Anda di halaman 1dari 13

Termodinamika

ENERGY DALAM, KAPASITAR KALOR MOLAR,


DAN AZAZ BLACK
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAZILA RAMADHANI
071244210073
PEND. FISIKA/ A

1. ENERGY DALAM
Konsep energy dalam merupakan konsep termodinamika yang terpenting. Materi
terbentuk dari atom-atom atau molekul-molekul yang membentuk partikel untuk mempunyai
energy kinetic dan energy potensial. Energy dalam didefinisikan sebagai jumlah semua
partikel energy kinetik dan energy potensial sebuah system parikel.
Dengan menggunakan teori kinetic kita dapat membedakan secara jelas pengertian
suhu, kalor dan energy dalam. Suhu merupakan ukuran energy kinetic rata-rata satu molekul.
Energy dalam mengacu kepada energy total semua molekul dari sebuah benda. Hal ini berarti
mungkin saja ada dua buah molekul yang sama, tetapi salah satu molekul mungkin
mempunyai energy dalam dua kali lebih besar. Adapun kalor mengacu pada perpindahan
energy dari suatu benda ke benda yang lain akibat perbedaan suhu.
Dalam teori kinetic gas, dinyatakan bahwa energy dalam sebuah gas ideal adalah :

Dengan n merupakan jumlah molekul dalam mol. Jadi, energy dalam sebuah gas ideal
bergantung pada suhu dan banyaknya molekul gas.
Jika sebuah molekul mempunyai lebih banyak atom, maka energy rotasi dan osilasi
dari molekul harus diperhitungkan. Pada gas selain monoatomik, energy dalam akan lebih
besar pada suhu tertentu, tetapi energy dalamnya masih merupakan fungsi dari suhu.
Energy dalam untuk gas tidak ideal atau gas yang sebenarnya juga bergantung pada
suhu, tetapi ketika berubah dari keadaan gas ideal, energy dalamnya juga bergantung pada
volume dan tekanan.
Energy dalam pada zat cair dan padat terlalu rumit untuk dijelaskan karena
didalamnya termasuk energy potensial listrik yang terkait dengan gaya (atau ikatan kimia)
natar atom-atom dan molekul-molekulnya.
Energy total dari proses adiabatic adalah jumalah dari dalam setiap tingkat
proses:

Walaupun pada umumnya diffrensial d’W adalah eksak dan kerja W mempunyai
harga yang berbeda untuk lintasan yang berbeda. Diffrensial d’Wad adalah eksak dalam arti
bahwa kerja itu sama untuk semua lintasan adiabatic antara dua keadaan yang mempunyai
energy kinetic dan energy potensialyang sama.
Kemungkinan untuk mendefenisikan sifat dari system yang diwakili oleh U, yaitu
bahwa perbedaan antara nilai keadaan a dan b adalah sama dengan kerja yang dilakukan oleh
system sepanjang setiap lintasan adiabatic dari a ke b. sifat ini disebut energy dalam dari
system. Besar energinya bergantung pada keadaan system, dan oleh karena itu dU adalah
diffrensial eksak. Secara konvensional dU negative jika system melakukan kerja adiabatic
d’Wad sehingga :

dU=-d’Wad

untuk dua keadaan a dan b :

Oleh karena itu energy total yang dilakukan oleh setiap suatu system dalam
setiap proses adiabatic anatar dua keadaan a dan b, yang mempunyai energy kinetic dan
energy potensial yang sama adalah sama dengan pengurangan (Ub-Ua) dari energy dalam
system. Sehingga ekspansi gas adiabatic dapat melakukan kerja walaupun tidak perubahan
energy kinetic dan energy potensianya, kerja dilakukan dengan perubahan energy dalamnya.
Satuan energy dalam sama dengan satuan dari usaha (kerja) dan dalam MKS adalah joule.

