Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kopi Luwak adalah biji kopi yang diambil dari sisa kotoran “luwak” (musang kelapa). Kopi
luwak ini merupakan salah satu kopi paling aneh di dunia. Kopi yang pada umumnya dipanen
(dipetik) terlebih dahulu bila sudah matang dan kemudian diproses sampai menjadi bubuk kopi. Pada
kopi luwak sangat berbeda, biji kopi dibiarkan berjatuhan, kemudian petani melepaskan binatang
luwak, dan membiarkan musang-musang itu memakan biji kopi yang berjatuhan tadi, kemudian
mereka menunggu binatang luwak itu mengeluarkan kotoran. Memang kopi luwak terkesan sangat
menjijikkan, karena biji kopi itu keluar bersamaan dengan kotoran luwak, tapi meskipun terkesan
sangat menjijikkan ternyata kopi ini sangat enak dan nikmat. Para peneliti di Kanada telah
membuktikan bahwa kandungan protein yang terdapat di dalam perut luwak menjadikan kopi
berfermentasi dan matang lebih sempurna. Jadi rasa yang dihasilkannya pun lebih nikmat
dibandingkan dengan kopi-kopi lainnya.
Kopi luwak merupakan jenis biji kopi yang termahal di dunia, sehingga sampai masuk ke
Guiness Book of Records. Empat tahun belakangan ini harga kopi luwak di pasar internasional
semakin meningkat, bahkan mencapai US$ 500/kg bentuk biji kering (kadar air 11,5%). Bandingkan
dengan harga kopi biasa kualitas nomor 1 yang hanya US$ 4,5/kg. Kemasyhuran kopi luwak telah
terkenal sampai kemancanegara, bahkan di Luar Negeri, terdapat kafe yang menjual kopi luwak
(Civet Coffee) dengan harga yang mahal. Hanya saja, kuantitas produk belum terjaga secara kontinyu.
Penyebab utamanya, kopi luwak 100% masih tergantung pada alam. Selain itu, masalah dalam
penggunaaan luwak adalah populasi luwak di alam bebas sudah sangat menurun sehingga tidak
mungkin menggunakan luwak tangkapan liar. CITES (2009) menyebutkan bahwa Paradoxorus
hermaphroditus tergolong dalam appendix III , artinya statusnya dilindungi di daerah asalnya dan
kawasan tempat ia hidup. Binatang pada status appendix III jika diperdagangkan harus berasal dari
tangkaran, sehingga tidak boleh lagi menggunakan tangkapan liar. Kendala lain dalam produksi kopi
luwak adalah asal kopi yang merupakan kotoran luwak. Meskipun kopi luwak dikatakan memiliki
citarasa yang sangat tinggi, beberapa orang meragukan status kehalalannya. Beberapa orang juga
merasa jijik dengan asal kopi luwak.
Untuk mengatasi kendala kuantitas produksi dan persepsi sebagian konsumen atau calon
konsumen kopi luwak yang menganggap jijik kopi luwak, maka perlu dilakukan suatu terobosan
produksi kopi luwak yang bisa menguntungkan baik produsen maupun konsumen serta mampu
menjawab permasalahan produksi secara tradisional. Produksi kopi luwak harus bisa dilakukan dalam
jumlah besar, dengan metode yang lebih praktis, dan status kebersihannya yang lebih terjaga. Salah
satu cara yang ditawarkan adalah melalui suatu teknologi fermentasi yang memodifikasi atau meniru
kondisi fermentasi yang terjadi dalam perut luwak. Hal ini bisa dilakukan dengan mengondisikan
kondisi proses sesuai dengan kondisi proses yang terjadi dalam perut luwak.

B. Tujuan
Tujuan makalah Valuasi dan Komersialisasi Teknologi ini adalah sebagai berikut :
1. Memaparkan kemungkinan inovasi pembuatan kopi luwak secara sintesis dengan
menggunakan enzim dan mikroorganisme yang sesuai dengan perut luwak
2. Mempelajari dan mengetahui secara umum dan khusus proses inovasi teknologi kopi luwak
3. Mempelajari proses pemberian nilai tambah dan komersialisasi pada kopi luwak tanpa luwak
4. Mengetahui rancangan bisnis model dari produk inovasi kopi luwak tanpa luwak
5. Mempelajari proses perancangan sebuah industri komersial dengan visi dan misi yang jelas
II. PEMBAHASAN

A. Deskripsi Produk

Kolutalu atau Kopi Luwak Tanpa Luwak merupakan salah satu produk turunan dari
pengolahan biji kopi yang memanfaatkan proses fermentasi yang direkayasa sesuai dengan kondisi
fermentasi pada sistem pencernaan hewan luwak. Kopi yang digunakan untuk pembuatan Kolutalu
merupakan kopi jenis arabica dan robusta.
Produk Kolutalu memiliki dua brand yaitu Kolutalu Premium dan Kolutalu Gold. Kolutalu
Premium terdiri dari kopi arabica dan robusta dengan perbandingan 1 : 1. Sedangkan untuk Kolutalu
Gold terdiri dari kopi arabica dan robusta dengan perbandingan 1 : 3. Biji kopi yang digunakan untuk
produk Kolutalu Premium merupakan biji kopi dengan Mutu (Grade) I, sedangkan biji kopi yang
digunakan untuk produk Kolutalu Gold merupakan biji kopi dengan Mutu (Grade) II. Kualifikasi jenis
mutu biji kopi sesuai dengan persyaratan berikut ini:

Kualifikasi Mutu Total Nilai Cacat


Mutu (Grade) 1 Max 11
Mutu (Grade) 2 12-25
Mutu (Grade) 3 26 -44
Mutu (Grade) 4a 45 -60
Mutu (Grade) 4b 61-80
Mutu (Grade) 5 81-150
Mutu (Grade) 6 151-225

Kriteria Penentuan Nilai Cacat :

