Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirobil alamin, segala puji dan syukur, kita panjatkan atas


karunia Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita
semua. Karena berkat rahmat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan tugas
pembuatan makalah yang berjudul "Nasionalisme Indonesia"
Saya ucapkan terimakasih kepada Dosen Pembimbing mata kuliah
Wawasan kebangsaan, Bapak Drs. Waris Leluhur dan kepada pihak-pihak lain
yang telah membantu menyelesaikan tugas ini secara langsung atau tidak
langsung.
Saya selaku penulis makalah menyadari masih banyak terdapat kesalahan
dalam hal penulisan ataupun dalam hal ketatabahasaan. Oleh karena itu saya
selaku penyusun makalah mengharapkan kritik dan saranya yang bersifat
membangun, dan demi perbaikan tugas untuk yang akan datang. Terima kasih.

Penyusun,

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………


KATA PENGANTAR ………………………………………………………. 1
DAFTAR ISI ………………………………………………………………… 2
BAB I. PENDAHULUAN ………………………………………………..... 3
1.1 Latar Belakang …………………………………………………..... 3
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………........ 4
1.3 Tujuan Pebahasan …………………………………………………. 4
BAB II. KAJIAN PUSTAKA …………………………………………. 5
2.1 Pengertian Nasionalisme ………………………………………….. 5
2.2 Bentuk Nasionalisme ……………………………………………… 5
2.3 Nasionalisme Indonesia …………………………………………… 7
BAB III. PEMBAHASAN MASALAH ………………………………. 11
3.1 Nasionalisme Indonesia Era Reformasi kaitanya dengan Globalisasi. 11
3.2 Kasus-kasus yang berkaitan dengan Nasionalisme Indonesia …….. 12
BAB IV. PENUTUP ………………………………………………………… 17

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan
kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan
satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negara
atau gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warganegara,
etnis, budaya, keagamaan dan ideologi. Kategori tersebut lazimnya berkaitan dan
kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebahagian atau semua
elemen tersebut.
NASIONALISME merupakan suatu bentuk ideologi, demikian pendapat
James G. Kellas (1998: 4). Sebagai suatu ideologi, nasionalisme membangun
kesadaran rakyat sebagai suatu bangsa serta memberi seperangkat sikap dan
program tindakan. Tingkah laku seorang nasionalis didasarkan pada perasaan
menjadi bagian dari suatu komunitas bangsa.
Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul sebagai jawaban atas
kolonialisme. Pengalaman penderitaan bersama sebagai kaum terjajah melahirkan
semangat solidaritas sebagai satu komunitas yang mesti bangkit dan hidup
menjadi bangsa merdeka. Semangat tersebut oleh para pejuang kemerdekaan
dihidupi tidak hanya dalam batas waktu tertentu, tetapi terus-menerus hingga kini
dan masa mendatang.
Pada masa sekarang ini satu hal yang perlu dibenahi oleh bangsa Indonesia
adalah mentalitas warga masyarakatnya. Sikap mental yang kuat dan konsisten
serta mampu mengeksplorasi diri adalah salah satu bentuk konkrit yang
dibutuhkan bangsa Indonesia pada saat ini. Saat ini memang bangsa Indonesia
sedang mengalami massa-masa keterpurukanya dalam dunia intetrnasional. Krisis
multidimensi yang di barengi dengan krisis ekonomi yang berkepanjanganlah
yang menyebabkan kegoncangan dan keterpurukan mental Indonesia.

3
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang disebut nasionalisme?
2. Apakah arti nasionalisme bagi Indonesia?
3. Bagaimana bentuk nasionalisme Indonesia pada masa sekarang ini?
4. Apakah ada perbedaan bentuk nasionalisme pada awal kemerdekaan dan
pada saat ini?
5. Bagaimana hubungan Indonesia dengan Negara luar kaitanya dengan
nasionalisme?
6. Apa pengaruh konflik-konflik Indonesia dengan Malaysia.?
1.3 Tujuan pembahasan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan nasionalisme dan bagaimana arti
nasionalisme bagi Indonesia
2. Mengetahui bentuk-bentuk nasionalisme
3. Dapat membandingkan perbedaan bentuk nasionalisme dari suatu periode
ke periode yang lain.
4. Mengetahui pengaruh nasionalisme jika di kaitkan dengan konflik antar
bangsa.

4
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Nasionalisme

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan


kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan
satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa


"kebenaran politik" (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu
"identitas budaya", debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah
bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.

Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai


merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah
tertentu dan tak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat
berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempatnya
hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal bakal tubuhnya ikatan ini, yang
notabene lemah dan bermutu rendah. Ikatan inipun tampak pula dalam dunia
hewan saat ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan
suatu negeri. Namun, bila suasanya aman dari serangan musuh dan musuh itu
terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini.

