Anda di halaman 1dari 10

JAWABAN DAN PEMBAHASAN

1. Dalam perjalanan menuju Bulan seorang astronot mengamati


diameter Bulan yang besarnya 3.500 kilometer dalam cakupan sudut 60 .
Berapakah jarak Bulan saat itu ?
A. 23.392 km
B. 33.392 km
C. 43.392 km
D. 53.392 km
E. 63.392 km

JAWAB : B
Konsep diameter sudut : Pengukuran diameter benda atau jarak dua
benda dengan menggunakan satuan sudut. Rumusnya : alpa = Diameter
benda sebenarnya / jarak pengamat ke benda. (alpa = D/r). Satuan dari
alpa adalah radian. Untuk mengubah ke detik busur maka kalikan saja
alpa dengan 206.265. (alpa = 206265 x D/r). Dimana 1 menit busur = 60
detik busur, 1 derajat = 60 menit busur.
Maka soal di atas bisa dijawab sbb. :
Diameter benda sebenarnya = 3500 km
Diameter sudut alpa = 6 derajat = 6 x 60 x 60 = 21600 detik busur
R = 206265 x D/alpa = 206265 x 3500 / 21600 = 33.422,57 km.

2. Sebuah satelit berada pada ketinggian h = 100 kilometer dari


permukaan Bumi. Berapakah jarak ke horison yang dapat diamati oleh
satelit ini ?
A. 6.038 km
B. 7.038 km
C. 8.038 km
D. 9.038 km
E. 10.038 km

JAWAB :

Jarak ke Horizon adalah jarak SH, maka


Jarak SH :
Dari segitiga OSH yang siku-siku, pakai
Phytagoras :
(h + R)2 = SH2 + R2
(100 + 6400)2 = SH2 + 64002
SH = 1135,78 km
Jawabannya satupun tidak ada yang cocok. Apakah ada kesalahan soal?
3. Sebuah asteroid X bergerak mengelilingi Matahari dengan periode
P=2,88 tahun. Oposisi terakhir terlihat pada awal tahun 2008. Kapankah
ia berada pada oposisi berikutnya?
A. 2009
B. 2010
C. 2011
D. 2012
E. 2013

JAWAB :
Saya berikan teori dasarnya dulu ya…
 Periode Sideris planet adalah waktu yang diperlukan planet
untuk satu kali mengelilingi matahari
 Periode Sinodis planet adalah waktu yang diperlukan planet
untuk kembali ke fase yang sama
 Fase adalah kedudukan planet jika dilihat dari bumi terhadap
matahari. Ada beberapa jenis fase planet :
 Untuk planet inferior (Merkurius dan Venus)  Konjungsi inferior
(atas), konjungsi superior (bawah), elongasi maksimum Barat,
elongasi maksimum timur  Elongasi (θ) adalah sudut yang
dibentuk antara matahari – bumi –
planet. Sudut elongasi minimum (θ =
00) terjadi ketika konjungsi atas
maupun bawah dan sudut elongasi
maksimum terjadi ketika terbentuk
segitiga siku-siku
 Sudut elongasi maksimum untuk
planet Merkurius sekitar 180 - 240
 Sudut elongasi maksimum untuk
planet Venus sekitar 340 - 380
 Untuk planet inferior, terlihat
bentuk sabit seperti bulan
 Untuk planet superior (Mars s/d Neptunus)  Konjungsi, oposisi,
perempatan barat, perempatan timur
 Planet Superior tidak memiliki
elongasi maksimum, karena sudut elongasi
terbesarnya adalah 1800 pada fase oposisi
 Tidak terlihat bentuk sabit pada planet
superior, tetapi memiliki lintasan yang
disebut lintasan retrograde, yaitu gerak
planet yang seolah-olah mundur, hal ini
disebabkan perbedaan kecepatan planet
luar dan Bumi ketika berada di sekitar fase
oposisi
 Perlu diperhatikan bahwa orbit planet bukanlah lingkaran, tetapi
elips, sehingga ada variasi misalnya pada sudut elongasi
maksimum, jarak planet pada fase oposisi, jarak planet pada fase
konjungsi, dll. Dan juga ada koreksi karena orbit planet yang tidak
sejajar dengan ekliptika (ada inklinasi orbit).
 Periode Sinodis Planet bisa dicari melalui rumus berikut :

