Anda di halaman 1dari 126

Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :

Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

BAB 11
PERENCANAAN PEMERIKSAAN LKPD :
PEMERIKSAAN INTERIM DAN PEMERIKSAAN PENDAHULUAN
Sesuai dengan SPKN, pemeriksaan harus direncanakan dengan sebaik-
baiknya. Perencanaan pemeriksaan atas LKPD suatu Perwakilan sebaiknya telah
dimulai setidaknya pada akhir Triwulan III tahun sebelumnya. Sebagai contoh:
Untuk Pemeriksaan LKPD TA 2010, pada akhir bulan September 2010, Kepala
Perwakilan akan menentukan apakah pemeriksaan atas LKPD TA 2010 diawali
dengan pemeriksaan interim atau tidak. Hal ini tentu saja dilakukan dengan
memperhatikan RKP TA 2010.
Pemeriksaan interim adalah pemeriksaan yang dilakukan sebelum berakhirnya tanggal Neraca
(31 Desember) dan umumnya dilaksanakan pada bulan Oktober sd Desember.
Apabila pemeriksaan interim tidak dilakukan dianjurkan Perwakilan
menggunakan tahapan Pemeriksaan Pendahuluan dilanjutkan dengan
Pemeriksaan Rinci.
Pemeriksaan pendahuluan adalah pemeriksaan yang dilakukan sebelum pemerintah daerah
menyampaikan LKPD kepada BPK dan umumnya dilaksanakan pada bulan Januari sd April.
Bila kondisi tidak memungkinkan untuk melaksanakan Pemeriksaan
Pendahuluan, maka perwakilan dapat langsung melakukan Pemeriksaan Rinci.

11.1 Pemeriksaan Interim

11.1.1 Gambaran Umum


Pemeriksaan keuangan interim LKPD (selanjutnya disebut dengan
pemeriksaan interim) lazim dilakukan dalam pemeriksaan keuangan. BPK
melaksanakan pemeriksaan interim atas LKPD mengacu pada best practice
dengan pertimbangan untuk mempercepat penyelesaian pemeriksaan atas
laporan keuangan sesuai dengan batas waktu pemeriksaan atas LKPD yang telah
ditetapkan undang-undang. Kebijakan perlu tidaknya dilaksanakan pemeriksaan
interim pada LKPD sepenuhnya ditetapkan oleh masing-masing Perwakilan
BPK dengan mempertimbangkan 1) besaran anggaran, 2) kekuatan personil
auditor pada Perwakilan yang bersangkutan, 3) hasil pemeriksaan sebelumnya
dan 4) pertimbangan obyektif lainnya. Dengan demikian panduan pemeriksaan
keuangan interim atas LKPD ini pun diperuntukkan bagi Perwakilan BPK yang
dalam kebijakannya dapat melakukan pemeriksaan interim terlebih dahulu
sebelum pemeriksaan rinci atas LKPD.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

Siegel dan Shim (2000: 519) melihat pemeriksaan interim dari dua
pendekatan, yaitu:
1) Pemeriksaan keuangan terhadap laporan keuangan interim (audit of an
interim period), misalnya Laporan Keuangan Triwulanan atau Laporan
Keuangan Semesteran.
2) Pemeriksaan keuangan terhadap laporan keuangan tahunan yang dilakukan
selama periode akuntansi masih berjalan. Pemeriksaan yang dilakukan dapat
meliputi konfirmasi, cek fisik persediaan, atau kegiatan pemeriksaan lainnya
yang nantinya akan digabungkan dengan tahap akhir pemeriksaan keuangan
secara menyeluruh terhadap laporan keuangan tahunan yang diperiksa.

Berdasarkan kedua pendekatan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa


waktu pelaksanaan pemeriksaan interim atas LKPD efektif dilaksanakan pada
tahun berjalan sebelum tanggal laporan keuangan (31 Desember 200X) yaitu
pada Semester II (atau Triwulan IV) yang mencakup data transaksi-transaksi
selama periode tahun tersebut sampai dengan pemeriksaan interim berlangsung.
Pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan interim di BPK, antara lain
bertujuan untuk:
1) Pemberian kesimpulan hasil reviu atas sistem pengendalian intern dan
kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
2) Pengujian kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan atas
transaksi-transaksi selama periode yang berlangsung sampai dengan saat
pemeriksaan interim.
3) Perolehan data dan informasi untuk pengembangan perencanaan
pemeriksaan terinci LKPD, antara lain meliputi, tapi tidak terbatas pada,
pemantauan atas tindak lanjut hasil pemeriksaan sebelumnya dan penilaian
risiko (risk assesment).
Lingkup pemeriksaan interim meliputi:
1) Sistem pengendalian intern;
2) Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan;
3) Transaksi atau realisasi anggaran semester I dan/atau sampai dengan periode
pemeriksaan interim berlangsung;
4) Pemantauan tindak lanjut laporan hasil pemeriksaan sebelumnya; dan
5) Informasi lain yang terkait dengan laporan keuangan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

11.1.2 Tahapan Pemeriksaan Interim

Tahapan Pemeriksaan Interim terdiri dari tiga bagian utama yaitu persiapan,
pelaksanaan dan pelaporan yang secara rinci terdiri dari kegiatan sebagai berikut:

PERSIAPAN PEL AKSAN AAN PEL APO RAN

• Evaluas i hasil • Pemutakhiran • Pengambilan


pemeriks aan data umum kes impulan
s ebelumnya entitas dan data • Penetapan
• Peroleh L aporan terkait SPI entitas materialitas , risiko
Keuangan Interim • Pengujian atas dan s ampling
• Penentuan obyek TL H P s ebelumnya • Penyus unan
dan lingkup • Penerapan L aporan H as il
pemeriks aan pros edur Pemeriks aan
• Penentuan tujuan pengujian Interim
dan penyus unan pengendalian • Penyus unan
langkah • Penerapan program
pemeriks aan pros edur pemeriks aan
pengujian s ubs tantif/ terinci
s ubs tantif
• Penerapan
pros edur
pengujian
kepatuhan
terhadap
peraturan
perundang-
undangan
• Dokumentas i
pemeriks aan

11.1.2.1 Tahap Persiapan


11.1.2.1.1 Evaluasi atas hasil pemeriksaan sebelumnya
Pada tahapan persiapan ini, pertama-tama dilakukan evaluasi hasil
pemeriksaan sebelumnya. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengevaluasi
hasil pemeriksaan sebelumnya adalah sebagai berikut:
1) Lakukan inventarisasi semua pemeriksaan yang pernah dilakukan
sebelumnya, baik itu pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, maupun
PDTT. Khusus untuk pemeriksaan keuangan yang dilakukan pada tahun
sebelumnya, perhatikan opini yang diberikan sebagai dasar pertimbangan
untuk analisis risiko dan penentuan materialitas pemeriksaan yang akan
dilakukan sekarang.
2) Buat daftar yang menggambarkan semua permasalahan yang pernah
ditemukan maupun permasalahan yang pernah ada terkait dengan objek
pemeriksaan (khususnya temuan yang berkaitan dengan pengendalian intern
dan kepatuhan), termasuk posisi tindak lanjut setiap temuan/permasalahan
tersebut sampai dengan tanggal terakhir semester. Bentuk daftar pemantauan
tindak lanjut dapat dilihat di Lampiran 11.1

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

3) Lakukan analisis sebab dan dampaknya bagi kewajaran penyajian laporan


keuangan. Fokuskan pada permasalahan yang berulang.
4) Identifikasikan hubungan setiap permasalahan yang masih berstatus “belum
ditindaklanjuti sesuai rekomendasi/tidak ditindaklanjuti” dengan objek
pemeriksaan;
5) Pastikan juga apakah permasalahan yang telah ditindaklanjuti sesuai
rekomendasi berpotensi terjadi atau akan terjadi dan terkait dengan objek
pemeriksaan
6) Tentukan fokus pemeriksaan interim dengan mempertimbangkan
permasalahan yang memiliki probabilitas terjadi dan terkait dengan objek
pemeriksaan dan permasalahan yang terus berulang.
11.1.2.1.2 Dapatkan Laporan Keuangan Interim
Langkah selanjutnya adalah meminta LKPD yang telah disusun oleh entitas
yang bersangkutan sesuai dengan periode yang telah ditentukan/disepakati
sebelumnya (Semesteran atau Triwulanan atau LKPD per 31 Oktober).
11.1.2.1.3 Penentuan objek dan lingkup pemeriksaan interim
Penentuan objek dan lingkup pemeriksaan interim mencakup langkah-
langkah sebagai berikut:
1) Lakukan analisis mendalam terhadap fokus-fokus pemeriksaan interim (hasil
pertimbangan pemeriksaan sebelumnya). Analisis meliputi hubungan setiap
fokus permasalahan dan kriteria/ketentuan yang mengatur hal-hal terkait fokus
pemeriksaan tersebut. Analisis tersebut sedapat mungkin mengidentifikasi
hingga jenis transaksi, sistem transaksi, frekuensi terjadinya, dan kesamaan
pola transaksi.
2) Lakukan pemetaan (mapping) terhadap signifikansi setiap fokus pemeriksaan
interim.
3) Dengan pertimbangan waktu dan sumber daya yang ada, pilih objek dan
cakupan yang paling material dan signifikan yang meliputi akun tertentu, mata
anggaran tertentu, satuan kerja tertentu, dan periode transaksi tertentu
(sampai dengan periode pemeriksaan interim).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

11.1.2.1.4 Penentuan tujuan pemeriksaan


Berdasarkan objek dan lingkup pemeriksaan, tentukan tujuan pemeriksaan
interim. Berdasarkan tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan, susunlah
program pemeriksaan yang berisi langkah-langkah pemeriksaan, susunan Tim
Pemeriksaan, periode yang akan diperiksa, waktu pemeriksaan, dan jangka
waktu pemeriksaan. Selain itu, pastikan waktu pemeriksaan yang tepat.
11.1.2.2 Tahap Pelaksanaan
Tahap-tahap kegiatan dalam pelaksanaan pemeriksaan interim mengacu
pada tujuan pemeriksaan interim yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan
demikian, khusus untuk kegiatan penerapan prosedur pengujian pengendalian
(control test) dan penentuan sampling, kegiatan penerapan prosedur pengujian
substantif (substantive test), dan kegiatan prosedur pengujian kepatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan di bawah ini tidak harus dilaksanakan seluruhnya,
namun sepenuhnya tergantung pada tujuan pemeriksaan yang ditetapkan.
Apabila tujuan pemeriksaan yang disebutkan dalam paragraph diatas akan
dilaksanakan seluruhnya, maka tahap pelaksanaan pemeriksaan interim meliputi
kegiatan sebagai berikut:
11.1.2.2.1 Pemutakhiran data umum entitas dan data terkait SPI
Langkah pertama dalam tahapan pelaksanaan adalah pemutakhiran data
umum entitas dan data terkait SPI yang menjadi cakupan pemeriksaan. Pastikan
pemeriksa telah memiliki pemahaman atas data umum organisasi dan sistem
pengelolaan transaksi dari hasil pemeriksaan tahun sebelumnya. Jika tidak
terdapat perubahan, pemeriksa dapat menggunakan data dari pemeriksaan
sebelumnya. Jika terdapat perubahan data umum organisasi dan SPI, lakukan
analisis atas perubahan tersebut. Perubahan SPI umumnya terkait dengan
temuan BPK atas kelemahan SPI dari hasil pemeriksaan sebelumnya, serta status
tindak lanjutnya. Dokumentasikan data mutakhir dalam format yang mudah
dipahami.
11.1.2.2.2 Pengujian atas tindak lanjut hasil pemeriksaan sebelumnya
Pemeriksa harus memastikan bahwa entitas yang diperiksa telah
menindaklanjuti rekomendasi hasil pemeriksaan sebelumnya. Terhadap
rekomendasi yang belum ditindaklanjuti, lakukan diskusi tentang kendala dan
akibatnya bagi entitas yang diperiksa. Pemeriksa dapat meminta Pemda untuk
segera menindaklanjuti permasalahan agar tidak mempengaruhi penyajian LKPD
dan mengakibatkan kualifikasi dalam opini.
11.1.2.2.3 Penerapan prosedur pengujian pengendalian (Control Test) dan
penentuan sampling, yang meliputi langkah-langkah kegiatan sebagai
berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

1) Lakukan evaluasi atas desain SPI. Jika tidak terdapat pemutakhiran desain
SPI objek yang menjadi cakupan pemeriksaan, pemeriksa dapat
memanfaatkan hasil evaluasi desain SPI tahun sebelumnya. Jika terdapat
pemutakhiran desain SPI, lakukan analisis dan identifikasikan kelemahan
desain SPI tersebut dan dampaknya.
2) Lakukan pengujian atas implementasi SPI, dan identifikasi kelemahan
implementasi SPI dan dampaknya.

3) Buat daftar kelemahan desain dan implementasi SPI serta dampaknya.


4) Uji tingkat signifikasi setiap kelemahan desain dan penerapan SPI serta uji
tingkat keterjadiannya dan kemungkinan keterjadiannya. Semakin tinggi
tingkat keterjadiannya dan kemungkinan keterjadiannya, semakin
diprioritaskan menjadi objek yang akan diuji lebih lanjut dalam pemeriksaan
subtantif/terinci.

11.1.2.2.4 Penerapan prosedur pengujian substantif atas transaksi (substantive


test).
Lakukan pengujian substantif atas transaksi terhadap akun/transaksi/mata
anggaran yang telah ditetapkan dalam objek dan lingkup pemeriksaan dengan
mengacu pada sampling yang telah ditentukan. Jenis pengujian yang dilakukan
mempertimbangkan hasil pengujian atas risiko pengendalian dan jenis asersi yang
terkait dengan risiko yang ditemukan.
11.1.2.2.5 Penerapan prosedur pengujian kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan.

Selain pengujian susbtantif, tim juga menerapkan prosedur pengujian


kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dengan mempertimbangkan
fokus pemeriksaan yang telah dipertimbangkan sebelumnya, transaksi yang
terjadi pada akhir tahun anggaran, dan Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP).
11.1.2.2.6 Penyusunan temuan pemeriksaan.
Pemeriksa menyusun temuan pemeriksaan atas permasalahan-
permasalahan terkait kelemahan pengendalian intern dan dan ketidakpatuhan.
Temuan dimaksud disampaikan kepada entitas yang diperiksa untuk mendapat
tanggapan dan agar pimpinan entitas yang diperiksa dapat segera melakukan
tindakan pengamanan/perbaikan.
11.1.2.2.7 Pendokumentasian semua langkah yang dilakukan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 6


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

11.1.2.3 Tahap Pelaporan

11.1.2.3.1 Pengambilan kesimpulan interim


Berdasarkan langkah-langkah dalam tahap pelaksanaan, lakukan
pengambilan kesimpulan hasil pemeriksaan interim, dengan mengacu pada tujuan
pemeriksaan yang ditetapkan diatas.
11.1.2.3.2 Penentuan tingkat materialitas, risiko dan sampel pemeriksaan
Berdasarkan simpulan pemeriksaan interim, pemeriksa menentukan tingkat
materialitas, risiko dan sampel pemeriksaan untuk digunakan pada saat
pemeriksaan substantif tahap terinci. Prosedur penentuan sampel pemeriksaan
mengacu pada Bab V tentang Uji Petik Pemeriksaan (Audit Sampling) dengan
memperhitungkan pengujian substantif yang sudah dilakukan saat pemeriksaan
interim.
11.1.2.3.3 Penyusunan laporan hasil pemeriksaan interim
Selanjutnya Tim Pemeriksa menyusun Laporan Pemeriksaan Interim yang
terdiri dari tiga bagian yaitu:
1) Ringkasan eksekutif yang berisi transaksi/akun yang memiliki risiko tinggi dan
kelemahan SPI serta ketidakpatuhan yang signifikan, serta tingkat materialitas
yang ditetapkan berdasar hasil pengujian atas pegendalian.
2) Gambaran umum pemeriksaan yang terdiri dari dasar hukum, tujuan, lingkup,
metodologi pemeriksaan, dan waktu pemeriksaan
3) Hasil Pemeriksaan yang berisi temuan-temuan kelemahan SPI dan
ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, penilaian risiko atas
akun-akun signifikan (sebagaimana diatur dalam Panduan Pemeriksaan atas
LKPD Bab 3. Pemahaman dan Penilaian Risiko), serta penetapan tingkat
materialitas dan sampel.

Contoh laporan pemeriksaan interim dapat dilihat pada Lampiran 11.2.


11.1.2.3.4 Penyusunan Program Pemeriksaan Terinci / Substantif
Langkah-langkah penyusunan Program Pemeriksaan Terinci / Substantif
dijelaskan pada sub bab 11.3.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 7


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

11.2 Pemeriksaan Pendahuluan

11.2.1 Gambaran Umum

Pemeriksaan Pendahuluan atas LKPD merupakan pelaksanaan dari tahap


perencanaan yang dapat menjadi dasar penyusunan program pemeriksaan terinci
atas LKPD.
Dalam mempertimbangkan strategi pemeriksaan yang ada yaitu singkatnya waktu
Pemeriksaan LKPD sesuai ketentuan perundang-undangan (2 bulan sejak LKPD diterima
dari Pemda), maka tujuan dan lingkup Pemeriksaan Pendahuluan dan Pemeriksaan Interim
dapat saja sama. Akan tetapi apabila melihat sekuen pemeriksaan di mana Pemeriksaan
Pendahuluan dan Pemeriksaan Rinci waktunya berdekatan dibandingkan waktu antara
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Rinci, maka Pemeriksaan Pendahuluan dan
Pemeriksaan Interim dapat berbeda tujuan dan lingkupnya.
Salah satu perbedaan antara Pemeriksaan Pendahuluan dan Pemeriksaan Interim adalah di
dalam Pemeriksaan Interim, pemeriksa melakukan pengujian substantif untuk “menyicil
pekerjaan”. Sementara itu dalam Pemeriksaan Pendahuluan, pengujian substantif umumnya
tidak dilakukan.
Dalam praktik di BPK, Perwakilan yang tidak melakukan Pemeriksaan Interim, umumnya
melakukan PDTT Belanja di Triwulan IV yang hasilnya dapat digunakan dalam Pemeriksaan
LKPD. Inilah salah satu alasan praktis mengapa Pemeriksaan Pendahuluan tidak dianjurkan
lagi untuk melakukan pengujian substantif.
Analisis persamaan dan perbedaan antara Pemeriksaan Pendahuluan dan Pemeriksaan
Interim tidak dimaksudkan untuk mendefinisikan pemeriksaan-pemeriksaan tersebut dan
hanya digunakan untuk kepentingan praktik pemeriksaan di BPK khususnya di Perwakilan.
Untuk efektifitas pelaksanaannya, pemeriksaan pendahuluan juga
didasarkan dengan Program Pemeriksaan (P2) Pendahuluan atas LKPD yang
formatnya menggunakan format umum P2 Pemeriksaan atas LKPD. Hal yang
membedakan dengan pemeriksaan terinci adalah dalam Tujuan Pemeriksaan dan
Lingkup Pemeriksaan.
Tujuan Pemeriksaan Pendahuluan atas LKPD umumnya diarahkan untuk:

1) Menilai efektivitas sistem pengendalian intern (SPI);


2) Menilai kepatuhan atas peraturan perundang-undangan;
3) Memantau tindak lanjut atas hasil pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 8


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

Walaupun demikian, tujuan pemeriksaan pendahuluan merupakan bagian


dari Tujuan Pemeriksaan LKPD secara keseluruhan yaitu pemberian opini atas
kewajaran LKPD tersebut berdasarkan:
1) Kesesuaian LKPD terhadap Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP);

2) Kecukupan pengungkapan sesuai dengan pengungkapan yang diatur dalam


SAP;
3) Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan; dan

4) Efektivitas sistem pengendalian intern.

11.2.2 Tahapan pemeriksaan Pendahuluan


Berdasarkan kegiatan pada tahap perencanaan, pemeriksaan
pendahuluan atas LKPD meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
11.2.2.1 Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Penugasan
Pemahaman atas tujuan pemeriksaan secara keseluruhan dan harapan
penugasan perlu diperoleh untuk mengetahui fokus atau sasaran yang harus
diperhatikan pemeriksa dan untuk menghindari harapan-harapan yang tidak dapat
dipenuhi oleh pemeriksa.
Harapan penugasan di tingkat Perwakilan ditetapkan oleh Kepala Perwakilan setelah
mempertimbangkan hasil Raker, Rakornis, Arahan Badan yang terkait dengan pemeriksaan
serta arahan Tortama terkait.
Pemahaman tersebut dilakukan dengan melakukan komunikasi dengan
pemberi tugas o leh pemeriksa dengan memperhatikan input-input sebagai
berikut:
1) Laporan hasil pemeriksaan tahun sebelumnya;

2) Laporan hasil pemantauan tindak lanjut;


3) Survei pendahuluan atas entitas atau objek yang baru pertama kali diperiksa;
4) Database entitas;

5) Hasil komunikasi dengan pemeriksa sebelumnya

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 9


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

Langkah-langkah pemahaman tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan


meliputi :
1) Pembahasan dan pengkomunikasian dengan pemberi tugas;
Pemeriksa bersama-sama dengan pemberi tugas membangun pemahaman
yang jelas mengenai hal-hal penting yang dapat dijadikan dasar dalam
mendefinisikan, memprioritaskan dan mengukur kinerja pemeriksa dalam
pelaksanaan penugasan.

2) Pengajuan tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan;


Langkah ini dilakukan oleh pemeriksa dengan membuat penilaian
(pengkajian awal) atas entitas dan memutakhirkan pengetahuan mengenai
lingkup kerja entitas. Pemeriksa juga mempertimbangkan hasil pemeriksaan
tahun lalu, catatan pertemuan-pertemuan sebelumnya, dan diskusi- diskusi
dengan entitas. Pertimbangan awal mengenai informasi tersebut
memungkinkan pemeriksa untuk mempersiapkan pembicaraan dengan
pemberi tugas dan menentukan area yang ingin ditelaah lebih dalam.
Penilaian awal ini juga dapat digunakan untuk mempertimbangkan pemeriksa
yang akan berpartisipasi dalam pertemuan tersebut.
3) Penetapan tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan.
Tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan yang telah dirumuskan
didokumentasikan secara tertulis dan ditandatangani oleh Ketua Tim,
Pengendali Teknis, Penanggung Jawab, dan Pemberi Tugas. Format
harapan penugasan terlampir dalam Suplemen.

11.2.2.2 Pemahaman atas Entitas

Pemahaman atas entitas perlu diperoleh untuk mengidentifikasi kelemahan-


kelemahan signifikan atau area-area kritis yang memerlukan perhatian yang
mendalam.

11.2.2.3 Pertimbangan atas Tindak Lanjut LHP Sebelumnya Terhadap


Pemeriksaan LKPD Tahun Berjalan
Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan tindak lanjut
hasil pemeriksaan sebelumnya. Pemeriksa harus meneliti pengaruh hasil
pemeriksaan sebelumnya dan tindak lanjutnya terhadap LKPD yang diperiksa,

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 10


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

terutama terkait kemungkinan temuan-temuan pemeriksaan yang berulang dan


keyakinan pemeriksa atas saldo awal akun atau perkiraan pada neraca yang
diperiksa.
Terhadap LKPD yang tahun sebelumnya mendapatkan opini WDP dan TMP,
tahapan ini merupakan tahapan yang penting untuk memperkirakan adanya
permasalahan yang kembali dapat menjadi pengecualian dalam tahun anggaran
yang diperiksa. Atas rekomendasi yang belum ditindaklanjuti khususnya yang
terkait dengan pengecualian tahun sebelumnya, lakukan diskusi tentang kendala
dan akibatnya bagi entitas yang diperiksa. Pemeriksa dapat menyarankan Pemda
untuk segera mengambil langkah-langkah agar permasalahan tersebut tidak
menjadi pengecualian kembali dalam tahun anggaran yang diperiksa.
Sebagai contoh: Dalam opini LKPD TA 2009, salah satu pengecualian terkait
belum dilakukannya stock opname atas persediaan di beberapa SKPD yang
dampaknya material. Saat pemeriksaan pendahuluan atas LKPD TA 2010,
ternyata rekomendasi tersebut masih belum ditindaklanjuti dan permasalahan
masih terjadi. Terkait hal ini, Pemeriksa harus segera meminta Pemda melakukan
stock opname terhadap persediaan dan menarik mundur hingga per
31 Desember 2010.
11.2.2.4 Pemahaman Sistem Pengendalian Intern
Pemahaman sistem pengendalian intern meliputi pemahaman atas
komponen-komponen sistem pengendalian intern. Pemahaman sistem
pengendalian intern dilakukan terhadap pengelolaan keuangan daerah yang diatur
dalam peraturan perundang-undangan dan atau kebijakan tertulis kepala daerah.
Pemahaman atas sistem pengendalian intern tersebut membantu pemeriksa
untuk (1) mengidentifikasi jenis potensi kesalahan, (2) mempertimbangkan faktor-
faktor yang mempengaruhi risiko salah saji yang material, (3) mendesain
pengujian sistem pengendalian intern, dan (4) mendesain prosedur pengujian
substantif.

11.2.2.5 Penetapan Tingkat Materialitas Awal dan Kesalahan Tertolerir.


Dalam pemeriksaan laporan keuangan, pemeriksa perlu menetapkan:
1) ‘Planning Materiality’ (materialitas awal), yaitu materialitas untuk tingkat
keseluruhan laporan keuangan;
2) ‘Tolerable Error/TE’ (tingkat kesalahan yang tertoleransi), yaitu materialitas
terkait kelas-kelas transaksi, saldo akun, dan pengungkapan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 11


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

Materialitas pada tingkat keseluruhan laporan keuangan merupakan salah


saji agregat minimum dalam laporan keuangan yang dianggap dapat
menyebabkan laporan keuangan tersebut tidak dapat disajikan dengan wajar.
Penerapan tingkat materialitas pemeriksaan adalah konservatif atau rendah,
dengan mempertimbangkan bahwa pengguna laporan dhi. DPRD akan
memperhatikan aspek legalitas dan ketaatan terhadap ketentuan yang berlaku
dalam proses pertanggungjawaban keuangan.

Tingkat materialitas dalam pemeriksaan ini ditetapkan sebesar 0,5 - 5 %


(tergantung pada opini atas LKPD tahun sebelumnya, perkembangan terakhir SPI,
tingkat penyelesaian tindak lanjut dan lain-lain).

Materialitas pada tingkat akun (TE) merupakan salah saji minimum pada
saldo akun yang dapat menyebabkan akun tersebut dianggap mengandung salah
saji material. Penetapan nilai TE secara teori dapat dilakukan 1) secara
proporsional yaitu mengalokasikan PM ke masing-masing akun berdasarkan
proporsi nilai akun; dan 2) penetapan % langsung dari PM.
Dalam panduan pemeriksaan LKPD diambil kebijakan penerapan TE sebesar 50% PM.
Hal ini akan mempermudah dalam Penilaian Risiko untuk pendekatan Pemeriksaan
Berbasis Risiko.
Untuk pemeriksaan LKPD, besarnya persentase tingkat materialitas yang
digunakan untuk menentukan PM antara lain berdasarkan opini atas laporan
keuangan tahun sebelumnya yaitu sebagai berikut, yaitu:

Tingkat Materialitas (%) dari


Opini LKPD Tahun Sebelumnya Total Belanja di LRA
unaudited

Wajar Tanpa Pengecualian 3 s.d 5

Wajar Dengan Pengecualian 1 s.d 3

Tidak Wajar / Tidak Memberikan 0,5 s.d 1


Pendapat
Standar materialitas di atas tidak berlaku atas penyimpangan yang
mengandung unsur kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) dan pelanggaran hukum.

Penetapan PM dan TE dengan rumusan sebagai berikut.


1) Menentukan nilai PM
PM=tingkat materialitas x dasar penetapan materialitas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 12


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

2) Menentukan nilai TE

TE = 50% x PM
Revisi atas perhitungan PM dan TE dilakukan setelah adanya reviu oleh
Pengendali Teknis dan disetujui oleh Penanggung Jawab.

