Anda di halaman 1dari 14

TANTANGAN POSTMODERNISME TERHADAP IMAN

KRISTEN
Oleh : Pdt. Heryanto S.PAK, M.Th

PENDAHULUAN

Abad Postmodernisme adalah abad ke XXI yang dikenal sebagai abad kemajuan
informasi dan globalisasi yang tidak dapat dibendung lagi. Bila kita memperhatikan
dunia sekeliling kita, maka semua bidang kehidupan manusia hampir dipengaruhi
pemikiran Postmodernisme, bukan hanya dalam dunia perfilman, juga menyangkut
bidang arsitektur, seni, ilmiah dan juga di bidang agama, sehingga tidak ada lagi
kebenaran mutlak tapi serba majemuk.

Pergeseran yang mutlak kepada yang tidak mutlak khususnya menyangkit iman
kepercayaan adalah sesuatu yang sangat membahayakan manusia selaku umat ciptaan
Allah yang memiliki pertanggungjawaban akhirat nantinya.

Tidak heran kalau di harian Los Angeles Times pernah memuat sebuah artikel
yang berjudul “Built It-Yourself Religion” yangmana dari artikel itu para pengamat baru
memberi nama baru kepada generasi sekarang yaitu “The Quest Generation” atau
Generasi Pencari yaitu mereka yang sedang mengembara dalam perjalanan rohani
mereka, banyak diantara mereka yang meninggalkan kepercayaan resmi mereka dan
mencari makna yang lebih mendalam tentang tujuan hidup ini. Pengembaraan mereka
dalam beberapa versi, ada yang mengembara di daerah perkotaan yang kumuh, ada yang
mengadakan retrit di pedesaan, ada yang melalui meditasi, chanting, mempelajari Taoism
dan tai-chi. Semua ini menunjukkan agama yang benar bagi mereka adalah pengalaman
kejiwaan yang penuh kedamaian sehingga mereka tidak mau lagi bergantung hanya pada
salah satu tradisi.

APAKAH POSTMODERNISME ITU ?

Kata “postmodern” sendiri sulit untuk dimengerti secara tepat. Asal kata
“postmodern” adalah dari kata “modern” yang berarti “terbaru, barusan, mutakhir”.
Sedangkan kata “post ( pasca )” berarti “sesudah”. Jadi secara harfiah sesungguhnya
pengertian postmodern mengandung makna sesuatu yang bukan modern lagi. [11]

Postmodernisme adalah wacana kesadaran yang mencoba mempertanyakan


kembali batas-batas, implikasi dan realisasi asunsi-asumsi modernisme serta kegairahan
untuk memperluas cakrawala estetika, tanda dan kode seni modren ; wacana kebudayaan
yang ditandai dengan kejayaan kapitalisme, penyebaran informasi dan teknologi secara
massif, meledaknya komsumerisme, lahirnya realitas semu dan simulasi serta
tumbangnya nilai guna dan nilai tukar oleh nilai tanda dan nilai simbol.
ALASAN MUNCULNYA POSTMODERNISME

Postmodernisme yang muncul pada abad ke 20 M sebagai sebuah reaksi kritis


dan reflektif terhadap paradigma modernisme yang dipandang gagal menuntaskan proyek
Pencerahan dan menyebabkan munculnya sebagai patologi modernitas. Sasaran dari
munculnya Postmodernisme dapat dikatakan untuk menggugat watak modrenisme yang
monoton, postivistik, rasionalistik dan teknosentris. Sementara Postmodernisme sendiri
menawarkan watak yang bertolak belakang dari era pendahulunya yakni menekankan
emosi daripada rasio, media daripada isi, tanda dan makna, kemajemukan daripada
1

penunggalan, kemungkinan daripada kepastian, permainan daripada keseriusan,


Page

1. www.heryanto.com
keterbukaan daripada pemusatan, lokal daripada universal, fiksi daripada fakta, estetika
daripada etika, narasi daripada teori.[13]

Postmodernisme juga menurunkan 8 ciri karakter sosiologis postmodernisme,


yakni [1]:
i. Pemberontakan secara kristis terhadap proyek modernitas, memudarnya
kepercayaan pada agama yang bersifat transenden dan semakin diterimanya
pandangan pluralisme-relativisme kebenaran.
ii. Meledaknya industri, media massa sehingga hal itu seolah perpanjangan dari
sistem indera, organ dan syarat manusia. Sehingga kondisi ini pada gilirannya
menjadikan dunia dan ruang realitas kehidupan terasa menyempit. Lebih dari itu,
kekuatan media massa telah menjelma menjadi Agama dan Tuhan baru yang
menentukan kebenaran dan kesalahan manusia.
iii. Munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul sebagai
reaksi manakala orang semakin meragukan kebenaran ilmu, teknologi dan
filsafat modern yang dinilai gagal memenuhi janji emansipatoris untuk
membebaskan manusia dan menciptakan kehidupan yang lebih baik.
iv. Munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta
keterikatan romantisme dengan masa lampau.
v. Semakin menguatnya wilayah perkotaan ( urban area ) sebagai pusat kebudayaan
dan sebaliknya wilayah pedesaan ( rural area ) sebagai daerah pinggiran.
vi. Semakin terbukanya peluang bagi pelbagai kelas sosial atau kelompok untuk
mengemukakan pendapat secara lebih bebas dan terbuka. Jelasnya, era
postmodernisme telah turut mendorong proses demokratisasi.
vii. Munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya ekletisisme dan percampuradukkan
berbagai diskursus, nilai kenyakinan dan potret serpihan realitas, sehingga
sekarang sulit untuk menempatkan suatu objek budaya secara ketat pada
kelompok budaya tertentu secara eksklusif.
viii. Bahasa yang digunakan dalam diskursus postmodernisme seringkali
mengesankan tidak lagi memiliki kejelasan makna dan konsistensi sehingga
bersifat paradoks.

BUDAYA DALAM POSTMODERNISME

Dalam Postmodernisme dikenal dengan beberapa budaya yang mempengaruhi


pola kehidupan masyarakat, yakni :
Kebudayaan postmodern menurut Jean Baudrillard ada dua hal yakni Nilai
tanda dan Nilai simbol juga Simulaera / simulacrum dan simulasi.

a. Nilai Tanda dan Nilai Simbol.

