Anda di halaman 1dari 24

BAB VII

RETIKULUM ENDOPLASMA
Adnan (UNM, 2011)

A. STRUKTUR RETIKULUM ENDOPLASMA


Semua sel eukariota mengandung retikulum endoplasma.
Secara umum retikulum endoplasma berperan sebagai jalur
transportasi intraseluler bagi sel. Dikenal ada dua jenis
retikulum endoplasma, yaitu retikulum endoplasma halus dan
retikulum endoplasma kasar. Retikulum endoplasma halus
berperan dalam sintesis protein dan sintesis membran baru.
Retikulum endoplasma kasar mengandung ribosom dan ber-
peran untuk sintesis protein dan modifikasi protein.

Sumber : http://homepages.ius.edu/dpartin/Lecture3cells.ppt

Gambar-7.1 Struktur Retikulum Endoplasma


Ruang yang terdapat di dalam retikulum endop-lasma (RE)
disebut lumen atau ruang sisternal RE. Lumen RE terpisah dari
sitosol oleh suatu membran tunggal (membran RE) yang
memudahkan komunikasi diantara kedua kompartemen ini.

163
Membran RE berkesinambungan dengan membran luar inti.
Struktur membran retikulum endoplasma sesuai dengan
model membran mosaik cair dari Singer dan Nicolson. Dalam
beberapa hal, membran retikulum endoplasma berbeda dengan
membran plasma, antara lain :
a. Ketebalan membran
Membran plasma lebih tebal dari membran retikulum
endoplasma. Membran plasma memiliki ketebalan berkisar
antara 8-10 nm, sedangkan membran retikulum
endoplasma memiliki ketebalan berkisar 5 nm.
b. Rasio protein
Jumlah protein yang terdapat dalam membran plasma lebih
sedikit dibandingkan dengan jumlah protein yang terdapat
dalam membran retikulum endoplasma. Hal tersebut
menyebabkan struktur membran pada retikulum
endoplasma lebih stabil dari pada membran plasma.
c. Rasio kolesterol
Konsenstrasi kolesterol yang terdapat pada membran
plasma lebih sedikit dibandingkan dengan konsentrasi
kolesterol yang terdapat pada membran retikulum
endoplasma.
d. Fluiditas
Membran plasma lebih bersifat cair dibandingkan dengan
membran retikulum endoplasma. Hal ini disebabkan karena
kandungan protein yang terdapat pada membran plasma
lebih sedikit dibandingkan dengan membran retikulum
endoplasma.
Perbandingan tebal antara membran retikulum plasma
dengan membran retikulum endoplasma ditunjukkan pada
Gambar-7.2.

164
Gambar-7.2 Perbandingan tebal membran plasma (A)
dengan membran Retikulum endoplasma (B)
(Thorpe, 1984).

Retikulum endoplasma merupakan suatu alat yang bekerja


untuk memisahkan molekul-molekul baru yang di sintesis di
dalam sitosol dan yang tidak di sintesis di dalam sitosol. Selain
itu, juga berperan sebagai pusat biosintesis makromolekul yang
digunakan untuk membangun organel-organel seluler yang lain.
Lipida, protein, dan kompleks karbohidrat di transpor ke badan
golgi, ke membran plasma atau ke lisosom atau ke bagian luar
sel.

B. MACAM RETIKULUM ENDOPLASMA


Berdasarkan topografi membrannya, retikulum endoplasma
dibedakan atas dua jenis, yaitu :
1. Retikulum endoplasma kasar
2. Retikulum endoplasma halus
Retikulum endoplasma kasar terdapat dalam bentuk lamella
berupa kantung-kantung yang pipih, sedangkan retikulum
endoplasma halus atau licin biasanya dalam bentuk vesikula
atau tubulus. Retikulum endoplasma kasar umumnya dijumpai

165
pada sel-sel yang dikhususkan untuk mengsekresi protein
seperti sel-sel asinar pankreas, sel-sel plasma yang meng-
ekskresikan antibodi atau pada sel-sel yang aktif mengsintesis
membran misalnya sel telur muda atau sel-sel batang pada
retina. Retikulum endoplasma kasar merupakan tempat
berlangsungnya sintesis protein yang ditunjukkan untuk (i)
digetahkan atau disekresikan, (ii) sintesis untuk membran, dan
(iii) organel-organel intra membran lainnya.

