Anda di halaman 1dari 29

KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM MELINDUNGI HAK

KEKAYAAN INTELEKTUAL WARGA NEGARA MENURUT


PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

*)
Chandra Darusman S, S.H

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pemerintah dalam hal ini presiden merupakan pelaksanaa kekuasaan


eksekutif. Kewenangan dari pemerintah diatur dalam Pasal 4 UUD 1945 yang
menyebutkan bahwa Presiden memegang kekuasaan pemerintahan negara.
Dalam menjalankan kewenangan pemerintah maka Presiden melimpahkan
sebagian kewenangan kepada pembantunya dalam hal ini yaitu Menteri
Negara.
Salah satu wujud dari penerapan equality before the law bahwa setiap
kepentingan warga dilindungi dan diatur dalam peraturan perundang-
undangan nasional. Kementerian Negara yang menjadi perpanjangan tangan
pemerintah dalam melindungi hak warga salah satunya adalah Kementerian
Negara Hukum dan HAM.
Hak yang wajib dilindungi oleh pemerintah atas rakyatnya adalah Hak
Kekayaan Intelektual (HKI). HKI hak atas kekayaan yang timbul atau lahir
dari kemampuan intelektual manusia. HKI memang menjadikan karya-karya
yang timbul atau lahir karena adanya kemampuan intelektual manusia yang
harus dilindungi. Kemampuan intelektual manusia dihasilkan oleh manusia
melalui daya, rasa, dan karsanya yang diwujudkan dengan karya-karya
intelektual. 1

*) Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Syiah
Kuala Banda Aceh dan Sekretaris Umum Lembaga Analisis Qanun, Hukum dan Perundang-
undangan (La-QUHP) Aceh
1
Djumhana dan R. Djubaedilah IV, Hak Milik Intelektual (Sejarah, Teori, dan Prakteknya di
Indonesia), Cetakan kedua, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hal 2

1
Keberadaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam hubungan antar
manusia dan antar negara merupakan sesuatu yang tidak dapat dipungkiri.
HKI juga merupakan sesuatu yang given dan inheren dalam sebuah
masyarakat industri atau yang sedang mengarah ke sana. Keberadaannya
senantiasa mengikuti dinamika perkembangan masyarakat itu sendiri. Begitu
pula halnya dengan masyarakat dan bangsa Indonesia yang mau tidak mau
bersinggungan dan terlibat langsung dengan masalah HKI. 2
Kekayaan atau aset berupa karya-karya yang dihasilkan dari
pemikiran atau kecerdasan manusia mempunyai nilai atau manfaat ekonomi
bagi kehidupan manusia sehingga dapat dianggap juga sebagai aset
komersial. Karya-karya yang dilahirkan atau dihasilkan atas kemampuan
intelektual manusia baik melalui curahan tenaga, pikiran dan daya cipta, rasa
serta karsanya sudah sewajarnya diamankan dengan menumbuhkembangkan
sistem perlindungan hukum atas kekayaan tersebut yang dikenal sebagai
sistem Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
HKI merupakan cara melindungi kekayaan intelektual dengan
menggunakan instrumen-instrumen hukum yang ada, yakni Hak Cipta, Paten,
Merek dan Indikasi Geografis, Rahasia Dagang, Desain Industri, Desain Tata
Letak Sirkuit Terpadu dan Perlindungan Varietas Tanaman.
Guna menghindari berbagai macam pelanggaran atas hak cipta,
khususnya dalam hal hak cipta film maka berdasarkan ketentuan yang berlaku
setidaknya didaftarkan kepada lembaga yang berwenang, sehingga
memperoleh status hukum yang jelas. Lembaga yang berwenang dan ditunjuk
oleh pemerintah sebagai tempat pendaftaran hak cipta adalah Kementrian
Hukum dan HAM.

2
Ibid.

2
B. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas maka


permasalahan yang akan dibahas yaitu:
1. Apakah perlindungan oleh pemerintah terkait perlindungan HKI?
2. Bagaimanakah proses penyelesaian sengketa HKI di luar
pengadilan?

C. TUJUAN PEMBAHASAN

Adapun tujuan dari pembahasan ini yaitu:


1. Untuk mengetahui dan menjelaskan perlindungan oleh pemerintah
terkait perlindungan HKI.
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan proses penyelesaian sengketa
HKI di luar pengadilan

D. METODE PEMBAHASAN

Metode pembahasan yang digunakan dalam pembahasan ini yaitu


metode penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan menggunakan data
sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, bahan
hukum tersier.

E. KAJIAN YURIDIS KEBERADAAN HAK KEKAYAAN


INTELEKTUAL DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
INDONESIA

1) PERSPEKTIF TEORITIS

a. Teori Kewenangan

Kewenangan merupakan salah satu aspek penting dalam ilmu


hukum tata pemeritahan (bestuursrecht). Secara sederhana, keweangan

3
dapat kita artikan sebagai “hak yang bersifat khusus yang diberikan
kepada apartur Negara untuk memaksakan kehendaknya”. Pemaksaan
disini merupakan hak yang melekat secara otomatis (ex-officio) bagi
aparatur pemerintahan dalam menjalankan fungsi dan kewenangannya. 3
Terdapat 2 jenis kategori kewenangan dalam ilmu tata
pemerintahan, antara lain ; Pertama, Kewenangan yang bersifat atributif
(original), yaitu kewenangan aparatur pemerintahan yang bersifat
permanen yang langsung diberikan atau diperintahkan oleh peraturan
perundang-undangan; dan Kedua, Kewenangan non atributif (non
original), yaitu kewenangan aparatur pemerintahan yang diperoleh dari
pelimpahan wewenang, yang terdiri dari 2 bentuk, yakni baik pelimpahan
wewenang dalam bentuk mandat, maupun pelimpahan wewenang dalam
bentuk delegasi. Mandat dan delegasi merupakan dua kategori
pelimpahan wewenang yang berbeda. Jika mandat hanya merupakan
pelimpahan dari sebahagian dari wewenang, maka delegasi merupakan
pelimpahan wewenang secara keseluruhan. Mandat dalam ilmu tata
pemerintahan biasanya disimbolkan dengan kode untuk beliau (u.b.),
sedangkan delegasi biasanya disimbolkan dengan kode atas nama (a.n.).
Akan tetapi, dalam menjalankan kewenangan dari aparatur
pemerintah, terdapat pembatasan-pembatasan yang diperlukan agar di
dalam menjalankan kewenangannya tersebut, aparatur pemerintah tidak
menyalahgunakan kekuasaan dan kewenangan yang dimilikinya (abuse
of power). Untuk itu, diperlukan suatu kategori atau bentuk pengetahuan
terhadap kategori, kapan sebuah kewenangan dianggap tidak sah atau
tidak berjalan sebagaimana ketentuan yang ada. 4
Secara umum, kewenangan aparatur pemerintahan dianggap tidak
sah ketika :

1. Ratione Material, yakni kewenangan aparatur pemerintahan yang


tidak sah dikarenakan substansi kewenangannya;
2. Ratione Loccus, yakni ketidakwenangan seorang aparatur
pemerintahan dikarenakan wilayah hukumnya;

3
Abu Bakar Busro dan Abu Daud Busro, Asas-asas Hukum Tata Negara, Ghalia Indonesia,
Jakarta, 1989, hal. 22
4
Ibid

4
3. Ratione Temporis, ketidakwenangan seorang aparatur
pemerintahan dikarenakan lewat waktu, atau yang pada umumnya
sering kita istilahkan daluarsa.