11.2.2.6 Pemahaman dan Penilaian Risiko


Pemahaman dan penilaian risiko dilakukan berdasarkan hasil pemahaman
atas entitas dan sistem pengendalian intern. Hasil pemahaman dan pengujian
tersebut akan menentukan tingkat keandalan asersi manajemen dan ketentuan
yang berlaku.
Penetapan risiko pemeriksaan (audit risk) simultan dengan tingkat
keandalan pengendalian (risiko pengendalian) serta tingkat bawaan (inherent
risk) entitas yang akan diperiksa dapat digunakan sebagai acuan dalam
menentukan risiko deteksi (detection risk) yang diharapkan dan jumlah
pengujian yang akan dilakukan serta menentukan fokus pemeriksaan.
11.2.2.7 Penentuan Metode Uji Petik
Pemeriksaan dilakukan dengan cara melakukan pengujian secara uji-petik
atas unit-unit dalam populasi yang akan diuji. Kesimpulan pemeriksaan akan
diperoleh berdasarkan hasil uji-petik yang dijadikan dasar untuk
menggambarkan kondisi dari populasinya. Dalam pemeriksaan ini,
pemeriksa menggunakan metode statistik atau metode non statistik dengan
memperhatikan kecukupan jumlah sampel yang dipilih baik dari segi nilai rupiah
atau jenis transaksinya.

Metode uji petik tersebut dapat dilakukan dengan sebagai berikut.


1) Metode statistik
2) Metode non statistik dengan panduan sebagai berikut:

(1) Akurasi perhitungan sampai dengan 100% apabila bisa menggunakan


excel atau ACL.
(2) Dasar penetapan sampel:

(1)) Nilai tertinggi difokuskan pada transaksi yang nilainya relatif tinggi
(2)) Saat transaksi difokuskan pada transaksi yang resikonya tinggi yaitu
pada bulan Nopember – Desember. Atau volume transaksi

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 13


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

penerimaan dan pengeluaran yang frekuensinya besar dan atau tidak


biasa.
(3)) Sampel atas SKPD difokuskan pada SKPD yang mempunyai
anggaran yang relatif besar. Misalnya DPPKAD, Sekretariat Daerah,
DPRD/Sekretariat DPRD, Dinas Pekerjaan Umum, RSUD, Dinas
Kesehatan, Dinas Pendidikan.
(3) Besarnya ukuran/jumlah sampel:
(1)) Diarahkan melebihi 50% dari nilai masing-masing akun.
(2)) Apabila resiko entitas berdasarkan residual risk sedang/rendah,
sampel sebesar 30% - 50% dari nilai realisasi belanja.
11.2.2.8 Pelaksanaan Prosedur Analitis
Pelaksanaan prosedur analitis awal dilaksanakan dengan melihat hubungan
antar data keuangan dan atau antara data keuangan dan data non keuangan.
Pengujian analitis dalam pelaksanaan pemeriksaan dapat dilakukan dengan (1)
Analisis Data, (2) Teknik Prediktif, (3) Analisis Rasio dan Tren. Hasil dari prosedur
analitis awal dapat digunakan antara lain untuk menentukan sampel/uji petik yang
akan diambil.
11.2.2.9 Penyusunan Program Kerja Perorangan (PKP)
Ketua Tim melakukan pembagian tugas berdasarkan P2. Berdasarkan
pembagian tugas tersebut para Anggota Tim Pemeriksa menyusun Konsep
Program Kerja Perorangan (PKP) sebagai penjabaran dari P2 Pendahuluan.
11.2.2.10 Temuan Pemeriksaan Pendahuluan

Dalam pemeriksaan pendahuluan tidak ada penyusunan LHP, semua


permasalahan yang ditemukan akan menjadi bagian dari LHP Pemeriksaan Rinci.
Bila dibutuhkan, atas temuan pemeriksaan pendahuluan tersebut, Tim Pemeriksa
dapat meminta klarifikasi atau penjelasan dari entitas dengan menyampaikannya
kepada Kepala Biro/Dinas/Bagian Keuangan. Jika temuan pemeriksaan
pendahuluan tersebut sudah ditindaklanjuti sebelum pemeriksaan rinci berakhir
maka dilihat materialitasnya untuk diungkapkan atau tidak dalam LHP
Pemeriksaan Rinci.
Setelah pemeriksaan pendahuluan berakhir, Tim Pemeriksa melakukan
diskusi dengan Pengendali Teknis dan Penanggung Jawab mengenai fokus
pemeriksaan dan strategi pemeriksaan rinci.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 14


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 11 Perencanaan Pemeriksaan LKPD :
Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan

11.2.2.11 Penyusunan Program Pemeriksaan Terinci / Substantif

Langkah-langkah penyusunan Program Pemeriksaan Terinci / Substantif


dijelaskan pada sub bab 11.3

11.3 Penyusunan Program Pemeriksaan Rinci


Setelah hasil pemeriksaan interim/pemeriksaan pendahuluan diperoleh,
langkah selanjutnya adalah melakukan perancangan dan penyusunan langkah-
langkah pemeriksaan dalam suatu program pemeriksaan untuk pengujian
substantif/rinci. Penyusunan langkah-langkah pemeriksaan berdasarkan strategi
pemeriksaan yang telah ditetapkan dalam tabel penilaian risiko sebagaimana
dilaporkan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Interim/Pemeriksaan Pendahuluan.

Permasalahan yang ditemukan dan dilaporkan dalam Laporan Hasil


Pemeriksaan Interim dipantau penyelesaiannya oleh Tim Pemeriksa. Hasil
pemantauan tersebut dituangkan dalam program pemeriksaan khususnya dalam
bagian Hasil Pemahaman Entitas dan Pemahaman SPI Entitas.
Selain itu, perkembangan atas penyelesaian permasalahan tersebut juga
menjadi dasar untuk memutakhirkan strategi pemeriksaan sebagaimana
dicantumkan dalam tabel penilaian risiko. Apabila masalah yang ditemukan belum
selesai ditindaklanjuti oleh entitas sampai dengan akhir pemeriksaan terinci, maka
Tim Pemeriksa harus mengungkapkan masalah tersebut dalam LHP atas
SPI/Kepatuhan dan menguji dampaknya terhadap penyajian LKPD yang akan
diberikan opini.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 15


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

BAB 12
PEMERIKSAAN ATAS BLUD

12.1 Gambaran Umum

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) merupakan


pertanggungjawaban operasional kegiatan Pemda, yang menyajikan akumulasi
transaksi-transaksi kas dan non kas selama satu tahun. Selain itu laporan
keuangan juga menyajikan hak dan kewajiban suatau Pemerintah Daerah serta
ekuitas dana pada suatu periode tertentu. Laporan Keuangan Pemda merupakan
konsolidasian dari satuan kerja – satuan kerja dibawahnya yang melakukan
kegiatan operasional dari sebagian tugas dan fungsi Pemda. Disamping SKPD
yang umum terdapat juga SKPD atau Unit Kerja pada SKPD di lingkungan
pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa
mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya
didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas yang dikenal dengan Badan
Layanan Umum (Daerah). Pola Pengelolaan Keuangan BLUD sesuai dengan PP
nomor 23 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum dan
Permendagri nomor 61 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum Daerah mempunyai kekhususan. Pola
Pengelolaan Keuangan BLUD yang selanjutnya disingkat PPK-BLUD adalah pola
pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk
menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan
kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa, sepagai pengecualian dari ketentuan
pengelolaan keuangan daerah pada umumnya. Dengan adanyan PPK-BLUD yang
memiliki pola pengelolaan keuangan berbeda dengan pola pengelolaan keuangan
pada umumnya, mengharuskan pemeriksa untuk melakukan langkah-langkah
pemeriksaan yang sedikit berbeda.
Atas kondisi-kondisi tersebut di atas dan untuk mendukung kegiatan
pemeriksaan laporan keuangan pemerintah daerah, buku pedoman ini
memasukkan juga prosedur-prosedur pemeriksaan tertentu terhadap LKPD yang
memiliki badan layanan umum (BLU).
Pola BLUD tersedia untuk diterapkan oleh setiap SKPD yang secara
fungsional menyelenggarakan kegiatan yang bersifat operasional. SKPD dimaksud
dapat berasal dari dan berkedudukan pada berbagai jenjang eselon atau non
eselon. Sehubungan dengan itu, organisasi dan struktur SKPD yang berkehendak

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

menerapkan PPK-BLUD kemungkinan memerlukan penyesuaian dengan


memperhatikan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Perundangan. BLUD
berperan sebagai agen dari Pemda induknya. Kedua belah pihak menandatangani
kontrak kinerja (a contractual performance agreement), di mana Kepala Daerah
induk bertanggung jawab atas kebijakan layanan yang hendak dihasilkan, dan
BLUD bertanggung jawab untuk menyajikan layanan yang diminta.

Dengan sifat-sifat tersebut, BLUD tetap menjadi satker pemerintah daerah


yang tidak dipisahkan. Dan karenanya, seluruh perdapatan yang diperolehnya dari
non APBD dilaporkan dan dikonsolidasikan dalam pertanggungjawaban APBD.
Dalam hal pengelolaan keuangannya Badan Layanan Umum Daerah
memiliki pola pengelolaan yang berbeda dengan SKPD pada umumnya. Hal yang
berbeda ini terutama mengenai Akuntansi dan Pelaporan pertanggungjawabannya.
Sistem Akuntansi dan laporan keuangan BLU diselenggarakan sesuai dengan
Standar Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi
Indonesia. Dalam hal tidak terdapat standar akuntansi tersebut, BLU dapat
menerapkan standar akuntansi industri yang spesifik setelah mendapat persetujuan
Menteri Keuangan, dan untuk saat ini Pedoman Akuntansi dan Pelaporan
Keuangan BLU mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan
No.76/PMK.05/2008.
Namun sebagai kekayaan daerah yang tidak dipisahkan maka Badan
Layanan Umum Daerah juga diharuskan untuk untuk melaksanakan Sistem
Akuntansi yang berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) sebagaimana
yang dilaksanakan oleh SKPD lainnya dalam pemerintah daerah induknya. Hal ini
perlu dilaksanakan agar Laporan Keuangan BLUD dapat dikonsolidasikan ke
laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

12.2 Lingkup Bahasan

Pedoman pemeriksaan keuangan pemerintah daerah yang memiliki BLUD


hanya membahas langkah-langkah pemeriksaan tambahan dalam rangka
menyakini LKPD yang memiliki BLUD, dikarenakan adanya konsolidasi laporan
keuangan BLUD dalam LKPD.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

12.3 Tujuan Pemeriksaan Satuan Kerja BLUD pada LKPD

Tujuan pemeriksaan satuan kerja BLUD pada LKPD adalah untuk


menyakinkan bahwa LKPD tidak mengandung salah saji yang material pada akun-
akun BLUD.

12.4 Pengelolan dan Pelaporan Keuangan BLUD

BLUD beroperasi sebagai perangkat kerja pemerintah daerah untuk tujuan


pemberian layanan umum secara lebih efektif dan efisien sejalan dengan praktek
bisnis yang sehat, yang pengelolaannya dilakukan berdasarkan kewenangan yang
didelegasikan oleh kepala daerah. BLUD merupakan bagian dari perangkat
pemerintah daerah yang dibentuk untuk membantu pencapaian tujuan pemerintah
daerah, dengan status hukum tidak terpisah dari pemerintah daerah. Kepala
daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan
pelayanan umum yang didelegasikan kepada BLUD terutama pada aspek manfaat
yang dihasilkan.
Pejabat pengelola BLUD bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan
pemberian layanan umum yang didelegasikan oleh kepala daerah. Dalam
pelaksanaan kegiatan, BLUD harus mengutamakan efektivitas dan efisiensi serta
kualitas pelayanan umum kepada masyarakat tanpa mengutamakan pencarian
keuntungan. Rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja
BLUD disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rencana
kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja pemerintah daerah. Dalam
menyelenggarakan dan meningkatkan layanan kepada masyarakat, BLUD
diberikan fleksibilltas dalam pengelolaan keuangannya.
PPK-BLUD bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat
untuk mewujudkan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintah dan/atau pemerintah
daerah dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan
bangsa. Penerapan PPK-BLUD pada SKPD atau Unit Kerja, harus memenuhi
persyaratan substantif, teknis, dan admlnistratif. Persyaratan substantif
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 terpenuhi apabila tugas dan fungsi SKPD
atau Unit Kerja bersifat operasional dalam menyelenggarakan pelayanan umum
yang menghasilkan semi barang/jasa publik (quasipublic goods).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

Sebagaimana layaknya unit organisasi Pemerintah Daerah, maka tahapan


pengelolaan keuangan BLUD terdiri dari tahap penganggaran, tahap pelaksanaan
tata usaha keuangan dan akuntansi, dan kemudian tahapan penyusunan
pertanggungjawaban dan laporan keuangan.
12.4.1 Tahap Penganggaran
Penganggaran BLUD dimulai dari tahap penyusunan Rencana Bisnis dan
Anggaran (RBA). RBA adalah dokumen perencanaan bisnis dan penganggaran
yang berisi program, kegiatan, target kinerja, dan anggaran suatu BLU. RBA
disusun berdasarkan berdasarkan prinsip anggaran berbasis kinerja, perhitungan
akuntansi biaya menurut jenis layanan, kebutuhan pendanaan dan kemampuan
pendapatan yang diperkirakan akan diterima dari masyarakat, badan lain, APBD,
APBN dan sumber-sumber pendapatan BLUD lainnya. RBA merupakan
penjabaran lebih lanjut dari program dan kegiatan BLUD dengan berpedoman pada
pengelolaan keuangan BLUD dan memuat:
1) kinerja tahun berjalan;
2) asumsi makro dan mikro;
3) target kinerja;
4) analisis dan perkiraan biaya satuan;
5) perkiraan harga;
6) anggaran pendapatan dan biaya;
7) besaran persentase ambang batas;

8) prognosa laporan keuangan;


9) perkiraan maju (forward estimate);
10) rencana pengeluaran investasi/modal; dan

11) ringkasan pendapatan dan biaya untuk konsolidasi dengan RKA-


SKPD/APBD.
Untuk BLUD-SKPD, RBA disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD, sedangkan untuk BLUD-Unit
Kerja, RBA disusun dan dikonsolidasikan dengan RKA-SKPD. RBA sebagaimana
dimaksud dimuka dipersamakan sebagai RKASKPD/RKA-Unit Kerja. Selanjutnya
RBA BLUD-SKPD disampaikan kepada PPKD dan RBA BLUD-Unit Kerja

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

disampaikan kepada Kepala SKPD untuk dibahas sebagai bagian dari


RKA-SKPD yang pada akhirnya disampaikan kepada PPKD. RBA tersebut atau
RKA-SKPD beserta RBA oleh PPKD disampaikan kepada TAPD untuk dilakukan
penelaahan. RBA yang telah dilakukan penelaahan oleh TAPD disampaikan
kepada PPKD untuk dituangkan dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang
APBD.

Setelah Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dltetapkan menjadi


Peraturan Daerah, pemimpin BLUD melakukan penyesuaian terhadap RBA untuk
ditetapkan menjadi RBA definitif. RBA definitif dipakai sebagai dasar penyusunan
DPA-BLUD untuk diajukan kepada PPKD.
12.4.2 Tahap Pelaksanaan Anggaran
DPA-BLUD mencakup antara lain:

1) pendapatan dan biaya;


2) proyeksi arus kas;
3) jumlah dan kualitas barang dan/atau jasa yang akan dihasilkan.
PPKD mengesahkan DPA-BLUD sebagai dasar pelaksanaan anggaran.
Dalam hal DPA-BLUD belum disahkan oleh PPKD, BLUD dapat melakukan
pengeluaran uang setinggi-tingginya sebesar angka DPA-BLUD tahun sebelumnya.
DPA-BLUD yang telah disahkan oleh PPKD menjadi dasar penarikan dana yang
bersumber dari APBD. Penarikan dana tersebut digunakan untuk belanja pegawai,
belanja modal, barang dan/atau jasa. DPA-BLUD menjadi lampiran perjanjian
kinerja yang ditandatangani oleh kepala daerah dengan pemimpin BLUD.
Perjanjian kinerja merupakan manifestasi hubungan kerja antara kepala daerah
dan pemimpin BLUD, yang dituangkan dalam perjanjian kinerja (contractual
performance agreement).
Dalam perjanjian kinerja, kepala daerah menugaskan pemimpin BLUD untuk
menyeienggarakan kegiatan pelayanan umum dan berhak mengelola dana sesuai
yang tercantum dalam DPA-BLUD. Perjanjian kinerja antara lain memuat:
1) kesanggupan untuk meningkatkan:
2) kinerja pelayanan bagi masyarakat;

3) kinerja keuangan;
4) manfaat bagi masyarakat.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

Pelaksanaan Anggaran BLUD berpedoman kepada Peraturan Menteri


Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Badan
Layanan Umum Daerah.

12.4.3 Tahap Akuntansi dan Konsolidasi Pelaporan Keuangan


BLUD sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum dan
Permendagri nomor 61 tahun 2007 berkewajiban menerapkan sistem informasi
manajemen keuangan sesuai dengan kebutuhan dan praktek bisnis yang sehat.
Akuntansi dan laporan keuangan BLUD diselenggarakan sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia.
Penyelenggaraan akuntansi dan laporan keuangan menggunakan basis akrual baik
dalamm pengakuan pendapatan, biaya, aset, kewajiban dan ekuitas dana. BLUD
mengembangkan dan menerapkan sistem akuntansi dengan berpedoman pada
standar akuntansi yang berlaku untuk BLUD yang bersangkutan dan ditetapkan
oleh kepala daerah dengan peraturan daerah.
Dalam rangka penyelenggaraan akuntansi dan pelaporan keuangan
berbasis akrual tersebut, pemimpin BLUD menyusun kebijakan akuntansi yang
berpedoman pada standar akuntansi sesuai jenis layanannya. Kebijakan akuntansi
dimaksud digunakan sebagai dasar dalam pengakuan, pengukuran, penyajian dan
pengungkapan aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan dan biaya.
Laporan keuangan BLUD terdiri dari :
1) neraca yang menggambarkan posisi keuangan mengenai aset, kewajiban,
dan ekuitas dana pada tanggal tertentu;
2) laporan operasional yang berisi informasi jumlah pendapatan dan biaya
BLUD selama satu periode;
3) laporan arus kas yang menyajikan informasi kas berkaitan dengan aktivitas
operasional, investasi, dan aktivitas pendanaan dan/atau pembiayaan yang
menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran dan saldo akhir kas
selama periode tertentu;
4) catatan atas laporan keuangan yang berisi penjelasan naratif atau rincian dari
angka yang tertera dalam laporan keuangan.
Laporan keuangan BLUD disertai dengan laporan kinerja yang berisikan
informasi pencapaian hasil/keluaran BLUD. Penyusunan laporan keuangan BLUD
untuk kepentingan konsolidasi dilakukan berdasarkan standar akuntansi
pemerintah. Konsolidasi laporan keuangan dapat dilakukan jika digunakan prinsip-

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

prinsip akuntansi yang sama. BLUD menggunakan SAK sedangkan laporan


keuangan pemerintah daerah menggunakan SAP, karena itu BLUD
mengembangkan sub sistem akuntansi yang mampu menghasilkan laporan
keuangan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Komponen Laporan Keuangan
BLUD yang dikonsolidasikan ke dalam LKPD meliputi Laporan Realisasi
Anggaran/Laporan Operasional dan Neraca. Sistem akuntansi BLUD memproses
semua pendapatan dan belanja BLUD, baik yang bersumber dari pendapatan
usaha dari jasa layanan, hibah, pendapatan APBD, dan pendapatan usaha lainnya.
Sehingga laporan keuangan yang dihasilkan sistem akuntansi tersebut mencakup
seluruh transaksi keuangan pada BLUD.
Dalam hal sistem akuntansi keuangan BLUD belum dapat menghasilkan
laporan keuangan untuk tujuan konsolidasi dengan LKPD, BLUD perlu melakukan
konversi laporan keuangan BLUD berdasarkan SAK ke dalam laporan keuangan
berdasarkan SAP. Proses konversinya mencakup pengertian, klasifikasi,
pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan atas akun-akun neraca dan laporan
aktivitas/operasi.
Pada umumnya, pengertian akun-akun menurut SAK tidak jauh berbeda
dengan SAP. Apabila ada pengertian yang berbeda, maka untuk tujuan konsolidasi
pengertian akun menurut SAP, yaitu berdasarkan PP No. 24 Tahun 2005.
SAK menggunakan basis akrual dalam pengakuan aset, kewajiban, ekuitas,
pendapatan, dan biaya. Pendapatan diakui pada saat diterima atau hak untuk
menagih timbul sehubungan dengan adanya barang/jasa yang diserahkan kepada
masyarakat. Biaya diakui jika penurunan manfaat ekonomi masa depan yang
berkaitan dengan penurunan aset atau peningkatan kewajiabn telah terjadi dan
dapat diukur dengan handal. Ini berarti pengakuan biaya terjadi bersamaan dengan
pengakuan kenaikan kewajiban atau penurunan aset misalnya, akrual hak
karyawan atau penyusutan aset tetap.

SAP menggunakan basis akrual dalam pengakuan aset, kewajiban dan


ekuitas serta basis kas dalam pengakuan pendapatan dan belanja. Pendapatan
diakui pada saat kas diterima pada rekening Bendahara Umum Daerah. Belanja
diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari rekening BUD dan
dipertanggungjawabkan.
Pendapatan (tidak termasuk pendapatan yang ditransfer dari APBD) dan
belanja BLUD diakui jika pendapatan dan belanja tersebut dilaporkan dengan
mekanisme SPM dan SP2D Pengesahan atas pendapatan dan belanja tersebut.
Belanja yang didanai dari pendapatan BLUD diakui sebagai belanja oleh
Bendahara Umum Daerah jika belanja tersebut telah dilaporkan dengan
mekanisme SPM dan SP2D Pengesahan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

Untuk kepentingan konsolidasi dengan LKPD, perlu dilakukan penyesuaian


atas akun pendapatan dan belanja yang berbasis akrual menjadi akun pendapatan
dan belanja berbasis kas.

Formula penyesuaian pendapatan dan belanja berbasis akrual menjadi


berbasis kas adalah sebagai berikut.
1) Pendapatan Berbasis kas = Pendapatan + pendapatan diterima di muka –
pendapatan yang harus diterima.
2) Belanja berbasis Kas = Biaya BLUD - Biaya yang dibayar tidak tunai
termasuk penyusutan + utang biaya yang dibayar + biaya dibayar di muka.

Konversi data realisasi belanja operasional BLUD:


1) yang akan di konversi adalah belanja operasi BLUD yang dibayar secara kas;
2) belanja yang sumber dananya berasal dari APBD tidak dilakukan konversi;
3) belanja operasi yang di akui secara akrual tidak dikonversi;
4) belanja operasi dikonversi kedalam perkiraan khusus belanja operasi (dalam
jenis belanja barang dan jasa).

Konversi data realisasi pendapatan operasional BLUD :


1) yang akan di konversi adalah pendapatan operasi BLUD yang dibayar secara
kas;

2) pendapatan yang berasal dari APBD tidak dibukukan;


3) pendapatan operasi yang di akui secara akrual tidak dikonversi;
4) pendapatan operasi dikonversi kedalam perkiraan khusus pendapatan operasi.

Pengungkapan laporan keuangan sesuai dengan SAP harus mengikuti


persyaratan sesuai dengan PP No. 24 Tahun 2005. Konsolidasi LK BLUD ke dalam
LKPD dilakukan secara berkala setiap semester dan tahunan. Laporan keuangan
yang dikonsolidasikan terdiri dari neraca, laporan realisasi anggaran.
12.4.4 Dasar Hukum dan Dokumen Sumber BLU
Dasar Hukum Pengelolaan BLU:

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

1) UU 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.


2) UU 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
3) PP 23 Tahun 2005 tentang Badan Layanan Umum.
4) PP 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah.
5) Permendagri Nomor 61 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan
Badan Layanan Umum Daerah.

6) Peraturan Daerah terkait yang mengatur tentang penetapan SKPD atau unit
organisasi dalam SKPD menerapkan PPK-BLUD serta pedoman pengelolaan
keuangan BLUD terkait.

12.5 Prosedur Pemeriksaan Tambahan Atas Satuan Kerja Badan


Layanan Umum Daerah Sebagai Entitas Akuntansi

12.5.1 Langkah Tambahan Pemahaman Pengendalian Intern Satuan Kerja


Badan Layanan Umum
Pemahaman pengendalian intern atas Satker BLUD sebagai entitas akuntansi
merupakan bagian dari pemahanan pengendalian intern pemerintah daerah dalam
menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Oleh karena itu pemahaman
atas pengendalian intern Satker BLUD mutlak dibutuhkan, dalam rangka
menentukan efektifitas pengendalian intern yang ada secara keseluruhan.
Pengendalian intern utama yang harus dipahami oleh pemeriksa sehubungan
dengan proses penyusunan laporan keuangan BLUD berdasarkan SAP adalah
proses konversi Laporan keuangan BLUD yang disusun berdasarkan SAK
kmenjadi laporan keuangan BLUD berdasarkan SAP dan berikutnya proses
konsolidasinya ke dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Langkah-langkah
tambahan pemahaman pengendalian intern proses tersebut adalah sebagai
berikut.

No Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

1. Organisasi

a. Apakah jajaran pimpinan entitas BLUD telah memahami


sepenuhnya tanggung jawab pengendalian yang mereka
miliki terkait proses konversi LK BLUD ?

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

No Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

b. Bagaimana kelengkapan struktur organisasi yang dimiliki


entitas BLUD dan kemampuannya dalam meyediakan
arus informasi yang diperlukan untuk mengelola kegiatan
operasional BLUD dan penyusunan LK BLUD ?
c. Apakah jajaran pimpinan entitas memiliki pengetahuan,
pengalaman dan pelatihan dalam rangka proses konversi
laporan keuangan BLUD ?
d. Apakah terdapat jumlah personil yang memadai baik dari
segi jumlah maupun kemampuan sehubungan proses
konversi Laporan keuangan BLUD ?

2. Kebijaksanaan

a. Apakah manajemen memandang penting fungsi


pengolahan data, fungsi akuntansi, keandalan laporan
keuangan dan perlindungan terhadap kekayaan entitas?
b. Apakah fungsi akuntansi dipandang hanya sebagai unit
pencatat atau sebagai alat untuk menguji pengendalian
atas berbagai aktivitas entitas?

3. Personalia

a. Apakah setiap personil Satker BLUD menyadari tanggung


jawab dan ekspektasi terhadap mereka sehubungan
dengan PPK-BLUD ?
b. Apakah personil baru Satker BLUD diberikan pengertian
tentang tanggung jawab dan ekspektasi terhadap mereka
sehubungan dengan PPK-BLUD ?

4. Prosedur

a. Mereviu pencatatan atas transaksi, dengan menguji


apakah:
1) Apakah setiap transaksi BLUD telah diklasifikasi dan
dicatat secara memadai guna mendukung
pengendalian operasi dan pengambilan keputusan,
2) Apakah pengklasifikasian dan pencatatan tersebut
telah meliputi seluruh siklus mulai dari otorisasi,
inisiasi, pemrosesan sampai dengan klasifikasi final
dalam pencatatan secara keseluruhan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

No Pemahaman SPI Ya Tidak Catatan

5. Pembukuan dan Pencatatan

Apakah setiap transaksi telah diklasifikasi dan dicatat secara


memadai guna mendukung proses konversi LK BLUD ?

6. Pengawasan

a. Apakah internal auditor BLUD memiliki pengetahuan PPK-


BLU yang memadai?
b. Apakah internal auditor BLUD dilibatkan dalam proses
pelaksanaan Konversi Laporan Keuangan BLU?

