Anda di halaman 1dari 25

ANALISA PENYEBAB TERJADINYA KONFLIK HORIZONTAL DI

KALIMANTAN BARAT Maria Lamria

LATAR BELAKANG

Mengingat begitu beragamnya latar belakang dan tingkat sosial masyarakat, maka persoalan
hak dan kewajiban senantiasa muncul menjadi konflik sosial yang berkepanjangan dan terjadi
di berbagai daerah. Konflik yang menggunakan simbol etnis, agama dan ras muncul yang
mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan harta bagi pihak yang bertikai. Hal ini terjadi jika
dalam hubungan tersebut terjadinya suatu kesenjangan status sosial, kurang meratanya
kemakmuran serta kekuasaan yang tidak seimbang. Kepentingan dan keinginan-keinginan
yang tidak lagi harmonis akan membawa masalah dalam hubungan antara individu atau
kelompok yang satu dengan yang lainnya.

Kerusuhan dan pertikaian yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan antara
lain kurangnya kemampuan pemerintah dalam mengatasi penyebab terjadinya konflik sosial
antar masyarakat. Konflik muncul dengan menggunakan simbol-simbol etnis, agama, dan ras.
Hal ini kemungkinan terjadi akibat adanya akumulasi "tekanan" secara mental, spiritual,
politik sosial, budaya dan ekonomi yang dirasakan oleh sebagian masyarakat. Seperti halnya
konflik antar etnis yang terjadi di Kalimantan Barat, kesenjangan perlakuan aparat birokrasi
dan aparat hukum terhadap Suku Asli Dayak dan Suku Madura menimbulkan kekecewaan
yang mendalam yang meledak dalam bentuk konflik-konflik horizontal. Masyarakat Dayak
yang termarjinalisasi semakin terpinggirkan oleh kebijakan-kebijakan yang diskriminatif
yang mengeksploitasi kekayaan alam mereka. Sementara penegakan hukum terhadap salah
satu kelompok tidak berjalan sebagaimana mestinya.

TUJUAN PENELITIAN

Dari penelitian diharapkan dapat diketahui apa penyebab dan upaya penanganan yang
dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat terhadap konflik yang terjadi, sehingga dapat
tercipta kedamaian bagi masyarakat di daerah Kalimantan Barat.

METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui penyebab dan upaya penanganan
terhadap terjadinya konflik horizontal adalah studi kepustakaan berupa penelaahan buku,
makalah dan bentuk tulisan lainnya yang mendukung tujuan penelitian. Data dan informasi
yang didapat kemudian diolah dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan pada pada bulan
Juli 2004.

KERANGKA TEORI

Pada negara yang memiliki keragaman suku bangsa masalah antar suku merupakan hal yang
seringkali muncul. Demikian juga Indonesia, dalam hal ini yang dapat dijadikan suatu
gambaran adalah konflik antar etnis di Kalimantan Barat. Konflik yang timbul antara Suku
Dayak dan Madura. Kehidupan bermasyarakat Suku Dayak dam Madura memang seringkali
banyak mengalami pergesekan karena kurangnya pemahaman antar budaya dari kedua belah
pihak.

Untuk penelitian kasus yang terjadi antara kedua suku ini akan digunakan teori konflik Simon
Fisher dan Deka Ibrahim dkk (Th. 2002).

Teori Kebutuhan Manusia : “berasumsi bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh
kebutuhan dasar manusia- fisik, mental dan sosial yang tidak terpenuhi atau yang
dihalangi”.

Teori Identitas : “berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh karena identitas yang terancam
yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan dimasa lalu yang tidak
terselesaikan”.

ANALISA PENYEBAB KONFLIK DAYAK DAN MADURA

Kebudayaan yang berbeda seringkali dijadikan dasar penyebab timbulnya suatu konflik pada
masyarakat yang berbeda sosial budaya. Demikian juga yang terjadi pada konflik Dayak dan
Madura yang terjadi pada akhir tahun 1996 yaitu terjadinya kasus Sanggau Ledo, Kabupaten
Bengkayang (sebelum pertengahan tahun 1999 termasuk Kabupaten Sambas), di Kalimantan
Barat. Dalam berkomunikasi penduduk yang heterogen ini menggunakan bahasa Indonesia
atau Melayu sebagai bahasa sehari-hari. Tetapi karena tingkat pendidikan mereka rendah,
kebanyakan mereka memakai bahasa daerahnya masing-masing. Dengan demikian seringkali
ditemui kesalahpahaman di antara mereka. Hukum adat memegang peranan penting bagi
orang Dayak. Perilaku dan tindakan masyarakat pendatang khususnya orang Madura
menimbulkan sentimen sendiri bagi orang Dayak yang menganggap mereka sebagai penjarah
tanah mereka. Ditambah lagi dengan keberhasilan dan kerja keras orang Madura menelola
tanah dan menjadikan mereka sukses dalam bisnis pertanian.

Kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi merupakan dasar dari munculnya suatu konflik.
Masyarakat Dayak juga mempunyai suatu ciri yang dominan dalam mata pencarian yaitu
kebanyakan bergantung pada kehidupan bertani atau berladang. Perilaku orang Madura
terhadap orang Dayak dan keserakahan mereka yang telah menguras dan merusak alamnya
menjadi salah satu dasar pemicu timbulnya konflik diantara mereka. Ketidakcocokan di
antara karakter mereka menjadikan hubungan kedua etnis ini mudah menjadi suatu konflik.
Ditambah lagi dengan tidak adanya pemahaman dari kedua etnis terhadap latar belakang
sosial budaya masing-masing etnis. Ketidakadilan juga dirasakan oleh masyarakat Dayak
terhadap aparat keamanan yang tidak berlaku adil terhadap orang Madura yang melakukan
pelanggaran hukum. Permintaan mereka untuk menghukum orang Madura yang melakukan
pelanggaran hukum tidak diperhatikan oleh aparat penegak hukum. Hal ini pada akhirnya
orang Dayak melakukan kekerasan langsung terhadap orang Madura, yaitu dengan
penghancuran dan pembakaran pemukiman orang Madura.

Selanjutnya Simon Fisher dkk, mengajukan suatu konsep tentang arti kekerasan sebagai suatu
pendekatan dalam intervensi konflik yang menyebutkan bahwa konflik adalah fakta
kehidupan yang dapat memunculkan permasalahanpermasalahan berat saat kekerasan muncul
dalam konflik tersebut. Oleh karenanya dapat dibedakan antara kelompok yang menghendaki
kekerasan sebagai penyelesaian konflik dan kelompok yang anti kekerasan.

Menganalisa lebih lanjut tentang konflik horizontal yang terjadi pada beberapa wilayah di
Indonesia, seperti konflik Dayak dan Madura dihubungkan dengan teori Simon Fisher, dapat
dikatakan bahwa sebagian besar masyarakat di daerah konflik cenderung memilih jalan
kekerasan sebagai alternatif penyelesaian masalah yang muncul di antara mereka. Mereka
menganggap cara ini lebih membuat pihak lawan memenuhi keinginan mereka.

Menyimak lebih jauh tentang konflik horizontal yang juga disebut sebagai konflik etnis yang
bersifat laten (tersembunyi) yang harus diangkat ke permukaan agar dapat ditangani secara
efektif. Konflik yang dipicu oleh persoalan yang sederhana, menjadi kerusuhan dan di
identifikasi pemicu pecahnya konflik adalah : adanya benturan budaya etnis lokal dengan
etnis pendatang, lemahnya supremasi hukum, adanya tindak kekerasan. Benturan budaya ini
sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh kesombongan dan ketidakpedulian etnis Madura
terhadap hukum adat dan budaya lokal yang sangat dihormati masyarakat setempat seperti
hak atas kepemilikan tanah.

PENANGANAN YANG DILAKUKAN

Lemahnya supremasi hukum terlihat dari perlakuan yang ringan diberikan pada masyarakat
Madura. Dalam hal ini untuk menghindari keadaan yang lebih tidak terkendali lagi seperti
terjadinya tindakan kekerasan, pembunuhan, pembakaran dan pengusiran yang
berkepanjangan, maka untuk sementara waktu orang Dayak menyatakan sikap yaitu :

1. Untuk etnis Madura yang masih berada di wilayah Kalimantan Barat agar secepatnya
dikeluarkan atau diungsikan demi keselamatan dan keamanan mereka.

2. Menolak pengembalian pengungsi etnis Madura untuk batas waktu yang tidak
ditentukan.

Sikap ini ditanggapi positif oleh aparat penegak hukum maupun masyarakat karena adanya
keterbatasan aparat yang tidak dapat menjangkau seluruh wilayah Propinsi Kalimantan, maka
demi keamanan kedua belah pihak untuk sementara suku Madura harus dilokalisir pada
daerah yang lebih aman. Selain itu dalam upaya penanganan konflik yang terjadi ini
dilakukan juga beberapa cara yaitu :

1. Untuk sementara waktu, etnis Dayak dan Melayu sepakat tidak menerima kembali etnis
Madura di bumi Kalimantan terutama di daerah konflik.

2. Rehabilitasi bangunan infrastruktur masyarakat umum agar dapat berjalannya kegiatan


masyarakat sebagaimana mestinya. Moral dan mental masyarakat juga perlu mendapat
perhatian dan pembinaan agar terwujud suatu rekonsiliasi yang damai dan melibatkan
kembali seluruh tokoh masyarakat;

3. Re-evakuasi dilakukan bagi korban konflik ke daerah yang lebih aman.

4. Dialog antar etnis yang berkesinambungan dengan memanfaatkan lembaga adat


masyarakat perlu dilakukan dalam proses pembentukan kerjasama mengakhiri konflik yang
berkepanjangan;

5. Penegakkan hukum terhadap pelaku pelanggaran hukum perlu dilakukan secara


konsisten dan adil tanpa berpihak pada etnis tertentu selain itu kemampuan personil petugas
keamanan perlu ditingkatkan.

KESIMPULAN

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyebab terjadi konflik adalah kurangnya
pemahaman terhadap sosial budaya masing-masing suku yang berbeda antara suku Dayak
dan Madura. Selain itu kurang diperhatikannya peranan masyarakat setempat dalam kegiatan
perekonomian di wilayah mereka, sehingga timbul diskriminasi terhadap suku Dayak sebagai
suku Asli setempat. Selain itu dalam sejarah konflik di Kalimantan secara umum dipicu oleh
dipraktekkannya tindak kekerasan baik dalam bentuk penganiayaan dan pembunuhan
manusia di daerah konflik. Hal ini didukung juga dengan lemahnya supremasi hukum dan
perlindungan terhadap hak asasi manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Alqadarie Syarief I. (2000). Laporan Akhir Hasil Penelitian Pertikaian antar Komunitas
Madura Kalimantan Barat dengan Dayak 1996/97 dan antara Komunitas Madura Sambas
dengan Melayu Sambas Tahun 1998/1999 di Kalimantan Barat. Kerjasama Yayasan Ilmu-
ilmu Sosial Jakarta-dengan Fisipol Untan-Pontianak.

Fisher Simon, Ibrahim Dekka, dkk. (2002) “Working with conflict’ : Skill & Strategies for
Action. New York.Responding To Conflict.

Jurnal Hukum dan Pemikiran Nomor I, Tahun 2 Januari- Juni 2002.

Laporan Khusus Gubernur Kalimantan Barat 1997.

Soekanto Soeryono; 1990. Suatu Pengantar. Raja Wali Press, Jakarta.

