Anda di halaman 1dari 12

Terdapat 8 tahapan yang ada pada proses produksi pengolahan gula rafinasi, antara lain :

1) Raw Sugar Handling and Preparation


2) Affinasi
3) Karbonatasi
4) Filtrasi
5) Decolorisasi
6) Evaporasi
7) Kristalisasi
8) Centrifugal
9) Dryer and Cooler
10) Baging (Packaging)
11) Sugar Warehouse
12)Alat-alat pembantu

BAB III
Identifikasi Bahaya, Dampak (Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan),
dan Pengendalian

III.1 Identifikasi bahaya dan Risiko pada Industri Gula rafinasi


Industri gula rafinasi merupakan salah satu industri yang memiliki bahaya dan risiko
keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi. Untuk itu, kita perlu mengetahui dan
mengidentifikasi bahaya dan risiko tersebut untuk menentukan tindakan pencegahan dan
pengendaliannya. Berikut beberapa bahaya dan risiko pada industri gula rafinasi yang sudah
diidentifikasi.

III.1.1 Bahaya dan Risiko pada Bagian Raw Sugar Handling and Preparation
Raw sugar Handling merupakan proses penjagaan kualitas raw sugar sebelum
diolah. Dalam Raw Sugar Handling ini terdapat bagian Raw Sugar Preparation,
merupakan pekerjaan persiapan bahan baku (raw sugar) sejak dari pembongkaran
sampai dengan penyimpanan.
Alat-alatnya antara lain:
• Raw Sugar Weigh Bridge, alat penimbang dari kapal sebelum masuk ke Silo
(gudang raw sugar).
• Hopper, alat untuk menumpahkan raw sugar yang sudah tertimbang.
• Conveyor, alat pengangkut raw sugar dari Hopper ke Silo (gudang raw sugar).
• Silo, tempat penyimpanan raw sugar sebelum diproses. Alatnya berupa gudang
dengan dasar lantai pondasi cor.
• Sugar Loader, Hopper, dan Conveyor, alat untuk mendorong (penguapan) dari
tumpukan raw sugar ke proses dengan menuangkan ke hopper, secara berturut-
turut ke Belt conveyor dan ke Belt Elevator.

Bahaya dan risiko yang mungkin ditimbulkan antara lain:


a. Bahaya Ergonomi
- Berdiri terlalu lama dengan posisi yang sama
- Mata lelah karena posisi yang tidak ergonomic ketika mengawasi alat penimbang
b. Bahaya Fisik
- Tergores alat-alat yang digunakan dalam proses ini
- Bising yang ditimbulkan oleh mesin pengangkut, pendorong, dan alat-alat lainnya
(85-100 dB).
- Injuri akibat mesin Sugar Loader, Hopper, dan Conveyor
c. Bahaya Kimia
- Uap zat yang mengandung bahan-bahan kimia beracun
d. Bahaya Psikososial
- Stress kerja akibat pekerjaannya atau akibat faktor dari luar
- Jam kerja yang terlalu panjang saat proses Raw Sugar Handling and Preparation
- Tidak ada control saat pengambilan keputusan
e. Bahaya Biologi
- Kelembaban yang tinggi mendorong pertumbuhan bakteri.

III. 1.2 Bahaya dan Risiko pada Bagian Affinasi


Affinasi merupakan proses penghilangan kotoran yang terdapat pada kristal raw sugar.
Proses ini mencakup karbonatasi dan resin yang merupakan kolaborasi proses penghilangan
warna atau color removal.
Dalam proses affinasi ini, alat - alat yang digunakan antara lain:
• Sugar Scale (berfungsi untuk mengetahui efisiensi kinerja pabrik, dapat
dibandingkan dengan bahan bakunya). Alat penimbang gula sebelum masuk ke
proses, berurutan dari sugar scale ke belt conveyor dan conveyor scale.
• Raw Sugar Bin, alat penampung sementara raw sugar sebelum di proses.
• U-Mixer, alat pengaduk raw sugar yang ditambahkan air (tidak boleh terlalu
banyak) sebagai lubricant.
• Magma, pencampuran antara raw sugar dengan larutan gula dan atau air
sehingga terjadi pencucian.
• Centrifugal Afinasi, pemisah raw sugar dari molassesnya dengan cara
pemutaran. Terjadi pemisahan antara gula affinasi dan molasses afinasi (green
molasses). Green molasses ditampung ke tank molasses untuk diolah sebagai gula low
quality, sedangkan gula affinasi diproses selanjutnya.
• Melter, alat pelebur gula dengan melarutkan gula affinasi ke steam atau air
panas, hasilnya disebut Raw Liquor.

a. Bahaya Ergonomi
- Pada proses pengadukan ada sikap paksa disebabkan oleh terlalu pendeknya bidang
kerja sehingga pekerja bersikap membungkuk kebawah; dalam posisi itu bahu, lengan
atas dan lengan bawah mengangkat ke atas.
- Ketidak cocokan antara ukuran antropometri dengan peralatannya sehingga terjadi
sikap paksa pada para karyawan yang bekerja pada bidang peleburan
b. Bahaya Fisik
- Terkena air panas pada proses peleburan gula yang dapat menyebabkan kematian
(panasnya mencapai 400 derajat celcius)
- Temperatur ruangan yang tinggi menimbulkan panas pada ruangan.
- Kulit terbakar
- Bising dari centrifugal afinasi (Zona B: 85-95 dB)
c. Bahaya Psikososial
- Stress kerja
- Kekerasan pekerja dari pekerja lain
d. Bahaya Kimia
- Uap panas dari tangki air panas
III.1.3 Bahaya dan Risiko pada Bagian Karbonitasi
Karbonatasi adalah proses pencampuran antara gas CO2 yang dihasilkan dari boiler,
dengan hasil lebur gula (raw liquor yang sebelumnya direaksikan dengan kapur (milk of
lime) yang berfungsi untuk menyerap kotoran-kotoran dalam kristal gula secara adsorpsi
maupun absorpsi
a. Bahaya Ergonomi
- Posisi yang berbahaya karena jarak jangkauan yang terlalu besar
- Sikap paksa disebabkan oleh terlalu pendeknya bidang kerja
- Ketidak cocokan antara ukuran antropometri dengan peralatannya
- Waktu tinggal di reaction tank hingga waktu tinggal di masing – masing karbonator
terlalu lama
b. Bahaya Kimia
- PH yang terlalu asam dapat mengakibatkan kulit terpapar bahan kimia berbahaya
- Reaksi kimia dari bahan susu kapur yang merupakan campuran dari CaO dan H2O dan
akan menghasilkan kalor
c. Bahaya fisik
- Suhu yang tinggi menimbulkan panas pada ruangan
- Kulit terbakar
d. Bahaya Psikososial
- Stress kerja
- Kekerasan pekerja dari pekerja lain

III.1 4 Bahaya dan Risiko pada Bagian Filtrasi


Alat penyaring (pemisah) dari hasil Carbonasia menjadi fraksi jernih (clear liquor)
dan fraksi kotor (mud). Mud ditapis ke filter press yang akan menghasilkan Sweet Water dan
Filter cake. Clear Liquor dimasukkan ke Ceramic filter sebelum ke dekolorisasi.
a. Bahaya ergonomic
- Posisi kerja yang salah karena jangkauan tangan yang terlalu jauh saat penyaringan

b. Bahaya Kimia
- Hasil reaksi dari Carbonasi yang mengandung bahan kimia berbahaya

c. Bahaya psikososial
- Tempat kerja yang membosankan
- Tidak ada control saat pengambilan keputusan
d. Bahaya fisik
- Tertimpa alat berat
- Panas/temperature ruangan tinggi

III.1. 5 Decolorisasi

III.1 4 Evaporasi
Pada proses penguapan menggunakan multiple effect evaporator dengan kondisi
vakum.
e. Bahaya Fisik
- Bising yang ditimbulkan oleh mesin pengangkut, pendorong, dan alat-alat lainnya
(85-100 dB).
- Panas karena pada proses ini menggynakan evaporator yang bersuhu tinggi
- Tekanan yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan ledakan,karena
menggunakan vakum yang berguna mempercepat reaksi.
f. Bahaya Psikososial
- Stress kerja akibat pekerjaannya atau akibat faktor dari luar
- Tidak ada control saat pengambilan keputusan

III.1 4 Kristalisasi
Proses kristalisasi merupakan proses pemanasan, penguapan sampai mencapai titk
jenuh dan larutan gula akan mengkristal.
- Proses kristalisasi dijaga pada suhu rendah karena molekul sukrosa akan mudah rusak
pada suhu tinggi, oleh karena itu digunakan vakum
 Bahaya Ergonomi
- Posisi yang berbahaya karena jarak jangkauan yang terlalu besar
- Sikap paksa disebabkan oleh terlalu pendeknya bidang kerja
- Ketidak cocokan antara ukuran antropometri dengan peralatannya
- Waktu tinggal di reaction tank hingga waktu tinggal di masing – masing karbonator
terlalu lama
 Bahaya fisik
- Panas karena pada proses ini menggynakan evaporator yang bersuhu tinggi
- Tekanan yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan ledakan,karena
menggunakan vakum yang berguna mempercepat reaksi.
 Bahaya Psikososial
- Stress kerja akibat pekerjaannya atau akibat faktor dari luar
- Tidak ada control saat pengambilan keputusan

III.1 4 Centrifugal
pemisahan dengan gaya sentrifugal dan dibantu sray hot water untuk
menyempurnakan lapisan molasses di permukaan gula produk
a. Bahaya Ergonomi
- Posisi yang berbahaya karena jarak jangkauan yang terlalu besar
- Sikap paksa disebabkan oleh terlalu pendeknya bidang kerja
- Ketidak cocokan antara ukuran antropometri dengan peralatannya
- Waktu tinggal di reaction tank hingga waktu tinggal di masing – masing karbonator
terlalu lama
b. Bahaya fisik
- Panas karena pada proses ini menggynakan sray hot water yang bersuhu tinggi
c. Bahaya Psikososial
- Stress kerja akibat pekerjaannya atau akibat faktor dari luar
- Tidak ada control saat pengambilan keputusan

III.1 4 Dryer and Cooler

Alat pengering gula dan pendingin gula. Yang dilengkapi alat-alat :

• penangkap gula tebu


• pendingin
• pemanas
• vibrating screw
o Bahaya Ergonomi
- Posisi yang berbahaya karena jarak jangkauan yang terlalu besar
- Sikap paksa disebabkan oleh terlalu pendeknya bidang kerja
- Ketidak cocokan antara ukuran antropometri dengan peralatannya
- Waktu tinggal di reaction tank hingga waktu tinggal di masing – masing karbonator
terlalu lama
o Bahaya fisik
- Panas,digunakan alat pemanas dalam proses ii
- Dingin, dalam proses ini juga digunakan pendingin
- Getaran,digunakan vibrating screw
o Bahaya Psikososial
• Stress kerja akibat pekerjaannya atau akibat faktor dari luar
• Tidak ada control saat pengambilan keputusan

III.1 4 Baging (Packaging)

Alat pengepakan, dengan alat-alat terdiri dari :

• Sugar Bin
• Conveyor
• Hopper
• Sugar Weigher
• Sewing Machine
o Bahaya Ergonomi
• Posisi yang berbahaya karena jarak jangkauan yang terlalu besar
• Sikap paksa disebabkan oleh terlalu pendeknya bidang kerja
• Ketidak cocokan antara ukuran antropometri dengan peralatannya
• Waktu tinggal di reaction tank hingga waktu tinggal di masing – masing
karbonator terlalu lama
o Bahaya fisik
- Benda tajam atau hopper
o Bahaya Psikososial
• Stress kerja akibat pekerjaannya atau akibat faktor dari luar
• Tidak ada control saat pengambilan keputusan
III.1 4 Sugar Warehouse
Gudang gula produksi dilengkapi alat-alat forklift dan conveyor.
d. Bahaya Ergonomi
- Posisi yang berbahaya karena jarak jangkauan yang terlalu besar
- Sikap paksa disebabkan oleh terlalu pendeknya bidang kerja
- Ketidak cocokan antara ukuran antropometri dengan peralatannya
- Waktu tinggal di reaction tank hingga waktu tinggal di masing – masing karbonator
terlalu lama
e. Bahaya Psikososial

III.1 4 Alat-alat pembantu

Boiler, alat pembangkit uap sebagai sumber energi


Generator, alat pembangkit listrik
Laboratory, alat/unit untuk melakukan Quality Control
Waste Water Treatment Plant, alat pengolahan air limbah
Water Pond, alat penampung air laut.
• Bahaya Ergonomi
• Bahaya Kimia
• Bahaya fisik
• Bahaya Psikososial

III.2 Dampak Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang Ditimbulkan


Dampak keselamatan dan kesehatan kerja yang ditimbulkan pada industri umumnya
berupa penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja. Pada industri gula rafinasi, penyakit akibat
kerja yang paling sering timbul adalah Asbestosis yang disebabkan oleh paparan uap bahan
kimia dan debu dari proses penggilingan tebu. Selain penyakit akibat kerja, dampak yang
paling sering terlihat yaitu kecelakaan kerja. Kecelakaan di tempat kerja merupakan
penyebab utama penderitaan perorangan dan penurunan produktivitas terutama di industri
pertambangan, konstruksi, dan industri barang komplementer seperti industri gula rafinasi.
Kecelakaan kerja tidak dapat ditentukan sebab utamanya karena faktor-faktor yang
mempengaruhi kecelakaan kerja sangat banyak (multifaktorial). Beberapa faktor yang
penting adalah:
 Usia,
 Pengalaman,
 Waktu dalam hari,
 Tingkat pacu kerja,
 Jenis pekerjaan,
 Kesehatan pekerja, dan
 Hubungan industrial
Berikut adalah beberapa dampak kesehatan dan keselamatan kerja pada industri gula rafinasi
berdasarkan bagian-bagian pada industri:

III.2.1 Dampak Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada Bagian Raw Sugar Handling and
Preparation
a. Dampak Bahaya Ergonomi
- Musculo Skeletal Disorders contohnya low back pain, nyeri pada leher, pergelangan
tangan, dan kaki.
- Mata mudah lelah, kelainan pada mata seperti miopi atau astigmatisma dan kerusakan
mata yang lain.
b. Dampak Bahaya Fisik
- Injuri akibat tersayat sipatan
- Cacat (disability) akibat terpotong mesin pengangkut
- Tangan melepuh
c. Dampak Bahaya Kimia
- Uap panas
d. Dampak Bahaya Psikososial
- Stress kerja
- Kehilangan konsentrasi

III.2.2 Dampak Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada Bagian Affinasi


a. Dampak Bahaya Ergonomi
- Nyeri pada bagian tubuh yang dipaksa tertahan terlalu lama karena keterbatasan
tempat yang ada.
b. Dampak Bahaya Fisik
- Cacat ataupun kematian karena terpapar uap panas berikut air panasnya
- Luka karena terkena panas.
- Kulit terbakar karena panas yang tinggi pada.
- Gangguan pendengaran dan kehilangan pendengaran.
- Kerusakan mata akibat sinar inframerah.
c. Dampak Bahaya Kimia
- Keracunan

III.2.3 Dampak Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada Bagian Karbonitasi


a. Dampak Bahaya Fisik
- Cacat
- Luka
- Kulit terbakar

III.2.4 Dampak Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada Bagian Filtrasi


a. Dampak Bahaya Fisik
- Luka atau cacat akibat terjatuh.
b. Dampak Bahaya Kimia
- ISPA akibat inhalasi zat-zat yang terdapat dalam pereaksian gula.

12) Decolorisasi
a. Dampakk bahaya kimia
- Resin ion yang digunakan dalam pertukaran ion.
13) Evaporasi
a. Dampak bahaya fisik
- Panas karena suhu sekitar 70-125 derajat
- Tekanan,yang dapat megakibatkan ledakan.
14) Kristalisasi
a. Dampak bahaya fisik
- Panas karena suhu sekitar 70-125 derajat
15) Centrifugal
a.dampak bahaya fisik
- panas karena penggunaan spray hot water
16) Dryer and Cooler

a. Dampak bahaya fisik


- Panas
- Dingin,\cooler
- Getaran atau vibration
17) Baging (Packaging)
- Injuri akibat mesin Sugar Loader, Hopper, dan Conveyor
18) Sugar Warehouse
- Injuri akibat mesin Sugar Loader, Hopper, dan Conveyor
12)Alat-alat pembantu
- Boiler, alat pembangkit uap sebagai sumber energi
Panas,dari penggunaan boiler,dapat terkena luka bakar
Generator, alat pembangkit listrik
- Bahayanya dapat terjadi korsleting atau tegangan tinggi
Laboratory, alat/unit untuk melakukan Quality Control
- Bahayanya, bahan bahan dan cairan kimia
Waste Water Treatment Plant, alat pengolahan air limbah
- Limbah beracun hasil buangan dari pabrik
Water Pond, alat penampung air laut.

III.3. Langkah-langkah Pengendalian Bahaya dan Risiko


III.3.1 Langkah Pengendalian Bahaya Resiko pada Bagian Raw Sugar Handling and
Preparation
a. Menggunakan alat kerja yang ergonomis sesuai dengan tinggi badan pekerja.
b. Pengaturan shift kerja.
c. Pemberian penerangan yang cukup agar mata pekerja tak mudah lelah.
d. Pengaturan jarak pekerja dengan mesin.
e. Pemakaian masker untuk melindungi pekerja dari zat kimia yang terkandung
selama proses industri berlangsung

III.3.2 Langkah Pengendalian Bahaya Resiko pada Bagian Affinasi


a. Menggunakan sarung tangan ketika bekerja
b. Pengamanan sumber arus listrik dengan mengatur jarak sumber arus listrik dengan
pekerja
c. Melakukan pengecekan rutin terhadap alat industri untuk mengantisipasi adanya
kerusakan
d. Pekerja memakai pelindung muka untuk menghindari terhirupnya uap
penggilingan dan terpapar sinar inframerah dari sinar penggilingan
e. Pada lokasi penggilingan diberi ventilasi yang baik
f. Peralatan pekerja harus yang bersertifikat karena sertifikat tersebut merupakan
jaminan bahwa peralatan tersebut sudah distandardisasi.
g. Menggunakan pakaian pelindung khusus untuk melindungi pekerja dari bahaya
saat penggilingan.
h. Menggunakan ear plug atau ear muff dan pemberian glass wool dalam ruangan.

III.3.3. Langkah Pengendalian Bahaya Resiko pada Bagian Karbonitasi


Secara umum, bahaya dan resiko yang terdapat pada bagian Karbonitasi hampir sama
dengan bagian Affinasi. Oleh karena itu, langkah pengendalian yang ditempuh dalam bagian
karbonitasi pun hampir sama dengan pengendalian pada bagian affinasi ditambah langkah
pengendalian berikut:
a. Menggunakan alat angkut dan operator yang bersertifikasi.
b. Menggunakan alat pelindung diri berupa helmet, pakaian pelindung khusus,
sepatu boots sebagai isolator panas, serta pelindung muka.

III.3.4 Langkah Pengendalian Bahaya Resiko pada Bagian Filtrasi


a. Penyediaaan ventilasi yang baik.
b. Menggunakan alat pelindung diri berupa masker untuk mencegah inhalasi zat-zat
kimia dalam cat yang menguap.
c. Pengaturan shift kerja untuk mengendalikan keterpaparan pekerja terhadap zat-zat
kimia dalam limbah gula.