Anda di halaman 1dari 58

2002

http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X
135. NAPZA
Daftar isi :
2. Editorial
4. English Summary
Artikel
5. Manajemen Laboratoris Penyalahgunaan Obat dan Kompli-
kasinya - Suwarso
14. Pengaruh Narkotika terhadap Susunan Saraf Pusat – Budi
Riyanto Wreksoatmodjo
17. Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan
Zat Adiktif lainnya (NAPZA) – Ketut Kusminarno
21. Pengobatan/Perawatan Pasien Ketergantungan NAPZA Pasca
Detoksifikasi – Hartati Kurniadi
24. Gambaran Klinik dan Psikofarmaka pada Gangguan Ke-
cemasan – Yusuf Alam Romadhon
27. Penatalaksanaan Baku dan Menyeluruh pada HIV/AIDS –
Candra Wibowo
Karya Sriwidodo WS
32. Efek Toksik dan Cara Menentukan Toksisitas Bahan Kimia –
Satmoko Wisaksono
37. Marine Toxin : Saxitoxin – Winarti Andayani, Betty Marita
Subrata, Esther Budiman
43. Bumbu Alami sebagai Penyedap, Pengawet dan Penghambat
Cemaran Aflatoksin pada Sambal Kacang – Nunik Siti A.,
Supraptini, Enny W.L., Inswiasri, Suyitno, Sukijo
47. Gambaran Kadar Mangan (Mn) pada Sumber Air Rumah
Tangga di Jabotabek : studi kasus pemeriksaan air di Puslit-
bang Farmasi – Ni’mah Bawahab, Kelik MA, Ani Isnawati

50. Kapsul
51. Kegiatan Ilmiah
53. Produk Baru
54. Internet
CDK dapat diperoleh cuma-cuma melalui 55. Abstrak
MedRep Grup PT. Kalbe Farma, ATAU 56. RPPIK
dengan mengganti ongkos Rp. 10.000,-/eks
Di zaman modern ini dunia kesehatan sedang mengalami suatu
epidemi; kali ini bukan akibat penyakit infeksi, tetapi akibat suatu
perubahan gaya hidup – suatu epidemi yang jauh lebih sulit dibasmi
dibandingkan dengan epidemi ‘klasik’ penyakit infeksi yang mudah diatasi
dengan perbaikan lingkungan dan antibiotik.
Epidemi yang sedang mengancam kita semua tak lain dari meluasnya
penyalahgunaan narkotika dan zat-zat lainnya, yang meskipun tidak
infeksius, penyebarannya jauh lebih cepat dan luas dibandingkan penyakit
infeksi apapun.
Masalah ini kami bahas dalam edisi Cermin Dunia Kedokteran kali
ini; beberapa artikel akan mengupasnya dari berbagai segi – masalah
deteksi, efeknya terhadap tubuh, masalah pengobatan dan rehabilitasinya
– mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan dan dengan demikian
lebih siap dalam menghadapi tantangan yang akan makin mengemuka di
masa mendatang.
Selamat membaca, dan jangan segan-segan untuk menyampaikan
komentar dan pendapat Sejawat ke alamat redaksi; kami selalu
mengharapkan umpan balik Sejawat untuk lebih meningkatkan mutu
pelayanan dan informasi untuk para Sejawat sekalian.
Salam dari Redaksi

Redaksi

2 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


2003

International Standard Serial Number: 0125 – 913X

KETUA PENGARAH REDAKSI KEHORMATAN


Prof. Dr Oen L.H. MSc
– Prof. DR. Sumarmo Poorwo Soedarmo – Prof. Dr. R. Budhi Darmojo
PEMIMPIN UMUM Staf Ahli Menteri Kesehatan, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam
Dr. Erik Tapan Departemen Kesehatan RI, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,
Jakarta. Semarang.
KETUA PENYUNTING
Dr. Budi Riyanto W.
– Prof. Drg. Siti Wuryan A. Prayitno – Prof. DR. Hendro Kusnoto Drg.,Sp.Ort
PELAKSANA SKM, MScD, PhD. Laboratorium Ortodonti
Sriwidodo WS. Bagian Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti,
Universitas Indonesia, Jakarta Jakarta
TATA USAHA
Dodi Sumarna
ALAMAT REDAKSI – DR. Arini Setiawati
Majalah Cermin Dunia Kedokteran, Gedung Enseval, Bagian Farmakologi
Jl. Letjen Suprapto Kav. 4, Cempaka Putih, Jakarta Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
10510, P.O. Box 3117 Jkt. Telp. (021)4208171 Jakarta
E-mail : cdk@kalbe.co.id
Website : http://www.kalbe.co.id/cdk
DEWAN REDAKSI
NOMOR IJIN
151/SK/DITJEN PPG/STT/1976
Tanggal 3 Juli 1976
– Dr. Boenjamin Setiawan Ph.D – Prof. Dr. Sjahbanar Soebianto
PENERBIT Zahir MSc.
Grup PT Kalbe Farma
PENCETAK http://www.kalbe.co.id/cdk
PT Temprint
PETUNJUK UNTUK PENULIS

Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. Bila
aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, juga hasil penelitian di bidang- terpisah dalam lembar lain, hendaknya ditandai untuk menghindari ke-
bidang tersebut. mungkinan tertukar. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pe-
Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus munculannya dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated
untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran; bila pernah dibahas atau Index Medicus dan/atau Uniform Requirements for Manuscripts Submitted to
dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan me- Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979; 90 : 95-9).
ngenai nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Contoh:
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila menggunakan 1. Basmajian JV, Kirby RL. Medical Rehabilitation. 1st ed. Baltimore.
bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang London: William and Wilkins, 1984; Hal 174-9.
berlaku. Istilah media sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia 2. Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties of invading micro-
yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Redaksi berhak organisms. Dalam: Sodeman WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic phy-
mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah harus siology: Mechanisms of diseases. Philadelphia: WB Saunders, 1974;457-72.
disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Untuk memudahkan para 3. Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Cermin
pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan Dunia Kedokt. l990; 64: 7-10.
abstrak dalam bahasa Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak membuat sendiri Bila pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau
abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. lebih, sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk.
Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran, Gedung
folio, satu muka, dengan menyisakan cukup ruangan di kanan-kirinya, lebih Enseval, JI. Letjen Suprapto Kav. 4, Cempaka Putih, Jakarta 10510 P.O.
disukai bila panjangnya kira-kira 6 - 10 halaman kuarto disertai/atau dalam Box 3117 Jakarta. Tlp. (021) 4208171. E-mail : redaksiCDK@yahoo.com
bentuk disket program MS Word. Nama (para) pe-ngarang ditulis lengkap, Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan, akan diberitahu
disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Tabel/ secara tertulis.
skema/grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai
tinta hitam agar dapat langsung direproduksi, diberi nomor sesuai dengan dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup.

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis


dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian
tempat kerja si penulis. Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 3
English Summary

LABORATORY MANAGEMENT OF EFFECTS OF NARCOTICS ON THE CLINICAL PICTURE AND PSYCHO-


DRUG ADDICTION AND ITS CENTRAL NERVOUS SYSTEM PHARMACOLOGY OF ANXIETY
COMPLICATIONS
Budi Riyanto Wreksoatmodjo Yusuf Alam Romadhon
Suwarso
Marzuki Mahdi Hospital, Bogor, Kartasura Community Health Centre,
Department of Clinical Pathology, Indonesia Central Java, Indonesia
Faculty of Medicine, Gadjah Mada
University, Yogyakarta, Indonesia Narcotics have been used Anxiety can be found in indi-
since antiquity; formerly as a medi- viduals with normal stress, in chronic
Problems of drug addiction cation for variety of symptoms, in- physical ailments, in persons with
were very complex, particularly cluding pain killer and cough re- psychiatric disorders or as an
in developing countries. medy; but scientific investigations independent symptom.
It is not only concerning the that began in 19th century There are five categories of
direct medical problems, but also revealed their potential for anxiety; namely : panic disorder,
the complications, particularly abuse and other side effects. generalized anxiety disorder,
among chronic users, such as Narcotics exerts their effects phobic disorder, obssesive-
hepatitis, HIV infection and on human body through their compulsive disorder and post-
bacterial endocarditis. influence on several receptors in traumatic stress disorder.
The laboratory management the brain, and depending on Anxiolytic drugs should be used
should consist of screening, diag- the properties of receptors, the in combination with psychotherapy;
nostic and monitoring of drug clinical effects may varies. recently there are many kinds of
use and also its complications. Recent experiments also found anxiolytic drugs: benzodiazepines,
opioid receptors in peripheral tricyclic,monoamine inhibitor, sero-
Cermin Dunia Kedokt. 2002; 135: 5-13 nervous system. tonin reuptake inhibitor and specific
so
serotonin reuptake inhibitor.
Cermin Dunia Kedokt. 2002; 135: 14-6
Clinicians should be familiar with
brw
their actions, side effects and close-
ly monitor their patients pattern
of use

Cermin Dunia Kedokt.2002;135:24-6


brw

Misfortunes come on wings and depart on feet

4 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Manajemen Laboratoris
Penyalahgunaan Obat
dan Komplikasinya
Suwarso
Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Yogyakarta

ABSTRAK

Di negara yang sedang berkembang kasus dan masalah penyalahgunaan obat


sangat kompleks. Permasalahan tidak hanya pada psikososialekonomi, tetapi juga
pada per-masalahan medis yang merupakan dampak komplikasi dari efek pemakaian
obat yang terus menerus. Hepatitis virus dan/atau non-virus, infeksi HIV, dan
endokarditis bakteri-alis merupakan komplikasi medis dari penyalahgunaan obat,
yang penyebarannya sangat cepat meluas di antara sesama pemakai. Untuk membantu
penanganan penyalahgunaan obat agar lebih akurat, akan dibahas manajemen
laboratoris dalam skrining, diagnosis, monitoring penyalahgunaan obat dan
komplikasinya.

Kata Kunci: Rapid test, Hepatitis, Human immunodeficiency virus (HIV),


Endokarditis bakterialis, Narkoba, Drug-addict.

PENDAHULUAN penggunaannya (recurrent), sementara toleransi tubuh akibat


Manajemen laboratoris penyalahgunaan obat dan metabolit- pengulangan tersebut diatasi selain dengan cara menaikkan
nya dirancang dengan mempertimbangkan latarbelakang perma- frekuensi dan dosis, juga dengan cara mengkombinasi beberapa
salahan penyalahgunaan obat yang umumnya demikian kompleks macam obat/bahan dan memvariasi rute pemakaian (ingesti, in-
di negara yang sedang berkembang, sehingga selain mengakibat- halan, injeksi, snorting).
kan masalah psikososialekonomi yang luas, juga masalah medis Pengulangan/recurrenting yang sering akan menimbulkan
yang variatif dan cepat penyebarannya. kondisi withdrawal (akut lamanya 5-10 hari, kronis 26-30
Manajemen laboratoris yang ditulis di sini meliputi pe- minggu), yakni kondisi ketersiksaan fisik dan psikis non-fatal
meriksaan skrining yang akan menetapkan ada-tidaknya obat, yang muncul jika 6-12 jam obat/bahan tidak dikonsumsi1. Kondisi
bahan atau metabolitnya dalam sampel subyek yang diperiksa, semacam ini membuat individu tergantung (dependent) sehingga
dan menetapkan ada-tidaknya komplikasi akibat pemakaiannya, sangat sulit untuk tidak menggunakan ulang obat/bahan tersebut.
sehingga dari hasilnya bisa diambil langkah-langkah lanjutan Recurrenting yang ekstrim akan membuat kondisi withdrawal
yang akurat dan efektif. berat ("Sakaw", sakit karena putaw) yang akan membuat individu
secara kompulsif (kecanduan) menggunakan obat/bahan, tanpa
LATAR BELAKANG mempedulikan lagi untung-rugi, ada-tidak manfaat medis, legal-
Pengetahuan tentang obat/bahan yang diyakini mampu me- ilegalnya cara yang diperoleh, yang selanjutnya menimbulkan
mecahkan masalah fisik dan psikis (thinking, behaviour, feeling), masalah baik di keluarga, lingkungan kerja maupun sosial.
baik langsung maupun tidak langsung, ilmiah maupun tidak, Jumlah kematian pertahun karena penyalahgunaan obat (over-
akhirnya akan diperoleh oleh individu. Efektifitas atau mujarab- dose) opiat mencapai 40-50% dari semua kematian karena obat16.
nya obat/bahan yang dipilih akan membuat individu mengulang Salah satu bentuk preventif yang umum dilakukan oleh ber-

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 5


bagai instansi perusahaan di negara maju antara lain dengan cara insiden endokarditis bakterialis yang di USA; mencapai
skrining acak narkoba atas sampel urin dari karyawan atau calon 20/100.000 penduduk. Mortalitas sangat tergantung pada lokasi,
karyawannya. Hasil positif (obat mencapai atau melebihi batas kuman penyebab dan daya tahan tubuh yang di USA mencapai
dosis toksik/tes sensitivitas) atau negatif (obat tidak mencapai 5-40%. Mortalitas di kalangan IVDA relatif lebih tinggi karena
dosis toksik/tes sensitivitas) digunakan untuk mengambil keputus- umumnya memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Lesi berupa
an, sementara untuk hasil ragu-ragu dan hasil positif yang ber- vegetasi di katup triskupid, aorta, mitral dan pulmonal terdeteksi
urusan dengan hukum, keputusan diambil dari hasil test konfir- masing-masing pada 45%, 25%, 15%, dan 2% penderita. Kuman
masi atas sampel urin yang sama. penyebab meliputi stafilokokus koagulasi (50%), streptokokus
Tabel 1 memuat kadar batas pengambilan keputusan (cutoff) faekalis (8%), streptokokus viridan, -bovis, difteroid, kuman
hasil test skrining, dan test konfirmasi menurut the Substance Gram negatif, jamur (masing-masing 5%), dan kultur negatif 5%2.
Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA)7.
Tabel 2 memuat tipe narkotik (penurun kesadaran atau rasa sakit)
dan psikotropik (khasiat spesifik pada mental dan perilaku) MANAJEMEN LABORATORIS
menurut potensi disalahgunakan (abuse) dan manfaat medisnya. Manajemen laboratoris meliputi skrining dan diagnosis ada-
Tabel 3 memuat jenis, bentuk fisik, cara umum pemakaian dan nya narkoba serta komplikasinya.
efek klinis narkoba. Tabel 4 memuat jenis dan nama lain narkoba
yang secara komersial dapat ditest skrining dalam sampel urin. A) SKRINING, KONFIRMASI NARKOBA & META-
Tabel 5 memuat obat/bahan yang diketahui tidak menimbulkan BOLITNYA
reaksi silang pada test skrining amfetamin urin 100ug/ml. Metode atau teknologi laboratorium yang digunakan untuk
skrining harus memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi.
KOMPLIKASI PENYALAHGUNAAN OBAT EIA (enzyme immunoassay) dan imunokromatografi merupa-
Komplikasi penyalahgunaan obat yang akan dibahas di sini kan dua metode yang memenuhi kriteria ini. Pertimbangan
meliputi hepatitis, infeksi HIV dan endokarditis. tekniknya yang sederhana, membuat kedua metode ini menjadi
umum digunakan untuk skrining narkoba. Hasil skrining yang
Hepatitis "ragu" atau positif yang bertalian dengan hukum selanjutnya
Hepatitis dicirikan dari meningkatnya SGPT minimum 1,5 dikonfirmasi dengan metode GC/MS; metode ini merupakan
kali batas atas normal dengan atau tanpa kenaikan SGOT. Darah paduan optimal antara alat ukur mass spectrometry yang memiliki
semacam ini terbukti infeksius. Peluang hepatitis pada resipien sensitivitas sangat tinggi (mengukur intensitas ion obat) dengan
yang mendapat 1 unit darah transfusi dengan SGOT SGPT me- gas chromatography yang memiliki spesifisitas tinggi [men-
ningkat adalah 6 kali lebih besar. Sementara di Yogyakarta sekitar diferensiasi obat menurut intensitas ion (m/z), hambatan waktu
4,8% dan 3,1% individu yang secara klinis sehat dan berpotensi (HW) dan bentuk kromatografi (K)], dan terbukti bahwa cara ini
menjadi donor darah diketahui masing-masing mengandung virus mampu membedakan jutaan obat tanpa satupun diketahui me-
hepatitis-B dan -C, 80 dan 100% di antaranya terbukti infeksius miliki m/z, HW dan K yang sama). Paduan optimal ini selain
(HBeAg positip, HCV RNA positif)5,6. Sementara hepatitis lain mampu mendeteksi narkoba secara spesifik juga mampu men-
(hepatitis tifosa) merupakan hepatitis non-B,non-C yang sering deteksi dosis abuse/toksik paling minim (Tabel 1).
ditemukan di Yogyakarta (tidak dipublikasi). Analog dengan ini
maka pemakaian jarum suntik yang tercemar di antara IVDA Gambar 1 memuat deteksi dan konfirmasi narkoba sampel
yang klinis sehat memiliki potensi tinggi untuk menularkan (NKs) yang diduga memiliki narkoba standar (NKst) dengan
hepatitis virus-B, -C dan -tifosa. HW = 21,6 menit dan intensitas ion (m/z) = 184 oleh GC/MS.
Kadar NKs didapat dengan rumus:
Infeksi HIV
Efisiensi infeksi HIV melalui satu kali pajanan dengan jarum
suntik yang tercemar adalah 0,5-1%, dan ini bertanggung jawab Tinggi Puncak NKs
pada 60-100% kasus-kasus HIV pada heteroseksual dan neonatus Kadar NKs = X Kadar NKst
di negara maju. Secara global kontribusi IVDA dalam kasus Tinggi Puncak NKst
infeksi HIV adalah 5-10%. Kontribusi terbesar berasal dari IVDA
di negara yang sedang berkembang yang mencapai 30-60%, dan Jenis narkoba yang sampai saat ini secara komersial dapat
ini bertanggung jawab pada 20-30% dari keseluruhan prevalensi dites meliputi semua narkoba yang tertera pada Tabel 4 (Seratec.
anti-HIV di negara tersebut. GermanyR, Home-test Drug Abuse Insta Test.USAR). meng-
Deteksi infeksi HIV secara klinis sangat sukar, pendekatan gunakan antibodi mono- dan poliklonal yang spesifik terhadap
laboratoris karenanya merupakan salah satu cara yang sampai narkoba dan metabolitnya. Dirancang sedemikian rupa sehingga
saat ini masih dianggap lebih efektif. Sindrom klinis seperti flu- dapat dibuat dalam bentuk imunokromatografi kompetitif kua-
like syndromes, demam, limfadenopatia, diare, berat badan litatif yang praktis, tidak memerlukan tenaga trampil dan cepat
menurun dapat merupakan gejala prodromal infeksi HIV. (hasil dapat diperoleh dalam 3-10 menit). Dengan sampel urin
teknik ini memiliki sensitivitas sesuai dengan standard National
Endokarditis Institute on Drug Abuse (NIDA, sekarang SAMHSA), dan
IVDA merupakan penyebab pada 5-15% dari keseluruhan spesifisitas 99,7%.

6 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Tabel 1: Kadar batas pengambilan keputusan (cutoff) narkotik dan bahan Tabel 2: Jenis Narkotik dan Psikotropik menurut Potensi Abuse dan
adiktif (narkoba) dalam sampel serum/urin menurut Samhsa. Manfaat
Potensi Abuse/
Tipe Narkotik Psikotropik
Kadar awal/Skrining Kadar Konfirmasi Manfaat Medis
NARKOBA/Metabolitnya I. Tinggi/Nihil Heroin MDMA STP
(ng/ml) (ng/ml)
Metabolit Marijuana 50 15 Kokain Ekstasi
Metabolit Kokain 300 150 Ganja LSD
Metabolit Opiat: 300 - II. Tinggi/Pilihan Morfin Amfetamin Metakualon
Morfin - 300 akhir Petidin Fensiklidin Metilfenidat
Kodein - 300 Sekobarbital (Ritalin)
Metabolit Amfetamin: 1000 - III. Minim- Kodein Fenobarbital
Amfetamin - 500 Menengah/Umum Flunitrazepam
Metamfetamin - 500 IV. Minim/Umum - Klordiazepoksid
Phencyclidine 25 25 Diazepam
Bromazepam
Klonazepam
Klobazam
Nitrazepam(BK, DUM, MG)

Tabel.3: Jenis, bentuk fisik, cara umum pemakaian dan efek klinis NARKOBA.

Cara
NARKOBA Bentuk Fisik Efek Klinis
Pemakaian
AMFETAMIN/ Serbuk kasar Ditelan Temperatur ↑ Melambung Dizziness Toxic psychosis,
METAMFETAMIN Kristal Dihisap Tekanan darah ↑ Energi & Insomnia paranoia dan
Potongan (chunks) Dirokok Denyut jantung ↑ Kesigapan ↑ Eufori delusi
Kapsul/tablet berba Injeksi Nafsu makan ↓ Gelisah Depresi
gai ukuran, warna Takikardi, Palpitasi, Aritmi Sedasi

KOKAIN SERBUK KOKAIN: Dihisap Tonus CNS ↑ Melambung Takipneu


Serbuk kristal putih Dirokok Simpatik ↑ Paranoid Heart failure
pahit, tidak berbau Injeksi Denyut jantung ↑ Midriasis Kenaikan penampilan karena
CRACK COCAINE: Tekanan darah ↑ Depresi overestimation
Potongan crack kecil Mood ↑ Sedasi Eufori diikuti disfori, agitasi, ansietas, delusi
putih kecoklatan Vasokonstriksi Seizures obat

Penggunaan bersama alkohol akan memperlama efek toksik.

CANNABINOIDS Bubuk daun kering Dirokok Cardiac output ↑ Nafsu makan↑ Halusinasi
Rokok lintingan Makanan Nadi ↑ Koordinasi ↓ Relaxation inhibiion
Potongan hashish kering/ Tekanan.Intraokuler Fotofobia Intoksikasi
Hashish oil dimasak ↓ Apati Subjective slowing of time
Bronkodilatasi

PHENCYCLIDINE Tablet/Kapsul Dihisap Tekanan darah ↑ Analgesia Kejang umum tonik-klonik


Serbuk Dirokok Nistagmus Euforia Ekstrim agresif
Injeksi vertikal-horizontal Mual/muntah Intoksikasi
Oral Berkeringat Skizofrenia

OPIAT Bubuk putih, hitam Dihisap CNS ↓ Sedasi Konstipasi Drowsiness


coklat. Injeksi Sensasi nyeri ↓ Rasa lemah Pucat Pusing
Liquid injeksi Oral Emosi nyeri ↓ Miosis Eufori
Tablet/kapsul Respirasi ↓ Mual/muntah Analgesi

METHADONE Serbuk kristal putih Oral CNS ↓ Sedasi Konstipasi Pusing


Tablet/kapsul Injeksi Sensasi nyeri ↓ Rasa lemah Retensi urin Pening
Liquid injeksi Emosi nyeri ↓ Miosis Libido ↓
Respirasi ↓ Fotofobia Rasa lemah

BARBITURAT Bubuk putih Oral CNS ↓ Eufori Kardiovaskuler ↓ Slowed speech


Tablet/Kapsul Injeksi Ansietas ↓ Anestesi Respirasi ↓
Liquid injeksi Akuiti mental ↓ Hipnotik Fungsi miokard ↓
Denyut jantung ↓ Hipotensi Kontraksi miokard ↓

BENZODIAZEPINES Bubuk kristal Oral Depresi Mual/muntah Letargi


berbagai warna Drowsiness Konstipasi Mulut kering
Pening Ansietas ↓ Inkoordinasi motorik
Pusing Fatigue

1) Dasar Dan Validitas Test narkoba sampel (sampel positif narkoba), maka IgG anti-narkoba-
Test didasarkan pada kompetisi penjenuhan IgG anti-narkoba substrat tidak akan berikatan dengan narkoba-enzimnya, sehingga
yang mengandung substrat enzim (ada dalam keadaan bebas di tidak terjadi reaksi enzim-subtrat yang berwarna. Sebaliknya jika
zone S) oleh narkoba sampel atau narkoba yang telah dikon- tidak dijenuhi (sampel negatif narkoba) atau hanya sebagian
jugasi enzim (ada dan terfiksir di zone T). Jika dijenuhi oleh dijenuhi (sampel mengandung narkoba dalam jumlah di bawah

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 7


ambang batas pemeriksaan), maka IgG anti-narkoba-substrat akan a. Bila Sampel Urin Negatif
berikatan dengan narkoba-enzimnya secara penuh atau sebagian, Pada sampel urin yang tidak mengandung narkoba, maka jika
sehingga terjadi reaksi enzim-substrat yang berwarna penuh urin ini diteteskan di zone S, urin hanya mendifusikan IgG anti-
(gelap) atau lamat-lamat (ragu-ragu). narkoba-substrat dan IgG goat-substrat dari zone S ke zone T dan
Valid tidaknya test dikontrol dengan mengikutsertakan pada zone C. Di zone T IgG anti-Narkoba akan berikatan dengan nar-
zone S suatu kontrol validitas yang berupa IgG goat-substrat. koba-enzimnya (KNE); sementara di zone C IgG goat akan
Karena IgG goat bukan antibodi spesifiknya narkoba, maka baik berikatan dengan IgG anti-IgG goat-enzim (KAGE), sehingga
pada sampel urin yang ada, ada dalam jumlah di bawah ambang baik di zone T maupun zone C terjadi reaksi enzim-substrat
batas pemeriksaan atau tidak ada sama sekali narkobanya, semua- berupa pita warna pink.
nya tidak akan menjenuhi dan hanya akan mendifusikan IgG
goat-substrat dari zone S ke zone C untuk menemui dan mengikat
IgG anti-IgG goat yang dikonjugasi enzim (KAGE) sehingga b. Bila Sampel Urin Positif
terjadi reaksi enzim-substrat yang berwarna di zone C. Di zone S narkoba urin positif akan langsung berikatan dan
Tabel 4. Jenis dan nama lain narkoba yang secara komersial dapat diskrin

Kapan terdeteksi Tersekresi pada


Kelompok Nama Narkoba Nama lain Nama Farmakologi Nama Sensitivitas
pada Urine Urine sebagai
Stimulan Amphetamine - Speed -Ecstasy(MDMA) -Dexedrine 1-2 hari Amphetamine Seratec-AMP 1000 ng/ml
- Ice -Evo (MDMA) -Benzodrine Instant view
- Crystal -Shabu-shabu -Desoxyne Hone test
- Crank -Adam -Methedrine Huma drug
- Essence -Clarity Acon
Methamphetamin Sama dengan Amphetamine Sama dengan 1-2 hari Metamphetamine, Seratec-M-AMP 500 ng/ml
-Dexies -Uppers Amphetamine Amphetamine Instant view
Cocaine -Coke -Crack -Snow Cocaine 1-3 hari Benzoylecgonine Seratec-COC 300 ng/ml
-Rock Cocaine -Flake Instant view
Halusinogen Cannabinoid -Marijuana -Colombian -Marinol - 1-2 joint : 2-3 hari THC-Asam Seratec - THC 50 ng/ml
-Dope -Sinsemilla - Dirokok : 1-5 hari karboksilat Instant view
-Weed -Ganja - Perokok moderat senyawa Home test
-Hemp -Barang (4 kali/mg): s/d 5 hari glukonoid Huma drug
-Hash -Gele - Perokok berat: s/d 10 Acon
-Cimeng -Grass hari First sign genix
-Pot -THC - Pengguna kronis-
-Maryjane (lebih dari 5 joint
sehari) : 14 s/d 18 hari
Phecyclidine -Angel Dust -PCP-HOG Phencyclidine -14 hari Phencyclidine Seratec-PCP 25 ng/ml
-Crystal cyclone -Killer Weed -s/d 30 hari pada Instant view
pengguna kronis
Analgesik- Oplate -Smack -Opium -Heroin - 2 hari Opiate Seratec-MOR 300 ng/ml
Narkotik -Tar -Junk -Morphine -Percodan Instant view
-Tiger -Putauw -Codeine -Paracodin Home test
-Horse -Scaq -Oxycodone -Lorphan Huma drug
-White lady -Morpho. m -Dilaudid -Vicodin Acon
-White stuff First sign
Methadone -Amidone -Dolophine - 3 hari Methadone Acon 300 ng/ml
-Fizzles -Methadone Seratec –MDT
-L-Polamidon Instant view
-Physeptone Home test
Huma drug
Depresan, Barbiturate -Barbs -Amytal -Tuinal -Short acting : Barbiturate Seratec -BAR 300 ng/ml
Sedatif, -Downers -Butisol -Fiorinal 1 hari Instant view
Hipnotik -Tranqs -Nembutal -Neoderm -Long acting : Home test
-Luminal -Immenocial 2-3 minggu Huma drug
-Seconal -Stadodorm Acon
-Phenobarbital First sign
Genix
Benzodiazepine -Bennies -Ativan -Rohypnol -Dosis terapi : Benzodiazepines Seratec -BZO 300 ng/ml
-Rophies (Rohypnol) -Halcion -Tranxene 3 hari Instant view
Pil Koplo -Librium -Valium -Overdosis atau Home test
-Novopoxide -Vivol pengguna kronis (1 th Huma drug
-Remestan -Xanax atau lebih : Acon
-Restoril 4-6 minggu First sign
Genix

menjenuhi IgG anti-narkoba-substrat, sehingga waktu didifusikan c. Bila Sampel Urin Ragu-Ragu
ke zone T tidak bisa mengikat (bercelah) narkoba-enzimnya Di zone S narkoba urin yang berkadar tepat di batas ambang
(KNE), tidak terjadi reaksi enzim-substrat dan karenanya tidak pemeriksaan akan menjenuhi IgG anti-narkoba-substrat tidak
muncul reaksi warna. Sebaliknya di zone C tetap terjadi reaksi secara penuh. Penjenuhan berikutnya akan dipenuhi oleh
warna (pita pink) sebab narkoba urin tidak spesifik untuk dapat Narkoba-ensim di zone T, sehingga terjadi reaksi ensim-substrat
berikatan dengan IgG goat. yang tidak penuh, yang akan memberikan warna lamat-lamat
(ragu-ragu) di zone T.

8 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Tabel 5: Obat/bahan yang diketahui tidak menimbulkan reaksi silang pada test skrining 1000 ug/ml Aphetamine.

Acetaminophen Creatinine Hydromorphone Naltrexone Phenytoin


Acetylsalicylate Deoxycorticosterone O-Hydroxyhippuric acid Naproxen L-Phenylethylamine
Aminopyrine Dextromethorphan Ibuprofen Niacinamide L-Phenylpropanilamine
Amitryptyline Diazepam Imipramine Nifedipine Prednisolone
Amobarbital Diethylpropion Iproniazid Norcodein Prednisone
Amoxapine Diflunisal (-) Isoproteranol Norethindrone Procaine
Amoxicillin Digoxine Isoxsuprine Noroxymorphone Promazine
L-Amphetamine Diphenhydramine Ketamine D-Norpropoxyphene Promethazine
Apomorphine Doxylamine Ketoprofen (-)Norpseudoephedrine D,L-Propanolol
Ascorbic acid Ecgonine Labetalol Noscapine Propiomazine
Aspartame Ecgonine methyleste Levorphanol Nylidrin D-Propoxyphene
Atropin (+) Ephedrine Lidocaine D,L-Octopamine D-Pseudoephedrine
Benzocaine (±) Ephedrine Loperamide Oxalic acid Quinidine
Benzoylecgonine (-) Ephedrine Loxapine succinate Gentisic acid Quinine
Benzphetamine (-) w Ephedrine Maprotiline Oxazepam Ranitidine
Butabarbital Erythromycin Meperidine Oxolinic acid Salicylic acid
Cannabidiol β-Estradiol Mephentermine Oxycodone Secobarbital
Chloralhydrate Estrone-3-sulfate Meprobamate Oxymetazoline Serotonin
Chloramphenicol Ethyl-p-aminobenzoat Methadone Oxymorphone Sulfamethazine
Chlordiazepoxide Fenoprofen Methaqualone pHydroxymethamphetamine Sulindac
Chlorothiazide Furoxamide Methoxyphenamine Pavaperine Temazepam
Chlorpromazine Glucuronide (±)3,4-Methylenedioxy Penicillin-G Tetracycline
Chloroquine Glutethimide methamphetamine Pentazocine Tetrahydrocortisone
Cholesterol Guaifenesin Methylphenidate Pentobarbital Tetrahydrozoline
Clomipramine Hipuric acid Methyprilon Perphenazine t9-THC
Clonidine Hydralazine Morphine-3βDglucuronide Phencyclidine 11norty-carboxy-THC
Cocaine Hydrochlorothiazide Nalidixic acid Phenelzine Thebaine
Cortisone Hydrocodone Nalorphine Phendimetrazine Thiamine
(-) Cortinine Hydrocortisone Naloxone Phenobarbital Thioridazine
DL-Thyroxine Triamterene Trimipramine DL-Tyrosine Verapamil
Tolbutamide Trifluoperazine DL-Tryptophan Uric acid Zomepirac
Tranylcypromine Trimethoprim

dan harus diulang dengan test-kit yang baru, atau dengan kit dari
Intensitas Hasil kromatografi selama pabrik lain (Gambar 2).
Ion (m/z) pengamatan 45 menit

Narkoba A. SAMPEL URIN NEGATIP. B. SAMPEL URIN POSITIF.


Standar
(1,5 ug/ml)

Narkoba Sampel
(Dengan rumus
didapat = 3,4 ug/ml)

Obat/Bahan lain

Hambatan Waktu (Menit)

Gambar 1. Deteksi, konfirmasi narkoba sampel urin dengan cara gas Berikatan (Tidak bercelah) Tidak berikatan (bercelah)
chromatography dan mass spectrometry (GC/MS): Diduga Muncul reaksi ensim (Warna) Tidak muncul reaksi warna.
NKs memiliki NKst dengan HW = 21,6 menit & m/z = 184
Gambar 2. Skema reaksi imunokromatografi kompetitif dalam
d. Bila Test Valid atau Tidak Valid mendeteksi narkoba dan metabolitnya dalam urin.
Zone C adalah zone kontrol validitas yakni zone untuk Keterangan:
Zone.S=Sample. Zone.T=Test. Zone.C=Control. Sub=Substrat Nar(-)/(+) =
menilai apakah test valid atau tidak. Reaksi hanya membutuhkan Narkoba negatif/positif <> = Narkoba. KNE = Konjugat narkoba-ensim.
H2O urin, karenanya tidak tergantung pada ada tidaknya narkoba, KAGE = Konjugat IgG anti-IgG "goat"-ensim.
hasil reaksi pada zone C ini akan selalu muncul warna. Jika warna
ini muncul berarti test dikatakan valid dan dengan demikian hasil 2) Sampel Test dan Penyimpanannya
test dapat dipercaya dan siap diberikan ke yang berkepentingan. Urin merupakan sampel yang representatif untuk pendeteksi-
Sebaliknya jika warna tidak muncul ini berarti test tidak valid, an narkoba dan metabolitnya, cara ini tidak menyakiti, urin me-

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 9


miliki kadar narkoba dan metabolitnya tinggi sebaliknya hanya - Kemudian angkat dan tunggu, hasilnya akan terbaca dalam
dalam waktu singkat dalam darah. Urin harus jernih (sentrifus jika waktu paling lambat 5-10 menit. Pembacaan hasil sesuai dengan
keruh), tanpa pengawet. Penyimpanan dalam cawan, tabung cara deteksi tunggal narkoba tersebut di atas.
plastik/gelas yang kering dan bersih. Pada 2-80C stabil 48 jam, -
200C stabil >48 jam.

3) Cara Kerja & Interpretasi Hasil


3.1. Deteksi Tunggal Narkoba dan Metabolitnya (Gambar 3).
- Biarkan sampel dan reagennya mencapai temperatur ruang.
Jangan membuka kemasan reagen dan sampel sebelum siap
dikerjakan, tidak menggunakan reagen yang telah melebihi
tanggal kadaluarsa.
- Teteskan 5 tetes (200ul) urin pada zone sampel (sample well).
Pada cara stick, celupkan stick kedalam urin sampel dan tidak
melebihi tanda batas bantalan (pad) spreading layer.
- Biarkan dalam temperatur kamar, hasil dibaca pada 3-5 menit
pertama, kemudian 3-5 menit kedua:
- Hasil dikatakan positif, jika muncul hanya 1 garis pink di
zone C.
- Hasil dikatakan negatif, jika muncul 2 garis pink, satu di
zone C dan lainnya di zone T. Gambar 4. Deteksi 3-6 Narkoba dan metabolitnya dengan cara card atau
- Hasil dikatakan invalid (rusak), jika tidak muncul garis pink stick.
di "C" dengan atau tanpa di "T".
Untuk ini test diulang dengan card yang baru, dengan card B) SKRINING, DIAGNOSIS, DAN MONITORING
pabrik lain atau konsul ke dokter spesialis patologi klinik. KOMPLIKASI
- Hasil ragu-ragu (warna lamat-lamat atau tidak cocok dengan Meliputi penyakit-penyakit kronis infeksius yang secara
klinis), dikonfirmasi dengan test konfirmasi seperti telah dibahas epidemiologi terbukti merupakan komplikasi yang sering ditemu-
di atas. kan pada IVDA, yakni infeksi HBV, HCV, Non-B,non-C, HIV,
A. CARD
hepatitis tifosa dan endokarditis bakterialis.
Test Area Sample well POSITIF NEGATIF
1. HEPATITIS VIRUS-B & -DELTA (HDV), KARIER
HBsAg & SUBYEK NON-IMUN
Tanpa mempedulikan ada tidaknya manifestasi klinis, hepa-
titis ditentukan dengan meningkatnya SGPT ≥ 1,5 batas atas
B. STICK. normal; dikatakan hepatitis dengan hepatolisis jika disertai
kenaikan SGOT dan HBDH sebagai konfirmasinya, dikatakan
dengan kolangitis intra dan posthepatik jika GGT dan AP serta
STICK
SUPPORT LAYER ZONE 5'NT sebagai konfirmasinya juga meningkat. Sebaliknya hanya
DIPEGANG kolangitis atau kolestasis jika hanya hanya GGT atau AP dan
DETECTOR/REGIS ZONE BACA 5'NT saja yang meningkat tanpa disertai peningkatan SGPT dan
TRATION LAYER HASIL C/T
SGOT. Dikatakan akut jika peningkatan SGPT ini <6-9 bulan,
SEMIPERMEABLE ZONE PENA dan kronis jika >6-9 bulan8-12
MEMBRANE PIS REAKSI
Dikatakan hepatitis virus-B, jika pada SGPT yang meningkat
REAGENT LAYER ZONE REAGEN ini ditemukan HBsAg, dan hepatitis non-B jika HBsAg negatif.
SPREADING LAYER ZONE KONTAK Dikatakan karier HBsAg jika kepositifan HBsAg ini ditemukan
URIN KONTAK
pada subyek dengan SGPT, SGOT normal, dan dikatakan karier
HBsAg infeksius jika HBeAg atau DNA HBV positif dan anti-
Gambar 3: Deteksi narkoba tunggal dan metabolitnya dengan cara card HBeAgnya negatif; sebaliknya untuk karier HBsAg non-
atau stick. infeksius5.
Subyek dikatakan non-imun dan perlu vaksinasi hepatitis
3.2. Deteksi 3-6 Narkoba dan Metabolitnya (Gambar 4). virus-B, jika kadar anti-HbsAg 0-≤10 mIU/ml, dikatakan rendah
- Ambil urin sampel secukupnya atau seukuran cawan obat
dan perlu booster jika kadarnya ≤100mIU/ml. Praktisnya peme-
(pot plastik obat).
riksaan status hepatitis (SGOT, SGPT), status HBsAg dan status
- Buka penutup bagian bawah dari alat test lalu celupkan ke
imun HBV (anti-HBsAg) dilakukan dalam satu kesatuan peme-
enam bagian kertas (strip) ke dalam urin sampel jangan melebihi
riksaan skrining infeksi HBV. Keputusan medis dari pemeriksaan
batas (kotak plastik) selama 10-20 detik.
ini selanjutnya digunakan untuk pemeriksaan berikutnya, seperti

10 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


yang diorganisir pada skema (Gambar 5). dikonfirmasi dengan Western-blot (WB) anti-HCV.
Memonitor anti HDV tiap tahun dilakukan hanya pada Detail protokol seperti pada skema (Gambar 6).
subyek-subyek yang HBsAg positif. Hal ini disebabkan karena
HDV merupakan virus hepatotropisme yang telanjang (tidak
memiliki sAg, surface-Ag), sehingga akan menggunakan
HBsAg untuk masuk ke dalam sel hati. Prevalensi sebesar
12,5-27,3% terdapat di kalangan individu dengan hepatitis B
kronis aktif13,14, 70-90% koinfeksi ini akan berjalan kronis, dan
bertanggung jawab pada kasus-kasus sirosis hati yang terjadi
pada usia muda (dekade 3-4)15.

Gambar 6. Skema skrining, diagnosis dan monitoring infeksi hepatitis


virus-C (HCV)

3. HEPATITIS NON-B, NON-C


Ditegakkan jika meningkatnya SGOT, SGPT tanpa disertai
kepositifan HBsAg dan anti-HCV.

4. HEPATITIS TIFOSA
Memenuhi kriteria hepatitis non-B,non-C, dengan bukti
serologi Widal/kultur positif. Untuk daerah endemis seperti Indo-
nesia titer Widal yang signifikan demam tifoid (DT) dan para-
tifoid (PT) salah satu atau kedua titer anti-O/-H ≥ 1/1603. Titer
setinggi ini telah dikonfirmasi pada 7/7 (100%) IgM spesifik
DT/PT untuk anti-O ≥1/160, dan pada 8/9 (88,9%) untuk anti-
H ≥1/1604.

5. INFEKSI HIV1/2 DAN AIDS


Adanya infeksi HIV1/2 ditegakkan dengan anti-HIV1/2
seropositif baik dengan cara Dot EIA anti-core (p24) atau Dot
Gambar 5. Skema skrining, diagnosis dan monitoring infeksi hepatitis EIA anti-HIV1/2. Kepositifan dot harus dikonfirmasi dengan
virus-B (HBV) dan –D (HDV) EIA anti-HIV1/2 standar (reaksi EIA basah), dan hasil-hasil
positif EIA anti-HIV1/2 standar harus dikonfirmasi dengan
2. HEPATITIS VIRUS-C DAN KARIER HCV Western-blot (WB) anti-HIV1/2. Konfirmasi dengan 4-5 macam
Seperti pada virus hepatitis-B, dikatakan hepatitis virus C, EIA anti-HIV1/2 standar dari pabrik lain tidak perlu lagi
jika pada subyek dengan hepatitis (SGPT, SGOT meningkat) (kecuali jika fasilitas WB dan tenaga medis yang berwenang
tersebut ditemukan anti-HCV positif. Dan dikatakan karier anti- meng-interpretasi hasil WB tidak ada),karena kebanyakan
HCV, jika petanda laboratoris SGOT, SGPT normal. Kepositifan menggunakan sistim dan antigen yang sama, sehingga selain
anti-HCV harus dinilai infeksius, sebab >90% anti-HCV men- tidak memenuhi kriteria test konfirmasi juga akan memberikan
deteksi antibodi-antibodi non-struktural (NS1-NS5) yang me- hasil yang sama. Infeksi HIV1/2 terkonfirmasi jika pada WB
rupakan petanda replikasi aktif HCV, juga >90% anti-HCV minimun ada satu anti core (anti-p24, anti-p17) positif dan satu
positif terbukti secara klinis dan epidemiologis ditemukan pada antienvelope (anti-gp120, ant-gp41, anti-gp160).
kasus-kasus hepatitis C akut, kronis aktif. Pendeteksian IgM anti- Pemantauan CD4, CD8 dan penyakit-penyakit oportunistik
HCV dan aviditas IgG anti-HCV (masa mendatang ?) dapat tiap tahun pada subyek WB positif digunakan untuk
membedakan anti-HCV yang baru (akut) atau telah lama (pernah, menetapkan status kekebalan dan AIDS, sementara viral load
non-akut) terbentuk setelah infeksi HCV. Mengingat >90% anti- digunakan untuk memantau dan menetapkan kapan terapi
HCV mendeteksi protein non-struktural virus, maka hasil positif antiviral diberikan (antiviral sebaiknya dimulai pada CD4 300-
anti-HCV (jika tidak ditunjang data lain, klinis misalnya) harus 400/ml, dan diper-tahankan jangan turun sampai <300/ml)17.

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 11


Berikut ini merupakan skema protokol manajemen labora- KESIMPULAN
toris untuk infeksi HIV1/2 dan AIDS (Gambar 7). Manajemen laboratoris penyalahgunaan obat pada tingkat
skrining meliputi 1). deteksi obat atau metabolitnya dalam sampel
(urin) subyek. 2. monitor komplikasi pada organ hati meliputi
pemeriksaan SGOT, SGPT, GGT dan AP. 3. monitor infeksi
HBV, HCV dan HIV1/2: HBsAg, anti-HBsAg, anti-HCV, anti-
HIV1/2.
Hasil yang diperoleh pada tingkat skrining digunakan untuk
mengambil langkah-langkah lanjutan yang akurat dan efektif.

KEPUSTAKAAN

1. Asikin N, Setiadji VS, Nanang S. Konsensus FKUI tentang Opiat,


Masalah Medis dan Penatalaksanaannya. FKUI Jakarta, 2000: 7-26.
2. Asikin N, Setiadji VS, Nanang S. Konsensus FKUI tentang Opiat,
Masalah Medis dan Penatalaksanaannya. FKUI, Jakarta, 2000: 52-5.
3. Wiwiek, Suwarso. Respon Imun Seluler Pada Individu Widal Positip
Demam Tifoid/Paratifoid: Frekuensi, Patogenitas strain, Arti klinis anti-O
dan anti-H. Skripsi Sarjana I FK-UGM Yogyakarta, 2001.
4. Sitimuchayat P, Suwarso, Sukarmo. Hubungan DOT-EIA terhadap
Biakan Empedu dan Uji Widal pada Penderita Tersangka Demam Tifoid.
Tesis. Prog. PPDS-I.Pat. Klin. FK-UGM, Yogyakarta, 1999.
5. Suwarso. Seroprevalence of HBV infection among randomized ”healthy"
peoples living in Yogyakarta, Indonesia: Correlation beetween
seromarkers and HBV infection state. Tropical Disease Center (TDC)
Airlangga University. Proc. Seminar on Hepatitis and Diarrhea in The
Gambar 7. Skema skrining, diagnosis dan monitoring infeksi human Tropic 2000. Surabaya, February 15th 2000: 27-8.
immunodeficiency virus. 6. Suwarso. Seroepidemiologische Unterschungen zur Antikoerper
Praevalenz des Hepatitis C-Virus in der Bevoelkerung Indonesiens.
Disertasi,1992.
7. Bishop ML, Engelkirk D,JL, Fody EP. Drugs of abuse testing. In:
8. ENDOKARDITIS BAKTERIALIS2 Toxicology. in Clinical Chemistry: Principles, Procedures, Correlations.
Ditegakkan jika memenuhi 2 kriteria mayor, atau 1 kriteria 3th.ed. Philadelphia, NewYork Lippincott.: 1996: 573-9.
mayor + 3 kriteria minor, atau memenuhi semua 5 kriteria minor. 8. Suwarso. Seroprevalence of antibody to hepatitis-C virus in hemodialized
patient: Anti HBcore as surrogate marker. The 3rd Asian Conference of
• Kriteria Mayor: Clinical Pathology. Taipei,. June 23-25,th 1993
a) Bukti Mikroorganisme Spesifik Endokarditis: 9. Hetlaand G, Skaug K, Larsen J, Meland A, Strome JH, Storvold G.
- Tanpa bukti adanya fokus primer, dua kali kultur darah Prevalence of anti-HCV in Norwegian blood donors with anti-HBc or
increased ALT level.Transfusion 1990; 30: 776-9.
selang waktu 12 jam, konsisten menemukan mikroorganisme spe- 10. Tabor E, Drucker JA, Hoofnagle JH et al. Transmission of non-A,non-B
sifik endokarditis: Streptokok viridan, -bovis, HACEK, Stafilo- hepatitis from man to chimpanzee. Lancet 1978; 1: 463-6.
kok aureus, dan enterokokus. 11. Yoshizaw H, Akahane Y, Itoh Y et al. Viruslike particles in
- 3 dari 4 kultur darah selang 1 jam, konsisten menemukan plasmafraction (fibrinogen) and in the circulation of apparently healthy
blood donors capable of inducing non-A,non-B hepatitis in human and
mikroorganisme spesifik endokarditis. chimpanzees. Gastroenterol. 1980;79:512-20.
b) Bukti Organik Endokarditis: 12. Takeuchi K, Kubo Y, Boonmar S et al. Nucleotide sequence of core and
- Ekokardiogram menemukan regurgitasi, abses, massa di envelope genes of the hepatitis C virus genome derived directly from
katup lama/buatan tanpa bukti patologis lain. human healthy carriers. Nucleic Acid Res 1990;18: 4626-36.
13. Hadziyannis SJ, Hatzakis A, Papaioannou C, Anastassakos C, Vassiliadis
- Bising regugitasi E. Endemic HDV infection in a Greek community. In Rizzetto M, Gerin
• Kriteria Minor: JL, Purcell RH: The hepatitis delta virus and its infection. Alan R, Liss
a. Adanya faktor predisposisi: ada penyakit jantung yang Inc.; 1987:181-202.
mendasarinya, IVDA (Intravenous drug addict). 14. Fattovich G, Boscaro S, Pornaro E, Stenico D, Doris R, Alberti A, Realdi G.
HDV infection in chronic hepatitis B. In Rizzetto M, Gerin JL, Purcell RH:
b. Febris The hepatitis delta virus and its infection. Alan R. Liss Inc., 1987;219-220.
c. Fenomena vaskuler: emboli arteria besar, infark paru septik, 15. Brunetto MR, Baldi M, Bonino F et al. Chronic HDV infection: An
aneurisma mikotik, perdarahan intrakranial atau konjunktiva, important cause of HbsAg positive cirrhosis of young adults. In Rizzetto
lesi Janeway. M, Gerin JL, Purcell RH. The hepatitis delta virus and its infection. Alan
R. Liss Inc., 1987; 207-8.
d. Fenomena imunologi: glomerulonefritis, faktor 16. Blanke RV, DeckerWJ. Analysis of toxic substance. In Tietz NW: Textbook
rheumatoid, nodus Osler, Roth spot. of Clinical Chemistry. Philadelphia: WB Saunders Co.,.1986:1670-744.
e. Kultur darah positif tetapi tidak memenuhi kriteria mayor 17. Stewart GJ. The chronology of HIV induced disease. In: Could it be
di atas. HIV? 2nd ed. Akhkfustral. Med. Publ. Co. 1994;1-3.

12 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


KALENDER KEGIATAN ILMIAH
PERIODE APRIL - JUNI 2002
No Waktu Kegiatan Ilmiah Tempat dan Sekretariat
APRIL
5-7 Pertemuan Neurogeriatri Perhimpunan Dokter Hotel Horison, Jakarta
Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) Telp. 021-391 7349, Facs. : 314 9424
E-mail : neurona@centrin.net.id
11 One Day Post Graduate Course FKUI Assembly Hall JICC Jakarta
Jakarta International Covention
12-14 TIA - KPPIK 50 Tahun FKUI Center ( JICC )
( Temu Ilmiah Akbar & Kursus Penyegar dan E-mail : globalmedica@link.net.id
Penambah Ilmu Kedokteran 2002 )
15 Kursus Pembelaan Hukum Tersangka Malpraktek Ruang Senat FKUI
Telp. : 021-3106976, Facs.: 3154626
16 Kursus Pemberdayaan Komite Medik e-mail : sampurna@cbn.net.id
agus_purwadianto@hotmail.com
20-21 3rd Jakarta Antimicrobial Update (JADE 2002 ) Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp. 021-390 8157, 021-392 9106
E-mail : tropik@indosat.net.id
23 -24 Continuing Ophthalmology Education 2002 Hotel Borobudur Jakarta
E-mail: matacoe@yahoo.com
Telp/facs. 021-334878, 3929106
25 - 27 1st Int’l Scientific Meeting On Immuno and Tropical Hotel Grand Bali Beach, Denpasar
Dermatology E-mail :
perdoski@bdg.centrin.net.id
sudigdo@bdg.centrin.net.id
MEI
17 – 18 The 2nd Jakarta Nephrology and Hypertension Course Hotel Borobudur, Jakarta
(JNHC II) Telp. : 021-314 9208, 021-314 1203
Facs. : 021-315 5551, 021-315 2278
19 Symposium on Management of Hypertension in Special E-mail : inasn@link.net.id
Condition yagina@commerce.net.id
25 - 26 Temu Ilmiah Geriatri Perhimpunan Geriatri Medik Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Indonesia PERGEMI JAYA
Telp./facs. : 021-3190 0275
E-mail :
geriatri.fkui@mailcity.com
JUNI
07 - 09 Liver Update 2002 Hotel Borobudur, Jakarta
Telp. : 021-310 6968
Facs. : 021-3102927
8 Simposium Awam : Gagal Ginjal, Dialisis dan Perpustakaan Nasional - Salemba
Transplantasi E-mail: yagina@commerce.net.id
12 - 14 Course on Travel Medicine Hotel Acacia Jakarta
Simposium Kedokteran Wisata III E-mail : globalmedica@link.net.id
30 - 05 KONIKA XII Sheraton Nusa Dua Bali

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 13


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Pengaruh Narkotika
terhadap Susunan Saraf Pusat
Dr. Budi Riyanto Wreksoatmodjo, Sp.S.
Rumah Sakit Marzuki Mahdi, Bogor, Jawa Barat, Indonesia

PENDAHULUAN − Nuklei interlaminaris thalami


Sejarah penggunaan narkotika oleh manusia telah tercatat − Sistem ekstrapiramidal, terutama amigdala
sejak zaman purbakala; benih tanaman poppy (Papaver somni- Juga ditemukan di substansia gelatinosa medulla spinalis, bah-
ferum) yang getahnva merupakan bahan dasar opium telah kan akhir-akhir ini juga ditemukan di sekitar terminal serabut
ditemukan di antara peninggalan zaman batu, bahkan di saraf presinap (tabel 1).
Mesopotamia tanaman tersebut telah ditanam oleh bangsa
Sumeria sejak 4000 - 3000 sebelum Masehi. Table 1. Localization and Possible Function of Opiate Receptors
Data penggunaannya tercatat dalam papyrus Ebers (1600 -
Location Functions influenced by opiates
1500 sebelum Masehi) sebagai hipnotik, analgesik, dan untuk
Spinal cord
efek konstipasi. Galen juga menyebutnya sebagai obat untuk Laminae I and II Pain perception in body
mengatasi nyeri. Brainstem
Di masa modern, awal abad 19, Serturner di Jerman telah Substantia gelatinosa of spinal tract
berhasil memisahkan morfin dari opium (bahan dasar tanaman of caudal trigeminal Pain perception in head
Nucleus of solitary tract, nucleus Vagal reflexes, respiratory
poppy), disusul dengan formulasi kodein oleh Robiquet pada commissuralis, nucleus ambiguus depression, cough suppression,
tahun 1817. Sejak itu penggunaannya mulai popular di kalangan orthostatic hypotension, inhibition
masyarakat saat itu. Opium pernah popular dan bahkan diiklan- of gastric secretion
kan sebagai obat pereda nyeri dan obat batuk. Area postrema Nausea and vomiting
Locus coeruleus Euphoria
Efek ketergantungan mulai muncul/menjadi perhatian sejak Habenula-interpeduncular-nucleus- Limbic, emotional effects, euphoria
tahun 1700-an, tetapi baru menjadi masalah di Eropa sekitar fasciculus retroflexus
tahun 1890, sejak itu dibuat peraturan untuk membatasi peng- Pretectal area (media and lateral Miosis
gunaannya; meskipun demikian, problemnya makin luas optic nuclei)
Superior colliculus Miosis
menjadi masalah medis dan sosial sampai saat ini. Ventral nucleus of lateral geniculate Miosis
Saat ini narkotika dapat dibagi atas: Dorsal, lateral, medial terminal Endocrine effects through light
− Jenis yang terdapat/berasal dari alam - opium, morfin, nuclei of accessory optic pathway modulation
Dorsal cochlear nucleus Unknown
kodein
Parabrachial nucleus Euphoria in a link to locus
− Jenis semi sintetik - heroin coeruleus
− Jenis sintetik - meperidin Diencephalon
Infundibulum ADH secretion
Lateral part of medial thalamic Pain perception
EFEK TERHADAP SUSUNAN SARAF PUSAT nucleus, internal and external
Mekanisme kerja opiat (dan derivatnya) di susunan saraf thalamic laminae, intralaminar
pusat terus diselidiki; secara klinis dapat bersifat depresan mau- (centromedian) nuclei,
pun stimulan, tergantung dari dosis, cara pemberian, dan periventricular nucleus of thalamus
Telencephalon
individu pemakainya. Amygdala Emotional effects
Penelitian awal menunjukkan bahwa opiat terikat pada Caudate, putamen, globus pellidus, Motor rigidity
reseptor spesifik di otak; selanjutnya melalui penelitian meng- nucleus accumbens
gunakan teknik radioimmunoassay, receptor opiat diketahui Subfornical organ Hormonal effects
Interstitial nucleus of stria Emotional effects
terdapat di hampir semua area otak, kecuali serebelum (otak terminalis
kecil); kepadatannya paling tinggi di daerah:
− Traktus spinotalamikus ventralis Sampai saat ini diketahui ada 5 (lima) jenis reseptor opiat
− Periaquaduktal (tabel 2):

Dibacakan pada PIT/Muker Perdossi, Padang, 7-10 November 2001

14 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Table 2. Opiates, Receptors, and Their Functions susunan saraf pusat menyebabkan para peneliti menduga ada-
nya zat serupa opiat endogen yang memang diproduksi dan
Mu (µ ) Delta (∆) Sigma (δ) Kappa (Κ) Epsilon (ε)
terdapat di dalam tubuh. Zat tersebut ditemukan pada tahun
Morphine and B-
related opiates
Ketocyclozine Enkephalins Benzomorphan
Endorphins 1975 berupa pentapeptida yang diberi nama met-enkephalin dan
Effects leu-enkephalin. Enkephalin ini berfungsi serupa dengan opiat.
Analgesia .+ .+ (spinal) .+ .+
Pupils Constriction Constriction Dilatation
Heart Rate Slow --------------- Rapid Efek Analgesia
Affect Indifference Sedation Delirium Pada manusia, efek analgesia dari morfin tidak disertai
Opiate dengan penurunan kesadaran dan tidak mempengaruhi fungsi
Activity
Agonists .++ .+ Inhibits pancaindera ataupun fungsi motorik. Hilangnya rasa nyeri di-
Antagonists Inhibits Inhibits sertai dengan rasa tenang, oleh karena itu diduga efek analgesik
Mixed
Agonists
morfin lebih banyak pada komponen afektif dibandingkan de-
Antagonists Inhibits .++ ngan pengaruhnya terhadap ambang nyeri.
Beberapa mekanisme diduga berperan dalam efek analgesia
Masing-masing reseptor diduga memberikan efek yang berbeda, ini (tabel 5) :
dan berbagai obat/jenis opiat mempunyai afinitas yang juga
berbeda terhadap masing-masing reseptor tadi (tabel 3). Table 5. Possible Mechanisms of Opiate Analgesia

Table 3. Actions of Narcotic Agonists and Antagonists on Opiate Receptors


Activation of limbic system
Stimutation of descending serotonergic pathways
Mu Kappa Delta Epsilon Sigma
Increase in doparnine turnover
(µ) (Κ) (∆) (ε) (δ)
Suppression of dorsal horn nociceptive neurons
Effects
Analgesia .++ .+ .+/-
Euphoria .++
Respiratory
Efek terhadap Sistim Limbik
depression .+ .+ Sistim limbik mengandung reseptor opiat dalam jumlah
Sedation .+ .+ .+ besar, sistim ini antara lain berperan dalam timbulnya rasa nyeri
Dysphoria .+ menetap dan kronik (dull and chronic pain) yang efektif diatasi
Hallucinations
Stimulation
dengan opiat.
Drugs
Morphine .++ .+ .+ EFEK TERHADAP MOOD (SUASANA HATI)
Pentazocine .+/- .+ Penggunaan morfin pada individu sehat sering menyebab-
Nalbuphine .- .+
Butorphanol .+/- .+
kan disforia, juga rasa takut, gelisah, mual, dan muntah. Pada
Buprenorphine .+/- .- dosis terapeutik menyebabkan letargi, kesadaran berkabut, dan
kesulitan konsentrasi; bicara pelo dan gangguan koordinasi
.+ : agonist effect antagonist effect motorik jarang dijumpai. Pada penggunaan khronik, efek ter-
.- : antagonist effect
sebut berangsur-angsur menghilang.
.+/- :partial agonist effect

Secara klinis efek tersebut ditandai dengan timbulnya berbagai PERUBAHAN EEG
gejala (tabel 4). Pemberian morfin menyebabkan gambaran frekuensi lam-
bat dan voltase tinggi, yang mirip dengan gambaran EEG saat
Table 4. Effects of Morphine on the Central Nervous System tidur atau pada pemberian barbiturat dosis rendah. Terdapat
pengurangan fase REM don non REM deep sleep, sedangkan
Effect Manifestation fase non REM light sleep dan keadaan jaga bertambah panjang.
Analgesia Increase in ability to tolerate pain Jenis opiat lain dapat memberikan efek berbeda, heroin di-
Dysphoria Anxiety, fear, nausea, vomiting hubungkan dengan gambaran EEG bifasik yang agaknya ber-
Euphoria Relief from pain, anxiety, and tension; positive
feeling of pleasure kaitan dengan kedaan euphoria. Penggunaan metadon jangka
Mental clouding, Change in mentation, inability to concentrate, panjang dikaitkan dengan penurunan irama alfa, beta, dan
somnolence apathy, lethargy, drowsiness, sleep peningkatan irama theta, tetapi relevansi klinisnya belum jelas.
Respiratory depresion Decrease in respiratory rate, minute volume
tidal exchange, irregular breathing, respiratory
arrest EFEK TERHADAP SISTIM SEROTONIN
Stimulation of Nausea and vomiting Efek terhadap sistim serotonin ini merupakan hipotesis ter-
chemoreceptor trigger hadap efek analgesik dari morfin, karena serotonin diketahui
zone in medulla berperan dalam modulasi persepsi nyeri. Pada binatang, pem-
Interference with Induction antidiuretic hormone release;
hypothalamic function Inhibition of ACTH and gonadotropin release; berian 5HT intraventrikel (otak) mempotensiasi efek analgesik
Hyperglycemia; morfin, sedangkan inhibisi produksi 5HT dikaitkan dengan
Disordered temperature regulation pengurangan efek analgesia dan berkurangnya kemungkinan
dependensi dan toleransi.
Adanya reseptor yang spesifik terhadap opiat di dalam Lesi nucleus raphe magnus -daerah padat 5HT- menyebab-

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 15


kan hilangnya efek analgetik dari morfin yang dapat dipulihkan EFEK GASTROINTESTINAL
melalui injeksi 5 HT. Morfin dan narkotik lainnya menghambat peristalsis usus
halus, juga menghambat sekresi asam lambung, empedu, getah
EFEK TERHADAP SISTIM NORADRENERGIK panikreas, motilitas saluran cerna menurun sehingga menyebab-
Efek analgesik opiat juga diduga melalui pengaruhnya kan konstipasi.
terhadap sistim noradrenergik karena aktivasi sistim nora-
drenergik (A2) menghambat sensasi nyeri dan memberikan efek Mual dan Muntah
sinergi terhadap analgesik oleh opioid (mu reseptor). Berlawanan dengan efek depresi morfin terhadap sebagian
besar area di otak, zat ini merangsang pusat chemoreceptor
EFEK TERHADAP SISTIM DOPAMIN (chemoreceptor trigger zone) sehingga sering menyebabkan
Metabolisme dopamin di otak distimulasi oleh narkotika; mual dan muntah.
menyebabkan peningkatan turn over dopamin; efek ini diham- Efek ini sangat bervariasi dari orang per orang, baik dalam
bat oleh nalokson. hal frekuensi maupun intensitasnya; bahkan penggunaan kronis
Selain itu zat antagonis dopamin ternyata memperkuat efek kadang-kadang justru menekan aktivitas pusat muntah.
analgesik dari morfin. Efek mual dan muntah ini lebih sering ditemui pada pasien
yang aktif dibandingkan dengan jika berbaring; dan dapat di-
EFEK TERHADAP AKSIS HIPOTALAMUS-HIPOFISIS cegah dengan antagonis narkotik dan derivat fenotiazin.
Percobaan binatang menunjukkan pengaruh morfin ter-
hadap aksis hipotalamus-hipofisis. Injeksi morfin berulang-
ulang menyebabkan penurunan sekresi ACTH yang ber- EFEK TERHADAP SARAF PERIFER
hubungan dengan berkurangnya sekresi corticotropin releasing, Sampai saat ini efek analgesia dari narkotik dianggap me-
factor (CRF) yang menyebabkan menurunnya aktivitas kortiko- lalui aktivitasnya terhadap reseptor opioid di susunan saraf
adrenal; siklus diurnal dari kortikosteroid juga terganggu. pusat; tetapi penelitian akhir-akhir ini menemukan adanya
Penggunaan kronik menurunkan fungsi korteks adrenal, reseptor opioid di susunan saraf tepi, yang aktivitasnya mening-
tetapi lama kelamaan timbul toleransi. kat pada keadaan inflamasi; efek analgesik ini juga dapat
Penghentian penggunaan morfin menyebabkan efek re- dihilangkan dengan nalokson. Percobaan penyuntikan morfin
bound berupa peningkatan sekresi hormon secara mendadak, dosis kecil yang tidak efektif secara sistemik ke dalam sendi
yang dapat berhubungan dengan gejala abstinensi. ternyata juga menghasilkan analgesia yang sebanding dengan
Morfin menekan sekresi TSH; pecandu heroin dan peng- pemberian anestetik lokal.
guna metadon umumnya eutiroid meskipun dijumpai peningkat-
an kadar T3 dan T4, mungkin akibat peningkatan thyroxin bind-
ing globulin. RINGKASAN
Sekresi GH juga meningkat pada pengguna khronik, selain 1. Narkotika telah dikenal dan digunakan oleh manusia sejak
itu juga menstimulasi sekresi ADH sehingga dapat menyebab- jaman purbakala, namun baru pada abad 19 khasiatnya diteliti
kan berkurangnya diuresis. secara ilmiah, dan juga mulai dibuat secara sintetik.
2. Efeknya terhadap tubuh manusia diperantarai oleh beberapa
EFEK TERHADAP RESPIRASI reseptor di dalam SSP yang masing-masing mempunyai sifat
Depresi pernafasan pada dosis terapeutik disebabkan oleh yang karakteristik sehingga memberikan efek klinis yang ber-
efek langsung terhadap pusat respirasi di batang otak. Efek ini beda.
maksimal dalam 7 menit setelah pemberian intravena; dalam 30
menit setelah pemberian intramuskular dan dalam 90 menit
setelah pemberian subkutan, dan kembali normal setelah 2 - 3
jam.
Morfin juga mengurangi sensitivitas kemoreseptor terhadap
peningkatan kadar C02; hal ini penting diperhatikan dalam
penanganan kasus-kasus overdosis yang pernafasannya semata- KEPUSTAKAAN
mata tergantung dari derajat hipoksia, ditambah dengan usaha
nafas secara sadar yang juga menurun.
1. Kurniadi H., Wreksoatmodjo BR. Napza dan Tubuh Kita. Jakarta.
EFEK TERHADAP KARDIOVASKULER Yayasan Jendela Peduli NAPZA; 2000.
2. Snyder SH. Drugs and The Brain. Scientific American Library, 1986.
Narkotik pada dosis terapeutik jarang mempengaruhi tekan- 3. Stimmel B. Pain and Its Relief without Addiction 2nd ed. Haworth
an darah dan irama jantung pada keadaan berbaring, tetapi Medical. Press, 1997.
mengurangi responnya terhadap perubahan posisi sehingga 4. Zackon F. The Encyclopedia of Psychoactive Drugs, Heroin The Street
sering menyebabkan hipotensi ortostatik. Efeknya terhadap Narcotic. London: Burke Publ. Co., 1988.
denyut jantung bervariasi, tetapi cardiac output tidak ter- 5. NIDA Teaching Package. The Neurobiology of Drug Addiction.
http:/165.112.78.61 /Teaching 2/ teaching.html.
pengaruh.

16 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Penanggulangan Penyalahgunaan
Narkotika, Psikotropika
dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA)
Drs. Ketut Kusminarno Apt
Staf Direktorat Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, Jakarta

PENDAHULUAN telah menjadi masalah nasional; bahkan di abad XIX terjadi


Penyalahgunaan Napza merupakan suatu pola pengguna- perang Candu yang berakhir dengan penaklukan Cina oleh
an yang bersifat patologik, berlangsung dalam jangka waktu Inggris dan harus merelakan Hong Kong.
tertentu dan menimbulkan gangguan fungsi sosial dan oku- Tahun 1806 seorang dokter dari Westphalia bernama
pasional. Istilah Napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Friedrich WiIhelm Serturner. menemukan modifikasi candu
Adiktif lainnya) lebih tepat dibandingkan dengan istilah yang dicampur amoniak yang kemudian dikenal sebagai
Narkoba karena di dalarn singkatan tersebut tercantum juga Morfin (diambil dari nama dewa mimpi Yunani yang bernama
psikotropika, yaitu obat yang biasanya digunakan untuk gang- Morpheus).
guan kesehatan jiwa namun termasuk yang sering disalah- Tahun 1856 waktu pecah perang saudara di Amerika,
gunakan dan dapat menimbulkan adiksi. morfin ini sangat populer sebagai penghilang rasa sakit akibat
Napza pada awalnya adalah sejenis obat-obatan tertentu luka-luka perang, menyebabkan sebagian tahanan perang ter-
yang digunakan oleh kalangan kedokteran untuk terapi misal- sebut ketagihan (adiksi), sehingga disebut sebagai "penyakit
nya untuk menghilangkan rasa nyeri. Namun pada per- tentara".
kembangannya obat-obatan itu disalahgunakan (abuse) sehing- Tahun 1874 seorang ahli kimia bernama Alder Wright dari
ga menimbulkan ketergantungan (adiksi). London, merebus cairan morfin dengan asam anhidrat (asam
Napza dapat dikelompokkan dalam golongan Opiat dan yang ada pada sejenis jamur), campuran ini ketika diuji coba
Non Opiat. pada anjing menyebabkan anjing tersebut tiarap, ketakutan,
Ada banyak alasan mengapa orang menggunakan Napza; mengantuk dan muntah-muntah. Namun tahun 1898 pabrik
pada awalnya ada yang hanya mencoba-coba atau sekedar ingin obat Bayer memproduksinya sebagai obat dengan nama
tahu; lama-kelamaan mengalami ketergantungan;sehingga akan Heroin, sebagai obat resmi penghilang sakit (pain killer).
muncul berbagai masalah dan persoalan. Persoalan yang dapat Efek adiksi/ketergantungan heroin jauh melebihi efek
muncul antara lain : Kepribadian adiksi, terinfeksi berbagai analgesiknya, karena itu penggunaan heroin telah dilarang oleh
penyakit (HIV/AIDS, Hepatitis B, C); reaksi putus obat WHO sejak tahun 1954.
(sakaw), pengobatan yang mahal, overdosis (OD), dan lain- Tahun 1960-70-an pusat penyebaran candu dunia berada
lain. Selain itu seorang pengguna NAPZA akan banyak meng- pada daerah Golden Triangle yaitu Myanmar, Thailand, dan
alami kesulitan di masa depan serta dalam kehidupan sosialnya. Laos, dengan produksi 700 ribu ton setiap tahun. Juga pada
daerah Golden Crescent yaitu Pakistan, Iran, dan Afganistan.
SEJARAH AWAL Kemudian menuju Afrika dan Amerika.
Kurang lebih tahun 2000 SM di Samaria dikenal sari Selain morfin dan heroin masih ada lagi jenis lain yaitu
bunga Papaver somniferum yang kemudian dikenal sebagai kokain, berasal dari tumbuhan coca (Erythroxylon coca) yang
opium (candu). Bunga ini tumbuh subur di daerah dengan tumbuh di Peru dan Bolivia. Kokain ini pernah digunakan
ketinggian 500 meter di atas permukaan laut Penyebaran se- untuk penyembuhan asma dan TBC.
lanjutnya adalah ke arah India, Cina dan wilayah-wilayah Asia
lainnya. KEADAAN DAN MASALAH
Cina kemudian menjadi tempat yang sangat subur dalam Dalam lima tahun terakhir, penyalahgunaan Napza me-
penyebaran candu ini (dimungkinkan karena iklim dan keadaan ningkat secara bermakna. Bukan saja jumlah penyalahguna
negeri). Memasuki abad ke XVII masalah candu ini bagi Cina bertambah banyak tetapi penyebarannyapun menjadi sangat

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 17


meluas dan menghinggapi semua lapisan sosial-ekonomi - rasa senang, bahagia
masyarakat baik strata sosial ekonomi atas sampai ke paling - pupil mata melebar
bawah. Tidak hanya anak-anak dari keluarga broken home, - denyut nadi dan tekanan darah meningkat
tetapi juga anak-anak dari keluarga harmonis, dan dari - sukar tidur/insomnia
kampus-kampus perguruan tinggi sampai kesekolah-sekolah - hilang nafsu makan
dasar, bahkan pesantren. Jenis Napza yang digunakannyapun 4. Kokain
menjadi sangat beragam. - denyut jantung cepat
Jumlah sesungguhnya dari penyalahguna NAPZA di - agitasi psikomotor/gelisah
Indonesia belum diketahui dengan tepat. Data dari Rumah - euforia/rasa gembira berlebihan
Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dan Rumah Sakit Polri - rasa harga diri meningkat
menunjukkan bahwa jumlah kunjungan rawat jalan dan rawat - banyak bicara
inap meningkat dari ± 1779 pada tahun 1996 menjadi ± 8170 - kewaspadaan meningkat
pada tahun 1999; meningkat sebanyak lebih dari 4 kali dalam - kejang
tiga tahun. WHO (World Health Organization) memperkirakan - pupil (manik mata) melebar
jumlah penyalahguna yang tidak dirawat adalah sekitar sepuluh - tekanan darah meningkat
kali lebih besar daripada yang sempat dirawat. - berkeringat/rasa dingin
Kecenderungan yang menyedihkan adalah bahwa para - mual/muntah
penyalahguna muda usia makin banyak dan berasal dari - mudah berkelahi
keluarga miskin. Tindak kriminal dan kekerasan akibat pe- - psikosis
nyalahgunaan Napza juga cenderung meningkat. Penyebaran - perdarahan darah otak
HIV/AIDS melalui penyalahgunaan Napza suntikpun cen- - penyumbatan pembuluh darah
derung meningkat dengan cepat akhir-akhir ini. - nystagmus horisonta/mata bergerak tak terkendali
Tindakan hukum terhadap para pengedar, produsen gelap - distonia (kekakuan otot leher)
serta mereka yang terlibat dalam penyalahgunaan Napza di- 5. Alkohol
rasakan masih sangat ringan, karena sanksinya hanya pidana - bicara cadel
penjara maksimal 10 tahun, sehingga ada seorang produsen - jalan sempoyongan
Ecstacy yang hanya dijatuhi hukuman 3 bulan penjara. - wajah kemerahan
Kondisi penyalahgunaan NAPZA saat ini dirasakan sudah - banyak bicara
sangat serius dan mengkhawatirkan serta mengancam kese- - mudah marah
lamatan negara, mengingat sebagian besar korbannya adalah - gangguan pemusatan perhatian
generasi muda yang merupakan generasi penerus kita. - nafas bau alkohol
6. Benzodiazepin (pil nipam, BK, mogadon)
BAHAYA PENYALAHGUNAAN NAPZA - bicara cadel
Gejala-Gejala Pemakaian Napza Yang Berlebihan - jalan sempoyongan
1. Opiat (heroin, morfin, ganja) - wajah kemerahan
- perasaan senang dan bahagia - banyak bicara
- acuh tak acuh (apati) - mudah marah
- malas bergerak - gangguan pemusatan perhatian
- mengantuk
- rasa mual Tanda-Tanda Kemungkinan Penyalahgunaan Napza
- bicara cadel a. Fisik
- pupil mata mengecil (melebar jika overdosis) - berat badan turun drastis
- gangguan perhatian/daya ingat - mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir
2. Ganja kehitam-hitaman
- rasa senang dan bahagia - tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas
- santai dan lemah gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan
- acuh tak acuh perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan
- mata merah - buang air besar dan kecil kurang lancar
- nafsu makan meningkat - sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas
- mulut kering b. Emosi
- pengendalian diri kurang - sangat sensitif dan cepat bosan
- sering menguap/ngantuk - bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukkan sikap
- kurang konsentrasi membangkang
- depresi - emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang
3. Amfetamin (shabu, ekstasi) atau berbicara kasar terhadap anggota keluarga atau orang di
- kewaspadaan meningkat sekitarnya
- bergairah - nafsu makan tidak menentu

18 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


c. Perilaku mengenai diri sendiri dan meningkatkan komunikasi inter-
- malas dan sering melupakan tanggung jawab dan personal.
tugas-tugas rutinnya 3) Program Penyediaan Pilihan yang Bermakna
- menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga Konsep ini bertujuan untuk mengalihkan penggunaan zat
- sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal, pergi adiktif kepada pilihan lain yang diharapkan dapat memberikan
tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam kepuasan, baik fisik maupun psikologik. Kebutuhan yang
- suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat dimaksud antara lain kebutuhan "ingin tahu", kebutuhan meng-
pekerjaan dan menggadaikan barang-barang berharga di rumah. alami hal-hal baru dalam hidupnya, kebutuhan terbentuknya
Begitupun dengan barang-barang berharga miliknya, banyak identitas diri, kebutuhan akan bebas berfikir dan berbuat,
yang hilang kebutuhan akan penghargaan, serta kebutuhan diri diterima
- selalu kehabisan uang dalam kelompok.
- waktunya di rumah kerapkali dihabiskan di kamar tidur, 4) Pengenalan Dini dan Intervensi Dini
kloset, gudang, ruang yang gelap, kamar mandi, atau Mengenal dengan baik ciri-ciri anak yang mempunyai
tempat-tempat sepi lainnya risiko tinggi akan menggunakan zat, termasuk mereka yang
- takut air. Jika terkena akan terasa sakit - karena itu mereka telah berada dalam taraf eksperimental. Segera memberikan
jadi malas mandi dukungan moril jika anak mengalami/menghadapi masa krisis
- sering batuk-batuk dan pilek berkepanjangan, biasanya dalam hidupnya. Di sini sangat penting peran guru BP dan
terjadi pada saat gejala "putus zat" orang tua. Bila tidak teratasi segera dirujuk ke tenaga ahli.
- sikapnya cenderung manipulatif dan tiba-tiba tampak 5) Program Latihan Ketrampilan Psikososial
manis bila ada maunya, seperti saat membutuhkan uang untuk Latihan ini diterapkan atas dasar teori bahwa gangguan
beli obat penggunaan zat merupakan perilaku yang dipelajari seseorang
- sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam dalam lingkup pergaulan sosialnya dan mempunyai maksud
alasan dan makna tertentu bagi yang bersangkutan.
- jantung berdebar-debar Yang tergolong dalam pelatihan ini antara lain :
- sering menguap a) Psychological Inoculation
- mengeluarkan air mata berlebihan Dalam pelatihan ini diputar film yang memperlihatkan
- mengeluarkan keringat berlebihan bagaimana remaja mendapat tekanan dari pergaulannya agar ia
- sering mengalami mimpi buruk merokok. Lalu dikembangkan sikap menentang dorongan dan
- nyeri kepala tekanan untuk merokok itu. Dalam hal ini dikemukakan per-
- nyeri/ngilu sendi-sendi sepsi yang salah mengenai rokok dan akibat-akibat yang
ditimbulkan oleh rokok baik bagi perokok sesaat maupun
LANGKAH-LANGKAH PENCEGAHAN PENYALAH kronis.
GUNAAN NAPZA b) Personal and Social Skill Training
Dalam pencegahan penyalahgunaan Napza, yang perlu Kepada remaja dikembangkan suatu ketrampilan untuk
dilakukan adalah : menghadapi problema hidup umum termasuk merokok dan
- memperkuat keimanan menyalahgunakan zat. Ketrampilan itu akan menumbuhkan ke-
- memilih lingkungan pergaulan yang sehat mampuan mereka untuk menolak suatu ajakan (Just Say "No")
- komunikasi keluarga yang baik serta mengembangkan keberanian dan ketrampilan untuk
- hindari pintu masuk Napza yaitu rokok mengekspresikan pendapat sehingga ia terbebas dari bujukan
Sedangkan langkah-langkah yang dapat dipersiapkan atau tekanan kelompoknya.
dalam pencegahan penyalahgunaan NAPZA antara lain sebagai
berikut : NAPZA dan PENGOBATANNYA
1) Program Informasi Pengobatan NAPZA:
Hati-hati dalam mengemukakan sesuatu secara sensasio- 1) Pengobatan adiksi (detoksifikasi)
nal, karena justru akan menarik bagi mereka untuk menguji 2) Pengobatan infeksi
keberaniannya. Teknik menakut-nakuti hanya efektif dalam 3) Rehabilitasi
keadaan terbatas. Materi dan cara memberikan informasi 4) Pelatihan mandiri
hendaklah sesuai dengan penerima informasi.
Suatu pesan yang sama sifatnya misalnya : mass media Pertolongan Pertama - Overdosis
akan diterima oleh pelbagai kelompok dalam masyarakat yang - Apabila penderita telah pingsan, baringkan dia di sisi kiri
berbeda-beda sehingga bisa diartikan secara berbeda pula badannya
sehingga timbul dampak yang tidak diinginkan. - Periksalah agar tidak ada yang menghambat pernapasan-
2) Program Pendidikan Efektif nya
Bertujuan untuk pengembangan kepribadian, pendewasaan - Kalau penderita masih bernapas, biarkan terbaring di sisi
pribadi, meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputus- kiri badannya dan pastikan berada di posisi aman, termasuk
an yang bijak, mengatasi tekanan mental secara efektif, me- jalan napasnya. Kemudian cari pertolongan dokter.
ningkatkan kepercayaan diri, menghilangkan gambaran negatif - Gejala-gejala sakaw mencapai puncak dalam 3-5 hari dan

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 19


hilang setelah 10 hari. PENUTUP
Dengan makin meningkatnya kasus penyalahgunaan Nap-
Harm Reduction za di Indonesia, maka keadaan ini sangat memprihatinkan dan
HIV menyebar di antara kelompok IDU terutama karena dapat menjadi masalah atau bencana nasional. Oleh karena itu
penggunaan ulang atau bersama jarum suntik dan semprit yang upaya penanggulangannya harus secara sungguh-sungguh,
telah tercemar dengan darah yang mengandung HIV. Alasan profesional, dan mampu mencakup wilayah atau masyarakat
penggunaan jarum suntik bersama sangat berbeda-beda, tetapi yang luas terutama di daerah-daerah dan kelompok-kelompok
sangat penting untuk diketahui dalam upaya penghentian pe- yang rawan akan masalah penyalahgunaan Napza.
nyebaran ini. Strategi penanggulangan Napza adalah melakukan upaya
Empat cara alternatif menurunkan risiko atau harm agar masyarakat terutama kelompok rawan secara sadar me-
reduction. niadakan keinginannya untuk mencoba/menggunakan Napza;
1) Menggunakan jarum suntik sekali pakai terhadap para pengguna yang telah telanjur menyalahgunakan-
2) Mensuci hamakan (sterilisasi) jarum suntik nya ditempuh strategi untuk meminimalkan/meniadakan pe-
3) Mengganti kebiasaan menyuntik dengan menghirup atau ngaruh buruk Napza tersebut.
oral dengan tablet Untuk itu harus dilaksanakan program penanggulangan
4) Menghentikan sama sekali penggunaan Napza. yang komprehensif, meliputi upaya promosi, konseling, peng-
obatan yang adekuat dan rehabilitasi mediko-psikososial/
Detoksifikasi spiritual.
Detoksifikasi adalah proses menghilangkan racun (narko- Agar pelaksanaan program itu berlangsung secara ber-
tika dan/atau zat adiktif lain) dari tubuh dengan cara hasilguna dan berdaya guna, maka harus tersedia SDM yang
menghentikan total pemakaian semua zat adiktif atau dengan handal yaitu memiliki pengetahuan yang cukup, mempunyai
penurunan dosis obat pengganti. ketrampilan yang tinggi, dan mempunyai afeksi yang kuat
Detoksifikasi bisa dilakukan dengan berobat jalan atau untuk melaksanakan tugasnya di bidang penanggulangan pe-
dirawat di rumah sakit. Biasanya proses detoksifikasi dilakukan nyalahgunaan Napza.
terus menerus selama satu sampai tiga minggu, sampai hasil tes
urin menjadi negatif dari zat adiktif. DAFTAR PUSTAKA

1. Ditjen Penerangan Umum, Bahan Penerangan tentang Obat/Zat Psiko-


Rehabilitasi aktif dan Adiktif. Sekretariat Penerangan Penanggulangan Penyalahguna-
Setelah menjalani detoksifikasi hingga tuntas (tes urin an Narkotika. Deppen Rl, 1988.
sudah negatif), tubuh secara fisik memang tidak "ketagihan" 2. Indonesia Australia Specialised Training Project Phase II. Drug Informa-
tion Short Course. Jakarta, 23-27 April 2001.
lagi, namun secara psikis ada rasa rindu dan kangen terhadap 3. Ketut Kusminarno. Mengapa Heroin/Putaw Sangat Berbahaya. Maj.
zat tersebut masih terus membuntuti alam pikiran dan perasaan Kesehatan Depkes RI 1998; 150.
sang pecandu; sehingga rentan dan sangat besar kemungkinan 4. Chadha PV. Hand Book of Forensic Medicine & Toxicology (Medical
kembali mencandu dan terjerumus lagi. Jurisprudence). 1st ed. Jaypee Brothers Med Publ (P) Ltd.. 1975.
5. Pudji Hastuti. Peranan Badan Kesejahteraan Sosial Nasional dalam
Untuk itu setelah detoksifikasi perlu dilakukan proteksi Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Korban Narkoba, 2000,
lingkungan dan pergaulan yang bebas dari lingkungan pecandu, 6. Dreisbach RH. Handbook of Poisoning, Twelfth Ed, , Appleton & Lange,
misalnya dengan memasukkan mantan pecandu ke pusat 1987.pp. 324 - 28.
rehabilitasi. 7. Sudirman. Dampak Penyalahgunaan Narkotika Psikotropika dan Zat
Adiktif lainya Rumah Sakit Ketergantungan Obat, 1998.

We live by trusting one another

20 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Pengobatan/Perawatan
Pasien Ketergantungan NAPZA
Pasca Detoksifikasi
dr. Hartati Kurniadi SpKJ., MHA
Psikiater, Yayasan Jendela, Serpong Tangerang, Banten

PENDAHULUAN relaps.
Banyak orang, terutama yang awam tentang pengobatan Oleh sebab itu pada tahap ini perlu dilakukan berbagai
ketergantunqan napza, beranggapan bahwa setelah detoksi- bentuk terapi atau kegiatan yang sesuai dengan individu/
fikasi maka seharusnya anak/pasien itu sudah sembuh/baik keadaan pasien tersebut. Jadi penanganan pada setiap pasien
kembali seperti sebelum mereka tergantung pada napza atau tidak bisa disamaratakan, sangat personal.
bahkan ada yang berharap bahwa anaknya dapat baik seperti Pada tahap ini tidak jarang farmakoterapi masih diperlukan
apa yang mereka harapkan. untuk mengobati gangguan jiwa yang mendasari keter-
Hal ini tentu saja akan menimbulkan kekecewaan baik gantungan napzanya. Dalam hal ini yang biasa dipakai adalah
bagi orangtua maupun anak/pasien tersebut. golongan anti-anxietas, anti-depresi atau anti-psikotik.
Detoksifikasi adalah langkah awal dari suatu proses pe- Motivasi pasien untuk sembuh memang merupakan kunci
nyembuhan pasien dengan ketergantungan napza; jadi setelah keberhasilan pada tahap ini. Pasien yang baik, dapat be-
langkah awal ini, perlu dilakukan langkah solanjutnya agar kerjasama dengan terapisnya tanpa pengaruh napza lagi. Sikap
pasien dapat tetap terbebas dari penggunaan napza. ini akan mempercepat tahap habilitasi, walaupun memang
Untuk fase awel ini masih dapat dilakukan pemaksaan perlu waktu untuk dapat bersikap seperti itu. Selain itu, efek
pada pasien, misalnya dengan diborgol dan pengawasan ketat pemakaian napza di otak juga tidak dapat pulih dengan cepat
atau dilakukan dengan ultra rapid detoxification. karena berdasarkan penelitian, zat yang dipakai tersebut
Tetapi untuk langkah selanjutnya perlu adanya kerjasama berkaitan dengan neurotransmitter dalam otak.
yang baik dari pasien tersebut, keluarga, lingkungan dan Untuk mernpercepat habilitasi ini, peran lingkungan, tera-
masyarakat sekitarnya. pis dan pendamping yang mendukung proses penyembuhan
Selanjutnya akan dibicarakan mengenai perawatan pasien pasien sangat diharapkan.
setelah terapi detoksifikasi yaitu habilitasi dan rehabilitasi. Habilitasi dapat berupa berbagai bentuk terapi atau ke-
giatan yang dapat diberikan kepada pasien sesuai dengan
HABILITASI indikasi yang ada. Jadi tidak semua bentuk terapi dan kegiatan
Perawatan ini ditujukan terutama untuk stabilisasi keadaan harus diberikan kepada setiap pasien. Bentuk terapi/kegiatan
mental dan emosi pasien sehingga gangguan jiwa yang sering tersebut antara lain :
mendasari ketergantungan napza dapat dihilangkan atau di- − Latihan Jasmani : misalnya lari-lari pagi; karena menurut
atasi. Keadaan ini merupakan langkah yang sangat panting, penelitian, dapat meningkatkan kadar endorfin.
sebab usaha rehabilitasi dan resosialisasi banyak tergantung − Akupunktur : dapat meningkatkan kadar andorfin sehingga
dari berhasil atau tidaknya tahap ini. mengurangi keadaan depresi.
Pada tahap ini kadang masih ditemukan juga keadaan yang − Terapi Relaksasi : karena banyak pasien yang susah untuk
kita sebut slip yang artinya episode penggunaan kembali napza relaks.
setelah berhenti menggunakan selama kurun waktu tertentu. − Terapi Tingkah Laku : teknik terapi yang dikembangkan
Atau dapat juga mereka terjatuh kembali menggunakan napza berdasarkan teori belajar. Hukuman diberikan apabila pasien
secara tidak terkontrol setelah berhenti menggunakan napza berperilaku yang tidak diinginkan (menggunakan napza) dan
selama kurun waktu tertentu yang dikenal dengan istilah hadiah diberikan bila pasien berperilaku yang diinginkan (tidak

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 21


menggunakan napza). psikik dan gangguan mental yang terdapat pada pasien, ter-
− Terapi Disulfiram (Antabuse) : merupakan terapi aversif masuk gangguan kepribadian.
pada ketergantungan alkohol; jadi merupakan suatu bentuk − Konseling : dapat membantu pasien untuk rnengerti dan
terapi tingkah laku. Disulfiram menghambat metabalisme al- memecahkan masalah penyesuaian dirinya dengan lingkungan.
kohol dalam darah sehingga kadar asetaldehida dalam plasma − Terapi Keluarga : sangat diperlukan karena pada umumnya
meningkat. Jadi bila minum Disulfiram, lalu kemudian me- keluarga mempunyai andil dalam terjadinya ketergantung
minum juga alknhol, maka akan timbul suatu perasaan yang napza pada pasien. Terapi ini juga mempersiapkan keluarga
tidak enak misalnya mual, muntah, rasa penuh di kepala dan beradaptasi dengan pasien setelah yang bersangkutan tidak
leher, nyeri kepala, muka merah, wajah berkeringat, ber- menggunakan napza lagi.
debar-debar, rasa napas pendek, rasa tak enak di dada, vertigo, − Psikoterapi Kelompok : banyak dilakukan dalam program
penglihatan kabur, dan kebingungan. Kontra indikasi pem- habilitasi karena dirasakan banyak manfaatnya. Pasien lebih
berian disulfiram ialah penyakit jantung. Dosis 250 mg setiap dapat menerima kritik, konfrontasi, dan saran yang diberikan
hari atau 509 mg tiga kali seminggu selama satu tahun. pasien lain daripada terapis.
Disulfiram sebaiknya diberikan bersama-lama dengan terapi − Psikodrama : suatu drama yang dirancang berkisar pada
lain seperti psikoterapi individual atau kelompok, konseling suatu krisis kehidupan atau masalah khusus. Drama ini dapat
individual atau mengikuti pertemuan alkohol anonimus. Perlu membantu pemainnya (pasien) mengenali masalah bagaimana
pengawasan dari anggata kaluarga agar terjamin bahwa ia mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah tersebut,
disulfiram tetap dimakan secara teratur. terapi ini barmanfaat terutama bagi orang yang sulit menyata-
− Terapi antagonis opioida : misalnya neltrexon; kerjanya kan suatu peristiwa atau perasaan secara verbal.
menghambat efek euforia dari opioida sehingga pasien akan
merasa percuma menggunakan opioida karena tidak mengalami REHABILITASI
euforia. Di sini perlu sekali pengertian dari pasien, karena bila Dalam pengobatan ketergantungan napza perlu dilakukan
pasien tidak serius ingin berhenti memakai opioida, maka bila hingga tingkat rehabilitasi. Alasannya, selain menimbulkan
dia menggunakan naltrexon, dan juga menggunakan opioida, gangguan fisik dan kesehatan jiwa, ketergantungan napza juga
maka dapat terjadi overdosis opioida. memberi dampak sosial bagi pasien, lingkungan keluarga mau-
Naltrexon diberikan sebanyak 50 mg perhari atau pun masyarakat sekitarnya.
disesuaikan dengan dosis pemakaian opioida; sebaiknya diberi- Rehabilitasi pada hakikatnya bertujuan agar penderita bisa
kan selama minimal 6-12 bulan. melakukan perbuatan secara normal, bisa melanjutkan pen-
Kontra indikasinya : didikan sesuai kemampuannya, bisa bekerja lagi sesuai dengan
1. Pasien yang mendapat pengobatan dengan analgesik bakat dan minatnya, dan yang terpemting bisa hidup me-
opioida. nyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga maupun masya-
2. Pasien yang kadang-kadang masih menggunakan opioida. rakat sekitarnya.
3. Pasien yang test urin untuk opioidanya masih positif. Satu hal lagi yang banyak diharapkan setelah mengikuti
4. Pasien dengan hepatitis akut atau fungsi hepar buruk. rehabilitasi, pasien dapat menghayati agamanya secara baik.
Itulah sebabnya banyak lembaga rehabilitasi yang didirikan
− Methadone Maintenance Program : biasanya yang men- berdasarkan kepercayaan/agama.
jalani program ini adalah mereka yang telah berkali-kali gagal Terapi rehabilitasl ini meliputi beberapa hal :
mengikuti program terapi, habilitasi dan rehabilitasi lain. − Rehabilitasi Sosial : meliputi segala usaha yang bertujuan
Untuk menjalankan program ini diperlukan administrasi yang memupuk, membimbing, dan meningkatkan rasa kesadaran
baik; untuk menghindari kemungkinan adanya pasien yang dan tanggung jawab sosial bagi keluarga dan masyarakat.
mendapat jatah obat lebih. Jadi harus ada satu pusat catatan − Rehabilitasi Edukasional : bertujuan untuk memelihara
Medik terpadu. dan maningkatkan pengetahuan dan mengusahakan agar pasien
Sebelum mengikuti program ini pasien harus diperiksa dapat mengikuti pendidikan lagi, jika mungkin memberi bim-
secara medis dahulu termasuk pemeriksaan darah rutin, test bingan dalam memilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan
fungsi hati, rontgen paru-paru dan EKG. Dosis methadon intelegensia dan bakatnya.
setiap hari dimulai dari 30-40 mg, biasanya dosis maintenance Rehabilitasi Vokasional : bertujuan menentukan kemampuan
sebesar 40-80 mg perhari. Jarang melebihi 120 mg perhari. kerja pasien serta cara mengatasi penghalang atau rintangan
Setiap hari pasien harus datang ke pusat terapi dan minum untuk penempatan dalam pekerjaan yang sesuai. Juga
jatah methadon di hadapan petugas; biasanya diminum dengan memberikan keterampilan yang belum dimiliki pasien agar
segelas jus jeruk. Bagi mereka yang sekolah atau bekerja dan dapat bermanfaat bagi pasien untuk mencari nafkah.
konditenya baik dapat datang ke pusat terapi dua kali seminggu − Rehabilitasi Kehidupan Beragama : bertujuan membang-
dan membawa methadon pulang ke rumahnya (diberikan kitkan kesadaran pasien akan kedudukan manusia di
methadon yang berjangka waktu kerja lama yaitu LAAM - L tengah-tengah mahluk hidup ciptaan Tuhan; menyadarkan
Alfa Aceto-Methadol). Sewaktu-waktu urin harus diperiksa kelemahan yang dimiliki manusia, arti agama bagi manusia,
untuk memastikan bahwa methadon yang diperoleh dan dibawa membangkitkan optimisme berdasarkan sifat-sifat Tuhan yang
pulang dipakai sendiri dan bukan dijual. Mahabijaksana, Mahatahu, Maha pengasih, dan Maha peng-
− Psikoterapi individual : untuk mengatasi konflik intra- ampun.

22 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


PENUTUP setiap kemajuan yang sekecil apapun, dapat disyukuri dan
Satu hal yang harus disadari dan dipahami oleh semua merupakan dorongan untuk mencapai kemajuan yang lebih
pihak adalah bahwa detoksifikasi bukanlah terapi tunggal dari banyak.
ketergantungan napza, melainkan langkah awal dari suatu
proses terapi ketergantungan napza. Selain itu harus dimaklumi
juga bahwa pengobatan ketergantungan napza membutuhkan KEPUSTAKAAN
waktu yang cukup panjang. Bahkan untuk mengetahui dengan
1. Leow KF. Medical Aspect of Naltrexone. Symposium : Advances in the
pasti bahwa pasien tersebut betul-betul pulih, baru bisa management of drug addiction - role of naltrexone in medical practice.
dipastikan setelah yang bersangkutan meninggal. Singapore, Feb. 11, 1996.
Oleh sebab itu agar pengobatan/perawatan ketergantungan 2. Joewana S. Gangguan Penggunaan Zat. Narkotika, Alkohol, dan Zat
napza berjalan dengan baik, perlu pemahaman diri (insight) Adiktif Lain. Jakarta: Gramedia, 1989.
3. Fisher GL, Harrison TC. Substance Abuse. Information for School
pasien, dibantu dengan kerja sama yang baik dengan terapis Counselors, Social Workers, Therapists, and Counselors. Needham
serta dukungan yang kuat dari lingkungan terdekat. Untuk itu Heights, Massachusetts. A Simon & Schuster Company, 1997.
diperlukan usaha yang terus menerus dan perasaan yang selalu 4. Bennett G. Treating Drug Abusers. Great Britain. Billing & Sons Ltd.
optimis baik dari pasien, terapis, maupun lingkungannya agar 1989.

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 23


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Gambaran Klinik
dan Psikofarmaka pada Penderita
Gangguan Kecemasan
Yusuf Alam Romadhon
Dokter PTT Puskesmas Kartasura II Kabupaten Sukoharjo, Jawa Teqgah

ABSTRAK
Dari aspek klinik kecemasan dapat dijumpai pada orang dengan stres normal;
pada orang dengan sakit fisik berat, lama dan kronis; pada penderita gangguan psikiatri
berat atau merupakan gangguan yang berdiri sendiri. Dikenal 5 jenis gangguan kece-
masan, yaitu 1) gangguan panik, 2) gangguan cemas umum, 3) gangguan fobik, 4)
gangguan obsesif kompulsif dan 5) gangguan stress pasca trauma.
Untuk penyembuhan dengan baik dan mencegah ketergantungan obat anxiolitik
diberikan terapi kombinasi yaitu psikoterapi dan psikofarmaka. Pendekatan psiko-
farmaka adalah dengan obat-obatan anxiolitik yang meliputi tranquilizer minor baik
golongan benzodiazepin maupun non benzodiazepin, hipnotik, antidepresan trisiklik,
monoamin inhibitor (MAOI), serotonin reuptake inhibitor (SRI) dan specific seroto-
nine reuptake inhibitor (SSRI).

Kata kunci: gangguan kecemasan - gambaran klinik - psikofarmaka

PENDAHULUAN akan berlangsung lama; kecemasan yang berkepanjangan


Istilah kecemasan dalam psikiatri muncul untuk merujuk sering menjadi patologis. Ia menghasilkan serombongan
suatu respons mental dan fisik terhadap situasi yang menakut- gejala-gejala hiperaktivitas otonom yang mengenai sistem
kan dan mengancam. Secara mendasar lebih merupakan res- muskuloskeletal, kardiovaskuler, gastrointestinal dan bahkan
pons fisiologis ketimbang respons patologis terhadap ancaman. genitourinarius (Tabel 1). Respons kecemasan yang berke-
Sehingga orang cemas tidaklah harus abnormal dalam perilaku panjangan ini sering diberi istilah gangguan kecemasan, dan
mereka, bahkan kecemasan merupakan respons yang sangat ini merupakan penyakit.(1,3,9)
diperlukan. Ia berperan untuk meyiapkan orang untuk meng- Dari aspek klinik kecemasan dapat dijumpai pada orang
hadapi ancaman (baik fisik maupun psikologik).(3) yang menderita stress normal; pada orang yang menderita
Perasaan cemas atau sedih yang berlangsung sesaat adalah sakit fisik berat, lama dan kronik; pada orang dengan gang-
normal dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Ce- guan psikiatri berat (skizofrenia, gangguan bipoler dan depre-
mas pada umumnya terjadi sebagai reaksi sementara terhadap si); dan pada segolongan penyakit yang berdiri sendiri yang
stress kehidupan sehari-hari.(9) dinamakan gangguan kecemasan.(1,10) Yang dibahas di sini
Bila cemas menjadi begitu besar atau sering seperti yang adalah kelompok terakhir yang terdiri dari 5 macam yaitu: 1)
disebabkan oleh tekanan ekonomi yang berkepanjangan, pe- gangguan panik, dengan ciri munculnya mendadak tanpa
nyakit kronik dan serius atau permasalahan keluarga maka faktor pencetus; 2) gangguan cemas umum, yaitu kecemasan

24 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


yang diderita bersifat mengambang bebas dan berlangsung − Palpitasi (berdebar-debar/deg degan : Jawa)
menahun (kronik); 3) gangguan fobik yaitu kecemasan atau − Nyeri dada, dada terasa panas
ketakutan terhadap situasi atau obyek tertentu (spesifik); 4) • Respirasi
− Nafas pendek
gangguan obsesif kompulsif, yaitu kecemasan yang men- − Dispnoe (sesak nafas)
dorong penderita secara menetap untuk mengulangi pikiran − Hiperventilasi (frekuensi nafas sering)
atau perilaku tertentu dan; 5) gangguan stress pasca trauma • Gastrointestinal
yaitu kecemasan yang timbul setelah penderita mengalami − Mulut kering
peristiwa yang sangat menegangkan.(1) − Tenggorokan seperti tercekik; tenggorokan kering
− Perasaan tidak enak di lambung
− Nausea dan vomitus (mual dan muntah)
PREVALENSI GANGGUAN KECEMASAN − Diare
Survai terkini di Amerika (1996) melaporkan bahwa 15 - • Genitourinarius
33% pasien yang datang berobat ke dokter non psikiater me- − Sering berkemih
rupakan pasien dengan gangguan mental.(1) Dari jumlah ter- − Nyeri saat berkemih
sebut minimal sepertiganya menderita gangguan kecemasan.(1) − Ejakulasi prematur
− Impotensia
Di Indonesia penelitian yang dilakukan di Puskesmas Ke-
• Sistim Muskuloskeletal
camatan Tambora Jakarta Barat tahun 1984 menunjukkan bah- − Nyeri otot kepala terutama otot leher
wa di puskesmas jumlah gangguan kesehatan jiwa yang sering − Sakit dan nyeri otot
muncul sebagai gangguan fisik adalah 28,73% untuk dewasa • Kulit
dan 34,39% untuk anak.(5) − Keringat berlebihan
− Telapak tangan dan kaki basah dan terasa dingin
DIAGNOSIS GANGGUAN KECEMASAN
Tanda Obyektif
Dalam makalah ini yang akan dibicarakan adalah diag- − Penderita tampak gugup, gelisah, tidak dapat duduk santai
nosis praktis. Pendekatan ini dianjurkan untuk dipakai oleh − Suara bergetar, gagap
para dokter umum yang mempunyai banyak pasien dalam − Palpitasi
praktek medis sehari-hari.(1) − Hiperventilasi
Dari anamnesis dan pemeriksaan pasien dapat ditegakkan − Berkeringat banyak atau telapak tangan dan kaki lembab
diagnosis kerja (secara cepat) untuk gangguan kecemasan apa-
bila didapatkan keluhan baik somatik (fisik) maupun psiko-
logik dan kognitif serta tanda-tanda obyektif kecemasan.(1,3) PSIKOFARMAKOLOGI
Keluhan-keluhan dan tanda-tanda obyektif yang sering dida- Untuk penyembuhan dengan baik pasien dengan gangguan
patkan dalam praktek medis sehari-hari yang merujuk pada kecemasan adalah kombinasi farmakoterapi (psikofarmaka)
gangguan kecemasan adalah sebagai berikut (Tabel 1).(1-3) dengan psikoterapi. Mengapa kombinasi? Pertimbangannya
adalah bahwa psikoterapi mempunyai keunggulan tidak adiktif
Tabel 1. Keluhan dan Tanda Obyektif dari Gangguan Kecemasan(1,3) tetapi kerugiannya lambat dalam efek terapetiknya. Sebaliknya
anxiolitik mempunyai keunggulan efek terapetik cepat dalam
menurunkan tanda dan gejala kecemasan tetapi mempunyai
Keluhan Kognitif dan Psikologis kerugian resiko adiksi. Dalam terapi kombinasi diberikan obat
− Perasaan cemas, khawatir, was-was
anxiolitik terlebih dahulu sampai 2 minggu, kemudian dila-
− Ragu-ragu untuk bertindak atau memutuskan sesuatu, takut salah.
− Perasaan takut dalam situasi, obyek atau keadaan tertentu (sendirian, gelap, kukan psikoterapi yang dimulai pada awal minggu kedua di
kamar tertutup, berada di ketinggian dsb.) samping obat anxiolitik masih tetap diberikan tetapi secara
− Tidak enak, gelisah bertahap diturunkan dosisnya (tapering off sampai minggu ke
− Takut mati, takut menjadi gila atau pikiran-pikiran yang cenderung negatif empat pengobatan).(1) Ada juga yang membedakan kasus baru
baik terhadap diri-sendiri ataupun lingkungan
dan lama. Kasus baru diberikan sampai 2 bulan bebas gejala
− Merasa tegang
− Insomnia, sulit untuk memulai (jatuh) tidur/early insomnia kemudian dilakukan tapering off untuk penghentian peng-
− Mudah terkejut, terlalu waspada obatan; kasus lama diberikan sampai 6 bulan bebas gejala
− Mudah marah (iritable) kemudian dilakukan tapering off untuk penghentian peng-
− Perasaan cemas tersebut mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan obatan.(5) Psikoterapi yang sering digunakan untuk gangguan
penderita sehingga fungsi pertimbangan akal sehat, perasaan dan kecemasan adalah psikoterapi berorientasi insight, terapi peri-
perilakunya terpengaruhi.
laku, terapi kognitif atau psikoterapi provokasi kecemasan
jangka pendek.(l)
Keluhan Fisik Obat-obatan yang sering digunakan untuk anxiolitik (me-
• Neurologik dan Vaskuler ngurangi atau menghilangkan gejala gangguan kecemasan)
− Sakit kepala, pusing, kepala terasa enteng adalah golongan benzodiazepin, non-benzodiazepin, anti-
− Nggliyer (dizziness), seperti mau pingsan
− Vertigo (pusing berputar)
depresan: trisiklik, monoamin inhibitor [MAOI], serotonin
− Tangan gemetaran reuptake inhibitor [SRI], specific serotonin reuptake inhibitor
− Pandangan kabur [SSRI]. Mengenai penggolongan (klasifikasi) obat-obat anxi-
− Baal dan kesemutan olitik, nama dagang serta dosis terapetiknya dapat dilihat pada
• Kardiovaskuler Tabel 2.

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 25


Tabel 2. Klasifikasi Obat Anxiolitik, nama dagang di pasaran dan dosis
terapetiknya(2,5,6,9)
Untuk gangguan obsesif kompulsif obat yang dikenal
efektif adalah clonazepam, SSRI yang meliputi fluoxetine,
Anxiolitik (tranquilizer minor)
paroxetine, fluvoxamine dan sertraline(8)(Tabel 3).
a. Golongan benzodiazepin
Chlordiazepoxide Librium 15 -100 Tabel 3. Farmakoterapi untuk masing-masing jenis gangguan kece-
Diazepam Valium 4 - 80 masan(2,4,6,8)
Lorazepam Ativan 2 - 10 Jenis Gaugguan Kecemasan Farmakoterapi
Bromazepam Lexotan 2 - 18
Chlorazepate Tranxene 15 Gangguan Panik Benzodiazepin
Clobazam Frisium 20 - 30 Antidepresan trisiklik
Alprazolam Xanax 0,75 - 4 MAOI
Clonazepam Rivotril 0,75 - 8 Buspiron
SRI
SSRI
b. Golongan non-benzodiazepin Farmakoterapi kombinasi untuk
Opipramol Insidon 50 - 300 pasien membandel atau adanya
Buspiron Buspar 10 - 60 komorbiditas dengan gangguan
Hipnotika/antiinsomnia lainnya
a. Khasiat Panjang Gangguan Fobik Sama
Flurazepam Dalmadorm 15 - 30 Gangguan Cemas Umum Sama
Diazepam Valium 4 - 80 Gangguan Stress Pasca Trauma Sama
b. Khasiat Menengah Gangguan Obsesif Kompulsif Clonazepam
Estazolam Esilgan 1- 4 Fluoxetine
Nitrazepam Mogadon, Dumolid 2,5 - 5 Paroxetine
c. Khasiat Pendek Sertraline
Triazolam Halcion 0,125 - Fluvoxamine
0,25
Lorazepam Ativan 2 - 10
Antidepresan PROGNOSIS
a. Trisiklik
Amitriptiline Laroxyl 75 -300 Dengan kombinasi farmakoterapi dan psikoterapi, anxietas
Imipramine Tofranil 75 - 300 sekarang ini dapat disembuhkan dengan baik. Namun dalam
b. Siklik atipik praktek sehari-hari sering pasien diberikan anxiolitik saja dan
Amoxapine Asendin 200 - 300 tanpa kontrol yang ketat. Pada penderita seperti ini maka prog-
Maprotiline Ludiomil 10 - 225
Mianserine Tolvon 20 - 60 nosisnya buruk atau minimal dubia.(1)
KEPUSTAKAAN
c. Monoamine Inhibitor (MAOI)
Moclobemide Aurorix 30 - 600 1. Aris Sudiyanto. Aspek Klinik Gangguan Kecemasan. Simposium Nasio-
d. Serotonin Reuptake Inhibitor nal Awareness Anxiety Programe. 5 Agustus 2000.
(SRI) 2. Biederman J. Psychopharmacology. In Wiener JM, editor. Textbook of
Clomipramine Anafranil 50 - 150 Child and Adolescent Psychiatry 1st ed. American Psychiatric Press,
e. Specific Serotonin Reuptake 1991; pp. 550, 552, 557.
Inhibitor (SSRI) 3. Deva MP. Presentation and Management of Anxiety Disorder in Family
Fluoxetine Prozac 20 - 80 Practice. Medical Progress January, 2001 pp. 16-20.
Fluvoxamine Luvox 50 - 300 4. Dirjen Yanmed, Depkes RI. Pedoman penatalaksanaan Kedaruratan
Paroxetine Seroxat 20 - 60 Psikiatri untuk RSU kelas C dan D. 1998; hal. 18-21.
Sertraline Zoloft 50 - 200 5. Dirjen Yanmed, Depkes RI. Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa di Fasi-
litas Umum. 1995. hal. 2-3; 29; 65-6.
6. Joyce PR. Serotonine Reuptake Inhibitor A New Class of Anti-
depressants. Medical Progress. (June) 1993; pp. 11 –4.
7. Menkes DB. Antidepressant Drugs. Medical Progress. July, 1992; 17-8.
Secara umum obat-obatan di atas efektif untuk terapi 8. Park T, et al. Obsessive Compulsive Disorder Treatment Option Medical
gangguan kecemasan, baik tunggal maupun kombinasi ter- Progress (November) 1997; pp. 37-42.
gantung pada kondisi pasien, dan pengalaman dokter terhadap 9. Trisulo Wasyanto. Gangguan Cemas pada Penyakit Jantung. Simposium
jenis atau golongan obat-obat tersebut. Nasional Awareness Anxiety Program. 5 Agustus 2000.
10. Yul Iskandar. Aspek Biologik dari Anxietas. Simposium Nasional
Awareness Anxiety Program. 5 Agustus 2000.

The word that is heard perishes, the letter that is written remains

26 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Penatalaksanaan Baku
dan Menyeluruh pada HIV/AIDS
Dr. Candra Wibowo
Residen Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado

PENDAHULUAN PENATALAKSANAAN PADA ORANG DEWASA


Sejak 20 tahun yang lalu, human immunodeficiency virus Konseling dan Edukasi
(HIV) sudah diketahui sebagai penyebab penyakit acquired Konseling dan edukasi perlu diberikan segera sesudah
immunodeficiency syndrome (AIDS); namun penatalaksanaan- diagnosis HIV/AIDS ditegakkan dan dilakukan secara berke-
nya belum memberikan hasil yang memuaskan dalam hal sinambungan. Bahkan, konseling dan edukasi merupakan pilar
penurunan angka kesakitan dan kematian HIV/AIDS, terutama pertama dan utama dalam penatalaksanaan HIV/AIDS; karena
di negara sedang berkembang. Banyak penelitian dilakukan keberhasilan pencegahan penularan horizontal maupun ver-
bertujuan untuk mendapatkan penatalaksanaan yang baku dan tikal, pengendalian kepadatan virus dengan ARV, peningkatan
menyeluruh; dari pencegahan penularan horizontal maupun CD4, pencegahan dan pengobatan IO serta komplikasi lainnya
vertikal, pemakaian kombinasi antiretrovirus (ARV) bagi orang akan berhasil jika konseling dan edukasi berhasil dilakukan
dengan HIV/AIDS (ODHA), pencegahan dan pengobatan dengan baik. Pada konseling dan edukasi perlu diberikan
infeksi oportunistik (IO) dan pencegahan post exposure (PPE) dukungan psikososial supaya ODHA mampu memahami,
HIV sampai pemberian imunisasi yang masih dalam penelitian. percaya diri dan tidak takut tentang status dan perjalanan alami
Kompleksnya masalah yang dihadapi dalam penatalaksanaan HIV/AIDS, cara penularan, pencegahan serta pengobatan
HIV/AIDS, memerlukan satu tim kerja terdiri dari berbagai HIV/AIDS dan IO; semuanya ini akan memberi keuntungan
bidang ilmu yang solid dan profesional untuk menurunkan bagi ODHA dan lingkungannya1,5-8.
angka insidensi dan prevalensi HIV/AIDS.(1-3)
Di Indonesia, jumlah ODHA dari tahun ke tahun Antiretrovirus (ARV)
cenderung meningkat. Pada akhir Mei 2001 tercatat 1.956 Indikasi pemberian ARV yaitu pada infeksi HIV akut,
kasus yang ditemukan pada saat uji darah donor, uji saring ODHA yang menunjukkan gejala klinis atau ODHA tanpa
pecandu narkotika, tes gratis HIV dan ODHA yang dirawat/ gejala klinis yang memiliki CD4 < 500/mm3 dan atau RNA
memerlukan bantuan tenaga medis. Jumlah sebenamya HIV > 20.000/ml. serta pada PPE HIV1,2,6.
pengidap HIV/AIDS di Indonesia belum diketahui, tetapi Kombinasi ARV merupakan dasar penatalaksanaan pem-
diperkirakan jauh lebih banyak dari angka tersebut di atas(4). berian antivirus terhadap ODHA; karena dapat mengurangi
Saat ini baru Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto resistensi, menekan replikasi HIV secara efektif sehingga
Mangunkusumo Jakarta yang mampu memberikan layanan kejadian penularan/IO/komplikasi lainnya dapat dihindari, dan
hesehatan ODHA secara menyeluruh; padahal ODHA tersebar meningkatkan kualitas serta harapan hidup ODHA. Dua
di seluruh daerah Indonesia, bahkan jumlah terbanyak di golongan ARV yang diakui Food and Drug Administration
Irian(3,4). (FDA) dan World Health Organization (WHO) adalah
Dalam tinjauan kepustakaan ini diuraikan penatalaksanaan penghambat reverse transcriptase (PRT), yang terdiri dari
HIV/AIDS yang baku dan menyeluruh, dengan harapan dapat analog nukleosida dan non-analog nukleosida, serta peng-
diterapkan seoptimal mungkin sesuai dengan sumber dana dan hambat protease (PP) HIV. Ketiga jenis ini dipakai secara
sumber daya manusianya. kombinasi dan tidak dianjurkan pada pemakaian tunggal.
Penggunaan kombinasi ARV merupakan farmakoterapi yang

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 27


rasional; sebab masing-masing preparat bekerja pada tempat tak terdeteksi, berkembang mengalami peningkatan walaupun
yang berlainan atau memberikan efek sinergis terhadap yang ARV masih terus diberikan.
lain. Preparat golongan PRT analog nukleosida menghambat 4. Jumlah CD4 tetap mengalami penurunan.
beberapa proses polimerisasi deoxyribo nucleic adid (DNA) 5. Keadaan klinis yang memburuk.
sel termasuk sintesis DNA yang tergantung pada ribonucleic 6. Terdapatnya efek:samping ARV.
acid (RNA) pada saat terjadi reverse transkripsi; sedangkan
PRT analog non-nukleosida secara selektif menghambat proses
reverse transkripsi HIV-1. Penghambat protease bekerja Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Oportunistik (IO)
dengan cara menghambat sintesis protein inti HIV(1-3,6,9,10). Penyebab utama kematian ODHA adalah infeksi oppor-
United States Public Health Service (USPHS) dan WHO tunistik. Center of Disease Control (CDC)menganjurkan
menganjurkan kombinasi ARV yang dipakai sebagai peng- pemberian regimen pencegahan bagi semua pasien dengan
obatan pertama kali adalah 2 preparat PRT analog nukleosida status imun yang buruk tanpa kecuali. Infeksi oportunistik yang
dengan PP, atau 2 preparat PRT analog nukleosida dikom- sering dijumpai di Amerika dan Eropa adalah Pneumocystis
binasikan dengan analog non-nukleosida. Sedangkan kom- Carinii Pneumonia (PCP), sedangkan di negara berkembang
binasi antara PRT nukleosida, non-nukleosida dengan PP (Afrika, Asia Tengah dan Asia Tenggara) termasuk Indonesia
dipertimbangkan sebagai kombinasi pada pengobatan kasus adalah tuberkulosis paru1-4,12-14.
lanjut(1-3). Rifampisin menurunkan berturut-turut kadar plasma
Perlu diperhatikan kombinasi saquinavir dengan ritonavir nevirapin, delavirdin (analog non-nukleosida), saquinavir,
akan meningkatkan kadar saquinavir dalam plasma, karena indinavir, nelfinavir, amprenavir dan lopinavir (penghambat
ritonavir menghambat kerja enzim sitokrom P450. Sedangkan protease); sedangkan ketokonazol menurunkan kadar plasma
zidovudin (ZDV) dengan stavudin dan efavirenz dengan nevirapin sehingga pemberian bersama obat-obat tersebut harus
saquinavir merupakan kombinasi antagonis satu dengan yang dihindari2,12-14.
lain. Nevirapin akan menurunkan berturut-turut kadar dalam Imunisasi pasif dan aktif dilakukan untuk mencegah in-
plasma saquinavir, ritonavir, indinavir dan lopinavir jika feksi oportunistik; pemberian imunisasi aktif sebaiknya bukan
dikombinasikan, sehingga kombinasi ARV ini jangan imunisasi yang meagandung mikroba hidup/yang dilemahkan.
dilakukan1,2,11,12. Beberapa penelitian menyimpulkan tak perlu penyesuaian dosis
dan menunggu kadar tertentu CD4 untuk melakukan imuni-
sasi12,15.
Tabel 1. Kombinasi antiretroviral
PENATALAKSANAAN PADA IBU HAMIL/MELAHIR-
Kriteria Penghambat Penghambat
Kombinasi Reverse Transcriptase Protease KAN
Sangat dianjurkan Didanosin+Lamivudin Indinavir Konseling, Edukasi dan Uji Saring Antepartum
Didanosin+Stavudin Indinavir+Ritonavir
Didanosin+Zidovudin Lopinavir+Ritovanir The American College of Obstetricians and Gynaecologists
Didanosin+Efirenz+ Nelfinavir (AGOG) dan USPHS menganjurkan konseling, edukasi dan Uji
Lamivudin/ Stavudin/ Ritonavir+Saquinavir saring HIV sebagai bagian perawatan antepartum yang di-
Zidovudin lakukan secara rutin dan sukarela oleh ibu hamil dengan risiko
Lamivudin+Zidovudin
Lamivudin + Stavudin tinggi infeksi HIV dan ibu hamil dengan HIV/AIDS (IHDHA).
Altematif Zidovudin+Zalsitabin Amprenavir Dalam konseling dan edukasi, perlu dukungan psikososial ibu
Nelfinavir+Saquinavir supaya tidak takut dan percaya diri mengenai status HIV dan
Ritonavir kehamilannya, tentang perjalanan alami HIV, cara penularan
Saquinavir
Tidak dianjurkan Stavudin+Zidovudin
dan pencegahan perinatal serta keuntungan pemberian ARV
Zalsitabin+Didanosin bagi ibu dan janin/bayi. Hasil negatif uji saring pada ibu risiko
Zalsitabin + Lamivudin tinggi infeksi HIV perlu diulang 4 minggu kemudian mengingat
Zalsitabin + Stavudin kemungkinan window period pada saat pemeriksaan di-
lakukan16-19.
Sumber: US. Deportment of Health and Human Services. Guidelines for the use
of antiretroviral agents in hiv-infected adults and adolescents. MMWR 2001; Antiretrovirus (ARV)
50: 1-1152. Pemberian kombinasi ARV merupakan penatalaksanaan
baku IHDHA tanpa memandang status kehamilan, sama seperti
Kombinasi ARV pada pengobatan pertama perlu diubah pemberian ARV pada ODHA karena telah dipertimbangkan
jika ditemukan hal-hal sebagai berikut(1,2,5,6) : farmakokinetiknya dan tidak terbukti memberikan efek terato-
1. Penurunan RNA HIV plasma < 0,5-0,75 log10 dalam 4 genik pada janin/bayi jika diberikan setelah umur kehamilan 14
minggu atau < 1 log10 dalam 8 minggu setelah pengobatan minggu16-19.
pertama diberikan. Pada pencegahan penularan HIV perinatal (PHP), baik
2. Kegagalan penekanan RNA HIV sampai batas tak ter- ACOG, USHS maupun WHO menganjurkan kombinasi ARV
deteksi, dalam 4-6 bulan setelah pengobatan pertarna diberikan. untuk menekan replikasi virus secara cepat sampai batas yang
3. Deteksi ulang RNA HIV plasma setelah kepadatan virus

28 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


tidak dapat dideteksi; sehingga diharapkan PHP, tidak terjadi, tidak menunjukkan efikasinya dalam penurunan PHP diban-
mengurangi kejadian resistensi dan memberi kesempatan per- dingkan dengan pemberian ZDV. Sedangkan penelitian me-
baikan imunitas ibu16,17,19. Pemberian kombinasi ARV mulai ngenai imunisasi pasif dan aktif untuk mencegah PHP sedang
diberikan pada IHDHA yang memiliki CD4 < 500/mm3 atau dilakukan. Pemberian minimal 3 dosis vaksin recombinant
kepadatan virus > 10.000/ml dengan atau tanpa gejala klinis; envelope setiap bulan berturut-turut menunjukkan peningkatan;
sedangkan pemberian ZDV tunggal dapat dilakukan jika CD4 > antibodi pada manusia tanpa efek teratogenik pada binatang ;
500/mm3 dan kepadatan virus 4.000 - 10.000/ml dengan dosis percobaan15,16.
100 mg 5 kali sehari yang dimulai setelah trimester I sampai
masa persalinan15. Pada saat mulai persalinan (kala I), ZDV
diberikan secara intravena 2 mg/kg BB dalam 1 jam, dan Perawatan Antepartum
diteruskan 1 mg/kg BB/jam sampai pengikatan tali pusat bayi; Perawatan antepartum IHDHA ditujukan bukan hanya
kemudian diikuti dengan pemberian ZDV oral pada bayi perawatan rutin saja, melainkan juga strategi pencegahan PHP
setelah berumur 12 jam dengan dosis 2 mg/kg BB/6 jam selama dan pengobatan serta komplikasi-komplikasinya. Setiap
6 minggu. Semua ARV diberikan setelah trimester I (14 kunjungan antepartum diperhatikan masalah psikososial ibu,
minggu umur kehamilan) untuk menghindari beberapa efek gejala dan tanda infeksi HIV serta IO. Pemantauan kesejah-
teratogenik. Namun, jika ibu sedang menjalani pengobatan teraan janin sebaiknya dilakukan secara non invasif, karena
ARV dan kemudian hamil, pengobatan tersebut dilanjutkan pemeriksaan diagnostik invasif meningkatkan risiko PHP,
sebab penghentian, ARVakan mengakibatkan rebound pheno- kecuali atas indikasi yang kuat16,17,19.
menon jumlah virus16,17,19-21. Jumlah CD4 dan kepadatan virus dipantau selama perawat-
Pada beberapa penelitian berskala besar, ZDV terbukti an antepartum setiap trimester atau setiap 4 minggu jika ARV
menurunkan PHP dari 22,6% menjadi 7,6% jika diberikan diberikan guna mengikuti perkembangan penyakit, keberhasil-
selama antepartum, intrapartum dan postpartum. Tidak didapat- an ataupun resistensi ARV serta menentukan langkah lebih
kan perbedaan yang bermakna pada efek samping dan toksisitas lanjut. Di samping itu, pemeriksaan hemoglobin, lekosit dan
ZDV dibandingkan plasebo, kecuali anemia pada bayi yang trombosit juga dilakukan setiap 4 minggu untuk menilai efek
hilang setelah ZDV dihentikan; sedangkan kelainan kongenital penekanan ARV terhadap sumsum tulang16,19.
tidak lebih tinggi dari populasi umum. Oleh sebab itu, ADV
sebaiknya ada pada setiap regimen kombinasi karena terbukti Cara Persalinan
menurunkan PHP16,17,19-21. Pada saat persalinan harus dihindari semua manipulasi
Sekarang sedang dilakukan penelitian penggunaan ZDV yang dapat meningkatka risiko PHP melalui kontak darah atau
oral jangka pendek untuk mencegah PHP. Jika berhasil dan sekret genital ibu; serperti persalinan vagina dengan solusio
dapat dijadikan protokol, diharapkan akan menurunkan kejadi- plasenta, plasenta previa, perdarahan jalan lahir, ketubah pecah
an PHP lebih banyak lagi; mengingat biaya lebih murah, dini serta partus lama. Pada kasus tersebut, mernpercepat kala
kepatuhan lebih tinggi dan jangkauan lebih luas dibandingkan II atau operasi cesarea perlu dilakukan16,17,26-28.
dengan penggunaan ZDV jangka panjang22-24. Penelitian di Swiss, Perancis, London dan daratan Eropa
Pada penelitian di Afrika oleh Wiktor dkk22 dan Dabis lainnya menunjukkan penurunan kejadian PHP 50-87% pada
dkk serta di Thailand oleh Shafter dkk24, pemberian ZDV
23
IHDHA yang menjalani operasi cesarea eletif. Namun,
jangka pendek memperlihatkan penurunan PHP 38-50% walau- sebagian besar subyek penelitian juga menggunakan ZDV
pun air susu ibu masih tetap diberikan. Di sini, ZDV oral baru selama kehamilannya(16,26). Penelitian di Rwanda mendapatkan
diberikan pada umur kehamilan 36 minggu dengan dosis 300 kematian IHDHA post operasi cesarea yang' bermakna diban-
mg 2 kali sehari sampai masa persalinan (kala I), kemudian 300 dingkan dengan yang tidak terinfeksi HIV, walaupun hal ini
mg 3 jam sekali dari kala I sampai kala IV dan diteruskan tidak ditemukan di Eropa(16,17). Sebaliknya, hasil penelitian di
dengan 300 mg 2 kali sehari selama 7 hari postpartum; sedang- Amerika dan Vietnam tidak didapatkan perbedaan bermakna
kan bayi diberikan ZDV oral setelah berumur 12 jam dengan dalam penurunan PHP antara kelompok yang dilakukan operasi
dosis 2 mg/ kg BB/6 jam selama 6 minggu19,22-24. cesarea elekif dengan kelompok yang diberikan profilaksis
ZDV; bahkan untuk menyelamatkan seorang bayi dari PHP;
memerlukan 12-16 operasi cesarea elektif. Oleh karena itu,
Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Oportunistik (IO) operasi cesarea bukan untuk menurunkan kejadian PHP dan
Sesuai CDC dan WHO, pencegahan dan pengobatan IO dilakukan atas indikasi obstetri(16,17,28).
pada IHDHA sama dengan pencegahan dan pengobatan IO
pada ODHA12-14,16-17. Lihat tabel 2.
Air Susu Ibu (ASI)
Air susu ibu selain mengandung faktor imun non spesifik
lmunoterapi dan Imunisasi (secretary leucocyte protease inhibitor, lactoferrin, comple-
Uji tahap I hyperimmune anti HIV Immunoglobulin ment, glycosaminoglycan), epidermal growth factor (EGF) dan
(HIVIG) yang diberikan ke IHDHA meningkatkan titer anti- transforming growth factor (TGF) β, ternyata juga me-
bodi p24 yang tinggi pada bayi baru lahir, sehingga mampu ngandung HIV dan DNA provirus dalam jumlah yang cukup
menekan terjadinya PHP. Namun, penelitian Lambert dkk(25) banyak untuk menambah risiko PHP sampai 14%16-18,29,30.

