Anda di halaman 1dari 128

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pada hakikatnya tujuan adanya negara adalah untuk mewujudkan

kesejahteraan rakyat negara yang bersangkutan. Agar kesejahteraan rakyat

1
dapat terwujud perlu dilakukan pembangunan, namun praktek pembangunan

yang tampak cendrung berupa pembangunan ekonomi dan fisik, sementara

dampak dari pembangunan sering diabaikan. Pembangunan adalah

rangkaian kegiatan yang dilakukan manusia untuk menciptakan keadaan

hidup yang lebih baik. Pembangunan merupakan proses yang pada

umumnya direncanakan dengan sengaja dalam masyarakat untuk menuju

pada keadaan hidup yang lebih baik. 1

Untuk merealisasikan pembangunan pasti memanfaatkan sumber

daya alam sebagai bagian dari sumber daya lingkungan. Pemanfaatan atau

eksploitasi terlihat ada yang berupa pemanfaatan sumber daya alam yang

langsung, dan ada yang melalui proses pengolahan atau pengubahan bahan

mentah menjadi bahan jadi serta menghasilkan benda-benda atau barang

konsumsi yang bisa digunakan untuk pemenuhan kehidupan manusia yang

mempunyai nilai ekonomis.

Pembangunan ekonomi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi

akan menimbulkan dua macam akibat yaitu disatu pihak memberikan

1. Soerjono Soekanto. Permasalahan Dalam Kerangka Pembangunan di Indonesia,


Yayasan Penerbit Universitas Indonesia Jakarta, 1976. hal. 1.
2

dampak positif bagi kehidupan manusia berupa tersedianya barang dan jasa

dalam perekonomian, dilain pihak terdapat dampak negatif bagi kehidupan

manusia yang berupa pencemaran lingkungan dan menipisnya sumber daya

alam. Pencemaran lingkungan menyebabkan timbulnya gangguan kesehatan

dan kurang nyamannya kehidupan. Sedangkan berkurangnya persedian

sumber daya alam akan mengurangi kemudahan dalam penyedian barang

dan jasa bagi pemenuhan kebutuhan manusia.2

Kemajuan pesat yang telah dicapai dalam pembangunan untuk

meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat ternyata diiringi

oleh kemunduran kemampuan sumber daya alam seperti air, tanah, hutan

dan terkurasnya sumber daya alam seperti perikanan, tambang minyak dan

mineral lainnya seperti air tanah.3 Pelaksanaan Pembangunan yang

semangkin beragam juga menghasilkan produk sampingan seperti limbah,

sampah dan buangan baik dalam wujud padat, cair, gas maupun tingkat

tekanan dan kebisingan. Hasil sampingan tersebut perlu dijaga agar tidak

melampaui ambang batas dan daya tampung lingkungannya dalam hal

kemampuan lingkungan menerima, dan daya dukung bahan-bahan yang

mencemari lingkungan dalam batas yang belum membahayakan

ekosistemnya dan makhluk hidup. Jika daya tampung lingkungan di

lampaui, struktur dan fungsi dasar ekosistem penunjang kehidupan akan

rusak dan keberlanjutan fungsi lingkungan akan terganggu.4

2 . M. Suparmoko. Ekonomi Sumber Daya Alam Dan Lingkungan. Suatu Pendekatan


Teoritis. Penerbit BPFE Yokyakarta. 1997. hal. 17.
3 Aca Sugandhy. Penataan Ruang dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. PT. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta. 1999. hal. 20.
4 . Ibid. . hal. 21.
3

Melaksanakan pembangunan supaya dapat dicegah dan

ditanggulangi gangguan keseimbangan lingkungan (dampak lingkungan)

seminimal mungkin, maka diperlukan secara konsisten dan konsekwen

melaksanakan prinsip pembangunan berkelanjutan yang berwawasan

lingkungan. Dalam hal ini hukum lingkungan mempunyai peran strategis

dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, karena substansi hukum

lingkungan mengutamakan pencegahan dibanding penindakan. Karakter

hukum lingkungan yang demikian relevan dengan perujudan pembangunan

berkelanjutan yang berwawasan lingkungan yang menghendaki pencegahan

dibanding penanggulangan.

Pembangunan berwawasan lingkungan (Sustainable Development)

adalah pola kebijaksanaan pembangunan yang tidak mengganggu

keseimbangan ekosistem yakni pembangunan yang berorientasi kepada

pengelolaan sumber daya alam sekaligus mengupayakan perlindungan dan

pengembangannya. Dalam bahasa hukumnya pengelolaan lingkungan hidup

berdasarkan pelestarian kemampuan lingkungan yang serasi dan seimbang

untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan bagi peningkatan

kesejahteraan manusia. 5

Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan


6
menurut Lonergan seperti yang dikutip oleh Addinul Yakin ada tiga

dimensi penting yang harus dipertimbangkan, yaitu :

5 . Moh. Askin. Penegakan Hukum Lingkungan & Pembicaraan di DPR RI. Penerbit
Yarsif Watampone. Jakarta. 2003. hal. 33.
6 Addinul Yakin , Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan, Teori dan Kebijakan
Pembangunan Berkelanjutan. Akademika Presindo, Jakarta. 1977. hal.2.
4

1. Dimensi ekonomi yang menghubungkan antara pengaruh-pengaruh


unsur makroekonomi dan mikroekonomi pada lingkungan dan
bagaimana sumberdaya alam diperlakukan dalam analisis ekonomi.
2. Dimensi politik yang mencakup proses politik yang menentukan
penampilan dan sosok pembangunan, pertumbuhan penduduk, dan
degradasi lingkungan pada semua negara. Dimensi ini juga termasuk
peranan agen masyarakat dan struktur sosial dan pengaruhnya terhadap
lingkungan.
3. Dimensi Sosial Budaya yang mengaitkan antara tradisi atau sejarah
dengan dominasi ilmu pengetahuan barat, serta pola pemikiran dan
tradisi agama. Ketiga dimensi ini berintegrasi satu sama lain untuk
mendorong terciptanya pembangunan yang berwawasan lingkungan

Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut dalam konvensi

Stockholm di Swedia 1972 telah menindaklanjuti komitmen pembangunan

berwawasan lingkungan ke dalam peraturan perundang-undangan. Pasal 33

Ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

menjadi dasar hukum bagi penyelenggaraan lingkungan hidup dan bertujuan

untuk melestarikan kemampuan lingkungan hidup agar tetap dapat

menunjang kesejahteraan dan mutu hidup generasi mendatang.7 Penjabaran

lebih lanjut tertuang dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 Tentang

Ketentuan-ketentuan Pokok Lingkungan Hidup, dan diperbaharui dengan

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan

Hidup (UUPLH). Dewasa ini pembangunan nasional diselenggarakan

mengikuti prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan melalui visi, misi dan

program pembangunan nasional yang tertuang dalam Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 dan

sekaligus merupakan program Presiden selama 5 (lima) tahun mendatang.

RJPMN berisikan Strategi Pokok Penjabaran Agenda Pembangunan


7 . Andi Hamzah (2005). Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika. Jakarta, hal 30.
5

Nasional yang memuat sasaran pokok, arah kebijakan dan program-program

pembangunan yang harus dicapai, termasuk persoalan mengenai lingkungan

hidup.8

Salah satu instrumen yang sangat penting dalam pencegahan

perusakan dan pencemaran lingkungan adalah Analisis Mengenai Dampak

Lingkungan. Pembangunan yang diperkirakan menimbulkan dampak besar

dan penting bagi lingkungan wajib memiliki dokumen AMDAL, yang di

dalamnya terdapat prosedur atau mekanisme yang wajib ditempuh oleh

pemrakarsa/penanggung jawab usaha/kegiatan sebelum mendapat keputusan

dari komisi AMDAL atau instansi yang bertanggung jawab dalam bentuk

keputusan kelayakan lingkungan.

Usaha dan/atau kegiatan kemungkinan dapat menimbulkan dampak

besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi : 9

1. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam


2. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tak
terbarui
3. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan
pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta
kemerosotan sumber daya alamdalam pemanfaatan
4. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan
alam, lingkungan buatan, serta lingkungan social dan budaya
5. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian
kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar
budaya
6. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan dan jasad renik
7. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati
8. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk
mempengaruhi lingkungan hidup
9. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi, dan atau mempengaruhi

8 Bapenas, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-


2009, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 9.
9 Siswanto Sunarso. Hukum Pidana Lingkungan Hidup Dan Strategi Penyelesaian
Sengketa. Rineka Cipta. 2005. hal. 76.
6

pertahanan negara.

Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau

kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain : 10

1. Jumlah manusia yang akan terkena dampak


2. Luas wilayah penyebaran dampak
3. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
4. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak
5. Sifat kulatif dampak
6. Berbalik (reversible) atau tidak berberbaliknya (irrrever-sible) dampak

Pusat perhatian dari penelitian ini adalah pembangunan fisik

berupa Pembangunan Pusat Perdagangan/Pertokoan Modern. Pusat

perdagangan/pertokoan modern oleh banyak anggota masyarakat dianggap

sebagai simbol dari pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Pembangunan

pusat perdagangan/pertokoan adalah pembangunan yang wajib AMDAL,

baik sebelum dilakukan pra konstruksi, konstruksi maupun setelah

beroperasi.

Kualitas lingkungan hidup yang terus menurun ditunjukkan dengan

meningkatnya pencemaran air, udara dan atmosfer. Penerapan prinsip-

prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam sistem, organisasi, maupun

program kerja pemerintah baik di pusat maupun di daerah masih belum

berjalan dengan baik.11

Gerakan lingkungan hidup yang didominasi oleh lembaga-lembaga

non pemerintah di negara kita hampir selalu menumpuk pada persoalan

penegakan hukum yang lemah, tidak konsisten, dan tidak strategis, sehingga

10 Ibid. hal. 77.


11 RJPMN . Op. Cit. hal. 15.
7

12
merupakan penyebab penurunan kualitas lingkungan. Deskripsi demikian

memberi indikasi behwa penegakan hukum lingkungan di Indonesia

menemui berbagai kendala.

Kendala dalam penegakan hukum lingkungan dapat disebabkan

oleh beberapa faktor, diantaranya materi hukum itu sendiri, keseriusan

aparat penegak hukum yang ada, sarana dan fasilitas dalam penegakan

hukum, serta tingkat kesadaran hukum masyarakat yang masih rendah.13

Disamping beberapa faktor tersebut, kendala dalam penegakan hukum

lingkungan juga terletak dalam persoalan ekonomi. Alasan ekonomi kerap

jadi batu sandungan.14

Penerapan instrumen hukum dalam pengelolaan lingkungan mutlak

diperlukan. Salah satu instrumen hukum lingkungan yang berfungsi


15
mencegah pencemaran adalah perizinan. Izin merupakan syarat

administratif dalam melakukan suatu pembangunan berskala besar dan

berdampak penting bagi lingkungan, diharuskan memiliki dokumen Analisis

Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), seperti yang diamanatkan dalam

Pasal 15 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 dan Peraturan

Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis mengenai Dampak

Lingkungan Hidup, serta Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup

Nomor 17 Tahun 2001 Tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan

Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan


12 Serasi (Media Informasi Lingkungan Hidup, edisi April 2004), “ Kebijakan
Penegakan Hukum Lingkungan, Artikel , hal. 9.
13 Ibid, hal 53-56.
14 Serasi, Op. cit. hal. 13.
15 Siti Sundari Rangkuti, Hukum Lingkungan dan Kebijak sanaan Lingkungan Nasional.
2000. Airlangga University Press. hal. 55.
8

Hidup.

Pelanggaran terhadap ketentuan hukum mengenai pentingnya

dokumen AMDAL seolah-olah telah menjadi suatu penyimpangan hukum

yang biasa. Kasus demi kasus terjadi dibelahan bumi Indonesia, seperti

pembangunan industri, perkebunan, kehutanan, pertambangan dan prasarana

wilayah. Salah satu contoh pembangunan di bidang prasarana wilayah yang

pada mulanya mengabaikan prosedural AMDAL, yakni pembukaan jalan

Ladia Galaska di Aceh.16

Menariknya, hal ini juga terjadi di kota Padang sebagai ibu kota

Provinsi Sumatra Barat. Perubahan fungsi Terminal Lintas Andalas menjadi

Plasa Andalas telah menimbulkan berbagai kecaman dari masyarakat. Hal

ini disebabkan karena pembangunannya dilakukan sebelum dikeluarkannya

dokumen AMDAL. Pembangunan Plasa Andalas yang telah beroperasi

mulai bulan September 2005, jelas merupakan pelanggaran terhadap hukum

lingkungan.17 Namun pelanggaran tersebut diulang kembali dengan

dibangunnya Sentral Pasar Raya yang sebagiannya memanfaatkan lokasi

bekas Terminal Goan Hoat (terjadi peralihan fungsi terminal menjadi

bangunan pusat perdagangan) pada tanggal 3 Februari 2005, dan sekarang

sudah mulai beroperasi.18 Selain itu, pembangunannya diduga tidak sesuai

dengan Rencana Tata Ruang Kota Padang.

Tanpa dokumen AMDAL, maka survei dan penilaian atas daerah


16 Ibid, hal, 26.
17 WWW. Padangekspres.com. “ Kertas Posisi WALHI Sumatera Barat Terhadap
Peletakan Batu Pertama Plasa Andalas di Eks T L A “, Artikel.
18 LBH Padang (2005), Gugatan Perbuatan Melawan Hukum dengan Mekanisme
Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Action) Register Perdata No. 43/Pdt.9/2005 PN Padang. hal
11.
9

yang terkena dampak pembangunan tidak dapat diperhitungkan. Akibatnya

banyak kerugian yang ditimbulkan atas pembangunan itu. Kerugian tersebut

antara lain berasal dari para pedagang yang sebelumnya telah menjalani

aktivitas perdagangan tradisional di sekitar daerah (bekas) Terminal Goan

Hoat untuk mencari nafkah. Mereka mederita secara materi, akibat terkena

dampak pembebasan lahan. Disamping itu kemacetan, dan kesemrautan lalu

lintas kota di sekitar lokasi juga menjadi permasalahan baru lainnya.

Kerugian tersebut adalah kerugian yang telah nyata terjadi pada saat

pembangunan pra konstruksi.

Selain Kota Padang. Kota Bukittinggi juga melaksanakan

pembangunan pusat pertokoan modern yaitu Pasar Banto yang dibangun

kembali dengan nama Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto

Kota Bukittinggi. Pembangunan pusat perbelanjaan ini memang diharapkan

dapat memberi kontribusi bagi peningkatan pendapatan dan perekonomian

daerah , namun disisi lain kekhawatiran akan timbulnya dampak lingkungan

akibat pembangunan pusat perbelanjaan ini hendaknya juga menjadi

perhatian yang serius bagi pemerintah daerah kota Bukittinggi, sebab sejak

dibangunnya gedung parkir dan pusat perbelanjaan ini telah menimbukan

kemacetan karena padatnya arus lalu lintas angkutan kota dari berbagai

jurusan melalui pusat perbelanjaan ini. Hal ini kalau tidak segera dicarikan

solusinya tentu akan menimbulkan persoalan lingkungan yang baru, seperti

pencemaran udara akibat dari asap kendaraan angkutan kota yang yang

mobilitasnya cukup padat.


10

Pembangunan Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto

Kota Bukittinggi memang bukan kategori wajib AMDAL, kewajiban yang

harus dipenuhi adalah Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya

Pemantauan Lingkungan ( UPL). Meskipun demikian dampak lingkungan

harus di perhitungkan untuk dikelola, sehingga kota Bukittinggi sebagai kota

wisata di harapkan dapat memberikan kenyamanan bagi warga kota dan

masyarakat pengunjung kota Bukittinggi.

Berdasarkan Latar Belakang Permasalahan tersebut , maka penulis

tertarik untuk melakukan penelitian tentang penegakan hukum lingkungan

terhadap Pembanguan Pusat Perdagangan/Pertokoan modern yang

dituangkan dalam bentuk tesis dengan judul :

“ PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN TERHADAP PROYEK

PEMBANGUNAN PUSAT PERDAGANGAN SENTRAL PASAR

RAYA DI KOTA PADANG DAN PEMBANGUNAN GEDUNG

PARKIR SERTA PUSAT PERBELANJAAN PASAR BANTO KOTA

BUKITTINGGI ”

Alasan penulis memilih judul ini adalah : adanya kecendrungan

Pemerintah Daerah untuk membangun Pusat Perdagangan/Perbelanjaan di

Pusat Kota seperti halnya di Kota Padang dan Kota Bukittinggi yaitu dengan

dibangunnya Sentral Pasar Raya Kota Padang, Gedung Parkir dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi, dimana kedua pusat

perdagangan/perbelanjaan ini dibangun persis di jantung Kota yang

mobilitas masyarakatnya cukup tinggi. Dibangunnya pusat


11

pertokoan/perbelanjaan modern ini telah menimbulkan kemacetan dan

kesemrautan Kota yang pada akhirnya menimbulkan masalah terhadap

lingkungan

1.2. Rumusan Permasalahan

Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi permasalahan

dalam penulisan tesis ini adalah,

1. Bagaimanakah pelaksanaan ketentuan AMDAL bagi Pembangunan

Sentral Pasar Raya Padang dan ketentuan UKL, UPL bagi pembangunan

Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi ?

2. Bagaimanakah penegakan hukum lingkungan terhadap pembangunan

pusat perdagangan/perbelanjaan Sentral Pasar Raya dan pembangunan

Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittnggi

khususnya dalam pelaksanaan AMDAL, UPL dan UKL ?

3. Hambatan-Hambatan apa sajakah yang dihadapi dalam rangka

Penegakan Hukum Lingkungan terhadap pembangunan Sentral Pasar

Raya Padang, pembangunan Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan

Pasar Banto Kota Bukittinggi khususnya dalam pelaksanaan AMDAL,

UKL dan UPL ?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

a. Ketentuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)


12

khususnya AMDAL terhadap Pembangunan Sentral Pasar Raya

Padang, UKL dan UPL Pembangunan Gedung Parkir dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi.

b. Penegakan Hukum Lingkungan Terhadap Pembangunan Sentral

Pasar Raya Padang, pembangunan Gedung Parkir dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi, khususnya berkaitan

dengan AMDAL, UKL dan UPL

c. Hambatan dan langkah-langkah yang telah dilakukan dalam

rangka Penegakan Hukum Lingkungan Terhadap Pembangunan

Pusat Perdagangan/Perbelanjaan Modern di Kota Padang dan

Kota Bukittinggi khususnya dalam pelaksanaan AMDAL, UKL

dan UPL

1.4. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu

pengetahuan terhadap hukum lingkungan khususnya dalam pelaksanaan

AMDAL, UKL dan UPL terhadap Pembangunan Pusat

Perdagangan/Perbelanjaan di Kota Padang dan Kota Bukittinggi

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Pemerintah Daerah Kota Padang, dan Pemrintah

Daerah Kota Bukittinggi, diharapkan dapat menjadi

bahan referensi untuk evaluasi dalam penerapan hukum


13

AMDAL, UKL dan UPL di masa yang akan datang

b. Bagi Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah

(BAPEDALDA), diharapkan dapat menjadi dasar untuk

melakukan monitor dan penindakan hukum secara

administratif terhadap inkonsistensi penerapan Rencana

Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana

Pemantauan Lingkungan (RPL) dalam dokumen

AMDAL yang dibuat oleh pemrakarsa.

c. Bagi Pengelola Pusat perdagangan/perbelanjaan di Kota

Padang dan Kota Bukittinggi kedepan diharapkan dapat

menjadi pedoman untuk menjalankan ketentuan-

ketentuan yang termuat dalam Rencana Pengelolaan

Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan

Lingkungan (RPL) sebagai syarat izin dalam

menyelenggarakan usaha

d. Bagi Masyarakat dan khalayak umum, diharapkan dapat

meningkatkan kesadaran berpartisipasi dalam mengelola

dan memantau dampak lingkungan dari pembangunan

pusat perdagangan/perbelanjaan .

1.5. Kerangka Teoritis dan Kerangka Konseptual

1.5.1 Kerangka Teoritis

1.5.1.1 Teori Penegakan Hukum

Hukum merupakan sarana yang didalamnya


14

terkandung nilai-nilai atau konsep-konsep tentang keadilan,

kebenaran, kemanfaatan sosial dan sebagainya. Kandungan

hukum itu bersifat abstrak. Menurut Satjipto Raharjo

sebagaimana dikutip oleh Ridwan HR, penegakan hukum

pada hakikatnya merupakan penegakan ide-ide atau konsep-

konsep yang abstrak itu. Penegakan hukum merupakan usaha

untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan. 19

Menurut Soerjono Soekanto bahwa penegakan hukum

itu terletak pada suatu kegiatan yang menyerasikan hubungan

dari nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-

kaidah/pandangan-pandangan nilai yang mantap dan

mengejewantah dan sikap tindak sebagai rangkaian

penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan (sebagai

social engineering), memelihara dan mempertahankan

(sebagai social control) kedamaian pergaulan hidup.20

Menurut Soerjono Soekanto secara umum ada 5

(lima) faktor yang mempenguruhi penegakan hukum yaitu : 21

a. Faktor hukum itu sendiri;


b. Faktor penegak hukum yaitu pihak-pihak yang membentuk
maupun yang menerapkan hukum
c. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan
hukum
d. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum
tersebut berlaku atau diterapkan;
e. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan
19 . Ridwan HR. Hukum administrasi Negara. PT.RajaGrafindo. Jakarta. 2006. hal. 306
20 . Soerjono Soekanto. Faktor-Faktor Yang Penegakan Hukum. Jakarta. Bina Cipta.
1983. hal. 13.
21 . Soerjono Soekanto. Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum. Rajawali
Press. 1983. Jakarta. hal. 4-5.
15

rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam


pergaulan hidup.

Kelima faktor tersebut diatas saling berkaitan dengan

eratnya, karena merupakan esensi dari penegakan hukum serta

merupakan tolok ukur dari pada efektifitas penegakan hukum.

Menurut Mertokusumo sebagaimana dikutiop oleh

Gatot. P. Soemartono Penegakan hukum mempunyai makna,

bagaimana hukum itu harus dilaksanakan, sehingga dalam

penegakan hukum tersebut harus diperhatikan unsur-unsur 1.

kepastian hukum, 2. kemanfaatan, 3. keadilan. 22

1. Kepastian hukum menghendaki bagaimana hukumnya


dilaksanakan, tanpa peduli bagaimana pahitnya (fiat justitia
et pereat mundus : meskipun dunia ini runtuh hukum harus
ditegakkan). Hal ini dimaksudkan agar tercipta ketertiban
dalam masyarakat. Misalnya “Barang siapa mencemarkan
lingkungan maka ia harus dihukum,” ketentuan ini
menghendaki agar siapapun (tidak peduli jabatannya)
apabila melakukan perbuatan pencemaran lingkungan maka
ia harus dihukum.
2. Pelaksanaan penegakan hukum harus memberi manfaat
kepada masyarakat. Artinya peraturan tersebut dibuat
adalah untuk kepentingan masyarakat, sehingga jangan
sampai terjadi bahwa karena dilaksanakannya peraturan
tersebut, masyarakat justru menjadi resah. Contoh sebuah
pabrik konveksi yang mempekerjakan ribuah orang ditutup
karena ia telah mencemarkan lingkungan, hal ini tentu akan
menimbulkan keresahan baik masyarakat dunia usaha
maupun para pekerjanya. Mengapa tidak dicari jalan
keluarnya, misalnya menyeret pengelola perusahaan
tersebut ke Pengadilan, mewajibkan membayar pemulihan
lingkungan, tetapi kegiatan pabrik tetap berjalan dengan
pengawasan ketat disertai pengurangan produksi. Inilah
yang disebut dengan kemanfaatan dalam penegakan hukum
lingkungan.
3. Unsur ketiga adalah keadilan. Dalam penegakan hukum
keadilan harus diperhatikan, namun demikian hukum tidak
22 . Gatot. P. Soemartono. Hukum Lingkungan Indonesia. Jakarta. Sinar Grafika. hal. 65.
16

identik dengan keadilan, karena hukum sifatnya umum,


mengikat setiap orang, dan menyamaratakan ; bunyi
hukum: Barang siap mencemarkan lingkungan hidup harus
dihukum”, artinya setiap orang yang mencemarkan
lingkumgan harus dihukum tanpa membeda-bedakan
kedudukan atau jabatan siapa yang mencemarkan. Tetapi
sebaliknya, keadilan bersifat subjektif, individualistis dan
menyamaratakan, artinya adil bagi si A belum tentu adil
bagi si B, pencemar yang dimenangkan akan mengatakan
bahwa keputusan tersebut adil, tetapi hal itu tentu dirasakan
tidak adil bagi si korban.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa tanpa

kepastian orang tidak tahu apa yang harus diperbuatnya dan

akhirnya timbul keresahan. Tetapi apabila kita terlalu mengejar

kepastian hukum, terlalu ketat dalam mentaati peraturan hukum

akibatnya akan menjadi kaku dan akan menimbulkan rasa tidak

adil. Kalau dalam penegakan hukum hanya memperhatikan

kepastian hukum, maka unsur-unsur lainnya akan dikorbankan.

Demikian pula kalau yang diperhatikan hanyalah kemanfaatan,

maka kepastian hukum dan keadilan dikorbankan, demikian

seterusnya. Oleh karena itu dalam penegakan hukum

lingkungan ketiga unsur tersebut, yaitu kepastian, kemanfaatan

dan keadilan harus dikompromikan. Artinya ketiganya harus

mendapat perhatian secara proposional seimbang dalam

penanganannya, meskipun dalam praktek tidak selalu mudah

melakukannya.

1.5.1.2 Pembangunan Berwawasan Lingkungan


17

Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu ekosistem

terdiri dari berbagai daerah, masing-masing sebagai

subsistemyang meliputi aspek sosial budaya, ekonomi dan

fisik, dengan corak ragam yang berbeda antara subsistem yang

satu dengan yang lain, dan dengan daya dukung lingkungan

yang berlainan. Pembinaan dan pengembangan yang

didasarkan pada keadaan daya dukung lingkungan akan

meningkatkan keselarasan dan keseimbangan subsistem yasng

berarti juga menigkatkan ketahanan subsistem. 23

Menurut Emil Salim, secara umum lingkungan hidup

diartikan sebagai segala benda, kondisi, keadaan, dan

pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang kita tempati, dan

mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia.

Sedangkan Soejono mengartikan lingkungan hidup sebagai

lingkungan hidup fisik atau jasmani yang mencakup dan

meliputi semua unsur dan faktor fisik jasmaniah yang

terdapat dalam alam. 24

Pengertian pembangunan berwawasan lingkungan

menurut Pasal 1 butir 13 Undang-undang Nomor 23 Tahun

1997 adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan

mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan

yang berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup.

23. Harun M. Husein,Lingkungan Hidup, Pengelolaan dan Penegakan Hukumnya, Sinar


Grafika, Jakarta,t, hal. 48 .
24. Harun. M. Husein .Ibid, hal 7.
18

Mengacu pada The World Commission on

Enveronmental and Development menyatakan bahwa

pembangunan berwawasan lingkungan adalah proses

pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi masa

sekarang tanpa mengesampingkan atau mengorbankan

kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi

kebutuhannya. Selanjutnya Holdren dan Erlich dalam Zul

Endria (2003) menyebutkan tentang pembangunan

berkelanjutan dengan terpeliharanya Total Natural Capital

Stock pada tingkat yang sama atau kalau bisa lebih tinggi

dibanding dengan keadaan sekarang.

Pembangunan berkelanjutan yang dikonsep oleh Stren,

While, dan Whitney sebagai suatu interaksi antara tiga

sistem : Sistem biologis dan sumber daya , sistem ekonomi

dan sistem sosial, yang dikenal dengan konsep trilogi

keberlanjutan; ekologi-ekonomi,sosial. Konsep keberlanjutan

tersebut menjadi semangkin sulit dilaksanakan terutama di

negara berkembang.

Menurut Hariyadi sebagaimana dikutip oleh Zul

Endria (2003) pembangunan berwawasan lingkungan

memerlukan tatanan agar sumber daya alam dapat secara

berlanjut menunjang pembangunan, pada masa kini dan

mendatang, generasi demi generasi dan khususnya dalam


19

meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Prinsip

pembangunan berkelanjutan mencakup pemikiran aspek

lingkungan hidup sedini mungkin dan pada setiap tahapan

pembangunan yang memperhitungkan daya dukung

lingkungan dan pembangunan dibawah nilai ambang batas.

Sejak dilaksanakannya Konferensi Stockholm 1972,

masalah-masalah lingkungan hidup mendapat perhatian secara

luas dari berbagai bangsa. Sebelumnya sekitar tahun 1950-an

masalah-masalah lingkungan hidup hanya mendapat perhatian

dari kalangan ilmuan. Sejak saat itu berbagai himbauan

dilontarkan oleh pakar dari berbagai disiplin ilmu tentang

adanya bahaya yang mengancam kehidupan, yang disebabkan

oleh pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.25 Masalah

lingkungan timbul pada dasarnya karena :

a. Dinamika penduduk
b. Pemanfaatan dan pengelolaan
sumber daya yang kurang bijaksana
c. Kurang terkendalinya pemanfaatan
akan ilmu pengetahuan dan teknologi
maju
d. Dampak negatif yang sering timbul
dari kemajuan ekonomi yang
seharusnya posistif
e. Benturan tata ruang

Dengan adanya Stockholm Declaration,

perkembangan hukum lingkungan memperoleh dorongan yang

kuat. Keuntungan yang tidak sedikit adalah mulai tumbuhnya

25 . Harun. M. Husein, Ibid, hal. 1.


20

kesatuan pengertian dan bahasa diantara para ahli hukum

dengan menggunakan Stockhlom Declaration sebagai referensi

bersama. Perkembangan baru dalam pengembangan

kebijaksanaan lingkungan hidup didorong oleh hasil kerja

World Commission on the Enveronment and Development

(WCED). 26

WCED mendekati masalah lingkungan dan

pembangunan dari enam sudut pandang, yaitu; 27

a. Keterkaitan (interdependency)
Sifat perusakan yang kait mengkait (interdependent)
diperlukan pendekatan lintas sektoral antar negara.
b. Berkelanjutan (sustainability)
Berbagai pengembangan sektoral memerlukan sumber daya
alam yang harus dilesterikan kemampuannya untuk
menunjang proses pembangunan secara berkelanjutan.
Untuk itu perlu dikembangkan pula kebijaksanaan
pembangunan berkelanjutan dengan wawasan lingkungan
c. Pemerataan ( equity)
Desakan kemiskinan bisa mengakibatkan eksploitasi
sumber daya alam secara berlebihan, untuk itu perlu
diusahakan kesempatan merata untuk memperoleh sumber
daya alam bagi pemenuhan kebutuhan pokok
d. Sekuriti dan resiko lingkungan (securiry and environmental
risk)
Cara-cara pembangunan tanpa memperhitungkan dampak
negatif kepada lingkungan turut memperbesar resiko
lingkungan. Hal ini perlu ditanggapi dalam pembangunan
berwawasan lingkungan.
e. Pendidikan dan komunikasi (education and
communication)
Penduduk dan komunikasi berwawasan lingkungan
dibutuhkan untuk ditingkatkan di berbagai tingkatan
penduduk dan lapisan masyarakat.
f. Kerjasama Internasional (international cooperation)
Pola kerjasama internasional dipengaruhi oleh pendekatan
pengembangan sektoral, sedangkan pertimbangan

26. Ibid
27 . Ibid
21

lingkungan kurang diperhitungkan, karena itu perlu


dikembangkan pula kerjasama yang lebih mampu
menanggapi pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Untuk menganalisis berbagai kendala yang dihadapi

dalam pembangunan yang berwawasan lingkungan, maka dapat

digunakan keenam segi penglihatan tersebut di atas. masalah-

masalah tersebut adalah sebagai berikut; (1) perspektif

kependudukan, pembangunan ekonomi, teknologi dan

lingkungan; (2) pengembangan energi berwawasan lingkungan,

termasuk masalah C02, polusi udara, hujan asam, kayu bakar,

dan konversi sumber energi yang bisa diperbaharui dan lain-

lain; (3) pengembangan industri berwawasan lingkungan,

termasuk di dalamnya masalah pencemaran kimia, pengelolaan

limbah dan daur ulang; (4) pengembangan pertanian

berwawasan lingkungan, termasuk erosi lahan, diversivikasi,

hilangnya lahan pertanian, terdesaknya “habitat wildlife”, (5)

kehutanan, pertanian dan lingkungan, termasuk hutan tropis

dan diversitas biologi; (6) hubungan ekonomi internasional dan

lingkungan, termasuk disini bantuan ekonomi, kebijaksanaan

moneter, kebijaksanaan perdagangan, dan internasional

externalities; dan (7) kerjasama internasional.28

Selanjutnya dalam World Summit on sustainable

Development (WSSD) yang diselenggarakan di Johannesburg,

28 . R.M. Gatot P. Soemartono, Op. Cit, hal 35.


22

Afrika Selatan tanggal 26 Aguatus-4 Sepetember 2002

ditegaskan kembali kesepakatan untuk mendukung

pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development)

dengan menetapkan “The Johannesburg Declaration on

Sustainable Development” yang terdiri atas; 29

a. From our Origin to the future


b. From Stockholm to Rio de Janei to
Johannesburg
c. The Challenge we Face
d. Our Commitment to Sustainable
Development
e. Making it Happen

Sebagai tindak lanjut ditetapkan pula World Summit

Sustainable Development, Plan of Implementation yang

mengedepankan integrasi tiga komponen pembangunan

berkelanjutan yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan

sosial dan perlindungan lingkungan sebagai tiga pilar kekuatan.

Pada konfrensi Nasional Pembangunan Berkelanjutan yang

dilaksanakan di Yokyakarta tanggal 21 Januari 2004,

Kesepakatan Nasional dan Rencana Tindak Pembangunan

Berkelanjutan diterima oleh Presiden RI dan menjadi dasar

semua pihak untuk melaksanakannya.30

Dalam kaitannya dengan hal diatas, menurut Emil

Salim terdapat lima pokok ikhtiar yang perlu dikembangkan

dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan pembangunan

29. Siti Sundari Rangkuti, Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan Nsional,
Edisi ketiga, Airlangga University Press, Surabaya, 2005. hal. 59.
30. Ibid . hal. 60 .
23

yang berwawasan lingkungan, yaitu : 31

a. Menumbuhkan sikap kerja


berdasarkan kesadaran saling
membutuhkan antara satu dengan
yang lain. Hakikat lingkungan
hidup adalah memuat hubungan
saling kait mengkait dan
hubungan saling membutuhkan
antara satu sektor dengan sektor
lainnya, antara satu negara
dengan negara lain, bahkan
antara generasi sekarang dengan
generasi mendatang. Oleh karena
itu diperlukan sikap kerjasama
dengan semangat solidaritas
b. Kemampuan menyerasikan
kebutuhan dengan kemampuan
sumber alam dalam
menghasilkan barang dan jasa.
Kebutuhan manusia yang terus
menerus meningkat perlu
dikendalikan untuk disesuaikan
dengan pola penggunaan sumber
alam secara bijaksana.
c. Mengembangkan sumberdaya
manusia agar mampu
menanggapi tantangan
pembangunan tanpa merusak
lingkungan
d. Mengembangkan kesadaran
lingkungan di kalangan
masyarakat sehingga tumbuh
menjadi kesadaran berbuat.
e. Menumbuhkan lembaga
lembaga-lembaga swadaya
masyarakat yang dapat
mendayagunakan dirinya untuk
menggalakkan partisipasi
masyarakat dalam mencapai
tujuan pengelolaan lingkungan
hidup.

31. R.M. Gatot P. Soemartono, Op. Cit. hal 200.


24

1.5.1.3 Prinsip Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan dilakukan dilakukan oleh setiap negara,

baik negara maju maupun negara berkembang dengan maksud

untuk mensejahterakan warganya. Tetapi yang menjadi

keprihatinan sekarang adalah adanya desakan semakin keras

untuk melanjutkan pola pembangunan konvensional, terutama

di negara berkembang disebabkan oleh pertambahan

penduduk yang semakin banyak dan keinginan mengatasi

kemiskinan yang cukup parah.32

Untuk mempertahankan fungsi keberlanjutan dalam

meningkatkan kualitas hidup manusia maka ada beberapa

prinsip kehidupan yang berkelanjutan yang seharusnya

diadopsi kedalam pembangunan. Imam Supardi merinci

prinsip tersebut sebagai berikut :

a. Menghormati dan memelihara


komunitas kehidupan.
Prinsip ini mencerminkan kewajiban untuk peduli kepada
orang lain dan kepada bentuk-bentuk kehidupan lain,
sekarang dan dimasa datang.
b. Memperbaiki kualitas hidup
manusia
Tujuan pembangunan yang sesungguhnya adalah
memperbanyak mutu hidup manusia. Ini sebuah proses
yang memungkinkan manusia menyadari potensi mereka,
membangun rasa percaya diri mereka dan masuk kehidupan
yang bermanfaat dan berkecukupan
c. Melestarikan daya hidup dan
32. Imam Supardi. Lingkungan Hidup & Kelestariannya, Alumni Bandung 2003, hal.209
25

keanekaragaman bumi
Prinsip ini menuntut kita untuk :
1) Melesterikan sistem-
sistem penunjang
kehidupan
2) Melestarikan
keanekaragaman hayati
3) Menjamin agar
penggunaan sumber daya
yang dapat diperbaharui
berkelanjutan
d. Menghindari sumber daya yang
tidak terbarukan.
Sumber daya yang tidak terbarukan adalah bahan-bahan
yang tidak dapat digunakan secara berkelanjutan. Tetapi
umur mereka dapat diperpanjang dengan cara daur ulang,
penghematan atau dengan gaya pembuatan suatu produk
pengganti bahan-bahan tersebut
e. Berusaha untuk tidak melampaui
kapasitas daya dukung bumi.
Kapasitas daya dukung ekosistem bumi mempunyai batas-
batas tertentu. Sampai tingkat tertentu ekosistem bumi dan
biosfer masih bertahan terhadap gangguan atau beban tanpa
mengalami kerusakan yang membahayakan
f. Mengubah sikap dan gaya hidup
orang perorang
Guna menerapkan etika baru untuk hidup berkelanjutan,
kita harus mengkaji ulang tata nilai mensyarakat dan
merubah sikap mereka. Masyarakat harus memperkenalkan
nilai-nilai yang mendukung etika baru ini dan
meninggalkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan falsafah
hidup berkelanjutan
g. Mendukung kreatifitas masyarakat
untuk memelihara lingkungan
sendiri
h. Menyediakan kerangka kerja
nasional untuk memadukan upaya
pembangunan pelestarian. Dalam
hal ini diperlukan suatu program
nasional yang dimaksud untuk
menciptakan kehidupan yang
berkelanjutan
i. Menciptakan kerjasama global
Untuk mencapai keberlanjutan yang global, maka harus ada
kerjasama yang kuat dari semua negara. Tingkat
pembangunan di setiap negara tidak sama. Negara-negara
26

yang penghasilannya rendah harus dibantu agar bisa


membangun secara berkelanjutan

Kesembilan prinsip diatas, sebetulnya bukan

merupakan hal yang baru. Prinsip-prinsip tersebut

mencerminkan pertanyaan – pertanyaan yang telah sering

muncul dalam berbagai pemberitaan mengenai perlunya

persamaan hak, pembangunan yang berkelanjutan, dan

pelestarian alam.

Selanjutnya Sudharto P. Hadi mengemukakan empat

prinsip pembangunan berkelanjutan, yaitu:33

a. Pemenuhan kebutuhan dasar baik


materi maupun non-materi.
Pemenuhan kebutuhan materi sangat penting karena
kemiskinan dipandang baik sebagai penyebab maupun
hasil dari penurunan kualitas lingkungan. Kerusakan
lingkungan menyebabkan timbulnya kemiskinan dan
penurunan kualitas hidup, karena masyarakat tidak lagi
memiliki sumber daya alam yang bisa dijadikan aset untuk
menopang kehidupan.
Kebutuhan non-materi yang dicerminkan dalam suasana
keterbukaan, bebas dari rasa tertekan, demokratis yang
merupakan syarat penting bagi masyarakat untuk bisa
mengambil bagian dalam pengambilan keputusan yang
mempengaruhi kehidupan mereka. Keikutsertaan
masyarakat akan mampu meningkatkan kualitas
keputusan, karena sesungguhnya mayarakat adalah para
pakar lokal dalam arti lebih memahami kondisi dan
karakter lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka,
adanya kesempatan menyampaikan pendapat akan
menumbuhkan perasaan sebagai part of process.
b. Pemeliharaan lingkungan.
Berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan, ada dua
prinsip penting yaitu prinsip konservasi dan mengurangi
konsumsi. Pemeliharaan lingkungan hidup sebenarnya
sangat terkait dengan prinsip pemenuhan kebutuhan

33. Sudharto P. Hadi, Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan, Gadjah Mada


university Press, Yogyakarta, 2001 , hal . 44.
27

manusia. Bahkan jika kerusakan sudah sedemikian parah


akan mengancam
Eksistensi manusia itu sendiri. Tidak berlebihan jika
dikatakan bahwa penyebab pencemaran dan kerusakan
lingkungan adalah salah satu bentuk pelanggaran hak
asasi manusia (HAM). Oleh karena itu konservasi
dimaksudkan untuk perlindungan lingkungan. Sedangkan
prinsip mengurangi konsumsi bermakna ganda. Pertama,
mengurangi konsumsi ditujukan pada negara maju
sehubungan dengan pola konsumsi energi yang besar,
yang menyebabkan terjadinya polusi dan penurunan
kualitas lingkungan. Kedua , perubahan pola konsumsi
merupakan seruan yang ditujukan kepada siapa saja
(sebagai individu) baik di negara maju maupun di negara
berkembang agar mengurangi beban bumi.
c. Keadilan Sosial
Berkaitan dengan keadilan , prinsip keadilan masa kini
menunjukkan perlunya pemerataan dalam prinsip
pembangunan. Keadilan masa kini berdimensi luas
termasuk di dalamnya pengalokasian sumber daya alam
antara daerah dan pusat. Sedangkan keadilan masa depan
berarti perlunya solidaritas antar generasi. Hal ini
menunjukkan perlunya pengakuan akan adanya
keterbatasan (limitations) sumber daya alam yang harus
diatur penggunaannya agar tidak mengorbankan
kepentingan generasi yang akan datang.
d. Penentuan nasib sendiri
Penentuan nasib sendiri meliputi prinsip terwujudnya
masyarakat mandiri dan partisipatori demokrasi.
Masyarakat mandiri (self relient community) adalah
masyarakat yang mampu mengambil keputusan sendiri
atas hal-hal yang berkaitan dengan nasib dan masa
depannya. Hal ini termasuk penentuan alokasi sumber-
sumber daya alam. Sedangkan prinsip partisipasi
demokrasi adalah adanya keterbukaan dan transparansi.
Dengan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk
mengambil bagian dalam setiap proses pengambilan
keputusan yang menyangkut nasib mereka, maka
masyarakat akan merasa menjadi bagian dari proses
sehingga tumbuh rasa memiliki dan pada gilirannya bisa
memperoleh manfaat atas perubahan yang terjadi di
sekitar mereka.

Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan di atas,

akan bisa terwujud jika didukung oleh pemerintah yang baik


28

(good governance). Dari uraian tentang prinsip-prinsip

pembangunan berkelanjutan di atas, nampak bahwa konsep ini

menghendaki suatu transformasi dalam pola kehidupan dan

kelembagaan.

Jika interpretasi tentang pembangunan berkelanjutan

termasuk mengurangi konsumsi dari negara-negara industri,

maka agendanya akan meliputi perubahan perilaku dan gaya

hidup. Dalam hal ini berkaitan dengan bagaimana mendorong

konsumsi barang-barang non material dan jasa dari pada

energi dan barang-barang konsumtif.

1.5.2 Kerangka Koseptual

1.5.2.1 Istilah dan Pengertian Hukum Lingkungan

St. Munadjat Danusaputro seperti dikutip oleh

Supriadi menyebutkan beberapa peristilahan hukum

lingkungan dalam beberapa bahasa asing adalah : bahasa

Malaysia “Hukum alam seputar” bahasa Tagalok “Batas nan

kapaligiran” bahasa Thailand “Sin-ved-lom-kwahm”, bahasa

Jerman “Umweltrecht” bahasa Inggeris “Environmental

Law”, bahasa Belanda “Millieurecht”, bahasa Arab “Qanun

Al Bi’ah” sedangkan Indonesia memakai istilah Hukum

lingkungan. 34

Hukum lingkungan dalam pengertiannya yang


34 . Supriadi. Hukum Lingkungan di Indonesia Sebuah Pengantar. Jakarta. 2006. hal. 169
29

sederhana dapat diterangkan sebagai hukum yang mengatur

tatanan lingkungan (lingkungan hidup) dengan tujuan untuk

memelihara dan melindungi lingkungan hidup agar dapat

berlangsung secara teratur dan diikuti serta ditaati oleh semua

pihak. Oleh karena itu tujuan tersebut dituangkan kedalam

peraturan-peraturan hukum dengan demikian lahirlah apa

yang disebut hukum lingkungan.

Pasal 1 Undang-Undang No. 23 Tahun 1997

menyebutkan bahwa hukum lingkungan (lingkungan hidup)

adalah kesatuan ruang dan semua benda, daya dan keadaan,

dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang

mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan

kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

St. Munadjat Danusaputro seperti yang dikutip oleh

Mohammad Taufik Makarao membedakan antara hukum

lingkungan modern yang berorientasi kepada lingkungan atau

environment law dan hukum lingkungan klasik yang

berorientasi pada penggunaan lingkungan use-oriented law.

Hukum lingkungan modern menetapkan ketentuan dan

norma-norma guna mengatur tindak perbuatan manusia

dengan tujuan untuk melindungi lingkungan dari kerusakan

dan kemerosotan mutunya demi untuk menjamin

kelestariannya agar dapat secara langsung terus menerus


30

digunakan oleh generasi sekarang maupun generasi-generasi

mendatang. Sebaliknya hukum klasik menetapkan ketentuan

dan norma-norma dengan tujuan terutama sekali untuk

menjamin penggunaan eksploitasi sumber-sumber daya

lingkungan dengan berbagai akal dan kepandaian manusia

guna mencapai hasil semaksimal mungkin, dan dalam jangka

waktu yang sesingkat singkatnya. Hukum lingkungan modern

berorientasi kepada lingkungan, sehingga sifat dan wataknya

juga mengikuti sifat dan watak dari lingkungan dan dengan

demikian lebih banyak berguru kepada ekologi. Dengan

orientasi kepada lingkungan ini, maka hukum lingkungan

modern memiliki sifat utuh menyeluruh atau komprehensif-

integral, selalu berada dalam dinamika dengan sifat dan

wataknya yang luwes, sedang sebaliknya hukum lingkungan

klasik bersifat sektoral, serba kaku dan sukar berubah.35

Indonesia mempunyai sejarah perkembangan

Hukum Lingkungan ditinjau dari segi perangkat perundang-

undangannya, baik dari zaman Hindia Belanda, zaman

Jepang dan zaman Kemerdekaan. Pada zaman-zaman tersebut

telah banyak terlahir peraturan perundang-undangan yang

mengatur mengenai lingkungan, tapi sifatnya hukum

lingkungan klasik. Namun semangkin berkembang teknologi

35 Mohammad Taufik Makarao. Aspek-aspek Hukum Lingkungan. Pt. Indek Kelompok


Gramedia. Jakarta. 2006. hal. 3
31

dan globalisasi mengharuskan Indonesia melakukan

perubahan – perubahan atau perbaikan-perbaikan mengenai

peraturan lingkungan atau hukum lingkungan yang sifatnya

modern.

Setelah melalui periode yang cukup panjang, maka

masalah lingkungan hidup di Indonesia diatur dalam UU

Nomor 4 Tahun 1982 Tentang Ketentuan – ketentuan Pokok

Pengelolaan lingkungan hidup (UULH), yang memuat

ketentuan-ketentuan pokok dan mempunyai ciri sebagai

berikut :36

a. Sederhana tapi mencakup

kemungkinan perkembangan

dimasa depan, sesuai dengan

keadaan, waktu dan tempat

b. Mengandung ketentuan-ketentuan

pokok sebagai dasar bagi peraturan

pelaksanaan lebih lanjut

c. Mencakup semua segi di bidang

lingkungan hidup agar dapat

menjadi dasar bagi pengaturan lebih

lanjut masing-masing segi yang

akan dituangkan dalam bentuk

36 . Niniek Suparni. Pelestarian, Pengelolaan, dan Penegakan Hukum Lingkungan. Sinar


Grafika. Jakarta. 1994. hal. 56
32

peraturan sendiri

UU Nomor: 4 Tahun 1982 terdiri dari 10 Bab, 24

Pasal yang di dalam memuat instrumen penegakan hukum

lingkungan yaitu, administrasi, perdata dan pidana. Kemudian

UU Nomor : 4 Tahun 1982 ini disempurnakan menjadi UU

Nomor : 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan

Hidup (UUPLH), yang terdiri dari 11 Bab, 52 Pasal yang

memuat mengenai segala macam aspek mengenai hukum

lingkungan termasuk Baku Mutu Lingkungan, Amdal, Izin,

dan sebagainya. UU ini merupakan pembaharuan dan

penyempurnaan dari pengaturan lingkungan Indonesia,

sehingga pengelolaan lingkungan memiliki landasan yang

pokok. UUPLH mendasari kebijaksanaan lingkungan di

Indonesia dan memberi fokus dalam pengelolaan lingkungan

1.5.2.2 Penegakan Hukum Lingkungan

Penegakan hukum tidak hanya dapat diandalkan

pada ketegasan atau kerasnya penegakan hukum tersebut,

penegakan hukum yang dikendaki ialah penegakan hukum

yang tegas, tetapi arif dan bijaksana. Dalam penegakan hukum

lingkungan teknik pendekatan terhadap masalah pelanggaran

ketentuan pengelolaan lingkungan harus menggunakan teknik

pendekatan yang komprehensif – integral. Dalam corak


33

pendekatan yang demikian itu penegakan hukum yang

dilaksanakan guna menunjang terlanjutkannya pembangunan

berwawasan lingkungan.

Menurut Kleijs-Wijnnobel sebagaimana dikutip oleh

Takdir Rahmadi merumuskan lingkup dan pengertian

penegakan hukum lingkungan sebagai berikut :

De handhaving van het millieurecht beweegt zich op


verschillende rechtsgebieden. Zowel het bertuursrecht, het
strafrecht als het priveetrech spellen daarbij een rol . . .
Wordt handhaving omchreven als het door controle enhet
toepassen . . . van administratiefrechtlijke, strafrechtelijke of
privaatrechtlike middelen bereiken dat de algemeen en
individueel geldende rechtsregels en voorschriften worden
nageleefd . ( “ Penegakan hukum lingkungan bergerak
dalam berbagai bidang hukum. Baik hukum administrasi,
hukum pidana maupun hukum perdata memainkan
peranannya … Penegakan hukum diartikan sebagai
pengawasan dan penerapan sarana-sarana hukum
administrasi, hukum pidana atau hukum perdata agar
aturan-aturan hukum dan persyaratan-persyaratan yang
berlaku umum dan individu dipatuhi “) 37

Dari rumusan tersebut diatas dapat disimpulkan

bahwa dalam penegakan hukum lingkungan disamping

pelaksanaan pengawasan, juga mutlak diperlukan sarana

hukum administrasi, hukum perdata dan hukum pidana.

Dengan penggunaan sarana hukum tersebut berarti dalam

penegakan hukum lingkungan hidup sifatnya mencegah

terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup serta

menanggulani terjadinya pencemaran dan perusakan

37 Takdir Rahmadi. Hukum Pengelolaan bahan Berbahaya dan Baracun. Airlangga


University Press. 2003. hal. 23
34

lingkungan hidup.

Menurut Benjamin Van Rooij sebagaimana di kutip

oleh Lia Fajriani ada 6 (enam) faktor yang mempengaruhi

penegakan hukum lingkungan yaitu ; 38

1. Macro-levee political, social and economic factors (the


general contexs) factor-faktor social, ekonomi dan
politik tingkat makro. Factor ini mecakup :
a. Seberapa banyak sumber daya uang memang
dipergunakan atau dialokasikan untuk upaya
penegakan hukum
b. Apakah negara tersebut dalam masa krisis
c. Stabilitas sosial masyarakat atau negara yang
stabilitasnya kacau, jelas penegakan hukum
lingkungannya tidak berjalan
d. Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup.
Apabila kesadaran masyarakatnya tinggi, maka
penegakan hukumnya akan berjalan pula.
Faktor sosial ekonomi dan politik dapat
mempengaruhi penegakan hukum lingkungan. Bila
sosial ekonomi suatu negara tinggi, maka penegakan
hukum terlaksna dengan cepat, karena untuk
penegakan hukum lingkungan membutuhkan sarana
yang besar dan biaya yang tinggi dalam kegiatannya.
Negara membutuhkan dana yang tinggi untuk
pelestarian dan pengelolaan lingkungan hidup. Faktor
politik juga sangat mempengaruhi penegakan hukum
lingkungan, bila negara dalam keadaan kacau
bagaimana penegakan hukum dapat dilakukan, dan
pengaruh-pengaruh politik dari luar juga sangat
menentukan. Apabila negara hanya mementingkan
keuntungan sekelompok orang atau merugikan
masyarakat banyak, maka penegakan hukum
lingkungan sulit untuk dilaksanakan.

2. Law (faktor Undang-undang yang berlaku)


a. Apakah faktor hukumnya bebas dari pengaruh politik
atau tidak
b. Peraturan perundang-undangan. Apakah peraturan itu
memuat perlindungan hukum atau tidak dan apakah
cukup aspek perlindungannya

38 Lia Fajriani. Kepatuhan dan Penegakan Hukum Yang Berkaitan Dengan AMDAL,
UKL dan UPL di Kota Padang. .2005. Tesis.. hal. 13 - 18
35

c. Kejelasan dan kepastian hukum dari perundang-


undangan itu sendiri
d. Sanksi-sanksi dari hukum itu sendiri
e. Untuk menegakkan hukum lingkungan faktor yang
sangat menentukan adalah peraturan yang mengatur
hukum lingkungan itu sendiri. Apakah peraturan
mengenai hukum lingkungan sudah memadai atau
belum. Apakah dalam perundang-undangan tersebut
juga memuat sanksi-sanksi yang tegas terhadap pelaku
perusakan dan pencemaran lingkungan.
3. Intern – Institutional Factors (faktor-faktor antar
kelembagaan)
a. Kepemimpinan dari kelembagaan. Kepemimpinan ini
sangat berpengaruh dalam suatu kelembagaan untuk
penegakan hukum lingkungan. Apakah pemimpin
tersebut mampu memberikan arahan kepada
bawahannya untuk pengelolaan lingkungan hidup
b. Institusi-institusi pelengkap (lembaga pendukung)
misalnya dalam lingkungan Bapedal institusi
pelengkpanya adalah pihak kepolisian, ada peran serta
polisi dsan kejaksaan, dimana pihak-pihak tersebut
harus saling mendukung
c. Keputusan hukum untuk bertindak atau tidak terhadap
keluhan mengenai masalah lingkungan. Hal ini
tergantung pada keadaan dari si korban atau pengadu.
Ini dapat dilihat apabila korbannya lemah atau dari
golongan kurang mampu sering pengaduannya lamban
untuk ditanggapi dan sebaliknya. Disini berarti hukum
tergantung dari siapa pengadu yang mempunyai daya
sumber yang kuat maka hukum tersebut akan tegak
d. Si pelanggar, bagi si pelanggar berlaku hal yang sama
seperti pengadu. Apabila si pelanggar kuat maka
penegakan hukumnya lemah atau tidak berjalan dan
begitu juga sebaliknya.
e. Instansi sejenis. Seperti halnya Bapedal pusat dan
Bapedal daerah yang mempunyai kewenangan di
tempat yang berbeda. Dalam hal ini terdapat adanya
kerjasama antara instansi tersebut dalam menangani
masalah dan kasus-kasus lingkungan pada daerah
masing-masing
f. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan.
LSM diharapkan mampu membawa dan membantu
masyarakat dalam menyelesaikan masalah lingkungan.
g. Masyarakat setempat. Apabila tekanan dari
masyarakat kuat maka semangkin kuat pula penegakan
hukum lingkungannya.
36

4. Internal Institutional Factors (faktor-faktor internal


kelembagaan).
Suatu lembaga mempunyai suatu tujuan yang jelas untuk
menegakkan hukum lingkungan. Sumber daya alam yang
dimiliki baik itu berupa uang maupun peralatannya.
Begitu pula dengan budaya organisasi seperti disiplin
kerja dan semangat kerja. Hal tersebut sangat
mempengaruhi pada penegakan hukum lingkungan.
5. Case Ralated Factors (Faktor-faktor yang berhubungan
dengan kasus itu sendiri).
Faktor kasus, terkait pada siapa korban dan siapa
pelanggar. Apakah kasus tersebut sampai pada penegakan
hukum atau tidak, hal tersebut dapat dilihat dari faktor
keseriusan kasus tersebut.
6. Factors Related To The Individual agent ( faktor terkait
dengan pelaku individual).
Faktor ini menyangkut kinerja dari aparat hukum. Apakah
aparat hukum tersebut mampu menyelesaikan segala
permasalahan yang datang dari pengadu atau korban

1.5.2.3 Pembangunan Dan Lingkungan Hidup

Peningkatan usaha pembangunan sejalan dengan

peningkatan penggunaan sumber daya untuk menyokong

pembangunan dan timbulnya permasalahan-permasalahan

dalam lingkungan manusia. Pembangunan merupakan proses

dinamis yang terjadi pada salah satu bagian dalam ekosistem

yang akan mempengaruhi seluruh bagian. Kita tahu bahwa

pada era pembangunan dewasa ini, suber daya bumi harus di

kembangkan semaksimal mungkin secara bijaksana dengan

cara-cara yang baik dan seefisien mungkin. 39

Dalam pembangunan, sumber alam merupakan

komponen yang penting karena sumber alam ini memberikan

39. Imam Supardi, Lingkungan Hidup dan Kelesteriannya. Alumni, Bandung 2003. hal.
73
37

kebutuhan asasi manusia. Dalam pembangunan sumber alam

tadi hendaknya keseimbangan ekosistem tetap terpelihara.

Acapkali meningkatnya kebutuhan proyek pembangunan,

keseimbangan ini bisa terganggu, yang kadang-kadang bisa

membahayakan kehidupan umat. Kerugian-kerugian dan

perubahan-perubahan terhadap lingkungan perlu

diperhitungkan, dengan keuntungan yang diperkirakan akan

diperoleh dari suatu pembangunan. Itulah sebabnya dalam

setiap usaha pembangunan, ongkos-ongkos sosial untuk

menjaga kelestarian lingkungan perlu diperhitungkan. Sedapat

mungkin tidak memberatkan kepentingan umum masyarakat

sebagai konsumen hasil pembangunan tersebut.

Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan dalam

mengambil keputusan-keputusan demikian, antara lain adalah

kualitas dan kuantitas sumber daya alam yang diketahui dan

diperlukan ; akibat-akibat dari pengambilan sumber kekayaan

alam termasuk kekayaan hayati dan habisnya deposito

kekayaan alam tersebut. Bagaimana cara pengelolaannya,

apakah secara tradisional atau memakai teknologi modern,

termasuk pembiayaannya dan pengaruh proyek pada

lingkungan, terhadap memburuknya lingkungan serta

kemungkinnan menghentikan pengrusakan lingkungan dan

menghitung biaya-biaya serta alternatifnya.


38

Hal-hal tersebut di atas hanya merupakan sebagian

dari daftar persoalan, atau pertanyaan yang harus

dipertimbangkan bertalian dengan setiap proyek pembagunan,

juga sekedar menggambarkan masalah lingkungan yang masih

harus dirumuskan kedalam pertanyaan-pertanyaan kongkrit

yang harus dijawab. Setelah ditemukan jawaban-jawaban

yang pasti atas pertanyaan-pertanyaan tadi, maka disusun

pedoman-pedoman kerja yang jelas bagi pelbagai kegiatan

pembangunan baik berupa industri atau bidang lain yang

memperhatikan faktor perlindungan lingkungan hidup.

Dalam rangka pembangunan dan pemanfaatan

sumber-sumber alam yang dapat diperbaharui, hendaknya

selalu diingat dan diperhatikan hal-hal sebagai berikut ; 40

a. Generasi yang akan datang harus tetap mewarisi suatu

alam yang masih penuh sumber kemakmuran untuk dapat

memberi kehidupan kepada mereka

b. Tetap adanya keseimbangan dinamis diantara unsur-unsur

yang terdapat di alam

c. Dalam penggalian sumber-sumber alam harus tetap

dijamin adanya pelestarian alam, artinya pengambilan

hasil tidak sampai merusak terjadinya autoregenerasi dari

sumber alam tersebut.

d. Perencanaan kehidupan manusia hendaknya tetap dengan


40. Ibid. hal. 77
39

lingkungan dan terciptanya kepuasan baik fisik, ekonomi,

sosial, maupun kebutuhan spritual.

Selain itu dalam perencanaan dan pelaksanaan

proyek pembangunan dan penggalian sumber daya alam untuk

kehidupan harus disertai dengan :

1. Strategi pembangunan yang sadar akan permasalahn


lingkungan hidup, dengan dampak ekologi yang sekecil-
kecilnya.
2. Suatu politik lingkungan se-Indonesia yang bertujuan
mewujudkan persyaratan kehidupan masyarakat Indonesia
yang lebih baik untuk puluhan tahun yang akan datang
(kalau mungkin untuk selamanya)
3. Eksploitasi sumber hayati didasarkan tujuan kelanggengan
atau kelestarian lingkungan dengan prinsip memanen hasil
tidak akan menghancurkan daya autoregenerasinya
4. Perencanaan pembangunan dalam rangka memenuhi
kebutuhan penghidupan hendaknya dengan tujuan
mencapai suatu keseimbangan dinamis dengan lingkungan
hinggga memberikan keuntungan secara fisik, ekonomi,
sosial dan spritual.
5. Usahakan agar sebagian hasil pembangunan dapat
dipergunakan untuk memperbaiki kerusakan lingkungan
akibat proyek pembangunan, dalam rangka menjaga
kelestarian lingkungan
6. Pemakaian sumber alam tidak dapat diganti, harus
sehemat dan seefisien mungkin.

1.6. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah merupakan penelitian hukum sosiologis

(sociological legal research) yaitu dengan mengumpulkan bahan dari

peraturan-peraturan yang erat kaitannya dengan objek penelitian dan melihat

norma – norma hukum yang berlaku kemudian dihubungkan dengan

kenyataan atau fakta - fakta yang terdapat di lapangan. Pendekatan penelitian

ini berupa pendekatan undang-undang dan pendekatan kasus


40

1.6.1 Lokasi Penelitian

a. Penelitian lapangan (field research) dilakukan pada 2 (dua) daerah

di Provinsi Sumatera Barat yaitu :

1) Kota Padang, yaitu terhadap

Pembangunan Sentral Pasar

Raya, bekas Terminal Goan

Hoat Padang. Dibangunnya

bekas terminal ini sebagai

pusat

pertokoan/perbelanjaan

telah menimbulkan

kemacetan dan kesemrautan

kota yang pada akhirnya

menjadi masalah

lingkungan.

2) Kota Bukittinggi. Yaitu

terhadap pembangunan

Gedung Parkir dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto.

Pembangunan kembali Pasar

Banto ini juga menimbulkan

kemacetan dan kesemrautan


41

kota Bukittinggi yang

seyogianya harus indah dan

asri mengingat Bukittinggi

adalah Kota Wisata yang

menjadi pusat perhatian bagi

wisatawan baik dari dalam

maupun luar negeri.

Sebaiknya Pusat

Perdagangan / Pertokoan ini

dibangun kearah pinggiran

kota, sehingga citra Kota

Bukittinggi sebagai Kota

Wisata dapat dipertahankan

b. Penelitian Kepustakaan (library research) dilakukan :

1) Perpustakaan Daerah Sumatera Barat

2) Perpustakaan Universitas Andalas

3) Perpustakaan Pascasarjana Universitas Andalas

1.6.2 Pengumpulan data dan instrumen penelitian

Pengumpulan data lapangan dilakukan dengan cara :

a. Wawancara ( Interview)

Yaitu dengan melakukan wawancara bebas dengan para


42

informan yaitu para pejabat yang membidangi AMDAL di

Bapedalko Padang dan Bukittinggi serta pejabat yang

membidangi masalah perizinan di Dinas Tata Kota , Kota Padang,

dan Kota Bukittinggi dan juga melakukan wawancara dengan

beberapa orang eks pedagang yang pernah berusaha di Teminal

Goan Hoat Padang dan Pasar Banto Bukittinggi.

b. Dokumen

Maksudnya dengan melakukan pengambilan objek

dokumen-dokumen hasil monitoring atau objek surat dan kliping

Koran yang relevan dengan penelitian ini

1.6.3 Jenis Data

Jenis data terdiri dari :

a. Data Primer

Data primer merupakan sumber data yang diperoleh secara

langsung dari informan. Di dalam penelitian ini yang akan

menjadi informan adalah pejabat yang membidangi AMDAL di

Bapedalda dan pejabat yang membidangi perizinan di Kantor

Dinas Tata Kota

b. Data Sekunder yang terdiri dari :

1) Bahan Hukum Primer yaitu mempelajari peraturan perundang-

undangan tentang pengelolaan lingkungan hidup dan

peraturan-peraturan lainnya yang terkait dengan dokumen


43

AMDAL

2) Bahan Hukum Sekunder, yaitu mempelajari berbagai literatur

(buku-buku, makalah, laporan penelitian, jurnal) yang

berkaitan dengan masalah penegakan hukum lingkungan.

1.6.4 Pengolahan dan analisis data

Setelah data dikumpulkan kemudian dicatat, dianalisis dan

interpretasikan. Dalam menganalisa dihubungkan dengan peraturan

perundang-undangan yang terkait dan teori yang mendukung

penelitian ini. Setelah itu dirumuskan dalam bentuk uraian dan

akhirnya ditarik suatu kesimpulan sesuai dengan permasalahan yang

dikemukakan.
43
BAB II
ANALASIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL), UPAYA
PENGELOLAAN LINGKUNGAN (UKL) DAN UPAYA PEMANTAUAN
LINGKUNGAN (UPL)

2.1 Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu

proses studi formal yang digunakan untuk memprediksi dampak lingkungan

dari kegiatan pembangunan. AMDAL ini bertujuan untuk menjamin agar

dampak potensial dapat diketahui lebih dini dan ditangani pada tahap awal

rencana dan disain proyek. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Analisis

Mengenai Dampak Lingkungan bermanfaat untuk (1) memprediksi dampak

setiap kegiatan terhadap lingkungan hidup, (2) mencari jalan untuk

mengurangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positifnya, dan (3)

menyajikan hasil analisis serta alternatif bagi pengambilan keputusan

berkaitan dengan persyaratan penataan lingkungan hidup.41

AMDAL merupakan ketentuan yang penting dalam Undang-Undang

Lingkungan Hidup. Khususnya dalam upaya pembangunan yang

berkelanjutan (Sustainable Development). AMDAL dapat ditinjau dari

pengertian yuridisnya, yaitu berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun

1997 dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999.

Pasal 1 butir (21) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 dan Pasal 1

butir (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 menyatakan :

“Analisis mengenai dampak lingkungan adalah kajian mengenai dampak


41 . Moh. Askin. Op. Cit. hal. 47
45

besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan suatu usaha dan/atau kegiatan “

Berdasarkan rumusan diatas, AMDAL merupakan proses

pengambilan keputusan oleh instansi yang berwenang, apakah suatu rencana

usaha atau kegiatan dapat disetujui dan atau tidak untuk dilaksanakan.

AMDAL berfungsi sebagai suatu dokumen penting untuk memberikan

informasi mengenai rencana usaha yang akan dijalankan dan dampak

lingkungan yang timbul, serta untuk mengetahui langkah-langkah atau upaya

untuk mengendalikan dampak lingkungan tersebut. 42

Sehubungan dengan prosedur/tata laksana AMDAL Peraturan

Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 telah menetapkan mekanisme yang harus

ditempuh, sebagai berikut :

1. Pemrakarsa menyusun Kerangka Acuan (KA) bagi pembuatan dokumen

AMDAL, kemudian disampaikan kepada komisi AMDAL. KA yang

dimaksud diproses paling lama 75 hari kerja sejak diterimanya oleh

komisi AMDAL . Jika lewat waktu yang ditentukan ternyata komisi

AMDAL tidak memberikan tanggapan, maka dokumen KA tersebut

menjadi sah untuk digunakan sebagai dasar penyusunan ANDAL .

2. Pemrakarsa menyusun dokumen Analisis Dampak Lingkungan

(ANDAL) Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana

Pemantauan Lingkungan (RPL), kemudian disampaikan kepada instansi

yang bertanggung jawab untuk diproses, dengan menyerahkan dokumen


42 Frenadin Adegustara (2005) “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)”,
Makalah disampaikan pada kuliah Hukum Lingkungan. Fakultas Hukum Universitas Andalas,
Padang. hal.1-2
tersebut kepada komisi AMDAL untuk dinilai.

3. Hasil penilaian dari komisi AMDAL disampaikan kembali kepada

instansi yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan keputusan dalam

jangka waktu 75 hari. Apabila dalam jangka waktu yang telah

disediakan, ternyata belum diputus oleh instansi yang bertanggung

jawab, maka dokumen tersebut tidak layak lingkungan.

4. Apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan, ternyata instansi

yang bertanggung jawab mengeluarkan keputusan penolakan karena

dinilai belum memenuhi pedoman teknis AMDAL yang ada, maka

kepada pemrakarsa diberi kesempatan untuk memperbaikinya.

5. Hasil perbaikan dokumen AMDAL oleh pemrakarsa diajukan kembali

kepada instansi yang bertanggung jawab untuk diproses dalam memberi

keputusan sesuai dengan Pasal 19 dan Pasal 20 Peraturan Pemerintah

Nomor 27 Tahun 1999.

6. Apabila dari dokumen AMDAL dapat disimpulkan bahwa dampak

negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi, atau

biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibanding dampak

positifnya, maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan bahwa

rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak layak

lingkungan.43

Selanjutnya dalam prosedur/mekanisme AMDAL juga terdapat

adanya peran serta masyarakat (inspraak), karena adanya “asas terbuka” bagi

43 Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, Bab III Tentang
Tata Laksana, Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59.
47

masyarakat dalam memberikan masukan berupa saran, pendapat dan

sebagainya mengenai dokumen AMDAL dari suatu rencana usaha/kegiatan.

Hal ini dinyatakan secara tegas dalam Pasal 33 - Pasal 35 Peraturan

Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, kemudian penjabarannya diatur lebih

lanjut oleh keputusan kepala Bapedal RI Nomor 8 tahun 2000 tentang

Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam proses AMDAL.

Pelaksanaan rencana usaha atau kegiatan, harus ditindak lanjuti


44
dengan menempuh tahap perizinan. Dengan demikian terlihat danya

keterkaitan antara AMDAL dengan perizinan. Hal ini dinyatakan tegas dalam

pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Yakni :

Setiap Usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan


penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai
dampak lingkungan untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau
kegiatan.

Perizinan dapat ditempuh oleh pemrakarsa jika dokumen AMDAL

telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. Izin melakukan usaha

dari rencana usaha atau kegiatan dapat diberikan oleh instansi yang

berwenang dengan mencantumkan syarat dan kewajiban yang terdapat dalam


45
RKL dan RPL. Dokumen AMDAL berlaku seumur usaha atau kegiatan,

oleh karena itu, hal-hal yang tertuang dalam dokumen AMDAL harus ditaati

oleh pengelola, yang merupakan tindak lanjut pasca AMDAL akan

dilaporkan secara berkala kepada instansi yang melakukan pemantauan

lingkungan sesuai dengan tugas pokoknya dan instansi yang menangani

44 Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Keputusan Nomor 23/MPP/Kep/1998 tentang


Lembaga-Lembaga Usaha Perdagangan.
45 Frenadin Adegustara, op cit, hal 9
lingkungan hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota. 46

2.2 Peranan AMDAL Dalam Perencanaan Pembangunan

Otto Soemarwoto menyatakan bahwa pembangunan diperlukan untuk

mengatasi banyak masalah, termasuk masalah lingkungan. Namun

pengalaman menunjukkan bahwa pembangunan dapat membawa dampak

negatif terhadap lingkungan. Dampak negatif itu dapat berupa pencemaran

dan kerusakan lingkungan hidup. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa kita

harus memperhitungkan dampak negatif dan berusaha untuk menekannya

menjadi sekecil-kecilnya. Upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan

hal ini adalah dengan melakukan pembangunan yang berwawasan

lingkungan yaitu lingkungan diperhatikan sejak mulai pembangunan itu

direncanakan sampai pada operasi pembangunan itu. Dengan pemabngunan

berwawasan lingkungan maka pembangunan dapat berkelanjutan.

Makna Pembagunan Nasional bukan hanya untuk meningkatkan

ekonomi tetapi pada dasarnya mempunyai arti yang lebih luas dari

perkembangan ekonomi, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan dalam arti

luas dimana terkandung peningkatan mutu atau kualitas hidup. Untuk

mencapai tujuan ini sumber daya manusia merupakan peran utama dalam

memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam untuk kepentingan manusia

pula. Oleh karena itu untuk mengurangi kerusakan lebih lanjut, maka

kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya alam menjadi kunci utamanya.

46 Ester Simon, Sigit Reliantoro dan Dadang Purnama (2004), Tanya Jawab AMDAL,
Menjawab Berbagai Pertanyaan Umum Tentang AMDAL, Jakarta, hal 20
49

Manusia dengan segala kemampuannya akan selalu berintegrasi

dengan lingkungan hidupnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh

lingkungan hidupnya. Makin besar perubahan itu makin besar pula pengaruh

terhadap diri manusia. Untuk perubahan yang kecil manusia dengan mudah

menyesuaikan dirinya dengan perubahan itu, tetapi dengan perubahan yang

besar sering ada di luar kemampuan diri sehingga perubahan itu dalam hal-

hal tertentu dapat mengancam kelangsungan hidup.47

Makin maju teknologi, makin besar pula kemampuan manusia untuk

merubah lingkungan. Pengaruh perubahan lingkungan akibat suatu kegiatan

pembangunan terhadap masyarakat, ada yang memberikan keuntungan pada

kehidupan sosial ekonomi, tetapi ada pula yang menimbulkan kerugian

terhadap kesejahteraan rakyat sehingga menambah beban masyarakat dan

mengurangi manfaat dari pembangunan itu.

Uraian di atas dalam rangka pengelolaan sumber daya alam dan

lingkungan hidup maka nampak gambaran bagi proyek-proyek yang akan

dibangun atau yang telah berjalan, perlu diteliti sampai seberapa besar dapat

meningkatkan kulitas lingkungan hidup setempat. Selain itu terkandung pula

penegrtian seberapa besar dapat memaksimumkan manfaat (dampak positif)

terhadap lingkungan yang mengandung makna harus dapat menciptakan

kegiatan ekonomi baru dan penyedian fasilitas sosial ekonomi bagi

masyarakat setempat. atau sebaliknya malah menurunkan kualitas ligkungan

hidup dalam arti lebih banyak memberikan kerugian (dampak negatif) bagi

47.. Soeryono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
2003.
masyarakat sekitar.

Untuk mengatasi semua itu, analisa dampak lingkungan adalah salah

satu cara pengendalian yang efektif untuk dikembangkan. AMDAL bertujuan

untuk mengurangi atau meniadakan pengaruh-pengaruh buruk (negatif)

terhadap lingkungan dan bukan menghambat ektifitas ekonomi. AMDAL

pada hakekatnya merupakan penyempurnaan suatu proses perencanaan

proyek pembangunan dimana tidak saja diperhatikan aspek sosial proyek itu,

melainkan juga aspek pengaruh proyek itu terhadap sosial budaya, fisika,

kimia dan lain-lain. 48

Tujuan dan sasaran utama AMDAL adalah untuk menjamin agar

suatu usaha atau kegiatan pembangunan dapat beroperasi secara

berkelanjutan tanpa merusak dan mengorbankan lingkungan atau dengan

kata lain usaha tau kegiatan tersebut layak dari segi aspek liongkungan.

Sedangkan kegunaan AMDAL adalah sebagai bahan untuk mengambil

kebijaksanaan (misalnya perizinan) maupun sebagai pedoman dalam

membuat berbagai perlakuan penanggulangan dampak negatif.

Secara umum kegunaan AMDAL adalah :49

1. Memberikan informasi secara jelas mengenai suatu rencana usaha

berikut dampak- dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.

2. Menampung aspirasi, pengetahuan dan pendapat penduduk khusunya

dalam masalah lignkungan sewaktu akan didirikannya suatu rencana

proyek atau usaha

48. S.P. Hadi, Aspek sosial Amdal Sejarah, Teori dan Metode, Gadjahmada University
Press Yokyakarta, 1995
49. Ibid
51

3. Menampung informasi setempat yang berguna bagi pemrakarsa dan

masyarakat dalam mengantisipasi dampak dan mengelola lingkungan.

Selanjutnya dalam usaha menjaga kualitas lingkungan

Secara khusus AMDAL berguna dalam hal :

1. Mencegah agar potensi sumber daya alam yang dikelola tidak rusak,

terutama sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.

2. Menghindari efek samping dari pengolahan sumber daya terhadap

sumber daya alam lainnya, proyek-proyek lain dan masyarakat agar

tidak timbul pertentangan-pertentangan.

3. Mencegah terjadinya perusakan lingkungan akibat pencemaran

sehingga tidak mengganggu kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan

masyarakat.

4. Agar diketahui manfaatnya yang berdaya guna dan berhasil guna bagi

bangsa, negara dan masyarakat.

Melalui pengkajian AMDAL, kelayakan lingkungan sebuah rencana

usaha atau kegiatan pembangunan diharapkan mampu optimal

meminimalkan kemungkinan dampak lingkungan yang negatif serta dapat

memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efesien.

Munn (1979) sebagaimana dikutip oleh Helneliza, mengemukakan

bahwa AMDAL merupakan salah satu dari bagian perencanaan dalam rangka

menghasilkan tindakan pembangunan yang selaras dengan lingkungan.

memanfaatkan sumber daya lingkungan dengan sebaik-baiknya dan

menghindari degradasi. Di banyak negara AMDAL dinyatakan berhasil


menghambat laju kerusakan lingkungan. Hasil KTT Bumi di Rio de Jeneiro

telah membuktikan hal ini, dimana + dari 158 negara menyatakan berhasil

menghambat laju kerusakan lingkungan. AMDAL sebagai bagian yang

integral dari pembangunan berkelanjutan, memberi arti bahwa sekurang-

kurangnya dengan adanya AMDAL mengingatkan pemrakarsa supaya

memperhatikan kelestarian lingkungan. 50

Membangun sebuah proyek, sebelumnya tentu harus dilakukan

identifikasi masalah mengapa suatu proyek pembangunan ingin dilaksanakan

dan tentu saja harus jelas tujuan dan keguaannya. Selanjutnya diadakan studi

kelayakan secara teknik, ekonomis, dan lingkungan sebelum melangkah ke

perencanaan dari pembangunan proyek.

Pelaksanaan pembangunan proyek sebaiknya dimulai setelah hasil

AMDAL diketahui sehingga dapat dilakukan optimasi untuk mendapatkan

keadaan yang optimum bagi proyek tersebut. Dalam hal ini dampak

lingkungan dapat dikendalikan melalui pendekatan teknik dan pengendalian

limbah sehingga dapat menghasilkan biaya pengeluaran dampak yang murah

dan kelestarian lingkungan dapat dipertahankan.

Menurut Imam Supardi, pengelolaan lingkungan dalam usaha

menghindari kerusakan akibat dari satu proyek pembangunan baru dapat

dilakukan setelah diketahui dampak lingkungan yang akan terjadi akibat dari

proyek-proyek pembangunan yang akan dibangun. Untuk menghindari

terjadinya kegagalan dalam pengelolaan lungkungan, maka harus selalu

50. Herneliza. Evaluasi Dokumen AMDAL, Tesis Program Pasca Sarjana Unand. Padang.
2006
53

dilakukan pemantauan sejak awal pembangunan secara berkala. Hasil

pemantauan ini dapat dipakai untuk memperbaiki bahkan mengubah

pengelolaan lingkungan, jika memang hasil pemantauan tidak sesuai dengan

pendugaan pada AMDAL atau sebaliknya juga dapat dipakai untuk

mengoreksi pendugaan AMDAL yang mungkin kurang mengena. 51

Hasil AMDAL dapat diketahui apakah proyek pembangunan

berpotensi menimbulkan dampak atau tidak. Bila berdampak besar terutama

yang negatif, tentu saja proyek tersebut tidak boleh dibangun atau boleh

dibangun dengan persyaratan tertentu agar dampak negatif tersebut dapat

dikurangi sampai tidak membahayakan lingkungan. Dampak negatif yang

perlu diperhatikan adalah:

1. Apakah dampak negatif yang mungkin timbul itu melampaui atau tidak,

batas toleransi pencemaran terhadap kualitas lingkungan

2. Apakah dengan banyak yang akan dibangun ini atau tidak atau akan

menimbulkan gejolak terhadap banyak pembangunan lain atau

masyarakat

3. Apakah dampak negatif ini dapat mempengaruhi kehidupana atau

keselamatan masyarakat atau tidak

4. Seberapa jauh perubahan ekosistem yang mungkin terjadi sebagai akibat

pembangunan ini.

Bila berdasarkan AMDAL tidak akan menimbulkan dampak yang

berarti, maka proyek pembangunan dapat dilaksanakan sesuai usulan dengan

tetap berpedoman agar tetap memperhatikan dampak-dampak negatif yang


51. Imam Supardi, Lingkungan Hidup & Kelestariannya, Alumni, Bandung. 2003
mungkin timbul diluar perkiraan semula. Dalam hal ini, sebelum proyek

dilaksanakan harus ditentukan dulu pedoman pengelolaan dan pemantauan

lingkungan sebagai usaha menjaga kelestariannya. Perlu kiranya ditekankan

AMDAL sebagai alat dalam perencanaan harus mempunyai peranan dalam

pengambilan keputusan tentang proyek yang sedang direncanakan. Artinya

AMDAL tidak banyak artinya apabila dilakukan setelah diambil keputusan

untuk melaksanakan proyek tersebut. Pada lain pihak juga tidak benar untuk

menganggap AMDAL sebagi satu-satunya faktor penentu dalam

pengambilan keputusan tentang proyek itu. Yang Benar ialah AMDAL

merupakan masukan tambahan untuk pengambilan keputusan, disamping

masukan dari bidang teknis, ekonomi dan lain-lainnya. Misalnya dapat saja

terjadi laporan AMDAL menyatakan bahwa suatu proyek diprakirakan akan

mempunyai dampak lingkungan yang besar dan penting. Namun pemerintah

berdasarkan atas pertimbangan politik atau keamanan yang mendesak

memutuskan untuk melaksanakan proyek tersebut. Yang penting untuk

dilihat dalam hal ini adalah keputusan tersebut diambil tidak dengan

mengabaikan aspek lingkungan, melainkan setelah mempertimbangkan dan

memperhitungkannya. Dengan ini keputusan tersebut diambil dengan

menyadari sepenuhnya akan kemungkinan terjadinya dampak lingkungan

yang negatif. Maka pemerintah dapat melakukan persiapan untuk

menghadapi kemungkinan tersebut sehingga kelak tidak akan dihadapkan

pada suatu kejutan yang tidak menyenangkan dan tidak terduga sebelumnya.

Dengan persiapan ini dampak negatif dapat diusahakan menjadi sekecil-


55

kecilnya. 52

2.3 Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan

Lingkungan Hidup (UPL)

Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan

Lingkungan (UPL) bukan merupakan bagian dari Analisis Mengenai

Dampak Lingkungan (AMDAL) , oleh karena itu tidak dinilai oleh Komisi

AMDAL. Usaha Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Usaha Pemantauan

Lingkungan (UPL) diarahkan langsung oleh instansi teknis yang membidangi

dan bertanggung jawab atas pembinaan usaha atau kegiatan tersebut melalui

suatu petunjuk teknis sesuai jenis usaha atau kegiatannya.

Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan

Lingkungan (UPL) bersifat spesifik bagi masing-masing jenis usaha atau

kegiatan yang dikaitkan dengan dampak yang ditimbulkannya. Oleh karena

itu Pedoman Teknis UKL dan UPL ditetapkan oleh instansi yang

bertanggung jawab (sektoral) untuk setiap jenis usaha atau kegiatan yang

dikaitkan langsung dengan aktifitas teknis usaha atau kegiatan yang

bersangkutan. Pemrakarsa usaha atau kegiatan terikat pada dokumen yang

telah diisi dan ditandatanganinya, dan menjadi syarat-syarat pemberian izin

usaha atau kegiatan dimaksud.

Menurut R.M. Gatot P. Soemarwoto Pedoman Umum Upaya

Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan berfungsi

52.. Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Gadjah Mada University
Press, Yokyakarta, hal. 57
sebagai : 53

a. Acuan dalam penyusunan Pedoman Teknis Upaya Pengelolaan

Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan bagi

Departemen/ Lembaga Pemerintah Non Departemen Sektoral.

b. Acuan penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya

Pemantauan Lingkungan bagi pemrakarsa apabila Pedoman

Teknis UKL dan UPL dari sektoral belum diterbitkan

c. Instrumen pengikat bagi pemrakarsa untuk melaksanakan

pengelolaan dan pemantauan lingkungan.

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

dalam penyusunannya harus memenuhi beberapa kriteria yaitu :

1. Langsung mengemukakan informasi penting setiap jenis

rencana usaha atau kegiatan yang merupakan sifat khas

proyek tersebut, dan dapat menimbulkan dampak potensial

terhadap lingkungannya;

2. Informasi komponen lingkungan yang terkena dampak

3. Upaya pengelolaan dan pemantauan Lingkungan hidup yang

harus dilakukan oleh pemrakarsa pada tahap prakontruksi,

kontruksi maupun pascakontruksi

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

mencakup hal-hal sebagai berikut : 54

A. Rencana Usaha atau kegiatan

53. R.M. Gatot. P. Soemartono. Op. Cit. hal. 180


54. Ibid. hal. 181 - 183
57

Uraian secara singkat rencana usaha atau kegiatan yang akan

dilaksanakan oleh pemrakarsa, yang mencakup antara lain :

1. Jenis Usaha atau kegiatan

2. Rencana lokasi yang tepat dari rencana usaha atau

kegiatan, dan apakah telah sesuai dengan Rencana Umum

Tata Ruang (RUTR) atau tidak

3. Jarak rencana lokasi usahaatau kegiatan tersebut dengan

sumber daya dan kegiatan lain disekitarnya, seperti hutan,

sungai, pemukiman, industri dan lain-lain serta hubungan

keterkaitannya

4. Sarana/fasilitas yang direncanakan, yang mencakup

antara lain :

a. Luas areal yang digunakan untuk usaha atau

kegiatan yang meliputi antara lain : bangunan

utama, pemukiman tenaga kerja, panjang jalan

dan tata letak

b. Peralatan yang digunakan termasuk jenis dan

kapasitasnya

c. Jenis bahan baku serta bahan tambahan

maupun bahan lain yang dipergunakan yang

meliputi antara lain : jumlah, volume, sifat,

asal pengambilan, sistem pengangkutan, cara

penyimpanan dan sistem pembuangan akhir


bahan buangan;

d. Sumber air dan penggunaannya

e. sumber energi

f. Tenaga kerja yang digunakan

5. Proses produksi atau kegiatan yang

digunakan/dilaksanakan

B. Komponen Lingkungan

Uraian secara rinci mengenai Upaya pengelolaan Lingkungan

yang harus dilaksanakan oleh pemrakarsa

C. Dampak-dampak

Dampak-dampak yang akan muncul baik yang berupa limbah

atau polusi maupun bentuk lain yang mencakup :

a. Jenis dampak

b. Janis dampak dan ukurannya

c. Sifat dan tolok ukur dampak

D. Upaya pengelolaan Lingkungan

Uraian secara rinci mengenai Uapaya Pengelolaan Lingkungan

yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa.

E. Upaya Pemantauan Lingkungan

Uraian secara rinci mengenai Upaya Pemantauan Lingkungan

yang harus dilaksanakan oleh pemrakarsa, khususnya yang berkaitan

langsung dengan sifat kegiatan utamanya atau khasnya yang mencakup

antara lain
59

a. jenis dampak yang dipantau

b. lokasi pemantauan

c. waktu pemantauan

d. cara pemantauan

F. Pelaporan

Uraian secara rinci mengenai mekanisme pelaporan dari upaya

peneglolaan dan upaya pemantauan lingkungan pada saat rencana usaha

atau kegiatan dilaksanakan (instansi pembina, BAPEDAL, Pemda Tk I

dan Tk II setempat)

G. Pernyataan Pelaksanaan

Pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan upaya pengelolaan

lingkungan atas rencana usaha atau kegiatannya yang dilengkapi dengan

tanda tangan pemrakarsa

2.4 Instrumen Penegakan Hukum Lingkungan

Penegakan hukum lingkungan tidak dapat hanya diandalkan pada

ketegasan atau kerasnya penegakan hukum tersebut. Penegakan hukum yang

dikehendaki ialah penegakan hukum yang tegas, tetapi arif dan bijaksana.

Dalam penegakan hukum lingkungan teknik pendekatan terhadap masalah

pelanggaran ketentuan pengelolaan lingkungan harus menggunakan teknik

pendekatan yang komprehensif – integral. Dalam corak pendekatan yang

demikian itu penegakan hukum dilaksanakan guna menunjang terlanjutkan

pembangunan berwawasan lingkungan.


Undang-undang No. 23 tahun 1997 memuat tiga macam penegakan

dalam hukum lingkungan yaitu :

a. Penegakan Hukum Administrasi

b. Penegakan Hukum Perdata

c. Penegakan Hukum Pidana

Pada dasarnya setiap instrumen mempunyai jangkauan masing-

masing dengan tujuan tergantung dari kepentingan yang ingin diselesaikan.

Penegakan hukum tersebut akan diuraikan satu persatu pada bagian di

bawah ini.

2.4.1 Penegakan Hukum Administrasi

Pengeloaan lingkungan hidup tidak hanya tugas dari orang

perorangan, melainkan peran serta dari seluruh lapisan untuk

melestarikan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup yang

berkesinambungan terpelihara dan bersih merupakan kebutuhan para

warga serta diusahakan terwujudnya oleh administrasi negara dalam

pengelolaan lingkungan hidup. Lingkungan hidup mutlak diperlukan.

Peran pemerintah dalam pengelolaan lingkungan hidup menjadi

semangkin jelas, sehingga hukum administrasi negara mempunyai

peran yang amat penting. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh SF.

Marbun. 55

“ Semula hukum lingkungan sebagai hukum gangguan yang bersifat


sederhana dan mengandung aspek keperdataan, lambat laun

55 . SF. Marbun dkk. Dimensi-dimensi Pemikiran Hukum administrasi Negara. UII


Press. Yokya.2001. hal. 297
61

perkembangannya bergeser kearah bidang hukum administrasi


negara, sesuai dengan peningkatan peranan penguasa dalam bentuk
campur tangan terhadap berbagai segi kehidupan dalam masyarakat
yang semangkin komplek. Sebagai hukum lingkungan administrasi
terutama muncul apabila petusan penguasa yang bersifat
kebijaksanaan ditetapkan dalam bentuk ketetapan penguasa”

Penegakan hukum administrasi dalam penegakan hukum

lingkungan mempunyai dua fungsi yaitu bersifat prefentif dan

represif. Bersifat preventif yaitu berkaitan dengan izin yang

diberikan oleh pejabat yang berwenang terhadap pelaku atau

penanggung jawab kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri

terjadinya pelanggaran (Pasal 25 UUPLH).

Sanksi merupakan suatu hal yang penting dalam hukum

lingkungan begitu juga dalam hukum administrasi. Pentingnya

sanksi dalam hukum administrasi dimana bagi pembuat peraturan

tidak hanya melarang tindakan-tindakan yang bertentangan dengan

peraturan perundang undangan yang dapat dikaitkan pada suatu izin.

Pentingnya sanksi administrasi ini dalam UUPLH pun diatur sanksi

yang bagaimana yang seharusnya diberikan terhadap pelaku kegiatan

apabila telah diketahui telah terjadi pelanggaran. Dalam rangka

penegakan hukum lingkungan administrasi ada beberapa macam

sanksi administrasi yang biasa diberlakukan terhadap pelanggaran

yang dilakukan oleh pelaku kegiatan yaitu :56

a. Bestuursdwang (paksaan pemerintah)

56 . Philipus M. Hajon. Pengantar Hukum administrasi Indonesia. Gajahmada University


Press. Yokyakarta.1994. hal. 245.
b. Penarikan kembali keputusan yang

menguntungkan (izin, subsidi, pembayaran

dan sebagainya)

c. Pengenaan uang paksa oleh pemerintah

(dwangsom)

d. Pengenaan denda administratif (administrative

boete)

Pandangan Philipus M. Hajon diatas merupakan wujud

penegakan hukum administrasi yang berkembang di Belanda,

diharapkan dapat sebagai bahan pembanding dalam pembentukan

dan praktek hukum administrasi di Indonesia.

Mas Ahmad Santosa memberikan suatu bentuk piramida


63

dalam memberlakukan sanksi dalam penegakan hukum lingkungan.57

Pencabutan
Izin

Suspensi

Paksaan Pemerintah

Atau uang paksa

Audit wajib

Teguran III

Teguran II

Teguran I

Konsultasi & Bantuan Teknis Bagi Peningkatan


(pelanggaran karena ketidaktahuan)

Penataan sukarela (Atur Diri Sendiri)

Pemberlakuan sanksi administrasi sebagaimana tersebut

diatas diberlakukan secara sistematis dan bertahap (dari mulai yang

bersifat ringan, menengah sampai dengan yang berat)

UUPLH mengatur penerapan tiga jenis sanksi

administrasi yaitu :

1. Paksaan pemerintah Pasal 25 Ayat (1)

2. Pembayaran sejumlah uang tertentu Pasal 25 Ayat (5)

3. Pencabutan izin usaha dan/atau kegiatan Pasal 27 (1)

Penegakan hukum lingkungan di bidang lingkungan hidup


57 . Mas Ahmad Santosa. Good Governance Dan Hukum Lingkungan, ICEL, Jakarta,
2001. hal. 247
memiliki beberapa manfaat strategis dibandingkan dengan perangkat

penegakan hukum lainnya (perdata dan pidana) manfaat tersebut

adalah sbb:58

a. Penegakan hukum administrasi di bidang

lingkungan hidup dapat dioptimalkan sebagai

perangkat pencegahan

b. Penegakan hukum administrasi (yang bersifat

pencegahan) dapat lebih efesien dari sudut

pembiayaan dibandingkan penegakan hukum

pidana dan perdata. Pembiayaan untuk

penegakan hukum administrasi meliputi biaya

pengawasan lapangan yang dilakukan secara

rutin dan pengujian laboratorium lebih murah

dibandingkan dengan upaya pengumpulan bukti,

investigasi lapangan, mempekerjakan saksi ahli

untuk membuktikan aspek kausalitas (sebab

akibat) dalam kasus pidana dan perdata

c. Penegakan hukum administrasi lebih memiliki

kemampuan mengundang partisipasi

masyarakat.

Menurut Mas ahmad Santosa perangkat penegakan hukum

administrasi dalam sebuah sistem hukum dan pemerintahan paling

tidak harus meliputi izin, persyaratan izin dengan merujuk pada


58 .Ibid. hal 248
65

AMDAL, standar baku mutu lingkungan, peraturan perundang-

undangan, mekanisme pengawasan penataan, keberadaan pejabat

pengawas dan sanksi administrasi. Kelima perangkat ini merupakan

persyaratan awal dari efektifitas dari penegakan administrasi

dibidang lingkungan hidup.59

Pejabat yang berwenang menerapkan sanksi administrasi

paksaan pemerintah dan pembayaran sejumlah uang tertentu adalah

Gubernur. Gubernur dapat melimpahkan wewenang tesebut kepada

Bupati/Walikota. Untuk penerapan sanksi administrasi berupa

pencabutan izin usaha, yang berwenang adalah pejabat yang

mengeluarkan izin usaha yang bersangkutan. Gubernur hanya

berwenang mengusulkan pencabutan izin usaha kepada pejabat yang

berwenang mengeluarkan izin.

2.4.2 Penegakan Hukum Perdata

Penegakan hukum perdata merupakan suatu upaya hukum

dalam bentuk permintaan ganti rugi oleh korban pencemaran dan

perusakan lingkungan kepada pihak pencemar atau industri atau

perusahaan yang dianggap telah menimbulkan dampak pencemaran

lingkungan yang terjadi. Perbuatan dari pencemar dikatakan

melanggar aspek hukum perdata bila perbuatan tersebut terkandung

adanya unsur perbuatan melawan hukum yang dinyatakan dalam

Pasal 1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Unsur dari


59 . Ibid. Hal. 249
perbuatan melawan hukum itu adalah :

1. Adanya perbuatan melawan hukum

2. Adanya kesalahan

3. Adanya kerugian

4. Adanya hubungan sebab akibat antara

kegiatan dan kerugian

Penggunaan instrumen hukum perdata dalam penyelesaian

sengketa-sengketa yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup

pada hakekatnya memperluas upaya penegakan hukum dari perbagai

peraturan perundang-undangan, sebab :60

a. Melalui hukum perdata dapat

dipaksakan ketaatan pada norma-

norma hukum lingkungan, baik bersifat

hukum privat maupun hukum publik,

misalnya wewenang hakim perdata

atau larangan terhadap seseorang yang

telah bertindak secara bertentangan

dengan syarat-syarat izin yang

berkaitan dengan masalah lingkungan

hidup

b. Hukum perdata dapat memberikan

norma-norma dalam masalah

lingkungan
60 . Niniek Suparni. Op. Cit. hal. 160
67

c. Hukum perdata memberikan

kemungkinan untuk mengajukan

gugatan ganti rugi atas pencemaran

lingkungan terhadap pihak yang

menyebabkan timbulnya pencemaran

tersebut.

Penegakan hukum perdata dapat dilihat dalam Bab VII UU

No. 23 Tahun 1997 yang mengatur mengenai penyelesaian sengketa

lingkungan hidup. Sengketa lingkungan hidup ini subjeknya adalah

orang, yaitu pelaku dan korban pencemaran dan perusakan

lingkungan.

Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat dilakukan di

Pengadilan dan diluar pengadilan.61 Hal ini sebagaimana diatur

dalam Pasal 30 Ayat (1) UUPLH yang menyebutkan penyelesian

sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau

di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela oleh para

pihak yang bersengketa. Berarti disini para pihak bebas menentukan

jalur apa yang akan digunakan atau dipakai untuk menyelesaikan

sengketa yang mereka hadapi, apakah melaui jalur pengadilan atau di

luar pengadilan.

Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan

diatur dalam Pasal 31, Pasal 32 dan Pasal 33 UUPLH, sedangkan

61 Suparto Wijoyo. Penyelesaian Segketa Lingkungan. Airlangga University Press


Surabaya. hal. 9
untuk menyelesaikan sengketa melalui jalur pengadilan diatur dalam

Pasal 34, Pasal 35, sampai dengan Pasal 39.

Tindakan perdata dalam penegakan hukum lingkungan

merupakan suatu tindakan untuk membayar ganti kerugian atau

pemulihan kembali serta tanggung jawab mutlak dari perusahaan

(badan hukum) atau pelaku pencemaran dan perusakan lingkungan.

Biasanya yang paling banyak terkena pencemaran dan perusakan

lingkungan tersebut adalah masyarakat, bisa juga orang perorangan

yang kemudian mereka minta pertanggung jawaban dari pelaku.

Sehingga disini hakim dapat membebankan pada sipelaku untuk

melakukan suatu tindakan tertentu seperti ganti rugi dan tanggung

jawab mutlak. Hal ini diatur dalam Pasal 34 dan Pasal 35 UUPLH.

Pasal 34 UUPLH tidak menetapkan lebih kanjut mengenai

tata cara menggugat ganti kerugian. Pengaturan mengenai tanggung

gugat dan ganti kerugian masih berlaku Pasal 1365 BW, yaitu setiap

perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian pada

seseorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan

kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.

Berdasarkan ketentuan tersebut sulit bagi korban atau

penggugat untuk berhasil dalam gugatan lingkungan dan

kemungkinan kalah perkara sangat mungkin terjadi, sebab kesulitan

utama yang akan dihadapi adalah pembuktian dari tergugat sebagai

pencemar dan perusak lingkungan. Penderita akan menghadapi


69

kendala dalam membuktikan secara jelas limbah atau jenis kerusakan

atau pencemaran, karena untuk membuktikan itu semua memerlukan

dana yang cukup besar dengan ilmu pengetahuan tinggi dan terbentur

dari pada rahasia perusahaan.

Diketahui bahwa dalam kasus pencemaran lingkungan korban

pada umumnya awam soal hukum dan seringkali berada pada posisi

ekonomi lemah, bahkan sudah berada dalam keadaan sekarat,

sungguh berat dan terasa tidak adil mewajibkan penderita yang

memerlukan ganti kerugian justru dibebani membuktikan kebenaran

gugatannya.62. Menyadari kesulitan itulah alternatif konseptual yang

tersedia dalam hukum lingkungan keperdataan adalah merupakan

asas tanggung jawab mutlak.

Pasal 35 mengandung sistem “Liability Without Fault” atau “Strict

Liability”. Korban tidak perlu membuktikan kesalahan dari pelaku.

Adapun batasan dari sistem ini adalah kalau pencemaran atau

perusakan lingkungan tersebut menimbulkan dampak yang besar dan

penting, misalnya akibat dari pencemaran tersebut menimbulkan

korban yang banyak dan kematian, sehingga korban tidak perlu

membuka kesalahan dari pelaku.

Strict Liability meringankan beban pembuktian penggugat

karena unsur fault dalam strict liability dianggap tidak relevan.

Kegiatan-kegiatan yang dapat diterapkan dalam prisip strict liability

diatur dalam Pasal 35 UUPLH sebagai berikut :Usaha dan kegiatan


62 . Suparto Wijoyo. Op. Cit. hal. 87
yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan

hidup, kegiatan yang menggunakan bahan yang berbahaya dan

beracun, serta kegiatan yang menghasilkan limbah bahan berbahaya

dan beracun.

Terhadap penegakan hukum keperdataan, UUPLH juga

mengatur tentang prosedur pengajuan gugatan secara Class Actions

yang digunakan untuk gugatan perdata bila pihak yang dirugikan

berjumlah sangat besar sehingga gugatan individual apabila diajukan

satu persatu sangatlah tidak praktis bagi yang dirugikan, pihak

tergugat maupun pihak pengadilan.

2.4.3 Penegakan Hukum Pidana

Penegakan Hukum Pidana merupakan Ultimum remedium,

dimana tuntutan pidana merupakan akhir mata rantai yang panjang

bertujuan untuk menghapus atau mengurangi akibat-akibat yang

merugikan terhadap lingkungan hidup, mata rantai tersebut yaitu :63

1. Penentuan kebijaksanaan, desain dan perencanaan,


pernyataan dampak lingkungan
2. Peraturan tentang standar atau pedoman minimum
prosedur perizinan
3. Keputusan administratif terhadap pelanggaran,
penentuan tenggang waktu dan hari terakhir agar
peraturan diataati
4. Gugatan perdata untuk mencegah atau
menghambat pelanggaran pemberian denda atau
ganti rugi
5. Gugatan masyarakat untuk memaksa atau
mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan

63 . Harun M. Husin. Lingkungan Hidup, Pengelolaan dan Penegakan Hukumnya. Bumi


Aksara Jakarta. hal. 171
71

gugatan ganti rugi


6. Tuntutan pidana

Penegakan hukum lingkungan dengan instrumen pidana

sangat penting dalam mengantisipasi perusakan dan pencemaran

lingkungan. Banyak orang mengatakan instrumen hukum pidana

sebagai ultimum remedium atau senjata pamungkas yang paling

dahsyat dan mampu menuntaskan masalah penyakit kriminalitas

secara total dan tuntas.64 Suatu ancaman pidana tidak akan berarti

apa-apa tanpa disertai penegakan hukum atas pelanggarannya, oleh

sebab itu melaksanakan ketentuan pidana bukan lagi hendaknya

sebagai ultimum remedium akan tetapi hendaknya hukum pidana

digunakan sebagai premium remedium. 65

UUPLH mengatur banyak pasal tentang sanksi pidana, mulai

dari Pasal 41 sampai dengan Pasal 48 . Dalam hal ini tidak dibedakan

kualifikasi perbuatan pidana karena alpa/lalai dengan sengaja.

Kesemua perbuatan yang mencemarkan dan merusak lingkungan

hidup disebut dengan kejahatan lingkungan. Ancaman yang

diberikan terhadap pelaku pelanggaran hukum lingkungan yakni

berupa pidana penjara dan denda.

Kajian teoritik hukum pidana, tindak (perbuatan) pidana

dapat dibedakan atas delik materil dan delik formil. Delik materil

dapat dikenai sanksi pidana dalam hal akibat dari perbuatan pidana

yang dilakukan telah terjadi. Sedangkan delik formil perumusannya

64 . Ibid
65 Ibid
dititik beratkan pada perbuatan yang dilarang.66 Apabila dikaitkan

dengan pelanggaran hukum lingkungan, maka ketentuan pidana yang

dapat dikenakan adalah delik materil. Hal ini disebabkan karena,

meskipun dampak dari pelanggaran atau kejahatan lingkungan baru

akan dirasakan setelah bertahun-tahun kemudian, tetapi yang

terpenting adalah bahwa perbuatan melawan hukum lingkungan

tersebut telah dilakukan. Oleh karena itu bagi pelaku dapat

dikenakan sanksi pidana.

UUPLH merumuskan beberapa perbuatan yang semuanya

diklasifikasikan sebagai kejahatan yaitu :67

a. Kesengajaan melakukan perbuatan yang


mengakibatkan pencemaran lingkungan hidup.
b. Kesengajaan melakukan perbuatan yang
mengakibatkan perusakan terhadap
lingkungan hidup
c. Kealpaan melakukan perbuatan yang
mengakibatkan pencemaran lingkungan hidup
d. Kealpaan melakukan perbuatan yang
mengakibatkan perusakan lingkungan hidup.
e. Kesengajaan melepas atau membuang zat,
energi dan atau komponen lain yang
berbahaya
f. Kesengajaan memberikan informasi palsu atau
menghilangkan atau menyembunyikan atau
merusak informasi yang diperlukan dalam
kaitannya dengan butir (e)
g. Kealpaan melakukan perbuatan sebagaimana
disebutkan dalam butir (e) dan (f) diatas

Delik materil dalam UUPLH dapat dibedakan atas unsur

kesalahan, kesengajaan, kealpaan pelaku, kesengajaan sebagaimana

66 . Aria Zurneti dkk. (2002). “Hukum Pidana” Diktat Fakultas Hukum Universitas
Andalas. Padang. hal. 47
67 . RB . Budi Prastowo. Aspek – Aspek Hukum Pidana Dalam UU No. 23 Tahun 1997
Projustitia Th ke XXI Nomor 3 Juli 2003 hal. 66
73

dirumuskan dalam Pasal 41 Ayat (1) dengan ancaman hukum pidana

penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp.

500.000.000,- (lima ratus juta rupiah). Delik materil yang dilakukan

dengan kealpaan ancaman hukumannya adalah 3 tahun dan denda

maksimal Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah), dan kealpaan yang

menyebabkan orang mati atau luka berat, maka pelaku diancam

hukuman paling tinggi yaitu 5 tahun dan denda paling banyak Rp.

150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah)

Delik formil diatur dalam Pasal 43 dan Pasal 44 UUPLH.

Kedua Pasal ini meisyaratkan adanya peraturan administrasi untuk

menjatuhkan sanksi pidana kepada pelakunya. Perbuatan-perbuatan

yang terkena delik formil yang dirumuskan dalam Pasal 43 Ayat (1)

dan Ayat (2) adalah :

a. Dengan ketentuan perudang-undangan yang

berlaku, melepaskan atau membuang zat,

energi, dan/atau komponen lain yang

berbahaya dan beracun masuk diatas atau

kedalam tanah, udara, dan air

b. Melakukan impor, ekspor, memperdagangkan,

mengangkut, menyimpan bahan berbahaya

dan beracun

c. Menjalankan instalasi yang berbahaya.

Perbuatan yang terkena delik formil dalam Pasal 43 Ayat (2)


adalah :

a. Memberikan informasi palsu

b. Menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi

yang terkait dengan perbuatan yang disebut dalam Pasal 43 Ayat

(1)

Delik formil dapat dibedakan atas dasar unsur kesalahan

pelaku yaitu sebagai kesengajaan sebagaimana dirumuskan dalam

Pasal 47 Ayat (1) dan kealpaan sebagaimana dirumuskan dalam

Pasal 44 Ayat (1). Pasal 45 dan Pasal 46 UUPLH mengatur tentang

tanggung jawab korporasi, yaitu tindak pidana yang dilakukan oleh

atau atas nama badan hukum, perseroan, yayasan, tuntutan pidana /

sanksi pidana dijatuhkan kepada korporasi.

Menurut ketentuan Pasal 47 UUPLH disamping sanksi

pidana, korporasi yang melakukan tindak pidana bias juga dijatuhi

hukuman tata tertib seperti :

1. Perampasan keuntungan yang diperoleh dari


tindak pidana dan/atau
2. Penutupan seluruh atau sebagaiman perusahaan
dan/atau
3. Perbuatan akibat tindak pidana dan/atau
4. Mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan
dalam hak dan/atau
5. Meniadakan apa yang dilalaikan dalam hak
dan/atau
6. Menempatkan perusahaan dibawah pengampuan
paling lama 3 tahun

Penegakan hukum khususnya dan penegakan hukum

lingkungan khususnya suatu hal yang prinsip diterapkan adalah


75

keadilan, sebab adil menurut satu pihak belum tentu adil menurut

pihak lain. Menurut Aristoteles keadilan adalah kelayakan dalam

tindakan manusia (fairness in human action). Kelayakan merupakan

titik tengah diantara kedua ujung yang ekstrim yang terlalu banyak

dan terlalu sedikit. Dasar teori Aristoteles adalah prinsip persamaan.

Sementara itu Jeremi Bentham menyatakan tujuan hukum dalam

mewujudkan keadilan adalah mewujudkan kebahagian yang sebesar

besarnya untuk sebanyak-banyak orang.68

68 . Ali Ahmad. Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis). Gunung
Agung Tbk. Jakarta. hal. 267
74
BAB III

AMDAL PEMBANGUNAN SENTRAL PASAR RAYA DI KOTA PADANG


DAN UKL, UPL PEMBANGUNAN GEDUNG PARKIR DAN PUSAT
PERBELANJAAN PASAR BANTO KOTA BUKITTINGGI

3.1 AMDAL Pembangunan Sentral Pasar Raya Padang

3.1.1 Gambaran Umum Lokasi Pembangunan Sentral Pasar Raya

Padang

Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang

2004-2013 Lokasi Sentral Pasar merupakan salah satu wilayah dari

18 kawasan prioritas pengembangan dikota Padang sebagai kawasan

perdagangna/bisnis, jasa dan pariwisata. Luas lahan yang digunakan

untuk pembangunan Sentral Pasar Raya seluas 28.850 M2, merupakan

hak milik pemerintah dengan status hak pakai dalam bentuk HPL

selama konsesi 25 tahun.69

Secara geografis, lokasi Sentral Pasar Raya terletak pada

posisi 0° 46’ 33° - 0° 46’ 34° LS dan 100° 17’ 39° - 100° 17’ 40°

BT. Daerah ini berada pada ketinggian 1,5 – 2 meter mdpl dengan

batas-batas sebagai berikut :

1. Sebelah utara dengan komplek pertokoan jalan

Pasar Raya II

2. Sebelah Selatan dengan jalan M. Yamin

3. Sebelah timur dengan Pertokoan Duta Merlin

4. Sebelah Barat dengan dengan komplek pertokoan

69 . PT. Riska Engineering Konsultan. Laporan. Analisis Dampak Lingkungan Pembangunan


Sentral Pasar Raya . BAB IV hal. IV-3
77

sate laweh

Secara administratif lokasi Proyek Pembangunan Pusat

Pertokoan Modern Sentral Pasar Raya Padang terletak di Kelurahan

Kampung Jao Kecamatan Padang Barat. Berdasarkan Data Tahun

2004 penduduk di Kematan Padang Barat berjumlah 66.053 jiwa

dengan 16.433 KK. Sementara Kelurahan Kampung Jao sebagai salah

satu kelurahan di Kecamatan Padang Barat berpenduduk 6.486 jiwa

yang terdiri dari 3.044 jiwa laki-laki dan 3.442 jiwa perempuan.

Dibanding dengan kelurahan lain di Kecamatan Padang Barat,

Kelurahan Kampung Jao adalah kelurahan terluas yaitu 1,63 Km2,

tetapi dilihat dari kepadatan penduduk relatif terkecil yaitu 3,97 jiwa

per Km2 .

Kecamatan Padang Barat adalah daerah yang memiliki

pertumbuhan penduduk negatif, hal ini berarti bahwa di daerah ini

terjadi kecendrungan pengurangan jumlah penduduk. Penyebab

berkurangnya jumlah penduduk diantaranya adalah sudah makin

berkurangnya kawasan pemukiman di wilayah ini karena mahalnya

biaya perumahan, sehingga kawasan ini lebih banyak digunakan

untuk kawasan perkantoran dan bisnis. Untuk pemukiman saat ini

penduduk kota Padang cendrung memilih kawasan pinggiran kota,

disamping harga tanah yang masih relatif murah dan udara masih

bersih.

Pembangunan Pusat Pertokoan Modern Sentral Pasar Raya


merupakan suatu pengalihan fungsi dari suatu terminal kepada pusat

kegiatan baru yaitu pusat pertokoan atau perbelanjaan. Sebagai suatu

terminal , maka terminal Goan Hoat merupakan terminal tipe C yakni

terminal perkotaan. Seacara umum fungsi dari sebuah terminal adalah

sebuah titik sebagai awal dan berakhirnya suatu perjalanan. Secara

umum masyarakat menyambut baik kehadiran Sentral Pasar Raya.

Munculnya persepsi demikian lebih dilandasi oleh keinginan

masyarakat untuk menjadikan daerah tersebut menjadi lebih ramai.

Dengan semakin ramainya daerah sekitar diharapkan akan semakin

membuka peluang usaha lainnya seperti membuka warung-warung

jajanan, warung makan, toko, tempat kost bahkan akan membuka

peluang mereka untuk menyewakan rumah untuk usaha lainnya. Bagi

sebagian masyarakat persepsi tentang munculnya peluang kerja

menjadi pelayan toko atau bekerja di Sentral Pasar Raya tidak begitu

dominan, karena pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat memang

tersebar dan tidak terlalu terkonsentrasi di lokasi pemukiman saja.

Namun bagi para pedagang terutama yang terkena dampak langsung

pembangunan Sentral Pasar Raya yaitu pada Blok A,B,C,D,E dan F

serta para pedagang kaki lima (PKL) terutama yang berada disekitar

terminal Goan Hoat telah menimbulkan keresahan yang luar biasa

bagi kelangsungan usaha mereka. Hal ini terbukti dengan jauh

berkurangnya penghasilan mereka.

Untuk memperoleh data dan bahan guna penyempurnaan tesis


79

ini, penulis memperoleh data pada Kantor Badan Pengendalian

Dampak Lingkungan Daerah Kota Padang dan pada Kantor Dinas

Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Padang.

Sesuai dengan Ketentuan Peraturan Daerah Kota Padang

Nomor : 13 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Organisasi Lembaga

Teknis Daerah, Susunan Organisasi dari kantor Badan Pengendalian

Dampak Lingkungan Daerah Kota Padang adalah :

a. Kepala

b. Kepala Bagian Tata Usaha, membawahkan :

1) Sub Bagian Umum

2) Sub Bagian Keuangan

c. Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan,

membawahkan :

1) Sub. Bidang Penyuluhan dan Informasi

Lingkungan

2) Sub. Bidang Kajian Dampak

Lingkungan

d. Bidang Pelestarian, membawahkan

1) Sub Bidang Pelestarian Ekosistem

Darat, Laut dan Udara

2) Sub Bidang pelestarian lingkungan

industri

e. Bidang kelembagaan dan peran serta masyarakat,


membawahkan:

1) Sub Bidang Pengembangan dan

kerjasama antar lembaga

2) Sub Bidang Peningkatan Peran Serta

Masyarakat

f. Kelompok Jabatan Fungsional

Kemudian sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Padang

Nomor 12 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Organisasi Dinas

Daerah, Pasal 40 Ayat (1) menyatakan bahwa Susunan Organisasi

Dinas Tata Ruang dan tata Bangunan terdiri dari :

a. Kepala Dinas

b. Bagian Tata Usaha, membawahkan

1) Sub. Bagian Umum

2) Sub. Bagian Keungan

c. Bidang Pemetaan, membawahkan :

1) Seksi Survey dan pengukuran

2) Seksi pengolahan Sistem Basis Tata Ruang

d. Bidang Tata Ruang, membawahkan

1) Seksi Perencanaan Ruang Kota

2) Seksi Prasarana dan kelengkapan kota

e. Bidang Tata Bangunan, membawahkan

1) Seksi Pengarahan Arsitektur dan Kontruksi

2) Seksi perizinan
81

f. Bidang Pengendalian dan Penertiban,

membawahkan

1) Seksi Penyuluhan dan Pembinaan

2) Seksi Konservasi dan Penataan Lingkungan

g. Kelompok Jabatan Fungsional

3.1.2 Pelaksanaan AMDAL Pembangunan Sentral Pasar Raya

Padang.

Pembangunan Pusat Pertokoan Modern Sentral Pasar Padang

dibangun dengan biaya Rp. 225.000.000.000,- (Dua ratus dua puluh

lima miliar rupiah) dengan melibatkan PT. Cahaya Sumbar sebagai

penyandang dana. Total keseluruhan luas lahan 28.850 M2, total

keseluruhan bangunan (tahap I, II, dan III) 51.969.M2 . Dari

keterangan luas bangunan, jelas bahwa pembangunan Pusat

Pertokoan Sentral Pasar Raya Padang merupakan ketegori wajib

AMDAL. Hal ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam lampiran

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001

Huruf i (bidang prasarana Wialayah) butir 14. Ketentuan tersebut

menyatakan bahwa pembangunan perkantoran, pendidikan, Olah

Raga, Kesenian, Tempat ibadah, Pusat Perdagangan/Perbelanjaan,


yaitu pada luas lahan ≥ 5 Ha dan luas bangunan ≥ 10.000 M 2 .70

wajib melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

Pasal 15 Ayat (1) dan Pasal 18 Ayat (1) UUPLH No. 23

Tahun 1997 menyatakan “setiap rencana kegiatan yang kemungkinan

dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan

wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan”. Analisis

Mengenai Dampak Lingkungan merupakan syarat yang harus

dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan kegiatan.

Selanjutnya jabaran terhadap Usaha dan/atau kegiatan yang

dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan

hidup dinyatakan dalam Pasal 3 Ayat (1) Peraturan Pemerintah No.

27 Tahun 1999 meliputi :

a. Pengubahan bentuk bentang alam


b. Eksploitasi sumber daya alam, baik yang terbarui maupun yang
tak terbarui
c. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan
pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup serta,
kemerosostan sumber daya alam dalam pemanfaatannya
d. Proses dan kegiatannya dapat mempengaruhi lingkungan alam,
lingkungan hutan serta lingkungan sosial budaya;
e. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi
pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau
perlindungan cagar budaya.
f. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan , jenis hewan dan jenis jasad
renik
g. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati;
h. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar
untuk mempengaruhi lingkungan hidup
i. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi, dan atau mempengaruhi
pertahanan negara

Peralihan fungsi terminal Goan Hoat menjadi Sentral Pasar

70. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001, Penjelasan huruf i butir 14
Tentang Jenis Rencana Usaha / Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL
83

Raya Kota Padang , dimana poin (a), (c), dan (d) dalam Peratutran

Pemerintah No, 27 Tahun 1999, mejadi dasar bahwa pembangunan

Sentral Pasar Raya Kota Padang adalah Wajib AMDAL. Oleh karena

itu Pembangunan Sentral Pasar Raya Padang harus melalui

mekanisme AMDAL terlebih dahulu.

Penyusun Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), RKL,

RPL Sentral Pasar Raya Padang adalah PT. Riska Engineering

Konsultan. Format yang digunakan mengacu pada Surat Keputusan

Kepala BAPEDAL No. 9 Tahun 2000, Andal tersebut kemudian

disetujui oleh sidang komisi Amdal tanggal 14 Maret 2005, dan

ditetapkan sebagai Dokumen AMDAL (Kelayakan Lingkungan) oleh

Walikota Padang dengan Keputusan Walikota Padang No. 34 Tahun

2005 Tanggal 17 Maret 2005.

Pembangunan Sentral Pasar Raya Padang sebagai pusat

perdagangan regional dalam bentuk toko dan kios menpunyai fasilitas

modern seperti :71

a. Orientasi toko kedalam

b. Bangunan berlantai III dengan area parkir di top floor pada setiap

bangunan

c. Gedung parkir khusus berlantai 4

d. AC Central

e. Askalator

f. Lift barang
71. PT. Riska Engeneering Konsultan .Op. cit. hal. IV-4
g. Pendestrian (fasilitas pejalan kaki)

h. Pusat los lambung Kota Padang

Pembangunan Sentral Pasar Raya dilakasanakan dalam 3

(tiga) tahap

a. Tahap I

Area Terminal Goan Hoat (4.487 M2), bangunan berlantai

3:

1) satu lantai untuk Pemko, yaitu lantai III

2) Lantai I dan II dikelola oleh investor

3) Pada lantai atap untuk parkir dan dikelola bersama oleh

Pemko dan Investor.

Kondisi eksisting merupakan pangkalan terminal angkot

dan kegiatan pedagang kaki lima (PKL) yang jumlahnya 123

orang

b. Tahap II

Area Pasar Blok B, C, D, E dan F (6.609 M2)

dilaksanakan tahun 2006, bangunan berlantai 3 :

1) Satu lantai untuk Pemko, yaitu lantai 1

2) Lantai II dan III dikelola oleh Investor

3) Pada lantai atap untuk parkir dan dikolola bersama oleh

Pemko dan investor.

Kondisi Eksisting, merupakan pertokoan :


85

Blok B (lantai 1 = 63 petak dan lantai 2 = 25 petak) Kantror

Dinas Pasar dengan jenis barang yang dijual pada umumnya

barang elektronik/listrik, barang bekas, las/patri, gudang dan

warung makanan

Blok C (Lantai i = 130 petak dan lantai 2 = 68 petak) jenis

barang yang dijual umumnya kaset, perabot, pakaian, rumah

makan, jam, bengkel las, onderdil/oli, kasur, bahan bangunan,

alat listrikdan gudang.

Blok D (28 petak) jenis barang yang dijual onderdil mobil, tas,

perabot, tailor, pakaian, bofet minuman/makanan, alat tulis dan

karpet

Blok E. (21 petak) jenis barang yang dijual alat tulis, parabot,

sepatu, optik, pakaian, shawroom, penjahit dan rumah makan.

c. Tahap III

Area Blok A Pasar Raya Barat (4.469 M2) dilaksanakan

tahun 2007, bangunan berlantai 3 :

1) Satu lantai untuk Pemko, yaitu lantai 1

2) Lantai II dan III dikelola oleh investor

3) Pada lantai atap untuk parkir dan dikelola bersama oleh

Pemko dan investor

Kondisi eksisting, merupakan pertokoan :

Blok A (Lantai 1 dan 2 yang berjumlah ± 209 toko) jenis


barang yang dijual barang elektronik, listrik jam, pakaian anak-anak,

mesin jahit, sandal, pakaian, obat, dompet/ikat pinggang, bahan

kelontong, tas dan bofet makanan. (rincian penggunaan tanah

terlampir)

Ketentuan AMDAL Pembangunan Pusat Pertokoan Modern

Sentral Pasar Raya Padang memuat 3 (tiga) tahap yang harus dilalui :

1. Tahap Pra Kontruksi

a. Pembebasan lahan

Yakni penutupan terhadap keberadaan Terminal Goan

Hoat, dengan melakukan pemagaran yang bersifat non

permanen

b. Survei investigasi

Survei pendahuluan bertujuan untuk mengetahui

batas-batas lahan, keadaan awal kondisi fisik tanah dan

lingkungan, serta untuk perencanaan dan kelayakan site plan

dan keperluan utilitas dilakukan pemrakarsa bekerjasama

dengan PT, Indomegah Cipta Bangunan Citra. Tahap I

dilakukan pada Tahun 2004 dan untuk tahap II dan III

dilakukan pada Tahun 2005.

Survey topografi bertujuan melihat konfigrasi fisik

tanah untuk merencanakan luas bangunan yang tepat,

ketinggian bangunan dari permukaan tanah dan ketinggian

bangunan terhadap lingkungan sekitarnya. Sedangkan


87

kegiatan penyelidikan tanah bertujuan untuk mendapatkan

data kekuatan tanah yang datanya digunakan sebagai dasar

perencanaan untuk perencanaan struktur bawah bangunan.

Peralatan yang digunakan untuk survey topografi ini seperti

Theodolit T-2 (1 unit), EDM Sokhisa (1 unit) dan Auger bor

yang telah dilakukan pemrakarsa bekerja sama dengan

Laboratorium Material dan Struktur (LSM) Unand yang

dilaksanakan pada tahun 2004 dan tahap berikutnya

dilaksanakan pada bulan Agustus 2005.

Untuk mendukung penyusunan perencanaan teknis

yang meliputi perencanaan pmbangunan yang terdiri dari:

Site Plan, gambar teknis, dan rencana anggaran biaya sebagai

dasar untuk pelaksanaan pekerjaan kontruksi, disamping

untuk memperoleh Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Kegiatan ini juga meliputi persiapan untuk pekerjaan sipil,

arsitektural, mekanikal, elektrikal dan utilitas serta site

deveploment. Untuk perencanaan teknis tahap I dilaksanakan

pada tahun 2004 dan untuk tahap selanjutnya dilakukan

September 2005.
2. Tahap Kontruksi

Kegiatan tahap 1 yang dilaksanakan pada tahap

kontruksi meliputi kegiatan-kegiatan seperti disajikan pada tabel

berikut ini :

Jadwal Pembangunan Tahap Kontruksi Pembangunan Sentral Pasar Raya

No Uraian Pekerjaan Waktu Pelaksanaan


1. Pembuatan pagar pengaman sementara Januari 2005
2. Mobilisasi material dan peralatan Disesuaikan dengan jadwal
pekerjaan struktur/bangun Maret
2005
3. Perekrutan tenaga kerja Februari 2005
4. Pembukaan /pembersihan lahan Maret 2005
5. Pekerjaan penggalian Maret 2005
6. Pekerjaan bangun/struktur Maret-Juli 2005
a. Lantai Basement Maret 2005
b. Lantai dasar Maret 2005
c. Lantai 1 (satu) April 2005
d. Lantaio atap (areal parkir mobil) Juni 2005
e. Tangga dan pitlift Disesuai dengan jadwal pekerjaan
lantai, bulan Juni 2005
f. Septick tank sda
g. Ground tank sda
h. Waterproofing dan lain-lain sda
Sumber : PT Cahaya Sumbar Raya, 2004

Pembangunan tahap selanjutnya untuk pekerjaan

kontruksi dilakukan pada bulan Januari 2006 untuk tahap II dan


89

Januari 2007 untuk tahap III yang uaraian pekerjaan dan bulan

pelaksanaan rencananya sesuai dengan jadwal tahap 1

a. Pembangunan Base Camp

b. Mobilisasi Tenaga Kerja

c. Mobilisasi Material dan Peralatan

d. Pekerjaan Pembongkaran dan Penggalian Tanah

e. Pekerjaan Struktur Bangunan

1) pekerjaan sipil

2) pekerjaan arsitektur

3) pekerjaan tata ruang dalam dan luar

f. Pekerjaan mekanikal dan elektrikal

g. Pekerjaan utilitas, pekerjaan ini terdiri darti beberapa

pekerjaan antara lain

1) Jaringan linstrik

2) Sirkulasi vertikal

3) Penyediaan air bersih

4) Pembungan limbah

5) Pengamanan kebakaran

6) Pekerjaan pengetesan

7) Pekerjaan pelatihan operator dan pemantauan gedung

3. Tahap Pasca Kontruksi

a. Pemasaran dan Penzoningan


b. Rekrutmen Tenaga Kerja Operasional

c. Transportasi

d. Operasional perdagangan

e. Restoran

f. Pengolahan limbah

1) Limbah cair

2) Limbah padat

g. Limbah gas dan kebisingan

Dari tahapan Proyek Pembangunan Sentral Pasar Raya

Padang yang direncanakan oleh PT. Cahaya Sumbar Raya ada

yang tidak sesuai dengan hasil observasi penulis di lapangan.

Seyogianya Proyek Pembangunan prtokoan Sentral Pasar Raya

tahap 1 secara keseluruhan sudah selesai dibangun dan

dioperasikan, namun sampai saat ini tahap 1 saja belum

sepenuhnya selesai dibangun. Dimana lantai III dan areal parkir

yang terletak dibagian lantai atap masih dalam pengerjaan..

Sementara tahap II yang rencananya dilaksanakan Januari 2006

dan tahap III direncanakan di bangun tahun 2007 belum

dilaksanakan sama sekali.

Kemudian tempat parkir yang terletak pada lantai atap

dinilai oleh sebagaian besar pengunjung Sentral Pasar Raya tidak

efesien. Sirkulasi kendaraan setelah tahap 1 kegiatan kontruksi

selesai, masuk melalui gedung Kopas Plaza menuju ke Sentral


91

Pasar Raya tahap 1 dengan sistem single gate, sistem ini cukup

menyulitkan bagi pengunjung. Akan lebih efisien kalau tempat

parkir terletak dibagian bawah atau lantai dasar, sampai saat ini

pengunjung Sentral Pasar Raya memarkir kendaraan dihalaman

gedung pusat pertokoan Sentral Pasar Raya. Hal ini jika tidak

segera ditasi justru akan menambah deretan kemacetan yang

semakin parah.

3.1.3 Pembangunan Sentral Pasar Raya Padang Dalam Kesesuaian

Tata Ruang Kota Padang

Pembangunan Pertokoan Modern Sentral Pasar Raya Padang,

merupakan salah satu upaya pemerintah Kota Padang dalam

mewujudkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang 2004 –

2013. Kawasan Pasar Raya Padang adalah kawasan yang termasuk 18

kawasan prioritas pengembangan di Kota Padang. Upaya penataan

ruang dapat diartikan sebagai usaha untuk pengelolaan lingkungan

hidup secara terpadu. Baik itu dalam hal perencanaan, pelaksanaan,

pengendalian dan pemanfaatan sumber daya alam melalui

peningkatan kualitas lingkungan fisik dan pemanfaatan ruang yang

optimal, serasi seimbang, terpadu dan berkelanjutan. Tujuan dari

penataan ruang adalah untuk menyeimbangkan struktur dan lokasi

beserta hubungan fungsional dalam pemanfaatan sumber daya alam

dan sumber daya manusia. Dengan ini diharapkan adanya


peningkatan kualitas lingkungan hidup yang dapat dilaksanakan

secara berkelanjutan.72

Bila dikaitkan dengan pembangunan Sentral Pasar Raya

Padang, maka perlu dikaji mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah

Kota Padang. Penggunaan rencana tata ruang wilayah untuk

pembangunan yang wajib AMDAL dapat dilihat dalam Pasal 19 ayat

(1) Undang-undang No. 23 Tahun1997 tentang Pengelolaan

Lingkungan Hidup.

Dalam menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan wajib

diperhatikan :

a. Rencana tata ruang


b. Pendapat masyarakat
c. Pertimbangnan dan rekomendasi pejabat yang
berwenang yang berkaitan dengan usaha
dan/atau kegiatan tersebut.

Berdasarkan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Padang

Tahun 2004 –2013 pada BAB V tentang kebutuhan pengembangan

pusat-pusat pelayanan hal V – 1 sampai V – 2, disebutkan dalam poin

(c) tentang pusat pelayanan ekonomi (perdagangan jasa) bahwa :

Walaupun..........., namun pengembangan kota menuntut


pengembangan lokasi –lokasi baru. Kegiatan perdagangan grosir dan
pasar ternak terarah ke kawasan Air Pacah dan pasar induk ke Anak
Air, sedangkan pasar modern (mall, Plasa dan Supermarket) dapat
dikembangkan pada titik tertentu (hot spot) sejauh tidak mengganggu
kegeiatan perdagangan tradisional.73

Dapat disimpulkan bahwa setiap pembangunan Pasar Modern,

72. Wawancara dengan Anida Kabid. Tata Bangunan Dinas Tata Ruang dan Tata
Bangunan Kota Padang Tanggal 10 April 2007
73. RTRW Kota Padang Tahun 2004 - 2013
93

terkait dengan aturan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) ini

seolah memberi jaminan bahwa pembangunan pasar modern tidak

akan mengganggu atau mengubah ciri khas dari kegiatan

perdagangan tradisional. Kalau dikaji lebih jauh terlihat adanya

penciptaan ruang kebijakan oleh pemerintah daerah untuk

membangun pusat pertokoan modern di pusat kota, mengapa tidak

diatur saja dengan tegas dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah

Kota Padang Tahun 2004-2013 bahwa pembangunan pusat pertokoan

modern diarahkan pada wilayah pinggiran kota yang tidak akan

menimbulkan masalah terhadap lingkungan.

Bila kita kaitkan dengan Pembangunan Jangka Panjang Kota

Padang Tahun 2004 – 2020, pada BAB IV tentang Sumber Daya

Alam hal 47 dikatakan:

Kondisi Kota Padang belum tertata baik disebabkan oleh


kecendrungan pemusatan kawasan barat. Hampir semua arus
kendaraan terarah ke pusat kota dikawasan Pasar Raya sehingga
menimbulkan kemacetan atau kesesakan di kawasan ini......Jalan
keluar dari keadaan ini adalah meningkatkan status Pasar Satelit
menjadi Pasar Kawasan sesuai kapasitasnya beserta terminal dan
shelte.

Merujuk pada Pasal 19 Undang-undang Nomor 23 Tahun

1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Ayat (1) poin (a)

Rencana Tata Ruang, pemberian izin pembangunan pasar terpadu di

terminal Goan Hoat sangat bertentangan dengan Rencana Tata Ruang

dan Pembangunan Jangka Panjang Kota Padang yang tidak

mengakomodir pusat perbelanjaan di pusat kota. Hal ini disebabkan


Pembangunan Sentral Pasar Raya berada pada pusat kawasan barat

yang merupakan kawasan padat perdagangan dan arus transportasi.

3.2 UKL, UPL Pembangunan Gedung Parkir dan Pusat


Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi

3.2.1 Lokasi Pembangunan Gedung Parkir Dan Pusat


Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi .

Lokasi Pembangunan Pasar Banto adalah bekas Pasar Banto

lama yang di perbaharui dengan nama Gedung Parkir dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto. Pasar Banto berada di Kelurahan Aur

Tajungkang Tangah Sawah Kecamatan Guguk Panjang Kota

Bukittinggi Provinsi Sumatera Barat.

Pembangunan Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar

Banto adalah dalam rangka memenuhi dan meningkatkan kualitas

sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh pelaku kegiatan maupun

wisatawan. Pembangunan Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan

Pasar Banto Bukittinggi tidak perlu dilengkapi Dokumen Analisis

Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Perangkat yang perlu

disusun bagi Pembangunan Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan

Pasar Banto ini adalah Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan

Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).74

Untuk memperoleh data yang berkaitan dengan

Pembangunan Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto ini

74. Muhamad Arjoki. Ka. Subsi Pengendalian Dampak Lingkungan. Wawancara 8 Mei
2007
95

penulis melakukan penelitian pada Sub Bagian Lingkungan Hidup

Kota Bukittinggi, tepatnya pada Sekretariat Daerah Kota Bukittinggi

Bagian Perekonomian dan Penanaman Modal. Adapun Struktur

Organisasi Bagian Perekonomian dan Penanaman Modal Kota

Bukittinggi adalah :

1. Sekretaris Daerah Kota Bukittinggi

2. Asisten Ekonomi Pembangunan,

membawahkan

a. Bagian Perekonomian dan

Penanaman Modal,

membawahkan

1) Sub. Bagian

PPLE

2) Sub Bag.

Investasi dan

Penenanaman

Modal

3) Sub. Bag. PJEP

4) Sub. Bag.

Lingkungan

Hidup

Disamping itu penulis juga memperoleh data dari Sub Dinas

Tata Kota, tepatnya pada Dinas Pekerjaan Umum Kota Bukittinggi.


Adapun struktur Organisasinya sebagai berikut :

1. Kepala Dinas

2. Bagian Tata Usaha, membawahkan

a. Sub. Bagian Umum & Kepegawaian

b. Sub Bagian Keaungan

c. Sub Bag. Program dan Pengendalian

d. Sub Bagian Perlengkapan

3. Sub. Dinas Prasarana Jalan & Pengairan, membawahkan

a. Seksi Jalan dan Jembatan

b. Seksi Pengairan dan irigasi

c. Seksi Penerangan Jalan Umum

4. Sub Dinas Cipta Karya

a. Seksi Perumahan dan Pemukiman

b. Seksi Bangunan Gedung

c. Seksi Teknik Penyehatan

5. Sub Dinas Tata Kota

a. Seksi Tata Ruang

b. Seksi Pendataan dan perizinan

c. Seksi Pengawasan dan Pengendalian

6. Sub Dinas Kebersihan Kota

a. Seksi Kebersihan dan Pengawasan

b. Seksi Petamanan
97

3.2.2 Pelaksanan UKL, UPL Pembangunan Gedung Parkir

dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto Kota

Bukittinggi

Sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku,

sebelum pembangunan suatu rencana usaha atau kegiatan

dilakasanakan, terlebih dahulu dilakukan kajian – telaahan dampak

lingkungan. Memperhatikan Keputusan Menetri Negara Lingkungan

Hidup No. 17 Tahun 2001, Tentang Jenis Usaha dan/Atau Kegiatan

Yang Wajib Dilengkapi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan,

maka rencana kegiatan Pembangunan Gedung Parkir dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto Bukittinggi tidak perlu dilengkapi Studi

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), kerena luas

lahan pembangunan Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar

Banto Bukittinggi hanya ± 7.484 M2, jadi kurang dari 10.000 M2 .

Namun untuk memenuhi peraturan perundang-undangan di bidang

lingkungan hidup, perangkat yang perlu disusun adalah Upaya

Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Hidup (UPL).

Dokumen Upaya pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya

Pemantauan Lingkungan (UPL) Gedung Parkir dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto ini di sah pada tanggal 15 Juni 2004,

sebagai Pemrakarsa adalah Bagian Perekonomian dan Penanaman

Modal Sekretaris Daerah Kota Bukittinggi. Format penyusunan


sepenuhnya mengacu pada Surat Keputusan Menteri Negara

Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2002, Tentang Pedoman

Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya

Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL).

Mengenai Matrik Ringkasan Upaya Pengelolaan Lingkungan

(UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Gedung Parkir

dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto ini akan dilampir dalam tesis ini.

Lokasi dari pembangunan Gedung Parkir dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto adalah di Kelurahan Aur Tajungkang

Tangah Sawah Kecamatan Guguk Panjang Kota Bukittinggi. Gedung

Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto ini terdiri dari 7 (tujuh)

lantai dan dilengkapi 1 (satu) basement. Secara keseluruhan masing-

masing lantai diperuntukkan sebagai areal parkir dan pusat

perbelanjaan, khusus basement selain sebagai areal parkir juga untuk

terminal dan fasilitas penunjang. Jika dilihat secara persentase, maka

pemanfaatan ruang bagi kegiatan perpakiran dan pusat perbelanjaan

pada masing-masing lantai dan basement adalah sebagai berikut :75

1. Basement, sekitar 50 % sebagai areal

terminal dan kelengkapannya (ruang

tunggu), areal parkir (roda 4 dan roda 2)

sebesar 20 %, sedangkan sisanya

pertokoan dan fasilitas umum seperti

75 Bagian Perek dan Penanaman Modal Setda Kota Bukittinggi. Dokumen UKL, UPL
Pembangunan Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi.
99

toilet.

2. Lantai 1, sebesar 65 % sebagai pertokoan,

areal parkir 30 % dan sebesar 5 % adalah

fasilitas penunjang (mushalla dan toilet),

3. Lantai 2, sebesar 60 % sebagai pertokoan,

areal parkir 35 % dan sebesar 5 % fasilitas

penunjang (gudang dan toilet),

4. Lantai 3, sebesar 45 % sebagai pertokoan,

areal parkir 40 % dan sebesar 15 % adalah

fasilitas penunjang (gudang, mushalla,

koridor dan toilet),

5. Lantai 4, sebesar 45 % sebagai pertokoan,

areal parkir 45 % dan sebesar 10 % adalah

fasilitas penunjang (gudang, koridor dan

toilet),

6. Lantai 5, sebesar 30 % sebagai pertokoan

dan perbelanjaan, areal parkir 35 % arena

bermain anak-anak 30 % dan sebesar 5 %

adalah fasilitas penunjang (mushalla dan

toilet),

7. Lantai 6, sebesar 15 % sebagai pertokoan,

areal parkir 80 % dan sebesar 5 % adalah

fasilitas penunjang (Mushalla, gudang,


koridor, dan toilet),

8. Lantai 7, sama halnya dengan lantai 6,

dimana sebesar 15 % sebagai pertokoan,

areal parkir 80 % dan 5 % adalah fasilitas

penunjang (Mushalla, gudang, koridor, dan

toilet)

Sementara itu di bagian luar gedung sebagai kelengkapan dan

pengaman akan dibangun pagar luar, pos jaga ukuran 2,5 x 2,5 m,

jembatan mobil dari lantai 2 menuju wowo, jembatan orang dari

lantai 3 ke jenjang 40, drainase, taman dan pelataran luar (trotoar).

3.2.3 Pembangunan Gedung Parkir dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto Dalam Kesesuaian Tata

Ruang Kota Bukittinggi

Sama halnya dengan AMDAL , Upaya pengelolaan

Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)

sebagai studi kelayakan lingkungan terhadap suatu usaha/kegiatan

harus ada sebelum Izin Mendirikan Bangunan ditetapkan atau

dikeluarkan. Demikian juga halnya terhadap Pembangunan Gedung

Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto Bukittinggi. Namun untuk

mesingkronkan antara UKL/UPL dengan IMB Pembangunan Pasar

Banto ini penulis tidak memperoleh data (dalam hal ini IMB) dari

Bagian Tata Ruang dan Tata Bangunan Dinas Pekerjaan Umum

Kota Bukittinggi, karena hal ini dianggap suatu yang prinsipil untuk
101

diketahui.

Pasal 6 (Ayat 2 ) UUPLH menyatakan :

“ Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan


berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat
mengenai pengelolaan lingkungan hidup “

Pasal 19 (Ayat 2) UUPLH menyatakan :

“Keputusan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib

diumumkan”

Dari bunyi beberapa pasal diatas jelas masalah perizinan

dalam pelaksanaan suatu usaha/kegiatan yang jelas memanfaatkan

lingkungan, wajib diinformasikan dan diketahui oleh setiap anggota

masyarakat. Artinya Masalah lingkungan baik itu pengelolaan

maupun pemanfaatannya harus laksanakan setransparan mungkin

sehingga masyarakat dapat berfungsi sebagai kontrol sosial dalam

pengelolaan lingkungan.
BAB IV

PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN TERHADAP PEMBANGUNAN


SENTRAL PASAR RAYA DI KOTA PADANG DAN PEMBANGUNAN
GEDUNG PARKIR SERTA PUSAT PERBELANJAAN PASAR BANTO
KOTA BUKITTINGGI

4.1 Penegakan Hukum Lingkungan Terhadap Pembangunan


Pusat Perdagangan Sentral Pasar Raya Padang
4.1.1 Aspek Penegakan Hukum Administrasi
Pembangunan Sentral PasarRaya Padang

Upaya penegakan Hukum Administrasi dapat diterapkan

99
terhadap kegiatan-kegiatan yang menyangkut persyaratan perizinan,

AMDAL, Baku Mutu Lingkungan, RKL dan RPL dan dokumen-

dokumen lingkungan hidup lainnya.

Berkaitan dengan pelanggaran hukum administrasi terhadap

Dokumen AMDAL Sentral Pasar Raya Padang, memang diakui telah

terjadi, yaitu telah dikeluarnya terlebih dahulu Izin Mendirikan

Bangunan (IMB) Sentral Pasar Raya Padang tanggal 21 Februari 2005

sebelum dikeluarkan Dokumen AMDAL. AMDAL Sentral Pasar Raya

dikeluarkan pada tanggal 17 Maret 2005. Kebijakan Pemerintah kota

Padang yang mengeluarkan IMB terlebih dahulu dari pada studi

kelayakan lingkungan memang telah menimbulkan polemik dalam

masyarakat Kota Padang khususnya dan Sumatera Barat pada

umumnya. Namun persoalan ini telah dapat diselesaikan dengan

baik .76

76. Wawancara dengan Hanibal Husen Ka. Bid. Pengendalian Dampak Lingkungan
Bapedalda Kota Padang, tanggal 13 April 2007
103

Seperti telah disebutkan pada halaman sebelumnya bahwa

Pembangunan Pusat Pertokoan Modern Sentral Pasar Raya adalah

kategori pembangunan yang wajib AMDAL, berarti sebelum

mendirikan bangunan harus ada studi kelayakan lingkungan hidup

terlebih dahulu. Hal ini juga tercantum dalam Kata Pengantar yang

dibuat oleh PT Cahaya Sumbar, bahwa ANDAL ini diajukan untuk

dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan bagi

pengambilan keputusan yang akan ditetapkan. Artinya izin

pembangunan harus berdasarkan Dokumen AMDAL. Namun dalam

pelaksanaan pembangunan Sentral Pasar Raya Padang pembangunan

dilakukan sebelum adanya Dokumen AMDAL.

Dokumen AMDAL berupa RKL dan RPL disetujui oleh

Komisi AMDAL pada tanggal 14 Maret 2005, kemudian keputusan

kelayakan lingkungan dituangkan dalam Keputusan Walikota Padang

No. 34 Tahun 2005 tertanggal 17 Maret 2005. Pada sisi lain justru izin

mendirikan bangunan telah dikeluarkan terlebih dahulu sebelum

adanya keputusan kelayakan lingkungan, yaitu dengan Kerputusan

Walikota Padang No. 128/IMB/UD/LT.4/PB.07/2005 tanggal 21

Februari 2005. Hal ini jelas merupakan pelanggaran terhadap hukum

lingkungan, seperti yang diamanatkan dalam Pasal 18 Ayat (1)

Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 dan Pasal 7 Ayat (1) Peraturan

Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang analisis Mengenai Dampak

Lingkungan.
Penegakan hukum merupakan indikator penting dalam

kehidupan bernegara. Namun dalam penegakan hukum terdapat

berbagai hambatan seperti materi hukumnya, aparat penegak hukum,

sarana dan prasarana serta rendahnya kesadaran hukum masyarakat.

Hambatan ini tentu harus dianulir atau paling tidak diminimalisirkan,

sehingga tercipta keadilan dan kesejahteraan sebagai tujuan utama dari

hukum itu sandiri.

Telaahan lebih lanjut penegakan hukum terhadap pelanggaran

hukum lingkungan yang dimaksud diatas ditelusuri dari aspek

a. Jabaran meteri hukum,

b. Aparatur penegak hukum (terutama penegak hukum

administrasi),

c. Sarana dan fasilitas,

d. Kesadaran masayarakat

e. dan aspek kebudayaan

Jika kita tilik secara objektif dari segi aspek jabaran

materi hukum, letak persoalan yang paling utama adalah pada materi

hukum yang tidak mengakomodir aturan hukum lingkungan terhadap

hukum yang lebih rendah ataupun khusus. Persoalan ini tentu serius

untuk dikaji karena dapat dijadikan celah hukum yang dapat digunakan

oleh individu atau badan hukum untuk tidak patuh pada hukum yang

lebih tinggi.

Kalau dihubungkan Undang-undang Lingkungan Hidup


105

dengan Perda No. 6 Tahun 1990 Tentang Tata Bangunan, terdapat

tumpang tindih diantara kedua aturan hukum ini. Dalam Peraturan

Daerah ini posisi AMDAL tidak sesuai dengan yang diamanatkan

dalam Undang-undang Lingkungan Hidup. AMDAL tidaklah sebagai

instrumen penting dalam pengeluarkan IMB. AMDAL hanya sebagai

perizinan yang bersifat formalitas saja. Hal ini dapat dilihat dari tidak

adanya pembedaan pemberian IMB terhadap pembangunan yang

dilakukan oleh individu (rumah), kelompok (ruko) dan usaha lain yang

berskala lebih besar seperti Sentral Pasar Raya. Seharusnya terhadap

rencana pembangunan yang bersakala lebih besar sebagaimana yang

dimaksud dalam Pasal 15 (Ayat 1) Undang-undang No. 23 Tahun 1997

jo Pearturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 jo Keputusan Menteri

Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001 (Lampiran Bidang Prasarana

Wilayah Nomor 14), harus dijalaskan dengan tegas mengenai

pentingya AMDAL dalam pemberian IMB kegiatan pusat pertokoan

atau perbelanjaan. Sehubungan dengan hal diatas, patut

dipertimbangkan untuk melakukan penyempurnaan Paraturan Daerah

(Perda) tentang IMB yang telah mengakomodir ketentuan AMDAL

sebagai wujud singkronisasi peraturan Lingkungan Hidup tingkat pusat

terhadap peraturan di daerah.

Pemerintah Daerah Kota Padang diharapkan juga melakukan

perubahan terhadap Peraturan Daerah No. 6 Tahun 1990 tentang Tata

Bangunan, yakni mencakup norma atau pasal yang memuat adanya


persyaratan persetujuan AMDAL untuk memperoleh IMB

pembangunan pusat perdagangan atau perbelanjaan. Dengan demikian

singkronisasi peraturan perundang-undangan lingkungan hidup

terhadap perizinan daerah yang diatur dalam peraturan daerah dapat

diwujudkan dengan baik.

Pembenahan hukum yang dimaksud sebagai kewenangan

daerah dimungkinkan berdasarkan Undang-undang No. 10 tahun 2004

Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan jo Undang-

undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah guna

mendukung pelaksanaan Undang-undang Pengelolaan Lingkungan

Hidup. Peraturan Daerah tersebut menurut Undang-undang No. 10

Tahun 2004 dalam Pasal 7 Ayat (2) meliputi

a. Peraturan Daerah Provinsi, dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat


Daerah Provinsi bersama dengan Gubernur
b. Peraturan Daearh Kabupaten/ Kota, dibuat oleh Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Kabupaten/Kota bersama Bupati / Walikota.
c. Peraturan Desa /peraturan yang setingkat dibuat oleh badan
perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan Kepala Desa
atau nama lainnya.77

Sehubungan dengan pelanggaran yang telah terjadi terhadap

ketentuan AMDAL dan perizinan Pembangunan Pusat Pertokoan

Sentral Pasar Raya Padang yakni penjabaran terhadap Pasal 15 Ayat

(1) jo Pasal 18 Ayat (1) UUPLH No. 23 Tahun 1997 jo Pasal 7 Ayat

(1) Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999, hal tentu persoalannya

terletak pada para aparatur pemerintah yang seharusnya berperan

77. Undang-undang RI Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pearaturan Perundang-undangan


Pasal 7 Ayat (2)
107

dalam menegakan hukum justru cendrung menghalalkan pelanggaran

ini.

Tahap penegakan hukum yang cukup penting untuk dilakukan

oleh aparatur administrasi pasca atau setelah proses AMDAL dan

perizinan adalah tindakan pengawasan secara berkala sebagaimana

yang terdapat dalam RKL dan RPL Pembangunan Pusat Pertokoan

Sentral Pasar Raya Padang. Jika pihak investor menyimpang dalam

pelaksanaan RKL, RPL dan perizinan yang ada, maka pemerintah Kota

Padang atas kewenangan yang ada padanya menurut UU No. 32 Tahun

2004 dan Undang-undang No. 23 Tahun 1997, harus memberikan

sanksi , baik berupa teguran, paksaan pemerintah, maupun penghentian

kegiatan ataupun operasi, bahkan dimungkinkan untuk melakukan

pencabutan izin atas kegiatan yang sedang dilkukan oleh pihak

investor atau pengusaha. Sehingga dengan demikian akan terlihat

keseriusan aparatur administrasi dalam pengawasan terhadap persoalan

lingkungan.

Respon masyarakat akan tegaknya hukum lingkungan di Kota

Padang sudah cukup baik, ini terbukti dengan diajukannya gugatan

ganti rugi dengan mekanisme gugatan kelompk (class actions) oleh

Kesatuan Pedagang Pasar (KPP) melalui Lembaga Bantuan Hukum

(LBH) Padang kepada Pemerintah Kota Padang. Dewan Perwakilan

Rakyat Daerah Kota Padang dan PT. Cahaya Sumbar Raya.


4.1.2 Penegakan Hukum Keperdataan Terhadap
Pembangunan Pusat Perdagangan Sentral Pasar
Raya Melalui Gugatan Class Action

Penegakan Hukum Perdata dapat ditempuh dengan dua cara

yaitu melalui pengadilan dan diluar pengadilan. Penyelesaian sengketa

lingkungan diluar pengadilan dilakukan melalui perundingan untuk

mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi atau

tindakan tertentu guna menjamin tidak akan terjadinya atau

terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan.

Pasal 31 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 menyatakan :

“Penyelesaian sengketa lingkungan diselenggarakan untuk mencapai


kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dari suatu
tindakan tertentu guna menjamin tidak akan terjadinya atau
terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan “

Gugatan Class Action diakui dalam sistem Hukum Indonesia,

yaitu prosedur gugatan dimana para penggugat tidak hanya mewakili

diri sendiri tetapi sekaligus mewakili korban lainya. Gugatan dapat

dengan mempergunakan tata cara gugatan perwakilan kelompok

apabila :

a. Jumlah anggota kelompok sedemikian banyak, sehingga tidaklah


efektif dan efesien apabila gugatan dilakukan secara sendiri-sendiri
atau secara bersama-sama satu gugatan.
b. Terdapat kesamaan fakta atau peristiwa dan kesamaan dasar
hukum yang digunakan yang bersifat substansial, serta terdapat
kesamaan jenis tuntutan diantara wakil kelompok dengan anggota
kelompoknya.
c. Wakil kelompok memiliki kejujuran dan kesanggupan untuk
melindungi kepentingan anggota kelompok yang diwakilinya.78

78. Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2002, Pasal 2 huruf (a), (b), dan (c)
109

Berkaitan dengan pembangunan Sentral Pasar Raya Padang

telah menimbulkan masalah dalam masyarakat. Dimana diajukannya

gugatan dengan mekanisme gugatan kelompok (Class Action) oleh

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang yang mewakili Kesatuan

Pedagang Pasar (KPP) Padang, untuk menggugat Pemerintah Kota

padang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan PT. Cahaya Sumbar

Raya. Hal ini juga segaligus merupakan kesadaran masyarakat

terhadap penegakan hukum lingkungan Namun gugatan ini ditolak

oleh Pengadilan Negeri Padang dengan alasan bahwa kerugian yang

dipaparkan tidak jelas. Hal ini disebabkan bahwa Undang-undang No.

23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup tidak memuat

ketentuan baru terhadap persoalan penyelesaian gugatan lingkungan

keperdataan. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 39 yakni :

Tata cara pengajuan gugatan dalam masalah lingkungan hidup oleh


orang, masyarakat dan/atau organisasi lingkungan hidup mengacu pada
Hukum Perdata yang berlaku.

Sementara dalam Hukum Acara Perdata, beban pembuktian

berada pada penggugat, yakni LBH Padang. Artinya LBH harus

membuktikan bahwa telah terjadi kerugian oleh individu dan/atau

kelompok atas pembangunan Sentral Pasar Raya Padang.

4.1.3 Aspek Penegakan Hukum Pidana Terhadap


Pembangunan Pusat Perdagangan Sentral Pasar
Raya Padang
Penjelasan bagian umum Undang-undang No. 23 Tahun 1997

dikatakan bahwa hukum pidana hendaknya didayagunakan sanksi

bidang hukum lain seperti administrasi, sanksi perdata dan alternatif

penyelesaian sengketa lingkungan hidup tidak cukup efektif atau

perbutannya relatif besar sehingga menimbulkan keresahan dalam

masyarakat. Di Kota Padang penegakan hukum lingkungan melalui

aspek pidana belum pernah terjadi. Khusus terhadap Pembangunan

Pertokoan Sentral Pasar Raya, pelanggaran yang terjadi hanya pada

hukum administrasi.
79
Berkaitan dengan hal diatas, Penguasa sebagai aparatur

negara tidak dapat dipidana akibat dari kurang cermat dalam

menetapkan suatu keputusan. Peraturan perundang-undangan

lingkungan yang berlaku hanya memungkinkan pengenaan sanksi

pidana terhadap Badan Hukum keperdataan. Penguasa sebagai aparatur

yang mengemban tugas dan wewenang pengelolaan lingkungan terikat

pada peraturan kepegawaian, sehingga kemungkinan melakukan delik

lingkungan kecil sekali. Disamping itu khusus untuk Indonesia

aparatur terikat kepada Sapta Prasetya KORPRI dan Doktrin KORPRI

“Bhinika Karya Abadi Negara”. Kesalahan penguasa dapat terjadi di

bidang administrasi, yaitu berbentuk penetapan/keputusan tata usaha

negara (beschikking ) yang keliru atau tidak cermat yang mungkin

saja berakibat fatal, misalnya saja mengakibatkan terganggunya

79 . Siti Sundari Rangkuti. Op Cit. Hal. 336


111

keseimbangan ekoligis yang sulit memulihkannya.

Namun demikian penguasa sebagai aparatur yang ditugasi

melakukan pengelolaan dan penetapkan kebijaksanaan lingkungan

dapat dikenakan sanksi administrasi sebagai akibat keputusan tata

usaha negara yang keliru atau tidak cermat, sehingga menimbulkan

pencemaran lingkungan dan kerugian bagi korban/penderita

pencemaran.

Gugatan terhadap keputusan tata usaha negara dimungkinkan

melalui UU No. 5 tahun 1986 tentang peradilan tata usaha negara

sebagai sarana hukum yang penting untuk melindungi kepentingan

lingkungan. Peraturan mengenai pembinaan aparatur tedapat di dalam

undang-undang No. 8 tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian,

yang telah diubah dengan undang-undang No. 43 tahun 1999 dan

peraturan pemerintah No. 30 tahun 1980 tentang peraturan disiplin

pegawai negeri sipil. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan

dikenakannya sanksi pidana terhadap penguasa sebagai pribadi yang

terlepas dari tugas dan wewenangnya melakukan delik lingkungan.

Sehubungan dengan hal-hal yang menghapuskan pengenaan

pidana terhadap penguasa terdapat dasar hukumnya dalam Pasal 50

KUHP,80 bahwa barang siapa melakukan perbuatan untuk pelaksanaan

undang-undang, tidak dipidana. Disamping ketentuan ini terdapat pula

pengaturan tentang perintah jabatan, yaitu Pasal 51 KUHP yang

menyatakan bahwa :
80. Ibid. Hal. 337
1. Barangsiapa melakukan perbuatan untuk
melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh
penguasa yang berwenang, tidak dipidana.
2. Perintah jabatan tanpa wenang, tidak menyebabkan
hapusnya pidana, kecuali jika diperintah, dengan
etikad baik mengira bahwa perintah diberikan
dengan wenang, dan pelaksnaannya termasuk dalam
lingkungan pekerjaan

Ketentuan Pasal 50 dan 51 KUHP tersebut diatas jelas, bahwa

penguasa atau aparatur sebagai pengelola lingkungan sesuai dengan

Pasal 8,9 dan 10 UULH dan Pasal 8,9 dan 10 UUPLH selama

bertindak melaksanakan tugas dan wewenangnya tidak dipidana

apabila terjadi perusakan atau pencemaran.

4.2 Penegakan Hukum Lingkungan Terhadap Pembangunan

Gedung Parkir Dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto Kota

Bukittinggi

Penegakan Hukum Lingkungan di Kota Bukittinggi khususnya

terhadap Pelanggaran Upaya pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya

Pemantauan Lingkungan (UPL) baik itu aspek administrasi, aspek perdata

maupun aspek pidana belum pernah terjadi, karena belum adanya pengaduan

dari masyarakat, dari wawancara penulis dengan Ka. Subsi Pengendalian

Dampak Lingkungan Bagian Perekonomian dan Penanaman Modal

Sekretariat Kota Bukittinggi mengatakan bahwa Bagian Perekonomian dan

Penanaman Modal Sekretariat Daerah Kota Bukittinggi selaku pemrakarsa

satu kali 3 bulan melakukan pemantauan maupun pengawasan terhadap


113

pembangunan Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto .81

Namun dari hasil observasi penulis dilapangan, terlihat tingkat

kemacetan disekitar Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto cukup

tinggi, karena arus kendaraan angkot cukup padat, hal ini kalau tidak segera

diatasi oleh Pemda Kota Bukittinggi tentu akan menimbulkan masalah

lingkungan.

4.3 Faktor Penghambat Penegekan Hukum Lingkungan

kaitannya Terhadap Pembangunan Sentral Pasar Raya

Padang Dan Pembangunan Gedung Parkir Dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi

Tegaknya hukum lingkungan harus di tunjang oleh berbagai faktor

seperti sarana dan prasarana, pengetahuan dan lain sebagainya. Bila faktor-

fator tersebut tidak memadai maka sulit untuk menegakan hukum lingkungan

tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Faktor-

faktor penghambat dalam rangka penegakan hukum lingkungan di Kota

Padang maupun Kota Bukittinggi secara umum boleh dikatakan sama

diantaranya :

4.3.1 Perda Tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB)


tidak ada kaitannya dengan persyaratan kelayakan
lingkungan AMDAL, UKL dan UPL

Pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan pusat

pertokoan/perbelanjaan modern salah satu tujuannya adalah untuk


81. Muhamad Arjoki. Ka subsi Pengendalian Dampak Lingkungan Bagian Perek dan
Penanaman Modal Sekretariat Kota Bukittinggi. Wawancara 8 Mei 2007
meningkatkan perekonomian daerah, untuk itu sudah seharusnya

pemerintah daerah segera menindak lanjuti penyerasian Peraturan

daerah tentang IMB dengan Undang-undang No. 23 Tahun 1997

Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Peraturan Pemerintah No. 27

Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Tentang Pelaksanaan AMDAL.

Jika hal ini tidak kunjung menjadi perhatian pemerintah daerah niscaya

penegakan hukum lingkungan hanya sekedar kata-kata dalam teori

saja.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Soejono

Soekanto bahwa faktor materi hukum dapat mempengaruhi penegakan

hukum lingkungan. Peraturan perundang-undangan haruslah memuat

perlindungan hukum, kepastian hukum dan sanksi-sanksi dari hukum

itu sendiri. Sehingga kehadiran dari hukum itu dapat dirasakan

manfaatnya oleh mesyarakat. Dalam penegakan hukum lingkungan

tentu hal ini sangat tergantung kepada aparatur administrasi yang

memahami akan tugas dan fungsinya dalam melakukan pengawasan

terhadap pengelolaan lingkungan.

4.3.2 Pengetahuan dan peran serta masyarakat


Masyarakat mempunyai andil yang cukup besar dalam

penegakan hukum lingkungan. Masyarakat sebagai pengguna

lingkungan seringkali tidak begitu respon terhadap masalah

lingkungan, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat


115

terhadap masalah lingkungan, misalnya dalam hal pembuangan limbah

pabrik kesungai. Masyarakat pengguna sungai boleh dikatakan tidak

mengetahui jenis limbah yang telah mencemari sungai tersebut. Bila

ada kasus berkaitan dari dampak limbah tersebut biasanya masyarakat

hanya akan meminta ganti rugi.82

Sebetulnya hal ini dapat diatasi dengan memberikan

penyuluhan dan pendidikan kepada anggota masyarakat. Ini tentu

kembali lagi kepada aparatur pemerintah yang bertanggung jawab

dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat akan arti

pentingnya lingkungan bagi kehidupan sekarang maupun dimasa yang

akan datang. Peran serta masyarakat terhadap lingkungan hidup

tergantung juga kepada faktor budaya dari masyarakat itu sendiri.

Kemudian dari segi pengetahuan masyarakat, ini bersifat relatif, karena

tingkat pengetahuan masyarakat berkaitan dengan keingintahuan dan

kesadaran masyarakat itu sendiri terhadap persoalan lingkungan hidup

yang langsung berkaitan dengan masyarakat.

Keputusan Bapedal No.08 Tahun 2000 Tentang Keterlibatan

masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL yang

mengatur peran sarta masyarakatyang tujuannya adalah :

a. Melindungi masyarakat

b. Memberdayakan masyarakat dalam pengambilan keputusan atas

rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang berpotensi

menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan.


82. Hanibal Husen. Ka. Bid. Bapedalda Kota Padang. Wawancara Bulan 16 April 2007
c. Memastikan adanya trasparansi dalam keseluruhan proses

AMDAL dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

d. Menciptakan suasana keterlibatan yang setara antara semua pihak

yang berkepentingan yaitu dengan menghormati hak-hak semua

pihak untuk menyampaikan informasi yang harus diketahui pihak

lain yang berpengaruh

Ketentuan Bapedal No. 08 Tahun 2000 tersebut diatas tentu

harus disosialisasikan kepada anggota masyarakat. Dengan harapan

masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Dengan adanya kesadaran dari masyarakat terhadap pentingnya

lingkungan dalam menunjang kehidupan, maka kerugian yang

ditimbulkan akibat dari suatu usaha/atau kegiatan dapat diminimalisir.

Pengetahuan dan peran serta masyarakat dalam penegakan

hukum lingkungan termasuk senagai faktor kesadaran dan budaya

masyarakat sebagaimana yang dimaksud dalam pandangan Soejono

Soekanto.83

4.3.3 Keterbatasan Dana


Dana dalam penegakan hukum lingkungan adalah merupakan

faktor penunjang, namun dana juga dibutuhkan untuk mengatasi

persoalan dalam pengelolaan lingkungan hidup, seperti untuk

membuktikan bahwa telah terjadi suatu pencemaran mebutuhkan dana

yang relatif mahal. Anggaran APBD untuk pengawasan masalah –

masalah lingkungan boleh dikatakan relatif kecil. Begitu juga dengan

83 . Soejono Soekanto. Op. Cit. hal. 4-5


117

Bapedaldako Padang dan Bagian Pengendalian Dampak Lingkungan

Kota Bukittinggi yang mempunyai keterbatasan dana dalam

pengelolaan lingkungan hidup.84

Persolan ketebatasan dana yang dimaksud diatas, dapat

dikategorikan sebagai faktor lemahnya sarana atau fasilitas dalam

penegakan hukum lingkungan terutama penegakan hukum lingkungan

administrasi.

Bila dihubungkan dengan pendapat Benjamin Van Rooij

mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum, salah

satunya adalah faktor intern kelembagaan yang berkenaan dengan

keuangan lembaga, hal ini mungkin bisa juga dibenarkan, namun

masalah keterbatasan dana dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat

dieleminir dengan adanya kemauan yang kuat (political will) dari

Pemerintah daerah untuk meintegrasikan prinsip pembangunan

berkelanjutan kedalam perencanaan anggaran pada beberapa sektor

pembangunan.

Pengelolaan lingkungan hidup sifatnya adalah koordinasi antar

instansi pemerintahan, apalagi instansi yang berkaitana langsung

dengan lingkungan hidup. Bila dalam setiap sektor pembangunan

dianggarkan dana untuk mengelolaan lingkungan hidup, niscaya

hambatan dalam penegakan hukum lingkungan dapat diperkecil.

84 . Hanibal Husen. Ka Bid. Pengendalian Dampak Lingkungan Bapedalda Ko. Padang.


Wawancara 16 April 2007 dan Moh. Arjoki. Ka Subsi Pengendalian Dampak Lingkungan
Sekretaris Daerah Kota Bukittinggi. Wawancara 8 Mei 2007
4.3.4 Kurangnya Tenaga PPNS yang menangani masalah

lingkungan

Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan

Bapedaldako Padang mengemukakan bahwa Penyidik Pegawai Negeri

Sipil yang mengani masalah lingkungan hidup yang ada di Bapedalda

Kota Padang hanya berjumlah 3 (tiga) orang 85, sementara Ka. Subsi

Pengendalian Dampak Lingkungan Sekretris Daerah Kota Bukittinggi

menyatakan Pegawai Penyidik Negeri Sipil yang menangani masalah

lingkungan justru tidak ada sama sekali.86

Pandangan keberadaan PPNS yang demikian oleh pejabat

pemerintah daerah menunjukan bahwa perhatian pemerintah daerah

terhadap permasalahan lingkungan hidup lebih ditujukan kepada aspek

penegakan hukum pidana yang bertumpu kepada kurangnya

ketersediaan tenaga PPNS untuk menyelesaikan kasus-kasus

lingkungan hidup. Disamping itu mutasi aparatur pemerintah yang

dilakukan oleh pemerintah daerah telah mempengaruhi ketersediaan

aparatur pemerintah yang mengerti dan faham akan tugas mereka di

dalam penegakan hukum lingkungan.

Dengan demikian sebenarnya persoalan penegakan hukum

lingkungan oleh pemerintah daerah terdapat kekeliruan persepsi yang

85. Hanibal Husen. Ka. Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Padang.
Wawancara 23 April 2007
86. Muhammad Arjoki. Ka. Subsi Pengendalian Dampak Lingkungan Sekretaris Daerah
Kota Bukittinggi. Wawancara 24 Mei 2007
119

memandang bahwa penegakan hukum lingkungan itu ditentukan oleh

faktor aparat penegak hukum seperti PPNS, padahal yang paling utama

adalah aparatur administrasi dalam melakukan pengawasan atas

kegiatan/atau usaha yang menimbulkan dampak lingkungan. Khusus

berkenaan dengan tenaga PPNS yang menangani masalah lingkungan

tersebut meskipun kurang tepat terhadap eksistensi PPNS dalam

penegakan hukum lingkungan administrasi tetap saja dapat

dikategorikan sebagai faktor aparatur penegakan hukum yang

mempengaruhi dalam penegakan hukum.

4.3.5 Kurangnya tenaga ahli

Untuk membuktikan telah terjadi pencemaran terhadap

lingkungan dibutuhkan tenaga – tenaga ahli seperti ahli biologi, ahli

kimia dan tenaga ahli lainnya dibidang lingkungan. Tenaga-tenaga ahli

ini masih kurang sementara persoalan lingkungan yang timbul semakin

banyak, Sehingga tenaga ahli yang bergerak dibidang lingkungan

hidup masih kurang dibanding persoalan-persoalan lingkungan yang

semakin bertambah.87

Sebenarnya kurangnya tenaga ahli yang dimaksud, tidak

dapat dijadikan alasan utama lemahnya penegakan hukum lingkungan.

Hal ini dapat diatasi oleh pemerintah daerah dengan cara melakukan

kerjasama dengan Perguruan Tinggi yang memiliki kualifikasi atau

87. Hanibal Husen. Ka. Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup. Wawancara
23 April 2005
keahlian di bidang lingkungan hidup. Kualifikasi tenaga ahli yang

dibutuhkan relatif, artinya tergantung kepada aspek lingkungan yang

menonjol untuk perlu dikelola sebagai akibat adanya kegiatan atau

usaha.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari Bab sebelumnya dan setelah dianalisa

berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian lapangan maka dapat

ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pembangunan Pusat Perdagangan Sentral Pasar Raya

Padang dan . Pembangunan Gedung Parkir Dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi telah

melanggar ketentuan di bidang pengelolaan lingkungan

hidup, yaitu UUPLH No. 23 Tahun 1997, Peraturan

Pemerintah No. 27 Tahun 1999 Tentang Analisis


118
Mengenai Dampak Lingkungan. Dokumen AMDAL

sebagai sebuah hasil studi kalayakan yang digunakan

untuk memperoleh perizinan terhadap suatu usaha

dan/atau kegiatan masih dipandang sebagai pemenuhan

kewajiban terhadap peraturan perundang-undangan, bukan

karena kesadaran ekologis dari pemerintah daerah. Proses

transparansi dan mekanisme keterbukaan terhadap

dokumen AMDAL bagi masyarakat kurang baik, karena

tidak semua anggota masyarakat dapat dengan mudah

untuk memperoleh akses informasi dan ikut terlibat dalam


122

proses AMDAL. Perizinan merupakan salah satu yang

berdampak pada pencemaran dan perusakan lingkungan.

Dengan bermodalkan izin suatu usaha/atau kegiatan akan

mencemarkan dan merusak lingkungan. Dengan

melakukan pelanggaran terhadap dokumen AMDAL

permasalahan lingkungan akan bertambah dari tahun ke

tahun. Alasan peningkatan perekonomian daerah dan

pengurangan pengangguran serta untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat telah menjadi dasar pembenaran

bagi pemerintah daerah dalam melakukan kegiatan

pembangunan pusat perdagangan Sentral Pasar Raya

Padang dan pembangunan Gedung Parkir Dan Pusat

Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi, meskipun

ditemukan adanya pelanggaran terhadap prosedural

AMDAL.

2. Penegakan hukum lingkungan terhadap pembangunan

pusat perdagangan Sentral Pasar Raya Padang dan

pembangunan Gedung Parkir Dan Pusat Perbelanjaan

Pasar Banto Bukittinggi, dapat dilakukan melalui

penegakan hukum lingkungan administrasi, perdata dan

pidana. Seharusnya penegakan hukum lingkungan

terhadap pembangunan pusat perdagangan Sentral Pasar

Raya dan pembangunan Gedung Parkir Dan Pusat


Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi lebih terfokus

kepada penegakan hukum lingkungan administrasi oleh

aparatur administrasi instansi pengelola lingkungan hidup,

namun tidak dilaksanakan. Pada sisi lain penegakan

hukum lingkungan perdata telah dilakukan oleh LBH

( Lembaga Bantuan Hukum ) Padang dengan melalui

gugatan class action ke Pengadilan Negeri Padang.

3. Adanya beberapa hambatan yanmg ditemui dalam

penegakan hukum lingkungan terhadap pembangunan

pusat perdagangan Sentral Pasar Raya Padang dan

pembangunan Gedung Parkir dan Pusat Perbelanjaan

Pasar Banto Kota Bukittinggi, terutama faktor belum

singkronnya Peraturan Daerah dangan Undang-Undang

Pengelolaan Lingkungan Hidup, Faktor penegakan hukum

(aparatur administrasi) serta faktor sarana/fasilitas

(keterbatasan dana).

5.2 Saran

1. Pemerintah daerah Kota Padang, pemerintah daerah Kota

Bukittinggi khususnya dan pemerintah daerah lain pada

umumnya diharapkan dalam menatapkan peraturan di

daerah hendaknya mengacu kepada peraturan per-undang-

undangan lingkungan yang lebih tinggi, terutama


124

kesesuaian peraturan di daerah tentang Izin Mendirikan

Bangunan dengan Undang – Unadang Pengelolaan

Lingkungan Hidup No. 23 tahun 1997 dan Peraturan

Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai

Dampak Lingkungan.

2. Aparat penegak hukum, terutama aparatur administrasi

hendaknya meningkatkan kualitas kinerja dalam

penegakan hukum lingkungan, terutama menyediakan

akses informasi yang cukup terhadap mekanisme

transparansi yang standar dalam praktek proses AMDAL.

Disamping itu harus konsisten untuk melakukan

pengawasan atau pelaksanaan RKL – RPL dan UKL –

UPL setelah izin diberikan kepada penanggung jawab

usaha/atau kegiatan.

DAFTAR PUSTAKA

I. Buku

Askin, Moh. Penegakan Hukum Lingkungan & Pembicaraan di DPR. 2003.


Jakarta. Penerbit Yarsif Watampone

Ahmad, Ali. Menguak Tabir Hukum (suatu kajian filosofis dan sosiaologis).
Jakarta. Gunung agung. tbk

Aria Zurnetti, Neng Sarmida, Nilma Suryani. 2002. “Hukum Pidana” Diktat.
Padang : Fakultas Hukum Universitas Andalas
Fajriani, Lia. Kepatuhan dan Penegakan Hukum Yang Berkaitan Dengan
AMDAL, UKL dan UPL di Kota Padang. 2005. Tesis.
Pascasarjana Universitas Andalas Padang

Hamzah. Andi. 1995. Penegakan Hukum Lingkungan. Jakarta. Arikha Media


Cipta

-------, 2005. Penegakan Hukum Lingkungan. Jakarta .Sinar Grafika

Husin, Sukanda. 2001. “ Hukum Lingkungan Internasional dan ISO 14001 “


Jurnal Hukum Yustisia. Padang Fakultas Hukum Jurnal
Universitas Andalas

Husen, M.Harun. Lingkungan Hidup, Pengelolaan dan Penegakan Hukumnya.


Jakarta. Sinar Grafika

Hardjasoemantri, Koesnadi. 1993. Hukum Tata Lingkungan. Edisi kelima,


Cetakan ketujuh. Yogyakarta : Gajah Mada University
Press
Hadi. P. Sudarto. Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan. 2001.
Yogyakarta. Gajahmada University Press

HR, Ridwan. Hukum Administrasi Negara. Jakarta. 2006. PT. Raja Grafindo

Keraf, D. Sonny. 2000. Etika Lingkungan. Jakarta. Penerbit. Kompas.

Makarao. Moh. Taufik. Aspek-aspek Hukum Lingkungan.2006. Jakarta. PT Indek


Kelompk Gramedia.

Rangkuti, Siti Sundari. 2000. Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan


Lingkungan Nasional. Surabaya. Airlangga University
Press.

Rahmadi, Takdir. Hukum Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun. Surabaya.


2003. Airlangga University Press.

Silalahi, M. Daud. 1992. Hukum Lingkungan Dalam Sistem Penegakan Hukum


Lingkungan. Bandung . Mandar Maju

-------, 1995. AMDAL Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia.


Bandung. Mandar Maju

Santosa, Mas Ahmad. 2001. Good Governance Hukum Lingkungan. Jakarta .


ICEL
126

-------, 1997. Pengaduan Masyarakat dan Penyelesaian Sengketa Lingkungan.


Jakarta. Indonesian Center For Environmental Law.

-------, 1999. Pedoman Penggunaan Gugatan Perwakilan (Class Action). Jakarta.


ICEL, PIAC, YLBHI.

Suparni. Niniek. 1992. Pelestarian, Pengelolaan dan Penegakan Hukum


Lingkungan. Jakarta. Sinar Grafika

Supardi, Imam. Lingkungan Hidup dan Kelestariannya. 2003 . Alumni Bandung

Soemarwoto, Otto. 1994. Ekologi Lingkungan dan Pembangunan, Edisi Revisi.


Jakarta. Djambatan.

-------, 1997. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta. Gaja Mada


University Press

Sugandhy, Aca. 1999. Penataan Ruang dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.


Jakarta. Gramedia

Soejono Soekanto. 2003. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta. Rineka Cipta.

Simon, Esther, Sigit Reliantoro dan Dadang Purnama. 2004. Tanya Jawab
AMDAL, Menjawab Berbagai Pertanyaan Umum
Tentang AMDAL. Jakarta . Kemeterian Lingkungan
Hidup

Soekanto, Soerjono. 1983. Penegakan Hukum. Jakarta. Bina Cipta.

Soemartono, P. Gatot. Hukum Lingkungan Indonesia. Jakarta Sinar Grafika

2. Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan


Perundang-undangan

Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah

Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak


Lingkungan Hidup
Keputusan Menteri Negara Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun
2001 Tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan
Yang Wajib Dilengakapi dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 8 Tahun 2006 Tentang


Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2002 Tentang


Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup
(UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL)

Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 23/MPP/Kep/1998


Tentang Lembaga-Lembaga Usaha Perdagangan

Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Padang Nomor 18


Tahun 2002 Tentang Persetujuan Rencana Pengembangan
16 (enam belas) Pasar

Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1990 Tentang Tata Bangunan

3. Makalah

Frenadin Adegustara, 2005. “ Analisis Mengenai Dampak Lingkungan


(AMDAL)” Makalah. Padang

Sukanda Husin. 2005. “Teori dan Praktek Gugatan Perwakilan (Class Action) di
Indonsia” Makalah. Padang. Fakultas Hukum Universitas
Andalas

Rangkuti, Siti Sundari. 1991. “ Inovasi Hukum Lingkungan dari Ius Contitutum
ke Ius Constituendum” Pidato ilmiah Pengukuhan Guru
besar Universita Airlangga.

4. Dokumen pendukung

Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), RKL, RPL Pembangunan Sentral Pasar


Raya Padang
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (UPL) Pembangunan Gedung Parkir
dan Pusat Perbelanjaan Pasar Banto Kota Bukittinggi.
128

Bapenas. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun


2004-2009

Bapeda. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Sumatera


Barat Tahun 2006-2010

Dokumen Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang. 2005. Analisis Mengenai


Dampak Lingkungan (AMDAL) Pembangunan Plasa
Goan Hoat.

Gugatan Perdata Tentang Perbuatan Melawan Hukum dengan Mekanisme


Gugatan Perwakilan (Class Action) Kepada Pengadilan
Negeri Klas IA Padang Register Perdata No.
43/pdt.9/2005 PN Padang

Putusan Pengadilan Negeri Padang No. 43/PDT.G/2005/PN. PDG

Putusan Pengadilan Tinggi Padang No. 113/PDT/2005/PT.PDG