Sumber : http://homepages.ius.edu/dpartin/Lecture3cells.ppt

Gambar-7.3 RE kasar dan RE halus

Pada permukaan hyaloplasmik membran retikulum


endoplasma kasar, terdapat partikel-partikel ribosom yang
menempel atau tertanam. Sedangkan pada retikulum
endoplasma halus, membrannya tidak memiliki partikel
ribosom. Ribosom-ribosom (80S, 60S dan 40S) melekat pada
membran retikulum endoplasma melalui perantaraan
glikoprotein khusus yang disebut riboforin. Riboforin ini
merupakan reseptor untuk partikel ribosom dengan BM 63.000
dan 65.000 dalton (Gambar-7.4).

166
Gambar-7.4 Partikel ribosom yang terikat pada riboforin
yang terdapatPada membran retikulum
endoplasma kasar (Thorpe, 1984)

Riboforin merupakan protein integral membran yang


terdapat pada retikulum endoplasma kasar. Bagian ribosom
yang berasosiasi dengan kompleks ribosom adalah ribosom
sub unit besra. Dari gambaran di atas, menunjukkan bahwa
membran retikulum endoplasma dan membran sel pada
umumnya bukan hanya asimetris dari aspek strukturalnya,
tetapi juga simetris dari aspek fungsionalnya. Berdasarkan
bentuknya, RE dapat dibeda-kan menjadi tiga jenis, yaitu : RE
berbentuk lamella, RE berbentuk versikula, dan RE berbentuk
tubulus.
Retikulum endoplasma halus permukaan hyalop-lasmiknya
tidak mengandung ribosom. Oleh sebab itu, sering dinamakan
retikulum endoplasma agranuler. Reti-kulum endoplasma halus
terutama terdapat di dalam sel yang memegang peranan
penting dalam metabolisme lipida, dan mempunyai peranan
dalam sintesis kolesterol dan metabolisme hormon-hormon
steroid. Retikulum endoplasma halus mengandung enzim-
enzim yang dibu-tuhkan untuk sintesis lipoprotein, misalnya sel-
sel hepato-sit. Selain itu, juga mengandung enzim-enzim yang
berpe-ran dalam detoksifikasi, misalnya enzim sitokrom p450.
Retikulum endoplasma kasar memiliki daerah yang
sebahagian besar tidak mengandung ribosom. Daerah-daerah
tersebut merupakan daerah peralihan, karena dari situlah

167
dibentuk vesikula-vesikula transpor atau vesikula transisi atau
retikulum endoplasma transisi. Vesikula-vesikula tersebut
megandung protein atau lipida yang diangkut secara
intraseluler.
Vesikula-vesikula transisi atau vesikula transpor berperan
mengangkut makromolekul (protein) dari retikulum endoplasma.
Di dalam vesikula transport terdapat protein yang larut yang
berasal dari lumen retikulum endoplasma (protein sekretori)
atau protein yang terikat pada membran vesikula (protein
membran). Vesikula-vesikula dapat bergabung dengan
membran sasaran dan melepaskan isinya. Membran vesikula
merupakan bagian dari membran sasaran.
Pada se-sel yang aktif mensintesis hormon steroid,
retikulum endoplasma licin atau halus memiliki enzim-enzim
untuk sintesis kolesterol, yang merupakan prazat untuk sintesis
hormon steroid. Sintesis lipida berlangsung di dalam retikulum
endoplasma licin. Semua lipida yang dibuat di dalam sel
disintesis pada membran retikulum endoplasma kecuali
fosfatildilgliserat dan kardiolipin.