Sunaryo Thomas. “Manajemen Konflik dan Kekerasan”. Makalah pada Sarasehan tentang
Antisipasi Kerawanan Sosial di DKI Tanggal 15-17 September 2002.
KONFLIK ETNOSENTRISME

ANTARA SUKU DAYAK DAN MADURA


PENDAHULUAN

Latar
Belakang

Bangsa Indonesia telah mengenal hubungan antar


budaya yang harmonis sejak nenek moyang menduduki kepulauan Indonesia
ratusan abad yang lalu. Mengingat begitu beragamnya latar belakang
dan tingkat sosial masyarakat, maka persoalan hak dan kewajiban
senantiasa muncul menjadi konflik sosial yang berkepanjangan dan
terjadi di berbagai daerah. Konflik yang menggunakan simbol etnis,
agama dan ras muncul yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan
harta bagi pihak yang bertikai. Dengan demikian juga terjadi
pelanggaran hak hidup damai dan sejahtera dalam bermasyarakat.

Keragaman suku bangsa merupakan kekuatan bangsa


Indonesia. Kemampuan untuk mengelola keragaman suku bangsa yang besar
diperlukan untuk mencegah terjadinya perpecahan yang akhirnya akan
mengganggu kesatuan bangsa. Kerusuhan dan pertikaian yang terjadi di
berbagai daerah di Indonesia menunjukkan antara lain kurangnya
kemampuan pemerintah dalam mengatasi penyebab terjadinya konflik
sosial antar masyarakat. Konflik muncul
dengan menggunakan simbol-simbol etnis, agama, dan ras. Hal ini
kemungkinan terjadi akibat adanya akumulasi "tekanan"
secara mental, spiritual, politik sosial, budaya dan ekonomi yang
dirasakan oleh sebagian masyarakat.

Seperti halnya konflik antar etnis yang terjadi di Kalimantan Barat,


kesenjangan perlakuan aparat birokrasi dan aparat hukum terhadap Suku
Asli Dayak dan Suku Madura menimbulkan kekecewaan yang mendalam yang
meledak dalam bentuk konflik -konflik horizontal. Masyarakat Dayak
yang termarjinalisasi semakin terpinggirkan oleh kebijakan-kebijakan
yang diskriminatif yang mengeksploitasi kekayaan alam mereka.
Sementara penegakan hukum terhadap salah satu kelompok tidak berjalan
sebagaimana mestinya. Kasus yang terjadi ini menunjukkan sulitnya
penegakan hukum dan hak asasi manusia di Indonesia. Adapun yang
menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah penyebab terjadinya
konflik horizontal di Kalimantan Barat serta penanganan yang
dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat setempat.

Tujuan

Mengetahui penyebab lebih lanjut terjadinya konflik horizontal antara


Suku Dayak dan Madura serta upaya penanganan yang dilakukan oleh
pemerintah dan masyarakat terhadap konflik yang terjadi,
sehingga dapat tercipta kedamaian bagi masyarakat di daerah
Kalimantan Barat.

ISI

Kronologis
Konflik

Indonesia mencatat puluhan bahkan ratusan


perselisihan antar kelompok etnik sejak berdirinya. Meskipun demikian
hanya beberapa yang berskala luas dan besar. Konflik antar etnik yang
terbesar diantaranya melibatkan etnik Dayak dengan etnik Madura di
Kalimantan yang terkenal dengan tragedi Sambas dan tragedi Sampit.
Konflik-konflik dalam skala lebih kecil terjadi hampir setiap tahun
di berbagai tempat di penjuru tanah air.

Tentunya sebagaimana
konflik lain, mencari akar penyebab konflik antar etnik merupakan
kunci dalam upaya meredam konflik dan mencegah terulangnya kembali
konflik serupa. Berbagai perspektif telah memberikan pandangannya,
baik itu perspektif politik, ekonomi, sosiologi, antropologi,
psikologi, hukum, dan lainnya. Berbagai sebab konflik telah pula
diidentifikasi. Salah satu sebab yang sering ditemukan dalam konflik
antar etnik adalah prasangka antar etnik. Dalam
bagian ini akan diketengahkan bagaimana peranan prasangka dalam
konflik antar etnik.
Tabel Kronologis terjadinya konflik antara etnis Dayak dan Madura

di Kalimantan

Tahun Konflik

1950 Untuk pertama kalinya perkelahian massal


antara pendatang Madura dan etnis Dayak pecah. Pertikaian ini
melahirkan korban dalam jumlah besar. Tak diketahui persis
penyebabnya.

1968 Terjadi saling bunuh antara


orang Madura dan Dayak. Penyebabnya, seorang Camat
Sungaipinyuh,
Kabupaten Pontianak, bernama Sani, dibunuh seorang petani
Madura.
Petani itu kecewa lantaran Sang Camat
menolak melayani urusan pembuatan surat jual beli tanahnya. Si
petani yang tak bisa menerima alasan yang dikemukakan,
langsung
menikam Sani hingga tewas.

1967 Perkelahian massal dan


pengusiran terhadap orang Cina dilakukan warga Dayak. Sekitar
50
ribu orang Cina mengungsi ke Serawak. Konflik ini lebih
disebabkan faktor politik, bukan konflik antar-etnis. Orang Cina
dituduh pemerintah Indonesia menjadi kaki tangan Pasukan
Rakyat
Kalimantan Utara yang dicap komunis.

1976 Kerusuhan besar antara Dayak


- Madura pecah untuk kedua kalinya di Sungaipinyuh.
Kerusuhan ini
dipicu pembunuhan Cangkeh, seorang petani Dayak, yang
dilakukan
beberapa orang Madura yang marah karena seorang pendatang
Madura
dihardik Cangkeh hanya gara-gara menyabit rumput di
rumahnya.

1977 Bentrokan kembali pecah. Kali ini


di Singkawang, Kabupaten Sambas. Robert Lonjeng, seorang
polisi
dari suku Dayak dibantai seorang pemuda Madura. Si pemuda
rupanya
gelap mata setelah perang mulut dengan Robert, yang menegur
si
pemuda, marah karena sang adik perempuannya diajak pergi
sampai
larut malam. Robert tewas seketika oleh sabetan celurit si
pemuda
Madura yang memacari adiknya.