 Planet Inferior (Merkurius dan Venus) :

 Planet Superior (Mars s/d Neptunus) :

 Sekarang kita kembali ke soal. Periode asteroid X = 2,88 tahun


 Lebih besar dari periode Bumi! Artinya bisa dianggap planet
superior. Jadi gunakan rumus fase planet superior :

 Jika oposisi diamati pada awal 2008, maka oposisi berikutnya


akan terjadi 1,5 tahun kemudian, atau di pertengahan tahun 2009

4. Tiga buah bintang (α Cen A, α Cen B dan Proxima Cen) mengorbit


pada titik pusat massa. Periode dua bintang : α Cen A dan α Cen B
diketahui mengorbit 70 tahun. Kalau jarak Proxima Cen terhadap kedua
bintang yang lain tetap, berapa periode orbit Proxima Cen mengitari titik
pusat massa sistem?

JAWAB :
Pada soal diberitahu bahwa jarak Proxima Centauri selalu tetap terhadap
kedua bintang yang lain, artinya ketika α-Cen A dan α-Cen B bergerak,
maka Proxima Centauri pun bergerak bersama-sama sedemikian sehingga
jaraknya selalu tetap. Jika α-Cen A dan α-Cen B satu kali mengorbit titik
pusat massa maka Proxima Centauri juga ikut mengorbit titik pusat Massa
satu kali. Jadi periode Proxima Centauripun sama, yaitu 70 tahun.

5. Panjang bayangan sebuah tugu setinggi 5 m yang terletak di kota


Pontianak pada tanggal 21 Maret 2004 jam 8 pagi, adalah 8,7 m.
Apabila satu menit kemudian panjang bayangannya 8,2 m, hitunglah
kecepatan gerak bayangan tugu yang jatuh di tanah saat itu karena
gerak semu Matahari. Jawaban boleh menggunakan pendekatan.

JAWAB
Panjang awal = 8,7 m, panjang setelah 1 menit = 8,2 m, jadi kecepatan
pemendekan bayangan = 0,5 m/menit
6. Berapa perbedaan sudut yang terjadi antara Mars dan Saturnus
perharinya dalam revolusi mereka mengelilingi Matahari (andaikan orbit
kedua planet berbentuk lingkaran)? Diketahui, periode orbit Mars = 687
hari dan periode orbit Saturnus = 29,5 tahun

JAWAB :
Satu kali mengelilingi Matahari berarti menempuh 360 derajat dalam satu
periodenya, jadi :
Kecepatan orbit Mars dalam satuan derajat/hari adalah = 360 derajat/687
hari = 0,524 derajat per hari
Kecepatan orbit Saturnus dalam satuan derajat/hari adalah = 360 derajat /
(29,5 x 365,25) hari = 0,0334 derajat/hari
Jadi selisih sudut tempuh Mars dan Saturnus adalah 0,524 - 0,0334 =
0,491 derajat per hari

7. Superman yang berada di permukaan Matahari memperhatikan


sebuah asteroid berbentuk bola yang mengelilingi Matahari dengan
lintasan elips dimana jarak aphelion 200 juta km dan jarak perihelion
100 juta km dari Matahari. Berapa magnitudo perbedaan terang
maksimum dan minimum asteroid tersebut menurut superman ?

JAWAB :
Gunakan rumus Pogson untuk perbedaan magnitudo :
m1 – m2 = -2,5 log E1/E2
Rumus fluks energi (E) adalah : E = Luminositas matahari / (4.pi.jarak^2),
atau bunyi hukum pelemahan radiasi adalah : fluks berbanding terbalik
dengan jarak kuadrat, jadi :
E1/E2 = r2^2 / r1^2, maka masukkan ke rumus Pogson yang tadi untuk
perbedaan magnitudo :
m1 – m2 = -2,5 log (r2^2 / r1^2)
Terang maksimum adalah ketika asteroid berada paling dekat dengan
Matahari dan sebaliknya, jadi m1 = jarak terdekat dan m2 = jarak terjauh,
jadi perbedaan magnitudo terang maksimum (m1 –> jarak 100 juta km)
dengan terang minimum (m2 –> jarak 200 juta km) :
m1 – m2 = -2,5 log (r1^2 / r2^2) = -2,5 log (200 juta km / 100 juta km) = -
0,75 magnitudo

8. Pada tanggal 8 Juni 2004 akan terjadi peristiwa transit planet Venus.
Periode orbit Bumi adalah 365 hari dan periode orbit Venus adalah 225
hari. Jika orbit Bumi dan orbit Venus tepat sebidang dan berbentuk
lingkaran sempurna, maka peristiwa transit Venus akan terjadi secara
tepat periodik. Berdasarkan asumsi diatas turunkanlah rumus umum
untuk menentukan periode terjadinya transit Venus, kemudian hitunglah
kapan terjadi transit yang berikutnya.
JAWAB :
Sama seperti pembahasan pada soal no. 3, harus diketahui dulu selisih
perbedaan sudut tempuh kedua planet (Bumi dan Mars) per harinya, jadi :
Selisih dalam derajat per hari = (360 derajat/225 hari) – (360 derajat/365
hari) = 0,614 derajat per hari
Karena pengamat ada di Bumi, maka pengamat di Bumi akan kembali
mengamati peristiwa transit Venus (pada posisi yang sama) setelah 360
derajat perputaran selisih ini, jadi periode transit T akan terjadi lagi setelah
:
360 derajat / (0,614 derajat per hari) = 586,6 hari = 1 tahun 221,6 hari
Jadi transit berikutnya adalah tanggal : 8 Juni 2004 + 1 tahun 221,6 hari =
15 Januari 2006 (perhitungkan 30 hari dan 31 hari dalam menghitung
bulannya ya…)

9. Sebuah planet berada pada jarak 130 milyar km. Kedudukan pada
tahun ini (tahun 2004) adalah di aphelion orbitnya. Planet itu mengorbit
dengan periode 10.500 tahun. Pada tahun berapakah planet berada
pada perihelionnya?

JAWAB :
Planet menempuh dari perihelion ke aphelion tentu saja hanya dalam
setengah dari periodenya, jadi waktu tempuhnya adalah 10.500/2 = 5250
tahun. Maka planet mencapai perihelion dalam tahun : 2004 + 5250 =
7254

10. Dari planet Mars piringan Matahari tampak mempunyai diameter


sudut 22,7 menit busur. Dengan mengetahui jari-jari linier matahari
yang sama dengan 109 kali jari-jari Bumi, berapa lama cahaya
menempuh jarak Matahari-Mars ? Diketahui jari-jari Bumi 6500 km.

JAWAB :
R matahari = 109 x R Bumi = 109 x 6500 = 708.500 km  Diameter
Matahari = 1.417.000,00 km
Konsep diameter sudut :
Diameter sudut = Diameter sebenarnya / jarak ke pengamat
(satuan diameter sudut dalam radian, 1 rad = 206265 detik busur, kalo 1
derajat = 60 menit busur, 1 menit busur = 60 detik busur), jadi :
22,7 menit busur x 60 = 1362 detik busur / 206265 = 0,0066 radian, maka
Diameter sudut Matahari = Diameter Matahari sebenarnya / jarak ke
pengamat di Mars
0,0066 = 1.417.000,00 / jarak ke pengamat di Mars
jarak ke pengamat di Mars = 708.500/0.0066 = 214.594.350,22 km
Cahaya menempuh jarak tersebut dalam waktu : 214.594.350,22 km/
(300.000 km/s) =715,3145 s = 11,92 menit ≈ 12 menit
11. Dua bintang memiliki magnitudo +4,1 mag dan +5,6 mag. Bintang
yang lebih terang memberikan 5x10^-4 Watt yang dikumpulkan oleh
sebuah teleskop. Berapa banyak energi yang dikumpulkan oleh sebuah
teleskop dari bintang yang lebih redup ?

JAWAB :
m1 = 4,1 lebih terang dari m2 = 5,6 (semakin besar magnitudo artinya
semakin redup).
Gunakan rumus Pogson :
E1/E2 = (2,512)^(m2-m1) = (2,512)^(5,6-4,1) = 3,98, artinya bintang
terang memberikan fluks energi (E) 3,98 kali lebih terang dari bintang
magnitudo 1
Jika teleskop yang dipakai sama, maka energi yang dikumpulkan teleskop
juga memiliki perbandingan yang sama, yaitu 3,98 kali, jadi bintang yagn
redup energinya adalah :
E2 = E1/3,98 = 5x10^-4 / 3,98 = 1,26 x 10^-4 watt

12. Sebuah teleskop memotret Bulan Purnama. Bila saat


pemotretan, Bulan berada pada jarak 359.811 km dari Bumi dan
diameter linier citra bulan pada bidang fokus teleskop adalah 5 cm.
Tentukan panjang fokus teleskop ?
JAWAB :
Panjang citra bayangan rumusnya :
SB = 206265/fokus = diameter sudut benda langit / panjangnya di
pelat potret
SB disebut skala bayangan (plate scale), satuannya detik busur/mm,
mis: SB = 40 detik busur/mm, artinya jika diameter sudut benda di
langit 40 detik busur, maka di pelat potret akan muncul dengan
diameter 1 mm,
Fokus adalah panjang fokus objektif, dalam satuan mm. Syaratnya
adalah tidak memakai lensa okuler, di titik fokus lensa objektif ditaruh
pelat foto atau CCD
Kembali ke soal :
Untuk mengetahui diameter sudut bulan, maka harus diketahui
diameternya (harusnya ada di daftar konstanta, kalau tidak ada
berarti memakai standar diameter sudut bulan, yaitu 0,5 derajat)
R bulan = 1,738 x 10^6 m  Diameter Bulan = 3,476 x 10^6 m =
3,476 x 10^3 km
Diameter sudut Bulan = diameter Bulan sebenarnya / jaraknya
Diameter sudut Bulan = 3,476 x 10^3 km / 359.811 km = 9,66 rad x
206265 = 1992,65 detik busur
Karena 1992,65 detik busur di langit menjadi 5 cm (50 mm) di fokus,
maka skala bayangan adalah :
SB = 1992,65 detik busur / 50 = 39,85 detik busur/mm
Kembali ke rumus awal SB = 206265 / fokus
39,85 detik busur/mm = 206265 / fokus
Fokus = 5175,65 mm = 5,2 m

13. Massa neutron adalah 1,67 x 10^‐24 gr. Jika pada sebuah bintang
diketahui jumlah
neutronnya adalah 2,4 x 10^57 neutron. Maka massa bintang neutron
tersebut jika
dinyatakan dalam massa matahari( M=1,989. 10^30 kg) adalah
a. 1 kali massa matahari
b. 1.5 kali massa matahari
c. 2 kali massa matahari
d. 2,5 kali massa matahari
e. 3 kali massa matahari

JAWAB : C
Bintang Neutron adalah bintang yang penuh berisi neutron (dengan
tambahansedikit elektron dan inti berat). Penuh disini dalam arti
sebenarnya, bahkan tidak ada ruang kosong. Misalnya jarak antara inti
atom ke elektron yang mengitarinya adalah ruang kosong, nah, pada
bintang neutron hal ini tidak ada, jadi benar-benar terisi penuh. Maka
massa total bintang neutron (jika sedikit elektron dan inti berat diabaikan)
adalah massa neutron dikalikan jumlah neutron yang ada, yaitu :
M = 1,67 x 10^‐24 gr x 2,4 x 10^57 = 4,008 x 10^33 gr = 4,008 x 10^33
kg
Maka massa bintang neutron ini dibagi saja dengan massa matahari untuk
mendapatkan dalam massa matahari :
4,008 x 10^33 kg / 1,989. 10^30 = 2,015 kali massa Matahari

14. Sebuah asteroid mempunyai jarak perihelium 2,0 Satuan


Astronomi (SA). Jika periodenya
5,2 tahun. Jarak apheliumnya adalah
a. 1 satuan astronomi
b. 2 satuan astronomi
c. 3 satuan astronomi
d. 4 satuan astronomi
e. 5 satuan astronom
JAWAB : D
Perihelion adalah titik terdekat dengan matahari, aphelion adalah titik
terjauh dari matahari. Perhatikan gambar elips di bawah ini :
Hukum Kepler 3 memiliki bentuk : a^3 = T^2
a adalah setengah sumbu panjang (dalam SA atau AU), T adalah periode
benda langit mengelilingi Matahari (dalam tahun), jadi :
a = akar pangkat tiga dari (T^2) = akar pangkat tiga dari (5,2^2)= 3 SA
Cari eksentrisitas dari data Perihelion yang diberikan
Rumus Perihelion  Pe = a(1 – e)  2 = 3 (1-e)  e = 1/3
Masukkan nilai ini untuk mencari jarak Aphelion :
Rumus aphelion  Ape = a (1+e) = 3 (1 + 1/3) = 4 SA

15. Tiga buah bintang A,B dan C masing‐masing menunjukkan pancaran


spektrum pada
panjang gelombang 5000, 7000 dan 10000 Angstrom. Dalam hal ini bisa
disimpulkan
bahwa temperatur bintang tersebut mengikuti kaedah berikut
a. A lebih panas dari B dan B lebih panas dari C
b. C lebih panas dari B dan B lebih panas dari A
c. A lebih panas dari B dan C lebih panas dari A
d. A lebih panas dari C dan B lebih panas dari C
e. A lebih panas dari B dan B sama panas dengan C

JAWAB : A
Prinsip pancaran benda hitam (bintang termasuk benda hitam menurut
fisika) :
 Benda hitam memancarkan energi pada semua panjang gelombang
 Ada panjang gelombang tertentu yang dipancarkan dengan intensitas
lebih besar dari yang lainnya, disebut λ max, nilainya berhubungan
dengan suhu benda hitam tersebut (T) dengan persamaan (disebut
Hukum Wien):
λmax . T = 2,898 . 10^-3 mK
λ dalam meter dan T dalam Kelvin, 2,898 . 10^-3 mK disebut konstanta
Wien
 Semakin tinggi suhu benda, maka semakin kecil panjang gelombang
(menuju warna biru)
 Semakin rendah suhu benda, maka semakin besar panjang
gelombang (menuju warna merah)
 Jadi suhu bintang menyatakan juga warna bintang
 Grafik energi bintang dengan suhu yang berbeda-beda bisa dilihat
seperti gambar ini :

Kembali ke soal, maka bisa dilihat bahwa semakin kecil panjang


gelombang, maka semakin panas (atau semakin biru) bintang itu. Jadi
yang paling panas bintang A dan yang paling dingin bintang C

16. Titan adalah satelit Planet Saturnus yang mengorbit dengan


lintasan yang berupa
lingkaran dengan kecepatan orbit 5595,25 m/s, dan periode orbitnya
adalah 15,9 hari.
Hitunglah:
a. Radius orbitnya
b. Massa planet Saturnus.
JAWAB :
Rumus kecepatan orbit ada tiga bentuk :

R adalah radius orbit, T adalah periode orbit, M adalah massa pusat yang
diorbit, G adalah konstanta gravitasi, g adalah percepatan gravitasi yang
dirasakan satelit dari planet induk (bukan gravitasi di permukaan planet)
Cari radius orbitnya memakai persamaan 1 (ubah hari ke dalam detik)
V orbit = 2.pi.r / T
5595,25 = 2.3,14.r / (15,9 x 24 x 3600)
r = 1,22 x 10^9 m

Mencari massa planet Saturnus gunakan persamaan 2 : (G = 6,67 x 10^-


11)
M = (v orbit)^2 * r / G
M = 5595,25^2 * 1,22 x 10^9 m / 6,67x10^-11
M = 5,74 x 10^26 kg

Anda mungkin juga menyukai