Dalam zaman modern ini, nasionalisme merujuk kepada amalan politik


dan ketentaraan yang berlandaskan nasionalisme secara etnik serta keagamaan,
seperti yang dinyatakan di bawah. Para ilmuwan politik biasanya menumpukan
penyelidikan mereka kepada nasionalisme yang ekstrem seperti nasional
sosialisme, pengasingan dan sebagainya.

2.2 Bentuk Nasionalisme

Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negara


atau gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warganegara,
etnis, budaya, keagamaan dan ideologi. Kategori tersebut lazimnya berkaitan dan
kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebahagian atau semua
elemen tersebut.

Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil) adalah sejenis


nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif
rakyatnya, "kehendak rakyat"; "perwakilan politik". Teori ini mula-mula dibangun
oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahan-bahan tulisan. Antara tulisan yang

5
terkenal adalah buku berjudulk Du Contract Sociale (atau dalam Bahasa Indonesia
"Mengenai Kontrak Sosial").

Nasionalisme etnis adalah sejenis nasionalisme dimana negara


memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat.
Dibangun oleh Johann Gottfried von Herder, yang memperkenalkan konsep Volk
(bahasa Jerman untuk "rakyat").

Nasionalisme romantik (Ju8a disebut nasionalisme organik, nasionalisme


identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis dimana negara memperoleh
kebenaran politik secara semulajadi ("organik") hasil dari bangsa atau ras;
menurut semangat romantisme. Nasionalisme romantik adalah bergantung kepada
perwujudan budaya etnis yang menepati idealisme romantik; kisah tradisi yang
telah direka untuk konsep nasionalisme romantik. Misalnya "Grimm Bersaudara"
yang dinukilkan oleh Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan
dengan etnis Jerman.

Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme dimana negara


memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya "sifat
keturunan" seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Contoh yang terbaik ialah
rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya.
Unsur ras telah dibelakangkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas
lain masih dianggap sebagai rakyat negara Tiongkok. Kesediaan dinasti Qing
untuk menggunakan adat istiadat Tionghoa membuktikan keutuhan budaya
Tionghoa. Malah banyak rakyat Taiwan menganggap diri mereka nasionalis
Tiongkok sebab persamaan budaya mereka tetapi menolak RRT karena
pemerintahan RRT berpaham komunisme.

Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan,


selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat
sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan.
Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat
demokrasi. Penyelenggaraan sebuah 'national state1 adalah suatu argumen yang
ulung, seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. Contoh
biasa ialah Nazisme, serta nasionalisme Turki kontemporer, dan dalam bentuk
yang lebih kecil, Franquisme sayap-kanan di Spanyol, serta sikap 'Jacobin1
terhadap unitaris dan golongan pemusat negeri Perancis, seperti juga nasionalisme
masyarakat Belgia, yang secara ganas menentang demi mewujudkan hak
kesetaraan (equal rights) dan lebih otonomi untuk golongan Fleming, dan
nasionalis Basque atau Korsika. Secara sistematis, bila mana nasionalisme
kenegaraan itu kuat, akan wujud tarikan yang berkonflik kepada kesetiaan
masyarakat, dan terhadap wilayah, seperti nasionalisme Turki dan penindasan

6
kejamnya terhadap nasionalisme Kurdi, pembangkangan di antara pemerintahan
pusat yang kuat di Sepanyol dan Perancis dengan nasionalisme Basque, Catalan,
dan Corsica.

Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme dimana negara


memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Walaupun begitu, lazimnya
nasionalisme etnis adalah dicampuradukkan dengan nasionalisme keagamaan.
Misalnya, di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama
mereka yaitu Katolik; nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut
partai BJP bersumber dari agama Hindu.

Namun demikian, bagi kebanyakan kelompok nasionalis agama hanya


merupakan simbol dan bukannya motivasi utama kelompok tersebut. Misalnya
pada abad ke-18, nasionalisme Irlandia dipimpin oleh mereka yang menganut
agama Protestan. Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk
memartabatkan teologi semata-mata. Mereka berjuang untuk menegakkari paham
yang bersangkut paut dengan Irlandia sebagai sebuah negara merdeka
terutamanya budaya Irlandia. Justru itu, nasionalisme kerap dikaitkan dengan
kebebasan.

2.3 Nasionalisme Indonesia

Nasionalisme merupakan suatu bentuk ideologi, demikian pendapat James


G. Kellas (1998: 4). Sebagai suatu ideologi, nasionalisme membangun kesadaran
rakyat sebagai suatu bangsa serta memberi seperangkat sikap dan program
tindakan. Tingkah laku seorang nasionalis didasarkan pada perasaan menjadi
bagian dari suatu komunitas bangsa.

Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul sebagai jawaban atas


kolonialisme. Pengalaman penderitaan bersama sebagai kaum terjajah melahirkan
semangat solidaritas sebagai satu komunitas yang mesti bangkit dan hidup
menjadi bangsa merdeka. Semangat tersebut oleh para pejuang kemerdekaan
dihidupi tidak hanya dalam batas waktu tertentu, tetapi terus-menerus hingga kini
dan masa mendatang.

Kebijakan pendidikan nasional di awal abad XX telah menciptakan inti


dari elite baru Indonesia yang terdiri dari para dokter, guru, dan pegawai sipil
pemerintah. Bersamaan dengan itu, kebencian yang laten terhadap dominasi
kolonial timbul di atas ambang kesadaran nasional. Berdirinya Boedi Oetomo
(1908) menjadi tanda kebangkitan nasionalisme Indonesia yang kemudian diikuti
organisasi-organisasi nasional lainnya.

7
Jiwa nasionalisme kaum elite dari hari ke hari semakin meluas dan
menguat di hati rakyat. Tekanan ekonomi yang teramat berat selama pendudukan
Jepang memperkuat semangat nasionalisme untuk mewujudkan Indonesia
merdeka. Pada kurun waktu 1945-1950, jiwa nasionalisme diperteguh oleh
semangat mempertahankan kemerdekaan, serta persatuan dan kesatuan Indonesia
yang dirongrong oleh perlawanan kedaerahan dari negara-negara boneka bentukan
Belanda.

Kini nasionalisme menghadapi tantangan besar dari pusaran peradaban


baru bernama globalisasi. Nasionalisme sebagai basic drive serta elan vital dari
sebuah bangsa bernama Indonesia sedang diuji fleksibilitasnya, dalam arti
kemampuan untuk berubah sehingga selalu akurat dalam menjawab tantangan
zaman. Fleksibilitas tidaklah mengurangi jiwa nasionalisme, justru sebaliknya,
fleksibilitas menunjukkan begitu dalamnya nasionalisme mengakar sehingga
dalam waktu bersamaan dia tetap hidup dan terus-menerus bermetamorfosis.

Pusaran ekonomi global menendang nasionalisme jauh ke pinggiran.


Nasionalisme menjadi tidak relevan lagi. Di masa lalu modal terkait erat dengan
rakyat. Dia memiliki tanggung jawab sosial untuk menghidupi seluruh anggota
komunitas (bangsa). Namun kini, privatisasi terus-menerus menyeret modal
menjauh dari dimensi sosial atau komunitasnya. Demi keuntungan yang sebesar-
besarnya modal dengan cepat berlari (capital flight) ke (negara) mana pun yang
disukainya.

Apakah negara hancur lebur karena krisis ekonomi atau rakyat mati
kelaparan, tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab para pemilik modal.
Banyaknya perusahaan yang melarikan modalnya ke negara lain pada saat krisis
ekonomi di pertengahan 1997 dan tahun-tahun sesudahnya memberi gambaran
konkret atas persoalan tersebut. Kenyataan demikian memunculkan persoalan,
apakah nasionalisme masih relevan dalam pusaran ekonomi global saat ini, sebab
modal fmansial melepaskan diri dari keterikatannya dengan nation-state, sehingga
bangsa sebagai komunitas solidaritas menjadi Utopia.

Globalisasi sebagai proses de-teritorialisasi tidak hanya menimbulkan


persoalan di bidang ekonomi, tetapi juga kebudayaan. Kebudayaan kerap
dikaitkan dengan teritori tertentu. Ruang membentuk identitas budaya. Ini berarti
nasionalisme Indonesia pun dibangun oleh kebudayaan Indonesia yang berada
dalam batas-batas geografis tertentu. Itu pemahaman kebudayaan di masa lalu.

Globalisasi sebagai proses de-teritorialisasi telah mengubah semua itu.


Kebudayaan tidak lagi terkungkung dalam teritori tertentu. Kini tidak sedikit
anak-anak muda Kota Kembang yang lebih terampil break dance daripada

8
jaipongan; atau lebih mahir bermain band, daripada menabuh gamelan. Kita juga
bisa menyaksikan orang barat yang menjadi dalang dan piawai memetik kecapi.
Kita bisa menyaksikan ibu-ibu yang setia berkebaya serta bapak-bapak yang
bersarung atau berpeci, pada waktu bersamaan begitu menikmati fast food
bermerek global. Kebudayaan telah melepaskan diri dari keterikatannya pada
nation-state. Kenyataan ini menghadapkan nasionalisme dengan persoalan,
manakah kebudayaan yang akan menjadi media berurat-akarnya nasionalisme?

Bersamaan dengan proses de-teritorialisasi dan mengglobalnya


kebudayaan terjadi gerak sebaliknya berupa pencarian identitas lokal yang
semakin intensif.

Proses mengglobal dan melokal janganlah dipandang sebagai penyakit


atau kelainan dalam budaya masyarakat tetapi mesti diterima sebagai keutamaan
hidup manusia; semakin mengglobal semakin rindu akan identitas lokalnya. Gerak
paradoks tersebut tampak jelas dalam bangkit dan menguatnya gerakan-gerakan
etnis serta agama. Nation-state menghadapi ancaman dari berbagai gerakan
partikular sehingga memicu domestic conflicts yang dapat membawa pada
runtuhnya nation-state seperti yang dialami oleh bekas negara Uni Soviet. Pada
titik ini nasionalisme pun dipertanyakan eksistensi dan relevansinya.

Globalisasi bidang politik mendatangkan persoalan serupa atas


nasionalisme. Globalisasi telah mereduksi pentingnya lingkup politik dari nation-
state yang merupakan basis bagi pembangunan sosial-politik. Peran nation-state
menjadi subordinat karena diambilalih oleh lembaga-lembaga ekonomi
transnasional. Jika eksistensi nation-state terpinggirkan, halnya sama dengan
nasionalisme, nasionalisme menjadi ideologi yang kedaluarsa.

Dari perspektif ekonomi, budaya, dan politik global tampak bahwa


nasionalisme menghadapi tantangan yang sangat besar di tengah pusaran
globalisasi saat ini. Apakah ini berarti nation-state tidak relevan lagi, yang berarti
tidak relevan pula membicarakan nasionalisme? Fakta menunjukkan bahwa
hingga saat ini kewarganegaraan modern dengan berbagai hak sosial, politik, dan
sipilnya tidaklah melampaui batas-batas nasional. Meski kini berkembang
berbagai komunitas transnasional, Uni Eropa misalnya, namun seseorang yang
hendak menjadi anggota terlebih dahulu mesti memperoleh kewarganegaraan dari
salah satu negara anggotanya. hii berarti di tengah arus globalisasi, peran nation-
state serta nasionalisme tetap relevan dan signifikan.

Pertanyaan yang segera muncul, nasionalisme yang mana? Jika


ditempatkan dalam ketegangan lokal-global, nasionalisme merupakan pencarian
identitas lokal (nasional) di tengah pusaran globalisasi.

9
Nasionalisme sebagai identitas bukanlah "kata benda" yang bentuk dan
wujudnya sudah jadi dan final. Nasionalisme merupakan "kata kerja", artinya dia
adalah suatu projek yang mesti terus-menerus dikerjakan, dibangun, serta diberi
dasar dan makna baru pada setiap kesempatan. Proses kerjanya dijalani lewat
public critical rational discourse yang melibatkan seluruh bagian anak negeri
sebagai yang sederajat tanpa mengecualikan siapapun.

Di tengah pusaran globalisasi, nasionalisme Indonesia bukan lagi


memanggul senjata atau bambu runcing dengan semangat "merdeka atau mati".
Nasionalisme Indonesia bukanlah patriotisme gaya Hitler atau Mussolini, juga
melampaui semboyan termashur dari Perdana Menteri Britania Raya, Disraeli,
"benar atau salah, negeriku selalu benar". Nasionalisme demikian oleh
Mangunwijaya dimaknai sebagai nasionalisme pasca-Indonesia.

Arah nasionalisme pasca-Indonesia, menurut Mangunwijaya, akan


berkembang dengan mengambil sumber dari semangat dasar nasionalisme
generasi 1928; suatu nasionalisme yang berpedoman "right or wrong is right or
wrong" bukan "right or wrong is my country". Hakikat nasionalisme Generasi
1928 merupakan perjuangan dan pembelaan kawanan manusia yang terbelenggu
penjajahan, tertindas, miskin kemerdekaan dan hak menentukan diri sendiri.

Nasionalisme pasca-Indonesia seperti juga nasionalisme 1928 diarahkan


untuk memperjuangkan hidup manusia yang termarginalisasi, teralienasi serta tak
berdaya menghadapi penguasa ekonomi, politik, budaya yang lalim dan
sewenang-wenang.

Bedanya, nasionalisme generasi 1928 ditujukan ke arah lawan asing dari


luar, sedangkan bagi nasionalisme pasca-Indonesia yang hidup dalam pusaran
globalisasi, batas-batas geopolitis semakin kabur. Perjuangan kemanusiaan,
keadilan, dan kesejahteraan dari nasionalisme pasca-Indonesia tidak hanya
diarahkan ke pihak-pihak asing tetapi juga ke dalam negeri sendiri, bahkan diri
sendiri. Nasionalisme pasca-Indonesia merupakan perjuangan untuk meniadakan
segala bentuk eksploitasi manusia (juga lingkungan hidup beserta semua
penghuninya) oleh siapa pun, dari manapun dan dalam bentuk apa pun.

Nasionalisme pasca-Indonesia tidak menghabiskan "hidupnya" untuk


memaksakan memilih salah satu pro atau kontra globalisasi. Bagi nasionalisme
pasca-Indonesia, globalisasi merupakan proses sejarah yang tak terelakan
(unevitable). Kita tidak mungkin lari apalagi menolak serta menghentikan proses
globalisasi. Nasionalisme pasca-Indonesia lebih concern dengan persoalan yang
lebih mendasar, yaitu bagaimana "mengawal" globalisasi supaya semakin
manusiawi.

10
BAB III

PEMBAHASAN MASALAH

3.1 Nasionalisme Indonesia Era Reformasi kaitanya dengan Globalisasi.

Pada masa sekarang ini satu hal yang perlu dibenahi oleh bangsa Indonesia
adalah mentalitas warga masyarakatnya. Sikap mental yang kuat dan konsisten
serta mampu mengeksplorasi diri adalah salah satu bentuk konkrit yang
dibutuhkan bangsa Indonesia pada saat ini. Saat ini memang bangsa Indonesia
sedang mengalami massa-masa keterpurukanya dalam dunia intetrnasional. Krisis
multidimensi yang di barengi dengan krisis ekonomi yang berkepanjanganlah
yang menyebabkan kegoncangan dan keterpurukan mental Indonesia.

Bangsa Indonesia yang pada masa dahulu terkenal dengan kebudayaan


yang begitu eksklusif dan memukau serta penduduk yang ramah-tamah di dukung
juga oleh kondisi geografis yang sangat strategis dan dikaruniai tanah yang subur,
sekarang justru berubah 180 drajat. Hal ini tidak lepas dari mentalitas warga
pendukung yang sangat lemah. Tak ada lagi terlukiskan semangat-semangat
nasionalisme dalam diri Indonesia. Mereka seakan lupa akan perjuangan para
pahlawan-pahlawan bangsa yang telah mengorbankan tidak hanya harta bendanya
tetapi mereka juga mengorbankan nyawa dan keluarga mereka. Sungguh besar
jasa mereka, sungguh tinggi jiwa nasionalisme mereka, dan sungguh jauh jika
dibandingkan dengan bangsa Indonesia pada masa sekarang ini. Tidak ada lagi
jiwa nasionalis yang dapat ditunjukan kita, kita seakan malah menganggap remeh
mereka para pejuang yang telah berjasa kepada kita. Hal ini dapat kita buktikan
bahwa pemerintah tetrkesan kurang memperhatikan nasib para veteran.

Kita seakan tenggelam, dalam gemerlapnya harta. Globalisasi dan


kapitalisme mengubah mentalitas kita menjadi sangat jauh dengan mental nasional
kita. Banyak diantara kita yang rela menjual tanah airnya, hanya karena sedikit
kemewahan dari negeri orang. Mereka justru membangga-banggakan negeri orang
lain disbanding negerinya sendiri. Sebagai contoh yang dapat menunjukan hal
seperti ini adalah penduduk Indonesia pada saat ini justru lebih senang
menggunakan produk luar dari pada memakai produk buatan sendiri. Memang
produk luar secara kualitas lebih menjalin, bangsa Indonesia belum mampu
bersaing untuk menciptakan suatu tekhnologi yang canggih untuk menciptakan
produk yang berkualitas. Tapi sikap masyarakat yang lebih mencintai produk luar
sangatlah tidak dibenarkan. Mereka tidak memikirkan dampak negatifhya.

11
Dampak negatifhya antara lain adalah bangsa Indonesia jistru akan lebih
tertinggal dengan Negara lain, sebab warga negaranya yang diharapkan dapat
mendukung perkembangan tekhnologi di Indonesia malah justru meninggalkanya
dan lari kepada Negara lain yang lebih maju. Dalam hal ini bangsa Indonesia
terkesan egois, dan secara kasar warganya dapat dikatakan sebagai penghianat
bangsa.

3.2 Kasus-kasus yang berkaitan dengan Nasionalisme Indonesia

A. Kasus Sipadan dan Ligitan

Sipadan ligitan merupakan salah satu pulau Indonesia yang masuk


dalam zona rawan intervensi. Walaupun pulau ini bukanlah pulau yang luas,
sipadan ligitan, kerapkali menimbulkan intervensi dan pengklaiman sepeihak
terhadap kepemilikian pulau tersebut. Hal ini dikatenakan masih sangat
lemahnya sistem hukum, dan pertahanan dan keamanan Negara.

Pada kekade 2000 lalu, sipadan ligitan kembali mengundang polomik


terhadap Negara lain. Kali ini adalah negeri jiran malaisia yang mengklaim,
atas kepemilikan dua pulau tersebut. Merekan mengeluarkan sebuah
pernyataan yang sangat menyakitkan bangsa Indonesia. Kepemilikan Indonesia
atas sipadan ligitan tidak diakui malahan merekan mengakui bahwa merekalah
yang berhak atas kepemilikan sipadan dan ligitan.

Hal ini mengundang reaksi keras dari pihak Indonesia maupun pihak
luar. Berbagai bentuk protes dan upaya telah di lancarkan sebagai upaya
Indonesia mempertahankan hak dan kedaulatanya. Namun upaya-upaya
tersebut harus terhenti ketika PBB menyatakan kepemilikan sipadan dan ligitan
sebagai bagian dari wilayah Malaysia.

B. Kasus Pulau Ambalat

Tak beda juga dengan ambalat, sebuah pulau yang masuk dalam zona
kritis intervensi. Kali ini juga Indonesia dan Malaysia kini menghadapi
persoalan wilayah Ambalat akibat pemberian konsesi untuk ekplorasi minyak
oleh perusahaan minyak Malaysia (Petronas) pada 16 Februari 2005 kepada
perusahaan Shell asal Inggris/Belanda di Laut Sulawesi yang berada di sebelah
timur Pulau Kalimantan. Indonesia menyebut wilayah yang diklaim Malaysia
itu blok Ambalat dan blok East Ambalat. Di blok Ambalat, Indonesia telah
memberikan konsesi kepada ENI (Italia) pada tahun 1999 dan sekarang dalam
tahap eksplorasi. Sedangkan blok East Ambalat diberikan kepada Unocal (AS)
pada tahun 2004.

12
Untuk blok East Ambalat, kontrak baru ditandangani 13 Desember
2004. Namun kontrak ini menjadi bermasalah ketika Malaysia mengklaim
masalah tersebut sebagai wilayahnya dan menolak klaim Indonesia. Malaysia
mengklaim Ambalat wilayahnya dengan pertimbangan berada dalam teritorial
Malaysia sebagai implikasi lepasnya Sipadan-Ligitan yang tentu berdampak
kepada luas batas perairannya. Parahnya, kedua negara belum menuntaskan
garis batas teritorial laut.

Perdana menteri Abdullah Ahmad Badawi dengan tegas mengklaim


wilayah East Ambalat adalah wilayahnya, sebaliknya dan patut diherankah
adalah pernyataan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono yang tidak
menganggap sikap Malaysia tersebut sebagai ancaman. Pernyataan tersebut
tentu mempunyai banyak interpretasi.

Sebagai salah satu bentuk sikap politik yang bersahabat dan etis
mungkin hal itu dapat dibenarkan, namun dalam kondisi keterpurukan
Indonesia seperti sekarang, ketegasan sangat diperlukan untuk mengatakan
sikap Malaysia tersebut dapat menjadi ancaman bagi Indonesia. Belajar dari
pengalaman Sipadan-Ligitan, sikap Indonesia yang kurang tegas dan .tanggap
menghasilkan lepasnya kedna pulau tersebut dari pangkuan Indonesia. Tentu
Indonesia tidak rela Ambalat jatuh ke tangan Malaysia, karena bukan tidak
mungkin akan menyusul penguasaan wilayah Indonesia oleh negara tetangga
terhadap pulau-pulau kecil dan wilayah perairannya yang diperkirakan
mencapai 92 buah pulau kecil perbatasan. Jika Ambalat lepas dari Indonesia,
hal itu semakin membuktikan kedaulatan negara terancam dan harga diri serta
martabat bangsa rendah di mata dunia.

C. Kegagalan Pemerintah

Kasus Ambalat muncul seiring dengan lepasnya Sipadan-Ligitan lewat


Mahkamah Internasional tahun 2002. Kasus ini sebagai bukti kegagalan
pemerintah dalam memberikan perhatian yang serius terhadap pulau-pulau
kecil perbatasan dan wilayah perairan di dalamnya. Berdasarkan daftar
koordinat geografis titik-titik garis pangkal kepulauan Indonesia telah
diundangkan pada peraturan Nomor 38 tahun 2002 terdapat 183 titik dasar
(TD) dan lebih dari 50 persen TD berada di pulau-pulau kecil atau berjumlah
sekitar 92 pulau kecil. Dari 92 Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT) terdapat
sekitar 88 pulau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
Berdasarkan data DKP, 21 pulau berbatasan dengan Malaysia, 25 dengan
Australia, 12 dengan Filipina, 11 dengan India, 7 dengan Palau, 5 dengan
Timor Leste, 4 dengan Singapura, 2 dengan Vietnam dan 1 dengan Papua New

13
Guinue. Sebanyak 50 persen berpenduduk dengan luas wilayah 0,02-200 km2,
sisanya belum berpenduduk.

Pulau-pulau tersebut mempunyai nilai strategis bagi eksistensi dan


kedaulatan bangsa Indonesia sekaligus juga merupakan sumber baru
perturnbuhan ekonomi bangsa. Terdapat tiga fungsi penting PPKT tersebut.
Pertama, sebagai fungsi pertahanan dan keamanan. PPKT memiliki peran
penting keluar masuknya orang dan barang. Praktik-praktik penyelundupan
senjata, barang-barang illegal, obat-obatan terlarang, pemasukan uang
dolar palsu, perdagangan wanita, pembajakan, pencurian hasil laut dan
menjadi lalu lintas kapai-kapal asing.

Contoh Pulau Miangas dan Palmas, yang sampai kini masih


dipersoalkan Filipina. Kedua, sebagai fungsi ekonomi. Sangat jelas PPKT ini
memiliki peluang dikembangkan sebagai wilayah potensial jndustri
berbasiskan sumberdaya seperti industri perikanan, pariwisata bahari, industri
olahan dan industri-industri lainnya. Ketiga ; sebagai fungsi ekologi. Ekosistem
pesisir dan laut PPKT dapat berfungsi sebagai pengatur iklim global, siklus
hirologi dan biokimia, sumber energi alternatif, sumber plasma nutfah dan
sistem penunjang lainnya. Kasus Ambalat mem-buktikan batas wilayah
Indonesia-Malaysia belum diatur. Juga batas wilayah dengan negara lainpun
belum diatur oleh Indonesia dan negara bersangkutan. Penataan batas wilayah
penting segera dilakukan karena menyangkut wilayah pengelolaan sumber
daya laut sekaligus mempertahankan wilayah NKRI.

Dari rezim hukum laut yang ada, terdapat beberapa rezim yang belum
diatur antara lain pertama, zona tambahan (contingues zone). Zona ini
merupakan zona pelindung atau sea belt. Indonesia memiliki kewenangan
dalam kegiatan imigrasi, kemaritiman dan bea cukai. Wilayah ini diukur 24 mil
dari garis pantai terluar atau 12 mil dari sisi terluar laut teritorial. Sampai saat
ini Indonesia belum meng"undang"kan zona tambahan.

Kedua, wilayah laut lepas. Wilayah perairan ini berada di luar Zona
Ekonomi Ekslusif (ZEE). Penataan zona ini akan berdampak kepada pemberian
izin bagi nelayan negara lain untuk beroperasi di perairan Indonesia. Sampai
saat ini Indonesia belum pernah melapor dan memberitahu batas wilayah laut
lepas ini. Ketiga, wilayah landas kontinen (continental shelf). Wilayah ini
merupakan dasar laut yang ada di sisi luar garis pangkal atau mengarah ke luar
garis pangkal kepulauan. Di wilayah ini Indonesia dapat melakukan penelitian,
ekplorasi ikan dan aktivitas lainnya. Sampai saat ini Indonesia belum
melakukan pengakuan di mana batas landas kontinentalnya.

14
Kasus Ambalat tentu hams diselesaikan secara damai. Pengerahan
angkatan perang AL telah menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menjaga
wilayahnya. Setidaknya terdapat beberapa langkah lain yang dipandang perlu
dilakukan.

Pertama, diplomas! langsung antarpemerintah, kalau perlu antarkepala


negara tanpa hams merasa rendah diri. Hal ini penting segera dilakukan karena
peluang Malaysia mendapatkan Ambalat terbuka lebar, belajar dari skema
penyelesaian Sipadan-Ligitan. Diplomasi dilakukan dengan tetap
menggunakan landasan internasional. Langkah pertama ini harus dengan tegas
dan kalau perlu Indonesia harus ngotot mempertahankannya.

Kedua, pemberdayaan Pulau-Pulau Kecil Perbatasan. Tugas ini menjadi


kewajiban Departemen Kelautan dan Perikanan. Sampai saat ini pemberdayaan
PPKT belum optimal dan masih banyak yang berupa profil pulau-pulau kecil.
Ketiga, pengawasan dan pengamanan kawasan laut terpadu. Pengerahan satuan
keamanan laut harus dilakukan secara terpadu dengan sistem yang terkoordinir
secara terpusat. Dengan keterbatasan kapal pengaman diperlukan strategi yang
efektif. Penempatan kapal-kapal TNI AL di laut perbatasan dan koordinasi
antarpihak dapat menjadi solusi untuk efektifitas pengamanan laut Indonesia.

D. Kasus pemukulan wasit karate dimalaisis

Kasus pemukulan wasit karate Donald Pieters Leuthers K pada saat


pertandingan sea games di Malaysia mengundang banyak polomik.
Pengeroyokan yang dilakokan oleh oknum-oknum polisi Malaysia terhadap
Donald mengundang kemarahan dan kecaman-kecaman Negara lain terhadap
Malaysia.

Salah satunya adalah Indonesia yang mengaku tidakm terima atas


perlakuan Malaysia tersebut. Menurut Indonesia sikap Malaysia sangat brutal
dan arogan. Apalagi yang melakukan pengeroyokan tersebut adalah oknum-
oknum polisi. Hal ini tentunya menggambarkan betapa buruknya mentalitas
masyarakat Malaysia. Begitu bobroknya norma-norma mereka hingga oknum
polisi yang seharusnya memberikan pelayanan malah menjadi teroris massa.

Pernyataan Indonesia juga keluar dari SBY yang mengutarakan


keprihatinanya terhadap insiden tersebut.

E. Kasus Tari Reog di Ponorogo

Tidak hanya pulau-pulau saja yang diklaim kepemilikanya atas


Malaysia tetapi dewasa ini juga mengarah pada sasaran baru, yaitu kesenian

15
tari reog asal ponorogo, jawa timur. Malaysia mengklaim bahwa tari reog asal
ponorogo yang dalam bangsa Malaysia menyebutnya barongan di akui sebagai
kebudayaan asli Malaysia.

Menurut saya sebagai penulis makalah ini, sungguh amat sangatlah


bodoh dan konyol, tindakan negeri jiran tersebut. Kalo boleh diibaratkan
mereka bagaikan anak kecil yang mencuri di tengah kota. Mereka tidak
mempunyai dasar apa-apa yang kuat yang dapat membuktikan kepemilikan
atas kebudayaan reog ponorogo.

Peri bahasa mengatakan "Katak berjalan, tak dapat belang Tertutup


Ranting Pohon". Malaysia yang malu akan perbuatanya itu menutupinya
dengan permintaan maaf kepada Malaysia namun dalam hati mereka masih
mencari-cari celah untuk dapat melompat dan mencuri makanan.

Mungkin juga saya berpendapat jika Malaysia memang Negara


terbelakang. Ekonomi mereka saja yang maju, tapi mental mereka sama-sekali
tak berkembang, dan tak dapat menciptakan inovesi-inovesi baru dan kemudian
mencuri milik tetangga.

Bukti yang menyatakan pernyataan saya tersebut, adalah kasus yang


baru-baru ini terjadi dan melibatkan artis-artis Indonesia dengan Timnas sepek
bola Malaysia. Dalam pertandingan sepek bola artis kemarin Malaysia vs
Indonesia, lagi-lagi ,negeri jiran itu melakukan tindakan konyolnya dengan
memainkan pemain-pemain Tomnasnya untuk melawan tim sepek bola artis
Indonesia. Sangat-amat tidak sportif! Itu yang mungkin bisa dikatakan untuk
menanggapi hal tersebut. Apalagi mengingat, permainan keras Malaysia.
Memang Indonesia kalah 1-3 atas timnas Malaysia. Namun setidanya
Indonesia menang telak atas sportifitas Indonesia. Apalagi Indonesia mampu
menjebol keperawanan penjaga gawang inti dari Malaysia.

Dari kasus-kasus tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kita, tentang


pentingnya semangat nasionalisme, cinta tanah air dan patriotisme. Kita
tentunya berharap tidak akan lagi terjadi kasus-kasus yang merugikan
Indonesia. Hal ini dapat kita siasati dengan peningkatari semua aspek
kehidupan dan kenegaraan.

16
BAB IV

PENUTUP

Nasionalisme adalah paham yang menciptakan dan mempertahankan


kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama
untuk sekelompok manusia.

Nasionalisme merupakan rasa cinta terhadap tanah air dan gambaran


semangat juang bangsa dalarn mempertahankan hak-hak bangsanya sebagai
bangsa yang berdaulat.

Bentuk-bentuk dari gambaran jiwa nasionalis yang dapat digambarkan


pada era yang sekarang ini diantaranya dengan keteladanan, keuletan dan
semangat juang yang tinggi, yang diperlihatkan dalam proses belajar mengajar
oleh guru dan siswa yang mana mereka berjuang untuk masa depan bangsa yang
lebih baik. Juga diwujudkan dalam bentuk kebudayaan dan seni yang mana
mereka selalu berusaha dan berjuang untuk mempertahankan melestarikan dan
membudayakan kebudayaan derah mereka.

Gambaran tersebut terlihat dari kasus-kasus yang melibatkan Indonesia


dengan Negara tetangga, dimana Indonesia dengan segala komponen yang ada
didalamnya berjuang mempertahankan hak-haknya yang akan dirampas Negara
lain.

Tentunya bagi kita generasi penerus dapat mengambil pelajaran dari


kasus-kasus tersebut demi menegakan kebenaran dan keadilan.

17
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme

http://kafeilmu.co.cc/tema/contoh-contoh-kasus-nasionalisme-indonesia.html

http://nasional.kompas.eom/read/2010/12/23/l551111/Nasionalisme.Indonesia.

Mencapai.Puncak-4

http://www.jevuska.com/topic/contoh+kasus+nasionalisme+indonesia.html

http://chaosregion.wordpress.com/2007/12/07/dari-rasa-savange-reog-ponorogo-

angklung-batik-sampai-baju-minang/

http://mukhtar-api.blogspot.com/2009/06/kasus-ambalat.html

18

Anda mungkin juga menyukai