Anda di halaman 1dari 156

Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

BAB 5
UJI PETIK PEMERIKSAAN (AUDIT SAMPLING)

5.1 Gambaran Umum


Uji Petik Pemeriksaan atau Audit Sampling adalah penerapan prosedur
pemeriksaan terhadap kurang dari seratus persen unsur dalam suatu saldo akun
atau kelompok transaksi dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo
akun atau kelompok transaksi tersebut. Uji petik dapat menjadi alat untuk
memperoleh informasi mengenai suatu populasi tanpa melakukan pengkajian
terhadap populasi tersebut secara keseluruhan. Namun demikian, uji petik tidak
dapat diterapkan pada seluruh prosedur pemeriksaan. Banyak prosedur
pemeriksaan yang tidak dapat menerapkan uji petik, diantaranya permintaan
keterangan (inquiry), observasi, prosedur analitis, scanning dan reviu catatan-
catatan untuk mengidentifikasi transaksi yang tidak wajar.
Uji petik yang dilakukan dalam prosedur pemeriksaan tertentu bertujuan
untuk memperoleh bukti audit yang kompeten dan cukup untuk mendukung
kesimpulan hasil pemeriksaan. Standar pekerjaan lapangan ketiga menyatakan
“Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
pengajuan pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk
menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan”.
Pelaksanaan uji petik tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan non-
statistik dan pendekatan statistik. Uji petik non statistik merupakan pendekatan
pemeriksa dalam memilih sampel dan menilai hasil pemeriksaan sampel
berdasarkan pertimbangan profesionalnya. Sedangkan uji petik statistik adalah
pendekatan uji petik dengan menggunakan ilmu matematika sebagai sarana untuk
menentukan perencanaan, pemilihan, dan evaluasi sampel. Penggunaan kedua
pendekatan tersebut memerlukan pertimbangan profesional pemeriksa dalam
perencanaan, pemilihan, dan evaluasi hasil sampel serta dalam menghubungkan
bukti audit yang dihasilkan dari sampel dengan bukti lain dalam penarikan
kesimpulan atas saldo akun atau kelompok transaksi yang berkaitan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

5.2 Penentuan Cakupan (Coverage) Pemeriksaan dan Satker


yang Akan Diperiksa
Mengingat karakteristik akuntansi pemerintah daerah yang menggunakan
sistem terdistribusi, maka dokumen-dokumen atau unit sampel sebagian besar
berada pada satker-satker atau SKPD-SKPD yang merupakan entitas akuntansi.
Oleh karena itu, sebelum dapat menentukan jumlah sampel dan unit sampel yang
akan dipilih, perlu terlebih dahulu, dengan pertimbangan tertentu dan profesional,
menentukan cakupan (coverage) pemeriksaan dan satker yang akan diperiksa,
karena dokumen-dokumen atau unit sampel yang akan diuji tersebar di satker-
satker. Untuk tujuan pengujian ini, pemeriksa dapat menggunakan hasil analisa
risiko yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya.

Langkah-langkah mengkaitkan hasil penilaian risiko dengan penentuan cakupan


(coverage) pemeriksaan dan satker yang akan diperiksa adalah sebagai berikut:
1) Penentuan risiko gabungan untuk masing-masing akun atau kelompok transaksi
Seperti yang telah dijelaskan dalam Bab 3 mengenai “Pemahaman dan
Penilaian Risiko”, Pemeriksa melakukan penilaian risiko gabungan atas
individual accounts atau kelompok transaksi, dengan contoh sebagai berikut.

Risiko
Akun Risiko Bawaan Risiko Gabungan
Pengendalian

Kas High High High

Piutang Medium Medium Medium

Aset tetap High Medium High

Aset lainnya Medium Low Low

PNBP High High High

Belanja High High High

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Penentuan risiko gabungan tersebut menggunakan matrik formula sebagai


berikut.

Risiko Bawaan

High Medium Low

High H H M
Risiko Pengendalian
Medium H M L

Low M L L
2) Penentuan persentase coverage pemeriksaan berdasarkan rating risiko
gabungan:

Risiko Gabungan Coverage Pemeriksaan

High > 50% - 100%

Medium > 30% - 50%

Low 20% - 30%


Dengan demikian coverage pemeriksaan untuk masing-masing individual
accounts atau kelompok transaksi berdasarkan hasil penilaian risiko
gabungan tersebut adalah:

Akun Risiko Gabungan Coverage pemeriksaan

Kas High 100%

Piutang Medium > 30% - 50%

Aset tetap High > 50% - 100%

Aset lainnya Low 20% - 30%

PNBP High > 50% - 100%

Belanja High > 50% - 100%

3) Penentuan basis nilai yang akan dipakai untuk menentukan coverage


pemeriksaan sebaiknya menggunakan basis nilai berupa saldo individual
accounts atau kelompok transaksi pada LKPD-unaudited yang akan di uji
petik, dengan contoh sebagai berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Saldo di LKPD Coverage*


Akun % Cov.
(unaudited) pemeriksaan

Kas Rp5.000.000.000 60% **

Piutang Rp2.500.000.000 40% Rp100.000.000

Aset tetap Rp600.000.000.000 50% Rp300.000.000.000***

Aset lainnya Rp10.000.000.000 25% Rp2.500.000.000

Pendapatan Rp280.000.000.000 50% Rp140.000.000.000


Daerah

Belanja Daerah Rp300.000.000.000 60% Rp180.000.000.000


* Jika dalam tahap pelaksanaan pemeriksaan lapangan terhadap suatu akun tertentu,
Pemeriksa menemukan salah saji yang akan mengubah saldo akun tersebut sangat
material, maka pemeriksa dapat merubah overage pemeriksaannya
** Untuk pemeriksaan kas, diambil dari nilai transaksi dari tahun anggaran berjalan (mutasi
debet dan kredit) bukan dari saldo akhir pada tanggal pelaporan.
*** Khusus untuk pemeriksaan aset tetap, penentuan coverage pemeriksaan dapat
menggunakan basis nilai mutasi aset tetap tahun berjalan, sepanjang berdasarkan hasil
pemeriksaan sebelumnya, entitas telah melakukan inventarisasi ulang dan penilaian
kembali atas aset tetap serta telah didokumentasikan, dicatat, dan dilaporkan secara
memadai.
Untuk masa mendatang, dengan penerapan e-audit (electronic audit), cakupan
pemeriksaan untuk akun kas dan pendapatan daerah (khususnya pendapatan
transfer) dapat diambil secara populasi, mengingat adanya kemudahan akses
data secara elektronik.
4) Berdasarkan perhitungan cakupan pemeriksaan untuk masing-masing akun
atau kelompok transaksi tersebut, pemeriksa memilih SKPD yang akan diuji
petik untuk dapat memenuhi nilai coverage pemeriksaan. Dalam memilih
satker-satker yang akan diuji petik/sampling, pemeriksa harus
mempertimbangkan beberapa hal:
(1) Karakteristik akun tersebut, sebagai contoh: akun kas, penentuan coverage
pemeriksaan dilakukan secara populasi, hal ini terkait dengan tingkat risiko
bawaan dari akun kas yang sangat tinggi. Sedangkan untuk pemeriksaan
atau satker yang diuji petik untuk pemeriksaan akun “Belanja Daerah” akan
tersebar di semua SKPD, sedangkan untuk pemeriksaan akun
“Pendapatan Daerah” akan terpusat di DPPKAD/Dispenda atau satker-
satker tertentu yang mengelola pendapatan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

(2) Hasil pengambilan sampling pada pemeriksaan sebelumnya, baik


pemeriksaan pendahuluan, PDTT, dan pemeriksaan kinerja (sepanjang
cakupan pemeriksaan sebelumnya meliputi tahun anggaran yang sama
dengan tahun pelaporan keuangan). Pemeriksa harus memprioritaskan
untuk memilih satker-satker yang belum diuji petik pada pemeriksaan
sebelumnya, kecuali terdapat pertimbangan-pertimbangan lain yang cukup
signifikan, sehingga mengharuskan pengambilan sampel yang sama
dengan pemeriksaan sebelumnya.
(3) SKPD yang memperoleh alokasi anggaran cukup besar dan/atau memiliki
risiko kesalahan dan/atau kecurangan yang tinggi.
Contoh :
Sesuai hasil perhitungan tersebut di atas, coverage pemeriksaan untuk akun
“Belanja Daerah” adalah Rp180milyar. Pemeriksa harus menentukan SKPD-
SKPD yang akan diuji petik untuk dapat memenuhi nilai coverage pemeriksaan
Rp180milyar, yaitu :

Beberapa pertimbangan pemilihan satker adalah sebagai berikut.


1) Menetapkan SKPD atau satker lainnya yang akan dipilih sebagai sampel
dengan pertimbangan nilai, risiko, sampel pemeriksaan sebelumnya. Misal:
SKPD A dipilih karena jumlah satker yang tidak terlalu banyak namun nilai
transaksi tinggi, SKPD B dipilih karena dianggap memiliki risiko kesalahan
(mungkin ada informasi mengenai kejadian korupsi, dll) meskipun nilainya
paling kecil, SKPD C dipilih karena nilai tertinggi, dan SKPD D dipilih karena

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

belum pernah diperiksa selama ini. Total nilai cakupan pemeriksaan adalah
Rp180milyar. Pemeriksa dapat menambah cakupan pemeriksaan menjadi
Rp200milyar, jika hal tersebut dianggap layak dan sumber daya yang ada
memadai.
2) Memilih bidang-bidang atau unit-unit dibawah SKPD sehingga nilai coverage
pada SKPD terpenuhi, missal: SKPD A, Rp40milyar, sampel terpilih adalah
Bidang A1 dan A2 yang memiliki nilai realisasi belanja masing-masing
Rp15milyar dan Rp25milyar. Pertimbangan untuk memilih bidang/unit dapat
berdasarkan nilai, risiko, jumlah satker, pertimbangan pemeriksaan
sebelumnya atau hal lain yang menurut pemeriksa lebih layak.

5.3 Uji Petik Pemeriksaan


Setelah pemeriksa menetapkan cakupan (coverage) pemeriksaan dan
satker yang akan diperiksa untuk masing-masing akun atau kelompok transaksi,
maka pemeriksa harus menetapkan tujuan pengujian atau asersi yang akan
dilakukan. Pemeriksa harus memilih prosedur pemeriksaan yang tepat untuk tujuan
pengujian dan asersi yang diuji. Tidak semua pengujian atas suatu asersi
menerapkan uji petik, misalnya permintaan keterangan (inquiry), observasi,
prosedur analitis, scanning dan reviu catatan-catatan untuk mengidentifikasi
transaksi yang tidak wajar. Pemeriksa harus dapat menentukan, berdasarkan
pengalamannya, apakah suatu pengujian menerapkan uji petik atau tidak.
Beberapa contoh pengujian yang mengharuskan menggunakan uji petik, yaitu:
1) Dalam pengujian pengendalian atas transaksi belanja, salah satu atribut yang
diuji adalah semua SPM yang telah diotorisasi oleh Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran. Sedangkan deviasinya adalah SPM
yang tidak diotorisasi atau diotorisasi oleh pejabat yang tidak berwenang.
2) Pengujian asersi keberadaan aset tetap kendaraan bermotor, pemeriksa
harus melakukan inspeksi langsung dengan cek fisik kendaraan bermotor
untuk menghasilkan bukti fisik.
3) Pengujian pengendalian untuk mengetahui hak dan kewajiban aset tetap
kendaraan bermotor, pemeriksa dapat memutuskan untuk menggunakan
prosedur pemeriksaan inspeksi atas dokumen surat-suratnya dan siapa yang
bertanggung jawab atas penyimpanannya. Pada saat inspeksi tersebut akan
diketahui apakah terdapat deviasi (penyimpangan) dari kondisi yang
ditetapkan. Contoh: kendaraan bermotor tersebut ternyata tidak mempunyai
surat-surat, berarti ada deviasi atas pengendalian atas hak dan kewajiban aset
tersebut dari yang seharusnya.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 6


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Secara umum tahap-tahap yang harus dilakukan baik dalam pelaksanaan uji
petik dengan pendekatan non-statistik maupun statistik adalah sebagai berikut.
1) Penentuan tujuan pengujian

Pemeriksa harus menetapkan tujuan pengujian atau asersi yang akan


dilakukan. Asersi akan menentukan pengujian apakah pengujian pengendalian
atau pengujian substantif. Pengelompokan ini diperlukan pula untuk
menetapkan jenis pendekatan uji petik apa yang akan digunakan (misalnya,
jika menggunakan uji petik statistik, apakah atribut atau variabel). Misalnya,
untuk asersi keberadaan melalui pengujian substantif atas aset tetap
kendaraan bermotor, pemeriksa harus melakukan observasi langsung dengan
cek fisik kendaraan bermotor untuk menghasilkan bukti fisik.
2) Pendefinisian populasi dan unit uji petik

Populasi merupakan seluruh data yang ingin digeneralisir oleh pemeriksa.


Sedangkan unit uji petik merupakan unsur atau elemen didalam populasi, baik
itu dokumen, transaksi, ataupun item-item yang memiliki karakteristik yang
akan diukur oleh pemeriksa untuk membuat estimasi mengenai karakteristik
seluruh populasi. Berarti berkaitan dengan tujuan menguji keberadaan
kendaraan bermotor maka populasinya merupakan seluruh kendaraan
bermotor pada akun aset tetap, sedangkan unit uji petiknya bisa berupa
kendaraan roda empat dan roda dua.
3) Penentuan ukuran sampel

Dalam tahap ini jumlah ukuran sampel ditentukan dengan mempertimbangkan


beberapa faktor. Hasil pengujian pengendalian akan mempengaruhi pengujian
selanjutnya. Contoh: ketika hasil pengujian pengendalian ternyata kendaraan
roda empat tidak memiliki garasi sendiri dan tidak dilengkapi surat
kepemilikian, maka pengujian substantif atas kendaraan harus diperbanyak
untuk bisa menjawab kecukupan bukti kesimpulan bahwa keberadaan
kendaraan roda empat tidak bisa diyakini kebenarannya.
4) Seleksi unit sampel dan pelaksanaan pengujian

Pada tahap ini, pemeriksa harus mempertimbangkan bagaimana sampel akan


dipilih sehingga sampel yang dipilih dapat mewakili populasi dan setiap
anggota populasi harus memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Setelah
sampel yang mewakili populasi terpilih dilakukan pengujian terhadap unsur-
unsur yang terpilih sebagai sampel tersebut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 7


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Dalam pelaksanaan, pemeriksa harus menentukan teknik pemilihan sampel


yang akan dilakukan, misalnya random sampling atau stratified sampling.
Keputusan pemeriksa untuk menentukan teknik pengambilan sampel tertentu
akan tergantung pada kondisi populasinya. Jika sudah melihat populasi
kendaraan bermotor dan bisa dikelompokkan lagi menjadi roda empat jenis
sedan atau jenis mobil niaga, maka pemeriksa harus menentukan teknik
pemilihan sampelnya, apakah masing-masing kelompok diambil wakilnya
(stratified sampling) atau random terhadap seluruh kendaraan bermotor yang
berada di kantor pusat saja (teknik pengambilan sampel secara rinci akan
dibahas pada bagian berikutnya pada bab ini).
Tahap pemilihan sampel dan pelaksanaan pengujian serta tahap evaluasi
merupakan bagian dari tahap pelaksanaan pemeriksaan, yakni dalam rangka
mengumpulkan bahan bukti untuk menguji suatu asersi.
5) Evaluasi dan dokumentasi

Tahap evaluasi merupakan tahapan penerjemahan hasil, ekstrapolasi/proyek


hasil, pertimbangan aspek kualitatif, sampai pengambilan kesimpulan. Ketika
memproyeksikan suatu hasil pada populasi untuk menarik kesimpulan, pemeriksa
harus mempertimbangkan risiko uji petik, seperti apakah hasil yang diperoleh.
Uji petik pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan
statistik dan non-statistik (judgement). Selain itu kedua pendekatan tersebut dapat
diterapkan untuk pengujian pengendalian dan pengujian substantif, dengan uraian
sebagai berikut.
5.3.1 Pendekatan Uji Petik Non-Statistik (Judgement)
Dalam menentukan sampel dengan pendekatan non-statistik, pemeriksa
harus sudah melakukan atau memiliki:
1) pemahaman yang baik terhadap proses bisnis entitas;

2) reviu internal control telah dilakukan secara memadai; dan

3) prosedur analitis.

Penggunaan metode judgement dapat dilakukan juga untuk pengujian


pengendalian maupun pengujian substantif. Proses penentuan uji petik yang
dilakukan untuk kedua pengujian tersebut tidak berbeda, tetapi tergantung
karakter akun yang akan diuji. Tahapan-tahapan penentuan sampel dengan
pendekatan non-statistik adalah sebagai berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 8


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

1) Penentuan tujuan pengujian

Dalam hal pengujian pengendalian, misalnya pemeriksa menetapkan tujuan


pengambilan uji petik untuk menguji atas approval dan authorization yang
terdapat pada penerbitan SPM.
2) Pendefinisian populasi dan unit uji petik/sampel

Berkaiatan dengan tujuan uji petik untuk menguji approval dan authorization
dalam penerbitan SPM, maka populasinya adalah jumlah seluruh SPM yang
diterbitkan dalam periode tersebut. Sedangkan unit uji petiknya dapat berupa
beberapa SPM yang diterbitkan pada bulan-bulan tertentu sesuai dengan
pertimbangan pemeriksa.
3) Penentuan ukuran sampel

Setelah pemeriksa menentukan unit sampel yang akan diambil maka


pemeriksa menentukan jumlah sampel yang mencukupi berdasarkan
pertimbangan profesional. Misalnya: Setelah memilih unit sampel belanja-
belanja di akhir tahun sebagai target pemilihan dan pengujian sampel,
pemeriksa perlu menentukan berapa belanja di akhir tahun yang akan diuji.
Untuk menetapkan besarnya jumlah dan nilai unsur yang akan diambil harus
mempertimbangkan hasil penentuan coverage pemeriksaan dan satker yang
akan diperiksa seperti yang telah diuraikan di atas untuk akun yang telah
ditetapkan, yaitu:

Saldo di LKPD Coverage


Akun % Cov.
(unaudited) pemeriksaan

Kas Rp5.000.000.000 60% Rp3.000.000.000*)

Piutang Rp2.500.000.000 40% Rp1.000.000.000

Aset tetap Rp600.000.000.00 50% Rp300.000.000.000*)


0

Aset lainnya Rp10.000.000.000 25% Rp2.500.000.000

Pendapatan Rp280.000.000.00 50% Rp140.000.000.000


Daerah 0

Belanja Daerah Rp300.000.000.00 60% Rp180.000.000.000


0
* Untuk pemeriksaan kas diambil dari nilai transaksi dari tahun anggaran berjalan (mutasi
debet dan kredit) bukan dari saldo akhir pada tanggal pelaporan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 9


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

** Khusus untuk pemeriksaan aset tetap, penentuan coverage pemeriksaan dapat


menggunakan basis nilai mutasi aset tetap tahun berjalan, sepanjang berdasarkan hasil
pemeriksaan sebelumnya, entitas telah melakukan inventarisasi ulang dan penilaian
kembali atas aset tetap serta telah didokumentasikan, dicatat, dan dilaporkan secara
memadai.
Selain pertimbangan tersebut, pemeriksa juga masih memungkinkan
mempertimbangkan kelayakan jumlah sampel disesuaikan dengan kondisi
senyatanya, dengan memperhitungkan:
(1) Cost dan benefit

(2) Waktu pemeriksaan

(3) Jumlah SDM yang dimiliki

(4) Signifikansi akun yang diuji terhadap laporan keuangan

Misalnya: Populasi adalah 2000 dokumen senilai Rp2milyar dan risiko


gabungan tinggi. Setelah menggunakan pertimbangan sebelumnya,
didapatkan jumlah sampel sebesar 10% x 2000 = 200 atau senilai
Rp500juta. Namun demikian, waktu pemeriksaan sangat sempit dan SDM
yang dimiliki hanya sedikit. Oleh karena itu pemeriksa memutuskan untuk
mengurangi sampel menjadi 100 sampel. Jika pemeriksa memutuskan
untuk memodifikasi jumlah sampel berdasarkan pertimbangan
profesional, maka pemeriksa harus menuangkan pertimbangan-
pertimbangan tersebut dalam kertas kerja pemeriksaan.Pemeriksa dapat
memperbesar cakupan pemeriksaan jika berdasarkan hasil pemeriksaan
menunjukkan bahwa nilai akun dikoreksi secara signifikan.

4) Menentukan unit-unit sampel yang akan dijadikan target pengambilan sampel

Dalam menentukan unit-unit sampel yang akan dijadikan target pengambilan


dan pengujian, pemeriksa mempertimbangkan hasil pemahaman SPI,
analytical review, dan analisa risiko yang telah dilakukan.
Contoh–contoh penggunaan judgement dalam menentukan unit sampel yang
akan diambil antara lain sebagai berikut:
(1) Jika dari hasil penilaian internal control pemeriksa menemukan adanya
kelemahan signifikan yang spesifik dan berpengaruh terhadap laporan
keuangan, maka pemeriksa dapat melakukan pengujian yang terfokus
pada kelemahan yang ditemukan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 10


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Contoh :
(1)) Pemeriksa menemukan adanya kelemahan dalam sistem pemungutan
dan penyetoran Pendapatan Daerah, maka pemeriksa melakukan uji
substantif pada bukti-bukti yang mengarah pada permasalahan, antara
lain: Surat Ketetapan Pajak Daerah/SKPD atau SKRD, bukti-bukti setor
atau surat tanda setoran, nota debet atau nota kredit, rekening koran
dan lain-lain.
(2)) Pemeriksa menemukan adanya kelemahan dalam system pembayaran
Belanja Pegawai, maka pemeriksa melakukan uji substantif pada bukti-
bukti yang mengarah pada permasalahan, antara lain: SP2D belanja
pegawai ke SKPD, jumlah pegawai sesuai data kepegawaian di BKD,
daftar nominatif dan kuitansi penerimaan gaji dari pegawai, dan lain-
lain.
(3)) Belanja sosial (bansos) tanpa prosedur pertanggung- jawaban, maka
pemeriksa melakukan uji substantif pada rincian pengeluaran bansos,
dasar/bukti-bukti pengeluaran bansos, dokumen penyerahan bansos
ke sasaran dan sebagainya.
(2) Jika pengelolaan kas di Bendahara Pengeluaran tidak tertib atau tidak
menyelenggarakan Buku Kas Umum dan buku-buku pembantu lainnya,
pemeriksa harus melakukan cash opname dan pengujian atas bukti-bukti
pertanggungjawaban uang persediaan dan bukti setor kembali ke Kas
Daerah.
(3) Jika tujuan langkah pemeriksaan sudah jelas, misalnya untuk menemukan
belanja akhir tahun yang pertanggungjawabannya tidak valid maka sampel
yang dipilih adalah dokumen-dokumen belanja yang terjadi akhir tahun.
(4) Jika dalam analytical review, pemeriksa melihat adanya hubungan tidak
normal antar akun, misal akun belanja modal dengan aset tetap, atau
adanya tren yang tidak normal misal realisasi belanja modal menumpuk di
akhir tahun, maka sampel yang akan dipilih difokuskan pada berita-berita
acara serah terima di akhir tahun karena kemungkinan besar terdapat
proyek yang belum selesai akan tetapi berita acara sudah dibuat selesai
dan dibayar. Jika terjadi ketidaksejalanan antara perubahan belanja
pegawai dengan perubahan jumlah pegawai entitas, pemeriksa disarankan
agar melakukan sampling terhadap pengeluaran belanja pegawai tersebut
untuk bulan-bulan dimana terjadi kondisi tersebut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 11


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

(5) Jika terjadi belanja yang signifikan diluar siklus yang normal, disarankan
agar pemeriksa melakukan sampling terhadap belanja tersebut. Contoh:
pengeluaran belanja yang signifikan pada Badan Koordinasi Penanganan
Bencana umumnya terjadi pada saat terjadi bencana atau satu sampai
dengan dua bulan setelah terjadinya bencana. Oleh karena itu, jika terjadi
pengeluaran belanja yang signifikan pada periode bulan keempat setelah
terjadinya bencana atau sebelum terjadinya bencana, disarankan agar
pemeriksa melakukan sampling terhadap pengeluaran belanja tersebut.
(6) Jika terjadi pola pengeluaran belanja yang tidak biasa, disarankan agar
pemeriksa melakukan sampling terhadap pengeluaran belanja tersebut.
Contoh: Pencairan SP2D oleh SKPD di akhir tahun anggaran yang jauh
lebih besar dibandingkan dengan pencairan SP2D bulan-bulan
sebelumnya. Jika hal tersebut terjadi, disarankan agar pemeriksa
melakukan uji petik pengeluaran belanja pada SKPD A pada bulan-bulan
tersebut.
Dalam memilih unit sampel berupa akun yang akan disampel dan diuji,
pemeriksa mempertimbangkan siklus akun terkait. Misalnya: ketika pemeriksa
memutuskan akan mengambil sampel akun belanja modal, maka pemeriksa
sekaligus akan mengambil sampel pada akun aktiva tetap terkait belanja
modal tersebut.
5) Evaluasi Hasil Uji Petik

Setelah melakukan pengujian dan menemukan ada beberapa kesalahan.


Pemeriksa tidak dapat langsung memroyeksikan kesalahan tersebut ke
populasi. Pemeriksa harus menggunakan judgement dengan beberapa
pertimbangan:
(1) Besarnya nilai temuan dibandingkan TE. Jika melebihi TE, maka akun
tersebut dapat dipertimbangkan mempengaruhi opini.
(2) Frekuensi terjadinya kesalahan. Jika kesalahan yang ditemukan hanya
kasus yang terjadi pada satu waktu tertentu maka kesimpulan akan
berbeda dengan kesalahan yang sudah umum terjadi dan frekuensi
keterjadiannya pada beberapa waktu tertentu dalam satu tahun. Misalnya,
kesalahan yang terjadi 3 kali dalam setahun dan umum terjadi seperti
kesalahan mata anggaran belanja barang ke belanja modal akan
menyebabkan pemeriksa berkesimpulan kesalahan serupa banyak terjadi
dan mempengaruhi kewajaran akun. Sedangkan kesalahan yang tidak
umum terjadi dan hanya terjadi dalam satu waktu tertentu mungkin
menyebabkan pemeriksa berkesimpulan kesalahan sejenis tidak banyak
terjadi dan tidak mempengaruhi kewajaran akun.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 12


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

(3) Unsur tindak pidana. Jika terdapat unsur tindak pidana dalam satu temuan
maka pemeriksa harus waspada dan berupaya memperluas pengujian
untuk mendapatkan keyakinan awal bahwa indikasi tindak pidana eksis
atau tidak. Pemeriksa sebaiknya mempertimbangkan bahwa tindak pidana
tersebut mempengaruhi kewajaran akun.
(4) Penyebab kesalahan apakah disebabkan oleh sistem aplikasi atau
kesalahan personil. Jika kesalahan disebabkan karena kelemahan sistem
aplikasi maka kemungkinan besar kesalahan akan mempengaruhi
kewajaran akun.
6) Mendokumentasikan perencanaan, pemilihan, pengujian dan evaluasi hasil.

Pemeriksa mendokumentasikan setiap langkah penetapan uji petik dan


hasilnya dalam Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP). Dokumentasi setidaknya
berisi dasar penentuan lokasi/satker yang akan diperiksa, pendekatan sampel
yang digunakan dan alasannya, tujuan pengujian, definisi populasi dan unit
sampling, ukuran sample, pemilihan sampel, hasil pelaksanaan pengujian,
dan evaluasi hasil pengujian.
5.3.2 Pendekatan Uji Petik Statistik
Berbeda dengan pendekatan non-statistik (judgement), dalam melakukan
pengujian pengendalian (Control Testing) dan pengujian substantif (substantive
testing) metode uji petik yang digunakan berturut-turut adalah Attribute Sampling
dan Monetary Unit Sampling/Variable Sampling. Berikut merupakan tabel
hubungan metode uji petik dengan jenis pengujian yang digunakannya.

No. Metode Uji Petik Jenis Pengujian

1. Attribute Sampling Pengujian Pengendalian

2. Variable Sampling Pengujian Substantif

3. Monetary unit Sampling Pengujian Substantif


Apakah dalam setiap pemeriksaan pengujian pengendalian harus selalu
dilakukan? Jawabannya tidak. Pemeriksa dapat melihat kaitan antara risiko
pengendalian awal yang telah ditetapkan dengan pendekatan yang digunakan
dalam strategi pemeriksaan sebagai berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 13


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Risiko Pengendalian Pendekatan Pemeriksaan

Sangat tidak mengandalkan pengendalian. Pemeriksa dapat


High (Maximum) melakukan pengujian substantif langsung tanpa test of control
(substantive approach).

