Anda di halaman 1dari 18

c

PYOMETRA DAN PENANGANANNYA

Oleh. Drh. Husnurrizal

PENDAHULUAN

Organ genetalia pada hewan betina terbagi atas alat kelamin primer dan

sekunder. alat kelamin primer terdiri atas ovarium yang berfungsi membentuk sel

telur dan hormon-hormon betina, alat kelamin sekunder terdiri dari oviduck,

uterus, cervix, vagina dan vulva. Ambing juga sering disebut alat kelamin

tambahan karena alat tubuh ini sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan

anak (Ressang 1984).

Uterus dalam keadaan fisiologi dapat memperlihatkan gambaran-

gambaran yang berlainan seperti pada uterus yang bunting akan memperlihatkan

mukosa yang merah, karena pada keadaan tersebut uterus memerlukan banyak

zat-zat makanan untuk kehidupan foetus. Sesudah partus perubahan-perubahan

pada mukosa uterus sulit dibedakan antara radang kataral dan perubahan pasca

melahirkan. Anjing betina sering menderita endometritis sesudah partus atau

sesudah birahi, peradangan pada penggantung uterus terjadi karena kontaminasi

mikroorganisme pasca melahirkan atau pasca kopulasi dan gangguan lainnya

seperti pyometra.

Pyometra adalah penimbunan nanah dalam uterus yang disebabkan oleh

bakteri yang secara normal berada dalam uterus namun dalam keadaan tertentu

menjadi pathogen akibat dari pengaruh hormonal yang disebut dengan

endometritis atau pyometra. Pyometra terjadi sebagai salah satu konsekuensi dari

1
(c
c

perubahan hormonal yang mengakibatkan terjadi perubahan pada lapisan uterus.

Pyometra merupakan kondisi yang sangat serius pada hewan mamalia betina,

keadaan ini dapat menyebabkan hewan infertil bahkan dapat menyebabkan

kematian (Ressang, 1984).

Hewan-hewan yang terserang pyometra memperlihatkan bermacam-

macam gejala patologis dan klinis yang berhungan erat dengan genitalia dan

penyakit-penyakit sistemik. Meskipun penyakit ini sudah lama ditemukan, namun

patogenesanya belum sepenuhnya dipahami, tetapi secara umum hormon

progesteron dan estrogen sangat berperan penting sebagai penyebab pyometra

walaupun tidak terlepas dari keterlibatan infeksi bakteri atau mikroorganisme

lainnya (Anonymous, ( ).

Secara umum pyometra dibagi dua yaitu: pyometra terbuka (open

pyometra) dan pyometra tertutup (closed pyometra). Pyometra terbuka mudah

didiagnosa secara klinis, hal ini terlihat dari nanah yang keluar dari uterus melalui

vulva. Sedangkan pyometra tertutup sangat sulit untuk didiagnosa, karena yang

terlihat hanya pembengkakan pada daerah abdomen, namun tidak terlihat nanah

yang keluar dari uterus dan biasanya hewan kelihatan lebih sakit daripada

pyometra terbuka karena penimbunan toksin di uterus, karena jumlah toksin yang

tidak dapat dikeluarkan tubuh meningkat akan membuat ginjal bekerja lebih keras,

jika tanpa perawatan yang baik hewan akan mati karena gagal ginjal. Untuk

mendiagnosa secara benar dapat dilakukan X-Ray atau biopsy jaringan (Kirana,

(  Anonimous, ( 4).

c
c
Dc
c

c
c
Dc
c

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Anatomi Organ Reproduksi Hewan Betina

c Genetalia betina terdiri dari dua buah ovarium, dua buah tuba fallopii,

uterus, vagina dan vulva. Ovum yang dilepaskan dari ovarium dan diterima oleh

infundibulum lalu dibawa masuk ke toba fallopii, dimana pada saluran tuba fallopii

(ampula) terjadi proses fertilisasi dalam perjalanan ovum itu dari ovarium menuju

ke uterus. Di dalam uterus ovum yang telah dibuahi itu berkembang menjadi

embrio, kemudian berkembang menjadi foetus yang akhirnya keluar dari uterus

menuju saluran kelahiran (vagina dan vulva) sebagai neonatal (Frandson, 199D).