Sumber : http://homepages.ius.edu/dpartin/Lecture3cells.ppt

Gambar-7.5 Pembentukan vesikula transport pada


retikulum endoplasma

168
C. KOMPOSISI KIMIA RE
Pada hati tikus, membran mikrosom mengandung protein
sekitar 60-70% dan fosfolipida sekitar 100%. Tidak kurang dari
33% polipeptida dengan sifat-sifat fisika dan kimia yang
berbeda terdapat pada membran mikrosom. Fosfolipida
mikrosom tersebar dengan perbandingan kira-kira 55%
fosfolipida kolin, 5-10% fosfatidilkolin, 20-25% fosfatidiletanol-
amin, 5-10% fosfatidilinositol, dan 4-7% sfingomielin.
Mikrosom bukanlah suatu organel, melainkan hasil isolasi
dari membran retikulum endoplasma yang berben-tuk vesikula
yang diperoleh setelah membran retikulum endoplasma
dihomogenisasi. Pada umumnya membran retikulum
endoplasma lebih kaya dengan fosfatidilkolin dan sfingomielin.
Di dalam retikulum endoplasma, terdapat enzim glukosa-6-
fosfatase yang merupakan enzim maker untuk retikulum
endoplasma. Enzim maker tersebut memiliki peran yang sangat
penting dalam metabolisme karbo-hidrat. Sedangkan enzim
terbanyak adalah Cytochrom p-450 dan merupakan 10% dari
protein mikrosom.
Tabel-7.1 menunjukkan topografi berbagai jenis enzim yang
terdapat pada retikulum endoplasma. Semua enzim-enzim
tersebut kecuali Cytokhrom p450 terdistribusi secara asimetris
pada membran, yaitu ada yang terletak pada permukaan
luminal atau sisternal, dan yang lain pada permukaan
hyaloplasmik. Sitokrom b5 merupakan protein integral membran
dengan berat molekul 11.000 dalton dan terletak pada
permukaan hyaloplasmik dan retikulum endoplasma (Thorpe,
1984).

169
Tabel-7.1
Lokasi berbagai jenis enzim pada membran retikulum
endoplasma (Thorpe, 1984)

Nama Enzim Lokasi Enzim


Cytochrom 65 Permukaan sitoplasma
NADH-Cytochrom b5 Permukaan sitoplasma
reduktase
NADPH-Cytochrom c Permukaan sitoplasma
reduktase
Cytochrom p-450 Permukaan sitoplasma dan lumen RE
ATP-ase Permukaan sitoplasma
Nukleosida Permukaan sitoplasma
pirofosfatase
CDPmannosil Permukaan sitoplasma
transferase
Nukleosida difosfatase Permukaan sitoplasma
Glukosa-6-fosfatase Permukaan sitoplasma
B-Glukoronidase Permukaan sitoplasma

Dari berbagai hasil penelitian disimpulkan bahwa untuk


enzim sitokrom b5 yang memiliki kepala hidrofilik yang
mengandung tempat katalitik, terekspor kepermukaan
hyaloplasmik atau permukaan sitoplasmik. Sedangkan bagian
ekor yang bersifat hidrofobik dan tidak mempunyai aktivitas
katalitik terendam di dalam bilayer lipida membrane.

Gambar-7.6 Sitokrom b5 dengan kepala terorientasi ke


arah permukaan hyaloplasmik (Thorpe, 1984).

