Anda di halaman 1dari 23

Respon Sekolah Muhammadiyah terhadap Penerapan

Manajemen Berbasis Sekolah [MBS]; Studi pada empat sekolah di Komplek


Perguruan Muhammadiyah Tlogomas Malang
Oleh Abdul Haris
ABSTRACT
This research deals with the response of Muhammadiyah schools on School
Based Management implementation.
The research helded to four Muhammadiyah schools those are located in
complex of Muhammadiyah institution Tlogomas Malang. The data was collected
by using observation and dept interview, and was analyzed by using descriptive
qualitative method.
The research shows that Muhammadiyah schools those are located in
complex of Muhammadiyah institution Tlogomas Malang have varieties response
on School Based Management implementation. The varieties response caused by
internal condition of schools such as human resources, facilities, financial
resources, etc. in answer the new changes.
The main problems of Muhammadiyah schools in answer the
implementation of School Based Management are based on understanding of
School Based Management concept, human resources, and the weakness of
community attention with the improvement of school quality.
Each school has its solution to overcome the problems that was suitable
with its condition.

PENDAHULUAN
Kenyataan menunjukkan bahwa sampai saat ini mutu pendidikan di
Indonesia masih jauh dari harapan untuk dapat bersaing dengan Negara lain yang
sudah maju. Hasil survei The Political and Economic Risk Consultation tahun
2001 melaporkan bahwa mutu pendidikan Indonesia adalah yang terburuk di Asia,
yakni ke-12 dari 12 negara yang disurvei, satu peringkat di bawah Vietnam. Data
Balitbang Diknas 2003 yang diambil dari data base Unisco tahun 2000
menunjukkan bahwa peringkat Human Development Index, yakni komposisi
pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala menunjukkan
bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174
negara dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 pada tahun 1996, ke-99 pada
tahun 1997, ke-105 pada tahun 1998, ke-109 pada tahun 1999, dan ke-112 pada
tahun 2000.

1
Hal itu diperkuat oleh hasil ujian akhir nasional tahun 2004-2005 yang
mengejutkan banyak orang. Puluhan ribu murid tingkat SMP dan SMA di seluruh
Indonesia tidak lulus ujian. Di Yogyakarta yang nota bene sebagai kota pelajar,
ada 13 SMA yang persentase kelulusan muridnya nol persen. Bahkan di NTT,
Papua, Bengkulu, Sulteng, Kalteng dan NAD, angka ketidaklulusan siswa SMP
peserta UAN 2005, sekitar 50 %. (Suara Merdeka, 23 Agustus 2005)

Kenyataan ini menyadarkan pemerintah untuk segera melakukan perbaikan


mutu pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi. Salah
satu upaya peningkatan mutu pendidikan yang saat ini sedang gencar dilakukan
adalah penerapan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah-
sekolah baik negri maupun swasta. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk
melakukan desentralisasi pendidikan seiring dengan digulirkannya Undang-
undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang telah direvisi melalui
Undang-undang No. 32 tahun 2004. Desentralisasi pendidikan melaui penerapan
Penerapan MBS dianggap sebagai satu alternatif yang handal untuk meningkatkan
mutu pendidikan di Indonesia sebab salah satu hal yang menyebabkan kurangnya
mutu pendidikan di Indonesia adalah diterapkannya kebijakan pendidikan yang
sentralistik sebagaimana dinyatakan oleh Zamroni (www. dikmenum.go.id).

Hanya saja, untuk menerapkan MBS di sekolah-sekolah Indonesia tidaklah


semudah membalik telapak tangan. Hasil ujicoba yang dilakukan di 1000 sekolah
menunjukkan bahwa masih banyak sekolah yang belum mampu mengaplikasikan
MBS dengan baik sehingga MBS masih belum menyentuh perubahan mendasar
dalam meningkatkan "sistem pendidikan partisipatif". Penyebabnya antara lain
karena lemahnya kepemimpinan kepala sekolah, kurang profesionalnya guru, dan
sikap apatis masyarakat (Media Indonesia, 25 Juni 2001)

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang ingin menunjukkan bagaimana


penerapan MBS menuai banyak problem pada tataran aplikasinya. Dalam hal ini
empat sekolah yang berada di komplek perguruan Muhammadiyah Tlogomas
Malang dijadikan sebagai subjek penelitian.
Dalam penelitian ini persoalan difokuskan seputar respon sekolah
Muhammadiyah terhadap penerapan MBS beserta implikasi riilnya dan problem-
problem yang mengitarinya. Respon yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
dalam pengertian bahasa Inggris response yang berarti action done in answer to
something (H. Manser, 1991:353) artinya tindakan yang dilakukan untuk
menjawab sesuatu.

TINJAUAN PUSTAKA
• Pengertian MBS
Manajemen Berbasi Sekolah (MBS) merupakan satu pendekatan yang saat
ini sedang diterapkan di Indonesia sebagai upaya untuk meningkatkan mutu
pendidikan melalui penerapan pendidikan partisipativ. Istilah MBS merupakan
terjemahan dari shool-based management yang pertama kali muncul di Amerika
ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidkan dengan tuntutan
dan perkembangan masyarakat setempat (Mulyasa, 2004: 24).
Definisi MBS sebenarnya sangat bervariasi, di antaranya adalah sebagai
berikut:
Rahmat dan Edie Suharto mengatakan bahwa MBS pada dasarnya
merupakan pendelegasian otoritas pengambilan keputusan untuk mengelola
sumber daya keuanagan, kurikulum, serta profesinalisme guru ke tingkat sekolah
(Media Indonesia, 25 Juni 2001).
Hal senada juga dinyatakan oleh Agus Dharma bahwa MBS adalah strategi untuk
meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan
keputusan penting dari pusat dan daerah ke tingkat sekolah. MBS pada dasarnya
merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan
keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri
(Pendidikan Network, http://artikel.us/adharma2.html).
MBS merupakan bentuk alternatif sekolah dalam rangka desentralisasi
bidang pendidikan yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah,
partisipasi masyarakat yang tinggi, tetapi masih dalam kerangka kebijakan
pendidikan nasional (Koster,Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 26).

3
MBS dapat difahami sebagai model manajemen pendidikan yang memberikan
otonomi yang lebih besar kepada pihak sekolah dan mendorong pengambilan
keputusan partisipatif dengan melibatkan secara langsung semua anggota sekolah
(Diknas, 2001: 5)

• Tujuan MBS dan Manfaatnya


Penerapan MBS di Indonesia dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa
kebijakan pendidikan yang sentralistik ternyata kurang mampu mengantarkan
pada tujuan yang menghasilkan lulusan yang berkualitas (Zamroni, op.cit), dan
dipicu oleh ketidakpuasaan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level
operasional atas keterbatasan wewenang yang mereka miliki untuk mengelola
sekolah secara mandiri (Agus Dharma, op. cit). Selain itu juga didasarkan pada
alasan-alasan berikut:
a. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan
pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan
sekolahnya
b. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, terutama
inpun pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan
dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan
dan kebutuhan peserta didik
c. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih
cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah
d. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih effisien dan efektif
bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat
e. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam
pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan
demokrasi yang sehat
f. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan
masing-masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan
masyarakat pada umumnya
g. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan
sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan yang
diduduk oleh orang tua siswa, dan pemerintah daerah setempat
(Depdiknas, 2001: 6)
Selama ini sekolah ditempatkan sebagai pelaksana kebijakan pusat sehingga
sekolah selalu menunggu "komando" dari pusat dalam mengambil keputusan
apapun termasuk hal-hal kecil yang semestinya dapat dilakukan sekolah sendiri
secara cepat. Akibatnya sekolah menjadi pasif dan lambat dalam merespon
perkembangan yang terjadi di lingkungannya.
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dari penerapan MBS. Kustrini
Hardi misalnya menyebutkan bahwa tujuan MBS adalah:
a. Mengembangkan kemampuan kepala sekolah bersama guru, unsur komite
sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah
b. Mengembangkan kemampuan kepala sekolah bersama guru, unsur komite
sekolah untuk melaksanakan pembelajaran yang aktif dan menyenagkan
c. Mengembangkan peran serta masyarakat yang lebih aktif dalam masalah
umum persekolahan guna membantu peningkatan mutu sekolah. (Batam
Post, 14 April 2005).
Selain itu sebagai satu model manajemen, MBS bertujuan untuk
mengefektifkan manajemen sekolah dengan harapan:
a. Individu yang kompeten terlibat dalam pengambilan keputusan
b. Anggota komunitas sekolah punya hak suara
c. Fokus pada pertanggngjawaban (akuntabilitas)
d. Kreatifitas pada perencanaan program
e. Adanya pengaturan ulang SDM
f. Alokasi anggaran lebih realistis (Kusmanto, Republika 20 Maret 2004)
Sementara itu Sugiarto dan Sulis Agung Nigrroho menyatakan bahwa MBS
memiliki tujuan yang orientatif, di antaranya:
a. MBS sebagai media perubahan kultur dalam sekolah
b. MBS sebagai media pemenuhan kebutuhan internal dan eksternal di
sekolah

5
c. Fokus MBS ada pada pemberi dan penerima jasa
d. MBS merupakan antisipasi perubahan untuk menghadapi masa yang akan
datang (Jurnal Joglo Vol. VI, No. 1, 2003)
Dengan demikian secara garis besar dapat disimpulkan bahwa tujuan utama
penerapan MBS adalah:
a. Peningkatan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif
sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang
tersedia
b. Peningkatan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan
bersama
c. Peningkatan tanggung jawab sekolah kepada orang tua,
masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya
d. Peningkatan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu
pendidikan yang akan dicapai (Depdiknas, 2001: 5 – 6)
Tujuan penerapan MBS yang demikian akan memberikan banyak manfaat di
antaranya:
a. Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil
keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran
b. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam
pengambilan keputusan penting
c. Mendorong munculnya kreatifitas dalam merancang bangun tujuan yang
dikembangkan di setiap sekolah
d. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan
guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah, batasan pengeluaran,
dan biaya program-program sekolah
e. Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di
semua level (Katleen dalam Agus Dharma, op. cit.)