Dalam ranah Hukum Tata Pemerintahan (bestuursrecht), terdapat


tiga teori kebatalan (nietig theory), yakni batal mutlak, batal demi hukum
dan dapat dibatalkan. Ketiga teori ini memiliki perbedaan berdasarkan 2
(dua) aspek, yaitu ; Pertama, berdasarkan akibat hukum yang muncul,
yaitu akibat-akibat hukum yang mengikuti jika terjadi pembatalan. Hal
tersebut merupakan konsekuensi logis yang muncul dan tidak dapat
dihindari akibat pembatalan tersebut. Kedua, Pejabat yang berhak
membatalkan, yaitu mengenai kewenangan pembatalan, dalam arti siapa
pejabat yang berhak untuk melakukan proses pembatalan tersebut. 5
Untuk lebih memudahkan kita dalam mengidentifikasi pejabat
siapa saja yang memiliki hak untuk membatalkan, maka kita membagi
pejabat dalam bentuk yang sangat sederhana, yakni pejabat yudikatif,
eksekutif dan legislatif.
Untuk lebih jelasnya, berikut perbandingan dari ketiga teori
kebatalan tersebut ;

1. Batal Mutlak (absolute nietig). Secara prinsip, batal mutlak


berakibat semua perbuatan yang pernah dilakukan, dianggap tidak
pernah ada. Dalam konteks ini, perbuatan yang dinyatakan tidak
pernah ada tersebut, berlaku prinsip fiction theory atau semua
orang atau subjek hukum dianggap tahu hukum. Dalam hal batal
mutlak ini, yang berhak menyatakan batal atau tidak murni
merupakan monopoli kewenangan yudikatif.
2. Batal Demi Hukum (nietig van recht wege). Konsekuensi dari
terjadinya proses batal demi hukum berakibat terhadap dua hal
utama, yaitu ; pertama, perbuatan yang sudah dilakukan, dianggap
tidak ada atau tidak sah secara hukum, dan kedua, perbuatan yang
telah dilakukan, sebahagian dianggap sah, dan sebahagian lagi
dianggap tidak sah. Dalam hal batal demi hukum ini, pejabat yang

5
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Hukum Tata Negara, Konstitusi Press, Jakarta, 2006, hal. 32

5
berhak menyatakan batal atau tidak adalah pihak yudikatif dan
eksekutif.
3. Dapat Dibatalkan (vernietig baar). Dalam hal ini, dapat
dibatalkan memiliki konsekuensi hukum dimana keseluruhan dari
perbuatan hukum yang pernah dilakukan sebelumnya, tetap
dianggap sah. Artinya, keseluruhan perbuatan di masa lampau
tetap menjadi suatu tindakan hukum yang tidak dapat dibatalkan
atau tetap berlaku pada masa itu. Adapun pejabat yang berhak
membatalakan adalah pihak yudikatif, eksekutif dan legislatif.

Untuk lebih melihat secara jelas mengenai keabsahan perbuatan


hukum, maka terdapat 2 (dua) kategori syarat penting yang perlu kita
ketahui, yaitu ; Pertama, Syarat Mutlak, yaitu syarat yang harus ada
dalam suatu perbuatan hukum. Tanpa keberadaan syarat ini, maka
perbuatan hukum tidak akan mungkin lahir atau eksis; dan Kedua, Syarat
Relatif, yaitu syarat yang menjadi penunjang atau pelengkap dalam suatu
perbuatan hukum. Syarat relatif ini tidak harus ada pada saat perbuatan
hukm lahir, akan tetapi dapat disusulkan dikemudian hari.
Dalam hal syarat mutlak tidak terpenuhi, maka konsekuensi
hukum yang dapat diambil adalah batal mutlak (absolute nietig) dan atau
batal demi hukum (nietig van recht wege). Sedangkan jika syarat relatif
yang tidak terpenuhi, maka konsekuensi hukum yang mengikutinya
adalah pembatalan dalam kategori bisa dibatalkan (vernietig baar).
Demikianlah akibat-akibat hukum atau konsekuensi yuridis
terhadap perbuatan aparatur pemerinahan yang tidak absah secara
hukum. Satu hal yang perlu kita pahami bersama, bahwa setiap perbuatan
aparatur pemerintahan, baik dalam menjalankan tanggung jawab untuk
menjalankan roda pemerintahan maupun dalam melayani masrakatnya,
harus mengutamakan asas keadilan dan kemanfaatan daripada kepastian
hukum. Sebagaimana apa yang diutarakan oleh Imanuel Kant, bahwa,
“filosofi hukum itu dapat diibaratkan dua sisi mata uang. Sisi kanan
adalah sisi kebenaran (rechtmatig) dan sisi kiri merupakan sisi keadilan

6
dan kemanfaatan (doelmatig). Namun ketika kedua sisi ini pecah dan
berbeda jalan, maka kita harus mendahulukan sisi keadilan dan
kemanfatannya".

b. Teori Delegasi dan Mandat

Kewenangan pemerintah secara umum dapat diklasifikasikan


menjadi beberapa jenis seperti kewenangan konstitusi atau kewenangan
asli dan pokok, kewenangan atribusi yang diperoleh dari delegasi
kekuasaan lain khususnya legislatif, serta kewenangan delegasi dan
mandat. Diantara ketiga jenis kewenangan tadi, kewenangan
pemerintahan yang tertuang dalam konstitusi serta kewenangan atribusi
paling banyak mendapat sorotan sebagai kewenangan yang selama ini
(era Orde Baru) banyak terjadi penyimpangan. Penjelasan yang lebih
terinci dari masing-masing jenis kewenangan diatas dapat diuraikan
sebagai berikut.

1. Kewenangan Konstitusi (wewenang asli atau pokok)

Dilihat dari sejarah ketatanegaraan, kewenangan pemerintah


(baca: presiden) telah ditetapkan sebelum lahirnya lembaga
pemerintah itu sendiri. Oleh karena itu, pada saat pembentukannya,
pemerintah langsung memiliki kewenangan yang secara organik
telah melekat pada dirinya, yakni kewenangan yang diberikan oleh
konstitusi. Itulah sebabnya, kewenangan ini dapat dinamakan
sebagai kewenangan konstitusi.
Dalam hukum dasar negara Indonesia yakni UUD 1945,
kekuasaan presiden dibagi menjadi 2 (dua) yakni sebagai kepala
negara dan sebagai kepala pemerintahan. Dalam hubungan ini, MTI
berpandangan bahwa kekuasaan presiden sebagai kepala negara
hanya kekuasaan administratif, simbolis dan terbatas, yang
merupakan suatu kekuasaan di samping kekuasaan utamanya sebagai
kepala pemerintahan. Dengan kata lain, meskipun secara umum hak

7
sebagai kepala negara bersifat istimewa dan mutlak (prerogatif),
namun dalam konteks negara demokrasi dan negara hukum modern
hal ini tidak dibenarkan lagi, dan harus ditempatkan dalam kerangka
kontrol lembaga negara lain. Atas dasar pandangan seperti ini, maka
kewenangan kepala negara sebagaimana ditentukan dalam pasal 10 –
15 UUD 1945 tetap harus melewati mekanisme tertentu, baik yang
bersifat pemberitahuan, pertimbangan maupun persetujuan lembaga
tertentu (terutama DPR dan MA).
Sementara mengenai kewenangan sebagai kepala
pemerintahan, MTI berpendapat bahwa kekuasaan pemerintahan
sama artinya dengan kekuasaan eksekutif dalam konsep pemisahan
kekuasaan yang membatasi kekuasaan pemerintahan secara sempit
pada pelaksanaan peraturan hukum yang ditetapkan lembaga
legislatif. alasan bahwa perkembangan kehidupan kenegaraan di
masa mendatang membutuhkan rasionalisasi kekuasaan yang
didasarkan pada kebutuhan pertanggungjawaban (accountability)
yang kongkret dan jelas. Itulah sebabnya, kekuasaan pemerintahan
tidak lagi didefinisikan sebagai kekuasaan yang abstrak dan
menyerahkan penentuan definisi abstrak tersebut pada satu lembaga
saja yakni presiden.
Pola pikir seperti ini mengandung makna bahwa meskipun
pemerintah berhak membuat dan menjalankan peraturan perundang-
undangan sebagaimana ditetapkan dalam konstitusi, namun harus
memperhatikan batas-batas tertentu sehingga tidak mengarah pada
terjadinya penggunaan kewenangan yang berlebihan. Secara lebih
spesifik, MTI berpendapat bahwa kekuasaan pemerintahan ini
terbatas hanya pada penetapan dan pelaksanaan kebijakan-kebijakan
politik yang berada dalam ruang lingkup fungsi-fungsi bestuur
(administrasi), politie (keamanan) dan regeling (pengaturan) yang
tidak bertentangan dengan konstitusi.

8
Diantara kewenangan kenegaraan (prerogatif) dan
kewenangan pemerintahan diatas, kewenangan jenis kedua
nampaknya lebih membuka peluang terjadinya penyimpangan.
Beberapa hal yang menyebabkan hal ini adalah: pertama, rumusan
wewenang pemerintahan tidak bersifat limitatif sehingga dapat
mengundang penafsiran yang berbeda dan beragam (multi
interpretation). Kedua, konstitusi tidak menentukan batas-batas
kewenangan dan rambu-rambu yang harus diperhatikan pemerintah
dalam penyusunan sebuah produk hukum eksekutif.Ketiga,
kewenangan pemerintahan lebih banyak yang bersifat pengaturan
(regeling), sedangkan kewenangan kenegaraan relatif bersifat
penetapan (beschikking) seperti pengangkatan duta dan
konsul. Keempat, mekanisme kontrol dari unsur kekuasaan negara
yang lain (trias politika) kurang berjalan optimal.
Untungnya, kewenangan konstitusi seperti yang dimiliki
presiden, tidak dimiliki oleh para kepala daerah. Dengan demikian,
tidak terbuka peluang untuk terjadinya abuse of power terhadap jenis
kewenangan ini pada level daerah. Hal yang harus dicermati
hanyalah kedudukan Kepala Daerah (Gubernur) yang pada satu sisi
merupakan pejabat daerah tertinggi yang dipilih oleh rakyat daerah,
namun disisi lain juga sebagai wakil pemerintah (pusat) yang
mewakili kepentingan strategis nasional.

2. Kewenangan Atribusi (delegasi legislatif)


Kewenangan atribusi adalah kewenangan (baru) eksekutif
yang diperoleh dari atau diberikan oleh lembaga legislatif. Dengan
demikian, wewenang tadi sesungguhnya adalah wewenang yang
melekat pada lembaga legislatif namun untuk implementasinya
kemudian diserahkan kepada eksekutif. Contohnya adalah
kewenangan untuk memungut iuran / pungutan kepada masyarakat.
Pada masa silam ada pembebanan kepada masyarakat yang disebut

9
IPEDA (Iuran Pembangunan Daerah)] dan Pajak / Iuran TV. Kedua
pungutan ini dikeluarkan oleh eksekutif (Presiden dan Menteri).
Tanpa adanya pernyataan dari peraturan perundang-undangan
bahwa Presiden diberi kewenangan untuk melakukan pemungutan
tadi, maka dapat dikatakan bahwa Presiden telah melakukan
penyalahgunaan wewenang.[
Keputusan Presiden dan Keputusan/Peraturan Menteri
sendiri tidak dapat dikatakan sebagai peraturan perundang-
undangan, melainkan hanya peraturan kebijaksanaan. Keppres dan
Kepmen/Permen tadi baru menjadi peraturan perundang-
undangan jika sudah ada atribusi dari peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi, yakni UU. Dalam kasus pungutan
iuran TV, misalnya, produk hukum eksekutif (PP, Kepres,
Kepmen) baru menjadi peraturan perundang-undangan apabila
telah ada suatu UU (katakanlah UU No. 32 tahun 2002 tentang
Penyiaran) yang mengatur bahwa “iuran TV (atau iuran lainnya)
diatur lebih lanjut oleh pemerintah”.[5] Klausul seperti inilah yang
menjadi dasar hukum timbulnya kewenangan atribusi.
Dalam praktek administrasi negara selama ini terdapat
kecenderungan bahwa produk hukum eksekutif tidak memiliki
payung hukum yang kuat. Dengan kata lain, Presiden cenderung
tidak memperhatikan ketentuan peraturan UU, dan menjadi
sewenang-wenang. Prof. Hamid Attamimi (1991) dalam
disertasinya menyebut Keputusan Presiden yang tidak memiliki
payung hukum (atribusi dari UU) tadi sebagai Keppres Mandiri
Non-atribusian. Hal ini masih dapat ditolerir jika Keppres tadi
berisi suatu persoalan yang sangat penting dan mendesak (darurat),
serta dikeluarkan sebagai wujud tanggungjawab Presiden yang
sangat besar. Namun jika jenis Keppres ini terlalu banyak dan
terlalu mudah disusun, maka dapat mengurangi kadar demokrasi di

10
suatu negara (Indonesia) dan upaya membangun pemerintahan
rakyat.
Itulah sebabnya, lahirnya UU No. 10 tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan perlu disambut
positif. Lahirnya UU ini diharapkan akan membawa kejelasan
bahwa Peraturan Presiden adalah produk hukum yang bersifat
pengaturan secara umum (regeling), sedang Keputusan Presiden
adalah produk hukum yang bersifat penetapan secara konkrit dan
individual (beschikking) seperti pengangkatan dan pemberhentian
pejabat, pembentukan panitia-panitia negara yang bersifat ad-hoc,
dan sebagainya. Sebelum lahirnya UU No. 10/2004, Keputusan
Presiden dapat berisi baik pengaturan maupun penetapan. Dengan
kata lain, Keputusan Presiden saat itu berkedudukan sebagai
peraturan perundang-undangan, sekaligus sebagai peraturan
kebijaksanaan. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan
kebingungan, perbedaan interpretasi, serta peluang untuk
disalahgunakan oleh Presiden. Lebih dari itu, wewenang bebas
untuk mengatur suatu hal tertentu ini juga mendorong pemerintah
untuk bertindak otoriter.
Mengingat hal tersebut, maka penyusunan suatu peraturan
perundang-undangan kedepan paling tidak perlu memperhatikan 2
(dua) hal. Pertama, perlu adanya upaya untuk melakukan
kodifikasi secara limitatif kewenangan-kewenangan pemerintah
yang diperoleh dari proses atribusi. Kedua, produk hukum yang
dikeluarkan pemerintah juga harus memperhatikan batas-batas
tertentu.
Dalam kaitan dengan batasan ini, Sjachran Basah (1986)
pernah mengajukan adanya batas atas dan batas bawah. Batas atas
diartikan sebagai ketaatasasan ketentuan perundang-undangan,
dimana peraturan (keputusan/ketetapan) yang dikeluarkan
pejabat/badan TUN tidak boleh bertentangan dengan peraturan

11
yang lebih tinggi derajatnya. Sedangkan batas bawah berarti bahwa
peraturan yang dibuat pejabat/badan TUN tidak boleh melanggar
hak-hak masyarakat. Batas atas dari suatu aturan misalnya adalah
pasal 27 UUD 1945 yang menentukan bahwa “Setiap warga negara
berhak atas pekerjaan yang layak”. Atas dasar ini, maka setiap
peraturan (yang dikeluarkan pemerintah) dilarang menimbulkan
akibat hilangnya pekerjaan bagi seorang warga negara, karena
bertentangan dengan UUD 1945. Dalam kasus ini, batas bawahnya
adalah hak setiap warga negara untuk berkarya dan mendapat
nafkah yang layak.
Sementara itu SF. Marbun (2004a) mengajukan batas-batas
yang harus dipedomani oleh pejabat/badan TUN dalam
menggunakan tindakan atau hak freies ermessen-nya, sebagai
berikut: 1) sikap tindak itu diambil atas inisiatif sendiri, 2) sikap
tindak itu dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan penting dan
mendesak yang timbul secara tiba-tiba, 3) sikap tindak itu ditujukan
untuk menjalankan tugas-tugas public service, 4) sikap tindak itu
dimungkinkan oleh hukum, dan 5) sikap tindak itu dapat
dipertanggungjawabkan baik secara hukum maupun secara moral.

3. Kewenangan Delegasi dan Mandat


Dalam HAN dikenal pula adanya delegasi dan mandat.
Menurut Artikel 1.A.1.2.1 Algemene Wet van Bestuurrecht(AWB)
naskah 1992/1993, pengertian delegasi adalah Onder
delegatieverlening wordt Verstaan; het overdragen door een
bestuursorgaan van zijn bevoegheid tot het nemen van besluiten
aan een ander die deze onder eigen verantwoordelijkheid
uitofent (delegasi adalah pemberian / pelimpahan wewenang oleh
suatu organ pemerintahan kepada pihak lain untuk mengambil
keputusan atas tanggung jawab sendiri). Sedangkan pengertian
mandat diatur dalam Artikel 1.A.1.1.1 AWB yang berbunyi: het

12
door een bestuursorgaan aan een ander verlenen van de
bevoegdheid in zijn naam besluiten te nemen, yang artinya adalah
”mandat adalah kewenangan yang diberikan oleh suatu organ
pemerintahan kepada organ lain untuk atas namanya mengambil
keputusan” (SF. Marbun, 2004b).
Dengan mengutip Amrah Muslimin, Sinaga (2004) menulis
adanya 3 (tiga) bentuk delegasi dalam pengertian makro, yaitu:
a. Delegasi Bersyarat (voorwardelijke delegatie). Artinya, UU
memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk berbuat sesuatu
atau membentuk suatu peraturan perundang-undangan ketika
negara dalam keadaan sangat terdesak (darurat).
b. Delegasi dalam bentuk UU Penugasan (machtigingswet). Artinya,
dalam suatu UU hanya mengatur hal-hal yang pokok, sedangkan
pengaturan lebih lanjut diserahkan atau ditugaskan kepada
pemerintah.
c. Delegasi dalam bentuk UU yang memberikan kerangka dan batas-
batas tertentu (kaderwet atau raamwetten). Artinya, lembaga
legislatif hanya memberikan kerangka atau sendi-sendi pokok
secara politis dalam UU, sedangkan pengkhususannya secara teknis
diserahkan kepada pemerintah.
Jika dicermati makna dari ketiga jenis delegasi diatas, maka
kebebasan atau keleluasaan pemerintah (pejabat / badan TUN)
untuk mengatur suatu substansi tertentu berdasarkan delegasi atau
mandat, terbatas hanya pada masalah serta maksud dan tujuan yang
digariskan dalam UU tadi.
Sementara itu perbedaan antara delegasi dan mandat dapat
dilihat dari beberapa hal. Pemberi delegasi disebut Delegan,
sedangkan pemberi mandat disebut Mandan. Penerima delegasi
disebut Delegataris, sedangkan penerima mandat disebut
Mandataris. Dalam proses delegasi, delegataris dapat bertindak
untuk atas namanya sendiri dan bertanggungjawab atas atas