Jenis Cacat Nilai Cacat


1 Biji Hitam (Black beans) 1
2 Biji Hitam sebagian (Partly Black beans) 1
2 Biji Hitam pecah (Broken Black beans) 1
1 Husk kopi(Husk Coffe) 1
4 biji coklat (brown beans) 1
1 Husk ukuran besar (large husk framents) 1
2 Husk ukuran sedang (medium husk framents) 1
5 Husk ukuran kecil (small husk framents) 1
10 biji berkulit ari (beans in silver skin) : Robusta/WP 1
2 biji berkulit tanduk (beans in parchments) 1
2 kulit tanduk ukuran besar (large parchment fragmt) 1
5 kulit tandung ukuran sedang 1
10 kulit tanduk ukuran kecil 1
5 biji pecah (broken beans) 1
5 biji muda (immature beans) 1
10 biji berlubang satu (beans with one hole) 1
5 biji berlubang lebih dari Saturday 1
10 biji bertutul-tutul (spotted beans) : WP 1
1 ranting, tanah, batu ukuran besar 5
1 ranting, tanah,batu ukuran sedang 2
1 ranting, tanah, batu ukuran kecil 1

Syarat mutu
1. Pengolahan Basah (Dry Process- DP)
a) Kadar air maksimum ± 13 % (bobot/bobot)
b) Kadar kotoran berupa ranting, batu, gumpalan tanah dan benda-2 asing lainnya,
maksimum 0,5 % (bobot/bobot)
c) Bebas dari serangga hidup
d) Bebas dari biji berbau busuk, berbau kapang dan bulukan
e) Biji tidak lolos ayakan 3x3 mm (8 mesh) dengan maksimum lolos 1 %
(bobot/bobot)
f) Untuk bisa disebut biji berukuran besar, harus memenuhi persyaratan tidak lolos
ayakan ukuran 5,6x5,6 mm (3,5 mesh) dgn maksimum lolos 1 % (bobot/bobot)

2. Pengolahan Kering (Wet Process-WP)


a) Kadar air maksimum ± 12 % (bobot/bobot)
b) Kadar kotoran berupa ranting, batu, gumpalan tanah dan benda-2 asing lainnya, maksimum
0,5 % (bobot/bobot)
c) Bebas dari serangga hidup
d) Bebas dari biji berbau busuk, berbau kapang dan bulukan
e) Ukuran biji kopi untuk jenis robusta dibedakan :
1. Biji Ukuran Besar (L) : Tidak lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 7,5 mm, dengan
maksimum lolos 2,5 % (bobot/bobot).
2. Biji Ukuran Sedang (M) : Tidak lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 7,5 mm,
tetapi tidak lolos lubang bulat ukuran diameter 6,5 mm dengan maksimum lolos 2,5 %
(bobot/bobot).
3. Biji Ukuran Kecil (S) : Lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 7,5 mm, tetapi tidak
lolos lubang bulat ukuran diameter 5,5 mm dengan maksimum lolos 2,5 % (bobot/bobot).

Masing-masing brand memiliki target dan sasaran yang berbeda. Target dan sasaran Kolutalu
Premium yaitu kalangan menengah ke atas dimana produk ini hanya dapat diperoleh di outlet-outlet
Kolutalu yang telah tersedia. Produk Kolutalu Premium disajikan dalam bentuk hot coffee dan ice
blended coffee dengan rasa original. Serbuk Kolutalu Premium dikemas menggunakan alumunium foil
sebagai kemasan primer dengan netto 15 gram. Kemudian kemasan sekunder yang digunakan terbuat
dari kertas yang didesain semenarik mungkin. Penyajian Kolutalu Premium hot coffee yaitu dengan
menyajikan sachet Kolutalu Premium, termos air panas, seperangkat cangkir, gula, susu, dan creamer.
Dengan demikian, konsumen dapat membuat kopi sesuai dengan seleranya masing-masing dengan
tambahan gula, susu, dan creamer sesuai dengan keinginan. Sedangkan untuk Kolutalu Premium ice
blended coffee, konsumen melakukan pemesanan dan karyawan Kolutalu yang akan membuatkannya.
Target dan sasaran Kolutalu Gold yaitu kalangan menengah ke bawah. Produk ini dapat diperoleh
di supermarket-supermarket yang tersedia. Kolutalu Gold dikemas menggunakan alumunium foil
sebagai kemasan primer dengan netto 20 gram. Satu pak Kolutalu Gold terdiri dari 5 sachet Kolutalu
Gold 20 gram. Kolutalu Gold terdiri dari berbagai varian rasa seperti original, Kolutalu Gold + Gula,
Kolutalu Gold + Susu, Kolutalu Gold + Gula + Creamer, Kolutalu Gold + Vanila, dan Kolutalu Gold
+ Mint.

B. Manfaat Produk

1. Manfaat Fisik Produk


 Jaminan halal produk lebih jelas
 Bermanfaat bagi kesehatan
 Kandungan antioksidan dalm produk dapat mencegah penyakit saraf
 Kandungan kafein memiliki kemampuan anti mikroba dan anti lengket sehingga
dapat melindungi gigi
 Menurunkan resiko kangker payudara
 Membantu menurunkan resiko kanker kulit nonmelanoma hingga 17 %
 Mencegah diabetes
2. Manfaat Ekonomi Kopi Luwak Tanpa Luwak (Kolutalu):
 Terciptanya produk rekayasa kopi luwak yang dapat dinikmati oleh
kalangan menengah ke bawah.
 Membentuk ikatan kerja sama antara perusahaan dengan warga sekitar
melalui penerimaan karyawan khusus untuk warga sekitar.
 Menerima hasil panen kopi dari petani pemilik perkebunan kopi namun
yang sudah diolah terlebih dahulu menjadi biji kopi.
 Pemenuhan kopi KOLUTALU bagi konsumen bisa berlanjut (continous)
tanpa ada hambatan dari populasi hewan luwak karena menggunakan isoalat bakteri.
 Produk yang dihasilkan dapat terjamin kehalalannya karena menggunakan
isolat bakteri dalam proses fermentasinya jika dibandingkan dengan kopii luwak asli
yang diperoleh dari kotoran luwak yang memiliki kesan menjijikkan.