• Strategi Penerapan MBS di Sekolah


Penerapan MBS di sekolah menuntut adanya dukungan sumber daya
manusia yang ada di sekolah. Dari pihak kepala sekolah, MBS menuntut adanya
kepala sekolah yang memiliki kompetensi yang tinggi dalam persoalan manajerial
dan keteladanan kerja. Dari pihak guru, MBS menuntut adanya guru yang
memiliki kreatifitas dan semangat kerja tinggi dalam memberdayakan proses
belajar-mengajar. Dari pihak Tata usaha, MBS, menuntut partisipasi yang tinggi
untuk mendukung pelaksanaan proses pembelajaran yang efektif. Dan dari pihak
masyarakat, MBS menuntut adanya partisipasi masyarakat dalam meningktkan
mutu sekolah.
Menurut Kusmanto, penerapan MBS di sekolah membutuhkan prasyarat
kondisional yang meliputi:
a. Perlu ada agenda strategis untuk pengembangan profesi dan diklat bagi
guru dan komponen sekolah lainnya tentang pengajaran, pengelolaan
sekolah, dan pemecahan masalah
b. Perlu ada keterbukaan informasi tentang kinerja sekolah guna
pemenuhan kebutuhan orang tua dan masyarakat serta sumber daya
sekolah guna membantu komponen sekolah membuat keputusan yang
jitu
c. Perlu sistem ganjaran sebagai pengakuan atas usaha partisipasif dalam
pengembangan dan peningkatan mutu/kinerja sekolah
d. Ada kepemimpinan kepada sekolah yang cakap dan tersedianya
pedoman mekanisme untuk mengarahkan pelaksanaan kurikulum dan
upaya instruksional lainnya
e. Dirumuskannya dan diwujudkannya visi, misi, tujuan, strategi, sasaran,
serta kegiatan pada sekolah tersebut (Republika 20 Maret 2004)
Sementara itu Agus Dharma mengatakan bahwa penerapan MBS
mensyaratkan hal-hal berikut:
a. Harus ada dukungan dari staf sekolah
b. Diaplikasikan secara bertahap sekitar lima tahun atau lebih
c. Ada pelatihan untuk semua unsur yang terlibat sehingga tercipta
pola komunikasi yang sefaham antara sekolah dengan kantor
dinas

7
d. Ada dukungan anggaran untuk pelatihan secara teratur
e. Ada pembagian wewenang yang jelas antara pusat, daerah, dan
pihak sekolah (Pendidikan Network dalam
http://artikel.us/adharma2.html)
Oleh sebab itu, agar penerapan MBS di sekolah dapat berlangsung secara
efektif dan effisien jika ditunjang oleh beberapa hal berikut:
a. Kesiapan dan ketulusan para pelaksana pengambil
kebijakan mulai dari pusat, daerah, dan sekolah itu sendiri
dalam melaksanakan MBS.
b. Dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas
untuk membantu peningkatan mutu pembelajaran melalui
MBS.
c. Kemadirian dan kreativitas sekolah dalam mengelola
pendidikan dan pembelajaran di balik otonomi yang
dimilikinya.
d. Kemampuan sekolah mencermati kebutuhan peserta didik
yang bervariasi, keinginan dan kemampuan staf yang
berbeda, kondisi lingkungan yang beragam, dan harapan
masyarakat (orang tua) untukmemperoleh pendidikan
yang menjanjikan bagi anaknya di masa depan.
e. Keterlibatan masyarakat dalam peningkatan mutu
pendidikan di sekolah.
f. Adanya sistem komunikasi dan regulasi yang jelas antara
pusat, daerah, dan sekolah dalam penerapan MBS.
g. Ada pentahapan yang jelas dari sekolah dalam
menerapkan MBS
h. Dikembangkannya budaya yang aktif, inovatif, kreatif,
dokratis, dan profesional di lingkungan sekolah.