Sebagian mengandalkan pengendalian. Pemeriksa dapat


Medium melakukan test of control yang kemudian dilanjutkan dengan
pengujian substantif. (Test of control and substantive approach)

Sangat mengandalkan pengendalian. Pemeriksa dapat melakukan


test of control saja. Jika diperlukan, pengujian substantif sangat
Low
terbatas seperti analytical substantive procedure. (Test of control
approach)
Dengan mempertimbangkan risiko pengendalian awal dan kaitannya
dengan pendekatan pemeriksaan, maka pemeriksa dapat menentukan apakah
melakukan pengujian pengendalian dan atau substantif.
Berikut merupakan tahapan-tahapan penentuan sampel dengan
pendekatan statistik dalam pengujian pengendalian dan pengujian substantif:

1) Pengujian Pengendalian (Attribute Sampling)

Pengujian pengendalian meliputi langkah-langkah sebagai berikut.


(1) Penetapan tujuan pengujian

Dalam attribute sampling, tujuan pengujian adalah untuk mengetahui


apakah sampel-sampel yang mewakili populasi telah sesuai dengan atribut
yang sebelumnya telah didefinisikan.
(2) Pendefinisian populasi dan unit uji petik/sampel

Atribut merupakan kualitas/sifat yang berkaitan dengan populasi yang diuji


petik, sedangkan deviasi merupakan atribut yang negatif atau defektif,
terkadang disebut pula sebagai kekeliruan (error). Misalnya, di dalam
pengujian pengendalian dan substantif atas transaksi belanja, salah satu
atribut yang diuji adalah bahwa semua SPM telah diotorisasi oleh
Pengguna Anggaran, sedangkan deviasinya adalah jika ada SPM yang
dicairkan namun tidak diotorisasi atau diotorisasi oleh pejabat yang tidak
berwenang.
Misalnya, di dalam pengujian pengendalian atas transaksi belanja,
ditetapkan populasi adalah seluruh SPM yang telah diterbitkan dan telah
dicairkan melalui penerbitan SP2D dari KPPN selama tahun anggaran

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 14


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

yang diperiksa. Dalam hal ini diketahui bahwa jumlah SPM yang telah
diterbitkan adalah 20.000 lembar sehingga populasinya adalah 20.000 dan
unit samplingnya adalah dokumen SPM beserta dokumen pendukungnya.
(3) Penentuan ukuran sampel

Untuk menentukan ukuran sampel, pemeriksa terlebih dahulu menentukan


parameter-parameter sebagai berikut.

(1))Penetapan tolerable exception rate (TER)


Tolerable Exception Rate (TER) atau Upper Error Limit (UEL)
merupakan tingkat kekeliruan di dalam sampel yang diuji yang masih
dapat diterima untuk tetap menyimpulkan bahwa pengendalian berjalan
efektif dan/atau jumlah salah saji di dalam transaksi yang ditemukan
masih dapat diterima.
Contoh, jika untuk atribut adanya otorisasi dari Pengguna Anggaran
pada SPM, pemeriksa menetapkan TER atau UEL 5%, hal ini berarti
pemeriksa memutuskan bahwa jika ditemukan 5% dari sampel SPM
tidak diotorisasi, maka pengendalian masih efektif sesuai dengan risiko
pengendalian yang ditetapkan pada perencanaan pemeriksaan.
Penentuan besarnya TER sangat tergantung pada penilaian pemeriksa
terhadap keandalan pengendalian intern. Dalam juknis ini terdapat tiga
tingkatan TER yang disarankan untuk masing-masing tingkat risiko
pengendalian yang direncanakan.

Risiko Pengendalian Awal TER

High (Maximum) Tidak melakukan pengujian pengendalian

Medium 6%-10%

Low 3%-5%

(2)) Penetapan tingkat keandalan atau tingkat keyakinan


Tingkat keandalan atau tingkat keyakinan merupakan probabilitas
benar dalam mempercayai efektivitas pengendalian intern. Tingkat
keandalan atau tingkat keyakinan merupakan kebalikan dari Accepted
Risk of Assesing Control Risk Too Low (ARACR). ARACR merupakan
tingkat risiko yang masih dapat diterima oleh pemeriksa karena telah
menyimpulkan bahwa pengendalian masih berjalan efektif ketika pada

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 15


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

kenyataannya pengendalian tidak berjalan efektif. Dalam pengujian


pengendalian, umumnya pemeriksa dapat menggunakan tingkat
keandalan sebesar 90%, 95% atau 99%. Penentuan besarnya tingkat
keandalan yang akan digunakan akan tergantung kepada kepercayaan
pemeriksa terhadap pengendalian intern entitas yang diperiksa.
(3)) Penetapan expected error rate (EER)

Expected Error Rate (EER) merupakan jumlah kesalahan yang


diperkirakan akan terjadi dalam populasi. Hal ini biasanya ditetapkan
berdasarkan pengalaman pemeriksa sehingga memerlukan
pertimbangan professional Misalnya, berdasarkan pengalaman tahun
lalu pemeriksa memperkirakan bahwa kesalahan yang ditemukan tidak
lebih dari 2%, dengan demikian EER adalah 2%. Namun dalam hal
pemeriksa tidak memiliki pengalaman mengenai besarnya kesalahan
dalam suatu populasi, maka ia dapat mengambil 50 sampel awal untuk
menaksir tingkat kesalahan yang terdapat dalam populasi. Misalnya
dari pemeriksaan atas 50 sampel, ditemukan satu penyimpangan,
maka taksiran expected error rate-nya adalah sebesar 2% (1:50).
Setelah menetapkan parameter-parameter diatas, ukuran sampel
dapat ditetapkan dengan menggunakan software pemeriksaan seperti
ACL dengan menggunakan perintah Size setelah memasukkan
parameter jumlah populasi, tingkat keandalan, EER dan UEL, atau
secara manual dengan menggunakan tabel Penentuan Ukuran Sampel
sesuai dengan tingkat keandalan seperti yang dapat dilihat pada
Lampiran 5.1.
Dari penentuan ukuran sampel ini sekaligus akan diperoleh jumlah
kesalahan yang masih dapat diterima (NTE) oleh pemeriksa tanpa
harus menurunkan atau menaikkan tingkat risiko pengendalian yang
telah ditetapkan sebelumnya. Pada tabel Penentuan Ukuran Sampel,
NTE ditunjukkan dengan angka dalam tanda kurung.
(4) Pemilihan Sampel dan Pelaksanaan Pengujian

Setelah mendapatkan jumlah sampel, Pemeriksa dapat melakukan


pemilihan sampel dengan menggunakan metode random (probabilistic
approach) secara otomatis di ACL, metode sistematik dengan
menggunakan penambahan nilai tertentu (mis: incremental 10 angka),
stratifikasi atau menggunakan judgment untuk memilih item-item mana saja
yang akan dipilih.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 16


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

(5) Evaluasi Hasil Uji Petik

Jika dari hasil uji petik ditemukan kesalahan/deviasi lebih kecil atau sama
dengan NTE, maka hasil uji petik tersebut mendukung kesimpulan tentang
tingkat keandalan (ARACR) serta tingkat UEL. Misalnya, jika dengan
tingkat keyakinan 95%, EER 2% serta UEL 5% yang ditetapkan didapatkan
nilai NTE sama dengan 6, dan hasil uji petik ditemukan deviasi sebanyak 5,
maka dapat disimpulkan bahwa pengendalian telah berjalan efektif namun
terdapat risiko sebesar 5% bahwa pemeriksa salah memberikan
kesimpulan. Bila tidak demikian, misalnya ditemukan deviasi lebih dari
pada 6, maka pemeriksa perlu memperbaiki tingkat EER ataupun ARACR
yang ditetapkan. Baik deviasi yang ditemukan lebih besar maupun lebih
kecil daripada NTE, pemeriksa perlu meng-update matriks penilaian risiko
terutama jika ada perubahan tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan
pada tahap penilaian risiko.
Contoh penggunaan metode uji petik atribut (attribute sampling) dapat dilihat
pada Boks 1 di bawah ini.
Boks 1
CONTOH PENERAPAN METODE UJI PETIK ATRIBUT (ATTRIBUTE SAMPLING)
Sebagai bagian dari pengujian atas pos belanja, pemeriksa melakukan pengujian
pengendalian terhadap otorisasi Surat Perintah Membayar (SPM).
Penetapan tujuan pengujian: uji petik ini dilakukan untuk menguji apakah proses
pengendalian dalam penerbitan SPM sebagai dokumen otorisasi untuk transaksi belanja
berjalan efektif.
Penetapan atribut dan deviasi: Karena pengujian ditujukan untuk mengetahui
pengendalian terhadap otorisasi SPM, maka atributnya yang ditetapkan adalah SPM
telah diotorisaasi oleh Pengguna Anggaran, sedangkan deviasinya adalah jika ada SPM
yang dicairkan namun tidak diotorisasi atau diotorisasi tapi tidak oleh pejabat yang
berwenang.
Pendefinisian populasi dan unit sampling: Populasi yang akan diambil sampelnya berupa
20.000 lembar SPM.
Penentuan metode pemillihan sampel: simple random sampling.
Penetapan TER: Pemeriksa menetapkan tingkat tolerable error (TER) sebesar 5%.
Penetapan tingkat keandalan: Pemeriksa menetapkan tingkat keandalan sebesar 95%,
atau tingkat ARACR (risiko menilai risiko pengendalian terlalu rendah) sebesar 5%.
Penetapan EER: Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya pemeriksa menetapkan
expected error rate (EER) sebesar 2%.
Penentuan ukuran sampel ditetapkan dengan merujuk pada table ukuran sampel untuk uji
petik atribut dengan tingkat keandalan/keyakinan 95% seperti yang tercantum pada
Lampiran 5.1. Pada tabel tersebut dengan tingkat keyakinan 95%, pilih EER sebesar 2%

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 17


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

dan TER sebesar 5%, diperoleh jumlah sampel sebesar 181 unsur. Dengan melihat tabel
tersebut, selain diperoleh ukuran sampel, juga diperoleh nilai NTE (kesalahan yang masih
dapat diterima) yang ditunjukkan dengan angka dalam kurung disamping ukuran sampel,
yaitu 4.
Pemilihan sampel: Setelah jumlah sampel yang harus dipilih diketahui, maka pemeriksa
harus memilih sampel tersebut dari keseluruhan populasi. Dalam hal ini pemeriksa harus
memilih 181 unsur diantara 20.000 lembar SPM yang ada. Teknik penyeleksian 181 unsur
dari 20.000 dapat dilakukan dengan memilih teknik pemilihan sampel tertentu, misalnya
simple random sampling.
. Pelaksanaan pengujian: Setelah 181 SPM terpilih sebagai sampel, pemeriksa memeriksa
atribut yang ditetapkan sebelumnya, berupa SPM yang ditandatangani oleh Pengguna
Anggaran. Pemeriksa harus mencatat berapa kali ia menemukan SPM yang tidak
diotorisasi dengan semestinya.
. Evaluasi hasil uji petik: Misalnya, setelah memeriksa 181 SPM, pemeriksa menemukan
terdapat 3 lembar SPM yang tidak diotorisasi dengan semestinya, jumlah kesalahan
tersebut kemudian dibandingkan dengan NTE yang diperoleh sebelumnya, yaitu 4. Karena
jumlah kesalahan yang diperoleh masih lebih kecil dari nilai NTE, maka pemeriksa dapat
menyimpulkan bahwa pengendalian telah berjalan efektif namun terdapat risiko sebesar
5% bahwa pemeriksa salah memberikan kesimpulan.

2) Pengujian Substantif (Monetary Unit Sampling)

Pengujian substantif meliputi langkah-langkah sebagai berikut.

(1) Penetapan tujuan pengujian

Dalam juknis ini, uji petik satuan mata uang ditetapkan untuk digunakan
dalam pengujian substantif. Karena itu tujuan yang ditetapkan adalah
menguji apakah akun-akun yang terdapat pada laporan keuangan telah
disajikan secara wajar.
(2) Mendefinisikan populasi dan unit samplingnya. Misalnya, untuk pengujian
substantif atas transaksi belanja, ditetapkan populasi adalah seluruh SPM
yang telah diterbitkan dan telah dicairkan melalui penerbitan Surat Perintah
Pencairan Dana (SP2D) dari BUD selama tahun anggaran yang diperiksa.
Dalam hal ini diketahui bahwa jumlah SPM yang telah diterbitkan adalah
20.000 lembar sehingga populasinya adalah 20.000 dan unit sampling-nya
adalah dokumen SPM beserta dokumen pendukungnya.
(3) Menentukan tingkat reliability factor untuk risk of incorrect acceptance (β
risk). Risk of incorrect acceptance (β risk) adalah risiko yang masih dapat
diterima oleh pemeriksa karena telah menerima bahwa hasil uji petik
mendukung kesimpulan bahwa saldo yang tercatat tidak mengandung

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 18


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

salah saji material padahal sebenarnya terdapat salah saji material. Untuk
memilih nilai β risk auditor harus menggunakan judgment dan
mempertimbangkan risiko. Namun, mengingat kondisi akuntabilitas
pemerintah yang saat ini masih banyak memiliki kelemahan sistem
pengendalian dalam hampir semua kegiatan/transaksi maka β risk yang
layak dipilih adalah 1-10%. Namun juga auditor memiliki pertimbangan lain
yang layak maka auditor dapat memiliki tingkat risiko β yang lain.
(4) Menentukan tolerable misstatement, expected misstatement, dan
expansion factor. Tolerable misstatement adalah sama dengan tolerable
error per akun yang telah dialokasikan pada saat penentuan tolerable error.
Expected misstatement adalah perkiraan nilai kesalahan yang mungkin
terjadi. Untuk menentukan EM maka auditor harus mempertimbangkan
temuan-temuan tahun sebelumnya atau hasil pemeriksaan interim. Jika
auditor menghitung EM maka Expansion Factor harus dipilih menggunakan
tabel pada lampiran 5.2.
(5) Penentuan ukuran sampel

Rumus menentukan besarnya sampel adalah:

Keterangan:
N : Ukuran Sampel
BV : Nilai buku (Nilai yang tercatat untuk setiap unsur)
RF : Faktor keandalan (Reliability Factor), yaitu suatu faktor untuk
menyatakan risiko atas penerimaan yang salah, dengan asumsi tidak
ada kekeliruan (nol kekeliruan). RF 0 (untuk kekeliruan yang
diharapkan = nol, atau U) disajikan pada Lampiran 5.2.
TM : Salah saji yang dapat diterima (Tolerable Misstatement), yaitu salah
saji maksimum yang boleh ada dalam populasi tanpa membuat
laporan keuangan dianggap memberikan pandangan/ pengarahan
yang salah (misleading).
EM Salah saji yang diharapkan (Expected Misstatement), yaitu estimas
Pemeriksa pemeriksa atas salah saji moneter dalam populasi.
Biasanya hal ini diestimasikan berdasarkan pengalaman masa lalu
dan pengetahuan mengenai entitas yang diperiksa
EF : Faktor ekspansi (Expansion Factor), yaitu suatu faktor atas salah saji
yang diharapkan, juga menggambarkan penerimaan yang salah. Nilai
faktor ekspansi disajikan pada Lampiran 5.2.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 19


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

(6) Pemilihan Sampel dan Pelaksanaan Pengujian

Tahap pemilihan sampel dan pelaksanaan pengujian pada monetary unit


sampling meliputi:

(1))Pemilihan Sampel
Pemilihan sampel dapat dilakukan dengan menggunakan software
pemeriksaan seperti ACL dengan memasukkan perintah random
setelah memasukkan beberapa parameter seperti yang telah
disebutkan di atas, atau secara manual dengan menggunakan tabel
nomor acak seperti telah diilustrasikan pada bagian metode pemilihan
sampel.
(2))Melakukan prosedur pemeriksaan
Lakukan prosedur pemeriksaan terhadap sampel yang terpilih sesuai
dengan tujuan pemeriksaan yang ingin dicapai.
(7) Evaluasi Hasil Uji Petik

Setelah auditor menyelesaikan pengujian pemeriksaan atas unit fisik yang


terkait dengan unit moneter yang dipilih, ia akan mengevaluasi kekeliruan
yang ditemukan. Untuk mengevaluasi kekeliruan yang ditemukan langkah
yang dilakukan adalah mengevaluasi nilai salah saji moneter maksimum
(Max) yang kemudian dibandingkan dengan nilai salah saji yang dapat
diterima (TM). Apabila nilai max sama atau lebih kecil dari nilai TM, maka
hasil pemeriksaan sampel akan mendukung kesimpulan pemeriksa, bahwa
populasi yang terwakili dengan sampel tersebut tidak mengandung salah
saji.
Cara menghitung nilai max adalah:

Ket:
Max : Salah saji moneter maksimum
BV : Nilai buku
UMLx : Batas atas salah saji (upper misstatement limit)
N : Jumlah/ukuran sampel

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 20


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Estimasi nilai salah saji moneter maksimum di dalam populasi dapat


disaring kembali dengan menggunakan informasi tambahan yang diperoleh
di dalam sampel, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1) Batasan dasar (Basic bound)
Jika tidak ditemukan adanya salah saji, pemeriksa akan
mengestimasikan Max sebagai.

Dengan tidak adanya salah saji, nilai tersebut akan merupakan batasan
dasar (basic bound). Apapun hasil pengujian sampel, pemeriksa akan
selalu mengestimasikan jumlah moneter maksimum dari overstatement
setidaknya sebesar batasan dasar (basic bound) untuk tingkat risiko
yang telah ditetapkan.
2) Kesalahan (tainting)

Tentukan nilai tainting t untuk setiap unit fisik yang mengandung


kesalahan, catat setiap t dalam salah satu dari dua kelompok berikut:
understatement atau overstatement. Setelah seluruh tainting
ditentukan, urutkan setiap kelompok mulai dari yang terbesar sampai
yang terkecil (t1 = tainting dengan nilai salah saji relatif yang terbesar,
t2 = tainting dengan nilai salah saji relatif terbesar kedua, dan
seterusnya). Kemudian hitung Max, setelah memperhitungkan tainting.
3) Overstatement saja
Peningkatan dalam Pemeriksaan dengan ditemukannya satu
overstatement adalah:

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 21


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

4) Overstatement dan understatement

Ketika ditemukan baik overstatement maupun understatement dalam


sampel yang dipilih, apabila ukuran sampel telah cukup memadai,
maka nilai bersih overstatement maksimum adalah:

Jika auditor menemukan bahwa dengan menerapkan pendekatan di


atas ternyata menghasilkan nilai bersih yang lebih kecil dari batasan
dasar (basic bound) atau jumlah kesalahan understatement melebihi
jumlah kesalahan overstatement, maka auditor perlu secara teliti
menguji kembali pertimbangannya dalam menggunakan pendekatan
Monetary Unit Sampling (MUS). Jika diperlukan, auditor perlu
mengganti pendekatan MUS yang digunakannya dengan pendekatan
yang menggunakan sampel variabel. Jika auditor memutuskan, setelah
melakukan pengujian ulang, bahwa penggunaan pendekatan MUS
tetap sesuai, maka auditor akan mengestimasi NetMax o/s setidak-
tidaknya sebesar batasan dasar (basic bound), untuk tingkat risiko yang
telah ditetapkan.
Dalam melakukan evaluasi, auditor harus menyimpulkan apakah nilai
buku yang dilaporkan dapat diterima dengan membandingkan antara
max atau NetMax o/s , yang relevan dengan TM.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 22


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Contoh penggunaan metode MUS dapat dilihat pada Boks di bawah ini.

Boks 2 :
CONTOH PENERAPAN METODE UJI PETIK SATUAN MATA UANG
(MONETARY UNIT SAMPLING)
Pemeriksa menggunakan metode uji petik satuan mata uang untuk menilai
kewajaran saldo piutang. Akun piutang bernilai Rp50.000.000.000, pemeriksa
mentolerir risiko beta sebesar 5%, Besarnya kesalahan maksimum yang dapat
ditolerir adalah Rp600.000.000 pemeriksa memperkirakan adanya kesalahan
sebesar Rp50.000.000.
Diasumsikan bahwa pekerjaan lapangan menunjukkan bahwa terdapat dua
overstatement, yaitu Rp5.000.000 dari nilai buku Rp10.000.000 dan
Rp16.000.000 dari nilai buku Rp20.000.000.
Dari contoh tersebut, maka diketahui:
BV = 50.000.000.000
TM = 600.000.000
β = 5%
EM = 50.000.000
RF = 3 (Lihat lampiran 5.2 RF dengan risiko 5%)
EF = 1,6 (Lihat lampiran 5.2 EF dengan risiko 5%)
UML0 = 3 (Lihat lampiran 5.3 UML dengan risiko 5%)
UML1 = 4,8 (Lihat lampiran 5.3 UML dengan risiko 5%)
UML2 = 6,3 (Lihat lampiran 5.33 UML dengan risiko 5%)
1. Hitung ukuran sampel n:
= 288 unsur
2. Hitung tainting t1 dan t2:
t1 = Rp5.000.000/10.000.000 = 0,5
t2 = Rp16.000.000/20.000.000 = 0,8
3. Hitung Max :

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 23


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

= 885.416.667
4. Kesimpulan
Dengan hasil di atas, auditor 95 persen yakin bahwa nilai moneter dari
overstatement dalam akun piutang tidak melebihi Rp885.416.667. Namun
karena nilai ini melebihi TM, yaitu Rp600 juta, maka pemeriksa mungkin
menolak BV berdasarkan hasil pengujiannya.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 24


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Lampiran 5.1

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 25


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Lampiran 5.2

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 26


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Lampiran 5.3

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 27


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

BAB 6
KERTAS KERJA PEMERIKSAAN

6.1 Gambaran Umum


Dalam rangka melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan Standar
Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), pemeriksa harus mempersiapkan dan
memelihara dokumentasi pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja pemeriksaan (KKP).
Dokumentasi pemeriksaan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk memungkinkan
pemeriksa yang berpengalaman, tetapi tidak mempunyai hubungan dengan
pemeriksaan tersebut dapat memastikan bahwa dokumentasi pemeriksaan tersebut
dapat menjadi bukti yang mendukung pertimbangan dan simpulan pemeriksa. Selain
itu dokumentasi pemeriksaan harus mendukung opini, temuan, simpulan dan
rekomendasi pemeriksaan.

6.2 Fungsi dan Manfaat Dokumentasi Kertas Kerja Pemeriksaan


Dokumentasi pemeriksaan berfungsi sebagai bentuk pertanggungjawaban
pemeriksaan yang dilakukan pemeriksa, bahan penilaian kualitas pemeriksaan, serta
satu di antara sumber atau referensi pemeriksaan berikutnya. Manfaat dokumentasi
pemeriksaan adalah untuk:
1) Dasar penyusunan laporan hasil pemeriksaan atau alat penghubung antara
pekerjaan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan.

2) Alat mereviu, mengendalikan dan mengawasi pekerjaan para pelaksana


pemeriksaan.
3) Alat pembuktian yang mendukung laporan hasil pemeriksaan.

4) Sarana mengevaluasi seluruh atau sebagian hasil pemeriksaan.


5) Sumber data atau informasi bagi kelanjutan pemeriksaan dan perencanaan
pemeriksaan berikutnya.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

6.3 Lingkup Dokumentasi KKP


Dokumentasi pemeriksaan meliputi catatan dan/atau hasil pekerjaan pemeriksa
(perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan), bukti-bukti
pemeriksaan yang kompeten, relevan, dan cukup untuk mendukung catatan dan/atau
hasil pekerjaan pemeriksa.

6.4 Syarat dan Unsur-Unsur Dokumentasi Pemeriksaan


Agar KKP sesuai dengan fungsi dan manfaat, KKP harus memenuhi syarat
akurat atau tepat, relevan, lengkap, ringkas, kompeten, cukup, jelas, sistematis, rapi,
aman, mudah diakses dan bersih. Untuk memenuhi syarat tersebut, dokumentasi
pemeriksaan perlu dibuat dengan kode dan simbol tertentu secara konsisten dan
sistematik. Kode dan simbol tersebut meliputi indeksasi dokumentasi pemeriksaan,
simbol analisis (tickmark), referensi silang (cross reference) antar dokumentasi
pemeriksaan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan
serta dokumentasi pemeriksaan sebelumnya.

6.5 Tahapan Pendokumentasian Pemeriksaan LKPD


Tahapan pendokumentasian pemeriksaan LKPD meliputi perencanaan
indeksasi KKP, penyusunan KKP, pemberian tanda simbol analisis, pemberian
referensi silang, pereviuan KKP, pelabelan KKP, penyerahan KKP, pengendalian mutu
KKP, dan penyimpanan KKP.
6.5.1 Indeksasi KKP
Pemeriksaan LKPD diklasifikasikan dalam tiga kelompok indeksasi yaitu:

1) KKP Indeks A
KKP Indeks A meliputi catatan dan/atau hasil pekerjaan pemeriksa dalam tahap
perencanaan pemeriksaan yang menghasilkan surat tugas, P2, PKP, Pemahaman
Entitas, Stuktur Organisasi, Peraturan-peraturan terkait LKPD, Pemahaman Sistem
Pengendalian Intern, Pemahaman dan Penilaian Risiko, dan Prosedur Analitikal
Awal.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

Untuk setiap tahapan diberikan indeksasi A.1, A.2, A3,…,A19. Indeksasi secara
keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 6.1.
2) KKP Indeks B

KKP Indeks B meliputi catatan dan/atau hasil pekerjaan pemeriksa dalam


pelaksanaan pemeriksaan yang menghasilkan simpulan dan temuan pemeriksaan
(TP) serta pengakhiran pemeriksaan.

Untuk setiap tahapan diberikan indeksasi B.1, B.2, B3,….,B11. Indeksasi secara
keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 6.1.
Pengujian akun-akun Neraca dan Laporan Realisasi Anggaran yang dibuat KKP-
nya adalah akun dengan indeks tiga digit. Setiap akun tersebut disusun satu
kesatuan dengan urutan sebagai berikut:
(1) Lembar Sampul (cover sheet) disingkat CS, format dapat dilihat pada
Lampiran 6.2;
(2) Hasil Pelaksanaan Prosedur Pemeriksaan disingkat HP3, format dapat dilihat
pada Lampiran 6.3;
(3) Lembar Utama (lead schedule) disingkat LS, format dapat dilihat pada
Lampiran 6.4;
(4) Lembar Pendukung (supporting schedule) disingkat SS, format dapat dilihat
pada Lampiran 6.5;
(5) Lembar Pelaksanaan Pengujian Substantif (substantive test) disingkat ST;
(6) Lembar Pelaksanaan Pengujian Pengendalian (control test) disingkat CT ;

(7) Lembar Pelaksanaan Pengujian Penyajian dan Pengungkapan disingkat PD;


(8) Dokumen/bukti relevan yang diperoleh dari auditee disingkat BA;
(9) Berita Acara Pengujian Cek Fisik/Opname disingkat BF;

(10) Hasil konfirmasi dari pihak ketiga disingkat BK;dan


(11) Hasil wawancara secara tertulis disingkat BW.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

Sebagai contoh KKP pengujian akun Kas di Kas Daerah dengan kode indeks
B.1.1.1 mempunyai dua lembar pendukung dan enam prosedur pengujian
substantif, penomoran KKP-nya adalah sebagai berikut:
Tabel 6.1 Kode Indeksasi akun Kas di Kas Daerah

No Keterangan Kode KKP No Keterangan Kode KKP

1 Lembar Sampul B.1.1.1.CS.01 7 Lembar B.1.1.1.PD.01


Pelaksanaan
Pengujian
Penyajian dan
Pengungkapan

2 Hasil B.1.1.1.HP.01 8 Dokumen/bukti B.1.1.1.BA.01


Pelaksanaan yang diperoleh dari B.1.1.1.BA.02
Prosedur auditee
Pemeriksaan ….dst.

3 Lembar Utama B.1.1.1.LS.01 9 Berita Acara Cash B.1.1.1.BF.01


Opname

4 Lembar B.1.1.1.SS.01 10 Hasil konfirmasi B.1.1.1.BK.01


Pendukung dari pihak ketiga
B.1.1.1.SS.02

5 Lembar B.1.1.1.ST.01 11 Hasil wawancara B.1.1.1.BW.01


Pelaksanaan secara tertulis
B.1.1.1.ST.02
Pengujian
Substantif ….dst
B.1.1.1.ST.06

6 Lembar B.1.1.1.CT.01
Pelaksanaan
Pengujian
Pengendalian
Setiap bukti/dokumen yang diperoleh dari entitas, analisis yang dibuat oleh
pemeriksa dan diperoleh dari pihak ketiga harus diberikan nomor indeksasi.
Untuk setiap koreksi atas akun harus didokumentasikan pada lembar induk, jurnal-
jurnal tersebut akan dikumpulkan dalam KKP Daftar Jurnal Koreksi yang terlebih
dahulu disetujui oleh Pengendali Teknis sebelum diajukan kepada auditee. Jurnal
koreksi yang diajukan oleh pemeriksa diberi kode PAJE#XX (XX= nomor dua digit)
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4
Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

dan jurnal reklasifikasi diberi kode PRJE#XX. Contoh dapat dilihat pada KKP dalam
bentuk CD yang merupakan satu kesatuan dengan panduan ini. Sedangkan jurnal
koreksi yang diajukan oleh entitas diberi kode CAJE#XX. Namun demikian
pengajuan jurnal oleh auditee belum ada dasar hukum yang mengatur apakah
diperbolehkan audite mengajukan jurnal koreksi setelah dilakukannya penyerahan
LKPD oleh kepala daerah untuk diperiksa.

