Anda di halaman 1dari 16

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Baratawidjaja, Karnen Garna. 2006. “Imunologi Dasar Edisi Ke Tujuh”. Balai Penerbit FKUI : Jakarta

  • 2. Belanti, Joseph A. 1993. Imunologi III. Gadjah Mada University Pess : Jogjakarta. Hal: 551

  • 3. Faix, R. (2002) Immunization during pregnancy. Clinical Obstetrics and Gynecology. Hal: 42,44.

  • 4. Pezzutto, Antonio M.D & Gerd Bumester. 2003. Color Atlas of Immunology. Thieme Stuttgart: New York. Hal: 240

  • 5. Rabson, Arthur & Ivan M. Roitt. 2005. Really Essential Medical Immunology 2 nd Edition. Blackwell Publishing Ltd : United Kingdom. Hal: 127-134.

  • 6. Stanley, Jacqueline PhD. Clinical Immunology. 1999. Landes Bioscience: Texas. Hal: 240

  • 7. Guyton, Arthur C. dan John E. Hall. 2006. “Textbook of Medical Physiology”. Elsevier Saunders : Philadelphia.

  • 8. The Department of Immunization, Vaccines and Biologicals WHO. 2004. Immunization in Practise: A Practical Guide For Health Staff. World Health Organization : Switzerland. Hal: 4-24.

1. Pendahuluan

Tubuh manusia memiliki kemampuan untuk resisten terhadap kebanyakan tipe organisme atau toksin yang berpeluang merusak jaringan atau organ (imunitas). Kebanyakan imunitas adalah acquired immunity, yaitu suatu bentuk imunitas yang tidak berkembang sampai tubuh pertama kali terserang oleh bakteri, virus atau toksin, tidak jarang dibutuhkan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk mengembangkan imunitas. Aquired immunity sering memberikan pertahanan yang ekstrim. Misalnya, beberapa toksin seperti toksin paralitik botulinum atau toksin tetanus, sebanyak 100.000 kali jumlahnya dapat mematikan tanpa imunitas. Ini alasan mengapa proses penanganan yang dikenal sebagai imunisasi sangat penting dalam melindungi manusia terhadap penyakit dan toksin. Ketika antigen seperti mikroba, memasuki tubuh untuk pertamakalinya terjadi respon primer dimana antibodi dengan kadar rendah dapat dideteksi dalam darah setelah 2 minggu. Meskipun respon tersebut dapat mencukupi untuk melawan antigen, kadar antibodi akan jatuh kecuali ada penyerang lain dengan antigen yang sama dalam jangka waktu pendek (2-4 minggu). Penyerangan kedua menghasilkan respon sekunder dimana respon cepat oleh sel memori B menghasilkan peningkatan antibodi yang diproduksi. Peningkatan lebih jauh dapat diperoleh dengan penyerangan lebih lanjut meskipun kadar maksimum telah dicapai. Prinsip inilah yang digunakan dalam imunisasi. Pencegahan penyakit infeksi dengan imunisasi merupakan kemajuan yang besar dalam usaha imunoprofilaksis. Cacar yang merupakan penyakit yang sangat ditakuti, berkat imunisasi masal, sekarang telah dapat dilenyapkan dari muka dunia ini. Demikian pula dengan polio yang dewasa ini sudah dapat dilenyapkan di banyak negara. Imunisasi atau vaksinasi adalah prosedur untuk meningkatkan derajat imunitas, memberikan imunitas protektif dengan menginduksi respons memori

terhadap patogen tertentu/toksin dengan menggunakan preparat antigen nonvirulen/nontoksik. Imunitas perlu dikembangkan terhadap jenis antibobi/sel efektor imun yang benar. Antibodi yang diproduksi oleh imunisasi harus efektif terutama terhadap mikroba ekstraseluler dan produknya (toksin). Antibodi mencegah adherens mikroba masuk ke dalam sel untuk menginfeksinya, atau efek yang merusak sel dengan menetralisasi toksin.

2. Pengertian

Penggunaan

vaksin

didasarkan

pada

rangsangan

respons

imun

spesifik dalam hospes (imunisasi aktif) dan adapula yang berdasar pemindahan antibodi yang dibuat lebih dahulu (imunisasi pasif). Imunisasi aktif biasanya dikenal dengan vaksinasi.