• Tahap-tahap Pelaksanaan MBS


Ada sepuluh tahap untuk melaksanakan MBS, yaitu:
a. Melakukan sosialisasi
Sebagai sesuatu yang baru, MBS terlebih dahulu perlu difahami sebelum
diterapkan di sekolah. Sekolah yang akan menerapkan MBS hendaknya
memahami kultur yang ada dalam MBS setelah itu dilakukan upya-upaya
secara bertahap untuk membangun kultur baru di sekolah sesuai dengan kultur
yang ada dalam MBS.
b. Mengindentifikasi tantangan nyata sekolah
Sebelum MBS diterapkan sekolah perlu melakukan identifikasi tantangan
nyata yang dihadapi oleh sekolah. Tantangan yang dimaksud di sini adalah
kesenjangan antara apa yang dicita-citakan dengan apa yang terjadi di sekolah.
c. Merumuskan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah
Setelah diketahui tantangan nyata yang dihadapi sekolah, tindakan berikutnya
adalah merumuskan visi, misi, tujuan, dan sasaran yang ingin dicapai oleh
sekolah.
d. Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran
Apabila penentuan visi sampai pada sasaran sudah selesai, langkah berikutnya
adalah melakukan identifikasi terhadap fungsi-fungsi yang dibutuhkan untuk
mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.
e. Melakukan analisis SWOT
Hal penting lain yang perlu dilakukan sebelum menerapkan MBS adalah
melakukan analisis SWOT untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang,
dan tantangan yang dihadapi oleh sekolah.
f. Mencari alternatif langkah pemecahan persoalan
Dengan teridentifikasinya kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang
ada sekolah selanjutnya mencari alternative pemecahan persoalan dalam
rangka mencapai sasaran yang ditetapkan.
g. Menyusun rencana dan program peningkatan mutu
Setelah itu sekolah menyusun rencana program peningkatan mutu berupa
langkah-langkah strategis untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik
h. Melaksanakan Rencana peningkatan mutu
Langkah berikutnya adalah implementasi dari program-program peningkatan

9
mutu yang telah dibuat.
i. Melakukan evaluasi pelaksanaan
Setelah proses peningkatan mutu berlangsung, diperlukan adanya evaluasi
terhadap program peningkatan mutu tersebut guna menemukan tingkat
pencapaian yang telah diperoleh dan menemukan kelemahan-kelemahan yang
perlu diperbaiki.
j. Merumuskan sasaran mutu baru
Setelah dilakukan evaluasi dan ditemukan kelemahan dan kekuarangan yang
ada dalam proses peningkatan mutu tersebut, langkah berikutnya adalah
merumuskan sasaran mutu baru. (Lihat Depdiknas, 2001: 29 – 46)
Tahapan-tahapan di atas menunjukan adanya proses yang berantai untuk
menerapkan MBS di sekolah. Tahapan tersebut dimulai dari mengenali terlebih
dahulu konsep MBS secara utuh, kemudian mengenali situasi dan kondisi sekolah
dengan berbagai kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatannya. Beranjak dari
langkah tersebut disusunlah visi, misi, dan tujuan sekolah dengan berbagai
sasarannya yang dilanjutkan dengan membuat perencanaan program, pelaksanaan
program, evaluasi program sehingga dapat dirumuskan sasaran mutu berikutnya.

METODE PENELITIAN
• Pendekatan Penelitian
Penelitian ini berusaha untuk memahami secara lebih dalam dan lebih
terperincirespon sekolah Muhamamdiyah terhadap kebijakan penerapan
pendekatan MBS.
Karena itu pendekatan kualitatif yang dianggap paling tepat untuk tujuan
tersebut. Sanafiah Faisal (dalam Bungin, 2003: 66) mengatakan bahwa tujuan
akhir dari kegiatan penelitian kualitatif adalah untuk memahami fenomena social
yang tengah diteliti. Kata kuncinya adalah memahami (understanding).

• Informan Penelitian
Dalam penelitian ini informan kuncinya adalah kepala Madrasah
Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah 1, kepala Madrasah ALiyah (MA)
Muhammadiyah 1, kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah 3,
kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 3 yang ada di
komplek Perguruan Muhamamdiyah Tlogomas Malang.