3) KKP Indeks C
KKP Indeks C meliputi catatan dan/atau hasil pekerjaan pemeriksa dalam tahap
pelaporan pemeriksaan.

Untuk setiap tahapan diberikan indeksasi C.1, C.2, C3, dan C.4 Indeksasi secara
keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 6.1.
6.5.2 Penyusunan KKP
KKP disusun memuat informasi mengenai identitas BPK (simbol dan nama),
pernyataan “Kertas Kerja Pemeriksaan”, entitas dan tahun yang diperiksa, nomor kode
indeks KKP, nama/initial, tanggal dan paraf, simbol analisis (tickmark) dan pemberian
referensi Silang (cross reference).
6.5.3 Pemberian Tanda Simbol Analisis (Tickmarks)
Tickmarks adalah tanda berupa simbol/huruf/angka yang digunakan untuk
menandakan bahwa suatu prosedur pemeriksaan telah dilakukan oleh pemeriksa, atau
menandakan pemberian penjelasan lebih lanjut atas suatu informasi. Tickmarks
digunakan untuk menyederhanakan pendokumentasian pekerjaan yang telah dilakukan
dan kondisi yang ditemukan selama pelaksanaan pemeriksaan. Tanda tickmarks ini
diletakan di dekat/di sebelah data yang dijelaskannya. Penulisan tanda tickmark
sebaiknya menggunakan warna yang berbeda dengan warna tulisan yang merupakan
isi dari dokumen pemeriksaan tersebut. Setiap penggunaan tanda tickmark ini harus
disertai dengan label keterangan (legenda) yang menjelaskan maksud dari
penggunaan tanda tersebut pada kertas kerja. Legenda tersebut sebaiknya singkat dan
cukup dapat menjelaskan hasil dari prosedur pemeriksaan yang dilakukan. Tickmark
tidak boleh diberikan apabila prosedur tersebut tidak atau tidak dapat dilakukan oleh
pemeriksa. Contoh tickmarksdapat dilihat pada tabel 6.2 berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

Tabel 6.2 Daftar Tickmarks

No Tickmark Keterangan Penempatan

1 ∧ Footing Penambahan dan Ditempatkan di bawah


Pengurangan) angka total

2 < Cross Footing (Penambahan Ditempatkan di samping


dan Pengurangan) kanan angka total

3 PY Prior Year Sudah sesuai dengan saldo Ditempatkan di bawah


tahun lalu angka total

4 L Ledger Telah dicocokkan dengan Diletakkan disamping


buku besar kanan angka

5 / Telah dicocokkan dengan Diletakkan disamping


buku pembantu kanan angka

6 D Document Telah diperiksa dokumen Diletakkan disamping


(perjanjian, polis, kontrak) kanan angka

7 Vo Vouching Vouching Diletakkan disamping


kanan angka

8 J Journal Telah dicocokkan dengan Diletakkan disamping


Jurnal kanan angka

9 C Chaque Pemeriksaan cek batal Diletakkan disamping


kanan angka

10 CB Confirm Balance Jawaban Konfirmasi yang Diletakkan disamping


cocok kanan angka

11 RD Report Different Jawaban Konfirmasi yang Diletakkan disamping


tidak cocok kanan angka

12 RPO Return Post Office Jababan konfirmasi Diletakkan disamping


dikembalikan oleh Kantor Pos kanan angka

13 NR No Respon Bila tidak ada jawaban untuk Diletakkan disamping


tujuan lain kanan angka

14 PBC Prepared By Client Untuk menadakan bahwa Diletakkan disudut kiri


schedule dibuat oleh auditee atas dan ditulis tanggal
terimanya

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 6


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

6.5.4 Pemberian Referensi Silang (Cross Reference)


Catatan dan/atau hasil pekerjaan pemeriksa dapat saling berkaitan antara satu
KKP dengan KKP yang lain. Anggota Tim pemeriksa memberikan referensi silang pada
KKP yang disusunnya. Referensi silang tersebut menghubungkan KKP dalam satu
indeks dengen KKP indeks lain yang relevan antara lain sebagai berikut:
1) KKP Indeks A dengan KKP Indeks B, sesama KKP Indeks B, serta KKP Indeks B
dengan KKP Indeks C.
2) Lembar Sampul dengan Lembar Utama/Lembar Pendukung.
3) Lembar Utama dengan Lembar Pendukungnya.

4) Lembar Utama dengan Lembar Pendukung dari Lembar Utama yang lain
5) Lembar Pengujian dengan dokumen yang dicopy dari auditee/konfirmasi dari
pihak ketiga.
Gambar 6.1
Contoh Hubungan antar KKP & Referensi Silang

INDEKS A INDEKS B INDEKS C


Indek: B.1
LEMBAR SAMPUL Indek: C.1
Indek: A.2
Draft
PROGRAM
Laporan Hasil Pemeriksaan
PEMERIKSAAN
Akun yang diperiksa: KAS
Akun Prosedur KKP Ref Catatan
Hasil Pemeriksaan: Kondisi Lihat B.1
a. Kas.. 1. periksa.. A.3.1
Terjadi selisih karena penggunaan kas untuk lihat Krteria
b. Piutang
dipinjam oleh karyawan sebesar Rp 400 B.1.1 Sebab
dst
Usulan jurnal koreksi: Akibat
D Piutang Pegawai
K Kas di Bendahara
Kesimpulan:
Akun disajikan secara wajar.
Indek: A.3.1 Indeks: C.2
Indek: B.1.1
PROGRAM KERJA PERORANGAN KERTAS KERJA UTAMA Risalah Diskusi
Nama Pemeriksa: XXXXXXXX AKUN KAS
Akun Prosedur KKP Ref Catatan Nama Akun Kode Akun KKP Ref Saldo AJE (D) AJE (K) Audited
a. Kas.. 1. periksa fisik B.1 Temuan 1 & 2 digabung
KAS 121.001 B.1.1.1 15.000 0 400 14.600
2.tarik mundur Perbaikan substansi kondisi ke C.3
b. Piutang kas
Indek: B.1.1.1
dst
KERTAS KERJA PENDUKUNG
AKUN KAS
Nama Akun Kode Akun KKP Ref Saldo AJE (D) AJE (K) Audited
Kas di PK 121.001 B.1.1.1.1 650 0 400 250
Indek: C.3
Kas di BPD 122.001 B.1.2 4.500 0 0 4.500
Draft Final
dst... dst... dst... dst... dst... dst... dst..
Laporan Hasil Pemeriksaan
Total 15.000 14.600
Ke B.1.1
Gabungan TP 1 dan 2 Lihat C.2
Indeks: B.1.1.1.1
Indeks: B.1.1.1.a
Hasil Pelaksanaan
Berita Acara Pemeriksaan
Prosedur Pemeriksaan
Kas Prosedur: PKP a.1.
Pemeriksaan fisik kas di bendahara B.1.1.1.a
Terdapat selisih fisik kas Tujuan:
sebesar Rp 400 Menguji asersi keberadaan dan kelengkapan
ke B.1.1.1 saldo kas di bendahara
Hasil Pemeriksaan: selisih kas Rp 400
Kesimpulan: .......................

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 7


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

Langkah-langkah yang dimuat dalam P2 dihubungkan dengan PKP masing-


masing anggota tim yang ada di indeks A. Prosedur pemeriksaan yang dituangkan
dalam PKP dihubungkan dengan KKP lembar muka atau HP3 yang ada di indeks B.
Referensi silang ini untuk mempermudah kontrol atas pelaksanaan P2/PKP.
KKP lembar muka untuk pemeriksaan keuangan dihubungkan dengan KKP
Utama. KKP utama dihubungkan dengan KKP Pendukung, KKP Pendukung
dihubungkan dengan HP3, dan HP3 dihubungkan dengan bukti-bukti pendukungnya.
Konsep final Temuan Pemeriksaan (TP) dihubungkan dengan masing-masing
lembar muka yang relevan. Kriteria dalam TP pun dapat dihubungkan dengan
permanent file atau KKP tentang kriteria yang digunakan dalam pemeriksaan.
KKP Indeks B yang memuat temuan pemeriksaan diberikan referensi silang
dengan KKP Indeks C tentang konsep final LHP yang memuat temuan pemeriksaan
tersebut. Demikian pula, pada KKP Indeks C diberikan referensi silang KKP Indeks B
tersebut.
6.5.5 Pereviuan KKP
Pereviuan KKP dilakukan oleh Ketua Tim, Pengendali Teknis, dan/atau
Penanggung Jawab Pemeriksaan sesuai dengan kewenangannya. Hasil reviu
dituangkan dalam lembar reviu (review sheet) dan/atau lembar muka KKP dengan
membuat catatan dan simpulan reviu. Apabila digunakan lembar reviu tersendiri,
lembar reviu tersebut digabungkan dalam lembar KKP yang direviu. Contoh lembar
reviu dapat dilihat pada Lampiran 6.6.
Pereviu KKP memberikan identitas nama/initial, paraf, dan tanggal penyampaian
hasil reviunya untuk ditindaklanjuti oleh Anggota Tim apabila diperlukan atau tanggal
penyampaian ke jenjang lebih tinggi untuk pereviuan dan/atau persetujuan.
6.5.6 Pelabelan KKP
KKP yang telah selesai direviu oleh Pengendali Teknis, dimasukan ke dalam
kardus sesuai dengan urutan/ hasil pekerjaan pemeriksa (perencanaan, pelaksanaan,
dan pelaporan hasil pemeriksaan) dan setiap kardus diberikan label kardus seperti
gambar 6.2 berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 8


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

Gambar 6.2 Label Kardus

Setiap kardus dan odner juga dibuatkan daftar isi (Lampiran 6.7) untuk
mempermudah pencarian dokumen. Daftar isi kardus berisi rangkuman dokumen apa
saja yang tersimpan dalam kardus tersebut seperti gambar 6.3.
Gambar 6.3 Daftar Isi Kardus

Jika dalam satu odner terdiri dari beberapa dokumen KKP, maka untuk
mempermudah pencarian KKP, diberikan penanda batas untuk setiap KKP sepeti
gambar 6.4.
Gambar 6.4 Penanda Batas KKP

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 9


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

6.5.7 Penyerahan KKP


Ketua Tim pemeriksaan menyerahkan seluruh KKP dari tahap perencanaan,
pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan kepada Kepala Sub Auditorat dengan
tembusan kepada pemberi tugas paling lama 15 hari kerja setelah tanggal surat keluar
LHP. Penyerahan KKP dilakukan sesuai dengan Berita Acara Serah Terima KKP
seperti pada Lampiran 6.8.
6.5.8 Pengendalian Mutu KKP
KKP yang telah diserahkan kemudian direviu untuk memperoleh keyakinan mutu,
dan diberikan tanda TPRM pejabat. Pengendalian mutu dibahas lebih lanjut pada BAB
X tentang Pengendalian dan Penjaminan Mutu atas pemeriksaan.
6.5.9 Penyimpanan KKP
KKP yang telah diberi tanda TPRM kemudian disimpan dalam tempat
penyimpanan satuan kerja pelaksana BPK yang bersangkutan secara rapi, sistematis
dan aman selama dua tahun dari tahun pemeriksaan.
Dokumetasi pemeriksaan disusun harus memenuhi syarat akurat atau tepat,
relevan, lengkap, ringkas, kompeten, cukup, jelas, sistematis, rapi, aman, mudah
diakses dan bersih untuk mendukung opini, temuan, simpulan dan rekomendasi
pemeriksaan. Dokumen pemeriksaan secara utuh mulai dari perencanaan, pelaksanan
dan pelaporan pemeriksaan dapat dilihat pada CD yang merupakan satu kesatuan
dengan penduan ini. Dalam CD ini tetap menyajikan seluruh KKP pengujian akun-akun
Neraca dan Laporan Realisasi Anggaran. Namun, tim pemeriksa hanya membuat KKP
atas akun dan prosedur pemeriksaan yang dilakukan pengujian.
6.5.10 Hubungan Panduan tentang KKP dengan Sistem Aplikasi LKPD (SiAp
LKPD)
Pada saat ini, BPK sedang mengembangkan sebuah sistem aplikasi berbasis
teknologi informasi (IT) guna membantu mengefisienkan dan mengefektifkan
pelaksanaan pemeriksaan atas LKPD, yang dinamakan dengan SiAP LKPD. SiAP
LKPD ini nantinya akan membantu memfasilitasi dan mendokumentasikan seluruh
proses pemeriksaan LKPD, mulai dari perencanaan, pelaksanaan pekerjaan lapangan,
dan pelaporan. Diharapkan KKP elektronis yang difasilitasi dengan SiAP LKPD
tersebut dapat dilakukan sinkroninasi dengan substansi materi tentang KKP
sebagaimana diatur dalam Panduan Pemeriksaan LKPD ini.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 10
Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

6.6 Penutup

Kertas kerja pemeriksaan berguna sebagai dasar penyusunan laporan hasil


pemeriksaan, sarana mengevaluasi seluruh atau sebagian hasil pemeriksaan, dan
sumber informasi bagi kelanjutan pemeriksaan dan perencanaan pemeriksaan
berikutnya. Untuk itu, pendokumentasikan keseluruhan proses pemeriksaan dalam
bentuk KKP yang memadai, merupakan sebuah keharusan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 11


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.1
Matriks KKP Indeks A

INDEKS A
Judul Kertas Kerja Pemeriksaan Indeks Contoh
Surat Tugas A.1 Dalam CD
Program Pemeriksaan A.2 Lihat BAB.....
Program Kerja Perseorangan A.3 Dalam CD
Indeks Kertas Kerja Pemeriksaan A.4 Dalam CD
Struktur Organisasi Entitas A.5
Peraturan-Peraturan & Perjanjian A.6
Peraturan Negara [UU, PP, Perpu, Kepres, Inpres, Permen, dll] A.6.1 Dalam CD
Peraturan Daerah [Perda, SK Gubernur, dll ] A.6.2
Kontrak/Perjanjian Jangka Panjang/MOU A.6.3
Hasil Pemeriksaan BPK & APIP Sebelumnya A.7
Pemantauan Tindak Lanjut LHP Sebelumnya A.8 Dalam CD
Rencana Aksi Peningkatan Opini dan Pemantauannya A.9 Dalam CD
Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Penugasan A.10
Pemahaman atas Entitas A.11 Dalam CD
Pemahaman atas Sistem Pengendalian Intern A.12
Pemahaman dan Penilaian Risiko A.13 Lihat BAB III
Pengujian Teknologi Informasi A.14
Penentuan Tingkat Materialitas Awal dan Kesalahan Tertolerir A.15 Lihat BAB IV
[PM dan TE]
Penentuan Metode Uji Petik Pemeriksaan A.16 Lihat BAB V
Laporan Keuangan Unaudited A.17 Dalam CD
Pelaksanaan Prosedur Analitis Awal A.18 Lihat BAB II
Surat Pemberitahuan Pemeriksaan dan Permintaan Data Awal A.19 Dalam CD

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD

Matriks KKP Indeks B

INDEKS B
Judul Kertas Kerja Pemeriksaan Indeks Contoh
Pengujian Akun-Akun Neraca B.1
Aset Lancar B.1.1
Kas di Kas Daerah B.1.1.1 Dalam CD
Kas di Bendahara Pengeluaran B.1.1.2 Dalam CD
Kas di Bendahara Penerimaan B.1.1.3 Dalam CD
Kas di BLUD B.1.1.4 Dalam CD
Investasi Jangka Pendek B.1.1.5 Dalam CD
Piutang B.1.1.6 Dalam CD
Bagian Lancar Pinjaman Jangka Panjang B.1.1.7 Dalam CD
Bagian Lancar TP TGR B.1.1.8 Dalam CD
Persediaan B.1.1.9 Dalam CD
Belanja Dibayar Dimuka B.1.1.10 Dalam CD
Investasi Jangka Panjang B.1.2
Investasi Non Permanen B.1.2.1 Dalam CD
Investasi Permanen (Penyertaan Modal Pemerintah Daerah) B.1.2.2 Dalam CD
Aset Tetap B.1.3
Aset Tetap B.1.3.1 Dalam CD
Dana Cadangan B.1.4
Dana Cadangan B.1.4.1 Dalam CD
Aset Lainnya B.1.5
Aset Lainnya B.1.5.1 Dalam CD
Kewajiban B.1.6
Kewajiban Jangka Pendek B.1.6.1 Dalam CD
Kewajiban Jangka Panjang B.1.6.2 Dalam CD
Pengujian Akun-Akun Laporan Realisasi Anggara (LRA) B.2
Pendapatan B.2.1
Pendapatan PAD B.2.1.1 Dalam CD
Pendapatan Transfer Pusat B.2.1.2 Dalam CD

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.1
INDEKS B
Judul Kertas Kerja Pemeriksaan Indeks Contoh
Pendapatan Transfer Pusat Lainnya B.2.1.3 Dalam CD
Pendapatan Transfer Provinsi *) B.2.1.4 Dalam CD
Pendapatan Transfer Provinsi Lainnya *) B.2.1.5 Dalam CD
Lain-lain Pendapatan yang Sah B.2.1.6 Dalam CD
Belanja B.2.2
Belanja secara Umum B.2.2.0 Dalam CD
Belanja Pegawai B.2.2.1 Dalam CD
Belanja Barang dan Jasa B.2.2.2 Dalam CD
Belanja Bunga B.2.2.3 Dalam CD
Belanja Subsidi B.2.2.4 Dalam CD
Bantuan Hibah B.2.2.5 Dalam CD
Belanja Bansos B.2.2.6 Dalam CD
Belanja Modal B.2.2.7 Dalam CD
Belanja Tidak Terduga B.2.2.8 Dalam CD
Transfer B.2.3
Transfer /Bagi Hasil Pendapatan B.2.3.1 Dalam CD
Transfer Lainnya /Bantuan Keuangan B.2.3.2 Dalam CD
Pembiayaan B.2.4
Penerimaan Pembiayaan B.2.4.1 Dalam CD
Pengeluaran Pembiayaan B.2.4.2 Dalam CD
Ikhtisar Jurnal Koreksi Persetujuan Pengendali Teknis B.3 Dalam CD
Ikhtisar Jurnal Koreksi Persetujuan Entitas B.4 Dalam CD
Worksheet B.5 Dalam CD
Notulen Pertemuan Awal B.6 Dalam CD
Berita Acara Penolakan Pemeriksaan/Pembatasan Audit B.7 Dalam CD
Penyelesaian Penugasan & Cakupan Pemeriksaan B.8 Dalam CD
Penyelesaian Penugasaan B.8.1 Dalam CD
Cakupan Pemeriksaan B.8.2 Dalam CD
Reviuw Sheet KKP B.9 Dalam CD
Konsep Temuan Pemeriksaan B.10

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD

INDEKS B
Judul Kertas Kerja Pemeriksaan Indeks Contoh
Surat Pengantar Penyampaian Konsep TP B.10.1 Dalam CD
Konsep Temuan Pemeriksaan B.10.2 Dalam CD
Risalah Diskusi TP/Notulen Pertemuan Akhir B.10.3 Dalam CD
Daftar Konsep TP Batal B.10.4 Dalam CD
Surat Pengantar Penyampaian LTP B.10.5 Dalam CD
Laporan Temuan Pemeriksaan [TP Final dan Komentar Instansi] B.10.6
Laporan Pelaksanaan Kerja Pemeriksa B.11 Dalam CD
*) Hanya ada di Kabupaten/Kota

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.1
Matriks KKP Indeks C

INDEKS C
Judul Kertas Kerja Pemeriksaan Indeks Contoh
Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan C.1
Risalah Diskusi Penyusunan Konsep LHP C.1.1 Dalam CD
Nota Penyampaian & Konsep LHP C.1.2 Dalam CD
Analisa/reviu Konsep LHP oleh Pengendali Teknis C.1.3 Dalam CD
Analisa/reviu Konsep LHP oleh Tim Reviuw C.1.3
Analisa/reviu Konsep LHP oleh Penanggung Jawab C.1.3
Laporan Kendali Pelaksanaan Laporan C.1.4
Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Hasil Analisis C.1.5
Surat Pengantar Penyampaian Konsep LHP kepada Entitas C.1.6 Dalam CD
Tanggapan atas Konsep LHP oleh Pimpinan Entitas dan C.1.7 Dalam CD
Rencana Aksi
Risalah Pembahasan Konsep LHP dengan Pemberi Tugas C.1.8 Dalam CD
Nota Penyampaikan Kembali Konsep LHP Final C.1.9 Dalam CD
Laporan Hasil Pemeriksaan C.2
Surat Keluar LHP C.2.1 Dalam CD
Surat Representasi Manajemen C.2.2 Dalam CD
Laporan Hasil Pemeriksaan C.2.3
Ikhtisar Hasil Pemeriksaan [Bahan Hapsem] C.3
Matriks Hasil Pemeriksaan C.3.1
Berita Acara Serah Terima KKP C.4 Dalam CD

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.2
Pemeriksaan Atas No. Indeks : (3)
Laporan Keuangan…..(1) Dibuat oleh : (4)
Tahun…..(2) Direviu oleh : (5)
Disetujui oleh : (6)
BPK RI
LEMBAR SAMPUL
Nama Akun : (7)
Kode Akun : (8)
Deskripsi Akun : (9)
Saldo Akun : a. saldo sebelum pemeriksaan : ....... (10)
b. penyesuaian : .......
c. saldo setelah penyesuaian : .......

(Lembar sampul merupakan kertas kerja yang berisi ringkasan hasil pemeriksaan atas akun yang
diperiksa. Lembar sampul ini dibuat setelah seluruh prosedur pemeriksaan telah dilakukan dan angka
dalam laporan keuangan sudah dinyatakan final. Lembar sampul ini diletakkan di bagian terdepan dari
setiap akun yang diperiksa, dilampiri dengan Kerta Kerja Utama, Kertas Kerja Pendukung dan Hasil
Pelaksanaan Prosedur Pemeriksaan )
1. Hasil Pemeriksaan (11)
…………………………………………………………………………………………....
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………(Ref:…..)
2. Simpulan (12)
…………………………………………………………………………………………....
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
Keterangan:
(1) : Diisi dengan laporan keuangan yang diperiksa.
(2) : Diisi dengan tahun yang diperiksa.
(3) : Diisi dengan nomor indeks.
(4) : Diisi dengan nama dan paraf pembuat KKP serta tanggal pembuatan KKP tersebut.
(5) : Diisi dengan nama dan paraf yang mereviu KKP serta tanggal reviu KKP tersebut.
(6) : Diisi dengan nama dan paraf yang menyetujui KKP serta tanggal persetujuan KKP
tersebut.
(7) : Diisi dengan nama akun dalam laporan keuangan yang diperiksa dan bukan kelompok
akun, contoh: kas di bendaharawan, piutang pajak, dan pendapatan pajak daerah.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 6


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.2
(8) : Diisi dengan kode akun.
(9) : Diisi dengan keterangan singkat mengenai akun dan saldo normal akun.
(10) : Diisi dengan saldo atas akun sebelum diperiksa (unaudited), nilai koreksi atas saldo
(koreksi pemeriksaan) dan saldo akhir setelah diperiksa (audited)
(11) : Diisi dengan hasil pemeriksaan dan dilengkapi dengan referensi indeks KKP.
Pada kolom ini juga dapat diisi dengan temuan pemeriksaan yang berkaitan dengan
SPI maupun kepatuhan, yang diperoleh pada saat pemeriksaan.
(12) : Diisi dengan simpulan atas hasil pemeriksaan. Simpulan ini berisi tentang penilaian
pemeriksa atas kewajaran penyajian saldo akun dalam laporan keuangan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 7


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.3

Pemeriksaan Atas No. Indeks : (3)


Laporan Keuangan…..(1) Dibuat oleh : (4)
Tahun…..(2) Direviu oleh : (5)
Disetujui oleh : (6)
BPK RI

HASIL PELAKSANAAN PROSEDUR PEMERIKSAAN

Prosedur Pemeriksaan : (7)


(KKP tentang Hasil Pelaksanaan Prosedur Pelaksanaan Pemeriksaan ini berisi analisis dan kesimpulan
dari suatu prosedur pemeriksaan yang telah dilakukan oleh pemeriksa).
1. Tujuan Pemeriksaan (8)
…………………………………………………………………………………………....
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………(Ref:…..)
2. Hasil Pemeriksaan (9)
…………………………………………………………………………………………....
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………(Ref:…..)
3. Simpulan (10)
…………………………………………………………………………………………....
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
Keterangan:
(1) : Diisi dengan laporan keuangan yang diperiksa.
(2) : Diisi dengan tahun yang diperiksa.
(3) : Diisi dengan nomor indeks.
(4) : Diisi dengan nama dan paraf pembuat KKP serta tanggal pembuatan KKP tersebut.
(5) : Diisi dengan nama dan paraf yang mereviu KKP serta tanggal reviu KKP tersebut.
(6) : Diisi dengan nama dan paraf yang menyetujui KKP serta tanggal persetujuan KKP
tersebut.
(7) : Diisi dengan kode referensi silang dengan P2/PKP, sesuai dengan kode numbering
prosedur tersebut dalam P2/PKP yang dilakukan dan dianalisis pada lembar ini.
Contoh: Apabila dalam PKP, prosedur/langkah-langkah pemeriksaan ini sudah disebut,
dengan kodering 2.1 sampai dengan 2.4, maka pada kolom prosedur ini dapat ditulis
referensi silang ke PKP tersebut dengan menulis ”lihat PKP 2.1 s/d 2.4”.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 8


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.3
(8) : Diisi dengan kode referensi silang dengan P2/PKP, sesuai dengan kode numbering
tujuan tersebut dalam P2/PKP tentang prosedur pemeriksaan yang dilakukan dan
dianalisis pada lembar ini.
(9) : Diisi dengan hasil pemeriksaan dan dilengkapi dengan referensi indeks KKP ke
dokumen pendukungnya.
(10) : Diisi dengan simpulan atas hasil pemeriksaan. Simpulan pemeriksaan ini merupakan
jawaban dari tujuan dari prosedur yang dilakukan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 9


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.4

Pemeriksaan Atas No. Indeks : (3)


Laporan Keuangan…..(1) Dibuat oleh : (4)
Tahun…..(2) Direviu oleh : (5)
Disetujui oleh : (6)
BPK RI

Keterangan: Digunakan untuk


Pemeriksaan Keuangan

KERTAS KERJA UTAMA

Koreksi Pemeriksa Saldo


Saldo Akun Saldo Akun
Nama Akun Kode Akun KKP Ref Jurnal Penyesuaian Jurnal Reklasifikasi setelah
Tahun X Tahun X-1
Debet Kredit Debet Kredit diperiksa
(7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16)

Keterangan:

(1) : Diisi dengan nama entitas yang diperiksa.


(2) : Diisi dengan tahun laporan keuangan yang diperiksa.
(3) : Diisi dengan nomor indeks.
(4)-(6) : Diisi dengan nama dan paraf pemeriksa yang membuat, yang mereviu dan yang
menyetujui KKP disertai dengan tanggal pelaksanaan kegiatan tersebut.
(7) : Diisi dengan nama akun dalam laporan keuangan yang diperiksa dan bukan kelompok
akun, contoh: kas di bendaharawan, piutang pajak, dan pendapatan pajak daerah.
(8) : Diisi dengan kode akun.
(9) : Diisi dengan referensi indeks KKP.
(10) : Diisi dengan saldo akun tahun berjalan yang belum diperiksa (unaudited current year
balance).
(11), (12) : Diisi dengan jurnal koreksi penyesuaian hasil pemeriksaan (adjustment journal entries).
(13), (14) : Diisi dengan jurnal koreksi reklasifikasi hasil pemeriksaan (reclassification journal
entries).
(15) : Diisi dengan saldo akhir setelah diperiksa (audited balance).
(16) : Diisi dengan saldo akun yang telah diperiksa tahun sebelumnya (prior year audited
balance).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 10


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.5
Pemeriksaan Atas No. Indeks : (3)
Laporan Keuangan…..(1) Dibuat oleh : (4)
Tahun…..(2) Direviu oleh : (5)
Disetujui oleh : (6)
BPK RI

Keterangan: Digunakan untuk


Pemeriksaan Keuangan

KERTAS KERJA PENDUKUNG

Nama Akun : (7)


Kelompok Akun : (8)
Saldo Akun : (9)

Koreksi Pemeriksa
Saldo Saldo setelah
Uraian Kode Akun Jurnal Penyesuaian Jurnal Reklasifikasi KKP Ref
Tahun Berjalan diperiksa
Debet Kredit Debet Kredit
(10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
Kantor Pusat …………………...
…………………...
Total Kantor Pusat …………………...

Kantor Perwakilan …………………...


…………………...
…………………...
Total Kantor Perwakilan …………………...
(10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
Total Kantor Pusat dan Kantor …………………...
Perwakilan
Saldo per buku …………………...
Selisih …………………...
(dalam rupiah)
Selisih …………………...
(dalam Persen)
Penjelasan selisih : (20)
Kesimpulan : (21)

Keterangan:
(1) : Diisi dengan laporan keuangan yang diperiksa.
(2) : Diisi dengan tahun yang diperiksa.
(3) : Diisi dengan nomor indeks.
(4) : Diisi dengan nama dan paraf pembuat KKP serta tanggal pembuatan KKP tersebut.
(5) : Diisi dengan nama dan paraf yang mereviu KKP serta tanggal reviu KKP tersebut.
(6) : Diisi dengan nama dan paraf yang menyetujui KKP serta tanggal persetujuan KKP tersebut.
(7) : Diisi dengan nama akun dalam laporan keuangan yang diperiksa dan bukan kelompok akun,
contoh: kas di bendaharawan, piutang pajak, dan pendapatan pajak daerah.
(8) : Diisi dengan kelompok akun, misalnya kelompok akun Kas, Aset Tetap, dan sebagainya.
(9) : Diisi dengan saldo akun tahun yang diperiksa .

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 11


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.5

(10) : Cukup jelas


(11) : Diisi dengan rincian dari akun (sub akun)
(12) : Diisi dengan kode tiap rincian dari sub akun
(13) : Diisi dengan saldo tahun berjalan yang belum diperiksa
(14)-(15) : Diisi dengan nilai jurnal penyesuaian pemeriksaan
(16)-(17) : Diisi dengan nilai jurnal reklasifikasi pemeriksaan
(18) : Diisi dengan saldo akhir setelah koreksi pemeriksaan
(19) : Diisi dengan referensi indeks KKP atas kertas kerja pendukung yang lebih rinci
(20) : Diisi dengan penjelasan pemeriksa atas selisih yang ditemukan berdasarkan hasil analisanya
(bila ada)
(21) : Diisi dengan kesimpulan pemeriksa tentang akun ini, berdasarkan hasil pemeriksaannya.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 12


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.6

Pemeriksaan Atas
.....…..
Tahun…..

BPK RI

LEMBAR REVIU KKP (Review Sheet)

Prosedur Pemeriksaan : ......................................................................


Paraf & tanggal
Paraf & Tindak Lanjut Persetujuan
No. Catatan Pereviu Pereviu
tanggal
Uraian & tanggal Ref.
1. Ketua Tim:
a. ………..
b. ………..
2. Pengendali teknis
a. ……….
b. ……….
3. Penanggung
jawab
a. ……….
b. ……….

Keterangan:
Pereviu dapat menggunakan P2 atau Program Kerja Perorangan, untuk memonitor apakah prosedur
yang ditentukan telah dipenuhi oleh pemeriksa

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 13


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.7

Pemeriksaan Atas
.....…..
Tahun…..

BPK RI

DAFTAR ISI KKP

KKP Indeks A
Dokumen-dokumen yang dikelompokkan dalam KKP Indeks A:

Index Judul Kertas Kerja Pemeriksaan


A.1 Surat Tugas
A.2 Program Pemeriksaan
A.3.1 Program Kerja Perorangan – A
A.3.2 Program Kerja Perorangan – B

Dan seterusnya

Keterangan:
1. Untuk daftar isi yang dilekatkan pada ordner /map, daftar isi KKP ini diletakkan di bagian dalam
sampul ordner/map. Isi KKP dalam daftar isi ini harus sesuai dengan setiap judul KKP yang
dikelompokkan dalam kelompok KKP ini.
2. Untuk daftar isi yang dilekatkan pada kardus, daftar isi KKP ini diletakkan pada bagian samping
kardus. Isi KKP dalam daftar isi cukup diisi dengan jenis/kelompok akun yang diperiksa, untuk
pemeriksaan keuangan, atau jenis area kunci/obyek tertentu untuk pemeriksaan kinerja atau PDTT.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 14


Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.8

Pemeriksaan Atas

.....…..

Tahun…..

BPK RI

BERITA ACARA SERAH TERIMA


KERTAS KERJA PEMERIKSAAN BPK

Pada hari ini, ............ tanggal ............. kami menyerahkan berkas-berkas KKP yang sudah diberi nomor
kode indeks dan direviu secara berjenjang, kami nyatakan telah sesuai standar yang diatur dalam
pedoman pemeriksaan BPK.

Pihak yang menyerahkan :


Nama : _________________
NIP : _________________
Jabatan : Ketua Tim Pemeriksaan

Pihak yang menerima :


Nama : _________________
NIP : _________________
Jabatan: Kasubaud.......................

Pihak yang Menerima Pihak yang Menyerahkan

_________________ __________________
NIP. NIP.

Keterangan:
Berita Acara Penyerahan KKP ini sebaiknya dilampiri dengan Daftar Indeks KKP yang berisi tentang
seluruh isi KKP yang diserahterimakan beserta indeksasinya.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 15


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

BAB 7
FORMULASI TEMUAN PEMERIKSAAN LKPD

7.1 Gambaran Umum


Sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan
dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, dan Undang-Undang No. 15 Tahun
2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan, BPK bertugas memeriksa Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).
Output dari pemeriksaan BPK yaitu Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP), yang
didalamnya terdapat opini atas LKPD serta temuan-temuan hasil pemeriksaan.
Berdasarkan Keputusan BPK RI No.5/K/I-XIII.2/8/2010 tanggal 27 Agustus 2010
tentang Petunjuk Teknis Kodering Temuan Pemeriksaan, temuan pemeriksaan
terdiri dari Temuan Sistem Pengendalian Intern (SPI) dan Temuan Ketidakpatutan
terhadap peraturan perundang-undangan serta Temuan 3 E (Ekonomis, Efisien
dan Efektif).
Temuan SPI yaitu temuan yang berhubungan dengan kelemahan
struktur/design sistem pengendalian intern dan aplikasi sistem pengendalian
intern.
Temuan kepatuhan yaitu temuan yang berhubungan dengan ketidakpatuhan
pengelolaan keuangan daerah terhadap peraturan perundang-undangan,
peraturan pemerintah maupun peraturan daerah terkait lainnya. Temuan
kepatuhan terdiri dari empat jenis yaitu temuan yang mengindikasikan terjadinya
kerugian negara, potensi kerugian negara, kekurangan penerimaan, dan
administrasi temuan 3E yang merupakan bagian dalam pelaporan temuan
kepatuhan.
Menurut Pedoman Manajemen Pemeriksaan (PMP), yang dikeluarkan oleh
BPK tahun 2008, TP merupakan temuan atau indikasi permasalahan yang
diperoleh selama pemeriksaan. Pada dasarnya, TP terkait dengan:
1) Ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundangundangan,
penyimpangan, dan ketidakpatutan yang material untuk dilaporkan;

2) Kelemahan sistem pengendalian intern yang material untuk dilaporkan;

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

3) Kegagalan suatu program yang diperiksa; dan


4) Ketidaksesuaian kondisi dengan kriteria yang ditetapkan.
Temuan pemeriksaan yang dihasilkan oleh BPK sebaiknya memenuhi
beberapa prinsip, antara lain:
1) Prinsip Keadilan, maksudnya temuan pemeriksaan BPK tidak boleh
merugikan suatu pihak demi menguntungkan pihak yang lain. Karena pada
dasarnya, temuan pemeriksaan itu harus memberikan manfaat langsung dan
tidak langsung terhadap proses pengelolaan keuangan daerah yang lebih
baik.

2) Prinsip Kejujuran, artinya setiap temuan pemeriksaan BPK harus


mengungkapkan secara menyeluruh (full disclosure) atas fakta dan data yang
ditemukan oleh auditor selama melaksanakan pemeriksaan tanpa ada yang
ditutup-tutupi.
3) Prinsip Profesionalisme, artinya temuan pemeriksaan BPK harus dihasilkan
oleh auditor yang kompeten dan menguasai bidang/obyek pemeriksaan yang
menjadi temuan. Supaya, kualitas temuan pemeriksaan menjadi lebih tinggi.
Untuk memberikan panduan dalam membuat laporan atas temuan hasil
pemeriksaan LKPD supaya setiap auditor BPK memiliki persamaan persepsi
tentang penyusunan temuan pemeriksaan yang berkualitas, maka dinilai perlu
untuk menyusun formulasi TP atas LKPD tersebut.
Formulasi TP atas LKPD ini bertujuan untuk:
1) Memudahkan penyusunan temuan pemeriksaan LKPD oleh anggota tim
pemeriksa;
2) Mempermudah ketua tim dalam menyusun dan mengkonsolidasikan temuan
pemeriksaan;
3) Memberi pedoman mengenai informasi yang seharusnya diungkapkan dalam
temuan terkait.

Walaupun demikian, tim pemeriksa hendaknya selalu menyesuaikan


template tersebut dengan kondisi dan data yang paling relevan di entitas terkait.
Template ini juga tidak membatasi kemungkinan adanya permasalahan lain yang
seharusnya dilaporkan dalam laporan hasil pemeriksaan atas LKPD.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Penyusunan formulasi TP LKPD dilakukan dengan pendekatan-pendekatan


sebagai berikut:
1) Temukan permasalahan yang signifikan atas penyajian akun dalam laporan
keuangan. Serta tentukan efek kumulatif ketidakwajaran penyajian akun
tersebut terhadap laporan keuangan secara menyeluruh;
2) Bedakan permasalahan tersebut dalam permasalahan yang sedang berjalan
(current) dan permasalahan saldo awal (past). Hal ini penting untuk
menghindari adanya akumulasi temuan yang berulang serta membedakan
apakah temuan tersebut terjadi atas saldo awal atau penyajian saldo pada
tahun berjalan;
3) Identifikasi temuan-temuan yang berulang kali terjadi dan temuan-temuan
yang terjadi di banyak LKPD berdasarkan hasil pemeriksaan LKPD dan PDTT
pada tahun-tahun sebelumnya;
4) Penelaahan atas laporan hasil pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya untuk
mengetahui kekurangan dalam pengungkapan temuan pemeriksaan sebagai
pertimbangan untuk melakukan perbaikan;
5) Pemutakhiran peraturan-peraturan yang menjadi kriteria TP LKPD; dan
6) Menentukan informasi minimal yang perlu dicantumkan dalam TP LKPD.

7.2 Panduan Umum Penulisan TP LKPD


Unsur-unsur TP terdiri judul, kondisi, kriteria, sebab dan akibat. Saat TP
disusun dalam Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan (KLHP) yang nantinya akan
direviu secara berjenjang untuk menjadi LHP, perlu ditambahkan unsur
rekomendasi. Kendala dalam penulisan TP adalah bagaimana mensinkronkan
bahasa pada setiap unsur TP tersebut sehingga TP menjadi lebih mudah dipahami
oleh pembaca LHP serta memberikan keseragaman metode dan teknik penulisan
TP antar auditor BPK.
Salah satu cara yang paling mudah adalah untuk mempermudah penyusunan
dan mensinkronkan tiap unsur TP yaitu membuat matriks temuan pemeriksaan.
Lihat lampiran 7.1. Dengan membuat matriks, pemeriksa akan lebih mudah
mengidentifikasi adanya ketidaksesuaian penulisan dan pengungkapan dari tiap-
tiap unsur TP.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

7.2.1 Panduan Penulisan Judul


Judul merupakan unsur awal dalam penyusunan TP, judul memberikan
gambaran awal kepada pembaca TP untuk memperoleh informasi yang singkat
dan jelas tentang permasalahan yang dimuat dalam TP tersebut. Salah satu teknik
pengungkapan Judul yaitu memberikan simpulan/gambaran atas kondisi
permasalahan yang terjadi, atau dapat juga mengkombinasikan antara kondisi
dengan akibat, menggunakan bahasa yang singkat dan jelas.
Penyajian Investasi Permanen dalam Neraca Pemerintah Daerah Kabupaten A TA 2009
sebesar Rp123.456.789,00 Tidak Berdasarkan Metode Ekuitas
7.2.2 Panduan Penulisan Kondisi

Kondisi adalah gambaran tentang situasi yang ada. Kondisi yang


diungkapkan dalam TP harus berisi data/informasi/bukti atas suatu keadaan yang
disajikan secara obyektif dan relevan berdasarkan fakta yang ditemukan pemeriksa
di lapangan. Pelaporan lingkup atau kedalaman dari kondisi dapat membantu
pengguna laporan dalam memperoleh perspektif yang wajar.
Untuk menuangkan kondisi agar mudah dipahami dalam TP, ada beberapa
hal yang harus diperhatikan yaitu:
1) Dalam pemeriksaan atas laporan keuangan, paragraf awal TP harus
menjelaskan saldo atas akun yang menjadi TP serta tentukan berapa
anggaran dan realisasinya serta bandingkan dengan saldo tahun sebelumnya.
Hal ini penting, agar pembaca TP dapat memahami posisi saldo awal atas
akun tersebut;
2) Pemeriksa dapat menguraikan hasil telaahan atas akun atau asersi tertentu
terkait akun tersebut disertai penjelasan atas bukti-bukti relevan yang
ditemukan di lapangan;

3) Sebutkan pula pihak-pihak yang terkait langsung dengan permasalahan yang


ada dalam TP tersebut. Gunakan insial dalam menulis nama orang,
perusahaan atau organisasi tertentu;

4) Pilihlah bahasa yang mudah dipahami dan langsung pada pokok


permasalahan supaya tidak meluas pada permasalahan lainnya yang tidak
berhubungan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Berikut ini contoh pengungkapan kondisi dalam TP.


Temuan – Sistem Pencatatan dan Pelaporan Aset Tetap pada Pemerintah Kabupaten X
Belum Memadai dan Belum didukung Bukti Kepemilikan sebesar Rp . . . .
Pemerintah Kabupaten X menyajikan aset tetap senilai Rp443.485,97 juta dalam Neraca per
31 Desember 2010. Jumlah yang tersaji tersebut meningkat sebesar Rp57.980,00 juta atau
15,03% dibandingkan saldo aset tetap dalam Neraca audited per 31 Desember 2009 senilai
Rp385.505,97.
Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) Pemerintah Kabupaten X Tahun 2010 pada Paragraf
3.e.5 menyatakan bahwa Aset Tetap tersebut terdiri dari 1) Tanah, 2) Peralatan dan Mesin, 3)
Gedung dan Bangunan, 4) Jalan, Irigasi dan Jaringan, 5) Aset Tetap Lainnya, dan Konstruksi
dalam Pengerjaan.
Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa sistem pengendalian atas aset tetap pada Pemerintah
Kabupaten X belum memadai sebagai berikut.
1) Nilai aset tetap yang diungkapkan dalam Neraca Pemerintah Kabupaten X belum
didasarkan pada inventarisasi aset tetap dan belum didukung bukti kepemilikan sebesar
Rp . . . . .

7.2.3 Panduan Penulisan Kriteria


Kriteria memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengguna laporan
hasil pemeriksaan untuk menentukan keadaan seperti apa yang diharapkan.
Kriteria akan mudah dipahami apabila dinyatakan secara wajar, eksplisit, lengkap,
dan sumber dari kriteria dinyatakan dalam laporan hasil pemeriksaan. Kriteria,
harus detail dan rinci tidak boleh menggunakan kriteria yang bersifat umum
(general) agar tidak membiaskan kriteria utama yang dilanggar dalam temuan
pemeriksaan.
Hal penting yang perlu dipahami pemeriksa dalam menentukan kriteria
adalah hal-hal apa saja yang dilanggar atau tidak dilaksanakan sehingga muncul
permasalahan yang ada dalam kondisi. Dalam pemeriksaan atas LKPD, kriteria
yang bisa digunakan pemeriksa yaitu Standar Akuntansi Pemerintah (SAP), Buletin
Teknis SAP, Peraturan perundang-undangan yang berlaku sehubungan dengan
penyusunan LKPD, kontrak pengadaan barang/jasa sehubungan dengan
kewajaran penyajian belanja dalam LKPD serta kebijakan dan prosedur lain yang
terkait dengan asersi laporan keuangan yang dinilai pemeriksa.
Untuk menyajikan kriteria dalam TP, pemeriksa dapat mengutip kriteria dari
satu atau lebih kriteria yang paling spesifik dan relevan dengan permasalahan yang
diungkapkan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Salah satu hal yang terpenting dalam menentukan kriteria adalah hindari
menggunakan aturan “sapu jagat”, yang mencakup hal-hal yang terlalu umum
sehingga pelanggaran dalam temuan tersebut menjadi sulit dipahami oleh
pembaca laporan.
Berikut ini contoh pengungkapan kriteria dalam TP yang spesifik.
Tabel 7.1 Tabel Kriteria TP yang spesifik

No Judul TP Kriteria TP

1 Aset tetap Tanah yang Keadaan diatas tidak sesuai dengan PSAP No.7 tentang
disajikan dalam Neraca Aset Tetap paragraph 20 yang menyatakan bahwa
Pemerintah Kabupaten “Pengakuan aset tetap akan sangat andal bila aset tetap
B tanpa ada bukti telah diterima atau diserahkan hak kepemilikannya dan atau
kepemilikan aset tetap pada saat penguasaannya berpindah”
sebesar
Rp123.456.789,00

2 Temuan kekurangan Kontrak pekerjaan yang bersangkutan, disesuaikan dengan


volume pekerjaan atau pasal-pasal yang dilanggar
keterlambatan
penyelesaian pekerjaan

3 Belanja Perjalanan Keadaan tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Bupati A


Dinas Ganda Pada Nomor 78 Tahun 2007 Pasal 7 yang menyatakan bahwa
Beberapa Kegiatan Di Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, dan Pegawai Tidak
Dinas Kesehatan Tetap dilarang menerima biaya perjalanan dinas rangkap
Sebesar (dua kali atau lebih) untuk perjalanan dinas yang dilakukan
Rp123.456.789,00 dalam waktu yang sama

4 Pengendalian Internal Keadaan di atas tidak sesuai dengan Peraturan Menteri


Dan Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006
Pertanggungjawaban tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 133
Belanja Bantuan Hibah, Ayat (2) Penerima subsidi, hibah, bantuan sosial dan
Bantuan Sosial, Bantuan bantuan keuangan bertanggungjawab atas penggunaan
Keuangan Dan Bagi uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dan wajib
Hasil Ke Desa Sebesar menyampaikan laporan pertanggungjawabannya
Rp123.456.789,00 Tidak penggunaannya kepada Kepala Daerah dan Ayat (3) yang
Memadai menyebutkan bahwa Tata Cara Pemberian dan
pertanggungjawaban subsidi, hibah, bantuan sosial, dan
bantuan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan dalam Peraturan Kepala Daerah.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 6


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Berikut ini contoh pengungkapan kriteria dalam TP yang terlalu umum (bias).
Tabel 7.2 Tabel kriteria TP yang umum

No Judul TP Kriteria TP

1 Pengadaan Barang Dan Permasalahan tersebut melanggar Peraturan


Jasa Pada Kegiatan Di Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Dinas Koperasi, UMKM, Keuangan Daerah Pasal 4 ayat (1) yang menyatakan
Perindustrian, bahwa keuangan daerah dikelola secara tertib, taat
Perdagangan Dan pada peraturan perundang-undangan, efisien,
Pertanian Kota Cimahi ekonomis, efektif, transparan dan bertanggungjawab
Melebihi Ketetapan Harga dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatutan
Tertinggi Sebesar dan manfaat untuk masyarakat
Rp123.456.789,00

2 Kekurangan Volume Keadaan tersebut tidak sesuai dengan Peraturan


Pekerjaan pada Kegiatan Presiden Nomor 95 tahun 2007 tentang Perubahan
pembangunan Gedung Ketujuh atas Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun
Sekolah pada Dinas 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Pendidikan Kota D Tahun Barang dan Jasa Pemerintah
Anggaran 2009 Senilai
Rp123.456.789,00

3 Nilai Penyertaan Modal Hal tersebut bertentangan dengan PP 24 Tahun 2005


Berupa Aset Tetap ke PD tentang Standar Akuntansi Pemerintah, Lampiran II, yg
Pasar Bermartabat Sebesar menyatakan bahwa Karakteristik kualitatif laporan
Rp123.456.789,00 Tidak keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu
Dapat Diyakini diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dpt
Kewajarannnya memenuhi tujuannya. Salah satunya pada poin (b)
Andal yaitu Informasi dalam laporan keuangan bebas
dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan
material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta
dapat diverifikasi. Informasi mungkin relevan, tetapi jika
hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka
penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat
menyesatkan

Kriteria yang sering digunakan dalam pemeriksaan LKPD dapat dilihat


Lampiran 7.2

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 7


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

7.2.4 Panduan Penulisan Akibat


Akibat merupakan pengungkapan yang memberikan hubungan yang jelas
dan logis untuk menjelaskan dampak dari adanya perbedaan antara apa yang
ditemukan oleh pemeriksa dilapangan (kondisi) dengan keadaan yang diharapkan
(kriteria).
Akibat lebih mudah dipahami bila dinyatakan secara jelas, terinci, dan
apabila memungkinkan, dinyatakan dalam angka. Signifikansi dari akibat yang
dilaporkan ditunjukkan oleh bukti yang meyakinkan. Akibat dapat terdiri dari dua
hal yaitu :
1) Permasalahan finansial (dalam bentuk angka) atas dampak yang ditimbulkan
menurut kondisi;
2) Permasalahan non-finansial seperti tidak tercapainya suatu tujuan/program
ataupun aktivitas pengendalian yang diterapkan.
Hal penting lainnya dalam teknik pengungkapan akibat yaitu adanya
hubungan yang logis, termasuk perhitungan angka secara matematis, antara judul
dengan akibat serta adanya kemudahan dalam pemberian rekomendasi pada saat
TP menjadi LHP.
Berikut ini contoh pengungkapan akibat dalam TP.
Hal tersebut mengakibatkan :
1) Penyajian akun Penyertaan Modal senilai Rp123.456.789,00 tidak dapat diyakini
kewajarannya;
2) Penyertaan Modal kurang saji sebesar Rp123.456.789,00.

7.2.5 Panduan Penulisan Sebab


Sebab memberikan bukti yang meyakinkan mengenai faktor yang menjadi
sumber utama perbedaan antara kondisi dan kriteria, jadi harus benar-benar dari
akar permasalahan utama (rootcause) bukan faktor yang bersifat umum. Dalam
melaporkan sebab, pemeriksa harus mempertimbangkan apakah KKP (bukti)
yang diperoleh oleh pemeriksa cukup memadai atau tidak, sehingga memberikan
argumen yang meyakinkan dan memadai bahwa sebab yang diungkapkan
merupakan faktor utama terjadinya perbedaan. Sebab dapat terdiri dari dua hal
yaitu :
1) Sumber daya manusia yaitu orang yang menjadi penyebab terjadinya
permasalahan tersebut, seperti kepala daerah, kepala dinas, bendahara,
ataupun pihak lainnya yang terkait.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 8


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

2) Sistem/prosedur yang mengakibatkan kelemahan permasalahan tersebut


terjadi. Seperti tidak dilaksanakannya prosedur, ataupun ketiadaan
prosedur/sistem tersebut.
Dalam pengungkapan sebab, Pemeriksa juga perlu memperhatikan
apakah sebab yang diungkapkan tersebut nantinya dapat dilanjutkan untuk
menjadi dasar pemberian rekomendasi. Dalam situasi temuan terkait dengan
kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dimana tidak
dapat ditetapkan dengan logis penyebab temuan tersebut, pemeriksa tidak
diharuskan untuk mengungkapkan unsur sebab ini. Salah satu hal yang penting
yaitu tidak memaksakan orang-perorangan untuk menjadi sebab, sehingga
nantinya akan berdampak pada sulitnya pemberian rekomendasi.
Berikut ini contoh pengungkapan sebab dalam TP.
Hal tersebut terjadi karena Kepala Bidang Aset DPKBD belum melakukan rekonsiliasi aset
tetap secara memadai dengan Pengguna Barang SKPD.

7.2.6 Panduan Penulisan Rekomendasi


Rekomendasi merupakan arahan, saran, dan/atau masukan untuk
perbaikan dan peningkatan suatu sistem, proses, prilaku organisasi dan
kepemimpinan dari suatu entitas yang diperiksa atas permasalahan-
permasalahan yang timbul sehingga dapat memberikan perbaikan atas pelaporan
LKPD pada tahun yang akan datang.
Rekomendasi disajikan dalam TP pertama kali yaitu pada saat
penyusunan KLHP. Tujuan pemberian rekomendasi yaitu untuk menyelesaikan
permasalahan-permasalahan yang telah dijelaskan dalam kondisi serta akibat-
akibat yang ditimbulkan atas permasalahan tersebut.
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam menyajikan rekomendasi,
antara lain:
1) Memberikan arahan kepada entitas yang diperiksa agar dapat meminimalisir
akibat yang ada dalam TP serta melakukan tindakan pencegahan supaya
akibat yang sama tidak terjadi lagi dimasa yang akan datang;
2) Menghilangkan sebab, artinya rekomendasi dapat mengurangi dampak negatif
yang ditimbulkan oleh sebab serta memberikan langkah-langkah perbaikan
supaya sebab tersebut tidak muncul lagi di masa yang akan datang;
3) Memberikan masukan perbaikan sistem pengelolaan keuangan negara
sehingga ada nilai tambah (added value) yang bisa diberikan oleh BPK kepada
pemerintah pusat dan daerah.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 9


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Berikut ini contoh pengungkapan rekomendasi


BPK merekomendasikan kepada Bupati Kabupaten B untuk menginstruksikan Kepala
Bappeda supaya mengembalikan kelebihan pembayaran honorarium sebesar
Rp123.456.789,00 ke kas daerah

7.3 Temuan Sistem Pengendalian Intern (SPI)


Berdasarkan Paragraf 20 Standar Pelaporan SPKN, kelemahan
pengendalian intern atas laporan keuangan yang dianggap sebagai ”kondisi yang
dapat dilaporkan”. Secara khusus, kondisi yang dapat dilaporkan adalah
persoalan yang menarik perhatian auditor, yang menurut pertimbangannya,
harus dikomunikasikan dengan auditee, karena merupakan kekurangan material
dalam desain atau operasi pengendalian intern, yang berakibat buruk terhadap
kemampuan organisasi tersebut dalam mencatat, mengolah, mengikhtisarkan,
dan melaporkan data keuangan yang konsisten dengan asersi dalam laporan
keuangan.
Berdasarkan Juknis Kodering Temuan Pemeriksaan, temuan kelemahan
sistem pengendalian intern terbagi atas kelompok temuan sebagai berikut:
1) Kelompok temuan kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan;
2) Kelompok kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja;
3) Kelompok kelemahan struktur pengendalian.
Selain itu, disajikan juga contoh-contoh jenis temuan SPI pada lampiran 7.3
untuk membantu penentuan klasifikasi.

7.4 Temuan Kepatuhan


Sesuai dengan Paragraf 13 Standar Pelaporan SPKN, temuan kepatuhan
terdiri dari:
1) ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan baik
berupa penyimpangan administrasi, pelanggaran atas perikatan perdata, dan
penyimpangan yang mengandung unsur pidana; atau
2) ketidakpatutan yang signifikan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 10


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Jenis temuan kepatuhan menurut Juknis Kodering yaitu temuan kerugian


negara, temuan potensi kerugian, temuan kekurangan penerimaan, temuan
administrasi, dan temuan 3E (Ekonomis, Efisien dan Efektif),

Contoh-contoh jenis temuan Kepatuhan dapat dilihat pada lampiran 7.4.

7.5 Panduan Penulisan Temuan Berulang atau Temuan Hasil


Pemeriksaan Sebelumnya
Pemeriksa seringkali menemukan permasalahan yang sama dengan
permasalahan yang telah diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan atas
laporan keuangan tahun sebelumnya. TP tetap dinyatakan berulang walaupun
terjadi pada satker yang berbeda. Berulangnya permasalahan tersebut bisa
terjadi karena tindak lanjut belum selesai atau belum dilaksanakan oleh
pemerintah daerah terkait.
Pemeriksa tetap melaporkan TP berulang dalam LHP agar permasalahan
tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah terkait untuk menindaklanjutinya.
Dalam mengungkapkan TP berulang, pemeriksa harus terlebih dahulu
menjelaskan pengungkapan TP dimaksud dalam LHP tahun sebelumnya. Hal-hal
yang perlu diungkapkan adalah uraian singkat kondisi, rekomendasi yang
diberikan, dan tindak lanjut yang sudah dilaksanakan oleh pemerintah daerah
terkait.
Secara teknis, hal yang harus dilakukan pemeriksa selanjutnya yaitu meng-
update data pemantauan tindak lanjut atas temuan sebelumnya, dengan
mengklasifikasikannya sebagai temuan yang sudah ditindaklanjuti sesuai
rekomendasi (TS). Sedangkan temuan yang baru akan mengganti temuan
sebelumnya dalam pemantauan tindak lanjut.