C. Proses Produksi Kolutalu

Teknologi proses pembuatan kolutalu dapat dijabarkan sebagai berikut:


1. Fermentasi
Proses fermentasi bertujuan untuk melepaskan daging buah berlendir (mucilage) dan
kulit ari yang masih melekat pada kulit tanduk. Hidrolisis pektin disebabkan oleh pektinase
yang terdapat didalam buah atau reaksinya bisa dipercepat dengan mikroba.
Fermentasi dilakukan dengan pembungkusan biji kopi yang sudah tercampur dengan
cairan ragi fermentasi ke dalam alumunium foil. Penggunaan alumunium foil ini bertujuan
agar proses fermentasi berlangsung secara steril atau agar tidak terkontaminasi oleh
mikroorganisme asing yang dapat menggangu jalannya proses fermentasi. Biji kopi
dibungkus rapat agar proses fermentasi berjalan optimal. Proses fermentasi memerlukan
waktu 24 jam dengan suhu ruang.
Perubahan yang Terjadi selama Proses Fermentasi :
a. Pemecahan Komponen mucilage
Bagian yang tepenting dari lapisan berlendir (getah) ini adalah komponen
protopektin yaitu suatu "insoluble complex" tempat terjadinya meta cellular lactice dari
daging buah. Material inilah yang terpecah dalam proses fementasi. Ada yang berpendapat
bahwa tejadinya pemecahan getah itu adalah sebagai akibat bekerjanya suatu enzim yang
terdapat dalam buah kopi. Enzim ini termasuk sejenis katalase yang akan memecah
protopektin didalam buah kopi.
Kondisi fermentasi dengan pH 5.5-6.0, pemecahan getah akan berjalan cukup
cepat. Apabila pH diturunkan menjadi 4.0 maka kecepatan pemecahan akan menjadi 3 kali
lebih cepat dan apabila pH 3.65 pemecahan akan menjadi dua kali lebih cepat. Dengan
penambahan larutan penyangga fosfat sitrat maka kondisi pH akan dapat stabilbagi
aktivitas protopektinase.
Dalam proses ferrmentasi dapat ditambahkan 0.025 persen enzim pektinase yang
dihasilkan dari isolasi sejenis kacang. Dengan penambahan 0.025 persen enzim pektinase
maka fementasi dapat berlangsung selama 5 sampai 10 jam dengan menaikkan suhu sedikit.
Sedangkan bagi proses fermentasi yang alami diperlukanwaktu sekitar 36 jam. Pada waktu
buah kopi tersebut mengalami pulping sebagian besar enzym tersebut terpisahkan dari kulit
dan daging buah, akan tetapi sebagian kecil masih tertinggal dalam bagian sari buah kopi.
b. Pemecahan Gula
Sukrosa merupakan komponen penting dalam daging buah kopi. Kadar gula akan
meningkat dengan cepat selama proses pematangan buah yang dapat dikenal dengan
adanya rasa manis.
Gula adalah senyawaan yang larut dalam air, oleh karena itu dengan adanya proses
pencucian lebih dari 15 menit akan banyak menyebabkan terjadinya banyak kehilangan
konsentrasinya. Proses difusi gula dari biji melalui parchment ke daging buah yang berjalan
sangat lambat. Proses ini terjadi sewaktu pemisahan buah. Oleh karena itu kadar gula dalam
daging biji akan mempengaruhi konsentrasi gula di dalam getah beberapa jam setelah
fermentasi.
Sebagai hasil proses pemecahan gula adalah asam laktat dan asam asetat dengan
kadar asam laktat yang lebih besar. Asam-asam lain yang dihasilkan dari proses fermentasi
ini adalah etanol, asam butirat dan propionat. Asam lain akan memberikan onion flavor.
c. Perubahan Warna Kulit
Biji kopi yang telah terpisahkan dari pulp dan parchment maka kulit ari akan
bewarna coklat. Juga jaringan daging biji akan bewarna sedikit kecoklatan yang tadinya
bewarna abu-abu atau abu-abu kebiruan. Proses "browning" ini terjadi akibat oksidasi
polifenol. Terjadinya warna kecoklatan yang kurang menarik ini dapat dicegah dalam
proses fermentasi melalui pemakaian air pencucian yang bersifat alkalis.

2. Pencucian
Pencucian setelah fermentasi bertujuan untuk menghilangkan kotoran serta jamur.
Proses awal dilakukan dengan merendamkan biji kopi hasil fermentasi dalam wadah yang diisi
dengan air bersih. Proses perendaman ini dapat menjadi dasar untuk mengetahui kualitas biji
kopi yang dihasilkan. Perendaman dilakukan selama 15 menit, setelah itu diperiksa keadaan biji
kopi dalam rendaman. Biji kopi yang mengapung merupakan biji kopi dengan kualitas kurang
baik. Sedangkan biji kopi yang masih terendam dalam air merupakan biji kopi dengan kualitas
baik. Setelah proses perendaman, biji kopi dicuci menggunakan air yang dialirkan diatas wadah
untuk menghilangkan kotoran dan jamur.

3. Penjemuran
Penjemuran dilakukan dibawah sinar matahari dengan alas yang bersih. Penjemuran ini
bertujuan untuk mengurangi kadar air akibat proses pencucian dan meningkatkan kematangan
kopi. Proses penjemuran dapat mengakibatkan perubahan warna. Penjemuran dilakukan selama
beberapa jam sampai kondisi biji kopi cukup kering. Proses pengeringan dilakukan dengan
pemberian panas pada conveyor berjalan ssehingga membutuhkan waktu pemanasan 5 menit.

4. Sangrai dan penggilingan biji kopi


Pembuatan kopi bubuk dilakukan dengan penyangraian menggunakan mesin pemanas.
Biji kopi di panaskan pada suhu 200-225°C. Proses ini dapat dilakukan secara tertutup atau
terbuka. Dalam proses penyangraian ini biji kopi mengalami dua proses, yaitu penguapan air
pada suhu 100°C dan pirolisis pada suhu pada suhu 180-225°C. Pada tahap pirolisis kopi
mengalami perubahan kimia, penguapan zat asam, dan terbentuknya aroma khas kopi. Setelah
biji kopi mencapai tahap roasting point atau kopi masak, sangrai pemanasan selesai. Proses
penyangraian membutuhakan waktu 30 menit dengan kapasitas 75 kg/ jam. Biji kopi didinginkan
dan siap digiling. Penggilingan biji kopi dapat meningkatkan luas permukaan kopi, sehingga
pada saat pembuatannya, penyerapan rasa pada kopi akan lebih mudah. Saringan yang digunakan
untuk memisahakan kopi yang telah halus yaitu 80 mesh. Rendemen yang diperoleh dalam
proses penyangraian adalah 87% sedangkan rendemen pada proses penggillingan adalah 81%.
Berikut disajikan diagram alir pembuatan Kolutalu:

Biji
kopi

Isolat
Fermentasi lactobacillus
dan isolat
leuconostoc

Pencucian

Penjemuran

Penyangraian

Penggilingan

Kopi Luwak tanpa


Luwak
(serbuk)

Diagram alir pembuatan Kolutalu

D. Metode Valuasi Produk


Nilai (value) merupakan persepsi seseorang adalah harga yang diberikan oleh seseorang
terhadap sesuatu pada suatu tempat dan waktu tertentu. Kegunaan, kepuasaan dan kesenangan
merupakan istilah-istilah lain yang diterima dan berkonotasi nilai atau harga. Ukuran harga
ditentukan oleh waktu, barang, atau uang yang akan dikorbankan seseorang untuk memiliki atau
menggunakan barang atau jasa yang diinginkannya. Penilaian adalah kegiatan yang berkaitan
dengan pembangunan konsep dan metodologi untuk menduga nilai barang dan jasa (Johansson,
1987).

Penilaian ini digunakan oleh peserta pasar keuangan untuk menentukan harga yang mereka
bersedia membayar atau menerima untuk menikmati suatu bisnis penjualan. Selain memperkirakan
harga jual sebuah bisnis, alat-alat penilaian yang sama sering digunakan oleh penilai usaha untuk
menyelesaikan sengketa yang berkaitan dengan hadiah estate dan perpajakan, perceraian litigasi,
mengalokasikan harga pembelian bisnis antara aset usaha, membentuk suatu formula untuk
memperkirakan nilai mitra kepemilikan untuk perjanjian jual-beli, dan banyak bisnis dan tujuan
hukum (Prat et al., 2000).

Sebelum nilai bisnis dapat diukur, tugas penilaian harus menentukan alasan dan keadaan di
sekitar valuasi bisnis. Ini secara resmi dikenal sebagai standar nilai bisnis dan nilai premis. Standar
nilai adalah kondisi hipotetis di mana bisnis akan dihargai. Premis nilai yang berkaitan dengan
asumsi-asumsi, seperti anggapan bahwa bisnis akan terus selamanya dalam bentuk yang sekarang
(going concern), atau bahwa nilai dari usaha terletak pada hasil dari penjualan seluruh aset
dikurangi hutang terkait (jumlah bagian-bagiannya atau sekumpulan aset bisnis) (Prat et al., 2000).

Hasil penilaian bisnis dapat bervariasi tergantung pada pilihan kedua standar dan nilai
premis. Dalam sebuah bisnis yang sebenarnya dijual, itu akan diharapkan bahwa pembeli dan
penjual, masing-masing dengan insentif untuk mencapai hasil yang optimal, akan menentukan
nilai pasar wajar aset bisnis yang akan bersaing dalam pasar seperti akuisisi. Jika sinergi khusus
untuk perusahaan yang dihargai, mereka mungkin tidak akan dipertimbangkan. Nilai wajar juga
tidak memasukkan diskon untuk kurangnya kontrol atau pemasaran (Prat et al., 2000).

Namun, perlu diketahui bahwa adalah mungkin untuk mencapai nilai pasar wajar aset
bisnis yang sedang dilikuidasi di pasar sekunder. Ini menggarisbawahi perbedaan antara standar
dan premis nilai. Asumsi ini mungkin tidak, dan mungkin tidak, mencerminkan kondisi
sebenarnya pasar di mana bisnis subjek dapat dijual. Namun, kondisi ini diasumsikan karena
mereka menghasilkan suatu standar nilai seragam, setelah diterima secara umum menerapkan
teknik penilaian, yang memungkinkan bermakna perbandingan antara perusahaan yang sama-sama
terletak (Prat et al., 2000).

Valuasi merupakan suatu aktivitas yang berusaha untuk mencapai tujuan dengan cara
melakukan prediksi atas hasil yang akan didapat (Razgaitis, 2004). Valuasi berguna dalam analisis
pendahuluan (portfolio), pendanaan, pengembangan bisnis, dan gabungan serta kegiatan akuisisi.
Menurut Razgaitis (2004), penentuan harga suatu teknologi baru adalah upaya menentukan harga
dari suatu teknologi yang didasarkan atas kesepakatan antara pembeli dan penjual dimana tinggi
rendahnya harga sangat ditentukan oleh kemampuan komunikasi dan pendekatan kedua belah
pihak, sehingga penentuan harga dapat dipandang sebagai bentuk nyata dari aktivitas valuasi.

Saat ini terdapat berbagai macam metode untuk melakukan valuasi teknologi. Metode-
metode tersebut menurut Dietrich (2001) adalah : 1). Pendekatan pasar (market approach), yaitu
dengan melihat suatu teknologi berdasarkan pada hasil penjualan atau lisensi sebuah teknologi dan
membandingkannya dengan teknologi yang sedang dinilai; 2). Real option value, yaitu penilaian
yang digunakan untuk memperkirakan ketidakpastian arus kas dan resiko dari setiap pemilihan
aset yang akan dikembangkan dan memperkirakan setiap kesempatan pertumbuhan masa depan
yang mungkin untuk dilakukan.
Menurut Razgaitis (2004) terdapat enam metode valuasi teknologi. Adapun metode-metode
tersebut adalah :

1. Standarisasi industri (industry standards), yaitu mendesain sebuah database dari kesepakatan-
kesepakatan kerjasama komersialisasi teknologi baru yang sudah pernah dilakukan oleh
investor dan inventor. Metode standarisasi industri merupakan sebuah panduan untuk
membandingkan nilai teknologi satu dengan lainnya. Metode ini dapat digunakan dengan baik
ketika teknologi yang sudah dijual atau dilisensikan tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua
faktor, yaitu berdasarkan jenis dan kualitasnya.
2. Perankingan (rating/ranking), yaitu membandingkan kesepakatan perjanjian komersialisasi
teknologi yang sudah pernah dilakukan. Metode ini memerlukan identifikasi kesepakatan
teknologi yang sudah terdokumentasikan. Ketika kesepakatan teknologi-teknologi sudah
terdokumentasikan, maka kesepakatan teknologi yang mempunyai ke miripan dapat
dibandingkan dengan kesepakatan yang sudah pernah dilakukan, sehingga dalam
penggunaannya metode ini sangat berhubungan dengan metode standarisasi industri.
3. Rules of thumb, yaitu mengidentifikasikan dan menggunakan data pemasaran yang sesuai
sebagai acuan dalam penilaian. Rules of thumb merupakan panduan yang sangat berguna bagi
pengambil keputusan berdasarkan pada berbagai macam pengalaman seseorang dalam menilai
teknologi. Metode ini mengembangkan prinsip valuasi yang dapat secara tepat dan cepat
diaplikasikan ke berbagai macam situasi yang berbeda. Ide dasar dari metode ini adalah
negoisasi antara sejumlah pembeli dan penjual memiliki pemikiran yang sama sehingga dapat
ditimbulkan dan diaplikasikan.
4. Discounted cash flow (DCF), yaitu penentuan nilai sekarang dari semua aliran kas masa depan
berdasarkan pada pendapatan atau Net Present Value (NPV). Nilai DCF sangat bergantung
pada besarnya nilai Risk-Adjusted Hurdle Rate (RAHR) atau nilai k. Terdapat tiga faktor yang
menentukan DCF, yaitu : pemilihan waktu, besarnya nilai dan resiko untuk pembayaran masa
depan. Metode Discounted cash flow (DCF) merupakan metode yang berguna dalam
mengetahui harga yang calon pengguna teknologi bersedia bayarkan pada saat kesepakatan
terjadi, yaitu dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang didapatkan dari perolehan
hak atas teknologi tersebut (Reily, 2003 dalam Katz & McCormic, 2005).
Teknik discounted cash flow (DCF), yaitu mendiskon cash flow masa depan dengan projeksi
kinerja dimasa lalu. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan nilai wajar perusahaan dimasa depan
dilihat dari masa sekarang.

Nilai cash flow pada tahun ke N = CF pada tahun ke N / (1 + R)^N


Keterangan :
CF = Cash Flow
R = Required Return (Discount Rate)
N = Nomer tahun dimasa depan
DCF ini digunakan untuk menentukan valuasi cash flow sebuah perusahaan dimasa
depan dengan asumsi asumsi tertentu untuk mendapatkan nilai valuasi saat ini. Cost of Capital
Rate yang digunakan untuk mendiskon cash flow perusahaan di masa depan dilihat dari masa
sekarang dikenal dengan company’s requered return, atau cost of capital. Perusahaan yang
stabil mempunyai cost of capital yang rendah. Sedangkan perusahaan yang riskan dengan cash
flow yang susah diprediksi memiliki cost of capital yang tinggi (www.roxar.wordpress.com).
Penggunaan metode DCF untuk penilaian lisensi hampir sama dengan penilaian saham
suatu perusahaan (Razgaitis, 2004). Nilai DCF sangat bergantung pada besarnya nilai Risk-
Adjusted Hurdle Rate (RAHR) atau faktor resiko. Faktpr resiko dapat diketahui dari salah satu
jenis sudut pandang (Razgaitis, 2004), yaitu : 1). Inflasi; 2).tingkat pengembalian alternatif
yang tersedia; dan 3). resiko pengembalian.

Terdapat tiga faktor yang menentukan DCF, yaitu : pemilihan waktu, besarnya nilai,
dan resiko untuk pembayaran masa depan. Nilai DCF yang didapatkan digunakan sebagai
landasan prediksi harga terhadap teknologi yang akan dikomersialkan.

5. Monte Carlo dan Real Option, yaitu metode valuasi teknologi berdasarkan pada aliran kas
dengan berbagai macam asumsi dari penerimaan dan biaya. Pada meode ini, satu perhitungan
tidak dibatasi untuk menghasilkan satu nilai perkiraan dari variabel-variabel utama seperti
penerimaan, biaya atau resiko. Perkiraan dibuat berdasarkan pada rentang pengeluaran dengan
berbagai macam kemungkinannya, sedangkan pada metode real option digunakan ketika
berhadapan dengan perhitungan proyek berjangka waktu panjang. Pada proyek ini,
pengeluaran dihitung pada awal proyek dengan umur proyek yang lama dantingkat
pengembalian proyek berada di akhir proyek, maka penggunaan satu nilai Risk-Adjusted
Hurdle Rates (RAHR) atau nilai k akan membuat semua proyek bernilai ekonomi
menguntungkan karena adanya faktor B/(1+k)n, yaitu nilai n yang besar. Metode ini akan
mengevaluasi semua investasi dan penerimaan dalam berbagai macam kemungkinan.
6. Pelelangan (auctions), yaitu menilai teknologi berdasarkan kesepakatan yang sedang dilakukan
sekarang untuk menawarkan perjanjian kerjasama komersialisasi teknologi. Hal ini yang
membedakan dengan metode industry standards yang menggunakan informasi pasar dari
kesepakatan-kesepakatan yang sudah pernah dilakukan dan mempunyai kemiripan dengan
teknologi yang sedang dinilai.