• Tehnik Pengumpulan dan Analisa Data


Dalam penelitian ini data-data akan dikumpulkan dengan menggunakan
tehnik observasi dan wawancara mendalam.
Data yang telah terkumpul baik dari hasil observasi maupun wawancara
mendalam akan disajikan dalam bentuk teks naratif sebagai hasil penemuan
makna dari apa yang terjadi di sekolah-sekolah tersebut. Mula-mula peneliti akan
melakukan reduksi data. Dari hasil reduksi data tersebut, kemudian diorganisir
(display data) dalam bentuk metrik untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas
dan mudah difahami tentang persoalan penelitian yang diteliti. Setelah itu peneliti
akan menarik kesimpulan sebagai hasil penelitian.
Hasil penelitian yang telah diperoleh tersebut tidak dianggap sebagai hasil
final, akan tetapi diuji kredibilitasnya terlebih dahulu dengan menggunakan
metode Triangulasi dan metode Membercheck. Dengan serangkaian metode di
atas diharapkan hasil penelitian yang dianggap final memiliki kredibilitas yang
baik.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada dasarnya empat sekolah di komplek perguruan Muhammadiyah Tlogomas
telah lama melakukan pengelolaan sekolah secara mandiri, namun demikian
terdapat perbedaan respon dalam mensikapi penerapan MBS. Hal ini dapat dilihat
dari apa yang telah dilakukan oleh masing-masing sekolah yang tergambar dalam
paparan berikut:
• Madrasah Aliyah Muhammadiyah I
Dalam pengamatan peneliti termasuk sekolah yang responsive terhadap
perubahan-perubahan. Dengan kepemimpinan Dra. Nurhayati, sekolah ini telah
dua kali menjalin kerjasama dengan Fakultas Agama Islam Universitas
Muhammadiyah Malang dalam program peningkatan mutu madrasah. Oleh sebab

11
itu menghadapi kebijakan penerapan MBS, Pada prinsipnya sekolah ini telah
melakukan beberapa tindakan yang mengarah pada perwujudan MBS. Tindakan-
tindakan tersebut sebagimana dijelaskan oleh kepala Madrasah Aliyah
Muhammadiyah I adalah:
1. Melakukan sosialisasi
MBS. Hal ini dilakukan
dengan cara memberikan
pemahaman terhadap warga
sekolah dan stakeholder
tentang konsep MBS
dengan kultur/budaya yang
menyertainya.
2. Menyusun Renstra (rencana
strategis) Madrasan yang
menjadi acuan sekolah
dalam meningkatkan mutu
madrasah. Dalam renstra ini
tergambar visi, misi, dan
tujuan yang ingin
diwujudkan oleh sekolah.
3. Penyusunan renstra
dilanjutkan dengan
membuat action plan
(rencana tindakan) yang
berisi tahapan-tahapan yang
akan dilakukan sekolah
dalam meningkatkan mutu
sekolah.
4. Untuk melengkapi piranti
penerapan MBS, MAM I
juga membentuk Komite
Madrasah sebagai patner
dari unsur masyarakat agar
terlibat dalam upaya-upaya
peningkatan mutu
madrasah. Komite
Madrasah ini terdiri dari
perwakilan orang tua siswa,
guru, tokoh masyarakat,
dan pakar pendidikan.
Menurut Dra. Nurhayati, langkah-langkah di atas dilakukan dengan alasan
merupakan kebijakan pemerintah yang harus dilaksanakan. Selain itu pada
dasarnya model semacam MBS telah lama dilakukan sekolah swasta hanya saja
diperlukan adaptasi formatnya dan diperlukan upaya peningkatan peran serta
masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah. Namun demikian ada beberapa
kendala yang dihadi oleh MAM I dalam merespon penerapan MBS adalah:
1. Konsep MBS belum sepenuhnya difahami oleh warga sekolah dan
stakeholder. Belum semua guru memahami konsep MBS apalagi
masyarakat yang terkait dengan madrasah.
2. Sumber Daya Manusia yang terbatas yang dimiliki oleh MAM I.
Para guru yang mengajar di MAM I umumnya adalah guru-guru
swasta dengan gaji yang di bawah standart sehingga untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya mereka tidak bisa hanya bergantung
pada gaji yang mereka peroleh dari MAM I. Hal ini membawa
mereka untuk mencari penghidupan lain di luar pekerjaan sebagai
guru. Implikasinya, peningkatan mutu madrasah yang telah
dirumuskan dalam action plan sekolah tidak bisa sepenuhnya
menjadi focus perhatian para guru, dan pimpinan madrasahpun tidak
bisa dengan ketat menuntut para guru untuk serius dengan program
peningkatan mutu madrasah karena sekolah belum mampu
memberikan imbalan yang sebanding dengan kerja yang akan
dibebankan kepada mereka.

13
3. Perhatian masyarakat terhadap Madrasah masih rendah. Keberadaan
Komite Madrasah yang diharapkan menjadi jembatan antara
masyarakat dengan Sekolah masih sebatas formalitas saja.
Keterlibatannya untuk merencanakan, melaksanakan, dan
mengontrol mutu pendidikan sekolah belum terasa.
Kendala-kendala tersebut mengurangi laju sekolah untuk menjadi sekolah
yang mandiri dan bermutu. Oleh sebab itu untuk menghadapinya beberapa
langkah telah ditempuh oleh MAM I yaitu:
1. Terus melakukan
sosialisasi MBS secara
bertahap.
2. Memilih beberapa orang
yang memiliki kemauan
dan kesempatan untuk
menjadi teamwork
sekolah guna
mewujudkan action plans
madrasah.
3. Terus menggalang
kerjasama dengan
masyarakat yang peduli
terhadap mutu pendidikan
madrasah. (Wawancara
dengan Kepala MAM I
tanggal 1 Desember
2006).

• Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah I


Dalam merespon penerapan MBS, sekolah yang dipimpin oleh Drs. Romli
ini telah melakukan beberapa tindakan guna mewujudkan penerapan MBS sesuai
dengan kebijakan Pemerintah. Beberapa tindakan yang telah dilakukan oleh
sekolah ini adalah:
1. Mempelajari konsep MBS dengan cara
mengikutkan sebagian guru untuk mengikuti
seminar atau loka karya tentang MBS.
2. Membentuk komite Madrasah sebagai jembatan
yang menghubungkan antara sekolah dengan
masyarakat. Komite ini telah terbentuk dan
melibatkan beberapa tokoh masyarakat,
pimpinan ranting Muhammadiyah, guru, dan
orang tua siswa.
3. Menyusun rencana kerja untuk peningkatan
ketrampilan hidup siswa dalam bentuk eksta
kurikuler.
4. Membentuk Paguyuban Kelas yang terdiri dari
perwakilan orang tua siswa sebagai sarana
komunikasi antara sekolah dengan orang tua
siswa di masing-masing kelas.
Tindakan-tindakan di atas dilakukan dalam rangka untuk melakukan
adaptasi terhadap konsep MBS yang dicanangkan oleh pemerintah, di samping
untuk terus-menerus meningkatkan kemandirian dan pengembangan mutu
sekolah. (Wawancara dengan Drs. Romli tanggal 12 September 2006).
Menurut M. Amri, S.P.I wakil kepala sekolah bidang kurikulum upaya
untuk menerapkan MBS secara keseluruhan di MTSM 1 mengalami beberapa
kendala, yaitu:
1. Kurangnya pemahaman tentang konsep MBS di
kalangan warga sekolah dan stakeholder.
2. Belum ada komunikasi yang efektif antara komite
madrasah dengan sekolah yang berakibat pada
tidak selarasnya antara program komite madrasah
dengan program sekolah sehingga masing-masing
pihak berjalan sendiri-sendiri

15
3. Kesibukan para pengurus komite madrasah
sehingga menyulitkan terjadinya dialog dan kerja
sama guna merumuskan peningkatan mutu sekolah.
Keberadaan komite madrasah sampai saat ini lebih
bersifat formalitas belaka.
4. Kepedulian masyarakat dan stakeholder kurang
terhadap pengembangan mutu madrasah.
Untuk mengatasi hal-hal tersebut beberapa langkah telah dilakukan
MTSM 1, yaitu:
1. Mengikutkan beberapa guru
untuk mengikuti seminar
atau lokakarya tentang MBS.
2. Mencari format komunikasi
yang dapat menyelaraskan
program sekolah dengan
program komite madrasah
3. Mengintensifkan fungsi
paguyuban kelas sebagai
media komunikasi antara
sekolah dengan orang tua
4. Meningkatkan kepedulian
masyarakat terhadap
kemajuan sekolah melalui
kumpul bersama pada saat-
tertentu (Wawancara dengan
M. Amri, S.Pd.I tanggal 29
September 2006)

• Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 2


Menurut M. Nasir selaku kepala sekolah SMK 2, saat ini sekolah sedang
menuju pada penerapan MBS secara total sesuai dengan kebijakan yang
diterapkan. Untuk itu beberapa langkah telah dilakukan sekolah dalam merespon
kebijakan penerapan MBS di sekolah., yaitu:
1. Melakukan sosialisasi penerapan MBS di kalangan
warga sekolah dan stakeholder.
2. Mempersiapkan pembentukan komite sekolah.
3. Membuat perencanaan pengembangan mutu
sekolah sebagai acuan kerja sekolah.
4. Menjalin kerjasama dengan beberapa institusi
untuk meningkatkan kemandirian sekolah. Saat ini
pihak sekolah telah melakukan kerjasama dengan
Depdiknas untuk memperoleh dana pengembangan
mutu sekolah.
Hal ini dilakukan sebagai langkah persiapan menuju penerapan MBS yang
sesuai dengan konsep yang dikembangkan oleh pemerintah dan sebagai upaya
untuk menuju sekolah yang mandiri dan bermutu.
Namun demikian, upaya untuk menuju penerapan MBS yang lebih baik di
SMKM 2 ini mengalami beberapa kendala, yakni:
1. Pemahaman tentang konsep MBS belum merata di kalangan warga
sekolah dan stakeholder sehingga tidak semua warga sekolah merespon
dengan baik tujuan penerapan MBS.
2. Kesibukan orang-orang yang akan dilibatkan dalam komite sekolah
sehngga menyulitkan adanya pertemuan untuk membahas
pengembangan sekolah.
3. Kepedulian masyarakat yang masih rendah terhadap upaya peningkatan
mutu sekolah.
Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, SMKM 2 melakukan beberapa
langkah yaitu:
1. Terus melakukan sosialisasi penerapan MBS di kalangan warga sekolah
dan stakeholder.
2. Meminta salah seorang pengurus Muhammadiyah untuk menjadi ketua
komite sekolah meskipun kepengurusan komite sekolah belum tersusun.