2. HUKUM I TERMODINAMIKA

Hukum ini terkait dengan kekekalan energi. Hukum ini menyatakan perubahan energi
dalam dari suatu sistem termodinamika tertutup sama dengan total dari jumlah energi kalor
yang disuplai ke dalam sistem dan kerja yang dilakukan terhadap sistem. Dari kekekalan
energi, kita bisa menyimpulkan bahwa perubahan energi dalam sistem = Kalor yang
ditambahkan pada sistem (sistem menerima energi) – Kerja yang dilakukan oleh sistem
(sistem melepaskan energi).

Secara matematis, bisa ditulis seperti ini :


Keterangan :

ΔU = Perubahan energi dalam

Q = Kalor

W = Kerja

Persamaan ini berlaku untuk sistem tertutup (Sistem tertutup merupakan sistem yang
hanya memungkinkan pertukaran energi antara sistem dengan lingkungan). Untuk sistem
tertutup yang terisolasi, tidak ada energi yang masuk atau keluar dari sistem, karenanya,
perubahan energi dalam = 0. Persamaan ini juga berlaku untuk sistem terbuka jika kita
memperhitungkan perubahan energi dalam sistem akibat adanya penambahan dan
pengurangan jumlah zat (Sistem terbuka merupakan sistem yang memungkinkan terjadinya
pertukaran materi dan energi antara sistem tersebut dengan lingkungan).

3. KAPASITAS KALOR MOLAR GAS

Kapasitas panas rata-rata didefenisikan sebagai banyaknya panas yang mengalir pada
system per perubahan temperature yang ditimbulkan. Jumlah kalor yang diberikan kepada
sebuah benda untuk menaikkan suhu mempunyai persamaan sebagai berikut :

Q=mcΔT

Dengan c adalah kalor jenis yang bergantung pada jenis benda dan ΔT merupakan perubahan
suhu yang terjadi. Besaran mc didefinisikan sebagai kapasitas kalor. Jadi, persamaan di atas
dapat dituliskan sebagai berikut :

Q=CΔT

Kapasitas kalor molar yang diperoleh dengan cara ini disebut sebagai kapasitas kalor
pada volume tetap dan disimbolkan dengan Cv. Adapun untuk memperoleh kapasitas kalor
molar untuk zat padat dan cair lebih mudah dalam kondisi tekanan tetap dan kapasitas kalor
molarnya disebut sebagai kapsitas kalor pada tekanan tetap serta disimbolakn dengan Cp.

Q= nCpΔT………….untuk tekanan tetap

Q= nCvΔT……….....untuk volume tetap

Untuk suatu proses volume konstan (i -> f ), usaha yang dilakukan gas W =ò p dV =
0,
maka menurut hukum pertama termodinamika,
Q = DU = 3/2 n R DT
n cv DT = 3/2 n R DT
cv = 3/2 R
Seluruh kalor yang diterimanya, digunakan untuk menaikkan tenaga internal sistem.
Cv adalah kalor jenis molar gas untuk volume konstan. Untuk suatu proses volume konstan (i
-> f’ ), usaha yang dilakukan gas W = ò p dV = p DV, maka menurut hukum pertama
termodinamika
dU = Q - W
dU = n cp DT - p DV
Karena kedua proses tersebut mempunyai temperatur awal dan akhir yang sama maka
kedua proses sama.
n cv DT = n cp DT - p DV
Dari pV = nRT diperoleh p DV = n R DT , maka
n cv DT = n cp DT - n R DT
cp - cv = R