Uterus anjing berbentuk Y-shaped yang mempunyai dua cornua, setiap

ovarium terletak pada akhir masing-masing ujung tanduk dari uterus. Toksin-

toksin dan bakteri dapat menembus dinding uterus yang disebut septicemia,

beredar dalam pembuluh darah yang dapat berakhir dengan kematian (Anonimous

( ).

Ovarium merupakan organ reproduksi primer yang berfungsi

menghasilkan hormon yaitu hormon estrogen, progesteron dan relaksin

(Toelihere, 198). Hormon ini berperan penting pada alat-alat reproduksi untuk

memelihara kebuntingan sampai melahirkan (Partodihardjo, 198). Ovarium

terletak dibagian dorsal abdomen sampai ke ginjal kira-kira daerah vertebrae

lumbalis ketiga dan keempat. Ovarium mendapat suplai darah dari arteri ovarica

dan suatu cabang dari arteri utero ovarica (Archibald, 194).

c
c
4c
c

Uterus mempunyai fungsi penting dalam proses reproduksi yang dimulai

dari hewan betina berahi sampai hewan tersebut bunting dan melahirkan. Uterus

mengalami perubahan-perubahan yang erat hubungannya dengan yang terjadi

pada embrio dan ovarium (Partodihardjo, 198). Uterus terdiri dari cornua, corpus

dan cervix. Uterus terletak di dorsal dari vesica urinaria dan digantung atau

dipertahankan oleh mesometrium. Uterus menerima suplai darah dari arteri

uterina mediana, uteri utero ovarica dan suatu percabangan dari pudenda interna

(Frandson, 199().

Gambar 1: Anatomi uterus anjing.

Pyometra

Pyometra berasal dari bahasa latin yaitu ³pyo´ yang artinya nanah dan

³metra´ kandungan, jadi pyometra adalah infeksi yang disertai penimbunan nanah

yang menyebar didalam uterus (Anonimous, ( ). Menurut Ressang (1984),

pyometra adalah penimbunan nanah dalam uterus yang disebabkan oleh bakteri-

bakteri yang secara normal berada dalam uterus namun dalam keadaan tertentu

c
c
üc
c

menjadi pathogen akibat dari pengaruh hormonal yang disebut dengan

endometritis atau pyometra. Pyometra terjadi sebagai salah satu konsekuensi dari

perubahan hormonal yang mengakibatkan terjadi perubahan pada lapisan uterus.

Pada hewan pasca estrus progesteron meningkat selama 8-1 minggu dan

menebalkan lapisan uterus untuk mempersiapkan lingkungan uterus yang sesuai

untuk kehidupan foetus. Jika kehamilan tidak terjadi karena beberapa hal, lapisan

tersebut akan terus menebal dalam bentuk nodul-nodul yang mengeluarkan cairan

kental sehingga menciptakan suasana lingkungan yang ideal di dalam uterus untuk

pertumbuhan bakteri (Anonimous, ( 4).

Penyebab

Kejadian pyometra sangat sering terjadi pada anjing sesudah birahi, bila

dari anamnesa diketahui anjing tidak pernah kawin maka infeksi-infeksi sekunder

dari mikroorganisme yang secara normal hidup dalam uterus dianggap sebagai

causa penyebab pyometra. Mikroorganisme ini menyebabkan proses radang,

kemungkinan pyometra juga terjadi karena anjing yang estrus tidak terjadi

konsepsi. Gangguan ini menghasilkan kadar estrogen dalam darah anjing yang

berlebihan (hyperestrogen), dalam keadaan ini hanya sedikit leukosit yang menuju

ke dalam mukosa vagina dan mungkin inilah yang menyebabkan infeksi dalam

uterus mudah terjadi. Nanah dan hasil sekresi dari kelenjar-kelenjar uterina

menimbun di dalam uterus karena kontraksi uterus berkurang bahkan tidak terjadi.

Hal ini diduga karena peningkatan hormon progesteron yang mengganggu fungsi

bagian posterior kelenjar pituitarian (Anonimous, (  Ressang, 1984).

c
c
c
c

Secara umum pyometra juga sering terjadi pada hewan betina yang tua,

berupa pyometra tertutup dan terbuka yang tergantung pada jumlah nanah yang

terkandung didalam uterus. Leleran nanah pada vagina yang berbau khas sangat

jelas terlihat gejalanya pada pyometra terbuka. Pyometra tertutup ditandai dengat

tersumbatnya cervik uterus, pada kasus ini tidak adanya presentasi leleran dari

vagina sehingga indikasi dari pyometra sangat sulit ditentukan (Foster dan Smith,

( ).