17
3. Terus melakukan upaya-upaya yang melibatkan masyarakat terutama
orang tua siswa untuk turut berpartisipasi dalam peningkatan mutu
sekolah. Selain itu juga menjalin kerjasa sama secara individual dengan
orang-orang yang peduli dengan pendidikan untuk menjadi orang tua
asuh bagi siswa yang kurang mampu secara ekonomi. (Wawancara
dengan Drs. M. Nasir tanggal 12 September 2006)

• Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 3


Berdasarkan keterangan dari Drs. Janu sebagai kepala sekolah yang
dikuatkan oleh Dra. Lilik selaku Wakasek bidang kurikulum (wawancara tanggal
29 September 2006), sampai saat ini sekolah tersebut baru bersiap-siap untuk
menerapkan MBS sesuai dengan kebijakan pemerintah. Sekolah belum
membentuk komite sekolah dan belum pula melakukan sosialisasi dan
pemahaman tentang konsep MBS kepada warga sekolah dan stakeholder.
Langkah-langkah yang sekarang ini dilakukan sebagai respon penerapan MBS
adalah:
1. Membentuk Peguyuban Orang Tua Siswa sebagai media komunikasi
antara sekolah dengan orang tua. Diharapkan setelah lembaga ini
terbentuk akan dilanjutkan dengan pembentukan komite sekolah.
2. Menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah dan masyarakat yang
peduli terhadap pengembangan pendidikan guna meningkatkan
kemandirian sekolah.
Hal ini dilakukan sebagai langkah pragmatis menuju penerapan MBS yang
lebih baik sebab sekolah mengalami kesulitan untuk melibatkan masyarakat dalam
hal ini orang tua siswa untuk terlibat dalam pengembangan sekolah. Mereka
(orang tua siswa) yang rata-rata berpendidikan SD – SMA kurang peduli dengan
apa yang dilakukan oleh sekolah. Mereka seakan tidak mau tahu dengan segala
upaya sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah. Hal seperti ini sangat
menyulitkan pihak sekolah untuk melakukan pertemuan dan musyawarah apalagi
mendialogkan pengembangan sekolah.
Untuk mengatasi kondisi tersebut alternatif pemecahan yang sekarang
dirancang sekolah adalah memilih beberapa orang dari orang tua siswa sebagai
representasi orang tua siswa yang dapat diajak bekerjasama memikirkan
pengembangan sekolah. Selain itu sekolah berjalan sendiri merencanakan,
melaksanakan, mengembangkan, dan mengevaluasi program peningkatan mutu
kemudian menunjukkan hasilnya kepada orang tua siswa.
Dengan melihat data-data di atas terlihat bahwa terjadi respon yang variatif
yang dilakukan oleh empat sekolah yang ada di komplek perguruan
Muhammadiyah Tlogomas Malang terhadap kebijakan penerapan MBS. Variasi
tersebut terlihat dari tindakan-tindakan yang diambil keempat sekolah untuk
menjawab penerapan MBS.
Secara singkat respon sekolah Muhammadiyah di komplek perguruan
Muhammadiyah Tlogomas terhadap penerapan MBS dapat dirangkum dalam
metric berikut:
Sekolah Respon Kendala Solusi
MAM 1 1. Sosialisasi 1. 1. Meningkatkan
MBS sosialisasi
2. Menyusun konsep MBS
renstra sekolah 2. Membentuk Team
3. Menyusun work
action plan 3. Terus mengga-
4. Membentuk lang kerjasama
komite dengan
madrasah masyarakat

2.

19
3.

MTsM 1 1. Memahami 1. Pemahaman 1. Meningkatkan


konsep MBS konsep MBS pemahaman
2. Membentuk belum merata konsep MBS
Komite Madrasah 2. Belum ada 2. Mencari format
3. Membuat program komunikasi yang komunikasi yang
pengembangan efektif antara efektif dengan
4. Membentuk sekolah dengan komite
Paguyuban kelas komite 3. Menginten-
3. Kesibukan sifkan fungsi
pengurus komite paguyuban kelas
4. Kepedulian 4. Meningkatkan
masyarakat komunikasi dengan
rendah masyarakat
SMKM 2 1. Memahami konsep 1. Pemahaman 1. Meningkatkan
MBS konsep MBS sosialisasi
2. Menyiapkan belum merata konsep MBS
pembentukan 2. Kesibukan orang 2. Melibatkan
komite sekolah yang akan erlibat pengurus
3. Membuat dalam komite Muhamma-diyah
perencanaan 3. Kepedulian 3. Meningkatkan
pengembangan masyarakat kerjasama
sekolah rendah dengan
4. Menjalin masyarakat
kerjasama dengan
masyarakat
SMAM 3 1. Membentuk • Kepedulian • Memilih
paguyuban orang masyarakat perwakilan
tua siswa rendah orang tua
2. Menjalin siswa untuk
kerjasama dengan terlibat dalam
masyarakat pengembanga
n sekolah

Dari data-data di atas terlihat bahwa dalam merespon penerapan MBS,


sekolah-sekolah Muhammadiyah di komplek perguruan Muhammadiyah
Tlogomas umumnya melakukan tindakan-tindakan yang masih berkutat pada
membangun kemandirian sementara pembangunan jalinan kerjasama yang lebih
efektif dengan masyarakat dan stakeholder guna meningkatkan mutu sekolah
belum tergarap dengan baik. Hal ini karena di satu sisi sekolah masih disibukkan
untuk mencari dana-dana yang dapat menunjang keberlangsungan
penyelenggaraan pendidikan, dan di sisi lain kepedulian masyarakat terhadap
pengembangan mutu pendidikan masih rendah. Penerapan MBS yang bermuara
pada kemandirian dan pengambilan keputusan yang partisipativ antara warga
sekolah dengan masyarakat sebenarnya berpeluang besar untuk dilakukan di
sekolah-sekolah Muhammadiyah di komplek perguruan Muhammadiyah
Tlogomas. Nilai-nilai kemandirian sebenarnya telah tertanam lama di lingkungan
wagra sekolah di komplek perguruan Muhammadiyah tersebut. Persoalannya

21
adalah pada pemahaman tentang konsep MBS yang belum difahami dengan baik
dan belum merata di kalangan warga sekolah dan pihak-pihak yang terkait dengan
penyelenggaraan sekolah berimplikasi pada pengambilan langkah-langkah yang
kurang tepat oleh sekolah untuk menuju pada penerapan MBS secara penuh.
Demikianlah, dapat difahami bahwa penerapan MBS di sekolah-sekolah
swasta sebenarnya memiliki peluang yang sangat besar bila ditunjang dengan
sosialisasi yang serius tentang pemahaman konsep MBS.

PENUTUP
Dari pembahasa di atas dapatlah disimpulkan bahwa terdapat respon yang
beragam yang dilakukan oleh sekolah Muhammadiyah di komplek perguruan
Muhammadiyah Tlogomas terhadap penerapan MBS. Hal itu terlihat dari
langkah-langkah yang diambil untuk menjawab tuntutan penerapan MBS.
Dalam merespon penerapan MBS, kendala utama yang dihadapi sekolah di
komplek perguruan Muhammadiyah Tlogomas adalah pada belum difahaminya
secara baik dan menyeluruh konsep MBS, kepedulian masyarakat yang rendah
terhadap pengembangan mutu sekolah, dan keterbatasan SDM yang kompeten
untuk mengawal program menuju penerapan MBS.
Menghadapi kendala-kendala tersebut setiap sekolah melakukan langkah-
langkah yang berbeda sesuai dengan kendala utama yang dihadapi.

Daftar Pustaka
B. Budisatyo. "Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan". Suara Merdeka, 23
Agustus 2005

Bungin. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Dharma, Agus. Manajemen Berbasis Sekolah, http://artikel.us.adharma2.html
Diknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Diknas

H.Manser, Martin. Oxford Learner's Pocket Dictionary. New York: Oxford


University Press.
Koster, Wayan. Restrukrturisasi Penyelenggaraan Pendidikan : Studi Kapasistas
Sekolah dalam Rangka Desentralisasi Pendidikan, Jurnal Pendidikan
dan Kebudayaan No. 026
Kusmanto. "Menyoal Manajemen Berbasis Sekolah". Hariam Umum Republika
20 Maret 2004
Mulyasa, E. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi dan
Implementasinya. Cet. Ketujuh. Bandung: Remaja Rosdakarya
Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Grasindo
________. Hakikat Desentralisasi Model MBS, http://artikel.ud/nurkolis.html
Rahmat dan Edi Suharto, Konsep Manajemen Berbasis Sekolah, http://www.
smu.net.com.main.php?&act=ag&xkd=5
Rosyada, Dede. 2004, Paradigma Pendidikan demokratis, Sebuah Model Pelibatan
Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: Kencana
Zamroni. Manajemen Berbasis Sekolah : Peranti Reformasi Sistem Pendidikan,
http://www.dikmenum.go.id/content.php?
cid=8&sid=25&mode=view&id=5

Kompas, 14 Oktober 2004

23