Anda di halaman 1dari 17

Tugas Keperawatan Maternitas

KONTRASEPSI MANTAP (KONTAP) PADA PRIA

Disusun Oleh :
1. Ayu Awalia H. H. (P17420209005)
2. Mufti Nurdiyanto (P17420209026)
3. Nopy Bagus N. (P17420209029)
4. Pratomo Nurdiamsyah (P17420209031)
5. Rikma Hernanti S. (P17420209033)
6. Yasin Yusuf (P17420209040)

Kelas 2A

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
PRODI KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena limpahan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Keperawatan Maternitas tentang
Kontrasepsi Mantap pada Pria (Vasektomi). Dimana vasektomi ini merupakan salah satu
teknik dalam keluarga berencana (KB) yang sudah dilakukakn oleh beberapa orang di
Indonesia dan perawat harus mengetahuinya.

Makalah ini disusun dengan maksud untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh
Ibu Ratifah, SST. M.Kes, selaku dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan Maternitas.
Dengan disusunnya makalah ini, kami berharap pihak-pihak yang membaca makalah ini
dapat mengerti dan memahami isi dari makalah ini.

Kritik dan saran kami harapkan demi sempurnanya makalah kami selanjutnya yang
akan dijadikan masukan untuk evaluasi dan revisi secara periodic. Tidak lupa ucapan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya makalah ini. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan niat baik kita mendapat ridlo dari Yang Maha
Kuasa. Amien.

Purwokerto, Mei 2011

Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kontrasepsi mantap atau sterilisasi merupakan metode KB yang paling efektif,
murah, aman dan memiliki nilai demografi yang tinggi. Kontap sampai saat ini belum
masuk program gerakan keluarga berencana nasional Indonesia, namun pelayananan
kontrasepsi mantap dapat diterima masyarakat, dan makin lama makin besar jumlahnya
dengan usia makin muda. Kontap pertama kali dimulai di RSUP Denpasar dan masih
berkembang sampai sekarang. Kontap pada pria biasa dikenal dengan vasektomi, yaitu
merupakan tindakan memotong dan menutup saluran mani (vasdeferens) yang
menyalurkan sel mani (sperma) keluar dari pusat produksinya di testis.
Di Indonesia vasektomi sebagai tujuan kontrasepsi belum begitu digalakan.hal ini
memerlukan motivasi dan penerangan yang lebih luas, karena masih banyak pria
menyangka bahwa vasektomi sama dengan kebiri. Banyak pria yang bersedia
kehilangan fertilitasnya, namun mereka takut kehilangan kejantanannya. Haruslah
dijelaskan, bahwa pada vasektomi produksi sperma dan produksi hormone pria akan
terus berjalan seperti sebelumnya.hanya sperma yang baru dihasilkan tidak akan
dikeluarkan melalui persetubuhan

B. Rumusan Masalah.
1. Apa yang dimaksud dengan kontap pada pria (vasektomi)?
2. Bagaimana teknik kontap vasektomi?

C. Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan :
1. Memenuhi tugas keperawatan maternitas yang diberikan oleh dosen pembimbing
ibu Ratifah, SST. M.Kes.
2. Mengetahui dan memahami tentang kontrasepsi mantap pada pria yaitu vasektomi.
3. Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan vasektomi.

BAB II
KONTRASEPSI MANTAP PADA PRIA
(VASEKTOMI)

A. Pengertian
Vasektomi adalah tindakan memotong dan penutup saluran mani (Vas deferens) yang
menyalurkan sel mani (sperma) keluar dari pusat produksinya di testis. (Rustam
Mochtar, 1998)
Ligasi pembedahan vas deferens mengakhiri saluran sperma yang melalui vase tersebut
sepenuhnya setelah sperma residu membersihkan saluran reproduksi pria. (Barbara R.
Straight, 2005)
Vasektomy adalah mengeluarkan pipa mani (vas deferens) atau sebagian pipa mani
dengan operasi. (Ahmad Ramali, 2003)
Vasektomi atau yang biasa diidentikan dengan KB pria adalah proses operasi
sederhana untuk memotong saluran yang membawa sperma dari kantongnya (testis) ke
penis.
Jadi, vasektomi adalah tindakan memotong dan menutup saluran mani (vasdeferens)
dengan operasi.
Program KB ini dimasukan dalam kategori mantap, lestari atau permanen. Artinya jika
saluran vas deferens sudah dipotong, maka pasangan laki-laki ini tidak bisa terjadi
hamil. Walau vasectomi bersifat permanen tak menutup kemungkinan anda bisa
mempunyai keturunan lagi. Caranya dengan melepaskan ikatan pada saluran vas
deferens melalui operasi kecil tetapi diperlukan waktu agak lama untuk kembali
normal. Setelah operasi pelepasan pasien dianjurkan mengkonsumsi obat-obatan untuk
merangsang kembali produksi spermatozoa.
Skema anatomi alat reproduksi