12.5.2 Langkah-langkah Pemeriksaan Proses Konversi LK BLUD berdasarkan


SAK ke LK BLUD berdasarkan SAP
1) Dapatkan Laporan Keuangan BLUD berdasarkan SAK serta standar
penyusunan Laporan Keuangan BLUD tersebut dan dapatkan laporan
keuangan berdasarkan SAP pada Satker BLUD.
2) Dapatkan kertas kerja Konversi Akun BLUD ke Akun SAI sebagaimana yang
dianut LKPD.
3) Uji proses konversi dengan menguji akun-akun BLUD yang telah di konversi
ke Akun SAI sesuai dengan ketentuan yang ada. dan telusuri pemindahan
angka-angka akun BLUD berdasarkan SAK ke Akun BLUD berdasarkan SAP
tersebut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

Tabel 12.1
Ikhtisar Pengujian Tambahan untuk Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Saldo/Transaksi Satker BLUD
Pengujian Subtantif
Resiko Terhadap
Pengujian Pengendalian Tambahan atas Saldo
No Akun Tujuan Pengujian Pengendalian Kunci Penyajian Laporan
Intern dan Pengujian Subtantif
Keuangan
atas Transaksi
1 2 3 4 5 6 7
1 Kas di BLUD Mengetahui dan Terdapat Kebijakan Reviu kebijakan akuntansi a. Salah saji (overstated Uji subtantif :
meyakinkan saldo kas akuntansi, sistem dan terkait, juga ketentuan lain dan understated)
Rekonsiliasi antara saldo
BLUD yang tercantum prosedur penyusunan dengan penyajian dan (Mutasi saldo kas
menurut rekening koran
pada neraca Satker konversi laporan pengungkapan saldo kas, menurut laporan
dengan saldo dana lancar
BLUD berdasarkan keuangan BLUD dari apakah telah sesuai dengan keuangan BLUD
menurut SPM dan SP2D
SAP telah disajikan SAK ke SAP. standar akuntansi didasarkan SAP
pengesahan.
sesuai dengan pemerintahan. Reviu didasarkan atas
standar yang ada pelaksanaan penyusunan penerbitan SPM dan Lakukan pemeriksaan
(Penyajian dan konversi laporan keuangan SP2D Pengesahan). batas waktu untuk
Pengungkapan). BLUD dan verifikasi internal transaksi yang termuat
b. Saldo Kas yang
untuk memastikan bahwa dalam SPM dan SP2D
disajikan tidak sesuai
pengungkapan atas Pengesahan pada triwulan
dengan SAP (PP24
penyajian saldo kas telah ke-4.
Tahun 2005) dan
sesuai dengan SAP.
Peraturan Lainnya.
2 Piutang Mengetahui dan Terdapat Kebijakan Reviu kebijakan akuntansi Nilai Piutang yang disajikan Uji subtantif Saldo: Teliti
BLUD meyakinkan saldo akuntansi, sistem dan terkait, juga ketentuan lain lebih rendah dari daftar penerimaan kas dan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 12


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

Pengujian Subtantif
Resiko Terhadap
Pengujian Pengendalian Tambahan atas Saldo
No Akun Tujuan Pengujian Pengendalian Kunci Penyajian Laporan
Intern dan Pengujian Subtantif
Keuangan
atas Transaksi
1 2 3 4 5 6 7
Piutang BLUD yang prosedur penyusunan dengan penyajian dan seharusnya (Penyajian cermati seluruh
tercantum pada konversi laporan pengungkapan saldo Piutang, Piutang menurut SAK pembayaran yang terkait
neraca Satker BLUD keuangan BLUD dari apakah telah sesuai dengan memperhitungkan dengan pembayaran
berdasarkan SAP SAK ke SAP. standar akuntansi penyisihan sedangkan SAP piutang telah
telah disajikan sesuai pemerintahan. Reviu berdasarkan nilai diperhitungkan sebagai
dengan standar yang pelaksanaan penyusunan tagihan/surat penagihan). pengurang saldo piutang,
ada (Penyajian dan konversi laporan keuangan penerimaan pembayaran
Pengungkapan). BLUD dan verifikasi internal yang mengurangi saldo
untuk memastikan bahwa piutang adalah yang telah
pengungkapan atas diajukan SPM dan SP2D
penyajian saldo kas telah Pengesahan.
sesuai dengan SAP.

3 Persediaan Persediaan telah Terdapat prosedur a. Teliti apakah persediaan Persediaan yang disajikan Dalam pemeriksaan fisik
BLUD diklasifikasikan sesuai pemeriksaan fisik yang diperoleh dicatat dalam Laporan keuangan atas persediaan akhir,
dengan Standar persediaan secara dengan menggunakan BLUD berdasarkan SAK inventarisir jumlah
Akuntansi reguler dan telah identifikasi yang tidak memisahkan antara persediaan yang rusak,
Pemerintahan direkonsiliasi dengan memadai. persediaan yang rusak kadaluarsa dan hilang.
(Klasifikasi). catatan persediaan. atau persediaan yang tidak Bandingkan dengan
b. Teliti apakah terdapat
diperlukan lagi dalam catatan persediaan yang
prosedur untuk
operasioanl kegiatan, akan ada.
persediaan yang rusak,
tetapi mendasari pada net
kedaluarsa dan hilang
realize value dari
dan dapatkan dokumen
persediaan. Sedangkan
pencatatan atas kondisi

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 13


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

Pengujian Subtantif
Resiko Terhadap
Pengujian Pengendalian Tambahan atas Saldo
No Akun Tujuan Pengujian Pengendalian Kunci Penyajian Laporan
Intern dan Pengujian Subtantif
Keuangan
atas Transaksi
1 2 3 4 5 6 7
persediaan tersebut. Persediaan yang disajikan
dalam laporan Keuangan
BLUD berdasarkan SAP.
memisahkan klasifikasi
persediaan yang masih
digunakan dengan
persediaan yang tidak bisa
digunakan.
Mengetahui dan Terdapat prosedur Reviu kebijakan akuntansi Salah saji (understated, Uji Subtantif terhadap
meyakinkan bahwa pencatatan dan terkait dengan penyajian dikarenakan dokumen Saldo:
saldo persediaan pengikhtisaran atas saldo persediaan dan telaah sumber mutasi tambah dan
a. Reviu apakah terdapat
sudah sesuai dengan penyajian persediaan kesesuaiannya dengan kurang persediaan menurut
jumlah mutasi tambah
standar akuntansi pada saat penyusunan standar akuntansi SAK berbeda dengan
dan kurang. Jika ada
pemerintahan konversi laporan pemerintahan. Reviu menurut SAP, menurut
telusuri lebih lanjut.,
(Penyajian dan keuangan BLUD pelaksanaan penyusunan SAP mutasi persediaan
minta bukti pendukung
Pengungkapan) sehingga Memo konversi laporan keuangan didasarkan atas penerbitan
penerimaan dan
Penyesuaian (MP) yang BLUD dan verifikasi internal SPM dan SP2D
pengeluaran
disusun sesuai dengan untuk memastikan bahwa Pengesahan.)
persediaan serta
standar Akuntansi pengungkapan atas
telusuri data
Pemerintahan penyajian saldo persediaan
penambahan dan
telah memadai
pengurangan
berdasarkan penerbitan
SPM dan SP2D

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 14


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

Pengujian Subtantif
Resiko Terhadap
Pengujian Pengendalian Tambahan atas Saldo
No Akun Tujuan Pengujian Pengendalian Kunci Penyajian Laporan
Intern dan Pengujian Subtantif
Keuangan
atas Transaksi
1 2 3 4 5 6 7
Pengesahan.
b. Dapatkan data semua
persediaan pada
satker, lakukan secara
berjenjang.
c. Lakukan pengujian
tambah kurang atas
perhitungan saldo dan
cek ke buku
Pendukung
d. Lakukan pemeriksaan
batas waktu untuk
transaksi yang termuat
dalam SPM dan SP2D
Pengesahan pada
triwulan ke 4, apakah
terdapat transaksi
penambahan
persediaan yang
berasal tidak pada
tahun yang berkenan.
4 Aset Tetap Aset tetap telah Penggunaan bagan a. Teliti apakah aset tetap Aset tetap (kecuali tanah) Dalam pemeriksaan fisik

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 15


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

Pengujian Subtantif
Resiko Terhadap
Pengujian Pengendalian Tambahan atas Saldo
No Akun Tujuan Pengujian Pengendalian Kunci Penyajian Laporan
Intern dan Pengujian Subtantif
Keuangan
atas Transaksi
1 2 3 4 5 6 7
BLUD diklasifikasikan akun yang memadai, yang diperoleh dicatat yang disajikan dalam atas Aset tetap (kecuali
(Kecuali dengan pantas serta telah melalui reviu dengan menggunakan Laporan keuangan BLUD tanah), inventarisir jumlah
Tanah) (Klasifikasi). dan verifikasi intern identifikasi yang berdasarkan SAK tidak Aset tetap yang tidak
pada saat konversi memadai. memisahkan antara aset dimanfaatkan dan aset
laporan keuangan BLUD tetap yang rusak atau aset tetap yang masih
b. Teliti apakah terdapat
sehingga Memo tetap yang masih dimanfaatkan dalam
prosedur untuk aset tetap
Penyesuaian (MP) yang dimanfaatkan dalam kegiatan operasional
yang rusak, kedaluarsa
disusun sesuai dengan operasional kegiatan. dan/atau hilang,
dan hilang dan dapatkan
Standar Akuntansi Sedangkan Aset tetap bandingkan dengan
dokumen pencatatan atas
Pemerintahan. yang disajikan dalam catatan aset tetap (kecuali
kondisi aset tetap
laporan Keuangan BLUD tanah) yang ada.
tersebut.
berdasarkan SAP
c. Teliti apakah pembuatan memisahkan klasifikasi
Memo Penyesuaian telah aset tetap yang masih
memperhatikan hasil digunakan dengan aset
klasifikasi aset tetap tetap yang tidak bisa
berdasarkan SAP. digunakan.
Mengetahui dan Terdapat prosedur Reviu kebijakan akuntansi Salah saji (understated, Uji Subtantif terhadap
meyakinkan bahwa pencatatan dan terkait dengan penyajian dikarenakan saldo Aset Saldo:
saldo aset tetap pengikhtisaran atas saldo Aset tetap (kecuali tetap (kecuali Tanah)
Teliti apakah saldo aset
(Kecuali tanah) sudah penyajian Aset tetap tanah) dan telaah dalam laporan keuangan
tetap (kecuali tanah) yang
sesuai dengan pada saat penyusunan kesesuaiannya dengan BLUD berdasarkan SAK
disajikan dalam laporan
standar akuntansi konversi laporan standar akuntansi disajikan setealh dikurangi
keuangan BLUD

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 16


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

Pengujian Subtantif
Resiko Terhadap
Pengujian Pengendalian Tambahan atas Saldo
No Akun Tujuan Pengujian Pengendalian Kunci Penyajian Laporan
Intern dan Pengujian Subtantif
Keuangan
atas Transaksi
1 2 3 4 5 6 7
pemerintahan keuangan BLUD, pemerintahan. Reviu dengan nilai penyusutan, berdasarkan SAP tanpa
(Penyajian dan sehingga Memo pelaksanaan penyusunan sedangkan saldo aset tetap dikurangi penyusutan atas
pengungkapan). Penyesuaian (MP) yang konversi laporan keuangan (kecuali tanah) disajikan aset tetap tersebut.
disusun sesuai dengan BLUD dan verifikasi internal tanpa dikurangi dengan
standar Akuntansi untuk memastikan bahwa penyusutan.
Pemerintahan. pengungkapan atas
penyajian saldo Aset tetap
(kecuali tanah) telah
memadai.
5 Pendapatan Pendapatan yang Terdapat prosedur Teliti apakah terdapat Pendapatan yang disajikan Lakukan pengujian pisah
Badan disajikan sudah pencatatan dan verifikasi intern terhadap overstated (Dalam batas atas transaksi
Layanan sesuai dengan pengendalian atas transaksi pendapatan BLUD mengajukan SPM dan penerimaan yang diajukan
Umum periode berkenan. realisasi pendapatan pada saat pengajuan SPM SP2D Pengesahan, Satker dalam SPM dan SP2D
pada saat konversi dan SP2D Pengesahan. BLUD diberikan waktu pengesahan pada
laporan keuangan paling lambat 10 hari triwulan ke-4 dengan
BLUD. setelah triwulan berakhir). bukti-bukti pendukungnya.
Seluruh Pendapatan Terdapat prosedur Teliti apakah terdapat Pendapatan yang disajikan Lakukan pengujian atas
BLUD berdasarkan pencatatan dan verifikasi intern terhadap undersatated, karena SPM dan SP2D
SAP telah disajikan. pengendalian atas transaksi pendapatan BLUD terdapat pendapatan yang Pengesahan berserta
realisasi pendapatan pada saat pengajuan SPM belum dimasukkan dalam dokumen-dokumen
pada saat konversi dan SP2D Pengesahan. SPM dan SP2D pendukungnya telusuri ke
laporan keuangan BLUD Pengesahan. buku-buku catatan yang
dan penyusunan SPM ada.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 17


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

Pengujian Subtantif
Resiko Terhadap
Pengujian Pengendalian Tambahan atas Saldo
No Akun Tujuan Pengujian Pengendalian Kunci Penyajian Laporan
Intern dan Pengujian Subtantif
Keuangan
atas Transaksi
1 2 3 4 5 6 7
dan SP2D Pengesahan.
Pendapatan yang Penggunaan bagan Teliti apakah terdapat Klasifikasi pendapatan Telusuri klasifikasi
disajikan tidak sesuai akun yang memadai, verifikasi intern terhadap yanga disajikan tidak Pendapatan BLUD
dengan klasifikasinya serta telah melalui reviu proses pengikhtisaran serta sesuai dengan ketentuan berdasarkan SAP ke
(dalam BLUD dan verifikasi intern klasifikasi atas transaksi yang ada (Penerimaan dokumen sumber
penerimaan BLUD pada saat konversi pendapatan BLUD pada saat BLUD dari operasional penerimaan BLUD
dibedakan antara laporan keuangan pengajuan penyusunan layanan, diklasifikasikan berdasarkan SAP (SPM
penerimaan BLUD. Konversi laporan Keuangan sebagai pendapatan dan SP2D Pengesahan)
operasional dan non BLUD. layanan). berikut bukti-bukti
operasional, khusus pendukungnya.
untuk BLUD bertahap
terdapat kewajiban
untuk menyetorkan
sebagian
penerimaannya
sebagai pendapatan
PNBP).
6 Belanja Belanja BLUD yang Terdapat prosedur Teliti apakah terdapat Belanja yang disajikan Lakukan pengujian pisah
Badan disajikan sudah pencatatan dan verifikasi intern terhadap overstated (Dalam batas atas transaksi
Layanan sesuai dengan pengendalian atas transaksi Belanja BLUD pada mengajukan SPM dan penerimaan yang diajukan
Umum periode berkenan. realisasi Belanja pada saat pengajuan SPM dan SP2D Pengesahan, Satker dalam SPM dan SP2D
saat konversi laporan SP2D Pengesahan. BLUD diberikan waktu pengesahan pada
keuangan BLUD dan paling lambat 10 hari triwulan ke 4 beserta bukti-

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 18


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 12 Pemeriksaan Atas BLUD

Pengujian Subtantif
Resiko Terhadap
Pengujian Pengendalian Tambahan atas Saldo
No Akun Tujuan Pengujian Pengendalian Kunci Penyajian Laporan
Intern dan Pengujian Subtantif
Keuangan
atas Transaksi
1 2 3 4 5 6 7
penyusunan SPM dan setelah triwulan berakhir). bukti pendukungnya.
SP2D Pengesahan.

Seluruh Belanja Terdapat prosedur Teliti apakah terdapat Belanja yang disajikan Lakukan pengujian atas
BLUD berdasarkan pencatatan dan verifikasi intern terhadap undersatated, karena SPM dan SP2D
SAP telah disajikan pengendalian atas transaksi belanja BLUD pada terdapat belanja yang Pengesahan berserta
realisasi Belanja pada saat pengajuan SPM dan belum dimasukkan dalam dokumen-dokumen
saat konversi laporan SP2D Pengesahan. SPM dan SP2D pendukungnya telusuri ke
keuangan BLUD dan Pengesahan. buku-buku catatan yang
penyusunan SPM dan ada.
SP2D Pengesahan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 19


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

BAB 13
FREQUENTLY ASKED QUESTIONS (FAQ)

Dalam Bab-bab sebelumnya telah diungkapkan secara teknis mengenai


pemeriksaan LKPD dan sebagai pelengkap buku Panduan Pemeriksaan LKPD,
dipandang perlu untuk melengkapi dengan berbagai permasalahan yang sering
dijumpai dalam pemeriksaan LKPD beserta solusinya. Permasalahan tersebut
sebagai berikut:

AKUN-AKUN NERACA
Aset lancar
1. Potongan yang dipungut bendaharawan daerah yang belum disetor.

2. Potongan PFK masih tersimpan di Bendahara Umum Daerah.

3. Kasus kas tekor.

4. Bagaimana pengakuan piutang dalam pemeriksaan LKPD ?

5. Peraturan Gubernur tentang alokasi bagi hasil pajak terbit pada awal tahun
20xx + 1.
6. Pengakuan piutang pajak bila SKPD belum terbit.

7. SKRD tidak diterbitkan, sehingga piutang retribusi di neraca tidak dicatat.

8. Metode Pencatatan Penyertaan Modal Pemda yang lebih dari 20%.

9. Penyertaan Modal belum disertai dengan bukti kepemilikan.

10. Waktu paling lambat Perda penyertaan modal.

11. Penggunaan metode penilaian investasi apakah sudah harus sesuai SAP?

12. Apakah kalau APBD defisit pemda diperkenankan melakukan penyertaan


modal?
13. Bentuk-bentuk setoran modal.

14. Permasalahan material yang terdapat pada Aset Tetap yang diperoleh sampai
dengan tanggal Neraca Awal.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

15. Aset tanah tanpa bukti kepemilikan namun dikuasai oleh Pemda dan aset tanh
diakui milik Pemda tetapi dikuasai oleh pihak lain.
16. Penyajian dalam Neraca dan pengaruhnya terhadap pemberian opini atas Aset
yang mempunyai nilai Rp1,00.
17. Pengakuan aset atas pertanggungjawaban biaya pendidikan apakah diakui
sebagai aset tetap definitif baik dianggarkan dari belanja modal maupun belanja
hibah.
18. Pengakuan aset yang dihibahkan yang anggarannya berasal dari belanja modal
tetapi belum dihapuskan.
19. prosedur pemeriksaan dan perlakuan akuntansi atas pembentukan Dana
Cadangan oleh Pemerintah Daerah.

Aset lancar
20. Kerugian daerah belum didukung dokumen SKTJM dan SK Pembebanan.

AKUN-AKUN LRA
Pendapatan
21. Penyajian dalam Laporan Keuangan atas setoran bagian laba BUMD yang
terlambat.
22. Insentif pemungutan pajak dan retribusi daerah dibagikan kepada pihak-pihak
di luar instansi pelaksana seperti lembaga perwakilan/instansi vertikal/muspida?
23. Insentif bagian PLN dibagikan kembali kepada pejabat dan pegawai instansi
pemungut.
24. Apakah para Asisten Sekda, Inspektorat, dan Bagian Hukum berhak untuk
mendapatkan insentif ?
25. Apakah penerima insentif pajak dan retribusi daerah termasuk seluruh bidang di
SKPD Keuangan Daerah atau hanya yang membidangi Pajak dan Retribusi
saja.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

26. Besaran insentif pemungutan pajak dan retribusi daerah melebihi ketentuan
yang berlaku.
27. Penganggaran dan pertanggungjawaban insentif pemungutan pajak dan
retribusi daerah.
28. Anggaran belanja daya dan jasa tidak cukup tersedia dalam DPA, Pemda
mengkompensasi penerimaan PPJU dengan kekurangan belanja daya dan jasa
tersebut.
29. Anggaran belanja daya dan jasa tidak cukup tersedia dalam DPA, Pemda
mengkompensasi penerimaan PBBKB dengan kekurangan belanja daya dan
jasa tersebut.
30. Sisa dana pelayanan kesehatan program jamkesmas yang sampai akhir tahun
masih tersimpan di rekening dana jamkesmas diakui sebagai pendapatan
RSUD.
31. Sisa dana pelayanan kesehatan program jamkesda dari Provinsi ke RS-RS
Kabupaten yang sampai akhir tahun masih tersimpan di rekening dana
jamkesda diakui sebagai pendapatan RSUD.
32. Beberapa masalah terkait penggunaan langsung penerimaan klaim
askes/jamkesmas.
33. Saat pendapatan dari program Jamkesmas diakui oleh RSUD.

34. Jasa giro dari dana jamkesmas yang ada di rekening transitoris diakui sebagai
pendapatan RSUD.
35. Klaim yang sudah diajukan RSUD tapi belum disahkan verifikator independen
diakui sebagai piutang.
36. Sisa dana pelayanan kesehatan program jamkesmas yang sampai akhir tahun
masih tersimpan di rekening giro POS diakui sebagai pendapatan Puskesmas.
37. Saat pendapatan dari program Jamkesmas diakui oleh Puskesmas.

38. Perlakuan akuntansi atas perbedaan aturan penggunaan langsung penerimaan


Puskesmas antara Pedoman Pelaksanaan Program Jamkesmas Tahun 2010
dengan Permendagri No. 13 Tahun 2006 (asas bruto).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

Belanja
39. Pencairan uang tanpa SP2D dan hanya berdasar SPM.

40. Penyajian di LK atas SP2D yang telah diterbitkan, tetapi kas belum keluar dari
rekening Pemda di Bank Persepsi.
41. Langkah pemeriksa bila ditemukan kegiatan yang tidak tersedia anggaran.

42. Sampai seberapa dalam pemeriksaan harus dilakukan, khususnya untuk


mendeteksi terjadinya Ketidakpatuhan atau Fraud atas pemeriksaan belanja?
43. Proyek fisik belum selesai (prestasi proyek 80%) pada 31 Desember, tetapi
uang sudah dicairkan (dipertanggungjawabkan 100%) dengan dokumen
pembayaran fiktif dengan kondisi fisik sampai dengan pemeriksaan berakhir
tetap belum selesai dan telah selesai.
44. Apakah SE Bappenas juga mengikat bagi pemerintah daerah jika pemerintah
daerah telah menetapkan standar biaya untuk biaya langsung personil dan non
personil.
45. Kompensasi masa pemeliharaan dengan penahanan pembayaraan (biasanya
5%).
46. Pembayaran pekerjaan yang melebihi prestasi.

47. Bukti pertanggungjawaban belanja modal pengadaan tanah tidak dilengkapi


dengan pemungutan dan penyetoran PPh atas Pengalihan Hak atas Tanah.
48. Pertanggungjawaban biaya langsung personil dan non personil, apakah perlu
dilengkapi dengan bukti pembayaran kepada tenaga ahli dan atau pendukung
maupun biaya lainnya?
49. Pemberian belanja Bantuan Keuangan kepada instansi vertikal dan/atau Hibah
uang ke instansi vertikal.
50. Perlakuan Belanja perjalanan dinas.

51. Hibah dalam bentuk barang dianggarkan dalam dan direalisasikan belanja
modal.
52. Hibah dalam bentuk barang dianggarkan dalam dan direalisasikan dari belanja
barang.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

53. Kesalahan pembebanan atau fakta tidak sesuai dengan realisasi anggaran
yang tersaji dalam LK.
54. Bentuk pertanggungjawaban Belanja Penunjang Operasional (BPO) Pimpinan
DPRD.
55. Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD melebihi ketentuan yang telah
ditetapkan.
56. Persamaan perlakuan Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD dengan
Belanja Penunjang Operasional Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah terutama
terkait dengan bukti pertanggungjawabannya.
57. BPO DPRD digunakan tidak sesuai dengan ketentuan.

58. Bantuan keuangan kepada Muspida diperbolehkan.

59. Definisi pemberian bantuan sosial tidak diberikan secara terus menerus.

60. Bentuk pertanggungjawaban bantuan sosial dan belanja hibah, apakah sampai
dengan laporan pertanggungjawaban. Jika tidak terdapat laporan
pertanggungjawaban apakah mempengaruhi opini?
61. Pemberian hibah kepada klub sepakbola yang mengikuti liga profesional?

62. Dasar penyusunan LAK : SP2D atau SPJ ?

63. Transaksi yang tidak akan tersaji dalam LAK.

64. SiLPA Tahun Lalu disajikan seluruhnya atau sebagian sebagai penerimaan
pembiayaan dalam LRA tahun berjalan?
65. Akhir masa penyampaian SPJ.

66. Permasalahan seputar pertanggungjawaban SPJ.

67. Perlakuan akuntansi apabila Pemda menerima hibah dalam bentuk non kas?

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

AKUN-AKUN NERACA
Aset lancar

1. Q : Bagaimana perlakuan akuntansinya, apabila dalam pemeriksaan


ditemukan potongan yang dipungut Bendahara Daerah (Bukan BUD) yang
belum disetor sampai dengan tanggal 31 Desember ?

A : Potongan yang dipungut oleh Bendahara pengeluaran (Bukan BUD)


biasanya berupa potongan pajak (PPh & PPN). Potongan tersebut timbul
dari pengeluaran/belanja yang dilakukan oleh Bendahara pengeluaran.
Potongan tersebut bersifat non anggaran, karena jumlahnya telah menjadi
bagian dari nilai belanja yang telah dipertanggungjawabkan dan bukan
menjadi hak Pemda, tetapi hanya bersifat titipan uang untuk diserahkan
kepada ke pihak ketiga. Oleh karenanya potongan tersebut tidak dapat
dicatat sebagai penerimaan dalam LRA. Potongan itu juga tidak dilaporkan
dalam LAK sebagai aktivitas non anggaran, karena LAK hanya
melaporkan transaksi atau mutasi debet/kredit yang terjadi di Rekening
Kas Umum Daerah (RKUD) yang dibuat oleh BUD sebagai fungsi
perbendaharaan (PSAP No.3 paragraf 12 dan 13). Potongan yang
masih dipegang oleh Bendahara Pengeluaran harus disajikan pada akun
‘Kas di Bendahara Pengeluaran’ pada sisi Aktiva Neraca dan Utang PFK
pada sisi Pasiva Neraca serta diungkapkan dalam CaLK untuk
memberikan informasi kepada pengguna LK bahwa saldo dalam “Kas di
Bendahara Pengeluaran” masih terdapat kewajiban kepada pihak ketiga.
Kesimpulan:
1) Tidak dicatat sebagai penerimaan di LRA dan LAK;

2) Disajikan pada akun ‘Kas di Bendahara Pengeluaran” pada sisi aktiva


(Neraca) dan Utang PFK di sisi Pasiva; serta
3) Diungkapkan dalam CaLK.

2. Q : Bagaimana pula bila potongan tersebut adalah PFK dan masih tersimpan
di BUD?

A : Potongan yang dipungut oleh BUD dapat berupa potongan pajak (PPh &
PPN), iuran Askes, Taspen, dan Taperum. Potongan tersebut timbul dari
pengeluaran/belanja langsung (SP2D-LS) yang dilakukan oleh BUD.
Potongan tersebut bersifat non anggaran, karena jumlahnya telah menjadi
bagian dari nilai belanja yang telah dipertanggungjawabkan dan bukan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 6


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

menjadi hak Pemda, tetapi hanya bersifat titipan uang di kas daerah untuk
diserahkan kepada ke pihak ketiga. Oleh karenanya potongan tersebut
tidak dapat dicatat sebagai penerimaan dalam LRA. Namun, potongan
tersebut harus dilaporkan dalam LAK sebagai aktivitas non anggaran,
karena merupakan bagian dari mutasi debet/kredit yang terjadi di
Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) yang dibuat oleh BUD sebagai
fungsi perbendaharaan (PSAP No.3 paragraf 12 dan 13).
Potongan yang dipungut BUD tetapi belum diserahkan kepada pihak ketiga
dilaporkan di Neraca pada akun “Kas di Kasda” pada sisi aktiva, dan
“utang PFK” pada sisi pasiva karena masih berada di Kas Daerah. Hal ini
sesuai dengan PSAP No.09 Kewajiban Paragraf 40 menyatakan bahwa
‘Pada akhir periode pelaporan, saldo pungutan/potongan berupa PFK
yang belum disetorkan kepada pihak lain harus dicatat pada laporan
keuangan sebesar jumlah yang masih harus disetorkan’. Disamping itu
juga harus diungkapkan dalam CaLK untuk memberikan informasi kepada
pengguna LK bahwa saldo dalam “Kas di Kasda” masih terdapat kewajiban
kepada pihak ketiga.
Kesimpulan:
1) Disajikan pada akun ‘Utang PFK’ pada sisi pasiva(Neraca);

2) Tersaji sebagai Kas di LAK;

3) Tidak tersaji di LRA; dan

4) Diungkapkan dalam CaLK.