13
tindakannya tadi. Sementara dalam proses mandat, mandataris
bertindak dan bertanggungjawab atas nama Mandan (tidak dapat
bertindak atas namanya sendiri). Selain itu, delegasi menimbulkan
pergeseran kompetensi, sedangkan mandat membiarkan hak-hak
jabatan kompetensi yang telah ada mendahului mandat, tetap
berada pada tangan Mandan.
Pelayanan penerbitan KTP adalah contoh mandat. Dalam
hal ini, Camat (sebagai pejabat yang menandatangani KTP)
bertindak atas nama Walikota (sebagai pejabat yang berwenang
mengeluarkan KTP dan bertanggungjawab atas tindakannya
mengeluarkan atau tidak mengeluarkan KTP). Itulah sebabnya,
dalam KTP tadi tertera adanya “atas nama” atau alieno nomine,
yang berarti bahwa Camat bertindak sebagai mandataris dari
Walikota. Namun jika kewenangan pelayanan KTP tadi sudah
didelegasikan kepada Camat, maka Camat dapat menandatangani
KTP atas namanya sendiri.
Sementara itu, contoh mengenai delegasi yang sangat
mudah ditemui dalam era otonomi daerah saat ini adalah
pelimpahan / pendelegasian kewenangan bupati / walikota kepada
camat untuk menjalankan urusan-urusan pemerintahan tertentu.
Kewajiban untuk melimpahkan kewenangan ini tertuang dalam UU
Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (telah diubah
dengan UU Nomor 32 tahun 2004), yang pada pasal 66 berbunyi
“Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan
dari Bupati/Walikota”. Oleh karena ada pernyataan eksplisit bahwa
hal tersebut merupakan “delegasi kewenangan”, maka camat
sebagai delegataris tidak memiliki kompetensi baru untuk
menjalankan urusan-urusan pemerintahan yang dilimpahkan dari
bupati/walikota.
Prinsip yang sangat perlu diperhatikan disini adalah,
walaupun hanya delegasi maupun mandat, namun batasan-batasan

14
kewenangan antara mandan dan mandataris, serta antara delegan
dan delegataris perlu ditetapkan secara jelas dan tegas (limitatif).
Selain itu, substansi kewenangan yang didelegasikan atau
dimandatkan juga harus diperjelas. Semuanya ini untuk
meghindarkan agar pelaksanaan delegasi dan mandat tadi dapat
berjalan sebagaimana maksud dan tujuan pemberian delegasi dan
mandate tersebut, dan mengurangi sebesar mungkin peluang
terjadinya operasionalisasi kewenangan yang berlebihan dan
kebablasan.

F. HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL DI INDONESIA

HKI merupakan hak privat (private rights) bagi seseorang yang


menghasilkan suatu karya intelektual. Di sinilah ciri khas HKI, seseorang
bebas untuk mengajukan permohonan atau mendaftarkan karya
intelektualnya atau tidak. Hak ekslusif yang diberikan negara kepada
individu pelaku HKI (inventor, pencipta, pendesain dan sebagainya)
dimaksudkan sebagai penghargaan atas hasil karya (kreativitas)nya dan
agar orang lain terangsang untuk dapat lebih lanjut mengembangkannya
lagi, sehingga dengan sistem HKI tersebut kepentingan masyarakat
ditentukan melalui mekanisme pasar. Di samping itu, sistem HKI
menunjang diadakannya sistem dokumentasi yang baik atas segala
bentuk kreativitas manusia sehingga kemungkinan dihasilkannya
teknologi atau hasil karya lainnya yang sama dapat dihindarkan/dicegah.
Dengan dukungan dokumentasi yang baik tersebut, diharapkan
masyarakat dapat memanfaatkannya dengan maksimal untuk keperluan
hidupnya atau mengembangkannya lebih lanjut untuk memberikan nilai
tambah yang lebih tinggi lagi.6

6
OK. Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001,
hal.507

15
Adapun tujuan perlindungan kekayaan intelektual melalui HKI
secara umum meliputi:
a. memberi kejelasan hukum mengenai hubungan antara kekayaan
dengan inventor, pencipta, desainer, pemilik, pemakai, perantara
yang menggunakannya, wilayah kerja pemanfaatannya dan yang
menerima akibat pemanfaatan HKI untuk jangka waktu tertentu;
b. memberikan penghargaan atas suatu keberhasilan dari usaha atau
upaya menciptakan suatu karya intelektual;
c. mempromosikan publikasi invensi atau ciptaan dalam bentuk
dokumen HKI yang terbuka bagi masyarakat;
d. merangsang terciptanya upaya alih informasi melalui kekayaan
intelektual serta alih teknologi melalui paten;
e. memberikan perlindungan terhadap kemungkinan ditiru karena
karya intelektual karena adanya jaminan dari negara bahwa
pelaksanaan karya intelektual hanya diberikan kepada yang berhak.

Hak Kekayaan Intelektual akan menyentuh berbagai aspek seperti


aspek teknologi, industri, sosial, budaya, dan berbagai aspek lainnya. Namun
aspek terpenting jika dihubungkan dengan upaya perlindungan bagi karya
intelektual adalah aspek hukum. Hukum diharapkan mampu mengatasi
berbagai permasalahan yang timbul berkaitan dengan Hak Kekayaan
Intelektual tersebut. Hukum harus dapat memberikan perlindungan bagi karya
intelektual, sehingga mampu mengembangkan daya kreasi masyarakat yang
akhirnya bermuara pada tujuan berhasilnya perlindungan Hak Kekayaan
Intelektual.7

Aspek teknologi juga merupakan faktor yang sangat dominan dalam


perkembangan dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Perkembangan
teknologi informasi yang sangat cepat saat ini telah menyebabkan dunia
terasa semakin sempit, informasi dapat dengan mudah dan cepat tersebar ke

7
Setiawan, Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata, Alumni Bandung, Bandung, 1992,
hal. 7

16
seluruh pelosok dunia. Pada keadaan seperti ini Hak Kekayaan Intelektual
menjadi semakin penting. Hal ini disebabkan Hak Kekayaan Intelektual
merupakan hak monopoli yang dapat digunakan untuk melindungi investasi
dan dapat dialihkan haknya.

Instansi yang berwenang dalam mengelola Hak Kekayaan Intelektual


di Indonesia adalah Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen.
HKI) yang berada di bawah Departemen Kehakiman dan HAM Republik
Indonesia. Dan khusus untuk mengelola informasi HKI juga telah dibentuk
Direktorat Teknologi Informasi di bawah Ditjen. HKI. Sekali lagi
menunjukkan bahwa pengakuan HKI di Indonesia benar-benar mendapat
perhatian yang serius.8

G. KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM MELINDUNGI HAK


KEKAYAAN INTELEKTUAL BERDASARKAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN

a) Bentuk-Bentuk Perlindungan Oleh Pemerintah Terkait


Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual

Perlindungan hukum yang dilakukan oleh pemerintah terkait dengan


perlindungan HKI, yaitu dengan mengadakan dan mengesahkan peraturan
perundang-undangan yang terkait. Adapun pengaturan HKI di Indonesia
berdasarkan sejarahnya yakni :
1. Zaman Hindia Belanda
- Octroii Wet No. 136. Staatblad 1911 No. 313
- Industrial Eigendom Kolonien 1912
- Auter Wet 1912 Staatblad 1912 No. 600
2. Setelah kemerdekaan