Valuasi dapat menjadi tidak akurat apabila nilai hasil valuasi tidak mewakili dari waktu
yang diperlukan dan jumlah uang yang telah diinvestasikan untuk menghasilkan suatu teknologi.
Nilai itu juga bergantung pada tingkat aksesibilitas teknologi tersebut. Semakin sulit untuk ditiru
maka akan semakin baik posisinya dalam mendapatkan keuntungan. Masa hidup dan nilai dari
teknologi dapat dipengaruhi pada munculnya suatu teknologi baru yang dapat menggantikan
teknologi tersebut sehingga penetapan harga menjadi sangat sulit dilakukan bila melihat daur
hidup dari teknologi baru tersebut.
Metode yang digunakan untuk valuasi produk kopi luwak tanpa luwak ini adalah industry
standard yaitu membandingkan dengan industri lain atau perjanjian/agreement mengenai
teknologi lain yang serupa dengan teknologi yang dimiliki. Pada kali ini kami membandingkan
produk kopi luwak ini dengan kopi luwak yang dihasilkan oleh industri-industri kopi luwak yang
sudah ada yang menggunakan luwak asli dalam proses produksinya.

Parameter-parameter yang dibandingkan antara industri kolutalu (kopi luwak tanpa luwak) ini
dengan industri kopi luwak biasa, antara lain : cita rasa, aroma, ketersediaan produk, kehigienisan,
harga, proses produksi, waktu produksi, dan keramahannya terhadap lingkungan. Bobot untuk
masing-masing parameter kisaran 1 sampai 3, dengan 1 (kurang penting), 2 (penting), dan 3
(sangat penting). Masing-masing parameter yang sudah memiliki bobot kemudian diberikan skor
sesuai dengan nilai yang didapat dari produk kopi luwak ini. Untuk skor masing-masing parameter
kisaran angka 1 sampai 5, dengan 1 (sangat tidak baik), 2 (tidak baik), 3 (cukup baik), 4 (baik),
dan 5 (sangat baik). Untuk memutuskan nilai dari produk kolutalu ini dengan produk kopi luwak
yang sudah ada bobot dan skor dari masing-masing parameter dilakukan perkalian, dan
diakumulasi. Perbandingan antara akumulasi industri kolutalu kami dengan industri kopi luwak
yang sudah ada yang akan dijadikan nilai valuasi dari produk kami. Berikut merupakan hasil yang
didapat :

Skor (1-5) Bobot * Skor

Bobot (1- Industri Industri


Parameter Kopi Kopi
3)
Industri Luwak Industri Luwak
Kolutalu Biasa Kolutalu Biasa

Cita rasa 3 5 5 15 15

Aroma 3 4 4 12 12

Ketersediaan
produk 2 5 4 10 8

Kehigienisan 3 4 3 12 9

Harga 2 4 3 8 6

Proses produksi 3 5 3 15 9

Waktu produksi 3 4 3 12 9

Ramah
lingkungan 2 3 2 6 4

90 72

Value 1,25

Untuk masing-masing parameter memiliki bobot yang berbeda-beda. Untuk cita rasa,
aroma, kehigienisan, proses produksi, dan waktu produksi adalah parameter-parameter utama yang
diunuggulkan dari produk kopi luwak dan berkaitan langsung pada proses pembuatan kopi luwak
sehingga bobot untuk parameter ini sangat penting (3). Untuk parameter lainnya, ketersediaan
produk, harga, dan keramahan terhadap lingkungan juga penting dalam produk ini, namun tidak
langsung berkaitan pada proses produksi kopi luwak, sehingga bobot yang diberikan adalah 2
(penting). Selain bobot yang berbeda, skor yang diberikan juga berbeda untuk setiap parameter.
Parameter-parameter tersebut antara lain :

a. Cita rasa
Cita rasa merupakan hal yang paling penting yang akan diperhatikan konsumen dalam memilih
makanan dan minuman, terutama kopi. Pada kopi luwak yang dihasilkan oleh industri kolutalu dan
industri kopi luwak yang sudah ada, keduanya memiliki cita rasa yang sangat baik, sehingga skor
yang yang diberikan adalah 5.

b. Aroma
Aroma yang dihasilkan kopi dihasilkan oleh zat volatile yang terkandung dalam kopi. Pada kopi
luwak yang dihasilkan oleh industri kolutalu dan industri kopi luwak yang sudah ada, keduanya
memiliki cita rasa yang baik, sehingga skor yang yang diberikan adalah 5.

c. Ketersediaan produk
Kopi luwak di Indonesia diketahui cukup langka dan jumlahnya terbatas. Kopi luwak ini hanya
terdapat pada daerah-daerah tertentu. Hal inilah yang merupakan salah satu yang menyebabkan
harga kopi luwak melambung tinggi. Pada kopi luwak yang dihasilkan oleh industri kolutalu
memiliki nilai yang lebih tinggi daripada industri yang sudah ada. Hal ini dikarenakan proses
pembuatan produk kolutalu yang mudah sehingga dapat diproduksi kapan saja dan berapa saja,
berbeda dengan kopi luwak dengan proses menggunakan luwak asli. Sehingga untuk kolutalu
diberikan skor 5 dan kopi luwak asli diberikan skor 4.

d. Kehigienisan
Dalam produk pangan, kehigienisan merupakan salah satu faktor yang diperhatikan oleh
konsumen. Akhir-akhir ini kopi luwak yang diproduksi oleh luwak diperdebatkan kehalalannya
karena proses pembuatannya yang tidak higienis. Berbeda dengan kopi luwak sintetis yang
diproduksi memakai enzim yang diisolasi dari perut luwak, jelas kehigienisanya lebih terjamin.
Sehingga untuk kolutalu diberikan skor 4 dan kopi luwak asli diberikan skor 3.

