Anda di halaman 1dari 12

Nicaragua Case

(Nicaragua v United States of America)

Fakta-fakta Hukum :
1. Kasus ini berawal dari penghentian bantuan ekonomi dari AS ke Nicaragua
dikarenakan tindakan-tindakan Nicaragua yang melawan El Salvador, yang
memiliki hubungan diplomatis yang baik dengan Amerika. Atas respon dari
tindakan Nicaragua ini, AS mulai menempatkan fasilitas militernya dan
melakukan beberapa tindakan yang diklaim Nicaragua sebagai pelanggaran
hukum internasional
2. Beberapa tindakan AS di Nicaragua adalah penanaman ranjau di laut wilayah
dan pedalaman Nicaragua, yang kemudian mengakibatkan hancurnya kapal-
kapal milik Nicaragua dan pihak asing. Selain itu, AS juga melakukan
penyerangan dan perusakan terhadap beberapa fasilitas sipil dan militer
Nicaragua. AS juga membantu pasukan contras, yaitu kelompok gerilyawan
Nicaragua yang memiliki tujuan untuk menggulingkan pemerintahan Sandinista
yang berkuasa kala itu.
3. Nicaragua membawa sengketa dengan AS ini ke Mahkamah Internasional pada
tanggal 9 April 1984. Gugatan yang diajukan Nicaragua antara lain :
a. AS telah melanggar kewajibannya berdasarkan hukum internasional
dengan aktifitas militer dan paramiliternya di Nicaragua (AS harus menarik
seluruh fasilitas dan kelengkapan militernya dari Nicaragua untuk
memenuhi kewajibannya berdasarkan larangan penggunaan kekerasan
(non-use of force)
b. AS harus memberikan ganti rugi terhadap Nicaragua berdasarkan
pelanggaran-pelanggaran yang telah terjadi
Nicaragua mendasarkan gugatannya ini berdasarkan hukum kebiasaan
internasional, dan selain itu Nicaragua juga menggunakan Treaty of Friendship,
Commerce, and Navigation 1956 yang merupakan perjanjian bilateral
internasional antara AS dan Nicaragua. Selain itu, Nicaragua juga memintakan
4. Menanggapi gugatan Nicaragua ini, AS menyatakan bahwa ICJ tidak memiliki
yurisdiksi untuk menangani sengketa ini. AS berpendapat bahwa Nicaragua tidak
memenuhi persyaratan yang terdapat pada pasal 36(2) Statuta ICJ yang
menyatakan bahwa kedua pihak yang bersengketa harus sama-sama menerima
yurisdiksi mahkamah ini. Selain itu, AS juga menyatakan bahwa pengajuan
Nicaragua ini tidak dapat diterima (inadmissible). AS mendasarkan
pernyataannya ini berdasarkan beberapa alasan, yang antara lain :
a. Nicaragua tidak membawa serta beberapa pihak-pihak yang kehadiran
dan partisipasinya diperlukan untuk melindungi hak-hak para pihak yang
bersangkutan
b. Nicaragua mengajukan masalah ini berdasarkan alasan ancaman
terhadap kedamaian (threat to peace), yang sebenarnya merupakan
wewenang Dewan Keamanan PBB
c. Bahwa organ yudisial seperti ICJ tidak dapat menjalankan fungsinya untuk
menangani suatu situasi yang berhubungan dengan konflik bersenjata
yang sedang berlangsung
d. Pengajuan yang dilakukan oleh Nicaragua merupakan sebuah bentuk
tindakan non-exhaustion, karena pada dasarnya Nicaragua merupakan
salah satu pihak dari proses Contadora yang meliputi negara-negara di
Amerika Tengah dalam proses penyelesaian sengketa.

Permasalahan Hukum :
1. Apakah ICJ memiliki yurisdiksi untuk menangani kasus ini, dan apakah
pengajuan (application) oleh Nicaragua dapat diterima (admissible)?
2. Apakah segala tindakan Amerika Serikat di Nicaragua bertentangan dengan
hukum internasional, khususnya hukum kebiasaan internasional ?