3. Q : Kasus kas tekor, belum ada SKTJM atau SK Pembebanan Sementara.


Bagaimana pengaruhnya pada opini dan bagaimana perlakuan
akuntansinya?
A :Dalam hal terjadi kas tekor yang dicatat oleh Pemda sebagai kas maka
diungkapkan dalam temuan kepatuhan, dan diungkapkan dalam CaLK
mengenai kondisi permasalahan kas tekor tersebut. Walaupun sudah
diungkapkan jika nilainya material maka dapat mempengaruhi opini.
Jika Pemda telah mencatat sebagai piutang dan nilainya material maka
dapat mempengaruhi opini dengan pengecualian pada akun piutang.
Kesimpulan: cukup jelas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 7


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

4. Q : Bagaimana pengakuan Piutang (berdasarkan pungutan pendapatan


daerah, perikatan, TP/TGR) dalam pemeriksaan LKPD?
A : 1) Pengakuan Piutang berdasarkan pungutan pendapatan daerah
dilakukan setelah terbit Surat Ketetapan dan/atau surat penagihan.
2) Pengakuan piutang berdasarkan perikatan dilakukan atas dasar
naskah perjanjian, nilainya dapat diukur, telah diterbitkan surat penagihan.

3) Khusus untuk Tuntutan Ganti Rugi (TGR) dan Tuntutan


Perbendaharaan (TP), piutang diakui jika sudah ada Surat Ketetapan
Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM). Tagihan Piutang TGR atau TP disajikan
dalam kelompok Aset Lainnya untuk tagihan yang akan diterima lebih dari
12 bulan, sedangkan atas tagihan yang akan diterima dalam waktu 12
bulan mendatang disajikan dalam akun Piutang.

4) Jika tagihan masih dalam proses pengadilan, selama proses peradilan


berlangsung, cukup diungkapkan dalam CaLK. Setelah ada keputusan
pengadilan maka tagihan dapat diakui sebagai Piutang sebesar nilai
yang ditetapkan oleh pengadilan.
5) Dalam hal terdapat barang/uang yang disita daerah sebagai jaminan
maka hal ini wajib diungkapkan dalam CaLK.

Kesimpulan: cukup jelas


5. Q : Pemerintah provinsi menetapkan alokasi bagi hasil pajak (PBBKB, PKB &
BBKB, Pajak PABT-AP) untuk periode tiga bulanan (triwulan) dengan
Ketetapan dari Provinsi. Ketetapan dari Provinsi tentang penetapan alokasi
bagi hasil pajak-pajak tersebut untuk triwulan IV/20XX (periode Oktober –
Desember 20XX) terbit pada awal tahun 20XX+1. Apakah dengan terbitnya
Ketetapan dari Provinsi tersebut dapat dikategorikan subsequent event
dan perlukah dilakukan penyesuaian saldo hutang bagi hasil pada neraca
provinsi dan piutang bagi hasil pada neraca kabupaten/kota?

A : Sampai dengan 31/12/20XX provinsi telah menerima pendapatan pajak


periode Oktober sampai dengan Desember tahun 20XX. Berdasarkan
peraturan terkait, pendapatan pajak tersebut dialokasikan dan ditransfer
dari Pemprov kepada Pemkab/pemkot. Sampai dengan 31/12/20XX belum
ada Ketetapan dari Provinsi tentang penetapan alokasinya, sehingga
Pemprov belum mengakui sebagai hutang dan pemkab/pemkot belum
mengakui sebagai piutang. Namun dengan terbitnya Ketetapan dari
Provinsi (setelah tanggal neraca) tersebut, menjadi dasar bahwa kewajiban

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 8


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

(pemprov) dan piutang (pemkab/pemkot) sebenarnya sudah ada pada


tanggal neraca, yaitu dengan besaran alokasi sesuai Ketetapan dari
Provinsi tersebut. Terbitnya Ketetapan dari Provinsi tersebut masih dalam
periode pelaksanaan audit (sebelum laporan keuangan diterbitkan)
sehingga dapat dikategorikan sebagai subsequent event Tipe I, yaitu
peristiwa setelah tanggal neraca yang berpengaruh terhadap saldo neraca
31/12/20XX. Dengan demikian, dengan terbitnya Ketetapan dari Provinsi
tersebut, menjadi dasar bahwa kewajiban bagi pemprov dan piutang bagi
pemkab/pemkot sudah ada pada tanggal neraca.

Dasar Kebijakan adalah Bultek No.6 Tentang Akuntansi Piutang; Bultek


No. 8 Tentang Akuntansi Utang (hal.51) dan PSAP 09 par 84.
Kesimpulan:

1) Pemerintah provinsi mencatat hutang bagi hasil pajak dan pemerintah


kabupaten / kota mencatat piutang bagi hasil.
2) Utang bagi hasil diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan
beserta rincian masing-masing jenis Utang. Hal ini didasarkan pada
paragraf 84 yang menyatakan bahwa Utang pemerintah harus
diungkapkan secara rinci dalam bentuk daftar utang untuk memberikan
informasi yang lebih baik kepada pemakainya.
6. Q : Bagaimana bila Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) untuk
sistem ”self assessment” belum ditetapkan (daerah mencatat berdasarkan
SPTPD) jadi tidak diketahui berapa yang lebih/kurang bayar? Sebab tidak
ada yang mengatur kapan WP bayar dengan sistem self assessment.
A : Pengakuan piutang pajak dengan sistem self assessment didasarkan atas
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) untuk jumlah yang belum
diterima di kas daerah.
Dasar Kebijakan adalah Bultek No.6 Tentang Akuntansi Piutang dan Perda

Kesimpulan: cukup jelas


7. Q : SKRD tidak diterbitkan sehingga piutang retribusi di neraca tidak dapat
dicatat.

A : 1) Piutang retribusi diakui sebesar jumlah ketetapan retribusi (SKRD) yang


belum dibayar oleh wajib retribusi.
2) Jika SKRD tidak diterbitkan maka hal tersebut dimuat dalam temuan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 9


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

Dasar Kebijakan :
1) Bultek No.6 Tentang Akuntansi Piutang
2) Perda masing-masing daerah

Kesimpulan: cukup jelas

Investasi Jangka Panjang

8. Q : Metode Pencatatan Penyertaan Modal Pemda yang lebih dari 20%


A : 1) Kepemilikan 20% sampai 50% atau kurang dari 20% tetapi memiliki
pengaruh signifikan menggunakan metode ekuitas.

2) Kepemilikan lebih dari 50% menggunakan metode ekuitas.


3) Dalam kondisi tertentu, penggunaan metode ekuitas tergantung pula
pada tingkat pengaruh (the degree of influence) terhadap perusahaan
investee.
4) Dalam kondisi perusahaan investee mengalami kerugian secara terus
menerus yang akan mempengaruhi nilai investasi, maka nilai investasi
tidak akan dinilai negatif melainkan nihil jika ternyata kerugian tersebut
berdampak kumulatif tiap tahunnya. Sebaiknya hal ini diungkapkan
dalam CaLK untuk memberikan gambaran kepada pembaca laporan
keuangan mengenai kemungkinan adanya tanggung jawab Pemda atas
sisa kewajiban investee yang tidak terpenuhi pada saat dilikuidasi.
5) Dalam kondisi laporan keuangan investee (BUMD) belum diaudit maka:

a. Nilai penyertaan modal ditentukan berdasarkan laporan keuangan


tersebut dengan penjelasan di CALK.
b. Jika menurut pertimbangan pemeriksa, Laporan Keuangan akan
sangat berbeda (berdasarkan hasil komunikasi dengan pemeriksa
BUMD atau pengalaman tahun sebelumnya) Kondisi tersebut dapat
mempengaruhi opini karena adanya pembatasan lingkup bagi
pemeriksa untuk memperoleh keyakinan nilai penyertaan modal.
Dasar Kebijakan : PSAP No.6 Tentang Investasi, pr.33 dan 34
Kesimpulan: cukup jelas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 10


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

9. Q : Penyertaan Modal belum disertai dengan bukti kepemilikan berupa : perda


pembentukan perusda, akte pendirian.
A :1) Sesuai dengan UU nomor 6 tahun 1962, maka bukti kepemilikan akan
diterbitkan perusahaan daerah (perusda) yang bersangkutan apabila
perusda tersebut dimiliki lebih dari satu pemilik;
2) Jika dimiliki satu pemilik, maka bukti kepemilikan cukup perda pendirian
saja serta bukti transfer;
3) Jika permasalahan terjadi pada saat initial investment tidak ada Perda
penyertaan modalnya maka jika material akan mempengaruhi opini.

4) Dasar Kebijakan : UU No.6 Tahun 1962


Kesimpulan: cukup jelas
10. Q : Kapan perda penyertaan modal, yang memuat jumlah penyertaan modal
TA berkenaan, ditetapkan sebelum atau setelah Perda APBD dan
Bagaimanakah untuk initial investment dan penambahan/disposal?
A : 1) Investasi jangka panjang pemerintah daerah dapat dianggarkan apabila
jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berjalan telah
ditetapkan dalam Perda tentang penyertaan modal dengan berpedoman
pada ketentuan peraturan perundang-undangan. Dengan demikian,
Perda penyertaan Modal seharusnya lebih dulu dari pada Perda APBD.
2) Sesuai dengan Permendagri No 25 Tahun 2009 tentang Pedoman
Penyusunan APBD 2010, dalam hal ada penambahan atau
pengurangan penyertaan modal, namun telah ada Perda penyertaan
modal yang pertama maka untuk penambahan dan pengurangan
penyertaan modal cukup dilandasi oleh Perda APBD. Dengan catatan
akumulasi nilai penyertaan tidak melebihi modal yang ditetapkan dalam
Perda Penyertaan Modal Daerah.
Kesimpulan: cukup jelas

11. Q : Penggunaan metode penilaian investasi apakah sudah harus sesuai SAP?
A : Ya, harus sesuai SAP.
1) Metode penilaian investasi menggunakan metode biaya, metode
investasi dan metode nilai bersih yang dapat direalisasikan (Net
Realizable Value).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 11


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

2) Kriteria penilaian investasi yaitu disesuaikan dengan prosentase tingkat


kepemilikan dan tingkat pengaruh (the degree of influence).
3) Hasil investasi berupa dividen tunai yang diperoleh dari penyertaan
modal pemerintah yang pencatatannya menggunakan metode biaya,
dicatat sebagai pendapatan hasil investasi.
4) Hasil Investasi berupa dividen tunai apabila menggunakan metode
ekuitas, maka bagian laba yang diperoleh oleh pemerintah akan dicatat
mengurangi nilai investasi pemerintah dan dicatat sebagai Penerimaan
Pembiayaan pada akun Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang
Dipisahkan.
5) Hasil Investasi berupa dividen saham yang diterima akan menambah
nilai investasi pemerintah dan ekuitas dana yang diinvestasikan dengan
jumlah yang sama.
Dasar Kebijakan : PSAP No.6 Tentang Akuntansi Investasi, Pr 33,
34,35, 36 dan 37

Kesimpulan: cukup jelas


12. Q : Apakah kalau APBD defisit pemda diperkenankan melakukan penyertaan
modal?
A : 1) Menurut PMK diketahui bahwa daerah dapat melebihi defisit yang
ditetapkan setelah mengajukan permohonan dan mendapatkan
persetujuan dari Menteri Keuangan dengan Pertimbangan Menteri
Dalam Negeri.
2) Permasalahan tersebut tidak berpengaruh terhadap opini Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah, cukup diungkapkan dalam laporan
kepatuhan.
Dasar Kebijakan : Peraturan Menteri Keuangan tentang Batas Maksimal
Kumulatif Defisit APBD, dimana batas maksimal tiap tahunnya berubah
tergantung PMK yang berlaku untuk tahun anggaran yang berjalan.
Kesimpulan: cukup jelas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 12


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

13. Q : Apa saja bentuk setoran Modal ?


A : 1) Bentuk setoran modal dapat berupa kas dan atau barang dan atau jasa.
2) Apabila Investasi (Penyertaan Modal) dilakukan secara tunai, maka nilai
investasi disajikan sebesar nilai uang yang ditransfer.
3) Apabila Investasi (Penyertaan Modal) dilakukan melalui pertukaran aset,
maka nilai investasi yang diperoleh pemerintah adalah sebesar biaya
perolehan, atau nilai wajar investasi tersebut jika harga perolehannya
tidak ada (pr.31).
Dasar Kebijakan : PSAP No.6 Tentang Akuntansi Investasi Pr.24 – 32.

Kesimpulan: cukup jelas

Aset Tetap
14. Q : Permasalahan material apa saja yang terdapat pada Aset Tetap yang
diperoleh sampai dengan tanggal Neraca Awal ?
A : Secara umum pencantuman aset dalam neraca awal juga harus memenuhi
kriteria pengakuan, yakni memenuhi definisi/unsur sebagai aset tetap dan
nilainya pasti atau minimal dapat ditaksir secara andal. Mengacu pada
jenis pemeriksaan keuangan, semua asersi dalam laporan keuangan harus
dilakukan pemeriksaan. Jika terdapat temuan terkait permasalahan asersi
yang tidak terpenuhi dalam pos aset tetap di neraca, seluruhnya harus
dipertimbangkan sesuai dengan batas materialitas. Jadi, tidak dapat
disimpulkan secara sederhana, misalnya jika yang tidak dapat terpenuhi
adalah hanya asersi kelengkapan dan penilaian pada saldo aset yang
diperoleh sampai dengan tanggal neraca awal, maka opininya adalah
WDP.
Permasalahan yang seringkali muncul terkait penyajian aktiva tetap dalam
neraca awal adalah berkaitan dengan asersi keberadaan, kelengkapan,
hak dan kewajiban, dan penilaian terhadap aset tetap. Terhadap
permasalahan asersi yang tidak dapat dipenuhi tersebut, pemeriksa
seharusnya lebih memfokuskan kepada dampaknya, apakah penyajian
yang tidak memenuhi satu atau lebih asersi tersebut akan mengakibatkan
salah saji (misstatement) atau bahkan tidak dapat disimpulkan nilai
wajarnya karena ketidakcukupan bukti pemeriksaan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 13


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

Contoh: Berkaitan dengan prosedur pemeriksaan atas asersi kelengkapan


dan keberadaan aset tetap di neraca awal, pemeriksa mungkin
menemukan bahwa beberapa aset tetap tidak ditemukan ketika dilakukan
cek fisik. Mengingat pelaksanaan pemeriksaan (biasanya) dilakukan
dengan metode sampling, pertimbangan pemeriksa atas dampak yang
akan terjadi bisa berbeda. Bisa jadi pemeriksa hanya melakukan “koreksi”
atas aset tetap yang tidak ditemukan, atau bahkan terdapat risiko yang
cukup besar atas keberadaan aset tetap yang tidak disampling, sehingga
pemeriksa mengambil pertimbangan “tidak dapat menyakini” nilainya.
Berkaitan dengan aspek pengukuran/penilaian aset tetap di neraca awal,
semestinya tidak menimbulkan perbedaan persepsi karena sudah diatur
dalam Buletin Teknis Nomor 2 tentang Penyusunan Neraca Awal Pemda.
Kesimpulan: cukup jelas
15. Q : Bagaimana kebijakan yang harus diambil bila dijumpai Aset Tanah tanpa
bukti kepemilikan namun dikuasai oleh Pemda dan Aset Tanah diakui milik
Pemda namun dikuasai oleh pihak lain ?
A : Pembahasan masalah tersebut mengacu kepada Bultek SAP No 9 Aset
Tetap Bab II huruf B yang memberikan pedoman sebagai berikut.

1) Dalam hal tanah belum ada bukti kepemilikan yang sah, namun
dikuasai dan/atau digunakan oleh pemerintah, maka tanah tersebut
tetap harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada neraca
pemerintah, serta diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas
Laporan Keuangan.
2) Dalam hal tanah dimiliki oleh pemerintah, namun dikuasai dan/atau
digunakan oleh pihak lain, maka tanah tersebut tetap harus dicatat
dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada neraca pemerintah, serta
diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan,
bahwa tanah tersebut dikuasai atau digunakan oleh pihak lain.
3) Dalam hal tanah dimiliki oleh suatu entitas pemerintah, namun
dikuasai dan/atau digunakan oleh entitas pemerintah yang lain,
maka tanah tersebut dicatat dan disajikan pada neraca entitas
pemerintah yang mempunyai bukti kepemilikan, serta diungkapkan
secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Entitas
pemerintah yang menguasai dan/atau menggunakan tanah cukup
mengungkapkan tanah tersebut secara memadai dalam Catatan atas
Laporan Keuangan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 14


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

4) Perlakuan tanah yang masih dalam sengketa atau proses pengadilan:

a) Dalam hal belum ada bukti kepemilikan tanah yang sah, tanah
tersebut dikuasai dan/atau digunakan oleh pemerintah, maka
tanah tersebut tetap harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap
tanah pada neraca pemerintah, serta diungkapkan secara memadai
dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
b) Dalam hal pemerintah belum mempunyai bukti kepemilikan
tanah yang sah, tanah tersebut dikuasai dan/atau digunakan
oleh pihak lain, maka tanah tersebut dicatat dan disajikan sebagai
aset tetap tanah pada neraca pemerintah, serta diungkapkan secara
memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
c) Dalam hal bukti kepemilikan tanah ganda, namun tanah tersebut
dikuasai dan/atau digunakan oleh pemerintah, maka tanah
tersebut tetap harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah
pada neraca pemerintah, serta diungkapkan secara memadai dalam
Catatan atas Laporan Keuangan.
d) Dalam hal bukti kepemilikan tanah ganda, namun tanah tersebut
dikuasai dan/atau digunakan oleh pihak lain, maka tanah tersebut
tetap harus dicatat dan disajikan sebagai aset tetap tanah pada
neraca pemerintah, namun adanya sertifikat ganda harus
diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.
Kesimpulan:
Dengan ketentuan tersebut, maka aset tersebut dicatat dan disajikan
sebagai aset tetap dan di jelaskan dalam Catatan atas Laporan Keuangan
(CaLK).
16. Q : Bagaimana penyajian dalam Neraca dan pengaruhnya terhadap
pemberian opini atas Aset yang mempunyai nilai Rp1,00 ?
A : Berdasarkan PSAP No.07 Aset Tetap paragraf 22 diketahui bahwa ‘Aset
tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan
menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap
didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan’. Apabila aset telah lama
dimiliki dan tidak diketahui biaya perolehannya, maka berdasarkan Bultek
PSAP No.02 Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Daerah, nilai wajar
aset ditentukan sebagai berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 15


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

1) Tanah

Jika tanah diperoleh lebih dari satu tahun sebelum tanggal neraca awal,
maka nilai wajar tanah ditentukan dengan menggunakan rata-rata harga
jual beli tanah antar pihak-pihak independen di sekitar tanggal neraca
tersebut, untuk jenis tanah yang sama di wilayah yang sama. Apabila tidak
terdapat banyak transaksi jual beli tanah pada sekitar tanggal neraca,
sebuah transaksi antar pihak independen dapat mewakili harga pasar.
Apabila tidak terdapat nilai pasar, entitas dapat menggunakan Nilai Jual
Obyek Pajak (NJOP) terakhir. Jika terdapat alasan untuk tidak
menggunakan NJOP maka dapat digunakan nilai appraisal dari
perusahaan jasa penilai resmi atau tim penilai yang kompeten.
Dalam Catatan atas Laporan Keuangan, diungkapkan dasar penilaian
yang digunakan, informasi penting lainnya sehubungan dengan tanah yang
tercantum dalam neraca awal, serta jumlah komitmen untuk akuisisi tanah
apabila ada.

2) Peralatan dan Mesin

Untuk keperluan penyusunan neraca awal, nilai wajar untuk peralatan dan
mesin adalah harga perolehan jika peralatan dan mesin tersebut dibeli
setahun atau kurang dari tanggal neraca awal atau membandingkannya
dengan harga pasar peralatan dan mesin sejenis dan dalam kondisi yang
sama. Apabila harga pasar tidak tersedia maka digunakan nilai appraisal
dari perusahaan jasa penilai resmi atau tim penilai yang kompeten dengan
memperhitungkan faktor penyusutan. Jika hal tersebut terlalu mahal
biayanya dan memakan waktu lama karena tingkat kerumitan perhitungan
yang tinggi maka dapat dipakai standar harga yang dikeluarkan oleh
instansi pemerintah yang berwenang dengan memakai perhitungan teknis.
Dalam Catatan atas Laporan Keuangan, diungkapkan dasar penilaian
yang digunakan, informasi penting lainnya sehubungan dengan peralatan
dan mesin yang tercantum dalam neraca awal, serta jumlah komitmen
untuk akuisisi peralatan dan mesin apabila ada.

3) Gedung dan Bangunan

Jika gedung dan bangunan diperoleh lebih dari satu tahun sebelum
tanggal neraca awal, nilai wajar gedung dan bangunan ditentukan dengan
menggunakan NJOP terakhir. Jika terdapat alasan untuk tidak

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 16


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

menggunakan NJOP, maka dapat digunakan nilai appraisal dari


perusahaan jasa penilai resmi atau membentuk tim penilai yang kompeten.
Dalam Catatan atas Laporan Keuangan, diungkapkan dasar penilaian
yang digunakan, informasi penting lainnya sehubungan dengan gedung
dan bangunan yang tercantum dalam neraca awal, serta jumlah komitmen
untuk akuisisi gedung dan bangunan apabila ada.

4) Jalan, Irigasi, dan Jaringan

Untuk keperluan penyusunan neraca awal, nilai wajar jalan, irigasi, dan
jaringan ditentukan oleh perusahaan jasa penilai resmi atau tim penilai
yang kompeten dengan menggunakan standar biaya atau perhitungan
teknis (yang antara lain memperhitungkan fungsi dan kondisi aset) dari
instansi pemerintah yang berwenang yang diterbitkan setahun atau kurang
dari tanggal neraca.
Dalam Catatan atas Laporan Keuangan, diungkapkan dasar penilaian
yang digunakan, informasi penting lainnya sehubungan dengan jalan,
irigasi, dan jaringan yang tercantum dalam neraca awal, serta jumlah
komitmen untuk akuisisi jalan, irigasi, dan jaringan apabila ada.
5) Aset Tetap Lainnya

Untuk keperluan penyusunan neraca awal, aset tetap lainnya dinilai


dengan menggunakan nilai wajar jika aset tersebut dibeli pada tanggal
neraca.

Dalam Catatan atas Laporan Keuangan, diungkapkan dasar penilaian


yang digunakan, informasi penting lainnya sehubungan dengan aset tetap
lainnya yang tercantum dalam neraca awal, serta jumlah komitmen untuk
akuisisi aset tetap lainnya apabila ada.
Mengingat SAP telah mengatur tata cara penilaian aset tetap, maka
seharusnya entitas mempedomani itu. Dalam hal entitas tidak mematuhi
atau masih memberikan nilai Rp1 atas aset yang dimilikinya, maka secara
kuantitatif asersi valuation akan terganggu sehingga akan mempengaruhi
opini sepanjang material.
Namun demikian, sesuai dengan karakteristik pemerintahan, risiko yang
ditimbulkan dari salah saji tersebut tidak besar, karena tujuan pemerintah
bukan untuk menjual aset tetap atau menghitung RoI. Berdasarkan
pertimbangan kualitatif tersebut, maka dalam hal salah saji yang

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 17


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

ditimbulkan signifikan atau sangat signifikan, maka opini yang disampaikan


cukup WDP.
Kesimpulan:

1) Diungkapkan dalam CaLK; dan


2) Dalam hal salah saji yang ditimbulkan signifikan atau sangat signifikan,
maka mempengaruhi opini. (Apabila pengecualian hanya ini, maka
maksimal opini yang diberikan WDP). Dalam hal salah saji tidak
material, maka tidak mempengaruhi opini.
17. Q : Bagaimana pengakuan aset atas pertanggungjawaban biaya pendidikan
apakah diakui sebagai aset tetap definitif baik dianggarkan dari belanja
modal maupun belanja hibah?
A : 1) Bentuk pertanggungjawaban keuangannya tergantung pada jenis
belanja yang digunakan yaitu belanja modal atau belanja hibah.
Perlakuan akuntansi juga disesuaikan dengan jenis belanja modal atau
belanja hibah.
2) Dalam hal penganggaran sebagai Belanja Hibah maka aset tetap untuk
sekolah negeri harus tetap dicatat dan dilaporkan dalam laporan
keuangan. Apabila tidak dicatat dan dilaporkan akan mempengaruhi
opini (jika nilainya material).
3) Realisasi sebagai belanja hibah untuk sekolah negeri tidak
mempengaruhi opini namun tetap diungkap dalam CaLK.
4) Dalam hal penganggaran DAK Pendidikan seluruhnya dalam bentuk
belanja modal, maka seluruh aset tetap yang dihasilkan harus dicatat
dan dilaporkan dalam laporan keuangan sebagai aset pemerintah
daerah.
5) Khusus untuk hibah pada sekolah swasta yang dianggarkan dalam
belanja modal dicatat dalam neraca sebagai aset lain-lain sampai
dengan dilakukan penghapusan dan berita acara hibah ke sekolah
yang bersangkutan.
Kesimpulan: cukup jelas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 18


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

18. Q : Bagaimana pengakuan aset yang dihibahkan yang anggarannya berasal


dari belanja modal tetapi belum dihapuskan?
A : Apabila aset yang berasal dari belanja modal tersebut secara fisik sudah
dikuasai dan digunakan oleh penerima hibah namun belum disertai dengan
SK penghapusan dan berita acara hibah maka dicatat dalam neraca
sebagai aset lain-lain.

Kesimpulan: cukup jelas


19. Q: Mohon dijelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan dan perlakuan
akuntansi atas pembentukan Dana Cadangan oleh Pemerintah Daerah,
antara lain :
1) Dana Cadangan dibentuk tidak dengan Peraturan Daerah;
2) Dana Cadangan tidak disajikan sebagai Aset Non Lancar, terpisah dari
Kas di Kas Daerah;
3) Penggunaan dana cadangan sebelum nilai Dana Cadangan
keseluruhan terbentuk dalam periode waktu yang telah ditentukan
(lima tahun).
A : Prosedur pemeriksaan yang perlu dikembangkan dalam pemeriksaan
Dana Cadangan adalah langkah-langkah untuk memperoleh keyakinan:

a) apakah pembentukan dana tanpa perda tersebut diberitahukan dan


disetujui DPRD,
b) apakah nilai SiLPA termasuk nilai Dana Cadangan,
c) apakah kegiatan perencanaan yang tercantum dalam dokumen
pembentukan Dana Cadangan sebagai kegiatan yang dibiayai dana
cadangan,
d) apakah ada kebijakan akuntansi tentang Dana Cadangan.

1) Jika Dana Cadangan tersebut dibentuk tidak dengan Peraturan


Daerah Pembentukan Dana Cadangan namun telah disetujui DPRD
melalui Perda APBD dan Peraturan Kepala Daerah telah mengatur
secara jelas tentang Dana Cadangan tersebut, maka pemeriksa
menyusun temuan pemeriksaan yang tidak mempengaruhi kewajaran
LKPD dan diungkapkan dalam CALK mengenai kondisi tersebut
dengan saran untuk dilengkapi dengan Perda.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 19


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

2) Jika Dana Cadangan tersebut dibentuk dengan Peraturan Daerah dan


telah mengatur secara jelas tentang Dana Cadangan tersebut namun
tidak disajikan sebagai aset non lancar, maka pemeriksa
mengusulkankoreksi/reklasifikasi dari Kas di Kas Daerah ke akun
Dana Cadangan pada kelompok aset non lancar dan dari akun Ekuitas
Dana Lancar – SiLPA ke akun Ekuitas Dana Dicadangkan, sesuai
PSAP 01.
3) Penggunaan dana cadangan sebelum waktu yang ditentukan dapat
dilakukan apabila termuat dalam Perda APBD.
Kesimpulan: cukup jelas
Aset Lainnya
20. Q: Hasil pemeriksaan APIP ataupun BPK menunjukkan adanya kerugian
daerah yang belum didukung dokumen SKTJM dan SK Pembebanan. Hal-
hal yang timbul sehubungan dengan kasus tersebut antara lain :
1) SKTJM dan SK Pembebanan tidak ada sama sekali.

