Anda di halaman 1dari 168

EFEKTIVITAS PELAYANAN PUBLIK

(Pengaruh Disiplin Dan Iklim Kerja Terhadap Efektivitas Pelayanan Aparat Pemerintah
Kelurahan Di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap)

Oleh :

RUSWATI

F1B001050

Diajukan untuk menyusun skripsi Program Strata Satu (S1)

Jurusan Ilmu Administrasi Negara

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Jenderal Soedirman

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA

PURWOKERTO

2005
LEMBAR PENGESAHAN

SKRIPSI

EFEKTIVITAS PELAYANAN PUBLIK

(Pengaruh Disiplin Dan Iklim Kerja Terhadap Efektivitas Pelayanan Aparat Pemerintah
Kelurahan Di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap)

Oleh :

Ruswati

F1B001050

Diterima dan disahkan Purwokerto, November 2005

Pembimbing

1. Pembimbing I

Drs. Andi Antono, M.Si. ………………………….

NIP. 131691611

2. Pembimbing II

Drs. Darmanto S.S., M.Kes. ………………………….

NIP. 131657334

3. Penilai Pendamping

Drs. M. Imron ………………………….

NIP. 131996098

Mengetahui

Dekan FISIP UNSOED

Drs. Bambang Kuncoro, M.Si.

NIP. 131569011
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang

pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau

diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis diacu dalam naskah ini disebutkan dalam

daftar pustaka. Dengan kata lain semua isi yang ada dalam skripsi ini menjadi tanggung

jawab penulis sepenuhnya.

Purwokerto, November 2005

( Ruswati )

F1B001050
Presented for

My beloved parents, Bapak and Mama

Thanks for the sincerity in praying and supporting me

My beloved sister ‘Wary’ thanks for your love and attentions

My little sister and brother’Musliah & Agus’

Praying, study hard and never stop trying. Must !

Barakallahu…

I’ll love all of you forever


MOTTO

Jadikanlah Allah sebagai penolongmu dengan sabar dan mengerjakan shalat,


sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’

(Qs. Albaqarah : 45)

Kita hidup hanya sekali, maka sekiranya ada kebaikan yang bisa kita tunjukkan terhadap
sesama, biarlah itu kita lakukan sekarang juga dan jangan menundanya sebab kita tidak
akan pernah melewati jalan ini lagi untuk yang kedua kalinya.

(William Pen)

Jangan menunggu keadaan paling ideal, jangan pula menunggu kesempatan yang paling
baik. Keduanya tak akan pernah datang.

(Janet Erskine Stuart)

Tiada kesalahan atau kegagalan yang lebih buruk selain berhenti dan tidak mencoba lagi.

(John Wanamaker)

Tak selamanya kegagalan berakhir dengan kesedihan. Ada keajaiban yang akan membuat
kita tersenyum.

(Emi)

Try and try, never giving up and face all the things with smile, cause smile will give us
The Power.

(My Self)
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah dan karuniaNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “EFEKTIVITAS
PELAYANAN PUBLIK (Pengaruh Disiplin Dan Iklim Kerja Terhadap Efektivitas
Pelayanan Aparat Pemerintah Kelurahan Di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten
Cilacap)”. Karya ini ditujukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan
tugas akhir untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik.

Penulis menyadari bahwa karya ini dapat diselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-
tingginya kepada :

1. Bapak Drs. Andi Antono, M.Si. selaku pembimbing utama yang telah
memberikan bimbingan dan petunjuk dalam penulisan skripsi ini.

2. Bapak Drs. Darmanto S.S., M.Si. selaku pembimbing dua yang telah
menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Drs. M. Imron selaku penilai pendamping yang telah memberikan saran,
bimbingan dan petunjuk untuk kesempurnaan skripsi ini.

4. Bapak Drs. Bambang Kuncoro, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik UNSOED.

5. Seluruh staff dan dosen pengajar Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik UNSOED.

6. Seluruh aparat pemerintah kelurahan yang ada di Kecamatan Cilacap Utara


Kabupaten Cilacap yang telah banyak membantu penulis dalam memperoleh data
selama penelitian berlangsung.

7. Bapak dan Mama tersayang yang telah tulus ikhlas memberikan kasih sayang,
do’a, dorongan dan segalanya serta kakak dan adik-adikku tersayang atas
dukungannya selama ini.
8. Teman-teman AN 2001 terimakasih atas kebersamaannya selama ini. Lisna,
Emi, Imung, Upi, Erni, Peni, Bambang, Mas Jay, Astri, Ria, Siti Diah, Qiah,
terimakasih atas perhatian dan dukungannya, semoga harapan dan cita-cita kita
tercapai.

9. Teman-teman kost di “Wisma An Najah” Neta, Vita, Lusi, Tamah, Hany, Mega
dan Iis, atas pesahabatan dan rasa kekeluargaan yang indah selama ini. Thanks for
this beautiful friendship. Keep it forever !

10. Semua pihak yang telah membantu baik materiil maupun spirituil sehingga
skripsi ini dapat diselesaikan.

Akhir kata penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu penulis mengharap masukan dan kritikan yang sifatnya membangun.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat di kemudian hari.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Purwokerto, November 2005

Penulis
THANKS TO……

Sujud syukurku pada Allah SWT atas segala anugerah, cinta dan kasih sayang yang
telah diberikan sehingga Ana bisa melewati satu langkah dalam perjalanan hidup yang
panjang ini.

Nabi besar Muhammad SAW sebagai panutan hidup Ana di dunia.

Bapak dan Mama yang telah tulus ikhlas memberikan kasih sayang, do’a, dorongan dan
segalanya, Aku Bangga pada kalian, dan aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian
dan akan membuat kalian bahagia!

Mbak Wary…My Best sister…thanks for everything you’ve gived to me…I’ll do the best!
Buat adik-adikku tersayang De’ Mus dan De’ Agus terimakasih sudah menjadi adik yang
manis dan baik. Jangan lupa belajar dan terus berdo’a. Tiru yang baik dari kaka, dan
buang yang jelek dari kaka.

My Best Friend Ika&Fitri terimakasih atas perhatian, semangat, nasihat, dan


persahabatan yang manis ini semoga kita selalu bersama selamanya.

Teman seperjuanganku Lisna, Ika, Ria, Bambang, Ahmad, Imung, Mas Jay, Yuli, Mas
Tanjung, Mas Wiwit, Mas Momo, Evi, Diah, Resi, Q-yah terimakasih untuk semua
bantuan dan support kalian.. terimakasih sudah bersama-sama selama ini.

Dewi, Peni, Upi, Erni, Astri, Somad, Siti, Mi’ing, Samsiyah, Probo, Desi, Thanks for
your attentions, semoga harapan dan cita-cita kita tercapai

dan teman-teman AN 2001 atas kebersamaannya selama ini. Kompak Selalu!!

Teman-teman kost di “Wisma An Najah” mbak neta, vita, lusi, tamah, hany, rina, sumini,
mega dan iis, atas persahabatan dan rasa kekeluargaan yang indah
selama ini. Thanks for this beautiful friendship. Keep it forever !

Teman-Teman Kenanga Crew terimakasih atas kerjasama, persahabatan, kekompakan,


pengertian dan pertolongannya selama ini. Semoga kita selalu bersahabat selamanya.

My Friends on cyber especially niceguy community, mas burhan, mas mul,

mbak liany, mbak ika, dan teman-teman yang lain

terimakasih atas persahabatan, keceriaan, kebahagiaan dan semangat yang kalian


berikan untukku…Kehadiran kalian memberikan warna dalam hidupku.

Untuk masa depanku…Sekarang aku bekerja keras dan terus berjuang untukmu…

Terakhir kuingin mengucapkan banyak terimakasih untuk orang-orang yang telah


menyakitiku dan membuatku sedih…karena kalianlah sekarang aku menjadi lebih kuat
dan menjadi lebih baik.

Barakallahu…
RINGKASAN

Pada saat ini pemerintah banyak mendapat sorotan publik terutama dalam hal pelayanan.
Masyarakat Indonesia semakin kritis dan menginginkan pelayanan yang maksimal dari
pemerintah. Mereka menuntut pelayanan yang efektif dalam berbagai hal. Tidak hanya di
pusat pemerintahan, di semua tingkat pemerintahan dari pusat sampai kelurahan
mendapatkan tuntutan yang sama dari publik yaitu pelayanan yang efektif. Ada banyak
faktor yang bisa mempengaruhi efektivitas pelayanan suatu organisasi, diantaranya
disiplin kerja dan iklim kerja aparat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya
pengaruh disiplin kerja dan iklim kerja terhadap efektivitas pelayanan aparat kelurahan di
Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap.

Penelitian ini dilakukan di lima kelurahan yang ada di Kecamatan Cilacap Utara dengan
sasaran penelitiannya adalah seulurh pegawai pada lima kelurahan tersebut. Jumlah
responden sebanyak 82 pegawai. Penentuan sampel menggunakan teknik Total Sampling
dengan asumsi menggunakan teknik total sampel maka sampel akan representatif.
Metode yang digunakan adalah kuantitatif sehingga data-data yang ditampilkan berupa
angka-angka. Untuk validitas data digunakan validitas konstruksi dan reliabilitas data
menggunakan internal consistency dengan teknik belah dua (split half) dari Spearman
brown. Pengujian hipotesis dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi kendall tau
dan regresi ordinal.

Berdasarkan hasil perhitungan secara statistik, koefisien korelasi kendall antara variabel
disiplin kerja (X1) dengan variabel efektivitas pelayanan (Y) sebesar 0,518; antara
variabel iklim kerja (X2) dengan variabel efektivitas pelayanan (Y) sebesar 0,540; antara
variabel disiplin kerja (X1) dan variabel iklim kerja (X2) dengan variabel efektivitas
pelayanan (Y) sebesar 0,779. Hubungan-hubungan ini bersifat signifikan dan positif. Dari
hasil perhitungan regresi ordinal didapatkan nilai beta (b) sebesar 54,627 artinya
pengaruh disiplin kerja (X1) dan iklim kerja (X2) terhadap efektivitas pelayanan (Y)
sebesar 54,627 dan sisanya sebesar 45,373 dipengaruhi oleh variabel lain. Hasil-hasil
tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini
dapat diterima.

Kata kunci : disiplin kerja, iklim kerja dan efektivitas pelayanan.


SUMMARY

At the moment the government often received the attention of public especially in the
matter of service. The Indonesian community increasingly critical and wanted the
maximal service from the government. They demanded the effective service in various
matters. Not only in the center of the government, in all the levels of the government from
the center until the district got the same demand from public that is the effective service.
There were many factors that could influence the service effectiveness in an organization,
such as dicipline and climate of the work from officials. This research aimed to know the
influence dicipline and climate of work towards the service effectiveness of district
officials in the North Cilacap Subdistrict in the Cilacap Regency.

This research done in five districts in the Cilacap Subdistrict North, with target was all
the officials of five districts. The number of respondents totalling 82 officials. The
determination of sample made use the Total Sampling technique with the assumption that
sample will be representative. The method was used quantitative so the datas that was
put forward took the form of figures. For the validity of the data was used by the validity
of the construction and reliabilitas the data used internal consistency technically the
crack two (split half) from Spearman Brown. The testing of the hypothesis was analysed
by use kendall tau correlation and ordinal regression technique.

Based on the results statistically, the correlation coefficient kendall between dicipline of
work (X1) with the effectiveness of service (Y) variabel is 0,518; between the climate of
work (X2) with the effectiveness of service (Y) variable is 0,540; between the dicipline
(X1) and climate of work (X2) variable with the effectiveness of service variable (Y) is
0,779. These relations were significant and positive. From results of ordinal regression
was obtained beta (b) as big as 54,627 meaning that the influence dicipline of work
variable (X1) and climate of work variable (X2) toward the effectiveness of the service
variable (Y) as big as 54,627 and the rest of them as big as 45,373 was influenced by the
other variable. From these results the conclusion is the hypothesis that was raised in this
research could be accepted.

The key word : discipline of work, climate of work and effectiveness of service.
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………… i

LEMBAR PENGESAHAN ……………………………………………….… ii

PERNYATAAN …………………………………………………………….. iii

PERSEMBAHAN …………………………………………………………... iv

MOTTO ……………………………………………………………………... v

KATA PENGANTAR …………………………………………………….… vi

RINGKASAN ………………………………………………………………. viii

SUMMARY ………………………………………………………………… ix

DAFTAR ISI ………………………………………………………………... x

DAFTAR TABEL …………………………………………………………... xiii

DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………... xv

DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………... xvi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ……………………………………………... 1

B. Perumusan Masalah ………………………………………………….. 12

C. Pembatasan Masalah ……………………………………………….… 12

D. Tujuan Penelitian ……………………….………………………….… 12

E. Kegunaan Penelitian ……………………………………………….… 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Landasan Teoritik……...……...……...……...……...……...…….….. 14

1. Konsep Teori ……………………………………………………... 14

2. Pelayanan Publik …..……………………………………………... 15

3. Efektivitas Pelayanan Aparat …...………………………………... 18

4. Disiplin Kerja Aparat …………………………………….………. 22

5. Iklim Kerja Organisasi ………………….………………………... 25

6. Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Efektivitas Pelayanan Aparat... 29

7. Pengaruh Iklim Kerja Dalam Kelurahan Terhadap Efektivitas

Pelayanan Aparat Kelurahan ……………………………………... 31


8. Pengaruh Bersama Antara Disiplin Dan Iklim Kerja Terhadap

Efektivitas Pelayanan Aparat Kelurahan ………………………..... 33

B. Hipotesis……...……...……...……...……...……...……...……...…... 34

1. Hipotesis Model Verbal …………………………………………... 34

2. Hipotesis Model Geometrikal .……………………………..……... 35

C. Definisi Konsep Dan Definisi Operasional……...……...……...……. 35

1. Definisi Konsep …………………………………………………... 35

2. Definisi Operasional ……………………………………………… 36

3. Matriks Definisi Operasional Variabel Penelitian……...……...….. 38

BAB III METODE PENELITIAN DAN ANALISIS

A. Metode Penelitian……...……...……...……...……...……...……. 42

1. Sasaran Penelitian …………………………………………….. 42

2. Lokasi Penelitian ……………………………………………... 42

3. Metode Penelitian …………………………………………….. 42

4. Variabel-Variabel Yang Digunakan ……….……………….… 42


5. Teknik Pengambilan Sampel ……………………………….… 43

6. Metode Pengumpulan Data ……...……………………………. 44

7. Sumber Data …………………………………………………... 45

8. Validitas dan Reliabilitas Data ………………………………... 45

B. Metode Analisis……...……...……...……...……...……...…….... 48

1. Pengukuran Variabel ………………………………………….. 48

2. Model Analisis Yang Digunakan ……………………………... 49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian……...……...……...……...……...…….… 56

1. Keadaan Kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara……………... 56

2. Struktur Organisasi dan Rinciann Tugas Pokok Pemerintah

Kelurahan……...……...……...……...……...……...…...……... 69

3. Karakteristik Responden………………………………………. 74

B. Uji Validitas dan Reliabilitas……...……...……...……...……...……. 76

1. Uji Validitas….……………………………………………….. 77

2. Uji Reliabilitas………………………………………………... 80

C. Deskripsi Variabel Penelitian……...……...……...……...……...……. 82

1. Deskripsi Variabel Efektivitas Pelayanan (Y)….…………….. 82

2. Deskripsi Variabel Disiplin Kerja (X1)………………………. 83

3. Deskripsi Variabel Iklim Kerja (X2)…………………………. 84

4. Penafsiran Variabel Berdasarkan Nilai Mean………………... 85

D. Pengujian Hipotesis……...……...……...……...……...……...…….... 85

1. Tabulasi Silang….……………………………………………. 86
2. Korelasi Kendall Tau………………………………………… 90

3. Korelasi Parsial……...……...……...……...……...……...…... 97

4. Koefisien Konkordasi Kendall (W)………………………….. 98

5. Regresi Ordinal………………………………………………. 100

E. Pembahasan …………………………………………………………. 101

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

A. Kesimpulan………………………………………………………….. 107

B. Implikasi……………………………………………………………... 108

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Jumlah Aparat Pemerintah Kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara

Berdasarkan Keadaan Data Bulan Januari-Juni 2004 ........................... 7

Tabel 2. Jumlah Penduduk di Kecamatan Cilacap Utara Berdasarkan

Keadaan Data Bulan Desember 2004………………………………. 7

Tabel 3. Jenis-Jenis Pelayanan yang Diberikan Kelurahan Kepada

Masyarakat…………………………………………………………. 8

Tabel 4. Matriks Definisi Operasional Variabel Penelitian………………….. 39

Tabel 5. Pedoman untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi……... 50

Tabel 6. Jumlah Penduduk di Kelurahan Gumilir Berdasarkan Usia

Pendidikan………………………………………………………….. 57

Tabel 7. Jumlah Penduduk di Kelurahan Gumilir Berdasarkan Usia

Tenaga Kerja……………………………………………………….. 57

Tabel 8. Komposisi Penduduk Kelurahan Gumilir Berdasarkan Mata

Pencaharian………………………………………………………… 58

Tabel 9. Jumlah Penduduk di Kelurahan Karang Talun Berdasarkan

Usia Pendidikan……………………………………………………. 59

Tabel 10. Jumlah Penduduk di Kelurahan Karang Talun Berdasarkan Usia

Tenaga Kerja……………………………………………………….. 60
Tabel 11. Komposisi Penduduk Kelurahan Karang Talun Berdasarkan

Mata Pencaharian…………………………………………………... 61

Tabel 12. Jumlah Penduduk di Kelurahan Kebonmanis Berdasarkan Usia

Pendidikan………………………………………………………….. 62

Tabel 13. Jumlah Penduduk di Kelurahan Kebonmanis Berdasarkan Usia

Tenaga Kerja………………………………………………………. 63

Tabel 14. Komposisi Penduduk Kelurahan Kebonmanis Berdasarkan

Mata Pencaharian………………………………………………….. 63

Tabel 15. Jumlah Penduduk di Kelurahan Mertasinga Berdasarkan Usia

Pendidikan…………………………………………………………. 65

Tabel 16. Jumlah Penduduk di Kelurahan Mertasinga Berdasarkan Usia

Tenaga Kerja………………………………………………………. 65

Tabel 17. Komposisi Penduduk Kelurahan Mertasinga Berdasarkan Mata

Pencaharian………………………………………………………… 66

Tabel 18. Jumlah Penduduk di Kelurahan Tritih Kulon Berdasarkan Usia

Pendidikan…………………………………………………………. 68

Tabel 19. Jumlah Penduduk di Kelurahan Tritih Kulon Berdasarkan Usia

Tenaga Kerja………………………………………………………. 68

Tabel 20. Komposisi Penduduk Kelurahan Tritih Kulon Berdasarkan Mata

Pencaharian………………………………………………………... 69

Tabel 21. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin…………….. 74

Tabel 22. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia………………………. 75

Tabel 23. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan………. 76


Tabel 24. Hasil Pengujian Validitas Efektivitas Pelayanan………………….. 77

Tabel 25. Hasil Pengujian Validitas Disiplin Kerja………………………….. 78

Tabel 26. Hasil Pengujian Validitas Iklim Kerja…………………………….. 79

Tabel 27. Rangkuman Hasil Pengujian Reliabilitas………………………….. 81

Tabel 28. Distribusi Frekuensi Variabel Efektivitas Pelayanan ……………... 82

Tabel 29. Distribusi Frekuensi Variabel Disiplin Kerja ……………………... 83

Tabel 30. Distribusi Frekuensi Variabel Iklim Kerja ………………………… 84

Tabel 31. Penafsiran Variabel Berdasarkan Nilai Mean ……………………... 85

Tabel 32. Analisis Hasil Tabulasi Silang antara Variabel Disiplin Kerja (X1) dengan

Variabel Efektivitas Pelayanan (Y)………………………................ 86

Tabel 33. Analisis Hasil Tabulasi Silang antara Variabel Iklim Kerja (X2)

dengan Variabel Efektivitas Pelayanan (Y)………………………... 88

Tabel 34. Hasil Perhitungan Kendall c……………………………………... 90

Tabel 35. Hasil Perhitungan Koefisien Konkordansi Kendall (W)…………… 99


DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Hipotesis Model Geometrikal……………………………………... 35

Gambar 2. Bagan Struktur Organisasi Pemerintahan Kelurahan……………… 71

Gambar 3. Pengujian Hipotesis Model Geometrikal………………………….. 106


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian

Lampiran 2. Input Data Penelitian

Lampiran 3. Peruntukan dan Penggunaan Tanah di Lima Kelurahan di Kecamatan


Kabupaten Cilacap

Lampiran 4. Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas Variabel Disiplin Kerja

Lampiran 5. Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas Variabel Iklim Kerja

Lampiran 6. Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas Variabel Pelayanan Publik

Lampiran 7. Distribusi Frekuensi Variabel Penelitian

Lampiran 8. Tabulasi Silang Variabel Penelitian dilanjutkan Analisis Kendall tc

Lampiran 9. Hasil Pengujian Korelasi Parsial

Lampiran 10. Hasil Pengujian Konkordansi Kendall (W)

Lampiran 11. Hasil Pengujian Regresi Ordinal

Lampiran 12. Tabel Nilai-nilai r Product Moment

Lampiran 13. Tabel Nilai-nilai Chi Kuadrat

Lampiran 14. Peta Lokasi Penelitian

Lampiran 15. Surat Rekomendasi Penelitian

Lampiran 16. Daftar Riwayat Hidup


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tujuan nasional sebagaimana ditegaskan dalam pembukaan Undang-Undang

Dasar 1945 yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,

memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut

melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan

sosial, diwujudkan melalui pelaksanaan penyelenggaraan negara yang berkedaulatan

rakyat dan demokratis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Pembangunan nasional dilaksanakan dalam segala aspek kehidupan oleh penyelenggara

negara yaitu lembaga tertinggi dan lembaga tinggi negara bersama-sama segenap rakyat

Indonesia di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia.

Pembangunan pada dasarnya merupakan upaya yang dilakukan oleh masyarakat

untuk memperbaiki keterbelakangan dan ketertinggalan dalam semua bidang kehidupan

menuju suatu keadaan yang lebih baik dari pada keadaan sebelumnya. Tujuan

pembangunan nasional bangsa Indonesia yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan

makmur baik material maupun spiritual. Pencapaian tujuan nasional di atas dilakukan

dengan rangkaian upaya pembangunan berkesinambungan meliputi seluruh kehidupan

masyarakat, bangsa dan negara yang dilaksanakan bersama oleh masyarakat dan

pemerintah menuju terwujudkan masyarakat adil dan makmur. Masyarakat adalah


pelaku utama pembangunan dan pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan,

membimbing serta menciptakan suasana yang menunjang.

Keberhasilan pembangunan nasional tidak lepas dari peran dan fungsi

organisasi pemerintah yang mengemban tugas-tugas pemerintah karena keberhasilan

organisasi pemerintah dalam mencapai tujuan sangat mendukung tercapainya tujuan

pembangunan nasional. Dalam rangka pencapaian tujuan nasional dan tujuan

pembangunan nasional tersebut diperlukan peran serta Pegawai Negeri Sipil (PNS)

sebagai unsur aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat yang tugasnya adalah

untuk melaksanakan pemerintahan dan tugas pembangunan. Dalam Undang-Undang

Nomor 43 Tahun 1999 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974

tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, pada Bab II, Pasal 3 ayat 1 ditegaskan bahwa :

Pegawai Negeri berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas


untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil,
dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan, dan
pembangunan.

Widjaja menyebutkan bahwa Pegawai Negeri Sipil bukan hanya unsur aparatur

pemerintah, melainkan juga abdi negara dan abdi masyarakat yang pada dasarnya adalah

pelayan masyarakat. Pendapat serupa juga dilontarkan oleh Deddy Mulyadi bahwa :

Pegawai negeri sebagai aparat birokrasi selain sebagai aparatur negara dan abdi
negara, juga merupakan abdi masyarakat. Sehingga kepada kepentingan
masyarakatlah aparat birokrasi harus mengabdikan diri. Aparat birokrasi
memang sangat diharapkan memiliki jiwa pengabdian dan pelayanan kepada
masyarakat (Pikiran Rakyat, 15 Mei 2004).
Dengan demikian output dari pelaksanaan tugas adalah berupa jasa pelayanan

kepada masyarakat sehingga pelayanan dikatakan efektif apabila aparat berhasil dalam

melaksanakan tugasnya. Dengan kata lain keberhasilan tugas pemerintah dalam

pembangunan nasional banyak tergantung pada kerja dan kemampuan pegawai negeri.

Dari penjelasan tersebut kita dapat melihat bahwa kedudukan dan peranan pegawai

negeri sangat penting dan menentukan keberhasilan pembangunan nasional.

Aparat kelurahan sebagai bagian dari pegawai negeri dituntut untuk dapat

menjadi motor penggerak pembangunan karena aparat kelurahan bersentuhan langsung

dengan masyarakat sehingga akan lebih memahami keadaan dan kondisi masyarakat.

Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang perubahan atas

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian dinyatakan

bahwa kelancaran menyelenggarakan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan

nasional, terutama tergantung dari kesempurnaan aparatur negara, dan kesempurnaan

aparatur negara tergantung dari kesempurnaan pegawai negeri. Dari penjelasan tersebut

dapat dikatakan bahwa kesempurnaan birokrasi tergantung dari kesempurnaan aparatur

negara sehingga kualitas birokrasi kita tercermin dari kualitas aparatur negara.

Tugas pemerintah tidak hanya mengatur saja, akan tetapi juga memberikan

pelayanan kepada masyarakat. Fungsi pelayanan selama ini belum mendapat perhatian

dari para aparat birokrasi kita sebab fungsi mengaturnya lebih dominan dibandingkan

porsi pelayanannya. Deddy Mulyadi menjelaskan bahwa aparat birokrasi merasa ada

dalam posisi penguasa yang lebih menempatkan diri sebagai pengarah daripada pamong,
oleh karena itu timbul kecenderungan untuk melihat warga masyarakat sebagai objek

pasif dalam pelayanan publik (Pikiran Rakyat, 7 Agustus 2004).

Birokrasi pemerintah menempati posisi yang penting dalam pelaksanaan

pembangunan karena merupakan salah satu instrumen penting yang akan menopang dan

memperlancar usaha-usaha pembangunan. Berhasilnya pembangunan ini memerlukan

sistem dan aparatur pelaksana yang mampu tanggap dan kreatif serta pengelolaan yang

sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen modern dalam sikap perilaku dan kemampuan

teknisnya termasuk di dalamnya adalah memberikan pelayanan yang efektif kepada

masyarakat. Karena pelayanan yang efektif akan memperlancar jalannya proses

pembangunan. Dengan alasan itulah penulis mengambil efektivitas pelayanan sebagai

variabel yang diteliti.

Sejak masa orde baru sampai saat ini, kondisi birokrasi di Indonesia terkenal

sangat buruk seperti inefisiensi, penyalahgunaan wewenang, kolusi, korupsi dan

nepotisme. Hal ini dibuktikan dengan adanya tuntutan dan keluhan masyarakat terhadap

pelayanan jasa yang dinilai kurang memuaskan (Deddy Mulyadi, Pikiran Rakyat, 15 Mei

2004). Masyarakat semakin jauh dari harapan memperoleh pelayanan sesuai hak yang

dimiliki sebagai warga negara. Birokrasi dalam hal ini pemerintah menjadi kurang

mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat.

Untuk mewujudkan birokrasi pemerintahan yang netral kenyataannya masih

menghadapi banyak rintangan, sementara masyarakat selalu menuntut efektivitas

pelayanan dari pemerintah. Seperti disebutkan dalam sebuah artikel yang ditulis oleh

Deddy Mulyadi bahwa :


Kebijakan untuk mewujudkan birokrasi yang netral dalam penyelenggaraan
administrasi dan pemerintahan negara, ternyata dalam praktiknya memang
banyak menghadapi rintangan. Padahal di tengah rintangan itu, masyarakat
sangat merindukan pelayanan publik yang baik, dalam arti proporsional dengan
kepentingan, yaitu birokrasi yang berorientasi kepada penciptaan keseimbangan
antara kekuasaan (power) yang dimiliki dengan tanggung jawab
(accountability) yang mesti diberikan kepada masyarakat yang dilayani (Pikiran
Rakyat, 15 Mei 2004).

Aparat kelurahan sebagai birokrat di tingkat kelurahan dituntut untuk mampu

menangani kendala-kendala yang dihadapi dalam usaha-usaha pembangunan yang

digalakkan pemerintah. Aparat kelurahan harus mampu melaksanakan fungsi utamanya

yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik, cekatan, efektif dan

efisien.

Dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan

daerah, pasal 127 ayat 1 bahwa kelurahan dibentuk dalam wilayah kecamatan dengan

Peraturan Daerah berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Kemudian, dalam ayat 2

dijelaskan bahwa kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dipimpin oleh lurah yang

dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota. Penjelasan

tersebut di atas memberikan pengertian bahwa pemerintah kelurahan adalah organisasi

pemerintahan yang berada di wilayah kecamatan. Kelurahan dipimpin oleh seorang lurah

yang dalam pelaksanaan tugas pokoknya memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota.

Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 61 Tahun 2003 Tentang

Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kelurahan disebutkan bahwa Susunan Organisasi

Pemerintahan Kelurahan terdiri dari :


a. Lurah

b. Sekretaris Kelurahan

c. Kepala Seksi

Membawahi : - seksi pemerintahan

- seksi pembangunan

- seksi sosial ekonomi

- seksi ketentraman ketertiban

d. Kepala Lingkungan

Sekretaris kelurahan dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab kepada Lurah,

sekretaris kelurahan dibantu oleh beberapa orang staf. Kepala Lingkungan merupakan

jabatan non struktural yang mempunyai tugas pokok membantu pelaksanaan tugas-tugas

operasional Lurah dalam wilayah kerjanya.

Lurah dan aparat-aparat di pemerintah kelurahan memiliki tugas pokok dan

fungsi yang berat dan kompleks. Oleh karena itu birokrat di tingkat kelurahan ini dituntut

untuk dapat memberikan kontribusi yang maksimal. Akan tetapi perbandingan jumlah

aparat yang tidak seimbang dengan jumlah penduduk yang harus dilayani akan

menimbulkan persoalan apabila kerja aparat lamban dan tidak efisien dalam

pelayanannya.

Demikian juga yang terjadi di wilayah Kecamatan Cilacap Utara, jumlah

penduduk dibandingkan dengan jumlah aparat kelurahan sangat tidak seimbang. Aparat
kelurahan yang jumlahnya terbatas harus melayani penduduk yang jumlahnya ribuan.

Jumlah aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 1. Jumlah Aparat Pemerintah Kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara Berdasarkan


Keadaan Data Bulan Januari – Juni 2004

No. Nama Kelurahan Aparat


1. Gumilir 13
2. Karang Talun 13
3. Kebonmanis 17
4. Mertasinga 14
5. Tritih Kulon 25
Jumlah 82

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara Bulan Januari
– Juni 2004

Tabel 1 memperlihatkan jumlah aparat pemerintah kelurahan dalam wilayah Kecamatan


Cilacap Utara secara keseluruhan adalah berjumlah 82 orang. Jumlah ini tidak
seimbang dengan jumlah penduduk yang harus dilayani. Oleh karena itulah
perlu adanya efisiensi dalam pelayanannya. Jumlah penduduk di Kecamatan
Cilacap Utara yang tersebar di lima kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut
ini :

Tabel 2. Jumlah Penduduk di Kecamatan Cilacap Utara Berdasarkan Keadaan Data Bulan
Desember 2004

No. Nama Kelurahan Jumlah Penduduk


1. Gumilir 13.570
2. Karang Talun 10.083
3. Kebonmanis 9.917
4. Mertasinga 14.241
5. Tritih Kulon 15.747
Jumlah 63.558

Sumber : Laporan Kependudukan di Kecamatan Cilacap Utara Bulan Desember 2004


Efisiensi dalam memberikan pelayanan selain disebabkan oleh jumlah aparat yang tidak
seimbang dengan jumlah penduduk yang harus dilayani, juga disebabkan oleh banyaknya
jenis pelayanan yang diberikan kelurahan kepada masyarakat. Jenis-jenis pelayanan yang
diberikan aparat kelurahan kepada masyarakat antara lain dapat dilihat pada tabel di
bawah ini :

Tabel 3. Jenis-Jenis Pelayanan yang Diberikan Kelurahan Kepada Masyarakat

No. Jenis Pelayanan


1. Pengantar pembuatan KTP
2. Pengantar pembuatan akte kelahiran
3. Pengantar pembuatan SKKB
4. Kependudukan (nikah, cerai, lahir, mati)
5. Pelayanan pembayaran PBB
6. Pelayanan pembayaran listrik

Sumber : Kantor Kecamatan Cilacap Utara

Jenis-jenis pelayanan tersebut hanya sebagian dari banyaknya pelayanan yang

diberikan kelurahan kepada masyarakat, karena sering ada program-program pemerintah

yang biasanya diberikan kewenangan kepada kelurahan untuk menanganinya, seperti

misalnya program bantuan untuk masyarakat miskin. Kelurahan bertugas

mendistribusikan beras kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Selain itu,

kelurahan juga sering menangani surat-surat perijinan pendirian bangunan, surat-surat

keterangan tidak mampu masyarakat yang membutuhkan untuk keringanan pengobatan,

keringanan biaya pendidikan, yang semuanya itu menuntut pelayanan yang efektif agar

masyarakat yang dilayani merasa puas.

Bapak Sungkowo (nama samaran) salah seorang warga di salah satu kelurahan

ada di Kecamatan Cilacap Utara, mengatakan bahwa pada saat beliau datang ke kantor
kelurahan untuk meminta surat keterangan kelakuan baik, aparat yang melayaninya

sangat lamban dan berbelit-belit. Beliau mengatakan :

“Pada saat saya minta surat pengantar, saya memang dilayani, tapi wajah
mereka sangat tidak menyenangkan dan sangat lambat dalam mengerjakannya.
Selain itu, mereka sambil ngobrol sendiri dengan petugas yang lain, pada waktu
saya tegur supaya cepat-cepat karena saya sedang tergesa-gesa, malah saya
dimarahi suruh bersabar. Saya jadi malas untuk pergi ke kantor itu lagi”.

Penulis juga memperoleh keluhan dari bapak Kisnaji (nama samaran) salah

seorang warga yang tidak puas atas pelayanan yang diberikan aparat kelurahan pada saat

beliau datang ke kantor untuk meminta surat pengantar pembuatan KTP, beliau

mengatakan :

“Saya kan mau buat KTP untuk anak saya yang baru datang dari luar kota, pada
waktu saya datang ke kantor untuk minta surat pengantar, ternyata disuruh
datang lagi esok hari, sebab pak lurah lagi tidak ada di tempat. Saya maklum
mungkin beliau lagi ada rapat di kecamatan, tapi kenapa tidak ada orang yang
diberi wewenang untuk mengurus surat pengantar tersebut, ini jadi membuat
tidak efektif pelayanannya, mana perilaku petugasnya tidak menyenangkan”.

Aparat juga sering datang terlambat, tidak sesuai dengan jam kerja. Ada salah seorang
penjaga di salah satu kantor kelurahan tempat penulis melakukan observasi, mengatakan :

“Dulu jam kerja itu jam 07.00 mereka berangkatnya sekitar setengah delapan
sampai jam delapan, sekarang jam kerjanya jadi jam 07.30 mereka tetap sama
berangkatnya sampai jam delapanan. Padahal sering jam tujuh itu sudah ada
warga yang membutuhkan pelayanan dari aparat, tapi mereka belum pada
datang, saya jadi yang tidak enak sendiri sama warga, saya tidak punya hak apa-
apa untuk melayani mereka, tugas saya kan hanya bersih-bersih disini”.

Dari hasil wawancara terhadap beberapa warga yang membutuhkan pelayanan dari aparat

kelurahan ternyata masih banyak keluhan yang muncul dari masyarakat seperti adanya
pegawai yang sering datang terlambat dan pelayanan yang kurang adil yang

menyebabkan keterlambatan penyelesaian pekerjaan, dalam hal ini adalah melayani

keperluan yang dibutuhkan oleh warga masyarakat. Merujuk pada kenyataan tersebut,

dapat dirumuskan masalah bahwa pelayanan yang diberikan oleh aparat kelurahan belum

“efektif”.

Pelayanan kelurahan tergolong dalam jenis pelayanan publik karena adanya

kepentingan umum dalam masyarakat yang dilayani kelurahan. Kepentingan umum yang

ada di masyarakat merupakan sasaran utama dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

Pelayanan publik bukanlah suatu sasaran, melainkan suatu proses atau kegiatan untuk

mencapai sasaran tertentu yang telah ditetapkan.

Sasaran yang dimaksudkan dalam lingkup pemerintahan adalah sasaran pembangunan.


Sebagai suatu proses, pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan,
meliputi seluruh kehidupan dalam masyarakat. Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan
bahwa pelayanan publik akan dapat terlaksana dengan baik dan memuaskan apabila
didukung oleh beberapa faktor.

Ada berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas pelayanan, seperti
yang dikemukakan oleh Weber dan Moenir bahwa efektivitas pelayanan dari birokrasi
pemerintah dapat dipengaruhi oleh kepuasan masyarakat yang dilayani dan juga tingkat
kedisiplinan pegawai dengan mentaati peraturan dan prosedur yang ada sehingga tujuan
organisasi dapat tercapai. Selain itu, Steers juga mengemukakan bahwa pada dasarnya
cara yang terbaik untuk meneliti efektivitas ialah dengan memperhatikan secara serempak
tiga buah konsep yang saling berhubungan yaitu optimasi tujuan, perspektif sistematika
dan tekanan pada segi perilaku manusia dalam susunan organisasi.

Lain halnya dengan Sondang P. Siagian yang menerangkan bahwa efektivitas dapat
diukur dari tingkat disiplin pegawai, apakah pegawai dapat menyelesaikan pekerjaan
tepat waktu atau tidak. Kemudian, Manullang menambahi bahwa efektivitas dapat juga
diukur melalui koordinasi yang baik dan tingkat prestasi pegawainya, bagaimana cara
pegawai mengintepretasikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.

Hasibuan mengatakan bahwa efektivitas juga dapat diukur dari motivasi

pegawai dalam melaksanakan pekerjaanya. Lain halnya dengan Thoha yang menjelaskan
bahwa efektivitas suatu organisasi juga dipengaruhi oleh perilaku-perilaku pegawai yang

ada dalam organisasi tersebut. Sedangkan Kotler berpendapat bahwa efektivitas suatu

organisasi dapat dipengaruhi oleh iklim kerja, manajemen, pemasaran, lingkungan dan

kinerja organisasi tersebut.

Dari beberapa teori yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh di atas, kita dapat

mengetahui bahwa tercapainya efektivitas pelayanan yang diberikan kelurahan dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perbedaan dalam mengintepretasikan tugas-

tugas yang harus dilaksanakan, disiplin, motivasi, kinerja, manajemen dan perilaku aparat

dalam bekerja serta iklim kerja yang ada dalam organisasi tempat aparat bekerja.

Dalam penelitian ini, penulis membatasi faktor yang mempengaruhi efektivitas

pelayanan pada disiplin kerja pegawai kelurahan pada saat melayani masyarakat dan

iklim kerja yang ada di kelurahan yang bersangkutan. Bagaimana kedisiplinan mereka

terhadap pekerjaan yang mereka kerjakan sehingga dapat memuaskan masyarakat yang

dilayani. Bagaimana suasana iklim organisasi yang dapat menunjang efektivitas

pelayanan terhadap masyarakat.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai

berikut :

1. Apakah ada pengaruh yang signifikan antara disiplin kerja dengan efektivitas

pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap ?


2. Apakah ada pengaruh yang signifikan antara iklim kerja dengan efektivitas

pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap ?

3. Apakah ada pengaruh yang signifikan antara disiplin kerja dan iklim kerja terhadap

efektifitas pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten

Cilacap ?

C. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis membatasi faktor yang mempengaruhi efektivitas

pelayanan pada disiplin kerja pegawai kelurahan pada saat melayani masyarakat dan

iklim kerja yang ada di kelurahan yang bersangkutan.

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh antara disiplin kerja dengan efektivitas pelayanan

aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap.

2. Untuk mengetahui pengaruh antara iklim kerja dengan efektivitas pelayanan aparat

kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap.

3. Untuk mengetahui pengaruh antara disiplin kerja dan iklim kerja dengan efektivitas

pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap.


E. Kegunaan Penelitian

1. Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperoleh cakrawala dan wawasan

pengetahuan yang lebih mendalam tentang efektifitas pelayanan publik sehingga

dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan teori ilmu-ilmu sosial khususnya

Ilmu Administrasi Negara.

2. Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemerintah daerah

setempat, khususnya bagi pemerintah kelurahan yang bersangkutan dalam

meningkatkan efektivitas pelayanan publik.

===============================================================
======

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teoritik

1. Konsep Teori

Seperti telah dikemukakan dimuka bahwa dalam penelitian ini menyajikan dua
variabel bebas yaitu variabel disiplin dan iklim kerja serta variabel efektivitas pelayanan
sebagai variabel terikat. Namun sebelum membahas variabel-variabel tersebut terlebih
dahulu akan dijelaskan pengertian landasan teori dan teori itu sendiri.

Dalam melakukan penelitian diperlukan landasan teori yang digunakan sebagai kerangka
berfikir untuk menjelaskan fenomena-fenomena sosial yang akan diteliti. Sugiyono
mengungkapkan bahwa :

Landasan Teori adalah teori-teori yang relevan yang dapat digunakan untuk
menjelaskan tentang variabel yang akan diteliti, serta sebagai dasar untuk
memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan
(hipotesis) (Sugiyono, 2002:200).

Menurut Kerlinger, Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstrak, definisi

dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara

merumuskan hubungan antar konsep. Menurut definisi ini, teori mengandung tiga hal :

1. Teori adalah serangkaian proposisi antar konsep-konsep yang saling


berhubungan;

2. Teori menerangkan secara sistematis suatu fenomena sosial dengan cara


menentukan hubungan antar konsep;

3. Teori menerangkan fenomena tertentu dengan cara menentukan konsep mana


yang berhubungan dengan konsep lainnya dan bagaimana bentuk hubungannya
(Kerlinger, dalam Singarimbun, 1989:37).
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa keberadaan sebuah teori dalam

penelitian sangat penting, karena teori dapat memandu peneliti untuk mencoba

menerangkan fenomena sosial atau fenomena alami yang menjadi pusat perhatiannya

dalam penelitian tersebut, sekaligus dapat memperoleh pengetahuan tentang hubungan

antar variabel yang mengandung fenomena-fenomena yang berkaitan dengan masalah

penelitian.

Dalam penelitian ini, penulis ingin mencoba membahas mengenai perilaku

aparat pemerintah kelurahan dalam pelayanan publik, meninjau efektivitas pelayanan

yang dilakukan aparat pemerintah kelurahan yang ada di Kecamatan Cilacap Utara dari

segi disiplin kerja pegawai dalam melayani masyarakat dan iklim kerja dalam organisasi

tempat pegawai bekerja.

2. Pelayanan Publik

Pelayanan yang diberikan kelurahan tergolong dalam jenis pelayanan publik. Pelayanan
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah :

1. perihal atau cara melayani

2. servis, jasa

3. kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli barang atau jasa

Moenir (2000:26-27) berpendapat bahwa pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor material melalui sistem,
prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain
sesuai dengan haknya. Pendapat lain menyebutkan bahwa pelayanan adalah suatu
perbuatan (deed), suatu kinerja (performance) atau suatu usaha (effort), jadi menunjukkan
secara inheren pentingnya penerima jasa pelayanan terlibat secara aktif di dalam produksi
atau penyampaian proses pelayanan itu sendiri (Warella, 1997:18).

Kata pelayanan itu sendiri merupakan terjemahan dari istilah asing, yaitu service.
Menurut Reading (1986:380), pengertian service adalah pekerjaan yang harus dilakukan
seorang pelayan pada tuannya. Thoha (1989:78) menyatakan bahwa pelayanan
masyarakat merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang
maupun suatu instansi tertentu untuk memberikan bantuan dan kemudahan pada
masyarakat dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Dari pengertian di atas terlihat bahwa
service atau pelayanan merupakan jasa yang diberikan oleh orang perorangan organisasi
swasta maupun instansi pemerintah.

Kotler (dalam Nasution, 2001:61) menjelaskan bahwa jasa (service) adalah aktivitas atau
manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak
berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun. Menurut Parasuraman et. al. dan
Haywood Farmer (dalam Warella, 1997:17-18), ada tiga karakteristik utama pelayanan
jasa yaitu :

1. Intangibility, berarti bahwa pelayanan pada dasarnya bersifat performance dan hasil
pengalaman dan bukannya suatu obyek. Kebanyakan pelayanan tidak dapat dihitung,
diukur, diraba atau ditest sebelum disampaikan untuk menjamin kualitas. Jadi berbeda
dengan barang yang dihasilkan oleh suatu pabrik yang dapat ditest kualitasnya
sebelum disampaikan kepada pelanggan.

2. Heterogenity, berarti pemakai jasa atau klien atau pelanggan memiliki kebutuhan
yang sangat heterogen. Pelanggan dengan pelayanan yang sama mungkin memiliki
prioritas yang berbeda. Demikian pula performance sering bervariasi dari satu
produser ke produser lainnya bahkan dari waktu ke waktu.

3. Inseparability, berarti produksi dan konsumsi suatu pelayanan tidak terpisahkan.


Konsekuensinya di dalam industri pelayanan kualitas tidak direkayasa ke dalam
produksi di sektor pabrik dan kemudian disampaikan kepada pelanggan; tetapi
kualitas terjadi selama penyampaian pelayanan, biasanya selama interaksi antara klien
dan penyedia jasa.

Suatu pelayanan akan dapat terlaksana dengan baik dan memuaskan apabila didukung
oleh beberapa faktor :

1. kesadaran para pejabat pimpinan dan pelaksana

2. adanya aturan yang memadai

3. organisasi dengan mekanisme sistem yang dinamis


4. pendapatan pegawai yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum

5. kemampuan dan keterampilan yang sesuai dengan tugas/pekerjaan yang


dipertanggungjawabkan

6. tersedianya sarana pelayanan sesuai dengan jenis dan bentuk tugas/pekerjaan


pelayanan (Moenir, 2000:123-124).

Dari pengertian di atas tersirat bahwa suatu pelayanan pada dasarnya

melibatkan dua pihak yang saling berhubungan yaitu organisasi pemberi pelayanan di

satu pihak dan masyarakat sebagai penerima pelayanan di pihak lainnya. Jika organisasi

mampu memberikan pelayanan yang optimal dan memenuhi tuntutan dari masyarakat,

maka dapat dikatakan organisasi tersebut telah mampu memberikan pelayanan yang

memuaskan pada masyarakat.

Publik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang banyak (umum).

Sedangkan menurut Ensiklopedi Administrasi adalah sejumlah orang (yang tidak mesti

berada dalam satu tempat) yang dipersatukan oleh faktor kepentingan yang sama, yang

berbeda dengan kelompok orang lain. Penggolongan publik dapat dilakukan dalam :

1. Publik intern, yakni publik di dalam lingkungan suatu instansi atau perusahaan,
misal dalam suatu perusahaan mulai dari penjaga malam sampai dengan presiden
direkturnya, adalah merupakan publik intern dari perusahaan tersebut.

2. Publik ekstern, yakni publik di luar organisasi, instansi atau perusahaan yang
mempunyai kepentingan dengan instansi atau perusahaan tadi (Westra dalam
Ensiklopedi Administrasi, 1989:359).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik adalah suatu

usaha yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang atau instansi tertentu untuk
memberikan bantuan dan kemudahan kepada masyarakat atau kelompok yang dilayani

dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Pelayanan ini diberikan kepada seluruh

masyarakat atau yang berhak mendapatkan pelayanan tanpa terkecuali dengan tidak

membedakan satu dengan yang lainnya.

3. Efektivitas Pelayanan Aparat

Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti terjadinya suatu efek atau akibat yang
dikehendaki dalam sesuatu perbuatan (Ensiklopedi Administrasi, 1989:149). Efektif
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti dapat membawa hasil, berhasil guna.
Sedangkan menurut Handoko (1993:7) efektivitas adalah kemampuan untuk memilih
tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Efektivitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya


sesuatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kalau seseorang melakukan suatu perbuatan
dengan maksud tertentu yang memang dikehendaki, maka orang itu dikatakan efektif
kalau menimbulkan akibat sebagaimana yang dikehendakinya (Ensiklopedi Administrasi,
1989:147).

Dalam kenyataannya, sulit sekali memperinci apa yang dimaksud dengan

konsep efektivitas dalam suatu organisasi. Pengertian efektivitas dalam suatu organisasi

mempunyai arti yang berbeda-beda bagi setiap orang, begantung pada kerangka acuan

yang dipakainya. Bagi sejumlah sarjana ilmu sosial, efektivitas seringkali ditinjau dari

sudut kualitas kehidupan pekerja (Steers, 1985:1).

Richard M. Steers mengemukakan bahwa pada dasarnya cara yang terbaik untuk

meneliti efektivitas ialah dengan memperhatikan secara serempak tiga buah konsep yang

saling berhubungan yaitu :

1. Paham mengenai optimasi tujuan : efektivitas dinilai menurut ukuran seberapa jauh
sebuah organisasi berhasil mencapai tujuan yang layak dicapai;
2. Perspektif sistematika : tujuan mengikuti suatu daur dalam organisasi;

3. Tekanan pada segi perilaku manusia dalam susunan organisasi : bagaimana tingkah
laku individu dan kelompok akhirnya dapat menyokong atau menghalangi
tercapainya tujuan organisasi (Steers, 1985:4-7)

Orientasi dalam penelitian tentang efektivitas sebagian besar dan sedikit banyak pada
akhirnya bertumpu pada pencapaian tujuan. Georgepoulus dan Tenenbaum (Richard M.
Steers, 1985:20) berpendapat bahwa konsep efektivitas kadang-kadang disebut sebagai
keberhasilan yang biasanya digunakan untuk menunjukkan pencapaian tujuan. Chester I.
Barnard (dalam Gibson, 1994:27), mendefinisikan efektivitas sebagai pencapaian sasaran
yang telah disepakati atas usaha bersama. Tingkat pencapaian sasaran itu menunjukkan
tingkat efektivitas. Definisi lain yang dapat dijadikan acuan ialah menurut Emerson
(dalam Handayaningrat, 1985:16) :

Efektivitas ialah pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang
telah ditentukan sebelumnya. Jelaslah bila sasaran atau tujuan telah tercapai
sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya, hal ini dikatakan efektif. Jadi
apabila tujuan atau sasaran tidak sesuai dengan yang telah ditentukan, maka
pekerjaan itu dikatakan tidak efektif.

Katz dan Kahn (Richard M. Steers, 1985:48) berpendapat bahwa efektivitas sebagai
usaha untuk mencapai suatu keuntungan bahwa efektivitas sebagai usaha untuk mencapai
suatu keuntungan maksimal bagi organisasi dengan segala cara. Berkaitan dengan konsep
efektivitas, The Liang Gie (1988:34) berpendapat :

Efektivitas merupakan keadaan yang mengandung pengertian mengenai


terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kalau seseorang melakukan
suatu perbuatan dengan maksud tertentu yang dikehendaki, maka perbuatan itu
dikatakan efektif kalau menimbulkan akibat atau mencapai maksud sebagaimana
yang dikehendaki.

Sondang P. Siagian (1981:151) berpendapat bahwa efektivitas terkait penyelesaian


pekerjaan tepat pada waktu yang telah ditetapkan sebelumnya atau dapat dikatakan
apakah pelaksanaan sesuatu tercapai sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya. M.
Manullang (1986:214) berpendapat :

Prestasi atau efektivitas organisasi pada dasarnya adalah efektivitas perorangan,


atau dengan kata lain bila tiap anggota organisasi secara terkoordinasi
melaksanakan tugas dan pekerjaannya masing-masing dengan baik, efektivitas
organisasi secara keseluruhan akan timbul.

Dari bermacam-macam pendapat di atas terlihat bahwa efektivitas lebih menekankan


pada aspek tujuan dari suatu organisasi, jadi jika suatu organisasi telah berhasil mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, maka dapat dikatakan telah mencapai efektivitas. Dengan
demikian efektivitas pada hakekatnya berorientasi pada pencapaian tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya.

Moenir (2000:vii) mengatakan bahwa pelayanan adalah kunci keberhasilan dalam


berbagai usaha atau kegiatan yang bersifat jasa. Jadi dalam memberikan pelayanan
kepada masyarakat harus seefektif mungkin. Secara umum pelayanan yang efektif dapat
berarti tercapainya tujuan pelayanan yang telah ditetapkan organisasi dan masyarakat
merasa puas dengan pelayanan yang didapatnya. Weber (dalam Azhar Kasim, 1993:9)
mengatakan :

Bahwa konsep birokrasi yang rasional sangat mengandalkan pada peraturan-


peraturan dan prosedur yang kesemuanya dimaksudkan untuk membantu
tercapainya tujuan dan terlaksananya nilai-nilai dan norma-norma yang
diinginkan.

Dengan melihat konsep tentang pelayanan publik yang telah diuraikan di atas, bahwa
pelayanan publik adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang
atau instansi tertentu untuk memberikan bantuan dan kemudahan kepada masyarakat atau
kelompok yang dilayani dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Maka, dapat dikatakan
bahwa efektivitas pelayanan aparat adalah tercapainya suatu tujuan yang dilakukan oleh
aparat dalam pelayanan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Efektivitas lebih
menekankan pada aspek tujuan dari suatu organisasi. Untuk mengukur efektivitas
pelayanan maka kita dapat melihatnya dari optimasi tujuan, perspektif sistematika dan
perilaku pegawai dalam organisasi. Dari konsep tersebut, indikator-indikator efektivitas
pelayanan aparat adalah sebagai berikut :

a. Optimasi tujuan,

Efektivitas pelayanan dapat diukur dengan indikator optimasi tujuan yaitu bagaimana
kita melihat pada pencapaian target kerja, apakah sesuai dengan yang telah
direncanakan atau tidak. Kita juga melihat apakah ada keluhan yang datang dari
masyarakat tentang pelayanan yang sudah diberikan pegawai atau tidak, sebab adanya
keluhan berarti menunjukkan tujuan organisasi belum tercapai sepenuhnya.
b. Perspektif sistematika,

Indikator lain yang digunakan untuk mengukur efektivitas pelayanan adalah


perspektif sistematika yaitu melihat pada kemampuan masing-masing pegawai dalam
menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kedudukannya dalam organisasi tersebut,
apakah pegawai mampu mengerjakan tugasnya dengan kemampuan sendiri, apakah
pegawai memiliki keterampilan atau keahlian khusus.

c. Perilaku pegawai dalam organisasi.

Indikator ketiga yang digunakan untuk mengukur efektivitas pelayanan adalah


perilaku pegawai dalam organisasi, yaitu bagaimana tingkat ketelitian pegawai dalam
melaksanakan pekerjaannya, baik ketelitian dalam hal kebersihan maupun tingkat
kesalahan yang mungkin terjadi pada saat bekerja. Bagaimana kita melihat pada
kecepatan dan ketepatan waktu pegawai dalam menyelesaikan pekerjaannya,
bagaimana konsentrasi pegawai dalam bekerja.

4. Disiplin Kerja Aparat

Peraturan sebagai salah satu sarana dalam mencapai tujuan bukan hanya satu

kata yang tidak bermakna dan diabaikan tanpa ditaati. Dalam rangka mencapai tujuan,

peraturan harus benar-benar ditaati oleh setiap individu yang menjadi obyek dari

peraturan tersebut. Ketaatan terhadap peraturan yang ada lazim disebut dengan disiplin.

Dalam organisasi disiplin diperlukan agar jangan sampai terjadi keteledoran atau

kelalaian serta pemborosan dalam pelaksanaan suatu pekerjaan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disiplin diartikan sebagai ketaatan atau

kepatuhan kepada peraturan tata tertib dan sebagainya. Berdasarkan asal katanya, disiplin

berasal dari kata disiplina yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian

serta pengembangan tabiat.


Disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang bergabung dalam

suatu organisasi, tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan senang hati

(Kerlinger dan Pedhazur, 1987:160). Gordon S. Watkins mengartikan disiplin sebagai

suatu kondisi atau sikap yang ada pada semua anggota organisasi yang tunduk dan taat

pada aturan organisasi (dalam Moenir, 2000:94).

Disiplin menurut Moenir adalah suatu bentuk ketaatan terhadap aturan, baik

tertulis maupun tidak tertulis, yang telah ditetapkan (Moenir, 2000:94). Moenir

berpendapat bahwa :

Dalam pelaksanaan tugas/pekerjaan disiplin terdiri atas dua jenis disiplin, yaitu
disiplin waktu dan disiplin perbuatan. Kedua jenis disiplin tersebut merupakan
kesatuan yang tak dapat dipisahkan serta saling mempengaruhi. Disiplin waktu
tanpa disertai disiplin kerja tidak ada artinya, dengan kata lain tidak ada hasil
sesuai dengan ketentuan organisasi. Sebaliknya disiplin kerja tanpa didasari
dengan disiplin waktu tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu usaha
pendisiplinan tidak dapat dilakukan separuh-separuh melainkan harus serentak
kedua-duanya (Moenir, 2000:95-96).

Kemudian Tjing Bing Tie (dalam Kerlinger dan Pedhazur, 1987:160)

menyatakan bahwa :

Pada umumnya disiplin yang baik terdapat apabila pegawai datang ke kantor
atau perusahaan dengan teratur dan tepat pada waktunya, apabila mereka
berpakaian serba baik pada tempat pekerjaannya, apabila menggunakan bahan-
bahan dan perlengkapan dengan hati-hati, apabila mereka menghasilkan jumlah
dan kualitet pekerjaan yang memuaskan, dan mengikuti cara kerja yang
ditentukan oleh perusahaan dan apabila menyelesaikan dengan semangat yang
baik.

Disiplin menurut Atmosudirjo adalah :


1. Suatu sikap mental (state of mind, mental attitude) tertentu yang merupakan
sikap taat dan tertib sebagai hasil daripada latihan dan pengendalian pikiran dan
watak oleh pribadi secara teratur;

2. Suatu pengetahuan tingkat tinggi tentang sistem aturan-aturan perilaku, sistem


atau norma-norma kriteria dan standar sekaligus keseluruhan dan kesadaran
bahwa ketaatan akan aturan, kriteria standar struktur dan sistem organisasi
tersebut itu adalah syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan;

3. Sikap kelakuan (behavior) yang secara wajar menunjukkan kesungguhan hati,


pengertian kesadaran untuk mentaati segala apa yang diketahui itu secara cermat
dan tertib. (Atmosudirjo, 1987)

Bedasarkan berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja

adalah suatu sikap taat pada peraturan dan tata tertib serta tanggung jawab dalam

kaitannya dengan pelaksanaan pekerjaan. Dari konsep ini indikator-indikator dari disiplin

kerja dapat dikemukakan sebagai berikut :

a. Ketaatan aparat terhadap peraturan,

Indikator disiplin kerja yang digunakan untuk mengukur efektivitas pelayanan salah

satunya adalah tingkat ketaatan pegawai pada peraturan dan tata tertib. Taat berarti

mematuhi semua petunjuk-petunjuk atau aturan yang ada. Ketepatan aparat pada jam-

jam kerja, pada saat datang dan pulang apakah selalu tepat waktu, faktor

keterlambatan pegawai saat masuk kantor. Kemudian kepatuhan pegawai pada

perintah atau instruksi dari atasan. Apakah pegawai selalu melaksanakan instruksi

dari atasan atau tidak. Apakah pegawai selalu mengikuti prosedur dalam

melaksanakan tugasnya, apakah pegawai pernah melanggar aturan tata tertib yang ada

di kantor, bagaimana cara berpakaian pegawai, apakah selalu memakai seragam atau

tidak dan bagaimana tingkat kehadiran pegawai pada jam kerja.


b. Tanggung jawab.

Indikator lain dari disiplin kerja yang digunakan untuk mengukur efektivitas

pelayanan dalam penelitian ini adalah rasa tanggungjawab dari para pegawainya.

Tanggungjawab dalam hal ini berarti melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan

mau menanggung akibat dari semua resiko hasil kerjanya. Bagaimana para aparat

menggunakan dan memelihara alat-alat perlengkapan kantor yang ada. Apakah

mereka menggunakannya hanya untuk keperluan pekerjaan atau malah mereka

menggunakannya untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Kemudian bagaimana

tanggungjawab mereka dalam menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai dengan

ketentuan dengan jumlah dan kualitas yang memuaskan serta bagaimana

kesanggupan mereka untuk menanggung resiko terhadap tindakan yang sudah

dilakukan.

5. Iklim Kerja Organisasi

Menurut Steers, bila kita membahas konsep iklim kerja dalam suatu organisasi,

itu berarti kita sedang membicarakan mengenai sifat-sifat atau ciri yang dirasa terdapat

dalam lingkungan kerja dan timbul terutama karena kegiatan organisasi, yang dilakukan

secara sadar atau tidak dan yang dianggap mempengaruhi perilaku kemudian (Steers,

1985:120). Menurut Steers ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berhubungan

dengan definisi iklim kerja organisasi, yaitu :


Pertama, iklim organisasi tertentu adalah iklim yang dilihat oleh para pekerjanya, jadi
tidak selalu iklim yang “sebenarnya”. Kedua, iklim organisasi adalah anggapan adanya
hubungan antara ciri dan kegiatan lainnya dari organisasi dan iklim.

Davis dan Newstrom (1990:20), iklim organisasi adalah lingkungan manusia di

dalam mana para pegawai organisasi melakukan pekerjaan mereka. Sedangkan pendapat

yang senada juga diungkapkan oleh Kuncorohadi (1983:99), iklim organisasi adalah

suasana dalam suatu organisasi yang diciptakan oleh para hubungan antar pribadi yang

berlaku dalam organisasi tersebut.

Iklim kerja dalam suatu organisasi menurut Widyarto pada dasarnya terbentuk

karena proses menyatunya tiga unsur, yaitu karyawan, manajemen dan penjabaran

kegiatan organisasi. Hal tersebut akan berjalan baik jika semua berjalan sesuai secara

fungsional yaitu : Pertama, karyawan dapat memahami hal-hal teknis pekerjaannya,

sehingga tidak diperlukan supervisi yang ketat dari atasannya. Kedua, atasan sebagai

bagian dari manajemen, selain memahami hal-hal teknis dari pekerjaan dan unit kerjanya,

juga harus menguasai kemampuan manajerial, perencanaan, membagi pekerjaan

memimpin dan mengarahkan serta memotivasi. Ketiga, kebijaksanaan organisasi berupa

peraturan organisasi dan kesepakatan kerja yang dijalankan dengan baik, sistem

penggajian dan pemberian tunjangan yang memadai dan adanya perhatian terhadap

karyawan (dalam Handoko, 1993:34).

Faktor-faktor yang membentuk iklim organisasi menurut Steers (1985:125)

yaitu struktur organisasi, teknologi organisasi, lingkungan tugas luar atau dari kebijakan

dan praktek yang ditetapkan oleh manajemen puncak. Selanjutnya untuk memperjelas
dimensi-dimensi iklim organisasi bisa dilihat dalam pendapat Campbell dan Beaty (dalam

Steers, 1985:122) yang mengemukakan 10 dimensi iklim organisasi, yaitu :

1. struktur tugas

2. hubungan imbalan hukum

3. sentralisasi keputusan

4. tekanan pada prestasi

5. tekanan pada latihan dan pengembangan

6. keamanan versus risiko

7. keterbukaan versus ketertutupan

8. status dan semangat

9. pengakuan dan umpan-balik

10. kompetensi dan keluwesan organisasi secara umum

Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa iklim kerja dalam organisasi
merupakan sifat-sifat atau ciri-ciri yang dirasakan dalam lingkungan kerja dan timbul
karena kegiatan organisasi yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar dan dianggap
mempengaruhi kelancaran aktivitas organisasi. Apabila iklim yang ada bermanfaat bagi
para pegawai maka dapat diharapkan tingkat perilaku ke arah tujuan semakin tinggi dan
itu berarti efektivitas organisasi dapat tercapai. Sebaliknya bila iklim yang ada
bertentangan dengan tujuan, kebutuhan dan motivasi karyawan maka dapat mengganggu
kinerja dan prestasi serta kepuasan karyawan sehingga dapat mengurangi optimalisasi
dalam pencapaian tujuan organisasi.

Demikian juga kelurahan-kelurahan dalam upaya meningkatkan efektivitas

pelayanannya dituntut terlebih dahulu untuk melakukan upaya-upaya yang dapat

mendukung ke arah iklim kerja yang lebih kondusif. Dari konsep ini, kita dapat

mengambil indikator-indikator iklim kerja sebagai berikut :


a. Struktur tugas,

Salah satu indikator yang diambil dari variabel iklim kerja yang digunakan untuk

mengukur efektivitas pelayanan adalah indikator Struktur tugas. Disini kita melihat

adanya struktur organisasi yang tegas dan tergambar dalam bagan organisasi yang ada

di kantor tersebut. Karena dengan adanya gambar struktur organisasi yang jelas, maka

masing-masing pegawai akan lebih memahami bagaimana kedudukan dan tugasnya

dalam bekerja. Selain itu juga harus ada pembagian tugas / pekerjaan yang jelas

dalam organisasi tersebut, hal ini untuk menjaga terjadi over lapping. Selain itu kita

juga melihat dari terjalinnya komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan

maupun sesama rekan kerja.

b. Hubungan imbalan - hukum,

Yang dimaksud hubungan imbalan hukum disini adalah tingkat batas pemberian

imbalan tambahan seperti promosi dan kenaikan gaji didasarkan pada prestasi dan

jasa dan bukan pada pertimbangan-pertimbangan lain seperti senioritas, favoritisme,

dan seterusnya. Dari indikator ini, kita dapat mengukur iklim kerja dengan melihat

ada tidaknya pemberian imbalan tambahan bagi pegawai yang berprestasi, bagaimana

tingkat penghargaan bagi pegawai yang berprestasi serta adakah pemberian hukuman

bagi pegawai yang melanggar peraturan.

c. Pengambilan keputusan,

Dari indikator pengambilan keputusan, apabila kita ingin mengukur efektivitas

pelayanan dari variabel iklim kerja maka yang dapat kita perhatikan adalah
bagaimana peran atau partisipasi anggota dalam proses pengambilan keputusan dalam

organisasi tersebut, serta adakah kebebasan pegawai biasa untuk mengambil tindakan

dalam situasi darurat.

d. Tekanan pada prestasi dan semangat kerja,

Dari indikator ini, kita melihat bagaimana organisasi berusaha menekan prestasi dan

semangat kerja para pegawainya dengan berbagai cara termasuk juga latihan dan

pengembangan bagi pegawai yang sangat berguna untuk menaikkan prestasi

pegawainya dalam bekerja. Disini kita mengukur sejauh mana peraturan organisasi

dijalankan oleh pegawai, melihat bagaimana semangat pegawai dalam bekerja. Selain

itu kita juga ingin mengetahui tentang ada tidaknya sistem penilaian kerja dalam

organisasi tersebut. Adakah aktivitas organisasi yang mempunyai orientasi

pengembangan bagi pegawainya, seberapa besar frekuensi pengadaan pendidikan dan

latihan bagi pegawainya sebab hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kenaikan

prestasi kerja pegawai. Apakah ada bimbingan dan pengawasan dari supervisor /

atasan supaya hasil kerja mereka sesuai dengan yang diinginkan. Selain itu kita juga

akan melihat bagaimana tingkat kedisiplinan pelaksanaan evaluasi kerja pegawai

dalam organisasi tersebut. Melihat ketersediaan fasilitas dan sarana bagi kelancaran

pekerjaan juga sangat penting supaya iklim kerja di kantor akan menjadi baik

sehingga efektivitas pelayanan akan meningkat.

e. Keamanan versus resiko.


Yang dimaksud dengan keamanan versus resiko disini adalah tingkat batas tekanan

dalam organisasi yang menimbulkan perasaan kurang aman dan kecemasan pada para

anggota. Dari indikator ini kita melihat dari segi rasa aman dan nyaman pegawai pada

saat bekerja, besarnya insentif, munculnya resiko pekerjaan yang berat dan

bagaimana sikap pegawai dalam menghadapi resiko pekerjaan yang ada.

6. Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Efektivitas Pelayanan Aparat Kelurahan

Suatu organisasi dalam pencapaian tujuannya akan berhasil melalui usaha yang sungguh-
sungguh. Oleh karena itu efektivitas yang tinggi dicapai organisasi tidak diperoleh secara
kebetulan. Dari sikap disiplin inilah, aparat akan taat serta patuh terhadap aturan yang ada
sehingga pencapaian sasaran organisasi dapat diperoleh secara optimal.

Disiplin adalah sikap mental yang tercermin dari perilaku pribadi atau

kelompok berupa kepatuhan, ketaatan terhadap hukum dan norma yang berlaku dan

dilaksanakan secara sadar dan ikhlas lahir batin. Birokrat di tingkat kelurahan sebagai

aparat teknis harus mempunyai disiplin tinggi, karena disiplin akan menentukan

keberhasilan suatu kegiatan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Miftah Thoha bahwa

birokrasi itu cirinya harus disiplin, harus menegakkan aturan yang sudah disepakati atau

telah ditetapkan (Thoha, 1987:54). Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita amati bahwa

mereka yang berdisiplin tinggi, umumnya berprestasi lebih tinggi pula (Widjaja,

1990:28).

Disiplin itu mutlak diperlukan untuk membuat segala urusan dapat berjalan lancar.
Aturan-aturan disiplin harus diketahui, dipahami, diingat dan ditaati oleh setiap anggota
organisasi, untuk mensukseskan operasi-operasi yang harus dijalankan setiap organisasi.
Tidak satupun organisasi atau badan usaha yang dapat berkembang jika tidak ada
disiplin.
Pentingnya disiplin diungkapkan oleh Widjaja (1990:28) bahwa disiplin adalah termasuk
dalam unsur-unsur penting yang mempengaruhi prestasi suatu organisasi. Dalam
penelitian ini yang dimaksud organisasi adalah organisasi pemerintah yang melaksanakan
tugas-tugas negara. Widjaja kembali mengungkapkan tentang pentingnya disiplin dalam
organisasi pemerintah, yaitu :

“Pelaksanaan disiplin pegawai sangat penting peranannya dalam pengelolaan


Departemen secara keseluruhan. Berhasil tidaknya pembangunan di bidang
pendidikan sebagian besar ditentukan oleh tingkat disiplin pegawainya. Makin
disiplin pegawai, makin berhasil pula dalam mengemban misinya.” (Widjaja,
1990:156).

Dari uraian tersebut terlihat arti penting dari disiplin kerja bagi pencapaian efektivitas
pelayanan. Oleh karena itu aparat pemerintah kelurahan dituntut harus punya disiplin
kerja yang baik agar tugas-tugas pemerintah yang menjadi kewajibannya dapat
terselesaikan dengan baik. Karena tugas yang diemban oleh kelurahan bersifat kompleks,
maka lurah beserta perangkatnya harus punya disiplin tinggi sehingga dapat memberikan
pelayanan yang efektif atau berdaya guna bagi masyarakat. Disiplin yang baik juga
berarti terlaksananya tugas-tugas yang harus dilakukan oleh aparat kelurahan sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan secara bersama-sama.

7. Pengaruh Iklim Kerja Dalam Kelurahan Terhadap Efektivitas Pelayanan Aparat


Kelurahan

Suasana iklim kerja tempat pegawai bekerja perlu diperhatikan. Iklim kerja dalam suatu
organisasi merupakan suatu sifat atau ciri yang dirasakan dalam lingkungan kerja dan
timbul karena kegiatan organisasi yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar dan
dianggap mempengaruhi kelancaran aktivitas organisasi. Bagaimana cara pegawai
berinteraksi dengan masyarakat pada saat melayani, bagaimana hubungan antar pegawai
dalam organisasi tersebut, sehingga pelayanannya menjadi efektif. Dalam hal ini yang
dimaksud adalah iklim organisasi dalam kantor kelurahan tempat aparat kelurahan
melayani kepentingan masyarakat. Hal ini sangat penting guna mendukung tercapainya
pelayanan yang efektif terhadap masyarakat.

Iklim kerja yang baik dalam suatu organisasi sangat penting artinya karena efektivitas
setiap organisasi sangat ditentukan oleh iklim kerja yang ada dalam organisasi setiap
pegawai bekerja, dalam hal ini adalah organisasi kelurahan. Seperti diungkapkan oleh
Steers bahwa : “iklim memang merupakan faktor pengaruh yang penting bagi prestasi
dan kepuasan kerja.” (Steers, 1985:130). Dari pendapat Steers tersebut kita dapat melihat
bahwasannya iklim kerja sangat berpengaruh pada prestasi dan kepuasan kerja pegawai
yang dalam penelitian ini adalah tercapainya efektivitas pelayanan aparat kelurahan.

Dari indikator-indikator iklim kerja yang sudah diterangkan dalam konsep iklim kerja
diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa kemampuan pegawai, struktur tugas yang jelas,
adanya pelatihan, kesejahteraan dan rasa aman yang semakin meningkat akan sangat
mendukung kelancaran kerja dan secara otomatis meningkatkan efektivitas pelayanan
pemerintah kelurahan. Selain itu juga sarana penunjang kerja yang semakin memadai
akan memperlancar kerja dan tugas-tugas yang pada akhirnya akan meningkatkan
efektivitas pelayanan.

Aparat pemerintah kelurahan merupakan penanggung jawab atas tugas-tugas yang


diemban oleh kelurahan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Masalah-
masalah yang ditangani oleh kelurahan sangat kompleks sifatnya, maka dari itu
diperlukan iklim kerja yang baik untuk menunjang hasil kerja pegawai dalam
menyelesaikan pekerjaan maupun dalam melayani masyarakat agar semua pekerjaan
dapat diselesaikan dengan baik dan sempurna.

Dari uraian tersebut terlihat bahwa iklim kerja yang baik dalam organisasi sangat penting
dalam rangka mewujudkan efektivitas pelayanan suatu organisasi, dalam hal ini
pencapaian efektivitas pelayanan kelurahan. Apabila iklim yang ada bermanfaat bagi para
pegawai maka dapat diharapkan tingkat perilaku ke arah tujuan semakin tinggi dan itu
berarti efektivitas pelayanan kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara dapat tercapai.

8. Pengaruh Bersama Antara Disiplin Kerja Dan Iklim Kerja Terhadap Efektivitas
Pelayanan Aparat Kelurahan

Disiplin kerja yang baik dan iklim yang menunjang dalam pemerintah kelurahan akan
menciptakan pelayanan yang efektif. Disiplin kerja adalah suatu sikap menghormati,
menghargai, patuh dan taat pada peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun tidak
serta sanggup menerima sanksi-sanksi apabila melanggar tugas dan wewenang yang
diberikan kepadanya (Siswanto, 1987:278). Sedangkan iklim kerja dalam organisasi
merupakan sifat-sifat atau ciri-ciri yang dirasakan dalam lingkungan kerja dan timbul
karena kegiatan organisasi yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar dan dianggap
mempengaruhi kelancaran aktivitas organisasi (Steers, 1985:120).
M. Manullang (1986:214) mengatakan bahwa prestasi atau efektivitas organisasi pada
dasarnya adalah efektivitas perorangan, atau dengan kata lain bila tiap anggota organisasi
secara terkoordinasi melaksanakan tugas dan pekerjaannya masing-masing dengan baik,
efektivitas organisasi secara keseluruhan akan timbul. Yang dimaksud koordinasi disini
adalah iklim kerja yang tercipta di lingkungan kerja. Terkoodinasi dengan baik berarti
kedisiplinan tiap-tiap individu dalam organisasi tersebut baik. Dari situlah kita dapat
mengetahui bahwa ada hubungan yang erat antara kedisiplinan dan iklim kerja terhadap
efektivitas suatu organisasi.

Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa efektivitas pelayanan akan dipengaruhi oleh
disiplin aparat dan iklim kerja yang ada dalam organisasi yang bersangkutan dalam
melayani kepentingan masyarakat. Adanya disiplin kerja dan iklim kerja yang baik akan
menciptakan interaksi yang harmonis baik antara aparat dengan sesama aparat birokrasi
maupun antara aparat dengan masyarakat. Sehingga apabila ada suatu prosedur pelayanan
yang harus dipatuhi oleh masyarakat, masyarakat akan mematuhinya dengan senang hati.
Hal itu disebabkan oleh karena interaksi yang baik tadi. Suasana ini juga akan
menciptakan ketertiban dalam jalannya pelayanan di kelurahan sehingga efektivitas
pelayanan bisa tercapai jika kedua hal tersebut maksimal.

B. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Hipotesis Model Verbal

a. Semakin tinggi disiplin kerja aparat pemerintah kelurahan maka akan


semakin meningkat efektivitas pelayanannya.

b. Semakin baik iklim kerja yang ada dalam pemerintah kelurahan maka
semakin meningkat pula efektivitas pelayanannya.

c. Semakin tinggi disiplin dan iklim kerja pada pemerintah kelurahan


maka semakin meningkat pula efektivitas pelayanannya.
2. Hipotesis Model Geometrikal

Disiplin kerja aparat pemerintah kelurahan (X1)

Iklim Kerja pemerintah kelurahan (X2)

Efektivitas pelayanan aparat kelurahan

(Y)

Gambar 1.
Hipotesis Model Geometrikal
Keterangan :

Efektivitas pelayanan aparat kelurahan sebagai variable terikat (Y)

Disiplin kerja aparat kelurahan sebagai variable bebas pertama (X1)

Iklim kerja pemerintah kelurahan sebagai variable bebas kedua (X2)

--------> : menunjukkan adanya pengaruh

C. Definisi Konsep dan Definisi Operasional

1. Definisi Konsep

a. Efektivitas Pelayanan Aparat

Yaitu tercapainya suatu tujuan yang dilakukan oleh aparat dalam pelayanan

sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

b. Disiplin Kerja Aparat

Yaitu suatu sikap taat pada peraturan dan tata tertib serta tanggung jawab

dalam kaitannya dengan pelaksanaan pekerjaan.

c. Iklim Kerja Dalam Organisasi


Yaitu sifat-sifat atau ciri-ciri yang dirasakan dalam lingkungan kerja dan

timbul karena kegiatan organisasi yang dilakukan secara sadar maupun tidak

sadar dan dianggap mempengaruhi kelancaran aktivitas organisasi.

2. Definisi Operasional

a. Efektivitas pelayanan aparat

Indikator untuk mengukur efektivitas pelayanan aparat antara lain :

1). Optimasi tujuan, meliputi :

- tercapainya target kerja

- keluhan dari penerima hasil kerja

- prioritas pencapaian tujuan

2). Perspektif sistematika, meliputi :

- kesesuaian cara kerja pegawai dengan sistem kerja yang ada

- pencapaian tujuan dengan mengikuti prosedur yang ada

- memahami dan menguasai hal-hal teknis pekerjannya

3). Perilaku pegawai dalam organisasi, meliputi :

- partisipasi anggota dalam program-program yang dilaksanakan

organisasi
- tingkat kerjasama dalam organisasi

- tingkat pelanggaran terhadap peraturan organisasi

b. Disiplin kerja aparat

Indikator-indikator disiplin kerja antara lain :

1). Ketaatan aparat terhadap peraturan, antara lain :

- ketepatan aparat pada jam-jam kerja

- kepatuhan aparat pada perintah/instruksi dari atasan

- taat pada peraturan dan tata tertib yang berlaku

- cara berpakaian

- absensi atau daftar hadir

2). Tanggung jawab, antara lain :

- penggunaan dan pemeliharaan alat-alat perlengkapan kantor

- penyelesaian pekerjaan sesuai dengan ketentuan (tepat waktu)

- kesanggupan menanggung resiko tindakan yang dilakukan

c. Iklim Kerja dalam Organisasi

Indikator-indikator iklim kerja antara lain :


1). Struktur tugas, meliputi :

- adanya struktur organisasi yang tegas tergambar dalam bagan

- adanya pembagian tugas/pekerjaan yang jelas dalam organisasi

- terjalinnya komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan

maupun sesama rekan kerja

2). Hubungan imbalan - hukum, meliputi :

- pemberian imbalan tambahan bagi pegawai yang berprestasi

- tingkat penghargaan bagi pegawai yang berprestasi

- pemberian hukuman bagi pegawai yang melanggar peraturan

3). Pengambilan keputusan, meliputi :

- partisipasi anggota dalam mengambil keputusan

- kebebasan pegawai mengambil tindakan dalam situasi darurat

4). Tekanan pada prestasi dan semangat kerja, meliputi :

- peraturan organisasi yang dijalankan dengan baik oleh pegawai

- semangat pegawai dalam bekerja

- kejelasan sistem penilaian kerja


- aktivitas organisasi yang mempunyai orientasi pengembangan bagi

pegawai

- frekuensi pengadaan pendidikan dan latihan bagi pegawai

- adanya bimbingan dan pengawasan dari supervisor / atasan

- tingkat kedisiplinan pelaksanaan evaluasi kerja pegawai

- ketersediaan fasilitas dan sarana bagi kelancaran pekerjaan

5). Keamanan versus resiko, meliputi :

- rasa aman dan nyaman pada saat bekerja

- adanya insentif yang sesuai dengan pekerjaannya

- munculnya resiko pekerjaan yang berat

- sikap pegawai dalam menghadapi resiko pekerjaan yang ada

3. Matriks Definisi Operasional Variabel Penelitian

Matriks definisi operasional variabel penelitian akan diperlihatkan pada tabel 4

berikut ini :
Tabel 4. Matriks Definisi Operasional
Variabel Penelitian
No. Variabel Dimensi Item
Indikator
A. Efektivitas Pelayanan 1. Optimasi tujuan a. tercapainya 1-2
target kerja

b. keluhan dari
penerima hasil 3-4
kerja

c. prioritas
pencapaian tujuan 5

2. Perspektif a. kesesuaian cara 6


sistematika kerja pegawai
dengan sistem kerja
yang ada

b. pencapaian
tujuan dengan
mengikuti prosedur
yang ada 7

c. memahami dan
menguasai hal-hal
teknis
pekerjaannya
8-9
3. Perilaku a. partisipasi 10-11
pegawai dalam anggota dalam
organisasi program-program
yang dilaksanakan
organisasi

b. tingkat
kerjasama dalam
organisasi

c. tingkat 12-13
pelanggaran
terhadap peraturan
organisasi
14

B. Disiplin Kerja 1. Ketaatan aparat a. ketepatan aparat 15-16


terhadap pada jam-jam kerja
peraturan
b. kepatuhan aparat
pada perintah atau 17
instruksi atasan

c. taat pada
peraturan dan tata
tertib yang berlaku
18-19
d. cara berpakaian

e. absensi dan
daftar hadir

20

21-22
2. Tanggung jawab a. penggunaan dan 23-25
pemeliharaan alat-
alat perlengkapan
kantor

b. penyelesaian
pekerjaan sesuai
dengan ketentuan
26-27
c. kesanggupan
menanggung resiko
terhadap tindakan
yang dilakukan

28
C. Iklim Kerja 1. Struktur tugas a. adanya struktur 29
organisasi yang
tegas dan
tergambar dalam
bagan

b. adanya
pembagian
tugas/pekerjaan 30
yang jelas dalam
organisasi

c. terjalinnya
komunikasi yang
baik antara atasan
dan bawahan
maupun sesama 31
rekan kerja
2. Hubungan a. pemberian 32
imbalan – hukum imbalan tambahan
bagi pegawai yang
berprestasi

b. tingkat
penghargaan bagi
pegawai yang
berprestasi 33

c. pemberian
hukuman bagi
pegawai yang
melanggar
peraturan 34

3. Pengambilan a. partisipasi 35
keputusan anggota dalam
mengambil
keputusan

b. kebebasan
pegawai
mengambil
tindakan dalam 36
situasi darurat
4. Tekanan pada a. peraturan 37
prestasi dan organisasi yang
semangat kerja dijalankan dengan
baik oleh pegawai

b. semangat
pegawai dalam
bekerja
38-39
c. kejelasan sistem
penilaian kerja

d. aktivitas 40
organisasi yang
mempunyai
orientasi
pengembangan 41
bagi pegawai

e. frekuensi
pengadaan
pendidikan dan
latihan bagi
pegawai

f. adanya
bimbingan dan 42
pengawasan dari
atasan

g. tingkat
kedisiplinan
pelaksanaan 43-44
evaluasi kerja
pegawai

h. ketersediaan
fasilitas dan sarana
bagi kelancaran 45
pekerjaan

46
5. Keamanan versus a. rasa aman dan 47-49
Resiko nyaman pada saat
bekerja

b. adanya insentif
yang sesuai dengan
pekerjaannya 50

c. munculnya
resiko pekerjaan
yang berat

d. sikap pegawai 51
dalam menghadapi
resiko pekerjaan
yang ada
52

===============================================================
======

BAB III

METODE PENELITIAN DAN ANALISIS

A. Metode Penelitian

1. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian ini adalah seluruh aparat kelurahan yang ada di Kecamatan

Cilacap Utara Kabupaten Cilacap. Dan untuk melengkapi kevalidan data, penulis

juga mengadakan wawancara dengan beberapa masyarakat yang dipilih secara

acak.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di seluruh kelurahan yang ada di Kecamatan

Cilacap Utara Kabupaten Cilacap. Alasan pemilihan lokasi ini didasarkan pada

banyaknya keluhan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan aparat

kelurahan yang ada di Kecamatan Cilacap Utara.

3. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan

menggunakan metode survai yaitu penelitian yang mengambil sampel dari satu

populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok

(Masri Singarimbun Effendi, 1989:3).

4. Variabel - Variabel Yang Digunakan

1). Efektifitas pelayanan aparat sebagai variabel terikat (Y)

2). Disiplin kerja aparat sebagai variabel bebas pertama (X1)


3). Iklim kerja sebagai variabel bebas kedua (X2)

5. Teknik Pengambilan Sampel

Dalam penelitian ini menggunakan teknik Total Sampling yaitu dengan

mengambil seluruh populasi sebagai sampel selama jumlah populasi diketahui

terbatas. Sampel yang jumlahnya sebesar populasi tersebut sering disebut sampel

total (Surakhmad, 1989:100). Penentuan sampel total sebagai teknik pengambilan

sampel dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Arikunto yang menyatakan

apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga

penelitiannya merupakan penelitian populasi (Arikunto, 1998:120). Penelitian ini

menggunakan sampel total atau sampel yang sebesar populasinya dengan

mempertimbangkan hal sebagai berikut :

a. jumlah populasi terbatas dan masih dalam jangkauan

b. dalam menggunakan total sampel maka sampel akan representatif

c. responden adalah orang yang sudah jelas diketahui

Jadi dalam penelitian ini sampelnya adalah seluruh aparat kelurahan yang ada di

Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap yang berjumlah 82 orang. Dan untuk

melengkapi kevalidan data, penulis juga mengadakan wawancara dengan beberapa

masyarakat yang dipilih secara acak.


6. Metode Pengumpulan Data

1. Kuesioner

Suatu penelitian mengenai suatu masalah yang dilakukan dengan jalan

mengedarkan suatu pertanyaan berupa formulir, diajukan secara tertulis

kepada responden untuk mendapatkan jawaban tertulis.

2. Wawancara

Suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu. Hal ini

merupakan proses tanya jawab lisan dimana dua orang atau lebih berhadapan

secara fisik. Wawancara ini akan dilakukan pada pegawai kelurahan yang

lebih mengetahui tentang keadaan di kelurahan dan juga kepada masyarakat

yang datang ke kelurahan untuk memperoleh pelayanan dari aparat. Hal ini

dilakukan untuk mendukung data yang sudah ada dari menyebaran kuesioner.

3. Observasi

Suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala

psikis dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Metode ini digunakan untuk

mengamati keadaan responden yang tidak secara mudah dapat ditangkap

melalui metode wawancara dan kuesioner. Dari sini dapat diketahui keadaan

sebenarnya dari kegiatan-kegiatan sehari-hari responden.

4. Dokumentasi
Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang ada pada instansi atau

lembaga yang relevan untuk menyusun deskriptif wilayah penelitian dan

untuk melengkapi bahan analisa.

7. Sumber Data

Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan ada dua macam, yaitu :

1. Data Primer

Data ini bersumber dari responden secara langsung. Dalam prakteknya

diperoleh dari wawancara dan jawaban responden pada kuesioner yang telah

diberikan. Selain itu dari pengamatan langsung terhadap situasi lokasi

penelitian.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen data statistik, buku-buku,

majalah, koran dan keterangan lainnya yang ada kaitannya dengan obyek

penelitian yang penulis lakukan di kelurahan-kelurahan yang ada di

Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap.

8. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian


Instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat utama untuk mendapatkan

hasil penelitian yang valid dan reliabel (Sugiyono, 1999:97).

1. Validitas Instrumen

Validitas instrumen menunjukkan sejauhmana suatu alat pengukur itu

mengukur secara cermat dan tepat apa yang ingin diukur. Validitas adalah

suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan

suatu instrumen (Arikunto, 1998:160). Menurut Sugiyono, instrumen yang

valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mengukur apa yang hendak

diukur (Sugiyono, 1999:97). Adapun uji validitas yang dipakai dalam

penelitian ini adalah validitas konstruksi (construct validity) yaitu yang

membuat konstruk atau kerangka instrumen yang kemudian dikonsultasikan

dengan para ahli. Instrumen dikatakan mempunyai validitas konstruksi jika

instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur gelaja sesuai dengan

yang didefinisikan. Untuk melahirkan definisi yang benar, maka didasarkan

pada teori-teori atau pendapat para ahli. Sutrino Hadi (dalam Sugiyono,

1999:97) menyatakan bahwa “bila bangunan teorinya sudah benar, maka hasil

pengukuran dengan alat ukur (instrumen) yang berbasis pada teori itu sudah

dipandang sebagai hasil yang valid”.

2. Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauhmana suatu alat ukur


dapat dipercaya atau diandalkan. Sugiyono berpendapat bahwa instrumen
yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk
mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono,
1999:97). Demikian pula yang dikatakan Arikunto bahwa instrumen yang
sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat
dipercaya juga. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya
maka berapa kali pun diambil, tetap akan sama (Arikunto, 1998:170).
Pengujian reliabilitas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah internal
consistency dengan Teknik Belah Dua (split half). Menurut Masri
Singarimbun dan Sofyan Effendi (1989:143) cara pengujian reliabilitas teknik
belah dua adalah sebagai berikut:

a. Menyajikan alat pengukur kepada sejumlah responden, kemudian


dihitung validitas itemnya. Item-item yang valid dikumpulkan jadi satu,
sedangkan yang tidak valid dibuang.

b. Membagi item yang valid tersebut menjadi dua belahan, untuk


membelah alat pengukur menjadi dua dilakukan dengan cara:

1. Membagi item dengan cara acak (random), separuh masuk belahan


pertama (X), separuh lagi masuk belahan kedua (Y).

2. Membagi item berdasarkan nomor genap ganjil, item bernomor ganjil


dimasukkan kedalam belahan pertama (X) dan yang bernomor genap
dikelompokkan dalam belahan kedua (Y).

3. Skor untuk masing-masing item pada tiap belahan dijumlahkan.


Langkah ini akan menghasilkan dua skor total untuk masing-masing
responden, yakni skor total untuk belahan pertama (X) dan skor total
belahan kedua (Y).

4. Mengkorelasikan skor total belahan pertama (X) dengan skor total


belahan kedua (Y) dengan menggunakan tekhnik korelasi product
moment (r x y).

5. Mengkorelasikan r x y dengan formula Spearman-Brown, sehingga


akan diperoleh angka reliabilitas untuk keseluruhan item tanpa
dibelah.

Cara mencari reliabilitas untuk keseluruhan item adalah dengan mengkoreksi


angka korelasi yang diperoleh dengan memasukkannya kedalam rumus
Spearman-Brown, yaitu:

(Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi, 1989: 144)

Keterangan :
r.tot = angka reliabilitas keseluruhan item.

t.tt = angka korelasi belahan pertama dan kedua

Apabila nilai r.tot lebih besar daripada nilai pada r tabel maka dapat
dinyatakan bahwa item tersebut reliable (terandalkan).

B. Metode Analisis

1. Pengukuran Variabel

Alat pengumpul data utama dalam penelitian ini adalah kuesioner. Skala

pengukuran yang digunakan adalah skala Likert (Sugiyono, 2002:74) dimana

pemberian skor berkisar dari nilai tertinggi 3 sampai terendah 1, dengan

scoring/pemberian skor terhadap jawaban yang diberikan responden sebagai

berikut :

- Apabila responden memilih alternatif jawaban A diberi skor 3

- Apabila responden memilih alternatif jawaban B diberi skor 2

- Apabila responden memilih alternatif jawaban C diberi skor 1

2. Metode Analisis Yang Digunakan

Penelitian ini menggunakan metode survai, oleh karena itu untuk

menganalisa hasil penelitian digunakan metode analisa kuantitatif. Metode analisis

ini adalah dengan cara perhitungan statistik untuk menganalisis variabel-variabel


penelitian karena statistik bekerja dengan angka-angka, maka metode ini

memungkinkan deskripsi tentang suatu kegiatan secara eksak dan obyektif.

Sifatnya lebih efisien dibandingkan dengan bahan verbal sehingga rangkuman

hasil penelitian lebih singkat dan menggambarkan kesatuan yang mudah

dimengerti.

Penelitian ini menggunakan teknik satistik non parametrik yaitu dengan

menggunakan Analisa Tabulasi Silang, Kendall Tau, Korelasi Parsial dan

Konkordansi Kendall. Apabila hasil korelasi valid maka akan dilanjutkan dengan

model Regresi Ordinal. Kendall Tau digunakan untuk mencari hubungan dan

menguji hipotesis antara 2 variabel atau lebih bila datanya berbentuk ordinal atau

rangking. Korelasi parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh antar variabel

independen dengan dependen setelah dikontrol. Sedangkan, Korelasi Konkordansi

Kendall digunakan untuk mengetahui derajat asosiasi semua variabel bebas secara

bersama-sama.

Setelah dilakukan perhitungan data menggunakan rumus analisa yang

telah disebutkan di atas, maka akan diperoleh koefisien korelasi. Untuk dapat

memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi, maka dapat berpedoman pada

ketentuan yang tertera pada tabel berikut :

Tabel 5. Pedoman untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan


0,00 – 0,19 Sangat Rendah
0,20 – 0,39 Rendah
0,40 – 0,59 Sedang
0,60 – 0,79 Kuat
0,80 – 1,00 Sangat Kuat

Sumber : Sugiyono, 2004:216

Rumus-rumus yang digunakan untuk menganalisa data meliputi :

a. Kendall Tau – c ( c)

Korelasi kendall tau - c ( c) digunakan untuk mencari hubungan dan


menguji hipotesis antara 2 variabel atau lebih bila datanya berbentuk ordinal
atau rangking. Teknik ini digunakan karena dapat dikembangkan untuk
mencari koefisien korelasi parsial. Rumus dasar yang digunakan adalah
sebagai berikut :

Keterangan:

t = koefisien korelasi kendall tau yang besarnya (-1<0<1)

N = jumlah anggota sampel

Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi digunakan rumus z, karena

distribusinya mendekati normal. Rumus z adalah sebagai berikut :

(Sugiono, 2002 : 238)

b. Korelasi Parsial
Korelasi parsial digunakan untuk menganalisis bila bermaksud mengetahui

pengaruh atau mengetahui hubungan antara variabel independen dengan

dependen, di mana salah satu variabel independennya dibuat

tetap/dikendalikan (Sugiono, 2004:220).

Rumus korelasi parsial :

Untuk mengetahui tingkat signifikansinya dengan rumus :

Keterangan :

rp = korelasi parsial ditemukan

n = jumlah sample

t = t hitung

c. Koefisien Konkordansi Kendall (W)

Fungsinya adalah untuk mengetahui derajat asosiasi antara variabel bebas


pertama dan kedua secara bersama-sama terhadap variabel terikat.
Pengukuran ini dapat bermanfaat dalam mempelajari reliabilitas saling
menentukan dan menguji (Siegel, 1997: 292). Dalam penelitian ini koefisien
ini digunakan untuk mengetahui derajat asosiasi antara variabel disiplin kerja
aparat dengan variabel iklim kerja secara bersama-sama terhadap variabel
efektivitas pelayanan aparat. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut:

Keterangan :

W = Koefisien Konkordansi Kendall

K = Banyaknya variabel yang diobservasi (banyaknya ranking


penjenjangan)

N = Jumlah obyek

S = Jumlah kuadrat deviasi

T = Menjumlahkan harga T untuk ke semua k rangking

Rumus :

Dimana, T = Faktor koreksi

t = Banyaknya observasi dalam suatu kelompok yang memperoleh


angka yang sama untuk rangking tertentu.

I2 = Angka tetap (konstanta).

Sementara untuk uji signifikan tidaknya digunakan koefisien kontuinitas atau


chissquare, dengan rumus:

Atau = k (N- 1) W (Siegel, 1997: 292).

Keterangan :

k = Banyaknya rangking penjenjangan


N = Jumlah obyek

W = Angka koefisien konkordansi kendall

S = Jumlah kuadrat deviasi

Dengan derajat kebebasan (db) = N-1 (Siegel,1997: 292)

Hasil uji signifikansi ini lalu dibandingkan dengan tabel, bila hasilnya lebih
besar dari harga tabel berarti signifikan, dan jika hasilnya lebih kecil dari
harga tabel berarti tidak signifikan. Untuk uji signifikansi koefisien
konkordansi kendall ini tergantung pada besarnya sampel N (sampel).

1. Jika N < 7 maka hasilnya dapat langsung dibandingkan dengan tabel


pada tingkat signifikansi 0,05. tabel untuk ini adalah tabel R

2. Jika N < 7 maka digunakan rumus X = k (N-1)W.

Hasil ini baru dapat dilihat pada tabel, apabila hasilnya lebih besar berarti
signifikan. Tabel ini adalah tabel .

Dalam penelitian ini yang harus dilakukan sehubungan hal tersebut adalah:

1. Mencari koefisien konkordansi kendall antara variabel disiplin kerja


aparat kelurahan dan iklim kerja dalam kelurahan.

2. Karena dalam penelitian ini sudah pasti N lebih besar dar 7 maka
langkah selanjutnya mencari harga signifikansi dengan rumus = k(N-
1)W.

3. Hasil perhitungan tersebut (nomor 2) kemudian dibandingkan dengan


nilai yang terdapat pada tabel dengan db = N-1 apabila hasilnya lebih
besar daripada harga tabel. Berarti signifikan. Dengan demikian maka
antara variabel disiplin kerja aparat dan iklim kerja dalam kelurahan
dengan variabel efektivitas pelayanan aparat terbukti ada hubungannya.

d. Analisis Regresi

Analisis regresi bermanfaat untuk menggambarkan hubungan sebab akibat


(cause effect ) antara satu atau beberapa variabel explanatory dengan satu
variabel respon. Tujuan analisis regresi adalah untuk mendapatkan model
terbaik dan sederhana untuk menggambarkan hubungan antara kedua jenis
variabel tersebut. Hasil dari analisis regresi adalah suatu persamaan matematik
yang berguna untuk melakukan peramalan atau prediksi.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis
regresi ordinal. Analisis regresi ordinal digunakan bila variabel yang dianalisis
memiliki skala pengukuran ordinal. Tujuan analisis regresi ini sebagaimana
analisis regresi yang lain adalah mendapatkan model terbaik dan sederhana
yang menggambarkan antar variabel.

Persamaan yang dipakai dalam penelitian ini dikenal dengan Proportional


Odds Model (PO) atau Ordinal Regression Model atau disebut McCullagh’s
Grouped Continuous Model.

Ciri-ciri nya adalah sebagai berikut :

1. Model menjadi stabil atau invariant pada kondisi timbal balik (reversal)

dari kategori dimana hanya tanda koefisien regresi yang berubah.

2. Keadaan model yang stabil tersebut pada kondisi pemampatan atau

collapsibility dari kategori berurutan.

3. Model menghasilkan koefisien regresi yang paling mudah untuk

ditafsirkan.

Adapun persamaan PO tersebut adalah sebagai berikut :

log {gj (X) / (1gj (X))} = aj + bx ¬ ®

gj (X) = exp (aj + bx) / {1 + exp (aj + bx)}

===============================================================
======
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Keadaan Kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara

a. Kelurahan Gumilir

Kelurahan Gumilir memiliki luas 310,013 Ha atau sekitar 16,69 persen luas kecamatan

Cilacap Utara. Jarak dari pusat pemerintah kecamatan 0,5 km. Secara administratif,

batas-batas wilayah kelurahan Gumilir adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kelurahan Tritih Kulon.

Sebelah Selatan : Kelurahan Tegal Kamulyan.

Sebelah Barat : Kelurahan Kebonmanis.

Sebelah Timur : Kelurahan Mertasinga.

Berdasarkan kondisi geografisnya, kelurahan Gumilir memiliki ketinggian tanah

7 m di atas permukaan laut. Kelurahan Gumilir mempunyai sifat iklim tropis dengan

musim penghujan dan kemarau yang silih berganti selama satu tahun. Curah hujan rata-

rata 2012 mm dan suhu udara rata-rata 20°C. Peruntukan dan penggunaan tanah dapat

dilihat pada lampiran 3. Berdasarkan tabel dalam lampiran 3 dapat diketahui bahwa

sebagian besar lahan yang ada dipakai untuk pekarangan, pemukiman/perumahan dan

bangunan umum. Selain itu ada tanah yang digunakan untuk jalan umum sepanjang

18.765 km.
Penduduk kelurahan Gumilir terdiri dari 3.017 KK. Jumlah penduduk menurut

jenis kelamin sebanyak 13.626 orang dengan perincian penduduk laki-laki sebanyak

6.894 orang dan perempuan 6.732 orang. Jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia

pendidikan dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 6. Jumlah Penduduk di Kelurahan Gumilir Berdasarkan Usia Pendidikan

Usia Jumlah
00 – 03 tahun 1.097
04 – 06 tahun 803
07 – 11 tahun 970
13 – 15 tahun 801
16 – 18 tahun 720
19 – keatas 9.235
Jumlah Total 13.626

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa usia penduduk yang masih dalam
usia pendidikan sebesar 13.626 orang. Jumlah paling banyak adalah pada penduduk usia
19 – keatas yaitu 9.235 orang. Sedangkan jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia
tenaga kerja dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 7. Jumlah Penduduk di Kelurahan Gumilir Berdasarkan Usia Tenaga Kerja

Usia Jumlah
10 – 14 tahun 1.283
15 – 19 tahun 1.400
20 – 26 tahun 1.402
27 – 40 tahun 2.355
41 – 56 tahun 2.271
57 – ke atas 2.262
Jumlah Total 10.973

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005
Berdasarkan tabel 7 di atas dapat diketahui bahwa angka tenaga kerja di kelurahan ini
cukup tinggi yaitu 10.973 orang. Jumlah paling banyak adalah pada usia 27 – 40 tahun.
Namun angka ini tidak terlalu jauh berbeda dengan jumlah tenaga kerja pada usia 41 – 56
tahun dan 57 – ke atas.

Penduduk kelurahan Gumilir memiliki mata pencaharian yang beraneka ragam.

Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 8. Komposisi Penduduk Kelurahan Gumilir Berdasarkan Mata Pencaharian

No. Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%)


1. Pegawai Negeri Sipil 465 11,36
2. ABRI 41 1
3. Swasta 801 19,56
4. Wiraswasta/pedagang 505 12,33
5. Tani 315 7,7
6. Perukangan 56 1,37
7. Buruh 1312 32,05
8. Pensiun 370 9,04
9. Nelayan 71 1,73
10. Jasa 158 3,86
Jumlah Total 4094 100

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Berdasarkan tabel 8 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas penduduk kelurahan


Gumilir bermata pencaharian sebagai buruh, yaitu sebanyak 32,05 persen. Sedangkan
yang bermata pencaharian sebagai swasta menduduki ranking dua yaitu sebanyak 19,56
persen. Sedangkan yang bermata pencaharian paling sedikit adalah sebagai ABRI, yaitu
sebanyak satu persen dari keseluruhan jumlah penduduk kelurahan Gumilir.

b. Kelurahan Karang Talun

Kelurahan Karang Talun memiliki luas 353,02 Ha atau sekitar 19 persen luas kecamatan
Cilacap Utara. Jarak dari pusat pemerintah kecamatan 4,5 km. Secara administratif, batas
wilayah kelurahan Karang Talun adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kelurahan Kali Donan.

Sebelah Selatan : Kelurahan Tegal Kebonmanis.

Sebelah Barat : Kelurahan Lomanis.

Sebelah Timur : Kelurahan Tritih Kulon.

Berdasarkan kondisi geografisnya, kelurahan Karang Talun memiliki ketinggian

tanah 6 m di atas permukaan laut. Kelurahan Karang Talun mempunyai sifat iklim tropis

dengan musim penghujan dan kemarau yang silih berganti selama satu tahun. Curah

hujan rata-rata 2000-3000 mm dan suhu udara rata-rata 26°C. Peruntukan dan

penggunaan tanah dapat dilihat pada lampiran 3. Berdasarkan tabel pada lampiran 3 dapat

diketahui bahwa sebagian besar lahan yang ada dipakai untuk sawah, ladang dan

pemukiman/perumahan. Selain itu ada tanah yang digunakan untuk jalan umum

sepanjang 1.027 km.

Penduduk kelurahan Karang Talun terdiri dari 2.627 KK. Jumlah penduduk

menurut jenis kelamin sebanyak 10.615 orang dengan perincian penduduk laki-laki

sebanyak 5.446 orang dan perempuan 5.169 orang. Jumlah penduduk berdasarkan

kelompok usia pendidikan dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 9. Jumlah Penduduk di Kelurahan Karang Talun Berdasarkan Usia


Pendidikan

Usia Jumlah
00 – 03 tahun 1.131
04 – 06 tahun 998
07 – 11 tahun 1.971
13 – 15 tahun 1.857
16 – 18 tahun 2.838
19 – keatas 2.849
Jumlah Total 11.644

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Berdasarkan tabel 9 dapat diketahui bahwa usia penduduk yang masih dalam
usia pendidikan sebesar 11.644 orang. Jumlah paling banyak adalah pada penduduk 16-
18 tahun yaitu sebanyak 2.838 orang dan penduduk usia 19 – keatas yaitu 2.849 orang.
Sedangkan jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia tenaga kerja dapat dilihat dalam
tabel berikut ini :

Tabel 10. Jumlah Penduduk di Kelurahan Karang Talun Berdasarkan Usia Tenaga kerja

Usia Jumlah
10 – 14 tahun 999
15 – 19 tahun 2.435
20 – 26 tahun 2.443
27 – 40 tahun 2.373
41 – 56 tahun 1.326
57 – keatas 1.133
Jumlah Total 10.709

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Berdasarkan tabel 10 dapat diketahui bahwa angka tenaga kerja di kelurahan ini cukup
tinggi yaitu 10.709 orang. Jumlah paling banyak adalah pada usia 20 – 26 tahun yaitu
sebanyak 2.443 orang. Namun angka ini tidak terlalu jauh berbeda dengan jumlah tenaga
kerja pada usia 15 – 19 tahun yaitu sebanyak 2.435 orang dan 27 – 40 tahun yaitu
sebanyak 2.373 orang.

Penduduk kelurahan Karang Talun memiliki mata pencaharian yang beraneka

ragam mulai dari pertani, nelayan, pertukangan, buruh sampai dengan pegawai negeri

sipil dan ABRI. Rincian komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat

pada tabel berikut ini

Tabel 11. Komposisi Penduduk Kelurahan Karang Talun Berdasarkan Mata Pencaharian
No. Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%)
1. Pegawai Negeri Sipil 129 2,37
2. ABRI 4 0,07
3. Swasta 1.542 28,37
4. Wiraswasta/pedagang 348 6,4
5. Tani 310 5,7
6. Pertukangan 986 18,14
7. Buruh 1.198 22,04
8. Pensiun 474 8,72
9. Nelayan 377 6,94
10. Pemulung 2 0,04
11. Jasa 66 1,21
Jumlah Total 5.436 100

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Berdasarkan tabel 11 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas penduduk kelurahan


Karang Talun bermata pencaharian sebagai swasta, yaitu sebanyak 1.542 orang atau
sekitar 28,37 persen. Sedangkan yang bermata pencaharian sebagai buruh menduduki
ranking dua yaitu sebanyak 1198 orang atau sekitar 22,04 persen. Sedangkan yang
bermata pencaharian paling sedikit adalah sebagai pemulung, yaitu sebanyak 2 orang atau
0,04 persen dan ABRI sebanyak 4 orang atau sekitar 0,07 persen dari keseluruhan jumlah
penduduk kelurahan Karang Talun.

c. Kelurahan Kebonmanis

Kelurahan Kebonmanis memiliki luas 198,641 Ha atau sekitar 10,69 persen luas
kecamatan Cilacap Utara. Jarak dari pusat pemerintah kecamatan 2 km. Secara
administratif, batas-batas wilayah kelurahan Kebonmanis adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kelurahan Karang Talun dan Tritih Kulon.

Sebelah Selatan : Kelurahan Tegal Kamulyan.

Sebelah Barat : Kelurahan Gunung Simping.

Sebelah Timur : Kelurahan Gumilir.


Berdasarkan kondisi geografisnya, kelurahan Kebonmanis memiliki ketinggian

tanah 7 m di atas permukaan laut. Kelurahan Kebonmanis mempunyai sifat iklim tropis

dengan musim penghujan dan kemarau yang silih berganti selama satu tahun. Curah

hujan rata-rata 2000 mm dan suhu udara rata-rata 21°C.

Peruntukan dan penggunaan tanah dapat dilihat pada lampiran 3. Berdasarkan

tabel dalam lampiran 3 dapat diketahui bahwa sebagian besar lahan yang ada dipakai

untuk irigasi yaitu seluas 163,286 Ha. Dengan luas yang hampir sama, tanah di

Kebonmanis digunakan untuk sawah, pemukiman/perumahan, dan pekarangan. Selain itu

ada tanah yang digunakan untuk jalan umum sepanjang 2.500 km.

Penduduk Kebonmanis terdiri dari 2.252 KK. Jumlah penduduk menurut jenis

kelamin sebanyak 10.030 orang dengan perincian penduduk laki-laki sebanyak 5.062

orang dan perempuan 4.968 orang. Kemudian lihat tabel berikut :

Tabel 12. Jumlah Penduduk di Kelurahan Kebonmanis Berdasarkan Usia Pendidikan

Usia Jumlah
00 – 03 tahun 943
04 – 06 tahun 703
07 – 12 tahun 979
13 – 15 tahun 904
16 – 18 tahun 1.021
19 – keatas 5.470
Jumlah Total 10.020

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Tabel 13. Jumlah Penduduk di Kelurahan Kebonmanis Berdasarkan Usia Tenaga Kerja
Usia Jumlah
10 – 14 tahun 851
15 – 19 tahun 973
20 – 26 tahun 1779
27 – 40 tahun 1874
41 – 56 tahun 1488
57 – keatas 1190
Jumlah Total 8.155

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Berdasarkan tabel 12 dapat diketahui bahwa usia penduduk yang masih dalam usia

pendidikan sebesar 10.020 orang. Jumlah paling banyak adalah pada penduduk usia 19

tahun ke atas yaitu sebanyak 5.470 orang. Kemudian dari tabel 13 dapat diketahui bahwa

angka tenaga kerja di kelurahan ini cukup tinggi yaitu 8.155 orang.

Penduduk kelurahan Kebonmanis memiliki mata pencaharian yang beraneka

ragam. Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada tabel

berikut :

Tabel 14. Komposisi Penduduk Kelurahan Kebonmanis Berdasarkan Mata Pencaharian

No. Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%)


1. Pegawai Negeri Sipil 374 19,72
2. ABRI 46 2,42
3. Swasta 450 23,72
4. Wiraswasta/pedagang 215 11,33
5. Tani 150 7,91
6. Buruh 500 26,36
7. Pensiun 160 8,43
8. Nelayan 2 0,11
Jumlah Total 1897 100

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005
Berdasarkan tabel 14 dapat diketahui bahwa mayoritas penduduk kelurahan Kebonmanis
bermata pencaharian sebagai buruh, yaitu sebanyak 500 orang atau sekitar 26,36 persen.
Sedangkan yang bermata pencaharian sebagai swasta menduduki ranking dua yaitu
sebanyak 450 orang atau sekitar 23,72 persen. Sedangkan yang bermata pencaharian
paling sedikit adalah sebagai nelayan, yaitu sebanyak 2 orang atau 0,11 persen dari
keseluruhan jumlah penduduk kelurahan Kebonmanis.

d. Kelurahan Mertasinga

Kelurahan Mertasinga memiliki luas 492,660 Ha atau sekitar 26,52 persen luas
kecamatan Cilacap Utara. Jarak dari pusat pemerintah kecamatan 2,5 km. Secara
administratif, batas-batas wilayah kelurahan Mertasinga adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Desa Tritih Wetan.

Sebelah Selatan : Samudera Indonesia.

Sebelah Barat : Kelurahan Gumilir.

Sebelah Timur : Desa Menganti.

Berdasarkan kondisi geografisnya, kelurahan Mertasinga memiliki ketinggian

tanah 6 m di atas permukaan laut. Kelurahan Mertasinga mempunyai sifat iklim tropis

dengan musim penghujan dan kemarau yang silih berganti selama satu tahun. Curah

hujan rata-rata 2000-3000 mm dan suhu udara rata-rata 27°C. Peruntukan dan

penggunaan tanah dapat dilihat pada tabel di lampiran 3. Berdasarkan tabel dalam

lampiran 3 dapat diketahui bahwa sebagian besar lahan yang ada dipakai untuk sawah

dan ladang yaitu seluas 343,194 Ha. Dengan luas yang hampir sama, tanah di Mertasinga

digunakan untuk irigasi, yaitu seluas 317,356 Ha. Selain itu ada tanah yang digunakan

untuk jalan umum sepanjang 42.750 km.

Penduduk kelurahan Mertasinga terdiri dari 4.198 KK. Jumlah penduduk

menurut jenis kelamin sebanyak 15.114 orang dengan perincian penduduk laki-laki
sebanyak 7.850 orang dan perempuan 7.264 orang. Jumlah penduduk berdasarkan

kelompok usia pendidikan dapat dilihat dalam tabel 15 berikut ini :

Tabel 15. Jumlah Penduduk di Kelurahan Mertasinga Berdasarkan Usia Pendidikan

Usia Jumlah
00 – 03 tahun 718
04 – 06 tahun 487
07 – 12 tahun 1549
13 – 15 tahun 845
16 – 18 tahun 888
19 – keatas 10.628
Jumlah Total 15.115

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia tenaga kerja dapat dilihat dalam

tabel 16 berikut ini :

Tabel 16. Jumlah Penduduk di Kelurahan Mertasinga Berdasarkan Usia Tenaga Kerja

Usia Jumlah
10 – 14 tahun 1.384
15 – 19 tahun 1.477
20 – 26 tahun 2.237
27 – 40 tahun 3.363
41 – 56 tahun 3.229
57 – keatas 1.616
Jumlah Total 13.306

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Berdasarkan tabel 15 dapat diketahui bahwa usia penduduk yang masih dalam usia

pendidikan sebesar 15.115 orang. Jumlah paling banyak adalah pada penduduk usia 19
tahun ke atas yaitu sebanyak 10.628 orang. Kemudian dari tabel 16 dapat diketahui

bahwa angka tenaga kerja di kelurahan ini sangat tinggi yaitu 13.306 orang.

Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada tabel

berikut :

Tabel 17. Komposisi Penduduk Kelurahan Mertasinga Berdasarkan Mata Pencaharian

No. Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%)


1. Pegawai Negeri Sipil 274 5,62
2. ABRI 8 0,16
3. Swasta 656 13,45
4. Wiraswasta/pedagang 309 6,34
5. Tani 1.256 25,75
6. Pertukangan 256 5,25
7. Buruh 1.309 26,84
8. Pensiun 72 1,48
9. Nelayan 600 12,3
10. Jasa 135 2,77
11. Pemulung 2 0,04
Jumlah Total 4.877 100

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Berdasarkan tabel 17 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas penduduk kelurahan


Mertasinga bermata pencaharian sebagai buruh, yaitu sebanyak 1.309 orang atau sekitar
26,84 persen. Sedangkan yang bermata pencaharian sebagai tani menduduki ranking dua
yaitu sebanyak 1.256 orang atau sekitar 25,75 persen. Sedangkan yang bermata
pencaharian paling sedikit adalah sebagai pemulung, yaitu sebanyak 2 orang atau 0,04
persen dari keseluruhan jumlah penduduk kelurahan Mertasinga.

e. Kelurahan Tritih Kulon

Kelurahan Tritih Kulon memiliki luas 503,530 Ha atau sekitar 27,10 persen luas
kecamatan Cilacap Utara. Jarak dari pusat pemerintah kecamatan 1,8 km. Secara
administratif, batas-batas wilayah kelurahan Tritih Kulon adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Jeruk Legi.

Sebelah Selatan : Kelurahan Gumilir.

Sebelah Barat : Kelurahan Karang Talun.

Sebelah Timur : Kelurahan Mertasinga.

Berdasarkan kondisi geografisnya, kelurahan Tritih Kulon memiliki ketinggian

tanah 5 m di atas permukaan laut. Kelurahan Tritih Kulon mempunyai sifat iklim tropis

dengan musim penghujan dan kemarau yang silih berganti selamas satu tahun. Curah

hujan rata-rata 2000-3000 mm dan suhu udara rata-rata 29°C. Peruntukan dan

penggunaan tanah dapat dilihat pada tabel di lampiran 3. Berdasarkan tabel di lampiran 3

dapat diketahui bahwa sebagian besar lahan yang ada dipakai untuk pekarangan dan

tegalan yaitu seluas 233,162 Ha dan 154,519 Ha. Selain itu ada tanah yang digunakan

untuk jalan umum sepanjang 14.039 km.

Penduduk kelurahan Tritih Kulon terdiri dari 3.570 KK. Jumlah penduduk

menurut jenis kelamin sebanyak 15.830 orang dengan perincian penduduk laki-laki

sebanyak 8.038 orang dan perempuan 7.792 orang. Jumlah penduduk berdasarkan

kelompok usia pendidikan dapat dilihat dalam tabel 18 berikut ini :

Tabel 18. Jumlah Penduduk di Kelurahan Tritih Kulon Berdasarkan Usia Pendidikan

Usia Jumlah
00 – 03 tahun 1.079
04 – 06 tahun 936
07 – 12 tahun 1.848
13 – 15 tahun 1.398
16 – 18 tahun 2.437
19 – keatas 8.132
Jumlah Total 15.830

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Sedangkan jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia tenaga kerja dapat dilihat dalam
tabel 19 berikut ini :

Tabel 19. Jumlah Penduduk di Kelurahan Tritih Kulon Berdasarkan Usia Tenaga Kerja

Usia Jumlah
10 – 14 tahun 1.461
15 – 19 tahun 4.066
20 – 26 tahun 1.147
27 – 40 tahun 2.290
41 – 56 tahun 2.466
57 – keatas 1.399
Jumlah Total 12.829

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Berdasarkan tabel 18 dapat diketahui bahwa usia penduduk yang masih dalam usia
pendidikan sebesar 15.830 orang. Jumlah paling banyak adalah pada penduduk usia 19
tahun ke atas yaitu sebanyak 8.132 orang. Kemudian dari tabel 19 dapat diketahui bahwa
angka tenaga kerja di kelurahan ini sangat tinggi hampir sama dengan jumlah di
kelurahan Mertasinga yaitu sebanyak 12.829 orang. Jumlah paling banyak adalah pada
usia 15 – 19 tahun yaitu sebanyak 4.066 orang.

Penduduk kelurahan Tritih Kulon memiliki mata pencaharian yang beraneka

ragam. Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada tabel

berikut :

Tabel 20. Komposisi Penduduk Kelurahan Tritih Kulon Berdasarkan Mata Pencaharian
No. Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%)
1. Pegawai Negeri Sipil 405 6,28
2. ABRI 8 0,13
3. Swasta 1.466 22,74
4. Wiraswasta/pedagang 1.420 22,02
5. Tani 158 2,45
6. Pertukangan 2.003 31,06
7. Buruh 304 4,72
8. Pensiun 118 1,83
9. Nelayan 387 6,00
10. Jasa 173 2,68
11. Pemulung 6 0,09
Jumlah Total 6.448 100

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari – Juni 2005

Berdasarkan tabel 20 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas penduduk kelurahan Tritih
Kulon bermata pencaharian di bidang pertukangan, yaitu sebanyak 2.003 orang atau
sekitar 31,06 persen. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai swasta dan pedagang
memiliki jumlah yang hampir sama yaitu sebanyak 1.466 orang atau sekitar 22,74 persen
dan 1.420 orang atau sekitar 22,02 persen. Sedangkan yang bermata pencaharian paling
sedikit adalah sebagai pemulung, yaitu sebanyak 6 orang atau 0,04 persen dari
keseluruhan jumlah penduduk kelurahan Tritih Kulon.

2. Struktur Organisasi dan Rincian Tugas Pokok Pemerintah Kelurahan

Disebutkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 61 Tahun 2003


Tentang Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kelurahan dalam pasal 1, Kelurahan
adalah merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan yang
disebut Lurah yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Camat.

Dari penjelasan tersebut kita dapat mengetahui bahwa pemerintah kelurahan


adalah organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah Camat yang tidak berhak
menyelenggarakan rumah tangganya sendiri. Sebuah kelurahan dipimpin oleh seorang
Lurah yang menjadi penanggung jawab atas tugas pokok dan fungsi yang diemban oleh
kelurahan.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 61 Tahun 2003


Tentang Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kelurahan disebutkan bahwa Susunan
Organisasi Pemerintahan Kelurahan terdiri dari :

a. Lurah
b. Sekretaris Kelurahan

c. Kepala Seksi

Membawahi : - seksi pemerintahan

- seksi pembangunan

- seksi sosial ekonomi

- seksi ketentraman ketertiban

d. Kepala Lingkungan

Adapun bagan struktur organisasi kelurahan dapat ditunjukkan dalam skema


gambar berikut ini :

Gambar 2. Bagan Struktur Organisasi Pemerintahan Kelurahan

KEPALA

KELURAHAN

SEKRETARIS

KELURAHAN

KEPALA SEKSI

PEMERINTAHAN

KEPALA SEKSI

PEMBANGUNAN

KEPALA SEKSI

KETENTRAMAN

KETERTIBAN
KEPALA SEKSI

SOSIAL

EKONOMI

KEPALA

LINGKUNGAN
Sumber : Lampiran Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 61 Tahun 2003

Sekretaris Kelurahan dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab kepada

Lurah, sekretaris kelurahan dibantu oleh beberapa orang staf. Kepala Lingkungan

merupakan jabatan non struktural yang mempunyai tugas pokok membantu pelaksanaan

tugas-tugas operasional Lurah dalam wilayah kerjanya.

Berdasarkan pasal 4, tugas pokok seorang Lurah adalah melakukan

penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan dalam rangka

penyelenggaraan urusan pemerintahan umum dan urusan pemerintahan di wilayahnya.

Dalam pasal 5 disebutkan mengenai fungsi Lurah antara lain :

a. pengkoordinasian atas jalannya penyelenggaraan pemerintah kelurahan,


pelaksanaan pembangunan dan pembinaan masyarakat;

b. pelaksanaan tugas di bidang pembangunan dan pembinaan


kemasyarakatan yang menjadi tanggung jawabnya;

c. pelaksanaan kegiatan dalam rangka peningkatan partisipasi dan swadaya


gotong royong masyarakat;

d. pelaksanaan kegiatan dalam rangka pembinaan ketentraman dan ketertiban


wilayah;
e. pelaksana tugas lain yang dilimpahkan kepada pemerintah kelurahan.

Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 61 Tahun 2003 itu juga

disebutkan mengenai tugas pokok Sekretaris Kelurahan yaitu membantu pelaksanaan

tugas Lurah di bidang pembinaan dan pelayanan administrasi kepada masyarakat serta

memberikan pelayanan teknis administratif kepada Perangkat Pemerintah Kelurahan serta

mengkoordinasikan pelaksanaan tugas seksi-seksi. Fungsi Sekretaris Kelurahan antara

lain :

a. penyusunan rencana dan program, pengendalian serta pengevaluasian


pelaksanaannya;

b. pengadministrasian keuangan, kepegawaian, tata usaha, perlengkapan dan


rumah tangga;

c. pengkoordinasian pelaksanaan tugas seksi-seksi dan lingkungan;

d. pelaksanaan pelayanan;

e. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Lurah sesuai dengan tugas
pokok dan fungsinya.

Untuk tugas pokok dan fungsi masing-masing seksi dijelaskan pula dalam pasal

10-15. Tugas Seksi Pemerintahan adalah melakukan urusan pemerintahan. Dan fungsi

Seksi Pemerintahan antara lain :

a. penyelenggaraan pemerintahan umum;

b. pengadministrasian kependudukan dan catatan sipil;

c. pelaksanaan tugas-tugas di bidang pertanahan;


d. penyusunan program dan pembinaan kegiatan politik, ideologi negara dan
kesatuan bangsa;

e. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Lurah sesuai dengan tugas
pokok dan fungsinya.

Tugas Seksi Pembangunan adalah melakukan pembinaan pembangunan di

bidang perekonomian, produksi dan distribusi serta pembinaan lingkungan hidup.

Fungsinya antara lain :

a. penyusunan program dan pembinaan pembangunan prasarana dan sarana


fisik;

b. penyusunan program dan pembinaan perekonomian masyarakat, produksi


dan distribusi;

c. penyusunan program dan pembinaan pembangunan pada umumnya serta


pembinaan lingkungan hidup;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Lurah sesuai dengan tugas
pokok dan fungsinya.

Tugas Seksi Sosial Ekonomi adalah mengkoordinasikan penyusunan program

dan melaksanakan pembinaan sosial dan ekonomi. Seksi Sosial Ekonomi memiliki fungsi

a. penyusunan program dan pembinaan pelayanan bantuan sosial,


pembinaan kepemudaan, pemberdayaan wanita dan olah raga;

b. penyusunan program dan pembinaan kehidupan keagamaan, pendidikan,


kebudayaan dan kesehatan masyarakat;

c. penyusunan program dan pembinaan kegiatan pembangunan


perkoperasian, pengusaha ekonomi lemah dan kegiatan ekonomi lainnya
dalam rangka meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat;
d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Lurah sesuai dengan tugas
pokok dan fungsinya.

Tugas Seksi Ketentraman dan Ketertiban adalah melakukan pembinaan

ketentraman dan ketertiban wilayah. Seksi Ketentraman dan Ketertiban mempunyai

fungsi sebagai berikut :

a. penyusunan rencana dan program pembinaan ketentraman dan ketertiban


umum;

b. penyusunan rencana dan program peningkatan kesatuan bangsa dan


perlindungan masyarakat;

c. pemberian batuan pelaksanaan kegiatan pengawasan dan pengamanan


akibat bencana alam dan bencana lainnya;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Lurah sesuai dengan tugas
pokok dan fungsinya

Tugas pokok Kepala Lingkungan adalah membantu pelaksanaan tugas-tugas

operasional Lurah dalam wilayah kerjanya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kepala

Lingkungan memiliki fungsi sebagai berikut :

a. pelaksanaan tugas Lurah dalam wilayah kerjanya;

b. pembinaan dan pengkoordinasian kegiatan kelompok/lembaga/ organisasi


kemasyarakatan di wilayah kerjanya;

c. pembinaan dalam rangka meningkatkan swadaya dan gotong royong


masyarakat;

d. pelaksanaan kegiatan penerangan tentang program pemerintah kepada


masyarakat;

e. pelaksanaan tugas lain yang diberikan Lurah sesuai dengan tugas pokok
dan fungsinya.
3. Karakteristik Responden

Karakteristik responden dimaksudkan untuk mengetahui dengan jelas

karakteristik dari responden penelitian. Dari data hasil penelitian dapat diperoleh

gambaran mengenai ciri-ciri khusus dari responden sehubungan dengan masalah yang

diteliti. Responden yang dimaksud berjumlah 82 orang yang merupakan keseluruhan dari

aparat kelurahan yang ada di Kecamatan Cilacap Utara. Karakteristik responden secara

keseluruhan dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin.

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin sesuai data penelitian

ditunjukkan pada tabel 21 di bawah ini :

Tabel 21. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)


1. Laki-laki 69 84,15

2. Perempuan 13 15,85
Jumlah 82 100

Sumber : Data Primer Diolah

Berdasarkan tabel 21 di atas, dapat dilihat bahwa kebanyakan responden yang

dijadikan sebagai data penelitian ini adalah laki-laki yaitu sejumlah 69 orang atau

sekitar 84,15 persen dari keseluruhan responden. Sedangkan responden


perempuan hanya 13 orang atau sekitar 15,85 persen dari keseluruhan jumlah

responden penelitian.

b. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia.

Karakteristik responden berdasarkan usia/umur sesuai data penelitian ditunjukkan

pada tabel 22 di bawah ini :

Tabel 22. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

No. Usia Jumlah Persentase (%)


1. Di bawah 40 tahun 3 3,66

2. 41 – 45 tahun 5 6,10

3. 46 – 50 tahun 18 21,95

4. 51 – 55 tahun 31 37,80

5. 56 – 60 tahun 22 26,83

6. Di atas 60 tahun 3 3,66


Jumlah 82 100

Sumber : Data Primer Diolah

Tabel 22 di atas menjelaskan bahwa sebagian besar responden berusia antara 51 –

55 tahun yaitu sebanyak 31 orang atau sekitar 37,80 persen. Kemudian responden

yang berusia 46 – 50 tahun sebanyak 18 orang atau sekitar 21,95 persen.

Kemudian responden yang berusia 41 – 45 tahun sebanyak 5 orang atau sekitar

6,10 persen. Sedangkan untuk responden yang berusia di bawah 40 tahun


jumlahnya sama dengan responden yang berusia di atas 60 tahun yaitu sebanyak 3

orang atau sekitar 3,66 persen dari jumlah keseluruhan responden penelitian.

c. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan.

Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan sesuai data penelitian

ditunjukkan pada tabel 23 di bawah ini :

Tabel 23. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No. Jenjang Pendidikan Jumlah Persentase (%)


1. SD 41 50

2. SMP 8 9,76

3. SMU/SMK 22 26,83

4. D3 3 3,65

5. S1 8 9,76
Jumlah 82 100

Sumber Data Primer Diolah

Dari tabel 23 di atas dapat diketahui bahwa responden tamatan SD jumlahnya

paling banyak, yaitu 41 orang atau sekitar 50 persen. Berdasarkan data penelitian

hampir seluruh responden yang tingkat pendidikannya SD menjabat sebagai

kepala lingkungan di masing-masing kelurahan. Untuk responden tamatan

SMU/SMK cukup banyak yaitu sebanyak 22 orang atau sekitar 26,83 persen dari

keseluruhan jumlah responden. Kemudian responden dengan tingkat pendidikan

SMP dan S1 memiliki jumlah yang sama yaitu sebanyak 8 orang atau sekitar 9,76
persen. Sedangkan responden tamatan D3 hanya ada 3 orang atau sekitar 3,65

persen dari jumlah keseluruhan responden penelitian.

B. Uji Validitas dan Reliabilitas

Kualitas data suatu penelitian ditentukan oleh kualitas alat pengambilan data atau

instrumen penelitiannya. Kalau instrumen penelitiannya cukup valid dan reliabel, makan

data yang dihasilkan juga cukup valid dan reliabel. Berkenaan dengan hal itu, maka

dalam penelitian ini dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas instrumen penelitian

yang digunakan dalam pengambilan data.

Pengujian validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengkorelasikan

skor butir dengan skor total dengan menggunakan rumus korelasi product moment. Harga

korelasi tersebut kemudian dibandingkan dengan tabel korelasi pada taraf signifikansi 5

persen. Suatu butir pertanyaan dikatakan valid apabila didapatkan angka korelasi lebih

besar atau sama dengan r-tabel.

Pengujian reliabilitas dilakukan dengan rumus Spearman Borwn. Suatu

instrumen penelitian dikatakan reliabel/andal apabila didapatkan koefisien reliabilitas

yang lebih besar dari tabel korelasi pada taraf siginifikansi 5 persen.

1. Uji Validitas

a. Variabel Efektivitas Pelayanan


Berdasarkan hasil pengujian dengan SPSS for Windows release 11.05 didapatkan

hasil sebagai berikut :

Tabel 24. Hasil Pengujian Validitas Efektivitas Pelayanan

Butir ke r-hitung r-tabel Status


1 0,5315 0,220 Valid
2 0,5690 0,220 Valid
3 0,5383 0,220 Valid
4 0,3902 0,220 Valid
5 0,5844 0,220 Valid
6 0,3521 0,220 Valid
7 0,4887 0,220 Valid
8 0,2232 0,220 Valid
9 0,4073 0,220 Valid
10 0,2456 0,220 Valid
11 0,2279 0,220 Valid
12 0,4310 0,220 Valid
13 0,4773 0,220 Valid
14 0,3057 0,220 Valid

Sumber : Data Primer Diolah

Untuk variabel efektivitas pelayanan dengan jumlah responden 82 maka N yang

didapat adalah 82 – 2 = 80 sehingga sesuai tabel maka untuk taraf signifikansi

lima persen nilai r-tabel = 0,220, sehingga bisa dikatakan bahwa semua

pertanyaan dalam kuesioner efektivitas pelayanan bersifat valid. Hal ini berarti

bahwa instrumen efektivitas pelayanan tersebut dapat digunakan untuk mengukur

apa yang hendak diukur. Instrumen penelitian yang digunakan telah memenuhi

pengujian validitas konstruksi sehingga seluruh pertanyaan tersebut disertakan

dalam menganalisa data.


b. Variabel Disiplin Kerja

Berdasarkan hasil pengujian dengan SPSS for Windows release 11.05 didapatkan

hasil sebagai berikut :

Tabel 25. Hasil Pengujian Validitas Disiplin Kerja

Butir ke r-hitung r-tabel Status


1 0,6778 0,220 Valid
2 0,3993 0,220 Valid
3 0,7575 0,220 Valid
4 0,7741 0,220 Valid
5 0,5934 0,220 Valid
6 0,2550 0,220 Valid
7 0,4658 0,220 Valid
8 0,2740 0,220 Valid
9 0,4753 0,220 Valid
10 0,7571 0,220 Valid
11 0,3399 0,220 Valid
12 0,2803 0,220 Valid
13 0,5922 0,220 Valid
14 0,4074 0,220 Valid

Sumber : Data Primer Diolah

Untuk variabel disiplin kerja dengan jumlah responden 82 maka N yang didapat

adalah 82 – 2 = 80 sehingga sesuai tabel maka untuk taraf signifikansi lima persen

nilai r-tabel = 0,220, sehingga bisa dikatakan bahwa semua pertanyaan dalam

kuesioner disiplin kerja bersifat valid. Hal ini berarti bahwa instrumen disiplin

kerja tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur.

Instrumen penelitian yang digunakan telah memenuhi pengujian validitas


konstruksi sehingga seluruh pertanyaan tersebut disertakan dalam menganalisa

data.

c. Variabel Iklim Kerja

Berdasarkan hasil pengujian dengan SPSS for Windows release 11.05 didapatkan

hasil sebagai berikut :

Tabel 26. Hasil Pengujian Validitas Iklim Kerja

Butir ke r-hitung r-tabel Status


1 0,3278 0,220 Valid
2 0,4185 0,220 Valid
3 0,6199 0,220 Valid
4 0,3615 0,220 Valid
5 0,4931 0,220 Valid
6 0,3899 0,220 Valid
7 0,3148 0,220 Valid
8 0,3941 0,220 Valid
9 0,5255 0,220 Valid
10 0,3148 0,220 Valid
11 0,3740 0,220 Valid
12 0,3771 0,220 Valid
13 0,4129 0,220 Valid
14 0,4306 0,220 Valid
15 0,4476 0,220 Valid
16 0,3897 0,220 Valid
17 0,4168 0,220 Valid
18 0,3863 0,220 Valid
19 0,4655 0,220 Valid
20 0,4203 0,220 Valid
21 0,4149 0,220 Valid
22 0,3158 0,220 Valid
23 0,5604 0,220 Valid
24 0,4674 0,220 Valid

Sumber : Data Primer Diolah


Untuk variabel iklim kerja dengan jumlah responden 82 maka N yang didapat

adalah 82 – 2 = 80 sehingga sesuai tabel maka untuk taraf signifikansi lima persen

nilai r-tabel = 0,220, sehingga bisa dikatakan bahwa semua pertanyaan dalam

kuesioner iklim kerja bersifat valid. Hal ini berarti bahwa instrumen iklim kerja

tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur. Instrumen

penelitian yang digunakan telah memenuhi pengujian validitas konstruksi

sehingga seluruh pertanyaan tersebut disertakan dalam menganalisa data.

2. Uji Reliabilitas

a. Variabel Efektivitas Pelayanan

Berdasarkan hasil pengujian dengan SPSS for Windows release 11.05 didapatkan

Spearman Brown sebesar 0,8694. Untuk variabel efektivitas pelayanan dengan

jumlah responden 82 maka N yang didapat adalah 82–2 yaitu 80 sehingga sesuai

tabel maka untuk taraf signifikansi 5 persen nilai r-tabelnya adalah 0,220.

Sehingga koefisien Spearman Brown lebih besar dari r-tabel (0,8694>0,220),

maka kuesioner efektivitas pelayanan seluruhnya reliabel. Artinya adalah jika

instrumen-instrumen tersebut digunakan untuk menguji variabel efektivitas

pelayanan beberapa kali maka akan didapatkan hasil yang relatif sama.

b. Variabel Disiplin Kerja

Berdasarkan hasil pengujian dengan SPSS for Windows release 11.05 didapatkan

Spearman Brown sebesar 0,9274. Untuk variabel disiplin kerja dengan jumlah

responden 82 maka N yang didapat adalah 82 – 2 = 80 sehingga sesuai tabel maka


untuk taraf signifikansi 5 persen nilai r-tabel = 0,220. Sehingga koefisien

Spearman Brown lebih besar dari r-tabel (0,9274>0,220), maka kuesioner disiplin

kerja seluruhnya reliabel. Artinya adalah jika instrumen-instrumen tersebut

digunakan untuk menguji variabel disiplin kerja beberapa kali maka akan

didapatkan hasil yang relatif sama.

c. Variabel Iklim Kerja

Berdasarkan hasil pengujian dengan SPSS for Windows release 11.05 didapatkan

Spearman Brown sebesar 0,8682. Untuk variabel iklim kerja dengan jumlah

responden 82 maka N yang didapat adalah 82 – 2 = 80 sehingga sesuai tabel maka

untuk taraf signifikansi 5 persen nilai r-tabel = 0,220. Sehingga koefisien

Spearman Brown lebih besar dari r-tabel (0,8682>0,220), maka kuesioner iklim

kerja seluruhnya reliabel. Artinya adalah jika instrumen-instrumen tersebut

digunakan untuk menguji variabel iklim kerja beberapa kali maka akan

didapatkan hasil yang relatif sama.

Hasil pengujian reliabilitas dapat dirangkum dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 27. Rangkuman Hasil Pengujian Reliabilitas

Spearman
No. Variabel r-tabel Status
Brown
1. Efektivitas Pelayanan (Y) 0,8694 0,220 Reliabel

2. Disiplin Kerja (X1) 0,9274 0,220 Reliabel

3. Iklim Kerja (X2) 0,8682 0,220 Reliabel


Sumber : Data Primer Diolah

C. Deskripsi Variabel Penelitian

Langkah awal dalam

menganalisis data hasil penelitian

adalah melakukan deskripsi pada

setiap variabel penelitian sebagai upaya

untuk mengetahui kondisi variabel-

variabel tersebut. Deskripsi variabel

akan disajikan dalam bentuk tabel

distribusi frekwensi karena dianggap

sebagai cara yang paling sederhana

guna mengatur data secara sistematis


dan mudah dimengerti. Cara yang

dilakukan adalah dengan membuat

rentang kelas dengan jumlah kelas

sebanyak 3 dengan rentang merupakan

rentang skor. Kemudian masing-masing

interval kelas ditafsirkan dengan

kalimat kualitatif rendah, sedang dan

tinggi.

1. Deskripsi Variabel Efektivitas Pelayanan (Y)

Variabel efektivitas pelayanan (Y) dalam penelitian ini diambil dengan

kuesioner dengan skala 1 sampai 3, dan jumlah pertanyannya sebanyak 14.

Berdasarkan hal tersebut maka rentang data teoritik adalah 14 sampai dengan 42.

Adapun interval kelas dan penafsirannya adalah sebagai berikut :

14,0 – 23,3 = Rendah


23,4 – 32,7 = Sedang

32,8 – 42,1 = Tinggi

Kemudian dari hasil penelitian yang dilakukan didapat data dengan frekuensi

sebagai berikut :

Tabel 28. Distribusi Frekuensi Variabel Efektivitas Pelayanan

Interval Kategori Frekuensi Persentase (%)


14,0 – 23,3 Rendah 8 9,8

23,4 – 32,7 Sedang 33 40,2

32,8 – 42,1 Tinggi 41 50,0


Jumlah 82 100,0

Sumber : Data Primer Diolah

Tabel 28 menjelaskan bahwa dari 82 responden yang diteliti, 8 responden (9,8 persen)

menilai bahwa efektivitas pelayanan yang ada di kelurahan masih rendah, 33

responden (40,2 persen) menilai efektivitas pelayanan yang ada di kelurahan

tergolong sedang dan 41 responden (50,0 persen) menilai efektivitas pelayanan yang

ada di kelurahan tergolong tinggi.

2. Deskripsi Variabel Disiplin Kerja (X1)

Variabel disiplin kerja (X1) dalam penelitian ini diambil dengan kuesioner

dengan skala 1 sampai 3, dan jumlah pertanyannya sebanyak 14 item. Berdasarkan


hal tersebut maka rentang data teoritik adalah 14 sampai dengan 42. Adapun interval

kelas dan penafsirannya adalah sebagai berikut :

14,0 – 23,3 = Rendah

23,4 – 32,7 = Sedang

32,8 – 42,1 = Tinggi

Kemudian dari hasil penelitian yang dilak ukan didapat data dengan

frekuensi sebagai berikut :

Tabel 29. Distribusi Frekuensi Variabel Disiplin Kerja

Interval Kategori Frekuensi Persentase (%)


14,0 – 23,3 Rendah 6 7,3

23,4 – 32,7 Sedang 32 39,0

32,8 – 42,1 Tinggi 44 53,7


Jumlah 82 100,0

Sumber : Data Primer Diolah

Tabel 29 di atas menjelaskan bahwa dari 82 responden yang diteliti, 6 responden (7,3

persen) menilai bahwa disiplin kerja aparat kelurahan tergolong rendah, 32 responden

(39,0 persen) menilai disiplin kerja aparat kelurahan tergolong sedang dan 44

responden (53,7 persen) menilai disiplin kerja aparat kelurahan tergolong tinggi.

3. Deskripsi Variabel Iklim Kerja (X2)


Variabel iklim kerja (X2) dalam penelitian ini diambil dengan kuesioner

berskala 1 sampai 3, dan jumlah pertanyannya sebanyak 24 soal. Berdasarkan hal

tersebut maka rentang data teoritik adalah 24 sampai dengan 72. Adapun interval

kelas dan penafsirannya adalah sebagai berikut :

24,0 – 40,0 = Rendah

40,0 – 56,0 = Sedang

56,0 – 72,0 = Tinggi

Kemudian dari hasil penelitian yang dilakukan didapat data dengan frekuensi

sebagai berikut :

Tabel 30. Distribusi Frekuensi Variabel Iklim Kerja

Interval Kategori Frekuensi Persentase (%)


24,0 – 40,0 Rendah 16 19,5

40,0 – 56,0 Sedang 27 32,9

56,0 – 72,0 Tinggi 39 47,6


Jumlah 82 100,0

Sumber : Data Primer Diolah

Tabel 30 di atas menjelaskan bahwa dari 82 responden yang diteliti, 16 responden

(19,5 persen) menilai bahwa iklim kerja yang terdapat di kelurahan tergolong rendah,

27 responden (32,9 persen) menilai iklim kerja yang ada di kelurahan tergolong
sedang dan 39 responden (47,6 persen) menilai iklim kerja yang ada di kelurahan

tergolong tinggi.

4. Penafsiran Variabel Berdasarkan Nilai Mean

Berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan menggunakan SPSS for

Windows release 11.05 didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 31. Penafsiran Variabel Berdasarkan Nilai Mean

No. Variabel Mean


1. Disiplin Kerja (X1) 31,87

2. Iklim Kerja (X2) 54,98

Sumber : Data Primer Diolah

Berdasarkan tabel 31 di atas dapat dikatakan bahwa efektivitas pelayanan aparat

kelurahan lebih banyak dipengaruhi oleh variabel iklim kerja yaitu sebesar 54,98.

Sedangkan pengaruh variabel disiplin kerja terhadap efektivitas pelayanan aparat

kelurahan relatif kecil apabila dibandingkan dengan variabel iklim kerja yaitu sebesar

31,87.

D. Pengujian Hipotesis

Analisis data merupakan cara untuk menyajikan data yang telah diperoleh dari
hasil penyebaran kuesioner penelitian. Data yang telah diperoleh kemudian diolah untuk
mengetahui hubungan variabel yang dioperasionalkan yaitu variabel Disiplin Kerja (X1),
Iklim Kerja (X2) dan variabel Efektivitas Pelayanan (Y).
Penelitian ini menggunakan teknik satistik non parametrik yaitu dengan

menggunakan Analisa Tabulasi Silang, Korelasi Kendall Tau dan Koefisien Konkordansi

Kendall. Korelasi Kendall Tau digunakan untuk menguji hipotesis pertama yaitu

pengaruh antara disiplin kerja pegawai dengan efektivitas pelayanan aparat kelurahan dan

hipotesis kedua yaitu pengaruh antara iklim kerja yang ada dalam kelurahan dengan

efektivitas pelayanan aparat kelurahan. Sedangkan Korelasi Konkordansi Kendall

digunakan untuk mengetahui derajat asosiasi semua variabel bebas secara bersama-sama.

Hasil analisis dengan teknik-teknik tersebut akan dibahas satu persatu, sebagai berikut :

1. Tabulasi Silang

Pada analisa tabulasi silang data yang sudah ada dikelompokkan dalam jenjang kategori.

Tabulasi silang digunakan untuk mengamati kecenderungan pengaruh antara dua variabel

dengan memperhatikan beberapa prinsip dalam tabulasi silang kemudian dihitung

persentasenya tiap kelompok untuk memperjelas dan melihat pengaruh antara dua

variabel. Berikut rinciannya :

a. Kecenderungan Pengaruh Antara Variabel Disiplin Kerja (X1) dengan Variabel


Efektivitas Pelayanan (Y)

Kecenderungan pengaruh antara variabel disiplin kerja (X1) dengan variabel efektivitas

pelayanan (Y) dapat dilihat pada tabel 32 di bawah ini :

Tabel 32. Analisis Hasil Tabulasi Silang antara Variabel Disiplin Kerja (X1) dengan
Variabel Efektivitas Pelayanan (Y)
Disiplin Kerja Efektivitas Pelayanan (Y)
Jumlah
Rendah Sedang Tinggi
(X1)
2 5 37 44
Tinggi
25,0% 15,2% 90,2% 53,7%
5 25 2 32
Sedang
62,5% 75,8% 4,9% 39,0%
1 3 2 6
Rendah
12,5% 9,1% 4,9% 7,3%
8 33 41 82
Jumlah
100,0% 100,0% 100,0% 100,0%

Sumber : Data Primer Diolah.

Merujuk tabulasi silang pada tabel 32 di atas, kecenderungan pengaruh antara disiplin

kerja dengan efektivitas pelayanan menunjukkan bahwa :

1). Dari 82 responden terdapat 6 responden yang disiplin kerjanya rendah. Dari 6
responden tersebut menunjukkan kecenderungan sebagai berikut :

a. 1 responden yang disiplin kerjanya rendah cenderung berpengaruh terhadap


rendahnya efektivitas pelayanan.

b. 3 responden yang disiplin kerjanya rendah cenderung berpengaruh terhadap


efektivitas pelayanan yang sedang.

c. 2 responden yang disiplin kerjanya rendah cenderung berpengaruh terhadap


tingginya efektivitas pelayanan.

2). Dari 82 responden terdapat 32 responden yang disiplin kerjanya sedang. Dari 32
responden tersebut menunjukkan kecenderungan sebagai berikut :

a. 5 responden yang disiplin kerjanya sedang cenderung berpengaruh terhadap


rendahnya efektivitas pelayanan.

b. 25 responden yang disiplin kerjanya sedang cenderung berpengaruh terhadap


efektivitas pelayanan yang sedang pula.
c. 2 responden yang disiplin kerjanya sedang cenderung berpengaruh terhadap
tingginya efektivitas pelayanan.

3). Dari 82 responden terdapat 44 responden yang disiplin kerjanya tinggi. Dari 44
responden tersebut menunjukkan kecenderungan sebagai berikut :

a. 2 responden yang disiplin kerjanya tinggi cenderung berpengaruh terhadap


rendahnya efektivitas pelayanan.

b. 5 responden yang disiplin kerjanya tinggi cenderung berpengaruh terhadap


efektivitas pelayanan yang sedang.

c. 37 responden yang disiplin kerjanya tinggi cenderung berpengaruh terhadap


efektivitas pelayanan yang tinggi pula.

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa variabel disiplin kerja (X1) cenderung

berpengaruh terhadap variabel efektivitas pelayanan (Y).

b. Kecenderungan Pengaruh Antara Variabel Iklim Kerja (X2) dengan Variabel


Efektivitas Pelayanan (Y)

Kecenderungan pengaruh antara variabel iklim kerja (X2) dengan variabel efektivitas

pelayanan (Y) dapat dilihat pada tabel 33 di bawah ini :

Tabel 33. Analisis Hasil Tabulasi Silang antara Variabel Iklim Kerja (X2) dengan
Variabel Efektivitas Pelayanan (Y)

Iklim Kerja Efektivitas Pelayanan (Y)


Jumlah
Rendah Sedang Tinggi
(X2)
1 3 35 39
Tinggi
12,5% 9,1% 85,4% 47,6%
6 17 4 27
Sedang
75,0% 51,5% 9,8% 32,9%
1 13 2 16
Rendah
12,5% 39,4% 4,9% 19,5%
8 33 41 82
Jumlah
100,0% 100,0% 100,0% 100,0%

Sumber : Data Primer Diolah

Merujuk tabulasi silang pada tabel 33 di atas, kecenderungan pengaruh antara iklim kerja

dengan efektivitas pelayanan menunjukkan bahwa :

1). Dari 82 responden terdapat 16 responden yang menyatakan iklim kerja rendah. Dari
16 responden tersebut menunjukkan kecenderungan sebagai berikut :

a. 1 responden menyatakan iklim kerja yang rendah cenderung berpengaruh


terhadap rendahnya efektivitas pelayanan.

b. 13 responden menyatakan iklim kerja yang rendah cenderung berpengaruh


terhadap efektivitas pelayanan yang sedang.

c. 2 responden menyatakan iklim kerja yang rendah cenderung berpengaruh


terhadap tingginya efektivitas pelayanan.

2). Dari 82 responden terdapat 27 responden yang menyatakan iklim kerja sedang. Dari
27 responden tersebut menunjukkan kecenderungan sebagai berikut :

a. 6 responden menyatakan iklim kerja yang sedang cenderung berpengaruh


terhadap rendahnya efektivitas pelayanan.

b. 17 responden menyatakan iklim kerja yang sedang cenderung berpengaruh


terhadap efektivitas pelayanan yang sedang pula.

c. 4 responden menyatakan iklim kerja yang sedang cenderung berpengaruh


terhadap tingginya efektivitas pelayanan.

3). Dari 82 responden terdapat 39 responden yang menyatakan iklim kerja tinggi. Dari 39
responden tersebut menunjukkan kecenderungan sebagai berikut :

a. 1 responden menyatakan iklim kerja yang tinggi cenderung berpengaruh


terhadap rendahnya efektivitas pelayanan.
b. 3 responden menyatakan iklim kerja yang tinggi cenderung berpengaruh
terhadap efektivitas pelayanan yang sedang.

c. 35 responden menyatakan iklim kerja yang tinggi cenderung berpengaruh


terhadap efektivitas pelayanan yang tinggi pula.

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa variabel iklim kerja (X2) cenderung

berpengaruh terhadap variabel efektivitas pelayanan (Y).

2. Korelasi Kendal c

Korelasi Kendal c digunakan untuk mencari pengaruh dan menguji hipotesis

antara variabel disiplin kerja (x1) dan variabel iklim kerja (x2) sebagai variabel bebas

dengan variabel efektivitas pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara

sebagai variabel terikat.

Hasil perhitungan secara statistik pengaruh antara variabel disiplin kerja

terhadap efektivitas pelayanan aparat dan pengaruh antara variabel iklim kerja terhadap

efektivitas pelayanan aparat kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 34. Hasil Perhitungan Kendall c

Korelasi Koefisien Korelasi Keterangan


0,518 Signifikan
X1Y
0,540 Signifikan
X2Y

Sumber : Data Primer Diolah


a. Analisis Pengaruh antara Variabel Disiplin Kerja (X1) dengan Variabel
Efektivitas Pelayanan (Y)

Berdasarkan tabel 39 di atas koefisien korelasi antara variabel disiplin kerja

(X1) dan variabel efektivitas pelayanan (Y) adalah sebesar 0,518. Koefisien ini

menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan. Artinya disiplin kerja

berpengaruh terhadap efektivitas pelayanan dan diterima pada taraf signifikansi 5

persen (α lebih besar dari nilai approximate significance yaitu 0,05 > 0,001).

Hasil tersebut diperkuat dengan membandingkan Z hitung dengan harga Z

tabel, dimana bila Z hitung lebih besar dari Z tabel maka koefisien korelasi yang

ditemukan adalah signifikan (Sugiono, 2004:240). Harga Z untuk variabel disiplin

kerja dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Sedangkan besarnya Z tabel untuk taraf signifikansi 5 persen dan pengujian

dua sisi diketahui sebesar 1,96. Kemudian harga ini dibandingkan dengan Z hitung,
sehingga Z hitung yang diperoleh lebih besar dari Z tabel (6,888>1,96) sehingga

hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa korelasi antara variabel disiplin kerja

(X1) dengan variabel efektivitas pelayanan (Y) sebesar 0,518 adalah signifikan.

Dengan hasil ini maka terlihat terdapat hubungan yang signifikan antara variabel

disiplin kerja dengan variabel efektivitas pelayanan aparat kelurahan.

Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa disiplin kerja aparat

berpengaruh terhadap efektivitas pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap

Utara Kabupaten Cilacap. Disiplin kerja aparat kelurahan yang ada di Kecamatan

Cilacap Utara sudah baik. Hal ini ditujukkan dengan taatnya aparat pada peraturan-

peraturan yang berlaku dalam organisasi, ketaatan aparat pada jam kerja, cara

berpakaian yang selalu memakai baju seragam, dan tingkat kehadiran yang tinggi

serta tanggung jawab pegawai yang tinggi dalam menggunakan peralatan kantor dan

dalam menyelesaikan tugas-tugas.

Hasil penelitian tersebut sejalan dengan pendapat Kerlinger dan Pedhazur

(1987:160) bahwa disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang

bergabung dalam suatu organisasi, tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada

dengan senang hati. Widjaja (1990:28) berpendapat bahwa disiplin adalah termasuk

dalam unsur-unsur penting yang mempengaruhi prestasi suatu organisasi, dalam

kehidupan sehari-hari dapat kita amati bahwa mereka yang berdisiplin tinggi,

umumnya berprestasi lebih tinggi pula. Dari pendapat tersebut dapat ditarik

pengertian bahwa seorang pegawai yang memiliki disiplin kerja yang tinggi maka

akan dapat berprestasi lebih tinggi pula. Prestasi pegawai yang tinggi akan
memberikan sumbangan yang optimal kepada organisasi untuk mencapai tujuan yang

telah ditetapkan. Begitu pula halnya bagi kelurahan yang mempunyai tujuan

memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat, pelayanan yang efektif bagi

masyarakat. Tujuan tersebut dapat tercapai melalui disiplin kerja yang tinggi dari

pada pegawainya dalam mengerjakan semua tugas-tugas yang telah menjadi

tanggungjawabnya.

Hal tersebut diperkuat dengan pendapat dari Atmosudirjo yang

mengemukakan bahwa :

Disiplin adalah suatu pengetahuan tingkat tinggi tentang sistem aturan-aturan

perilaku, sistem atau norma-norma kriteria dan standar sekaligus keseluruhan

dan kesadaran bahwa ketaatan akan aturan, kriteria standar struktur dan sistem

organisasi tersebut itu adalah syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan.

Pentingnya disiplin dalam organisasi pemerintah ditegaskan oleh Widjaja

(1990:156) bahwa :

Pelaksanaan disiplin pegawai sangat penting peranannya dalam pengelolaan

Departemen secara keseluruhan. Berhasil tidaknya pembangunan di bidang

pendidikan sebagian besar ditentukan oleh tingkat disiplin pegawainya. Makin

disiplin pegawai, makin berhasil pula dalam mengemban misinya.


Aparat pemerintah kelurahan dituntut harus punya disiplin kerja yang baik

agar tugas-tugas pemerintah yang menjadi kewajibannya dapat terselesaikan dengan

baik. Karena tugas yang diemban oleh kelurahan bersifat kompleks, maka lurah

beserta perangkatnya harus punya disiplin tinggi sehingga dapat memberikan

pelayanan yang efektif atau berdaya guna bagi masyarakat. Disiplin yang baik juga

berarti terlaksananya tugas-tugas yang harus dilakukan oleh aparat kelurahan sesuai

dengan tujuan yang telah ditetapkan secara bersama-sama.

Pendapat-pendapat di atas memberikan gambaran pada kita bahwa disiplin

kerja pegawai memiliki arti penting dalam mencapai pelayanan yang efektif. Dengan

demikian siginifikansinya pengaruh disiplin kerja terhadap efektivitas pelayanan

aparat kelurahan dengan kenyataan di lapangan mengenai faktor disiplin kerja yang

mempengaruhi efektivitas pelayanan terbukti kebenarannya.

b. Analisis Hubungan antara Variabel Iklim Kerja (X2) dengan Variabel

Efektivitas Pelayanan (Y)

Berdasarkan tabel 34 di atas koefisien korelasi antara variabel iklim kerja

(X2) dan variabel efektivitas pelayanan (Y) adalah sebesar 0,540. Koefisien ini

menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan. Artinya iklim kerja berpengaruh

terhadap efektivitas pelayanan dan diterima pada taraf signifikansi 5 persen (α lebih

besar dari nilai approximate significance yaitu 0,05 > 0,001).

Hasil tersebut diperkuat dengan membandingkan Z hitung dengan harga Z

tabel, dimana bila Z hitung lebih besar dari Z tabel maka koefisien korelasi yang
ditemukan adalah signifikan (Sugiono, 2004:240). Harga Z untuk variabel iklim kerja

dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Sedangkan besarnya Z tabel untuk taraf signifikansi 5 persen dan pengujian

dua sisi diketahui sebesar 1,96. Kemudian harga ini dibandingkan dengan Z hitung,

sehingga Z hitung yang diperoleh lebih besar dari Z tabel (7,181>1,96) sehingga

hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa korelasi antara variabel iklim kerja

(X2) dengan variabel efektivitas pelayanan (Y) sebesar 0,540 adalah signifikan.

Dengan hasil ini, terlihat terdapat hubungan antara variabel iklim kerja dengan

variabel efektivitas pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara

Kabupaten Cilacap.

Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa iklim kerja aparat

berpengaruh terhadap efektivitas pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap


Utara Kabupaten Cilacap. Iklim kerja aparat kelurahan yang ada di Kecamatan

Cilacap Utara sudah baik. Hal ini ditujukkan dengan terdapatnya struktur tugas di

masing-masing kelurahan, adanya pembagian tugas yang jelas dalam organisasi,

komunikasi yang baik, partisipasi dan kebebasan pegawai dalam setiap pengambilan

keputusan serta adanya hukuman dan imbalan bagi pegawai yang berprestasi dan

melanggar aturan.

Hasil penelitian tersebut sejalan dengan pendapat Widyarto (dalam Handoko,

1993:34) bahwa pada dasarnya terbentuk karena proses menyatunya tiga unsur, yaitu

karyawan, manajemen dan penjabaran kegiatan organisasi. Hal tersebut akan berjalan

baik jika semua berjalan sesuai secara fungsional yaitu : Pertama, karyawan dapat

memahami hal-hal teknis pekerjaannya, sehingga tidak diperlukan supervisi yang

ketat dari atasannya. Kedua, atasan sebagai bagian dari manajemen, selain memahami

hal-hal teknis dari pekerjaan dan unit kerjanya, juga harus menguasai kemampuan

manajerial, perencanaan, membagi pekerjaan memimpin dan mengarahkan serta

memotivasi. Ketiga, kebijaksanaan organisasi berupa peraturan organisasi dan

kesepakatan kerja yang dijalankan dengan baik, sistem penggajian dan pemberian

tunjangan yang memadai dan adanya perhatian terhadap karyawan.

Iklim kerja dalam suatu organisasi merupakan suatu sifat atau ciri yang

dirasakan dalam lingkungan kerja dan timbul karena kegiatan organisasi yang

dilakukan secara sadar maupun tidak sadar dan dianggap mempengaruhi kelancaran

aktivitas organisasi. Berdasarkan pada pendapat Steers (1985:130) bahwa “iklim

memang merupakan faktor pengaruh yang penting bagi prestasi dan kepuasan kerja.”
Dari pendapat tersebut dapat ditarik pengertian bahwa dalam sebuah organisasi yang

memiliki iklim kerja yang baik maka organisasi akan dapat memberikan pelayanan

yang efektif. Begitu pula halnya bagi kelurahan yang mempunyai tujuan memberikan

pelayanan yang baik bagi masyarakat, pelayanan yang efektif bagi masyarakat.

Tujuan tersebut dapat tercapai apabila dalam kelurahan tercipta iklim kerja yang baik.

Suasana iklim kerja tempat pegawai bekerja perlu diperhatikan. Iklim kerja

dalam suatu organisasi merupakan suatu sifat atau ciri yang dirasakan dalam

lingkungan kerja dan timbul karena kegiatan organisasi yang dilakukan secara sadar

maupun tidak sadar dan dianggap mempengaruhi kelancaran aktivitas organisasi.

Bagaimana cara pegawai berinteraksi dengan masyarakat pada saat melayani,

bagaimana hubungan antar pegawai dalam organisasi tersebut, sehingga

pelayanannya menjadi efektif. Dalam hal ini yang dimaksud adalah iklim organisasi

dalam kantor kelurahan tempat aparat kelurahan melayani kepentingan masyarakat.

Hal ini sangat penting guna mendukung tercapainya pelayanan yang efektif terhadap

masyarakat.

Pendapat-pendapat di atas memberikan gambaran pada kita bahwa iklim kerja

yang tercipta di suatu organisasi memiliki arti penting dalam mencapai pelayanan

yang efektif dari suatu organisasi. Demikian pula halnya dengan organisasi kelurahan.

Harus tercipta suatu iklim kerja yang baik agar kelurahan dapat memberikan

pelayanan yang efektif kepada masyarakat. Dengan demikian siginifikansinya

pengaruh iklim kerja terhadap efektivitas pelayanan aparat kelurahan dengan


kenyataan di lapangan mengenai faktor iklim kerja yang mempengaruhi efektivitas

pelayanan terbukti kebenarannya.

3. Korelasi Parsial

Uji korelasi parsial digunakan untuk melihat tingkat kemurnian pengaruh antara

variabel independen dengan dependen, dimana salah satu variabel independennya dibuat

tetap/dikontrol.

a. Perhitungan Korelasi Antara Variabel Disiplin Kerja (X1) Dengan Variabel

Efektivitas Pelayanan (Y) Dikontrol Variabel Iklim Kerja (X2)

Hasil perhitungan korelasi parsial antara variabel disiplin kerja dengan

variabel efektivitas pelayanan yang dikontrol oleh variabel iklim kerja sebesar

0,5724. Koefisien korelasi ini lebih besar dibandingkan dengan koefisien korelasi

sebelum dikontrol yaitu 0,518 sehingga pengaruhnya dapat dikatakan murni. Jadi

setiap subyek dalam sampel bila iklim kerjanya sama, maka pengaruh antara disiplin

kerja dengan efektivitas pelayanan lebih kuat. Hal ini berarti bila pegawai yang

disiplin kerjanya tinggi dan iklim kerjanya sama dengan pegawai yang disiplin

kerjanya rendah, maka efektivitas pelayanannya akan jauh lebih tinggi.

b. Perhitungan Korelasi Antara Variabel Iklim Kerja (X2) Dengan Variabel

Efektivitas Pelayanan (Y) Dikontrol Variabel Disiplin Kerja (X1)


Hasil perhitungan korelasi parsial antara variabel iklim kerja dengan

variabel efektivitas pelayanan yang dikontrol oleh variabel disiplin kerja sebesar

0,3549. Koefisien korelasi ini lebih kecil dibandingkan dengan koefisien korelasi

sebelum dikontrol yaitu 0,54 sehingga pengaruhnya dapat dikatakan tidak murni. Jadi

setiap subyek dalam sampel bila disiplin kerjanya sama, maka pengaruh antara iklim

kerja dengan efektivitas pelayanan menjadi lebih lemah. Hal ini berarti bila pegawai

yang bekerja pada iklim kerja yang tinggi dan disiplin kerjanya sama dengan pegawai

yang bekerja pada iklim kerja yang rendah, maka efektivitas pelayanannya justru

akan jauh lebih rendah.

4. Koefisien Konkordansi Kendall (W)

Teknik analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas secara

bersama-sama terhadap variabel terikat, yaitu pengaruh secara bersama-sama antara

variabel disiplin kerja (X1) dan iklim kerja (X2) terhadap efektivitas pelayanan (Y).

Rumus ini akan membuktikan hipotesis bahwa disiplin kerja aparat dan iklim kerja secara

bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas pelayanan

aparat kelurahan. Hasil perhitungan data dengan analisis konkordansi kendall (W)

diperoleh koefisien yang dapat dilihat pada tabel 35 berikut ini :

Tabel 35. Hasil Perhitungan Koefisien Konkordansi Kendall (W)


Korelasi W X2 Hitung X2Tabel Keterangan
X1.X2.Y 0,779 127,696 5,991 Signifikan

Sumber : Data Primer Diolah

Dari tabel 35 di atas dapat dilihat hasil perhitungan X1.X2.Y yang merupakan pengaruh

disiplin kerja dan iklim kerja secara bersama-sama dengan efektivitas pelayanan aparat

pada tingkat kepercayaan 5 persen. Berdasarkan perhitungan tersebut dapat diketahui

bahwa nilai koefisien konkordasi kendall sebesar 0,779. Hal ini menunjukkan adanya

pengaruh yang sangat kuat antara disiplin kerja (X1) dan iklim kerja (X2) dengan

efektivitas pelayanan aparat dengah arah positif.

Melalui pengujian signifikansi pengaruh antara tiga variabel penelitian

diperoleh X2 sebesar 127,696. Harga tersebut kemudian dibandingkan dengan harga X2

tabel pada taraf signifikansi 5 persen menunjukkan angka 5,991 sehingga dengan

demikian X2 hitung sebesar 127,696 lebih besar dari X2 tabel (127,696 > 5,991). Hasil

perhitungan tersebut membuktikan bahwa pengaruh antara disiplin kerja (X1) dan iklim

kerja (X2) terhadap efektivitas pelayanan (Y) siginifikan diterima pada taraf signifikansi

5 persen sehingga dapat dikatakan bahwa peningkatan disiplin kerja dan iklim kerja

secara bersama-sama akan diikuti pula peningkatan efektivitas pelayanan aparat

kelurahan. Dengan demikian hipotesis pengaruh antara disiplin kerja dan iklim kerja

dengan efektivitas pelayanan aparat kelurahan dapat diterima.

Dari hasil penelitian di lapangan diketahui bahwa peningkatan efektivitas pelayanan

kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap dapat dipengaruhi oleh faktor

disiplin kerja aparat dan iklim kerja yang ada pada lingkungan kerja. Hal ini sesuai
dengan apa yang dikemukakan oleh M. Manullang (1986:214) yang mengatakan bahwa

prestasi atau efektivitas organisasi pada dasarnya adalah efektivitas perorangan, atau

dengan kata lain bila tiap anggota organisasi secara terkoordinasi melaksanakan tugas

dan pekerjaannya masing-masing dengan baik, efektivitas organisasi secara keseluruhan

akan timbul. Yang dimaksud koordinasi disini adalah iklim kerja yang tercipta di

lingkungan kerja. Melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik berarti kedisiplinan

tiap-tiap individu dalam organisasi tersebut baik. Dari situlah kita dapat mengetahui

bahwa ada pengaruh yang erat antara disiplin dan iklim kerja terhadap efektivitas suatu

organisasi. Dengan demikian signifikansi pengaruh disiplin kerja aparat dan iklim kerja

yang ada di kelurahan terhadap efektivitas pelayanan dengan kenyataan di lapangan

mengenai faktor disiplin kerja dan iklim kerja terhadap efektivitas pelayanan terbukti.

5. Regresi Ordinal

Hasil perhitungan regresi ordinal pengaruh variabel disiplin kerja (X1) dan

variabel iklim kerja (X2) secara bersama-sama terhadap variabel efektivitas pelayanan

(Y) diperoleh nilai beta (b) sebesar 54,627 dan signifikan pada taraf 0,001 (a 0,05 >

0,001). Hasil regresi ordinal sebesar 54,627 menunjukkan arah positif sehingga model

regresi ini cocok (fitting) digunakan untuk meramalkan pengaruh antara variabel disiplin

kerja (X1) dan variabel iklim kerja (X2) terhadap variabel efektivitas pelayanan (Y)

sehingga dapat dikatakan setiap kenaikan satu unit pada variabel disiplin kerja dan iklim

kerja sebesar 54,627 akan mengakibatkan kenaikan satu unit pada variabel efektivitas

pelayanan sebesar 54,627 pula.


Nilai Negelkerke R2 dalam penelitian dipakai untuk mengetahui pengaruh

variabel bebas secara serentak terhadap variabel terikat. Nilai Negelkerke R2 dapat

diiterpretasikan seperti nilai R2 pada multiple regression (Ghozali, 2002:129). Hasil

pengujian dengan SPSS for Windows release 11.05 didapatkan nilai Negelkerke R2

sebesar 0,642. Hal ini berarti bahwa pengaruh disiplin kerja aparat kelurahan dan iklim

kerja yang ada di kelurahan terhadap efektivitas pelayanan aparat kelurahan sebesar 64,2

persen, sedangkan sisanya sebesar 35,8 persen dipengaruhi variabel di luar model.

Dengan demikian hipotesis diterima, artinya bahwa ada pengaruh yang signifikan antara

disiplin kerja aparat kelurahan dan iklim kerja yang ada di kelurahan terhadap efektivitas

pelayanan aparat kelurahan.

E. Pembahasan

Tabulasi silang digunakan untuk mengetahui kecenderungan pengaruh dua variabel

dengan memperhatikan beberapa prinsip dalam tabulasi silang kemudian dihitung

presentasenya tiap kelompok untuk memperjelas dan melihat pengaruh antara dua

variabel. Dari hasil perhitungan tabulasi silang didapatkan dua kecenderungan. Yang

pertama, bahwa disiplin kerja cenderung berpengaruh terhadap efektivitas pelayanan

aparat. Yang kedua, bahwa iklim kerja cenderung berpengaruh terhadap efektivitas

pelayanan aparat.

Adanya pengaruh ini dibuktikan melalui perhitungan korelasi kendall tau-c, dimana

didapatkan koefisien korelasi antara X1 terhadap Y adalah sebesar 0,518. Nilai koefisien
menunjukkan disiplin kerja memiliki hubungan yang positif dan signifikan. Artinya

semakin tinggi disiplin kerja aparat, maka efektivitas pelayanan akan semakin tinggi

pula. Besarnya pengaruh tersebut adalah sebanyak 51,8 persen. Koefisien ini dinyatakan

signifikan karena nilai approximate significance lebih kecil dari nilai a (0,001 < 0,005)

dan diperkuat dengan perbandingan harga Z hitung dan Z tabel, dimana Z hitung lebih

besar dari Z tabel (6,888 > 1,96). Dengan demikian maka hipotesis pertama yang

menyatakan bahwa semakin tinggi disiplin kerja aparat pemerintah kelurahan maka akan

semakin meningkat efektivitas pelayanannya dapat diterima.

Dari perhitungan korelasi kendall tau-c juga didapatkan koefisien korelasi antara X2

terhadap Y yaitu sebesar 0,540. Nilai koefisien menunjukkan iklim kerja memiliki

hubungan yang positif dan signifikan. Artinya semakin baik iklim kerja maka efektivitas

pelayanan akan cenderung meningkat. Besarnya pengaruh tersebut adalah sebanyak 54

persen. Koefisien ini dinyatakan signifikan karena nilai approximate significance lebih

kecil dari nilai a (0,001 < 0,005) dan diperkuat dengan perbandingan harga Z hitung dan

Z tabel, dimana Z hitung lebih besar dari Z tabel (7,181 > 1,96). Dengan demikian

hipotesis kedua yang menyatakan bahwa semakin tinggi iklim kerja maka akan semakin

meningkat efektivitas pelayanannya dapat diterima.

Uji korelasi parsial digunakan untuk melihat kemurnian pengaruh antara

variabel independen dengan dependen, dimana salah satu variabel independennya dibuat

tetap/dikontrol. Hasil perhitungan korelasi parsial antara variabel disiplin kerja dengan

variabel efektivitas pelayanan yang dikontrol variabel iklim kerja sebesar 0,5724. Nilai

koefisien ini lebih besar dari nilai koefisien setelah dikontrol yaitu sebesar 0,518
sehingga pengaruhnya dapat dikatakan murni. Hasil perhitungan korelasi parsial antara

variabel iklim kerja dengan variabel efektivitas pelayanan yang dinkontrol oleh variabel

disiplin kerja sebesar 0,3549. Nilai koefisien ini lebih kecil dari nilai koefisien sebelum

dikontrol yaitu sebesar 0,540 sehingga pengaruhnya dapat dikatakan tidak murni. Dari

hasil tersebut diperoleh dua kesimpulan. Pertama, pegawai yang disiplin kerjanya tinggi

dan iklim kerjanya sama dengan pegawai yang disiplin kerjanya rendah, maka efektivitas

pelayanannya akan jauh lebih tinggi. Kedua, pegawai yang bekerja pada iklim kerja yang

tinggi dan disiplin kerjanya sama dengan pegawai yang bekerja pada iklim kerja yang

rendah, maka efektivitas pelayanannya justru akan lebih rendah.

Berdasarkan hasil perhitungan korelasi konkordansi kendall (W) didapatkan

koefisien korelasi antara X1 dan X2 terhadap Y sebesar 0,779. Nilai koefisien ini

menunjukkan bahwa variabel disiplin kerja (X1) dan variabel iklim kerja (X2) memiliki

pengaruh yang kuat dan positif terhadap variabel iklim efektivitas pelayanan (Y). artinya

semakin tinggi disiplin kerja dan iklim kerja, maka efektivitas pelayanan akan cenderung

meningkat. Koefisien korelasinya dinyatakan signifikan berdasarkan perbandingan antara

X2 hitung dengan X2 tabel dan juga berdasarkan hasil perhitungan regresi ordinal.

Perbandingan antara X2 hitung dengan X2 tabel menunjukkan bahwa X2 hitung lebih

besar dari X2 tabel pada taraf signifikansi 5 persen (127,696 > 5,991). Hasil perhitungan

tersebut membuktikan bahwa antara X1 dan X2 mempunyai pengaruh yang signifikan

terhadap Y diterima pada taraf signifikansi 5 persen.

Berdasarkan perhitungan regresi ordinal didapatkan nilai b sebesar 54,627 dan

signifikan pada taraf 0,001 (a 0,05 > 0,001). Hasil ini menunjukkan arah positif sehingga
model regresi ini cocok (fitting) digunakan untuk meramalkan pengaruh antara variabel

disiplin kerja (X1) dan variabel iklim kerja (X2) terhadap variabel efektivitas pelayanan

(Y) sehingga dapat dikatakan setiap kenaikan satu unit pada variabel disiplin kerja dan

iklim kerja akan mengakibatkan kenaikan satu unit pada variabel efektivitas pelayanan

sebesar 54,627. Hasil perhitungan tersebut membuktikan bahwa antara X1 dan X2

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Y. Hal ini memperkuat diterimanya

hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa semakin tinggi disiplin kerja dan iklim kerja

maka semakin meningkat pula efektivitas pelayanannya.

Hal ini sesuai dengan pendapat M. Manullang (1986:214) yang menyatakan bahwa

prestasi atau efektivitas organisasi pada dasarnya adalah efektivitas perorangan, atau

dengan kata lain bila tiap anggota organisasi secara terkoordinasi melaksanakan tugas

dan pekerjaannya masing-masing dengan baik, efektivitas organisasi secara keseluruhan

akan timbul. Yang dimaksud koordinasi disini adalah iklim kerja yang tercipta di

lingkungan kerja. Terkoodinasi dengan baik berarti kedisiplinan tiap-tiap individu dalam

organisasi tersebut baik. Dari situlah kita dapat mengetahui bahwa ada hubungan yang

erat antara kedisiplinan dan iklim kerja terhadap efektivitas suatu organisasi baik secara

langsung maupun tidak langsung.

Disiplin kerja aparat dan iklim kerja yang ada di suatu organisasi memiliki peranan

sentral dalam memacu efektivitas pelayanan dalam suatu organisasi karena keefektifan

pelayanan membutuhkan dukungan kuat dari para pegawainya dan dukungan kuat dari

suasana iklim kerja yang ada di organisasi tersebut. Adanya disiplin kerja dan iklim kerja

yang baik akan menciptakan interaksi yang harmonis baik antara aparat dengan sesama
aparat birokrasi maupun antara aparat dengan masyarakat. Sehingga apabila ada suatu

prosedur pelayanan yang harus dipatuhi oleh masyarakat, masyarakat akan mematuhinya

dengan senang hati, hal itu disebabkan oleh karena interaksi yang baik. Suasana ini juga

akan menciptakan ketertiban dalam jalannya pelayanan di kelurahan sehingga efektivitas

pelayanan bisa tercapai jika kedua hal tersebut maksimal.

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan diperoleh bahwa pengaruh

disiplin kerja dan iklim kerja secara serentak terhadap efektivitas pelayanan aparat

kelurahan adalah sebanyak 0,779. Dari nilai ini dapat dikatakan bahwa sumbangan

disiplin kerja dan iklim kerja terhadap efektivitas pelayanan aparat kelurahan sebesar

77,9 persen, sedangkan sisanya sebesar 22,1 persen dipengaruhi variabel di luar model,

seperti kemampuan aparat dalam mengintepretasikan tugas-tugas, pendidikan pegawai,

fasilitas kerja, motivasi pegawai, kinerja organisasi, manajemen organisasi, perilaku

aparat dalam bekerja dan sebagainya.

Selain secara statistik yaitu yang tertera dalam hipotesis kerja model verbal,

penelitian ini juga menyajikan hipotesis secara geometrikal. Hasil selengkapnya dapat

dilihat pada sekam berikut ini :

Gambar 3. Pengujian Hipotesis Model Geometrikal

Disiplin kerja aparat pemerintah kelurahan

(X1)

Iklim Kerja pemerintah kelurahan

(X2)
Efektivitas pelayanan aparat kelurahan

(Y)

0,518

0,779

0,540

Berdasarkan gambar 3 di atas maka dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja aparat

pemerintah kelurahan mempunyai pengaruh yang cukup kuat dengan efektivitas

pelayanan aparat di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap yaitu sebesar 0,518
atau 51,8 persen. Hal yang sama juga terjadi pada iklim kerja yang di kelurahan terhadap

efektivitas pelayanan aparat kelurahan yaitu sebesar 0,540 atau 54 persen. Selanjutnya

pengaruh variabel disiplin kerja dan iklim kerja secara bersama-sama terhadap efektivitas

pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap yaitu sebesar

0,779 atau 77,9 persen. Pengaruh kedua variabel ini kuat, akan tetapi masih ada faktor

lain yang mempengaruhi efektivitas pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap

Utara Kabupaten Cilacap sebesar 0,221 atau 22,1 persen. Faktor lain tersebut misalnya

kemampuan aparat dalam menginterpretasikan tugas-tugas, pendidikan pagawai, fasilitas

kerja, motivasi pegawai, kinerja organisasi, manajemen organisasi, perilaku aparat dalam

bekerja dan sebagainya yang mendorong peningkatan efektivitas pelayanan aparat

kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap.

===============================================================
======

BAB V

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI


A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian secara kuantitatif dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai
berikut :

1. Berdasarkan tabulasi silang diperoleh kecenderungan bahwa disiplin kerja

berpengaruh terhadap efektivitas pelayanan. Merujuk pada hasil korelasi kendall

didapatkan pengaruhnya sebesar 0,518. Dengan demikian hipotesis pertama dapat

diterima, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara disiplin kerja pegawai

dengan efektivitas pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara

Kabupaten Cilacap.

2. Berdasarkan tabulasi silang diperoleh kecenderungan bahwa iklim kerja

berpengaruh terhadap efektivitas pelayanan. Merujuk pada hasil korelasi kendall

didapatkan pengaruhnya sebesar 0,540. Dengan demikian hipotesis kedua dapat

diterima, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara iklim kerja pegawai

dengan efektivitas pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap Utara

Kabupaten Cilacap.

3. Berdasarkan perhitungan Konkordasi Kendall (W) untuk analisis pengaruh secara

bersama-sama antara X1 dan X2 terhadap Y diperoleh koefisien korelasinya

sebesar 0,779. Pengaruhnya yang sangat kuat dan positif. Berdasarkan korelasi

parsial didapatkan pengaruh yang murni untuk X1 terhadap Y yang dikontrol X2

sebesar 0,5724 dan pengaruh yang tidak murni untuk X2 terhadap Y yang

dikontrol X1 sebesar 0,3549. Kemudian berdasarkan regresi ordinal pengaruh

antara variabel X1 dan X2 secara bersama-sama terhadap Y diperoleh nilai b

sebesar 54,627. Nilai Negelkerke R2 sebesar 0,642 menunjukkan bahwa pengaruh


X1 dan X2 secara bersama-sama terhadap Y sebesar 64,2 persen, sedangkan

sisanya sebesar 35,8 persen dipengaruhi variabel di luar model. Dengan demikian,

hipotesis ketiga yang menyatakan adanya pengaruh yang signifikan antara disiplin

kerja dan iklim kerja terhadap efektivitas pelayanan aparat kelurahan di

Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap dapat diterima.

B. Implikasi

Dari hasil penelitian tentang pengaruh dari disiplin kerja dan iklim kerja terhadap

efektivitas pelayanan aparat kelurahan tersebut, dapat diberikan implikasi yang dapat

digunakan untuk mencapai efektivitas pelayanan aparat kelurahan di Kecamatan Cilacap

Utara Kabupaten Cilacap sebagai berikut :

1. Adanya pegawai yang masih kurang memahami dan menguasai hal-hal teknis

pekerjannya membuat pekerjaan terhambat. Hal ini tidak boleh dibiarkan.

Organisasi harus menindak lanjuti antara lain dengan mengadakan suatu pelatihan

seperti pelatihan komputer, kursus pembukuan dan akuntansi. Pelatihan ini bisa

dibuat wajib untuk semua pegawai. Dengan adanya pelatihan yang wajib ini,

diharapkan partisipasi anggota dalam kegiatan organisasi akan meningkat dan

keterampilan pegawai akan bertambah.

2. Banyaknya pegawai yang datang terlambat mengakibatkan pelayanan kepada

masyarakat menjadi kurang maksimal. Kedisiplinan pegawai perlu ditingkatkan

agar pelayanan aparat semakin meningkat. Caranya antara lain dengan

memberikan hukuman kepada aparat yang datang terlambat sesuai dengan tingkat
keterlambatannya dan diberikan penghargaan kepada yang datang tepat waktu.

Misalnya setiap satu semester diadakan rekapitulasi daftar hadir, kemudian

diberikan hadiah kepada yang selalu datang tepat waktu.

3. Pemeliharaan alat-alat kantor masih kurang. Perlu perbaikan sistem pemeliharaan

agar peralatan yang sudah usang tetap dapat digunakan secara maksimal. Selain

petugas kebersihan, pengguna barang juga harus memiliki kesadaran untuk

memelihara dan menggunakan peralatan kantor sebagaimana mestinya. Peralatan

juga perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada, seperti

misalnya komputer harus ada di setiap kantor untuk memperlancar dan

mempercepat pekerjaan.

4. Tidak ada pembagian tugas yang jelas di kantor. Pemimpin perlu membuat

deskripsi pekerjaan yang jelas agar tidak terjadi over lapping dalam pekerjaan.

Selain itu, tingkat penghargaan bagi pegawai yang berprestasi juga perlu diadakan

agar para pegawai bersemangat dalam bekerja.

===============================================================
======

KUESIONER
I. Pengantar

Dengan Hormat,

Dalam rangka menyelesaikan studi akhir pada Jurusan Ilmu Administrasi


Negara FISIP UNSOED, kami mohon dengan hormat kesediaan bapak / ibu / saudara
meluangkan waktu sejenak. Maksud dari daftar ini semata-mata hanya untuk kepentingan
ilmiah. Jawaban yang anda berikan sangat berharga bagi kami sebagai bahan untuk
menyusun skripsi.

Oleh karena itu jawaban yang sejujur-jujurnya merupakan harapan kami.


Adapun judul skripsi yang kami susun yaitu “PENGARUH DISIPLIN DAN IKLIM
KERJA TERHADAP EFEKTIVITAS PELAYANAN APARAT PEMERINTAH
KELURAHAN DI KECAMATAN CILACAP UTARA KABUPATEN CILACAP”.

Pada kesempatan yang baik ini peneliti juga mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya atas kesediaan bapak / ibu / saudara, yang telah meluangkan waktunya
untuk mengisi angket ini. Peneliti mohon maaf apabila ada pertanyaan yang kurang
berkenan di hati bapak / ibu / saudara.

Hormat kami,

Ruswati
II. Petunjuk Pelaksanaan

Angket yang peneliti sediakan ini terdiri dari dua bagian yaitu: bagian pertama yang
berisi tentang identitas responden. Pada bagian ini bapak / ibu / saudara cukup mengisi
bagian yang telah disediakan. Bagian kedua yang berisi daftar pertanyaan. Pada bagian
ini bapak / ibu / saudara memilih salah satu jawaban yang dianggap paling benar.

III. Angket Penelitian

* Identitas Responden

1. Nama / Umur :……………………… / ………………………………..

2. Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan *)

3. Kedudukan dalam kantor :.……………………………………………...

4. Pendidikan Terakhir :………………………………………………….

5. Alamat :………………………………………………………….

Keterangan *) Coret yang tidak perlu

* Daftar Pertanyaan

Berilah tanda silang pada salah satu jawaban a, b, c, dari pertanyaan dibawah ini :
A. Variabel Efektivitas Pelayanan

1. Apakah bapak/ibu saat ini masih memiliki tunggakan pekerjaan yang belum selesai ?

a. tidak ada

b. mungkin ada

c. ya, ada

2. Apakah atasan bapak/ibu pernah menegur bapak/ibu berkaitan dengan hasil pekerjaan
bapak/ibu ?

a. jarang

b. kadang-kadang

c. sering

3. Apakah bapak/ibu pernah menerima keluhan masyarakat yang sedang dilayani ?

a. jarang
b. kadang-kadang
c. sering

Apabila jawaban “sering”, sebutkan macam keluhan apa saja yang pernah bapak/ibu
terima :

1). …………………………………………

2). …………………………………………

3). …………………………………………

4. Apakah di kantor bapak/ibu terdapat kotak saran ?

a. ada
b. tidak ada

Bila jawaban “a”, berapa banyak kritik dan saran yang masuk dalam sebulan ?

a. banyak
b. agak banyak
c. sedikit

Bila jawaban “b”, apakah bapak/ibu mengetahui alasan mengapa di kantor bapak/ibu
tidak ada kotak saran ?

a. tahu
b. tidak tahu
c. tidak perduli

Bila jawaban bapak/ibu “tahu”, sebutkan alasannya ?

1). …………………………………………

2). …………………………………………

3). …………………………………………

5. Apa yang akan bapak/ibu lakukan apabila memiliki kepentingan kelurga yang sangat
mendesak pada saat jam kerja ?

a. menyelesaikan tugas kantor terlebih dahulu


b. membawa pekerjaan ke rumah
c. pulang karena urusan mendesak

6. Bagaimana menurut bapak/ibu tentang sistem kerja yang berlaku di lingkungan


kantor bapak/ibu saat ini ?

a. sangat cocok dengan kemampuan pegawainya

b. lumayan cocok dengan kemampuan pegawainya


c. kurang cocok dengan kemampuan pegawainya

7. Bagaimana pandangan bapak/ibu terhadap prosedur atau peraturan yang ada di kantor
bapak/ibu ?

a. sangat mendorong pegawai untuk selalu patuh dan bekerja dengan baik

b. cukup mendorong pegawai untuk selalu patuh dan bekerja dengan baik

c. kurang mendorong pegawai untuk selalu patuh dan bekerja dengan baik

8. Bagaimana bapak/ibu mengerjakan semua tugas-tugas yang dibebankan kepada


bapak/ibu ?

a. mengerjakan dengan cepat dan yakin pekerjaannya benar

b. mengerjakan dengan baik dan sesekali meminta bantuan pada rekan kerja

c. kadang merasa bingung sehingga meminta bantuan kepada rekan kerja

9. Bagaimana tindakan atasan bapak/ibu apabila timbul masalah dalam organisasi ?

a. berhasil mengatasinya dengan baik

b. berhasil mengatasinya namun butuh waktu yang lama

c. berhasil mengatasinya namun cara penyelesaiannya tidak tepat

10. Apakah bapak/ibu pernah berpartisipasi dalam program-program yang dilaksanakan


organisasi (seperti diklat dan management training) ?

a. sering

b. kadang-kadang

c. jarang
11. Apakah yang bapak/ibu lakukan apabila organisasi sedang mengadakan suatu acara
diklat ?

a. berpartisipasi sebagai panitia

b. berpartisipasi sebagai peserta

c. tidak ikut berpartisipasi

12. Apakah bapak/ibu merasa senang bekerja sama dengan rekan-rekan kerja bapak/ibu
di kantor ?

a. sangat senang
b. senang
c. biasa saja

13. Apakah semua rekan kerja bapak/ibu mudah diajak kerjasama dalam rangka
mewujudkan tujuan organisasi ?

a. semua mudah diajak kerjasama


b. ada yang sulit diajak kerjasama
c. hanya beberapa saja yang mudah diajak kerjasama

14. Ada berapa kasus pelanggaran yang terjadi di kantor bapak/ibu dalam waktu satu
bulan ?

a. banyak
b. sedang
c. sedikit

B. Variabel Disiplin Kerja


15. Bagaimana biasanya bapak/ibu datang ke kantor ?

a. pagi sekali
b. agak siang
c. siang

16. Bagaimana biasanya bapak/ibu pulang dari kantor ?

a. sebelum jam kerja habis


b. tepat pada saat jam kerja habis
c. setelah jam kerja habis

17. Apakah bapak/ibu pernah tidak mengerjakan perintah dari atasan ?

a. sering
b. kadang-kadang
c. jarang

18. Apakah bapak/ibu pernah melanggar tata tertib yang ada di kantor ?

a. sering
b. kadang-kadang
c. jarang

19. Bagaimana pendapat bapak/ibu tentang peraturan dan tata tertib di kantor ?

a. terlalu ketat
b. biasa
c. terlalu longgar

20. Apakah bapak/ibu selalu memakai pakaian dinas yang telah ditentukan ?

a. selalu
b. kadang-kadang
c. tidak pernah

21. Apakah bapak/ibu selalu hadir setiap hari pada jam kerja kantor ?
a. selalu hadir setiap hari
b. kadang-kadang ijin untuk tidak hadir
c. sering ijin tidak masuk kerja

22. Berapa kali bapak/ibu ijin tidak masuk kantor dalam satu bulan ?

a. sering
b. kadang-kadang
c. jarang

Sebutkan alasan bapak/ibu mengajukan ijin tidak masuk kerja :

1). …………………………………………

2). …………………………………………

3). …………………………………………

23. Apakah bapak/ibu dalam bekerja selalu menggunakan perlengkapan kantor yang
tersedia ?

a. selalu
b. kadang-kadang
c. tidak selalu

24. Apakah bapak/ibu pernah menggunakan peralatan dan perlengkapan kantor untuk
kepentingan pribadi ?

a. sering
b. kadang-kadang
c. jarang

25. Bagaimana keadaan peralatan dan perlengkapan kantor tempat bapak/ibu bekerja ?

a. terpelihara dengan baik


b. sedikit terpelihara dengan baik
c. tidak terpelihara dengan baik
26. Bagaimana tindakan bapak/ibu mengahdapi tumpukan pekerjaan yang begitu banyak
di kantor ?

a. menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik


b. mendahulukan pekerjaan yang disukai
c. hanya menyelesaikan pekerjaan yang diminta atasan saja

27. Apakah waktu yang tersedia sudah cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan ?

a. lebih dari cukup


b. cukup
c. kurang

28. Apakah bapak/ibu menanggung resiko dan kerugian yang terjadi pada saat bekerja
selama ini ?

a. pernah
b. mungkin pernah
c. tidak pernah

Sebutkan kerugian yang pernah ditanggung :

1). …………………………………….

2). …………………………………….

3). …………………………………….

C. Variabel Iklim Kerja dalam Organisasi


29. Apakah di kantor bapak/ibu terdapat bagan struktur organisasi ?

a. ya, ada
b. tidak ada
Jika jawaban “a” apakah bapak/ibu mengetahui maksud dari bagan struktur organisasi
tersebut ?

a. tahu betul
b. bingung
c. tidak tahu

Jika jawaban “b” apakah bapak/ibu tahu alasan mengapa di kantor bapak/ibu tidak
ada bagan struktur organisasi ?

a. tahu betul
b. bingung
c. tidak tahu

Bila tahu alasannya, coba bapak/ibu sebutkan :

1). …………………………………….

2). …………………………………….

3). …………………………………….

30. Apakah di kantor bapak/ibu sering terjadi overlap atau tumpang tindih pekerjaan ?

a. sering
b. kadang-kadang
c. jarang

31. Apakah bapak/ibu pernah berselisih dengan salah satu rekan kerja ataupun atasan
bapak/ibu ?

a. sering
b. kadang-kadang
c. jarang

32. Bagaimana sikap organisasi terhadap pegawai yang berprestasi di kantor bapak/ibu ?
a. diberi imbalan tambahan
b. tidak diperhatikan
c. tidak tahu

Bila jawaban “a” sebutkan imbalan yang pernah diberikan organisasi :

1). …………………………………….

2). …………………………………….

3). …………………………………….

33. Bagaimana tingkat penghargaan di kantor bapak/ibu terhadap pegawai yang


berprestasi ?

a. tinggi
b. sedang
c. rendah

34. Bagaimana sikap organisasi terhadap pegawai yang melanggar peraturan di kantor
bapak/ibu ?

a. diberi hukuman sesuai perbuatannya


b. diberi hukuman sama rata untuk semua perbuatan
c. tidak dihukum

35. Bagaimana sistem pengambilan keputusan di kantor bapak/ibu ?

a. melibatkan seluruh pegawai


b. hanya melibatkan pegawai tertentu
c. tidak melibatkan pegawai biasa

36. Bagaimana sikap organisasi apabila terjadi masalah yang sangat mendesak dalam
situasi yang sangat darurat ?

a. bawahan boleh mengambil tindakan sendiri


b. bawahan harus menunggu instruksi dari atasan
c. pekerjaan diambil alih oleh atasan

37. Bagaimana tingkat pelanggaran tata tertib di kantor bapak/ibu ?

a. tinggi
b. sedang
c. rendah

38. Apakah bapak/ibu sering terlambat datang ke kantor ?

a. sering
b. kadang-kadang
c. jarang

Jika jawaban “a” sebutkan alasan mengapa sering terlambat :

1). ……………………………………

2). …………………………………….

3). …………………………………….

39. Apakah keluarga bapak/ibu sering memotivasi bapak/ibu untuk selalu bersemangat
dalam bekerja ?

a. sering
b. kadang-kadang
c. jarang

40. Bagaimana pendapat bapak/ibu tentang sistem penilaian kerja yang ada di kantor
bapak/ibu saat ini ?

a. dijalankan dengan baik


b. kadang tidak dijalankan
c. tidak ada sistem penilaian kerja yang jelas

41. Bagaimana tindakan organisasi untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki


oleh pegawainya ?
a. mengadakan pelatihan seperti diklat
b. memberikan pengarahan pada bawahan
c. tidak melakukan tindakan apapun

42. Apakah di kantor bapak/ibu sering mengadakan pelatihan seperti diklat, kursus
komputer, management training atau sejenisnya ?

a. sering
b. kadang-kadang
c. jarang

Bila jawaban “a”, berapa kali organisasi mengadakan acara tersebut dalam setahun
terakhir ….. kali dan sebutkan jenis kegiatannya :

1). ……………………………………

2). …………………………………….

3). …………………………………….

43. Bagaimana sikap atasan apabila melihat bawahan yang tidak dapat bekerja dengan
baik ?

a. memberikan bimbingan
b. tidak perduli
c. memarahi bawahan

44. Menurut bapak/ibu bagaimana atasan bapak/ibu bekerja ?

a. mengerjakan kewajibannya dan mengawasi bawahannya dengan baik


b. hanya mengawasi bawahan dan tidak mengerjakan kewajibannya
c. mengerjakan kewajibannya tetapi tidak mengawasi bawahannya

45. Bagaimana pelaksanaan evaluasi kerja di kantor bapak/ibu ?

a. rutin dilaksanakan
b. jarang dilaksanakan
c. tidak ada evaluasi

46. Apakah bapak/ibu menunda pekerjaan yang disebabkan oleh terbatasnya sarana dan
fasilitas yang tersedia ?

a. sering
b. kadang-kadang
c. jarang

47. Apakah di ruang kerja bapak/ibu terdapat filing cabinet (lemari) untuk menyimpan
berkas-berkas kerja atau dokumen penting ?

a. ada
b. tidak ada
c. tidak tahu

48. Apakah bapak/ibu merasa aman meletakkan kendaraan di tempat parkir yang tersedia
di kantor ?

a. sangat nyaman
b. kurang nyaman
c. tidak nyaman

49. Apakah bapak/ibu merasa nyaman bekerja di ruangan kerja yang bapak/ibu tempati
saat ini ?

a. sangat nyaman
b. kurang nyaman
c. tidak nyaman

50. Apakah bapak/ibu merasa puas dengan besarnya insentif yang diterima ?

a. sangat puas
b. kurang puas
c. tidak puas

51. Apakah pekerjaan bapak/ibu memunculkan resiko pekerjaan yang berat ?


a. ya
b. kadang-kadang
c. tidak

52. Bagaimana sikap bapak/ibu menghadapi resiko berat yang muncul ?

a. menghadapi dengan sabar dan berusaha sebaik-baiknya


b. melaporkan pada atasan
c. menghindari pekerjaan yang mengandung resiko

-------------------------

LAMPIRAN

Peruntukan dan Penggunaan Tanah di Lima Kelurahan di Kecamatan Kabupaten


Cilacap

" Peruntukan dan Penggunaan Tanah di Kelurahan Gumilir

No. Peruntukan dan Penggunaan Tanah Jumlah


1. Sawah dan ladang 56,965 Ha
2. Bangunan umum 102,500 Ha
3. Empang 13 Ha
4. Pemukiman/perumahan 114,783 Ha
5. Pekuburan 2,500 Ha
6. Pertokoan/perdagangan 0,500 Ha
7. Perkantoran 2,750 Ha
8. Tanah wakaf 1,500 Ha
9. Tanah sawah 51,365 Ha
10. Irigasi 51,365 Ha
11. Pekarangan 212,533 Ha
12. Perladangan 3,100 Ha
13. Tegalan 7,500 Ha

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari - Juni 2005

" Peruntukan dan Penggunaan Tanah di Kelurahan Karang Talun

No. Peruntukan dan Penggunaan Tanah Jumlah


1. Sawah dan ladang 116,1 Ha
2. Bangunan umum 60 Ha
3. Empang 20 Ha
4. Pemukiman/perumahan 131,15 Ha
5. Pekuburan 1,5 Ha
6. Industri 20 Ha
7. Perkantoran 50,20 Ha
8. Tanah wakaf 15 Ha
9. Tanah sawah 116 Ha
10. Irigasi 32 Ha
11. Pekarangan 204 Ha
12. Jalur Hijau 0,5 Ha
13. Pasar Desa 20 Ha

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari - Juni 2005

" Peruntukan dan Penggunaan Tanah di Kelurahan Kebonmanis

No. Peruntukan dan Penggunaan Tanah Jumlah


1. Sawah 92,457 Ha
2. Pemukiman/perumahan 85,892 Ha
3. Pekuburan 2,398 Ha
4. Petokoan/perdagangan 0,366 Ha
5. Perkantoran 1,112 Ha
6. Irigasi 163,286 Ha
7. Pekarangan 85,892 Ha
8. Jalur Hijau 0,250 Ha
9. Tegalan 7,393 Ha
10. Perladangan 10,544 Ha
11. Lain-lain 5,721 Ha

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari - Juni 2005

" Peruntukan dan Penggunaan Tanah di Kelurahan Mertasinga

No. Peruntukan dan Penggunaan Tanah Jumlah


1. Sawah dan ladang 343,194 Ha
2. Bangunan umum 1,34 Ha
3. Jalur Hijau 2,5 Ha
4. Pemukiman/perumahan 88,85 Ha
5. Pekuburan 4,5 Ha
6. Pertokoan/perdagangan 1,5 Ha
7. Perkantoran 0,595 Ha
8. Tanah wakaf 1,459 Ha
9. Pasar Desa 0,860Ha
10. Irigasi 317,356 Ha
11. Pekarangan 253,462 Ha
12. Rawa 8 Ha
13. Lain-lain 9,513 Ha

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari - Juni 2005

" Peruntukan dan Penggunaan Tanah di Kelurahan Tritih Kulon

No. Peruntukan dan Penggunaan Tanah Jumlah


1. Sawah dan ladang 91,568 Ha
2. Bangunan umum 20,284 Ha
3. Jalur Hijau 0,15 Ha
4. Pemukiman/perumahan 0,50 Ha
5. Pekuburan 4,745 Ha
6. Empang 5 Ha
7. Perkantoran 1,652 Ha
8. Tanah wakaf 0,883 Ha
9. Pasar Desa 0,094Ha
10. Irigasi 91,565 Ha
11. Pekarangan 233,162 Ha
12. Tegalan 154,519 Ha

Sumber : Data Monografi Desa dan Kelurahan Bulan Januari - Juni 2005

Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas


Variabel Disiplin Kerja

Reliability

****** Method 2 (covariance matrix) will be used for this analysis ******

R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (S P L I T)

Correlation Matrix

X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5

X1 ,6778 ,3993 ,7575 ,7741 ,5934

X1.6 X1.7 X1.8 X1.9 X1.10

X1 ,2550 ,4658 ,2740 ,4753 ,7571

X1.11 X1.12 X1.13 X1.14 X1

X1 ,3399 ,2803 ,5922 ,4074 1,0000

R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (S P L I T)

N of Cases = 82,0
Reliability Coefficients 14 items

Correlation between forms = ,8641 Equal-length Spearman-Brown = ,9271

Guttman Split-half = ,7972 Unequal-length Spearman-Brown = ,9274

Alpha for part 1 = ,6923 Alpha for part 2 = ,5160

7 items in part 1 7 items in part 2

Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas


Variabel Iklim Kerja

Reliability

**** Method 2 (covariance matrix) will be used for this analysis *****

R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (S P L I T)

Correlation Matrix

X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5

X2 ,3278 ,4185 ,6199 ,3615 ,4931

R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (S P L I T)

Correlation Matrix

X2.6 X2.7 X2.8 X2.9 X2.10

X2 ,3899 ,3148 ,3941 ,5255 ,3148

X2.11 X2.12 X2.13 X2.14 X2.15

X2 ,3740 ,3771 ,4129 ,4306 ,4476

R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (S P L I T)
Correlation Matrix

X2.16 X2.17 X2.18 X2.19 X2.20

X2 ,3897 ,4168 ,3863 ,4655 ,4203

X2.21 X2.22 X2.23 X2.24 X2

X2 ,4149 ,3158 ,5604 ,4674 1,0000

N of Cases = 82,0

Reliability Coefficients 24 items

Correlation between forms = ,7668 Equal-length Spearman-Brown = ,8680

Guttman Split-half = ,7852 Unequal-length Spearman-Brown = ,8682

Alpha for part 1 = ,5334 Alpha for part 2 = ,4167

12 items in part 1 12 items in part 2

Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas


Variabel Efektivitas Pelayanan

Reliability

**** Method 2 (covariance matrix) will be used for this analysis *****

R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (S P L I T)

Correlation Matrix

Y1 Y2 Y3 Y4 Y5

Y ,5315 ,5690 ,5383 ,3902 ,5844

Y6 Y7 Y8 Y9 Y10
Y ,3521 ,4887 ,2232 ,4073 ,2456

Y11 Y12 Y13 Y14 Y

Y ,2279 ,4310 ,4773 ,3057 1,0000

R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S - S C A L E (S P L I T)

N of Cases = 82,0

Reliability Coefficients 14 items

Correlation between forms = ,7683 Equal-length Spearman-Brown = ,8690

Guttman Split-half = ,7929 Unequal-length Spearman-Brown = ,8694

Alpha for part 1 = ,6077 Alpha for part 2 = ,4356

7 items in part 1 7 items in part 2

Frequencies

Frequency Table
Crosstabs

Disiplin Kerja * Efektivitas Pelayanan


Iklim Kerja * Efektivitas Pelayanan
Partial Corr

- - - PARTIAL CORRELATION COEFFICIENTS - - -


Controlling for.. X2

X1 Y

X1 1,0000 ,5724
( 0) ( 79)
P= , P= ,000

Y ,5724 1,0000
( 79) ( 0)
P= ,000 P= ,

(Coefficient / (D.F.) / 2-tailed Significance)

" , " is printed if a coefficient cannot be computed

Controlling for.. X1

X2 Y

X2 1,0000 ,3549
( 0) ( 79)
P= , P= ,001

Y ,3549 1,0000
( 79) ( 0)
P= ,001 P= ,

(Coefficient / (D.F.) / 2-tailed Significance)

" , " is printed if a coefficient cannot be computed

Hasil Pengujian Konkordansi Kendall (W)

NPar Tests

Kendall's W Test
PLUM - Ordinal Regression
Home Gallery Biografy Story Blue Words Friends Islamic Tips

Chat with your friends


Get a free website at Webs.com

Anda mungkin juga menyukai