170
D. BIOSINTESIS PROTEIN RE
Pada retikulum endoplasma kasar, partikel-partikel ribosom
melangsungkan sintesis protein. Sebagain dari protein tersebut
akan menjadi protein transmembran, dan sebagian yang lain
dimasukkan kedalam sistern retikulum endoplasma. Protein
transmembran diperuntukkan untuk membran sell atau
membran organel-organel lain, sedangkan protein yang
dilepaskan ke dalam sisterna diperuntukkan bagi organel-
organel sel atau untuk disekresikan.
Sintesis protein pada retikulum endoplasma meli-batkan
dua reseptor, yaitu (i) reseptor yang mengenali ribosom sub unit
besar dengan rantaii polipeptidanya yang baru terbentuk dan (ii)
reseptor yang mengikat ujung 3’mRNA yang pada eukariota
ditandai dengan poli A.
Sintesis protein dilakukan oleh polisom atau ribosom pada
membran retikulum endoplasma. Pada mRNA terdapat kodon
untuk protein isyarat (signal peptida). Tahap-tahap berlang-
sungnya sintesis protein membran retikulum endoplasma
adalah (Partin, 2007) sebagai berikut :
1. mRNA keluar dari inti dan berlekatan dengan ribosom untuk
memulai sintesis protein. Ribosom pada mRNA bergerak
menuju kodon star, dan selanjutnya mentranslasi kodon
untuk protein isyarat menghasilkan protein isyarat atau
signal peptida. Translasi berlangsung di dalam sitosol, dan
di dalam sitosol terdapat partikel pengenal isyarat (signal
recognition particel = SRP).
2. Protein isyarat (signal peptide ) berikatan partikel pengenal
isyarat. Protein pengenal isyarat selanjutnya terikat pada
reseptor yang terdapat pada permukaan membran retikulum
endoplasma
3. Ikatan antara protein pegenal isyarat dengan reseptornya
menyebabkan saluran translokasi protein pada membrane
RE terbuka dan memungkinkan polipeptida (protein isyarat)
masuk ke dalam lumen retikulum endoplasma. Untuk
sementara sintesis protein terhenti hingga protein isyarat

171
menembus celah yang terdapat pada membran retikulum
endoplasma.
4. Setelah protein isyarat menembus membran retikulum
endoplasma, sintesis polipeptida baru dimulai. Protein
isyarat yang terdapat di dalam lumen retikulum endoplasma
selanjutnya dilepaskan oleh signal peptidase.
5. Seiring dengan terlepasnya protein isyarat, perpanjangan
polipeptida berlangsung di dalam lumen hingga ribosom
mencapai kodon stop. Selanjutnya polipeptida baru
dilepaskan kedalam lumen. Ribosom yang telah selesai
melaksanakan translasi mengalami disosiasi dan terlepas di
dalam sitoplasma.

Sumber : http://homepages.ius.edu/dpartin/Lecture3cells.ppt

Gambar-7.7 Sintesis Protein pada Ribosom yang


menempel pada membrane reticulum
endoplasma (Partin, 2007)

Selain itu sintesis protein pada membrane retikulum


endoplasma, sintesis protein juga dapat berlangsung di dalam
sitoplasma yang dilakukan oleh ribosom atau polisom. (Albert
et. al 1983). Terdapat perbedaan target antara protein yang
disintesis di dalam sitoplasma oleh ribosom bebas dengan

172
protein yang disintesis oleh ribosom yang terikat pada
permukaan membrane retikulum endoplasma kasar. Sintesis
protein yang disintesis oleh ribosom bebas di dalam sitoplasma
ditujukan untuk antara lain protein inti, protein mitokondria,
protein kloroplas dan protein peroksisom. Sintesis protein yang
berlangsung pada ribosom yang terikat membran retikulum
endoplasma kasar ditujukan untuk antara lain protein membran
plasma, protein vesikula sekresi dan protein lisosom. (Allar,
2005a).

Sumber : http://faculty.harrisburgu.net/~allar/Golgi%20Lyso%20Pero%20
Mito%20TTh.ppt

Gambar-7.8 Target sintesis protein (Allar, 2005).


Seperti diuraikan sebelumnya bahwa sitosol mengandung
dua populasi ribosom, yaitu ribosom bebas dan ribosom yang
menempel pada retikulum endoplsma kasar. Kedua set ribosom
tersebut secara struktural identik (Allar, 2005b). Ribosom yang
mentranslasi protein yang diperun-tukkan untuk RE melekat

173
pada permukaan hialoplasmik membran retikulum endoplasma.
Ribosom yang men-sintesis protein sitoplasma tetap dalam
keadaan bebas di dalam sitoplasma. Protein yang disintesis
pada ribosom yang menempel pada RE ditranslokasi ke dalam
lumen melalui saluran aqueous yang ada pada membran RE.
Shennan (2005) mengemukakan adanya perbedaan
antara translokasi protein terlarut dan yang diperuntukkan untuk
membran. Untuk protein yang diperuntukkan pada membran
RE, protein pengenal isyarat (SRP) lebih dahulu dilepaskan
pada saat translokasi berlangsung. Selanjutnya ribosom sub
unit besar menempel pada saluran translokasi dan sintesis
protein dilanjutkan.

Sumber : http://www.abdn.ac.uk/sms/ugradteaching

Gambar-7.9 Sintesis protein membrane RE (Shennan, 2005)

Integrasi protein transmembran sederhana ke dalam


membrane RE erat kaitannya dengan proses translokasi.
Beberapa protein transmembran tertanam ke dalam membran
RE dari pada ditranslokasi secara sempurna. Signal peptida
menginisiasi translokasi secara normal. Pada protein trans-
membran terdapat tambahan urutan asam amino hidrofobik
yang aktif sebagai stop transfer sequence, dan mencegah
translokasi lebih lanjut. Stop transfer sequence dilepaskan
secara lateral ke dalam membran untuk berperan sebagai
jangkar membran (Shennan, 2005).

174
Sumber : http://www.abdn.ac.uk/sms/ugradteaching

Gambar-7.10 Translokasi protein transmembran RE (Shennan,


2005)

Sumber : http://www.abdn.ac.uk/sms/ugradteaching

Gambar-7.11 Translokasi protein terlarut pada membran


RE (Shennan, 2005)

175
Untuk protein terlarut, mekanismenya sama dengan
translokasi yang berlangsung pada protein transmembran,
hanya protein ini tidak memiliki urutan asam amino hidrofobik
yang aktif sebagai stop transfer sequence, sehingga translokasi
berlangsung sempurna (Shennan, 2005).

E. GLIKOSILASI
Sebagian besar protein yang masuk ke dalam sisterna atau
lumen retikulum endoplasma mengalami glikosilasi sebelum
diangkut ke bagian lain dari sel. Glikosilasi pendahuluan
berlangsung di dalam retikulum endoplasma dimana
karbohidrat dipindahkan ke protein dan menghasilkan
glikoprotein, yaitu suatu molekul yang memiliki rantai
oligosakarida.

Gambar-7.11 Ikatan kovalen antara oligosakarida dengan


gugus NH2 dari residu asparagin (Albert et.
Al. 1983)

Molekul-molekul oligosakarida tersebut terikat pada


fosfolipida (fosfatidilkolin). Pada mulanya oligosakarida tersebut
terikat pada lipida membran dengan orientasi ke arah
sitoplasma. Melalui bantuan enzim pemindah yang disebut

176
flipase, fosfatidilkolin dipindahkan melalui gerakan flip-flop.
Sehingga ia berada pada permukaan luminal dari retikulum
endoplasma. Rantai oligosakarida ini terdiri dari 14 buah
monosakarida yang terdiri atas dua molekul N-acetyl
glukosamin (Nag), 9 molekul mannosa (man), dan 3 molekul
glukosa.
Oligosakarida terikat secara kovalen pada gugus NH2 residu
asparagin (Oligosakarida berikatan N), kadang-kadang terikat
pada gugus OH, suatu residu serin, treonin atau hidroksilisin.
Pemindahan oligosakarida ke molekul protein dibantu oleh
enzim transmembran, yaitu glukosil transferase. Pada waktu
oligosakarida masih berada di dalam lumen retikulum
endoplasma, satu mannosa dan tiga unit glukosa dihilangkan,
dan selanjutnya glikoprotein dipindahkan ke permukaan
kompleks golgi.

Sumber : http://www.abdn.ac.uk/sms/ugradteaching

Gambar-7.13 Glikosilasi (Shennan, 2005)

177
F. HOMEOSTATIS GLUKOSA DARAH
Glukosa-6-fosfatase adalah enzim retikulum endo-plasma
yang terikat membran, mengkatalis pelepasan glukosa bebas
dari bentuk tesfosforilasi di dalam sel hati. Oleh sebab itu,
glukosa-6-fosfatase berperan menjaga tingkat homeostasis
glukosa dalam darah. Reaksi secara singkat adalah sebagai
berikut :
1. Glukosa-6-P + H20 Glukosa + Pi
2. PPi + H20 2 Pi
3. PPi + Glukosa Glukosa-6-P + Pi
4. Karbamil-P + Glukosa Glukosa-6-P

G. SINTESISI LESITIN
Lesitin atau fosfatidilkolin disintesis dari asam lemak,
gliserolfosfat dan kolin. Sintesis lesitin terdiri atas tiga tahap,
yaitu tahap I, II, dan III. Setiap tahap dikatalisis oleh enzim
terlarut dalam bilayer lipida retikulum endoplasma. Tempat
aktivitas enzim mengarah ke sitosol (Gambar-6.14).

Sumber : http://www.life.umd.edu/classroom/bsci421/goode/lectures/
420L200Pro%20Glycos%20&%20SER

Gambar-7.14 Sintesis lesitin

178
Tahap-tahap sintesis lesitin adalah sebagai berikut :
1 Tahap I Asiltransferase menggabungkan asam lemak fosfat
KoA menghasilkan asam fosfatidat.
2 Tahap II Asam fosfatidat membebaskan gugus fosfat oleh
enzim fosfatalase, berbentuk digliserida.
3 Tahap III Kolinfosfotransferase menggabungkan glise-rida
dengan CPP kolin menghasilkan fosfati-dilkolin atau lesitin.

H. SINTESISI KOLESTEROL
Biosintesis kolesterol yang berlangsung di dalam retikulum
endoplasma melibatkan sejumlah enzim. Enzim-enzim tersebut
ada dalam bentuk enzim terlarut, dan yang lain dalam bentuk
enzim yang terikat pada membran. Tahap-tahap sintesis
ditunjukkan pada Gambar-8.15. Pada Gambar-8.14 di atas,
menunjukkan bahwa kolesterol disintesis dari asetat dan secara
bertahap menghasilkan -hidroksi- -metilglutaril coenzim A
(HMG-CoA). HMG-CoA selanjutnya diubah menjadi mevalonat
dengan bantuan enzim HMG-CoA reduktase yang merupakan
enzim terikat membran. Mevalonat selanjutnya diubah secara
bertahap menjadi Fernesyl pirofosfat (Thorpe, 1984)
Semua enzim yang berperan dalam perubahan mevalonat
menjadi Fernesyl pirofosfat. Semua enzim yang berperan
dalam perubahan mevalonat menjadi Farnesyl pirofosfat
merupakan enzim-enzim terlarut. Farnesyl pirofosfat selanjut-
nya diubah menjadi squalen dengan bantuan squalen sintetase.
Enzim squalen sintetase merupakan enzim yang terikat
membran. Squalen sintetase selanjutnya diubah secara ber-
tahap menjadi kolesterol. Semua enzim yang membantu dalam
proses perubahan squalen menjadi kolesterol merupakan
enzim-enzim yang terikat membran.

179
Gambar-7.15 Tahap-tahap biosintesis kolesterol pada
retikulum Endoplasma (Thorpe, 1984)

I. SINTESISI HORMON STEROID


Prekursor untuk biosintesis hormon steroid adalah
kolesterol yang disintesis dari asetat. Untuk berlangsungnya
proses tersebut, diperlukan kerja sama dengan mitokondria.

180
Gambar-7.16 T Organel yang terlibat di dalam sintesis
kolesterol (Thorpe, 1984)

Kolesterol sendiri disintesis di retikulum endoplasma halus.


Kolesterol yang dihasilkan dibawa ke mitokondria dan diproses
lebih lanjut hingga menghasilkan pregnenolon. Kemudian preg-
nenolon diubah secara bertahap melalui serangkaian reaksi
enzimatis menjadi hormon steroid seks, misalnya testosteron.
Selain itu kolesterol juga dapat dijadikan prekuersor untuk
pembentukan hormon-hormon aldosteron seperti mineralokorti-
koid dan hormon kortisol (Gambar-7.17).

181
Gambar-7.17 Kemungkinan nasib kolesterol

Gambar-7.18 Biosintesis Testosteron

182
J. SINTESISI GLIKOPROTEIN
Berbagai jenis protein yang akan ditranspor ke bagian luar
sel biasanya dalam bentuk glikoprotein. Proses awal dari
pembentukan glikoprotein berlangsung didalam lumen retikulum
endoplasma melalui proses glikosilasi seperti yang telah
dibahas pada bagian terdahulu. Retikulum endoplasma dengan
sendirinya terlibat di dalam modifikasi berbagai jenis protein
sekretori melalui penambahan residu karbohidrat pada ujung
proksimal dari polipeptida dan proses selanjutnya berlangsung
di dalam badan golgi (Gambar-7.19).

Gambar-7.19 Ringkasan peranan retikulum endoplasma


dalam berbagai mekanisme sekresi (Thorpe,
1984)

183
K. SINTIM HIDROKSILASI
Retikulum endoplasma secara kimiawi memodifikasi
xenobiotiks, yaitu bahan-bahan toksik yang berasal dari dalam
dan luar sel. Retikulum endoplasma membuat bahan-bahan
tersebut menjadi lebih hidrofilik sehingga lebih mudah disekresi.
Bahan-bahan tersebut antara lain obat-obatan, insektisida, obat
bius, hasil-hasil petrolium dan bahan-bahan karsinogen lainnya.
Dengan demikian retikulum endoplasma berperan dalam
mendetoksifikasi berbagai bahan-bahan toksik yang terdapat di
dalam sel.

Gambar-7.20 Detoksifikasi pada RE

L. HUBUNGAN RE DENGAN SISTEM MEMBRAN LAIN


Di dalam sitoplasma, terdapat sejumlah organel-organel
berbatas membran seperti mitokondria, lisosom, badan golgi,
mikrobodi dan inti. Retikulum endoplasma bersama-sama
dengan sistim membran yang lain membentuk suatu jalinan di
dalam sel yang disebut jaringan rongga sel (Cytocavity). Jalinan
rongga sel tersebut memisahkan sel menjadi dua
kompartemen, yaitu kompartemen sitoplasma dan komparte-
men rongga dalam (intracavity). Dengan satu sisi mengarah ke
sitosol dan sisi yang lain menghadap ke lumen jalinan rongga
sel.

184
Jalinan rongga sel pada umumnya dan retikulum
endoplasma pada khususnya membentuk suatu sistim
peradaran didalam sel dan enzim-enzim disebarkan secara
meluas untuk aktivitas katabolisme dan anabolisme. Dengan
adanya jalinan rongga sel tersebut, maka substrat-substrat
yang penting dengan cepat mencapai bagian dalam sel dengan
cara fusi membran dan gerakkan membran. Sehingga bahan-
bahan yang disintesis dan dirakit dibagian dalam sel dapat
dengan cepat diangkut ke permukaan sel.
Bila sistim membran tidak dinamis, maka substrat tidak
mampu berdifusi ke enzim-enzimnya secepat yang diinginkan.
Demikian pula bahan-bahan sisa dan bahan pembangun yang
penting tertimbun sehingga mencapai konsentrasi yang tidak
berguna. Jalinan rongga sel ditunjukkan pada Gambar-7.21.

Sumber : http://www.bmb.psu.edu/courses/bmb251/gilmour_fa04/
lec_29_30_compartments_F04.ppt

Gambar-7.21 Hubungan RE dengan organel lain

185
186