2) SKTJM dan/atau SK Pembebanan telah dilengkapi namun yang


bersangkutan telah tidak sanggup mengembalikan.
3) SKTJM dan/atau SK Pembebanan telah dilengkapi namun yang
bersangkutan telah meninggal dan ahli waris tidak sanggup
mengembalikan.
4) SKTJM dan/atau SK Pembebanan telah dilengkapi namun telah
kadaluarsa.
A: Penyelesaian atas TP/TGR ini dapat dilakukandengan cara damai (di luar
pengadilan) atau melalui pengadilan. Apabila penyelesaiantagihan ini
dilakukan dengan cara damai, maka setelah proses selesai dan telah ada
Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTM) dari pihak
yangbersangkutan, diakui sebagai Piutang Tuntutan Ganti Rugi/Tuntutan
Perbendaharaan dandisajikan di kelompok Aset Lainnya di neraca untuk
jumlah yang akan diterima lebih dari 12bulan mendatang dan disajikan
sebagai Piutang kelompok aset lancar untuk jumlah yangakan diterima
dalam waktu 12 bulan mendatang.
Sebaliknya, apabila pihak yang bersangkutan memilih menggunakan jalur
pengadilan, selama proses pengadilan masih berlangsung, cukup
diungkapkan dalam CaLK. Pengakuan piutang ini baru dilakukan setelah

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 20


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

terdapat surat ketetapan dan telah diterbitkan Surat Penagihan. Dalam hal
terdapat barang/uang yang disita oleh Negara/daerah sebagai jaminan
makahal ini wajib diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

1) Jika Kerugian Daerah belum didukung SKTJM atau SK Pembebanan,


maka pemeriksa tidak mengusulkan jurnal koreksi tetapi meng-
informasikan kepada auditee untuk mengungkapkan pada CaLK
mengenai adanya kerugian atas pos belanja/pengeluaran terkait. Selain
itu, pemeriksa menyusun Temuan dengan rekomendasi agar Kepala
Daerah segera mengadakan Sidang Majelis TP/TGR, menetapkan dan
menarik kerugian tersebut sesuai ketentuan.
2) Jika Kerugian Daerah telah didukung SKTJM dan/atau SK
Pembebanan, maka terhadap kewajiban pengembalian oleh Bendahara,
Pegawai Negeri Bukan Bendahara dan Pejabat lainnya dilakukan
pencatatan, dengan alternatif kondisi sebagai berikut:
a) Karena penyelesaian pembayarannya selambat-lambatnya 24 bulan
(2 tahun) sehingga di neraca termasuk dalam aset lainnya.
b) Jika terdapat jumlah kerugian yang akan jatuh tempo pada tahun
berikutnya, maka diusulkan koreksi/reklasifikasi sejumlah nilai yang
jatuh tempo tersebut; dari akun Aset Lainnya ke akun Bagian Lancar
TP/TGR
c) Jika yang bersangkutan tidak mampu membayar/mengembalikan
kerugian, maka selain point a dan b, pemeriksa mengusulkan
penjelasan dalam CaLK atas nilai kerugian yang tak dapat ditagih
dan rencana Pemda atas kondisi piutang yang tidak dapat ditagih
tersebut.
d) Yang bersangkutan meninggal dunia dan ahli waris tidak memiliki
kekayaan yang cukup untuk mengembalikan kerugian tersebut, maka
selain point a dan b, pemeriksa mengusulkan penjelasan dalam
CaLK apakah pemda sudah dapat menentukan berapa nilai yang
bisa ditanggung oleh ahli waris sesuai dengan ketentuan, serta
rencana Pemda terhadap jumlah yang tidak bisa ditagihkan kepada
ahli waris.
e) Yang bersangkutan telah meninggal dunia dan ahli waris tidak
mendapat pemberitahuan oleh pejabat yang berwenang lebih dari
tiga tahun dan harus dilakukan penghapusan sesuai dengan
ketentuan, maka pemeriksa menyusun suatu TP atas kelalaian
pejabat tersebut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 21


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

Dalam CaLK juga diungkapkan bahwa terdapat mutasi pengurangan


karena adanya penghapusan atas kerugian yang kadaluarsa dan
sesuai SK Penghapusan.

Apabila setiap koreksi yang diusulkan pemeriksa tidak


diterima/ditindaklanjuti oleh Pemda, maka dapat mempengaruhi
kewajaran LKPD.
Kesimpulan:cukup jelas

AKUN – AKUN LRA

Pendapatan

21. Q : Bagaimana penyajian dalam Laporan Keuangan atas setoran bagian laba
BUMD yang terlambat ?
A : 1) Diakui sebagai Piutang pada sisi Aktiva Neraca pada saat jatuh tempo
komitmen penyetoran bagian laba tersebut.
2) Belum dicatat di LRA maupun di LAK.
3) Pengungkapan secukupnya di CaLK

Kesimpulan : Cukup jelas


22. Q : Apakah diperbolehkan insentif pemungutan pajak dan retribusi daerah
dibagikan kepada pihak-pihak di luar instansi pelaksana misalnya lembaga
perwakilan/instansi vertikal/muspida?
A : Penerima pembayaran insentif ditetapkan dengan keputusan kepala
daerah dengan mengacu pada ketentuan peraturan yang berlaku. Apabila
keputusan kepala daerah tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang
berlaku, maka SK tersebut direkomendasikan untuk ditinjau kembali
Kesimpulan : Cukup jelas

23. Q : Dalam Pemungutan Pajak Penerangan Jalan (PPJ), PLN merupakan pihak
lain yang melakukan pemungutan PPJ, namun ada ketentuan dari internal
PLN yang melarang petugasnya untuk menerima Insentif. Apakah insentif
bagian PLN tersebut dapat dibagikan kembali kepada pejabat dan pegawai
instansi pemungut? (21)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 22


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

A : Berdasarkan Surat Direktur Keuangan PLN No. 07513/545/DITKEU/2010


tanggal 5 Oktober 2010 yang menyatakan bahwa biaya pemungutan PPJ
untuk tahun 2010 terhitung mulai tanggal 1 Januari 2010 dihentikan
sampai dengan diterbitkan peraturan pelaksanaannya dan biaya
pemungutan yang sudah dipotong sejak bulan Januari 2010 agar segera
dikembalikan kepada masing-masing Pemda. Seluruh PPJ disetorkan
seluruhnya ke Kas Daerah PLN tidak mendapatkan insentif.
Berhubung bahwa PP Nomor 69 tahun 2010 telah keluar pada tanggal 18
Oktober 2010 maka PLN pada dasarnya termasuk pihak lain yang berhak
untuk mendapatkan insentif. Jika SK Bupati mengenai pembagian insentif
tersebut telah menetapkan persentase tertentu bagian PLN namun tidak
jadi didistribusikan ke PLN, maka tidak boleh dibagikan sebagai tambahan
insentif bagi instansi pelaksana. Sesuai Pasal 7 ayat (4) PP No. 69 Tahun
2010 jika terdapat sisa lebih harus disetorkan ke kas daerah.
Kesimpulan:
Tidak boleh dibagikan sebagai tambahan insentif bagi instansi pelaksana
dan sesuai Pasal 7 ayat (4) PP No. 69 Tahun 2010 jika terdapat sisa lebih
harus disetorkan ke kas daerah.
24. Q : Apakah para Asisten Sekda, Inspektorat, dan Bagian Hukum berhak untuk
mendapatkan insentif ?
A : Insentif diberikan kepada instansi pelaksana pemungut pajak dan retribusi
daerah sesuai dengan tanggung jawab masing-masing, dengan demikian
yang berhak menerima insentif tidak seluruh pejabat dan pelaksana pada
SKPD tersebut, melainkan hanya yang terkait dengan kegiatan
pemungutan pajak dan retribusi daerah saja. Sedangkan kegiatan
Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan
data objek dan subjek pajak/retribusi, penentuan besarnya pajak/retribusi
sampai kegiatan penagihan pajak/retribusi kepada Wajib Pajak/Wajib
Retribusi serta pengawasan penyetorannya. Sepanjang telah ada SK KDh,
tidak perlu menilai apakah layak atau tidak untuk memperoleh insentif.
Kesimpulan:
Sepanjang telah ada SK KDh, tidak perlu menilai apakah layak atau tidak
untuk memperoleh insentif.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 23


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

25. Q : Pada Pemda yang sudah memiliki SKPD DPPKAD terdiri dari Bidang PAD,
Bidang Perimbangan, Akuntansi dan Bidang Aset, apakah penerima
insentif pajak dan retribusi daerah tersebut termasuk seluruh bidang di
SKPD tersebut atau hanya yang membidangi Pajak dan Retribusi saja.
A : Pembahasan sama dengan pertanyaan di atas
Kesimpulan:
Sepanjang telah ada SK KDh, tidak perlu menilai apakah layak atau tidak
untuk memperoleh insentif.
26. Q : Bagaimana bila besaran insentif pemungutan pajak dan retribusi daerah
melebihi ketentuan yang berlaku ?
A : Berdasarkan PP Nomor 65 tahun 2001 tentang pajak daerah dan
Keputusan Mendagri Nomor 35 Tahun 2002 diketahui untuk pemungutan
Pajak Daerah dapat diberikan biaya pemungutan yang ditetapkan paling
tinggi sebesar 5% (lima persen) dari realisasi penerimaan Pajak Daerah.
Sedangkan berdasarkan PP Nomor 69 Tahun 2010 ditetapkan besarnya
insentif ditetapkan paling tinggi 3% untuk provinsi dan 5% untuk
kabupaten/kota, dari rencana penerimaan pajak dan retribusi dalam tahun
anggaran berkenaan. Dengan demikian jika jumlah insentif pada instansi
pelaksana melebihi batas maksimal sebesar 3% untuk provinsi dan 5%
untuk kabupaten/kota dari rencana pendapatan pajak dan retribusi tahun
anggaran yang berkenaan, maka kelebihannya harus disetorkan ke kas
daerah .
Kesimpulan:
Jika jumlah insentif pada instansi pelaksana melebihi batas maksimal
sebesar 3% untuk provinsi dan 5% untuk kabupaten/kota dari rencana
pendapatan pajak dan retribusi tahun anggaran yang berkenaan sesuai PP
nomor 69 tahun 2010, maka kelebihannya harus disetorkan ke kas daerah.
27. Q : Bagaimana penganggaran dan pertanggungjawaban insentif pemungutan
pajak dan retribusi daerah ?
A : Insentif pemungutan pajak dan retribusi daerah dianggarkan dalam
kelompok belanja tidak langsung, jenis belanja pegawai. Karena
dianggarkan dalam Belanja Pegawai maka bukti pertanggungjawabannya
cukup berupa SK KDh mengenai pemberian insentif, daftar nominatif dan
kuitansi tanda terima uang serta bukti pemotongan PPh Pasal 21.
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 24


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

28. Q : Apabila anggaran belanja daya dan jasa tidak cukup tersedia dalam DPA,
Pemda mengkompensasi penerimaan PPJU-nya dengan kekurangan
belanja daya dan jasa tersebut. Bagaimana sikap auditor atas hal tersebut
?
A : Pada prinsipnya pendapatan harus dicatat secara bruto. Jika auditor
menemukan Pemda melakukan pencatatan pendapatan secara netto
maka dengan mempertimbangkan materialitas, auditor mengungkap
masalah tersebut dalam temuan pemeriksaan kepatuhan. Masalah
tersebut tidak dapat dikoreksi karena :

1) Pemerintah Daerah tidak diperkenankan mengeluarkan belanja yang


tidak dianggarkan.
2) Transaksi tersebut terkait asersi kelengkapan (completeness) atas
belanja dan pendapatan yang disajikan. Jika material maka dapat
menjadi pengecualian (mempengaruhi opini).
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas
29. Q : Upah pemungutan PPJU dan PBBKB yang dikompensasikan dengan
pendapatan PPJU dan PBBKB. Apabila anggaran belanja daya dan jasa
tidak cukup tersedia dalam DPA, Pemda mengkompensasi penerimaan
PPJU-nya dengan kekurangan belanja daya dan jasa tersebut. Bagaimana
sikap kita ?
A : Pembahasan dan kesimpulan sama dengan pertanyaan di atas.

Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas


30. Q : Apakah sisa dana pelayanan kesehatan program jamkesmas yang sampai
akhir tahun masih tersimpan di rekening dana jamkesmas dapat diakui
sebagai pendapatan RSUD atau tidak?
A : Sisa dana dalam rekening dana jamkesmas belum dapat diakui sebagai
pendapatan RSUD karena :

1) Dana tersebut merupakan bantuan sosial dari Kementerian Kesehatan


dan sudah dipertanggungjawabkan secara definitif yang
pengeluarannya ditujukan kepada masyarakat miskin untuk bisa
mendapatkan pelayanan kesehatan. Dengan demikian dana jamkesmas
tersebut sebenarnya merupakan dana masyarakat miskin yang akan
digunakan bila masyarakat miskin tersebut mendapatkan pelayanan
kesehatan (RSUD).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 25


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

2) Penyedia Pelayanan Kesehatan (PPK) dalam hal ini RSUD dapat


mencairkan dana dari rekening dana jamkesmas dan mengakui
pendapatan sejumlah dana yang dipertanggungjawabkan. Dengan
demikian sisa dana jamkesmas yang masih terdapat dalam rekening
dana jamkesmas belum bisa diakui sebagai pendapatan RSUD.
Untuk tujuan pengendalian dan kepentingan transparansi, dana yang
belum diklaim dan masih ada di rekening dana jamkesmas harus
diungkapkan dalam CaLK pada akun kas. Pengungkapannya meliputi
saldo awal, jumlah dana jamkesmas yang diterima dalam TA yang
bersangkutan, jumlah dana yang dicairkan (diklaim) dan saldo akhir.
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas
31. Q : Apakah sisa dana pelayanan kesehatan program jamkesda dari Provinsi
ke RS-RS Kabupaten yang sampai akhir tahun masih tersimpan di
rekening dana jamkesda dapat diakui sebagai pendapatan RSUD atau
tidak?
A : Pembahasan dan kesimpulan sama dengan pertanyaan di atasnya
(Jamkesmas).
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas
32. Q : Mohon penjelasan terhadap beberapa masalah terkait penggunaan
langsung penerimaan klaim askes/jamkesmas berikut.
• Penganggaran penerimaan retribusi pelayanan kesehatan yang berasal
dari klaim Askes dan Jamkesmas tidak dilakukan secara Bruto.
• Realiasi penerimaan retribusi pelayanan kesehatan yang berasal dari
klaim Askes dan Jamkesmas tidak disetorkan seluruhnya ke Kas
Daerah.
• Penggunaan langsung penerimaan retribusi pelayanan kesehatan yang
berasal dari klaim Askes dan Jamkesmas tidak disajikan sebagai
pendapatan dalam LRA.
• Penatausahaan penerimaan dan penggunaan langsung tidak tertib.
A : 1) Prosedur pemeriksaan yang perlu dikembangkan adalah untuk
memperoleh keyakinan memadai apakah RSUD tersebut BLU atau
bukan, apakah penerimaan tersebut dianggarkan dalam DPA RSUD
dan APBD, apakah kebijakan penggunaan langsung Kepala Daerah

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 26


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

mengacu pada ketentuan yang lebih tinggi dan mengatur secara jelas
peruntukkan penggunaannya, apakah terdapat penggunaan langsung
untuk kepentingan yang tidak diperkenankan oleh peraturan
perundangan (misal: untuk kepentingan pribadi, dll.), apakah atas
penggunaan langsung tersebut terdapat pengembalian setelah tanggal
neraca dan pada saat pemeriksaan telah disetorkan ke Kas Daerah.

2) Jika RSUD tersebut adalah BLU maka penggunaan langsung tersebut


diperkenankan sesuai PP 58 Tahun 2005 pasal 149.
3) Jika RSUD tersebut bukan BLU (berupa SKPD) dan penerimaan
maupun belanja yang dibiayai dari penggunaan langsung penerimaan
tersebut dianggarkan, maka sesuai PSAP 02 paragraf 8 pemeriksa
hendaknya pemeriksa menawarkan koreksi tambah atas pendapatan
retribusi pelayanan kesehatan dan belanja terkait, dengan bukti trasaksi
berupa memo jurnal dan SPJ pendapatan dan belanja RSUD yang
disahkan PPKD dan didukung bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran
RSUD.
Sedangkan bila penerimaan maupun belanja yang dibiayai dari
penggunaan langsung penerimaan tersebut tidak dianggarkan namun
tidak terdapat penggunaan langsung untuk kepentingan yang tidak
diperkenankan oleh peraturan perundangan maka, sesuai PP 58 Tahun
2005 Pasal 16 dan 17, pemeriksa menyusun Temuan Pemeriksaan
yang mempengaruhi kewajaran LKPD, dan menyarankan agar di masa
mendatang menyetorkan seluruh penerimaan ke Kas Daerah serta dan
agar RSUD ybs menganggarkan pendapatan dan belanjanya dengan
cermat.
Jika penerimaan maupun belanja yang dibiayai dari penggunaan
langsung penerimaan tersebut tidak dianggarkan dan terdapat
penggunaan langsung untuk kepentingan yang tidak diperkenankan
oleh peraturan perundangan maka, sesuai PP 58 Tahun 2005 Pasal 16
dan 17, pemeriksa menyusun Temuan Pemeriksaan yang
mempengaruhi kewajaran LKPD, serta menyarankan agar di masa
mendatang menyetorkan seluruh penerimaan ke Kas Daerah dan
menyetorkan nilai penggunaan diluar ketentuan tersebut ke Kas Daerah
serta dan agar RSUD ybs menganggarkan pendapatan dan belanjanya
dengan cermat.
Jika penerimaan maupun belanja yang dibiayai dari penggunaan
langsung penerimaan tersebut tidak dianggarkan dan terdapat
penggunaan langsung untuk kepentingan yang tidak diperkenankan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 27


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

oleh peraturan perundangan namun terdapat pengembalian setelah


tanggal neraca dan pada saat pemeriksaan telah disetorkan ke Kas
Daerah maka, berdasarkan prinsip Kejadian Setelah Tanggal Neraca
dan PSAP 01 (PP 24 Tahun 2005), pemeriksa menyusun Temuan
Pemeriksaan yang tidak mempengaruhi kewajaran LKPD dan
menawarkan koreksi tambah pada akun Kas di Bendahara Penerimaan
dan Pendapatan yang Ditangguhkan, serta menyarankan agar di masa
mendatang menyetorkan seluruh penerimaan ke Kas Daerah dan agar
RSUD ybs menganggarkan pendapatan dan belanjanya dengan cermat.

Kondisi tersebut diatas dapat dikemukakan sebagai berikut.

No. Tidak Transaksi Pengemb Pengaruh Rekomendasi


Dianggar tidak alian kas Opini
kan diperkenan ke Kasda
kan

1 √ X X √ 1. Tinjau ulang kebijaksanaan


pengg lgs termasuk
mendorong menjadi BLUD.
2. Penganggaran belanja scr
cermat

2 √ √ X √ 1. Tinjau ulang kebijaksanaan


pengg lgs termasuk
mendorong menjadi BLUD.
2. Setor ke Kasda
3. Penganggaran belanja scr
cermat

3 √ √ √ X 1. Tinjau ulang kebijaksanaan


pengg lgs termasuk
mendorong menjadi BLU.
2. Penganggaran belanja scr
cermat
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas

33. Q : Kapan pendapatan dari program Jamkesmas diakui oleh RSUD?


A : Pendapatan dari program Jamkesmas diakui oleh RSUD setelah
pertanggungjawaban dana ditandatangani oleh Direktur PPK dan
Verifikator Independen dan dicairkan.
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 28


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

34. Q : Apakah jasa giro dari dana jamkesmas yang ada di rekening transitoris
dapat diakui sebagai pendapatan RSUD?
A : Jasa giro dari dana jamkesmas yang ada di rekening transitoris tidak dapat
diakui sebagai pendapatan RSUD karena harus disetor ke rekening kas
negara.
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas
35. Q : Apakah klaim yang sudah diajukan RSUD tapi belum disahkan verifikator
independen dapat diakui sebagai piutang ?
A : Klaim yang sudah diajukan RSUD tapi belum disahkan verifikator
independen tidak dapat diakui sebagai piutang karena klaim tersebut
belum sah. Namun, apabila laporan pertanggungjawaban telah disahkan
dan dana belum dicairkan maka dapat disajikan sebagai piutang.
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas
36. Q : Apakah sisa dana pelayanan kesehatan program jamkesmas yang sampai
akhir tahun masih tersimpan di rekening giro POS dapat diakui sebagai
pendapatan Puskesmas atau tidak ?
A : Sisa dana dalam rekening giro pos belum dapat diakui sebagai
pendapatan Puskesmas karena :
1) Dana tersebut merupakan bantuan sosial dari Kementerian Kesehatan
dan sudah dipertanggungjawabkan secara definitif yang
pengeluarannya ditujukan kepada masyarakat miskin untuk bisa
mendapatkan pelayanan kesehatan. Dengan demikian dana
jamkesmas tersebut sebenarnya merupakan dana masyarakat miskin
yang akan digunakan bila masyarakat miskin tersebut mendapatkan
pelayanan kesehatan.
2) Puskesmas dapat mencairkan dana dari rekening giro pos dan
mengakui pendapatan sejumlah dana yang dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian sisa dana jamkesmas yang masih terdapat dalam
rekening giro pos belum bisa diakui sebagai pendapatan Puskesmas.
Untuk tujuan pengendalian dan kepentingan transparansi, dana yang
belum diklaim dan masih ada di rekening giro pos maka dana tersebut
harus diungkapkan dalam CaLK pada akun kas. Pengungkapannya
meliputi saldo awal, jumlah dana jamkesmas yang diterima dalam TA yang
bersangkutan, jumlah dana yang dicairkan (diklaim) dan saldo akhir.
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 29


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

37. Q : Kapan pendapatan dari program Jamkesmas diakui oleh Puskesmas?


A : Pencairan dana untuk tahap awal dan pengakuan pendapatan dari
program Jamkesmas dilakukan oleh Puskesmas setelah Puskesmas
membuat Plan of Action (POA) dan pencairan dana tahap berikutnya dapat
dilakukan setelah membuat laporan pemanfaatan dana sebelumnya dan
laporan hasil kegiatan. Laporan-laporan tersebut dilakukan verifikasi oleh
Tim Pengelola Jamkesmas Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dari hasil
pengecekan (verifikasi tersebut) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
memberikan rekomendasi untuk pencairan dana berikutnya. Puskesmas
tidak boleh mencairkan dana dari rekening giro pos Puskesmas apabila
bukti pengambilan/slip tidak disahkan oleh kepala dinas kesehatan
Kabupaten/Kota atau pejabat yang ditunjuk.
Dasar Hukum : Keputusan Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat No:
HK.02.04/BI.1/2708/09 tgl 21 Agustus 2009 tentang Petunjuk Teknis
Program Jamkesmas di Puskesmas dan Jaringannya Tahun 2009
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas
38. Q : Terdapat perbedaan aturan penggunaan langsung penerimaan
Puskesmas antara Pedoman Pelaksanaan Program Jamkesmas Tahun
2010 dengan Permendagri No. 13 Tahun 2006 (asas bruto). Bagaimana
perlakuan akuntansinya ?
A : Pedoman Pelaksanaan Program Jamkesmas Tahun 2010 mengatur
bahwa penerimaan Puskesmas dapat digunakan langsung oleh
Puskesmas sedangkan dalam UU No. 17 Tahun 2003, Permendagri No.
13 Tahun 2006 diatur bahwa setiap penerimaan Daerah harus segera
disetorkan ke Kas Daerah.
Dengan kompleksnya perlakuan akuntansi atas penerimaan dan
penggunaan langsung dan yang diterima di puskesmas, maka untuk
memenuhi asersi kelengkapan baik penerimaan maupun penggunaan
langsung di puskesmas harus diungkapkan dalam CaLK.
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 30


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

Belanja
39. Q : Dalam pemeriksaan sering dijumpai pencairan uang tanpa SP2D dan
hanya berdasar SPM. Apakah dapat diperbolehkan ?

A : Pedoman pengelolaan keuangan daerah telah diatur dalam PP Nomor 58


tahun 2005 dan Permendagri Nomor 13 tahun 2006 sebagaimana telah
diubah dengan Permendagri Nomor 59 tahun 2007. Pasal 65 PP Nomor 58
tahun 2005 menyatakan bahwa:
1) Ayat (1) : Pelaksanaan pengeluaran atas beban APBD dilakukan
berdasarkan SPM yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa
pengguna anggaran;
2) Ayat (2) : Pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dengan penerbitan SP2D oleh kuasa BUD.
Lebih lanjut dinyatakan bahwa Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D)
adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pencairan dana yang
diterbitkan oleh BUD. Berdasarkan ketentuan tersebut, pencairan uang
dari Kas Daerah dapat dikatakan sah jika dilakukan melalui penerbitan
SP2D, dengan sebelumnya didasari atas SPP dan SPM.
Jika pencairan uang tanpa SP2D digunakan untuk pengadaan barang/jasa,
perlu diyakini bahwa barang/jasa telah diterima (ada). Masukkan
permasalahan tersebut dalam laporan kepatuhan/SPI dan jelaskan hal
tersebut dalam CALK pada akun ybs.
Jika pencairan uang tanpa SP2D tidak didukung dengan bukti yang
lengkap dan sah serta tidak ada bukti bahwa barang/jasa telah diterima,
hal tersebut berpengaruh kepada opini jika material. Masukkan
permasalahan tersebut dalam laporan kepatuhan/spi.
Jika menurut sistem yang berlaku di Pemda yang bersangkutan, SPM
sekaligus berfungsi sebagai SP2D maka disajikan dalam Temuan SPI dan
direkomendasikan untuk merubah sistem sesuai ketentuan.
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas
40. Q : Bagaimana penyajian di LK atas SP2D yang telah diterbitkan, tetapi kas
belum keluar dari rekening Pemda di Bank Persepsi ?
A : 1) Atas SP2D yang telah diterbitkan tetapi kas belum keluar dari rekening
Pemda di Bank Persepsi tersebut sudah dapat disajikan dalam LRA,

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 31


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

dan LAK;. Kas Daerah yang disajikan di neraca adalah kas yang ada di
rekening koran setelah direkonsiliasi.
2) Ungkapkan dalam CaLK atas akun Kas di Neraca dan LAK, bahwa
terdapat SP2D yang belum dicairkan.
Kesimpulan: cukup jelas
41. Q: Apakah langkah pemeriksa bila ditemukan kegiatan yang tidak tersedia
anggaran ?
A : 1) Ungkap sebagai temuan kepatuhan (bertentangan dengan UU Nomor 1
Tahun 2004);

2) Bila material, harus menjadi pertimbangan pemberian opini.


Kesimpulan: cukup jelas
42. Q : Saat melakukan pemeriksaan terkait Bansos, Pengadaan Barang, ataupun
Pembangunan Fisik, Tim sering berdebat sedalam apa pemeriksaan
tersebut harus dilakukan khususnya untuk mendeteksi terjadinya
Ketidakpatuhan atau Fraud. Saat memeriksa Bansos, apakah harus
memeriksa sampai kepenerima dan penggunaannya atau cukup sampai
dengan bukti pengeluaran berupa SPM, SP2D dan tanda tangan
penerima? Demikian juga saat memeriksa Pengadaan Barang atau
Pembangunan Fisik apakah perlu diperdalam hingga ke rekanan ataupun
menggunakan konsultan atau uji laboratorium untuk menguji hasil
pembangunan fisik?

