Anda di halaman 1dari 16

PEMERIKSAAN PADA SISTEM

PERNAFASAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perawat yang memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan


pernapasan melakukan dan menginterpretasi berbagai prosedur .

Dalam menelaah status pernapasan klien, perlu dilakakukan wawancara ,


pemeriksaan fisik dan tindakan kolaboratif dalam pemeriksaan penunjang untuk
memaksimalkan data yang dikumpulkan tanpa harus menambah distres
pernapasan klien. Setelah pemeriksaan yang sesuai dengan tingkat distres
pernapasan yang dialami klien.

Karena tubuh bergantung pada sistem pernapasan untuk dapat hidup,


pemeriksaan pernapasan mengandung aspek penting dalam mengevaluasi
kesehatan klien. Sisten pernapasan terutama berfungsi untuk mempertahankan
pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam paru-paru dan jaringan serta
untuk mengatur keseimbangan asam-basa Setiap perubahan dalam sistem ini
akan mempengaruhi sistem tubuh lainnya. Pada penyakit pernapasan kronis,
perubahan status pulmonal terjadi secara lambat, sehingga memungkinkan
tubuh klien untuk beradaptasi terhadap hipoksia. Namun demikian, pada
perubahan pernapasan akut seperti pneumotoraks atau pneumonia aspirasi,
hipoksia terjadi secara mendadak dan tubuh tidak mempunyai waktu untuk
beradaptasi, sehingga dapat menyebabkan kematian.

B. Tujuan

ü Mengetahui tindakan keperawatan yang harus dilakukan saat melakukan


pemeriksaan fisik .

ü Mengetahui apa-apa saja yang harus diperiksa pada organ pernafasan anak
yang menderita gangguan pernafasan.
ü Mengetahui perkembangan system pernafasan pada anak.

C. Manfaat

ü Memberikan pengetahuan terhadap perawat mengenai system pernafasan


pada anak

ü Membantu perawat dalam melakukan pemeriksaan fisik system pernafasan


pada anak.

ü Memudahkan perawat dalam menangani klien dengan gangguan system


pernafasan.

Pemeriksaan fisik dilakukan setelah pengumpulan riwayat kesehatan. Gunakan teknik


inspeksi, palpasi, dan auskultasi. Keberhasilan pemeriksaan mengharuskan Anda untuk
menguasai landmarks anatomi toraks posterior, lateral, dan anterior. Gunakan landmarks ini
untuk menemukan letak dan mengetahui struktur organ di bawahnya, terutama lobus paru,
jantung, dan pembuluh darah besar. Bandingkan sisi yang satu dengan sisi lainnya.
Bandingkan temuan pada satu sisi toraks dengan sisi toraks sebelahnya. Palpasi, perkusi, dan
auskultasi dilakukan dari depan ke belakang atau dari satu sisi toraks ke sisi lainnya sehingga
Anda dapat secara kontinu mengevaluasi temuan dengan menggunakan sisi sebelahnya
sebagai standar perbandingan.
Kondisi dan warna kulit klien diperhatikan selama pemeriksaan toraks (pucat, biru,
kemerahan). Kaji tingkat kesadaran klien dan orientasikan selama pemeriksaan untuk
menentukan kecukupan pertukaran gas.

INSPEKSI
Pengkajian fisik sebenarnya dimulai sejak pengumpulan riwayat kesehatan saat Anda
mengamati klien dan respons klien terhadap pertanyaan. Perhatikan manifestasi distres
pernapasan saat ini: posisi yang nyaman, takipnea, mengap-mengap, sianosis, mulut terbuka,
cuping hidung mengembang, dispnea, warna kulit wajah dan bibir, dan penggunaan otot-otot
asesori pernapasan. Perhatikan rasio inspirasi-ke-ekspirasi, karena lamanya ekspirasi normal
dua kali dari lamanya inspirasi normal, maka rasio normal ekspirasi – inspirasi 2 : 1. Amati
pola bicara. Berapa banyak kata atau kalimat yang dapat diucapkan sebelum mengambil
napas berikutnya? Klien yang sesak napas mungkin hanya mampu mengucapkan tiga atau
empat kata sebelum mengambil napas berikutnya.
Kunci dari setiap teknik pengkajian adalah untuk mengembangkan pendekatan yang
sistematik. Logisnya, paling mudah jika dimulai dari kepala lalu terus ke tubuh bagian
bawah. Inspeksi dimulai dengan pengamatan kepala dan area leher untuk mengetahui setiap
kelainan utama yang dapat mengganggu pernapasan. Perhatikan bau napas dan apakah ada
sputum. Perhatikan pengembangan cuping hidung, napas bibir dimonyong-kan, atau sianosis
membran mukosa. Catat adanya penggunaan otot aksesori pernapasan, seperti fleksi otot
sternokleidomastoid.
Amati penampilan umum klien, frekuensi serta pola pernapasan, dan konfigurasi toraks.
Luangkan waktu yang cukup untuk mengamati pasien secara menyuluruh sebelum beralih
pada pemeriksaan lainnya. Dengan mengamati penampilan umum, frekuensi dan pola
pernapasan, adanya dan karakter batuk, dan pernbentukan sputum, perawat dapat menentukan
komponen pemeriksaan pulmonal mana yang sesuai untuk mengkaji status pernapasan pasien
saat ini. Tabel 2-2 menyajikan temuan yang lazim pada pemeriksaan inspeksi pulmonal.