Putusan Mahkamah :
Jurisdiction and Admissibility
1. Berdasarkan 11 banding 5 suara, ICJ memutuskan bahwa pengajuan Nicaragua
berdasarkan pasal 36 (2) & (5) Statuta ICJ diterima.
2. Berdasarkan 14 banding 2 suara, ICJ menerima pengajuan Nicaragua
berdasarkan Treaty of Friendship, Commerce, and Navigation 1956.
3. Berdasarkan 15 banding 1 suara, ICJ menyatakan memiliki yurisdiksi untuk
menangani kasus ini
4. Berdasarkan suara mutlak, ICJ menyatakan pengajuan (application) Nicagarua
dapat diterima (admissible)

Putusan akhir :
1. Berdasarkan 11 banding 4 suara, ICJ memutuskan bahwa
2. Berdasarkan 12 banding 3 suara, ICJ menolak pembenaran AS terhadap segala
tindakannya di Nicaragua sebagai upaya pertahanan diri (self-defence)
3. Berdasarkan 12 banding 3 suara, ICJ menyatakan AS telah mengintervensi
kepentingan dalam negeri Nicaragua dengan memberikan bantuan pada
pasukan Contras.
4. Berdasarkan 12 banding 3 suara, ICJ menyatakan AS telah melanggar prinsip
non-use of force yang merupakan sebuah hukum kebiasaan internasional karena
serangan-serangan di beberapa daerah seperti Puerto Sandino, Corinto, San
Juan del Sur, dan sebagainya.
5. Berdasarkan 12 banding 3 suara, ICJ berpendapat bahwa tindakan AS yang
melakukan penerbangan militer melintasi wilayah Nicaragua merupakan
pelanggaran terhadap prinsip persamaan kedaulatan, yang juga merupakan
hukum kebiasaan internasional.
6. Berdasarkan 12 banding 3 suara, ICJ menyatakan bahwa tindakan AS menanam
ranjau di perairan Nicaragua dan sekitarnya merupakan pelanggaran
kewajibannya terhadap prinsip non-use of force, non-intervention, dan equal
sovereignty.
7. Berdasarkan 14 banding 1 suara, ICJ menyatakan bahwa tindakan yang terdapat
pada putusan no. 6 melanggar pasal XIX Treaty of Friendship 1956

Pertimbangan Putusan :
YURISDIKSI
Untuk menemukan yurisdiksi mahkamah pada kasus ini, Nicaragua
mendasarkan argumennya pada beberapa ketentuan yang terdapat pada Statuta ICJ
dan juga Treaty of Friendship 1956. Berdasarkan pasal 36 (2) ICJ Statute, setiap
negara berhak menyatakan terikat pada yurisdiksi mahkamah (compulsory jurisdiction)
tanpa adanya perjanjian khusus (special agreement) dengan pihak lainnya, asalkan
pihak lain tersebut juga turut menyatakan keterikatan yang sama.
Nicaragua tidak secara eksplisit membuat sebuah deklarasi langsung terhadap
yurisdiksi mengikat ICJ, tetapi negara ini pernah menyatakan terikat pada yurisdiksi
Mahkamah Permanen Internasional (PCIJ) pada tanggal 24 September 1929
berdasarkan pasal 36 PCIJ Statute. Pasal 36 (5) ICJ Statute menyatakan bahwa setiap
deklarasi yang dibuat berdasarkan Pasal 36 PCIJ Statute tetap berlaku untuk
menjalankan yurisdiksi mengikat ICJ.
Tetapi, AS menentang bahwa deklarasi yang dibuat oleh Nicaragua itu sudah
tidak lagi berlaku berdasarkan interpretasi terhadap pasal 36(5) ICJ Statute. Karena
menurut AS, Nicaragua tidak meratifikasi Statuta PCIJ, dan dengan demikian Nicaragua
bukanlah pihak daripada Statuta PCIJ. Menanggapi pernyataan AS ini, Mahkamah
menyatakan bahwa status mengikat deklarasi Nicagarua tahun 1929 itu tidak pernah
dipermasalahkan oleh pihak manapun. Mahkamah pun melanjutkan bahwa dengan
diratifikasinya Statuta ICJ oleh Nicaragua, secara tidak langsung Nicaragua telah
memastikan peralihan secara efektif dari fungsi PCIJ ke ICJ. Dengan begitu Nicaragua
pun memiliki yurisdiksi ICJ.
Diluar itu, apabila melihat tindakan para pihak dalam menyikapi status deklarasi
Nicaragua dari sejak era PCIJ hingga ICJ, posisi Nicaragua juga diuntungkan.
Nicaragua telah menjalankan compulsory jurisdiction dari Mahkamah Internasional
selama 38 tahun dengan tanpa adanya protes dari negara manapun, termasuk AS.
Mahkamah pun menambahkan prinsip estoppel yang dalam kasus ini terjadi pada
Amerika juga turut menguatkan posisi Nicaragua dalam penentuan yurisdiksi.
Sementara itu, pembahasan yurisdiksi dilihat dari posisi AS pada kasus ini dapat
dilihat berdasarkan deklarasi yang dibuat oleh AS pada tanggal 14 Agustus 1946,
dimana AS menyatakan terikat pada yurisdiksi mahkamah berdasarkan pasal 36 (2)
Statuta ICJ. Tetapi deklarasi tersebut diikuti dengan sebuah pensyaratan/ reservasi dari
AS yang menyatakan bahwa ICJ tidak memiliki yurisdiksi untuk menangani sengketa
mengenai perjanjian multilateral, kecuali (1) apabila pihak yang terimbas dari keputusan
mahkamah merupakan pihak yang turut bersengketa di Mahkamah, dan (2) apabila AS
sendiri yang membuat persetujuan khusus terhadap yurisdiksi mahkamah. Tetapi, pada
akhirnya mahkamah pun tetap menyatakan bahwa deklarasi ini tidak menghilangkan
yurisdiksi mahkamah untuk menangani kasus ini, karena pada dasarnya walaupun ICJ
tak berwenang mengadili berdasarkan perjanjian internasional ICJ dapat mengadili
berdasarkan hukum kebiasaan internasional
Selain pengaplikasian pasal 36 (2) & (5) Statuta ICJ, Nicaragua juga
menggunakan Pasal XXIV paragraph 2 dari Treaty of Friendship, Commerce, and
Navigation yang ditandatanganinya dengan AS pada tahun 1956. Pasal tersebut
mengutarakan sebagai berikut :
“ Any dispute between the parties as to the Interpretation or application of the
present treaty, not satisfactorily adjusted by diplomacy, shall be submitted to the
International Court of Justice, unless the Parties agree to settlement by other
pacific settlement means”
Nicaragua menyatakan bahwa dengan aktifitas dan penempatan fasilitas militer
dan paramiliter oleh AS di wilayahnya, AS telah melanggar ketentuan-ketentuan yang
terdapat di Treaty of Friendship ini. Mengenai interpretasi pasal XXIV tersebut, ICJ
menambahkan bahwa tidak dilakukannya negosiasi oleh para pihak yang bersangkutan
tidak menyebabkan hilangnya klausa persetujuan bersama dari perjanjian tersebut. ICJ
pun menyimpulkan bahwa ketentuan Treaty of Friendship tersebut turut mendukung
yurisdiksi ICJ dalam kasus ini.

ADMISSIBILITY
Selain masalah yurisdiksi, pihak AS juga menyatakan bahwa aplikasi yang
diajukan oleh Nicaragua ini tidak dapat diterima (inadmissible). Seperti yang sudah
dikemukakan pada fakta-fakta hukum, AS mengemukakan pendapatnya berdasarkan
beberapa alasan. Tetapi, Mahkamah pun memberi tanggapan terhadap beberapa
argumen AS tersebut.
Mengenai alasan AS yang pertama, bahwa Nicaragua tidak membawa pihak-
pihak lain yang bersangkutan dengan sengketa ini, Mahkamah menyatakan bahwa
berdasarkan pasal 59 Statuta ICJ, Mahkamah hanya memberikan putusan kepada
pihak-pihak yang mengajukan penyelesaian suatu sengketa, dan apabila ada pihak-
pihak lain yang merasa dirugikan dapat mengajukannya kepada mahkamah dalam
pengajuan yang berbeda.
Alasan berikutnya dari AS adalah bahwa Mahkamah tidak dapat menangani
masalah yang bersangkutan dengan ancaman terhadap perdamaian (threat to the
peace), yang notabene merupakan wewenang dari Dewan Keamanan PBB. Mahkamah
berpendapat bahwa sebagai salah satu organ PBB, mahkamah tetap memiliki
wewenang untuk menangani kasus ini, karena berkaitan erat dengan penerapan pasal
51 Piagam PBB tentang prinsip pembelaan diri (self-defence). Dewan Keamanan tidak
boleh menghalangi diajukannya suatu permasalahan kepada ICJ, Mahkamah
menambahkan. Karena DK dan ICJ memiliki fungsinya masing-masing, sebagai badan
politik dan badan yudisial dari PBB.
Mengenai alasan yang keempat, dimana AS menyatakan bahwa sebuah organ
yudisial tidak dapat menangani suatu sengketa yang berkenaan dengan suatu konflik
bersenjata yang sedang berlangsung, Mahkamah juga menolak alasan ini dikarenakan
yang diperlukan dalam suatu proses peradilan di ICJ adalah untuk mendukung dan
menetapkan tentang suatu keadaan yang diajukan oleh para pihak berdasarkan bukti-
bukti yang relevan.
Alasan terakhir AS yang berhubungan dengan kewajiban Nicaragua untuk
melalui proses Contadora juga ditolak oleh Mahkamah, karena menurut Mahkamah
adanya proses seperti Contadora sekalipun tidak menghalangi Mahkamah untuk
menjalankan yurisdiksinya untuk menyelesaikan suatu sengketa. Dengan demikian,
Mahkamah pun menyimpulkan bahwa Aplikasi/ pengajuan yang telah diberikan oleh
Nicaragua kepada mahkamah dapat diterima (admissible)

LEGAL BASIS
Amerika Serikat mendasari keberadaan pasukannya di Nicaragua berdasarkan
asas collective self-defence, sebagai bentuk perlindungan terhadap serangan
bersenjata yang dilakukan oleh Nicaragua kepada El Salvador, Costa Rica, dan
Honduras. Pada dasarnya, asas self-defence ini merupakan sebuah pengecualian dari
prinsip non-use of force, yang diatur dalam pasal 51 Piagam PBB. Prinsip ini juga
dinyatakan sebagai sebuah hukum kebiasaan dengan dicantumkannya prinsip ini pada
Resolusi Majelis Umum PBB 2625 (XXV).
Tetapi menurut Mahkamah, untuk dapat memiliki hak tersebut, negara-negara
yang bersangkutan harus menyatakan berada dibawah serangan (armed attack)
Nicaragua, dan meminta bantuan AS. Mahkamah menyatakan tidak menemukan
kriteria tersebut dalam kasus ini. Selain itu, Mahkamah tak melihat AS memenuhi dua
syarat dari tindakan self-defence yaitu prinsip kebutuhan (necessity) dan
proporsionalitas (proportionality)
Mahkamah malah menyatakan AS telah melanggar asas non-intervention, yaitu
suatu asas yang melarang negara untuk mengganggu urusan/kepentingan negara
berdaulat lain. Prinsip ini diatur dalam pasal 2 ayat 7 Piagam PBB. Mahkamah
berpendapat bahwa setiap tindakan negara yang mendukung suatu pergerakan yang
tujuannya adalah untuk menggulingkan pemerintahan suatu negara merupakan suatu
tindakan intervensi. Lebih lanjut, Mahkamah juga menyimpulkan bahwa tindakan
intervensi AS tersebut juga murni merupakan tindakan penggunaan kekerasan (use of
force). Karena pada dasarnya walaupun Nicaragua terbukti melakukan armed attack,
tidak dengan semata-mata memberikan hak bagi negara pihak ketiga, dalam kasus ini
Amerika Serikat, untuk melakukan tindakan serangan kolektif.
Tak hanya prinsip non-use of force yang telah dilanggar oleh AS, tetapi juga
prinsip pelanggaran terhadap kedaulatan dengan negara lain. Mahkamah menunjuk
pada salah satu tindakan AS, yaitu penanaman ranjau di perairan Nicaragua dan
sekitarnya sebagai sebuah pelanggaran terhadap kebebasan komunikasi dan
perdagangan laut Nicaragua sebagai sebuah negara yang berdaulat. Tindakan ini juga
dianggap telah melanggar Treaty of Friendship 1956 antara Nicaragua dan AS. Selain
itu, Mahkamah juga turut menyatakan bahwa tindakan AS dalam memberikan bantuan
kepada pasukan Contras bertentangan dengan ketentuan-ketentuan umum hukum
humaniter, sebagaimana telah diatur dalam keempat Konvensi Jenewa tahun 1949,
yang mana keempat konvensi tersebut telah menjadi hukum kebiasaan internasional.

ANALISA KASUS :
Dalam kasus ini, Mahkamah Internasional memiliki peranan besar dalam
pengaplikasian hukum kebiasaan internasional. Mengacu pada reservasi yang
dilakukan oleh Amerika Serikat, dimana AS menyatakan bahwa permasalahan yang
menyangkut interpretasi perjanjian internasional tidak termasuk yurisdiksi ICJ pada
Amerika Serikat. Sementara itu, Nicaragua pun mendasarkan permasalahan ini
terhadap beberapa prinsip-prinsip yang terdapat dalam Piagam PBB, antara lain prinsip
non-intervention, non-use of force, self-defence.
Menanggapi permasalahan ini, Mahkamah Internasional mengeluarkan bahwa
suatu perjanjian internasional (treaty) merupakan cerminan, ataupun kristalisasi dari
hukum kebiasaan internasional yang telah berlaku di masyarakat internasional.
Sebagaimana juga telah dinyatakan Mahkamah pada North Sea Continental Shelf
cases. Lebih lanjut, Mahkamah pun menambahkan bahwa pada dasarnya walaupun
suatu hukum kebiasaan dan suatu perjanjian internasional mengatur mengenai norma
yang sama, kedua sumber hukum internasional itu tetap memiliki eksistensi yang
berbeda. Dalam implementasinya, kedua sumber hukum tersebut tetap berlaku dan
dijalankan sebagai dua sumber hukum yang terpisah.
Pada kasus ini, prinsip-prinsip seperti non-intervention, non-use of force yang
tercantum dalam piagam PBB telah diakui sebagai hukum kebiasaan internasional pula.
Maka, melihat pernyataan Mahkamah mengenai “pemisahan” antara implementasi
perjanjian internasional dan hukum kebiasaan internasional, dasar-dasar hukum yang
dibawa oleh Nicaragua dapat digunakan dalam kasus ini (applicable).
Walaupun AS mengklaim bahwa Mahkamah Internasional tidak memiliki
yurisprudensi untuk menangani kasus ini dikarenakan reservasi yang dilakukannya
terhadap pasal 36 (2) Piagam PBB, hal ini tidak menghalangi Mahkamah untuk
melaksanakan wewenangnya. Karena pada dasarnya reservasi Amerika Serikat
tersebut hanya membuat pengecualian pada yurisdiksi mahkamah terhadap interpretasi
perjanjian internasional, bukan terhadap prinsip-prinsip yang telah menjadi hukum
kebiasaan internasional, seperti non-intervention dan non-use of force yang digunakan
oleh Nicaragua.

North Sea Continental Shelf Case


Fakta Hukum
• 29 April 1958 Convention on The Continental Shelf ditandatangani di Jenewa oleh
46 negara termasuk Jerman, Denmark dan Belanda.
• Denmark meratifikasi konvensi tersebut pada tanggal 10 Juni 1964 dan Belanda
meratifikasinya pada tanggal 20 Maret 1966, sedangkan Jerman tidak pernah
meratifikasinya.
• Denmark dan Belanda menggunakan “equidistance method” dalam menentukan
perbatasan continental shelf-nya sesuai Article 6 of Convention on The Continental
Shelf.
• Jerman mengusulkan “apportionment” yang “just and fair” terhadap wilayah
continental shelf masing-masing.
• 1 Desember 1964 Jerman dan Belanda membuat special agreement untuk
mengajukan perselisihan tersebut ke ICJ, special agreement yang sama dibuat
antara Jerman dan Denmark pada tanggal 9 Juni 1965.
• 20 Februari 1967, perselisihan mengenai batas continental shelf di Laut Utara
antara Jerman-Denmark dan Jerman-Belanda didaftarkan ke ICJ lewat dua special
agreement, namun ICJ menyatukannya dalam satu judgement.

Putusan
• “Equidistance method” dari Convention on The Continental Shelf tidak wajib dipakai
oleh the Parties dalam menentukan perbatasan laut kontinental masing-masing.
• Tidak ada metode tertentu yang diwajibkan untuk digunakan oleh mereka dalam
menentukan perbatasan continental shelf-nya.
• The Parties diminta membuat kesepakatan baru dalam menentukan perbatasan
continental shelf masing-masing sesuai equitable principles dan memerhatikan
seluruh keadaan secara berkesinambungan termasuk natural prolongation dari
continental shelf masing-masing bahkan memungkinkan yuridiksi,pemanfaatan, dan
eksploitasi bersama.

Dasar pertimbangan
Argumentasi Denmark dan Belanda
• Daerah pesisir laut utara Jerman bukan “special circumstances” sehingga karena
tidak ada special agreement maka terikat dengan Pasal 6 Geneva Convention.
• “Equidistance Principle” merupakan customary international law. Sehingga
walaupun Jerman tidak meratifikasi Geneva Convention, Jerman tetap terikat.
• Perbatasan mereka sekarang sudah sesuai dengan Equidistace Principle sesuai
dengan Pasal 6 Geneva Convention, dengan memerhatikan prolongation
berdasarkan Truman Proclamation.

Argumentasi Jerman
• Daerah pesisir laut utara Jerman merupakan “special circumstances” sehingga
dapat dikecualikan dari penggunaan “equidistance method”.
• Jerman tidak meratifikasi Geneva Convention, jadi tidak terikat dengan Pasal 6
Geneva Convention.
• Mengusulkan “just and fair apportionment” untuk wilayah continental shelf masing-
masing.

Pertimbangan Hakim
• Usulan Jerman untuk membagi wilayah tidak diterima karena seharusnya setiap
wilayah negara diberi batas, bukan dibagi-bagi begitu saja.
• Pasal 6 Geneva Convention tidak diterapkan karena:
o Geneva Convention tidak mengikat semua pihak dalam kasus tersebut.
o Jerman belum meratifikasi Geneva Convention.
• “Equidistance Principle” bukan basic doctrine dari continental shelf.
• “Equidistance Principle” bukan customary law.

Analisa
• Dalam international law, konvensi dan customary law menjadi sumber yang penting
sehingga Denmark dan Belanda dapat menjadikannya dasar argumentasi untuk
mengikat Jerman
• Sebelum adanya Convention on The Continental Shelf, belum ada ketentuan
apapun yang mengatur mengenai batas continental shelf sehingga sebenarnya bagi
negara yang belum meratifikasi mereka bebas menentukan batas masing-masing
asal memerhatikan seluruh keadaan secara berkesinambungan dan sesuai
equitable principle
• Truman Proclamation telah memberikan sumbangsih besar karena prolongasi
menjadi dasar perhitungan batas continental shelf seperti yang dianut Denmark dan
Belanda, namun seperti yang dijelaskan dalam putusan ICJ, hal tersebut dapat
menimbulkan overlapping area sehingga memerlukan pemikiran lebih lanjut
mengenai hal tersebut contohnya kemungkinan yuridiksi bersama
• Kekuatan mengikat suatu konvensi tergantung apakah negara tersebut
meratifikasinya di negaranya sendiri, contohnya di Indonesia suatu konvensi atau
statuta akan mengikat Indonesia jika sudah dijadikan hukum positif berbentuk
undang-undang. Dalam kasus ini, Convention on The Continental Shelf tidak
mengikat Jerman karena Jerman tidak meratifikasinya.