A : Dalam SPKN dinyatakan di bagian Pernyataan Standar Pelaksanaan


Tambahan Ketiga sebagai berikut.
1) Pemeriksa harus merancang pemeriksaan untuk memberikan
keyakinan yang memadai guna mendeteksi salah saji material yang
disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap ketentuan kontrak/perjanjian
yang berpengaruh langsung dan material terhadap kewajaran penyajian
laporan keuangan. Jika informasi tertentu menjadi perhatian pemeriksa,
diantaranya terdapat informasi tersebut memberikan bukti yang
berkaitan dengan penyimpangan dari ketentuan dan peraturan
perundang-undangan serta ketidakpatuhan terhadap kontrak/perjanjian
yang berpengaruh material tetapi tidak langsung terhadap kewajaran
penyajian laporan keuangan, pemeriksa harus menerapkan prosedur
pemeriksaan khusus untuk memastikan bahwa penyimpangan dari

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 32


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

ketentuan dan peraturan perundang-undangan serta ketidakpatuhan


terhadap kontrak/perjanjian telah terjadi atau akan terjadi.
2) Pemeriksa harus waspada pada situasi atau kondisi yang mungkin
merupakan indikasi kecurangan dan/atau ketidakpatutan, dan jika timbul
indikasi hal tersebut serta berpengaruh signifikan terhadap kewajaran
penyajian laporan keuangan, pemeriksa harus menerapkan prosedur
pemeriksaan khusus untuk memastikan bahwa kecurangan dan/atau
ketidakpatutan telah terjadi dan menentukan dampaknya terhadap
kewajaran penyajian laporan keuangan.
Kesimpulan:
Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa pemeriksa harus
menerapkan prosedur pemeriksaan khusus bila ada 1) bukti atau indikasi
dan 2) berpengaruh material atau signifikan terhadap penyajian laporan
keuangan.
Sebagai tambahan apabila dimasyarakat hal bukti/indikasi terkait
ketidakpatuhan/fraud telah beredar dan menjadi isu publik, maka hal ini
pun dapat dijadikan pertimbangan oleh pemeriksa untuk menerapkan
prosedur pemeriksaan khusus tersebut.
43. Q : Bagaimana sikap kita atas permasalah Proyek fisik belum selesai (prestasi
proyek 80%) pada 31 Desember, tetapi uang sudah dicairkan
(dipertanggungjawabkan 100%) dengan dokumen pembayaran fiktif
dengan kondisi fisik sampai dengan pemeriksaan berakhir tetap belum
selesai dan telah selesai ?
A : 1) Ungkap dalam temuan kepatuhan karena tidak sesuai:
(1) UU No 1 tahun 2004 psl 21 ayat (1) yang menyatakan Pembayaran
atas beban APBN/APBD tidak boleh dilakukan sebelum barang
dan/atau jasa diterima.

(2) PP No. 58 Tahun 2005 pasal 60 ayat (1) yang menyatakan Setiap
pengeluaran harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah
mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih.
2) Jika telah dicairkan ke rekening rekanan (kemudian diblokir), maka:
(1) Dalam Neraca, Aset Tetap perlu diusulkan koreksi menjadi KDP.
Nilai yang diakui dalam KDP sebesar progress fisik pekerjaan yang
telah diserahkan kepada Pemda (termin yang telah dibayar
ditambah progress fisik yang telah diserahkan namun belum

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 33


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

dibayar).
Contoh: Pembayaran 100%, progress fisik 70%.
Jurnal di Neraca:

KDP 70%
EDI-Aset Tetap 30%
Aset Tetap 100%

(2) Piutang merupakan tuntutan terhadap pihak tertentu yang


penyelesaiannya diharapkan dalam bentuk kas selama kegiatan
normal entitas. Oleh karena itu pengakuan piutang yang dilakukan
oleh pemerintah daerah menjadi tidak pas karena tidak sesuai
dengan definisi diatas. Selain itu, dalam hal dana yang ditransfer ke
rekening rekanan diblokir, maka rekanan tidak dapat mengakses
atau menggunakan dana yang ditransfer tersebut, sehingga
pengakuan piutang menjadi tidak tepat.
Kondisi tersebut lebih mencerminkan pembayaran belanja yang
masih belum direalisasikan, maka sebaiknya dicatat sebagai aset
lainnya (beban dibayar dimuka).
Jurnal di Neraca:

Aset Lainnya 30%


EDI 30%
(3) Dalam LRA, Belanja Modal yang tercatat sebesar 100% tidak
mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Hal ini tidak memenuhi
asersi “Keterjadian (Occurence)”. Sehubungan kondisi tersebut
tidak memenuhi asersi “keterjadian” maka berdampak terhadap
kewajaran penyajian Belanja Modal dan dapat dijadikan alasan
pengecualian dalam opini.
3) Jika telah dicairkan ke rekening titipan bank daerah (bukan dalam
bentuk giro/tabungan yang dikuasai BUD/Bendahara Pengeluaran),
maka:
(1) Perlakuan sama dengan butir 2.a. di atas.

(2) Tidak ada pengakuan Piutang Lainnya (Aset Lancar) di Neraca


karena tidak ada pihak yang berhutang.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 34


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

(3) Dalam LRA , Belanja Modal yang tercatat sebesar 100% tidak
mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Hal ini tidak memenuhi
asersi “Keterjadian (Occurence)”. Sehubungan kondisi tersebut
tidak memenuhi asersi “keterjadian” maka berdampak terhadap
kewajaran penyajian Belanja Modal dan dapat dijadikan alasan
pengecualian dalam opini.

(4) Adanya dana dalam Rekening Titipan juga dapat dijadikan dasar
pengecualian opini karena masih ada kas pada rekening yang tidak
jelas status hak dan kewajibannya. (pengecualian pada akun Kas)
4) Jika telah dicairkan ke rekening selain Kas Daerah namun masih
dikuasai Pemda (seperti rekening giro/tabungan yang dikuasai BUD
namun tidak dilaporkan atau rekening Bendahara Pengeluaran), maka:

(1) Perlakuan sama dengan butir 2.a. di atas.


(2) Tidak ada pengakuan Piutang Lainnya (Aset Lancar) di Neraca
karena tidak ada pihak yang berhutang.

(3) Adanya kas pada rekening giro/tabungan yang dikuasai BUD


namun tidak dilaporkan atau kas pada rekening Bendahara
Pengeluaran untuk menampung pembayaran yang melebihi
progress fisik, sebenarnya harus dilaporkan dalam Neraca. Namun
demikian, pengakuan kas tersebut harus juga mengakui (sisi kredit)
EDL-SILPA.

Karena dalam LRA tidak ada usulan koreksi (jika tidak


diperkenankan koreksi Belanja Modal di LRA), maka SILPA di LRA
tidak berubah (tetap). Oleh karena itu, jika dilakukan koreksi
pengakuan Kas (debet) dan EDL-SILPA (kredit) di Neraca, akan
timbul perbedaan saldo SILPA di LRA dengan SILPA di Neraca.
Oleh karena itu, tidak dapat diakui Kas (debet) dan EDL-SILPA
(kredit) di Neraca.
Dengan demikian, kondisi tersebut mengakibatkan saldo Kas di
Neraca dapat dijadikan dasar pengecualian karena tidak memenuhi
asersi “kelengkapan (completeness).”
(5) Dalam LRA , Belanja Modal yang tercatat sebesar 100% tidak
mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Hal ini tidak memenuhi
asersi “Keterjadian (Occurence)”. Sehubungan kondisi tersebut
tidak memenuhi asersi “keterjadian” maka berdampak terhadap

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 35


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

kewajaran penyajian Belanja Modal dan dapat dijadikan alasan


pengecualian dalam opini.
5) Jika telah dicairkan ke rekening rekanan dan rekanan menerbitkan
jaminan bank atas pembayaran yang belum terrealisasi pekerjaannya,
maka:
(1) Perlakuan sama dengan usulan kebijakan 2a.

(2) Adanya garansi bank yang diberikan oleh rekanan perlu dicatat oleh
Pemerintah Daerah dalam CaLK.
(3) Perlakuan sama dengan usulan kebijakan 2c.

Namun demikian, karena kasus ini terjadi secara nasional dan belum
ada jalan keluarnya, sedangkan sistem anggaran dan sistem akuntansi
tidak menjembatani atau memberi jalan keluar kejadian tersebut, maka
kebijakan sementara adalah sbb:
(1) Apabila pada saat pekerjaan lapangan berlangsung dan fisik
pekerjaan sudah selesai, maka perlu diungkapkan sebagai temuan,
namun tidak mempengaruhi opini;
(2) Apabila pada saat auditor memulai pemeriksaan (entry) dan fisik
pekerjaan belum selesai, maka berlaku langkah nomor 1 s.d. 5

Kesimpulan: cukup jelas


44. Q : Apakah SE Bappenas juga mengikat bagi pemerintah daerah jika
pemerintah daerah telah menetapkan standar biaya untuk biaya langsung
personil dan non personil (termasuk hal-hal yang mengatur boleh dan
tidaknya pengeluaran yang dibebankan dalam kontrak jasa kontraktual)?
A : SE Bappenas tidak dapat digunakan sebagai kriteria dalam pemeriksaan
jasa konsultan sejak keluarkan Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Kesimpulan: cukup jelas

45. Q : Bagaimana dengan Kompensasi masa pemeliharaan dengan penahanan


pembayaraan (biasanya 5%).
A : 1) Jika sampai dengan 31 Desember penyerahan pertama telah diterima
pemda 100% (fisik 100%), pembayaran dilakukan 100%, dan pihak
ketiga menyerahkan bank garansi senilai 5% dari total kontrak, maka

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 36


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

dalam Neraca diakui Aset Tetap yang bersangkutan (bukan KDP)


sebesar 100% dan dalam LRA diakui Belanja Modal sebesar 100%.
Adanya jaminan bank (bank garansi) tersebut harus diungkapkan dalam
CALK.
2) Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2006 tentang
Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003
(Perubahan Keempat), pembayaran termin terakhir atas penyerahan
pekerjaan yang sudah jadi dari Pihak Ketiga, dapat dilakukan melalui
dua (2) cara yaitu:

1. Pembayaran dilakukan sebesar 95 % (sembilan puluh lima persen)


dari nilai kontrak, sedangkan yang 5 % (lima persen) merupakan retensi
selama masa pemeliharaan.
2. Pembayaran dilakukan sebesar 100 % (seratus persen) dari nilai
kontrak dan penyedia barang/jasa harus menyerahkan jaminan bank
sebesar 5 % (lima persen) dari nilai kontrak yang diterbitkan oleh Bank
Umum atau oleh perusahaan asuransi yang mempunyai program
asuransi kerugian (surety bond) dan direasuransikan sesuai dengan
ketentuan Menteri Keuangan. Penahanan pembayaran senilai 5 (lima)
persen dari nilai kontrak seperti dimaksud dalam nomor 1 harus diakui
sebagai utang retensi, sedangkan jaminan bank untuk pemeliharaan
harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Kesimpulan: cukup jelas
46. Q : Bagaimana bila ditemukan pembayaran pekerjaan yang melebihi
prestasi ?

A : Jika kondisi ini terjadi, maka perlakuannya sama dengan perlakuan pada
permasalahan pertama: : Proyek fisik belum selesai pada 31 Desember,
tetapi uang sudah dicairkan dengan dokumen pembayaran fiktif.
Kesimpulan: cukup jelas
47. Q : Pemda mengadakan tanah untuk keperluan pembangunan fasilitas publik
dan bangunan dinas. Atas pengadaan tersebut, bukti pertanggungjawaban
belanja modal pengadaan tanah tidak dilengkapi dengan pemungutan dan
penyetoran PPh atas Pengalihan Hak atas Tanah. Apakah hal tersebut
dibenarkan ?
A : 1) Prosedur pemeriksaan yang perlu dikembangkan adalah untuk
memperoleh keyakinan: apakah persyaratan khusus pelaksanaan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 37


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

pembangunan untuk kepentingan umum atas tanah yang diadakan


tersebut terpenuhi atau tidak, apakah Pemda telah berkonsultasi
dengan pihak KPP terdekat tentang kewajiban PPh atas Pengalihan
Hak atas Tanah yang diadakan, apakah PPh atas Pengalihan Hak atas
Tanah yang diadakan telah dipungut Bendahara Pemda, apakah PPh
atas Pengalihan Hak atas Tanah yang diadakan telah disetorkan ke Kas
Negara.
2) Jika persyaratan khusus pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan
umum atas tanah yang diadakan tersebut terpenuhi dan PPh atas
Pengalihan Hak atas Tanah yang diadakan telah dipungut Bendahara
Pemda, maka pemeriksa menyusun temuan pemeriksaan dengan saran
agar Pemda segera berkoordinasi dengan KPP terdekat tentang
penyetoran PPh oleh pihak yang tidak wajib bayar menindaklanjuti
sesuai hasil koordinasi.
3) Jika persyaratan khusus pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan
umum atas tanah yang diadakan tersebut tidak terpenuhi dan PPh atas
Pengalihan Hak atas Tanah yang diadakan tidak dipungut Bendahara
Pemda, maka pemeriksa menyusun temuan pemeriksaan yang tidak
mempengaruhi kewajaran LKPD dengan saran segera memungut dan
menyetorkan PPh atas Pengalihan Hak atas Tanah ke Kas Negara,
dengan terlebih dahulu Pemda berkoordinasi dengan KPP terdekat
tentang penerbitan SKP atas PPh tersebut. Selain menyusun temuan
pemeriksaan, pemeriksa menyarankan pengungkapan dalam CALK
atas kondisi tersebut (termasuk pengungkapan keberadaan SKP yang
diterbitkan KPP atas kewajiban bayar PPh tersebut).
4) Jika persyaratan khusus pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan
umum atas tanah yang diadakan tersebut tidak terpenuhi dan PPh atas
Pengalihan Hak atas Tanah yang diadakan telah dipungut Bendahara
Pemda namun belum disetorkan ke Kas Negara, maka pemeriksa
menyusun temuan pemeriksaan yang tidak mempengaruhi kewajaran
LKPD dengan saran segera menyetorkan ke Kas Negara dan
mengajukan usulan koreksi tambah atas Utang PFK dan Kas di
Bendahara (pada penjelasan akun Utang PFK dan Kas di Bendahara
dijelaskan bahwa nilainya termasuk potongan PPh atas Pengalihan Hak
atas Tanah yang belum disetorkan ke Kas Negara).
Kesimpulan: cukup jelas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 38


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

48. Q : Bagaimana pertanggungjawaban biaya langsung personil dan non


personil, apakah perlu dilengkapi dengan bukti pembayaran kepada
tenaga ahli dan atau pendukung maupun biaya lainnya?

A : Karena biaya yang bersifat reimbursable hanya non personil maka


pertanggungjawaban biaya langsung non personil adalah bukti-bukti
pengeluaran untuk biaya non personil. Apabila jumlahnya material dan
tidak dilengkapi bukti maka dapat mempengaruhi opini atas laporan
keuangan.
Kesimpulan: cukup jelas

49. Q : Apakah diperbolehkan pemberian belanja Bantuan Keuangan kepada


instansi vertikal dan/atau Hibah uang ke instansi vertikal ?
A : Permendagri nomor 59 tahun 2007 tentang Perubahan Atas Permendagri
Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah,
Pasal 42 ayat (1) yang pada intinya menyatakan bahwa belanja hibah
digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang,
barang dan/atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya,
perusahaan daerah, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan yang
secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya. Selain itu, Pasal 43 ayat
(1) dan (5) pada intinya menyatakan bahwa hibah kepada pemerintah
bertujuan untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan fungsi
pemerintahan di daerah dan harus dilaporkan kepada Menteri Dalam
Negeri dan Menteri Keuangan setiap akhir tahun anggaran.
Kesimpulan:
1) Diperbolehkan, selama bantuan keuangan tersebut dilaporkan oleh
pemda kepada menkeu/mendagri. Disamping itu, periksa apakah
pemda mendapat tembusan laporan penggunaan bantuan keuangan
yang dibuat oleh instansi vertikal ybs kepada instansi pusatnya;
2) Apabila pemda tidak mendapat tembusan pemberitahuan tersebut,
harus diungkapkan dalam CaLK dan tidak mempengaruhi opini.
50. Q : Bagaimana perlakuan Belanja perjalanan dinas ?

A : 1) Perjalanan dinas yang bersifat at cost dipertanggungjawabkan dengan


Surat Tugas, SPPD, dan bukti pengeluaran belanja atas perjalanan
dinas tersebut, antara lain bukti tiket, bukti kwitansi hotel dan atau bukti
sewa kendaraan (SPJ).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 39


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

2) Perjalanan dinas yang bersifat lumpsum, dipertanggungjawabkan


dengan Surat Tugas, SPPD yang di stempel oleh instansi tujuan dan
Output sesuai dengan tujuan penugasan tersebut.

3) Jika pemeriksa memiliki pertimbangan risiko perjalanan dinas fiktif maka


dapat memperluas prosedur untuk meyakinkan keterjadian perjalanan
dinas tersebut.

Dasar Kebijakan : Peraturan Kepala Daerah


Kesimpulan: cukup jelas
51. Q : Hibah dalam bentuk barang dianggarkan dalam dan direalisasikan belanja
modal. Apakah hal tersebut diperbolehkan ?
A : 1) Permasalahan realisasi anggaran yang tidak sesuai dengan anggaran
dimuat dalam temuan dan diungkapkan dalam CaLK. Mengenai
pengaruh ke opini lihat panduan penentuan opini.
2) Perlakuan terhadap aset lihat FAQ No. 16.
Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas
52. Q : Hibah dalam bentuk barang dianggarkan dalam dan direalisasikan dari
belanja barang. Apakah boleh ?
A : 1) Jika yang dimaksud hibah adalah penyerahan barang kepada
masyarakat maka dapat dianggarkan dalam belanja barang, belanja
bantuan sosial atau belanja hibah. Pemberian bantuan sosial/hibah
dalam bentuk tunai/uang tidak dapat dianggarkan dalam Belanja
barang.
2) Hibah dalam bentuk barang yang dianggarkan dalam belanja barang
diungkap dalam CaLK.

3) Apabila sampai akhir tahun masih terdapat barang yang belum diberikan
kepada penerima hibah maka barang tersebut disajikan sebagai
persediaan dalam neraca pemda.

Kesimpulan: Pembahasan sudah jelas


53. Q : Bagaimana bila dalam pemeriksaan LK ditemukan kesalahan pembebanan
atau fakta tidak sesuai dengan realisasi anggaran yang tersaji contoh:
tersaji realisasi anggaran membeli mobil ternyata yang dibeli membeli
kambing?

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 40


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

A : 1) Tidak perlu dilakukan koreksi pembukuan pada LRA. Koreksi


pembukuan dilakukan di Neraca untuk a) kapitalisasi Aset Tetap yang
dihasilkan dari belanja selain Belanja Modal dan b) tidak
mengkapitalisasi pengeluaran yang tidak menghasilkan Aset tetap dari
Belanja Modal yang digunakan untuk jenis belanja lain.
2) Diungkapkan dalam CaLK pada pos realisasi anggaran (seperti contoh:
Belanja Mobil).
3) Penjelasan lebih lanjut mengenai pengaruh pada opini dapat dilihat
pada Bab 9 Lampiran 9.5.

Kesimpulan: cukup jelas


54. Q : Bagaimana bentuk pertanggungjawaban Belanja Penunjang Operasional
(BPO) Pimpinan DPRD ?

A : Tata cara dan bentuk Pertanggungjawaban BPO pimpinan DPRD diatur


dalam Permendagri Nomor 21 tahun 2007 pasal 12 ayat (1) dan (2) dan
Pasal 13. Dalam pasal-pasal tersebut diuraikan hal sebagai berikut.
1) Sekretaris DPRD selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang
bertanggungjawab atas pengelolaan BPO Pimpinan DPRD.
2) Sekretaris DPRD selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang
mengajukan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) untuk
pencairan BPO Pimpinan DPRD sebesar 1/12 (satu perduabelas) dari
pagu 1 (satu) tahun anggaran kepada Bendahara Umum Daerah
dengan melampirkan:
(1) kuitansi sebagai tanda terima yang ditandatangani oleh Pengguna
Anggaran/ Pengguna Barang; dan

(2) pakta integritas yang sudah ditandatangani Pimpinan DPRD yang


menjelaskan penggunaan dana akan sesuai dengan
peruntukannya.
3) Pengajuan pencairan dana untuk bulan berikutnya dapat dilakukan
sepanjang penggunaan dana yang sudah diterima telah
dipertanggungjawabkan.
4) Bentuk pertanggungjawaban BPO Pimpinan DPRD sebagai berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 41


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

(1) Dalam rangka pertanggungjawaban BPO Pimpinan DPRD,


Pimpinan DPRD wajib menandatangani pakta integritas yang
menjelaskan penggunaan dana telah sesuai dengan
peruntukannya.
(2) Pertanggungjawaban penggunaan BPO Pimpinan DPRD dibuktikan
dengan laporan hasil pelaksanaan tugas yang dilengkapi dengan
rincian penggunaan BPO Pimpinan DPRD.
(3) Rincian penggunaan BPO Pimpinan DPRD memuat kegiatan,
tujuan, penerima (masyarakat/Kelompok masyarakat) dan waktu
penggunaan dana yang ditandatangani Pimpinan DPRD.
(4) Bukti pertanggungjawaban penggunaan dana disampaikan kepada
Bendahara Pengeluaran setiap bulan paling lambat tanggal 5 bulan
berikutnya.
Kesimpulan:
Bentuk pertanggungjawaban Belanja Penunjang Operasional Pimpinan
DPRD :
1) kuitansi sebagai tanda terima yang ditandatangani oleh Pengguna
Anggaran/ Pengguna Barang; dan
2) pakta integritas yang sudah ditandatangani Pimpinan DPRD yang
menjelaskan penggunaan dana akan sesuai dengan peruntukannya.
55. Q : Apakah diperbolehkan Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD
melebihi ketentuan yang telah ditetapkan ?
A : Apabila BPO Pimpinan DPRD melebihi ketentuan sebagaimana telah
ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah No 21 Tahun 2007 tentang
Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 2004 tentang
Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah dan Permendagri No 21 Tahun 2007, maka
atas kelebihan pembayaran tersebut harus disetorkan ke Kas Daerah.
Karena dalam masalah ini sudah jelas aturan mengenai besaran BPO
pimpinan DPRD.

Kesimpulan:
BPO yang melebihi ketentuan yang telah ditetapkan harus disetorkan ke
Kas Daerah.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 42


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

56. Q : Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD dengan Belanja


Penunjang Operasional Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah apakah
dapat dipersamakan perlakuannya terutama terkait dengan bukti
pertanggungjawabannya ?
A : BPO Pimpinan DPRD sesuai dengan tujuan pemberiannya adalah dana
yang disediakan bagi pimpinan DPRD setiap bulan untuk menunjang
kegiatan operasional yang berkaitan dengan representasi, pelayanan, dan
kebutuhan lain guna melancarkan pelaksanaan tugas pimpinan DPRD
sehari-hari, sedangkan BPO KDH/WKDH sesuai dengan ketentuan PP 109
Tahun 2000 bahwa biaya penunjang operasional KDH/WKDH
dipergunakan untuk koordinasi,. penanggulangan kerawanan sosial
masyarakat, pengamanan dan kegiatan khusus lainnya guna mendukung
pelaksanaan tugas Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
Berdasarkan Penjelasan Peraturan Pemerintah No 21 Tahun 2007
dinyatakan bahwa penyediaan Belanja Penunjang Operasinal DPRD
mempertimbangkan prinsip kesetaraan yang dicerminkan dari adanya
kesetaraan antara Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan Pimpinan
DPRD yang masing-masing memperolah dana operasional.
Kesimpulan:
Dengan demikian, maka selayaknya pertanggungjawaban Belanja
Penunjang Operasional Pimpinan DPRD dengan Belanja Penunjang
Operasional Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah disesuaikan dengan
jenis belanjanya.
57. Q : Bagaimana bila BPO DPRD digunakan tidak sesuai dengan ketentuan ?

A : BPO Pimpinan DPRD dipergunakan untuk :


1) Representasi, antara lain menyampaikan berbagai informasi dan
permasalahan yang ada di masyarakat, melaksanakan dan
memasyarakatkan keputusan DPRD kepada seluruh Anggota DPRD.
2) Pelayanan, antara lain untuk pelayanan keamanan dan transportasi.
3) kebutuhan lain, antara lain untuk mengikuti upacara kenegaraan,
upacara peringatan hari jadi daerah, pelantikan pejabat daerah,
melakukan koordinasi dan konsultasi kepada kepala daerah,
musyawarah pimpinan daerah, dan tokoh-tokoh masyarakat, menjadi
juru bicara DPRD dan pemberian bantuan kepada
masyarakat/kelompok masyarakat yang sifatnya insidental.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 43


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

Kesimpulan:
Dalam kaitan pemeriksaan LKPD ini pertanggungjawaban BPO Pimpinan
DPRD, dianggap lengkap sepanjang memenuhi persyaratan di atas

58. Q : Apakah bantuan keuangan kepada Muspida diperbolehkan?


A : Tidak diperbolehkan, yang diperbolehkan adalah pemberian honorarium
kepada Muspida yang melekat pada kegiatan. Namun demikian perlu
dilakukan pengujian apakah pemberian honorarium tersebut melekat pada
kegiatan dan jumlahnya wajar..
Kesimpulan: cukup jelas

59. Q : Bagaimana definisi pemberian bantuan sosial tidak diberikan secara terus
menerus?
A : Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan kepada
masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial.
Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat
dan/atau lembaga kemasyarakatan termasuk didalamnya bantuan untuk
lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan.
Belanja Bantuan Sosial adalah pengeluaran pemerintah dalam bentuk
uang/barang atau jasa kepada masyarakat yang bertujuan untuk
peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang sifatnya tidak terus-menerus
dan selektif.
Tidak terus menerus diartikan bahwa bantuan sosial tidak wajib dan tidak
harus diberikan setiap tahun anggaran. Dengan demikian perlu dicermati
apakah pemberian bantuan sosial tersebut telah diberikan kepada pihak
yang memang benar-benar membutuhkan (lakukan konfirmasi jika perlu.
Perlu diperhatikan peraturan kepala daerah yang mengatur tentang syarat-
syarat penerima bantuan.
Pemberian belanja bantuan sosial umumnya bersifat sementara dan tidak
terus menerus, namun terdapat kondisi dimana Belanja Bantuan Sosial
tersebut diberikan secara terus menerus atau berkelanjutan. Yang
dimaksud dengan Belanja Bantuan Sosial berkelanjutan yaitu bantuan
yang diberikan secara terus menerus untuk mempertahankan taraf
kesejahteraan sosial dan upaya untuk mengembangkan kemandirian.
Belanja bantuan sosial yang diberikan secara tidak terus menerus/tidak
mengikat diartikan bahwa pemberian bantuan tersebut tidak wajib dan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 44


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

tidak harus diberikan setiap tahun anggaran, belanja bantuan sosial


dihentikan pada saat pihak yang dibantu telah lepas dari masalah sosial
tersebut. Bantuan sosial dapat terus menerus, misalnya untuk menjaga
kinerja sosial yang telah tercapai agar jangan menurun kembali.
Jangka waktu pemberian belanja bantuan sosial kepada anggota
masyarakat atau kelompok masyarakat tergantung pada apakah si
penerima bantuan masih memenuhi kriteria/persyaratan sebagai pihak
yang berhak menerima bantuan.
Apabila si penerima sudah tidak termasuk yang mempunyai resiko sosial,
telah dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum maka kepada yang
bersangkutan tidak dapat diberikan bantuan lagi.
Contoh yang bersifat sementara: Pemerintah memberikan bantuan
terhadap orang cacat, namun setelah orang tersebut dapat mandiri,
belanja bantuan sosial tersebut dihentikan.
Contoh yang bersifat berkelanjutan: Pemerintah memberikan bantuan
terhadap orang cacat yang tidak pernah dapat mandiri, belanja bantuan
sosial tersebut dapat diberikan secara berkelanjutan.
Kesimpulan: cukup jelas
60. Q : Bagaimana pertanggungjawaban bantuan sosial dan belanja hibah,
apakah sampai dengan laporan pertanggungjawaban. Jika tidak terdapat
laporan pertanggungjawaban apakah mempengaruhi opini?

A : Pengeluaran bantuan sosial dan belanja hibah dianggap sah apabila telah
dilengkapi dengan proposal atau permintaan dari penerima dan
persetujuan kepala daerah serta SP2D yang sah dan nota hibah.
Pemeriksa juga harus memperhatikan peraturan yang ada pada masing-
masing daerah terkait belanja sosial misalnya peraturan kepala daerah
mengatur bagaimana kewajiban penerima bantuan, apakah mewajibkan
menyampaikan bantuan atau tidak. Perlu diperdalam apabila berindikasi
fiktif atau diberikan kepada pihak yang tidak memenuhi kriteria, maka
belanja bantuan tersebut dapat mempengaruhi opini atas laporan
keuangan (tergantung tingkat materialitasnya)
Kesimpulan: cukup jelas
61. Q : Apakah diperbolehkan pemberian hibah kepada klub sepakbola yang
mengikuti liga profesional?

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 45


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

A : Diperbolehkan sebaiknya melalui KONI sepanjang belum ada peraturan


yang melarang Namun perlu dilakukan pengujian atas pengendalian intern
mekanisme penyaluran bantuan kepada klub sepakbola tersebut.
Kesimpulan: cukup jelas

Laporan Arus Kas

62. Q : Apa yang menjadi dasar penyusunan LAK SP2D atau SPJ?
A : Arus kas adalah arus masuk dan arus masuk keluar kas dan setara kas
pada BUD. Pada prinsipnya penggunaan kedua dasar penyusunan LAK
tersebut akan menghasilkan saldo kas sama. Mengingat secara substansi
tidak terdapat perbedaan maka dikembalikan kembali kepada masing-
masing pemerintah daerah dengan catatan saldo yang disajikan dalam
LAK dapat diyakini. Dasar hukum : PSAP 03 Laporan Arus Kas
Kesimpulan: cukup jelas
63. Q : Jenis transaksi apa yang tidak akan tersaji dalam LAK?
A : Transaksi yang tidak tersaji dalam LAK adalah pemotongan dan
pemungutan PFK oleh Bendahara pengeluaran, transaksi kas di BLUD.
Dasar hukum : PSAP 03 Laporan Arus Kas paragraf 29.

Kesimpulan: cukup jelas


64. Q : Apakah SILPA Tahun Lalu disajikan seluruhnya atau sebagian sebagai
penerimaan pembiayaan dalam LRA tahun berjalan?

A : Pada umumnya Realisasi SILPA di LRA tahun berjalan adalah sebesar


SILPA tahun lalu namun dalam hal Perda APBD menetapkan jumlah
tertentu misalnya hanya sebesar jumlah defisit maka penyajiaanya
mengikuti Perda tersebut.
Kesimpulan: cukup jelas
65. Q : Ditemukan dalam pemeriksaan hal-hal berikut :

a) SPJ dipertanggungjawaban antara tanggal 31 Desember sampai


dengan tanggal 10 Januari TA berikutnya;

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 46


Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

b) SPJ dipertanggungjawabkan setelah tanggal 10 Januari sampai tanggal


pemeriksaan berakhir;
c) Penyajian penyetoran sisa UP Tahun lalu di LAK.

A : Permasalahan a.
1. Disajikan sebagai beban di LRA,
2. tidak tersaji sebagai kas di bendahara pengeluaran,
3. disajikan sebagai pengeluaran atas mata anggaran beban di LAK
Permasalahan b.
1. Disajikan sebagai beban di LRA,
2. tidak tersaji sebagai kas di bendahara pengeluaran,
3. Diungkap dalam Temuan
Permasalahan c.
Disajikan sebagai hasil aktivitas non anggaranpenerimaan sisa UP tahun
lalu.
Kesimpulan: cukup jelas
64. Q : Mohon penjelasan atas hal berikut.
a. SPJ belum dipertanggungjawabkan sampai pemeriksaan berakhir;
b. SPJ tidak lengkap;
c. SPJ tidak diperoleh dan tidak ada prosedur pemeriksaan lain.
A : Permasalahan a, b dan c dijadikan temuan pemeriksaan dan jika material
dapat mempengaruhi opini.

Kesimpulan: cukup jelas


65. Q : Bagaimana perlakuan akuntansi apabila Pemda menerima hibah dalam
bentuk non kas?
A : Penerimaan hibah non kas diungkapkan dalam CALK dan aset perolehan
hibah dicatat dalam neraca.
Kesimpulan: cukup jelas

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 47


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan


Pemerintah ..............
Tahun Anggaran...........
BPK RI

PEMAHAMAN TUJUAN DAN HARAPAN PENUGASAN

I. Tujuan Penugasan

Tujuan pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) TA ......... adalah


untuk memperoleh keyakinan yang memadai (reasonable assurance) apakah LKPD
telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan Prinsip
Akuntansi yang Berlaku Umum dengan memperhatikan:

1. Kesesuaian LKPD dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).


2. Kecukupan pengungkapan.
3. Konsistensi penerapan prinsip akuntansi.
4. Efektivitas sistem pengendalian intern.
5. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.

II. Harapan Penugasan

1. Standar Pemeriksaan
Dalam rangka pencapaian tujuan pemeriksaan di atas, pemeriksa LKPD Tahun
Anggaran ......... melakukan pemeriksaan laporan keuangan berdasarkan SPKN,
dengan memberlakukan SPAP untuk standar pekerjaan lapangan dan standar
pelaporan, kecuali diatur lain dalam SPKN.

2. Jadwal Waktu Pemeriksaan


Pemeriksaan LKPD Tahun .......... harus diselesaikan sesuai dengan jadwal waktu
dalam peraturan perundang-undangan, yaitu 2 (dua) bulan sejak LKPD Tahun 2009
diterima oleh BPK. Penyelesaian pemeriksaan tersebut diwujudkan dengan
penyampaian laporan hasil pemeriksaan kepada DPR dan DPD.

3. Fokus dan Sasaran Pemeriksaan


Berdasarkan hasil pemeriksaan LKPD Tahun Anggaran .... dan ........ serta hasil
pemeriksaan interim fokus dan sasaran pemeriksaan Pemeriksaan LKPD TA ........
meliputi pengujian atas:
1) Kewajaran penyajian saldo akun dalam neraca per 31 Desember 20...;
2) Kewajaran penyajian saldo akun dan transaksi pada Laporan Realisasi
Anggaran (LRA) dan Laporan Arus Kas TA 20.......;
3) Kecukupan pengungkapan informasi keuangan pada Catatan Atas Laporan
Keuangan.

BPK RI Perwakilan Provinsi………… 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

4) Konsistensi penerapan prinsip akuntansi


5) Efektivitas desain dan implementasi sistem pengendalian intern termasuk
pertimbangan hasil pemeriksaan sebelumnya yang terkait dengan penyajian dan
pengungkapan akun-akun dalam laporan keuangan;
6) Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Pengujian atas Laporan Keuangan bertujuan untuk menguji semua pernyataan
manajemen (asersi manajemen) dalam informasi keuangan, efektifitas
pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang – undangan yang
berlaku meliputi :

1) Keberadaan dan keterjadian


Bahwa seluruh aset dan kewajiban yang disajikan dalam neraca per 31
Desember 20...... benar-benar ada dan seluruh transaksi pendapatan, belanja
dan pembiayaan anggaran yang disajikan dalam LRA TA 20..... terjadi selama
periode tersebut serta telah didukung dengan bukti – bukti yang memadai.

2) Kelengkapan
Bahwa semua aset, kewajiban, dan equitas dana yang dimiliki telah dicatat
dalam neraca dan seluruh transaksi pendapatan, belanja dan pembiayaan yang
terjadi selama Tahun 20.... telah dicatat dalam LRA.

3) Hak dan Kewajiban


Bahwa seluruh aset yang tercatat dalam neraca benar-benar dimiliki atau hak
dari pemerintah daerah dan utang yang tercatat merupakan kewajiban
pemerintah daerah pada tanggal pelaporan.

4) Penilaian dan Alokasi


Bahwa seluruh aset, utang, pendapatan dan belanja daerah, serta pembiayaan
telah disajikan dengan jumlah dan nilai semestinya; diklasifikasikan sesuai
dengan standar/ ketentuan yang telah ditetapkan; dan merupakan alokasi
anggaran tahun 20.....

5) Penyajian dan Pengungkapan


Bahwa seluruh komponen laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan
ketentuan dan telah diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.

III. Rencana Pencapaian Hasil Pemeriksaan yang Diharapkan

Mengingat waktu yang sangat terbatas tersebut, pemeriksaan LKPD Tahun


Anggaran 20... didahului dengan pemeriksaan interim untuk melakukan pemeriksaan
atas:

1. Pemahaman Entitas, Pemahaman Proses Bisnis, dan Penilaian Risiko;

2. Pengelolaan dan pertanggungjawaban atas saldo, mutasi penerimaan dan


penggunaan dana pada rekening-rekening yang ditetapkan untuk semua kas milik
daerah, terdiri dari:
1) Kas daerah yang dikuasai oleh Bendahara Umum Daerah (BUD) yaitu yang
tersimpan di:
(1) Rekening Kas Umum Daerah yang dikelola oleh BUD
(2) Rekening Operasional BUD yang terdiri dari:

BPK RI Perwakilan Provinsi………… 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

(1)) Rekening Operasional Penerimaan; dan


(2)) Rekening Operasional Pengeluaran
2) Kas yang dimiliki daerah, tetapi dikuasai bukan oleh BUD yaitu:
(1) Rekening Operasional SKPD yang dikelola oleh bendahara daerah, terdiri
dari:
(2) Rekening Operasional Penerimaan yang dikelola oleh Bendahara
Penerimaan SKPD.
(3) Rekening Operasional Pengeluaran yang dikelola bendahara pengeluaran
SKPD.
(4) Rekening yang menampung uang milik daerah, tetapi pengelolaannya
berada di luar BUD dan Bendahara Daerah.
3. Kegiatan pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK RI sebelumnya dan
pelaksanaan rencana aksi yang dilakukan/dikoordinir oleh Inspektorat Daerah /
Badan Pengawasan Daerah (Bawasda).

Penyelesaian pemeriksaan dan laporan hasil pemeriksaan adalah sebagai berikut

Kegiatan Waktu Keterangan


Pemeriksaan Interim (apabila
dilakukan)
Pemeriksaan atas LKPD Tahun
20......... (pengujian substantif dan
saldo)
Penyampaian Temuan Sudah termasuk pembahasan
Pemeriksaan: dengan pejabat yang berwenang
dari pemerintah daerah dan sudah
Temuan tentang SPI
diperoleh tanggapan resmi dan
Temuan tentang Kepatuhan tertulis.
Ikhtisar Koreksi
Penyampaian Laporan Hasil Sudah termasuk pembahasan dan
Pemeriksaan atas LKPD Tahun perolehan surat representasi.
20........

[Kota kedudukan, tanggal, bulan, tahun]

Ketua Tim, Pengendali Teknis, Penanggungjawab/Pemberi Tugas,

............................ .............................. ...............................

........................... NIP. ...................... NIP. .....................

BPK RI Perwakilan Provinsi………… 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

DAFTAR ISI
Hal.
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... i
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN............................
LAPORAN KEUANGAN.....................................................................................................
1. NERACA....................................................................................................................
2. LAPORAN REALISASI ANGGARAN....................................................................
3. LAPORAN ARUS KAS.............................................................................................
4. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN..........................................................
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN.............................................................................

BPK RI Perwakilan Provinsi ................ 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan


Negara dan Undang-Undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah
memeriksa Neraca [NAMA ENTITAS] tanggal 31 Desember 2010 dan 2009, Laporan
Realisasi Anggaran, serta Laporan Arus Kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-
tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS].
Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan
berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.
BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
(SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan
pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari
salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-
bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas Prinsip Akuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan
tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Menurut pendapat BPK, Neraca [NAMA ENTITAS] tanggal 31 Desember 2010
dan 2009, Laporan Realisasi Anggaran, serta Laporan Arus Kas untuk tahun yang
berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang
material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] tanggal 31 Desember 2010 dan 2009,
realisasi anggaran dan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut,
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan
keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern
dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan
atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Ketentuan Peraturan
Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR LAPORAN] dan
Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

BPK RI Perwakilan Provinsi ................ 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

[ KOTA KEDUDUKAN PERWAKILAN BPK ], [ TANGGAL]


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [ NAMA PERWAKILAN BPK ]
Penanggung Jawab Pemeriksaan

[ NAMA PENANGGUNG JAWAB ]


[ NOMOR REGISTER AKUNTAN ]

BPK RI Perwakilan Provinsi ................ 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

NERACA

BPK RI Perwakilan Provinsi ................ 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

LAPORAN REALISASI ANGGARAN

BPK RI Perwakilan Provinsi ................ 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

LAPORAN ARUS KAS

BPK RI Perwakilan Provinsi ................ 6


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

BPK RI Perwakilan Provinsi ................ 7


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN

1. Dasar Hukum Pemeriksaan

a. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

b. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

c. UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung


Jawab Keuangan Negara;

d. UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

2. Tujuan Pemeriksaan

Tujuan pemeriksaan LKPD TA 20xx adalah untuk memberikan opini atas


tingkat kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang
didasarkan pada kriteria:

a. Kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP);

b. Kecukupan pengungkapan (adequate disclosures);

c. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan;

d. Efektivitas sistem pengendalian intern.

3. Sasaran Pemeriksaan

Sasaran pemeriksaan LKPD TA 20x1 meliputi pengujian atas:

a. Efektivitas desain dan implementasi sistem pengendalian intern termasuk

b. pertimbangan hasil pemeriksaan sebelumnya;

c. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku;

d. Penyajian saldo akun-akun dan transaksi-transaksi pada Laporan Realisasi

e. Anggaran (LRA) dan Laporan Arus Kas TA 20x1 sesuai dengan SAP;

f. Penyajian saldo akun-akun dalam neraca per 31 Desember 20x1;

g. Pengungkapan informasi keuangan pada Catatan Atas Laporan Keuangan.

Pengujian atas Laporan Keuangan bertujuan untuk menguji semua pernyataan


manajemen (asersi manajemen) dalam informasi keuangan, efektifitas pengendalian
intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang–undangan yang berlaku
meliputi:

BPK RI Perwakilan Provinsi ................ 8


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

a. Keberadaan dan keterjadian

Bahwa seluruh aset dan kewajiban yang disajikan dalam Neraca per 31
Desember 20x1 dan seluruh transaksi penerimaan, belanja dan pembiayaan
anggaran yang disajikan dalam LRA TA 20x1 benar-benar ada dan terjadi
selama periode tersebut serta telah didukung dengan bukti–bukti yang memadai.
b. Kelengkapan

Bahwa seluruh aset, kewajiban, dan ekuitas dana yang dimiliki telah
dicatat dalam neraca dan seluruh transaksi penerimaan daerah, belanja daerah
dan pembiayaan yang terjadi selama Tahun Anggaran 20x1 telah dicatat dalam
LRA.

c. Hak dan Kewajiban

Bahwa seluruh aset yang tercatat dalam neraca benar-benar dimiliki atau
hak dari pemerintah daerah dan utang yang tercatat merupakan kewajiban
pemerintah daerah pada tanggal pelaporan.

d. Penilaian dan Alokasi

Bahwa seluruh aset, utang, penerimaan dan belanja daerah, serta


pembiayaan telah disajikan dengan jumlah dan nilai semestinya; diklasifikasikan
sesuai dengan standar/ketentuan yang telah ditetapkan; dan merupakan alokasi
biaya/anggaran Tahun Anggaran 20xx.

e. Penyajian dan Pengungkapan

Bahwa seluruh komponen laporan keuangan telah disajikan sesuai


dengan ketentuan dan telah diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas
Laporan Keuangan.

4. Standar Pemeriksaan

Peraturan BPK RI Nomor 01 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan


Keuangan Negara (SPKN).

5. Metode Pemeriksaan

Metodologi pemeriksaan atas LKPD Tahun 20xx meliputi perencanaan,


pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan, yaitu sebagai berikut:

a. Perencanaan Pemeriksaan

1) Pemahaman Entitas dan Sistem Pengendalian Intern

Pemahaman atas entitas dan sistem pengendalian intern dapat diperoleh


dari laporan hasil pemeriksaan sebelumnya, laporan hasil pemeriksaan
pendahuluan, catatan atas laporan keuangan yang diperiksa, pemantauan tindak
lanjut, dan database yang telah dimiliki serta peraturan atau kebijakan
tertulis/formal kepala daerah terkait.

BPK RI Perwakilan Provinsi ................ 9


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

Pemahaman atas entitas tersebut meliputi pemahaman atas latar


belakang/dasar hukum pendirian pemerintah daerah, kegiatan utama entitas
termasuk sumber pendapatan daerah, lingkungan yang mempengaruhi, pejabat
terkait sampai dengan dua tingkat vertikal ke bawah di bawah kepala daerah,
dan kejadian luar biasa yang berpengaruh terhadap pengelolaan keuangan
daerah. Pemeriksa perlu mengidentifikasi kelemahan-kelemahan signifikan atau
area-area kritis yang memerlukan perhatian mendalam, sehingga membantu
Pemeriksa untuk (1) mengidentifikasi jenis potensi kesalahan, (2)
mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko salah saji yang
material, (3) mendesain pengujian sistem pengendalian intern, dan (4)
mendesain prosedur pengujian substantif.

2) Pertimbangan Hasil Pemeriksaan Sebelumnya

Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan tindak lanjut


hasil pemeriksaan sebelumnya. Pemeriksa harus meneliti pengaruh hasil
pemeriksaan sebelumnya dan tindak lanjutnya terhadap LKPD yang diperiksa,
terutama terkait dengan kemungkinan temuan-temuan pemeriksaan yang
berulang dan keyakinan pemeriksa atas saldo awal akun atau perkiraan pada
neraca yang diperiksa.

3) Penentuan Metode Uji Petik

Penentuan metode uji petik berdasarkan pertimbangan profesional


pemeriksa dengan memperhatikan beberapa aspek antara lain :

a) Tingkat risiko;

b) Jika hasil pengujian SPI disimpulkan pengendalian intern suatu akun lemah,
maka sampel untuk pengujian substantif atas akun tersebut harus lebih besar.
Jika akun-akun tertentu mempunyai risiko bawaan (inherent risk) yang lebih
tinggi dari akun-akun lainnya, maka sampel untuk pengujian substantif
untuk akun-akun tersebut harus lebih besar;

c) Tingkat materialitas yang telah ditentukan. Jika tingkat materialitas kecil,


maka sampel yang diambil harus lebih besar dan begitu juga sebaliknya;
Jumlah sampel tidak hanya didasarkan pada nilai saldo akun, tetapi
memperhatikan transaksi-transaksi yang membentuk saldo tersebut.

d) Saldo akun yang kecil bisa dibentuk dari transaksi-transaksi positif dan
negatif yang besar;

e) Cost and benefit, manfaat uji petik atas suatu transaksi atau saldo akun harus
lebih besar dari biaya pengujian tersebut.

b. Pelaksanaan Pemeriksaan

1) Pengujian Analitis

Pengujian analitis dalam pelaksanaan pemeriksaan dapat dilakukan


dengan Analisa Data dan Analisa Rasio dan Tren, sesuai dengan area yang telah
ditetapkan sebagai uji petik. Pengujian analitis terinci ini diharapkan dapat
membantu pemeriksa untuk menemukan hubungan logis penyajian akun pada
LKPD dan menilai kecukupan pengungkapan atas setiap perubahan pada
pos/akun/unsur pada laporan keuangan yang diperiksa, serta membantu
BPK RI Perwakilan Provinsi ................ 10
Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

menentukan area-area signifikan dalam pengujian sistem pengendalian intern


dan pengujian substantif atas transaksi dan saldo.

2) Pengujian Pengendalian

Petunjuk pengujian pengendalian meliputi pengujian yang dilakukan


pemeriksa terhadap efektivitas desain dan implementasi sistem pengendalian
intern dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Dalam pengujian
desain sistem pengendalian intern, pemeriksa mengevaluasi apakah sistem
pengendalian intern telah didesain secara memadai dan dapat meminimalisasi
secara relatif salah saji dan kecurangan. Sementara, pengujian implementasi
sistem pengendalian intern dilakukan dengan melihat pelaksanaan pengendalian
pada kegiatan atau transaksi yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

Pengujian sistem pengendalian intern merupakan dasar pengujian


substantif selanjutnya. Pengujian tersebut dilakukan baik pada saat pemeriksaan
interim, maupun pemeriksaan laporan keuangan.

3) Pengujian Substantif atas Transaksi dan Saldo

Pengujian substantif meliputi pengujian atas transaksi dan saldo-saldo


akun/perkiraan serta pengungkapannya dalam laporan keuangan yang diperiksa.
Pengujian tersebut dilakukan setelah pemeriksa memperoleh LKPD (unaudited)
dan dilakukan untuk meyakini asersi manajemen atas LKPD, yaitu: (1)
keberadaan dan keterjadian, (2) kelengkapan, (3) hak dan kewajiban, (4)
penilaian dan pengalokasian, serta (5) penyajian dan pengungkapan.

4) Penyelesaian Penugasan

Hal-hal yang terkait dengan pekerjaan dalam penyelesaian penugasan


beserta form-form pelaporan pemeriksaan (Daftar Koreksi, Form Risalah
Pembahasan TP, Form TP, Form Tanggapan).

c. Pelaporan

Setelah melakukan pengujian terinci di atas, pemeriksa menyimpulkan


hasil pemeriksaan dan dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan.

6. Waktu Pemeriksaan

Jangka waktu pemeriksaan adalah selama hari kerja (dari tanggal s.d. ).

7. Objek Pemeriksaan

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Pemerintah ......... TA 20x1 yang


terdiri dari Neraca per 31 Desember 20x1, Laporan Realisasi Anggaran (LRA),
Laporan Arus Kas (LAK), dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK).

BPK RI Perwakilan Provinsi ................ 11


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI..............…………………………………………………….................

DAFTAR TABEL..............…………………………………………………….........

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………............................

RESUME HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN


INTERN...................................................................................................................

BAB 1 HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN


INTERN......................................................................................................

1. [ judul temuan pemeriksaan ....................................................................

2. [ judul temuan pemeriksaan ] .................................................................

3. dst.. .......................................................................................................

BAB 2 HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT PEMERIKSAAN


ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

LAMPIRAN

BPK Perwakilan Provinsi ................ 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

RESUME HASIL PEMERIKSAAN


ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan


Negara dan Undang-Undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah
memeriksa Neraca Pemerintah [ NAMA ENTITAS ] per 31 Desember 2010 dan 2009,
serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal
tersebut. BPK telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan atas Laporan
Keuangan [ NAMA ENTITAS ] tahun 2010 yang memuat opini [ OPINI ] dengan
Nomor [ NOMOR LAPORAN OPINI ] dan Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan
Terhadap Peraturan Perundang-undangan Nomor [ NOMOR LHP KEPATUHAN ]
tanggal [ TANGGAL LHP KEPATUHAN ].
Sesuai Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), dalam pemeriksaan atas
Laporan Keuangan [ NAMA ENTITAS ] tersebut di atas, BPK mempertimbangkan
sistem pengendalian intern [ NAMA ENTITAS ] untuk menentukan prosedur
pemeriksaan dengan tujuan untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan dan
tidak ditujukan untuk memberikan keyakinan atas sistem pengendalian intern.
BPK menemukan kondisi yang dapat dilaporkan berkaitan dengan sistem pengendalian
intern dan operasinya. Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas
Laporan Keuangan [ NAMA ENTITAS ] yang ditemukan BPK adalah sebagai berikut:
1. [ KELEMAHAN #1 ],
2. [ KELEMAHAN #2 ],
3. dst..

Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, BPK merekomendasikan kepada


gubernur/bupati/walikota [ NAMA ENTITAS ] antara lain agar:
1. [ REKOMENDASI #1 ]
2. [ REKOMENDASI #2 ]
3. dst..

BPK Perwakilan Provinsi ................ 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

Kelemahan dan rekomendasi perbaikan secara rinci dapat dilihat dalam laporan ini.

[ KOTA KEDUDUKAN PERWAKILAN BPK ], [ TANGGAL]


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [ NAMA PERWAKILAN BPK ]
Penanggung Jawab Pemeriksaan

[ NAMA PENANGGUNG JAWAB ]


[ NOMOR REGISTER AKUNTAN ]

BPK Perwakilan Provinsi ................ 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

BAB 1

HASIL PEMERIKSAAN

ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

Hasil pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern pada Pemerintah [ NAMA


ENTITAS ] [ TAHUN ANGGARAN YANG DIPERIKSA ] mengungkapkan sebanyak
[JUMLAH TEMUAN ] temuan pemeriksaan, dengan rincian sebagai berikut.

1. [ JUDUL TEMUAN PEMERIKSAAN ]

[ URAIAN KONDISI ]

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:

[ URAIAN KRITERIA ]

Kondisi tersebut mengakibatkan:

[ URAIAN AKIBAT ]

Kondisi tersebut disebabkan oleh:

[ URAIAN SEBAB ]

BPK menyarankan [ gubernur/bupati/walikota ] agar:

[ URAIAN SARAN ]

2. [ JUDUL TEMUAN PEMERIKSAAN ]

[ URAIAN KONDISI ]

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:

[ URAIAN KRITERIA ]

BPK Perwakilan Provinsi ................ 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

Kondisi tersebut mengakibatkan:

[ URAIAN AKIBAT ]

Kondisi tersebut disebabkan oleh:

[ URAIAN SEBAB ]

BPK menyarankan [ gubernur/bupati/walikota ] agar:

[ URAIAN SARAN ]

3. dst..

BPK Perwakilan Provinsi ................ 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

BAB 2

HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT PEMERIKSAAN

ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN TAHUN 2004 – 2009

Dalam rangka pemeriksaan atas Laporan Keuangan [NAMA PEMDA] Tahun


2010, BPK memantau tindak lanjut [NAMA PEMDA] terhadap Laporan Hasil
Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern [NAMA PEMDA] Tahun 2004 – 2009.
Sesuai dengan Pasal 20 UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, pelaksanaan tindak lanjut menjadi
tanggung jawab Pemerintah Daerah/ [NAMA PEMDA] dan DPRD.

Pemantauan atas tindak lanjut [NAMA PEMDA] terhadap temuan tersebut


menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

Hasil Pemantauan Tindak Lanjut


Jumlah
No LHP Tahun Belum Belum
Temuan Sesuai Sesuai /
Selesai Ditindaklanjuti

1 Tahun 2009
2 Tahun 2008
3 Tahun 2007
4 Tahun 2006
5 Tahun 2005
6 Tahun 2004
Total
Rincian dari temuan terdapat di Lampiran 1.

[NAMA PEMDA] telah menindaklanjuti rekomendasi yang diajukan BPK, antara


lain mengenai (1) [REKOMENDASI YANG TELAH DITINDAKLANJUTI], (2)
[REKOMENDASI YANG TELAH DITINDAKLANJUTI], (3) dst.

Adapun permasalahan yang masih dalam proses tindak lanjut antara lain adalah
(1) [PERMASALAHAN YANG BELUM DITINDAKLANJUTI], (2)
[PERMASALAHAN YANG BELUM DITINDAKLANJUTI], (3) dst.

Badan Pemeriksa Keuangan

Republik Indonesia

BPK Perwakilan Provinsi ................ 6


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

PEMANTAUAN TINDAK LANJUT ATAS HASIL PEMERIKSAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN


[NAMA PEMDA]

Temuan Berulang *) Hasil Pemantauan


No. Temuan BPK Nilai Rekomendasi Tindak Lanjut Tindak Lanjut *)
Temuan 2008 2007 2006 2005 2004 Entitas yang Sesuai Belum Belum
Diperiksa Sesuai/ Ditindak
Selesai -lanjuti
Tahun 2009

Tahun 2008

Tahun 2007

Tahun 2006

Tahun 2005

Tahun 2004

*)
Beri tanda √ untuk kolom yang sesuai

BPK Perwakilan Provinsi ................ 7


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI..............……………………………………………………...............

DAFTAR TABEL..............…………………………………………………….......

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………............................

RESUME LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN


TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN................................

BAB 1 HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP


PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN..........................................

1. [ judul temuan pemeriksaan ] .................................................................

2. [ judul temuan pemeriksaan ] .................................................................