B. Teknik Vasektomi
Vasektomi dapat dilakukan “dengan pisau” atau “tanpa pisau”. Penutupan duktus
spermatikus (vas deferens) dapat dilakukan dengan cara diikat (ligasi); dipotong
(vasektomi); menggunakan klip, cincin, atau bands.
1. Vasektomi dengan pisau
 Dipotong (vasektomi)
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
• Cukur rambut kemaluan dan bersihkan, kemudian desinfeksi kulit skrotum
darah operasi. Setelah itu tutup daerah operasi yang sudah suci hama
dengan kain steril yang berlobang ditengahnya.
• Palpasi dan carilah vas deferens pada kantong skrotum,lalu fiksir dengan
jari-jari (Gambar 28-82)
• Lakukan anastesi local pada daerah operasi tersebut.
• Lakukan sayatan kira-kira 1-2 cm (Gambar 28-83); bebaskan dari jaringan
sekitarnya, kemudian pegang vas deferens tersebut (Gambar 28-84).
Tariklah sambil bebaskan saluran mani tersebut, sebanyak kira-kira batas
yang akan dipotong (Gambar 28-85).
• Lakukan vasektomi yaitu pemotongan sekitar 1-2 cm vas deferens ,lalu jahit
(Gambar 28-86). Tutup luka operasi, dan dibalut.
• Berikan nasehat perawatan luka dan jangan kena air selama kira-kira 1
minggu. Berikan obat anti sakit (Novalgin, Neuralgin) dan obat antibiotika.

Pengikatan vas deferens dapat dilakukan dengan cad gut, benang sukra, dakron
atau logam.
Keuntungan cat gut : diabsorbsi sehingga tidak menimbulkan iritasi.
Kerugian ligasi sutera : iritasi sperma granuloma dan rekanalisasi.
Gambar 28-82 Gambar 28-83
Fiksasi vas deferens Anestesi lokal daerah operasi

Gambar 28-84 Gambar 28-85


Sayatan 1-2 cm pada kulit skrotum. Cari, klem & bebaskan duktus
deferens.

Gambar 28-86 Gambar 28-87


Vas deferens diluksir ke luar. Vasektomi, potongan 1,5 – 2
cm.
2. Vasektomi tanpa pisau
a) Daerah kemaluan dibersihkan dengan Betadine 0,75% atau pembersih lainnya
yang tidak merangsang kulit lalu sekitarnya ditutup dengan kain steril.
b) Kulit kantung buah zakar pada bagian garis tengah diberi anestesi lokal.
c) Kemudian saluran mani pada bagian tersebut dijepit dalam lingkaran klem
fiksasi.
d) Bagian yang paling menonjol dari saluran mani ditusuk dengan sebelah ujung
klem diseks, tepat di atas lingkaran klem fiksasi.
e) Kemudian klem diseksi ditarik, ujung klem ditutup kemudian dimasukkan
kembali ke dalam lobang tusukan untuk memisahkan semua lapisan jaringan
dari kulit sampai dinding saluran mani.
f) Setelah itu saluran mani yang sudah telanjang ditarik keluar kira-kira 2cm.
Saluran diikat pada dua tempat sepanjang jarak 1 sampai 1,5cm kemudian
dipotong dan diangkat.
g) Kemudian sarung mani ditutup sedemikian rupa sehingga satu bagian ujung
saluran mani dengan ujung lainnya tidak bertemu.
h) Hal yang sama dilakukan pada saluran sebelah.
i) Kalau masih ada perdarahan luka ditutup dengan kain kasa steril.

3. Elektokoagulasi
Cauterisasi dilakukan dengan jarum kecil sehingga hanya lapisan epitel dibakar
tanpa merusak otot-otot vas deferens.
Rasional : Kebocoran, granuloma oleh sperma, mungkin terjadi rekanalisasi.

