PENYALAHGUNAAN INTERNET

Belakangan ini, angka kasus kekerasan terhadap anak di Tanah Air terus meningkat. Bahkan, banyak dari kasus kekerasan anak tersebut sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Tak hanya di dunia nyata, kekerasan juga kerap berawal dari dunia maya (Internet). Dari data resmi yang dikeluarkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan dikutip detikINET, Jumat (29/9/2006), diperkirakan setiap satu hingga dua menit terjadi tindak kekerasan pada anak. Setiap tahunnya, jumlah kekerasan yang tercatat bisa mencapai 788 ribu kasus. Fakta itu sempat diuraikan anggota DPR M. Aziz Syamsuddin dalam Seminar Perlindungan Anak Terhadap Kekerasan yang diselenggarakan Kelompok GASUH Fakultas Hukum Atmajaya, seminggu yang lalu. "Untuk meminimalisasi terjadinya tindak kekerasan terhadap anak-anak, kita perlu mewaspadai faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kekerasan, antara lain peredaran media-media pornografi semisal Internet," ujar Aziz. Sedangkan dari beberapa survei yang dirangkum Microsoft menunjukkan bahwa kekerasan pada anak tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga bisa bermula di dunia maya. Hasil survei "Online Survival Guide Consumer Reports" secara global per September 2005, 47% responden mengaku menerima konten serta pesan sampah (spam) bernada pornografi. Dari riset itu diperkirakan lebih dari dua juta anak secara tak sengaja melihat pesan sampah bernada porno itu. Kemudian, berdasarkan riset Finkelhor, Mitchell, dan Wolak dari Online Victimazation pada Juni 2000, enam dari sepuluh remaja usia belasan menerima e-mail atau pesan instan (IM) dari orang yang tak dikenal, di mana 63% diantaranya mengaku merespon balik pesan yang diterimanya. Masih dari hasil penelitian yang sama, satu dari lima belia melaporkan telah mengalami pelecehan seksual atau setidaknya diintimidasi, pada tahun yang sama saat studi itu dilakukan. Jumlah itu diperkirakan meningkat seiring bertambahnya jumlah pengguna internet di kalangan usia remaja. Hasil survei itu dipaparkan Platform Strategic Manager Microsoft Indonesia Subhan Novianda dalam seminar yang dihadiri sekitar 200 peserta. Menurutnya, untuk mencegah terjadinya hal semacam itu, para orangtua sebaiknya menggali informasi sebanyakbanyaknya mengenai Internet dan mempelajari risiko yang mungkin membahayakan anak-anak saat mengeksplorasi dunia maya tersebut. Ia menambahkan, ada empat langkah bagi para orangtua untuk memproteksi keluarganya

terus gunakan teknologi terkini demi menghindari risiko kejahatan online. terekam data mengenai 1. serta korban berusia 16-18 tahun (18 anak). anak-anak itu menjalani pemeriksaan akibat perkelahian (9 anak). Pelaku kekerasan seksual terhadap anak-anak ini adalah tetangga (28 kasus).saat terkoneksi online. . jaga komunikasi antar orangtua dan anak. pencurian (28 anak). Subhan juga mengatakan. jumlah anak yang mendapatkan kekerasan fisik tercatat sebanyak 25 orang. Berdasarkan survei yang dilakukan lewat Sensus Ekonomi Nasional pada 2000. perzinahan dalam lingkungan keluarga atau incest (13 kasus). Bila dilihat ke belakang. Tentunya tanpa membuat sang anak ketakutan dan merasa kehilangan kebebasannya dalam ber-Internet. lanjutnya. antara lain tercatat korban anak berusia 0-5 tahun (9 anak). Keempat. pada periode Januari . buat aturan yang jelas dan tegas dalam menggunakan Internet. terkena penganiayaan 11 anak. bahkan cenderung meningkat. Ketiga. dan terlibat pemerasan (2 anak). Selain itu. Di dalam Windows Vista. orang tak dikenal (5 kasus). Orangtua harus menjelaskan tentang esensi dari aturan itu demi menghindari masalah yang mungkin terjadi bila hal itu dilanggar. terlibat narkoba (9 anak). Sangat Mengkhawatirkan Kasus pada anak memang sangat mengkhawatirkan. Kedua. Fakta-fakta itu menunjukkan bahwa angka kekerasan pada anak bukannya semakin menurun. menurut Aziz. Orangtua harus memberi perhatian penuh terhadap apa yang anak-anak mereka lakukan dan siapa yang mereka temui di saat online. termasuk di antaranya yang mengandung risiko tinggi seperti pertambangan. dan dibunuh sewaktu lahir 11 anak bayi.6 juta anak Indonesia yang bekerja di berbagai bidang. Pada periode yang sama.Maret 2001 terdapat 67 anak yang terkait dengan masalah hukum. Khusus tentang anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual. ia mengklaim semua fitur proteksi keluarga yang disebutkan di atas sudah terakomodir oleh sistem operasi Microsoft teranyar itu. orangtua harus mengajarkan anaknya agar tetap menjaga kerahasiaan informasi yang bersifat personal terhadap orang yang ditemuinya di dunia maya. pelaku kekerasan seksual (16 anak). teman sendiri (12 kasus). terlibat pembunuhan (1 anak). korban pembunuhan tiga anak. semua bentuk kekhawatiran tersebut sudah dipikirkan oleh Microsoft. usia 11-15 tahun (63 anak). usia 5-10 tahun (8 anak). Pertama. Kini. pada kenyataannya angka pekerja anak jumlahnya juga cukup fantastis.

