Anda di halaman 1dari 4

“Sobat muslim pasti setiap hari makan dong, hehe?

”, “berarti kalo setiap kali makan


tentunya sobat muslim selalu membersihkannya dengan cara gosok gigi”. Gosok gigi merupakan
salah satu cara untuk membersihkan mulut maupun gigi dari bebrbagai kuman dengan berbagai
macam sikat gigi dan pasta gigi yang berbagai macam pula jenisnya dengan waktu tertentu pula.
Pada zaman ini menggosok gigi dengan siwak merupakan hal yang di anggap kuno, namun hal
ini merupakan salah satu sunnah rasul yang harus kita teladani dan merupakan ladang pahala
bagi kita.
Shobat muslim mungkin bertanya-tanya pula dari mana miswak didapatkan? tentu
miswak diperoleh dari ranting pohon Arak (pohon Peelu) meskipun beberapa pohon lainnya
juga dapat digunakan seperti walnut dan zaitun.
Dari artikel gusimerah.blogspot.com menyatakan beberapa manfaat penting dari Miswak yaitu :
• Melawan penyakit gusi yang disebabkan oleh bakteri.
• Memerangi plak gigi secara efektif.
• Melawan karies (gigi berlubang).
• Menghilangkan bau mulut.
• Membuat aroma mulut menjadi harum.
• Secara efektif membersihkan daerah interdental (daerah di antara gigi).
• Meningkatkan sekresi (pengeluaran) ludah serta mencegah terhadap terjadinya dry
mouth/xerostomia atau mulut kering.
Beberapa studi atau penelitian yang telah dilakukan terhadap khasiat siwak sebagai berikut :
• Wrigley, suatu Perusahaan yang melakukan studi tentang miswak yang dipublikasikan
dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry menemukan bahwa mint dengan
ekstrak dari Miswak 20 kali lebih efektif membunuh bakteri dibandingkan mint biasa.
• Sejumlah peneliti di Swedia pun, mempublikasikan penelitiannya dalam Journal of
Periodontology dan menemukan bahwa siwak atau miswak ternyata mampu membunuh
bakteri yang menyebabkan penyakit periodontal.
• Sebuah studi yang membandingkan toothbrushing dan menggunakan Miswak (Miswak
ing!) Dapat dilihat pada Pubmed (US Perpustakaan Nasional untuk Pengobatan Service).
Studi menyimpulkan bahwa Miswak lebih efektif daripada toothbrushing dalam
mengurangi plak dan radang gusi yang diberikan itu digunakan secara benar.
Adapun cara untuk menggunakan siwak/miswak itu sendiri adalah sebagai berikut;

Batang atau cabang siwak dipotong berukuran pensil dengan


panjang 15-20 cm. Stick kayu siwak ini dapat dipersiapkan
dari akar, tangkai,
ranting, atau
batang
tanamannya. Stick
dengan ukuran
diameter 1 cm dapat digigit dengan mudah dan
memberikan tekanan yang tidak merusak gusi apabila
digunakan.

Kulit dari stick siwak ini dihilangkan atau dibuang hanya pada
bagian ujung stick yang akan dipakai saja.

Siwak yang kering dapat merusak gusi, sebaiknya direndam


dalam air segar selama 1 hari sebelum digunakan. Selain
itu, air tersebut juga dapat digunakan untuk kumur-kumur.

Bagian ujung stick siwak yang sudah dihilangkan kulit luarnya


digigit-gigit atau dikunyah-kunyah sampai berjumbai
seperti berus.

Bagian siwak yang sudah seperti berus digosokkan pada gigi,


dan bisa juga digunakan untuk membersihkan lidah.

Adapun cara bersiwak tidak ada ikhtilaf antara ulama, bahwa didalam kitab Syama’il Imam
Tirmidzi, dalam hadist Rasul SAW, bahwa Rasul SAW. bersiwak dengan kayu arak, dan
memulainya dari pertengahan, lalu ke arah kanan lalu ke kiri, demikian diulangi sebanyak 3 X.
Imam Ghazali rahimahullah melengkapi caranya, yaitu:
1. Meletakkan siwak di jajaran gigi tengah bagian atas,
2. Mendorongnya ke arah kanan sampai ke ujungnya,
3. Turunkan ke jajaran bawah kanan ujung,
4. Mendorongnya kembali ke tengah jajaran bawah,
5. Kembali naik ke tengah jajaran atas,
6. Mendorongnya ke arah kiri sampai ujungnya,
7. Turunkan ke jajaran bawah kiri ujung,
8. Mendorongnya lagi ke tengah di jajaran bawah.

Sehingga membentuk angka delapan (8) yang miring ( )

Waktu Bersiwak
1. Setiap akan shalat dan wudhu
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
‫ضْوٍء‬
ُ ‫ل ُو‬
ّ ‫ك َمَع ُك‬
ِ ‫سَوا‬
ّ ‫لَمْرُتُهْم ِبال‬
َ ‫عَلى ُأّمِتي‬
َ ‫ق‬
ّ‫ش‬
ُ ‫ن َأ‬
ْ ‫ل َأ‬
َ ‫َلْو‬
“Seandai aku tdk memberatkan umatku niscaya aku perintahkan mereka utk bersiwak tiap
kali berwudhu.”

2. Ketika masuk rumah


Syuraih bin Hani` pernah berta kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
ِ ‫سَوا‬
‫ك‬ ّ ‫ ِبال‬:‫ت‬
ْ ‫ل َبْيَتُه؟ َقاَل‬
َ‫خ‬َ ‫سّلَم ِإَذا َد‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫ل‬
ُ ‫صّلى ا‬
َ ‫ي‬
ّ ‫ن َيْبَدُأ الّنِب‬
َ ‫يٍء َكا‬
ْ ‫ش‬
َ ‫ي‬
ّ ‫ِبَأ‬
“Apa yg mulai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan apabila beliau masuk rumah?”
Aisyah menjawab: ‘Beliau mulai degan bersiwak’.”
3. Saat bangun tidur di waktu malam
Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata:
ِ ‫سَوا‬
‫ك‬ ّ ‫ص َفاُه ِبال‬
ُ ‫شْو‬
ُ ‫ل َي‬
ِ ‫ن الّلْي‬
َ ‫سّلَم ِإَذا َقاَم ِم‬
َ ‫ل عََلْيِه َو‬
ُ ‫ىا‬
ّ ‫صل‬
َ ‫ل‬
ِ ‫لا‬
ُ ‫سْو‬
ُ ‫ن َر‬
َ ‫َكا‬
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bangun di waktu malam beliau
menggosok mulut dgn siwak.”
4. Ketika hendak membaca Al-Qur`an
Dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ِ ‫ضاٌة ِللّر‬
‫ب‬ َ ‫ َمْر‬،‫طّهَرٌة ِلْلَفِم‬
َ ‫ك َم‬
ُ ‫سَوا‬
ّ ‫ال‬
“Siwak itu membersihkan mulut diridhai oleh Ar-Rabb.”
5. Saat bau mulut berubah
Perubahan bau mulut bisa terjadi karen beberapa hal. Di antaranya: keran tidak makan dan
minum, keran memakan makanan yg memiliki aroma menusuk atau tidak sedap, diam yang
lama atau tidak membuka mulut untuk berbicara, banyak berbicara dan bisa juga karen lapar
yangg sangat, demikian pula bangun dari tidur.

terdapat beberapa hadis yang menerangkan dalam bersiwak yaitu:

Abu Musa Al-Asy’ary –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Aku pernah mendatangi Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam-, ketika itu beliau sedang bersiwak dengan siwak yang masih segar (basah).
Ujung siwak diatas lisan (lidah) beliau dan beliau berkata: ‘Agh, ‘agh. sedangkan siwak didalam
mulut beliau” (HR. Bukhari, no. 244 dan Muslim, no.591).

Dari Aisyah –radhiyallahu ‘anhu- dia berkata: “Masuk Abdurrahman bin Abu Bakar, dan dia
membawa siwak sambil menggosokan giginya dengan siwak tersebut. Maka Rasulullah –
shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihat kepadanya, aku mengambil siwak tersebut dari
Abdurrahman, kemudian aku patahkan ujungnya lalu aku mengikisnya (memperbaikinya dengan
gigiku) kemudian aku berikan kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka dia pun
bersiwak dengannya dan beliau dalam keadaan bersandar didadaku.” (HR. Bukhari, no. 890).

Dari Aisyah –radhiyallahu ‘anhu- dia berkata: “Nabiullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah
bersiwak, lalu diberikan kepadaku siwak tersebut untuk memncucinya. Maka aku
menggunakannya untuk bersiwak, kemudian (setelah aku gunakan) aku mencucinya, kemudian
aku menyerahkannya kepada beliau.” (HR. Abu Dawud, no.52).

Bahwasanya bersiwak itu haruslah bersungguh-sungguh dengan niat karna allah SWT agar
menjaga tubuhnya dan berikanlah sebagian manfaat siwak bagi orang lain dengan cara
memberikannya dengan ridha dan ikhlas.
Tentunya shabat muslim pasti sudah tau dan tentang manfaat siwak ini, maka segalanya
tergantung kita sendiri untuk mengaplikasikannya kedalam kehidupan kita. Semoga Allah SWT
melindungi kita dari perbuatan yang tercela.. amin