8
Sudargo Gautama, Perkembangan Arbitrase Dagang Indonesia, Eresco, Bandung, 1989 hal. 52

17
- Pengumuman Menteri Kehakiman RI No. JS 5/41 tanggal 12
Agustus 1953 dan No. JG 1/2/17 tanggal 29 Agustus 1953
tentang Pendaftaran Sementara Paten.
- UU No. 21 Tahun 1987 tentang Merek.
- UU No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta
- UU No. 7 Tahun 1987 tentang Perubahan UU No. 6 Tahun 1982
tentang Hak CIpta.
- UU No. 19 Tahun 1992 tentang Merek menggantikan UU yang
sebelumnya.
3. Tahun 1997
- UU No. 12 Tahun 1997 tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun
1987 tentang Hak Cipta.
- UU No. 13 Tahun 1997 tentang Perubahan atas UU No. 6 Tahun
1989 tentang Paten.
- UU No. 14 Tahun 1997 tentang Perubahan atas UU No. 19
Tahun 1992 tentang Merek.
4. Tahun 2000
- UU No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
- UU No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri
- UU No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit
Terpadu.
5. Tahun 2001
- UU No. 14 Tahun 2001 tentang UU No. 13 Tahun 1997 tentang
Perubahan atas UU No. 6 Tahun 1989 tentang Paten.
- UU No. 15 Tahun 2001 tentang tentang perubahan atas UU No.
14 Tahun 1997 tentang Perubahan atas UU No. 19 Tahun 1992
tentang Merek.
6. Tahun 2002
- UU No. 19 Tahun 2002 tentang Perubahan UU No. 12 Tahun
1997 tentang Hak Cipta

18
Perlindungan hukum yang dimaksud dalam HAKI spesifikasinya
adalah sebagai berikut :

1. Pendaftaran HKI

Menurut ketentuan undang-undang, setiap hak kekayaan


intelektual wajib didaftarkan. Pendaftaran yang memenuhi persyaratan
undang-undang merupakan pengakuan dan pembenaran atas hak
kekayaan intelektual seseorang., yang dibuktikan dengan sertidikat
pendaftaran sehingga memperoleh perlindungan hukum. 9
2. Penentuan Masa Perlindungan

Menurut ketentuan undang-undang setiap hak kekayaan


intelektual ditentukan jangka waktu perlindungannya. Dengan
demikian, selama masa perlindungan tersebut, hak kekayaan intelektual
yang bersangkutan tidak boleh digunakan oleh pihak lain tanpa izin
pemilik/ pemegangnya.10

3. Penindakan dan Pemulihan

Setiap pelanggaran hak kekayaan intelektual akan merugikan


pemilik/ pemegangnya dan/ atau kepentingan umum/ negara. Pelaku
pelanggaran tersebut harus ditolak dan memulihkan kerugian yang
diderita oleh pemilik/ pemegang hak atau negara. Penindakan dan
pemulihan tersebut diatur oleh undang-undang bidang hak kekayaan
intelektual. Ada 3 (tiga) kemungkinan penindakan dan pemulihan yaitu:
a. Secara Perdata berupa gugatan :
1) Ganti kerugian pelanggar
2) Penghentian perbuatan pelanggar
3) Penyitaan barang hasil pelanggaran untuk dimusnahkan
b. Secara pidana berupa penuntutan :

9
Sujud Margono, Hukum dan Perlindungan Hak Cipta, CV Novindo Pustaka Mandiri, Jakarta,
2003, hal. 34
10
Ibid.

19
1) Hukuman pidana
2) Hukuman denda
3) Perampasan barang yang digunakan untuk melakukan kejahatan
c. Secara administratif berupa tindakan :
1) Pembekuan/ Pencabutan SIUP;
2) Pembayaran pajak/ bea masuk yang tidak dilunasi
3) Reekspor barang hasil pelanggaran. 11

b). Proses Penyelesaian Sengketa HKI di Luar Pengadilan

Asal mula sengketa biasanya bermula pada situasi dimana ada pihak
yang merasa dirugikan oleh pihak lain. Biasanya ini diawali oleh perasaan
tidak puas, bersifat subyektif dan tertutup. Kejadian ini dapat dialami
perorangan maupun kelompok. Jika hal ini berkelanjutan, pihak yang merasa
dirugikan menyampaikan ketidakpuasan ini kepada pihak kedua dan apabila
pihak kedua dapat menanggapi dan memuaskan pihak pertama, maka
selesailah hubungan konfliktual tersebut. sebaliknya jika beda pendapat terus
berlanjut, maka terjadi apa yang disebut sebagai sengketa.
Dalam situasi sengketa, perbedaan pendapat dan perdebatan yang
berkepanjangan biasanya berakhir dengan putusnya jalur komunikasi yang
sehat sehingga masing-masing pihak mencari jalan keluar tanpa memikirkan
nasib ataupun kepentingan pihak lainnya.
Untuk adanya proses penyelesaian sengketa yang efektif, prasyarat
bahwa hak didengar kedua belah pihak sama-sama diperhatikan harus
terpenuhi. Dengan itu baru dapat dimulai proses dialog dan pencarian titik
temu yang akan menjadi panggung dimana proses penyelesaian sengketa
dapat berjalan. Tanpa kesadaran pentingnya langkah ini, proses penyelesaian
sengketa tidak dalam arti yang sebenarnya. Ada tiga faktor utama yang
mempengaruhi proses penyelesaian sengketa, yaitu :

11
Ibid.

20
- Kepentingan
- Hak-hak
- Status kekuasaan
Para pihak yang bersengketa ingin kepentingannya tercapai, hak-
haknya dipenuhi serta ingin status kekuasaannya diperlihatkan, dimanfaatkan
dan dipertahankan. Dalam proses penyelesaian sengketa, pihak-pihak yang
bersengketa lazimnya akan bersikeras mempertahankan ketiga faktor tersebut
diatas.
Upaya hukum yang dapat ditempuh oleh para pihak yang
bersengketa dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yakni :
Jalur litigasi/ pengadilan
Jalur alternatif penyelesaian di luar pengadilan
Jalur litigasi dimana dalam jalur litigasi ini dibagi menjadi dua
macam yakni jalur Perdata dan jalur pidana. Untuk jalur perdata ditempuh
melalui suatu proses gugatan ganti kerugian di Pengadilan Niaga. Sedangkan
untuk jalur pidana prosedurnya adalah dari pelaporan pihak yang dirugikan
kepada instansi yang berwenang.
Sedangkan untuk upaya hukum lain ditempuh melalui jalur non-
litigasi dikenal sebagai alternatif penyelesaian sengketa. Alternatif
penyelesaian sengketa sering diartikan sebagai alternative to litigation, namun
seringkali juga diartikan sebagai alternative to adjudication. Pemilihan
terhadap salah satu dari dua pengertian tersebut menimbulkan implikasi yang
berbeda. Apabila pengertian yang pertama menjadi acuan alternative to
litigation, maka mencakup seluruh mekanisme alternatif penyelesaian
sengketa di luar pengadilan.
Menurut Undang-undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa (selanjutnya disebut UU No. 30 Tahun
1999) yang dimaksud dengan alternatif Penyelesaian Sengketa adalah :
“Lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang
disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara
konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.”

