Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUN

1.1. Latar Belakang

Dalam kehidupan berrnegara dan berbangsa di seluruh belahan dunia,


perkembangan birokrasi merupakan wahana utama dalam penyelenggaraan negara
dalam berbagai bidang kehidupan bangsanya sendiri dan dalam hubungan antar bangsa.
Di samping melakukan pengelolaan pelayanan, birokrasi juga bertugas menerjemahkan
berbagai keputusan politik ke dalam berbagai kebijakan publik, dan berfungsi
melakukan pengelolaan atas pelaksanaan berbagai kebijakan tersebut secara
operasional. Sebab itu disadari bahwa birokrasi merupakan faktor penentu keberhasilan
keseluruhan agenda pemerintahan, termasuk dalam mewujudkan pemerintahan yang
bersih (clean government) dalam perwujudan pemerintahan yang baik (good governce).

Padahal di dalam realitanya buruknya birokrasi tetap menjadi salah satu problem
terbesar yang dihadapi dunia khususnya di Asia. Political and Economic Risk
Consultancy (PERC) yang berbasis di Hongkong meneliti pendapat para eksekutif
bisnis asing (expatriats), hasilnya birokrasi Indonesia dinilai termasuk terburuk dan
belum mengalami perbaikan berarti dibandingkan keadaan di tahun 1999, meskipun
lebih baik dibanding keadaan Cina, Vietnam dan India. Namun pengalaman bangsa kita
dan bangsa-bangsa lain menunjukan bahwa birokrasi, tidak senantiasa dapat
menyelenggarakan tugas dan fungsinya tersebut secara otomatis dan independen serta
menghasilkan kinerja yang signifikan.

Keberhasilan birokrasi ditentukan oleh banyak faktor yang patut diperhitungkan


dalam kebijakan “reformasi birokrasi” adalah koplitmen, kompetensi, dan konsistensi
semua pihak yang berperan atau pemangku kepentingan (stakeholder) dalam
penyelenggaraan negara - baik unsur aparatur negara, swasta maupun warga negara
dalam mewujudkan clean government dan good governance, serta dalam
mengaktualisasikan dan membumikan berbagai dimensi nilai yang terkandung dalam
konstitusi negara kita, sesuai posisi dan peran masing-masing dalam negara dan
bermasyarakat bangsa. Yang perlu diingat adalah bahwa semuanya itu berada dan
berlangsung dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
masing-masing memiliki tanggung jawab dalam mengemban perjuangan mencapai cita-
cita dan tujuan Negara.

Di tahun 2000, Indonesia memperoleh nilai yang buruk dalam birokrasi, masih
banyak pejabat tinggi pemerintah Indonesia yang memanfaatkan posisi mereka untuk
memperkaya diri sendiri dan orang terdekat. Sampai akhir kekuasaan presiden Soeharto,
Indonesia belum memiliki kebijakan publik yang mengatur pembatasan hubungan partai

1
politik terhadap birokrasi. Pada masa Orde Baru sampai menjelang masa transisi tahun
1998, kondisi birokrasi di Indonesia mengalami sakit bureaumania seperti
kecenderungan inefisiensi, penyalahgunaan wewenang, kolusi, korupsi dan nepotisme.
Birokrasi dijadikan alat status quo mengkooptasi masyarakat guna mempertahankan dan
memperluas kekuasaan monolitik. Birokrasi Orde Baru dijadikan secara struktural untuk
mendukung pemenangan partai politik pemerintah. Padahal birokrasi diperlukan sebagai
aktor public services yang netral dan adil, dalam beberapa kasus menjadi penghambat
dan sumber masalah berkembangnya keadilan dan demokrasi, terjadi diskriminasi dan
penyalahgunaan fasilitas, program dan dana negara. Reformasi merupakan langkah-
langkah perbaikan terhadap proses pembusukan politik, termasuk buruknya kinerja
birokrasi.

Akibatnya birokrasi menjadi infinitas (meluas tidak terbatas) terjadi politisasi


birokrasi, yang menyumbang terjadinya proses pembusukan politik dan melemahnya
kinerja birokrasi. Birokrasi diperlukan, tapi terkadang menjadi penghambat dan sumber
masalah berkembangnya demokrasi. Reformasi merupakan langkah-langkah perbaikan
pembusukan politik. Melalui reformasi birokrasi sekurang-kurang ingin diperoleh
sebuah implementasi birokrasi yang di dalamnya menggambarkan proses demokratisasi,
efektivitas dan efisiensi birokrasi, transparansi dan akuntabilitas, serta tanggung jawab
dalam kerangka memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

1.2. Rumusan Masalah

Adapaun rumusan masalah yang dibahas ialah bagaimana penataan dan


penguatan birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan governance dan good
governance.

1.3. Tujuan Penulisan

Menjabarkan penataan dan penguatan birokrasi pemerintahan dalam


mewujudkan governance dan good governance.

2
BAB II

PEMBAHASAN

Penataan dan Penguatan Birokrasi dalam Mewujudkan Governance dan Good


Governance

Secara analogi, governance dalam konteks organisasi secara umum, baik berupa
organisasi perusahaan maupun organisasi publik atau sosial lainnya, maka dapat
diartikan pula sebagai suatu sistem dan struktur yang baik dan benar yang menciptakan
kejelasan mekanisme   hubungan   organisasi   baik   secara   internal   maupun  
eksternal.   Good governance terwujud dalam implementasi dan penegakan
(enforcement) dari sistem dan struktur yang telah tersusun dengan baik. Implementasi
dan penegakan tersebut bertumpu pada,  umumnya,  lima  prinsip  yang  universal 
yaitu:  responsibility,  accountability, fairness, independency, dan transparency. Kelima
prinsip fundamental tersebut dapat dijelaskan secara singkat berikut ini:
1. Responsibility: kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip
korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku
2. Accountability:  kejelasan  fungsi,  struktur,  sistem  dan  prosedur  pertanggung-
jawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara
efektif
3. Fairness: perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak
stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundangan yang
berlaku
4. Independency: pengelolaan secara profesional, menghindari benturan
kepentingan dan tekanan pihak manapun sesuai peraturan perundangan yang
berlaku
5. Transparency: keterbukaan informasi di dalam proses pengambilan keputusan
dan di dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai
perusahaan. Kelima prinsip tersebut bukanlah harga mati atau one size fits all,
artinya dalam menerapkan dan menegakkan good governance kelima prinsip
tersebut disesuaikan dengan budaya dan problem masing-masing institusi yang
akan menjalankannya. Disamping itu, apabila menilik berbagai code of conduct
ataupun best  practice dari berbagai institusi di berbagai negara, maka kelima
prinsip dasar tersebut hampir selalu dapat ditemukan karena sifatnya yang
universal.
Namun demikian, perlu diperhatikan pula bahwa kelima prinsip ini sifatnya
evolutionary in nature, artinya berkembang sesuai kebutuhan  dan  dinamika 
masyarakat  yang  menerapkan  dan  menegakkannya.  Juga, praktik good governance di

3
berbagai institusi di beberapa negara mengajarkan bahwa good  governance  is  about 
time  as  well,  artinya  penerapan  dan  penegakan  good governance tidak semudah
membalikkan telapak tangan, melainkan akan terkait erat dengan waktu, mengingat
perubahan yang akan dilakukan adalah tidak sedikit dan tidak sederhana, terutama pada
aspel mental dan budaya masyarakat yang akan menerapkan dan menegakkan good
governance.
Prinsip-prinsip good governance   pada dasarnya mengandung nilai yang bersifat
obyektif dan universal yang menjadi acuan dalam menentukan tolok ukur atau indikator
dan ciri-ciri/karekteristik penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik.   Prinsip-
prinsip good governance   dalam praktek penyelenggaraan Negara dituangkan dalam 7
(tujuh)  asas-asas  umum  penyelenggaraan  negara  sebagaimana  dimaksud  dalam  UU
Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas
Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Adapun prinsip atau asas umum dalam
penyelenggaraan negara meliputi:
1. Asas  Kepastian  Hukum  adalah  asas  dalam  negara  hukum  yang 
mengutamakan landasan  peraturan  perundang-undangan,  kepatutan,  dan 
keadilan  dalam  setiap    kebijakan Penyelenggara Negara.
2. Asas   Tertib   Penyelenggaraan   Negara   adalah   asas   yang   menjadi  
landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan, dalam pengendalian
Penyelenggara Negara.
3. Asas Kepentingan Umum adalah  asas  yang mendahulukan kesejahteraan
umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif.
4. Asas Keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat
untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif, tentang
penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak
asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara.
5. Asas Proporsionalitas adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak
dan kewajiban Penyelenggara Negara.
6. Asas Profesionalitas adalah asas yang mengutamakan keahlian yang
berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
7. Asas Akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan
hasil akhir  dari  kegiatan  Penyelenggara  Negara  harus  dapat 
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang
kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Cukup banyak manfaat yang diperoleh dari pemanfaatan good governance, antara lain:
1. berkurangnya secara nyata praktik KKN di birokrasi yang ditunjukkan oleh
tidak adanya atau berkurangnya (manipulasi pajak, pungutan liar, manipulasi
tanah, manipulasi kredit, penggelapan uang negara, pemalsuan dokumen,

4
pembayaran fiktif, penggelembungan nilai kontrak (mark-up), uang komisi,
penundaan pembayaran kepada rekanan, kelebihan/pemotongan pembayaran,
defisit biaya, berjalannya proses pelelangan (tender) secara fair, dan adanya
kepastian hukum)
2. terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang baik,
bersih dan berwibawa, efisien, efektif, transparan, profesional, dan akuntabel,
ditandai kelembagaan/ketatalaksanaan yang lebih efektif, ramping, dan fleksibel,
hubungan kerja antar instansi pemerintah pusat dan daerah yang lebih baik,
administrasi pemerintahan dan kearsipan yang berkualitas, penyelamatan,
pelestarian, dan pemeliharaan dokumen/arsip negara, serta hasil kerja organisasi
dan prestasi pegawai makin baik
3. terhapusnya peraturan perundang-undangan yang diskriminatif dan
berkurangnya peraturan perundang-undangan yang tumpang tindih
4. meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik,
forum konsultasi publik, pemberantasan korupsi, dan pemberian penghargaan
atas kepedulian masyarakat
5. terjaminnya konsistensi dan kepastian hukum seluruh peraturan perundang-
undangan di tingkat pusat dan daerah, serta berkurangnya perbuatan tindak
pidana korupsi.

Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa reformasi birokrasi


merupakan langkah yang menentukan dalam pencapaian kemajuan negara tersebut.
Melalui reformasi birokrasi dilakukan penataan terhadap sistem penyelenggaraan
pemerintahan yang tidak hanya efektif dan efisien tetapi juga mapu menjadi tulang
punggung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada akhirnya, keberhasilan
pelaksaan daripada reformasi birokrasi akan sangat mendukung dalam penciptaan good
governance. Karena reformasi birokrasi merupakan inti dari upaya penciptaan good
governance. Secara analogi, governance dalam konteks organisasi secara umum, baik
berupa organisasi perusahaan maupun organisasi publik atau sosial lainnya, maka dapat
diartikan pula sebagai suatu sistem dan struktur yang baik dan benar yang menciptakan
kejelasan mekanisme   hubungan   organisasi   baik   secara   internal   maupun  
eksternal.
Studi mengenai birokrasi dan perkembangannya telah cukup tua umurnya, sejak
berakhirnya Perang Dunia II dan lahirnya negara-negara baru yang melepaskan diri dari
belenggu penjajahan. Berbagai literatur telah menganalisis sistem administrasi di
negara-negara berkembang, dengan menggunakan birokrasi sebagai unit analisisnya.
Misalnya, studi awal mengenai birokrasi dalam tahap pertumbuhannya, kira-kira
sebagai counterpart teori Rostow di bidang ekonomi, diberikan oleh Riggs hampir
setengah abad yang lalu (1964). Ia menganalisis taraf -taraf perkembangan birokrasi
dari tingkat terbelakang sampai yang paling maju dengan faktor-faktor determinan-nya.

5
Birokrasi terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin
pesat ada tiga macam perkembangan birokrasi yang terjadi saat ini, yaitu: Birokrasi
diartikan sebagai aparat yang diangkat penguasa untuk menjalankan pemerintahan,
birokrasi diartikan sebagai sifat atau perilaku pemerintah yang buruk, birokrasi sebagai
tipe ideal organisasi. Birokrasi secara umum diartikan sebagai suatu organisasi
pemerintahan yang terdiri dari sub-sub struktur yang memiliki hubungan satu dengan
yang lain, yang memiliki fungsi, peran, dan kewenangan dalam melaksanakan
pemerintahan, dalam rangka mencapai suatu visi, misi, tujuan, dan program yang telah
ditetapkan yang berfungsi melaksanakan pelayanan publik; pelaksana pembangunan
yang profesional, perencana, pelaksana dan pengawas kebijakan (manajemen
pemerintahan); alat pemerintah untuk melayani kepentingan (abdi) masyarakat dan
negara yang netral dan bukan merupakan bagian dari kekuatan atau mesin politik
(netralitas birokrasi). Kewenangan yang dimiliki birokrasi merupakan kewenangan
formal dan dimiliki dengan legitimasi produk hukum bukan dengan legitimasi politik.

Upaya penciptaan good governance sangatlah dipengaruhi oleh adanya


komitmen dan natioal leadership. Komitmen dan national leadership ini merupakan
faktor kunci keberhasilan good governance. Ada dua arah yang harus dituju oleh
komitemn dan national leadership dalam penciptaan good govenance di Indonesia.
Pertama, komitmen untuk melakukan modernisasi birokrasi, dan Kedua, komitmen
untuk menegakkan hukum bagi pelanggaran birokratis mulai dari mal administrasi,
korupsi, kolusi dan nepotisme. Kedua komitmen ini harus diberikan tidak saja oleh
pemerintah, dan terutama presiden sebagai kepala negara, tetapi juga oleh lembaga-
lembaga tinggi lainnya.

Penciptaan good governannce dimaksudkan untuk meningkatkan akuntabilitas,


responsivitas, dan transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Dan
inti dari penciptaan good governance terletak pada reformasi birokrasi. Ada lima ciri
yang indikasinya diketemukan patologi atau penyakit birokrasi secara umum di negara
berkembang. Pertama, pola dasar birokrasi bersifat jiplakan (imitative) dari pada asli
(indigeneous). Negara-negara berkembang baik negara yang pernah dijajah bangsa barat
maupun tidak, cenderung meniru sitem administrasi barat. Negara yang pernah dijajah
pada umumnya mengikuti pola negara yang menjajahnya. Di negara bekas jajahan,
pengorganisasian jawatan-jawatan, perilaku birokrat, bahkan penampilannya mengikuti
karakteristik penjajahnya, dan merupakan kelanjutan dari administrasi kolonial. Tetapi
administrasi kolonial itu sendiri diterapkan hanya di daerah jajahan dan tidak di negara
asalnya sendiri. Sehingga, berbeda dengan administrasi di negara penjajahnya,
administasi kolonial bersifat elitis, represif, menjauh (aloof ) atau jauh dari masyarakat
dan lingkungannya serta paternalistik. Pola administrasi kolonial ini diwarisi oleh
administrasi di negara-negara yang baru merdeka bahkan sampai sekarang masih
menjadi ciri birokrasi di banyak negara berkembang.

6
Kedua, birokrasi di negara berkembang kekurangan sumberdaya manusia
terampil. Kekurangan ini bukan dalam arti jumlah tetapi kualitas. Dalam jumlah justru
sebaliknya, birokrasi di negara berkembang mengerjakan orang lebih dari yang
diperlukan (overstaffed). Yang justru kurang adalah administrator yang terlatih, dengan
kapasitas manajemen, keterampilan-keterampilan pembangunan dan penguasaan teknis
yang memadai. Pada umumnya keadaan ini mencerminkan kondisi atau taraf
pendidikan suatu negara. Namun, tidak selalu berarti terkait dengan kurangnya fasilitas
pendidikan atau orang-orang berijazah, seperti kasus India dan Mesir, yang memiliki
banyak tenaga berpendidikan tinggi, tapi birokrasinya tidak banyak lebih baik dibanding
negara berkembang lainnya.

Ketiga, birokrasi lebih berorientasi kepada hal-hal lain daripada mengarah


kepada yang benar-benar menghasilkan (production directed). Dengan kata lain birokrat
lebih berusaha mewujudkan tujuan pribadinya dibanding pencapaian sasaran-sasaran
program. Preferensi birokrat saat ini berdasarkan kemanfaatan pribadi ketimbang
kepentingan masyarakat. Dari sifat seperti ini lahir nepotisme, penyalahgunanaan
kewenangan, korupsi, dan berbagai penyakit birokrasi yang menyebabkan aparat
birokrasi di negara berkembang pada umumnya memiliki kredibilitas yang rendah. Di
banyak negara berkembang, korupsi telah merajalela sedemikian rupa sehingga menjadi
fenomena yang sangat prevalen dan diterima sebagai sesuatu yang wajar.

Keempat, adanya kesenjangan yang lebar antara apa yang dinyatakan atau yang
hendak ditampilkan dengan kenyataan. Fenomena umum ini sebagai formalisme, yaitu
gejala yang lebih berpegang kepada simbol-simbol dan ekspresi-ekspresi formal
dibanding yang sesungguhnya terjadi. Hal ini tercermin dalam penetapan perundang-
undangan yang tidak mungkin dilaksanakan, peraturan-peraturan yang dilanggar sendiri
oleh yang menetapkan, memusatkan kekuasaan meskipun resminya ada desentralisai
dan pendelegasian kewenangan, melaporkan hal yang baik-baik dan tidak
mengetengahkan keadaan yang tidak baik atau masalah yang sesungguhnya dihadapi.
Bahkan tidak jarang memalsukan atau memanipulasi data untuk memberi gambaran
yang menguntungkan.

Kelima, birokrasi di negara berkembang acapkali bersifat “otonom”, artinya


bebas dari proses politik dan pengawasan masyarakat. Ciri ini merupakan warisan
administrasi kolonial yang memerintah secara absolut, atau sikap feodal dalam jaman
kolonial yang terus hidup dan berlanjut setelah merdeka. Di banyak negara berkembang,
pada awalnya orang yang paling terpelajar atau elite bangsa yang bersangkutan memang
berkumpul di birokrasi, sehingga kelompok di luar itu sulit dapat menandingi birokrasi
dalam pengetahuan mengenai pemerintahan.

Indonesia sampai sekarang banyak menganasumsikan bahwa birokrasi harus


berperan aktif mengisi kevakuman karena kekuatan pembangunan lain dalam
masyarakat dianggap tidak ada atau belum berkembang, maka birokrasi tumbuh cepat.

7
Pertumbuhan itu lebih dalam arti fisik dibanding kualitas. Artinya, organisasinya
bertambah besar dan orangnya bertambah banyak dan semua hal dirasa perlu untuk
ditangani sendiri. Dengan demikian, birokrasi berperan besar dalam penetapan tujuan
pengendalian, pengaturan, pemeliharaan stabilitas, dan segala kegiatan lain yang
berkenaan dengan segenap aspek kehidupan masyarakat.

Birokrasi pemerintah tidak dapat lagi berfungsi sebagai motor pembangunan,


bahkan sering kali lebih menjadi penghambat. Di bidang ekonomi, keadaan ini
mengakibatkan pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat atau jika pun ada
pertumbuhan, malah menciptakan jurang kesenjangan dan kepincangan karena hanya
yang dekat dengan kekuasaan yang menikmati kesempatan untuk memanfaatkan
peluang. Di banyak negara bahkan pertumbuhan ekonomi berhenti sama sekali. Negara-
negara berkembang makin terlibat hutang yang tidak mungkin dapat dibayarnya
kembali. Dan akibat lanjutannya negara-negara berkembang makin tergantung kepada
negara maju. Kasus ini dapat dilihat di pemerintahan sekarang yang dilakukan Presiden
Soesilo Bambang Yodhoyono yang banyak menerima bantuan dari Amerika. Hal ini tak
terlepas dari sifat inlander yang ada di Indonesia.

Reformasi birokrasi dicanangkan pemerintah terutama pasca reformasi.


Meskipun sebelumnya sudah digemborkan tentang reformasi birokrasi, akan tetapi
gaungnya tidak sekeras pasca reformasi. Era reformasi dijadikan sebagai ujung tombak
bagi pelaksanaan reformasi birokrasi yang sesungguhnya memang diinginkan oleh
semua pihak. Melalui reformasi birokrasi sekurang-kurang ingin diperoleh sebuah
implementasi birokrasi yang di dalamnya menggambarkan proses demokratisasi,
efektivitas dan efisiensi birokrasi, transparansi dan akuntabilitas, serta tanggungjawab
dalam kerangka memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

Meskipun telah cukup banyak kemajuan yang dicapai, namun administrasi


negara di Indonesia masih tetap menghadapi banyak masalah. Bahkan dalam pandangan
publik birokrasi bukan bagian dari penyelesaian masalah, tetapi bagian dari masalah itu
sendiri. masalah-masalah yang dihadapi tersebut berkaitan dengan beberapa aspek,
yaitunya:

 Kepemimpinan

Dalam keadaan bangsa kita yang sekarang sedang sangat terpuruk dan dipenuhi
oleh suasana ketidakpastian, rakyat butuh leadership. Diperlukan kepemimpinan yang
dapat membimbing masyarakat keluar dari krisis ekonomi dan berbagai kemelut politik
dan keamanan sekarang ini. Dalam demokrasi, bentuk kepemimpinan itu tentunya
berbeda dibanding masa yang lalu. Kepemimpinan harus datang dari pemimpin-
pemimpin politik, yang tampil sebagai pemimpin karena dipilih oleh rakyat. Namun,
sebagaimana layaknya pemerintahan yang demokratis dimanapun juga, kepeminpinan
politik dapat atau senantiasa berganti-ganti, yang tetap ada dan menjamin kontinuitas
adalah birokrasi. Dengan demikian birokrasi harus dapat diandalkan untuk membantu

8
para pemimpin politik dalam menyelenggarakan negara. Birokrasi bagi rakyat juga
termasuk golongan pemimpin, meskipun sifat kepemimpinan itu berbeda dengan
kepemimpinan politik.

 Budaya Birokrasi

Seperti telah dikemukakan di atas, upaya membangun aparatur negara yang


modern, yang memenuhi prinsip-prinsip manajemen publik telah banyak dilakukan.
Dari segi sistem, secara nominal birokrasi kita telah cukup berfungsi. Prinsip-prinsip
manajemen publik yang modern, mulai perencanaan sampai pengawasan telah tertata
sistemnya, lembaga-lembaganya serta prosedur kerjanya. Sitem yang dipakai Indonesia
tidak banyak beda dengan di negara maju sekalipun, karena kita belajar dari mereka dan
menerapkan sistem mereka. Yang berbeda adalah kinerjanya, yang dapat diukur dari
efisiensi dan produktivitasnya. Kedua hal itu bergantung erat dengan manusia-nya, dan
yang menentukan di sini, atau yang membedakan kinerja birokrasi yang satu dengan
yang lain adalah dua hal: yaitu budaya atau semangat kerja dan kualitas nya. Seperti
dikatakan oleh para pendiri Republik dalam Konstitusi kita yang disusun lebih dari
setengah abad yang lalu, yang penting adalah semangat para penyelenggara negara.

Pembaharuan demokrasi, selain perlu dilakukan melalui penataan ulang sistem,


yang menyangkut kelembagaan dan tata dan cara kerjanya, yang utama adalah
menerapkan budaya atau semangat birokrasi yang tepat, serta membangun kualitas
SDMnya. Sehingga birokrasi dapat berfungsi sebagai ujung tombak upaya kita
menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi bangsa kita dewasa ini, dan
membangun masa depan yang lebih baik dan dapat terpelihara kesinambungannya.
Birokrasi harus terdiri atas manusia-manusia yang kompeten dan berkarakter.
Kompeten, dalam arti kualitas dan kemampuannya dalam menjalankan tugas dan
tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Birokrasi harus diisi oleh orang-orang
yang profesional dalam menjalankan pekerjaannya. Karakter yang dilandasi sifat-sifat
kebajikan akan menghasilkan kebijakan yang menguntungkan masyarakat dan
mencegah tujuan menghalalkan segala cara. Karakter ini harus ditunjukkan bukan hanya
dengan menghayati nilai-nilai kebenaran dan kebajikan yang mendasar, tetapi juga
nilai-nilai kejuangan. Hal terakhir ini penting karena dengan semangat kejuangan itu
seseorang birokrat, meskipun dengan imbalan tidak terlalu memadai, akan sanggup
bertahan dari godaan untuk tidak berbuat yang bertentangan dengan nilai-nilai
kebenaran dan kebajikan.

Tidak kalah pentingnya seperti telah dikemukakan di atas, birokrasi harus


memiliki semangat keadilan sosial, yang tercermin dalam keberpihakan kepada yang
lemah, dan dengan demikian yang daya saingnya dalam masyarakat lebih terbelakang,
dalam kebijakan dan tindakannya. Selanjutnya birokrasi harus berpegang teguh kepada
konstitusi dan segenap ketentuan pelaksanaannya. Birokrasi tidak ikut menetapkan
konstitusi, tetapi harus menegakkannya. Oleh karenanya birokrasi harus menentang

9
habis-habisan setiap upaya yang tidak konstitusional apalagi yang jelas bertentangan
dengan konstitusi. Memang kita sudah tidak bisa lagi menggunakan istilah doktrin,
karena akan berkonotasi indoktrinasi, namun semangat birokrasi baru harus
dikembangkan dan dibudayakan. Dengan segala kelemahannya birokrasi di negara maju
dan di banyak negara berkembang yang menganut paham demokrasi, seperti di
Singapura, Korea, Malaysia dan Thailand dapat bertahan menghadapi gelombang-
gelombang perubahan dan beradaptasi secara dinamis. Birokrasi di negara-negara
tersebut, meskipun tidak sempurna, dapat menjadi andalan masyarakatnya dalam
mencari solusi terhadap berbagai masalah, termasuk krisis ekonomi, dan menjamin
kontinuitas dan stabilitas pada masa-masa krisis politik.

 Penataan kembali sistem

Setelah mengatakan betapa pentingnya semangat dalam membangun kembali


birokrasi, bukan berarti penataan kembali sistem birokrasi dalam arti kelembagaannya
tidaklah penting. Sistem yang baik akan lebih menjamin berfungsinya birokrasi secara
lebih baik. Fungsi-fungsi yang ditata dan diletakkan secara tepat, diisi dengan personil-
personil yang tepat akan membuat perumusan kebijaksanaan publik lebih tepat pula
mengena pada sasarannya, dan implementasinya tidak jauh dari yang dikehendaki.
Aturan main yang jelas, terbuka, yang ditatati oleh semua dan berlaku buat semua akan
membuat kemungkinan berjangkitnya penyakit-penyakit birokrasi menjadi lebih
berkurang, dan jikapun tidak menjamin tidak ada penyelewengan, namus sistemnya
telah terbangun sedemikian rupa sehingga penyelewengan itu sulit dilakukan dan
kalaupun dilakukan segera akan diketemukan. Dan jika ditemukan, jelas sanksinya,
yang berlaku secara adil buat siapapun. Pengawasan dengan demikian merupakan
fungsi yang inheren dalam sistem. Hukum dan aturan (laws and regulations) harus
menjadi sistem syaraf yang menggerakkan tubuh birokrasi dan yang mengawasinya.

 Beberapa masalah dilematis

Pembaharuan birokrasi memang tidak mudah dilakukan karena pilihan-


pilihannya tidak mudah. Banyak kontradiksi yang tidak mudah dicari pemecahannya.
Misalnya, masalah yang sangat menonjol, yang sering disebut sebagai sumber
timbulnya penyakit birokrasi adalah tingkat kesejahteraan yang rendah. Negara-negara
dimana birokrasinya relatif baik, adalah yang imbalannya cukup memadai. Di beberapa
negara tingkat gaji birokrasi tidak berada terlalu jauh dibawah swasta. Untuk dapat
memberi imbalan yang memadai, birokrasi harus diperkecil agar bebannya dapat
ditanggung oleh negara. Namun upaya memperkecil birokrasi tidak pernah berhasil.
Pada kabinet terakhir pemerintahan Orde Baru pernah diupayakan zero growth bagi
pertumbuhan jumlah pegawai. Namun resistensinya besar sekali. Hampir semua instansi
meminta dispensasi. Pada pemerintahan Abdurrahman Wahid, untuk tujuan politik, gaji
pegawai negeri dinaikkan, tanpa memperhitungkan kemampuan keuangan negara
sehingga akibatnya terjadi tekanan anggaran yang berat sekali, dan ketetapan itu harus

10
dicabut kembali. Dengan jumlah pegawai dan dengan kondisi ekonomi serta keuangan
negara seperti sekarang ini untuk jangka waktu kedepan yang panjang, tidak akan
mungkin gaji pegawai dicukupkan. Sehingga potensi adanya kelemahan dalam praktek
birokrasi tetap akan ada betapapun sistemnya diperbaiki.

Selain itu konsekuensi otonomi kepada sistem birokrasi nasional harus


dieprhatikan. Desentralisasi dan otonomi daerah, merupakan langkah yang amat penting
dan telah menjadi keharusan. Namun konsekuensinya pada sistem birokrasi harus lebih
diperhitungkan. Pendelegasian wewenang ke daerah propinsi dan kabupaten/kota, harus
disertai dengan upaya penataan kembali birokrasi. Sesungguhnya dengan desentralisasi
dan otonomi terjawab banyak sekali persoalan; salah satu diantaranya adalah rentang
kendali manjemen publik. Dengan desentralisasi dan otonomi, rentang kendali tersebut
dapat lebih dipersingkat. Namun, kewenangan-kewenangan yang lebih besar yang
diberikan kepada daerah harus diikuti dengan peningkatan kemampuan baik SDM
maupun institusi di daerah untuk melaksanakan pekerjaan yang selama ini menjadi
urusan pusat. Untuk melakukan kebijakan desentralisasi dengan baik dapat dilakukan
dengan melakukan cara-cara sebagai berikut:

1. Memungkinkan pejabat-pejabat untuk menyusun dan menyesuaikan rencana serta


program pembangunan dengan kebutuhan-kebutuhan wilayah dan kelompok yang
heterogen.
2. Mampu memotong sejumlah besar red tape dan prosedur yang rumit sebagai
karakteristik perencanaan dan manajemen terpusat dan over concentration
kekuasaan serta sumber-sumber di pusat.
3. Kontrak/hubungan yang lebih dekat antara pejabat-pejabat pemerintahan dan
masyarakat setempat memungkinkan keduanya untuk mendapatkan informasi yang
lebih baik guna memformulasi perencanaan atau program yang lebih realistik dan
efektif.
4. Dalam pembuatan keputusan dan alokasi sumber-sumber, desentralisasi
memungkinkan keterwakilan yang lebih besar untuk bermacam-macam kelompok
politik, agama, etnis, dan suku.
5. Desentralisasi memberikan kesempatan kepada pejabat-pejabat setempat untuk
mengembangkan kecakapan-kecakapan manajerial dan teknis. Dengan
desentralisasi juga dapat meningkatkan kemampuan pejabat-pejabat tersebut untuk
menangani urusan-urusan yang biasanya tidak ditangani secara baik oleh
departemen-departemen pusat (seperti pemeliharaan jalan dan infrasrtuktur yang
jauh dari ibukota negara).
6. Efisiensi dari pemerintah pusat meningkat karena membebaskan pejabat-pejabat
pusat dari tugastugas rutin, dimana tugas-tugas tersebut bisa dilaksanakan secara
lebih efektif oleh petugas lapangan atau pejabat-pejabat lokal. Ini akan
memungkinkan pejabat-pejabat pusat untuk menyusun perencanaan dengan lebih
hati-hati, serta mengawasi kebijakan pembangunan secara lebih efektif.

11
7. Desentralisasi memungkinkan pemerintahan yang lebih fleksibel, inovatif dan
kreatif. Daerah bisa menjadi semacam laboratorium untuk eksperimen kebijakan-
kebijakan dan program-program baru dengan melokalisir pada tempat-tempat
tertentu.
8. Desentralisasi dalam perencanaan pembangunan dan fungsi manajemen
memungkinkan pemimpin-pemimpin lokal untuk memberikan pelayanan dan
fasilitas lebih efektif, mengintegrasikan daerah-daerah terpecil (dan terbelakang) ke
dalam ekonomi regional, memonitor, dan mengevaluasi proyek-proyek
pembangunan secara lebih efektif dibandingkan jawatan-jawatan perencanaan dari
pusat.

Desentralisasi dan otonomi daerah harus kita laksanakan dengan konsekuen dan
tidak setengah-setengah. Otonomi yang sesungguhnya, sebenarnya baru diberikan
kepada dua daerah yaitu Aceh dan Papua. Perlu menjadi pemikiran untuk juga
memberikan otonomi yang lebih luas kepada daerah-daerah lain, serupa meskipun tidak
harus sama persis seperti Aceh dan Papua; bagi daerah-daerah yang menghendaki dan
siap untuk itu. Kesemuanya haruslah dalam rangka upaya memperkuat Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dan bukan memperlemahnya. Dengan cara itu mungkin banyak
masalah terselesaikan.

 Masalah teknologi terkait E-government.

Teknologi telah menyebabkan banyak birokrasi perlu ditata kembali, baik


birokrasi pemerintah maupun swasta. Banyak hal yang selama ini harus dilakukan oleh
banyak orang, sekarang dapat dilakukan oleh satu atau jauh lebih sedikit orang. Banyak
kegiatan yang bisaanya memakan waktu, dapat dilakukan dengan sekejap. Jarak
menjadi kurang relevan. Data dapat lebih cepat dan akurat diperoleh dan diolah.
Kesemuanya itu jelas berpengaruh kepada sistem birokrasi. Masalah-masalah dapat
lebih dini dideteksi, sehingga dapat dicegah berkembang menjadi lebih besar. Pelayanan
publik dapat lebih baik, lebih cepat dan lebih mudah, karena kemudahan-kemudahan
yang dihasilkan oleh teknologi. Salah satunya dengan menerapkan e-government atau
electronic government. Penerapan e-government, akan dapat membantu: meniadakan
hambatan pertukaran informasi antar masyarakat dan antar wilayah negara, dan dengan
demikian berbagai bentuk kesenjangan yang bersumber dari ketidakseimbangan
kesempatan memperoleh informasi dapat diatasi secara bertahap; meningkatkan
ketersediaan informasi dan pelayanan publik serta memperluas dan memperdalam
jangkauannya; meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kemampuan inovasi dalam
sektor produksi, serta memperlancar rantai distribusi; meningkatkan transparansi dan
memperbaiki efisiensi pelayanan publik; memperlancar interaksi antar lembaga-
lembaga pemerintah, baik pada tingkat pusat maupun daerah, dan dengan masyarakat.

Di dalam birokrasi,  maka akan tercermin proses demokrasi yang semakin baik,
artinya bahwa merit sistem memang menjadi kelaziman di dalam proses birokrasi akan

12
tetapi tetap harus menggambarkan adanya proses pemberian penghargaan kepada yang
memiliki dedikasi, keahlian dan prestasi yang memang layak diberikan. Merit sistem
memang menjadi ciri khas birokrasi, akan tetapi sistem ini tentu saja tidak boleh
mematikan kreativitas yang memang layak untuk dihargai. Birokrasi di Indonesia
pernah dijuluki sebagai birokrasi yang boros. Di zaman Orde Baru, maka memberikan
kesempatan untuk menjadi PNS adalah salah satu cara pemerintah untuk mengatasi
pengangguran terutama pada sarjana. Sehingga, di sana-sini dilakukan rekruitmen yang
sebenarnya tidak didasarkan atas analisis kebutuhan yang sangat memadai.  Oleh
karenanya, banyak instansi yang kelebihan tenaga kerja PNS dengan relevansi keahlian
dan pendidikan yang tidak relevan.

KKN yang dijadikan sebagai instrumen rekruitmen PNS di banyak tempat tentu
juga memperparah profile PNS tersebut. Banyak peluang yang seharusnya diisi oleh
mereka yang secara kualitas dan performance sangat baik ternyata dikalahkan oleh
sistem KKN yang tidak menguntungkan. Seandainya dilakukan penelitian tentang
performance PNS di berbagai instansi, maka akan didapatkan kenyataan sistem
familialisme yang kental di sisi yang satu dan performance kinerja yang belum memadai
karena sistem rekruitmen yang kurang memadai di sisi yang lain.

Problem kualitas SDM PNS tentu menyebabkan gerobak birokrasi tidak bisa
dipacu dengan kuat karena memang tidak ada potensi untuk dikembangkan secara
maksimal. Perampingan pegawai perlu dilakukan karena merupakan hal yang dapat
membuat kegiatan pelayanan lebih efisiensi dan mengurangi beban negara. Birokrasi
yang gemuk secara tidak langsung membuat kinerja tidak lincah dan cepat akibatnya,
pelayanan menjadi lambat. Hal ini juga sering dijadikan argumentasi oleh oknum-
oknum petugas publik untuk meminta dana lebih bila ingin cepat selesaiKenyataannya
bahwa birokrasi Indonesia menjadi gemuk dengan beban SDM yang unqualified,
sehingga langkah untuk mempercepat reformasi birokrasi tentu juga akan terhambat.
Makanya, wacana birokrasi tersebut sudah dilakukan bertahun-tahun akan tetapi
hasilnya masih dibawah standart yang diinginkan. Jika dilakukan kajian lebih mendasar
tentang apakah keahlian PNS memiliki relevansi dengan jenis pekerjaan dan layanan
pekerjaan yang dilakukan, maka dikhawatirkan bahwa akan terjadi mismatch yang
sangat kentara, karena profile PNS yang memang tidak direkrut sesuai  dengan cara
yang memadai. Akibatnya, maka banyak PNS yang kemudian tidak bekerja sesuai
dengan keahliannya dan tentu saja juga menjadi kurang maksimal.

Untuk melakukan perampingan terdapat beberapa pertimbangan yang dilakukan


agar perampingan yang dilakukan tidak merugikan lembaga atau individu yang
bersangkutan. Pedoman melakukan perampingan tersebut, diantaranya

 Eliminasi pekerjaan-pekerjaan yang tidak perlu, bukan melakukan pemotongan


di berbagai bidang

13
 Kontrakkan keluar pekerjaan-pekerjaan yang pihak lain mampu mengerjakannya
dengan lebih murah

 Rencanakan efisiensi jangka panjang

 Komunikasikan alasan-alasan mengambil tindakan perampingan

 Melakukan investasi pada karyawan yang selamat dari program peram-pingan

 Kembangkan pekerjaan-pekerjaan yang memiliki nilai tambah untuk


mengimbangi berkurangnya pekerjaa

Reformasi birokrasi adalah sebuah keharusan. Tanpa reformasi birokrasi, maka


akan sangat sulit birokrasi di Indonesia akan dapat memberikan layanan prima
sebagaimana yang diinginkan. Jika birokrasi Indonesia tidak melakukan reformasi
tersebut, maka akan jauh tertinggal dengan birokasi di negara lain. Makanya, kita
mengharapkan agar reformasi jangan hanya menjadi halaqah akan tetapi menjadi
harakah, jangan hanya dibicarakan akan tetapi harus menjadi gerakan. Dengan menjadi
gerakan, maka upaya untuk melayani masyarakat dengan layanan prima akan bisa
digapai dalam waktu yang relatif singkat.

14
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN
Upaya penciptaan good governance sangatlah dipengaruhi oleh adanya
komitmen dan natioal leadership. Komitmen dan national leadership ini merupakan
faktor kunci keberhasilan good governance. Ada dua arah yang harus dituju oleh
komitemn dan national leadership dalam penciptaan good govenance di Indonesia.
Pertama, komitmen untuk melakukan modernisasi birokrasi, dan Kedua, komitmen
untuk menegakkan hukum bagi pelanggaran birokratis mulai dari mal administrasi,
korupsi, kolusi dan nepotisme. Kedua komitmen ini harus diberikan tidak saja oleh
pemerintah, dan terutama presiden sebagai kepala negara, tetapi juga oleh lembaga-
lembaga tinggi lainnya. Penciptaan good governannce dimaksudkan untuk
meningkatkan akuntabilitas, responsivitas, dan transparansi dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan negara. Dan inti dari penciptaan good governance terletak pada
reformasi birokrasi. Untuk itu perlu dilakukan reformasi di sebagala bidang dan aspek-
aspek dalam birokrasi. Karena reformasi birokrasi adalah sebuah keharusan. Tanpa
reformasi birokrasi, maka akan sangat sulit birokrasi di Indonesia akan dapat
memberikan layanan prima sebagaimana yang diinginkan. Jika birokrasi Indonesia tidak
melakukan reformasi tersebut, maka akan jauh tertinggal dengan birokasi di negara lain.
Hal ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti:
kepemimpinan, budya birokrasi, penataan kembali sistem yang sudah ada, penanganan
masalah dilematis yang berkembang, dan pemanfaatan organisasi dalam birokrasi.
Selain itu perlu pula diperhatikan pemangkasan pegawai negeri agar terjadi efektifitas,
mencegah penyimpangan dalam tubuh birokrasi, dan dapat mengurangi pengeluaran
negara. Reforamasi birokrasi merupakan hal yang perlu dikaukan untuk memberikan
pelayanan terbaik kepada masyarakat, karena sebenarnya pemerintah dan masyarakat
atau stakeholder yang terkait adalah satu keterkaitan yang complicated.

15
DAFTAR PUSTAKA

Adrie., t.t. “Konsepsi dasar Birokras dan Klasifikasi Birokrasi”. Melalui:


http://images.wanto9999.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SK59swoKCEsA

Albrow, Martin. 2005. Birokrasi. Yogyakarta: Tiara Wacana

Kartasasmita, Ginandjar., t.t. “Good Governance dan Birokrasi”. Melalui:


http://www.ginandjar.com [06/04/2011]

Makmur, Mochamad. 2011. Konsep dan Teori Birokrasi. Malang

Mustopadidjaja., t.t. “Reformasi Birokrasi Sebagai Syarat Pemberantasan


KKN”. Melalui: http://www.lfip.org/english/pdf/baliseminar [06/04/2011]

Rais, Muhammad Amin. 2008. Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan


Indonesia!. Yokyakarta: PPSK Press

Thoha, Miftah. 2008. Ilmu Administrasi Publik Kontemporer. Jakarta: Kencana


Prenada Media Group

Zauhar, Soesilo. 1996. Administrasi Publik. Malang: IKIP Malang

16