e. Harga
Harga masing-masing produk bersifat relatif dan dipengaruhi oleh banyak faktor, dapat dilihat dari
biaya produksi, kerumitan dalam proses produksi, ketersediaan produk, dan banyak hal lainnya.
Untuk harga, jika dilihat dari 3 faktor yang telah disebutkan, kolutalu jauh lebih murah
dibandingkan kopi luwak asli. Sehingga untuk kolutalu diberikan skor 4 dan kopi luwak asli
diberikan skor 3.

f. Proses produksi
Untuk proses produksi pada kolutalu ini jauh lebih mudah dibandingkan harus menggunakan
luwak asli. Sehingga untuk kolutalu diberikan skor 5 dibandingkan yang menggunakan perut
luwak sebagai tempat produksi (3).

g. Waktu produksi
Pada produksi kopi luwak asli dan sintetis perbedaannya hanya pada proses fermentasi. Pada kopi
luwak sintetis waktu yang dibutuhkan untuk fermentasi hanya 24 jam, sedangkan untuk kopi
luwak asli waktu fermentasi tidak dapat ditentukan, karena bergantung pada luwaknya sendiri.
Namun, biasanya waktu yang diperlukan lebih dari 24 jam. Sehingga untuk kopi luwak sintetis
diberikan skor 4 dan kopi luwak asli diberikan skor 3.

h. Keramahan lingkungan
Dalam pembuatan suatu produk, harus diperhatikan akibat yang akan ditimbulkan terhadap
lingkungan. Pada kopi luwak asli diproduksi dari kotoran luwak. Kotoran luwak menggandung gas
metan yang sangat berbahaya bagi lingkungan, sehingga dapat dipastikan bahwa kopi luwak
sintetis lebih ramah lingkungan dibandingkan kopi luwak asli. Walaupun dalam kopi luwak
sintesis juga menghasilkan limbah pada prosesnya (contoh : alumunium foil). Namun, limbah ini
tidak sebahaya gas metan. Sehingga untuk kopi luwak sintetis hanya diberikan skor 3 dan kopi
luwak asli hanya diberikan skor 2.

Dari faktor-faktor diatas, setelah diakumulasi dan dibandingkan, didapat bahwa kopi luwak
tanpa luwak seperempat kali lebih baik dibandingkan kopi luwak asli. Sehingga, dari metode
valuasi ini harga teknologi kopi luwak tanpa luwak dapat dipasarkan 25% lebih tinggi dari kopi
luwak yang dibuat secara alami menggunakan luwak.

E. Strategi Komersialisasi
1. Market Screening
• Barrier to Entry
Pendirian PT Indo Luwak Kopi ini, mengalami hambatan birokrasi yang tidak jelas
terkait sertifikasi keaslian kopi, dan standardisasi intrenasional mengenai mutu kopi luwak,
dan permainan spekulan.

• Product Substitution
Produk ‘Kolutalu’ merupakan produk substistusi kopi luwak yang dihasilkan dari
penangkaran luwak dan kopi luwak alam bebas melalui sistem pencernaannya. Kesan jijik
dari kotoran luwak dan menghindari hukum najis mutawasithah yang ditetapkan oleh MUI,
menjadi salah satu persoalan yang dijawab oleh produk Kolutalu, karena mekanisme
prosesnya dilakukan dengan teknologi mikrobial tanpa luwak secara hiegenis.

• Main Competitor
Kolutalu memiliki banyak pesaing yang menjadi main competitor diantaranya
ditunjukan oleh tabel berikut:
Produsen Lokasi Kapasitas produksi Target pasar Harga jual per kg

Luwak robusta
Duta luwak Lampung 500kg/bulan luwak Taiwan, korea,
brother,s link barat arabika100kg/bulan eropa

20 produsen 3000000
Liwa Lampung Lampung
Barat barat 20 ton kopi per bulan

Sumatera
Petani Sidikalang Utara 1 juta kg/ bulan

Lokal dan 600-750 kopi bubuk,


mancanegara 200-250 kopi
Brenjel 300kg per
brenjel, biji bersih
bulan saat panen,
Sumatera 300-500, di grand
kurang dari 100 kg
Gunawan barat Indonesia Jakarta 2
per bulan saat bukan
jt/kg
panen

Brenjel 500, kopi


Petani Bangli Bali 3 ton per tahun bubuk 1,5 jt

Puluhan Bandung, 600 ribu -3 juta per


produsen lain bekasi, Bogor kg

2. Segmentation, Targetting and Positioning (STP)

a. Segmentation
Segmentasi pasar Kolutalu dibagi menjadi dua golongan, yaitu masyarakat ekslusif
yang memiliki penghasilan jauh di atas rata-rata seperti para pecinta kopi luwak
mancanegara dan keluarga kerajaan Malaysia atau Inggris, yakni mereka yang tidak
mempermasalahkan harga kopi luwak, tapi lebih mengedepankan kepuasan menikmati
kopi luwak. Golongan yang kedua adalah masyarakat umum yang selama ini belum
pernah atau jarang menikmati kopi luwak, sehingga mereka mendapatkan kesempatan
menikmati kopi luwak, walaupun mutunya jauh lebih rendah daripada kopi luwak untuk
kalangan ekslusif.