21
Konsep penyelesaian sengketa alternatif (ADR), pada dasarnya
bersumber pada upaya untuk mengaktualisasikan ketentuan kebebasan
berkontrak dalam berjalannya kontrak tersebut. Sehingga akhir penyelesaian
sengketa berupa perdamaian yang tidak lain merupakan upaya pihak-pihak
sendiri maupun dengan menggunakan pihak ketiga untuk mencapai
penyelesaian.
Adapun beberapa penyelesaian sengketa alternatif penjelasannya adalah
sebagai berikut :
1. Arbitrase
Pengertian arbitrase menurut Pasal 1 ayat (1) UU No. 30 Tahun
1999 adalah : “Penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan
umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara
tertulis oleh para pihak yang bersengketa.”
Arbitrase merupakan institusi penyelesaian sengketa alternatif yang
paling populer dan paling luas digunakan orang dibandingkan dengan
institusi penyelesaian sengketa alternatif lainnya. Hal tersebut disebabkan
banyaknya kelebihan yang dimiliki oleh institusi arbitrase ini. Adapun
Kelebihan-kelebihan itu adalah sebagai berikut :
a. Dijamin kerahasiaan sengketa para pihak.
b. Dapat dihindari keterlambatan yang diakibatkan hal prosedural dan
administratif.
c. Para pihak dapat memilih arbiter yang menurut keyakinan
memiliki kemampuan, pengetahuan, pengalaman serta latar
belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan, jujur,
dan adil.
d. Para pihak dapat menentukan pilihan untuk dapat menyelesaikan
masalah serta proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase.
e. Putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak
dan langsung dapat dilaksanakan.
Keuntungan lain dari pelaksanaan arbitrase yakni sidang arbitrase
dilakukan secara tertutup dan putusannya diucapkan dalam sidang yang

22
tertutup pula kecuali apabila para pihak dalam sengketa tersebut
menghendaki putusan dalam sidang diucapkan secara terbuka.
Jika dibandingkan dengan alternatif-alternatif yang lain untuk
menyelesaikan sengketa, maka institusi arbitrase merupakan lembaga
penyelesaian sengketa yang paling mirip dengan badan peradilan, terutama
jika ditinjau dari prosedur yang berlaku, kekuatan putusannya, keterikatan
dengan hukum yang berlaku atau dengan aturan main yang ada.
Menurut UU. No. 30 tahun 1999, maka pihak pemohomn
(claimant) harus mengajukan surat tuntutan (statement of claim), diikuti
oleh jawaban (statement of defence) dan jika ada tuntutan balasan (counter
claim) dari pihak termohon (respondent). Selanjutnya diikuti dengan
pemanggilan untuk hearing dan pemeriksaan saksi, saksi ahli, dan
pembuktian lainnya. Setelah itu arbitrase baru memberikan putusannya.

2. Negosiasi
Pada prinsipnya dengan negosiasi dimaksudkan sebagai suatu
proses tawar menawar atau pembicaraan untuk mencapai suatu
kesepakatan terhadap suatu masalah tertentu yang terjadi diantara para
pihak. Negosiasi dilakukan baik karena telah ada sengketa diantara para
pihak, maupun hanya karena belum ada kata sepakat disebabkan belum
pernah dibicarakan masalah tersebut.
Negosiasi dilakukan oleh seorang negosiator. Mulai dari negosiasi
yang paling sederhana dimana negosiator tersebut adalah para pihak yang
berkepentingan sendiri, sampai pada negosiator khusus, atau memakai
lawyer sebagai negosiator.
Ciri-ciri seorang negosiator yang baik adalah sebagai berikut :
a) Mampu berpikir secara cepat, tetapi mempunyai kesabaran yang tidak
terbatas.
b) Dapat bersikap manis tapi meyakinkan.
c) Dapat mempengaruhi orang tanpa harus menipu.

23
d) Dapat menimbulkan kepercayaan tanpa harus mempercayai orang
lain.
e) Mempunyai sifat loyalitas yang kuat sehingga tidak mudah
dipengaruhi oleh orang lain

3. Mediasi
Mediasi adalah salah satu alternatif dalam menyelesaikan sengketa.
Yang dimaksud dengan mediasi adalah suatu proses negosiasi untuk
memecahkan suatu masalah melalui pihak luar yang tidak memihak dan
netral dan akan bekerja dengan pihak yang bersengketa untuk membantu
menemukan solusi dalam menyelesaikan sengketa tersebut secara
memuaskan bagi kedua belah pihak. Pihak ketiga yang membantu
menyelesaikan masalah tersebut disebut dengan Mediator. Pihak mediator
tidak mempunyai kewenangan untuk memberi putusan terhadap sengketa
tersebut, melainkan hanya berfungsi untuk membantu dan menemukan
solusi terhadap para pihak yang bersengketa tersebut. pengalaman,
integritas dan kemampuan dari pihak mediator tersebut diharapkan dapat
mengefektifkan proses negosisasi diantara para pihak.
Akan tetapi di samping harapan digantungkan kepada pengalaman,
kemampuan dan integritas dari pihak mediator, kedudukan mediator
sebagai pihak penengah itu saja sudah sangat membantu penyelesaian
sengketa tersebut. Sebab jika pihak ketiga yang netral tidak ikut terlibat,
maka diantara para pihak akan terjadi saling mencurigai, salah pengertian,
salah persepsi, kurang komunikasi, bersikap emosi, bersikap menang-kalah
dan sebagainya.
Penyelesaian sengketa melalui mediasi banyak keunggulannya,
diantaranya sebagai berikut :
a. Relatif murah dibandingkan dengan alternatif penyelesaian sengketa
yang lain.
b. Adanya kecenderungan dari pihak yang bersengketa untuk menerima
dan ada rasa memiliki putusan mediasi.

24
c. Dapat menjadi dasar bagi para pihak yang bersengketa untuk
menegosiasikan sengketa-sengketanya dikemudian hari.
d. Terbukanya kesempatan untuk menelaah masalah-masalah yang
merupakan dasar dari suatu sengketa.
e. Membuka kemungkinan adanya saling kepercayaan diantara pihak
yang bersengketa, sehingga dapat dihindari rasa bermusuhan dan
dendam.
Disamping kelebihan-kelebihan dari mediasi, maka penyelesaian
sengketa melalui mediasi juga mempunyai kelemahan yang antara lain :
a. Bisa memakan waktu yang lama
b. Mekanisme eksekusi yang sulit. Karena eksekusi putusan hanya
seperti kekuatan eksekusi suatu kontrak.
c. Mediasi tidak akan membawa hasil yang baik terutama jika informasi
dan kewenangan tidak cukup diberikan kepadanya.
d. Jika lawyer tidak dilibatkan dalam proses mediasi, kemungkinan
adanya fakta-fakta hukum yang penting yang tidak disampaikan
kepada mediator, sehingga putusannya menjadi bias.