Pemeriksa juga bisa mengungkapkan temuan hasil pemeriksaan dengan


tujuan tertentu (PDTT) yang dilaksanakan sebelumnya yang berakibat pada
penyajian atas LKPD. Dalam mengungkapkan temuan seperti ini, pemeriksa
harus terlebih dahulu menjelaskan pengungkapan TP dimaksud dalam LHP
terkait (sebutkan nomor dan judul LHP terkait) yaitu uraian kondisi dan
rekomendasinya. Selanjutnya, pemeriksa menguraikan kaitan masalah tersebut
dengan pengungkapan salah satu akun di LKPD yang diperiksa.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 11


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Berikut ini contoh pengungkapan TP berulang.


Temuan – Sistem Pencatatan dan Pelaporan Aset Tetap pada Pemerintah Kabupaten
X Tidak Memadai
Pemerintah Kabupaten X melaporkan jumlah aset tetap sebesar Rp443.485,97 juta
dalam Neraca per 31 Desember 2010. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
Pemerintah Kabupaten X Tahun 2010 pada Paragraf 3.e.5 menyatakan bahwa Aset Tetap
tersebut terdiri dari 1) Tanah, 2) Peralatan dan Mesin, 3) Gedung dan Bangunan, 4) Jalan,
Irigasi dan Jaringan, 5) Aset Tetap Lainnya, dan Konstruksi dalam Pengerjaan. Dalam
pemeriksaan atas Pemerintah Kabupaten X Tahun 2009, BPK melaporkan beberapa
kelemahan Sistem Pengendalian Intern atas pengelolaan aset yaitu belum seluruh satker
pada Pemerintah Kabupaten X melakukan inventarisasi aset tetap serta terdapat aset
tetap yang belum memiliki sertifikat hak kepemilikan yang sah.
Sehubungan dengan permasalahan tersebut, BPK menyarankan agar Pemerintah
Kabupaten X segera melakukan inventarisasi aset tetap serta mengurus sertifikat hak
kepemilikan atas aset miliki pemerintah daerah.
Menindaklanjuti rekomendasi tersebut, selama tahun 2010, Pemerintah Kabupaten X
telah menginstruksikan rekomendasi BPK tersebut ke seluruh satker di bawahnya.
Berdasarkan pemeriksaan BPK atas LK Pemerintah Kabupaten X Tahun 2010, masih
terdapat kelemahan dalam pengendalian intern atas pengelolaan aset sebagai berikut.
1) Aset tetap pada lima satker masih belum memiliki daftar inventarisasi aset tetap sebesar
Rp123.456.789,00;
2) Aset tanah pada pada dua satker sebesar Rp123.456.789,00 masih belum memiliki
sertifikat hak kepemilikan yang sah . . . .
Pemeriksa sering menghadapi permasalahan dalam mengelompokkan TP ke
dalam temuan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan atau
temuan Sistem Pengendalian Intern (SPI). Sebagai panduan untuk memudahkan
pengelompokan TP LKPD, berikut diuraikan pendekatan yang digunakan sesuai
dengan SPKN yang juga konsisten dengan klasifikasi temuan dalam penyusunan
Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semesteran (IHPS).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 12


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 7.1

FORMAT MATRIKS TEMUAN PEMERIKSAAN

Matriks Temuan Pemeriksaan


Jenis Pemeriksaan : Pemeriksaan Laporan Keuangan Daerah Dibuat oleh :
Entitas : Pemerintah Kabupaten X Direviue oleh :
Tahun Anggaran : 20xx Disetujui oleh :

No Judul Akibat Sebab Rekomendasi


1

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 7.2

KRITERIA YANG SERING DIGUNAKAN DALAM PEMERIKSAAN LKPD

1. Undang-Undang
a. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
b. Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
c. Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan atas Pengelolaan dan
tanggung jawab Keuangan Negara.
d. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah.

2. Peraturan Pemerintah
a. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah.
b. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan.
c. Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang SAP.
d. Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara
atau Daerah.
e. Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah dan Peraturan Perubahannya.
f. Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah
g. Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah
h. Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

3. Peraturan Menteri Dalam Negeri


a. Permendagri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah.
b. Permendagri No. 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah.
c. Permendagri No. 25 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010.
d. Permendagri No. 55 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penatausahaan dan
Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara serta Penyampaiannya.
e. Permendagri No. 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang
Milik Daerah

4. Standar Akuntansi Pemerintah


a. SAP Pernyataan No. 01 Penyajian Laporan Keuangan
b. SAP Pernyataan No. 02 Laporan Realisasi Anggaran
c. SAP Pernyataan No. 03 Laporan Arus Kas
d. SAP Pernyataan No. 04 Catatan Atas Laporan Keuangan
e. SAP Pernyataan No. 05 Akuntansi Persediaan
f. SAP Pernyataan No. 06 Akuntansi Investasi
g. SAP Pernyataan No. 07 Akuntansi Aset Tetap

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 7.2

h. SAP Pernyataan No. 08 Akuntansi Kontruksi Dalam Pengerjaan


i. SAP Pernyataan No. 09 Akuntansi Kewajiban
j. SAP Pernyataan No. 10 Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi,
dan Peristiwa Luar Biasa
k. SAP Pernyataan No. 11 Laporan Keuangan Konsolidasian
l. Buletin Teknis No. 01 Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Pusat
m. Buletin Teknis No. 02 Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Daerah
n. Buletin Teknis No. 03 Penyajian LKPD sesuai dengan SAP dengan Konversi
o. Buletin Teknis No. 04 Penyajian dan Pengungkapan Belanja Pemerintah
p. Buletin Teknis No. 05 Akuntansi Penyusutan
q. Buletin Teknis No. 06 Akuntansi Piutang
r. Buletin Teknis No. 07 Akuntansi Dana Bergulir
s. Buletin Teknis No. 08 Akuntansi Utang
t. Buletin Teknis No. 09 Akuntansi Aset Tetap
u. Buletin Teknis No. 10 Akuntansi Belanja Bantuan Sosial

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 7.3

JENIS TEMUAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN

No. Jenis Temuan Contoh Temuan


I Kelemahan sistem 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak
pengendalian akuntansi dan akurat
pelaporan 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai
ketentuan
3 Entitas terlambat menyampaikan laporan
4 Sistem Informasi Akuntansi dan Pelaporan
tidak memadai
5 Sistem Informasi Akuntansi dan Pelaporan
belum didukung SDM yang memadai

II Kelemahan sistem 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai


pengendalian pelaksanaan Mekanisme pemungutan, penyetoran dan
2
anggaran pendapatan dan pelaporan serta penggunaan Penerimaan
belanja negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak
sesuai ketentuan
3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-
undangan bidang teknis tertentu atau
ketentuan intern organisasi yang diperiksa
tentang pendapatan dan belanja
4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme
APBN/APBD
5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat
atau belum dilakukan berakibat hilangnya
potensi penerimaan/pendapatan
6 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat
atau belum dilakukan berakibat peningkatan
biaya/belanja
7 Kelemahan pengelolaan fisik aset

III Kelemahan struktur 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk
pengendalian intern suatu prosedur atau keseluruhan prosedur
2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan
secara optimal atau tidak ditaati
3 Entitas tidak memiliki Satuan Pengawas Intern
4 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak
memadai atau tidak berjalan optimal
5 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang
memadai

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 7.4

JENIS TEMUAN KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

No. Jenis Temuan Contoh Temuan


I Kerugian 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif
Negara/Daerah/Perusahaan Rekanan pengadaan barang/jasa tidak
2
menyelesaikan pekerjaan
3 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau
barang
4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan
volume pekerjaan dan/atau barang
5 Pemahalan harga (Mark up)
6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan
pribadi
7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya
perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi
standar yang ditetapkan
8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak
sesuai dengan kontrak
9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan
10 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana
bergulir macet
11 Kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi
pajak atau penetapan kompensasi kerugian
12 Penjualan/pertukaran/penghapusan aset
negara/daerah tidak sesuai ketentuan dan
merugikan negara/daerah
13 Pengenaan ganti kerugian negara belum/tidak
dilaksanakan sesuai ketentuan
14 Entitas belum/tidak melaksanakan tuntutan
perbendaharaan (TP) sesuai ketentuan
15 Penghapusan hak tagih tidak sesuai ketentuan
16 Pelanggaran ketentuan pemberian diskon
penjualan
17 Penentuan HPP terlalu rendah sehingga
penentuan harga jual lebih rendah dari yang
seharusnya
18 Jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan
pekerjaan, pemanfaatan barang dan
pemberian fasilitas tidak dapat cairkan
19 Penyetoran penerimaan negara/daerah
dengan bukti fiktif

II Potensi kerugian 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan


Negara/Daerah/Perusahaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan
belum dilakukan sebagian atau seluruhnya
2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban
pemeliharaan barang hasil pengadaan yang
telah rusak selama masa pemeliharaan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 7.4

No. Jenis Temuan Contoh Temuan


3 Aset dikuasai pihak lain
4 Pembelian aset yang berstatus sengketa
5 Aset tidak diketahui keberadaannya
6 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan
pekerjaan, pemanfaatan barang dan
pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan
7 Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban
untuk menyerahkan aset kepada
negara/daerah
8 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang
berpotensi tidak tertagih
9 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan
10 Pencairan anggaran pada akhir tahun
anggaran untuk pekerjaan yang belum selesai

III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda


keterlambatan pekerjaan belum/tidak
ditetapkan dipungut/diterima/disetor ke kas
negara/daerah atau perusahaan milik
negara/daerah
2 Penggunaan langsung penerimaan
negara/daerah
3 Dana Perimbangan yang telah ditetapkan
belum masuk ke kas daerah
4 Penerimaan negara/daerah diterima atau
digunakan oleh instansi yang tidak berhak
5 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari
ketentuan
6 Koreksi perhitungan bagi hasil dengan KKKS
7 Kelebihan pembayaran subsidi oleh
pemerintah

IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti


tidak lengkap/tidak valid)
2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak
atau penetapan anggaran
3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai
ketentuan (tidak menimbulkan kerugian
negara)
4 Pemecahan kontrak untuk menghindari
pelelangan
5 Pelaksanaan lelang secara proforma
6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU-an
bidang pengelolaan perlengkapan atau barang
milik negara/daerah/perusahaan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 7.4

No. Jenis Temuan Contoh Temuan


7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-
undangan bidang tertentu lainnya seperti
kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll.
8 Koreksi perhitungan susbsidi/kewajiban
pelayanan umum
9 Pembentukan cadangan piutang, perhitungan
penyusutan atau amortisasi tidak sesuai
ketentuan
10 Penyetoran penerimaan negara/daerah atau
kas di bendaharawan ke Kas negara/daerah
melebihi batas waktu yang ditentukan
11 Pertanggungjawaban/penyetoran uang
persediaan melebihi batas waktu yang
ditentukan
12 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir
Tahun Anggaran belum/tidak disetor ke kas
negara/daerah
13 Pengeluaran investasi pemerintah tidak
didukung bukti yang sah
14 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti
yang sah
15 Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah
16 Pelampauan pagu anggaran

V Indikasi tindak pidana korupsi 1 Melawan hukum atau menyalahgunakan


kewenangan dan dapat merugikan keuangan
negara
2 Suap-menyuap
3 Penggelapan dalam jabatan
4 Pemerasan oleh pegawai negeri
5 Perbuatan curang dalam proses pengadaan
barang/jasa
6 Benturan kepentingan dalam proses
pengadaan barang/jasa
7 Gratifikasi

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 8 Penyusunan LHP SPI & Kepatuhan

BAB 8
PENYUSUNAN LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN
ATAS SPI DAN KEPATUHAN

8.1 Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan

Selain menyusun Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan


Pemerintah Daerah (LKPD) yang memuat Opini BPK dan Laporan Keuangan
entitas yang diperiksa, dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
dalam Pernyataan Standar Pemeriksaan (PSP) 03 tentang Standar Pelaporan
Keuangan Paragraf 5 b) dan c) juga diatur tentang pelaporan kepatuhan
terhadap ketentuan perundang-undangan dan pelaporan pengendalian intern.
Lebih lanjut dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Pemeriksaan Keuangan,
disebutkan juga jenis Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Keuangan berupa LHP
Atas Sistem Pengendalian Intern (SPI) dan LHP Atas Kepatuhan Terhadap
Peraturan Perundang-Udangan Dalam Kerangka Pemeriksaan LKPD.
LHP yang memuat opini harus menjelaskan bahwa pemeriksa juga
menerbitkan laporan-laporan tersebut, dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan. Sebagaimana disebutkan dalam SPKN, apabila pemeriksa
menerbitkan laporan atas SPI dan Kepatuhan, laporan hasil pemeriksaan atas
laporan keuangan harus memuat suatu paragraf yang merujuk kepada laporan
tersebut.

8.2 Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern

Laporan atas pengendalian intern harus mengungkapkan kelemahan dalam


pengendalian intern atas pelaporan keuangan yang dianggap sebagai “kondisi
yang dapat dilaporkan”, sebagaimana dinyatakan dalam SPKN. Pengungkapan
temuan pengendalian intern yang perlu dilaporkan, dilakukan sebagai berikut.
1) Apabila temuan pengendalian intern tersebut secara material berpengaruh
pada kewajaran laporan keuangan, pemeriksa mengungkapkan uraian singkat
temuan tersebut dalam LHP yang memuat opini atas kewajaran laporan
keuangan sebagai alasan pemberian opini.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 8 Penyusunan LHP SPI & Kepatuhan

2) Pengungkapan semua temuan pengendalian intern secara terinci dilaporkan


dalam Laporan atas Pengendalian Intern dalam Kerangka
Pemeriksaan laporan keuangan.
Beberapa contoh “kondisi yang dapat dilaporkan” adalah sebagai berikut.
1) Tidak ada pemisahan tugas yang memadai sesuai dengan tujuan
pengendalian yang layak;

2) Tidak ada reviu dan persetujuan yang memadai untuk transaksi, pencatatan
akuntansi atau output dari suatu sistem;
3) Tidak memadainya berbagai persyaratan untuk pengamanan aktiva;

4) Bukti kelalaian yang mengakibatkan kerugian, kerusakan atau penggelapan


aktiva;
5) Bukti bahwa suatu sistem gagal menghasilkan output yang lengkap dan
cermat sesuai dengan tujuan pengendalian yang ditentukan oleh entitas yang
diperiksa, karena kesalahan penerapan prosedur pengendalian;
6) Bukti adanya kesengajaan mengabaikan pengendalian intern oleh orang
orang yang mempunyai wewenang, sehingga menyebabkan kegagalan tujuan
menyeluruh sistem tersebut;
7) Bukti kegagalan untuk menjalankan tugas yang menjadi bagian dari
pengendalian intern, seperti tidak dibuatnya rekonsiliasi atau pembuatan
rekonsiliasi tidak tepat waktu;
8) Kelemahan dalam lingkungan pengendalian, seperti tidak adanya tingkat
kesadaran yang memadai tentang pengendalian dalam organisasi tersebut;
9) Kelemahan yang signifikan dalam disain atau pelaksanaan pengendalian
intern yang dapat mengakibatkan pelanggaran ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berdampak langsung dan material atas laporan
keuangan; dan
10) Kegagalan untuk melakukan tindak lanjut dan membentuk sistem informasi
pemantauan tindak lanjut untuk secara sistematis dan tepat waktu
memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam pengendalian intern yang
sebelumnya telah diketahui.

Format LHP atas SPI dimuat pada Lampiran Suplemen.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 8 Penyusunan LHP SPI & Kepatuhan

8.3 Laporan Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan Terhadap


Peraturan Perundang-undangan

Laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan harus mengungkapkan


bahwa pemeriksa telah melakukan pengujian atas kepatuhan terhadap ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berpengaruh langsung dan material
terhadap penyajian laporan keuangan.
Ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang undangan yang
ditemukan dalam pemeriksaan keuangan, dimuat sebagai temuan pemeriksaan
dalam LHP atas kepatuhan. Pengungkapan ketidakpatuhan yang perlu
dilaporkan dilakukan sebagai berikut.
1) Apabila ketidakpatuhan tersebut secara material berpengaruh pada
kewajaran laporan keuangan, pemeriksa mengungkapkan uraian singkat
ketidakpatuhan tersebut dalam LHP yang memuat opini atas kewajaran
laporan keuangan sebagai alasan pemberian opini.
2) Pengungkapan semua temuan terkait ketidakpatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan yang ditemukan selama pemeriksaan
secara terinci dilaporkan dalam Laporan atas Kepatuhan dalam
kerangka pemeriksaan laporan keuangan.
LHP tentang kepatuhan dapat mengungkapkan:
1) ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan
termasuk pengungkapan atas penyimpangan administrasi, pelanggaran atas
perikatan perdata, maupun penyimpangan yang mengandung unsur
tindak pidana,
2) dalam hal ditemukan atau diduga ada unsur pelanggaran hukum,
pemeriksa mengungkapkan unsur atau dugaan pelanggaran hukum tersebut
dalam LHP terkait dengan kepatuhan terhadap peraturan perundang-
undangan, dan
3) ketidakpatuhan yang signifikan.

Format LHP atas Kepatuhan dimuat pada Lampiran Suplemen.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 8 Penyusunan LHP SPI & Kepatuhan

8.4 Pengungkapan Unsur Temuan Pemeriksaan

Sejauh memungkinkan, dalam menyajikan temuan pemeriksaan SPI dan


Kepatuhan, pemeriksa harus mengembangkan unsur-unsur temuan pemeriksaan
berupa kondisi, kriteria, akibat, dan sebab untuk membantu manajemen entitas
yang diperiksa atau pihak berwenang dalam memahami perlunya mengambil
tindakan perbaikan. Apabila pemeriksa dapat mengembangkan secara memadai
temuan-temuan tersebut, pemeriksa harus membuat rekomendasi guna tindakan
perbaikan.
Berikut ini adalah pedoman dalam melaporkan unsur-unsur temuan
pemeriksaan.

1) Kondisi; memberikan bukti mengenai hal-hal yang ditemukan pemeriksa di


lapangan. Pelaporan lingkup atau kedalaman dari kondisi dapat membantu
pengguna laporan dalam memperoleh perspektif yang wajar.
2) Kriteria; memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengguna
laporan hasil pemeriksaan untuk menentukan keadaan seperti apa yang
diharapkan. Kriteria akan mudah dipahami apabila dinyatakan secara wajar,
eksplisit, dan lengkap, dan sumber dari kriteria dinyatakan dalam laporan
hasil pemeriksaan.
3) Akibat; memberikan hubungan yang jelas dan logis untuk menjelaskan
pengaruh dari perbedaan antara apa yang ditemukan pemeriksa (kondisi)
dan apa yang seharusnya (kriteria). Akibat lebih mudah dipahami bila
dinyatakan secara jelas, terinci, dan apabila memungkinkan, dinyatakan
dalam angka. Signifikansi dari akibat yang dilaporkan ditunjukkan oleh bukti
yang meyakinkan.
4) Sebab; memberikan bukti yang meyakinkan mengenai faktor yang menjadi
sumber perbedaan antara kondisi dan kriteria. Dalam melaporkan sebab,
pemeriksa harus mempertimbangkan apakah bukti yang ada dapat
memberikan argumen yang meyakinkan dan masuk akal bahwa sebab yang
diungkapkan merupakan faktor utama terjadinya perbedaan. Pemeriksa juga
perlu mempertimbangkan apakah sebab yang diungkapkan dapat menjadi
dasar pemberian rekomendasi. Dalam situasi temuan terkait dengan
kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dimana tidak
dapat ditetapkan dengan logis penyebab temuan tersebut, pemeriksa tidak
diharuskan untuk mengungkapkan unsur sebab ini.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

BAB 9
PANDUAN PENYUSUNAN OPINI

9.1 Gambaran Umum


Tujuan dari pemeriksaan laporan keuangan adalah untuk memberiksan
opini atas laporan keuangan. Opini merupakan pernyataan profesional sebagai
kesimpulan pemeriksa mengenai tingkat kewajaran informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan. Dalam perumusan opini, pemeriksa mengacu kepada
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang memberlakukan empat
standar pelaporan SPAP yang ditetapkan IAPI, disamping menambahkan enam
standar tambahan.
Walaupun SPKN telah mengatur mengenai standar pelaporan, tetapi
dalam penerapannya masih mengalami beberapa kendala terutama karena
standar tersebut masih menimbulkan penafsiran yang berbeda diantara para
pemeriksa, khususnya dalam hal pertimbangan dalam penetapan opini maupun
format penyajian opini tersebut.
Untuk itu diperlukan panduan untuk mempersempit perbedaan penafsiran
atas standar pelaporan tersebut khususnya dalam pemberian opini LKPD.
Panduan berikut secara garis besar memuat dasar pertimbangan opini, jenis opini,
mekanisme pemberian opini, dan format opini dalam pemeriksaan atas LKPD

9.2 Dasar Pertimbangan Pemberian Opini


Opini merupakan pernyataan profesional sebagai kesimpulan pemeriksa
mengenai tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam LK yang didasarkan
pada (i) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, (ii) kecukupan
pengungkapan, (iii) kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan
(iv) efektivitas sistem pengendalian intern. Dengan memperhatikan kriteria
pemberian opini tersebut, pada dasarnya terdapat dua kondisi menentukan
opini yaitu:
1) Pembatasan lingkup audit atau kecukupan bukti; dan
2) Penyimpangan dari prinsip akuntansi atau salah saji.
Kedua hal tersebut harus dikaitkan dengan tingkat materialitas dan dampaknya
terhadap LK secara keseluruhan (pervasiveness).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

9.2.1 Pembatasan Lingkup Audit atau Kecukupan Bukti Audit


Dalam standar pekerjaan lapangan dijelaskan bahwa pemeriksa wajib
mengumpulkan bukti yang kompeten melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan
pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas
laporan keuangan yang diaudit. Auditor diharuskan untuk meyakinkan dirinya
bahwa prosedur audit yang dilaksanakan pada akhirnya dapat menghasilkan
bukti audit yang cukup memadai untuk menyatakan kesimpulan.
Ketidakmampuan auditor dalam memeroleh bukti adalah merupakan
pembatasan lingkup bagi auditor dalam memenuhi stadar pemeriksaan.
Pembatasan lingkup yang mengakibatkan pemeriksa tidak dapat memperoleh
cukup bukti dapat terjadi karena tiga hal:
1) Keadaan di luar kendali entitas, misalnya :
(1) Catatan akuntansi hancur (karena kebakaran misalnya)
(2) Catatan akuntansi telah disita oleh aparat pemerintah untuk waktu yang
tidak dapat ditentukan.
(3) Adanya ketidakpastian
2) Keadaan terkait sifat dan waktu penugasan, misalnya :

(1) Waktu yang tersedia untuk penghitungan persediaan tidak cukup


(2) Pengendalian entitas tidak efektif dan pemeriksa tidak dapat
menerapkan prosedur alternatif untuk memperoleh bukti yang cukup
(3) Ketidakcukupan catatan akuntansi
3) Pembatasan oleh manajemen, misalnya manajemen membatasi auditor
melaksanakan prosedur peninjauan fisik, konfirmasi kepada pihak ketiga,
ataupun pembatasan lainnya dalam pemeriksa melaksanakan prosedur
pemeriksaan.
Ketidakmampuan auditor dalam menerapkan suatu prosedur tidak boleh
dianggap sebagai pembatasan audit apabila auditor dapat melakukan prosedur
alternatif untuk mengumpulkan bukti yang diperlukan. Auditor baru boleh
berhenti dalam mengumpulkan bukti dan menyimpulkan bahwa bukti yang
cukup tidak dapat diperoleh apabila auditor tidak dapat menjalankan prosedur
alternatif.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

9.2.2 Penyimpangan dari prinsip akuntansi yang mengakibatkan salah


saji.
Pemberian opini atas laporan keuangan harus didasarkan pada
keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar
dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum.
Penyajian laporan keuangan secara wajar artinya bahwa tidak terdapat salah
saji yang material dalam pelaporan keuangan. Salah saji yang mempengaruhi
opini adalah salah saji yang tidak dapat dikoreksi dengan alasan (1) entitas tidak
bersedia melakukan koreksi akuntansi, (2) secara teknis koreksi tersebut
memang tidak bisa dilakukan karena terikat pada peraturan atau kebijakan
(sebagai contoh, dalam kebijakan audit BPK, salah saji yang terkait dengan
pelampauan atau kesalahan pembebanan tidak dapat dikoreksi).
Salah saji dapat diklasifikasikan:
1) Kesesuaian Pilihan Kebijakan Akuntansi

(1) Kebijakan akuntansi yang dipilih tidak konsisten dengan kerangka


pelaporan keuangan yang berlaku; atau
(2) Laporan keuangan, termasuk catatan terkait, tidak merepresentasikan
transaksi dan kejadian yang sebenarnya (underlying transactions and
events) sehingga penyajian yang wajar tidak dapat dilakukan.
2) Penerapan kebijakan akutansi terpilih

(1) Manajemen tidak secara konsisten menerapkan kebijakan akuntansi


tersebut sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan, termasuk ketika
manajemen tidak menerapkan kebijakan akuntansi secara konsisten
antarperiode atau antartransaksi yang sejenis (konsistensi penerapan);
atau
(2) Terjadi kesalahan penerapan kebijakan akuntansi (misalnya karena
kesalahan yang tidak disengaja dalam menerapkan kebijakan
akuntansi).
3) Kesesuaian atau kecukupan pengungkapan dalam laporan keuangan
(1) Laporan keuangan tidak memasukkan semua hal yang perlu
diungkapkan sesuai yang dipersyaratkan dalam SAP;
(2) Pengungkapan dalam laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan
SAP; atau

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

(3) Laporan keuangan tidak mengungkapkan hal-hal yang dipersyaratkan


untuk mencapai penyajian yang wajar (fair presentation).
Salah saji dapat disebabkan oleh (1) ketidakpatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan; (2) kecurangan (fraud); dan (3) ketidakpatutan (abuse).
Ketidakpatutan merupakan perbuatan yang tidak masuk akal dan di luar praktik-
praktik yang lazim. Salah saji juga dapat terjadi karena tidak efektifnya
pengendalian intern.
Jika kita mengacu pada SPAP, makna dari ketidaksesuaian dengan SAP
seyogyanya dapat diperluas bukan hanya untuk hal-hal yang diatur dalam
PSAP, akan tetapi dapat diperluas sebagai berikut.
1) Prinsip akuntansi yang sudah diatur dalam PSAP dan Interprestasinya serta
Buletin Teknis dalam hal ini termasuk kerangka konseptual.
2) Ketentuan atau peraturan yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang,
misalnya Permendagri, Peraturan Meteri Keuangan.
3) Praktik atau pernyataan resmi yang sudah diakui secara luas berlaku umum
karena sudah merupakan praktik yang lazim dalam pemerintahan.
Untuk itu pemeriksa dapat melihat Kerangka Prinsip Akuntansi yang berlaku
umum di SPAP seksi 411 Paragraf 2.
9.2.3 Materialitas
Materialitas adalah besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi
penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, mungkin
dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan
kepercayaan atas informasi tersebut. Definisi tersebut mengakui pertimbangan
materialitas dilakukan dengan memperhitungkan keadaan yang melingkupi dan
perlu melibatkan baik pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif.
Tingkat materialitas diukur terhadap:

1) Tolerable Error (TE), yaitu tingkat materialitas terhadap suatu akun hanya
mempunyai konsekuensi maksimal pengecualian terhadap akun tertentu
tersebut (apabila tidak dapat dilakukan koreksi). Akan tetapi, hal ini tidak
berpengaruh terhadap penyajian LK secara keseluruhan;
2) Planning Materiality (PM), yaitu tingkat materialitas yang mempunyai
konsekuensi maksimal terhadap laporan keuangan secara keseluruhan
(apabila tidak dapat dilakukan koreksi).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Sebuah salah saji dapat dikatakan material apabila kesalahan penyajian


tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil oleh pengguna laporan.
Dalam penerapan konsep materialitas ini, terdapat tiga tingkatan nilai yang
digunakan untuk menentukan jenis opini yang akan diterbitkan.
1) Tidak Material
Kesalahan penyajian dapat terjadi tetapi salah saji tersebut tidak
mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh pengguna laporan keuangan.
Klasifikasi tidak material ini biasanya menyangkut jumlah-jumlah salah saji
yang kecil apabila dibandingkan dengan nilai batas tingkat kesalahan yang
dapat ditoleransi (TE).
2) Material tetapi tidak mempengaruhi keseluruhan penyajian laporan
keuangan.
Kesalahan penyajian dapat mempengaruhi keputusan seorang pengguna
laporan keuangan, tetapi secara keseluruhan laporan keuangan tetap
disajikan secara wajar dan tetap dapat digunakan. Sebagai contoh, bila
diketahui terdapat kesalahan penyajian aktiva tetap yang bernilai cukup
besar, hal ini kemungkinan dapat mempengaruhi pengguna laporan
keuangan, misalnya DPRD, untuk membuat keputusan penganggaran.
Namun, salah saji tersebut tidak memiliki pengaruh menyeluruh pada
kewajaran laporan keuangan, karena dampaknya hanya terjadi pada akun
tersebut.
3) Sangat material sehingga mempengaruhi kewajaran penyajian seluruh
laporan keuangan
Yang dimaksud dengan salah saji sangat material terhadap keseluruhan
laporan keuangan adalah apabila salah saji tersebut secara nilai sangat
material dan/atau mempunyai pengaruh secara luas terhadap akun dan/atau
laporan lainnya.
Tingkat materialitas tertinggi terjadi apabila terdapat probabilitas yang sangat
tinggi bahwa pengguna laporan keuangan akan membuat keputusan yang
tidak benar jika dalam pembuatan keputusannya didasarkan pada informasi
yang dihasilkan dari keseluruhan laporan keuangan. Pada tingkat ini, salah
saji yang terjadi dikatakan sebagai pervasive. Contoh, apabila salah saji
terjadi terkait dengan transaksi Kas di Kas Daerah yang jumlahnya sangat
besar, salah saji tersebut memiliki pengaruh terhadap kewajaran laporan
keuangan secara keseluruhan sehingga pengguna laporan keuangan dapat
membuat keputusan yang salah. Dalam hal ini, transaksi Kas di Kas Daerah

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

memiliki pengaruh yang besar pada laporan keuangan karena menyangkut


akun lain seperti SiLPA.

Perlu dipahami bahwa, total salah saji (misstatement) atau pembatasan lingkup yang
nilainya di atas PM tidak selalu mengakibatkan opini Tidak Wajar ataupun Tidak
Memberikan Pendapat. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah masalah tingkat
pervasiveness.
Saat menentukan tingkat materialitas dari suatu kesalahan penyajian,
auditor juga harus mempertimbangkan seberapa besar pengaruh salah saji
tersebut terhadap bagian-bagian laporan keuangan lainnya. Pengaruh semacam
ini disebut sebagai tingkat resapan atau rembetan (pervasiveness). Suatu salah
saji dikatakan pervasive apabila salah saji tersebut memiliki pengaruh pada akun
lain. Pertimbangan atas pervasive dapat didasarkan pada 3 faktor berikut.

1) Kompleksitas
Kompleksitas akun diukur dari tingkat pengaruh akun tersebut terhadap akun
lain dalam laporan keuangan. Beberapa akun dalam laporan keuangan menurut
sifatnya memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena pengaruhnya pada akun lain.
Kompleksitas berkaitan dengan dampak permasalahan pada suatu akun
terhadap akun lainnya atau laporan lainnya dan atau banyaknya asersi yang
terpengaruh. Beberapa akun dalam laporan keuangan menurut sifatnya memiliki
tingkat kompleksitas tinggi karena pengaruhnya pada akun lain. Contohnya,
suatu pemda dengan anggaran belanja sebesar Rp1,3triliun ditemukan adanya
10 transaksi belanja modal fiktif sebesar Rp75miliar. Hal tersebut dapat
mengakibatkan salah saji pada pos belanja modal, aset tetap, dan ekuitas,
sehingga dapat dikatakan bahwa temuan terkait belanja modal tersebut bersifat
kompleks. Dalam kasus ini, jika tidak diungkapkan dalam CaLK, pemeriksa
dapat mempertimbangkan memberikan opini Tidak Wajar walaupun secara
proporsi belum mencapai 20% dari nilai akun yang diperiksa. Contoh lain,
penerimaan hibah dari negara donor sebesar Rp40miliar dikelola di luar APBD,
sehingga pendapatan dan belanja menjadi kurang saji, sisa kas tidak dicatat,
dan aset tetap yang dihasilkan juga tidak dicatat. Hal tersebut dapat
dipertimbangkan pemeriksa untuk memberikan opini TW atau TMP.
Tingkat kompleksitas akun diuraikan dalam guideline untuk sektor publik
sesuai Lampiran 9.1.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 6


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

2) Proporsi
Tidak ada ukuran baku yang menjadi besaran proporsi yang bersifat
substansial karena ini lebih didasarkan pada pertimbangan auditor. Untuk
memudahkan penilaian, auditor bisa menetapkan kebijakan mengenai batasan
proporsi yang dianggap fundamental, misanya 20% dari total akun yang
diperiksa dapat dianggap berpegaruh secara keseluruhan secara kuantitatif.
Sebagai contoh, dampak potensi salah saji (kurang saji) akibat adanya aset
yang tidak tercatat dan pemda tidak bersedia dikoreksi adalah sebesar
Rp500miliar dari total akun yang diperiksa sebesar Rp1,2triliun. Dampak
tersebut dapat dipertimbangkan pervasive karena sudah lebih dari 20% total
akun yang diperiksa, sehingga dapat dipertimbangkan untuk opini Tidak Wajar
dari pada hanya WDP.
Contoh lain, misalnya pemeriksa menemukan dua permasalahan dari total akun
yang diperiksa sebesar Rp1,2 triliun, yaitu (1) piutang tidak ada bukti sebesar
Rp50 miliar; dan (2) penyertaan pada BUMD senilai Rp20 miliar dengan
kepemilikan di atas 20% masih dicatat dengan harga perolehan karena belum
ada laporan keuangan BUMD yang mutakhir. Dalam kondisi ini, pemeriksa dapat
mempertimbangkan untuk memberikan opini WDP dari pada TMP.
3) Pengungkapan yang bersifat fundamental
Pengungkapan dikatakan fundamental apabila dapat mempengaruhi
pengguna laporan keuangan membuat keputusan atau terdapat penilaian yang
berbeda apabila tidak diungkapkan.
Apakah pengungkapan dapat mempengaruhi opini? Jawabannya “ya”.
SPAP Seksi 431 paragraf 3 intinya mengatur : Bila manajemen menghilangkan
dari laporan keuangan, informasi yang seharusnya diungkapkan sesuai dengan
prinsip akuntansi, termasuk catatan atas laporan keuangan, auditor harus
memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar
karena alasan tersebut dan harus memberikan informasi yang cukup dalam
laporannya.
Contoh: Pemda menolak untuk mengungkapkan adanya aset yang masih dalam
sengketa, padahal pada tingkat pengadilan negeri pemda sudah dikalahkan. Jika
nilai aset mencapai lebih dari PM, pemeriksa dapat mempertimbangkan untuk
tidak memberikan opini WTP.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 7


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

9.3 Jenis Opini


UU Nomor 15 Tahun 2004 menyatakan bahwa opini atas laporan
keuangan terbagi menjadi empat jenis:
1) Wajar Tanpa Pengecualian (WTP);

2) Wajar Dengan Pengecualian (WDP);

3) Tidak Wajar (TW);

4) Tidak Memberikan Pendapat (TMP).

9.3.1 Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)

Opini WTP menyatakan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar


dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (Standar Akuntansi
Pemerintahan).
Opini WTP merupakan penilaian tertinggi atas laporan keuangan, dimana
ini bisa tercapai apabila memenuhi kondisi-kondisi sebagai berikut.
1) Bukti pemeriksaan yang cukup memadai telah terkumpul, dan pemeriksa telah
melaksanakan penugasan sedemikian rupa sehingga mampu menyimpulkan
bahwa ketiga standar pekerjaan lapangan telah dipatuhi;
2) Semua aspek dari standar umum SPKN telah dipatuhi dalam penugasan
pemeriksaan;
3) Seluruh laporan keuangan (neraca, laporan realisasi anggaran, laporan arus
kas dan catatan atas laporan keuangan) telah lengkap disajikan;
4) Laporan keuangan yang disajikan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum (Standar Akuntansi Pemerintahan). Hal ini juga berarti bahwa
pengungkapan informatif yang cukup telah tercantum dalam catatan atas
laporan keuangan serta bagian-bagian lainnya dari laporan keuangan tersebut;
5) Tidak terdapat situasi yang membuat pemeriksa merasa perlu untuk
menambahkan sebuah paragraf penjelasan atau memodifikasi kalimat dalam
laporan pemeriksaan.
Dalam hal terjadi keadaan tertentu yang perlu penjelasan, pemeriksa dapat
menambahkan suatu paragraf penjelasan dalam laporan hasil pemeriksaannya.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 8


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Dalam kondisi ini, pemeriksa dapat menyatakan opini modifikasi yaitu WTP
Dengan Paragraf Penjelasan. Adapun kondisi-kondisi yang memungkinkan
terjadinya penambahan penjelasan adalah sebagai berikut.
1) Tidak ada konsistensi dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum
Suatu paragraf penjelasan diperlukan baik untuk perubahan prinsip akuntansi
yang dilakukan secara sukarela maupun yang terjadi kerena adanya
pernyataan akuntansi yang baru.
2) Ketidakpastian atas kelangsungan hidup organisasi (going concern)

Meskipun bukan merupakan isu penting dalam sektor publik, persoalan


keberlangsungan hidup organisasi pemerintah juga harus menjadi
pertimbangan pemeriksa.
3) Ada penekanan pada suatu masalah
Dalam beberapa situasi, pemeriksa mungkin ingin memberikan penekanan
pada beberapa masalah tertentu yang terkait dengan laporan keuangan,
meskipun ia bermaksud memberikan opini wajar tanpa pengecualian.
Biasanya informasi tambahan yang menjelaskan masalah tersebut harus
dinyatakan pada suatu paragraf terpisah dalam laporan pemeriksaan.
Contohnya, apabila pemeriksa mempertimbangkan bahwa ia harus
menjelaskan transaksi dengan pihak lain yang bernilai sangat besar dan
terjadi peristiwa penting setelah tanggal neraca.
4) Terkait laporan yang melibatkan pemeriksa lain
Pemeriksa mengeluarkan opini wajar tanpa pengecualian dengan paragraf
penjelasan apabila menyandarkan diri pada pemeriksa lain (misalnya kantor
akuntan publik) untuk melaksanakan sebagian proses pemeriksaan. Dalam hal
ini yang dilakukan biasanya memberikan referensi dalam laporan, karena
pemeriksa tidak mungkin melakukan reviu atas pekerjaan pemeriksa lain,
terutama apabila proporsi laporan keuangan yang diperiksa oleh pemeriksa
lain material terhadap keseluruhan laporan keuangan.
9.3.2 Wajar Dengan Pengecualian (WDP)
Opini WDP menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar
dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas entitas
sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum, kecuali untuk dampak hal-hal yang
yang dikecualikan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 9


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Kondisi-kondisi yang menyebabkan pemeriksa menyatakan opini WDP


adalah adanya salah saji sebagai berikut:
1) WDP karena adanya penyimpangan dari prinsip akuntasi (salah saji)
Pemeriksa, setelah memperoleh bukti pemeriksaan yang cukup memadai,
menyimpulkan bahwa salah saji yang terjadi baik secara individual maupun
agregat, adalah material, tapi tidak pervasive, terhadap laporan keuangan;
atau
2) WDP karena adanya pembatasan lingkup (ketidakcukupan bukti)

Pemeriksa tidak dapat memperoleh bukti pemeriksaan yang cukup memadai


untuk dijadikan dasar opini, tetapi pemeriksa menyimpulkan bahwa dampak
yang mungkin terjadi (possible effects) pada laporan keuangan atas salah saji
yang tidak terdeteksi, apabila ada, adalah material tetapi tidak pervasive.
9.3.3 Tidak Wajar (TW)
Kondisi yang menyebabkan pemeriksa menyatakan opini TW adalah ketika
pemeriksa, setelah memperoleh bukti pemeriksaan yang cukup memadai,
menyimpulkan bahwa penyimpangan dari prinsip akuntansi (salah saji) yang
ditemukan, baik secara individual maupun agregat, adalah material dan pervasive
pada laporan keuangan. Sifat pervasive (berpengaruh secara keseluruhan)
diantaranya dapat dilihat dari kompleksitas, proporsinya terhadap laporan
keuangan secara keseluruhan, dan persyaratan pengungkapan yang bersifat
fundamental.
9.3.4 Tidak Memberikan Pendapat (TMP)
Kondisi yang menyebabkan pemeriksa menyatakan opini TMP adalah
adanya pembatasan lingkup yang luar biasa sehingga pemeriksa tidak dapat
memperoleh bukti yang cukup memadai sebagai dasar menyatakan pendapat
(opini).
Dalam kondisi ekstrim yang melibatkan banyak ketidakpastian, pemeriksa
menyimpulkan bahwa, terlepas dari perolehan bukti pemeriksaan yang cukup
memadai terkait setiap ketidakpastian, pemeriksa tidak mungkin merumuskan
opini atas laporan keuangan karena adanya interaksi potensial dan dampak
kumulatif yang mungkin terjadi pada laporan keuangan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 10


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Hubungan antara masing-masing kondisi yang mendasari opini dengan


bukti audit dan salah saji material (termasuk pervasiveness) dijabarkan dalam
bagan sederhana berikut.
Gambar 9.1 Bagan Alur Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 11


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Atau dapat digambarkan dalam bagan alur sebagai berikut :

Mulai

Ya Auditor dapat Tidak


memperoleh
semua bukti audit
yang diperlukan?

Auditor menemukan Dampak yang


Ya penyimpangan dari
Tidak Tidak mungkin (possible Ya
prinsip akuntansi effect) atas salah saji
(salah saji) yang tidak terdeteksi
material? material?

Apakah salah Tidak Ya Tidak Dampak yg mungkin


saji bersifat Apakah auditor
menemukan kondisi atas salah saji yang
pervasive? tidak terdeteksi
yang perlu
dilaporkan? bersifat pervasive?

Ya Tidak
Wajar Tanpa Ya
Pengecualian
(WTP)

WTP dengan
paragraf
penjelas

Wajar Dengan
pengecualian
(WDP)

Tidak Wajar
(TW) (adverse)

Tidak Memberikan
Pendapat
(Disclamer)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 12


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

9.4 Mekanisme dan Matriks Perumusan Opini


Berdasarkan temuan pemeriksaan yang telah diungkap dalam Laporan
Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Laporan Hasil
Pemeriksaan atas Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan, masing-
masing temuan dijabarkan ke dalam matriks analisa temuan (Lampiran 9.2) untuk
kemudian dilakukan analisa dari segi kecukupan bukti, salah saji dan materialitas
(termasuk aspek pervasiveness) dengan langkah sebagai berikut.
1) Tentukan apakah temuan berakibat pada terjadinya salah saji, jika berakibat
maka tentukan nilai salah saji yang terjadi;
2) Tentukan apakah temuan telah didukung dengan bukti audit yang memadai
(ada tidaknya pembatasan lingkup);
3) Tentukan apakah nilai salah saji akun atau dampak potensi adanya salah saji
(jika ada) dari adanya pembatasan lingkup bersifat material, yaitu bila melebihi
Tolerable Error (TE). TE merupakan materialitas tingkat akun yang merupakan
batas kesalahan yang dapat ditolerir;
4) Tentukan apakah akun yang terpengaruh bersifat pervasive dengan
mempertimbangkan faktor kompleksitas, proporsi dan pengungkapannya.
Jika seluruh temuan telah dianalisa, auditor menyimpulkan opini dengan
langkah sebagai berikut (Lampiran 9.3).
1) Kelompokkan temuan sebagai berikut: (a) kelompok temuan yang mengandung
salah saji (misstatement); dan (b) kelompok temuan yang tidak didukung
dengan bukti audit yang memadai (pembatasan lingkup);
2) Tentukan materialitas salah saji atau pembatasan lingkup pada tingkat laporan
keuangan di masing-masing kelompok temuan, apakah melebihi Planning
Materiality yang telah ditentukan; Untuk temuan yang berkaitan dengan
ketidakcukupan bukti (pembatasan lingkup), nilai yang diukur adalah
kemungkinan dampak salah saji jika ada, atau besarnya nilai yang tidak bisa
ditemukan dengan prosedur audit.
3) Tentukan apakah masing-masing kelompok temuan bersifat pervasive atau
tidak dengan mempertimbangkan proporsi, pengungkapan dan kompleksitas;
4) Tentukan opini untuk masing-masing kelompok temuan berdasarkan bagan
alur opini;
5) Simpulkan opini.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 13


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Jika masing-masing kelompok temuan (masalah mistatement dan


pembatasan lingkup) sama-sama pervasive, opini yang diberikan cenderung Tidak
Memberikan Pendapat.

9.5 Pertimbangan Temuan Dalam Menentukan Opini


Suatu temuan dapat berpengaruh terhadap opini jika temuan tersebut
secara material berkaitan dengan asersi manajemen dalam laporan keuangan,
atau sifat yang membatasi lingkup pemeriksaan pemeriksa. Setiap
pengecualian atau keberatan pemeriksa di dalam paragraf opini seyogyanya
termuat pula dalam laporan kepatuhan atau laporan pengendalian intern.
Sebagaimana diuraikan di atas, temuan akan berpengaruh terhadap opini apabila
berkaitan dengan kedua faktor sebagai berikut:
1) Faktor pembatasan ruang lingkup (pembatasan oleh auditee, dokumen tidak
lengkap, dan ketidakpastian) yang bararti pemeriksa tidak dapat menerapkan
prosedur pemeriksaan (penyimpangan dari standar audit)
2) Faktor laporan keuangan tidak disajikan sesuai prinsip akuntansi yang berlaku
umum dan tidak diterapkan secara konsisten (penyimpangan dari prinsip
akuntansi)

Suatu temuan dapat dikategorikan sebagai temuan yang berkaitan


dengan pembatasan lingkup jika temuan tersebut berkaitan dengan
ketidakcukupan bukti bagi pemeriksa untuk melakukan prosedur audit,
ketidakcukupan catatan akuntansi, dan/atau kelemahan sistem pengendalian
intern sehingga pemeriksa berkesimpulan bahwa sistem gagal dalam menyajikan
informasi yang wajar. Hal penting yang harus diingat dalam temuan katagori ini
adalah bahwa pemeriksa tidak dapat menerapkan prosedur audit secara
memadai, dan pemeriksa juga tidak meyakini kewajaran suatu akun. Sebelum
menyimpulkan adanya pembatasan lingkup, pemeriksa harus terlebih dahulu
meyakinkan bahwa dia telah melakukan prosedur alternatif. Temuan ini dapat
berupa temuan kepatuhan maupun temuan pengendalian intern.
Indikasi-indikasi temuan jenis ini dapat dilihat pada kesimpulan (akibat)
pada temuan, misalnya :
• Hal ini mengakibat akun …. tidak dapat diyakini kewajarannya
• Nilai aktiva tidak dapat diketahui dengan pasti
• Adanya potensi asset tidak tercatat minimal sebesar ….
• Piutang tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya
Sementara itu, temuan yang berkaitan dengan penyimpangan dari

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 14


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

prinsip akuntansi haruslah diperoleh setelah pemeriksa dapat melaksanakan


audit sesuai dengan standar, dalam arti tidak ada pembatasan lingkup.
Pelanggaran terhadap prinsip akuntansi meliputi pertimbangan atas: (1) apakah
prinsip akuntansi yang dipilih untuk diterapkan sudah berlaku umum, prinsip
akuntansi sudah tepat sesuai keadaan, dan laporan keuangan beserta catatannya
memberikan informasi yang cukup dapat mempengaruhi penggunaan,
pemahaman dan penafsiran, (2) apakah informasi diiktisarkan dengan
semestinya, (3) apakah laporan keuangan mencerminkan peristiwa atau kejadian
yang mendasarinya, dan (4) apakah prinsip akuntansi telah diterapkan secara
konsisten dengan penjelasan mengenai alasan dan dampaknya.
Beberapa petunjuk yang mengisyaratkan adanya pelanggaran terhadap
PABU, misalnya dalam kesimpulan pemeriksa menyatakan:
• Akun …. lebih saji/kurang saji sebesar
• Informasi …. yang tidak diungkap dapat menyesatkan pembaca laporan
keuangan
• Hal ini tidak sesuai dengan PSAP …
• Inkonsistensi tersebut dapat mengakibatnya terganggunya daya banding LK
Untuk temuan ketidakpatuhan, jika pemeriksa yakin bahwa tindakan
melanggar hukum yang dilakukan oleh entitas mempunyai dampak material
terhadap laporan keuangan, dan pelanggaran tersebut belum
dipertanggungjawabkan/dikoreksikan dan belum diungkapkan secara memadai,
pemeriksa harus menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau
pendapat tidak wajar, tergantung pada tingkat materialitas dan dampak
pelanggaran tersebut pada laporan keuangan (pervasiveness). Jika pemeriksa
dihalangi atau tidak dapat memperoleh bukti yang cukup untuk mengevaluasi
apakah dampak tersebut tersebut telah atau akan memiliki dampak material
terhadap laporan keuangan, pemeriksa dapat memberikan pendapat wajar
dengan pengecualian atau tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan,
tergantung pada besarnya pos atau kemungkinan dampaknya (pervasiveness)
terhadap laporan keuangan secara keseluruhan.
Untuk temuan pengendalian, jika terdapat pengendalian intern yang
lemah mengakibatkan catatan akuntasi yang tidak lengkap dan/atau dokumen
yang tersedia tidak memadai dan/atau sistem tidak menghasilkan data akuntasi
yang valid. Ketiga hal tersebut merupakan kondisi yang tidak memungkinkan
pemeriksa melaksanakan prosedur pemeriksaan secara memadai sehingga dapat
mengakibatkan pemeriksa memberikan opini WDP karena pembatasan lingkup
(jika material tetapi tidak pervasive) atau opini TMP (jika material dan pervasive).
Demikian juga jika ternyata sistem yang dibangun ternyata didesain tidak sejalan
dengan prinsip akuntansi dan entitas tidak mengoreksikan dampak salah saji

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 15


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

tersebut, pemeriksa tidak dapat memberikan opini WTP karena adanya


pelanggaran terhadap prinsip akuntansi.

9.6 Mengukur Salah Saji atau Potensi Kesalahan yang Terjadi


Setelah menetapkan besaran salah saji atau potensi kesalahan dari
permasalahan-permasalahan yang ditemukan, langkah selanjutnya adalah
mengukur apakah salah saji/potensi kesalahan tersebut material atau tidak.
Pengukuran ini dilakukan dengan membandingkan salah saji atau potensi
kesalahan dengan tingkat materialitas yang telah ditetapkan.
Pada saat perencanaan, pemeriksa telah menetapkan dua jenis
materialitas sesuai dengan Juknis penetapan batas materialitas dalam
pemeriksaan laporan keuangan yaitu:
1) Planning materiality (PM), yaitu materialitas untuk tingkat keseluruhan laporan
keuangan.
2) Tolerable error (TE), yaitu materialitas terkait kelas-kelas transaksi, saldo
akun, dan pengungkapan.
PM dan TE tersebut harus ditetapkan dengan hati-hati dan prudent. Jika
ada kesalahan dalam penentuan PM di awal, kesalahannya akan terbawa sampai
dengan opini yang diberikan. Panduan penetapan PM dan TE dapat dilihat pada
Bab IV.
Pada saat tahap pelaporan, pemeriksa harus mengevaluasi PM tersebut
dengan hasil penerapan prosedur audit yang dilakukannya. Pada tahap ini
pemeriksa harus mempertimbangkan apakah PM yang ditetapkan semula masih
valid, setelah pemeriksa memperoleh pemahaman mengenai risiko audit dan
pengendalian intern (termasuk hasil uji pengendalian). Pada saat ini pula
pemeriksa harus membuat pertimbangan secara lebih cermat mengenai hal-hal
kualitatif. Jika pemeriksa menyimpulkan bahwa pengendalian intern sudah efektif
sehingga risiko gabungan menjadi lebih rendah, pemeriksa dapat menaikkan
tingkat materialitas.
Setelah mengevaluasi penetapan PM dan TE berdasarkan pemahaman
mengenai risiko audit dan pengendalian intern, pemeriksa membandingkan salah
saji/potensi kesalahan setiap akun dengan TE dan membandingkan total
kesalahan dengan PM yang sudah dievaluasi tersebut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 16


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Perbandingan ini harus mempertimbangkan baik aspek materialitas


kuantitatif maupun kualitatif. Panduan pertimbangan materialitas kuantitatif adalah
sebagai berikut.
1) Jika total salah saji/potensi kesalahan yang ditemukan lebih kecil dari PM dan
salah saji pada tingkat akun masing-masing tidak lebih besar daripada TE
akun tersebut, maka pemeriksa bisa memberikan opini WTP; atau
2) Jika total saji/potensi kesalahan yang ditemukan lebih besar dari PM dan/atau
salah saji/potensi salah saji di masing-masing akun lebih besar dari TE,
pemeriksa bisa mempertimbangkan untuk tidak memberikan opini WTP. Opini
yang bisa dipertimbangkan adalah WDP, Tidak wajar, atau Tidak
Memberikan Pendapat. Hal ini tergantung dari nilai salah sajinya/potensi
salah sajinya yang mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan
atau tidak, asersi yang terpengaruh, dan pertimbangan kualitatif yang relevan
menurut tim pemeriksa
Dalam memilih opini yang tepat, pemeriksa perlu mempertimbangkan
faktor-faktor kualitatif sebagai berikut.
1) Penting tidaknya salah saji atau potensi salah saji dikaitkan dengan asersi.
Jika hanya menyangkut asersi valuation dan presentation, opini yang
diberikan bisa WDP. Namun, jika menyangkut asersi existency atau
occurrence, right and obligation dan completeness, opini yang diberikan
dapat Tidak Wajar atau Tidak Memberikan Pendapat, dan
2) Luas atau tidaknya akibat dari salah saji atau risiko kemungkinan salah saji
baik jumlah akun yang terpengaruh maupun jumlah laporan yang
terpengaruh.
Sebagai contoh:
(1) Kelemahan pengendalian intern dalam pencatatan aset tetap di satu
satker saja (tidak terjadi di satker lain), tidak mengharuskan pemeriksa
melakukan pengecualian atas seluruh akun aset tetap.
(2) Temuan mengenai adanya aset tetap yang belum direvaluasi, harusnya
hanya berpengaruh terhadap aset yang diperoleh sebelum tahun 2004.
Dengan demikian, kualifikasi dapat dilakukan terhadap aset tetap yang
diperoleh sebelum tahun 2004, bukan terhadap keseluruhan aset tetap.
(3) Kelemahan pengendalian dalam pengelolaan Kas di Bendahara
Pengeluaran bisa jadi tidak hanya berpengaruh terhadap kewajaran saldo
Kas di Bendahara Pengeluaran, tetapi juga mungkin berpengaruh
terhadap kewajaran belanja yang dikeluarkan melalui mekanisme Uang
Persediaan.
Contoh lain penerapan pertimbangan materialitas kualitatif dalam
penentuan opini atas LKPD dapat dilihat pada Lampiran 9.4.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 17


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

9.7 Format dan Contoh Opini


Untuk memenuhi kesesuaian dengan SPKN, berikut adalah hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam pengungkapan opini pemeriksaan.
1) Panduan umum
(1) Sebelum merumuskan opini, pemeriksa harus mempunyai pemahaman
yang cukup mengenai entitas termasuk risikonya;
(2) Jika ada pembatasan lingkup, apakah prosedur alternatif sudah dilakukan;
(3) Jika ada penyimpangan dari SAP, apakah koreksi atau penyempurnaan
telah diusulkan oleh pemeriksa;
(4) Pada prinsipnya gunakan format dan bahasa yang diatur (dicontohkan
dalam SPAP), kecuali diatur lain oleh juknis, juklak, atau panduan tertulis;
(5) Jika laporan keuangan entitas komparatif, maka sebaiknya opini
komparatif;
2) Opini WTP
Untuk opini WTP dapat mengikuti bahasa standar, kecuali untuk hal-hal
tertentu yang diatur lain. Sementara itu, apabila diperlukan paragraf
penjelasan, pemeriksa dapat memberikan opini WTP Dengan Paragraf
Penjelas dengan panduan sebagai berikut:
(1) Bahasa penjelasan sifatnya menjelaskan hal-hal yang sudah ditentukan;
(2) Seyogyanya bahasa penjelasan tidak menjelaskan mengenai keterbatasan
lingkup yang material, adanya risiko yang tidak dapat dicover, atau
penyimpangan prinsip akuntansi tetapi tidak dapat diterima oleh pemeriksa.
Hindari bahasa yang dapat ditafsirkan sebagai pengecualian.
3) Opini WDP
Apabila opini WDP diberikan karena pembatasan lingkup, maka pemeriksa
perlu memperhatikan panduan berikut.
(1) Situasi itu harus dijelaskan dalam paragraf penjelasan terpisah sebelum
paragraf opini;
(2) Penjelasan sedapat mungkin mengacu pada pos, atau catatan atas laporan
keuangan;

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 18


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

(3) Kata-kata pada paragraf opini, harus menunjukkan bahwa pengecualian


tersebut berkaitan dengan dampak yang mungkin timbul terhadap laporan
keuangan dan bukan terhadap pembatasan itu sendiri;
(4) Opini harus dimulai dengan prase “kecuali”. Demikian juga dalam paragraf
lingkup, harus dimulai dengan prase “kecuali”.
Apabila opini WDP diberikan karena adanya penyimpangan dari prinsip
akuntansi, pemeriksa perlu memperhatikan hal-hal berikut.
(1) Jelaskan semua alasan yang menyebabkan pemeriksa berkesimpulan
bahwa terdapat penyimpangan dari PABU dalam paragraf penjelasan
terpisah sebelum paragraf opini;
(2) Penjelasan sedapat mungkin mengacu pada pos laporan keuangan atau
catatan atas laporan keuangan. Paragraf penjelasan harus menjelaskan
dampak dari pemyimpangan tersebut;
(3) Jika laporan keuangan sudah mengungkap penjelasan atas penyimpangan,
maka dapat mengacu pada penjelasan tersebut.
(4) Pada paragraf scope tidak perlu ada prase “kecuali”. Pada paragraf opini,
yang dikecualikan adalah dampak dari penyimpangan terhadap SAP,
bukan akunnya.
4) Opini Tidak Memberikan Pendapat
(1) Diberikan jika pemeriksa tidak dapat merumuskan opini karena tidak dapat
melaksanakan audit yang lingkupnya cukup untuk menyatakan pendapat.
(2) Kemukakan semua alasan substantif yang menyebabkan tidak memberikan
pendapat.

(3) Tidak boleh ada kalimat yang menyatakan BPK sudah melaksanakan audit
sesuai dengan standar.
5) Opini Tidak Wajar

(1) Pemeriksa harus menjelaskan dua hal dalam laporan yaitu, semua alasan
yang mendukung dan dampak utama yang menyebabkan pendapat
tersebut.
(2) Semua alasan harus dikemukakan pada paragraf terpisah sebelum
paragraf opini.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 19


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Contoh-contoh mengenai opini dapat dilihat pada Lampiran 9.5. Contoh-contoh


tersebut terdiri dari:
1) Opini Wajar Tanpa Pengecualian
2) Opini Wajar Tanpa Pengecualian untuk Tahun Sekarang dan Opini Wajar
Dengan Pengecualian untuk Tahun Lalu

3) Opini Wajar Tanpa Pengecualian untuk Tahun Sekarang dan Opini Tidak
Memberikan Pendapat untuk Tahun Lalu
4) Opini Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelasan

5) Opini Wajar Dengan Pengecualian (Karena Pembatasan Ruang Lingkup)


6) Opini Wajar Dengan Pengecualian (Karena Adanya Penyimpangan Standar
Akuntansi Pemerintahan)

7) Opini Wajar Dengan Pengecualian untuk Tahun Sekarang (Karena


Pembatasan Ruang Lingkup) dan Opini Tidak Memberikan Pendapat untuk
Tahun Lalu
8) Opini Tidak Wajar
9) Opini Tidak Memberikan Pendapat.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 20


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.1

GUIDELINE UNTUK SEKTOR PUBLIK


UNTUK TINGKAT KOMPLEKSITAS AKUN

Akun Kompleksitas Akun


Kas di Kasda Tinggi
Kas di Bendahara Pengeluaran Tinggi
Kas di Bendahara Penerimaan Tinggi
Kas di BLUD Tinggi
Piutang – Pinjaman Rendah
Piutang – Non Pinjaman Rendah
Persediaan Rendah
Investasi Non Permanen Rendah
Investasi Permanen Rendah
Aset Tetap Rendah
Dana Cadangan Rendah
Aset Lainnya Rendah
Hutang PFK Tinggi
Hutang Jk Pendek Lainnya Rendah
Hutang Jk Panjang Tinggi
Pendapatan Asli Daerah Rendah
Pendapatan Transfer Rendah
Lain-lain Pendapatan yg Sah Rendah
Belanja Pegawai Rendah
Belanja Barang dan Jasa Tinggi
Belanja Modal Tinggi
Belanja Bunga Rendah
Belanja Subsidi Rendah
Belanja Hibah Rendah
Belanja Bansos Rendah
Belanja Tak Terduga Rendah
Belanja Transfer Rendah
Pengeluaran Pembiayaan – Pemberian Pinjaman Rendah
Pengeluaran Pembiayaan – Bayar Utang Rendah
Pengeluaran Pembiayaan – Penyertaan Modal Rendah
Penerimaan Pembiayaan – Silpa Tahun Lalu Tinggi
Penerimaan Pembiayaan – Lainnya Rendah

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.2

MATRIKS ANALISIS TEMUAN PEMERIKSAAN


LKPD PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ………….. TA ……

Pervasiveness
Apakah Ada Batas Nilai
Akun yang Judul Nilai Apakah
No Pembatasan Materialitas Materialitas Unaudited Proporsi
terpengaruh Temuan (Rp) Misstatement? Pengungkapan
Lingkup? (Nilai TE) (Rp) Terhadap Kompleksitas
FS
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Kas di SPI No.1
Kasda
Kepatuh
an No.7

2 Pendapatan
Pajak

Total Akun yg diaudit: ………………

Keterangan:
Kolom 5 : diisi ya atau tidak (sifat masalah pengakuan, penyajian, atau pengungkapan)
Kolom 6 : diisi ya atau tidak
Kolom 8 : diisi ya atau tidak, material jika nilai (kolom 4) melebihi nilai TE (kolom 7)
Kolom 10 : diisi prosentase nilai akun terpengaruh (kolom 4) terhadap keseluruhan nilai laporan keuangan (akun) yang diperiksa
Kolom 11 : diisi apakah terdapat keharusan memerlukan pengungkapan atau tidak (atas permasalahan yang ditemukan)
Kolom 12 : diisi apakah dampak permasalahannya (baik misstatement ataupun tidak cukup bukti) bersifat kompleks atau tidak (lihat guideline untuk
sektor publik)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.3

MATRIKS KESIMPULAN OPINI


LKPD PROVINSI/KOTA/KABUPATEN …………..TA ………..

A. TEMUAN SALAH SAJI/PELANGGARAN TERHADAP PRINSIP AKUNTANSI (MISTATEMENT)

Akun yang Judul Nilai Proporsi


No Pengungkapan Kompleksitas
terpengaruh Temuan (Rp) (%)
1 Kas di Kasda
2 Belanja Modal

JUMLAH (A)

PM (B) SELISIH ( = … Kali dari PM)


SELISIH (A-B)

B. TEMUAN TIDAK CUKUP BUKTI (PEMBATASAN LINGKUP)

Akun yang Judul Nilai Proporsi


No Pengungkapan Kompleksitas
terpengaruh Temuan (Rp) (%)
1 Pendapatan Pajak
2 Belanja Modal

JUMLAH (C)

PM (B) SELISIH (= …. Kali dari PM)


SELISIH (C-B)

KESIMPULAN:

URAIAN MATERIAL PERVASIVE *) OPINI


Tidak Material / Ya/Tidak*
SALAH SAJI WTP/WDP/TW*
Material/sangat Material* (Proporsi…..%)
PEMBATASAN Tidak Material / Ya/Tidak*
WTP/WDP/TMP*
LINGKUP Material/sangat Material* (Proporsi…..%)

KESIMPULAN AKHIR OPINI WTP/WDP/TW/TMP*

* Pervasive = dipertimbangkan secara keseluruhan, baik masalah proporsi, kompleksitas dan


pengungkapan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.4

DAFTAR PANDUAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS KUALITATIF


DALAM PENENTUAN PENGARUH SUATU MASALAH TERHADAP OPINI LKPD
Asersi Pembatasan Contoh Paragraf
No Masalah Pengaruh terhadap Materialitas
Terkait Lingkup di Opini yang Pernah Ada
1 Pendapatan yang diguna-  Kelengkapan - Pada prinsipnya semua Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.1.3.2
kan langsung tanpa mela- pendapatan dan belanja APBD Pemerintah Kabupaten ABC menyajikan PAD
lui APBD/LRA (misalnya dilaporkan dalam LRA. Tahun 2010 dan 2009 masing-masing sebesar
pendapatan Jamkesmas Rp55miliar dan Rp54miliar. Jumlah tersebut
di RSUD non BLUD, Jika nilai yang dikelola di luar belum termasuk pendapatan dari pengelolaan
retribusi, pendapatan APBD sudah diadministrasikan dana Jamkesmas pada RSUD masing-masing
sewa kekayaan daerah dan dipertanggungjawabkan sebesar Rp10miliar dan Rp8,2miliar, karena
dll) secara tertib serta pemeriksa dapat pendapatan tersebut digunakan langsung untuk
menguji bukti-bukti, maka : operasional di RSUD non BLUD. Jumlah
penggunaan langsung dana Jamkesmas untuk
 Jika nilainya lebih kecil dari
belanja Tahun 2010 dan 2009 masing-masing
50% PM, maka cukup dapat
sebesar Rp9miliar dan 8miliar, sehingga masih
dipertimbangkan diungkap-kan
terdapat sisa dana sebesar Rp1,2miliar. Dalam
dalam CaLK tanpa
belanja tersebut diantaranya digunakan untuk
mempengaruhi opini.
membeli aset tetap masing-masing sebesar
 Jika nilainya melebihi 50% dari Rp500juta dan Rp700juta, namun aset tetap
PM, maka dapat dipertimbang- tersebut tidak dicatat dalam neraca Pemkab
kan untuk mempengaruhi opini. ABC. Jika Pemkab ABC mengakui pendapatan
dan belanja dari dana Jamkesmas Tahun 2010
dan 2009 tersebut, maka PAD akan bertambah
sejumlah masing-masing sebesar Rp10 miliar
dan Rp8,2miliar, serta belanja akan bertambah
masing-masing sebesar Rp9 miliar dan Rp8
miliar sesuai dengan jenis belanjanya. Selain
itu kas akan bertambah masing-masing
sebesar Rp1miliar dan Rp200juta, serta aset
tetap akan bertambah sebesar Rp500juta dan
Rp700juta.
2 Dalam belanja barang  Pengungkapan - Dalam membuat pertimbangan Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.2.3.1
sebesar Rp100 miliar materialitas pada kasus salah Pemda ABC menyajikan anggaran belanja
 Kelengkapan
diantaranya sebesar Rp59 klasifikasi, pemeriksa harus barang Tahun 2010 sebesar Rp110miliar

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.4

Asersi Pembatasan Contoh Paragraf


No Masalah Pengaruh terhadap Materialitas
Terkait Lingkup di Opini yang Pernah Ada
miliar digunakan untuk (aset tetap) mepertimbangkan risiko kesalah- dengan realisasi sebesar Rp100miliar. Dari
pengadaan aset tetap. an klasifikasi tersebut, serta intensi jumlah realisasi tersebut diantaranya sebesar
(niat) mengapa terjadi salah Rp59miliar merupakan realisasi belanja untuk
klasifikasi. pengadaan aset tetap pemda. Standar
Akuntansi Pemerintahan mengatur bahwa
Jika salah klasifikasi menimbulkan pengadaan aset tetap diklasifikasikan pada
adanya aset tetap yang tidak anggaran belanja modal. Adanya kesalahan
tercatat, maka materialitasnya klasifikasi dapat memberikan informasi yang
dapat menggunakan nilai sekitar keliru pada belanja barang dan belanja modal.
50% dari PM. Lebih lanjut, aset tetap yang diperoleh dari
belanja barang tersebut belum disajikan
Jika salah saji tersebut tidak sebagai aset tetap pada Neraca per
menimbulkan risiko lain, hanya 31 Desember 2010, sehingga akun aset tetap
masalah salah klasifikasi (risiko menjadi kurang saji sebesar Rp59 miliar.
informasi) maka dapat digunakan
pertimbangan berikut:
• Jika nilai kesalahan klasifikasi
di bawah 10% dari total
belanja dan telah diungkapkan
dalam CaLK , serta aset
tetapnya sudah dicatat di
neraca maka tidak perlu
mempengaruhi opini.
Jika nilai kesalahan klasifikasi
di atas 10% dari total belanja,
maka dapat dipertimbangkan
untuk mempengaruhi opini.

3 Permasalahan klasifikasi Jika hibah/bantuan sosial dalam


belanja barang, belanja bentuk barang dianggarkan dalam
sosial dan hibah. belanja barang dan atau belanja
modal, maka dapat dipertimbang-

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.4

Asersi Pembatasan Contoh Paragraf


No Masalah Pengaruh terhadap Materialitas
Terkait Lingkup di Opini yang Pernah Ada
kan tidak mempengaruhi opini,
karena ada permasalahan
pengaturan di Permendagri dan
SAP, sepanjang sifat dari
pembelian barang tersebut adalah
untuk diberikan kepada
masyarakat.

Namun jika belanja barang dan


atau belanja modal digunakan
untuk hibah dalam bentuk tunai,
maka dapat dipertimbangkan
mempengaruhi opini, dengan
pertimbangan materialitas sebesar
50% dari PM.

4 Terhadap persediaan per  Kelengkapan Tidak dapat Terhadap kasus ini, pemeriksa Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.3.1
31 Desember 2010, memperoleh dapat mepertimbangkan material- Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten
 Penilaian
pemda hanya melakukan bukti persedia- litas sekitar 50% PM. Karena ABC Tahun 2010, Pemerintah Kabupaten ABC
stock opname pada 3 an per 31 Des permasalahan ini adalah
mencatat persediaan per 31 Desember 2010
SKPD dari 30 SKPD, 20xx pembatasan lingkup, maka
dan 2009 masing-masing sebesar Rp10 miliar
sehingga persediaan di pemeriksa harus memperhitung- dan Rp8miliar. Saldo persediaan per
neraca hanya meliputi 3 kan kemungkinan risiko nilai 31 Desember 2010 sebesar Rp10miliar
SKPD. Diantara SKPD persediaan yang tidak disajikan merupakan nilai persediaan pada tiga SKPD
yang tidak melakukan pada 27 SKPD. Apakah risiko dari 30 SKPD yang ada pada Pemkab ABC.
inventarisasi adalah SKPD Terhdadap 27 SKPD lainnya, Pemkab ABC
tersebut mungkin menjadi material.
yang umumnya mem- Oleh karena itu pemeriksa harus belum melakukan inventarisasi, sehingga nilai
punyai persediaan dalam mempertimbang-kan apakahpersediaan tidak dapat disajikan dalam neraca
jumlah material yaitu SKPD yang belum melakukan per 31 Desember 2010. Nilai persediaan dapat
Dinas Kesehatan, RSUD stock opname adalah SKPD yang berbeda secara signifikan jika pemerintah
dan Dinas Pendidikan. secara normal memiliki persediaankabupaten ABC melakukan inventarisasi
Pemeriksa tidak dapat yang nilainya cukup material. persediaan secara menyeluruh dan
melakukan perhitungan mencatatannya di dalam neraca. BPK tidak
fisik atas persediaan Sebelum memutuskan adanya dapat menerapkan prosedur pemeriksaan yang

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.4

Asersi Pembatasan Contoh Paragraf


No Masalah Pengaruh terhadap Materialitas
Terkait Lingkup di Opini yang Pernah Ada
tersebut, karena sistem pembatasan lingkup, maka memadai untuk dapat meyakini nilai persediaan
pencatatan persediaan pemeriksa harus menerapkan karena Pemda Kabupaten ABC tidak
yang tidak tertib. Seluruh prosedur alternatif misalnya menyelenggarakan administrasi persediaan
persediaan dinilai ber- dengan meminta pemda secara memadai.
dasarkan harga perolehan melakukan stock opname,
saat pembelian (bukan kemudian nilainya ditarik mundur.
nilai perolehan terakhir).
5 Piutang tidak lengkap dan  Eksistensi Tidak dapat Untuk akun piutang yang tidak Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.3.1
tidak didukung dengan memperoleh lengkap dan atau tidak didukung Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten
 Kelengkapan
bukti yang memadai bukti kebera- dengan bukti yang memadai ABC Tahun 2010, Pemerintah Kabupaten ABC
 Penilaian daan dan nilai pemeriksa dapat mempertimbang- menyajikan saldo piutang per 31 Desember
piutang kan menggunakan materialitas 2010 dan 2009 masing-masing sebesar
sekitar 50% dari PM. Rp64miliar dan Rp35miliar. Dalam piutang
tersebut diantaranya terdapat piutang pajak
daerah yang ditetapkan berdasarkan estimasi,
dan tidak dilengkapi dengan bukti-bukti
penetapan ataupun penagihan. Jumlah tersebut
juga tidak dapat ditelusuri ke rincian piutang
untuk masing-masing debitur. Dokumen dan
catatan yang tersedia tidak memungkinkan
BPK untuk dapat melaksanakan prosedur
pemeriksaan yang memadai untuk dapat
memperoleh keyakinan mengenai piutang per
31 Desember 2010.

6 Inventarisasi dan  Eksistensi Tidak dapat Untuk aset tetap jenis ini, Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.3.7
revaluasi aset tetap yang memperoleh pemeriksa dapat menggunakan Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten
 Penilaian
diperoleh sebelum Tahun data aset tetap pertimbangan materialitas sekitar ABC Tahun 2010, Pemkab ABC mencatat aset
2004  Kelengkapan dan nilai yang 50% dari PM. Jika masalahnya tetap per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-
sebenar-nya hanya ini, maka pemeriksa dapat masing sebesar Rp800miliar dan Rp700miliar.
mempertimbangkan bukan sebagai Dalam jumlah terebut diantaranya termasuk
masalah yang perpasive, sehingga aset tetap yang diperoleh sebelum Tahun 2004.
cenderung memberikan opini WDP Pemerintah Kabupaten ABC belum melakukan
karena pembatasan lingkup. inventarisasi dan penilaian atas aset tetap yang

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.4

Asersi Pembatasan Contoh Paragraf


No Masalah Pengaruh terhadap Materialitas
Terkait Lingkup di Opini yang Pernah Ada
diperoleh sebelum Tahun 2004 sebagaimana
yang disyaratkan oleh Standar Akuntansi
Pemerintah. Nilai aset tetap dapat berbeda
secara signifikan jika Pemerintah Kabupaten
ABC telah melakukan inventarisasi dan
penilaian kembali atas aset tetap yang
diperoleh sebelum Tahun 2004.

7 Administrasi aset tetap  Eksistensi Pemeriksa Untuk aset tetap, pemeriksa dapat Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.7.1
tidak tertib. Tidak ada KIB. tidak dapat memberikan pertimbangan Laporan Keuangan, Pemerintah Kabupaten
 Kelengkapan
Aset tetap secara masif menjalankan kualitatif materialitas sekitar 50% ABC mencatat aset tetap per 31 Desember
tidak dapat ditelusuri  Penilaian prosedur audit dari PM. Aset tetap biasanya 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp450
rinciannya ke SKPD.  Hak dan untuk meya- merupakan nilai yang dominan miliar dan Rp400miliar. Nilai tersebut
Rincian yang ada tidak kewajiban. kini eksistensi, dibanding aset lainnya. Sehingga merupakan nilai aset tetap berdasarkan data
mencerminkan data yang kelengkapan secara proporsi dapat menjadi yang dimiliki DPKAD. Pemerintah Kabupaten
sebenarnya secara maupun perpassive (sangat material), ABC tidak melakukan administrasi asset tetap
massif. penilaiannya. sehingga mungkin dapat secara memadai, antara lain tidak adanya kartu
mengakibatkan opini TMP. inventaris pada masing-masing SKPD,
sehingga nilai aset tetap yang disajikan di
neraca tidak dapat ditelusuri rinciannya pada
masing-masing SKPD. Selain itu, Pemerintah
Kabupaten ABC belum melakukan inventarisasi
dan penilaian atas aset tetap yang diperoleh
sebelum Tahun 2004 sebagaimana yang
disyaratkan oleh Standar Akuntansi
Pemerintah. Dokumen dan catatan yang
tersedia tidak memungkinkan BPK melakukan
prosedur pemeriksaan yang memadai untuk
dapat meyakini nilai aset tetap per 31
Desember 2010 dan 2009.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

FORMAT DAN CONTOH OPINI

1. OPINI “WAJAR TANPA PENGECUALIAN”

1.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
[NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran,
Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-
tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab
BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang
dilakukan.

BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).


Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-
jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas
prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS],
serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa
pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Menurut pendapat BPK, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0,
Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk
tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0,
realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir
pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
[NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN
TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal]

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [Nama Perwakilan BPK],
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

[Tanda Tangan]

[Nama Penanggungjawab]
[Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

1.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir
pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah
Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan
keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.

BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).


Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-
jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas
prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah
Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan
pendapat.

Menurut pendapat BPK, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008,
Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk
tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal
yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009
dan 2008, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang
berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan Provinsi DKI Jakarta
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Budi Santoso, Ak.


Akuntan, Register Negara No. D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

2. OPINI “WAJAR TANPA PENGECUALIAN UNTUK TAHUN SEKARANG” DAN ”WAJAR


DENGAN PENGECUALIAN UNTUK TAHUN LALU”

2.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
[NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran,
Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-
tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab
BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang
dilakukan.

BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).


Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-
jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas
prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS],
serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa
pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Dalam Laporan BPK Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN, DAN TAHUN],
BPK menyatakan pendapat, kecuali untuk dampak penyesuaian, jika ada, yang mungkin perlu
dilakukan atas [NAMA DAMPAK YANG DIKECUALIKAN], Laporan Keuangan [NAMA ENTITAS],
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per
tanggal 31 Desember 20X0, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan.

Pada tahun 20X1, [NAMA ENTITAS] telah melakukan……dst. [NAMA ENTITAS] tidak
menyajikan kembali Laporan Keuangan [NAMA ENTITAS] tahun 20X0.

Menurut pendapat BPK, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, Laporan
Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang
berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, realisasi anggaran, arus kas dan
Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
[NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN
TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal]

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [Nama Perwakilan BPK],
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

[Tanda Tangan]

[Nama Penanggungjawab]
[Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 6


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

2.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
Pemerintah Kabupaten ABCD tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir
pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah
Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan
keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.

BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).


Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-
jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas
prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah
Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan
pendapat.

Dalam Laporan BPK Nomor 12/LHP/XV/04/2009 tanggal 30 April 2009, BPK menyatakan
pendapat, kecuali untuk dampak penyesuaian, jika ada, yang mungkin perlu dilakukan atas Aset
Tetap jika Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan inventarisasi dan penilaian kembali
yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per
tanggal 31 Desember 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas
Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar,
dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 7


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

Desember 2008, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun
yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Pada tahun 2009, Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan inventarisasi dan penilaian
kembali atas seluruh Aset Tetap yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004 dan telah
disajikan dalam Neraca per tanggal 31 Desember 2008. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak
menyajikan kembali Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD Tahun 2008.

Menurut pendapat BPK, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009,
Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk
tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang
material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, realisasi
anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal
tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan Provinsi DKI Jakarta
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Budi Santoso, Ak.


Akuntan, Register Negara No.D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 8


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

3. OPINI “WAJAR TANPA PENGECUALIAN UNTUK TAHUN SEKARANG” DAN OPINI


”TIDAK MEMBERIKAN PENDAPAT” UNTUK TAHUN LALU”

3.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
[NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus
Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK terletak
pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.

Kecuali dijelaskan dalam paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK
merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa
laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas
dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan
keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian
laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan
dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Dalam Laporan BPK Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN, DAN TAHUN],
BPK tidak menyatakan pendapat atas Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X0,
Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk
tahun yang berakhir pada tanggal tersebut karena masalah-masalah: (1)….; (2)….; dst

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 9


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

Pada tahun 20X1, [NAMA ENTITAS] telah melakukan……dst. [NAMA ENTITAS] tidak
menyajikan kembali Laporan Keuangan [NAMA ENTITAS] tahun 20X0.

Menurut pendapat BPK, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, Laporan
Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang
berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, realisasi anggaran, arus kas dan
Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
[NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN
TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal]

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [Nama Perwakilan BPK],
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

[Tanda Tangan]

[Nama Penanggungjawab]
[Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 10


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

3.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, Laporan Realisasi Anggaran,
Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal
tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Tanggung
jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan
yang dilakukan.

Kecuali dijelaskan dalam paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK
merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa
laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas
dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan
keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut
memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Dalam Laporan BPK Nomor 13/LHP/XV/04/2009 tanggal 30 April 2009, BPK tidak menyatakan
pendapat atas Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2008, Laporan
Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang
berakhir pada tanggal tersebut karena masalah-masalah: (1) belum dikonsolidasikannya Laporan
Badan Layanan Umum Daerah; (2) belum dikonsolidasikannya neraca pada 12 SKPD; (3) belum
dicatatnya pendapatan dan belanja yang berasal dari hibah; (4) tidak dilakukannya inventarisasi

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 11


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

fisik atas persediaan; dan (5) belum dilakukannya Inventarisasi dan penilaian kembali Aset
Tetap.

Pada tahun 2009, Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan hal-hal berikut, yaitu: (1)
Konsolidasi laporan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD); (2) mengkonsolidasikan neraca
pada seluruh SKPD; (3) mencatat seluruh hibah yang diterima di LRA; (4) inventarisasi
persediaan akhir tahun; dan (5) Inventarisasi dan penilaian kembali sebagian Aset Tetap yang
diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak menyajikan
kembali Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD Tahun 2008.

Menurut pendapat BPK, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009,
Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk
tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang
material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, realisasi
anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal
tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan Provinsi DKI Jakarta
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Budi Santoso, Ak.


Akuntan, Register Negara No.D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 12


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

4. OPINI “WAJAR TANPA PENGECUALIAN DENGAN PARAGRAF PENJELASAN”

4.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
[NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran,
Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-
tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab
BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang
dilakukan.

BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).


Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-
jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas
prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS],
serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa
pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Menurut pendapat BPK, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0,
Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk
tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal
yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0,
realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir
pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 13


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

Seperti telah dijelaskan dalam Catatan … atas Laporan Keuangan, ….[DITAMBAHKAN


PENJELASANNYA].

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
[NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN
TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal]

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [Nama Perwakilan BPK],
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

[Tanda Tangan]

[Nama Penanggungjawab]
[Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 14


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

4.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir
pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah
Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan
keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.

BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).


Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-
jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas
prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah
Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan
pendapat.

Menurut pendapat BPK, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009
dan 2010, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan
untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam
semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31
Desember 2009 dan 2008, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan
untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan.

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 15


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

Seperti telah dijelaskan dalam Catatan 15 atas Laporan Keuangan, Pemerintah Daerah
Kabupaten ABCD sedang menghadapi gugatan dari pihak ketiga atas tanah seluas 20 ha yang
saat ini dimiliki dan dikuasai oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Keputusan pengadilan
negeri memenangkan Pemerintah Kabupaten ABCD atas kepemilikan aset tersebut, tetapi pihak
penggugat saat ini sedang mengajukan banding. Pemerintah Kabupaten ABCD berkeyakinan
sesuai dengan dokumen kepemilikan, pemerintah daerah yang bersangkutan adalah pemilik
yang sah dari tanah tersebut.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan Provinsi DKI Jakarta
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Budi Santoso, Ak.


Akuntan, Register Negara No.D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 16


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

5. OPINI “WAJAR DENGAN PENGECUALIAN”


(KARENA PEMBATASAN RUANG LINGKUP)

5.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
[NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran,
Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-
tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab
BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang
dilakukan.

Kecuali seperti yang diuraikan dalam paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan
berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan
BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai
bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi,
atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam
laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan
dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian
laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan
dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

BPK tidak dapat melakukan ……[DIISI DENGAN HAL-HAL YANG MEMBATASI RUANG
LINGKUP PEMERIKSAAN].

Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak penyesuaian tersebut, jika ada, yang mungkin
perlu dilakukan jika BPK memeriksa [DIISI DENGAN HAL YANG MEMBATASI], Neraca [NAMA

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 17


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus
Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal
tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA
ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan
atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
[NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN
TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal]

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [Nama Perwakilan BPK],
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

[Tanda Tangan]

[Nama Penanggungjawab]
[Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 18


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

5.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir
pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah
Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan
keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. Kecuali seperti yang diuraikan dalam
paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan
Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan
melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan
bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian,
bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi
signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian
laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan
dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 13 atas Laporan Keuangan, Pemerintah Kabupaten


ABCD menyajikan persediaan per 31 Desember 2009 senilai Rp1,76 triliun. Nilai tersebut
merupakan nilai persediaan yang dilaporkan oleh 5 dari 20 satuan kerja di Pemerintah
Kabupaten ABCD. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak melaksanakan pencatatan yang memadai
dan tidak melakukan inventarisasi atas persediaan tersebut. Catatan dan data yang tersedia tidak

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 19


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

memungkinkan BPK untuk melaksanakan prosedur pemeriksaan yang memadai untuk


memperoleh keyakinan atas nilai persediaan per 31 Desember 2009 tersebut.

Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak penyesuaian tersebut, jika ada, yang mungkin
perlu dilakukan jika BPK dapat memeriksa bukti-bukti persediaan per 31 Desember 2009, Neraca
Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir
pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, realisasi
anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada
tanggal–tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan Provinsi DKI Jakarta
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Budi Santoso, Ak.


Akuntan, Register Negara No. D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 20


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

6. OPINI “WAJAR DENGAN PENGECUALIAN”


(KARENA ADANYA PENYIMPANGAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN)

6.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
[NAMA ENTITAS] per 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus
Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal
tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK
terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang
dilakukan.

BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).


Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-
jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas
prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS],
serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa
pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan ....atas Laporan Keuangan,...........................dst.

Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak ……[DIISI PENJELASAN MENGENAI HAL YANG
DIKECUALIKAN] yang diuraikan dalam paragraf di atas, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal
31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas
Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 21


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31
Desember 20X1 dan 20X0, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan
untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
[NOMOR L APORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN
TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal]

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [Nama Perwakilan BPK],
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

[Tanda Tangan]

[Nama Penanggungjawab]
[Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 22


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

6.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
Pemerintah Kabupaten ABCD per 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran,
Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-
tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD.
Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan
pemeriksaan yang dilakukan.

BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN).


Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu
pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-
jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas
prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah
Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan
pendapat.

Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 12 atas Laporan Keuangan, aset tetap per 31
Desember 2009 dan 2008 disajikan masing-masing sebesar Rp15,13 miliar dan Rp13,20 miliar.
Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan penilaian aset tetap yang diperoleh sebelum
tanggal 31 Desember 2004 masing-masing untuk tahun 2009 dan 2008 sebesar Rp11,93 miliar
dan Rp12,00 miliar. Namun demikian hasil penilaian kembali tersebut belum disajikan dalam
Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD tanggal 31 Desember 2009 dan 2008 sebagaimana diatur

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 23


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

dalam Standar Akuntansi Pemerintahan. Jika hasil penilaian kembali atas aset tetap yang
diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004 tersebut telah disajikan seluruhnya, maka nilai
aset tetap tersebut masing-masing akan menjadi sebesar Rp17,93 miliar dan Rp15,00 miliar per
tanggal 31 Desember 2009 dan 2008.

Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak tidak disajikannya aset tetap berdasarkan hasil
penilaian kembali seperti yang diuraikan dalam paragraf di atas, Neraca Pemerintah Kabupaten
ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas
dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut,
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah
Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, realisasi anggaran, arus kas dan
Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut,
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan Provinsi DKI Jakarta
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Budi Santoso, Ak.


Akuntan, Register Negara No.D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 24


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

7. OPINI “WAJAR DENGAN PENGECUALIAN” UNTUK TAHUN SEKARANG (KARENA


PEMBATASAN RUANG LINGKUP) DAN OPINI “TIDAK MEMBERIKAN PENDAPAT”
UNTUK TAHUN LALU

7.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
[NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus
Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK terletak
pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.

Kecuali seperti yang diuraikan dalam paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan
berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan
BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai
bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi,
atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam
laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan
dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian
laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan
dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Dalam Laporan BPK Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN, dan TAHUN],
BPK tidak menyatakan pendapat atas Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X0,
Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk
tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 20X0 karena masalah-masalah: (1)….; (2)…;
dan (3)…. Dst.

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 25


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

Pada tahun 20X1, [NAMA ENTITAS] telah melakukan: (1)…..; (2)……; dan (3)…. Dst.

Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan ....atas Laporan Keuangan, [DIISI DENGAN HAL
YANG DIKECUALIKAN KARENA RUANG LINGKUP]...........................dst.

Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak penyesuaian, jika ada, yang mungkin perlu
dilakukan atas [SEBUTKAN HAL-HAL YANG DIKECUALIKAN], Neraca [NAMA ENTITAS] per
tanggal 31 Desember 20X1, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas
Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar,
dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember
20X1, realisasi anggaran, arus kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang
berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
[NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN
TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal]

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [Nama Perwakilan BPK],
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

[Tanda Tangan]

[Nama Penanggungjawab]
[Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 26


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

7.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca
Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, Laporan Realisasi Anggaran,
Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal
tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Tanggung
jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan
yang dilakukan.
Kecuali seperti yang diuraikan dalam paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan
berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan
BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai
bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi,
atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam
laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan
dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut
memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Dalam Laporan BPK Nomor 13/LHP/XV/04/2009 tanggal 30 April 2009, BPK tidak menyatakan
pendapat atas Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2008, Laporan
Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang
yang berakhir pada tanggal tersebut, karena masalah-masalah berikut: (1) belum
dikonsolidasikannya Laporan Badan Layanan Umum Daerah; (2) belum dikonsolidasikannya
neraca pada 12 SKPD; (3) belum dicatatnya pendapatan dan belanja yang berasal dari hibah; (4)
tidak dilakukannya inventarisasi fisik atas persediaan; dan (5) belum dilakukannya Inventarisasi
dan penilaian kembali Aset Tetap.
Pada tahun 2009, Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan: (1) Konsolidasi laporan Badan
Layanan Umum Daerah (BLUD); (2) konsolidasikan neraca pada seluruh SKPD; (3) mencatat
seluruh hibah yang diterima di LRA; dan (5) Inventarisasi dan penilaian kembali sebagian Aset
Tetap yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak
menyajikan kembali Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD Tahun 2008.
Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 13 atas Laporan Keuangan, Pemerintah Kabupaten
ABCD menyajikan persediaan per 31 Desember 2009 senilai Rp1,76 triliun. Nilai tersebut
merupakan nilai persediaan yang dilaporkan oleh 5 dari 20 satuan kerja di Pemerintah

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 27


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

Kabupaten ABCD. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak melaksanakan pencatatan yang memadai
dan tidak melakukan inventarisasi pada akhir tahun atas persediaan tersebut. Catatan dan data
yang tersedia tidak memungkinkan BPK untuk melaksanakan prosedur pemeriksaan yang
memadai untuk memperoleh keyakinan atas nilai persediaan per 31 Desember 2009 tersebut.
Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak penyesuaian tersebut, jika ada, yang mungkin
perlu dilakukan jika BPK dapat memeriksa persediaan, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per
tanggal 31 Desember 2009, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas
Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar,
dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31
Desember 2009, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun
yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010, yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari laporan ini.
Jakarta, 30 April 2010
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan Provinsi ..........
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Budi Santoso, Ak.


Akuntan, Register Negara No.D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 28


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

8. OPINI “TIDAK WAJAR”

8.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK)
telah memeriksa Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0,
Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk
tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung
jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas
laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.

BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara


(SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan
pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari
salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-
bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi
signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian laporan
keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar
memadai untuk menyatakan pendapat.

Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan .... atas Laporan Keuangan...........................dst.

Catatan …. atas Laporan Keuangan juga mengungkapkan…. dst.

Catatan …. atas Laporan Keuangan juga mengungkapkan…. dst.

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 29


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

Menurut pendapat BPK, karena dampak hal yang diuraikan dalam paragraf di atas, Neraca
[NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran,
Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada
tanggal-tanggal tersebut tidak menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,
posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, realisasi
anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada
tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan
keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan
kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas
Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan
disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN]
tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal]

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [Nama Perwakilan BPK],
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

[Tanda Tangan]

[Nama Penanggungjawab]
[Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 30


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

8.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


dan Undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK)
telah memeriksa Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan
2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan
untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah
tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada
pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.

BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara


(SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan
pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari
salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-
bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas Prinsip Akuntansi yang digunakan dan estimasi
signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut
memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 12 atas Laporan Keuangan, aset tetap per 31
Desember 2009 dan 2008 disajikan masing-masing sebesar Rp15,13 miliar dan Rp13,20
miliar. Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan penilaian aset tetap yang diperoleh
sebelum tanggal 31 Desember 2004 masing-masing untuk tahun 2009 dan 2008 sebesar
Rp17,93 miliar dan Rp15,00 miliar. Namun demikian hasil penilaian kembali tersebut belum
disajikan dalam Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD tanggal 31 Desember 2009

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 31


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

sebagaimana diatur dalam Standar Akuntansi Pemerintahan. Jika hasil penilaian kembali
atas aset tetap yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004 tersebut telah disajikan
seluruhnya, maka nilai aset tetap tersebut masing-masing akan menjadi sebesar
Rp11.925,35 miliar dan Rp12.000,00 miliar per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008.

Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 10 atas Laporan Keuangan, penerimaan asli


daerah lainnya Tahun 2009 dan 2008 masing-msing sebesar Rp11,00 miliar dan 12 miliar.
Pemerintah Kabupaten ABCD belum mengakui penerimaan dari 20 SKPD di lingkungan
Pemerintah Kabupaten ABCD masing-masing sebesar Rp100,00 miliar dan Rp90 miliar.
Penerimaan tersebut digunakan langsung oleh SKPD dlingkungan Pemerintah Kabupaten
ABCD untuk membiayai operasinya masing-masing sebesar Rp97 miliar dan 96 miliar. Jika
Pemerintah Kabupaten ABCD mengakui penerimaan bukan pajak yang digunakan langsung
senilai Rp100,00 miliar dan 90 miliar maka pendapatan asli daerah Pemerintah Kabupaten
ABCD tahun 2009 dan 2008 akan bertambah senilai tersebut. Sementara itu jika pemerintah
daerah mengakui belanja yang digunakan langsung tersebut, maka belanja akan bertambah
masing-masing sebesar Rp97 milar dan 96 milair.

Sebagaimana di jelaskan dalam catatan 13 atas laporan keuangan, Pemerintah Kabupaten


ABCD mencatat nilai penyertaan sebesar masing-masing Rp75 milair. Penyertaan tersebut
merupakan penyertaan kepada dua BUMD sebesar nilai perolehan. Kepemilikan pemerintah
daerah atas BUMD tersebut adalah 100%. Sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan, nilai
investasi tersebut seharusnya dicatat berdasarkan metode ekuitas. Jika Pemerintah
Kabupaten ABC mencatat investasi tersebut dengan metode ekuitas, maka nilai investasi
akan menjadi sebesar Rp50 milair untuk tahun 2009 dan Rp60 miliar untuk Tahun 2008.
Penurunan ekuitas terjadi karena kedua BUMD tersebut mengalami kerugian sesuai dengan
laporan keuangan yang telah diaudit pada kedua perusahaan tersebut.

Menurut pendapat BPK, karena dampak hal yang diuraikan dalam Paragraf di atas, Neraca
Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang
berakhir pada tanggal-tanggal tersebut tidak menyajikan secara wajar, dalam semua hal
yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember
2009 dan 2008, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk
tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan.

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 32


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan
keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan
kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas
Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan
disajikan dalam Laporan Nomor 15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010
tanggal 30 April 2010, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan Provinsi DKI Jakarta
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Budi Santoso, Ak.


Akuntan, Register Negara No.D-1606.

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 33


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

9. OPINI ”TIDAK MEMBERIKAN PENDAPAT”

9.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 56 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang


Perbendaharaan Negara dan undang-undang terkait lainnya, [NAMA ENTITAS] pada
tanggal …. telah menyampaikan Laporan Keuangan [NAMA ENTITAS] Tahun 20X1 kepada
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk diperiksa. Laporan keuangan tersebut terdiri dari
Neraca tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus
Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal
tersebut. Laporan Keuangan tersebut merupakan tanggung jawab [NAMA ENTITAS].

Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan.... atas Laporan Keuangan, ...........................dst.

Catatan.... atas Laporan Keuangan juga mengungkapkan ...........................dst.

Catatan.... atas Laporan Keuangan juga mengungkapkan ...........................dst

Karena permasalahan yang diuraikan dalam Paragraf di atas dan BPK tidak dapat
menerapkan prosedur pemeriksaan, lingkup pemeriksaan BPK tidak cukup untuk
memungkinkan BPK menyatakan, dan BPK tidak menyatakanpendapat atas laporan
keuangan [NAMA ENTITAS] Tahun 20X1 dan 20X0.

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan
keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan
kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas
Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan
disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN]

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 34


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal]

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [Nama Perwakilan BPK],
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

[Tanda Tangan]

[Nama Penanggungjawab]
[Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 35


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

9.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 56 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara dan undang-undang terkait lainnya, Pemerintah Kabupaten ABCD pada tanggal 15 Maret
2010 telah menyampaikan Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD Tahun 2010
kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk diperiksa. Laporan Keuangan tersebut terdiri
dari Neraca per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan
Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal
tersebut. Laporan Keuangan tersebut merupakan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD.
Dalam Tahun Anggaran 2009 dan 2008, Pemerintah Kabupaten ABCD telah menerima hibah
luar negeri dalam bentuk dana tunai untuk membiayai kegiatan-kegiatan tertentu yang telah
ditetapkan dalam perjanjian dengan pemberi hibah. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak
melaporkan dana yang diperolehnya tersebut kepada Menteri Keuangan untuk mendapat
pengesahan, sehingga penerimaan hibah dan belanja yang berasal dari hibah tersebut dikelola di
luar mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan tidak
dipertanggungjawabkan dalam Laporan Realisasi Anggaran. Sementara itu, saldo kas,
persediaan, dan aset tetap yang berasal dari hibah tidak dicatat di neraca maupun diungkapkan
dalam catatan atas laporan keuangan. Dari catatan yang diperoleh BPK, jumlah hibah yang
diterima Pemerintah Kabupaten ABCD dalam Tahun 2009 dan 2008 adalah sebesar
USD2,924,640.52 dan Rp7,10 miliar. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak dapat menyediakan
data secara lengkap mengenai jumlah keseluruhan hibah yang diterima selama tahun 2009 dan
2008, dan saldo kas, persediaan, serta aset tetap yang diperoleh dari hibah tersebut per 31
Desember 2009 dan 2008. Akun-akun yang berkaitan dengan hibah tersebut dapat berpengaruh
secara signifikan bila informasi dan dokumen yang berkaitan dengan hibah tersebut tersedia.
BPK juga tidak dapat memperoleh keyakinan yang memadai atas akun-akun yang berkaitan
dengan hibah tersebut melalui prosedur pemeriksaan yang dilakukan BPK.
Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 12 atas Laporan Keuangan, Pemerintah Kabupaten
ABCD melaporkan persediaan per 31 Desember 2009 dan 2008, masing-masing sebesar
Rp25,00 miliar dan Rp9,00 miliar. Satuan Kerja pengelola persediaan di lingkungan Pemerintah

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 36


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 9.5

Kabupaten ABCD tidak menyelenggarakan kartu persediaan untuk mencatat mutasi persediaan
secara memadai. Satuan Kerja juga tidak melakukan inventarisasi fisik atas persediaan yang
dimilikinya per 31 Desember 2009 dan 2008. Catatan-catatan dan dokumen yang tersedia tidak
memungkinkan BPK untuk melakukan prosedur pemeriksaan yang memadai untuk meyakini nilai
persediaan tersebut.
Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 13 atas Laporan Keuangan, Pemerintah Kabupaten
ABCD melaporkan Aset Tetap per 31 Desember 2009 dan 2008 masing-masing sebesar
Rp272,00 miliar dan Rp256,00 miliar. Dalam tahun 2009, Pemerintah Kabupaten ABCD telah
melakukan inventarisasi dan penilaian kembali atas Aset Tetap yang diperoleh sebelum 31
Desember 2004, namun hasilnya belum dicatat karena masih terdapat permasalahan mengenai
hasil penilaian tersebut. Nilai Aset Tetap dapat terpengaruh secara signifikan jika Pemerintah
Kabupaten ABCD telah mengakui hasil penilaian kembali atas Aset Tetap yang diperoleh
sebelum 31 Desember 2004.
Karena permasalahan yang diuraikan dalam Paragraf di atas dan BPK tidak dapat menerapkan
prosedur pemeriksaan, lingkup pemeriksaan BPK tidak cukup untuk memungkinkan BPK
menyatakan, dan BPK tidak menyatakan, pendapat atas Laporan Keuangan Pemerintah
Kabupaten ABCD Tahun 2009 dan 2008.
Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan
tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor
15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Pewakilan Provinsi DKI Jakarta
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

Budi Santoso, Ak.


Akuntan, Register Negara No. D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi……. 37


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BAB 10

PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dalam pernyataan


standar umum keempat mensyaratkan bagi setiap organisasi pemeriksa yang
melaksanakan pemeriksaan, untuk memiliki sistem pengendalian mutu yang
memadai, dan sistem pengendalian mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain
yang berkompeten. Hal ini telah diatur lebih lanjut dalam suatu Petunjuk
Pelaksanaan Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu.
Pengendalian mutu merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan untuk
memastikan bahwa proses pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan
perencanaan pemeriksaan dan harapan penugasan pemeriksaan, serta telah
memenuhi SPKN. Pengendalian mutu pemeriksaan LKPD terdapat pada
berbagai perangkat lunak yang ada di BPK mulai dari SPKN, PMP, Juklak
Pemeriksaan Keuangan dan Juknis LKPD. Pengendalian mutu dilaksanakan
melalui 2 bentuk pengendalian, yaitu:
1) Pengendalian mutu oleh Tim dilakukan secara berjenjang oleh Ketua
Subtim/Ketua Tim, Pengendali Teknis dan Penanggungawab Tim;
2) Pengendalian mutu oleh penanggung jawab untuk memastikan bahwa
pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan SPKN dan Laporan Hasil
Pemeriksaan telah sesuai dengan harapan penugasan.
Sedangkan penjaminan mutu merupakan tindakan untuk memastikan
bahwa proses pengendalian mutu telah dilaksanakan. Penjaminan mutu
pemeriksaan LKPD terdapat pada berbagai perangkat lunak yang ada di BPK
mulai dari SPKN, PMP, Juklak pemeriksaan Keuangan dan Juknis LKPD dan
Juklak Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu.

Sesuai dengan PMP, sebelum LHP atas LKPD dari penanggung jawab
diterbitkan, BPK melalui pejabat strukturalnya harus memastikan bahwa
penjaminan mutu telah berjalan. Penjaminan mutu ini menjadi dasar bagi BPK
untuk menerbitkan LHP tersebut. Untuk melaksanakan ini, perwakilan dapat
membentuk tim reviu di perwakilan yang hasilnya menjadi dasar bagi kepala
perwakilan menerbitkan surat keluar penyampaian LHP.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

TAHAPAN PENJAMINAN MUTU PEMERIKSAAN LKPD


LKPD
diterima Supervisi
Pemeriksaan

Persiapan Pelaksanaan Pelaporan hasil Proses Reviu


Pemeriksaan Pemeriksaan Pemeriksaan Tim Reviu

Surat Perintah Surat Tugas Selesainya Konsep LHP yang Penerbitan LHP
Persiapan Pelaksanaan Pelaksanaan telah disetujui dengan Surat Keluar
Pemeriksaan Pemeriksaan Pemeriksaan Lapangan Penanggungjawab Kepala Perwakilan

Hot Reviu Cold Reviu

Untuk menjamin adanya sinkronisasi perlakuan pemeriksa atas seluruh


LKPD secara nasional. Tortama akan membentuk organisasi pemeriksaan LKPD.
Organisasi pemeriksaan LKPD meliputi pengarah, koordinator, komite pengkaji,
dan komite ikhtisar permasalahan dan pelaporan, serta sekretariat.

STRUKTUR ORGANISASI TIM PENGKAJI NASIONAL PEMERIKSAAN LKPD

PENGARAH 1. ANGGOTA V
PENGARAH
2. ANGGOTA VI

KOORDINATOR 1. TORTAMA V
KOORDINATOR
2. TORTAMA VI

1. Ka Sub Aud MIA V


SEKRETARIAT SEKRETARIAT
2. Ka Sub Aud MIA VI

KOMITE 1. TENAGA AHLI


PENGKAJI 2. STAF AHLI
KOMITE KOMITE
PENGKAJI IKHTISAR KOMITE
PERMASALAHAN IKHTISAR 1. Ka Aud V B
& PELAPORAN PERMASALAHAN 2. Ka Aud VI B
& PELAPORAN

Pembagian tugas pengarah, koordinator, komite pengkaji, komite ikhtisar


permasalahan dan pelaporan, serta sekretariat adalah sebagai berikut:
1) Pengarah bertugas untuk mengarahkan pemeriksaan atas LKPD;
2) Koordinator bertugas untuk mengendalikan dan mengkoordinasikan
pemeriksaan dan menjamin kualitas pemeriksaan yang sesuai dengan SPKN
dan kebijakan pemeriksaan BPK.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

3) Komite Pengkaji bertugas untuk mempersiapkan, mengembangkan


metodologi, menyediakan hasil kajian, dan memberikan konsep solusi atas
semua permasalahan dalam pelaksanaan pemeriksaan.
4) Komite Ikhtisar Permasalahan dan Pelaporan bertugas untuk mempersiapkan
ikhtisar nasional atas semua permasalahan dalam pelaksanaan pemeriksaan
dan menyusun iktisar nasional atas semua pelaporan hasil pemeriksaan.
5) Tim Sekretariat bertugas untuk membantu kelancaran pemeriksaan melalui
penyiapan sarana prasarana serta menampung dan mengkomunikasikan
semua informasi pemeriksaan dalam organisasi pemeriksaan.

Hubungan antara tim reviu di perwakilan dan organisasi pemeriksaan LKPD


Nasional adalah:

HUBUNGAN ANTARA TIM REVIU DI PERWAKILAN

DAN ORGANISASI PEMERIKSAAN LKPD NASIONAL

Tim Pemeriksaan Kepala Perwakilan


• Penanggungjawab Kepala Sub Auditorat
• Pengendali Teknis Kepala Seksi
• Ketua Tim
• Ketua Sub Tim
• Anggota Tim Tim Reviu
Berdasarkan SK ND Tortama
Kepala Perwakilan tentang
Mengajukan hasil kajian
permasalahan yang
perlu dikaji :
- Forum Auditor
- Surat ke Helpdesk
Tim Nasional (Helpdesk) terdiri
dari semua unsur Perwakilan
Dimoderatori
Tenaga Ahli

Penjaminan mutu dilaksanakan oleh:


1) Penanggung jawab: untuk memastikan bahwa seluruh proses
pengendalian mutu oleh Tim telah dilaksanakan.
2) Itama: untuk memastikan bahwa pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai
dengan perencanaan dan telah memenuhi persyaratan yang dimuat dalam
SPKN.
3) Pihak lain yang berkompeten: untuk memenuhi ketentuan perundangan
dalam rangka peer review.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

MEKANISME SISTEM PENGENDALIAN MUTU PEMERIKSAAN LKPD

Quality
No Tahapan Kegiatan Ket
Bentuk Pengendalian Dokumentasi Dibuat Direviu Disetujui
A Pemenuhan Penentuan kebutuhan Form Kebutuhan Kasie Kasub Kalan
kebutuhan jumlah auditor Auditor
pemeriksa Pertimbangan Daftar Set Kalan Kasub Kalan
kompetensi auditor kompetensi
Penentuan tim Risalah penetapan Kasie Kasub Kalan
Penerbitan Surat Tugas Konsep Surat Tugas Kasub Kalan Kalan

B Perencanaan 1 Penyusunan Pemahaman Tujuan dan Form Pemahaman KT PT PJ Juklak LK


Pemeriksaan P2 Harapan Penugasan Tujuan dan Harapan
Penugasan

Pemahaman entitas Form Pemahaman AT KT PT Lampiran 4.2 Juknis


Entitas

Pemantauan tindak Form AT KT PT Lampiran 4.3. Juknis


lanjut LHP sebelumnya; Pemantauan
Tindak Lanjut
Pemahaman sistem Form AT KT PT Lampiran 4.4 Juknis
pengendalian intern; Pemahaman
SPI
Penetapan materialitas Form Penetapan KT PT PJ Bab 3
Materialitas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

Quality Control
No Tahapan Kegiatan Ket
Bentuk Pengendalian Dokumentasi Dibuat Direviu Disetujui
Penilaian Risiko Form Penilaian AT KT PT Bab 2
Risiko
Penetapan Fokus dan Form Penetapan KT PT PJ Bab 1
Strategi Pemeriksaan Fokus dan
Strategi
Perumusan prosedur Form Prosedur AT KT PT
Pemeriksaan Pemeriksaan per
Akun
Penetapan Metode Kertas kerja AT KT PT Lampiran 4.5
Sampling penentuan uji Juknis
Pelaksanaan prosedur Kertas Kerja AT KT PT Juknis LKPD
analitis awal Prosedur
Analitis Awal
Perumusan P2 Program KT PT PJ Lampiran 4.6 dan
Pemeriksaan 4.7 Juknis

2 Pembagian Pembagian tugas Form KT PT PT


tugas kepada anggota tim Pembagian
Tugas
Penyusunan PKP setiap Program Kerja AT KT KT PMP
anggota tim Perorangan
3 Persiapan Penyusunan jadwal Jadwal AT KT KT
mulai Pemeriksaan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

Quality Control
No Tahapan Kegiatan Ket
Bentuk Pengendalian Dokumentasi Dibuat Direviu Disetujui
Pemberitahuan Surat AT KT KT PMP
Pemeriksaan Pemberitahuan kepada
Auditee
Perencanaan entry Panduan Entry Briefing KT PT PT Bab 1
Meeting
B Pelaksanaan 1 Komunikasi Penyampaian informasi Notulen AT KT KT PMP
Pemeriksaan awal (Entry penting kepada pertemuan awal
Briefing) pimpinan entitas
2 Pelaksanaan Pengujian analitis Cover sheet per akun AT KT PT Juknis LKPD
P2
Pengujian pengendalian Cover sheet per akun AT KT PT Juknis LKPD

Pengujian substantif Cover sheet per akun AT KT PT Juknis LKPD


Lead Schedule AT KT PT Juknis LKPD
Supporting AT KT PT Juknis LKPD
Schedule
Reviu akhir penyelesaian Cover Sheet hasil reviu AT KT PT Juknis LKPD
penugasan (kewajiban
kontinjensi, komitmen jangka
panjang, kejadian
setelah tanggal neraca)
Penyusunan konsep TP Konsep TP AT KT PT
Penyusunan ikhtisar Ikhtisar koreksi AT KT PT
Koreksi

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 6


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

Quality Control
No Tahapan Kegiatan Ket
Bentuk Pengendalian Dokumentasi Dibuat Direviu Disetujui
Pembahasan TP dan Risalah AT KT PT
Koreksi Pembahasan TP
dan Koreksi
Penyerahan TP Surat Pengantar TP AT KT KT

3 Supervisi Perubahan P2 Form Usulan Perubahan P2 KT PT PJ


dan
Reviu Rapat internal tim (mingguan) Risalah rapat AT KT KT
Internal Penyusunan laporan kemajuan Laporan Kemajuan Pekerjaan AT KT KT
Tim pekerjaan (mingguan)

Revew KKP Review Sheet KT PT PJ


4 Komunik Penyampaian informasi Notulen pertemuan akhir AT KT PT
asi akhir penting kepada
(exit pimpinan entitas
C Pelaporan 1 Penyusunan Penyusunan konsep LHP Konsep LHP AT KT PT
Pemeriksaan konsep LHP Pembahasan konsep Risalah Pembahasan KT PT PJ
LHP dengan PJ
Pembahasan konsep Risalah Pembahasan KT PT PJ
LHP dengan pejabat
2 Finalisasi Perolehan surat Permintaan Surat KT PT PJ
LHP representasi Representasi Manajemen

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 7


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

Quality Control
No Tahapan Kegiatan Ket
Bentuk Pengendalian Dokumentasi Dibuat Direviu Disetujui
Penyusunan konsep akhir LHP LHP KT PT PJ

Reviu akhir PJ Form Quality KT PT PJ


Assurance
Penyampaian LHP Surat Keluar KT PT-PJ kalan

Pemantauan tindak Lanjut Risalah Tindak Lanjut Kasub Kaaud kalan

2 Pelaksanaan Pemantauan Tim Laporan Kemajuan AT KT PT


Pekerjaan Pemeriksaan

3 Pelaporan Konsinyering III Risalah Pembahasan Sekre PJ dan TPP PJ dan


Opini LKKL TPP TPP
Quality Assurance LKPD Form Quality Tim Itama Katim Itama Irtama
secara uji petik Assurance

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 8


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

CHECKLIST SISTEM PENGENDALIAN MUTU


PEMERIKSAAN LKPD
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

Entitas Pemeriksaan
Jenis Pemeriksaan
Tahun Pemeriksaan
Tahun Yang Diperiksa

Tim Pemeriksa :
1. Penanggung Jawab : Tanggal
: Reviu
2. Pengendali Teknis
3. Ketua Tim :

Penjelasan Sistem Pengendalian Mutu:


• Jika kesimpulan pada pertanyaan tertentu positif, tanda harus
dimasukkan dalam kolom "Y (Ya)".
• Jika kesimpulannya negatif, tanda harus dimasukkan pada kolom
"T (Tidak)", diikuti dengan alasan/penjelasan yang tepat
dalam kolom komentar. Sebagai contoh, apabila ada jawaban
tidak, maka komentar harus diisi penjelasan yang masih dalam
lingkup memadai. Hal ini berarti ketua tim, pengendali teknis dan
penganggung jawab mengetahui dan menyadari adanya situasi
seperti itu.
• Jika suatu pertanyaan tidak dapat diaplikasikan, tanda harus
dimasukkan dalam kolom "Abstain (tidak dapat diaplikasikan)",
bersama dengan penjelasan yang memadai.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 9


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 10


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 11


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 12


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 13


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 14


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 15