PALPASI

Palpasi dilakukan dengan menggunakan tangan untuk meraba struktur di atas atau di bawah
permukaan tubuh. Dada dipalpasi untuk mengevaluasi kulit dan dinding dada. Palpasi dada
dan medula spinalis adalah teknik skrining umum untuk mengidentifikasi adanya
abnormalitas seperti inflamasi.
Perlahan letakan ibu jari tangan yang akan mempalpasi pada satu sisi trakhea dan jari-jari
lainnya pada sisi sebelahnya. Gerakan trakhea dengan lembut dari satu sisi ke sisi lainnya
sepanjang trakhea sambil mempalpasi terhadap adanya massa krepitus, atau deviasi dari garis
tengah. Trakhea biasanya agak mudah digerakkan dan dengan cepat kembali ke posisi garis
tengah setelah digeser. Masa dada, goiter, atau cedera dada akut dapat mengubah letak
trakhea.
Palpasi dinding dada menggunakan bagian tumit atau ulnar tangan Anda. Abnor¬malitas
yang ditemukan saat inspeksi lebih lanjut diselidiki selama pemeriksaan palpasi. Palpasi
dibarengi dengan inspeksi terutama efektif dalam mengkaji apakah gerakan, atau ekskursi
toraks selama inspirasi dan ekspirasi, amplitudonya simetris atau sama. Selama palpasi kaji
adanya krepitus (udara dalam jaringan subkutan); defek atau nyeri tekan dinding dada; tonus
otot; edema; dan fremitus taktil, atau vibrasi gerakan udara melalui dinding dada ketika klien
sedang bicara.
Untuk mengevaluasi ekskursi toraks, klien diminta untuk duduk tegak, dan tangan pemeriksa
diletakkan pada dinding dada posterior klien (bagian punggung). Ibu jari tangan pemeriksa
saling berhadapan satu sama lain pada kedua sisi tulang belakang, dan jari-jari lainnya
menghadap ke atas membentuk posisi seperti kupu-kupu. Saat klien menghirup napas tangan
pemeriksa harus bergerak ke atas dan keluar secara simetri. Adanya gerakan asimetri dapat
menunjukkan proses penyakit pada region tersebut.
Palpasi dinding dada posterior saat klien mengucapkan kata-kata yang menghasilkan vibrasi
yang relatif keras (mis. tujuh-tujuh). Vibrasi ditransmisikan dari laring melalui jalan napas
dan dapat dipalpasi pada dinding dada. Intensitas vibrasi pada kedua sisi dibandingkan
terhadap simetrisnya. Vibrasi terkuat teraba di atas area yang terdapat konsolidasi paru (mis.
pneumonia). Penurunan fremitus taktil biasanya berkaitan dengan abnormalitas yang
menggerakkan paru lebih jauh dari dinding dada, seperti efusi pleural dan pneumotoraks
Table 2-3. Temuan pada Pemeriksaan Palpasi Paru

PERKUSI

Perkusi adalah teknik pengkajian yang menghasilkan bunyi dengan mengetuk dinding dada
dengan tangan. Pengetukan dinding dada antara iga menghasilkan berbagai bunyi yang
digambarkan sesuai dengan sifat akustiknya-resonan, hiperesonan, pekak, datar, atau
timpanik. Bunyi resonan terdengar di atas jaringan paru normal. Bunyi hiperesonan terdengar
pada adanya peningkatan udara dalam paru-paru atau spasium pleural. Bunyi akan ditemukan
pada klien dengan emfisema dan pneumotoraks. Bunyi pekak terjadi di atas jaringan paru
yang padat, seperti pada tumor atau konsolidasi jaringan paru. Bunyi ini biasanya terdengar
di atas jantung dan hepar. Bunyi datar akan terdengar saat perkusi dilakukan pada jaringan
yang tidak mengandung udara. Bunyi timpani biasanya terdengar di atas lambung, usus besar.
Perkusi dimulai pada apeks dan diteruskan sampai ke dasar, beralih dari area posterior ke
area lateral dan kemudian ke area anterior. Dada posterior paling baik diperkusi dengan posisi
klien berdiri tegak dan tangan disilangkan di depan dada untuk memisahkan skapula.
Perkusi juga dilakukan untuk mengkaji ekskursi diafragma. Minta klien untuk menghirup
napas dalam dan menahannya ketika Anda memperkusi ke arah bawah bidang paru posterior
dan dengarkan bunyi perkusi yang berubah dari bunyi resonan ke pekak. Tandai area ini
dengan pena. Proses ini diulang setelah klien menghembuskan napas, tandai lagi area ini.
Kaji kedua sisi kanan dan kiri. Jarak antara dua tanda seharusnya 3 sampai 6 cm, jarak lebih
pendek ditemukan pada wanita dan lebih panjang pada pria. Tanda pada sebelah kiri akan
sedikit lebih tinggi karena adanya hepar. Klien dengan kenaikan diafragma yang
berhubungan dengan proses patologis akan mempunyai Penurunan ekskursi diafragma. Jika
klien mempunyai penyakit pada lobus bawah (mis. konsolidasi atau cairan pleural), akan
terdengar bunyi perkusi pekak. Bila ditemukan abnormalitas lain, pemeriksaan diagnostik
lain harus dilakukan untuk mengkaji masalah secara menyeluruh. Tabel 2-4 menyajikan
temuan normal dan abnormal saat dilakukan perkusi.
Table 2-4. Temuan pada Pemeriksaan Perkusi Paru

AUSKULTASI
Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dengan menggunakan stetoskop. Dengan
mendengarkan paru-paru ketika klien bernapas melalui mulut, pemeriksa mampu mengkaji
karakter bunyi napas, adanya bunyi napas tambahan, dan karakter suara yang diucapkan atau
dibisikan. Dengarkan semua area paru dan dengarkan pada keadaan tanpa pakaian; jangan
dengarkan bunyi paru dengan klien mengenakan pakaian, selimut, gaun, atau kaus. Karena
bunyi yang terdengar kemungkinan hanya bunyi gerakan pakaian di bawah stetoskop.
Status patensi jalan napas dan paru dapat dikaji dengan mengauskultasi napas dan bunyi
suara yang ditransmisikan melalui dinding dada. Untuk dapat mendengarkan bunyi napas di
seluruh bidang paru, perawat harus meminta klien untuk bernapas lambat, sedang sampai
napas dalam melalui mulut. Bunyi napas dikaji selama inspirasi dan ekspirasi. Lama masa
inspirasi dan ekspirasi, intensitas dan puncak bunyi napas juga dikaji. Umumnya bunyi napas
tidak terdengar pada lobus kiri atas, intensitas dan karakter bunyi napas harus mendekati
simetris bila dibandingkan pada kedua paru. Bunyi napas normal disebut sebagai vesikular,
bronkhial, dan bronkhovesikular.
Perubahan dalam bunyi napas yang mungkin menandakan keadaan patologi termasuk
penurunan atau tidak terdengar bunyi napas, peningkatan bunyi napas, dan bunyi napas saling
mendahului atau yang dikenal dengan bunyi adventiosa. Peningkatan bunyi napas akan
terdengar bila kondisi seperti atelektasis dan pneumonia meningkatkan densitas (ketebalan)
jaringan paru. Penurunan atau tidak terdengarnya bunyi napas terjadi bila transmisi
gelombang bunyi yang melewati jaringan paru atau dinding dada berkurang.

