Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR 2
KIMIA ORGANIK
PENYABUNAN

Oleh :

Nama : MUHAMMAD RAMLI


NPM : 10220074

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


(STKIP) HAMZANWADI SELONG
JURUSAN MIPA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
TAHUN 2011
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan ini di buat dan di kumpulkan untuk dapt mengikuti praktikum


berikutnya

No Materi paraf
1

Mengetahui

Co,as praktikan

( ) (MUHAMMAD RAMLI)
A. PELAKSANAN PRAKTIKUM

1. Tujuan Percobaan

a. Mempelajari proses pembuatan sabun dari Minyak.


b. Untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada proses pembuatan sabun dari
Minyak.
2. Tanggal praktikum

/05/2011

3. Tempat praktikum

Pusat Laboratorium Biologi STKIP Hamzanwadi Selong

B. LANDASAN TEORI

Saponifikasi

Saponifikasi pada dasarnya adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung


dengan mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali yang
menghasilkan gliserol dan garam karboksilat (sejenis sabun). Sabun merupakan
garam (natrium) yang mempunyai rangkaian karbon yang panjang. Reaksi dibawah
ini merupakan reaksi saponifikasi tripalmitin / trigliserida.

CH2OC[CH 2]14CH 3 CH2OH

CH 2OC[CH 2]14CH 3 + 3 NaOH CHOH + 3CH3[CH 2]14 CO2Na

CH 2OC[CH 2]14CH 3 CH2OH

Tripalmitin Larutan Basa Gliserol Natrium Palmitat


(minyak dari sawit ) (alkali ) (Sabun)

Gambar 2.1 Reaksi Saponifikasi tripalmitin


Selain dari reaksi diatas sabun juga bisa dihasilkan dari reaksi netralisasi Fatty Acid (FA),
namun disini hanya didapat sabun tanpa adanya Gliserin (Glycerol), karena saat proses
pembuatan Fatty Acid, glycerol sudah dipisahkan tersendiri.
O

R– O– C – H + NaOH R – COONa + H2 O

Asam lemak alkali Sabun Air

Gambar 2.2 Reaksi saponifikasi Asam lemak


Selain dari minyak atau lemak dan NaOH pada pembuatan sabun dipergunakan
bahan-bahan tambahan sebagai berikut:
a. Cairan pengisi seperti tepung tapioka, gapleh dan lain-lain.
b. Zat pewarna
c. Parfum, agar baunya wangi.
d. Zat pemutih, misal natrium sulfat

Sabun
Sejarah Sabun

Produk sabun sebenarnya tidak pernah ditemukan, tetapi secara berkesinambungan


dapat dikembangkan dari campuran alkali kuat dan bahan berlemak (fatty material).
Sekitar tahun 1800, sabun dipercaya sebagai hasil campuran mekanis untuk memperoleh
sabun kasar dan sabun lunak telah dikembangkan pada abad pertama melalui suatu
proses. Bahan mentah yang tersedia dalam perang dunia I membuat jerman
mengembangkan sabun sintesis dan deterjen (detergent). Proses ini dilaksanakan dengan
mengkomposisi reaksi sulfonasi naftalena yang mengandung rantai alkil pendek yang
merupakan zat pembasah (wetting agent).

Pengertian Sabun

Sabun adalah salah satu karbon yang sangat komersial baik dari sisi penggunaan
dalam kehidupan sehari-hari maupun persaingan harga produk yang memberikan
pengembangan yang cukup baik. Sabun merupakan surfaktan yang digunakan dengan air
untuk mencuci dan membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan yang tercetak
seperti batangan.
Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari reaksi
saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah
(misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol. Selain C12 dan C16,
sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat.

Gambar 2.3 Struktur Asam Laurat

Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran, sabun, dan air.
Kotoran yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa lemak. Untuk
mempermudah penjelasan, mari kita tinjau minyak goreng sebagai contoh. Minyak
goreng mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak jenuh yang ada
pada minyak goreng umumnya terdiri dari asam miristat, asam palmitat, asam laurat,
dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak goreng adalah asam oleat,
asam linoleat, dan asam linolena. Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam
karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6).

Seperti yang kita ketahui, air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O,
yaitu molekul yang tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada
satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada
kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Air
sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia.
Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi
kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-
molekul air.

Bahan baku pembuatan sabun, antara lain:


a. Minyak kelapa sawit
Mengandung asam palmitat, asam oleat, asam stearat, dan asam myfistat.
b. Minyak Zaitun
Mengandung asam palmitat, asam oleat dan asam stearat.
c.Minyak Kelapa
Mengandung asam palmitat, asam oleat dan asam stearat.

Mengapa minyak dapat larut dengan bantuan sabun dalam media air?

Dari penjelasan di atas, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan mudah.


Fenomena tersebut tidak lepas dari gaya tarik menarik molekul. Gaya tarik antara dua
molekul polar ( gaya tarik dipol-dipol) menyebabkan larutan polar larut dalam larutan
polar. Molekul polar mempunyai dipol yang permanen sehingga menginduksi awan
elektron non polar sehingga terbentuk dipol terinduksi, maka larutan nonpolar dapat larut
dalam non polar. Hal tersebut dapat menjelaskan proses yang terjadi saat kita mencuci
tangan. Saat pencucian tangan, air yang merupakan senyawa polar menginduksi awan
elektron sabun sehingga dapat membantu larutnya asam lemak yang juga merupakan
senyawa non polar. Maka dari itu, bila kita mencuci tangan dengan menggunkan sabun,
lemak yang menempel pada tangan akan melarut bersama sabun dengan bantuan air.

Minyak

Lemak dan minyak merupakan senyawa organik yang penting bagi kehidupan
makhluk hidup.
Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk golongan lipida.
Salah satu sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida adalah daya larutnya dalam
pelarut organik (misalnya ether, benzene, chloroform) atau sebaliknya ketidak-larutannya
dalam pelarut air.
Kelompok lipida dapat dibedakan berdasarkan polaritasnya atau berdasarkan struktur
kimia tertentu.
a. Kelompok Trigliserida ( lemak,minyak,asam lemak dan lain-lain ).
b. Kelomok turunan asam lemak ( lilin,aldehid asam lemak dan lain-lain ).
c. Fosfolipida dan serebrosida ( termasuk glikolipida ).
d. Sterol-sterol dan steroida.
e. Karotenoida.
f. Kelompok lipida lain.
Trigliserida merupakan kelompok lipida yang paling banyak dalam jaringan hewan
dan tumbuhan. Trigliserida dalam tubuh manusia bervariasi jumlahnya tergantung dari
tingkat kegemukan seseorang dan dapat mencapai beberapa kilogram.
Fosfolipida, glikolipida, sterol dan steroida terdapat dalam jaringan hewan dan
tumbuhan dalam jumlah yang lebih sedikit dari pada trigliserida. Dalam tubuh manusia,
kelompok ini hanya merupakan beberapa persen saja dari bahan lipida seluruhnya.
Karotenoida dalam tubuh manusia lebih sedikit lagi jumlahnya, biasanya dalam
seluruh tubuh manusia hanya terdapat kurang dari 1 gram. Dalam jaringan tanaman,
karotenoida terdapat dalam jumlah lebih banyak.
Secara Dentitif, lipida diartikan sebagai semua bahan organik yang dapat larut
dalam pelarut organik yang mempunyai kecenderungan nonpolar.
Lemak dan minyak atau secara kimiawi adalah trigliserida merupakan bagian
terbesar dari kelompok lipida. Trigliserida ini merupakan senyawa hasil kondensasi satu
molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak.

CH2 – O – C – R1
O CH2 – OH O

3 R– O – C – H CH – OH CH – O – C – R2 + 3H20
+
O
CH2 – OH
CH2 – O – C – R3

TRIGLISERIDA AIR
ASAM LEMAK GLISEROL (cpo)

Gambar 2.4 Reaksi kimia asam lemak dengan gliserol

Secara umum lemak diartikan sebagai trigliserida yang dalam kondisi suhu ruang
berada dalam keadaan padat. Sedangkan minyak adalah trigliserida yang dalam suhu
ruang berbentuk cair. Secara lebih pasti tidak ada batasan yang jelas untuk membedakan
minyak dan lemak.
Reaksi dan sifat kimia pada minyak atau lemak:
1. Esterifikasi
Proses Esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari trigliserida,
menjadi bentuk ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan melalui reaksi kimia
yang disebut interifikasi atau penukaran estar yang didasarkan pada prinsip trans-
esterifikasi Fiedel-Craft.
2. Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisa, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-asam lemak
bebas dan gliserol, proses ini dibantu adanya asam, alkali, uap air, panas, dan
eznim lipolitik seperti lipase. Reaksi hidrolisis mengakibatkan kerusakan lemak
dan minyak yaitu “hydrolytic rancidity” yaitu terjadi flavor dan rasa tengik pada
lemak atau minyak. Hal ini terjadi karena terdapat sejumlah air dalam lemak dan
minyak tersebut.
O

C H2 – O – C – R1
C H2 – O H
O O

C H– O – C – R2 + 3H2 0 C H– O H 3 R – O – C– H
O
C H2 – O H
C H2 – O – C – R3

T R IG L IS ER ID A AIR ASAM LEM AK


G L IS E R O L
(cp o)

Gambar 2.5 Reaksi Hidrolisa pada trigliserida


3. Penyabunan
Reaksi ini dilakukan dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada
trigliserida. Bila penyabunan telah lengkap, lapisan air yang mengandung gliserol
dipisahkan dan kemudian gliserol dipulihkan dengan penyulingan.
4. Enzimatis
Enzim yang dapat menguraikan lemak atau minyak dan akan menyebabkan
minyak tersebut menjadi tengik, ketengikan itu disebut “Enzimatic rancidity”
Lipase yang bekerja memecah lemak menjadi gliserol dan asam lemak serta
menyebabkan minyak berwarna gelap. Enzim peroksida membantu proses
oksidasi minyak sehingga menghasilkan keton.

Gambar 2.6 Reaksi Enzimatis


5. Oksidasi
Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan
lemak atau minyak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik
kepada minyak atau lemak “Oxidative rancidity”.
6. Hidrogenasi
Proses Hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai dari karbon
asam lemak pada lemak atau minyak. Setelah proses Hidrogenasi selesai, minyak
didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan penyaringan. Hasilnya adalah
minyak yang bersifat plastis atau keras, tergantung pada derajat kejenuhan.

Sifat fisika lemak dan minyak :


1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil- amin dari lecitin
2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatur kamar
3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan untuk
pengujian kemurnian minyak.
4. Minyak atau lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (Coaster oil), sedikit
larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter, karbon disulfide dan
pelarut halogen.
5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai
karbon.
6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami juga terjadi karena asam-
asam yang berantai sangat pendek sebagai hasil penguraian pada kerusakan
minyak atau lemak
7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak atau
minyak dengan pelarut lemak
8. Titik lunak dari lemak atau minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan minyak
atau lemak
9. Shot Melting point adalah temperatur pertama saat terjadi tetesan pertama dari
minyak/lemak.
10. Slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta
pengaruh kehadiran komponen-komponennya.
Senyawa lemak dan minyak merupakan senyawa alam penting yang dapat dipelajari
secara lebih dalam dan relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan senyawa makro
nutrien lain. Kemudahan tersebut diakibatkan oleh:
1. molekul lemak relatif lebih kecil dan kurang kompleks dibandingkan karbohidrat
atau protein.
2. molekul lemak dapat disintesis di laboratorium menurut kebutuhan.
Analisis lemak dan minyak yang umum dilakukan ,dapat digolongkan dalam tiga
kelompok tujuan berikut:
1. Penentuan kuantitatif atau penentuan kadar lemak yang terdapat dalam bahan
makanan atau pertanian.
2. Penentuan kualitas minyak (murni) sebagai bahan makanan yang berkaitan
dengan proses ekstraksinya, atau ada tidaknya perlakuan pemurnian lanjutan
misalnya penjernihan, penghilangan bau, penghilangan warna dan sebagainya.
3. Penentuan sifat fisis maupun kimiawi yang khas atau mencirikan sifat minyak
tertentu.
Ekstraksi merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar lemak dalam suatu
bahan. Sebagai senyawa hidrokarbon, lemak dan minyak pada umumya tidak larut air
tatapi dalam pelarut organik.
Penentuan kadar lemak dengan pelarut, selain lemak juga terikut fosfolipida, sterol,
asam lemak bebas, karotenoid, dan pigmen lain. Karena itu hasil analisanya disebut
lemak kasar (crude fat).
Ada dua cara penentuan kadar lemak berdasarkan jenis bahan
1. Bahan Kering
Ekstraksi lemak dari bahan kering dapat dilakukan terputus-putus atau
berkesinambungan. Ekstraksi secara terputus dilakukan dengan soklet. Sedangkan
secara berkesinambungan dengan alat goldfish.
2. Bahan Cair
Penentuan kadar lemak dari bahan cair dapat menggunakan botol Babcock atau
dengan Mojoinner.
Jenis Minyak dan lemak dapat dibedakan satu sama lain berdasarkan sifat-sifatnya.
Pengujian sifat-sifat minyak tersebut salah satunya adalah penentuan angka penyabunan
dan penentuan angka asam.
Angka penyabunan dapat diartikan sebagai banyaknya (mg) KOH yang dibutuhkan
untuk menyabunkan satu gram asam lemak atau minyak. Angka penyabunan sendiri
dapat dipergunakan untuk menentukan berat molekul minyak secara kasar. Minyak yang
disusun oleh asam lemak berantai C pendek berarti mempunyai berat molekul relatif kecil
akan mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya minyak dengan berat
molekul besar mempunyai angka penyabunan relatif kecil.
Angka asam dinyatakan sebagai jumlah miligram KOH atau NaOH yang diperlukan
untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam satu gram minyak atau lemak.
Angka asam besar menunjukan asam lemak bebas yang besar yang berasal dari
hidrolisis minyak atupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Makin tinggi
angka asam makin rendah kualitasnya.
C. ALAT DAN BAHAN

1. Alat

a) Tabung reaksi

b) Pipet

c) Tabung benzana

d) Kaki tiga

e) Cawan petri

f) Gelas ukur

g) Gelas kimia

h) Cawan pengucapan

i) Rak tabung reaksi

j) Ember

k) Tisu

l) Kertas saring

2. Bahan

a) Minyak kelapa

b) NaOH 40%

c) Etil alkohol

d) Air Kran

e) Air suling

f) Larutan NaCl jenuh

g) CaCl2

h) Air suling yang mengandung CaCl

i) Diterjen

D. CARA KERJA
a. memasukkan 5 ml larutan NaOH 40% ke dalam cawan pengycapan. Tambahkan 5
ml minyak kelapa dan 5 ml etil alkohol, panaskan dengan hati-hati dabn selalu
terus diaduk, dan pemanasan dilakukan selama 15 menit. Jika air alkohol telah
menguap dan isi bejana telah menjadi padat tambahkan air. Dinginkan dan
tambahkan 40 ml larutan NaCl jenuh, menyaring gengan kertas saring, kemudian
membilas sabun tersebut dengan air dingin. Kemusian mencoba untuk mencuci
tangan dengan sabun tersebut. Jika tangan lengket ditangan tambahakan lagi
alkohol dan larutan NaOH dan panaskan.

b. Membuat larutan sabun dengan melarutkan sedikit air dalam 10 ml air. Kemudian
mengambil kira-kira 1 ml larutan sabun tersebut kemudian menambahkan 5 mll
CaCL2, kemudian mengocoknya

c. Mencatat hasil pengamatan

d. Mengambil 2-3 tetes larutan sabun b kemudian menambahkan 1 ml

 air suling yang mengandung CaCl2

 air keran

 air suling

e. mengulangi percobaan d menggunakan erbagai diterjen sintesis, dengan cara


melarutkan 0,5 gram dalam 10 mll air

E. HASIL PENGAMATAN

Saponifikasi merupakan proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan


mereaksikan asam lemak khusunya trigliserida dengan alkali yang menghasilkan
gliserol dan garam karboksilat (sejenis sabun). Sabun merupakan garam (natrium)
yang mempunyai rangkaian karbon yang panjang. Saponifikasi dilakukan dengan
mereaksikan minyak kelapa sawit (triglisrida) dengan alkali (biasanya menggunakan
NaOH atau KOH) sehingga menghasilkan gliserol dan garam alkali Na (sabun).
Saponifikasi juga dapat dilakukan dengan mereaksikan asam lemak dengan alkali
sehingga menghasilkan sabun dan air.
1. Diegram Alir
No Cara Kerja Hasil pengamatan
No Cara Kerja Hasil pengamatan
2. Tabel perubahan yang terjadi jika larutan sabun di campur dengan
beberapa larutan

NO larutan perubahan

1 Air suling

2 Air Kran

3 Larutan CaCl2

3. Tabel perubahan yang terjadi jika larutan tabel 2 di campur dengan


bebrapa tetes larutan diterjen sintetik

NO larutan perubahan

1 Air suling + diterjen

2 Air Kran+ diterjen

3 Larutan CaCl2+
diterjen
F. PEMBAHASAN

Setiap sabun dibuat melalui reaksi antara lemak dengan bahan yang disebut
alkali - basa yang sangat kuat (basa adalah lawan dari asam). Karena dibuat melalui
pencampuran sebuah senyawa organik (asam lemak) dengan sebuah senyawa
anorganik (alkali), molekul sabun mempertahankan beberapa ciri keduanya. Molekul
sabun mempunyai sebuah kaki organik yang senang bergandengan dengan bahan-
bahan organik berminyak, dan sebuah kaki anorganik yang senang bergandengan
dengan air. Itulah sebabnya sabun memiliki kemampuan tiada banding dalam menarik
kotoran berminyak dari tubuh atau pakaian ke dalam air.

Cara kerja sabun adalah mengikat minyak kedalam air, sehingga akhirnya
minyak dan kotoran dapat dibilas dengan lebih mudah.

Molekul-molekul sabun berbentuk panjang dan tipis. Pada hampir seluruh


panjangnya (atau "ekornya") strukturnya tepat sama dengan molekul-molekul
minyak, karena itu memiliki afinitas atau keakraban dengan molekul-molekul
minyak. Tapi, pada salah satu ujungnya yang lain (atau "kepalanya") ada sepasang
atom yang muatan listriknya sedemikian hingga hanya senang bergabung dengan
molekul-molekul air, dan kepala inilah yang membuat seluruh molekul sabun
menyatu dengan air yang membuatnya dapat larut.

Kita bisa menambahkan aroma dalam sabun dengan meberikan beberapa


tettes larutan pengharum kedalam campuran sabunnya.
G. KESIMPULAN

1) Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan
membersihkan. Setiap sabun dibuat melalui reaksi antara lemak dengan bahan
yang disebut alkali --basa yang sangat kuat (basa adalah lawan dari asam). Karena
dibuat melalui pencampuran sebuah senyawa organik (asam lemak) dengan
sebuah senyawa anorganik (alkali), molekul sabun mempertahankan beberapa ciri
keduanya. Molekul sabun mempunyai sebuah kaki organik yang senang
bergandengan dengan bahan-bahan organik berminyak, dan sebuah kaki
anorganik yang senang bergandengan dengan air. Itulah sebabnya sabun memiliki
kemampuan tiada banding dalam menarik kotoran berminyak dari tubuh atau
pakaian ke dalam air.
2) Dalam proses saponifikasi, lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan
gliserol dan sabun mentah.
3) Penyususun sabun terbesar adalah Lemak
DAFTAR PUSTAKA

Satyawibawa, Iman dan Yustina Erna Widyastuti. 1992. Kelapa Sawit Dan
Pengolahannya. Jakarta: Ganesha Exacta.
Irawan, wira. 2006. Laporan Praktikum : Proses Reaksi Saponifikasi. Medan: Jurusan
Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri. Institut Teknologi Medan.
Anonim. 2008. Minyak dan Kolesterol. http://www.halalguide.info. Diakses pada tanggal
28 Oktober 2009.
Andry. 2008. Teknologi Lemak Dan Minyak. http://www.pdf-search-engine.com. Diakses
pada tanggal 28 Oktober 2009.
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan ini di buat dan di kumpulkan untuk dapt mengikuti praktikum


berikutnya

No Materi paraf
1

Mengetahui

Co,as praktikan

( ) (MUHAMMAD RAMLI)
LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA DASAR II

SENYAWA OEGANIK
LEMAK & POLIMER PADA PROSES PEMBUATAN SABUN

Oleh :

Nama : Muhammad Ramli


NPM : 10220074

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


(STKIP) HAMZANWADI SELONG
JURUSAN MIPA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
TAHUN 2011