Anda di halaman 1dari 3

“Semua cerita, dalam bentuknya yang bagaimanapun, selamanya adalah tentang manusia.


Demikian kira-kira pernah saya baca dalam buku “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta
Toer. Sebuah cerita mungkin saja mengangkat soal hewan, gunung atau dewa-dewa. Tapi
tidak lain maksudnya adalah upaya untuk memahami manusia.
Maka jangan remehkan Si Manusia itu, tulis Pram dalam buku yang sama. Tak kurang dari
ilmu Psikologi, Sosiologi, Antropologi dan banyak logi-logi lain diciptakan manusia untuk
memahami dirinya sendiri. Tapi sampai milenium kedua ini, barangkali tak sekuku hitam pun
terkuak pemahaman yang lengkap tentang mahluk Allah Swt yang ahsanu taqwim itu.
Langsung saja ke pokoknya. Cerpen yang akan kita “bedah” dalam Annauroh edisi kali ini
pun, dua-duanya mengangkat prihal Si Manusia itu. Pertama-tama, kita perlu mengangkat
dua jempol sekaligus, sebagai bentuk apresiasi kita kepada pengarangnya. Karena tak pelak
lagi, dua cerita ini juga turut memberi sumbangsih kepada kita untuk memahami Si Manusia
tadi.
Kita mulai dari cerpen yang pertama. Judulnya “Tetangga Sebelah Rumah” karya... Dari
pemilihan judul saja sebenarnya kita sudah dapat menerka, bahwa penulis memang tidak
hendak menyuguhkan romantisme, dengan bahasa penuh kias dan metafora yang mendayu-
dayu dalam cerpennya. Dan memang dugaan ini tidak meleset. Dari paragraf pertama sampai
akhir penulis lebih banyak menggunakan pilihan kata dan kalimat yang lugas dan langsung
mengena pada sasaran.
Memang, sepengetahuan saya, cerpen-cerpen yang sering tampil di majalah-majalah
pesantren kita lebih banyak menggunakan bahasa puitis. Barangkali jenis cerpen seperti ini
yang lebih digemari. Karena umumnya cerpen dengan gaya tersebut meninggalkan kesan
melankoli yang dalam pada benak pembaca.
Tapi, bukan berarti cerpen dengan gaya lugas lantas tidak atau kurang baik. Buktinya, tak
kurang cerpenis kawakan Indonesia, seperti Putu Wijaya dan Kuntowijoyo juga
menggunakan gaya lugas dalam cerpennya. Dan karya-karya mereka hampir pasti nangkring
di koran-koran atau majalah sastra. Itu menunjukkan bahwa cerpen dengan bahasa yang lugas
juga bisa bermutu dan digemari oleh penikmat sastra.
Cuman, jenis cerpen semacam ini jika tidak pandai-pandai mensiasati akan menjadi kering
dan lebih patut disebut berita daripada cerpen. Maka, kelihaian penulis dalam pemilihan tema
dan pengaturan konflik serta pemeliharaan suspensitas (keingintahuan) menjadi sangat
diandalkan. Unsur-unsur cerita seperti penokohan, latar dan dialog pun harus diperhatikan
betul.
Menurut saya, cerpen ini mengambil tema yang bagus sekali. Yaitu hubungan manusia
kepada sesamanya. Atau dalam bahasa kerennya biasa kita sebut hablu minannas. Penulis
berkisah tentang Bu Palastri, seorang ibu-ibu tetangga baru yang “jahat”. Wanita yang, entah
karena apa, membenci apa saja dan siapa saja. Juga tak segan-segan memaki tetangganya
sendiri dengan alasan yang mengada-ada.
Dalam pembuatan alur, saya kira penulis telah berhasil membuat konflik dan
mempertahankan suspen dengan baik. Dari awal saya tak henti-henti dibuat penasaran dengan
pertanyaan, “Apa kiranya yang menyebabkan wanita tetangga baru itu bersikap begitu
jahatnya?” Bahkan sampai kalimat terakhir penulis rupanya tidak juga mau menjawabnya. Itu
sah-sah saja, karena dalam cerpen tidak semua hal harus dijelaskan oleh penulis. Perlu
diingat, bahwa cerpen bukanlah kamus atau ensklopedia yang menjelaskan apa saja. Cerpen
harus pula menyediakan ruang tafsir bagi pembacanya.
Penggambaran setting dan latarnya pun patut diacungi jempol. Dalam cerpen itu penulis
membawa kita pada suasana pedesaan, lengkap dengan manusia-manusianya yang komunal.
Memang tidak ada detail tentang ladang menghijau, kicau burung atau sungai dengan
bebatuan cadas. Tapi justru hal itu menstimulasi otak kita untuk merentangkan imajenasi.
Dari penggambaran ibu-ibu yang mandi dan mencuci di sungai, misalnya, akan muncul
imajenasi tentang sungai-sungai sebagaimana yang ada dalam kepala pembaca.
Saya yang asli Bengawan jero langsung terbayang pada suasana kali bengawan njero pada
sore hari. Dimana orang-orang mandi dengan menambatkan kaki pada ondakan bambu, yang
ditancapkan berderet sepanjang bibir kali. Liat dan berlumpur. Dapat saya dengar suara
kecipak air sewarna kopi susu yang tergilas baling-baling mesin perahu. Sementara
ombaknya mengikis pematang dan jalanan yang tak lebih dua meter lebarnya. Serta
menggoyangkan semak kelorak dan eceng gondok, tempat ular dan hantu kalap bersemayam.
Jika misalnya pembaca berasal dari daerah di lereng gunung, barangkali akan tercipta
penggambaran tentang sungai berarus jeram dengan bongkahan batu cadas di sana-sini.
Sungai itu, airnya jernih dan menyegarkan kerongkongan tanpa harus dimasak lebih dulu.
Dalam cerpen ini, Penulis juga terlihat sangat menjiwai karakter masing-masing tokoh.
Hal itu nampak dari dialog rasan-rasan para ibu yang renyah dan mengalir alami.
Apalagi penulis juga sangat memanjakan pembaca dengan membuat pesan yang tak perlu
dicari-cari sambil petentengan. Karena, di akhir cerita penulis dengan lugas berpesan agar
kita “ Tak mau buru-buru menilai orang...”
Tapi ada satu hal yang barangkali luput dari perhatian penulis. Dalam teori mimetik1
dikenal istilah plausibilitas. Artinya sebuah karya fiksi itu harus bisa diterima akal sesuai
dengan logika cerita. Dalam hal ini, kemunculan tokoh Ayu secara tiba-tiba menjelang akhir
cerita itu, menurut saya, sangat mengganggu. Karena dalam cerpen ini, Ayu bisa dibilang
menempati posisi sentral, sebagai pemicu klimaks. Dengan kata lain, tanpa kehadiran Ayu
penulis bakal kesulitan atau bahkan tidak akan bisa mengakhiri cerita. Tapi keberadaan Ayu
sebagai putri tokoh utama, tidak dijelaskan oleh penulis di muka. Sehingga muncul kesan
bahwa Ayu adalah dewa yang turun dari langit untuk membantu tokoh utama menyelesaikan
ceritanya. Itulah yang menurut saya kurang logis. Tapi, secara umum cerpen ini bagus dan
saya suka membacanya.

Cerpen yang kedua. Berjudul Siluet Wajah Senja, karya...


1 Pengertianmimesis(Yunani:perwujudanataupeniruan) pertama kali dipergunakan dalam teori-teoritentangsenisepertidikemukakanPlato(428-348) dan
Aristoteles (384-322), dan dari abad ke abadsangat memengaruhi teori-teori mengenai seni dansastradiEropa(VanLuxemburg,1986:15)