Pemeriksaan diagnostik membantu dalam pengkajian klien dengan gangguan pernapasan.


Penting untuk mengklarifikasi kapan pemeriksaan diagnostik diperlukan dan untuk tujuan
apa, sehingga tindakan yang dilakukan pada pasien akan lebih terarah dan lebih berguna,
serta tidak merugikan karena harus mengeluarkan biaya untuk hal-hal yang sebenarnya dapat
dihindari.

Pemeriksaan kultur dan biopsi adalah prosedur yang paling sering digunakan dalam
menegakkan diagnosis gangguan saluran pernapasan atas. Namun demikian, bisa saja
dibutuhkan pemeriksaan diagnostik yang lebih ekstensif, jika memang kondisinya
mengharuskan.

Kultur. Kultur tenggorok dapat dilakukan untuk mengidentifikasi organisme yang


menyebabkan faringitis. Selain itu kultur tenggorok juga dapat membantu dalam
mengidentifikasi organisme yang menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan bawah.
Dapat juga dilakukan apusan hidung untuk tujuan yang sama.

Biopsi. Prosedur biopsi mencakup tindakan mengeksisi sejumlah kecil jaringan tubuh.
Dilakukan untuk memungkinkan pemeriksaan sel-sel dari faring, laring, dan rongga hidung.
Dalam tindakan ini pasien mungkin saja mendapat anestesi lokal, topikal atau umum
bergantung pada tempat prosedur dilakukan.

Pemeriksaan pencitraan termasuk didalamnya pemeriksaan sinar-X jaringan lunak, CTscan,


pemeriksaan dengan zat kontras, dan MRI (pencitraan resonansi magnetik). Pemeriksaan
tersebut mungkin dilakukan sebagai bagian integral dari pemeriksaan diagnostik untuk
menentukan keluasan infeksi pada sinusitis atau pertumbuhan tumor dalam kasus tumor.

Pemeriksaan diagnostik pada saluran pernapasan bawah sedikit lebih banyak dan lebih rumit
dibandingkan pemeriksaan diagnostik saluran pernapasan atas. Namun demikian bukan
berarti bahwa pemeriksaan tersebut tidak saling berkaitan. Untuk pemeriksaan diagnostik
saluran pernapasan bawah akan dijelaskan dalam suatu kerangka kerja yang sistematis
sehingga lebih memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang akan dilakukan dan
gambaran hasil yang didapatkan, didalamnya mencakup pengkajian diagnostik status
fungsional, anatomi, dan spesimen.

Pemeriksaan untuk Mengevaluasi Struktur Anatomi

PEMERIKSAAN RADIOLOGI TORAKS DAN PARU-PARU

Klien pada umumnya sudah terbiasa dengan pemeriksaan radiologi rutin. Namun belakangan
ini, terdapat suatu peningkatan kesadaran tentang pemajanan berlebihan terhadap radiasi.
Hendaknya klien diberikan penjelasan yang lengkap tentang tipe pemeriksaan yang akan
dilakukan dan manfaatnya dalam hubungannya dengan risiko akibat pemajanan terhadap
radiasi. Pemeriksaan radiologi memberikan informasi mengenai (1) status sangkar iga,
termasuk tulang rusuk, pleura, dan kontur diafragma dan jalan napas atas; (2) ukuran, kontur,
dan posisi mediastinum dan hilus paru, termasuk jantung, aorta, nodus limfe, dan
percabangan bronkhial; (3) tekstur dan tingkat penyebaran udara dari parenkim paru; dan (4)
ukuran, bentuk, jumlah, dan lokasi lesi pulmonal, termasuk kavitasi, area fibrosis, dan daerah
konsolidasi.

Pemeriksaan ronsen atau radiologi dada diindikasikan untuk (1) mendeteksi perubahan paru
yang disebabkan oleh proses patologis, seperti tumor, inflamasi, fraktur, akumulasi cairan
atau udara, (2) menentukan terapi yang sesuai, (3) mengevaluasi kesangkilan pengobatan, (4)
menetapkan posisi selang dan kateter, dan (5) memberikan gambaran tentang suatu proses
progresif dari penyakit paru.

Pemeriksaan ronsen dada sebaiknya dilakukan di bagian radiologi. Pemeriksaan sinar-X


standar lebih dipilih dengan posisi berdiri, meskipun posisi duduk atau berbaring dapat
dilakukan. Pemajanan standar untuk pemeriksaan ini adalah (1) posterio-anterior (PA)-sinar-
X menjalar melalui punggung ke bagian depan tubuh, dan (2) lateral-sinar-X menembus
bagian samping tubuh (biasanya sebelah kiri).

Selain pemeriksaan standar mungkin diperlukan juga pemajanan spesifik untuk melihat
bagian-bagian spesifik dada. Pemajanan tersebut termasuk (1) oblique-film sinar-X diarahkan
miring dengan sudut spesifik, (2) lordotis-film sinar-X dimiringkan dengan sudut 45 derajat
dari bawah untuk melihat kedua apeks paru, dan (3) dekubitus- film sinar-X diambil dengan
posisi pasien berbaring miring (kiri atau kanan) untuk memperlihatkan cairan bebas dalam
dada.

Prosedur

Pemeriksaan ronsen dada dilakukan dengan posisi berdiri atau duduk tegak menghadap film
sinar-X. Hantaran gelobang sinar-X ditembuskan dari arah posterior (posisi PA). Radiograf
biasanya diambil saat inspirasi penuh, yang menyebabkan diafragma bergerak ke arah bawah.
Radiograf yang diambil saat ekspirasi kadang dilakukan untuk mengetahui tingkat gerakan
diafragma atau untuk membantu dalam pengkajian dan diagnosa pneumotoraks.

Perawatan praprosedur

Jelaskan klien tentang pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini tidak menimbulkan nyeri dan
pemajanan pada radiasi adalah minimal. Klien harus melepaskan semua perhiasan dan
pakaian dalamnya lalu mengenakan gaun. Kaji status kehamilan klien (untuk klien wanita);
wanita hamil seharusnya tidak boleh terpajan pada radiasi.

PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI

Dalam pemeriksaan ini terjadi emisi dan penetrasi gelombang suara berfrekuensi tinggi.
Pemeriksaan ini relatif tidak membahayakan. Gelombang suara dipantulkan kembali dan
diubah oleh suatu transduser untuk menghasilkan image piktorial dari area yang sedang
diperiksa. Ultrasonografi toraks dapat memberikan informasi tentang efusi pleural atau
opasitas dalam paru.

COMPUTED TOMOGRAPH (CT)

CT digunakan untuk mengidentifikasi massa dan perpidahan struktur yang»disebabkan oleh


neoplasma, kista, lesi inflamasi fokal, dan abses. CTscan dapat dilakukan dengan cepat-
dalam 20 menit, tidak termasuk proses analisis.
Sebelum pemeriksaan, pastikan izin tindakan telah didapatkan dari klien, jawab setiap
pertanyaan klien dan keluarga tentang CTscan. Klien dipuasakan, dan jelaskan bahwa
pemeriksaan ini sering membutuhkan media kontras. Karena media kontras biasanya
mengandung yodium (Juga disebut zat warna), tanyakan klien apakah ia mempunyai alergi
terhadap yodium, zat warna, atau kerang. Ingatkan agar klien tidak bergerak selama prosedur,
namun ia dapat bercakap-cakap dengan teknisinya.

PEMERIKSAAN FLUOROSKOPI

Pemeriksaan ini dilakukan jika dibutuhkan informasi tentang dinamika dada seperti gerakan
diafragmatik, ekspansi dan ventilasi paru, atau kerja jantung. Pemeriksaan ini memungkinkan
untuk mengamati dada dan struktur intratoraks ketika mereka berfungsi secara dinamis.
Flouroskopi tidak digunakan secara rutin, namun hanya pada keadaan dimana dibutuhkan
pengamatan toraks kontinu. Penggunaan lain fluoroskopi termasuk untuk (1) mengamati
diafragma saat inspirasi dan ekspirasi, (2) mendeteksi gerakan mediastinal selama napas
dalam, (3) mengkaji jantung, pembuluh darah dan struktur yang berkaitan, (4)
mengidentifikasi abnormalitas esofagus, dan (5) mendeteksi massa mediastinal.

Jelaskan pada klien tujuan pemeriksaan ini. Tempatkan klien dalam ruangan yang tenang dan
bercahaya redup. Kadang media radioopaque (yang tidak mengandung yodium) diberikan
secara intravena untuk membedakan struktur yang sedang dikaji. Klien harus melepaskan
semua perhiasan dan pakaian dalamnya dan mengenakan gaun. Pemeriksaan ini
membutuhkan waktu 30 sampai 45 menit. Pemajanan terhadap radiasi minimal.

PEMERIKSAAN ANGIOGRAFI PULMONAL

Pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi embolisme pulmonal dan berbagai lesi
kongenital dan didapat pada pembuluh pulmonal. Sebelumnya pasien mendapat suntikan
bahan radioopaque melalui kateter ke dalam vena sistemik, bilik kanan jantung, arteri
pulmonal, dan distribusi dari bahan ini terekam pada film yang dihasilkan. Angiografi
pulmonal mungkin dilakukan untuk mendeteksi (1) abnormalitas kongenital percabangan
vaskular pulmonal, (2) abnormalitas sirkulasi vena pulmonal, (3) penyakit sirkulasi vena dan
arteri pulmonal didapat, (4) efek destruktif dari emfisema, (5) keuntungan potensial reseksi
untuk karsinoma bronkhogenik, (6) lesi pulmonal perifer, dan (7) luasnya tromboembolisme
dalam paru-paru.

Prosedur

Media kontras disuntikkan ke dalam sistem vaskular melalui kateter indwelling. Selama
angiografi pulmonal, kateter dimasukkan baik melalui perifer atau langsung ke dalam arteri
pulmonalis besar atau salah satu cabangnya.

Perawatan praprosedur

Jelaskan klien tentang prosedur ini, dan mengapa harus ada izin tertulis dari klien.
Pemeriksaan ini sedikit menimbulkan nyeri danpemajanan terhadap radiasi minimal. Klien
akan agak merasa tidak nyaman ketika kateter dimasukkan dengan menusukkan jarum. Klien
harus melepaskan semua perhiasan dan pakaian dalam serta mengenakan gown. Kaji status
kehamilan klien; klien hamil tidak boleh terpajan pada radiasi.

Perawatan pascaprosedur

Seperti hanya pada semua prosedur yang memerlukan pemasangan kateter ke dalam
vaskulatur sentral atau perifer, penting untuk mengamati tempat penusukan terhadap infeksi,
pembentukan hematoma, atau reaksi setempat terhadap media kontras. Lanjutkan mengamati
tanda reaksi merugikan dari media kontras (mis. peningkatan distres pernapasan, hipotensi,
stridor, dan indikasi anafilaktik lain).

PEMERIKSAAN ENDOSKOPI

Laringoskopi langsung biasanya dilakukan setelah klien mendapat anestesi lokal dengan
kokain 10% atau anestesi umum. Satu jam sebelum pemeriksaan klien diberikan sedatif (mis.
sekobarbital, meperidin, atau narkotik lainnya) dan atropin sulfat. Pemberian atropin penting
sebelum pemberian anestesi lokal maupum umum. Untuk laringoskopi langsung, klien
dibaringkan dengan posisi kepala di atas alat penyangga kepala. Laringoskopi mikro yang
menggunakan pengoperasian mikroskop sekarang ini makin banyak digunakan. Metode ini
memberikan visualisasi binokular lebih baik.

Laringoskop adalah tube berlubang yang terbuat dari logam dan dilengkapi dengan pemegang
pada ujung proksimal dan mempunyai sumber cahaya pada ujung distalnya, alat ini
dimasukkan oleh dokter melalui mulut ke dalam laringofaring, menaikkan epiglotis, dan
membuat bagian interior faring mudah diamati. Prosedur bedah minor seperti biopsi atau
pengangkatan tumor jinak yang kecil dapat dilakukan dengan instrumenini.

Penatalaksanaan keperawatan setelah tindakan laringoskopi termasuk (1) pasien dalam status
puasa sampai refleks muntah pulih (sekitar 2 jam), (2) periksa refleks muntah dengan
menyentuh bagian belakang lidah secara perlahan menggunakan bilah lidah, dan (3) jika
refleks muntah positif, beri klien sedikit air sebelum diberikan cairan atau makanan lain
untuk mencegah aspirasi yang tidak diinginkan.

PEMERIKSAAN BRONKOSKOPI

Pemeriksaan bronkhoskopi dilakukan dengan memasukkan bronkhoskop ke dalam trakhea


dan bronkhi. Dengan menggunakan bronkoskop yang kaku atau lentur, laring, trakhea, dan
bronkhi dapat diamati. Pemeriksaan diagnostik bronkoskopi termasuk pengamatan cabang
trakheobronkhial, terhadap abnormalitas, biopsi jaringan, dan aspirasi sputum untuk bahan
pemeriksaan. Bronkhoskopi digunakan untuk membantu dalam mendiagnosis kanker paru.

Bronkhoskopi mungkin dilakukan untuk tujuan diagnostik atau tujuan terapeutik. Tujuan
diagnostik mencakup pemeriksaan jaringan, evaluasi lanjut tumor untuk memungkinkan
bedah reseksi, pengumpulan spesimen jaringan untuk keperluan diagnosa, dan evaluasi
tempat perdarahan. Sementara bronkhoskopi terapeutik dilakukan untuk tujuan mengangkat
benda asing, mengangkat sekresi yang kental dan banyak, pengobatan atelektasis
pascaoperatif, dan menghancurkan dan mengangkat lesi.

Perawatan praprosedur

Jelaskan prosedur pada klien dan keluarga dan dapatkan izin tindakan dari klien. Instruksikan
klien untuk tidak makan dan minum 6 jam sebelum pemeriksaan. Informasikan pada klien
bahwa tenggoroknya mungkin akan sakit setelah bronkhoskopi, dan mungkin terjadi
kesulitan menelan pada awal setelah pemeriksaan. Klien diberikan anestesi lokal dan sedasi
intravena untuk menekan refleks batuk, dan menghilangkan ansietas. Pemeriksaan
membutuhkan waktu 30 sampai 45 menit. Selama prosedur klien berbaring terletang dengan
kepala hiperekstensi. Perawat memantau tanda vital, berbicara pada atau menenangkan klien,
dan membantu dokter sesuai kebutuhan.

Perawatan pascaprosedur

Setelah prosedur, tanda vital dipantau per protokol institusi. Amati klien terhadap tanda
distres pernapasan, termasuk dispnea, perubahan frekuensi pernapasan, peng-gunaan otot
aksesori pernapasan, dan perubahan bunyi napas. Tidak ada pemberian apapun melalui mulut
sampai refleks batuk dan menelan kembali pulih, yang biasanya sekitar 1 sampai 2 jam
setelah prosedur. Bila klien sudah dapat menelan, berikan sehirup air. Bunyi napas dipantau
selama 24 jam. Adanya bunyi napas tambahan atau asimetris harus dilaporkan pada dokter.
Dapat terjadi pneumotoraks setelah bron¬khoskopi.

Pemeriksaan untuk Mengevaluasi Fungsi Pernapasan

Pemeriksaan diagnostik yang mengevaluasi status fungsi sistem pernapasan antara lain
termasuk uji fungsi pulmonal, oksimetri nadi, dan analisis gas darah arteri.

UJI FUNGSI PULMONAL

Pemeriksaan fungsi pulmonal memberikan informasi tentang manifestasi klien dengan


mengukur volume paru, mekanisme paru, dan kemampuan difusi paru. Pemeriksaan ini
merupakan metoda nonivasif dan tidak dapat berdiri sendiri untuk mendiagnosa penyakit
spesifik namun merupakan bagian integral dari proses pemeriksaan diagnostik. Uji fungsi
pulmonal (UFP) digunakan untuk (1) skrining penyakit pulmonal, (2) evaluasi preoperatif,
(3) mengevaluasi kondisi untuk melakukan penyapihan dari ventilator, (4) pemeriksaan
fisiologi pulmonal, (5) mendokumentasikan kemajuan penyakit pulmonal atau efek terapi, (6)
meneliti efek latihan pada fisiologi pernapasan.

Kemampuan fungsi paru-paru dikaji dengan mengukur properti yang mempengaruhi ventilasi
(statis dan dinamis) dan respirasi (difusi dan perfusi). Penilaian fungsi pulmonal dilakukan
dengan mempertimbangkan variabel-variabel dari setiap individu yang dievaluasi termasuk:
usia, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan, serta upaya individu dalam melakukan
setiap pemeriksaan.
PEMERIKSAAN OKSIMETRI NADI

Oksimetri nadi adalah metoda noninvasif pemantauan kontinu saturasi oksigen-hemoglobin


(SaO2). Meskipun pemeriksaan ini tidak dapat menggantikan pemeriksaan analisis gas darah,
namun pemeriksaan ini sangat efektif untuk memantau pasien terhadap perubahan mendadak
atau perubahan kecil saturasi oksigen. Oksimetri nadi digunakan dalam berbagai lingkup
perawatan, termasuk unit perawatan kritis, unit perawatan umum, dan lingkungan diagnostik
dan tindakan di mana dibutuhkan pemantauan saturasi oksigen selama prosedur.

Pemeriksaan oksimetri nadi menggunakan alat sensor (probe) yang dilekatkan pada ujung
jari, dahi, daun telinga atau tulang hidung. Sensor mendeteksi perubahan kadar saturasi
oksigen dengan memantau sinyal cahaya yang dibangkitkan oleh oksimeter dan direfleksikan
oleh denyutan aliran darah melalui jaringan pada probe. Nilai normal SaO2 adalah 95 %
sampai 100 %. Nilai di bawah 85 % menandakan bahwa jaringan tidak mendapat cukup
oksigen dan pasien membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Nilai SaO2 yang didapat dengan
oksimetri nadi tidak dapat diandalkan dalam kondisi seperti henti jantung, syok, penggunaan
obat-obat vasokontriktor, pemberian zat warna per IV (seperti metilen biru), anemia berat,
dan kadar CO2 tinggi. Diperlukan pemeriksaan lain seperti kadar hemoglobin, gas darah
arteri, dan pemeriksaan laboratorium lainnya untuk memvalidasi nilai oksimetri nadi dalam
kondisi tersebut.

KETERAMPILAN 2-1. MENGKAJI STATUS OKSIGENASI DENGAN OKSIMETRI


NADI

Oksimetri nadi adalah metoda noninvasif yang digunakan untuk memeriksa saturasi oksigen
darah arteri klien (SaO2) klien dengan menggunakan sensor oksimetri nadi. Alat ini
mempunyai dua bagian. Pada salah satu sisi sensor terdapat dua buah diode (LED) yang
memancarkan cahaya (merah dan infra merah). Pada sisi lain dari sensor terdapat detektor
cahaya yang disebut foto detektor. LED menghantarkan cahaya menembus jaringan dan
pembuluh darah dan foto detektor menerima cahaya dan mengukur jumlah cahaya yang
terserap oleh hemoglobin yang teroksigenasi dan takteroksigenasi. Hemoglobin teroksigenasi
cenderung untuk menyerap lebih banyak cahaya inframerah dan hemoglobin takteroksigenasi
menyerap lebih banyak cahaya merah. Melalui proses yang disebut spektrofotometri, Sa02
ditetapkan dengan dasar jumlah setiap tipe cahaya yang diterima oleh fotodetektor.

Terdapat beberapa tipe sensor yang berbeda yang diantaranya dirancang untuk digunakan
pada jari, ibu jari kaki, hidung, telinga nadi, atau sekeliling tangan atau kaki bayi. Anda harus
memilih sensor yang tepat untuk pengukuran tempat yang telah Anda rencanakan atau pilih.

Sebelum menggunakan oksimetri nadi untuk mengkaji status oksigenasi klien, pertama-tama
kaji terlebih dahulu kadar hemoglobin klien. Karena oksimetri nadi mengukur persen dari
SaO2, hasilnya dapat tampak normal ketika hemoglobin rendah karena semua hemoglobin
yang ada untuk mengangkut O2 tersaturasi seluruhnya.

Respons yang diharapkan: saturasi O2 klien 96% sampai 100%, dan klien mampu untuk
mentoleransi prosedur.
Respons yang merugikan: saturasi oksigen klien rendah (kurang dari 70% adalah kondisi
yang membahayakan jiwa), timbul tekanan pada jaringan tempat terpasangnya sensor, dan
terjadi iritasi kulit pada letak adesif sensor.

Alat yang dibutuhkan: oksimetri nadi dengan sensor yang dipilih, kapas alkohol, perlak atau
handuk.

KAPNOGRAFI

Kapnografi termasuk prosedur noninvasif lain yang mengukur konsentrasi karbon dioksida
ekshalasi untuk klien dengan ventilasi mekanik. Jumlah karbon dioksida yang didapatkan
dalam udara ekshalasi (end-tidal karbon dioksida; ETCO2) sangat berhubungan dengan
tekanan parsial karbon dioksida arteri (PaCO2) pada klien dengan fungsi pernapasan,
kardiovaskular, dan metabolik yang normal. Gradien normal PaCO2-ETCO2 sekitar 5 mm
Hg. Dengan peningkatan PaCO2 pada hipovolemia, atau penurunan pada hipervolemia,
perubahan yang berkaitan akan terlihat pada ETCO2. Kapnografi membutuhkan sampel
kontinu udara ekshalasi.

Jelaskan pada klien tujuan pemeriksaan. Klien yang menjalani kapnografi akan terpasang
selang endotrakheal atau trakheostomi untuk ventilasi mekanik atau penatalaksanaan jalan
napas. Sensor akan ditempelkan pada selang tersebut untuk mengukur ETCO2.

Arteri ulnaris

PEMERIKSAAN GAS DARAH ARTERI

Analisis gas darah arteri memberikan determinasi objektif tentang oksigenasi darah arteri,
pertukaran gas, ventilasi alveolar, dan keseimbangan asam-basa (Tabel 2-5). Dalam
pemeriksaan ini, dibutuhkan sampel darah arteri yang diambil dari arteri femoralis, radialis,
atau brakhialis dengan menggunakan spuit yang telah diberi heparin untuk mencegah
pembekuan darah. Pertama lakukan tes Allen’s, yaitu pengkajian cepat sirkulasi kolateral
pada tangan. Tes ini penting sebelum melakukan pungsi arteri radialis. Sumbat kedua arteri
radialis dan ulnaris dengan jari tangan Anda. Minta klien untuk mengepalkan tangannya. Jika
klien membuka kepalan tangannya saat kedua arteri masih tersumbat, tangan klien akan
pucat. Jika Anda melepaskan sumbatan dari salah satu arteri, tangan klien seharusnya
berwarna pink karena adanya sirkulasi kolateral. Kaji patensia kedua arteri dengan cara
seperti ini, secara bergantian. Jika sirkulasi kolateral adekuat, Anda dapat mengambil darah
dari arteri radialis ini. Spuit kemudian ditutup untuk mencegah kontak dengan udara dan
diletakkan dalam wadah termos berisi es sampai tiba waktu dianalisa. Berikan tekanan
selama sedikitnya 5 menit pada tempat penusukan setelah jarum dicabut untuk mencegah
perdarahan. Pasien dengan gangguan pembekuan darah memerlukan penekanan lebih lama.
Implikasi keperawatan termasuk mengkaji tempat penusukan secara periodik dan
memberikan tekanan selama yang diperlukan untuk mencegah pembentukan hematom atau
memar.

Table 2-5. Gas – gas darah arteri


tabel-5

Pemeriksaan Spesimen

PEMERIKSAAN SPUTUM

Pemeriksaan sputum biasanya diperlukan jika diduga adanya penyakit paru. Membran
mukosa saluran pernapasan berespons terhadap inflamasi dengan meningkatkan keluaran
sekresi yang sering mengandung organisme penyebab. Perhatikan dan catat volume,
konsistensi, warna dan bau sputum. Pemeriksaan sputum mencakup pemeriksaan :

1. Pewarnaan Gram, biasanya pemeriksaan ini memberikan cukup informasi tentang


organisme yang cukup untuk menegakan diagnosis presumtif.

2. Kultur sputum mengidentifikasi organisme spesifik untuk menegakkan diagnosa defmitif.


Untuk keperluan pemeriksaan ini, sputum harus dikumpulkan sebelum dilakukan terapi
antibiotik dan setelahnya untuk menentukan kemanjuran terapi.

3. Sensitivitas berfungsi sebagai pedoman terapi antibiotik dengan mengidentifikasi antibiotik


yang mencegah pertumbuhan organisme yang terdapat dalam sputum. Untuk pemeriksaan ini
sputum dikumpulkan sebelum pemberian antibiotik. Pemeriksaan kultur dan sensitivitas
biasanya diinstruksikan bersamaan.

4. Basil tahan asam (BTA) menentukan adanya mikobakterium tuberkulosis, yang setelah
dilakukan pewarnaan bakteri ini tidak mengalami perubahan warna oleh alkohol asam.

5. Sitologi membantu dalam mengidentifikasi karsinoma paru. Sputum mengandung runtuhan


sel dari percabangan trakheobronkhial; sehingga mungkin saja terdapat sel-sel malignan. Sel-
sel malignan menunjukkan adanya karsinoma, tidak terdapatnya sel ini bukan berarti tidak
adanya tumor atau tumor yang terdapat tidak meruntuhkan sel.

6. Tes kuantitatif adalah pengumpulan sputum selama 24 sampai 72jam.

Pengumpulan sputum

Sebaiknya klien diinformasikan tentang pemeriksaan ini sehingga akan dapat dikumpulkan
sputum yang benar-benar sesuai untuk pemeriksaan ini. Instruksikan pasien untuk
mengumpulkan hanya sputum yang berasal dari dalam paru-paru. (Karena sering kali jika
klien tidak dijelaskan demikian, klien akan mengumpulkan saliva dan bukan sputum).
Sputum yang timbul pagi hari biasanya adalah sputum yang paling banyak mengandung
organisme produktif. Biasanya dibutuhkan sekitar 4 ml sputum untuk suatu pemeriksaan
laboratorium. Implikasi keperawatan untuk pengumpulan sputum termasuk:

1. Klien yang kesulitan dalam pembentukan sputum atau mereka yang sangat banyak
membentuk sputum dapat mengalami dehidrasi, perbanyak asupan cairan klien.

2. Kumpulkan sputum sebelum makan dan hindari kemungkinan muntah karena batuk.

3. Instruksikan klien untuk berkumur dengan air sebelum mengumpulkan spesimen untuk
mengurangi kontaminasi sputum.

4. Instruksikan klien untuk mengingatkan dokter segera setelah spesimen terkumpul sehingga
spesimen tersebut dapat dikirim ke laboratorium secepatnya.

TORASENTESIS

Torasentesis adalah penusukan jarum ke dalam spasium pleural. Indikasi pemeriksaan


torasentesis termasuk:

1. Pengangkatan cairan pleural untuk tujuan diagnostik.

a. Pemeriksaan untuk mengetahui berat jenis, jumlah sel darah putih, bitung banding sel,
jumlah sel darah merah, dan kosentrasi protein, glukosa, dan amilase.

b. Pembuatan kultur dan pemeriksaan terhadap adanya bakteri dan sel-sel ab¬normal atau
malignan.

c. Penampilan umum cairan, kuantitas yang didapat, dan lokasi dari letak torasentesis harus
dipesankan.

2. Biopsi pleural.

3. Pembuangan cairan pleural jika cairan tersebut mengancam dan mengakibatkan


ketidaknyamanan klien.

4. Instilasi antibiotik atau obat lainnya ke dalam spasium pleural

Prosedur

Torasentesis adalah mengalirkan cairan atau udara yang ditemukan dalam rongga pleural.
Torasentesis terapeutik akan membuang cairan atau udara yang menum-puk dalam rongga
pleura yang dapat menyebabkan kompresi paru dan distres pernapasan. Cairan yang
dikumpulkan dikirim ke laboratorium dan diperiksa terhadap berat jenis, glukosa, protein,
pH, kultur, pemeriksaan sensitivitas, dan sitologi. Warna dan konsistensi cairan pleural juga
dicatat.
Perawatan praprosedur

Dapatkan izin tindakan dari klien dan jelaskan pada klien tentang prosedur dan tujuannya.
Posisi klien duduk tegak sambil condong ke depan di atas meja trei atau sandaran kursi.
Perhatikan posisi klien, dengan posisi ini cairan dalam pleura berkumpul pada dasar toraks.
Bila tidak, baringkan klien dalam posisi rekumben dengan lengan terletak di bawah
kepalanya. Penusukan jarum akan menimbulkan nyeri. Instruksikan klien untuk tidak
bergerak selama prosedur karena gerakan mendadak dapat mendorong jarum menebus rongga
pleura dan mencederai pleura viseralis atau parenkim paru. Pemeriksaan membutuhkan
waktu 5 sampai 15 menit. Selama prosedur bantu dokter; pantau tanda vital; dan amati
terhadap dispnea, keluhan kesulitan bernapas, mual, atau nyeri.

KETERAMPILAN 2-2. MEMBANTU DALAM TINDAKAN TORASENTESIS

Torasentesis adalah tindakan mengaspirasi cairan pleural atau udara, dilakukan untuk
menghilangkan tekanan, nyeri, atau dispnea.

Respons yang diantisipasi: klien dalam keadaaan nyaman selama prosedur dan tidak
mengalami dispnea, batuk, atau distres pernapasan.

Respons yang merugikan: klien mengalami distres pernapasan dan menunjukkan gejala
seperti peningkatan frekuensi pernapasan; batuk takterkontrol; mukus berbusa dan bersemu
darah; frekuensi jantung cepat; atau tanda-tanda hipoksia.

Peralatan yang dibutuhkan : trai torasentesis: jarum aspirasi No. 16; 8,75 cm, 1 ampul
lidokain 1 % (5 ml), jarum No. 21; 3,75 cm, jarum No. 25; 5/8 inci, spuit 5 ml, spuit 50 ml,
katup dua jalur, 3 buah tabung spesimen, kantung drainase, linen, plester adesif, aplikator
prep, spong, trai prep, sarung tangan steril.

Perawatan pascaprosedur

Setelah prosedur, klien biasanya dibaringkan pada sisi yang tidak sakit selama 1 jam untuk
memudahkan ekspansi paru. Kaji tanda vital sesuai ketentuan institusi. Frekuensi dan
karakter pernapasan dan bunyi napas harus dikaji dengan cermat. Takipnea, dispnea, sianosis,
retraksi, atau tidak terdengarnya bunyi napas yang dapat menandakan pneumotoraks harus
dilaporkan pada dokter.

Jumlah cairan yang dikeluarkan harus dicatat sebagai haluaran cairan. Pemeriksaan ronsen
dada mungkin dilakukan untuk mengevaluasi tingkat reekspansi paru dan pneumotoraks.
Emfisema subkutan dapat menyertai prosedur ini, karena udara dalam rongga pleura masuk
ke dalam jaringan subkutan. Jaringan ini teraba seperti kertas (krepitus) ketika dipalpasi.
Biasanya emfisema subkutan tidak menjadi masalah kecuali bila terjadi peningkatan dan
menghambat organ lain (mis. trakhea). Klien harus dijelas-kan ten tang kondisi ini.

PEMERIKSAAN BIOPSI
Spesimen untuk pemeriksaan biopsi dapat dikumpulkan dari berbagai jaringan sistem
pernapasan. Biopsi struktur trakheobronkhial dapat dilakukan selama bronkhoskopi. Biopsi
scalene dan nodus mediastinal dapat dilakukan (dengan anestesi lokal) untuk
mendapatkanjaringan guna pemeriksaan patologis, kultur, atau pengkajian sitologi.

Biopsi pleural

Biopsi pleural dapat dilakukan melalui insisi torakotomi kecil secara bedah atau selama
torasentesis, menggunakan jarum cope. Biopsi jarum adalah prosedur diagnostik yang relatif
aman dan sederhana yang sangat berguna untuk menentukan penyebab efusi pleural. Jarum
mengangkat fragmen kecil pleura parietalis, yang digunakan untuk pemeriksaan kultur dan
selular mikroskopis. Jika diperlukan pemeriksaan bakteriologi, spesimen biopsi harus
didapatkan sebelum dimulai kemoterapi.

Dapatkan izin tindakan dari klien dan jelaskan tujuan dan pentingnya pemeriksaan diagnostik
ini. Persiapan dan posisi klien untuk biopsi pleural serupa dengan persiapan dan posisi untuk
torasentesis. Pemeriksaan ini menimbulkan nyeri, dan klien harus diam takbergerak.
Pemeriksaan ini membutuhkan waktu 15 sampai 30 menit.

Komplikasi yang jarang terjadi termasuk nyeri sementara akibat cedera saraf interkosta,
pneumotoraks, dan hemotoraks. Setelah prosedur amati klien terhadap komplikasi (mis,
dispnea, pucat, diaforesis, nyeri hebat). Pneumotoraks yang berkaitan dengan biopsi jarum
dapat saja terjadi. Perawat harus menyediakan selang dada dan peralatan drainase dada.
Pemeriksaan ronsen biasanya dilakukan setelah prosedur ini. Terjadinya hemotoraks ditandai
dengan peningkatan cairan dalam rongga pleural dan membutuhan tindakan torasentesis
segera.

Seperti halnya dengan biopsi pleural, biopsi paru dapat dilakukan dengan pemajanan bedah
paru (biopsi paru terbuka) dengan atau tanpa endoskopi menggunakan jarum yang dirancang
untuk mengangkat jaringan paru. Jaringan kemudian diperiksa terhadap struktur selular
abnormal dan bakteri. Biopsi paru paling sering dilakukan untuk mengidentifikasi tumor
pulmonal atau perubfthan parenkim (mis. sarkoidosis).