3. dst.. .......................................................................................................

BAB 2 HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT PEMERIKSAAN ATAS


KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANGAN-
UNDANGAN TAHUN 2004 – 2009.........................................................

LAMPIRAN

BPK Perwakilan Provinsi ................ 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

RESUME HASIL PEMERIKSAAN


ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Berdasarkan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan


Negara dan Undang-Undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia (BPK) telah memeriksa Neraca [NAMA ENTITAS] tanggal 31 Desember
2010 dan 2009 serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada
tanggal-tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]
. BPK telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan atas Laporan Keuangan
[NAMA ENTITAS] tahun 2010 yang memuat opini [OPINI] dengan Nomor [NOMOR
LHP OPINI] tanggal [TANGGAL LHP OPINI] dan Laporan Hasil Pemeriksaan atas
Sistem Pengendalian Intern Nomor [NOMOR LHP SPI] tanggal [TANGGAL LHP SPI].
Sebagai bagian pemerolehan keyakinan yang memadai tentang apakah laporan
keuangan bebas dari salah saji material, sesuai dengan Standar Pemeriksaan Keuangan
Negara (SPKN), BPK melakukan pengujian kepatuhan pada [NAMA ENTITAS]
terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan
yang berpengaruh langsung dan material terhadap penyajian laporan keuangan. Namun,
pemeriksaan yang dilakukan BPK atas Laporan Keuangan [NAMA ENTITAS] tidak
dirancang khusus untuk menyatakan pendapat atas kepatuhan terhadap keseluruhan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, BPK tidak menyatakan suatu
pendapat seperti itu.
BPK menemukan adanya ketidakpatuhan, kecurangan, dan ketidakpatutan dalam
pengujian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan pada [NAMA ENTITAS] .
Pokok-pokok temuan [ketidakpatuhan, kecurangan dan ketidakpatutan 4] adalah
sebagai berikut.
1. [TEMUAN #1]
2. [dst...].
Sehubungan dengan temuan tersebut, BPK merekomendasikan kepada
Menteri/Kepala/Ketua [NAMA ENTITAS] antara lain agar:
(1) [REKOMENDASI #1], (2) [dst...].
Temuan dan rekomendasi perbaikan secara rinci dapat dilihat dalam laporan ini.

BPK Perwakilan Provinsi ................ 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

[ kota kedudukan Perwakilan BPK ], [ tanggal]


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [ nama Perwakilan BPK ]
Penanggung Jawab Pemeriksaan

[ nama penanggung jawab ]


[ nomor register akuntan ]

BPK Perwakilan Provinsi ................ 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

BAB 1
HASIL PEMERIKSAAN ATAS
KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Hasil pemeriksaan atas kepatuhan Pemerintah [ nama entitas ] [ tahun anggaran


yang diperiksa ] terhadap peraturan perundang-udangan mengungkapkan sebanyak [
jumlah temuan ] temuan pemeriksaan, dengan rincian sebagai berikut.

1. [ judul temuan pemeriksaan ]


[ uraian kondisi ]

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:


[ uraian kriteria ]

Kondisi tersebut mengakibatkan:


[ uraian akibat ]

Kondisi tersebut disebabkan oleh:


[ uraian sebab ]

BPK menyarankan [ gubernur/bupati/walikota ] agar:


[ uraian saran ]

2. [ judul temuan pemeriksaan ]


[ uraian kondisi ]

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:


[ uraian kriteria ]

Kondisi tersebut mengakibatkan:


[ uraian akibat ]

Kondisi tersebut disebabkan oleh:


[ uraian sebab ]

BPK menyarankan [ gubernur/bupati/walikota ] agar:


[ uraian saran ]

3. dst..

BPK Perwakilan Provinsi ................ 4


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

BAB 2

HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT PEMERIKSAAN ATAS


KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
TAHUN 2004 – 2008

Dalam rangka pemeriksaan atas Laporan Keuangan [nama pemda] Tahun 2010,
BPK memantau tindak lanjut [nama pemda] terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan atas
Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan [nama pemda] Tahun 2004 – 2009.
Sesuai dengan Pasal 20 UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan
dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, pelaksanaan tindak lanjut menjadi tanggung
jawab Pemerintah / [nama pemda] dan DPRD.
Pemantauan atas tindak lanjut [nama pemda] terhadap temuan tersebut
menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
Hasil Pemantauan Tindak Lanjut
Jumlah
No LHP Tahun Belum Belum
Temuan Sesuai Sesuai /
Selesai Ditindaklanjuti

1 Tahun 2009
2 Tahun 2008
3 Tahun 2007
4 Tahun 2006
5 Tahun 2005
6 Tahun 2004
Total
Rincian dari temuan terdapat di Lampiran 1.
[nama pemda] telah menindaklanjuti rekomendasi yang diajukan BPK, antara
lain mengenai (1) [rekomendasi yang telah ditindaklanjuti], (2) [rekomendasi yang telah
ditindaklanjuti], (3) dst.
Adapun permasalahan yang masih dalam proses tindak lanjut antara lain adalah
(1) [permasalahan yang belum ditindaklanjuti], (2) [permasalahan yang belum
ditindaklanjuti], (3) dst.

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia

BPK Perwakilan Provinsi ................ 5


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

DAFTAR SINGKATAN

A
AAR Acceptable audit risk
APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

B
BLU Badan Layanan Umum
BLUD Badan Layanan Umum Daerah
BPK RI Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
BRM Bussiness Risk Matrix
BUD Bendahara Umum Daerah
BV Book value

C
CR Controll Risk

D
DAK Dana Alokasi Khusus
DAU Dana Alokasi Umum
DBH Dana Bagi Hasil
DPA Dokumen Pelaksanaan Anggaran
DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DR Detection Risk

E
EER Expected Error Risk
EM Expected Misstatement
3E Efektifitas, efisiensi dan ekonomis

I
IHPS Ikhtisar Hasil Pemeriksaan
IR Inherent Risk

J
JUKLAK Petunjuk Pelaksanaan
JUKNIS Petunjuk Teknis

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

K
KDP Konstruksi Dalam Pengerjaan
KKN Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
KKP Kertas Kerja Pemeriksaan
KLHP Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan

L
LHP Laporan Hasil Pemeriksaan
LKPD Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

M
MP Memo Penyesuaian
MUS Monetary Unit Sampling

P
P2 Program Pemeriksaan
PAD Pendapatan Asli Daerah
PDTT Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu
PEMDA Pemerintah Daerah
PERDA Peraturan Daerah
PERMENDAGR
I Peraturan Menteri Dalam Negeri
PM Planning Materiality
PMP Panduan Manajemen Pemeriksaan
PP Peraturan Pemerintah
PPK-BLUD Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan UmumDaerah
PPKD Pejabat Pengelola Keuangan Daerah
PSP Pernyataan Standar Pemeriksaan

R
RBA Rencana Bisnis dan Anggaran
RBA Risk Based Audit
RBAA Risk Based Audit approach
RF Reliability Factor
RKA Rencana Kerja dan Anggaran
RKP Rencana Kerja Pemeriksaan

S
SAK Standar Akuntansi Keuangan
SAP Standar Akuntansi Pemerintah

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

SATKER Satuan Kerja


SiLPA Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
SKPD Satuan Kerja Pemerintah Daerah
SKPD Surat Ketetapan Pajak Daerah
SOP Standar Operasi dan Prosedur
SP2D Surat Perintah Pencairan Dana
SPI Sistem Pengendalian Intern
SPJ Surat PertanggungJawaban
SPKN Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
SPM Surat Perintah Membayar

T
TA Tahun Anggaran
TAPD Tim Asistensi Perencanaan Daerah
TE Tolerable Error
TMP Tidak Memberikan Pendapat
TP Temuan Pemeriksaan
TUP Tambahan Uang Persediaan

U
UP Uang Persediaan
UU Undang - Undang
UUDP Uang Untuk Dipertanggungjawabkan

W
WDP Wajar Dengan Pengecualian
WTP Wajar Tanpa Pengecualian

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

[Kop Pemerintah Daerah]

Nomor : [Kota kedudukan, tanggal, bulan, tahun]


Lampiran : Kepada
Perihal : Surat Representasi Manajemen Yth. [Kepala Perwakilan (nama perwakilan)]
Jl. ……………………………………..
[Kota Kedudukan]

Kami memberikan surat representasi ini sehubungan dengan pemeriksaan Badan


Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) atas Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah ........... Tahun 200X, yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun
yang berakhir tanggal 31 Desember 200X, Laporan Arus Kas, Neraca per 31 Desember
200X, dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Kami menegaskan bahwa kami bertanggungjawab atas penyusunan dan penyajian
laporan keuangan tersebut sesuai dengan Standar Akuntanasi Pemerintahan (SAP).
Representasi surat ini diberikan terbatas pada hal-hal yang material. Sesuatu dipandang
material, tanpa melihat besarnya, namun juga menyangkut salah saji informasi
akuntansi yang mempengaruhi pertimbangan wajar pengguna laporan keuangan, yang
mengandalkan kepercayaan pada informasi laporan keuangan dimaksud.
Kami menegaskan bahwa berdasarkan keyakinan dan pengetahuan kami yang terbaik,
representasi berikut ini telah kami buat kepada Tim BPK RI selama pemeriksaan :
1. Laporan keuangan yang disebut di atas telah kami disajikan sesuai dengan SAP.
2. Kami telah menyediakan semua data material dan informasi yang diperlukan
kepada Tim BPK-RI.
3. Semua transaksi yang material sudah dicatat dan dilaporkan dalam laporan
keuangan.
4. Semua rekening atas nama pejabat terkait dengan jabatannya dalam pemerintahan
sudah dicatat atau diungkapkan dalam laporan keuangan.
5. [Pemerintah Daerah] memiliki hak penuh atas aset yang dimiliki, dan tidak
terdapat gadai atau penjaminan atas aset tersebut.
6. Sampai dengan saat ini kami tidak mengetahui adanya tindakan pelanggaran
terhadap hukum dan peraturan yang dampaknya perlu diungkapkan dalam laporan
keuangan.
7. Semua kewajiban material sudah dicatat atau diungkapkan dalam laporan
keuangan.
8. Tidak terdapat tagihan yang belum dinyatakan dan harus dinyatakan tetapi belum
diungkapkan.
9. [Pemerintah Daerah] telah mematuhi semua aspek perjanjian kontrak yang akan
mempunyai dampak material terhadap laporan keuangan jika terjadi pelanggaran.
Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

10. Tidak terdapat peristiwa atau transaksi material yang terjadi setelah tanggal 31
Desember 200X yang belum dicatat dan diungkapkan dalam catatan laporan
keuangan.
11. Tidak terdapat kecurangan material (kesalahan disengaja, penghilangan jumlah atau
pengungkapan dalam laporan keuangan dan penyalahgunaan aset yang dapat
berdampak material terhadap laporan keuangan) dan kecurangan lain yang
melibatkan pimpinan atau pegawai yang memiliki peran penting dalam
pengendalian intern.
12. Kami bertanggungjawab untuk menyelenggarakan dan memelihara sistem
pengendalian intern.
13. Kami telah menilai efektifitas sistem pengendalian intern dalam hal :
a. Keandalan pelaporan keuangan: transaksi-transaksi telah dicatat, diproses, dan
diringkas secara memadai untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, dan aset telah dilindungi
dari kehilangan yang disebabkan oleh pengambilalihan, penggunaan atau
pelepasan hak yang tidak sah.
b. Ketaatan pada peraturan yang berlaku: transaksi-transaksi dilaksanakan sesuai
dengan peraturan perundangan yang berdampak langsung dan material terhadap
laporan keuangan.
14. Kami telah menyampaikan semua kelemahan seginifikan yang ada pada
perancangan dan pelaksanaan pengendalian intern yang dapat berdampak negatif
terhadap kemampuan [Pemerintah Daerah ....] dalam mencapai tujuan
pengendalian intern dan mengindikasikan kelemahan-kelemahan yang material.
15. Kami bertanggungjawab atas penyelenggaraan sistem pengelolaan keuangan sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan tentang keuangan negara dan SAP.
16. Kami telah mengidentifikasi dan mengungkapkan semua pertauran dan undang-
undang yang berdampak langsung dan material terhadap penentuan jumlah dalam
laporan keuangan.
17. Kami telah menyampaikan semua kejadian ketidakpatuhan terhadap peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku.
Demikian surat representasi ini dibuat sebagai penjelasan atas hasil pemeriksaan BPK
RI atas laporan Keuangan.

[Pemerintah Daerah .....].


[Nama Pemerintah Daerah]
[Kepala Daeraha]
[Nama Kepala Daerah]
Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

BADAN PEMERIKSAAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


PERWAKILAN PROVINSI ……..
Jln………..No……..Telp……Fax…..[Ibu kota Provinsi]….[kode pos]
[tgl surat keluar]
Nomor : [Nomor surat keluar] Kepada Yth.
Lampiran : 1 (satu) berkas [Kepala Daerah]
Perihal : Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Di
[Nama Pemda] Tahun 2010 dan 2009
[Nama Ibukota Pemda]

Badan Pemeriksa Keuangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003


tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang terkait Lainnya, telah melakukan pemeriksaan
atas Laporan Keuangan [Nama Pemda] Tahun Anggaran 2010 dan 2009, yang terdiri dari
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Pemeriksaan ditujukan untuk memberikan opini atas kewajaran Laporan Keuangan
[Nama Pemda] dengan memperhatikan kesesuaian laporan keuangan dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan, efektivitas sistem pengendalian intern, dan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan.
Pokok-pokok hasil pemeriksaan atas laporan keuangan [Nama Pemda] Tahun Anggaran
2010 dan 2009 yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut.
1. Opini atas Laporan Keuangan
[Opini yang diberikan BPK atas LKPD yang diperiksa]
2. Sistem Pengendalian Intern
BPK menemukan adanya kelemahan sistem pengendalian intern dalam penyusunan
laporan keuangan, yaitu:
[uraian singkat temuan-temuan terkait SPI]
3. Kepatuhan terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-undangan
BPK juga menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
dalam pengelolaan keuangan negara, yaitu:
[uraian singkat temuan-temuan terkait Kepatuhan]
Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, BPK menyarankan [Kepala Daerah] agar:
[rekomendasi BPK]
Untuk jelasnya kami lampirkan laporan hasil pemeriksaan dimaksud, yaitu Laporan Nomor
[No laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan]; Nomor [No laporan hasil pemeriksaan
atas SPI]; dan Nomor [No laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan] masing-masing
bertanggal [tanggal laporan].
Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

Sesuai Pasal 20 ayat (3) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004, jawaban atau penjelasan
kepada BPK tentang tindak lanjut atas rekomendasi BPK disampaikan selambat-lambatnya 60
(enam puluh) hari setelah laporan hasil pemeriksaan sejak hasil pemeriksaan ini diterima.
Atas perhatian dan kerjasama [Kepala Daerah], kami ucapkan terima kasih.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [ nama Perwakilan BPK ]
Kepala Perwakilan

[Nama Kepala Perwakilan]


NIP .................................

Tembusan (tanpa lampiran):


1. Yth. Anggota ....... [V/VI] BPK RI;
2. Yth. Ketua DPRD ……….
3. Yth. Auditor Utama Keuangan Negara ...... [V/VI] BPK RI;
4. Yth. Inspektur Utama BPK RI;
5. Yth. Kepala Direktorat Utama Revbang BPK RI;
6. Yth. Inspektur ........ [Pemda].
Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

BADAN PEMERIKSAAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


PERWAKILAN PROVINSI ……..
Jln………..No……..Telp……Fax…..[Ibu kota Provinsi]….[kode pos]

[tgl surat keluar]


Nomor : [Nomor surat keluar] Kepada Yth.
Lampiran : 1 (satu) berkas [Ketua DPRD]
Perihal : Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan di
[Nama Pemda] Tahun 2010 dan 2009
Jakarta

Badan Pemeriksa Keuangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang


Keuangan Negara dan Undang-Undang terkait Lainnya, telah melakukan pemeriksaan atas Laporan
Keuangan [Nama Pemda] Tahun Anggaran 2010 dan 2009, yang terdiri dari Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Pemeriksaan ditujukan untuk memberikan opini atas kewajaran Laporan Keuangan [Nama
Pemda] dengan memperhatikan kesesuaian laporan keuangan dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan, efektivitas sistem pengendalian intern, dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-
undangan.
Pokok-pokok hasil pemeriksaan atas laporan keuangan [Nama Pemda] Tahun Anggaran 2010
dan 2009 yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut.
1. Opini atas Laporan Keuangan
[Opini yang diberikan BPK atas LKPD yang diperiksa]
2. Sistem Pengendalian Intern
BPK menemukan adanya kelemahan sistem pengendalian intern dalam penyusunan laporan
keuangan, yaitu:
[uraian singkat temuan-temuan terkait SPI]
3. Kepatuhan terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-undangan
BPK juga menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dalam
pengelolaan keuangan negara, yaitu:
[uraian singkat temuan-temuan terkait Kepatuhan]
Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, BPK menyarankan [Kepala Daerah] agar:
[rekomendasi BPK]
Untuk jelasnya kami lampirkan laporan hasil pemeriksaan dimaksud, yaitu Laporan Nomor [No
laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan]; Nomor [No laporan hasil pemeriksaan atas SPI];
dan Nomor [No laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan] masing-masing bertanggal [tanggal
laporan].
Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

Sesuai Pasal 21 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara, DPRD menindaklanjuti Hasil Pemeriksaan BPK sebagaimana
tercantum dalam laporan terlampir.
Atas perhatian dan kerjasama [Kepala Daerah], kami ucapkan terima kasih.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan [ nama Perwakilan BPK ]
Kepala Perwakilan

[Nama Kepala Perwakilan]


NIP .................................

Tembusan:

1. Yth. Anggota ....... [V/VI] BPK RI;


2. Yth. Menteri Dalam Negeri;
3. Yth. Gubernur……. [Nama Provinsi]; (Khusus untuk PemKab & Pemkot saja)
4. Yth. Auditor Utama Keuangan Negara ...... [V/VI] BPK RI;
5. Yth. Inspektur Utama BPK RI;
6. Yth. Kepala Direktorat Utama Revbang BPK RI;
7. Yth. Inspektur ........ [Pemda].
Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

BERITA ACARA
PENYERAHAN HASIL PEMERIKSAAN LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH (PROVINSI/KABUPATEN/KOTA) …………(NAMA ENTITAS)
TAHUN ANGGARAN ………(TAHUN)

Berdasarkan Kesepakatan Bersama Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan Republik


Indonesia dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) (Provinsi/kabupaten/kota)
………(nama entitas) tanggal ……(bulan)…..(tahun) tentang Tata Cara Penyerahan Laporan
Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia kepada DPRD se-
Provinsi (nama entitas), maka penyerahan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah (Provinsi/kabupaten/kota) ………………….Tahun Anggaran…….(Tahun),
dilaksanakan di …………….(tempat penyerahan).

Berkaitan dengan itu maka pada hari ini……..(nama hari), tanggal……..(bulan)…..(Tahun),


saya:

Nama : ………………(Nama yang menyerahkan)


NIP :……………….(NIP yang menyerahkan)
Jabatan :……………….(Jabatan yang menyerahkan)

Menyerahkan 3 (tiga) buah dokumen Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI Atas Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota……….(nama entitas) Tahun
Anggaran….(Tahun) yakni:

1. Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan;


2. Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern;
3. Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-
undangan.

Dokumen-dokumen tersebut saya serahkan kepada:

Nama : ………………...(Nama yang menerima)


NIP :………………....(NIP yang menerima)
Jabatan :…………………(Jabatan yang menerima)

Untuk dapat dipergunakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang


berlaku.

Pihak yang Menerima Pihak yang Menyerahkan

(Nama yang menerima) (Nama yang menyerahkan)


(Jabatan yang menerima) (Jabatan yang menyerahkan)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

BERITA ACARA

PENYERAHAN LAPORAN KEUANGAN


PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA…………………(NAMA ENTITAS)
TAHUN ANGGARAN………..(TAHUN)

Berdasarkan Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang


Keuangan Negara maka Pemerintah Daerah berkewajiban menyerahkan Laporan Keuangan
yang terdiri dari Neraca, Laporan Arus Kas, Laporan Realisasi Anggaran dan Catatan atas
Laporan Keuangan (CaLK) kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI).

Berkaitan dengan itu maka pada hari ini……..(nama hari), tanggal……..(bulan)…..(Tahun),


saya:

Nama : ………………...(Nama yang menyerahkan)


NIP :………………....(NIP yang menyerahkan)
Jabatan :…………………(Jabatan yang menyerahkan)

Menyerahkan ……..(jumlah) buah dokumen yakni:


Laporan Keuangan Pemerintah (Provinsi/kabupaten/kota) ……….(nama entitas)
Tahun Anggaran …………(tahun).

Dokumen-dokumen tersebut saya serahkan kepada:


Nama : ………………...(Nama yang menerima)
NIP :………………....(NIP yang menerima)
Jabatan :…………………(Jabatan yang menerima)

Untuk dapat dipergunakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang


berlaku.

Pihak yang Menyerahkan Pihak yang Menerima

(nama yang menyerahkan) (Nama yang menerima)


(Jabatan yang menyerahkan) (Jabatan yang menerima)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2


Keterangan Gambar

• Untuk Gambar Sebelah Kiri adalah Gambar Kantor Gubernur/Walikota/Bupati;


• Untuk Gambar tengah adalah Gambar Kantor BPK RI Perwakilan ;
• Untuk Gambar Sebelah Kanan adalah Gambar Kantor DPRD Prov/Kab/Kota.
Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

PANDUAN
PENERBITAN SURAT DAN
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN (LHP) LKPD

1. Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) LKPD


LHP LKPD terdiri dari 3 buku dan urutan untuk masing-masing buku adalah sebagai
berikut.
1) Buku I : LHP atas Laporan Keuangan (opini)
2) Buku II : LHP atas Sistem Pengendalian Intern
3) Buku III : LHP atas Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan

Untuk laporan hasil pemeriksaan atas kerugian daerah adalah bukan merupakan bagian
dari LHP LKPD sehingga merupakan bagian terpisah dari LHP LKPD.

2. Penomoran LHP LKPD


Penomoran LHP LKPD yang terdiri dari dari 3 buku adalah dengan satu nomor dan
ditambahkan dengan alfabeta sesuai dengan urutan buku LHP LKPD tersebut dan untuk
tanggal LHP sesuai dengan tanggal diterbitkannya LHP tersebut. Dengan format sebagai
berikut.
1) Buku I
Nomor : (nomor).A/LHP/XVIII. Kode Perwakilan/Bulan terbit LHP/Tahun
terbit LHP
Tanggal : tanggal terbit (spasi) bulan terbit (spasi) tahun terbit
2) Buku II
Nomor : (nomor).B/LHP/XVIII. Kode Perwakilan/Bulan terbit LHP/Tahun
terbit LHP
Tanggal : tanggal terbit (spasi) bulan terbit (spasi) tahun terbit
3) Buku III
Nomor : (nomor).C/LHP/XVIII. Kode Perwakilan/Bulan terbit LHP/Tahun
terbit LHP
Tanggal : tanggal terbit (spasi) bulan terbit (spasi) tahun terbit

Contoh:
(1))Buku I :
Nomor : 135.A/LHP/XVIII.BAC/06/2010
Tanggal : 12 Juni 2010
(2))Buku II :
Nomor : 135.B/LHP/XVIII.BAC/06/2010
Tanggal : 12 Juni 2010
(3))Buku III :
Nomor : 135.C/LHP/XVIII.BAC/06/2010
Tanggal : 12 Juni 2010

3. Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP)


1) Surat Keluar
(1) Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan LKPD kepada entitas, pihak perwakilan
BPK RI akan membuat surat keluar ke entitas. Surat keluar tersebut ditujukan
kepada:
(1)) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
(2)) Kepala Daerah.
(2) Penomoran surat keluar ke DPRD dan Kepala Daerah adalah dengan satu nomor
dan ditambahkan dengan alfabeta sesuai urutan antara DPRD dan Kepala Daerah

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1


Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

dan untuk tanggal surat keluar sesuai dengan tanggal dibuatnya surat keluar
tersebut. Dengan format sebagai berikut.
(1)) DPRD
Nomor : (nomor).A/S-HP/XVIII. Kode Perwakilan/bulan surat keluar/tahun
surat keluar.
Tanggal: tanggal surat keluar (spasi) bulan surat keluar (spasi) tahun surat
keluar.
(2)) Kepala Daerah
Nomor : (nomor).B/S-HP/XVIII. Kode Perwakilan/bulan surat keluar/tahun
surat keluar.
Tanggal: tanggal surat keluar (spasi) bulan surat keluar (spasi) tahun surat
keluar.

Contoh:
(1))DPRD
Nomor : 78.A/S-HP/XVIII.BAC/06/2010
Tanggal : 20 Juni 2010
(2))Kepala Daerah
Nomor : 78.B/S-HP/XVIII.BAC/06/2010
Tanggal : 20 Juni 2010

2) Berita Acara
Dalam penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) kepada DPRD dan Kepala
Daerah, pihak Perwakilan BPK RI akan membuat Berita Acara Serah Terima LHP
(BA) dengan ditandatangani oleh kedua belah pihak yaitu pihak yang menyerahkan
LHP (Kepala Perwakilan/yang mewakili) dan pihak yang menerima LHP
(DPRD/Kepala Daerah dan atau yang mewakili). Berita acaranya ini tidak
menggunakan nomor akan tetapi menyebutkan tanggal BA tersebut sesuai tanggal
terjadinya penyerahan LHP tersebut.

4. Penyerahan Laporan Keuangan unaudited entitas


Pihak entitas setelah laporan keuangan (unaudited) selesai dibuat maka akan
menyerahkan laporan keuangan (unaudited) tersebut ke pihak BPK RI dengan disertai
surat pengantar dari kepala daerah dan surat hasil review dari Inspektorat masing-masing
entitas. Pihak perwakilan BPK RI akan membuat Berita Acara Serah Terima Laporan
Keuangan (unaudited) (BA). BA akan ditandatangani oleh kedua belah pihak yaitu pihak
yang menyerahkan laporan keuangan (Kepala Daerah/yang mewakili) dan pihak yang
menerima laporan keuangan (Kepala Perwakilan/yang mewakili). Berita acaranya ini
tidak menggunakan nomor akan tetapi menyebutkan tanggal BA tersebut sesuai tanggal
terjadinya penyerahan laporan keuangan (unaudited) tersebut.

5. Format Laporan Hasil Pemeriksaan

1) Buku I : LHP Laporan Keuangan (opini)


Daftar urutan dalam buku I, yaitu:
(1) Sampul Cover
(2) Cover dalam
(3) Daftar Isi
(4) Daftar Tabel
(5) Daftar Lampiran
(6) Sistematika Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
(Provinsi/kabupaten/kota) ………(nama entitas) Tahun………
(7) Daftar Singkatan dan Akronim
(8) Laporan Hasil Pemeriksaan Atas laporan Keuangan
(9) Laporan Realisasi Anggaran
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2
Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran Suplemen

(10) Neraca
(11) Laporan Arus Kas
(12) Catatan Atas Laporan Keuangan
(13) Lampiran
(14) Gambaran Umum Pemeriksaan

2) Buku II : LHP Sistem Pengendalian Intern

Daftar urutan dalam buku II, yaitu:

1) Sampul Cover
2) Cover dalam
3) Daftar Isi
4) Daftar Tabel
5) Daftar Lampiran
6) Daftar Singkatan
7) Resume Laporan atas Pengendalian Intern
8) Bab I Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern
9) Bab II Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern Tahun…………….

3) Buku III : LHP Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan


Daftar urutan dalam buku III, yaitu:
(1) Sampul Cover
(2) Cover dalam
(3) Daftar Isi
(4) Daftar Tabel
(5) Daftar Lampiran
(6) Resume Laporan atas Kepatuhan dalam Kerangka Pemeriksaan Laporan
Keuangan
(7) Bab I Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-
undangan
(8) Bab II Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Pemeriksaan atas Kepatuhan Terhadap
Peraturan Perundang-undangan Tahun…………….
(9) Lampiran

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

Jalan Gatot Subroto N0. 31


Jakarta Pusat 10210
http://www.bpk.go.id