1979 Dua tahun berikutnya, di


Salamantan, masih termasuk Kabupaten Sambas, Sidik, seorang
petani Dayak tewas disabet celurit Asmadin asal Madura.
Asmadin
marah ketika dilarang menyabit rumput di rumah milik Sidik.
Perkelahian massal, saling membunuh pun terjadi. Sebanyak 21
orang tewas dan 65 rumah musnah terbakar. Untunglah, perang
ini
tak bertambah besar. Sebab, bala bantuan dari Madura yang
kabarnya terdiri dari dua kapal penuh lelaki, sempat disusul dan
diminta balik ke darat oleh Bupati Madura ketika itu. Untuk
mencegah peristiwa terulang, didirikanlah Tugu Perdamaian
Salamantan setelah upacara perdamaian dilakukan.

1983 Di Sungaienau, Ambawang, Pontianak,


meledak perkelahian antar-etnis Madura dan Dayak. Pemicunya,
terbunuhnya Djaelani, seorang petani Dayak oleh petani Madura
gara-gara konflik tanah.

1993 Perkelahian antarpemuda di


Pontianak mengakibatkan sejumlah korban jiwa. Kerugian juga
jatuh
akibat dibakarnya Gereja Maria Ratu Pecinta Damai dan
Sekolah
Kristen Abdi Agape oleh sekelompok karena dianggap sebagai
tempat
berkumpulnya orang Dayak.
1996- Perkelahian
1997 kedelapan meledak di Sanggauledo, Sambas. Aksi anti-
Madura ini
berawal dari sebuah perkelahian antarpemuda kedua
suku pada
sebuah pertunjukkan dandut di Ledo, 20 kilometer dari
Sanggauledo. Sekelompok pemuda Madura menggoda
pemudi-pemudi.
Bakrie, anak pasangan Dayak dan Madura, tersinggung
dan
mencelurit Yokundus dan Takim, pemuda Dayak,
sehingga masuk
rumah sakit. Teman-teman Yokundus pun mengamuk
dan menyerang
daerah transmigrasi sosial Lembang dan Marabu.
Penghuni daerah
transmigrasi tersebut telanjur kabur. Maka, pemuda-
pemuda yang
marah itu pun membakar rumah-rumah yang
dikosongkan.

Babak kedua kerusuhan terjadi


ketika sekelompok orang bertopeng membakar kantor dan
Koperasi
Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih yang dimiliki suku Dayak.
Saling bunuh pun terjadi setelah Sartinus Nyangkot, Kepala
Desa
Maribas, Tebas, tewas dibantai sekelompok pemuda Madura
yang
menghadangnya sekembali mengikuti upacara wisuda anaknya,
Maria
Ulfa, di Pontianak. Tercatat, peristiwa ini menewaskan hampir
200 orang.

1999 Pertikaian
antara Madura, Melayu, Bugis, yang kemudian
juga melibatkan
Dayak, pecah di Sambas, Kalimantan Barat.
Sebanyak 265 orang
telah tewas (252 Madura, 12 Melayu, seorang
Dayak), 38 luka
berat, sembilan luka ringan. Harta yang musnah:
lebih dari
2.330 rumah hangus terbakar dan 164 dirusak
massa, empat mobil
dibakar dan enam dirusak, sembilan sepeda motor
dibakar dan
satu dirusak.

Kasus
ini dimulai dari pembalasan kasus penyerangan
ratusan orang
Madura dari Desa Rambaian dan sekitarnya ke
Desa Paritsetia,
Kecamatan Jawai. Insiden ini
menewaskan tiga orang dan tiga lainnya luka-
luka berat di pihak
suku Melayu. Anehnya, yang ditahan aparat
keamanan justru
seorang suku Melayu, bukan warga penyerang.
Sebelumnya ada
kasus pula, Rudi, pemuda asal Madura,
menyerang Bujang Labik
yang Melayu, dengan celurit. Gara-garanya, Rudi
tersinggung
dipelototi kernet angkutan kota itu lantaran tak
membayar
ongkos. Setelah itu, konflik pun meletus antara
etnik Dayak dan
Madura.

Muncul
pula kasus baru. Ibrahim, seorang pemuda
Madura, menenteng
senjata api rakitan di Pasar Pemangkat. Dianggap
petentengan,
ia ditegur beberapa orang. Ibrahim tak senang
dan terjadilah
cek-cok. Setelah itu, Ibrahim pulang ke rumah.
Entah siapa
pelakunya, tiba-tiba ditemukan empat warga
Madura tewas, tiga
di Desa Perapakan dan seorang di Desa Sinam.
Keterlibatan orang
Dayak dalam konflik etnis ini dipicu terbunuhnya
Martinus Amat,
pekerja perkebunan kelapa sawit asal Salamantan
oleh seorang
pemuda. Mobil yang ditumpanginya pun dibakar.

Masih ada cerita lagi, etnis


Bugis juga terlibat. Ceritanya berawal dari perang mulut antara
pemuda Madura dan Bugis, karena Madura ingin menonton
gratis
road race di terminal induk Singkawang. Ia mengancam hendak
menyerang Kualasingkawang. Maka, Bugis pun ikut angkat
parang.

2001 Konflik antara Dayak dan


Madura meletus di Sampit, Kalimantan Tengah. Berdasarkan
catatan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, korban jatuh
mencapai
sekitar 400 jiwa. Menurut data kepolisian, 319 lebih rumah
dibakar dan sekitar 197 lainnya dirusak. Ada
beragam versi yang memicu kasus perseteruan antar-etnis
kesepuluh
ini. Dari kisah terbunuhnya ibu hamil sampai balas dendam
warga
Madura atas kerusuhan di Kerengpangi, Kabupaten
Kotawaringin
Timur, Desember tahun silam.(RSB)

Banyak analisis telah dilakukan untuk mencari tahu akar dari adanya
konflik. Selain analisis yang menunjukkan adanya pihak-pihak tertentu
yang sengaja mengorganisir terjadinya kekerasan, ada banyak analisis
lain yang mendasarkan pada berbagai perspektif. Sebuah analisis
menyimpulkan bahwa terjadinya perebutan sumber daya ekonomi yang
semakin terbatas yang telah menyebabkan terjadinya konflik. Dulu saat
sumber daya ekonomi cukup melimpah dan mudah didapatkan maka konflik
terhindarkan. Akan tetapi begitu sumberdaya ekonomi semakin terbatas
dan semakin banyak orang memperebutkannya maka terjadilah kompetisi
perebutan sumberdaya. Sebagai konsekuensi logis dari adanya kompetisi
perebutan sumber daya adalah terciptanya prasangka antar etnik. Dan
lalu adanya prasangka terhadap etnik lain menjadi justifikasi
kekerasan terhadap etnik tersebut.

Adanya kesenjangan ekonomi anatara etnik Dayak dan etnik Madura juga
sebagai penyebab konflik. Kesenjangan ekonomi itu tercipta sebagai
konsekuensi dari adanya kompetisi perebutan sumberdaya ekonomi dimana
relatif etnis Madura memenangkannya. Namun menurut Purbangkoro (2002)
kondisi sosial ekonomi etnik Madura dan etnik lain relatif sama
sehingga tak ada alasan yang menyatakan telah terjadi kecemburuan
sosial antara etnik Dayak dan etnik Madura di Kalimantan.

Sementara itu Asykien (2001) menunjukkan bahwa konflik antar etnik


itu terjadi karena sifat negatif keduanya.

Sifat-sifat kurang terpuji etnik Dayak :

Fanatis dan mendewakan kesukuan,

Tidak punya tenggang rasa dan pendengki etnis yang dimusuhi,

Menggeneralisasikan kesalahan orang-perorang kepada keseluruhan


etnis,
Melestarikan budaya mengayau,

Suka menyebarluaskan kebencian dan prasangka buruk.

Sifat-sifat etnik Madura yang menimbulkan dendam etnik lain :

Mencuri, menjambret, dan menipu,

Menempati tanah orang lain tanpa izin,

Membuat kekacauan dalam perjudian,

Melanggar lalu lintas,

Merampas
milik etnik lain di penambangan emas.

Dari sifat-sifat negatif yang diklasifikasikan


Asykien diatas menjadi jelas bahwa pertentangan antar etnis merupakan
kulminasi dari adanya prasangka etnik. Berbagai keburukan anggota
etnik lain dicatat, disimpan, dan digunakan sebagai dasar dalam
bergaul dengan etnik tersebut, meskipun sebetulnya pelakunya hanya
segelintir orang saja. Rupa-rupanya generalisasi sifat-sifat buruk
seseorang menjadi sifat-sifat buruk kelompok yang telah menjadi
penyebab berkembangnya prasangka etnik di Kalimantan. Akibatnya
kesalahan satu orang atau kelompok kecil orang juga digeneralisasikan
ke keseluruhan etnik. Seterusnya konflik antar etnik tinggal
menunggu saat yang tepat.

Kerangka
Teori

Konflik

Menurut Hocker dan Wilmot (dalam Isenhart dan Spangle, 2000) konflik
adalah ekpresi perjuangan diantara minimal dua belah pihak yang
saling tergantung untuk mencapai tujuan tertentu, dimana dua pihak
itu merasa tidak memiliki kesamaan tujuan, memperebutkan sumber daya
yang langka, dan merasa adanya campur tangan pihak lain dalam upaya
pencapaian tujuan. Definisi konflik diatas mencakup segala tindakan
yang merupakan efek dari perjuangan mencapai tujuan, seperti saling
memaki atau permusuhan verbal, menghindari pertemuan, perkelahian,
perang, dan lainnya. konflik bisa dalam skala besar bisa juga kecil.
Memaki pihak lawan ketika bertemu di jalan mungkin hanya merupakan
konflik skala kecil. Tapi itupun tergantung konteksnya, karena kalau
yang bertemu dan saling memaki itu merupakan pemimpin dua belah pihak
yang sedang berkonflik, efeknya bisa sangat besar.

Kita semua hampir selalu mengidentikkan konflik dengan pertentangan.


Akan tetapi pertentangan tidak selalu bermakna konflik. Tidak semua
pertentangan menciptakan konflik. Pertentangan yang terjadi antara
dua pihak dalam forum diskusi misalnya, jarang sekali menimbulkan
konflik. Menurut Gurr (1980) kriteria agar sebuah pertentangan bisa
dikatakan sebagai sebuah konflik adalah :

Sebuah konflik melibatkan minimal dua pihak atau lebih.

Pihak-pihak tersebut saling tarik menarik dalam aksi saling


memusuhi.

Mereka cenderung menjalankan perilaku koersif untuk menghadapi dan


menghancurkan pihak lawan.

Sumber Konflik Antar Etnis

Sukamdi (2002) menyebutkan bahwa Konflik antar etnik di Indonesia


terdiri dari tiga sebab utama:

Konflik muncul karena ada benturan budaya,

Karena masalah ekonomi-politik,

Karena kesenjangan ekonomi sehingga timbul kesenjangan sosial.