4. CLIPS
U : Lebih cepat, bahan hemodips inert.mungkin reversible.
Biasanya dipakai 4-6 clips pada 1 vas deferens,masing-masing 2-3 clips pada setiap
ujung vas yang dipotong.
R : Clips dapat bergeser dan lepas dari vas karena kontraksi atau necrose sukar
melepaskanya. Setelah kulit dijahit kembali,ditutup dengan gas steril dan dipakai
suspensoir untuk 2-3 hari. Bila terjadi pembengkakan dapat dikompres dengan es.
R : Yang lain adalah tidak segera terjadi sterilisasi,dibutuhkan waktu
dikeluarkannya semua sperma antara vas deferens dengan tidak ejakulasi. Jangka
waktu ini mungkin antara 1 minggu - beberapa bulan, tergantung pada frekuensi.
Coitus sperma analysis harus dilakukan pada waktu 6 minggu, 8 minggu setelah
vasektomi.

C. Cara Kerja Vasektomi


Prinsipnya bagaimana menjadikan pipa saluran spermatozoa atau sel benih vasa
deferens pria agar betul-betul dibuat buntu. Kita tahu saluran sel benih yang sebesar
kabel telepon berada di dalam kantong buah zakar (scrotum), Pipa ini menjadi
penghubung yang mengalirkan sel benih yang diproduksi oleh buah zakar menuju
kelenjar prostat yang berada d atasnya, di luar kantong zakar.
Di dalam prostat, sel benih lalu direndam oleh media berupa getah yang diproduksi oleh
prostat. Selain itu disiram pula oleh cairan seminal, sehingga volumenya menjadi lebih
banyak. Campuran ketiganya itu menjadi apa yang kita kenal sebagai air mani atau
sperma.
Jadi, sebagian besar air mani yang keluar itu sesungguhnya lebih banyak berisi getah
prostat dan cairan seminal (sekitar 95 persen), dan hanya sebagian kecil saja berisi sel
benih (sekitar 5 persen). Taruhlah sekali ejakulasi rata-rata mengeluarkan 5 cc air mani,
volume sel benihnya mungkin hanya sekitar 0,15cc saja.
Jadi, setelah seorang pria divasektomi, volume air mani yang sekitar 0,15 cc itu saja
yang tertahan tidak ikut keluar bersama ejakulasi karena pipa yang mengalirkannva
sudah dibikin buntu. Kendati yang sedikit ini besar maknanya dalam hal kesuburan,
hampir tak ada artinya dalam urusan ejakulasi dan pernik seks lainnya.

Menurut dr.Agus Mulyono SPU dari RS Kepolisian pusat Raden Sa’id Sukanto, setelah
proses pemotongan tersebut cairan yang keluar saat berhubungan intim adalah cairan
atau lendir dari kelenjar vestikulu seminalis dan kelenjar prostat itu tanpa sel-sel
spermatozoa dari testis sebagai faktor utama yang menentukan proses pembuahan.
Sedangkan hormon yang dihasilkan dari testis yang disebut testosteron keluarnya tidak
melalui saluran itu tapi masuk ke pembuluh darah sperma akan diserap tubuh tanpa
menyebabkan gangguan metabolisme.
D. Indikasi dan Kontra Indikasi
1. Indikasi
a. Dianjurkan pada usia produktif 30-40 tahun.
b. Pasangan yang tidak ingin menambah jumlah anak.
c. Pasangan yang istrinya sudah sering melahirkan.
d. Memiliki penyakit yang membahayakan kesehatan.
e. Pasangan yang selalu gagal dengan kontasepsi lain.
f. Pihak suami bersedia bahwa tindakan kontrasepsi dilakukan pada dirinya.
g. Untuk tujuan kontrasepsi yang bersifat permanen.
h. Untuk tujuan pengobatan guna mencegah epididitimis.

2. Kontra indikasi
a. Kelainan lokal atau umum yang dapat mengganggu sembuhnya operasi.
b. Penderita kencing manis / diabetes.
c. Penderita hernia.
d. Penderita penyakit kulit / jamur di daerah kemaluan.
e. Penderita kelainan pembekuan darah.
f. Peradangan pada buah zakar.
g. Orang yang tidak memiliki pendirian yang tetap.

E. Komplikasi
1. Komplikasi pasca bedah :
a. Perdarahan, hematoma.
b. Rasa nyeri, pegal.
c. Infeksi.
2. Komplikasi dalam jangka waktu yang agak lama.
a. Granuloma spermatikum.
b. Kemungkinan terjadinya rekanalisasi.
3. Komplikasi yang ditakuti akseptor seperti impotensi atau menimbulkan nafsu pria
yang berlebihan tidak ada.

F. Kegagalan
Kegagalan vasektomi dapat disebabkan karena :
1. Rekanalisasi spontan; hal ini tidak terjadi pada keadaan bila kedua ujung dibakar.
2. Bila yang dipotong bukan vas eferens, misalnya pembuluh darah.
3. Ada lebih dari satu vas deferens (duplikasi vas deferens).
4. Akseptor telah bersetubuh dengan istri sebelum benar-benar steril.

G. Keuntungan
1. Teknik operasi kecil yang sederhana dapat dikerjakan kapan saja dan di mana saja.
2. Komplikasi yang dijumpai sedikit dan ringan.
3. Hasil yang diperoleh (efektifitas) hampir 100%.
4. Biaya murah dan terjangkau oleh masyarakat.
5. Bila pasangan suami istri, oleh karena sesuatu sebab, ingin mendapatkan keturunan
lagi, kedua ujung vas deferens dapat disambung kambali (operasi rekanalisasi).
6. Tidak menimbulkan kelainan fisiologi tetapi hanya bersifat psikologis.
7. Tidak mengganggu aktivitas seksual malah cenderung bertambah gemuk.
8. Dapat dikerjakan secara poliklinis.

H. Kerugian
1. Pria yang baru divasektomi tidak langsung menjadi steril, karena di dalam saluran
proksimal vas deferens dan dalam vesika seminalis masih terdapat puluhan bahkan
ratusan juta sperma. Karena itu pada waktu pulang diberikan juga 15 buah kondom,
yang harus dipakai pada setiap koitus.
2. Pria baru bisa steril (mandul) biasanya setelah 10-15 kali ejakulasi, hal ini
sebaiknya dibuktikan dengan pemeriksaan analisa semen.
3. Karena namanya masih merupakan tindakan “operasi”, maka pria masih merasa
takut.
4. Walaupun pada prinsipnya dapat disambung kembali, namun masih diperlukan
banyak tenaga terlatih untuk melakukannya.

Tiga faktor penting dalam pemulihan fertilitas sesudah tindakan vasektomi yang
dilakukan sebelumnya :
1. Penerapan teknik mikrosurgeri yang rumit untuk reanastamosis.
2. Lamanya waktu sesudah vasektomi, karena obstruksi vas deferens yang sudah
berlangsung lama dan timbulnya antibody terhadap sperma akan menurunkan
secara progesif kapasitas sperma togenesis.
3. Timbulnya granula akibat tidak adanya sperma.
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN VASEKTOMI

A. Pengkajian
1. Tetapkan nilai pengetahuan dan komitmen pasangan tentang kontap pria /
vasektomi.
2. Kumpulkan data tentang frekuensi koitus (sering atau beberapa kali seminggu).
3. Apakah pria memiliki satu atau lebih pasangan seksual.
4. Apakah metode ini diinginkan atau tidak.
5. Tanyakan mitos keyakinan dan factor budaya yang ada.
6. Pertimbangna rencana kehidupan reproduksi setiap indivisu.
7. Meminta surat persetujuan dari pasangan yang merupakan komponen genting
dalam penyuluhan tentang sterilisasi untuk pasien.
Unsur-unsur surat persetujuan, BRAIDED :

B : Keuntungan (benefit); informasi keuntungan dan tingkat kegagalan.

R : Resiko; informasi tentan gmetode lain yang terdiam.

A : Decisions; kesempatan untuk mengambil keputusan atau


mengganggu pikiran.

E : Explanations; informasi tentang metode dan cara menggunakan


metode tersebut.
D : Dokumen; informasi yang diberikan dan pemahaman perasaan.

B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan vasektomi antara lain:
1. Nyeri berhubungan dengan agen cedera biologi.
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri akibat pembedahan.
3. Kurang pengetahuan diri berhubungan dengan informasi tentang penyakit, ditandai
dengan pasien sering menanyakan tentang penyakitnya.

C. Intervensi
1. Dx 1
a. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang.
b. NOC : Pain control
• Mengendalikan faktor penyebab nyeri.
• Mampu mengenali kapan terjadinya serangan.
• Mampu menggunakan tindakan pencegahan.
• Mampu menggunakan tindakan non analgetik untuk mengurangi nyeri.
• Mampu menggunakan analgetik yang sesuai.
• Mampu mengenali gejala dari nyeri.
• Mencatat control nyeri.
c. NIC : pain management
• Lakukan penilaian komprehensif dari nyeri meliputi lokasi, karakteristik,
onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor yang menimbulkan
nyeri.
• Gunakan tindakan control nyeri sebelum nyeri hebat.
• Laksanakan pemberian analgetik pada pasien jika diperlukan.
• Sediakan pengurangan nyeri optimal personal dengan menentukan analgetik
yang tepat.
• Evaluasi keefektifan dari tindakan pemberian analgetik pada pasien jika
diperlukan.
• Berikan informasi yang akurat untuk meningkatkan pengetahuan keluarga
dan respon dari pengalaman nyeri.
• Observasi tanda non verbal dari ketidaknyamanan, terutama pada
ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara verbal.
• Kolaborasi dengan pasien, orang terdekat dan tenaga kesehatan untuk
memilih dan melaksanakan tindakan pengurangan nyeri secara non
farmakologi.