Menurut Anonimous (( 4), Faktor predisposisi terjadinya pyometra

adalah pemakain obat-obatan yang berbasis progesteron, penggunaan estrogen

dapat juga meningkatkan progesteron. Obat dengan kandungan steroid kedua

hormon ini sering digunakan untuk memperlakukan kondisi-kondisi tertentu untuk

tujuan reproduktif.

Cervik uterus merupakan pintu masuknya mikroorganisme ke dalam

uterus yang selamanya tertutup, kecuali pada saat estrus. Bakteri yang normalnya

ditemukan didalam vagina dapat masuk dengan mudah pada saat terjadi estrus,

jika kondisi uterus normal bakteri yang masuk tidak akan bisa bertahan hidup, jika

kondisi dalam uterus tidak normal akibat adanya cystik kondisi didalam uterus

merupakan tempat yang sempurna untuk perkembangan bakteri. Pyometra sering

terjadi sekitar 1-( bulan pasca estrus, pyometra bisa saja terjadi pada hewan muda

dan hewan dewasa, bagaimanapun juga pyometra sangat sering terjadi pada

hewan yang berumur tua akibat dari estrus yang tidak disertai dengan kehamilan,

akibatnya perubahan lingkungan uterus yang tidak sesuai dan ini merupakan salah

satu predisposisi untuk pyometra.

c
c
c
c

Gejala Klinis

Gejala klinis dari pyometra sangat tergatung pada kondisi cervik uterus

yang bersifat terbuka atau tertutup, jika bersifat terbuka nanah dari uterus akan

terlihat keluar melalui vagina dan bulu dibawah ekor terlihat kotor. Demam, lesu,

anoreksia dan stress dapat muncul pada hewan menderita pyometra. Jika cervik

uterus tertutup, maka nanah yang terbentuk didalam uterus tidak mampu mengalir

keluar melalui vagina sehingga nanah akan terakumulasi didalam uterus dan dapat

menyebabkan bengkak/penggelembungan pada daerah abdomen. Bakteri-bakteri

yang terdapat didalam uterus akan melepaskan toksin-toksin yang akan diserap

dan dibawah melalui sirkulasi darah ke seluruh tubuh dan biasanya dapat berakhir

dengan kematian. Patogenesa penyakit ini pada hewan betina yang mengalami

pyometra tertutup berlangsung sangat akut, hewan akan memperlihatkan gejala

anoreksia, sangat lesu, depresi, muntah atau sering terjadinya diare (Kirana, ( 

Reese, (  Dawson, ( ).

Gambar (. Pyometra Terbuka dan Tertutup

Diagnosa

Hasil dianogsa dapat diperjelas jika terjadi pemucatan pada vagina atau

membesarnya daerah abdomen dan keluarnya nanah melalui vagina pada

c
c
Kc
c

t tt t  i  


i   li
t   

l  
ti
   t  i  t   i j l   t j tj i i t

 i t i t i  i ti  i  j  l i i i 

tj i   j i i  i l


ti i        t il 

 t  ti        


  t 

    i   t l li t R  t

 

    ti     ti  l     t

 it     ti  t l i  t i   tj  t   t

 t  i   i t 
i 
 ti   t il  

ti   i i ti  l   
il  ilii t  t    ti 

 
 i i   t     i   li
  

t 
  t
 i i li i  i    i  tj i

it    it     ti  t


 l     j   i i

  t i i     l     l t 

  j  j l j l l   it ti  il   ti   tj

c
c
9c
c

mengurangi stres. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penyuntikan

preperat steroid ini adalah dosis pemberiannya, karena ini berhubungan dengan

kontraksi uterus, ruptur uterus dapat terjadi jika kontraksi berlebihan akibat dosis

steroid yang berlebihan. Jika ini terjadi menyebabkan tertumpahnya nanah ke

dalam rongga abdomen, ini sering terjadi pada kasus pyometra tertutup

(Anonimous, ( ).

Gambar : Penanganan pyometra melalui operasi panhisterektomi

Perawatan terbaik dapat dilakukan secara pembedahan, yaitu dengan

mengangkat uterus dan ovarium, tindakan ini disebut dengan | ariohyterectomy /

Panhisterectomy (spey), hewan penderita pyometra biasanya memerlukan

tindakan fluid therapy setiap kali mereka sakit, pemberian antibiotik selama 1-(

minggu sangat penting dilakukan (Kirana, ( ).

Prognosa

Dalam melakukan penanganan pyometra sebagaimana tertera diatas dapat

timbul beberapa prognosa antara lain

°c Tingkat sukses untuk perlakuan Pyometra terbuka adalah ü-9 .


°c Tingkat sukses untuk perlakuan Pyometra tertutup adalah (ü-4 .
°c Tingkat kambuh dari penyakit ü -ü.
°c Kesusksesan untuk bereproduksi kembali ü -ü (Anonimous, ( 4).

c
c
c

PENANGANAN PYOMETRA DENGAN PANHISTEREKTOMI

Persiapan Pra Operasi

Teknik penanganan pyometra pada prinsipnya yaitu mengeluarkan nanah

dari dalam uterus, namun jika pyometranya berlangsung lama dapat dilakukan

Panhisterektomi.

Premedikasi dan Anastesi

Premedikasi merupakan suatu tindakan pemberian obat sebelum

pemberian anastesi yang dapat menginduksi jalannya anastesi bertujuan mencegah

efek yang tidak diinginkan dari efek anestetika. Obat premedikasi diberikan

sebelum dilakukan anastesi dilakukan dengan tujuan, mengurangi rasa takut,

amnesia, induksi anastesi lancar dan mudah, memperkecil resiko buruk dari

anastesi, hipersalivasi, bradikardia/takikardia dan muntah selama anastesi

(Ibrahim, ( ).

Premedikasi yang digunakan adalah atropine sulfat dengan dosis , 4

mg/kg bb secara subkutan. 1 -1ü menit kemudian dilanjutkan dengan pemberian

ketamin dengan dosis 1 -4 mg/kg bb, xilazin dengan dosis (-D mg/kg bb secara

intramuskulus. Setelah pemberian anastesi, frekuensi nafas dan jantung

dimonitoring setiap ü menit sekali sampai pembedahan selesai (Tilley dan

Smith,( ().

1
1 c
c

Teknik Operasi

1.c Hewan diletakkan dengan posisi rebah dorsal.


(.c Desinfeksi daerah operasi dengan alkohol   dan dilanjutkan dengan
iodium D.
D.c Pasang dook steril
4.c Lakukan incisi kulit dan jaringan subkutan lewat caudal midline yaitu tepat
dibelakang umbilikus kearah caudal lebih kurang -1( cm.
ü.c Pegang linea alba dengan alli¶s forceps kemudian dengan menggunakan
gunting bengkok preparer anatara kulit dengan muskulus untuk mendapatkan
linea alba.
.c Incisi selanjutnya tepat pada linea alba diperpanjang dengan menggunakan
gunting, pinset atau jari telunjuk dan jari tengah sebagai pemandunya agar
tidak mengunting organ viscera.
.c Angkat corpus uteri dengan tangan dan letakkan diatas kain dup steril,
kemudian diurutkan/ dirunut kedepan sampai mencapai biforcasio uterus dan
kornua kiri.
8.c Kornua kiri dipegang dengan kedua tangan, kemudian mesosalfing dirobek
dengan jari telunjuk robekan diperlebar kearah kranial sampai mencapai
ovarium.
9.c Pasang mosquito forceps pada bagian proksimal dan distal ovarium, kemudian
pasang lagi mosquito forceps diantara kedua mosquito forceps yang pertama.
1 .cLigasi pembulu darah, cornua uterus dan corpus uterus, baru kemudian
lakukan pemotongan pada penggantung ovarium, corpus uterus dan pembuluh
darah ovarica diantara kedua mosquito foceps.
11.cAngkat ovarium dan kornua kiri sebagai pemandu untuk mendapatkan
bifurcasio uteri dan cornua uteri kanan.
1(.cHal yang sama juga dilakukan untuk pengangkatan ovarium dan cornua uteri
kanan.
1D.cOlesi jodium tinctur D atau anti septik lain pada bekas korpus uteri yang
dipotong.
Injeksikan antibiotik penstrep 4: .ü kedalam rongga abdomen.
14.cPeritonium ditutup dengan menggunakan benang silk/cutton dengan pola
jahitan simple interrupted.
1ü.cMuskulus di jahit dengan pola jahitan continous menggunakan benang plain
catgut.
1.cFascia dijahit dengan pola jahitan horizontal matras menggunakan plain
catgut.
1.cTutup kulit dengan pola jahitan simple interupted menggunakan benang
silk/cutton.
18.cBekas daerah operasi dibersihkan iodium D, kedalamnya diinjeksikan
Penicillin Oli.

c
c
11c
c

Perawatan Pasca Operasi

Pasca operasi hewan ditempatkan dalam kandang yang bersih, diberikan

makanan D kali sehari dan air minum adlibitum. Antibiotik diberikan selama ü

hari dan diatas luka operasi dioleskan bioplasenton salep.

R/ Ciprofloxacin  mg
Asam mefenamat  mg
Dexamethasone .1 mg
CTM 1 mg
mf. pulv dtd da in caps No. XV
SD dd 1 caps
Paraf

B-Plex ½ Tab No. XV


SD dd ½ Tab
Paraf

Bioplacenton Salp 1 tube


Sue
Paraf

c
c
1(c
c

DISKUSIc

Telah dilakukan operasi Panhisterectomy yaitu tindakan operasi

mengangkat serta membuang ovarium dan uterus. Operasi yang dilakukan

berjalan lancar, Tahap pertama dilakukan pemeriksaan fisik, status present dalam

keadaan baik dan normal. Operasi ini telah dilakukan pada seekor anjing betina

lokal yang bernama Bertha, berumur  bulan dengan berat badan  kg.

Sebelum diinjeksikan obat anestesi, terlebih dahulu diberikan obat

premedikasi yaitu menggunakan Atropin sulfat dengan dosis , 4 mg/kg BB

secara subkutan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya muntah,

hipersalifasi dan sebagai sedatif, dimana salah satu tujuan dari obat premedikasi

adalah mempercepat induksi anestetika umum (Sayuti, ( ü). Anestesi yang

digunakan merupakan anestesi kombinasi antara ketamin dan xylazin dengan

masing-masing dosis 1 -4 mg/kg BB untuk ketamin sedangkan untuk xylazin

digunakan (-D mg/kg BB secara intramuskular. Kombinasi obat ini dilakukan

untuk mendapatkan anestesi yang sempurna, dimana kedua obat ini mempunyai

efek kerja yang antagonis atau berlawanan, sehingga efek buruk yang ditimbulkan

berkurang.

Ketamin merupakan anastetika yang sangat memuaskan dalam kondisi

tertentu, karena mempunyai sifat analgesik, anastetik dan kataleptik dengan kerja

singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistem somatik, tetapi lemah untuk

sistem viseral tidak menyebabkan relaksasi otot lurik, bahkan kadang-kadang

tonusnya meninggi. Ketamin memiliki kekurangan yaitu sangat lemah sifat

c
c
1Dc
c

analgesik pada viseral karena itu tidak dapat diberikan secara tunggal untuk

prosedur operasi (Haskins dkk., 198ü Hellyer, 199).

Sedangkan xylazin mempunyai efek sedasi, analgesi, anastesi dan pelemas

otot pada dosis tertentu. Xylazin mempunyai efek terhadap sistem sirkulasi,

pernafasan dan penurunan suhu tubuh. Selain itu dapat menyebabkan bradiaritmia,

serta diikuti oleh hipotensi yang berlangsung lama (Hall dan Clarke, 198D).

Setelah hewan benar-benar teranestesi baru dilakukan penyayatan pada

daerah abdomen yang direbahkan dengan posisi dorso recumbency yang di mulai

dari kulit sampai menembus lapisan peritoneum. Penyatan dilakukan pada bagian

midline atau garis line alba sepanjang ± 1 cm (Gambar 1). Hal ini dilakukan

untuk menghindari terjadinya pendarahan. Karena pada daerah linea alba

merupakan daerah yang miskin akan pembuluh darah. Pada saat penyatan lapisan

peritoneum hendaknya dibantu dengan dua jari untuk menghindari tersayat atau

tergunting organ viseral.