Pada gas monodiatomik mempunyai Cv=3/2 R dan Cp= Cv+R= 3/2 R +R = 5/2 R

Pada gas diatomic mempunyai Cv =5/2 R dan Cp=Cv+R = 5/2R+R = 7/2 R

TABEL 1. KAPASITAS KALOR


Rasio
Individu Gas konstan
Kapasitas Panas Spesifik Tertentu
-R--R-
Hangatkan

Formula cp-cvcp cp-cvcp-


Gas atau uap cpcp cvcv cpcp cvcv
Rumus κ = κ = -cv cv
(kJ/kg K) (kJ/kg K) (Btu/lb m o (Btu/lb m o
c p / c v c p / (kJ/kg K) (ft lb f /lb m
(KJ / kg (KJ / kg F) (Btu / F) (Btu /
v c (KJ / kg o R) (Ft lb
K) K) lb o m F) lb o m F) o)
K) f / lb m R
Acetone Aseton 1.47 1.47 1.32 1.32 0.35 0.35 0.32 0.32 1.11 1.11 0.15 0.15
C2H2C2 1.232 0.319
Acetylene Asetilen 1.69 1.69 1.37 1.37 0.35 0.35 0.27 0.27 59.34 59.34
H2 1.232 0.319
0.718 0.287
Air Udara 1.01 1.01 0.24 0.24 0.17 0.17 1.40 1.40 53.34 53.34
0.718 0.287
C2H5
Alcohol Alkohol OH C 2 H 1.88 1.88 1.67 1.67 0.45 0.45 0.4 0.4 1.13 1.13 0.22 0.22
5 OH