4. Konsiliasi
Seperti dalam mediasi, konsiliasi juga merupakan suatu proses
penyelesaian sengketa diantara para pihak dengan melibatkan pihak ketiga
yang netral. Hanya saja peranan yang dimainkan oleh seorang mediator
dengan konsiliator yang berbeda, sungguhpun dalam praktek antara istilah
mediasi dan konsiliasi sering saling dipertukarkan.
Seperti juga mediator, tugas dari konsiliasi hanyalah sebagai pihak
fasilitator untuk melakukan komunikasi diantara para pihak sehingga dapat
diketamukan solusi oleh para pihak sendiri. Dengan demikian pihak
konsiliator hanya melakukan tindakan-tindakan seperti mengatur waktu
dan tempat pertemuan para pihak sendiri. Dengan demikian pihak
konsiliator hanya melakukan tindakan-tindakan seperti mengatur waktu
dan tempat pertemuan para pihak, mengarahkan subyek pembicaraan,

25
membawa pesan dari satu pihak kepada pihak yang lain jika pesan tersebut
tidak mungkin disampaikan secara langsung atau tidak mau bertemu muka
secara langsung, dan lain-lain. Selanjutnya pihak mediator juga melakukan
hal-hal yang dilakukan oleh konsiliator, tetapi juga melakukan lebih jauh
dari itu. Sebab pihak mediator dapat juga menyarankan jalan keluar atau
proposal penyelesaian sengketa yang bersangkutan, hal mana paling tidak
secara teoritis, tidak ada dalam kewenangan pihak konsiliator.

5. Pencari Fakta
Pencarian fakta oleh pihak pencari fakta sudah sangat sering
dilakukan dalam praktek sehari-hari. Pihak pencari fakta tersebut dapat
berbentuk :
a. Pencari fakta tunggal
b. Tim pencari fakta sepihak
c. Tim pencari fakta gabungan
d. Tim pencari fakta tripartit
Sungguhpun tugas utamanya adalah mencari fakta, pihak pencari
fakta biasanya juga mempunyai kewenangan untuk memberikan
rekomenasi dari mediasi, maka rekomendasi dari pencari fakta dapat
dipublikasikan secara umum. Hal inilah yang membedakan antara pencari
fakta yang tidak mengikat dengan arbitrase advisory. Sebab, berbeda
dengan arbitrase advisory, maka seperti yang sudah dikatakan bahwa
pencari fakta yang tidak mengukat tersebut dapat dipublikasikan
temuannya, apalagi terhadap pencari fakta terhadap kasus yang melibatkan
masyarakat banyak.
Dengan demikian tugas pencari fakta pada umumnya sebagai
berikut:
a. Mengumpulkan fakta
b. Memverifikasi fakta
c. Mengintepretasi fakta
d. Melakukan wawancara dan hearing

26
e. Menarik kesimpulan tertentu
f. Memberikan rekomendasi
g. Mempublikasi
Seperti dalam praktek di beberapa negara misalnya, bahkan
pihak pencari fakta terhadap sengketa perburuhan, dapat melakukan
rekomendasi seperti perbaikan terhadap tunjangan karyawan. Disamping
pencari fakta yang tidak mengikat, dimungkinkan juga pencari fakta yang
mengikat. Dalam hal ini pencari fakta, atau minimal salah satu dari
anggota tim pencari fakta haruslah pihak yang netral dan tidak memihak.
Pencari fakta yang mengikat ini mirip dengan arbitrase. Hanya bedanya
adalah pada aspek publikasinya, dimana temuan dan rekomendasi pencari
fakta tersebut dipublikasikan untuk masyarakat. dengan dipublikasikannya
hasil temuan ini, maka diharapkan temuan dan rekomendasi tersebut akan
dipatuhi oleh pihak-pihak yang bersengketa, sebab akan ada preasure dari
masyarakat terhadap para pihak untuk mengikuti rekomendasi yang dibuat
oleh pencari fakta yang dianggap berkualitas, berpengalaman dan netral.

H. KESIMPULAN

1. Bentuk perlindungan HKI yang dilindungi oleh pemerintah diatur sesuai


dengan peraturan perundang-undangan HKI. Perlindungan hukum tersebut
merupakan perlindungan hak masyarakat untuk mendapatkan kepastian
hukum dimulai dari pendaftaran sampai dengan tahap penyelesaian
sengketa. Dengan adanya pendaftaran maka status setiap HKI memiliki
kekuatan hukum untuk dilindungi. Tugas lainnya dari Kanwil Kementrian
Hukum dan HAM selain sebagai tempat permohonan HKI juga dapat
bertindak sebagai penyidik bila mana terjadi pelanggaran HKI yang
dilakukan oleh beberapa pihak yang membajak film daerah yang telah
memiliki kekuatan hukum untuk dilindungi.
2. Diharapkan kepada Kanwil Kementrian Hukum dan HAM dalam
melaksanakan tugasnya dapat bertindak sesuai dengan prosedur hokum
yang berlaku, baik sebagai lembaga yang berwenang guna pendaftaran

27
HKI dan juga sebagai penyidik. Bila penyelesaian sengketa dilakukan
secara non formal, keberadaan Kanwil Kementrian Hukum dan HAM
dapat bertindak sebagai mediator.

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU

Abu Bakar Busro dan Abu Daud Busro, Asas-asas Hukum Tata Negara,
Ghalia Indonesia, Jakarta, 1989

Djumhana dan R. Djubaedilah IV, Hak Milik Intelektual (Sejarah, Teori,


dan Prakteknya di Indonesia), Cetakan kedua, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2003

Jimly Asshiddiqie, Pengantar Hukum Tata Negara, Konstitusi Press, Jakarta,


2006

Setiawan, Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata, Alumni


Bandung, Bandung, 1992

Sudargo Gautama, Perkembangan Arbitrase Dagang Indonesia, Eresco,


Bandung, 1989

Sujud Margono, Hukum dan Perlindungan Hak Cipta, CV Novindo Pustaka


Mandiri, Jakarta, 2003

Saidin OK., Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, PT.Raja Grafindo


Persada, Jakarta, 2001

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UU No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang

UU No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri

UU No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.

UU No. 14 Tahun 2001 tentang UU No. 13 Tahun 1997 tentang Perubahan


atas UU No. 6 Tahun 1989 tentang Paten.

28
UU No. 15 Tahun 2001 tentang tentang perubahan atas UU No. 14 Tahun
1997 tentang Perubahan atas UU No. 19 Tahun 1992
tentang Merek.

UU No. 19 Tahun 2002 tentang Perubahan UU No. 12 Tahun 1997 tentang


Hak Cipta

29