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 29


Tabel 2. Pengobatan dan Pencegahan Infeksi Oportunistik
Patogen Indikasi Pencegahan Pencegahan Pengobatan
Pneumocytis carinii - CD4< 200/mm3 Pilihan : - kotrimoksasol forte sekali sehari Pilihan : - kotrimoksasol forte 2 tablet 3 kali sehari
- panas > 2 minggu Altematif : - kotrimoksasol forte 3 kali/minggu selama 21 hari
- dapson 50 mg 2 kali/hari atau Altematif : - dapson 10o mg/had + trimetoprim 20
100 mg sekali sehari mg/kg BB/hari selama 21 hari
- dapson 50 mg/hari + pirimetamin - klindamisin 300.600 mg 4 kali sehari
50 mg/minggu+leukovorin + primakuin 15 mg/hari selama 21 hari
25 mg/minggu - atovaquon 1500 mg sekali sehari
- pentamidin aerosol 300 mg/hari selama 21 hari
- atovaquon 1500 mg sekali sehari
Toxoplasma gondii - CD4< 100/mm3 Pilihan : - kotrimoksasol forte sekali sehari Pilihan : - sulfadiazin 1-2mg+pirimetamin
- IgG Ibu hamil : - spiramisin 1 g 3 kali/hari selama 1-2 minggu
toksoplasma ↑ Altematif : - dapson50 mg/hari+pirimetamin Altematif : - klindamisin 300-600 mg 4 kali sehari+
50 mg/minggu + leukovoin primakuin 15 mg/hari selama 21 hari
25 mg/minggu - dapson 50 mg/hari + pirimetamin 50 mg/
- atovaquon 1500 mg sekali sehari minggu + leukovorin 25 mg/minggu
- atovaquon 1500 mg sekali sehari
H. capsulatum - CD4< 100mm3 Pilihan : - itrakonazol 200 mg/hari Amphoterisin 1 g/kg BB/hari secara IV selama 7 hari
- Daerah endemis Altematif : - flukonazol 400 mg/hari dilanjutkan dengan itrakonazol 200 mg/hari
- amphoterisin 1 g/minggu IV
Candida vagina/ - CD4 < 500/mm3 Pilihan : - flukonazol 100-200 mg/hari Pilihan : - flukonazol 100-200 mg/hari
oropharygeal - Sering kambuh Altematif : - itrakonazol 200 mg/hari Altematif : - itrakonazo1200 mg/hari
M. avium complex - CD4< 50/mm3 Pilihan : - azitromisin 1200 mg/minggu Klaritromisin 500 mg 2 kali sehari atau azitromisin 1200
Altematif : - klaritromisin 500 mg 2 kali sehari mg/hari + rifampisin 300 mg sekali sehari + etambutol
- rifampisin 300 mg sekali sehari 15 mg/kg BB/hari
M. tuberculosis - Tes Mantoux > 5 mm Isoniazid 300 mg/hari + piridoksin 50 mg/hari Seperti pasien tuberkulosis paru pada umumnya
- Kontak erat dengan selama 12 bulan (sesuai dengan kriteria WHO)
penderita tb. aktif Rifampisin 600 mg/hari + pirazinamid 15-20
mg/kg BB/hari, jika resisten terhadap isoniazid
Cytomegalovirus - CD4 <50/mm3 Pilihan : gansiklovir 1 g 3 x sehari Pilihan : gansiklovir 1 g 3 x sehari
(CMV) - Antibodi CMV + Altematif : sidofovir 5 mg/kg BB setiap Altematif : foscarnet 90-120 mg/kg BB/hari (IV)
minggu (IV)
Varicella zoster Kontak dengan Ig varicella zoster (VIZIG) 6,25 ml, diberikan Asiklovir 800 mg 5 kali sehari selama 2 minggu
penderita < 96 jam setelah kontak
Herpes simplex Kontak dengan Pilihan : asiklovir 200 mg 3 kali sehari atau Asiklovir 200 mg 3 kali sehari atau 400 mg 2 kali sehari
penderita 400 mg 2 kali sehari
Altematif : famsiklovir 500 mg 2 kali sehari
Salmonella sp. Terdapat bakteri Siprofloksasin 500 mg 2 kali sehari - Siprofloksasin 500 mg 2 kali sehari
salmonela
Virus hepatitis A Anti HAV - Vaksin hepatitis A : 2 dosis -
Virus hepatitis B Anti HBs – dan Vaksin hepatitis b : 3 dosis -
HBs -
Virus influenza Semua ODHA Vaksin influenza inaktivasi, setiap tahun -
menjelang musim influenza
S. pneumoniae Semua ODHA Vaksin pneumokokus 23 valen polisakarida -
0,5 ml IM
Sumber : US Public Health Services. Guidelines for the preventiopn of opportunistic infections in person infected with human immunodeficiency syndome. MMWR
2001; 50 : 322-4812.
Di negara maju, pemberian ASI sudah tidak dianjurkan lainnya merupakan salah satu kelompok risiko tinggi terinfeksi
lagi; narnun di negara berkembang dimana kesehatan sanitasi HIV akibat paparan produk ODHA. Konseling dan edukasi post
lingkungan tak mendukung dan tak cukup tersedianya susu exposure penting, terutama berhubungan dengan psikososial
formula serta masalah ekonomi, maka pemberian ASI eksklusif dan perilaku untuk mencegah penularan sekunder (seperti tidak
masih dapat dilakukan dibandingkan dengan pemberian mixed melakukan hubungan seksual, pemakaian kondom, mencegah
breast feeding7,16,17,29-31. kehamilan, menghindari pemberian ASI) sampai terbukti
Pada penelitian Mofenson dkk31, pemberian ASI 3 bulan sumber infeksi tidak mengandung HIV11,16,32.
pertama menunjukkan penurunan kejadian PHP, karena kan- Uji darah post exposure untuk menilai antibodi HIV atau
dungan EGF dan TGF (3 dalam ASI akan mematangkan per- RNA HIV dilakukan segera setelah terpapar untuk mengetahui
kembangan epitel mukosa yang merupakan barrier penting di status infeksi HIV yang bersangkutan; 6 minggu, 12 minggu
samping faktor imun non spesifik yang mampu bekerja sebagai sampai 6 bulan kemudian, jika hasil uji darah negatif baru
antivirus. disimpulkan tidakterinfeksi HIV1,32.
PENATALAKSANAAN POST EXPOSURE Antiretroviral (ARV),
Konseling, Edukasi dan uji Darah Post Exposure Pencegahan post exposure (PPE) HIV dengan ARV se-
Tenaga medis, paramedis dan pekerja di bidang kesehatan baiknya dimulai secepat mungkin tanpa kecuali (hamil atau

30 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


tidak). Pada percobaan binatang, didapatkan bahwa pemberian
10. Paterson DL, Swindells S, Mohr J, et al. Adherence to protease inhibitors
ARV setelah 36 jam paparan tidak efektif mencegah infeksi therapy and outcomes inpatients with HIV infection. Ann Intern Med
HIV; narnun pada manusia belum ada penelitian mengenai hal 2000;133 : 21-30.
ini16,32. 11. Gilbert DN, Moellering RC, Sande MA. The Stanford Guide to
Saat ini, CDC dan USPHS menganjurkan pemberian kom- Antimicrobial Therapy 31th ed. New York : Antimicrobial Inc; 2001.
12. 2001 USPHS/IDSA. Guidelines for the prevention of opportunistic
binasi ARV untuk PPE, walaupun ZDV sendiri mampu me- infections in person infected with human immunodeficiency syndrome.
nurunkan serokonversi sampai 79% pada penelitian retros- Jul. 2001. p.1-68.
pektif16,32. Kombinasi dasar ARV oral selama 4 minggu yang 13. Centre of Desease Control. Updated guidelines for the use of rifabutin or
diberikan terdiri dari ZDV 300 mg 2 kali sehari, lamivudin 150 rifampin„ for the treatment and prevention of tuberculosis among
HIV-infected patients taking protease inhibitor or non nucleoside reverse
mg 2 kali sehari atau lamivudin 150 mg 2 kali sehari dengan transcriptase inhibitors. MMWR 2000; 49 (RR 10).
stavudin 40 mg 2 kali sehari atau stavudin 40 mg 2 kali sehari 14. American Thoracic Society.Targeted tuberculosis testing and treating off
dengan didanosin 400 mg sekali sehari. Sedangkan kombinasi latent tuberculosis infection.Am J Respir Crit Care Med 2000 ; 217 : 41-7.
lanjut ARV yang diindikasikan untuk kasus HIV positif kelas 1 15. Heyward WL, MacQueen KM, Jaffe HW. Obstacles and progress forward
development of a preventive HIV vaccine. Intern Assoc Phys AIDS Care.
dengan cidera kulit dalam dan HIV Positif kelas 2 terdiri dari 2001.
regimen kombinasi dasar ditambah salah satu dari ARV yang 16. Hueppchen NA, Anderson JR, Fox HE. Human immnunodeficiency virus
disebutkan berturut-turut dengan dosisnya sebagai berikut: infection. In : Cohen WR (Ed). Complications of Pregnancy 5th ed.
infinavir 800 mg 3 kali sehari, nelfinavir 750 mg 3 kali sehari, Philadelphia: Lippicott Williams and Wilkins ; 2000. pp. 677-91.
17. Mofenson LM, Mantyre JA. Advanced and research directions in the
efavirenz 600 mg sekali sehari atau abakavir 300 mg 2 kali prevention of mother-to-child HIV-1 transmission. Lancet 2000 ; 355 :
sehari32. 2237-44.
18. Newel ML, Peckham C. Vertica transmission of HIV in Europe. In :
PENUTUP Jeffries DJ, Hudson CN (Eds). Viral Infections in Obstetrics and
Gynaecology 1st ed. London: Arnold ; 1999. pp. 135-48.
Penurunan angka kesakitan dan kematian HIV/AIDS 19. CDC. Public Health Services task for recommendations for use of
memerlukan penatalaksanaan baku dan menyeluruh pada andretroviral drugs in pregnant women infected with HIV-1 for maternal
ODHA dan IHDHA. Konseling dan edukasi adalah pilar per- health and for reducing perinatal HIV-1 transmission in the us. MMWR
tama dan utama untuk mencapai keberhasilan penatalaksanaan 2001 ; 50 (RR.11).
20. Ditrame ANRS 049 Study Group. 15-month efficacy of maternal oral
HIV/AIDS. Pemberian ARV dianjurkan dalam bentuk kom- zidovudine to decrease vertical transmission of HIV-1 in breastfed
binasi untuk mengurangi resistensi dan mernpercepat penurun- African children. Lancet 1999; 354 : 2050-7.
an kepadatan HIV sampai batas yang tidak terdeteksi. 21. Guay LA, Musoka P, Fleeting T, et. al. Intrapartum and neonatal
Cara persalinan dengan operasi caesarea dilakukan sesusi single-dose nevirapine compared,with zidovudine for prevention of
mother-to-child transmission of HIV- I in Kampala, Uganda : hivnet 012
indikasi obstetri dan bukan untuk menurunkan kejadian PHP. randomised trial. Lancet 1999; 354: 795-802.
Pemberian ASI di negara sedang berkembang masih dianjur- 22. Wiktor SZ, Ekpini E, Karon JM, et al. Short-course oral zidovudine for
kan, karena PHP pada mixed feeding ternyata lebih tinggi. prevention of mother-to-child transmission of HIV-1 in Abidjan, Cote
Pencegahan post exposure sebaiknya dilakukan secepat d’Ivoire : a randomised trial. Lancet1999;353:781-5.
23. Dabis F, Msellati P, Meda N, et al. 6-month efficacy, tolerance, and
mungkin dengan kombinasi ARV sesuai dengan keadaan waktu acceptability of a short regimen of oral zidovudin to reduce vertical
terpapar. transmission of HIV in breastfed children in Cote d’Ivoire and Burkina
Faso : a double-blind placebo-controlled multi-centre trial. Lancet 1999;
353:786-92.
24. Shaffer N, Chuachoowong R, Mock PA, et al. Short-course zidovudine,
for perinatal HIV-1 transmission in Bangkok, Thailand : a randomised
KEPUSTAKAAN
controlled trial. Lancet 1999; 353 : 773-80.
25. Lambert JS, Mofenson LM, Fletcher CV, et al. Safety and pharmaco-
1. Fauci AS, Lane HC. Human immunodeficiency syndrome (HIV): AIDS
kinetics of hyperimmune anti HIV immunoglobulin administered to
and related disorder. In : Braunwald E, Fauci AS, Kasoer DL, et al (Eds).
HIV-infected pregnant women of and their newborns. Lancet 1998;
Harrison's Principles of Internal Medicine. 15th ed. New York: McGraw-
353:1477-82.
Hill; 2001; p.1852-908.
26. The European Mode of Delivery Collaboration. Elective caesarean section
2. CDC. Guidelines for the use of antiretroviral agents in HIV-infected
versus vaginal delivery in preventiop of vertical HIV-1 transmission : a
adults and adolescents. August 2001; p. 1-115.
randomised clinical trial. Lancet 1998; 353 : 1035-39.
3. Djoerban Z. Penatalaksanaan AIDS. Dalam : Setiati S, Sudoyo AW, Alwi
27. Gcubert TA, Reindell D, Kastner Ralph, et A1. Complications after
I, dkk (Eds). Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam 2000.
caesarean section in HIV-1 infected women not taking antiretroviral
Jakarta : Pusat Informasi dan Penerbitan FKUI; 2001; hal. 1-8.
treatment. Lancet 1999; 353 :1612-4.
4. Nes. Upaya turunkan laju infeksi HIV. Kompas 2001 Nov. 16; hal 10
28. Newell ML, Lin HH, Kao JH, et al. Caesarean section and risk of vertical
(Col. l).
transmission of HIV-1 infection. Lancet 1994; 353 : 1464-7.
5. Chippindale S, French L. HIV counselling and the psychosocial ma-
29. Wise J. Breast feeding safer than mixed feeding for babies of HIV
nagement of patients with HIV or AIDS. Br Med J 2001; 322:1533-5.
mothers. Br Med J 2001; 322 : 511-3.
6. Mindel A, Tenant M. Natural history and management of early HIV
30. Coutsoudis A, Pillay K, Spooner E, Kuhn S. Influence of infant-feeding
Infection. Br Med J 2001; 322:1290-3.
pattern on early mother-to-child transmission of HIV-1 in Durban, South
7. Grant AD, Delock KM. HIV Infection and AIDS in the developing world.
Africa : a prospective cohort study Lancet 1999; 354 : 471-6.
Br Med J 2001; 322 :1475-8.
31. Mofenson LM, Lambert JS, Steiehm ER, et al. Risk factors for perinatal
8. Benyamini E, Coico R, Sunshine G. Aquired immunodeficiency
transmission of human immnunodeficiency virus type 1. N Engl J Med
syndrome. In: Benyamini E, Jeffrey DJ (Eds). Immunology A Short
1999; 322 : 385-93.
Course 4th ed. New York : Wiley-Liss; 2000. pp. 361-8.
32. US Departemen of Health and Human Services. Guidelines for the
9. Pillay D. Analysis of prevalence of HIV-1 drug resistance in primary
management of occupational exposure to HBV, HCV and HIV recom-
infection. Br Med J 2001; 322 :1087-8.
mendations for postexposure prophylaxis. MMWR 2001; 50 (RR 11).

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 31


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Efek Toksik
dan Cara Menentukan Toksisitas
Bahan Kimia
Satmoko Wisaksono
Direktorat Pengawasan Nazaba, Ditjen POM, Departemen Kesehatan RI
Jakarta

PENDAHULUAN dengan efek seketika. Namun pemaparan akut selain dapat


Perkembangan produk kimia yang cepat selama satu abad menimbulkan efek akut, juga dapat mengakibatkan penyakit
ini telah berhasil meningkatkan mutu kehidupan. Namun di sisi kronik, sebagai contoh kerusakan otak yang permanen dapat
lain keadaan tersebut menimbulkan kerugian bagi masyarakat disebabkan oleh paparan akut senyawa timah putih trialkil atau
terutama mereka yang secara langsung berhubungan dengan karena keracunan karbon monoksida berat.
bahan kimia. Efek kronik
Diperkirakan paparan bahan kimia di tempat kerja Istilah kronik dapat diartikan sebagai pemaparan berulang
mengakibatkan 4% kematian karena kanker, dan bahkan dapat dengan masa tunda yang lama antara paparan pertama hingga
mencapai 80% untuk jenis kanker tertentu. Sebagian besar timbulnya efek yang merugikan kesehatan.
pekerja dapat menderita berbagai jenis penyakit yang disebab-
kan oleh bahan kimia. Efek jangka panjang akibat polusi bahan Efek akut dan kronik
kimia terhadap makanan dan lingkungan sudah mulai disadari Suatu bahan dapat mempunyai efek akut dan kronik
dan mendapat perhatian. Hal ini penting bagi setiap orang yang sekaligus. Sebagai contoh pemaparan tunggal karbon disulfida
terlibat dalam pembuatan, penggunaan, penyimpanan, peng- dengan konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan hilangnya
angkutan, dan pembuangan bahan kimia untuk menyadari kesadaran (efek akut), tetapi pemaparan berulang tiap hari
bahaya dari bahan-bahan kimia terhadap kesehatan. selama bertahun-tahun dengan konsentrasi yang jauh lebih
rendah yang jika dialami sebagai pemaparan tunggal tidak
EFEK TOKSIK BAHAN KIMIA menimbulkan efek merugikan (efek kronik) dapat mengakibat-
Efek toksik atau toksisitas suatu bahan kimia dapat di- kan kerusakan pada sistem saraf pusat dan tepi, juga jantung.
definisikan sebagai potensi bahan kimia untuk meracuni tubuh
orang yang terpapar. Efek dapat balik (reversible)
Potensi bahan kimia untuk dapat menimbulkan efek negatif Ef'ek yang hilang bila pemaparan berhenti/mereda. Sebagai
terhadap kesehatan tergantung terutama pada toksisitas bahan contoh, dermatitis kontak, nyeri kepala dan mual karena
kimia tersebut, dan besarnya paparan. Toksisitas merupakan terpapar pelarut.
sifat dari bahan kimia itu sendiri, sedangkan paparan tergantung
dari bagaimana bahan itu digunakan, misalnya, apakah bahan Efek tidak dapat balik (irreversible)
dipanaskan, disemprotkan atau dilepaskan ke lingkungan kerja. Efek yang tidak akan hilang atau permanen meskipun
Tetapi dalam menilai bahaya, perlu diperhitungkan juga bahan kimia penyebabnya telah mereda atau hilang. Sebagai
kerentanan orang yang terpapar, yang dipengaruhi oleh antara contoh, penyakit kanker yang disebabkan oleh pemaparan
lain jenis kelamin, umur; status gizi. bahan kimia.
Beberapa konsep telah dikembangkan untuk membantu
menggolongkan efek beracun bahan kimia, sebagai berikut: Efek lokal
Efek berbahaya yang ditimbulkan oleh bahan kimia di
Efek akut bagian permukaan tubuh atau dapat masuk ke dalam tubuh.
Istilah efek akut dapat diartikan sebagai paparan singkat Sebagai contoh, luka bakar pada kulit.

32 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Efek sistemik kembangan janin sehingga bayi lahir dengan bobot yang
Efek suatu bahan kimia pada organ tubuh atau cairan tubuh rendah.
setelah penyerapan atau penetrasi ke dalam organ atau cairan
tubuh. Sebagai contoh, masuknya bahan-bahan kimia seperti EFEK BAHAN KIMIA PADA SISTEM TUBUH
timbal, benzen, kadmium, raksa dan sebagainya dapat menye- Bahan kimia dapat meracuni sel-sel tubuh atau mem-
babkan anemia, gangguan saraf, dan sebagainya. pengaruhi organ tertentu yang mungkin berkaitan dengan sifat
Efek sinergis bahan kimia atau berhubungan dengan tempat bahan kimia
Efek gabungan dari lebih dari satu bahan kimia. Efek memasuki tubuh atau disebut juga organ sasaran.
gabungan ini dapat lebih parah dari efek yang diiniliki oleh Efek racun bahan kimia atas organ-organ tertentu dan sis-
masing-masing bahan kimia. tem tubuh :
Berdasarkan sifat bahayanya, toksisitas dapat digolongkan
sebagai berikut: Paru-paru dan sistem pernafasan
Korosif Efek jangka panjang terutama disebabkan iritasi (menye-
Merusak (membakar) jaringan hidup apabila kontak. Seba- babkan bronkhitis atau pneumonitis)
gai contoh, larutan asam pekat seperti sulfat atau basa seperti Dalam luka bakar, bahan kimia dalam paru-paru yang
soda api dapat menimbulkan luka bakar. dapat menyebabkan udema pulmoner (paru-paru berisi air), dan
dapat berakibat fatal. Sebagian bahan kimia dapat mensen-
Iritan sitisasi atau menimbulkan reaksi alergik dalam saluran nafas
Menimbulkan iritasi setempat atau peradangan pada kulit, yang selanjutnya dapat menimbulkan bunyi sewaktu menarik
hidung, atau jaringan paru. nafas, dan nafas pendek.
Kondisi jangka panjang (kronis) akan terjadi penimbunan
Sensitizer debu bahan kimia pada jaringan paru-paru sehingga akan ter-
Menimbulkan reaksi alergi. Seseorang yang peka terhadap jadi fibrosis atau pneumokoniosis.
bahan kimia akan mengalami reaksi alergi yang berat, sedang
bagi individu yang tidak peka, dosis yang sama tidak akan Hati
membahayakan. Bagi individu yang peka, setiap pemaparan Bahan kimia yang dapat mempengaruhi hati disebut
berikutnya apakah melalui kontak kulit atau inhalasi akan me- hipotoksik. Kebanyakan bahan kimia menggalami metabolisme
nimbulkan risiko kesehatan. dalarn hati dan oleh karenanya maka banyak bahan kimia yang
berpotensi merusak sel-sel hati.
Asfiksian Efek bahan kimia jangka pendek terhadap hati dapat me-
Mengganggu pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh. nyebabkan inflamasi sel-sel (hepatitis kimia), nekrosis (ke-
Sebagai contoh, antara Iain karbon monoksida dan sianida. matian sel), dan penyakit kuning. Sedangkan efek jangka pan-
jang berupa sirosis hati dari kanker hati.
Karsinogen
Penyebab kanker. Ginial dan saluran kencing
Bahan kimia yang dapat merusak ginjal disebut nefro-
Mutagen toksin. Efek bahan kimia terhadap ginjal meliputi gagal ginjal
Dapat menimbulkan kerusakan DNA sel . sekonyong-konyong (gagal ginjal akut), gagal ginjal kronik dan
DNA adalah molekul pembawa informasi genetik yang kanker ginjal atau kanker kandung kemih.
mengendalikan pertumbuhan dan fungsi sel. Kerusakan DNA
dalam sel telur atau sperma manusia dapat menurunkan Sistem syaraf
kesuburan; aborsi spontan, cacad lahir, dan penyakit keturunan. Bahan kimia yang dapat menyerang syaraf disebut neuro-
toksin. Pemaparan terhadap bahan kimia tertentu dapat mem-
Teratogen perlambat fungsi otak. Gejala-gejala yang diperoleh adalah
Suatu bahan kimia yang apabila berada dalam aliran darah mengantuk dari hilangnya kewaspadaan yang akhirnya diikuti
wanita harnil dan menembus plasenta, mempengaruhi per- oleh hilangnya kesadaran karena bahan kimia tersebut menekan
kembangan janin dan menimbulkan kelainan struktur dan sistem syaraf pusat.
fungsional bawaan atau kanker pada anak. Bahan kimia yang dapat meracuni sistem enzim yang
Contoh yang telah diketahui secara luas sebagai teratogen mennuju ke syaraf adalah pestisida.
adalah talidomid, yang pada tahun 1960an telah banyak Akibat dari efek toksik pestisida ini dapat menimbulkan
menyebabkan kasus fokomelia (pengecilan lengan dan tungkai kejang otot dan paralisis (lurnpuh). Di samping itu ada bahan
sedemikian rupa hingga tungkai dan lengan menempel lang- kirnia lain yang dapat secara perlahan meracuni syaraf yang
sung ke tubuh) pada bayi para wanita yang memakan obat menuju tangan dan kaki serta mengakibatkan mati rasa dan
tersebut selama tahap awal kehamilannya. kelelahan.

Fetotoksikan Darah dan sumsum tulang


Suatu bahan kimia yang berpengaruh buruk terhadap per- Sejumlah bahan kimia seperti arsin, benzen dapat rnerusah

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 33


sel-sel darah merah yang menyebabkan anemia hemolitik. konsentrasi mematikan untuk 50% binatang percobaan atau
Bahan kimia lain dapat merusak surnsum tulang dan organ lain disebut LC50.
tempat pembuatan sel-sel darah atau dapat menimbulkan LD50 dan LC50 digunakan secara luas sebagai indeks tok-
kanker darah. sisitas. Kriteria di bawah ini sering dipakai untuk maksud
klasifikasi efek toksik akut pada binatang.
Jantung dan pembuluh darah (sistem kardiovaskuler)
Sejumlah pelarut seperti trikloroetilena dan gas yang dapat Tabel 1. Klasifikasi toksisitas akut pada binatang.
menyebabkan gangguan fatal terhadap ritme jantung. Bahan
LD50 oral LD50 dermal
kimia lain seperti karbon disulfida dapat menyebabkan pening- Mencit mencit atau
LC50 inhalasi mencit
katan penyakit pembuluh darah yang dapat menimbulkan (mg/m3/4 jam)
(mg/kg) kelinci (mg/kg)
serangan jantung.
Berbahaya 200 – 2000 400 – 2000 2000 – 20000
(harmful)
Kulit
Beracun 25 – 200 50 – 400 500 – 2000
Banyak bahan kimia bersifat iritan yang dapat menye- Sangat beracun > 25 < 50 < 500
babkan dermatitis atau dapat menyebabkan sensitisasi kulit dan
alergi.
Bahan kimia lain dapat menimbulkan jerawat, hilangnya Selain itu dengan skala Hodge dan Sterner dapat meng-
pigmen (vitiligo), mengakibatkan kepekaan terhadap sinar klasifikasikan toksisitas akut bahan kimia terhadap manusia.
matahari atau kanker kulit.
Tabel 2. Klasifikasi toksisitas akut pada manusia.

Sistem reproduksi Dosis mungkin mematikan


Banyak bahan kimia bersifat teratogenik dan mutagenik No Peringkat toksisitas Dosis bagi rata-rata orang
terhadap sel kuman dalam percobaan. Disamping itu ada be- dewasa
berapa bahan kimia yang secara langsung dapat mempengaruhi 1 Praktis tidak beracun > 15 g/kg > 1 liter
ovarium dan testis yang mengakibatkan gangguan menstruasi 2 Agak beracun 5 -15 g/kg 0,5 - 1 liter
dan fungsi seksual. 3 Toksisitas sedang 0,5 - 5 g/kg 30 - 50 ml
4 Sangat beracun 50 - 500 mg/kg 3 - 30 ml
5 Luar biasa beracun 5 - 50 mg/kg 7 tetes - 3 ml
Sistem yang lain (extremely toxic)
Bahan kimia dapat pula menyerang sistem kekebalan, 6 Super toksik < 5 mg/kg Dengan indoor (< 7 tetes)
tulang, otot dan kelenjar tertentu seperti kelenjar tiroid.

Cara menentukan toksisitas bahan kimia Dalam menilai risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh
Dalam pengertian umum, toksisitas suatu bahan dapat suatu bahan kimia tidak mungkin hanya berdasarkan atas LD50
didefinisikan sebagai kapasitas bahan untuk mencederai suatu dan LC50. Karena LD50 dan LC50 suatu bahan kimia tidak me-
organisme hidup. nyajikan informasi tentang mekanisme atau type toksisitas.
Pengetahuan mengenai toksisitas suatu bahan kimia di- Suatu bahan kimia atau kemungkinan-kemungkinan efek jang-
kumpulkan dengan mempelajari efek-efek dari: ka panjang atau kronik.
- Pemaparan bahan kimia terhadap binatang percobaan. Jadi LD50 dan LC50 hanya merupakan indeks kasar tok-
- Pemaparan bahan kimia terhadap organisme tingkat rendah sisitas.
seperti bakteri dan kultur sel-sel dari mamalia di laboratorium. Dalam penentuan dosis tetap, berbagai lembaga inter-
- Pemaparan bahan kimia terhadap manusia. nasional saat ini sedang memodifikasi atau mengganti uji LD50
dan LC50 dengan metode yang lebih sederhana, misalnya
Studi terhadap binatang tatacara dosis tetap yang menggunakan lebih sedikit binatang
• Uji toksisitas akut (LD50 dan LC50) percobaan.
Uji standar untuk tosisitas akut (jangka pendek) adalah Tatacara dosis tetap hanya dengan menggunakan jumlah
memberi binatang bahan kimia dengan jumlah yang semakin binatang percobaan yang lebih sedikit dan dalam analisis pe-
meningkat dalam kurun waktu 14 hari hingga binatang per- nilaian toksisitas bahan kimia tanpa harus membiarkan bina-
cobaan tersebut mati. Cara lain adalah dengan menaruh bahan tang mati pada akhir percobaan.
kimia pada kulit binatang hingga suatu reaksi dapat teramati. Dasar pemikirannya adalah menguji bagaimana suatu set
Jumlah bahan kimia yang menyebabkan kematian 50% dosis bahan kimia mempengaruhi sekelompok binatang. Dosis
binatang percobaan dikenal sebagai dosis mematikan bagi 50% didasarkan alas apa yang tidak diketahui mengenai sifat fisika
binatang percobaan atau LD50. Dalarn percobaan dengan LD50 dan kimia bahan yang sedang dinilai.
ini dapat dilakukan secara oral atau dermal tergantung pada
metoda pemaparannya. • Uji iritasi dan korosi
Dosis mematikan untuk inhalasi bahan kimia dalam bentuk Uji iritasi dan korosi memberikan sejumlah informasi khas.
gas atau aerosol juga dapat diuji. Dalarn hal ini konsentrasi gas Bahan kimia yang sedang diuji ditaruh di atas kulit binatang
atau tiap yang membunuh separuh dari binatang dimasukkan percobaan dan kemudian diperiksa selama beberapa hari untuk

34 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


melihat tanda-tanda seperti ruam kulit atau reaksi panas. yang tumbuh secara khusus di laboratorium dan memaparkan-
Pengujian dapat dilakukan pada mata binatang (dikenal nya terhadap bahan kimia yang diuji. Uji tersebut untuk men-
dengan Draize) deteksi mutasi dalam bakteri yaitu untuk uji efek mutagenik.
Terdapat sejumlah uji mutagenik jangka pendek yang lain
• Uji toksisitas sub kronik atau pengujian mutagenitas (mutagenity assay). Uji ini sering-
Secara normal uji toksisitas subkronik memerlukan studi kali dirujuk sebagai uji in vitro.
inhalasi atau penelanan selama 90 hari untuk mengetahui Jadi uji ini dibedakan dengan uji in vivo yang mengguna-
efek-efek spesifik dan nyata dari bahan kimia pada organ dan kan jaringan hidup seperti binatang dan manusia. Banyak bahan
biokimia dari binatang. Pengujian toksisitas sebaiknya dilaku- kimia dapat menyebabkan kanker pada binatang dan mungkin
kan secara berulang-ulang dan diarahkan terutama untuk men- menimbulkan kanker pada manusia bersifat mutagenik.
deteksi efek toksik yang secara jelas bukan akibat dari
pemaparan kulit. • Uji yang herhubungan dengan reproduksi
Pengujian secara kasar hanya berdasarkan pengamatan Uji binatang percobaan untuk memeriksa efek yang me-
abnormalitas secara pengamatan kasar dengan mata telanjang, rugikan dari suatu bahan kimia pada reproduksi memerlukan
tetapi untuk pengujian yang lebih mendalam perlu pengambilan perlakuan pemaparan terhadap seekor atau kedua induk ter-
irisan suatu jaringan dan diperiksa di bawah mikroskop untuk hadap bahan kimia yang sedang diuji sebelum kawin, kemudian
mengetahui terjadi abnormalitas sel-sel dalam organ. Pada diamati efek-efeknya pada setiap keturunannya.
umumnya dalam pengujian perlu pengarnbilan cuplikan darah Kadang-kadang perlakuan paparannya diberikan pada
atau urin secara teratur dari binatang percobaan untuk peme- seekor binatang yang sedang hamil.
riksaan dan analisis. Pengujian-pengujian ini merupakan dasar Efek reproduksi dapat diklasifikasikan dengan hasil-hasil
bagi dosis yang digunakan dalam uji hayati kronik. temuan seperti apakah keturunannya lebih sedikit jumlahnya,
bobot tubuh yang lebih ringan atau dalam beberapa hal meng-
alami kerusakan. Uji rnultigenerasi kadang-kadang diperlukan
• Uji hayati kronik (seumur hidup) untuk mendeteksi efek yang dapat diwariskan bagi generasi
Maksud dari uji hayati kronik (seumur hidup), untuk berikutnya.
menentukan apakah bahan kimia dapat menimbulkan setiap
efek kesehatan yang mungkin memerlukan waktu yang lama • Uji tingkah laku
untuk menimbulkan suatu efek seperti kanker, atau paparan Efek bahan kimia terhadap percobaan tingkah laku bina-
jangka panjang terhadap bahan kimia menimbulkan efek tang percobaan. Misalnya pemberian paparan bahan kimia
kesehatan pada organ seperti ginjal. terhadap hewan percobaan kemudian hewan percobaan di-
Percobaan ini dilakukan dengan memberikan dosis tertentu masukkan dalam kotak maze (kotak dengan jalan ruwet)
bahan kimia terhadap hewan percobaan melalui penelanan atau kemudian diamati tingkah laku hewan percobaan tersebut apa-
inhalasi terhadap bahan kimia yang sedang diuji selama masa kah terjadi perubahan tingkah laku dengan adanya efek bahan
hidupnya. Untuk mencit dapat memakan waktu hingga 2 tahun kimia terhadap otak dan saraf. Namun kerapkali percobaan ini
sedangkan untuk tikus sedikit lebih singkat. Dalam suatu uji menunjukkan efek tidak nyata.
khusus, 50 ekor rnencit atau tikus dari tiap jenis kelamin diberi
perlakuan paparan bahan kimia yang sedang diuji dengan dosis
tinggi tetapi tidak mematikan. Binatang percobaan ini • Studi epidemiologis
dibandingkan dengan binatang sebagai kontrol dalam jumlah Studi epidemiologis menyelidiki kesehatan sekelompok
yang sama dengan jumlah binatang percobaan dalam waktu orang atau menetapkan apakah mereka terpengaruh oleh
yang sama. Binatang kontrol ini serupa dalam segala hal paparan bahan kimia di tempat kerja atau dalam lingkungan
dengan binata.ng percobaan, perbedaannya bahwa binatang umum. Dalam studi ini perlu perbandingan penyakit yang
kontrol tersebut tidak diberi perlakuan pemaparan bahan kimia. timbul akibat bahan kimia pada sekelompok orang yang ter-
Suatu percobaan yang baik yaitu dengan memberikan papar dengan orang-orang yang tidak terpapar dalam kurun
perlakuan pemaparan untuk kedua jenis kelamin terhadap waktu tertentu.
bahan kimia dengan dosis yang berbeda. Dalam suatu per- Dua metode penyelidikan yang paling umum dalam epide-
cobaan efek bahan kimia dapat menggunakan binatang miologi adalah studi kontrol kasus dan studi kohor. Studi
percobaan hingga 500 ekor. kontrol kasus relatif lebih sederhana pelaksanaannya dan peng-
gunaannya sedikit meningkat untuk menyelidiki penyebab
• Uji Mutagenitas jangka pendek penyakit terutama bagi penyakit yang jarang terjadi.
Bakteri dan sel binatang yang tumbuh dalam tabung uji Pada dasarnya metode ini membandingkan orang yang
dari koloni serangga buah-buahan atau serangga lain cocok jatuh sakit atau akibat lainnya dengan suatu kelompok kontrol
untuk penyelidikan yang cepat dan rnurah dalarn usaha me- yang sesuai, yang tidak dipengaruhi oleh penyakit tersebut atau
ngetahui bahan kirnia yang potensial mempunyai efek akibatnya dalarn suatu usaha untuk mengidentifikasi penyebab.
karsinogenik dan mutagenik. Uji yang paling baik dan paling Studi kohor juga disebut sebagai studi lanjutan atau studi
banyak digunakan adalah uji rnutagenitas Salmonella (umum- insiden dengan melekat pada sekelompok penduduk (suatu
nya dikenal sebagai uji Ames). Uji ini membutuhkan bakteri kohor) yang digolongkan dalam sub kelompok berdasarkan

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 35


pemaparan terhadap suatu penyebab penyakit yang potensial KESIMPULAN
atau akibat dari perbedaan dalam paparan (misalnya terhadap Setiap bahan kimia mempunyai efek dan target sasaran
bahan kimia) kemudian diperiksa dan diukur kemudian pen- organ tubuh yang akan rusak baik secara lokal, sistemik, akut,
duduk keseluruhan ditindak lanjuti untuk melihat bagaimana dapat pulih atau tidak dapat pulih.
perkembangan penyakit atau akibat selanjutnya antara kelom- Dalam penentuan toksisitas suatu bahan kimia yang terbaik
pok yang terpapar dan tidak terpapar. Meskipun penyelidikan adalah dengan melakukan studi dengan menggunakan binatang
epidemiologis memberi bukti yang paling dapat dipercaya percobaan karena uji binatang memungkinkan untuk menguji
bahwa suatu bahan kimia tertentu rnempunyai efek merugikan toksisitas suatu bahan kimia sebelum manusia terpapat.
kesehatan pada suatu populasi, narnun penyelidikan semacarn
ini memiliki beberapa kelemahan. Hal ini dikarenakan selain
KEPUSTAKAAN
biaya yang rnahal, juga membutuhkan jumlah pekerja yang
terpapar dalam jumlah besar untuk rnemjamin kesahihan per- 1. IPCS. User's Manual For the IPCS Health and Safety Guides, Published
hitungan-perhitungan statistik. by WHO the International Programme on Chemical Safety. (1996).
2. IPCS. Risk Assessment Training Module. Prepared by The Edinburgh
Di samping itu, studi epidemiologis mungkin tidak dapat Control for Toxicology. (1997).
mendeteksi kasus-kasus mengenai peranan dari kasus satu 3. Budiawan, Franizal Nur. Criteria for Prioritization of Risk Assessment,
bahan kimia tertentu ketika para pekerja terpapar terhadap Training Course on Risk Assessment, WHO. (1998).
campuran bahan kimia. Oleh karena informasi yang diberikan 4. Atmawidjaja Sudana. Toksikologi Bahan Berbahaya, Workshop Sentra
Informasi Keracunan Propinsi Jawa Barat, Kanwil Kesehatan Departemen
dalam studi epidemiologis sangat terbatas, maka tindakan pen-
Kesehatan. (1997).
cegahan hendaknya dianjurkan berdasarkan atas studi binatang. 5. Dempsey JL. Guidelines to The Risk Assessment of Public Health
Teori dengan menggunakan uji binatang adalah bahwa manusia Aspects of Human Risk From Exposure to Chemicals, Training Course on
dan binatang seperti mencit, tikus atau anjing memiliki bio- Risk Assessment, WHO. (1998).
6. Dempsey JL. Hazard Assessment and Dose Response, Training Course on
kimia dasar dan proses-proses hayati yang sama. Risk Assessment, WHO. (1998)
Uji binatang memungkinkan untuk menguji toksisitas suatu 7. Dempsey JL. Exposure Assessment and Risk Characterization, Training
bahan kimia sebelum manusia terpapar. Course on Risk Assessment, WHO. (1998).