CH 3 OH
Alcohol Alkohol 1.93 1.93 1.53 1.53 0.46 0.46 0.37 0.37 1.26 1.26 0.39 0.39
CH 3 OH
Ammonia Amonia NH 3 NH 3 2.19 2.19 1.66 1.66 0.52 0.52 0.4 0.4 1.31 1.31 0.53 0.53 96.5 96.5
0.520 0.312 1.667 0.208
Argon Argon Ar Ar 0.12 0.12 0.07 0.07
0.520 0.312 1.667 0.208
C6H6C6
Benzene Bensol 1.09 1.09 0.99 0.99 0.26 0.26 0.24 0.24 1.12 1.12 0.1 0.1
H6
Blast furnace gas
1.03 1.03 0.73 0.73 0.25 0.25 0.17 0.17 1.41 1.41 0.3 0.3 55.05 55.05
Blast furnace gas
Bromine Brom 0.25 0.25 0.2 0.2 0.06 0.06 0.05 0.05 1.28 1.28 0.05 0.05
Butatiene Butatiene 1.12 1.12
C 4 H 10 C 0.395 0.356 1.094 0.143
Butane Butana 1.67 1.67 1.53 1.53 26.5 26.5
4 H 10 0.395 0.356 1.094 0.143
Carbon dioxide 0.844 0.655 1.289 0.189
CO 2 CO 2 0.21 0.21 0.16 0.16 38.86 38.86
Karbon dioksida 0.844 0.655 1.289 0.189
Carbon monoxide 0.297
CO CO 1.02 1.02 0.72 0.72 0.24 0.24 0.17 0.17 1.40 1.40 55.14 55.14
Karbon monoksida 0.297
Carbon disulphide
0.67 0.67 0.55 0.55 0.16 0.16 0.13 0.13 1.21 1.21 0.12 0.12
Karbon disulfida
Chlorine Klorin Cl 2 Cl 2 0.48 0.48 0.36 0.36 0.12 0.12 0.09 0.09 1.34 1.34 0.12 0.12
Chloroform
0.63 0.63 0.55 0.55 0.15 0.15 0.13 0.13 1.15 1.15 0.08 0.08
Khloroform
Combustion products
11 0.24 0.24
Pembakaran produk
C2H6C2 1.187 0.276
Ethane Etana 1.75 1.75 1.48 1.48 0.39 0.39 0.32 0.32 51.5 51.5
H6 1.187 0.276
Ether Eter 2.01 2.01 1.95 1.95 0.48 0.48 0.47 0.47 1.03 1.03 0.06 0.06
C2H4C2 1.240 0.296
Ethylene Etilena 1.53 1.53 1.23 1.23 0.4 0.4 0.33 0.33 55.08 55.08
H4 1.240 0.296
Freon 22 Freon 22 1.18 1.18
1.667
Helium Helium He Dia 5.19 5.19 3.12 3.12 1.25 1.25 0.75 0.75 2.08 2.08 386.3 386.3
1.667
Hexane Hexane 1.06 1.06
14.32 10.16 1.405
Hydrogen Hidrogen H2H2 3.42 3.42 2.43 2.43 4.12 4.12 765.9 765.9
14.32 10.16 1.405
Hydrogen Chloride 0.191 0.135
HCl HCl 0.8 0.8 0.57 0.57 1.41 1.41 0.23 0.23 42.4 42.4
Hidrogen Klorida 0.191 0.135
Hydrogen Sulfide 0.243 0.187
H2SH2S 1.32 1.32 45.2 45.2
Hidrogen Sulfida 0.243 0.187
1.384 0.489
Hydroxyl Hidroksil OH OH 1.76 1.76 1.27 1.27
1.384 0.489
1.304 0.518
Methane Metana CH 4 CH 4 2.22 2.22 1.70 1.70 0.59 0.59 0.45 0.45 96.4 96.4
1.304 0.518
Methyl Chloride CH 3 Cl 0.240 0.200
1.20 1.20 30.6 30.6
Metil Klorida CH 3 Cl 0.240 0.200
Natural Gas Natural
2.34 2.34 1.85 1.85 0.56 0.56 0.44 0.44 1.27 1.27 0.5 0.5 79.1 79.1
Gas
0.618 1.667 0.412
Neon Neon 1.03 1.03
0.618 1.667 0.412
Nitric Oxide Nitric 0.995 0.718 1.386 0.277
NO NO 0.23 0.23 0.17 0.17
Oxide 0.995 0.718 1.386 0.277
0.743 1.400 0.297
Nitrogen Nitrogen N2N2 1.04 1.04 0.25 0.25 0.18 0.18 54.99 54.99
0.743 1.400 0.297
Nitrogen tetroxide
4.69 4.69 4.6 4.6 1.12 1.12 1.1 1.1 1.02 1.02 0.09 0.09
Nitrogen ferri
Nitrous oxide Nitrous N 2 O N 2
0.88 0.88 0.69 0.69 0.21 0.21 0.17 0.17 1.27 1.27 0.18 0.18 35.1 35.1
oksida O
0.919 0.659 1.395 0.260
Oxygen Oksigen O2O2 0.22 0.22 0.16 0.16 48.24 48.24
0.919 0.659 1.395 0.260
Pentane Pentana 1.07 1.07
C3H8C3 1.127 0.189
Propane Propana 1.67 1.67 1.48 1.48 0.39 0.39 0.34 0.34 35.0 35.0
H8 1.127 0.189
Propene (propylene) C 3 H 6 C 3
1.5 1.5 1.31 1.31 0.36 0.36 0.31 0.31 1.15 1.15 0.18 0.18 36.8 36.8
Propena (propylene) H6
Water Vapor Uap air
Steam 1 psia. Uap 1 0.462
1.93 1.93 1.46 1.46 0.46 0.46 0.35 0.35 1.32 1.32
psia. 120 – 600 o F 0.462
120-600 o F
Steam 14.7 psia. Uap
14,7 psia. 220 – 600 o 1.97 1.97 1.5 1.5 0.47 0.47 0.36 0.36 1.31 1.31 0.46 0.46
F 220-600 o F
Steam 150 psia. Uap
150 psia. 360 – 600 o 2.26 2.26 1.76 1.76 0.54 0.54 0.42 0.42 1.28 1.28 0.5 0.5
F 360-600 o F
Sulfur dioxide
(Sulphur dioxide)
SO 2 SO 2 0.64 0.64 0.51 0.51 0.15 0.15 0.12 0.12 1.29 1.29 0.13 0.13 24.1 24.1
Sulfur dioksida
(Sulfur dioksida)

• κ = p c / c v - kapasitas panas rasio tertentu


• c p = panas spesifik dalam proses tekanan konstan
• c v = panas spesifik dalam proses volume konstan

