Anda di halaman 1dari 18

BAB IX

LISOSOM
Adnan (UNM, 2011)

A. PENDAHULUAN
Lisosom ditemukan oleh de Duve dkk., pada awal tahun
1950 setelah mempelajari distribusi beberapa jenis enzim yang
terlibat di dalam metabolisme karbohidrat. Salah satu enzim
yang dipelajari adalah fosfatase asam yang memecah gugus
fosfat pada beberapa fosfat yang mengandung ester fosfat.

Gambar-9.1 Foto mikrograf electron kelompok lisosom


dekat mitokondria (Sheeler dan Bianchii, 1983)
Lisosom adalah vesikula yang berbatas membran dimana di
dalamnya terkandung enzim-enzim hidrolase. Suatu organel
dapat didefinisikan sebagai lisosom bilamana memenuhi
beberapa kriteria, yaitu:

209
1. Organel yang bersangkutan berbatas membran;
2. Mengandung dua atau lebih enzim-enzim hidrolase yang
semua-nya adalah asam hidrolase;
3. Memiliki sifat kelatenan enzim.

Gambar-9.2 Sifat kelatenan enzim (Thorpe, 1984)


Lisosom dibatasi oleh membran tunggal dan di dalamnya
terkandung kurang lebih 40 jenis enzim yang semuanya adalah
enzim hidrolase seperti protease, nuklease, glikosidase, lipase,
fosfolipase, fosfatase, dan sulfatase. Enzim-enzim hidrolase
bekerja dengan baik pada pH kurang lebih 5,0. Untuk
mempertahankan pH tersebut, maka secara terus menerus
terjadi pemompaan ion hidrogen ke dalam lumen lisosom
dengan melibatkan hidrolisis ATP sebagai sumber energi
(Thorpe, 1984; Allar, 2005). Lisosom memiliki protein maker

210
yang disebut sebagai “Docking-marker acceptor”. Dengan
demikian, lisosom akan dapat berfusi dengan vesikula-vesikula
target dengan tepat.

Sumber : http://faculty.harrisburgu.net/~allar/Golgi%20Lyso%20Pero%20
Mito%20TTh.ppt

Gambar-9.3 Pompa hidrogen pada lisosom (Allar, 2005)

Beberapa molekul sederhana dapat menembus membran


lisosom, misalnya quinakrin. Quinakrin dapat meningkatkan pH
di dalam lisosom jika diberikan ke dalam sel. Quinakrin
digunakan di laboratorium sebagai inhibitor fungsi lisosom.
Lisosom memiliki fungi pencernaan intra sel yang sangat luas
meliputi pencernaan bahan-bahan intra dan ekstra sel,
mikroorganisme yang telah difagositosis dan program kematian
sel selama organogenesis.

211
Gambar-9.4 Peristiwa fagositosis sel bakteri oleh sel
fagosit (Thorpe, 1984)

Enzim-enzim hidrolase memiliki kemampuan untuk meme-


cahkan berbagai jenis molekul organik seperti polisakarida,
protein, lipida, fosfolipida, dan asam-asam nukleat.

B. PEMBENTUKAN DAN NASIB LISOSOM


Asal dan pembentukan lisosom telah dipelajari dengan
sangat intensif. Dari berbagai hasil temuan, ada dua pendapat
yang berkenaan dengan asal dan pembentukan lisosom, yaitu:
1. Berbagai bukti telah ditemukan bahwa protein-protein
hidrolitik dibentuk oleh ribosom yang terdapat pada
retikulum endoplasma. Dari retikulum endoplasma kasar,
selanjutnya protein tersebut ditranslokasikan menuju
permukaan pembentukan badan golgi untuk diproses lebih
lanjut. Setelah itu, protein-protein hidrolitik dikemas dan
dibungkus dalam bentuk vesikula-vesikula untuk selanjutnya
dilepaskan sebagai lisosom primer.
2. Protein-protein hidrolitik dibentuk pada ribosom yang
terdapat pada retikulum endoplasma kasar, selanjutnya ia
dilepaskan dalam bentuk vesikula menuju daerah GERL