36 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Marine Toxin
Saxitoxin

Winarti Andayani*, Betty Marita Subrata**, dan Esther Budiman***


*Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Atom Nasional, Jakarta
** Staf Pengajar Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor
*** Mahasiswa Program Pasca Sarjana Kimia, Universitas Indonesia, Jakarta

PENDAHULUAN
Pada umumnya orang berpikir dengan memakan seafood, Toxins
mereka akan mendapatkan keuntungan protein yang tinggi,
Marine dinoflagelates
asam lemak omega-3 dan mineral, yang disertai dengan kan- (Also bacteria)
dungan lemak dan kalori yang rendah. Namun mereka menge-
tahui bahwa seafood juga bisa mengakibatkan keracunan
Toxins
disebabkan oleh lingkungan yang tercemar. Tercemarnya
seafood dapat terjadi secara alami (mikroorganisme dan toksin)
maupun oleh kontaminasi bahan kirnia beracun. Food chain
Marine toksin (toksin yang terdapat di laut) sudah lama di-
identifikasi di berbagai tempat antara lain Jepang, Filipina, dan Fish Shellfish
Indonesia. Toksin ini sangat berbahaya dan tidak dapat rusak
oleh panas dan pemrosesan. Mereka berasal dari alam dan aki- Ciguatera Paralytic shellfish poisoning
bat kegiatan manusia seperti limbah industri dan kebakaran Palytoxin Neurotoxic shellfish poisoning
Puffer fish poisoning Diarrhetic shellfish poisoning
hutan, namun yang terpenting dari fitoplankton. Hampir semua Amnesic shellfish poisoning
seafood bisa terkontaminasi oleh toksin dan dapat menim- (Diatoms)
bulkan sindrom yang berbeda-beda (Gambar 1).
Toksin yang berasal dari plankton ditemukan juga dalam
kerang-kerangan. Hal ini karena kerang mempunyai sifat Gambar 1. Beberapa Sindrom Akibat Keracunan Seafood(1)
penyaring makanan (filter feeding shellfish). Jumlah toksin
akan berlipat ganda sesuai dengan jumlah fitoplankton toksik juga memproduksi komponen-komponen baru yang menunjuk-
yang dimakannya. Toksin ini dapat menyebabkan paralytic, kan aktivitas biologis yang kuat. Komponen-komponen ini di-
neurotoxic, amnesic dan diarrhetic shellfish poisoning (PSP, anggap sebagai metabolik sekunder, yaitu komponen yang
NSP, ASP, dan DSP), disamping itu mungkin juga dapat tidak esensial sebagai dasar metabolisme dan pertumbuhan
memacu pertumbuhan tumor. Paralytic Shellfish Poisoning pada organisme, dan terdapat dalam kelompok taksonomi yang
disebabkan oleh saxitoxin yang tidak berpengaruh pada tubuh terbatas. Biosintesis metabolit sekunder umum terjadi dalam
kerang karena sudah kebal terhadap kondisi demikian setelah bakteri seperti dalam mikroba eukariotik dan tanaman.
lama berhubungan dengan toksin tersebut, tetapi dapat Dari banyak metabolit sekunder algae yang telah di-
berakibat kegagalan pernapasan yang fatal bagi manusia. identifikasi, beberapa di antaranya merupakan toksin kuat yang
bertanggung jawab terhadap sejumlah penyakit pada manusia,
ketidaknormalan dan kematian hewan mamalia dan burung,
SAXITOXIN serta kematian ikan. Toksin yang terutama berarti bagi
Mikroalgae adalah produsen utama yang menyusun dasar kesehatan manusia berasal dari 3 kelas algae bersel satu, yaitu
jaringan makanan laut dan air tawar. Banyak mikroalgae yang dinoflagelata, diatoms dan cyanobacteria. Dinoflagelata mem-

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 37


punyai jaringan yang luas, namun demikian hanya beberapa meningkatnya kesuburan suatu perairan. Red tide yang ber-
lusin spesies, dari beberapa ribu spesies dinoflagelata yang dampak merugikan disebut Harmful Algal Bloom (HAB).
diketahui, kelihatan bersifat toksigenik. Pada diatoms, genus Saxitoxin berupa cairan tidak berwarna dengan bau me-
tunggal, pseudo-nitschia, menghasilkan toksin yang memiliki nyengat (seperi asam cuka), dan mempunyai berat jenis 1,0
pengaruh kuat terhadap kesehatan manusia, sebaliknya pada (g/mL) Saxitoxin bersifat racun dan menyebabkan iritasi apa-
cyanobacteria hanya beberapa yang teridentifikasi menghasil- bila kontak dengan kulit, mata, pernafasan dan mulut. Senyawa
kan toksin. ini mempunyai nilai LD50 sebesar 263 g/kg bobot badan (oral
Toksin algae terdiri dari bermacam-macam berdasarkan mencit).
struktur dna fungsinya dan banyak yang merupakan turunan Saxitoxin mempunyai sifat fisik larut dalam air dan metil
dari jalur biosintesis yang unik. Misalnya dinoflagelata, men- alkohol, sedikit larut dalam etil alkohol dan asam asetat tetapi
sintesis semacam toksin polieter yang terbagi atas dua grup tidak larut dalam pelarut organik (non polar). Senyawa ini
struktural linier dan gabungan (seperti tangga). Toksin algae mudah terhidrolisis dalam larutan basa dan toksinnya tidak
yang mempunyai pengaruh kuat terhadap kesehatan manusia aktif setelah dididihkan selama 3 sampai dengan 4 jam pada pH
mungkin dikategorikan sebagai neurotoksin atau hepatotoksin. 3. Racun PSP tidak dapat dihilangkan dari kerang-kerangan
Neurotoksisitas dari toksin algae diperantarai oleh bermacam- baik melalui proses pemanasan maupun hidrolisis.
macam interaksi yang sangat spesifik dengan saluran-saluran Struktur kristal dari komponen induk saxitoxin mula-mula
ion yang terlibat dalam neurotransmisi. dilukiskan oleh Schantz dkk yang dapat dilihat pada Gambar
Saxitoxin dihasilkan oleh beberapa spesies dinoflagelata(2), 2.
antara lain Alexandrium catenella, Alexandrium minutum, Pada Gambar 2 terlihat bahwa struktur dari congener
Alexandrium tamarense, Gymnodium catenatum, dan Pyrodi- saxitoxin bervariasi, yang dibedakan oleh kombinasi substitusi
nium bahamense var. compressum (Tabel 1). Beberapa spesies OH dan sulfat pada 4 sisi dalam molekul (Rl-4). Berdasarkan
dari genus Alexandrium, antara lain A. cohorticula dan A. substitusi pada R4, saxitoxin dapat dibagi atas 4 kelompok,
tamayavanichi, masih belum dapat dipastikan toksisitasnya yaitu toksin karbamat, sulfo-karbamoil, dekarbamoil dan de-
sehingga keberadaannya perlu diwaspadai. Ledakan populasi oksikarbamoil. Adanya perbedaan substituen pada R4
(blooming) dari spesies-spesies tersebut di atas menyebabkan
perubahan warna air laut dari biru-biru menjadi merah
kecoklatan. Perubahan warna air laut ini umumnya dikenal
sebagai fenomena red tide. Fenomena red tide dapat dikaitkan
dengan beberapa fenomena alam seperti El Nino, yang ikut
menjadi penyebab red tide blooms di wilayah Indonesia.
Diperkirakan awal musim hujan merupakan masa-masa
terjadinya blooms dari spesies-spesies berbahaya yang ber-
tujuan untuk mengambil makanan dari daratan. Namun tidak
semua gejala red tide menyebabkan dampak negatif, bahkan
umumnya red tide terjadi sebagai tanda
STX H H H OCONH2 2483
Tabel 1. Plankton penghasil PSP(2)
Neo STX OH H H OCONH2 2295
GTX1 OH OSO3- H OCONH2 2468
Spesies Areas PSP Components Carbamate GTX2 H OSO3- H OCONH2 892
GTX3 H H OSO3- OCONH2 1584
Alexandrium Pacific coasts-California, British GTXs, STXs GTX4 OH H OSO3- OCONH2 1803
catenella Columbia, Alaska, Japan,
Venezuela, GTX5 (B1) H H H OCONHSO3- 160
Chile GTX6 (B2) OH H H OCONHSO3- -
A. tamarense North Atlantic coasts-New GTXs, STXs C1 H OSO3- H OCONHSO3- 15
England, Canada, Denmark, W. Sulfocarbamoyl C2 H H OSO3- OCONHSO3- 239
Germany, Holland, Norway, C3 OH OSO3- H OCONHSO3- 33
Japan C4 OH H OSO3- OCONHSO3- 143
A. acatenella British Columbia unknown
A. phoneus North Sea unknown dcSTX H H H OH 1274
A. cohorticula Gulf of Thai GTXs dcNeoSTX OH H H OH -
Pyrodinium Brunei, Papua New Guinea unknow dcGTX1 OH OSO3- H OH -
bahamense dcGTX2 H OSO3- H OH 1617
P. bahamense var. Palau Island GTXs, STXs dcGTX3 H H OSO3- OH 1872
compressa dcGTX4 OH H OSO3- OH -
Gymnodinium Tasman Sea, Japan PXs, GTXs
calenatum
Cochlodinium sp. Japan Zn-bound PXs doSTX H H H H -
Aphanizomenon New England (lakes) STXs Deoxydecarbamoyl doGTX2 H H OSO3- H -
flan-aquae doGTX H OSO3- H H -
Gambar 2. Struktur Saxitoxin dan Tosisitas Relatif dari PSP (van Dolah,
in press)

38 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


mengakibatkan perubahan yang besar pada sifat toksisitasnya. beberapa perairan, seperti Teluk Kao, Halmahera, Teluk
Toksin karbamat adalah yang paling kuat sifat toksisitasnya Ambon, Teluk Peru, perairan sekitar Biak, Teluk Jakarta, dan
(892-2483 mouse unit (MU) /µmol). Toksin dekarbamoil mem- Selat Bangka. Namun sampai seat ini masalah PSP hanya
punyai potensi di tengah-tengah yaitu 1274-1872 MU/µmol dan dijumpai di perairan Teluk Kao dan Nunukan. Tempat penye-
toksin sulfo karbamoil merupakan toksin yang paling lemah baran plankton penghasil PSP dapat dilihat pada Gambar 3.
(15-239 MU/µnol). Nilai toksisitas ditentukan dalam satuan
Mouse Unit (MU), dimana 1 MU sama dengan jumlah toksin
yang dibutuhkan untuk membunuh seekor mencit seberat 20 g
dalam 15 menit.

PARALYTIC SHELLFISH POISONING (PSP)


Seafood yang telah terkontaminasi oleh saxitoxin apabila
dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan sindrom yang
disebut Paralytic Shellfish Poisoning. Gejala utama dari kera-
cunan saxitoxin adalah kelumpuhan (paralysis) pada otot,
selain otot jantung (3). Penderita mula-mula akan merasakan
kesemutan dan mati rasa pada bibir yang menjalar ke seluruh
mulut dan leher. Gejala selanjutnya terasa pada ujung jari
tangan dan kaki yang nyeri seperti ditusuk-tusuk, pusing, mual,
muntah dan kejang pada otot perut, kesukaran bernafas dan
akhirnya berhenti bernafas, tetapi jantung masih tetap ber-
denyut. Bila tidak ditolong maka penderita akan meninggal
dalam waktu 24 jam. Pertolongan hanya dapat dilakukan
dengan cara menguras isi perut dan memberikan pernafasan Gambar 3. Tempat penyebaran plankton penghasil PSP(4).
buatan.
Pada suatu penelitian sampel klinis dari terjangkitnya PSP Gejala PSP yang muncul di Jepang, teramati di Barat Daya
di Alaska tahun 1994, pembuangan saxitoxin dari darah manu- kepulauan Jepang. Terdapat paling sedikit 15 orang meninggal
sia berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam, juga pada akibat mengkonsumsi kepiting selama 1909-1988. Selama 20
pasien yang mengalami kelumpuhan pernafasan dan dibantu tahun (1972 sampai dengan 1992), lebih dari 90% makanan
dengan bantuan pernafasan. Pembuangan ini sebagian besar yang terkontaminasi oleh saxitoxin berakibat fatal. Jumlah kor-
melalui urin. Saat ini masih belum tersedia penangkal untuk ban mencapai 11.157 orang, dengan jumlah korban yang me-
PSP Antibodi monoklonal anti saxitoxin yang diuji secara in ninggal sebanyak 271 orang.
vitro dan in vivo menunjukkan perlindungan terhadap terikat- Gejala PSP lainnya muncul di Taiwan bagian utara(5).
nya saxitoxin dan pengurangan gerakan di sekeliling saraf aki- Mereka melakukan penelitian di perairan Ilan County di Taipeh
bat saxitoxin pada saraf mencit, diduga antibodi mungkin ber- dari bulan November 1996 sampai dengan Oktober 1997,
potensi menyediakan reagen yang berguna untuk perlindungan ternyata spesies Puffer takifugu rupripes telah terkontaminasi
terhadap toksisitas secara in vivo. Sebagai tambahan, peng- oleh saxitoxin.
halang saluran K, 4-aminoantipirin, baru-baru ini menunjukkan Di Indonesia PSP umumnya terjadi di perairan Teluk Kao,
pembalikan efek secara signifikan pada serangan saxitoxin Halmahera, Maluku. Di perairan sekitar Larantuka-Flores
dalarn mencit, mungkin hal ini berguna sebagai penangkal bagi Timor, gejala keracunan PSP telah tercatat semenjak tahun
PSP. 1959 dengan korban tiga orang meninggal dan lima orang
mengalami kelumpuhan setelah memakan ikan laut. Kejadian
PENYEBARAN PLANKTON PENGHASIL PSP ini berulang pada tahun 1983, 1985, 1992, dan terakhir tahun
Penyebaran dari mikroalgae dapat terjadi mengikuti bebe- 1997. Semua musibah terjadi pada awal musim penghujan,
rapa pola, baik alami maupun karena kegiatan manusia. Dengan sekitar bulan November-Desember. Musibah terparah terjadi
demikian mikroalgae tersebut dapat terbawa oleh arus ke arah pada tahun 1983 dengan korban empat orang meninggal dunia
tertentu dan apabila kondisinya sesuai, berkembang dengan dan 236 orang mengalami kelumpuhan. Kejadian di Flores
baik. Dengan perantaraan arus inilah umumnya mikroalgae me- Timor ini agak menyimpang dari kebiasaan, karena korban
nyebar. jatuh setelah memakan ikan dan bukan kerang. Selain itu
Di Jepang Alexandrium catenella pertama kali didapatkan sampai sekarang belum dapat ditentukan spesies mikroalgae
sebagai penghasil PSP di Owase Bay. Survey lain menunjukkan yang menghasilkan toksin PSP. Kesimpulan terjadinya kera-
bahwa spesies plankton ini secara luas terdistribusi di sebagian cunan PSP hanya didasarkan pada gejala klinis penderita.
besar bagian utara sampai bagian selatan Jepang(2). Pyrodinium Lokasi lain di Indonesia yang mengalami kejadian PSP
bahamense var. compressum merupakan spesies utama penye- tercatat di Kalimantan Timur, tepatnya di perairan Nunukan
bab PSP di perairan Indo-Pasifik, seperti di Papua Nugini, dan Pulau Sebatik sebelah selatan, suatu pulau yang berbatasan
Sabah, Brunei Darussalam, Filipina, Sarawak dan Semenanjung dengan Sabah. Kejadiannya berlangsung pada tahun 1988 se-
Malaysia. Di Indonesia spesies ini sudah diidentifikasi dari telah orang mengkonsumsi sejenis kerang, Merethrix merethrix

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 39


(kerang tahu). Dua jam setelah memakan kerang, sebanyak 68 konsumsi 5.000-20.000 MU toksin (0,9-3,6 mg).
orang jatuh sakit dengan gejala PSP dan akhirnya 2 orang
meniggal dunia.
KEPUSTAKAAN
MEKANISME SAXITOXIN DI DALAM TUBUH 1. Tucker BW. Overview of Current Seafood Nutritional Issues : Formation
Berdasarkan aktivitas tiap molar senyawa, ternyata of Potentially Toxic Products. In : Seafood safety, Proccesing, and
saxitoxin paling aktif dalam menghambat (blocking) saluran- Biotechnology. Shahidi F, Jones Y, and DD. Kitts (eds). A Technomic
saluran. dari susunan saraf den membran-membran sel jika Publishing Co. NY 1997
2. Takashi M. Recent Studies on Marine Toxins. Proceeding Fourth
dibandingkan dengan senyawa-senyawa derivatnya yang lain. LIPI-JSPS Joint Seminar on marine Sciences. Jakarta 1994; Hal 183-193.
Skema tahapan pengikatan saxitoxin terhadap saluran 3. Hashimoto Y. Marine Toxins and Other Bioactive Marine Metabolites.
natrium afinitas tinggi dapat dilihat pada Gambar 4, yang Japan Scientific Societies Press. Tokyo 1977.
menunjukkan bahwa ikatan ionik dari dari 7,8,9-guanidium ter- 4. Van Dolah FM. Diversity of marine and Freshwater Algal Toxins. In
Seafood Toxicity. L. Botana (ed). Marcel Dekker. NY (in press)
hadap gugus anionik dari reseptor (A, B) menyebabkan 5. Lin, SJ. Chai, T.J. Jong SS. and Deng Fwu Hwang. Toxicity of the Puffer
dehidrasi gemdiol pada posisi C-12, menghasilkan suatu keton Takifugu Rubripes Cultured in Northern Taiwan. Fisheries Science 1998;
(Cl) yang terdapat dalam keadaan kesetimbangan yang cepat 64 (5) : 766-770.
dengan karbokation (C2). Ikatan kedua berupa ikatan kovalen 6. Kao YC and SR Levinson (eds). Tterodotoxin, Saxitoxin, and The
Molecular Biology of The Sodium Channel. The New York Academy of
yang terbentuk di antara reseptor den C-12 (D). Sciences. NY 1999.
Saxitoxin terikat dengan afinitas yang kuat pada reseptor 7. AOAC Official Methods of Analysis Supplement. Natural Toxins 1995.
asetilkolin di saluran Natrium sehingga menghambat pem- Chapter 49 : 46 B-48.
bukaan saluran. Polaritas molekul saxitoxin sebagian besar 8. International Atomic Energy Agency. Regional Training Workshop on
Receptor Binding Assay Techniques for Harmful Algal Bloom Toxins
menghambatnya untuk melintasi penghalang darah otak, karena Quantification. Philippines 1999.
itu sisi utama tempat aksi saxitoxin pada manusia adalah
kemungkinan besar pada persimpangan otot saraf. Hal ini
LAMPIRAN 1.
sesuai dengan cepatnya serangan (kurang dari satu jam) dari
ANALISIS PSP DENGAN METODE BIOASSAY(7)
gejala yang klasik untuk PSP termasuk perasaan geli dan mati Bahan
rasa pada daerah-daerah perioral dan kaki tangan, kehilangan 1. Larutan standar induk PSP 100 µg/mL (dalam alkohol yang telah
kontrol motorik, perasaan mengantuk, berbicara tidak jelas, dan ditambah 20% asam), larutan ini stabil dalam tempat dingin (3-4°C).
pada kasus dengan dosis tinggi, terjadi kelumpuhan pernafasan 2. Larutan standar kerja PSP 1 µg/mL, dibuat dengan cara melarutkan 1 mL
larutan standar induk dalam 100 mL aquades, larutan stabil dalam beberapa
(sulit bernapas). Dosis letal untuk manusia adalah 1 - 4 mg minggu pada 3-4°C.
saxitoxin ekuivalen. Gejala klinis PSP terjadi bila kurang lebih 3. Mencit sehat berukuran 19-21 g. Jika ukuran mencit < 19 g atau > 21 g
2000 MU (0,72 mg) termakan, dan kasus serius melibatkan maka digunakan faktor koreksi untuk memperoleh waktu kematian yang benar.

Gambar 4. Tahapan Pengikatan Saxitoxin terhadap Saluran Natrium(6)

40 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Pada analisis PSP mencit yang digunakan tidak boleh berukuran > 23 g, dan 2. Pipet multi channel berukuran 5 – 200 µL.
tidak boleh digunakan berulang. 3. Plate mikrotiter dengan 96 lubang
4. Tabung sentrifugasi 15 dan 30 mL
Standarisasi Bioassay 5. Vortex
1. Sepuluh (10) mL larutan standar 1 µg/mL diencerkan dengan musing-
masing 10, 15, 20, 25, dan 30 mL aquades dan pH dikontrol antara 2-4. Bahan Kimia
Masing-masing 1 mL larutan disuntikkan secara intraperitoneal ke beberapa 1. [3H] STX diasetat
ekor mencit dan kemudian dipilih larutan dengan konsentrasi yang memberikan 2. STX dihidroksi HCl
waktu kematian (death time) antara 5-7 menit. (Lihat halaman berikutnya)
2. Dari larutan dengan konsentrasi yang terpilih, masing-masing dibuat 3
ulangan dan disuntikkan 1 mL larutan secara intraperitoneal ke masing-masing LAMPIRAN 2.
10 ekor mencit dan dicatat death time-nya.
3. Apabila ketiga ulangan dari sebuah larutan dengan konsentrasi yang Tabel Sommer (AOAC,1995)
memberikan median death time lebih kecil dari 5 menit atau lebih besar 7
menit, maka hasil dari konsentrasi ini diabaikan. Sebaliknya, apabila salah satu DT MU DT MU DT MU DT MU
atau lebih dari sebuah larutan dengan konsentrasi yang memberikan median
death time antara 5 - 7 menit, maka hasil ini digunakan untuk perhitungan lebih 1.00 100 3.00 3.70 5.00 1,92 9.00 1,16
lanjut termasuk ulangan yang mungkin memberikan median death time lebih 1.10 66,2 3.05 3,57 5.05 1,89 9.30 1,13
kecil dari 5 menit atau lebih besar 7 menit. 1.15 38,3 3.10 3,43 5.10 1,86 10.00 1,11
4. Perhitungan nilai faktor koreksi (FK), nilai MU/ml ditentukan dari 1.20 26,4 3.15 3,31 5.15 1,83 10.00 1,09
median death time konsentrasi terpilih dengan menggunakan Tabel Sommer 1.25 20,7 3.20 3,19 5.20 1,80 11.00 1.075
yaitu hubungan antara death time terhadap MU untuk PSP (Lampiran 1). FK 1.30 16,5 3.25 3,08 5.30 1,74 11.30 1.06
dihitung dengan cara membagi konsentrasi terpilih (µg/mL) dengan nilai 1.35 13,9 3.3e 2,98 5,40 1,69 12.00 1.05
MU/ml. Nilai rata-rata FK yang diperoleh digunakan sebagai FK dalam analisis 1.40 11,9 3.35 2,88 5,45 1,67 13.00 1.03
sampel. 1.45 10,4 3 40 2,79 5.50 1,64 14.00 1.015
1.50 9,33 315 2,71 6.00 1,60 15.00 1.000
Persiapan Sampel 1.55 8,42 3.50 2,63 6.15 1,54 16.00 0,99
Bagian luar kerang-kerangan dicuci dengan air segar, kemudian dibuka 2.00 7,67 3.55 2,56 6.30 1,48 17.00 0,98
dengan alat khusus pemotong kerang, selanjutnya bagian dalam dibersihkan 2.05 7,04 4.00 2,50 6.45 1,43 18.00 0,972
dengan air bersih untuk menghilangkan pasir atau zat-zat asing lainnya. Bagian 2.10 6,52 4.05 2,44 7.00 1,39 19.00 0,965
daging (100 -150 g) diambil dan dikumpulkan (hindari penggunaan pemanasan 2.15 6,06 4.10 2,38 7.15 1,35 20.00 0,96
atau anestetik sebelum membuka kulit dan dilarang memotong atau merusak 2.20 5,66 4.15 2,32 7.30 1,31 21.00 0,954
badan pada tahapan ini). 2.25 5,32 4.20 2,26 7.45 1,28 22.00 0,948
2.30 5,00 4.25 2,21 8.00 1,25 23.00 0,942
Ekstraksi Sampel 2.35 4,73 4.30 2,16 8.15 1,22 24.00 0,937
Sampel sebanyak 100 gram ditambah 100 mL 0,1 N HCl, diaduk dengan 2.40 4,48 4.35 2,12 . 8.30 1,20 25.00 0,934
cepat dan diperiksa pH nya, jika perlu pH ditepatkan < 4. Campuran dipanaskan 2.45 4,26 4.40 2,08 8.45 1,18 30.00 0,917
dan dididihkan selama 5 menit, kemudian didinginkan pada suhu kamar. 2.50 4,06 4.45 2,04 40.00 0,898
Campuran yang sudah dingin ditepatkan pH nya pada pH 2 - 4 dengan 2.55 3,88 4.50 2,00 60.00 0,875
penambahan 5 N HCl atau 0,1 N NaOH setetes demi setetes sambil tetap 4.55 1,96
diaduk. Sampel ditepatkan di dalam gelas piala sampai homogen atau jika
diperlukan sampel disentrifugasi selama 5 menit pada 3000 rpm kemudian
Keterangan :
disaring melalui kertas saring. Filtrat diambil untuk pengujian pada mencit.
DT : death time dalam mencit
MU : mouse unit
Pengujian Mencit
Setiap mencit disuntik secara intraperitoneal dengan 1 mL ekstrak. Waktu
suntikan dicatat dan mencit diamati dengan hati-hati untuk mengetahui death
LAMPIRAN 3.
time nya yang ditunjukkan oleh hembusan nafas terakhir. Satu mencit boleh
digunakan untuk penentuan awal, tetapi pengujian menggunakan 2 atau 3
Tabel Sommer (AOAC, 1995)
mencit lebih baik. Jika death time dari beberapa mencit < 5 menit, maka perlu
dibuat pengenceran sampel untuk memperoleh death time 5 - 7 menit. Jika
death time dari 1 atau 2 mencit yang disuntik dengan sampel yang tidak WM MU WM MU
diencerkan > 7 menit, maka paling sedikit 3 mencit harus disuntik untuk
memastikan toksisitas dari sampel. Jika pengenceran besar diperlukan, maka 10 0,50 17 0,88
pH sampel harus ditepatkan lagi antara 2 - 4. Sebanyak 3 mencit disuntik 10,5 0,53 17,5 0,905
dengan larutan yang sudah diencerkan sampai memberikan death time 5 - 7 11 0,56 18 0,93
menit. 11,5 0,59 18,5 0,95
12. 0,62 19 0,97
Penghitungan Toksisitas 12,5 0,65 19,5 0,985
Waktu death time ditentukan, termasuk yang selamat, dan dari Tabel 13 0,675 20 1,000
Sommer ditentukan bilangan MU. Jika beret mencit yang diuji < 19 g atau > 21 13,5 0,70 20,5 1,015
g, maka dibuat FK untuk setiap mencit dengan mengalikan MU terhadap death 14 0,73 21 1,03
time mencit. Nilai MU diubah ke µg racun/mL dengan mengalikan FK. 14,5 0,76 21,5 1,04
15 0,785 22 1,05
µg racun/100 g daging = (µg/mL) x faktor pengenceran x 200 15,5 0,81 22,5 1,06
Nilai > 80 g/100 g merupakan indikasi bahwa sampel yang diuji sangat racun 16 0,84 23 1,07
dan tidak aman untuk dikonsumsi. 16,5 0,86 - -

ANALISIS PSP DENGAN METODE SAXITOXIN BERTANDA(8)


Keterangan :
Peralatan WM : berat mencit (gram)
1. Mikropipet berukuran 1 – 1000 µL MU : mouse unit

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 41


(Lanjutan Lampiran 1) pada 4°C selama 1 jam. Toksin yang tidak terikat oleh jaringan dihilangkan
3. STX binding buffer =75 mM HEPES + 140 mM NaCI buffer pH 7,5 dengan cara pencucian menggunakan buffer yang dilanjutkan dengan aseton,
4. Rat brain synaptosome kemudian disaring.
6. Masing-masing residu dimasukkan ke dalam vial yang telah berisi 1 mL
Cara Kerja larutan scintilator dan di-count,dengan alat scintillator counter untuk
1. Pengenceran larutan baku [3H] STX dalam tabung 15 mL, 3µL [3H] STX memperoleh total count (cpm).
3,8 mL STX binding buffer, 35 µL [3H] STX yang telah diencerkan
dimasukkan dalam vial dengan scintilant dan di-counting dengan alat Cara Perhitungan
scintilation counter untuk memperoleh total count (cpm). Total count dari larutan standar STX dibuat kurva kalibrasi, log STX
2. Persiapan kurva standar STX menggunakan STX dihidroksi HCl dalam terhadap total count (cpm). Dengan mengetahui nilai total count sampel, maka
tabung dengan berbagai konsentrasi, yaitu 6 x 106-6; 6 x 10-7; 6 x 10-8; 6 x 10-9; konsentrasi STX dalarn sampel dapat dihitung. Konsentrasi sampel dihitung
6 x 10-10 M. dalam µg STX equivalen/100 shellfish, menggunakan rumus sebagai berikut :
3. Pengenceran rat brain synaptosome murni dalam STX binding bufer.
Jaringan dalam larutan 2 mL diencerkan dengan perbandingan 2 : 10 (2 mL nM equiv STX dalam ekstrak = nM equiv STX x pengenceran sampel x (V
jaringan + 18 mL buffer) dalam tabung sentrifugasi 50 mL, sampai didapatkan total/ 35 µL)
konsentrasi akhir 0,5 – 1,0 mg/mL.
4. Ekstrak sampel kerang yang diduga terkontaminasi STX diencerkan µg STX equivalen/mL = nM equiv STX dalam ekstrak x (1 L/1000 mL) x
dengan binding buffer. (372 ng/mmol) x 1 µg / 1000 ng)
5. Masing-masing sebanyak 35 µL sampel dan standar STX dimasukkan ke
dalam plate mikrotiter, ditambah dengan 35 µL, [3H] STX dan 140 µL rat µg STX equivalent/100 g shellfish = µg STX eqaivalen/mL x (mL ekstrak
brain sinaptosome yang telah diencerkan. Campuran ditutup dan diinkubasi / g shellfish) x 100

42 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


HASIL PENELITIAN

Bumbu Alami sebagai Penyedap,


Pengawet dan Penghambat Cemaran
Aflatoksin pada Sambal Kacang
Nunik Siti Aminah, Supraptini, Enny W.L., Inswiasri, Suyitno, Sukijo
Pusat Penelitian dan Pengembangan Ekologi Kesehatan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta

ABSTRAK

Cemaran jamur pada bahan makanan dapat menyebabkan timbulnya afla-


toksin. Aflatoksin merupakan toksin yang dihasilkan jamur Aspergillus ter-
utama A. flavus dan Penicillium sp. yang banyak mencemari bahan makanan,
terutama kacang tanah kualitas rendah yaitu kacang retak dan pecah yang
banyak dikonsumsi karena harganya lebih murah.
Penelitian pendahuluan ini menggunakan dua macam bumbu yaitu bumbu
A terdiri dari cabe, terasi, gula merah dan garam dan bumbu B terdiri dari
cabe, terasi, gula merah, garam, bawang putih, kencur, jeruk purut dan asam.
Sampel kacang tanah dibagi menjadi tiga kelompok yaitu utuh, retak dan
pecah. Masing-masing kelompok sebanyak 10 kg, diambil 100 g per kelom-
pok untuk bahan baku sambal kacang. Setelah diolah menjadi sambal kacang
disimpan selama tiga bulan.
Pengamatan jenis-jenis jamur yang tumbuh pada sambal kacang dilaku-
kan setiap bulan, dengan hasil sebagai berikut: sambal kacang utuh sampai
bulan ke tiga tidak dijumpai jenis A. flavus dan Penicillium sp. Untuk sambal
kacang retak perlakuan dengan bumbu A dan bumbu B pada bulan pertama
dan ke dua belum ditumbuhi kedua jamur tersebut tetapi pada bulan ke tiga
bumbu A ditumbuhi Penicillium sp dan A. flavus sedangkan pada perlakuan
bumbu B belum ditemukan kedua jenis jamur tersebut. Untuk sambal kacang
pecah pada bulan pertama walaupun pada kontrol sudah ditumbuhi A. flavus
dan Penicillium sp tetapi pada perlakuan dengan bumbu A dan bumbu B
belum dijumpai kedua jamur tersebut. Pada bulan kedua, pada bumbu A dan
Bumbu B sudah dijumpai Penicillium sp. Sedangkan pada bulan ketiga per-
lakuan pada bumbu A sudah dijumpai A. flavus dan Penicillium sp tetapi
pada bumbu B hanya ditumbuhi Penicillium sp.

Kata kunci : kacang tanah, bumbu alami, aflatoksin

PENDAHULUAN ubahan sifat sel yang mengarah ke adanya keganasan oleh


Cemaran jamur pada bahan makanan dapat menyebabkan aflatoksin. Aflatoksin merupakan toksin yang dihasilkan jamur
gangguan kesehatan pada manusia dan hewan. Adanya infeksi Aspergillus terutama A flavus sedangkan Penicillium sp. me-
virus hepatitis B diduga merupakan prasyarat terjadinya per- rupakan jamur yang banyak mencemari bahan makanan. Pe-
Dibacakan pada seminar Lustrum IX Fakultas Biologi Universitas Gadjah
Mada dan Kongres I KABIOGAMA

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 43


nelitian pendahuluan telah menemukan bahwa keadaan kacang f) Inkubasi pada suhu 300C – 370C selama 5-7 hari, petri dish
tanah yaitu utuh, retak dan pecah mengandung cemaran jangan diletakkan terbalik.
aflatoksin yang berbeda. Cemaran aflatoksin terbesar pada g) Dari koloni yang tumbuh dibuat sediaan dengan cara
kacang pecah kemudian berurutan retak dan utuh(1) . sebagai berikut (Departemen Kesehatan RI, 1991):
Kacang tanah kualitas rendah yang pada umumnya terdiri − Sediakan objek gelas yang bersih dan bebas lemak dengan
dari kacang retak dan pecah banyak dikonsumsi karena harga- tetesan 1 tetes KOH.
nya lebih murah daripada kacang kualitas baik yang umumnya − Ambil koloni yang tumbuh pada Saboraud agar tadi
dalam keadaan utuh. Selama ini kurang disadari bahwa kondisi dengan menggunakan ose kawat yang cukup besar, atau dengan
kacang tanah yang mutunya rendah jika disimpan terlalu lama menggunakan pisau yang steril dan tajam ujungnya (bila perlu
dalam bentuk olahan seperti sambal kacang sering ditumbuhi dicungkil bersama agarnya).
oleh jamur A. flavus penghasil aflatoksin. − Tempatkan koloni tersebut pada tetesan KOH pada objek
Bumbu-bumbu penyedap alami seperti cabe (Capsicum sp) gelas tadi dan tekan sampai merata.
bawang putih (Allium sativum), kencur (Kaempferia galanga), − Periksa di bawah mikroskop.
daun jeruk purut (Citrus sp.) dan buah asam (Tamarindus sp).
diduga dapat digunakan sebagai bahan pengawet alami dan HASIL DAN PEMBAHASAN
menghambat tumbuhnya jamur-jamur seperti A. flavus dan Cemaran jamur pada sambal kacang yang disimpan selama
Penicillium sp. tiga bulan dapat diketahui dari Tabel 1, 2, dan 3.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bumbu alami
dapat sebagai penyedap, pengawet dan penghambat cemaran Tabel 1. Cemaran jamur pada sambal kacang yang disimpan selama 1
aflatoksin pada sambal kacang sehingga makanan aman untuk bulan pada suhu kamar
dikonsumsi.
Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi lima jenis Contoh fisik Jenis-jenis jamur yang tumbuh
bumbu penyedap alami yang diperkirakan mempunyai sifat kacang tanah
Kontrol Bumbu A Bumbu B
pengawet dan penghambat pertumbuhan jamur penyebab ke-
racunan, apakah dapat menghambat timbulnya jamur penyebab Kacang utuh A.niger Monascus sp Syncephalastrum sp
aflatoksin yang tumbuh pada sambal kacang bila disimpan Fusarium sp A.niger A.niger
Syncephalastrum sp Syncephalastrum sp
terlalu lama.
Khamir

METODOLOGI Kacang retak A.niger A.niger A.niger


Kacang tanah diperoleh dari pasar Kranji Bekasi Barat A.glaucus A.glaucus Rhizopus sp
Penicillium sp Rhizopus sp
sebanyak 10 kg yang dibeli dari 5 toko masing-masing 2 kg.
Fusarium sp
Sampel kacang tanah dibagi menjadi tiga kelompok berdasar- Mucor sp
kan fisiknya yaitu kacang tanah utuh, retak, dan pecah (tanpa
kulit ari). Setiap kelompok diolah menjadi sambal kacang Kacang pecah A.niger A.niger A,niger
Geotrichum sp Geotrichum sp Scopulariopsis sp
dengan bumbu sebagai berikut :
Scopulariopsis sp Scopulariopsis sp Rhizopus sp
1) Cabe, terasi, gula merah, dan garam.(Bumbu A) A. flavus Fusarium sp
2) Cabe, terasi, gula merah, garam, bawang putih, kencur, A.parasiticus Rhizopus sp
daun jeruk purut, dan asam. (Bumbu B) Penicillium sp
Fusarium sp
Masing-masing sempel ditumbuk halus sampai homogen.
Untuk analisis jenis jamur yang dapat tumbuh pada sambal
kacang, diambil 100g untuk setiap kelompok. Hal ini dilakukan Keterangan:
Bumbu A : Cabe,terasi, gula merah, dan garam.
untuk megurangi variasi nilai cemaran individual butiran Bumbu B : Cabe, terasi, gula merah, garam + bawang putih, kencur, jeruk purut
contoh sempel. asam.
Adonan setelah dibumbui dan menjadi olahan berupa
sambal kacang, disimpan selama tiga bulan dan dilakukan pe- Dari tabel 1, dapat diketahui bahwa penambahan bumbu
ngamatan jenis-jenis jamur yang dapat tumbuh dan mencemari alami yang semula digunakan sebagai penyedap dan pengawet
setiap kelompok sambal kacang. sambal kacang, ternyata dapat menghambat pertumbuhan
jamur-jamur patogen seperti Aspegillus flavus dan A para-
Pemeriksan Jamur siticus; pertumbuhan dan koloni kedua jamur tersebut sulit
Cara pemeriksaan : dibedakan secara makroskopis karena warna yang hampir sama
a) Disiapkan petri dish yang steril. yaitu kuning kehijauan(2). Perbedaannya terletak pada per-
b) Diambil 1 ml spesimen (bahan pengencer 10-1 pada labu mukaan koloni yaitu jamur A. flavus, permukaaan koloninya
erlenmeyer) dengan pipet steril, masukkan pada petri dish. halus, sedangkan A. parasiticus permukaan koloninya tidak
c) Saboraud agar yang telah dicairkan dalam waterbath rata (agak kasar), kedua jamur tesebut bersifat patogen pada
450C, dituang ke dalam petri dish tadi sebanyak 15-20 ml. hewan maupun manusia dapat menyebabkan aspergillosis;
d) Petri dish digoyang-goyangkan secara perlahan-lahan. jamur dapat masuk ke dalam paru-paru karena mudah terhirup
e) Tunggu hingga media tersebut menjadi padat/beku. (Pons WA, dkk.1966)

44 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Kasus aspergillosis belum banyak dilaporkan, demikian kontrol, sambal kacang dari kacang yang retak maupun pecah
pula halnya dengan laporan tingkat pencemaran oleh jamur mulai dari bulan pertama baik dengan perlakuan bumbu A
Aspergillus sp pada sebagian bahan makanan khususnya sam- maupun bumbu B; diduga Penicillium sp. tersebut berasal dari
bal kacang yang sering dikonsumsi oleh masyarakat. gudang penyimpanan karena Penicillium sp tergolong sebagai
jamur gudang(3,4). Sampai bulan ke tiga jenis jamur Rhizopus sp
ditemukan pada semua perlakuan yang menggunakan bumbu A
Tabel 2. Cemaran jamur pada sambal kacang yang disimpan selama 2
bulan pada suhu kamar maupun B karena bumbu-bumbu alami tersebut mengandung
minyak atsiri atau minyak terbang yang dapat menghambat
Bentuk fisik Jenis jamur yang ditemukan timbulnya jenis jamur tertentu kecuali Rhizopus sp yang tahan
Kacang Kontrol Bumbu A Bumbu B
terhadap minyak atsiri.
Dari data di atas dapat diambil kesimpulan sementara
Kacang utuh Syncephalastrum sp A.niger A. niger bahwa bumbu-bumbu alami yang mengandung minyak atsiri
A, niger A. glaucus Rhizopus sp
A. glaucus Rhizopus sp
sangat baik untuk digunakan sebagai bumbu masak.
Khamir Khamir
Geotrichum sp
Tabel 3. Cemaran jamur pada sambal kacang yang disimpan selama 3
bulan pada suhu kamar
Kacang retak A.niger A.niger A.niger
A.glaucus Rhizopus sp Rhizopus sp
Geotrichum sp Mucor sp Khamir Bentuk fisik Jenis jamur yang ditemukan
Mucor sp Geotrichum sp Kacang Kontrol Bumbu A Bumbu B
Rhizopus sp
Fusarium sp Kacang utuh Syncephalastrum sp A.niger A. niger
Penicillium sp A, niger A. glaucus Rhizopus sp
A.flavus A. glaucus Rhizopus sp A. glaucus
Penicillium sp Geotrichum sp
Kacang pecah A.niger A.niger A.niger Geotrichum sp
Scopulariopsis sp A.flavus Penicillium sp Rhizopus sp
Geotichum sp Penicillium sp Rhizopus sp Mucor sp
A.flavus Moniliella sp Moniliella sp
Penicillium sp Fusarium sp Kacang retak A.niger A.niger A.niger
Fusarium sp Rhizopus sp A.glaucus Rhizopus sp Rhizopus sp
Rhizopus sp Khamir Mucor sp Fusarium sp
Mucor sp Penicillium sp
Rhizopus sp Khamir
Fusarium sp A.glaucus
Hasil pengamatan pada bulan ke-2 (Tabel 2) menunjukkan Penicillium sp A.flavus
bahwa pertumbuhan jamur jenis A. niger, Mucor sp, Rhizopus A.flavus Fusarium sp
sp, Penicillium sp yang termasuk jenis jamur gudang makin Moniliela sp
meningkat bila dibanding dengan bulan ke-1; begitu juga jenis
Kacang pecah A.niger A.niger A.niger
Geotrichum candidum, jamur ini berasal dari tanah dan udara, Mucor sp A.flavus Penicillium sp
merupakan kontaminan yang dapat menimbulkan penyakit Geotrichum sp Penicillium sp Rhizopus sp
jamur pada alat pencernaan dan paru-paru anjing, burung dan A.flavus Rhizopus sp Fusarium sp
manusia. Penicillium Mucor sp
Fusarium sp A. glaucus
Sambal kacang yang terbuat dari kacang tanah pecah A. glaucus Fusarium sp
dengan bumbu A sudah ditumbuhi jamur A. flavus, tetapi pada Rhizopus sp
sambal bumbu B belum. Hal ini mungkin karena sambal Khamir
kacang bumbu B mengandung bumbu alami seperti bawang A.parasiticus
Moniliela
putih, kencur, jeruk purut, asam. Bumbu alami tersebut
mengandung minyak atsiri yang dapat menghambat pertum-
buhan jamur sehingga sambal kacang lebih tahan dari cemaran
aflatoksin. KESIMPULAN
Sampai bulan ke tiga jenis jamur penghasil aflatoksin Sambal kacang utuh sampai bulan ke tiga tidak mengan-
seperti A. flavus dan Penicilium sp sudah mulai tumbuh subur dung jenis A. flavus dan Penicillium sp.
pada perlakuan kontrol dan perlakuan bumbu A sedangkan Sambal kacang retak pada pengamatan bulan pertama dan
jenis A. flavus belum ditemukan pada perlakuan bumbu B yaitu kedua belum ditumbuhi kedua jamur tersebut tetapi pada pe-
penggunaan bumbu-bumbu alami. Hal tersebut diduga karena ngamatan bulan ke tiga bumbu A ditumbuhi Penicillium sp dan
bumbu alami ternyata dapat membunuh atau menekan pertum- A. flavus, sedangkan pada bumbu B belum.
buhan jamur A. flavus yang sangat toksik. Sambal kacang pecah perlakuan kontrol pada bulan per-
Fusarium sp mulai tumbuh pada sambal kacang perlakuan tama sudah ditumbuhi A. flavus dan Penicillium sp tetapi pada
kontrol dan kacang retak sejak bulan pertama, diduga jamur perlakuan dengan bumbu A dan bumbu B belum. Pada
Fusarium sp berasal dari tanah tempat kacang tersebut pengamatan bulan ke dua pada perlakuan dengan bumbu A dan
ditumbuhkan(2). Penicillium sp mulai tumbuh pada perlakuan bumbu B sudah dijumpai Penicillium sp.

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 45


KEPUSTAKAAN

1. Nunik St Aminah, Joko Waluyo. Isolasi kapang khusus penghasil toksin.


Pada pengamatan bulan ke tiga, pada bumbu A ditemukan Maj Kes Mas Indon 1998; XXV (12): 841-3.
A..flavus dan Penicillium sp. tetapi pada bumbu B hanya 2. Christensen CM, Kauffman HH. Grain storage, the role of fungi in
ditumbuhi Penicillium sp. quality loss. Univ. Minnessota Press, Minn 1969.
3. Samson RA, Hoekstra ES, Van Oorschot CAN. Introduction to food-
Bumbu alami yang digunakan dalam penelitian ini se- bome fungi. Centraalbureau voor schimmelcultures. Institute of the Royal
bagian besar mengandung minyak atsiri yang dapat meng- Netherlands Academy of Arts and Sciences, 1984.
hambat pertumbuhan jamur penghasil aflatoksin. 4. Nunik St Aminah, Marjan Soekirno. Jamur perusak pada koleksi
serangga dan mamalia di laboratorium; Majalah Kesehatan Masyarakat
Indon 1998; XXVI (2): 74-6.

46 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


HASIL PENELITIAN

Gambaran Kadar Mangan (Mn) pada


Sumber Air Rumah Tangga
di Jabotabek
studi kasus pemeriksaan air
di Puslitbang Farmasi

Ni'mah Bawahab, Kelik MA, Ani Isnawati


Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pergembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta

ABSTRAK

Gambaran kadar mangan (Mn) pada sumber air rumah tangga di Jabotabek
bertujuan untuk mengetahui jumlah sampel dengan kandungan mangan (Mn) yang
tidak memenuhi syarat air minum dan air bersih.
Pemeriksaan kadar mangan dalam air dilakukan dengan metode kolorimetri
terhadap sampel dari contoh air yang diajukan penduduk di wilayah Jabotabek. Per-
syaratan air minum dan air bersih ditetapkan berdasarkan Permenkes RI No. 416/Men.
Kes/IX/1990.
Dari 237 sampel air yang diperiksa, 89 sampel (35,9%) tidak memenuhi syarat air
minum, dan 50 sampel (21,1 %) di antaranya disebabkan karena tidak memenuhi per-
syaratan kadar mangan. Di antara yang tidak memenuhi syarat air minum berasal dari
wilayah Jakarta Timur 14 sampel (28%), dari wilayah Bekasi 13 sampel (26%) dan 46
sampel (92%) tidak memenuhi persyaratan air minum berasal dari sumber air jenis
sumur pompa. Kadar mangan rata-rata 0.34 ppm, sedangkan yang tidak memenuhi
syarat air bersih antara 0,67 ppm- 1,43 ppm dengan kadar rata-rata 0,91 ppm.

PENDAHULUAN miligram/liter. Dalam jumlah tertentu dengan pemajanan


Air merupakan salah satu materi alam yang penting dalam oksigen, mangan bisa membentuk oksida yang tidak larut dan
kehidupan manusia karena dapat dipergunakan untuk keperluan menghasilkan endapan, sehingga menimbulkan masalah berupa
rumah tangga, kesehatan, pertanian, peternakan, perikanan dan penampilan fisik air yang mengganggu.
industri. Dalam air minum diperlukan sejumlah mineral sebagai
Penggunaan air rumah tangga khususnya sebagai air trace element untuk proses metabolisme tubuh, dengan per-
minum, masak, mandi dan mencuci. Sumber air yang diper- kiraan kebutuhan mangan untuk nutrisi harian antara 30-50
gunakan di rumah tangga biasanya berasal dari PDAM, sumur ug/kg bobot badan. Kecepatan absorbsi dapat bervariasi me-
pompa, sumur terbuka, sumur artesis, kolam, mata air dan nurut bentuk kimiawinya dan keberadaan logam-logam lain
lain-lain. seperti besi dan tembaga pada makanan.
Mangan merupakan salah satu logam yang banyak di- Bukti neurotoksik mangan terlihat pada para penambang
jumpai di kulit bumi dan sering terdapat bersama besi. Mangan yang terpajan debu Mn dalam jangka panjang. Sampai saat ini
terlarut dalam air tanah dan air permukaan yang miskin tidak terdapat bukti yarig meyakinkan tentang toksisitas pada
oksigen, sehingga kadar mangan dalam air dapat mencapai manusia yang berkaitan dengan konsumsi mangan dalam air

Dibacakan pada seminar Lustrum IX Fakultas Biologi Universitas Gadjah


Mada dan Kongres I KABIOGAMA
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 47
minum. Tetapi bukti percobaan pada binatang menunjukkan g Na2C2O4
Mn dalam air minum bersifat neurotoksik; maka ditetapkan Normalitas KMnO4 =
persyaratan Mn pada air minum dan air bersih berdasarkan ADI (A-B) x 0,06701
(acceptable daily intake) orang dewasa menurut peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 410/Men. KeS/Per/IX/1990 tentang A = ml titrasi sampel
B = ml titrasi blanko
syarat-syarat dalam pengawasan kualitas air : syarat kadar mak-
simum mangan (Mn) yang diperbolehkan untuk diminum 0,1
ppm, sedangkan untuk air bersih 0,5 ppm. Pemeriksaan Kadar Mangan (Mn) dalam air
Untuk mengetahui berapa banyak sampel air dengan kadar
mangan yang tidak memenuhi syarat sebagai air minum dan air 100 ml bahan sampel, tambah 5 ml H2SO4 4 N dan 4 ml N
bersih berdasarkan peraturan di atas, maka dilakukan peng- HNO3 dan 4 ml AgNO3 2% dan 1 gram K2S2O8 panaskan,
amatan pemeriksaan mangan pada sampel dari contoh air yang kemudian didihkan selama 5 menit, larutan tidak berwarna Mn
diperiksakam di Laboratorium Kimia Pusat Penelitian dan (negatif), berwarna ungu Mn (positif). Masukkan secara kuan-
Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan titatif dalam tabung Nessler, sampai tanda dan digojok. Kon-
Kesehatan Depkes, Jakarta. sentrasi diperoleh dengan membandingkan warna dengan
standar.
TUJUAN PENELITIAN Perhitungan : Kadar Mn = 1000 X a ml 0,01 N KMn X 11 X f KMn 04
1) Menetapkan jumlah sampel yang tidak memenuhi syarat 100 100
air minum dan air bersih mengenai kadar mangan menurut
Permenkes No. 416 tahun 1990, berdasarkan wilayah dan Penetapan Persyaratan air minum dan air bersih
sumber air. Air minum dan air bersih ditetapkan berdasarkan Peraturan
2) Menetapkan jumlah rata-rata kadar mangan (Mn) yang Menteri Kesehatan RI No. 410/Men Kes/Per/IX/1990. Per-
tidak memenuhi syarat air minum dan air bersih menurut syaratan air minum: apabila kadar maksimum mangan (Mn)
Permenkes No. 416 tahun 1990. yang diperbolehkan 0,1 ppm. Persyaratan air bersih: apabila
kadar maksimum mangan (Mn) yang diperbolehkan 0,5 ppm.
BAHAN DAN CARA
HASIL
Bahan Jumlah asal sampel yang diajukan penduduk untuk
Kalium permanganat (KMNO4) Standar 0,01 N diperiksakan di Laboratorium Kimia Puslitbang Farmasi pada
Asam Sulfat (H2SO4) 4 N tahun 1999 dapat diketahui pada tabel 1.
Larutan Asam Nitrat (HN03) 8 N
Tabel 1. Jumlah dan frekuensi sampel berdasarkan wilayah asal sampel
Perak Nitrat (Ag N03) 2%
air pada tahun 1999.
Kalium Peroxodisulfat (K2 S2O8)
Natrium Oksalat (Na2 C2O4)
No. Wilayah Jumlah %

Sampel 1. Jakarta Pusat 22 9,3


Contoh air yang diajukan penduduk wilayah Jabotabek 2. Jakarta Timur 42 17,7
3. Jakarta Selatan 35 14,8
untuk diperiksakan di Laboratorium Kimia Puslitbang Farmasi 4. Jakarta Barat 10 4,2
tahun 1999. Contoh air diperoleh dari berbagai sumber yaitu 5. Jakarta Utara 52 21,9
PDAM, sumur terbuka, sumur pompa, sumur artesis, kolam, 6. Bekasi 34 11,6
mata air dan sumber-sumber lain. 7. Depok 26 11,6
8. Tangerang 8 3,4
9. Bogor 8 3,4
Peralatan
Jumlah 237 100
Pipet ukur
Tabung Nessler dan alat gelas yang lain.
Wilayah sampel air terbanyak dari Jakarta Utara (21,9%)
Cara Kerja kemudian diikuti oleh wilayah Jakarta Timur (17,7%).
Standarisasi larutan standar KMnO4 0,1N Penggunaan air di rumah tangga khususnya diperuntukkan
Ditimbang dengan tepat Natrium oksalat anhidrat (Na2 sebagai air minum, mandi dan cuci, biasanya berasal dari ber-
C2O4) diantara 200-400 mg (dibuat beberapa sampel), masing- bagai sumber air. Adapun sumber-sumber air tersebut dapat di-
masing dimasukkan ke dalarn Erlen Meyer 250 ml. Kemudian lihat pada tabel 2.
ditambah 100 ml akuades dan dipanaskan sampai 90°C-95°C. Jumlah sampel terbanyak berasal dari sumur pompa 138
Dititrasi cepat-cepat dengan larutan permanganat yang akan sampel (58,2%) dan dari PDAM 72 sampel (30,4%).
distandarisasi sampai titik akhir, yaitu merah muda, yang tetap Sejumlah 237 sampel diperiksa kadar mangan dalam air
tampak selama 1 menit. Suhu dijaga jangan sampai turun di dengan metoda kolorimetri dan ditentukan persyaratan air
bawah 85° C. Bila perlu isi Erlen Meyer dipanaskan selama minum dan air bersih menurut kriteria Permenkes No. 416
titrasi berlangsung. Blanko dilakukan dengan aquades dan tahun 1990. Hasil pemeriksaan kadar mangan dapat diketahui
H2S2O2. pada tabel 3.

48 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Tabel 2. Jumlah dan frekuensi sampel berdasarkan sumber air. Perhitungan selanjutnya adalah menetapkan jumlah sampel
air yang memenuhi syarat maupun yang tidak memenuhi syarat
Persentase
No. Sumber Air Jumlah
% air minum dan air bersih.
1. PDAM 72 30,4
Tabel 5. Kriteria Per. Men. Kes mengenai kadar Mn berdasarkan sumber
2. Sumur terbuka 11 4,6
air.
3. Sumur pompa 138 58,2
4. Sumur artesis 11 4,6
5. Kolam 2 0,8 Jumlah Sampel
6. Mata air 2 0,8 No. Sumber Air MS MS TMS Total
7. Lain-lain 1 0,4 air minum air bersih air bersih
Jumlah 237 100 1. PDAM 71 1 - 172
2. Sumur terbuka 8 2 1 11
Tabel 3. Hasil pemeriksaan kadar mangan (Mn) menurut Permenkes No. 3. Sumur pompa 92 30 16 138
416 tahun 1990. 4. Sumur artesis 11 - - 11
5. Kolam 2 - - 2
Jumlah Persentase 6. Mata air 2 - - 2
No. Hasil pemeriksaan kadar mangan 7. Lain-lain 1 - - 1
sampel (%)
Jumlah 187 33 17 237
1. Memenuhi syarat air minum 187 78,9
2. Memenuhi syarat air bersih 33 13,9
3. Tidak memenuhi syarat air bersih 17 7,2 Jenis sumur pompa merupakan jumlah terbanyak yang
Jumlah 237 100 tidak memenuhi syarat air minum yaitu 46 sampel (92%) dan
16 sampel (32%) tidak memenuhi syarat air bersih. PDAM
Tidak memenuhi syarat air minum mengenai kadar meskipun jumlah sampel kedua terbanyak, tetapi yang tidak
mangan 33 (13,9%) dan tidak memenuhi syarat air bersih 17 memenuhi syarat air minum hanya 1 sampel (2%).
(7,2%) dari sejumlah 237 sampel. Kadar rata-rata mangan dalam sampel air yang tidak me-
Penentuan lebih lanjut adalah menetapkan jumlah sampel menuhi syarat air minum maupun air bersih adalah sebagai
yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat air minum berikut: (tabel 6).
dan air bersih berdasarkan wilayah sampel berasal. Tidak me-
menuhi syarat air minum berarti mencakup jumlah memenuhi Tabel 6. Kadar rata-rata mangan (Mu) untuk yang tidak memenuhi
syarat air bersih ditambah dengan yang tidak memenuhi syarat syarat sebagai air minum dan air bersih.
air bersih.. Adapun data jumlah yang memenuhi syarat dan
Kriteria
tidak memenuhi syarat baik air minum maupun air bersih No. Permenkes
Kadar rata- Std. Nilai Nilai
diketahui pada tabel 4. rata (Mn) Deviasi minimum maksimum
No. 410/1990
1. Air minum 0,34 0,12 0,18 0,50
Tabel 4. Jumlah sampel berdasarkan wilayah dan kriteria Per. Men. Kes 2. Air bersih 0,91 0,26 0,67 1,43
416/Men.Kes/Per/IX/1990.

Jumlah Sampel PEMBAHASAN


No. Wilayah MS MS TMS Total Mangan merupakan mineral yang terdapat di kulit bumi
air minum air bersih air bersih dan dapat terlarut pada air tanah, sehingga kadar mangan dalam
1. Jakarta Pusat 19 2 l 22 berbagai sumber air tergantung dari daerah/jenis tanah tersebut.
2. Jakarta Timur 28 9 5 42 Dari hasil pemeriksaan kadar mangan berdasarkan wilayah asal
3. Jakarta Selatan 27 6 2 35
4. Jakarta Barat 7 3 - l0
sampel yang tidak memenuhi syarat air minum dan air bersih
5. Jakarta Utara 50 2 - 52 terbanyak adalah wilayah Jakarta Timur dan Bekasi. Tetapi
6. Bekasi 21 7 6 34 selain kedua wilayah tersebut bukan berarti wilayah lain tidak
7. Depok 24 1 1 26 mengandung mangan; karena dari hasil pemeriksaan secara
8. Tangerang 5 3 - 8
9. Bogor 6 - 2 8
keseluruhan belum menggambarkan bahwa daerah-daerah ter-
tentu merupakan daerah yang banyak mengandung mangan,
Jumlah 187 33 17 237
karena cara mendapatkan sampel dan jumlah sampel tidak sama
atau memadai antara beberapa wilayah.
Keterangan :
MS = memenuhi syarat
TMS = tidal menenuhi syarat KESIMPULAN
1. Jakarta Utara dengan jumlah 21,9% merupakan wilayah
Dari tabel diketahui bahwa wilayah Jakarta Timur mem- asal sampel terbanyak, diikuti oleh wilayah Jakarta Timur
punyai jumlah sampel terbanyak tidak memenuhi syarat air 17,7%.
minum 14 sampel (28%) dan Bekasi 13 sampel (26%). Sedang- 2. Sumber air paling banyak sebagai sampel adalah sumur
kan jumlah sampel wilayah Bekasi yang tidak memenuhi syarat pompa 58,2% dan PDAM 30,4%.
air bersih 6 sampel (35,29%) dan wilayah Jakarta Timur 5 3. Sejumlah 50 sampel (21,1%) tidak memenuhi syarat kadar
sampel (29,41%). mangan untuk air minum dan 17 sampel (7,17%) tidak
memenuhi syarat air bersih.

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 49


4. Wilayah Jakarta Timur merupakan asal sampel terbanyak
2. Terangna N. Pengkajian kualitas sumber air sebagai sumber baku air
yang tidak memenuhi syarat air minum 14 sampel (28%) dan minum di Indonesia. Makalah Seminar Sehari Pengkajian Parameter
Bekasi 13 sampel (26%). Kualitas Air dalam Permenkes No. 416 tahun 1990, Jakarta, 1994.
5. Sumber air untuk jenis sumur pompa 46 sampel (92%) 3. Harsanto BJE. Kemampuan laboratorium pada pemeriksaan parameter
tidak memenuhi syarat air minum dan tidak memenuhi syarat kimia organik air minum dan air bersih. Makalah Seminar Sehari
Pengkajian Parameter Kualitas Air dalam Permenkes No. 416 tahun 1990,
air bersih 16 sampel (32%). Jakarta, 1994.
4. Perusahaan Air Minum DKI Jakarta. Pengolahan dan produksi air minum,
KEPUSTAKAAN
air, April 1987.
1. Departemen Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 5. WHO Manganese, Environmental Health Criteria 17, United Nation
416/Menkes/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air Environment Programe, International Labour Organisation and The
minum, Berita Negara RI 1990. World Health Organization, Geneva: 1981.

50 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Kapsul
NYERI KEPALA – BERBAHAYAKAH ?

Semua orang pasti pernah merasakan nyeri kepala; kadang-kadang ringan dan hilang dengan sendirinya, tetapi bisa
juga sampai berhari-hari; bahkan disertai gejala lain seperti mual dan/atau muntah.
Sebagian besar nyeri kepala akan hilang/sembuh, dengan ataupun tanpa obat meskipun bisa kambuh lagi di lain
waktu; tetapi sebagian lagi dapat merupakan gejala awal dari suatu kelainan otak/susunan saraf yang lebih serius, yang
jika tidak segera terdeteksi dapat menjadi makin parah dan lebih sulit diobati.

Bagaimana membedakan nyeri kepala yang ‘biasa’ dengan nyeri kepala yang ‘berbahaya’?
1. Jika nyeri kepala mulai diderita setelah usia 50 tahun – waspada terhadap kemungkinan arteritis temporalis atau
lesi desak ruang/tumor otak; pemeriksaan penunjang yang berguna ialah laju endap darah dan pencitraan
otak/susunan saraf pusat.
2. Nyeri kepala mendadak dan berat tanpa gejala awal – pikirkan kemungkinan perdarahan subarakhnoid, pecahnya
malformasi arteriovena atau massa intrakranial terutama di fossa posterior.
Pemeriksaan yang perlu segera dilakukan ialah pencitraan otak/susunan saraf pusat dan/atau punksi lumbal.
3. Nyeri kepala yang berangsur memberat dalam beberapa hari/minggu; keluhan semacam ini dapat disebabkan oleh
massa intrakranial atau penggunaan zat/obat tertentu; mungkin diperlukan pemeriksaan/ screening darah dan/atau
pencitraan otak/susunan saraf pusat.
4. Nyeri kepala yang disertai demam, mual dan muntah; jika tidak ditemukan kelainan/penyebab sistemik/ infeksi
yang dapat menyebabkannya, pikirkan kemungkinan infeksi susunan saraf pusat atau penyakit kolagen.
Pemeriksaan yang dapat berguna antara lain pemeriksaan darah dan/atau pencitraan otak/susunan saraf pusat.
5. Nyeri kepala yang disertai dengan gejala neurologik fokal seperti papiledema, gangguan kesadaran atau fungsi
luhur, atau kaku kuduk; dalam hal ini pikirkan kemungkinan lesi desak ruang/tumor otak, malformasi arteriovena,
stroke atau penyakit kolagen.
6. Nyeri kepala pada pasien AIDS atau kanker dapat merupakan gejala meningitis atau abses otak, atau metastasis;
dugaan ini harus dibuktikan dengan pemeriksaan punksi lumbal dan/atau pencitraan otak/ susunan saraf pusat.

Brw

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 51


Kegiatan Ilmiah
SEQUENTIAL THERAPY AS A NEW PARADIGM
IN LOWER RESPIRATORY TRACT INFECTIONS MANAGEMENT

Bertempat di Hotel Kempinski Jakarta tanggal 2 Maret 2002, diseleng- Metabolisme dan Ekskresi
garakan simposium dengan topik Sequential Therapy as A New Paradigm in Hampir seluruh ekskresi dilakukan melalui ginjal. Dalam 24 jam ekskresi
Lower Respiratory Tract Infection Management. Simposium yang berakreditasi via ginjal ini, 79,6 % tidak berubah dan 5% adalah hasil metabolismenya
IDI yang dihadiri lebih dari 200 peserta, menampilkan pembicara Dra. Arini (metabolit). Oleh karena itu tidak perlu penyesuaian dosis pada penderita
Setiawati, Ph D, dari Departemen Farmakologi, Universitas Indonesia, Prof. gangguan hati. Untuk usia tua, dosis disesuaikan berdasarkan klirens kreatinin
Dr. Hadiarto Mangunegoro, SpP(K) dari RS Persahabatan dan pembicara tamu, (Tabel 1).
Dr. Michael P Habib MD, Clinical Director of Medicine and Subspecialities
Tabel 1. Dosis Levofloxacin berdasarkan klirens kreatinin
VAMC, Tucson, Arizona, University of Arizona College of Medicine.
Berikut disampaikan ringkasan dari simposium yang dimoderatori Klirens Kreatinin Initial Dose Maintenance Dose
Dr.Tjandra Yoga Aditama, Sp. P dengan sekretaris Dr. Priyanti ZD, Sp P. - RTIs/SSTIs :
50 – 80 ml/min No dosage adjustment No dosage adjustment
Levofloxacin : Pharmacology and Switch therapy 20 – 49 ml/min 500 mg 250 mg q 24 h
Pembicara pertama, Dra. Arini Setiawati, Ph D menampilkan makalah 10 – 19 ml/min 500 mg 250 mg q 48 h (1/4 do)
dengan judul Levofloxacin : Pharmacology and Switch therapy. Hemodialysis 500 mg 250 mg q 48 h (1/4 do)
Menurut Dosen Farmakologi UI tersebut, levofloxacin yang termasuk CAPD 500 mg 250 mg q 48 h (1/4 do)
golongan flouroquinolone mempunyai aktifitas antibakterial 2 hingga 4 kali - Complicated UTI/
dari obat lain yang segolongan yaitu ofloxacin. Karena itu, levofloxacin Pyelonephritis :
diposisikan sebagai a new respiratory (antipneumococcal) flouroquinolone.
> 20 ml/min No dosage adjustment No dosage adjustment
Mengenai sediaannya, Arini menjelaskan bahwa saat ini, baik oral
10 – 19 ml/min 250 mg 250 mg q 48 h
maupun intravenous sudah tersedia. Dan karena profil farmakokinetiknya seru-
pa maka bisa dilakukan terapi sequential. Berbeda dengan step-down therapy, Switch Therapy
dalam terapi sequential, tidak terjadi penurunan dosis. Artinya meskipun Switch therapy berarti mengubah sediaan obat dari intravenous ke sediaan
dilakukan perpindahan (switch) metode pemberian obat dari intravenous (iv) ke oral. Ada beberapa kriteria pelaksaanaannya, berdasarkan kondisi pasien dan
oral, namun tidak terjadi penurunan kadar zak aktif dalam darah. Makin cepat sediaan obat oral tersebut.
terjadi perpindahan kemasan obat (switch) makin baik, karena bisa menghemat A. Kondisi pasien
biaya dan mengurangi risiko komplikasi di tempat suntikan. Switch bisa dilakukan kalau secara klinik, pasien sudah stabil yang bisa
Menurut Arini, levofloxacin oleh American Thoracic Society tahun 2001, diketahui dari (1) kondisi pasien menunjukkan peningkatan perbaikan klinik,
telah disetujui untuk mengobati Community Acquired Pneumonia (CAP) yang misalnya pada CAP : (1) berkurangnya batuk dan sesak, (2) penurunan jumlah
disebabkan oleh Drug Resistant Streptococcus Pneumoniae (DRSP). sel darah putih dan (3) tidak ada demam dalam 2 kesempatan yang berbeda
selama 8 jam (meskipun yang terakhir ini tidak mutlak atau indikasi relatif).
Aktifitas antibakterial Indikasi yang lain adalah pasien sudah mempunyai kemampuan untuk
Indikasi levofloxacin adalah untuk mengobati penyakit-penyakit seperti: mengkonsumsi obat secara oral, yaitu bila sistem pencernaannya sudah
- Sinusitis akut yang disebabkan oleh : Strep. pneumoniae, H. influenzae, M. berfungsi baik dan tidak ada rasa mual atau muntah lagi.
catarrhalis B. Dari sisi obat
- Acute Exacerbations of Chronic Bronchitis (AECB) yang penyebabnya Bisa dilakukan pengubahan sediaan jika obat oral tersebut mempunyai
adalah : Strep. pneumoniae, H. influenza, H. parainfluenza, M. catarrhalis, aktifitas luas spektrum yang sama dengan obat intravenous, dengan syarat
Staph. aureus. kuman spesifiknya belum diketahui. Namun jika kuman patogennya telah di-
- Community Acquired Pneumonia (CAP) oleh: Strept. pneumoniae, H. ketahui maka obat penggantinya haruslah mempunyai spektrum dan sensitifitas
influenza, M. pneumoniae, C. pneumoniae, M. catarrhalis, Legionella pneu- yang paling sempit. Selain itu, kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat
mophila, Staph. aureus, Klebsiella pneumoniae. tersebut harus diperhatikan. Pasien akan lebih patuh jika obat tersebut mem-
- Infeksi saluran urinarius termasuk pyelonefritis yang disebabkan oleh E. punyai efek samping yang minimal, paruh waktu yang panjang (bisa diminum
coli, K. pneumoniae, Proteus mirabilis, Enterococcus faecalis, Entero- sekali atau dua kali sehari), dan mempunyai interaksi obat yang minimal. Perlu
bacter cloacae, Ps. aeruginosa. juga memperhatikan bioavailabilitas yang konsisten agar kadar obat tetap
- Infeksi kulit dan jaringan lunak karena Staph. aureus, Strept. pyogenes. dalam darah.

52 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Levofloxacin oral 5. Pengobatan berdasarkan empirik
Levofloxacin oral merupakan obat oral yang ideal untuk terapi penukar
(switch therapy) levofloxacin infus karena memenuhi syarat-syarat sebagai Penelitian Pneumonia di RS Persahabatan Jakarta
berikut: Dalam presentasi tersebut, Hadiarto M., mengurai mengenai penelitian
- bioavailabilitas (consistent drug level) oralnya hampir 100%. efikasi Ofloxacin injeksi pada pengobatan LRTI di RS Persahabatan pada tahun
- administrasinya sehari sekali 1997. Kesimpulannya, Ofloxacin iv yang diikuti dengan terapi oral menunjuk-
- efek samping dan interaksinya minimal kan hasil yang baik pada pasien rawat inap dengan diagnosa macam-macam
pneumonia. Dalam penelitian yang diberikan pada 25 pasien rawat inap ini
Tolerabilitas dari jenis-jenis flouroquinolone rata-rata pemberian ofloxacin iv adalah 4,4 hari plus minus 2,1 hari. Data
Dibandingkan dengan flouroquinolone yang lain seperti Ofloxacin menarik juga terungkap dalam penelitian tersebut. Berbeda dengan angka
(4,3%), Ciprofloxacin (5,5 %) dan Pefloxacin (8%) ternyata efek samping yang kejadian yang sering diceritakan dalam buku ajar luar negeri, ternyata kuman
ditimbulkan lebih sedikit yaitu hanya 3,3%. gram negatif sebagai penyebab pneumonia lebih banyak (64%) dibandingkan
Dari 2.900 pasien yang menderita infeksi saluran napas, saluran kemih, dengan kuman gram positif (34%).
kulit dan jaringan lunak yang diberikan terapi levofloxacin selama 5 - 14 hari,
diperoleh efek samping seperti: Hubungan Levofloxacin dan Ofloxacin
- Pasien dengan 250 mg od efek samping terjadi 4 – 4,3 % Levofloxacin diketahui dua kali lebih poten dibandingkan ofloxacin.
- Pasien dengan 500 mg od Æ 5,3 –26,9 % Keunggulan yang lain adalah aktifitas antibakterialnya lebih meningkat pada:
- Pasien dengan 500 mg bd Æ 22 –28,8 % gram positif (S. pneumoniae) dan kuman atipikal (M. pneumoniae, C pneu-
Adapun jenis keluhan yang ditemui adalah moniae,L pneumophila). Selain itu pula, levofloxacin mempunyai kemampuan
- Diare 1,1 – 2,8 % - Insomnia 1,1 % penetrasi ke jaringan paru yang sangat baik dan dengan dosis tunggal sehari
- Nausea 1,1 – 3,0 % - Somnolence 2,2 % baik oral maupun parenteral.
- Abdom. Pain 1,0 – 1,1 % - Liver Dysfurction 4,1 %
- Flatulence 1,6 % - Thrombocytosis 7,7 % Tidak diindikasikan untuk Pneumonia karena Pseudomonas
Sebanyak 1,8 % hingga 6,5 % tidak meneruskan terapi. Levofloxacin tidak diindikasikan untuk pneumonia karena kuman pseu-
domonas karena levofloxacin tidak efektif. Dalam hal ini saran Guru Besar
Efek samping yang serius Penyakit Paru, lebih baik menggunakan ciprofloxacin. Sebaliknya cipro-
Ditemukan beberapa efek samping yang serius seperti tendinitis (< 0,1%), floxacin tidak efektif terhadap kuman gram positif.
dan kolitis pseudomembran (< 0,01 %). Reaksi hemolitik bisa terjadi pada
pasien-pasien defisiensi G6PD. Arthropathy pada anak dan dewasa tidak Clinical Efficacy and Safety of Fluoroquinolones
ditemukan. Phototoxicity terjadi pada 0,03% (bandingkan dengan Sparfloxacin Pembicara terakhir adalah Michael P Habib MD, Clinical Director,
yang mencapai 7,9%). Medicine and Subspecialities SAVAHCS Tucson, Arizona. Menurut Michael P
Efek samping pada susunan saraf pusat yaitu seizures terjadi pada kurang Habib, fluoroquinolon adalah antibiotik yang mempunyai aktifitas bakteriosid
dari 0,1% dan halusinasi pada kurang dari 0,01%. Begitu juga dengan pening- yang baik untuk kuman yang bertanggung jawab pada infeksi-infeksi saluran
katan enzim-enzim hati terjadi pada 1,5 hingga 2,5 % pasien. napas bagian bawah. Obat ini hadir karena banyak kuman telah resisten ter-
Berbeda dengan Trovafloxacin dan Sparfloxacin, tidak ditemukan efek hadap penisilin misalnya Streptococcus pneumoniae, bakteri utama penyebab
yang berat pada hati ataupun pada sistem pelistrikan jantung seperti QT infeksi saluran napas bawah. Antimikroba ini juga mempunyai efek sangat baik
prolongation. terhadap bakteri atipikal seperti Legionella pneumophila, Chlamydia pneu-
moniae dan Mycoplasma pneumoniae, yang merupakan penyebab yang penting
Kontraindikasi
dari CAP.
Pemberian levofloxacin sebaiknya tidak dilakukan pada mereka yang
hipersensitif terhadap quionolon, epilepsi, mempunyai riwayat gangguan Efek samping flouroquinolon
tendon akibat fluoroquinolone. Meskipun tidak ditemukan arthropathy pada Meskipun demikian bukan berarti obat ini tidak mempunyai efek
anak-anak namun sebaiknya preparat ini tidak diberikan pada anak-anak dan samping. Dari jenis-jenis flouroquinolone, ada beberapa yang sudah ditarik dari
remaja, wanita mengandung dan menyusui. peredaran karena ditemukan efek samping seperti temofloxacin, sparfloxacin,
grepafloxacin, clinafloxacin. Sedangkan Trovafloxacin penggunaannya sangat
Clinical Studies on Levofloxacin in the Treatment of LRTI in Persahabatan
terbatas. Levofloxacin is the fluoroquionolone with the longest track record and
Hospital with Special Emphasis on Switch Therapy
best safety profile, tutup Guru Besar dari Universitas Arizona ini.
Dengan makalah yang berjudul : Clinical Studies on Levofloxacin in the
Treatment of LRTI in Persahabatan Hospital with Special Emphasis on Switch
Therapy, Prof. Dr. Hadiarto Mangunegoro, Sp P(K) dari RS Persahabatan SIMPOSIUM LAIN
Jakarta, menjadi pembicara kedua. Simposium lain yang selengkapnya bisa diakses di http: //www.kalbe.co.id
Menurut Guru Besar Spesialis Paru ini, jika memungkinkan penderita > Doctor > Seminar :
pneumonia cukup rawat jalan saja, karena biaya rawat inap yang mahal. Obat-
obat infus bukanlah obat yang tergolong murah. Adapun beberapa isu saat ini 7th Asian Research Symposium in Rhinology, Bali 15 - 16 Februari 2002
yang penting untuk diketahui dalam menangani pneumonia seperti: Kegiatan ilmiah ini berlangsung di Hotel Kartika Plaza, Kuta Bali, mem-
1. Bisa memperkirakan hasil klinik pada pneumonia mempunyai pengaruh bahas topik-topik yang sangat luas di bidang rinologi, mulai dari rinosinusitis,
yang besar dalam penanganannya. alergi, polip nasal, imunoterapi, tehnik-tehnik operasi, penanganan keganasan,
2. Keputusan merawatinapkan atau merawatjalankan pasien merupakan suatu dan lain-lain.
keputusan klinik yang penting.
3. Parameter yang paling penting dalam melakukan rawat inap adalah men- Pertemuan Ilmiah Paru Milenium 2002, Surabaya 16 - 17 Februari 2002
cari faktor-faktor risiko yang bisa menyebabkan kematian. Pertemuan Ilmiah Paru Milenium 2002 (PIP-Milenium 2002) yang di-
4. Biaya rawat inap penyakit ini, 20 kali lebih besar dari biaya rawat jalan. selenggarakan bersama oleh PDPI Cabang Jatim dan Cabang Malang berlang-
Sedangkan isu-isu lain sehubungan dengan pneumoni adalah: sung dari tanggal 16 hingga 17 Pebruari 2002. Acara ini diikuti oleh sekitar 650
1. Perubahan demografis. peserta terdaftar dari seluruh penjuru tanah air. Rekaman peserta menunjukkan
Penderita pneumonia meningkat jumlahnya pada lanjut usia dan mereka berasal dari Jakarta, Surabaya, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Mataram-
yang tergolong imunokomprimais, penderita kanker, HIV, DM dan pe- NTB, Denpasar, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Jawa Timur diluar Sura-
nyalahgunaan obat. baya. Slide presentation acara ini bisa diperoleh di http: //pdpi.malang.com.
2. Kuman patogen yang resisten dan baru.
International Symposium on Dyspepsia, Bali 19-21 Februari 2002
3. Saat ini bermunculan S. pneumoniae yang resisten penicillin, MRSA,
Simposium internasional mengenai dispepsia ini didahului dengan sesi
baksil gram negatif: Pseudomonas aeruginosa, Acinobacter, hanta virus,
meet the expert sebelum dibuka secara resmi. Salah satu sesi yang menarik
dan Ebola
adalah mengenai The role of Cisapride in the management of gastroparesis
4. Ditinjau dari sisi ekonomi kesehatan (perawatan yang cost-effective)
yang dibahas oleh dua pakar dari Indonesia yaitu : Dr. Dharmika. D dan Dr.
diupayakan adanya pelayanan kesehatan berkualitas dengan biaya yang
Dadang. M, serta seorang pakar dari Cina yaitu Prof. P.J.Hu. [SIM].
rendah.

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 53


Produk Baru
Cravit® i.v.
LEVOFLOXACIN INFUSION

KOMPOSISI: Tiap botol 100 ml cairan infus Cravit® mengandung 500 mg levofloxacin
(5 mg/ml). FARMAKOLOGI: Cravit® adalah isomer optik S(-) ofloxacin yang me-
miliki spektrum anti bakteri luas. Cravit® efektif untuk bakteri Gram positif, Gram
negatif (termasuk anaerob) dan atipikal.
Mekanisme kerjanya adalah dengan menghambat DNA gyrase sehingga bersifat bak-
terisidal. INDIKASI: Cravit® diindikasikan untuk infeksi seperti Community-acquired
Pneumonia (CAP), Acute Exacerbation of Chronic Bronchitis (AECB), infeksi saluran
kemih yang sulit penatalaksanaannya (termasuk pielonefritis), infeksi kulit dan jaringan
lunak yang disebabkan oleh mikroorganisme yang peka terhadap levofloxacin.
DOSIS & CARA PEMBERIAN: Bioavailabilitas yang sama antara Cravit® tablet
dengan i.v. memungkinkan pemberian dengan dosis yang sama secara bergantian. Dosis
pada pasien dengan fungsi ginjal normal adalah 500 mg sehari, tergantung pada ke-
parahan penyakit. Setelah pemakaian Cravit® i.v. selama beberapa hari, pengobatan dapat
digantikan dengan Cravit® oral. Umumnya lama pengobatan dengan Cravit® adalah 7-14
hari. Cravit® i.v. adalah larutan infus siap pakai, dan harus diberikan secara lambat ke
dalam vena. EFEK SAMPING: Reaksi alergi pada kulit (gatal ruam kulit), nausea,
diare, pusing, gangguan tidur. PERINGATAN dan PERHATIAN: Perlu penyesuaian
dosis pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal berat. Hati-hati pada pasien dengan
gangguan sistem saraf pusat. Cravit® tidak diindikasikan untuk pasien di bawah usia 18
tahun.
KEMASAN: Boks, botol @ 100 ml. PENYIMPANAN: Simpan pada suhu 15°-30° C,
dalam tempat tertutup

Informasi lebih lanjut, hubungi:

PT. KALBE FARMA, Tbk


Gedung Enseval Jl. Letejen Suprapto, Jakarta 10510
PO Box 3105 JAK, Jakarta-Indonesia
Telp.: (021) 428 73888. Fax (021) 428 73680
Home Page: http://www.kalbe.co.id

Atas lisensi:
DAIICHI PHARMACEUTICAL Co., LTD
14-10 Nihonbashi 3 – Chome Chou-Ku
TOKYO 103-8234 – JAPAN

Let him who gives say nothing, and him who receives speak

54 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


INTERNET UNTUK DOKTER
INTERNET UNTUK DOKTER
(Seri pertama)
Kegunaan internet sudah dirasakan banyak pihak, ter- tentu. Nomor telepon yang dituju adalah nomor telepon
masuk para dokter. Misalnya, dengan berinternet bisa diperoleh Internet Service Provider (ISP), yaitu suatu perusahaan yang
informasi kedokteran terbaru. Banyak journal kedokteran yang menyediakan jasanya sebagai pintu gerbang kita memasuki
telah di-online-kan termasuk majalah CDK yang sedang Anda internet. Seperti diketahui informasi yang diakses itu sebenar-
baca ini. Dengan internetpun, para dokter bisa berkomunikasi nya tersebar pada berjuta-juta komputer di seluruh dunia.
dan bersosialisasi dengan teman-teman sejawat yang seminat. Masing-masing perusahaan bisa menyediakan informasi di
Untuk memulai berinternet, diperlukan perangkat keras (hard- komputer yang dikhususkan untuk itu. PT Kalbe Farma, misal-
ware) dan perangkat lunak (software). Tulisan yang akan nya menyediakan suatu server komputer di Cikarang, Jawa
disampaikan berseri ini, mencoba memberi informasi dari awal Barat, agar semua informasi yang disediakan oleh PT Kalbe
mengenai internet baik dari sisi perangkat kerat, perangkat Farma bisa diakses oleh para dokter dan netter (pengguna
lunak maupun operatornya. internet) dari mana saja. Namun untuk mengakses informasi
tersebut, Anda tak perlu repot-repot menelpon ke PT Kalbe
Perangkat keras Farma, melainkan cukup menelpon ke ISP Anda (semuanya
Sebenarnya perangkat keras yang diperlukan untuk ber- sudah diinstal otomatis di komputer Anda). Kemudian dengan
internet hampir sama dengan perangkat keras pada komputer menggunakan perangkat lunak (software) yg disebut browser
yang dipergunakan untuk menulis Refarat atau Laporan Kasus menuju ke http://www.kalbe.co.id .
misalnya. Perbedaannya, hanyalah pada suatu perangkat yang Pada website Kalbefarma tersebut, bisa diperoleh
disebut “modem”. Modem adalah suatu alat yang membuat informasi terkini dalam bidang kedokteran, jadwal simposium
komputer kita bisa terhubung dengan komputer di tempat lain. berikut resumenya. Selain itu pula, informasi yang dimuat pada
Tentunya dalam hal ini saluran komunikasi seperti line telpon majalah CDK pun bisa diakses dari sana.
mutlak diperlukan.
Majalah Kedokteran Online
Modem Berikut disampaikan beberapa majalah / journal kedokter-
Ada dua jenis modem, yaitu yang ‘diimplant’ di komputer an yang sudah online:
(modem internal), dan yang terpisah dari komputer (modem A. Informasi Situs Majalah Kedokteran Indonesia :
eksternal). Dari sisi kepraktisan, memang lebih praktis (dan - Cermin Dunia Kedokteran, http://www.kalbe.co.id
umumnya lebih murah) menggunakan modem internal. Modem - The Electronic Journal of The Indonesian Medical
ini tidak mempergunakan kabel power supply. Kabel dari Association, http://www.e-jima.com
telepon langsung dicolok ke komputer kita. Tetapi menurut - Alergika Online, http://www.alergi.co.id/
informasi yang diterima, dari sisi koneksitas modem eksternal - Medika, http://www.pdat.co.id/medika
lebih baik. Tips yang lain dalam memilih modem, carilah - Farmasia, http://www.majalah-farmacia.com
kecepatan modem yang paling tinggi (saat ini dengan koneksi B. Informasi Situs Majalah Kedokteran non Indonesia
dial up biasa) bisa diperoleh misalnya 56 KB. - British Medical Journal, http://bmj.com/
- The Lancet , http://www.thelancet.com/
Internet sama dengan alam/dunia maya - The New England Journal of Medicine,
Dunia internet sering disebut alam maya. Begitu mema- http://content.nejm.org
suki dunia internet, seakan memasuki suatu lingkungan yang - The Journal of the American Medical Association
menyediakan segala hal. Apa saja bisa dilakukan, mulai dari (JAMA), http://jama.ama-assn.org/
mencari informasi kedokteran, berkomunikasi dengan para C. Lain-lain :
teman sejawat, membeli buku kedokteran, dan lain sebagainya. - Free Medical Journals,
Semua itu bisa dilakukan tanpa beranjak dari komputer atau http://www.freemedicaljournals.com
meja kerja. Kalau untuk membeli buku kedokteran, secara - Health Internet Work,
konvensional perlu ke toko buku, tidak demikian halnya jika itu http://www.healthinternetwork.net
dilakukan di internet. Malah kemungkinan artikel atau infor- - PubMed,
masi yang dicari tersebut bisa diperoleh tanpa perlu membeli http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi
buku. - Komunitas pembaca Cermin Dunia Kedokteran,
Internet Service Provider http://groups.yahoo.com/group/CDK-L
Seperti yang dijelaskan di atas, diperlukan modem agar Demikian informasi yang diberikan. Semoga bermanfaat
bisa berinternet. Karena modem menggunakan line telepon, dan sampai jumpa di seri kedua.
tentu komputer –secara otomatis- mendial nomor telepon ter- [Erik Tapan]

Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 55


ABSTRAK
SIMVASTATIN UNTUK HIPER- Selain itu adanya bunyi jantung Cochlospermum tinotorium yang me-
KHOLESTEROL ketiga juga meningkatkan risiko-risiko ngandung arjunolic acid.
Satu penelitian atas 120 pria hiper- tersebut. Selain itu beberapa sediaan kom-
kholesterolemik di Finlandia bertujuan N. Engl. J. Med. 2001; 345: 574-81
binasi juga sedang diselidiki manfaat-
untuk menilai pengaruh simvastatin, Brw nya terhadap berbagai penyakit hepar.
diet dan kombinasi keduanya atas DN&P 2001; 14(6): 353-63
kadar lipid plasma. Sejumlah masing- RISPERIDON INJEKSI Brw
masing 60 orang diberi diet biasa dan Risperdal® (risperidone) – suatu
diet mengandung lemak jenuh dan antipsikotik – dalam waktu dekat akan
trans-unsaturated fat kurang dari 10%, tersedia dalam bentuk sediaan suntikan DIET KALSIUM DAN BATU
selanjutnya dari masing kelompok ter- depot, dalam sediaan ini, bahan aktif SALURAN KEMIH
sebut 30 orang mendapat simvastatin risperidone terbungkus dalam mikro- Selama ini orang masih bertanya-
20 mg/hari atau plasebo selama 12 sfer yang kemudian akan pecah secara tanya mengenai hubungan antara asup-
minggu. Ternyata perlakuan diet dapat berangsur-angsur. Para dokter selama an kalsium dari diet makanan dengan
menurunkan kadar kolesterol total se- ini hanya mengenal sediaan nalo- risiko batu kalsium di saluran kemih.
besar 7,6% (p<0.01), LDL kolesterol peridol dekanoat sebagai antipsikotik Para peneliti di Italia meneliti
sebesar 10,8% (p<0.001), HDL koles- jangka panjang. masalah ini atas 120 pria penderita
terol sebesar 4,9% (p=0.01), apolipo Sediaan antipsikotik jangka panjang hiperkalsiuria dan batu oksalat rekuren
protein B sebesar 5,7% (p=0.003), lebih ideal dan disukai karena kepatuh- selama 5 tahun; selama masa tersebut
insulin serum turun sebesar 14.0% an berobat di kalangan pasien skizo- 60 pria mendapat diet biasa dengan
(p=0.02) dan alfa tokoferol sebesar frenia sangat rendah, ditambah dengan kandungan kalsium 30 mmol/hari, te-
3,5% (p=0.04). sifat penyakitnya yang kronis. tapi rendah protein hewani (52 g/hari)
Sedangkan simvastatin menurunkan dan rendah garam (50 mmol NaCl/
Scrip 2001; 2678: 19
kadar kolesterol total sebesar 20,8%, hari), sedangkan 30 pria lainnya men-
Brw
LDL kolesterol sel sebesar 29,7%, tri- dapat diet rendah kalsium (10 mmol/
gliserid –13,6%, apolipoprotein B – hari).
22,4%, alfa tokoferol –16,2%, beta TANAMAN OBAT UNTUK HATI Setelah 5 tahun, 12 dari 60 pria
karoten –19,5% dan ubiquinol 10 se- Tanaman obat sejak dahulu telah dengan diet kalsium normal dan 23
besar 22,0% (semuanya p<0.001), me- digunakan untuk berbagai penyakit, di dari 60 pria yang mendapat diet
ningkatkan kadar HDL sebesar 7.0% antaranya untuk gangguan fungsi hati. rendah kalsium (10 mmol Ca/hari),
(p<0.001) dan insulin serum sebesar Penelitian akhir-akhir ini menunjukkan menderita batu rekuren (RR=0,49;
13.2% (p=0.001). Kadar glukosa tidak bahwa beberapa tanaman obat memang 95%CI: 0,24-0,98; p=0,04).
berubah di semua kelompok. mengandung zat aktif yang mempunyai Selama follow up kadar kalsium
JAMA 2002;287: 598-605 aktivitas hepatoprotektif, bahkan be- urine turun di kedua kelompok secara
Brw berapa di antaranya telah dibuat dan nyata (170 mg./4,2 mmol per hari)
dipasarkan dalam bentuk preparat oral. tetapi elskresi oksalat urine meningkat
Tanaman tersebut di antaranya : di kelompok rendah kalsium (rata-rata
Silybum marianum – mengandung zat 5,4 mg/60 umol perhari) sebaliknya
PROGNOSIS PAYAH JANTUNG aktif silymarin yang telah dipasarkan turun di kelompok diet kalsium nor-
Studi retrospektif atas 2568 pasien dengan merk Lagalon®, Sohisandra mal, rendah protein hewani dan rendah
payah jantung yang diikuti selama 32 ± chinensis – mengandung zat aktif schi- garam (rata-rata 7,2 mg/80 umol
15 bulan menunjukkan bahwa pening- sandrin, Phyllantus amarus – mengan- perhari).
katan tekanan vena jugularis me- dung zat aktif phyllantin dan hypo- Para peneliti menyimpulkan bah-
ningkatkan risiko dirawat akibat payah phyllantin, Picrorhiza kurroa – me- wa di kalangan pria hiperkalsiuria dan
jantung (RR 1,32; 95%CI: 1,08-1,62, ngandung zat aktif picroliv, Andro- batu oksalat rekuren pembatasan pro-
p<0.01), risiko kematian atau dirawat graphis paniculata – mengandung zat tein hewani dan garam dengan asupan
(RR 1,37; 95%CI: 1,11-1,53. p<0.005) aktif andrographolide, Glycyrrhizae normal lehih bermanfaat daripada diet
dan risiko kematian akibat gagal radix-mengandung zat aktif glycytinic rendah kalsium.
pompa jantung (RR 1,37; 95%CI: acid dan glycyrrhizin, Lycium chinense N. Eng1. J. Med. 2002; 346: 77-84
1,07-1,53, p<0,05). dengan zat aktifnya zeaxanthin, serta Brw

56 Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002


Ruang
Penyegar dan Penambah
Ilmu Kedokteran
Dapatkah saudara menjawab
pertanyaan-pertanyaan di bawah ini?

1. Yang bukan cara penggunaan napza : 5. Putaw termasuk golongan :


a) Ditelan (per oral) a) Opiat
b) Suntikan intramuskular b) Amfetamin
c) Sutikan intravena c) Kokain
d) Dihirup uapnya d) Benzodiazepin
e) Ditempel dikulit e) Ganja
2. Deteksi zat narkoba dalam tubuh dilakukan melalui 6. Efek euforia akibat penggunaan narkotika adalah melalui
pemeriksaan : pengaruhnya terhadap :
a) Darah a) Korteks serebri
b) Urine b) Talamus
c) Cairan lambung c) Serebelum
d) Cairan otak d) Sistim limbik
e) Radiologik e) Batang otak
3. Yang dikenal sebagai pil koplo termasuk golongan : 7. Golongan anti depresan yang mutakhir :
a) Opiat a) Benzodiazepin
b) Amfetamin b) Trisiklik
c) Kokain c) MAO inhibitor
d) Benzodiazepin d) Tetrasiklik
e) Ganja e) SSRI
4. Ecstasy termasuk golongan : 8. Preparat yang termasuk golongan tersebut ialah :
a) Opiat a) Klobazam
b) Amfetamin b) Amitriptilin
c) Kokain c) Moklobemid
d) Benzodiazepin d) Maprotilin
e) Ganja a) Fluoksetin

JAWABAN RPPIK :
1. B 2. B 3. D 4. B
5. A 6. D 7. E 8. E

On the pinnacle of fortune man does not stand long firm


(Goethe)

Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 57