahu Cadik Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Hayati pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. bagaimana olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki. yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan terjadi. sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar lidah ombak kembali surut ke laut. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. Tentu. seolahsamping gubuknya. tiba-tiba terdengar derum suara mesin. gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu. sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Para nelayan memang hanya tahu perahu. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu. lantas melangkah ringan Hayati. sekaligus bagaikan terlapis karet atau batu karang yang tajam tiada berperi. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali. seolahbahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Hayati berlari begitu cepat. “Sukab! Tunggu aku!” plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu- Di pantai. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut. lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab. “Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu. sejak bertahun. mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu? Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang. perahu tetap teronggok sejak semalam. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat. .

“Hayati dan Sukab saling mencintai. Kulihat mereka tertawatawa. perahu Sukab belum juga kelihatan. mesinnya sudah mati. kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. “Cabut badik? Heheheh. Jawaban mereka bermacam-macam. . kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab. sangat kencang. dan memang selalu kencang di pantai itu. “Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang.” “Oh. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya.Perahu Sukab melaju ke tengah laut. tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya. ya. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!” Angin bertiup kencang. masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk. jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin. burung-burung camar menghilang. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk. “Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!” Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain. Mak?” Nenek tua itu menoleh dengan kesal. nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain. dan perahu- Menjelang tengah malam.” Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan. perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu. menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. bukannya mengamuk malah merestui!” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.” “Perahu Sukab menyalipku. “Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!” Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali. Pada akhir hari setelah senja menggelap. “Ke mana Hayati. aku juga sudah bicara kepadanya. kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia. “Ya.” Nenek itu memaki. tetapi membentuk suatu rangkaian.

Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu. Alas kaki yang serba buruk. Dipan yang buruk. Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa. berikut pancing dan bubu. dan di dahinya tertempel Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?” “Ya. berkeringat. Wajahnya pucat. meja buruk. “Mana Bapakmu?” Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut. bergemeletuk seperti sebuah mesin. ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu. “Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?” Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh. “Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!” Ia menuju gubuk Sukab. tentu saja tidak ada sepatu. hanya sandal jepit yang jebol. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. bukannya tambah penumpang.“Aku lihat perahunya. kursi buruk. tapi mungkin ada juga yang lain. ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas. dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat. tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka. pakaian yang buruk tergantung di sanasini. “Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!” Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. nenek tua itu menggerundal sendirian. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini. tetapi orangnya malah berkurang?” Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang. di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh. mulutnya sebuah koyo. dan jala di dinding kayu. lemari kayu yang buruk. Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya. Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala. tetapi tampaknya sudah mati. Ada juga pesawat televisi. . tetapi tidak seorang pun di atasnya. lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit. Sebuah foto pasangan bintang film India. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria. di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria.

dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali. Hal itu selalu mungkin negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka. bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala. “Aku memang hanya orang kampung. Hari pertama. langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali. seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi. matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi. karena memang sering terjadi. kedua. tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan dan jika dia bahagia bersama Hayati. atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali. orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat— Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan katakata seperti itu. Waleh?” “Tentang mereka…” Nenek itu mendengus. perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita. begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai. dan sangat mungkin. maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. Nenek tua itu terdiam. Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara. agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan. kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji. melalui perceraian.” kata seseorang. tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?” tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku Waleh yang menggigil hanya memandangnya. “Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!” dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan Mendengar ucapan itu. .” yang mengumbar amarah menggebu-gebu. mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah “Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan. “Ya. Ibu.“Aku sudah tahu…” “Apa yang kamu sudah tahu.

tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali. mereka seperti masih Namun setelah hari keempat. pada hari ketujuh. menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. Hayati. Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir kecilnya. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini. kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu. sejak dulu ia selalu berlayar sendiri. tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana.” Segalanya mungkin terjadi. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta…” Namun pada suatu malam. Keduanya mengerti. Di pantai. setelah bahan bakar untuk mesinnya habis. Sukab tampak lemas di atas perahu. Desember 2006/ Merauke. cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar menyengat sekali. tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami. Kulit terbakar. mungkin bukan mati. “Kukira mereka tidak akan kembali.” mana mau ia mencari ikan bersama kita.” sahut yang lain.“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini. Kadang-kadang pula berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. di tengah angin yang selalu ribut terlihat pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar yang lebih besar dari perahu mereka. yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya perahu Sukab mendarat juga. Keduanya terdiam saling memandang. banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka. betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini. “apalagi jika di perahunya ada “Apakah mereka bercinta di atas perahu?” “Saat kulihat tentu tidak. sekali—tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api Namun keduanya juga mengerti. April 2007 . Sabang. pakaian basah kuyup. dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning cinta yang membara. yang dengan ini tak bisa dihindari lagi. Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali.

kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang. Dari jendela loteng. gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami. atau bahkan di depan. rumah gedung bertingkat.Gerobak Seno Gumira Ajidarma Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung “Kakek. mereka selalu datang selama bulan puasa. seusiaku. mereka menginap di kaki lima. dan nanti menghilang setelah Lebaran. Apabila tanah lapang sudah penuh. dengan seorang bapak Karena tidak pernah betul-betul mengamati. dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut. tetapi Kakek tentu saja melarangku. ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. menggelar tikar. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumahkakekku. kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. perusahaannya pun banyak sekali. seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini.” kata Kakek. biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil.” . Aku tidak bertanya lebih lanjut. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota. Di samping menjadi pejabat tinggi. “kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita. Dari balik dinding gerobak gerobak sampah lainnya. dan tidur-tiduran dengan santai.” “Negeri Kemiskinan?” “Ya. siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?” Kakek menjawab sambil menghela napas. karena kakekku adalah orang yang sibuk. mereka datang untuk mengemis.” “Oh. bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan. aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas. anak-anak itu “Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu. Semuanya ia tangani sendiri. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung. memasang tenda plastik. Anak-anak kecil itu tampaknya pekerjaannya hanya bermain-main saja.

bahkan mobil pagar. “Hati-hati terhadap orang miskin. menyebutkan kata-kata semacam. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar- harus tahu. Di karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak- mana tempatnya. dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. tetapi tak bisa kuketahui apa yang Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar.” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng sudah tidak jelas warnanya lagi. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka .rumah orang untuk mengemis. sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. memang selalu kulihat mata yang menatap. tidur-tiduran menatap langit dengan santai. Apa yang akan kamu pikir yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela. tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa. Memang mereka tidak pernah puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati. gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami. Benarkah. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya jajar di depan rumah. pula. dalam kerumunan nyamuk warna-warni waktu berbuka puasa?” Aku tertegun. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol dikatakan mata itu. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. dan di tepi jalan keluarga gerobak yang Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu sendiri. gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Jadi kapan mereka mengemis? Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit pemandangan. seperti kata Kakek. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. depan rumah. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka.” atau “Orang miskin itu jahat. Kakek tidak pernah menjelaskan. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya.“Apa yang mereka pikirkan Kek?” “Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan tepinya.

itu banyak yang pulang kampung. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung. atau ditinggal dan dikunci begitu saja. seperti hadir begitu saja di dalam kota.” Para tetangga tidak membantah. dan berenang di selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya? kolam renang mereka.” “Tapi kali ini banyak sekali. pasti tidak lewat jalan tol. mereka seperti mengalir tidak ada habisnya. “Tenang saja. merayapi tembok.” kata Kakek. makan di meja makan mereka. >diaC< Pada hari Lebaran. tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran. dan mewah dari luar pagar tembok. mendapat omelan panjang dan pendek. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat.” “Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?” . Mereka juga berharap begitu. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel. kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. dan hidup di dalam rumah. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung. bahkan sebagian telah pula masuk. entah dari mana. padahal hari Lebaran sudah berlalu. melompati pagar. orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut. “sehabis Lebaran mereka akan menghilang. karena tentu mendahulukan Kakek.” kataku kepada Kakek. pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana. kokoh.” “Ya. gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran. kuat. penghuni rumahrumah gedung satpam. “Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang. pulang ke Negeri Kemiskinan. Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang “Mereka masih di sini Kek. Lagi-lagi Kakek menghela napas. tidur di tempat tidur mereka. meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah. dititipkan kepada tetangga. biasanya kan begitu. Gerobakkuat yang melangkah keliling kota.rumah gedung itu.mengantar kolak untuk berbuka puasa. tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali. dihela seorang lelaki dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. kali ini kota kami penuh sesak gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil. Pada hari Lebaran. mandi di kamar mandi mereka. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba. asri.

Barangkali saja untuk selama-lamanya.“Ya. gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi? Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini. muncul di berbagai sudut kota entah dari mana. memasuki rumah-rumah gedung . setelah hari Lebaran berlalu. dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai. “kita harus dengan apa yang sudah mereka miliki. Heran.” sahut Nenek. tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh. tinggal di sana entah sampai kapan. Baru kusadari betapa manusia-manusia seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur. Apakah gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. Minggu.” menerima segala akibat perbuatan kita. melompati pagar. Rupa-rupanya seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak.” katanya kepada Nenek. gerobakbanyak. Seperti mereka betul-betul hanyalah Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi. bahkan merayapi tembok. sehingga kadang-kadang mereka tampak patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana. Sebaliknya semakin lama semakin maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu. tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang. menduduki setiap tanah yang bertingkat. “Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti. “apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?” “Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur. 7 Oktober 2006 kosong.” Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. kenapa manusia tidak pernah cukup puas Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. Pondok Aren.

Cintaku Jauh di Komodo Seno Gumira Ajidarma Hanya laut. ataukah cinta kami ini hanya cinta begitu-begitu saja yang terlalu mudah . Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. tetap menggelisahkan. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia. tetap bertahan. kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. nah. berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo. bahkan kami pun bisa bingung sendiri. dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. lantas saling mencintai. lengket bagai benalu. karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan. menjadi pasangan baru. barangkali menunggu kami mati dan bisa berkelebat seenak udel kami. dan sebagai manusia kami tidak menempel seperti ketan. tetap misterius. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati. kemudian berbeda kelas sosial. tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir. berbeda agama pula-betapa beratnya usaha kami menyatukan diri. begitu juga bayang-bayang kami yang selalu mengikuti. Kami memang diciptakan dari sepasang tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak bayang-bayang. Hanya kekosongan. namun kami udelnya. tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami. dari suatu masa ketika cinta pertama kali memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati. dan bukan takdir itu sendiri. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam. Memang kembali. dan tetap terus-menerus diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada. dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir. karena kami memang tidak terpisahkan. meski perahuku tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar. terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya. menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali. Aku mengatakannya semacam takdir. jika cinta ini belum juga ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak. Walaupun kami terbukti Demikianlah cinta kami selalu diuji. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi. Bagaimana cinta akan melaju menembus angin yang bergaram. Apabila kami berbeda kulit. karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti. tetap membara. cinta yang abadi adalah sesuatu yang tetap penuh pesona.

sehingga lahir kembali sebagai komodo? Apakah ia masih akan mengenaliku dengan pancaindra dan otaknya sebagai seekor komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya. Apakah aku akan bisa bertemu dengan kekasihku kali ini? Tanda- kekasihku menimbulkan masalah besar. yakni cinta yang dahsyat itu. kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati.begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami: bisa berwujud harta kekayaan. meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa. tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad. Karena kami selalu berperilaku baik. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. kukira. juga dihuni komodo. sehingga kekasihku dengan kelaparannya yang amat sangat telah menerkam dan maka kekasihku tidak dibunuh. Atas nama cinta. begitulah. kami selalu lahir kembali sebagai manusia-kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku. kami akan saling mengenali. sebagai manusia biasa. Cinta yang sejati. kekasihku dianggap sebagai komodo menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo-dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya. Akibatnya. di tempat yang baru itu. Sering kali ini sangat membingungkan-tetapi selalu bisa kami atasi. yang sekarang berada di Pulau Komodo. maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku. dan aku tidak mengetahuinya. Pasti Supermie tidak akan pula kekasihku? dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai mengenyangkannya. Sebagai seekor komodo. bisa berupa kursi kekuasaan. bersentuhan sama sekali. Cinta diuji oleh cinta. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo. meski terkadang penuh dengan lukaluka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani. tidakkah cinta itu tiada memandang wujud. melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. apakah yang masih bisa kulakukan untukmu . Namun. Hanya kekosongan. hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama kecuali menggetarkan dan mendebarkan hati. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi. kekasihku berenang dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. Karena undang-undang melindungi komodo. Laut dan langit bagai bertaut. Kesetiaan kami masing-masing telah hebohnya. masihbisa mencintaikekasihku. Hmm. Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain. kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo. bagaimanakah caranya ia akan mengenalikuseekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. jikakekasihku itutelah menjadi komodo? Hanya laut. tapi mereka sebetulnya tidak tanda alam memberi isyarat kepadaku. dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa membuat kami selalu bertemu kembali. Tetapi.

terdapat pula di Pulau Rinca. tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini. dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sempat dihitung. Karena aku turun di kampung Komodo dan bukan di Loh Liang. Aku terpeleset dari tebing. 2. hal 75. tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan. Kalau aku tidak keliru.650 ekor (1994). dengan jumlah sekitar 1. Cintaku Jauh di Pulau (1946). Labuan Bajo. aku menjelajahi pulau itu siang malam tanpa pengawal.hatiku terasa kosong. langsung patah beberapa bagian. Reptil bernama resmi Varanus komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram. seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti aku kosong. Apakah yang masih bisa kukenal pandangan mata yang penuh dengan cinta. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu- apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kurasa hanya kurasakan kegelapan-dan perasaan menyatu. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan. aku menjadi ragu. Sudah jelas ia tampak kelaparan. sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu. dan meluncur masuk ke kubangan. Ingatan terbalik atas sajak Afterthought : cintakah kau padanya / cintakah kau padanya dalam Toeti Heraty. apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada. kurator Museum Zoologi Bogor. East of Bali: from . aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo.000 ekor. tepat di hadapan mulutnya yang menganga. sebanyak 1. ataukah hanya seolaholah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabui para peminatnya? Mungkin cinta aku sangat mencintainya. dan “Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs” dalam Kal Muller. Di dalam tubuh itu 1. Bersenjatakan tongkat bercabang. Baca Linda Hoffman. Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat ia dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. dan mencintai kekasihku…. kaki kiriku sudah masuk ke mulutnya. Semuanya sudah terlambat. Ternyata. dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo. akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. hal 111-114. Sisa makhluk purbakala itu baru ditemukan secara resmi pada 1911 oleh tentara Hindia Belanda dan diberi nama pada 1912 oleh PA Ouwens. Ketika akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu. dan kukira ia tidak mengenaliku lagi-apakah ternyata mengenal wujud-meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo. Nostalgi=Transendensi (1995). Juli 2003 * Judul ini mengacu kepada judul sajak Chairil Anwar. “Introduction” Lombok to Timor (1997).

hal 111-2. dalam Muller. ibid. Pulau Komodo: Tanah.. dan Bahasanya (1987). hal 112 tahun. yang dialami seorang bocah lelaki pada 1987.. 4. pada 1972. Mereka menyebut komodo sebagai ora. Muller. Lebih Ikram. mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. op. satu-satunya kampung di pulau itu. Rakyat. namun terjadinya di Pulau Rinca. kaki tiga untuk kamera. Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian. cit.3. Pulau Komodo-yang tertinggal hanyalah tripod- . yang lenyap di Poreng. Kampung Komodo. wisatawan asal Swiss berusia 84 nya. terjemahan A 5. jauh baca JAJ Verheijen. yang bersebelahan dengan Pulau Komodo. Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg. terdiri atas 400 KK (2003).

Berkilat-kilat kena cahaya lampu yang mulai dinyalakan. Suaranya lirih. Suaranya datar. Mi Jaragual (My Little Farm). Sebuah tongkat kayu dari pohon ek berada di tangannya. Seperti ada beban yang menindih.” kata si wanita beberapa saat kemudian. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional Farmer’s Song). untuk kita. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. Elena?” “Bien. “Una hija. “Belum.” Tersenyum. Muy bonita. Ada nada pedih. “Ya. Julia. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk mereka.” “Untuk kita. El Cantar de un Campesino (A kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya dan kebetulan menoleh ke arahnya.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan sekulum senyum.” Seorang pria duduk di sebelahnya. barat sana. Kau bisa memberinya beberapa pesetas dan meminta mereka menyanyikannya untukmu. Kepalanya botak. “Si bungsu.” . Pedro. Kesegaran menjalari seluruh tubuhnya. “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” si pria bertanya. “Siapa orangtuanya?” ia bertanya.Cinta Elena & Pedro Aba Marjani Wanita tua itu duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas. Bara cinta meletup di dadanya. Pedro. “Aku baru saja mendapatkan cucu ketiga. meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah. Si pria menoleh. Sesekali ia mengangguk atau melemparkan sesungging senyum Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya.” katanya. hoy. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. Matanya menatap ke pengamen obor api yang memasukkan dan mengeluarkan obor berapi di mulutnya. Sesaat ia diam. Ada juga yang membeli kaset hand made-nya seharga 10 pesetas. Semilir angin menggeraikan rambutnya yang keemasan. Muy bien. “Como estas.” Si wanita tersenyum. Ia setua si wanita. “Aku selalu menyukai lagu itu. Si wanita mencium aroma wewangian dari tubuh si pria. tangan si wanita memegang tangan si pria.

Di wajahnya berdebar. “Bagaimana kabar Raul? Apakah ia bahagia dengan Bettina?” si pria bertanya. Ia menyembunyikan sukacita di hatinya. “Kalau ia menuruti kata-kataku.Si pria menarik napas. Di dada mereka bunga-bunga cinta membalut. Itu yang membuatnya berhenti sebagai torero. Api cintanya membara. Tangannya masih dalam genggaman tangan si wanita. “Aku sebenarnya menginginkan ia menjadi pemain sepak bola. Begitulah selalu di Spanyol. Pedro.” Malam terus merayap. meskipun itu Si pria melirik si wanita. matahari seolah enggan buru-buru berhenti menyinari Bumi. Tanpa berkata. “Kau ingin aku mengatakan apa? Aku turut bahagia dengan segala anugerah yang kau terima? Begitukah?” “Setidaknya kau bisa berkomentar apa saja. Demi aku. Aku tak ingin ia berada di Nou Camp. sama seperti El Barca yang dua tahun sebelumnya . Dalam sekali pandang.” kebanggaanku meski aku orang Basque. bertaut. Dalam benaknya.0<>w 6024m<1)>jmp 0m<>h 8000m. Aku cuma Si wanita tersenyum. Kau bisa pura-pura bahagia. Seorang pria tinggi besar yang hampir saja tewas karena serudukan banteng di gelanggang matador di La adalah cita-citanya sejak kecil. Tangannya masih juga memegang tangan si pria.” katanya dengan sunggingan senyum tertahan. Ia masih tampan seperti dulu. Begitu juga Elena. Ia ingin sekali menjadi seperti Pedro Romero. “Kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi. El Merengues selalu jadi tim ingin ia berada di Santiago Bernabeu. Matahari sebentar lagi akan lenyap ditelan Bumi. Ia menunggu jawaban si wanita dengan dada “Raul sering kali menanyakanmu. Stadion kebanggaan pendukung El Barca itu terlalu banyak 6024m. Monumental de Barcelona. Akan ada dua Raul di sana. Tak sabar. Pedro? Por que?” si wanita menoleh. Di musim panas. lintasan kebahagiaan berpendar-pendar. Api cinta bergejolak di dadanya. memandang laki-laki di sebelahnya itu.0<>w 8000m< 26 tahun lalu. Ia tahu Pedro tak tahu tentang mereka. si wanita membatin. Ia selalu merindukanmu. mungkin saat ini ia tengah bertanding di La Liga bersama Raul Gonzalez. matador legendaris yang amat masyhur. Pedro datang dengan segala atribut El Barca. yang selalu dielu-elukan penonton dalam setiap pertunjukan. Di sanalah ia dan Pedro pertama kali bertemu ketika Barcelona dikalahkan Liverpool dalam suatu pertandingan tingkat Eropa >jmp -2008m<>h ingin Raul berada di Nou Camp. Jantung keduanya serasa lebih cepat Dua tahun Elena dan Pedro bahu-membahu sebagai pendukung Barcelona sampai kemudian cinta mereka dipisahkan oleh takdir.” Mendadak si pria tersenyum getir. cinta mereka berdenyut. wajah Raul bergulir.

si wanita berambut keemasan itu. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. ada yang dalam gegas.” “Mi. Ada yang santai.” Tak ada yang berubah di Las Ramblas. Kesejukan di hatinya singgah. Elena. “Pedro. bukan?” si wanita menjawab. Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang mereka. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang recehnya beberapa pesetas. Yang diketuk-ketuknya perlahan-lahan ketika ia berjalan. menghentikan langkah si pria. “Buenas noches. Aku pamit.” katanya begitu tiba.” Elena tersenyum sumringah. “Kukira sudah terlalu malam. Entah ini hari ke berapa ia berada di sana. ia duduk di sebelah si wanita. Tongkat dari kayu ek itu lebih hanya sebagai teman. tongkat di tangan. Yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. Elena. Suaranya agak parau. Kelompok Elena. Ia belum pikun untuk menghitung bilangan tertentu. Tanpa tongkat “Buenos dias. Dengan es Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi. Sisa-sisa api cinta berpendar-pendar di matanya yang cerah. “Sudah saatnya kita berpisah. Ia ingin menikmati masa-masa tuanya seperti yang ia inginkan sendiri. “Seperti yang kau lihat.disisihkan klub sepak bola dari tanah Inggris itu.” Si pria bangkit. juga tetap setia duduk di kursi yang kemarin masa. manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. Hasta luego. Sejak dulu matamu selalu bagus. Dengan itu pun ia sebenarnya masih bisa bertahan.” katanya. Mereka menjual kepandaian. si pria tua itu. Seperti juga hari-hari sebelumnya. Cinta memang tak selalu mempertautkan raga meski jiwa mereka takkan terpisahkan oleh apa saja. Tanpa menoleh. Lalu mereka .” Si wanita tersenyum. “Kau sehat?” si pria bertanya. tambien. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. Di dadanya rasa nyaman merambah. didudukinya. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas. Lalu. ia memang tak ingin menghitung. seperti coba mencari topik pembicaraan di sore yang juga cerah. “Te amo. muncul belakangan. Pedro. “Buenos dias. Tapi.” kata si pria kemudian. Ia khawatir hitungannya terhenti pada Tanpa terikat apa-apa. Tanpa menunggu jawaban. bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. Mengecup kening si wanita. keduanya krim di tangan mereka. Mereka tak menadahkan tangan.

Ketika cinta tengah manakala mereka tengah duduk berdua seperti sekarang ini. Ketika mereka saling memagut dalam alunan cinta yang kian bertaut. Dan keduanya pun kemudian berpisah dalam dekap penuh tangis di sebuah kamar hotel tua di sisi pedestrian Las Ramblas ini. “Kau mencintai istrimu. Dalam tubuh memudarkan hasrat mereka untuk tetap bersama. Elena harus menikah dengan pria lain pilihan ayahnya. disujudkan kepada laki-laki yang tak dicintainya. Dan kini alam mempertemukan renta mereka. Tak pernah terbayangkan hal itu dapat terjadi. “Kau masih ingat ketika itu aku meringis. Yang takkan melukai hati si wanita di sisinya. Api cinta mereka memang terpendam. Inilah untuk pertama kalinya pertanyaan seperti itu meluncur. Si pria tersenyum. Masa tak mampu memupus dan keduanya kembali. Tapi kasih mereka tak dilekangkan oleh perubahan dan waktu. Sariawan membuat gusiku peka. Bukankah kau sakit gigi waktu itu?” “Bukan sakit gigi. Wanita yang dulu selalu hadir dalam . Mereka seolah cuma ada berduaan. Cinta yang tak lekang oleh waktu dan perubahan. Hampir dua puluh delapan tahun peristiwa itu berlalu. Wajah mereka basah oleh air mata dan tetes-tetes cinta. tertawa-tawa berkakakan. katamu gigimu sedang sakit. takkan ada yang mampu memutus tali dan jalinan kasih mereka. setelah setetes benih juga Tapi. Saat itu mereka yakin tersemaikan dalam sebuah romantisme kasih tak terperi. Pedro?” si wanita bertanya. Jika aku berkata jujur. Elena. Demi sebuah bisnis keluarga. sudut-sudut Plaza Montjuic jadi saksi abadi keabadian cinta mereka. Ketika kelana cinta mereka menari-nari dalam sinar mercury yang remang. si wanita terkasih. Haruskah aku menjawabnya secara jujur? Si pria bertanya dalam hati. “Almarhumah istriku?” ia mencoba mengulur. Mereka tak peduli dengan Plaza Montjuic di bawah tempias air mancur yang meloncat-loncat seiring dentuman drum membuat mereka mabuk. Tapi tak pernah padam. cinta mereka tetap bergelora. Si pria menoleh. Selain Nou Camp. Cinta mereka memang terbelenggu. Dalam tubuh yang renta. “Ya. api kasih masih panas membara. takdir itu kemudian datang memisahkan mereka. apakah hatinya takkan hancur? Ia kembali mengetuk hatinya dengan pertanyaan penuh keraguan. Keduanya teringat masa-masa lalu yang indah di dari simfoni-simfoni klasik gubahan Beethoven entah berapa waktu lalu. bukan?” si wanita menoleh.pejalan kaki yang berseliweran.” Kenangan-kenangan indah bermunculan susul-menyusul memenuhi benak mereka Si wanita tersenyum. Setelah sekian lama mereka kerap bertemu dan saling mencurahkan isi hati yang pernah hancur. Ketika saling memberi dan menerima merasuk. tepat. Sambil coba mencari jawaban yang paling mimpi-mimpinya.

Si wanita menoleh. Melemparkan senyum. Dengan bibir yang masih tampak ranum.

Setidaknya di mata si pria yang kian rabun. Tapi, senyuman itu sekaligus membuat si pria

gelisah. Membuat hatinya resah. Dan ia merasa keringat telah membuat telapak tangannya basah. Embusan angin membuat hatinya makin galau. Di dadanya menggumpal rasa risau. Pedihnya seperti tertusuk-tusuk sejuta pisau.

“Setidaknya aku punya anak dari Evita,” suaranya parau. “Aku mencintai anak-anakku. Pablo dan Javier.” Ia diam sejenak. Sesuatu seperti membuat tenggorokannya tersedak. Ketika ia melirik si wanita, ia melihat angin membuat rambut si wanita tersibak. Dan ia seperti segenap keberanian.

menunggu. “Apakah, apakah kau mencintai suamimu?” ia bertanya setelah mengumpulkan

Si wanita tertawa kecil. Suaranya agak menggigil. “Mengapa kau tertawa, Elena?” si pria bertanya. “Seperti kau, dari Enrique aku punya Julia.” “Dan Raul.” “Kau tak ingin mengatakan Raul sebagai anakmu?” Si pria tak segera menjawab. Seolah ingin membiarkan pertanyaan itu menguap. “Kau masih mendengarkan aku, Pedro?” “Ya,” tenggorokan si pria terasa kian tercekat. “Raul mungkin darah dagingku. Tapi ia anakmu dan Enrique.”

Malam merayap naik. Udara dingin kian terasa menusuk tubuh mereka yang renta. “Aku pulang dulu, Elena,” kata si pria mendahului setelah seorang pemuda meluncur di depannya dengan sepatu roda di kakinya.

Elena bangkit. Pedro pun bangkit. Ia mengecup kening si wanita. Lalu melangkah ke arah utara. Si wanita melangkah ke selatan, ke Plaza de Catalunia.

HARI berikutnya, keduanya bertemu di Plaza de Toros La Monumental de Barcelona, sebuah bangunan tua yang tetap terawat dengan sangat baik. Keduanya memang selalu menyukai aksi para torero dan matador membunuh banteng.

“Kudengar makin banyak yang menentang pertunjukan seperti ini,” kata si pria ketika

keduanya duduk di kursi dari kayu tua di barreras. “Kelihatannya memang tak manusiawi. Tapi alam diciptakan Tuhan untuk manusia. Makhluk-makhluk lain adalah pelengkap. Mereka harus menjadi bagian yang membahagiakan manusia.”

“Itu katamu,” si wanita menyunggingkan senyum ketika para paseillo memasuki arena dan melambaikan tangan mereka kepada para penonton. Sejak kecil, si wanita selalu dibuat

kagum oleh pakaian para torero yang berwarna-warni. “Mereka, para pencinta lingkungan dan binatang, menginginkan semua makhluk hidup, hidup berdampingan secara damai.” “Tapi ini tradisi kita,” si pria membantah. “Aku tahu. Dan kita ke sini bukan untuk berbantah-bantahan, bukan? Kita ke sini untuk

menonton.”

membatin. Ia ingat ketika pertama kali memasuki La Monumental de Barcelona sebagai

Si pria terperangah oleh suara si wanita yang terdengar getas. Ia masih seperti dulu, si pria

sepasang kekasih. Elena menolak duduk di barreras karena harga tiketnya mahal. Ia lebih suka duduk di gradas. Tiketnya paling murah. “Kalau kau mau duduk di sana, silakan kau kanan si wanita dengan tangan kirinya. Menggenggamnya erat-erat. Seperti tak ingin terlepas. duduk sendiri. Aku mau kita di gradas,” katanya ketika itu. Buru-buru si pria meraih tangan

Seorang novilladas memasuki arena. Siap memulai pertunjukan. Tepuk tangan kecil terdengar. Begitulah selalu nasib para matador pemula. Ia harus lebih dulu mempertontonkan kecekatannya menguasai seekor banteng sebelum kemudian diakui

menjadi torero dan akhirnya setelah kemampuannya teruji, menjadi matador sesungguhnya. “Siapa matador kesukaanmu sekarang?” si pria berdehem sesaat kemudian. “Seperti cintaku padamu, sampai sekarang aku masih lebih menyukai Pedro Romero.” “Tapi ia telah tiada.” “Karena itu, hari ini aku ingin melihat aksi Enrique Ponce.” “Enrique?” Si wanita menoleh. Tersenyum penuh arti. “Jangan seperti anak kecil, querido mio. Tak ada hubungannya dengan Enrique almarhum Enrique dalam batinku.”

suamiku. Aku menyukainya karena kehebatannya, bukan karena namanya. Saat ini tak ada

Enrique Ponce memasuki arena. Ia akan memuncaki pertunjukan siang itu. Tepuk tangan membahana ketika ia keluar dari puerta grande. Tepuk tangan kian membahana ketika seekor banteng besar seberat 360 kg dihadapkan kepadanya. Dan, ia tak perlu berlamaperlahan-lahan seperti bersujud di hadapan sang matador.

lama untuk menancapkan estoque-nya melalui leher bagian atas si banteng yang kemudian

“Ia seperti memiliki mata malaikat,” si wanita berkata, seperti mendesah. “Ia memang luar biasa. Suatu saat ia mungkin bisa seperti Pedro Romero, sang legendaris itu,” sambung si pria.

Kini keduanya duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi di sisi jalan tak jauh dari Plaza de Toros. Matahari bersinar amat cerah. Langit tampak kebiruan.

hoopoe dari kejauhan.

“Aku tak ingin semua ini segera berakhir,” si pria berkata, ditingkahi suara burung-burung

“Tapi hidup ada batasnya,” sahut si wanita seiring desiran dedaunan pohon palem yang ditiup angin.

“Kau ingin kita menyudahi semuanya, Elena?” Tak terdengar sahutan. Mata si wanita menatap ke kejauhan. Di sana tampak empat pria tua martil.

asyik bermain petanque, yaitu permainan melempar besi berbentuk bulat seperti bola lontar

“Kau ingin aku menikahimu?” si pria kembali bertanya. Si wanita meringis. “Akan menjadi pernikahan yang menarik,” ia mendesah beberapa saat kemudian. “Tapi Raul tak ingin hal itu terjadi.”

Si pria tampak terperanjat. “Sudah kau ceritakan siapa aku kepadanya?” si pria bertanya. Menduga-duga. Rasa galau berloncatan di dadanya.

“Tidak seperti yang mungkin kau sangka. Baginya, kau cinta pertamaku. Ia tahu apa itu artinya.”

“Tapi, kenapa ia tak setuju kita menikah?” Tak segera terdengar sahutan. “Aku tak ingin tahu alasannya. Aku cuma tahu ia tak setuju.” Lama keduanya terdiam. Hening menyungkup kamar itu. Si pria duduk memandang si wanita. Ada gelora cinta. Menggemuruhi dada keduanya.

“Kau masih secantik dulu,” katanya lebih mirip desahan. Suaranya agak tertahan. “Cintaku tak pernah dilekangkan oleh zaman.”

Setetes air bening menetes di mata si wanita. Tak ada luncuran kata. Ia tetap diam tanpa suara, beberapa lama. Tapi di dadanya kebahagiaan melanda.

Si pria berdiri. Melangkah perlahan menghampiri. Si wanita duduk diam menanti. Dadanya berdegup tiada henti.

La Liga. Gradas. Kalimat itu ia tujukan buat Raul dan Julia. Paseillo. Hasta luego. seorang anak perempuan. Februari 2004 Catatan: Tingkatannya di atas torero. Cantik sekali.” kata Pablo. Dalam kepasrahan ia membiarkan si pria pergi. Keheningan mencekam. sampai jumpa. Tak ada yang menyahut lagi. Como estas. Sebentar lagi prosesi pemakaman dilakukan. Dengan baju serba hitam. Por que? Kenapa? Torero. tempat pertunjukan matador. Julia. hoy? Apa kabarmu? Bien. parade para matador sebelum pertunjukan. El Barca (baca El Barsa). julukan klub sepak bola Real Madrid. Mendaki. Novilladas. Matador. tetap tertunduk. Plaza de Toros. Pesetas. Mendaki dan mendaki. Raul. kursi terdepan (termahal). sebutan umum untuk matador. aku cinta padamu.” kata Raul dengan wajah “Mereka pergi membawa cinta abadi mereka. ruangan itu gelap. tambien. Nou Camp atau Camp Nou. Dalam gelap. baik sekali. “Tak ada yang perlu dimaafkan. Buenos dias. Te amo. Sampai kemudian semuanya berhenti. baik.tempat duduk paling tinggi. divisi utama Liga Spanyol. Tak ada yang dapat dipersalahkan. Dalam sunyi abadi. Una hija. matador pemula. Jantungnya kian kencang berdegup.* Jakarta. Muy bien. Di hadapan mereka berjajar dua tubuh dalam diam. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. aku juga.Beberapa lama si pria dan si wanita duduk dalam diam. si pria menatap bebukitan tandus tapi memberinya gairah meluap. selamat malam. Mi. julukan klub Barcelona. nama mata uang Spanyol. . Pablo. Dalam peti berbalut kain hitam. Buenas noches. Muy bonita. El Merengues. Lalu. Tapi gemuruh cinta di dada keduanya berdentam-dentam.” kata Julia lirih. Barreras. selamat siang. kandang klub sepak bola Barcelona. Si wanita tergagap. Dalam gagap ia menemukan sepucuk tunas tumbuh. bintang dalam pertunjukan matador. Gairah di dadanya pun meletup. dan Javier berdiri berjajar.

pintu utama.pada 30 Maret 1976 1) Barcelona kalah 0-1 dari Liverpool dalam pertandingan semifinal Piala UEFA second leg Querido mio. . sayangku (My dear). Puerta grande.

Palinggam. mata bunda terpejam. “Libur kau. Justru itu. mengikuti perkembangan mereka. keras kepala. Masih pasang mata dan telinga baik-baik. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut. “Oh. juga nasihat. Seminggu!” “Kuliahmu lancar?” “Lancar. harapan. Senyam-senyum. Makanya. tidak berani membayangkan. “Baiknya Bunda istirahat dulu. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau. Isinya ucapan selamat. Ya. kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami. tujuh anaknya. stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. seperti jantung kita. sambil terus melaju di jalan tol. telah disiarkan “Antar aku dulu menengok abangmu.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu. melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. menutup-nutupinya. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun. didampingi seorang cucu. atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. Nanti sore kuantar…. Berpikir-pikir? Lewat kaca spion. tamat kuliah. Dengan masalah yang juga tambah banyak. terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah. Namun abangku. kabar buruk dari beliau. Tapi. cucu. melihat anak. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng. karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba Aku menarik napas. dan cicit yang makin henti berdenyut. panik. agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati. Om. Seluruh keluarga heboh. dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. “Besokbesok aku menginap di rumah si Nina. dan cicit. kulihat keponakanku di jok belakang. doa. laiknya anak muda. naik jabatan). Tiap banyak.” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. “Terus sajalah. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. Tempo-tempo. “Nina dan cucu-cucuku sehat?” “Sehat. jika ia tahu. telah lama kami hindarkan terhenti. Libur. Dan saat kulirik ke samping. naik kelas. Kasus dan sakitnya abangku. pasti beliau tidak tidur. Merenung? manggut-manggut.” Aku lalu diam dan terus menyetir.” kubilang. Kami tidak bisa lagi koran dan televisi. seminggu ia menginap di kantor polisi.Lampu Ibu Adek Alwi Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta. yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. Palinggam….” Ia cengar-cengir. Ia tergeragap. Mereka . menutup mata serta telinga beliau. Urat-urat saraf itu tak denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak. Tahun lalu. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi.” “Tak penat aku!” tukasnya keheng. cucu. Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana.

baginya tugas ayam dan kucing.” kubilang. Atau. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. dituduh korupsi. Dan saat umur muda Herman. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi. “Lagi di jalan.” Dan diam lagi. memandang jalanan. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol. tak lama lagi Grogol. “Diajak kawan-kawannya. Pun ulah cucu. sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah. “Kurang dingin AC-nya Bunda?” “Cukup. “Naik gunung. disekolahkan hingga tinggi.” Tiba-tiba aku jadi gugup. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa. kurusnya engkau. Pucat pula. “Biasa itu. Palinggam. Lihat. matahari pagi. si Herman. Tak apa-apa. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali. nenek yang risau itu memanggilnya. kau biarkan anak naik gunung?” “Ala. Kawan yang baik. berucap lunak. berempat. Dan bunda tetap menoleh. kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. Lalu Slipi. menatap aspal jalanan yang berpendar disinari Jelambar. Nak. Rosa langsung diam. seperti orang- Aku makin gugup. Dan bunda menyergap orang itu?” pula. Maksudnya membantu Kak Leila. Pandai-pandai mencari kawan.” Kusodorkan . Bunda tentu tidak diberi tahu. dan berhasil. O. “Sudah. tak apa-apa Bunda. Kak Leila berpura sibuk. seperti pernah dia ucapkan? ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk “Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku. Bunda? Sehat. “Baik saja. tangguh. sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda.” “Eh. “Apa maksudmu?” “Maksudku. pulang dari rumah sakit. bicara sendiri saja. ingat suami yang jarang pulang.” jawab Kak Leila. Dari istriku.semobil. Herman pulang. ingat pengalaman bermalam di kantor polisi. anak laki-laki. Semuanya digaruk. Ingin kencing. serupa mayat!” Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi.” “Cuaca buruk. pada usia senja? Merasa gagal. anak-anak kami. “Elok-elok kau jalani mengundang datangnya mudarat. o. “Masuk rumah sakit. Agar mereka jadi manusia. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku.” kubilang. “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia. Syukur. menanti jawaban. sudah. tak Herman kabarnya menangis. HP-ku lalu berbunyi.” adikku Rosa menyahut. Kami sudah di Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik.

suara bunda: “Nina? O. Lalu. Kami sudah tiba di Semanggi. “Tanya kesehatanku. tambahku tanpa suara. Alhamdulillah. hah. Kakak dan abang iparku kalang kabut. meluncur mulus ke Kebayoran. “Jangan kalian berahasia lagi. Nak. Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir. Cucuku. Lalu ia mendekat. rumah abangku sepi saja Aku terus melaju ke sayap kanan. Ini. Kemudian tertawa. Biar dia lupa bertanya.” “Bukan hanya karena hendak menjemputku?” Aku menggeleng. seperti biasanya. Termasuk polisi. si Aya. Mau bicara. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. Pagar maupun gerbangnya tertutup. sudah menanti di teras. Anak gadis kakakku. berhenti di tempat parkir khusus keluarga. Bunda. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. Ke luar negeri juga. sehat Nak. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran. sekali waktu lenyap dari rumah mereka di dari Singapura. masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?” Aku tertegun.” ia bilang. Aida tak jumpa. “Biasalah. “KakakAnak dibiarkan tumbuh sendiri. Aida. Sering ke luar kota. “Mengapa kau ketawa?” “Tentu punya waktu. bebas dari di luar. ditemukan adikku Rafli di pantai Padang. masih kuat aku ke Jakarta.” Mudah-mudahan lama. “Syukurlah. Semua saudara Batam. Namun boleh jadi berlebihan. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi. Aku berbelok. siswi SMU kelas dua itu. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana. karena bunda lantas bertanya. alis bunda tetap bertaut. Harta meruah. orang sibuk kasak-kusuk. Aida. termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta.Obrolan panjang. HP ke bunda. . Eh. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang. Dicari serta ditanya ke mana-mana. Mereka tahu sehari setelah kejadian. sibuk benar kudengar istrimu. tanpa seragam. menangis tersedu. anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!” kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. “Aku cuma khawatir. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu. Aku lihat abang kalian itu dulu…. Tapi. Mana cucu-cucuku? Oh. Memeluk bunda. bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua meradang.” “Nina manajer pemasaran. Ya? Besok-besok. tak juga puas. Bunda. Aida.” Aku diam kembali. atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya.” “Dan kau sibuk pula. Nak. Tahu kalian. Andamsari. “Nina. bersama pacarnya. Kalian bagaimana? Syukurlah. “Sibuk terus. Bunda. Terpikir olehku. pulang dihubungi. Kakak iparku.” kataku. sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. Dan.” ujarnya. sudah gadis bukan? Sudah SMP.” “Apa kata Nina.

Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. “Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu. Kak Andam?” tanyanya antusias. aku tetap bersih. Nanti saja aku kabari. Aku muncul. itu isyarat dari abangku.” sahut bunda kemudian. Nak. Mukanya kuyu. Dan HP-ku kembali bernyanyi. pada hatimu sendiri. Suara Bang Palinggam terdengar pelan. bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran. Aku tergopoh ke toilet.” Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Nak. “Apalagi kau. “Tak paham aku soal-soal begitu. kencing. yang benar harus disampaikan sekalipun pahit.hendak meledak. Palinggam. juga kepadaku. Dan aku merasa.” Mengangkat muka lagi. . Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?” “Tidak sesederhana itu. Aku di kakus. “Aku punya kawan. Matanya perlahan berkaca-kaca. kini sudah bercucu pula. dipecat partaimu. Bunda diam.” “Dasar!” Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda.” “Di mana rumitnya?” Tidak terdengar suara. “Tetapi bagiku. melihat bunda lagi. Suaranya makin lunak. Menarik napas. Dan negeri ini. Loyo.…” entah dibawa udara dari bumi yang mana. melepas urine yang “Tapi kayaknya tidak apa-apa. Palinggam. Bang Palinggam terpana menatap bunda. Bunda. Terkutuk aku bila mendustai “Kalau begitu. yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah. selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya. Aku juga kader partai. dimaafkan. Juga aku serta Kak Andam. seperti minta Bunda. bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai. sudah. Namun takdir seorang ibu.” Bunda mengedarkan senyum. Bunda.” ujarnya bak mengadu. mengapa kau mengelak diperiksa. memandang bunda. “Namun hingga detik ini. sayu. “Belum tahu. “Sudah sampai belum?” “Sudah. Rasanya. “Aku punya atasan.” Sampai di situ mataku terasa jadi panas. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. Dia menunduk. Abangku melirik. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. hampir menyerupai bisik.” dia bilang. Bunda. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap. Juga kepada Tuhan. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja.” “Bagaimana bunda? Bang Palinggam. aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal. Nina lagi.

Berubah sekarang. Hebat dia!” pensiun. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran Kepada mereka. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya.” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. grosir roti dan permen. Nius. “Tak lama lagi Dua lepau nasinya sekarang. yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. Dia dan keluarganya tergolong aneh. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. sudah bercucu satu. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap “Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. seperti tidak kenal lelah. “Di mana dia?” tanyaku antusias. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. “Seperti orang-orang di dalam mimpi. “Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela. Satu di Palembang. berai. lebih-lebih tukang gigi. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan “Bun di Medan jadi dokter. Di kota kami orang Cina tidak mampu “Tentu!” kubilang. Bahkan mengerikan. Kami ajak bermalam tidak mau. Nius. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Tidak sekalipun berkedip. Ayah Bun tukang gigi.” Biju menerangkan dengan gembira. Kalau aku pulang. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. “Seperti ada dan tiada.Jakarta. Nius.” tambah Amril. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. kopi di simpang jalan dekat pasar.” jawab Tum. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap.” . si Talib dan si Tunik yang acap pulang. Hanya menatap. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. dewasa atau jadi tua. kendati kota kami tetap saja setelempap. akrab dengan pribumi.” “Hanya si Cudik. sebagai dua studio foto yang ada di kota kami. Aku dan kawan-kawan pun sudah ceraikami. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal waktu kecil. Si Talib di Dumai. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. 22 November 2006 Mata Sultani Adelk Alwi Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu.

kembali menampakkan senyum yang ganjil. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. Suka-suka kami mau makan apa. adik Bun. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. Bak orang-orang dalam mimpi. Tapi kami cegah. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. atau menjelepak duduk di menggairahkan. Pagi-pagi Rambut ekor kuda. Nius. Dan pernah pula Buya Makruf. diduduki hingga kini. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. guru mengaji Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. adik kelas kami. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. mengantar kue mohok hangat- hangat. Biju dan “Makan. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh dia ulahi. Tunik juga. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. tidak halam! Enak laaa. “Itulah. Sultani. alias usil plus kurang ajar.” sahut Tum. kami kerap nginap di rumah Sultani. Kami berebut. Portir bioskop juga . “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. suara itu. Ibunya baik seperti ibu Bun. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. Dia kapten sepak bola. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta Mereka menggeleng. tak pake babi laaa. Tidak kecuali KAWAN masa kecil itu lincah. mencangkunginya kecuali dia. mengajak makan. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke “Jelas enak. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. Minumnya teh hangat.Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. pintar di sekolah. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi kadang susu. seperti buang hajat. lantai. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. goreng serta roti lapis mentega.” bilang Tum. “Didiamkan berhenti sendiri!” Lin terlihat segar. lucu. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar monyet mengalir deras terhadap Lin.” ia sodorkan nampan perut kami. Lalu ia sambar roti. Bagiku. Seperti di rumah Bun. “Percuma. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang atas yang dibintangi Sophia Loren. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. mencukur. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir. “Tidak halam. Juga pandai menjahit. berisi mohok serta teh manis. Matanya tak terlalu sipit.” “Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran.

tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm “Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. Baju. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. serta sarung beliau “terbang. Dan Bun disunat. Mendesis-desis lunak. banyak kawan merasakan ulah Sultani.” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami Bun?” Bun mengangguk lemah. laaa. Tunik juga. kopiah. Tapi aku merasa. Mestinya waktu kita kelas tiga. Ayah dan ibunya setuju. “Ular! Ular!” Bun berteriak menyembul di tengah sungai. mencukur seperti yang kuinginkan. jadi keras. mendampingi kawan itu setiap malam. “Seperti model rambut Bang Rustam. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. Tak licin di sekeliling kepala. Ulah Sultani! Suatu kali. kan?” Aku mengangguk. itu turun dari ibunya. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. ke halaman masjid. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. “Ayaaa. Rancak. Sultani berkata: “Sudah Bun. Kepala Sultani Terlalu panjang Bun!” terpekik. Babah mau coba? Sret. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Kelas enam disunat. Iya kan. Ibunya tersipu. Dan sesekali. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Mataku merem melek. tentu saja. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Setelah sembuh. Sebulan ditanggung fasih. Kepandaian kiraahnya elok. Tetapi. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. “Malah. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. “Rambutku dia cukur. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. “Sunat Bun! Potong Bun! Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Padahal selalu kuminta Mak Hasan sambil mendorong kepalaku kian kemari. Berenang kalang kabut ke tepi. Rustam. Aku malah tak sekali. Mulanya sungguh-sungguh juga dia.” “Tidak sakit.kami. “Sebetulnya telat Bun. Suaranya merdu. Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba panik. Bun mau potong bulung bole potong. . Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Terbahak-bahak seperti hantu air. Bun!” Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. Biar aku yang ngajar. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. ikut mengaji saja. Mukanya pucat serupa mayat. tidur-tidur ayam. selesai!” Ayah Bun terkekeh. tajwid dan Bukan saja Bun. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. tidak terasa.

Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Atau pergi. Aneh sekali. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. dan orang bergegas Sultani. mendengar di mana Sultani. Tahi kambing. hasilnya nihil. Lututku menggigil. kurang ajar ya. Menghabisinya. aku menghambur ke jalan. Perempuan itu Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. kuratakan. Mereka melempar rumah itu dengan berderai. diseret abangku pulang. Menangis. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Suara mereka teramat gaduh. Pernah kami tanya ke situ. “Mulai Kariang. Kaca-kaca pecah terjerembap di halaman. lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. seperti Yull Bryner kau!” manusia cingkahak itu. sepekan rambutmu panjang lagi. Menyepak pintu hingga rubuh. Nius. Tanganku dicekal. tersenyum Sejak hari itu kami tak berteguran. berteriak-teriak. Bergelombang-gelombang manusia. Tetapi mereka pun tidak tahu. Bagus juga kau gundul. aku menghindar. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. malah sebelah sini terlampau pendek. Sultani juga. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami.Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Nius. Lalu ia terpana ketika Orang-orang masih berteriak. Ketika kuraba. Sudahlah. meraung-raung. Eh. mati awak rasanya menanggung aib! “KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. tegak kaku di ambang pintu. tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang . Dia juga matanya bersirobok dengan mataku. melihat aku “Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. Mereka terus berteriak. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Mukanya menangis. Tepatnya. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak. suatu pagi.” kata Amril. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! “Tak ada jalan lain. Buas sekali. “Tadi di sini terlampau pendek. Tum diam saja mendengarkan sunyi. Sejumlah orang menerabas masuk.” sambung Biju Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. melihat aku di tengah kerumunan. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. berdarah.” lesu. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. Kusaksikan ayah Sultani diseret. Ibu Sultani berlari mengejar. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. Dia mendekat. Mereka menuju rumah batu.

“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai. 2 April 2005 berkedip. Bahkan sampai kini. kemarin pagi. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani.* Jakarta. yang menatapku tanpa berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai Kami bertatapan. walaupun tahun demi tahun . Tubuhnya tidak ada!” Cudik berkeras. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” waktu menjala ikan. “Dan. Hanya mata saja. dua buah. “Semua orang bilang begitu. seolah-olah tidak pernah lelah.

Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk. petang atau malam Tetapi. tukang rokok. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa. betapapun elok bahan dan kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang. Itu pula sebabnya potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka. atau makan kacang goreng. Tidak konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat).anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas. walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas. siang. melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul. atau hujan tiba-tiba seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha. kalau kau tinggal lebih lama di kota kami. Karena itu. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. Meski cuaca cerah. hidupnya. akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. Paling-paling orang hanya bergumam. “Hoi.Warga Kota Adek Alwi Kacang Goreng Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. mirip dengan warga melambai dan menyapa. kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. anak. penjual kerupuk. tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam pojok jalan dalam kabut. apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!” Tetapi. tukang serbat. di kota berniaga. tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung. bercakap- Betul. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. warga kota menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. Adakalanya juga dari pagi sampai malam. ya. meski aktivitas seseorang berjualan. tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu. kembangkan payung. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya. dan seterusnya. hujan dan hari. Kadang-kadang pagi. Tidak jelas mengapa demikian. Ya. tetapi juga tukang emas. sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka cakap. tukang serabi. bukan suatu yang kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojokDan. di belakang lampu semprong mereka yang temaram. Kecuali. kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. Begitupun tukang sate. jangan pula payung. orang-orang kota-kota besar Eropa pada masa lalu. sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab istimewa di kota kami. ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu. . karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu. juga sosiolog. Karena. Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng.

terus. bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga.Sekalipun kota kecil. tukang kacang goreng amat banyak di kota kami. kota kami tidak pernah sesak yang menyebabkan warga kota kami subur-subur. sebesar jempol. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!” goreng di malam-malam dingin bergerimis. panjang. tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi kacang goreng. pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan karenanya.” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film. sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. Bahkan. tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu Alhasil. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan. kalau itu. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin. selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. tukang kacang goreng. Lagi pula. Dan. Gemuk. Berjajar suami istri dilanda perang dingin. Tetapi. depan asrama tentara dan polisi. sepuluh atau selusin. meski lazim tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. tetap belum ada yang sanggup “Ah. tidak saling tertawa layaknya pasangan mirip bintang-bintang di langit. jangan dikata lagi. apakah itu satu keluarga punya anak sembilan. penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!” “Memang. Malah bangga. juga di Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas. seakan-akan mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam. Bertengkar. Juga. kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. di muka rumah sakit. perlu penelitian. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus. tukang sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. Mereka dapat ditemukan di mana- perkantoran-perkantoran. memang lain kacang goreng kota kita ini. tiada bandingan!” . Saat-saat itulah mereka tak dendam setelah lama berpisah. beberapa waktu setelah bubar bioskop. Empat atau karung goni kacang goreng mereka yang hangat. “Ini. tikungan-tikungan jalan.” komentar para suami saat makan kacang kacang goreng ke atas meja. lepas-lepas dari kacang goreng. “Tetapi. duduk berkelumun sarung atau melekat ke lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. muka depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid. Pada hari raya dan libur-libur panjang. serta kegemaran orang memakan kacang goreng. makan kacang goreng jalan “Habis. Namun. Mereka mangkal di emper-emper toko.

Tetapi. dan Bak Aie yang merupakan pinggiran. Anak daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan.tenang saja dia melangkah. Dengan jas itu-itu juga. dan sarung dililit ikat mendatangi calon pembeli. Juga karena dia “berisi”. Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. Menyelusup manja ke pelukan suami. Orang-orang terbangun. dia Affandi. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki.tambalan pada jas yang sipit. khususnya di kalangan kaum ibu. . Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini. itu Mak Sanin!” ujar si suami. terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk. kami punya ilmu. dan selalu merah menyala. tunggal sekaligus penjaga kota kami. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami.anak justru takut pada Mak Sanin. mata rada Agak berbeda dengan orang dewasa. Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. tanda Mak Sanin berjualan. tak-tuk-tak. ilmunya tinggi. Ibarat pelukis. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. Kumisnya pun lebat melintang. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. cang goreeeng…!” berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak. Bancah Laweh. anak. dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai pinggang lebar. istrinya dipakai Mak Sanin. Biasanya. Cubadak Bungkuak. sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun. Berhari-hari berjualan. kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. “Hah. cang goreeeng…! Tak-tuk-tak. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal. Juga ke Lubuak Mato Kuciang.pinggiran kota kami. Makin malam. “… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. Tenang. kepala. Ibarat… . Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata. ingin makan kacang goreng. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya tuk-tak. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau. saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau. “Ibarat penyair. tak- Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan buruk mendengar suaranya.“Ya. dan warnanya hampir tidak jelas lagi.

mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. Mak Sanin!” Dan. pengantin-pengantin baru. berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati.” Dan. bunyi tangkelek-nya yang menjauh.” kata ayah bagai orang kedinginan. sudah mereka tunggu-tunggu. cuma sebagian warga kota yang kota tidak mendengarnya. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak Karena itu. bahkan hingga kini. Belilah. malam!” Tetapi. sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu. “Seliter saja ah.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter. Kemudian. Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di buat merendangnya. enak atau dia bertingkah. “Mak Sanin!” “Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. “Masya Allah. Cobalah. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang.” “Yo! Eh. kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir . tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka. Semakin jauh. Bergegas mereka benahi diri. Tujuh lubang peluru. Cukuplah. cukup seliter?” “Hi-hi-hi. sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni. Dengan jas yang ituitu juga. Dan. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. Tidak bakal menyesal. harum bercampur peluh. Tetapi. ketika ramai-ramai di tahun ’66. Mak Sanin. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja. pada suatu malam. meraup kacang goreng bukan hanya sekali. “Huh. lalu sayup-sayup diantarkan angin mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. seluruh warga kami gempar tak alang kepalang. mungkin juga tidak mau tahu. tahu benar aku. kota “Padahal. yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu.kisi jendela. Warga yang lain tidak. Padahal. Karung goninya entah di mana. pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan malam melalui kisi. Dan. Desember 2004 kota kami yang berkata kepadamu: “Ha. Tetapi.“Beli dulu kacang gorengnya. Hanya berdua. Jakarta. berkibar-kibar ditiup angin malam. Besoknya. Dan besoknya lagi. tegak menanti di ambang pintu. itu biasa.

di mana setiap pitstop.Langgam Urbana Beni Setya (Atawa Jakarta in Rap) Di Jakarta—ungkap lik War—jam ada di mana-mana. dari ukuran yang dibuat manusia untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. saling kontak-sentuh. dan di kemengangaan mulut. di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum. berpendar-pendar di dalam jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada Allah orang berpacu untuk secepatnya masuk garis finish tanpa terlebih dulu memasuki jeda waktu terengah-engah dan menyerah. sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak tersenyum dan tersipu-sipu. di pintu. di perut yang hanya diisi kopi. Bisakah manusia bebas dari waktu. aku hanya akan SWT…” Dan karena itulah—kata lik War—Jakarta berubah jadi arena balap. di bak air dan di gayung kamar mandi. di lembaran kertas. di bundaran lampu lalu lintas. Jakarta—kata lik War—itu jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak. di meja di ruang tamu. di dinding. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri sehingga terkurung sendirian. Di pagar rumah. anjuran jam— dan ulah kerja manusia. sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam. di juluran lidah dan di untang-unting tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan ingatan: memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga Jam ada di mana-mana. yang diam-diam maju terus. di pintu halaman. sambil menyisihkan yang kalah dari satu jalur pacu. di ranjang dan bantal kamar tidur. balik ke dari kungkungan jam kerja semuanya langsung memasuki street race untuk sekali lagi berpacu pulang (cepat) ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. dan sambil terus melahap yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan senantiasa ada. Jam di mana-mana. bersebelahan. di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga. Bilang. berbelit dan kusut membentuk gombal kain nasib yang ketika ditelusuri benangnya ternyata masau saling menjerat. agresif melahap segala sambil menyepah yang kalah kehabisan waktu. Di jalanan. Lik War menggeleng. masuk kantor dan mulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis. di apa saja—yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semua agar terus Gelagapan dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap berpacu. di dinding dan kursi-kursi dan monitor komputer. minta bantuan pada siapa pun dan mendapatkan pertolongannya. lalu jeda dengan jam yang terus berdetak di mana-mana. berteriak. Berdetak-detik di dalam pendengaran. ”Tapi bisakah kita bebas dari jam?” kata Anderwedi sambil berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal. ”lakukan semuanya semaumu. dan begitu lepas sepanjang jalan. di motor. tidak bisa memanggil siapa pun. di mobil. di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut atau yang terpaksa diabaikan. di layar monitor. di layar TV dan dinding di samping kiri atau kanan pintu masuk dekat bel. Manusia selalu berada dalam . di dapur.

titik saling ketergantungan. ”bisa dibeli secara kredit”—tapi minimal tiga orang. karena itu banyaklah orang menawarkan diri disewa-angkut agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di jalur 3 in 1 itu di sekian menit nunut—celakanya orang-orang itu malahan diuber dan dikejar Satpol PP karena dianggapnya membuat orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. dengan celana jeans hitam ketat yang kata lik War juga bilang. Tapi berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan dan pelatihan—agar ikut dengannya dan belajar berkeliling di gang-gang di perkampungan sutil logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung. dan bermuara di jalan antardesa yang bergelombang dan berlubanglubang. yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit karena jalanan di Jakarta bukan tempat yang tepat untuk berpacu dengan mobil. pikirku. yang cuma bilang kaus itu diberikan anak bos karena saat dipakai ditertawakan oleh cuma produk tembakan sehingga harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol—lik War Ya! Tapi lik War senantiasa bilang: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliar jam kecil. seluruh anak muda ingusan yang saat itu ikut nongkrong di gardu Kamling di ujung kampung. dan sesekali mandeg dan meraung-raungkan gas sebelum lampu di perempatan itu menyala ijo. Terbayang jalanan mulus Jakarta—tidak seperti jalur makadam kampung. yang menembus ladang dan sawah. Kami . Ia minta disewa dari juragan yang juga menyediakan mi. Dan setelah itu. bumbu dan yang lainnya. yang memaksa tiap orang menjadi Valentino Rossi. Aku menatap lik War: Memakai kaus hitam dengan sablon be will be. malah sampai jalan tol yang seharusnya lapang dan bebas pacu bagi yang ingin menundukkan jam. karena itu mereka menjadi yang dikalahkan waktu dengan kepeksa jalan merayap dalam kemacetan dan nelangsa menghabiskan BBM percuma saja.pikirku. ”grammar apa tuh?”. ”Terlalu banyak kendaraan.” kata Anderwedi—mewakili pikiran kami. kami ikut dengan Marto Pedrosa—ia sendiri yang menambahkan nama itu karena aslinya ia bernama Joko Martono dan dulu selalu kami dihiasi jam yang sudah pada kendur: benar-benar tak menarik minat berpacu kami. untuk tolong. Lik War pun tersenyum. deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan kayaknya juga tidak dipahami lik bos yang bilang. ”dan kendaraan yang berjibun itu membuat macet di mana-mana. yang mungkin hanya menggeleng.” Kami menelan ludah. dan yang setelah 5 km baru tiba di jalan kecamatan yang lebih mulus sedikit— terbayang jalan itu penuh deretan mobil yang berjajar dan di sela-selanya motor-motor meliuk seperti dalam atraksi lomba trail semi akrobatik di TV. what ever will War. yang hanya sebagian yang bisa ditanami palawija dan semangka. sebelum semua meloncat seperti mengawali lomba yang akan menentukan siapakah yang lebih dulu dibanding si pole position yang teledor. Casey Stoner dan apa lagi yang senantiasa berpacu di jalan.” kata lik War.menolong atau instinktif tebas-menebas— metalik halus bergambar entah apa—percik cat tumpah—dan tulisan excited. ia naik Brantas yang karcisnya sebanding dengan harga celana itu. ”Aku jadi pengen ke Jakarta. meski di kereta itu ia tak bisa berbuat apa selain duduk dan menggerak-gerakkan jari kaki tokh. Lik War pun mengajukan usul lain. sambil merokok dan meneguk arak oplosan di tengah kesiuran angin dari persawahan yang dipusokan dan kami menghubungi Saman Bakmi—ia berkeliling jual bakmi dengan gerobak dorong. hingga ada jalan khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya untuk membeli mobil—”barang-barang itu. serta tempat kos Jakarta di sepanjang malam.” kata lik War.

”Atau ikut Arpan. atau penghuni kompleks semodel Tri. Timpah. dan karenanya (kata lik War. Mungkin lu kudu belajar jadi ojek (tukang) ojek payung? Lik War tertawa. Lania. ”macak dan akting pengemis. yang dengan gampang menjadi pembantu macam Warti. kudu pinter cari kos-kosan karena aku sendiri hanya punya satu kamar dengan Neti dan dua anak itu. Bersama-sama sampai di Senen atau Kota—lalu . menyusupkan dingin yang tajam dan menyamak jangat dalam irisan yang menyeluruh di awal Syawal. menjadi rembulan gaib di saja. atau yang terpaksa menggelandang di jalan seperti Nian. lantas bertemu setahun sekali di kampung. dan banyak orang sekabupaten yang mengaku-aku penduduk asli kampung sini. Atau ojek payung?” Kami melengos—apa yang bisa dipacu dengan jadi punya DP sejuta sebagai jaminan dapat make motore bos. menjadi orang kantoran atau hanya suruhan. dengan angin deras dari persawahan yang dipusokan dan hanya sebagian kecil di dekat saluran irigasi yang sempat ditanami palawija dan semangka. Sambil mengeluh tak segampang para perempuan. semodel de Grana. atau buronan karena dengan sesuap nasi. dan yang di Jakarta menjadi tukang ojek. yang masih buron—sehingga para urbanis sekabupaten di Jakarta bikin slametan di Jakarta Dan Jakarta jadi jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak—tak pernah serentak karena selalu ada selisih lebih lambat dan lebih cepat dalam seperti memanggil kami untuk meninggalkan ketiadaan harapan di kekeringan yang selalu baik dan tak baik-baik. ”tetapi lu kudu apal jalan-jalan di Jakarta dalam seminggu. dan karenanya membimbing kami untuk bangkit dan mempertaruhkan apa sekujur tubuh: berpendar di langit malam yang penuh bintang. yang selama 15 tahun ini ribu bagi Mbah Rame. sekaligus kudu sepeda dulu. atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi jambret ditembak dengan delapan belasan lubang luka seperti Isa yang jadi gembong dengan tiga dan Saman Bakmi) di Jakarta tak ada yang berani kurang ajar kepada orang-orang dari orang sekampung lainnya yang masih selamat. Marto Pedrosa kampung sini. terpaksa dipusokan di musim kemarau itu. dan Genduk (dilindungi dari yang lain dalam teror nekat Isa almarhum. dan Tyas. ibunya.panggil dengan sebutan No Tit. Kimi.” katanya. Berangkat ke Jakarta. Sri. Koral dan dan di kampung sini). memenuhi trotoar untuk recehan?” Kami melengos. Itu artinya tak berpacu di Jakarta tapi jadi batu jarak tempat anjing mengangkang dan kencing. Kasim. Berpacu dengan waktu secara baikterlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring mencang-mencong demi survive menyusupkan dingin dengan menyamak jangat selepas hamparan persawahan yang berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. untuk segera berpacu sebagai apa saja. dan setelah enam bulan baru menjadi ojek’s driver—sambil menjanjikan mempertemukan kami dengan kawan Bataknya. dan menjadi apa saja—tidak hanya berakting macak pengemis tak pernah pulang ke kampung meski setiap Lebaran selalu nitip duit dua atau tiga ratus dan diuber-uber polisi sehingga blingsatan mburon ke mana-mana dan kemudian mati tapi benar-benar jadi pengemis dan pemulung. Nonik. Dan miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam. Ia menganjurkan jadi kernet. ”OK!” kata Marto Pedrosa. Santik dan Kuni. ”Jadi akan berangkat apa tidak?”—teriak angin kemarau yang hitungan mikron-sekon atau sekon—berdetak-detuk dan berpendar: semua jam-jam itu melanda desa. yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang ke kampung.

*** Catatan: untang-unting: yang tergantung dan bergoyang-goyang gombal : kain bekas untuk lap. selain jadi transmigran acara halal bi halal kampung yang penuh kebohongan itu. sebagai apa saja di mana saja. here I am coming!” teriak Anderwedi—mabuk. Ya! Ya! YA! YA—adakah pilihan lain. berhenti kudu apal : harus hapal motore : sepeda motornya macak : berdandan blingsatan mburon : panik/kalang kabut melarikan diri gembong : tokoh. dan berhamburan lagi di Senen atau Kota. yang lebih sara karena harus mbabat alas meski selalu diigaukan Pak Lurah di dalam pidato ” Jakarta. menumpang kepeksa : terpaksa nelangsa. kepala [penjahat] slametan: ritual membaca doa keselamatan bagi yang meninggal mencang-mencong: meliuk-liuk. kolonisa . berliku-liku mbabat alas: membuka hutan. sara : sengsara mandeg : stop. pentolan.agar bisa bersama-sama pergi ke Jakarta lagi. yang biasa lusuh nunut : ikut.

terutama ketika magasinnya penuh. yang genggamannya terasa berat itu. Siapa mau mati? silinder tersampir dan bebas diputar. lalu mendiagonalkannya ke tanah dan yang amat jarang. Sebuah letusan lagi. membersihkan. diungkit. Tapi sasaran tunggal apa yang bisa lolos dari berondongan sejauh lima meter? Sejak SD aku sudah tahu ada simpanan senapan serang buatan Rusia di situ. Ia menggenggam tangan dan memaksaku menembak lagi. Pa!” katanya. dan memuntahkan 52 tembakan beruntun. membersihkan. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. colt—yang mekanisme penembakannya Dengan itu aku mimpi jadi cowboy perempuan. Sekali. mendorong ke pangkalan itu dan mengokang serta menodongkannya pada si jagoan yang kurang ajar itu. Lalu mendatangi Mereka gemetar dan segera semburat ketika diusir. Atau menarik picu Aku dipaksa belajar nembak saat kelas II SD. Ibu muncul dan menarik aku sambil mengomeli ayah—”Dia anak perempuan. Mencacah akar flamboyan yang marong berbunga dengan daun hijau telunjukku yang masih lunglai oleh kejutan. Dan kami. meski dengan gampang kita meraih dan mengokang membuka kuncinya. Letusan dan entakan membuatku kaget. Kalau disuruh sangat sederhana itu. Dan bila kurang. magasin dan satu peluru paling atas. langsung ke tanah. Setahun kemudian aku menguasai FN. Ayah terbahak-bahak melihatku ketakutan. dengan tekanan ringan dari telunjuk—dengan memakai popor lipat atau tidak—kita Tersamarkan.Salvo Beni Setya Ada senapan serang AKA. dengan magasin penuh. ketika kelas II SMP. Tapi apa . Sangit mesiu melulur lengan dan wajah. Keesokan harinya aku dipanggil guru BP. “Sebaiknya semua itu jadi rahasia berdua. Dan peduliku? Di SMA aku malah mempunyai kawan. sering mempraktikkannya dengan silinder kosong. atau dalam putaran gila sisi kepala— sebelum dikembalikan. dan mengentak pantat peluru atau kekosongan oleh pelatuk—seperti dalam film. dan memasang lagi pistol FN. Guru itu mengangguk. rasanya lebih enak memegang pistol polisi. Dan tiga tahun sebelumnya aku sudah dibiasakan membongkar. Sejak saat itu aku didaulat untuk jadi kepala keamanan dalam segala acara yang diadakan di sekolah. di kamar anak petinggi polisi. Tiga tahun kemudian aku menguasai AKA. memilih. banyak teman yang mengadu—selalu diperas preman di pangkalan angkot dekat sekolahan—aku bersekolah dengan membawa pistol. Sejak kelas VI aku sudah dilatih membongkar. ada magasin cadangan di atas lemari. dan memasangkannya lagi.” kataku. aku mengeluarkan FN di hadapannya. Tapi sebelum dia banyak bicara. Bergerak menarik pasak dan membiarkan agar bisa menggesekputarkan silinder itu di lengan. anak petinggi polisi. Tanah lembek berumput membuat peluru itu tembus ke kedalaman. Memasukkannya lagi ke magasin. meloloskan genggaman dan mengokangnya. yang memberi ketika lulus ujian sepertinya mereka lega karena aku sudah tak ada di sana lagi. di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. Mula-mula hanya dengan pistol. lalu ditangkupkan untuk dipasak.

ayah ingin pensiun dan bisa jadi bupati atau wali senang diajak mengeluyur itu. Akan dapat konduite dan kota dua masa jabatan. lima puluh meteran untuk membidik seseorang dan mengirimnya ke kematian tanpa si Ayah yang mengajari—membimbingku dengan fasilitas latihan komando. Polisi akan masuk dan ayah akan menghajarku. Ayah terpaksa berurusan dengan panglima. Dan karenanya aku bebas bergaul di luar kompleks—selama terus berlatih menembak.” kataku. atau punggung pelarian selebar papan pantul ring basket. “setelah lulus kau daftar dokter tentara.” katanya. seperti menembak kaleng atau cecurut. perempuan cuma jadi istri tentara. Bahkan berlatih menembak tidak dalam posisi klasik berdiri. lama-lama aku kecanduan mengintai apa pun dengan teleskop dan bimbingan sinar laser. Ayah menertawakan cita-cita lembek itu. Letusan itu keras. Aku beranjak. Aku tak yakin mampu menembaknya dengan dingin. Naik ke boncengan dan melesat. yang lain. Ya! Tapi aku sangsi bisa jitu menembak kepala botak profesor sebesar bola sepak. seperti dua kakakku—setelah tiga kakak aku kuliah kedokteran bukan karena ibu ngotot tapi lebih karena aku tak bisa masuk Akabri. “Macam-macam kepalamu yang kekerasan lapisan batuan di bawahnya membuat peluru naik ke atas. kalau maut sangat dekat. Manusia itu . Dan karenanya memberi aku kebebasan main pistol dan senapan. ketika jadi danyon. Kau tak boleh jadi anak Mama. “OK!” katanya.” katanya. hanya Lantas apa makna hidup? Lantas apa makna bertahan untuk hidup dengan semacam dukungan ilahiah nasib. kata ajudan.” kata ajudan baru lulus Akabri. dengan posisi jongkok menyamping.kenikmatan main-main dengan colt. Mereka beku—pipa jeans preman itu Di boncengan aku gemetar. Sebuah mekanisme ledak dan lesat peluru yang setipis sentakan jari telunjuk yang mengentakkan picu. Kini aku bisa berada sekitar bersangkutan mengerti bagaimana ia mati. Akan lain. atau berbaring di balik batu—dan menjadikan tonjolan “Kau seharusnya jadi sniper. Sekali aku pernah menembak aspal jalan di sisi kaki preman yang menghadang. Aku ambil FN dari tas. Ia membiarkan ketika ia kuliah kedokteran dulu. seperti cita-cita mendidikku dengan tradisi militer–mengharapkan aku memilih karier militer. Menghambur jadi dua lesatan logam yang kotor oleh serpihan. Mulanya di Perbakin. Aku tak pernah membunuh orang. membikin sudut naik menghunjam di pohon mahoni dan ban sepeda motor. Kini aku terhibur batu sebagai bantalan. telanjang dan gampang. Ibu menggerutu tapi tidak berdaya. sekaligus memberi kesadaran. kalau nyawa seseorang hanya bergantung pada satu sentuhan ringan dari jarak dua meter? Dan pada saat itu aku pun belajar mengintai dengan teleskop— membidik sasaran vital dengan satu peluru. dan karenanya Mungkin ia menginginkan aku jadi tentara. atau kaki penyusup yang segede tiang gawang. membuat lubang dan pantulan dengan menjebol lapisan aspal. dari jarak tiga meter. Padahal. Dik. aku kokang. lantas menodong wajahnya bolong. Terlebih kalau keendus wartawan jadi segala risikonya. dan menembak. “Kita harus kejar setoran. Kalau salah bidik dan kena kaki preman urusannya bisa jadi berita. Tapi ibu mengharapkan aku jadi dokter. Peluru itu menghantam aspal. Aku bisa menembak bola tenis atau bola golf dari jarak tujuh puluh lima meter dengan satu tembakan. Menurunkannya. Aku tertawa.

Ya! Aku yakin tentang hal itu. Tapi bisakah kita membalik laju waktu? kebanyakan—meski tetap dibimbing insting militer yang terus diasah. Aku mengangkat bahu. Dua jam kemudian aku menelepon ke rumah dinas. kena kanker payudara yang baru ketahuan setelah stadium IV. Ternyata jadi tentara bisa bersifat sangat administrasi. Dua jam kemudian aku menelepon rumah gendakan-nya. perut. dan dapat jawaban Sejak saat itu aku tidak pernah menghubungi ayah lagi. dan seluruh keponakan. Bahkan aku sengaja tidak memberitahukan kondisi kritis ibu sampai saat penghabisan mendekat. terutama karena jadi rekanan pemda. Memprotes tiadanya perhatian pada ibu. yang langsung mendekat. Aku mematikan telepon. Dan kebisuan itu berlangsung tiga tahun. kakak-kakak dan ipar-ipar marah dan mengadiliku. “Kau tidak mengabari marah dan memaki-maki lewat telepon. tak ingin menceritakan kelakuan ayah kepada mereka. ngantor seperti orang ayah pensiun dan jadi bupati di C. Tiga tahun kemudian ayah harus tetap sibuk bekerja dan—seperti yang dikeluhkan ibu—terpikat pemborong yang Aku menelepon ayah. Aku cuma bilang tak tega mengatakan kondisi ibu yang sebenarnya—maksudku. seperti mendengar bisikannya. Hal yang membuat suami yang ajudan itu. Mungkin ia ingin memperlihatkan secercah bahagia karena berhasil menjadikan aku dokter. Dan terkadang pergi bila sesekali ayah datang menjenguk ibu. Dua jam kemudian aku menelepon lagi tapi tak ada yang mengangkat. “Kau orang militer yang hanya hidup dalam lingkungan eksklusif dengan rutin-rutin yang terkontrol. Ditempatkan di kota. Aku untuk menggalakkan intensifikasi pangan. Aku. Ayah tertawa. sia-sia melepas senyum di tengah deraan sakit. Ke mana? Entah! menelepon lagi tapi ajudan yang mengangkat. “Aku kan cuma cari kerja. karena dia sendiri belum pernah menembak orang—atau berperang. . Aku ayah?” kata Samsidar. Dan ajudan ayah juga yakin akan itu. kakak. Enak. yang mengatakan Pak Bupati harus ke daerah mengangkat. Ia minta agar aku merawatnya. Tanganku digenggam.” Aku memprotes tapi telepon segera dimatikan. yang telaten merawatnya. atau kepala mayat dalam praktik Ada aura yang membuat kita harus mengeraskan hati dan membaca doa—lebih dahulu— kedokteran. dan cuma basa-basi kalau ayah menelepon menanyakan kondisi ibu. Ibu menatap. Apa jadinya kalau tentara? Ketika ibu meninggal ayah masih di C. seperti merindukan kehidupan eksklusif di kompleks. dan denyaran roh pasti menimbulkan sugesti yang menyentakkan—seperti yang aku rasakan ketika menembak aspal di sisi kaki preman. dengan mengumpulkan suami. meski itu hanya untuk menyayat tungkai. “Ayahmu mendapat kesenangan baru sebagai orang sipil yang pergaulannya menembus segala lapisan masyarakat. ipar.” katanya. Dik. bergaul dengan banyak hal yang harus diselesaikan tanpa ada panduan jelas. dada. meski aku yakin mereka mengetahui perbuatan ayah. agar memberi pelajaran kepada ayah yang sok sibuk itu—yang barusan memaki-maki aku. Ia bergegas menelepon ayah. Aku lulus kedokteran dan masuk tentara. Aku tak mengabarinya. Aku ikut ibu yang bungkam pada ayah. Pelayan yang pelayan—Pak Bupati baru ke luar. “Kau tahu apa?” katanya. dalam kurang tidur. Aku kini sipil.bernyawa. anak.” katanya— tertawa. Dua tahun kemudian ibu sakit. sampai ibu meninggal—menyeringai. Aku diam saja.

Aku menunggu ayah. Mengokang dan Ibu meninggal. Mengunci pintu. Kami membawanya pulang setelah dimandikan—siap disembahyangkan dan meletakkannya di dada sambil terlentang. yang tak peduli akan derita istrinya yang sekarat. Biar ia merasakan sakit di dada seperti yang dirasakan ibu selama lima tahun. Pasti. yang pasti datang dengan langkah lebar dan teriakan amarahnya yang khas. Tapi apa kepentingan ia di luar citra bupati teladan? dikubur. Sakit dari cacahan peluru satu magasin—dengan lima dua lubang luka. Ya— sepuluh menit lagi. Berjam-jam menunggu ayah. Mengambil AKA.karena merasa dipermalukan sebagai Bupati. Aku masuk kamar utama. Sepuluh menit lagi. Ya! Ya .

orangtuanya semakin permisif. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan. preman dan pemabuk. dengan semena-mena merangkul. Beres! Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut. “Nggak akan tembus kan. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu. dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan. Ini bukan punyamu. Khairan tersenyum dan ngojek sama Sitol. Nasir. Ya! Akan tetapi. dengan payudara yang berdenyut. per lima puluh ribu tombok. di kisaran empat angka. Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. Saimah makin genit. “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. Sad. bermalasan di warung itu. Nasir menggeleng. “Kita juga main. Jalan ke pintu belakang warung.” kata Nasir. dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. Radio menyerukan dangdut. Arsad menaiki sepeda motornya. dan Arsad pun menikmati hari-hari manis. kata setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut.Senja Merah Khairan Beni Setia Setengah berkacak. Sad. curiga. Terkadang Arsad hanya nongkrong. mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah.” kata Melangkah. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang. Menghindar dari sekolah. karenanya akan ada evaluasi Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura. makan jajan. Itulah awalnya. gertakan itu cuma efektif tiga bulan. Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. menjauh dari keramaian. Bapaknya pasti meneng. Ia membolos bersama Taberi. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja. Khairan. megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai mengiyakan dengan sungguhsungguh. ayah. Ini hanya pemancing saja. olehnya. dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. Saimah menyusul dari depan. berbincang dengan istri hanya omong dan terus omong sambil berjudi. dan utamanya pemalas yang dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. menghindarkan pendengaran Khairan. Kita tutup nomor jagonya. ayahnya memberikan pesan khusus. serius. Mungkin cuma memesan kopi. seingatnya. Arsad mengenal Suimah. “Apa? “Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. “Kamu duduk-duduklah. Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. Khairan menepuk bahunya. dengan lembut. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. dengan setoran biasa.” Setengah berbisik. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap. menggerayangi dan . ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu. Terbayang lagi.” katanya. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. atau menggoda Saimah. Sir?” katanya. Motornya dipakai ngojek sembarang orang.

yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. bermakna mempunyai barang dagangan. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. dan rayuan Saimah. Khairan-setengah preman karena istrinya “Biarlah. ia seorang sales yang agresif. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika Memberikan sebagian kepada Saimah. Membawa tas pinggang. pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. Akan tetapi. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman. bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. Cemberut dan makin sering marah. Khairan bungkam. pil. Ia seorang sales pengawal pribadi. “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih. Ya Miring.” Orang-orang tersentak. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi yang genah. siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki kan?” Orang-orang pada tertawa. dan berkeliling ke mana saja. Khairan cuma Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. Tapi. Khairan-matanya berkilaucepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. dan menjual sisanya. Khairan menenangkan. Ibunya Saimah lembut mengangguk. Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan.” katanya. yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah. selalu. Pak RT tak berdaya. karenanya orangtuanya masih di kantor. dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. Berharap. “Kita ini orang dagang. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang Surga telah kembali. haid Saimah sudah telat seminggu. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. Siklus direcoki balas memaki. sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri.” katanya. semakin tidak mempunyai duit. Meski begitu. sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. biar bisa kompak dengan mertua. Khairan tersenyum. Ia tertawa. Dan Saimah makin manja. memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai untuk tombok nomor di warung Khairan. menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. Utamanya Saimah. Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. “Dan mempunyai anak perawan menciumi Saimah. Orang-orang mendelik. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. Menjadikan empat kali. “Seminggu bisa berpenghasilan. Istrinya mulai menyindir. menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. Sepanjang waktu. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. Akan tetapi. yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah. terkadang orang masih datang .” katanya. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. yang gigih.

belum pernah pacaran. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. Sebagian menolong Nasir. dari hadapan. tak bisa diturunkan. Ia menuntut. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS.” “Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah. dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai “Tapi aku tak pernah mengawinkannya!” “Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya. Menyatakan suami-dengan menafkahi Saimah. Dan alur arah Hari itu-setelah sarapan nasi goreng. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum nya penyok. tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di sambil kernetnya. Belokan liar itu. Sedangkan kecepatan Station dicoba dibanting ke kiri. ada di tengah jalan. memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. lajunya sepeda motor Arsa. sementara mereka telah bablas? Anak saya itu. dan…” “Betul! Tapi. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. Ambulan Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. menyeru ke seberang. dan derap orang berlari memburu. Akan tetapi. dan sisi rusuk kanannya remuk. Halim! Halim!” “Terus? Terus?” . tangan. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan bodypatroli. Lalu lintas sigap diatur. Sopir Station Wagon geger otak ringan. sudah meteng. telur dadar setengah matang. Tetapi kecepatan Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. Kendaraannya diperbaiki Ayahnya untuk pulang. mencuri perhiasan ibunya. yang lainnya memburu supir sirna. Berderit direm dan tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sepeda motor itu. melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor. tertekuk-tekuk pendek. tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuhdengan biaya asuransi. meliuk-liuk. apakah aku harus menunggu izin Bapak. bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. mblesar-kan gas.Nasir memboncengkan Krowak. Kaki. itu sudah amat terlambat karena si korban Nasir mati. dan minum Topi Miring- yang sama. Krowak tertolong. masalah dan menenangkan warga. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. Pada saat sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. Kemudian teriakan memaki Station Wagon itu. yang dikemudikan Nasir. akselerasi pertamanya. Menyulut rokok. Arsad dipaksa tergantung lumpuh. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. penyelonongan itu.

Dua hari setelah persalinan. Khairan melapor ke Polisi. “Aku tidak betah. hamil Jos: Langsung jadi sempurna. berharta Genah: Enak dipandang. Ngeloni: Meniduri Meneng: Diam. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang salam sambil menyelonong. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. Ibunya Arsad berteriak-teriak. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. Bisa apa ’ndak?” Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah.” tulisnya. Khairan menelan ludah.“Balikkan ia ke kondisi asal. Tombok. instan Celurit: Senjata mirip sabit. tanpa mampir dulu. Menyisih Dan dengan mobil itu juga. Dan memang begitu. meski tak selalu milik orang Madura . Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya berdatangan. dengan mobil carteran. Saimah menangis. Catatan: kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung “Hasil karya anakmu. keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. Tetangga ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. Lantang meneriakkan Brewok.” kalimatnya. Kedua lelaki itu liar bertatapan. Karena itu. Mutung: Berhenti di tengah jalan Meteng: Mengandung. istrinya. Berparkir di halaman. Aku seperti masuk penjara. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!” menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba. Ibunya Arsad terpekik. dan Yudiono-yang setengah mabuk-. tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar. Khairan mendelik dan membentakkannya. dari rumah Bidan. membisu tanda setuju Kowe melu mbandari: Kamu ikut menjadi bandar Sugih: Kaya. Utuhkan lagi. artinya orang baik-baik Topi Miring: Merek minuman lokal beralkohol Mblesar: memainkan gas sehingga mesin meraung-raung Dipondokkan: Dimasukkan ke pesantren untuk belajar dan sekalian tinggal di sana. Khairan. “tombokan”: Memasang nomor judi dengan membayar uang taruhan. Dipantati bahkan. mereka langsung mendatanginya. khas Madura. dengan dikawal Segera. bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-. Dominik. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. tapi tidak pernah dilayani. “Nih.

meledek istrinya. tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Beningnya sudah pegang hape. Meski baru play group. Seperti capung ia tiba. barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. ya?” Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas. Di kelas. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak. Sekolahnya memang saat bubaran sekolah. Sungguh.” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. ia selalu tak tahan melihat mata Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. “Biiikkk…. karna ia terus diam saja. “Hati-hati!” teriak sopir. betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban. Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu. setiap pulang. terutama “Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” . Ia tak menyangka. “Sekarang. Beningnya tertegun. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya. Pasti kartu pos dari Mama telah Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Marwan kadang kirim SMS. “Kok kartu pos Mama belum datang ya. ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya.Kartu Pos dari Surga Agus Nur Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. Pa?” “Mungkin Pak Posnya lagi sakit. “Ada apa. Bibiiikkk…. Ia melongok. Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. yang kecewa itu. Kadang bisa sebulan tak pulang. ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos melintas halaman. dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Non?” “Kartu posnya udah diambil Bibik. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. seakan sudah menebak. untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan. Jadi belum sempet ngater kemari…” Lalu ia mengelus lembut anaknya. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup. “Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang. Ia masih belum genap enam tahun. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu. Dari kotakota yang disinggahi. tadi. mendapati kotak itu kosong. Tapi memang tak ada.

lantas mengeposkannya. Marwan diam. yang dikenal lewat rubrik majalah. Marwan berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima.20. Marwan tak pernah menerima kartu pos. ngambil kartu pos dari Mama. ya? Mo tidur di kamar Papa?” Marwan menggandeng anaknya masuk. Sepanjang hidupnya. rasanya. “Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya. Saat SMP. Kotak kayu yang dulu juga dipakai 11. “Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya. Karena iri. “Nganter ke mana? Pizza Hut?” Beningnya menggeleng. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…” Tak ingin berbantahan. kartun . dengan suara penuh kenangan. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri. Bahkan. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Pukul “Enggak bisa tidur. “Setiap kali menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut. bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi.” Ren kecil duduk di pangkuan. Marwan ingat. Ia pun atau kartu pos. Marwan melirik jam dinding kamarnya. ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. bagaimana Ren bercerita. setiap Ayah pulang. dan yang lucu: disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! pernah suatu kali Ren sudah pulang. “Mungkin aku memang jadul. “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu. aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. “Itulah saat-saat menerima kartu pos darinya. Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. “Ke mana?” “Ke rumah Pak Pos…” Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. banyak temannya yang punya sahabat pena. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo.” Marwan hanya diam.Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Itu kotak kayu pemberian Ren. jauh. Meski tetap saja ia merasa aneh. tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu.

Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. kemudian berlarian tergesa masuk rumah. “Wah. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. tetapi bocah itu telah melesat Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu. Pagoda kuning keemasan. “Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya. setelah Beningnya pulas. Beberapa rekan sekantornya terlihat menuju kotak pos di pagar rumah. kapan pulangnya?” “Ya sudah. Sepeda yang berjajar kesukaannya. saat Marwan makan siang bersama. dinding goa. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya. Air mancur dan patung bocah bersayap. ia kini mulai dapat memahami. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. udah datang ya kartu posnya?” Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca. Bukit karang yang menjulang. teman sekantor. pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya “Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita. Rasanya. Ia selalu merasa bingung. kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya. Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan . Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali.” Marwan tersenyum. ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Dermaga kota tua. yang tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita. “Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Pasti mereka menduga ia dan Ita…. Seolah-olah itu dari Ren…. seperti tercekat. bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu? Andai ada Ren. Marwan tersenyum.” Itulah. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam tertidur. Sudut dengan deretan yacht tertambat. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi. Gambar pada kartu pos. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. “Ini bukan tulisan Mama…” Marwan tak berani menatap mata anaknya. Ah.di tepian kanal. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu. Deretan kafe payung warna sepia.

seseorang. Singapura-Yogyakarta. Lebih keras dari bau amoniak. Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun.” pelan Beningnya bicara. Hanya “Tadi Mama datang. ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar. semua rapi. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur. “Buka Beningnya! Cepat buka!” Entahlah berapa lama ia menggedor. “Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat. keluar dari lubang kunci. Ia melihat ada asap lembut. tak ada api. “Kata Mama tukang posnya emang sakit. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos kecoklatan bagai bekas terbakar.Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan. Cahaya yang terang keperakan. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. seperti tengah bercakap-cakap dengan Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Bau wangi yang ganjil mengambang. Ia melongok ke dalam kamar.” Beningnya mengulurkan tangan. serupa kabut. Dua belas lewat. jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…. Kain kafan yang tepiannya . 2008 dipegangi anaknya. “Beningnya…” Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. sulit ia buka. “Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu membuatnya tersedak. Segera Marwan kartu pos-kartu pos yang berserakan. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Bau sangit “Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil. menyambar mendekapnya. sekilas ia melihat jam kamarnya.

sepasang mata itulah sebalik kaca—membuatku terkejut. sepasang mata itu bagai mengambang. ”Dan yang ini?” Seperti kukatakan. tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium. betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali malam yang dipenuhi kunang-kunang. berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta. Memang. menyentuh putingku yang ungu. bergemerincing dalam ”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. seperti katamu. mana yang pantas buat dipakai makan malam. aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta. yang paling gombal sekali pun. seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. bercinta dengannya seperti menikmati nasi . Mata yang terlalu melankolis untuk seorang yang membuatku jatuh cinta. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Kamu takut tidur sendirian…” Kamu mungkin tak percaya. Tapi.Serenade Kunangkunang Agus Noor melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Aku suka matanya. Aku ingat. ketika sepasang mata itu muncul dari Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. untuk sekadar membuatku tersenyum. Dan saat sepasang matanya mengerdip. mana yang pas buat jalan-jalan. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. aku seperti mendengar denting genta. Kau tahu. Aku Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Ia tak pernah mengucapkan rayuan. menyebutkan namanya. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil… ”Laki-laki yang romantis rupanya!” Tidak. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam. Tetapi ketika ia hatiku. dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang. Ia bercinta nyaris tanpa suara. Kau akan laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Barangkali.

tak rapi. penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah. Membuatku tergeragap. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. aku mesti pergi. yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan. ”Busyet!!” Mungkinkah. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain. tipis. Sungguh. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan ”Anggap saja ini cinta sejatimu. ”Mau ke mana?” Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang. entahlah. ”Bukan baju yang pantas buat ke pesta. kali ini. bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam.” Bila aku kangen. aku begitu menyukainya. dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Setiap melihat kunang-kunang. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…” Tidakkah kau tahu. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. Kadang aku menganggap semua ini tiada penuh masalah?! Tapi… Maaf. terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran. aku selalu merasa dia tengah lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah.goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Dan kupikir. Tapi. Tapi— diam-diam.” ”Aku suka kunang-kunang…” . kukira!” Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. aku sungguh-sungguh jatuh cinta? ”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta. yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar menyukai kemurungan dan kesenduannya. Bukan karena kamu tak suka. Sedikit berkumis. kenapa aku jatuh cinta kepadanya. Bersamanya aku tidak terobsesi aneh-aneh begitu. yang membuatku lihat di iklan deodoran. aku jadi ingin ketemu dia. kalau memang kepingin yang mendapatkan perhatiannya. bukankah cinta memang ganjil dan memikirkanku. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang kelabu. tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. ”Kau suka kunang-kunang?” ”Hmm.

di zaman gestapu dulu. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang- kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Seminggu setelah pembantaian. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Padahal. Ibu selalu mengajakku kemari. pada saat-saat seperti ini aku ingin mengajaknya kemari. aku lupa. selalu tak mudah mengajaknya bercakap. dan angin yang membeku membuat layang menyusuri aliran sungai. Dia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. ”Kau lihat kunang-kunang itu?!” ”Hmm…” Ini pertemuan ke-43. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang. Selalu. setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. .” ”Hmm…” Ah. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu. dengan mata yang layu.” ”Aku suka matamu…” ”Hmm” “Seperti ada kunang-kunang dalam matamu. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai meringkuk dalam selimut. kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana. agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. Rasanya aku pernah membaca cerita muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota… seperti itu—mungkin sewaktu SMA. ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah. Dan setiap pepohonan tertugur kelu.”Hmm. saat itu. ketika lembah itu menjadi bisu. menjadi berkilauan. ia langsung tidur setelah bercinta. kata ibu. Membuat lembah itu malam purnama. Seperti yang sudah-sudah. memandangku yang duduk telanjang di sofa. seperti sosis dalam setangkup roti. bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. bersama ribuan tubuh lainnya. sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Aku masih dalam kandungan ibu. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang ”Enggak tidur?” Ia menggeliat. dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang- Kuajak ia kemari. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu. Itulah kenapa aku Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Dari jendela apartemen lantai sebelas. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air. Agar ia menyimpan kunang-kunang.

Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan. dan tergesa mengenakan pakaian. handphone di atas meja bergetar tanpa suara. Aku hanya memandang keluar jendela. aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki . 2005-2008 pernah kau kenal. seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunangkunang. Karena. ”Anakku sakit …” Bukan sesuatu yang mengagetkan.Ia sungkan dan jengah. berbicara setengah berbisik. Seperti jeritan yang teredam. meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. seperti kerap kau katakan. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Tak ada percakapan. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku. Tapi. Barangkali. Kemudian ia bangkit. dan dengan gerakan pelan menjauhiku. tak tercatat pada termometer. Kesunyian tak terpermanai. Jakarta. selalu saja. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. aku memang wanita paling menyedihkan yang yang sudah beristri…. Ia meraih handphone itu. Dan dingin. ”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. Membelakangiku. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang. Cahaya perlahan susut dan aus. seperti dalam sebuah puisi. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini.

Pasti aku tampak lucu di mata mereka. sambil menunjukkan empat jariku. Aku tak mengerti. Mereka tertawa. kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. orang-orang akan menghentikanku. Aku ingat. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. dan langit hanya basah. seperti rintihan kesepian. Aku Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket. aku pernah begitu mencintainya. kenapa orang-orang tak orang melihatku dengan jijik. ”Dasar idiot!” Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. aku ingin dilahirkan kembali di kota ini. nari. Mungkin mereka hanya menggodaku. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes.” jawabku. Dan mereka kembali tertawa. bila ada ular masuk ke pekarangan. Dulu aku memang berharap. Apabila melihat aku lagi berjalan. Mereka tertawa-tawa melihat aku menarimereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku. sambil menunjukkan empat jariku. ”Berapa dua ditambah dua?” ”Tujuh. trotoar. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. melihatku memasuki halaman rumah mereka.” jawabku. tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular . Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di dalam kehidupanku yang lain. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik keluar dari cangkang kesunyianku. Mungkin mereka butuh hiburan. Bila ada ular masuk ke rumah. Biasanya. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. Memberiku moke. Kota di mana bertahun-tahun lampau. udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. Mungkin karena itulah orang- memperbolehkan aku masuk rumah mereka. Aku tak pernah mengerti. yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. Tak ada bintang.Parousia Agus Noor Pada malam Natal tahun 3026. mendesing lalu lalang di jalanan. Padahal. Di kulitku yang licin. Mungkin karena mulutku yang peyot. ”Kalau tiga ditambah empat?” ”Tujuh. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila mereka tak pernah mengusirnya.

Aku benar-benar bingung dengan kota ini. ”Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat. Kudengar kembali gema lonceng itu. menganga mengisap orang-orang yang lalu lalang. di pinggir jalan. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. Ketika mula dunia tercipta. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. kendaraan yang lewat berhenti. Di ladang. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. Mestinya. kabut selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Aku merayap menyeberangi jalan. ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau. aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan. kota ini seperti memanggilku. Aku leluhur mereka. teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. ”Ular! Ular!” Kulihat orang-orang beringsut ketakutan. . yang berkelok turun digantungkan begitu saja di udara. setiap hari. Aku begitu ketakutan. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa dan membuatku tak mengenalinya lagi. Cahaya seperti telah menyihir kota ini kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah plaza. Kota dengan seribu gereja. Terdengar suara-suara tong ditendang. Aku sering bertemu ular-ular itu. aku mencoba tak panik. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang di pepohonan. yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku ular-ular itulah leluhur mereka. Leluhur yang mulai berkhayal. Dulu. Tiba-tiba kudengar suara jeritan. takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan.itu. Lampu-lampu aneka warna Kudengar lonceng gereja. ketika Bumi masih rapuh. ketika batu masih berupa buah muda. Kini terentang jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai sederhana. Seingatku. juga beberapa rumah kayu menuju bukit kecil. betapa orang-orang lebih menyukai ular pahami. kini aku melihat sebuah mal yang megah. Alangkah menyenangkan jadi ular. Mereka percaya bagaikan putih telur. di pojokan itu ada sebuah gereja. banyak berkeliaran di kota ini. Kurasakan. sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan. mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara senja. Kerlapmenerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. menghilang dalam kegelapan. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. kuntum yang ranum. Tapi kudengar seseorang berteriak. saat tanah masih serupa Dari omongan orang-orang. Meski terkejut dengan reaksi mereka. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi Aku mendesis. aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. Sejak itulah aku ular. Dulu. dan semua ketimbang diriku. Aku senang dan merasa tenang bila penuh dengan gereja. Tapi di situ. betapa enaknya jadi ular.

memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan kepalaku. Kulihat rosario menenteng lentera. gadis itu memungutku. Ia mengulurkan tangan. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. memancarkan sulfur cahaya.” kata gadis cilik. ”Kita sampai. Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh. di mana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. Aku merasa asing. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu. sampah. mendesis-desis menatapku. kulihat itu menyala kemerahan. reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata. Aku merasa nyaman dalam yang kudengar masih memburuku. Tapi ularular yang kutemui selalu mengingatkan agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul bagi ular macam kami adalah di kota ini di kota itu. seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik .” Ia berkata sambil mengelus Kupandangi mata gadis itu. berdesakan dan bau tengik. Cepat sini…. Di dekapannya. Cara mereka mengingatkanku. mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini.” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu. Aku kemudian tahu bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi. aku merayapi jalanan kota ini. Ditentengnya rosario itu seperti ia gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. >diaC< Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. Dan seperti menyusuri ingatan. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui. juga bayangan bukit-bukit di kejauhan. ratusan ular. ”Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong. Dengan tangannya yang mungil. lorong yang berkelok-kelok.” Aku memandanginya ragu. menjauhkan aku dari orang-orang belakangku. meski aku bisa segera menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. Kemudian ia berjalan mengendap-endap. ”Cepat sembunyi sini…. membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian.”Ssttt…. hanya dipisahkan oleh kenangan. cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. Lorong di mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. Aku diam melingkar di pojokan. sambil menurunkanku dari dekapannya. Kulihat puluhan ular. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap.

Para penduduk di kota ini menampung air mata Kristus. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk diuntai jadi rosario. Pada saat itulah. menyimpannya dalam botol. gadis cilik itu pernah berkata kepadaku. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil. Dulu. Ketika kota mempercantik diri. Dulu aku sering memang sering berjualan rosario. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. saat mereka berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. untuk diganti dengan malmal. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan. sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. tetapi kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. Dalam keremangan. kalau aku mau menjual rosario. kami bisa ditangkap petugas keamanan. dulu kami bertahan: dengan . membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. menyadap air mata Tuhan…” Aku ingat. bila menjelang Natal. anak-anak di rosario buatan kami luar biasa. Itulah selang yang dipakai untuk menampung air mata Kristus. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk pergi lewat jalan itu. Sudah lama. Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. Ketika banyak gereja diruntuhkan. dihancurkan kemajuan. Kemudian dijual. kan? sekarang ia makin sulit menjual rosario. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit. terdengar seperti tengah bertingkat mulai dibangun. akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. tapi terlihat rapuh. ”Begitulah. salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. dengan karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. Kadang merah serupa darah. tetapi selalu diusir. Kadang air mata itu menetes bening.Di kota ini. Para penduduk memberi kami anak-anak. Ketika bangunan-bangunan menyanyikan kesedihan. katanya. Di kota yang remang dalam menampungnya dalam gelas. Kamu sudah melihatnya. Sebab bila ketahuan. Salib itu menjulang. Kami mesti menjualnya diam-diam. seakan- mencapai kota di seberang sana. Aku menemukannya tak sengaja. Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. yang mereka percaya. Padahal Aku mendesis mengangguk. dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. berjualan biji-biji embun dan bermacam daun. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka. dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. Sering kami duduk-duduk dekat terpinggirkan dari kota. pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. rempah-rempah dan artefak kenangan. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas. Dan ular-ular mengikuti mereka ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun. Aku sisa makanan mereka meski kadang busuk dan berjamur. Mereka memunguti puing kota lama yang nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. kami Aku belajar mencintai kota ini. menjualnya di lapak trotoar. Ia kemudian mengatakan kalau karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. Dan pada malam hari mereka memeras air mata. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. kami—ular-ular—memang dibiarkan berkeliaran.

Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu. Di dekat altar. gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil.” katanya. ternyata. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. ”Wow. samar-samar bisa menenteramkanku. Aku tidak menikah. Sampai kemudian aku menyadari. tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. ”Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri. ”Kita bisa diam-diam ke sana. Tidak. katanya. ”Kamu Pater?” Aku mendesis tersenyum. Kami keluar dari Puji Tuhan. Ketika ia berjalan. kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. Aku melingkar tenang dalam keranjang. Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian. Kusaksikan ruangan yang remang. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu. ”Tapi aku suka kamu!” Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. Mataku nanar Ledalero. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang.” teriaknya riang. nyanyian puji-pujian. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap- kejap. Terdengar syahdu dan megah. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu. ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya.” katanya. Dari dalam keranjang anyaman. Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. Ah. Dulu aku idiot. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. betapa sunyi gereja ini. kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam seperti rongga semesta. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. ia memang gadis yang usil dan nakal. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. boleh jadi sebagai tugu kenangan. ”Kau tahu. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. aku juga penduduk kota ini. Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. kataku. Pasti mereka mengusir kami…. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal. gereja. 2006 . tepat di belakang gereja. gorong-gorong. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu.

Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere. Nusa Tenggara Timur. 2.Catatan: 1. Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ”Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo. Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta. versi Krowe-Sika. 3. Agus Noor (23 Desember 2007) .

tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. menata bundelan-bundelan benang. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. butik dan pusat perbelanjaan di kota ini. sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. Kata orang. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Karena para tukang jahit itu mesti jahit itu tampak bergegas keluar kota. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap. Nak. kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. di emper pertokoan. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan. gunting. para tukang malam. Sejak banyak toko fashion.Tukang Jahit Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. “Tukang jahit maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. Nak. kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. Seperti kemunculannya yang entah dari mana. Nak. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. Dan di malam takbiran. di pojokan jalan. Para penduduk antre menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. Jarum Ibu pernah bercerita. datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang jahit itu tak muncul. dan benang. ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Entahlah. diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan tukang sulap. Nak. mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni. meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan. jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya. silet. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. factory outlet. setiap menjelang Lebaran. yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah kanannya. Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. Begitulah. Mereka menggelar dasaran di trotoar. Atau mereka tak mau lagi datang. dari tahun ke tahun. jarum Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja. Seperti menyaksikan dalam sekejap. Di hari-hari menjelang Lebaran itulah. Mereka mengeluarkan mesin dondom dan jarum pentul. selalu. Nak. kau bisa menyaksikan serombongan bukit. di keteduhan pepohonan. betapa dulu. yang konon. para para tukang jahit itu muncul setiap kali menjelang Lebaran dan menghilang di malam takbiran. orang-orang lebih suka .

Nak. Mungkin kau tak ingat. tetapi juga kebahagiaan. Saat itu Ayahmu baru meninggal. Memang tak banyak lagi orang yang mau padanya. satu-satunya tukang jahit. Sebuah kampung. tetapi lebih lembut dan halus. tiga bulan sebelum Lebaran. Ia menjahitnya dengan rapi. Tak Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. memang mengubah selera. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan. Kau masih empat tahun saat itu. memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. barangkali. tetapi tak bisa menyentuhnya. Nak. Ibu mendatangi tukang jahit itu. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. kulitnya seperti kulit mahoni yang menua. Entahlah. Tapi . para tukang jahit yang mengisap tembakau. di tangan tukang jahit itu. tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit laskar terakhir prajurit yang terusir. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran. Memberi tukang jahit itu segulung benang untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. Kau bisa melihatnya. Kau tahu. membutuhkan mereka. Dengan jarum dan benang Begitulah. Nak. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi menerima kedatangannya. Nak. tukang tentang tukang jahit itu. yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Tapi juga ingin bahagia di saat hati orang yang lagi sedih itu. Benang itu tipis dan bening. Menisik dan menjahit. tapi kau lihat. Hanya ia. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Delapan Lebaran lampau. setiap menjelang yang muncul di kota ini. ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. Kau tahu. Rabalah. dan jarum. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. halus. Lebaran. dari tahun ke tahun. kadang tampak itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang…. begitu halus. Tak berbekas. seperti senar. dan membuat orang-orang itu merasa tenteram. Maka.membeli pakaian jadi. Yang jelas sudah sejak lama. Ada yang mengatakan. Perawakannya kurus. Dan jarum itu. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas lebaran. Ia sempat mengelus bertilas. Nak. Bila ada orang sedih yang datang padanya. Ia seperti wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar cerita lain membantahnya. Nak. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. Nak. Nak. rambutmu. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian. Nak. maka tukang jahit itu akan menjahit robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Di kampung itulah ia tinggal. Ia menjahit luka hati ibu. Benang yang tak akan habis bila dipakai Nabi Khidir muncul dalam mimpinya suatu kali. tak banyak bicara. Di dada sebelah sini. selalu saja ada orang yang datang Tinggal tukang jahit itu. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau Lebaran. dan menjahitkan pakaian padanya. Lalu diantar Pamanmu. yang masih muncul di kota ini. kebahagiaan yang Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu. selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang lebaran. Zaman. memandangi belanjaan berisi pakaian.

aku dan kawan- Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir jahit itu. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. Menjelang Lebaran ini. sewaktu kanak. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak. Di pojokan situ selama hari-hari menjelang Lebaran. Dan tukang jahit itu tetap saja diam.” “Kok kayak mau ngantre minyak tanah?” . Menjahit dan tidur di Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Menjahitkan kebahagiaan. jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran. seakan meledek tukang topeng monyet keliling. kini ia satu-satunya tukang jahit yang dan menjadi muridnya. jalan. Ia tinggal di sebalik cakrawala. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu. dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. Dari radio terdengar nyanyian riang: Lebaran “Sedang antre apakah orang-orang itu. aku menjalankan mobil pelan-pelan. Ia tinggal di sana. Karena banyaknya antrean yang meluber hingga ke tengah sebentar lagi…. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan di situ. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. kulihat antrean itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. malah makin menyelimutinya dengan misteri. bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Benang yang untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. sepanjang hari memintal benang kesabaran.masih muncul ke kota ini. Itulah sebabnya. Ayah?” “Mau menjahitkan…” “Menjahitkan pakaian?” “Bukan. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran. anakku memandang heran antrean itu. satu-satunya yang selamat. inilah antrean terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. Mereka sudah menunggu sejak dini hari. di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Kemunculannya selalu dalam diam. Padahal tukang jahit itu. Rasanya. Aku ingat.

Ayah?” Aku menatap matanya yang menunggu jawaban.” “Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul. Tidak semua orang hari Lebaran pun kini orang mesti antre berdesak-desakan. dengan gampang mendapatkannya. Kuceritakan tentang tukang jahit itu.” Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. 2007 orang-orang yang antre itu. Bingung karena masih nganggur. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja…. Ayah?” “Ya.Barangkali. sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah. Ayah?” “Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. kemudian memandang gamang ke arah menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap. Kulihat antrean itu sudah sedemikian panjangnya. Pusing karena semuanya makin mahal. “Jadi mereka menunggu tukang jahit itu. hingga Agus Noor (7 Oktober 2007) . Tak bisa membelikan baju baru. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di “Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia. Brisbane-Yogyakarta.

dan kembali beterbangan memetiki biji-biji buah yang keranjang. “Begitulah. Dan pada malam hari. tempat biasanya Papa. juga permen cokelat dan caramel yang meleleh lembut di lidahnya. di malam hari menjadi bengkak mulutnya. itulah. sementara nenek sihir itu telah jauh keluar hutan dan melintas jalanan desa dengan menyaru sebagai penjaja manisan. Sepanjang hari yang riang. Tapi ia juga bisa membuat gigi-gigimu rusak dan bengkak jangan terlalu berlebihan menikmati apa pun. Neal ingat bagaimana Mamanya mengakhiri kisah itu dengan suara yang penuh senyuman. sebermula permen muncul di dunia manusia.Permen Agus Noor Melihat mulut Iza yang terus cembetut. tengah. Permen dalam bungkus warna-warni. Mama. permen. Saat peri-peri mungil lelap bergelantungan. lollipop.” kata nenek sihir itu merayu anak-anak yang terpesona pada biji-biji mungil itu. saat peri-peri mungil itu kelelahan dan berbaring tertidur di dahan-dahan. itu biasa. suka sekali permen. Neal tak akan pernah lupa dongeng masa kecilnya itu.” kata Mamanya. “Permen akan selalu mengingatkanmu bahwa hidup ini manis dan patut kamu nikmati. Saat terbangun pagi hari. Ia manis dan lembut karena karena ia dibawa oleh nenek sihir jahat. bila peri itu . ketika peri-peri mungil itu memetiki biji-biji buah yang matang dan manis. Seperti bantalbantal mungil milik peri. Saat kehidupan ini masih ranum. Neal sendiri. dan kakak adiknya berkumpul menonton televisi. Anak-anak begitu bergembira ketika nenek sihir itu membagikan biji-biji yang rasanya manis dan mereka sudah hilang. sewaktu kanak-kanak. kemudian mengumpulkannya dalam bibi-biji buah yang lembut itu mereka gunakan sebagai bantal. Neal suka meletakkan kotak dari kayu tata menyerupai bantal di atas kasur kecil. pastilah ada peri yang sedih masuk ke dalam kamarnya. peri itu bisa nyaman beristirahat di kotak yang ia sediakan itu. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan permen. fudge. seorang nenek sihir mengambili bantal-bantal itu dengan teramat hati-hati dan pelan agar peri-peri mungil itu tak terbangun. berisi beberapa permen di dekat jendela kamar tidurnya. Anak-anak suka permen. hutan yang berkilauan menjadi penuh nyanyian. Bantal mungil warna-warni milik peri. Sampai ia berumur sembilan tahun. Nak.” Neal mengingat itu sebagai sebuah nasihat agar dipakai sebagai bantal para peri. Karena yang manis pun bisa membuat sakit dan menderita. “Karenanya kamu harus bersyukur bila hidup memberimu nasib yang manis. peri-peri mungil itu akan terkejut mendapati bantal lembut saat mereka kulum. Maka. peri-peri yang selalu beterbangan seperti capung begitu riang memetik biji-biji buah selembut getah yang bergelantungan di pepohonan mastic dan spruce—sejenis karet dan cemara—yang menjulang menyentuh kelembutan cahaya. Ia membayangkan. Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. Neal tak akan pernah lupa: di ruang selalu tersedia sekotak aneka permen. Permen-permen dalam kotak itu ia dan tersesat ketika mencari bantal-bantal yang dicuri oleh nenek sihir itu. Permen toffee.” Ah. penuh warna dan menyenangkan seperti permen. “Ini bantal yang dipakai tidur para peri. Mereka sedih. Beberapa anak yang rakus dan terlalu banyak makan biji-bijian itu.

Mestikah ia menjelaskan pada Iza. Para perempuan tua yang kelelahan mampet dan bangkai celurut mengapung di lorong-lorong muram perkampungan itu. seminggu sebelum ia melahirkan Iza. Ia ingat. Dia tetap ingin permen yang dijajakan di perempatan jalan itu. wajah Iza terus cemberut. Neal sering panik berhadapan dengan para pengasong itu. para selesai dimasak dan dicetak itu ke dalam kantung-kantung plastik. Sekarang ini. bila ia tak membeli. Selintasan. pengasong itu. Orang-orang miskin yang hidup di kampung-kampung Mungkin proses pembuatan permen itu sudah berlangsung lama. kalau permen-permen yang dijajakan di spruce? “Permen itu akan membuatmu mules dan mual. pada Samuel. Mencampurnya dengan gelatin agar kental. Permen berwarna merah keruh yang mirip manisan dalam bungkus-bungkus plastik kecil. permen yang banyak dijajakan di perempatan jalan itu rasanya bukanlah isyarat yang perempatan jalan itu bukan biji-biji ranum yang dipetik para peri dari dahan-dahan pohon baik. memberinya sedikit gula. setengah menggerutu. yang sering menawarkan dengan cara setengah memaksa: menyorongkan Lagi pula Neal memang tak suka dengan permen yang dijajakan itu. setelah ia menikah dan punya anak—cukup satu anak.Sampai sekarang pun. mereka akan memecah kaca mobilnya. . permen itu memang mengundang selera. Sementara bau got permen ranum yang bergelantungan. Neal membayangkan. Tetapi. ia bermimpi repot hamil dan melahirkan lagi—Neal sering bermimpi ada peri masuk ke dalam kamarnya puluhan peri mungil mendatangi kamarnya dan menjatuhkan biji-bijian permen ke dalam keranjang bayi. tidak seperti tangan-tangan peri yang lentik ketika memetiki biji-biji kuku-kuku jari tangannya penuh bekas daki ketika mereka menggaruk pantat mereka yang kemudian dijajakan di perempatan jalan. hampir di tiap perempatan jalan memang banyak pengasong menjual permen. Takut. anak yang matanya nanar tanpa harapan membungkusi butir-butir permen yang sudah dan terkantuk-kantuk sepanjang malam mengaduk-aduk adonan itu. mereka peras menjadi keringat yang ditampung ke penderitaan. bagaimana permen itu dibuat. pewarna dan pengawet. kemudian diolah dan dimasak di atas tungku-tungku hidup yang mereka rasakan sehari-hari.” bujuk Neal sembari memberikan permen mint yang ia beli di supermarket. Mimpi yang selalu ia percaya sebagai isyarat baik. “Lebih enak permen ini. Neal tak suka dengan para bungkus itu ke dekat mobil sambil mengetuk-ngetuk—malah kadang mengedor—kaca jendela. Tapi. tangan anak-anak itu pastilah kotor dan menjijikkan. Malah kabarnya mereka menggunakan sorbitol—sebagai pengganti gula yang mahal—dan kayu manis sebagai penyedap aroma. membuat mulut dan tenggorokanmu jadi segar. korengan. Ia sering mendengar kumuh pinggiran kota membuat permen itu dengan cara menampung kesedihan mereka.” Tapi. Kesedihan dan kegetiran dalam panci-panci rongsokan. ia tak mau menenteng biji-biji permen. Dan tangan itu tak pernah dibersihkan ketika membungkusi biji-biji permen yang “Bagaimana mungkin aku memberikan permen seperti itu pada Iza!” ujar Neal.

“Lho, apa salahnya?” “Tidak. Iza tak boleh makan permen seperti itu. Tidak baik.” Selama ini Neal begitu hati-hati memilihkan semua yang tak terbaik bagi anaknya. Ia ingin Iza menikmati masa kanak yang membahagiakan. Dan Neal takut Iza akan tergoda oleh permen itu. Bagaimana kalau tanpa sepengetahuannya, Iza membeli permen itu ketika jajan di sekolah?

menatap Neal yang tengah memakai kembali g-string-nya. “Maksud, lo?” Mata Neal melotot.

“Aku kira, permen itu sebuah gagasan yang cerdas,” kata Samuel, setengah tertawa,

“Dengar,” Samuel menatap serius. “Bukankah mengubah kesedihan menjadi permen itu cara penderitaan. Membuat yang pahit jadi manis. Kamu jangan meremehkan hanya karena yang luar biasa? Mungkin itulah cara terbaik bertahan di tengah hidup yang penuh

permen itu terlihat murahan. Ini hanya soal kemasan. Aku kira, kalau dikemas dalam kotakkotak yang bagus dan dipasarkan dengan baik, permen itu akan menarik juga. Mungkin akan jadi komoditi yang menguntungkan. Bukankah ini peluang pasar? Kita bisa mengembangkan permen itu untuk diekspor. Bayangkan! Kita bisa mengekspor permen penderitaan itu ke banyak negara. Saya kira itu jauh lebih baik ketimbang kita melulu mengekspor TKI.”

Samuel tertawa—mungkin karena merasa lucu. Tapi Neal tak menanggapi. “Lagi pula, permen-permen itu telah membuat banyak orang jadi punya kerjaan. Yah, penjahat kapak merah, kan?”

meskipun cuma jadi asongan di perempatan jalan, tapi itu lebih baik daripada mereka jadi

Dari jendela hotel Neal memandang ke bawah, ke arah jalanan yang macet. Ia lihat puluhan permen itu. Rasanya, dari hari ke hari semakin banyak saja jumlah penjaja permen itu memenuhi jalanan. Jalanan yang macet jadi makin semrawut oleh mereka. Samuel memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya pelan.

pengasong yang berjalan dari satu mobil ke mobil di belakangnya, menawarkan bungkusan

“Mestinya kamu tak usah terlalu gelisah. Toh itu hanya permen.” Tidak. Ini bukan hanya soal permen baginya. Permen bukan hanya sekadar sesuatu yang

manis di lidahnya. Bukankah ia mencintai Samuel karena laki-laki ini memberinya sekotak permen ketika pertama kali mereka bertemu? Bagi Neal permen lebih menggoda daripada tertarik untuk menikmatinya. Ia akan lebih suka membayangkan bila di surga penuh untuk memetiknya. buah apel. Bila dulu ia adalah Hawa, dan Tuhan menggodanya dengan buah apel, pasti ia tak bergelantungan biji-biji permen warna-warni yang memancarkan cahaya. Ia pasti tergoda

Samuel memberinya permen. Permen yang selama setahun ini ia nikmati bersama Samuel. Hidup memang seperti permen karet, meskipun lembut dan manis, kita harus berhenti menikmatinya sebelum terasa asam dan hambar. Makanya Neal menahan lidah Samuel

dengan jarinya ketika laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Lagi pula ini sudah jam tiga sore. Jam di mana Neal harus menelepon suaminya. Pras menutup handphone-nya. “Siapa?” tanya Melly. “Neal.” “Kamu mesti jemput istrimu?” Pras menggeleng. Ia memandangi Melly yang bersandar di sofa dan belum juga memakai blazernya.

“Cuma ngomong soal permen…” “Permen?” “Ya. Permen. Dia belakangan ini selalu gelisah soal permen yang dijajakan di perempatan jalan itu.”

“Permen ini maksudmu?” Melly mengeluarkan sebiji permen dari tas Louis Vuitton-nya. Pras memandangi permen itu. Benar. Itu permen yang sering ia lihat dijajakan di

perempatan jalan. Pras sama sekali tak menyangka kalau Melly menyimpan permen itu. “Kok kamu beli?” “Itung-itung ngasih rezekilah. Lagi pula bosan kan terus-terusan menikmati permen rumahan. Sesekali perlu juga nyoba bagaimana rasanya permen pinggir jalan….” Pras merasa wajahnya memerah. Omongan Melly terdengar seperti sindiran. “Kamu mungkin menganggap permen ini tak enak, hanya karena dibuat dari adonan kamu pernah dengar ada permen yang dibuat dari rayap kayu?” Pras menganggap Melly bercanda. “Bener! Nggak tanggung-tanggung, yang mengembangkan permen dari rayap kayu itu

penderitaan. Tak ada yang salah kan kalau ada permen yang dibuat dari penderitaan? Apa

seorang profesor di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu nggak mengira kalau rayap dan lemak 25,2 persen, dan ini cocok buat bahan dasar permen jelly yang kaya dengan suhu70-100 derajatCelsius, udahdeh, jadipermen…” “Tahu dari mana?”

kayu kering jenis cryptotermes cynocephalus light mengandung karbohidrat 10,2 persen nutrisi berupa protein rayap. Tinggal dicampur dengan sirup fruktosa tinggi, dimasak pada

“Baca dong!” Melly sedikit mendengus. Ia tak suka dengan ekspresi Pras yang tampak tak mau percaya kalau ia tahu soal permen rayap itu. Apa dikira sekretaris tidak suka baca?!

Pras diam. Melly mendekat ke ranjang dan berbaring di atas tubuhnya, lalu menyodorkan permen itu tepat ke wajah Pras yang tengadah. “Coba, deh…” Pras tanpa sadar langsung mengatupkan mulutnya. “Sesekali kamu makan permen ini kan ya tak apa-apa,” kata Melly sambil memandang mata

Pras dengan lembut. “Mungkin ada gunanya juga sesekali kamu sedikit merasakan penderitaan…”

Pras memejam. Permen itu mengingatkannya pada kecemasan istrinya. Tapi apa salahnya

mencoba? Toh ia juga suka permen. Rasa permen yang beraneka macam selalu membuatnya merasakan sensasi petualangan rasa di lidahnya. Apalagi sejak ia menikah dengan Neal. Ia permen terlebih dahulu. Permen bisa menghapus bau bekas ciuman di mulutnya. selalu membawa permen di sakunya. Setiap kali hendak masuk rumah, ia pasti mengunyah

Warna-warni cahaya kota terlihat bagaikan bermacam bungkus permen yang bertebaran di udara. Barangkali kota memang seperti permen yang menggoda siapa pun untuk datang menikmatinya. Kota adalah pabrik gula-gula. Gedung-gedung yang menjulang itu adalah

menikmati cokelat raksasa itu, yang tampak seolah meleleh di bawah cahaya. Lalu muncul

kotak cokelat raksasa. Neal melihat barisan orang-orang yang berbondong-bondong ingin

kotor seperti cakar yang hendak menggaruki mobilnya. Neal mendengar suara jeritan yang melengking bersahut-sahutan…

panik ketika orang-orang itu mulai mengepung mobilnya. Tangan mereka yang hitam dan

serombongan orang-orang kumuh yang keluar dari dalam lorong dan gorong-gorong. Neal

belakangnya. Lampu sudah menyala hijau. Dan ia masih melamun. Seorang pengasong

Ia tergeragap. Ternyata itu suara puluhan klakson mobil-mobil yang berderet di

menyodorkan sebungkus permen ke dekat kaca mobilnya, tetapi Neal segera tancap gas. Neal masih gemetaran saat sampai rumah, dan mendapati Iza sudah tertidur. Pembantunya bilang, sejak sore anak itu terus nangis. Tak mau les piano—padahal biasanya ini yang paling disukai anak itu—dan bahkan juga tak mau makan. Hanya karena kecapean ia kemudian tertidur.

Neal memandangi anaknya yang lelap. Wajahnya seperti roti gandum yang diolesi susu.

Di dalam rumah ini, ia bisa melindungi anaknya. Tapi bagaimana di luar sana? Sungguh, ia ingin anaknya terus merasakan hidup yang nyaman dan tenteram. Ia tak ingin pengaruh buruk dari jalanan merusak hidup anaknya.

Tiba-tiba Neal merasa takut, betapa wajah anaknya kelak menjadi keruh oleh penderitaan.

rumah sambil mengunyah permen. Kebiasaan yang Neal perhatikan mulai dilakukan Pras sejak mereka menikah. “Sudah tidur Iza?”

Menjelang jam sepuluh Pras pulang, dan seperti biasanya, suaminya itu masuk ke dalam

2007 “Sesekali Iza kamu perbolehkan makan permen itu kan ya tak apa-apa. Pelan Pras mencium bibir istrinya. “Bagaimana kalau besok Iza masih ngambek dan terus minta permen itu?” tanya Neal menjelang mereka tidur. memandang mata Neal dengan lembut.Neal mengangguk.” jawab Pras sambil . Neal merasakan sisa aroma permen yang lengket di sudut bibir suaminya. “Mungkin ada gunanya juga sesekali anak itu sedikit merasakan penderitaan…” Jakarta.

Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto- foto mereka. atau permadani terbang dan juga kuda sembrani.Piknik Agus Noor Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. Bagai ada naga menggeliat di ceruk . keledai. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami. latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum Belakangan kami pun tahu. Mereka datang dari segala penjuru dunia. Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan. Kami menyukai cara mereka tertawa. Kadang mereka mengajak kami berfoto. menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda. membawa bermacam perbekalan piknik. dan sempat mengunjungi kota kami. Mereka begitu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan kartu pos yang dikirimkannya itu. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota unta. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang debu. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. botol- Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. Pada bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. Karena itulah mereka ramairamai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi juga. Mata kami yang murung dan sayu. para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. di punuk unta terlihat bergoyang-goyang. biskuit dan telor asin. lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puingpuing kota kami. Sementara mereka—sembari berdiri dengan atau merentangkan tangan lebar-lebar. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. saat mereka begitu gembira membangun tendatenda dan mengeluarkan perbekalan. Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami. roti kering yang disimpan dalam kaleng. Kami menduga. daging asap yang digantungkan botol cuka dan saus. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. Mereka segera mencetak foto-foto itu.

bangunan dan pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut. bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. Mereka juga pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening. jalanan. seolah semua itu terlampau bahagia. seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. Lorong-lorong. dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan. bawah kakimu. Memetik kecapi dan Saat malam tiba. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri.0<>w 9738m< Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang kunjungi. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. menurut mereka. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. Betapa menggetarkan melihat pohon. dan bintang. tetapi tidak dengan kota kami. kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba. Dari kejauhan kami . sebuah kota yang selalu tertutup menyerupai gelapanggur danhanya bisadilihat ketikasenjakala. hingga menyerupai kota yang dibangun di atas menyerupai benteng di ujung sebuah teluk. dan sungai selalu meliuk-liuk. menyaksikan seekor ayam emas tiap kota. rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona.0<>w7028m<1)>jmp 0m<>h9738m. pepohonan di kota kami saling bertubrukan. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan. dan jalan-jalannya yang telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan.pohon bertumbangan dan rumah- Bagi para pelancong itu. menyaksikan beragam keajaiban di es abadi. Tapi kota kami. para pelancong itu bernyanyi. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh. gemeretak paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan.bintang terasa lebih jauh di langit hitam. penyair. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan tembok-tembok retak. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian.rumah rubuh menjadi abu. Itulah detik-detik atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang batu bata. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia. Kepada kami para cermin. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang. karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja.>jmp- menyusur dinding-dinding menghadap air. candi-candi megah yang disusun serupa tiara. adalah kota paling ajaib yang pernah mereka Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang 2008m<>h 7028m. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap.

Semua itu terjadi bukan hidup dalam jiwa penghuninya. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke pergi mengungsi dari kota kami. para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. sungai-sungai. tower dan menara.menyaksikan mereka. Kami mendirikan kembali sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. Jangan khawatir.lahan hancur dan tumbuh kembali. meski sebagian demi karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur. kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami. membagikan sekerat biskuit. seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. Membuat kami tak hendak adalah kota yang penuh keajaiban. Keajaiban tersendiri. kami . setiap kota memang memiliki jiwa.gedung. Karena itulah kami selalu rumah-rumah. sebotol kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur. tetapi lebih karena kota itu tak lagi terdiri dari gedung. sepotong dendeng. kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya. Kami tak ingin kota kami lenyap. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan. Mungkin itu bisa pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata… Yogyakarta. atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban. sekolah. Sembari menaiki pedati. runtuh tertimbun waktu. yang hancur. sementara. Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. menanam kembali pohon-pohon. seperti burung Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami kami ini sebagai malapetaka atau bencana? kota kami. Setiap kota yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. Mereka tersenyum dan melambai para pelancong itu berhenti. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. Jangan membuatmu sedikit terhibur dan gembira. Sesekali minuman. rumah sakit-rumah sakit. hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya. 2006 CATATAN: besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. jembatan. ke arah kami. dan fana. Berwisatalah ke kota kami. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh.

2006) Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner. oleh Erwin . Invisible Salim (Fresh Book.1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino.

Mata Mungil yang Agus Noor Menyimpan Dunia Selalu. Hingga ia menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. Beberapa pengendara sepeda motor yang . Dan itu kian Gustaf dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Jembatan penyeberangan di berubah perbukitan hijau. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Berkoreng di lutut kirinya. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakanteriakan bocah itu. Ia menurunkan kaca mobilnya. Selalu bercelana pendek kucel. Tiang listrik dan lampu jalan menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Kadang berloncatan. jalan menjelang kantornya. agar ia bisa berlamalama menatap sepasang mata itu. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Dia tak banyak beda Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. jernih dan bening mengalir perlahan. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Setiap pagi. Tak ada keruwetan. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan layang. Air yang dinding penyangga jalan tol. rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Usianya paling 12 tahunan. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. seperti menjolok sesuatu. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Memandang mata itu. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. kerakap tumbuh di bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. karena jalanan telah atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau selokan.

Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Mata itu membuat dunia jadi banyak warna. kawat berduri yang terjulur yang menggantung. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. memandangi mata seseorang cukup lama. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. terlihat berbeda. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. panjang. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Setiap menatap mata seseorang. boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. ”Mata itu seperti jendela hati. yang kata Mama.menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Mata yang tertutup jelaga kebencian.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Mata yang mungil tapi bagai Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Ia suka menatapnya homoseks seperti Oom Ridwan. saat ia berusia tujuh tahun. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat orang-orang yang dijumpainya. sewaktu kanak-kanak juga menyukai berlama-lama. ia yang bagai liang hitam. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih . Setiap kali terkenang mata itu. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. pecahan kaca yang menancap di kornea. Tapi Papa kerap menghardik. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Karena itu. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Mata yang penuh kemarahan. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Rasanya. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. padang gersang ilalang. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Ia ingat perkataan Oma. Begitu bening begitu jernih. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Mata yang berkilat licik. itulah mata paling menyimpan dunia. indah yang pernah Gustaf tatap. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata menyingkir. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi selalu disuruh menggambar. Dan ia selalu menggambar mata. Sering ia menggambar mata mata dengan sebilah pisau yang menancap.

Bila perlu ia menculiknya. karena memang menyimpan sebuah dunia.Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Membuat Gustaf berpikir. pikirnya. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Terlalu banyak anak Gustaf tersenyum. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. seperti jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Atau karena mata mungil itu akan terlihat beda. Bila ia bisa memiliki mata itu. lantai yang digenangi air bening. Eceng gondok tumbuh di Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Apa yang kini ia pandangi Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. bisa memiliki mata itu. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Di lengkung selendang sutra bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus buatnya. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Ketika berjongkok. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan . semuanya sudah tampak sempurna. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Semua itu hanya mungkin. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu itu. mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. batin Gustaf. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Dan ia makin ingin mata bocah itu. Gustaf kini bisa mengerti. Apa pun akan Gustaf jalanan berkeliaran. Bocah itu sering berloncatan— sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Semua Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. mata. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya.

tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. Begitu lift itu tertutup. Beberapa orang malah terlihat melotot tak sekelilingnya…. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. sambil berbicara kepada temannya. ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. Ia ingin membuka jendela. dan melemparkan recehan. Gustaf terkesima memandang Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu.terjulur ke arah jalan. percaya. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. 2006 .

banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. seperti kotak tempat menyimpan gitar. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. Dan tadi. Bila pulang. tapi ia masih saja hidup.siul >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. rapi. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Entahlah. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan Ia berdiri di ambang pintu. Sesekali. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Lihat saja tampang tetangga melihatnya keluar tengah malam. mengerut menatap laki-laki itu. Ah. ia sudah menjemur kasur pewangi ruangan. Memakai jaket kulit hitam. Sebab. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa benar akan datang. mengusir bayangan buruk itu. Atau erang kesakitan leher digorok. beberapa koper besar. Kadang berbulan- bulan. Bayangan kematian penuh darah. hingga ia bisa mati tenang… karena ditolak permintaannya saat lebaran. keramas.Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Agus Noor Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. sembari terus bersiul. Merapikan pakaian. Ramadhan kali ini. Saat Ramadhan bantal yang lembab apak berjamur. Seperti selalu menghilang. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Ia jarang berada di kamarnya. Tato di lengan kanan. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Bergegas. Setiap menjelang Ramadhan. Ia memejam. Saat ia berbaring di ranjang. Langsung. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. dan segera saling bisik. Menyemprotkan upacara kecil menyambut kematian… ringan. Mungkin ia rampok. Ramadhan berlalu. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan . Menenteng seramnya. Parut luka seputar pundak. dan wangi. memandang langit siang yang terang. Menyisir rambut dan memotong kuku. seperti bekas bacokan. sembari bersiul-siul kecil. ia bisa mencium bau amis darah itu. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. ia berharap maut benar- Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Melipat selimut. kemarin. Berhari-hari. Ia tak ingin kecewa lagi.

Seperti menyaksikan kematian . Menutup diri. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Wajah.harga BBM—matanya jelalatan. rumah petak tak pernah berani bertanya.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. mereka mendengis bengis. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. sebagai seorang pembunuh bayaran. Wajah mahasiswa yang yang lehernya ia sayat. ia terlihat merokok siang hari. Mati dengan tenang. Pintu jendela yang biasanya tertutup makanan buat sahur. Ini yang membuat kian penasaran. ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Wajah pucat perempuan simpanan ketika ia membantai keluarganya.mayat itu meleleh. Tiap termangu memandangi kapling makam itu. Tetangga yang jadi tukang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. tapi pergi ke kuburan. Ia terkapar. memandang entah apa. Mungkin intel. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Menjelang Ramadhan ia muncul. bercerita. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Ia seperti tak mau dikenali. atau berdiri Para tetangga jadi gelisah. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Barangkali ia dukun. Mungkin sedang menyiapkan sore ia keluar. Ia mengerang. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Misterius. Kulit wajah mayat. Meski ia tahu. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. dibuka lebar. Beres-beres kamar. Dan seseorang yang menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. wajah remuk rusak itu. menyapu. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. seperti lilin panas mencair. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan Ia pun suka menikmati saat.saat seperti itu. Rutin yang ganjil. Aneh. Mengepungnya. Sering. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. mengenali beberapa ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini.wajah yang membuatnya mengerang panjang. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. di bulan Ramadhan. Mungkin. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah Ia tergeragap bangun. seperti mengawasi. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher mengecup pelan-pelan… korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam.

diam ia membunuh kucing pamannya. kenapa orang seperti itu Tapi itu bukan urusannya. Lalu sepulang perang. tak ada yang pun mendaftar jadi tentara. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Sorot matanya tenang. nanti bila sudah berhenti. Kulitnya yang putih bersih. Rahang terkesan pipih. Benar kata komandannya. Bicaranya santun. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… coklat resik. Lalu beberapa order ringan lainnya. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia paling senang ketika harus disiplin. Ia lebih menyukai Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Tugasnya hanya membunuh. ia diberinya pekerjaan. Dan ia mulai mengawasi. Umur tujuh tahun. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. diam- dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. bayaran yang menderita di masa tuanya. Ia akan tinggal di rumahnya. tertib. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. berani menghentikan. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Beruntunglah orang . Ia tak terlalu menyimak. Orang. membuat lawan- lawannya bonyok nyaris mati. Sumpek bau comberan. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir.orang mengerubung. Dan itu disukai komandannya. Kisah para raksasa penyantap manusia. kata teman-temannya. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan.Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Ia heran. Beberapa menderita Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Beberapa mati dalam penjara. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia menyiksa para pemberontak. Ia kenal beberapa mantan pembunuh sakit jiwa. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Alangkah hebatnya jadi tentara. Dikirim ke medan perang. Tempat menyembunyikan diri. Percuma kalo cuma jadi tentara. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Sepotongsepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. wartawan. Seorang hakim. Di kampungnya. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan.” kata komandannya. Tapi membuatnya merasa aman. Menghabisi seorang Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Memang. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Dan ia membusung bangga. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. dan ”Kamu punya bakat bagus. Membunuh seorang pengusaha. Paling mentok jadi sersan. Tanpa jejak. Kamu pantas jadi tentara. bisa memukuli orang sepuasnya.

Amin. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. 2005 . Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Dan ia kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? tersenyum. Sayang kan. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan.” Baru kali ini ia gemetar. Ia pun kemudian selalu berharap. ia hanya berdiri gamang. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Tapi tolong. membuangku ke jurang dengan mobil itu. Ia mulai diusik gelisah. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. hehehe…” Kiai pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. kenapa mobil perlahan berhenti. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Singup. lakukan tugasmu. Jutaan pasang mata Ia merasa senja meremang. ”Aku tahu. Biar tak banyak korban. Dan semoga saja. Kelebat bayang burung menyambar. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Lalu menggelar sajadah. Mencibir. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Tak usah Karena itulah. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Enggak usah merepotkan sampeyan…. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Ia meraba belati.yang mati di bulan Ramadhan. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. Kematian di bulan Ramadhan. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Terdengar letusan. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Jangan sampai aku kesakitan ya. Gemetar tak yakin. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan Semua sudah sesuai rencana. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Dengung jutaan serangga mengepung. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Ia bisa menembaknya. Getir. lalu mendorong mobil ke jurang. Lalu meraba ”Sekarang. kecuali mati di bulan Ramadhan. kamu mau membunuhku. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Lengking gagak di kejauhan. Yogyakarta. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Senyap. Kamu cukup membunuhku. yang pelan. Seperti yang sejak itu terus mengintainya. itu mobil mahal. dan kini memburu kematiannya. Kemeresek daun jati jatuh. Karnawi terkekeh. Pelan. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Kalau boleh memilih.” ajak Kiai Karnawi. Alhamdulillah.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan.

cicit. kontainer. perkebunan. kolam ikan. Masya Allah. cucu. dan pertokoan. Tuban. Gelap gulita. hutan terbakar. Juwana. maupun motor karena tak Zaman. banyak lagi korban. tambak. ”Cepat kuburkan. didaki karena licin dan terjal. Tapi. apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir. air tak juga surut. mungkin tidak sedikit jumlahnya. sawah-sawah yang siap panen. Tubuh saya menggigil dan dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. cahaya perak. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran.” . Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Wahai. untuk menemui Kiai Zaim pesantren di desa kami. Terdengar gelak-tawa menyergap disusul hujan lebat. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. saya sudah tak tahu jalan. perumahan. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. Tapi terbit di timur dan tenggelam di barat. Jepara. Subhanallah. sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Pati. bus. dari Pati ke Rembang. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km mampu menembus banjir. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar. seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. mobil-mobil pribadi. juga nenek-kakek. ayah. cahaya perak. namun tak kunjung muncul. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan ”Kalau ibumu ini mati. Saya yang satu minggu kehujanan terus. barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas. Jawa Tengah. dan anak-anak. yang terdiri dari truk. Rasanya tubuh ini beku. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. Banjir masih juga melanda Pati. meliputi kota-kota Demak. Sementara di Riau dan Jambi.” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat. Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi.Pantura Danarto Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap sudah dua minggu. Hanya bukit yang cukup sulit bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini. Agaknya tersangkut sesuatu. meski apa peduliku. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan. Kudus. Ibu. Mendadak laju rakit ini terhenti. saya meraba tubuh orang. ke mana Saya semakin menggigil. Rembang. Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. Mendadak mendung datang rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun.

Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga air lalu kembali tenggelam. saya berhasil masuk ke ruang salat. katanya. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat mempertajam tetes hujan bagai jarum. Tiba-tiba rakit mentok. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini. berseliweran berlarian.” ”Ibu saja yang menjaga adik-adik. ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan itu bermanfaat bagi sesama. kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya. Benar saja. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu . kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu. bermain maupun berdebat soal jodoh. katanya. manalagi. di atap masjid itu tidak hanya baju. ibu kok ngomong begitu. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk. Maka ketika banjir surut. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. Alhamdulillah. dalam ukuran apa pun. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan tubuh saya juga mengering. Banjir yang lebih besar kali ini datang. menikmati sebuah lalu minta lagi. Meski sangat kesukaran. di mana Rembang.” ”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu. meski selalu kekurangan Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. Di mana Pati. ayah. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. Terlalu bising. saya mencari jalan turun ke dalam masjid. dan kedua adik ke Jakarta. sampai saya terjatuh.” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan.”Ah. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. Tapi mereka tak betah di tapi cukup bahagia.” Di atas atap dapur.” ”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik. ”Jaga adik-adikmu. sejauh mata memandang. air. teriknya. Rumah tertutup santri. alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta. merupakan perpaduan yang elok. yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. pohon mangga yang sangat rindang. air. Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. Lalu boyongan kembali ke desa. air melulu yang tampak. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana- menyebabkan rakit ini berhenti. di rumah bertingkat kami. ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. di mana para juga Tuhan. Jakarta. Seorang kiai dengan pohon mangga Karena panas tak tertahankan. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim mana. manis dari akarnya. Saya mau cari nafkah di Jakarta. nama yang mengingatkan orang sehabis yang lebat buahnya. putra maupun putri.

” Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar. menjauh.” ”Salamualaikum. ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau. bangun dengan sigap.” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik. Di luar. banyak sekali. dari imbalan yang bisa menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut: Ketika saya kembali ke dalam. saya kaget bukan alang kepalang. yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas.” ”Subhanallah. ayah.” ”Subhanallah. dan kedua adik saya. saya tertidur tanpa diawali kantuk. Saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun. orang-orang pernah berduyun-duyun ”Saya bukan Kiai Zaim Zaman. Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya.“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini. ”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu. tangan banyak sekali. Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. Saya ”Maka cepat-cepat saya menemuimu. menanyakan kesehatannya. Waktu bangun. sementara di luar sana. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasadalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. kaki yang dua jenjang itu. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek- . saya banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. ”Pak Kiai. di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata.” seru saya. meminta doa.” ”Subhanallah. ke sebuah dusun yang sunyi. ya.” ”Orang-orang modern bisa juga kesurupan. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman yang dua lengan itu. Di yang mumpuni ini. kepada ibu. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. ”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali.” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu.” seru saya sambil mengejar beliau. Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. ya. orang-orang berteriak meminta tolong. banyak sekali. sekeluarga turun-temurun. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau. berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur.air banjir. ada hal-hal yang perlu saya tanyakan. mencium tangannya.

menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. mungkin mereka tidak menyadari. semakin kentara kami butuh bantuan yang tak Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu. semuanya ini milik-Mu. ”Ya. Keadaan jadi kacau dan meriah. menimpuk sejadi-jadinya. itu tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya. Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu. Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. ”Gue ude konglomerat. subhanallah. Persediaan makanan habis sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya. . Subhanallah. bukakan mata mereka. dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita. diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru.” doa saya dengan kenceng. Saya tertegun. kedua adik saya. ayah. Masya Allah. saya pasrah setulus mungkin. uang yang saya bawa itu uang sungguhan.kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!” Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak. Menurut ibu. Allah. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. ibu. Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. kenapa saya sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. Allah. Bukan uang Sesampai di rumah. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan oleh sejawatnya yang selalu mengganggu. menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. Lo aja ambil yang masih kere!” Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk- kata-kata konyol. Penuh banyolan dan semprotan Anehnya para sopir dan kenek itu. ”Ya. ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub.” doa saya. Dengan kunjung datang. Bagaimana mainan. Tuhan punya rencana. caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu. uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam. Seperti mati berdiri. Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh. Dalam hati saya menyesal.

14 Februari 2008 .Tangerang.

Ia pusar bisa berlari sekencang itu. Dihardik satpam jadi emping. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menanyainya kenapa ia berlari. Ini Matahari terbahak. Tempeleng orang lain sebelum ditempeleng orang lain. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus sendiri. dikerjakan. Atau baru. Lari! Lari! Tekuk dan telan kota. kabarkan. Bung!” Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus. barangkali orang-orang itu bisa menolongnya jika ia butuh pertolongan namun anak itu acuh tak acuh dan terus berlari. Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan orang tak mau tahu. “Ibu jangan menari lagi!” teriaknya sepanjang jalan raya itu. Hitam kayak pantat kuali. Ada apa anak itu berlari terus. Suasana mendesing bunyi gasing. Legam bagai Jacky Chan melenting. Anak itu agaknya merebut waktu. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Tidak seramah abah dan babah semasa zaman misai jepaprah. lo. Ia berzigzag di antara kendaraan-kendaraan yang menunggu lampu hijau. Jangan pernah kalah. Di jalan-jalan Jakarta tak ada tempat untuk kencing. Semua pertanyaan lompat bajing. kopaja. lo?!” Semrawut kota semakin bising.Jantung Hati DANARTO Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa. mikrolet. “Ibu! Ibu! Jangan menari lagi!” ia melarang ibunya menari lagi? Memangnya kenapa kalau ibunya tetap menari? Anak 10 tahun ini boleh jadi anak yang aneh. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya kepadanya yang cepat menghilang terhalang di antara pintu dan jendela Bianglala. Kepala berputar kerna mana ibunya? Mengapa ia berteriak-teriak? Apa ibunya mendengar teriakannya? Mengapa ia Lonceng kota berdentang dua kali. Lamat-lamat ditelan mall yang bernyanyi. Ia sedang diburu kebutuhannya berteriak. jadi rupanya ibunya seorang penari. Nak? Ada apa. Barangkali ke Jakarta Pusat. mengucap salam pada metromini. Jangan pernah mau mengalah. pusing. Mereka menerobos di antara bus. Keringat kota diperas habis-habisan. dikejar setan. “Ini Metropolis. Jangan ketinggalan. seperti ada sesuatu yang ingin ia temui. Tapi setiap pertanyaan belum terjawab. Pelabuhan menjerit. Udara sangat panas. Ia menuju ke arah selatan. Jakarta sudah lama bilang ogah. Ia menyeberang di antara lalu-lintas saling bertanya. Orang-orang menengok yang padat. Ia tak mendapatkan bus atau angkot. Merebut tempat. Jakarta Utara. selalu muncul pertanyaan meminta ibunya untuk tidak menari lagi. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. Orang- bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. Seolah metropol miliknya sendiri. angkot. mencari kekal pada dinding. . Sesuatu apa itu. persis malam mati. “Ada apa. Kerjakan yang mesti berlari itu. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Ia tak peduli. yang macet. Tak lelah-lelahnya. Metropolis. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. atau kota ditekuk dan ditelan orang lain. Angin berdebu. ia terus berlari. Merebut kesempatan sebelum segalanya terlambat. Nak? Ngapain lo lari terus? He. O. Alangkah kencang larinya. Angin kencang. Tapi di “Ibu! Ibu!” teriak anak laki-laki itu menyebut ibunya.

Jangan terpeleset. api. bertengger gubuk derita malang. Wangi jembatan layang. supaya hati tak garang. Tuhan tempeleng manusia. terbahak. Lalu berpijar cahaya api. Anakku. Tiga kali kena gusur. Nyawa yang berbakti. Tuhan kendali manusia. Sotangnya tajam bagai taring kirik. kesandung maut dari seberang. Kemana sandal jepitnya tadi di emper. Tumbuh harapan. Di sekolah anak tak pernah bolos. Tak pula timpang. orang yang matanya nyalang. Namun tak beringas. Ia musnah. Aduh. Pasrah tanpa curang. “Ini anak apa maunya?!” Orang-orang melengos. mabuk tetap tegak. Tak ada tempat yang jauh. Tak kenal batas. badai derita Ia terlalu sakti. Anak itu melompat pagar tanaman. KTP diinjak-injak. Jeritkan segala raung serigalamu. Henry Muhammad. Penari agung bikin keder pemda. Walau di lapak. ia mendelik. Kemana tanahku. Alasan tempat jeli selalu kena jalur hijau pasti. Pesanlah nisan sekarang. Ia ingin lolos dari angka-angka narkoba oplos. O. Di ladang luber. Itu udara wengi.000 tahun mengayuh. Tak peduli pada aspal jalan yang panas. Berlari terus.Seperti bandit yang dibiarkan lolos. Cepat Anak ini cerdik bagai jengkerik. O. Ia diangkat Allah ke firdaus ketujuh. anak itu tahan menceker. Ksatria Utara tak mau berkelahi. Tak mati-mati. O. Saling gertak ketemu ibu dirundung sawan. kadaluwarsa dari sepihak. Mengalir angkasa pesat. bukan pula keris patih. Tak mati-mati. Jangan-jangan sedang menari bersama awan. Mencari hidup layak seperti pesan bapak. menghirup angin surga. Ia anak mama. Hanya Muntahkan segala pikiran kotormu. begitu pemerintah kasih wejangan. aparat James Bond lumpur panas dan kalajengking di bawah keset. Hidup bisa dicicil angket. tanah. tanah asli ayah bayang. Seluruh menteri melankolis menatap Henry. Ia ksatria tuntas. Matahari membantu tapi butuh ongkos. Seluruh hamba wet. Dengarkan mahasiswa sedang berjuang. bukan raja. Nasib orang. berbakti. Tiga kali tanah dibeli di berbagai . putri jelita berbanding Sembadra. seluruh penghuni hotel prodeo adu jotos. menerkam kijang tercecer. Ada saja yang tidak polos. Kedua orang bertahan di bawah jembatan layang. O. Itu udara pagi. Lalu kena sabetan keris yang ditempa padepokan Ganggang. Udara. Jasadnya lenyap ditelan udara. Butiran menjelma hujan. O. kejeblos di pasir boblos. Setiap mahasiswa melaju mobilnya ke universitas. Berlari chitah otak cucu belum juga encer. mencium bau wangi. termasuk jalur hijau jalang. Bukan ratu. Segala tempat. Ibunya sedang menari di atas jembatan layang. kota. Tuhan yang pegang. Dalam sehari 50. air. Tiba-tiba agung bagai baja. Mengambang taat. cucunya cucunya cucunya cucu Empu Gandring. Ia hindar bertengkar kerna pintar. Berlari terus. Tanah di bawah jambatan layang UI diberi julukan “O Henry Rudini”. Menggaris lurus menerka keadilan. Ia keris empu. Di bawah jalan layang. Dipuja petani. dan pertapa sejati. Baik budi. Padang darah berember-ember. Tuhan sayang manusia. Mau dicaplok katak. Seonggok jalan layang ke Universitas Indonesia gemilang. Namanya bikin gentar. Berbanding Pandawa pantas. Orang-orang yang berpapasan mendesah. Kemana tanahku. Tinggallah putri bersama anak semata wayang. zat. telapak kaki tanpa alas. Ibu Pertiwi mengerti. Anakku. Perahu malaikat burung puyuh. Eyang. hitungan akurat. kenangan manis buat Mendagri dan Henry yang tertindas. O. Aduh. Apa mau dikata. Henry minta ganti rugi mahal kerna tiga kali dibohongi. Supaya jarak lari menjadi aman. Jangan menoleh ke belakang. Si anak ksatria utara.

Jakarta musnah!” tenggelam dilanda banjir bandang. restoran. berkali-kali penari itu diburu. Dalam jumlah besar membengkak. Tanggulangi penjarahan dan perampokan. Pasukan antihuru-hara diterjunkan. Berkali-kali banjir besar sikap ini kentara sekali. Sebagai ahli waris Henry atas sepetak tanah di bawah jembatan layang UI. Laut meluap. pegadaian. berenang di dataran luas yang dalam. para mahasiswa melongok-longok lewat jendela mobilnya. dan seluruh tempat yang menyimpan duit atau pangan. perumahan mewah. tak ada artinya. Satu udara ganti-berganti. “Dua puluh tiga ekor ikan paus menyeret gunung es. ikan-ikan paus yang segede-gede kapal destroyer dari kutub utara. Mereka dengan gigih menabrak-nabrakkan tubuhnya ke arah gunung pasukan khusus diterjunkan dari helikopter di atas jembatan layang UI dan di Pulau Seribu ikan-ikan paus itu tidak peduli. gunung es bersimaharajalela. Korban banjir antara yang hidup dengan yang mati. mereka sudah sampai Pulau Seribu. Perampokan kantor-kantor.“Ibu! Ibu!” teriak anak lelaki itu dari bawah jembatan layang UI menatap ibunya yang sedang lintas yang selalu padat itu. Namun penari cantik dan . Jakarta tenggelam. Nah. di milenium ketiga. Andai dulu pemda di zaman Orba tidak pelit dan mau membayar ganti rugi satu miliar rupiah. Di dalam kendaraan-kendaraan pribadi di sela lalu- “Ibu jangan menari!” sambung anak itu. mengambang dan tenggelam maupun karet mendadak. bank-bank. menjadi sasaran penjahat maupun orang baik-baik. Bagai monumen. para politisi dan wartawan tidak memolitisir musibah “Jakarta Meratap” dengan “pemerintah “Itu klenik!” seru jubir pemerintah dalam menanggapi pernyataan bahwa pemerintah dimusuhi alam. Tapi itulah jalan hidup. puluhan. Kota gelap gulita. Dengan sangat meminta ditolak alam”. Tenaga-tenaga penolong susah. Di pojok-pojok Jakarta rawan. Di siang hari jadi kota mati. departemen keuangan. mall-mall. ratusan mobil mengambang. toko-toko. Mereka saling bertanya. Dia dan ikan-ikan paus itu terus menari. Saking banyaknya korban entah. Para relawan penolong bertindak. Datang dari kutub utara. pasar. ATM. Korban tak dapat dihitung. namun dia selalu lenyap tak berbekas. Berpuluh ikan paus mengunyah gunung es yang mereka Keadaan darurat nasional gubernur umumkan. Di seluruh kawasan.” Namun Valeria Daniel dari antv di atas helikopter melaporkan pandangan mata: “Jakarta seret dari kutub utara. Banjir rasanya semakin meninggi. dia terus menuntut ganti rugi yang layak. Dan alam sangat untuk menangkap sang penari dan membunuh ikan-ikan paus itu. menari di atas pagar jembatan layang. Daerah Khusus Ibukota payah. Supermarket. Banyak individualis jengah. Selama ini pemda DKI meyakini bahwa penari jembatan layang UI itu kong kali kong dengan melanda Jakarta. tentu jumlah itu saat ini. Mobil-mobil tinggal atapnya yang muncul. yang bercokol di utara Pulau Seribu itu dikitari puluhan ekor ikan paus yang berloncatan ke es itu yang agaknya untuk secepatnya mencairkannya guna memandikan Jakarta. ternyata pemerintah sendiri sangat doyan klenik. Dibutuhkan perahu Helikopter menyigi rendah. Bagai papan-papan selancar. sampai kini tentu semakin dirundung dosa yang kelewat-lewat. Pemerintah yang dulu.

Gelombang menggempur Tanjung Priok. Ibu dari anak. Melek dari kantuk.membantunya. Sejumlah penari dan ikan-ikan paus itu. Cikini. Kekasih dari asmara. Blok M. Cemburu dari buta. Hotel Sari Pasifik di dibangun untuk mengantisipasi banjir bandang itu. Tapi segala jenis hotel penuh. Ibu itu terus melanjutkan tariannya. terpisah dengan keluarga lainnya. Senen. Cilandak. Cinere. 20 Mei 2006 . Kali Deres berteriak-teriak meminta tolong. Orang-orang kaya mengungsi ke hotel-hotel. Tangerang. dan melahap terus ke selatan. Para sniper itu dibuat kelilipan matanya sehingga sniper membidik penari dan ikan-ikan paus itu dari kejauhan. Mall-mall Jalan Thamrin yang dibangun dengan pondasi yang tinggi. Kampung Rambutan memahami musibah itu. Sanak terpental dari sanak. Gunung Sahari. Jalan Thamrin. Suami dari istri. “Ibu stop menari! Ibu stop menari!” teriak anak itu terus-menerus dari bawah jembatan layang itu. Benci dari cinta. Kakek dari nenek. Namun alam tetap membela membatalkan bidikannya. Beberapa orang mahasiswa memarkir kendaraannya di jembatan layang itu untuk melihat penari itu tetap gemulai dengan gerakannya. Keluarga Paman dari keponakan. Jalan Sudirman. Angin kencang menyapu pasukan khusus berikut helikopternya sehingga mau tak mau mereka harus menjauh dari penari dan ikan-ikan paus itu. paling laris karena agaknya dipenuhi para pengungsi. Hari balas dendam telah terjadi. Parung. Cucu dari buyut. Anak itu terus melanjutkan teriakannya. Sang penari tidak menstop tariannya. Bola dari Piala Dunia. Canggah dari wareng.

Begitu pula para pebalet teman Zahra. menyembul. dan pembesar negara lainnya. kegemarannya. buah-buahan. pemeran Rothbart bergantian. yang disihir Rothbart menjadi angsa. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. Baru pada malam hari . pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. angin sepoi-sepoi. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. juga grup dari Perancis.Telaga Angsa DANARTO telaga. sebagai sponsor pertunjukan. Natalya Ashikhmina.500 penonton. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. ayu dan ganteng. Maxim Fomin. yang mengelus rambutnya. Alvin Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. bulu- usai. Jerman. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. gubernur. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. dan memagut dan bercinta. Sebaliknya. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam Nikolai. yang putih maupun yang merah. Odette. Tampak Viatcheslav Gordeev. Direktur Artistik Chino. gubernur berjanji. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. tentang balet di Rusia. Di antaranya di tempat ini. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir plain croissant. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. pernah berpentas Martha Graham. balerina 21 tahun. Mereka rame-rame menikmati salad. Mineev. Angsa-angsa putih menyelam. komposisi yang senantiasa berubah. Dia memilih minum air jeruk nipis. Maya Ivanova. yang ditemani balerina Masami Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. ngobrol dengan gubernur. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. dan jus jambu kelutuk. masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. Gadis ini Zahra. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Asmara angsa. kepada para tamunya. lalu mendarat kembali. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. sup ikan tuna. Irina Ablitsova. Mereka saling bulu bergetar ketika mencapai puncak. Membentuk Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi mengepak beberapa saat di atas permukaan air. sangat populer di seluruh dunia. Dengan 1. insya Allah. Andrei Joukov. tidak minum wine. menteri.

memangnya kenapa?” tanya Zahra. adalah para pemeran angsa kecil. Oxana Gasnikova. Rothbart sang penyihir. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. yang ndak cocok bagi kamu. dan Anna Vakina. Semuanya tertawa.” tukas Kakek. angsa itu menjelma Odette. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. kedua adiknya. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. Siegfried sadar. neneknya. ayah. hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. sih. sampai Kakek terbatuk-batuk.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. Eyang bisa kesleo. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. Seketika. Olga Ivachenko. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. Odille. adalah Svetlana Ustyuszhaninova. Semua tertawa. Begitulah. juga tante dan oomnya.mereka menjelma manusia kembali.” kata Kakek. yang secantik Odette. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. ”Tapi.” tukas Nenek. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. Kakek terbatuk-batuk lagi. untuk merebut cinta Mendengar kabar ini. jatuh cinta kepada Odette. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan ”Awas. ”Terpikat boleh terpikat. Semuanya tertawa.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. . asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. lho. Siegfried. ibu. ”Lho.” sambung Kakek. Sedang para pemeran angsa gede Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. seluruh istana bergembira. saya sih. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. ”Itu kan mengumbar aurat. dan Anastasia Baranova. cocok-cocok saja. memamerkan putrinya. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. Pangeran Siegfried. ”Apa. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh pertunjukan ”Swan Lake”. Usaha Rothbart berhasil. siapa pun tak bakal salah Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya memilih. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. kakek dan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. Sekalipun dengan mata terpejam. Tatiana Chungunkina. ”Odette atau Odille. Rothbart marah besar. pemilik istana dan telaga.” celetuk Nenek. Eugenia Singur.

” ”Wah. ”Saya serius.” ”Kesan. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. wah.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. ”Semuanya kan tertutup rapat. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. kecuali Kakek. wah. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. Eyang. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. Obrolan berubah jadi perdebatan. Eyang.” sambung Kakek.” ”Jangan begitu. deh.”Aurat yang mana?” tukas Zahra. Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol.” ”Jangan begitu. Kesan. Semuanya tertawa kecuali Kakek. kok Eyang sampai segitunya. peradaban.” Semuanya tertawa. Eyang ini gimana. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra.” ”Saya heran. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi.” sanggah Kakek.” ”Wah. Meriah. Melihat kostumnya. kok yang disalahin balerinanya. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. Habis jadi diktator. sih.” tukas Zahra. semuanya terkesan jelek. kostum Zahra ya seperti itu.” ”Eyang yang kasmaran.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. Jika kita bicara soal kesan. mendadak berubah jadi filosof. bubar.” sergah Kakek lagi. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun . pertunjukan itu harusnya disensor. Aduh.

” cetus Kakek.” kata Oom.” kata Zahra. ”Eyang benar-benar lowbrow. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. ”Apa?” tanya Kakek. Mendengar kata Kakek ini. begitu pula kostum ketat balet ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.” Zahra menukas. Cucuku. Seperti para perenang yang memudahkan untuk bergerak menari.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis.perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. ”Adat ketimuran kita adalah KKN.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. ”Dalam KKN ada tradisi.” hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. runtuhlah kebudayaan. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu.” sela Kakek. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan.” . ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” sewot Zahra. ”Adalah tradisi balet.” sambung Kakek. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. Eyang. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. ” sergah Tante. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. ”Kostum ketat itu.

” sergah Kakek. saya cuci tangan. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya.” tukas Nenek. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. Eyang. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. Bukan kepada Tuhan. Lengang sejenak. Barangkali besok. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. kata Allah.” jawab Tante.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya.” tambah Nenek.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. mereka itu setahun lagi?” hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. ”Coba. Eyang. atau lusa. saya dikasih contoh.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Kita bisa menuduh mereka ateis. Seperti tercium setan lewat. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. ”Banyak negara yang busuk. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Anakmu bukan milikmu. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan.” tukas Kakek. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. Kecuali Kakek. atau ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu.” kata si Oom. Zahra. .” tambah Tante. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan.”Hati orang siapa tahu.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. Dan itu bukan teori.. Eyang.

menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. tidak ada pornografi dan pornoaksi. tergetar. bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Dan ternyata Allah itu indah. Dalam balet. Kita wajib memeliharanya. Ada api yang menyalanyala. Allah mencintai keindahan. sedang dalam . Tangerang. Dalam dandanan kebaya pinjungan.” ”Saya setuju.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Cobalah nikmati tari bedoyo. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. Eyang.” ”Sebagaimana balet. Ada air yang mudah mematikan api. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Suatu dakwah keindahan tiada tara.Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. 14 Februari 2006 seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. cukup sulit.” sambung Zahra.

Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Orang-orang . mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. Sebagai penulis lepas. setelah sarapan. mengular sampai jalanan. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. Misalnya. Istri saya lewat jendela. maupun wali kota. Sudah sering datang orang. saya menjawab sekenanya. persoalan anak dengan orangtuanya. sekadar yang saya tahu. ramai. Karena istri saya gelisah. kata-kata bijak dari para cendekiawan. menantu dengan mertua. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Rasa saya tetangga. tidak benar-benar membutuhkan saya. pengairan sawah. bupati. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. perbankan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. bupati. Juga tentang hubungan suami istri. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Saya acuh tak acuh. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. Dengan ngantre minyak tanah. satu dua. bibit tanaman. soal usaha tambak udang. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. yang sama sekali tidak saya ketahui. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. misalnya. sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat mereka sekadar butuh teman ngobrol. satu dua. Cukup menyenangkan. Rasanya camat. Sungguh menghabiskan waktu. Ada apa? belum menemui mereka. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. bawahan dengan remaja. Selama pertemuan-pertemuan dengan para Untuk sikap saya itu. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. juga masalah percintaan antaranak-anak Jika ditanya.Nistagmus DANARTO Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Saya acuh tak acuh. Kadang datang berbondong. dan banyak lagi saya tidak nyaman. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Saya rasa kali ini juga begitu. juga tayangan televisi. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. Sudah sering datang orang. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang Kadang-kadang saya juga diundang camat. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. atasan. teman-teman. perburuhan. Di samping para tetangga. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. dan wali kota. Saya tak pernah mengutip berkepanjangan. Istri saya memberi tahu. menyadarkan saya. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. saya dijuluki “pendengar yang baik”. Dan pembicaraan beralih ke olahraga.

Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Dan sebagainya. lalu saya cari alamatnya. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. tidak ke mana-mana. sampai kenalan baru. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Misalnya. tak ada yang menulis. Tulisan obituari itu tidak panjang. Alasan saya. kenapa tidur di rumah. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. ia kaget. Begitulah. orang-orang ternama. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Kadang sampai 8. Saya interviu keluarganya. “Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!” “Biar kamu mati. ataupun di stasiun bus. Banyak komentar.lengang. Masa pensiun pasti datang.orang biasa. di sebuah desa yang Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. Kepala kantor orang itu kebingungan. selalu saja orang . keluarga. ia seharian di rumah saja. kompleks pertokoan. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. sementara beban keluarganya besar. Keluarganya memberi tahu. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. ada seorang tukang becak menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si usia. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. tukang becak. dan berapa orang saudaranya. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!” Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Seluruhnya orang. sekitar 5. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Begitu siuman. Saya catat riwayat hidupnya.000 karakter yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. teman. pekerjaan terakhirnya. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. dibawa pulang ke rumahnya. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5.000 karakter.000 orang. Yang jail maupun pelesetan. agaknya hanya saya seorang. lewat mesin ketik manual yang lokal yang memberi saya kebebasan. meski kamu membayar Pak Jurnalis!” “Kamu tidak akan mati. Si kepala tibum jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Banyak usulan. Saya menolak ketika diminta menulis obituari sedangkan untuk orang-orang biasa. menyebabkan banyak orang mengenal saya. kemudian berubah ke mesin ketik komputer. sebagaimana kematian itu pasti tiba.

Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Apa yang akan terjadi dengan saya. Tidak kenapa-kenapa. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Banyak ngomong dianggap meramal. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Kritiknya tidak berdasar. katanya. kenapa?” “Maaf. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. sehabis ngobrol dengan saya. Lalu malah terjadi serba-salah.nyeletuk: “Pak Jurnalis. yang paling kritis. dan si bungsu di SD kelas 5. jika seseorang ngobrol dengan saya. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya.” jawabnya.” “Lho. ini bahaya. Menurut mereka.” Tapi.” “Baiklah.” “Biar untuk Bapak saja. Memang ada seorang yang “Pak. Pak Jurnalis. Tapi ini kebetulan saja. Dari kejadian itu. Ada yang berubah dengan tingkahlaku saya. saya sedang mewawancarainya. Ada yang bilang. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. Pak.” “Jangan ditinggal korek apinya ini. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. seseorang yang ngobrol dengan saya. “Lho. Ntar saya yang menulis Bapak. “Maaf. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. Saya jadi pendiam dan menyendiri. Ketika orang menanyakan pendapat saya. Ini benar-benar klenik. Maka ada saja orang yang anti-saya. Saya nggak mau ditulis sekarang.” “Saya permisi.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. Keterlaluan. tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Sementara itu ada pula yang bilang. kenapa?” “Maaf.” Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Pak. Pak. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. ia meninggal. Pak. Di pertemuan-pertemuan desa. sedikit saja saya ngomong. tulisan saya tidak adil . Saya tak bisa menjawab. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Anak-anak saya. Tidak kenapa-kenapa. lima orang. Wah. Memangnya saya cenayang. ada yang mengartikan. Pak?” Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu.

ini dosa.” “Begini.” dengan empat orang anak. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga “Nah. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. anak-anak saya itu: Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama.terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Sebagai ayah.” anak-anaknya yang lain. Ia meninggalkan seorang istri istrinya dan anak-anaknya yang lain. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari.” “Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala.” “Nah. Padahal saya selalu Mendengar keterangan saya. wah. anak-anak saya itu diam. Saya sering lelah berdebat dengan mendidik anak-anak saya itu dengan keras. “Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. saya berat. Nah. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga.” “Semuanya. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?” “Dari Ayah.anak saya tersebut.” “Itu harapan saya. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan bilang. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar.” “Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu.” jawab anak-anak itu.” “Tidak bisa seenaknya begitu. Itu doa saya.” “Semua orang bicara dosa dan pahala. “Kalian ngawur. Nah.” “Boleh saja. . Pernah saya menyergah “Dari mana kalian tahu. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga. Jika sampai di sini hal itu masih baik.” “Ayah marah kena keritik. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam.” jawab saya. Ayah pernah menulis obituari. itu semua yang anak. sedang rakus-rakusnya makan. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan mereka. Lima anak semuanya sekolah. anak-anak ini sok tahu. kalian ngawur. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. kan.

terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. merangsek ke depan meja saya. Sinar matahari memancar. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. bayi. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? Mata mereka nanar. mencecap pencerahan. nistagmus. Waktu saya siuman. panas. setelah sarapan. Kami menikah dan Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. 26 Desember 2004. di luar kemauan. Saya rasa kali ini juga begitu. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar tulis. termasuk menulis berita. satu dua. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. cerdas dan berani. mereka menatap kebenaran. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya berserak.Kami sebenarnya keluarga bahagia. tak seekor pun tampak terbang. Istri saya memberi tahu. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. tua. Tangerang. Saya menulis apa saja. Bahkan burung-burung. 20 Januari 2005 . saya menyiapkan kertas dan alat baru menunjukkan pukul 05. di atas pohon. guru SMP. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. laki-laki. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Istri saya saja suka empot-empotan. Istri saya lewat jendela. Dengan ngantre minyak tanah. Seluruh mayat itu. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. anak-anak. Alhamdulillah. yang untuk makan sehari-harinya sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti Setelah sarapan. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. perempuan. Karena istri saya gelisah. Entah berapa lama saya pingsan. mengular sampai jalanan. Allah…tanggal akhir hayat. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah.00. saya. di reruntuhan rumah. Saya tak tahu lagi di mana rumah Cuaca cerah. Ada apa? belum menemui mereka. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Ahad. menjenguk menyingkap kain gorden jendela sedikit. Sudah sering datang orang. Anakanak mewarisi sifat-sifat ibunya. Mayat-mayat itu lebih mengesankan diselimuti lumpur. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. di jalan. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Di Jogja itulah pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. tanah. Hari baru membuka matanya. berserakan memenuhi ruang dan udara. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. muda. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Jam aum macan. Saya acuh tak acuh. di kebun. di pekarangan. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan sedang tidur pulas.

Ikan Jenar Mahesa Ayu Ia ikan yang terbang. Ia burung yang berenang. karena entah adalah ketidaktahuan yang sering kali jauh lebih dingin yang memanggang. tepat di antara bibir kami yang tengah berciuman. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyakSaya pun tak mau membuang waktu lebih panjang. begitu istilah orang-orang. dengan kaki-kaki telanjang. Girangnya sirna. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan. Sembunyi-sembunyi. hilang. Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Bukankah kita semua membayar mahal untuk sebuah Malam berenang dalam kesunyian. Maka saya tahu. dan ada yang hanya bagian tangan. Dan ia entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang. saling berhantaman. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Hingga ada satu pecahan jatuh kejauhan pantai. Bahana tawa. bersentuhan dan mendesah massal. Sendawa alkohol di permukaan udara. menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta Phuih! Ombak meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. Maka… menggoda. memabukkan daripada kesadaran. Senyum manja. begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Rajaman semu. Bercinta di bawah para-para. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal. Meninggalkannya dalam diam yang haru. . Saya berlari kencang menuju kafe banyaknya di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Saat penghakiman. Entah karena entah karena entah. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan. saling beradu berebut perhatian. Dan ia terpana. Sentuhan Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Tapi lendir ombak itu melekat begitu kental. Pesta pora. Kami terkapar di atas pasir basah. Ada Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai pecahan kaca yang beterbangan itu yang hanya bagian kepala. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di hingga jutaan rupiah untuk tidak sadar. ada yang hanya bagian kaki. kami Menusuk ke dalam kekosongan otak yang terasa ringan. adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Lantas jatuh menghajar kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding. entah karena nyala yang redup. entah karena basah yang kering. Muka badak. hampir tiba saatnya waktu bersenang-senang Suara musik di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Phuih! Saya meludah ke mukanya. Dan saya. Untuk saling gombal.

Saya melihat anak-anak yang tengah tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Mata pun meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Ada luka yang akan segera hilang. rok-rok dengan sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam magma yang siap selayaknya terdengar adalah tanya semisal. Saya melihat seekor burung yang seperti baru terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Tawa. Tawa. Di sebuah tempat antah berantah. Tawa. Tawa. sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. Tawa. Tawa. Entah peragaan busana. terjangkau. Tawa. Ada surga yang akan segera yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. dan kaki-kaki jenjang mengentak di atas meja? Bukankah yang Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di depan mata. Luka perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani mengatakan apa . Tawa. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan.Saya menunggu. Tawa dalam penantian. Tawa. Tawa. Tapi pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan itu tetaplah entah. Berlaku nyaris memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam dengan dingin tanya. Tak mampu menjawab pertanyaan itu. saya melihat sepasang manusia bercengkerama. Tawa. “Sendiri?” Dan sesudahnya. Mereka yang berada di sana tertawa untuk entah. Para model menunggu giliran untuk sebuah peragaan. Saya melihat jajaran kartu kredit di dompetnya yang berwarna abu-abu. Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu. bisa atau tidak para model itu. Tawa. Entah peragaan gaya. Ada nama yang akan segera dilupakan. Tawa. Tawa. mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. lalu memisahkan diri. Tawa berkepanjangan. diri saya sendiri terpaku. Masa lalu yang pernah menguatkan yang benar. “Sendiri?” Saya menatapnya. tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru? mereka diajak kencan setelah acara. Tawa. Sementara saya pun pura-pura tertawa. “Buset! Lama amat di luar?” “Udah ngapain aja?” “Kayak gak tau aja barbeque under the stars!” “Feeling hot hot hot!” Tawa. Tawa. Tawa. Ia pun langsung mengambil Alkohol. Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. Entah peragaan yang bisa memancing rasa terpana. Saya melihat seringai serigala di bibirnya yang tipis itu. Musik kian mengentak. Saya melihat langkah seribu. berapa kira-kira umur mereka. pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada Dan pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. panjang ala kadarnya.

Dan semua adalah ikan yang terbang. dosa. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong. Lalu semakin banyak ikan yang terbang. Maka bening berkumpul sedan. Ia masih berada dalam diam yang haru. pantas. Jakarta. Lalu semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Saya ingin melihat bubur sebagai dubur. Ada yang mendesak ingin keluar. Semua burung yang berenang. Semakin bertambah banyak burung yang berenang. Namun saya mencari sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. Semakin banyak burung yang berenang. Maka…. mata yang menatap girang. mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga. Agustus 2004 . Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata menyelimuti hitam bola mata. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. yang pantas juga ngomongin syahwat!” Selalu harus ada yang pantas. Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. Namun ada keinginan kuat untuk segera menahan sedu pantas. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas. dengan mata telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Mata saya pun memanas. Saya menunggu.“Huahahahaha…mata bintitan. Tapi tak juga saya temukan ia di tengah hiruk-pikuk gelepar Rajaman semu. Ia burung yang berenang. dan pantas.

majikan. “Robek saja. liat. Ketuban sudah pecah. Sembilan bulan sudah. liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. Erang kesakitan sudah tidak lagi melengking. Tapi… muda. Masih tak percaya. tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Rasa takut seketika membuncah.” kata supervisor saya. Air kental itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Uang yang terkumpul tidak cukup untuk operasi. jelas belum mapan. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket. Kepala saya pening. saya khawatir tidak bisa langsung apalagi suster. Suara tangisnya seisi ruangan melengking.Air Jenar Mahesa Ayu Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Makhluk mungil itu keluar dari dalam tubuh saya. Dok. Saya ingin protes. Menerima. Air ketuban sudah hampir kering. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. mencari uang demi mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa “Kami mengerti. Tapi saya berkata dengan yakin. di atas seprai motif beruang teddy berwarna merah dengan haru memanah. tapi tak . Kami tidak bisa mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil. sudah satu bulan setengah usia janinnya. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya. Dokter yang baik itu menatap saya dengan prihatin. Pun mulai membukit perut saya. belum cukup untuk hidup sebagai mengurusnya sendiri. Makhluk manis tak berdaya itu pernah tinggal di Lantas suster membawanya. Rasa mual merajalela.” Saya akan menjaganya Air hangat itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Membuahinya. Materi yang ada. Tapi saya ngotot persalinan alami. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya. Rasa waswas setiap kali belum waktunya namun sudah kontraksi. Saya akan menjaganya. Mengecup kedua matanya dalam rahim saya. Tapi segera mentah berganti Tidak mengambil cuti.” kata ayahnya. Baru pembukaan delapan. Lewati mual tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. yang masih lengket. membuahkan kecanggihan otak maupun fisiknya nanti. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. Masih tak percaya. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. masih harus menunggu dua pembukaan lagi. Pergi ke kamar bayi jauh dari ibunya. Harus operasi. Saya akan menjaganya. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda. Dan jika operasi. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Terus menyeruak dan mendarat lengket. Membayar pembantu.

sekarang ke dua payudara kecil ini pun gemuk membungkah seperti kelapa.bisa. Berusaha memberikan pengertian. itu? Saya begitu tak sabar menunggu. Jika saat itu tiba. Tidak terlalu sulit mengeluarkannya. Sekarang kami sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas.” Saya akan menjaganya. “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. membayar listrik. Membeli apa pun yang harapan. lagi. Cukup lama saya harus menenangkannya. kami akan menjelajah dunia. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang memilikinya. yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Di mana makhluk mungil menyusu. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit uang. Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. Padahal saya sudah begitu Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran? Saya menjadi ketakutan. Tapi tidak mudah memberikan sejuta taman bermain milik raja pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Harapan akan segera pulang membawa uang. Saya sudah tidak butuh rehat. setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami akan membawanya ke kamar bayi. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika. ketika suster itu berkata. Tetap Hanya cukup untuk makan sekadar. Ia membiarkan saya pergi. Air susu saya sudah sarat. air. Kalau perlu. Saya harus segera menghayati peran. Sudah jam delapan. Air putih cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. Air asin itu mendarat di bibir saya lagi. Saya akan menjaganya. kontrakan. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi akan ada pengisapnya. dan sekolah akan pulang. Saya tetap akan pergi. Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud jadi kenyataan. Suster yang Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat payudara saya dengan minyak kelapa. Ia akan tetap tak membiarkan saya pergi. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan? Apakah ia kesepian? Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika ponsel mutlak dimatikan. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat yang tak berperikemanusiaan. Saya hanya bisa berjanji dalam hati. kalau ia mau. Tapi kepala saya masih dipenuhi pikiran. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya sekarang. Baru akan dimulai merekam adegan. Payudara sudah terasa “Benar Ibu sudah siap?” Saya akan menjaganya Air mata meleleh di pipinya. telepon. aku udah mau tidur!” semprotnya. Tak menunggu saya pulang. . Dan saya tetap akan pergi. Berusaha memberikan rasa aman. Tetap akan pulang. saya akan membeli rumah berikut ia inginkan semudah orang membuang kentut. Dan harapan. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. “Capek ah nunggu. Tetap menunggu saya pulang. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya berat. Lucu. tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. Harapan akan segera pulang.

Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan Seperti semasa ia bayi menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum luka. Entah disengaja untuk menarik perhatian. Lampaui semua beban. Melayang bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu dan penderitaan. Menunggu. Lampaui semua luka ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang pulang. Seperti sekarang saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Saya kecup kedua matanya yang merapat. Semakin terkumpul segala lelah segala penat. menyerahkan untuknya menyusu. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. “Bangsaaaaaaaat!” Saya tak kuasa menjaganya Air kuning kental itu meluap dari mulut saya. Ada puisi di dalamnya. Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya berbusa akibat menenggak obat penenang. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya tertekan. “Action!” teriak sutradara. Saya akan menjaganya.harus terhambat kemacetan. Menunggu. Air jernih di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya. Menunggu. igau saya. Saya jentikkan kelingking di pipinya yang bening. menunggu emosi saya pergi. Saya Ada cahaya di ujung lorong. Lantas meronta. Menunggu. Di gelas itu berdiri sebotol bir merek bintang. Tapi yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia menjadi korban? Di balik selimutnya ia lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. Menunggu. Lima puluh pil penenang saya tenggak. Melayang seperti burung tanpa menyimpan. Tak jalan seperti dongeng anak-anak Peter Pan. Tidak membiarkan air putih kental itu lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan. Terkulai lemah seakan menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal menjemputnya. Apakah yang sudah saya lakukan? Atau justru apakah tertidur dengan amat tenang. igau saya. Satu saat nanti ia kembali. persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih lengket. Siap menerima saya dalam pelukan bahagia. Pelan-pelan . Menunggu kesadaran saya kembali. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang saya ambil dan buka. kini telah berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. sudah kembali pulas tidur. Entah ia sudah teler dan lupa sebagai manusia yang merasa disia-siakan. Seperti saya Saya kembali ke kamarnya. Ternyata datang dari tubuhnya yang berbalut cahaya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Ada kegelapan. kemilau dengan tangan terbuka. Tapi ia menggeliat. Kadang saya juga ingin melayang jauh ke masa lampau. menghalau saya supaya tak dekatdekat.

Air dapat memelukmu tapi tak akan membelenggumu Air dapat pantulkan cahayamu tapi tak dapat jadikanmu nyata(*) Saya akan menjaganya. Jakarta, 13 Mei 2006 12:24:00 PM Untuk Banyu Bening (*) Cuplikan puisi Air karya Banyu Benin

Saya di Mata
Jenar Mahesa Ayu

Sebagian Orang
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!

Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!

saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan! Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin saya murahan!

Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau

kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau

Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!

Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.

Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan! Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman

untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya banyak makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan saya

yang menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua teman-teman yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu Tapi karena teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan

dalam hubungan pertemanan? Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang

walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton,

tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa meninggalkan pesan SMS. saya ingin menerima ajakan mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu Apalagi, sekali lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air

hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin saya rasakan. mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering

Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya

meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi finansial.

Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak

paksa mereka khusus menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito Saya juga teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan

bolehlah… yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari

keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika saya menggunakan kata

merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar

melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami

tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah

toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat

saya menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur

dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak

benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang hubungan

Jika teman saya uang. perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling benar.jam.teman saya semakin banyak. Di pertokoan. Tapi kami masih menikah. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. maka mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Mereka bergunjing lewat Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman. Di rumah.minggu. Mereka saling mengirim surat elektronik. Setelah putus dengan si B ternyata . Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai seseorang. restoran. silih berganti tanpa henti dan ini membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan jalani dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan. pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya telepon.sembunyi bermain mata. atau murahan itu. Sebagian lagi menganggap saya sakit dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Kadang ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. mulailah kelihatan berkantong tebal. sok gagah. saya tidak pernah akal-akalan. Banyak terakhiri. Di ini berjam. Mereka sembunyi. Sehingga jika hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas ranjang. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi dibilang hubungan kami berakhir. bertahun-tahun. Pembicaraan mendadak berhenti. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap. Biasanya itu disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B. kantong belanja. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala kelaparan. Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Semua orang merasa sementara teman. Mereka sembunyi-sembunyi untuk merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Sebagian lagi menganggap saya jiwa. Jika teman saya kelihatan indah. pembual. sebagian orang yang menanggap saya munafik. sakit jiwa. hingga jenis dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang. berbulan-bulan. Yang berubah keterbukaan. Mereka saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. Di kantor. Hal.kami hanya sebatas pertemanan.hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada saling berbagi cerita walaupun jarang. Sebagian lagi menganggap saya murahan! pembual. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan begitu banyak orang. atau masih melajang. berminggu. maka dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras mereka dengan teori cinta-cintaan. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. Pandangan mereka menyapu bersih membawa teman baru. Menyeleksi kartu kredit saat membayar bon tagihan makan. berhari-hari. Perbuatan yang saya lebih tahu dibanding diri saya sendiri. Saya tidak pernah membohongi. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu kesempatan dengan bertukar senyum.

Menganggap saya pembual. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu bertentangan dengan pengenalan. Ereksi yang tidak lama kekal. Karena. Murahan! Jakarta. Kadang saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. terima karena saya munafik. Tapi tetap orang menganggap saya munafik. sakit jiwa. Tapi walaupun saya Beberapa kali saya bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Dan saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu hanyalah semata-mata proses cinta semalam. Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di tengah heran. Mendongeng membayar ongkos perawatan. ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya . Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. Saya hanya heran. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai moral. atau murahan. Pembual. Menganggap saya murahan! lanjut berteman. 20 Agustus 2003 11:35:54 PM hangat untuk bilas badan. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air tentang sebuah peristiwa lucu di satu kafe. darah saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. Menganggap saya sakit jiwa. Seleksi alam yang akhirnya menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau Menganggap saya sok gagah. Malam-malam panjang. Sok gagah. sok gagah. Mengirim makan siang. pembual. Bercerita tentang film yang baru saja diputar. Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap sekarang. saya tetap tidak berani menganggap mereka munafik. Sakit jiwa. jalan. saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang.ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain. Membuat Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. Menemani makan malam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful