Anda di halaman 1dari 15

TEORI KESEIMBANGAN UMUM

DAN

KESEJAHTERAAN EKONOMI
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah mikro ekonomi

Disusun Oleh:

1) Irwan Sudara ( 41152010090149 )


2) Sanda Nugraha ( 41152010090145)

Universitas langlangbuana bandung


Fakultas ekonomi
Teori Keseimbangan Umum

Dan

Kesejahteraan Ekonomi
PENDAHULUAN

Untuk memahami interaksi antar pasar, ekonom menyusun model ekonomi


keseimbangan umum ( general equilibrium model ). Dengan model ini dijelaskan proses
tercapainya keseimbangan ( harga dan kuantitas ) diseluruh pasar ( industri ) secara
simultan. Studi keseimbangan umum yang paling sederhana mengasumsikan bahwa dalam
perekonomian hanya ada dua industri atau pelaku ekonomi. Dalam studi tingkat yang lebih
tinggi, khususnya dengan penggunaan ekonomatrika dan komputer, dapat disusun asumsi-
asumsi yang lebih mendekati realita.

TUJUAN

Untuk mengetahui proses bagaimana individu ( konsumen ) dan produsen


( perusahaan ) mencapai keseimbanagan dengan cara mengefisiensikan penggunaan
(alokasi ) sumber daya ekonomi, serta mekanisme pasar mampu menjadi alat distribusi
kesejahteraan melalui mekanisme pertukaran. Lewat pertukaran tersebut terjadi distribusi
kekayaan dan atau pendapatan dengan pembayaran atas penggunaan faktor produksi dan
atau pembelian barang dan jasa.

Yang menjadi masalah adalah bahwa proses tercapainya keseimbangan tersebut


diasumsikan berlangsung dalam satu pasar yang terisolasi dengan pasar lainnya. Padahal
dalam kenyataannya tidak demikian. Keadaan di pasar yang satu mempengaruhi pasar
lainnya. Jika perusahaan-perusahaan dari industri lain ( terutama yang mengalami
kerugian ) untuk memasuki industri sepatu. Proses masuk keluar tersebut berhenti pada
saat seluruh perusahaan dalam seluruh industri menikmati laba normal.

PEMBAHASAN
Model keseimbangan umum yang paling sederhana digambarkan dalam diagram berikut :

Diagram 13.1

Model keseimbangan umum ( simultan ) sederhana

(a) Industri garmen (b) industri sepatu

Dalam perekonomian diasumsikan hanya ada dua industri, sebut saja industri
pembuatan pakaian jadi ( garmen ) dan sepatu. Struktur pasar adalah persaingan
sempurna. Keseimbangan awal masing-masing industri pada titik A ( Pg0 , Qg0 ) dan B ( Ps0 ,
Qs0 ) dimana setiap perusahaan dalam setiap industri hanya menikmati laba normal ( kurva
AC = kurva permintaan ).

Jika industri garmen menghadapi peningkatan permintaan ( kurva Dg0 Dg1 ), harga
meningkat ke Pg1 ( dengan output Qg1 ) yang menyebabkan perusahaan-perusahaan dalam
industri garmen menikmati laba super normal. Sementara itu industri sepatu mengalami
penurunan permintaan ( Ds0  Ds1 ), sehingga harga turun dari Ps0 ke Ps1. Perusahaan-
perusahaan dalam industri sepatu mengalami kerugian ekonomi. Hal ini ditambah dengan
adanya laba super normal pada industri garmen, memotivasi perusahaan-perusahaan dalam
industri sepatu meninggalkan industri tersebut dan memasuki industri garmen. Akibat nya
penawaran di industri garmen meningkat ke Sg1 yang mengakibatkan harga turun kembali
ke Pg0 dengan jumlah output Qg2. Perusahaan-perusahaan dalam industri garmen akhirnya
hanya menikmati laba normal.

Dalam industri sepatu, karena ada ( banyak ) perusahaan yang pergi, kapasitas
produksi menurun. Akibatnya penawaran menurun ke Ss1 yang mendorong haraga naik
kembali ke Ps0 dengan output Qs2. Perusahaan-perusahaan yang masih bertahan dalam
industri sepatu mengalami perbaikan, sehingga dapat kembali menikmati laba normal. Jika
kedua industri telah mencapai keseimbangan , perekonomian dikatakan telah berada dalam
keseimbangan umum.

Penjelasan diatas menunjukan bahwa dalam perekonomian dua pasar bila satu
pasar mencapai keseimbangan , maka pasar yang satunya juga mencapai keseimbangan.
Prinsip ini dapat digunakan dalam konteks yang lebih luas. Dalam suatu perekonomian yang
terdiri dari n pasar, jika n-1 pasar berada dalam keseimbangan, maka pasar ke n akan
mengalami keseimbangan. Pernyataan ini disebut sebagai hukum Walras ( Walras Law ).

 EFISIENSI PERTUKARAN ( AFFICIENCY IN EXCHANGE )

Perkonomian dikatakan efisien jika individu-individu dalam perekonomian


( konsumen – produsen ) telah berada dalam kondisi keseimbanagan, melalui mekanisme
pertukaran. Dengan kata lain perekonomian telah berjalan efisien bila :

a) Terjadi mekanisme pertukaran yang efisien ( effisiency in exchange )


b) Produksi berjalan efisien ( effisiency in production )

Model Pertukaran Edgeworth ( Edgeworth Box )

Menurut Alfred Pareto, alokasi sumber daya dikatakan efisien bila barang dan jasa
yang tidak dapat direalokasikan ( reallcated ) antar konsumen tanpa membuat salah satu
konsumen dirugikan ( tingkat kepuasan menurun ). Prinsip ini disebut prinsip Optimalisasi
Pareto ( Pareto efficiency ).

Untuk dapat memahami pernyataan diatas, kita menyusun sebuah model ekonomi
sederhana. Dalam perekonomian dirumuskan hanya terdapat dua individu, A dan B, dan
juga dua barang, pakaian (X) dan makanan (Y). Pakaian dan makanan didistribusikan
antara A dan B seperti yang digambarkan dalam diagram 13.2.a dandan 13.2.b, dimana A
memiliki pakaian sebanyak Xa dan makanan sebanyak Ya. B memiliki pakaina sebanyak Xb
dan makanan sebanyak Yb. Dari informasi tersebut dapat disusun kotak pertukaran
Edgeworth ( Edgeworth Box), seperti pada diagram 13.2.c, dimana D merupakan titik
kepemilikan awal ( initial andowmen ), titik dimulainya pertukaran antara A dan B.

Diagram 13.2
Konsturksi kotak

Pertukaran Edgeworth ( Edgeworth Box )

(c)

Pakaian dan makanan milik


perekonomian
Dengan kotak Edworth kita dapat menganalisis proses pertukaran antar individu
dalam perekonomian sampai mereka mencapai kondisi efisien. Titik D dalam diagram 13.3
menunjukan kepemilikan awal ( initial endowmen ) A dan B. Preferensi A digambarkan
dengan kurva indeferensi A1, sedangkan preferensi B, kurva indiferens B1. Dengan slove
masing-masing kurva indiferensi terlihat perbedaan MRSyx ( berapa jumlah Y yang harus
dikorbankan untuk memperoleh tambahan konsumsi 1 unit X ) yang memungkinkan terjadi
pertukaran. Tujuan pertukaran dalah meningkatkan kepuasan masing-masing individu.
Secara grafis hal itu ditunjukan dengan letak kurva indiferensi A, dimana A1<A2<A3 dan
seterusnya. Demikian juga B1<B2<B3 dan seterusnya. Bagi A, pertukaran akan
menguntungkan jika kepuasannya meningkat ( ditunjukan oleh kurva A yang berada
disebelah kanan atasnya ). Sebaliknya bagi B pertukaran akan menguntungkan jika
kepuasan menungkat ( kurva B yang berada di sebelah bawahnya )

Menurut prinsip optimalisai Pareto, proses pertukaran antara A dan B akan berhenti
apabila A tidak ldapat lagi meningkatkan kepuasan tanpa mengorbankan kepuasan B.
Secara matematis hal ini akan terjadi bila MRSyx untuk A sama sama dengan MRSyx untuk
B ( MRSyx A = MRSyx B ). Jika dalam perekonomian ada lebih dari dua individu, efisiansi
tercapai bila nilai MRSyx untuk seluruh individu sudah sama, MRSyx A = MRSyx
B......MRSyx Z. Berdasarkan teori keseimbangan konsumen , pada saat itu MRSyx
=.....Py/Px. Jai efisiensi Pareto tercapai bila :

MRSyx A = MRSyx B=....=MRSyx Z=


Py/Px....(13.1)
Kondisi seperti digambarkan dalam persamaan (13.1), dalam diagram 13.3
ditunjukan misalnya oleh titik-titik E, F, G. Pada titik tersebut slove kurva indiferensi A adalah
sama dengan slove kurva indiferensi B, yaitu pada saat kurva indiferensi A bersinggungan
dengan kurva indiferensi B ( selama kurva indeferensi A dan B masih saling berpotongan,
pertukaran masih dapat terus dilakukan ). Kombinasi tak terhingga dari berbagai
kemungkinan keseimbangan digambarkan oleh garis OAOB yang disebut kurva kontrak
(contrac curve) yaitu kurva lokus ( tempat kedudukan ) titik-titik keseimbangan Pareto
sebagai hasil pertukaran antar individu.

 EFISINSI PRODUKSI (EFFICIENCY IN PRODUCTION)

Produksi dikatakan efisien bila penggunaan faktor produksi maupun penjualan output sudah
efisian.

a) Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi (input effisiency)

Penggunaan faktor produksi dikatakan efisien secara tekhnis bila faktor produksi
yang digunakan untuk memproduksi output yang satu tidak dapat direalokasikan untuk
menambah output yang lain tanpa mengurangi produksi output yang bersangkutan. Untuk
lebih memahaminya, model Edgeworth ( pada diagram 13.3 ) dapat diadaptasi dengan
mengasumsikan bahwa output dalam perekonomian terdiri atas pakaian (X) dan makanan
(Y), sedangkan faktor produksi yang digunakan adalah mesin (K) dan tenaga kerja (L).
Harga penggunaan satu faktor produksi mesin adalah r, sedangkan harga penggunaan
seorang tenaga kerja adalah w. Kurva X1,X2,X3 adalah isokuan untuk pakaian dimana
X1<X2<X3. Kurva Y1.Y2,Y3 adalah isokuan untuk makanan dimana Y1<Y2<Y3 (diagram 13.4).
Titik-titik A,B,C adalah beberapa kombinasi penggunaan faktor produksi yang efisien karena
MRTSIk untuk memproduksi pakaian sama dengan MRTSIk untuk memproduksi makanan.
Bila perusahaan beroperasi dalam pasar factor produksi persaingan sempurna,
keseimbangan tercapai bila MRTSlk sama dengan rasio harga ke dua factor produksi
( MRTAlk = w/r ). Karena dalam perekonomian ada lebih dari satu perusahaan yang
beroperasi, kondisi efisien pareto tercapai apabia:
( MRTSlkX = MRTSlkY = ….. = MRTSlkA = w/r
Lokus titik – titik keseimbangan Pareto dari penggunaan factor produksi juga
disebut kurva kontrak ( contract curve ), yang dalam diagram 13.4 digambarkan oleh garis
OxOy. Dari kurva OxOy dapat dikonstruksi kurva batas kemungkinan produksi ( production
Possibilities Frontier disingkat PPF ), seperti pada diagram 13.5 di bawah ini. Kurva PPF
merupakan kurva yang menunjukan berbagai kemungkinan kombinasi produksi yang efisien,
dengan jumlah factor – factor produksi ( tenaga kerja dan mesin ) yang digunakan tidak
berubah ( tetap ).
Kurva PPF menurun dari kanan atas ke kiri bawah ( downward slopely ) karena
adanya masalah ekonomi ( kelangkaan ). Untuk menambah produksi 1 unit pakaian ( X ),
maka sejumlah makanan ( Y ) harus dikorbankan. Begitu sebaliknya. Karena itu sudut
kemiringan kurva PPF menggambarkan derajat tranformasi marjinal makanan untuk pakain
( marginal rete of transformation atau MRTyx ), yang menggambarkan berapa unit barang Y
( makanan ) harus dikorbankan untuk menambah produksi 1 unit barang X ( pakaian ).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa titik A biaya marjinal untuk
memproduksi pakaian relative lebih rendah dibandingkan titik C. Sebaliknya, di titik A biaya
marjinal memproduksi makanan lebih tinggi dibandingkan di titik C. Dengan demikian
sebenarnya dapat dikatakan bahwa titik – titik singgung sepanjang kurva PPF merupakan
rasio antara biaya marjinal memproduksi makanan dengan biaya marjinal memproduksi
pakaian.
a) Efisiensi Output ( output efficiency )
Sebuah perekonomian dikatakan mencapai efisiensi output ( efficiency in output )
bila:
➢ Barang dan jasa diproduksi dengan biaya paling rendah ( minimum cost )
➢ Produsen mencapai keseimbangan ( producer’s equilibrium ), dimana MRTyk = Px/Py
➢ Barang dan jasa yang diproduksi memenuhi kebutuhan konsumen untuk mencapai
keseimbangan konsumen ( consumer’s equilibrium ), dimana MRSyx = Px/Py.

Kondisi diatas dapat dijelaskan dalam diagram 13.6 berikut ini.


Dalam diagram di atas kondisi keseimbangan tercapai di titik D, pada titik
persinggungan kurva PPF dengan kurva indiferensi masyarakat ( U1 ), dengan kombinasi
output ( X0,Y0 ). Pada saat itu rasio harga factor produksi digambarkan oleh garis Px */ Py*.
Di titik tersebut konsumen mencapai keseimbangan karena MRSyx = Py / Px. Produsen juga
mencapai keseimbangan karena MRTSlk = w/r. di luar titik D, keseimbangan simultan tidak
akan terjadi.

Di titik D, jumlah barang yang diminta konsumen sama persis dengan jumlah
barang yang ingin ditawarkan produsen. Keseimbangan Ekonomi Secara Umum ( general
equilibrium ) akan tercapai untuk semua barang yang ada dalam perekonomian, jumlah yang
diminta sama dengan jumlah yang ditawarkan. Pada saat itu MRTyx = MRSyx.

CONTOH KASUS

Pengurangan Subsidi BBM dan Peningkatan Efisiensi Perekonomian

Salah satu kebijakan pemerintah yang dianggap paling tidak disukai rakyat adalah
pengurangan atau penghapusan subsidi, khususnya subsidi bahan bakar minyak ( BBM ).
Pihak – pihak yang menolak umumnya berargumentasi bahwa penghapusan subsidi BBM
akan semakin memberatkan hidup rakyat. Penghapusan subsidi juga dianggap dapat memicu
inflasi.
Sebaliknya, pihak yang mendukung kebijakan pengurangan atau penghapusan subsidi
BBM menyatakan bahwa subsidi BBM justru dinikmati oleh kelompok menengah ke atas.
Merekalah yang banyak menikmati subsidi karena banyak mengkonsumsi BBM, khususnya
untuk kendaraan pribadi. Selain itu subsidi BBM tidak mendidik rakyat, khususnya kelompok
menengah ke atas untuk hidup efisien. Sebab harga BBM yang murah menimbulkan kesan
bahwa cadangan minyak bumi di Indonesia masih banyak padahal di abad 21 ini Indonesia
akan segera menjadi Negara pengimpor minyak bumi.

Tabel 13.1 di bawah ini menunjukan perkembangan subsidi BBM selama beberapa
tahun terakhir.

Tabel 13.1

Perkembangan Besarnya Subsidi BBM di Indonesia, 2000-2002

( Rp triliun )

TOTA
2000 2001 2002 L
Total Subsidi 62,7 77,5 40,0 180,2
Subsidi BBM 53,8 68,4 31,2 153,4
Porsi Subsidi
BBM ( % ) 85,8 88,3 78,0 85,1
Sumber : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

Dari table 13.1 di atas terlihat bahwa uang Negara yang dikeluarkan untuk subsidi
BBM selama tahun 2000-2002 sangat besar, yaitu 153,4 triliun rupiah, subsidi BBM selama
2000-2002 mencapai 85,1 % dari total subsidi. Persentase tertinggi terjadi pada tahun 2001,
yang mencapai 88,3 %. Pertanyaanya adalah apakah subsidi tersebut bermanfaat?
Jawabannya adalah: ya! Namun yang menjadi persoalan adalah apakah manfaatnya
sebanding dengan uang yang dikeluarkan? Apakah juga yang paling menikmati subsidi
tersebut memang rakyat kecil?

Untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan di atas, kita gunakan konsep biaya ekonomi
( opportunity cost ) dari subsidi BBM. Manfaat apa saja yang diperoleh bila dana untuk
subsidi BBM dialokasikan untuk yang lain. Untuk itu kita bandingkan dengan dana yang
dialokasikan untuk anggaran kepolisian ataupun anggaran pembangunan lainnya.

Jika dibandingkan dengan dana yang dikeluarkan untuk kegiatan kepoliasian yang
pada tahun 2002 hanya sekitar Rp. 1,3 triliun, maka dengan subsidi BBM puluhan kali lipat
besarnya. Padahal kepolisian sangat dibutuhkan untuk menjaga ketertiban hokum,
melindungi dan melayani masyarakat. Berdasarkan data – data ini adalah tidak proporsional
jiga menuntut pemerintah menyediakan aparat kepolisian dalam jumlah cukup, berkualitas
dan tanggap, tetapi tidak disediakan anggaran memadai. Andaikan sejak beberapa tahun yang
lalu subsidi BBM dikurangi 10 % saja dan dialokasikan untuk kepolisian, maka kita sudah
memiliki jajaran kepolisian yang jauh lebih baik dari sekarang.

Demikian juga jika sebagian dari subsidi BBM dialokasikan untuk anggaran
pendidikan, kesehatan masyarakat, atau pembangunan daerah, jelas manfaatnya lebih besar
dan terasa bagi masyarakat. Jika sudah dilakukan sejak 10 tahun yang lalu, saat ini Indonesia
telah memiliki SDM yang berkualitas baik, juga sarana – saran kesehatan dan pendidikan
yang memadai.

Tabel 13.2

Perkembangan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia, 2000-2002

(ribu unit)

Pertumb
uhan
2 2001 2002
000 2000-
2002

(%tahun)
Kendaraan 1 20.927 22.985 10,0
bermotor 8.975

Mobil 3. 3.189 3.403 5,8


penumpang 039

Bus 6 685 714 3,5


66

Truk 1. 1.777 1.865 4,5


707

Sepeda motor 1 15.275 17.002 11,9


3.563

Sumber : statistik Indonesia 2002. BPS.

Dari tabel diatas diperoleh faktorfaktor yang menakjubkan, yaitu selama tahun 2000-2002
tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor yang 10 % per tahun, jauh lebih tinggi dari
tingkatpertumbuhan ekonomi yang sekitar 3 % per tahun. Tingkat pertumbuhan tertinggi
adalah sepeda motor yang mencapai 11,9 % per tahun. Sementara itu pertumbuhan mobil
penumpang mencapai 5,8 % per tahun. Ini dalah sangat menakjubkan karena dua alasan:

1) Tingkat pertumbuhan itu terjadi pada periode krisis ekonomi


2) Harga mobil pada saat ini beberapa puluh kali lipat harga sepeda motor

Penggunaan kendaraan pribadi yang berlebihan justru menimbulkan masalah


inefisiensi. Misalkan, jarak 30 KM bila ditempuh dengan kendaraan pribadi sendirian akan
membutuhkan setidak-tidaknya 3 liter bensin senilai Rp. 6000,00. Belum lagi biaya
perawatan dan penyusutan mobil. Tetapi bila ada transportasi umum yang memadai, seperti
bus kota yang nyaman dan mampu menampung 50 orang penumpang, biaya transportasi
per orang akan jauh lebih murah. Andaikan jarak 30 KM itu, karena ditempuh dengan bus,
membutuhkan bensin sebanyak 6 liter, maka biaya bensin yang dibutuhkan adalah Rp.
12.000,00, tetapi karena mengangkut 50 orang maka biaya bensin per orang adalah Rp.
240,00.
Berdasarkan data juga terdeteksi bahwa subsidi BBM justru paling banyak
dinikmati oleh penduduk DKI Jakarta yang memiliki kendaraan khususnya mobil pribadi.
Data tahun 2002menunjukan bahwa dari sekitar 3,4 juta unit mobil penumpang yang ada di
Indonesia, sekitar 1,5 juta ( 43%) berada di Jakarta. Padaha luas jakarta hanya sekitar 700
KM2 atau 0,04% luas daratan Indonesia. Dengan jumlah keluarga yang mencapai sekitar 2
juta, sebenarnya secara rata-rata 80 % keluarga di Jakarta seharusnya memiliki sebuah
mobil. Tetapi kenyataan nya tidak demikian. Masih sangat banyak keluarga di Jakarta yang
tidak memiliki mobil. Ironisnya, tidak jarang terjadi, satu keluarga memiliki lebih dari 5 mobil.

Interaksi antara pasar mobil dan BBM

Dengan menggunakan analisis keseimbangan umum, yang mempertimbangkan


interaksi antara dua pasar yang berkaitan akan terlihat hubungan antara subsidi BBM
dengan konsumsi kendaraan bermotor. Sebab harga BBM adalah salah satu faktor yang
turut dipertimbangkan dengan membeli atau menggunakan mobil. Hubungan mobil dengan
BBM bersifat komplementer. Kenaikan penggunaan mobil akan menaikan konsumsi BBM.
Analisis denghan menggunakan diagram 13.7 di bawah ini menunjukan hubungan antara
subsidi BBM dengan konsumsi mobil pribadi.

Diagram 13.7

(a) BBM (b) Mobil

Pada diagram 13.7 (a), titik A adalah keseimbangan pasar BBM, jika tidak ada
subsidi BBM. Pada saat itu jumlah BBM yang di konsumsi adalah Q1b dengan harga jual per
liter adalah P1b pada diagram 13.7 (b), titik G adalah titik keseimbangan pasar mobil, bila
harga BBM tidak disubsidi. Harga mobil per unit adalah P1m sedangkan konsumsi mobil Q1m.

Asumsikan pemerintah menetapkan subsidi BBM, sehingga harga BBM hanya


2
sebesar P b. Hal itu menyebabkan biaya operasional penggunaan mobil menjadi lebih
murah, sehingga permintaan mobil menjadi lebih besar (kurva permintaan bergeser ke
kanan dari D1m ke D2m). Penigkatan permintaan mobil ini akan menstimulir penawaran mobil
( dari S1m ke S2m ). Bila diasumsikan harga keseimbangan tidak berubah maka titik
keseimbangan bergeser ke H. Konsumsi mobil dengan adanya subsidi ( yaitu sebesar Q2m )
menjadi lebih banyak dibanding dengan tidak ada subsidi BBM.

Peningkatan konsumsi mobil menyebabkan konsumsi BBM meningkat, sebut saja


sebesar Q2b. Jika tidak ada subsidi, maka harga jual BBM seharusnya adalah P3b per liter.
Tetapi pemerintah telah menetapkan harga BBM adalah P2b. Untuk setiap liter BBM
pemerintah mengeluarkan subsidi sebesar P3b – P2b. Dengan demikian untuk konsumsi BBM
sebanyak Q2b, pemerintah harus memberi subsidi sebesar luas segiempat P2bBCP3b.

Subsidi BBM yang diberikan menumbuhkan persepsi bahwa pemerintah akan terus
memberikan subsidi. Hal ini akan menstimulir permintaan ( dari D1m ke D2m ) dan penawaran
mobil ( dari S2m ke S3m ) di masa selanjutnya. Dengan asumsi harga keseimbangan mobil
tidak berubah. Maka persepsi tidak dihapuskannya subsidi BBM akan meningkatkan
konsumsi mobil menjadi Q3m ( titik I pada diagram 13.7 (b) ). Akibatnya konsumsi naik
menjadi sebesar Q3b. Pada saat konsumsi BBM sebesar Q3b, harga jual seharusnya adalah
P4b. Dengan harga jual BBM yang hanya sebesar P4b – P2b. Dengan demikian untuk
konsumsi sebanyak Q3b, subsidi yang diberikan menjadi lebih besar lagi dibanding periode
sebelumnya, yaitu P2bDEP4b.

Jika pemerintah terus memberi subsidi BBM, maka persepsi bahwa subsidi akan
diberikan semakin menguat, yang mendorong peningkatan konsumsi mobil. Tentu saja hal
ini akan memperbesar anggaran subsidi, seperti yang telah diuraikan di atas, belum tentu
efisien secara ekonomis.