Setelah organ uterus didapat, maka dikeluarkan dari rongga abdomen dan

di klem menggunakan duck klem agar tidak kembali kedala m rongga abdomen

(Gambar (). Selanjutnya dilakukan ligasi arteri uterina mediana sinister et dexter,

dilakukan double ligasi pada korpus uteri untuk menghindari keluarnya cairan

atau untuk menutup rongga uterus yang dipotong (Gambar D). Hal ini disebabkan

karena uterus menerima suplai darah dari arteri uterina media, arteri utero ovarica

dan percabangan dari arteri pudenda interna (Frandson, 199(). Sedangkan ligasi

pada daerah ovarium dapat dilakukan dengan sekali ligasi yaitu tepat pada

ligamentum mesovarium yang berada di dorsal dari ovarium.

c
c
14c
c

Untuk mencegah infeksi sekunder pasca operasi diberikan antibiotik

pinisillin meijie yang telah dicampurkan dengan NaCl fisioligis dengan cara

menyemprotkan ke dalam rongga operasi (Gambar 4). Selanjutnya peritoneum

dan muskulus dijahit dengan benang cromic cat gut pola simple interrupted, fascia

dijahit dengan benang plain cat gut pola horizontal mattras, sedangkan kulit

dijahit dengan benang cutton dengan pola simple interrupted (Gambar ü). Setelah

selesai, daerah operasi dibersihkan dengan Iodium tincture D dan dimasukkan

penicilin oil melalui celah jahitan. Pada permukaan luka dioles salap kulit

Alfadine untuk mencegah lalat hinggap pada luka yang mungkin dapat

menimbulkan infeksi baru ataupun terjadi myasis.

Pada perawatan pasca bedah, pasien ditempatkan dalam kandang yang

bersih dan terkontrol keadaan serta makanan dan minumannya. Antibiotik

diberikan selama seminggu yakni procain penicillin G dosis ( . - . IU/kg

BB dan vitamin B-komplek selama D hari sebagai supportif. Setelah luka jahitan

tertutup dan mengering, maka jahitan dapat dibuka. Pelaksanaan operasi

panhisterectomy secara umum berhasil dengan baik dan hewan dalam keadaan

sehat.

c
c
c

KESIMPULAN

Pyometra adalah suatu infeksi/peradangan pada uterus hewan betina, yang

menyebabkan bermacam-macam gejala patologis dan klinis yang berhungan erat

dengan alat genitalia dan penyakit-penyakit sistemik. Pyometra dikelompokkan

menjadi dua yaitu: pyometra terbuka (open pyometra) dan pyometra tertutup

(closed pyometra) (Anonimous, ( ).

Penanganan pyometra dapat dilakukan dengan penyuntikan prostaglandin

dan tindakan yang paling tepat adalah dengan melakukan tindakan

o ariohysterectomy/panhisterectomy pada hewan yang tidak produktif lagi untuk

mencegah terjadinya pyometra.

1
c

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Anonimous. ( 4. Pyometra. Http://www.penstone-vets.co.uk/pyometra.htm

Anonimous. ( . Pyometra. www.acvs.org/animalowners/ health


conditions/smallanimaltopics/pyometraindogscats.htm

Archibald, J. (194). Canine Surgery. (th ed. American Veterinary Publication,


Inc. Santa Barbara, California.

Dawson. C. ( . Pyometra. Http://www.workingdogs.com/doc 99.htm

Frandson, R.D. (199D). Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi keempat. Universitas
Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Foster and Smith. ( . Pyometra & infections of the


uterus.http://www.peteducation.com/article.cfm?cls=(&cat=1(9&articlei
d=918

Ibrahim R. ( . Pengantar Ilmu Bedah Veteriner. Syiah Kuala University Press.


Banda Aceh.

Partodiharjo, R. (198). Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara Sumber


Widya, Jakarta.

Reese. C. ( . Pyometra in dog. http://www.petplace.com/dogs/pyometra-in-


dogs/page(.aspx

Ressang. 1984. Patologi khusus veteriner. Bali-Press, Bali.

Tilley. L. P. And F. W. K. Smith. ( . The ü-Minute Veterinary Consult, Canine


And Feline. Lipincoot Williams And Wilkins.

Toelihere, M.R. (198ü). Ilmu Kebidanan Pada Sapi dan Kerbau. Universitas
Indonesia Press, Jakarta.