Tercatat. seperti jam kerja yang sangat tinggi (hingga 21 jam). dan lebih dari 142 ribu orang diharapkan menerima keuntungan teknologi melalui donasi tersebut. Dengan kapasitas Lapas yang sebenarnya hanya cukup menampung 250 orang. serta rawan kejahatan seksual. Menurut UNIFEM. Donasi tersebut digunakan untuk menyediakan pelatihan keahlian berbasis teknologi informasi (TI). termasuk Indonesia. ada kutipan menarik tentang anak yang dilontarkan Dosen FH Atmajaya Nikolas Simanjuntak saat seminar berlangsung. Mencuri Perhatian Masalah kekerasan dan eksploitasi anak juga menjadi perhatian bagi Microsoft. upah minim. Sisanya. Lapas itu dihuni oleh 143 orang dewasa berusia 22 tahun ke atas. 35 persen di antaranya bahkan mengalami eksploitasi dalam bekerja. Maksud sebenarnya dari acara itu ialah hanya ingin menunjukkan bahwa anak itu adalah anak-anak kita yang seharusnya dijaga bersama. Melalui program Unlimited Potential. Sebagaimana diuraikan di atas." tandasnya. Anak-anak itu juga rawan akan praktik perdagangan dan pelacuran. Setidaknya sebanyak 76 pusat pembelajaran TI Community Technology Learning Center (CTLC) baru akan mendukung pelaksanaan program itu. Anak-anak yang terpaksa berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) juga cukup banyak. Lapas Anak Tanjung Gusta Medan hingga Oktober 2005 dihuni 423 orang. persoalan anak yang berkonflik dengan hukum juga cukup menonjol. Tapi lebih dari itu. khususnya untuk menanggulangi kejahatan perdagangan manusia (human trafficking) yang korbannya kebanyakan wanita dan anak-anak.Jumlah pekerja anak memang membuat miris. dimana di antaranya dihuni 155 anak berusia 18 tahun ke bawah. keadaan itu sangat berisiko tinggi terhadap anak-anak menjadi pelaku kriminal setelah keluar dari Lapas. serta 125 remaja berusia 19-21 tahun. raksasa software itu mendistribusikan donasi senilai US$ 1 juta pada organisasi-organisasi non-profit (LSM) yang berada di enam negara di wilayah Asia Tenggara. sekitar 250 ribu dari 700 ribu orang yang menjadi korban human trafficking setiap tahunnya berasal dari Asia Tenggara. apa cuma mau bagi-bagi makanan? Bukan. Dari donasi itu diharapkan dapat meningkatkan kesempatan bekerja dan kondisi perekonomian para korban human trafficking. DETIKINET . "Untuk apa orang mengadakan acara syukuran saat anaknya ulang tahun atau sunatan. Sementara itu.

"Meski demikian 20 persen inilah yang harus diawasi. Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo). melainkan berada di kisaran 15-19 tahun. Bahkan besar porsinya mencapai 64 persen dari total pengguna internet Indonesia yang mencapai 45 juta. lanjut Tifatul. Adapun pengguna internet di dunia saat ini berdasarkan Menkominfo berjumlah 1. "Dimana beberapa orang menyebut generasi ini adalah netizen. Senin (25/10/2010). Staf Ahli Kementerian Pendidikan Nasional Bidang Kerjasama Hubungan Internasional. "Dengan semakin meluasnya pemanfaatan TIK di berbagai sektor kehidupan masyarakat telah menyebabkan terbukanya peluang bagi penyalahgunaan TIK yang lebih dikenal dengan istilah cybercrime. dalam Rakornas Kominfo 2010 di Menara Bidakara." jelas mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera ini.Kawula muda mendominasi penggunaan internet di Tanah Air. Di tempat yang sama. .detikinet <p>Your browser does not support iframes.9 miliar atau sekitar 28 persen dari penduduk di dunia. 25/10/2010 12:01 WIB 64% Netter Indonesia Berumur 15-19 Tahun Ardhi Suryadhi ." tegasnya. generasi yang lahir setelah tahun 90-an. Mereka ini. mereka yang mendominasi tersebut sejatinya belum genap 20 tahun. Tifatul Sembiring." ujarnya. Herwindo menambahkan. termasuk internet.</p> (Ist) Jakarta . adalah generasi yang ketika lahir sudah mengenal keyboard dan monitor atau generasi yang sudah akrab dengan pemanfaatan TIK (Teknologi Informasi dan Komputer).Senin. dari 60 juta pelajar Indonesia baru 20 persen yang mencicipi internet.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful