Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK KIMIA IV

FLUIDISASI

Disusun Oleh : Zeffa Aprilasani

NIM : 2008430039

Fakultas Teknik Kimia

Universitas Muhammadiyah Jakarta

2011
FLUIDISASI

I. Maksud dan tujuan:

1. Mempelajari hidrodinamika unggun terfluidakan sistem padat gas atau


padat cair

2. Menentukan kecepatan minimal fluidisasi

3. Menentukan karakteristuik unggun terfluidakan seperti peronakan/


sluging, penjaluran/ chanelling, dsb.

II. Teori

Fluidisasi adalah metode pengontakan butiran-butiran padat dengan fluida


baik cair maupun gas. Dengan metode ini diharapkan butiran-butiran padat
memiliki sifat seperti fluida dengan viskositas tinggi. Sebagai ilustrasi tinjau
suatu kolom berisi sejumlah partikel padat berbentuk bola. Pada laju alir yang
cukup rendah butiran padat akan tetap diam karena gas hanya mengalir melalui
ruang antar partikel tanpa menyebabkan perubahan susunan partikel tersebut.
Keadaan yang demikian disebut unggun diam.

Kalau laju alir kemudian dinaikkan akan sampai pada satu keadaan dimana
unggun padatan akan terpisahkan satu sama lain sehingga dapat bergerak dengan
lebih mudah. Pada kondisi butiran yang dapat bergerak ini disebut hidrostatik.

Dalam dunia industri dapat diaplikasikan dalam banyak hal seperti


transportasi serbuk padatan (conveyer solid), pencanpuran padatan halus,
perpindahan permukaan logam, proses drying dan sizing pada pembukaan, proses
pertumbuhan partikel, dan kondensasi bahan yang dapat mengalami sublimasi,
adsorbsi (untuk pengering udara dan adsorben) dan masih banyak aplikasi lain.

Fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada proses fluidisasi antara lain:

2 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


1. Fenomena fixed bed yang terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju
minimum yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini
partikel diam atau tidak bergerak. Fenomena minimum atau incipient
fluidization yang terjadi ketika laju alir fluida mencapai laju alir minimum
yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Pada kondisi ini partikel-partikel
padat mulai terekspansi.

2. Fenomena snooth or homogenously fludization terjadi ketika kecepatan


distribusi aliran fluida merata.densitas dan distribusi partikel dalam unggun
sama atau homogen sehingga ekspansi pada setiap partikel padatan beragam.

3. Fenomena bubling fluidization yang terjadi ketika gelembung –gelembung


pada unggunu terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel tidak homogen.

4. Fenomena sluging fluidization yang terjadi ketika gelembung-gelembung


besar yang mencapai lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikel
partikel padat. Pada kondisi ini terjadi penorakan sehingga partikel-partikel
padat seperti terangkat. Fenomena chanelling fluidization yang terjadi ketika
dalam unggun partikel padat terbentuk saluran-saluran seperti tebing vertikal.

5. Fenomena disperse fluidization yang terjadi saat kecepatan alir fluida


melampaui lecepatan maksimal aliran fliuida. Pda fenomena ini sebagian
partikel akan terbawa aliran fluida dan ekspansi mencapai nilai maksimum.

Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor:

1. Laju alir fluida dan jenis fluida


2. Ukuran partikel.
3. Jenis dan densitas partikel serta faktor intrlok antar partikel.
4. Porositas unggun
5. Distribusi aliran.
6. Distribusi bentuk ukuran fluida
7. Diameter kolom
8. Tinggi unggun

3 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


Faktor-faktor diatas merupakan variabel –variabel dalam proses fluidisasi
yang akan menentukan karakteristik proses fluidisasi tersebut. Pada praltikum
fluidisasi ini fluida yang digunakan adalah udara tekan , butiran padat yang akan
difluidisasikan juga dapat bervariasi seperti butiran batu bara pasir dsb. Ukuran
partikel juga divariasikan dengan mengatur ukuran partikel melaalui proses
pemgayakan. Dengan mesh tertentu. Densitas partikel dapat juga bervariasi
dengan mencampurkan partikel-partikel baik yang berbeda ukuran maupun
berbeda jenis. Selain itu variasi juga dapat dilakukan pada tinggi unggun. Dalam
praktikum ini dapa teramati fenomena-fenomena fluidisasi secara visual. Dari
hasil pengukuran tekanan dan laju alir fluida dibuat kurva karakteristik fluidisasi.

Pressure Drop

Aspek utama yang akan ditinjau dalam percobaan ni adalah mengetahui


besarnya pressure drop di dalam unggun padatan yang terfluidakan. Hal ini
mempunyai arti yang cukup penting karena selain erat sekali hubungannya dengan
besarnya energi yang diperlukan juga bisa memberikan indikasi tentang kelakuan
unggung selama operasi berlangsung. Penentuan besarnya hilang tekan di dalam
unggun terfluidakan:

Pressure Drop damal Unggun Diam

Korelasi matematik yang menggambarkan hubungan antara hilamg tekan


dan dengan laju alir fluida dalam suatu sistem unggun diam diperoleh pertama
kali pada tahun 1922 yaitu dengan menggunakan bilangan-bilangan tak
berdimensi. Untuk aliran laminar dengan kehilangan energi terutama disebabkan
oleh gaya viscous.

........................................................................................ (1)

Dimana:

= Pressure drop persatuan panjang / tinggi unggun

= gravitasi buni

4 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


= Viskositas fluida

Luas permukaan spesifik partikel (luas permukaan persatuan volume unggun)

dihitung dari korelasi berikut: ......................................................... (2)

Sehingga persamaan tersebut menjadi:

.............................................................................. (3)

Atau

................................................................................. (4)

Persamaan ini kemudian diturunkan lagi oleh kozeny (1927) denngan


mengasumsikan bahwa unggun zat padat tersebut adalah ekivalen dengan
kumpulan saluran-saluran lurus yang paralel mempunyai luas permukaan . Untuk
aliran turbulen pressure drop digambarkan sebagai gabungan dari viscous losses
dan kinetic energy loss.

.................................................... (5)

Pada keadan ekstrim yaitu bila:

a. Aliran laminer (Re < 20) kinetic energy losses dapat diabaikan sehingga

...............................................................(6)

b. Aliran turbulen (Re > 1000), viscous losses dapat diabaikan sehingga

...................................................... (7)

5 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


Pressure Drop pada Unggun Terfluidakan

Pada unggun terfluidakan persamaan yang menggambarkan hubungan P/L dan U


biasanya digunakan peersamaan Ergun yaitu:

................................... (8)

adalah prositas unggun pada keadaan terfluidakan, pada keadaan ini dimana
partilel-partikel zat padat seolah-olah terapung di dalam fluida sehingga terjadi
kesetimbangan antara berat partikel dengan gaya apung dari fluida disekeliling
gaya seret oleh fluida yang naik = berat partikel – gaya apung atau pressure drop
pada unggun x luas penampang = volume unggun x fraksi zat padatx densitas zat
parat – densitas fluida

....................................................... (9)

................................................................... (10)

Kecepatan Minimum Fluidisasi

Yang dimaksud dengan kecepatan minimum fluidisasi (dengan notasi Vnf) adalah
kecepatan superficial fluida minimum dimana fluidisasi mulai terjadi. Harganya
didapat dengan mengkombinasikan persamaan ergun dengan neraca massa
terfluidisasikan menjadi :

............ (11)

Untuk keadaan ekstrim yaitu:

Aliran Laminer (Re<20) kecepatan fluidisasi minimum adalah

................................................................. (12)

Aliran turbulen (Re>1000) kecepatan fluidisasi minimumnya adalah:

6 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


.................................................................... (13)

Karakteristik Unggun terfluidalan

Evaluasi parameter-parameter dalam peristiwa fluidisasi

Densitas partikel dan bentuk partikel

.............................................................. (14)

........ (15)

Porositas Unggun

Porositas unggun menyatakan fraksi kosong didalam ruang unggun yang secara

matematik ditulis

III. Alat dan Bahan

A. Bahan yang digunaka:

1. Fluida cair dan gas sebagai media untuk membuat unggun terfluidisasi

2. Pertikel-partikel padat sebagai unggun yang akan terfluidisasi

3. Tipol untuk analisa densitas

B. Peralatan Utama

1. Satu set kolom fluidisasi sistem padat –gas

2. Sumber fluida bertekanan

7 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


3. Alat pengatur laju alir berupa kerangan jarum.

4. Alat ukur laju alir fluida yang terdiri dari venturimeter, dry gass meter

C. Peralatan Pembantu

1. Wet test meter

2. Piknometer

3. Timbangan

4. Jangka Sorong

5. Stop watch

6. Gelas Ukur

7. Ayakan

IV. Prosedur percobaan

A. Persiapan

1. Penentuaan densitas butiran padatan dengan metoda ergun atau dengan


piknometer.

2. Penentuan dimensi kolom dengan memakai jangka sorong

3. Penentuan ukuran butiran padat dengan memakai analisa ayakan.

4. Kalibrasi flow meter dengan wet test meter

B. Tahapan Operasi

1. Kalibrasi kolom kosong

2. Mengisi kolom dengan butiran padatan dengan jumlah tertentu

8 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


3. Mengukur ∆ P di dalam kolom yang berisi padatan untuk laju alir
yang berbeda.

V. Data dan Perhitungan

1.1 Data Pompa Pembukaan 0.5 dengan variasi bukaan


valve

Bukaa ∆P Q ∆Η L Fenomen
n a
Valve
0.5 4 15 12 14.5 Bubling
0.75 5.2 10 15 13 Bubling
1 5 14 17 14 Dispese

1.2 Data Pompa Pembukaan 1 dengan variasi


bukaan valve

Bukaa ∆P Q ∆Η L Fenomen
n a
Valve
0.5 4.8 25 35 25 Chanellin
g
0.75 4.8 25 38 26 Chanellin
g
1 5.2 25 45 27 Disperse

 Dimensi kolom = 4.8 cm

 Diameter partikel pada 80 mesh = 0,070 inch = 0,1778 cm

 Gravitasi = 981 cm/dtk2

 Densitas air
Massa pikno + air = 76.96 g

Massa pikno kosong = 26.76 g -

Massa air = 50.20 g

9 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


 ρ air = massa air (m)/ Volume air (V)
= 50.20/ 50

= 1.004 g/ml

 Densitas partikel
Massa pikno + partikel = 66.70 g

Massa pikno kosong = 26.76 g –

Massa partikel = 39.94 g

Massa pikno + partikel + air = 86.23 g

Massa pikno + partikel = 66.70 g –

Volume Air = 19.53 ml

Volume partikel = 50 – 19.53 = 30.47 ml

 ρ partikel = massa partikel/ vol partikel


= 39.94/30.47

= 1.31 g/ml

 Menghitung densitas fluida


Diketahui dari literatur:

N2 = 0,314076

O2 = 0,43536

10 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


N2 + 0,21 O2

 Menghitung porositas unggun

Emf = Vu-Vp = ¼ µ . D2 . L - Vp

Vu ¼ µ . D2 . L

Emf1 = (1/4 X 3.14 X 4.82 X 14.5 )-30.47

(1/4 X 3.14 X 4.82 X 14.5 )

Emf1 = 0.8838

Dengan cara yang sama, diperoleh hasilnya pada table 2.

 Menghitung densitas fluida


Diketahui dari literatur:

N2 = 0,314076

O2 = 0,43536

N2 + 0,21 O2

11 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


 Perhitungan Kecepatan Min Fluidisasi

Umf = 0.1778 X (1.31- 0.3395) X 981 X (0.8838)3

1.75 X 0.3395

= 196.69 cm/dtk

Dengan cara yang sama, maka dapat diperoleh hasil pada table 2.

 Konversi Debit (Q)

 Perhitungan Viscositas Fluida

12 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


πf = πN2 x 0.79 + πO2 X 0.21

= (1766 x 107 . 0.79) + (2026 x 107 . 0.21)

= 1.8206 x 1010 Cp

TABEL 2

N Umf Q (x10- Log Log SQRT


4
o Emf (cm/dtk) ) Umf ∆P ∆H
0.883 2.293 0.602 3.464
1 8 196.6988 1,33 8 1 1
0.870 2.273 0.716 3.873
2 4 187.8831 1,25 9 0 0
0.879 2.287 0.699 4.123
3 7 193.9413 1,83 7 0 1
0.932 2.363 0.681 5.916
4 6 231.1117 1,33 8 2 1
0.935 2.367 0.681 6.164
5 2 233.0439 1,00 4 2 4
0.937 2.370 0.716 6.708
6 6 234.8426 3,00 8 0 2

13 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


VI. PEMBAHASAN

 Pada praktik fluidisasi yang kami lakukan terjadi fenomena-fenomena


seperti fixed bed, chanelling, bubling, dan disperse.

 Fluidisasi merupakan metode pengontakan butiran-butiran padat dengan


fluida baik itu cair ataupun gas.

14 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


 Pada saat percobaan dilakukan harus dilakukan dengan teliti karena
tekanan dari kompresor cepat habis, serta saat melihat skala harus cermat .

VII.KESIMPULAN

 Dari grafik kalibrasi venture, hubungan umf dengan H diperoleh


persamaan sebagai berikut

y = 10.38x + 176.5
R² = 0,764

 Dari grafik kalibrasi kolom kosong, hubungan antara 


 d engan Q
diperoleh persamaan sebagai berikut:

y = 0.202x + 0.913
R² = 0,273

 Dari grafik karakteristik fluidisasi, hubungan log umf dengan log P


diperoleh persamaan sebagai berikut :

 y = 0.0102x + 0.637
R² = 0,318

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2003. Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia, Lab. Operasi


Teknik Kimia FT-UMJ. Fakultas Teknik, Jurusan Kimia. Universitas
Muhammadiyah Jakarta.

Cabe W.L, Mc. and Smith, J.C. 1956. Unit Operation of Chemical Engineering,
Mc.Graw Hill Ltd. New York

Satibi, Loekman Dr. Ir. H. 2003. Diktat Kuliah Operasi Teknik Kimia, Fakultas
Teknik, Jurusan Kimia. Universitas Muhammadiyah Jakarta.

15 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


JAWABAN TUGAS

1. Analisa Kesalahan min 3?

• Pembacaan Skala yang kurang tepat

• Pengukuran berat jenis Partikel yang kurang tepat

• Piknometer yang belum konstan

2. Gambarkan grafik kalibrasi venture, kolom kosong, dan karakteristik


fluidisasi!

16 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


TUGAS

3. Aplikasi Industri? (2 lembar)

Peristiwa fluidisasi digunakan dalam industri petrokimia dalam reaktor


cracking, katalis padat dalam butiran dapat diregenerasi secara kontinyu
dengan mengalirkan katalis dari reaktor ke unit aktivasi katalis. Contoh
pemakaian dari reaktor ini adalah pembuatan alkil klorida dari gas klorin
dengan olefin dan pembuatan phthalic-anhidride dari oksidasi naphtalena
oleh udara. Selain itu, contoh lainnya adalah :

APLIKASI FLUIDISASI DALAM INDUSTRI

PEMBAKARAN BATUBARA

Sistem pembakaran batubara umumnya terbagi 2 yakni sistem unggun


terfluidakan (fluidized bed system) dan unggun tetap (fixed bed system atau grate
system).

• Fluidized bed system adalah sistem dimana udara ditiup dari bawah
menggunakan blower sehingga benda padat di atasnya berkelakuan mirip
fluida. Teknik fluidisasi dalam pembakaran batubara adalah teknik yang

17 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


paling efisien dalam menghasilkan energi. Pasir atau corundum yang
berlaku sebagai medium pemanas dipanaskan terlebih dahulu. Pemanasan
biasanya dilakukan dengan minyak bakar. Setelah temperatur pasir
mencapai temperature bakar batubara (300oC) maka diumpankanlah
batubara. Sistem ini menghasilkan abu terbang dan abu yang turun di
bawah alat. Abu-abu tersebut disebut dengan fly ash dan bottom ash.
Teknologi fluidized bed biasanya digunakan di PLTU (Pembangkit
Listrik Tenaga Uap). Komposisi fly ash dan bottom ash yang terbentuk
dalam perbandingan berat adalah : (80-90%) berbanding (10-20%).

Secara umum konsep teknologi yang diunggulkan dari system pembakaran


fluidized bed adalah :

1. adanya gerak turbulen partikel yang sangat baik untuk proses perpindahan
panas dan massa bahan bakar padat, dan baik untuk menyeragamkabn
temperature di dalam bed dan reactor.
2. injeksi langsung gas terlarut (sorbent) ke dalam bed, sangat memudahkan
untuk mengkontrol gas asam
3. penggunaan temperature sebagai variable independent, yang berguna
untuk mengendalikan polusi, mengatur distribusi bahan bakar dan udara,
serta penukaran panas di dalam reactor
4. penggunaan bed dengan material inert sebagai pemberat panas (thermal
flywheel) yang dapat mengurangi terjadinya slugs ataupun pengotor bahan
bakar lainnya.

• Fixed bed system atau Grate system adalah teknik pembakaran dimana
batubara berada di atas conveyor yang berjalan atau grate. Sistem ini
kurang efisien karena batubara yang terbakar kurang sempurna atau
dengan perkataan lain masih ada karbon yang tersisa. Ash yang terbentuk
terutama bottom ash masih memiliki kandungan kalori sekitar 3000
kkal/kg. Di China, bottom ash digunakan sebagai bahan bakar untuk
kerajinan besi (pandai besi). Teknologi Fixed bed system banyak
digunakan pada industri tekstil sebagai pembangkit uap (steam

18 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


generator). Komposisi fly ash dan bottom ash yang terbentuk dalam
perbandingan berat adalah : (15-25%) berbanding (75-25%).

v Gasifikasi

• Gambut dan Gasifikasi Biomassa

Gasifikasi adalah suatu proses konversi senyawa yang mengandung karbon untuk
mengubah material baik cair maupun padat menjadi bahan bakar gas dengan
menggunakan temperatur tinggi. Gas yang dihasilkan mempunyai nilai bakar
sehingga dapat menghasilkan energi.

Gambut memiliki kadar karbon cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dijadikan
bahan bakar. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengolah gambut
menjadi bahan bakar adalah gasifikasi. Dengan teknik gasifikasi, gambut
diharapkan dapat menjadi sumber bahan bakar yang potensial untuk mengatasi
krisis energi.

Gambut merupakan timbunan material vegetasi yang tidak terdekomposisi secara


sempurna. Pada prinsipnya, gambut terbentuk dari vegetasi yang mengalami
hambatan dalam proses dekomposisinya pada lingkungan asam dimana terjadi
genangan air sepanjang tahun atau disebut kondisi rawa.

Gambut memiliki bentuk dan ukuran yang beragam. Sebagian besar gambut yang
digunakan berbentuk bongkahan. Selain itu gambut juga memiliki kadar air tinggi.
Sebagai umpan gasifikasi, jika digunakan secara langsung, maka gambut akan
sulit diproses dan dapat mengganggu kinerja gasifikasi. Oleh sebab itu,
pengolahan awal terhadap gambut perlu dilakukan. Pengolahan awal tersebut

19 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


berupa pengecilan dan penyeragaman ukuran serta pengurangan kadar air pada
gambut.

Proses gasifikasi gambut terdiri dari tahap pemanasan gasifier, pengumpanan


pasir, pengumpanan bahan bakar. Pemanasan gasifier dilakukan hingga
temperatur bagian bawah gasifier mencapai temperatur gasifikasi, yaitu 800 –
1000 °C. Pada saat temperatur bagian bawah gasifier mencapai 700 °C, pasir
diumpankan ke gasifier. Ketika temperatur gasifikasi tercapai, bahan bakar
diumpankan ke gasifier.

Berdasarkan percobaan gasifikasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa


gambut dapat tergasifikasi melalui mekanisme fluidisasi. Sifat reaktif gambut
memungkinkan terjadinya gasifikasi dengan cepat. Karakteristik gasifikasi
gambut yang diperoleh pada percobaan gasifikasi gambut yaitu: profil temperatur
gasifikasi; kandungan gas produser terdiri dari CO, H2, CH4, CO2, O2, dan N2;
perolehan gas produser; nilai bakar gas produser (LHV); efisiensi gasifikasi; serta
konversi karbon. Dan yang tidak kalah penting adalah nilai bakar gas produser
(LHV) yang cukup besar, yakni 1330 – 1370,6 kJ/Nm3.

• Gasifikasi batubara dengan unggun terfluidakan

Untuk melangsungkan gasifikasi diperlukan suatu suatu reaktor. Reaktor tersebut


dikenal dengan nama gasifier. Kontak antara bahan bakar dengan medium
menentukan jenis gasifier yang digunakan. Secara umum pengontakan bahan
bakar dengan medium penggasifikasinya pada gasifier dibagi menjadi tiga jenis,
yaitu entrained bed, fluidized bed, dan fixed/moving bed.

Perbandingan jenis-jenis gasifier

Parameter Fixed/Moving Bed Fluidized Bed Entrained Bed


Ukuran umpan < 51 mm < 6 mm < 0.15 mm
Toleransi kehalusan Terbatas Baik Sangat baik
partikel
Toleransi kekasaran Sangat baik Baik Buruk
partikel

20 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


Toleransi jenis Batubara kualitas Batubara kualitas Segala jenis
umpan rendah rendah dan batubara, tetapi tidak
biomassa cocok untuk
biomassa
Kebutuhan oksidan Rendah Menengah Tinggi
Kebutuhan kukus Tinggi Menengah Rendah
Temperatur reaksi 1090 °C 800 – 1000 °C > 1990 °C
Temperatur gas 450 – 600 °C 800 – 1000 °C > 1260 °C
keluaran
Produksi abu Kering Kering Terak
Efisiensi gas dingin 80% 89.2% 80%
Kapasitas Kecil Menengah Besar
penggunaan
Permasalahan Produksi tar Konversi karbon Pendinginan gas
produk

Gasifikasi unggun terfluidakan dioperasikan dengan cara memfluidisasi partikel


bahan bakar dengan gas pendorong yang berupa udara/oksigen, baik dicampur
dengan kukus maupun tidak dicampur. Gas pendorong tersebut memiliki dua
fungsi, yaitu sebagai reaktan dan sebagai medium fluidisasi. Pada gasifikasi
unggun terfluidakan, gas pendorong yang umum digunakan adalah udara. Pada
gasifier jenis ini, udara dan bahan bakar tercampur pada unggun yang terdiri dari
padatan inert berupa pasir. Keberadaan padatan inert tersebut sangat penting
karena berfungsi sebagai medium penyimpan panas.

Gasifikasi unggun terfluidakan dioperasikan pada temperatur relatif rendah, yaitu


800 – 1000 °C. Temperatur operasi tersebut berada di bawah temperatur leleh abu
sehingga penghilangan abu yang dihasilkan pada gasifikasi jenis ini lebih mudah.
Hal inilah yang menyebabkan gasifikasi unggun terfluidakan dapat digunakan
pada pengolahan bahan bakar dengan kandungan abu tinggi sehingga rentang
penerapan gasifikasi unggun terfluidakan lebih luas daripada gasifikasi jenis
lainnya.

Reaksi pada Gasifikasi Unggun Terfluidakan

21 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


Gasifikasi umumnya terdiri dari empat proses, yaitu pengeringan, pirolisis,
oksidasi, dan reduksi. Pada gasifier jenis unggun terfluidakan, kontak yang terjadi
saat pencampuran antara gas dan padatan sangat kuat sehingga perbedaan zona
pengeringan, pirolisis, oksidasi, dan reduksi tidak dapat dibedakan. Salah satu
cara untuk mengetahui proses yang berlangsung pada gasifier jenis ini adalah
dengan mengetahui rentang temperatur masing-masing proses, yaitu:

• Pengeringan: T > 150 °C


• Pirolisis/Devolatilisasi: 150 < T < 700 °C
• Oksidasi: 700 < T < 1500 °C
• Reduksi: 800 < T < 1000 °C

Proses pengeringan, pirolisis, dan reduksi bersifat menyerap panas (endotermik),


sedangkan proses oksidasi bersifat melepas panas (eksotermik). Pada
pengeringan, kandungan air pada bahan bakar padat diuapkan oleh panas yang
diserap dari proses oksidasi. Pada pirolisis, pemisahan volatile matters (uap air,
cairan organik, dan gas yang tidak terkondensasi) dari arang atau padatan karbon
bahan bakar juga menggunakan panas yang diserap dari proses oksidasi.
Pembakaran mengoksidasi kandungan karbon dan hidrogen yang terdapat pada
bahan bakar dengan reaksi eksotermik, sedangkan gasifikasi mereduksi hasil
pembakaran menjadi gas bakar dengan reaksi endotermik.

Pirolisis
Pirolisis atau devolatilisasi disebut juga sebagai gasifikasi parsial. Suatu rangkaian
proses fisik dan kimia terjadi selama proses pirolisis yang dimulai secara lambat
pada T < 350 °C dan terjadi secara cepat pada T > 700 °C. Komposisi produk
yang tersusun merupakan fungsi temperatur, tekanan, dan komposisi gas selama
pirolisis berlangsung. Proses pirolisis dimulai pada temperatur sekitar 230 °C,
ketika komponen yang tidak stabil secara termal, seperti lignin pada biomassa dan
volatile matters pada batubara, pecah dan menguap bersamaan dengan komponen
lainnya. Produk cair yang menguap mengandung tar dan PAH (polyaromatic
hydrocarbon). Produk pirolisis umumnya terdiri dari tiga jenis, yaitu gas ringan

22 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


(H2, CO, CO2, H2O, dan CH4), tar, dan arang. Secara umum reaksi yang terjadi
pada pirolisis beserta produknya adalah:

Oksidasi(Pembakaran)
Oksidasi atau pembakaran arang merupakan reaksi terpenting yang terjadi di
dalam gasifier. Proses ini menyediakan seluruh energi panas yang dibutuhkan
pada reaksi endotermik. Oksigen yang dipasok ke dalam gasifier bereaksi dengan
substansi yang mudah terbakar. Hasil reaksi tersebut adalah CO2 dan H2O yang
secara berurutan direduksi ketika kontak dengan arang yang diproduksi pada
pirolisis. Reaksi yang terjadi pada proses pembakaran adalah:

C + O2 -> CO2 + 393.77 kJ/mol karbon

Reaksi pembakaran lain yang berlangsung adalah oksidasi hidrogen yang


terkandung dalam bahan bakar membentuk kukus. Reaksi yang terjadi adalah:

H2 + ½ O2 -> H2O + 742 kJ/mol H2

Reduksi (Gasifikasi)
Reduksi atau gasifikasi melibatkan suatu rangkaian reaksi endotermik yang
disokong oleh panas yang diproduksi dari reaksi pembakaran. Produk yang
dihasilkan pada proses ini adalah gas bakar, seperti H2, CO, dan CH4. Reaksi
berikut ini merupakan empat reaksi yang umum terlibat pada gasifikasi.

• Water-gas reaction
Water-gas reaction merupakan reaksi oksidasi parsial karbon oleh kukus
yang dapat berasal dari bahan bakar padat itu sendiri (hasil pirolisis)
maupun dari sumber yang berbeda, seperti uap air yang dicampur dengan
udara dan uap yang diproduksi dari penguapan air. Reaksi yang terjadi
pada water-gas reaction adalah:

C + H2O -> H2 + CO – 131.38 kJ/kg mol karbon

Pada beberapa gasifier, kukus dipasok sebagai medium penggasifikasi dengan


atau tanpa udara/oksigen.

23 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


• Boudouard reaction
Boudouard reaction merupakan reaksi antara karbondioksida yang terdapat
di dalam gasifier dengan arang untuk menghasilkan CO. Reaksi yang
terjadi pada Boudouard reaction adalah:

CO2 + C -> 2CO – 172.58 kJ/mol karbon

• Shift conversion
Shift conversion merupakan reaksi reduksi karbonmonoksida oleh kukus
untuk memproduksi hidrogen. Reaksi ini dikenal sebagai water-gas shift
yang menghasilkan peningkatan perbandingan hidrogen terhadap
karbonmonoksida pada gas produser. Reaksi ini digunakan pada
pembuatan gas sintetik. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

CO + H2O -> CO2 + H2 – 41.98 kJ/mol

• Methanation
Methanation merupakan reaksi pembentukan gas metan. Reaksi yang
terjadi pada methanation adalah:

C + 2H2 -> CH4 + 74.90 kJ/mol karbon

Pembentukan metan dipilih terutama ketika produk gasifikasi akan digunakan


sebagai bahan baku indsutri kimia. Reaksi ini juga dipilih pada aplikasi IGCC
(Integrated Gasification Combined-Cycle) yang mengacu pada nilai kalor metan
yang tinggi.

Salah satu reaktor gasifikasi unggun terfluidakan di sebuah pembangkit listrik dari
batubara.

Gasifier unggun terfluidakan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan


gasifier jenis lainnya, yaitu:

• Rentang penanganan jenis bahan bakar lebar


• Tingkat perpindahan panas dan massa bahan bakar tinggi

24 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi


• Nilai pemanasan tinggi
• Kadar arang rendah

25 Praktikum Teknik Kimia IV – Fluidisasi