Pada era kapitalisme awal, produksi menjadi faktor dominan yang membentuk
pasar kapitalisme kompetitif, maka dalam era kapitalisme lanjut, konsumsi adalah
determinan pasar kapitalisme yang juga berubah semakin bersifat monopoli. Upaya yang
ditujukan pada penciptaan dan peningkatan kapasitas konsumsi dilakukan melalui
pemassalan produk diferensiasi produk dan manajemen pemasaran. Makanya, Iklan,
pameran tehnologi, kemasan, media massa dan shopping mall merupakan ujung tombak
strategi baru di era konsumsi. Inilah awal lahirnya masyarakat konsumer yang selalu
berhasrat untuk mengkonsumsi.

Dalam masyarakat konsumer, objek-objek konsumsi berupa komoditi tidak lagi


sekedar memiliki manfaat ( nilai guna ) dan harga ( nilai tukar ) seperti yang dikatakan
2

Marx, namun kini menjadi penandaan status, prestise dan kehormatan ( nilai tanda dan
Page

nilai simbol ). Pergeseran nilai terjadi seiring dengan perubahan karakter masyarakat
postmodern.

2. www.heryanto.com
Bagi masyarakat konsumer, konsumsi sebagai system pemaknaan tidak lagi
diatur oleh faktor kebutuhan atau hasrat mendapatkan kenikmatan, namun oleh
seperangkat hasrat untuk mendapatkan kehormatan, prestise, status dan identitas melalui
sebuah mekanisme penandaan. Makanya, masyarakat konsumer yang sedang
berkembang saat ini adalah individu yang menerima identitas mereka dalam
hubungannya dengan orang lain bukan dari siapa dan apa yang dilakukannya namun dari
tanda dan makna yang mereka konsumsi miliki dan tampilkan dalam interaksi sosial,
sehingga ada satu prinsip masyarakat bahwa tanda adalah cerminan aktualisasi dari
individu yang paling menyakinkan.
Menurut Marx bahwa nilai guna adalah nilai yang secara alamiah terdapat dalam
setiap objek dan berdasarkan manfaatnya setiap objek itu dinilai sesuai dengan
kegunaannya bagi kepentingan manusia. Sedangkan, nilai tukar adalah nilai yang
diberikan kepada objek-objek produksi berdasarkan ukuran nilai gunanya, makanya
setiap objek komoditi memiliki kedua nilai dasar tersebut.

Di era kapitalisme awal, uang sebagai sarana tukar pemenuhan kebutuhan,


sedangkan dalam era kapitalisme lanjut, uang telah menjadi tujuan akhir dengan
komoditi sebagai sarananya sehingga nilai tukar menjadi lebih penting dari nilai guna
dan komoditi diciptakan bukan untuk nilai gunannya lagi melainkan demi nilai tukarnya
yaitu berupa uang, makanya uang telah menjadi bahasa baru yang membentuk dan
memberi makna realitas bahkan dengan uang maka setiap orang dapat membeli dan
memiliki berbagai kwalitas hidup manusia yang diinginkannya sesuai dengan budaya
moral keinginannya.

Siapakah saya dan apa keahlian saya tidaklah ditentukan oleh individualitas saya.
Sekalipun saya bertampang jelek ( bahkan bersikap jelek ) namun saya bisa menjadi
cantik karena saya bisa membeli wanita cantik / pria tampan yang saya inginkan . Saya
kini tak jelek lagi seperti yang semula karena efek kejelekan tersebut sebagai faktor
determinan telah dihapuskan oleh uang. Maka, disinilah manusia telah berubah menjadi
benda ( uang ) yang akan menggantikan kebenaran menjadi kekuasaan manusia.

Faktor yang ditunjukkan oleh benda ( uang ) adalah komoditi tontonan


(Commodity of spectacle) yang menghasilkan masyarakat tontonan pula (society of
spectacle). Masyarakat tontonan adalah masyarakat yang hampir di segala aspek
kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan dan menjadi kaumnya, sebagai
rujukan nilai dan tujuan hidup. Jadi, jelas tontonan telah memanipulasi dan
mengeksploitasi nilai guna dan kebutuhan manusia sebagai sarana untuk memperbesar
keuntungan sepihak dan mengontrol idiologis atas manusia.

Masyarakat tontonan bisa terjadi dalam kebudayaan, pendidikan, olahraga,


politik bahkan juga agama yang dikemas sebagai tontonan public saja. Misalnya, Dewasa
ini dengan banyaknya gedung gereja yang dibangun dengan semewah-mewahnya –
bahkan ada yang berusaha berlomba-lomba membangun gedung gereja terbesar dan
termewah di kota tersebut-sekalipun ada juga nilai baiknya, namun yang menjadi
pertanyaan, apakah pembangunan ini memang memiliki nilai guna atau sekedar nilai
tontonan saja tanpa memperhatikan nilai gunanya ? [6]

Begitulah, kelahiran nilai tanda selanjutnya diikuti oleh nilai simbol. Dalam
aktivitas konsumsi yang dibutuhkan masyarakat konsumsi pada dasarnya bukan hanya
dilakukan karena alasan kebutuhan, namun lebih pada alasan simbolis, kehormatan,
status dan prestise. Objek komoditi diberi karena makna simbolik yang ada didalamnya
3

dan bukan karena harga atas manfaatnya. Misalnya, Ada banyak orang akhir-akhir ini
Page

datang ke gereja bukan lagi mencari manfaat teologi dan doktrin yang menjadi fokus
ibadah tetapi kemewahan gedung, fasilitas, alat musik didalam ibadah, bahkan yang lebih

3. www.heryanto.com
fatal ingin mencari prestise sebagai majelis dan tak jarang sebagai simbol untuk
berdagang dan mencari keuntungan di tengah-tengah gereja. [15]

b. Simulacra dan Simulasi.

Simulasi dalam kamus Bahasa Indonesia memberi arti yaitu suatu metode yang
memperagakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan sebenarnya.

Dalam perkembangan zaman ilmu dan teknologi maka berubah pula arah angin
peradaban. Ketika media elektronika televisi ditemukan, maka dalam sekejab terjadi
sebuah revolusi kesadaran tentang dunia yang mengecil. Dimensi ruang lipat dalam
sebuah kotak layar kaca. Dunia inilah yang menggantikan peran komoditi tradisionil
Marx. Didalam layar kaca televisi, segala sesuatu, berita politik, film telenova, opera
sabun, bencana alam, acara keagamaan dikemas dalam kerangka tontonan yang
menghibur. Tak ada lagi kekhusukan, kekudusan dan kerinduan terhadap makna luhur.

Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dahsyat, menurut


Baulrillard, tidak hanya nilai-nilai sublim dan luhur yang menguap / menghilang bahkan
realitas itu sendiri. Realitas kini dapat dibuat, direkayasa dan disimulasi. Dalam realitas
buatan, realitas simulasi ini, segala sesuatu bercampur-baur. Raelitas-realitas buatan
adalah ciri zaman ini, sebuah zaman tengah menjelangnya sebuah era kebudayaan baru
yang disebut dengan kebudayaan Postmodern yang ditandai dengan logika simulasi.

Menurut William F.Fore bahwa teknologi menentukan masyarakat. Teknologi


adalah kemajuan dan kemajuan tidak dapat dihindari. Ia tidak bisa dihentikan dan tak
peduli dengan implikasi-implikasi manusiawinya. Jadi, teknologi mempergunakan
realitas yang berada di luar pengaruh manusiawi. Masyarakat tidak memutuskan
bagaimana menggunakan teknologi saja, tetapi teknologi juga memutuskan bagaimana
masyarakat akan digunakan. [8]

Dalam era postmodern, prinsip simulasi menjadi panglima dimana teknologi,


informasi, komunikasi dan industri pengetahuan menggantikan prinsip produksi,
sementara permainan tanda dan citra mendominasi hampir seluruh proses komunikasi
manusia. Makanya, dalam masyarakat simulasi, segala sesuatu ditentukan oleh relasi,
tanda, citra dan kode.

Tanda ialah segala sesuatu yang mengandung makna yang mengikuti teori
semiologi. Citra adalah segala sesuatu yang nampak oleh indera, namun sebenarnya
tidak memiliki eksistensi dan substansial. Kode adalah cara pengkombinasian tanda yang
disepakati secara sosial untuk memungkinkan satu pesan dapat disampaikan seseorang
kepada orang lain.[2]

Dalam wacana simulasi, manusia mendiami suatu ruang realitas, dimana


perbedaan antara yang nyata dan fantasi, yang asli dan yang palsu sangat sulit
kelihatannya. Manusia kini hidup dalam ruang khayal yang nyata, sebuah fiksi yang
aktual. Realitas-realitas simulasi menjadi ruang kehidupan dimana manusia menemukan
dan mengaktualisasikan eksistensi dirinya. Lewat televisi, dunia simulasi tampil secara
sempurna. Inilah ruang yang tidak lagi peduli dengan katagori-katagori nyata, semu,
benar, salah, referensi, fakta, citra, produksi, reproduksi, dimana semuanya dilebur
menjadi satu dalam silang sangkarut tanda. Dengan televisi, realitas tidak hanya
diproduksi, disebarluaskan atau direproduksi bahkan juga dimanipulasi. Realias simulasi
seperti ini membentuk sebuah kesadaran baru bagi masyarakat dewasa ini. Dalam realitas
4

seperti ini, manusia tidak lebih sebagai kumpulan massa mayoritas yang diam, yang
Page

menerima segala sesuatu yang diberikan padanya. Kumpulan massa yang diam ini
sebagai lubang hitam – black hole - , dimana berbagai hal informasi, sejarah, kebenaran,

4. www.heryanto.com
nilai moral, nilai agama terserap kedalamnya tanpa meninggalkan bekas apapun juga.
Bahkan tidak jarang seringnya massa dapat diatur dengan cara menanamkan informasi
kepada mereka dan energi sosial dapat dibentuk melalui sarana penanaman informasi dan
pesan-pesan. Namun yang terjadi sebenarnya sungguh berlainan sama sekali dan pesan-
pesan ternyata cuma menghasilkan massa pasip, yang tak berdaya, tertutup terhadap
berbagai informasi sosial klasik dan terhadap kandungan informasi yang terdalam.

Makanya dalam dunia simulasi, identitas seseorang misalnya tidak ditentukan


oleh dan dari dalam dirinya sendiri. Identitas kini lebih ditentukan oleh konstruksi tanda,
citra dan kode yang menbentuk cermin bagaimana seorang individu memahami diri
mereka dan hubungannya dengan orang lain dan juga kode dan model-model ini
menentukan bagaimana seorang harus bertindak dan memahami lingkungannya.

c. Dominasi Atas Kepelbagaian dan Moralitas Keinginan.

Bagi kaum postmodernisme, moralitas seperti agama adalah suatu masalah


keinginan (desire). Apa yang saya inginkan dan apa yang saya pilih tidak hanya benar –
true -- tetapi juga tepat – right -- bagi saya. Makanya kebenaran dan moralitas adalah
relatif dimana setiap orang yang berbeda wajar memilih yang berbeda pula, sehingga tak
seorangpun yang punya hak untuk mengkritik apa yang diinginkan dan dipilih orang lain.
Disinilah ‘toleransi’ menjadi suatu kebaikan yang terpuji dan tertinggi. Makanya filsafat
postmodernisme memiliki dan menerima prinsip ‘kepelbagaian kebudayaan’ yaitu
bahwa setiap cara berfikir satu kelompok tertentu adalah menyatakan satu kebudayaan
tertentu yang harus dipertimbangkan sebagai hal yang baik sebagaimana dengan
kebudayaan lainnya. Inilah yang disebut dengan dominasi kepelbagaian. Makanya, kaum
postmodernis boleh dikatakan memiliki dosa “menghakimi” (being judgemental) dan
“pemikiran yang sempit dan picik” (being narrow-minded) yang menganggap bahwa
‘hanya ia yang memiliki kebenaran’ dan ‘berusaha memaksakan nilai-nilainya kepada
orang lain’.

Selain dosa yang dianut mereka, ada juga hal menarik dari mereka yaitu konsep
tentang tanggung jawab bersama secara kolektif ( kelompok ) dan perasaan ( baik atau
jahat ) yang kolektif dengan pandangan satu warna idiologi sehingga idiologi mereka
mengecilkan nilai individu dan mengecilkan tanggungjawab individu. Apapun keinginan
moral mereka umumnya dilakukan secara kolektif. Kebenaran dan status moral mereka
tidak ditentukan oleh tindakan seseorang melainkan oleh keanggotaan seseorang di
dalam kelompok tertentu. Makanya umumnya penganut postmodernisme mengalami
dilema konsep ‘keadilan’ karena mereka menolak adanya nilai moral yang mutlak..[3]

Adapun pilar utama kritik postmodern adalah desakan atas dominasi


kepebagaian. Penganut postmodern menegaskan dan mencoba merangkul perbedaan-
perbedaan yang begitu bervariasi dan mengherankan yang membentuk dunia yang
mereka coba pahami melalui pengalaman mereka. Sebenarnya alasan adanya dominasi
terhadap kepelbagaian bisa digambarkan secara sederhana yaitu semua pengalaman /
pengetahuan manusia di filter ( disaring ) dan filternya juga sangat beragam dan filter
itu jelas terikat “waktu” , “situasional” , dan “linguistik” dan ‘sarat teori dan
pengalaman’ serta ‘hermeneutis’ masing-masing. Makanya, perbedaan ini diusahakan
disatukan ( wacana global ) ke dalam satu dunia baru yang diakui bersama.

Setiap masyarakat memiliki filternya sendiri, pandangan dunianya sendiri dan


jika kita bisa masuk ke dalam kultur tersebut kita akan menyadari bahwa ia berfungsi
lebih efektik dan lebih memadai daripada yang kita bayangkan sebelumnya. Setiap filter
5

harus dinilai didalam konteksnya dan kita tidak bisa memakai filter dari satu kultur untuk
Page

menilai atau melecehkan kultur lainnya. Hal inilah tersembunyinya imperialisme didalam

5. www.heryanto.com
metode ilmiah seperti keadaan sekarang ini dengan menunjukkan adanya para ilmuwan
juga bekerja dengan filter yang mereka pilih sendiri atau yang sudah ada. [20]

Jelaslah, dominasi kepelbagaian ini yang merupakan salah satu perspektif


postmodern dapat merusak kesempurnaan kerja karena jelasnya bahwa tempat bertolak
kita tidak ditentukan semata dan hanya oleh data yang diakui universal tetapi oleh ‘filter’
atau ‘konteks pandangan / situasional’ dimana kita berada. Hal ini dapat lebih diperjelas
ketika kita menemukan fondasi satu rumah, jika hanya satu macam fondasi bersama
untuk sebuah rumah, apakah dapat memberikan keamanan untuk semua rumah dan
membuat mereka mampu berkomunikasi di antara mereka ? (Paul F. 2003. hal. 58-59)

Perlu kita ketahui, bagi kaum postmodernis bahwa semua pembicaraan tentang
moralitas termasuk yang mereka anut, hanya merupakan topeng-topeng dari kehendak
untuk berkuasa ( masks the will to power ). Didalam moralitas keinginan jelas memiliki
etika keinginan / nafsu (ethic of desire) ini sama dengan kehendak ( the will – apa yang
saya pilih ) untuk berkuasa ( to power – apa yang saya inginkan ). Makanya secara
politis, etika keinginan adalah perjuangan kekuasaan di antara berbagai kelompok yang
bersaing. Hal ini bisa saja timbul pemerintahan yang diktator yang mengagungkan the
will dan the power, seperti kaum Gay yang suka membuat kerusuhan dalam kebaktian di
gereja dan teroris yang terang-terangan.

BAHAYA-BAHAYA DALAM PENGARUH POSTMODERNISME TERHADAP


KEKERISTENAN.

1. Pemikiran Postmodernisme yang mengatakan semua relatif dan tidak ada yang
mutlak. Sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang baru, Dalam Alkitab sendiri
tercantum dalam Hakim-Hakim 17:6 dan 21:25, kita menemukan hal yang sama
dimana pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel, setiap orang berbuat
apa yang benar menurut pandangannya sendiri. [9]

Postmodernisme dalam hal penolakan mereka akan Kebenaran yang


obyektif memiliki kesamaan dengan Hinduisme dan Buddhisme yang
mengajarkan bahwa dunia luar ( external world ) hanyalah sebuah ilusi dari
pikiran manusia.

Banyak suara yang saat ini kita dengar yang mengatakan bahwa apa
yang berada di sana adalah karena kita sendiri yang meletakkannya di sana. Lebih
tepatnya, apa yang saya letakkan di sana, hanya si aku yang kecil, saya
membentuk dunia saya sendiri di sana. Dulu kita menyebut hal ini sebagai
“Solipsisme”, sekarang kita menyebutnya sebagai “Spiritualitas Zaman Baru”
atau “Agama-Agama Zaman Baru”, yang memiliki ide yang sama bahwa diri (
self ) adalah bersifat ilahi bahwa engkau adalah Allah, sebagai pencipta alam
semesta.

Sebagaimana Schleiermacher yang hidup dalam zamannya dimana


rasionalisme mempengaruhi seluruh cara berfikir manusia dengan menolak ‘inti
Kebenaran Iman Kristen’ tersebut. Ia menolak perlunya ‘fakta penebusan
Kristus’ melalui ‘pengorbanan diri-Nya’ untuk dapat menyatukan kembali
manusia dengan Allah. Baginya setiap manusia adalah ‘baik’ dan punya ‘potensi’
untuk dapat secara batiniah mengalami kehadiran Allah. [23]

Disamping itu menurut pandangan Schleiermacher bahwa teologi tidak


6

dapat dijalankan secara deduktif dengan bertolak belakang dari kitab suci sebagai
Page

sumber pengetahuan yang obyektif. Ia memakai pendekatan induktif dengan


bertitik tolak dari pengalaman orang dan mengaitkan pengalaman itu dengan isi

6. www.heryanto.com
kitab suci dan tradisi Kristen maka semua pengetahuan tentang Allah berdasarkan
diri pada pengalaman manusia tentang Allah. [12]

Salah satu gerakan zaman baru yaitu Postmodernisme, sekalipun hadir


dalam beragam bentuk tetapi disatukan dengan satu tema bahwa di dunia ini tidak
ada kebenaran yang mutlak, diri kita sendiri adalah allah, seluruh alam semesta
adalah ilusi dan kebenaran adalah relatif.

Sebagaimana buku yang penulis kutip dari tulisan Th.Sumartono,dkk,


yang menyatakan tentang pemutlakkan kebenaran agama, sbb :

Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam


pemutlakkan kebenaran agama. Memang dikatakan di atas
bahwa agama menuntut komitmen mutlak dari pemeluknya
terhadap ajaran-ajarannya dan karenanya timbul
pemutlakkan kebenaran agama.
Akan tetapi adalah kenyataan bahwa jaminan
ajaran sesuatu agama merupakan satu-satunya yang benar
itu tidak ada. Benarkah demikian ? Tuhan yang disembah
oleh para pemeluk agama merupakan satu-satunya Tuhan
yang ada ? Jawabannya dapat ‘ ya ’ , dapat juga ‘ tidak ’,
karena Tuhan di situ merupakan konsepsi manusia. Kalau
demikian keadaannya, mengapa mesti dimutlakkan
kebenarannya ? Ada kemungkinan salah pada setiap
konsepsi dan karenanya sikap yang paling wajar adalah
menghargai konsepsi-konsepsi yang telah dihasilkan oleh
setiap individu atau setiap orang . [22]

Hal ini jelas ditentang oleh Frederick Nietzsche yang secara tegas
menyatakan bahwa berbagai pernyataan kita tentang Kebenaran bukan muncul
dari apa yang kita lihat ( bnd. Nilai Tanda atau simbol ),tetapi dari apa
yang kita ciptakan dan kenakan atas apa yang ada sebelumnya. Nietzsche yakin
kita tidak dapat mencapai realitas obyektif apapun yang dapat mengukur
kebenaran kita. Kebenaran itu sendiri dalam arti Allah sebagai sumber Kebenaran
berada di luar jangkauan kemampuan manusia..[16]

Adapun salah satu corak yang dibuat oleh dunia postmodernisme,


yangmana kebenaran adalah relatif, maka zaman sekarang orang-orang akan
mengambil aspek-aspek tertentu dari berbagai-bagai agama ( termasuk juga
ibadah ) sebagaimana yang mereka sukai, dan mereka satukan dalam pengalaman
mereka maka disinilah muncul fundamentalisme agama-agama baru sehingga
tidak heran jika anak-anak muda tidak akan tertarik lagi dengan dasar-dasar yang
penting dari kekeristenan. Mereka akan menggantikannya dengan mencari sendiri
kebenaran dan tujuan hidup yang sesuai dengan keinginan mereka. (
Sebagaimana tulisan saya di buletin SMI edisi No.11 tahun ke 63 Nopember
2003 dengan judul “Pujian, Musik Dan Ibadah” ), sehingga dalam satu ibadah
bagi kaum muda bukan lagi kepentingan doktrin / teologinya tapi sarana ibadah
telah menjadi tujuan ibadah yang dicari oleh kaum muda kristen.

Disamping itu juga, di dunia postmodern, tidak seorangpun yang dapat


mengklaim kebenaran yang paling benar. Semua kebenaran masing-masing
pribadi adalah kebenaran yang sah. Tidak seorangpun memiliki hak untuk
7

memaksanakan kebenaran pada orang lain. Tak ada lagi standar untuk
Page

menentukan benar atau salah. Satu-satunya standar adalah diri sendiri. Maka
tidak heran akibat semua ini muncullah juga kekerasan spiritual.

7. www.heryanto.com
Kekerasan spiritual bisa terjadi kadangkala ketika kita mempunyai
persepsi yang salah tentang kemutlakkan Allah dan bukan agama. Dimana
kesaksian Alkitab dengan amat tegas menekankan : “Jangan ada padamu allah
lain di hadapan-Ku” ( Kel 20:3 ). Hal yang juga amat jelas dikatakan oleh
Yesus, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia
sajalah engkau berbakti”. ( Mat 4:10 ; Ulg 6:13 ). Teologi Kristen juga menolak
pemutlakkan agama yang secara tidak langsung berakibat pada penisbian Allah.
Hanya Allah saja yang mutlak dan agama jelas tidak (bnd. Yoh 4:21 ). Allah
selalu lebih besar daripada apa yang tidak dapat ditangkap dan dipahami oleh
agama apapun. [21]

Makanya, orang-orang kristen tidak boleh memaksakan kehendaknya


kepada orang lain karena sama seperti Yesus di Golgota, merekapun harus
bersaksi dalam kerendahan. Dalam hubungannya dengan ini, maka Allah
menuntut agar manusia taat kepada Allah seperti yang ada pada Taurat dan Injil,
keduanya adalah tuntunan Allah agar manusia taat pada Kasih setia-Nya yang
nyata di Golgota bagi keselamatan umat manusia.

Untuk menghindari kekerasan spiritual, hendaknya kita menghindari


klaim bahwa kita mempunyai kebenaran. Ini dapat disangka bahwa kita
menonjolkan tentang superioritas agama kristen terhadap agama-agama lain,
tetapi bersaksilah tentang Kristus yang telah mati dan bangkit bagi semua orang.
Makanya, tugas kristiani dalam bangsa dan negara yang merupakan tugas gereja
bukanlah untuk menguasai negara dan dunia ini tetapi meneranginya didalam
kasih. [24]

2. Munculnya “Kekerasan Spiritual atau kekerasan sosial” yang muncul karena


kegagalan janji modernisme seperti kebebasan dan pluralisme yang justru
memunculkan kabut keraguan, kekaburan, dan ambiguitas. Kekerasan spiritual
ini mengakibatkan juga munculnya berbagai corak fundamentaliasme keagamaan
yang sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan diri (self defense
mechanism). Dengan tujuan sebagai jalan pelarian dari kebebasan akibat
kegagalan rasionalisme dilumpuhkan oleh semangat postmodernisme dengan
memasuki ‘dunia yang pasti’, hal ini yang mendorong munculmya
fundamentalisme keagamaan.

Fundamentalisme ini muncul karena di tengah-tengah era postmodren


yang memiliki sifat toleransi, saling menerima satu dengan yang lain sehingga
yang menjadi ciri utamanya adalah pluralisme sehingga tidak ada titik pusat yang
mengontrol sesuatu sebagai fokus. Tidak ada standar umum yang dapat dipakai
untuk mengukur, menilai dan mengevaluasi konsep-konsep tertentu. Sehingga
komponen yang saling bertentangan saling bercampur aduk, makanya buah karya
postmodernisme selalu ambigu ( mengandung dua makna ) [14]

Tanpa nilai absolut yang menjadi satu standar acuan tertentu dalam
segala hal, postmodernisme telah memberikan kebebasan yang tidak pernah ada
sebelumnya dalam sejarah dunia. Kebebasan yang seperti ini mau tidak mau jelas
telah membuka jalan bagi relativisme dan pluralisme. Pluralisme dalam aspek
keagamaan telah menciptakan sebuah ‘warna baru’ lagi bagi posisi kekeristenan
dalam dunia. [7]
8

Makanya dalam postmodernisme, tentu saja relativisme dan pluralisme


Page

bukanlah hal barang yang baru. Tetapi jenis pluralisme dari postmodernisme ini
agak berbeda. Relatif pluralisme bersifat individualistik, pilihan cita rasa pribadi

8. www.heryanto.com
diagung-agungkan dengan satu motto : “Setiap orang berhak mengeluarkan
pendapat dan dianggap benar.”.

Sebagaimana yang dikatakan seorang yang menganut Neo-


Universalisme yang berpandangan bahwa semua agama-agama di dunia ini
bukan saja baik tetapi juga sama. Namun hal ini harus kita lihat sejauhmana
kebenaran yang dikatakan pengaut Neo-Universalisme, maka setiap yang baik
wajar dihargai dan dihormati. Namun isi iman dan kenyakinan masing-masing
agama pasti berbeda, khususnya dalam hal keselamatan.

Alkitab dengan jelas mengungkapkan bahwa keberadaan dosa adalah


fakta ( Roma 3:23 ) dan konsekwensi dosa jelas ada yaitu maut ( Roma 6:23 ).
Untuk jalan pelepasan jelas dikemukakan harus dengan darah Yesus ( Ibr 9:22b).
Jadi, konsep dosa dan akibatnya serta jalan pelepasan merupakan isi iman
kenyakinan yang tetap ada dalam kekeristenan. [5]

Akibatnya pluralisme dan relativisme postmodern jelas menyempitkan


lingkup kebenaran menjadi “lokal”. Suatu kepercayaan dianggap benar hanya
dalam konteks komunitas yang menyakininya. Makanya, bagi orang postmodern
tidak merasa perlu membuktikan sejauhmana diri mereka benar dan orang lain
salah. Bagi mereka, masalah keyakinan / kepercayaan adalah masalah konteks
sosial. [10]

3. Timbulnya Perubahan Paradigma Hermeneutik. Dalam postmodern ini ada


muncul juga satu budaya yang disebut dengan “Budaya Penafsiran” yang
merupakan produk penting dari postmodernisme. Dimana budaya postmodern
telah mencetuskan perubahan paradigma hermeneutika sebagai suatu upaya
pencarian cara untuk menjadikan teks yang terhina masih bisa diterima oleh
pembaca yang skeptis. Hermeneutika tidak lagi dipandang sebagai upaya
penjelasan kebenaran teks yang otoritatif. Yang diperlukan kini adalah imajinasi
dari batiniah manusia. Dengan model ini mencetuskan satu semangat
sekularisasi didalam kehidupan kekristenan dan membawa kekeristenan lebih
kepada “bersandar-pada –diri-sendiri” ( Self-reliance ). Makanya Lundin
menekankan agar kita bisa menghadapi dekonstruksi postmodern dengan
semangat interaktif, maka ada beberapa hal yang perlu kita lakukan , yakni :
i. Kita harus mampu membedakan apa yang kita setuju dengan tidak setuju.
ii. Kita memiliki kuasa yang bukan dari diri kita sendiri, tetapi dari Allah yang
membawa kita pada pengertian akan Kristus yang menjadi satu-satunya
sumber kebenaran kita.
iii. Kembal
inya kita kepada otoritas Firman ‘karena “pada mulanya adalah Firman”.

[18]

TANTANGAN POSTMODERNISME TERHADAP UMAT KRISTEN DAN


GEREJA.

Sebagai umat Kristen dan Gereja Tuhan, kita harus antisipasi terhadap peralihan
tersebut agar kita tidak “ketinggalan pesawat” serta dapat terus melaksanakan Amanat
Agung Tuhan Yesus Kristus yang tidak pernah berubah di tengah dunia yang selalu
9

berubah ini.
Page

9. www.heryanto.com
Untuk itu kita perlu mewaspadai apa yang menjadi patokan dalam
Postmodernisme yang mengatakan semua relatif dan tidak ada yang mutlak, pengalaman
manusia tentang Allah sebagai dasar pengetahuan tentang Allah dan munculnya
fundamentalisme agama sebagai wujud dari kekerasan spiritual di tengah pluralisme dan
relativisme dan sekularisasi di dalam kehidupan Kristen dan membawa umat kristen lebih
bersandar pada diri sendiri dan ini bukanlah hal yang baru.
Sesungguhnya hal ini tidak perlu membuat kita menjadi kaget dan heran.
Generasi Postmodernisme tidak lagi terkesan pada penyajian rasionil Injil yang
berpesona tetapi pada perujudan Injil yang menyeluruh dalam masyarakat dan
peyembuhan hubungan antar manusia bahkan dengan alam sekitarnya. Sikap seperti ini
banyak sekali dijalankan oleh kaum Injili sampai sekarang ini. Sesungguhnya kita harus
tetap berpegang pada kenyakinan Injil sebagai satu-satunya jawaban yang mutlak bagi
generasi Postmodernisme juga. Panggilan kita sebagai orang-orang percaya adalah untuk
menjelaskan dan mewujudnyatakan Kabar Baik Keselamatan yang kekal lewat tindakan
yang dapat dimengerti oleh generasi Postmodernisme yang sedang menghadang di depan
kita di abad XXI.

Generasi di era postmodernisme saat ini sesungguhnya sedang berada pada fase
perusakan, dimana tidak hanya nilai-nilai tradisional yang rusak tetapi juga nila-nilai
masa kini.

Pada masa kini ditemukan banyaknya tanda-tanda agama sekular jenis baru yang
memunculkan masyarakat jenis yang baru. Dimana masyarakat bisa memiliki beberapa
macam konsensus religi. Namun apabila suatu saat konsensus ini hilang, objek
penyembahan yang baru akan mendesak masuk ke dalam kerohanian yang sudah vakum.
Maka, saat satu masyarakat kehilangan imannya yang trasendental, maka manusia akan
mengarah ke salah satu dari tiga hal yang merupakan tantangan kekeristenan dalam era
postmodern, yakni : Nasionalisme, Ekumenikalisme dan teknikalisme. [19]

1. Nasionalisme

Sebagaimana yang pernah saya katakan ( Baca “Nasionalisme itu lebih bersifat
Subjektif”, SMI No. 11 tahun ke 62 Nopember 2002 ) bahwa nasionalisme ini muncul
dari sentimen satu gerakan. Maka didalam model ini, masing-masing kelompok kecil
yang membentuk dunia kebenaran sendiri menunjukkan sentimen mereka dengan
mengklaim diri mereka sebagai yang ilahi. Kebudayaan dan sub kebudayaan akan
mengilahkan diri sendiri. Komunitas akan menjadi sumber nilai-nilai moral yang berlaku
hanya bagi anggota komunita tersebut.

Sehingga setiap kelompok menentukan kebenaran mereka masing-masing


sebagai perwujudan nasionalisme mereka dan orang-orang yang di luar dari hukum moral
mereka akan di anggap musuh. Sebagaimana seringnya pelayanan dalam gereja kacau
dan rusak akibat umat gereja baik secara pribadi maupun kelompok membangun
kebenarannya masing-masing tanpa mengacu kepada Kebenaran Allah yang mutlak. Jadi
sifat postmodern ini harus diwaspadai dan dihindari sehingga tidak ada umat yang
mengingkari kebenaran Allah yang mutlak ini.
Menurut George Eldon Ladd, sesungguhnya kebenaran adalah istilah yang
mengandung makna teologis yang penting. Kebenaran adalah standar yang telah
ditetapkan Allah bagi prilaku manusia. Orang yang benar adalah orang yang menurut
penilaian Allah telah memenuhi standar Ilahi sehingga berada dalam hubungan yang
benar dengan Allah. Maka aturan kebenaran bergantung penuh pada sifat Allah sehingga
10

akhirnya hanya Allah lah yang dapat menentukan apakah manusia telah memenuhi aturan
yang ditetapkan-Nya bagi kebenaran manusia.
Page

10. www.heryanto.com
Jadi, tidak ada seorangpun dapat menentukan kebenaran di luar dari apa yang
telah ditentukan oleh Allah, apalagi jika kebenaran yang dibuat manusia tanpa melihat
standar yang Allah telah tentukan. [17]
2. Ekumenikalisme

Dimana dikatakan di atas, hilangnya satu konsensus religi akan dimasuki oleh
objek penyembahan yang baru. Dengan kata lain, hilangnya konsensus nilai-nilai
transenden bisa terjadi akibat pengilahian kekuatan oikumenis dan pluralisme.

Sebagaimana kurangnya konsensus religi yang sudah dimulai pada zaman


pencerahan dan mencapai puncaknya pada abad ke dua puluh ini. Dimana para teolog
modernis mencoba menyatukan gereja-gereja dengan menghilangkan perbedaan
kenyakinan akan dogma masing-masing. Hal inilah yang kita sebut dengan “Gerakan
Oikumenis”.

Ternyata gerakan oikumenis juga gagal menyatukan gereja-gereja maka usaha


mereka sekarang adalah untuk menyatukan semua agama-agama di dunia ini. Hal ini
berarti menghilangkan perbedaan-perbedaan kenyakinan mereka demi menerima iman
yang sama sekali baru. Sehingga para teolog menganut prinsip-prinsip yang relativisme
dari Post modernisme agar mereka dapat merangkul semua kebudayaan dan agama.
Dengan demikian mereka tetap menekankan “kesatuan global” ( Global Unity ), dimana
semua yang ada bergantung kepada ekosistem tunggal. Dan dalam istilah “Globalisasi”
ini merupakan semangat oikumenis postmodernisme yang memberikan ruang yang
terbuka bagi relativisme kebudayaan dan kesatuan global.

Untuk itulah, di tengah-tengah situasi pluralisme keagamaan, setiap orang kristen


harus terbuka dan siap menerima kebenaran apapun yang dapat diterima dan belajar dari
berbagai tradisi keagamaan lain untuk memadukan unsur-unsur kebenaran ke dalam filter
kita tentang Allah dan pernyataan-Nya. Jadi, hal ini tidak menuntut kita merelatifkan
klaim kebenaran iman kristen khususnya tentang finalitas eskatologis, sebaliknya klaim
ini harus bisa memampukan orang krsiten untuk mengakui kebutuhannya akan
pemahaman yang lebih mendalam tentang iman kristen, terlebih saat berjumpa dengan
tradisi-tradisi keagamaan lainnya. [4]

3. Teknikalisme

Alternatif yang terakhir ini adalah pengilahian ahli teknologi yang tak tersaingi
sebagai kenyakinan yang transenden ( idolation of the invincible technician ). Di sini
menelusuri di mana teknology sedang berkembang fungsinya mengambil fungsi suatu
kenyakinan atau agama. Atribusi ilahi tentang kemahatahuan dan kemahakuasaan sudah
dikenakan kepada teknologi.

Pada abad pertengahan, teologi skolastik secara tidak tepat mengaplikasikan


metodologi teoliginya kedalam bidang yang di luar objek pengetahuannya, misalnya
sanis. Namun masa kini sebaliknya, manusia mengaplikasi metodologi – kerangka
berfikir – ke dalam semua bidang termasuk teologi dan etika.

Masyarakat postmodern menentukan fungsi religi kepada dirinya sendiri.


Postmodrenisme menurunkan nilai teologinya, moral dan misteri manusia kepada hal-hal
yang tehnis.
11

Didalam teknologi, seluruh ahli dibekali dengan kharisma keimaman ( charisma


of priestliness ), dimana beberapa dari imam ahli ( priest – experts ) kita sebut sebagai
Page

psikiater, psikolog dan beberapa ahli statistik. Allah yang mereka sembah tidak berbicara
tentang kebenaran atau kebaikan atau kemurahan atau anugerah. Allah mereka bicara

11. www.heryanto.com
tentang efisiensi ketepatan (presesi), keobjektivitasan. Konsep dosa dan kejahatan tidak
muncul didalam konsep tehnopoly. Mereka datang dari satu moral semesta yang tidak
relevan dengan para ahli teologi. Para ahli tehnopoly menyebut dosa sebagai “Diviasi/
Penyimpangan Sosial” dalam konsep statistik dan mereka akan menyebut kejahatan
sebagai “Psikopatology” dalam konsep medis.
Konsep Alkitab tentang “KUDUS” artinya secara harafiah adalah “Dipisahkan
dari”. Namun teknologi membawa segala sesuatu – seks, penderitaan, personalitas dan
kehidupan batiniah – menjadi sesuatu yang profan yaitu secara harafiah artinya “Umum”
dan “Common” ( biasa). Makanya, tidak mengherankan di era postmodernisme saat ini,
tidaklah masalah bila media massa mengekspos besar-besar masalah seksual yang
dulunya merupakan hal yang tabu, rahasia dan pribadi. Demikian juga dengan kejahatan
yang dulu dipandang sebagai yang mengerikan dan tersembunyi. Maka visual masa kini
memotret semua yang dapat dilihat dengan bebas. Apa yang tak dapat dilihat – yaitu
Allah, Iman, Kebajikan, Spritualitas – itu di luar perhatiannya dan diabaikan. Kalaupun
tidak diabaikan, realita spiritual akan diperhatikan dalam pemahaman yang di anut media
masa kini. Tentu hal ini sama saja dengan melecehkannya. Alternatif ketiga yang
dijelaskan oleh Toynbee perlu dicermati dengan seirus agar kita tidak kandas dalam iman
kepada Yesus Kristus oleh pengeruhnya.

Ada beberapa paradigma dasar yang diperlukan dalam berteologi terhadap sikap
kemutlakkan ini, yakni :

a. Kebenaran sejati bersumber dari Allah sendiri.

Manusia bukanlah sumber kebenaran karena manusia sendiri masih mencari


Kebenaran dan manusia sendiri sadar bahwa tingkat pengetahuan kebenarannya tidaklah
absolut. Karena itu, manusia perlu kembali kepada Tuhan sebagai sumber Kebenaran.
Secara inkarnasi, di sepanjang sejarah hanya satu manusia saja yang berhak mengklaim
dirinya sebagai Kebenaran yaitu Yesus Kristus sendiri, Anak Allah yang tunggal. ( Yoh
14:6 ).

b. Allah mengwahyukan Kebanaran di dalam Alkitab.

Allah menyatakan Kebenaran-Nya kepada manusia melalui Firman-Nya, yaitu


Alkitab. Dengan kata lain, Alkitab merupakan satu-satunya sarana untuk menusia bisa
kembali mengerti kebenaran yang paling hakiki. Inilah yang diproklamirkan dengan kata
“Sola Scriptura” ( hanya Alkitab saja ). Dengan demikian tidak ada kebenaran di luar
Kebenaran Allah dan semua kebenaran harus berpreuposisi pada Alkitab saja.

c. Alkitab merupakan satu kebenaran yang utuh dari Allah yang satu.

Sebab Allah yang sama mengwahyukan seluruh bagian Alkitab, maka seluruh
bagian Alkitab tidak bertentangan satu sama lain. Jika terjadi pertentangan, maka bukan
pengertian Alkitab itu sendiri tetapi kesulitan pikiran manusialah yang memang
mempertentangkannya. Maka kembali lagi, presuposisi manusia didalam menghadapi
Alkitab adalah preuposisi keutuhan bukan dikonstruktif.

PENUTUP

Melalui tulisan ini, setiap orang Kristen dituntut berpegang teguh terhadap
kebenaran dari Allah yang telah dinyakininya dari semula. Berbagai upaya model-model
12

kenyakinan, kebudayaan dan filsafat dunia akan mempengaruhi keimanan kita yang
bertolak belakang dengan iman Kristen. Perlu sekali bahwa setiap orang kristen memiliki
Page

kacamata iman sebagai filter yang benar dalam melihat tantangan dan pengaruh sekular
ini yang terus-menerus mempengaruhi apa saja yang ada dalam dunia baik ekonomi,

12. www.heryanto.com
pendidikan, teknologi bahkan juga agama. Makanya dengan tulisan ini, sekedar untuk
menggelitik kita yang mungkin sedang diam terpana dengan keadaan dunia ini, supaya
kita dibangunkan untuk tidak terbawa arus dunia ini dengan berpegang teguh pada
kebenaran sesuai dengan iman kristen yang kita pegang. Sebagaimana peringatan yang
disampaikan oleh rasul Paulus : “ Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik,
peganglah apa yang ada padamu supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu”. ( I
Tes 5 : 21 ; Wahyu 3 : 11 )

DAFTAR PUSTAKA

1. Akbar Ahmed. Postmodernism and Islam. New York. Routledge.1992


2. Amir, Yasraf Piliang. Sebuah Dunia Yang Dilipat, Realitas Kebudayaan Menjelang
Milenium Ketiga Dan Matinya Postmodernisme. Bandung. Mizan. 1998.
3. Connor Steven. Postmodernist Culture : An Introduction To Theories Of The
Contempory. Oxford : Basil Blackwell. 1989.
4. D’costa Cavin. Mempertimbangkan Kembali Keunikan Agama Kristen. Jakarta. PT.
BPK Gunung Mulia. 2002..
5. Daun Paulus. Pdt. Apakah Universalisme itu ?. Manado. Yayasan “Daun Family”.
1990.
6. Douglos, Kellner. Baudrillard Reader. Blackwell. Cambridge, 1994.
7. Efferin Henry. Pascamodernisme dan kenyakinan Injli. Suatu Sorotan Dari Segi
Metodologi. Jurnal Pelita Zaman. 1999.
8. Fore. F William. Para Pembuat Mitos, Injil, Kebudayaan dan Media. Jakarta. PT.
BPK Gunung Mulia. 1999.
9. Genz J Stanley. A Primer On Postmodernism. William B Eerdmans. Grand Rapids.
M.I. 1996
10. Genz J Stanley. Postmodernisme, Sebuah Pengenalan. Jakarta, STT Reformed Injili
Indonesia.
11. GP. Harianto. Postmodrenisme dan Konsep Kekeristenan, Jurnal pelita Zaman 15/1.
2001.
12. Heitink Gerben. S.J.(ed) Hartono Heselaars Fred. Teologi Praktis Pastoral Dalam
Era Modernitas – Postmodernitas. Yogjakarta. Kanasius. 2003.
13. Heryanto Ariel, Postmodernisme, Yang Mana ? Tentang Kritik Dan Kebingungan
Dalam Debat Postmodernisme di Indonesia Dalam Jurnal Kalam, Edisi 1. Jakarta.
1994.
14. Jencks Charles. What is Post Modernisme ? New York, Martin’s Press. 1989.
15. John, Lechte. Key Contemporary Thinkers From Structuralis to Postmodernism.
Routledge, London. 1994.
16. Knitter F Paul. Satu Bumi Banyak Agama. Jakarta. PT.BPK Gunung Mulia. 2003.
17. Ladd Eldon George. Teologi Perjanjian Baru, jilid-2. Bandung. Yayasan Kalam
hidup. 1999.
18. Lundin Roger. The Culture Of Interpretation : Christian Faith And The Postmodern
World. Grand Rapids : Michigan : Wm.B.Eerdmans, 1993.
19. Postman Neil. Technopoly : The Surrender Of Culture To Technology. New York,
Vintage Books. 1993
20. S Thomas Kuhn. The Structure Of Scientific Revolutions, Edisi ke-2. Chicago.
University Of Chicago Press. 1970
21. Sairin Weinata. Pdt. Pilar Utama Kerukunan Berbangsa. Jakarta. PT.BPK Gunung
Mulia. 2002.
22. Sumartono.Th, dkk. Pluralisme Dan Dan Pendidikan Di Indonesia. Yogjakarta.
Pustaka Belajar. 2001.
13

23. Susabda B Yakub. Teologi Modern I. Surabaya. Pusat Literatur Kristen Momentum.
2001
Page

24. Tanja I Victor. Pluralisme Agama Dan Problem Sosial. Jakarta. PT. Pustaka
Cidesindo. 1998.

13. www.heryanto.com
14
Page

14. www.heryanto.com