212
(Golgi associated Endoplasmic Reticulum giving rise to
Lisosom) yang berdekatan dengan daerah permukaan
matang badan golgi. Dari GERL, selanjutnya dilepaskan
vesiula-vesikula yang disebut lisosom primer .
Lisosom yang pertama dibentuk oleh sel dan belum terlibat
dalam aktivitas pencernaan sel disebut lisosom primer.
Sedangkan lisosom sekunder adalah lisosom yang
merupakan hasil fusi berulang antara lisosom primer dengan
berbagai substrat yang berbatas membran (Albert et al., 1983).
Dengan demikian, lisosom sekunder telah terlibat dalam
aktivitas pencernaan sel dan di dalam lumennya terdapat
substrat dan enzim-enzim hidrolitik. Lisosom sekunder memiliki
dua fungsi yang berbeda, yaitu: (i) Heterolisosom, yaitu bila
substrat yang dicerna berasal dari luar sel. Dengan demikian,
heterolisosom dibentuk dari hasil fusi antara lisosom primer
dengan fagosom atau endosom. Heterolisosom sering disebut
sebagai vakuola pencerna dan (ii) Vakuola autofagi atau
autolisosom, yaitu lisosom yang mengandung dan mungkin
mencerna substrat-substrat intraseluler yang berbatas
membran (sitosegresom), misalnya organel-organel intraseluler
seperti mitokondria. Autolisosom dibentuk dari hasil fusi antara
sitosegresom dengan lisosom primer.

Gambar-9.5 Dua ide tentang pembentukan lisosom


(Thorpe, 1984)

213
Albert et al. (1983) membagi heterolisosom menjadi dua
tipe, yaitu: (i) Vakuola pencerna, yaitu hasil fusi antara fagosom
(partikel-partikel yang difagositosis seperti bakteri) dengan
lisosom primer, dan (ii) Badan-badan multivesikula, yaitu hasil
fusi antara beberapa endosom (substrat yang masuk secara
endositosis dan bukan dalam bentuk partikel) dengan lisosom
primer. Dengan demikian, badan-badan multivesikula merupa-
kan kantung-kantung berbatas membran dimana di dalamnya
mengandung banyak vesikula-vesikula kecil dengan diameter
berkisar 50 nm.

Gambar-9.6 Pembentukan dan fungsi lisosom pada


heterofagi dan autofagi seluler (Sheeler dan
Bianchii, 1983)
Di dalam sel, sesungguhnya terdapat kerjasama yang erat
antara heterolisosom dengan autolisosom. Selama heterofagi
berlangsung, protein-protein ditempatkan di dalam vesikula-
vesikula endosom, kemudian berfusi dengan lisosom primer
dan selanjutnya mengalami hidrolisis. Selama auto-fagi,
sitosegresom berfusi dengan lisosom primer membentuk

214
autolisosom dan memasuki siklus pencernaan intrasel
(Gambar-9.7)

Gambar-9.7 Siklus pencernaan intrasel (Thorpe, 1984)


Tergantung pada keadaan fisiologisnya, vakuola pencerna
atau vakuola autofagi pada akhirnya mengalami satu dari tiga
kemungkinan yang terjadi, yaitu :
1. Mengosongkan kandungannya dengan cara eksositosis
atau defekasi seluler;
2. Menjadi bahan residu tanpa bahan hidrolase;
3. Menghidrolisis kandungannya secara sempurna untuk dapat
berdifusi dan selanjutnya siap untuk siklus aktivitas yang
baru.

215
Gambar-9.8 Nasib lisosom (Thorpe, 1984)

Tentang pembentukan sitosegresom, ada beberapa


pandangan yang diusulkan, yaitu :
1. Sitosegresom dibentuk dari suatu membran sisterna yang
melingkupi mitokondria secara sempurna dan selanjutnya
diikuti dengan berdegenerasinya membran dalam;
2. Sitosegresom dibentuk dari suatu membran yang
melingkupi mitokondria secara sempurna;
3. Sitosegresom dibentuk dari vesikula endosom yang
melingkupi mitokondria secara sempurna yang selanjutnya
diikuti dengan berdegenerasinya membran dalam;
4. Sitosegresom dibentuk dari vesikula endosom, dimana
mitokondria memasuki vesikula endosom melalui suatu
celah.

216
Gambar-9.9 Pembentukan sitosegresom (Thorpe, 1984)
Bentuk akhir heteroslisosom dan autolisoson disebut
telolisosom atau postlisosom atau badan residu. Bahan-bahan
yang terkandung di dalam telo-lisosom sewaktu-waktu dapat
dilepaskan. Proses pelepasannya dinamakan defekasi seluler.
Bahan-bahan yang telah dicerna di dalam lisosom dapat
kembali dilepaskan ke dalam sitoplasma dan selanjutnya
terlibat di dalam proses katabolisme atau anabolisme.

Gambar-9.10 Perbedaan bentuk lisosom (a) vakuola


autofagi yang mengandung mitokondria dan
mikrobodi, (b) badan residu pada sel sertoli
testis (Thorpe, 1984)

217
C. ULTRASTRUKTUR DAN KOMPOSISI LISOSOM
Lisosom merupakan vesikula berbatas membran tunggal,
dimana di dalamnya terdapat enzim-enzim proteolitik. Membran
lisosom mengandung karbohidrat netral, hexoamina, dan asan
N-asetilmuramat yang lebih banyak dibandingkan dengan
membran plasma.
Pengamatan dengan mikroskop elektron menunjukkan
bahwa membran lisosom memiliki membran dengan tebal 9 nm,
lebih tebal dari membran mitokondria. Membran lisosom
memiliki kemampuan untuk berfusi secara selektif dengan
membran sel yang lain, seperti fusi yang terjadi antara
membran lisosom dengan fagosom atau endosom selama
pencernaan intra sel. Demikian pula antara lisosom dengan
membran plasma selama berlangsungnya sekresi sel.
Salah satu ciri lisosom adalah adanya kandungan berbagai
enzim hidrolase seperti fosfatase, nuklease, hidrolase,
protease, dan enzim-enzim untuk perombak lipida (Tabel-9.1).

Tabel-9.1
Beberapa jenis enzim lisosom (Sheeler & Bianchi, 1983)
Jenis Enzim Substrat Asal Lisosom
Fosfatase
Fosfatase asam Sebahagian besar Jaringan hewan, tumbuhan
ester monofosfat dan protista
Fosfodiesterase Oligonukleotida dan Jaringan hewan, tumbuhan
asam diesterfosfat dan protista
Nuklease
RNA-ase RNA Jaringan hewan, tumbuhan
dan protista
DNA-ase DNA Jaringan hewan, tumbuhan
dan protista
Hidrolase
β-Galaktosidase Galaktosidase Jaringan hewan, tumbuhan
dan protista
Glikosidase Glikogen Jaringan hewan
Mannosidase Mannosida Jaringan hewan

218
Tabel-9.2
(Lanjutan)
Jenis Enzim Substrat Asal Lisosom
β-glukuronidase Polisakarida dan Jaringan hewan
Mukopolisakarida
Lisosom Dinding bakteri Ginjal
Mukopolisakarida
Hialuronidase Asam hialuronat Hati
kondritin sulfat
Asilsulfatase Sulfat organic Hati, Tumbuhan
Protease
Katepsin Protein Sel hewan
Kolagenase Kolagen Sel tulang
Peptidase Peptida Jaringan hewan, tumbuhan
dan protista
Enzim perombak lipida
Esterase Ester asam lemak Jaringan hewan, tumbuhan
dan protista
Fosfolipase Fosfolipida Tumbuhan

D. PERANAN LISOSOM
Peranan fisiologi lisosom umumnya berhubungan dengan
pencernaan intraseluler. Misalnya pencernaan makanan yang
berlangsung pada protozoa dimana bahan-bahan yang berasal
dari luar dicerna secara intraseluler atau heterofagi. Beberapa
fungsi lisosom adalah sebagai berikut:
1. Fungsi nutrisi melalui proses pencernaan yang berlangsung
pada protozoa dan sel-sel metazoan.
2. Fungsi nutrisi melalui proses autofagi selama kondisi
lingkungan yang tidak menguntungkan.
3. Lisis organel selama diferensiasi seluler dan metamorfosis.
4. Penghancuran sel-sel darah merah yang telah tua.
5. Pertahanan tubuh dari invasi bakteri dan virus melalui
sirkulasi makrofag.
6. Penandukan kulit

219
7. Sekresi hidrolase oleh sperma untuk penetrasi telur selama
pembuahan.
8. Pencernaan yolk atau kuning telur selama perkembangan
embrio.
9. Resorbsi tulang.
10. Reabsorbsi pada ginjal dan kantung kemih.
Endositosis merupakan persyaratan bagi pencernaan
intraseluler bahan eksogen dengan molekul tinggi. Bukti
menunjukkan bahwa vakuola makanan dihasilkan dari fusi
antara endosom dengan lisosom primer.
Dalam darah, terdapat banyak sel-sel fagosit yang bekerja
sebagai penghalang yang efektif dari invasi mikroorganisme
atau benda-benda asing lainnya. Ada empat tipe fagosit darah,
yaitu (i) Polymorpho Nuclear Neutrofic Leukocytes (PMNs), (ii)
Eosinofil, (iii) Basofil, dan (iv) Monosit. Meskipun keempat tipe
tersebut bersirkulasi di dalam darah, neutrofil dan manosit
memiliki kemampuan untuk meninggalkan aliran darah dan
mengembara di seluruh jaringan untuk menghilangkan bahan-
bahan asing dalam jaringan dengan cara memfagositosisnya.
Monosit di dalam jaringan akan berkembang menjadi
dewasa dan menjadi sel-sel makrofag. Berbagai jenis makrofag
antara lain histiosit dalam jaringan pengikat, makrofag alveolar
di dalam paru-paru, sel-sel kuffer di dalam jaringan hati,
makrofag pelural di dalam peritoneal, osteoklas di dalam tulang,
sel mikroglia di dalam sistim saraf pusat, sel schwann di dalam
serabut saraf perifer, sel sinvial tipe A di dalam ruang sendi,
dan makrofag di dalam jaringan limfoid dan jaringan ikat
(Subowo, 1990).
Lisosom memainkan peranan yang sangat penting dalam
reabsorbsi tulang yang dilakukan oleh osteoklas (Gambar-9.11)

220
Gambar-9.11 Peranan lisosom dalam resorbsi tulang
(Thorpe, 1984)

Mekanisme resorbsi tulang melibatkan hormon paratiroid.


Hormon paratiroid terikat pada reseptor permukaan sel-sel
osteoklas. Interaksi antara hormone dengan reseptor permuka-
an membran mengaktifkan enzim adenil siklase. Enzim adenil
siklase selanjutnya menghidrolisis ATP menjadi siklik AMP
yang berperan sebagai pesuruh kimia kedua di dalam sel. Siklik
AMP selanjutnya mengaktifkan sejumlah enzim dan menigkat-
kan proses glikolisis.
Peningkatan glikolisis menyebabkan produksi ion H+
meningkat (produksi asam). Ion H+ selanjutnya dipompa keluar
sel menuju matriks ekstraseluler. Ion H+ yang berada pada
matriks ekstraseluler menyebabkan lingkungan matriks dalam
suasana asam dan menyebabkan demineralisasi matriks
tulang.

221
Pengaktifan sejumlah enzim oleh cAMP juga meningkatkan
aktivitas enzim-enzim lisosom. Enzim-enzim aktif lisosom
dikeluarkan ke dalam matriks melalui proses eksositosis.
Keberadaan enzim lisosom di dalam matriks diperuntukkan
agar komponen-komponen jaringan tulang mengalami hidrolisis
menjadi fragmen-fragmen yang lebih kecil. Fragmen-fragmen
jaringan selanjutnya dimasukkan ke dalam sel dengan cara
endositosis, dan membentuk endosom. Ion H+ yang dihasilkan
selama glikolisis sebagian diantaranya dipompakan masuk ke
dalam lisosom agar suasana lingkungan internal lisosom tetap
berada dalam pH asam (berkisar pH 5). Selanjutnya lisosom
primer berfusi dengan endosom. Enzim-enzim lisosom
selanjutnya mencerna fragmen-fragmen jaringan yang terdapat
di dalam endosom untuk selanjutnya digunakan dalam
pembentukan tulang yang baru.
Selain itu, lisosom memegang peranan penting di dalam
sekresi kelenjar tiroid oleh sel-sel epitel dari folikel tiroid
(Gambar-9.12). Uraian selengkapnya lihat pada reticulum
endoplasma.

222
Gambar-9.12. Peranan lisosom dalam sekresi kelenjar
tiroid (Thorpe, 1984)

Lisosom memainkan peranan yang sangat penting selama


berlangsungnya fertilisasi pada berbagai jenis hewan termasuk
manusia, terutama selama berlang-sungnya reaksi akrosom.
Enzim-enzim yang dilepaskan dari vesikula akrosom melakukan
pencernaan terhadap selaput-selaput pelindung telur sehingga
memungkinkan sel pronuklei jantan masuk menembus
membran telur untuk berfusi dengan pronuklei betina .

223
Pada Gambar-9.13 ditunjukkan tahap-tahap berlangsung-
nya reaksi akrosom pada bintang laut. Bila sperma kontak
dengan selaput lendir, menyebabkan vesikula akrosom pecah
diikuti dengan terjadinya polimerisasi aktin untuk membentuk
tonjolan akrosom yang menembus selaput lendir. Protein-
protein enzim yang dilepaskan dari vesikula akrosom akan
melekat pada permukaan tonjolan akrosom, dan selanjutnya
mengikatkan sperma pada membran vitellin dan sekaligus
mencerna lapisan tersebut. Kejadian selanjutnya dalah fusi
diantara membran akrosom dengan membran telur diikuti
dengan terjadinya perombakan filamen aktin, dan selanjutnya
sperma memasuki sel telur. (Albert et al., 1983).

Gambar-9.13 Tahap-tahap reaksi akrosom pada bintang


laut (Albert et al, 1983)

E. VAKUOLA PADA TUMBUHAN


Sel-sel pada tumbuhan umumnya mengandung satu atau
lebih vakuola. Pada saat sel-sel masih muda, jumlah vauola
lebih banyak dan berukuran kecil, namun pada saat sel-sel
tumbuhan mencapai kedewasaan yang optimal, jumlah vakuola

224
persel hanya satu dan ukurannya besar. Vakuola tersebut
dinamakan vakuola sentral (Gambar-9.14).

Gambar-9.14 .......................................

Vakuola sentral memiliki peranan yang sangat penting


dalam mempertahankan turgor sel. Sel dengan tekanan turgor
yang rendah menyebabkan tanaman menjadi layu, sebaliknya
bila tekanan turgor tinggi meningkatkan riditas sel, khususnya
daun dan bagian-bagian tanaan yang masih mudah. Vakuola
sentral menempati lebih 80% volume total sel tumbuhan.
Seperti lisosom, vakuola sel tumbuhan juga mengandung
enzim-enzim hidrolitik (Sheeler dan Bianchii, 1983). Selain itu,
vakuola juga mengandung, gula, garam-garam, asam,
komponen-komponen yang mengandung nitrogen seperti
alkaloid dan pigmen-pigmen antosianin. pH vakuola tumbuhan
sangat tinggi, yaitu berkisar pH 9-10 bila mengandung subtansi-
subtansi alkalin yang banyak, namun dapat pula pH berkisar 3
manakala mengakumulasi subtansi-subtansi asam seperti
asam sitrat, asam oksalat dan asam tartarat.

225
226

Anda mungkin juga menyukai