Arti istilah ‘vaccine” (vacca: L;sapi), merujuk pada vaksinasi Jenner dengan cacar sapi, yang telah diperluas sampai mencakup setiap produk biologik yang dibuat dari mikroorganisme atau zat-zat biologik lain, misalnya allergen atau produk-produk tumor yang berguna dalam pencegahan atau pengobatan penyakit.

Meskipun prosedur imunisasi aktif dan pasif telah diterapkan pada sebagian penyakit infeksi, mereka masih sedang diuji pada area lain, seperti pencegahan dan pengobatan pada neonates, dan netralisasi obat- obat tertentu seperti digoxin.

a. Imunisasi Aktif

Dalam imunisasi aktif untuk mendapatkan proteksi dapat diberikan vaksin hidup/dilemahkan atau yang dimatikan. Vaksin yang baik harus mudah diperoleh, murah, stabil dalam cuaca ekstrim dan nonpatogenik. Efeknya harus tahan lama dan mudah direaktivasi dengan suntikan booster antigen. Baik sel B maupun sel T diaktifkan oleh imunisasi.

Keuntungan dari pemberian vaksin hidup/dilemahkan ialah terjadinya replikasi mikroba sehingga menimbulkan pajanan dengan dosis lebih besar dan respon imun d itempat infeksi alamiah. Vaksin yang dilemahkan diproduksi dengan mengubah kondisi biakan mikroorganisme dan dapat merupakan pembawa gean dari mikroorganisme lain yang sulit untuk dilemahkan.

BCG merupakan pembawa yang baik untuk antigen yang memerlukan imunitas sel CD4 atau salmonella sehingga dapat memberikan imunitas melalui pemberian oral. Imunisasi intranasal telah mendapat popularitas. Risiko vaksin yang dilemahkan ialah oleh karena dapat menjadi virulen kembali dan merupakan hal yang berbahaya untuk subjek imunokompromais.

Vaksin-vaksin yang sekarang tersedia dapat dibagi menjadi 4 golongan, yakni:

  • - Toksoid Istilah toksoid merujuk pada pembuatan toksin yang telah dibuat nontoksik tetapi masih menyimpan sifat-sifat imunogenik dank arena itu, berguna sebagai vaksin.

  • - Vaksin Seluruh Sel Bakteri (Inactivated Vaccines) Vaksin tipe ini dipreparasi dari sel bakteri yang telah diinaktifkan, baik dengan formalin ataupun agen lainnya. Contoh: BCG, vaksin pertusis, vaksin tifoid.

  • - Vaksin Virus (Split-Virus Vaccines) Merupakan vaksin yang dibuat dari sub-unit virus yang telah termurnikan/terpurifikasi.

  • - Vaksin Polisakarida kapsuler (Live attenuated viral) Merupakan vaksin yang dibuat dari polisakarida kapsuler organisme yang telah dimurnikan. b. Imunisasi Pasif

Prinsip dasar imunisasi pasif adalah penyuntikan antibodi dari hospes imun ke dalam hospes nonimun untuk memperoleh pengaruh profilaktik atau terapeutik yang diinginkan. Pada kebanyakan kasus, imunisasi pasif diperoleh dari imunoglobin yang berasal dari plasma manusia. Antibodi yang berasal dari manusia lebih disukai karena protein ini tidak menimbulkan respon imun yang mungkin merugikan, misalnya penyakit serum yang terlihat setelah penggunaan gamaglobulin asal binatang.

  • 3. Tujuan

Imunisasi atau imunoprofilaksis bertujuan untuk mencegah penyakit infeksi, berkembang dari pengamatan bahwa individu yang telah sembuh dari suatu infeksi spesifik tidak menderita penyakit itu lagi.

  • 4. Jenis-Jenis

Terdapat beberapa jenis vaksin yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit-penyakit tertentu. Setiap Negara memiliki ketentuan tersendiri mengenai vaksin mana yang akan digunakan. Dengan kata lain, terdapat jenis vaksin yang tidak digunakan oleh suatu Negara. Misalnya, vaksin yellow fever dan Japanese encephalitis yang hanya digunakan pada region/wilayah tertentu di dunia.

a. Diphtheria-pertussis-tetanus (DPT) DPT adalah vaksin yang dibuat dari diphtheria toxoid, tetanus toxoid,

dan vaksin pertussis. DPT merupakan vaksin dalam bentuk cairan. Jika vaksin DPT dalam vial disimpan dalam waktu lama akan terbentuk endapan di dasar vial sehingga harus digojog sebelum penggunaanya.

Keamanan dan Efek Samping DPT:

Reaksi yang ditimbulkan vaksin DPT biasanya cukup ringan, seperti:

Demam. Lebih dari 50% anak yang menerima vaksin ini akan terkena demam pada malam setelah pemberian injeksi. Demam ini biasanya

hilang dalam sehari. Pemberian paracetamol ataupun antipiretik lainnya 4 dan 8 jam setelah imunisasi dapat menurunkan insiden terjadinya demam dan reaksi lokal. Rasa sakit/ Soreness. Lebih dari 50% anak merasakan sakit, kemerahan, ataupun pembengkakan pada bagian yang diinjeksi vaksin.

Tipe vaksin

Difteria &Tetanus: Toksoid; Pertussis: seluruh sel bakteri

Jumlah Dosis

   
 

3 dosis primer Umur 6,10,14 minggu a

 

Jadwal pemberian Booster

Umur 18 bulan sampai 6 tahun b

Kontraindikasi

Reaksi

anaphylaksis

pada

pemberian sebelumnya

Efek samping

 

Perhatian

Reaksi lokal dan sistemik ringan DPT tidak boleh diberikan untuk

usia lebih dari 6 tahun

 

Dosis

0,5 ml

 

Intramuskular

Tipe pemberian injeksi Penyimpanan

2 0 C-8 0 C. Vaksin DPT tidak boleh dibekukan

- Terdapat beberapa variasi waktu pemberian tiga dosis utama pada

jadwal

imunisasi di Negara yang berbeda.

- Rekomendasi WHO mengenai dosis tambahan DPT setelah

menuntaskan dosis utama.

b. Vaksin Cacar (Measles vaccine)

Measles vaccine tersedia dalam bentuk serbuk dengan pelarutnya dipisahkan dalam vial yang berbeda. Sebelum digunakan, vaksin harus direkonstitusi dengan diluennya. Setelah itu, vaksin disimpan pada suhu 2°C– 8°C. Pada beberapa Negara, dikenal penggunaan kombinasi vaksin measles dan vaksin rubella (MR) ataupun kombinasi vaksin measles-mumps-rubella (MMR).

Keamanan dan Efek Samping

Biasanya terjadi reaksi ringan meliputi:

Soreness/ Rasa sakit. Beberapa anak merasakan sakit pada daerah injeksi 24 jam setelah imunisasi. Dalam kebanyakan kasus, reaksi ini akan reda dalam 2-3 hari. Demam. Sekitar 5% anak mengalami demam 5-12 hari setelah menerima vaksin ini. Ruam. Pada 1 dari 20 anak ditemukan ruam 5-12 hari setelah pemberian vaksin. Ruam ini akan hilang paling lama 2 hari. Reaksi berat measles vaccine jarang terjadi; anaphylaxis terjadi sekali dalam 1.000.000 administrasi dosis. Reaksi alergi berat dapat terjadi sekali setiap 100.000 dosis dan 1 kasus trombositopenia ditemukan setiap 30.000 dosis. Encephalitis dilaporkan kurang dari 1 setiap 1.000.000 dosis.

Tipe vaksin

Polisakarida kapsuler (Live attenuated viral)

Jumlah Dosis

Dosis primer

sekali.

Dosis

sekunder

diberikan tidak kurang dari 1 bulan setelah

pemberian dosis primer

 

Jadwal pemberian

Pada usia 9-11 bulan

 

Booster

Dosis sekunder sangat dianjurkan (secara rutin)

Kontraindikasi

Reaksi

berat

pada

dosis

sebelumnya,

kehamilan, kelaianan imunitas

Efek samping

Malaise,

demam,ruam,

tombositopenia

purpura idiophatic

Perhatian

-

Dosis

0,5 ml

Tipe pemberian injeksi

Subkutan

Penyimpanan

2 0 C-8 0 C (Vaksin dapat dibekukan dalam penyimpanan jangka lama, namun tidak demikian dengan diluennya).

c. Vaksin Kombinasi Measles-rubella (MR) dan Measles- Mumps- Rubella (MMR) Ada beberapa Negara yang mengkombinasikan vaksin measles dan rubella (MR) ataupun mengkombinasi vaksin measles, mumps, dan rubella (MMR). Vaksin MR dan MMR tersedia dalam bentuk serbuk dengan diluennya secara terpisah. Sebelum penggunaannya harus direkonstitusi terlebih dahulu. Vaksin MR dan MMR harus disimpan pada suhu 2ºC–8°C setelah rekonstitusi. Keamanan dan Efek Samping Reaksi-reaksi ringan sering terjadi seperti:

Demam. Seperti pada single-antigen measles vaccine, sekitar 5% hingga 15% anak mengalami demam ringan 5-12 hari setelah pemberian vaksin Ruam. Seperti halnya measles vaccine, sekitar 1 setiap 20 anak mengalami ruam ringan 5-12 hari setelah imunisasi. Reaksi-reaksi berat jarang terjadi. Terdapat dugaan adanya hubungan antara autisme dengan pemberian vaksin MMR, namun hal ini belum terbukti. Dengan adanya penambahan vaksin rubella, maka dapat ditemukan arthritis sementara 1-3 minggu setelah vaksinasi pada lebih dari 1 setiap 4 wanita post-pubertal. Reaksi ini sangat jarang terjadi pada anak-anak. Dengan adanya vaksin mumps dalam kombinasi ini, dapat menimbulkan parotitis dan aseptic meningitis (jarang terjadi).

Tipe vaksin

Live attenuated viral

Jumlah Dosis

Satu dosis (Dosis Primer)

Jadwal pemberian

Pada usia 12-15 bulan

Booster

Dosis sekunder dianjurkan (secara rutin)

Kontraindikasi

Reaksi berat pada dosis sebelumnya, kehamilan, kelaianan imunitas . Walaupun tidak dianjurkan untuk ibu hamil, belum

 

ditemukan bukti

yang

menunjukkan

gangguan pada janin

jika

vaksin

ini

 

Efek samping

diberikan pada ibu hamil. Sama dengan measles vaccine, ditambah arthritis pada remaja, aseptic meningitis,

dan parotitis.

Perhatian

-

Dosis

0,5 ml

Tipe pemberian injeksi

Subkutan

Penyimpanan

2 0 C-8 0 C (Vaksin dapat dibekukan dalam penyimpanan jangka lama, namun tidak demikian dengan diluennya).

d. Vaksin Oral Polio (OPV)

Oral polio vaccine (OPV) melindungi tubuh dari virus penyebab polio. Merupakan suatu vaksin berbentuk cair yang tersedia dalam 2 wadah penyimpanan:

  • 1. Botol plastik dengan penetes

  • 2. Vial dengan penetes yang ditempatkan pada plastik terpisah. WHO seperti dilansir pada Juli 2003, tidak merekomendasikan penggunaan IPV (Injection Polio Vaccine).

Keamanan dan Efek Samping

OPV hampir tidak menimbulkan efek samping. <1% yang divaksinasi dengan OPV mengalami diare dan sakit kepala pada pemberian vaksin.

Tipe vaksin

Live oral polio vaccine (OPV)

 

Jumlah Dosis

4 pada Negara endemik (termasuk dosis

Jadwal pemberian

bayi baru lahir) Pada bayi baru lahir*, 6, 10, 14 minggu

Booster

Dosis

tambahan

diberikan

dalam

penghambatan aktivitas polio

Kontraindikasi

-

Efek samping

Paralytic (Sangat jarang terjadi)

 

Perhatian

-

Dosis

2 drops

Tipe pemberian injeksi

-

Penyimpanan

2 0 C-8 0 C (Dapat

dibekukan

dalam

penyimpanan jangka lama).

* Pada Negara-negara endemic polio

e. Vaksin Tetanus toxoid (TT)

Tetanus toxoid (TT) vaccine merupakan vaksin yang memproteksi tubuh terhadap tetanus. Tersedia dalam bentuk sediaan cair dalam vial dan prefilled auto-disable injection devices. Adapun beberapa formulasi yang berbeda-beda pada vaksin tetanus:

• Vaksin TT yang memproteksi tubuh terhadap tetanus dan neonatal tetanus. • Vaksin DPT (diphtheria-pertussis-tetanus) , proteksi tubuh terhadap difteri, tetanus, dan pertussis (batuk rejan). • Vaksin DT (diphtheria-tetanus toxoids), proteksi tubuh terhadap difteri dan tetanus. Karena mengandung diphtheria toxoid dalam konsentrasi tinggi, DT tidak boleh diberikan pada anak usia di atas 6 tahun ataupun dewasa. • Vaksin Td (tetanus-diphtheria toxoids adult dose), merupakan vaksin yang sama dengan DT, namun dosis diphtheria toxoid pada Td jauh lebih rendah. Td dapat diberikan pada anak di atas 6 tahun ataupun dewasa, termasuk pada ibu hamil.

Pemberian vaksin TT dan Td pada ibu hamil tidak hanya melindungi sang ibu dari tetanus, tetapi juga sekaligus menghindarkan neonatal tetanus pada janin. Ketika vaksin TT dan Td diberikan kepada ibu hamil, antibodi yang terbentuk dalam tubuh sang ibu akan melalui fetus. Antibodi ini akan melindungi sang bayi saat dilahirkan dan beberapa bulan setelahnya. Pemberian 3 dosis TT atau Td dapat

memproteksi tubuh terhadap tetanus maternal dan neonatal paling tidak selama 5 tahun. Dalam penyimpanan jangka lama, vaksin yang mengandung tetanus

toxoid akan mengendap pada dasar vial. Oleh karena itu, vial harus dikocok sebelum penggunaan. Vaksin TT/DT/Td/DTP tidak boleh dibekukan.

Keamanan dan Efek Samping

Vaksin yang mengandung tetanus toxoid menyebabkan sedikit reaksi serius. Namun, reaksi ringan lebih sering terjadi. Reaksi ringan meliputi:

Rasa sakit. 1 dari 10 mengalami nyeri ringan dan kemerahan 1-3

hari setelah divaksin. Demam. 1 dari 10 mengalami demam setelah pemberian vaksin.

Tabel 1 (Jadwal imunisasi TT/ Td rutin pada wanita hamil)

Dosis TT/Td

Waktu Pemberian

1

Sedini mungkin pada masa kehamilan

2

4 minggu setelah TT 1

3

  • 6 bulan setelah TT 2 atau pada kehamilan berikutnya

4

  • 1 tahun setelah TT 3 atau pada kehamilan berikutnya

5

  • 1 tahun setelah TT 4 atau pada kehamilan berikutnya

Tipe vaksin

Toksoid DT, TT, dan Td

Jumlah Dosis

Paling kurang 2 dosis

Jadwal pemberian

Lihat Tabel 1

Booster

TT/Td setiap 10 tahun atau selama masa kehamilan. DT pada umur 18 bulan hingga

 

6 tahun

Kontraindikasi

Reaksi

anaphylactic

pada

dosis

Efek samping

sebelumnya Reaksi lokal dan sistemik ringan

 

Perhatian

-

Dosis

0,5 ml

Tipe pemberian injeksi

Intramuskular

Penyimpanan

2 0 C-8 0 C. Tidak boleh dibekukan

 

f. Vaksin Tuberculosis (BCG) Vaksin BCG merupakan singkatan dari Bacille Calmette-Guérin. Bacille

menggambarkan bentuk dari bakterinya; Calmette dan Guérin adalah nama orang-orang yang mengembangkan vaksin ini. Vaksin ini memproteksi tubuh terhadap tuberculosis. Vaksin BCG berbentuk serbuk dan harus direkonstitusi dengan diluennya sebelum digunakan.

Keamanan dan Efek Samping

Ketika vaksin BCG diinjeksikan, akan terjadi pembengkakan pada daerah suntikan yang akan hilang dalam 30 menit. Setelah 2 minggu, akan terbentuk bekas kemerahan yang akan hilang dalam 2 minggu. Terbentuk goresan sepanjang 5 mm. Reaksi ini adalah reaksi normal yang menandakan bahwa vaksin sedang bekerja. Reaksi- reaksi lain pada pemberian vaksin BCG adalah terbentuknya abses.

Tipe vaksin

Live bacterial

Jumlah Dosis

Satu

Jadwal pemberian

Sesegera mungkin setelah kelahiran

Booster

-

Kontraindikasi

Infeksi HIV simptomatik

Efek samping

Abses lokal dan lymphadenisis

Perhatian

Menggunakan jarum suntik khusus

Dosis

0,05 ml

Tipe pemberian injeksi

Intradermal

Penyimpanan

2 0 C-8 0 C (Vaksin boleh dibekukan, tetapi diluennya tidak boleh).

g. Vaksin Hepatitis B (HepB)

Vaksin hepatitis B (HepB) berbentuk cair dalam vial dosis tunggal dan

ganda. Karena vaksin HepB hanya mengandung 1 antigen, maka vaksin ini dikenal juga dengan vaksin monovalen. Vaksin HepB juga biasa dikombinasi menjadi DPT-HepB and DPT-HepB+Hib. Hanya vaksin HepB monovalen yang dapat diberikan pada bayi yang baru lahir. Jika disimpan dalam waktu lama, akan terbentuk endapan pada

dasar vial sehingga harus dikocok sebelum pemakaian. Vaksin ini tidak boleh dibekukan.

Keamanan dan Efek Samping

Vaksin HepB merupakan salah satu vaksin yang terbilang sangat aman. Reaksi ringan yang sering terjadi adalah rasa sakit dan demam.

Tipe vaksin

DNA Rekombinan

Jumlah Dosis

3 dosis

Booster

-

Kontraindikasi

Anavilaksis pada dosis sebelumnya

Efek samping

Kemerahan

Dosis

0,5 ml

Tipe pemberian injeksi

Intramascular

Penyimpanan

2 0 C-8 0 C (Tidak boleh dibekukan).

5. Keberhasilan

Vaksinasi dengan organisme yang diinaktifkan atau dilemahkan telah terbukti merupakan cara yang efektif untuk menambah daya tahan hospes dan pada akhirnya memberantas penyakit infeksi tertentu yang sering ditemukan dan serius itu.

Salah

satu

upaya

yang

paling

berhasil

dalam

lapangan

imunoprofilaksis yang dikembangkan dari sederetan pengamatan menyebabkan perkembangan vaksin yang akhirnya menghasilkan pemberantasan penyakit cacar. Pencegahan penyakit virus dengan vaksin menggambarkan satu kemenangan imunologi terbesar, misalnya pemberantasan penyakit tertentu yang memastikan atau yang membuat cacat pada menusia, seperti poliomielitis.

6. Penutup

Imunoprofilaksis merupakan suatu bentuk pencegahan penyakit melalui mekanisme peningkatan derajat imunitas melalui suatu proses imunisasi atau vaksinasi. Imunitas sendiri dapat diperoleh secara alami maupun buatan, dalam kondisi pasif, maupun aktif. Imunitas pasif diperoleh secara alami melalui transfer imunoglobulin kepada bayi atau fetus melalui kolostrum atau plasenta, sedangkan imunitas pasif buatan diperoleh melalui penyuntikan langsung suatu antibodi. Sedangkan untuk memperoleh imunitas aktif secara alami diperoleh melalui pengenalan sel T dan B serta kostimulasi beberapa faktor seperti sel sitotoksik T, sel memori B dan T. Imunitas aktif buatan diperoleh melalui penyuntikan suatu agen yang dapat memicu respon imunitas tubuh seperti virus atau bakteri yang dilemahkan/dimatikan atau pemberian suatu toksoid sebagai antitoksin. Kerberhasilan suatu vaksinasi diperoleh bila imunitas yang diperoleh melaui vaksinasi efektif dalam menciptakan ambang mekanis efektor imun yang adekuat dan sesuai serta populasi sel memori yang dapat berkembang, sehingga individu yang menerima vaksinasi akan memiliki imunitas terhadap patogen-patogen tertentu. Imunisasi (Imunoprofilaksis) harus dilakukan sesuai jadwal terutama pada anak-anak.

TUGAS IMUNOLOGI

IMUNOPROFILAKSIS

TUGAS IMUNOLOGI IMUNOPROFILAKSIS
 

OLEH :

NAMA

: SURYADI

NIM

: N 111 08 282

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2010