2. Dx 2
a. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat tidur
dengan nyaman.

b. NOC : rest
• Mampu mengontrol jumlah waktu tidur.
• Mampu mengontrol pola tidur pasien.
• Mampu mengontrol kualitas tidur pasien.
• Mampu mengontrol kemampuan fisik pasien untuk tidur.
• Mampu menyatakan perasaan segar setelah bangun tidur.
c. NIC : sleep management
• Tentukan aktivitas tidur pasien.
• Perkirakan waktu tidur pasien yang teratur.
• Sesuaikan lingkungan seperti cahaya, berisik, suhu, alasa tidur dan tempat
tidur untuk meningkatkan tidur.
• Bantu untuk meningkatkan tidur.
• Bantu untuk memnbuang faktor stress sebelum tiba waktu tidur.
• Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat dan masase punggung.

3. Dx 3
a. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien mengetahui
tentang penyakitnya.
b. NOC : knowledge disease process.
• Mengenal terhadap nama penyakit.
• Menggambarkan proses penyakit.
• Menggambarkan penyebab atau faktor penyebab penyakit.
• Menggambarkan faktor resiko.
• Menggambarkan efek dari penyakit.
• Menggambarkan tanda dan gejala penyakit.
• Menggambarkan komplikasi penyakit.
• Menggambarkan tanda dan gejala dari komplikasi.

c. NIC : teaching disease process.


• Nilai pengetahuan psien sat ini, khususnya penyakit.
• Jelaskan patofisiologi adri penyakit dan bagaimana hubungan dengan
anatomi and psikologi.
• Gambarkan tanda dan gejala yang biasanya muncul.
• Beri informasi pada pasien tentang kondisinya.
• Beri informasi tentang kemajuan pasien pada keluarga.
• Diskusikan tentang pilihan terapi atau perawatan.
• Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan opininya.
• Jelaskan kemungkinan adanya komplikasi kronis.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Vasektomi adalah tindakan memotong dan menutup saluran mani (vasdeferens)
dengan operasi. Vasektomi dapat dilakukan dengan pisau atau tanpa pisau. Peutupan
duktus spermatikus (vas deferens) dapat dilakukan dengan cara diikat (ligasi), dipotong
(vasektomi), menggunakan clip, cincin atau bands.
Asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan vasektomi dapat
dilakukan dengan pertama-tama melakjukan pengkajian, yang meliputi pengkajian
terhadap pengetahuan dan komitmen pasien terhadap vasektomi sampai dengan
meminta surat persetujuan tentang akan dilakukan tindakan vasektomi. Setelah
melakukan penglkajian, membuat diagnosa keperawatan berdasarkan data yang telah
didapat, kemudian membuat intervensi, melakukan implementasi, dan
mengevaluasinya,
DAFTAR PUSTAKA

Bobak. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi 4, Jakarta : EGC


Conningham, F. Gary. 1995. Obstetri Williams. Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri : Obstetri Operatif. Obstetri Sosial. Jakarta :
EGC
Padjadjaran, Universitas. 1980. Teknik KB. Bandung : Elstar off set
Price, Sylvia Anderson. 1994. Pathophysiology: Clinical Consepts Of Disease Processes
Edisi 4. Jakarta : EGC
Ramali, Ahmad. 2003. Kamus Kedokteran. Jakarta : EGC
Reeves, Charlene J et al. 2001. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono.
Edisi 1. Jakarta: Salemba Medika
Smeltzer Suzanne C. 2001. Buku Ajar Kperawatn Medikal Bedah Brunner & Suddarth
Edisi 8. Jakarta : EGC
Stright. Barbara R. 2004. Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir Edisi 3. Jakarta : EGC
Tucker, Susan Martin et al. 1998. Patient care Standartds : Nursing Prosses, Diagnosis,
and Outcome Edisi 5. Jakarta:EGC
http://www.seksualitas.net/vasektomi.htm diakses pada tanggal 26 Mei 2011 pukul 11.39
WIB
http://www.waspada.co.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=85996:untung-rugi-vasektomi-pada-
pria&catid=28:kesehatan&Itemid=48 diakses pada tanggal 26 Mei 2011 pukul 11. 45
WIB.