Menurutnya, Konflik terbuka dengan kelompok etnis lain hanyalah


merupakan bentuk perlawanan terhadap struktur ekonomi-politik yang
menghimpit mereka.
Bisa kita lihat, bahwa apa yang dikemukakan Sukamdi di atas merupakan
turunan dari apa yang disampaikan faturochman mengenai penyebab
konflik. Benturan budaya antar etnik terjadi karena adanya kategori
atau identitas sosial yang berbeda. Perbedaan identitas sosial, dalam
hal ini etnik dan budaya khasnya, seringkali menimbulkan
etnosentrisme yang kaku, dimana seseorang tidak mampu keluar dari
perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan
perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain
berdasarkan latar belakang budayanya. Sikap etnosentrik yang kaku ini
sangat berperan dalam menciptakan konflik karena ketidakmampuan
orang-orang untuk memahami perbedaan. Sebagai tambahan,
pengidentifikasian kuat seseorang terhadap kelompok cenderung akan
menyebabkan seseorang lebih berprasangka, halmana juga merupakan
sumber konflik yang potensial. Terkait dengan resolusi konflik,
karena konflik dimunculkan salah satunya karena adanya identitas
budaya, yang mengandaikan adanya perbedaan dalam memahami realitas,
maka sangatlah penting untuk membuat suatu resolusi konflik yang
mempertimbangkan asal budaya (Kumolohadi & Andrianto, 2002).
Seringkali pelaksana resolusi konflik gagal menjalankan perannya
dalam menghentikan konflik antaretnik karena metode yang dipakai
mengharuskan adanya sikap dan persepsi tertentu dari mereka yang
bertikai, tapi sementara itu mereka yang bertikai memiliki sikap dan
persepsi terhadap konflik yang beragam akibat perbedaan budaya.

Pada negara yang memiliki keragaman suku bangsa masalah antar suku
merupakan hal yang seringkali muncul. Demikian juga Indonesia, dalam
hal ini yang dapat dijadikan suatu gambaran adalah konflik antar
etnis di Kalimantan Barat. Konflik yang timbul antara Suku Dayak dan
Madura.

Konflik adalah timbulnya suatu pemahaman yang tidak sejalan antara


beberapa pihak. Selain itu dapat juga timbul sebagai pertentangan
kepentingan dan tujuan antara individu atau kelompok. Hal ini terjadi
jika dalam hubungan tersebut terjadinya suatu kesenjangan status
sosial, kurang meratanya kemakmuran serta kekuasaan yang tidak
seimbang. Kepentingan dan keinginan-keinginan yang tidak lagi
harmonis akan membawa masalah dalam hubungan antara individu atau
kelompok yang satu dengan yang lainnya. Seperti hanya yang
terjadi dalam hubungan kelompok etnis Suku Dayak dan Suku Madura.

Kehidupan bermasyarakat Suku Dayak dam Madura memang seringkali


banyak mengalami pergesekan karena kurangnya pemahaman antar budaya
dari kedua belah pihak. Untuk penelitian kasus yang terjadi antara
kedua suku ini akan digunakan terori konflik Simon Fisher dan
Deka Ibrahim dkk(Th. 2002).

Teori Kebutuhan Manusia :

Berasumsi bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan


dasar manusia- fisik , mental dan sosial yang tidak terpenuhi atau
yang dihalangi.

Teori Identitas :

Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh karena identitas yang


terancam yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan
dimasa lalu yang tidak terselesaikan.

Analisis

Penduduk asli Kalimantan Barat adalah


Suku Dayak yang hidup sebagai petani dan nelayan Selain suku
asli, suku lainnya yang juga telah masuk ke bumi Kalimantan adalah
Melayu, Cina, Madura, Bugis, Minang dan Batak. Dalam
berkomunikasi penduduk yang heterogen ini menggunakan bahasa
Indonesia atau Melayu sebagai bahasa sehari-hari. Tetapi karena
tingkat pendidikan mereka rendah, kebanyakan mereka memakai bahasa
daerahnya masing-masing. Dengan demikian seringkali ditemui
kesalahpahaman di antara mereka. Terlebih jika umumnya orang Madura
berbicara dengan orang Dayak, gaya komunikasi orang Madura yang keras
ditangkap oleh Orang Dayak sebagai kesombongan dan kekasaran.

Kebudayaan yang berbeda seringkali dijadikan dasar


penyebab timbulnya suatu konflik pada masyarakat yang berbeda sosial
budaya. Demikian juga yang terjadi pada konflik Dayak dan Madura yang
terjadi pada akhir tahun 1996 yaitu terjadinya kasus Sanggau Ledo,
Kabupaten Bengkayang (sebelum pertengahan tahun 1999 termasuk
Kabupaten Sambas), di Kalimantan Barat. Konflik sosial sepertinya
agak sulit terpisahkan dari dinamika kehidupan masyarakat Kalimantan.
Setelah itu, pertikaian antar-etnis terjadi lagi di Sambas, lalu
disusul di Kota Pontianak, dan terakhir di Sampit serta menyebar ke
semua wilayah di Kalimantan Tengah.

Orang Dayak yang ramah dan lembut merasa tidak


nyaman dengan karakter orang Madura yang tidak menghormati atau
menghargai orang Dayak sebagai penduduk lokal yang menghargai hukum
adatnya. Hukum adat memegang peranan penting bagi orang Dayak. Tanah
yang mereka miliki adalah warisan leluhur yang harus mereka
pertahankan. Seringkali mereka terkena tipudaya masyarakat pendatang
yang akhirnya berhasil menguasai atau bahkan menyerobot tanah mereka.
Perilaku dan tindakan masyarakat pendatang khususnya orang Madura
menimbulkan sentimen sendiri bagi orang Dayak yang menganggap mereka
sebagai penjarah tanah mereka. Ditambah lagi dengan keberhasilan dan
kerja keras orang Madura menelola tanah dan menjadikan mereka sukses
dalam bisnis pertanian.

Kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi merupakan


dasar dari munculnya suatu konflik. Masyarakat Dayak juga mempunyai
suatu cirri yang dominan dalam mata pencarian yaitu kebanyakan
bergantung pada kehidupan bertani atau berladang. Dengan masuknya
perusahaan kayu besar yang menggunduli kayu-kayu yang bernilai,
sangatlah mendesak keberadaannya dalam bidang perekonomian.
Perkebunan kelapa sawit yang menggantikannya lebih memilih orang
pendatang sebagai pekerja daripada orang Dayak. Hal yang demikian
menyebabkan masyarakat adat merasa terpinggirkan atau tertinggalkan
dalam kegiatan perekonomian penting di daerahnya mereka sendiri.
Perilaku orang Madura terhadap orang Dayak dan keserakahan mereka
yang telah menguras dan merusak alamnya menjadi salah satu dasar
pemicu timbulnya konflik di antara mereka.

Ketidakcocokan di antara karakter mereka


menjadikan hubungan kedua etnis ini mudah menjadi suatu konflik.
Ditambah lagi dengan tidak adanya pemahaman dari kedua etnis terhadap
latar belakang sosial budaya masing-masing etnis. Kecurigaan dan
kebencian membuat hubungan keduanya menjadi tegang dan tidak
harmonis.

Ketidakadilan juga dirasakan oleh masyarakat Dayak terhadap aparat


keamanan yang tidak berlaku adil terhadap orang Madura yang melakukan
pelanggaran hukum. Permintaan mereka untuk menghukum orang Madura
yang melakukan pelanggaran hukum tidak diperhatikan oleh aparat
penegak hukum. Hal ini pada akhirnya orang Dayak melakukan kekerasan
langsung terhadap orang Madura, yaitu dengan penghancuran dan
pembakaran pemukiman orang Madura.

Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau


lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki,
sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Kekerasan adalah tindakan,
perkataan, sikap, berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan
kerusakan secara fisik, mental sosial atau lingkungan dan atau
menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh.

Dari definisi di atas, dapat dikatakan bahwa


antara konflik dengan kekerasan bagaikan dua sisi mata pedang yang
terpisahkan satu dengan yang lainnya manakala konflik yang terjadi
tidak segera diselesaikan sebagaimana mestinya, sehingga menimbulkan
kekerasan yang dapat merusak secara material maupun immaterial.

Konflik adalah suatu kenyataan yang tidak


terhindarkan jika pihak-pihak yang bertentangan tidak memiliki
pemahaman yang terhadap satu sama lain dan tujuan serta kebutuhan
mereka tidak dapat lagi sejalan. Perbedaan pendapat yang terjadi di
antara keduanya pada dasarnya adalah hal yang alami, namun jika tidak
terkendali akan menjadi pemicu timbulnya kekerasan yang merusak kedua
belah pihak bahkan lingkungan sekitarnya. Untuk itu diperlukan
penyelesaian yang memberikan semangat damai pada kedua belah pihak.
Jika konflik yang menyebabkan timbulnya kekerasan dapat diselesaikan
tanpa melakukan kekerasan memberikan suatu rasa damai dan aman pada
masyarakat sekitarnya. Sebaliknya, jika diselesaikan juga dengan
kekerasan yang membabibuta akan menyebabkan timbulnya rasa takut,
tidak aman, kepanikan bagi orang sekitarnya, khususnya bagian dari
masyarakat yang bertikai. Permasalahan baru
juga akan timbul dari penyelesaian dengan jalan kekerasan.

Selanjutnya Simon Fisher dkk, mengajukan suatu


konsep tentang arti kekerasan sebagai suatu pendekatan dalam
intervensi konflik yang menyebutkan bahwa konflik adalah fakta
kehidupan yang dapat memunculkan permasalahan-permasalahan berat saat
kekerasan muncul dalam konflik tersebut. Oleh karenanya dapat
dibedakan antara kelompok yang menghendaki kekerasan sebagai
penyelesaian konflik dan kelompok yang anti kekerasan. Kelompok yang
pro kekerasan cenderung untuk memaksakan kehendaknya agar dituruti
orang lain ketika cara lain yang ditempuh gagal. Sedangkan kelompok
anti kekerasan cenderung percaya bahwa kekerasan tidak akan mampu
mendatangkan manfaat yang diharapkan diharapkan, sehingga
penggunaan kekerasan dirasa tidak bermanfaat dan tidak adil. Secara
praktis tindakan-tindakan anti kekerasan dilakukan masyarakat yang
menerapkan metode anti kekerasan secara mutlak mereka lebih percaya
bahwa metode anti kekerasan yang diterapkan dalam suatu konflik akan
lebih berhasil dalam situasi yang mereka hadapi sendiri.

Menganalisa lebih lanjut tentang konflik horizontal yang terjadi pada


beberapa wilayah di Indonesia, seperti konflik Dayak dan Madura
dihubungkan dengan teori Simon Fisher, dapat dikatakan bahwa sebagian
besar masyarakat di daerah konflik cenderung memilih jalan kekerasan
sebagai alternative penyelesaian masalah yang muncul di antara
mereka. Mereka menganggap cara ini lebih membuat pihak lawan memenuhi
keinginan mereka.
Identitas yang terancam sebagai suatu suku asli Kalimantan yang
terusik oleh kedatangan pendatang membuat suku Dayak mengambil sikap
keras. Ditambah lagi dengan tidak adanya perubahan sikap dari
masyarakat pendatang. Hal ini jelas terlihat pada dampak yang terjadi
pasca konflik horizontal Dayak dan Madura. Mereka tidak melihat
dampak dari kekerasan bagi masyarakat mereka sendiri yaitu korban
jiwa dan harta benda, tetapi yang terpenting adalah keluarnya orang
Madura dari wilayah mereka.

Menyimak lebih jauh tentang konflik horizontal yang juga disebut


sebagai konflik etnis yang bersifat laten (tersembunyi) yang harus
diangkat ke permukaan agar dapat ditangani secara efektif. Disebut
sebagai konflik yang bersifat laten karena di antara kedua etnis yang
bertikai (Dayak dengan Madura) sudah lama terjadi
ketidakharmonisan dalam interaksi sosialnya. Suku Dayak sebagai suku
asli Kalimantan merasa terusik kehidupannya dengan semakin
meningkatnya populasi suku Madura yang juga mendominasi hampir
seluruh aspek kehidupannya.

Ketidakharmonisan dalam interaksi sosial antara kedua etnis ini tidak


cepat mendapat penanganan dari tokoh masyarakat setempat maupun oleh
aparatur pemerintah agar dapat ditangani. Pada pertikaian yang
terjadi terlihat adanya keberpihakan dari aparat kepada salah satu
etnis menurut pendapat etnis lain. Kondisi ini terus berlanjut, yang
pada akhirnya menjadi konflik terbuka berakar dan diiringi dengan
kekerasan.

Konflik yang dipicu oleh persoalan yang sederhana, menjadi kerusuhan


dan di identifikasi pemicu pecahnya konflik adalah : adanya benturan
budaya etnis lokal dengan etnis pendatang, lemahnya supremasi hukum,
adanya tindak kekerasan. Benturan budaya ini sebenarnya lebih banyak
disebabkan oleh kesombongan dan ketidakpedulian etnis Madura terhadap
hukum adat dan budaya lokal yang sangat dihormati masyarakat
setempat seperti hak atas kepemilikan tanah.

PENUTUP
Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyebab terjadi konflik


adalah kurangnya pemahaman terhadap sosial budaya masing-masing suku
yang berbeda antara suku Dayak dan Madura. Selain itu kurang
diperhatikannya peranan masyarakat setempat dalam kegiatan
perekonomian di wilayah mereka, sehingga timbul diskriminasi terhadap
suku Dayak sebagai suku Asli setempat. Selain itu dalam sejarah
konflik di Kalimantan secara umum dipicu oleh dipraktekkannya tindak
kekerasan baik dalam bentuk penganiayaan dan pembunuhan manusia di
daerah konflik. Hal ini didukung juga dengan lemahnya supremasi hukum
dan perlindungan terhadap hak asasi manusia.

Lemahnya supremasi hukum terlihat dari perlakuan yang ringan


diberikan pada masyarakat Madura. Dalam hal ini untuk menghindari
keadaan yang lebih tidak terkendali lagi seperti terjadinya tindakan
kekerasan, pembunuhan, pembakaran dan pengusiran yang berkepanjangan,
maka untuk sementara waktu orang Dayak menyatakan sikap yaitu :

Untuk etnis Madura yang masih berada di wilayah Kalimantan Barat


agar secepatnya dikeluarkan atau diungsikan demi keselamatan dan
keamanan mereka karena tidak ada jaminan untuk itu. Terlebih
dengan tidak cukupnya aparat keamanan menjangkau wilayah rawan
konflik.

Menolak pengembalian pengungsi etnis Madura untuk batas waktu yang


tidak ditentukan karena tidak adanya suatu jaminan perubahan sikap
dari etnis Madura dan juga dikhawatirkan adanya tindakan balas
dendam secara langsung maupun tidak langsung.

Sikap ini ditanggapi positif oleh aparat penegak hukum maupun masyarakat karena adanya
keterbatasan aparat yang tidak dapat menjangkau seluruh wilayah Propinsi Kalimantan, maka
demi keamanan kedua belah pihak untuk sementara suku Madura harus dilokalisir pada
daerah yang lebih aman. Selain itu dalam upaya penanganan konflik yang terjadi ini
dilakukan juga beberapa cara yaitu :
Untuk sementara waktu yang tidak dapat ditentukan batasnya, etnis Dayak dan Melayu
sepakat tidak menerima kembali etnis Madura di bumi Kalimantan terutama di daerah
konflik. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi bentrokan di antara mereka karena sangat
rentan tersulut oleh isu yang akan membakar kemarahan kedua belah pihak;

Rehabilitasi bangunan yang rusak akibat pengrusakan dan pembakaran terhadap


infrastruktur masyarakat umum juga dilakukan agar dapat berjalannya kegiatan
masyarakat sebagaimana mestinya. Moral dan mental masyarakat juga perlu
mendapat perhatian dan pembinaan agar terwujud suatu rekonsiliasi yang damai dan
melibatkan kembali seluruh tokoh masyarakat;

Re-evakuasi dilakukan bagi korban konflik ke daerah yang lebih aman. Untuk itu
perhatian terhadap keamanan mereka di daerah pengungsian harus didukung oleh
pihak keamanan sampai mereka mendapat tempat yang layak;

Dialog antar etnis yang berkesinambungan dengan memanfaatkan lembaga adat


masyarakat perlu dilakukan dalam proses pembentukan kerjasama mengakhiri konflik
yang berkepanjangan;

Demikian juga dengan penegakkan hukum terhadap pelaku pelanggaran hukum perlu
dilakukan secara konsisten dan adil tanpa berpihak pada etnis tertentu selain itu
kemampuan personil petugas keamanan perlu ditingkatkan.

Saran

Dari penyebab timbulnya konflik maka disarankan agar :

Perlunya diadakan pendekatan terhadap tokoh masyarakat setempat tentang pemahaman


akan budaya dan adat istiadat suku yang ada, sehingga terjalin hubungan yang lebih
baik antara suku Dayak dengan Madura

Aparat penegak hukum hendaknya bertindak tegas dan konsisten terhadap pelanggaran
hukum yang terjadi sehingga tidak menimbulkan diskriminasi.

Perlu dilakukannya introspeksi dari kedua belah pihak agar tidak terjadi lagi pertikaian
dengan kekerasan yang berakibat pada banyaknya korban jiwa.

Perlunya pemerintah mengembangkan kemampuan orang Dayak dalam berusaha dan


mengolah sumber daya alamnya agar tidak terjadi kesenjangan yang menimbulkan
konflik, disamping itu juga peraturan yang memberikan kesempatan bagi masyarakat
lokal untuk membangun wilayahnya agar tidak membuat mereka terisolasi dan
mengalami ketertinggalan.

REFERENSI

http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/prasangka-dalam-konflik-antar-etnik.html

http://www.balitbangham.go.id/JURNAL/Jurnal%20HAM%20I%20MARIA.doc

http://www.elsam.or.id/txt/asasi/2001_0304/02.html

http://www.endonesia.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=12&artid=76

http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2001/04/11/0050.html http://www.kompas.com/
kompas-cetak/0104/12/daerah/konf30.htm

bundaaambarr.blogspot.com/2011/03/analisa-penyebab-terjadinya-konflik.html