Selain itu, Kolutalu dapat dinikmati oleh remaja dan orang dewasa, baik
perempuan atau laki-laki. Berdasarkan informasi terkait World Expo 2010 di Shianghai
Cina, para anak muda di Cina dan pengunjung dari Korea sangat tertarik pada kopi luwak.
Ini menunjukan bahwa kopi luwak diminati oleh kalangan remaja yang jumlahnya sangat
banyak di Cina dan pola pikir atau gaya hidupnya lebih mudah dirubah.

b. Targeting
Berdasarkan segmen yang telah ditentukan, yang menjadi target utama sebagai
sasaran penjualan produk kolutalu adalah kalangan ekslusif yang berani membayar
berapapun harga kopi luwak untuk mendapatkan kepuasan menikmati citarasa kopi luwak
tersebut. Disamping itu, masyarakat umum yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada
masyarakat ekslusif, juga menjadi fokus target, meskipun nilai jual kolutalu lebih rendah
untuk mereka, tetapi karena jumlahnya banyak, maka akan menjadi sasaran pasar yang
menjanjikan keuntungan besar.

c. Positioning
Kolutalu menempatkan diri sebagai kopi luwak tanpa luwak yang diolah secara
mikrobial sehingga kapasitas produksinya lebih besar, hiegenis, dan kehalalannya
terjamin.

3. Place, Price, Product, and Promotion (4P)


a. Place
Pemasaran dan penjualan produk difokuskan untuk penikmat kopi baik di
Indonesia maupun mancanegara.

b. Price
Harga yang ditawarkan kolutalu lebih rendah daripada kopi luwak yang sudah
beredar di pasar. Akan tetapi harga juga disesuaikan dengan kategori produk dan
target konsumen.
c. Product
Kolutalu memiliki 2 brand, yaitu yang khusus untuk kalangan ekslusif dan
masyarakat umum
d. Promotion
Waralaba

4. Swot Analysis
Penentuan target utama ini dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT yang
merupakan metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Proses
ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan
mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam
mencapai tujuan tersebut. Untuk analisis SWOT produk KOLUTALU dapat dilihat pada
gambar berikut:
Strength Weakness

1. Teknologi pembuatan 1. Penetrasi pasar yang agak sulit


kolutalu lebih mudah dan karena merupakan adaptasi
lebih cepat daripada inovasi produk sehingga
produksi kopi luwak
membutuhkan pemasaran yang
secara konvensional
2. Produksi tidak terbatas, intensif.
karena tidak tergantung
pada luwak (dapat
menyesuaikan dengan
permintaan pasar)
3. Melindungi populasi
luwak
4. Citarasa kolutalu lebih
lembut
5. Proses produksi hiegenis

Opportunity Threat

1. Kompetitor produsen
yang menghasilkan kopi
1. Kapasitas produksi kopi luwak dari luwak dan
luwak indonesia belum kompetitor yang
mencukupi permintaan menggunakan teknologi
ekspor, tertutama pasar mikrobal yang serupa
baru di Cina 2. Spekulan yang tetap
menginginkan kopi
luwak eksklusif,
sehingga harganya mahal
dan hanya sebagian yang
diuntungkan, sedangkan
petani luwak dirugikan,
ttapi kami menginginkan

III.BUSSINESS MODEL
PERUSAHAAN : PT INDO LUWAK KOPI

PRODUK : KOPI LUWAK TANPA LUWAK (KOLUTALU)

VISION STATEMENT

Menjadi pemimpin pasar dalam produk kopi luwak dengan selalu menjaga kualitas bahan baku,
proses, kuat dalam inovasi serta meningkatkan kepedulian terhadap konsumen dan lingkungan untuk
mewujudkan kopi luwak tanpa luwak sebagai lambang kenikmatan kopi.

MISION STATEMENT

Untuk mencapai visi yang ada, PT. Indo Luwak Kopi memiliki misi:

1. Selalu berusaha menggunakan bahan baku dengan kualitas terbaik.

2. Melaksanakan proses secara efektif dan efisien untuk meningkatkan produktifitas


perusahaan.

3. Terus menerus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan konsumen terhadap
produk kopi luwak.

4. Menjalin hubungan yang positif dengan konsumen.

5. Menanamkan tanggung jawab terhadap lingkungan sebagai nilai perusahaan.

VALUE PROPOSITION

Nilai utama yang kami tawarkan adalah produk kopi luwak yang berkualitas dengan aroma dan cita
rasa yang khas karena dihasilkan bukan dari pencernaan hewan luwak melainkan proses enzimatis.
Hal ini mempunyai arti bahwa produk yang ditawarkan terjamin kehigienisannya dan status
kehalalannya. Selain itu, produk kopi luwak ini juga mudah didapatkan karena perusahaan berbentuk
frenchaise, menawarkan harga yang lebih murah dari kopi luwak pada umumnya, dan kami juga
memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen.

BUSINESS MODEL

Customer Selection : segmen pasar dipilih berdasarkan demografi dan behavioral


dengan target pasar remaja sampai orang dewasa yang
menyukai dan memiliki kebiasaan minum kopi.

Value Proposition : produk berkualitas, higienis dan halal dengan harga terjangkau,
mudah didapat serta memberikan pelayanan prima kepada
konsumen.

Differentiation and Control : pemasaran produk melalui frenchaise dengan sangat


memperhatikan kebutuhan customer dan lingkungan.
Scope of Product and Activities : produk kopi luwak dengan beberapa grade tergantung tipe dan
kategori konsumen.

Organizational Design : untuk memahami kebutuhan customer, dibentuk divisi-divisi


khusus untuk masing-masing segmen customer.

Value Capture for Profit : menjaga kepercayaan konsumen dengan menjaga kualitas
produk dan memberikan pelayanan prima kepada konsumen.

Value for Talent : Learn, grow and prosper dengan memberikan training,
learning and career opportunities

CORE COMPETENCIES AND COMPETITIVE ADVANTAGE

Kompetensi utama yang ditawarkan perusahaan kami adalah kemampuan menciptakan kopi luwak
tanpa menggunakan hewan luwak sehingga kehigienisan dan kehalalannya terjamin. Dengan hal
tersebut, kami berhasil menciptakan keunggulan bersaing dengan menghasilkan produk kopi luwak
yang murah dengan kontinuitas produksi yang terjaga serta ramah lingkungan.
IV. LAPORAN KEUANGAN