4. AZAZ BLACK DAN KALORIMETER

Dua zat (system) yang temperaturenya mula-mula berbeda kemudian dicampur pada
kondisi adiabatic maka pada saat terjadinya kesetimbagan termal oleh kedua zat, aka banyak
kaolr yang dilepas yang temperaturnya mula-mula tinggi sama dengan kalor yang diterima
oleh zat yang temperaturnya mula-mula lebih rendah, menurut Black berlaku :

Qlepas=Qterima

Atau

Dengan c1 dan c2 masing-masing kalor jenis zat 1 dan zat2.

Apabila diketahui harga aklor jenis suatu zat, maka dapat ditentukan harga kalor jenis
zat berdasarkan azas Black. Prinsip pengukuran ini disebut calorimeter.

SOAL

1. Sebuah tabung berisi 3 mol gas helium pada suhu 300 K. tentukanlah energy yang
dialirkan oleh kalor ke gas untuk meningkatkan suhu gas menjadi 500 K pada keadaan :

a. volume tetap
b. tekanan tetap

Penyelesaian :

a. untuk keadaan volume tetap, maka digunakan persamaan :

Q=nCvΔT

Diketahui nilai Cv=12,5 J/mol.K untuk helium dan ΔT = 200 K sehingga

Q= (3 mol) (12,5 J/mol.K) (200K)

Q= 7,5 x 103J.

b. untuk keadaan tekanan tetap, maka gunakan persamaan :

Q=nCpΔT

Diketahui bahwa nilai Cp=20,8 J/mol.K untuk helium dan ΔT = 200K sehingga

Q= (3 mol) (20,8 J/mol.K) (200K)

Q = 12,5x 103J

2. Diketahui 1 mol gas helium (Mr He = 4 gr/mol) memiliki suhu 270C. Tentukan:
a. Energi kinetik rata-rata partikel
b. Energi dalam gas.

Penyelesaian:

n = 1 mol
Mr He = 4
T = 27OC + 273 = 300 K
a. Energi kinetik rata-rata sebesar :

b. Energi Dalam gas


N = m No= 1 . 6,022 . 1023 = 6,022 . 1023
U = N= 6,022 . 1023 . 6,21 . 10-21= 3,7 . 103 joule

3. Diketahui 10 mol gas helium disimpan dalam tabung terttutup, volume tetap He adalah 2
liter dan memiliki tekanan sebesar 1,3 x 106Pa. Jika gas menyerap kalor sehingga tekanan
menjadi 2x106 Pa, maka tentukan besar perubahan energy dalam dari gas helium
Penyelesaian :
Dik : V= 2 liter
P1=1,2 x106 Pa
P2= 2x 106 Pa
Dit : a. perubahan energy dalam
Jawab :
a. perubahan energy dalam

= 240 Joule

4. Dua mol gas monoatomik pada suhu 270C dan tekanan 3x105 Pa mengalami proses
isokhorik hingga tekanannya mejadi 4x105 Pa. bila tetapan gas umum 8,31 J/mol K,
maka perubahan energy dalam adalah..

Penyelesaian :

Dik : T=270C

P1 = 3x105 Pa

P2=4x105 Pa

R=8,31 J/mol K

Dit : ΔU =……?
Jawab :

Perubahan energy dalam dari proses isokhorik :

Dari hokum Boyle- Gay lussac

Dan ΔT =T2-T1

ΔT = 400K -300K =100 K

Jadi perubahan energy dalam :

ΔU = 2493 J

5. Sebanyak 5 mol gas oksigen berada pada keadaan suhu sedang. Apabila R=8,31 J/mol
K, maka besar kapasitas kalor pada tekanan tetap adalah..

Penyelesaian :

Dik : n = 5 mol

R=8,31 J/mol K

Dit : Cp=..?

Jawab :

Kapsitas kalor gas oksigen (O2) pada tekanan tetap dan suhu sedang: